pengukuran kelelahan aktivitas mengemudi mobil dengan

advertisement
PENGUKURAN KELELAHAN AKTIVITAS MENGEMUDI MOBIL
DENGAN PENDEKATAN FISIOLOGIS, KOGNITIF, DAN SUBJEKTIF
Andreas Aristides Simandjuntak1, Boy Nurtjahyo Moch2
Departemen Teknik Industri
Fakultas Teknik – Universitas Indonesia, Depok 16424
Tel: (021) 78888805. Fax: (021) 78885656
E-mail:: [email protected]. [email protected]
Abstrak
Kecelakaan lalu lintas telah menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia
menurut WHO, sedangkan kelelahan pengemudi merupakan faktor kedua terbanyak penyebab
kecelakaan lalu lintas setelah pelanggaran lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan signifikansi dari tingkat kelelahan pengemudi dengan pendekatan fisiologis,
kognitif, dan subjektif serta memperoleh perbandingan tingkat kelelahan antara pengemudi
mobil pria dengan pengemudi mobil wanita, sehingga dapat menurunkan tingkat kecelakaan
lalu lintas. Penelitian ini melibat dua belas orang responden, yang terdiri atas enam responden
pria dan enam responden wanita berusia 17-25 tahun yang diukur tingkat kelelahannya
menggunakan pendekatan fisiologis (tekanan darah dan detak jantung), kognitif (psychomotor
vigilance test), dan subjektif (Karolinska Sleepiness Scale). Hasil dari penelitian ini
didapatkan bahwa pendekatan fisiologis yaitu detak jantung merupakan variabel yang paling
sensitif, namun semua variabel baik pada responden pria maupun wanita tidak terjadi hasil
yang signifikan, dan tidak terlihat banyak perbedaan pada kelelahan pengemudi mobil pria
maupun wanita. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pendekatan yang dilakukan
belum dapat dijadikan panduan untuk mengukur kelelahan pada pengemudi mobil pria
maupun wanita.
Kata Kunci: Ergonomi, Pengukuran Kelelahan, Tekanan Darah, Detak Jantung, Psychomotor
Vigilance Test, Karolinska Sleepiness Scale
Abstract
Traffic accidents are the third largest cause of death according to WHO, while driver
fatigue is the second largest factor that cause traffic accidents after traffic violations. The
purpose of this study is to find out the significance of driver fatigue using physiological,
cognitive, and subjective approach and to get the comparison of fatigue between male and
female driver. The study involved twelve respondents, which included six male respondents
and six female respondents aged 17-25 years old measured by physiological (blood pressure
and heart rate), cognitive (psychomotor vigilance test), and subjective (Karolinska Sleepiness
Scale). The result of this study is that heart rate is the most sensitive variable, but all of the
variables in male and female respondents don’t have a significant result, and there is no big
difference of fatigue in male and female car driver. The conclusion of the study is that the
approaches that is done could not be a guidance to measure fatigue for male and female car
driver.
Keywords: Ergonomics, Fatigue Measurement, Blood Pressure, Heart Rate, Psychomotor
Vigilance Test, Karolinska Sleepiness Scale
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
1.
Pendahuluan
Menurut data Korlantas Polri, pada
tahun 2013, jumlah kecelakaan terbanyak
berada pada rentang pukul 12.00-18.00. Setiap
hari rata-rata terjadi 87 kasus kecelakaan.
Kecelakaan terjadi pada waktu tersebut karena
merupakan waktu di mana banyak orang yang
beraktivitas di jalan raya. Dengan banyaknya
kendaraan yang lalu lalang, semakin besar pula
potensi terjadinya kecelakaan.
Selain itu, untuk usia pelaku
kecelakaan lalu lintas, anak-anak muda berusia
16-25 tahun merupakan rentang usia yang
memiliki tingkat kecelakaan lalu lintas, yakni
sebesar 26,61% pada tahun 2013. Sementara
itu, 94% kejadian kecelakaan di Indonesia
disebabkan oleh pelaku berjenis kelamin lakilaki. Hal ini mungkin disebabkan karena jauh
lebih banyaknya jumlah pengemudi pria
dibanding wanita. Namun, jumlah pengemudi
wanita meningkat setiap tahunnya.
Menurut data Bid Bin Gakkum
Korlantas
Polri,
kelelahan
merupakan
penyebab kedua terbesar dari kecelakaan lalu
lintas, (37,9%), hanya di bawah perilaku tidak
tertib (45,7%). Kecelakaan lalu lintas yang
disebabkan
oleh
kelelahan
pengemudi
berjumlah 34.657 kasus. Hal ini sesuai dengan
penelitian dari Smolensky, Milia, Ohayon, dan
Philip (2009) menyebutkan bahwa kelelahan
dan mengantuk merupakan salah satu
penyebab terjadinya kecelakaan dalam
berkendara. Hal ini juga dipertajam dengan
penelitian yang dilakukan oleh Virginia Tech
Transportation
Institute
(2013)
yang
menunjukkan bahwa persentase kelelahan
pengemudi menjadi penyebab terjadinya
kecelakaan sebesar 20%, jauh dari estimasi
suatu survei sebelumnya yang menyatakan
hanya 2-3%.
Terdapat berbagai metode untuk
mengukur kelelahan dalam hal berkendara.
Yang pertama adalah pengukuran performa
neuro-behavioural (metode kognitif), yang
menggunakan PVT (Psychomotor Vigilance
Test). PVT mengukur perhatian yang berlanjut
dan pengukuran ini telah menjadi standar
utama dalam mendeteksi kelelahan (Dinges
DF, Powell JW, 1985). Individu akan
memberikan
respon
terhadap
stimuli/rangsangan visual dengan menekan
tombol pada layar komputer selama periode 510 menit. PVT mengukur reaction time (waktu
reaksi) dan ‘lapses’ (response time >500 ms).
Namun, performa PVT mungkin tidak terlalu
pas terhadap performa mengemudi yang buruk,
dikarenakan oleh perbedaan individu yang
besar terhadap performa mengemudi yang
buruk. Sehingga, PVT lebih baik digunakan
untuk
memprediksi
kecelakaan
yang
berhubungan dengan kelelahan (Baulk S,
Biggs S, Reid K, van den Heuvel, Dawson D.,
2008).
Metode kedua adalah secara subjektif.
Salah satu cara mengukur secara subjektif
adalah dengan menggunakan Karolinska
Sleeping Scale (KSS). KSS awalnya
dikembangkan untuk membentuk suatu
dimensi mengenai skala pengukuran tingkat
kantuk yang divalidasikan dengan alpha dan
tethaelectroenchepalograhic
(EEG)
dan
aktivitas
gerak
mata
lambat
pada
electrooculographic (EOG) (Kaida et al, 2006:
1574-1575). KSS diukur berdasarkan pendapat
atau perasaan responden sendiri mengenai
kewaspadaannya. KSS memiliki 9 tahapan,
dengan 1 berarti sangat waspada, sampai 9
berarti sangat mengantuk. (Akerstedt dan
Gillberg, 1990).
Selain itu, dapat juga digunakan
metode fisiologis. Beberapa dari metode
fisiologis adalah metode Heart Rate dan Blood
Pressure. Metode Heart Rate akan mengukur
perubahan detak jantung sedangkan metode
Blood Pressure akan mengukur tekanan darah.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Verwey
dan Zaidel (1999), ditemukan bahwa tingkat
konsentrasi dan detak jantung yang bervariasi
pada setiap individu dipengaruhi oleh tingkat
kelelahan yang dialami masing-masing. Selain
itu, terdapat penelitian lain yang menguji 8
pengemudi pria untuk berkendara selama 4
jam, ditemukan bahwa semakin lama waktu
berkendara, detak jantung pengemudi pria
tersebut juga akan menjadi semakin cepat
karena kelelahan yang dialami (Egelund,
1982).
Pada penelitian sebelumnya, telah
memeriksa tingkat kelelahan pengemudi
berkaitan dengan sleep deprivation (kurangnya
waktu tidur) di mana terbukti bahwa bahwa
kurangnya waktu tidur atau waktu bangun
yang berkepanjangan akan menyebabkan
gangguan berkendara, yang pada akhirnya
meningkatkan tingkat kecelakaan, baik dengan
penelitian berkendara menggunakan simulator
(Philip et al., 2005; Arnedt et al., 2005)
maupun kendaraan (Philip et al., 2001).
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Penulis ingin melihat kelelahan yang tidak
menggunakan faktor kurangnya waktu tidur
dengan berbagai metode, yakni PVT (metode
kognitif), Karolinska Sleeping Scale (metode
subjektif), serta tekanan darah dan detak
jantung (metode fisiologis).
2. Tinjauan Teoritis
2.1 Ergonomi
Ergonomi berasal dari kata Yunani
ergon (kerja) dan nomos (aturan), secara
keseluruhan ergonomi berarti aturan yang
berkaitan dengan kerja. Berikut adalah
definisi-definisi ergonomi menurut para ahli:
1. Ergonomi adalah ”Ilmu” atau pendekatan
multidisipliner
yang
bertujuan
mengoptimalkan
sistem
manusiapekerjaannya, sehingga tercapai alat, cara
dan lingkungan kerja yang sehat, aman,
nyaman, dan efisien (Manuaba, A, 1981).
2. Ergonomi adalah ilmu, seni, dan
penerapan teknologi untuk menyerasikan
atau menyeimbangkan antara segala
fasilitas yang digunakan baik dalam
beraktifitas maupun istirahat dengan
kemampuan dan keterbatasan manusia
baik fisik maupun mental sehingga
kualitas hidup secara keseluruhan menjadi
lebih baik (Tarwaka. dkk, 2004).
3. Ergonomi adalah ilmu tentang manusia
dalam
usaha untuk
meningkatkan
kenyamanan
di
lingkungan
kerja
(Nurmianto, 1996).
4. Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya
yang berusaha untuk menyerasikan
pekerjaan dan lingkungan terhadap orang
atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya
produktivitas dan efisiensi yang setinggitingginya melalui pemanfaatan manusia
seoptimal-optimalnya (Suma’mur, 1987).
5. Ergonomi
adalah
praktek
dalam
mendesain peralatan dan rincian pekerjaan
sesuai dengan kapabilitas pekerja dengan
tujuan untuk mencegah cidera pada
pekerja. (OSHA, 2000).
Dari berbagai definisi di atas, dapat
diintepretasikan bahwa pusat perhatian pada
ilmu ergonomi adalah manusia. Ergonomi
memiliki konsep ergonomi berdasarkan
kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan
kapabilitas manusia. Sehingga, dalam usaha
untuk mencegah cedera, meningkatkan
produktivitas, efisiensi dan kenyamanan
dibutuhkan penyerasian antara lingkungan
kerja, pekerjaan dan manusia yang terlibat
dengan pekerjaan tersebut.
2.2
Kelelahan (Fatigue)
Kelelahan adalah suatu mekanisme
perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari
kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi
pemulihan setelah istirahat. Istilah kelelahan
biasanya menunjukkan kondisi yang berbedabeda dari setiap individu, tetapi semuanya
bermuara kepada kehilangan efisiensi dan
penurunan kapasitas kerja serta ketahanan
tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa kelelahan
berperan dalam menjaga homeostatis tubuh.
Kelelahan (fatigue) merupakan suatu
kondisi suatu kondisi yang telah dikenali
dalam kehidupan sehari-hari. Istilah kelelahan
pada umumnya mengarah pada kondisi
berkurangnya tenaga untuk melakukan suatu
kegiatan, walaupun hal ini bukan merupakan
satu-satunya gejala.
Secara harafiah, fatigue dapat diartikan
secara sederhana sama dengan kelelahan yang
sangat (deep tiredness), mirip stres, bersifat
kumulatif. Bila dikaitkan dengan pengalaman
seperti
apa
sebenarnya fatigue itu,
pengertiannya menjadi bervariasi. Dari
berbagai literatur, fatigue sering dihubungkan
dengan kondisi kurang tidur, kondisi akibat
tidur yang terganggu, atau kebutuhan kuat
untuk tidur yang berhubungan dengan
panjangnya waktu kerja, dan stres-stres kerja
(dan penerbangan) yang bervariasi. Ahli
lainnya sering mengkaitkan fatigue dengan
perasaan lelah bersifat subjektif, hilangnya
perhatian bersifat temporer, dan menurunnya
respon psikomotor ; atau, berhubungan dengan
gejala-gejala
yang
dikaitkan
dengan
menurunnya efisiensi performance dan skill;
atau, berhubungan dengan menurunnya
performance . Fatigue juga kerap dikaitkan
dengan kondisi non-patologis yang dapat
membuat kemampuan seseorang menurun
dalam
mempertahankan
kinerja
yang
berhubungan dengan stres fisik maupun
mental; atau, terganggunya siklus biologis
tubuh (jet lag). Kelelahan kerja menurut
Tarwaka (2004), merupakan suatu mekanisme
perlindungan agar terhindar dari kerusakan
lebih lanjut, sehingga dengan demikian
terjadilah pemulihan setelah istirahat.
Kelelahan merupakan perpaduan dari
wujud penurunan fungsi mental dan fisik yang
menghasilkan berkurangnya semangat kerja
sehingga mengakibatkan efektivitas dan
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
efisiensi kerja menurun (Saito, 1999). Menurut
Kroemer 1997, kelelahan kerja merupakan
gejala yang ditandai dengan adanya perasaan
lelah dan kita merasa segan dan aktivitas akan
melemah serta ketidakseimbangan pada
kondisi tubuh. Kelelahan mempengaruhi
kapasitas fisik, mental, dan tingkat emosional
seseorang, dimana dapat mengakibatkan
kurangnya kewaspadaan, yang ditandai dengan
kemunduran reaksi pada sesuatu dan
berkurangnya kemampuan motorik (Australia
Safety Compensation Council, 2006)
antara waktu yang sudah didapatkan. PVT
hanya membutuhkan warna-warna yang
tertentu yang akan digunakan dan prosesnya
adalah dengan menekan tombol tertentu
apabila stimulus tersebut muncul. Waktu yang
didapatkan pada saat menekan tombol akan
didapatkan waktu tercepat, waktu terlama dan
rata-rata nya (Dorrian, Rogers, & Dinges,
2005, p. 43).
Karolinska Sleepiness Scale (KSS)
Karolinska Sleepiness Scale adalah
skala yang dipergunakan untuk melihat rate
dari subjek yang akan dinilai tingkat
kelelahannya berdasarkan skala 1 sampai
dengan skala 9. Nilai 1 menunjukkan rasa yang
sangat waspada dan nilai 9 menunjukkan rasa
yang sangat mengantuk, berusaha untuk tidak
mengantuk, berusaha untuk tetap berada dalam
posisi bangun. Pasien atau subjek akan
diberikan penjelasan untuk setiap nilai 1
sampai 9 yang ada. Dengan semakin besar
nilainya, menunjukkan bahwa pasien atau
subjek berada dalam posisi mengantuk.
Tingkat kelelahan KSS dapat dijelaskan
sebagai berikut (Schleicher, Galley, Briest, &
Galley, 2008, p. 3):
1. Terlalu Waspada
2. Sangat Waspada
3. Waspada
4. Cukup Waspada
5. Tidak waspada dan tidak mengantuk
6. Menunjukkan pertanda mengantuk
7. Mengantuk, namun tidak menunjukkan
usaha agar tetap waspada
8. Mengantuk, namun berupaya untuk tetap
waspada
9. Sangat mengantuk, sangat berupaya untuk
tetap waspada
Detak Jantung (Heart Rate)
Detak jantung biasanya mengacu pada
jumlah waktu yang dibutuhkan oleh detak
jantung per satuan waktu, secara umum
direpresentasikan sebagai bpm (beats per
minute). Detak jantung normal untuk setiap
individu berbeda-beda tergantung pada kapan
waktu mengukur detak jantung tersebut (saat
istirahat atau setelah berolahraga). Variasi
dalam detak jantung sesuai dengan jumlah
oksigen yang diperlukan oleh tubuh saat itu.
Detak jantung atau juga dikenal
dengan denyut nadi adalah tanda penting
dalam bidang medis yang bermanfaat untuk
mengevaluasi dengan cepat kesehatan atau
mengetahui kebugaran seseorang secara
umum.
Pada orang dewasa yang sehat, saat
sedang istirahat maka detak jantung yang
normal adalah sekitar 60-100 denyut per menit
(bpm). Jika didapatkan detak jantung yang
lebih rendah saat sedang istirahat, pada
umumnya menunjukkan fungsi jantung yang
lebih efisien dan lebih baik kebugaran
kardiovaskularnya.
Ada banyak faktor yang dapat
mempengaruhi
jumlah
detak
jantung
seseorang, yaitu aktivitas fisik atau tingkat
kebugaran seseorang, suhu udara disekitar,
posisi tubuh (berbaring atau berdiri), tingkat
emosi, ukuran tubuh serta obat yang sedang
dikonsumsi.
2.4
2.6
2.3
Psychomotor Vigilance Task (PVT)
PVT
dikembangkan
berdasarkan
neurocognitive assay yang bertujuan untuk
memahami dan menganalisis perubahan yang
terjadi dalam proses interaksi pada saat
berkendara dan pengaruhnya terhadap rasa
kantuk. PVT menggunakan waktu tertentu
yang digunakan untuk mengamati perubahan
yang terjadi berdasarkan sinyal-sinyal yang
diberikan. PVT menggunakan test yang mudah
dengan mengamati Reaction Time (RT),
dengan RT ini akan dilihat jenjang perubahan
2.5
Tekanan Darah
Tekanan darah (Blood Pressure)
adalah tekanan yang dialami darah pada
pembuluh arteri darah ketika darah di pompa
oleh jantung ke seluruh anggota tubuh
manusia. Tekanan darah dibuat dengan
mengambil dua ukuran dan biasanya diukur
seperti berikut 120/80 mm Hg. Nomor 120
menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri
akibat detakan jantung dan disebut juga
dengan tekanan sistole. Sementara itu, nomor
80 menunjukkan tekanan saat jantung
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
beristirahat diantara pemompaan, dan disebut
tekanan diastole. Tekanan sistolik adalah
tekanan darah pada saat terjadi kontraksi otot
jantung.
Pada umumnya, tekanan darah normal
orang dewasa normal biasanya mencapai ratarata 120/80 mm Hg. Beberapa alat yang dapat
digunakan dalam pengukuran tekanan darah
diantaranya adalah, tensimeter, Omron HEM7111, dan Sphygmomanometer.
3.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, ada tiga jenis
pendekatan yang diukur yaitu pendekatan
fisiologis, kognitif, dan subjektif. Pada
pendekatan fisiologis, terbagi atas tekanan
darah dan detak jantung. Pengukuran fisiologis
ini menggunakan perangkat keras (hardware).
Untuk mengukur tekanan darah digunakan
Omron Automatic Blood Pressure Monitor
HEM-7221 sedangkan untuk mengukur detak
jantung digunakan Polar Heart Rate FT7.
Untuk pendekatan kognitif, digunakan
perangkat lunak (software). Software yang
digunakan bernama Design Tools. Dalam
program Design Tools ini ada dua jenis uji
yang digunakan yaitu Simple Reaction Time
dan Psychophysics. Simple Reaction Time
berfungsi untuk mengukur reponse time
terhadap stimulus secepatnya, sedangkan
Psychophysics berfungsi untuk mengukur
ketepatan menentukan garis yang memiliki
panjang yang berbeda.
Dalam melakukan penelitian, mobil
yang digunakan berjenis city car dan
bertransmisi automatic. Responden akan
mengemudi mobil tersebut selama 120 menit
atau 2 jam, dengan istirahat setiap 40 menit,
pada rentang waktu pukul 12.00-18.00. Rute
jalan yang dilalui selama penelitian adalah
pada kawasan kampus UI Depok karena sesuai
dengan
konsep
homogenitas.
Selama
berkendara, responden tidak diperbolehkan
untuk
berbicara
dengan
peneliti,
mendengarkan music, menggunakan telepon
genggam, agar data yang diperoleh bersifat
valid.
Sebelum
memulai
berkendara,
pengemudi (responden penelitian) akan diukur
tekanan darahnya. Selain itu, uji Simple
Reaction Time dan Psychophysics juga akan
diberikan kepada pengemudi. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan perbandingan dan
perubahan tingkat kelelahan berdasarkan
pendekatan yang diberikan selama periode
waktu
sebelum
mengemudi,
selama
mengemudi,
dan
setelah
mengemudi.
Kemudian, responden akan diminta untuk
menggunakan Polar Heart Rate Monitor untuk
mengukur detak jantung selama mengemudi.
Pengemudi (responden penelitian) akan
diminta untuk berhenti setiap 40 menit untuk
kemudian dilakukan pengukuran kembali.
Waktu ini dipilih karena berdasarkan
penelitian terdahulu, didapatkan bahwa mulai
terdeteksi kelelahan pada pangemudi setelah
berkendara selama 40 menit. Jadi secara
keseluruhan akan ada empat kali pengukuran
yang dilakukan. Polar Heart Rate Monitor
akan mulai dinyalakan pada saat mulai
berkendara dan dihentikan setiap 10 menit.
Selain
perangkat-perangkat
pengukuran yang telah dijelaskan sebelumnya,
tingkat kelelahan pengemudi (responden
penelitian) juga akan diukur dengan
pendekatan subjektif menggunakan kuesioner
Karolinska Sleepiness Scale (KSS) yang
memiliki 9 skala. Untuk mengetahui korelasi
atau hubungan antara pendekatan subjektif
(KSS) dengan pendekatan lainnya (pendekatan
kognitif dan pendekatan fisiologis) akan
digunakan korelasi Spearman Rank. Korelasi
ini paling sesuai untuk mengukur korelasi
ketiga pendekatan tersebut, terutama karena
hasil yang diperoleh dari KSS merupakan nilai
ordinal (non-parametrik).
Data yang diperoleh dari kuesioner
KSS akan diolah dengan menggunakan
statistik
deskriptif
untuk
mengetahui
perubahan tingkat kelelahan yang terjadi.
Sedangkan, data yang diperoleh dari
pendekatan kognitif dan fisiologis akan diolah
dengan menggunakan metode Regresi Linear
untuk diketahui signifikansi tingkat kelelahan
dengan pendekatan yang diterapkan. Selain itu,
seperti telah dijelaskan sebelumnya korelasi
Spearman-Rank akan digunakan untuk
mengetahui korelasi antara pendekatan
subjektif dengan pendekatan kognitif dan
pendekatan fisiologis.
4.
Hasil Penelitian
Pada bagian ini akan dijelaskan
mengenai analisis dan pembahasan dari hasil
pengolahan data.
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
4.1
Hasil Pengukuran
Berikut adalah hasil dari pengukuran
pada berbagai pendekatan yang telah
dilakukan.
Tabel 1. Hasil Pengukuran Tekanan Darah
Waktu (Menit)
0
40
80
120
Sistol (mmHg)
132
130
118
125
Diastolik (mmHg)
81
74
69
68
Tabel 2. Hasil Pengukuran Detak Jantung
Rentang Waktu (Menit)
0-10
11-20
21-30
31-40
41-50
51-60
61-70
71-80
81-90
91-100
101-110
111-120
Average (bpm)
78
77
79
76
75
75
73
73
69
72
72
72
Maximum (bpm)
83
82
86
84
81
82
80
82
75
79
81
78
Tabel 3. Hasil Pengukuran Karolinska Sleepiness Scale
Waktu (Menit)
0
40
80
120
Nilai
2
7
9
6
Tabel 4. Hasil Pengukuran Simple Reaction Time
Waktu
(Menit)
0
Trial
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
RT (detik)
0.5476
0.5857
0.5902
0.5113
0.5643
0.4985
0.5634
0.4902
0.5786
0.5453
0.5645
0.4887
0.5490
0.5924
0.5256
Average RT (detik)
Standard Deviation
(detik)
0.5429
0.0387
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
40
80
120
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
0.5879
0.4941
0.5241
0.4776
0.5790
0.6267
0.6487
0.6123
0.4876
0.5154
0.4693
0.6576
0.5253
0.6061
0.5014
0.4989
0.4812
0.5674
0.5231
0.4732
0.4990
0.5115
0.5389
0.5902
0.5674
0.6718
0.6243
0.5297
0.5453
0.4987
0.4451
0.5432
0.4898
0.4543
0.5931
0.4876
0.5983
0.4885
0.5874
0.4493
0.7079
0.6273
0.6214
0.5873
0.5085
0.5874
0.6987
0.5906
0.5998
0.5652
0.4961
0.5115
0.6156
0.6877
0.4848
0.4450
0.4634
0.5365
0.5451
0.0601
0.5523
0.0760
0.5676
0.0799
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
14
15
16
17
18
19
20
0.5480
0.5552
0.6885
0.4541
0.5781
0.5543
0.6907
Tabel 5. Hasil Pengukuran Psychophysics
Menit
0
40
80
Trial
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
RT (sec)
0.9219
0.8477
0.7852
0.9023
0.9531
0.8281
1.0039
0.7695
0.9141
0.9727
1.0391
0.8633
0.9688
0.6445
0.8164
0.4219
0.9258
0.9141
1.0313
0.7852
0.9883
0.8242
0.8672
0.8867
0.8320
0.7305
0.8438
0.8583
0.8359
0.8791
0.8398
0.7617
0.7656
0.8086
0.8672
0.7656
0.7305
0.8555
1.0156
0.7392
1.1289
1.1680
0.8125
0.7695
1.3555
0.8750
0.8242
Response
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
%
Average RT
Standard Deviation
100
0.9114
0.1621
100
0.8885
0.1809
100
0.9684
0.2545
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
120
4.2
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
0.8086
1.3281
0.8984
0.8633
1.3281
0.7539
1.2734
0.6641
1.0313
0.6367
1.0742
0.8984
0.7695
0.7266
1.0508
0.7266
0.8320
0.8828
1.0820
1.0273
1.9023
1.0703
1.0781
0.9023
1.0781
0.9961
0.8750
0.9180
0.7422
1.0430
0.7188
1.0000
0.7930
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Correct
Uji Normalitas
Setelah melihat data responden,
selanjutnya yang harus dilakukan adalah
melakukan uji normalitas. Uji normalitas ini
dilihat menggunakan P-value pada Probability
Plot dengan menggunakan software Minitab
17. Semua data Sistol, Diastol, average
reaction time pada Simple Reaction Time,
100
0.9031
0.2683
average reaction time pada Psychophysics, dan
detak jantung akan diuji normalitasnya. Data
dianggap normal apabila memiliki P-value
sebesar >0,05. Berikut adalah salah satu uji
normalitas dengan Probability Plot yang
dilakukan, yaitu uji pada detak jantung
responden 1.
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Gambar 1 Probability Plot data Sistol pada responden 1
Berdasarkan uji yang telah dilakukan
pada semua data, telah terbukti bahwa semua
data sudah normal.
Time, dan average reaction time pada
Psychophysics) akan dibandingkan dengan
variabel independen Menit, sedangkan data
detak jantung akan dibandingkan dengan
Pengukuran (data setiap sepuluh menit). Data
independen dan dependen disebut
berhubungan kuat (signifikan) apabila
memiliki P-value sebesar < 0,05. Berikut
adalah contoh uji regresi linier sederhana yang
dilakukan pada data Sistol responden 1.
4.3
Uji Regresi Linier Sederhana
Uji regresi linier sederhana digunakan
untuk menentukan kuat-lemahnya hubungan
antara satu variabel independen dengan satu
variabel independen. Pada uji regresi ini,
variabel dependen (data Sistol, Diastol,
average reaction time pada Simple Reaction
Regression Analysis: Sistol versus Menit
Analysis of Variance
Source
Regression
Menit
Error
Total
DF
1
1
2
3
Adj SS
54,45
54,45
62,30
116,75
Adj MS
54,45
54,45
31,15
F-Value
1,75
1,75
P-Value
0,317
0,317
Model Summary
S
5,58122
R-sq
46,64%
R-sq(adj)
19,96%
R-sq(pred)
0,00%
Regression Equation
Sistol = 131,20 - 0,0825 Menit
Gambar 2. Hasil regresi pada data Sistol responden 1
Dari data tersebut, terlihat data
tersebut memiliki P-Value 0,317, yang berarti
data tersebut tidak signifikan. Berikut adalah
rangkuman hasil regresi dari data-data lainnya
dalam bentuk tabel.
Tabel 6. Rekap Hasil P-Value pada Regresi untuk data Sistol
Responden
P-Value
Hasil Interpretasi
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
0,3171
0,675
0,592
0,075
0,052
0,010
0,677
0,535
0,492
0,776
0,561
0,139
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Berdasarkan tabel di atas, hanya ada
satu responden yang memiliki hubungan yang
signifikan antara Sistol dengan waktu, yaitu
responden 6 (responden pria keenam). Dari
data yang diperoleh, baik pada responden pria
maupun wanita, sering kali terjadi penurunan
dari menit 0 sampai dengan 80, namun
menanjak di menit 120, sehingga
menyebabkan data menjadi tidak signifikan.
Tabel 7. Rekap Hasil P-Value pada Regresi untuk data Diastol
Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
P-Value
0,080
0,192
0,044
0,132
0,302
0,351
0,897
*
0,186
0,489
0,452
0,320
Hasil Interpretasi
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Pada data Diastol, hanya responden 3
(responden pria ketiga) dan responden 8
(responden wanita kedua) yang mengalami
signifikansi. Bila dilihat dari hasil
pengambilan data, Diastol biasanya lebih
bersifat acak daripada Sistol yang memiliki
pola lebih jelas.
Tabel 8. Rekap Hasil P-Value pada Regresi data average reaction time pada Simple Reaction Time
Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
P-Value
0,060
0,015
0,498
0,210
0,127
0,259
0,625
0,126
0,507
Arti
Tidak signifikan
Signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
10
11
12
0,392
0,227
0,508
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Pada data average reaction time pada
Simple Reaction Time, hanya responden 2
(responden pria kedua) yang mengalami
signifikansi. Hasil pengambilan data tersebut
cenderung acak dan tidak membentuk pola
tertentu.
Tabel 9. Rekap Hasil P-Value pada Regresi untuk data average reaction time pada Psychophysics
Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
P-Value
0,317
0,542
0,796
0,813
0,786
0,299
0,820
0,357
0,308
0,062
0,390
0,191
Hasil Interpretasi
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Pada data average reaction time pada
Psychophysics, tidak ada data yang bersifat
signifikan.
Tabel 10. Rekap Hasil P-Value pada Regresi untuk data detak jantung
Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
P-Value
0,317
0,084
0,000
0,000
0,007
0,002
0,254
0,121
0,001
0,021
0,000
0,005
Hasil Interpretasi
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Terakhir, pada data detak jantung,
sebagian
besar
responden
mengalami
hubungan yang signifikan. Data detak jantung
cenderung turun atau stagnan di beberapa
waktu, namun pada responden-responden
tertentu data detak jantung tersebut turun naik
sehingga menjadi tidak signifikan.
Tabel 11. Rekap Hasil Regresi pada Responden Pria
Responden
Sistol
Diastol
Simple Reaction
Time
P-Value
0,192
0,432
0,427
Hasil Interpretasi
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Psychophysics
Detak Jantung
0,691
0,195
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tabel 12. Rekap Hasil Regresi pada Responden Wanita
Responden
Sistol
Diastol
Simple Reaction
Time
Psychophysics
Detak Jantung
P-Value
0,598
0,963
0,629
Hasil Interpretasi
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
0,256
0,255
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Sementara itu, pada hasil uji regresi
pada tiap kategori jenis kelamin terlihat bahwa
semua memiliki P-Value lebih besar dari 0,05,
sehingga dapat disimpulkan bahwa semua
variabel tidak memiliki hubungan yang
signifikan dengan waktu.
4.4
Uji Spearman Rank digunakan untuk
mengukur hubungan antara variabel subjektif
Karolinska Sleepiness Scale yang merupakan
data ordinal dengan variabel-variabel lain serta
waktu. Koefisien korelasi memiliki nilai di
antara 0 sampai dengan 1, dan memiliki
interpretasi
sebagai
berikut.
Uji Spearman Rank
Tabel 13. Tabel interpretasi koefisien korelasi versi de Vaus
Koefisien
0,00
0,00 – 0,09
0,10 – 0,29
0,30 – 0,49
0,50 – 0,69
0,70 – 0,89
0,90
Kekuatan Hubungan
Tidak ada hubungan
Hubungan kurang berarti
Hubungan lemah
Hubungan moderat
Hubungan kuat
Hubungan sangat kuat
Hubungan mendekati sempurna
Berikut adalah contoh dari Uji Spearman
Rank dengan data Sistol pada responden 1.
Correlations
Spearman's rho
KSS
Koefisien Korelasi
Sistol
AverageRTSimpl
e
KSS
1.000
-.800
Sig. (2-tailed)
.
.200
N
4
4
-.800
1.000
.200
.
4
4
Koefisien Korelasi
Sig. (2-tailed)
N
Gambar 4. Hasil Uji Spearman Rank pada data Sistol responden 1
Berdasarkan gambar di atas, terlihat
bahwa koefisien korelasi bernilai -0.800 berarti
hubungan negatif yang sangat kuat, dan
signifikansi 0.200 yang berarti tidak signifikan.
Berikut adalah tabel rekap hasil
interpretasi hasil uji Spearman Rank:
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Tabel 14. Tabel Interpretasi Hasil Uji Spearman Rank pada data waktu
Responden 1 Koefisien Korelasi 0.400 2 1.000 3 4 -­‐0.632 0.949 5 0.949 6 0.949 7 0.949 8 0.894 9 0.894 10 0.949 11 0.894 12 0.949 Hasil Interpretasi Signifikansi (dua arah) Hasil Interpretasi Hubungan positif, moderat Hubungan positif, sempurna Hubungan negatif, kuat Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna 0.600 Tidak signifikan 0.000 signifikan 0.368 0.051 Tidak signifikan Tidak signifikan 0.051 Signifikan 0.051 Signifikan 0.051 Tidak signifikan 0.106 Tidak signifikan 0.106 Tidak signifikan 0.051 Tidak signifikan 0.106 Signifikan 0.051 Signifikan Responden
Tabel 15. Tabel Interpretasi Hasil Uji Spearman Rank pada data Sistol
1
Koefisien
Korelasi
-0.800
2
-0.400
3
4
5
0.000
-0.632
-1.000
6
-1.000
7
8
-0.632
-0.707
9
10
0.000
0.316
11
0.316
12
0.316
Hasil Interpretasi
Signifikansi (dua arah)
Hasil Interpretasi
Hubungan negatif, sangat
kuat
Hubungan negatif,
moderat
tidak ada hubungan
Hubungan negatif, kuat
Hubungan negatif,
sempurna
Hubungan negatif,
sempurna
Hubungan negatif, kuat
Hubungan negatif, sangat
kuat
Tidak ada hubungan
Hubungan positif,
moderat
Hubungan positif,
moderat
Hubungan positif,
moderat
0.200
Tidak signifikan
0.600
Tidak signifikan
1.000
0.368
0.000
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
0.000
Signifikan
0.068
0.293
Tidak signifikan
Tidak signifikan
1.000
0.684
Tidak signifikan
Tidak signifikan
0.684
Tidak signifikan
0.684
Tidak signifikan
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Tabel 16. Tabel Interpretasi Hasil Uji Spearman Rank pada data Diastol
Responden
1
Koefisien
Korelasi
-0.800
2
-0.800
3
4
5
0.632
0.632
-0.738
6
-0.738
7
8
-0.333
-0.894
9
0.943
10
11
12
-0.316
-0.316
-0.316
Hasil Interpretasi
Signifikansi (2 arah)
Hasil Interpretasi
Hubungan negatif, sangat
kuat
Hubungan negatif, sangat
kuat
Hubungan positif, kuat
Hubungan positif, kuat
Hubungan negatif, sangat
kuat
Hubungan negatif, sangat
kuat
Hubungan negatif, moderat
Hubungan negatif, sangat
kuat
Hubungan positif, mendekati
sempurna
Hubungan negatif, moderat
Hubungan negatif, moderat
Hubungan negatif, moderat
0.200
Tidak signifikan
0.200
Tidak signifikan
0.368
0.368
0.262
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
0.262
Tidak signifikan
0.667
0.106
Tidak signifikan
Tidak signifikan
0.057
Tidak signifikan
0.684
0.684
0.684
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Tabel 17. Tabel Interpretasi Hasil Uji Spearman Rank pada data average reaction time pada Simple
Reaction Time
Responden Koefisien Korelasi 1 0.949 2 0.949 3 4 -­‐0.632 -­‐0.949 5 0.949 6 0.949 7 8 -­‐0.211 -­‐0.894 9 -­‐0.894 10 11 12 0.316 0.316 0.316 Hasil Interpretasi Signifikansi (2 arah) Hasil Interpretasi Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan negatif, kuat Hubungan negatif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan positif, mendekati sempurna Hubungan negatif, lemah Hubungan negatif, sangat kuat Hubungan negatif, sangat kuat Hubungan positif, moderat Hubungan positif, moderat Hubungan positif, moderat 0.051 Tidak signifikan 0.051 Tidak signifikan 0.368 0.051 Tidak signifikan Tidak signifikan 0.051 Tidak signifikan 0.051 Tidak signifikan 0.789 0.106 Tidak signifikan Tidak signifikan 0.106 Tidak signifikan 0.684 0.684 0.684 Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Tabel 18. Tabel Interpretasi Hasil Uji Spearman Rank pada data average reaction time pada
Psychophysics
Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 Koefisien Korelasi 0.211 0.105 -­‐0.316 0.632 0.316 0.316 -­‐0.316 -­‐0.894 9 10 -­‐0.447 -­‐0.949 11 -­‐0.949 12 -­‐0.949 Hasil Interpretasi Signifikansi (2 arah) Hasil Interpretasi Hubungan positif, lemah Hubungan positif, lemah Hubungan negatif, moderat Hubungan positif, kuat Hubungan positif, moderat Hubungan positif, moderat Hubungan negatif, moderat Hubungan negatif, sangat kuat Hubungan negatif, moderat Hubungan negatif, mendekati sempurna Hubungan negatif, mendekati sempurna Hubungan negatif, mendekati sempurna 0.789 0.895 0.684 0.368 0.684 0.684 0.684 0.106 Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan 0.553 0.051 Tidak signifikan Tidak signifikan 0.051 Tidak signifikan 0.051 Tidak signifikan Tabel 19. Tabel Interpretasi Hasil Uji Spearman Rank pada data detak jantung
Responden 1 2 3 4 Koefisien Korelasi -­‐0.400 1.000 0.632 -­‐0.949 5 -­‐0.949 6 7 8 9 10 11 -­‐0.632 -­‐0.833 -­‐0.236 -­‐1.000 0.316 -­‐0.949 12 -­‐0.316 Hasil Interpretasi Signifikansi (2 arah) Hasil Interpretasi Hubungan negatif, moderat Hubungan positif, sempurna Hubungan positif, kuat Hubungan negatif, mendekati sempurna Hubungan negatif, mendekati sempurna Hubungan negatif, kuat Hubungan negatif, sangat kuat Hubungan negatif, lemah Tidak ada hubungan Hubungan positif, moderat Hubungan negatif, mendekati sempurna Hubungan negatif, moderat 0.600 0.000 0.368 0.051 Tidak signifikan Signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan 0.051 Tidak signifikan 0.368 0.167 0.764 0.000 0.684 0.051 Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan 0.684 Tidak signifikan Berdasarkan hasil dari tabel di atas,
dapat disimpulkan bahwa kebanyakan data
yang ada tidak signifikan dengan nilai
Karolinska Sleepiness Scale.
5.
Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan dan saran untuk
penelitian selanjutnya berdasarkan penelitian
yang telah dilaksanakan.
5.1
Kesimpulan
Penelitian tentang pengukuran
kelelahan aktivitas mengemudi mobil dengan
pendekatan subjektif, fisiologis, dan kognitif
ini memiliki tujuan untuk memperoleh
signifikansi ketiga pendekatan (fisiologis,
kognitif, dan subjektif) terhadap tingkat
kelelahan pengemudi mobil serta untuk
mengetahui perbandingan tingkat kelelahan
pada pengemudi pria dan wanita. Berdasarkan
hasil penelitian yang telah didapat, dapat
diambil kesimpulan yaitu:
a. Berdasarkan data Sistol, pada responden
pria maupun wanita tidak menunjukkan
adanya signifikansi, meskipun sering kali
turun pada menit 0 sampai dengan 80,
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
namun menanjak pada menit 120
sehingga menyebabkan data menjadi tidak
signifikan.
b. Berdasarkan data Diastol, average
reaction time pada Simple Reaction Time,
dan average reaction time pada
Psychophysics tidak ada hubungan yang
signifikan terhadap waktu karena data
yang fluktuatif.
c. Berdasarkan data detak jantung, pada
sebagian besar responden pria maupun
wanita mengalami hubungan yang
signifikan turun terhadap waktu secara
individual, namun karena adanya
beberapa data yang hubungannya
signifikan, hal ini menyebabkan secara
kategori jenis kelamin, hubungan menjadi
tidak signifikan.
d. Berdasarkan data Karolinska Sleepiness
Scale, pada sebagian besar responden
pria maupun wanita terdapat hubungan
yang signifikan terhadap waktu, namun
6.
Referensi
Baulk, S.D., Biggs, S.N., Reid, K.J., van den
Heuvel, C.J., & Dawson, D. (2008).
Chasing the silver bullet: Measuring
driver fatigue using simple and
complex tasks. Accident Analysis and
Prevention 40, 396-40
Coetzert, R. C., & Hancke, G.P. (2009,
September). Driver Fatigue Detection:
A Survey. Paper presented at
AFRICON 2009, Nairobi, Kenya.
D.A. de Vaus. (2002). Survey in Social
Research (%th ed., pp. 259). New
South Wales: Allen and Unwin
Dawson, Drew, Searle, Amelia K., & Paterson,
Jessica L. (2014). Look before you
(s)leep: Evaluating the use of fatigue
detection technologies within a fatigue
risk management system for the road
transport industry. Sleep Medicine
Review 18. 141-152
Hauke, J., Kossowski, T. (2011). Comparison
of
Values
of
Pearson’s
and
Spearman’s Correlation Coefficients
on the Same Sets of Data
Jagnnath, M., Balasubramanian, Venkatesh.
(2014). Assessment of early onset of
driver fatigue using multimodal
fatigue measures in a static simulator.
Applied Ergonomics 45. 1140-114
hubungan dengan variabel-variabel lain
hanya sedikit yang signifikan.
5.2
Saran
Penulis ingin memberikan saran untuk
penelitian selanjutnya yang dapat dilakukan
yaitu:
a. Penelitian kelelahan pengemudi dapat
dikembangkan dengan menggunakan alatalat lain seperti sEMG,
b. Penambahan jumlah responden sehingga
data yang didapatkan menjadi lebih
banyak dan bervariasi.
c. Penelitian menggunakan durasi yang lebih
panjang, misalnya 3 jam atau lebih.
d. Penelitian dilakukan pada responden
dengan rentang usia yang berbeda,
misalnya di atas 25 tahun.
e. Penelitian dilakukan pada rentang waktu
yang berbeda, misalnya di atas pukul
18.00
Johns, W., Murray.(2009). What is Excessive
Daytime Sleepiness. Chapter 2
Kristanto, Aris. (2013).“Kajian Faktor-Faktor
Resiko yang berhubungan dengan
Kelelahan Pengemudi Truk Trailer di
PT AMI TH 2012”
Nawari. 2010. Analisis Regresi dengan MS
Excel 2007 dan SPSS 17. Jakarta: PT
Elex Media Komputindo.
Niels Galley, R.S. (2003). Blink Parameter as
Indicators of Driver’s SleepinessPossibilities and Limitations.
R Schleider, N.G. (2008). Blinks and Saccades
as Indicators of Fatigue in Sleepiness
Warnings
Looking
Tired
?
Ergonomics, 51, 982-1010.
Safety-Queensland, C.F. (2011). State of The
Road:
Fatigue-A
Fact
Sheet.
Queensland
Sagberg, F.E. (2004). Fatigue, Sleepiness and
Reduced Alertness as Risk Factors in
Driving. Institute of Transports
Economics.
Sargent, C., Darwent, D., A.F., Sally, D.R.,
Gregory. (2012). Can a simple balance
task be used to assess fitness for duty?
Schleicher, R., Galley, N., Briest, S., & Galley,
L. (2008). (2008). Blinks and saccades
as indicators of fatigue in sleepingness
warnings: looking tired?. Ergonomics
Vol. 51 No. 7, 982-1010
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Smolensky, M. H., Milia, L.D.,Ohayon,
M.M., & Philip, P. (2011). Sleep
disorders, medical conditions, and road
accident risk. Accident Analysis &
Prevention, 533-548
Walpole, R.E. (2007). Probability and
Statistics for Engineers and Scientists.
Pearson Precentice Hall.
Pengukuran
Pengukuran kelelahan
kelelahan aktvitas
aktvitas...,
..., Andreas
Andreas Aristides
Aristides Simandjuntak,
Simandjuntak, FT
FT UI,
UI, 2014
2014
Download