perlindungan negara terhadap hak kebebasan beragama

advertisement
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
PERLINDUNGAN NEGARA TERHADAP
HAK KEBEBASAN BERAGAMA:
PERSPEKTIF ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA
UNIVERSAL
Frans Sayogie1
ABSTRACT
The implementation of religious freedom in Islam still has unresolved issues. Based
on the perspective of the Madinah Charter, Islam can provide protection of freedom of religion and give the rights of non-Muslims. Nowadays, however, in practice, in some Islamic countries, there is actually a variety of aberrations that obscures the meaning and spirit of the Madinah Charter. In some Muslim countries,
the formalization and formulation of syariah are still implemented in the public
sphere. State does not remain neutral toward all religious doctrines and always
strives to apply the principles of syariah as a policy or state legislation. This is also
reflected in the Cairo Declaration that gives legitimacy to Muslim countries to
maintain and run a syariah-based doctrine that emphasizes the protection of religion rather than the protection of the fundamental rights of freedom of religion.
Therefore, the need for the doctrine of separation of religion and state is intended
to make state more independent and is expected to provide protection of the organs and institutions of the state against the abuse of power in the name of religion. Right to freedom of religion can only be realized within the framework of the
constitutional and democratic state based on the spirit of universal human rights.
Key words: right to freedom of religion, state protection, universal human rights
1.
Pendahuluan
Kebebasan beragama dalam
kacamata hak asasi manusia mempunyai
posisi yang kompleks. Dalam konfigurasi
ketata-negaraan, kebebasan beragama
mempunyai posisi yang penting juga.
Sejumlah besar kegiatan manusia dilindungi
1
2
oleh pasal-pasal mengenai kebebasan
beragama, kebebasan bereskpresi, dan
kebebasan politik.2 Kebebasan beragama
muncul sebagai hak asasi manusia yang paling mendasar dalam instrumen-instrumen
politik nasional dan internasional, jauh
Frans Sayogie adalah Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN),
Email: [email protected] dan [email protected].
Hal ini dikemukakan oleh Adi Sulistiyono dalam makalah yang berjudul “Kebebasan Beragama Dalam
Bingkai Hukum” yang disampaikan dalam rangka Seminar Hukum Islam “Kebebasan Berpendapat vs
Keyakinan Beragama ditinjau dari Sudut Pandang Sosial, Agama, dan Hukum”. Penyelenggara FOSMI
Fakultas Hukum UNS, tanggal 8 Mei 2008.
42
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
sebelum berkembangnya pemikiran
mengenai perlindungan sistematis untuk hakhak sipil dan politik.3
Namun demikian, kebebasan
beragama menemukan jantung “persoalan”
yang utama ketika berhadapan dengan
entitas negara. Di sini muncul perdebatan
gugus negara apa yang harus dibentuk
supaya kebebasan beragama tidak
teraniaya? Sejauh mana legitimasi moral dan
hukum bahwa negara boleh “mengelola”
(baca: mengatur, membatasi, dan melarang)
tindakan-tindakan yang bertolak tarik
dengan kebebasan beragama? Bagaimana
juga kerangka yang bernurani untuk
membaca kebebasan beragama
berhadapan dengan kekuasaan dan
kepentingan umum dalam tarikan nafas hak
asasi manusia?4
Di sisi lain, menguraikan hubungan
antara agama dan negara dalam perspektif
Islam bukanlah pekerjaan mudah, walaupun
dalam konteks Islam, kebebasan beragama
adalah sesuatu yang inherent dan intrinsik
dan diakui secara verbal dalam al-Qur’an.
Kebebasan beragama disebutkan secara
tegas dalam al Qur’an, surat al Baqarah,
ayat 256, bahwa “tidak ada paksaan dalam
3
4
5
6
agama”.5 Jalinan hubungannya ternyata
begitu rumit dan kompleks. Pokok soal ini
telah cukup lama memancing debat dan
sengketa intelektual, baik dalam pemikiran
keislaman klasik maupun dalam kajian
politik Islam kontemporer. Sejauh yang
dapat ditangkap dari perjalanan diskursus
intelektual dan historis pemikiran dan praktik
politik Islam, ada banyak pendapat yang
berbeda, beberapa bahkan saling
bertentangan, mengenai hubungan yang pas
antara agama dan negara.6
Dalam realitasnya, sebagian negaranegara muslim modern bukan saja telah
menerapkan konstitusi modern yang
memberikan jaminan hak-hak sipil dan
memperlakukan secara sama warga negara
di depan hukum, bahkan mereka telah
meratifikasi ICCPR (International Covenant on Civil and Political Rights) yang
menyatakan bahwa hak-hak beragama
warga negara diberi jaminan kuat di
dalamnya. Alasan berikutnya, realitas
kebanyakan negara-negara muslim masih
menerapkan sanksi pembekuan hak-hak
sipil dan hukuman mati bagi murtad. Hal
tersebut menjadi suatu paradoks, karena
dalam Islam seluruh hak asasi merupakan
Lihat Ifdhal Kasim (ed.), Hak Sipil dan Politik: Esai-Esai Pilihan, (Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi
Masyarakat (ELSAM), 2001), hal. 238-239.
Hal tersebut kemudian dituangkan dalam DUHAM tentang kebebasan beragama dan keluar dari
keimanannya untuk beralih ke iman dan agama lain. Hal itu bisa dibaca dalam pasal 18 Kovenan tentang
Hak Sipil dan Politik.
Lihat juga Piagam Madinah, Pasal 25 (dibuat pada Abad ke-7 oleh Muhammad saw.) yang terjemahannya
berbunyi “bagi orang-orang Yahudi agama mereka dan bagi orang-orang Islam agama mereka”. Lihat uraian
ini dalam Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945: Kajian Perbandingan tentang
Dasar Hidup Bersama dalam Masyarakat yang Majemuk, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI Press),
1995), hal. 124-130.
Hal ini dikemukakan oleh Marzuki Wahid dan Abd Moqsith Ghazali dalam makalah yang berjudul “Relasi
Agama Dan Negara: Perspektif Pemikiran Nahdlatul Ulama” yang disampaikan dalam Annual Conference on
Islamic Studies (ACIS) Ke - 10 Banjarmasin, tanggal 1 – 4 November 2010.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
43
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
kewajiban bagi negara maupun individu
yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu,
negara bukan saja menahan diri dari
menyentuh hak-hak asasi tersebut,
melainkan juga mempunyai kewajiban untuk
melindungi dan menjamin hak-hak tersebut
yang melekat pada warga negaranya, baik
muslim maupun non-muslim.7
Sementara itu, memang ada
perdebatan tentang standar universal hak
asasi manusia, di samping ada problematika
serius berkaitan dengan penerapannya.
Namun ini tidak berarti bahwa tidak ada
standar universal yang mengikat, atau
upaya penerapannya ditinggalkan. Tetap
ada standar universal tertentu tentang hak
asasi manusia8 yang mengikat sesuai dengan
hukum internasional dan bahwa setiap upaya
harus diarahkan pada penerapan dalam
praktik. Sehingga prinsip yang menghormati
dan melindungi hak-hak asasi manusia harus
ditaati oleh negara manapun.
B. Hak Kebebasan Beragama: Hak
Asasi Manusia Universal dan Islam
1.
Hak Kebebasan Beragama dalam
Hak Asasi Manusia Universal
Pengaturan mengenai perlindungan
7
8
9
hak kebebasan beragama diartikulasikan
secara tegas dalam pasal 18 baik dalam
UDHR maupun ICCPR. Dengan masuknya
hak kebebasan beragama dalam UDHR,
berarti menunjukkan betapa serius dan
pentingnya hak kebebasan beragama
tersebut. Dengan demikian hak kebebasan
beragama dapat diasumsikan sebagai salah
satu hak yang paling fundamental.
Pengaturan mengenai hak kebebasan
beragama dalam UDHR diatur dalam Pasal
18. Pasal tersebut mengatur sebagai berikut:
“Setiap orang berhak atas
kebebasan pikiran, hati nurani dan
agama, dalam hal ini termasuk
kebebasan berganti agama atau
kepercayaan, dan kebebasan untuk
menyatakan agama atau kepercayaannya dengan cara mengajarkannya,
memprak-tikkannya, beribadah dan
mentaatinya baik sendiri maupun
bersama-sama dengan orang lain, dan
baik di tempat umum maupun tersendiri.”9
Pasal ini merupakan pasal utama dalam
pengaturan mengenai hak kebebasan
beragama. Pasal ini memberikan pengertian
mengenai hak kebebasan beragama. Hak
kebebasan beragama dalam pasal tersebut
meliputi hak untuk beragama, hak untuk
Lihat uraian kebebasan beragama yang dinyatakan Piagam Madinah dalam Ahmad Sukardja, loc.cit.
Dokumen-dokumen Hak Asasi Manusia PBB dan dokumen regional Eropa (yaitu perjanjian Masyarakat Eropa
tentang perlindungan Hak-hak Asasi Manusia dan Kebebasan Fundamendal tahun 1950), dokumen Amerika
(yang berisi perjanjian Amerika tentang Hak-hak Asasi Manusia tahun 1969) dan Piagam Afrika (tentang Hakhak Asasi Masyarakat dan Manusia pada tahun 1981), Dokumen Dewan Liga Arab (tentang Hak-hak Asasi
Manusia yang disahkan pada September 1987) selururuhnya memiliki premis yang sama, bahwa ada
standar universal tentang hak-hak asasi manusia yang harus ditaati oleh seluruh negara di dunia, atau
negara-negara regional yang hubungannya dengan dokumen regional.
Lihat UDHR, Pasal 18.
44
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
berpindah agama, hak untuk beribadah
sesuai dengan keyakinan, hak untuk
mengajarkan agamanya. Hak-hak tersebut
dapat dilaksanakan baik secara individu
ataupun kelompok dan pelaksanaan hak
tersebut dapat dilakukan baik di tempat
umum maupun tempat pribadi. Dengan
demikian hak atas kebebasan beragama
dan berkeyakinan pada dasarnya meliputi
dua dimensi individual dan kolektif.
Dimensi individual tercermin dalam
perlindungan terhadap keberadaan spiritual seseorang (forum internum) termasuk
di dalam dimensi ini adalah memilih
mengganti, mengadopsi dan memeluk
agama dan keyakinan. Sedangkan dimensi
kolektif tercermin dalam perlindungan
terhadap keberadaan seseorang untuk
mengeluarkan keberadaan spiritualnya dan
mempertahankannya di depan publik (forum eksternum). Dengan kata lain Pasal
18 membedakan kebebasan berkeyakinan,
dan beragama atau berkepercayaan dari
kebebasan untuk menjalankan agama atau
kepercayaannya. Pembedaan ini secara legal sangat penting untuk membedakan di
wilayah mana negara diperbolehkan untuk
membatasi dan wilayah mana negara
dilarang untuk melakukan pembatasan.
Dalam pelaksanaan tanggung
jawabnya, negara diperbolehkan untuk
membatasi hak tertentu dengan dasar
beberapa klausul pembatasan. Hak
beragama dan berkeyakinan termasuk
dalam non-derogable rights, sehingga tidak
dapat dikurangi. Namun tidak semua aspek
hak dan kebebasan beragama dan
berkeyakinan berada dalam wilayah hak
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apa pun (non-derogable rights).
Negara sebagai entitas berdaulat ruang
publik dapat membatasi hanya pada ruang
lingkup forum externum. Pembatasan dan
juga campur tangan itu dibentuk dalam
sebuah peraturan perundang-undangan
sebagai norma publik yang memungkinkan
publik (orang banyak) berpartisipasi dalam
membentuk dan mengawasi pelaksanaannya, dilakukan dengan tetap pula
memenuhi asas keperluan (necessity) dan
proporsionalitas. Dalam mengartikan ruang
lingkup ketentuan pembatasan yang
diijinkan, Negara-Negara Pihak harus
memulai dari kebutuhan untuk melindungi
hak-hak yang dijamin oleh Kovenan,
termasuk hak atas kesetaraan dan nondiskriminasi di bidang apa pun sebagaimana
ditentukan di pasal 2, pasal 3, dan pasal 26
Kovenan Hak Sipil dan Politik. Pembatasan-pembatasan dapat diterapkan hanya
untuk tujuan-tujuan sebagaimana yang telah
diatur serta harus berhubungan langsung dan
sesuai dengan kebutuhan khusus yang sudah
ditentukan. Pembatasan tidak boleh
diterapkan untuk tujuan-tujuan yang
diskriminatif atau diterapkan dengan cara
yang diskriminatif.
Komentar Umum No. 22 selanjutnya
menjelaskan bahwa adanya kenyataan
bahwa suatu agama diakui sebagai agama
negara, atau bahwa agama tersebut
dinyatakan sebagai agama resmi atau tradisi,
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
45
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
atau bahwa penganut agama tersebut terdiri
dari mayoritas penduduk, tidak boleh
menyebabkan tidak dinikmatinya hak-hak
yang dijamin oleh Kovenan, termasuk oleh
pasal 18 dan pasal 27 ICCPR, maupun
menyebabkan diskriminasi terhadap
penganut agama lain atau orang-orang yang
tidak beragama atau berkepercayaan.10
Komentar umum No. 22 juga menyatakan
bahwa tidak satu pun pengamalan agama
atau kepercayaan dapat digunakan sebagai
propaganda untuk berperang atau advokasi
kebencian nasional, rasial, atau agama, yang
dapat mendorong terjadinya diskriminasi,
permusuhan, atau kekerasan.11
menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan pengajaran,
pengamalan, ibadah dan penaatan.14
3.
Tanpa dipaksa. Tidak seorang pun
dapat dipaksa sehingga terganggu
kebebasannya untuk menganut atau
menetapkan agama atau keyakinannya
sesuai dengan pilihannya.15
4.
Tanpa diskriminasi. Negara
berkewajiban untuk menghormati dan
menjamin hak kebebasan beragama
atau berkeyakinan bagi semua orang
yang berada dalam wilayahnya dan
yang tunduk pada wilayah hukum atau
yurisdiksinya, hak kebebasan
beragama atau berkeyakinan tanpa
pembedaan apa pun seperti ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama
atau keyakinan, politik atau pendapat
lain, kebangsaan atau asal-usul lainnya,
kekayaan, kelahiran atau status
lainnya.16
5.
Hak orang tua dan wali. Negara
berkewajiban untuk menghormati
kebebasan orang tua dan apabila
diakui, wali hukum yang sah, untuk
memastikan bahwa pendidikan agama
dan moral bagi anak-anak mereka
sesuai dengan keyakinan mereka
sendiri, selaras dengan kewajiban untuk
Dengan demikian, inti normatif dari hak
asasi manusia atas kebebasan beragama
atau berkeyakinan dapat dielaborasikan
menjadi delapan elemen12:
1.
2.
10
11
12
13
14
15
16
Kebebasan internal. Setiap orang
berhak atas kebebasan berpikir,
berkesadaran dan beragama; hak ini
mencakup kebebasan untuk setiap
orang memiliki, menganut,
mempertahankan atau pindah agama
atau keyakinan.13
Kebebasan eksternal. Setiap orang
mempunyai kebebasan, baik sendiri
atau bersama-sama dengan orang lain,
di tempat umum atau tertutup, untuk
Lihat Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa Komentar Umum No. 22, Pasal 9, Tahun 1993.
Ibid., Pasal 7.
Tore Lindholm (eds.), Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan: Seberapa Jauh?, Sebuah Referensi tentang
Prinsip-Prinsip dan Praktek, terjemahan Rafael Edy Bosko dan M. Rifa’I Abduh, (Yogyakarta: Penerbit
Kanisius, 2010), hal. 20-21.
Lihat Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa Komentar Umum No. 22, Pasal 5, Tahun 1993.
Lihat ICCPR, Pasal 18 ayat (1) dan ECHR, Pasal 9 ayat (1).
Lihat ICCPR, Pasal 18 ayat (2).
Lihat ICCPR, Pasal 2 ayat (1).
46
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
melindungi hak atas kebebasan
beragama atau berkeyakinan setiap
anak seiring dengan kapasitas anak
yang sedang berkembang.17
6.
Kebebasan
korporat
dan
kedudukan hukum. Komunitas
keagamaan sendiri mempunyai
kebebasan
beragama
atau
berkeyakinan, termasuk hak otonomi
dalam urusan mereka sendiri, sebagai
salah satu aspek dari kebebasan
memanifestasikan kepercayaan agama
bukan hanya secara individual tetapi
bersama-sama dengan orang lain.18
7. Pembatasan yang diperbolehkan
terhadap kebebasan eksternal.
Kebebasan memanifestasikan agama
atau keyakinan seseorang hanya dapat
dibatasi oleh ketentuan berdasarkan
hukum, dan yang diperlukan untuk
melindungi keamanan publik,
ketertiban, kesehatan, atau moral atau
hak-hak mendasar orang lain.19
8. Tidak dapat dikurangi. Negara tidak
boleh mengurangi hak kebebasan
beragama atau berkeyakinan, bahkan
dalam keadaan darurat publik.20
Delapan komponen hak kebebasan
beragama ini dapat diidentifikasikan dari
seperangkat norma-norma hak asasi
17
18
19
20
21
22
23
manusia yang kompleks, yang saling
mendukung dan terkodifikasi secara
internasional. Saat diterapkan untuk konteks
tertentu dan untuk tujuan-tujuan praktis,
norma-norma ini mungkin membutuhkan
interpretasi dan eleborasi lebih lanjut.21
Jelaslah bahwa memfasilitasi hak
kebebasan beragama tidak hanya secara
eksklusif terbatas lewat pemberian
perlindungan perlindungan hukum bagi
delapan komponen pokok yang
diidentifikasikan di atas. Lebih lanjut, untuk
kebebasan beragama, ada yang lebih
sekedar perlindungan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, perlunya konfigurasi
institusional dalam hubungan agama-negara
merefleksikan kompromi sejarah, budaya
dan politis yang beragam. Nilai-nilai pokok
yang dilindungi di bawah naungan
kebebasan beragama atau berkeyakinan
membuka ruang bagi sejumlah besar pilihanpilihan dalam artian bahwa negara-negara
yang berbeda menstrukturisasi hubungan
dengan agama, komunitas keyakinan, dan
para penganut individual.22 Bagaimanapun
juga, ada seperangkat pokok nilai-nilai yang
membentuk persyaratan-persyaratan minimum untuk sebuah masyarakat yang adil
dan untuk perlindungan hak universal bagi
kebebasan beragama.23
Lihat ICCPR, Pasal 18 ayat (4); dan Konvensi Hak-Hak Anak , Pasal 14.
Lihat ICCPR, Pasal 18 ayat (1).
Lihat ICCPR, Pasal 18 ayat (3).
Lihat ICCPR, Pasal 4 ayat (2).
Tore Lindholm (eds.), op.cit., hal. 21.
Lihat Ifdhal Kasim, “Konvensi Hak-hak Sipil dan Politik Sebuah Pengantar”, Seri Bahan Bacaan Kursus HAM
untuk Pengacara X Tahun 2005, (Jakarta: ELSAM, 2005), hal. 1.
Tore Lindholm (eds.), op.cit., hal. 23-24.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
47
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
2.
Hak Kebebasan Beragama dalam
Islam
Dalam ajaran Islam, pengakuan
terhadap kebebasan seseorang untuk
memilih suatu agama sudah sudah sejak
awal dijelaskan. Bahkan, kebebasan
merupakan “slogan” yang menjadi hak
setiap individu, karena salah satu pilar dasar
dalam yang mewujudkan keselamatan
individu dan masyarakat. Kebebasan
beragama, berpolitik dan berfikir
merupakan bentuk penghargaan al-Qur’an
yang telah dianugerahkan Allah SWT
kepada manusia. Dengan demikian,
persoalan kebebasan beragama dalam Islam bukan hal yang baru, akan tetapi sudah
berafiliasi dengan pemikiran Islam seiring
dinamika zaman.
Kebebasan beragama dalam konteks
Islam menyiratkan bahwa non-muslim tidak
dipaksa untuk masuk Islam, mereka juga
tidak dihalangi untuk menjalankan ritus
keagamaannya. Baik muslim dan nonmuslim dapat mengembangkan agamanya,
di samping melindunginya dari serangan atau
fitnah, tak peduli apakah hal ini berasal dari
kalangan sendiri atau dari yang lain.24
Peristilahan kebebasan dalam
pemikiran Islam, tidak hanya menggunakan
terminologi al-hurriyah, namun istilah alihkitiyar juga merupakan terminologi yang
sangat identik dengan kebebasan. Karena
terminologi al-ikhtiyar sering diposisikan
24
25
26
kontras dengan terminologi al-jabr, yang
berarti penafikan terhadap kebebasan
dalam diri manusia dan masyarakat. Juga,
al-ikhtiyar didefenisikan sebagai “sikap
seseorang, jika berkeinginan maka ia
kerjakan, jika tidak, maka ia tidak lakukan”.
Tidak hanya itu, persoalan kebebasan
beragama bahkan telah dijelaskan dalam
kitab suci al-Qur’an, sebagai rujukan final
umat Islam. Dalam al-Qur’an tertulis
banyak sekali ayat yang secara jelas
mengungkapkan tentang kebebasan
bergama. Juga, tugas dan fungsi seorang
Rasul bukan memaksakan seluruh manusia
untuk memeluk Islam, akan tetapi hanya
sebatas penyampai risalah Tuhan.25
Penegasan al-Qur’an terhadap
kebebasan beragama merupakan bukti
bahwa pemaksaan terhadap seseorang
untuk memeluk Islam tidak dibenarkan. Hal
ini telah dijelaskan dalam firman Allah SWT,
artinya:
”Tidak ada paksaan untuk
(memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar
daripada jalan yang sesat. Karena itu,
barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah,
maka sesungguhnya ia telah berpegang
kepada buhul tali yang amat kuat yang
tidak akan putus. Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui”26.
Mohammad Hashim Kamali, Kebebasan Berpendapat dalam Islam, terjemahan Eva Y. Nukman dan Fathiyah
Basri, (Bandung: Penerbit Mizan, 19960, hal. 120.
Lihat Hermanto Harun dalam makalah yang berjudul “Kebebasan Beragama di Indonesia: Mengurai kusut
kebebasan beragama” dipresentasikan dalam acara Diskusi Nasional “Islam dan Kebebasan Beragama di
Indonesia, Problem dan Solusinya” hari Kamis 8 Mei 2008 di Auditorium IAIN STS Jambi, Kampus Telanai Pura.
QS:al-Baqarah: 256
48
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
Selain ayat di atas, ayat lain yang
secara tegas menegasikan tindakan
pemaksaan untuk memeluk Islam adalah
firman Allah SWT, artinya :
”Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang
yang di muka bumi seluruhnya. Maka
apakah kamu (hendak) memaksa
manusia supaya mereka menjadi orangorang yang beriman semuanya?”27
Persoalan kebebasan beragama dalam
Islam bahkan tidak sebatas membiarkan
seorang manusia memilih terhadap suatu
agama, namun lebih dari itu, memberi
kebebasan kepada pemeluk setiap agama
untuk melaksanakan ritual ajaran agamanya.
Hal ini karena ‘tema’ keyakinan merupakan
urusan ukhrawi yang nanti akan
diperhitungkan oleh Allah SWT di hari
kiamat kelak. Dari itu, tidak seorangpun
yang berhak menghukumi tentang pilihan
keyakinan, kecuali jika seseorang tersebut
dengan sengaja mengproklamirkan
kekufurannya. Jika kebebasan memilih
agama diberikan kepada setiap orang,
maka ada bebarapa konsekuensi logis dari
pemberian kebebasan tersebut.
Diantaranya: 1). kebebasan melaksanakan
ibadah, baik secara terang-terangan atau
tersembunyi, individual maupun
berkelompok. 2).kebebasan memilih mode
yang selaras dengan kecenderungan
agamanya, atau kebebasan melakukan
praktek keagamaan. 3). Kebebasan
27
28
29
memakai istilah, tanda dan syi’ar yang
berbeda. 4). Kebebasan membangun
kebutuhan rumah ibadah. 5). Kebebasan
melaksanakan acara ritual keagamaan. 6).
Menghargai tempat yang mereka anggap
suci. 7). Kebebasan bagi seseorang untuk
merubah dan berpindah keyakinan. 8).
Kebebasan berdakwah untuk memeluk
agamanya.28 Dalam al-Qur’an secara
gamblang diungkapkan tentang kebebasan
tersebut. Firman Allah SWT yang artinya:
”Katakanlah “hai orang-orang
yang kafir, aku tidak akan menyembah
apa yang kamu sembah. Dan kamu
bukan penyambah Tuhan yang aku
sembah. Dan aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmulah agamamu, dan untukkulah
agamaku.”29
Ayat ini dengan sangat tegas
mengungkapkan akan adanya perbedaan
antara Islam dengan agama yang lainya,
bahkan secara global mengungkapkan
perbedaan yang tidak akan pernah bertemu,
keragaman yang tidak akan pernah serupa,
pisah yang tidak akan bersambung dan
corak yang tidak akan pernah bercampur.
Meskipun demikian, realitas keragaman
agama merupakan fakta yang ada dan tidak
mungkin untuk dinafikan. Karena, justru
keragaman agama merupakan sunnatullah
yang sengaja diciptakan Allah SWT sebagai
QS: Yunus: 99.
Jamaluddin Athiah Muhammad, Nahwa Fiqh Jadid li al-Aqalliyat, dalam Hermanto Harun, op.cit., hal. 10.
Q.S. al-Kafirun: 1-6.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
49
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
ujian untuk manusia. Keragaman manusia
dalam memilih jalur ‘komunikasi’ menuju
tuhannya, juga telah dijelaskan dalam
al-Qur’an. Firman Allah SWT, artinya:
”..untuk tiap-tiap umat diantara
kamu, kami berikan aturan dan jalan
yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya
satu umat (saja), tetapi Allah hendak
menguji kamu terhadap pemberian-Nya.
Kepadamu, maka berlomba-lombalah
berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu
diberitahukan-Nya kepadamuapa yang
telah kamu perselisihkan itu.30
C. Perlindungan Negara terhadap
Hak Kebebasan Beragama dalam
Islam
1.
Perspektif Piagam Madinah
Perlindungan negara terhadap hak
kebebasan dalam Islam dapat mengacu
pada konsep politik Islam yang secara
historis pernah dipraktikkan pada masa awal
pemerintahan Islam di bawah kendali Nabi
Muhammad saw. Realitas politik pada
masyarakat awal Islam (masa al-salaf alshalih), menurut Nurcholish Madjid,
memiliki bangunan kenyataan politik yang
demokratis dan partisipatoris yang
menghormati dan menghargai ruang publik,
30
31
32
seperti kebebasan hak asasi, partisipasi,
keadilan sosial, dan lain sebagainya. Wujud
historis dari sistem sosial politik yang
kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah
ini merupakan prinsip-prinsip rumusan
kesepakatan mengenai kehidupan bersama
secara sosial-politik antara sesama kaum
Muslim dan antara kaum Muslim dengan
kelompok-kelompok lain di kota Madinah
di bawah pimpinan Nabi Muhammad
saw.31
Pada periodisasi Madinah tersebut,
telah terjalin hubungan yang baik dari
beberapa kelompok non-Muslim dengan
kelompok Muslim. Pemerintahan Islam yang
dipimpin Nabi Muhammad saw
menunjukkan toleransi kepada umat-umat
beragama lain. Golongan minoritas
mendapatkan perlindungan dari pemerintah
Islam dan dapat menjalin hubungan dengan
masyarakat Muslim dengan baik dalam
melaksanakan berbagai aktivitasnya.
Eksistensi pluralisme masyarakat Madinah
menuntut Nabi membangun tatanan hidup
bersama yang mencakup semua golongan
yang ada. Mula-mula, Nabi mem-persaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar.
Selanjutnya, membangun persaudaraan
yang melibatkan semua masyarakat
Madinah yang tidak terbatas kepada umat
Islam saja.32
QS: al-Maidah: 48.
Nurcholish Madjid,. Cita-Cita Politik Islam di Era Reformasi, (Jakarta: Yayasan Paramadina, 1999), hal. 24.
Marzuki, “Kerukunan antarumat Beragama dalam Wacana Masyarakat Madani: Analisis Isi Piagam Madinah
dan Relevansinya bagi Indonesia”, makalah yang tidak diterbitkan (t.t.), hal. 5-9.
50
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
Dalam Piagam33 Madinah dirumuskan
prinsip-prinsip dan dasar-dasar tata
kehidupan bermasyarakat, kelompokkelompok sosial Madinah, jaminan hak, dan
ketetapan kewajiban. Piagam Madinah itu
juga mengandung prinsip kebebasan
beragama, hubungan antar kelompok,
kewajiban mempertahankan kesatuan
hidup, dan sebagainya. Insiatif dan usaha
Nabi Muhammad saw dalam mengorganisir
dan mempersatukan pengikutnya dan
golongan lain, menjadi suatu masyarakat
yang teratur, berdiri sendiri, dan berdaulat
yang akhirnya menjadi suatu negara di
bawah pimpinan Nabi sendiri merupakan
praktek siyasah, yakni proses dan tujuan
untuk mencapai tujuan. prinsip kenegaraan
yang diterapkan pada masyarakat Madinah
di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad
saw. Masyarakat Madinah adalah
masyarakat plural yang terdiri dari berbagai
suku, golongan, dan agama. Islam datang
ke Madinah dengan bangunan konsep
ketatanegaraan yang mengikat aneka ragam
suku, konflik, dan perpecahan. 34
Pada saat sebelum terbentuknya
Piagam Madinah, Nabi Muhammad
memahami benar bahwa masyarakat yang
dihadapi adalah masyarakat majemuk yang
33
34
masing-masing golongan bersikap
bermusuhan terhadap golongan lain. Nabi
melihat perlu adanya penataan dan
pengendalian sosial untuik mengatur
hubungan-hubungan antar golongan dalam
kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan
agama. Karena itu, Nabi melakukan
beberapa langkah. Pertama, membangun
masjid. Lembaga ini, dari sisi agama
berfungsi sebagai tempai ibadah dan dari
segi sosial berfungsi sebagai tempat
mempererat hubungan dan ikatan di antara
anggota jamaah. Kedua, menciptakan
persaudaraan nyata dan efektif antara orang Islam Mekah dan Madinah. Kedua
langkah tersebut masih bersifat internal dan
hanya ditujukan untuk konsolidasi umat Islam. Karena itu, langkah ketiga ditujukan
kepada seluruh penduduk Madinah. Nabi
membuat perjanjian tertulis atau piagam
yang menekankan pada persatuan yang erat
di kalangan kaum muslimin dan kaum
Yahudi, menjamin kebebasan beragama
bagi semua golongan, menekankan
kerjasama dan persamaan hak dan
kewajiban semua golongan dalam
kehidupan sosial politik dalam mewujudkan
pertahanan dan perdamaian, dan
menetapkan wewenang bagi Nabi untuk
W. Montgomery Watt menyebutnya dengan “The Constitution of Medina”, R.A. Nicholson “charter”, Majid
Khadduri “treaty”, Philip K. Hitti “agreement”, Zainal Abidin Ahmad “piagam”. Kata al-shahifah adalah nama
yang disebut di dalam Piagam Madinah. Lihat Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar
1945, op.cit., hal. 2.
Ibid., hal. 5. Para pihak yang mengikatkan diri atau terikat dalam Piagam Madinah yang berisi per-janjian
masya-rakat Madinah (social contract) ini ada tiga belas kelompok komu-nitas yang secara eksplisit disebut
dalam teks Piagam. Ketiga belas komunitas itu adalah (i) kaum Mukminin dan Muslimin Muhajirin dari suku
Quraisy Mekkah, (ii) Kaum Mukminin dan Muslimin dari Yatsrib, (iii) Kaum Yahudi dari Banu ‘Awf, (iv) Kaum Yahudi
dari Banu Sa’idah, (v) Kaum Yahudi dari Banu al-Hars, (vi) Banu Jusyam, (vii) Kaum Yahudi dari Banu Al-Najjar,
(viii) Kaum Yahudi dari Banu ‘Amr ibn ‘Awf, (ix) Banu al-Nabit, (x) Banu al-‘Aws, (xi) Kaum Yahudi dari Banu Sa’labah,
(xii) Suku Jafnah dari Banu Sa’labah, dan (xiii) Banu Syuthaybah.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
51
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
menengahi dan memutuskan segala
perbedaan pendapat dan perselisihan yang
timbul di antara mereka.35
Dalam Piagam Madinah, kata
ummah36 terulang dua kali, yaitu dalam
pasal 1 dan pasal 25. Rumusan pengertian
ummah oleh Syariati di atas—yang sejalan
dengan langkah Nabi untuk mempersatukan
umat Islam—sesuai dengan muatan pasal 1
Piagam Madinah, yang isinya innahum
ummatun wahidah min duni al-nas
(sesungguhnya mereka adalah umat yang
satu, tidak termasuk golongan lain).
Ketetapan (pasal 1) ini merupakan
pernyataan yang mempersatukan orangorang mukmin dan muslim yang berasal dari
dua golongan besar, Muhajirin dan Anshar,
dari berbagai suku dan golongan sebagai
umat yang satu. Dasar yang mengikat
mereka adalah akidah Islam, yang
membedakan mereka dari umat lain.
Ketetapan pada pasal 1 itu tidak
berarti menunjukkan bahwa konsep
ummah yang dikehendaki oleh Piagam
Madinah adalah umat Islam saja sebab di
pasal lain kaum Yahudi dan sekutunya
disebut sebagai anggota umat. Hal ini
dibuktikan dalam pasal 25. Pasal 25
misalnya menyatakan:
35
36
37
“Kaum Yahudi Bani ‘Auf bersama
dengan warga yang beriman adalah satu
umah. Kedua belah pihak, kaum Yahudi
dan kaum Muslimin, bebas memeluk
agama masing-masing. Demikian pula
halnya dengan sekutu dan diri mereka
sendiri. Bila di antara mereka ada yang
melakukan aniaya dan dosa dalam hal
ini, maka akibatnya akan ditanggung
oleh diri dan warganya”
Pasal 25 Piagam Madinah merupakan
perwujudan jaminan kebebasan beragama
dan beribadat menurut ajaran agama
masing-masing. Pada pasal 25 juga
dinyatakan bahwa kaum Yahudi adalah satu
umat bersama kaum mukminin. Penyebutan
demikian, mengandung arti bahwa dilihat
dari kesatuan dasar agama orang-orang
Yahudi merupakan satu komunitas yang
parallel dengan komunitas kaum mukminin.
Dalam kehidupan bersama tersebut,
komunitas Yahudi bebas dalam
melaksanakan agama mereka.37 Pasal 24
pada Piagam Madinah itu telah memberi
jaminan kebebasan beragama bagi orangorang Yahudi sebagai suatu komunitas dan
mewujudkan kerja sama yang erat dengan
kaum muslimin dan membuktikan bahwa
Islam memiliki sikap toleran terhadap agama
lain.
J. Suyuthi Pulungan, Prinsip-Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau dari Pandangan al-Qur’an,
(Jakarta: Rajawali Pers, 1996), hal. 64.
Ali Syari’ati mengartikan kata ummah dengan “jalan yang lurus”, yakni sekelompok manusia yang bermaksud
menuju “jalan” yang tidak lepas dari arti kata akarnya, amma. Kata ini ia artikan menuju dan berniat yang
mengandung tiga arti, yaitu gerakan, tujuan, dan ketetapan kesadaran. Lihat Ali Syari’ati, Ummah wa al-Umamah,
terj. M. Faishol Hasanuddin, (Jakarta: Penerbit Yapi, 1990), hal. 36-38.
Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, op.cit., hal. 125. Di sini terlihat bahwa Nabi
Muhammad saw tidak memaksa rakyat Madinah untuk mengubah agama. Nabi hanya mendakwahkan Islam
dengan seruan untuk mengesakan Allah. Soal konversi ke agama Islam tergantung pada kesadaran dan keinginan
masing-masing tanpa adanya paksaan.
52
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
Sementara itu, ketetapan pada pasal
25 sampai pasal 35 itu dapat dikatakan
bahwa organisasi umat yang dibentuk Nabi
bersifat terbuka. Beliau menghimpun semua
golongan penduduk Madinah. Perbedaan
keyakinan mereka tidak menjadi alasan
untuk tidak bersatu dalam kehidupan
bermasyarakat bernegara. Dalam hal ini
berlaku konsep ummah yang bersifat
umum.38 Dengan demikian, penggunaan
istilah ummah dapat bersifat khusus, yaitu
para penganut agama dan nabi tertentu, dan
dapat pula bersifat umum, yaitu setiap
generasi manusia adalah umat yang satu
tanpa batasan agama.39
Selain itu, dalam Piagam Madinah,
juga ditetapkan masalah perlindungan yang
disebutkan secara eksplisit yang ditentukan
pada pasal 15. “Jaminan Allah adalah satu,”
demikian disebutkan pada pasal 15. Kata
Allah di sini dimaksudkan untuk menyebut
kekuasaan umum atau perlindungan oleh
negara, sedang kata satu berarti meliputi
semua orang yang harus dilindungi. Jadi,
perlindungan negara diberikan kepada
semua warga atau rakyat tanpa melihat
agama yang dianut.40
Dengan demikian, proses kelahiran
dan perkembangan Islam sejak zaman
Piagam Madinah sudah menunjukkan
kemungkinan kerja sama dan saling
38
39
40
41
menghormati. Apalagi kalau perspektif yang
digunakan tidak memisahkan identitas Islam dari jalinan-eratnya dengan agamaagama lain sekalipun. Perspektif inilah yang
tetap relevan untuk sekarang, ketika semua
umat beragama sudah hidup di dalam negara
bangsa yang menerima asas kewarga
negaraan, dengan sistem proteksi berbasis
konstitusi yang diberikan kepada semua
warganegara tanpa membedakan latar
belakangnya. Tak ada lagi Nabi yang
menjadi hakam, karena hakam sudah
mengalami transformasi menjadi berbagai
mekanisme dan lembaga di dalam negara
dan masyarakat, baik dalam rangka proteksi
warganegara, penanganan konflik dan
penyelesiaan sengketa, dan lain-lain.
Idealnya, dalam istilah Piagam Madinah,
negara adalah haram, tempat yang
mendorong orang dari berbagai latar
belakang berbeda untuk bergaul dan
bekerja sama.41
2.
Perspektif Deklarasi Kairo
Deklarasi Kairo (1990) merupakan
istrumen pengaturan hak asasi manusia yang
berlandaskan hukum Islam.
Pengaturan mengenai hak kebebasan
beragama dalam Deklarasi Kairo diatur
dalam pasal khusus. Namun untuk
memahami pengertian mengenai hak
Lihat Muhammad Latif Fauzi, “Konsep Negara dalam Perspektif Piagam Madinah dan Piagam Jakarta”, dalam
Jurnal Al-Mawarid Edisi XIII Tahun 2005, Yogyakarta, hal. 92-93.
J. Suyuthi Pulungan, Prinsip-Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah, op.cit., hal. 129.
W. Montgomery Watt, “Islamic Political Thought”, dalam Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang
Dasar 1945, op.cit., hal. 69.
Rizal Panggabean, ‘Kesepakatan Madinah dan Sesudahnya”, dalam Elza Peldi Taher (ed.), Merayakan Kebebasan
Beragama: Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi, (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2011), hal.
111.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
53
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
kebebasan beragama dalam Deklarasi Kairo
harus melihat bagian-bagian lain dari
deklarasi yang akan membantu pemahaman
tentang hak kebebasan beragama.
Pembukaan Deklarasi Kairo mengatur
sebagai berikut:
“Wishing to contribute to the efforts
of mankind to assert human rights, to
protect man from exploitation and persecution, and to affirm his freedom and
right to a dignified life in accordance with
the Islamic Shari’ah.”42
Prinsip-prinsip Deklarasi Kairo yang
dijabarkan dalam 25 pasal menegaskan
bahwa hak-hak asasi dan kemerdekaan
universal dalam Islam merupakan bagian
integral agama Islam dan bahwa tak seorang
pun pada dasarnya berhak untuk
menggoyahkan baik keseluruhan maupun
sebagian atau melanggar atau mengabaikannya karena hak-hak asasi dan
kemerdekaan itu merupakan perintah suci
mengikat yang termaktub dalam wahyu Allah SWT yang diturunkan melalui nabi-Nya
yang terakhir.
Pembukaan Deklarasi Kairo menjelaskan bahwa tujuan dibentuknya Deklarasi
Kairo adalah untuk memberikan sumbangan
terhadap perlindungan hak asasi manusia
yang sesuai dengan syariat Islam. Hal ini
dapat dipahami sebab Deklarasi Kairo
dikeluarkan oleh OKI (Organisasi
42
43
Kerjasama Islam), yang merupakan
organisasi internasional antarnegara yang
beranggotakan negara Islam atau
penduduknya mayoritas beragama Islam.
Deklarasi Kairo terbentuk dikarenakan adanya satu perdebatan yang
mendapatkan perhatian terjadi antara blok
Islam dan blok lain tentang pasal 18
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,
yaitu tentang kebebasan beragama dan
berkeyakinan. Blok Islam pada awalnya
menentang pasal tersebut karena terdapat
klausul “kebebasan berpindah agama” yang
bertentangan dengan doktrin Islam tentang
murtad (apostasy), meski pada akhirnya
hanya Saudi Arabia yang benar-benar
menentang pasal itu. Namun pada
perkembangannya, Saudi Arabia mampu
mempengaruhi opini negara-negara Islam
terutama di bawah organisasi OKI
(Organisasi Kerjasama Islam) yang berpusat
di Jeddah, di mana Saudi Arabia sebagai
tuan rumah. Respon terhadap Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia terus
mengalami perkembangan di dunia Islam.
Pada tahun 1981 muncul Universal
Islamic Declaration of Human Rights
oleh beberapa tokoh pemikir Islam
terkemuka dari berbagai negara. Pada
tahun 1990 lahir Deklarasi Kairo (Cairo
Declaration of Human Rights in Islam)
oleh negara-negara OKI 43 , yang
Lihat Pembukaan Deklarasi Kairo.
Dari pertemuan Komisi Hak Asasi Manusia Organisasi Kerjasama Islam (IPHRC OIC) 20-24 Februari 2012 di
Jakarta diketahui bahwa negara anggota OKI banyak yang belum memiliki standar instrumen dalam konteks
hak asasi manusia. Bahkan, beberapa negara tidak memiliki Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di negaranya.
Pertemuan tersebut memberi rekomendasi kepada dewan Menlu agar negara-negara anggota OKI juga
meratifikasi isntrumen internasional hak asasi manusia dan bekerja sama menegakkan hak asasi manusia,
dan menghasilkan beberapa kesepakatan. Kesepakatan tersebut berisi tugas-tugas yang harus dilakukan oleh
negara anggota OKI. Lihat Republika co.id, “Negara OKI Harus Ratifikasi Aturan HAM”, Jumat, 24 Pebruari 2012
19:12 WIB, diakses Selasa, 4 Jumadil Awwal 1433 / 27 Maret 2012 | 20:27.
54
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
ditandatangani 54 negara anggota OKI
pada 5 Agustus 1990. Inti dari deklarasi
tersebut adalah meskipun Islam menerima
hak-hak asasi manusia, tetapi memiliki
batasan dan tafsirnya sendiri dalam hal-hal
tertentu, salah satunya adalah tentang
kebebasan beragama, khususnya
kebebasan berpindah agama.44
Hak Asasi Manusia Islam, menurut
Deklarasi Kairo, mengakui otoritas dan
peran Tuhan, dan karena itu tidak mentolerir
anti-agama, ateisme, dan pindah agama
(dari Islam). Misalnya, dalam pasal 1
Deklarasi Kairo, dinyatakan:
“all human beings form one family
whose members are united by their subordination to Allah and descent from
Adam. All men are equal in terms of basic human dignity and basic obligations
and responsibilities, without any discrimination on the basis of race, colour, language, belief, sex, religion, political affiliation, social status, or other considerations. True faith is the guarantee for
enhancing such dignity along the path
to human perfection.”
Di sini manusia diposisikan sejajar
tapi di bawah Tuhan. Sementara itu, pada
pasal 10 Deklarasi Kairo (Islam is the religion of unspoiled nature. It is prohibited to exercise any form of compulsion
on man or to exploit his poverty or ignorance in order to convert him to another
44
45
46
religion or to atheism) juga memberikan
pembatasan tentang kebebasan beragama.
Pasal ini memisahkan diri dari Deklarasi
Universal 1948 khususnya Pasal 18, bahwa
setiap orang memiliki hak berpikir,
berkeyakinan, dan beragama, hak yang
mencakup kebebasan mengganti agama atau
keyakinannya, dan kebebasan, sendiri atau
dalam masyarakat, publik dan pribadi,
untuk melaksanakan agamanya atau
kepercayaannya dalam pengajaran,
praktek, ibadah, dan pengamalan.45
Perlindungan kebebasan beragama
dalam Deklarasi Kairo menjadi sangat
terbatas bila diimplementasikan di negaranegara “Islam” yang ikut menandatanganinya, karena adanya konsep
syariah yang dimasukkan dalam Deklarasi
Kairo, dan banyak diformalisasikan pada
negara-negara timur tengah. Lebih jauh lagi,
Deklarasi Kairo menegaskan bahwa hakhak dasar fundamental dan kebebasan universal di Islam adalah bagian integral yang
harus dipatuhi dalam agama Islam. Oleh
karena itu, tidak ada seorang pun yang
berhak mengingkari atau bahkan
menghentikan untuk sementara waktu
perintah Tuhan. Hal ini dikarenakan semua
ajaran agama di dalam Islam bersifat
mengikat seperti termaktub di dalam kitab
suci (al-Qur’an) yang telah diwahyukan
kepada nabi terakhirNya.46
Ahmad Suaedy (et.al), Islam, Konstitusi dan Hak Asasi Manusia: Problematika Hak Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan, op.cit., hal. 56.
Muhammad Ali, “Kebebasan Beragama”, dalam Elza Peldi Taher (ed.), Merayakan Kebebasan Beragama,
op.cit., hal. 317-318.
Al Khanif, Hukum dan Kebebasan Beragama di Indonesia, (Yogyakarta: LaksBang Grafika, 2010), hal. 181.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
55
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
D. Perlindungan Negara terhadap
Hak Kebebasan Beragama dalam
Hak Asasi Manusia Universal
Hak kebebasan beragama yang
merupakan hak sipil, seperti hak-hak
lainnya, sangat erat kaitannya dengan
kewajiban dan tanggungjawab negara. Ada
beberapa hak sipil yang pada awalnya
adalah hak asasi, tetapi kemudian hak
tersebut mendapat jaminan dari agen
eksternal. Hak beragama misalnya. Pada
awalnya, hak model ini dikategorikan
sebagai hak dasar (natural rights), tetapi
pada perkembangannya tidak hanya
menjadi hak yang dilindungi secara pribadi,
tetapi juga masuk dalam kategori sipil. Ini
berarti bahwa peran negara dalam
menjamin dan melindungi hak beragama dan
berkeyakinan sangatlah urgen.47 Untuk
memenuhi tujuan negara sebagai pelindung
hak-hak sipil dan politik, maka negara
memiliki kewajiban-kewajiban. Kewajiban
yang utama adalah melindungi hak-hak
dasar dari warga negara. Terhadap hal itu,
maka negara memiliki core obligation
(kewajiban inti) atas hak warga negara itu.
Hal ini harus disepakati sebagai sebuah
kesepakatan yang bersifat universal.
Dengan demikian, ada tiga
kewajiban negara yang mesti dipenuhi.
Pertama, negara mempunyai kewajiban
untuk menghormati (to respect) hak asasi
manusia. Dengan kata lain, negara harus
47
48
mengakui bahwa setiap orang memiliki hak
yang melekat padanya, dan yurisdiksi
negara tidak boleh membatasi hak ini.
Kedua, negara berkewajiban melindungi (to
protect) hak asasi manusia. Secara teknis,
kewajiban ini dapat dipenuhi misalnya
dengan meratifikasi terhadap perjanjian
internasional tentang hak asasi manusia
menjadi hukum negara. Di sisi lain, negara
juga dapat menghapus aturan yang
diskriminatif sebagai perwujudan dari
perlindungan negara terhadap hak asasi
manusia. Ketiga, negara memiliki kewajiban
untuk memenuhi (to fulfill) hak asasi
manusia. Pemenuhan merupakan langkah
berikut setelah kehadiran aturan formal.
Negara wajib untuk menyelenggarakan
pemenuhan ini melalui tanggungjawab yang
diembannya.48
Selain memiliki kewajiban, negara juga
memiliki kaitan yang erat dengan
tanggungjawab yang dimilikinya. Secara
sederhana, state responsibility muncul
ketika negara mengingkari kewajibannya,
yakni menghargai, melindungi, dan
memenuhi hak asasi manusia. Kemungkinan
akan terjadinya pelanggaran oleh negara itu
sangat besar karena dalam negara terdapat
kekuasaan. Mekanisme pelanggaran yang
dilakukan oleh negara dapat dilakukan
dalam tiga bentuk. Pertama, negara
melakukan kekerasan dengan tindakan
(violence by commission). Kedua, negara
Lihat Tedi Kholiludin, Kuasa Negara atas Agama: Politik Pengakuan, Diskursus “Agama Resmi” dan
Diskriminasi Hak Sipil, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2009), hal. 76.
Ibid., hal. 81-82.
56
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
membiarkan terjadinya pelanggaran yang
terjadi (violence by omission). Ketiga,
negara melakukan pelanggaran dengan
membuat produk yang membatasi bahkan
melanggar hak asasi manusia (violence by
judicial). Terhadap hal tersebut maka
mutlak menjadi ranah pertanggungjawaban
negara.49
Oleh karena itu, implementasi hak asasi
manusia internasional sangat bergantung
pada kepatuhan hukum suatu negara.
Kepatuhan hukum tersebut sangat penting
karena peratifikasian suatu instrumen
internasional tentang hak asasi manusia yang
bersifat mengikat tidak menjamin
berkurangnya atau tidak adanya
pelanggaran hak asasi manusia di wilayah
kedaulatan hukumnya. Oleh karena itu
harus ada sinergi yang saling melengkapi
antara kepatuhan hukum dan moralitas dari
suatu negara.50 Pada kenyataannya, belum
pernah selama ini hukum internasional dan
hukum konstitusi nasional berinteraksi
secara kohesif. Karena, mekanisme
penegakan antar pemerintahan yang efektif,
49
50
51
52
53
54
perlindungan hak asasi manusia internasional
masih harus mengandalkan sistem
perlindungan hak asasi manusia nasional
yang berfungsi baik. Transformasi standar
hak asasi manusia internasional menjadi
hukum domestik hampir sepenuhnya
diserahkan pada konstitusi masing-masing
negara.51
Di dalam hukum internasional52,
sebuah negara yang meratifikasi sebuah
instrumen internasional harus menunjukkan
kepatuhan hukum terhadap ketentuan
instrumen yang telah diratifikasinya. Selain
itu, negara juga harus memperhatikan aturan
hukum yang diatur oleh deklarasi
internasional yang telah menjadi normanorma absolut 53 yang tidak dapat
ditangguhkan dalam keadaan apapun juga.
Norma yang menjadi jus cogens54 tersebut
harus dijalankan sebagai bagian dari
kepatuhan negara terhadap moralitas yang
dikandung di dalam hak tersebut.
Berkenaan dengan hal tersebut, produk
hukum dan institusi keadilan yang
mendukung penegakan hukum dan hak asasi
Ibid., hal. 82-83.
Al Khanif, Hukum dan Kebebasan Beragama di Indonesia, op.cit., hal. 210.
Manfred Nowak, Pengantar pada Rezim HAM Internasional, terjemahan oleh Sri Sulastini, (Jakarta: Departemen
Hukum dan HAM Indonesia, 2003), hal. 37.
Dalam hal ini menunjukkan bahwa masyarakat internasional secara relatif menerima prinsip intervensi
kemanusiaan.
Norma-norma yang terkait dengan kebebasan beragama adalah: (1) norma-norma non diskriminasi (lihat Pasal
26 dan Pasal 27 ICCPR); (2) norma-norma yang melarang pengambilan keputusan yang sewenang-wenang (lihat
Pasal 18 ayat (3) ICCPR); dan (3) hak atas kompensasi/pemulihan yang efektif (lihat Pasal 2 ayat (3) ICCPR).
Menurut Konvensi Vienna, jus cogens merupakan inti sari dari hukum internasional karena diterima dan diakui
oleh dunia internasional sebagai norma-norma yang tidak dapat dikurangi atau dibatalkan dengan alasan
apapun juga.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
57
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
manusia di suatu negara menjadi faktor kunci
penerapan hak asasi manusia.55
Ratifikasi yang dilakukan oleh suatu
negara tidak berarti apa-apa jika negara
anggota tidak menerapkan aturan hukum di
sistem hukum nasional untuk mendukung
implementasi hak-hak yang diatur
didalamnya. Penerapan hak asasi manusia
dapat efektif ketika negara anggota
menetapkan “kebijakan-kebijakan khusus”
berdasarkan asas proporsionalitas untuk
menerapkan aturan hukum di instrumen
yang telah diratifikasinya. Oleh karena itu,
sangat penting melihat apakah peraturan
perundang-undangan di suatu negara sudah
sesuai dengan semangat instrumen
internasional.56 Khusus untuk kebebasan
beragama, penting juga untuk dilihat apakah
masih ada pengaruh agama terhadap
peraturan perundang-undangan yang ada.57
Dalam dua Komentar Umum No. 3
Pasal 13 Tahun 1991 dan No. 29 Pasal 3
55
56
57
58
Tahun 2004 dinyatakan bahwa Negara
Pihak (State Parties) perlu menempuh
sejumlah cara yang mencerminkan
implementasi ratifikasi kovenan.58 Cara
tersebut antara lain:
1.
Suatu inkorporasi sepenuhnya atau
sebagian
2.
Mengubah atau mengkoreksi peraturan
perundang-undangan yang ada agar
sesuai dan konsisten dengan konvensi.
3.
Mengikat semua cabang pemerintahan
baik legislatif, yudikatif dan eksekutif
dan di semua tingkat pemerintahan,
baik peraturan yang terkait dengan
sistem peradilan maupun peraturan lain
yang terkait dengan masalah
kebebasan dasar, perlindungan
kelompok minoritas dan rentan dan
terutama masalah diskriminasi.
4.
Adanya prosedur yang menjamin
peradilan yang fair, persamaan di
dan Ann Elizabeth Mayer, Islam and Human Rights Tradition and Politics, (Colorado: Westview Press, 1999),
hal.19. Perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional dipandang sebagai hukum nasional yang setara
dengan atau lebih tinggi dari konsitusi suatu negara, berdasarkan atas perintah konstitusional negara tersebut,
yang cenderung patuh karena bersandar pada teori monism dengan memberi preferensi pada hukum
internasional (misalnya Belanda), dengan syarat bahwa negara telah meratifikasi perjanjian tersebut dan
telah dirumuskan dengan tepat. Sedangkan, dengan teori dualisme membedakan antara hukum internasional
dan hukum nasional (misalnya Inggris), mungkin tidak mentransformasikan perjanjian-perjanjian hak asasi
manusia internasional ke dalam hukum nasional, kecuali atas perintah langsung dari badan pembuat undangundang nasional.
Berkenaan dengan ratifikasi instrumen hak asasi internasional , Indonesia meratifikasi dua kovenan
internasional hak asasi manusia pada tahun 2005. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2005, secara resmi
Indonesia menjadi Negara Pihak (State Party) pada dua kovenan hak asasi manusia induk yakni ICCPR dan
ICESCR. Dengan demikian dua kovenan ini berlaku efektif atau mengikat secara hukum (entry into force) bagi
Indonesia. Ratifikasi ini ditetapkan setelah DPR mengesahkan dua kovenan itu menjadi undang-undang, yaitu
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant On Economic, Social And
Cultural Rights (ICESCR) dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant
on Civil and Political Rights (ICCPR). Dengan ratifikasi ini, Indonesia menjadi negara ke-161, yang meratifikasi
ICCPR dan negara ke-156 untuk ICESCR, dari total 192 negara anggota PBB. Lihat Ahmad Suaedy (et.al), Islam,
Konstitusi dan Hak Asasi Manusia: Problematika Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, op.cit., hal. 29.
Ibid. Dalam kaitan kebebasan beragama dan berkeyakinan, khususnya dalam Deklarasi Kairo, harus diakui
adanya konflik dan ketegangan antara Islam dengan hukum Internasional. Konflik itu pada posisi tertentu bisa
dicarikan jalan keluar, tapi pada saat yang lain hampir mustahil kecuali dengan menundukkan satu atas yang
lain.
Lihat Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa Komentar Umum No. 3 Pasal 13 Tahun 1991 dan
No. 29 Pasal 3 Tahun 2004.
58
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
depan hukum, perkawinan, keluarga
dan hak-hak politik.
5.
Tindakan yang menjamin tidak
terjadinya pelanggaran di tingkat horizontal, terkait dengan perbudakan,
kebencian ras dan agama.
6.
Suatu tindakan yang memberi efek
langsung bagi pemenuhan hak-hak
tersebut. Hal ini antara lain:
a.
Pembuatan standar penerapan
b.
Koreksi atas sistem peradilan
baik delik kejahatan maupun
prosedur peradilan yang
memelihara impunitas.
7.
Perlu dikembangkan mekanisme administratif, khususnya yang langsung
memberi dampak pada kewajiban
untuk menyelidiki pelanggaran secara
cepat, efektif dan mendalam melalui
lembaga independen. Untuk ini
lembaga hak asasi manusia nasional
sepatutnya diberi kewenangan yang
cukup untuk mendukung implementasi
konvensi ini.
8.
59
Perlunya dibuat kebijakan reparasi
bagi korban pelanggaran konvensi ini
(effective remedy). Dan jika perlu,
dengan menimbang pasal 9 ayat 5 dan
pasal 14 ayat 6, dilakukan tindakan
restitusi, rehabilitasi, permintaan maaf,
jaminan tidak keberulangan,
perubahan hukum dan praktek hukum
yang relevan. Termasuk di sini
membawa pelaku pelanggaran hak
asasi manusia ke pengadilan.
9.
Usaha implementasi ini akan tidak
berguna tanpa adanya tindakantindakan
yang
mencegah
keberulangannya. Diperlukan tindakan
yang melampaui tindakan pemulihan
khususnya pada korban yang meminta
perubahan hukum dan praktekpraktek kelembagaanya.
10. Adanya kepastian untuk membawa
mereka yang bertanggungjawab atas
pelanggaran konvensi ke depan
pengadilan.Kegagalan menginvestigasi
dan menghukum segera menyeret
negara ke dalam pelanggaran atas
konvensi ini terutama pasal 6 hak
hidup, pasal 7 penyiksaan.
11. Perlunya melakukan langkah langsung
jika dipandang mendesak untuk
menghentikan terus berlangsungnya
pelanggaran dan memulihkan sedapat
mungkin.
12. Kegagalan untuk membuat pemulihan
yang tepat, sekalipun sudah dijamin
secara formal dalam sistem hukum,
mungkin karena pelaksanaan tidak
berfungsi secara effektif. Kendala
implementasi pemulihan ini harus
dimasukan dalam laporan periodik.59
Oleh karena itu, tanggung jawab
negara dalam konteks kewajiban yang
tercakup dalam kovenan yang diratifikasi
Agung Putri, “Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional”, Makalah yang disampaikan
dalam Seminar Sehari “Perlindungan HAM Melalui Hukum Pidana” di Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember 2007.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
59
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
bersifat mutlak dan harus segera
dilaksanakan. Singkatnya, hak-hak yang
terdapat dalam kovenan ICCPR dan
ICESCR bersifat justiciable. Inilah yang
membedakannya dengan tanggung jawab
negara dalam konteks memenuhi kewajiban
hak ekonomi, sosial dan budaya (Ekosob)
yang tidak harus dijalankan sepenuhnya,
tetapi bisa secara bertahap (progressive
realization) dan karena itu bersifat
nonjusticiable.60
Selanjutnya, perundang-undangan dan
praktek negara berkenaan dengan lembaga
keagamaan merupakan alat uji (penilaian)
yang penting terhadap kebebasan
beragama. Kebebasan beragama bukan
sesuatu yang dianugerahkan oleh negara
atau rezim negara yang sah, namun
merupakan sesuatu yang dimiliki oleh
individu atau kelompok agama sematasemata karena mereka manusia. Secara
faktual, intervensi kebebasan beragama
dimulai sejak manusia dilahirkan.
Oleh karena itu, bahwa legitimasi
normatif kebebasan beragama sebagai hak
asasi tidak tergantung pada bagaimana hak
itu secara faktual diatur susunannya oleh
negara. Demikian pula, hak atau status
kelembagaan tidak tergantung pada
kemungkinan diakuinya status kelembagaan
tersebut dalam kenyataannya dalam negara.
Dalam dunia modern, suatu negara boleh
60
61
saja membatasi manifestasi agama atau
kepercayaan, kalau dianggap berbahaya
berdasarkan norma-norma hukum pidana
atau bentuk perizinan lainnya. Pembatasan
dalam bentuk apa pun hanya dibenarkan
sejauh diizinkan berdasarkan ketentuanketentuan yang mengatur pembatasan
seperti Pasal 18 ayat (3) ICCPR, Pasal 9
ayat (2) ECHR dan Pasal 12 ayat (3)
ACHR.61
Sebagaimana yang telah diuraikan di
atas dapat disimpulkan bahwa perlindungan
negara terhadap kebebasan beragama
masuk dalam dimensi kewajiban dan
tanggungjawab negara. Kebebasan untuk
memanifestasikan agama baik secara
eksternal maupun internal merupakan
tatanan yang tidak dapat diintervensi oleh
negara kecuali karena berbagai tujuan:
kepentingan umum yang sah, perlindungan
kebebasan beragama dan hak asasi lainnya
dari intervensi orang lain, dan juga untuk
perlindungan kepentingan lainnya yang
kurang sah, termasuk mempertahankan hak
atau kedudukan istimewa negara dan agama
mayoritas, diskriminasi agama minoritas atau
bahkan pemicuan kebencian dan kekerasan
agama.
E.
Konstruksi Konsep Perlindungan
Negara terhadap Kebebasan
Beragama
Ifdhal Kasim, “Konvensi Hak Sipil dan Politik Sebuah Pengantar” dalam Ahmad Suaedy (et.al), Islam, Konstitusi
dan Hak Asasi Manusia: Problematika Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, op.cit., hal. 35
W. Cole Durham, Jr., “Memfasilitasi Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan melalui Perundang-Undangan
Asosiasi Keagamaan” dalam Tore Lindholm (eds.), Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan, op.cit., hal. 339340.
60
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
Konstitusi yang demokratis tidaklah
menghalangi ekspresi dari sebuah
pemahaman keagamaan. Oleh karena itu,
konstitusi tersebut harus dapat diterima oleh
setiap kelompok keagamaan. Jika dalam
sebuah konstitusi tidak mengandung prinsip
kebebasan dan kesetaraan, maka konstitusi
itu belumlah dinamakan sebagai democratic constitution. Konstitusi adalah
wilayah publik, maka bahasa yang
digunakan adalah bahasa keagamaan yang
universal, dan warga negara dapat
menempatkan ranah keagamaan secara
universal, bukan partikular.62 Konstitusionalisme dan hak asasi manusia adalah
alat yang penting untuk melindungi status dan
hak warga negara, tetapi fungsi tersebut
dapat efektif justru karena peran warga
negara sendiri. Karena itulah, proses
klarifikasi terhadap dasar dan implikasi
konsep kewarganegaraan menjadi penting.
Konsep-konsep tersebut dan institusi yang
menyertainya tergantung satu sama lain dan
harus saling berinteraksi jika ingin
merealisasikan tujuannya masing-masing.63
Dengan kata lain, adalah penting
untuk terus menjaga netralitas negara
terhadap agama secara tepat karena
manusia cenderung mengikuti pandangan
pribadinya, termasuk agama. Tujuan
pemisahan ini tidak bisa dicapai melalui
usaha menempatkan agama dalam ruang
privat, karena usaha seperti ini tidak penting,
62
63
64
pun tidak perlu. Malah, upaya pemisahan
agama dan negara harus dilakukan dengan
tetap mengakui fungsi publik agama dan
pengaruhnya dalam pembuatan kebijakan
publik dan undang-undang. Ketegangan
seperti ini harus terus diselesaikan melalui
upaya pemunculan “public reason” dalam
kerangka konstitusionalisme, hak asasi
manusia dan kewarganegaraan. Perlunya
mengklarifikasi pembedaan antara negara
dan politik dan hubungannya dengan
keharusan adanya “public reason”.64
Hubungan antara kehadiran agama di
ruang publik dengan demokrasi juga bisa
dijelaskan melalui konstruksi agama di ruang
publik yang dinyatakan oleh Habermas.
Berbeda dengan kalangan sekuler yang
menyingkirkan sama sekali agama dan
semua alasan religious dari ruang publik,
Habermas mengusulkan model ruang publik
pluralistik yang menerima berbagai aspirasi,
termasuk aspirasi religious, tanpa harus
diblokir. Ia pun tidak menolak agama di
ruang publik. Pertama, aspirasi-aspirasi
religius, terutama jika hendak dijadikan
kebijakan publik, harus dijelaskan secara
rasional dan diperlakukan sebagai wilayah
rasional, sehingga memiliki status epistemis
yang dapat diterima oleh warga yang sekuler
atau berkeyakinan berbeda. Status
epistemis memunculkan pemahaman
meniadakan doktrin religius eksklusif
melainkan mengambil bentuk rasional
Tedi Kholiludin, Kuasa Negara atas Agama, op.cit., hal. 113.
Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa Depan Syariah, (Bandung:
Penerbit Mizan, 2007), hal. 145-146.
Ibid., hal. 146-147.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
61
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
inklusif. Sikap ini, menurut Habermas,
memahami para anggota masyarakat sebagai
warga negara bila hendak hidup bersama
secara politis di dunia ini.65
Habermas menggunakan logika hukum
common law yang mengisyaratkan bahwa
sebuah kebijakan publik yang berlaku
setelah melewati proses yang membuatnya
disepakati berbagai pihak. Kebijakan publik
keagamaan dalam hal ini harus terbukti
memenuhi prinsip resiprokalitas, diterima
menurut nalar publik. Kalangan pengusung
agama yang hendak melakukan formalisasi
agama harus melakukan persuasi, bukan
koersi atau memaksa. Uji publik terhadap
aturan formal yang bersumber dari nilai
agama harus melalui nalar, tidak cukup
hanya karena suara mayoritas publik
menghendakinya. Aturan formal publik yang
bersumber dari agama harus memenuhi
prinsip inklusi, yang tidak meminggirkan atau
melanggar hak minoritas, dan harus
mengandung prinsip keadilan sosial bagi
semua pihak (memenuhi prinsip pluralitas
dan hak asasi manusia). Ini berarti, tidak
boleh ada kebijakan apa pun, meski
berdasarkan suara mayoritas, jika
mengancam dan meminggirkan minoritas.66
Kedua, kepada warga sekuler atau
yang warga yang beragama lain, menurut
Habermas, perlu membuka diskursus isi
65
66
67
68
69
kebenaran normatif religius yang kerap
remang-remang agar mencapai kompromi
dalam kontestasi agama di ruang publik.
Komponen nilai-nilai harus disetarakan dan
dikomunikasikan untuk mencapai
pemahaman secara intersubjektif antar
kelompok agama dan keyakinan.67 Sebagai
aturan utama, negaranya biasanya berwatak
sekular dengan memisahkan dirinya dari
ruang-ruang spiritual penganut atau
organisasi agama. Meskipun negara dan
institusinya berbeda dengan masyarakat sipil
dan organisasinya, bahkan relatif otonom
satu sama lain, namun keduanya tetap saling
memberikan dukungan.68
Ketiga, sikap negara harus netral.
Netralitas, dalam hal ini, bukan berarti
pemihakan atau diidentikkan dengan
sekularisme. Menurut Habermas, netralitas
kekuasaan negara terhadap pandangan
hidup yang menjamin kebebasan etis yang
sama bagi setiap warga negara tidak dapat
disamakan dengan universalisasi politis
sebuah pandangan dunia sekular. Tugas
negara adalah melancarkan deliberasi publik
dan mendorong terjadinya diskursus
rasional, dan menjaga tatanan hukum.
Tema-tema diskursus tidak dibatasi,
sehingga tidak menindas pluralitas, termasuk
dalam keyakinan dan pemikiran
keagamaan.69 Pengaturan negara dalam hal
Ibid., hal. 113. Lihat juga F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Menimbang ‘Negara Hukum’ dan ‘Ruang
Publik’ dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009), hal. 158-159.
Ibid., hal. 114.
Ibid., hal. 115-116. Lihat juga F. Budi Hardiman, op.cit., hal. 159-160.
Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam dan Negara Sekular, op.cit., hal. 150.
Lihat juga F. Budi Hardiman, loc.cit.
62
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
kehidupan beragama semata-mata dalam
rangka memberikan perlindungan kepada
warga negara, bukan bentuk intervensi
terhadap kebebasan berpikir dan
berkeyakinan. 70 Dengan demikian,
intervensi negara atau pihak luar lain dalam
kebebasan beragama dapat dikategorikan
melanggar prinsip kedaulatan wilayah yang
dimiliki negara. Otoritas sentral negara
berarti bahwa ia otonom. Hanya negara
yang memiliki otoritas untuk membuat aturan
yang mengatur cara kerjanya dan menjadi
sumber bagi seluruh otoritas politik lain.
Meskipun fungsi terakhir ini mungkin
diserahkan pada organisasi atau pihak lain.
Sentralitas negara juga berarti bahwa negara
harus mengkoordinasikan fungsi dan aktifitas
organ dan institusinya, karena merekalah
yang memapankan kekuasaan negara.71
Keempat, kelompok mayoritas agama,
menurut Habermas, dalam demokrasi tidak
boleh meniadakan potensi kebenaran
argumentasi yang berasal dari kelompok
minoritas, karena prosedur demokrasi
memiliki kekuatan legitimasinya bukan
hanya melalui inklusivitasnya, melainkan juga
melalui ciri deliberatifnya. Keterbukaan
terhadap revisi dari pihak minoritas lewat
deliberasi publik akan menjamin rasionalitas
suatu keputusan.72
71
72
73
74
75
Sementara itu, Abdullahi Ahmed AnNa’im menekankan pentingnya peran
konstitusionalisme dan hak asasi manusia
sebagai kerangka fikir dan jaring pengaman
yang berguna untuk menegosisasikan
hubungan antara agama (Islam), negara, dan
masyarakat dalam konteks masyarakat
Islam saat ini. Dengan demikian,
mengamankan pemerintahan yang
konstitusional dan perlindungan hak asasi
manusia tidak saja penting bagi kebebasan
beragama umat Islam dan non-muslim yang
hidup di sebuah negara.73 Perlunya adanya
ketentuan untuk mengakui keragaman
fenomena agama yang begitu besar yang
dimiliki warga negara, yang harus
diperhitungkan dalam melindungi kebebasan
beragama. Perundang-undangan asosiasi
keagamaan perlu disusun dengan
mempertimbangkan realitas pluralisme,
yang juga berlaku bagi kelompok
minoritas 74 dan tidak terbatas pada
perlindungan “agama resmi” yang disukai
negara, tetapi semua kelompok agama.75
Hal ini disebabkan, kelompok agama
mayoritas seringkali melanggar kebebasan
beragama karena mereka mempunyai akses
ke pemerintahan yang besar. Status agama
resmi pemerintah mengakibatkan kelompok
mayoritas mempunyai alasan pembenar
Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam dan Negara Sekular, loc.cit.
Amelia Fauzia (et.al.), op.cit., hal. 117. Lihat juga F. Budi Hardiman, op.cit., hal. 161.
Ibid., hal. 209-210.
Menurut Theodorson dan Theodorson, kelompok minoritas (minority groups) adalah kelompok-kelompok yang
diakui berdasarkan perbedaan ras, agama, atau sukubangsa, yang mengalami kerugian sebagai akibat
prasangka (prejudice) atau diskriminasi. Lihat George A. Theodorson, and Achilles G. Theodorson, A Modern
Dictionary of Sociology, (New York, Hagerstown, San Francisco, London: Barnes & Noble Books, 1979), hal. 115116 dan 258-259.
W. Cole Durham Jr., “Memfasilitasi Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan melalui Perundang-Undangan
Asosiasi Keagamaan” dalam Tore Lindholm (eds.), Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan op.cit., hal. 341.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
63
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
untuk menolak agama lainnya yang tidak
resmi secara hukum. Keadaan ini
menempatkan kelompok agama minoritas
ke dalam kelompok yang mengalami
diskriminasi.76
Oleh karena itu, konstitusi demokratis
dan praktik negara merupakan instrumen
penilaian yang penting terhadap
kemampuan negara tersebut dalam
memfasilitasi kebebasan beragama dan
berkeyakinan dalam ruang lingkup
kewargaan. Negara berkewajiban untuk
melindungi kebebasan beragama yang
merupakan unsur pokok sistem demokrasi.
Perlindungan atas hak kebebasan tersebut
merupakan kepentingan umum yang utama
dan bukan semata-mata kepentingan
individu dan kelompok. Intoleransi
berorientasi agama, di mana struktur legal
dan konstitusional negara yang dirancang
agar sesuai dengan perintah sebuah agama
akan menjauhkan negara dari praktik
demokrasi dan tidak bisa dikatakan sebagai
solusi yang memadai untuk menjamin
kebebasan beragama.77
Dalam menjamin dan melindungi hak
kebebasan beragama bagi warga negara,
perlu adanya validasi publik yang mengambil
bentuk justifikasi majemuk. Adanya normanorma dasar dalam kebebasan beragama
yang dapat diperdebatkan yang selalu
diasumsikan sebagai bentuk yang diapresiasi
sebagai kepercayaan publik. Implementasi
politik dan hukum bagi norma-norma
76
77
tersebut akan dipahami atau dipandang telah
memperoleh legitimasi normatif yang
memiliki dasar kuat, tidak dipaksakan dan
diterima berbagai kelompok.
F. Simpulan
Implementasi hak kebebasan
beragama dalam Islam masih memiliki
permasalahan yang belum tuntas.
Dikarenakan, masih adanya perdebatan
yang mendasar seputar konsepsi hak
kebebasan beragama dalam Islam dan
hubungannya dengan konsepsi hak asasi
manusia universal serta bentuk perlindungan
negara dalam melindungi hak kebebasan
beragama.
Islam, berdasarkan realitas sejarah,
tampak sekali melindungi hak kebebasan
beragama dan memberikan hak-hak nonmuslim, seperti dalam Piagam Madinah.
Periodisasi Madinah merupakan bukti yang
kuat, bahwa Islam sejak lahirnya selalu
berkaitan dengan aspek kenegaraan dan
kemasyarakatan. Periodisasi Madinah ini
juga memperhatikan hubungan pengakuan
hak asasi manusia dan prinsip-prinsip
perlindungan terhadap hak asasi manusia,
hak-hak politik, kewargaan yang
ditekankan pada persamaan manusia,
martabat manusia, dan kebebasan manusia.
Namun, dalam praktiknya di beberapa
negara negara mayoritas muslim dewasa ini,
yang sering terjadi justru berbagai
penyimpangan yang mengaburkan makna
Al Khanif, Hukum dan Kebebasan Beragama di Indonesia, op.cit., hal. 196.
Tore Lindholm (eds.), Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan ,op.cit., hal. 285-291.
64
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan - Frans Sayogie
Hak Asasi manusia Universal
serta semangat yang dikandung dalam
Piagam Madinah itu sendiri.
Perlunya doktrin pemisahan agama
dan negara yang bertujuan agar negara lebih
independen dan diharapkan dapat
memberikan perlidungan organ-organ dan
institusi-institusi negara terhadap
penyalahgunaan kekuasaan atas nama
agama. Hak kebebasan beragama hanya
bisa direalisasikan dalam kerangka kerja
negara yang konstitusional dan demokratis
sebagai landasan hukum dan politis yang
utama dari hak kebebasan beragama pada
saat ini yang didasarkan oleh semangat yang
dianut hak asasi manusia universal. Setiap
negara diharapkan meratifikasi instrumen
internasional hak asasi manusia dan bekerja
sama menegakkan hak asasi manusia,
khususnya dalam kebebasan beragama.
(ARSID - AJIW)
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Al Khanif.
Hukum dan Kebe basan
Beragama di Indonesia. Yogyakarta:
LaksBang Grafika, 2010.
An-Na’im, Abdullahi Ahmed, Dekonstruksi
Syariah: Wacana Kebebasan Sipil, Hak
Asasi Manusia, dan Hubungan
Internasional dalam Islam. Yogyakarta:
LKis, 2004.
An-Na’im, Abdullahi Ahmed, Islam dan Negara
Sekular: Menegosiasikan Masa Depan
Syariah. Bandung: Penerbit Mizan, 2007.
Kamali, Mohammad Hashim. Kebebasan
Berpendapat dalam Islam, terjemahan Eva
Y. Nukman dan Fathiyah Basri. Bandung:
Penerbit Mizan, 1996.
Kasim, Ifdhal (ed.). Hak Sipil dan Politik: EsaiEsai Pilihan. Jakarta: Lembaga Studi dan
Advokasi Masyarakat (ELSAM), 2001.
Kasim, Ifdhal. “Konvensi Hak-hak Sipil dan Politik
Sebuah Pengantar”, Seri Bahan Bacaan
Kursus HAM untuk Pengacara X Tahun
2005. Jakarta: ELSAM, 2005.
Kholiludin, Tedi. Kuasa Negara atas Agama:
Politik Pengakuan, Diskursus “Agama
Resmi” dan Diskriminasi Hak Sipil.
Semarang: RaSAIL Media Group, 2009.
Lindholm, Tore (eds.). Kebebasan Beragama
atau Berkeyakinan: Seberapa Jauh?,
Sebuah Referensi tentang Prinsip-Prinsip
dan Praktek, terjemahan Rafael Edy Bosko
dan M. Rifa’I Abduh. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius, 2010.
Madjid, Nurcholish. Cita-Cita Politik Islam di
Era Reformasi. Jakarta: Yayasan
Paramadina, 1999.
Mayer, Ann Elizabeth. Islam and Human Rights
Tradition and Politics. Colorado:
Westview Press, 1999.
Nowak, Manfred. Pengantar pada Rezim HAM
Internasional, terjemahan oleh Sri Sulastini.
Jakarta: Departemen Hukum dan HAM Indonesia, 2003
Panggabean, Rizal. ‘Kesepakatan Madinah dan
Sesudahnya”, dalam Elza Peldi Taher (ed.),
Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga
Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan
Effendi. Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi,
2011.
Pulungan, J. Suyuthi. Prinsip-Prinsip
Pemerintahan dalam Piagam Madinah
Ditinjau dari Pandangan al-Qur’an.
Jakarta: Rajawali Pers, 1996.
Suaedy, Ahmad (et.al). Islam, Konstitusi dan Hak
Asasi Manusia: Problematika Hak
Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.
Jakarta: The Wahid Institute, 2009.
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
65
Frans Sayogie - Perlindungan Negara Terhadap Hak Kebebasan Beragama: Perspektif Islam Dan
Hak Asasi manusia Universal
Sukardja, Ahmad. Piagam Madinah dan
Undang-Undang Dasar 1945: Kajian
Perbandingan tentang Dasar Hidup
Bersama dalam Masyarakat yang
Majemuk. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI Press), 1995.
Syari’ati, Ali. Ummah wa al-Umamah, terj. M.
Faishol Hasanuddin. Jakarta: Penerbit Yapi,
1990.
Theodorson, George A., and Achilles G.
Theodorson, A Modern Dictionary of Sociology. New York, Hagerstown, San Francisco, London: Barnes & Noble Books,
1979.
Sulistiyono, Adi. “Kebebasan Beragama Dalam
Bingkai Hukum”. Makalah disampaikan
dalam rangka Seminar Hukum Islam
“Kebebasan Berpendapat vs Keyakinan
Beragama ditinjau dari Sudut Pandang
Sosial, Agama, dan Hukum”. Penyelenggara
FOSMI Fakultas Hukum UNS, tanggal 8 Mei
2008.
Wahid, Marzuki dan Abd Moqsith Ghazali. “Relasi
Agama Dan Negara: Perspektif Pemikiran
Nahdlatul Ulama”. Makalah disampaikan
dalam Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) Ke - 10 Banjarmasin, tanggal 1
– 4 November 2010.
B. Artikel/Makalah
C. Surat Kabar
Harun, Hermanto. Perdamaian dan Perang
Dalam Konsep Islam, Studi Analisis Buku
‘Nizam al-Silm wa al-Harb fi al-Islam’,
Thesis Pascasarjana IAIN Sunan Ampel
Surabaya, 2005.
Mahfud MD, Moh. “Kebebasan Beragama Dalam
Perspektif Konstitusi”. Makalah
disampaikan dalam Konferensi Tokoh
Agama ICRP: Meneguhkan Kebebasan
Beragama di Indonesia, Menuntut
Komitmen Presiden dan Wakil Presiden
Terpilih, yang diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace
(ICRP) pada Senin, 5 Oktober 2009 di Ruang
Vanda II Wisma Serbaguna, Jakarta.
Marzuki. “Kerukunan antarumat Beragama dalam
Wacana Masyarakat Madani: Analisis Isi
Piagam Madinah dan Relevansinya bagi
Indonesia”. Makalah yang tidak diterbitkan
(t.t.)
Putri, Agung, “Implementasi Konvensi Hak Sipil
Politik dalam Hukum Nasional”, makalah
yang disampaikan dalam Seminar Sehari
“Perlindungan HAM Melalui Hukum
Pidana” di Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember
2007.
66
Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 3, Tahun 2013
Sihbudi, Riza, “Islam, Radikalisme dan
Demokrasi”. Republika, 23 September, 2004,
hal. 5.
D. Peraturan Dasar dan Peraturan Perundangundangan
Deklarasi Kairo Tahun 1990
Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan BangsaBangsa Komentar Umum No. 22, Pasal 9,
Tahun 1993.
___________. Komentar Umum No. 3 Pasal 13
Tahun 1991 dan No. 29 Pasal 3 Tahun 2004.
Mukadimah Deklarasi Universal Hak-hak Asasi
Manusia.
E. Internet
Republika co.id, “Negara OKI Harus Ratifikasi
Aturan HAM”, Jumat, 24 Pebruari 2012
19:12 WIB, diakses Selasa, 4 Jumadil Awwal
1433 / 27 Maret 2012 | 20:27.
1
Download