Pelanggaran Hak Konsumen Pasal 4 Huruf B dan Perbuatan yang

advertisement
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Perlindungan Konsumen
Dalam sejarah perkembangan pola pemenuhan kebutuhan manusia yang
saling interdependen, terdapat dua posisi yang saling berhadapan antara produsen
dan konsumen. Pihak yang membuat atau menghasilkan barang disebut dengan
produsen, sedangkan pihak yang membutuhkan suatu barang yang dihasilkan oleh
produsen disebut konsumen.
Perkembangan ekonomi yang pesat serta kemajuan teknologi dan industry
telah menghasilkan beragam jenis barang dan/atau jasa yang variatif, sehingga
konsumen pada akhirnya dihadapkan pada berbagai jenis pilihan barang dan/atau
jasa. Kondisi tersebut dapat menguntungkan konsumen karena kebutuhan
terhadap suatu barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi, tetapi disisi
lain, menempatkan konsumen pada posisi yang lemah karena konsumen hanya
sebagai objek aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan yang besar melalui kiat
promosi dan cara penjualan yang merugikan konsumen.14
Perlindungan konsumen merupakan konsekuensi dan bagian dari
kemajuan teknologi dan industry. Kemajuan teknologi tersebut telah memperkuat
perbedaan antara pola hidup masyarakat tradisional dan masyarakat modern.
Dalam pola hidup masyarakat tradisional, mereka dapat memperoduksi barang
14
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum tentang Perlindungan Konsumen,
Gramedia, Jakarta, 2003, h. 12.
16
17
dan/atau jasa secara sederhana dan hubungan yang terjalin antara konsumen
dengan produsen juga masih sederhana, konsumen dan produsen dapat bertatap
muka secara langsung.15 Dalam masyarakat modern, produksi barang dan/atau
jasa dilakukan secara missal, sehingga menciptakan konsumen secara masal pula
(mass consumer consumption )16. Akhirnya, hubungan antara kosumen dan
produsen menjadi rumit, dimana konsumen tidak mengenal siapa produsennya
dan sebaliknya produsen juga dapat berada pada Negara lain.17
Pengaturan perlindungan konsumen tidak dimaksudkan untuk mematikan
ataupun melemahkan usaha dan aktivitas pelaku usaha, tetapi justru sebaliknya,
sebab perlindungan konsumen diharapkan mampu mendorong iklim dan
persaingan usaha yang sehat.18 Hubungan hukum antara konsumen dan pelaku
usaha telah mengalami perubahan konstruksi hukum, yakni hubungan yang
semula dibangun atas prinsip caveat emptor19 berubah menjadi caveat venditor.20
15
Inosentius Samsul, Perlindungan Konsumen, Kemungkinan Penerapan Tanggung
Jawab Mutlak, Universitas Indonesia, Jakarta, 2004, h.2.
16
17
18
Ibid.
Ibid., h.3
Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, Kencana, Jakarta, 2013, h.4
19
Let the buyer beware; bahwa pembeli menanggung resiko atas kondisi produk yang
dibelinya, maka pembeli yang tidak ingin mengalami resiko harus berhati-hati sebelum membeli
suatu produk. Doktrin caveat emptor mengharuskan si pembeli berhati-hati. Hal ini memberikan
penekanaan terhadap ketentuan bahwa pembeli agar peduli dan sadar bahwa ia sedang membeli
haknya orang lain. Maka pembeli harus berhati-hati tentang keadaanya ketika ia membeli hak
orang lain. Ibid, dikutip dari Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, ( St. Paul, Minnesota :
West Publishing, 2004), Eight Edition, h.236.
20
Let the seller beware; adalah kebalikan dari let the buyer beware, yang berarti pihak
penjual harus berhati-hati dalam memasarkan produknya, karena jika terjadi sesuatu hal terhadap
konsumen yang tidak di kehendaki atas produk tersebut, maka yang bertanggungjawab adalah
penjual.. ibid.
18
Intervensi pemerintah Indonesia sangat dibutuhkan untuk melindungi
kepentingan kosumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa, maka
pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang- Undang sebagai implementasi dari
Negara kesejahteraan untuk melindungi konsumen melalui Undang- Undang
Nomer 8 tahun 1999 tentang Perlidungan Konsumen.
Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya
kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen21. Perlindungan
konsumen mempunyai cakupan yang luas, cakupan perlindungan konsumen itu
dapat dibedakan dalam dua aspek, yaitu22:
1. Perlindungan terhadap kemungkinan barang yang di serahkan kepada
konsumen tidak sesuai dengan apa yang telah di sepakati.
2. Perlindungan terhadap diberlakukanya syarat-syarat yang tidak adil
kepada konsumen.
Dengan pengertian Perlindungan konsumen diatas, keinginan yang hendak
dicapai dalam hukum perlindungan konsumen adalah untuk menciptakan rasa
aman dan adil bagi konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup, serta tidak
semata-mata mengeksploitasi dan menjadikan konsumen sebagai alat untuk
memperoleh keuntungan yang besar bagi para pelaku usaha.
1. Asas Dalam Hukum Perlindungan Konsumen
Asas adalah sesuatu hal penting dalam membentuk peraturan yang dapat
berarti dasar, landasan, norma maupun sebuah cita- cita. Tetapi, asas bukan
21
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
22
Adrianus Meliala, Praktik Bisnis Curang, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993, h. 152.
19
sesuatu yang absolute atau mutlak, dengan arti bahwa dalam menerapkan asas
harus mempertimbangkan keadaan- keadaan khusus dan keadaan yang berubahubah.23
Terdapat 5 dasar dibentuknya Undang- Undang Perlindungan Konsumen,
yang tertuang dalam Pasal 2 UUPK yaitu :
a. Asas Manfaat; mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan ini harus memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan
pelaku usaha secara keseluruhan,
b. Asas Keadilan; partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan
secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada
kosumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan
melaksanakan kewajibannya secara adil,
c. Asas Keseimbangan; memberikan keseimbangan antara
kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam
arti materiil ataupun spiritual,
d. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen; memberikan
jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen
dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang
dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan,
e. Asas Kepastian Hukum; baik pelaku usaha maupun
konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta Negara
menjamin kepastian hukum.24
Selain asas yang telah penulis sebutkan diatas, Undang- Undang
Perlindungan Konsumen juga mempunyai tujuan agar cita- cita atau sasaran dari
lahirnya Undang- Undang tersebut dapat tercapai dengan baik, yaitu telah di
sebutkan dalam Pasal 3 UUPK. Untuk mencapai hakikat dari perlindungan
konsumen bukan hanya melalui pembentukan Undang- Undang yang dapat
melindungi konsumen, tetapi juga perlu ada penerapan pelaksanaan dari peraturan
23
Malayu S.P Hasibuan, Manajemen : Dasar, Pengertian, dan Masalah, PT Bumi
Aksara, Jakarta, 2006, h. 9.
24
Asas hukum perlindungan konsumen yang tertuang pada Pasal 5 Undang- Undang
nomor 5 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
20
tersebut dari masyarakat maupun aparat Negara agar Undang- Undang dapat
berjalan dengan efektif.
2. Hak dan Kewajiban Konsumen
Hak adalah suatu kewenangan yang diberikan oleh hukum dan layak untuk
diterima atau didapatkan oleh seseorang. Menurut Sudikno Mertokusumo, hak
adalah kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum.
Terdapat 3 macam hak berdasarkan sumber pemenuhanya, yaitu :
1. Hak manusia karena kodratnya, yakni hak yang diperoleh saat lahir
seperti hak untuk hidup dan hak untuk bernapas. Hak ini tidak dapat
diganggu gugat walaupun oleh Negara sekalipun, bahkan Negara wajib
menjamin pemenuhannya.
2. Hak yang lahir dari hukum, yakni hak yang diberikan oleh Negara
kepada warga negaranya. Hak ini dapat disebut sebagai hak hukum.
3. Hak yang lahir dari hubungan kontraktual. Hak ini didasarkan pada
perjanjian/kontrak antara para pihak.25
Hak konsumen merupakan hak yang lahir dari hubungan kontraktual yang
tercipta antara konsumen dengan pelaku usaha. Hak konsumen sangat bermacammacam dan dikenal dalam berbagai prespektif.
Dalam prespektif internasional, hak konsumen telah dikemukakan oleh
Presiden Jhon F. Kennedy yang terbagi menjadi 4 yaitu :
25
AZ Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar, PT. Daya Widya,
Jakarta, 2000, h. 55.
21
1. Hak memperoleh keamanan ( the rights to safety )
Pada aspek ini, di tujukan pada pemasaran barang dan/atau jasa
yang membahayakan keselamatan konsumen.Intervensi dan
tanggung jawab pemerintah dalam rangka menjamin
keselamatan dan keamanan konsumen sangat penting, sehingga
regulasi perlindungan konsumen sangat di butuhkan untuk
menjaga konsumen dari perilaku pelaku usaha yang dapat
merugikan dan membahayakan keselamatan konsumen.
2. Hak untuk memilih ( the rights to choose )
Hak untuk memilih merupakan hak prerogative konsumen
apakah konsumen akan membeli atau tidak membeli barang
dan/atau jasa tertentu. Oleh karena itu, tanpa di tunjang oleh hak
untuk mendapatkan informasi yang jujur, maka hak konsumen
untuk memilih tidak akan ada artinya.
3. Hak mendapat informasi ( the rights to be informed )
Hak ini merupakan hak yang fundamental bagi konsumen bila
dilihat dari sudut kepentingan dan kehidupan dari konsumen
sendiri. Informasi mengenai suatu barang dan/atau jasa tertentu
yang akan di beli oleh konsumen, haruslah diberikan secara
lengkap dan jujur sehingga tidak menyesatkan konsumen.
4. Hak untuk di dengar ( the rights to be heard )
Hak ini bermaksud untuk menjamin konsumen bahwa
kepentingan konsumen harus diperhatikan dan seharusnya
konsumen ikut dilibatkan dalam pembentukan sebuah kebijakan
yang di bentuk oleh pemerintah.Selain itu, konsumen juga harus
di dengar keluhan dan harapannya dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa tertentu yang di sediakan oleh pelaku usaha. 26
PBB melalui resolusi Nomor A/ RES/39/248 tanggal 16 April 1985, yang
telah diamandemen pada 26 Juli 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(Guidelines for consumer Protection) merumuskan 6 (enam) kepentingan
konsumen yang harus dilindungi, yaitu :
1. Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap
kesehatan dan keamananya.
2. Promosi dan perlindungan kepentingan ekonomi sosial
konsumen.
3. Tersedianya informasi yang memadahi bagi konsumen untuk
memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang
tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi.
4. Pendidikan konsumen.
26
Zulham, Op., cit, h. 48.
22
5. Tersedianya ganti rugi yang efektif.
6. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau
organisasi lainnya yang relevan dan memberikan
kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan
pendapatnya dalam pengambilan keputusan yang
menyangkut kepentingan mereka.27
Organisasi konsumen sedunia ( International Organization of Consumers
Union-IOCU) menambahkan empat hak dasar konsumen yang harus dilindungi
yaitu28 :
1. Hak untuk memperoleh kebutuhan hidup.
2. Hak untuk memperoleh ganti rugi.
3. Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen.
4. Hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
Masyarakat ekonomi Eropa juga telah menetapkan hak-hak dasar
konsumen yang perlu mendapat perlindungan, yaitu29:
1. Hak perlindungan kesehatan dan keamanan.
2. Hak kepentingan ekonomi.
3. Hak mendapat ganti rugi.
4. Hak atas penerangan.
5. Hak untuk didengar.
27
6 kepentingan konsumen yang dilindungi melalui PBB melalui resolusi Nomor A/
RES/39/248 tanggal 16 April 1985, yang telah diamandemen pada 26 Juli 1999 tentang
Perlindungan Konsumen (Guidelines for consumer Protection.
28
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, RajaGrafindo
Persada, Jakarta, 2004, h.39.
29
Inosentius Samsul, Op. cit., h.7
23
Selain hak-hak internasional di atas, Indonesia juga telah mengatur hakhak dasar konsumen sebagaimana telah diatur melalui Pasal 4 Undang- Undang
Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu sebagai berikut :
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan
barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan
kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai
kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang
dan/atau jasa yang digunakan;
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur
serta tidak diskriminatif;
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima
tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya;
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.30
Hak- hak konsumen diatas pada intinya untuk memberikan perlindungan
kepada konsumen agar konsumen merasa mempunyai posisi yang seimbang
dengan pelaku usaha, sehingga diharapkan konsumen sadar akan hak-hak yang
dimilikinya yang telah diatur dalam Undang-Undang maupun yang tidak secara
langsung diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
Selain memiliki hak, konsumen juga memiliki beberapa kewajiban.
Kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat kontraktual yang
sepatutnya diberikan dan harus dijalankan. Kewajiban konsumen sendiri telah
30
Hak-hak konsumen dalam Pasal 4 UUPK.
24
diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen, yaitu:
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian;
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau
jasa;
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa konsumen secara
patut.31
3. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
Berdasarkan Pasal 6 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, pelaku usaha mempunyai hak yaitu :
1. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan
kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang
dan/atau jasa yang diperdagangkan.
2. Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan
konsumen yang beritikad tidak baik.
3. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam
penyelesaian hukum sengketa konsumen.
4. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara
hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh
barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
5. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lain-nya.32
31
Kewajiban konsumen dalam Pasal 5 UUPK.
32
Hak Pelaku usaha dalam Undang- Undang Perlindungan Konsumen, Pasal 6.
25
Selain memiliki Hak yang telah disebutkan diatas, pelaku usaha juga
memiliki kewajiban. Kewajiban pelaku usaha menurut ketentuan Pasal 7 Undangundang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah :
1. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
2. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai
kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi
penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;
3. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan
jujur serta tidak diskriminatif;
4. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi
dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar
mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
5. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji,
dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta
memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat
dan/atau yang diperdagangkan;
6. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas
kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
7. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian
apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau
dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.33
Dilihat dari uraian di atas, jelas bahwa hak dan kewajiban pelaku usaha
bertimbal balik dengan hak dan kewajiban konsumen. Ini berarti bahwa hak
konsumen merupakan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha,
dan kewajiban konsumen merupakan hak yang akan diterima pelaku usaha.
Selain memiliki hak yang dapat diterima dan kewajiban yang harus
dijalankan, dalam upaya untuk melindungi hak-hak konsumen terhadap
pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha sebagai penyedia barang dan jasa,
pelaku usaha juga memiliki keterbatasan untuk melakukan kegiatan usahanya
yang diharapkan agar pelaku usaha tidak bertindak sembarangan dalam
melakukan kegiatan usahanya yaitu yang pada prinsipnya Undang-Undang nomor
33
Kewajiban pelaku usaha dalam Undang- Undang Perlindungan Konsumen, Pasal 7.
26
8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen mengatur 10 larangan bagi pelaku
usaha sesuai dalam ketentuan Pasal 8 ayat (1) Undang- Undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen, yakni pelaku usaha dilarang memproduksi
dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang :
a. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang
dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundangundangan;
b. tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan
jumlah dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam
label atau etiket barang tersebut;
c. tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah
dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya;
d. tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau
kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau
keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
e. tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses
pengolahan, gaya, mode, atau penggunaan tertentu
sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang
dan/atau jasa tersebut;
f. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label,
etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang
dan/atau jasa tersebut;
g. tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu
penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang
tertentu;
h. tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal,
sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan dalam
label;
i. tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang
memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto,
komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat
sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan
lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus di
pasang/dibuat;
j. tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk
penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.34
Dengan perbuatan yang dilarang oleh pelaku usaha yang telah diatur dalam
Undang-undang dan telah disebutkan dalam pasal diatas, merupakan suatu
34
Perbuatan yang dilarang oleh pelaku usaha dalam ketentuan Pasal 8 ayat (1) UUPK.
27
kewajiban yang harus dijalankan oleh pelaku usaha dalam melaksanakan transaksi
dengan konsumenya. Agar pelaku usaha dapat menjaga hubungan baik dengan
konsumen dengan tidak melanggar ketetapan yang telah diatur Undang-Undang
Perlindungan konsumen.
B.
Pengertian Nilai Tukar dan Kondisi/ Jaminan yang
dijanjikan dalam Hukum Perlindungan Konsumen
Pada pasal 4 huruf (b) UUPK, telah disebutkan bahwa konsumen berhak
untuk : “memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan”.
Unsur- unsur yang terkandung dalam Pasal 4 huruf (b) adalah :
1. Barang dan/atau jasa
2. Nilai tukar
3. Kondisi barang dan/atau jasa
4. Jaminan yang dijanjikan.
1. Pengertian barang dan atau jasa
Menurut KUHPerdata, dalam Pasal 499 KUHPerdata disebutkan bahwa
barang adalah tiap benda dan tiap hak yang dapat menjadi obyek dari hak milik.
Tiap benda yang dimaksud juga dibagi dalam beberapa kategori yaitu barang yang
bertubuh dan tidak bertubuh, barang bergerak dan tidak bergerak, barang yang
dapat dihabiskan dan tidak dapat dihabiskan.35 Selain dalam KUHPerdata, UUPK
juga memberikan pengertian barang adalah setiap benda baik berwujud maupun
35
Pembagian barang dalam Pasal 503 sampai Pasal 505 KUHPerdata.
28
tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun
tidak dapat dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan,
atau dimanfaatkan oleh konsumen.36 Barang atau komoditas dalam pengertian
ekonomi adalah suatu objek yang memiliki nilai. Nilai tersebut ditentukan jika
barang
mempunyai
makroekonomi
dan
kemampuan
akuntansi,
untuk
barang
memenuhi
merupakan
kebutuhan.
suatu
produk
Dalam
fisik
(berwujud,tangible) yang dapat diberikan pada seorang pembeli dan melibatkan
perpindahan kepemilikan dari penjual ke pelanggan.37
Selanjutnya, Jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk
pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh
konsumen38. Menurut KBBI, Jasa merupakan aktivitas, kemudahan, manfaat,
dan sebagainya yang dapat dijual kepada orang lain (konsumen) yang
menggunakan atau menikmatinya. Sedangkan pengertian jasa menurut para ahli
adalah sebagai berikut:
1.
2.
36
Philip Kotler jasa yaitu setiap tindakan atau unjuk kerja
yang ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain yang
secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan
perpindahan kepemilikan apapun.
Christian Gronross, jasa merupakan proses yang terdiri
atas serangkaian aktivitas intangible yang biasanya
terjadi pada interaksi antara pelanggan dan karyawan
jasa dan atau sumber daya fisik atau barang, dan atau
sistem penyedia jasa, yang disediakan sebagai solusi atas
masalah pelanggan.
Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Perlindungan konsumen
37
https://id.m.wikipedia.org/wiki/barang,dikunjungi pada Sabtu, 02 Januari 2016, pukul
00.13
38
Pasal 1 angka 5 UUPK.
29
3.
Djaslim Saladin, Jasa merupakan kegiatan atau suatu
manfaat yang tidak berwujud dan tidak menghasilkan
kepemilikan yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada
pihak lainnya.39
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jasa merupakan sebuah
aktivitas atau tindakan yang dilakukan dari suatu pihak ke pihak lain dan bersifat
abstrak untuk memenuhi kepuasan pihak tertentu.
2. Nilai tukar
Pada pasal tersebut tidak jelas mengenai apa yang dimaksud dengan nilai
tukar dan kondisi suatu barang tertentu, serta apa yang menjadi jaminan yang
dijanjikan apabila pelaku usaha melanggar hak konsumen pada pasal 4 huruf (b)
tersebut. Apabila membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari nilai
tukar adalah jumlah uang yang sebenarnya diterima yang diperoleh dalam
pertukaran suatu barang. Jadi, konsumen berhak untuk menerima barang
dan/atau jasa sesuai dengan apa yang sudah di beli dan ditentukan dengan jumlah
uang dan harga dari suatu barang dan/atau jasa yang dibeli tersebut.
Dalam kaitanya dengan nilai tukar barang dan jasa, nilai barang adalah
kemampuan pakai barang untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kemampuan
tukar barang terhadap barang lain. Jadi berdasarkan pengertian tersebut, nilai
suatu barang dan/atau jasa dapat dibedakan menjadi 2 yaitu berdasarkan nilai
pakai dan nilai tukar.
1. Nilai pakai ( value in use ) , dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
39
www.seputarpengetahuan.com/2015/08/6-pengertian-jasa-menurut-para-ahli.html?m=1,
dikunjungi pada Sabtu, 02 januari 2016, pukul. 00.51
30
a. Nilai pakai subjektif, artinya nilai yang diberikan seseorang
terhadap suatu barang karena barang tersebut dapat dipakai untuk
memenuhi kebutuhannya.
b. Nilai pakai objektif, atrinya kemampuan dari suatu barang untuk
dapat memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya.
2. Nilai Tukar ( Value in Exchange )
Nilai tukar, yaitu kemampuan suatu barang untuk dapat ditukarkan
dengan barang atau jasa lain. Berdasarkan nilai tukarnya, suatu barang
dapat dikelompokkan dalam nilai tukar subjektif dan nilai tukar
objektif yaitu :
a. Nilai tukar subjektif, yaitu nilai yang diberikan seseorang terhadap
suatu barang karena barang tersebut dapat ditukarkan dengan
barang lain.
b. Nilai tukar objektif, yaitu kemampuan dari suatu barang untuk
dapat ditukarkan dengan barang yang lain.40
Berdasarkan pengertian diatas, Nilai Tukar erat sekali kaitanya dengan
sebuah nilai yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah
pihak yaitu konsumen dan pelaku usaha dalam bentuk Harga yang dibayarkan
dengan uang. Dengan demikian, Penulis mendefinisikan nilai tukar dalam Pasal 4
huruf (b) merupakan sebuah HARGA. Konsumen mendapatkan suatu barang
dan/atau jasa apabila konsumen membayar dan pelaku usaha berkewajiban
memberikan barang dan/atau jasa yang diinginkan konsumen dengan membayar
40
www.temukanpengertian.com/2014//01/pengertian-nilai-barang.html?m=1, dikunjungi
pada Selasa,12 Januari 2016, pukul. 19.53.
31
sebuah harga tersebut yang telah ditentukan oleh pelaku usaha.Secara umum,
Harga adalah sejumlah uang yang harus dibayar konsumen sebagai alat tukar yang
berfungsi untuk memperoleh barang dan/atau jasa.
Tetapi banyak juga pengertian harga dari para ahli yaitu :
1. Menurut Kotler dan Amstrong, Harga adalah jumlah semua nilai
yang konsumen tukarkan dalam rangka mendapatkan manfaat (dari)
memiliki atau menggunakan barang dan /atau jasa.
2. Menurut Tjiptono, Harga merupakan satuan moneter atau ukuran
lainnya (termasuk barang dan/atau jasa) yang ditukarkan agar
memperoleh hak kepemilikan atau pengunaan suatu barang dan/atau
jasa.
3. Menurut Husain Umar, Harga adalah “sejumlah nilai yang
ditukarkan
konsumen
dengan
manfaat
dari
memiliki
atau
menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli
dan penjual melalui tawar menawar, atau ditetapkan oleh penjual
untuksatu harga yang sama terhadap semua pembeli”.41
Bagi konsumen harga adalah factor penting yang menentukan untuk
membeli barang atau tidak. Konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu
barang dengan pengaruh sebuah manaat yang akan didapatkan dengan ketentuan
sebuah harga yang akan dibayarkan. Pembelian konsumen dipengaruhi juga oleh
pendapatan konsumen, dimana penghasilan yang tinggi biasanya akan diikuti
41
Endang Wijayanti, “Pengaruh Harga dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan
Pembelian Toyota Kijang (Studi Kasus Pada Pt. Nasmoco Kaligawe Semarang),” Desember 2006,
http://www.foxitsoftware.com, dikunjungi pada rabu, 13 Januari 2016, pukul 17.00.
32
dengan pembelian yang besar, sebaliknya penghasilan yang rendah maka
pembelian yang dilakukan cenderung lebih kecil.
3. Kondisi barang dan/atau jasa
Kondisi adalah keadaan atau persyaratan suatu barang atau jasa. Setiap
barang dan/atau jasa memiliki keadaan atau bisa juga memiliki persyaratan
tersendiri yang akan mempengaruhi minat konsumen untuk membelinya.
Sehingga barang dan/atau jasa yang di jual oleh pelaku usaha kepada konsumen
haruslah barang dan/atau jasa dengan kondisi yang baik dan tidak cacat, hal ini
selaras dengan kewajiban yang harus dilakukan oleh pelaku usaha yaitu beritikad
baik dalam melakukan kegiatan usahanya dengan memberikan informasi yang
benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta
memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan, untuk menjamin
mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan
ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.
Kondisi dari suatu barang dan/atau jasa dipengaruhi oleh sebuah kualitas
dari barang dan/atau jasa itu sendiri. Kualitas diperlukan untuk memenuhi harapan
konsumen, dimana suatu produk tersebut memiliki kualitas yang sesuai standar
yang telah ditentukan. Untuk menetapkan standar kualitas, pemerintah telah
mengintervensi hal tersebut dengan membuat suatu ukuran standar kualitas
dengan membuat ketetapan yang secara langsung harus memenuhi beberapa
kriteria, yaitu sesuai dengan :
1. SNI ( Standar Nasional Indonesia )
33
SNI adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional
dan berlaku secara nasional.42Kaitan SNI dengan hak-hak konsumen
adalah bahwa SNI mampu melindungi hak-hak konsumen. Tujuan SNI
adalah menjamin konsumen untuk mendapatkan barang- barang yang
bagus dan berkualitas di pasaran sesuai dengan standarisasi nasional
yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000
tentang Standarisasi Nasional, selain itu SNI juga bertujuan untuk
membangun persaingan yang sehat pada pelaku usaha. Artinya SNI
berpihak kepada konsumen. Dengan kata lain SNI adalah kepastian
hukum kepada konsumen.43
2.
BPOM ( Badan Pengawas Obat dan Makanan )44
Badan Pengawas Obat dan Makanan adalah Lembaga Pemerintah Non
Departemen (LPND), yang dibentuk untuk melaksanakan tugas
pemerintah tertentu dari presiden serta bertanggungjawab kepada
presiden sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103
tahun 2001. BPOM juga merupakan kepastian hukum yang menjamin
konsumen untuk mendapatkan kualitas yang baik dan layak konsumsi
agar konsumen terhindar dari obat dan makanan yang berbahaya.
BPOM juga berfungsi untuk mengawasi serta memberikan standarisasi
tentang kelayakan produk dalam obat dan makanan sesuai dengan
42
Pengertian SNI, dalam Pasal 1 angka 3 Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000.
43
Roli Harni Yance S. Garingging Runtung, Dkk, Aspek Hukum Perlindungan Konsumen
Dalam Kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) Terhadap Industri Elektronik Rumah Tangga
Di Sumatera Utara (Studi Pada Pt. Neo National Medan), Usu Law Jurnal, Vol.2.No.2, September
2014, h. 82.
44
www.landasanteori.com/2015/10/badan-pengawas-obat-dan-makanan-bpom.com,
dikunjungi pada Senin, 28 Maret 2016, pukul 21.51.
34
PerKa BPOM Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pengawasan Pemasukan
Obat dan Makanan ke dalam Wilayah Indonesia.
3.
Sertifikasi Halal45
Sertifikasi halal diterbitkan oleh LPPOM MUI untuk menyatakan
kehalalan suatu produk sesuai dengan syariat islam, yaitu :
a. Tidak mengandung DNA babi dan bahan- bahan tradisional yang
berasal dari babi,
b. Tidak mengandung bahan- bahan yang diharamkan; seperti bahan
yang berasal dari organ tubuh manusia, darah, dan kotoran,
c. Semua bahan yang berasal dari hewan yang disembelih dengan
syariat islam,
d. Semua
tempat
penyimpanan,
penjualan,
pengolahan
dan
trasnportasinya tidak digunakan untuk daging babi; jika pernah
digunakan untuk babi atau barang tidak halal lainya terlebih dulu
dibersihkan dengan tata cara yang diatur menurut syariat islam.
Sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengkajian
Pangan, Obat-obatan dan kosmetika-Majelis Ulama Indonesia
(LPPOM-MUI) berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang
Pangan dan Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang
perlindungan Konsumen.
Selain itu juga pelaku usaha berkewajiban memberi kesempatan kepada
konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta
45
https://id.m.wikipedia.org/wiki/LPPOM_MUI , dikunjungi Selasa, 5 April 2016
35
memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang
diperdagangkan, memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas
kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa
yang diperdagangkan apabila konsidi barang dan/atau jasa tersebut tidak sesuai
dengan perjanjian. Sebaliknya, konsumen juga harus cerdas membeli dengan
memilih sesuai dengan kondisi barang dan/atau jasa yang baik dan sesuai dengan
apa yang di inginkan.
4. Jaminan yang di janjikan.
Dalam melakukan sebuah usaha, pelaku usaha selalu memberikan sebuah
jaminan yang di janjikan untuk menarik minat konsumen agar membeli barang
dan/atau jasa yang di jualnya. Melalui pasal 4 huruf (b) UUPK telah memberikan
kepastian hukum untuk konsumen menerima barang dan/atau jasa yang di belinya
sesuai dengan Kondisi serta jaminan yang di janjikan tetapi dalam pasal 4 huruf
(b) UUPK tersebut tidak di jelaskan secara konkrit mengenai jaminan yang di
janjikan oleh pelaku usaha.
Pengertian Jaminan yang di janjikan adalah suatu janji seseorang untuk
menanggung biaya atas kerusakan barang yang dibeli untuk jangka waktu tertentu
apabila kewajibannya tidak terpenuhi. Pasal 1491 KUHPerdata, telah disebutkan
bahwa: “penanggungan yang menjadi kewajiban penjual terhadap pembeli,
adalah untuk menjamin dua hal, yaitu: pertama, penguasaan barang yang dijual
itu secara aman dan tenteram; kedua, tiadanya cacat yang tersembunyi pada
barang tersebut, atau yang sedemikian rupa sehingga menimbulkan alasan untuk
pembatalan pembelian”. Dalam pasal tersebut, penjual atau dalam hal ini pelaku
36
usaha berkewajiban untuk menanggung ganti kerugian terhadap konsumen apabila
dalam barang dan/atau jasa yang dijual terdapat cacat tersembunyi yang tidak
diketahui oleh konsumen.
Apabila pelaku usaha tidak memperjanjikan sebaliknya, maka pelaku
usaha berkewajiban menanggung cacat tersembunyi pada barang yang diperjualbelikan, baik pelaku usaha tersebut mengetahui akan cacat tersembunyi maupun
tidak menyadari adanya cacat tersembunyi pada barang tersebut.46 Tetapi, pelaku
usaha tidak wajib untuk menjamin barang terhadap cacat yang kelihatan dan dapat
diketahui sendiri oleh konsumen.47
Dalam pasal 27 UUPK, ditentukan bahwa Pelaku usaha yang
memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita
konsumen, apabila:
a. barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak
dimaksudkan untuk diedarkan;
b. cacat barang timbul pada kemudian hari;
c. cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kualifikasi barang;
d. kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen;
e. lewatnya jangka waktu penuntutan 4 (empat) tahun sejak barang dibeli
atau lewatnya jangka waktu yang diperjanjikan.
Dalam hal jasa, pasal 26 UUPK mengatur bahwa:”Pelaku usaha yang
memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan dan/atau garansi yang
disepakati dan/atau yang diperjanjikan”.Sehingga apabila konsumen kurang puas
terhadap jasa yang telah di beli dari pelaku usaha, konsumen berhak untuk
46
Pasal 1504 jo. Pasal 1506 KUHPerdata.
47
Ibid., Pasal 1505.
37
menuntut kerugian terhadap ketidakpuasan yang dialami dan pelaku usaha
berkewajiban untuk memenuhi tuntutan konsumen sepanjang pelaku usaha
memberikan jaminan garansi yang telah disepakati dan /atau yang diperjanjikan.
C.
Pengertian
Memproduksi/
Memperdagangkan
Barang
Dalam Hukum Perlindungan Konsumen
Selain melanggar hak konsumen yang berada pada Pasal 4 huruf (b)
UUPK, pelaku usaha SPBU juga melanggar Pasal 8 ayat 1 huruf (c) yang
merupakan perbuatan yang di larang bagi pelaku usaha yaitu : ”Pelaku usaha
dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang
tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya”.
1. Pelaku usaha48
Pengertian pelaku usaha diatas, cukup luas karena meliputi grosir,
levenasir, pengecer, dan sebagainya. Dengan pengertian yang cukup luas tersebut,
memudahkan para konsumen untuk menuntut kerugian apabila konsumen merasa
dirugikan akibat penggunaan barang dan/atau jasa dari pelaku usaha. Dalam
UUPK, pelaku usaha yang dimaksud memang cukup luas tetapi tidak mencakup
eksportir atau pelaku usaha diluar negeri, karena UUPK membatasi orang
perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan
48
Vide BAB I tentang pengertian pelaku usaha.
38
badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum Negara Republik Indonesia.49
2. Di larang
Pengertian dilarang, berasal dari kata larangan yang berarti mencegah
seseorang untuk melakukan sesuatu. Larangan merupakan kebalikan dari perintah.
Dalam hukum perdata, dilarang merupakan pencegahan untuk tidak melakukan
Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatigedaad) yang dalam konteks perdata
diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata, yang berbunyi :
“Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut.”
Dalam menentukan suatu perbuatan dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan
melawan hukum diperlukan 4 syarat, yaitu50:
1. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku;
2. Bertentangan dengan hak subjektif orang lain;
3. Bertentangan dengan kesusilaan;
4. Bertentangan dengan kepatutan, ketelitian, dan kehati-hatian.
Sedangkan dalam konteks hukum pidana, Perbuatan melawan hukum
dikenal sebagai unsur “melawan hukum” yang menurut Satochid Kartanegara
dibedakan menjadi:
1. Wederrechtelijk formil, yaitu apabila sesuatu perbuatan dilarang dan
diancam dengan hukuman oleh Undang- Undang.
49
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op.Cit.,h.9.
50
Rosa Agustina, Perbuatan Melawan Hukum, Pasca Sarjana FH UI, 2003, h.117.
39
2. Wederrechtelijk Materiil, yaitu sesuatu perbuatan walaupun tidak
dengan tegas dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UndangUndang. Melainkan juga asas-asas umum yang terdapat di dalam
lapangan hukum.
Menurut Andi Hamzah, “melawan hukum” yang tercantum di dalam
rumusan delik yang menjadi bagian inti delik sebagai “melawan hukum secara
khusus”, contoh Pasal 372 KUHP), sedangkan “melawan hukum” sebagai unsur
yang tidak disebut dalam rumusan delik tetapi menjadi dasar untuk menjatuhkan
pidana sebagai “melawan hukum secara umum” contoh Pasal 351 KUHP.51
3. Memproduksi/ memperdagangkan
Memproduksi adalah kegiatan membuat atau menghasilkan atau
menambah nilai guna terhadap suatu barang dan/atau jasa untuk memenuhi
kebutuhan oleh orang atau badan (produsen). Orang atau badan yang melakukan
kegiatan produksi dikenal dengan sebutan produsen.Barang dan/atau jasa yang
dihasilkan disebut produk.52Sedangkan memperdagangkan berarti menjualbelikan suatu produk yang telah dihasilkan kepada konsumen.
Dalam Pasal 8 ayat 1 huruf (c), telah dijelaskan bahwa pelaku usaha harus
memberikan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah yang sebenarnya. Secara
umum, ukuran,takaran, timbangan, dan jumlah merupakan suatu bilangan yang
51
denpasar.bpk.go.id/?p=3209, Perbuatan melawan Hukum dalam Hukum Perdata dan
Pidana, BPK RI, dikunjungi pada Sabtu, 16 Januari 2016 pukul 19.05. dikutip dari Andi Hamzah,
Pengantar dalam Hukum Pidana Indonesia, h. 168.
52
www.artikelsiana.com/2015/09/pengertian-produksi-faktor-faktor.html?=, dikunjungi
pada Sabtu, 16 januari 2016 pukul 18.56.
40
menunjukan besar satuan ukuran (meter, gram, dll ) yang dapat di hitung atau
tentukan oleh suatu alat ukur.
Untuk menentukan ketepatan jumlah dalam pengukuran dan untuk
memberikan
kepastian
hukum
terhadap
masyarakat,
Pemerintah
telah
mengaturnya dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1981 tentang Metrology
Legal. Berdasarkan Undang- Undang tersebut, disebutkan bahwa untuk
melindungi kepentingan umum perlu adanya jaminan dalam kebenaran
pengukuran serta adanya ketertiban dan kepastian hukum dalam pemakaian satuan
ukur, standar satuan, metoda pengukuran dan alat-alat ukur, takar, timbang, dan
perlengkapanya. Bidang metrology memegang peran penting dalam aspek
standarisasi berbagai alat ukur seperti timbangan berat, volume bahan cairan, suhu
ruangan, dan masih banyak lagi. Adanya standarisasi ini penting untuk
memastikan akurasi dari obyek yang di ukurnya yang dapat memberikan jaminan
ketepatan pengukuran serta pengendalian mutu.
Pengertian alat ukur, alat takar, alat timbangan di dalam undang-undang
nomor 2 tahun 1981 tentang metrologi legal adalah :
a. Alat ukur ialah alat yang diperuntukkan atau dipakai bagi pengukuran
kuantitas dan atau kualitas.53
b. Alat takar ialah alat yang diperuntukan atau dipakai bagi pengukuran
kuantitas atau penakaran.54
c. Alat timbang ialah alat yang diperuntukan atau dipakai bagi
pengukuran massa atau penimbangan.55
53
Pasal 1 huruf k Undang- Undang nomor 2 tahun 1981 tentang metrology legal.
54
Ibid, Pasal 1 huruf l.
41
Selain pengertian dari Undang- Undang Metrologi diatas, Dalam KBBI,
alat ukur adalag perkakas untuk mengukur ( mencocokan atau mengetahui jarak,
bobot, luas, panas, getaran, kecepatan, tegangan, tekanan, volume, dan sebagainya
). Alat takar alat untuk menakar yaitu mengukur banyaknya barang cair, beras,
dan sebagainya dengan satuan liter, dll.
Dengan pengertian di atas, seharusnya penjelasan mengenai ukuran,
takaran, dan timbangan dalam Pasal 8 ayat 1 huruf (c) UUPK, di sesuaikan
dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang metrology
legal. Selain pengertian dari Undang- Undang Metrologi diatas, Dalam KBBI, alat
ukur adalah perkakas untuk mengukur ( mencocokan atau mengetahui jarak,
bobot, luas, panas, getaran, kecepatan, tegangan, tekanan, volume, dan sebagainya
). Alat takar alat untuk menakar yaitu mengukur banyaknya barang cair, beras,
dan sebagainya dengan satuan liter, dll.
D.
Hubungan antara Pelaku Usaha dengan Konsumen
Hubungan antara pelaku usaha dengan konsumen merupakan hubungan yang
langsung. Hubungan langsung yang di maksudkan adalah hubungan antara pelaku
usaha dengan konsumen yang terikat secara langsung dengan perjanjian.56
Menurut KBBI, Perjanjian adalah persetujuan (tertulis atau dengan lisan)
yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing berjanji akan menaati apa
yang tersebut dalam persetujuan itu. Pengertian mengenai perjanjian juga diatur di
55
Ibid, Pasal 1 huruf m.
Ahmadi Miru,prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia ,
(Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 2013), h. 34.
56
42
dalam Pasal 1313 KUHPerdata, yaitu: “Suatu Persetujuan adalah suatu
perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu
orang lain atau lebih”. Berkaitan dengan Perjanjian, J. Satrio mengungkapkan
dalam bukunya bahwa:
“Persetujuan adalah suatu perbuatan atau tindakan hukum dengan mana
satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih
atau dimana kedua belah pihak saling mengikatkan diri.”57
Perjanjian mengakibatkan seseorang mengikatkan dirinya kepada orang
lain, ini berarti dari suatu perjanjian lahirlah perikatan, karena salah satu sumber
perikatan adalah perjanjian selain Undang-undang. Dari perikatan tersebut muncul
suatu kewajiban atau prestasi dari satu atau lebih orang (pihak) lainnya yang
berhak atas prestasi tersebut yang merupakan perikatan yang harus dipenuhi oleh
orang atau subyek hukum tersebut. Satu pihak merupakan pihak yang wajib
berprestasi (debitur) dan pihak lainnya merupakan pihak yang berhak atas prestasi
tersebut (kreditur). Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat, yang
diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1320, yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya (consensus);
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan (capacity);
3. Suatu hal tertentu (a certain subject matter);
4. Suatu sebab yang halal (legal cause).
57
J. Satrio, Hukum Perikatan (Perjanjian pada umumnya), Citra Aditya Bakti, Bandung,
1992, h. 20
43
Kesepakatan dan kecakapan adalah syarat subjektif, yaitu mengenai orangorang atau subjek yang mengadakan perjanjian, dimana apabila salah satu syarat
subyektif (kesepakatan atau kecakapan) tidak dipenuhi maka perjanjian tersebut
“dapat dibatalkan” atau perjanjian tidak sah. Sedangkan suatu hal tertentu dan
sebab yang halal merupakan syarat objektif, yaitu syarat mengenai objek yang
diperjanjikan. Apabila salah satu syarat objektif ini tidak dipenuhi (suatu hal
tertentu atau suatu sebab yang halal), maka perjanjian tersebut “batal demi
hukum”, artinya bahwa sejak awal perjanjian tersebut dianggap tidak ada.
Pengertian dari ke-empat syarat sahnya suatu perjanjian menurut tersebut
yaitu:
1. Kesepakatan
Dalam perjanjian setidak-tidaknya ada dua orang yang saling berhadaphadapan dan mempunyai kehendak untuk saling mengisi. Orang dikatakan telah
memberikan persetujuannya/sepakatnya (toestemming), jika orang tersebut
memang menghendaki apa yang disepakati. Dengan demikian, sepakat sebenarnya
merupakan pertemuan antara dua kehendak, di mana kehendak orang yang satu
saling mengisi dengan apa yang dikehendaki pihak lain. Kehendak seseorang baru
nyata bagi pihak lain kalau kehendak tersebut dinyatakan atau diutarakan, jadi
perlu ada pernyataan kehendak. Pernyataan kehendak tersebut harus merupakan
pernyataan bahwa ia menghendaki timbul nya hubungan hukum.58
2. Kecakapan
58
J.Satrio, Hukum Perikatan (Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian : Buku I), PT.Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2001, h. 128
44
Untuk mengadakan perjanjian, para pihak harus cakap, namun dapat saja
terjadi bahwa para pihak atau salah satu pihak yang mengadakan perjanjian adalah
tidak cakap menurut hukum.Cakap adalah mereka yang telah berumur 21 tahun,
atau belum berumur 21 tahun tetapi telah pernah menikah (Pasal 330
KUHPerdata). Sementara itu, dalam Pasal 1330 KUHPerdata, ditentukan bahwa
tidak cakap membuat suatu perjanjian adalah:
a. Orang yang belum dewasa;
b. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;
c. orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh UndangUndang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa Undang-Undang
telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu.
3. Hal Tertentu
Obyek perjanjian adalah prestasi yang menjadi pokok perjanjian yang
bersangkutan, bisa merupakan suatu perilaku tertentu, memberikan sesuatu,
melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Syarat bahwa obyek perjanjian
(prestasi) itu harus tertentu atau dapat ditentukan, gunanya adalah untuk
menetapkan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh kedua belah
pihak.Sehingga jika timbul perselisihan dalam pelaksanaan perjanjian dapat
dipergunakan sebagai bukti. Perjanjian tanpa “suatu hal tertentu” adalah batal
demi hukum.
Selanjutnya, dalam Pasal 1334 KUHPerdata ditentukan bahwa barangbarang yang baru akan ada di kemudian hari juga dapat menjadi obyek suatu
45
perjanjian. Bahwa barang itu sudah ada atau sudah berada di tangannya si
berutang pada waktu perjanjian dibuat, tidak diharuskan oleh Undang-Undang.
Juga jumlahnya tidak perlu disebutkan, asal kemudian dapat dihitung atau
ditetapkan.
4. Sebab yang Halal
Suatu hal tertentu merupakan pokok dari perjanjian, atau merupakan
prestasi yang dipenuhi dalam suatu perjanjian. Disamping itu, pokok dari
perjanjian isinya harus halal (tidak terlarang), sebab isi perjanjian itulah yang akan
dilaksanakan. Dengan kata lain, kausa suatu perjanjian adalah tujuan bersama para
pihak. Tujuan perjanjian tidak sama dengan isi perjanjian. Isi dari suatu perjanjian
di samping harus jelas dan tertentu juga tidak dilarang oleh undang-undang dan
tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. Sesuai dengan Pasal
1337 KUHPerdata yang berbunyi :
“Suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang, atau
apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum”.
Menurut bentuknya, kontrak dibedakan menjadi 2 yaitu tertulis dan
lisan/tidak tertulis. Dalam melakukan transaksi, konsumen dan pelaku usaha
sering memakai kontrak lisan atau tidak tertulis. Kontrak lisan adalah kontrak atau
perjanjian yang dibuat oleh para pihak cukup dengan lisan atau kesepakatan
saja.59
59
Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Innominat di Indonesia: Buku : I , Sinar
Grafika, Jakarta, 2003, h.19.
46
Kesepakatan yang dimaksud adalah kesepakatan yang telah disebutkan
dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Dengan adanya consensus maka perjanjian itu
telah terjadi, termasuk dalam golongan ini adalah konsensual dan riil. Pembedaan
ini diilhami dari hukum Romawi. Di dalam hukum Romawi, tidak hanya
memerlukan adanya kata sepakat tetapi perlu diucapkan kata-kata yang suci dan
perjanjian itu harus didasarkan atas penyerahan nyata dari suatu benda. Perjanjian
konsensual adalah suatu perjanjian yang terjadi apabila ada kesepakatan para
pihak, sedangkan perjanjian riil adalah suatu perjanjianyang dibuat dan
dilaksanakan secara nyata.60
Selain terdapat syarat sah mengikatnya sebuah perjanjian, terdapat juga
akibat perjanjian untuk para pihak yang membuatnya adalah :
1. Perjanjian hanya berlaku di antara para pihak yang membuatnya
Pasal 1340 ayat (1) KUHPerdata menyatakan bahwa perjanjian- perjanjian
yang dibuat hanya berlaku diantara para pihak yang membuatnya. Hal ini bahwa
setiap perjanjian, hanya membawa akibat berlakunya Pasal 1131 KUHPerdata
bagi para pihak yang terlibat atau yang membuat perjanjian tersebut. Jadi apa
yang menjadi kewajiban atau prestasi yang harus dilaksanakan oleh debitor dalam
perjanjian hanya merupakan dan menjadi kewajibannya semata-mata.61
Dalam hal terdapat seorang pihak ketiga yang kemudian melaksanakan
kewajibanya tersebut kepada kreditor, maka ini tidak berarti debitor dilepaskan
atau dibebaskan dari kewajibannya tersebut. Pihak ketiga yang melakukan
60
Ibid.
61
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang lahir dari Perjanjian, PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta,2003, h.165.
47
pemenuhan kewajiban debitor, demi hukum diberikan hak untuk menuntut
pelaksanaan kewajiban debitor dari debitor.62
Hak ini dinamakan hak subrogasi yang diatur dalam Pasal 1400
KUHPerdata yang dirumuskan sebagai berikut :
“Subrogasi atau penggantian hak-hak kreditor oleh seorang pihak
ketiga yang membayar kepada kreditor itu, terjadi, baik dengan
perjanjian, maupun demi Undang-undang”.
Dengan demikian, jelaslah bahwa prestasi yang dibebankan oleh
KUHPerdata bersifat personal dan tidak dapat dialihkan dengan begitu saja.
Semua perjanjian yang telah dibuat dengan sah akan berlaku bagi mereka yang
membuatnya ( Asas Pacta Sund Servanda ). Jadi perjanjian tersebut akan
mengikat dan melahirkan perikatan bagi para pihak dalam perjanjian. 63 Selain hal
tersebut, dalam Pasal 1338 KUHPerdata menentukan bahwa :
“Perjanjian-perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan
kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh
undang-undang dinyatakan cukup untuk itu”.
Dengan ketentuan tersebut, jelas bahwa apa yang disepakati para pihak
tidak boleh diubah oleh siapa pun juga, kecuali jika hal tersebut memang
dikehendaki secara bersama oleh para pihak, ataupun ditentukan demikian oleh
62
63
Ibid.
Ibid, h.166.
48
undang-undang berdasarkan suatu perbuatan hukum atau peristiwa hukum
tertentu.
1. Mengenai kebatalan atau nulitas dalam perjanjian
Seperti yang telah dijelaskan sebelunya, perjanjian pada dasarnya bersifat
konsensuil, tetapi terdapat perjanjian-perjanjian tertentu yang mewajibkan
dilakukan suatu tindakan yang lebih dari sekedar kesepakatan lisan, sebelum pada
akhirnya perjanjian tersebut dapat dianggap sah dan karenanya mengikat serta
melahirkan perikatan diantara para pihak yang membuatnya.
a. Dapat dibatalkan oleh salah satu pihak dalam perjanjian maupun pihak
ketiga diluar perjanjian.
Perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak dalam perjanjian maupun
oleh pihak ketiga di luar perjanjian. Perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu
pihak dalam perjanjian apabila terdapat alasan pembatalan yang dilakukan oleh
salah satu pihak yang telah diatur dalam KUHPerdata yang disebut sebagai alasan
subjektif yaitu :
1. Tidak terjadi kesapakatan bebas antara para pihak dalam membuat
perjanjian, baik terdapat paksaan, kekhilafan, ataupun penipuan pada
salah satu pihak dalam perjanjian saat perjanjian itu dibuat. ( Pasal
1321 sampai dengan Pasal 1328 KUHPerdata );
2. Salah satu pihak dalam perjanjian tidak cakap untuk bertindak dalam
hukum, dan atau tidak memiliki kewenangan dalam melakukan
tindakan atau perbuatan hukum tertentu. (Pasal 1330 sampai dengan
Pasal 1331 KUPerdata ).
49
Selain dapat dibatalkan oleh salah satu pihak dalam perjanjian, sebuah
perjanjian juga dapat dibatalkan oleh pihak ketiga di luar perjanjian. Pada
dasarnya perjanjian hanya mengikat bagi para pihak yang membuatnya dan tidak
membawa akibat apapun bagi pihak ketiga. Walaupun demikian, untuk
melindungi kepentingan kreditor dalam perikatan dengan debitor dan agar
ketentuan Pasal 1131 jo. Pasal 1132 KUHPerdata dapat dilaksanakan sepenuhnya,
maka dibuatlah ketentuan Pasal 1341 KUHPerdata yang dikenal dengan Actio
Pauliana. Action Pauliana dapat dilaksanakan apabila syarat dalam Pasal 1341
dipenuhi, yaitu :
1. Kreditor harus membuktikan bahwa debitor melakukan tindakan yang
tidak diwajibkan.
2. Kreditor harus membuktikan bahwa tindakan debitor merugikan
kreditor.
3. Terhadap perikatan timbal balik yang dibuat oleh debitor dengan suatu
pihak tertentu dalam perjanjian, yang mengakibatkan berkurangnya
harta kekayaan debitor, maka kreditor harus dapat membuktikan pada
saat perjanjian tersebut dilakukan, debitor dan orang yang dengannya
itu berjanji, mengetahui bahwa perjanjian itu mengakibatkan kerugian
bagi para kreditor.
4. Sedangkan untuk perjanjian atau perbuatan hukum yang bersifat cumacuma, cukuplah kreditor membuktikan bahwa pada waktu membuat
perjanjian atau melakukan tindakan itu debitor mengetahui bahwa
50
dengan cara demikian dia merugikan kreditor, tak peduli apakah orang
yang diuntungkan juga mengetahui hal itu atau tidak.64
b. Batal demi hukum
Suatu perjanjian dikatakan batal demi hukum apabila perjanjian tersebut
melanggar syarat objektif dari sahnya suatu perikatan yang telah diatur dalam
Pasal 1320 KUHPerdata yaitu mengenai suatu pokok persoalan tertentu dan suatu
sebab yang halal. Keharusan akan adanya suatu hal tertentu yang menjadi obyek
dalam perjanjian ini dirumuskan dalam Pasal 1332 sampai dengan Pasal 1334
KUHPerdata; yang diikuti dengan Pasal 1335 sampai dengan Pasal 1336
KUHPerdata yang mengatur mengenai suatu sebab yang halal yaitu sebab yang
tidak dilarang oleh Undang-undang dan tidak berlawanan dengan kesusilaan baik
atau ketertiban umum.65
Di samping tidak dipenuhinya syarat objektif seperti yang telah disebutkan
di atas, Undang- Undang juga merumuskan secara konkrit untuk tiap-tiap
perbuatan hukum terutama pada perjanjian formil yang mensyaratkan dibentuknya
perjanjian dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang- Undang, yang jika tidak di
penuhi, maka perjanjian tersebut batal demi hukum, dengan pengertian bahwa
perjanjian tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dan tidak dapat dipaksakan
pelaksanaanya. Disamping pembedaan diatas, nulitas juga dapat dibedakan
menjadi nulitas relative dan nulitas mutlak. Kebatalan di sebut relative jika hanya
64
Ibid, h.181.
65
Ibid, h. 182.
51
berlaku terhadap individu orang perseorangan tertentu saja, dan di sebut mutlak
jika kebatalan tersebut berlaku umum terhadap seluruh anggota masyarakat tanpa
kecuali. Suatu perjanjian yang dapat dibatalkan dapat saja berlaku relative atau
mutlak, meskipun tiap-tiap perjanjian yang batal demi hukum pasti berlaku
mutlak.66
E. Tanggung jawab Pelaku Usaha
Terdapat
beberapa
Prinsip-
prinsip
pertanggungjawaban
dalam
perlindungan konsumen yaitu :
1. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Kelalaian/ Kesalahan (
Negligence )
Prinsip tanggung jawab ini adalah bersifat subjektif, yaitu suatu tanggung
jawab yang di tentukan oleh perilaku Pelaku usaha. Hal ini dapat ditemukan
dalam rumusan teori negligence, yaitu the failure to exercise the standart of care
that reasonably prudent would have exercised in a similar situation.67Negliger
dapat dijadikan dasar gugatan manakala memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Suatu tingkah laku yang menimbulkan kerugian, tidak sesuai dengan sikap
hati-hati yang normal.
2. Harus dibuktikan bahwa tergugat lalai dalam kewajiban berhati-hati
terhadap penggugat.
66
Ibid, h. 184.
Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, (St. Paul, Minnesota: West
Publishing,2004), Eight Edition, h.1061, dikutip dari Zulham, Op.cit., h. 83.
67
52
3. Kelakuan tersebut merupakan penyebab nyata ( proximate cause ) dari
kerugian yang timbul.
2. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Wanprestasi ( Breach of
Warranty )
Tanggung jawab pelaku usaha berdasarkan wanprestasi merupakan bagian
dari tanggung jawab berdasarkan kontrak (contractual liability). Keuntungan yang
diperoleh konsumen dalam teori ini adalah penerapan kewajiban yang sifatnya
mutlak (strict obligation), yaitu kewajiban yang tidak didasarkan pada upaya yang
telah dilakukan pelaku usaha untuk memenuhi janjinya. Artinya, walaupun pelaku
usaha telah berupaya memenuhi kewajibannya tetapi konsumen tetap mengalami
kerugian, maka pelaku usaha tetap dibebani tanggung jawab untuk mengganti
kerugian dari konsumen tersebut. Terdapat juga kelemahan dalam teori ini yaitu
pembatasan waktu gugatan, persyaratan pemberitahuan, kemungkinan adanya
bantahan (disclaimer), dan harus adanya persyaratan kontrak.68
3. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak ( Strict Product Liability )
Tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen sangat
penting, paling tidak didasarkan pada alasan bahwa : pertama, tanggung jawab
mutlak merupakan instrument hukum yang relative masih baru untuk
memperjuangkan hak konsumen untuk memperoleh ganti kerugian. Kedua,
tanggung jawab mutlak merupakan bagian dan hasil dari perubahan hukum di
bidang ekonomi. Ketiga, penerapan prinsip tanggung jawab mutlak melahirkan
masalah baru bagi pelaku usaha, yaitu bagaimana pelaku usaha akan menangani
68
Ibid, h. 93.
53
resiko gugatan konsumen. Keempat, Indonesia merupakan contoh Negara yang
menggambarkan dua kesenjangan yaitu, antara standart norma dalam hukum
positif dan kebutuhan perlindungan kepentingan dan hak-hak konsumen.69
Prinsip tanggung jawab mutlak merupakan sistem tanggung jawab yang
tidak berdasarkan kesalahan pelaku usaha dan prinsip ini lebih responsive
terhadap kepentingan konsumen.
F. ANALISIS
1. Kasus posisi
Praktek kecurangan yang dilakukan SPBU kepada konsumen memang
sering terjadi pada saat pengisian BBM, berbagai macam praktek kecurangan
tersebut diantaranya menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak konsumen.
Bentuk kecurangan yang terjadi pada SPBU bermacam-macam, hal ini ditegaskan
pada salah satu keterangan dari mantan operator SPBU yang ditulis dalam artikael
berikut :
Ini pengakuan dari salah satu operator Stasiun Pengisian Bahan
Bakar Umum di daerah, Jakarta Timur. Meski pegawai itu
mengatakan jika bicara soal kecurangan dilakukan di SPBU
pasti menimbulkan pandangan berbeda. Nama pegawai itu
berisial MAK dan usianya 30 tahun. Sejak tahun 2004, dia
sudah menjadi pegawai SPBU dan lumayan mahfum betul polapola kecurangan dilakukan ketika dia bekerja. Meski tak semua
SPBU melakukan hal serupa, namun kecurangan ini dia jelaskan
dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan
memainkan mesin dispenser pengisian BBM. Menurut MAK,
mesin dispenser pengisian bahan bakar terkadang suka
dimainkan untuk menangguk keuntungan. Caranya ialah dengan
69
Inosentius samsul., Op.cit., h.1
54
memainkan flow meter yaitu alat untuk mengatur kecepatan arus
dan jumlah BBM yang dikeluarkan oleh pompa dispenser sesuai
angka.Biasanya ini bakal diketahui jika si pengisi bensin jeli
dengan jumlah pembeliannya Misal, jika si pembeli mengisi
bensin sebanyak dua liter. Bensin yang dituangkan melalui
selang dispenser sejatinya tidak berisi jumlah tersebut, namun
sudah dikurangi. MAK sendiri mengakui jika kecurangan yang
pernah dilakukan hanya sekedar menjual kuitansi kosong.
Karena di tempatnya bekerja memang menjadi langganan para
sopir pembawa barang dari perusahaan, biasanya MAK
bekerjasama untuk menjual kuitansi kosong sudah di cap resmi
SPBU. Misal, sopir tersebut membeli bensin Rp 50 ribu,
kemudian kuitansi yang diberikan sebesar Rp 150 ribu.“Paling
sering mainkan bon (kuitansi),” tutur MAK.Sejatinya menurut
MAK, kecurangan dilakukan oleh pegawai SPBU memang
memiliki berbagai macam jenis cara.Sebagai contoh lain MAK
menjelaskan, jika kecurangan berupa mengelabui pelanggan
dengan mengurangi takaran tidak sesuai jumlah pembelian
disebut main keong. Misal jika pembeli membeli BBM dengan
nominal Rp 15 ribu kemudian pegawai SPBU buru-buru
dikembalikan ke angka 0, bensin yang masuk hanya sekitar Rp
13 ribu.“Bahasanya maen keong, kalo misalnya beli Rp 15 ribu
terus di kasih cuma Rp 13 ribu, terus mesinnya buru-buru di
netralin ke angka 0 lagi, pembeli enggak tahu kalo yang masuk
ke tangkinya cuma Rp 13 ribu,” ujar MAK. Biasanya modus ini
dilakukan pegawai SPBU ketika terjadi antrean panjang dan saat
pembeli lengah. Di wawancara terpisah, salah seorang pegawai
SPBU berisial BM, 29 tahun dengan pangkat pengawas punya
penjelasan berbeda soal praktik kecurangan di SPBU. Menurut
dia kecurangan di SPBU harus dilihat dulu titik persoalannya.
Misal jika kecurangan itu dilakukan melalui mesin dispenser
pompa bensin, bisa jadi memang mesin tersebut eror bukan
lantaran disengaja.70
Hal diatas, dapat terjadi karena berbagai factor yang melatarbelakangi di
antaranya adalah pelaku usaha yang selalu menganggap konsumen pada posisi
rendah sehingga mudah bagi pelaku usaha untuk mengekploitasi konsumen
dengan segala hak yang di miliki oleh konsumen. Tindakan pelaku usaha yang
demikian banyak menimbulkan kerugian bagi pihak konsumen. Praktek
70
http://www.redaksi9.com/2015/11/modus-kecurangan-operator-spbu.html?m=1,
dikunjungi pada Rabu, 10 februari 2016, pukul 19.45.
55
kecurangan SPBU yang sering terjadi ialah, penjualan BBM yang tidak sesuai
dengan takaran yang di beli konsumen, hal ini terjadi apabila operator SPBU
memainkan gagang pompa saat pengisian membuat argo menjadi lebih cepat dan
angka yang ditunjukan pompa bensin loncat dan menghitung dengan cepat,
sehingga yang keluar hanya angin dan takaran BBM yang dibeli konsumen dapat
selisih 2-5 liter dari yang seharusnya konsumen terima.
Selain kasus posisi yang telah disebutkan diatas, Contoh nyata lain yang
dialami konsumen SPBU adalah :
“Akan tetapi yang mengherankan adalah rupanya kecepatan argo di setiap
SPBU berbeda-beda…selain itu, saya beberapa kali terkejut saat beli
minyak Rp. 250.000; untuk mengisi full tank kendaraan saya, argonya
melompat dari Rp. 130.000; menjadi langsung Rp. 150.000…”71
Selain beberapa contoh kasus diatas, praktek kecurangan yang terjadi di
SPBU adalah terjadi pembulatan harga yang dilakukan oleh pegawai saat
konsumen melakukan pengisian BBM “full tank”. Pembulatan tersebut terjadi
dikarenakan semakin langkanya nominal pecahan uang receh misal Rp. 50.
Terkait dengan pembulatan harga yang dilakuakan oleh operator SPBU,
pelanggaran juga terjadi apabila operator SPBU tidak memberikan kembalian
yang harus konsumen terima terkait dalam transaksi pembelian BBM. Hal ini
terjadi apabila konsumen mengisi BBM di SPBU dan operator SPBU dengan
membulatkan harga yang seharusnya konsumen bayar, selain itu operator tidak
memberikan uang kembalian kepada konsumen.
71
Asaaro Lahagu, 23 Oktober 2015, “hati- hati modus kecurangan di SPBU Pertamina”,
m.kompasiana.com,/lahagu/hati-hati-modus-kecurangan-di-spbupertamina_5629b0f521afbd210505cf97, dikunjungi pada Senin, 1 Februari 2016, pukul 19.05.
56
Berkaitan dengan hak konsumen untuk menerima uang kembalian, terjadi
apabila konsumen membeli BBM dan ternyata nilai nominal yang tertera pada
layar pompa bensin menunjukan angka ganjil dan tidak ada mata uang yang sesuai
dengan pecahan tersebut, sehingga operator SPBU membulatkan nilai rupiah
menjadi sesuai dengan pecahan mata uang rupiah yang bisa dibayarkan. Tetapi hal
tersebut malah merugikan konsumen, karena takaran BBM yang diterima tidak
sesuai dengan nilai tukar, hal ini dialami oleh beberapa konsumen. Jumlahnya
memang tidak besar, namun tindakan ini tentu saja dapat dikatagorikan sebagai
tindakan yang membuat konsumen merasa tidak nyaman.
Operator SPBU memberikan kembalian yang kurang dan tidak sesuai
dengan nominal yang harus konsumen terima. Jumlah pembulatan dan kurangnya
kembalian uang tersebut memang tidak besar, tetapi sekecil apapun pecahan
nominal uang yang dibulatkan maupun yang tidak diberikan oleh operator SPBU
merupakan pelanggaran hak konsumen yang dapat merugikan konsumen dan
menguntungkan pihak pelaku usaha.
Hal ini jelas melanggar nilai tukar yaitu harga yang telah ditetapkan
dengan ukuran harga per liter. Misalnya, konsumen melakukan pengisian BBM
fulltank di SPBU dan nominal yang tertera pada layar pengisian sebesar Rp.
18.700 menunjukan bahwa tanki sudah penuh, dan pada saat pembayaran
konsumen tidak membayar dengan uang pas melainkan dengan uang Rp. 20.000
maka petugas atau operator SPBU hanya akan memberikan kembalian sebesar Rp.
1.000 dengan alasan tidak ada uang receh sebesar Rp. 300. Dengan demikian
konsumen mengalami kerugian sebesar Rp. 300 karena operator SPBU telah
membulatkan harga yang seharusnya dibayarkan konsumen sebesar Rp. 18.700
57
menjadi Rp. 19.000, padahal hitungan liter jika konsumen membeli dengan harga
Rp. 18.700 dengan Rp. 19.000 akan berbeda takarannya karena nilai tukar dengan
harga yang telah disepakati mempengaruhi jumlah barang dan/atau jasa yang akan
diperoleh konsumen.
2. Pelanggaran Hak konsumen SPBU Pasal 4 huruf (b) dan
Pasal 8 ayat (1) huruf C UUPK
Dengan berbagai bentuk kecurangan dari SPBU diatas, penulis akan
membahas mengenai bentuk pelanggaran yang dilakukan SPBU berdasarkan
Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen pada Pasal
4 huruf (b) adalah SPBU tidak memenuhi hak konsumen untuk : “memilih barang
dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan
nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan”.
Terdapat beberapa unsur yang terkandung dalam Pasal 4 huruf (b) yaitu:
1. Barang dan/atau jasa
2. Nilai tukar
3. Kondisi barang dan/atau jasa
4. Jaminan yang dijanjikan.
Selain keempat unsure diatas, dalam Pasal 8 ayat (1) huruf c juga terdapat
beberapa unsure yaitu :
1. Pelaku usaha
2. Dilarang
3. Memproduksi/memperdagangkan
58
4. Takaran, ukuran, timbangan dan jumlah.
Pengertian barang dalam UUPK adalah setiap benda baik berwujud
maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan
maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai,
dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen. Selanjutnya dalam UUPK, Jasa
diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang
disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen Dalam unsur
barang dan/atau jasa kaitanya dengan kasus pelanggaran hak konsumen SPBU
adalah bahan bakar minyak (BBM) yang merupakan barang yang diperdagangkan
antara pelaku usaha SPBU dan dibeli oleh konsumen dalam pengisian pada
SPBU.
Nilai Tukar erat sekali kaitanya dengan sebuah nilai yang telah ditetapkan
berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak yaitu konsumen dan pelaku usaha
dalam bentuk Harga yang dibayarkan dengan uang.Nilai tukar dalam Pasal 4
huruf (b) merupakan sebuah HARGA. Pada konsumen SPBU, harga telah
ditetapkan ukuranya dalam ukuran per liter. Pada saat ini, tahun 2016 pada bulan
Januari BBM telah turun harga, harga untuk bensin adalah Rp. 7.150/liter dari
harga semula Rp. 7.300/liter, dan solar Rp. 5.950/liter dari harga sebelumnya Rp.
6.700/ liter
72
dan pertamax dari Rp. 8.650/liter menjadi Rp. 8.450/liter, pertalite
turun dari Rp. 8.200 jadi Rp. 7.950.73
72
www.migas.esdm.go.id/post/read/mulai-5-januari-2016,-harga-bbm-turun, dikunjungi
pada Jumat, 12 Februari 2016 pukul 17.55.
73
www. Jogja.tribunnews.com/2016/01/04/harga-pertalite-juga-turun-per-5-januari-2016,
dikunjungi pada Jumat, 12 februari 2016 pukul 19.06.
59
Konsumen SPBU akan mendapatkan BBM apabila membayar BBM
tersebut sesuai dengan harga per liter dan takaran yang ia inginkan dan pelaku
usaha melalui operator SPBU sebagai karyawan yang bekerja pada SPBU tersebut
berkewajiban untuk memberikan BBM yang konsumen beli dengan takaran yang
pas dan jujur sesuai dengan apa yang sudah konsumen bayarkan. Kondisi barang
dan/atau jasa yang berkaitan dengan pelanggaran hak konsumen SPBU dalam hal
ini adalah kondisi BBM. Kondisi BBM yang diperjual-belikan oleh SPBU
haruslah kondisi BBM dengan kondisi yang baru, murni dan baik tanpa campuran
apapun dan layak untuk diperjual-belikan dan telah memenuhi Standart Nasional
Indonesia (SNI).
Pertamina sebagai pelaku usaha SPBU memberikan Jaminan
dengan memberikan pelayanan yang baik, jaminan kualitas dan
kuantitas BBM, fasilitas dan peralatan yang terawat dengan
baik, memiliki format fisik yang konsisten, dan penawaran
produk serta pelayanan bernilai tambah dengan operator yang
selalu menerapkan 3 S ( Salam, Senyum, Sapa ).
Dalam SOPnya, Pertamina mencanangkan program yaitu :
1. Pertamina way
Pertamina way adalah program yang diluncurkan PT. Pertamina
dengan penerapan standar pelayanan yang terdiri dari 5 (lima)
elemen, yaitu pelayanan staff yang terlatih dan bermotivasi,
jaminan kualitas dan kuantitas, fasilitas dan peralatan yang
terawatt dengan baik, memiliki format fisik yang konsisten, dan
penawaran produk dan pelayanan bernilai tambah dengan
operator yang selalu menerapkan 3S (senyum, salam, sapa).
2. Pertamina PASTI PAS
Pasti PAS adalah SPBU yang telah mendapatkan sertifikat Pasti
pas! Dari auditor independen dengan jaminan pelayanan terbaik
yang memenuhi standar kelas dunia. Konsumen akan
mendapatkan kualitas dan kuantitas BBM yang terjamin dengan
60
takaran yang pas, pelayanan yang ramah, serta fasilitas yang
nyaman.74
Dengan jaminan yang telah disebutkan diatas, seharusnya pelaku usaha
dalam hal ini pertamina harus membekali para karyawan agar dapat menerapkan
slogan yang telah dipakai dengan memberikan pelayanan yang baik dan jujur
sesuai dengan Standar Operasional Prosedur ( SOP ) dan menjalankan program
yang telah dicanangkan dalam SOP Pertamina diatas, sehingga konsumen merasa
nyaman untuk mengisi dan membeli BBM dan tidak kecewa serta tidak merasa
dirugikan dengan pelayanan yang sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.
Pelaku usaha dalam penelitian ini adalah SPBU yang dapat berbentuk
Badan hukum yaitu PT. PERTAMINA, ataupun SPBU NON- PERTAMINA yang
dimiliki oleh perseorangan ataupun perusahaan yang melakukan kerjasama
dengan
PT.
PERTAMINA.
Dalam
hal
SPBU
NON-
PERTAMINA,
PERTAMINA berkedudukan sebagai produsen yang memberikan pasokan BBM
yang akan diperjualbelikan oleh SPBU tersebut, tetapi masalah tanggungjawab
berada pada pemilik SPBU sendiri walaupun SOP yang dipakai adalah SOP dari
PERTAMINA.
Konsumen SPBU berhak untuk memilih serta mendapatkan barang
dan/atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan,
yang dimaksud dengan nilai tukar pada Pasal tersebut adalah sebuah harga yang
harus dibayarkan oleh konsumen untuk mendapatkan barang dan/atau jasa yang
konsumen inginkan. Tetapi seringkali hak untuk mendapatkan barang dan/atau
jasa sesuai dengan nilai tukar di langgar oleh Pelaku usaha ( Operator SPBU ).
74
www.agenpelumas.com/standar-operasional-pelayanan-pertamina/ dikunjungi pada
Jumat, 12 februari 2016, pukul 16.20.
61
Dalam kasus diatas, Selain melanggar Pasal 4 huruf (b) UUPK, dengan
tidak memberikan BBM sesuai dengan nilai tukar/ harga, ini berarti bahwa pelaku
usaha juga telah melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 8 ayat (1) huruf c
UUPK mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha. Hal ini terjadi
karena BBM yang telah dibeli konsumen SPBU tidak sesuai dengan ukuran,
takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya.
Ketidaksesuaian takaran BBM yang di dapatkan oleh konsumen terjadi karena
operator SPBU telah memberikan harga yang tidak seharusnya dibayarkan oleh
konsumen, harga yang tertera dalam mesin pengisian BBM tidak sesuai dengan
BBM yang telah konsumen terima.
Seharusnya apabila operator ingin melakukan hal tersebut haruslah ada
kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya dengan konsumen agar konsumen
mengetahui hal yang sebenarnya dan apabila konsumen tidak sepakat dengan hal
tersebut, konsumen dapat menuntut agar nilai tukar yang telah operator katakan,
yang tidak sesuai dengan mesin pengisian BBM, dapat di sesuaikan dengan
nominal yang operator sebutkan sebagai harga (nilai tukar) terhadap BBM yang
dibeli konsumen, sehingga tidak ada pelanggaran hak konsumen dan konsumen
mendapatkan takaran semestinya serta konsumen tidak merasa dirugikan.
3.
Hubungan Hukum yang terjadi antara Pelaku usaha
dengan Konsumen SPBU
Dalam interaksi jual beli antara operator SPBU dengan konsumen, dapat
dikatakan sebagai salah satu perjanjian jual beli, sekalipun perjanjian jual beli
secara tidak tertulis, yang mana pelaku usaha atau penjual mengikatkan diri
62
dengan pihak pembeli. Para pihak diantaranya mempunyai hak dan kewajiban.
Hak dari pelaku usaha adalah menerima uang atau pembayaran seharga BBM
yang telah dijual, kewajibannya adalah memberikan BBM yang dibeli oleh
pembeli (konsumen SPBU) dan memberikan semua yang menjadi hak dari
pembeli tersebut. Sedangkan hak dari konsumen adalah mendapatkan bensin yang
diinginkan, dan kewajibannya adalah membayar sesuai dengan nominal yang
tertera di layar monitor atau sesuai dengan harga yang telah disepakati.
Pada kasus pelanggaran diatas, hubungan hukum yang terjadi antara
pelaku usaha SPBU dengan konsumen SPBU merupakan sebuah perikatan yang
terjadi secara lisan dalam transaksi jual-beli. Pemilik SPBU dikategorikan sebagai
pelaku usaha, yang dalam hal ini di wakilkan oleh operator SPBU yang telah
terikat perjanjian kerja dengan pelaku usaha, dan pembeli sebagai konsumen.
Dengan demikian, Operator SPBU dapat bertindak untuk dan atas nama Pelaku
Usaha SPBU.
Pada kasus yang telah diuraikan diatas, dapat dinyatakan bahwa konsumen
telah mengalami kerugian. Tetapi, kerugian yang telah di derita konsumen
tersebut tidak selalu disebabkan oleh perusahaan, tetapi dapat juga terjadi akibat
dari kesalahan karyawan yang sengaja melakukan tindakan yang dapat merugikan
konsumen demi keuntungan pribadi.
Disamping hubungan hukum yang tercipta antara Pelaku usaha SPBU
dengan konsumen yang melahirkan perjanjian jual-beli, hubungan hukum juga
terjadi antara pelaku usaha dengan operator SPBU yang merupakan hubungan
hukum antara atasan dengan bawahan. Hubungan tersebut dapat muncul
63
dikarenakan, dalam mendirikan suatu perusahaan tentu tidak lepas dari sebuah
tanggung jawab karena tanggung jawab merupakan salah satu kewajiban dari
pelaku usaha terhadap konsumen, karyawan maupun lingkungan sekitarnya. Pasal
1367 KUHPerdata, telah diatur bahwa seseorang tidak hanya bertanggungjawab
atas kerugian yang disebabkan perbuatanya sendiri, melainkan juga atas kerugian
yang disebabkan perbuatan orang-orang yang menjadi tanggunganya, atau
disebabkan barang-barang yang berada di bawah pengawasanya.
Terdapat 2 hubungan hukum antara pelaku usaha dengan pekerja, yaitu
hubungan kerja dan hubungan pemberi kuasa. Hubungan kerja yaitu suatu
hubungan antara pekerja dan pengusaha terjadi setelah diadakan perjanjian oleh
pekerja dengan pengusaha, di mana pekerja menyatakan kesanggupannya untuk
bekerja pada pengusaha dengan menerima upah serta melaksanakan perintah dari
atasan atau pengusaha perusahaan dan dimana pengusaha menyatakan
kesanggupannya untuk mempekerjakan buruh dengan membayar upah. Dalam hal
ini ada hubungan antara atasan dengan bawahan ( sub-ordinasi ). Sementara itu,
Pasal 1 angka 15 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, hubungan kerja adalah
hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja
yang mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah. Perjanjian kerja adalah
antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syaratsyarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak.
Hubungan pemberi kuasa, yaitu hubungan hukum yang diatur dalam Pasal
1792 KUH Perdata, dalam hal ini pengusaha (pemilik/pendiri badan usaha)
memberikan kuasa kepada para pembantunya untuk menjalankan suatu kegiatan
bisnis. Dari hubungan hukum yang telah disebutkan diatas, maka dapat dikatakan
64
bahwa perusahaan SPBU selaku pelaku usaha yang mempekerjakan operator
SPBU untuk membantu kegiatan bisnisnya wajib bertanggung jawab kepada
konsumen atas segala kerugian yang diderita oleh konsumen, baik kesalahan
tersebut disebabkan oleh perusahaan SPBU itu sendiri maupun operator SPBU,
karena operator SPBU bekerja atas perintah perusahaan hanya saja dalam
melaksanakan pekerjaannya, operator SPBU tersebut tidak melakukannya dengan
itikad baik.
4.
Bentuk Pertanggungjawaban SPBU
Kosumen dapat menuntut SPBU dengan mengajukan gugatan kepada
PERTAMINA apabila SPBU tersebut milik PERTAMINA, maupun kepada
pemilik SPBU atau direksi apabila SPBU tersebut milik NON-PERTAMINA atau
melalui Badan Perlindungan Sengketa Konsumen, dengan gugatan perbuatan
melawan hukum yang diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata, pelaku usaha SPBU
walaupun telah melakukan perbuatan melawan hukum atas perbuatan operator
SPBU dapat pula digugat dengan gugatan wanprestasi sebagaimana yang telah
diatur dalam Pasal 1234 KUHPerdata. Pelaku usaha dapat dikatakan wanprestasi
apabila:
1. Tidak melakukan sesuatu
2. Melaksanakan prestasi, tetapi terlambat
3. Melaksanakan tetapi tidak sesuai dengan yang diperjanjikan.
Pelaku usaha SPBU dapat digugat untuk membayar ganti biaya, kerugian,
dan bunga kepada konsumen sebagaimana telah diatur dalam Pasal 1243
KUHPerdata, atas wanprestasi karena pelaku usaha SPBU tidak melakukan
65
kewajiban dengan melaksanakan isi dari perjanjian jual- beli sekalipun bukan
perjanjian tertulis tetapi tidak sesuai dengan apa yang telah diperjanjikan yaitu
tidak memberikan BBM sesuai dengan nilai tukar yang dibayarkan oleh
konsumen. Ganti kerugian akibat wanprestasi yang dilakukan oleh pelaku usaha
SPBU tersebut, konsumen dapat menuntut ganti biaya, ganti kerugian dan juga
bunga yang konsumen alami selama pelaku usaha SPBU tidak melaksanakan
prestasi yang harus dipenuhi dan diperjanjikan.
Pelaku usaha SPBU wajib bertanggungjawab atas kerugian yang telah
dialami oleh konsumen dalam pelanggaran hak konsumen SPBU Pasal 4 huruf (b)
dan Pasal 8 ayat (1) huruf c, walaupun pelaku usaha tidak secara langsung
melanggar hak konsumen melainkan berdasarkan perbuatan dari operator selaku
karyawan SPBU yang telah melanggar hak konsumen yang dilakukan secara
sengaja demi keuntungan pribadi maupun tidak mengetahui bahwa hal tersebut
telah melanggar hak konsumen yang mengakibatkan kerugian. Hal tersebut
sejalan dengan bunyi Pasal 1367 KUHPerdata yaitu :
“seseorang tidak hanya bertanggungjawab atas kerugian yang disebabkan
perbuatanya sendiri, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan perbuatan
orang-orang yang menjadi tanggunganya, atau disebabkan barang-barang yang
berada di bawah pengawasanya.”
Pelaku usaha SPBU baik PERTAMINA maupun NON-PERTAMINA
dapat dikatakan sebagai penanggung dan bertanggungjawab atas perbuatan yang
dilakukan oleh operator selaku karyawan dari SPBU tersebut yang merupakan
tanggunganya dan berada dibawah pengawasannya.
66
Pertanggungjawaban lain yang harus diberikan pelaku usaha SPBU kepada
konsumen
menurut
Undang-
Undang
Perlindungan
Konsumen
adalah
memberikan ganti kerugian yang telah diatur dalam Pasal 19 UUPK yaitu :
(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan,
pencemaran,
dan
atau
kerugian
konsumen
akibat
mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.
(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis
atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian
santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
(3) Pemberian gantirugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari
setelah tanggal transaksi.
(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan
pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan
tersebut merupakan kesalahan konsumen.
Dengan bunyi dari Pasal tersebut diatas dapat di pahami bahwa Pelaku
usaha harus memberikan ganti rugi yang terjadi atas kerusakan, pencemaran, dan
atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan atau jasa yang
67
dihasilkan atau diperdagangkan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah
tanggal transaksi yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan konsumen. Ganti
kerugian yang dapat diberikan oleh pelaku usaha dapat berupa pengembalian uang
atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau
perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila pelaku usaha telah
memberikan ganti kerugian hal tersebut tidak menghapuskan kemungkinan jika
terjadi tuntutan pidana selama adanya unsur kesalahan pelaku usaha yang dapat
dibuktikan oleh konsumen dan tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat
membuktikan sebaliknya.
Pelaku usaha yang tidak mau memberikan pertanggungjawaban sesuai apa
yang telah diatur dalam Pasal 19 UUPK diatas, dapat dikenakan sanksi
administrative yang dijatuhkan oleh BPSK yang termuat dalam Pasal 60 ayat (2)
UUPK,
yaitu
berupa
penetapan
ganti
rugi
paling
banyak
Rp
200.000.000,00(duaratus juta rupiah).
Selain pertanggungjawaban pelaku usaha yang diatur dalam Pasal 19
UUPK, dalam kasus diatas, pelaku usaha telah melanggar ketentuan Pasal 8 ayat
(1) huruf c UUPK dengan tidak memberikan BBM sesuai dengan ukuran, takaran,
timbangan dan jumlah yang sebenarnya. Dengan demikian, pelaku usaha dapat
dijatuhi hukuman pidana yang diatur dalam Pasal 62 ayat (1) UUPK, yaitu :
“Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1)
huruf a, huruf b, huruf c,huruf e, ayat (2) dan Pasal 18 dipidana dengan
68
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak
Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah)”.
Dan terhadap sanksi pidana dalam Pasal 62 ayat (1) UUPK, dapat
dijatuhkan hukuman tambahan yang telah diatur dalam Pasal 63 UUPK, yaitu
berupa:
a. perampasan barang tertentu;
b. pengumuman keputusan hakim;
c. pembayaran ganti rugi;
d. perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian
konsumen;
e. kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau
f. pencabutan izin usaha.
Selain memberikan tanggung jawab kepada konsumen berupa ganti
kerugian, SPBU juga wajib memberi sanksi terhadap karyawan yang melakukan
kesalahan sehingga menimbulkan kerugian pada konsumen, sanksi yang diberikan
harus sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. SPBU juga berkewajiban untuk
menekankan seluruh karyawannya untuk bekerja dan memberikan pelayanan
sesuai dengan Standar Operasional Prosedur dari SPBU tersebut sehingga
kegiatan operasional dari SPBU tersebut dapat berjalan dengan baik tanpa
merugikan siapapun.
69
Evaluasi SOP juga harus diterapkan oleh SPBU mengingat peran
karyawan sangat penting sehingga diperlukan evaluasi terhadap berjalannya SOP,
karena SOP merupakan sebuah dasar untuk karyawan SPBU agar dapat bekerja
dengan sungguh-sungguh menjadi sumber daya manusia ( SDM ) yang
professional, handal, dan jujur sehingga dapat mewujudkan visi dan misi dari
SPBU itu sendiri. Sanksi yang diberikan pada karyawan yang telah terbukti
melakukan pelanggaran hak konsumen dan menyebabkan konsumen mengalami
kerugian atas perbuatan tersebut dapat berupa peringatan dan jika dirasa sangat
fatal, sanksi dapat berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan
tersebut.
Download