FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTIMBANGAN

advertisement
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTIMBANGAN
INVESTASI SAHAM SYARIAH
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (SE,Sy)
Oleh:
FIKRI INDRA SILMY
NIM: 107046102077
KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM
STUDI
MUAMALAT
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
J AK A R T A
1432H/2011M
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 1 Juni 2011
Fikri Indra Silmy
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I.
Biodata Pribadi
1.
Nama Lengkap
: Fikri Indra Silmy
2.
Tempat / Tanggal Lahir
: Jakarta, 28 Juni 1988
3.
Alamat
: Perumnas II Parungpanjang,
Kab. Bogor, Jawa Barat
4.
Agama
: Islam
5.
Kewarganegaraan
: Indonesia
6.
Motto
: Everybody’s miracle in their own way
II.
Pendidikan Formal
1.
SD Negeri Pondok Pinang 06 Petang
(1994-1998)
2.
SD Negeri Parungpanjang 02
(1998-2000)
3.
MTs Darunnajah Cipining
(2000-2003)
4.
MA Darunnajah Cipining
(2003-2007)
5.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(2007-2011)
III.
Pendidikan Informal
1.
Lembaga Pendidikan Bahasa LIA Ciputat, Tangerang Selatan
ii
Abstract
The purpose of this research is to examine the impact of perception,
motivation, and learning and memory Sekolah Pasar Modal Participants to their
investment decision of sharia stocks.
This research was conducted by selecting 154 sample of Sekolah Pasar Modal
Participants which held in Indonesian Stock Exchange at 4, 5, and 11 Mei 2011. The
sample of this research collected by using simple random sampling and
proportionate random sampling. Analysis method which used in this research is
multiple regression method.
The result of this research showed that perception, motivation, and learning
and memory Sekolah Pasar Modal Participant impact simultaneously to their
investment decision of sharia stocks. Motivation is the most significant independent
variable to investment decision of sharia stocks of Sekolah Pasar Modal Participants.
Keywords: Perception, Motivation, Learning and Memory, Sharia Stocks Investment
iii
Abstrak
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh
persepsi, motivasi, dan belajar Peserta Sekolah Pasar Modal terhadap keputusan
investasi mereka di saham syariah.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 154 sampel dari Peserta
Sekolah Pasar Modal yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia pada 4, 5, dan
11 Mei 2011. Metode pemilihan sampel menggunakan simple random sampling dan
proportionate random sampling. Model analisis yang digunakan adalah regresi
berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
antara persepsi, motivasi, dan belajar terhadap keputusan investasi saham syariah.
Variabel motivasi merupakan variabel independen yang paling signifikan
mempengaruhi keputusan investasi saham syariah.
Kata kunci: Persepsi, Motivasi, Belajar, Investasi Saham Syariah
iv
Kata Pengantar
Bismilaahirrahmaanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala Rahmat dan
Karunia yang telah diberikanNya, serta shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad
SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Pertimbangan Investasi Saham Syariah” sebagai salah satu syarat
dalam menyelesaikan program pendidikan strata satu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak
kekurangan yang dapat dikoreksi. Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan
skripsi ini bukan hanya semata-mata hasil jerih payah penulis sendiri, melainkan
berkat bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang tak ternilai
harganya.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis mengucapkan kepada Mimih dan
Bapak yang selalu memberikan kasih sayang dengan sepenuh hati untuk memberikan
dukungan baik moril maupun materiil yang tak terhingga. Kak Leli, Aam, dan
seluruh keluarga besar yang ada di Indramayu dan di Serang.
Atas dasar itu penulis dengan tulus ikhlas mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan setiap masalah yang penulis
hadapi dalam proses penyelesaian skripsi ini kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Amin Suma, SH, MH, MM selaku Dekan Fakultas Syariah.
v
2. Ketua Program Studi Muamalat Ibu Dr. Euis Amalia, M.Ag, Sekretaris Program
Studi Bapak Mu’min Rauf yang telah memberikan keluasan kesempatan untuk
penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Dr. Ir. Iwan Pontjowinoto, MM., dan Bapak A. Chairul Hadi, MA yang
telah memberikan kesempatan berdiskusi kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
4. Tim Sekolah Pasar Modal Bursa Efek Indonesia, terutama Bapak Taufiq, Mbak
Yane, Linda, Sashi, dan Nina yang telah banyak membantu dalam penyebaran
kuesioner kepada peserta Sekolah Pasar Modal.
5. Pimpinan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum, dan Pimpinan Perpustakaan
Umum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
menyediakan fasilitas untuk mengadakan studi perpustakaan.
6. Seluruh Staf pengajar beserta Asisten Dosen dan Karyawan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta khususnya Fakultas Syariah dan Hukum yang telah
memberikan bantuan kepada penulis.
7. Seluruh Staf pengajar di Laboratorium Bank Syariah yang telah memberikan
semangat kepada penulis, dan bersedia untuk diajak diskusi terkait penelitian
yang akan dilaksanakan penulis.
8. Teman-teman angkatan 2007 kelas PS B, rekan-rekan LiSEnSi dan FoSSEI, dan
rekan-rekan MES yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
9. Teman-teman kost, alumni Al-Ittihad dan Salsabila, dan langganan ojeg di
Mawar IX, terima kasih atas candaan, persahabatan, dan supportnya.
vi
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kepada pihak-pihak yang
telah disebutkan atas bantuan yang telah diberikan.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis mempersembahkan skripsi ini
kepada semua pihak yang berkepentingan, dengan harapan skripsi ini dapat
bermanfaat.
Jakarta, 1 Juni 2011
Fikri Indra Silmy
vii
DAFTAR ISI
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
1
A. Latar Belakang
1
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
6
D. Review Studi Terdahulu
7
E. Kerangka Pemikiran
9
F. Sistematika Penulisan
11
LANDASAN TEORI
12
A. Investasi Saham Syariah
12
1. Landasan Investasi Syariah
15
2. Kesesuaian Syariah dalam Saham
17
3. Jenis Saham
19
4. Keuntungan dan Risiko Investasi Saham
20
5. Proses Investasi Saham
22
B. Perilaku Konsumen
27
1. Persepsi
29
2. Motivasi
37
3. Proses Belajar
43
viii
BAB III
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
50
A. Jenis Penelitian
50
B. Pendekatan Penelitian
50
C. Jenis dan Sumber Data
53
D. Teknik Pengumpulan Data
53
E. Teknik Analisis Data
54
a. Analisis Kualitatif
54
b. Uji Validitas
55
c. Uji Reliabilitas
55
d. Uji Asumsi Klasik
56
e. Uji Hipotesis
57
PEMBAHASAN
A. Sekilas Profil Sekolah Pasar Modal
61
B. Objek Penelitian Menurut Klasifikasi
63
C. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
66
1. Uji Validitas
66
2. Uji Reliabilitas
71
D. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian
1. Variabel Independen
72
72
a. Persepsi
72
b. Motivasi
77
c. Belajar
81
ix
BAB V
2. Variabel Dependen
85
E. Analisis dan Pembahasan
89
1. Hasil Uji Asumsi Klasik
89
2. Hasil Pengujian Hipotesis
92
KESIMPULAN DAN SARAN
99
A. Kesimpulan
99
B. Keterbatasan
100
C. Saran
101
DAFTAR PUSTAKA
102
LAMPIRAN
114
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1
Perkembangan Jumlah Daftar Efek Syariah
3
Tabel 2.1
Beberapa Daftar Motif-motif Sosial
42
Tabel 3.1
Proporsi Sampel
53
Tabel 3.2
Ukuran Korelasi
57
Tabel 3.3
Pengukuran Variabel
60
Tabel 4.1
Usia
63
Tabel 4.2
Kelamin
64
Tabel 4.3
Pendidikan Terakhir
64
Tabel 4.4
Pekerjaan
65
Tabel 4.4
Pendapatan Per Bulan
66
Tabel 4.6
Hasil Tryout Variabel Persepsi
67
Tabel 4.7
Hasil Tryout Variabel Motivasi
68
Tabel 4.8
Hasil Tryout Variabel Belajar
69
Tabel 4.9
Hasil Tryout Variabel Investasi Saham Syariah
70
Tabel 4.10
Uji Reliabilitas Responden
71
Tabel 4.11
Statistik Deskriptif Persepsi
72
Tabel 4.12
Hasil Kuesioner Variabel Persepsi
73
xi
Tabel 4.13
Statistik Deskriptif Motivasi
77
Tabel 4.14
Hasil Kuesioner Variabel Motivasi
78
Tabel 4.15
Statistik Deskriptif Variabel Belajar
81
Tabel 4.16
Hasil Kuesioner Variabel Belajar
82
Tabel 4.17
Statistik Deskriptif Investasi Saham Syariah
85
Tabel 4.18
Hasil Kuesioner Variabel Investasi Saham Syariah
86
Tabel 4.19
Uji Multikolinearitas
91
Tabel 4.20
Model Summary
92
Tabel 4.21
Hasil Uji F
93
Tabel 4.22
Hasil Uji Parameter Individual (Uji Statistik t)
94
Tabel 4.23
Pearson Correlation
97
Tabel 4.24
Coefficients
98
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1
Kerangka Pemikiran
10
Gambar 2.1
Motivation Process
39
Gambar 2.2
Consumer Learning by Operant Conditioning
45
Gambar 4.1
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
90
Gambar 4.2
Uji Heteroskedastisitas
91
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Investasi merupakan suatu kegiatan yang sangat dianjurkan Islam.
Peningkatan lapangan pekerjaan akan berbanding lurus dengan tingkat investasi
negara tersebut. Jika investasi di suatu negara kecil maka lapangan pekerjaan pun
akan minim, sehingga mendorong pengangguran masyarakat. Kemudian jika
banyak yang menganggur, angka kriminalitas juga akan meningkat. Allah SWT
dalam Al-Qur’an (9:34) mengancam orang-orang yang menimbun hartanya dan
tidak memutarnya dalam investasi.
Menurut Iwan (2010) dalam kuliah umumnya, investasi memiliki dua
unsur. Pertama, pengeluaran sumber daya sekarang yang bersifat pasti. Kedua,
ketidakpastian besaran hasil dan risiko. Beliau menganalogikan investasi saham
seperti kisah sapi betina. Sapi betina memiliki empat hal yang dapat
dimanfaatkan, yaitu susu, pupuk, anak, dan daging. Untuk mendapatkan sapi,
investor mengorbankan sumber daya dana untuk membeli sapi tersebut.
Selanjutnya ia akan mendapatkan hasil berupa susu, pupuk (dari kotoran sapi),
anak, dan dagingnya. Namun, investor juga belum tentu mendapatkan hasil
tersebut, karena sapi bisa jatuh sakit sehingga tidak dapat menghasilkan susu,
pupuk, anak atau daging yang baik.
1
2
Di sisi lain minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi sangat minim,
khususnya investasi yang berkaitan dengan pasar modal. Entah karena
ketidakkenalan masyarakat dengan perusahan sekuritas, kekurangberanian dalam
menghadapi risiko saham, budaya masyarakat yang mencari aman, atau karena
untuk membuka rekening efek membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Pada akhir September 2010 proporsi kepemilikan saham oleh investor asing
tercatat menurun dibanding tahun sebelumnya. Di akhir bulan tersebut tercatat
sebesar 66,7% lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yaitu 67,8%.1 Hal itu
dinyatakan analisis karena lebih dipicu aktivitas investor domestik di lantai bursa
efek Indonesia.
Meski dana-dana lokal mengalami peningkatan signifikan, kepemilikan
pemodal domestik dari ritel masih sangat kecil, sekitar 11,7 miliar dollar AS, per
September 2010. Jumlah tersebut hanya sekitar 9,58 persen dari keseluruhan dana
yang masuk di bursa Tanah Air.
Rendahnya kepemilikan investor ritel dalam negeri itu tidak terlepas dari
minimnya jumlah subrekening efek yang terdaftar di Kustodian Sentral Efek
Indonesia (KSEI). “Estimasi bursa saja baru mencapai 1 juta investor. Nilai itu
kecil sekali dibandingkan jumlah penduduk kita,” jelas Felix Shindunata,
pengamat pasar modal, di Jakarta, Senin (18/10) pada Koran Jakarta.
1
Koran Jakarta, Persentase Dominasi Asing Menurun, artikel diakses tanggal 26 Oktober
2010 dari http://mediakit.koran-jakarta.com/print-berita.php?id=65429
3
Perlu adanya sebuah terobosan yang dapat meningkatkan minat masyarakat
Indonesia untuk berinvestasi di lantai bursa. Jika minat rakyat untuk membeli
saham minim, dapat dimungkinkan mayoritas saham perusahaan-perusahaan
dalam negeri akhirnya akan dimiliki oleh asing.
Belum lagi, saat ini banyak saham-saham yang masuk dalam golongan
Daftar Efek Syariah. Data menunjukkan proporsi saham syariah dalam persen
mencapai 48% di bulan Mei 2010. Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah
muslim, seharusnya ini merupakan berita gembira dan pendorong agar dapat
berinvestasi di saham yang tergolong syariah.
Tabel 1.1
Perkembangan Jumlah Daftar Efek Syariah
Periode
Tanggal Terbit
Saham Syariah
Jumlah Saham
%
I
30-Nov-07
164
383
43%
II
30-May-08
180
390
46%
III
30-Nov-08
185
396
47%
IV
29-May-09
177
396
45%
V
30-Nov-09
186
402
46%
VI
27-May-10
194
401
48%
181
395
46%
Average
Sumber: www.idx.co.id
Alfahmi (2008) berpendapat bahwa perusahaan (dalam hal ini sekuritas)
dalam memasarkan produk atau jasa yang ditawarkan harus dapat menetapkan
4
harga dengan etis, promosi dengan sentuhan simpatik, hingga komunikasi di jalur
distribusi, dan materi-materi promosi di tempat-tempat penjualan atau outlet.
Hawkins, Best, dan Coney (1995) menyatakan, “The marketing mix is the
product, price, communication, distribution, and services provide to the target
market”. Menurut mereka produk yang dikeluarkan suatu perusahaan harus
cocok dengan kebutuhan pelanggan (investor). Kemudian harga yang ditetapkan
harus cocok dengan fasilitas yang ada. Distribusi harus baik, karena dengan
salahnya strategi distribusi akan berdampak dengan kegagalan produk.
Komunikasi dengan konsumen juga harus baik. Kemudian yang terakhir menurut
mereka adalah servis, penyediaan servis adalah suatu hal yang urgent tapi
perusahaan harus memilih servis mana yang paling penting untuk mengenai
sasaran konsumen.
Dari sisi konsumen, Mangkunegara (2005) menyatakan bahwa ada dua
faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu kekuatan budaya dan
kekuatan psikologis. Hal ini sesuai dengan pendapat William J. Santon (1981:
105) yang menyatakan, “sosiocultural and psychological force which influence
consumer’s buying behavior”.
Solomon (1993) berpendapat bahwa terdapat empat hal yang mempengaruhi
perilaku konsumen secara individu, yaitu persepsi, motivasi, pembelajaran, dan
sikap. Sedangkan menurut Hawkins, Best, Coney (1995) terdapat faktor-faktor
internal
konsumen
yang
mempengaruhi
consumer
behavior-nya,
pembelajaran (memori), persepsi, motif, kepribadian, dan emosi.
yaitu
5
Wikipedia (2011) tertulis terdapat empat faktor internal konsumen yang
relevan terhadap proses pembuatan keputusan membeli produk:
1. Motivasi, merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk
mencapai tujuan tertentu.
2. Persepsi, merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap kejadian yang
diterimanya berdasarkan infomasi dan pengalaman terhadap rangsangan
tersebut.
3. Pembentukan sikap (attitude), merupakan penilaian yang ada dalam diri
seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka pada suatu hal.
4. Integrasi, merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Perasaan suka
mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan
membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.
Penelitian ini mencoba mengkolaborasikan beberapa teori di atas tentang apa
yang harus dilakukan perusahaan sekuritas sehingga penelitian ini nantinya akan
menghasilkan titik temu antara keduanya. Oleh karena itu, penulis mengambil
tiga variabel yang menurut peneliti dapat mewakili variabel-variabel lainnya,
yaitu persepsi, motivasi, dan proses belajar..
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini saya berikan judul
“Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertimbangan Investasi Saham
Syariah”.
6
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
Adapun pembatasan dan rumusan masalah yang akan diangkat adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh persepsi peserta sekolah pasar modal terhadap
pertimbangan investasi saham syariah?
2. Bagaimana pengaruh motivasi peserta sekolah pasar modal terhadap
pertimbangan investasi saham syariah?
3. Bagaimana pengaruh proses belajar peserta sekolah pasar modal terhadap
pertimbangan investasi saham syariah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan
1. Mengetahui pengaruh persepsi peserta sekolah pasar modal terhadap
pertimbangan investasi saham syariah.
2. Mengetahui pengaruh motivasi peserta sekolah pasar modal terhadap
pertimbangan investasi saham syariah.
3. Mengetahui pengaruh pembelajaran peserta sekolah pasar modal terhadap
pertimbangan investasi saham syariah.
Manfaat Penelitian
1. Bagi Akademisi
Sumbangan pemikiran untuk memperkaya khazananah keilmuan berinvestasi
khususnya investasi saham.
7
2. Bagi Praktisi
Dapat mengetahui kecenderungan masyarakat sehingga bisa membuat strategi
agar masyarakat domestik tertarik untuk berinvestasi di saham syariah.
3. Bagi Masyarakat Umum
Sebagai penambah khazanah keilmuan di bidang saham syariah.
D. Review Studi Terdahulu
1. Analisis Pengaruh Celebrity Endorse, Brand Image, dan Persepsi Terhadap
Keputusan Pembelian Produk Sabun Lux (Studi Kasus Mahasiswi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta), oleh Putri Apriliana, Mahasiswi Jurusan Manajemen –
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun
2010. Pada penelitian tersebut penulis mencoba untuk meneliti ada tidaknya
pengaruh celebrity endorse, brand image, dan persepsi konsumen terhadap
keputusan pembelian keputusan pembelian sabun Lux. Metode analisis yang
digunakan adalah uji asumsi klasik, dan uji hipotesis pada regresi linear
berganda. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa seluruh variabel
independen mempengaruhi keputusan pembelian produk sabun Lux secara
bersama, tetapi secara parsial variabel persepsi tidak signifikan mempengaruhi
keputusan pembelian produk. Perbedaan dengan penelitian yang penulis
laksanakan adalah penulis menggunakan variabel persepsi, motivasi, dan
pembelajaran masyarakat peserta sekolah pasar modal bersama-sama dan
secara parsial mempengaruhi pertimbangan investasi di saham syariah.
8
2. Perilaku Masyarakat dalam Memilih Pembiayaan (Studi Pada Masyarakat
Kelurahan Sumber – Cirebon), oleh Maesaro, Mahasiswi Konsentrasi
Perbankan Syariah – Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, Tahun 2010. Pada penelitian tersebut penulis mencoba meneliti
bentuk pembiayaan yang dipilih oleh masyarakat kelurahan Sumber –
Cirebon, dan meneliti ada tidaknya pengaruh kebudayaan, faktor sosial faktor
pribadi, faktor psikologis, dan faktor agama terhadap pemilihan pembiayaan.
Metode analisis data yang digunakan adalah uji asumsi klasik, dan uji
hipotesis pada regresi linear berganda. Hasil penelitian yang didapat adalah
mayoritas responden memilih pembiayaan lembaga keuangan konvensional
yaitu 91,9% responden, dan terdapat pengaruh simultan antara seluruh
variabel independen terhadap pemilihan pembiayaan. Variabel independen
yang paling dominan dalam penelitian ini adalah faktor individu. Korelasi (R)
variabel independen terhadap variabel dependen adalah 0,468 atau 46,8%
yaitu terdapat korelasi yang sedang, sedangkan koefisien determinasinya (R2)
adalah 0,219 atau 21,9% yang berarti terdapat 78,1% dipengaruhi oleh
variabel lainnya. Perbedaan dengan penelitian yang penulis laksanakan adalah
faktor consumer behavior yang penulis teliti adalah persepsi, motivasi, dan
belajar masyarakat sekolah pasar modal sebagai variabel independen dan
investasi saham syariah sebagai variabel dependen.
3. Analisis Pengaruh Persepsi dan Motivasi Terhadap Keputusan Pembelian
(Studi kasus pada Restauran Bakmi Langgara Cab. Persahabatan,
9
Rawamangun), oleh Idawati, Mahasiswi Jurusan Manajemen – Fakultas
Ekonomi dan Ilmu Sosial, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 2008. Pada
penelitian tersebut penulis mencoba meneliti pengaruh persepsi dan motivasi
terhadap keputusan pembelian di Restauran Bakmi Langgara secara bersama
maupun secara parsial. Metode analisis yang digunakan adalah uji asumsi
klasik, dan uji hipotesis pada regresi linear berganda. Hasilnya adalah terdapat
pengaruh antara variabel persepsi dan motivasi terhadap keputusan pembelian
dengan variabel motivasi yang paling dominan. Korelasi (R) variabel
independen dengan variabel dependen adalah 0,597 atau 59,7% korelasi yang
sedang, sedang koefisien determinasinya adalah 0,336 atau 33,6% yang
berarti terdapat banyak variabel lain yang mempengaruhinya yaitu 56,4%.
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang penulis laksanakan
terletak pada variabel independen dan dependennya. Variabel independen
yang digunakan penulis adalah persepsi, motivasi, dan belajar sedangkan yang
penelitian sebelumnya hanya menggunakan variabel persepsi dan motivasi.
Variabel dependennya pun berbeda, yaitu pertimbangan investasi saham
syariah dengan keputusan pembelian di sebuah restoran.
E. Kerangka Pemikiran
Solomon dalam teorinya menyatakan bahwa persepsi, motivasi, belajar,
dan sikap seseorang mempengaruhi perilaku investasinya. Hal ini juga sejalan
dengan yang tertulis dalam Wikipedia, yaitu terdapat empat hal yang
10
mempengaruhi pertimbangan konsumen sebagaimana yang diteorikan Solomon.
Sedangkan Hawkin, Best, dan Coney menyatakan bahwa terdapat lima faktor
internal yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu pembelajaran, persepsi,
motif, kepribadian, dan emosi.
Penelitian yang penulis laksanakan akan mencoba membuktikan teori
mereka untuk dapat diaplikasikan dalam investasi di saham syariah. Namun
demikian dengan segala keterbatasan, penulis hanya menguji tiga variabel yang
diungkapkan mereka, yaitu persepsi, motivasi, dan pembelajaran. Hal tersebut
dapat digambarkan dalam Gambar 1.1 berikut:
Gambar 1.1
Kerangka Pemikiran
Perception
Consumer Behavior
Motivation
Learning and
Memory
Sumber: Solomon, Hawkin, Best dan Coney, dan Wikipedia
Investment Decision
11
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian yang saya ajukan merujuk pada Buku
Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Uraian sistematika penulisan dituliskan dalam bentuk uraian yang
menggambarkan alur pembahasan skripsi yang berurutan. Adapun sistematika
penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab I merupakan bab pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah,
pembatasan masalah dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,
review studi terdahulu, kerangka pemikiran, metodologi penelitian, dan
sistematika penelitian.
Bab II menyajikan Landasan Teori atau Kajian Kepustakaan, yang
menjelaskan seluruh variabel dalam penelitian ini.
Bab III menyajikan data hasil penelitian, berupa deskripsi data berkenaan
dengan variabel yang diteliti secara objektif.
Bab IV memaparkan analisa dan pembahasan dari penelitian. Dalam bab ini
akan dibahas temuan penelitian dan peneliti akan mencoba memodifikasi teori
yang telah ada.
Bab V merupakan bab penutup yang menerangkan tentang kesimpulan
penelitian, keterbatasan, dan saran-saran yang berguna bagi para peneliti
selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Investasi Saham Syariah
Manan menyatakan, investasi berasal dari bahasa Latin, yaitu investire
(memakai), sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan investment.1 Fitsgeral
dalam Manan mengartikan investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha
penarikan sumber-sumber (dana) yang dipakai untuk mengadakan barang modal
pada saat sekarang, dan dengan barang modal akan dihasilkan aliran produk baru
di masa yang akan datang.2
Bodie, Kane, dan Marcus mengemukakan, “An Investment is the current
commitment of money or other resources in the expectation of reaping future
benefit. For example, an individual might purchase share on stock anticipating
that the future proceeds from the share will justify both the time that her money is
tied up as well as the risk of the investment.”3
(Investasi adalah sebuah komitmen dari uang atau sumber daya lainnya dalam
harapan mendapatkan keuntungan di masa depan. Sebagai contoh, seseorang akan
1
Abdul Manan, Aspek Hukum Dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal Syariah
Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 183
2
Ibid, h. 183
3
Bodie, Kane, Marcus. Essentials of Investment, (New York: McGraw Hill, 2004), h. 3
12
13
membeli saham dengan harapan saham tersebut akan memberikan keuntungan
berikut juga dengan risikonya)
Ismanthono mendefinisikan investasi adalah tindakan menanamkan uang
dalam bentuk uang tunai, aset, dan surat-surat berharga lainnya dengan harapan
akan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang sebagai pendapatan dari
investasi tersebut.4
Definisi investasi adalah menanamkan modal atau menempatkan aset, baik
berupa harta maupun dana, pada sesuatu yang diharapkan akan memberikan hasil
pendapatan atau akan meningkatkan nilainya di masa mendatang. Atau secara
sederhana, investasi berarti mengubah cashflow agar mendapatkan keuntungan
atau jumlah yang lebih besar di kemudian hari.5
Sedangkan saham menurut Z. Alwi dalam Fauzi, saham adalah surat tanda
bukti kepemilikan bagian modal suatu perseroan terbatas. Dalam transaksi jual
beli di bursa efek, saham atau sering disebut share merupakan instrumen yang
paling dominan diperdagangkan.6
Saham syariah menurut fatwa DSN MUI No. 40 tahun 2003 adalah bukti
kepemilikan atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria sebagaimana
tercantum dalam pasal 3, yaitu jenis usaha; produk barang; jasa yang diberikan
4
Henricus W Ismanthono., Kamus Istilah Ekonomi Populer, (Jakarta: Kompas Media
Nusantara, 2006), h. 121
5
Dr. Muhammad Firdaus NH. Sistem Keuangan & Investasi Syariah. (Jakarta: Renaisan,
2005), h. 12
6
Fahmi Fauzi. Dampak Pengumuman Deviden Meningkat dan Deviden Menurun Terhadap
Perubahan Harga Saham (Abnormal Return) Sebelum Dan Sesudah Ex-Dividend Rate”, (Skripsi FEIS,
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2009), h. 15
14
dan akad serta cara pengelolaan perusahaan Emiten atau Perusahaan Publik yang
menerbitkan Efek Syariah tidak boleh bertentangan dengan Prinsip-prinsip
Syariah, dan tidak termasuk saham yang memiliki hak istimewa.
Sedangkan kriteria saham syariah menurut Peraturan Nomor II.K.1 tentang
Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah, kriteria saham syariah adalah:
a) tidak melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam angka 2
huruf a Peraturan Nomor IX.A.13;
b) tidak melakukan perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan
barang dan atau jasa;
c) tidak melakukan perdagangan dengan penawaran atau permintaan palsu;
dan
d) tidak melebihi rasio-rasio keuangan sebagai berikut:
-
total hutang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total
ekuitas tidak lebih dari 82% (hutang yang berbasis bunga
dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 45%:55%);
dan
-
total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya
dibandingkan dengan total pendapatan (revenue) tidak lebih dari
10%;
Dengan demikian investasi saham syariah adalah suatu aktivitas yang
berkaitan dengan penarikan sumber dana yang dimasukkan ke dalam sebuah
15
share (saham) yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah yang
memberikan keuntungan berikut juga risikonya.
1. Landasan Investasi syariah
Investasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah usaha
untuk tujuan mengembangkan harta. Selain itu, tujuan investasi merupakan
suatu komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan
pada saat sekarang, dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah keuntungan di
masa yang akan datang.7
Tujuan tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS. Yusuf: 47 –
49, yang menerangkan bahwa untuk mempersiapkan masa paceklik yang akan
datang selama tujuh tahun, rakyat mesir harus dapat menghemat
konsumsinya, dan bertani dengan bersungguh-sungguh. Dengan demikian
mereka akan dapat menghadapi masa sulit yang digambarkan Nabi Yusuf.
Allah SWT Berfirman:
‫ دأ!
رو إ آن‬$ % ‫
ل رن‬
/ () ‫ إ &ن‬$'( ) $‫اد *آ‬, % -(‫ ذ‬$ * / ()
() ‫ون‬01* ‫
ث ا(
س و‬4* ‫ م‬-(‫ ذ‬1! $ *
Artinya: Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun
(lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah
kamu biarkan ditangkainya kecuali sedikit yang kamu makan.
7
Ahmad Rodoni, Investasi Syariah, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h.28
16
Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang
menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun
sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia
diberikan hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras
anggur.
Investasi dilihat dari sudut kerohanian merupakan sebuah amal saleh
yang menjadi bekal manusia untuk hari perhitungan kelak. Karena tidak ada
seorang pun di dunia ini yang mengetahui masa depan, sehingga Allah
memerintahkan untuk melakukan investasi sebagai bekal dunia akhirat.8 Hal
ini sesuai dengan firman Allah dalam Alqur’an Surat Al-Hasy: 18, yaitu:
! 0= ;‫ و ا<ا ا; إن ا‬,4( 6 789 0:)(‫ أا ا<ا ا; و‬$*(‫**'
ا‬
() ‫ن‬1
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Investasi sangat dianjurkan agar harta yang dimiliki tidak habis
dengan zakat. Harta yang tidak berputar (idle) merupakan harta yang menjadi
objek zakat. Dengan demikian agar harta tersebut tidak habis karena zakat
maka perlu diinvestasikan. Hadits Rasulullah Saw:
8
Ibid, h. 30
17
)(‫وا أال ا‬0>‫ =@
ب ل ا‬$! 0 ‫ أن‬4! 9‫ أ‬-(
$ A&* B*
9
(9
D(‫ آ ا(آ
ة )روا ا‬
Artinya: Hadits Yahya dari Malik yang menyampaikannya dari Umar
Bin Khattab berkata: berdaganglah (berinvestasilah) dalam harta anak
yatim (agar harta tersebut) tidak habis oleh zakat (HR. Syaibani).
2. Kesesuaian Syariah dalam Saham
Saham ditinjau dari prinsip ekonomi Islam merupakan konsep yang
memiliki banyak kesamaan dengan syirkah.10 Syirkah merupakan suatu akad
antara dua pihak atau lebih untuk bersama-sama memberikan kontribusi,
seperti dana, keahlian, pekerjaan, dan reputasi. Kemudian akad syirkah juga
diawali dengan kesepakatan pembagian hasil ketika mendapat keuntungan dan
juga pembagian rugi.
Adapun pola syirkah yang dapat dilakukan di saham adalah dalam
bentuk musyarakah dan mudharabah. Perbedaan keduanya terletak pada
pemberian modal, dalam akad musyarakah shahibul mal terdiri dari seluruh
partner, tetapi dalam mudharabah hanya satu pihak yang memberikan modal
pihak yang lainnya bertugas untuk memproduktifkan usaha kemitraan mereka.
Selain akad yang dijalankan, produk yang menjadi usaha perusahaan
tempat berinvestasi harus sesuai dengan ketentuan prinsip syariah dalam pasar
9
Muhammad al-Zurqani, Syarh al-Zarqani ‘ala Muwatta al-Imam Malik, Juz: 2, (Beirut: Daar
al-Fikr, 1411 H), hlm. 103
10
Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam & Lembaga-Lembaga Terkait, Cet: 4
(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2004), h. 219
18
modal. Ketentuan tersebut di antarannya; usaha yang dijalankan tidak
melanggar ketentuan syariah, utang perusahaan tidak melebihi ekuitas yang
ada di perusahaan tersebut. Seperti ketentuan yang tertulis dalam Peraturan
Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.
Saham dapat mengakomodir masyarakat yang memiliki peluang usaha
namun tidak memiliki modal dengan masyarakat yang memiliki modal tetapi
tidak memiliki peluang usaha. Mereka berkumpul untuk mencapai kesuksesan
bersama. Tentunya seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW,
selama tidak ada yang berkhianat – misalnya dengan memberikan informasi
yang menyesatkan atau dengan menipu atau dengan korupsi, maka Allah akan
selalu bersama mereka.11 Allah berfirman dalam Hadits Qudsi yang
diriwayatkan Abu Dawud:
9‫ أ‬:‫
( *<ل‬1 ;‫ إن ا‬:‫م‬.‫ ا; – ل رل ا; ص‬AE‫ة ر‬0*0‫ أ! ه‬$
‫ !'
)روا‬$ 6K0= ‫ذا =
ن‬L , H ‫ أ ه‬$I* ( $J*0, B(
/
(‫&& ا(&
آ‬H ‫أ! داود و‬
Artinya: Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw Bersabda:
Sesungguhnya Allah SWT Berfirman: “Aku adalah pihak ketiga dari
kedua orang yang berserikat selama salah satu dari mereka tidak
mengkhiyanati temannya. Jika (di antara mereka) berkhiyanat, maka
11
Iwan P. Pontjowinoto, Kaya & Bahagia Cara Syariah, (Jakarta: Penerbit Hikmah, 2010),
Cet. Pertama, h. 182
19
Aku keluar dari keduanya. (HR: Abu Dawud dan Disahihkan
Hakim)
3. Jenis Saham
a. Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah sekuritas yang menunjukkan bahwa
pemegangnya
mempunyai
kepemilikan
atas
asset
perusahaan.
Pemegangnya memiliki hak suara dalam RUPS. Dalam referensi lainnya
dijelaskan, saham (biasa) dalah surat berharga sebagai bukti penyertaan
atau kepemilikan individu maupun institusi yang dikeluarkan oleh
perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT).12
Terdapat dua jenis saham biasa, yaitu:
1) Saham atas nama, yaitu saham yang nama pemilik saham tertera di
atas saham tersebut.
2) Saham atas unjuk, yaitu saham yang nama pemilik saham tersebut
tidak tertera di atas saham.
b. Saham Preferensi (Preferred Stock)
Saham preferen adalah saham yang mempunyai kombinasi
karakteristik obligasi dan saham biasa. Pemegang saham prefensi
memiliki beberapa hak yang unik, antara lain:
12
Sunariyah, S.E., MSi. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. (Yogyakarta: UPP STIM
YKPN, 2011), h. 73
20
1) Pemegang saham preferensi memiliki hak dividen yang ditentukan
dan disetujui oleh pemegang saham dan emiten.
2) Dalam pembagian dividen, pemegang saham preferensi memiliki hak
mendapatkan dividen lebih dahulu dibandingkan dengan pemegang
saham biasa.
3) Ketika keadaan likuidasi, pemegang saham preferensi memiliki hak
klaim terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa.
4) Pemegang saham preferensi tidak memiliki hak suara.
4. Keuntungan dan Risiko Investasi Saham
Dividen merupakan keuntungan yang didapat oleh pemegang saham
yang berasal dari presentase keuntungan suatu perusahaan. Jadi, setiap akhir
tahun dividen akan diberikan kepada pemegang saham yang besarnya
disesuaikan dengan porsi kepemilikan saham investor.13
Selanjutnya, dalam membuat keputusan investasi sebenarnya investor
tidak mengetahui tingkat keuntungan instrumen investasinya secara pasti.
Ketidakpastian tingkat keuntungan yang diperoleh investor berkaitan dengan
adanya risiko dalam setiap aktivitas investasi. Dalam kondisi normal risiko
investasi dapat diprediksi melalui kinerja perusahaan. Jika perusahaan
menunjukkan kinerja yang positif maka harga sahamnya akan mengalami
13
Natan Adri. Investasi Mudah & Murah. (Jakarta: Penebar Plus+, 2010), h 73
21
kenaikan. Investor akan mendapatkan capital gain dengan kenaikan harga
saham tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika kinerja perusahaan memiliki tren
yang negatif maka harga sahamnya akan mengalami penurunan dan investor
akan mendapatkan capital loss. Fluktuasi saham inilah yang menjadi risiko
investasi saham karena menjadikan ketidakpastian tingkat keuntungan atau
kerugian.
Sharpe (1963) dalam Silistyastuti (2002) menyederhanakan proses
penilaian investasi model Markowitz yaitu menjadi Konsep Model Indeks
Tunggal. Model Indeks tunggal menjelaskan bahwa risiko investasi saham
terdiri dari risiko tidak sistematis dan risiko sistematis.14
Risiko tidak sistematis adalah risiko yang terkait dengan fluktuasi dan
siklus bisnis dari industri tertentu. Setiap industri memiliki karakteristik risiko
khusus yang dipengaruhi variabel-variabel ekonomi secara spesifik. Sehingga
perusahaan-perusahaan yang jenis usahanya sama akan mendapatkan risiko
tidak sistematis yang sama. Risiko ini juga biasa disebut dengan risiko bisnis.
Risiko bisnis dapat dikurangi dengan diversifikasi. Sedangkan risiko
sistematis merupakan risiko eksternal dari sebuah bisnis, seperti inflasi,
keadaan ekonomi global, dan sebagainya.
14
Dyah Ratih Sulistyastuti. Saham dan Obligasi: Ringkasan Teori dan Soal Jawab.
(Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2002), h.10
22
Risiko-risiko di atas menurut Adri (2010) dapat diklasifikasikan
menjadi empat hal:
a. Tidak mendapatkan dividen,
b. Kerugian saat penjualan saham (capital loss),
c. Risiko likuiditas, yaitu likuiditas perusahaan yang minim. Sehingga saat
dividen harus dibagikan, investor tidak mendapatkan dividen karena
likuditas perusahaan yang minim, dan
d. Delisting atau penghapusan saham-saham yang dinilai tidak produktif.
Hal ini disebabkan karena tidak lakunya saham di bursa saat akan dijual.
5. Proses Investasi Saham
a. Penentuan Kebijakan Investasi
Penentuan kebijakan investasi meliputi penentuan tujuan investor
dan kemampuannya/kekayaannya yang dapat diinvestasikan.15 Karena
hubungan risiko dan return yang positif, maka kuranglah tepat jika
investor hanya ingin mencari keuntungan dalam berinvestasi saham.
Investor yang tepat adalah yang memiliki tujuan untuk mendapatkan
keuntungan yang besar, tapi juga memahami bahwa ada kemungkinan
terjadinya kerugian.
15
Willian F. Sharpe, Gordon J. Alexander, Jeffery V. Bailey; Alih Bahasa, Henry
Njooliangtik, Agustiono. Investasi. (Jakarta: Prenhlindo, 1999), h. 11
23
Selanjutnya adalah melihat kekayaan/kemampuan keuangan
investor tersebut. Irwan Abdallah, Head of Marketing Development,
Bursa Efek Indonesia, menyatakan bahwa yang paling penting saat masuk
investasi saham adalah dana yang diinvestasikan haruslah dana yang
memang diniatkan untuk berinvestasi. Karena jika tanpa diniatkan untuk
beinvestasi nantinya akan menjadi blunder dan akan menggangu cash
flow investor sendiri.
b. Analisis Sekuritas
Analisis sekuritas meliputi penilaian sekuritas secara individual
atau beberapa kelompok yang masuk dalam kategori luas dari aset
finansial yang telah diidentifikasi sebelumnya. Terdapat dua pendekatan
dalam menganalisa sekuritas, yaitu pendekatan analisis teknikal
(Technical Analysis) dan analisis fundamental (Fundamental Analysis)
1) Analisis Teknikal
Analisis ini meliputi studi harga pasar saham dalam upaya
meramalkan gerakan harga pada masa depan untuk saham
perusahaan tertentu. Mula-mula, harga-harga masa lalu dianalisis
menentukan trend atau pola gerakan harga. Lalu harga saham
sekarang dianalisis untuk mengidentifikasikan pola yang muncul dan
mirip dengan pola masa lalu. Jadi dengan mengidentifikasikan pola
24
yang muncul, analisis itu berharap dapat meramalkan dengan tepat
gerakan harga pada masa depan untuk saham tersebut.
2) Analisis Fundamental
Analisis fundamental adalah suatu analisa yang mempelajari
hal-hal
yang
berhubungan
dengan
kondisi
keuangan
suatu
perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui sifat-sifat dasar dan
karakteristik
operasional
dari
perusahaan
publik.16
Analisis
fundamental dimulai dengan pernyataan bahwa nilai intrinsik dari
asset finansial sama dengan present value dari semua aliran tunai
yang diharapkan diterima dari pemilik aset.
Sebelum melakukan analisis fundamental investor melakukan
analisa sebagai berikut:
a) Analisa Ekonomi
Analisa ekonomi adalah analisa yang mempelajari keadaan
ekonomi saat ini secara umum dan pengaruhnya di waktu
yang akan datang. Dalam melakukan analisa tersebut,
investor menggunakan beberapa ukuran aktivitas ekonomi,
di antaranya PDB (Produk Domestik Bruto), inflasi,
tingkat bunga, dan fluktuasi nilai tukar suatu negara.
16
Anonimous, Modul Sekolah Pasar Modal Bursa Efek Indonesia Kelas Intermidiate,
(Jakarta: Bursa Efek Indonesia, 2010), h. 67
25
b) Analisa Industri
Analisa industri adalah analisa yang mempelajari keadaan
kompetitif suatu perusahaan serta memproyeksikan potensi
perusahaan di masa yang akan datang. Beberapa indikator
penting analisis industri antara lain penjualan, laba,
dividen, struktur modal, regulasi dan inovasi.
c) Analisa Keuangan Perusahaan
Untuk mengetahui keadaan keuangan perusahaan, pertamatama calon investor meneliti laporan keuangan perusahaan
yang valid. Selanjutnya perhatikan neraca (balance sheet)
perusahaan. Kesanggupan perusahaan dalam membayar
hutangnya ketika jatuh tempo merupakan satu hal yang
harus diperhatikan.
Untuk
melakukan
analisa
keuangan
perusahaan
biasanya dilakukan dengan menggunakan analisa rasio:17
-
Rasio
Likuiditas,
kemampuan
perusahaan
untuk
memenuhi kewajiban jangka pendek.
-
Rasio Aktivitas, kemampuan serta efisiensi perusahaan
dalam memanfaatkan aset-aset yang dimiliki.
17
Rr Tini Anggraeni, ST, M.Si, Analisis dan Penilaian Surat Berharga, Modul Kuliah
Manajemen Investasi Syariah, 2010, slide, 16
26
-
Rasio Rentabilitas, menunjukkan seberapa besar tingkat
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
-
Rasio Solvabilitas, kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban jangka panjangnya, biasa disebut
rasio leverage.
-
Rasio Pasar, menunjukkan informasi penting dari
perusahaan yang diungkapkan dalam bentuk kinerja
saham.
c. Konstruksi Portofolio
Tahap ketiga adalah membentuk portofolio. Dalam tahap ini
selektifitas, penentuan waktu, dan diversifikasi perlu menjadi
perhatian para investor.
d. Merevisi Portofolio
Revisi portofolio berhubungan dengan tiga tahap sebelumnya.
Sejalan dengan waktu, kemungkinan investor mengubah tujuan
investasinya. Oleh karena itu, investor menjual portofolio yang
dimilikinya dan membeli portofolio lain yang belum ia miliki.
Motivasi yang memungkinkan investor melakukan hal itu adalah
perjalanan waktu, perubahan harga sekuritas yang membuat sekuritas
yang sebelumnya tidak menarik sekarang membuat investor tertarik
27
untuk memiliki sekuritas itu. Keputusan semacam ini tergantung
antara lain pada besarnya biaya transaksi yang dilakukan investor
untuk melakukan perubahan tersebut dan juga besarnya peningkatan
pendapatan investasi portofolio baru.
e. Mengevaluasi Portofolio
Tahap terakhir adalah evaluasi portofolio. Tahap ini meliputi
penentuan kinerja portofolio secara periodik dengan mengevaluasi
return yang didapatkan dari portofolio dan juga risiko yang harus
dibebani dari portofolio yang telah dipilih.
B. Perilaku Konsumen
James F. Engel (1968: 8) dalam Anwar P. Mangkunegara (2002)
berpendapat bahwa perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan-tindakan
individu secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan
barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang
mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.18
18
Anwar Prabu Mangkunegara. Perilaku Konsumen. (Bandung: Refika Aditama, 2002), h. 3
28
Michael R. Solomon menjelaskan:
“Consumer Behavior covers a lot of ground: It is the study of the
processes involved when individual or group select, purchase, use, or dispose of
products, services, ideas, or experiences to satisfy needs and desires”.19
(Perilaku konsumen mencakup berbagai aspek: Ini adalah belajar tentang
proses seseorang atau kelompok memilih, membeli, menggunakan atau
menentukan produk, servis, ide, atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginannya.)
David L. Loudon dan Albert J. Della (1984: 6) mengemukakan bahwa:
“Consumer behavior may be defined as decision process and physical
activity individuals engage in when evaluating, acquiring, using or disposing of
goods and services”20
(Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan
keputusan dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam proses
mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barangbarang dan jasa.)
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa
perilaku konsumen adalah tindakan individu atau kelompok yang berhubungan
19
20
Michael R. Solomon. Consumer Behavior. (Massachusetts: Allyn and Bacon, 1994), h. 7
Mangkunegara, Perilaku Konsumen, h. 3
29
dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan dan menggunakan
jasa atau barang yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginan seorang
pelanggan atau kelompok.
1. Persepsi
Persepsi menurut Solomon adalah proses dipilih, diatur, dan
ditafsirkannya suatu rangsangan
seperti
harga
produk,
warna,
dan
sebagainya.21 Menurut Solomon persepsi dimulai dengan sensasi yang
direspon oleh alat sensor rangsangan (seperti mata, telinga, hidung, dan lain
lain.
a. Proses Persepsi
Persepsi menurut Philip Kotler diartikan sebagai proses di
mana individu memilih merumuskan dan menafsirkan masukan
informasi untuk menciptakan gambaran yang berarti mengenai
dunia.22 Menurut Philip Kotler persepsi memiliki tiga proses:
1) Perhatian yang selektif (Eksposur Selektif)
Setiap orang banyak mendapatkan rangsangan tiap
harinya. Tetapi hanya rangsangan yang kuatlah yang dapat
memikat persepsi orang. Sehingga jika suatu produk ingin masuk
21
22
12
Solomon, Consumer Behavior, h. 49
Bilson Simamora. Panduan Riset Perilaku Konsumsi. (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2008), h.
30
dalam proses pertama ini, produk harus memiliki pesan yang
lebih menonjol dibandingkan dengan produk lainnya.
2) Gangguan yang selektif (Distorsi Selektif)
Proses distorsi selektif menggambarkan kecenderungan
orang untuk menafsirkan sesuatu sesuai dengan keinginan
pribadinya, biasanya yang lebih mendukung kecenderungan
pribadinya. Dengan demikian, pemasaran harus berusaha untuk
dapat memahami susunan pemikiran konsumen produk yang
akan dipromosikan.
3) Mengingat kembali yang selektif (Retensi Selektif)
Orang cenderung melupakan segala yang menurut
mereka tidak menarik atau yang tidak mendukung kepentingan
pribadi mereka. Mereka akan mengingat keunggulan produk dan
melupakan kekurangan yang disampaikan oleh pesaingnya.
Sedangkan menurut Hawkin, Best, dan Coney persepsi
memiliki tiga proses ditambah dengan memori.23
23
Hawkins, Best, Coney. Consumer Behavior: Implication for Marketing Strategy (Sixth
Edition). (United State Of America: Richard D. Irwin, Inc), h. 237
31
1) Exposure
Exposure terjadi ketika rangsangan (stimulus) datang ke
syaraf-syaraf receptor manusia. Namun demikian menurut
mereka, sebenarnya individu tidak membutuhkan exposure
dalam proses persepsi. Secara umum, sebenarnya individu akan
memberi perhatian lebih kepada produk yang menurut individu
bermanfaat bagi mereka atau akan memenuhi kebutuhan dan
keinginan mereka.
Konsumen sebenarnya tidak membutuhkan iklan atau
promosi yang ditujukan untuk mereka. Mereka akan mencari
dengan sendirinya produk yang menurut mereka dapat
memenuhi target atau kebutuhan yang mereka ingin dapatkan.
Sehingga yang perlu diperhatikan sekuritas adalah bukan
hanya promosi tetapi lebih memperhatikan segala yang kira-kira
dibutuhkan investor sehingga dapat bersinergi dengan mereka.
2) Attention
Perhatian terjadi ketika stimulus mengaktifkan satu atau
lebih saraf sensorik reseptor kemudian sensasi yang ia dapatkan
pergi ke otak untuk diproses. Sehingga untuk dapat memberikan
persepsi baik untuk konsumen, pemasar harus dapat memilih
32
materi yang kira-kira berguna untuk memberikan persepsi baik
bagi produk yang disampaikan. Selektif dalam memberikan
materi memiliki implikasi yang sangat besar bagi persepsi yang
akan muncul dari konsumen.
Hawkin, Best, dan Coney memberikan sebuah contoh
bahwa di tahun 1984 Departemen Pertanian (FCIC) di USA
menghabiskan $ 13,5 juta selama empat tahun pada kampanye
iklan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan di
kalangan petani dari program asuransi tanaman federal.
Namun menurut direktur urusan publik FCIC, J. W. Ellis,
mengatakan, “It was very good and very effective advertising.
The trouble is that we had a hard time getting people to read it”24
(itu adalah program yang bagus dan sangat efektif, tetapi kami
memiliki kesulitan untuk memperoleh orang yang mau
membacanya).
Dengan demikian, sangat penting bagi sekuritas atau
bahkan Bursa Efek Indonesia yang akan mengiklankan
produknya harus dapat menyeleksi produknya. Sehingga biaya
yang dikeluarkan untuk mengiklankan produk tersebut tidak
menjadi sia-sia.
24
________, Consumer Behavior: Implication for Marketing Strategy (Sixth Edition), h. 241
33
3) Interpretation
Interpretasi atau penafsiran dari sensasi yang didapatkan.
Interpretasi merupakan fungsi yang terbentuk oleh karakteristik
dari stimulus, individu, dan situasi. Interpretasi melibatkan dua
hal kognitif (fakta) dan tanggapan afektif (emosi). Interpretasi
kognitif merupakan suatu proses yang interaktif sedangkan
tanggapan afektif merupakan suatu tanggapan emosional yang
dipicu oleh stimulus (misalnya iklan).
4) Memory
Memori memainkan peranan penting dalam proses
persepsi. Memori memiliki komponen jangka panjang dan
jangka pendek. Terkait dengan memori akan lebih banyak di
pembahasan proses belajar.
b. Consumer Imagery
Image atau gambaran suatu produk sangat penting di mata
konsumen. Konsumen akan memilih produk atau jasa yang menurut
mereka cocok dengan image dalam diri mereka dan sebaliknya mereka
akan “menutup mata” terhadap jasa yang mereka anggap tidak cocok
dengan mereka.
34
Sebagai contoh, saat ini di Indonesia banyak bermunculan halhal yang berlabelkan ‘syariah’. Dari asuransi syariah, bank syariah,
hingga Daftar Efek Syariah. Semua terasa berlomba-lomba ingin
terlibat dalam industri syariah tersebut. Bank Syariah misalnya,
walaupun belum mampu mencapai market share yang direncanakan
Bank Indonesia yaitu 5% tetap saja tiap tahun lahir pemain baru dalam
industri tersebut. Tercatat hingga akhir 2010 terdapat 11 Bank Umum
syariah. Saham pun seakan tidak mau ketinggalan, sejak periode I (30
November 2007) hingga periode IV (30 Mei 2010) saham syariah
memiliki pangsa pasar 46% dari total saham yang beredar di Bursa
Efek Indonesia.
Menurut Schiffman dan Kanuk, saat ini mayoritas perusahaan
fokus dalam pembentukan image perusahaan tersebut. Mereka
berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan sudah sadar betapa
pentingnya suatu image untuk dapat menarik minat konsumen untuk
menggunakan barang atau jasanya.25
1) Perceived Price (Pertimbangan Harga)
Pertimbangan harga yang mahal atau murah sangat
mempengaruhi kepuasan konsumen dalam berbelanja produk
25
Schiffman, Leon G. and Kanuk, Leslie Lazar., Consumer Behavior. (New Jersey: PrenticeHl, 1997), h. 171
35
dan jasa. Konsumen akan kecewa jika ia mendapatkan fasilitas
yang sama dengan orang lain, tetapi ia harus membayar dengan
harga dua kali lipat dari orang tersebut. Harga yang kurang wajar
(terlalu mahal) mempengaruhi persepsi konsumen pada nilai
produk dan jasa, dan rencananya untuk menjadi langganan dalam
produk atau jasa tersebut.
Sebelum
memilih
suatu
produk,
konsumen
biasa
melakukan penelitian kecil tentang harga umum yang terdapat di
pasaran. Konsumen menjadikannya referensi ketika mereka ingin
menggunakan produk yang sama dengan referensi yang mereka
dapatkan lewat penelitian tadi. Referensi harga menurut
Schiffman dan Kanuk dapat terbagi menjadi eksternal dan
internal. Marketing perusahaan biasanya menggunakan referensi
harga ekstenal yang lebih mahal dibandingkan produk yang
dijualnya agar konsumen tertarik menggunakan jasa atau produk
yang mereka tawarkan.
Sedangkan referensi harga internal merupakan ingatan
dari konsumen. Referensi jenis ini merupakan referensi yang
sangat menentukan pilihan serta persepsi konsumen terhadap
produk yang akan mereka gunakan. Sebagai contoh jika seorang
investor ingin berinvestasi di satu sekuritas dengan biaya
36
pembukaan rekening menurut referensi harganya sebesar 5 juta
rupiah kemudian ia dapatkan sekuritas dengan harga pembukaan
dengan fasilitas yang sama dengan referensi harganya tadi maka
ia tidak mendapatkan kepuasan dalam pembelian produk
tersebut. Namun jika yang ia dapatkan lebih murah dan memiliki
fasilitas yang minimal sama dengan referensi harganya maka
konsumen akan mendapatkan kepuasan dalam bertransaksi.
2) Perceived Quality (Pertimbangan Kualitas)
Konsumen sering kali menilai kualitas produk dan jasa
berdasarkan berbagai informasi yang mereka dapatkan terkait
dengan produk atau jasa yang akan mereka pilih. Informasiinformasi
tersebut
dapat dikategorikan
menjadi
intrinsik
(hakikatnya), dan ekstrinsik (faktor eksternal).
Konsumen lebih percaya dengan informasi yang berasal
dari intrinsik yang ada dalam produk atau jasa. Namun demikian,
mayoritas konsumen lebih melihat ciri fisik produk yang tidak
memiliki hubungan intrinsik dari pada produk. Dengan
demikian, selain faktor intrinsik produk atau jasa, perusahaan
sekuritas harus dapat mengemas kualitas produk dan aspek
37
fisiknya sehingga investor tertarik menanamkan dananya melalui
sekuritas yang mereka pilih.
Selanjutnya adalah kualitas layanan jasa. Kualitas
layanan lebih sulit dievaluasi dibandingkan dengan kualitas
produk karena layanan tidak berwujud, layanan merupakan
variable, layanan diproduksi dan dikonsumsi secara simultan.
Karena kualitas layanan kemungkinan akan berbeda dari
hari ke hari, pegawai dengan pagawai lainnya, atau konsumen ke
konsumen lainnya, pemasar harus mencoba membuat standar
pelayanan yang tepat dan konsisten untuk konsumen mereka.
Tanpa adanya standar pelayanan yang konsisten bagi konsumen
akan dapat menurunkan minat konsumen untuk bertransaksi di
perusahaan tersebut.
2. Motivasi
Motivasi berasal dari kata motive. Motive menurut Abraham Sperling
(1967: 183) dalam Mangkunegara (2002) adalah suatu kecenderungan untuk
berkreativitas, dimulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan
penyesuaian diri. Penyesuaian diri dikatakan untuk memuaskan motif. 26
26
Mangkunegara, Perilaku Konsumen, h. 11
38
Sedangkan motivasi menurut Fillmore H. Stanford (1969: 173) adalah
sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan
tertentu. Motivasi dapat juga dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan
dorongan dalam diri (drive arousal).27
a. Proses Motivasi
Menurut Solomon, “Motivation refers to the processes that
cause people to behave as they do.”28 (Motivasi mengacu pada proses
yang menyebabkan seseorang melakukan segala yang mereka
inginkan). Motivasi muncul ketika konsumen terdorong dengan akan
terpenuhinya kebutuhan dan kepuasannya.
Kebutuhan
di
atas
dapat
dikategorikan
utilitarian
(bermanfaat, keinginan untuk mencapai suatu yang bermanfaat) atau
kebutuhan tersebut hanya sebagai hedonic (kebutuhan sesaat,
melibatkan emosi). Akhir dari hasrat tersebut adalah sebuah
consumer’s goal (sasaran konsumen).
Di lain sisi, ketimpangan antara kenyataan dan keinginan
menjadikan sebuah pemisah yang membuat tegangan. Selanjutnya
pemisah ini mendorong konsumen untuk mengurangi tegangan yang
ada tadi. Hal ini di sebut dengan drive. Faktor-faktor tadi bergabung
27
28
Ibid, h. 11
Solomon, Consumer Behavior, h. 181
39
untuk membentuk want, yang merupakan perwujudan dari need.
Ketika suatu goal tercapai, tegangan tadi akan berkurang dan
motivasi pun akan menjadi surut.
Gambar: 2.1
Motivation Process
NEED
RECOGNITION
Drive
Strength
Tension
Tension Reduction
Drive
Direction
Behavior
Goal
Want
Sumber: Solomon (1994: 81)
b. Teori-teori Motivasi29
a) Teori Insting
Darwin berpendapat bahwa tindakan yang intelligent
merupakan refleks dan instingtif yang diwariskan. Oleh karena
itu, tidak semua tingkah laku dapat direncanakan sebelumnya
dan dapat dikontrol oleh pikiran.
29
Mangkunegara, Perilaku Konsumen, h. 13
40
Berdasarkan dengan itu, William James, Sigmund Freud,
dan McDougall mengembangkan teori insting sebagai konsep
yang penting dalam psikologi. Teori Freud menempatkan
motivasi pada insting agresif dan seksual. McDougall menyusun
daftar insting yang berhubungan dengan semua tingkah laku:
terbang, rasa jijik, rasa ingin tahu, kesukaan berkelahi, rasa
rendah diri, menyatakan diri, kelahiran, reproduksi, lapar,
berkelompok, ketamakan, dan membangun.
b) Teori Drive
Woodworth menggunakan konsep tersebut sebagai energi
yang mendorong organisme untuk melakukan tindakan. Kata
drive dijelaskan sebagai aspek motivasi dari tubuh yang tidak
seimbang. Misalnya kekurangan uang mengakibatkan orang
tersebut
akan
berjuang mencari
uang untuk memenuhi
kebutuhannya.
Clark L. Hull berpendapat bahwa belajar terjadi akibat
dari reinforcement. Ia berasumsi bahwa semua hadiah pada
akhirnya didasarkan atas reduksi dan drive keseimbangan. Teori
Hull di rumuskan secara matematis yang merupakan hubungan
antara drive dan habit strength.
41
Kekuatan Motivasi = fungsi (drive x habit)
Habit
Strength
adalah
hasil
dari
faktor-faktor
reinforcement sebelumnya. Drive adalah jumlah keseluruhan
ketidakseimbangan fisiologis yang disebabkan oleh kehilangan
atau kekurangan kebutuhan komoditas untuk kelangsungan
hidup.
Berdasarkan teori Hull dapat diambil kesimpulan bahwa
motivasi seorang sangat ditentukan oleh kebutuhan dalam
dirinya (drive) dan faktor kebiasaan (habit) pengalaman belajar
sebelumnya. Misalnya, seseorang puas dengan pelayanan
sekuritas A, maka pengalamannya itu akan menjadi kekuatan
motivasinya untuk berinvestasi di sekuritas tersebut.
c) Teori Lapangan
Teori lapangan berasal dari Kurt Lewin.30 Teori lapangan
lebih fokus kepada pikiran nyata ketimbang pada insting atau
kebiasaan. Beliau berpendapat bahwa perilaku merupakan suatu
fungsi dari lapangan pada momen waktu. Ia juga yakin pada para
ahli teori Gestalt yang mengemukakan bahwa perilaku seseorang
merupakan fungsi dari seseorang terhadap lingkungannnya.
30
Ibid, h. 14
42
d) Teori Prestasi dan Motif Sosial
Edward J. Murray berpendapat bahwa perilaku bukan
hanya proses kognitif saja, melainkan juga merupakan fungsi
dari lingkungan sosial. Murray menjelaskan daftar motif-motif
sosial sebagai berikut:
Tabel 2.1
Beberapa Daftar Motif-motif Sosial
Social Motive
Counteraction
Dominance
Exhibition
Inavoidance
Order
Rejection
Sentinence
Sex
Succorance
Understanding
Abasement
Achievement
Affiliation
Aggression
Autonomy
Brief Description
To master of to make up for a failure by
retrieving.
To control one’s human environment.
To make an impression.
To avoid humiliation.
To
achieve
cleanliness,
arrangement,
organization, balance, neatness, tidiness, and
precision
To snub or jilt an object.
To seek and enjoy sensuous impression.
To form sexual intercourse.
To always have a supporter.
To ask or answer general question.
To submit passively to extreme force.
To accomplish something difficult.
To draw near and enjoyable cooperate or
reciprocate with an allied other.
To overcome opposition forcefully.
To get free, to be independent.
Sumber: Mangkunegara, hlm.15
43
3. Proses Belajar
Belajar menurut Hawkin, Best, Coney adalah any change in the
content or organization of long-term memory.31 (belajar adalah perubahan
muatan dan organisasi dalam memori jangka panjang). Belajar merupakan
hasil dari informasi yang telah didapatkan sebelumnya.
Sedangkan proses belajar menurut Solomon adalah refers to a
relatively permanent change in behavior that is caused by experience.32
(belajar mengacu kepada perubahan permanen yang relative dalam kelakuan
yang disebabkan oleh pengalaman). Seperti halnya persepsi dan motivasi,
belajar merupakan suatu proses. Pengetahuan kita tentang dunia terusmenerus direvisi karena terkena rangsangan atau input baru dan feedback
yang memungkinkan kita untuk memodifikasi input-input yang terdahulu.
a. Pengaruh keadaan
Conditioning atau pengaruh keadaan mengacu kepada
pembelajaran berbasis pada gabungan stimulus atau rangsangan dan
respon seseorang. Terdapat dua bentuk utama dari conditioning, yaitu
classical dan operant.
31
Hawkins, Best, Coney, Consumer Behavior: Implication for Marketing Strategy (Sixth
Edition), h. 278
32
Solomon, Consumer Behavior, h.110
44
1) Classical Conditioning
Classical Conditioning is the process of using an
established relationship between a stimulus and response to
bring about the learning of the same response to a different
stimulus. (Classical Conditioning merupakan proses yang
terbentuk dari hubungan antara stimulus dan respon untuk
merespon rangsangan yang berbeda.)
Kondisi ini terjadi ketika rangsangan yang mendapatkan
respon bergabung dengan rangsangan yang tidak mendapatkan
respon.33 Classical conditioning merupakan pengkondisian yang
paling umum digunakan pemasar saat terjadi low-involvement.
Penting untuk dicatat bahwa yang dipelajari oleh konsumen
bukanlah informasi melainkan emosi atau respon afektif.34
2) Operant Conditioning
Operant Conditioning also known as Instrumental
Conditioning occurs as the individual learns to perform
33
34
Ibid, h. 112
Hawkins, Best, Coney, Consumer Behavior: Implication for Marketing Strategy, h. 273
45
behaviors that produce positive outcomes and to avoid those that
yield negative outcomes.35
(Operant Conditioning juga disebut sebagai Instrumental
Conditioning terjadi ketika orang akan melakukan hal yang
positif demi menghindari orang-orang menilai negatif)
Operant conditioning melibatkan gambaran produk yang
sebenarnya. Free sample, diskon harga produk, dan hadiah yang
ditawarkan produk bagi penggunanya dapat membuat consumer
mulai mengenal dan akhirnya menggunakan produk yang
ditawarkan.
Gambar 2.2
Consumer Learning by Operant Conditioning
Stimulus
(Free Trial)
Desired Response
(consumption)
Increases probability of
response to stimulus
Sumber: Solomon, h. 274
35
Solomon, Consumer Behavior, h. 114
Reinforcement
(pleasant taste)
46
b. Karakteristik Umum Pembelajaran
1) Kekuatan Pembelajaran
Terdapat lima faktor yang sangat mempengaruhi kekuatan belajar:
a)
Importance. Semakin penting individu ingin mempelajari,
makin efektif atau efisien bagi individu tersebut dalam proses
pembelajaran
b) Reinforcement. Ini merupakan sesuatu yang meningkatkan
kemungkinan bahwa suatu respon akan diulangi di waktu
yang
akan
datang,
dianggap
sebagai
penguatan
(reinforcement).
c)
Punishment
(hukuman)
merupakan
kebalikan
dari
reinforcement. Punishment menurunkan kemungkinan akan
ada pengulangan respon di masa yang akan datang.
Dari dua hal di atas (reinforcement dan punishment) terdapat
dua alasan penting bagi pemasar untuk menentukan secara
tepat kekuatan apa yang membuat konsumen melakukan
pembelian:36
-
Agar konsumen membeli berkali-kali, produk harus
memuaskan tujuan yang akan dicapai konsumen.
36
Prof. Dr. J. Supranto. MA. APU, Dr. H. Nandan Umakrisna, Ir., MM., CQM, Perilaku
Konsumen & Strategi Pemasaran Untuk Memenangkan Persaingan Bisnis, (Jakarta: Penerbit Mitra
Wacana Media, 2011), h. 122
47
-
Membujuk konsumen untuk membuat pembelian awal,
pesan promosi harus menjanjikan jenis penguatan yang
tepat, yaitu kepuasan tujuan konsumen.
d) Repetition
meningkatkan
kekuatan
dan
kecepatan
pembelajaran. Semakin banyak waktu yang tertuang untuk
mendapatkan informasi, semakin besar kemungkinan untuk
mempelajarinya.
e)
Imagery (Kecitraan). Kecitraan yang tinggi lebih membantu
mempelajari dan mengingat dari pada kecitraan yang rendah.
Sebagai contoh, mobil kijang yang menimbulkan pencitraan
bahwa mobil dengan bentuk minibus disebut dengan kijang.
Padahal belum tentu mobil itu bermerek kijang.
c. Memory
Memory merupakan akumulasi dari seluruh pengalaman
belajar. Memory terbagi menjadi dua hal, yaitu memori jangka panjang
dan memori jangka pendek.
1) Memori jangka panjang
Memori jangka panjang merupakan penyimpanan yang
permanen dan tanpa batas. Jenis memori ini menyimpan banyak
informasi seperti konsep, keputusan, proses, afektif, dan lainnya.
48
Pemasar biasanya tertarik dengan “Schematic memory”, yaitu
memori yang mewakili pemahaman seseorang mengenai suatu
objek atau kejadian pada tingkat yang paling sederhana.37
Jenis memori lainnya yang menarik perhatian pemasar
adalah “episodic memory”, yaitu memori suatu urutan kejadian
dimana seseorang berpartisipasi (turut aktif). Contoh memori ini
seperti pertama kali bekerja, dan menikah. Kedua hal tersebut
akan selalu diingat. Memori jenis ini akan mendatangkan
kecitraan (imagery) dan perasaan (feeling), karena orang terlibat
dengan kegiatan tersebut.
2) Memori jangka pendek
Memori jangka pendek memiliki kepastian terbatas untuk
menyimpan informasi. Individu menggunakan memori jangka
pendek
untuk
menahan
informasi,
menganalisis,
dan
menginterpretasikannya.38 Memori jangka pendek dapat disebut
dengan berpikir (thinking). Dua jenis aktivitas proses informasi
terjadi dalam memori jangka pendek adalah Maintenance
Rehearsal, dan Elaborate Activity.
Maintenance Rehearsal adalah pengulangan informasi
yang terjadi terus menerus untuk digunakan dalam pemecahan
37
38
Ibid, h. 127
Ibid, h. 126
49
masalah ke dalam memori jangka panjang. Sedangkan Elaborate
Activity merupakan penggunaan pengalaman, nilai, sikap,
kepercayaan, dan perasaan yang disimpan sebelumnya untuk
menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi dalam working
memory dan bersamaan informasi yang sudah disimpan
sebelumnya.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Penelitian
kuantitatif ialah penelitian yang berkonsentrasi dalam pengujian teori-teori
melalui variabel penelitian dalam bentuk angka, dan kemudian melakukan
analisis data dengan proses statistika baik manual maupun dengan menggunakan
bantuan piranti lunak komputer. Pada penelitian kuantitatif, teori atau paradigma
teori digunakan untuk menuntun peneliti menemukan masalah penelitian,
menemukan hipotesis, menemukan konsep, menemukan metodologi, dan
menemukan alat analisis data.1
B. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian statistik inferensial
parametik, yang berarti akan menggunakan sampel. Kemudian hasil yang didapat
pada sampel tersebut akan diberlakukan pada populasi dengan menggunakan
skala interval dan rasio yang digunakan berdasarkan pada populasi yang
berdistribusi normal.
1
Prof. Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos., M. Si. Metodologi Penelitian Kuantitatif:
Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik, serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. (Jakarta: Prenada Media
Group, 2008), hlm. 25
50
51
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengikuti sekolah
pasar modal di tanggal 4, 5, dan 11 Mei 2011. Untuk tanggal 4 dan 5 Mei 2011
merupakan masyarakat peserta sekolah pasar modal level intermediate, dan untuk
tanggal 11 Mei 2011 adalah peserta level advance. Jumlah seluruh peserta yang
hadir dalam tiga SPM tersebut adalah 307 orang. Untuk daftar perserta akan
dilampirkan.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang dianggap mewakili populasi.2
Sampling ialah cara pengumpulan data atau penelitian kalau hanya elemen sampel
(sebagian dari elemen populasi) yang diteliti.3 Sedangkan menurut Sarwoko
(2007: 51) sampling adalah proses pemilihan sejumlah elemen dari populasi
sehingga dengan mempelajari sampel tersebut kita dapat memahami sifat-sifat
atau karakteristik-karakteristik subjek dan kemudian kita dapat memperluas
keberlakuan sifat-sifat itu kepada elemen-elemen populasi.
Teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan adalah teknik Simple
Random Sampling, yaitu memberikan kesempatan yang sama kepada populasi
untuk menjadi sampel dalam penelitian ini. Dalam teknik ini peneliti memiliki
asumsi bahwa subjek penelitian bersifat homogen.
2
Bilson Simamora, Panduan Riset Perilaku Konsumsi, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2008),
hlm: 36
3
Prof. J. Supranto, M. A., APU., Teknik Sampling Untuk Survey dan Eksperimen, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2007), hlm. 3
52
Jumlah sampel yang diambil menggunakan persamaan yang digunakan
Slovin, yaitu:
݊=
ܰ
ܰ. ݀ଶ + 1
Keterangan:
n
: Jumlah sampel
N
: Jumlah Populasi
d
: presisi (5%)
maka:
݊=
307
= 173,69
307. 0,05ଶ + 1
Nilai sampel yang harus diambil dalam penelitian ini adalah 173,69 yang
peneliti bulatkan menjadi 174 orang.
Karena subjek dalam penelitian ini terdiri dari beberapa grup maka
peneliti menggunakan proportionate random sampling dengan persamaan sebagai
berikut:
݊݅ =
ܰ݅
.݊
ܰ
Keterangan;
ni
: jumlah sampel menurut stratum
n
: Sampel
Ni
: Populasi menurut stratum
N
: Populasi
53
Tabel 3.1
Proporsi Sampel
Tanggal Pelaksanaan
(N)
(n)
Ni
ni
Ni (dibulatkan)
4 Mei 2011
307
174
92
52,14
52
5 Mei 2011
307
174
124
70,28
70
11 Mei 2011
307
174
91
51,58
52
Total Sampel yang diambil setelah pembulatan
174
Sumber: Data primer yang diolah
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah seluruh sampel
adalah 174 peserta sekolah pasar modal.
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber dari
hasil kuesioner yang disebarkan ke seluruh sampel. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer masyarakat yang mengikuti sekolah pasar modal
yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia yang terdiri dari tiga kelompok,
yaitu dua kelompok kelas intermediate, dan satu kelompok kelas advance.
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang akurat, penelitian ini menggunakan data
primer, data primer yang digunakan, yaitu:
54
1. Observasi
Observasi merupakan salahsatu teknik pengumpulan data dimana
peneliti mengadakan pengamatan secara sistematis terhadap objek yang akan
diteliti, baik dalam situasi buatan maupun alami.4
2. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara mengadakan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung
secara bertatap muka dengan sumber data.
3. Kuesioner
Kuesioner dikenal juga dengan nama angket. Ini merupakan salah satu
teknik pengumpulan data dalam bentuk pengajuan pertanyaan melalui sebuah
pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelum diberikan kepada sumber data.
E. Teknik Analisis Data
1. Analisis Kualitatif
Proses pengolahan data untuk menentukan nilai variable eksogen dan
variable endogen, data yang tidak dapat diukur dengan skala rasio dan internal
akan digolongkan ke dalam 5 kategori, yaitu:
a) Sangat setuju dengan skor 5
b) Setuju dengan skor 4
c) Netral dengan skor 3
d) Tidak setuju dengan skor 2
e) Sangat tidak setuju dengan skor 1
4
Ridwan, Drs, MBA., DR. Engkos Ahmad Kuncoro, SE, MM., Cara Menggunakan dan
Memaknai Analisis Jalur (Path Analysis), (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 19
55
2. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan
atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument dapat dikatakan valid
apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Validitas behubungan dengan
ketepatan alat ukur untuk melakukan tugasnya mencapai sasaran.5
Ketentuannya adalah indeks validitas minimum (Pearson Correlation)
>0,3, semakin tinggi angka indeks validitas (semakin mendekati 1,00) maka
semakin baik pula validitasnya.
3. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu pengukuran yang menunjukkan stabilitas dan
konsitensi dari suatu instrumen yang mengukur suatu konsep dan berguna
untuk mengakses “kebaikan” dari suatu pengukur.6 Ghiselli, et all (1981: 191)
mendefinisikan reabilitas sebagai pengukur seberapa besar variasi tidak
sistematik dari penjelasan kuantitatif dari karakteristik-karakteristik suatu
individu jika individu yang sama diukur beberapa kali.7
Ketentuan reliabiltas adalah:
5
•
Jika r Alpha > 0,6 maka instrumen reliabel
•
Jika r Alpha < 0,6 maka instrumen tidak reliabel
Prof. Jogiyanto, HM., Akt., MBA., Ph.D., Metodologi Penelitian Sistem Informasi,
(Yogyakarta: CV Andi, 2008), hlm. 164
6
Ibid, hlm. 164
7
Ibid, hlm 164
56
4. Uji Asumsi Klasik
a) Uji Normalitas Data
Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi
sebuah data yang didapatkan mengikuti atau mendekati hukum sebaran
normal baku dari Gauss.8 Distribusi data yang normal digambarkan
dengan grafik polygon yang akan menyerupai bentuk lonceng atau bel.
Distribusi data tersebut tidak miring ke kanan atau ke kiri.
b) Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas berarti ada hubungan linear yang sempurna
(pasti) di antara beberapa atau semua variabel independen dari model
regresi.9 Korelasi antar variabel independen sebaiknya kecil (r < 0,5).
Makin kecil korelasi antar variabel independen makin baik untuk model
regresi yang dipergunakan.10 Dalam sumber lain disebutkan bahwa jika
nilai tolerance mendekati 1 dan nilai VIF < 5 dalam tabel coefficients
maka tidak terjadi multikolinearitas.11
8
Muhammad Nisfiannoor, Pendekatan Statistika Modern untuk Ilmu Sosial, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2009), hlm. 91
9
Wahid Sulaiman, Analisis Regresi Menggunakan SPSS, (Yogyakarta: Penerbit ANDI,
2004), hlm. 89
10
Nisfiannoor, Pendekatan Statistika Modern untuk Ilmu Sosial, hlm. 92
11
Iim Qoimudin, Modul Kuliah Statistika II: Suplemen 3, Jakarta: Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif Hidayatullah. 2009, hlm. 3
57
c) Uji Homoskedastisitas
Uji homoskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah variasi
antar kelompok yang diuji berbeda atau tidak, variasinya homogen atau
heterogen.12
5. Uji Hipotesis
a) Korelasi (R)
Korelasi berganda dipakai untuk mengetahui korelasi beberapa
variabel independen secara bersama terhadap variabel dependen.13 Tabel
3.1 menjelaskan ukuran korelasi.
Tabel 3.2
Ukuran Korelasi
Interval Koefisien
0.80 – 1,000
0,60 – 0,790
0,40 – 0,590
0,20 – 0,399
0,00 – 0,199
Tingkat Hubungan
Sangat kuat
Kuat
Cukup Kuat
Rendah
Sangat Rendah
Sumber: Ridwan, Drs, MBA., DR. Engkos Ahmad Kuncoro, SE, MM. Cara
Menggunakan dan Memaknai Analisis Jalur (Path Analysis), hlm. 161
b) Koefisien Determinan (R2)
Nilai koefisien determinan (R2) memiliki interval antara 0 sampai
1. Semakin besar R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model
12
13
Ibid, hlm. 92
Sulaiman, Analisis Regresi Menggunakan SPSS, hlm. 83
58
regresi tersebut dan semakin mendekati 0, maka variabel independen
secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan variabel dependen.14
c) Uji t
Uji t dipakai untuk melihat signifikansi dari pengaruh independen
secara individu terhadap variabel dependen dengan menganggap variabel
lain bersifat konstan.15 Ketentuan uji t adalah:
o Jika thitung > ttabel maka Ho ditolak
o ika thitung < ttabel maka Ho ditterima
Atau kita dapat melihat nilai signifikansi (sig), jika nilai sig <0.05
maka Ho ditolak.
d) Uji F
Uji F dilakukan untuk melihat pengaruh variabel-variabel
independen
secara
keseluruhan
terhadap
variabel
dependen.16
Ketentuannya adalah sama dengan pengujian t, yaitu jika nilai
signifikansinya <0,05 maka Ho ditolak, begitu pula sebaliknya.
e) Hipotesis
1) Hipotesis utama
Ho
: tidak ada pengaruh antara persepsi, motivasi, dan belajar
masyarakat (secara bersamaan) terhadap pertimbangan
investasi saham syariah.
14
Ibid, hlm. 86
Ibid, hlm. 87
16
Ibid, hlm. 86
15
59
Ha
: terdapat pengaruh antara persepsi, motivasi, dan belajar
masyarakat (secara bersamaan) terhadap pertimbangan
investasi saham syariah
2) Hipotesis Parsial
(a) Untuk Variabel X1 (Persepsi)
Ho
: tidak ada pengaruh antara persepsi peserta SPM
terhadap pertimbangan investasi saham syariah.
Ha
: terdapat pengaruh antara persepsi peserta SPM
terhadap pertimbangan investasi saham syariah
(b) Untuk Variabel X2 (Motivasi)
Ho
: tidak ada pengaruh antara motivasi peserta SPM
terhadap pertimbangan investasi saham syariah.
Ha
: terdapat pengaruh antara motivasi peserta SPM
terhadap pertimbangan investasi saham syariah
(c) Untuk Variabel X3 (Belajar)
Ho
: tidak ada pengaruh antara pembelajaran peserta SPM
terhadap pertimbangan investasi saham syariah.
Ha
: terdapat pengaruh antara pembelajaran peserta SPM
terhadap pertimbangan investasi saham syariah
60
Tabel 3.3
Pengukuran Variabel
Variabel
Persepsi
Subvariabel
Interpretasi
Skala Pengukuran
Fakta
Ordinal
Emosi
Ordinal
Perceive Price
Ordinal
Perceive Quality
Ordinal
Keuntungan
Ordinal
Keberkahan
Ordinal
Rasa Aman
Pendapatan
Ordinal
Sosial
Orang dekat
Ordinal
Membantu
Ordinal
Pengembangan Keuangan
Ordinal
Consumer Imagery
Motivasi
Indikator
Fisiologi
Penghargaan
Syariah
Belajar
Respon
Stimulus
Investasi
Investasi
Investasi syariah
Pemilik Perusahaan
Ordinal
Sosialisai
Ordinal
Aktualisasi
Ordinal
Sekolah Pasar Modal
Ordinal
Pengetahuan Dasar Saham
Ordinal
Pentingnya Sosialisasi
Ordinal
Ekonomi
Ordinal
Risiko dan Keuntungan
Ordinal
Pengembangan
Ordinal
Ketentuan-ketentuan
Ordinal
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Sekilas Profil Sekolah Pasar Modal1
Sekolah Pasar Modal (SPM) dimulai sekitar tahun 2006, dahulu dimulai
dari kecil, kecil, kecil hingga membentuk sebuah pola. Hingga akhirnya materi
terstandar dan pematerinya pun terstandar. Dahulu sistemnya tidak seperti saat ini
yang menggabungkan empat sesi dalam satu hari, melainkan dibagi menjadi
empat pertemuan atau satu sesi perminggu. Hal ini dinilai oleh penanggung jawab
SPM, yaitu divisi pemasaran BEI sangat mengulur waktu dan akan merepotkan
peserta. Sehingga akhirnya saat ini semua sesi digabungkan dalam satu hari agar
tidak terlalu banyak memakan waktu.
Pemateri dalam SPM terdiri dari praktisi, regulator, dan pemateri dari
BEI. SPM terbagi menjadi empat level, yaitu level basic, intermediate, advance,
dan yang baru-baru ini diluncurkan adalah SPM Syariah. Pada level basic, peserta
dikenalkan dengan istilah-istilah dalam pasar modal seperti apa itu saham,
obligasi, reksadana, dan sebagainya. Kemudian di level intermediate dikenalkan
dengan analisis teknikal dan fundamental saham. Dalam level intermediate juga
1
Wawancara Pribadi dengan Taufiq Rochman. Jakarta. 13 Mei 2011
61
62
dilakukan simulasi perdagangan dalam bursa efek, sehingga peserta lebih teknis
mengetahui perdagangan dalam bursa efek. Selanjutnya level advance, level ini
dikhususkan bagi orang-orang yang sudah memiliki rekening efek yang ingin
mengetahui lebih mendalam pengetahuan tentang pasar modal. Pasar modal
syariah, pengetahuan obligasi, dan perkembangan pasar disampaikan dalam level
ini. Selanjutnya yang baru-baru ini diluncurkan adalah SPM Syariah. Materimateri yang disampaikan dalam SPM Syariah antara lain terkait dengan fatwafatwa DSN-MUI tentang Pasar Modal Syariah, dukungan pemerintah terhadap
pasar modal syariah dan lain sebagainya.
Target peserta sudah jelas di dalam website, yaitu masyarakat yang sudah
berumur 25 tahun, artinya statusnya sudah lulus atau sudah mulai bekerja. Namun
demikian, pihak penyelenggara masih memberikan fleksibilitas bagi masyararakat
yang belum berumur 25 tahun.
Visi dari adanya SPM adalah agar kiprah pemodal lokal dapat menjadi
dominan. Saat ini yang menjadi tren dalam pasar modal Indonesia masih investor
asing. Seharusnya yang dominan investor domestik. Karena jika yang dominan
investor asing, nantinya jika ada masalah seperti yang terjadi di tahun 2008
Indonesia akan terkena dampak juga. Tapi kalau seperti di Malaysia atau
Singapura yang investor domestiknya lebih banyak dibanding investor asing,
mereka tidak terlalu terkena dampak jika ditinggal investor asing.
63
Dalam SPM yang diselenggarakan oleh BEI tidak memiliki struktur
organisasi. Penanggung jawabnya adalah divisi pemasaran BEI. BEI bekerja sama
dengan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), KPEI (Kliring dan Penjaminan
Efek Indonesia), beserta beberapa broker yang ingin bekerjasama dalam sekolah
pasar modal.
B. Objek Penelitian Menurut Klasifikasi
1. Menurut Usia
Tabel 4.1
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.1 memaparkan objek penelitian menurut usia. Dari tabel
tersebut terpapar 81 responden berumur < 30 tahun, 45 responden berumur 31
– 40 tahun, 34 responden berumur 41 – 50 tahun, 11 responden berumur 5160 tahun, dan 3 responden berumur > 60 tahun. Dari tabel tersebut kebayakan
responden adalah berumur < 30 tahun.
64
2. Menurut Kelamin
Tabel 4.2
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.2 memaparkan objek penelitian menurut jenis kelamin. Dari
tabel tersebut terpapar 110 responden berkelamin laki-laki, dan 64 responden
berkelamin perempuan. Dari tabel tersebut kebayakan responden adalah
berkelamin laki-laki.
3. Menurut Pendidikan Terakhir
Tabel 4.3
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.3 memaparkan objek penelitian menurut pendidikan terakhir.
Dari tabel tersebut terpapar 28 responden lulusan SMA, 16 responden lulusan
65
D1/D2/D3, 102 responden lulusan S1, dan 28 responden lulusan S2/S3. Dari
tabel tersebut kebayakan responden adalah lulusan S1.
4. Menurut Pekerjaan
Tabel 4.4
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.4 memaparkan objek penelitian menurut pekerjaan responden.
Dari tabel tersebut terpapar 23 responden pengusaha, 45 responden
mahasiswa, 58 responden pegawai, 5 responden dosen, dan 43 responden
lainnya seperti pensiunan, dan ibu rumah tangga. Dari tabel tersebut
kebayakan responden adalah pegawai.
66
5. Menurut Pendapatan Perbulan
Tabel 4.5
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.5 memaparkan objek penelitian menurut pendapatan
perbulan responden. Dari tabel tersebut terpapar 25 responden
berpendapatan < 1 juta, 20 responden berpendapatan 1,1 – 2,5 juta, 55
responden berpendapatan 2,6 – 5 juta, 40 responden berpendapatan 5,1 –
10 juta, dan 34 responden berpendapatan > 10 juta. Dari tabel tersebut
kebayakan responden adalah berpendapatan 2,6 – 5 juta.
C. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Sebelum kuesioner diberikan kepada 174 responden, penulis
melakukan tryout kepada 13 orang responden dengan memberikan 36
pernyataan untuk menguji Validitas dan Reabilitas dari seluruh pernyataan
tersebut.
67
Standarisasi kuesioner dilakukan setelah tryout terhadap 13 responden.
Kuesioner dibagi menjadi empat variabel utama yaitu variabel persepsi,
variabel motivasi, variabel belajar, dan variabel investasi saham syariah.
Variabel persepsi terbagi menjadi dua sub variabel, yaitu interpretasi dan
consumer imagery, yang memiliki 10 indikator. Pada variabel motivasi
terdapat empat sub variabel, yaitu fisiologi, rasa aman, sosial, dan
penghargaan, yang memiliki 10 indikator. Kemudian pada variabel belajar
terdapat dua sub variable, yaitu respon, dan stimulus, yang memiliki 7
indikator. Terakhir merupakan variabel investasi saham syariah yang memiliki
dua sub variabel, yaitu investasi, dan investasi syariah dengan 9 indikator.
Tabel 4.6
Hasil Tryout Variabel Persepsi
Persepsi
No.
Penyataan
1.
Saya melihat perkembangan saham
syariah sangat pesat
Saya setuju bahwa saham syariah
diperuntukkan bagi semua pihak
Secara prinsip, saya tidak mendapatkan
perbedaan antara saham syariah dengan
saham lainnya
Saya ingin berinvestasi di saham syariah
Saya setuju dengan harga pembukaan
efek untuk saham syariah sama dengan
saham lainnya
Saya yakin pergerakkan saham syariah
sama dengan saham lainnya
Dari segi nominal keuntungan dan resiko,
menurut saya antara saham syariah dan
saham lain tidak ada perbedaan
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Pearson
Correlation
0,630
Keterangan
Valid
0,385
Valid
0,570
Valid
0,641
0,575
Valid
Valid
0,684
Valid
0,466
Valid
68
8.
9.
10.
Saya yakin saham syariah akan banyak
diminati investor
Saya yakin saham syariah akan banyak
diminati investor
Saya setuju bahwa faktor ideologis akan
mempengaruhi investas saham syariah
0,453
Valid
0,495
Valid
0,309
Valid
Sumber: Data primer yang diolah
Pada tabel 4.6 tentang instrumen pernyataan variabel persepsi, seluruh
pernyataan dalam variabel tersebut memenuhi kriteria validitas yaitu > 0,3.
Sehingga seluruh pernyataan yang ada dalam variabel persepsi dipertahankan
untuk dapat memenuhi instrument penelitian variabel persepsi.
Tabel 4.7
Hasil Tryout Variabel Motivasi
Motivasi
No.
Penyataan
1.
Saya akan mendapatkan keuntungan
financial jika berinvestasi di saham
syariah
Selain keuntungan financial, saya juga
akan mendapatkan keberkahan dalam
berinvestasi di saham syariah
Pendapatan yang akan saya dapatkan dari
saham
syariah
terjamin
sebagai
pendapatan yang baik
Selain baik, pendapatan tersebut juga
halal
Saya akan berinvestasi jika rekan,
kerabat, atau orang yang saya kenal juga
ikut berinvestasi
Dengan
berinvestasi
berarti
saya
membantu pengusaha untuk berkembang
Dengan investasi saham syariah berarti
saya ikut serta dalam pengembangan
keuangan syariah
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Pearson
Correlation
0,123
Tidak Valid
0,562
Valid
0,639
Valid
0,595
Valid
0,536
Valid
0,408
Valid
0,641
Valid
Keterangan
69
8.
9.
10.
Dengan berinvestasi saham syariah,
berarti saya menjadi pemilik perusahaan
tempat saya berinvestasi
Saya akan lebih mengaktualisasi diri
saya, ketika sudah benar-benar menjadi
investor
Saya akan berinvestasi jika segala
kebutuhan saya sudah terpenuhi
0,840
Valid
0,127
Tidak Valid
0,684
Valid
Sumber: Data primer yang diolah
Selanjutnya pada tabel 4.7 tentang instrumen pernyataan variabel
motivasi, mayoritas pernyataan memenuhi kriteria validitas. Kecuali
pernyataan “saya akan mendapatkan keuntungan financial jika berinvestasi di
saham syariah”, dan “saya akan lebih mengaktualisasi diri saya, ketika sudah
benar-benar menjadi investor”, yang masing-masing secara berurutan
memiliki nilai validitas 0,123 dan 0,127. Dengan demikian, kedua pernyataan
tersebut dihapuskan dalam instrumen pernyataan variabel motivasi.
Tabel 4.8
Hasil Trout Variabel Belajar
Belajar
No.
1.
2.
3.
4.
Penyataan
Sebagai calon investor saya memerlukan
sosialisasi investasi saham syariah
Saya percaya dengan menjadi investor
saya akan lebih banyak mendapatkan
ilmu investasi
Saya pikir pembelajaran dalam Sekolah
Pasar
Modal
sudah
mencukupi
pengetahuan dasar investasi
Saya harus mengetahui pengetahuan
dasar saham, sebelum investasi di saham
syariah
Pearson
Correlation
0,250
Tidak Valid
0,753
Valid
0,631
Valid
0,790
Valid
Keterangan
70
5.
6.
7.
Sebagai calon investor, saya rasa
pembelajaran dasar investasi sangat
penting
Saya akan lebih mengerti investasi
saham, jika dasar-dasarnya sudah
dimengerti
Menurut saya acara sosialisasi investasi
sangat
penting sebagai
penjaring
investor-investor baru
0,869
Valid
0,890
Valid
0,395
Valid
Sumber: Data primer yang diolah
Kemudian pada tabel 4.8 tentang instrumen pernyataan variabel
belajar, hanya satu pernyataan yang tidak memenuhi kriteria validitas.
Pernyataan, “sebagai calon investor, saya memerlukan sosialisasi investasi
saham syariah”, menunjukkan angka 0,250. Sehingga penyataan tersebut
dihapuskan dalam pernyataan variabel belajar. Dengan demikian dalam
variabel belajar hanya menyisakan enam pernyataan.
Tabel 4.9
Hasil Tryout Variabel Investasi Saham Syariah
Investasi Saham Syariah
No. Penyataan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Menurut saya investasi merupakan hal
yang sangat dianjurkan
Menurut saya investasi dapat membantu
peningkatan kesejahteraan
Menurut saya investasi merupakan
instrument penting dalam pembangunan
Menurut
saya
investasi
saham
memberikan keuntungan yang besar
sejalan dengan risikonya
Menurut saya investasi membutuhkan
modal yang mahal
Menurut saya investasi saham syariah
lebih condong dengan sector ril
Pearson
Correlation
0,779
Keterangan
Valid
0,667
Valid
0,857
Valid
0,894
Valid
0,417
Valid
0,709
Valid
71
7.
8.
9.
Menurut saya investasi saham syariah
juga memiliki risiko seperti investasi
saham lainnya
Menurut saya investasi saham syariah
dapat
membantu
perkembangan
keuangan syariah
Menurut saya investasi saham syariah
tidak boleh melanggar ketentuanketentuan syariah
0,424
Valid
0,658
Valid
-0,089
Tidak Valid
Sumber: Data primer yang diolah
Terakhir pada tabel 4.9 tentang instrumen pernyataan variabel
investasi saham syariah, terdapat satu instrumen yang tidak valid yaitu
pernyataan, “menurut saya investasi saham syariah tidak boleh melanggar
ketentuan-ketentuan syariah”. Instrumen pernyataan tersebut hanya memiliki
nilai -0,089.
Dengan demikian dalam penelitian ini terdapat 32 pernyataan yang
akan mendukung penelitian.
2. Uji Reliabilitas
Tabel 4.10
Uji Reliabilitas Responden
Sumber: Data primer yang diolah
Dalam tabel 4.10 tentang uji reliabilitas, terdapat nilai 0,886 atau
88,6% reliabilitasnya. Angka 88,6% merupakan nilai reabilitas yang tinggi.
72
D. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian
1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah persepsi, motivasi, dan
belajar.
a) Persepsi
Tabel 4.11
Statistik Deskriptif Persepsi
Sumber: Data Primer yang diolah
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa menurut pendapat 174 responden
yang mengikuti sekolah pasar modal kelas intermediate dan advance di
tanggal 4,5, dan 11 Mei 2011, mean variabel persepsi adalah 37,49. Nilai
minimum pendapat mereka adalah 23. Nilai maksimumnya adalah 50.
Sedangkan jumlah keseluruhan pendapat 174 responden tentang persepsi
mereka terhadap investasi saham syariah adalah 6524.
Berikut akan ditampilkan hasil kuesioner variabel persepsi untuk
melihat jawaban dari 174 responden terhadap sepuluh pernyataan.
73
Tabel 4.12
Hasil Kuesioner Variabel Persepsi
No.
Penyataan
1. Saya melihat perkembangan
saham syariah sangat pesat
2. Saya setuju bahwa saham
syariah diperuntukkan bagi
semua pihak
3. Secara prinsip, saya tidak
mendapatkan
perbedaan
antara saham syariah dengan
saham lainnya
4. Saya ingin berinvestasi di
saham syariah
5. Saya setuju dengan harga
pembukaan
efek
untuk
saham syariah sama dengan
saham lainnya
6. Saya yakin pergerakkan
saham syariah sama dengan
saham lainnya
7. Dari
segi
nominal
keuntungan dan resiko,
menurut saya antara saham
syariah dan saham lain tidak
ada perbedaan
8. Saya yakin saham syariah
akan
banyak
diminati
investor
9. Saya yakin saham syariah
akan
banyak
diminati
investor
10. Saya setuju bahwa faktor
ideologis
akan
mempengaruhi
investasi
saham syariah
STS
2
TS
4
RR
44
S
90
SS
34
3
1
16
94
60
11
31
59
57
16
3
5
57
75
34
0
9
43
93
29
4
11
56
79
24
5
23
65
62
19
2
7
29
88
48
1
4
45
85
39
6
11
32
95
30
Sumber: Data primer yang diolah
Bersumber dari pernyataan No. 1 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 2 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa ia
74
melihat perkembangan saham syariah yang pesat, 4 responden
menyatakan tidak setuju, 44 responden menyatakan ragu-ragu, 90
responden menyatakan setuju, dan 34 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 2 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 3 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa ia
setuju saham syariah diperuntukkan bagi semua pihak, 1 responden
menyatakan tidak setuju, 16 responden menyatakan ragu-ragu, 94
responden menyatakan setuju, dan 60 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 3 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 11 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
secara prinsip ia tidak mendapatkan perbedaan antara saham syariah
dengan saham lainnya, 31 responden menyatakan tidak setuju, 59
responden menyatakan ragu-ragu, 57 responden menyatakan setuju, dan
16 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden ragu-ragu dengan pernyataan tersebut.
75
Bersumber dari pernyataan No. 4 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 3 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa ia
ingin berinvestasi di saham syariah, 5 responden menyatakan tidak setuju,
57 responden menyatakan ragu-ragu, 75 responden menyatakan setuju,
dan 34 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas
sebagian besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 5 di tabel 4.12 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa harga
pembukaan rekening efek saham syariah sama dengan saham lainnya, 9
responden menyatakan tidak setuju, 43 responden menyatakan ragu-ragu,
93 responden menyatakan setuju, dan 29 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 6 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 4 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa ia
meyakini pergerakan saham syariah sama dengan saham lainnya, 11
responden menyatakan tidak setuju, 56 responden menyatakan ragu-ragu,
79 responden menyatakan setuju, dan 24 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
76
Bersumber dari pernyataan No. 7 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 5 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa dari
segi nominal keuntungan dan resiko, menurut responden antara saham
syariah dan saham lain tidak ada perbedaan, 23 responden menyatakan
tidak setuju, 65 responden menyatakan ragu-ragu, 62 responden
menyatakan setuju, dan 19 responden menyatakan sangat setuju. Dari
pernyataan di atas sebagian besar responden ragu-ragu dengan pernyataan
tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 8 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 2 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
responden meyakini saham syariah tidak akan melanggar ketentuan yang
ditetapkan pemerintah, 7 responden menyatakan tidak setuju, 29
responden menyatakan ragu-ragu, 88 responden menyatakan setuju, dan
48 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 9 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 1 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
responden meyakini saham syariah akan banyak diminati investor, 4
responden menyatakan tidak setuju, 45 responden menyatakan ragu-ragu,
85 responden menyatakan setuju, dan 39 responden menyatakan sangat
77
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 10 di tabel 4.12 terlihat bahwa
terdapat 6 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
faktor ideologis akan mempengaruhi investasi saham syariah, 11
responden menyatakan tidak setuju, 32 responden menyatakan ragu-ragu,
95 responden menyatakan setuju, dan 30 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
b) Motivasi
Tabel 4.13
Statistik Deskriptif Motivasi
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.13 menunjukkan bahwa menurut pendapat 174 responden
yang mengikuti sekolah pasar modal kelas intermediate dan advance di
tanggal 4,5, dan 11 Mei 2011, mean variabel motivasi adalah 30,41. Nilai
minimum pendapat mereka adalah 16. Nilai maksimumnya adalah 40.
78
Sedangkan jumlah keseluruhan pendapat 174 responden tentang motivasi
mereka terhadap investasi saham syariah adalah 5291.
Berikut akan ditampilkan hasil kuesioner variabel persepsi untuk
melihat jawaban dari 174 responden terhadap delapan pernyataan.
Tabel 4.14
Hasil Kuesioner Variabel Motivasi
Penyataan
No.
1. Selain keuntungan financial,
saya juga akan mendapatkan
keberkahan dalam
berinvestasi di saham
syariah
2. Pendapatan yang akan saya
dapatkan dari saham syariah
terjamin sebagai pendapatan
yang baik
3. Selain baik, pendapatan
tersebut juga halal
4. Saya akan berinvestasi jika
rekan, kerabat, atau orang
yang saya kenal juga ikut
berinvestasi
5. Dengan berinvestasi berarti
saya membantu pengusaha
untuk berkembang
6. Dengan investasi saham
syariah berarti saya ikut
serta dalam pengembangan
keuangan syariah
7. Dengan berinvestasi saham
syariah, berarti saya
menjadi pemilik perusahaan
tempat saya berinvestasi
8. Saya akan berinvestasi jika
segala kebutuhan saya
sudah terpenuhi
Sumber: Data primer yang diolah
STS
2
TS
11
RR
37
S
79
SS
45
3
8
31
96
36
1
5
27
89
52
12
55
42
52
13
2
7
23
110
32
0
7
24
98
45
2
6
26
104
36
5
26
27
84
32
79
Bersumber dari pernyataan No. 1 di tabel 4.14 terlihat bahwa
terdapat 2 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
selain keuntungan financial responden juga akan mendapatkan keberkahan
dalam berinvestasi di saham syariah, 11 responden menyatakan tidak
setuju, 37 responden menyatakan ragu-ragu, 79 responden menyatakan
setuju, dan 45 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di
atas sebagian besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 2 di tabel 4.14 terlihat bahwa
terdapat 3 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
pendapatan yang didapatkan responden dari saham syariah terjamin
sebagai pendapatan yang baik, 8 responden menyatakan tidak setuju, 31
responden menyatakan ragu-ragu, 96 responden menyatakan setuju, dan
36 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 3 di tabel 4.14 terlihat bahwa
terdapat 1 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
selain baik pendapatan yang didapatkan responden dari saham syariah
juga halal, 5 responden menyatakan tidak setuju, 27 responden
menyatakan ragu-ragu, 89 responden menyatakan setuju, dan 52
responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
80
Bersumber dari pernyataan No. 4 di tabel 4.14 terlihat bahwa
terdapat 12 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
responden akan berinvestasi jika rekan, kerabat, atau orang yang dikenal
juga ikut berinvestasi, 55 responden menyatakan tidak setuju, 42
responden menyatakan ragu-ragu, 52 responden menyatakan setuju, dan
13 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 5 di tabel 4.14 terlihat bahwa
terdapat 2 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
dengan berinvestasi maka responden membantu pengusaha untuk
berkembang, 7 responden menyatakan tidak setuju, 23 responden
menyatakan ragu-ragu, 110 responden menyatakan setuju, dan 32
responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 6 di tabel 4.14 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa dengan
berinvestasi
saham
syariah
berarti
responden
ikut
serta
dalam
pengembangan keuangan syariah, 7 responden menyatakan tidak setuju,
24 responden menyatakan ragu-ragu, 98 responden menyatakan setuju,
dan 45 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas
sebagian besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
81
Bersumber dari pernyataan No. 7 di tabel 4.14 terlihat bahwa
terdapat 2 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
dengan berinvestasi saham syariah maka responden menjadi pemilik
perusahaan tempat ia berinvestasi, 6 responden menyatakan tidak setuju,
26 responden menyatakan ragu-ragu, 104 responden menyatakan setuju,
dan 36 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas
sebagian besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 8 di tabel 4.14 terlihat bahwa
terdapat 5 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
responden akan berinvestasi jika segala kebutuhan responden sudah
terpenuhi, 26 responden menyatakan tidak setuju, 27 responden
menyatakan ragu-ragu, 84 responden menyatakan setuju, dan 32
responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
c) Belajar
Tabel 4.15
Statistik Deskriptif Belajar
Sumber: Data primer yang diolah
82
Tabel 4.15 menunjukkan bahwa menurut pendapat 174 responden
yang mengikuti sekolah pasar modal kelas intermediate dan advance di
tanggal 4, 5, dan 11 Mei 2011, mean variabel belajar adalah 25,82. Nilai
minimum pendapat mereka adalah 16. Nilai maksimumnya adalah 30.
Sedangkan jumlah keseluruhan pendapat 174 responden tentang variabel
belajar adalah 4492.
Berikut akan ditampilkan hasil kuesioner variabel belajar untuk
melihat jawaban dari 174 responden terhadap enam pernyataan.
Tabel 4.16
Hasil Kuesioner Variabel Belajar
Penyataan
No.
1.
Saya
percaya
dengan
menjadi investor saya akan
lebih banyak mendapatkan
ilmu investasi
2.
Saya pikir pembelajaran
dalam Sekolah Pasar Modal
sudah
mencukupi
pengetahuan dasar investasi
3.
Saya harus mengetahui
pengetahuan dasar saham,
sebelum investasi di saham
syariah
4.
Sebagai calon investor, saya
rasa pembelajaran dasar
investasi sangat penting
5.
Saya akan lebih mengerti
investasi saham, jika dasardasarnya sudah dimengerti
6.
Menurut
saya
acara
sosialisasi investasi sangat
penting sebagai penjaring
investor-investor baru
Sumber: Data primer yang diolah
STS
0
TS
5
RR
7
S
103
SS
59
1
25
23
98
27
0
1
8
84
81
0
0
7
67
100
0
0
6
85
83
0
1
8
73
92
83
Bersumber dari pernyataan No. 1 di tabel 4.16 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
responden percaya dengan menjadi investor ia akan lebih banyak
mendapatkan ilmu investasi, 5 responden menyatakan tidak setuju, 7
responden menyatakan ragu-ragu, 103 responden menyatakan setuju, dan
59 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 2 di tabel 4.16 terlihat bahwa
terdapat 1 responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
menurut responden pembelajaran dalam sekolah pasar modal sudah
mencukupi pengetahuan dasar investasi, 25 responden menyatakan tidak
setuju, 23 responden menyatakan ragu-ragu, 98 responden menyatakan
setuju, dan 27 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di
atas sebagian besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 3 di tabel 4.16 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju atas pernyataan bahwa
responden harus mengetahui pengetahuan dasar saham sebelum investasi
saham syariah, 1 responden menyatakan tidak setuju, 8 responden
menyatakan ragu-ragu, 84 responden menyatakan setuju, dan 81
responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
84
Bersumber dari pernyataan No. 4 di tabel 4.16 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju dan tidak setuju atas
pernyataan
bahwa
sebagai
calon
investor
responden
merasakan
pembelajaran dasar investasi sangat penting, 7 responden menyatakan
ragu-ragu, 67 responden menyatakan setuju, dan 100 responden
menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar
responden sangat setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 5 di tabel 4.16 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju dan tidak setuju atas
pernyataan
bahwa
sebagai
calon
investor
responden
merasakan
pembelajaran dasar investasi sangat penting, 6 responden menyatakan
ragu-ragu, 85 responden menyatakan setuju, dan 83 responden
menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar
responden sangat setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 6 di tabel 4.16 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa
acara sosialisasi investasi sangat penting sebagai penjaring investorinvestor baru, 1 responden tidak setuju, 8 responden menyatakan raguragu, 73 responden menyatakan setuju, dan 92 responden menyatakan
sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden sangat
setuju dengan pernyataan tersebut.
85
2. Variabel Dependen
Variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah investasi
saham syariah. Investasi saham syariah merupakan investasi yang tidak
bertentangan dengan syariah Islam. Kriteria saham syariah diatur dalam
Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.
Sedangkan teknis transaksi dalam saham diatur dalam fatwa-fatwa DSN MUI.
Baru-baru ini, telah diterbitkan fatwa DSN MUI No. 80 tentang penerapan prinsip
syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar regular
bursa efek.
Tabel 4.17
Statistik Deskriptif Investasi Saham Syariah
Sumber: Data Primer yang diolah
Tabel 4.17 menunjukkan bahwa menurut pendapat 174 responden
yang mengikuti sekolah pasar modal kelas intermediate dan advance di bulan
Mei 2011, mean dalam variabel investasi saham syariah adalah 31,61. Nilai
minimum pendapat mereka adalah 21,00. Nilai maksimumnya adalah 40,00.
86
Sedangkan jumlah keseluruhan pendapat 174 responden tentang investasi
saham syariah adalah 5500.
Berikut akan ditampilkan hasil kuesioner variabel investasi saham
syariah untuk melihat jawaban dari 174 responden terhadap delapan
pernyataan.
Tabel 4.18
Hasil Kuesioner Variabel Investasi Saham Syariah
STS
TS
RR
S
No. Penyataan
1. Menurut saya investasi
0
1
16
93
merupakan hal yang sangat
dianjurkan
2. Menurut saya investasi
0
0
11
91
dapat
membantu
peningkatan kesejahteraan
3. Menurut saya investasi
1
1
13
98
merupakan
instrument
penting
dalam
pembangunan
4. Menurut saya investasi
1
2
21
90
saham
memberikan
keuntungan yang besar
sejalan dengan risikonya
5. Menurut saya investasi
9
70
40
44
membutuhkan modal yang
mahal
6. Menurut saya investasi
0
12
78
65
saham
syariah
lebih
condong dengan sector ril
7. Menurut saya investasi
1
5
19
107
saham
syariah
juga
memiliki risiko seperti
investasi saham lainnya
8. Menurut saya investasi
0
4
19
105
saham
syariah
dapat
membantu perkembangan
keuangan syariah
Sumber: Data primer yang diolah
SS
64
72
61
60
11
19
42
46
87
Bersumber dari pernyataan No. 1 di tabel 4.18 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa
menurut responden investasi merupakan hal yang sangat dianjurkan, 1
responden tidak setuju, 16 responden menyatakan ragu-ragu, 93 responden
menyatakan setuju, dan 64 responden menyatakan sangat setuju. Dari
pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan pernyataan
tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 2 di tabel 4.18 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju dan tidak setuju dengan
pernyataan
bahwa
menurut
responden
investasi
dapat
membantu
kesejahteraan, 11 responden menyatakan ragu-ragu, 91 responden menyatakan
setuju, dan 72 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas
sebagian besar responden setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 3 di tabel 4.18 terlihat bahwa terdapat
1 responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa menurut
responden investasi merupakan instrument penting dalam pembangunan, 1
responden tidak setuju, 13 responden menyatakan ragu-ragu, 98 responden
menyatakan setuju, dan 61 responden menyatakan sangat setuju. Dari
pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan pernyataan
tersebut.
88
Bersumber dari pernyataan No. 4 di tabel 4.18 terlihat bahwa terdapat
1 responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa menurut
responden investasi saham memberikan keuntungan yang besar sejalan
dengan resikonya, 2 responden tidak setuju, 21 responden menyatakan raguragu, 90 responden menyatakan setuju, dan 60 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 5 di tabel 4.18 terlihat bahwa terdapat
9 responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa menurut
responden investasi memerlukan modal yang mahal, 70 responden tidak
setuju, 40 responden menyatakan ragu-ragu, 44 responden menyatakan setuju,
dan 11 responden menyatakan sangat setuju. Dari pernyataan di atas sebagian
besar responden tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 6 di tabel 4.18 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa
menurut responden investasi saham syariah lebih condong dengan sector riil,
12 responden tidak setuju, 78 responden menyatakan ragu-ragu, 65 responden
menyatakan setuju, dan 19 responden menyatakan sangat setuju. Dari
pernyataan di atas sebagian besar responden ragu-ragu dengan pernyataan
tersebut.
89
Bersumber dari pernyataan No. 7 di tabel 4.18 terlihat bahwa terdapat
1 responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa menurut
responden investasi saham syariah juga memiliki resiko seperti investasi
saham lainnya, 5 responden tidak setuju, 19 responden menyatakan ragu-ragu,
107 responden menyatakan setuju, dan 42 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
Bersumber dari pernyataan No. 8 di tabel 4.18 terlihat bahwa tidak
terdapat responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa
menurut responden investasi saham syariah dapat membantu perkembangan
keuangan syariah, 4 responden tidak setuju, 19 responden menyatakan raguragu, 105 responden menyatakan setuju, dan 46 responden menyatakan sangat
setuju. Dari pernyataan di atas sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut.
E. Analisis dan Pembahasan
1. Hasil Uji Asumsi Klasik
a) Normalitas Data
Hasil pengujian normalitas data dengan menggunakan Normal PPlot dapat dilihat pada gambar 4.1 untuk variabel dependen yaitu investasi
saham syariah. Pada gambar tersebut menunjukkan bahwa titik-titik data
berada di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Dengan
90
demikian dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini sudah
terdistribusi normal atau sudah memenuhi asumsi normalitas.
Gambar 4.1
Sumber: Data primer yang diolah
b) Uji Multikolinearitas
Dari tabel 4.19, dapat dilihat bahwa seluruh nilai Tolerance
seluruh variabel independen adalah lebih besar dari 5 (>0,5) yang berarti
bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas. Hal ini selaras
dengan yang telah dijelaskan pada metodologi penelitian sebelumnya.
91
Tabel 4.19
Uji Multikolinearitas
Sumber: Data primer yang diolah
c) Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4.2
Uji Heteroskedastisitas
Sumber: Data primer yang diolah
92
Gambar 4.2 merupakan hasil uji heteroskedastisitas dengan
menggunakan grafik scatterplot untuk data mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi pertimbangan investasi saham syariah yaitu persepsi,
motivasi, dan belajar. Berdasarkan uji tersebut, terdapat titik-titik yang
menyebar secara acak dan tidak membentuk sebuah pola, sehingga dapat
disimpulkan bahwa model regresi ini tidak mengalami masalah
heterokedastisitas.
2. Hasil Pengujian Hipotesis
a) Korelasi
Tabel 4.20
Sumber: Data primer yang diolah
Pada tabel 4.20 nilai korelasi (R) antara variabel belajar, persepsi,
dan motivasi secara bersama-sama terhadap variabel investasi saham
syariah adalah 0,583 atau 58,3%. Hubungan tersebut dapat dikatakan
cukup kuat, sesuai dengan pembahasan metodologi penelitian.
93
b) Koefisien Determinasi (R2)
Pada tabel 4.20 R2 menunjukkan tingkat koefisien determinasi
dengan nilai 0,340 atau 34%. Angka ini menunjukkan bahwa variabel
belajar, motivasi, dan persepsi secara bersama-sama memiliki pengaruh
terhadap variabel investasi saham syariah sebesar 34%. Dengan demikian
sisanya (56%) dipengaruhi oleh variabel lainnya.
c) Uji F
Uji F digunakan untuk mengukur sebarapa besar pengaruh seluruh
variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai signifikansinya
<0,05 maka variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi
variabel dependen. Hasil uji F dari pengujian statistik regresi linear
berganda disajikan dalam tabel 4.21.
Tabel 4.21
Hasil Uji F
Sumber: Data primer yang diolah
Dari tabel 4.21 tentang uji signifikansi seluruh variabel independen
terhadap variabel dependen (uji F), diperoleh nilai signifikansi 0,000 yang
94
berarti < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh
variabel independen, yaitu persepsi, motivasi, dan belajar, secara
bersamaan mempengaruhi variabel independen yaitu investasi saham
syariah atau Ho ditolak.
Adanya pengaruh antara persepsi, motivasi, dan belajar selaras
dengan teori Consumer Behavior yang dijelaskan Solomon, Hawkin, Best
dan Coney, dan yang tertulis di Wikipedia.
d) Uji t
Uji t bertujuan untuk mendeteksi signifikansi pengaruh variabel
independen secara parsial terhadap variabel independen. Tabel 4.22
menunjukkan hasil pengujian uji t.
Tabel 4.22
Hasil Uji Parameter Individual (Uji Statistik t)
Sumber: Data primer yang diolah
1) Pengujian untuk variabel X1 (Persepsi)
Berdasarkan data pada tabel 4.22, nilai sig pada variabel
persepsi adalah 0,039. Kesimpulannya nilai sig variabel persepsi <0,05
maka Ho ditolak, sehingga hipotesis yang menyatakan tidak ada
95
pengaruh antara persepsi terhadap pertimbangan investasi saham
syariah ditolak. Dengan demikian terbukti bahwa terdapat pengaruh
antara persepsi terhadap pertimbangan investasi saham syariah.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh Siti Masitoh, dan Idawati yang menyatakan variabel
persepsi mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memilih produk.
Akan tetapi, penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Putri
Apriliana, yang menyatakan bahwa persepsi tidak mempengaruhi
keputusan pembelian sabun Lux. Namun demikian, variabel persepsi
memiliki signifikansi yang terkecil dibandingkan dengan dua variabel
lainnya, yaitu motivasi, dan belajar.
2) Pengujian untuk variabel X2 (Motivasi)
Berdasarkan data pada tabel 4.22, nilai sig pada variabel
motivasi adalah 0,000. Kesimpulannya nilai sig variabel motivasi
<0,05 maka Ho ditolak, sehingga hipotesis yang menyatakan tidak ada
pengaruh antara motivasi terhadap pertimbangan investasi saham
syariah ditolak. Dengan demikian terbukti bahwa terdapat pengaruh
antara motivasi terhadap pertimbangan investasi saham syariah.
Hasil penelitian ini signifikan dengan penelitian yang
dilaksanakan oleh Idawati, yang menyatakan bahwa secara parsial
variabel motivasi mempengaruhi pertimbangan masyarakat dalam
keputusan pembeliannya memilih Bakmi Langgara.
96
3) Pengujian untuk variabel X3 (Belajar)
Berdasarkan data pada tabel 4.22, nilai sig pada variabel
belajar adalah 0,000. Kesimpulannya nilai sig variabel belajar <0,05
maka Ho ditolak, sehingga hipotesis yang menyatakan tidak ada
pengaruh antara belajar terhadap pertimbangan investasi saham
syariah ditolak. Dengan demikian terbukti bahwa terdapat pengaruh
antara belajar terhadap pertimbangan investasi saham syariah.
Hal ini sejalan dengan usaha sosialisasi yang dilaksanakan
Bursa Efek Indonesia, yaitu dengan pelaksaan Sekolah Pasar Modal.
Karena ternyata faktor pembelajaran sangat signifikan mempengaruhi
pertimbangan investasi saham syariah.
Untuk
mengetahui
variabel
yang
paling
mempengaruhi
pertimbangan investasi saham syariah peneliti melakukan uji korelasi
Pearson, karena berdasarkan uji T terdapat dua variabel yang paling
signifikan, yaitu variabel motivasi dan belajar. Hasil uji Korelasi Pearson
dapat kita lihat pada Tabel 4.23.
97
Tabel 4.23
Pearson Correlation
Sumber: Data primer yang diolah
Pada tabel 4.23 terlihat bahwa korelasi variabel persepsi adalah
0,404, variabel motivasi 0,498, dan variabel belajar 0,464. Variabel
motivasi memiliki nilai korelasi tertinggi di antara dua variabel lainnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel motivasi merupakan
variabel yang paling dominan di antara dua variabel lainnya.
98
e) Model Regresi
Tabel 4.24
Berdasarkan kolom B dalam tabel 4.24 tertulis bahwa:
Constant
: 10,789
Persepsi (X1)
: 0,112
Motivasi (X2)
: 0,223
Belajar (X3)
: 0,381
Dengan demikian model regresinya adalah:
ܻ = 10,789 + 0,112 ‫ݔ‬1 + 0,223 ‫ݔ‬2 + 0,381 ‫ݔ‬3
Di mana:
Y : Pertimbangan investasi saham syariah
X1 : Persepsi
X2 : Motivasi
X3 : Belajar
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara
signifikan implementasi persepsi, motivasi, dan belajar terhadap pertimbangan
investasi saham syariah. Dari hasil pengujian yang dilakukan terhadap 174
sampel peserta sekolah pasar modal tanggal 4, 5, dan 11 Mei 2011 diperoleh hasil
sebagai berikut:
1. Hasil pengujian variabel persepsi terhadap pertimbangan investasi saham
syariah memiliki signifikansi 0,039 yang berarti lebih kecil (<) dibandingkan
0,05. Hal ini berarti bahwa persepsi mempengaruhi pertimbangan investasi
saham syariah. Hal ini menunjukkan bahwa investasi saham syariah memiliki
trend positif dalam menarik persepsi investor. Namun demikian variabel
persepsi memiliki signifikansi yang paling kecil dibandingkan dengan
variabel independen lainnya.
2. Hasil pengujian variabel motivasi terhadap pertimbangan investasi saham
syariah memiliki signifikansi 0,000 yang juga lebih kecil (<) dibandingkan
dengan 0,05. Hal ini berarti bahwa motivasi mempengaruhi pertimbangan
investasi saham syariah. Motivasi investor antara lain adalah kebutuhan fisik,
99
100
rasa aman, motif sosial, dan penghargaan. Keempatnya masuk ke dalam
instumen pernyataan dalam variabel ini. Mayoritas dari responden pun setuju
dengan pernyataan yang ada. Sehingga keempat instrumen tersebut harus
menjadi perhatian saham syariah. Varibel motivasi merupakan varibel yang
paling dominan di antara variabel lainnya.
3. Hasil pengujian variabel belajar terhadap pertimbangan investasi saham
syariah memiliki signifikansi 0,000 yang lebih kecil (<) dibandingkan dengan
0,05. Hal ini berarti bahwa belajar mempengaruhi pertimbangan investasi
saham syariah. Pemberian pembelajaran atau sosialisasi merupakan
instrument penting dalam pengembangan pasar saham syariah, terutama
sebagai penjaring investor baru.
B. Keterbatasan
1. Peserta yang menjadi sampel penelitian adalah hanya 174 orang dari sekian
banyak peserta jika dihitung selama satu tahun, sehingga kurang dapat
mewakili total peserta sekolah pasar modal
2. Periode penelitian yang dilakukan hanya di bulan Mei 2011 saja, sehingga
hasil jangka panjang belum dapat diketahui.
3. Variabel independen dalam penelitian hanya terdiri dari tiga hal, padahal
masih banyak variabel lain yang dapat mempengaruhi pertimbangan investasi
saham syariah.
101
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diajukan beberapa saran, yaitu:
1. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan sampel yang lebih besar dengan
periode yang lebih lama sehingga hasil yang akan diperoleh lebih
meyakinkan.
2. Penelitian lanjutan disarankan memberikan variabel-variabel tambahan yang
diidentifikasikan sebagai variabel independen dalam pertimbangan investasi
saham syariah yang dapat dikuantitatifkan.
3. Karena motivasi menjadi variabel yang paling signifikan di antara persepsi
dan belajar, maka sekuritas harus dapat memahami motivasi investor seperti
faktor fisiologi, rasa aman, sosial, dan penghargaan yang ia dapatkan dari
investasi saham syariah.
102
DAFTAR PUSTAKA
Alqur’an Al-Karim
al-Zurqani, Muhammad. Syarh al-Zurqani ‘ala Muwatta al-Imam Malik, Juz: 2,
Beirut: Daar al-Fikr, 1411 H
Alifahmi, Hifni. Spiritual Marketing Coomunication. Jakarta: PT. Arga Publishing,
2008.
Adri, Natan. Investasi Mudah & Murah. Jakarta: Penebar Plus+, 2010
Anggraeni, Rr Tini ST, M.Si., “Analisis dan Penilaian Surat Berharga”, Modul Kuliah
Manajemen Investasi Syariah, Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN
Syarif Hidayatullah. 2010
_________., “Manajemen Investasi dan Risiko Perbankan Syariah”. Modul Kuliah
Manajemen Investasi dan Risiko Syariah. Jakarta: Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif Hidayatullah. 2010.
Anonymous, Ayo Berinvestasi di Saham Syariah, Majalah Sharing Edisi Januari
2011, Jakarta.
_________, Sekolah Pasar Modal Bursa Efek Indonesia Kelas Basic, Jakarta: Bursa
Efek Indonesia, 2010.
_________, Analisis Jalur. Artikel diakses pada 16 April 2011 dari
http://sambasalim.com/wp-content/uploads/2009/11/ANALISIS-JALUR.doc
Biro Pusat Statistik, Produk Domestik Bruto Per Kapita, Produk Nasional Bruto Per
Kapita dan Pendapatan Nasional Per Kapita, 2000-2009 (Rupiah). Tabel
diakses
pada
tanggal
26
November
2010
dari
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=11&n
otab=76
Bodie, Zvi, dkk. “Essentials of Investment”, New York: The McGraw Hill Company,
2004
103
Bungin, S.Sos., M. Si, Prof. Dr. H. M. Burhan. Metodologi Penelitian Kuantitatif:
Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik, serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya.
Jakarta: Prenada Media Group, 2008.
Bursa Efek Indonesia, Sharia Products. Artikel diakses pada 26 Oktober 2010 dari
http://www.idx.co.id/Home/ProductAndServices/ShariaMarket/ShariaProduct
s/tabid/157/language/id-ID/Default.aspx
Fauzi, Fahmi. “Dampak Pengumuman Deviden Meningkat dan Deviden Menurun
Terhadap Perubahan Harga Saham (Abnormal Return) Sebelum Dan Sesudah
Ex-Dividend Rate”, Skripsi S1 FEIS, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2009
Firdaus NH, Muhammad. Sistem Keuangan & Investasi Syariah. Jakarta: Renaisan,
2005.
Ghozie, Prita H. Menjadi Cantik, Gaya, & Tetap Kaya, Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2010.
Hawkins, Best, Coney,. Consumer Behavior: Implication for Marketing Strategy,
Washington DC., Richard D. Irwin, Inc., 1995
Husnan, Suad. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Yogyakarta:
UPPAMP YKPN, 1998
Ismanthono, Henricus W., Kamus Istilah Ekonomi Populer, Jakarta: Kompas Media
Nusantara, 2006
Jogiyanto. Metodologi Penelitian Sistem Informasi, Yogyakarta: CV Andi, 2008
Koran Jakarta, “Persentase Dominasi Asing Menurun”, artikel diakses tanggal 26
Oktober
2010
dari
http://mediakit.koran-jakarta.com/printberita.php?id=65429
Mangkunegara, Anwar Prabu. Perilaku Konsumen. Bandung: PT. Refika
Aditama, 2005.
Manan, Abdul. Aspek Hukum Dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal
Syariah Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009
Nafik HR, Muhammad. Bursa Efek & Investasi Syariah. Jakarta: PT Serambi Ilmu
Semesta, 2009.
104
Nisfiannoor, Muhammad., Pendekatan Statistika Modern untuk Ilmu Sosial, Jakarta:
Salemba Humanika, 2009
Pardoe, James. Sukses Berinvestasi Ala Buffett. Penerjemah: Sri Isnani Husnayati,
Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.
Pontjowinoto, Iwan P. Kaya & Bahagia Cara Syariah, Bandung: Mizan Media
Utama, 2010
Qoimuddin, Iim, “Suplemen 2-Praktik SPSS”, Modul Kuliah Statistika 2, Jakarta:
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah. 2009.
Rodoni, Ahmad. Investasi Syariah, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah, Cet: VIII, Vol: 6 & 12, Jakarta: Lentera Hati,
2002.
Sarwoko, Statistik Inferensi untuk Ekonomi dan Bisnis, Yogyakarta: Penerbit ANDI,
2007.
Schiffman, Leon G. and Kanuk, Leslie Lazar. Consumer Behavior. New Jersey:
Prentice-Hall, 1997.
Simamora, Bilson. Panduan Riset Perilaku Konsumsi. Jakarta: Gramedia Pustaka,
2008
Solomon, Michael R., Consumer Behavior. Massachussetts: Allyn and Bacon, 1994.
Sulaiman, Wahid, Analisis Regresi Menggunakan SPSS, Yogyakarta: Penerbit ANDI,
2004
Sulistyastuti, Dyah Ratih. Saham dan Obligasi: Ringkasan Teori dan Soal Jawab.
Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2002.
Sumitro, Warkum. Asas-Asas Perbankan Islam & Lembaga-Lembaga Terkait, Cet: 4,
Jakarta: PT RajaGrafindo, 2004
Sunariyah, S.E., MSi. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Yogyakarta: UPP STIM
YKPN, 2011
Wikipedia, “Perilaku Konsumen”, artikel diakses tanggal 23 Maret 2011 dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen.
Lampiran 1: Nama-nama Peserta Sekolah Pasar Modal yang Menjadi Sampel
Penelitian
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
Nama Responden
M. Andi Azis
Vitra Oktaviana
Lili
Frydolin Siagian
Febrina
Suresh Serwe
Ino
Khenwin
Suwendah
Joni
Nurwakhidurrohman
Thomas ANS
Tiara Amalia
Tri Suciati
Irfan
Ika Kurnia Oktaviani
Julkifli
Anggaraeni Wulandari
Alshal C
Ajie Prasetyo
Kong Bie Fung
Kidang Muhammad Emir
Yohanes Priyana
Prihandana Adityando
Doni Sasmito
Hartono Suriya
Hendra Setyawan
Achmad Fauzi
Dondi Medina
Vinna
Arief Setiawan
Haryo Pratomo
Yulianto
Usia
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
51 - 60
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
31 - 40
< 30
51 - 60
< 30
41 - 50
51 - 60
< 30
< 30
31 - 40
< 30
31 - 40
31 - 40
41 - 50
Jenis
Pendidikan
Kelamin
Terakhir
Laki-laki
S1
Perempuan
S1
Perempuan
SMA
Laki-laki
SMA
Perempuan
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Perempuan
SMA
Perempuan
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Perempuan
SMA
Perempuan
SMA
Laki-laki
SMA
Perempuan
SMA
Laki-laki
SMA
Perempuan
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Perempuan
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Laki-laki
SMA
Perempuan
SMA
Laki-laki D1/D2/D3
Laki-laki D1/D2/D3
Laki-laki D1/D2/D3
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
Hendrik Nainggolen
Hanny Widiyanti
Shinta Dewi
Yolanda Stevani
Edwin
Decki Zulkarnaen
Siti Kumala Sari
Alma Margaretha
Renaldy
Muhammad Rizkhi
Erwin Ronuz
Claudia
Firdaus Ari Nugroho
Agus Indra Wijaya
Christian K
David W. Nadapdap
Hery
Fadillah
Ratih
Syamsul
Ivonne Yulian S
Novany Joseph
Mohammad Sukma
Eko P
Korim K. Gumilang
Kartika
Wandi K
Grace
Subianto
William
Alwanih
Moch. Ma'mur
Heri Cipta
Iwan Prihartono
Herdi Naamin
Mungna L
Darwin Hutabarat
Laurentia
< 30
31 - 40
31 - 40
< 30
< 30
31 - 40
< 30
31 - 40
< 30
< 30
41 - 50
41 - 50
41 - 50
41 - 50
< 30
< 30
< 30
31 - 40
31 - 40
< 30
41 - 50
31 - 40
< 30
31 - 40
< 30
< 30
< 30
< 30
41 - 50
< 30
< 30
31 - 40
41 - 50
< 30
41 - 50
31 - 40
41 - 50
< 30
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
D1/D2/D3
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
Aries Sukamto
Hartono Handoko
Mada Aryanugraha
S. Kurniawan
Fransiska
Abdul Syukur
Anggoro
S. P. Ghufron
Dendi Sand
Sri Dewi
Sri Wati
Deska Natalia
Amelia Nursyirwan
Putri Andriani
Anggia Nurul
Andin Rinanda
Jenifer Kusuma
Winantiani
Junitha
Franciscus
Erika Medita
Fithratul Hidayah
Lala Meilani
Myrna Utari
Iyon Sutiyono
M. Agung
Ferhat
Ade Guna
Hermanto
Riscky Yonathan
Riscky Yonathan
Suekto
Lukman Budiadji
Dudi Soebriyanto
Derta Herefendi
Benny Kadarusman
Tengky Sulistio
Aditiawarman
31 - 40
< 30
< 30
51 - 60
< 30
41 - 50
< 30
> 60
31 - 40
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
< 30
41 - 50
41 - 50
31 - 40
31 - 40
31 - 40
< 30
< 30
31 - 40
< 30
< 30
31 - 40
< 30
31 - 40
< 30
< 30
< 30
< 30
31 - 40
31 - 40
< 30
51 - 60
> 60
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
Asyur Zaldi
Yazid Muamat
Azri Hinein
Thedi Johanis
Yohanes Agung D
Gilang Praditiyo
Heru Budi Sidharta
Ahmad
Zicky Kitanto
Rudi Haerudin
Prabowo Setyo
Agus Budi P
Harmoko
Dwi Cahyono
Arif
Alkudri
A. P. Gultom
Endra Febri Setyawan
Adrian Elwin
Aries
Deddy
Ilham
Leo Rustiyanto
Sony Yulianto
Karina
Rudyanto Djunaedi
Silviany Djuhawa
Anastasya Shandra
Devi
Lydia Raksajaya
Harina
Kintarni
Jenifer Kusuma
Nagawati
Yuli Anggarkasih
Julianti S
Husni Wijaya
Lidya
41 - 50
< 30
51 - 60
< 30
< 30
< 30
31 - 40
< 30
31 - 40
31 - 40
< 30
41 - 50
31 - 40
41 - 50
31 - 40
31 - 40
> 60
< 30
< 30
41 - 50
31 - 40
< 30
41 - 50
31 - 40
31 - 40
51 - 60
41 - 50
< 30
< 30
41 - 50
51 - 60
41 - 50
41 - 50
31 - 40
< 30
51 - 60
41 - 50
41 - 50
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S2/S3
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
Rifqi Baisa
Irene Budianto
Iwan Eddy Putranto
Martha
Thomas Verdianto
Yoyo Cahyadi
Kushendrata
Deni Hidayat
Nissa
Riama Luciana
Diana
Yosephine Riane
Lindawati Widjaja
Tasik Wulan
Fitri Nurlatifah
Fitria Dermawati
Abdul Kohar
Adli Rahmawan
Dr. Kushendrata
Mario Sodikin
Akira
R. Akhmad Santoso
Sutan P. Harahap
Rizal Hercalius
Agung Budiono
Dede Indra Cahyadi
Rachman Notowibowo
31 - 40
< 30
51 - 60
41 - 50
31 - 40
31 - 40
31 - 40
31 - 40
< 30
31 - 40
< 30
31 - 40
41 - 50
41 - 50
31 - 40
31 - 40
41 - 50
< 30
41 - 50
< 30
41 - 50
31 - 40
31 - 40
41 - 50
51 - 60
41 - 50
41 - 50
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
S2/S3
Lampiran 2: Variabel Penelitian
No. Persepsi Motivasi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
37
39
36
35
33
40
30
50
32
48
39
39
39
36
36
37
37
38
35
37
38
35
38
37
41
34
44
41
39
39
37
38
31
33
33
35
24
33
35
24
31
40
28
30
32
26
30
31
33
31
29
32
30
28
31
31
26
27
33
36
34
31
33
30
Belajar
28
27
24
30
27
26
30
27
27
29
24
24
24
24
24
24
30
22
22
23
24
23
29
23
24
29
28
27
24
28
30
30
Investasi
Saham
Syariah
30
28
32
26
40
39
34
32
37
37
32
32
30
26
29
30
28
30
31
32
30
35
36
33
34
36
30
33
32
30
34
27
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
41
30
43
30
34
39
45
30
38
40
42
41
39
40
37
34
30
30
34
33
44
38
50
46
41
33
40
34
32
34
35
35
37
39
40
48
32
21
27
29
30
30
39
25
30
32
33
28
32
36
30
24
19
24
28
20
34
32
40
30
32
33
32
26
28
30
30
38
19
30
29
40
28
24
28
27
26
24
28
23
25
23
26
25
25
28
22
27
16
18
25
28
26
24
30
25
28
26
24
25
25
25
23
30
24
24
29
30
29
30
29
36
30
34
30
32
26
29
32
27
32
32
29
26
21
24
28
31
35
32
40
33
31
24
32
30
28
32
29
36
28
31
34
40
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
30
39
36
35
23
33
43
31
45
36
37
50
35
34
37
40
35
36
37
31
36
32
40
34
45
38
44
38
40
42
26
31
31
31
33
42
24
28
31
34
16
26
28
28
34
31
30
40
28
28
30
32
33
34
35
23
33
28
33
32
35
31
40
40
32
30
30
19
33
33
22
34
23
25
24
28
29
23
29
28
26
25
25
30
27
27
24
24
28
28
28
27
27
27
27
24
26
28
29
30
24
27
24
23
25
25
23
28
24
35
31
30
24
32
33
30
33
32
29
40
29
29
32
32
33
29
30
26
31
33
28
31
31
33
36
40
32
32
27
28
32
32
28
34
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
33
39
42
33
33
41
43
36
34
43
36
36
36
38
35
44
38
41
41
45
36
34
36
35
39
43
42
46
36
38
38
47
36
41
26
39
33
29
19
30
29
31
34
28
30
40
30
32
31
28
28
30
28
32
39
32
31
32
27
29
23
32
35
33
22
31
34
34
29
29
24
34
25
25
19
26
24
27
29
24
23
30
23
27
25
24
26
29
24
22
27
28
25
22
25
23
26
27
25
28
24
29
27
24
30
27
23
29
33
28
28
34
29
31
34
31
33
40
32
36
31
26
31
34
28
29
37
32
31
30
30
33
34
33
35
35
33
34
31
34
30
30
32
34
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
39
40
38
37
40
37
33
39
34
37
33
30
41
34
37
42
33
33
28
39
38
45
36
45
40
37
36
42
35
43
39
26
41
42
32
30
27
30
32
28
24
40
30
27
24
24
32
32
35
34
28
30
31
31
32
34
37
35
35
32
21
31
29
36
26
22
34
33
25
25
24
22
27
25
27
30
22
25
24
18
27
25
23
26
30
26
22
29
27
30
29
27
25
30
27
28
23
28
28
25
22
26
32
33
29
28
38
31
32
35
31
29
24
24
38
33
32
31
36
30
30
36
29
36
36
33
36
33
33
33
29
35
32
35
32
32
Lampiran 3: Uji Validitas Instrument
Lampiran IV: Proceeding Wawancara dengan Penanggung Jawab SPM, Bapak
Taufiq
Sejarah SPM kapan dimulainya
Dimulai sekitar tahun 2006, dahulu dimulai dari kecil, kecil, kecil hingga
membentuk sebuah pola. Artinya materinya terstandar, pemeteri dari BEI, Praktisi,
regulator agar masyarakat yang ingin berkecimpung dalam pasar modal mengetahui
produk-produk pasar modal, resikonya, keuntungannya, judi atau tidak. Itu yang
perlu diperjelas dalam SPM. Kalau seandainya tidak tahu, kan repot.
Dahulu sistemnya tidak sehari penuh, yaitu setiap rabu selama 4x pertemuan.
Artinya, jika orang bekerja atau dari luar kota akan tersita waktunya. Sehingga
mendorong kami untuk membuatnya satu hari full agar lebih fleksibel dan tidak
terlalu memakan banyak waktu. Materinya-pun tidak berbeda dengan system
sebelumnya.
Target Peserta dan materi
Sebenarnya untuk target peserta sudah jelas di dalam website, yaitu sudah
berumur 25 tahun, artinya dia statusnya sudah lulus atau sudah mulai bekerja.
Sehingga SPM ini akan menjaring investor-investor baru. Namun demikian, pihak
penyelenggara masih memberikan fleksibilitas bagi masyararakat yang belum
berumur 25 tahun. Materi pada kelas basic adalah dasar-dasar tentang pasar modal,
contohnya pengertian saham, obligasi, dan reksadana. Sedangkan di kelas
intermediate, peserta dibekali analisis teknikal dan fundamental untuk mengetahui
pergerakan saham.
Sedangkan kelas advance, harus sudah menjadi investor atau sudah memiliki
rekening efek. Artinya mereka sudah masuk pasar modal dan menginginkan
pengetahuan-pengatahuan lainnya. Untuk materinya, kalau dulu itu masih berputar
pada pasar-pasar derivative, option, swap, forward, dan sebagainya, kemudian pasar
modal syariah, obligasi yang lebih mendalam. Sedangkan untuk pasar modal syariah
merupakan program baru yang diluncurkan untuk umum sejak akhir bulan April
2011
Visi misi
Agar kiprah pemodal local dapat menjadi dominan. Saat ini kan yang
menjadi tren dalam pasar modal Indonesia masih investor asing. Seharusnya kan
yang dominan investor domestik. Karena kalau misalnya yang dominan investor
asing, nantinya jika ada masalah seperti yang terjadi di tahun 2008 Indonesia akan
terkena dampak juga. Tapi kalau seperti di Malaysia atau Singapura yang investor
domestiknya lebih banyak dibanding investor asing, mereka tidak terlalu terkena
dampak jika ditinggal investor asing.
Pasar Modal syariah
Materi lebih ke teknis, pembicaranya dari Bapepam, DSN-MUI, dan dari BEI.
Contoh materinya fatwa-fatwa DSN, kalu Bapepam bicara tentang dukungan
pemerintah terhadap pasar modal syariah,
Struktur Organisasi SPM
Penanggung jawabnya adalah divisi pemasaran BEI. BEI disini bekerja sama
dengan KSEI, BEI, KPEI, beserta beberapa broker yang ingin bekerjasama dalam
sekolah pasar modal.
Lampiran VI: Hasil Pengolahan Regresi
Regression
Charts
Download