“AUM” KARYA PUTU WIJAYA

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PROBLEM-PROBLEM SOSIAL DALAM NASKAH
LAKON “AUM” KARYA PUTU WIJAYA
(Sebuah Pendekatan Sosiologi Sastra)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Indonesia
Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Disusun oleh
MUHAMMAD TAUFIQ
C0203036
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
2011
i
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
ii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
iii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERNYATAAN
Nama
: Muhammad Taufiq
NIM
: C0203036
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul Problem-problem
Sosial dalam Naskah Lakon “Aum” karya Putu Wijaya adalah betul-betul karya
sendiri, bukan plagiat, dan tidak dibuat oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya
saya, dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar
pustaka.
Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia
menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh
dari skripsi tersebut.
Surakarta, Maret 2011
Yang membuat pernyataan
Muhammad Taufiq
commit to user
iv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MOTTO
Hidup bukanlah untuk mengeluh dan mengaduh, hidup adalah untuk
mengolah hidup. Bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit
dan samodra. Serta mencipta dan mengukir dunia.
(W.S Rendra. Sajak seorang tua untuk istrinya)
commit to user
v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSEMBAHAN
Karya ini penulis persembahkan untuk:
Bapak dan Ibu tercinta,
terima kasih atas doa, kasih
sayang, dan dukungannya.
Adikku-adikku.
Istri dan anakku tersayang,
yang selalu setia di sisiku
dalam suka dan duka.
commit to user
vi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga skripsi berjudul Problemproblem Sosial dalam Naskah Lakon ”Aum” Karya Putu Wijaya(Sebuah Tinjauan
Sosiologi Sastra) bisa diselesaikan. Skripsi ini disusun untuk melengkapi
persyaratan mencapai gelar Sarjana Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni
Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan dari berbagai pihak, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Maka dari itu penulis mengucapkan
terimakasih kepada:
1. Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni
Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan
kepada penulis untuk menyusun skripsi ini.
2. Drs. Ahmad Taufiq, M. Ag., selaku ketua jurusan Sastra Indonesia Fakultas
Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun skripsi ini.
3. Drs. Wiranta, M.S., selaku pembimbing dalam menyusun skripsi ini, yang
dengan sabar dan bijak memberi bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi
ini dapat selesai.
4. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret Surakarta pada umumnya yang telah memberikan
ilmu kepada penulis sehingga bermanfaat dalam menyusun skripsi ini.
commit to user
vii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
5. Segenap staf perpustakaan dan tata usaha yang telah membantu penulis dalam
melengkapi syarat-syarat ujian skripsi untuk menjadi sarjana sastra.
6. Segenap staf perpustakaan pusat Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
7. Mas Basuki, terimakasih atas kesediannya memberikan beberapa jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan naskah lakon Aum.
8. Keluarga di rumah, bapak, ibu dan adik-adikku, terima kasih atas doa dan
dorongannya.
9. Istri dan anakku tersayang, yang menemani setiap hari dan dengan sabar
menghadapi kemalasanku.
10. Teman-teman Sastra Indonesia 2003, teman-teman seperjuangan yang telah
memberikan sesuatu untuk dikenang, Muji “Gunung” Barnugroho, Penceng,
Salpian, Bandot, Atha, Ame, Nasir Kusir dan teman-teman lain yang tidak
bisa penulis sebutkan satu-persatu, yang telah memberikan semangat dan
dorongan agar diselesaikannya skripsi ini.
11. Teman-teman Teater Tesa, rumah kedua yang telah membuat banyak
kenangan. Mas Basuki, Mas Bodot, Mas Janta, Janto, Penceng, Salpian, dan
teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terima kasih
dengan setia mengikuti dan mendampingi perjalanan hidup Tesa.
12. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih penuh dengan kelemahan dan
kekurangan serta masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis menerima
segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.
commit to user
viii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Akhirnya penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca
pada umumnya dan bagi mahasiswa sastra pada khususnya.
Surakarta, Maret 2011
Penulis
commit to user
ix
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................iii
HALAMAN PERNYATAAN ......................................................................... iv
HALAMAN MOTTO ..................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... vi
KATA PENGANTAR ................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................... x
ABSTRAK ....................................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
B
Pembatasan Masalah ....................................................................... 6
C
Perumusan Masalah.......................................................................... 7
D Tujuan Penelitian.............................................................................. 7
E
Manfaat Penelitian........................................................................... 8
F
Sistematika Penulisan....................................................................... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR .......................... 10
A Kajian Pustaka................................................................................. 10
B Kerangka Pikir ................................................................................ 17
commit
to user
BAB III METODE PENELITIAN
................................................................
20
x
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
A. Metode Penelitian ........................................................................... 20
B. Pendekatan Penelitian .................................................................... 21
C. Objek Penelitian ............................................................................ 21
D. Sumber Data ................................................................................... 21
E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 22
F. Teknik Analisis Data ...................................................................... 22
BAB IV ANALISIS ………………………………………………………… 23
A. Analisis Struktural
....................................................................... 23
1.
Alur
..................................................................................... 23
2.
Latar ..................................................................................... 38
3.
Tikaian dan Konflik .............................................................. 40
4.
Cakapan ................................................................................. 41
5.
Tema dan Amanat ................................................................ 42
B. Analisis sosiologi Sastra ................................................................ 44
Problem-problem Sosial ................................................................ 44
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 81
A. Simpulan ......................................................................................... 81
B. Saran ................................................................................................ 83
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 84
LAMPIRAN ..................................................................................................... 86
Naskah Lakon “Aum” ................................................................... 86
commit to user
xi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRAK
Muhammad Taufiq. C0203036. 2011. Problem-problem Sosial dalam naskah
lakon “Aum” Karya Putu Wijaya. Skripsi: Jurusan Sastra Indonesia Fakultas
sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana
gambaran struktur naskah lakon Aum yang meliputi alur, penokohan, latar, beserta
aspek tema dan amanat? (2) Bagaimanakah gambaran problem-problem sosial
yang meliputi; kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan yang
terdapat dalam naskah lakon Aum?
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan gambaran struktur
naskah lakon Aum yang meliputi alur, latar, serta aspek tema dan amanat. (2)
Mendeskripsikan problem-problem sosial yang terdapat dalam naskah lakon Aum
yaitu kekuasaan, penindasan,ketidakadilan, dan kemiskinan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif, yang pengungkapannya bersifat deskriptif. Data dalam penelitian ini
disajikan dengan cara mendeskripsikan data dalam bentuk kata-kata atau kalimat.
Penelitian terhadap naskah lakon ini dilakukan berdasarkan kerangka pendekatan
struktural dan sosiologi sastra. Data diperoleh dengan menggunakan teknik studi
pustaka.
Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal: (1) Berdasarkan
strukturnya, naskah lakon Aum memperlihatkan perpaduan hubungan atas unsurunsurnya. Unsur-unsur yang dimaksud adalah: alur, latar, serta tema dan amanat.
(2) Problem-problem sosial yang terkandung di dalam naskah lakon Aum
meliputi: kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Kekuasaan yang
dipegang oleh penguasa bersifat menindas dan tidak adil kepada seluruh elemen
masyarakat menyebabkan masyarakat tidak bisa bebas untuk menyalurkan
aspirasi yang mereka miliki. Rakyat hanya dijadikan alat oleh penguasa untuk
melanggengkan kekuasaannya. Hal itu berpengaruh pula terhadap tidak meratanya
perekonomian masyarakat. Sehingga menyebabkan kesnjangan sosial dalam
masyarakat.
Penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh para penguasa harus
kita sikapi secara positif dengan melakukan langkah-langkah kritis terhadap
penguasa. Jangan melakukan hal-hal yang akan merugikan diri kita sendiri. Pada
dasarnya kita bisa melewati setiap permasalahan dengan tenang dan sabar.
commit to user
xii
PROBLEM-PROBLEM SOSIAL DALAM NASKAH LAKON
“AUM” KARYA PUTU WIJAYA
(Sebuah Pendekatan Sosiologi Sastra)
Muhammad Taufiq1
Drs. Wiranta, M.S.2
ABSTRAK
2011. Skripsi: Jurusan Sastra Indonesia Fakultas sastra dan Seni
Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1)
Bagaimana gambaran struktur naskah lakon Aum yang meliputi
alur, penokohan, latar, beserta aspek tema dan amanat? (2)
Bagaimanakah gambaran problem-problem sosial yang meliputi;
kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan yang
terdapat dalam naskah lakon Aum?
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan gambaran
struktur naskah lakon Aum yang meliputi alur, latar, serta aspek
tema dan amanat. (2) Mendeskripsikan problem-problem sosial
yang terdapat dalam naskah lakon Aum yaitu kekuasaan,
penindasan,ketidakadilan, dan kemiskinan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif, yang pengungkapannya bersifat deskriptif.
Data dalam penelitian ini disajikan dengan cara mendeskripsikan
data dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Penelitian terhadap
naskah lakon ini dilakukan berdasarkan kerangka pendekatan
struktural dan sosiologi sastra. Data diperoleh dengan
menggunakan teknik studi pustaka.
Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal: (1) Berdasarkan
strukturnya, naskah lakon Aum memperlihatkan perpaduan
hubungan atas unsur-unsurnya. Unsur-unsur yang dimaksud
adalah: alur, latar, serta tema dan amanat. (2) Problem-problem
sosial yang terkandung di dalam naskah lakon Aum meliputi:
1
2
Mahasiswa Jurusan Sastra Indonersia dengan NIM C0203036
Dosen Pembimbing
kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Kekuasaan
yang dipegang oleh penguasa bersifat menindas dan tidak adil
kepada seluruh elemen masyarakat menyebabkan masyarakat tidak
bisa bebas untuk menyalurkan aspirasi yang mereka miliki. Rakyat
hanya dijadikan alat oleh penguasa untuk melanggengkan
kekuasaannya. Hal itu berpengaruh pula terhadap tidak meratanya
perekonomian masyarakat. Sehingga menyebabkan kesnjangan
sosial dalam masyarakat.
Penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh para penguasa
harus kita sikapi secara positif dengan melakukan langkah-langkah
kritis terhadap penguasa. Jangan melakukan hal-hal yang akan
merugikan diri kita sendiri. Pada dasarnya kita bisa melewati setiap
permasalahan dengan tenang dan sabar.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium.
Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah
kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar
masyarakat, antara masyarakat dengan orang-seorang, antar-manusia, dan antar
peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang (Sapardi Djoko Damono, 1984: 1 ).
Karya sastra merupakan hasil penciptaan yang bersumber dari pemikiran
akan kehidupan yang ada dalam masyrakat yang dimunculkan dalam karya fiksi.
Karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dinikmati, difahami, dan
dimanfaatkan oleh masyarakat baik itu sebagai media hiburan maupun untuk
pembelajaran. Maka dari itu sebuah karya sastra lahir berdasarkan fenomenafenomena dalam masyarakat yang ditangkap dan diolah oleh pengarang.
Karya sastra bukan objek yang sederhana, melainkan objek yang kompleks
dan rumit. Setiap karya sastra merupakan hasil dari pengaruh timbal balik dari
faktor-faktor sosial dan kultural, dan karya sastra itu sendiri merupakan objek
kultural yang rumit (Wellek dan Warren, 1990: 22).
Karya sastra bukan hanya merupakan curahan perasaan dan hasil imajinasi
pengarang saja, namun karya sastra juga merupakan refleksi kehidupan, yaitu
pantulan respon pengarang dalam menghadapi problem kehidupan yang diolah
secara estetis melalui kreativitas yang dimilikinya, kemudian hasil olahan tersebut
commit
to userpembaca dapat merenungkan dan
disajikan kepada pembaca. Dengan
demikian,
1
perpustakaan.uns.ac.id
2
digilib.uns.ac.id
menghayati kenyataan dan masalah-masalah kehidupan di dalam bentuk karya
sastra, sehingga dapat memberikan respon terhadap kenyataan atau masalah yang
disajikan tersebut.
Sebagai salah satu bentuk karya sastra, drama berangkat dari imajinasi,
yaitu imajinasi yang dituangkan melalui ide-idenya kemudian dituangkan dalam
bentuk naskah lakon (drama), pengarang mencoba mengkaji hidup dengan
merespon dan menanggapi masalah-masalah yang terdapat di lingkungannya.
Naskah drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas
pentas. Melihat drama, penonton seolah melihat kejadian dalam masyarakat
bahkan kadang-kadang konflik batin mereka sendiri seakan akan dapat terlihat.
Drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka cita, pahit manis, hitam putih
kehidupan manusia.
Naskah adalah bentuk atau rencana tertulis dari cerita drama. Pada musik
kita mengenal partitur sore, yaitu suatu bentuk atau rencana tertulis dari musik.
Musik terwujud setelah partitur dimainkan, sehingga terdengar getaran-getaran,
nada-nada yang dibunyikan dalam waktu dan ruang tertentu. Lakon adalah hasil
perwujudan dari naskah yang dimainkan tersebut. Lakon cerita drama hanya
terwujud pada saat terbuka hingga ditutupnya tirai pertunjukan. Sebelum dan
sesudahnya tidak ada lakon, yang ada hanyalah naskah lakon yang berkali-kali
dimainkan selalu berubah-ubah kondisi artistiknya, tergantung pada siapa dan
dimana dimainkannya. Sedang naskah tetap kualitas artistiknya (Harymawan,
1988: 23-24).
Dalam khasanah kesusastraan, naskah lakon atau drama merupakan salah
satu jenis sastra di samping jenis-jenis lainnya seperti puisi dan prosa. Naskah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
3
digilib.uns.ac.id
lakon selain memiliki elemen-elemen yang sama dengan prosa pada umumnya
yaitu tema, amanat, penokohan, alur, latar, konflik, dan cakapan. Dibedakan
dengan jenis-jenis lainnya terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan.
Berdasarkan pada pengertian-pengertian tersebut di atas, maka dalam
penelitian ini, naskah lakon Aum yang menjadi objek kajian ini dapat dimasukkan
dalam pengertian drama sebagai naskah lakon, sebagai pra-lakon; naskah yang
belum dipentaskan atau naskah yang belum diproduksi oleh pekerja teater.
Aum adalah naskah lakon yang dikarang oleh sastrawan dan dramawan
yang sangat produktif Putu Wijaya. Putu Wijaya telah banyak melahirkan naskah
lakon yang kritis terhadap kehidupan yang ada dalam masyrakat yang terjadi di
negeri ini. Naskah Aum ini diterbitkan dalam bentuk buku oleh Teater Mandiri
pada tahun 1993. Naskah ini lebih mengacu kepada konvensi sastra tertentu, yaitu
drama.
Naskah lakon Aum ini ditulis pengarang, berangkat dari pengamatan
pengarang tentang peristiwa keseharian yang terjadi di masyarakat. Problemproblem sosial yang dirangkai dengan kritik-kritik sosial tentang kondisi dan
proses sosial masyarakat lebih mengarah pada rakyat kecil yang selalu
terpinggirkan. Naskah lakon Aum ini menarik untuk dikaji karena di dalamnya
diungkapkan berbagai permasalahan sosial yang disajikan oleh pengarang secara
terbuka dalam kemasan nuansa keseharian yang mudah ditangkap, dan ada unsur
komedi sehingga menarik untuk dibaca bahkan oleh pembaca awam sekalipun.
Problem-problem sosial yang ada dalam realitas kehidupan masyarakat diangkat
dalam kemasan yang identik dengan keseharian masyarakat lokal sebagai
aktualisasi potret sosial masyarakat.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
4
digilib.uns.ac.id
Beberapa naskah lakon dan novel yang di dalamnya membahas tentang
masalah problem sosial yang terjadi di masyarakat antara lain Aduh (Putu
Wijaya), Gulipat (Hanindawan), Kisah Perjuangan Suku Naga (W S. Rendra),
Sang Pramuria (Sutirman Eka Ardhana). Dalam naskah lakon dan novel yang
disebutkan di atas kesemuanya menggambarkan tentang problem sosial yang ada
di dalam masyarakat.
Naskah lakon Aum ini pernah dipentaskan oleh Teater Mandiri pada tahun
1995 di TIM (Taman Ismail Marzuki). Pada tanggal 16 September 2004
dipentaskan oleh Teater Ngirit Universitas Muhammadiyah Surakarta di gedung
olahraga Universitas Muhammadiyah Surakarta. Teater Tesa Universitas Sebelas
Maret juga pernah mementaskan naskah lakon ini di Museum Seni Lukis Klasik
Bali yang letaknya di Klungkung pada tanggal 11 Oktober 2004, kemudian
berlanjut pada tanggal 14 Desember di STAIN Jogjakarta dan tanggal 21 dan 22
Desember di Taman Budaya Jawa Tengah yang ada di Solo. Naskah lakon ini
menarik untuk dikaji karena permasalahan yang disajikan didalamnya begitu lekat
dengan permasalahan keseharian. Pengkajian ini juga bertujuan untuk
mengungkapkan fakta-fakta sosial yang ada dalam naskah lakon ini. Dengan
mengungkap fakta-fakta sosial tersebut dapat diketahui dan dipahami nilai-nilai
apa yang terkandung dalam naskah lakon Aum dan sejauh mana kompetensi nilai
tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita dalam naskah lakon Aum ini menggambarkan tentang sekumpulan
orang-orang Udik yang datang dari desa untuk menghadap bupati dan
mengadukan permasalahan-permasalahan yang mereka alami. Tapi dalam
kenyataannya ketika sampai di rumah Bupati, mereka dihalang-halangi oleh
commit to user
5
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
hansip yang berjaga di rumah Bupati. Menurut hansip-hansip yang berjaga
dirumah Bupati bahwa siapa saja yang ingin menghadap Bupati harus melalui
mereka dulu. Selain itu kedua hansip yang berjaga di rumah Bupati juga bertindak
sewenang-wenang dan mempermainkan orang-orang udik yang ingin menghadap
Bupati. Hal itu dilakukan oleh hansip tanpa sepengetahuan dari Bupati.
Sekumpulan orang-orang udik itu ingin menemui Bupati dan mengadukan
permasalahan yang selama ini mereka alami, karena mereka sudah menanyakan
perihal permasalahan mereka kepada semua orang tetapi tidak mendapatkan
jawaban yang memuaskan seperti yang mereka inginkan. Kemudian orang-orang
udik itu bermaksud menemui Bupati dan menanyakan perihal permasalahan
mereka, karena mereka menganggap Bupati merupakan pemimpin mereka yang
mungkin bisa menjawab dan menyelesaikan permasalahan yang mereka alami.
Setelah bertemu Bupati dan mengadukan permasalahannya, ternyata
orang-orang udik itu mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan yang mereka
inginkan. Orang-orang udik itu menjadi semakin bingung dengan jawaban dan
sikap Bupati. Kemudian orang-orang udik yang dipimpin oleh Kepala keluarga
ingin menanyakan langsung permasalahan mereka kepada Tuhan dengan cara
bunuh diri bersama-sama agar mereka langsung bisa bertemu dengan Tuhan dan
mengadukan permasalahan yang mereka alami.
Naskah lakon Aum penting untuk diteliti guna menggambarkan masalahmasalah kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, dan kekuasaan yang ada dalam
naskah lakon ini. Dengan mengungkap fakta-fakta tersebut dapat diketahui dan
dipahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam naskah lakon Aum.
commit to user
6
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Problem sosial adalah suatu keadaan dimana cita-cita warga masyarakat
tidak terpenuhi karena keadaan sosial dalam masyarakat. Jadi pada dasarnya,
problem-problem sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral, problemproblem tersebut merupakan persoalan, oleh karena menyangkut tata kelakuan
yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak oleh sebab itu
problem-problem sosial tak akan ditelaah tanpa pertimbangan ukuran-ukuran
masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap tidak baik.
Problem sosial yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah kekuasaan,
penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Problem-problem sosial yang terjadi
dalam masyarakat tersebut direspon oleh pengarang sehingga melahirkan sebuah
karya setelah melalui proses kreatif.
Berdasarkan pada beberapa uraian di atas, maka pada kesempatan kali ini
penulis memutuskan untuk menganalisis naskah lakon Aum ini dengan pendekatan
sosiologi sastra. Pendekatan ini diharapkan dapat mengungkapkan permasalahanpermasalahan sosial yang meliputi kekuasaan, ketidakadilan, penindasan dan
kemiskinan. Dalam pendekatan ini penulis juga ingin mengungkapkan respon
pengarang terhadap masalah-masalah sosial tersebut. Judul penelitian ini adalah
Problem-problem Sosial dalam Naskah Lakon “Aum” Karya Putu Wijaya
(Sebuah Pendekatan Sosiologi Sastra).
B. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dimaksudkan untuk membatasi objek yang akan
diteliti, sehingga dengan adanya pembatasan masalah atau penetapan fokus yang
jelas dan mantap akan mempermudah peneliti dalam membuat keputusan
commit to user
7
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
mengenai data mana yang akan dikumpulkan dan mana yang diperlukan dalam
melakukan penelitian. Masalah yang diangkat akan menjadi jelas dan mudah
dalam melakukan penelitian. Pembatasan masalah dalam penelitian ini dapat
diuraikan sebagai berikut.
Pokok permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada analisis problemproblem sosial dalam naskah lakon Aum karya Putu Wijaya. Problem-problem
sosial itu meliputi kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, dan kekuasaan.
C. Perumusan Masalah
Permasalahan yang terdapat dalam penelitian perlu dijabarkan dalam
rumusan masalah. Rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang dilakukan
berdasarkan data empiris. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai
berikut.
1. Bagaimanakah gambaran struktur naskah lakon Aum?
2. Bagaimanakah gambaran problem-problem sosial yang terdapat dalam naskah
lakon Aum?
D. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan gambaran struktur naskah lakon Aum.
2. Mendeskripsikan problem-problem sosial yang terdapat dalam naskah lakon
Aum.
commit to user
8
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
E. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan hasilnya mampu memberikan manfaat bagi
pembaca, baik berupa manfaat teoretis maupun manfaat praktis.
1. Manfaat Teoretis.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi contoh model penelitian, khususnya
dalam bidang sosiologi sastra.
2. Manfaat Praktis.
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai salah satu contoh model
dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan yang sampai saat ini masih
sering dijumpai, terutama masalah kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan
kemiskinan.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini dibagi dalam beberapa bab
sebagai berikut.
Bab satu berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah,
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
dan sistematika penulisan.
Bab dua berisi kajian pustaka dan kerangka pikir yang terdiri dari
pendekatan struktural dan pendekatan sosiologi sastra.
Bab tiga berisi metodologi penelitian yang terdiri dari metode penelitian,
pendekatan, objek penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik
pengolahan data, dan teknik penarikan kesimpulan.
commit to user
9
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Bab empat berisi struktural naskah dan pembahasan tentang analisis
sosiologi sastra naskah lakon Aum, yang meliputi problem sosial kekuasaan,
penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan sebagai realitas sosial beserta aspekaspeknya dalam masyarakat, serta respon pengarang terhadap problem-problem
sosial tersebut.
Bab lima berisi penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
Penelitian Terdahulu
Berdasarkan hasil penelusuran yang penulis lakukan di universitas sekitar
Solo (UMS, UNS, UNIVET, UNISRI, UGM), diperoleh penulisan skripsi yang
meneliti naskah lakon Aum karya Putu Wijaya seperti di bawah ini.
Penelitian tentang naskah lakon Aum pernah dilakukan sekali yaitu oleh
Janta Setiana. Penelitian yag dilakukannya berjudul Teknik Penyutradaraan
Rohmat Basuki dalam Naskah Lakon ”Aum” Karya Putu Wijaya. Skripsi Jurusan
Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Penelitian ini menjawab masalah bagaimana teknik penyutradaraan dan
tugas sutradara Rohmat Basuki sebagai bentuk penyutradaraaan terhadap naskah
lakon Aum karya Putu Wijaya.
Analisis penelitian ini menggunakan pendekatan teknik penyutradaraan
dan tugas sutradara dari Rohmat Basuki selama menyutradarai naskah lakon Aum
karya Putu Wijaya sebagai kebutuhan pementasan.
Simpulan dari penelitian ini yaitu teknik penyutradaraan yang dilakukan
oleh Rohmat Basuki dalam menyutradarai naskah lakon Aum karya Putu Wijaya.
Kedelapan teknik Rohmat Basuki itu, antara lain: 1) menentukan nada dasar,
meliputi: menentukan dan memberikan suasana khusus, membuat lakon gembira
commit
to user
menjadi suatu banyolan, mengurangi
bobot
tragedi yang berlebihan, memberikan
10
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
11
prinsip dasar pada lakon, 2) memilih pemain atau pengkastingan, meliputi: casting
to type, casting by ability, dan antitype casting, 3) latihan, meliputi olah vokal,
olah tubuh, olah rasa, reading, dan blocking, 4) tata teknik dan pentas, meliputi:
tata ruang, tata lampu, tata musik, tata rias, dan tata busana, 5) menguatkan dan
melemahkan scene, meliputi adegan yang dibuat oleh sutradara Rohmat Basuki
dari adegan I sampai XI, 6) menciptakan aspek-aspek laku, dengan pendekatan
ketat dan fleksibel, 7) mempengaruhi jiwa pemain, meliputi: observasi, diskusi,
dan latihan alam, 8) koordinasi, meliputi: mengumpulkan semua yang terlibat,
baik para pemain, crew setting, crew ligthing, makeuper, pemusik, dan produksi
untuk tumbuh bersama dalam menyukseskan pertunjukan Aum karya Putu Wijaya
ke dalam pertunjukan drama.
Pendekatan yang dilakukan oleh Rohmat Basuki dalam menyutradarai
naskah lakon Aum karya Putu Wijaya adalah menggunakan gaya penyutradaraan
Laisez Faire dan Gordon Craig. Laisez Faire adalah gaya penyutradraan dengan
memberikan kesempatan bagi para pemain untuk lebih mengembangkan dirinya,
gaya Laisez faire dilakukan pada para pemain yang memiliki “jam terbang” tinggi
dalam
pengalaman
bermainnya,
sedangkan
Gordon
Craig
yaitu
gaya
penyutradaraan dengan cara-cara ketat, gaya ini digunakan bagi pemain-pemain
yang pemula.
Dari penelusuran penulis, skripsi yang meneliti tentang naskah lakon Aum
karya Putu Wijaya hanya pernah dilakukan oleh seorang saja, yaitu Janta Setiana,
sehingga judul skripsi Problem-Problem Sosial dalam Naskah Lakon ”Aum”
Karya Putu Wijaya benar-benar belum pernah diteliti oleh penulis lain.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
12
B. Landasan Teori
1. Struktural Sastra
Pada penelitian ini, pendekatan struktural sastra digunakan sebagai alat
untuk mengetahui isi yang terkandung di dalam naskah lakon Aum karya Putu
Wijaya.
Dalam sebuah karya sastra yang padu, antara unsur-unsurnya selalu terjadi
hubungan timbal balik dan saling menentukan. Unsur-unsur struktur tersebut tidak
dapat dipandang sebagai hal-hal yang berdiri sendiri, tetapi harus dilihat
keterjalinannya satu dengan yang lainnya sehingga secara bersama-sama akan
menghasilkan makna yang menyeluruh. Analisis struktural pada prinsipnya adalah
analisis yang bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti,
semendetil dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir
dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh.
Bukan saja penjumlahan dari gejala-gejala yang berhubungan dengan aspek
waktu, aspek ruang, penokohan, point of vieuw, sorot balik, dan apa saja, tetapi
yang penting justru sumbangan yang diberikan oleh semua gejala semacam itu
pada keseluruhan makna, dalam keterjalinan dan keterikatan antara berbagai
tataran (Teeuw, 1984:135-136). Oleh karena itu, unsur-unsur tersebut harus
dipahami sepenuhnya atas dasar pemahaman dalam keseluruhan karya sastra.
Jean Piaget menurut parafrase Hawkes menunjukan tiga aspek konsep
struktural. Pertama, gagasan keseluruhan (wholness), dalam arti bahwa bagianbagian atau unsurnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik yang
menentukan baik keseluruhan struktur
maupun
commit
to userbagian-bagiannya. Kedua, gagasan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
13
transformasi (transformation), struktur itu menyanggupi prosedur-prosedur
transformasi yang terus-menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru.
Ketiga, gagasan keteraturan yang mandiri (self regulation), yaitu tidak
memerlukan
hal-hal
di
luar
dirinya
untuk
mempertahankan
prosedur
transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan sistem lain (Teeuw, 1984:
141).
Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan pendekatan struktural
adalah pendekatan yang dilakukan dengan mengidentifikasikan, mengkaji dan
mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang meliputi tema,
alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain dan bertujuan
membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetil dan semendalam
mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang
bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh.
2. Sosiologi Sastra
Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami dan
dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan adalah anggota masyarakat, ia terikat
oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa
sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan
gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi
bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan
masyarakat (Sapardi Djoko Damono, 1984: 1).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
14
Pengertian di atas mengandung suatu pengertian bahwa antara sastrawan,
sastra, dan masyarakat terjadi hubungan yang erat. Pengarang sebagai anggota
masyarakat dalam menciptakan karyanya tidak bisa lepas dari kehidupan sebagai
suatu kenyataan sosial. Oleh karena itu, tidak heran apabila suatu karya sastra bisa
mengandung gagasan yang mungkin dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap
sosial tertentu atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu (Sapardi
Djoko Damono, 1984: 2).
Uraian di atas menunjukan bahwa studi terhadap karya sastra menyangkut
studi sosial atau sosiologi. Antara sosiologi dan sastra keduanya saling
melengkapi. Sastra sebagaimana halnya sosiologi berurusan dengan manusia.
Pendekatan
terhadap
karya
sastra
yang
mempertimbangkan
segi-segi
kemasyarakatan inilah oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra.
Penelitian terhadap naskah lakon Aum ini termasuk dalam klasifikasi
sosiologi sastra yang mempermasalahkan pada teks sastra atau karya sastra itu
sendiri, dengan memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di
dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan. Pokok
penelaahannya adalah semua yang tersirat dalam karya sastra itu, tujuannya, dan
amanat yang hendak disampaikannya. Dalam rangka menelaah semua yang
tersirat dalam karya sastra itu, tujuannya, dan amanat yang hendak disampaikan,
tentu saja harus melakukan penelaahan terhadap unsur-unsur sosial yang hadir
dalam situasi dialogis sebuah karya sastra.
Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan pendekatan sosiologi
sastra adalah, penelitian terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan karya
sastra sebagai cerminnan gambaran kehidupan dan permasalahan sosial
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
15
masyarakat pada waktu karya sastra itu dibuat, serta keterlibatan struktur sosial
dalam sebuah karya sastra.
Hal ini berarti bahwa sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan
realitas kehidupan saja, melainkan lebih dari itu juga memberikan sebuah refleksi
realitas yang lebih besar dan lebih lengkap. Pendapat di atas mengungkapkan
bahwa permasalahan umum yang muncul di dalam karya sastra merupakan
refleksi dari kenyataan yang bersifat objektif dan relatif. Karya sastra mempunyai
fungsi untuk membentuk/mencerminkan suatu bentuk kehidupan secara langsung,
mulai dari permasalahan hidup itu sendiri dan kendala dalam proses
perkembangan kehidupan.
Dalam penelitian dengan pendekatan sosiologi sastra ini memiliki
beberapa permasalahan yang perlu dikaji. Secara khusus Rene Wellek dan Austin
Warren dalam telaahnya mengklasifikasikan sosiologi terhadap karya sastra dalam
tiga permasalahan yaitu:
1. Sosiologi pengarang, didalamnya mempermasalahkan tentang status
sosial, ideologi, politik, dan hal-hal yang menyangkut pengarang.
2. Sosiologi karya sastra yang mempermalsalahkan tentang apa yang
tersirat di dalam karya sastra tersebut, dan apa tujuan serta amanat
yang hendak disampaikan.
3. Sosiologi pembaca, disini mempermasalahkan tentang pembaca dan
pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
Penelitian terhadap naskah lakon Aum ini termasuk dalam klasifikasi
sosiologi sastra yang mempermasalahkan pada teks sastra atau karya sastra itu
sendiri, dengan memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
16
dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan. Pokok
penelaahannya adalah semua yang tersirat dalam karya sastra itu, tujuannya, dan
amanat yang hendak disampaikannya.
Sesuai dengan permasalahan yang terdapat dalam Naskah Lakon Aum
karya Putu Wijaya, maka penelitian ini akan menekankan pada pendekatan yang
mengungkapkan bahwa karya sastra merupakan refleksi dari fenomena sosial
yang timbul dari sikap mental masyarakat yang melingkupi terciptanya karya
sastra. Konsep Wellek dan Warren yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan
penelaahan untuk menemukan dan mendeskripsikan kritik sosial dalam naskah
lakon yang akan dibahas dimanfaatkan sebagai pelengkap pedoman dalam
mengkaji karya sastra. Penelitian dengan pedoman ini akan terlepas dari faktor
pengarang. Wilayah analisis hanya dalam ruang karya sastra itu saja.
Berdasarkan uraian di atas diperoleh gambaran bahwa sosiologi sastra
merupakan pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan, yang
mempunyai ruang lingkup luas, beragam dan rumit. Karya sastra merupakan
cerminan gambaran kehidupan dan permasalahan sosial masyarakat pada waktu
karya sastra itu dibuat, serta keterlibatan struktur sosial dalam sebuah karya sastra.
Sosiologi sastra berhubungan dengan kenyataan-kenyataan sosial masyarakat,
pengarang, pembaca, dan teks karya sastra itu sendiri.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
17
B. Kerangka Pikir
Bagan 1 : Kerangka Pikir Analisis Sosiologi Sastra Naskah Lakon Aum.
Naskah lakon Aum karya putu wijaya
Analisis struktural
Meliputi:
-alur
-latar
-tema dan amanat
Teori sosiologi
sastra
Analisis problemproblem sosial
Kekuasaan
Penindasan
Ketidakadilan
Kemiskinan
Simpulan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
18
Karya sastra merupakan hasil dari penciptaaan yang menarik. Karya sastra
memiliki bahasa yang khas, kekhasan bahasa sastra tersebut mempunyai kesatuan,
keseluruhan, dan kebulatan makna, yang terjalin rapi dari hubungan unsur-unsur
pembangunnya, sehingga menjadi sebuah karya yang memiliki tujuan dan bersifat
estetis.
Karya sastra lahir bukan dalam kekosongan budaya. Sastra adalah ekspresi
kehidupan manusia yang tak lepas dari akar masyarakatnya. Melalui karya sastra
dapat dilihat bagaimana masyarakat bekerja, bagaimana pola kerjanya, dan
bagaimana mereka melangsungkan hidupnya. Dalam kaitan ini, sastra merupakan
sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang merupakan satu tes dialektika
antara pengarang dengan situasi sosial yang membentuknya atau merupakan
penjelasan suatu sejarah dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra
(Suwardi Endraswara, 2003: 78). Karya sastra lahir sebagai hasil interaksi
pengarang dengan masyarakat. Ide utama yang dimiliki pengarang menjadi sumbu
utama yang dipicu oleh kondisi dan situasi sosial kehidupan masyarakat atau
realitas objektif yang melingkupi pengarang. Sebagai bentuk penghayatan
terhadap realitas lingkungan sosialnya, pengarang merespon dan mengolah apa
yang didengar, dilihat dan dirasakannya melalui sebuah hasil penciptaan yang
diwujudkan dalam sebuah karya fiksi.
Sosiologi sastra meneliti karya sastra dengan mempertimbangkan
keterlibatan struktur sosialnya. Sosiologi sastra dalam rangka menelaah semua
yang tersirat dalam karya sastra itu, tujuan dan amanat yang hendak disampaikan,
tentu saja harus melakukan penelaahan terhadap unsur-unsur sosial yang hadir
dalam situasi dialogis sebuah karya sastra secara intrinsik.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
19
Naskah lakon Aum sarat akan problem-problem sosial yang menarik,
aktual, dan relevan dengan masyarakat saat ini. Dengan teori sosial peneliti
berusaha mengupas dan menjabarkan masalah problem-problem sosial tersebut
yang meliputi kekuasaan, penindasan, ketikdakadilan, dan kemiskinan. Bertujuan
untuk menemukan sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya problemproblem sosial tersebut tanpa perlu menekankan pada pemecahan atau jalan keluar
dari problem sosial tersebut sebagai upaya dalam mengungkap makna cerita
secara keseluruhan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah petunjuk yang memberi arah dan corak
penelitian, sehingga dengan metode yang tepat suatu penelitian akan memperoleh
hasil yang maksimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif.
Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat-sifat
suatu individu, keadaan atau gejala dari kelompok tertentu yang dapat diamati
(Moleong, 2001: 3).
Data deskriptif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data yang
dikumpulkan berbentuk kata-kata, frase, klausa, kalimat atau paragraf dan bukan
angka-angka. Dengan demikian hasil penelitian ini berisi analisis data yang
sifatnya menuturkan, memaparkan, memerikam, menganalisis dan menafsirkan
(Soediro Satoto, 1993: 15).
Penelitian ini membicarakan tentang naskah lakon. Naskah lakon
merupakan karya sastra yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan dan
kemasyarakatan, yang lebih mendalam dan disajikan secara lebih jelas melalui
dialog. Naskah lakon Aum karya Putu Wijaya digunakan sebagai data deskriptif
dalam penelitian ini.
commit to user
20
21
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan merupakan cara memandang dan mendekati suatu objek atau
dengan kata lain dapat disebutkan bahwa pendekatan adalah asumsi-asumsi dasar
yang dijadikan pegangan dalam memandang objek (Attar Semi, 1993:63).
Sebuah pendekatan harus sesuai dengan objek yang akan diteliti (Sapardi
Djoko Damono, 1984:2). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan sosiologi sastra.
Pendekatan sosiologi sastra merupakan pemahaman terhadap karya sastra
sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakanginya (Nyoman
Kutha Ratna, 2003: 2). Pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa karya sastra
merupakan pencerminan kehidupan masyarakat (Attar Semi, 1993: 46).
C. Objek Penelitian
Objek yang dikaji dalam penelitian ini adalah: unsur-unsur struktural yang
berupa alur dan latar, beserta tema dan amanat; dan problem-problem sosial yang
meliputi kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan.
D. Sumber Data
Data yang dipakai dalam penelitian ini berupa kalimat dan paragraf atau
pernyataan yang terdapat dalam naskah lakon Aum karya Putu Wijaya Sumber
data dalam penelitian ini berupa sumber tertulis atau dokumen, yaitu naskah lakon
Aum karya Putu Wijaya yang diterbitkan dalam bentuk buku oleh Teater Mandiri
pada tahun 1993.
commit to user
22
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan
teknik kepustakaan, yaitu teknik yang mempergunakan sumber-sumber tertulis
untuk memperoleh data. Sumber-sumber tertulis itu dapat berwujud majalah, surat
kabar, karya sastra, buku bacaan ilmiah dan bukan perundang-undangan (Soediro
Satoto, 1993: 42).
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini melalui beberapa
tahap. yaitu; (1) Pengumpulan data, yakni dilakukan dengan mencatat, baik dari
buku-buku bacaan maupun artikel. (2) Reduksi data, yakni dilakukan dengan
memilih, memusatkan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan
transformasi data kasar dari catatan yang terkumpul. Data yang telah terkumpul
diorganisir sedemikian rupa, sehingga dapat ditarik kesimpulan akhir. (3)
Penyajian data, penyajian dilakukan setelah semua data terkumpul dan direduksi,
baru data tersebut dapat disajikan untuk kemudian dapat ditarik simpulan akhir.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB IV
A. ANALISIS STRUKTURAL
Unsur struktural yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah alur,
penokohan, dan latar sebagai aspek formal struktural, serta tema dan amanat sebagai
aspek tematis. Dan unsur-unsur inilah yang akan dianalisis dalam penelitian ini.
1. Alur
Naskah lakon Aum ini menggunakan alur maju, yaitu dimulai dari awal cerita,
terus maju menuju peristiwa-peristiwa berikutnya, sampai peristiwa itu berakhir.
Adapun gambaran secara jelas alur pada naskah lakon Aum ini adalah sebagai berikut.
a.
Permulaan
Naskah lakon ini dimulai dengan penggambaran waktu subuh, tampak
seorang hansip yang masih segar datang untuk menggantikan temannya yang
semalam suntuk telah berjaga-jaga dirumah Bupati. Kemudian hansip yang
tertidur itu bangun karena merasa diganggu. Ketika terbangaun ia terperanjat
karena mendapati bahwa senjatanya tidak lagi berada ditempatnya. Seperti
terlihat dalam nukilan berikut.
Hansip I : Hansip apa ini.
Hansi II : Mana senjata gue, mana senjata gue.
Hansip I : Wong disuruh jaga malah ngorok. Aduuuuh.
Hansip I : Senjata gue tadi malam disini, sekarang dimana ya?
commit to user
23
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
24
Hansip I : Payahlah kalau begini. Enak malingnya. Bangun, bangun,
pulang sana, ngapain disini. Kalau pak Bupati tahubodigarbodigar begini, rusak deh nama baik kita.
Hansip I : Lho wong senjatanya disini lho kemaren, masih nyantel
dipinggang. Mana ya?( Putu Wijaya, 1993 : 2)
Cerita kemudian menuju pada perbincangan antara hansip dengan
orang-orang udik yang datang ingin menghadap bapak Bupati. Perbincangan
pertama dimulai dari orang udik yang datang ingin mengembalikan senjata
yang baru saja dipakai untuk ngupas ketupat. Senjata itu diambil dari hansip
yang semalam tertidur. Kemudian muncul beberapa wanita dan orang tua,
kedua hansip itu terlibat perbincangan dengan mereka yang ingin bertemu
dengan Bupati. Kedua hansip itu berusaha menghalangi mereka yang ingin
bertemu dengan pak Bupati. Seperti terlihat dalam nukilan berikut.
Orang udik : Kami hanya ingin bertemu dengan Bapak, jangan pukul
kami.
Hansip I
: Dul sini Dul. Matamu itu sih yang bikin mereka curiga.
BEBERAPA WANITA DENGAN TAKUT-TAKUT MAJU.
Wanita I
: Jangan pukul kami pak.
Wanita II
: Kami hanya ingin bertemu dengan Pak Bupati.
WanitaIII : Sejak kapan Bapak tidak boleh ditemui, tidak ada begitu
bukan? Lantas kenapa kawan kami ditembak?( Putu
Wijaya, 1993 : 8)
Berangkat dari peristiwa ini alur semakin maju dengan bertemunya
orang-orang udik dan Bupati yang tanpa disengaja karena Pak Bupati sedang
lari-lari pagi. Kemudian hansip dan orang-orang udik mengikuti Bupati yang
sedang lari-lari. Seperti terlihat dalam nukilan berikut.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
25
TERDENGAR SUARA BUPATI BERTERIAK. Haaaaah, DEKAT
SEKALI
Hansip I : (YANG DITENDANG) Kenapa pakai acara nendang?
(MENDENGAR BUPATI TERIAK haaaah, DIA
LANGSUNG IKUT) Haaah!
Bupati
: Memang betul (LARI-LARI KECIL MASUK) Rupanya
memang harus pakai haaaah (BERTERIAK) Haaaah!
Haaaaaaah! Begitu ya.
Hansip I : Haaah!
Bupati
: Haaah!
Orang-orang udik
Bupati
: Haaah!
: Jadi sekaligus kotoran keluar. Pinter juga. (BERLARILARI DISEKITAR ITU) Hah! Tapi lama-lama jadi cepat
lapar.( Putu Wijaya, 1993 : 13)
b. Pertikaian
Peristiwa terus maju, sampai mengalami pertikaian setelah kedatangan
Kepala keluarga yang bertemu dengan pak Bupati secara langsung. Kepala
keluarga dan Bupati sama-sama terkejut karena ternyata kedatangan orangorang udik yang sudah sejak tadi malam tidak diberitahukan hansip kepada
Bupati. Seperti terlihat dalam nukilan berikut.
Bupati
: Saya minta maaf, apakah saudara-saudara semua ini
ingin bertemu dengan saya?
Kep keluarga : Kami juga minta maaf, Bapak ini Pak Bupati?
Bupati
: Betul. Saya Bupati. Saya baru tahu Ibu dan keluarga
ibu sudah menunggu dari kemarin.
Kep keluarga : Jadi tidak dikabarkan kepada Bapak, kami mau
menghadap?
Bupati
: Tidak.
Kep keluarga : Bapak Bohong!( Putu Wijaya, 1993 : 17)
Situasi sedikit mereda setelah ada perbincangan langsung antara
Kepala keluarga dan Bupati. Baru sebentar saja keadaan sudah kembali tak
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
26
menentu karena salah satu orang udik dan wanita melaporkan bahwa mereka
tadi dipukul dan mau ditembak oleh hansip. Kemudian Bupati mencoba
menghukum kedua hansip itu. Kepala keluarga merasa tersinggung karena
hansip berkata pada Bupati bahwa orang-orang udik ini jangan dikasih hati.
Seperti pada nukilan berikut.
Hansip
: (BERBISIK) Orang-orang ini jangan terlalu dikasih
hati Pak, nanti ngelonjak.
Wanita
: Kami tidak minta dikasih hati. Tidak kan Bu?
Kep keluarga : Dikasih hati apa? Kami datang bukan untuk mengemis.
Kami juga tidak perlu ditolong karena maksud kami
bukan itu. Kami Cuma minta dijawab.
Bupati
: Dijawab bagaimana, pertanyaan saja dari tadi belum
keluar. Ini kok seperti teka-teki silang. Praktis sedikit.
Kep keluarga : Sebentar, sebentar. Saya memang sengaja dari tadi
mengulur-ulur
karena
sengaja,
agar
Bapak
memperhatikan dengan sungguh-sungguh pertanyaan
kami. Sekarang sudah waktunya untuk berkata terus
terang.
Bupati
: Memang, sejak tadi seharusnya sudah terus
terang.(Putu Wijaya, 1993 : 22)
Kepala keluarga merasa bahwa Bupati harus lebih memperhatikan apa
yang dialami oleh orang-orang udik dan memperhatikan pertanyaan yang akan
ditanyakan. Namun Bupati merasa bahwa Kepala keluarga hanya mengulurulur waktu saja tanpa langsung terus terang mengatakan apa yang seharusnya
dikatakan.
Pertikaian terus terjadi antara Buapti, Kepala keluarga, Orang-orang
udik dan hansip yang ada disitu. Kepala keluarga yang mewakili orang-orang
udik meminta jawaban atas apa yang telah mereka alami selama ini. Namun
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
27
Bupati bingung mau menanggapi karena merasa dari tadi belum ada
pertanyaan yang diajukan.
c.
Perumitan
Ketegangan-ketegangan mulai terjadi dan persoalan mulai merumit
dan gawat ketika muncul Ucok memimpin doa bersama orang-orang udik.
Keadaan yang semakin merumit ini dimulai ketika Ucok berdoa mengucapkan
kata-kata yang mengatakan bahwa keadaan di udik kian lama semakin ganjil,
tak menentu dan tak pernah ujung jawaban dari permasalahan mereka.
Kondisi psikologis, batin, dan fisik Ucok yang sudah tidak tahan menahan
beban hidup yang menembas alam pikiran inilah yang kemudian memaksa
Ucok untuk melakukan bunuh diri. Seperti terdapat dalam nukilan berikut.
Ucok : Maafkan segala usaha kami ini. Kami bersumpah tidak ada
dorongan lain yang mendesak kami untuk melakukan semua
ini kecuali untuk mendapatkan penjelasan, sehingga kami tidak
bimbang lagi melanjutkan kehidupan sehari-hari. Dan kini
setelah menempuh perjalanan yang panjang sekali, kita sampai
pada hari penentuan, untuk memutuskan apa selanjutnya yang
masih bisa dikerjakan. Kami……. Ah! (MEMBANTING
SESUATU) Aku sudah muak melakukan ini semua. Hasilnya
akan sama saja, sama saja, tidak ada yang bisa menjawab.
Hentikan! Hentikan sekarang, aku tidak kuat lagi, aku sudah,
aku berangkat lebih dulu.(Putu Wijaya, 1993 : 23)
Situasi semakin merumit ketika Mawar mencoba membantu kepala
keluarga untuk meminjam baju dari para wanita, tetapi mereka tidak
mengijinkan bajunya untuk dipinjam. Akhirnya mereka meminjam baju dari
Bupati dan hansip-hansipnya. Dalam keadaan seperti itu para wanita dan
orang-orang udik sempat melakukan tari-tarian dengan musik disco yang
tidak jelas sehingga menambah kerumitan yang terjadi. Dari peristiwa itu
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
28
kemudian amarah yang muncul dari tekanan batin yang dirasakan Ucok
kembali meluap-luap dan melampiaskan amarahnya dan kemudian terjadi
perdebatan antara Ucok dan Bupati. Seperti terlihat dalam nukilan berikut ini.
Ucok : Apa jawaban Bapak. Berikan kami jawaban.
Hansip : Jawab Pak.
Bupati : Jawaban apa, apa yang harus dijawab?
Ucok : Pertanyaan begitu banyak, mana jawabannya, sekarang! Nanti
terlambat.
Bupati : Lho pertanyaan apa? (KEPADA KEPALA KELUARGA) He,
apa mereka sudah bertanya tadi?(Putu Wijaya, 1993 : 27)
Semakin lama keadaan semakin merumit karena Bupati tidak paham
dengan apa yang telah disampaikan oleh orang-orang udik. Padahal orangorang udik ini menunggu jawaban dari pemecahan persoalan yang mereka
alami. Karena tak tahan dan tak puas dengan Bupati yang tidak
memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dan Bupati hanya
asal menjawab saja, kemudian kepala keluarga ikut melontarkan apa yang
dirasakannya selama ini. Seperti terlihat dalam nukilan berikut.
Kep keluarga : Sudah. Ya saya tahu, sudah semua. Kalau mereka
mengerti dan bisa menjawab kami tidak akan
menempuh ribuan kilometer kemari.
Hansip I
: Lah ribuan lagi.
Hansip II
: Orang dusun sebelah saja ngakunya ratusan kilometer.
Bupati
:
(MENGGAMIT
KEDUA
HANSIP
DAN
MENDORONGNYA JAUH) Kamu pikir saja dulu, ini
urusan jabatan. O jadi sudah, sudah?
Kep keluarga : Kami sudah bertanya sesudah mencoba mengerti tapi
tak habis-habis mengerti. Dan kami mencari orangorang yang pantas untuk ditanyai karena kami yakin
makin lama makin banyak yang tidak bisa kami jawab
sendiri yang memerlukan ahli-ahli. Seperti tukang tahu,
tukang gado-gado, tukang liastrik, dukun, mantra, guru
sekolah, bahkan juga camat dan dokter. Seperti Bapak,
kami juga membuka hati kami lebar-lebar sampai
robek, karena ingin penjelasan. Tapi apa? Apa yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
29
terjadi? Apa yang terjadi selama ini? Setelah duit kami,
rumah kami, harta kami ludes sampai kesawah dan
tabungan kami habis. Apa makna semua ini? Ini terlalu
berat buat kami! Dan kenapa hanya kami, kami yang
dicecer? (MENGGAPAI SAKIT).( Putu Wijaya, 1993 :
31)
Setelah keadaan menjadi semakin rumit dan Kepala keluarga sakit
kemudian muncul Mantri yang didaerah udik bertugas seperti seorang dokter.
Terjadi perbincangan yang cukup menarik antara Bupati dan Mantri tentang
berbagai permasalahan yang terjadi di udik. Tapi lama kelamaan Mantri juga
merasakan bahwa ternyata ada jarak yang begitu lebar antara Bupati dengan
warganya. Padahal seharusnya antara pemimpin dan rakyatnya harus bisa
bersatu padu dan berdiri bersama berdampingan menyelesaikan persoalanpersoalan yang ada. Seperti nukilan berikut.
Bupati
: Simanakitu Bak eh maaf, maaf. Pertanyaan yang
mana?
Kep keluarga : Pertanyaan yang mana? Pertanyaan Bapak hanya
membuat hati saya tambah berdarah.
Mantri
: (SEMBARI MENANGIS) Jadi anda juga cuma
sebegitu saja? Apa yang menyebabkan anda sudah
berdiri sebegitu tinggi. Begitu tinggi sehingga kalau
kita bicara saya harus mengangkat muka dan
menjinjitkan kata-kata saya? Siapa yang sudah
menempatkan kamu dalam posisi ujung tombak kami,
sementara kami tetap kelaparan dan tak bisa menatap
ujung hidungmu yang tak pasti arahnya itu. Kamu
semua sama saja. Kamu hanya tembok-tembok
penghalang yang menghalangi kami mengalir deras ke
sumber kami yang tertinggi dimana ada jawaban. Kamu
bending kami, kamu haling-halangi kamidengan segala
pelayanan kamu yang manis sambil membunh kami
perlahan-lahan di tengah jalan seperti….
Kep keluarga : Cukup!( Putu Wijaya, 1993 : 34)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
30
d. Puncak
Peristiwa dalam naskah lakon Aum ini mengalami puncaknya dimulai
dari konflik antara Bupati dan Kepala keluarga. Konflik antara Bupati dan
Kepala keluarga terjadi karena kepala keluarga mendesak dengan berbagai
pertanyaan dari permasalahan ketidaklaziman yang dialami warganya.
Konflik pertama dimulai dari ketidaktahuan Bupati terhadap apa yang selama
ini dialami oleh para lelaki yang ada di udik. Padahal mereka sudah
menghadap dan berada dihadapan Bupati, tetapi Bupati tetap saja tidak
memperhatikan apa yang terjadi. Seperti nukilan dibawah ini.
Kep keluarga : Dulu. Dulu bertahun-tahun yang lalu ini memang
salah satu dari pertanyaan kami yang nomor sekian.
Dulu Pak. Sebagian bukan pertanyaan lagi, meskipun
bagi Bapak memang pertanyaan. Ini hanya salah satu
contoh saja bagaimana luka dalam batin kami karena
terbawa setiap hari dan dikalahkan oleh luka-luka baru
menjadi bagian dari perlengkapan kami yang sengaja
kami lupa-lupakan. Pertanyaa ini sudah terlalu besar
dan menutup mata kami semua, bagaimana mungkin
kami memandangya lagi. Mata Bapak masih terbuka.
Mata bapak-bapak hansip itu juga sebetulnya masih
terbuka, tapi saya lihat dari tadi tak seorangpun yang
benar-benar melihat apa sebenarnya yang ada disini.
Yang ada pada lelaki-lelaki kami disini. Perhatikan
perut mereka semuanya! (MEMERINTAH) Buka perut
kamu semua.( Putu Wijaya, 1993 : 37)
Kepala keluarga merasa bahwa Bupati dan hansip-hansipnya sama
sekali tidak memperhatikan apa yang dialami oleh lelaki yang ada di udik.
Para lelaki semuanya hamil dan itu merupakan bagian dari sifat kepahlawanan
mereka terhadap keluarga. Hal itu merupakan pertanyaan yang ada sejak dulu
dan selalu bertambah oleh luka-luka baru yang muncul seiring dari tidak
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
31
perhatiannya penguasa terhadap apa yang dialami oleh rakyatnya. Tetapi hal
itu tetap menjadi sebuah pertanyaan bagi Bupati.
Kepala keluarga datang kepada Bupati hanya untuk meminta
perlindungan dan jawaban pemecahan masalah dari persoalan yang selama ini
semakin menjejali orang-orang udik. Kepala keluarga semakin menjejali
dengan berbagai pertanyaan dan mengatakan bahwa banyak beribu-ribu orang
pemimpin hanya asal menjawab saja semua keluhan yang diutarakan oleh
rakyatnya tanpa memahami betul apa pangkal dari persoalan yang ada. Seperti
nukilan berikut.
Kep keluarga : Saya datang kemari seperti mereka juga, meminta
perlindungan.
Bupati
: Itu memang sudah pekerjaan saya, jangan khawatir.
Kep keluarga: Dan Bapak sudah menjawab apa yang mereka tanyakan,
karena Bapak terpaksa harus menjawab demi jawaban
Bapak.
Bupati
: Tidak.
Kep keluarga : Pasti. Saya kenal beribu-ribu orang seperti Bapak dan
semuanya sama.
Bupati
: Tidak keliru.
Kep keluarga :Jangan bohong! Saya tahu semua!(Putu Wijaya, 1993
38)
Dimulai dari peristiwa-peristiwa inilah keadaan memuncak karena
Bupati merasa diremehkan dan disamakan dengan para pemimpin yang lain
yang hanya menjawab berbagai persoalan yang dialami rakyatnya dengan asal
jawaban saja. Bupati menjadi marah dengan ucapan Kepala keluarga diatas
dan keadaanpun menjadi semakin memuncak. Berbagai desakan pengaduan
yang tidak bisa dijawab oleh Bupati menyebabkan ia menuduh balik bahwa
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
32
Kepala keluarga telah berusaha merusak metabolisme iklim yang sudah
terbangun. Seperti nukilan berikut.
Bupati : Aku belum menjawab! Jangan disangka setiap mulut ini
terbuka sudah menjawab. Dan jangan mengira setiap orang
harus mengikuti logika yang sudah kamu bangun dengan
penuh prasangka sejak sebelum matamu melotot disini. Kamu
sudah keliru tai kucing! Sekarang aku marah. Aku Bupati
disini, aku akan jawab sekarang dengan terus terang bukan
sebagai Bupati, tetapi sebagai manusia persis seperti kamu.
Apa gunanya aku lari pagi ha-hu-ha-hu setiap hari tiga ratus
putaran kalau bukan untuk mengamat-amati dan menyadarkan
diriku bahwa aku berdarah, berkulit yang sama ringkihnya
dengan kamu. Dengan kamu tai kucing!(Putu Wijaya, 1993 :
39)
Peristiwa ini membuat keadaan semakin tambah memuncak karena
Kepala keluarga terus saja mengajukan pertanyaan demi pertanyaan yang
semakin menyudutkan Bupati. Bupati dan hansip-hansipnya semakin merasa
kebingungan dengan berbagai pertanyaan yang terus saja keluar dari Kepala
keluarga yang memimpin rombongan orang-orang udik. Persoalan-persoalan
yang dihadapi oleh orang-orang udik ini sangat banyak dan kian hari klian
bertambah, tetapi Bupati menganggap bahwa itu hanyalah persoalan biasa
yang dilebih-lebihkan oleh Kepala keluarga.
Satu demi satu orang-orang udik mulai berteriak-teriak menyuarakan
apa yang selama ini mereka alami. Peristiwa itu dimulai dari Mawar yang
sudah tidak kuat menahan sakit dan penderitaan yang selama ini ia alami.
Seperti nukilan berikut.
Mawar : (IA MEMELUK BUNGKUSAN PUTIH ITU) Apa ini Yang
Mulia, apa yang Kau titipkan dari makhluk ini di antara
kampung kami yang damai, melebihi karunia-Mu yang lainlain diantara lambaian daun nyiur dan gosokan lalang dan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
33
bunyi kodok setiap malam ditengah sawah. Kemana arah-Mu
bergerak sekarang memutar ciptaan-Mu yang tetap milik-Mu
dari dulu sampai sekarang. Beri kami penjelasan! (MEMELUK
BUNGKUSAN DAN MENCAKAR-CAKAR). (Putu Wijaya,
1993 : 44)
Ucok merasakan bahwa ia sudah tidak kuat menahan beban yang
selama ini ia alami. Ia ingin segera menghadap kepada Tuhan dan
menyampaikan secara langsung apa yang ia alami selama ini. Seperti nukilan
berikut.
Ucok : Bunuh kami semua sekrang kalau kau tak mau membuka
misteri yang kau tebarkan sepanjang jalan yang bercabang
berliku-liku sepanjang hidup kami yang kumuh dan mengejek
makin keras setiap hari. Bendera kami melambai diatas
kuburan yang melebar didesa yang tandus dan penuh dengan
anak-anak yang membuka moncongnya sebagai setan yang
putus asa. Kalau akhirnya Kau akan memasukkan kami
kedalam got mapet supaya kami menghirup bau kami sendiri,
sudah cukup, sudah lebih dari cukup, bunuh kami
sekarang!(Putu Wijaya, 1993 : 44)
Salah satu dari orang udik juga merasakan malu terhadap apa yang ia
alami selama ini. Ia merasa malu terhadap anak-anaknya dan semua orang
karena alat kelaminnya lama-kelamaan berubah menjadi bencong dan ia tak
lagi punya malu tetapi memiliki nafsu seperti kebo. Ia juga ingin segera
mengakhiri hidupnya. Seperti nukilan berikut.
Orang udik
: Aduh biungggggggg, sakitttttttt. Keburaman yang
sakit, pertanyaan-pertanyaan yang menggepengkan dan
merusak tapi merayap perlahan-lahan seperti ingin
menonton gigiku copot satu-satu, menyaksikan dengan
cekikikan alat kelaminku berubah menjadi bencong dari
hari kehari sehingga anak-anakku sendiri jijik melihat
kehadiranku yang mereka anggap tak bermalu tapi
bernafsu seperti kebo, memaksakan zaman menerima
bulu-bulu dan bau badanku yang mengotori udara
sepanjang hari.( Putu Wijaya, 1993 : 45)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
34
Pada peristiwa ini terjadi ketegangan yang luar biasa karena setiap
orang udik mulai dari mawar sampai salah satu dari orang udik ingin segera
mengakhiri hidupnya dan menanyakan langsung kepada Tuhan yang maha
kuasa tentang perihal yang mereka alami selama ini.
e.
Peleraian
Peristiwa menginjak pada peleraian setelah semua orang berteriak-
teriak tak karuan meneriakkan apa yang selama ini mereka alami. Kemudian
terdengar bunyi gong dan suasana menjadi sunyi senyap. Kemudian Kepala
keluarga mengatakan kepada Bupati bahwa ia sudah tidak bisa lagi menguasai
mereka. Seperti terlihat pada nukilan berikut.
TERDENGAR BUNYI GONG, SEMUA JADI SUNYI
Kep keluarga : Bapak Bupati yang saya hormati, mohon ampun
beribu-ribu ampun, saya tak bisa lagi menguasai
mereka.
Hansip II
: Pak Bupati tak ada disini.
Kep keluarga : Sama saja ada atau tidak ada harus bicara dan
menjawabnya tak perlu lagi dari Bapak. Aku
memimpin mereka bertahun-tahun. Aku bujuk mereka
untuk menempuh jalur yang sudah kita setujui bersama
ini. Meskipun dengan hati tertekan mereka sudah
sampai kemari didepan Bapak. (Putu Wijaya, 1993 :
46)
Walaupun hansip mengatakan bahwa Bupati tidak ada, tetapi tetap saja
Kepala keluarga berbicara kepada Bupati bahwa mereka telah berusaha
menyelesaikan
persoalan
yang
mereka
alami.
Mereka
juga
telah
menyampaikannya kepada Bupati. Tetapi mereka semua ingin segera
mengakhiri hidup mereka untuk menghadap dan menyampaikan secara
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
35
langsung kepada Tuhan tentang perihal yang mereka alami selama ini. Seperti
terlihat pada nukilanberikut.
Hansip II
: Tidak ada Bapak disini.
Kep keluarga : Di depan Bapak. Dan Bapak lihat sendiri bagaimana
mereka telah berusaha, kami telah berusaha dan aku
telah bekerja matia-matian. Jadi jangan nanti
mengatakan kami tidak berusaha. Sekarang ijinkan
kami menempuh jalan kami sendiri langsung
kehadapan-Nya menanyakan ini semua.( Putu Wijaya,
1993 : 46)
f.
Akhir
Peristiwa ini berakhir ketika Kepala keluarga mulai melakukan
sembahyang menghadap kepada Tuhan dan mengungkapkan semua yang
telah dialami dan semua orang udik yang dipimpinnya. Kepala keluarga dan
orang-orang udik yang ia pimpin bertekad untuk menghadap langsung kepada
Tuhan untuk menanyakan perihal yang telah mereka alami selama ini. Seperti
terlihat dalam nukilan berikut.
Kep keluarga : (MELAKUKAN SEMBAHYANG MENURUT
AGAMANYA) Tuhan Seru Sekalian Alam, Yang
Maha Besar, Yang Maha Kuasa, Pencipta kami, Yang
Maha Agung Yang selalu kami Mulyakan, Tuhan kami
Yang Maha Esa kami sujud di kaki-Mu dan mohon
maaf serta ampunan-Mu. Kami berdiri disini dengan
sisa-sisa kekuatan kami dan menggapai-Mu dengan
lidah kami yang sudah berkarat. Barangkali kata-kata
kami tak ada tenaganya lagi karena kami sebenarnya
hamper lumpuh disini ditindas oleh penyerahan kami
kepada-Mu, sedikitpun kami tidak pernah berpaling
dari-Mu, karena dimana saja selalu kami dengar detakMu mengikuti waktu bergulir. Namun itu semua tidak
pula melumpuhkan hasrat kami untuk bertanya hasrat
yang mestinya juga merupakan karunia-Mu kepada
kami. Ribuan, jutaan, bermilyar-milyar pertanyaan
dalam bongkah kecil dan paket-paket raksasa telah
sesak disini menghimpit kami mengalir setiap waktu.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
36
Tak satupun yang benar-benar telah terjawab. Dokterdokter kami, professor kami, para cendekiawan,
pemimpin-pemimpin redaksi, tokoh-tokoh masyarakat,
para pejabat, bahkan juga orang-orang pinter kami yang
arif dan bijaksana telah mencoba menjelaskan dengan
segala upaya mulut mereka. Tapi semua itu ternyata
belum memuaskan. Itulah sebabnya hari ini bagaikan
orang murtad, bagai pemberontak dan pembangkang
aku langsung mengetuk gerbang-Mu dan menanyakan
langsung: Satu, Kenapa kelebatan sinar-Mu tidak sama
besarnya dihati kami sehingga kami berkelahi
sepanjang zaman. Dua. Dua a- Apa maksudmu yang
sebenarnya. Dua b- Berapa lama semua ini akan
berjalan seperti ini dalam kurung seorang anak pernah
bertanya apakah Kamu benar-benar netral atau
berpihak? Dan tiga pertanyaan yang terakhir, apa
artinya segala yang mokal-mokal itu? (MENUNJUK
KEBELAKANG KEARAH BUNGKUSAN PUTIH).
(Putu Wijaya, 1993 : 47)
Setelah semuanya siap kemudian salah satu dari orang udik itu
membunyikan gong lalu kemudian bungkusan putih yang ada diturunkan dan
dibuka, ternyata berisikan makhluk ajaib. Yaitu seorang manusia yang
bertangan ribuan. Sekali lagi Kepala Keluarga meyakinkan orang-orang udik
yang dipimpinya untuk segera menghunus kerisnya dan bersiap-siap
melakukan bunuh diri agar supaya langsung bisa bertemu dan menghadap
Tuhan untuk menanyakan perihal yang selama ini mereka alami. Seperti
terlihat dalam nukilan berikut.
Kep keluarga : Hunus kerismu anak-anak! (SEMUA BERJAJAR
DAN MEMEGANG KAIN PUTIH YANG TADI
MEMBUNGKUS PETI)
POSISI NENEK PALING DEPAN MENGHUNUS KERIS.
SEMENTARA DIBELAKANGNYA DALAM SATU GARIS
LURUS ORANG-ORANG UDIK ITU MEMEGANG KAIN PUTIH
YANG MERENTANG BAGAI DINDING PANJANG, MEREKA
JUGA MENGHUNUS KERIS MEREKA.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
37
Kep keluarga : Tuhan Seru Sekalian Alam, kini kami menanti
jawaban-Mu. Ujung keris ini telah lama kami simpan.
Apabila Kau pun tidak menjawab atau memberikan
jawaban yang tidak menyalakan sesuatu yang terang
dihati kami, izinkan kami mengakhiri perjalanan yang
Kamu karuniakan ini, secara serentak, hari ini juga.
Waktu yang kami berikan hanya sepuluh kali ketukan.
Sesudah itu kami akan bunuh diri rame-rame.
Satu…..(Putu Wijaya, 1993 : 48)
Setelah itu semuanya dalam posisi bunuh diri dan Kepala Keluarga
terus saja menghitung satu persatu dari satu sampai sepuluh. Walaupun diselasela hitungan itu Bupati terus berbicara dan mengatakan bahwa ini hanya
kepentingan satu orang yang banyak menyeret orang-orang lain yang tidak
tahu apa-apa. Bupati berusaha meyakinkan bahwa ini semua tidak aka nada
gunanya. Tetapi Kepala keluarga dan orang-orang udik sudah bertekad untuk
bunuh diri ramai-ramai agar bisa langsung bertemu dan menghadap Tuhan
untuk menyampaikan apa yang mereka alami selama ini. Pada akhirnya
sampai pada hitungan kesepuluh mereka bunuh diri dengan menusukkan keris
mereka kedalam tubuhnya masing-masing.
Alur dalam naskah lakon Aum ini menggunakan alur rapat. Artinya
jalinan peristiwa yang sangat padu dlam sebuah karya, kalu peristiwa atau
kejadian dihilangkan maka keutuhan cerita akan terganggu. Menurut sifatnya,
dapat dikatakan sebagai alur maju atau alur progresif, yaitu jalinan peristiwa
dalam suatu karya sastra yang berurutan dan berkesinambungan, secara
kronologis dari tahap awal sampai akhir didasarkan pada pendapat Soediro
Satoto (h. 53).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
38
2. Latar
a. Aspek Tempat dan Ruang
Peristiwa dalam naskah lakon Aum terjadi di depan rumah Bupati. Lebih jelasnya
gambaran mengenai setting ruang lakon ini secara rinci dideskrepsikan pada awal lakon.
“….SEJUMLAH ORANG TIDUR DI DEPAN RUMAH PAK BUPATI MEREKA
TAK MAU BERGERAKSEJENGKALPUN, SEBELUM BUPATI MENERIMA
KEHADIRAN MEREKA. MEREKA TELAH TEGAK DISANA SEJAK TADI
SIANG.” (Putu Wijaya, 1993 : 1)
Dari penjelasan diatas tersurat bahwa peristiwa dalam naskah lakon ini terjadi atau
bertempat di kediaman Bupati.
b. Aspek Waktu
Peristiwa dalam naskah lakon Aum di dalam naskahnya tidak dijelaskan
secara jelas kapan waktu kejadiannya. Hanya pada penjelasan cerita awalnya terdapat
cakapan sebagai berikut.
“SUBUH TURUN LAGI KE BUMI. SEORANG HANSIP YANG MASIH
SEGER MUNCUL UNTUK MENGGANTIKAN REKANNYA YANG
TELAH SEMALAMAN SUNTUK BERJAGA-JAGA DI RUMAH
BUPATI”. (Putu Wijaya, 1993 : 1)
Dari cakapan diatas dapat disimpulkan bahwa peristiwa yang terjadi dalam
naskah lakon Aum terjadi pada pagi hari sekitar waktu subuh.
Hal yang menunjukkan waktu kejadian lain dalam peristiwa pada naskah
lakon Aum ini juga terdapat dalam dialog Bupati sebagai berikut.
Bupati : (MELIHAT JAM) Belum, sekarang belum jam tujuh. Tapi tanpa
bermaksud untuk menjawab, kalau boleh ikut campur inilah pendapat
saya. Ingat hanya pendapat. Kamu semua sudah merusak metabolism
iklim yang sedang membaik. Karena kamu sudah terlalu banyak
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
39
bertanya, terlalu banyak mengharapkan orang lain untuk menolongmu,
meskipun itu semua juga cukup menjelaskan bahwa kamu semua juga
rakyat biasa, seperti saya.(Putu Wijaya, 1993 : 50)
Dari dialog diatas menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi menunjuk aspek
waktu pagi seperti yang dinyatakan Bupati bahwa sekarang belum jam tujuh.
c. Aspek Suasana
Aspek suasana dalam cerita lakon ini dapat ditangkap dari keteranganketerangan dan dialog tokohnya. Pada prinsipnya aspek suasana dalam cerita lakon
ini adalah kondisi kesakitan yang dialami oleh orang-orang udik dilihat dari berbagai
segi dan pertanyaan dari kejadian yang mereka alami dan tak bisa mereka jawab
sehingga Nampak peristiwa yang dirasakan dari aspek suasana adalah kondisi
ketertindihan, jeritan, haru, kesedihan, dan keputusasaan.
Kondisi kesakitan yang dalam bisa dilihat dari dialog-dialog tokohnya, antara
lain dialog orang udik sebagai berikut.
Orang udik
: Aduhhhh biungggg, sakittttt, keburaman yang sakit,
pertanyaan-pertanyaan yang menggepengkan dan merusak, tapi
merayap perlahan-lahanseperti ingin menonton gigiku copot
satu-satu, menyaksikan dengan cekikikan alat kelaminku
berubah menjadi bencong dari hari keharisehingga anakanakku sendiri jijik melihat kehadiranku yang mereka anggap
tak bermalu tapi bernafsu seperti kebo, memaksakan zaman
menerima bulu-bulu dan bau badanku yang mengotori udara
sepanjang hari.(Putu Wijaya, 1993 : 45)
Kondisi suasana yang muncul dapat dilihat dari dialog orang udik yang
memperlihatkan kondisi kesakitan fisik, batin, dan mentalnya yang sangat luar biasa,
bagaimana anak-anaknya sendiri jijik melihat kehadirannya karena lama kelamaan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
40
berubah menjadi bencong dan bisa melahirkan. Kondisi kesedihan yang dalam juga
bisa dilihat dari dialog tokoh Mawar seperti berikut.
Mawar : Kadangkala malunya datang lagi, padahal ini sudah bukan waktunya
lagi malu-malu. Dulu barangkali, ketika kami mula-mula
disandingkan sebagai mempelai. Saya memakai kain tenunan kuning
dengan bunga emas di kepala. Dan dia membawa keris pusaka
keluarga serta kumis tebal dan jantan sekali dibawah hidungnya. Tapi
kebahagiaan cinta memang tak pernah lama. Karena tatkala saya
melirik dia dengan begitu gagahnya didepan ribuan tamu yang
menjenguk dengan puji-pujian, saya lihat-saya lihat. Ya Tuhan akan
bertiup kemana takdir ini membawa nasib kita semua. Saya lihat
gelembung gelembung udara yang besar dan tubuhnya jadi bengkak,
saya melihat aib yang disoraki oleh ribuan mulut waktu itu juga. Saya
nyaris, saya nyaris. Ibuuuu aku tidak kuat lagi. Apa gunanya semua
pertanyaan ini lagi. Selesaikan sekarang ibuuuuuuu (DIA
MENCOPOTI BUSANANYA) (Putu Wijaya, 1993 : 34)
3. Tikaian dan Konflik
Di dalam naskah lakon ini terdapat tikaian dan konflik sebagai berikut.
a. Konflik pertama; terjadi antara hansip dan orang udik. Berisikan
kecurigaan, hansip mencurigai orang udik membawa pisau yang dianggap
mengancam keamanan, sehingga hansip memukul orang udik.
b. Konflik kedua; terjadi antara Bupati dan hansip. Bupati marah karena
hansip-hansip dirasa tidak becus menjaga stabilitas rumah Bupati dan
kalau terbukti bersalah akan dicopot dan diganti jabatannya.
c. Konflik ketiga; terjadi saat Ucok berdoa. Saat berdoa Ucok dirundung
persoalan psikologis yang menusuk jiwanya. Ucok membanting sesuatu
karena bosan dan muak melakukan semua ini, ia merasa hasilnya akan siacommit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
41
sia dan sama saja. Ekspresi kemarahan Ucok ini mengakibatkan terjadinya
reaksi dari semua tokoh untuk bergerak dan berusaha menghentikan
kemarahan Ucok.
d. Konflik keempat; terjadi antara Bupati dan Kepala keluarga. Konflik yang
terjadi antara keduanya disebabkan karena Kepala keluarga mendesak
dengan berbagai permasalahan dari ketidaklaziman yang terjadi dan
dialami warganya. Berbagai desakan pengaduan yang tidak bisa dijawab
Bupati menyebabkan Bupati menuduh balik Kepala keluarga telah
berusaha merusak metabolism iklim yang selama ini sudah terbangun dan
membaik.
e. Konflik kelima; terjadi antara Kepala keluarga dengan Tuhan. Setelah
Kepala keluarga merasa Bupati tidak bisa menjawab ketidaklaziman
kejadian yang menimpa orang-orang udik. Kepala keluarga mengajak
untuk lengsung menanyakannya kepada Tuhan dengan cara bunuh diri.
4. Cakapan
Cakapan dalam naskah lakon Aum apabila diamati kalimat yang dipergunakan
dalam naskah lakon ini sangat proporsional. Panjang pendeknya kalimat dan cakapancakapan para tokohnya sangat diperhitungkan penggunaanya. Sehingga tidak akan
merusak jalinan tempo naskah dan juga tempo pementasan apabila diangkat menjadi
pertunjukan dalam sebuah panggung.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
42
Diksi yang terjalin antara kalimat terkesan lucu, aneh, dan kadangkala sering
tidak masuk akal yang bertujuan untuk mengagetkan, menarik perhatian,
mengganggu, dan meneror para pembaca agar berfikir dan mengingat kembali bahwa
dia itu manusia dan bukan alat. Kalimat yang terjalin memiliki rasa kegemberiaan,
harapan, duka, kepedihan, cinta, dan kebahagiaan.
5. Tema dan Amanat
Tema dalam naskah lakon ini dinyatakan secara simbolik. Dilihat dari
judulnya, Aum kita sudah bisa membayangkan apa yang ada dalam naskah lakon itu.
Aum merupakan jeritan dari ketertindasan masyarakat kalangan bawah dalam
mengarungi kehidupan. Benturan-benturan yang dialami masyarakat kalangan bawah
terasa sangat mencekik dan menyayat. Naskah lakon ini berusaha mendobrak
kemapanan yang selama ini terjadi, dimana pemimpin yang hidupnya makmur selalu
berusaha mempertahankan kemakmurannya dengan tidak memperhatikan masyarakat
yang lainnya yang tidak bisa merasakan kemakmuran seperti yang dirasakannya.
Sementara yang hidupnya tertindas terpaksa harus terpinggirkan dan tidak pernah
diberi kesempatan untuk bisa memperbaiki kehidupannya.
Cerita dalam naskah lakon ini mengisahkan tentang perjalanan sekelompok
orang udik menuju rumah Bupati untuk mengadukan permasalahan-permasalahan
yang selama ini selalu menyelimuti mereka dan tidak bisa mereka pecahkan sendiri.
Bahkan mereka sudah berusaha dengan bertanya kemana-mana tapi tetap juga tidak
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
43
ada yang bisa menjawab. Akhirnya mereka datang menghadap Bupati yang mereka
rasa bisa untuk membantu menjawab segala pertanyaan mereka. Tapi dalam
kenyataannya Bupati juga tidak bisa menjawab dan kebingungan menghadapi
rentetan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang udik. Dari kejadian itu kemudian
menimbulkan cekcok yang sangat panjang antara orang-orang udik dengan Bupati
dan kedua hansipnya. Akhirnya sekelompok orang-orang udik yang dipimpin oleh
Kepala keluarga memutuskan untuk menanyakan langsung permasalahan mereka
kepada Tuhan dengan jalan bunuh diri secara masal agar bisa langsung bertemu dan
menanyakan permasalahan mereka kepada Tuhan.
Amanat mempunyai sifat umum dan subjektif. Ini tergantung dari para
pembaca dalam menafsirkan isi karya sastra. Juga dikarenakan pandangan yang tidak
sama dalam menghadapi permasalahan yang dihadirkan oleh pengarang lewat
karyanya tersebut. sehingga antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lain
akan mempunyai interpretasi yang berbeda-beda.
Amanat yang hendak disampaikan pengarang dalam naskah lakon Aum ini
adalah sindiran yang ditujukan kepada para pemimpin bangsa yang tidak peduli pada
nasib kaum bawah yang selalu terpinggirkan. Sebagai pemimpin bangsa yang
dipercaya oleh rakyat, seharusnya mereka berusaha memperhatikan kesejahteraan
masyarakatnya, mengentaskan rakyat yang sengsara dan juga melakukan pembenahan
dalam berbagai sistem kehidupan guna menuju kehidupan yang lebih baik
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
44
Melalui naskah lakon ini pengarang ingin menggugah kesadaran para
pemimpin bangsa bahwa keadaan yang mereka gembar-gemborkan selama ini bahwa
rakyat Indonesia telah menjadi masyarakat yang adil dan makmur ternyata tidak
seluruhnya benar. Masih banyak rakyat kecil yang tidak pernah menikmati arti dari
keadilan dan kemakmuran.
B. ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA
Problem-problem Sosial dalam Naskah Lakon “Aum” karya
Putu Wijaya
Kaum marginal adalah bagian dari masyarakat yang dianggap memiliki
kekurangan secara fisik, sosial, ataupun ekonomi, dan keberadaannya cenderung
dipandang dengan sebelah mata. Di negara Indonesia masih banyak penduduk yang
belum bisa merasakan kemerdekaan sebagai warga negara Indonesia, akibat dari
faktor keterasingan dan termarginalisasi. Dalam kehidupan sehari-hari kaum marginal
merupakan warga yang terabaikan kepentingannya. Di antara mereka bahkan diperas
tenaga dan masa depannya tanpa diimbangi imbalan penghasilan yang sepadan.
Kelompok masyarakat marginal tidak hanya terjadi di daerah terpencil atau
pinggiran, tetapi juga muncul di perkotaan karena adanya kesenjangan sosial yang
ada di kelompok masyarakat perkotaan. Kesenjangan ini muncul karena adanya
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
45
diskriminasi ekonomi dan politik di antara kelompok masyarakat yang hidup di
perkotaan.
Terpinggirkannya sebuah daerah atau kelompok masyarakat merupakan salah
satu faktor munculnya permasalahan-permasalahan sosial.
Kehidupan perkotaan
dengan segala aspek dan dinamikanya, oleh sebagian masyarakat seringkali dianggap
sebagai cermin dari sebuah dunia yang penuh impian, yakni dunia di mana kehidupan
seseorang dimungkinkan untuk dapat dengan mudah memiliki tingkat penghidupan
yang lebih layak. Anggapan seperti itu, terutama dimiliki oleh masyarakat dengan
latar belakang pengetahuan dan wawasan hidup yang terbatas. Masyarakat desa yang
dalam hal informasi lebih terbelakang dibanding masyarakat kota, seringkali
diidentifikasikan sebagai masyarakat yang memiliki anggapan demikian itu. Hal ini
dibuktikan dengan derasnya proses mobilisasi yang dilakukan masyarakat dari desa
ke kota (urbanisasi). Terjadinya proses mobilisasi tersebut pada akhirnya akan
menciptakan suatu kondisi sosial yang mengarah pada terciptanya problem
masyarakat, misalnya kepadatan penduduk, sempitnya lahan pekerjaan dan
pemukiman, kriminalitas, serta problem-problem lain yang memberi pengaruh dalam
kehidupan sosial masyarakat, terutama kehidupan sosial masyarakat perkotaan yang
menjadi objek berlangsungnya proses urbanisasi tersebut.
Secara sosiologis, latar belakang yang mengungkapkan ciri-ciri kaum
marginal sebagai suatu bentuk masyarakat yang terpinggirkan, masyarakat yang
dipenuhi dengan jumlah pengangguran dan tenaga produktif yang tidak memiliki
kesempatan untuk turut andil dalam memanfaatkan hasil-hasil pembangunan, pada
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
46
akhirnya akan memicu timbulnya suatu kesenjangan sosial yang berpotensi
memunculkan gangguan terhadap stabilitas masyarakat yang ideal. Yakni masyarakat
yang aman serta tertib secara hukum, makmur, dan berkeadilan.
Dengan mempelajari segala masalah-masalah sosial kehidupan, kita
mendapatkan gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan
lingkungannya,
tentang
mekanisme
sosialisasi,
proses
pembudayaan
yang
menempatkan anggota masyarakat ditempatnya masing-masing. Kecenderungan
kaum marginal untuk mengalami suatu gangguan dan bahkan menjadi faktor pemicu
rusaknya stabilitas kehidupan dalam masyarakat, ditampilkan dalam naskah lakon
Aum. Seperti, kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Tokoh utama
dalam naskah lakon tersebut, yaitu Bupati, Kepala keluarga, dan Ucok. Bupati
merupakan cerminan dari penguasa, sedangkan Kepala keluarga dan Ucok
merupakan cerminan dari masyarakat kalangan bawah yang berusaha untuk
menyampaikan permasalahan yang mereka alami. Namun kenyataannya mereka tidak
mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan sesuai
dengn harapa mereka. Segala macam peraturan yang dijalankan oleh oknum-oknum
aparat dan penguasa pada akhirnya membuat rombongan orang-orng Udik
berperilaku menyimpang dan penuh dengan ancaman untuk bunuh diri dan
menanyakan langsung permasalahan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal
itulah yang ingin disampaikan oleh Putu Wijaya dalam naskah lakon Aum ini.
Berdasarkan uraian diatas, dalam kesempatan ini penulis akan menganalisis
kritik sosial yang digambarkan dalam naskah lakon Aum karya Putu Wijaya,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
47
khususnya yang menyoroti masalah kekuasaan, penindasan, ketidakadilan, dan
kemiskinan.
a. Kekuasaan.
Dalam dunia politik banyak orang saling berlomba-lomba
mendapatkan kekuasaan.
untuk
Berbagai cara mereka gunakan untuk dapat
menduduki kursi kekuasaan. Yang paling banyak dilakukan adalah dengan
mengobral janji-janji yang menggiurkan kepada rakyat. Tetapi ketika tampuk
jabatan kepemimpinan sudah didapatkan, kebanyakan mereka melupakan
rakyat dan janji-janjinya. Dengan memperoleh kekuasaan itu orang yang
berkuasa dapat menentukan kebijakan-kebijakan apa saja sesuai dengan apa
yang diinginkan.
Dalam keadaan seperti ini tidak mengherankan kalau para penguasa
lebih berorientasi kepada kepentingan untuk lebih berkuasa daripada
memikirkan kepentingan rakyat. Para penguasa lebih berperan sebagai alat
untuk melegitimasikan kekuasaan pemerintah ketimbang memperjuangkan
kepentingan kelompok-kelompok masyarakat yang ada. Persoalan-persoalan
yang terjadi di masyarakat terutama yang menyangkut nasib rakyat kecil
jarang menjadi agenda pembahasan para penguasa tersebut.
Penguasa jarang sekali memperhatikan setiap permasalahan yang
terjadi di dalam masyarakat. Ketika rakyat berusaha untuk mengadukan setiap
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
48
permasalahan yang mereka alami, para pemimpin kebingungan karena mereka
tidak pernah memperhatikan kejadian yang terjadi di masyarakat.
Putu Wijaya berusaha mengungkap tentang penguasa yang tidak
memperhatikan keadaan yang dialami oleh rakyatnya.
Wanita
: Kami tidak minta dikasih hati. Tidak kan Bu?
Kep keluarga : Dikasih hati apa? Kami datang bukan untuk
mengemis. Kami juga tidak perlu ditolong karena
maksud kami bukan itu. Kami cuma minta dijawab.
Bupati
: Dijawab bagaimana, pertanyaannya saja dari tadi
belum keluar. Ini kok seperti teka-teki silang. Praktis
sedikit.
Kep keluarga : Sebentar, sebentar. Saya memang sengaja dari tadi
mengulur-ulur
karena
sengaja,
agar
bapak
memperhatikan sungguh-sungguh pertanyaan kami.
Sekarang sudah waktunya untuk berkata terus terang.
(Putu Wijaya, 1992: 22)
Bupati langsung berhadapan dengan Kepala keluarga yang merupakan
pimpinan dari rombongan orang-orang udik yang datang untuk meminta
penjelasan dari permasalahan yang mereka alami selama ini merasa
kebingungan. Hal itu dikarenakan Bupati menganggap bahwa Kepala keluarga
berusaha mengulur-ulur waktu agar bupati memperhatikan dengan sungguhsungguh setiap pertanyaan yang akan ditanyakan oleh rombongan orang-orang
udik itu. Hal itu dilakukan oleh Kepala keluarga dengan maksud supaya
bupati sebagai penguasa memperhatikan denagn seksama kejadian yang
dialami oleh rakyatnya. Dalam kenyataannya Bupati kebingungan, padahal
seharusnya sebagai pemimpin ia harus tahu apa yang akan dilakukan untuk
menjawab dan menyelesaikan permasalahan yang tengah dialami oleh
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
49
rakyatnya. Apa yang dilakukan oleh Kepala keluarga merupakan pengaduan
dari rakyat kepada pemimpinnya, karena rakyat selama ini sudah sangat
menderita karena para penguasa tidak memperhatikan kejadian apa saja yang
terjadi dimasyarakat.
Jeritan ketertindasan kaum bawah tersebut dilukiskan oleh Putu
Wijaya dalam naskah nukilan berikut ini.
Ucok : Kekuasaan yang menghimpit kita, sudah tidak mau lagi
memberikan jawaban darimana asalnya kenapa dia datang dan
apa tujuannya. Kita terpaku terus ditembok yang rapuh,
bergerak sedikit seluruh alam ikut bergetar dan batu-batu yang
keras makin banyak berjatuhan melukai tubuh kita yang bukan
milik kita lagi. Seluruh umat manusia menjadi mayat-mayat
berjalan dan didalam kuburan yang besar ini kejujuran akan
menjadi senjata-senjata yang membunuh diri kita sendiri.
Tinggalkan, tinggalkan balon yang penuh baksil ini. Tak ada
harapan, tak ada sedikitpun harapan, tinggal hanya kerakkerak…….. (MENYANYIKAN SESUATU) Ibuuuuuuuuu, ibu
pertiwi tolonglah kami buka kembali rahimmu, Bapak
Bupatiiiiiiiiiii! (Putu Wijaya, 1992: 27)
Dari dialog yang diucapkan oleh tokoh Ucok yang merupakan salah
satu dari orang udik tersebut menggambarkan bahwa keberadaan kaum bawah
sudah tidak lagi dianggap. Mereka hanya ditindas oleh penguasa dan tidak
boleh menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap mereka. Ucok
merasa bahwa kekuasaan yang ada semakin lama semakin menghimpit tanpa
tahu asal dan tujuan dari kekuasaan yang ada. Apa yang dilakukan selalu
terbentur dengan kekuasaan dan tidak bisa berbicara mengenai kenyataan
yang ada. Dalam dialog itu terlihat bahwa sudah tidak ada harapan lagi dalam
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
50
hidup mereka, karena dalam kenyataannya ia tidak bisa berbuat sesuai dengan
haknya.
Kesalahan lain yang dimiliki penguasa adalah mereka tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi dikalangan masyarakat bawah. Penguasa hanya
menikmati kekuasaan mereka tanpa sedikitpun memperhatikan apa yang
sebenarnya terjadi di dalam masyarakat. Sehingga ketika masyarakat kalangan
kaum bawah menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka
membuat para pemimpin tergagap-gagap dan tidak tahu harus bagaimana.
Oleh Putu Wijaya keacuhan pemimpin terhadap apa yang sebenarnya
terjadi di masyarakat juga digambarkan sebagai berikut:
Hansip : Ya bapak Bupati disini
Bupati : Hus ikut mereng kamu!
Hansip : Maaf latah Pak.
Ucok : Apa jawaban Bapak. Berikan kami jawaban.
Hansip : Jawab Pak.
Bupati : Jawaban apa, apa yang harus dijawab?
Ucok : Pertanyaan begitu banyak, mana jawabannya. Sekarang!
Nanti terlambat.
Bupati : Lho pertanyaan apa? (KEPADA KEPALA KELUARGA)
He apa mereka sudah bertanya tadi?
Hansip : Pak tak usah didengar Pak, kalau sudah begini coret saja.
Bupati : Sungguh mati langsung akan saya jawab kalau saja ada, kalau
memang ada. Saya sudah cukup terbuka malah begitu lebar.
Apa masih kurang?
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
51
Hansip : sampai robek-robek bagini jangan dilebarin lagi Pak.
Ucok : Kamu hanya membisu!
Bupati : Lho tai kucing!
Ucok : Tai kucing bukan jawaban.
Bupati : Astaghfirullah. (Putu Wijaya, 1992: 28)
Ketika ucok berhadapan langsung dengan Bupati dan meminta
jawaban dari semua pertanyaan yang telah ada, Bupati kebingungan dan tidak
tahu maksud dari semua pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh orang-orang
udik. Karena sudah merasa kebingungan, Bupati malah bertanya kepada
kedua hansip yang bertugas menjaga rumahnya apakah orang-orang udik tadi
sudah bertanya kapadanya. Kedua hansip yang ditanya Bupati juga
kebingungan dan akhirnya Bupati menjawab dengan asal. Jawaban asal dari
Bupati semakin membuat Ucok marah.
Dari cakapan-cakapan diatas tampak bahwa pemimpin sebenarnya
tidak tahu apa yang terjadi di dalam masyarakat yang dipimpinnya. Bahkan
disini pemimpin yang digambarkan sebagai Bupati merasa kebingungan
menghadapi orang yang menuntut pertanggung jawaban dari apa yang telah
terjadi dimasyarakat.
Ucok : Kami tidak ingin dihibur, kami ingin dijawab. Ternyata kamu
sama saja dengan yang lain-lain. Tak pernah menjawab, hanya
bertanya-tanya seperti kami, tak pernah mengerti ada orang
bertanya, tak pernah mendengar, tak pernah kamu pakai
kuping, kupingmu yang dua dikiri dan kanan kepalamu, kuping
diatas kepala hansip-hansipmu, kuping dikepala istrimu,
kuping diatas meja teleponmu, kuping diatas kaki tanganmu,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
52
kuping-kuping disekitarmu ternyata palsu! (Putu Wijaya, 1992:
28)
Secara jelas cakapan-cakapan tersebut memperjelas bahwa keberadaan
masyarakat kalangan bawah tidak pernah diperhatikan oleh penguasa. Ketika
kaum masyarakat kalangan bawah menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi
dengan mereka para penguasa tergagap-gagap dalam menjawab. Keadaan itu
membuat Ucok marah dan merasa bahwa pertaanyaan-pertanyaan yang
mereka ajukan kepada Bupati selalu tidak dijawab dengan semestinya.
Sehingga Ucok semakin marah dengan mengatakan bahwa ternyata telinga
yang dimiliki oleh Bupati dan orang-orang disekitarnya ternyata palsu, karena
telinga yang mereka miliki tidak dapat mendengarkan jeritan yang dialami
oleh orang-orang udik yang sedang berada dihadapannya. Bupati dan orangorang yang berada disekitarnya selalu kebingungan dan tergagap-gagap
dengan semua pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang udik. Padahal
pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh orang-orang udik jelas
menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat.
Dalam naskah lakon Aum ini Putu Wijaya juga menyinggung tentang
tidak bersatunya antara pemimpin dan rakyatnya. Hal itu digambarkan oleh
Putu Wijaya sebagai berikut.
Bupati
: Mastakus eritus ma, sikola Bak? Sikola Bak? Bak?
Kepala keluarga: Terima kasih Bapak Bupati. Bapak seorang yang
bijaksana dan baik. Tapi kebaikan saja tidak cukup.
Inilah persoalannya. Inilah pertanyaan kami yang
kedua.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
53
Bupati
: Siamanakitu Bak eh maaf, maaf. Pertanyaan yang
mana?
Kepala keluarga: Pertanyaan yang mana? Pertanyaan Bapak hanya
menambah hati saya tambah berdarah. (Putu Wijaya,
1992: 33)
Bupati selalu saja kebingungan ketika orang-orang udik yang dipimpin
oleh Kepala keluarga mulai mengajukan pertanyaan satu persatu. Seperti yang
terdapat dalam nukilan diatas ketika Bupati selesai berbincang dengan Mantri
dan beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh mantri baik itu secara
langsung ataupun tidak. Setelah selesai berbincang dengan Mantri kemudian
kepala keluarga menyela dan menjelaskan tentang apa yang disampaikan oleh
Mantri merupakan salah satu dari beberapa pertanyaan yang selama ini ingin
mereka tanyakan. Mendapatkan penjelasan dari kepala keluarga, Bupati
tergagap-gagap dan kebingungan. Apa yang dikira Bupati bahwa Mantri
hanya
bergurau
ternyata
merupakan
sebuah
persoalan
yang
ingin
disampaikan. Terlihat jelas dalam nukilan diatas bahwa ternyata Bupati sama
sekali tidak memperhatikan apa yang menjadi persoalan orang-orang udik.
Tidak perhatiannya Bupati terhadap persoalan-persoalan
yang
dirasakan oleh masyarakat dan adanya jarak antara Bupati dan masyarakat
dapat dilihat dalam dialog Mantri dibawah ini:
Mantri : (SEMBARI MENANGIS) Jadi anda juga Cuma sebegitu
saja? Apa yang menyebabkan anda sudah berdiri sebegitu
tinggi. Begitu tinggi sehingga kalau kita bicara saya harus
mengangkat muka dan menjinjitkan kata-kata saya? Siapa yang
sudah menempatkan kamu dalam posisi ujung tombak kami,
sementara kami tetap kelaparan dan tidak bisa menatatp ujung
hidungmu yang tak pasti arahnya itu. Kamu semua sama saja.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
54
Kamu hanya tembok-tembok penghalang yang menghalani
kami mengalir deras ke sumber kami yang tertinggi dimana
ada jawaban. Kamu bending kami, kamu halang-halangi kami
dengan segala pelayanan kamu yang manis sambil membunuh
kami perlahan-lahan ditengah jalan seperti…. (Putu Wijaya,
1992: 33)
Melalui tokoh mantri, Putu Wijaya berusaha mengkritik para
pemimpin yang ada. Bahwasanya pemimpin dan rakyatnya harus bersatu
padu. Pemimpin harus meninjau dan memperhatikan rakyatnya, pemimpin
harus tahu kondisi sebenarnya yang dialami oleh rakyatnya. Pemimpin yang
ada harus tanggap dan bertindak terhadap apa yang menjadi keinginan
masyarakat, jangan malah menjadi penghalang dan timbul sekat antara rakyat
dan para pelaku pemerintahan.
Jarak yang sangat jauh antara pemimpin dengan rakyatnya akan
semakin membuat pemimpin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan
dialami oleh rakyatnya. Pemimpin baru tahu kalau rakyat sudah sangat
menderita dan mengadukan permasalahan yang dialami. Dalam naskah lakon
Aum ini digambarkan bahwa Bupati sebagai pemimpin tidak tahu apa yang
sebenarnya dialami oleh rakyatnya, walaupun apa yang dialami oleh
rakyatnya sudah berada didepan mata, tetapi Bupati dan para hansipya sama
sekali tidak memperhatikan dengan seksama. Hal itu dapat dilihat dalam
nukilan berikut.
Kep keluarga : Dulu. Dulu bertahun-tahun yang lalu ini memang
salah satu pertanyaan kami yang nomer sekian. Dulu
Pak. Sekarang bukan pertanyaan lagi, meski[un bagi
Bapak memang pertanyaan. Ini hanya salah satu contoh
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
55
saja bagaimana luka dalam batin kami karena terbawa
setiap hari dan dikalahkan oleh luka-luka baru menjadi
bagian dari perlengkapan kami yang sengaja kami lupalupakan. Pertanyaa ini sudah terlalu besar dan menutup
mata kami semua, bagaimana mungkin kami
memandangya lagi. Mata Bapak masih terbuka. Mata
bapak-bapak hansip itu juga sebetulnya masih terbuka,
tapi saya lihat dari tadi tak seorangpun yang benarbenar melihat apa sebenarnya yang ada disini. Yang
ada pada lelaki-lelaki kami disini. Perhatikan perut
mereka semuanya! (MEMERINTAH) Buka perut kamu
semua. (Putu Wijaya, 1992: 37)
Dari nukilan diatas dapat dilihat bagaimana Bupati dan hansiphansipnya sama sekali tidak memperhatikan apa yang sebenarnya dialami oleh
orang-orang udik yang menghadap dan sudah ada didepan mereka. Bupati dan
kedua hansipnya yang dari tadi menghadapi rombongan orang udik untuk
menghadap tidak memperhatikan kalau para lelaki yang ada di udik semuanya
hamil. Padahal apa yang dialami oleh para lelaki yang ada di udik merupakan
salah satu dari pertanyaan yang ingin mereka sampaikan, pertanyaan yang
saduah sejak sangat lama mereka pendam. Kenyataannya pada saat
menghadap kepada bapak Bupati dan sudah berhadapan lama, bupati dan para
hansipnya sama sekali tidak memperhatikan apa yang dialami oleh para lelaki
yang ada di udik. Hal tersebut membuat marah kepala keluarga dan memaki
Bupati dan hansip-hansipnya bahwa mereka sama sekali tidak melihat dan
memperhatikan apa yang dialami oleh para lelaki yang ada di udik. Dengan
begitu dapat difahami secara jelas bahwa para pemimpin sama sekali tidak
memperhatikan keadaan yang dialami oleh rakyatnya. Itu merupakan salah
satu dari permasalahan yang dialami oleh rombongan orang udik. Kepala
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
56
keluarga merasa kecewa karena dari tadi Bupati sebagai pemimpin tidak
memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi pada rombongan orang udik.
Kep keluarga : Ini juga bagian dari pertanyaan kami yang belum
dijawab. (IA MENDEKAT DAN MEMBARUT
TUBUHU ORANG TUA ITU) Kami tidak ingin
menuduh siapa-siapa apalagi menuntut sesuatu, kami
hanya ingin mendapat pengertian atas semua ini.
(MEMANDANG KEPALA YANG MELAYANG
ITU) kemari turun, jangan gentayangan lagi, belum
waktunya kita pergi, pertanyaan ini masih tinggal dua
langkah lagi untuk kita pikul. Kemari-kemari, jangan
membuat hatiku tambah berdarah lagi. (Putu Wijaya,
1992:44)
Dari pokok permasalahan yang dihadapi oleh rombongan orang udik
yang dipimpin oleh Kepala keluarga, sebenarnya mereka sebagai rakyat biasa
hanya ingin mendapatkan perhatian yang sama dari Bupati yang merupakan
seorang pemimpin. Kepala keluarga mengingatkan bahwa semua rakyat punya
hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dari pemimpin. Pemimpin
dipilih oleh rakyat dan diharapkan dapat menjadi pimpinan yang mengerti dan
memahami apa yang diinginkan oleh rakyatnya. Sebagai pemimpin juga harus
bisa menjadi panutan rakyatnya. Mau mengerti penderitaan yang dialamioleh
rakyatnya dan diharapkan bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang
dialami oleh rakyatnya.
b. Penindasan.
Naskah lakon Aum karya Putu Wijaya juga menampilkan masalah
kritikan terhadap penindasan yang ada di Negara ini dalam alur cerita yang
dialami oleh tokohnya yaitu orang-orang udik. Karena kaum bawah tidak
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
57
mendapatkan perhatian dari pemerintah yang ada dan mereka hanya
dipergunakan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan malah seringkali
mereka ditindas. Karena terus-terusan ditindas akhirnya banyak terjadi
demonstrasi dan protes-protes yang sangat keras dari masyarakat. Hal itulah
yang dialami oleh orang-orang udik dan mempengaruhi kehidupan mereka
dalam menyuarakan jeritan ketertindasan kaum bawah.
Salah satu penindasan kepada orang-orang udik dalam naskah lakon
Aum ini dilakukan oleh oknum aparat yang bertugas menjaga kediaman
Bupati, yaitu hansip. Bentuk penindasan yang dilakukan hansip adalah
bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang udik yang mau menghadap
dan bertemu langsung dengan Bupati. Hansip menyalahgunakan alat Negara
yang disandangnya untuk bertugas. Sragam dinas dan belati yang dipakai dan
dibawa hansip sebagai identitas dan untuk menjaga keamanan Bupati
digunakan oleh hansip seenaknya sendiri dan bukan digunakan sebagaimana
mestinya. Seragam dan belati yang merupakan fasilitas dari Negara digunakan
untuk menakut-nakuti orang udik yang mau menghadap Bupati untuk
menyampaikan permasalahan yang mereka alami. Hal itu dapat dilihat dalam
nukilan berikut.
Hansip
: Bung. Orang besar itu urusannya banyak. Dan bukan
soal-soal upil saja.
Orang udik
:(TERTAWA) Ngurus Negara ya?
Hansip
: (KEPADA KAWANNYA) Lama-lama aku bunuh
juga orang ini (KEPADA ORANG UDIK) Bung ini
darimana sih?
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
58
Orang udik
: Oh saya Cuma tetangganya. Yang berkepentingan itu,
itu disana semua. Saya hanya penunjuk jalan.
Hansip
: Saya Tanya bung darimana?
Orangudik
: Saya tidak ikut pak.
Hansip
: Saya tidak peduli. Tapi anda darimana?
Orang udik
: (GUGUP) Betul saya tidak ikut pak.
Hansip
: Darimana?
Orang udik
:(GUGUP) Saya tidak tahu. (Putu Wijaya, 1992: 3)
Orang udik merupakan gambaran dari masyarakat kalangan bawah
yang sering ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Hansip menanyakan
tentang asal-usul orang udik dengan nada yang keras dan mengancam,
sehingga orang udik yang ditanyai menjadi gugup dan ketakutan karena cara
bertanya hansip dengan nada yang keras. Hal itu dapat dilihat dalam nukilan
berikut.
Hansip
: Sebentar. Bung (MENUNJUK KE PISAUNYA) Tahu
apa ini?
Orang udik
: Saya salah Pak. Saya minta ampun.
Hansip
: Nanti dulu. Tahu ini apa?
Orang udik
: Belati Pak.
Hansip
: Dan ini (MENUNJUK PADA PANGKATNYA) Apa
ini? (MENARIK LENGAN KAWANNYA DAN
MENUNJUK TANDA PANGKAT) Apa ini?
Hansip
: He, kamu mau apa?
Hansip
: Diam semprul! Kami ini Hansip, kami ditugaskan
menjaga Bapak dengan resmi. Kalau kami melakukan
sesuatu dengan pisau ini apa saja kek, artinya juga
resmi. Paham? (Putu Wijaya, 1992: 4)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
59
Dari nukilan cakapan diatas dapat dilihat bagaimana aparat yang ada
dalam naskah lakon Aum ini adalah hansip sudah menyalahgunakan fasilitas
Negara yaitu seragam dan belati. Fasilitas tersebut seharusnya digunakan
secara tepat yaitu untuk bertugas menjaga keamanan rumah Bupati. Oleh
hansip-hansip dalam naskah lakon ini fasilitas tersebut digunakan bukan untuk
menjalankan tugas yang semestinya dijalankan, tetapi digunakan untuk
menakut-nakuti dan mengusir orang-orang udik yang mau menghadap dan
bertemu langsung dengan Bupati untuk menanyakan langsung perihal yang
telah mereka alami selama ini. Hal yang dilakukan hansip tersebut jelas sangat
menyimpang dari apa yang semestinya dilakukan.
Dalam naskah lakon Aum ini jelas sekali Putu Wijaya ingin mengkritik
apa yang telah dilakukan aparat pada umumnya terhadap masyarakat. Aparat
seharusnya melindungi dan melayani masyarakat sebagai tugas Negara yang
diemban, bukan menyalahgunakan wewenang itu untuk menindas dan
menakut-nakuti masyarakat. Bahkan sampai sekarang hal tersebut masih
sering terjadi di lingkungan sekitar kita. Mereka seharusnya melindungi dan
melayani masyarakat dengan sungguh-sungguh, bukan menyalahgunakan
tugasnya dengan seenaknnya sendiri dan tidak mau menyadari kesalahannya.
Tindakan aparat keamanan yang menyalahgunakan fasilitas Negara
juga tampak dalam nukilan naskah berikut ini.
Hansip
: Situ datang kemari dengan maksud baik bukan? Jadi
tidak usah takut.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
60
Orang udik
: Ya, baik pak.
Hansip
: Mata Bapak ini merah bukan marah, dia berjaga terus
tadi malam demi tugas.
Orang udik
: Ah, Bapak ini tidur terus kok Pak.
Hansip
: He, kamu jangan kurang ajar ya!
Orang udik
: Lho betul kan Pak, bapak tidur terus, waktu Bapak
Bupati masuk kan saya yang buka pagarnya, heee. Lupa
ya.
Hansip
: (BINGUNG) Harus dipukul benar ini kalau begini.
Kacau juga. Hati-hati ya.
Orang udik
: Maaf Pak.
Hansip
: Sudah kembali kesitu. (Putu Wijaya, 1992: 6)
Dalam nukilan diatas tampak bahwa hansip yang menjaga kediaman
Bupati tidak menjalankan tugas mereka dengan baik. Mereka seharusnya
selalu siap siaga menjaga kediaman Bupati, bukan seenaknya sendiri dalam
melakukan tugasnya. Dalam percakapan diatas menyebutkan bahwa ketika
Bupati pulang yang membukakan pagarnya adalah salah satu dari orang udik,
bukannya hansip yang menjaga kediaman Bupati. Padahal tugas seperti itu
seharusnya yang melakukan adalah hansip yang sedang berjaga. Tetapi hansip
yang berjaga malah tidur dengan pulas tanpa mengetahui kalau bapak Bupati
sudah pulang. Pagi harinya ketika permasalahan tersebut diadukan kepada
hansip lain yang datang untuk bertugas pagi hari, hansip yang bertugas malam
dan tertidur tadi marah dan tidak terima kalau ia dibilang tidur terus. Hansip
yang berjaga malam tidak terima dan mau memukul orang udik yang
mengatakan keadaan yang sebenarnya bahwa hansip semalaman hanya tidur
terus.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
61
Disini aparat yang dilukiskan oleh hansip malah bertindak sewenangwenang terhadap masyarakat yang seharusnya dilayani dan dilindungi. Hal itu
tampak dalam nukilan berikut.
TIBA-TIBA HANSIP YANG KLIMIS LANGSUNG MEMUKUL.
ORANG ITU JATUH
Hansip : Awas dia bawa pisau! (MENENDANG)
HANSIP YANG MENENDANG ITU KEMUDIAN MAU
MEMBUNYIKAN SEMPRITAN. SEMPAT TERDENGAR SEKALI
KEMUDIAN SEGERA KAWANNYA MENANGKAP.
Hansip : Hus ngawur, nanti Bapak bangun.
Hansip : Oh sorry.
Hansip : Betul dia bawa pisau?
Hansip : Entah. Mungkin ya.
Hansip : Lho kok berani gitu tadi?
Hansip : Ya, kali pakai firasat saja. (Putu Wijaya, 1992: 6)
Dari nukilan cakapan-cakapan diatas dapat kita lihat bahwa
penindasan yang dilakukan oleh oknum aparat kepada orang-orang kaum
kalangan bawah. Tanpa jelas apa masalahnya tiba-tiba memukul orang udik.
Hal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan atasan yang dalam naskah lakon
ini adalah Bupati.
Perlakuan hansip yang memukul orang udik tanpa ada sebabnya
membuat teman dari orang udik yang dipukul menanyakan alasan kenapa
temannya dipukul. Kedua hansip itu bingung dan menjawab bahwa mereka
memukul orang udik dengan alasan menjalankan tugas dari pimpinan. Padahal
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
62
sebenarnya pimpinan tidak tahu apa yang dilakukan oleh hansip. Seperti
terlihat dalam nukilan berikut.
Orang udik
: Kenapa dipukul Pak?
Hansip
: (KEPADA KAWANNYA) Kenapa?
Hansip
: Maaf kami hanya menjalankan tugas.
Orang udik
: Bapak siapa?
Hansip
: Lho, lho ini sama saja semprul.
Hansip
: Saya? Maksud saudara kami ini? Kami hansip resmi
disini. Tugas kami menjaga rumah Bapak. (Putu
Wijaya, 1992: 7)
Kesulitan yang dialami oleh orang udik ketika ingin bertemu dengan
Bupati disebabkan oleh ulah hansip yang menghalang-halangi karena merasa
itu adalah tugas mereka untuk mengatur siapa saja yang ingin bertemu dengan
Bupati. Dalam hal ini Bupati tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh
hansip. Padahal tugas hansip bukan untuk menghalang-halangi tetapi untuk
melayani dan menjaga stabilitas keamanan rumah Bupati. Hal itu dapat dilihat
dari nukilan berikut.
Orang udik
: Rumah Bapak kok dijaga, apa kami tidak boleh
ketemu beliau?
Hansip
: Tergantung dari urusannya apa?
Orang udik
: Urusannya saya kira karena kami perlu ketemu beliau
sekarang Pak.
Hansip
: (TEMANNYA MAU BICARA TAPI DICEGAH)
Tapi Bapak sedang tidak ada.
Orang udik
: Lho kemarin sore katanya Bapak ada, tapi repot,
sekarang kok bisa tidak ada kemana ya. Jalannya kan
hanya satu disini?
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
63
Orang udik
: Pak Bupatiiiiiiiiiiiii !
Hansip
: Lho, lho, lho, jangan ribut nanti Bapak bangun. Ssstttt
! (MENDEKAT) Jangan berisik ini masih pagi. (Putu
Wijaya, 1992: 7)
Dari nukilan dialog diatas dapat dilihat bahwa rombongan orang-orang
udik selalu dipermainkan oleh aparat yang menjaga rumah Bupati. Mereka
ditipu dengan mengatakan bahwa Bupati sedang repot, sedang pergi, dan
hansip yang menjaga rumah Bupati selalu meremehkan dan mempermainkan
orang-orang kecil. Padahal apa yang dilakukan hansip itu bukan merupakan
perintah Bupati. Hansip-hansip yang menjaga rumah bupati bukannya
memberikan pelayanan dan perlindungan kepada orang-orang udik yang ingin
menghadap kepada bupati, tapi mereka malah mempermainkan orang-orang
udik dan bertindak sewenang-wenang kepada mereka. Seperti terlihat dalam
nukilan berikut.
Wanita : Kami datang tidak dengan maksud apa-apa. Kami hanya ingin
bertanya.
Wanita : Ya, hanya sekedar bertanya. Jangan tembak ya pak.
Wanita : (MENGACUNGKAN TELUNJUK DAN JARI TENGAH)
Pis pak pis. Jangan tembak.
Hansip : Tembak, siapa yang menembak? O alah apa kau tadi
nembak?
Hansip : Tembak saja semuanya. Tembak!!!!
WANITA-WANITA ITU BERTERIAK DAN LARI MUNDUR.
Hansip : Lho, lho jangan!
Hansip: Tembak, tembak semua sampai ambrol! Dar-der-dor-dar-derdor…. (TERTAWA TERKEKEH-KEKEH)
Hansip : O main-main.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
64
Hansip : Anjing kurap! Lama-lama tidak akan main-main lagi. Mau
apa kamu sebenarnya kemari. Mau menanyakan apa?
Tanyakan saja nanti kami sampaikan. Memangnya bapak
Cuma ngurus kamu. (Putu Wijaya, 1992: 8)
Apa yang dilakukan hansip dengan memanfaatkan posisi mereka
sebagai aparat Negara, seenaknya sendiri mengadili orang tanpa ada kesalahan
yang jelas. Hansip-hansip itu sengaja mempermainkan orang-orang udik yang
mau menghadap bupati. Mereka menggunakan alat yang diberikan Negara
untuk bertindak sewenang-wenang. Sehingga membuat rombongan orangorang udik ketakutan dengan ancaman tembakan yang dilakukan oleh hansip.
Hansip bertindak seenaknya sendiri dengan dalih apa yang mereka lakukan
adalah perintah Bupati dan bersifat resmi. Padahal yang mereka lakukan itu
tidak ada sangkut pautnya dengan bupati, bahkan bupati tidak tahu apa yang
dilakukan oleh hansip-hansip yang menjaga rumahnya terhadap orang-orang
udik yang datang ingin menghadap kepadanya.
Ketidaktahuan pemimpin terhadap apa yang dilakukan bawahannya
juga tampak dalam nukilan cakapan-cakapan dibawah ini.
Kepala keluarga
: Ada yang belum puas? Kita datang dari jauh,
apalagi ini merupakan penentuan, semua harus
merasa puas. Coba ingat-ingat apa lagi.
Orang udik
: Saya tadi dipukul itu kenapa?
Bupati
: Dipukul, di depan rumah Bapak kamu dipukul? Ck ck
ck, siapa oknum pelakunya?
Orang udik
: Betul Pak, mentang-mentang kami orang udik, dikira
biasa kena pukulan. Untung saya kuat, kalau tidak wah,
padahal kami hanya mau menghadap Bapak. Sejak
kapan menghadap Bapak itu kena pukul? Tapi saya
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
65
tidak menuntut, kasihan orangnya. Nanti Bapak pecat
dia, keluarganya bias makan batu semua. Biar dia tahu
saja, saya terima segala perlakuannya dengan sabar.
Tapi nanti di akherat itu urusan dia.
Bupati
: Tidak, jangan. Itu malah mengacaukan. Bilang saja
siapa?
Hansip
: Terus terang saya Pak. Daripada dihukum di akherat
lebih baik dibayar tunai sekarang.
Bupati
: O kamu? Sudah mulai main pukul sekarang. Tai
kucing. Pulang sana! Merusak citra saja kamu. Pergi!
Hansip
: Tapi celananya Pak, masak saya pulang pakai kolor,
bisa langsung dibunuh istri. (Putu Wijaya, 1992: 21)
Ketika Kepala keluarga dan orang udik bertemu langsung dengan
Bupati dan mengadukan apa yang telah diperbuat oleh kedua hansip yang
berjaga, Bupati kaget bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh kedua hansip
sudah sangat keterlaluan. Kedua hansip itu bertindak semaunya sendiri dengan
memanfaatkan jabatannya. Ketika apa yang dilakukan oleh kedua hansip itu
dilaporkan oleh orang-orang udik, Bupati merasa heran dan kaget mengetahui
kenyataan bahwa hansip yang berjaga dirumahnya bertindak sewenangwenang dan semaunya sendiri. Bupati marah-marah kepada kedua hansip itu,
bahwa apa yang telah mereka lakukan bisa merusak citra hansip di mata
masyarakat. Dari dialog diatas dapat kita ketahui, apa yang dilakukan oleh
hansip itu sudah melebihi batas dan perlakuan mereka itu tidak diketahui oleh
Bupati seandainya orang-orang udik itu tidak memberitahu dan melaporkan
kejadian yang sebenarnya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
66
Bahkan hansip-hansip itu juga menggunakan wewenangnya untuk
menindas dan menakut-nakuti masyarakat. Hal itu dilakukan dibelakang
pemimpin sehingga pemimpin tidak tahu apa yang dilakukan para aparat
sebelum mendapatkan laporan dari masyarakat yang mengalami hal itu.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ketertindasan selalu lekat dengan
kalangan kaum bawah, keberadaan mereka seolah-olah hanya untuk
dipermainkan. Padahal mereka membutuhkan perlindungan seperti rakyat
yang lainnya. Masyarakat kalangan bawah seolah-olah hanya dianggap
sebagai pelengkap saja dan seperti tak ada gunanya. Dan yang lebih sering
terjadi kaum bawah kemudian ditindas dan dibungkam dengan segala cara
agar jangan menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi.
c. Ketidakadilan.
Masyarakat marginal dipahami sebagai masyarakat yang tersisih atau
tersisihkan dari pembangunan sehingga tidak mendapat kesempatan mencicipi
bagian dari kue pembangunan. Dalam pemahaman yang lebih radikal
masyarakat marginal adalah kelompok-kelompok sosial yang dimiskinkan
oleh pembangunan (Jastin M. Sihombing, 2005: 7). Secara sosiologis, latar
belakang yang mengungkapkan ciri-ciri kaum marginal sebagai suatu bentuk
masyarakat yang terpinggirkan, masyarakat yang dipenuhi dengan jumlah
pengangguran dan tenaga produktif yang tidak memiliki kesempatan untuk
turut andil dalam memanfaatkan hasil-hasil pembangunan, pada akhirnya akan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
67
memicu timbulnya suatu kondisi sosial yang berpotensi memunculkan
gangguan terhadap stabilitas masyarakat yang ideal.
Kondisi sosial yang dialami oleh kalangan masyarakat kaum bawah
yang selalu tertinggal dan terpinggirkan oleh pembangunan sehingga
menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat. Kalangan masyarakat bawah
selalu tertinggal dan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Ketidakadilan yang dimaksud dalam pembahasan kali ini lebih
mengarah kepada ketidakadilan dalam mendapatkan haknya sebagai warga
Negara. Hal itu sangat dipengaruhi oleh tidak meratanya pembangunan yang
digalakkan oleh pemerintah. Tidak semua lapisan masyarakat dapat
merasakan dampak dari pembangunan dan akan mengakibatkan ketimpangan
antara yang satu dengan lainnya. Masyarakat yang tidak dapat menikmati
hasil dari pembangunan akan merasa tersisihkan dan merasa bahwa
pemerintah tidak adil dalam dalam melakukan pembangunan, sehingga akan
menimbulkan ketimpangan dan ketidak adilan dalam segala bidang. Seperti
terlihat dalam nukilan berikut.
Bupati : Kok jadi rame sekali.
Hansip : Aduh. Nah inilah soalnya pak. Mereka sudah menunggu sejak
kemarin mau menghadap.
Bupati : Apa?
Hansip : Begini Pak. Kami sudah berusaha untuk menunjukkan bahwa
akhir-akhir ini kesibukan bapak sedemikian rupa sehingga mau
tidak mau semuanya harus mengikuti.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
68
Bupati : Tai Kucing! Kamu biarkan orang-orang ini menunggu disini
sejak tadi malam? Gila! Mereka menunggu sejak tadi malam
untuk menghadap, sejak tadi malam? Ini keterlaluan! Kamu
keterlaluan! (Putu Wijaya, 1992: 16)
Dari nukilan dialog diatas dapat kita lihat bahwa bupati merasakan
suasana didepan rumahnya menjadi ramai sekali, dan ternyata keramaian yang
ada itu dikarenakan banyaknya orang udik yang berkumpul didepan rumahnya
untuk menemuinya. Tetapi bupati kaget mendapatkan penjelasan dari kedua
hansipnya bahwa serombongan orang udik yang ada didepan rumahnya dan
berniat menemuinya ternyata sudah menunggu sejak tadi malam. Kedatangan
mereka tidak diberitahukan kepada bupati. Mengetahui kenyataan bahwa
hansip-hansipnya berusaha menghalangi rombongan orang udik yang berniat
menemuinya, bupati menjadi marah dan mengatakan bahwa siapa saja yang
mau menemuinya tidak boleh dihalang-halangi, karena itu hak rakyat untuk
bertemu pimpinannya. Bupati marah dan menganggap apa yang dilakukan
oleh kedua hansipnya adalah sesuatu yag sangat keterlaluan. Hal itu juga
dapat dilihat dari nukilan berikut.
Hansip : Itulah pak. Makanya.
Hansip : Makanya apa? Sudah tidak apa pak, ini biasa. Kalau mau
menghadap ada orang juga menunggu sampai satu bulan.
Bupati : Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan orang menunggu
untuk menghadap. Ini suara rakyat yang langsung dan murni,
lebih penting dari yang lain-lain. (Putu Wijaya, 1992: 16)
Kemarahan bupati semakin menjadi, hal itu dikarenakan bupati
menganggap bahwa suara rakyat sangat penting untuk diperhatikan. Karena
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
69
pemimpin berasal dari rakyat dan untuk mendengarkan kepentingan
rakyatnya.
Dari percakapan-percakapan diatas dapat kita lihat bahwa apa yang
dilakukan oleh hansip dengan menghalangi segerombolan orang udik yang
datang untuk menemui bupati adalah kesalahan yang sangat besar.
Ketidakadilan dalam mendapatkan pelayanan public dirasakan oleh orangorang udik yang mau menghadap bupati. Ketidakadilan itu dirasakan orangorang udik dari ulah hansip yang menjaga rumah bupati. Bahwa rakyat kecil
yang mau menghadap selalu mendapatkan kesulitan. Kesulitan yang
didapatkan itu tidak jelas alasannya. Ketika para penguasa berhadapan dengan
orang kecil. Sering terjadi pemimpin selalu meremehkan mereka. Hal itu
dapat dilihat dari nukilan berikut.
Bupati : Ibu ini kemari mau menanyakan apa? Jangan ngajak ngobrol,
waktu saya sempit. Sebentar lagi saya akan dijemput untuk
mengunjungi pembukaan gedung olahraga, setelah itu ada
seminar, kemudian penataran, lalu terus ke daerah. (Putu
Wijaya, 1992: 19)
Perkataan Bupati bahwa suara rakyat itu lebih penting dari yang lainlain ternyata tidak dapat ditepati oleh Bupati sendiri. Karena bupati
mengatakan bahwa waktu yang dimilikinya untuk menghadapi orang udik
sangat sempit, karena ia harus menghadiri bermacam acara yang lain. Hal itu
tampak bahwa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang ada di udik
dirasa kurang penting karena masih ada acara lain yang lebih penting daripada
menerima aspirasi dari rakyatnya. Itu merupakan salah satu ketidakadilan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
70
yang didapatkan oleh orang udik, karena permasalahan mereka dianggap tidak
penting oleh bupati. Bupati menganggap bahwa menghadiri acara pembukaan
gedung olahraga, seminar, penataran dan lain-lain dianggap lebih penting
daripada mendengarkan keluhan dari masyarakat kecil. Hal itu juga dilihat
dari nukilan berikut.
Hansip
: Sudah cepat bu, pak bupati sempit waktunya.
Kep keluarga : Saya tidak bisa bicara disempit-sempitkan. Ratusan
kilometer saya datang kemari untuk bicara banyakbanyak. Nasib kami semua tergantung dari jawaban
bapak.
Bupati
: Karena itu katakan dulu apa?
Kep keluarga : Nanti dulu jangan mendesak. Kalau bapak tidak punya
waktu, lebih baik kami menunggu sampai ada waktu.
Saya tidak mau diberikan jawaban asal menjawab saja.
Saya ingin diberikan penyelesaian. Sebab kalau ini juga
tidak selesai sekarang, kami akan mengambil putusan
yang terakhir. Soalnya kami sudah dioper-oper dari satu
orang ke orang lain. Lalu siapa yang mesti menjawab
ini semua. (Putu Wijaya, 1992: 20)
Kepala keluarga merasa bahwa selama ini ia dan rombongannya
sebagai masyarakat kecil kalau mau menyampaikan permasalahan selalu saja
dioper-oper dan dipermainkan oleh orang lain (dalam hal ini adalah mereka
yang berkuasa). Begitupun juga dengan bupati, ia mengatakan bahwa
waktunya sempit untuk meladeni pertanyaan dari orang-orang udik yang
datang kepadanya. Padahal apa yang ingin disampaikan oleh orang-orang udik
ini sangat penting dan menyangkut kelangsungan hidup mereka. Orang-orang
udik merasa kebingungan, kepada siapa lagi mereka harus menyampaikan
pertanyaan mereka. Karena semua orang merasa bahwa mereka tidak punya
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
71
waktu untuk mendengarkan pertanyaan orang udik yang merupakan
masyarakat kalangan bawah.
Kep keluarga : Kami sudah bertanya sesudah mencoba mengerti tapi
tak habis-habisnya mengerti. Dan kami mencari orangorang yang pantas ditanyai karena kami yakin makin
lama makin banyak yang tidak bisa kami jawab sendiri
dan memerlukan ahli-ahli. Seperti tukang tahu, tukang
gado-gado, tukang listrik, dukun, mantri, guru sekolah,
pak lurah bahkan juga camat dan dokter. Seperti bapak,
kami juga membuka hati kami lebar-lebar sampai
robek, karena ingin penjelasan. Tapi apa? Apa yang
terjadi? Apa yang terjadi Selama ini? Setelah duit kami,
rumah kami, harta kamiludes sampai ke sawah dan
tabungan kami habis. Apa makna semua ini? Ini terlalu
berat buat kami! Dan kenapa hanya kami, kami yang
dicecer? (MENGGAPAI SAKIT) (Putu Wijaya, 1992:
30)
Kepala keluarga berusaha menjelaskan kepada Bupati bahwa selama
ini ia sudah berusaha untuk mencoba mengerti tentang kejadian yang
menimpa mereka. Kepala keluarga dan rombongan orang-orang udik sudah
bertanya kepada siapa saja yang mereka temui dan menanyakan perihal
permasalahan yang mereka alami. Mereka sudah berusaha dengan sangat
sabar, sampai menghabiskan apa yang mereka miliki untuk mencoba
menyelesaikan permasalahan yang mereka alami, tetapi yang didapat oleh
rombongan orang-orang udik tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Mereka merasa bahwa permasalahan mereka terlalu berat untuk ditanggung.
Seolah-olah apa yang mereka alami tidak diperhatikan oleh orang lain yang
ada disekitar mereka. Rombongan orang-orang udik ini memutuskan untuk
menghadap kepada Bupati dan menanyakan tentang permasalahan mereka.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
72
Rombongan orang-orang udik ini berharap Bupati bisa membantu
menyelesaikan permasalahan yang selama ini mereka alami.
Bupati
: Sebentar. Saya mulai tahu. Tidak puas karena, karena,
karena.
Kep keluarga : Saya tidak tahu kenapa! Jangan Tanya apa-apa lagi.
Saya bertanya, saya datang dari rimba pertanyaan yang
jauh dan sesat. Kami ingin memecahkan beban yang
makin sarat ini, jangan diajak ngomong lagi, berikan
kami jawaban. Kamu bupati, kamu mengaku bupati,
harapan kami yang terakhir, karena kami sudah
bertekad, hari ini, kalau tidak ada jawaban kami akan
mengambil keputusan. Keputusan yang terakhir
(MENGGAPAI KESAKITAN DAN BERTERIAK)
Haaaaaaa! (Putu Wijaya, 1992: 31)
Dengan menghadap kepada bupati, Kepala keluarga dan rombongan
orang-orang udik ini berharap bahwa Bupati bisa membantu menjawab dan
menyelesaikan permasalahan yang selama ini mereka alami. Karena mereka
sudah kebingungan dan seperti orang yang tersesat begitu jauh. Rombongan
orang-orang udik berharap dengan menghadap bupati dapat menyelesaikan
masalah mereka yang semakin sarat. Dengan sangat banyaknya permasalahan
yang dialami oleh rombongan orang-orang udik ini membuat mereka semakin
kebingungan dan ingin segera mengakhiri hidupnya untuk dapat menghadap
kepada Tuhan yang maha kuasa. Karena mereka menganggap bahwa hanyalah
Tuhan yang mempunyai keadilan yang dapat menjawab dan menyelesaikan
semua permasalahan mereka. Keputusan yang ingin dilakukan oleh
rombongan orang-orang udik ini diambil karena mereka merasa bahwa selama
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
73
ini hanya dipermainkan dan dioper kesana-kemari tanpa ada yang mau
mengerti tentang semua permasalahan yang dialami.
Dari percakapan-percakapan yang ada diatas dapat ditangkap bahwa
rakyat berhak untuk mendapatkan hak yang sama satu dengan yang lainnya.
Mereka berhak mendapatkan keadilan, pelayanan dan perlakuan yang sama.
Hal itulah yang ingin disampaikan oleh Putu Wijaya dalam naskah lakon Aum
ini. Putu Wijaya menggambarkan tokoh perempuan yang menjadi kepala
keluarga dan semua lelaki yang ada di udik mengandung dan melahirkan
anak-anak. Tujuan itu dimaksudkan bahwa laki-laki dan perempuan
mempunyai hak yang sama sebagai satu kesatuan masyarakat.
d. Kemiskinan.
Kritik sosial mengenai masalah kemiskinan dalam penelitian ini
mengacu pada masalah kemiskinan yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada
dalam naskah lakon Aum karya Putu Wijaya. Kemiskinan secara umum
seringkali dipahami sebagai suatu kondisi dimana seseorang tidak memiliki
kemampuan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang bersifat primer (papan,
sandang, pangan) secara wajar sesuai dengan kebutuhannya tersebut. Ala
(1981) dalam Bagong Suyanto menyatakan kemiskinan sebagai kondisi
masyarakat yang kekurangan barang-barang dan pelayanan yang dibutuhkan
untuk mencapai standar hidup yang layak atau kurangnya pendapatan untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang pokok (1995: 7). Lebih jauh, adanya
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
74
kemiskinan dalam kehidupan masyarakat mengharuskan pihak-pihak yang
mengalami kondisi seperti itu untuk berinteraksi secara sosial dengan pihakpihak lain yang memiliki taraf kehidupan lebih baik, dan mungkin lebih
memiliki sarana-sarana pemuas kebutuhan secara berlebih dibandingkan
dengan taraf kebutuhan yang diperlukan. Interaksi yang mencerminkan
kesenjangan demikian itu, sangat dimungkinkan untuk munculnya suatu
konflik. Hal ini dikarenakan antara pihak-pihak yang saling bertemu tersebut
terdapat perbedaan kondisi dan kepentingan, terutama ditinjau dari latar
belakang situasi yang membentuk perbedaan kedua belah pihak tersebut.
Pruitt & Rubin (2001: 27) menjelaskan, bahwa perbedaan persepsi
mengenai kepentingan, terjadi ketika tidak terlihat adanya alternatif yang
dapat memuaskan aspirasi kedua belah pihak, dan salah satu pihak memiliki
aspirasi tinggi atau karena alternatif yang bersifat integratif sulit didapat.
Ketika perbedaan tersebut tidak dapat dipertemukan dalam satu pertalian
sosial yang intersubyektif, maka akan terciptalah suatu kondisi di mana
konflik akan hadir sebagai suatu kemungkinan. Secara signifikan, masalah
kemiskinan dalam kehidupan sosial dengan demikian dapat dikatakan sebagai
salah satu faktor yang memungkinkan untuk terjadinya pertentanganpertentangan, yang pada tahap klimaksnya akan menyebabkan seseorang akan
lebih bertindak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan secara
perikemanusiaan, seperti halnya hukum dan moralitas.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
75
Naskah lakon Aum karya Putu Wijaya menampilkan masalah
kemiskinan dalam alur cerita yang dialami oleh para tokoh-tokohnya yang
sangat mempengaruhi orientasi dan pola pikir mereka terhadap kehidupan,
sehingga pada akhirnya hal tersebut turut menentukan perjalanan hidup tokohtokoh tersebut yang berakhir secara tragis.
Berikut ini diberikan penjelasan mengenai kemiskinan dalam naskah
lakon Aum dengan berpijak pada teori sosiologi sastra, dikarenakan masalah
kemiskinan dalam naskah lakon tersebut merupakan masalah yang tidak bisa
terlepas dari faktor-faktor sosiologis dalam wujud konkretnya sebagai karya
sastra. Seperti masalah perpindahan penduduk (urbanisasi), lapangan
pekerjaan, dan lebih jauh dalam penyimpangan-penyimpangan kebijaksanaan
dan peraturan pemerintah oleh oknum birokrasi, serta gaya hidup masyarakat
itu sendiri sebagaimana dialami para tokoh dalam naskah lakon Aum karya
Putu Wijaya tersebut.
Problem sosial kemiskinan menghambat potensi masyarakat untuk
berkembang dan pada akhirnya justru menimbulkan penderitaan bagi
masyarakat. Kemiskinan membuat masyarakat marginal tidak layak
menikmati kualitas kehidupan, sebagaimana layaknya manusia, mereka kalah
dalam sistem ekonomi kota yang mengutamakan persaingan, dan pada
akhirnya mereka akan terpinggirkan dari proses perkembangan kota.
Kebanyakan dari masyarakat kampung masih bermata pencaharian sebagai
petani, mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan yang cukup.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
76
Orang-orang udik adalah sekumpulan orang yang datang dari kampung
yang hidup dalam kemiskinan, kemudian mereka mendatangi Bupati untuk
mengadukan permasalahan-permasalahan mereka. Dengan kondisi yang
mereka alami, orang-orang udik berniat mengajukan permasalahan yang
mereka alami dikampungnya kepada Bupati. Kondisi kemiskinan menjadi
salah satu permasalahan yang mendorong mereka untuk mendatangi Bupati
dan mengajukan pertanyaan mereka dengan harapan bahwa Bupati sebagai
pemimpin dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang mereka alami.
Dalam naskah lakon Aum kondisi tersebut dijabarkan oleh Putu Wijaya
sebagai berikut.
Orang udik
: Saya ini orang desa Pak. Saya tidak tahu apa-apa.
Bapak sendiri kan pernah ke desa. Kami orang tani
saja. Asal ada pacul cukup, kami tidak seperti orang
kota. Saya sendiri tidak ingin bertemu dengan bapak
Bupati. (Putu Wijaya, 1992: 4)
Dari cakapan diatas Putu Wijaya dengan jelas menggambarkan
keberadaan orang desa yang kesehariannya hanya bekerja di sawah. Mereka
tidak tahu apa-apa selain mengerjakan sawahnya. Digambarkan pula bahwa
kebiasaan orang desa sangat berbeda dengan orang yang hidup di perkotaan,
walaupun gambaran tersebut dalam cakapan diatas tidak digambarkan secara
langsung. Kemiskinan yang dialami oleh orang-orang udik dalam naskah
lakon ini menyebabkan keterbelakangan, karena mereka tidak mendapatkan
pendidikan dan pengetahuan seperti yang didapatkan oleh orang-orang kota.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
77
Dalam naskah lakon Aum ini terdapat adanya penduduk desa yang
bekerja di pertanian, seperti yang dialami oleh tokoh orang-orang udik. Hal ini
karena minimnya lapangan pekerjaan yang ada di pedesaan. Orang-orang udik
hidup di desa yang jauh dari ilmu pengetahuan dan teknologi modernisasi.
Mereka adalah orang-orang yang hidup di desa dengan segala keterbatasan
dan serba berkekurangan sehingga mereka tidak betah lagi untuk tinggal di
desa yang menurut mereka tidak pernah ada kesempatan untuk mereka
berkembang dan tidak turut merasakan hasil dari pembangunan.
Dalam naskah lakon ini kemiskinan menyebabkan orang-orang udik
tertinggal dan kurang mendapatkan pendidikan yang selayaknya. Hal itu
tampak dari dialog-dialog dan sikap yang sangat lugu yang ada pada setiap
tokoh dalam naskah lakon ini. Seperti nukilan berikut ketika berhadapan
dengan hansip yang merasa kehilangan pisau dinasnya.
Orang udik
: Ini pisau Bapak, saya pinjam tadi malam untuk ngupas
ketupat.
Hansip
: Jailah senjata dinas dipakai untuk ngupas ketupat.
Nggak salah tu? Lain kali ngomong dulu ya?
Orang udik
: Ya Pak. Habis tadi malam kan Bapak tidur.
Hansip
: Kelihatannya saja tidur, sebetulnya saya bangun itu.
Saya lihat saudara ngambil pisau itu langsung dari situ.
Iya kan?
Orang udik
: Saya ngambil langsung dari pinggang Bapak, habis
sudah permisi-permisi tidak nyahut-nyahut, ya daripada
tidak saya ambil saja dulu, urusan belakang. Tapi maaf
ya Pak. (Putu Wijaya, 1992: 3)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
78
Dari nukilan dialog diatas tampak sekali bagaimana keluguan orang
udik ketika memakai pisau dinas milik hansip yang dipakai oleh orang udik
untuk ngupas ketupat. Padahal semestinya pisau dinas hanya dipakai untuk
dinas saja, bukan dipergunakan untuk ngupas ketupat seperti halnya pisau
dapur yang biasa dipakai. Keluguan dan ketidaktahuan orang udik dalam
memakai dan menempatkan sesuatu pada tempatnya menampakan bagaimana
kurangnya pendidikan yang didapatkan oleh masyarakat kalangan bawah.
Ciri yang biasa terlihat dari orang kampung adalah bersifat cenderung
menerima apa adanya dan kurangnya informasi dan sangat minim dengan
referensi apapun. Hal itu dikarenakan kurangnya pendidikan yang didapatkan
oleh orang kampung seperti halnya pendidikan yang didapatkan oleh
kebanyakan orang-orang kota. Sifat kepolosan orang udik dapat dilihat dari
dialog berikut.
Orang udik
: Tapi Bapak Bupati tadi malam sudah pulang ya kan
Pak. Saya lihat sendiri didalam mobil, kan saya yang
membuka pintu karena Bapak ini sudah tidur. Ya kan
Pak. Pak Bupati kan orangnya, maaf kulitnya hitam
seperti orang negro ya. Hidungnya, maaf mancung tapi
bengkok betet, bukan? Ya, saya lihat sendiri. Hampir
saja saya ngedahin, tapi malu, nanti dikira yang nggaknggak. Ya kan Pak. (Putu Wijaya, 1992: 6)
Tindak tutur orang-orang desa yang kurang mendapatkan pendidikan
yang layak biasanya menyebutkan ciri-ciri fisik dengan membandingkan
perumpamaan suatu benda. Seperti contoh yang dapat kita lihat dari dialog
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
79
diatas “hidungnya mancung, tapi bengkok betet, kulitnya hitam seperti negro”
dan yang lain-lainnya.
Selain kurang mendapatkan pendidikan yang layak seperti halnya yang
lain, kemiskinan yang diangkat dalam naskah lakon ini jaga membuat orangorang udik yang merupakan kalangan masyarakat bawah mudah putus asa
dalam menghadapi permasalahan yang mencekik mereka dan tak kunjung ada
penyelesaiannya. Keputusasaan yang dialami oleh orang-orang udik dapat
dilihat dari nukilan dialog Ucok berikut.
Ucok : Bunuh kami semua sekarang kalau kau tak mau membuka
misteri yang kau tebarkan sepanjang jalan yang bercabang
berliku-liku sepanjang hidup kami yang kumuh dan mengejek
makin keras setiap hari. Bendera kami melambai diatas
kuburan yang melebar di desa yang tandus dan penuh dengan
anak-anak yang membuka moncongnya sebagai setan yang
putus asa. Kalau akhirnya kau akan memasukkan kami
kedalam got mampet supaya kami menghirup bau kami
sendiri, sudah cukup, sudah lebih dari cukup, bunuh kami
sekarang! (Putu Wijaya, 1992: 44)
Ucok adalah salah satu dari rombongan orang udik yang datang
menghadap kepada bupati. Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat
kalangan bawah membuat Ucok menjadi putus asa. Keputusasaan yang
dialaminya disebabkan karena kemiskinan yang mereka alami dan
menyebabkan mereka sama sekali tidak dianggap oleh para penguasa dan
hanya dipermainkan saja. Hal itu membuat keputusasaan yang berlebihan dan
menyebabkan Ucok segera ingin mengakhiri hidupnya daripada hanya
dipermainkan saja dan dibunuh pelan-pelan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
80
Melalui kritiknya dalam pada masalah kemiskinan, Putu Wijaya
berharap agar strategi pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah dapat
ditinjau kembali karena banyak merugikan rakyat kecil, bahkan semakin
mempermiskin rakyat yang sudah miskin. Perhatian pemerintah terhadap
kurang meratanya pendidikan yang didapatkan oleh masyarakatnya juga
disoroti sangat tajam oleh Putu Wijaya. Kurangnya pendidikan menyebabkan
rakyat kecil menjadi semakin tertinggal. Pendidikan yang memadai harus
diperhatikan oleh pemerintah, sehingga semua masyarakat yang ada di Negara
ini bisa mendapatkannya. Dari tidak meratanya pembangunan yang
dilaksanakan oleh pemerintah juga membuat banyak masyarakat yang
semakin tertinggal dan mengalami kemiskinan.
Putu Wijaya berusaha menohok Pemerintah yang para penguasanya
banyak menyalahgunakan kekuasaan dan tidak mau tahu apa yang sebenarnya
terjadi pada rakyatnya. Dengan bantuan aparat mereka membersihkan para
demonstran dan orang-orang yang menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi
di masyarakat dengan dalih demi menjaga stabilitas politik yang ada. Hak
politik rakyat semakin dipersempit dan rekayasa sosial berlangsung dengan
sangat ketat. Akibat dari semua ini rakyat juga yang akhirnya semakin
menderita dan tertekan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB V
PENUTUP
Setelah melewati serangkaian pembahasan yang dibicarakan dalam babbab sebelumnya, akhirnya peneliti sampai pada bagian akhir dari seluruh
pembahasan ini. Pada bagian penutup ini peneliti akan mengemukakan beberapa
kesimpulan sebagai hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Di samping itu
akan disampaikan pula tentang saran.
A. Simpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka diperoleh simpulan
sebagai berikut.
1. Berdasarkan strukturnya, naskah lakon Aum memperlihatkan perpaduan
hubungan atas unsur-unsurnya. Unsur-unsur yang dimaksud adalah: alur, latar,
serta tema dan amanat. Alur dalam naskah lakon Aum ini menggunakan alur
maju, yaitu dengan dimulai dari awal sampai cerita itu berakhir. Adapun
tahap-tahap alur yang ada pada naskah lakon ini adalah: permulaan, pertikaian,
perumitan, puncak, peleraian, dan akhir. Dalam naskah lakon Aum ini, juga
menggunakan alur rapat, karena naskah lakon ini hanya sedikit menggunakan
narator atau pencerita, sehingga perubahan dari satu peristiwa ke peristiwa
yang lain menjadi cepat. Hal ini mengakibatkan alur menjadi cepat atau rapat,
dan secara dramatik melalui dialog tokoh-tokoh tersebut karakterisasi masingmasing tokoh muncul dalam tiga dimensional, yaitu: dimensi fisiologis,
commit to
user
dimensi psikologis, dan dimensi
sosiologis.
Aspek-aspek ruang yang
81
perpustakaan.uns.ac.id
82
digilib.uns.ac.id
digunakan adalah semua kejadian ini mengambil setting di negara Republik
Indonesia. Penggambaran latar juga diperlihatkan dengan jelas. Misalnya,
penggambaran pada sebuah suasana dan kondisi di depan rumah bupati yang
penuh dengan canda dan ketegangan yang didukung dengan perubahan ruang
dan waktu yang sangat mendukung penggambaran latarnya. Tidak ketinggalan
peran musik yang berfungsi untuk menggambarkan latar dalam suatu bentuk
suasana tertentu. Dari keseluruhan cerita, tema dalam naskah lakon Aum ini
adalah tentang kemerdekaan dan pembangunan yang dampaknya belum
dirasakan secara merata oleh masyarakat Indonesia. Amanat yang hendak
disampaikan oleh pengarang adalah sindiran secara halus kepada pemimpin
bangsa yang tidak peduli kepada nasib kaum bawah yang selalu terpinggirkan.
2. Dalam naskah lakon Aum ini, problem-problem sosial yang terkandung di
dalamnya meliputi kekuasaan, penindasan, ketidakadilan dan kemiskinan.
Kekuasaan yang selalu menindas dan tidak memperdulikan nasib masyarakat
kalangan bawah tersebut muncul karena pemimpin yang tidak mau
memperhatikan rakyatnya secara menyeluruh dan lebih bersifat menindas pada
rakyat kecil. Keadaan tersebut dapat dilihat pada naskah lakon Aum hal 28,
ketika Ucok menanyakan permasalahan yang mereka alami selama ini kepada
Bupati, tetapi oleh Bupati pertanyaan yang disampaikan oleh Ucok dianggap
lelucon dan kemudian mereka diusir oleh Bupati. Kemiskinan disebabkan
karena sulitnya mendapat lapangan pekerjaan dan kebanyakan masyarakat
tidak mempunyai modal untuk usaha. Penindasan dilakukan oleh aparat dan
penguasa karena menganggap itu adalah hak mereka dan menjai bagian dari
tugas mereka. Ketidakadilan dalam naskah lakon ini menyinggung tentang
commit to user
83
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
tidak meratanya pembangunan yang digalakkan oleh pemerintah. Sehingga
rakyat yang tinggal di pedesaan tidak sepenuhnya bisa mendapatkan hak-hak
mereka sperti yang lain. Naskah lakon ini juga menampilkan problem sosial
kekuasaan yang tidak memperdulikan keadaan masyarakat kalangan bawah.
B. Saran
Hal-hal yang perlu penulis sampaikan sebagai saran yang semoga dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan pecinta sastra, antara lain:
1. Naskah lakon atau drama adalah salah satu genre sastra yang menarik untuk
dinikmati selain karya sastra yang lain, karena selain bentuk penyampaiannya
yang berbeda, di dalamnya juga terdapat banyak sekali nilai-nilai kehidupan.
2. Kurangnya buku-buku acuan baik di perpustakaan pusat maupun perpustakaan
fakultas menjadi salah satu hambatan dalam penelitian ini. Oleh karena itu,
kepada pihak perpustakaan diharapkan dapat melengkapi buku-buku terbitan
terbaru, khususnya tentang sastra.
3. Para pengunjung perpustakaan hendaknya turut menjaga baik keberadaan
buku-buku koleksi perpustakaan fakultas maupun perpustakaan pusat. Selama
melakukan penelitian ini, penulis banyak menemukan buku dan skripsi yang
tidak utuh lagi, dan bahkan hilang.
4. Kepada para pecinta dan pemerhati sastra ada baiknya kalau mengadakan
penelitian lanjutan terhadap naskah lakon Aum karya Putu Wijaya ini, tentunya
dengan teori, pendekatan, dan metode yang berbeda sehingga akan
memberikan variasi dan pengetahuan yang baru dalam khazanah penelitian
sastra Indonesia.
commit to user
Download