Demokrasi dan Civil Society

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Civil Society dan Demokrasi, dalam Ranah teoritis
mengenai civil society terbagi dua
pandangan. Ada sebagian yang berpandangan bahwa civil society memiliki keterikatan yang erat dengan Negara,
termasuk dalam hal ini dengan Demokrasi di suatu Negara1. Negara, termasuk apparatus dan kebijakannya,
merupakan bagian dari konsep sebuah masyarakat politik yang dicita-citakan. Namun ada pandangan lain bahwa,
civil society merupakan sebuah ranah masyarakat yang terpisah dengan ranah Negara karena dalam peran dan
fungsinya yang lebih bebas dan merdeka dari intervensi Negara.
Max Weber pernah menyebut partai politik sebagai “anak demokrasi,” tetapi sejalan
dengan kemunculan dan perkembangan demokrasi beberapa tahun belakangan ini, muncul
masyarakat sipil (civil society) sebagai favorit baru sebagai institusi pendukung demokrasi2.
Masyarakat sipil digambarkan sebagai “mata air demokrasi”, suatu anggapan yang romantis,
meskipun mungkin terlalu berlebihan. Masyarakat internasional memang telah mendorong
organisasi-organisasi
1
2
kemasyarakatan,
membantu
serta
mendukung
perluasan
dan
Pada masa Yunani Kuno, Civil society dan negara adalah berasal dari definisi yang sama yakni koinomia politik (masyarakat
politik) dimana setiap manusia dikenal sebagai zoon politikon (makhluk politik). Neera Chandhoke. Benturan Negara dan
Masyarakat Sipil. Yogyakarta, ISTAWA, 2001,hal.115.
Ibid.
1
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
pengembangan mereka, yang seringkali pula dibangun diatas puing partai politik yang hancur
karena telah kurangnya kepercayaan masyarakat kepada institusi tersebut.
Upaya - upaya tersebut merupakan suatu yang baik dan diperlukan. Tetapi fokus yang
ada pada masyarakat sipil telah bergerak melebihi porsi yang seharusnya. Bagi sebagian orang,
hal tersebut telah menjadi sebuah obsesi, sebuah mantra3. Hal yang kemudian terjadi adalah,
sumber-sumber daya lebih dialihkan kepada program - program pengembangan masyarakat dan
mengesampingkan partai politik serta institusi - institusi politik seperti parlemen. Banyak publik
yang merasa akan lebih memberikan hasil nyata apabila mereka bergabung dalam organisasi atau
asosiasi masyarakat sipil dibandingkan dengan partai politik, karena untuk dapat terlibat dalam
aktifitas demokratis partai politik terlebih dahulu dibutuhkan suatu perkembangan sosial dan
politik yang matang.
Penguatan organisasi – organisasi atau asosiasi kemasyarakatan sebagai upaya mewakili
sisi permintaan dalam dunia politik, tanpa menyediakan bantuan yang sama kepada organisasi
politik dimana mereka juga harus berusaha menggabungkan kepentingan - kepentingan
kelompok didalamnya, pada akhirnya dapat merusak keseimbangan demokrasi. Mengabaikan
partai-partai politik dan parlemen dapat menyebabkan menurunnya proses yang demokratis yang
sebenarnya hendak ditingkatkan. Tanpa partai politik dan institusi politik yang kuat, terbuka dan
3
Democracy Out of Balance: Civil Society Can’t Replace Political Parties by Ivan Doherty, Director, Political Party Programs, NDI
Worldwide Published in the Journal of Democracy Ed: Semarang, IDN hal 102.
2
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
efektif, serta mampu menegosiasikan, mengartikulasikan dan mengkompromikan kepentingan kepentingan yang berlawanan, akan menyebabkan terbukanya pintu kesempatan bagi pemimpin pemimpin yang populis untuk mencoba melangkahi institusi-institusi pemerintahan, terutama
sistem checks and balances dan supremasi hukum4.
Sebagai titik tolak pembahasan ini adalah mencari suatu penyelesaian tentang mungkinkah
civil society tegak dalam sistem yang tidak demokrasi´dan apa mungkin demokrasi dapat berdiri
tegak, di tengah masyarakat yang tidak civilied. Karena bagaimanapun civil society dan
demokrasi merupakan dua entitas yang korelatif yang saling berkaitan. Dalam civil society,
warga negara bekerjasama membangun ikatan sosial, jaringan produktif dan solidaritas yang
bersifat non-govermental untuk mencapaikebaikan bersama. Karena itu, tekanan sentral civil
society adalah independensinya terhadap suatu negara. Dari sini kemudian civil society
dipahami sebagai akal dan awal keterkaitannya demokrasi.
4
Ibid hal. 105.
3
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
1.2.
Rumusan Masalah
1. Apa hakikat dan pokok – pokok yang terkandung dalam demokrasi dan civil society?
2.
Apa korelasi antara demokrasi dengan civil society?
3.
Bagaimana pengaruh civil society pada perkembangan demokrasi ?
4.
Bagaimana bentuk demokrasi yang ada dalam beberapa civil society yang ada di
dunia?
5.
1.3.
Bagaimana pelaksanaan demokrasi pada civil society di Indonesia?
Tujuan Penulisan
Tujuan kelompok kami menyusun makalah ini adalah :
1. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Demokrasi dan HAM.
2. Untuk mengetahui lebih dalam tentang
hakikat dan pokok – pokok dari kajian
demokrasi dan civil society.
3. Untuk mengetahui korelasi antara demokrasi dan civil society.
4. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh civil society terhadap perkembangan
demokrasi.
5. Untuk mengkaji bentuk demokrasi yang ada di beberapa civil society di dunia.
6. Kepentingan teoritik; memperkaya teori-teori mengenai Demokrasi dan HAM,
khususnya Demokrasi dan Civil Society.
4
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
BAB II
LANDASAN TEORI
1.1. Hakikat dan Makna Demokrasi
Pengertian tentang demokrasi, secara etimologis “demokrasi” terdiri dari dua kata yang
berasal dari bahasa yunani yaitu “demos” yang berarti rakyat atau kependudukan suatu tempat
dan “cratein” atau “cratos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan rakyat5. Jadi secara bahasa
demos-cratein atau demos-cratos atau demokrasi adalah keadaan negara dimana dalam sistem
pemerintahanya kedaulatan berada ditangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan
bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat 6. Sementara
itu, pengertian demokrasi secara istilah sebagaimana dikemukakan para ahli sebagai berikut 7 :
a) Menurut Joseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan
institusional untuk untuk mencapai keputusan politik dimana individu-individu
memeperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompeetitif atas suara
rakyat.
5
Henry G. Lidell, Robert Scott, A Greek-English Lexico, New York:Routledge. hal 511.
Ibid hal. 512.
7
William Reno, Demokrasi Pemerintah–Oposisi Vol.2, Bandung:Kawita hal. 40.
6
5
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
b) Sidney Hook berpendapat demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana
keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung
didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat
dewasa.
c) Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl menyatakan demokrasi sebagai suatu
sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakantindakan mereka diwilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak
langsung melalui kompetisi dan kerjasama dengan para wakil mereka yang telah
terpilih.
d) Henry B. Mayo menyatakan demokrasi sebagai sisitem politik merupakan suatu
sistem yang menunjukan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas
oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihanpemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan pollitik dan
diselenggarakan dalam suasana terjaminya kebebasan politik.
e) Affan Gaffar (2000) memaknai demokrasi dalam dua bentuk yaitu pemaknaan
secara normatif dan empirik. Demokrasi normatif adalah demokrasi yang secara
ideal hendak dilakukan oleh sebuah negara. Sedangkan demokrasi empirik adalah
demokrasi dalam perwujudanya pada dunia politik praktis.
Dengan demikian makna demokrasi sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara
mengandung pengertian bahwa rakyatlah yang memberikan ketentuan dalam masalah-masalah
6
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijakan negara, karena kebijakan tersebut
akan menentukan kehidupan rakyat8. Dengan demikian negara yang menganut sistem demokrasi
adalah negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat. Dari sudut
organisasi, demokrasi berarti pengorganisasian negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri atau
atas persetujuan rakyat karena kedaulatan berada ditangan rakyat.
Dari beberapa pendapat diatas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai
suatu sistem bermayarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada
keberadaan kekuasaan ditangan rakyat baik dalam penyelenggaraan negara maupun
pemerintahan. Adapun pandangan lain terkait hakikat demokrasi apabila dikaji dari civil society
adalah peran utama rakyat dalam partisipasi proses sosial dan politik. Pemerintahan tertinggi
ditangan rakyat atau dengan kata lain rakyatlah yang berdaulat di negara yang demokratis.
Kekuasaan pemerintahan berada di tangan rakyat mengandung pengertian tiga hal : pertama,
pemerintah dari rakyat (government of the poeple); kedua pemerintahan oleh rakyat (government
by poeple); ketiga, pemerintahan yang demokratis bila ketiga hal diatas dapat dijalankan dan
ditegakkan dalam tata pemerintahan9.
Pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the poeple) mengandung pengertian
yang berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan
pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unlegitimate government) dimata rakyat.
8
9
Ibid, hal 46.
Ibid, hal 8.
7
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
Pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) berarti suatu pemerintahan
yang mendapat pengakuan dan dukunagn yang diberikan oleh rakyat. Sebaliknya pemerintahan
yang tidak sah dan tidak diakui (unlegitimete government) berarti suatu pemerintahan yang
sedang memegang kendali kekuasaan tidak mendapat pengkuan dan dukungan dari rakyat.
Legitimasi bagi suatu pemerintahan sangat
penting karena dengan legitimasi tersebut,
pemerintahan dapat menjalankan roda birokrasi dan program-programnya sebagai wujud dari
amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya. Pemerintahan dari rakyat memberikan gambaran
bahwa pemerintah yang sedang memegang kekuasaan dituntut kesadaranya bahwa pemerintahan
tersebut diperoleh melalui pemilhan dari rakyat bukan dari pemberian wangsit atau kekuatan
supranatural.
Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the poeple). Pemerintahan oleh rakyat
berarti bahwa suatu pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan
diri dan keinginanya sendiri. Selain itu juga mengandung pengertian bahwa dalam menjalankan
kekuasaanya, pemerintahan berada dalam pengawasan rakyatnya. Karena itu pemerintah harus
tunduk kepada pengawasan rakyat (social control). Pengawasan rakyat (social control) dapat
dilakukan secara langsung oleh rakyat maupun tidak langsung yaitu melalui perwakilannya di
parlemen (DPR). Dengan adanya pengawasan oleh rakyat (social control) akan menghilangkan
ambisi otoriterianisme para penyelenggara negara (pemerintah dan DPR)
Ketiga, pemerintahan unutk rakyat (government of the poeple) mengandung pengertian
bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah itu dijalankan untuk
8
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus didahulukan dan diutamakan di atas segalanya.
Untuk itu pemerintah harus mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi rakyat dalam
merumuskan dan menjalankan kebijakan dan program-programnya, bukan sebaliknya hanya
menjalankan aspirasi keinginan diri, keluarga dan kelompoknya. Oleh karenaitu pemerintah
harus membuka kanal-kanal (saluran) dan ruang kebebasan serta menjamin adanya kebebasan
seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun
secara langsung.
1.2. Hakikat dan Makna Civil Society
Civil society adalah kelompok masyarakat yang memiliki kemandirian yang tegas terhadap berbagai
kepentingan akan kekuasaan. Yang tidak kalah penting dalam konsep civil society adalah adanya
partisipasi aktif dari semua warga negara baik yang tergabung dalam berbagai perkumpulan,
organisasi atau kelompok lainnya sehingga akan membentuk karakter demokratis di lembaga
tersebut10.
Civil society atau masyarakat madani merupakan konsep yang memiliki banyak arti dan
sering dimaknai secara berbeda. Namun semua ahli sepakat bahwa harus ada partisipasi yang
bersifat sukarela dari sebagian warga masyarakat, tidak termasuk perilaku yang dilakukan karena
10
Cohen, Jean L. Dan Andrew Arato, Civil Society and Political Theory, dalam Hodgkinson, Virginia. dan Michael W.Foley (ed.).
The Civil Society Reader. University Press of New England, 2003 hal 22.
9
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
keterpaksaan. Beberapa ahli juga menyepakati adanya aktivitas politik melalui lembaga-lembaga
nonprofit semacam nongovernment organization (NGO). Berkenaan dengan pengertian
masyarakat Madani atau civil society, para pakar banyak mengemukakan pandangannya yang
berbeda, diantaranya sebagai berikut11:
a) A.S Hikam, berpendapat bahwa civil society secara institusional diartikan sebagai
pengelompokan anggota-anggota masyarakat sebagai warga negara mandiri yang dapat
dengan bebas bertindak aktif dalam wacana dan praktis mengenai segala hal yang
berkaitan dengan masalah kemasyarakatan pada umumnya12.
b) Anwar Ibrahim Kelahiran masyarakat madani bertitik tolak dari kesedaran masyarakat
mengenai kemurniaan nilai-nilai tersebut. Justeru itu ia berkait rapat dengan tradisi ilmu
dan pemekaran budaya.
c) Gallner, menunjuk konsep civil society sebagai masyarakat yang terdiri atas berbagai
institusi non-pemerintah yang otonom dan cukup kuat untuk mengimbangi negara.
d) Victor Perez-Diaz, menyatakan bahwa civil society lebih menekankan pada keadaan pada
keadaan masyarakat yang telah mengalami pemerintahan yang terbatas, memiliki
kebebasan, mempunyai sistem ekonomi pasar dan timbulnya asosiasi-asosiasi masyarakat
yang mandiri serta satu sama lain saling menompang.
11
12
William Reno, Demokrasi Pemerintah–Oposis Vol.2, Bandung:Kawita hal. 120.
Muhammad, A.S. Hikam, Demokrasi dan Civil Society, Jakarta: LP3ES Indonesia hal 2.
10
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan secara umum masyarakat madani atau civil
society dapat diartikan sebagai suatu corak kehidupan masyarakat yang terorganisir, mempunyai
sifat kesukarelaan, keswadayaan, kemandirian, namun mempunyai kesadaran hukum yang
tinggi.
Sejarah civil society pada awalnya merupakan konsep sekuler karena adanya penentangan
ilmuwan pada kekuasaan gereja (yang absolut) di abad pertengahan. Kemudian berlanjut pada
lahirnya sikap liberal yang mengakui hak - hak dasar individu untuk mengartikulasikan
otonomisasi di setiap pilihan - pilihan hidupnya. Akibat adanya sikap liberal ini maka ia
membutuhkan ruang umum dan jaminan hukum serta public discourse. Karena itu,berbicara
civil – dengan segala variannya – tentu meniscayakan adanya “lahan atau ruang” dan “nilainilai”, serta tentu saja kesiapan rasional yang argumentatif13.
Lahan civil society sendiri dapat berupa negara (law governed state) atau kesepakatankesepakatan rasional masyarakat. Sementara nilai-nilai (values) dapat berasal dari agama (religi),
suku (tribal), ras, etnos, ideologi, dan pengetahuan.
Tumbuhnya civil society memiliki kaitan yang amat signifikan terhadap tumbuhnya rezimrezim yang mengusung demokrasi sebagai paham dan ideologinya. Dalam paham demokrasi
pemerintah menyediakan kesempatan yang sangat luas kepada semua individu dalam lapangan
ekonomi dan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan warga negara membuat masyarakat
13
Neera, Chandhoke. Benturan Negara dan Masyarakat Sipil. Yogyakarta, ISTAWA, 2001. Hal 34.
11
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
memiliki posisi tawar terhadap kebijakan pemerintah14.
14
Ibid, hal 35.
12
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]mail.com
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Korelasi antara Civil Society dan Demokrasi
Civil society menurut Cicero adalah suatu komunitas politik yang beradab seperti
yang dicontohkan oleh mayarakat kota yang memiliki kode hukum sendiri. Dengan konsep
civility (kewarganegaraan) dan urbanity (budaya kota), maka kota dipahami bukan hanya
sekedar konsentrasi penduduk, melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan15.
Mewujudkan
civil
society
adalah
membangun
kota
budaya
bukan
sekedar
merevitalisasikan adab dan tradisi masyarakat local, tetapi lebih dari itu adalah
membangun masyarakat yang berbudaya yang saling cinta dan kasih yang menghargai
nilai-nilai kemanusiaan dan perbedaan. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan perbedaan
juga salah satu budaya demokrasi. Tanpa dapat menghargai perbedaan demokrasi tidak
akan berjalan dengan baik.
Civil society dan demokrasi merupakan dua entitas yang korelatif yang saling
berkaitan. Dalam civil society, warga negara bekerjasama membangun ikatan sosial,
jaringan produktif dan solidaritas yang bersifat non-govermental untuk mencapai kebaikan
15
Yuyus Kardiman, Ilmu Kewarganegaraan, Jakarta: Laboratorium Sosial Politik Press UNJ, 2010 hal. 80.
13
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
bersama. Karena itu, tekanan sentral civil society ada pada independensinya terhadap
suatu negara. Dalam pengertiannya civil society dijadikan jargon untuk memperkuat
demokrasi, dimana demokrasi adalah suatu system pemerintahan yang banyak digunakan
oleh berbagai negara di dunia. Dengan kata lain bicara civil society sama dengan bicara
demokrasi. Hubungan civil society dengan demokrasi ibarat the two side at the same coin.
Artinya jika civil society kuat maka demokrasi akan bertumbuh dan berkembang dengan
baik. Demokrasi dapat berkembang dengan meningkatkan kemandirian atau independensi
civil society dari tekanan negara.
Selain itu, demokrasi merupakan salah satu penegak wacana civil society, dimana
dalam menjalani kehidupan, warga negara memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan
aktivitas termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Adanya kehidupan
demokratis, merupakan hal yang penting yang pada hakekatnya mempunyai arti
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jadi diharapkan seluruh rakyat
baik laki-laki maupun perempuan untuk berpartisipasi didalam berbagai kehidupan bangsa.
baik didalam penyelenggaraan pemerintah maupun pembangunan yang dimulai dari
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang harus melibatkan partisipasi masyarakat baik
laki-laki maupun perempuan. Dalam kehidupan demokratis antara laki-laki dan perempuan
mempunyai hak dan kewajiban yang sama didalam melaksanakan perannya didalam
14
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
masyarakat, terutama di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif16.
Dari sini kemudian civil society dipahami sebagai akal dan awal keterkaitannya
dengan demokrasi. Civil society juga dipahami sebagai tatanan
kehidupan yang
mengiginkan kesejajaran hubungan antara warga negara dengan negara atas dasar prinsip
saling menghormati. Civil society sebenarnya merupakan suatu ide yang terus
diperjuangkan manifestasinya agar pada akhirnya terbentuk suatu masyarakat bermoral,
masyarakat sadar hukum, masyarakat beradab atau terbentuknya suatu tatanan sosial yang
baik, teratur dan progresif dengan system pemerintahan yang demokratis.
Masyarakat Madani merupakan terjemahan dari bahasa Inggris Civil Society.
Istilah Civil Society sudah ada sejak sebelum masehi17. Sementara masyarakat yang
beradab, merupakan masyarakat yang dapat menghargai perbedaan, sehingga apabila ada
perbedaan pendapat antara satu dengan yang lain, hal tersebut tidak akan memicu suatu
keributan. Dengan demikian, akan tercipta suatu system pemerintahan demokrasi yang
bebas namun bertanggungjawab.
16
17
Ibid, hal 85.
Ibid, hal 87.
15
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
3.2. Pengaruh civil society terhadap demokrasi
Hubungan civil society dengan demokrasi ibarat the two side at the same coin,
tentunya hal tersebut menyebabkan adanya pengaruh civil society terhadap demokrasi.
Pada dasarnya dalam proses penegakan demokrasi secara keseluruhan, tidaklah bertolak
penuh pada penguatan dan kekuatan civil society, sebab dia bukan penyelesai tunggal
ditengah kompleksitas problematika demokrasi. Civil society lebih bersifat komplementer
dari berbagai strategi demokrasi yang sudah berkembang. Berkaitan dengan demokrasi,
menurut Dawam Rahardjo ada beberapa asumsi yang berkembang18.
Tumbuhnya Civil Society memiliki kaitan yang amat signifikan terhadap
tumbuhnya rezim – rezim yang mengusung demokrasi sebagai paham dan ideologinya.
Dalam paham demokrasi pemerintah menyediakan kesempatan yang sangat luas kepada
semua individu dalam lapangan ekonomi dan seiring meningkatnya kesejahtraan warga
negara membuat masyarakat memiliki posisi tawar terhadap kebijakan pemerintah19.
18
19
Lemhanas - INPI, Menuju Masyarakat Madani,Jakarta: Penebar Swadaya, 1998, hal 43.
I. G. Sujatmiko, Wacana Civil Society di Indonesia, Jurnal Sosiologi edisi no. 9, Jakarta: KOMPAS, 2004 hal, 87.
16
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
3.3. Bentuk Demokrasi dalam Beberapa Civil Society di Dunia.
Mengenai demokrasi kita mengenal berbagai macam konsep demokrasi. Istilah
demokrasi menurut asal katanya berarti rakyat berkuasa. Sesudah Perang Dunia II kita
melihat gejala bahwa secara formal demokrasi merupakan dasar dari kebanyakan negara di
dunia. Menurut suatu penelitian yang diselenggarakan oleh UNESCO pada tahun 1949
bahwa demokrasi dinyatakan sebagai nama yang paling baik dan wajar untuk semua sistem
organisasi politik dan sosial yang diperjuangkan pendukung-pendukung yang berpengaruh.
Diantara sekian banyak aliran pikiran yang dinamakann demokrasi ada dua kelompok
aliran yang paling penting, yaitu demokrasi konstitusional dan dan satu kelompok aliran
yang menamakan dirinya demokrasi, tetapi yang pada hakikatnya mendasarkan dirinya atas
komunisme20. Kedua kelompok aliran demokrasi mula-mula berasal dari Eropa, tetapi
setelah Perang Dunia II nampaknya juga didukung oleh beberapa negara baru di Asia.
India, Filipina, Pakistan, dan Indonesia mencita-citakan demokrasi konstitusional,
sekalipun terdapat bermacam-macam bentuk pemerintahan maupun gaya hidup dalam
negara-negara tersebut.
Lalu konsep dari civil society sudah dikenal sejak masa Aristoteles pada zaman
Yunani Kuno, Cicero, pada zaman Roma Kuno, pada abad pertengahan, masa pencerahan
20
Henry G. Lidell, Robert Scott, A History Greek-English Lexico terj., New York:Routledge. hal 21.
17
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
dan masa modern21. Dengan masa yang berbeda dijelaskan oleh Fachry (2008), civil socity
mengalami evolusi pengertian yang berubah dari masa ke masa. Secara harfiah, civil
society itu sendiri adalah terjemahan dari istilah latin, civilis societas, mula-mula dipakai
oleh CICERO yaitu seorang orator dan pujangga Roma yang pengertian mengacu pada
gejala budaya perorangan dan masyarakat. Masyarakat sipil disebutnya sebagai sebuah
masyarakat politik yang memiliki kode hukum sebagai dasar peraturan hidup. Adanya
hukum yang mengatur pergaulan antar individu menandai keberadaban suatu jenis
masyarakat tersendiri. Masyarakat seperti itu, di zaman dahulu adalah masyarakat yang
tinggal di kota.
Dalam konsep Locke dan Rousseau belum dikenal pembedaan antra masyarakat
sipil dan negara. Karena negara lebih khusus lagi, pemerintah merupakan bagian dan salah
satu bentuk masyarakat sipil. Bahkan keduanya beranggapan bahwa masyarakat sipil
adalah pemerintahan sipil yang membedakan diri dari masyarakat alami atau keadaan
alami22.
Lalu bagaimana demokrasi yang ada dalam beberapa civil society (masyarakat
sipil) yang ada di dunia? Demokrasi telah merajai sistem pemerintahan yang ada di negaranegara di dunia. Sehingga hal ini menimbulkan banyak kelompok-kelompok aksi yang
muncul sebagai suatu penggebrak suatu perubahan di negaranya. Ada dua golongan besar,
21
22
Yuyus Kardiman, Ilmu Kewarganegaraan, Jakarta: Laboratorium Sosial Politik Press UNJ, 2010 hal. 79.
Ibid, hal 81.
18
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]il.com
yang pertama bersangkutan dengan pembangunan yaitu yang sasarannya adalah
meningkatkan kualitas hidup anggotanya. Dan yang kedua berupaya mencapai sejumlah
tujuan sosial politik. Kelompok aksi pembangunan pada dasarnya terlibat dalam usaha
untuk memperbaiki kedudukan ekonomi anggotanya pertanyaan yang sangat penting bagi
mereka bukanlah bagaimana melakukan redistribusi sumber daya ekonomi agar pada
umumnya lebih terdapat kesetaraan, perhatiannya adalah apolitis karena mereka tidak ingin
mengubah pembagian kekuasaan dalam masyarakat.
Sebaliknya, kelompok aksi sosial politik berusaha antara lain, untuk membantu
tumbuhnya kepekaan dan perdebatan yang lebih bergairah diantara para anggota, dengan
menarik masuk para warga negara yang biasanya apolitis untuk menyuarakan dan
memperjuangkan hak kearah kepentingan sosial dan politik mereka. Dengan kata lain,
kelompok aksi ini menawarkan kesempatan kepada mereka yang tidak memiliki
kesempatan hidup yang ada di tangannya sendiri, yaitu memiliki suara dalam pengaturan di
masyarakat23.
Dari segi pemegang kekuasaan hal ini tidak disukai, karena jika berhasil itu akan
mengurangi kekuasaan mereka. Kelompok aksi sosial politik cenderung sukses dalam
masyarakat sipil yang demokratis karena merteka memiliki ruang untuk mengejar
tujuannya. Berbeda dengan sistem otoriter yang tidak menyediakan ruang itu.
23
Ivan Doherty, Democracy Out of Balance: Civil Society Can’t Replace Political Partie, NDI Worldwide Published in the Journal of
Democracy Ed: Semarang, IDN hal 78.
19
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
Pada tahun 1980an dan 90an, masyarakat sipil menjadi pusat perhatian karena
perubahan situasi politik yang terjadi di negara-negara yang sedang bertransisi dari rejim
diktator menciptakan banyak kesempatan-kesempatan baru bagi organisasi masyarakat24.
Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor: organisasi masyarakat sipil memainkan
peranan yang sangat penting dalam memimpin perlawanan terhadap rezim - rezim diktator
di Asia dan Eropa Utara disaat partai politik tidak dapat berfungsi secara benar; munculnya
reaksi penentangan terhadap partai politik dari masyarakat di negara - negara yang
menganut sistem satu partai; dan munculnya dukungan dari negara-negara yang mapan
dalam demokrasi yang sebenarnya memiliki bayangan yang salah mengenai sistem
kepartaian dan kemudian menempatkan harapan dalam masyarakat sipil sebagai alat
pembaharuan politik dan sosial25.
Di Asia Selatan mempunyai kelompok aksi pembangunan yang jumlahnya besar
sekali. Negara-negara miskin diwilayah itu seperti Bangladesh, India, dan Srilanka
memiliki ribuan yang sebagian besar berlokasi di wilayah pedesaan. Di Asia Selatan juga
mempunya banyak contoh pembangunan yang anggotanya hanya perempuan dan
didominasi oleh perempuan. Sebagai contoh Bangladesh, meskipun terdapat banyak
kelompok-kelompok masyarakat dan kelompok - kelompok advokasi, kebuntuan dukungan
24
25
Haynes, Jeff. Demokrasi dan Masyarakat Sipil di Dunia Ketiga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2000, hal 35.
Ibid hal 76.
20
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
terhadap partai politik mengantarkan negara dan warga negaranya menuju kemiskinan
yang parah. Perubahan sistem pemerintahan dari diktator militer menuju pemerintah yang
terpilih secara populer selama beberapa dekade terakhir ini tampaknya menunjukkan
beberapa pemimpin politik hanya belajar sedikit sekali dari pengalaman26. Kedua kekuatan
politik utama di Bangladesh turut memberikan sumbangan pada kebuntuan politik yang
terus berlangsung ini. Pengaruh yang dimiliki oleh pemimpin-pemimpin politik atas para
pendukungnya dan masyarakat terus digunakan hanya untuk tujuan-tujuan partai semata,
sementara masyarakat sipil hanya berdiri tidak berdaya di sisi luar. Selain itu,
kecenderungan untuk mengelompok kelompokkan organisasi masyarakat sipil merupakan
indikasi adanya kesadaran dari mereka yang ingin mengesampingkan atau melemahkan
sistem demokrasi bahwa masyarakat sipil yang independen dan bersatu merupakan suatu
ancaman. Tanpa pergerakan di bidang reformasi partai politik dan penciptaan sistem
parlemen yang lebih terbuka dan transparan, nasib demokrasi dan kesejahteraan rakyat
Bangladesh akan terus terancam.
Jadi kelompok aksi yang berwawasan pembangunan dan sosial politik di dunia
mencerminkan, pada satu pihak meningkatnya kemiskinan dan taraf pembangunan yang
menurun diantara kelompok bawah dan dipihak lain efek dari gelombang demokrasi. Efek
itu memperkuat masyarakat mendorong bernagai kelompok aksi untuk mengejar tuntutan
26
Ivan Doherty,
op.cit, hal 77.
21
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
sosial politik melaluia kampanye, lobi dan tindak langsung. Dalam masyarakat demokrasi
atau yang sedang mnuju demokrasi, kelompok sosial politik memiliki peluang paling baik
untuk mencapai tujuan mereka. Tetapi problemnya adalah sementara negara-negara di
dunia yang menggunakan sistem demokrasi secara formal bertambah, yaitupemerintahan
yang dipilih melalui pemilihan umum yang teratur dan relatif bebas dan adil. Rakyat jelata
sering merasakan bahwa kepentinagn mereka bukanlah partai-partai politik. Dengan
demikian demokrasi memberikan kepada mereka ruang dimana mereka dapat
mengorganisasi diri karena secara paradoks, sebagian partai politik sekarang ini tidak
memberikan bobot pemikirran sepenuhnya kepentingan rakyat jelata.
Di Moroko, ribuan organisasi non politik (ORNOP) dan kelompok-kelompok
advokasi telah berperan aktif selama beberapa tahun, tetapi pergerakan bertahap menuju
politik yang demokratis baru muncul sebagai hasil setelah adanya perubahan-perubahan
dalam konstitusi, yang memperbolehkan hasil pemilihan umum untuk dicerminkan dalam
formasi pemerintahan. Setelah pemilihan umum di tahun 1998, untuk pertama kalinya
partai-partai politik yang memperoleh suara mayoritas diundang untuk membentuk suatu
pemerintahan27.
Sebagai konsekuensinya, partai-partai yang dianggap “anti-pembangunan” dan
telah menjadi oposisi selama hampir 50 tahun akhirnya mendapatkan kekuatan, dan
27
Ibid, hal 79.
22
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
menjadi penuntun menuju era baru yang mampu mengaspirasikan sistem politik yang lebih
terbuka dan demokratis. Walaupun masyarakat sipil memainkan peran utama dalam
membawa perubahan-perubahan ini, adalah komitmen partai-partai dan para pemimpin
mereka yang memungkinkan semua hal tersebut terjadi. Kesediaan pemimpin-pemimpin
politik untuk memainkan peran yang konstruktif ketika kondisi yang ada jauh dari ideal
timbul menjadi titik yang kritis dalam sejarah Moroko. Walaupun Moroko masih berada
dalam tahap awal transisi demokrasi dan hasilnyabelum tampak, kedewasaan yang
ditampilkan oleh para pemimpin politik selama langkah-langkah awal tersebut telah
menjadi fondasi yang penting.
Serupa yang terjadi di dunia – mulai dari Chili dan Filipina di tahun 1980an sampai
Indonesia dan Serbia di tahun 90an – kerjasama dan dukungan dari partai -partai politik
dan masyarakat sipil telah mengembalikan demokrasi bagi banyak warga negara. Di
hampir semua kasus yang terjadi, mungkin terbukti lebih mudah dan bagi masyarakat
internasional untuk memberikan bantuan dan dorongan bagi masyarakat sipil dan hanya
berinteraksi secara terbatas dengan partai-partai politik. Walaupun demikian, disaat transisi
menuju demokrasi memerlukan mobilisasi populer, hal tersebut juga memerlukan kerangka
kerja konstitusional dan institusional. Mobilisasi memang sangat baik bila dijalankan oleh
masyarakat sipil, tetapi partai politik tetap merupakan satu- satunya aktor yang dapat
23
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
memberikan kerangka kerja institusional yangdiperlukan28.
Tuntutan akan demokrasi merupakan pendorong bagi kelompok aksi dan
masyarakat sipil di dunia. Pada tahun 1980-an iklim internasional berubah saat Ronald
Reagan yang ketika itu merupakan Presiden Amerika Serikat pada 1982 berbicara di depan
Parlemen Inggris bahwa ia sangat ingin memulai gerakan kampanye untuk demokrasi.
Sejak saat itu baik demokrasi maupun hak asasi manusia mendapat dukungan di Barat.
Tekanan internasional membantu meyakinkan kebanyakan pemerintah dunia yang
nondemokratis untuk mengadakan pemilihan yang kompetetif.
Faktor kedua yang mengarah kepada transisi demokrtis adalah tekanan dari
masyarakat sipil dalam negeri. Dengan mengambil petunjuk dari transformasi demokratis
yang terjadi di Eropa Timur pada tahun 1980-an, kaum demokrat terdorong untuk menekan
pemerintah mereka kearah reformasi politik. Selama beberapa tahun kemudian, puluhan
sistem nondemokrasi menyerah kepada demokrasi forma, yaitu sebagian mempunyai
kesempatan untuk memilih pemerintahnya dengan interval yang teratur. Namun
diresmikannya demokrasi formal tidak membawa kearah demokrasi substansi yaitu dimana
rakyat jelata dan pribumi, kaum miskin, perempuan, kaum muda, golongan minoritas,
keagamaan dan etnik dapat benar-benar menempatkan kepentinagnnya dalam agenda
politik. Dengan kata lain diciptakanya demokrasi formal, yang sementara diterima, itu
28
Ibid, hal 81.
24
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
sendiri belum cukup menggeser keseimbangan kekuatan yang memihak kepentinagn
kelompok bawah. Akibatnya, banyak yang menjauhkan diri dari partai politik, sebaliknya
mereka lebih suka mengejar aspirasinya melalui kelompok aksi29.
Adanya demokrasi substansi adalah masuk akal bagi kelompok bawah untuk
mencari jalan lain guna mengunkapkan keluhannya dan mencari jalan
untuk
memperbaikinya. Penduduk pribumi di Brazil dan Mexico karena tidak dapat
menggunakan sistem demokrasi formal untuk reformasi politik dan sosial-ekonomi
memilih wahana kelompok aksi guna mengejar aspirasinya.
3.4. Pelaksanaan Demokrasi Pada Civil Society di Indonesia
Indonesia berhasil bangkit dari pemerintahan otoriter di masa yang lampau menuju
suatu kondisi yang tidak pasti yang terdiri dari suatu sistem multipartai yang kompetitif.
Sementara terdapat beberapa partai politik yang patuh dibawah rejim yang lama, orde
politik yang baru telah membawa banyak partai yang memiliki bentuk dan besar yang
beragam dalam situasi politik. Sejumlah 48 partai memenuhi kriteria pendaftaran yang
baru, sementara 93 partai gagal memenuhi kualifikasi tersebut. Setelah pemilu di tahun
1999, tidak lebih dari 15 partai yang terwakili dalam parlemen, yang terbesar hanya
memiliki 30 persen kursi. Dalam negosiasi pasca pemilihan, Abdurrahman Wahid terpilih
29
Ibid, hal 81.
25
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
menjadi presiden oleh parlemen, meskipun partainya hanya memiliki 51 kursi dalam
dewan, sementara yang menjadi favorit, Megawati Sukarnoputri, yang partainya memiliki
154 kursi, memperoleh kursi wakil presiden30.
Situasi politik di Indonesia masih belum stabil, dengan hanya sedikit partai politik
yang meraih kesuksesan dalam menghadapi iklim politik yang baru, dan semuanya gagal
mewakili mereka yang telah memberi dukungan pada pemilu. Demokratisasi berada pada
tahap yang sangat sulit di Indonesia, dengan begitu banyak hal yang harus dilakukan untuk
menguatkan partai-partai politik. Pada saat yang bersamaan, adalah imperatif bagi warga
negara untuk terlibat dalam proses ini dan bahwa partai-partai harus lebih mewakili
masyarakat dan bersikap responsif terhadap kebutuhan-kebutuhanmasyarakat.
Secara historis kelembagaan civil society di Indonesia telah muncul ketika proses
transformasi akibat modernisasi terjadi dan menghasil pembentukan yang baru yang
berbeda dengan masyarakat tradisional. Akar-akar civil society di Indonesia bisa diruntut
secara historis semenjak terjadinya perubahan sosial ekonomi pada masa kolonial,
utamanya ketika kapitalisme merkantilis mulai di perkenalkan oleh Belanda. Munculnya
kesadaran baru dikalangan kaum elite pribumi yang kemudian mendorong terbentuknya
organisasi-organisasi sosial modern di awal abad ke-20. gejala ini menandai mulai
bersemainya civil society di Indonesia.
30
Baskara T. W, ed. Politik Indonesia dalam Prespektif Sejarah, Semarang:Utama, hal, 22.
26
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
Dalam perjalananya, pertumbuhan cil society Indonesia pernah mengalami suatu
masa yang cukup menjanjikan bagi pertumbuhannya. Hal ini terjadi pada masa
pascarevolusi (tahun 1950-an) pada saat organisasi sosial dan politik dibiarkan tumbuh
bebas dan memperoleh dukungan kuat dari masyarakat yang baru saja merdeka. Hal ini
tidak berlangsung lama, civil society yang mulai berkembang ini segera mengalami
penyurutan terus menerus. Hal ini terjadi akibat krisis politik pada level negara, ditambah
dengan kebangkrutan ekonomi dalam skala massif, ormas-ormas dan lembaga-lembaga
sosial berubah menjadi alat bagi merebaknya politik aliran dan pertarunga ideologi. Civil
society yang baru berkembang mengalami kemandekan bahkan kemunduran.
Civil society demikian mencapai titik paling parah di bawah rezim Soekarno. Di
bawah rezim Demokrasi Terpimpin, politik Indonesia didominasi oleh penggunaan
mobilisasi massa sebagai alat legitimasi politik. Tumbangnya rezim Soekarno dan
munculnya Orde Baru menunjukan proses restrukturisasi politik, ekonomidan sosial
mendasar yang membawa dampak-dampak tersendiribagi perkembangan sivil society di
Indonesia31.
Pada dataran politik Orde Baru melanjutkan upaya sebelumnya untuk memperkuat
posisi negara disegala bidang. Hal ini harus dibayar dengan merosotnya kemandirian dan
partisipasi politikanggota masyarakat. akibatnya kondisi civil society dan pertumbuhannya
31
Ibid, hal 23.
27
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
di bawah Orde Barumenampilkan berbagai paradoks. Dengan semakin berkembangnya
kelas menengah ia seharusnya semakin mandiri sebagai pengimbang kekuatan
negaraseperti yang terjadi di negara-negara kapitalis barat. Kenyataanya kelasmenengah
yang tumbuh ternyata memiliki ciri yang berbeda dengan yang tumbuh di Barat akibat
proses modernisasi. Yaitu adanya ketergantungan yang sangat tinggi terhadap negara.
Terutama tampak jelas pada kelas kapitalis Indonesiayang berkembang melalui kedekatan
dengan negara dan elite penguasa.apa yang dikenal sebagai ersatz capitalism (kapitalis
semu) di Indonesia adalah perwujudan yang membedakan dengan kapitalis di Barat.
Tampaklah banwa kondisi civil society di Indonesia pada saat ini masih jauh dari mampu
untuk manjadi kekuatan pengimbang dari kekuatan negara.
Civil society secara institusional bisa diartikan sebagai pengelompokan dari angotaanggota masyarakat sebagai warga negara mandiri yang dapat dengan bebas dan egaliter
bertindak aktif dalam wacana dan praktik mengenai segala hal yang berkaitan dengan
masalah kemasyarakatan pada umumnya. Civil society harus dibedakan dengan suku, klan,
atau jaringan-jaringan klientelisme, karena variabel yang utama didalamnya adalh sifat
otonomi (kemandirian), publik dan civic. Keharusan adanya kebebasan dan keterbukaan
untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat serta kesempatan yang sama
dalam mempertahankan kepentingan di depan umum.
Keberhasilan negara di bawah Orde Baru dalam mempelopori proses restrukturisasi
sosial, ekonomi, dan politik, telah menempatkannya sabagai kekuatan dominan yang
28
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
seolah-olah tidak memungkinkan kekuatan-kekuatan lain dalam masyarakat untuk
mengimbanginya. Pada tingkat struktur dan signifikasi atau yang disebut Hebermas dengan
life word, negara Orde Baru pun cukup mampu untuk mendorong proses transformasi
kultural dan ideologis yang pada gilirannya telah memiliki andil yang sangat besar bagi
proses penentraman sosial yang tak berhasil dilakukan oleh rezim sebelumnya.
Negara telah berhasil menanamkan dan mempertahankan tingkat hegemoni
ideologi yang cukup tinggi sehingga diterima sebagai kekuatan pengayom, pelindung, dan
penjamin bagi proses politik, integrasi, keamanan dan ketenangan sosial selama lebih dari
dua dekade. Mirip dengan negara-negara yang otoriter dan pacatotaliter, stabilitas dan
ketenangan sosial politik yang dipertahankan oleh negara ternyata telah dibangun diatas
dasar logika yang secara internal bersifat kontradiktif, yaitu kemampuan yang cukup besar
dari negara untuk melakukan eksklusi bagi kekuatan-kekuatan otonomdalam masyarakat
yang apabila dibiarkan akan mendesak peran-peran politik, ekonomi dan sosial strategis
yang dinikmati oleh negara.
Demokrasi lewat penguatan civil society di Indonesia adalah yang memiliki
relevansi tinggi dalam jangka panjang, terlebih jika kita mengingat percepatan perubahan
ekonomi, sosial, politik, dan ideologi pada skala global. Dalam percepatan ini sistem
ekonomi, sosial dan politik, suatu negara-bangsa semakin dituntut untuk lebih fleksibel dan
terbuka, namun tetap berakar pada latar belakang kesejarahan, formasi sosial dan
29
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
perkembangan masyarakat yang khas32
32
. Baskara T. W, ed. Ibid, 27.
30
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
31
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1. Kesimpulan
Revolusi demokrasi global dalam dekade terakhir ini telah mendemonstrasikan
bahwa orang-orang menganggap demokrasi sebagai sebuah kebutuhan dan sebagai sebuah
hak tersendiri, dan bukan hanya sebagai sebuah aspirasi yang harus diseimbangkan atau
bahkan dikalahkan oleh kepentingan nasional ataupun kepentingan ekonomi lain.
Sistem pemerintahan yang benar-benar terbuka dan demokratis bukan merupakan
ancaman bagi kesejahteraan individu maupun kesejahteraan bersama, melainkan sebuah
cara dimana sebuah bangsa dapat menggali potensi keseluruhannya, baik di bidang
ekonomi maupun di bidang politik. Demokrasi memerlukan struktur demokrasi yang
berjalan: badan legislatif yang mewakili warga negara dan mengawasi eksekutif; pemilu
dimana para pemilih benar-benar memilih pemimpin-pemimpin mereka; badan yudikatif
yang menjunjung tinggi hukum dan independen dari pengaruh - pengaruh luar; sebuah
sistem checks and balances didalam masyarakat; dan lembaga-lembaga serta pemimpinpemimpin yang bertanggung gugat pada publik.
Dukungan dan kolaborasi aktif antar masyarakat sipil, asosiasi - asosiasi dan
organisasi politik yang kuat dan inklusif, dalam kemitraan mereka dengan masyarakat sipil
yang hidup harus diterima sebagai ekuasi yang seimbang untuk dapat memperoleh sistem
32
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
pemerintahan yang lebih transparan dan lebih partisipatif.
4.2 Rekomendasi
Rekomendasi kami adalah harus lebih berperannya masyarakat sipil, karena pada
hakikatnya Masyarakat sipil merupakan sebuah komponen yang tidak terpisahkan dari
sebuah sistem demokrasi. Demokrasi tidak dapat bertahan kecuali demokrasi tersebut
diiringi dengan sebuah budaya sipil yang kuat dan didukung oleh populasi yang memiliki
komitmen terhadap hal-hal ideal seperti supremasi hukum, kebebasan individu, kebebasan
beragama, debat yang bebas dan terbuka, kepemimpinan mayoritas dan perlindungan
terhadap minoritas.
Sebuah masyarakat sipil yang dinamis haruslah banyak mengembangkan elemen
yang penting bagi demokrasi, antara lain: partisipasi, akuntabilitas (pertanggunggugatan),
dan reformasi politik yang berkelanjutan. Masyarakat sipil yang terorganisir dapat
memberikan suara bagi mereka yang kurang beruntung (sama halnya dengan mereka yang
diuntungkan) dan masyarakat sipil dapat melipat gandakan pengaruh mereka dalam proses
sosial dan politik.
33
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
Daftar Pustaka
C.F. Strong, Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Kajian Tentang Sejarah dan BentukBentuk Konstitusi Dunia, (terj.), Bandung: Nuansa dan Nusamedia, 2004
Doherty, Ivan, Demokrasi Telah Kehilangan Keseimbangannya Masyarakat Sipil Tidak
Dapat Menggantikan Partai Politik, (Terj.), Jakarta: National Democratic
Institute.
Neera, Chandhoke. Benturan Negara dan Masyarakat Sipil. Yogyakarta, ISTAWA, 2001.
Yuyus Kardiman, Ilmu Kewarganegaraan, Jakarta: Laboratorium Sosial Politik Press
UNJ, 2010.
Muhammad, A.S. Hikam, Demokrasi dan Civil Society, Jakarta: LP3ES Indonesia. 1996.
Cohen, Jean L. Dan Andrew Arato, Civil Society and Political Theory, dalam
Hodgkinson, Virginia. dan Michael W.Foley (ed.). The Civil Society Reader.
University Press of New England, 2003
Haynes, Jeff. Demokrasi dan Masyarakat Sipil di Dunia Ketiga. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia. 2000.
Magnis, Frans dan Suseno. Demokrasi dan Civil Society. Jakarta: LP3S Indonesia. 1996.
Baskara T. W, ed. Politik Indonesia dalam Prespektif Sejarah, Semarang:Utama.
Lemhanas - INPI, Menuju Masyarakat Madani,Jakarta: Penebar Swadaya, 1998.
Budiarjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2007.
William Reno, Demokrasi Pemerintah–Oposisi Vol.2, Bandung: Kawita.
......wikipedia, http://wikipedia.com
34
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
35
tokogurusosial.wordpress.com
[email protected]
Download