PENGARUH PEMBERIAN PUPUK DAUN TERHADAP

advertisement
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK DAUN TERHADAP
PERTAMBAHAN JUMLAH DAUN PADA TANAMAN LADA
(Piper nigrum L.)
Oleh :
ABDUL RAHIM
NIM. 100500096
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2013
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK DAUN TERHADAP
PERTAMBAHAN JUMLAH DAUN PADA TANAMAN LADA
(Piper nigrum L.)
Oleh
Abdul Rahim
NIM. 100500096
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli
Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2013
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK DAUN TERHADAP
PERTAMBAHAN JUMLAH DAUN PADA TANAMAN LADA
(Piper nigrum L.)
Oleh :
ABDUL RAHIM
NIM. 100500096
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya
Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2013
ABDUL RAHIM NIM 100500096
2013
Saya persembahkan karya ilmiah ini untuk: Ayahanda & Ibunda Tercinta
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah : Pengaruh Pemberian Pupuk Daun terhadap
Pertambahan Jumlah Daun pada Tanaman Lada.
(Piper nigrum L.)
Nama
: Abdul Rahim
NIM
: 100500096
Program Studi
: Budidaya Tanaman Perkebunan
Jurusan
: Manajemen Pertanian
Pembimbing,
Nur Hidayat, SP, M. Sc
NIP. 197210252001121001
Penguji I,
Penguji II,
Yuanita, SP, MP
Rusmini SP, MP
NIP.196611252001122001 NIP. 198111302008122002
Menyetujui,
Ketua Program Studi
Budidaya Tanaman Perkebunan
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
Ir. Syarifuddin, MP
NIP. 196507062001121001
Ir. Hasanudin, MP
NIP. 196308051989031005
Lulus ujian pada tanggal :
ABSTRAK
ABDUL RAHIM, Pengaruh Pemberian Pupuk Daun terhadap
Pertambahan Jumlah Daun pada Tanaman Lada (Piper nigrum L.) (di
bawah bimbingan NUR HIDAYAT ).
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh
pemberian pupuk Daun terhadap pertambahan jumlah daun pada
tanaman lada.
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, meliputi persiapan,
pengambilan data sampai dengan penyusunan karya ilmiah terhitung dari
tanggal 30 Juli sampai 27 Oktober 2012, di areal Kebun Percontohan
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Penelitian ini disusun dalam
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan dalam penelitian ini adalah
Pemberian Pupuk Gandasil D yang setiap perlakuan diulang 20 kali
ulangan sehingga total tanaman yang diamati sebanyak 40 tanaman,
terdiri dari : kontrol (G0) sebanyak 20 tanaman, perlakuan Pupuk Gandasil
D (G1) sebanyak 20 tanaman. Perubahan yang diamati yaitu
pertambahan jumlah daun yang muncul pada tanaman lada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan pupuk
Gandasil D memberikan pengaruh terhadap peningkatan jumlah daun,
berdasarkan pertambahan daun yang terjadi pada tanaman lada yaitu
dengan rata-rata pertambahan sebanyak 9,353 helai. Perlakuan diketahui
lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Kontrol diketahui pertambahan
daunnya lambat yaitu dengan pertambahan daun sebanyak 3,059 helai.
Kata kunci : Tanaman lada, Jumlah daun dan Pupuk Gandasil D
RIWAYAT HIDUP
ABDUL RAHIM, lahir pada tanggal 25 Januari 1990 di Samarinda,
Kecamatan Samarinda Seberang, Provinsi Kalimantan
Timur. Merupakan putra keenam dari tujuh bersaudara dari
pasangan Bapak Johansyah (alm) dan Ibu Rudiah (alm).
Pada tahun
1997 memulai pendidikan dasar pada
Sekolah Dasar Negeri Samarinda di Desa Loajanan, Kecamatan
Samarinda Seberang, Kota Samarinda dan lulus pada tahun 2003. Pada
tahun 2003 melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 15 di
Desa Loa janan dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun 2006 mela njutkan
ke Sekolah Menengah Kejuruan, Jurusan Otomotif, dan lulus pada tahun
2009. Pendidikan tinggi dimulai di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda,
Jurusan Manajemen Pertanian, Program Studi Budidaya Tanaman
Perkebunan pada tahun 2010.
Pada tanggal 01 Maret sampai dengan tanggal 30 April 2013
melaksanakan Praktek Kerja Lapang di PT. Kutai Mitra Sejahtera, Desa
Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi
Kalimantan Timur.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhana
nahu wa ta’ala, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian tentang “Pengaruh
Pemberian Pupuk Daun Terhadap Pertambahan Jumlah Daun pada
Tanaman Lada (Piper nigrum L.) . Penelitian dan penyusunan laporan ini
tidak terlepas dari bantuan dan dukungan baik moril maupun material dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
1.
Bapak Nur Hidayat SP, M.Sc selaku dosen pembimbing.
2.
Ibu Yuanita, SP, MP dan Ibu Rusmini SP, MP selaku dosen penguji I dan
penguji II.
3.
Bapak Ir. Syarifuddin, MP selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman
Perkebunan.
4.
Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian.
5.
Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda.
6.
Seluruh staf dosen dan teknisi Program Studi Budidaya Tanaman
Pekebunan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
7.
Orang tua dan para keluarga yang telah banyak memberi dukungan dan
motivasi serta do’a kepada penulis selama ini
8.
Rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan
satu-persatu yang selalu mendukung, membantu dan memberikan
semangat.
Penulis menyadari dalam penyusunan karya ilmiah ini masih terdapat
kekurangan, dan penulis berharap semoga karya ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca semua.
Penulis.
Kampus sei. Keledang, Juli 2013
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................
vi
DAFTAR ISI ...............................................................................................
vii
DAFTAR TABEL........................................................................................
viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................
ix
I.
PENDAHULUAN ................................................................................
1
II.
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................
a. Klasifikasi Tanaman Lada ............................................................
b. Deskripsi dan Morfologi Tanaman Lada ......................................
c. Genus dan Varietas Lada .............................................................
d. Manfaat Tanaman Lada ...............................................................
e. Syarat Tumbuh tanaman Lada .....................................................
f. Pupuk ………………………………………………………………...
4
6
6
15
17
18
19
III. METODE PENELITIAN ......................................................................
a. Tempat dan Waktu .......................................................................
b. Alat dan Bahan ............................................................................
c. Rancangan Penelitian ..................................................................
d. Prosedur Penelitian ......................................................................
e. Pengambilan Data…………………………………………………..
f. Variabel yang Diamati .................................................................
g. Analisis Data ................................................................................
24
24
24
24
24
26
26
26
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................
a. Hasil .............................................................................................
b. Pembahasan ................................................................................
27
27
28
V.
KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................
a. Kesimpulan ………………………………………………………….
b. Saran ………………………………………………………………...
30
30
30
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................
LAMPIRAN ........................................................................................
31
32
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1.
2.
3.
Halaman
Layout Tanaman Lada di Kebun Percontohan Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda …………………………………….
34
Sidik Ragam Pengaruh Pemberian Pupuk Gandasil D
Terhadap Pertambahan Jumlah daun Pada Tanaman
Lada (30, 60, dan 90 Hari setelah Perlakuan) ..………………
35
Dokumentasi penelitian, pengaruh pupuk Gandasil D
terhadap pertambahan jumlah daun pada
tanaman lada. ................................................................
36
DAFTAR TABEL
Nomor
1.
Tubuh Utama
Halaman
Rerata Pengaruh Pemberian Pupuk Gandasil D Terhadap
Pertambahan Jumlah daun Pada Tanaman Lada (30, 60 dan 90
Hari Setelah Perlakuan (hsp))…………………………………………..
27
I.
PENDAHULUAN
Lada merupakan produk pertanian yang sudah tidak asing lagi bagi
masyarakat Indonesia. Menurut sejarah dan literatur yang ada, tanaman lada bukan
tanaman asli Indonesia, melainkan dari India. Keberadaan tanaman lada sudah
dikenal secara luas di India pada tahun 100 – 400 M, ditemukan tumbuh secara liar
di hutan – hutan belukar disekitar Malabar sampai daerah Ghat Barat (Sarpian,
2007).
Lada menjadi sumber pendapatan bagi banyak petani di Indonesia. Tanaman
rempah ini kini telah ditanam di luar daerah pengembangan tradisionalnya (Bangka
dan Lampung), yaitu di Kalimantan dan Sulawesi. Luas areal pertanaman lada di
Indonesia pada tahun 2006. 2007, dan 2008 berturut-turut adalah 192.572, 189.050,
dan 190.773 ha dengan produksi 77.521, 74.129, dan 79.725 ton (Direktorat Jendral
Perkebunan 2009). Produktifitas lada di Indonesia relatif rendah dan bervariasi
antara satu provinsi dengan provinsi lainnya, dari 202 kg/ha di Bali hingga 1.363
kg/ha di Kalimantan Timur (Anonim, 2009).
Tanaman lada (Piper nigrum L.) adalah tanaman perkebunan yang
bernilai ekonomis tinggi. Tanaman ini dapat mulai berbuah pada umur tanaman
berkisar antara 2-3 tahun. Di Lampung
petani dalam bentuk
perkebunan
kecil
komoditas ini banyak diusahakan
yang
diusahakan
secara turun
temurun dengan padat tenaga kerja. Produktivitas kebun lada rakyat di
Lampung masih tergolong rendah
yaitu rata-rata 591 kg/ha,
produktivitas nasional yang mencapai 800 kg/ha.
dibanding
Lada merupakan tanaman rempah-rempah, lebih dari 80% hasil lada
Indonesia merupakan komoditas ekspor. Agar dapat bersaing di pasaran dunia,
peningkatan kuantitas dan kualitas produksi lada menjadi tuntutan utama. Usaha
untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi lada nasional antara lain
dilakukan dengan strategi pemanfaatan potensi sumber daya dan pengembangan
usaha tani lada perdu (Rukmana, 2007).
Lada merupakan komoditas ekspor yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Terdapat dua jenis cara budidaya lada, yaitu menggunakan tiang/pohon panjat dan
tanpa tiang panjat (lada perdu). Pengusahaan lada di Indonesia pada umumnya
berbentuk perkebunan rakyat. Sebagian besar pengembangannya berada pada
jenis tanah Inceptisols dan Ultisols di Lampung, Bangka dan Kalimantan. Tanah
pertanian di Indonesia sebagian besar terdiri dari kedua jenis tanah tersebut
(Ruhnayat, 2011).
Perbanyakan lada bisa dilakukan, baik secara generatif maupun vegetatif.
Secara generatif berarti perbanyakan lada melalui biji dan secara vegetatif adalah
semua teknik perbanyakan selain dari biji. Meskipun dapat diperbanyak secara
generatif, lazimnya lada diperbanyak secara vegetatif (Sutarno dan Andoko, 2005).
Daun merupakan tempat terjadinya proses fotosintesis. Semakin banyak
daun yang tumbuh pada tanaman lada maka semakin banyak pula fotosintat yang
dihasilkan (hasil dari fotosintesis). Sehingga dengan pemberian pupuk Gandasil D
diharapkan dapat berpengaruh pada pertambahan jumlah daun dengan cepat.
Jumlah daun yang dihasilkan pada pucuk atau srisip ditentukan oleh
permulaan perbungaan. Pembentukan pemula daun pada ujung memungkinkan
pembentukan pemula bunga yang menetapkan jumlah daun. Srisip atau cabang
skunder dan yang tingkatnya lebih tinggi umumnya mempunyai daun satu atau dua
lebih sedikit dibandingkan dengan pucuk primer, karena muncul kemudian dan
menerima isyarat lingkungan yang sama untuk berbunga. Jadi, permulaan berbunga
itu terdapat pada jumlah daun yang lebih sedikit (Gardner et al., 1991).
Ada pun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa pengaruh
pemberian pupuk Daun terhadap pertambahan jumlah daun pada tanaman lada.
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini, memberitahukan informasi bahwa
pupuk Gandasil D dapat meningkatkan jumlah daun tanaman lada dalam waktu
yang singkat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Lada di Kalimantan Timur merupakan komoditi tradisional yang sudah cukup
lama dikenal dan dikembangkan oleh rakyat. Beberapa waktu yang lalu komoditi
lada merupakan salah satu komoditi ekspor Kalimantan Timur yang cukup penting,
yang dikenal dengan mutu white pepper Samarinda. Setelah harga komoditi tersebut
jatuh di pasaran dunia sampai pada titik yang paling rendah dan bencana kebakaran
lahan serta kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur tahun 1982 yang lalu
produksi lada Kalimantan Timur menurun secara drastis, sehingga sejak saat itu
Kalimantan Timur tidak lagi tercatat sebagai pengekspor lada. Dalam beberapa
tahun ini pertanaman lada rakyat kembali diintensifkan, lebih - lebih dipicu adanya
kenaikan harga yang cukup signifikan di pasaran dunia sehingga banyak
masyarakat yang mulai membudidayakan komoditi ini, Luas areal lada rakyat di
Kalimantan Timur tahun 2012 tercatat sebanyak 10.386 ha dengan jumlah produksi
sebanyak 9.085 ton lada kering. Produksi dari tanaman lada tersebut di atas
seluruhnya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dan
ekspor (Anonim, 2013).
Untuk meminimalkan kerugian petani cengkeh akibat banyaknya bakteri
pembuluh kayu cengkeh (BPKC) yang menyerang tanaman, Dinas Pertanian,
Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar
berencana mengganti tanaman cengkeh dengan lada putih. Pemilihan lada putih
sebagai pengganti karena lada disukai masyarakat, selain itu juga untuk penanaman
satu pohon lada dapat menghasilkan lebih ko kurang dua hingga tiga kilogram, dan
satu kilogramnya harganya kira-kira Rp 90.000 untuk tahun 2011, Distanbunhut
sudah mengembangkan tanaman lada putih di Dusun Wonorejo, Bejen,
Karanganyar. Dari pengembangan pertama ini Distanbunhut mendapatkan hasil
yang memuaskan. Dan untuk Demplot berikutnya Distanbunhut memilih Jenawi
sebagai sasarannya. “Saat ini hasil lada yang bagus justru di Karanganyar, yakni
Dusun Wonorejo. Selanjutnya lada akan dikembangkan di Jenawi (Anonim. 2011).
Lada atau merica (Piper nigrum L.) adalah rempah-rempah berwujud bijian
yang dihasilkan oleh tumbuhan dengan nama sama. Lada sangat penting dalam
komponen masakan dunia dan dikenal luas sebagai komoditi perdagangan penting
di dunia. Pada masa lampau harganya sangat tinggi. Lada disebut sahang dalam
bahasa Melayu lokal seperti Banjar, Melayu Belitung, Melayu Sambas, dan lain-lain
(Anonim, 2012).
Bersama pala dan cengkeh, lada merupakan rempah-rempah yang menjadi
komoditas penting dari zaman dulu hingga sekarang. Diantara rempah-rempah
lainnya, lada mendapat julukan “raja rempah-rempah” (the king of spice).
Disebabkan efeknya bisa menghangatkan badan, lada sangat diperlukan oleh
masyarakat di negara-negara subtropis yang suhunya relatif dingin (Sutarno &
Andoko, 2005).
Lada merupakan tanaman memanjat yang tingginya dapat mencapai 6 m,
karena memanjat, diperlukan tiang panjat (Tajar), baik tajar hidup maupun tajar mati.
Namun, sekarang telah dikembangkan tanaman lada dengan pertumbuhan pendek
(perdu). Lada ini merupakan perbanyakan dari stek cabang buah. Pembudidayaan
lada dengan tiang panjat ( Tajar ) memerlukan tahapan kegiatan antara lain,
persiapan lahan, penanaman, pemupukan, dan perawatan. Tahapan kegiatan
tersebut merupakan teknis budidaya yang harus dilakukan dengan baik. tajar hidup
berupa tanaman yang digunakan untuk memanjatkan tanaman lada. Tajar hidup
dapat ditanam beberapa bulan sebelum penanaman lada atau bersamaan dengan
penanaman lada. Ada beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai
panjatan, diantaranya dadap, lamtoro gung, kapok, dan kalikiria. Selain itu, ada juga
yang menggunakan tanaman buah-buahan sehingga ada hasil tambahan dari
panjatan hidup tersebut (Anonim, 2009).
A. Klasifikasi tanaman lada
Berdasarkan kedudukannya dalam taksonomi tumbuhan, klasifikasi tanaman
lada adalah sebagai berikut.
Kingdom
: Plantae (tumbuh – tumbuhan)
Divisi
: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Kelas
: Angiospermae
Sub-kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Piperales
Family
: Piperaceae
Genus
: Piper
Spesies
: Piper nigrum L. (Sarpian, 2007).
B. Deskrikpsi dan morfologi
Secara morfologi, bagian-bagian tanaman lada dapat dideskripsikan sebagai
berikut :
1.
Akar
Pada garis besarnya lada mempunyai 2 jenis akar, yaitu:
a. Akar yang terdapat di atas tanah.
Akar yang terdapat di atas tanah juga disebut akar lekat atau
akar panjat. Akar lekat ini berguna untuk melekat atau memanjat pada
tajarnya, sehingga tanaman bisa tumbuh ke atas. Akar-akar lekat ini
hanya tumbuh pada buku batang orthotrop, sedangkan pada cabangcabang buah tidak akan tumbuh akar lekat.
b. Akar yang terdapat di dalam tanah.
Akar ini disebut juga akar utama, akar-akar ini selain tumbuh
pada bukunya yang merupakan perpanjangan dari akar lekat, juga
tumbuh pada bekas-bekas potongan batang. Akar utama tumbuh
pada pangkal batang, sehingga pada suatu batang bisa terdapat 1020 akar utama. Pada akar utama itu akan tumbuh akar samping
dengan bulu akar yang banyak sekali. Bulu-bulu akar tersebut bisa
berkembang di permukaan tanah dan berguna untuk menghisap
makanan yang diperlukan. Apabila keadaan tanah memungkinkan,
maka akar itu akan dapat menembus tanah sedalam 12 m.
Sedangkan panjangnya akar bisa mencapai 2-4 m. Tetapi pada
umumnya sistem perakaran lada cukup dangkal, hanya mencapai
kedalaman antara 30-60 cm saja (Anonim, 2010).
2.
Batang
Batang tanaman lada biasa disebut dengan stolon. Stolon atau
batang primer juga disebut batang dasar, istilah Lampung, stolon ini apa
yang disebut tandas. Stolon merupakan batang pokok atau batang induk
yang tumbuh memanjat dan batang-batang lain seperti cabang-cabang
orthotrop dan plagiotrop akan tumbuh. Batang ini berbentuk agak pipih, dan
setelah berdiameter 4-6 cm, berbenjol-benjol, berwarna abu-abu tua,
beruas-ruas dan lekas berkayu serta berakar lekat. Sedangkan pada
kuncupnya, batang tersebut membengkok.
Setiap ruas panjangnya bisa mencapai 7-12 cm, dan pada bukunya
tumbuh sehelai daun dan satu kuncup yang berhadap-hadapan. Tanaman
lada masih muda, yaitu umur 8-12 bulan akan mencapai ketinggian 1-1,5 m
dengan ruas yang jumlahnya kurang lebih 20 buah.
Pada umumnya tunas atau kuncup tak akan tumbuh pada setiap
ruas, melainkan setelah tumbuh cabang sekunder 3 -4 ruas lagi, barulah
kuncup yang baru dan seterusnya. Kadang-kadang dialami, setelah tumbuh
7-10 ruas barulah tumbuh kuncup yang lain. Batang tumbuh merambat
pada tiang panjat dan kadang-kadang menjalar di atas tanah, bila dibiarkan
(tidak dipotong), panjang batang dapat mencapai 15 m atau lebih.
3.
Cabang
Lada mempunyai atau memiliki dua jenis cabang, yaitu orthotrop
dan cabang plagiotrop. Adapun karakteristik dari kedua jenis cabang
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Cabang orthotrop
Cabang orthotrop adalah cabang yang tumbuh dari ketiak daun
pada buku batang di atas permukaan tanah maupun di dalam tanah.
Cabang-cabang ini tumbuh pada batang pokok. Cabang tersebut
bentuknya bulat, berkuncup yang berjauhan dan tumbuhnya memanjat
ke atas. Cabang-cabang ini kedudukannya sama dengan batang primer.
Sebab mereka juga berakar lekat, memanjat serta beruas -ruas.
Pada setiap buku terdapat sehelai daun yang berhadap-hadapan
dengan cabang plagiotrop dan segumpal akar lekat yang mengikat
tanaman pada tajarnya. Semua cabang yang mengarah ke atas disebut
cabang orthotrop. Apabila cabang-cabang itu tak melekat pada tajar,
tetapi memanjang terus ke bawah atau menggantung, maka cabang itu
disebut sulur gantung, sedang yang tumbuh pada pertumbuhan tanah
disebut sulur tanah. Baik sulur tanah ataupun sulur gantung dapat
dipergunakan sebagai bibit.
b. Cabang plagiotrop
Cabang plagiotrop adalah cabang yang tumbuh dari buku dahan.
Biasanya, cabang ini baru tumbuh bila tanaman sudah berbuah untuk
yang kedua kali.
Cabang plagiotrop ialah ranting-ranting yang tumbuh dari batang
orthotrop, yang jumlahnya banyak sekali. Ranting-ranting ini pendek,
agak kecil dan tak melekat pada tajar sebab masing-masing, bukunya
tak berakar lekat. Pada setiap buku tumbuh sehelai daun yang
berhadap-hadapan, dan disinilah akan tumbuh malai bunga. Cabang
plagiotrop ini tumbuhnya selalu ke samping (lateral), dan pada cabang
plagiotrop ini masih bisa tumbuh ranting-ranting lagi. Inilah bagian-
bagian yang selalu mengeluarkan malai bunga atau buah, maka ia juga
disebut cabang-cabang buah (Anonim, 2010).
c. Cabang gantung
Cabang gantung sebenarnya sama dengan cabang orthotrop.
Yaitu tumbuh ke atas, tetapi akar lekatnya tidak mendapat tempat untuk
melekatkan diri di tajar, sehingga posisinya menggantung. Karenannya,
cabang ini oleh petani lada lebih dikenal dengan sulur gantung.
d. Cabang tanah
Cabang tanah sama dengan cabang gantung atau sulur
gantung, tetapi merambat di permukaan tanah, sehingga bisa
dinamakan sulur tanah.
4.
Daun
Pemulaan daun (primordia) diawali dengan sel-sel tertentu di dalam
kubah ujung, yang membelah (menjadi meristematika) dan menghasilkan
pembengkakan atau jenggul (protuberances) pada ujung batang. Jenggul
itu meluas dan melingkari daerah ujung, terutama primordia pelepah daun
rumput-rumputan setelah leher daun terbentuk, sel-sel pada subhipodermis
menjadi meristematika dan menghasilkan suatu tunas ketiak. Pertumbuhan
berikutnya yaitu helai daun (lamina) dan pelepah atau tangkai dan ruas ruas batang berasal dari meristem interkalar (meristem yang terdapat di
antara jaringan yang terdiferensiasi) (Gardner et al., 1991).
Daun tanaman lada merupakan daun tunggal dengan tekstur kenyal,
permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua mengkilat dan bagian
bawah berwarna hijau pucat tidak mengkilat. Daun lada agak unik karena
bentuknya berbeda-beda, tergantung dari mana daun tersebut tumbuh.
Daun yang keluar bagian atas berbentuk panjang, sedangkan daun yang
tumbuh di bagian bawah cendrung membulat. Penampilan daun yang
muncul dari cabang-cabang orthotrop lebih simetris dengan warna hijau
lebih lengkap dibandingkan dengan daun dari cabang plagiotrop yang
simetris dan berwarna terang.
Daun di cabang orthotrop muncul di buku-buku dan berhadapan
dengan tumbuhnya kuncup cabang. Sementara itu, di cabang plagiotrop,
daun muncul berhadap dengan malai bung a. Kuncup daun di cabang ini
terbungkus oleh kelopak atau semacam sisik yang akan tinggal saat daun
berkembang (Sutarno dan Andoko, 2005).
Daun lada berbentuk bundar lebar atau lonjong seperti daun talas.
Bagian pangkal daun berbentuk bulat dan semakin ke ujung semakin
meruncing.
Tanaman lada berdaun tunggal tidak berpasangan, keadaannya
kenyal, serta bertangkai. Bentuknya bulat telur, tetapi pada pucuknya
meruncing. Daun, bagian atas berwarna hijau tua mengkilat, sedangkan
pada bagian bawah berwarna hijau pucat dan tidak mengkilat. Panjang
tangkai 2-4 cm, panjang daun 12-18 cm, dan lebarnya 5-10 cm serta
berurat daun 5-9. Daun pada batang bagian atas tidak sama dengan daun
pada bagian bawah, di bagian atas lebih panjang, sedang bagian bawah
lebih bulat. Begitu pula bentuk daun dari batang atau cabang juga tidak
sama dengan daun pada sulur dan cabang plagiotrop. Daun pada cabang
bentuknya simetris dan berwarna tua, sedang daun dari cabang plagiotrop
atau sulur asimetris dan berwarna muda.
Daun-daun
tersebut
tumbuhnya
berhadap-hadapan
dengan
tumbuhnya kuncup cabang, sedang daun pada cabang plagiotrop
tumbuhnya berhadap-hadapan dengan tumbuhnya malai bunga. Kuncup
daun dibungkus oleh kelopak. Apabila daun akan mengembang, maka
gugurlah kelopak atau sisik tersebut (Anonim, 2010).
5.
Bunga
Umumnya bunga lada munc ul pada awal musim hujan, yaitu sekitar
bulan Desember hingga Januari, dan merupakan bunga majemuk yang
tumbuh mengelilingi malai bunga. Setiap malai bunga terdiri dari 100 - 150
bunga yang kelak akan menjadi buah. Malai bunga hanya keluar dari
cabang plagiotrop, persisnya di buku-buku yang berhadapan dengan daun.
Bunga lada tergolong bunga lengkap yang terdiri dari tajuk, mahkota bunga,
putik, dan benang sari (Sutarno dan Andoko, 2005). Bunga lada termasuk
bunga berumah satu karena bunga jantan dan betina terdapat dalam satu
pohon, terletak berdekatan pada satu malai bunga.
Bagian-bagian yang dapat berbunga hanyalah cabang-cabang
plagiotrop atau cabang-cabang buah. Bunga-bunga itu tumbuh pada malai
bunga, sedang malai bunga itu sendiri tumbuh pada ruas-ruas cabang buah
yang berhadap-hadapan dengan daun. Sebagaimana bunga yang lain,
maka bunga lada juga mempunyai bagian, antara lain:
a. Tajuk bunga atau dasar bunga.
Tajuk bunga ini berwarna hijau atau melekat pada malai. Apabila
sudah tumbuh buah, tajuk ini akan merupakan dasar buah atau tempat
duduk buah, karena buahnya tidak bertangkai.
b. Mahkota bunga.
Ini berwarna kuning kehijau-hijauan dan tumbuh pada dasar
bunga. Bentuknya sangat kecil dan halus, sedang beberapa hari setelah
terjadi penyerbukan, maka daun bunga itu akan layu dan akhirnya
mengering.
c. Putik.
Putik adalah alat kelamin betina, bagian ini merupakan terusan dari
ovarium.
Putik terdiri dari:
1. Ovarium, mengandung sebuah sel telur yang berdiri tegak dan
bertangkai pendek.
2. Bakal buah yang dilengkapi dengan tangkai kepala putik dengan
bentuk bintang yang terdapat 35 tangkai. Setiap tangkai panjangnya 1
mm serta terdapat kepala putik basah dengan garis tengah 10 mu (1
mu = 1 / 1000 mm).
d. Benang sari.
Benang sari adalah alat kelamin jantan, terdiri dari 2 atau 4
tangkai benang sari dan kepala benang sari. Di dalam kepala benang
sari terdapat tepung sari yang berguna untuk menyerbuk putik-putik.
Tangkai benang sari panjangnya 1 mm, sedang kepala benang sari
besarnya 10 mu, dan bundar. Karena bunga lada itu memiliki putik dan
benang sari, maka disebut bunga sempurna atau berumah satu. Malai
yang tumbuh lebih dulu adalah malai yang dekat pucuk-pucuk cabang
buah, kemudian disusul malai-malai dibawahnya. Selanjutnya apabila
semua ruas cabang buah itu sudah tumbuh beberapa malai, maka malai
itu akan mengarah ke bawah atau menggantung. Tiap malai bunga
panjangnya 7-12 cm, dan tumbuh bunga maksimal 150.
6.
Buah
Buah merupakan produksi pokok dari pada hasil tanaman lada.
Buah lada mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut :
Bentuk dan warna buah, buah lada berbentuk bulat, berbiji keras
dan berkulit buah yang lunak. Kulit buah yang masih muda berwarna hijau,
sedangkan yang tua berwarna kuning. Apabila buah sudah masak
berwarna merah, berlendir dengan rasa manis. Maka buah lada disukai
burung-burung berkicau. Sesudah dikeringkan lada itu berwarna hitam.
Kedudukan buah, buah lada merupakan buah duduk, yang melekat pada
malai. Besar kulit dan bijinya 4-6 mm. Sedangkan besarnya biji 3-4 mm.
Berat 100 biji kurang lebih 3-8 g atau rata-rata 4,5 g. Keadaan kulit buah,
kulit buah atau pericarp terdiri dari 3 bagian, ialah, Epicarp (kulit luar),
Mesocarp (kulit tengah), Endocarp (kulit dalam), di dalam kulit ini terdapat
biji-biji yang merupakan produk dari lada, biji-biji ini juga mempunyai lapisan
kulit yang keras.
Bakal buah terbentuk kurang lebih 15 hari setelah penyerbukan,
sedangkan buah terbentuk 60 hari kemudian (Anonim, 2010).
C. Genus dan Varietas Lada
1.
Beberapa spesies dari marga Piper antara lain sebagai berikut.
a.
Piper betle L atau sirih merupakan jenis yang terkenal di seluruh
Indonesia sebagai bahan kinangan.
b.
Piper cubeba L adalah kemukus atau staartpeper (lada berekor).
Buahnya mengandung minyak atsiri 10-20% dan cubine 2-3% yang
digunakan untuk obat-obatan.
c.
Piper methysticum banyak terdapat di Papua dan Kepulauan Polinesia.
Tanaman ini mengandung narkotika sehingga di Papua diolah menjadi
minuman kawa.
d. Piper retrofarctum merupakan cabe jawa atau cabe panjang yang
tumbuh liar di alam terbuka. Tanaman ini banyak digunakan untuk obat
tradisional (Sarpian, 2007).
2.
Beberapa varietas yang menjadi varietas unggul diantaranya :
a. Varietas Natar 1 memiliki daun muda berwarna kuning pucat keunguan,
daun tua berwarna hijau hingga hijau tua, tulang daun bersirip ganjil,
anak tulang daun empat, permukaan daun licin mengkilat. Sulur gantung
dan sulur buah banyak, sifat pembungaan teratur dan agak lambat
berbunga. Panjang bulir 8,71 cm, daya hasil kurang lebih 2,50 kg/pohon
lada hitam kering, derajat toleransi terhadap penyakit busuk pangkal
batang medium atau toleran. Varietas Natar 2 memiliki daun muda
berwarna kuning pucat keunguan, daun tua berwarna hijau tua, memiliki
tulang daun bersirip ganjil, jumlah anak tulang daun enam, permukaan
berombak. Batang muda berwarna ungu kehijauan, berbentuk pipih agak
bulat. Sulur gantung sedikit, panjang bulir kurang lebih 8,1 cm, sifat
pembungaan teratur dimulai pada umur 12 bulan. Hasil varietas ini
mencapai kurang lebih 2,20 kg/pohon lada hitam kering.
b. Varietas Petaling 1 atau LDL (Lampung Daun Lebar) memiliki daun
muda berwarna hijau pucat mosaik, daun tua berwarna hijau tua, tulang
daun bersirip ganjil, anak tulang daun 6 berjumlah enam, permukaan
daun licin mengkilat. Daun berukuran besar dan agak tipis terutama
pada tanaman yang masih muda. Warna batang muda ungu kehijauan,
berbentuk pipih, percabangan simpodial dengan kedudukan tegak, dan
sulur gantung banyak. Sifat pembungaan teratur, dimulai pada umur 10
bulan. Panjang bulir 8,7 cm, daya hasil lebih tinggi dibandingkan varietas
Natar 1 dan Natar 2, yaitu kurang lebih 2,80 kg/pohon lada putih kering.
Derajat toleransi terhadap penyakit kuning medium, tetapi derajat
toleransi terhadap penyakit busuk pangkal batang rendah.
c. Varietas petaling 2 atau Jambi memiliki daun muda berwarna kuning
pucat kehijauan, daun tua berwarna hijau tua, bersirip ganjil dengan
anak tulang daun berjumlah enam, dan berbentuk lebih besar ke tangkai.
Batang muda berwarna ungu kehijauan hingga hijau kecoklatan,
berbentuk pipih, sulur gantung sedikit. Sifat pembungan teratur, dimulai
pada umur 11 bulan. Panjang bulir
7-11,5 cm, daya hasil mencapai
kurang lebih 3,0 kg/pohon. Varietas ini menghasilkan buah lada paling
besar dibandingkan tiga varietas di atas. Buah berbentuk telur, kulit buah
tebal, dan berbiji kecil. Derajat toleransi terhadap penyakit kuning kurang
tahan, sedangkan derajat toleransi terhadap penyakit busuk pangkal
batang rendah sampai sedang (Sarpian, 2007).
D. Manfaat Tanaman Lada
Ada beberapa manfaat dari tanaman lada diantaranya sebagai berikut :
1.
Lada untuk kesehatan
Biji lada banyak dimanfaatkan untuk obat-obatan tradisional dan modern.
Khasiatnya
sebagai
stimulan
pengeluaran
keringat
(diaphoretic),
pengeluaran angin (carminative), peluruh air kencing (diuretic), peningkatan
nafsu makan, peningkatan aktivitas kelenjar-kelenjar pencernaan, dan
percepatan pencernaan zat lemak.
2.
Lada sebagai penyedap makanan
Bubuk lada dimanfaatkan sebagai penyedap makan Eropa maupun Asia.
Lada juga digunakan untuk bahan campuran pembuatan sosis daging.
Olahan buah dan sayuran seperti asinan kol dan chutney ala india
memanfaatkan bubuk atau biji lada. Keju keluaran Eropa, Australia, USA,
dan negara lain juga menggunakan bubuk lada.
3.
Lada sebagai pestisida nabati
Daun lada mengandung zat beracun. Oleh karena itu, daun lada dapat
digunakan sebagai insektisida pembunuh serangga. Ekstrak kasar lada
hitam juga sangat toksik terhadap hama kapas Anthonomous grandies
Boheman (Sarpian, 2007).
4.
Lada sebagai jamu dan bahan campuran minyak wangi
Selain untuk bumbu masak, lada bersama jenis rempah lain dan umbiumbian juga digunakan sebagai bahan ramuan jamu tradisional. Lada,
terutama lada hitam, sering pula disuling untuk diambil minyaknya. Minyak
lada dengan aroma wangi yang khas ini dipergunakan untuk bahan
campuran minyak wangi (Sutarno & Andoko, 2005).
E. Syarat Tumbuh Tanaman Lada
Hampir seluruh daerah di Indonesia dapat ditanami tanaman penghasil
rempah-rempah ini. Namun, hasil yang diperoleh akan berbeda-beda.
Persyaratan yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman lada meliputi
ketinggian tempat, iklim, dan jenis tanah.
1.
Ketinggian tempat
Berdasarkan ketinggian tempatnya, wilayah Indonesia dibedakan menjadi
empat, yaitu dataran rendah, dataran sedang, pegunungan, dan dataran
tinggi. Masing-masing wilayah memiliki faktor-faktor iklim dengan kondisi
yang berbeda-beda, tergantung ketinggian tempatnya. Namun, berdasarkan
pengamatan di lapangan ternyata di daerah dataran rendah
terdapat
banyak petani yang menanam lada, terutama di Belitung dan Bangka yang
memiliki ketinggian tempat kurang dari 200 m dpl.
2.
Iklim
Agar dapat tumbuh dan memberikan hasil yang baik, tanaman lada harus
ditanam di daerah yang memiliki kesesuaian
kondisi iklim. Dilihat dari
daerah asalnya, lada tumbuh di daerah tropis yang beriklim panas dan
lembap dengan ketinggian di bawah 600 m dpl, curah hujan minimal 2.200
mm per tahun dan maksimal 5.000 mm per tahun.
3.
Keadaan tanah
Secara umum, lahan perkebunan harus berupa tanah yang mengandung
bahan-bahan organik sebagai penyubur tanaman dan kadar keasama (pH)
tanah yang sesuai. Di pusat-pusat produksi lada di Indonesia, baru
sebagian kecil masayarakat yang memperhatikan keadaan tanah tempat
budidaya. Padahal, pengetahuan tentang keadaan tanah yang sesuai
dengan syarat yang dikehendaki tanaman sangat diperlukan karena akan
mempengaruhi teknik budi daya yang harus diterapkan (Sarpian, 2007).
F. Pupuk
Lantas, lahirnya pupuk produk baru yang cara pemberiannya lain dari
biasanya maka pupuk pun dibagi lagi berdasarkan cara pemberiannya sebagai
berikut, berdasarkan (Marsono & Lingga, 2001 ).
1.
Pupuk akar ialah segala jenis pupuk yang diberikan lewat akar.
2.
Pupuk daun ialah segala macam pupuk yang diberikan lewat daun dengan
cara penyemprotan.
Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau
lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis terisap tanaman. Jadi
memupuk menambah unsur hara jika diberikan ke dalam tanah maka pupuk
tersebut akan diserap oleh akar dan tanaman melalui .daun
Pupuk mengenal istilah makro dan mikro. Meskipun belakangan ini
jumlah pupuk cenderung makin beragam dengan aneka merek, kita tidak akan
terkecoh. Apa pun namanya dan negara manapun pembuatnya, dari segi unsur
yang dikandungnya tetap saja hanya ada dua golongan pupuk, yaitu pupuk
makro dan pupuk mikro. Unsur hara makro yaitu Nitrogen (N), Phosfor (P),
Kalium (K), dan Mangan (Mg) untuk unsur hara mikro yaitu (Mn), Boron (B),
Tembaga (Cu), dan Seng (Zn).
Adapun penjelasan dari unsur-unsur tersebut ialah:
1.
Unsur hara makro
a. Nitrogen (N)
Peranan utama unsur nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang
pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang, dan
daun. Selain itu nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan
hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Fungsi
lainnya ialah membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan
organik lainnya.
b. Fosfor (P)
Unsur fosfor bagi tanaman berguna untuk merangsang pertumbuhan
akar, khususnya akar benih dan tanaman muda. Selain itu fosfor
berfungsi sebagai bahan mentah untuk pembentukan sejumlah protein
tertentu, membantu asimilasi dan pernapasan, serta mempercepat
pembungaan, pemasakan iji, dan buah.
c. Kalium (K)
Fungsi utama kalium ialah membantu pembentukan protein dan
karbohidrat. Kalium pun berperan dalam memperkuat tubuh tanaman
agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Yang tidak bisa
dilupakan ialah kalium pun merupakan sumber kekuatan bagi tanaman
dalam menghadapi kekeringan dan penyakit.
d. Magnesium (Mg)
Agar tercipta hijau daun yang sempurna dan terbentuk karbohidrat,
lemak, dan minyak-minyak, magnesiumlah biangnya. Magnesium pun
memegang peranan penting dalam transportasi fosfat dalam tanaman.
Dengan demikian kandungan fosfat dalam tanaman dapat dinaikan
dengan jalan menambah unsur magnesium.
2.
Unsur hara mikro
a. Mangan (Mn)
Peranan mangan sebagai komponen untuk memperlancar proses
asimilasi, unsur ini pun merupakan komponen penting dalam berbagai
enzim.
b. Boron (B)
Boron berfungsi mengangkut karbohidrat kedalam tubuh tanaman dan
menghisap
unsur
kalsium.
Selain
itu,
boron
berperan
dalam
perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif. Pada
tanaman penghasil biji, unsur ini pun berpengaruh terhadap pembagian
sel. Dan, yang paling nyata ialah peranannya dalam menaikan mutu
tanaman sayuran dan tanaman buah.
c. Tembaga (Cu)
Fungsi tembaga ini baru sedikit diketahui. Kehadirannya dapat
mendorong terbentuknya hijau daun dan dapat menjadi bahan utama
dalam berbagai enzim.
d. Seng (Zn)
Seng memberi dorongan terhadap pertumbuhan tanaman karena diduga
Zn dapat berfungsi membentuk hormon tumbuh.
Sebagai
patokan
dalam
membeli
pupuk
adalah
unsur
yang
dikandungnya. Secara umum pupuk dibagi dalam dua kelompok berdasarkan
asalnya, yaitu :
1. Pupuk anorganik seperti urea (pupuk N), TSP atau SP-36 (pupuk P), KCl
(pupuk K), serta
2. Pupuk organik seperti pupuk kandang, kompos, humus, dan pupuk hijau.
Pupuk Gandasil D termasuk pupuk anorganik yang cara pemberiannya
ke tanaman melalui penyemprotan lewat daun. Pupuk daun Gandasil D
merupakan pupuk daun yang lengkap dan sempurna, berbentuk Kristal,
berwarna putih kehijau-hijauan, mudah larut dalam air dan digunakan untuk
pertumbuhan vegetatife. Kelebihan yang mencolok dari pemupukan lewat daun
adalah penyerapan pupuk yang diberikan lebih cepat dari pada pupuk yang
diberikan lewat akar (Setyamidjaja, 1986 ).
Pupuk Gandasil D atau sering disebut sebagai Gandasil Daun, ini
tergolong sebagai Pupuk NPK Majemuk / Pupuk Daun dengan kandungan
unsurnya sebagai berikut, N - Nitrogen - 20 %, P2O 5 - Fosfor - 15 %, K2O Kalium - 15 %, MgSO4 - Magnesium - 1%. Serta dilengkapi dengan unsur-unsur
mikro seperti Mangan (Mn), Boron (B), Tembaga (Cu), Kobal (Co), dan Seng
(Zn) (Rachmad, 2011).
Pupuk daun akan menjadikan tanaman lebih baik dan sehat, pemberian
pupuk daun diberikan melalui daun pada tanaman. Banyak petani menanam
tanaman yang lebih sehat dengan pemakaian pupuk. Pupuk memberi makan
pada tanaman dalam bentuk hara untuk membuat tanaman lebih kuat. Biasanya
pupuk ditaburkan di sekitar tanaman dan di serap tanaman melalui perakaran
namun berbeda dengan pupuk daun, pupuk daun masuk ke dalam tanaman
melalui lubang-lubang kecil pada daun yang disebut mulut daun (stomata).
Lubang-lubang ini membuka dan menutup dan begitu kecil, sehingga kita tidak
dapat melihatnya. Tanaman bernapas melalui lubang-lubang kecil tersebut.
Lubang-lubang kecil tersebut juga digunakan tanaman untuk mengambil unsur
hara dari udara. Mulut daun ini terbuka pagi hari, dan tertutup pada tengah hari
untuk menjaga kelembaban. Pupuk daun digunakan sebagai penambah unsur
hara bagi tanaman agar tumbuh lebih cepat, kuat dan lebih sehat sehingga
tanaman tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
Pupuk daun biasanya dibuat dari bahan yang mengandung hara yang
diperlukan tanaman seperti besi, belerang, nitrogen dan kalium. Pemberian hara
tambahan ini pada tanaman akan membantunya tumbuh lebih kuat dan lebih
sehat. Waktu yang terbaik untuk menyemprotkan pupuk daun adalah pagi hari
karena pada saat itu stomata pada tanaman membuka. Yang perlu diingat
adalah bahwa pupuk daun dapat menyebabkan daun-daun lunak terbakar
karenanya harus hati-hati jangan sampai larutan terlalu pekat. Karenanya pupuk
daun harus diencerkan terlebih dahulu (Anonim, 2010).
III.
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di areal Perkebunan Politeknik Pertanian
Negeri Samarinda. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini selama 3 bulan
terhitung dari tanggal 30 Juli sampai dengan 27 Oktober 2012.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
Hand sprayer, Jerigen, Cangkul, Ember, Sendok ukur, Arit, Mesin rumput,
Label, Alat tulis dan Alat dokumentasi
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
Pupuk Daun Gandasil D, air, tanaman lada yang berumur 55 hari setelah tanam
C. Rancangan Penelitian
Penelitian ini disusun dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dalam 2 taraf perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 20 kali ulangan.
Jadi jumlah yang diamati adalah 40 bibit tanaman lada. Perlakuan
menggunakan pupuk daun, yang dalam penelitian ini terdiri dari 2 taraf yaitu :
G0 = Tanpa perlakuan (kontrol)
G1 = Menggunakan perlakuan Gandasil D (daun) dengan kosentrasi 4 g / 2
liter air.
D. Prosedur Penelitian
1.
Pembersihan tempat penelitian
Pembersihan tempat penelitian dilakukan secara manual dan
mekanis. Pembersihan secara manual bisa menggunakan parang, cangkul
dan arit, sedangkan secara mekanis yaitu menggunakan mesin rumput.
Pembersihan
lahan
yang
akan
dijadikan
tempat
penelitian,
agar
mempermudah proses pengamatan dan tidak mengganggu pertumbuhan
tanaman lada. Pembersihan dilakukan 7 hari sekali agar gulma-gulma yang
tumbuh tidak terlalu banyak di sekitar tanaman lada. (lihat Lampiran 2.
Gambar 5, 6, 7, dan 8)
2.
Pemilihan sampel tanaman
Bibit lada, hasil praktikum yang sudah distek dan ditanam di kebun
percontohan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, bibit lada yang sudah
ditanam ini yang digunakan untuk penelitian.
Langkah-langkah persiapan tanaman lada yang akan dijadikan
bahan penelitian yaitu :
a. Tanaman lada yang diambil harus seragam, daun yang masih hijau dan
sehat.
b. Hasil dari stek
3.
Pemberian label
Pemberian label ini untuk mempermudah proses penelitian agar
pada saat pemberian perlakuan dan tidak diberi perlakuan pada
tanaman tidak bingung. (lihat Lampiran 2. Gambar 9)
4.
Pemberian pupuk Gandasil D
a. Memasukan pupuk daun (Gandasil D) ke dalam hand sprayer (dengan
kosentrasi 4 g / 2 liter air) dan ditambah air hingga 2 liter (dosis anjuran
di kemasan 10 g / 5 liter air), kemudian perlakuan diberikan kepada 20
bibit yang telah terpilih (lihat Lampiran 2. gambar 10 dan 11).
b. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari dari jam 8 sampai dengan jam 9
dengan jangka waktu 10 hari sekali (lihat lampiran 2. Gambar 12)
5.
Pemeliharaan
Pembersihan gulma yang ada di sekitar tanaman lada
E. Pengambilan data
Menghitung jumlah daun yang tidak diberi perlakuan dan diberi
perlakuan (lihat Lampiran 2. Gambar 13,14, dan 15).
F. Variabel yang diamati
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pertambahan jumlah
daun (helai) terbuka sempurna, Dihitung banyaknya daun yang terbentuk setiap
bulannya selama 3 bulan (pengamatan sebanyak 3 kali).
G. Analisis Data
Analisa ragam (uji F) pada taraf nyata 5% digunakan untuk
menganalisa pengaruh perlakuan terhadap perubahan yang diamati. Jika
pada uji F perlakuan
menunjukkan pengaruh yang nyata atau sangat
nyata maka dilakukan dengan beda nilai terkecil (BNT) (Rosari, 2009).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pertambahan jumlah daun
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dengan
perlakuan pupuk Gandasil D, menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap
pertambahan daun. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 Sehingga dilakukan uji
lanjut BNT 5%.
Tabel 1. Rerata pertambahan jumlah daun lada umur 30, 60, dan 90 hari setelah
perlakuan (hsp).
Perlakuan
G0
G1
Rerata Pertambahan Jumlah Daun (helai)
30 (hsp)
60 (hsp)
0,294 b
1,235 b
2,294 a
5,882 a
90 (hsp)
3,059 b
9,353 a
Keterangan:
Angka rerata yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
Berdasarkan data tabel di atas, rerata pertambahan jumlah daun pada
tanaman lada sesudah perlakuan, pertambahan jumlah daun pada bulan
pertama (30 hsp), G1 (tanaman yang diberi perlakuan) menunjukan hasil yang
tertinggi yaitu pertambahan jumlah daunnya sebesar 2,294 helai sedangkan
pada G0 (kontrol) menunjukan hasil yang terendah 0,294 helai. Pada bulan
kedua (60 hsp) tanaman yang diberi perlakuan (G1) pertambahan jumlah
daunnya makin meningkat yaitu 5,882 helai dari bulan pertama yang
pertambahannya 2,294 helai (G1) sedangkan pada kontrol (G0) pertambahan
jumlah daun hanya menunjukan hasil yang rendah yakni 1,235 helai namun
jumlah ini meningkat dari jumlah, pada bulan pertama yaitu 0,294 helai (G0).
Dan pada bulan ketiga (90 hsp) tanaman lada yang diberi perlakuan (G1)
menunjukkan hasil yang sangat baik yaitu pertambahan jumlah daunnya
semakin meningkat 9,353 helai pertambahan jumlah daun di bulan ketiga ini
meningkat lebih pesat dari bulan pertama dan kedua sedangkan bibit yang tidak
diberi perlakuan atau kontrol (G0) pertambahan jumlah daun hanya 3,059 helai
walau pun jumahnya meningkat dari bulan pertama dan bulan kedua (G0)
namun hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah daun yang diberi
perlakuan (G1) sangat baik
dibandingkan dengan peningkatan jumlah daun
yang tidak diberi perlakuan (G0).
B. Pembahasan
Pertambahan jumlah daun.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis sidik ragam, rerata
pertambahan jumlah daun pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pertambahan
jumlah daun dengan perlakuan G1 lebih baik karena menghasilkan rerata
jumlah daun lebih tinggi yaitu 9,353 helai dibandingkan dengan tidak diberi
perlakuan G0 3,059 helai, hal ini diduga tanaman sudah memberikan respon
terhadap perlakuan pupuk daun pada umur 30 hsp (hari setelah tanam), begitu
juga dengan pengamatan umur 60 dan 90 hsp. Tanaman yang diberi perlakuan
pupuk Gandasil D (G1) pada hari ke 30 menunjukan pertambahan jumlah daun
2,294 helai, dan yang tidak diberi perlakuan (G0) 0,294 helai. Pada hari ke 60
tanaman yang diberi perlakuan (G1) pertambahan jumlah daunnya meningkat
5,882 helai dari hari ke 30 dan yang tidak diberi perlakuan (G0) pertambahan
jumlah daunnya juga meningkat dari hari ke 30 (G0) yaitu 1,235 helai, dan pada
hari ke 90 pertambahan jumlah daun yang diberi perlakuan (G1) semakin
meningkat dari hari ke 30 dan 60 yaitu 9,353 helai sedangkan yang tidak diberi
perlakuan (G0) peningkatan jumlah daun hanya 3,059 helai dari hari ke 30 dan
60. Rerata pertambahan jumlah daun semakin pesat dan pemberian pupuk
lewat daun penyerapan haranya berjalan lebih cepat dibandingkan pemberian
pupuk lewat akar.
Telah diketahui bahwa pupuk daun, penyerapan haranya berjalan lebih
cepat dibandingkan pemberian pupuk lewat akar. Akibatnya, tanaman akan
lebih cepat menumbuhkan tunas (Lihat Lampiran 2, gambar 16 dan 17) (Lingga
dan Marsono, 2001).
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pada tanaman yang diberi perlakuan pupuk Gandasil D (G1) dengan
konsentrasi 4 g / 2 liter air menghasilkan rerata jumlah daun lebih tinggi yaitu
9,353 dibandingkan tanpa perlakuan (G0) menghasilkan jumlah daun sebanyak
3,059.
B. Saran
Perlu di lakukan penelitian lebih lanjut dengan konsentrasi yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Teknologi Budidaya Lada, Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi pertanian, Badan Penelitian Pengembangan
Pertanian. Penebar Swadaya. Jakarta.
Anonim. 2009. Dinas Perkebunan Kalimantan Timur samarinda. Pemerintah Kota
Samarinda. Samarinda.
Anonim. 2009. Budidaya Lada Dengan Tiang Panjat (terhubung berkala). Belajar
Budidaya Budidaya Lada Dengan Tiang Panjat.htm (15 November 2009)
Anonim. 2011. Dinas Pertanian Kembangkan Lada Putih (terhubung berkala).
http:// Dinas Pertanian Kabupaten Karang Any ar.htm (6 mei 2011)
Anonim. 2012. Sejarah Kolonisasi Afrika, Asia, dan Amerika.
Anonim. 2013. Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Timur (terhubung berkala).
http:// Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Timur.htm (18 Agustus 2013)
Bangedu. 2010. Klasifikasi dan Morfol ogi Tanaman Lada (terhubung berkala).
http:// Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Lada DAUN HIJAU (25 Januari
2010)
Ben, M.S.F.A dan Syukur C. 2003. Lada Perdu untuk Bisnis dan Hobi, Penebar
Swadaya. Jakarta.
Gardner F.P, Pearce R.B, Mitchell R.L., Fisiologi Tanaman Budidaya, Universitas
Indonesia. Jakarta.
Marsono, Lingga P. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk, Penebar swadaya.
Jakarta.
Rachmad. 2005. Belajar bertani (terhubung berkala). http:// Belajar Bertani
Gandasil D (13 juli 2010)
Riski M.H. Rismunandar, 2003. Budidaya dan Tata niaga Lada. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Rosari RW. 2009. 10 Model Penelitian dan Pengolahannya dengan SPSS 14. CV
Andi offset. Yogyakarta.
Rukmana H.R, 2007. Usaha tani lada perdu. Kanisius. Yogyakarta.
Ruhnayat A. 2011. Respon Tanaman Lada Perdu Terhadap Pemupukan NPK pada
Jenis Tanah INCEPTISOLS dan ULTISOLS. Balai Penelitian Tanaman Obat
dan Aromatik. Bogor.
Sarpian T, 2007. Pedoman Berkebun adalan Analisis Usaha Tani. Kanisiu s.
Yogyakarta.
Setyamidjaja. 1986. Pupuk Gandasil D Pupuk Daun lengkap dan Sempurna.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sutarno, Andoko A. 2005. Budidaya lada Si Raja Rempah-Rempah. PT Agro
Media Pustaka. Depok.
Lampiran 1. Denah Tanaman Lada di Kebun Percontohan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
1
23
24
45
71
46
72
96
97
116
132
117
133
4
25
26
47
48
98
99
118
74
119
5
6
27
28
49
50
75
76
100
101
7
8
29
30
51
52
77
78
9
10
31
32
11
12
33
34
53
54
55
13
14
35
36
57
79
80
81
82
83
58
84
15
16
17
37
59
85
38
86
18
19
40
41
20
21
42
43
60
61
62
63
64
22
44
2
3
39
56
65
66
67
68
69
73
87
88
89
90
91
148
149
161
162
171
172
175
176
189
190
202
203
213
214
223
224
233
234
241
242
250
251
259
260
134
135
150
163
164
173
174
177
178
191
192
204
205
215
216
225
226
235
236
243
244
252
253
261
262
120
121
136
137
152
165
153
179
180
193
194
206
207
217
218
227
228
237
238
245
246
254
255
263
264
102
103
122
123
138
139
154
155
181
182
195
196
208
209
219
220
229
230
239
240
247
248
256
257
265
266
104
105
124
125
140
141
156
166
167
168
169
183
184
197
198
210
211
221
222
231
232
249
258
267
106
107
126
142
143
185
186
199
200
212
187
188
201
108
109
110
111
112
127
128
144
129
145
130
146
147
131
151
157
158
170
159
160
268
269
U
113
114
115
92
93
94
95
70
Gambar 1. Denah Tanaman Lada di Kebun Percontohan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
= Tanaman tidak diberi perlakuan (G0) / kontrol (20 tanaman)
= Tanaman diberi perlakuan (G1) / (20 tanaman)
34
= Tanaman cadangan (9 tanaman)
35
Lampiran 2. Sidik Ragam Pengaruh Pemberian Pupuk Gandasil D
Terhadap Pertambahan Jumlah daun Pada Tanaman
Lada (30, 60, dan 90 Hari setelah Perlakuan)
Tabel 2. Sidik Ragam Pengaruh Pemberian Pupuk Gandasil D Terhadap
Pertambahan Jumlah daun Pada Tanaman Lada (30 Hari setelah
Perlakuan)
SK
Gandasil D
Galat
Total
db
JK
1
32
33
KT
34
35,059
69,059
34
1,096
F-hit
31,03**
F Tabel
5%
1%
4,098
7,353
Keterangan :
** = berpengaruh sangat nyata
KK = 80,88%
Tabel 3. Sidik Ragam Pengaruh Pemberian Pupuk Gandasil D Terhadap
Pertambahan Jumlah daun Pada Tanaman Lada (60 Hari setelah
Perlakuan)
SK
db
JK
KT
F-hit
183,559
1,650
111,20**
Gandasil D
Galat
1
32
183,559
52,824
Total
33
236,382
F Tabel
5%
1%
4,098
7,353
Keterangan :
** = berpengaruh sangat nyata
KK = 36,102%
Tabel 4. Sidik Ragam Pengaruh Pemberian Pupuk Gandasil D Terhadap
Pertambahan Jumlah daun Pada Tanaman Lada (90 Hari setelah Perlakuan)
SK
Gandasil D
Galat
Total
db
1
32
33
JK
KT
F-hit
336,735
68,823
405,559
336,735
2,151
156,57**
Keterangan :
** = berpengaruh sangat nyata
KK = 23,631%
F Tabel
5%
1%
4,098
7,353
36
Lampiran 3. Dokumentasi penelitian, Pengaruh Pupuk Gandasil D Terhadap
Pertambahan Jumlah Daun Pada Tanaman Lada.
Gambar 5. Pembersihan lahan menggunakan cangkul
Gambar 6. cangkul
37
Lanjutan lampiran 3.
Gambar 7. Pembersihan lahan meng gunakan arit
Gambar 8. Pembersihan lahan meng gunakan arit
38
Lanjutan lampiran 3.
Gambar 9. Pemberian lebel
Gambar 10. Pupuk Gandasil D yang akan dimasukkan ke dalam hand sprayer
39
Lanjutan lampiran 3.
Gambar 11. Sendok dan pupuk Gandasil D
Gambar 12. Penyemprotan pada tanaman lada
40
Lanjutan lampiran 3.
Gambar 13. Menghitung jumlah daun pada bibit kontrol (G0)
Gambar 14. Pengambilan data
41
Lanjutan lampiran 3.
`
Gambar 15. Menghitung jumlah daun pada bibit yang di beri perlakuan (G1)
Gambar 16. Tanaman lada menggunakan perlakuan (G1)
42
Lanjutan lampiran 3
Gambar 17. Tunas daun yang baru tumbuh
36
Lampiran 3. Komposisi unsur hara pupuk daun Gandasil D
No
Senyawa / unsur
Kandungan
1
N (%)
14
2
P2O5 (%)
12
3
K2O (%)
14
4
MgSO 4 (%)
1
Sumber : Brosur Gandasil D. 2005
Download