INTEGRITAS AKADEMIK “Sekedar Kata atau Nyata?”

advertisement
INTEGRITAS AKADEMIK
“Sekedar Kata atau Nyata?”
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta
1.
2.
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau
memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
INTEGRITAS AKADEMIK
“Sekedar Kata atau Nyata?”
Disusun oleh:
Prof. Dr. dr. Sjamsuhidajat Ronokusumo, Sp.B-KBD,
dr. Isnani Azizah Salim Suryono, M.S,
Prof. dr. Saleha Sungkar, DAP&E, M.S, SpParK
Ariel Pradipta, S.Ked, M.Res,
dr. Diantha Soemantri, M.Med.Ed,
dr. Alexandra Gabriella,
dr. Anton Dharma Saputra,
dr. Ardeno Kristianto,
dr. Arif Adimulya,
dr. Candra Adi Nugroho,
dr. Dini Lestari,
dr. Hendy Kurniawan,
dr. Indina Sastrini,
dr. Ngabila Salama.
Editor:
Prof. dr. Saleha Sungkar, DAP&E, M.S, SpParK
dr. Alexandra Gabriella
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta, 2012
Judul Buku: INTEGRITAS AKADEMIK
“Sekedar Kata atau Nyata?”
Editor : Prof. dr. Saleha Sungkar, DAP&E, M.S, SpParK
dr. Alexandra Gabriella
Desain cover : dr.Alexandra Gabriella
14,8 cm x 21 cm
98 halaman
ISBN:
Copyright © 2012
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba Raya No. 6
Kenari, Senen, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10430
Indonesia
Telepon: (021) 3906939
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip, menyalin, mencetak, dan memperbanyak isi buku dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari editor atau penerbit
Kata Sambutan
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Integritas adalah salah satu nilai budaya utama FKUI dalam I’VE Care,
yaitu menjalankan tugas dan fungsi dengan penuh tanggung jawab, jujur, dan
berbudi luhur serta menjunjung tinggi etika profesi. Nilai-nilai tersebut dilatihkan
dan ditanamkan kepada staf pengajar FKUI untuk kemudian diteladani dan dimiliki
oleh peserta didik FKUI ketika mereka berkarya dalam masyarakat.
Penegakkan integritas akademik di lingkungan Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia telah diupayakan melalui kebijakan Tata Krama Kehidupan
Kampus FKUI yang menyatakan bahwa peserta didik harus menjunjung tinggi
nilai-nilai kejujuran dalam setiap aspek kehidupan akademis.
Integritas akademik merupakan hal yang harus ditumbuhkembangkan
dalam setiap institusi pendidikan. Lima nilai utama yang tercakup dalam integritas
akademik adalah kejujuran, kepercayaan, keadilan, penghargaan, dan tanggung
jawab. Pelanggaran terhadap integritas akademik yang umum ditemukan adalah
melakukan tindak kecurangan (meminta orang lain untuk mengerjakan tugas dan
mengumpulkan atas namanya sendiri), plagiarisme, menyontek, fabrikasi
(manipulasi data atau sitasi yang digunakan dalam laporan), mencuri dan
menyebarluaskan materi ujian, dan memalsukan tanda tangan pihak berwenang
pada dokumen akademik.
Saya menyambut baik penerbitan “Buku Kejujuran Akademik – Integritas
Akademik: Sekedar Kata atau Nyata” yang menunjukkan kesadaran mahasiswa
FKUI akan pentingnya pengembangan integritas akademik dalam pendidikan
kedokteran. Saya berharap buku ini sungguh dicermati dan diterapkan oleh
segenap sivitas akademika sehingga lulusan FKUI dapat dibanggakan tidak hanya
karena kecerdasan intelektual, melainkan juga kejujuran intelektual. Saya ucapkan
v
selamat kepada panitia dan segenap pihak yang terlibat, semoga buku ini akan
mencapai manfaatnya bagi kita semua.
Jakarta, 20 Desember 2012
Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M(K)
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
vi
Prakata
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas selesainya
penyusunan buku “Integritas Akademik: Sekedar Kata atau Nyata”. Buku ini dapat
diterbitkan berkat kerja keras dan partisipasi para penulis, editor, desain, layout,
dan pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Buku ini direkomendasikan untuk seluruh civitas academica, baik
mahasiswa maupun staf pengajar, terutama dalam pendidikan kedokteran di
Indonesia.
Setiap kegiatan akademik di bidang kedokteran, baik dalam pendidikan
S1, S2, maupun S3, tidak luput dari tugas karya tulis. Orisinalitas sebuah karya
merupakan hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, pendidikan dokter dimaksudkan
untuk membentuk individu yang mawas diri sehingga dokter mampu menerapkan
life-long study dengan kemampuan refleksi yang baik. Kedua komponen tersebut
membentuk integritas akademik seseorang.
Dalam buku ini, dijelaskan definisi plagiarisme, cara menghindari
plagiarisme, metode sitasi yang dianjurkan dalam pembuatan karya tulis, dan cara
membuat refleksi diri yang baik. Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan
mahasiswa dalam menyusun karya tulis ilmiah.
Salam Redaksi
vii
Daftar Isi
Kata Sambutan Dekan FKUI .......................................................................... v
Prakata ........................................................................................................... vii
Daftar Isi ....................................................................................................... viii
Latar Belakang ............................................................................................... ix
Integritas Akademik ........................................................................................ 3
Prof. Dr. dr. Sjamsuhidajat Ronokusumo, SpB-KBD
Plagiarisme dalam Penulisan Artikel Ilmiah .................................................. 9
dr. Isnani Azizah Salim Suryono, M.S
Penulisan daftar pustaka dengan sistem Vancouver .................................... 23
Prof. dr. Saleha Sungkar, DAP&E, M.S, SpParK
Cara Dasar Menghindari Plagiarisme .......................................................... 35
Ariel Pradipta, S.Ked, M.Res
Kajian Bioetik Integritas Akademik ............................................................. 43
dr. Alexandra Gabriella,
dr. Anton Dharma Saputra,
dr. Ardeno Kristianto,
dr. Arif Adimulya Tasela,
dr. Candra Adi Nugroho,
dr. Dini Lestari,
dr. Hendy Kurniawan,
dr. Indina Sastrini Sekarnesia,
dr. Ngabila Salama
Refleksi Diri sebagai Salah Satu Cara Pengembangan
Kemampuan Mawas Diri dan Belajar Sepanjang Hayat ............................. 59
dr. Diantha Soemantri, M.Med.Ed
Naskah Refleksi Diri ...................................................................................... 73
dr. Anton Dharma Saputra
viii
Latar Belakang
Integritas merupakan kualitas sikap (behavior) yang makin sulit
ditemukan pada pribadi bangsa, terutama dalam kehidupan akademik. Integritas
akademik, terutama dalam kehidupan perguran tinggi, sulit untuk dijaga,
contohnya dengan dilakukannya berbagai bentuk ketidakjujuran untuk mencapai
tujuan. Tindakan seperti menyontek, memplagiat, atau menitipkan absen menjadi
hal yang mudah dilakukan. Apabila dibiarkan, hal ini akan semakin merusak sikap
dan perilaku dalam berbangsa dan bernegara. Ada berbagai alasan untuk
melakukan ketidakjujuran tersebut, mulai dari ketidaktahuan peraturan dan etika
yang berlaku hingga niat yang disengaja karena ketakutan tidak dapat mencapai
tujuan, ingin mendapatkan kesuksesan tanpa usaha keras, ataupun sekedar mencari
tantangan. Perlu dilakukan intervensi, terutama ketidaktahuan yang mengarahkan
pada perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan.
Oleh karena itu, buku ini dibuat sebagai perwujudan edukasi dan
intervensi pada mahasiswa dan civitas academica Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (FKUI) yang belum mengetahui dan memahami seluk beluk
ketidakjujuran yang mungkin dilakukan sehingga dapat menghindarkan dan
menurunkan kejadian ketidakjujuran di kehidupan universitas, terutama dalam
pendidikan kedokteran. Buku ini berisi pedoman kejujuran dan integritas
akademik. Semua materi dan tulisan dalam buku ini ditulis oleh kontributor yang
pakar dalam bidangnya masing-masing dan dibukukan sehingga dapat menjadi
bahan bacaan bagi seluruh mahasiswa dan civitas academica FKUI. Penulis
mengharapkan buku ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya dan
menciptakan atmosfer kejujuran akademik di institusi pendidikan FKUI.
ix
2
Integritas Akademik
Sjamsuhidajat R.
Budaya Akademik
Integritas akademik adalah bagian utama dari budaya akademik. Integritas
akademik dirasakan sebagai suatu bentuk kepatuhan terhadap beberapa prinsip.
Setiap orang, mahasiswa maupun pendidik, memiliki kemampuan intelektual yang
dalam lingkungan yang sesuai akan berkembang secara baik, jika ada keyakinan
bahwa apapun yang dihasilkan berdasarkan kemampuan intelektual ini akan
dihargai oleh masyarakat akademik di lingkungannya. Keyakinan ini tidak akan
tergoyahkan selama hasil yang diperolehnya tidak akan “dicuri” oleh orang lain.
Selanjutnya, juga ada kesepakatan (codes) bahwa seseorang tidak akan “mencuri”
hasil karya orang lain. Kejujuran, yang tergambar dari sikap “tidak akan mencuri”
hasil kerja intelektual orang lain ini, merupakan dasar dari kehidupan akademik
dan budaya akademik yang baik.2
Integritas akademik sebagai sebuah konsep telah berkembang lebih luas
dan lebih dalam. Sekurangnya terdapat empat prinsip lain yang juga sangat
penting, selain sebagai prinsip kejujuran akademik, yang mendukung tegaknya
integritas akademik. Keempat prinsip ini adalah saling percaya, keterbukaan, saling
menghormati, dan rasa bertanggungjawab. Atas dasar inilah maka integritas
akademik diartikan sebagai “kepatuhan yang tinggi terhadap kesepakatan perilaku
akademik”, yang terdiri dari lima prinsip tersebut. 3
Universitas Sebagai Inkubator Ilmu Pengetahuan
Dalam menjaga dan memelihara integritas akademik di kalangan
mahasiswa, diperlukan suatu pelatihan yang dimulai secara dini sehingga pola
perilaku mahasiswa setelah menjalani pelatihan akan dilandasi nilai-nilai yang
dianut dalam integritas akademik. Sebuah lembaga tersier seperti universitas,
selain terdapat kegiatan belajar dan mengajar, di dalamnya juga ada kegiatan
penelitian. Pelatihan terutama ditujukan pada pembuatan karya tulis atau
penelitian. Pelatihan dalam penelitian untuk pemula hendaknya dimulai dengan
cara pembinaan perilaku yang benar. Cara pembinaan ini merupakan awal dari
pembentukan kebiasaan (budaya) seorang intelektual dalam lingkungan yang
terbina secara terencana dan meliputi jangka waktu yang panjang. 1
3
Pengetahuan (knowledge) yang dihasilkan oleh seorang peneliti melalui
penelitian yang dilakukan secara benar merupakan produk intelektual yang sangat
berharga. Pengetahuan yang diawali dari penelitian, walaupun tanpa ada kesalahan
dalam penelitian yang menghasilkannya, selalu dapat diperbaharui oleh penelitian
pada kurun waktu berikutnya yang menemukan kebenaran baru. Pengetahuan ini
dapat merupakan bagian dari ilmu yang sudah terbentuk sebelumnya. Masyarakat
secara umum mempunyai pandangan yang tinggi terhadap ilmu yang terbentuk
berdasarkan pengetahuan. Pengetahuan yang dihasilkan oleh seorang peneliti, jika
dicapai melalui penelitian yang dilakukan secara tidak jujur, maka masyarakat
akan tertipu, walaupun tidak akan mudah mengetahuinya. Kesalahan yang terselip
dalam tindakan penelitian yang menghasilkan pengetahuan tersebut dapat
dilakukan secara sengaja (intentional mistake) atau secara tidak sengaja
(unintentional error). Kedua bentuk kesalahan ini tetap merupakan kesalahan yang
pada akhirnya menyebabkan pengetahuan yang dihasilkan tetap akan keliru.
Perhatikan kutipan berikut ini:
“The only ethical principle which has made science possible is that truth
shall be told all the time. If we do not penalized false statements made in
error, we open up the way for false statements by intention. And, of
course, a false statement of fact made deliberately, is the most serious
crime a scientist can commit.” (C.P. Snow, 1959)4
Ketidakjujuran dalam melakukan penelitian ini bukan saja merusak
budaya akademik yang seharusnya terbentuk secara benar, tetapi pada akhirnya
akan menodai kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan yang
dihasilkan. Mata rantai yang dimulai dari fenomena alam – penelitian –
pembentukan pengetahuan – ilmu pengetahuan – sampai pada masyarakat
pengguna ilmu, akan ternoda pada langkah pembentukan pengetahuan. Masyarakat
tidak akan secara mudah dapat mengenali kesalahan ini. (Smith, 1992) 5
Oleh karena itu, seorang ilmuwan hendaknya selalu memiliki sikap yang
skeptis menilai kebenaran ilmu pengetahuan yang dihadapi pada suatu saat.
Kebenaran ilmiah yang menjunjung prinsip – prinsip integritas akademik.
Daftar Pustaka
4
1.
2.
3.
4.
5.
Koppi AJ, Chaloupka MJ, Llewellyn R, Cheney G,Clark S, Fenton-Kerr T.
Academic culture, flexibility and the national teaching and learning database.
Ascilite. 1998; 425-31.
Pavela G. Applying the power of association on campus: a model code of
academic integrity [homepage on the Internet]. c1997 [cited 2012 Sep 22].
Available from:
http://www.academicintegrity.org/icai/assets/model_code.pdf.
Hinman LM. Fundamental principles of academic integrity. San Diego:
University of San Diego; 1998.
Snow P. The two cultures. Cambridge: Cambridge University Press; 1959.
Smith R. Research misconduct and biomedical journals [homepage on the
Internet]. c2002. Available from: http://www.bmj.com/talks.
5
6
8
Plagiarisme dalam Penulisan Artikel Ilmiah
Isnani A.S. Suryono
Pendahuluan
Plagiarisme merupakan salah satu di antara berbagai pelanggaran di dunia
ilmiah baik penelitian maupun pendidikan. Pelanggaran tersebut tidak kalah
memusingkan dibandingkan kejahatan ilmiah lain yaitu pencurian, rekayasa, dan
penipuan data.1 Di dunia akademik, plagiarisme selalu menjadi topik perbincangan
yang menghebohkan, namun, tidak sedikit ilmuwan yang belum secara tegas dapat
memastikan “apakah „tulisan‟ yang mereka buat merupakan plagiarisme,
kecerobohan, ketidaktahuan yang tak disengaja, kesalahpengertian, kebingungan
atau kekeliruan dalam mengacu”.2
Bagian pertama tulisan ini akan membahas pengertian dan definisi
plagiarisme yang selanjutnya akan diuraikan kiat-kiat menghindarinya. Selain itu,
dijelaskan pula apa yang dianggap sebagai common knowledge* dan ditutup
dengan uraian mengenai Undang Undang Hak Cipta.
Apakah Plagiarisme?
Plagiarisme berasal dari bahasa Latin yaitu plagiari(us) yang berarti
penculik dan plagi(um) yang berarti menculik. Melihat akar kata tersebut, nyatalah
bahwa plagiarisme dalam penulisan makalah ilmiah, mengandung unsur
„pencurian‟ intelektual karena terjadi pengambilan paksa kata-kata/gagasan tanpa
seizin pemiliknya.3
Ada berbagai definisi plagiarisme, namun pada intinya semua menyatakan
bahwa plagiarisme merupakan pemanfaatan/penggunaan hasil karya orang lain
yang diakui sebagai hasil kerja diri sendiri tanpa memberi pengakuan pada
penciptanya.
Beberapa Definisi Plagiarisme
Menurut Sastroasmoro,4 plagiarisme adalah penyajian hasil karya atau
gagasan orang lain, seakan-akan milik si penyaji. Sementara itu Lindey1
menyatakan bahwa plagiarisme adalah pengakuan secara tidak jujur hak penulisan
orang lain, ... mengambil hasil pemikiran orang lain dan menyajikannya sebagai
milik pribadi. Definisi plagiarisme lainnya adalah tindakan mencuri ide atau hasil
Artikel ini sudah pernah dipublikasi di dalam buku “Panduan Penulisan Artikel Ilmiah Untuk
Publikasi Bagi Klinisi” oleh PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2008
9
pemikiran dan tulisan orang lain yang digunakan dalam tulisan seolah-olah ide atau
tulisan orang lain tersebut adalah ide atau hasil tulisan sendiri sehingga merugikan
orang lain.3
Dari definisi plagiarisme di atas terlihat unsur penipuan. Meskipun
demikian, sebagai manusia yang memiliki keyakinan akan kebaikan, sebenarnya
kesalahan dapat disebabkan oleh ketidaksengajaan atau kelalaian bahwa gagasan
yang dipakai merupakan hasil karya ilmiah orang lain. 1
Jenis Plagiarisme
Plagiarisme tidak hanya terbatas pada pencurian gagasan atau hasil karya
orang lain di bidang ilmiah saja, namun berlaku juga di bidang lainnya seperti
dunia seni, budaya, dsb.
Bentuknya pun dapat beraneka ragam tidak terbatas pada tulisan saja,
namun dalam tulisan ini hanya dibahas plagiarisme di bidang penulisan ilmiah saja.
Klasifikasi plagiarisme dapat dibuat bergantung pada berbagai aspek pandang yaitu
dari segi substansi yang dicuri, kesengajaan, volume/proporsi, dan pola pencurian.
Plagiarisme dapat dilakukan kata demi kata atau diseling dengan berbagai sumber
dan dengan kata-kata sendiri (mozaik).
Berdasarkan individu sumber gagasan, ada pula yang dikenal sebagai
auto-plagiarism/self-plagiarism.4 Bila makalah karya sendiri sudah pernah
diajukan sebelumnya, harus dinyatakan bahwa makalah tersebut sudah diajukan
dalam suatu presentasi atau publikasi. Bila tidak, publikasi tersebut dianggap
sebagai auto-plagiarism atau self-plagirism. Auto-plagiarism sebenarnya dapat
dianggap “ringan”, namun bila dimanfaatkan untuk menambah kredit akademik,
dianggap sebagai pelanggaran berat etika akademik. 4
Berdasarkan bahasa asal sumber gagasan, apabila berasal dari bahasa lain
dapat terjadi plagiarisme antar bahasa (plagiarisme interlingual) yaitu
penerjemahan yang dilakukan tanpa izin. Tindakan semacam itu lebih sulit
diungkap. Penulis, yaitu penerjemah, boleh mendapat hak selaku penerjemah,
tetapi tidak sebagai penulis/penggagas.
10
Beberapa Alasan Melakukan Plagiarisme
Sebagian penulis mengaku tidak sengaja melakukan plagiarisme, mereka
mengaku bahwa kemungkinan amat terpengaruh dengan apa yang mereka baca,
sehingga secara tidak sengaja mengulangi apa yang mereka baca kata per kata
(bahkan ada yang menyalin hingga 55 kata, sehingga 8 halaman penuh tanpa
disadari).1
Di dunia akademik, kadang terjadi plagiarisme oleh karena beban yang
diterima peserta didik amat berlebihan dan tidak sesuai dengan waktu yang
tersedia, sehingga terjadilah “gunting tempel” apalagi bila penulis yang dalam hal
ini peserta didik tidak mengetahui cara melakukan sitasi/perujukan dengan benar. 2
Pencegahan Plagiarisme
Pencegahan plagiarisme yang terbaik ialah dengan memasukkan pelatihan
penulisan ilmiah sedini mungkin, ke dalam kurikulum pendidikan menengah ke
bawah, dengan demikian calon penulis akan terlatih cara melakukan perujukan
yang efektif dan benar, juga teknik menyarikan dan parafrase.
Untuk pendidikan di universitas, telah dikembangkan perangkat lunak,
antara lain Turnitin dan Ferret yang mampu memeriksa karya tulis dan
mendeteksi/menandai nas yang diambil dari referensi dengan membandingkan
karya tulis tersebut dengan database yang berisi bermilyar artikel.2 Perangkat itu
pernah dilatihkan pada sejumlah peserta didik yang diberi tugas membuat
rangkuman dari beberapa artikel penelitian, sehingga mereka mendapat umpan
balik mengenai seberapa jauh keaslian kata-kata karya tulis mereka. Ternyata
sekitar 26% karya tulis melampui batas toleransi, akan tetapi setelah diberi umpan
balik, pelanggaran menurun hingga hanya pada 3% karya tulis saja. 2
Cara Menghindari Plagiarisme
Memakai, menganalisis, membahas, mengritik, atau merujuk hasil karya
intelektual orang lain sebetulnya boleh dilakukan selama kaidah pemakaian yang
adil dan „beradab‟ tetap dilakukan. Caranya adalah rangkum hasil karya orang lain,
atau melakukan parafrase di bagian khusus dalam nas dengan cara penguraian
menggunakan kata-kata sendiri, dan nyatakanlah sumber gagasan dan masukkan
sumber yang dipakai dalam daftar rujukan. Menggunakan kata-kata asli penulis
juga diperkenankan dengan cara memberi tanda kutip pada kalimat yang dipakai,
lalu disebutkan sumber gagasannya.2
11
Berikut ini sebuah kuis untuk menguji sejauh mana pemahaman
plagiarisme:2
Apakah keadaan di bawah ini termasuk Ya/Tidak
Plagiarisme?
1.
Anda melihat kutipan dalam buku, Anda menyalin
kutipan tersebut kata demi kata ke dalam karya tulis
Anda tanpa merujuk sumbernya.
2.
Anda melihat kutipan dalam buku atau situs internet
dan menyalin beberapa di antara kata-katanya dan
menambahkan beberapa kata sendiri tanpa merujuk
sumber.
3.
Anda melihat sesuatu di situs internet, misalnya,
sebuah artikel dari jurnal yang bernama dengan nama
penulisnya. Anda menyalin, atau copy and paste dari
situs ke dalam karya tulis Anda, tanpa merujuk
sumbernya.
4.
Anda melihat suatu cara pandang yang berbeda dan
menarik mengenai suatu subjek pada suatu situs
internet. Tanpa nama penulis. Anda melakukan copy
and paste gagasan tersebut. Ke dalam karya tulis
Anda tanpa mencantumkan nama situs.
5.
Anda menemukan beberapa foto/ilustrasi yang
menarik pada situs. Anda „meng-copy‟ foto-foto dan
ilustrasi, dan melekatkannya pada karya tulis Anda.
Tanpa merujuk artis/fotografer ataupun situsnya.
6.
Anda membaca sejumlah rangkuman yang menarik
dari berbagai pendekatan mengenai suatu subjek pada
sejumlah situs internet. Anda tidak melakukan copy
and paste. Anda melakukan parafrase kesimpulannya
dengan kata-kata sendiri dan memasukkannya ke
dalam karya tulis, tanpa mencantumkan sumbersumber situsnya.
7.
Anda akan membuat tinjauan/review mengenai suatu
keadaan yang berlangsung lama, sebagai contoh,
kecenderungan perkembangan penyakit TBC. Anda
12
membaca 3 atau 4 buku ajar mengenai topik tersebut.
Semua buku tersebut menyatakan hal yang lebih
kurang sama jadi Anda menyimpulkan dengan katakata sendiri dan tidak merujuk sumbernya.
8.
Anda melihat analisis statistik dalam sebuah jurnal
yang sesuai dengan laporan penelitian yang sedang
Anda tulis. Tak ada nama penulis. Anda terapkan
analisis statistik tersebut. Tanpa menyebutkan
sumbernya, misalnya Nama jurnalnya.
9.
Anda membaca sebuah artikel yang merangkum hasil
penelitian dari peneliti sebelumnya (mr X). Anda
menyukai rangkuman tersebut, dan yakin akan hasil
riset mr X. Anda menganggap penulis rangkuman
telah menyimpulkan dengan sangat baik, sehingga
Anda hanya menyalin saja rangkumannya tanpa
merujuk nama penulis rangkuman.
10.
Anda melakukan penelitian. Dalam proses penulisan
karya tulis Anda, timbul inspirasi suatu cara
pendekatan baru pada subjek penelitian. Anda
mengajukan perspektif yang menurut pendapat Anda
unik tersebut, dan mengajukannya dalam tulisan
Anda, namun 1 atau 2 hari kemudian, Anda
menemukan bahwa telah terbit publikasi seseorang
dengan gagasan dan persepsi sama yang ternyata telah
dilakukannya beberapa tahun sebelumnya.
Jawaban kuis terlampir pada bagian akhir bab ini.
Latihan Plagiarisme:5
Nas** asli, tulisan Panji Koming dkk, berjudul: Pengalaman keluarga Cemara
dalam perubahan masyarakat Bekasi sejalan dengan industrialisasi dan
perkembangan perkotaan, pada akhir tahun 70-an.
Kebangkitan industri, pertumbuhan kota Jakarta, dan pertambahan
penduduk yang pesat merupakan tiga perkembangan besar yang terjadi pada akhir
tahun 70-an di Indonesia. Dengan bermunculannya pabrik-pabrik berenerji bahan
bakar sejalan dengan peralihan dari negara „agraris‟ ke bentuk negara „industri‟,
13
terjadi pula perubahan kecenderungan jenis tenaga kerja, dari pekerja tani di desadesa menjadi pekerja pabrik. Dengan industrialisasi terjadilah urbanisasi – dan
berkembangnya kota-kota besar (seperti Bekasi, yang menjadi bagian dari
„Jabodetabek‟ tempat keluarga Cemara tinggal), yang menjadi pusat produksi di
samping juga perniagaan dan perdagangan.
Berikut bentuk parafrase*** yangtak dapat diterimakarena merupakan
plagiarisme:
Peningkatan industri, pertumbuhan perkotaan, dan peledakan populasi
merupakan tiga faktor utama di Indonesia dalam seperempat abad terakhir. Makin
meluasnya perusahaan berbasis industri di bagian-bagian negara ini, mengubah
pekerja tani dan domestik menjadi pekerja industri, dan terjadilah gelombang
mengalirnya tenaga pekerja dari desa ke kota. Dengan industrialisasi terjadilah
perluasan kota seperti Bekasi, bagian dari „Jabodetabek‟ tempat tinggal keluarga
Cemara, yang menjadi pusat perniagaan, perdagangan dan juga produksi.
Salinan di atas dianggap plagiarisme karena dua alasan yaitu, pertama
penulis hanya mengubah beberapa kata dan frasa, atau mengganti urutan kalimat
dari paragraf aslinya dan kedua penulis telah lalai mencantumkan sumber gagasan
atau fakta yang dipakainya.
Bila kita melakukan salah satu atau kedua hal diatas, maka kita telah
melakukan plagiarisme.
Perhatikan bahwa paragraf di atas juga bermasalah karena telah terjadi
perubahan dalam esensi beberapa kalimatnya (sebagai contoh: “perusahaan
berbasis industri” pada kalimat kedua kehilangan penekanan “pada pabrik-pabrik
berenerji bahan bakar” yang ada pada kalimat aslinya).
Langkah Menghindarkan Plagiarisme
Bila menggunakan ide orang lain harus dicantumkan sumbernya dan bila
mengutip kata atau kalimat orang lain, sebutkan sumbernya, dengan catatan
gunakan tanda kutip bila kata atau kalimat aslinya disalin secara utuh, tanda kutip
tidak diperlukan bila kata atau kalimat telah diubah menjadi kalimat penulis sendiri
tanpa mengubah artinya (telah dilakukan parafrase), mengubah satu atau beberapa
kata dalam paragraf bukan merupakan parafrase sehingga tanda kutip perlu
disertakan dan parafrase tanpa menyebut sumbernya adalah plagiarisme.
Kiat melakukan parafrase: jangan hanya mengubah susunan atau
mengganti beberapa kata saja. Sebaiknya baca tulisan yang akan digunakan dengan
14
teliti; lalu tutuplah nas sehingga Anda tak dapat membacanya. Lalu tulislah
gagasan tersebut menggunakan kata-kata Anda sendiri. Kemudian periksa ulang
parafrase untuk memastikan bahwa Anda tidak menggunakan frasa atau kata-kata
asli dari sumber, dan pastikan bahwa informasi sudah betul. 5
Enam langkah melakukan parafrase yang efektif,yaitu: 6
1. Baca tulisan asli berulang kali hingga dimengerti sepenuhnya
2. Tulis parafrase pada sebuah kartu untuk mencatat
3. Coret beberapa kata di bawah parafrase tersebut untuk mengingatkan
bagaimana rencana penggunaan materi tersebut dan di bagian atas kartu
catatan, tuliskan satu kata kunci yang mewakili subjek parafrase
4. Cocokkan tulisan Anda dengan tulisan asli, untuk memastikan bahwa
versi Anda telah mengekspresikan semua informasi penting dalam
bentuk yang baru
5. Gunakan tanda kutip untuk menandai istilah unik yang Anda pinjam
secara tepat dari sumber dan keenam catat sumber (termasuk
halamannya) pada kartu catatan Anda hingga mudah merujuknya pada
makalah Anda.
Berbagai kiat melakukan parafrase dari segi bahasa yaitu gunakan
sinonim untuk semua kata yang bukan generik, ubah bentuk aktif ke bentuk pasif,
atau sebaliknya, ubah struktur kalimat, anak kalimat menjadi frasa dan bagianbagian dari teks.
Berikut contoh parafrase yang diterima dari nas asli tulisan Panji Koming
dkk:
Bekasi, bagian dari Jabotabek, tempat tinggal keluarga Cemara,
merupakan kota industri yang khas di era permulaan tahun 80-an. Pabrik-pabrik
yang bermunculan menyebabkan peralihan tenaga kerja dari pertanian ke
perindustrian, dan terjadilah urbanisasi, dengan mengalirnya para „mantan‟ petani
ke pabrik-pabrik baru tersebut. Sebagai akibat, terjadi perkembangan penduduk,
dan timbul daerah-daerah perkotaan baru. Bekasi merupakan salah satu contoh
pusat industri dan perniagaan semacam itu. (Panji Koming 1)
Cara ini dapat diterima karena penulis secara tepat meneruskan informasi
aslinya, menggunakan kata sendiri dan mencantumkan sumber aslinya.
Berikut contoh penggunaan dan parafrase yang juga diterima:
15
Bekasi, tempat keluarga Cemara tinggal, khas untuk kota industri di era
seperempat abad terakhir. Pabrik-pabrik menimbulkan peralihan lahan pekerjaan
dari pertanian ke industri, dan kebutuhan akan tenaga kerja pun mengalami
peralihan dari “pekerja tani, di desa-desa menjadi pekerja pabrik”; maka terjadilah
urbanisasi. Bekasi merupakan salah satu di antara tempat “yang menjadi pusat
produksi dan juga perniagaan dan perdagangan” (Panji Koming 1).
Hal di atas merupakan parafrase yang bisa diterima karena penulis mencatat
infromasi pada tulisan asli dengan tepat, memberi pengakuan untuk gagasan
dari penulis aslinya, dan menunjuk bagian yang langsung diambil dari sumber
dengan memberi tanda kutip, dan mengutip nomor halaman.
Perhatikan bahwa bila penulis telah menggunakan frasa dan kalimat-kalimat
tersebut dalam artikelnya sendiri tanpa menggunakan tanda kutip, maka ia
dianggap melakukan plagiarisme. Menggunakan frasa atau kalimat orang lain
tanpa tanda kutip dianggap plagiarisme, BAHKAN BILA PENULIS DALAM
NASKAHNYA SENDIRI TELAH MENSITASI SUMBER DARI KALIMAT
ATAU FRASA YANG IA “PINJAM”.5
Hal-hal yang bukan Plagiarisme
Dalam Peraturan tentang Etika Akademik Universitas Indonesia pasal 10
tertulis: “Menggunakan konsep-konsep atau kata-kata dan kalimat yang sudah
menjadi milik umum tanpa menyebutkan sumbernya tidaklah digolongkan sebagai
plagiarisme atau pencurian”.3
16
Kapan sesuatu Hal Boleh Dianggap Sebagai Pengetahuan Umum (Common
Knowledge)?3,4
Suatu informasi dapat dianggap sebagai common knowledge apabila
pengetahuan/informasi itu merupakan hal lazim yang diketahui secara umum
dalam bidang ilmu yang bersangkutan. Misalnya: “Mencuci tangan dapat
menghindarkan diri dari penyakit infeksi” (ini merupakan pengetahuan umum
untuk masyarakat umum atau “Aorta mengalirkan darah dari ventrikel kiri ke
seluruh tubuh”) ini merupakan pengetahuan umum untuk dokter. Informasi yang
sama ditemukan pada lima tulisan lain, tanpa menyebutkan sumbernya.
Pengetahuan ini sudah diketahui pembaca. Informasi tersebut mudah ditemukan
dalam sumber referensi umum. Merupakan informasi di dalam buku ajar.
Contoh common knowledge:
- Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.
- Kode genetik dibawa oleh DNA.
- Dongeng “Bawang merah bawang putih”.3
- Susunan lazim suatu artikel dalam jurnal, sudah ada susunan buku yang
umum untuk artikel ilmiah biomedik (IMRAD). 5
- Susunan lazim untuk buku ajar, sehingga bila menulis buku ajar tak perlu
menulis sumber format penulisan yang diikuti. 5
Sanksi Plagiarisme:3,4,7
Sebesar apakah dosa plagiarisme?
Tindakan plagiarisme tidak dibenarkan di semua bidang. Umumnya
plagiarisme dianggap „dosa‟ besar, setara dengan pemalsuan data dan setidaknya
dosanya sama besar, kalau tidak lebih besar dari pelanggaran ilmiah semacam
penipuan data.
Komunitas ilmiah belum memperlakukan pelaku plagiarisme secara
konsisten, sehingga hukuman terhadap pelaku plagiarisme bervariasi mulai dari
penolakan tulisan untuk dipublikasikan, hambatan kenaikan jabatan sampai
pemecatan dari tempat kerja.
Sanksi plagiarisme sampai saat ini sangat bergantung pada tempat asal
plagiator, untuk Universitas Indonesia misalnya, mengenai sanksi telah dituangkan
dalam konsep Pedoman Penyelesaian Masalah Ilmiah yang dibuat oleh tim ad hoc
pada tanggal 10 Oktober 2004 yang lalu, dibedakan sanksi untuk para plagiator
yang masih mahasiswa, yang dalam hal ini bersifat lebih ringan ketimbang dengan
17
para plagiator yang berstatus staf pengajar/dosen. Sanksi terhadap plagiarisme,
tercantum pada bab VI, pasal 9, (rencananya akan diperkuat dengan SK Rektor
UI), berkisar dari sekedar peringatan lisan, tulisan, hingga penundaan dan
pembatalan kenaikan pangkat hingga pencabutan gelar dan bahkan dapat dituntut
ke pengadilan, baik pengadilan pidana maupun perdata, tergantung sifat
pelanggarannya.
Undang-undang Hak Cipta8
Undang-undang Hak Cipta (UUHC) dibuat untuk melindungi kekayaan
intelektual seseorang. Kekayaan intelektual dapat mencakup hasil karya musik,
gambar, tulisan, video, dan berbagai media lainnya.
Siapapun yang mereproduksi hasil karya orang lain yang telah dilindungi
UUHC, dapat dituntut secara hukum, walaupun bentuk atau kandungan aslinya
telah diubah selama dapat dibuktikan isinya „sama‟ dengan yang asli, maka dapat
dianggap pelanggaran hak cipta.
Apakah Semua Materi Publikasi Dilindungi Hak Cipta?
Jawabnya: TIDAK! Peraturan ini hanya melindungi hasil karya yang merupakan
gagasan/informasi asli. Contoh materi yang tidak dilindungi UUHC:
- Kompilasi informasi yang mudah didapat (misalnya: buku telepon).
- Publikasi karya resmi pemerintah (Buku Putih, misalnya dari Dept.
Hankam).
- Fakta yang bukan hasil riset asli (misalnya: pepaya banyak mengandung
vitamin A).
- Karya di domain publik (misalnya: “Guide to good prescribing” yang
diterbitkan WHO pada tahun 1940 dan “Uniform requirements for
Manuscripts” keluaran ICJME: International Committee of edical
Journal Editors).
Dapatkah “fakta” dilindungi UU Hak Cipta?
Dapat, semua fakta yang telah dipublikasikan sebagai hasil penelitian
individual dianggap sebagai Hak Intelektual (HakI) penciptanya.
Contoh: hak paten obat yang dapat dimintakan oleh perusahaan farmasi.
Misalnya hak paten untuk antibiotika generasi baru.
18
Apakah Kita Perlu Mensitasi Sumber Semua Fakta yang Kita Gunakan?
Tidak semua sumber fakta yang dipakai perlu disebutkan, tetapi hanya
yang merupakan hasil penelitian khusus individu. Fakta yang tersedia dari banyak
sumber (Universitas Indonesia: minimal lima sumber) dan telah dikenal dalam
masyarakat, dianggap sebagai “pengetahuan umum”, dan tak dilindungi UUHC.
Fakta tersebut boleh digunakan dengan bebas dalam tulisan, tanpa mensitasi
penciptanya.
Takarir/Glosarium:
*Common knowledge – fakta yang dapat ditemukan dalam banyak tempat dan
„agaknya‟ diketahui oleh orang banyak.3
** Nas – teks (KBBI, ed 3, Depdiknas, Balai Pustaka)
***Parafrase – menggunakan gagasan orang lain, tetapi memakai kata-kata
sendiri. Cara itu mungkin merupakan keterampilan yang akan sering dipakai saat
menulis dengan memakai tulisan orang lain sebagai sumber informasi. Walaupun
dalam melakukan parafrase digunakan kata-kata sendiri, penulis tetap harus
mencantumkan sumber informasi.10
Jawaban Kuis Plagiarisme:
Keadaan no. 6, 7, dan 10. Bukan merupakan Plagiarisme:
6. Berhati-hatilah dalam hal ini dan selalu usahakan mendapatkan nama penulis
asli. Apabila nama penulis memang ada, maka sebaiknya dicantumkan.
Apabila gagasan yang dikutip merupakan ide yang orisinil, maka lebih
bijaksana untuk merujuk situsnya apabila tidak ditemukan nama penulisnya.
7. Apabila Anda membuat rangkuman mengenai kejadian-kejadian di masa lalu,
maka hal ini tidak merupakan plagiarisme, apabila Anda mengambil sumber
dari berbagai macam sumber, dan tidak ada pertentangan antara sumbersumber tersebut. Bila Anda hanya menggunakan satu sumber saja, atau bila
Anda langsung menyitir, atau membuat parafrase, dari salah satu sumber,
maka nama para pengarang harus disitasi dan dirujuk.
10. Plagiarisme baru terjadi apabila seseorang dengan sadar menggunakan hasil
kerja orang lain dan mengakuinya baik secara langsung maupun tidak
langsung sebagai karya sendiri. Keadaan ini merupakan contoh kecerobohan
dan Anda mungkin akan dikritik oleh karenanya, akan tetapi hal ini tidak
tergolong plagiarisme. Anda harus selalu mencek suatu gagasan: sebisa19
bisanya, sebelumnya Anda mengajukan sebagai pencipta aslinya. Anda dapat
mendiskusikan gagasan Anda dengan pembimbing/mitra bestari/pakar
sebidang ilmu, karena kemungkinan mereka mempunyai wawasan yang lebih
luas, dan mengetahui peneliti lain yang mungkin lebih dahulu
mempublikasikan hal yang sama dengan Anda.
Daftar Pustaka
1. LaFollette MC. Stealing into print: fraud, plagiarism, and misconduct in
scientific publishing. Los Angeles: University of California Press, Ltd; 1996.
2. Neville C. Plagiarism. The complete guide to referencing and avoiding
Plagiarism. New York: Open University Press, the McGraw-Hill; 2007.
3. Tarmidi LT, Purba V, Hadjodisastro D, Tambunan USF, Gunarwan A,
Harkrisnowo H. Pedoman penyelesaian masalah plagiarisme di Universitas
Indonesia. Jakarta, 10 Oktober 2004.
4. Sastroasmoro S. Beberapa catatan tentang plagiarisme. Maj Kedokt Indon.
2006;56(1):1-6.
5. Anonymous. Examples of plagiarism, and of appropiate use of other‟s words
and ideas [homepage on the Internet]. Indiana: Indiana University; c2004
[updated 7 Sept 2004]. Available from:
www.indiana.edu/~wts/wts/plagiarism.html 13 Feb. 2008.
6. Sastroasmoro S. Scientific or academic misconduct/fraud: cheating,
fabrication, falsification, plagiarism. Jakarta. 2005 Sep (diskusi forum guru
besar FKUI).
7. Taylor RB. What‟s special about medical writing? In: The clinician‟s guide to
medical writing. Oregon: Springer; 2005:122.
8. Plagiarism FAQ [homepage on the Internet]. [cited 2008 Nov 3]. Available
from: http://www.plagiarism.org/learning_center/plagiarism_faq.html.
20
22
Penulisan Daftar Pustaka dengan
Sistem Vancouver
Saleha Sungkar
Penulisan daftar pustaka atau referensi merupakan metode yang sudah
terstandardisasi untuk menampilkan sumber informasi atau ide yang digunakan
pada tulisan ilmiah seseorang. Penulisan daftar pustaka dapat menggunakan
beberapa format, namun dalam ranah kedokteran sistem Vancouver paling sering
digunakan. Daftar pustaka harus terlihat pada akhir sebuah karya tulis dengan
penomoran yang sistematis sesuai dengan urutan pada karya tulis tersebut. Tujuan
daftar pustaka ini sendiri ialah untuk menghindari plagiarisme, memverifikasi
kutipan, dan memungkinkan pembaca untukmenindaklanjutidan membaca lebih
detail sumber asli dari karya tulis. Sumber informasi atau ide ini dapat berupa
kutipan langsung, fakta-fakta, gambar-gambar, baik dari sumber yang sudah
dipublikasi maupun belum. Aturan penulisan sitasi pada teks dalam sebuah karya
tulis secara umum dijelaskan sebagai berikut :
Sitasi pada teks sebuah tulisan diidentifikasi dengan angka Arab ditambah
tanda kurung (biasa digunakan pada perangkat lunak End Note), misalnya
“Moir and Jessel maintain that the sexes are interchangeable (1)” atau
superscript, misalnya “Moir and Jessel maintain that the sexes are
interchangeable1”.
Ketika jumlah sumber lebih dari satu, gunakan tanda hubung “-“ untuk
menghubungkan angka awal dan akhir tulisan yang inklusif dan gunakan
koma (tanpa spasi) untuk memisahkan angka non inklusif pada sitasi
multipel, misalnya 2,3,4,5,7,10 menjadi 2-5,7,10.
Tanda hubung tidak digunakan jika tidak ada angka sitasi di antara angka
awal dan akhir, misalnya 1-2, seharusnya 1,2.
Pengaturan letak angka sitasi pada teks harus diperhatikan. Beberapa daftar
pustaka dapat relevan hanya pada beberapa kalimat, misalnya “There have
been efforts to replace mouse inoculation testing with in vitro tests, such as
ELISA57,60 or PCR20-22 but it is still experimental”.
Secara garis besar, angka ditulis setelah tanda titik dan koma, misalnya “Moir
and Jessel maintain that the sexes are interchangeable1”.
23
Jika sebuah sumber ditulis oleh beberapa penulis, maka gunakan “et al” atau
“dkk” setelah penulis pertama, misalnya “Simons et al3 state that the
principle of effective stress is imperfectly known and understood by many
practising engineers”.
Pada beberapa tulisan, mungkin terdapat sumber dari seorang penulis yang
merujuk pada penulis lain, hal ini dinamakan referensi sekunder. Perhatikan
kalimat berikut : “Higgins15 discusses Newman‟s research in his work…”
Kita dapat melihat bahwa Higgins dalam bukunya mendiskusikan hasil
penelitian orang lain yaitu Newman. Pada daftar pustaka, kita mencantumkan
buku/tulisan Higgins, bukan Newman, misalnya “Higgins D. Horizons: The
poetics and theory of the intermedia. Illinois: Southern Illinois University
Press; 1984”.
Penulisan daftar pustaka atau referensi memiliki format baku yang
dipakai. Sebuah referensi yang berasal dari artikel sebuah jurnal memiliki secara
berturut-turut unsur-unsur berikut: nama penulis (authors), judul artikel (article
title), judul jurnal (journal title), tanggal publikasi (date of publication), volume,
nomor/issue, dan halaman. Perhatikan Gambar 1 sebagai contoh.
Gambar 1 Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber jurnal
Untuk penulisan nama penulis, harus diperhatikan hal-hal berikut :
Urutan penulisan nama penulis harus berdasarkan naskah asli, nama keluarga
atau nama akhir ditulis di awal referensi, nama awal dan tengah ditulis
sebagai inisial dengan maksimal dua inisial, antar nama penulis dipisahkan
oleh tanda koma diikuti spasi, misalnya “Suryono IA, Sungkar S, Aswin L”.
Tanda hubung, prefiks, compound surname, atau partikel seperti O‟,D‟,L
pada sebuah nama akhir tetap ditulis. Perhatikan contoh berikut :
24
“Estelle Palmer-Canton” menjadi “Palmer-Canton E” (tanda hubung
tetap ditulis).
2. “Lama Al Bassit” menjadi “Al Bassit L” (prefiks tetap ditulis).
3. “Sergio Lopez Moreno” menjadi “Lopez Moreno S” (compound
surname tetap ditulis).
4. “Alan D. O‟Brien” menjadi “O‟Brien AD” (partikel O‟ tetap ditulis).
5. “U. S‟adeh” menjadi “S‟adeh U” (partikel S‟ tetap ditulis).
Hilangkan semua tanda baca yang ada pada nama akhir, misalnya “Charles A.
St. James” menjadi “St James CA”.
Nama awal dan tengah yang menggunakan tanda hubung tetap disingkat
tanpa tanda hubung, misalnya “Jean-Louis Lagrot” menjadi “Lagrot JL”.
Gunakan hanya huruf awal dari nama awal dan tengah meskipun terdapat
prefiks, preposisi, atau partikel lain, misalnya “D‟Arcy Hart” menjadi “Hart
D” atau “W. St. John Patterson” menjadi “Patterson WS”.
Gunakan hanya huruf awal pada abreviasi misalnya “Ch. Wunderly” menjadi
“Wunderly C”.
Untuk nama non -English yang telah diromanisasikan (ditulis dalam alfabet
roman), kapitalisasi hanya huruf awal ketika inisial asli ditulis lebih dari satu
huruf, misalnya “Iu. A. Lakontov” menjadi “Lakontov IuA”.
Jika tidak terdapat nama penulis atau organisasi, mulailah dengan judul
artikel, jangan tulis “anonymous”, misalnya “New accreditation product
approved for systems under the ambulatory and home care programs. Jt
Comm Perspect. 2005 May;25(5):8”.
Semua jenis gelar atau penghargaan tidak ditulis pada daftar pustaka,
misalnya “James A. Reed, M. D., F.R.C.S” menjadi “Reed JA” atau “Sir
Frances Hildebrand” menjadi “Hildebrand F”.
Jika sumber referensi memiliki lebih dari enam penulis maka enam penulis
awal ditulis diikuti oleh “et al”, misalnya “Rose ME, Huerbin MB, Melick J,
Marion DW, Palmer AM, Schiding JK, et al. Regulation of interstitial
excitatory amino acid concentrations after cortical contusion injury. Brain
Res. 2002;935(1):40-6”.
Jika penulis sumber referensi merupakan sebuah organisasi, hal berikut harus
diperhatikan: hilangkan kata “The”, nama divisi (jika ada) ditulis setelah
nama organisasi dengan dipisah oleh tanda baca koma, jika penulis sumber
referensi merupakan nama orang dan organisasi maka tuliskan keduanya
1.
25
secara berurutan sesuai urutan artikel asli dengan antara nama orang dan
organisasi dipisahkan oleh tanda baca titik koma. Perhatikan contoh berikut:
1. “The American Cancer Society” menjadi “American Cancer Society”
(kata “The” dihilangkan).
2. “International Union of Pure and Applied Chemistry, Organic and
Biomolecular Chemistry Division” (nama divisi ditulis setelah
organisasi dengan pemisah tanda baca koma).
3. “Vallancien G, Emberton M, Harving N, van Moorselaar RJ; Alf-One
Study Group. Sexual dysfunction in 1,274 European men suffering from
lower urinary tract symptoms. J Urol. 2003;169(6):2257-61” (antara
nama orang dan organisasi dipisahkan oleh tanda baca titik koma).
Jika volume atau issue dengan suplemen, maka penulisannya sebagai berikut:
“Geraud G, Spierings EL, Keywood C. Tolerability and safety of frovatriptan
with short- and long-term use for treatment of migraine and in comparison
with sumatriptan. Headache. 2002;42 Suppl 2:S93-9” (volume dengan
suplemen).
“Glauser TA. Integrating clinical trial data into clinical practice. Neurology.
2002;58(12 Suppl 7):S6-12” (issue dengan suplemen).
Jika volume atau issue dengan bagian/part, maka penulisannya sebagai
berikut: “Abend SM, Kulish N. The psychoanalytic method from an
epistemological viewpoint. Int J Psychoanal. 2002;83(Pt 2):491-5”.
“Ahrar K, Madoff DC, Gupta S, Wallace MJ, Price RE, Wright KC.
Development of a large animal model for lung tumors. J Vasc Interv Radiol.
2002;13(9 Pt 1):923-8”.
Jika issue tanpa volume atau tidak ada volume atau issue, maka penulisannya
sebagai berikut :
“Banit DM, Kaufer H, Hartford JM. Intraoperative frozen section analysis in
revision total joint arthroplasty. Clin Orthop. 2002;(401):230-8”.
“Outreach: bringing HIV-positive individuals into care. HRSA Careaction.
2002 Jun:1-6”.
Jika halaman menggunakan penomoran romawi, maka penulisan yang benar
ialah “Chadwick R, Schuklenk U. The politics of ethical consensus finding.
Bioethics. 2002;16(2):iii-v”.
Jika tipe artikel dibutuhkan untuk ditunjukkan, maka penulisannya ialah
sebagai berikut:
26
“Tor M, Turker H. International approaches to the prescription of long-term
oxygen therapy [letter]. Eur Respir J. 2002;20(1):242”.
“Lofwall MR, Strain EC, Brooner RK, Kindbom KA, Bigelow GE.
Characteristics of older methadone maintenance (MM) patients [abstract].
Drug Alcohol Depend. 2002;66 Suppl 1:S105”.
Jika artikel mengandung retraksi (retraction), maka penulisannya ialah
“Feifel D, Moutier CY, Perry W. Safety and tolerability of a rapidly
escalating dose-loading regimen for risperidone. J Clin Psychiatry.
2002;63(2):169. Retraction of: Feifel D, Moutier CY, Perry W. J Clin
Psychiatry. 2000;61(12):909-11”.
Jika sebuah sumber artikel telah dipublikasikan kembali dengan koreksi maka
penulisan yang benar yaitu “Mansharamani M, Chilton BS. The reproductive
importance of P-type ATPases. Mol Cell Endocrinol. 2002;188(1-2):22-5.
Corrected and republished from: Mol Cell Endocrinol. 2001;183(1-2):123-6”.
Selain dari artikel jurnal, sebuah tulisan mungkin berasal dari beberapa
sumber lain misalnya buku atau monograf lain. Kaidah penulisan daftar pustaka
untuk sumber berasal dari buku atau monograf dijelaskan sebagai berikut:
Urutan penulisan daftar pustaka buku atau monograf lain ialah sebagai
berikut: penulis (authors), judul buku (title), edisi (edition), penulis sekunder
(jika ada) atau secondary author, tempat publikasi (place of publication),
penerbit (publisher), tanggal publikasi (date of publication), dan halaman
(pagination). Perhatikan gambar 2 sebagai contoh.
Gambar 2. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber buku atau monograf lain
Aturan penulisan nama penulis baik itu perorangan maupun organisasi tidak
berbeda dengan penulisan nama penulis pada artikel jurnal.
27
Jika hanya terdapat editor atau compiler, maka penulisannya sebagai berikut :
“Gilstrap LC 3rd, Cunningham FG, VanDorsten JP, editors. Operative
obstetrics. 2nd ed. New York: McGraw-Hill; 2002”.
Jika sumber merupakan tulisan dari sebuah konferensi maka ditulis sebagai
berikut: “Christensen S, Oppacher F. An analysis of Koza's computational
effort statistic for genetic programming. In: Foster JA, Lutton E, Miller J,
Ryan C, Tettamanzi AG, editors. Genetic programming. EuroGP 2002:
Proceedings of the 5th European Conference on Genetic Programming; 2002
Apr 3-5; Kinsdale, Ireland. Berlin: Springer; 2002. p. 182-91”. Perhatikan
gambar 3 dan 4 sebagai contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan
sumber berupa paper dan poster pada sebuah konferensi.
Gambar 3. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber dari konferensi (paper)
Gambar 4. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber dari sebuah konferensi (poster)
Jika issue merupakan agen sponsor, maka penulisannya sebagai berikut “Yen
GG (Oklahoma State University, School of Electrical and Computer
Engineering, Stillwater, OK). Health monitoring on vibration signatures.
28
Final report. Arlington (VA): Air Force Office of Scientific Research (US),
Air
Force
Research
Laboratory;
2002
Feb.
Report
No.:
AFRLSRBLTR020123. Contract No.: F496209810049”.
Jika sumber merupakan disertasi atau sebuah paten, maka ditulis sebagai
berikut : “Borkowski MM. Infant sleep and feeding: a telephone survey of
Hispanic Americans [dissertation]. Mount Pleasant (MI): Central Michigan
University; 2002” (sumber berasal dari sebuah disertasi).
“Pagedas AC, inventor; Ancel Surgical R&D Inc., assignee. Flexible
endoscopic grasping and cutting device and positioning tool assembly. United
States patent US 20020103498. 2002 Aug 1” (sumber berasal dari sebuah
paten).
Selain artikel jurnal dan buku/monograf lain, sebuah karya tulis mungkin
mengambil kepustakaan dari sumber lain seperti artikel surat kabar, materi
audiovisual, peta/map, kamus, material yang belum dipublikasikan atau materi
elektronik (CD-ROM, jurnal dari internet, monograf dari internet, situs jaringan
atau website/homepage, blog), maka kaidah penulisannya ialah sebagai berikut :
Sumber referensi merupakan surat kabar :
Gambar5. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber dari surat kabar
29
Sumber merupakan material audiovisual:
“Chason
KW, Sallustio S. Hospital preparedness for bioterrorism
[videocassette]. Secaucus (NJ): Network for Continuing Medical Education;
2002” .
Sumber referensi merupakan peta/map :
Gambar 6. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber dari sebuah peta/map.
Sumber merupakan kamus: “Dorland's illustrated medical dictionary. 29th ed.
Philadelphia: W.B. Saunders; 2000. Filamin; p. 675“.
Untuk sumber referensi berasal dari materi yang belum dipublikasi, sebaiknya
lebih dipilih kata “forthcoming” dibandingkan “in press” karena tidak semua
item akan diprint.
Gambar 7. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber materi belum dipublikasi
30
Jika sumber berasal dari CD-ROM :
Gambar 8. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber dari CD-ROM
Jika sumber berasal dari jurnal di internet :
Gambar 9. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber dari jurnal di internet
Jika sumber berasal dari homepage atau website: “Foley KM, Gelband H,
editors. Improving palliative care for cancer [Internet]. Washington: National
Academy Press; 2001 [cited 2002 Jul 9]”.
Gambar 10. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber homepage atau website
Jika sumber berasal dari sebuah blog :
31
Gambar 11. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber blog(1)
Gambar 12. Contoh format baku penulisan daftar pustaka dengan sumber blog(2)
Daftar Pustaka
International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE) Uniform
Requirements for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals: Sample
References [internet]. Available from: http://www.icmje.org/.
32
34
Cara Dasar Menghindari Plagiarisme
Ariel Pradipta
Kemajuan ilmu pengetahuan masa kini sangat pesat termasuk di bidang
penelitian. Penelitian tersebut seringkali menemukan sesuatu yang diharapkan
dapat berguna sebagai dasar informasi untuk penemuan berikutnya. Agar hasil
penelitian berguna dan dapat dimanfaatkan, penelitian harus dipublikasi baik di
jurnal atau dalam seminar. Nilai publikasi lebih tinggi bila dipublikasikan di jurnal,
sehingga peneliti harus terampil menulis artikel penelitian agar dapat diterima oleh
redaksi jurnal.
Untuk menciptakan tulisan yang baik, tidak dapat dipungkiri bahwa ada
beberapa orang yang dengan sengaja mengambil buah pikiran orang lain dan
melakukan kecurangan. Ada pula orang yang tidak sengaja mengambil buah
pikiran orang lain; hal ini harus ditelusuri lagi lebih lanjut apakah karena
ketidaktahuan mengenai cara menulis yang baik atau yang lebih menyedihkan
karena tidak mengetahui bahwa hal yang dilakukannya tersebut merupakan sebuah
bentuk kejahatan penulisan yang disebut plagiarisme.
Seringkali para peneliti, baik yang baru atau pun yang sudah lama
berkecimpung dalam proses menggunakan informasi yang berasal dari penulis lain,
merasa tidak yakin akan cara meminjam buah pikiran orang lain dengan baik.
Ketika meminjam buah pikiran penemu sebelumnya, sudah selayaknya memberi
penghargaan kepadanya dengan menuliskan sitasi dengan tepat. Penulisan sitasi
sebaiknya mencantumkan nama penulis, nama artikel, tahun penerbitan, edisi
majalah, buku sumber bacaan, penerbit, dan alamat halaman elektronik dalam
keadaan tertentu. Ada berbagai teknik yang harus diikuti namun untuk dunia
kedokteran dan kesehatan, cara yang banyak digunakan adalah sistem Vancouver
dan Harvard. Komunitas akademik atau jurnal penelitian tertentu memiliki gaya
sitasi yang berbeda dan perlu diikuti jika ingin berpartisipasi di dalamnya.
Selain mensitasi, buah pikiran juga harus ditulis dengan cara tertentu
sehingga tidak terjerumus ke dalam plagiarisme yang merupakan pencurian ide.
Dua cara dasar untuk melakukannya adalah dengan melakukan kuotasi (mengutip)
dan parafrase.1,2
Kuotasi adalah teknik meminjam buah pikiran seseorang dengan
meletakkannya di antara tanda kutip. Tanda kutip tersebut digunakan untuk
35
memberitahu kepada pembaca bahwa keseluruhan kalimat di dalamnya, termasuk
struktur dan pemilihan kata, adalah hasil kerja keras penulis yang dikutip. Dengan
melakukan kutipan yang benar, seorang penulis dapat memberikan penghargaan
yang sesuai kepada sumber informasi yang digunakan. Dengan sitasi yang tepat,
maka pembaca yang tertarik untuk mendalami ilmu yang dipinjam dapat
mencarinya sendiri dan mengetahui langsung sumber informasi tersebut sehingga
juga menguntungkan bagi penulis sebelumnya.
Hal yang harus diawasi ketika mengutip langsung adalah persentase
kesamaan hasil tulisan dengan sumber informasi tersebut. Setiap jurnal atau
majalah memiliki standar persentase kemiripan yang berbeda. Hal ini berguna
untuk memastikan hasil kerja yang baru tersebut sudah melalui proses tertentu,
sehingga tidak hanya „asal menyalin‟ dan menyatukan pekerjaan orang lain.
Berikut adalah contoh penggunaan kutipan:
Acute inflammation has three major components: (1) alterations in vascular
caliber that lead to an increase in blood flow, (2) structural changes in the
microvasculature that permit plasma proteins and leukocytes to leave the
circulation, and (3) emigration of the leukocytes from the microcirculation, their
accumulation in the focus of injury, and their activation to eliminate the offending
agent.
Dapat dikutip seperti berikut:
- Kumar, Abbas and Fausto stated in Robbins and Cotran Pathologic basis of
diseases, there are 3 major factors in acute inflammation “(1) alterations in
vascular caliber that lead to an increase in blood flow, (2) structural changes
in the microvasculature that permit plasma proteins and leukocytes to leave
the circulation, and (3) emigration of the leukocytes from the
microcirculation, their accumulation in the focus of injury, and their
activation to eliminate the offending agent”1
- References: Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Robbins and Cotran Pathologic
Basis of Disease. 7th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2005. Pg49.
Perlu diingat bahwa mengutip dapat menghabiskan batas persentase
kemiripan kata yang ditentukan. Maka pengunaan kutipan harus dibatasi pada
bagian yang sulit diubah kata-katanya karena sangat spesifik atau terdapat
kekhawatiran bahwa suatu pengubahan akan membuat salah pengertian.
36
Teknik berikutnya yang lebih sering digunakan adalah parafrase. Teknik
ini menuliskan suatu informasi dari sumber lain dengan mengubah cara penulisan.
Parafrase dapat dilakukan dengan cara mengubah kata-kata yang digunakan
dengan sinonim yang sesuai, atau dengan mengubah struktur kalimat. Perlu
diperhatikan pula arti dari kalimat tersebut tidak boleh berubah terlalu jauh karena
dapat menyesatkan pengertian pembaca atau merusak reputasi penulis yang
dipinjam buah pikirannya.
Cara yang paling baik untuk melakukan parafrase adalah dengan
membaca keseluruhan artikel tersebut terlebih dahulu beberapa kali, kemudian
diulang membaca bagian yang ingin digunakan di dalam artikel sehingga dapat
dimengerti dan ditemukan cara untuk menjelaskannya dengan kata-kata sendiri.
Pengertian tersebut dapat dituliskan di artikel tanpa melihat lagi sumber informasi.
Lebih baik lagi jika ditulis dengan kalimat singkat sehingga memperkecil
penggunaan kata atau struktur kalimat yang mirip. Melakukan parafrase dengan
teknik tersebut paling aman karena tidak lagi melihat sumber informasi yang dapat
mempengaruhi pemilihan kata dan struktur kalimat yang terlalu mirip.
Baik peneliti yang sudah mahir atau pun yang belum mahir, misalnya
mahasiswa, terkadang tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti langkah
yang baik. Hal tersebut dapat disiasati dengan melakukan parafrase yaitu
mengambil kalimat inti yang diubah kata-katanya menggunakan sinonim. Struktur
kalimat dapat diubah, seperti peletakkan subjek yang tadinya di depan menjadi di
belakang.
Berikut adalah contoh pengunaan parafrase:
A homeostatic control system is a functionally interconnected network of body
components that operate to maintain a given factor in the internal environment
relatively constant around and optimal level. To maintain homeostasis, the control
system must be able to detect deviations from normal in the internal environmental
factor that needs to be held within narrow limits. Integrate this information with
any other relevant information, and make appropriate adjustments in the activity of
the body parts responsible for restoring this factor to its desired value.
Dapat diparafrase sebagai berikut:
- Homeostatic control system can be defined as a working network in the body
that works together to maintain a certain optimal condition. The body may
37
-
recognize changes that happen in the body and adapt so that important
factors can stay in an acceptable range.1
References: Sherwood L. Human physiology: From cells to systems. 6 th Ed.
Belmont: Thomson Brooks/Cole. 2007. Pg10.
Ketika diubah menjadi bahasa Indonesia, dapat menjadi:
- Sistem homeostasis dapat diartikan sebagai jejaring di dalam tubuh yang
bekerja sama untuk menetapkan suatu keadaan optimal. Dengan homeostasis,
tubuh dapat mengenali perubahan yang terjadi dan beradaptasi seperlunya
untuk menciptakan keadaan yang masih sesuai untuk fungsi tubuh normal. 1
- Referensi: Sherwood L. Human physiology: From cells to systems. 6 th Ed.
Belmont: Thomson Brooks/Cole. 2007. Pg 10.
Contoh lain melakukan parafrase:
Ada yang menganalogikan menuanya manusia seperti ausnya suku cadang suatu
mesin yang bekerjanya sangat kompleks yang bagian-bagiannya saling
mempengaruhi secara fisik/somatik. Analogi ini memang dapat diterima, tetapi
penulis tak setuju dengan hal ini karena manusia mempunyai jiwa dan budaya yang
dapat mempengaruhi fisiknya. Banyak orang yang fisiknya sakit berat tetapi karena
mentalnya masih tinggi dapat masih hidup lama.
Dapat diparafrasekan seperti berikut:
- Karena sering terlihat beberapa orang tua yang menderita sakit parah tetapi
dapat berumur panjang, para penulis Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri
berpendapat bahwa proses penuaan manusia juga dipengaruhi oleh jiwa dan
budaya yang ada dalam diri mereka.1
- Referensi: Boedhi-Darmojo R, et al. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri
(Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Indonesia. 2011. Hal 4.
Dalam contoh di atas, perubahan struktur menjadi pusat parafrase. Suatu
bagian yang tadinya terletak di akhir kalimat dapat dipindah ke depan dengan
sedikit perubahan pilihan kata-kata. Hal yang harus diingat adalah pentingnya
meletakkan langsung bahwa kalimat tersebut bersumber dari buah pikiran orang
lain.
38
Penggunaan parafrase memiliki beberapa keuntungan diantaranya tidak
memakan batas persentase kemiripan yang banyak dan sering dapat membuat suatu
informasi yang panjang menjadi lebih singkat. Hal tersebut dapat sangat berguna
ketika terdapat batas jumlah kata dari jurnal.
Jika sumber informasi yang didapatkan adalah bahasa lain, sangat penting
bagi penulis untuk tidak hanya menerjemahkan sumber tersebut, tetapi juga tetap
mengubah struktur dan kata-kata yang digunakan. Sudah mulai tumbuh banyak
kekhawatiran plagiarisme yang terjadi antar bahasa, maka sebaiknya mulai berlatih
untuk menghindarinya. Walaupun belum sempurna, beberapa perguruan tinggi di
luar negeri sudah mulai mengembangkan teknologi yang dapat mendeteksi “crosslanguage plagiarisme” atau plagiarisme beda bahasa.
Sebenarnya yang paling penting dari segala tindakan ini adalah mengakui
bahwa apa yang ditulis memiliki bagian yang merupakan buah pikiran penulis lain.
Harus diakui bahwa penulis meminjam karya orang lain dan sudah menjadi
kewajibannya untuk menghargai mereka dengan menuliskan sitasi yang tepat.
Dalam kegiatan sehari-hari seringkali pekerjaan seseorang sebenarnya
bersifat „internal‟, dalam artian tidak akan disebarluaskan ke khalayak ramai dan
tidak bersifat mengambil keuntungan untuk pribadi yang membuatnya (tidak
membagikan keuntungan tersebut baik materiil maupun imateriil kepada sumber
informasi yang sebenarnya). Plagiarisme dan tindak kecurangan lain sering terjadi
karena kurangnya keahlian dalam menghindarinya. Ditambah jalan pikiran
„pekerjaan internal‟ membuat penulis semakin jarang lagi berlatih kedua teknik
dasar di atas (mengutip dan parafrase). Oleh karena itu, dalam kegiatan sehari-hari
seperti presentasi kasus maupun lembar tugas mahasiswa perlu dipelajari cara
pengutipan dan parafrase yang baik.
Plagiarisme merupakan masalah global dan sudah banyak orang yang
memiliki niat besar untuk membantu mencegahnya. Selain itu, berbagai upaya
pencegahan dibuktikan dengan banyaknya sumber latihan yang dapat ditemukan di
dalam internet. Dengan membaca buku ini, marilah berlatih dengan melakukan
teknik-teknik di atas dalam kegiatan sehari-hari. Semakin sering berlatih dan
bertindak, kemahiran dalam membuat tulisan yang baik dan tanpa unsur
plagiarisme di dalamnya akan lebih mudah untuk diwujudkan. Selamat berlatih.
39
Daftar Pustaka
1. Writing Tutorial Services. Plagiarism: What it is and how to recognize and
avoid it [Internet]. Indiana: Indiana University Bloomington; 2004 [cited
2012 Dec 9]. Available from:
http://www.indiana.edu/~wts/pamphlets/plagiarism.shtml.
2. The Writing Center @The University of Wisconsin. The writer‟s handbook
avoiding plagiarism [Internet]. Madison: University of Wisconsin; 2012
[cited 2012 Dec 10].
40
42
Kajian Bioetik Integritas Akademik
Alexandra Gabriella, Anton D.Saputra, Ardeno Kristianto, Arif A.Tasela, Candra
A.Nugroho, Dini Lestari, Hendy Kurniawan, Indina S.Sekarnesia, Ngabila Salama
Definisi Integritas dan Kejujuran Akademik
Integritas didefinisikan sebagai kualitas seseorang dalam menjaga dirinya
tetap jujur dan memiliki prinsip moral yang kuat di dalam kamus Oxford. 1 Dengan
integritas, seseorang dapat mempertahankan diri untuk tetap berpegang pada
norma, moral, dan etika yang benar. Sejalan dengan definisi tersebut, integritas
juga diartikan sebagai suatu kontrak sosial pada diri sendiri untuk bertindak penuh
tanggung jawab.2 Dengan melanggar aturan atau prinsip kebenaran, seseorang telah
melanggar integritas diri dan mengacaukan tatanan norma, selain merugikan
dirinya sendiri.
Dalam kaitan dengan kehidupan universitas dikenal istilah integritas
akademik. Menurut University of Illinois, integritas akademik merupakan perilaku
jujur dan bertanggungjawab terhadap semua hal yang berkaitan dengan akademik
dan bergantung pada usaha individual setiap mahasiswa. 1 Sementara itu, The
Center for Academic Integrity (CAI)3 menyebutkan, “Academic integrity as a
commitment, even in the face of adversity, to five fundamental values:honesty,
trust, fairness, respect, and responsibility.” Lain lagi dengan Pusat Integritas
Akademik Kolese Fisher di Boston. Dikatakan bahwa integritas akademik adalah
“Sebuah komitmen, bahkan dalam menghadapi kesulitan, yang memiliki lima nilai
dasar, yaitu kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai tersebut mengalirkan prinsip perilaku yang memungkinkan komunitas
akademik untuk menerjemahkan ide, pikiran, atau cita-cita ke dalam tindakan.”4
Integritas akademik penting dan perlu dijaga oleh seluruh civitas
academica di institusi pendidikan. Hal yang ingin dijaga dengan integritas
akademik adalah kepercayaan (trust). Kepercayaan itu diperlukan agar civitas tidak
takut hasil kerja keras dan kreasi buah pikirannya diakui dan dijadikan milik orang
lain. Selain itu, buah pemikiran dan karya tulisan yang dihasilkan akan menjadi
referensi pengetahuan bagi komunitas akademik sehingga validitas dan
kesahihannya harus dapat dipertanggungjawabkan. 5 Kejujuran adalah salah satu
nilai dasar dalam komitmen kita terhadap integritas akademik.6
43
Bentuk dan Contoh Ketidakjujuran Akademik
Ketidakjujuran akademik terkait erat dengan niat yang dimiliki oleh
pelaksana tindakan tersebut, yaitu meliputi tindakan yang tidak etis dan dilakukan
secara sengaja. Hal tersebut dapat dilakukan dalam bentuk pengakuan hasil kerja
milik orang lain sebagai miliknya sendiri. Ketidakjujuran akademik didefinisikan
pula sebagai pelanggaran kebijakan institusi pendidikan terkait kejujuran. 7
Berdasarkan definisi tersebut, tampak jelas bahwa ketidakjujuran akademik
mencakup semua bentuk pelanggaran intelektual di institusi pendidikan.
Kistilensa7 mengategorikan ketidakjujuran akademik sebagai berikut:
kecurangan, fabrikasi, plagiarisme, fasilitasi, misrepresentasi, dan sabotase. 7-10
Bentuk ketidakjujuran tersebut perlu dipelajari dan dipahami oleh mahasiswa agar
terhindar dari ketidakjujuran akademik, baik disengaja maupun tidak. Di dalam
ketentuan integritas akademik berbagai universitas dicontohkan bentuk
ketidakjujuran akademik lain, seperti: mengumpulkan tugas yang sama ke dosen
yang berbeda tanpa izin, berkolaborasi secara tidak tepat, melakukan
misrepresentasi, melakukan impersonasi, menahan data, melakukan obstruksi atau
interferensi, mengganggu aktivitas kelas, melanggar akses yang dilarang,
menyebarkan rahasia, membantu pelanggaran standar integritas akademik, serta
berlaku tidak jujur dalam ujian.8
Perbuatan sederhana seperti menyalin jawaban dari pekerjaan milik orang
lain (menyontek) sudah dapat digolongkan sebagai ketidakjujuran akademik, yaitu
plagiarisme.7,8,11 Satu ketidakjujuran akan mengarahkan pada ketidakjujuran lain.
Seperti pada kasus menyontek tersebut, apabila pihak yang dicontek tahu dan
mengizinkan hasil karyanya dicontek, ia telah melakukan fasilitasi, walaupun pada
dasarnya ia berniat baik untuk membantu teman.7,8,11
Selain menyontek, plagiarisme juga terjadi apabila di dalam karya tulis
tidak dicantumkan referensi yang digunakan oleh penulis. Sebaliknya, apabila pada
daftar pustaka karya tulis ditambahkan referensi yang sebenarnya tidak digunakan
atau tidak ada, penulis tersebut telah melakukan fabrikasi. Fabrikasi juga terjadi
pada saat mahasiswa menyajikan data yang dibuat sendiri pada penelitian atau
percobaan yang dilakukan.8,11 Mirip seperti fabrikasi, falsifikasi terjadi ketika
mahasiswa mengubah data untuk menyesuaikan dengan hasil yang diduga dan
biasa terjadi karena kemalasan mahasiswa dalam membuat penelitian atau
mahasiswa sudah mengetahui perkiraan hasil akhir penelitian tersebut. 8,11,12 Hal ini
merugikan banyak pihakkarena penelitian yang dibuat menjadi tidak sahih dan
44
tidak valid sehingga orang lain tertipu data penelitian yang disajikan. Hal yang
dianggap “sepele” seperti melakukan “titip absen” juga merupakan bentuk
ketidakjujuran dan digolongkan sebagai misrepresentasi.13 Kerja sama dalam
mengerjakan tugas akademik merupakan hal wajar karena beberapa tugas memang
diberikan untuk melatih kemampuan bekerja sama dan berorganisasi mahasiswa,
namun, dalam pelaksanaannya perlu sikap dewasa untuk memahami dan
membedakan antara tugas yang dapat dikerjakan bersama-sama dan tugas yang
harus dikerjakan sendiri.5 Apabila mahasiswa gagal dalam membedakan hal ini, ia
dapat terjebak pada kolaborasi yang tidak tepat. Mahasiswa dapat memberikan
saran untuk proses revisi suatu karya tulis orang lain secara umum, tetapi ia tidak
dapat melakukan revisi tersebut secara langsung pada karya tulis tersebut atau ia
akan terjebak dalam kolaborasi yang tidak tepat. Tindakan sabotase untuk
mencegah orang lain berprestasi juga tergolong dalam bentuk ketidakjujuran
akademik.7
Penjelasan Spesifik Mengenai Plagiarisme
Plagiarisme merupakan salah satu pelanggaran kejujuran akademik yang
dianggap sangat serius. Menurut Sastroasmoro,12 “Plagiarisme adalah tindakan
menyerahkan (submitting) atau menyajikan (presenting) idea atau kata/kalimat
orang lain tanpa menyebutkan sumbernya”. Publikasi tulisan secara resmi tidak
menjadi syarat dalam kriteria plagiarisme.
Plagiarisme dapat terjadi dalam bentuk: menyajikan karya pribadi yang
diambil dari seluruh atau sebagian karya orang lain yang telah dipublikasi,
melakukan parafrase terhadap tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumbernya,
menyajikan kembali hasil karya yang bersifat artistik atau teknik milik orang lain
sebagai karya pribadi, mencuri data milik orang lain, menggunakan data milik
pribadi yang sebelumnya pernah digunakan untuk tugas lain, serta melakukan sitasi
secara kurang tepat.3,8,14
Perlu dipahami bahwa terdapat beberapa hal di luar cakupan tersebut yang
masih tergolong sebagai pencurian. Oleh karena itu, lebih baik bila dilakukan
program pencegahan plagiarisme, dimulai dari pemahaman plagiarisme yang
dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai teknik sitasi dan teknik mengutip yang
tepat. Selain itu, perlu pengawasan dan pembinaan berkelanjutan. Pengawasan
dilaksanakan dengan harapan agar tidak terjadi plagiarisme yang dapat dicapai
melalui bimbingan pembimbing atau pengawasan program komputer. Perlu diingat
45
bahwa sebagian besar program tersebut didesain untuk mengenali kemiripan, tidak
untuk mengenali plagiarisme sehingga lebih tepat bila program digunakan untuk
penyaringan awal sebelum dilakukan telaah oleh ahlinya. Hal yang tidak kalah
penting adalah kepribadian berbagai pihak yang terlibat di dalam dunia pendidikan.
Menurut Sunyoto,15 langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari
plagiarisme, antara lain dengan membuat kutipan langsung, yaitu menyalin
persis suatu kalimat, frase, atau sebagian teks secara langsung disertai tanda petik.
Selain itu, tindakan pencegahan plagiarisme dapat dilakukan dengan membuat
parafrase, yaitu menuliskan kembali referensi yang telah dibaca dengan
interpretasi sendiri, namun, inti tulisan harus tetap sama disertai pencantuman
nama pemilik ide. Pencantuman nama pemilik ide dapat dilakukan dengan
berbagai cara, seperti menulis nama lengkap, tahun penulisan, penyertaan tautan,
dan sebagainya sesuai dengan standar sitasi yang digunakan. Terakhir, perlu
dilakukan pembuatan daftar pustaka yang baik dan benar.
Penyebab Pelanggaran Kejujuran dan Integritas Akademik
Berbagai alasan dapat dikemukakan sebagai dasar dilakukannya
ketidakjujuran akademik. Kistilensa7 menjabarkan tiga alasan dilakukannya
ketidakjujuran akademik di fakultas kedokteran, berturut-turut dari yang paling
sering, yaitu: panik/takut mendapatkan nilai yang tidak memuaskan, rasa inferior
(merasa tidak mampu mengerjakan sendiri), dan penyangkalan atas tanggung
jawab untuk belajar (merasa tidak mempunyai waktu cukup dalam belajar). Hal
tersebut sebenarnya timbul akibat semakin meluasnya mentalitas dan budaya
pragmatis pada mahasiswa. Proses pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan
hasil dibandingkan proses sehingga menyebabkan timbulnya mentalitas tersebut. 16
Sikap lain yang sering mengarahkan individu pada ketidakjujuran akademik adalah
prokrastinasi atau menunda-nunda pekerjaan sehingga sebagian besar pekerjaan
dilakukan setelah mendekati tenggat waktu (deadline) dan dalam keadaan terburuburu. Dengan demikian, selain hasilnya tidak optimal, seseorang cenderung
mencari jalan pintas untuk mengerjakan secepat-cepatnya. Sementara itu, bentuk
ketidakjujuran fasilitasi sering terkait dengan individu yang berada dalam tekanan
atau posisi yang tidak menguntungkan, misalnya seseorang terpaksa memberikan
contekan karena diancam oleh orang lain atau oleh teman dekat sehingga sulit
untuk menolak permintaan tersebut. Keadaan itu menempatkan orang tersebut
dalam posisi yang dilematis, antara membela nilai kejujuran atau nilai kesejawatan
46
(solidaritas). Seringkali dalam prosesnya, orang tersebut bisa dibenci atau dijauhi.
Dilema tersebut tidak perlu terjadi apabila setiap individu mampu menjaga
integritas dirinya masing-masing. Seseorang yang dalam pengalamannya pernah
bersikap tidak jujur, dalam kesempatan berikutnya sangat mungkin untuk
mengulang ketidakjujuran yang sama. Banyak orang bahkan menjadi arogan dan
mengganggap tindakan tidak jujur sebagai tantangan sehingga dengan
melakukannya, mereka mendapatkan suatu dukungan sosial, misalnya dengan
dianggap sebagai pahlawan atau pemberani. 7 Predikat seperti itu benar-benar salah
dan dapat menyebabkan ketidakjujuran semakin berkembang. Akibat dari
ketidakjujuran tersebut sungguh fatal di kemudian hari.
Akibat Ketidakjujuran Akademik
Ketidakjujuran akademik dapat berdampak luas, misalnya mahasiswa
yang menyontek mendapatkan nilai yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang
telah belajar tekun dan mempersiapkan diri dengan baik. Contoh lain, mahasiswa
yang kerap membolos dan menitipkan absen pada temannya, tetapi tidak
mengalami masalah apapun dalam kegiatan akademik, padahal mahasiswa yang
teratur datang sering menjadi sasaran amarah apabila hal tersebut diketahui.
Tampak bahwa kondisi tersebut mendukung terciptanya mentalitas pragmatis,
yaitu mahasiswa mengambil keuntungan dari berbuat tidak jujur. Mahasiswa yang
telah berusaha dengan jujur dan bekerja keras dapat menjadi kecewa. Lebih lanjut
lagi, mentalitas pragmatis tersebut dapat menular sehingga mahasiswa yang
tadinya jujur dapat menjadi pribadi yang turut melakukan ketidakjujuran akademik.
Hal itu diperparah oleh kondisi ketika pihak yang melakukan ketidakjujuran dapat
lolos begitu saja dan tetap mendapatkan keuntungan yang tidak selayaknya. 17
Apabila dianalogikan, hal ini sama seperti orang yang melanggar busway (jalur bus
Transjakarta) dan menjadi lebih cepat mencapai tujuannya dibandingkan orang
yang menaati larangan tersebut. Ketika terlihat bahwa pelanggar tersebut dapat
mencapai tujuannya lebih cepat tanpa ditindak tegas oleh siapa pun, orang yang
tadinya taat pun akan tergoda untuk melanggar busway sehingga pada akhirnya
hampir semua orang akan melanggar busway karena mendapatkan keuntungan dari
situ. Efek dari ketidakjujuran tersebut dapat membawa bangsa ini pada kehancuran.
Dari hasil penelitian oleh Harding et al,18 tampak bahwa ketidakjujuran akademik
yang dilakukan dapat menjadi prediktor dilakukannya ketidakjujuran seseorang
dalam menekuni profesinya di kemudian hari.
47
Ketidakjujuran akademik juga menghilangkan nilai sportivitas dan sikap
kesatria, yang saat ini sudah sedemikian merosot. Seiring dengan ketidakjujuran
yang dilakukan, mahasiswa juga semakin tidak sportif untuk mengakui
ketidakjujuran yang telah ia lakukan dan berani menerima konsekuensinya.
Tampak bahwa nilai tanggung jawab menjadi hal yang semakin dipertanyakan
dengan semakin berkembangnya perilaku seperti itu. Kondisi dan pandangan sosial
masyarakat seringkali justru menjerumuskan sehingga bisa dirumuskan sebagai
berikut: “Kita hidup di zaman yang salah, yaitu ketika seseorang berbohong, ia
dapat selamat dan lolos sepenuhnya dari tanggung jawab, sementara ketika ia
bertindak dan berkata jujur, ia dapat dihukum seberat-beratnya”. Hukuman tersebut
belum tentu berupa hukuman dari pihak yang berwenang, tetapi dapat pula berupa
sanksi sosial dari masyarakat yang justru mengucilkan orang-orang yang
berperilaku jujur. Dengan demikian, merupakan hal yang jelas alasan semakin
meningkatnya ketidakpedulian terhadap ketidakjujuran ini di masyarakat.
Pandangan masyarakat kita terhadap sikap kesatria dan sportif sangat terbatas.
Oleh karena itu, harus dilakukan pencegahan terhadap berbagai bentuk
ketidakjujuran akademik agar pribadi bangsa ini tetap terjaga.
Kajian Bioetika Ketidakjujuran Akademik
Bioetika dalam profesi kedokteran mengenai hubungan langsung antara
dokter-pasien memiliki empat hal, yaitu beneficence, non-maleficence, autonomy,
dan justice.19 Kajian bioetika itu dapat diterapkan terkait dengan plagiarisme dan
beberapa bentuk ketidakjujuran akademik. Beneficence adalah sebuah prinsip yang
menggambarkan kemurahan hati, kebaikan, amal, cinta, kemanusiaan, dan
mengutamakan altruisme.20 Ditinjau dari prinsip tersebut, plagiarisme merupakan
tindakan yang bertentangan dan upaya untuk menguntungkan diri sendiri. Selain
itu, plagiarisme tidak mengindahkan kebaikan, amal, dan kemanusiaan. Dari
beneficence kita diajarkan untuk berusaha maksimal dalam berbuat baik. Seseorang
yang menerapkan dan mempertahankan nilai kejujuran akademik secara tidak
langsung telah berbuat baik kepada lingkungan pendidikan. Di dalam beneficence
terdapat prinsip yang dapat diaplikasikan langsung terkait kejujuran akademik,
yaitu prinsip altruisme yang berarti seseorang harus lebih memperhatikan
kesejahteraan atau kebahagiaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. 21 Dengan
menanamkan altruisme di dalam diri masing-masing, setiap pribadi akan berusaha
48
semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya kecurangan akademik yang
merugikan atau merusak kebahagiaan orang lain.
Non-maleficence adalah prinsip untuk tidak melakukan perbuatan yang
memperburuk kondisi orang lain atau menciptakan kerugian bagi orang lain
(pasien), baik melalui tindakan, maupun kelalaian. 22 Plagiarisme ditinjau dari
prinsip ini memiliki nilai yang bertentangan. Tindakan plagiarisme, baik disengaja
maupun tidak disengaja, merupakan tindakan yang merugikan orang lain.
Seseorang memperoleh keuntungan yang sesungguhnya bukan hak miliknya,
melainkan hak milik orang lain.
Autonomyadalah prinsip yang menganut penguasaan terhadap diri sendiri.
Seseorang dianggap memiliki hak untuk mengelola hidupnya sendiri dan membuat
keputusan terhadap dirinya sendiri.23 Dari segi autonomy, seseorang memiliki hak
untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya, demikian juga dalam tindakan untuk
membentuk kepribadian diri. Seseorang dapat memilih untuk melakukan
plagiarisme atau tidak melakukannya (yang disengaja). Seseorang perlu memahami
bahwa prinsip autonomy menjunjung tinggi hak perorangan, tetapi hak tersebut
perlu digunakan dengan bijaksana dan memperhatikan prinsip etika lainnya dalam
kehidupan.
Justice merupakan prinsip keadilan yang menjunjung tinggi tindakan
yang dapat memberikan nilai adil bagi orang yang terlibat.23 Prinsip ini
memberlakukan segala sesuatu secara universal dan menghargai hak orang lain.22
Dari sisi ini, tindakan plagiarisme dapat dinilai sebagai pelanggaran atas prinsip
keadilan. Setiap orang memiliki kewajiban menghormati dan menghargai orang
lain, demikian pula dengan hasil karya orang lain. Tindakan plagiarisme tidak
menghargai hasil karya orang lain, dengan tidak memberikan apa yang seharusnya
diberikan pada orang lain. Tindakan tersebut menimbulkan kerugian baik materi
maupun nonmateri dan ketidakadilan bagi orang lain.
Plagiarisme dari Sudut Pandang Etika
Dalam keseharian, seseorang selalu berhadapan dengan suatu tindakan
yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Magee24 mengatakan, ”... dan
sering kali kita sungguh mudah untuk berbuat kekeliruan, namun, tidak mungkin
untuk benar-benar pasti bahwa kita benar, dan dalam hal ini, kritik merupakan agen
kemajuan.” Salah satu sudut pandang yang paling sering digunakan adalah etika.
49
Bertens25 menjabarkan etika dalam beberapa arti, yaitu 1) pegangan bertingkah
laku individu atau kelompok terkait nilai dan norma moral yang ada, 2) kode etik
yang merupakan kumpulan asas dan nilai moral, dan 3) sebagai “filsafat moral”
dalam menentukan suatu hal adalah baik atau buruk.
Terdapat berbagai teori etika dalam kehidupan sehari-hari. Bertens25
membagi menjadi dua yaitu teori etika kewajibandan etika keutamaan. Dalam
pustaka lainnya, Keraf26 mengategorikan tiga teori etika untuk bertindak dalam
situasi konkret, yaitu deontologi, teleologi, dan etika keutamaan.Etika kewajiban
dan etika deontologi memiliki dasar yang sama, yaitu kewajiban berdasarkan
norma dan prinsip moral yang berlaku. 25,26
Etika deontologi. Kata „deon‟ diambil dari kata Yunani yang berarti
kewajiban. Sesuatu dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai
atau tidak dengan kewajiban. Dengan kata lain, suatu tindakan dianggap baik
karena tindakan itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Akibat suatu
tindakan tidak diperhitungkan untuk menentukan kualitas moral suatu tindakan.
Sebagai contoh, plagiarisme dalam lingkup yang kecil dan tidak menimbulkan
dampak yang besar, tetap dinilai sebagai hal yang buruk. Keraf26 menyatakan,
“Immanuel Kant menolak akibat suatu tindakan sebagai dasar untuk menilai
tindakan tersebut karena akibat tadi tidak menjamin universalitas dan konsistensi
dalam bertindak dan menilai suatu tindakan.” Etika deontologi sangat menekankan
motivasi awal, kemauan baik, serta watak yang kuat untuk bertindak sesuai dengan
kewajiban.25-27
Etika teleologi. Kata „telos‟ diambil dari kata Yunani yang berarti tujuan.
Teori etika teleologi meninjau baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan
atau akibat dari suatu tindakan. Suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan baik
dan mendatangkan akibat baik. Etika teleologi mengajarkan untuk memilih
tindakan yang membawa akibat baik sebagai panduan dalam bertindak. Hal
tersebut membuat etika teleologi lebih bersifat situasional dan subjektif.
Permasalahan yang timbul adalah untuk siapa tujuan yang baik itu; untuk satu
pribadi, untuk pihak yang mengambil keputusan dan yang melaksanakan
keputusan, atau bagi orang lain. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, etika
teleologi digolongkan menjadi dua, yaitu egoisme etis dan utilitarianisme.26,27
Berdasarkan egoisme etis, suatu tindakan dinilai baik apabila berdampak baik bagi
pelakunya. Walaupun bersifat egois, tindakan tersebut dapat dinilai baik secara
moral karena setiap orang dibenarkan untuk mengejar kebahagian bagi dirinya. 26,27
50
Sementara itu, utilitarianismemeninjau baik buruknya tindakan berdasarkan
dampaknya bagi khalayak ramai.26,27 Pelaku plagiarisme melanggar kedua nilai
etika itu karena membohongi diri sendiri dan publik. Walaupun demikian, ada
kemungkinan pelaku melakukannya secara tidak sadar atau tidak sengaja.
Etika keutamaan. Etika ini menjunjung pengembangan karakter moral
pada diri setiap orang dengan mencontoh tokoh besar dalam suatu masyarakat
untuk memecahkan persoalan. Keraf26 menggambarkan etika keutamaan sebagai
nilai moral yang muncul dalam bentuk teladan moral yang nyata dipraktikkan oleh
tokoh tertentu, bukan dalam bentuk adanya aturan berupa larangan dan perintah.
Nilai keutamaaan moral yang umum dimasyarakat, seperti kesetiaan, rasa percaya,
kejujuran, ketulusan, toleransi, jiwa mau berkorban, serta kasih sayang diharapkan
akan muncul dengan contoh dari seorang tokoh. Berdasarkan teori ini, seseorang
dinyatakan bermoral tidak hanya dilihat dari satu tindakan saja, tetapi juga ditinjau
dari rangkaian tindakan yang telah dilakukan sebelumnya. 25-27 Tindakan
plagiarisme merupakan pelanggaran berdasarkan teori etika ini karena para tokoh
kedokteran sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran.
Pertanyaan umum yang sering timbul adalah “Bagaimana jika
pelanggaran etika dilakukan secara tidak sadar?” Dalam menelaah apakah
seseorangmelakukan tindakan plagiarisme atau tidak, harus dilihat siapa
subjek/pelaku yang melakukan hal tersebut. Jika seorang mahasiswa yang
melakukan tindakan tersebut, dapat dikatakan bahwa ia melakukan tindakan yang
tidak benar karenadalam pendidikannya ia diberikan pengetahuan mengenai
plagiarisme dan kewajiban dalam mengutip.
Hal di atas menimbulkan pertanyaan baru, “Apakah seorang yang
melakukan plagiarisme untuk program doktoral sama bersalahnya dengan seorang
mahasiswa yang melakukan plagiarisme dalam koran kampus?” Untuk menilai
besarnya kesalahan dalam tindakan yang tidak etis, harus dilihat subjek/pelaku,
predikat/tindakan, objek, dan keterangan (waktu dan tempat) yang dinilai
berdasarkan harapan dan akibat dari tindakan tersebut. Dari segi pelaku, tentu
berbeda hukuman seorang pelajar dengan seorang dosen karena pengetahuan dan
kesadaran dari seseorang yang lebih dewasa dan berpendidikan diharapkan lebih
tinggi. Dari segi predikat/tindakan, jelas berbeda antara membunuh dan
memplagiat karya seseorang. Dari segi objek hukuman, plagiat sebuah kalimat
dibandingkan plagiat seluruh tulisan tentu berbeda. Sementara, ditinjau dari
keterangan (misalnya tempat), plagiat karya dalam sebuah perlombaan
51
dibandingkan dalam diskusi kelompok kecil juga berbeda. Semua yang membuat
perbedaan dari hal tersebut sebenarnya adalah harapan dan akibat yang terjadi.
Terkait etika praktis, Soeparto et al28 menyatakan poin penting yang harus
diperhatikan dalam penyusunan tugas akademik,antara lain:
1. “Seorang insan akademik dilarang mengakui hasil karya orang lain sebagai
hasil karya pribadinya sendiri (plagiat) ataupun memalsukan hasil sebuah
penelitian.”28
Pada poin di atas, terdapat dua unsur yang menjadi perhatian utama, yaitu
peniru dan yang ditiru. Si peniru telah melanggar beneficence, sebab ia tidak
berbuat baik dan juga membodohi dirinya sendiri. Selain itu,prinsip nonmaleficence juga dilanggar karena peniru merugikan pihak yang ditiru dengan
mengambil hasil karya orang lain dan mengakuinya sebagai hasil karya
sendiri. Prinsip justice juga dilanggar. Apabila si peniru berada dalam posisi
sebagai pembuat asli karya tulis, tentu ia tidak ingin hasil kerja kerasnya
diakui sebagai hasil karya orang lain. Dengan kata lain, si peniru tidak ingin
dirinya dirugikan oleh orang lain, tetapi dirinya sendiri merugikan orang lain
(tidak adil). Pelanggaran kaidah dasar bioetika(KDB) yang paling utama
adalah non-maleficence sebab tindakan plagiarisme jelas merugikan orang
lain.
2. “Seorang insan akademik dilarang membocorkan rahasia kegiatan
akademik, seperti penemuan atau hasil penelitian yang belum waktunya
untuk diketahui umum.”28
Pelanggaran poin kedua ini terkait dengan KDB beneficence. Sebagai contoh:
suatu institusi meneliti obat baru dan uji coba awal menunjukkan hasil yang
baik. Hasil penemuan tersebut belum dipublikasikan karena obat masih harus
melewati berbagai uji coba lainnya. Apabila hasil tersebut dibocorkan ke
pihak yang memiliki dana untuk memproduksi obat baru tersebut, tindakan
tersebut akan merugikan. Apalagi jika obat dijual di pasaran sebelum
dilakukan uji klinis, dapat timbul efek samping yang belum terdeteksi
(nonmaleficence juga dilanggar). Tindakan tersebut hanya memikirkan
keuntungan diri sendiri dan tidak memiliki niat baik.
3. “Insan akademik dilarang menyesatkan pengetahuan pihak lain atau
menimbulkan kekeliruan presepsi dalam berpikir, meskipun perbuatan itu
berdasarkan alasan yang dianggapnya penting.”28
52
4.
5.
6.
Dalam kehidupan akademik seringkali kita belajar secara berkelompok untuk
memudahkan proses belajar. Contoh sederhana tampak ketika seorang insan
akademik bertanya kepada temannya mengenai teori landasan diagnostik
penyakit H. Karena merasa temannya adalah saingan, ia memberikan
informasi yang salah secara sengaja. Hal itu melanggar etika KDB.
Penyesatan ilmu pengetahuan melanggar prinsip KDB beneficence karena ia
tidak berbuat baik terhadap sesama insan akademik. Dampak fatal jangka
panjang yang dapat terjadi misalnya kesalahan cara diagnosis penyakit H di
kemudian hari yang merupakan pelanggaran KDB non-maleficence secara tak
langsung terhadap pasien sejawatnya.
“Insan akademik dilarang bertindak angkuh dan sewenang-wenang,
melakukan „kolusi‟ akademik dan melakukan tekanan fisik maupun mental
kepada pihak lain.”28
Contoh ekstrem misalnya X mengetahui rahasia A yang memalukan dan X
mengetahui bahwa A tidak ingin hal itu diketahui oleh teman-temannya
karena takut dijauhi. X menggunakan informasi itu sebagai paksaan atau
ancaman kepada A untuk setuju mengerjakan tugas si X (terjadi kolusi
akademik). Tindakan di atas melanggar KDB justice sebab sebenarnya setiap
insan akademik mendapatkan tugas yang sama sesuai dengan kurikulum yang
berlaku. KDB beneficence juga jelas dilanggar sebab tidak ada niat baik sama
sekali dalam perbuatan mengancam. Dalam contoh tersebut, X melakukan
plagiarisme karena mengakui karya A sebagai karyanya sendiri.
“Insan akademik dilarang menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan
kepadanya, melakukan perbuatan curang, dan/atau mengkhianati tugas
akademik dan profesinya.”28
Poin ini memiliki arti yang luas dan semuanya berhubungan dengan
penerapan KDB beneficence dan non-maleficence.
“Insan akademik wajib senantiasa menjaga kelestarian keutuhan keluarga,
keharmonisan dan kesejahteraan keluarga, serta reputasi di masyarakat.”28
Pada akhirnya,dalam usaha manusia untuk mencapai kemajuan dalam
ilmu pengetahuan diperlukan kesinambungan intra- dan antargenerasi. Dalam
pencapaian tersebut, diperlukan sikap intelektual yang disertai dengan kejujuran,
akan tetapi kejujuran yang diharapkan seringkali dinodai oleh tindakan
plagiarisme. Baik plagiarisme tersebut dilakukan secara sengaja maupun tidak
53
disengaja, secara etik dari deontologi, egoisme etis, utilitarianisme, dan etika
keutamaan, hal itu merupakan perbuatan salah. Perlu disadari bahwa dalam proses
belajar, baik dalam keseharian maupun dalam bidang akademik, manusia dapat
melakukan kekhilafan atau kesalahan. Semuanya merupakan proses belajar;
pendidik dapat memberikan hukuman yang sesuai sebagai konsekuensi terhadap
tindakan yang melanggar moral etik. Bagian terpenting dari pendidikan inilah yang
akan membentuk pelajar menjadi seorang manusia yang lebih baik di kemudian
hari.
Daftar Pustaka
1. Integrity [homepage on internet]. Oxford: Oxford dictionaries; c2012
[updated not stated; cited 2012 Jul 22]. Available from:
http://oxforddictionaries.com/definition/english/integrity.
2. Jones LR. Academic integrity & academic dishonesty: a handbook about
cheating & plagiarism. Florida: Florida Institude of Technology; 2011.
3. The Fundamental Values of Academic Integrity [homepage on Internet].
Center for Academic Integrity; c1999 [cited 2012 Jul 23]. Available from:
http://conduct.truman.edu/docs/AcademicIntegrity.pdf.
4. Academic integrity at fisher college: a brief guide. Massachusetts: The Center
of Academic Integrity; c2012 [cited 2012 Jul 21]. Available from:
http://www.fisher.edu/assets/downloads/academics/academic_integrity.pdf.
5. Academic integrity [homepage on the Internet]. Princeton: Office of the Dean
of the College Princeton University; c2005-2011 [updated 2011 Aug; cited
2012 Jul 20]. Available from:
http://www.princeton.edu/pr/pub/integrity/pages/intro/index.htm.
6. Academic integrity and plagiarism [homepage on the Internet]. Illinois:
University of Illinois at Urbana-Champaign; c2012 [cited 2012 Jul 23].
Available from:
http://www.library.uiuc.edu/learn/research/academicintegrity.html.
7. Kistilensa, A. Ketidakjujuran akademis dalam ruang lingkup perguruan tinggi
dan sekolah menengah atas. Universitas Kristen Maranatha. Bandung. 2009.
Available from: http://www.scribd.com/doc/23863771/KetidakjujuranAkademis-dalam-Ruang-Lingkup-Perguruan-Tinggi-dan-Sekolah-MenengahAtas. [cited 2012 Jul 20]
54
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
Academic integrity [homepage on the Internet]. Ottawa: Student Affairs of
Carleton University; c2006-2012 [updated 2008 Jul 1; cited 2012 Jul 20].
Available from: http://www1.carleton.ca/studentaffairs/academic-integrity/.
Academic honesty [homepage on the Internet]. Claremont Graduate
University Student Services; c2012 [cited 2012 Jul 20]. Available from:
http://www.cgu.edu/pages/1132.asp.
Florida Institute of Technology. Academic Honesty [homepage on Internet].
Florida: Florida Institute of Technology; c2012 [cited 2012 Jul 20]. Available
from: http://www.fit.edu/current/documents/plagiarisme.pdf.
Cook, R. Dow, J. Academic integrity a handbook for students. Massachusetts:
Massachusetts Institute of Technology (MIT); 2011.
Sastroasmoro S. Beberapa catatan tentang plagiarisme. Maj Kedokt Indon.
2007;57(8): 239-44.
Academic Honesty Policy and Appeal Procedure [homepage on the Internet].
Massachusetts: Dean of Students Office University of Massachusetts
Amherst; c2008-2011 [updated not stated; cited 2012 Jul 201]. Available
from: http://www.umass.edu/dean_students/codeofconduct/acadhonesty/.
Suryono IAS. Plagiarisme [powerpoint slide]. Available from:
https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:dDukHL9VxzYJ:staff.ui.ac.id/
internal/130536781/material/PLAGIARISMEInter-LingualMA25-408.ppt+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiYBhfmDc_oz_pjHDTqE3v
uGbwDHM_C76lyOPN_w1jnU9ti9nwSpq1xVOpLwZmNt5fxo8ACeJTi1PMJblsTYWopeLyh-tHnD4SqcQHxZIHtTWEcF_tcEX1qr9Z9v2PICUcNE6&sig=AHIEtbTyHfw7AZyDdjytnzWMvlB_oD1NA [cited 2012 Aug 6].
Sunyoto. Menghindari plagiarisme dalam karya tulis [homepage on the
Internet]. Available from:
http://fkm.unsri.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=82:
menghindari-plagiarisme-dalam-karya-tulis&catid=2:berita [cited 2012 Jul 23
Jul].
Sugiantoro H. Kejujuran mahasiswa [online newspaper article]. Suara
Merdeka 2012 Feb 18 [cited 2012 Jul 28]. Available from:
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/18/177507/
Kejujuran-Mahasiswa-.
55
17. Academic integrity [homepage on the Internet]. Princeton: Office of the Dean
of the College Princeton University; c2005-2011 [updated 2011 Aug; cited
2012 Jul 20]. Available from:
http://www.princeton.edu/pr/pub/integrity/pages/intro/index.htm.
18. Harding TS, Carpenter DD, Finelli CJ, Passow HJ. Does academic dishonesty
relate to unethical behavior in professional practice? an exploratory study. Sci
and Eng Eth. 2004; 10(2): 1-14.
19. Martaadisoebrata D. Pengantar ke dunia profesi kedokteran. In: Aisah S,
editor. Komunikasi dengan empati citra profesionalisme kedokteran. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2004.
20. The principle of beneficence in apllied ethics [homepage on the Internet].
c2008 [cited 2012 Aug]. Available from:
http://plato.stanford.edu/entries/principle-beneficence.
21. Medical ethics [homepage on the Internet]. c2012 [cited 2012 Aug
7].Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Medical_ethics#Beneficence.
22. McCormick, Thomas. Principles of bioethics [homepage on the Internet].
c1998 [cited 2012 Aug]. Available from:
http://depts.washington.edu/bioethx/tools/princpl.html#prin2.
23. Rainbow, Catherine. Description of ethical theories and principles [homepage
on the Internet]. Davidson College; c2002 [cited 2012 Aug]. Available from:
http://www.bio.davidson.edu/people/karbernd/indep/carainbow/Theories.htm.
24. Magee B. Memoar seorang filosof: pengembaraan di belantara filsafat.
Jakarta: Mizan; 2006.
25. Bertens K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2011.
26. Keraf AS. Etika lingkungan hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas: 2003.
27. Salam HB. Etika sosial: asas moral dalam kehidupan manusia. Bandung:
Penerbit Rineka Cipta; 1997.
28. Soeparto P, Hariadi R, Koeswadji HH, Daeng BH, Sukanto H, Atmodirono
AH. Etik dan Hukum di bidang kesehatan: etik akademik. Jakarta: Airlangga
University Press; 2006.
56
58
Refleksi Diri sebagai Salah Satu Cara
Pengembangan Kemampuan Mawas Diri dan
Belajar Sepanjang Hayat
Diantha Soemantri
“The hardest conviction to get into the mind of a beginner is that the education
upon which he is engaged is not a college course, not a medical course, but a life
course, for which the work of a few years under teachers is but a preparation”
Sir William Osler (1897)
Pendahuluan
Masalah atau konflik yang timbul dalam praktik kedokteran, salah satunya
dalam bentuk medical error, umumnya terjadi karena kurangnya pengetahuan dan
keterampilan dokter.1 Oleh karena itu, dokter memiliki tanggung jawab untuk terus
mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi
kedokteran. Walaupun tidak semua medical error disebabkan oleh kurang
kompetennya dokter, usaha untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi
dokter akan berkontribusi terhadap turunnya jumlah medical error. Data Institute
of Medicine2 menunjukkan sekitar 98.000 kasus medical error di Amerika Serikat
sebenarnya dapat dicegah.
Tugas dokter untuk senantiasa mengembangkan kemampuannya ini bukan
hanya untuk memenuhi persyaratan badan atau institusi yang berwenang –
misalnya dalam rangka program resertifikasi dokter – namun lebih dari itu.
Penelitian telah membuktikan bahwa dokter harus terlibat dalam apa yang disebut
dengan deliberate practice.3 Ericsson3 menekankan pentingnya keterlibatan dokter
dalam usaha yang secara sengaja ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya (deliberate practice). Tanpa keterlibatan dalam suatu deliberate
practice dan terbiasanya dokter dengan praktik sehari-hari,akan menyebabkan
kemampuan dokter tersebut semakin lama semakin menurun. Misalnya, seorang
dokter dapat dengan mudah mendiagnosis penyakit dengan gejala utama demam
yang mengikuti pola tertentu, namun jika dihadapkan pada pola demam atau
penyakit yang tidak biasa, maka seharusnya kasus tersebut memicu proses
deliberate practice. Dokter tersebut dapat membuka literatur kembali, berdiskusi
59
dengan teman sejawat, bahkan meminta umpan balik dari atasan atau sejawatnya,
untuk mengasah kemampuannya mendiagnosis berbagai jenis kasus klinis, baik
yang lazim maupun yang jarang ditemui, secara tepat.
Sebagai pertanggungjawaban terhadap masyarakat yang dilayaninya dan
juga terhadap dirinya sendiri sebagai seorang profesional, dokter perlu secara
berkesinambungan mempertahankan dan meningkatkan kemampuan dirinya
melalui proses pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Pembelajaran
sepanjang hayat selama seorang dokter berpraktik sebagai dokter merupakan hal
yang tidak dapat ditawar lagi karena beberapa alasan yang telah dijelaskan pada
dua alinea di atas. Selain itu, seperti telah ditekankan oleh Osler 4 bahwa proses
pendidikan di institusi pendidikan dokter hanyalah sebuah persiapan, yang harus
dilanjutkan dengan proses pembelajaran sepanjang hayat pada saat seseorang telah
lulus dari sebuah institusi pendidikan dokter. Agar seorang dokter memiliki
kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, diperlukan
suatu proses untuk memperkenalkan dan melatihkan konsep ini sejak masa
pendidikan sebagai calon dokter. Mahasiswa perlu mengenal konsep mawas diri,
belajar sepanjang hayat, deliberate practice dan refleksi diri, untuk kemudian
secara sadar melatih kemampuan tersebut serta menyadari bahwa pengembangan
kemampuan tersebut seharusnya berjalan bersamaan dengan pengembangan
pengetahuan dan keterampilan bidang kedokteran. Sebuah langkah awal bagi
mahasiswa kedokteran adalah terteranya mawas diri dan pengembangan diri
sebagai salah satu dari sekian kompetensi yang harus dikuasai oleh dokter
Indonesia secara eksplisit dalam dokumen Standar Kompetensi Dokter Indonesia. 5
Salah satu cara untuk menanamkan kemampuan mawas diri dan belajar
sepanjang hayat dalam dunia kedokteran adalah dengan melatih mahasiswa
kedokteran untuk melakukan refleksi diri terhadap proses belajar, pengalaman dan
pencapaiannya. Melalui refleksi diri, seseorang dapat mengetahui kelemahan dan
kekuatan dirinya, dan kemudian menyusun sebuah rencana tindak lanjut yang
sesuai, dengan tujuan utama untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan
kemampuannya. Kemampuan refleksi diri ini nantinya diharapkan akan dibawa
sampai pada praktiknya sehari-hari sebagai seorang dokter. Melalui refleksi diri
seseorang akan dapat menjalankan proses belajar sepanjang hayat, untuk senantiasa
meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya walaupun sudah tidak lagi duduk
di bangku pendidikan formal. Selanjutnya konsep refleksi diri akan dibahas lebih
jauh dalam tulisan ini.
60
Definisi Refleksi Diri
Refleksi diri sesuai definisi Boud dan Keogh, 6 adalah “...a generic term
for those intellectual and affective activities in which individuals engage to explore
their experiences in order to lead to newunderstandings and appreciation”.
Rayment et al7 menekankan bahwa refleksi diri bukan sekedar mendiskusikan
pengalaman yang telah terjadi, namun merupakan analisis kritis terhadap
pengalaman tersebut, meliputi apa yang telah terjadi, mengapa hal tersebut terjadi
dan apa yang dapat dilakukan di masa mendatang untuk mencegah timbulnya hal
serupa.
Konsep refleksi diri dapat diterapkan pada berbagai konteks, mulai dari
pendidikan sampai dunia kerja. Hinett8 menjabarkan bahwa refleksi diri dalam
proses dan pengalaman belajar dapat membantu peserta didik untuk mengetahui
apa yang telah mereka tahu dan pahami, mengidentifikasi apa yang mereka
perlukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap suatu subjek pengetahuan,
memahami pengetahuan baru tersebut dan menetapkan rencana pembelajaran
selanjutnya.
Berdasarkan definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa refleksi diri
dimulai dari adanya pengalaman, baik itu pengalaman kerja, belajar, berorganisasi
dan sebagainya. Pengalaman tersebut kemudian direfleksikan secara aktif, kritis
dan sadar oleh individu yang menjalani pengalaman tersebut. Proses refleksi diri
tidak hanya melibatkan komponen intelektual atau kognitif, tetapi juga komponen
afektif. Hasil refleksi diri ini adalah pemahaman baru yang dapat diterapkan pada
kondisi serupa di masa mendatang.
Komponen Refleksi Diri
Merujuk pada definisi refleksi diri dari Boud & Keogh, 6 terlihat bahwa
refleksi diri melibatkan komponen intelektual (kognitif) dan afektif. Kemampuan
berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang mendasari sebuah refleksi
diri yang baik. Tanpa kemampuan berpikir secara analitik dan kritis, seseorang
akan menghadapi kesulitan untuk menyusun sebuah refleksi diri yang tajam dan
sistematis. Selain kemampuan intelektual untuk berpikir kritis dan sistematis,
komponen afektif juga memegang peranan penting dalam mewujudkan refleksi diri
yang baik.
61
Sikap keterbukaan merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki jika
ingin menghasilkan refleksi diri yang baik, karena proses tersebut akan „memaksa‟
seseorang untuk melihat kembali pengalaman yang mungkin kurang
menyenangkan. Sikap keterbukaan ini juga diperlukan untuk memampukan
individu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah (action plan) yang
mampu laksana. Selain itu, seseorang sebaiknya memiliki rasa ingin tahu yang
cukup besar untuk menggali makna sebuah pengalaman sedalam-dalamnya.
Schon9 dalam bukunya The Reflective Practitioners: how professionals
think in action membedakan dua proses refleksi diri. Pertama adalah reflection-inaction, dimana individu melakukan refleksi diri terhadap suatu pengalaman atau
kejadian pada saat kejadian tersebut masih atau sedang berlangsung. Sedangkan,
yang kedua yaitu reflection-on-action adalah proses refleksi diri yang dilakukan
setelah suatu kejadian berlangsung. Kedua bentuk refleksi diri ini penting dan
saling berhubungan. Kebiasaan melakukan reflection-on-action terhadap suatu
pengalaman atau kejadian yang signifikan akan memampukan individu melakukan
refleksi diri pada saat masalah masih berlangsung, sehingga masalah tersebut dapat
ditangani saat itu juga.
Seperti pada contoh yang telah disajikan pada bagian pendahuluan,
seorang dokter yang menemui kesulitan karena kasus yang dihadapinya memiliki
gejala dan tanda yang tidak mengikuti pola yang seharusnya, maka sebaiknya
setelah menghadapi kasus ini, dokter tersebut dapat melakukan reflection-onaction. Reflection-on-action ini berguna untuk menyelami apa yang telah terjadi,
mengidentifikasi mengapa kasus tersebut tidak mudah untuk didiagnosis, apa
pengetahuan dan keterampilan yang kurang dikuasai, dst. Setelah reflection-onaction dilakukan, akan terbentuk pemahaman atau pola pikir baru pada dokter
tersebut. Jika kemudian dihadapkan pada kasus serupa, dokter dapat langsung
melakukan reflection-in-action pada saat itu juga dan menerapkan pola pikir baru
yang telah dihasilkan melalui proses reflection-on-action. Pentingnya keberadaan
reflective practitioners ini seringkali dikaitkan dengan keharusan mengedepankan
konsep dan prinsip patient safety dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari.10
Skema Refleksi Diri
Berbagai penulis telah menyusun skema atau tahap untuk membantu
individu melakukan sebuah refleksi diri. Berbagai skema tersebut akan dijelaskan
62
pada bagian di bawah ini, namun secara umum, skema-skema tersebut
dikembangkan berdasarkan proses dasar refleksi diri yang berusaha menjawab 3
komponen pertanyaan Boud et al11 seperti tersaji pada Gambar 1.
What
happened?
How did it
happen?
What have
you
learned
and what
changed?
Gambar 1. Tahap refleksi diri 11
Komponen pertama berhubungan dengan deskripsi pengalaman atau
kejadian yang hendak direfleksikan. Pengalaman perlu dijabarkan secara mendetil,
deskriptif dan sistematis, tanpa melupakan perasaan yang terlibat pada saat
menjalani pengalaman tersebut. Umumnya pengalaman atau kejadian yang
direfleksikan adalah sesuatu yang kompleks dan memiliki makna signifikan atau
kesan mendalam bagi individu tersebut. Dengan demikian, menjabarkan perasaan
yang dialami menjadi satu butir refleksi diri yang penting.
Pada tahap berikutnya individu mencoba mengeksplorasi pengalaman
tersebut untuk mencari tahu penyebab yang paling mungkin. Tanpa deskripsi
pengalaman yang detil dan sistematis, seseorang akan sulit untuk sampai pada
eksplorasi pengalaman yang cukup mendalam. Proses selanjutnya adalah menarik
kesimpulan mengenai apa yang telah dipelajari (lessons learned) dan apa yang
masih perlu dipelajari (learning issues/needs). Selain itu, pada tahap terakhir ini,
individu seharusnya telah memperoleh pemahaman baru berdasarkan eksplorasi
terhadap pengalamannya, dan juga siap mengimplementasi rencana tindak lanjut
(action plan) yang bermanfaat untuk memenuhi learning needs yang telah
diidentifikasi.
Raw et al12 menyusun skema refleksi diri yang dimulai dengan
membangkitkan kesadaran, melalui proses menanyakan kepada diri sendiri, apakah
kejadian yang terjadi ini sudah tepat, atau mungkin saya dapat melakukannya
dengan lebih baik. Setelah itu proses dilanjutkan dengan analisis kritis terhadap
situasi atau pengalaman tersebut yang pada akhirnya menghasilkan perspektif baru
63
terhadap sebuah kejadian. Rayment et al7 juga mengembangkan sebuah panduan
untuk mendukung refleksi diri yang dinamakan IDEA. Panduan itu terdiri atas
empat komponen, sebagai berikut:
1.
I – Identifikasi kejadian atau situasi yang telah menimbulkan perasaan atau
pikiran kurang nyaman
2.
D – Deskripsi situasi atau kejadian tersebut
- Apa yang terjadi?
- Siapa yang terlibat?
- Apa yang diharapkan pada saat itu?
- dst
3.
E – Evaluasi situasi atau kejadian tersebut
- Apa perasaan dan pikiran yang terlibat pada saat itu?
- Apa yang dirasakan dan dipikirkan setelahnya?
- Mengapa perasaan dan pikiran tersebut muncul?
- Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ini?
- dst
4.
A – Analisis isu pembelajaran yang muncul
- Apakah yang sudah saya pelajari dari kejadian tersebut?
- Apakah yang belum saya ketahui?
- Apakah yang harus saya lakukan selanjutnya?
- Rencana tindak lanjut seperti apa yang sesuai?
- dst
Salah satu skema yang juga cukup menarik dan bermanfaat untuk
membimbing proses refleksi diri adalah self-regulated learning microanalytic
assessment and training (SRL-MAT).13 Skema itu pertama kali ditujukan untuk
membantu staf pengajar menstimulasi proses refleksi diri peserta didik, khususnya
dalam konteks pendidikan dokter. Skema tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh
peserta didik itu sendiri dalam tahap-tahap proses refleksi dirinya. Pertanyaan
dalam SRL-MAT dapat digunakan untuk membantu individu mengetahui
penyebab suatu kejadian, kekurangan dan kelemahan individu tersebut, dan apa
64
yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesenjangan pengetahuan dan
keterampilan yang ada. Berikut ini disajikan beberapa contoh pertanyaan dalam
skema SRL-MAT:13
- Apakah pendekatan yang anda gunakan sejauh ini sudah sesuai?
- Apakah anda merasa melakukan kesalahan yang spesifik?
- Apa yang menjadi alasan utama kesuksesan atau kegagalan anda?
- Apakah yang harus anda lakukan untuk meraih kesuksesan di masa
mendatang?
Pada uraian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa refleksi diri merupakan
perilaku aktif dan sadar untuk mengeksplorasi pengalaman lalu dalam rangka
memperoleh perspektif baru. Refleksi diri seharusnya tidak terjadi hanya di dalam
pikiran seseorang, namun perlu dituangkan menjadi suatu bentuk yang sifatnya
nyata. Dalam konteks pendidikan dokter khususnya, refleksi diri seharusnya
menjadi sebuah kegiatan formal yang menghasilkan „bukti‟ refleksi diri dalam
bentuk seperti critical incident journal, learning log, learning portfolio, reflective
diary dan lain sebagainya.9 Selain dalam bentuk tertulis, refleksi diri juga dapat
terjadi dalam proses reflective discussion atau dialog reflektif yang dapat
berlangsung antara peserta didik dengan staf pendidik/pengajar, maupun antara
sesama peserta didik (peer reflective discussion). Skema refleksi diri yang
diterapkan dalam reflective discussion tidak berbeda dengan yang digunakan untuk
refleksi diri tertulis. Saat ini penelitian dalam bidang pendidikan kedokteran
memang umumnya memiliki fokus terhadap refleksi diri yang diungkapkan
melalui tulisan atau dialog reflektif, namun sebenarnya tidak tertutup kemungkinan
bahwa di kemudian hari dapat dikembangkan refleksi diri yang diekspresikan
melalui video, gambar dan berbagai media komunikasi lain.
Refleksi diri dalam dunia pendidikan merupakan salah satu aktivitas
akademis. Walaupun salah satu isi dalam refleksi diri adalah deskripsi pengalaman
pribadi, refleksi diri tertulis (dalam bentuk naskah refleksi diri) perlu disusun
dengan tetap memperhatikan berbagai aspek akademik, antara lain kejujuran,
orisinalitas, akurasi data yang disampaikan serta penggunaan bahasa yang benar.
Naskah refleksi diri sebaiknya disusun setelah melalui proses refleksi diri yang
sebenarnya, bukan karena sekedar ingin menghasilkan sebuah tulisan yang bagus.
Selain itu, refleksi diri adalah buah pemikiran pribadi seseorang, sehingga
walaupun pengalaman yang direfleksikan sama, naskah refleksi diri yang
65
dihasilkan seharusnya tidak sama antara dua orang atau lebih yang menjalani
pengalaman tersebut. Setiap individu tentunya memiliki perspektif, lessons
learned, learning issues dan action plan masing-masing.
Tips: Langkah-Langkah Melakukan Refleksi Diri
1. Pilih satu pengalaman, kejadian atau insiden yang bermakna (sertakan bukti
yang mendukung pengalaman tersebut, misalnya makalah, kuesioner, nilai
ujian, dsb)
2. Eksplorasi pengalaman/kejadian/insiden tersebut menggunakan salah satu
dari berbagai kerangka yang ada, misalnya kerangka dari Boud, Keogh &
Walker (1996), atau Rayment, Wale & Hicks (2011), dsb.
3. Cari konfirmasi dari sumber lain (guru, teman, literatur, dsb) yang akan
meningkatkan/mendukung akurasi anda dalam melakukan refleksi diri
4. Jika memungkinkan, akan lebih baik lagi apabila naskah refleksi diri
kemudian didiskusikan dengan pembimbing untuk memperoleh umpan balik
yang konstruktif
Manfaat Melakukan Refleksi Diri
Secara implisit, melalui serangkaian uraian di atas telah dinyatakan
manfaat refleksi diri. Refleksi diri ditujukan untuk membantu seseorang dalam
mengeksplorasi pengalamannya sehingga dapat diperoleh pemahaman dan
perspektif baru. Pengalaman dapat menjadi sumber pembelajaran yang sangat kaya
apabila telah diterapkan proses refleksi diri yang tepat terhadap pengalaman
tersebut. Refleksi diri juga melatih kemampuan berpikir kritis, analitik dan
sistematis. Tanpa deskripsi pengalaman yang sistematis, sulit bagi individu untuk
mengeksplorasi pengalaman tersebut secara kritis. Tanpa eksplorasi pengalaman
atau kejadian yang sistematis dan kritis, tidak dapat diperoleh lessons learned dan
learning needs yang bermakna, dan selanjutnya tidak dapat diformulasikan suatu
rencana tindak lanjut yang sistematis dan spesifik.
Manfaat lain refleksi diri adalah melatih sikap keterbukaan dan mawas
diri. Melalui kebiasaan melakukan refleksi diri, individu diharapkan menjadi lebih
mawas diri dan mampu menilai dirinya sendiri dengan lebih baik. Kruger &
Dunning14 menyatakan bahwa secara umum, seseorang tidak dapat melakukan
penilaian terhadap dirinya sendiri secara cukup akurat. Seseorang yang pandai
cenderung akan menilai dirinya sendiri lebih rendah, sedangkan seseorang yang
66
kurang pintar akan merasa dirinya lebih baik jika dibandingkan dengan kenyataan
sebenarnya. Kenyataan ini perlu menjadi perhatian penting dalam proses refleksi
diri. Refleksi diri memerlukan bukti eksternal atau dukungan dari pihak lain, 15
artinya dalam melakukan refleksi diri, seseorang perlu mencari masukan atau
konfirmasi dari sumber lain, misalnya berupa sumber bacaan (literatur) tertentu,
data objektif, atau dalam bentuk umpan balik dari tutor, teman sejawat, pasien, dan
lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan akurasi hasil refleksi diri.
Dalam konteks pendidikan dokter, refleksi diri diharapkan dapat melatih
kemampuan mahasiswa kedokteran dalam mengenali kelemahan dan kekuatan
dirinya, mengidentifikasi isu pembelajaran yang harus dikuasai lebih jauh serta
menyusun rencana pembelajaran yang spesifik, sistematis dan mampu laksana.
Kemampuan ini diharapkan dapat dipraktikkan pada saat telah menjadi dokter,
khususnya pada saat menghadapi kasus atau masalah yang sulit dan kompleks.
Dokter diharapkan dapat menyusun rencana pengembangan diri yang sesuai
dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut seharusnya dapat diidentifikasi melalui
refleksi diri yang kritis dan akurat. Proses refleksi diri dalam masa pendidikan
menjadikan seorang peserta didik sebagai reflective learner dan pada saat telah
menjalani dunia profesional, dia akan menjadi seorang reflective practitioner.
Faktor-faktor yang Dapat Menghambat Refleksi Diri
Refleksi diri bukanlah sebuah proses yang bebas hambatan. Penelitian Pee
et al16 serta Platzer et al17 berhasil mengidentifikasi beberapa faktor yang menjadi
penghambat dilakukannya refleksi diri yang akurat. Faktor penghambat tersebut
dapat bersifat internal maupun eksternal dari individu yang sedang melakukan
refleksi diri. Kurangnya pengetahuan mengenai konsep dan proses refleksi diri
menjadi salah satu faktor. Tidak pahamnya peserta didik mengenai manfaat yang
dapat diperoleh melalui refleksi diri menjadi salah satu penyebab kurangnya
komitmen peserta didik dalam melakukan refleksi diri. Komponen afektif juga
dapat menjadi penghambat refleksi diri. Seorang peserta didik dapat saja merasa
tidak nyaman untuk merefleksikan pengalamannya, karena jika refleksi diri
dilakukan dengan tepat, maka kekurangannya akan terekspos. Lebih jauh lagi jika
refleksi dilakukan dalam konteks reflective discussion, keberadaan orang lain, baik
itu tutor maupun teman, dapat menjadikan seseorang semakin menutup diri.
Kurangnya waktu untuk melakukan refleksi diri juga menjadi salah satu
penyebab. Beban tugas atau pekerjaan lain dapat menyebabkan seseorang merasa
67
bahwa refleksi diri adalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Oleh karena itu,
khususnya dalam konteks pendidikan dokter, ada baiknya jika refleksi diri
dijadikan salah satu kegiatan pembelajaran yang terstruktur dan menjadi bagian
dari kurikulum. Pengaturan seperti ini diharapkan dapat membuat, baik staf
pengajar maupun mahasiswa, paham mengenai kepentingan refleksi diri. Jika
institusi dan pengelola pendidikan dokter menekankan pentingnya refleksi diri,
maka perlahan-lahan akan terbentuk kultur dan sistem pendidikan yang
membiasakan seseorang untuk merefleksikan pengalaman dan kejadian yang
signifikan secara kritis agar diperoleh pengetahuan dan perspektif baru. Proses
refleksi diri ini tidak terbatas pada peserta didik, namun harus diterapkan juga oleh
staf pengajar, misalnya dalam merefleksikan pengalaman mengajar, ataupun oleh
pimpinan unit pendidikan, misalnya dalam melihat kembali kemampuan
kepemimpinannya.
Pengelola pendidikan perlu menyusun sebuah sistem sedemikian rupa
untuk membantu mahasiswanya melatih kemampuan refleksi dirinya dan
meminimalisasi faktor-faktor penghambat yang mungkin muncul. Beberapa hal
yang dapat dilakukan adalah melengkapi staf pengajar dengan pengetahuan dan
kemampuan untuk melakukan refleksi diri, sekaligus kemampuan untuk
memberikan umpan balik konstruktif terhadap refleksi diri mahasiswa. Mahasiswa
harus memperoleh panduan yang memadai dan memahami aturan main dalam
pelaksanaan proses refleksi diri. Uraian hak dan kewajiban yang jelas sangat
penting agar refleksi diri memberikan manfaat baik untuk mahasiswa maupun
pengelola pendidikan. Selain itu mahasiswa juga harus memiliki keyakinan bahwa
naskah refleksi diri mereka tidak akan jatuh ke tangan yang tidak berhak dan
disalahgunakan. Hal tersebut diharapkan akan membuat mereka lebih leluasa
dalam merefleksikan suatu pengalaman atau kejadian.
Simpulan
Refleksi diri merupakan bagian dari pengembangan kemampuan mawas
diri dan belajar sepanjang hayat. Refleksi diri merupakan sebuah keterampilan
yang harus dilatihkan. Staf pengajar maupun peserta didik perlu terlibat dalam
proses refleksi diri yang berkelanjutan. Komitmen dan pemahaman mengenai
manfaat refleksi diri menjadi titik awal penting untuk keberhasilan penerapan
refleksi diri, khususnya dalam konteks pendidikan dokter. Keberhasilan menjadi
68
seorang calon dokter yang reflektif diharapkan dapat dibawa terus sampai pada
dunia pekerjaan dan menjadi seorang dokter atau praktisi yang reflektif.
Daftar Pustaka
1. Kato H. Maintaining safety management in the field of surgery. Nihon Geka
Gakkai Zasshi.2002;103(3):314-7.
2. Institute of Medicine. To err is human: building a safer health system.
Washington DC:The National Academies Press;1999.
3. Ericsson KA. Deliberate practice and the acquisition and maintenance of
expert performance in medicine and related domains. Academic Medicine.
2004;79(10):S70-82.
4. Osler S. Evolution of modern medicine.New Heaven: Yale University Press;
1921.
5. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar kompetensi dokter indonesia. Jakarta:
Konsil Kedokteran Indonesia;2006.
6. Boud D, Keogh R.Reflection: turning experience into learning. London:
Kogan; 1985.
7. Rayment C, Hicks F, Wale J. On behalf of SAC in palliative medicine:
guidance notes for trainee and trainer in palliative medicine for the record of
reflective practice. London:Joint Royal Colleges of Physicians Training
Board; 2011.
8. Hinett K. Developing reflective practice in legal education. Warwick:
Warwick Printing Company Ltd; 2002.
9. Schon DA. The reflective practitioner: how professionals think in action.
New York: Basic Books Inc;1991.
10. World Health Organization. WHO patient safety curriculum guide for
medical schools. Geneva: WHO Press; 2009.
11. Boud D, Keogh R,Walker D.Reflection: turning experience into learning.
London: Kogan Page; 1996.
12. Raw J, Brigden D, Gupta R. Reflective diaries in medical practices.
Reflective Practice. 2005;6(1):165-9.
13. Artino AR, Cleary TJ, Durning SJ, Hemmer P, Kokotailo P, Sandars J.
Perspective: viewing “strugglers” through a different lens: how a self-
69
14.
15.
16.
17.
70
regulated learning perspective can help medical educators with assessment
and remediation. Academic Medicine.2011;86:488-95.
Dunning D, Kruger J. Unskilled and unaware of it: how difficulties in
recognizing one's own incompetence lead to inflated self-assessments. Journal
of Personality and Social Psychology. 1999;77: 1121-34.
Thompson N, Thompson S. The critically reflective practitioner.New York:
Palgrave Macmillan; 2008.
Pee B, Davenport ES, Fry H, Woodman T. Practice-based learning: views on
the development of a reflective learning tool. Medical Education.
2000;34:754-61.
Platzer H, Ashford D, Blake D. Barriers to learning from reflection: a study
of the use of group work with post-registration nurses. Journal of Advanced
Nursing. 2000;31(5):1001-8.
72
Naskah Refleksi Diri
Anton Dharma Saputra
Saat saya menjalani pendidikan di FKUI, pengalaman yang paling
berkesan adalah ketika menjalani kepaniteraan modul geriatri. Pengalaman tersebut
meyakinkan saya akan pentingnya komunikasi efektif untuk mendapatkan rasa
percaya pasien sehingga mau terbuka kepada dokternya.
Saat itu, saya mendapat pasien perempuan berusia 72 tahun dengan
keluhan utama muntah darah berwarna merah kehitaman. Pasien geriatri memiliki
banyak masalah sehingga perlu dilakukan pemeriksaan fisik, status mental dan
fungsional secara teliti yang dilanjutkan dengan pendekatan secara holistik untuk
mencapai kesehatan optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan rasa
percaya agar pasien mau menceritakan masalahnya dan bersedia diperiksa.
Saat pertama kali bertemu, pasien tidak mau bercerita banyak. Setiap
pertanyaan yang saya ajukan hanya dijawab seadanya. Bahkan setelah beberapa
pertanyaan pasien berkata “Maaf dok, saya sudah diperiksa sama dokter yang
perempuan, kok diperiksa lagi?” Saya pun langsung menyadari bahwa pendekatan
saya salah karena dari awal hanya menanyakan data yang saya butuhkan dan bukan
membuat pendekatan sesuai kebutuhan pasien. Hal tersebut mengingatkan saya
saat ujian pasien di modul psikiatri. Saat itu saya mendapat teguran karena terlalu
banyak menanyakan data anamnesis yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis
tanpa memberikan kesempatan pada pasien untuk berbicara. Selain itu saya juga
merasa pasien psikiatri yang memiliki pekerjaan seorang apoteker tersebut menilai
saya kurang pintar, karena pengetahuan saya mengenai obat psikotropika di bawah
pasien. Setelah mendapatkan teguran, saya menanyakan dalam hati apakah teguran
yang disampaikan oleh konsulen itu benar? Saya mencoba melihat kembali
kemampuan saya dalam berkomunikasi menggunakan bantuan teman yang sudah
saya kenal sejak SMA. Setelah mengobservasi saat saya melakukan anamnesis
pada pasien psikiatri di bangsal, teman saya mengatakan bahwa saya berbicara
terlalu cepat sehingga menyebabkan pasien tidak sempat untuk bertanya. Selain itu
dalam menganamnesis saya juga kurang melakukan refleksi perasaan dan refleksi
isi. Saya melihat bahwa kemampuan saya dalam berkomunikasi masih kurang dan
saya menyadari bahwa saya harus belajar lebih jauh dalam berkomunikasi.
73
Saya pun mulai membaca buku-buku mengenai komunikasi tulisan
psikolog Dale Carnegie. Dari buku tersebut saya mempelajari bahwa dasar
komunikasi adalah mendengarkan, sehingga saya menyadari bahwa komunikasi
yang baik haruslah bersifat dua arah. Saya harus mulai belajar untuk
mendengarkan aktif terhadap masalah pasien dan berusaha membantu semampu
saya. Pelajaran penting lainnya adalah kadang-kadang terdapat pasien yang
berpendidikan lebih tinggi/sama dengan kita, sehingga sejak saat itu saya selalu
mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan pasien.
Belajar dari pengalaman tersebut, saya jelaskan kepada pasien geriatri
tersebut bahwa dokter perempuan yang ditemui sebelumnya adalah dokter residen,
sedangkan saya adalah dokter muda yang dalam masa pendidikan dan
pengetahuannya masih kurang jika dibandingkan dengan dokter residen. Akhirnya
dengan modal dasar kejujuran saya berhasil membina hubungan dengan pasien.
Pasien geriatri ini memiliki latar belakang pendidikan bidan, sehingga pertanyaan
yang diajukan sekitar keluhan penyakit yang dideritanya yaitu sirosis hepatis.
Setelah berhasil membina hubungan, pasien menjadi terbuka sehingga mau
menyampaikan masalah keluarga.
Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan daftar masalah
penyakit sirosis hepatis, pneumonia, katarak dan depresi. Penyakit itu juga
menimbulkan komplikasi berupa hematemesis melena, ensefalopati, asites, anemia
dan sepsis yang menyebabkan malnutrisi, depresi, dan bergantung pada pelaku
rawat.
Dalam melakukan pemeriksaan, seringkali pasien bertanya kondisi
penyakitnya dan menyampaikan harapannya untuk sembuh total. Pasien juga
menanyakan mengenai perutnya yang semakin membuncit dan tegang sambil
menitikkan air mata ketika menyampaikan kekuatirannya bahwa perutnya serasa
akan meledak. Saya berusaha menjelaskan bahwa dinding perut tidak akan
meledak karena memiliki elastisitas yang cukup. Selain itu dijelaskan dapat timbul
komplikasi terburuk yang dapat menyebabkan kematian yakni spontaneous
bacterial peritonitis. Meskipun demikian, pasien tidak perlu kuatir karena telah
diberikan antibiotik profilaksis. Banyaknya masalah pasien menyebabkan obat
yang diberikan juga banyak. Hal tersebut dapat menimbulkan interaksi obat.
Dengan demikian obat harus diresepkan secara seksama.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, pasien semakin terbuka dan mau
menerima kunjungan dengan senang hati selama rotasi saya di modul geriatri.
74
Bahkan untuk mendapatkan data sensitif pun pasien bersedia bercerita setelah
dijelaskan bahwa data tersebut diperlukan untuk menyusun naskah ujian saya.
Pertemuan ini memberikan pelajaran dalam bersikap dan berkomunikasi
dengan pasien lanjut usia dan keluarganya. Saya menyadari pasien akan jauh lebih
terbuka jika kita peduli dan mau memberikan edukasi ataupun berbagi ilmu dengan
pasien. Untuk mengasah keterampilan tersebut diperlukan teknik komunikasi
efektif yang tidak didapat begitu saja, melainkan harus dilatih secara terus menerus
dan dipraktikkan dengan banyak orang. Hal tersebut mendorong saya untuk terus
berpartisipasi dalam bakti sosial yang diadakan oleh angkatan maupun organisasi
yang saya ikuti. Saya juga tidak akan menolak jika diberikan kesempatan menjadi
pembicara dalam suatu kegiatan. Pengalaman tersebut akan membuat saya dapat
bertemu dengan banyak orang yang memiliki pribadi dan sifat yang berbeda yang
tentu saja dapat melatih kemampuan berkomunikasi dengan banyak orang.
Menjelang ujian akhir menjadi dokter umum membuat saya merenung.
Bagaimana cara menjadi dokter yang baik? Saya pernah mendengar bahwa
menjadi dokter yang baik hanya memerlukan dua hal, yakni rasa sayang terhadap
pasien dan rasa ingin tahu yang besar. Rasa sayang akan memunculkan empati
pada sikap dan tindakan sehingga dapat terjalin komunikasi dan hubungan yang
baik. Rasa ingin tahu akan menjadi akar dalam pendekatan diagnosis dan
tatalaksana berbasis bukti.
75
76
Download