pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian

advertisement
eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, 2017, 5 (2) 401– 413
ISSN 2355-5408, ejournal.adbisnis.fisip-unmul.ac.id
© Copyright 2017
PENGARUH BAURAN PEMASARAN TERHADAP
KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MEREK CELCIUS
DI JALAN GATOT SUBROTO SAMARINDA
Nur Wahid1
Abstrak
Celcius merupakan perusahaan swasta yang bergerak di bidang Fashion
pria, di mana tingkat persaingan bisnis ini cukup ketat. Untuk menarik minat
konsumen, perusahan dituntut mampu melakukan pemasaran yang tepat sasaran,
sehingga perusahaan dapat mengetahui apa saja yang menjadi daya tarik untuk
meningkatkan keputusan pembelian.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan
menganalisis pengaruh baik secara simultan maupun parsial faktor-faktor
bauran pemasaran yang terdiri dari produk (X1), harga (X2), tempat (X3), dan
promosi (X4) terhadap keputusan pembelian (Y) produk Celcius di Samarinda,
serta untuk mengetahui variabel bauran mana yang paling berpengaruh.
Pengambilan data dilakukan dengan pengumpulan data primer melalui kuisioner,
sedangkan metode analisis menggunakan analisis regresi linier berganda.Hasil
analisis dengan menggunakan SPSS (Statistical Product and Services Solution)
versi 20 menunjukkan bahwa produk, tempat dan promosi secara parsial tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.Hasil uji simultan (Uji F)
menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel produk, harga, tempat, dan
promosi berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian di jalan
Gatot Subroto Samarinda.Hasil uji parsial (Uji T) menunjukkan bahwa hanya
variabel harga yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian
sedangkan variabel produk, promosi dan tempat tidak berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian produk celcius di Jalan Gatot Subroto
Samarinda.Saran utama bagi outlet celcius adalah terus berinovasi dengan harga
yang di tawarkan agar kedepannya harga barang di Celcius lebih dapat bersaing
dengan produk Fashion pria lainnya.
Kata kunci: Bauran Pemasaran, Keputusan Pembelian
Pendahuluan
Proses pembelian dimulai ketika seseorang menyadari kebutuhannya.
Orang tersebut mulai menyadari perbedaan keadannya sekarang dengan keadaan
yang diinginkan. Perilaku pembelian seseorang dapat dikatakan sebagai sesuatu
yang unik, karena preferensi dan sikap terhadap objek setiap orang berbeda.
Selain itu, konsumen berasal dari berbagai segmen, sehingga apa yang diinginkan
dan dibutuhkan juga berbeda. Upaya konsumen untuk melakukan suatu
1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Mulawarman. Email: [email protected]
eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 2, 2017 :401-413
pembelian juga disebabkan perkembangan arus informasi sehingga konsumen
dapat menyerap informasi serta pengetahuan tentang keberadaan suatu produk
dengan cepat. Dengan keadaan seperti ini pelaku usaha dituntut untuk semakin
tanggap terhadap keinginan konsumen serta dapat mengkomunikasikan dan
menyajikan produknya secara tepat. Jika pelaku usaha tidak tanggap terhadap
keinginan konsumen maka penjualan cenderung akan menurun dikarenakan calon
konsumen buta akan keberadaan produk. Saat pelaku usaha telah tanggap
terhahadap keinginan konsumen, maka pelaku usaha telah siap bersaing dengan
pelaku usaha lain yang sejenis.
Untuk menghadapi persaingan yang sangat ketat, maka perusahaan tumbuh
dan berkembang perlu memperhatikan efektifitas dan efisiensi dalam penggunaan
sumber daya yang dimilikinya. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
perusahaan harus mempunyai strategi agar dapat mengimplementasikan pasar
sasarannya dengan tepat.
Konsep pemasaran menyebutkan bahwa profit merupakan pencerminan
usaha perusahaan melalui keinginan dan kebutuhan para konsumen. Perusahaan
diharuskan mampu menerapkan strategi yang dapat mempertahankan bahkan
mengembangkan perusahaannya. Strategi pemasaran adalah pola pikir pemasaran
yang digunakan untuk mencapai tujuan pemasarannya. Strategi pemasaran berisi
strategi spesifik untuk pasar sasaran, penetapan posisi, bauran pemasaran dan
besarnya pengeluaran pemasaran (Kotler, 2004:81).
Keberhasilan suatu perusahaaan dalam memasarkan produknya ditentukan
oleh strategi yang sesuaikan dengan situasi dan kondisi pasar. Perusahaan dituntut
mempunyai strategi pemasaran yang lebih kompetitif yang mampu menganalisis
situasi, menentukan sasaran pemasaran yang tepat, seleksi dan analisis target
pasar, serta mampu merancang strategi pemasaran yang dapat beradaptasi dengan
dinamika bisnis yang menuntut adanya suatu persaingan yang kompetitif,
sehingga mampu mencapai target yang telah ditentukan perusahaan.
Bisnis pakaian merupakan salah satu bisnis dengan prospek yang
menjanjikan. Pakaian merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Kebutuhan
primer adalah kebutuhan yang mutlak harus dipenuhi dan tidak dapat diganti
dengan yang lain, karena jika tidak dipenuhi maka akan menimbulkan
permasalahan atau kesulitan dalam hidup. Pakaian yang merupakan salah satu
kebutuhan primer yang selalu mengikuti arus perkembangan zaman. Dengan
mengikuti trend masa kini yang menjadikan pakaian Nampak tidak kaku, nyaman
dipakai dan sedap dipandang mata. Selain itu bagi sebagian orang pakaian dapat
juga merupakan barang yang menunjukan keberadaan atau tingkat sosial dan
ekonomi orang tersebut.
Celcius adalah salah satu brand yang dimiliki oleh PT Aditya Mandiri
Sejahtera. Selain itu ada pula brand seperti Mississippi, Iwan, Flies, Queenland
dan Rubby. Celcius adalah merek yang didedikasikan untuk pria. Dengan
perkembangan “toko laki-laki” di banyak pasar ritel, PT Aditya Mandiri Sejahtera
mulai mengembangkan konsep toko ini sejak Juni 2004, dengan pembukaan toko
pertama di kota Manado. Konsep toko ini memiliki dua target segmen, pertama
402
Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian (Wahid)
adalah remaja laki-laki dengan rentang usia tua antara 15 sampai 24 tahun, yang
jatuh dalam kategori remaja celcius, dan yang kedua adalah orang orang muda
dan orang orang yang berjiwa muda, dalam rentang usia dari 25 sampai 35 tahun,
diklasifikasikan dalam kategori pria Celcius.
Di Samarinda terdapat 2 outlet Celcius, yaitu di Samarinda Central Plaza
dan di jalan Gatot Subroto yang dimana peneliti berfokus kepada outlet celcius di
jalan Gatot Subroto. Produk Celcius disediakan dalam beberapa kategori, mulai
dari kaos, celana jeans, jaket, topi, dompet, kaca mata, ikat pinggang, dan
beberapa aksesoris yang mendukung penampilan seorang pria.
Celcius merupakan salah satu merek yang cukup terkenal di kalangan anak
muda dan pria berjiwa muda. Namun merek ini memiliki beberapa masalah yang
dihadapi. Outlet celcius jalan Gatot Subroto dibuka pada bulan Juli 2015, pada
awal pembukaannya hingga bulan Desember penjualan di outlet ini cukup
menjanjikan dan bahkan sempat memperoleh penjualan yang tertinggi di Kaltim
pada bulan Oktober 2015. Berikut merupakan data penjualan outlet Celcius jalan
Gatot Subroto Saat launching mulai bulan Juli:
Omset
1500
1000
500
0
Omset
Sumber: Celcius 2016
Penurunan jumlah penjualan mulai sering dirasakan pada bulan Februari
tahun 2016. Beberapa masalah yang penulis identifikasi sebagai penyebab
fluktuasi penjualan sejak pembukaan outlet ini adalah diskon yang selalu berubah
ubah setiap periode waktu tertentu. Masalah lainnya adalah variasi produk baru
yang dirasakan sangat lama yang membuat pelanggan yang datang untuk
berbelanja hanya menemui produk yang sama dengan yang mereka lihat pada
kunjungan sebelumnya. Informasi hal-hal terkait diskon dan potongan harga
masih dirasa kurang sampai ke telinga calon pembeli. Selain itu letak produk
celcius yang berada di lantai dua juga diperkirakan membuat konsumen enggan
untuk sekedar melihat lihat.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dan masalah yang penulis telah
identifikasi di lapangan, maka penulis tertarik ingin mengetahui lebih jauh dengan
403
eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 2, 2017 :401-413
cara melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Marketing Mix Terhadap
Keputusan Pembelian Produk Celcius Samarinda”
Teori dan Konsep
Pengertian pemasaran
Memahami pemasaran tetapi tidak mengetahui dan menerapkannya dengan
benar, hal itu saja tidak cukup bagi perusahaan agar berhasil mecapai tujuannya.
Perusahaan perlu mengukur dan merencanakan dengan baik agar produk bisa
sampai ke konsumen dengan tepat dan dapat pula memuaskan konsumen, oleh
sebab itu peranan manajemen pemasaran menajdi faktor pendukung keberhasilan
tujuan suatu perusahaan.
Definisi pemasaran menurut American Marketing Association (AMA)
adalah kegiatan mengatur lembaga, dan proses untuk membuat, berkomunikasi,
memberikan, dan bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien,
mitra, dan masyarakat pada umumnya (Kotler dan Keller, 2012:5). Definisi
tersebut menjelaskan bahwa pemasaran merupakan proses social yang melibatkan
individu atau kelompok untuk mendapatkan kebutuhan atau keinginan dengan
menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang
bernilai dengan pihak lain.
Menurut Kotler dan Keller (2002:15) pemasaran adalah sebagai suatu
proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh
apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal
balik produk dan nilai dengan orang lain.. Banyak orang mengira bahwa
pemasaran hanya sekedar penjualan atau periklanan. Sekarang, pemasaran harus
dipahami tidak dalam pengertian lama, tetapi dalam pengertian baru yaitu
memuaskan kebutuhan pelanggan. Jika pemasar memahami kebutuhan pelanggan
dengan baik, mengembangkan produk yang mempunyai nilai superior,
menetapkan harga, mendistribusikan, dan mempromosikan produknya dengan
efektif, produk-produk ini akan terjual dengan mudah. Jadi, Definisi pemasaran
adalah semua keinginan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan
dan keingan melalui proses pertukaran. Proses pertukaran melibatkan kerja,
penjual harus mencari pembeli, menemukan dan memenuhi kebutuhan mereka,
merancang produksi yang tepat, menentukan harga yang tepat, menyimpan dan
mengangkutnya, mempromosikan produk tersebut, menegosiasikan dan
sebagainya, semua kegiatan ini merupakan nilai dari pemasaran.
Pengertian Manajemen Pemasaran
Marketing adalah dari kata market yang artinya pasar. pasar disini bukan
dalam pengertian konkrit tetapi lebih ditujukkan pada pengertian abstrak.
Menurut Kotler dan Keller (2012:5) manajemen pemasaran adalah sebagai seni
dan ilmu untuk memilih pasar sasaran dan mendapatkan, menjaga dan
menumbuhkan
pelanggan
melalui
penciptaan,
memberikan,
dan
mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.
Menurut Saladin (2007:3), manajemen pemasaran adalah analisis,
perencanaan, penerapan dan pengendalian program yang dirancang untuk
404
Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian (Wahid)
menciptakan, membangun dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan
dengan pasar sasaran dengan maksut untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
Lebih lanjut Kotler (2012:10) menyatakan bahwa manajemen pemasaran
adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan programprogram yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju
dengan maksud untuk mencapai sasaran perusahaan.
Berdasarakan pengertian di atas dapat disimpulkan manajemen pemasaran
adalah proses analisis, perencanaan, dan pengendalian yang mencakup barangbarang dan jasa serta gagasan/ide yang tergabung pada pertukaran, dengan tujuan
menghasilkan
keputusan
bagi
pihak-pihak
yang
terlibat
seperti
konsumen/pembeli. Jadi dalam pengelolaan manajemen pemasaran mereka perlu
menentukan pasar sasaran dan mengembangkan strategi untuk menghasilkan
sesuatu yang memuaskan perusahaan.
Pengertian Bauran Pemasaran
Pada dasarnya bauran pemasaran merupakan variable-variabel yang dipakai
perusahaan dalam kegiatan pemasarannya. Banyak pendapat dari para ahli yang
menegaskan hal tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Keller dalam
Hurriyati, (2008:48), bauran pemasaran jasa adalah sekumpulan alat pemasaran
(marketing mix) yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan
pemasarannya dalam pasar sasaran.
Kotler dan Keller (2012:25) mengklasifikan berbagai kegiatan pemasaran
dalam alat pemasaran campuran dari empat jenis yang luas terdiri dari 4P, yaitu
produk (product), harga (price), tempat (place), promosi (promotion).
Produk menurut Kotler dan Keller (2012:5) mengemukakan bahwa segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik perhatian, dimiliki,
digunakan atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan.
Menurut Kotler (2009), Produk merupakan kombinasi barang dan jasa yang
ditawarkan perusahaan. Indikator dari produk antara lain ragam, kualitas, desain,
fitur, nama merek dan kemasan.
Harga menurut Tjiptono (2009:151) merupakan suatu moneter atau ukuran
lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak
kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa. Menurut Kotler (2009)
Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan pelanggan untuk memperoleh
produk. Harga memiliki indikator seperti daftar harga, diskon, potongan harga,
periode pembayaran, dan persyaratan kredit. Tujuan Penetapan Harga, pada
prinsipnya penetapan harga mempunyai tujuan yang tidak terlepas dari
perusahaan secara keseluruhan. Adapun tujuan penetapan harga menurut Harini
(2008: 55) adalah sebagai berikut :
a) Penetapan harga untuk mencapai penghasilan atas investasi. Biasanya besar
keuntungan dari suatu investasi telah ditetapkan presentasenya dan untuk
mencapainya diperlukan penetapan harga tertentu dari barang yang
dihasilkannya.
b) Penetapan harga untuk kestabilan harga. Hal ini biasanya dilakukan untuk
perusahaan yang kebetulan memegang kendali atas harga. Usaha pengendalian
405
eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 2, 2017 :401-413
harga diarahkan terutama untuk mencegah terjadinya perang harga, khususnya
bila menghadapi permintaan yang sedang menurun.
c) Penetapan harga untuk mempertahankan atau meningkatkan bagiannya dalam
pasar. Apabila perusahaan mendapatkan bagian pasar dengan luas tertentu,
maka ia harus berusaha mempertahankannya atau justru mengembangkannya.
Untuk itu kebijaksanaan dalam penetapan harga jangan sampai merugikan
usaha mempertahankan atau mengembangkan bagian pasar tersebut.
d) Penetapan harga untuk menghadapi atau mencegah persaingan. Apabila
perusahaan baru mencoba-coba memasuki pasar dengan tujuan mengetahui
pada harga berapa ia akan menetapkan penjualan. Ini berarti bahwa ia belum
memiliki tujuan dalam menetapkan harga coba-coba tersebut.
e) Penetapan harga untuk memaksimir laba. Tujuan ini biasanya menjadi anutan
setiap usaha bisnis. Kelihatannya usaha mencari untung mempunyai konotasi
yang kurang enak seolah-olah menindas konsumen. Padahal sesungguhnya hal
yang wajar saja. Setiap usaha untuk bertahan hidup memerlukan laba. Memang
secara teoritis harga bisa berkembang tanpa batas.
Jadi harga adalah sejumlah uang yang dibutuhkan atau ditukarkan
kekonsumen untuk mendapatkan atau memiliki suatu barang yang memiliki
manfaat serta penggunaannya.
Tempat atau saluran distribusi menurut Kotler (2009) meliputi kegiatan
yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran. Indikator dari tempat
antara lain saluran, cakupan, pemilahan, lokasi, persediaaan, transportasi, dan
logistik. Menurut Suharno dan Sutarso (2009:21) saluran distribusi itu sendiri
mempunyai arti usaha usaha pemasar untuk menjamin ketersediaan produk bagi
pasar sasaran pada saat dibutuhkan. Pemasar perlu menjamin bahwa produk yang
ditawarkan akan tersedia di saat konsumen membutuhkan dimanapun kapanpun
dan berapapun. Aktivitas terpenting dari distribusi adalah menjaga kemudahan
dan kenyamanan dalam memperoleh produk yang diinginkan pasar sasaran. Jadi
saluran distribusi itu sendiri terdiri dari berbagai lembaga atau badan yang saling
tergantung dan saling berhubungan yang berfungsi sebagai salah satu sistem atau
jaringan yang bersama-sama menghasilkan dan mendistribusikan sebuah produk
kepada pengguna akhir.
Promosi menurut Kotler (2009) berarti aktivitas yang menyampaikan
manfaat produk dan membujuk pelanggan untuk membelinya. Indikator dari
promosi antara lain iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan dan hubungan
masyarakat. Alma (2009:247) mengatakan bahwa promosi adalah sejenis
komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang
barang dan jasa. Menurut Suharno dan Sutarso (2009:21) promosi adalah adalah
aktivitas komunikasi pemasaran mengenai produk dan mempersuasi pasar sasaran
untuk membelinya. Aktivitas promosi banyak menyangkut bagaimana
mengkomunikasikan dan mempersuasi pelanggan. Tujuan promosi adalah
memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon
konsumen. Suatu kegiatan promosi jika dilaksanakan dengan baik dapat
mempengaruhi konsumen mengenai di mana dan bagaimana konsumen
406
Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian (Wahid)
membelanjakan pendapatannya. Keuntungan bagi produsen adalah promosi dapat
menghindarkan persaingan berdasarkan harga, karena konsumen membeli barang
lebih dikarenakan tertarik dengan mereknya.
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif di mana penelitian ini
mencoba untuk mengadakan penelitian ilmiah yang sistematis, menggambarkan
fakta-fakta dari hasil penelitian dalam bentuk data berupa angka hasil perhitungan
atau pengukuran. Menurut Basuki (2006) penelitian metode deskriptif adalah
penelitian yang dapat dilakukan secara kuantitatif agar dapat dilakukan analisis
statistik.
Definisi Operasional
Tabel Definisi Operasional
Variabel
Sub Variabel
Indikator
a. Ragam
a.Produk
b. Desain
c. Merek
a. Daftar harga
b.Harga
b. Diskon
c. Syarat pembayaran
Variabel X
Independen
a. Lokasi
(Marketing Mix) c.Tempat (display produk b. Persediaan
dan tata letak)
c. Pemilahan (display)
produk
a. Iklan
b. Promosi penjualan
d.Promosi
c. Hubungan
masyarakat
a.Pengenalan masalah
Konsumen
menyesuaikan
kebutuhan pembelian
produk dengan
kebutuhan sehari hari
Konsumen
mencari
Variabel
Y b.Penggalian informasi
informasi
tentang
Dependen
produk yang akan
(Keputusan
dibeli
Pembelian)
c.Evaluasi alternative
Konsumen
membandingkan
dengan produk lain
d.Keputusan pembelian Konsumen melakukan
konsumen
pembelian produk
407
eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 2, 2017 :401-413
e.Prilaku
pembelian
paska Konsumen
merasa
puas atau tidak puas
terhadap
keputusan
pembelian
produk
tersebut
Sumber: Data Diolah 2016
Populasi dan Sampling
Dalam menentukan populasi dalam penulisan ini adalah para konsumen
yang datang pada saat membeli produk di Celcius kota Samarinda, dimana untuk
saat ini masih belum diketahui pasti jumlahnya.
Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan jumlah sampel untuk penelitian
ini adalah 96,04, dan dibulatkan menjadi 100 responden. Selanjutnya dalam
penelitian ini nanti akan menggunakan metode Accidental sampling yaitu siapa
saja yang ditemui secara kebetulan oleh peneliti maka dapat digunakan sebagai
sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber
data (Sugiyono, 2003:67).
Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, diperlukan beberapa teknik
pengumpulan data, yaitu:
a) Studi kepustakaan
b) Studi lapangan
Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis data yang akan digunakan adalah analisis regresi
linear berganda. Tahap-tahap dalam analisis ini adalah sebagai berikut:
a) Uji validitas dan reabilitas
b) Uji asumsi klasik
c) Analisis regrsi linear berganda
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil Penelitian
Dari setiap item pertanyaan diperoleh
lebih besar dari
0,195
(nilai r table untuk n=100), maka item pertanyaan pada penelitian di atas adalah
valid dan dengan demikian data yang diperoleh layak digunakan untuk analisis
selanjutnya.
Dari hasil analisis reliabiliti didapat nilai Alpha pada variabel x1 sebesar
0,779, variabel x2 sebesar 0,817, variabel x3 sebesar 0,767, variabel x4 sebesar
0,814. Sedangkan nilai r kritis (uji 2 sisi) pada signifikansi 0,05 dengan jumlah
data (n) =100, didapat sebesar 0,195. Karena nilainya lebih dari 0,195 maka dapat
disimpulkan bahwa butir-butir pernyataan pada variabel x tersebut ialah reliabel.
Sedangkan hasil analisis pada variabel y di dapat nilai Alpha sebesar
0,799.Sedangkan nilai r kritis (uji 2 sisi) pada signifikansi 0,05 dengan jumlah
data (n) =100, didapat sebesar 0,195. Karena nilainya lebih dari 0,195 maka dapat
disimpulkan bahwa butir-butir pernyataan pada variabel y tersebut ialah reliabel.
Jadi dapat disimpulkan bahwa semua variabel dalam penelitian ini ialah reliabel.
408
Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian (Wahid)
Dari hasil di autokorelasi kita lihat pada Normal Probability Plot, data
menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka dapat
disimpulkan data berdistribusi normal.
Dari hasil output di atas di dapat DW yang dihasilkan dari model regresi
adalah 1.814. sedangkan dari table DW dengan signifikansi 0,05 dan jumlah data
(n) = 100, serta k = 4 (k adalah jumlah variable independen) diperoleh nilai dL
sebesar 1,5922 dan DU sebesar 1,7582. Karena inilah DW (1.814) terletak antara
Du dan (4-dU), maka menghasilkan kesimpulan yang berarti tidak ada auto
korelasi.
Pada penelitian ini dilakukan uji multikoleniaritas dengan melihat nilai
inflation factor (VIF) pada model regresi. Menurut Santoso (2001), pada
umumnya jika VIF lebih besar dari 10, maka variabel tersebut mempunyai
persoalan multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya.Dari hasil uji
multikolinearitas dapat diketahui nilai variance inflantion factor (VIF), yaitu X1=
1,394, X2 =1,910, X3=1,585, X4=1,323 dan semuanya lebih kecil dari 10.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa antarvariabel independen tidak terjadi
persoalan multikolinearitas.
Dari pengolahan data diperoleh koefisien Determinasi (R Square) sebesar
0.339. Hal ini dapat dijelaskan bahwa variabel Y dipengaruhi sebesar 33,9% oleh
variabel Y, sedangkan sisanya dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain
yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini yaitu sebesar (100% - 33,9%= 66,1%)
Dari hasil uji Anova diperoleh nilai Sig.Fhitung sebesar 0,000 < 0,05, maka
Ho ditolak, artinya ada pengaruh secara signifikan antara Produk (X1), Harga
(X2), Tempat (display dan tata letak) (X3), promosi (X4) secara bersama-sama
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Variabel Produk menghasilkan Sig.t hitung sebesar 0,061> 0,05, dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa secara parsial tidak berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian. Variabel Harga menghasilkan nilai Sig.t hitung
sebesar 0,020< 0,05, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara parsial
harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Variabel Tempat
(display dan tata letak) menghasilkan nilai Sig.t hitung sebesar 0,050 = 0,05,
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara parsial tempat tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Variabel promosi
menghasilkan nilai Sig.t hitung sebesar 0,470> 0,05, dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa secara parsial promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap
keputusan pembelian.
Pembahasan
Pengaruh produk terhadap keputusan pembelian
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa variabel produk secara parsial
tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Penelitian ini tidak sejalan dengan yang dikatakana Belch dalam Morrisan
(2010) bahwa “Consumers look beyond the reality of the product and is
ingredients”. Berdasarkan pernyataan tersebut maka didalam memutuskan
pembelian konsumen juga akan mempertimbangkan aspek – aspek seperti
409
eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 2, 2017 :401-413
kualitas, merek, kemasan dan bahkan perusahaan yang berada dibelakang suatu
produk.
Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian Wantini (2012),
yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara
parsial antara variabel produk terhadap keputusan pembelian.
Berdasarkan fakta yang ada di lapangan, tanggapan responden tentang
produk mayoritas menyatakan setuju dibutir pernyataan pertama, kedua maupun
ketiga. Namun dari hasil SPSS menunjukan tidak adanya pengaruh secara
signifikan dari variabel produk terhadap keputusan pembelian. Artinya responden
setuju bahwa produk Celcius adalah produk yang bagus dan berkualitas, akan
tetapi hal tersebut bukan merupakan hal yang penting di dalam pengambilan
keputusan pembelian atau mempengaruhi konsumen.
Menurut hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan bahwa bukan
produknya, bukan fisik barangnya, tetapi image yang di kedepankan. Sebagian
besar konsumen adalah pelanggan lama atau lebih dari 1 tahun yang dimana
mementingkan brand dalam berpenampilan. Itulah mengapa produk tidak
berpengaruh signifikan karena konsumen melihat bahwa produk celcius telah
memilik nama yang cukup besar di bidang fashion sehingga konsumen tidak
kawatir tentang produk celcius karena telah terjamin mutu dan kualitasnya.
Pengaruh harga terhadap keputusan pembelian
Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa variabel harga secara parsial
harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Tjiptono (2008) di dalam peranan harga salah satunya yaitu “Harga
memainkan peran penting bagi konsumen dalam penjualan ritel, ada segmen
pembeli yang sangat sensitif terhadap faktor harga.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wantini (2012), dimana
terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara parsial antara variabel harga
terhadap keputusan pembelian.
Berdasarkan fakta dilapangan, tanggapan responden tentang harga
mayoritas menyatakan setuju dibutir pertama, kedua dan ketiga. Fakta ini
membuktikan bahwa responden menyetujui bahwa harga dapat menarik minat
responden untuk membeli produk Celcius tersebut. Pada dasarnya harga produk
Celcius tidak terhitung dalam kategori murah, contoh saja kaos keluaran terbaru
harga yang dipatok biasanya Rp 129.000,00 – Rp 199.000,00 tergantung
motif/model. Sedangkan untuk kemeja sendiri dipatok mulai dari Rp 299.000,00 –
Rp 459.000,00 tergantung motif/model. Tapi jika konsumen belanja barang yang
sama di tempat lain, paling mahal untuk kaos Rp 150.000,00 tergantung
motif/model dan Rp 180.000,00 untuk kemeja tergantung motif dan model. Lalu
kemudahan transaksi juga dirasakan konsumen baik secara tunai dan non tunai.
Oleh karena itu dapat disimpulan bahwa variabel harga yang ditawarkan
celcius sesuai dengan kualitas yang didapat. Hal tersebut menjadi pertimbangan
penting dalam keputusan pembelian. Hasil ini sesuai dengan pendapat Tjiptono,
(2008) di dalam peranan harga salah satunya yaitu “harga memainkan peranan
penting bagi konsumen dalam penjualan ritel, ada segmen pembeli yang sangat
410
Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian (Wahid)
sensitive terhadap faktor harga (menjadikan harga satu-satunya pertimbangan
membeli produk)” (hlm. 471). Harga merupakan determinan utama permintaan”
(hlm. 167), berdasarkan hokum permintaan, besar kecilnya harga memengaruhi
kuantitas produk yang dibeli konsumen.
Pengaruh tempat terhadap keputusan pembelian
Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa variabel tempat secara
parsial tempat tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Penelitian ini tidak sejalan dengan yang dikemukakan oleh Swastha (2002)
lokasi merupakan berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk
menjadikan produknya dapat diperoleh dan tersedia bagi konsumen. Dalam
penelitian yang telah dilakukan, tempat (display dan tata letak) tidak berpengaruh
signifikan terhadap keputusan pembelian, dengan kata lain responden tidak
melihat tempat sebagai pertimbangan dalam hal keputusan pembelian.
Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wantini
(2012) yang menyebutkan ada pengaruh yang positif dan signifkan secara parsial
antara variabel tempat terhadap keputusan pembelian.
Berdasarkan fakta yang ada di lapangan, tanggapan responden tentang
tempat mayoritas menyatakan setuju dibutir pertanyaan pertama dan ketiga.
Tetapi dibutir pertanyaan kedua mayoritas menyatakan netral. Fakta ini
membuktikan bahwa respond tidak terlalu memperhatikan tempat sebagai
pertimbangan keputusan pembelian.
Menurut hasil observasi peneliti, tempat tidak berpengaruh signifikan
karena konsumen rata – rata telah memiliki kendaraan pribadi yang
memungkinkan konsumen bisa berbelanja kapan pun dan dimana pun. Lalu
sebagian customer adalah pelanggan lebih dari satu tahun. Pelanggan tersebut
juga bukan termasuk impulse buying, tetapi pembelian yang direncanakan. Jadi,
konsumen akan tetap belanja meskipun tempatnya jauh ataupun sulit di jangkau
sekalipun. Berdasarkan penelitian ini, Tempat merupakan variabel yang
menempati urutan ke dua di bawah variabel harga yang menempati urutan
pertama sebagai variabel bebas yang paling berpengaruh terhadap keputusan
pembelian produk Celcius. Hal tersebut menunjukan bahwa variabel tempat tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Pengaruh promosi terhadap keputusan pembelian
Berdasarkan hasil anlisis disimpulkan bahwa variabel promosi secara
parsial promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Hasil penelitian ini tak sejalan dengan yang diungkapkan Shimp (2003)
salah satu fungsi dari iklan sebagai alat komunikasi pemasaran yaitu persuading
(mempersuasi) yang dimaksut dengan mempersuasi yaitu mampu membujuk
pelanggan untuk mencoba produk dan jasa yang diiklankan atau
dikomunikasikan. Dalam penelitian ini, promosi tidak berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian, hal ini menunjukan bahwa ternyata responden
tidak terlalu memperhatikan promosi sebagai salah satu pertimbangan dalam
keputusan pembelian,
411
eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 2, 2017 :401-413
Hal ini juga tak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wantini (2012)
yang mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara
parsial antara variabel tempat terhadap keputusan pembelian. Fakta yang ada di
lapangan menunjukan mayoritas responden menyatakan netral pada butir pertama
dan ketiga, dan responden menyatakan setuju pada butir pernyataan kedua. Fakta
ini membuktikan bahwa responden tidak terlalu memperhatikan promosi sebagai
pertimbangan keputusan pembelian.
Menurut hasil observasi peneliti, promosi tidak berpengaruh signifikan
karena tanpa promosipun konsumen akan tetap datang yang mana sebagian besar
konsumen celcius sudah menjadi pelanggan lebih dari satu tahun. Variabel
promosi mempunyai koefisien regresi sebesar 0,073 menempati peringkat
keempat yang sudah jelas tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian
Penutup
Berdasarkan analisa yang telah dijelaskan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian produk merek celcius di jalan Gatot Subroto
Samarinda dapat disimpulkan sebagai berikut:
Dari hasil uji F ( Uji serentak ) nilai signifikansi F hitung lebih kecil dari
Alpha, hal ini menunjukkan bahwa variabel bauran pemasaran yang terdiri dari
produk, harga, tempat/saluran distribusi dan promosi secara serentak (simultan)
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dikarenakan nilai koefisien
determinasi rendah dan hipotesis diterima dan secara uji T (Uji parsial) variabel
produk, tempat dan promosi tidak berpengaruh hanya variabel harga saja yang
berpengaruh terhadap keputusan pembelian sehingga hipotesis ditolak.
Diketahui bahwa variabel harga paling berpengaruh terhadap keputusan
pembelian produk Celcius di jalan Gatot Subroto Samarinda karena nilai harga
lebih kecil dari Alpha.
Disarankan kepada outlet Celcius untuk tetap menjaga variabel harga
terutama pada Marketing Mix yang telah dilakukan agar dapat tercipta keputusan
pembelian konsumen yang berkelanjutan.
Disarankan kepada outlet Celcius untuk terus berinovasi pada Marketing
Mix dalam hal harga agar dapat menarik minat konsumen sehingga tercipta
keputusan pembelian oleh konsumen.
Daftar Pustaka
Alma, Buchari. 2005. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung:
Alfabeta.
Amirullah, 2005. Pengantar Bisnis, Edisi Pertama, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Harini, 2008. Makroekonomi Pengantar. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Imam Hardjanto, Amirullah. 2005, Pengantar Bisnis. Yogyakarta: Graha Ilmu
Kotler, Philip. 2000, Manajemen Pemasaran, Jakarta: PT. Prenhallindo.
Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 2003. Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi
kesembilan. Jilid 1. Jakarta: Indeks.
412
Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian (Wahid)
Morissan. 2010. Periklanan “Komunikasi Pemasaran Terpadu”. Jakarta:
Kencana
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta.
Swastha dan Irawan. 2003. “Manajemen Pemasaran Modern”, edisi kedua
cetakan ke sebelas. Yogyakarta : Liberty Offset.
Tjiptono, Gregorius Chandra, Dadi Adriana. 2008. Pemasaran Strategi.
Jogjakarta: Andi Offset;
Stanton, William, J. 2003, Prinsip Pemasaran, Jilid 1, terjemahan Y. Lamarto,
Edisi kesepuluh, cetakan kesepuluh, Erlangga, Jakarta.
Lupiyadi. 2004. “Manajemen Pemasaran Jasa : Teori dan Praktek, PT Salemba
Empat, Jakarta
Ferdinand. 2006. “Metode Penelitian Manajemen: Pedoman Penelitian untuk
Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi Ilmu Manajemen”, Badan Penerbit
Universitas Diponegoro, Semarang.
Arikunto, 2002. “Prosedur Suatu Penelitian: Pendekatan Praktek”. Edisi Revisi
Kelima. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Rangkuti. 2003. “Measuring Customer Satisfaction”. Cetakan kedua, Jakarta:
Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama
Wantini. Saiz. 2013. “pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan
pembelian emping mlinjo di kelurahan ngadirejo kecamatan kartasura”:
https://app.box.com/s/0ua0jskxme69306qkreg (diakses 2 april 2016)
413
Download