BAB III PERLINDUNGAN ANAK LUAR KAWIN DARI PASANGAN

advertisement
45
BAB III
PERLINDUNGAN ANAK LUAR KAWIN DARI PASANGAN SUAMI ISTRI
YANG BERBEDA KEWARGANEGARAAN
A. Pengertian Perkawinan Campuran
R. Subekti menegaskan: “perkawinan adalah pertalian yang sah antara
seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama”. 89 Perkawinan
merupakan salah satu bentuk “perikatan” antara seorang pria dengan seorang
wanita.90 Perikatan tersebut diatur dalam suatu hukum yang berlaku dalam
masyarakat, yang dikenal dengan istilah “hukum perkawinan”, yakni sebuah
himpunan peraturan-peraturan yang mengatur dan memberi sanksi terhadap tingkah
laku masyarakat dalam perkawinan.91
Keadaan hukum perkawinan di Indonesia beragam coraknya. Bagi setiap
golongan penduduk berlaku hukum perkawinan yang berbeda dengan golongan
penduduk yang lainnya. Keadaan ini telah menimbulkan permasalahan hukum antar
golongan di bidang perkawinan, salah satunya yaitu peraturan hukum manakah yang
akan diberlakukan terhadap perkawinan antara 2 (dua) orang yang berbeda
kewarganegaraan. Untuk memecahkan masalah tersebut, Pemerintah Hindia Belanda
mengeluarkan peraturan tentang perkawinan campuran, yakni Regeling op de
Gemengde Huwelijken (Stb. No. 158 Tahun 1898), yang disingkat GHR.
89
Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Intermasa, 2003), hlm. 23.
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, Menurut Perundangan, Hukum Adat,
Hukum Agama, cet. 3, (Jakarta: Mandar Maju, 2007), hlm. 6
91
Achmad Ihsan, Hukum Perkawinan Bagi Mereka yang Beragama Islam, Suatu Tinjauan
dan Ulasan Secara Sosiologi Hukum, cet. 1, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1986), hlm. 18.
90
45
Universitas Sumatera Utara
46
Peraturan mengenai perkawinan campuran pertama kali diatur dalam GHR.
Artikel 1 dari Staatblaad ini memberikan pengertian mengenai perkawinan
campuran. Pengertian tersebut diterjemahkan oleh Sudargo Gautama sebagai
“perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berbeda
dinamakan perkawinan campuran.”92 Pengertian yang demikian mengandung arti
yang sangat luas, apabila ternyata hukum yang berlaku untuk orang-orang
bersangkutan yang hendak menikah di Indonesia, maka mereka dianggap telah
melakukan perkawinan campuran, berarti termasuk juga orang-orang yang berbeda
kewarganegaraannya.93
Pasal 1 GHR menjelaskan arti perkawinan campuran adalah: “perkawinan
antara orang-orang yang di Indonesia tunduk kepada hukum-hukum yang
berlainan”.94 Definisi ini sangat luas jangkauannya, tidak membatasi arti perkawinan
campuran pada perkawinan-perkawinan antar WNI atau antar penduduk Indonesia
dan dilaksanakan di Indonesia, asalkan pihak-pihak yang melaksanakan perkawinan
di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan adalah perkawinan campuran.
Perkawinan antara 2 (dua) orang yang berkewarganegaraan asing dan bukan
penduduk Indonesia yang dilaksanakan di luar Indonesia, misalnya orang Prancis dan
orang Arab. Perkawinan campuran dalam GHR termasuk pula perkawinan-
92
Sudargo Gautama, Himpunan Perundang-undangan Hukum Perdata Internasional Sedunia,
(Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1996), hlm. 10 (selanjutnya disebut sebagai Sudargo Gautama 1).
93
Sudargo Gautama, Aneka Masalah dalam Praktek Pembaruan Hukum di Indonesia, cet. 1,
(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1990), hlm. 226 (selanjutnya disebut sebagai Sudargo Gautama 2).
94
Sudargo Gautama, Segi-segi Hukum Peraturan Perkawinan Campuran (Staatsblaad 1898
No. 158), (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1996), hlm. 60 (selanjutnya disebut sebagai Sudargo
Gautama 3).
Universitas Sumatera Utara
47
perkawinan yang dilaksanakan di luar negeri antara 2 (dua) orang WNI yang di
Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan atau antara seorang WNI dan seorang
asing. Akan tetapi, bila pihak atau pihak-pihak yang dahulu tunduk pada seluruh atau
sebagian dari hukum perkawinan KUHPerdata, maka perkawinan tersebut berlakulah
ketentuan KUHPerdata.95
Pasal 2 GHR adalah pasal yang terpenting dari seluruh GHR dan bahkan juga
dalam lapangan Hukum Antar Golongan di Indonesia karena Pasal 2 ini dengan tegas
menjunjung tinggi asas persamarataan pengharapan terhadap stelsel-stelsel hukum
yang berlaku di Indonesia. Karena sebelum berlakunya ketentuan Pasal 2 GHR
tersebut, sikap pemerintah Hindia Belanda terhadap stelsel-stelsel hukum yang
berlaku di Indonesia tidaklah demikian, penguasa waktu itu menyatakan bahwa
stelsel hukum Eropa mempunyai kedudukan lebih tinggi. Hal ini terbukti ketika di
Indonesia hendak dimulai dengan perundang-undangan yang baru pada tahun 1848,
dengan mencantumkannya ketentuan yang menyatakan bahwa seorang bukan Eropa
yang hendak menikah dengan seorang Eropa harus tunduk terlebih dahulu pada
Hukum Perdata Eropa.96
Terkait mengenai asas persamarataan seperti dimuat dalam Pasal 2 GHR,
walaupun menurut Wertheim hanya sama sekali benar bila sesuatu dipandang secara
strict juridisch, asas ini adalah perlu untuk mencapai suatu kesatuan hukum dalam
keluarga.97
95
Ibid., hlm. 61.
Sudargo Gautama, Hukum Antar Golongan, (Jakarta: Ichtiar Baru-Vanhoeve, 1980), hlm.
128 (selanjutnya disebut sebagai Sudargo Gautama 4).
97
Ibid.
96
Universitas Sumatera Utara
48
Perkawinan campuran apabila dilihat dari pandangan agama Kristen Katolik,
Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonic) Buku VI Kanonik 1124 menyatakan
bahwa “perkawinan campuran, yaitu perkawinan antara 2 (dua) orang yang dibaptis,
yang antara 1 (satu) dipermandikan dalam gereja Katolik atau diterima di dalamnya
setelah dibaptis dan tidak meninggalkannya secara resmi, sedangkan pihak yang lain
tercatat pada gereja atau persekutuan gerejani yang tidak mempunyai persatuan penuh
dengan gereja Katolik, tanpa izin tegas dari kuasa berwenang dilarang”.98
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pengertian perkawinan
campuran dalam agama Katolik adalah lebih sempit dari pengertian Pasal 1 GHR,
perkawinan campuran hanyalah perbedaan antara orang yang beragama Kristen
Katolik dengan orang yang beragama Kristen tetapi bukan Katolik.
Ketentuan dalam Kanonik 1124, seorang pemeluk agama Katolik hanya boleh
melakukan perkawinan campuran, bilamana telah memperoleh izin tegas dari kuasa
yang mempunyai wewenang (pastor/paroki/uskup) dengan memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
1. Pihak yang beragama Katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya
meninggalkan iman serta memberikan janji dengan jujur, bahwa ia akan
berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan
dididik dalam gereja Katolik (Kanonik 1125 angka 1).
2. Mengenai janji-janji yang harus dibuat pihak Katolik, hendaknya pihak yang
lain diberitahukan pada waktunya sehingga jelas bahwa ia sungguh sadar akan
janji dan kewajiban pihak Katolik (Kanonik 1125 angka 2).
98
Piet Go dan O. Carm, Hukum Perkawinan Gereja Katolik Teks dan Komentar, (Malang:
Dioma, 2006), hlm. 126.
Universitas Sumatera Utara
49
3. Kedua pihak hendaknya diberi penjelasan mengenai tujuan-tujuan dan sifatsifat hakiki perkawinan yang tidak boleh dikesampingkan oleh seorang pun
dari keduanya (Kanonik 1125 angka 3).99
Perkawinan campuran yang dilakukan di luar wilayah Indonesia:
1. Perkawinan di luar wilayah Indonesia antara 2 (dua) orang WNI atau seorang
WNI dengan WNA adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum yang
berlaku di negara mana perkawinan tersebut dilangsungkan dan bagi WNI
tidak melanggar ketentuan ini (Pasal 56 ayat (1)).
2. Dalam waktu 1 (satu) tahun setelah suami istri tersebut kembali ke wilayah
Indonesia, surat bukti perkawinan mereka harus didaftarkan ke kantor
pencatat perkawinan tempat tinggal mereka (Pasal 56 ayat (2)).100
Purnadi
Purbacaraka
dan
Agus
Brotosusilo
memberikan
pengertian
perkawinan internasional sebagai berikut:
“Perkawinan internasional adalah suatu perkawinan yang mengandung unsur
asing. Unsur asing tersebut bisa berupa seorang mempelai mempunyai
kewarganegaraan yang berbeda dengan mempelai lainnya, atau kedua
mempelai sama kewarganegaraannya tetapi perkawinannya dilangsungkan di
negara lain atau gabungan kedua-duanya.”
B. Dasar Hukum Perkawinan Campuran
Perkawinan campuran telah terjadi jauh sebelum lahirnya Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Adapun dasar hukum perkawinan
campuran adalah sebagai berikut:
1.
Menurut Asas-Asas Umum Hukum Perdata Internasional di Indonesia
Sampai saat ini belum ada peraturan perundang-undangan nasional Indonesia
yang secara khusus menghimpun dan mengatur asas dan kaidah HPI secara lengkap,
99
Ibid., hlm. 128-129.
Soeprijatna Anwar, “Perkawinan Campuran dalam Kaitannya dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011
tentang Keimigrasian”, Bahan Seminar, Diselenggarakan di Batam oleh Kantor Imigrasi Kelas I
Khusus Batam, pada tanggal 22 Mei 2014, hlm. 2.
100
Universitas Sumatera Utara
50
komprehensif dan terintergrasi. Asas dan kaidah HPI tersebar diberbagai aturan yang
terpisah-pisah. Kaidah-kaidah HPI umum yang ada dan melupakan peninggalan
sistem hukum Hindia Belanda, termuat di dalam Pasal 16, 17 dan 18 AB. Peraturan
tersebut isinya adalah sebagai berikut:101
a. Pasal 16 AB
“Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang mengenai status dan wewenang
seseorang tetap berlaku bagi kawula Negara Belanda (para warga di wilayah
terjajah), apabila ia berada di luar negeri. Akan tetapi, apabila ia menetap di
Negara Belanda atau di salah satu daerah koloni Belanda, selama ia
mempunyai tempat tinggal disitu, berlakulah mengenai bagian tersebut dan
hukum perdata yang berlaku disana”.
Pasal ini mengatur tentang status dan kewenangan personal dari seseorang.
Asas yang digunakan dalam pasal ini adalah asas domicile of origins. Artinya, untuk
menentukan seseorang cakap atau berwenang untuk melakukan suatu perbuatan
hukum tertentu ukuran yang digunakan adalah ukuran yang berlaku di dalam hukum
tempat orang tersebut berasal.
b. Pasal 17 AB
“Terhadap barang-barang yang tidak bergerak berlaku undang-undang dari
negara atau tempat dimana barang-barang tersebut berada”.
Pasal ini mengatur tentang status kebendaan dari benda tetap. Asas yang
digunakan di dalam pasal ini adalah asas selexitus atau lex rei sitae. Artinya, ukuranukuran untuk menentukan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai benda tetap, hak
101
Bayu Seto Hardjowahono, Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional, Buku Kesatu,
(Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 73.
Universitas Sumatera Utara
51
kebendaan atas benda tetap, serta akibat hukumnya harus ditetapkan berdasarkan
sistem hukum dari benda tetap berada atau terletak.
c. Pasal 18 AB
“Bentuk setiap tindakan hukum akan diputus oleh pengadilan menurut
perundang-undangan dari negeri atau tempat, dimana tindakan hukum
dilakukan”.
Pasal ini mengatur tentang hukum yang seharusnya diberlakukan dalam
penetapan status dan keabsahan dari perbuatan-perbuatan atau hubungan-hubungan
hukum (yang mengandung unsur asing). Asas HPI yang digunakan di dalam pasal ini
adalah asas lex loci actus, artinya bentuk dari perbuatan hukum serta keabsahannya
akan ditentukan dimana hukum dibuat. Asas ini menjadi sangat penting untuk
menentukan kualifikasi hukum dari suatu perbuatan hukum.102
Mengingat hingga saat ini Indonesia belum memiliki peraturan yang berisi
asas HPI yang menggantikan ketiga pasal AB tersebut, maka AB hingga saat ini
masih berlaku dan menjadi acuan penting untuk menentukan hukum yang berlaku
untuk menyelesaikan perkara HPI. Penjabaran lebih jauh ketiga asas tersebut akan
dibahas sebagai berikut:103
1) Status personal dan kecakapan hukum: hukum dari tempat kewarganegaraan.
Pasal 16 AB diatur dalam konteks penjajahan Belanda karena peraturan ini
ditujukan untuk menentukan status personal dari kawula Negara Belanda yang tetap
102
103
Ibid., hlm. 75.
Ibid., hlm. 77.
Universitas Sumatera Utara
52
tunduk pada sistem hukum dari wilayah hukum berasal, kecuali jika ia tinggal di
Belanda atau di salah satu wilayah koloni Belanda (pada saat itu beberapa negara
jajahan Belanda lainnya adalah Suriname, Netherlands Antilles dan Curacao).
Kawula Negara Belanda akan tunduk pada hukum Belanda atau hukum negara
terjajah lainnya dimana kawula negara tersebut berada. Jika, seorang Bumi Putera
pada tahun 1921 tinggal di Amerika Serikat, penentuan status personalnya akan
tunduk pada hukum adatnya sendiri. Status hukumnya akan diatur dengan hukum
Curacao apabila seorang Bumi Putera tinggal di Curacao.
Terkait mengenai Negara Indonesia yang telah merdeka, asas yang dapat
disimpulkan dari Pasal 16 AB adalah status personal dan kecakapan bertindak dari
seorang WNI yang tunduk pada hukum Indonesia, status personal dan kecakapan
bertindak dari setiap WNA akan tunduk pada hukum dari tempat mereka berasal (asas
country of origin atau domicile of origin). Mengadopsi dari sistem yang berlaku di
Belanda, di Indonesia domicile of origin ini diterapkan dengan menggunakan patokan
hukum dari tempat seseorang berkewarganegaraan (national principle).
2) Benda tetap: asas lex situs
Pasal 17 AB Indonesia menetukan status benda tetap diatur dengan
menggunakan asas lex situs atau lex rei sitae yang artinya hukum dari tempat
tersebut berada yang akan digunakan untuk menentukan status benda tetap.
Asas ini adalah asas yang sangat tepat, mengingat dengan ditundukkannya
status benda pada hukum dari benda tersebut akan membuat eksekusi atau
Universitas Sumatera Utara
53
penegakan atas hak benda menjadi lebih mudah dilaksanakan karena telah
sesuai dengan hukum yang berlaku di wilayah tersebut.104
Pasal 17 ini harus ditegaskan kembali bahwa hanya diberlakukan untuk
menentukan status benda tetap. Akibatnya, sampai saat ini Indonesia tidak
memiliki kaidah HPI yang mengatur tentang hukum yang seharusnya berlaku
terhadap status benda bergerak. Secara doktrinal dan juga dalam praktik, asas
yang digunakan untuk menentukan status hukum dari benda bergerak adalah
asas mobilia sequuntur personam, yang menentukan keberlakuan hukum
personal pemilik/penguasa benda bergerak untuk mengatur status hukum dari
benda bergerak. Penerapan asas mobilia sequuntur personam dalam
menentukan status benda bergerak dapat lebih memberikan kepastian hukum
penerapan asas lex situs yang justru dapat menimbulkan ketidakpastian
hukum.105
3) Perbuatan hukum atau hubungan hukum: asas lex loci actus
Bentuk, formalitas dan keabsahan dari sebuah perbuatan hukum ditentukan
berdasarkan hukum dari tempat terlaksana/dilaksanakannya perbuatan hukum
(asas lex loci actus). Asas ini diturunkan dari asas locus regit actum, yang
memberi kualifikasi atas bentuk perbuatan hukum atau masalah hukum
104
105
Ibid., hlm. 77.
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
54
tertentu berdasarkan sistem hukum dimana perbuatan hukum atau masalah
hukum terjadi.106
2.
Menurut Staatsblad 1896 No. 158
Pengertian perkawinan campuran masa Pemerintahan Kolonial Besluit
Kerajaan 29 Desember 1896/158 (Regeling op de Gemengde Huwelijken, selanjutnya
disingkat GHR) memberi definisi sebagai berikut: “Perkawinan dari orang-orang
yang di Indonesia berada di bawah hukum yang berlainan (Pasal 1)”. Menurut Pasal 1
GHR tersebut maka yang masuk dalam lingkup perkawinan campuran, yaitu:
a. Perkawinan campuran internasional
Perkawinan campuran internasional selalu merupakan perkawinan campuran.
Perkawinan antara warga negara dan orang asing jelas merupakan perkawinan
yang berada di bawah hukum yang berlainan. Berdasarkan sebuah Keputusan
Hakim Pengadilan Negeri Jakarta tanggal 1 September 1954, ternyata
perkawinan yang dilangsungkan di Kairo antara seorang laki-laki WNI dengan
seorang perempuan warga negara Mesir berdasarkan Pasal 2 dan 10 GHR
merupakan perkawinan campuran.
b. Perkawinan campuran antar regio.
Perkawinan antar regio adalah perkawinan campuran sebelum tanggal 27
Desember 1949 hukum interregional ini masih mempunyai arti, tetapi
sekarang hanya merupakan sejarah. Dasar dari hubungan hukum interregional
itu adalah Pasal 16 Algemene Bepalingen van Wetgeving selanjutnya disebut
AB. Bagi kaula Belanda yang berasal dari Hindia Belanda dan berada di
Negeri Belanda atau lain jajahan dari kerajaan Belanda, tetap berlaku hukum
yang dikenal staat en bevoegheid, yang tengah berlaku di Belanda, kecuali
bila mana ia bertempat tinggal dan menetap di negeri lain, dimana berlaku
hukum setempat karena terjadi perkawinan campuran.
c. Perkawinan campuran antar tempat.
Perkawinan campuran antar tempat adalah perkawinan antara kaula negara
dan kaula daerah yang memiliki pemerintahan sendiri.
d. Perkawinan campuran antar agama, adalah:
1) Antara Indonesia Nasrani dan Indonesia bukan Nasrani;
2) Antara Indonesia Islam dan bukan Islam;
3) Antara Arab Nasrani dan Arab bukan Nasrani;
106
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
55
e.
3.
4)
Antara Indonesia Hindu dan bukan Hindu.
Perkawinan campuran antar golongan
Berlaku untuk perkawinan antar golongan rakyat dari Pasal 163 IS.107
Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974
Perkawinan campuran merupakan perkawinan antara 2 (dua) orang yang di
Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan
kewarganegaraan, yang mana salah satu pihak berkewarganegaraan asing dan yang
lainnya berkewarganegaraan Indonesia.108 Konsep perkawinan campuran UndangUndang Perkawinan berlainan dengan konsep perkawinan campuran dalam Pasal 1
Staatsblad 1898 Nomor 158, perkawinan campuran adalah perkawinan antara orangorang Indonesia yang tunduk kepada hukum yang berlainan.109
Faktor
penyebab
hukum
yang
berlainan,
yaitu
adanya
perbedaan
kewarganegaraan, tempat, golongan dan agama, sedangkan perkawinan campuran
dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 hanya menekankan pada
perbedaan kewarganegaraan dan salah satunya harus kewarganegaraan Indonesia.110
Aturan pelaksananya dari Undang-Undang Perkawinan juncto Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Dalam rangka pelaksanaan undang-undang
tersebut ditetapkan pula Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975 tentang
Kewajiban Pegawai Pencatat Nikah dan Tata Kerja Peradilan Agama dan Petunjuk
Mahkamah Agung Nomor: MA/ Pemb/ 0807/ 75. Sementara itu, sebagai pedoman di
107
Sudargo Gautama 3, Op. Cit., hlm. 8.
Pasal 57 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
109
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993),
hlm. 104.
110
Ibid.
108
Universitas Sumatera Utara
56
dalam pelaksanaannya maka digunakan Regeling op de Gemengde Huwelijken
(Staatsblad 1898 No. 158), dengan ketentuan tidak bertentangan pada Pasal 2 angka
(1) Undang-Undang Perkawinan.
Undang-Undang Perkawinan menganut beberapa asas dalam pelaksanaan
perkawinan. Asas-asas tersebut juga berlaku bagi perkawinan campuran karena
adanya perbedaan kewarganegaraan. Adapun asas-asas yang tertuang dalam UndangUndang Perkawinan adalah sebagai berikut:111
a. Asas perkawinan terdaftar
Perkawinan yang dilakukan menurut hukum agama yang sah menurut hukum
positif,
apabila
didaftarkan
pada
lembaga
pencatatan
perkawinan. Perkawinan yang tidak terdaftar tidak akan diakui sah menurut
undang-undang yang berlaku.
b. Asas membentuk keluarga yang bahagia dan kekal
Sekali kawin dilakukan, berlangsunglah ia seumur hidup, tidak boleh
diputuskan begitu saja. Perkawinan kekal tidak mengenal jangka waktu, tidak
mengenal batas waktu. Sehingga perkawinan yang bersifat sementara
bertentangan dengan asas ini, apabila dilakukan juga maka perkawinan batal.
c. Asas kebebasan berkehendak
Perkawinan harus berdasarkan persetujuan bebas antara seorang pria dan
seorang perempuan yang akan melangsungkan perkawinan. Persetujuan bebas
artinya suka sama suka, tidak ada paksaan dari pihak lain.
d. Asas monogami terbuka
Perkawinan hanya boleh dilakukan antara seorang laki-laki dan seorang
perempuan, yang berarti bahwa dalam waktu yang sama seorang suami dilarang
untuk kawin lagi dengan perempuan lain.
e. Asas kematangan jiwa
Perkawinan dapat dilakukan oleh mereka yang sudah dewasa yaitu sudah genap
21 (dua puluh satu) tahun, tetapi apabila sebelum 21 (dua puluh satu) tahun
mereka akan melangsungkan perkawinan, batas umur minimal bagi wanita 16
(enam belas) tahun, bagi pria 19 (sembilan belas) tahun.
f. Asas mempersulit perceraian
Asas ini ada hubungannya dengan tujuan perkawinan kekal dan kebebasan
untuk kawin. Asas ini menuntut kesadaran pihak-pihak untuk berpikir dan
bertindak secara matang dan dewasa sebelum melangsungkan perkawinan.
111
Ibid., hlm. 70-73.
Universitas Sumatera Utara
57
Sekali perkawinan dilangsungkan, sulit untuk dilakukan perceraian, karena
perkawinan itu kekal.
g. Asas keseimbangan
Suami istri mempunyai kedudukan yang seimbang dalam kehidupan rumah
tangga dan pergaulan hidup bermasyarakat. Masing-masing pihak berhak
melakukan perbuatan hukum. Suami sebagai kepala keluarga, istri sebagai ibu
rumah tangga, diantara keduanya suami istri tidak ada yang satu mempunyai
kedudukan di atas di bawah yang lainnya.
Adapun pengertian perkawinan campuran yang diatur dalam Pasal 57
Undang-Undang Perkawinan, yaitu sebagai berikut:112
“Perkawinan campuran adalah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia
tunduk pada hukum yang berlainan karena perbedaan kewarganegaraan dan
salah satu pihak berwarga negara Indonesia. Bagi orang-orang yang berlainan
kewarganegaraan yang melakukan perkawinan campuran dapat memperoleh
kewarganegaraan dari suami atau istrinya dan dapat pula kehilangan
kewarganegaraannya, menurut cara-cara yang telah ditentukan dalam UndangUndang Kewarganegaraan Republik Indonesia”.
Dari definisi Pasal 57 Undang-Undang Perkawinan ini dapat diuraikan unsurunsur perkawinan campuran, sebagai berikut:
a.
Perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita;
b.
Di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan;
c.
Karena perbedaan kewarganegaraan; dan
d.
Salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.
Unsur pertama menunjuk kepada asas monogami dalam perkawinan. Unsur
kedua menunjuk kepada perbedaan hukum yang berlaku bagi pria dan wanita yang
melangsungkan perkawinan. Perbedaan hukum tersebut bukan karena perbedaan
agama, suku bangsa dan golongan di Indonesia melainkan karena unsur ketiga, yaitu
112
Pasal 58 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
58
adanya perbedaan kewarganegaraan. Perbedaan kewarganegaraan ini bukan
kewarganegaraan asing semuanya, melainkan unsur keempat menyatakan bahwa
salah satu kewarganegaraan tersebut adalah kewarganegaraan Indonesia.113 Tegasnya,
perkawinan campuran menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974,
yaitu:114
a. Seorang pria WNI kawin dengan seorang wanita WNA.
b. Seorang wanita WNI kawin dengan seorang pria WNA.
Selanjutnya dalam Pasal 59 Undang-Undang Perkawinan juga menentukan
bahwa:115
a. Kewarganegaraan yang diperoleh sebagai akibat putusnya perkawinan
menentukan hukum yang berlaku, baik mengenai hukum publik maupun
mengenai hukum perdata.
b. Perkawinan campuran yang dilangsungkan di Indonesia dilakukan menurut
Undang-Undang Perkawinan.
Pasal 60 Undang-Undang Perkawinan, menegaskan sebagai berikut:116
Perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa
syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi
pihak masing-masing telah dipenuhi.
Untuk membuktikan bahwa syarat-syarat tersebut telah dipenuhi dan karena
itu tidak ada rintangan untuk melangsungkan perkawinan campuran, maka
oleh mereka yang menurut hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing
berwenang mencatat perkawinan, diberikan surat keterangan bahwa syaratsyarat telah terpenuhi.
Jika pejabat yang bersangkutan menolak untuk memberikan surat keterangan,
maka atas permintaan yang berkepentingan, pengadilan memberikan
keputusan dengan tidak beracara serta tidak boleh dimintakan banding lagi
113
Muhammad Abdulkadir, Op. Cit., hlm. 103.
114
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1980), hlm. 46.
115
Pasal 59 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pasal 60 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
116
Universitas Sumatera Utara
59
tentang soal apakah penolakan pemberian surat keterangan itu beralasan atau
tidak.
Jika Pengadilan memutuskan bahwa penolakan tidak beralasan, maka
keputusan itu menjadi pengganti keterangan yang tersebut di atas.
Surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak mempunyai
kekuatan lagi jika perkawinan tidak dilangsungkan dalam masa 6 (enam)
bulan sesudah keterangan tersebut diberikan.
Selanjutnya, dalam Pasal 61 Undang-Undang Perkawinan, menyebutkan
sebagai berikut:
a. Perkawinan campuran dicatat oleh pegawai pencatat yang berwenang;
b. Barang siapa melangsungkan perkawinan campuran tanpa memperlihatkan
surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan yang disebut dalam
Pasal 60 ayat (4) undang-undang ini dihukum kurungan selama-lamanya 1
(satu) bulan.
c. Pegawai pencatat perkawinan yang mencatat perkawinan sedangkan ia
mengetahui bahwa keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak
ada, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan
dan dihukum jabatan.
C. Prosedur Dan Pencatatan Perkawinan Campuran
1.
Pencatatan Perkawinan Campuran Yang Dilaksanakan Di Indonesia
Perkawinan yang dilangsungkan oleh pasangan berbeda kewarganegaraan
dalam Undang-Undang Perkawinan disebut juga sebagai Perkawinan Campuran.
Ketentuan ini diatur dalam Pasal 57 Undang-Undang Perkawinan, berbunyi:
”Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-Undang ini
ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum
yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia.”
Universitas Sumatera Utara
60
Perkawinan campuran dapat dilaksanakan di Indonesia ataupun di luar
Indonesia (luar negeri). Apabila dilangsungkan di luar negeri maka perkawinan sah
bilamana perkawinan dilaksanakan menurut hukum negara yang berlaku, menurut di
negara mana perkawinan itu dilangsungkan dan bagi WNI tidak melanggar ketentuan
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974.117 Sementara itu, apabila
dilangsungkan di Indonesia, perkawinan campuran harus dilaksanakan menurut
Undang-Undang Perkawinan.118
Pasal 60 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Perkawinan berbunyi:
“Perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa
syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi
pihak masing-masing telah dipenuhi.”119
“Untuk membuktikan bahwa syarat-syarat tersebut dalam ayat (1) telah
dipenuhi dan karena itu tidak ada rintangan untuk melangsungkan perkawinan
campuran maka oleh mereka yang menurut hukum yang berlaku bagi pihak
masing-masing berwenang mencatat perkawinan, diberikan surat keterangan
bahwa syarat-syarat telah dipenuhi.”120
Pasal 60 ayat (3) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, “apabila
pejabat yang bersangkutan menolak untuk memberikan surat keterangan bahwa
syarat-syarat untuk perkawinan campuran telah terpenuhi maka atas permintaan yang
berkepentingan, pengadilan memberikan keputusan dengan tidak beracara serta tidak
boleh dimintakan banding lagi mengenai persoalan apakah penolakan pemberian
surat keterangan itu beralasan atau tidak.”121
117
Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pasal 59 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
119
Pasal 60 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
120
Pasal 60 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
121
Subekti dan R. Tjitro Sudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, (Jakarta: Pradnya
Paramita, 2003), hlm. 555.
118
Universitas Sumatera Utara
61
Pengadilan ini adalah pengadilan menurut Pasal 63 ayat (1) Undang-Undang
Perkawinan, yaitu pengadilan agama bagi masyarakat muslim dan pengadilan umum
bagi masyarakat non muslim. Terhadap hal ini, pengadilan akan memeriksa dan
memberikan keputusan tentang penolakan tersebut apakah beralasan atau tidak,
pemeriksaannya akan menghasilkan suatu keputusan yang merupakan keputusan
pertama dan terakhir, artinya terhadap keputusan pengadilan tersebut tidak dapat
dimintakan banding berdasarkan Pasal 60 ayat (3) Undang-Undang Perkawinan.
Perkawinan dapat segera dilangsungkan setelah surat keterangan atau putusan
pengadilan diperoleh. Pelangsungan perkawinan dilakukan menurut hukum masingmasing agama. Berlangsungnya perkawinan dilakukan di hadapan pegawai pencatat.
Apabila perkawinan dilangsungkan di Indonesia, tata caranya dilaksanakan
berdasarkan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Sementara itu, jika
perkawinan dilangsungkan di negara pihak lainnya maka berlakulah ketentuan tata
cara menurut hukum di negara yang bersangkutan.122
Setelah surat keterangan atau putusan pengadilan diperoleh para pihak, ada
kemungkinan perkawinan tidak segera dilaksanakan. Apabila perkawinan tidak
dilaksanakan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sesudah keterangan atau putusan itu
diberikan, maka surat keterangan atau putusan pengadilan tersebut tidak mempunyai
kekuatan lagi.123
122
123
Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pasal 60 ayat (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
62
Terkait mengenai pencatatan perkawinan, perkawinan campuran dicatat oleh
pegawai pencatat yang berwenang.124 Pegawai pencatat yang berwenang bagi
masyarakat yang beragama Islam ialah Pegawai Pencatat Nikah (PPN) atau Pembantu
Pegawai Pencatat Nikah Talak Cerai Rujuk (P3NTCR), sedangkan bagi masyarakat
yang bukan beragama Islam ialah Pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan
Sipil.
Perkawinan campuran yang dilangsungkan tanpa memperlihatkan terlebih
dahulu surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan kepada pegawai
pencatat, maka yang melangsungkan perkawinan campuran tersebut dihukum dengan
hukuman kurungan selama-lamanya 1 (satu) bulan.125 Pegawai pencatat perkawinan
yang mengetahui bahwa keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak ada,
dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan dihukum
jabatan.126
Adapun surat keterangan atau dokumen yang harus dipersiapkan sebelum
dilangsungkan perkawinan campuran yaitu:127
Calon mempelai yang berkewarganegaraan asing (WNA) harus memiliki surat
keterangan dari negara asalnya untuk dapat melangsungkan perkawinan di Indonesia
dan surat keterangan yang menyatakan bahwa ia dapat kawin dan akan kawin dengan
124
Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pasal 61 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974.
126
Pasal 61 ayat (3) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974.
127
Wawancara dengan Rahmat Ali, Kepala Seksi Perkawinan, Perceraian, Pengesahan dan
Pengangkatan Anak, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam pada tanggal 11
November 2016.
125
Universitas Sumatera Utara
63
orang berkewarganegaraan Indonesia. Surat keterangan tersebut dikeluarkan oleh
instansi yang berwenang di negara asalnya. Selain itu harus pula melampirkan:
a.
b.
c.
d.
e.
Fotokopi Surat Tanda Melapor Diri dari Kepolisian;
Fotokopi Paspor;
Fotokopi Id Card;
Fotokopi Akta Kelahiran; dan
Surat Keterangan Belum Pernah Menikah yang dikeluarkan oleh negara
atau perwakilan negara atau Akta Cerai bila sudah pernah kawin atau Akta
Kematian istri/suami bila istri/suami meninggal.
Surat-surat tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh
penerjemah yang disumpah, kemudian harus dilegalisasi oleh Kedutaan Negara WNA
tersebut yang berada di Indonesia.
Mekanisme pelayanan pernikahan yang harus dipenuhi calon mempelai WNI
pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, yaitu:
a. Calon mempelai datang ke kantor kepala desa atau kelurahan untuk
mendapatkan:
1) Surat keterangan untuk menikah (N1);
2) Surat keterangan asal usul (N2);
3) Surat persetujuan mempelai (N3);
4) Surat keterangan tentang orang tua (N4);
5) Surat pemberitahuan kehendak menikah (N7).
b. Calon mempelai datang ke puskesmas untuk mendapatkan:
1) Imunisasi Tetanus Toxoid I bagi calon mempelai pengantin wanita;
2) Imunisasi Tetanus Toxoid II;
3) Kartu imunisasi.
Setelah proses pada poin (a) dan (b) selesai, calon mempelai datang ke Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil setempat, untuk:
c. Mengajukan pemberitahuan kehendak nikah secara tertulis (menurut model
N7). Apabila calon mempelai berhalangan, pemberitahuan nikah dapat
dilakukan oleh wali atau wakilnya.
d. Membayar biaya pencatatan nikah dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Pernikahan dilaksanakan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil;
2) Pernikahan yang dilaksanakan di luar Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil, ditambah biaya panggilan untuk menikahkan calon
Universitas Sumatera Utara
64
pengantin di rumah (di luar kantor) sesuai ketentuan yang ditetapkan kepala
kanwil masing-masing daerah;
e. Dilakukan pemeriksaan kelengkapan syarat-syarat pernikahan oleh PPN:
1) Surat keterangan untuk nikah (Model N1);
2) Kutipan akta kelahiran atau surat kenal lahir atau surat keterangan asal
usul calon mempelai yang diberikan oleh kepala desa/pejabat setingkat
(Model N2);
3) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
4) Fotokopi Kartu Keluarga;
5) Data orang tua : KTP ayah dan ibu;
6) Persetujuan kedua calon mempelai (Model N3);
7) Surat keterangan tentang orang tua (ibu bapak) dari kepala desa/pejabat
setingkat (Model N4);
8) Izin tertulis dari orang tua bagi calon mempelai yang belum mencapai usia
21 (dua puluh satu) tahun (Model N5);
9) Dalam hal tidak ada izin dari kedua orang tua atau walinya sebagaimana
dimaksud huruf e di atas diperlukan izin dari pengadilan;
10) Pasfoto gandeng ukuran 4x6 sebanyak 4 lembar;
11) 2 (dua) orang saksi yang memenuhi syarat dengan melampirkan fotokopi
KTP.
12) Dispensasi dari pengadilan bagi calon suami yang belum mencapai umur
19 (sembilan belas) tahun dan bagi calon istri yang belum mencapai umur
16 (enam belas) tahun;
13) Jika calon mempelai anggota TNI/Polri diperlukan surat izin dari
atasannya atau kesatuannya;
14) Izin pengadilan bagi suami yang hendak beristri lebih dari seorang;
15) Akta cerai atau kutipan buku pendaftaran talak/cerai bagi mereka yang
perceraiannya terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama;
16) Akta kematian atau surat keterangan kematian suami/istri dibuat oleh
kepala desa/lurah atau pejabat yang berwenang yang menjadi dasar
pengisian Model N6 bagi janda/duda yang akan menikah;
17) Surat ganti nama bagi WNI keturunan.
f. Petugas pencatatan sipil memasang pengumuman kehendak nikah (menurut
model NC) selama 10 (sepuluh) hari sejak saat pendaftaran.
g. Pendeta/pastor segera menyerahkan Surat Pemberkatan Nikah kepada kedua
mempelai setelah pelaksanaan pemberkatan nikah.
h. Pendaftaran kehendak nikah diajukan pada Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil setempat minimal 10 (sepuluh) hari kerja sebelum
pelaksanaan pernikahan.
Universitas Sumatera Utara
65
Kutipan Akta Perkawinan yang diperoleh dari Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil setempat perlu dilegalisasi di Kementerian Hukum dan HAM
(Kemenkum HAM) dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu), serta didaftarkan di
kedutaan negara asal pasangan yang WNA. Dengan adanya legalisasi, perkawinan
sudah sah dan diterima secara internasional, baik bagi hukum negara asal pasangan
yang berkewarganegaraaan asing maupun menurut hukum Indonesia.128
2.
Pelaporan Perkawinan Campuran Yang Dilaksanakan Di Luar Wilayah
Indonesia
Perkawinan WNI di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) wajib dicatatkan pada instansi yang berwenang di negara setempat dan
dilaporkan pada Perwakilan Republik Indonesia (Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan). WNI yang mempunyai
Akta Pencatatan Sipil yang diterbitkan oleh negara lain, setelah kembali ke Indonesia
yang bersangkutan melaporkan perkawinannya ke Kantor Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil di tempat domisilinya (Pasal 14 ayat (1) Permendagri Nomor 12
Tahun 2010 tentang Pedoman Pencatatan Perkawinan dan Pelaporan Akta Yang
Diterbitkan Oleh Negara Lain).129
Berkas yang diperlukan untuk mendaftarkan perkawinan WNI di luar negeri
pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di wilayah Indonesia, yaitu:
128
Wawancara dengan Rahmat Ali, Kepala Seksi Perkawinan, Perceraian, Pengesahan dan
Pengangkatan Anak, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam pada tanggal 11
November 2016.
129
Soeprijatna Anwar, “Perkawinan Campuran dalam Kaitannya dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011
tentang Keimigrasian”, Bahan Seminar, Diselenggarakan di Batam oleh Kantor Imigrasi Kelas I
Khusus Batam, pada tanggal 22 Mei 2014, hlm. 3.
Universitas Sumatera Utara
66
a. Akta Perkawinan dari negara asal yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia dan telah dilegalisasi oleh Perwakilan RI setempat;
b. Surat Keterangan Menikah dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)
setempat;
c. Salinan Akta Kelahiran suami dan istri;
d. Salinan KTP dan Kartu Keluarga;
e. Salinan paspor suami/istri yang WNA;
f. Pasfoto gandeng ukuran 4x6 dengan latar belakang merah sebanyak 3 lembar;
Akta Perkawinan dari negara asal harus dilegalisasi oleh KBRI setempat agar
dapat digunakan di Indonesia. Sebelumnya, Akta Perkawinan harus dilegalisasi
secara berurutan oleh, sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
Kantor yang mengeluarkan Akta Perkawinan;
Regional Register Office;
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) setempat;
Akta Perkawinan selanjutnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh
penerjemah resmi;
e. Legalisasi130 oleh KBRI setempat yang mana prosesnya adalah 3 (tiga) hari
kerja.
Surat pengantar dari RT/RW, Lurah atau Camat tidak diperlukan untuk
mendaftarkan Akta Perkawinan Campuran ke Kantor Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil. Para pihak langsung saja mendatangi Kantor Dinas Kependudukan
dan Pencatatan Sipil di wilayah tempat tinggal. Pendaftaran perkawinan luar negeri di
Indonesia dilakukan selambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah yang bersangkutan tiba
di Indonesia (dapat ditunjukkan dengan cap Imigrasi pada paspor).131
D. Akibat Hukum Perkawinan Campuran
Secara umum ada 3 (tiga) akibat dari suatu perkawinan, yaitu:
1. Terhadap hubungan suami istri
131
Pasal 37 ayat (4) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang Administrasi
Kependudukan.
Universitas Sumatera Utara
67
Suami istri harus setia, tolong-menolong dan saling membantu, Pasal 105
KUHPerdata menyatakan bahwa:
a.
b.
c.
d.
e.
Suami adalah kepala dan persatuan suami istri.
Suami harus memberikan bantuan kepada istrinya.
Suami harus mengemudikan urusan harta kekayaan milik pribadi istrinya.
Suami harus mengurus harta kekayaan itu sebagai bapak rumah tangga
yang baik.
Suami tidak diperkenankan memindahtangankan atau membebani harta
kekayaan tak bergerak milik istrinya tanpa persetujuan istrinya.
2. Terhadap harta kekayaan
Sejak dilangsungkannya perkawinan, demi hukum berlakulah persatuan harta
kekayaan suami istri, sejauh tentang hal ini tidak diadakan ketentuan lain
dalam perjanjian perkawinan.132 Persatuan harta kekayaan terjadi selama
perkawinan, tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan sesuatu perjanjian
suami istri. Persatuan bulat meliputi:133
a.
Benda bergerak dan tidak bergerak baik yang dimiliki sekarang maupun
kemudian hari.
b. Penghasilan dan keuntungan yang diperoleh selama perkawinan.
c. Utang-utang suami atau istri sebelum dan sesudah perkawinan.
d. Kerugian-kerugian yang dialami sebelum perkawinan.
Terkait mengenai persatuan harta bersama, para calon suami istri dengan
perjanjian kawin dapat menyimpang dari peraturan perundang-undangan mengenai
harta bersama (persatuan bulat), sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan
ketertiban umum dan diindahkan pula ketentuan-ketentuan berikut.134 Perjanjian
kawin harus dibuat dengan akta notaris sebelum perkawinan berlangsung dan akan
132
Pasal 119 KUHPerdata.
Pasal 120 jo. Pasal 121 KUHPerdata.
134
Pasal 139 KUHPerdata.
133
Universitas Sumatera Utara
68
menjadi batal bila tidak dibuat secara demikian. Perjanjian akan mulai berlaku pada
saat perkawinan berlangsung, tidak boleh ditentukan saat lain untuk itu.135
3. Terhadap Kedudukan Anak
Dalam KUHPerdata, ada 3 (tiga) jenis anak, yaitu:
a. Anak sah
Adalah keturunan yang dilahirkan dari perkawinan yang sah.136 Hal ini
diatur dalam Pasal 250 KUHPerdata yang menyatakan:137 “Tiap-tiap anak
yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan, memperoleh si
suami sebagai bapaknya”. Dengan demikian hubungan anak dan bapak
merupakan hubungan yang sah.138
b. Anak luar kawin yang diakui
Adalah anak yang lahir dari ayah dan ibu, tetapi antara mereka tidak
terdapat larangan untuk kawin. Anak ini statusnya sama dengan anak sah,
jika kemudian orang tuanya kawin dan dapat diakui jika tidak kawin.139
c. Anak luar kawin yang tidak diakui
Adalah anak yang dilahirkan dari ibu, tetapi antara mereka terdapat
larangan untuk kawin menurut undang-undang dengan laki-laki yang
membenihkannya.140 Hal ini diatur dalam Pasal 283 KUHPerdata yang
menegaskan bahwa anak yang dibenihkan dalam zinah ataupun sumbang,
sekali-kali tidak boleh diakui, kecuali dengan cara dispensasi oleh Presiden
dengan cara mengakuinya dalam Akta Perkawinan.141
Sementara itu, jika dikaitkan dalam perkawinan campuran, kedudukan anak
akibat perkawinan campuran diatur dalam Pasal 11 GHR yang menegaskan sebagai
berikut:
“Anak-anak yang lahir dari perkawinan campuran yang dilangsungkan
menurut kedudukan hukum-hukum yang dulu mempunyai kedudukan hukum
135
Pasal 147 KUHPerdata.
Ali Afandi, Op. Cit., hlm. 140.
137
Pasal 250 KUHPerdata.
138
Ibid.
139
Pasal 272 KUHPerdata.
140
Pasal 283 KUHPerdata.
141
Pasal 273 KUHPerdata.
136
Universitas Sumatera Utara
69
menurut kedudukan hukum ayah mereka, baik terhadap hukum publik
maupun hukum sipil”.
Perkawinan campuran di Indonesia melibatkan salah satu pihak WNA
sehingga tunduk pada 2 (dua) yurisdiksi hukum yang berbeda, maka disini timbul
permasalahan, bagaimana status kewarganegaraan anak-anak yang lahir dari
perkawinan campuran.
Dari uraian di atas, kedudukan anak di dalam perkawinan campuran sangat
ditentukan oleh kewarganegaraan ayahnya. Dengan ketentuan anak harus dilahirkan
dalam atau akibat perkawinan yang sah. Jika perkawinan tidak dilakukan dalam
perkawinan yang sah, anak hanya mengikuti hubungan keperdataan dengan ibunya.
Aturan hukum tentang kewarganegaraan Indonesia telah mengalami
perubahan yang cukup signifikan dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2006. Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru ini telah diberlakukan
oleh Presiden sejak tanggal 1 Agustus 2006.
Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12
Tahun 2006, Indonesia berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958
yang berlaku sejak tanggal 1 Agustus 1958. Beberapa hal yang diatur dalam UndangUndang Kewarganegaraan yang lama adalah mengenai ketentuan-ketentuan siapa
yang
dinyatakan
berstatus
Warga
Negara
Indonesia
(WNI),
naturalisasi,
pewarganegaraan biasa, akibat kewarganegaraan, kewarganegaraan istimewa,
Universitas Sumatera Utara
70
kehilangan kewarganegaraan Indonesia dan siapa yang dinyatakan berstatus orang
asing.142
Penjelasan dalam Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006
disebutkan bahwa, Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 62 Tahun 1958 secara
filosofis, yuridis dan sosiologis sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan
masyarakat dan ketatanegaraan Republik Indonesia.143
Secara filosofis, undang-undang tersebut masih mengandung ketentuanketentuan yang belum sejalan dengan falsafah Pancasila, antara lain karena bersifat
diskriminatif, kurang menjamin pemenuhan hak asasi dan persamaan antara warga
negara, serta kurang memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anakanak.144
Secara yuridis, landasan konstitusional pembentukan undang-undang tersebut
adalah Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia (UUDS 1950) yang
sudah tidak berlaku lagi sejak Dekrit Presiden 5 Juli Tahun 1959 yang menyatakan
kembali ke UUD 1945. Dalam perkembangannya, UUD 1945 telah mengalami
perubahan yang lebih menjamin perlindungan terhadap HAM dan hak warga
negara.145
Secara sosiologis, undang-undang tersebut sudah tidak sesuai dengan
perkembangan dan tuntutan masyarakat Indonesia sebagai bagian dari masyarakat
142
Mulyadi, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, 1997), hlm. 7.
143
Abdulkadir Muhammad, Op. Cit., hlm. 103.
144
Ibid.
145
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
71
internasional dalam pergaulan global, yang menghendaki adanya persamaan
perlakuan dan kedudukan warga negara di hadapan hukum serta adanya kesetaraan
dan keadilan jender.146
Terkait mengenai perkawinan campuran di Indonesia, masalah yang sering
terjadi di dalamnya adalah mengenai kewarganegaraan anak. Undang-Undang
Kewarganegaraan Nomor 62 Tahun 1958 menganut prinsip kewarganegaraan
tunggal, sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya bisa memiliki 1
(satu) kewarganegaraan yang dalam undang-undang tersebut ditentukan bahwa yang
harus diikuti adalah kewarganegaraan ayahnya. Pengaturan ini menimbulkan
persoalan karena untuk tetap tinggal di Indonesia orang tuanya harus terus-menerus
memperpanjang izin tinggalnya. Persoalan lainnya apabila perkawinan orang tua
putus, ibu akan kesulitan mendapatkan pengasuhan anak yang WNA.147
Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006 tidak lagi
mengatur demikian. Khusus untuk anak-anak yang lahir dari pasangan yang
melakukan perkawinan campuran, berdasarkan Pasal 6 diberikan kebebasan untuk
berkewarganegaran ganda sampai anak-anak tersebut berusia 18 (delapan belas)
tahun atau sudah menikah. Setelah anak-anak berkewarganegaraan ganda berusia 18
(delapan belas) tahun atau sudah menikah, kewarganegaraannya harus segera dipilih,
apakah mengikuti kewarganegaraan ayahnya atau menjadi Warga Negara Indonesia
146
Ibid.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), “Status Hukum Kewarganegaraan Anak
Hasil Perkawinan Campuran”, diakses melalui http://www.kpai.go.id/artikel/status-hukumkewarganegaraan-anak-hasil-perkawinan-campuran/, tanggal 14 Desember 2016, pukul 05.20 WIB.
147
Universitas Sumatera Utara
72
(WNI). Pernyataan untuk memilih harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun
setelah anak berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah.148
Undang-Undang Kewarganegaraan ini juga mengatur bahwa anak yang sudah
lahir sebelum undang-undang ini disahkan dan belum berusia 18 (delapan belas)
tahun dan belum menikah adalah termasuk WNI. Caranya yaitu dengan mendaftarkan
diri kepada Menteri melalui pejabat atau Perwakilan Republik Indonesia paling
lambat 4 (empat) tahun setelah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 disahkan. 149
Anak yang memperoleh kewarganegaraan ganda tidak hanya diperoleh oleh
anak yang lahir dari perkawinan yang sah, tetapi kewarganegaraan ganda juga
berlaku untuk anak luar kawin, Hal ini ditegaskan dalam Pasal 5 ayat (1) UndangUndang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.yaitu:150
“Anak WNI yang lahir di luar perkawinan sah, belum berusia 18 (delapan
belas) tahun dan belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang
berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai WNI”.
Beberapa aspek hukum terhadap anak luar kawin, yaitu aspek dari ketentuan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan KUHPerdata. Pasal
43 Undang-Undang Perkawinan mengatur bahwa “anak yang lahir di luar perkawinan
hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan kerabat ibunya. Jika anak
tersebut mendapat pengakuan dari ayahnya dan dikaitkan dengan ketentuan hukum
148
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), “Status Hukum Kewarganegaraan Anak
Hasil Perkawinan Campuran”, diakses melalui http://www.kpai.go.id/artikel/status-hukumkewarganegaraan-anak-hasil-perkawinan-campuran/, tanggal 14 Desember 2016, pukul 05.20 WIB.
149
Libertus Jehani dan Atanasius Harpen, Hukum Kewarganegaraan, (Bandung: Citra Adytia
Bakti, 2006), hlm. 8.
150
Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
Universitas Sumatera Utara
73
perdata maka anak tersebut secara perdata mempunyai hubungan hukum dengan ayah
tetapi tidak dengan keluarga ayahnya.”151
Terkait tentang status kewarganegaraan anak dari perkawinan campuran,
berdasarkan Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006, anak yang
lahir dari perkawinan seorang perempuan WNI dengan laki-laki WNA, maupun anak
yang lahir dari perkawinan seorang laki-laki WNA dengan perempuan WNI, kini
sama-sama telah diakui sebagai WNI. Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda
dan setelah anak berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah maka ia harus
menentukan pilihannya dengan membuat pernyataan. Hal ini sebagaimana diatur
dalam Pasal 6 ayat (1), ayat (2), ayat (3) Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor
12 Tahun 2006 yang berturut-turut berbunyi sebagai berikut:
“Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada Pejabat dengan
melampirkan dokumen sebagaimana ditentukan di dalam peraturan
perundang-undangan”.152
“Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) disampaikan dalam waktu paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak
berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin”.153
Kewarganegaraan ganda terjadi apabila pasangan suami istri yang berbeda
kewarganegaraan tetap mempertahankan kewarganegaraannya masing-masing, tetapi
status kewarganegaraan anaknya dapat menjadi tunggal dalam hal:
a. Pasangan suami istri berbeda kewarganegaraan menjadi WNI, apabila
suami/istri yang berkewarganegaraan asing memilih untuk menjadi WNI.
Apabila hal ini terjadi maka anak-anak yang lahir sudah tentu
151
Libertus Jehani dan Atanasius Harpen, Op. Cit., hlm. 13.
Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
153
Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
152
Universitas Sumatera Utara
74
berkewarganegaraan Indonesia. Dari segi hukum, keadaan yang demikian
memberikan dampak positif. Ini sesuai dengan penjelasan Undang-Undang
Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006 yang menyebutkan antara lain:
keturunan dipakai sebagai dasar untuk menentukan kewarganegaraan. Suatu
hal yang wajar apabila suatu negara menganggap seorang anak sebagai warga
negaranya, dimanapun ia dilahirkan, apabila orang tuanya merupakan warga
negara dari negara tersebut.154
b. Jika suami/istri berkewarganegaraan Indonesia mengikuti kewarganegaran
pasangannya yang WNA maka oleh karena Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2006 tentang Kewarganegaraan RI yang menganut asas ius sanguinis (asas
keturunan) sebagai dasar untuk menentukan status kewarganegaraan
seseorang, sudah tentu anak-anak yang terlahir dari orang tua yang
berkewarganegaraan asing adalah termasuk WNA. Kecuali bila UndangUndang Kewarganegaraan dari negara orang tuanya tidak dapat menerima
anak tersebut menjadi warga negaranya, misalnya karena undang-undang
tersebut mengandung asas ius soli (tempat kelahiran) untuk menentukan status
kewarganegaraan seseorang.
c. Menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006, anak
tersebut menjadi WNI apabila lahir di dalam wilayah NKRI. Kenyataan dalam
hal ini di Indonesia jarang sekali terjadi bahkan hampir tidak ada karena anak
bagi orang tua merupakan permata hati yang tak ternilai harganya. Apabila
anak masuk kewarganegaraan lain, semua harta milik orang tua tidak dapat
dimiliki oleh anak setelah nantinya orang tua tiada.
Pemberian kewarganegaraan ganda ini merupakan terobosan baru yang positif
bagi anak-anak hasil perkawinan campuran dan ini dimaksudkan untuk melindungi
kepentingan anak. Dengan demikian orang tua tidak perlu lagi mengurus izin tinggal
bagi anak-anaknya. Hal ini sebagaimana diatur pada Pasal 6 Undang-Undang
Kewarganegaraan, bahwa status kewarganegaraan Indonesia terhadap anak, yaitu:
a. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu
WNA.
b. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNA dan ibu
WNI.
154
Penjelasan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan,
menegaskan bahwa: “Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.
Universitas Sumatera Utara
75
c. Anak yang lahir dari tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya
meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya adalah WNI.
d. Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.
e. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 (delapan
belas) tahun atau belum menikah diakui secara sah oleh ayahnya yang
berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai WNI.
Terobosan lain dari Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun
2006 adalah anak yang berkewarganegaran ganda berhak mendapatkan akta kelahiran
di Indonesia dan juga akta kelahiran dari negara lain dimana anak tersebut diakui
sebagai warga negara. Dengan demikian, ia berhak mendapat pelayanan publik di
Indonesia seperti warga negara lainnya termasuk untuk memperoleh pendidikan. Hal
ini
berbeda
dengan
Undang-Undang
Nomor
62
Tahun
1958
tentang
Kewarganegaraan, jangankan untuk mendapatkan akta kelahiran, apabila izin
tinggalnya telah melewati batas ketentuan, ia diusir secara paksa dari wilayah
NKRI.155
WNA
yang menikah secara sah dengan
WNI dapat memperoleh
kewarganegaraan Indonesia dengan menyampaikan pernyataan menjadi WNI di
hadapan pejabat, pernyataan tersebut dilakukan apabila yang bersangkutan sudah
bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun
berturut-turut atau 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut. Hal ini diatur dalam Pasal
19 Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006 156
155
156
Ibid., hlm. 14.
Pasal 19 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
Universitas Sumatera Utara
76
Pasal 26 Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006
menegaskan:
“Perempuan WNI yang kawin dengan laki-laki WNA kehilangan
kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum negara asal
suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suami sebagai
akibat perkawinan tersebut. Laki-laki WNI yang kawin dengan perempuan
WNA kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum
negara asal istrinya, kewarganegaraan suami mengikuti kewarganegaraan istri
sebagai akibat perkawinan tersebut. Jika ingin tetap menjadi WNI dapat
mengajukan surat pernyataan mengenai keinginannya kepada pejabat atau
perwakilan Republik Indonesia yang wilayahnya meliputi tempat tinggal
perempuan atau laki-laki tersebut”.157
Secara subtansial dan konseptual, Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor
12 Tahun 2006 ini mencerminkan usaha serius Indonesia untuk memberikan
perlindungan bagi kepentingan kaum perempuan yang menikah dengan WNA dan
anak-anak dari hasil perkawinan campuran serta telah menghapus aturan
kewarganegaraan yang bersifat diskriminatif.
E. Tinjauan Umum Tentang Anak Dan Anak Luar Kawin
Keberadaan anak dalam keluarga merupakan sesuatu yang sangat berarti.
Anak memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Anak mewarisi tanda-tanda
kesamaan dengan orang tuanya, termasuk ciri khas, baik maupun buruk. 158
Secara umum kata “anak” dalam Hukum Keluarga mengandung 2 (dua)
pengertian dasar, yaitu: anak dalam pengertian orang yang belum dewasa dan anak
dalam pengertian orang yang memiliki hubungan hukum dengan ibu atau kedua orang
tuanya baik karena dilahirkan olehnya atau karena memperoleh status sebagai anak.
157
158
Pasal 26 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
Yusuf Qaradhawi, Halal dan Haram dalam Islam, (Bandung: Jabal, 2007), hlm. 229.
Universitas Sumatera Utara
77
Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, mengenai pengertian anak juga
belum terdapat keseragaman. Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
pengertian anak sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) adalah “Seseorang yang
belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam
kandungan”.159 Batasan umur 18 (delapan belas) tahun pada Undang-Undang Nomor
35 Tahun 2014 berbeda dengan batasan yang ditetapkan dalam Pasal 1 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang menyatakan
bahwa “Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun
dan belum pernah kawin”.160
Hukum Adat tidak mengenal usia tertentu untuk mengatakan apakah seorang
belum atau sudah dewasa. Hal ini tergantung pada keadaan dalam mana dilihat
apakah seorang anak sudah matang untuk bersetubuh dengan seorang dari jenis
kelamin lain (geslachtsrijp) atau apakah seorang anak itu sudah cukup “kuat gawe”
(kerja) untuk mencari nafkah sendiri secara menggarap sawah atau sebagainya. Dan
biasanya ini terjadi pada usia lebih kurang 16 (enam belas) tahun”.161
159
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
160
Penjelasan: batas umur 21 (dua puluh satu) tahun ditetapkan oleh karena berdasarkan
pertimbangan kepentingan usaha kesejahteraan sosial, tahap kematangan sosial, kematangan pribadi,
dan kematangan mental seorang anak dicapai pada umur tersebut. Batas umur 21 (dua puluh satu)
tahun tidak mengurangi ketentuan batas umur dalam peraturan perundang-undangan lainnya, dan tidak
pula mengurangi kemungkinan anak melakukan perbuatan sejauh ini mempunyai kemampuan untuk
itu berdasarkan hukum yang berlaku.
161
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Bandung: Sumur, 1960), hlm. 63.
Universitas Sumatera Utara
78
Pasal 330 KUHPerdata menentukan bahwa yang dinamakan orang belum
dewasa (minderjarig) adalah orang-orang yang belum berusia 21 (dua puluh satu)
tahun dan belum kawin. Apabila ia sebelum berusia 21 (dua puluh satu) tahun
melakukan perkawinan dan perkawinannya putus juga sebelum ia berusia 21 (dua
puluh satu) tahun maka ia tetap dianggap sudah dewasa (meerderjarig). UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak secara tegas memberikan
pengertian tentang istilah “anak luar kawin” tetapi hanya menjelaskan pengertian
anak sah dan kedudukan anak luar kawin. Hal ini sebagaimana bunyi Pasal 42162 dan
Pasal 43163.
Dilihat dari bunyi pasal di atas kiranya dapat ditarik pengertian bahwa anak
luar kawin adalah anak yang dilahirkan di luar perkawinan dan hanya memiliki
hubungan keperdataan dengan ibunya saja. Menurut KUHPerdata, anak luar kawin
merupakan anak yang dilahirkan dari hubungan antara seorang laki-laki dan seorang
perempuan di luar pernikahan yang sah. Predikat sebagai anak luar kawin tentunya
akan melekat pada anak yang dilahirkan di luar perkawinan tersebut.
Pengertian anak luar kawin dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu sebagai
berikut:
1. Anak luar kawin dalam arti luas adalah anak luar perkawinan karena
perzinahan dan sumbang.
162
Pasal 42: Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat
perkawinan yang sah.
163
Pasal 43: (1) Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, (2) Kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya
akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Universitas Sumatera Utara
79
Anak zina adalah anak-anak yang dilahirkan dari hubungan luar kawin
antara laki-laki dan perempuan dimana salah satunya atau kedua-duanya
terikat pernikahan dengan orang lain, sedangkan anak sumbang adalah anak
yang dilahirkan dari hubungan antara laki-laki dan seorang perempuan yang
antara keduanya berdasarkan ketentuan undang-undang ada larangan untuk
saling menikahi.
Sebagaimana diketahui, Pasal 8 Undang-Undang Perkawinan melarang
perkawinan antara 2 (dua) orang yang:164
a.
b.
c.
d.
e.
f.
berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke
atas;
berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping, yaitu antara
saudara, antara seseorang dengan saudara orang tua dan antara seseorang
dengan saudara neneknya;
berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri menantu dan ibu/bapak tiri;
berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan
dan bibi/paman susuan;
berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari
istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang;
mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang
berlaku, dilarang nikah.
2. Anak luar kawin dalam arti sempit adalah anak yang dilahirkan di luar
perkawinan yang sah.
Orang tua biologis dari anak luar kawin dapat menikah satu sama lain.
Akibat dari perkawinan ini maka kedudukan hukum anak luar kawin menjadi
sama dengan anak sah. Akan tetapi kalau kedua orang tua biologis anak luar
kawin tidak menikah maka hubungan hukum antara ayah biologis dengan
164
Pasal 8 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
80
anak luar kawin baru ada setelah ayah biologis mengakuinya secara formil
atau karena suatu Putusan Hakim.
F. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Luar Kawin Dari Pasangan Suami
Istri Yang Berbeda Kewarganegaraan Yang Telah Disahkan.
Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang
senantiasa harus dijaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak
sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari
Hak Asasi Manusia (HAM) yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hak asasi anak.hukum.165
Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan dan
generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup. Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan tidak memenuhi rasa keadilan
dan dalam tataran yuridis bertentangan dengan hak warga negara yang dijamin oleh
konstitusi (UUD 1945) yaitu hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.166
Salah satu fakta ketidakadilan hukum yang diterima oleh anak luar kawin
adalah dalam akta kelahirannya tidak tercantum atau menyebut nama ayahnya.
Adanya fakta yang demikian selain membawa dampak psikologis bagi anak juga
165
Sri Budi Purwaningsih, “Perlindungan Hukum Kedudukan Anak Luar Kawin Pasca
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010”, Jurnal Dosen Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo, diakses melalui http://journal.umsida.ac.id, pada tanggal 22 Desember 2016,
pukul 11.39 WIB.
166
Sri Budi Purwaningsih, “Perlindungan Hukum Kedudukan Anak Luar Kawin Pasca
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010”, Jurnal Dosen Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo, diakses melalui http://journal.umsida.ac.id, pada tanggal 22 Desember 2016,
pukul 11.39 WIB.
Universitas Sumatera Utara
81
melanggar hak-hak anak untuk mengetahui asal usul orang tuanya. Apalagi
pandangan masyarakat umumya memberikan stigma negatif terhadap anak luar
kawin. Oleh karena itu, terlepas dari soal prosedur administrasi perkawinan, anak
yang dilahirkan harus mendapat perlindungan hukum. Jika tidak demikian, maka
yang dirugikan adalah anak luar kawin, padahal anak tersebut tidak berdosa karena
kelahirannya di luar kehendaknya.167
Dengan keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010
tentang Pengujian Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, membawa
terobosan hukum berupa perlindungan hukum terhadap kedudukan anak luar kawin
biasa maupun anak luar kawin dari pasangan suami istri yang berbeda
kewarganegaraan. Kedudukan anak luar kawin status hukumnya menjadi sejajar
dengan anak sah, sehingga anak luar kawin mempunyai hubungan hukum (hak
keperdataan) dengan ayah (biologis) dan keluarga ayahnya.
Putusan Mahkamah Konstitusi ini sejalan dengan Konvensi Hak-Hak Anak
(Convention on the Rights of Child) yang mengatur bahwa “anak akan didaftar segera
setelah lahir dan akan punya hak sejak lahir atas nama, hak untuk memperoleh suatu
kebangsaan, dan sejauh mungkin, hak untuk mengetahui dan diasuh oleh orang
tuanya”. Selanjutnya Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak mengatur bahwa “setiap anak berhak untuk mengetahui orang
167
Sri Budi Purwaningsih, “Perlindungan Hukum Kedudukan Anak Luar Kawin Pasca
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010”, Jurnal Dosen Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo, diakses melalui http://journal.umsida.ac.id, pada tanggal 22 Desember 2016,
pukul 11.39 WIB.
Universitas Sumatera Utara
82
tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri”, termasuk hak anak untuk
mengetahui identitas kedua orang tuanya.168
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010
bahwa diakuinya anak luar kawin yang terlahir dari perkawinan di bawah tangan,
status hukumnya sama sebagai anak sah apabila dapat dibuktikan berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi (hasil test DNA) sehingga demi hukum anak luar kawin
dapat menuntut hak-hak keperdataannya kepada ayah biologisnya, terutama yang
terkait dengan kewajiban nafkah untuk kebutuhan hidup oleh orang tua terhadap
anak.169
Globalisasi di bidang informasi, ekonomi, pendidikan dan transportasi
menyebabkan batas negara bukan lagi halangan untuk berinteraksi. Hal tersebut
berdampak semakin meningkatnya perkawinan antar bangsa yang terjadi hampir di
seluruh dunia. Perkawinan pasangan beda kewarganegaraan yang paling banyak
terjadi adalah perkenalan melalui internet, kemudian teman kerja atau teman bisnis,
berkenalan saat berlibur, dan sebagainya.170
Perkawinan campuran di Indonesia dapat terjadi dalam 2 (dua) bentuk yaitu:
Pertama, perempuan Warga Negara Indonesia (selanjutnya disebut WNI) yang
168
Irma Devita Purnamasari, Panduan Lengkap Hukum Praktis Populer Kiat-Kiat Cerdas,
Mudah, Dan Bijak Memahami Masalah Hukum Waris, (Jakarta: Kaifa, 2012), hlm. 220.
169
Sri Budi Purwaningsih, “Perlindungan Hukum Kedudukan Anak Luar Kawin Pasca
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010”, Jurnal Dosen Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo, diakses melalui http://journal.umsida.ac.id/, pada tanggal 22 Desember
2016, pukul 11.39 WIB.
170
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
Universitas Sumatera Utara
83
menikah dengan laki-laki Warga Negara Asing (selanjutnya disebut WNA); dan
Kedua, laki-laki WNI menikah dengan perempuan WNA. Faktor perbedaan
kewarganegaraan di antara para pihaklah yang kemudian membedakan suatu
perkawinan campuran dengan perkawinan yang bersifat intern. Perbedaan
kewarganegaraan tersebut tidak saja terjadi saat awal dimulainya suatu perkawinan
campuran, tetapi dapat berlanjut setelah terbentuknya suatu keluarga perkawinan
campuran.171
Undang-Undang Kewarganegaraan Indonesia Nomor 62 Tahun 1958 (yang
selanjutnya disebut Undang-Undang Kewarganegaraan lama) maupun UndangUndang Kewarganegaraan Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 (yang selanjutnya
disebut
Undang-Undang
Kewarganegaraan
baru)
tidak
memberikan
status
kewarganegaraan Indonesia secara otomatis bagi perempuan WNA yang menikah
dengan laki-laki WNI, tetapi apabila perempuan WNA tersebut ingin menjadi WNI
maka ia harus mengajukan permohonan resmi sesuai peraturan yang berlaku.
Demikian juga perempuan WNI yang menikah dengan seorang laki-laki WNA dapat
tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesia, bila ia hendak mengikuti
kewarganegaraan suami menjadi WNA, maka perempuan tersebut diharuskan untuk
mengajukan permohonan sesuai peraturan yang berlaku seperti tertuang dalam Pasal
7 dan 8 Undang-Undang Kewarganegaraan lama, dan Pasal 26 Undang-Undang
171
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
Universitas Sumatera Utara
84
Kewarganegaraan baru. Hal tersebut dapat menimbulkan perbedaan kewarganegaraan
dalam keluarga suatu perkawinan campuran.172
Perbedaan kewarganegaraan tidak saja terjadi antara pasangan suami istri
dalam suatu perkawinan campuran, tetapi juga terjadi pada anak-anak hasil
perkawinan
campuran.
kewarganegaraan
untuk
Menurut
anak
Undang-Undang
dari
pasangan
Kewarganegaraan
suami
istri
yang
lama,
berbeda
kewarganegaraan mengikuti kewarganegaraan ayahnya, apabila anak yang lahir
pasangan suami istri yang berbeda kewarganegaraan ibunya WNI dan ayahnya WNA,
anak tersebut secara otomatis menjadi WNA, sehingga terjadi perbedaan
kewarganegaraan antara anak yang lahir tersebut dengan ibunya yang WNI.173
Perbedaan kewarganegaraan antara anak WNA dengan ibunya WNI
menimbulkan banyak masalah hukum, baik selama masa perkawinan campuran itu
berlangsung maupun setelah putusnya perkawinan campuran. Terdapat banyak kasus
yang muncul, dimana Undang-Undang Kewarganegaraan lama tidak dapat
melindungi anak-anak yang lahir dari seorang ibu WNI suatu perkawinan campuran,
teristimewa saat putusnya perkawinan dan anaknya yang WNA harus berada dalam
172
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
173
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
Universitas Sumatera Utara
85
pengasuhan ibunya WNI serta bertempat tinggal di Indonesia yang notabene
merupakan negara ibunya sendiri.174
Setelah Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru diundangkan, aturan ini
memberikan kewarganegaraan ganda hanya terbatas pada anak-anak hasil perkawinan
campuran sampai anak tersebut berusia 18 tahun atau sudah menikah, setelah itu ia
harus memilih salah satu untuk menjadi kewarganegaraannya. Hal ini juga berlaku
untuk anak luar kawin dari pasangan suami istri yang berbeda kewarganegaraan yang
diakui.175
Status
kewarganegaraan
ganda
yang
dianut
dalam
Undang-Undang
Kewarganegaraan yang baru merupakan terobosan untuk mengatasi permasalahan
yang timbul dalam perkawinan campuran, maupun setelah putusnya perkawinan
campuran, dimana terdapat perbedaan kewarganegaraan antara orang tua dan anakanak hasil perkawinan itu.176
Seiring dengan melekatnya kewarganegaraan ganda terbatas pada anak hasil
perkawinan campuran, maka anak tersebut tunduk pada dua yurisdiksi dari 2 (dua)
negara yang terkait kewarganegaraan dari kedua orangtuanya, sehingga menimbulkan
174
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
175
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
176
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
Universitas Sumatera Utara
86
permasalahan hukum di bidang Hukum Perdata Internasional, yaitu hukum dari
negara mana yang berlaku atas status personalnya.
Menurut Teori Hukum Perdata Internasional (HPI) untuk menentukan status
anak dan hubungan antara anak dan orangtua perlu dilihat lebih dahulu, perkawinan
orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan, apakah perkawinan perkawinan orang
tuanya sah, bila anak lahir dalam suatu perkawinan yang sah maka bila salah satu atau
kedua orang tuanya meninggal maka anak adalah ahli waris.177
Berdasarkan yurisprudensi dalam Hukum Perdata Internasional (HPI) baik di
Belanda maupun di Indonesia, hukum yang berlaku mengenai warisan adalah hukum
nasional dari pewaris. Terkait kewarganegaraan ganda anak dari pasangan suami istri
yang berbeda kewarganegaraan, bila salah satu orang tuanya, yaitu ibunya WNI atau
ayahnya WNI meninggal dunia, tentunya anak-anak tersebut merupakan ahli waris
ibu atau ayahnya yang adalah WNI.178
Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru menggantikan Undang-Undang
Kewarganegaraan yang lama mulai diundangkan tertanggal 1 Agustus tahun 2006.
Kehadiran Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru disambut penuh antusias
oleh pasangan suami istri yang berbeda kewarganegaraan karena anak-anak yang
lahir dari suatu perkawinan pasangan suami istri yang berbeda kewarganegaraan tetap
177
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
178
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
Universitas Sumatera Utara
87
diakui sebagai WNI di samping kewarganegaraan asing yang mengikuti ayahnya atau
dengan kata lain anak-anak hasil perkawinan campuran dapat memperoleh
kewarganegaraan ganda.179
Pasal 4 huruf c Undang-Undang Kewarganegaraan baru menegaskan:
”Warga Negara Indonesia adalah anak yang lahir dari perkawinan yang sah
dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan Ibu Warga Negara Asing.”180
Selanjutnya, Pasal 4 huruf d menyatakan:
”Warga Negara Indonesia adalah anak yang lahir dari perkawinan yang sah
dari seorang ayah Warga Negara Asing dan ibu Warga Negara Indonesia.”181
Pasal 6 ayat (1) menegaskan:
”Status Kewarganegaraan Republik Indonesia terhadap anak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, huruf d, huruf h, huruf i dan Pasal 5
berakibat anak berkewarganegaraan ganda, setelah 18 (delapan belas) tahun
atau sudah kawin anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu
kewarganegaraannya.”182
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang Kewarganegaraan
yang baru tersebut, kewarganegaraan ganda anak dalam suatu perkawinan campuran
bersifat terbatas sampai pada usia 18 tahun saja, kemudian ia diberi waktu 3 (tiga)
tahun untuk memilih apakah akan menjadi WNI atau WNA.
179
Leonora Bakarbessy dan Sri Handajani, “Kewarganegaraan Ganda Anak Dalam
Perkawinan Campuran Dan Implikasinya Dalam Hukum Perdata Internasional”, Jurnal Fakultas
Hukum Universitas Airlangga Surabaya, diakses melalui http://ejournal.uwks.ac.id/, pada tanggal 22
Desember 2016, pukul 11.54 WIB.
180
Pasal 4 huruf c Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
181
Pasal 4 huruf d Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
182
Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
Universitas Sumatera Utara
88
Anak-anak yang lahir sebelum undang-undang ini diundangkan, mereka dapat
memperoleh kewarganegaraan ganda atau dapat menjadi WNA. Mereka dapat
memperoleh kewarganegaraan ganda, bila orang tua atau walinya mendaftarkan
mereka kepada Menteri melalui Pejabat atau Perwakilan Republik Indonesia paling
lambat 4 (empat) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan. Dengan
didaftarkannya anak-anak tersebut, maka mereka memperoleh Surat Keputusan dari
Menteri Hukum dan HAM bahwa mereka adalah WNI. Bila sampai dengan Tahun
2010 anak-anak tersebut tidak didaftarkan maka mereka dianggap sebagai WNA.183
Sedangkan anak-anak yang lahir di Indonesia setelah undang-undang ini
diundangkan, pencatatan dilakukan pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan
Sipil dan memperoleh akta kelahiran sebagai WNI.
Masalah kewarganegaraan seseorang tidak hanya terbatas pada paspor serta
izin tinggal di suatu negara tetapi mempunyai implikasi yang lebih jauh yaitu
mengenai hak-hak dan kewajiban sebagai warga negara yang harus dijalaninya.
Dalam Hukum Perdata Internasional Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pasal 16
AB bahwa kewarganegaraan seseorang menentukan hukum yang berlaku baginya di
bidang status personal, yaitu meliputi hubungan-hubungan kekeluargaan seperti
hubungan antara suami istri, ayah dan anak, perwalian termasuk soal-soal yang
bertalian dengan perkawinan, pembatalan perkawinan, perceraian, status di bawah
umur dan lain-lain.
183
Lihat Pasal 41 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 jo. Permen Hukum dan HAM
Nomor M.01-HL.03.01 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pendaftaran Anak untuk Memperoleh
Kewarganegaraan RI.
Universitas Sumatera Utara
89
Status personalnya berlaku hukum asing yaitu hukum nasional dari negaranya,
apabila seseorang berkewarganegaraan asing. Seseorang yang berkewarganegaraan
ganda harus tunduk pada 2 (dua) yurisdiksi dari 2 (dua) negara yang berbeda,
sehingga asas kewarganegaraan yang dianut dalam Hukum Perdata Internasional
Indonesia melalui Pasal 16 AB sulit diterapkan terhadap kasus-kasus yang berkaitan
dengan status personalnya.
Undang-Undang
Kewarganegaraan
yang
baru
memuat
asas-asas
kewarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas yang dianut dalam undangundang ini sebagai berikut:184
1. Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara
tempat kelahiran.
2. Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran, yang
diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam undang-undang ini.
3. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu
kewarganegaraan bagi setiap orang.
4. Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam undang-undang ini.
Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru pada dasarnya tidak mengenal
kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride).
Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam undang-undang ini
merupakan suatu pengecualian. Mengenai hilangnya kewarganegaraan anak, maka
184
Melani Wuwungan, “Status dan Kedudukan Anak Hasil Perkawinan Campuran Ditinjau
Dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia”, Tesis,
Magister Kenotariatan, Universitas Diponegoro, 2009, hlm. 123.
Universitas Sumatera Utara
90
hilangnya kewarganegaraan ayah atau ibu (apabila anak tersebut tidak punya
hubungan
hukum
dengan
ayahnya)
tidak
secara
otomatis
menyebabkan
kewarganegaraan anak menjadi hilang.
Berdasarkan undang-undang ini, anak yang lahir dari perkawinan seorang
perempuan WNI dengan laki-laki WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan
seorang perempuan WNA dengan laki-laki WNI, sama-sama diakui sebagai WNI.
Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda dan setelah berusia 18 tahun atau
sudah menikah maka anak tersebut harus menentukan pilihannya. Pernyataan untuk
memilih harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18
(delapan belas) tahun atau setelah menikah.
Pemberian kewarganegaraan ganda ini merupakan terobosan baru yang positif
bagi anak-anak dari pasangan suami istri yang berbeda kewarganegaraan. Namun
perlu ditelaah, apakah pemberian kewarganegaraan ini akan menimbulkan
permasalahan baru di kemudian hari atau tidak. Memiliki kewarganegaraan ganda
berarti tunduk pada 2 (dua) yurisdiksi. Indonesia memiliki sistem hukum perdata
internasional peninggalan Hindia Belanda. Dalam hal status personal Indonesia
menganut asas konkordasi, yang antaranya tercantum dalam Pasal 16 AB (mengikuti
Pasal 6 AB Belanda, yang disalin lagi dari pasal 3 Code Civil Perancis). Berdasarkan
Pasal 16 AB dianut prinsip nasionalitas untuk status personal. WNI yang berada di
luar negeri, sepanjang mengenai hal-hal yang terkait dengan status personalnya, tetap
berada di bawah lingkungan kekuasaan hukum nasional Indonesia, sebaliknya,
menurut jurisprudensi, maka orang-orang asing yang berada dalam wilayah Negara
Universitas Sumatera Utara
91
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipergunakan juga hukum nasional mereka
sepanjang hal tersebut masuk dalam bidang status personal. Dalam jurisprudensi
Indonesia yang termasuk status personal antara lain perceraian, pembatalan
perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, dan kewenangan melakukan
perbuatan hukum, soal nama, status anak-anak yang di bawah umur.
Bila dikaji dari segi Hukum Perdata Internasional, kewarganegaraan ganda
juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang
didasarkan pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada
ketentuan negara nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan
yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana bila ada
pertentangan antara hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status
personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana. Lalu bagaimana bila
ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum pada ketentuan negara yang
lain.
a.
Hak Anak
Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru tidak memberikan definisi
mengenai apa yang dimaksud dengan anak, namun Pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa
anak yang berkewarganegaraan ganda, setelah berusia 18 (delapan belas) tahun atau
sudah kawin, anak tersebut harus memilih salah satu dari kewarganegaraannya.
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat 1 tersebut di atas, batasan usia seorang anak
Universitas Sumatera Utara
92
adalah 18 (delapan belas) tahun, bila sebelum 18 (delapan belas) tahun anak tersebut
telah menikah misalnya pada usia 14 tahun maka ia dianggap telah dewasa.185
Dalam Pasal 47 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan, juga ditegaskan batasan
usia seorang anak adalah 18 (delapan belas) tahun. Pasal tersebut menyatakan ”Anak
yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah
melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orangtuanya, selama mereka
tidak atau belum dicabut dari kekuasaannya”.186
Sejalan dengan adanya ketentuan usia 18 (delapan belas) tahun bagi seorang
anak, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak lebih jelas
memberikan definisi tentang anak yang diatur dalam Pasal 1 angka 1 sebagai
berikut:187
”Anak adalah seseorang yang belum genap berusia 18 (delapan belas) tahun
termasuk anak yang masih dalam kandungan”.
Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, kesimpulan yang dapat
ditarik bahwa batas usia seseorang yang dianggap sebagai anak di Indonesia adalah
18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah.
Dalam Hukum Perdata, manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak
ia dilahirkan, kecuali apa yang diatur dalam Pasal 2 KUHPerdata bahwa anak yang
masih berada dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum bila ada kepentingan
185
Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
Pasal 47 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
187
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
186
Universitas Sumatera Utara
93
yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup.188 Manusia sebagai subjek
hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum, namun
untuk anak sebagai pendukung hak dan kewajiban, selama anak tersebut belum
dewasa atau belum kawin, pada umumnya anak hanya mempunyai hak dan belum
mempunyai kewajiban, sehingga mereka lebih banyak mendapat keuntungan akibat
kewarganegaraan ganda. Oleh sebab itu bila mereka telah dewasa atau sudah menikah
mereka harus memilih salah satu di antara kewarganegaraan ganda tersebut. Bila
mereka tidak memilih salah satu dari kedua kewarganegaraannya maka mereka
dianggap sebagai orang asing.
Indonesia telah menjamin perlindungan atas hak-hak anak. Hal ini dapat
dilihat dari diratifikasinya Konvensi tentang Hak-Hak Anak (Conventions on the
Right of The Child) dan dikeluarkannya peraturan perundang-undangan yang
mengatur mengenai perlindungan anak seperti Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979
tentang Kesejahteraan Anak, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak serta
ketentuan perundang-undangan lainnya yang menjamin perlindungan hak seorang
anak.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, setiap anak berhak atas suatu
perlindungan dan jaminan hukum yang layak. Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang
188
Pasal 2 KUHPerdata.
Universitas Sumatera Utara
94
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang meletakkan kewajiban untuk
memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas sebagai berikut:189
(1) Non diskriminasi;
(2) Kepentingan yang terbaik bagi anak;
(3) Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan;
Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
menyatakan bahwa setiap anak mempunyai hak sebagai berikut:190
(1) Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan
berdasarkan kasih sayang, baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan
khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
(2) Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan
kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa,
untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna.
(3) Anak berhak atas pemeliharaan dan perlidungan, baik semasa dalam
kandungan maupun sesudah dilahirkan.
(4) Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat
membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya
dengan wajar.
Kesejahteraan anak yang dimaksud adalah suatu tata kehidupan dan
penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan
wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial. Sedangkan usaha kesejahteraan
anak adalah usaha kesejahteraan sosial yang ditujukan untuk menjamin terwujudnya
kesejahteraan anak terutama terpenuhinya kebutuhan pokok anak.191
b. Kewajiban Orang Tua
189
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT), Panduan Bantuan Hukum di
Indonesia Pedoman Anda Memahami dan Menyelesaikan Masalah Hukum, (Jakarta: YLBHI, 2007),
hlm. 105.
190
Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
191
Pasal 1 ayat 1 a dan b Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
Universitas Sumatera Utara
95
Perlindungan atas hak-hak anak tidak terlepas dari peran serta orang tua,
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, menyatakan:
Orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya
kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani maupun sosial. Bila orang tua
terbukti melalaikan tanggung jawabnya sehingga mengakibatkan timbulnya
hambatan dalam pertumbuhan perkembangan anak, kuasa asuhnya dapat
dicabut.192
Kemudian dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan juga dinyatakan bahwa “orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak
atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur
18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali
apabila kepentingan anak itu mengkehendakinya”.193 Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa orang tua juga mempunyai kewajiban untuk mengurus dan
memelihara harta kekayaan anak-anak mereka dan berhak memindahkan dan
menggadaikan hak atas harta benda kekayaan tersebut apabila kepentingan anak
tersebut mengkehendakinya.
Di kalangan masyarakat masih banyak dilakukan proses perkawinan yang
tidak dicatatkan atau pernikahan di bawah tangan, yang menimbulkan pendapat yang
pro dan kontra. Perkawinan di bawah tangan tidak diakui oleh hukum formil karena
tidak tercatat pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Tidak
tercatatnya perkawinan akan berdampak negatif pada status anak yang dilahirkan di
192
193
Pasal 9 dan 10 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
Pasal 48 KUHPerdata.
Universitas Sumatera Utara
96
mata hukum, yakni anak yang dilahirkan dianggap sebagai anak tidak sah. Artinya,
anak tersebut tidak mempunyai hubungan hukum terhadap ayahnya.
Seperti yang disebutkan dalam Pasal 42 dan Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang
Perkawinan, yang menyebutkan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan
dalam/atau sebagai akibat perkawinan yang sah, anak yang dilahirkan di luar
perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.
Hal ini juga diperkuat oleh Pasal 100 KHI yang menegaskan bahwa “anak yang lahir
di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga
ibunya”.194
Hal ini tentu saja merugikan anak, oleh karena berdasarkan ketentuan Pasal
100 KHI tersebut anak tidak mempunyai hubungan hukum keperdataan dengan ayah
biologisnya.
Walaupun demikian, perkawinan yang dilakukan di bawah tangan setelah
lahirnya Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 akan mengalami
kesulitan, kecuali terdapat alasan-alasan yang kuat yang menyebabkan tidak
dilakukannya pencacatan perkawinan tersebut, misalnya karena alasan konflik yang
menyebabkan tidak berfungsinya Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
di suatu tempat tertentu.
Dalam Mukadimah Deklarasi PBB tersirat bahwa umat manusia berkewajiban
memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Semua pihak menyetujui peran anak (role
of the child) merupakan harapan masa depan. Ketentuan undang-undang tentang
194
Pasal 100 KHI.
Universitas Sumatera Utara
97
perlindungan hukum dimuat dalam Pasal 34 UUD 1945, ketentuan ini ditegaskan
pengaturannya dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang
Kesejahteraan Anak dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 195
Secara garis besar Deklarasi Mukadimah PBB memuat: tentang hak-hak anak,
yaitu: hak untuk memperoleh perlakuan khusus, kesempatan dan fasilitas yang
memungkinkan mereka berkembang secara sehat dan wajar dalam keadaan
bebas dan memiliki nama dan kebangsaan sejak lahir, mendapat jaminan
termasuk gizi yang cukup, perumahan, rekreasi dan pelayanan kesehatan,
memperoleh pendidikan, perawatan dan perlakuan karena mereka cacat,
tumbuh dan dibesarkan dalam suasana yang merasa aman sedapat mungkin di
bawah asuhan serta tinggal bersama orang tua mereka sendiri, mendapat
pendidikan, dan dalam kecelakaan/malapetaka, mereka termasuk yang
pertama mendapat perlindungan terhadap segala bentuk kekejaman dan
penindasan serta perbuatan yang mengarah ke bentuk diskriminasi.196
Apabila keadilan dikaitkan dengan perlindungan anak, dapat dikatakan bahwa
dimana ada keadilan, disitu seharusnya terdapat perlindungan anak yang baik.
Perlindungan anak merupakan suatu usaha yang mengadakan kondisi dimana setiap
anak dapat malaksanakan hak dan kewajibannya. Perlindungan anak merupakan
perwujudan
adanya
keadilan
dalam
suatu
masyarakat.
Dengan
demikian,
perlindungan anak harus diusahakan terhadapnya dalam berbagai bidang kehidupan
bernegara dan bermasyarakat.
Status sebagai anak luar kawin merupakan suatu masalah baginya karena
mereka tidak bisa mendapatkan hak-hak dan kedudukan sebagai anak pada umumnya
195
Emeliana Krinawati, Aspek Hukum Perlindungan Anak, (Bandung: CV. Utomo, 2005),
196
Ibid., hlm. 2.
hlm. 1.
Universitas Sumatera Utara
98
seperti anak sah. Secara hukum, mereka hanya memiliki hubungan perdata dengan
ibu dan keluarga ibunya.
Anak luar kawin tidak akan memperoleh hak yang menjadi kewajiban
ayahnya karena ketidakabsahan pada anak tersebut. Konsekuensinya adalah laki-laki
yang sebenarnya menjadi ayah, tidak memiliki kewajiban memberikan hak-hak yang
seharusnya ia dapatkan. Sebaliknya, anak luar kawin tidak bisa menuntut ayahnya
untuk memenuhi kewajiban yang dipandang menjadi hak, bila statusnya sebagai anak
tidak sah. Hak anak dari kewajiban ayahnya yang merupakan hubungan keperdataan
biasanya bersifat materiil.
Anak luar kawin dapat memperoleh hubungan perdata dengan ayah
biologisnya, yaitu dengan cara memberi pengakuan terhadapnya. Pasal 280 s/d Pasal
281 KUHPerdata menegaskan bahwasanya dengan pengakuan terhadap anak luar
kawin, terlahirlah hubungan perdata antara anak luar kawin dengan ayah atau ibunya.
G. Perbandingan Antara Perlindungan Hukum Anak Luar Kawin Di
Indonesia Dan Di Belanda
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tidak mengatur secara
tegas mengenai kedudukan hukum seorang anak luar kawin. Pasal 43 ayat (2)
Undang-Undang Perkawinan hanya menyebutkan bahwa kedudukan anak luar kawin
akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.197 Hingga saat ini belum ada
Peraturan Pemerintah yang mengatur secara tegas perihal kedudukan anak luar kawin
tersebut. Oleh karenanya, mengenai hal-hal yang belum diatur dalam Undang-
197
Pasal 43 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
99
Undang Nomor 1 Tahun 1974 masih diberlakukan ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan yang lama.198 Dengan demikian terhadap kedudukan anak luar
kawin yang belum diatur secara tegas dalam undang-undang tersebut, akan berlaku
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang lama yaitu ketentuan-ketentuan
dalam KUHPerdata.
Seperti yang telah disebutkan di atas, KUHPerdata mengatur kedudukan dan
perlindungan hukum yang cukup berbeda antara anak sah dan anak luar kawin,
dimana anak luar kawin cenderung memiliki kedudukan hukum yang lebih rendah.
Apabila dibandingkan dengan di Belanda, jaminan dan perlindungan hukum
terhadap anak luar kawin di Indonesia jauh berbeda dengan perlindungan hukum anak
luar kawin di Belanda. Belanda telah mengalami banyak kemajuan dalam
melaksanakan perlindungan hukum terhadap anak luar kawin. Hal ini dapat dilihat
salah satunya dari telah diadakannya beberapa kali perubahan terhadap KUHPerdata
atau Civil Code mereka, termasuk di dalamnya perubahan terhadap ketentuanketentuan mengenai anak luar kawin.
Perubahan-perubahan tersebut dilakukan karena berkembangnya masalah
HAM dalam sistem
hukum Belanda beberapa
dekade terakhir sehingga
mengakibatkan penegak hukum Belanda menghadapi berbagai masalah dalam
menerapkan Civil Code pada putusan-putusannya, terutama di bidang hukum
198
Pasal 66 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
100
keluarga.199 Oleh karenanya, diadakan beberapa perubahan dalam hukum keluarga
Belanda dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan-perkembangan yang ada
di masyarakat, khususnya perkembangan mengenai masalah HAM. Sementara bila
dilihat di Indonesia, KUHPerdata kita yang pada dasarnya berasal dari Belanda
hingga saat ini masih belum banyak mengalami perubahan dan masih mengatur
kedudukan hukum yang berbeda antara anak luar kawin dengan anak sah.
Selain perubahan terhadap Civil Code, Belanda juga telah meratifikasi dan
mengadopsi ketentuan-ketentuan dalam European Convention on the Legal Status of
Children Born Out of Wedlock. Konvensi ECHR ini dibuat untuk menjamin
pelaksanaan hak bersama dari HAM dan kebebasan mendasar manusia.200 Salah satu
hal penting yang diterapkan dalam konvensi tersebut adalah persamaan antar status
hukum dari anak-anak yang lahir di dalam atau di luar perkawinan.201
199
Zulfa Djoko Basuki, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta: Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, 2011), hlm. 73.
200
Ibid., hlm. 74.
201
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
101
BAB IV
PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PENETAPAN PENGADILAN NEGERI
BATAM NO. 79/ PDT.P/ 2014/ PN.BTM
A. Kronologi Kasus Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Batam No. 79/ Pdt.P/
2014/ PN.Btm
Dari sekian banyak kasus pengakuan anak luar kawin, yang akan diteliti
dalam tesis ini adalah penetapan pengakuan anak luar kawin dari pasangan suami istri
yang berbeda kewarganegaraan (Penetapan Pengadilan Negeri Batam No. 79/ Pdt.P/
2014/
PN.Btm).
Sebelum
menganalisis
argumentasi
yang
menjadi
dasar
pertimbangan Majelis Hakim dalam memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara
dalam Penetapan Pengadilan Negeri Batam No. 79/ Pdt.P/ 2014/ PN.Btm tanggal 18
Maret 2014, terlebih dahulu dideskripsikan mengenai para pihak, kronologis kasus,
fakta-fakta hukum, penetapan dan pertimbangan Hakim.
1.
Identitas Para Pihak
Para pihak dalam perkara penetapan pengakuan anak tersebut terdiri atas
Pemohon DKJ (Pemohon I) dan Pemohon MNF (Pemohon II) yang berstatus sebagai
pasangan suami istri. Pemohon I adalah suami, yang bernama DKJ, 45 tahun, Warga
Negara Selandia Baru, Pekerjaan Swasta dan bertempat tinggal di Jalan Cemara
Tiang No. 10 RT. 002 RW. 001 Kelurahan Sukajadi Kota Batam, sedangkan
Pemohon II merupakan istri dari Pemohon I yang bernama MNF, 41 tahun, Warga
Negara Indonesia, Pedagang dan bertempat tinggal di Jalan Cemara Tiang No. 10 RT.
002 RW. 001 Kelurahan Sukajadi Kota Batam.202
202
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Penetapan No. 79/ Pdt.P/ 2014/
PN.Btm.
101
Universitas Sumatera Utara
102
2.
Pokok Perkara
Posita atau pokok perkara merupakan penjelasan tentang keadaan atau
peristiwa dan penjelasan yang berhubungan dengan hukum yang dijadikan dasar atau
alasan gugat.203 Pemohon DKJ dan Pemohon MNF telah mendaftarkan surat
permohonannya pada tanggal 4 Maret 2014 yang terdaftar dalam Register Perkara
Permohonan di Pengadilan Negeri Kota Batam dengan Nomor Perkara: 79/ Pdt.P/
2014/ PN.Btm yang hal-hal pokoknya dapat disimpulkan sebagai berikut:
Para pemohon adalah sepasang suami istri berbeda kewarganegaraan yang
menikah secara resmi (hukum negara) pada tanggal 26 April 2008 dengan Kutipan
Particulars of Marriage Nomor: 49/08 yang telah didaftarkan pada Kantor Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam Nomor: 11/ P.PKW.CS.BTM/ II/
2014, tanggal 10 Februari 2014. Sebelumnya, Pemohon DKJ dan Pemohon MNF
telah melakukan hubungan layaknya suami istri dan dikaruniai seorang anak laki-laki
yang bernama RDD yang lahir di Batam pada tanggal 26 Juni 2000. Akan tetapi,
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF belum meresmikan pernikahan mereka secara
hukum negara karena pengurusan administrasi yang memerlukan waktu lama.
Permohonan penetapan pengakuan anak diajukan oleh Pemohon DKJ dan
Pemohon MNF karena RDD akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Dalam akta
kelahiran sebelumnya, nama Pemohon DKJ sebagai ayah tidak dicantumkan dan
bermaksud agar nama Pemohon DKJ dicantumkan sebagai ayah. Namun keinginan
203
Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2011), hlm. 40.
Universitas Sumatera Utara
103
tersebut tidak dapat dilaksanakan karena Pegawai Kantor Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil Kota Batam meminta surat yang menerangkan bahwa anak tersebut
adalah anak biologis dari Pemohon DKJ dan Pemohon MNF. Oleh karena itu,
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF mengajukan permohonan penetapan pengakuan
anak agar dapat dijadikan sebagai alasan hukum, sehingga keinginannya supaya nama
Pemohon DKJ dicantumkan sebagai ayah dalam akta kelahiran dapat dipenuhi.
Berdasarkan uraian dan alasan tersebut diatas, Pemohon DKJ dan Pemohon
MNF memohon kepada Ketua Pengadilan Negeri Kota Batam melalui Majelis Hakim
yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut untuk memberikan penetapan
sebagai berikut:204
a. Mengabulkan permohonan pemohon;
b. Menyatakan bahwa anak pemohon bernama RDD, jenis kelamin laki-laki,
lahir di Batam, tanggal 26 Juni 2000 adalah anak suami istri dari Pemohon
DKJ dan Pemohon MNF;
c. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Kota Batam untuk
mengirimkan salinan penetapan tersebut ke Kantor Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil Kota Batam untuk memasukkan kembali ke dalam Buku
Register yang tersedia untuk itu, selanjutnya oleh Pejabat Pencatatan Sipil
dibuat Catatan Pinggir pada Kutipan Akta Kelahiran Nomor: 238/ PPN/ KICS-BTM/ 2004, tanggal 9 Agustus 2004 atas adanya perubahan tersebut;
d. Membebankan kepada pemohon untuk membayar biaya yang timbul dalam
perkara ini.
Selanjutnya, terkait mengenai pembuktian dalam perkara ini, Pemohon DKJ
dan Pemohon MNF memberi dasar-dasar yang cukup kepada Hakim yang memeriksa
perkara yang bersangkutan guna memberi kepastian tentang kebenaran peristiwa yang
204
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Penetapan No. 79/ Pdt.P/ 2014/
PN.Btm.
Universitas Sumatera Utara
104
diajukannya,205 sehingga didapatkan suatu kepastian bahwa suatu peristiwa yang
diajukan tersebut benar-benar terjadi. Membuktikan berarti mempertimbangkan
secara logis kebenaran suatu fakta atau peristiwa berdasarkan alat-alat bukti yang sah
dan menurut hukum pembuktian yang berlaku.
Adapun alat bukti yang diajukan Pemohon DKJ dan Pemohon MNF guna
memperteguh permohonan di persidangan adalah alat bukti surat dan alat bukti saksi.
a. Alat Bukti Surat
Alat bukti surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang
dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau menyampaikan buah pikiran
seseorang dan dipergunakan sebagai alat bukti.206 Adapun alat bukti surat
yang diajukan oleh Pemohon DKJ dan Pemohon MNF adalah sebagai
berikut:207
1) Fotokopi Kartu Ijin Tinggal Terbatas Elektronik (e-KITAS) Nomor:
BKGAA39127 atas nama DKJ yang dikeluarkan oleh Kementerian
Hukum dan HAM RI Direktorat Jenderal Imigrasi, telah dicocokkan
dengan aslinya dan bermaterai cukup oleh Majelis Hakim diberi kode
(P.1).
2) Fotokopi Passport Nomor: LA315588, tanggal 20 Desember 2010, atas
nama DKJ, telah dicocokkan dengan aslinya dan bermaterai cukup oleh
Majelis Hakim diberi kode (P.2).
3) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk RI Nomor: 2171105911729003, tanggal
16 April 2010 atas nama MNF yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam, telah dicocokkan dengan
aslinya dan bermaterai cukup oleh Majelis Hakim diberi kode (P.3).
4) Fotokopi Particulars of Marriage Nomor: 49/08 terdaftar pada Kantor
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam Nomor: 11/
205
Mukti Arto, Op. Cit., hlm. 139.
Ibid., hlm. 148.
207
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Penetapan No. 79/ Pdt.P/ 2014/
206
PN.Btm.
Universitas Sumatera Utara
105
P.PKW.CS.BTM/ II/ 2014, tanggal 10 Februari 2014, telah dicocokkan
dengan aslinya dan bermaterai cukup oleh Majelis Hakim diberi kode
(P.4).
5) Fotokopi Kutipan Akta Kelahiran Nomor: 238/ PPN/ KI-CS-BTM/ 2004,
tanggal 09 Agustus 2004 atas nama RDD yang dikeluarkan oleh Kantor
Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Keluarga Berencana Kota Batam,
telah dicocokkan dengan aslinya dan bermaterai cukup oleh Majelis
Hakim diberi kode (P.5).
6) Fotokopi Salinan Akta Pengakuan Anak Nomor: 32 tanggal 23 Januari
2014 yang dikeluarkan oleh Maria Magdalena Ginting, SH Notaris Kota
Batam, telah dicocokkan dengan aslinya dan bermaterai cukup oleh
Majelis Hakim diberi kode (P.6).
7) Kartu Keluarga Nomor: 2171100904100034, tanggal 14 April 2010, yang
dikeluarkan oleh Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota
Batam, telah dicocokkan dengan aslinya dan bermaterai cukup oleh
Majelis Hakim diberi kode (P.7).
b. Alat Bukti Saksi
Saksi ialah orang yang memberikan keterangan di muka siding dengan
memenuhi syarat-syarat tertentu, tentang suatu peristiwa atau keadaan yang ia lihat,
dengar dan ia alami sendiri, sebagai bukti terjadinya suatu peristiwa atau keadaan.208
Dalam penetapan tersebut, Pemohon DKJ dan Pemohon MNF menghadirkan 2 (dua)
orang saksi, yaitu Saksi P, lahir di Jombang pada tanggal 01 April 1960, beragama
Islam, pekerjaan Mengurus Rumah Tangga, bertempat tinggal di Tiban Baru RT. 002
RW. 001, Kelurahan Tiban Lama Kota Batam dan Saksi M, lahir di Mojokerto,
tanggal 31 Desember 1960, beragama Islam, pekerjaan Wiraswasta, beretmpat tinggal
di Tiban Lama RT. 001 RW. 001 Kelurahan Tiban Lama Kota Batam.
Saksi-saksi tersebut memberikan keterangan di bawah sumpah sebagai
berikut:209
208
209
Mukti Arto, Op. Cit., hlm. 165.
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Penetapan No. 79/ Pdt.P/ 2014/
PN.Btm.
Universitas Sumatera Utara
106
1) Bahwa para saksi kenal dengan para pemohon;
2) Bahwa para saksi mengetahui bahwa para pemohon mengajukan
permohonan pengakuan anak;
3) Bahwa para saksi mengetahui para pemohon adalah pasangan suami istri
yang telah melangsungkan perkawinan secara sah pada tanggal 26 April
2008;
4) Bahwa para saksi mengetahui sebelum para pemohon melangsungkan
perkawinan secara sah para pemohon telah melakukan perkawinan secara
tidak sah, menikah secara agama;
5) Bahwa para saksi mengetahui dari perkawinan para pemohon secara tidak
sah tersebut telah lahir seorang anak yang diberi nama: RDD, jenis
kelamin laki-laki, lahir di Batam pada tanggal 26 Juni 2000;
6) Bahwa para saksi mengetahui anak bernama RDD, jenis kelamin laki-laki,
lahir di Batam pada tanggal 26 Juni 2000 adalah anak dari para pemohon
yang dilahirkan sebelum para pemohon melangsungkan perkawinan secara
sah.
Dalam proses pembuktian tersebut, para pemohon telah membenarkannya,
baik terhadap bukti surat maupun keterangan para saksi serta memohon kepada
Majelis Hakim untuk membacakan penetapan.
3.
Pertimbangan Hakim Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Batam No. 79/
Pdt.P/ 2014/ PN.Btm
Pertimbangan hukum merupakan gambaran tentang bagaimana Hakim
mengkualifikasikan fakta, kemudian melakukan penilaian terhadap fakta-fakta yang
diajukan secara rinci serta memuat dasar-dasar hukum yang dipergunakan oleh
Hakim dalam menilai fakta dan memutus perkara, baik hukum tertulis maupun yang
tidak tertulis. Di dalam Salinan Penetapan Hakim Pengadilan Negeri Batam No. 79/
Universitas Sumatera Utara
107
Pdt.P/ 2014/ PN.Btm tentang penetapan anak luar kawin terdapat beberapa
pertimbangan-pertimbangan hukum, yaitu:210
Maksud dan tujuan permohonan Pemohon DKJ dan Pemohon MNF adalah
sebagaimana tersebut di atas. Majelis Hakim telah memberikan nasihat yang cukup
kepada Pemohon DKJ dan Pemohon MNF di persidangan tentang akibat hukum dari
permohonannya. Akan tetapi, Pemohon DKJ dan Pemohon MNF tetap ingin
melanjutkan permohonannya.
Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan menegaskan bahwa:211
“Para pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk
mengajukan perkara tersebut karena para pemohon adalah orang yang
berkepentingan langsung terhadap anak yang dimohonkan asal-usulnya
tersebut dengan tujuan agar sang anak terjamin kelangsungan hidupnya,
tumbuh dan perkembangan kejiwaan anak, pendidikannya serta kepastian
hukum dari siapapun.”
Inti dari permohonan tersebut adalah Pemohon DKJ dan Pemohon MNF telah
melakukan hubungan layaknya suami istri sebelum perkawinan mereka sah secara
hukum negara, kemudian Pemohon MNF mengandung dan melahirkan anak laki-laki
bernama RDD, yang lahir pada tanggal 26 Juni 2000. Sekitar 14 (empat belas) tahun
kemudian tepatnya tanggal 10 Februari 2014, Pemohon DKJ dan Pemohon MNF
mendaftarkan pernikahan ke Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota
Batam sehingga Particulars of Marriage Nomor: 49/08 terdaftar dengan Nomor: 11/
P. PKW.CS.BTM/ II/ 2014 tanggal 10 Februari 2014.
210
Wawancara Netty Sihombing, Panitera Muda Hukum, Pengadilan Negeri Kota Batam.
Wawancara dilakukan pada 15 Nopember 2016.
211
Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
108
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Pemohon DKJ dan Pemohon MNF
bermaksud mengurus perbaikan Akta Kelahiran dari anak yang bernama RDD pada
Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam. Namun, hal ini
terkendala dengan status RDD, sehingga Pemohon DKJ dan Pemohon MNF
mengajukan permohonan penetapan pengakuan anak ke Pengadilan Negeri Kota
Batam agar anak tersebut ditetapkan sebagai anak sah atau setidak-tidaknya anak
biologis antara Pemohon DKJ dan Pemohon MNF.
Pokok permasalahan dalam perkara a quo adalah apakah anak yang bernama
RDD, yang lahir pada tanggal 26 Juni 2000 adalah anak sah menurut hukum atau
setidak-tidaknya anak biologis antara Pemohon DKJ dan Pemohon MNF. Oleh
karena itu, Majelis Hakim sebelum menjawab permasalahan tersebut di atas dan
sebelum menilai bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon DKJ dan Pemohon MNF,
perlu terlebih dahulu menguraikan hal-hal sebagai berikut.
Dalam Pasal 42 Undang-Undang Perkawinan, “anak yang sah adalah anak
yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat dari perkawinan yang sah”. Dengan
demikian untuk menentukan apakah perkawinan tersebut sah atau tidak, tentunya
harus merujuk pada ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan yang
menentukan bahwa “suatu perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilakukan
menurut hukum masing-masing agamanya atau kepercayaannya itu”.
Anak yang terbukti lahir di luar perkawinan maka hubungan perdata dapat
dimaknai secara umum, yaitu anak memiliki hubungan perdata terhadap ayah dan
keluarga ayahnya, bisa saling mewarisi, berlaku pula ketentuan wali nikah, serta
Universitas Sumatera Utara
109
kewajiban memberi nafkah. Majelis Hakim berpendapat demikian karena UndangUndang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tidak menyangkal berlakunya ketentuanketentuan hukum agama bagi pemeluk atau kepercayaannya, sebagaimana ditegaskan
dalam Penjelasan Umum angka 3 Undang-Undang Perkawinan.
Berdasarkan landasan yang telah dipaparkan tersebut di atas selanjutnya
Majelis Hakim menjawab perkara a quo dengan pertimbangan sebagai berikut.
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF telah mengajukan bukti-bukti berupa P.1, P.2, P.3,
dan P.7, yang mana bukti tersebut adalah fotokopi e-KITAS, Paspor, KTP dan Kartu
Keluarga sebagai identitas diri bagi para pemohon, bermaterai cukup dan telah
dicocokkan dengan aslinya, ternyata identitas diri para pemohon cocok sebagaimana
dalam permohonannya, maka alat bukti tersebut dapat diterima sebagai alat bukti
yang sah.
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF juga mengajukan bukti P.4 berupa
fotokopi Particulars of Marriage Nomor: 49/08 terdaftar di Kantor Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam Nomor: 11/ P.PKW.CS.BTM/ II/
2014, tanggal 10 Februari 2014 yang telah dicocokkan dengan aslinya dan bermaterai
cukup. Oleh karena bukti P.4 tersebut merupakan bukti autentik yang mempunyai
nilai kekuatan pembuktian yang sempurna, mengikat dan menentukan, maka dengan
demikian Pemohon DKJ dan Pemohon MNF terbukti sejak tanggal 10 Februari 2014
telah terikat dalam suatu perkawinan yang sah hingga saat ini.
Pemohon disamping telah mengajukan bukti tertulis tersebut di atas juga telah
mengajukan 2 (dua) orang saksi yang telah memberikan keterangan di bawah sumpah
Universitas Sumatera Utara
110
dan di depan persidangan. Majelis Hakim telah mendengar keterangan para saksi
sehingga dapat diperoleh fakta bahwa Pemohon DKJ dan Pemohon MNF telah
berhubungan sejak tahun 2000 dan melakukan hubungan suami istri serta telah
dikaruniai seorang anak bernama RDD yang lahir pada tanggal 26 Juni 2000.
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF kemudian menikah dan mencatatkan
pernikahannya tanggal 10 Februari 2014 pada Pegawai Kantor Dinas Kependudukan
dan Pencatatan Sipil Kota Batam.
Kesaksian yang diberikan oleh kedua orang saksi tersebut didasarkan atas
pengetahuan, penglihatan dan pendengaran langsung saksi dan keterangannya saling
bersesuaian antara satu dengan lainnya. Berkaitan dengan hal tersebut, berdasarkan
Pasal 171 dan 172 HIR, saksi-saksi dipandang telah memenuhi syarat formil dan
materil saksi, maka keterangan saksi-saksi tersebut dinyatakan telah mempunyai nilai
pembuktian.
Pada petitum angka 2, Pemohon DKJ dan Pemohon MNF di dalam
permohonannya memohon agar Pengadilan Negeri Kota Batam menetapkan anak
yang bernama RDD adalah anak sah atau setidak-tidaknya sebagai anak biologis
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF, maka Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai
berikut:
Berdasarkan hasil pemeriksaan perkara ini berdasarkan bukti-bukti yang ada,
Majelis Hakim telah menemukan fakta–fakta hukum yang intinya adalah bahwa
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF telah melakukan hubungan suami istri di luar
nikah dan akhirnya lahir anak yang bernama RDD, pada tanggal 26 Juni 2000 dan
Universitas Sumatera Utara
111
kemudian Pemohon DKJ dan Pemohon MNF melaksanakan perkawinan dan
mendaftarkannya pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam
tanggal 10 Februari 2014.
Berdasarkan ketentuan Pasal 42 jo Pasal 2 Undang-Undang Perkawinan
Nomor 1 Tahun 1974, dapat disimpulkan bahwa anak Pemohon DKJ dan Pemohon
MNF merupakan anak yang lahir di luar ikatan perkawinan yang sah menurut hukum
negara. Oleh karenanya, anak tersebut dapat ditetapkan sebagai anak biologis dari
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF. Dikarenakan RDD termasuk sebagai anak
biologis yang sah diakui Pemohon DKJ dan Pemohon MNF maka hubungan perdata
harus dimaknai secara umum, yaitu masing-masing mempunyai hak dan kewajiban
sebagaimana hak dan kewajiban anak sah pada umumnya.
Terkait mengenai anak luar kawin, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
tentang Perlindungan Anak, Pasal 7 menegaskan: “setiap anak berhak untuk
mengetahui orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri” adalah
kurang arif dan bijaksana bahkan jauh dari rasa keadilan apabila di dalam akta
kelahiran tersebut tidak dicantumkan pula ayah sah dari anak tersebut. Demi
perlindungan dan kepastian hukum, ayah sah dari anak tersebut juga harus
dicantumkan dalam akta kelahiran.
4.
Penetapan Hakim No. 79/ Pdt.P/ 2014/ PN.Btm
Putusan ialah penyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan
diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum, sebagai hasil dari
pemeriksaan perkara gugatan (contentiosa). Sedangkan penetapan ialah pernyataan
Universitas Sumatera Utara
112
hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang
terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan permohonan (voluntair).212
Penjelasan Pasal 60 Undang-Undang Peradilan Agama Nomor 7 Tahun 1989
menegaskan bahwa putusan adalah keputusan pengadilan atas perkara gugatan
berdasarkan adanya suatu sengketa. Berbeda dengan penetapan yang diambil oleh
hakim apabila perkaranya adalah permohonan, kekuatan penetapannya bersifat
declaratoir. Putusan diambil oleh hakim apabila perkaranya berupa suatu sengketa di
mana para pihak saling mempertahankan hak masing-masing. Jadi, perkaranya
diperiksa secara contradictoir (timbal balik) sehingga putusannya bersifat
condemnatoir (menghukum) pihak yang kalah.213
Terkait mengenai Penetapan Pengadilan Negeri Batam No. 79/ Pdt.P/ 2014/
PN.Btm
tentang
pengakuan
anak
luar
kawin,
berdasarkan
pertimbangan-
pertimbangan yang telah diuraikan sebelumnya maka permohonan Pemohon DKJ dan
Pemohon MNF dinyatakan beralasan hukum, dan oleh karenanya dapat dikabulkan
dengan menyatakan bahwa RDD merupakan anak sah dari Pemohon DKJ dan
Pemohon MNF, yang selengkapnya sebagaimana tertuang di dalam amar penetapan
perkara ini. Berdasarkan Pasal 57 A angka (5) Undang-Undang Nomor 49 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum, biaya perkara ini dibebankan kepada pemohon.214
212
Mukti Arto, Op. Cit., hlm. 168.
Raihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1998), hlm. 32.
214
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Penetapan No. 79/ Pdt.P/ 2014/
PN.Btm.
213
Universitas Sumatera Utara
113
Mengingat segala peraturan hukum yang berlaku berkaitan dengan perkara
ini, Majelis Hakim menetapkan:215
a. Mengabulkan permohonan para pemohon;
b. Menyatakan bahwa anak pemohon yang bernama RDD, jenis kelamin lakilaki, lahir di Batam pada tanggal 26 Juni 2000 adalah anak suami istri dari
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF;
c. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Kota Batam untuk
mengirimkan salinan penetapan kepada Kantor Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil Kota Batam untuk dilakukan pencatatan pada register
pencatatan kelahiran yang diperuntukkan untuk itu dan pada Kutipan Akta
Kelahiran Nomor: 238/ PPN/ KI-CS-BTM/ 2004 tertanggal 9 Agustus 2004
atas nama RDD yang semula tertulis anak pertama dari perempuan MNF,
menjadi tertulis anak pertama dari suami istri DKJ dengan MNF;
d. Membebankan kepada pemohon untuk membayar biaya perkara ini sebesar
Rp. 141.000,- (seratus empat puluh satu ribu rupiah);
Penetapan tersebut di atas dijatuhkan pada hari Selasa, tanggal 18 Maret 2014
oleh Cahyono, Hakim Pengadilan Negeri Kota Batam, selaku Hakim Tunggal.
Penetapan tersebut diucapkan pada hari itu juga dalam sidang terbuka untuk umum
dan dibantu oleh Samiem sebagai Panitera Pengganti dan dihadiri oleh Pemohon DKJ
dan Pemohon MNF.216
Secara khusus tidak ada kriteria terhadap permohonan penetapan seorang anak
karena kriteria tentang anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai
akibat perkawinan yang sah.217
Secara yuridis, perkawinan yang sah dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2)
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yang berbunyi:
215
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Penetapan No. 79/ Pdt.P/ 2014/
216
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Penetapan No. 79/ Pdt.P/ 2014/
217
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
PN.Btm.
PN.Btm.
Universitas Sumatera Utara
114
a. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agama dan kepercayaannya;218
b. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku;219
Oleh karena perkawinan Pemohon DKJ dan Pemohon MNF tidak sah maka
anak yang dilahirkan dapat dikatakan dengan anak luar kawin. Akibat hukum dari
adanya anak luar kawin, yaitu ia hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan
keluarga ibunya. Namun dalam masalah keabsahan perkawinan Pemohon DKJ dan
Pemohon MNF, Hakim tidak mempertimbangkannya karena lebih mementingkan
hak-hak RDD.220
c. Menimbang Pasal 1923 KUHPerdata jo Pasal 174 HIR
Dalam Pasal 1923 KUHPerdata dijelaskan bahwa “suatu pengakuan yang
dikemukakan terhadap suatu pihak, ada yang dilakukan di depan Hakim, dan ada
yang dilakukan di luar siding pengadilan.”221 Meskipun dalam hal pengakuan anak
tersebut, para pemohon tidak memberikan bukti berupa teknologi yang dalam hal ini
biasa dilakukan dengan tes DNA222. Namun pengakuan yang dilakukan oleh
218
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
220
Wawancara dengan Netty Sihombing, Panitera Muda Hukum, Pengadilan Negeri Kota
Batam, pada tanggal 15 November 2016.
221
Pasal 1923 KUHPerdata.
222
DNA adalah singkatan dari Deoxyribo Nucleic Acid (Asam Nukleat), yaitu suatu
persenyawaan kimia yang membawa keterangan genetik dan sel khusus dari makhluk secara
keseluruhannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalam DNA terkandung informasi
keturunan suatu makhluk hidup yang akan mengatur program keturunan selanjutnya. Jadi, DNA
bertugas untuk menyimpan dan mentransfer informasi genetik kemudian menerjemahkan informasi ini
secara tepat. Dengan karakteristiknya yang sedemikian itu, DNA pada dasarnya amat potensial untuk
dimanfaatkan dalam melacak asal-usul keturunan seseorang. Hilman Ali Fardhinand, “Eksistensi Tes
219
Universitas Sumatera Utara
115
Pemohon DKJ dan Pemohon MNF di hadapan Hakim dapat dijadikan alat bukti yang
sempurna. Hal ini berdasarkan Pasal 1925 KUHPerdata yang berbunyi:223
“Pengakuan yang dilakukan di muka Hakim memberikan suatu bukti yang
sempurna terhadap siapa yang telah melakukannya baik sendiri maupun
dengan perantaraan seorang yang khusus dikuasakan untuk itu”.
Seharusnya dalam penunjukan alat bukti224 tidak hanya dilakukan dengan
pengakuan di hadapan Hakim di persidangan, meskipun di dalam KUHPerdata
dijelaskan bahwa sebuah pengakuan dapat dijadikan alat bukti yang sempurna.
Karena dalam pengakuan yang dilakukan oleh para pemohon besar kemungkinan
terjadi pemalsuan ataupun kekeliruan. Untuk itu, disamping adanya pengakuan dari
para pemohon diperlukan juga hasil uiji labolatorium seperti DNA ataupun bukti
teknologi lain yang dapat memperkuat pembuktian jika anak tersebut benar anak para
pemohon.
d. Menimbang Pasal 43 ayat (1) tentang anak luar kawin
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/ PUU-VII/ 2012 tanggal
17 Februari 2012 menyatakan bahwa Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan
Nomor 1 Tahun 1974 yang mengatur tentang:
“anak yang dilahirkan di luar
DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) Sebagai Alat Bukti dalam Pembuktian Hukum Pidana”, diakses
melalui
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexcrimen/article/viewFile/8042/7603,
tanggal
21
September 2016, pukul 15.00 WIB.
223
Pasal 1925 KUHPerdata.
224
Penjelasan: Pasal 1866 KUHPerdata menegaskan bahwa alat-alat bukti terdiri atas: 1.
Bukti tulisan, 2. Bukti dengan saksi-saksi, 3. Persangkaan-persangkaan, 4. Pengakuan, 5. Sumpah.
Selanjutnya, dalam Pasal 164 HIR menyebutkan alat-alat bukti meliputi: 1. Bukti surat, 2. Bukti saksi,
3. Persangkaan, 4. Pengakuan, 5. Sumpahan.
Universitas Sumatera Utara
116
perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya”,225
bertentangan dengan UUD 1945 sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan
perdata dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan
teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan
darah sebagai ayahnya.
Selanjutnya harus dibaca, anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya
mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya, serta dengan laki-laki
sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi
dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah termasuk
hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.”
Karena belum ada aturan secara spesifik adanya kewajiban Hakim untuk
menjadikan putusan Mahkamah Konstitusi menjadi pijakan hukum, maka putusan
Mahkamah Konstitusi tersebut tidak bersifat mengikat, sehingga dipakai atau
tidaknya putusan Mahkamah Konstitusi tersebut menjadi kewenangan masing-masing
Pengadilan Negeri.
B. Analisa Penetapan Hakim Terkait Dengan Status Dan Hak-Hak Anak Luar
Kawin Dari Pasangan Suami Istri Yang Berbeda Kewarganegaraan Yang
Telah Disahkan Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Batam No. 79/ Pdt.P/
2014/ PN.Btm
Pengadilan Negeri Batam di dalam Penetapan No. 79/Pdt.P/ 2014/ PN.Btm,
Majelis Hakim mengabulkan permohonan Pemohon DKJ (Warga Negara Selandia
Baru) dan Pemohon MNF (WNI). Penetapan demikian telah tepat karena pada
225
Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
117
dasarnya setiap kelahiran anak wajib dilaporkan kepada instansi yang mengurus
administari kependudukan untuk dibuatkan aktanya. Hal ini sebagaimana diatur
dalam Pasal 27 Undang-Undang Administrasi Kependudukan Nomor 24 Tahun 2013.
Untuk menerbitkan akta kelahiran bagi anak luar kawin RDD diperlukan adanya
penetapan dari Pengadilan Negeri Batam guna perlindungan dan kepastian hukum
anak luar kawin RDD.
1.
Status Kewarganegaraan Anak Yang Telah Disahkan Berdasarkan
Pencatatan Perkawinan No. 11/P.PKW.CS.BTM/II/2014 (Studi Analisis)
Dari pencatatan perkawinan No. 11/P.PKW.CS.BTM/II/2014 tertanggal 10
Februari 2014 yang dilakukan oleh Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Kota Batam turut disahkan pula seorang anak luar kawin yang bernama RDD, berusia
16 (enam belas) tahun dari pasangan suami istri DKJ, Warga Negara Selandia Baru
dengan MNF, Warga Negara Indonesia.
Sebelum adanya pencatatan perkawinan dan pengesahan status anak, anak
luar kawin tersebut berkewarganegaraan Indonesia mengikuti ibunya yang WNI
(Pasal 4 huruf g Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006). Dengan
dilakukannya pencatatan dan pengesahan, maka status anak yang sebelumnya anak
luar kawin berubah menjadi anak sah. Hal ini berpengaruh terhadap kewarganegaraan
anak luar kawin yang masih di bawah umur sehubungan dengan perkawinan orang
tuanya yang berbeda kewarganegaraan.
Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan terdahulu
mengatur bahwa “anak-anak hasil perkawinan campuran mengikuti kewarganegaraan
Universitas Sumatera Utara
118
ayahnya”. Apabila ayah anak tersebut berkewarganegaraan asing, setelah pencatatan
dan pengesahan anak dilaksanakan maka secara otomatis kewarganegaraan anak yang
sebelum adanya pengesahan kewarganegaraan Indonesia, setelah pengesahan berubah
menjadi WNA mengikuti ayahnya yang WNA.
Setelah diberlakukannya Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru yaitu
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor
62 Tahun 1958 tidak diberlakukan lagi, sehingga status anak luar kawin RDD dari
pasangan suami istri Pemohon DKJ dan Pemohon MNF yang telah disahkan
berdasarkan pencatatan perkawinan No.11/ P.PKW.CS.BTM/ II/ 2014 tetap menjadi
WNI dan setelah RDD berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah, ia harus
menentukan pilihannya.226
2.
Hak-Hak Anak Luar Kawin Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Batam
No. 79/ Pdt.P/ 2014/ PN.Btm
Hukum memberikan perlindungan terhadap orang-perseorangan tanpa
terkecuali. Perlindungan hukum ditemukan dalam konsepsi ketentuan peraturan
perundang-undangan, bertolak dari ketentuan konstitusional berdasarkan Pasal 27
ayat 1 UUD 1945 bahwa “segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam
hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya.”227
226
Wawancara dengan Netty Sihombing, Panitera Muda Hukum, Pengadilan Negeri Kota
Batam, tanggal 15 November 2016.
227
Pasal 27 ayat 1 UUD 1945.
Universitas Sumatera Utara
119
Ketentuan konstitusional di atas sebenarnya adalah bentuk perlindungan
hukum dan HAM warga negara yang partikularistik.228 Namun dikaitkan dengan
Amandemen UUD 1945 yang telah secara khusus mengatur HAM (Bab XA) dari
Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J, maka perlindungan hukum dan HAM yang
partikularistik tersebut selain mengakui sifat universal juga memandang sebagai
masalah internal suatu bangsa, yaitu bangsa dan Negara Republik Indonesia, sehingga
perlu pula diatur secara nasional. Muladi menjelaskan “sikap bangsa Indonesia sudah
jelas, bahwa yang kita anut adalah pandangan partikularistik-relatif”.229 Melalui
Amandemen UUD 1945, jelaslah bahwa HAM ditempatkan sebagai bagian dari
ketentuan konstitusional yang dengan demikian ditempatkan pada kedudukan
tertinggi di dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.
Hak setiap orang untuk hidup tidak memandang latar belakang, faktor-faktor
penyebab kehidupan dan ke arah mana kehidupan akan berlangsung. Setiap orang
berhak untuk hidup tanpa memerlukan pengakuan dari negara, pemerintah, hukum
bahkan dari masyarakat, oleh karena kehidupan merupakan suatu hal yang alamiah.
Hak untuk hidup dalam Deklarasi Universal HAM (Pasal 3), sejalan dengan
ketentuan konstitusional di Indonesia. Pasal 28A UUD 1945 menegaskan bahwa
“setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya”.
228
229
Muh. Budairi Idjehar, HAM versus Kapitalisme, (Yogyakarta: Insist Press, 2003), hlm. 67.
Muladi, Hukum dan Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), hlm.116.
Universitas Sumatera Utara
120
Pasal 28A menjelaskan kedudukan dan arti penting dari hak untuk hidup pada
posisi utama dan teratas dari sekian banyak ketentuan tentang HAM dalam Bab XA
UUD 1945, sekaligus menunjukkan bahwa hak untuk hidup adalah landasan utama
dalam HAM.
Pengakuan dan pengaturan tentang hak untuk hidup dalam perspektif hukum
di Indonesia ditemukan dalam berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain
dalam Pasal 1 KUHPerdata yang menegaskan bahwa “menikmati hak perdata
tidaklah tergantung pada hak kenegaraan”230, serta dalam ketentuan Pasal 2
KUHPerdata bahwa “anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap
telah dilahirkan, bilamana kepentingan anak menghendakinya. Meninggal sewaktu
dilahirkan, dianggap tidak pernah ada”231, dan terakhir ialah dalam ketentuan bahwa
“tiada suatu hukum pun mengakibatkan kematian perdata, atau kehilangan segala hak
kewarganegaraan”232.
Berdasarkan sejumlah ketentuan hukum yang mengatur hak untuk hidup
setiap orang di atas, merupakan bagian dari jaminan, hukum dan perlindungan hukum
terhadap subjek hukum. Perihal subjek hukum ini ialah pendukung hak dan
kewajiban menurut hukum, yang mempunyai sejumlah hak yang melekat dan tidak
dapat dihilangkan begitu saja. Subjek hukum pada hakikatnya tidak memandang jenis
kelamin, asal suku dan agama, melainkan karena ia adalah orang.
230
Pasal 1 KUHPerdata.
Pasal 2 KUHPerdata.
232
Pasal 3 KUHPerdata.
231
Universitas Sumatera Utara
121
Hak yang melekat dan ada pada setiap anak tersebut memiliki 2 (dua) alasan
utama, yaitu:
a. Manusia mempunyai hak-hak subjektif;
b. Kewenangan hukum.
Kewenangan hukum adalah kecakapan untuk menjadi subjek hukum, yaitu
sebagai pendukung hak dan kewajiban.233
Seorang anak (bayi) yang masih dalam kandungan dianggap oleh hukum telah
dilahirkan (ada) jika dilahirkan dalam keadaan hidup. Pengakuan hukum seperti ini
berkaitan dengan kepentingan hukum pada anak tersebut, misalnya dalam kaitannya
dengan kewarisan. Perlindungan hukum terhadap anak dalam kandungan tersebut di
atas, semakin mendapat tempat dalam perumusan hukum di Indonesia, misalnya
ditemukan dalam sejumlah peraturan perundang-undangan antara lain dalam UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 1 Angka 5 menegaskan: “anak
adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum
menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah
demi kepentingannya”.234
Rumusan yang serupa ditemukan pula dalam Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, bahwa “anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan
233
Salim HS, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), hlm. 24.
234
Pasal 1 Angka 5 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM,
Universitas Sumatera Utara
122
belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.235 Status hukum anak
dalam kandungan: yang diberikan hak oleh hukum sebagaimana diuraikan di atas,
lebih menegaskan adanya hak anak dari pada kewajiban anak, oleh karena kedudukan
dan segala keterbatasannya, karena ia anak (dalam kandungan).
Anak dalam
kandungan
tersebut
dalam
situasi
dan
kondisi
serta
keterbatasannya mulai dilekatkan hak padanya oleh hukum sekaligus menjadi bagian
dari perlindungan hukum. Sementara itu, kewajiban belum melekat pada anak dalam
kandungan, mengingat persoalan dan prioritas utamanya ialah bagaimana ia dapat
hidup dan melanjutkan kehidupannya kelak, baik sebagai anak dalam kandungan,
anak, remaja, dewasa dan seterusnya.
Selanjutnya, anak luar kawin juga berhak atas pencatatan kelahirannya.
Pengaturan tentang pencatatan akta kelahiran anak luar kawin di Kantor Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil diatur berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 25
Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan
Sipil dalam Pasal 51 ayat (1) yang berbunyi:
“Setiap peristiwa kelahiran dicatatkan pada Instansi Pelaksana di tempat
terjadinya kelahiran”. Dalam hal pelaporan kelahiran jika tidak disertai
kutipan akta nikah/akta perkawinan orang tua karena anak merupakan anak
luar kawin, maka pencatatan kelahiran tetap dilaksanakan.236
235
Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
236
Wawancara dengan Rahmat Ali, Kepala Seksi Perkawinan, Perceraian, Pengesahan dan
Pengangkatan Anak, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam. Wawancara dilakukan
pada tanggal 11 November 2016.
Universitas Sumatera Utara
123
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Pasal
27 ayat (1): “Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh penduduk kepada instansi
pelaksana di tempat terjadinya peristiwa kelahiran paling lambat 60 (enam puluh) hari
sejak kelahiran.”237 Sesuai amanat Undang-Undang Administrasi Kependudukan
Nomor 24 Tahun 2013 secara jelas diperintahkan bahwa setiap kelahiran wajib
dilaporkan orang tua sebelum 60 (enam puluh) hari kelahiran. Undang-undang
tersebut tidak ada dinyatakan bahwa ‘pemberian akta lahir secara gratis’ diberikan
pada bayi yang berusia 0 hari hingga 60 (enam puluh) hari.
Undang-Undang Administrasi Kependudukan Nomor 23 Tahun 2006,
mengatur perihal pencatatan pengakuan anak dan pencatatan pengesahan anak. Kedua
aspek ini merupakan bentuk prosedural yang bersifat administratif yang bertolak dari
arti pentingnya pencatatan, baik pencatatan pengakuan anak maupun pencatatan
pengesahan anak. Pencatatan pengakuan anak bersambungan dengan pencatatan
pengesahan anak (diatur dalam Pasal 49 dan Pasal 50). Penjelasan Pasal 49 ayat (1)
menyatakan bahwa “pengakuan anak adalah pengakuan seorang ayah terhadap
anaknya yang lahir di luar ikatan perkawinan sah atas persetujuan ibu kandung anak
tersebut.”
Dapat disimpulkan, pengakuan anak merupakan pengakuan terhadap anak luar
kawin menjadi anak sah sepanjang disetujui bersama kedua orang tuanya. Untuk itu,
237
Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.
Universitas Sumatera Utara
124
hak-hak keperdataan anak luar kawin yang sudah diakui dan disahkan sama
kedudukannya dengan anak sah.
Anak pada umumnya baik anak sah maupun anak luar kawin menurut hukum
memiliki hak-hak keperdataan yang melekat dengan dirinya, dikarenakan ia adalah
seorang anak. Dalam Pasal 1 KUHPerdata ditegaskan bahwa menikmati hak perdata
tidaklah tergantung pada hak kenegaraan. Selain itu, hak-hak keperdataan berbeda
dari hak-hak kenegaraan, walaupun pada dasarnya hak-hak kenegaraan itu juga
mengatur hak-hak keperdataan.238
Hak-hak kenegaraan seperti hak sipil, hak ekonomi, hak politik dan hak
lainnya yang menurunkan antara lain hak untuk dijamin persamaan kedudukan di
hadapan hukum (equality before the law) berkaitan erat dengan hak keperdataan
bahwa jaminan persamaan kedudukan di hadapan hukum berlaku bagi semua orang,
semua suku, semua agama tanpa adanya ketentuan yang diskriminatif oleh negara dan
praktiknya dalam masyarakat.239
Terkait mengenai hak anak luar kawin, hak senantiasa berpasangan dengan
kewajiban dan merupakan hubungan hukum. Sudikno Mertokusumo menjelaskan
bahwa “hak memberi kenikmatan dan keleluasaan kepada individu dalam
238
Isyana K. Konoras, “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Di Luar Nikah Di Indonesia”,
Jurnal Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, diakses melalui
http://Repo.Unsrat.Ac.Id/393/1/Perlindungan Hukum Terhadap Anak Diluar Nikah.pdf, pada
tanggal 24 Januari 2017, pukul 06.53 WIB.
239
Isyana K. Konoras, “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Di Luar Nikah Di Indonesia”,
Jurnal Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, diakses melalui
http://repo.unsrat.ac.id/393/1/Perlindungan Hukum Terhadap Anak Diluar Nikah.pdf, pada
tanggal 24 Januari 2017, pukul 06.53 WIB.
Universitas Sumatera Utara
125
melaksanakannya, sedangkan kewajiban merupakan pembatasan dan beban.”240 Hak
juga dapat dibedakan atas hak mutlak dan hak relatif. Salim HS menjelaskan, yang
termasuk hak mutlak ialah segala hak publik, yaitu: 241
a. hak menyatakan pikiran dan perasaan, dengan perantaraan pers;
b. hak untuk mengajukan permohonan secara tertulis kepada pihak yang berhak
atau berwenang;
c. hak untuk memeluk dan menganut agama dan kepercayaannya masing-masing
secara bebas.
Sedangkan sebagian dari hak-hak keperdataan, yaitu hak-hak yang bersandar
pada Hukum Perdata dalam arti objektif, misalnya: 242
a. hak-hak kepribadian (persoonlijkheidsrechten), adalah hak-hak manusia atas
dirinya sendiri, seperti hak-hak manusia atas jiwa, raga, kehormatan, nama
kecil dan nama keluarganya;
b. hak-hak keluarga (familierechten), adalah hak-hak yang timbul dari hubungan
keluarga. Yang termasuk hak-hak keluarga adalah hak marital, yakni
kekuasaan suami terhadap istrinya, kekuasaan orang tua terhadap anaknya,
kekuasaan wali terhadap anaknya dan hak pengampu terhadap yang
diampunya;
c. hak-hak harta benda (vermogensrechten), yaitu hak-hak yang mempunyai
nilai uang;
d. hak-hak kebendaan (zakelijkerechten), adalah hak-hak harta benda yang
memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda. Kekuasaan langsung
berarti, bahwa terdapat sesuatu hubungan langsung antara orang-orang yang
berhak atas benda tersebut;
e. hak-hak atas barang yang tak berwujud (rechten opimmateriele gorderen),
adalah hak-hak mengenai hasil pemikiran manusia seperti Hak Cipta dan Hak
Oktroi.
Pembahasan tentang hak-hak tersebut di atas telah menemukan hak-hak
keluarga sebagai bagian penting yang akan menjelaskan kedudukan dan status hukum
240
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2003),
241
Salim HS, Op. Cit., hlm. 33.
Ibid., hlm. 34.
hlm. 42.
242
Universitas Sumatera Utara
126
anak luar kawin, karena bertitik tolak dari perlindungan hukum terhadap orangperseorangan yang tidak dimulai dari status hukumnya apakah sebagai anak sah atau
anak tidak sah.243
Prinsip pengaturan tentang anak luar kawin dalam hubungan kekeluargaan
dengan ayah dan ibunya mendapat pengaruh yang sangat besar dari asas perkawinan
monogami yang dianut oleh KUHPerdata, sebagaimana diatur dalam Pasal 27 yang
berbunyi: “Pada waktu yang sama seorang lelaki hanya boleh
terikat oleh
perkawinan dengan seorang perempuan saja dan seorang perempuan hanya terikat
dengan seorang lelaki saja”.244
Asas pengakuan mutlak sebagaimana diatur dalam Pasal 280 KUHPerdata
yang berbunyi: “Dengan pengakuan yang dilakukan terhadap seorang anak luar
kawin, terlahirlah hubungan perdata antara si anak dengan ayah dan ibunya.”245
sehingga hukum perdata barat menganut prinsip bahwa hubungan keperdataan antara
anak luar kawin dengan orang tua biologisnya tidak terjadi dengan sendirinya, baik
kepada ayahnya maupun kepada ibunya. Dengan demikian, apabila seorang anak luar
kawin tidak diakui oleh orang tuanya, maka ia tidak akan memiliki hubungan
keperdataan baik dengan ayah maupun ibu biologisnya.246
243
Ibid.
Pasal 27 KUHPerdata.
245
Pasal 280 KUHPerdata.
246
Wawancara dengan Netty Sihombing, Panitera Muda Hukum, Pengadilan Negeri Kota
Batam, pada tanggal 15 November 2016.
244
Universitas Sumatera Utara
127
Prinsip tersebut sangat berbeda dengan konsep yang dianut oleh hukum Islam
maupun Undang-Undang Perkawinan, yang mana hubungan perdata antara anak luar
kawin dengan pihak ibu terjadi secara otomatis sejak anak tersebut lahir.247
Syarat seorang anak luar kawin untuk bisa mendapatkan hak waris dari orang
tua biologisnya menurut hukum perdata barat sebagaimana diatur dalam Pasal 872
KUHPerdata adalah jika ia telah diakui oleh orang tua biologisnya karena
KUHPerdata menganut prinsip bahwa hanya mereka yang mempunyai hubungan
keperdataan dengan pewaris saja yang berhak mewaris. Hubungan hukum antara anak
luar kawin dengan ayah atau ibunya timbul setelah adanya pengakuan dari ayah dan
ibunya dalam arti bahwa hubungan hukum tersebut hanya ada antara anak luar kawin
yang telah mendapat pengakuan dengan ayah atau ibu yang mengakuinya saja.248
Pasal 43 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa
“kedudukan anak dalam ayat (1) selanjutnya akan diatur dalam peraturan pemerintah
tersendiri”,249 namun sampai dengan saat ini pemerintah belum juga mengeluarkan
peraturan pemerintah tentang kedudukan anak luar kawin sedangkan Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur mengenai kedudukan anak luar
kawin, sehingga sampai sekarang persoalan kedudukan anak luar kawin
pengaturannya masih belum jelas karena Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang
247
D.Y. Witanto, Hukum Keluarga Hak dan Kedudukan Anak Luar Kawin: Pasca Keluarnya
Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Uji Materiil Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2012), hlm. 106-107.
248
Ibid., 145-146.
249
Pasal 43 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
128
Perkawinan hanya menyebutkan mengenai hubungan keperdataannya saja sedangkan
terhadap hak-haknya yang harus dilindungi sebagai seorang manusia tidak mendapat
pengaturan yang jelas dan terperinci.
Sebagai akibat dari hubungan perdata dengan pihak ibu dan keluarga ibunya,
anak tersebut hanya akan mendapatkan hak waris dari ibu dan keluarga ibunya saja,
termasuk segala bentuk pemeliharaan sampai anak tersebut dewasa hanya menjadi
tanggung jawab ibunya. Ketentuan tersebut sekilas mengandung ketidakadilan bagi
ibu dan anaknya karena untuk membenihkan anak dalam rahim ibunya pasti ada
peran dari pihak laki-laki sebagai ayah biologisnya. Hubungan keperdataannya
menjadi terputus dengan ayahnya karena ayahnya tidak mengakui atau tidak kawin
dengan ibunya, padahal hubungan hukum tersebut sangat diperlukan oleh anak luar
kawin untuk bisa menuntut hak pemeliharaan yang wajar seperti halnya anak-anak
yang lain pada umumnya.
Dalam penetapan ini diketahui bahwa para pemohon merupakan sepasang
suami istri berbeda kewarganegaraan yang telah menikah pada tanggal 26 April 2008
di Selandia Baru. Sebelum menikah para pemohon telah mempunyai seorang anak
laki-laki yang lahir pada tanggal 26 Juni 2000. Kurang tahunya para pemohon saat
melangsungkan perkawinan tersebut sehingga para pemohon tidak mengesahkan
secara langsung anak luar kawinnya sebagai anak sah para pemohon dan dibutuhkan
untuk dicatat dan didaftar mengenai pengakuan dan pengesahan anak luar kawin ke
dalam register akta kelahiran.
Universitas Sumatera Utara
129
Para pemohon kemudian meminta penetapan dari pengadilan. Akhirnya,
Pengadilan Negeri Kota Batam menyatakan bahwa para pemohon mengakui dan
mengesahkan anak luar kawin tersebut sebagai anak dari pemohon dan
memerintahkan panitera untuk mengirimkan salinan sah penetapan tersebut kepada
Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam guna kepentingan
penerbitan akta kelahiran. Penetapan ini merupakan bentuk pengakuan ayah dan
ibunya.
Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 55 Undang-Undang Perkawinan, sebagai
berikut:250
1) Asal usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akta kelahiran yang
autentik, yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.
2) Bila akta kelahiran tersebut dalam ayat (1) pasal ini tidak ada, maka
pengadilan dapat mengeluarkan penetapan tentang asal-usul seorang anak
setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang
memenuhi syarat.
3) Atas dasar ketentuan Pengadilan tersebut ayat (2) ini, maka instansi pencatat
kelahiran yang ada dalam daerah hukum Pengadilan yang bersangkutan
mengeluarkan akta kelahiran bagi anak yang bersangkutan.
Terkait mengenai hak-hak anak luar kawin RDD dalam Penetapan Nomor 79/
Pdt.P/ 2014/ PN.Btm tidak ada disebutkan secara jelas perihal hak-hak RDD setelah
Pemohon DKJ mengakuinya. Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan,
penetapan pengadilan diperlukan untuk menerbitkan akta kelahiran anak luar kawin
RDD. Tugas Dispendukcapil adalah mencatat dan tidak dapat membuktikan siapa
orang tua dari RDD. Oleh karena itu, untuk membuktikan kebenaran tersebut harus
melalui pengadilan agar dikeluarkan suatu penetapan. Pemohon (DKJ dan MNF)
250
Pasal 55 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Universitas Sumatera Utara
130
harus mengajukan sendiri permohonan penetapan pengadilan soal pengesahan anak
dengan membawa alat bukti di antaranya Akta Pengakuan Anak yang dibuat di
hadapan Notaris MMG.
Universitas Sumatera Utara
131
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Uraian pada bab pembahasan yang dikemukakan dalam tesis ini, sesuai
dengan permasalahan yang diajukan, maka dapat ditarik kesimpulan:
1. Pengesahan anak luar kawin dari pasangan suami istri yang berbeda
kewarganegaraan berdasarkan Particulars of Marriage No. 49/08 yang terdaftar
pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam No. 11/
P.PKW.CS.BTM/ II/ 2014 pada prinsipnya sama dengan proses pengesahan anak
luar kawin biasa yang kedua orang tuanya berkewarganegaraan Indonesia. Proses
pengakuan dan pengesahan anak luar kawin dilakukan secara bersamaan dengan
pencatatan perkawinan kedua orang tuanya di Kantor Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil. Setelah dilaksanakannya pencatatan perkawinan, dalam akta
perkawinan dicantumkan nama anak luar kawin yang disahkan. Pejabat
Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada akta kelahiran anak.
2. Perlindungan hukum yang dapat diberikan kepada anak luar kawin dari pasangan
suami istri yang berbeda kewarganegaraan adalah dengan cara pengakuan anak
baik oleh ayahnya ataupun oleh kedua orang tuanya sebagaimana diatur dalam
Pasal 280-Pasal 281 KUHPerdata. Undang-undang Perkawinan tidak memberikan
perincian mengenai pengakuan anak luar kawin. Hanya saja dalam Pasal 43 ayat
(1) Undang-Undang Perkawinan dijelaskan bahwa anak luar kawin adalah anak
131
Universitas Sumatera Utara
132
yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak sah dan anak tersebut hanya
mempunyai hubungan perdata dengan ibu yang melahirkannya atau keluarga
ibunya. Selanjutnya dalam Pasal 43 ayat (3) Undang-Undang Perkawinan
disebutkan bahwa kedudukan anak luar kawin akan diatur secara tersendiri dalam
peraturan pemerintah, namun sampai sekarang peraturan pemerintah yang
dimaksud belum ada. Dengan pengakuan terhadap anak luar kawin, terlahirlah
hubungan perdata antara anak tersebut dan bapak atau ibunya. Adapun prosedur
pengakuan anak luar kawin, diatur dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.
3. Pengadilan Negeri Batam di dalam Penetapan No. 79/Pdt.P/ 2014/ PN.Btm,
Majelis Hakim mengabulkan permohonan Pemohon DKJ (Warga Negara
Selandia Baru) dan Pemohon MNF (WNI). Penetapan demikian telah tepat karena
pada dasarnya setiap kelahiran anak wajib dilaporkan kepada instansi yang
mengurus administari kependudukan untuk dibuatkan aktanya. Hal ini
sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Undang-Undang Administrasi Kependudukan
Nomor 24 Tahun 2013. Selanjutnya untuk menerbitkan akta kelahiran bagi anak
luar kawin dari pasangan suami istri yang berbeda kewarganegaraan diperlukan
adanya penetapan dari pengadilan negeri.
B. Saran
1. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil hendaknya secara terus-menerus
memberikan sosialisasi mengenai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang
Universitas Sumatera Utara
133
Administrasi Kependudukan dan juga memberikan informasi yang
mudah
dipahami oleh masyarakat perihal pentingnya melaksanakan pencatatan
perkawinan demi memberikan perlindungan dan kepastian hukum terhadap istri
dan anak.
2. Sebaiknya Undang-Undang Perkawinan yang berlaku saat ini diperbaharui guna
memperjelas kedudukan hukum anak luar kawin, dan penambahan Pasal yang
berkaitan dengan pengakuan anak luar kawin untuk memberikan perlindungan
dan kepastian hukum yang adil terhadap status anak luar kawin.
3. Bagi pasangan suami istri yang perkawinannya belum pernah dicatatkan,
disarankan untuk dapat dimintakan permohonan penetapan ke Pengadilan Negeri
setempat. Pengesahan terhadap anak-anak luar kawin harus dilakukan demi
kebahagiaan dan masa depannya, sepanjang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Universitas Sumatera Utara
Download