CACAT KODE ETIK JURNALISTIK PADA TV ONE

advertisement
CACAT KODE ETIK JURNALISTIK
PADA TV ONE
Oleh :
Yanistin Pujiningsih Utoyo
201311005
Televisi dan Film
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Seni Indonesia Denpasar
Jl. Nusa Indah, Denpasar, Bali. Kode Pos, 80235. Indonesia
Abstrak
Media massa merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Melalui media massa yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan
mudah di masyarakat. Informasi dalam bentuk apapun dapat disebarluaskan dengan mudah dan cepat
sehingga mempengaruhi cara pandang, gaya hidup, serta budaya suatu bangsa.
Arus informasi yang cepat menyebabkan kita tidak mampu untuk menyaring pesan yang datang.
Akibatnya tanpa sadar informasi tersebut sedikit demi sedikit telah mempengaruhi pola tingkah laku dan
budaya dalam masyarakat. Kebudayaan yang sudah lama ada dan menjadi tolak ukur masyarakat dalam
berperilaku kini hampir hilang dan lepas dari perhatian masyarakat. Akibatnya, semakin lama perubahanperubahan sosial di masyarakat mulai terangkat ke permukaan.
Disability Code of Journalistic Ethics on TV One
Abstract
The mass media is one form of information and communication technology advances. Through
the mass media that enable information growing more and more easily spread in the community.
Information can be disseminated in any form easily and quickly so that influence the worldview, lifestyle,
and culture of a nation.
The flow of information that quickly led to us not being able to filter the messages coming. As a
result involuntarily such information little by little have affected patterns of behavior and culture in
society. Culture that has long existed and as a benchmark in the society behaves almost gone now and
escape the attention of the public. As a result, the longer the social changes in the community began to
rise to the surface.
Keywords : Mass Media, Code of Junalistic Ethics, Disability
DAFTAR ISI
Hal.
ABSTRAK........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................ 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................... 2
1.3 TUJUAN PEMBUATAN LAPORAN ....................................................... 2
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA ........................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PERS................................................................................. 3
2.2 KODE ETIK JURNALISTIK .................................................................... 5
2.3 PENYIMPANGAN/PELANGGARAN YANG DILAKUKAN OLEH REPORTER
TV ONE YANG MENYALAHI KODE ETIK JURNALISTIK (KEJ)........... 6
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN .......................................................................................... 8
3.2 SARAN ....................................................................................................... 8
LAMPPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jurnalistik adalah suatu pekerjaan yang mengemban tanggung jawab dan
mensyaratkan adanya kebebasan. Karena, tanpa adanya kebebasan seorang wartawan
sulit untuk melakukan pekerjaanya. Akan tetapi, kebebasan tanpa disertai tanggung
jawab mudah menjerumuskan wartawan kedalam praktek jurnalistik yang kotor,
merendahkan harkat dan martabat wartawan tersebut. Karena itulah baik di negaranegara maju maupun negara berkembang persyaratan untuk menjadi wartawan dirasa
sangat berat sekali. Wartawan harus benar-benar bisa menjaga perilaku dalam kegiatan
jurnalistiknya sesuai dengan aturan yang ada, yaitu sesuai dengan kode etik jurnalistik,
pasal 1, ayat 1 Undang-Undang (UU) Pers Nomor 40 tahun 1999, dan Undang-Undang
(UU) Penyiaran Nomor 22 Tahun 2002.
Wartawan adalah sebuah profesi, dengan kata lain, wartawan adalah seorang
profesional. Dalam menjalankan profesinya, seorang wartawan harus dengan sadar
menjalankan tugas, hak, kewajiban dan fungsinya yakni mengemukakan apa yang
sebenarnya terjadi. Bukan hanya itu, seorang wartawan harus turun ke lapangan untuk
meliput suatu peristiwa yang bisa terjadi kapan saja. Bahkan, wartawan kadang kala
harus bekerja menghadapi bahaya untuk mendapatkan berita terbaru dan original.Selain
itu wartawan harus mematuhi kode etik jurnalistik, misalnya wartawan tidak
menyebarkan berita yang bersifat dusta, fitnah, sadis dan cabul serta tidak menyebutkan
identitas korban kejahatan susila. Wartawan menghargai dan menghormati hak
masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar, wartawan tidak dibenarkan
menjiplak, wartawan tidak diperkenankan menerima sogokan, dsb.
Dalam melaksanakan kode etik junalistik tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Banyak hambatan yang harus dilalui untuk menjadi wartawan yang profesional.
Kode etik harus menjadi landasan moral atau etika profesi yang bisa menjadi
operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas wartawan. Penetapan kode
etik guna menjamin tegaknya kebebasan pers serta terpenuhinya hak-hak masyarakat.
Wartawan memiliki kebebasan pers yakni kebebasan mencari, memperoleh dan
menyebarluaskan gagasan dan informasi. Meskipun demikian, kebebasan disini dibatasi
dengan kewajiban menghormati norma norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat.
Akan tetapi, dalam realitas saat ini banyak wartawan yang menyimpang dari aturanaturan yang sudah di tentukan dalam UU Pers, UU Penyiaran serta kode etik jurnalistik.
Banyak wartawan dalam memberikan informasi tidak sesuai dengan fakta, memihak
satu pihak, tidak menjaga privasi narasumber, mengeluarkan opini pribadi, dll. Bisa
dibilang kebebasan menjadi“kebablasan” dan menjadi perilaku yang sudah dianggap
biasa dalam kegiatan jurnalistiknya. Disinilah kita perlu tahu apa aturan yang ada di
dalam kode etik jurnalistik, kebebasan yang bagaimanakah yang dimaksud dalam aturan
tersebut dan bagaimana cara kita mencegah hal tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pers?
2. Apa yang dimaksud dengan Kode Etik Jurnalistik?
3. Apa saja pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan wartawan TV One dalam penyampaian
beritanya?
1.3 Tujuan Pembuatan Laporan
1. Bisa memahami apa yang dimaksud dengan Pers sebenarnya.
2. Mengetahui dan mengerti apa yang dimaksud dengan Kode Etik Jurnalistik, apa yang
terkandung di dalamnya dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan jurnalistik nantinya.
3. Mengetahui pelanggaran/penyimpangan apa saja yang dilakukan oleh wartawan TV One
terhadap pemberitaannya di media massa.
1.4 Metode Pengumpulan Data
Dalam penilitian ini penulis menggunakan metode penilitian deskriptif, yaitu menilai
secara lengkap atas kasus kinerja Jokowi – Ahok yang masih ditunggu bukti nyatanya oleh
warga Jakarta yang belum mendapatkan dampak positifnya yang disiarkan oleh stasiun televisi
TV One. Dalam kasus ini wartawan, secara sepihak memberi dan membangun opini yang tidak
berdasarkan fakta dan melanggar kode etik jurnalistik yang menjadi acuan pers di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pers
Istilah “pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris berarti
press. Pers artinya “cetak”, berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara
dicetak (printed publication). Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian,
yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. Dalam pengertian
luas, pers mencakup semua media komunikasi massa, seperti radio, televisi, dan film
yang berfungsi menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan
seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain. Maka dikenal istilah jurnalistik
radio, jurnalistik televisi, jurnalistik pers. Dalam pengertian sempit, pers hanya
digolongkan produk-produk penerbitan yang melewati proses percetakan, seperti surat
kabar harian, majalah mingguan, majalah tengah bulanan dan sebagainya yang dikenal
sebagai media cetak. Pers adalah kegiatan yang berhubungan dengan media dan
masyarkat luas. Kegiatan tersebut mengacu pada kegiatan jurnalistik yang sifatnya
mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah materi, dan menerbitkannya berdasarkan
sumber-sumber yang terpercaya dan valid.
Pers Indonesia diatur dalam UU pers No. 40 Tahn 1999. Ini merupakan UU pers
yang baru, memuat berbagai perubahan sistem pers yang mendasar atau sistem pers
sebelumnya. hal ini dimaksudkan agar pers berfungsi secara maksimal seperti
diamanatkan oleh pasal 28 UUD 1945. Fungsi yang maksimal tersebut diperlukan
karena kemerdekaan pers adalah suatu perwujudan kedaulata rakyat dan merupakan
unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyaralkat, berbangsa dan bernegara
yang demokratis. Pencabutan undang undang yang lama dan digantikannya dengan
yang baru hakikatnya merupakan pencerminan adanya perbedaan nilai-nilai dasar politis
ideologis antara orde baru dengan orde reformasi. Hal ini tampak jelas pada
konsideransi undang-undang pers yang baru. Dalam konsideransi itu antara lain
dinyatakan bahwa undang-undang tentang ketentuan pers yang lama dianggap sudah
tidak sesuai dengan perkembanngan zaman.
Lahirnya UU pers yang baru No. 40 tahun 1999 didasarkan atas pertimbangan
bahwa UU No.11 Tahun 1966 tentang ketentuan pokok pers sebagaimana telah diubah
lagi dengan UU No. 04 Tahun 1967 dan diubah lagi dengan UU No. 21 Tahun 1982.
Dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Falsafah di bidang moral
pers, yaitu mengenai kewajiban-kewajiban pers, baik dan buruknya pers, pers yang
benar, dan pers yang mengatur perilaku pers dinamakan etika pers. Dengan kata lain,
etika pers berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan orang-orang yang terlibat
dalam kegiatan pers. Sumber etika pers adalah kesadaran moral, yaitu pengetahuan baik
dan buruk, benar dan salah, tepat maupun tidak tepat bagi orang yang terlibat dalam
kegiatan pers.
2.2 Pengertian Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
Kode etik jurnalistik (KEJ) merupakan aturan mengenai perilaku dan
pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya.
Kode Etik Jurnalistik pertama kali dikeluarkan oleh PWI (Persatuan Wartawan
Indonesia). Pada mulanya kode etik menuntut tanggung jawab moral dari mereka yang
bekerja pada suatu profesi, dalam hal ini adalah jurnalis. Kode etik dikeluarkan oleh
asosiasi atau persatuan profesi dan berlaku terbatas hanya pada anggota asosiasi profesi
tersebut. Sanksi dan hukuman bagi pelanggaran kode etik diatur oleh organisasi. Sanksi
terberat biasanya dipecat dari keanggotaanya.
Pada prinsipnya menurut Undang-undang No. 40 Tahun 1999 menganggap
bahwa kegiatan jurnalistik/kewartawanan merupakan kegiatan/usaha yang sah yang
berhubungan dengan pengumpulan, pengadaan dan penyiaran dalam bentuk fakta,
pendapat atau ulasan, gambar-gambar dan sebagainya, untuk perusahaan pers, radio,
televisi dan film.
Untuk mewujudkan hal tersebut dan kaitannya dengan kinerja dari pers,
keberadaan insan-insan pers yang profesional tentu sangat dibutuhkan, sebab walau
bagaimanapun semua tidak terlepas dari insan-insan pers itu sendiri. Olehnya, seorang
wartawan yang baik dan profesional sedapat mungkin memiliki syarat-syarat, yaitu :
bersemangat dan agresif, prakarsa, berkepribadian, mempunyai rasa ingin tahu, jujur,
bertanggung jawab, akurat dan tepat, pendidikan yang baik, dan mempunyai
kemampuan menulis dan berbicara yang baik
Pada bab pembukaan kode etik jurnalistik dinyatakan bahwasanya kebebasan
pers adalah perwujudan kemerdekaan menyatakan pendapat sebagaimana tercantum
dalam Pasal 28 UUD 1945, yang sekaligus pula merupakan salah satu ciri negara
hukum, termasuk Indonesia. Namun kemerdekaan/kebebasan tersebut adalah kebebasan
yang bertanggung jawab, yang semestinya sejalan dengan kesejahteraan sosial yang
dijiwai oleh landasan moral. Karena itu PWI menetapkan Kode Etik Jurnalistik yang
salah satu landasannya adalah untuk melestarikan kemerdekaan/kebebasan pers yang
bertanggung jawab, disamping merupakan landasan etika para jurnalis.
2.3 Penyimpangan/pelanggaran yang di lakukan oleh wartawan TV One yang
menyalahi Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
Akar masalah kinerja pemerintahan Jokowi – Ahok di media massa adalah berita
yang tidak berimbang, karena dalam penyajian beritanya wartawan dengan sengaja
memberikan opininya tersendiri terhadap kinerja pemerintahan Jokowi – Ahok. Dalam
kasus ini disebutkan bahwa timbulnya banyak kerugian pada warga Jakarta yang
kemudian menuntut janji kepada Jokowi – Ahok. Masalah sosial, misalnya kasus
kebakaran 1000 rumah warga Jakarta yang disebabkan oleh arus pendek listrik yang
mengalir ke rumah-rumah warga yang tidak memiliki IMB melaui PLN.
Pasal yang dilanggar oleh stasiun berita TV One dalam menyiarkan pemberitaan
Jokowi – Ahok adalah :
1. Pasal 1 :
“Kode Etik Jurnalis Televisi adalah pedoman perilaku jurnalis televisi
dalam melaksanakan profesinya”.
Dalam kasus pemberitaan Jokowi – Ahok wartawan tidak mencerminkan
perilaku seorang jurnalis televisi yang sesuai dengan kode etik
jurnalistik. Wartawan dengan sengaja memberi pertanyaan yang
membuat pihak narasumber merasa dirugikan.
2. Pasal 3 :
“Jurnalis Televisi Indonesia menyajikan berita secara akurat, jujur dan
berimbang, dengan mempertimbangkan hati nurani”.
Dalam penyajian berita kasus Jokowi – Ahok ini, wartawan
mengeluarkan opini pribadi terhadap kasus kebakaran 1000 rumah warga
Jakarta selama masa pemerintahan Jokowi – Ahok. Wartawan
mencampur adukkan antara realita dan kepalsuan. Memunculkan
headline dan judul berita yang berbeda dengan isi berita sehingga tidak
sesuai dengan kenyataan. Melakukan dramatisasi fakta, dengan tujuan
menumbuhkan rasa benci dan permusuhan didalam masyarakat dan tidak
objektif dalam pemberitaan.
3. Pasal 6 :
“Jurnalis Televisi Indonesia menjunjung tinggi asas praduga tak
bersalah”.
Wartawan membuat opini pribadi dan memvonis Ahok bersalah dan
melanggar HAM karena melakukan penggusuran atas rumah-rumah
warga kecil yang tidak memiliki IMB. Dalam kasus ini, wartawan hanya
menggunakan narasumber dari kalangan warga yang belum mendapatkan
dampak positifnya, dan tidak menggunakan semua kalangan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penerapan kode etik jurnalistik yang merupakan gambaran serta arah, apa dan
bagaimana seharusnya wartawan sebagai pers atau media massa belum merealisasikan
sebagaimana yang diharapkan. Terlebih lagi jika sampai membuat opini tersendiri
terhadap suatu pemberitaan, kemudian disajikan kepada khayalak ramai, itu sangat
melanggar aturan-aturan yang ada pada kode etik jurnalistik Kebebasan pers yang
banyak didengungkan, sebenarnya tidak hanya dibatasi oleh kode etik jurnalistik, tetapi
terdapat aturan lain yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan apa yang seharusnya.
Untuk itulah masih diperlukan langkah-langkah konkrit dalam rangka mewujudkan
peran dan fungsi pers, paling tidak menutup kemungkinan untuk dikurangi dari
penyimpangan tersebut.
3.2 Saran
Pemerintah dan dewan pers diharapkan lebih optimal lagi dalam melaksanakan
peran dan fungsinya, mengawal dan mengawasi kebebasan pers. Perusahaan media
massa perlu lebih serius dalam memperhatikan aspek hak asasi manusia dalam proses
pemberian informasi dan tidak hanya mementingkan dari segi keuntungannya saja. Hal
sederhana yang bisa dilakukan misalnya tidak lagi menggunakan opini pribadi kedalam
pemberitaan, ini dilakukan sebagai penghormatan kepada hak-hak setiap narasumber.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Gambar 1. Reaksi kesal Ahok atas tudingan Reporter TV One.
DAFTAR PUSTAKA
http://umrikebo.blogspot.com/2008/05/penerapan-kode-etik-jurnalistik-dalam_21.html
http://pengaruhmediamassa.blogspot.com/
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/26/kebebasan-pers-cacat-kode-etik-jurnalistik496767.html
Download