hubungan orientasi etika, komitmen profesional

advertisement
HUBUNGAN ORIENTASI ETIKA, KOMITMEN PROFESIONAL,
SENSITIVITAS ETIS DENGAN WHISTLEBLOWING PERSPEKTIF
MAHASISWA AKUNTANSI
RELATIONSHIP BETWEEN ETHIC ORIENTATION, PROFESSIONAL
COMMITMENT AND ETHIC SENSITIVITY AND WHISTLEBLOWING OF
ACCOUNTING STUDENTS’ PERSPECTIVE
Sugianto, Abdul Hamid Habbe dan Tawakkal
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis hubungan antara orientasi etika
(idealisme dan relativisme) dengan komitmen profesional, 2) menganalisis hubungan
antara orientasi etika dengan sensitivitas etis, 3) menganalisis hubungan antara tingkat
komitmen profesional mahasiswa akuntansi
dengan whistleblowing, dan 4)
menganalisis hubungan sensitivitas etis mahasiswa akuntansi dengan whistleblowing.
Data dianalisis menggunakan PLS (Partial Least Square) dengan program smartPLS
2.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) orientasi etika idealisme menunjukkan
hubungan yang positif terhadap sensitivitas etis, orientasi etika relativisme
menunjukkan hubungan yang negatif terhadap sensitivitas etis, 2) orientasi etika
idealisme mahasiswa akuntansi memiliki hubungan yang positif terhadap komitmen
profesional, 3) komitmen profesional berhubungan positif dengan persepsi mahasiswa
akuntansi terhadap whistleblowing, 4) sensitivitas etis mahasiswa akuntansi
berhubungan negatif terhadap whistleblowing.
Kata kunci: idealisme, relativisme, sensitivitas etis, whistleblowing dan partial least
square.
ABSTRACT
This aims of the research are to analyze: 1) relationship between ethic orientation
(idealism and relativism) and professional commitment, 2) relationship between ethic
orientation and ethic sensitivity, 3) relationship between accounting students'
professional commitment level and whistleblowing, and 4) relationship between
accounting students’ ethic sensitivity and whistleblowing. The data were analyzed by
using PLS (Partial Least Square) with smart program of PLS 2.0. The result of research
reveal that: 1) idealism ethic orientation has a positive relationship with ethic
sensitivity, while relativism ethic orientation has a negative relationship with ethic
sensitivity, 2) accounting students’ idealism ethic orientation has a positive relationship
with professional commitment, 3) professional commitment has a positive relationship
with accounting students’ perception on whistleblowing, 4) accounting students’ ethic
sensitivity has a negative relationship with whistleblowing.
Keywords : idealism, relativism, ethic sensitivity, whistleblowing and partial last square
1
2
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penyalahgunaan
keahlian
dalam
membuat
informasi
akuntansi
yang
menyesatkan dan tidak benar untuk meraup keuntungan pribadi, belakangan ini telah
banyak menimbulkan kerugian ekonomi masyarakat. Kecenderungan manusia yang
menumpuk kekayaan dan keuntungan material lainnya membuat manusia lupa kepada
etika, moral dan kepentingan umum. Harahap (2008: 1) menilai bahwa meski sejumlah
profesi, termasuk profesi akuntansi memiliki etika profesi namun etika itu dibangun atas
dasar rasionalisme ekonomi belaka, sehingga wajar etika tersebut
tidak mampu
menghindarkan manusia dari pelanggaran moral dan etika untuk mengejar keuntungan
material.
Enron menjadi sorotan masyarakat luas pada akhir 2001, ketika terungkap
bahwa kondisi keuangan yang dilaporkannya didukung terutama oleh penipuan
akuntansi yang sistematis, terlembaga, dan direncanakan secara kreatif (Wikipedia,
2010). Lebih ironisnya karena dipicu adanya skandal dengan kantor akuntan
internasional (termasuk Big Five), yaitu Arthur Anderson. Arthur Anderson sebagai
external auditor dan konsultan manajemen Enron tidak melaporkan penyimpanganpenyimpangan yang terjadi.
Fenomena penukikan dan pelanggaran etika
atas skandal akuntansi dalam
perusahaan Enron telah membuat salah satu eksekutif Enron Sherron Watkins adalah
Wakil Presiden Enron menjadi seorang whistleblower
yang menulis surat kepada
Direktur Kenneth Lay pada musim panas tahun 2001. Watkins dalam suratnya
mengeluhkan praktik akuntansi agresif yang dilakukan oleh Enron akan “meledak” dan
hal itu benar terjadi, akhirnya Enron kolaps.
Kasus perbedaan pencatatan penyimpanan dana kelompok usaha Grup Bakrie di
PT Bank Capital Indonesia Tbk. Sebanyak tujuh emiten Grup Bakrie di dalam laporan
keuangan per 31 Maret 2010 mengklaim menyimpan dana total Rp. 9,07 triliun.
Namun, Bank Capital menyebutkan jumlah dana pihak ketiga di bank tersebut hanya
Rp. 2,69 triliun. Sebagian besar laporan keuangan unit usaha Bakrie diaudit oleh Mazars
Moores Rowland Indonesia (Asworo dan Supriadi, 2010). Kasus tersebut terungkap atas
adanya “pembisik” (whistleblower) dari analisis atau pelaku pasar modal yang melihat
adanya kejanggalan dan mengungkapkan ke publik.
3
Pelanggaran etika yang terjadi diprofesi akuntansi yang mengakibatkan
terjadinya skandal keuangan dimana auditor dianggap turut terlibat merupakan salah
satu bentuk perhatian pada masalah etika dan sangat perlu diperkenalkan untuk
pengembangan kurikulum. Pengenalan masalah-masalah yang terkait dengan etika
diharapkan akan dapat mengetahui peran orientasi etika mahasiswa akuntansi dalam
pertimbangan etisnya. Kurikulum akuntansi yang baik diharapkan akan meminimalisir
krisis etika dalam profesi akuntansi yang pada akhirnya akan menghasilkan profesi
akuntan yang berkeahlian, berpengetahuan, berkarakter dan dilandasi dengan kebajikan
untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas jasa yang diberikan
profesi tersebut.
Pelanggaran etik juga telah banyak dilakukan oleh mahasiswa di lingkungan
akademik. Penelitian yang dilakukan oleh The Center for Academic Integrity USA
(Morris dan Kilian, 2006) menyatakan bahwa lebih dari tujuh puluh lima persen dari
enam ratus mahasiswa yang disurvey di Washington DC telah melakukan berbagai
bentuk kecurangan. Bentuk kecurangan yang dilakukan adalah mencontek pada saat
ujian serta copy paste pekerjaan teman.
Kecurangan atau kejadian tidak etis ini sudah menjadi bagian dari budaya pada
beberapa perguruan tinggi (Kleiner dan Lord, 1999). Budaya tidak etis di lingkungan
mahasiswa
terjadi disebabkan kurangnya pengetahuan, pemahaman serta kemauan
untuk menerapkan nilai-nilai moral yang sudah mereka dapatkan dari keluarga maupun
pendidikan formal di kampus. Mahasiswa akuntansi yang akan dipersiapkan menjadi
seorang akuntan seharusnya lebih memiliki sensitivitas etis atau kemampuan untuk
dapat mengerti dan peka serta mengetahui permasalahan etika yang terjadi (Shaub et
al., 1993). Kepekaan mahasiswa terhadap perilaku etis atau tidak etis mutlak harus
dimiliki. Mengingat kepekaan seorang mahasiswa atau calon akuntan terhadap
permaslahan etis merupakan landasan pijak bagi praktek akuntan (Penemon dan
Gabhart, 1993).
Orientasi etika dalam penelitian Chan dan Leung (2006), ditentukan oleh dua
karakteristik yaitu idealisme dan relativisme (Forsyth, 1980). Hasil penelitiannya
menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara idealisme dan relativisme
terhadap sensitivitas etika. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Khomsyiah dan Indriantoro (1998) yang menyatakan bahwa tidak ada
4
hubungan yang signifikan antara orientasi etis terhadap sensitivitas etis auditor, baik
dari idealisme maupun relativisme. Penelitian yang dilakukan oleh Shaub
et al.,
(1993) dan Marwanto (2007) menunjukkan bahwa
idealisme dan relativisme berhubungan signifikan dengan sensitivitas etis.
Elias (2006) mengkaji hubungan antara komitmen profesional dan sosialisasi
antisipatif dengan orientasi etika mahasiswa akuntansi. Hasilnya menyatakan bahwa
hubungan komitmen profesional dan sosialisasi antisipatif, yang dijalankan melalui
persepsi terhadap pelaporan keuangan, menunjukkan bahwa mahasiswa akuntansi yang
memiliki komitmen dan persepsi lebih tinggi terhadap pentingnya pelaporan keuangan
cenderung menganggap tindakan yang mengundang pertanyaan sebagai tindakan yang
melanggar etika sehingga mereka enggan melakukan tindakan tersebut, dibandingkan
dengan mahasiswa yang memiliki komitmen dan persepsi rendah terhadap pelaporan
keuangan.
Penelitian di Indonesia mengenai persepsi mahasiswa terhadap whistleblowing
dilakukan oleh Gani (2010) yang menganalisis komitmen profesional dan sosialisasi
antisipatif antara mahasiswa Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) dan perbedaan tingkat
komitmen Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) dalam hubungannya dengan
whistleblowing. Hasil menunjukkan bahwa tingkat komitmen profesional mahasiswa
akuntansi (PPA dan Non-PPA) berpengaruh positif terhadap persepsi mereka akan
pentingnya whistleblowing dan keinginannya untuk melakukan whistleblowing.
Rani (2009) melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan sikap mahasiswa
akuntansi berkaitan dengan pelaporan pelanggaran (whistleblowing).
Sikap mahasiswa akuntansi berupa komitmen profesional dan sosialisasi dini
(diproksikan persepsi pelaporan pelanggaran keuangan) diuji hubungannya dengan
persepsi dan rencana pelaporan pelanggaran. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa
akuntansi yang mendekati kelulusan dengan komitmen profesional dan persepsi
pelaporan keuangan yang lebih besar, lebih dapat menerima pelaporan sebagai suatu hal
yang penting dan lebih berkemungkinan untuk melakukan pelaporan pelanggaran.
B. Rumusan Masalah
Uraian di atas, menunjukkan bahwa pengambilan keputusan etis (ethical
decision making) dalam situasi dilema etika memerlukan adanya pengetahuan,
pemahaman, kesadaran dan kemauan untuk menerapkan nilai-nilai moral dan etika
5
secara memadai dalam pelaksanaan pekerjaan profesi. Mastracchio (2005) menekankan
bahwa kepedulian terhadap etika harus diawali dari kurikulum akuntansi, jauh sebelum
mahasiswa akuntansi masuk di dunia profesi akuntansi. Penelitian pengembangan etika
akuntan profesional seharusnya dimulai dengan penelitian mahasiswa akuntansi di
bangku kuliah, dimana mereka ditanamkan perilaku moral dan nilai-nilai etika
profesional akuntan (Jeffrey, 1993).
Dasar pemikiran tersebut, maka dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai
berikut:
1. Apakah terdapat hubungan antara orientasi etika idealisme, orientasi etika
relativisme dengan komitmen profesional mahasiswa akuntansi?
2. Apakah terdapat hubungan antara orientasi etika idealisme, orientasi etika
relativisme dengan sensitivitas etis mahasiswna akuntansi?
3. Apakah terdapat hubungan antara komitmen profesional mahasiswa akuntansi
terhadap pelaporan pelanggaran (whistleblowing)?
4. Apakah terdapat hubungan
sensitivitas etis mahasiswa akuntansi terhadap
pelaporan pelanggaran (whistleblowing)?
KERANGKA KONSEPSIONAL PENGEMBANGAN HIPOTESIS
A. Orientasi Etika dengan Komitmen Profesi
Komitmen profesional mengarah pada kekuatan identifikasi individu dengan
suatu profesi. Individu dengan komitmen organisasi tinggi dikarakteristikkan memiliki
keyakinan kuat berkaitan dengan profesionalitas, dan keyakinan untuk mempertahankan
keanggotaan profesi (Mowday et al., 1979).
Forsyth (1992) menunjukkan orientasi etis dengan menggunakan tolok ukur
terpisah, yaitu tingkat idealisme dan relativisme responden, dua hipotesis perlu untuk
mengevaluasi hubungan masing-masing dengan komitmen profesional.
H1a : Orientasi etika idealisme mahasiswa akuntansi secara positif berhubungan
dengan komitmen profesional mahasiswa akuntansi.
H1b : Orientasi etika relativisme mahasiswa akuntansi secara negatif berhubungan
dengan komitmen profesional mahasiswa akuntansi.
B. Orientasi Etika dengan Sensitivitas Etis
Forsyth (1980) menyarankan bahwa perbedaan individual dalam pendekatan
terhadap orientasi etika didasarkan pada dua faktor prinsip moral yaitu idealisme dan
6
relativisme. Idealisme adalah tingkat di mana individu berkaitan dengan kesejahteraan
bagi yang lain. Individu yang memiliki idealisme yang tinggi merasa mengganggu
orang lain selalu dapat dihindarkan. Individu yang berorientasi secara idealis tidak akan
memilih perilaku negatif yang dapat mengganggu orang lain.
Penelitian yang dilakukan oleh Khomsiyah dan Indriantoro (1998) memperoleh
hasil yang signifikan tentang orientasi etika terhadap sensitivitas etika. Hasil ini
mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Shaub et al., (1993). Oleh
karena itu, hipotesis ke dua sebagai berikut:
H2a : Orientasi etika idiealisme mahasiswa akuntansi secara positif berhubungan
dengan sensitivitas etis mahasiswa akuntansi.
H2b : Orientasi
etika relativisme mahasiswa akuntansi
secara
berhubungan dengan sensitivitas etis mahasiswa akuntansi.
negatif
C. Komitmen Profesional dengan Whistleblowing
Whistleblowing dapat digambarkan sebagai suatu proses yang melibatkan faktor
pribadi dan faktor sosial organisasional. Penelitian yang ada telah menerangkan
pentingnya pengungkapan pelanggaran, dan penelitian pengungkapan pelanggaran yang
menguji hubungan antara whistleblowing dengan komitmen profesional mulai
berkembang.
Elias (2008) kemudian melakukan studi tentang hubungan komitmen profesional
dan sosialisasi antisipatif dengan whistleblowing pada mahasiswa akuntansi tingkat
akhir. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan pada semua variabel.
Semakin tinggi komitmen profesional dan tingkat sosialisasi antisipatif mahasiswa
maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk menganggap whistleblowing
menjadi suatu hal yang penting serta semakin tinggi pula kemungkinan mereka
melakukan whistleblowing.
O’leary dan Cotter (2000) melakukan penelitian terhadap mahasiswa akuntansi
tingkat akhir di Irlandia dan Australia yang menunjukkan bahwa 56% mahasiswa
Irlandia dan 28% mahasiswa Australia ingin untuk melakukan kecurangan dalam ujian,
dan hanya kurang lebih 50% dari mahasiswa kedua negara yang ingin melakukan
whistleblowing atas kecurangan tersebut. Studi yang dilakukan Varelius (2009)
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara whistleblowing sebagai
7
masalah moral dengan loyalitas karyawan dan keinginan untuk melindungi kepentingan
publik.
Dari penjelasan di atas diduga ada hubungan antara tingkat komitmen profesi
mahasiswa akuntansi dengan kemungkinan mereka untuk melakukan whistleblowing.
Hipotesis yang akan diuji adalah:
H3: Komitmen profesional mahasiswa akuntansi secara positif berhubungan dengan
persepsi mereka tentang whistleblowing.
D. Sensitivitas Etis dengan Whistleblowing
Whistleblower bagi sebagian orang merupakan civic duty tetapi bagi orang lain
dipandang sebagai bentuk lain dari disloyalty karena telah membuka rahasia
perusahaan/organisasi kepada publik (Diniarti, 2004). Civic duty merupakan suatu
konsep bahwa sebagian warga negara harus secara serius menanggapi masalah-masalah
dalam komunitas masyarakat dan membantu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
yang ada.
Penelitian O'Leary dan Cotter (2000) yang meneliti sikap etis mahasiswa
akuntansi terhadap whistleblowing di Irlandia dan
Australia. Penelitian ini untuk
melihat apakah mereka akan menerima suap dan melaporkannya. Hasil dari penelitian
menunjukan bahwa 58 persen mahasiswa di Irlandia dan 23 persen mahasiswa di
Australia
penyuapan
bersedia untuk melakukan suap dan mengungkapkan atas terjadinya
(whistleblower).
Di
lingkungan
akademik
minat
untuk
menjadi
whistleblower lebih difokuskan kepada karakteristik individu dan situasi yang akan
memprediksi kapan sesorang akan melakukan whistleblowing (Miceli dan Near, 1992).
Penjelasan di atas diduga ada keterkaitan antara sensitivitas etis mahasiswa
akuntansi dengan whistleblowing. Hipotesis yang akan diuji adalah:
H4: Sensitivitas etis mahasiswa akuntansi secara positif berhubungan dengan persepsi
mereka tentang whistleblowing.
Dari hipotesis yang dirumuskan di atas, maka model penelitian dapat
digambarkan sebagai berikut :
8
Orientasi Etika
 Idealisme
Komitmen
Profesional
H1a
H3
H2a
Whistleblowing
H1b
Orientasi Etika
 Relativisme
Sensitivitas
etis
H2b
Gambar 1.
H4
Model penelitian
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Sampel Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan pengujian hipotesis (hypotheses
testing). Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui studi lapangan
dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan.
Jumlah sampel yang akan digunakan dalam analisis penelitian ini menurut
Hartono dan Abdillah (2009: 163) sebanyak lima sampai dengan sepuluh kali jumlah
parameter atau 5-10n. Jumlah indikator dalam penelitian ini sebanyak 26 item, untuk itu
jumlah sampel yang harus dipenuhi adalah 130 sampai dengan 260.
Tabel 1.
Rincian penyebaran dan pengembalian kuesioner
No
Penjelasan
1 Total penyebaran kuesioner
2 Kuesioner yang terkumpul
3 Respon rate
4 Kuesioner yang pengisiannya tidak lengkap
5 Kuesioner yang dapat diolah
6 Persentase kuesioner yang dapat diolah
Sumber: Data primer diolah 2011
Jumlah
72 eksemplar
377 eksemplar
90%
75 eksemplar
302 eksemplar
72 %
B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Pengukuran
variabel
dalam
penelitian
ini
dilakukan
dengan
menggunakan skala Likert yang didesain untuk menelaah seberapa kuat subjek setuju
atau tidak setuju dengan pertanyaan pada skala lima titik (Sekaran, 2006: 31).
9
Lima definisi operasional variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini,
yaitu:
1. Sensitivitas etis adalah kemampuan untuk mengetahui masalah-masalah etis yang
terjadi (Shaub, 1989). Lebih lanjut dijelaskan bahwa sensitivitas etis kemampuan
untuk mengetahui bahwa suatu situasi memiliki makna etika ketika situasi itu dialami
individu-individu.
2. Idealisme adalah suatu hal yang dipercaya individu tentang konsekuensi yang
dimiliki dan diinginkan untuk tidak melanggar nilai-nilai etika. Idealisme diukur
dengan menggunakan 10 item yang dikembangkan oleh Forsyth (1980)..
3. Relativisme adalah sikap penolakan individu terhadap nilai-nilai etika dalam
mengarahkan perilaku etis. Selain mempunyai sifat idealisme, juga terdapat sisi
relativisme pada diri seseorang. Relativisme juga diukur dengan menggunakan 10
item yang dikembangkan oleh Forsyth (1980).
4. Komitmen profesional merupakan komitmen yang dibentuk suatu individu saat
mulai memasuki suatu profesi meliputi sesuatu yang dipercaya, sesuatu yang
diterima, tujuan dan nilai-nilai dari suatu profesi. Komitmen profesional dalam
penelitian ini diukur dengan skala Dwyer et al., (2000) yang menganggap komitmen
profesional sebagai model satu faktor yaitu komitmen profesional afektif (Elias,
2008).
5. Whistleblowing.
Dalam studi ini peneliti menggunakan dua
aspek dari
whistleblowing yaitu persepsi whistleblowing dan keinginan whistleblowing
(whistleblowing intention). Penelitian ini menggunakan kasus yang digunakan
Schultz et al., (1993) yang berhubungan dengan akuntan yang dituntut untuk
melakukan kecurangan dengan menggelembungkan laba perusahaan.
C. Analisis Data dan Hasil Penelitian
Pengujian validitas dan reliabilitas tersebut dilakukan dengan bantuan program
Statistical Package for Social Sciences (SPSS). Metode statistik yang digunakan untuk
menguji hipotesis adalah structural equation modeling metode alternatif partial least
square (PLS) dengan menggunakan opensource software yaitu SmartPLS.
Hasil pengujian dengan menggunakan path coefficients pada output bootstraping
digunakan untuk menilai signifikansi model prediksi yang dihipotesiskan. Arah dari
10
hipotesis telah dinyatakan berupa hubungan positif dan negatif, sehingga pengujian
dilakukan menggunakan satu ekor (one tailed) (Hartono, 2008: 222).
Gambar 2.
Tabel 2.
Hipotesis
Output Model Pengukuran
Output Path Coefficients
Konstruk
Original
Sample
(O)
Standar
Error
(STERR)
T Statistics
(|O/STERR|)
> 1,64
Keterangan
H1a
IDE -> KPR
0,3110
0,0552
5,6338
Terdukung
H1b
REL -> KPR
-0,6019
0,0404
14,9101
Terdukung
H2a
IDE -> SET
0,5393
0,0713
7,5612
Terdukung
H2b
REL -> SET
-0,2662
0,0671
3,9673
Terdukung
H3
KPR -> WSB
0,2160
0,0826
2,6138
Terdukung
H4
SET -> WSB
0,1309
0,0837
1,5652
Tidak Terdukung
Sumber : Data primer diolah 2011 (output smartPLS 2.0)
Keterangan:
IDE
= Orientasi etika idealisme
REL
= Orientasi etika relativisme
KPR
= Komitmen profesional
SET
= Sensitivitas etis
WSB
= Whistleblowing
PEMBAHASAN
A. Hubungan Orientasi Etika Idealisme Terhadap Komitmen Profesional
Hasil perhitungan hipotesis 1a menunjukkan bahwa orientasi etika idelaisme
mahasiswa akuntansi memiliki hubungan yang positif terhadap komiten profesional.
Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa akuntansi di Makassar bersikap secara
positif terhadap komitmen profesional. Bagi mahasiswa akuntansi dengan memberikan
11
perhatian akan pengembangan profesi akuntansi akan memberikan citra yang baik
terhadap proefsi akuntansi itu sendiri.
Temuan ini sesuai dengan penelitian Khomsyiah dan Indriantoro (1998) yang
menyatakan bahwa faktor idealisme seseorang akan mempengaruhi tingkat komitmen
terhadap profesinya, makin tinggi idealisme maka akan semakin tinggi pula tingkat
komitmen terhadap profesinya. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penemuan
(Shaub
et al., 1993) yang menyelidiki hubungan antara orientasi etika dengan
komitmen profesional. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orientasi etika
mempengaruhi tingkat komitmen terhadap profesi yang akan melakukan upaya
memadai atas nama profesi dan berkeinginan untuk menjadi bagian dari profesi
akuntan.
B. Hubungan Orientasi Etika Relativisme Terhadap Komitmen Profesional
Hasil hipotesis 1b mengungkapkan bahwa orientasi etika relativisme oleh
mahasiswa berhubungan
secara negatif terhadap komitmen profesional. Penelitian
terdahulu juga menemukan hubungan negatif, seperti Shaub et al (1993) menunjukkan
bahwa sesorang yang memiliki relativisme tingkat komitmen terhadap profesional akan
rendah.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Khomsyiah
dan Indriantoro (1998) yang menyelidiki pengaruh orientasi etika terhadap komitmen
profesi. Hasil penelitiannya tidak berhasil menunjukkan adanya hubungan antara
orientasi etika relativisme dengan komitmen profesional.
C. Hubungan Orientasi Etika Idealisme Terhadap Sensitivitas Etis
Orientasi etika idealisme mengacu pada sejauh mana seseorang percaya bahwa
konsekuensi dari tindakan yang dilakukan dapat terjadi tanpa melanggar nilai-nilai
moral. Dengan kata lain idealisme merupakan karakteristik orientasi etika yang
mengacu pada kepedulian seseorang terhadap kesejahteraan orang lain dan berusaha
untuk tidak merugikan orang lain.
Pengujian hipotesis 2a menunjukkan bahwa idealisme berpengaruh positif
terhadap sensitivitas etis. Hasil ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Marwanto
(2007), Shaub et al., (1993) serta Khomsyiah dan Indriantoro (1998) tentang pengaruh
idealisme terhadap sensitivitas etis. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor personal
12
idealisme memiliki pengaruh yang negatif terhadap sensitivitas etis. Namun penelitian
yang dilakukan oleh Chan dan Leung (2006) tentang pengaruh idealisme terhadap
sensitivitas menunjukkan hasil bahwa idealisme tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap sensitivitas etis.
D. Hubungan Orientasi Etika Relativisme Terhadap Sensitivitas Etis
Relativisme adalah orientasi etika yang mengacu pada penolakan terhadap nilainilai (aturan) moral universal yang membimbing perilaku. Relativisme menolak prinsip
dan aturan moral secara universal dan merasakan bahwa tindakan moral/kesusilaan
tersebut tergantung pada individu dan situasi yang dilibatkan (Forsyth, 1992).
Hipotesis 2b yang telah diuji dengan program smartPLS 2.0 menunjukkan
bahwa relativisme berhubungan negatif terhadap sensitivitas etis. Hasil penelitian ini
konsisten dengan hasil penelitian Marwanto (2007) tentang pengaruh hubungan
relativisme terhadap sensitivitas etis menunjukkan pengaruh yang signifikan antara
relativisme terhadap sensitivitas etis.
E. Hubungan komitmen profesional terhadap whistleblowing
Pengujian hipotesis 3 menunjukkan bahwa komitmen profesional berhubungan
positif dengan persepsi mahasiswa akuntansi untuk melaporkan pelanggaran
(whistleblowing). Hasil penelitian ini sesuai dengan penemuan Gani (2008) yang
menemukan bahwa tingkat komitmen profesional mahasiswa Pendidikan Profesi
Akuntansi (PPA dan Non-PPA) berpengaruh positif terhadap persepsi mereka akan
pentingnya whistleblowing dan keinginannya untuk melakukan whistleblowing.
Hasil penelitian Elias (2006) dan Rani (2009) juga menunjukkan bahwa
mahasiswa akuntansi yang memiliki komitmen profesional dan persepsi pelaporan
keuangan yang lebih besar, lebih dapat menerima pelaporan sebagai suatu hal yang
penting dan lebih berkemungkinan untuk melakukan pelaporan pelanggaran.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa akuntansi yang memiliki
komitmen profesional yang lebih tentang profesi akuntansi menunjukkan keinginan
untuk melakukan pelaporan pelanggaran sebagai salah satu cara untuk menghindari
terjadinya skandal keuangan. Selain budaya di Indonesia dan tingkat idealisme
masyarakat Indonesia juga mungkin dapat mempengaruhi kesamaan sikap terhadap
sesuatu, dalam hal ini keinginan untuk melakukan whistleblowing.
13
F. Hubungan Sensitivitas Etis Terhadap Whistleblowing
Hasil hipotesis 4 mengungkapkan bahwa sensitivitas mahasiswa akuntansi
berhubungan negatif terhadap persepsi dan keinginan untuk melakukan pelaporan
pelanggran (whistleblowing). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa mahasiswa di
Makassar yang memilki sensitivitas etis tidak memiliki keinginan untuk melakukan
pelaporan pelanggran (whistleblowing).
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penemuan Arnold dan Ponemon (1991)
yang menyelidiki hubungan antara pemikiran etis dengan persepsi whistleblowing.
Mereka melaporkan bahwa auditor interen dengan tingkat pemikiran etis yang relatif
tinggi lebih dapat mengidentifikasi dan mengetahui perilaku yang kurang pantas.
Semakin tinggi tingkat pemikiran etis seseorang semakin mampu mengidentifikasi serta
mengetahui perilaku yang kurang pantas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa akuntansi yang memiliki
sensitivitas etis menunjukkan keengganan untuk melakukan whistleblowing. Sensitif
atau tidaknya seseorang yang beridealisme tinggi terhadap permasalahan-permasalahan
yang menyangkut etika dipengaruhi oleh komitmen mereka terhadap aturan-aturan yang
telah ditetapkan dalam organisasi maupun profesinya (Shaub et al., 1993). Khomsyiah
dan Indriantoro (1998) juga menyatakan bahwa tingkat idealisme seseorang akan
mempunyai pengaruh terhadap kemampuan orang tersebut dalam mengenali isu-isu etis
setelah seseorang tersebut mengetahui dan lebih memahami komitmen pada aturanaturan etis organisasi maupun profesinya. Tidak sensitifnya mahasiswa akuntansi
terhadap hal ini dapat dikarenakan bahwa mereka belum sepenuhnya memahami aturanaturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau profesi yang tidak diperoleh dalam
perkuliahan sehingga hal ini akan mempengaruhi mereka dalam menjustifikasi etis atau
tidaknya suatu perbuatan.
KESIMPULAN
1. Orientasi etika idealisme (IDE) mahasiswa akuntansi mempunyai hubungan yang
signifikan positif terhadap komitmen profesional (KPR) pada mahasiswa akuntansi
yang ada di Makassar. Dimana hasil estimasi inner weight pada hubungan idealisme
(IDE) terhadap komitmen profesional (KPR) menunjukkan nilai t-statistics sebesar
5,6338, dimana nilai tersebut lebih besar dari 1,64 untuk uji satu arah pada alpha 5%.
14
2. Orientasi etika relativisme (REL) mahasiswa akuntansi mempunyai hubungan yang
signifikan negatif terhadap komitmen profesional (KPR) pada mahasiswa akuntansi
yang ada di Makassar. Dimana hasil estimasi inner weight pada hubungan
relativisme (REL) terhadap komitmen profesional (KPR) menunjukkan nilai
koefisien beta sebesar -0,6019 dan nilai t-statistics sebesar 14,9101, dimana nilai
tersebut lebih besar dari 1,64 untuk uji satu arah pada alpha 5%.
3. Orientasi etika idealisme (IDE) mahasiswa akuntansi mempunyai hubungan yang
signifikan positif terhadap sensitivitas etis (SET) pada mahasiswa akuntansi yang ada
di Makassar. Dimana hasil estimasi inner weight pada hubungan idealisme (IDE)
terhadap sensitivitas etis (SET) menunjukkan nilai t-statistics sebesar 7,5612, dimana
nilai tersebut lebih besar dari 1,64 untuk uji satu arah pada alpha 5%.
4. Orientasi etika relativisme (REL) mahasiswa akuntansi mempunyai hubungan yang
signifikan negatif terhadap sensitivitas etis (SET) pada mahasiswa akuntansi yang
ada di Makassar. Dimana hasil estimasi inner weight pada hubungan relativisme
(REL) terhadap sensitivitas etis (SET) menunjukkan nilai koefisien beta sebesar 0,2662 dan nilai t-statistics sebesar 3,9673, dimana nilai tersebut lebih besar dari
1,64 untuk uji satu arah pada alpha 5%.
5. Komitmen profesional (KPR) mahasiswa akuntansi mempunyai hubungan yang
signifikan positif terhadap whistleblowing (WSB). Dimana hasil estimasi inner
weight pada hubungan komitmen profesional (KPR) terhadap whistleblowing (WSB)
menunjukkan nilai t-statistics sebesar 2,6138, dimana nilai tersebut lebih besar dari
1,64 untuk uji satu arah pada tingkat keyakinan 95%.
6. Sensitivitas etis (SET) mahasiswa akuntansi tidak mempunyai hubungan yang
signifikan terhadap whistleblowing (WSB). Dimana hasil estimasi inner weight pada
hubungan sensitivitas etis (SET) mahasiswa akuntansi terhadap whistleblowing
(WSB) menunjukkan nilai t-statistics sebesar 0,15652, dimana nilai tersebut lebih
kecil dari 1,64 untuk uji satu arah pada tingkat keyakinan 95% atau pada taraf alpha
5%.
SARAN-SARAN
1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (positivistik) yang terbatas pada
aspek kognitif, untuk penelitian selanjutnya yang mungkin untuk dilakukan dengan
15
menggunakan
pendekatan
paradigma
kualitatif
(non-positivistik)
untuk
mengeksplorasi pemahaman atas fenomena praktik etika yang berlangsung di
kalangan mahasiswa, sehingga kebenaran tidak hanya berhenti pada fakta,
melainkan apa makna di balik fakta tersebut.
2. Kurikulum akuntansi berbasis etika dapat dikembangkan dengan memasukkan
norma
etika
secara
umum
(keyakinan,
ideologi,
kearifan
lokal)
dan
memformulasikan bersama dengan etika profesi sehingga dua dimensi orientasi
etika (idealisme dan relativisme) mahasiswa dapat berjalan seiring, agar mahasiswa
lebih peka terhadap persoalan-persoalan etika yang akan mahasiswa hadapi setelah
lulus.
DAFTAR PUSTAKA
Arnold, D. and Ponemon, L. 1991. Internal Auditors Perceptions of Whistle-Blowing
and the Influence of Moral Reasoning: An Experiment Auditing. A Journal of
Practice and Theory. Fall:1-15.
Asworo, H.T dan Supriadi, A. 15 Juli 2010. Bapepam-LK Akan Panggil Auditor
Laporan Bakrie. Bisnis Indonesia.
Chan, S.Y.S. and Leung, P. 2006. The Effect of Accounting Students’ Ethical
Reasoning and Personel Factors on Their Ethical Sensitivity. Managerial and
Auditing Journal. Vol.21 No.4:436-457.
Diniarti, B. 2004. Whistleblowing dalam Skandal Enron dan Wordlcom : Perlawanan
Individu Terhadap Sistem. Tesis tidak diterbitkan. Jakarta: Program Pascasarjana
Universitas Indonesia.
Dwyer, P.D., Welker, R.B. and Friedberg, A.H. 2000. A Research Note Concerning the
Dimensionality of the Professional Commitment Scale. Behavioral Research in
Accounting, Vol. 12.
Elias, R.Z. 2006. The impact of Professional Commitment and Anticipatory
Socialization on Accounting Students’ Ethical Orientation. Journal of Business
Ethics. 68:83-90.
Elias, R.Z. 2008. Auditing Students’ Professinal Commitment and Anticipatory
Socialization and Their Relationship to Whistleblowing. Managerial Auditing
Journal. Vol. 23 No. 3.
Forsyth, D.R. 1980. A Taxonomy of Ethical Ideologies. Journal of Personality and
Social Psychology. Vol. 39 (1): 175-184.
Forsyth, D.R. 1992. Judging the Morality of Business Practices: The Influence of
Personal Moral Philosophies. Journal of Business Ethics. 11:461-470.
Gani, R. M. M. 2010. Analisis Perbedaan Komitmen Profesional dan Sosialisasi
Antisipatif Mahasiswa PPA dan Non-PPA pada Hubungannya Dengan
16
Whistleblowing. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang: Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro.
Harahap, S.S. 2008. Pentingnya Unsur Etika dalam Professi Akuntan dan Bagaimana di
Indonesia. Ekonomi Islam, (Online),
(http://ekisonline.com, diakses 16 Maret
2011).
Hartono, J. M..2008. Metodologi Penelitian Sistem Informasi: Pedoman dan Contoh
Melakukan Penelitian di Bidang Sistem Teknologi Informasi. Andi, Yogyakarta.
Hartono, J.M. dan Abdillah, W. 2009. Konsep & Aplikasi PLS (Partial Least Square)
Untuk Penelitian Empiris. BPFE UGM, Yogyakarta.
Jeffrey, C. 1993. Ethical Development of Accounting Students, Non-Accounting
Business Students, and Liberal Arts Students. Issues in Accounting Education.
Vol. 8 No. 1:86-96.
Khomsiyah dan Indriantoro, N. 1998. Pengaruh Orientasi Etika terhadap Komitmen dan
Sensitivitas Etika Auditor Pemerintah di DKI Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia. Vol. 1, No. 1:13–28.
Kleiner, C. and Lord, M. 1999. The Cheating Game, U.S. News and World Report. 5463.
Marwanto, 2007. Pengaruh Pemikiran Moral, Tingkat Idealisme, Tingkat Relativisme
dan Locus of Control Terhadap Sensitivitas Etis, Pertimbangan Etis, Motivasi
dan Karakter Mahasiswa Akuntansi: Studi Eksperimen Pada Piliteknik Negeri
Samarinda. Tesis tidak diterbitkan. Semarang: Program Pascasarjana Universitas
Diponegoro.
Mastracchio Jr, J. 2005. Teaching CPAs About Serving the Public Interest. The CPA
Journal. Vol.75 (1):6-9.
Miceli, M. P. and Near, J. P. 1992. Blowing the Whistle: The Organizational and Legal
Implications for Companies and Employees. Lexington, MA: Lexington Books.
Morris, D dan Kilian, C. 2006. Do Accounting Students Cheat? A Study Examining
Undergraduate Accounting Students Honesty and Perceptions of Dishonest
Behavior. Journal of Accounting, Ethics & Public Policy. Volume 5, No. 3.
Mowday, R.T., Steers, R.M., and Porter, L.W. 1979. The Measurement of
Organizational Commitment. Journal of Vocational Behavior. 11: 224-247.
O'Leary, C and Cotter, D. 2000. The Ethics of Final Year Accountancy Students: an
International Comparison. Managerial Auditing Journal. 15/3:108-115.
Ponemon, L. A. and Gabhart, D. R. L. 1993. Ethical Reasoning in Accounting and
Auditing, Research Monograph. No. 21 (Vancouver, BC: CGA-Canada
Research Foundation).
Rani, K.W. 2009. Analisis Hubungan Komitmen Profesional dan Sosialisasi Dini
Mahasiswa Akuntansi Dengan Pelaporan Pelanggaran, Skripsi tidak
diterbitkan. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
17
Schultz, J.J., Johnson, D.A., Morris, D. and Dyrnes, S. 1993. An Investigation The
Reporting Of Questionable Acts In An International Setting. Journal of
Accounting Research. Vol. 31 No. 1:75-103.
Sekaran, U. 2006. Research Methods For Business; Metodologi Penelitian untuk Bisnis.
Salemba Empat, Jakarta.
Shaub, M.K. 1989. An Empirical Examination of the Determinants of Auditors’ Ethical
Sensitivity. A Dissertation, Graduate Faculty of Texas Tech.
Shaub, M.K., Finn, D.W. and Munter, P. 1993. The Effects of Auditor Ethical
Orientation on Commitment and Ethical Sensitivity. Behavioural Research in
Accounting. Vol. 5:145–169.
Varelius, J. 2009. Is Whistle-Blowing Compatible with Employee Loyalty. Journal of
Bussiness Ethics. 85:263-275.
http://id.wikipedia.org/wiki/Enron 14 Feb 2010, diakses 20 Januari 2011.
Download