BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran

advertisement
1
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Kawasan Danau
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan Batudaa yang terletak di
Kabupaten Gorontalo yang berbatasan langsung dengan Danau Limboto di
sebelah utara, kota Gorontalo di sebelah timur, Batudaa pantai di sebelah selatan
serta kec. Tabongo sebelah barat. Di lihat secara geografis Kecamatan Batudaa
berada pada 0, 300 LU, 1,00 LS, 1210 BT, 123,30 BB.
Kecamatan Batudaa merupakan Kecamatan yang memiliki 8 Desa, Dari
8 Desa hanya 7 Desa yang berda di Kawasan Danau Limboto yang menjadi titik
pengambilan sampel yaitu, titik 1 Desa Payunga, titik II Desa Ilohungayo, titik III
Desa Pilobuhuta, titik IV Desa Huntu, titik V Desa Bua, titik VI Desa Barakati,
dan titik VII Desa Iluta.
Keanekaragaman yang terdapat di Kawasan Danau Limboto Barat yang
beranekaragam seperti, perkebunan, persawahan dan tumbuhan bawah yang
terdapat di setiap Kawasan Danau. Testur tanah berupa tanah berlumpur hitam,
dan berlumpur berpasir, namun sebagian besar tekstur tanah di lokasi penelitian
berupa substrat yang berlumpur hitam dan berpasir. Sehingga memungkinkan
terdapat berbagai jenis tumbuhan bawah yang hidup di di tempat yang lembab.
Kawasan Danau ini terdapat banyak tumbuhan, baik tumbuhan semai, semak, dan
berbagai macam tumbuhan lain.
2
Gambaran lokasi penelitian pengambilan sampel tumbuhan bawah yang
disajikan melalui peta yang dibuat dengan menggunakan arcgis yakni dengan cara
memindahkan titik koordinat yang di peroleh dengan mengunakan GPS ke
aplikasi ArcGIS yang merupakan paket perangkat lunak sistem informasi
geografis (SIG), setelah itu di lanjutkan dengan Digitasi On Screen untuk
menentukan titik pengambilan sampel sehingga diperoleh petah lokasi
pengambilan sampel di Kawasan Barat Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo
(Lampiran 1).
4.2 Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kawasan Barat Danau Limboto
Kacamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo di Desa Payunga, Desa Ilohungayo,
Desa Pilobuhuta, Desa Huntu, Desa Bua, Desa Barakati, dan Desa Iluta, diperoleh
29 spesies tumbuhan bawah dari masing-masing desa (Tabe I):
Tabel I. Spesies ditemukan di lokasi pengambilan sampel.
Lokasi
Spesies
Nama Lokal
Perawakan
Desa
Payunga
Stachytarpheta jamaicensis
Cassia tora L.
Eclipta alba
Tridax procumbens
Eleusin indica
Cyperus esculentus
Iresine herbstii
Fimbristylis miliceae
Sesbania sesban
Panicum repens L.
Bergia ammannioides
Ipomea fistulosa
Acalypha australis
Phyllanthus niruri
Synedrella nodiflora
Pecut Kuda
Ketepeng Kecil
Urang Aring
Songgolangit
Bilulang
Teki Enak
Miyana Mangkuk
Babawangan
Jayanti
Lampuyangan
Tilangan
Kangkung Racun
Anting-Anting
Meniran Hijau
Gletang Warak
Semak
Semak
Semak
Herbal
Herbal
Herbal
Herbal
Herbal
Semak
Herbal
Semak
Semak
Herbal
Herbal
Herbal
Desa
Ilohungayo
3
Desa
Pilobuhuta
Begonia hirtella
Anredera sp
Begonia
Rumput kandang
Herbal
Herbal
Lokasi
Spesies
Nama Lokal
Perawakan
Desa Huntu
Mimosa pudica
Ageratum conyzoides
Wedelia trilobata
Pluchea indica
Hyptis capitata
Borreria laevis
Euphorbia hirta
Catharanthus roseus
Colocasia esculenta
Physalis angulata
Amaranthus spinosus
Chromolaena odorata
Putri Malu
Bandotan
Wedelia
Beluntas
Godong puser
Kancing Ungu
Patikan Kerbau
Tapak Dara
Talas
Ciplukan
Bayam Duri
Kirinyuh
Herbal
Herbal
Herbal
Semak
Semak
Herbal
Herbal
Herbal
Semak
Herbal
Herbal
Semak
Desa Bua
Desa
Barakati
Desa Iluta
Tabel II. Parameter lingkungan dari masing-masing Desa
Desa Payunga
Desa Ilohungayo
Desa Pilobuhuta
Desa Huntu
Desa Bua
Desa Barakati
Desa Iluta
Suhu (0C)
43
41
40
37
36
38
35
pH (%)
7.6
7.5
7.4
7.6
7.2
7.4
7.2
4.3 Pembahasan
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian di Kawasan Danau
Limboto Kecamatan Batudaa terdapat 7 titik pengambilan sampel yaitu di titik 1
Desa Payunga terdapat 12 spesies tumbuhan bawah yaitu Stachytarpheta
jamaicensis, Cassia tora L, Eclipta alba, Tridax procumbens, Eleusin indica,
Cyperus esculentus, Iresine herbstii, Fimbristylis miliceae, Sesbania sesban,
Panicum repens L, Bergia ammannioides, dan Ipomea fistulosa, titik II Desa
4
Ilohungayo terdapat 3 spesies yaitu Acalypha australis, Phyllanthus niruri dan
Synedrella nodiflora, titik III Desa Pilobuhuta terdapat 2 spesies yaitu Begonia
hirtella dan Anredera sp, titik IV Desa Huntu terdapat 3 spesi yaitu Mimosa
pudica, Ageratum conyzoides, dan Wedelia trilobata, titik V Desa Bua 4 spesies
yaitu Pluchea indica, Hyptis capitata, Borreria laevis, dan Euphorbia hirta, titik
VI Desa Barakati 3 spesies yaitu Catharanthus roseus, Colocasia esculenta,dan
Physalis angulata, dan titik VII Desa Iluta 2 spesies Amaranthus spinosus, dan
Chromolaena odorata. Dari 29 spesies tumbuhan bawah yang di temukan dari 7
titik pengambilan sampel tergolong ke dalam 17 famili (Tabel III)
Tabel III. Spesies tumbuhan bawah yang tergolong ke dalam 17 Fami.
Spesies
Amaranthus spinosus dan Iresine herbstii
Catharanthus roseus
Colocasia esculenta
Pluchea indica, Chromolaena odorata, Wedelia trilobata,
Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora, Tridax
procumbens, dan Eclipta alba
Begonia hirtella
Anredera sp
Ipomea fistulosa
Cyperus esculentus dan Fimbristylis miliceae
Bergia ammannioides
Acalypha australis, Phyllanthus niruri dan Euphorbia hirta
Mimosa pudica dan Cassia tora L.
Hyptis capitata
Sesbania sesban
Borreria laevis
Eleusin indica dan Panicum repens L.
Physalis angulata
Stachytarpheta jamaicensis
Famili
Amaranthaceae
Apocynaceae
Araceae
Asteraceae
Begoniaceae
Basellaceae
Convolvulaceae
Cyperaceae
Elatinaceae
Euphorbiaceae
Fabaceae
Lamiaceae
Papilionaceae
Passifloraceae
Poaceae
Solanaceae
Verbenaceae
Berdasarkan penelitian bilah dilihat dari spesies tumbuhan bawah yang
lebih banyak jumlah spesies ditemukan pada lokasi penelitian adalah Panicum
5
repens L yang tergolong dalam famili poaceae. Spesies ini banyak tumbuh karena
spesies ini bisa tumbuh di mana saja. Seperti dijelaskan oleh Aththorick (2005).
Suku poaceae merupakan tumbuhan sederhana sehinga mudah hidup pada
berbagai tife habitat.
Berdasarkan sifat-sifat yang di miliki oleh spesies Cyperus esculentus dan
Fimbristylis miliceae yang tergolong dalam famili cyperaceae yang memiliki
jumlah spesies tertingi kedua yaitu memiliki ekologis yang hampir sama dengan
famili poaceae tetapi karena sifat hidupnya yang berumpun menyebabkan
penyebaranya tidak merata. Famaili poaceae dan cyperaceae memiliki daya
adaptasi yang tinggi, distri busi luas yang mampu tumbuh pada lahan kering
maupun tergenang (Rukmana, 1999).
Tumbuhan bawah dari famili Asteraceae ini banyak ditemukan karena
dapat berkembangbiak melalui biji, mempunyai kemampuan beradaptasi dengan
lingkungan, misalnya sedikit air sampai tempat basah dan kebutuhan akan cahaya,
temperatur, air dan ruang tumbuh terpenuhi sesuai dengan kebutuhannya,
sehingga tumbuhan ini dapat berkembang cepat. Lapisan tanah merupakan
media yang paling memungkinkan untuk berkecambah. Selain itu lapisan
tanah
permukaan juga
merupakan
media
yang memungkinkan untuk
perkecambahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Reader dan Buck (2000),
yang menyatakan bahwa gulma dari famili Asteraceae ini banyak ditemukan,
karena dapat berkembangbiak melalui biji, mempunyai kemampuan beradaptasi
dengan lingkungan, misalnya sedikit air sampai dan tempat basah.
6
Tumbuhan yang termasuk famili Amaranthaceae terdapat di kawasan
danau karena tumbuhan ini mempunyai banyak biji yang menyebar di areal lahan.
Didukung dengan tanah yang basah pada saat musim hujan pada saat
penelitian. Hal tersebut menyebabkan famili tersebut dapat menyebar ke
seluruh areal. Hal ini didukung oleh pendapat Sastroutomo dan Sutikno
(1999), yang menyatakan bahwa famili Amaranthaceae mempunyai biji yang
banyak, mudah menyebar, serta dapat tumbuh pada tanah yang basah.
Dari ketuju lokasi yang menjadi titik pengambilan sampel memiliki
karakteristik yang berbeda di lihat dari faktor tanah dan pengunaan lahan yaitu di
titik 1 Desa Payunga memilik substar tanah pasir berlumpur dan terdapat
pengunan lahan persawahan, titik II Desa Ilohungayo memiliki tanah pasir
berlumpur terdapat pengunaan lahan yang di gunakan untuk perkebunan, titik III
Desa Pilobuhuta tanah berlumpur berpasir terdapat pengunaan lahan yang di
gunakan untuk perkebunan, titik IV Desa Huntu tanah berlumpur berpasir terdapat
pengunaan lahan yang di gunakan untuk perkebunan, titik V Desa Bua tanah
berlumpur berpasir terdapat pengunaan lahan yang di gunakan untuk perkebunan,
titik VI Desa Barakati tanah berlumpur terdapat pengunaan lahan yang di gunakan
untuk perkebunan, dan jenis substrat di titik VII Desa Iluta tanah pasir berlumpur
terdapat pengunaan lahan yang di gunakan untuk perkebunan.
Dari ke 29 spesies tumbuhan yang di temukan di 7 lokasi titik
pengambilan sampel yang ada di Kawasan Danau Limboto tumbuhanya di di buat
herbarium dan di bawah ke leb botani untuk di oven setelah kering tumbuhan
7
tersebut di atur di atas kertas herbarium kemudian di berikan nama spesies dan
klasifikasi (Lampiran 5).
Berikut ini merupakan identifikasi 29 spesies tumbuhan bawah dengan
melihat ciri-ciri morfologi setiap spesies yaitu:
1. Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Stachytarpheta jamaicensis memiliki
ciri morfologi yaitu memiliki akar tungang, batang berkayu dan arah pertumbuhan
batang tegak, bentuknya bulat dan bercabang, memiliki warna hijau keputihputihan. Daun tunggal berbentuk bulat telur, ujung daun runcing dan tepi daunya
beringgit serta pangkal daunya meruncing, pertulangan menyirip, permukaan daun
kasar dan berwarna hijau. Bentuk bunga kecil, terdapat pada tandan bunga yang
berbentuk seperti pecut, memiliki mahkota bentuk tabung dan berwarna ungu ke
biruan. (Gambar 30)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisio
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Lamiales
Family
: Verbenaceae
Genus
: Stachytarpheta
Spesies
: Stachytarpheta jamaicensis
d
8
Gambar 30. (a) perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d)Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Verbenaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuh-tumbuhan dengan
bunga sejati, dengan benang sari dan (atau) putik sehingga termasuk dalam kunci
determinasi (1b). Tidak memiliki alat pembelit (2b). daun tidak berbentuk jarum
(3b). Tumbuhan yang tidak menyerupai bangsa rumput (4b). Memiliki bentuk
daun yang jelas (6b). Bukan tumbuh-tumbuhan bangsa palem atau menyerupainya
(7b). Tumbuhan yang tidak memanjat dan tidak memiliki akar udara, daun tidak
silindris (41b). Daun berhadapan (43a). daun tunggal (44b). bentuk pertulangan
menyirip (45b). Tumbuhan yang tidak memiliki duru maupun duri tempel (48b).
Kelopak mudah terlihat bertaju lima atau berbentuk piringan (59a). Setelah di
identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari
lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson,) dan referensi lainya
sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Stachytarpheta
jamaicensis.
2. Ketepeng Kecil (Cassia tora L)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Cassia tora L memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tunggang, memiliki batang yang berkayu dengan
bentuk batang bulat dan mempunyai sistem percabangan simpodial. Daun
berbentuk bulat telur, ujung daunnya tumpul dengan pangkal daun runcing serta
tepi daun rata. Bunga merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam tandan
bertangkai panjang dan tegak yang terletak di ujung cabang dengan mahkota
9
bunga yang berwarna kuning terang. Buah berupa polong-polongan yang gepeng
berwarna hitam berbentuk segitiga lancip dan berbentuk pipih (Gambar 31).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisio
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Fabales
Famili
: Fabaceae
Genus
: Cassia
Spesies
: Cassia tora L.
d
Gambar 31. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Fabaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan tumbuhan yang
memiliki benang sari lebih banyak, dengan kepala sari yang berpori atau berongga
dan termasuk dalam kunci determinasi (1a). Memiliki daun majemuk, dan
memiliki ovarium tunggal (2b). Kelopak luar terletak di atas, biji biasanya berasal
dari radikula (4b). daun menyirip dengan tiga helaian (5a). Setelah di identifikasi
ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan
10
dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga
diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Cassia tora L.
3. Urang Aring (Eclipta alba)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Eclipta alba memiliki ciri morfologi
yaitu memiliki akar tungang, memiliki batang tegak atau berbaring, batang bulat
berwarna hijau kecoklat-coklatan dan berambuat agak kasar berwarna putih,
Daunnya berwarna hijau bentuk bundar telur memanjang, tepi daun bergerigi atau
hampir rata, kedua permukaannya berambut, bunga majemuk berbentuk bongkol
warna putih kecil-kecil di ketiak daun dan di ujung batang, kelopak bentuk corong
berwarna hijau, buahnya bulat telur, pipih berwarna hitam keras dan berbulu
dengan biji bentuk jarum berwarna hitam (Gambar 32).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Eclipta
Spesies
: Eclipta alba
c
d
Gambar 32. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
11
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan tumbuhan yang
memiliki bentuk daun tidak seperti jarum atau seperti sisik (1a). Bentuk daun
tidak melingkar, halus, tidak berduri dan memiliki kelopak bunga (2b). Bunga
memiliki bakal biji dan dilindungi oleh kelopak bunga (3a). Tumbuh-tumbuhan
yang tidak menyerupai bangsa rumput, memiliki bunga yang tidak berbentuk
bulir-bulir (4b). Bakal biji basal, dan memiliki kelopak bunga (5a). Setelah di
identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari
lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya
sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Eclipta alba.
4. Songgolangit (Tridax procumbens)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Tridax procumbens memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, Bentuk batang bulat dan permukaan
batangnya berbulu, arah tumbuh batang tegak lurus. Warna batang hijau
kecoklatan. Daun tak lengkap, warna daun hijau tua, merupakan daun majemuk.
memiliki bunga majemuk berbatas dengan tipe anak payung menggarpu. tangkai
bunga berbulu. Bunga pitanya di bagian tepi berwarna putih dan bentuknya
bintang. Bunga tabungnya berwarna kuning terang di bagian tengah dan berbentuk
bongkol (Gambar 33).
12
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Tridax
Spesies
: Tridax procumbens
d
e
Gambar 33. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan tumbuhan yang
memiliki bentuk daun tidak seperti jarum atau seperti sisik (1a). Bentuk daun
tidak melingkar, halus, tidak berduri dan memiliki kelopak bunga (2b). Bunga
memiliki bakal biji dan dilindungi oleh kelopak bunga (3a). Tumbuh-tumbuhan
yang tidak menyerupai bangsa rumput, memiliki bunga yang tidak berbentuk
bulir-bulir (4b). Bakal biji basal, dan memiliki kelopak bunga (5a). Setelah di
identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari
13
lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya
sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Tridax
procumbens.
5. Bilulang (Eleusin indica)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Eleusin indica memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, memiliki bentuk batang gepeng dengan
warnah hijau mudah sampai hijau tuah, Daun berpelepah dan duduk langsung
pada batang berbentuk pita dan pada pangkal daun terdapat rambut-rambut kasar
berwarnah putih. memiliki bunga tegak berbentuk bulir yang tersusun di ujung
dengan buliran yang rata dan licin (Gambar 34).
Klasifikasi
Kingdom: Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Poales
Famili
: Poaceae
Genus
: Eleusin
Spesies
: Eleusin indica
d
e
Gambar 34. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
14
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Poaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu bunga sejati dengan benang
sari atau putik dan termasuk dalam kunci determinasi (1b). Tidak memiliki alat
pembelit (2b). Daun yang dimiliki tidak berbentuk jarum tetapi berbentuk helaian
(3b). Tumbuhan ini termasuk ke dalam bangsa rumput, tidak berduri dan memiliki
pelepah pada pangkal batangnya (4a). Batang berbentuk pipih dan berbuku-buku
(5a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis
mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora,
Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk
dalam tumbuhan Eleusin indica.
6. Teki Enak (Cyperus esculentus)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Cyperus esculentus memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut dan umbi sebesar kelereng yang berwarna
coklat kehitaman, memiliki batang bergaris putih, daun tumbuh pada pangkal
batang dengan warna hijau berupa lembaran yang tipis dan ujung daun tajam. Dan
memiliki bunga keluar sepanjang tahun dalam karangan bunga di ujung batang.
Memiliki warna bunga putih (Gambar 35).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Cyperales
Famili
: Cyperaceae
Genus
: Cyperus
Spesies
: Cyperus esculentus
15
b
c
d
e
Gambar 35. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Cyperaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan yang tidak
berbentuk pohon, tidak memiliki duri, tidak memiliki bunga yang berbentuk malai
dan bukan tumbuhan berkayu (1b). Merupakan tumbuhan epifit, yang tidak dapat
hidup di air (2b). Dapat dibedakan antara batang dan daunnya (10b). Kepala sari
berbentuk tipis, memiliki bulu, rambut dan sisik tetapi terkadang tidak memiliki
sama sekali (11a). Bunga kecil berbentuk silindrik dilengkapi dengan bracts (12a).
Daun biasanya diatur pada tiga sisi berbentuk silindrik, batang biasanya
terbungkus dengan pelepah dan memiliki ruas, bunga memiliki dua bulir,
berbentuk silindrik (13b). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini,
penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora,
Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Cyperus esculentus.
7. Miyana Mangkuk (Iresine herbstii)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Iresine herbstii memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki perakaran serabut, memiliki batang berwarna hijau dan
bercoreng putih, arah pertumbuhan batang lurus ke atas dengan beberapa
16
percabangan. Daun tumbuh pada bagian batang berbentuk oval dan, ujung daun
meruncing dengan tepi daun rata, tidak berambut, permukaan daun halus dan
berwarna hijau bercoreng putih (Gambar 36).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Caryophyllales
Famili
: Amaranthaceae
Genus
: Iresine
Spesies
: Iresine herbstii
d
Gambar 36. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Amaranthaceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan teresterial
yang merupakan tumbuhan yang hidup atau terkait pada tanah atau permukaan
tanah (1b). Tidak memiliki cabang ramping panjang dan membelit yang di
sesuaikan untuk memenjat (3b). Tidak memiliki stipula (4b). Bukan habitus pohon
dan tidak memiliki getah (7b). Putik mengandung bakal biji tunggal (18a). Bukan
merupakan bunga yang memiliki dua jenis kelamin (jantan dan betina) yang masi
17
berfungsi (19b). Daun tidak memiliki stipula dan tidak bersatu di sekitar batang
(20b). Kadang-kadang warna tidak mencolok, buah tidak terdapat pada mahkota
bunga (21b). Warna daun sama (22b). memiliki benagsari 5 biasanya ada
beberapa benang sari tambahan (23a). Daun mahkota berlekatan dan mahkota
bunganya transparan (24a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan
ini, penulis mencocokkan
gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia
Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Iresine herbstii.
8. Babawangan (Fimbristylis miliceae)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Fimbristylis miliceae memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, bentuk batang langsing. Daunya tumbuh
pada pangkal batang dengan warna hijau berupa lembaran yang tipis dan ujung
daun tajam. Dan bunga keluar sepanjang tahun dalam karangan bunga di ujung
batang. Karangan bunga tersusun berwarna coklat kemerahan dan buah kecil
(Gambar 37).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Cyperales
Famili
: Cyperaceae
Genus
: Fimbristylis
Spesies
: Fimbristylis miliceae
18
b
c
d
e
Gambar 37. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Cyperaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu dimana merupakan
tumbuhan yang tidak berbentuk pohon, tidak memiliki duri, tidak memiliki bunga
yang berbentuk malai dan bukan tumbuhan berkayu (1b). Merupakan tumbuhan
epifit, yang tidak dapat hidup di air (2b). Dapat dibedakan antara batang dan
daunnya (10b). Hiasan bunga berbentuk tipis, memiliki bulu, rambut tetapi
terkadang tidak memiliki sama sekali (11a). Bunga kecil berbentuk silindrik (12a).
Daun biasanya diatur pada tiga sisi berbentuk silindrik, batang biasanya
terbungkus dengan pelepah dan memiliki ruas, bunga memiliki dua bulir,
berbentuk silindrik (13b). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini,
penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora,
Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Fimbristylis miliceae.
19
9. Jayanti (Sesbania sesban)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Sesbania sesban memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, batang tegak dengan tinggi batang 2-6 m.
Daun berupa daun majemuk menyirip, dengan 9-35 pasang anak daun berbentuk
garis sampai memanjang, bertangkai pendek, ujung bulat, tepi rata. Bunga dalam
tandan, warnanya kuning. Buahnya buah polong, tumbuh menggantung,
berbentuk garis (Gambar 38).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisio
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Papilionales
Famili
: Papilionaceae
Genus
: Sesbania
Spesies
: Sesbania sesban
d
Gambar 38. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Papilionaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (stenis, 2008), yaitu Tumbuh-tumbuhan dengan
bunga sejati, sedikit-sedikitnya dengan benang sari dan atau putik (1b). Tidak ada
20
alat pembelit (2b). Daun tidak berbentuk jarum atau tidak terdapat dalam berkas
tersebut di atas (3b). Tumbuhan-tumbuhan tidak menyerupai bangsa rumput, daun
atau bunga berlainan dengan yang di terangkan di atas (4b). Dengan daun yang
jelas (6b). Bukan tumbuhan-tumbuhan bangsa palem atau yang menyerupainya
(7b). Tumbuhan-tumbuhan memanjat atau membelit (9a). Tumbuhan-tumbuhan
tidak memanjat dengan akar udara, daun tidak silindris (41b). Tumbuhan tidak
demikian (42b). Daun tersebar (43b). Daun majemuk (54a). Daun menyirip ganjil
atau berbilangan 3, buah tidak berduri tepel (55b). Benang sari sebanyakbanyaknya 10, bakal buah 1, buah polong atau buah buni (57b). Daun lain, tajuk
bunga lepas, zigomorf, jarang kuning, benag sari 10, buah polong (58b). Setelah
di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar
dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi
lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Sesbania
sesban.
10. Lampuyangan (Panicum repens L.)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Panicum repens L memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar rimpang, menjalar di bawah permukaan tanah.
Daun berukuran 4-30 cm x 3-9 mm berbentuk garis dengan kaki lebar dan ujung
runcing. Bunga majemuk berupa malai agak jarang. Senang tumbuh di tempat
yang lembab dan tidak menyukai kekeringan. Menghasilkan daun yang
sedikit(Gambar 39).
21
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Poales
Famili
: Poaceae
Genus
: Panicum
Spesies
: Panicum repens L.
c
d
Gambar 39. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Graminae atau
Poaceae yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan
tumbuhan yang memiliki bunga sejati dengan benang sari atau putik dan termasuk
dalam kunci determinasi (1b). Tidak memiliki alat pembelit (2b). Memiliki daun
berbentuk jarum tetapi berbentuk helaian (3b). Tumbuhan ini termasuk ke dalam
bangsa rumput, tidak berduri dan memiliki pelepah pada pangkal batangnya (4a).
Batang berbentuk pipih dan berbuku-buku (5a) Setelah di identifikasi ciri
morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan
buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui
bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Panicum repens L.
22
11. Tilangan (Bergia ammannioides)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Bergia ammannioides memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, batang berkayau berwarna merah. Daun
berbentuk bulat telur, tepi bergerigi halus bagian atas permukan daun berambut
halus, memiliki bunga yang keluar dari ketiak daun dan memiliki kelopok bunga
berjumlah 5 berbentuk bulat telur hinga lonjong berwarnah putih. Benang sari
berjumlah 10. Buah berbentuk kapsul dan berbiji banyak, bentuk biji berurat jala,
dan berwarnah coklat mudah (Gambar 40).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Elatinales
Famili
: Elatinaceae
Genus
: Bergia
Spesies
: Bergia ammannioides
c
c
Gambar 40. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
23
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili yang mengacu
pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu terdapat kelopak dan mahkota (1b).
Memiliki benang sari lebih dari dua (2b). Memiliki daun yang tumbuh berhadapan
(4b). Kepala putik tidak memiliki celah(7b). memiliki batang yang berbuluh,
Tumbuhan yang dapat tumbuh di air atau lumpur basa (10a). Setelah di
identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari
lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya
sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Bergia
ammannioides.
12. Kangkung Racun (Ipomea fistulosa)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Ipomea fistulosa memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, memiliki batang berwarna hijau atau hijau
kecoklatan. Getah berwarna susu dan agak kental. Daun berbentuk hati atau agak
bulat telur dan berwarna hijau. Memiliki bunga muncul dari ketiak daun, mahkota
bunganya berwarna lembayung atau ungu muda dengan bagian pangkal
membentuk tabung. Putik tumbuh di bagian tengah, di kelilingi benang sarinya,
buah berbentuk membulat. Biji berukuran kecil dan berwarna coklat kekuningan
(Gambar 41).
Klasifikasi
Kingdom :Plantae
a
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Solanales
Famili
: Convolvulaceae
Genus
:Ipomoea
Spesies
: Ipomea fistulosa
24
b
c
d
Gambar 41. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Convolvulaceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan Benang
sari lebih dari dua yang termasuk dalam kunci determinasi (1b). Kepala sari
bersatu, daun tidak beraroma (2b). Tidak memiliki urat daun paralel (3b).
Tumbuhan berbunga, kelopak tidak bersatu (4b). Benang sari lebih dari dua (5b).
Jumlah benang sari lebih atau kurang dari kelopak (13b). Bentuk bunga simetri
atau sama , benang sari bersatu (21b). Buah tidak berbentuk polong (22b). Kepala
putik tidak memiliki celah (23b). Warna daun sama, kepala putik biasanya dua
(25a). Bentuk bunga biseksual (26b). Daun berwarna hijau (27b). Tumbuhan
semak, tidak memiliki bulu (28b). Bukan tumbuhan herba yang memiliki getah
kental (29b). Putik bersel satu sampai empat (33b). Benang sari tidak bersatu
dalam tabung (37b). Bunga tidak dalam spiral, kelopak tidak memiliki pelengkap
(38b). Bunga terletak pada ketiak daun (40b). Setiap putik memiliki satu sampai
dua bakal biji (42a). Bentuk bunga besar (43b). Tumbuhan semak (44a). Setelah
di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar
dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi
25
lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Ipomea
fistulosa.
13. Anting-Anting (Acalypha australis)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Acalypha australis memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, dan memiliki batang tegak bulat, berambut
halus serta berwarna hijau. Daun tunggal berbentuk belah ketupat berwarna hijau
dan berujung runcing serta tepi bergerigi terletak menyebar di sepanjang pohon
dan batang. Bunga majemuk berbentuk bulir, keluar dari ketiak daun dan ujung
cabang. Buah berbentuk bulat, warna hitam. Biji berbentuk bulat panjang
berwarna coklat (Gambar 42).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Euphorbiales
Famili
: Euphorbiaceae
Genus
: Acalypha
Spesies
: Acalypha australis
d
e
Gambar 42. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
26
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Euphorbiceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu hidup di daerah
kering, batang tidak memiliki ruas, dan benang sari lebih dari dua (1b). Bentuk
daun kecil (2b). Daun tidak memiliki sulur dan tidak memiliki urat daun (3b).
Bukan tumbuhan semak, bukan bunga terbuka dan memiliki stipula (4a). Benang
sari lebih dari dua (5a). Bakal biji sedkit (6b). Daun tidak memiliki kelenjar
aromatik (7b). Batang memiliki percabangan (8a). Pelindung putik berada di
pucuk (10b). Bentuk daun kecil, dan tdak memiliki rambut-rambut (12b). Batang
memiliki getah (13a). benang sari tidak bersatu (21b). Buah tidak berbentuk
polong (22b). Kepala sari memiliki celah membujur (23b). bentuk daun bervariasi
(25a). Bunga berkelamin tunggal (26a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari
tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku
(Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa
tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Acalypha australis.
14. Meniran Hijau (Phyllanthus niruri)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Phyllanthus niruri memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut dan memiliki batang berwarna hijau pucat.
Daun manjemuk berwarnah hijau dan terletak berseling. Setiap ibu tangkai
majemuk terdapat 14-24 anak daun. Anak daun berbentuk bulat telur hingga
lonjong, bagian ujungnya tumpul, pangkalnya membulat, dan bertepi rata. Bunga
berwarna hijau pucat yang terkadang bercoreng merah. Buah berbentuk bulat pipi,
kecil. Dan memiliki biji keras dan berwarna coklat (Gambar 43).
27
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Euphorbiales
Famili
: Euphorbiaceae
Genus
: Phyllanthus
Spesies
: Phyllanthus niruri
d
e
Gambar 43. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Buah
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Euphorbiceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu hidup di daerah
kering, batang tidak memiliki ruas, dan benang sari lebih dari dua (1b). Bentuk
daun kecil (2b). Daun tidak memiliki sulur dan tidak memiliki urat daun (3b).
Bukan tumbuhan semak, bukan bunga terbuka dan memiliki stipula (4a). Benang
sari lebih dari dua (5a). Bakal biji sedkit (6b). Daun tidak memiliki kelenjar
aromatik (7b). Batang memiliki percabangan (8a). Pelindung putik berada di
pucuk (10b). Bentuk daun kecil, dan tdak memiliki rambut-rambut (12b). Batang
memiliki getah (13a). benang sari tidak bersatu (21b). Buah tidak berbentuk
28
polong (22b). Kepala sari memiliki celah membujur (23b). bentuk daun bervariasi
(25a). Bunga berkelamin tunggal (26a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari
tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku
(Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa
tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Phyllanthus niruri
15. Gletang Warak (Synedrella nodiflora)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Synedrella nodiflora memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut. Dan memiliki batang tegak atau berbaring
pada pangkalnya. Daun-daun berhadapan dengan bentuk daun bundar telur, tepi
daun bergerigi lemah, dan berambut di kedua permukaannya. Bunga majemuk
dalam bongkol kecil, bentuk bunga cakram serupa tabung memiliki 6–18 buah,
berwarna kuning muda dengan taju kuning cerah (Gambar 44)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Synedrella
Spesies
: Synedrella nodiflora
29
b
c
d
Gambar 44. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan ini memiliki
bentuk daun tidak seperti jarum atau seperti sisik (1a). Bentuk daun tidak
melingkar, halus, tidak berduri dan memiliki kelopak bunga (2b). Bunga memiliki
bakal biji dan dilindungi oleh kelopak bunga (3a). Tumbuh-tumbuhan yang tidak
menyerupai bangsa rumput, memiliki bunga yang tidak berbentuk bulir-bulir (4b).
Bakal biji basal, dan memiliki kelopak bunga (5a). Setelah di identifikasi ciri
morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan
buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui
bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Synedrella nodiflora
16. Begonia (Begonia hirtella)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Begonia hirtella memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, memiliki batang tegak, dan di lihat dari
bentuk daun menyerupai bentuk hati, oval dan bintang. Teksturnya ada yang
kasar, mengkilap, keriting maupun bergelombang dan memiliki warna daun hijau.
Bunga tanaman ini juga mampu menghasilkan biji walaupun biasanya antara
30
benang sari dan ovum tidak matang secara bersama dan bunganya mudah rontok
sehingga jarang (Gambar 45).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Division
: Magnoliophyta
Class
: Magnoliopsida
Order
: Violales
Famili
: Begoniaceae
Genus
: Begonia
Spesies
: Begonia hirtella
d
e
Gambar 45. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bung
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Begoniaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu Tanaman yang hidup di
darat (1b). Termasuk tumbuhan herbal yang hidup parasit (4b). Tanaman hidup
bebas (13b). Bunga biasanya tidak berkumpul (18b). Letak daun miring dan
terdapat kurang lebih tiga benagsari (19a). Setelah di identifikasi ciri morfologi
dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku
31
(Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa
tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Begonia hirtella
17. Rumput Kandang (Anredera sp)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Anredera sp memiliki ciri morfologi
yaitu memiliki akar serabut yang keluar dari batang, memiliki batang berupa
batang menjalar didalam tanah atau sebagaian diatas permukaan tanah dan dapat
menghasilkan tanaman baru dari ruas-ruasnya dengan tumbuh tunas dan akar
sehingga terbentuk tanaman baru. memiliki bentuk daun menyerupai bentuk hati
dan berwarnah hijau (Gambar 46).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Caryophyllales
Famili
: Basellaceae
Genus
: Anredera
Spesies
: Anredera sp
d
Gambar 46. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
32
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Basellaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan darat (1b).
Tumbuhan herbal memanjat atau parasit (4b). Tumbuhan yang hidup liar (13b).
Bunga biasanya hanya melekat pada pangkal batang (18b). Bentuk daun tidak
miring (19b). putik lebih besar (20a). Kepalasari 3 bakalbiji banyak (21a). Daun
tidak memiliki pelepah (22a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan
ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora,
Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Anredera sp
18. Putri Malu (Mimosa pudica L.)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Mimosa pudica L memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, batang berbentuk segi empat dengan durih
menempel tumbuh rapat tiap sisinya dan berwarna coklat kemerahan. Daun
manjemuk menyirip genap, bentuk anak daunya berbentuk lonjang atau bulat
telur, dengan warna hijau dan tepinya merah keunguan. Memiliki bunga yang
keluar dari ketiak daun tergolong bunga majemuk dengan warna mahkota merah
muda atau merah ke unguan. Bentuk bunga majemuk membulat dengan tangkai
yang cukup panajang. Buah polong mengelompok pada tangkai karangan bunga
dan berambut kasar atau berduri (Gambar 47).
33
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Fabales
Famili
: Fabaceae
Genus
: Mimosa
Spesies
: Mimosa pudica
d
e
Gambar 47. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Fabaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan tumbuhan yang
memiliki benang sari lebih banyak, dengan kepala sari yang berpori atau berongga
dan termasuk dalam kunci determinasi (1a). Memiliki daun majemuk, dan
memiliki ovarium tunggal (2b). Kelopak luar terletak di atas, biji biasanya berasal
dari radikula (4b). daun menyirip dengan tiga helaian (5a). Setelah di identifikasi
ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan
dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga
diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Mimosa pudica L.
34
19. Bandotan (Ageratum conyzoides)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Ageratum conyzoides memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, batang bulat dengan banyak cabang
memiliki batang berwarna cokelat keunguan. Daun berwarna hijau dan berbentuk
lonjong dengan tepi bergerigi, permukaan daunya berambut halus, memiliki bunga
berupa bonggol yang terletak di ujung batang. Bunga bunga majemuk, dengan
mahkota bunga berwarna putih atau putih ke unguan (Gambar 48).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Ageratum
Spesies
: Ageratum conyzoides
d
e
Gambar 48. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
35
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan ini memiliki
bentuk daun tidak seperti jarum atau seperti sisik (1a). Bentuk daun tidak
melingkar, halus, tidak berduri dan memiliki kelopak bunga (2b). Bunga memiliki
bakal biji dan dilindungi oleh kelopak bunga (3a). Tumbuh-tumbuhan yang tidak
menyerupai bangsa rumput, memiliki bunga yang tidak berbentuk bulir-bulir (4b).
Bakal biji basal, dan memiliki kelopak bunga (5a). Setelah di identifikasi ciri
morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan
buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui
bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Ageratum conyzoides.
20. Wedelia (Wedelia trilobata)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Wedelia trilobata memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, dan memiliki batang bulat berwarna hijau.
Daun berwarna hijau, berbentuk oval, dengan tepi daun halus, dan letaknya
berhadapan. Permukaan daunya kasar. memiliki bunga berupa bonggol yang
terletak di ujung batang. Bunga termasuk bunga majemuk, dengan mahkota bunga
berwarna kuning (Gambar 49).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Wedelia
Spesies
: Wedelia trilobata
36
b
c
d
e
Gambar 49. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan ini memiliki
bentuk daun tidak seperti jarum atau seperti sisik (1a). Bentuk daun tidak
melingkar, halus, tidak berduri dan memiliki kelopak bunga (2b). Bunga memiliki
bakal biji dan dilindungi oleh kelopak bunga (3a). Tumbuh-tumbuhan yang tidak
menyerupai bangsa rumput, memiliki bunga yang tidak berbentuk bulir-bulir (4b).
Bakal biji basal, dan memiliki kelopak bunga (5a). Setelah di identifikasi ciri
morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan
buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui
bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Wedelia trilobata.
37
21. Beluntas (Pluchea indica L.)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Pluchea indica L memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, dan memiliki tumbuh tegak, tinggi bisa
mencapai 2 m. Batang berambut halus. Daun bulat telur, ujung lancip dan
berwarna hijau muda, letak berseling dan berbau khas. Bunga majemuk bentuk
malai, keluar dari ketiak daun, bercabang-cabang, warna putih kekuningan. Buah
kecil, keras berwarna coklat, dan biji coklat keputih-putihan (Gambar 50).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Pluchea
Spesies
: Pluchea indica
d
Gambar 50. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
38
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan ini memiliki
bentuk daun tidak seperti jarum atau seperti sisik (1a). Bentuk daun tidak
melingkar, halus, tidak berduri dan memiliki kelopak bunga (2b). Bunga memiliki
bakal biji dan dilindungi oleh kelopak bunga (3a). Tumbuh-tumbuhan yang tidak
menyerupai bangsa rumput, memiliki bunga yang tidak berbentuk bulir-bulir (4b).
Bakal biji basal, dan memiliki kelopak bunga (5a). Setelah di identifikasi ciri
morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan
buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui
bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Pluchea indica L.
22. Godong puser (Hyptis capitata)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Hyptis capitata memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, batang tumbuh tegak berbentuk segi
empat berwarna hijau bercorak lembayung, pada buku-buku batang dan cabang
daun duduk berhadapan. Bentuk daun bulat telur, tepinya beringgit dengan tajuk
agak tumpul mengarah ke depan, ujung daun agak runcing dan pangkal daun agak
lancip dan tangkainya pendek. Bunga berbentuk lonceng muncul dari ketiak daun,
memiliki kelopka berwarna hijau dan berambut. Biji berbentuk kecil dan berwarna
coklat kehitam-hitaman (Gambar 51).
39
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Spermatophyta
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Lamiales
Famili
: Lamiaceae
Genus
: Hyptis
Spesies
: Hyptis capitata
d
e
Gambar 51. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Lamiaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu memiliki benang sari yang
banyak dan pada kepala sari terdapat pori-pori atau rongga sehingga termasuk
dalam kunci determinasi (1b). Benang sari memiki septa atu pembatas (6b).
Memiliki pelindung putik dengan bakal biji empat atau lebih (14a). Bakal biji
terletak dalam putik (15b). Tumbuhan berkayu atau herba (18b). Buah tidak
berbentuk polong (19b). Putik mempunyai empat septa atau pembatas, buah
biasanya empat, memiliki dua kelopak dan mahkota (21a). Setelah di identifikasi
ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan
40
dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga
diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Hyptis capitata
23. Kancing Ungu (Borreria laevis)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Borreria laevis memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tunggang, batang yang tegak berwarna ungu, dan
pada buku-bukunya tumbuh dua helai daun yang berhadapan berbentuk bulat
panjang lanset bagian pangkal melebar dan ujung runcing, bunga mempunyai dua
kelopak berambut halus, mahkota berbentuk seperti lonceng dengan 4 daun tajuk,
dan kepala bunga kecil terdapat di ketiak daun dan di ujung batang. Buah
berbentuk lonjong dan berambut di bagian atas (Gambar 52).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisio
: Spermatophyta
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Violales
Famili
: Passifloraceae
Genus
: Borreria
Spesies
: Borreria laevis
d
e
Gambar 52. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
41
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Passifloraceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan yang
memiliki kelopak dan benang sari yang sangat bayak di dalam tabung (1b).
Tangkai batang yang menempel pada batang (7b). Tanaman yang hidup bebas dan
memiliki klorofil (11b). Memiliki kelopak dan benangsari masing-masing kurang
dari 10 (12b). Benang sari tidak menyebar (13b). Daun tidak lengkap (14b)
Kepala sari memiliki celah membujur (15a). Tanaman ini memiliki tangkai
dengan bunga di ujung tangkai terdapat benag sari yang berkumpul. Setelah di
identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari
lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya
sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Borreria laevis
24. Patikan Kerbau (Euphorbia hirta L.)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Euphorbia hirta L memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, batang bercabang tidak beraturan
kesegalah arah, setiap ruas agak mengelembung, berbatang lunak berwarna coklat
kehijauan dan jika di potong akan mengeluarkan getah berwarna putih. Daun
berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing, tepi bergerigi, dan
permukaan kasar. Daun bertangkai pendek, dan letaknya duduk berhadapan,
Bunga keluar dari pangkal tangkai daun. Bunga terletak dalam tongkol yang
terdiri atas rangkain bunga. Buah kecil-kecil berwarna merah muda dan buah
berisi biji kecil-kecil (Gambar 53).
42
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Euphorbiales
Famili
: Euphorbiaceae
Genus
: Euphorbia
Spesies
: Euphorbia hirta
d
e
Gambar 53. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Euphorbiceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan hidup di
daerah kering, batang tidak memiliki ruas, dan benang sari lebih dari dua (1b).
Bentuk daun kecil (2b). Daun tidak memiliki sulur dan tidak memiliki urat daun
(3b). Bukan tumbuhan semak, bukan bunga terbuka dan memiliki stipula (4a).
Benang sari lebih dari dua (5a). Bakal biji sedkit (6b). Daun tidak memiliki
kelenjar aromatik (7b). Batang memiliki percabangan (8a). Pelindung putik berada
di pucuk (10b). Bentuk daun kecil, dan tdak memiliki rambut-rambut (12b).
43
Batang memiliki getah (13a). benang sari tidak bersatu (21b). Buah tidak
berbentuk polong (22b). Kepala sari memiliki celah membujur (23b). bentuk daun
bervariasi (25a). Bunga berkelamin tunggal (26a). Setelah di identifikasi ciri
morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan
buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui
bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan Euphorbia hirta L
25. Tapak Dara (Catharanthus roseus)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Catharanthus roseus memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar tungang, memiliki batang berkayu berbentuk bulat
dengan diameter yang berukuran kecil, beruas, dan bercabang serta berambut.
Daunnya berwarna hijau, berbentuk bulat telur, dan berdaun tunggal. Bunganya
yang indah menyerupai terompet, dan permukaannya berbulu halus(Gambar 54).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Gentianales
Famili
: Apocynaceae
Genus
: Catharanthus
Spesies
: Catharanthus roseus
44
b
c
d
Gambar 54. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Apocynaceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu memiliki benang sari
lebih dari satu yang termasuk dalam kunci determinasi (1b). Kelopak atau putik
bersatu, daun tidak beraroama (3b). Bukan bunga terbuka, kelopak biasanya
bersatu (4b). Benang sari lebih banyak dari kelopak (5b). Benang sari lebih atau
kurang dari kelopak (13b). Benang sari tidak bersatu dalam dua tabung (21b).
Bentuk daun tunggal, buah tidak berbentuk polong (22b). Kepala putik memiliki
celah atau pori dan berisi benang sari (23b). Warna daun biasanya berlawanan
(25b). Tidak berbentuk semak (46a). Biasanya memiliki getah, buah biasanya dua,
dengan biji yang halus atau kecil (47a). Putik dilindungi oleh kelopak (48a).
Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini, penulis mencocokkan
gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora, Flora, Jhonson) dan
referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan
Catharanthus roseus.
45
26. Talas (Colocasia esculenta)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Colocasia esculenta memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, batang tidak tampak karena terbenam di
dalam tanah. Daun bertangkai panjang dengan bentuk bulat menjantung atau
terkadang segitiga menjantung. Daun berwarna hijau dengan bagian bawah daun
berwarna hijua pucat. Memiliki tangkai daun yang melekat pada pangkal daun
agak ke tengah, tangkai daun berwarna hijau. Setiap tumbuhan talas berdaun 2-5
lembar. Bunga berupa tongkol berseludang dengan warna kuning pucat. Tangkai
bunga keluar dari ketiak daun (Gambar 55).
Klasifikasi
a
b
c
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Alismatales
Famili
: Araceae
Genus
: Colocasia
Spesies
: Colocasia esculenta
d
Gambar 55. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
46
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili araceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan tumbuhan yang
tidak berbentuk pohon, tidak memiliki duri, tidak memiliki bunga yang berbentuk
malai dan bukan tumbuhan berkayu (1b). Merupakan tumbuhan epifit, yang tidak
dapat hidup di air (2b). Dapat dibedakan antara batang dan daunnya (10b). Bunga
terdapat di atas atau pada ujung tongkol (12b). Bukan tumbuhan berhabitus
pohon, atau semak, tidak memiliki akar tunggang, tidak memiliki bentuk daun
yang tajam dan bergerigi (14b). Bentuk bunga sederhana, memiliki batang yang
berdaging, bunga terbungkus dalam kuncup, memiliki urat daun (15a). Bentuk
daun batang bervariasi (16b). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan
ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora,
Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Colocasia esculenta
27. Ciplukan (Physalis angulata)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Physalis angulata memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, memiliki batang tegak. Daun berbentuk
bulan telur dengan ujungnya yang meruncing. Tepi daun terkadang rata terkadang
tidak. Bunga terdapat di ketiak daun, dengan tangkai tegak berwarna keunguan
dan dengan ujung bunga yang mengangguk. Kelopak bunga berbagi lima. Buah
terdapat dalam bungkus kelopak yang menggelembung berbentuk telur berujung
meruncing berwarna hijau muda kekuningan, dengan rusuk keunguan. Buah buni
di dalamnya berbentuk bulat memanjang dengan warna kekuningan (Gambar 56)
47
Klasifikasi
a
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Solanales
Famili
: Solanaceae
Genus
: Physalis
Spesies
: Physalis angulata
a
b
c
d
Gambar 56. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Solanaceae yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu hidup di daerah kering,
batang tidak memiliki ruas, dan benang sari lebih dari dua (1b). Bentuk daun kecil
(2b). Daun tidak memiliki sulur dan tidak memiliki urat daun (3b). Bukan
tumbuhan semak, bukan bunga terbuka dan memiliki stipula (4a). Benang sari
lebih dari dua (5a). Bakal biji sedkit (6b). Daun tidak memiliki kelenjar aromatik
(7b). Batang memiliki percabangan (8a). Pelindung putik berada di pucuk (10b).
Bentuk daun kecil, dan tdak memiliki rambut-rambut (12b). Batang memiliki
getah (13a). benang sari tidak bersatu (21b). Buah tidak berbentuk polong (22b).
48
Kepala sari memiliki celah membujur (23b). bentuk daun bervariasi (25a). Bunga
berkelamin tunggal (26a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan ini,
penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora,
Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Physalis angulata
28. Bayam Duri (Amaranthus spinosus)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Amaranthus spinosus memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar serabut, batang berwarna merah dan pada ruasruasnya tumbuh duri. Daun berbentuk lonjong meruncing, berwarna hijau
bercoreng merah, ukuran daunya sangat kecil, memiliki bunga yang sangat kecil
berwarna putih terletak dalam bulir dan bunganya keluar dari ujung batang dan
beberapa jenis keluar dari ketiak daun. Dan memiliki biji yang kecil (Gambar 57).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Caryophyllales
Famili
: Amaranthaceae
Genus
: Amaranthus
Spesies
: Amaranthus spinosus
49
b
c
d
e
Gambar 57. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
(e) Bentuk Bunga
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili amaranthaceae
yang mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu tumbuhan teresterial
yang merupakan tumbuhan yang hidup atau terkait pada tanah atau permukaan
tanah (1b). Tidak memiliki cabang ramping panjang dan membelit yang di
sesuaikan untuk memenjat (3b). Tidak memiliki stipula (4b). Bukan habitus pohon
dan tidak memiliki getah (7b). Putik mengandung bakal biji tunggal (18a). Bukan
merupakan bunga yang memiliki dua jenis kelamin (jantan dan betina) yang masi
berfungsi (19b). Daun tidak memiliki stipula dan tidak bersatu di sekitar batang
(20b). Kadang-kadang warna tidak mencolok, buah tidak terdapat pada mahkota
bunga (21b). Warna daun sama (22b). memiliki benagsari 5 biasanya ada
beberapa benang sari tambahan (23a). Daun mahkota berlekatan dan mahkota
bunganya transparan (24a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan
ini, penulis mencocokkan
gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia
Flora, Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Amaranthus spinosus
50
29. Kirinyuh (Chromolaena odorata)
Berdasarkan hasil pengamatan spesies Chromolaena odorata memiliki ciri
morfologi yaitu memiliki akar berupa akar tunggang, memiliki batang berbentuk
bulat, arah tumbuh batang tegak lurus, percabangan pada batang merupakan
cabang monopodial, pada permukaan batang memiliki permukaan berbulu atau
berambut, memiliki bentuk daun segitiga runcing. Bentuk pangkal daun romping
atau rata. Bentuk tepi daun yaitu toreh dan bergerigi, warna daun hijau tua. Jenis
daun memiliki permukaan dau yang berbulu halus dan rapat (Gambar 58).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
a
b
c
Diviso
: Magnoliohyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Chromolaena
Spesies
: Chromolaena odorata
c
Gambar 58. (a) Perawakan (b) Bentuk Akar (c) Bentuk Batang (d) Bentuk Daun
Sumber : Dokumentasi Peneliti 2013
51
Dari hasil identifikasi spesies ini termasuk dalam famili Asterceae, yang
mengacu pada kunci determinasi (Culen, 2006), yaitu merupakan tumbuhan yang
memiliki bentuk daun tidak seperti jarum atau seperti sisik yang termasuk dalm
kunci determinasi (1a). Bentuk daun tidak melingkar, halus, tidak berduri dan
memiliki kelopak bunga (2b). Bunga memiliki bakal biji dan dilindungi oleh
kelopak bunga (3a). Tumbuh-tumbuhan yang tidak menyerupai bangsa rumput,
memiliki bunga yang tidak berbentuk bulir-bulir (4b) Bakal biji basal, dan
memiliki kelopak bunga (5a). Setelah di identifikasi ciri morfologi dari tumbuhan
ini, penulis mencocokkan gambar dari lapangan dengan buku (Ensiklopedia Flora,
Flora, Jhonson) dan referensi lainya sehinga diketahui bahwa tumbuhan ini
termasuk dalam tumbuhan Chromolaena odorata
4.3 Kondisi Parameter Lingkungan di Kecamatan Batudaa
Hasil pengukuran kondisi parameter lingkungan yang terdapat di
Kecamatan batudaa yang berdasarkan delapan stasiun yaitu titik 1 Desa Payunga,
titik II Desa Ilohungayo, titik III Desa Pilobuhuta, titik IV Desa Huntu, titik V
Desa Bua, titik VI Desa Barakati, dan titik VII Desa Ilut yang dapat di lihat pada
diagram dibawah, untuk suhu yang diperoleh pada titik I 43 0C, titik II 41 0C, titik
III 40 0C, titik IV 37 0C, titik V 36 0C, sedangkan titik VI 38 OC. Dan titik VII 35
O
C. Derajat keasaman (pH) tanah pada titik I 7.6 %, titik II 7.5 %, titik III 7.4 %,
titik IV 7.6 %, titik V 7,2 %, titik VI 7,4 % , dan titik VII 7,2% (Lampiran 1).
52
Suhu (0C)
50
40
30
20
10
0
Suhu (0C)
Gambar 61:: Diagram perbandingan Suhu stasiun I, II, III, IV, V, VI, dan stasiun
VII
pH (%)
7,6
7,5
7,4
7,3
7,2
7,1
7
pH (%)
Gambar 62: Diagram perbandingan pH tanah stasiun I, II, III, IV, V, VI, dan
stasiun VII
Parameter lingkungan sangat berpera
berperan
n dalam proses pertumbuhan
tumbuhan bawah adalah suhu yang merupakan salah satu faktor lingkungan yang
dapat digunakan sebagai indikator unt
untuk
uk mementukan perubahan ekologi, faktor
lingkungan seperti cahaya, kelembaban, dan pH tanah, dari masing-masing
masing
jenis
pada lokasi Kawasan Danau Limboto terdapat keanekaragaman
n tumbuhan bawah
53
memperlihatkan
tingkatan
keanekaragaman
yang
tinggi
berdasarkan
komposisinya. Perbedaan bentang lahan, tanah, faktor iklim serta perbandingan
keanekaragaman spesies tumbuhan bawah, memperlihatkan banyak perbedaan,
baik dalam kekayaan jenisnya maupun pertumbuhannya. Suhu yang berada pada
titik I 43 0C, titik II 41 0C, titik III 40 0C, titik IV 37 0C, titik V 36 0C, sedangkan
titik VI 38 OC. Dan titik VII 35 OC. berarti suhu yang dimiliki oleh Kawasan
Danau Limboto baik untuk pertumbuhan tumbuhan bawah. Suhu yang diukur
relatif tinggi karena pengukuran suhu dilakukan pada siang hari. Menurut Risa
(2007) menyatakan bahwa tumbuhan memerlukan Suhu yang sesuai sehingga
dapat tumbuh dan berkembang dengan berkisaran suhu optimal bagi spesies
tumbuhan adalah 28-30oC, sedangkan untuk fotosintesis tumbuhan bawah
membutukan suhu optimum berkisar antara 25-35 oC dan pada saat cahaya jenuh
dan tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis.
Menurut Risa (2007) Derajat keasaman (pH) juga menpengaruhi
pertumbuhan tumbuhan bawah karena adanya pH tanah yang dapat mengatur
kelarutan nutrient dalam tanah. Derajat keasaman (pH) pada titik I 7.6 %, titik II
7.5 %, titik III 7.4 %, titik IV 7.6 %, titik V 7,2 %, titik VI 7,4 % , dan titik VII 7,2%
Parameter lingkungan yang terdapat pada lokasi penelitian di Kawasan Barat
Danau Limboto Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo disimpulkan cukup
baik untuk proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan bawah.
54
Download