VOLUME 1 NOMOR 1 DESEMBER 2016 Halaman 1-49

advertisement
VOLUME 1 NOMOR 1
DESEMBER 2016
Halaman 1-49
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL
MBK
Diterbitkan oleh:
Akademi Keperawatan Serulingmas Cilacap
Alamat:
Jalan Raya Maos No. 505 Kecamatan Maos Cilacap, Jawa
Tengah
Telepon: 0282695452, Fax:0282695452,
Email: [email protected]
Website:
http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
SUSUNAN DEWAN REDAKSI
Penanggung Jawab:
Direktur
Akademi Keperawatan Serulingmas Cilacap
Pemimpin Redaksi (Editor in Chief):
Andin Sefrina, Ns., M.Kep., Sp.An.
Editor:
Intan Diah Pramithasari, Ns., M.Kep.
Siti Rochana, Ns., M.Kep.
Sakiyan, Ns., M.Kep.
Staf Administrasi:
Astanto Yuni Aryadi, S.Kom
Penerbitan perdana: Desember 2016
Diterbitkan setiap empat bulan
MBK menerima artikel asli (hasil penelitian
atau tinjauan hasil penelitian keperawatan),
yang belum pernah dipublikasikan dalam
media lain. Redaksi berwenang untuk
menerima atau menolak artikel yang masuk,
dan seluruh artikel tidak akan dikembalikan
kepada penulis. Redaksi juga berwenang
mengubah isi artikel, sebatas tidak akan
mengubah makna artikel.
Persyaratan artikel:
1. Diketik pada format halaman A4 satu kolom,
dengan semua margin 3 cm, menggunakan
huruf Arial 10, maksimum sebanyak 10
halaman.
Softcopy naskah harus dikirim secara online
melalui website yang tertera pada
informasi redaksi di bagian kiri halaman ini
Isi artikel:
1. Judul ditulis dalam Bahasa Indonesia
maksimal 14 kata, menggunakan huruf
kapital dan dicetak tebal pada bagian
tengah.
2. Penulis ditulis di bawah judul, pada bagian
tengah. Di bawah nama ditulis institusi asal
penulis berada di dalam kurung. Di paling
bawah dituliskan alamat email dari salah
satu penulis.
3. Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia.
Judul abstrak menggunakan huruf kapital di
tengah dan isi abstrak dicetak rata kiri dan
kanan dengan awal paragraf masuk 0,5 cm.
Abstrak harus dilengkapi dengan 2-5 kata
kunci.
4. Pendahuluan
ditulis
dalam
Bahasa
Indonesia rata kiri dan kanan dan paragraf
masuk 0,5 cm.
5. Metode Penelitian ditulis dalam Bahasa
Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf
masuk 0,5 cm. Penulisan metode penelitian
disesuaikan dengan penelitian yang telah
dilakukan.
6. Hasil Penelitian ditulis dalam Bahasa
Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf
masuk 0,5 cm. Bagian ini boleh dilengkapi
dengan tabel dan gambar (foto, diagram,
gambar grafis, dan sebagainya). Judul tabel
ditulis di atas tabel pada posisi di tengah,
sedangkan judul gambar ditulis di bawah
gambar juga pada posisi di tengah.
7. Pembahasan
ditulis
dalam
Bahasa
Indonesia rata kiri dan kanan, paragraf
masuk 0,5 cm. Hasil penelitian dibahas
berdasarkan referensi dan hasil penelitian
lain, disertai dengan opini peneliti.
8. Kesimpulan dan Saran ditulis dalam
Bahasa Indonesia rata kiri dan kanan,
paragraf masuk 0,5 cm.
9. Referensi ditulis dalam Bahasa Indonesia,
bentuk paragraf menggantung (selain baris
pertama masuk 0,5 cm) rata kiri dan kanan,
menggunakan APA Style.
Redaksi
Volume 1 Nomor 1
i
Halaman 1 – 49
Desember 2016 ISSN 2548-7221
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
PENGANTAR REDAKSI
Selamat bertemu dengan publikasi pertama Media Berbagi Keperawatan (MBK) pada
Volume 1 Nomor 1, bulan Desember 2016. Pada nomor perdana ini kami menyajikan
artikel-artikel hasil penelitian dalam bidang keperawatan. Kami menyampaikan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada para penulis yang telah mendukung MBK dalam rintisan
aktivitas penerbitan, semoga karya-karya yang dipublikasikan pada nomor rintisan ini dapat
berkontribusi bagi kemajuan IPTEK keperawatan di Indonesia.
Anda dapat mengunduh seluruh isi dari jurnal keperawatan ini melalui
http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk. Mohon doa restu agar MBK
dapat menerbitkan edisi kedua pada tahun 2017 mendatang. Terimakasih.
Redaksi
DAFTAR ISI
1
2
3
4
5
6
7
PENGARUH PELATIHAN TES PERKEMBANGAN DENVER II TERHADAP
PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN KADER POSYANDU DI WILAYAH
PUSKESMAS MAOS
Puji Suwariyah
PENGARUH KUALITAS PERAWATAN KATETER MENGGUNAKAN SOP
DAN TIDAK MENGGUNAKAN SOP DENGAN KEJADIAN INFEKSI
SALURAN KEMIH DI RUANG INTERNA RSUD PIRU THUN 2016
Lukman La Basy, Risman Tunny, Ratnasari Rumakey, Moh. Samsul Arifin
HUBUNGAN PERILAKU AGRESIF PASIEN DENGAN TINGKAT STRESS
PERAWAT DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROVINSI MALUKU
TAHUN 2016
Hadija Latuconsina, Abujar Wakanno, Hasna Tunny, Patma Patihua
PRESTASI BELAJAR SISWA BERDASARKAN POLA ASUH YANG
DITERAPKAN OLEH ORANG TUA SISWA SEKOLAH DASAR INPRES 1
DESA LUHU KECAMATAN HUAMUAL KABUPATEN SERAM BAGIAN
BARAT
Frengky Aipasa, Endah Fitriasari, La Rakhmat Wabula
HUBUNGAN KEPUASAN PERAWAT TERHADAP SISTEM INFORMASI
KEPERAWATAN DENGAN KINERJA PENDOKUMENTASIAN PERAWAT
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS
Intan Diah Pramithasari
HUBUNGAN
TINGKAT
PENGETAHUAN
DENGAN
PERILAKU
KESEHATAN MASYARAKAT DI DUSUN PATINEA DESA KAWA
KECAMATAN SERAM BARAT KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
TAHUN 2016
Ira Sandy Tunny, M Taufan Umasugi, Sahrir Sillehu
PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP PENURUNAN TEKANAN
DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI BANGSAL PENYAKIT DALAM
RSUD CILACAP TAHUN 2015
Esti Oktaviani Purwasih, Sakiyan, Rachmat Susanto
ii
1-7
8-16
17-23
24-31
32-35
36-42
43-49
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
PENGARUH PELATIHAN TES PERKEMBANGAN DENVER II TERHADAP PENGETAHUAN
DAN KETERAMPILAN KADER POSYANDU DI WILAYAH PUSKESMAS MAOS
Puji Suwariyah
(Akper Serulingmas Cilacap)
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penyimpangan perkembangan pada bayi/anak usia dini sering kali sulit dideteksi dengan
pemeriksaan fisik. Tes perkembangan Denver II dikembangkan untuk membantu petugas
kesehatan dalam mendeteksi masalah perkembangan bayi/anak di usia dini. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan tes perkembangan Denver II terhadap
pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experimental with one grup pre and
posttest without control grup design. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 25 kader
dengan tekhnik sampel menggunakan total sampling. Uji yang digunakan adalah uji wilcoxon.
Pengetahuan responden sebelum diberikan pelatihan paling banyak adalah baik sebanyak 11
(44,0%) dan setelah berpengetahuan baik sebanyak 16 responden (64,0%). Ketrampilan
responden sebelum diberikan pelatihan sebagian besar kurang sebanyak 21 (84,0%) dan
setelah ketrampilan baik sebanyak 23 (92,0%). Hasil Uji Wilcokson menunjukkan bahwa ada
pengaruh pelatihan tes perkembangan Denver II terhadap pengetahuan (p value 0,003) dan
ketrampilan (p value 0,000) kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos.
Kata Kunci: Ketrampilan, Pelatihan Denver II, Pengetahuan
PENDAHULUAN
Anak pra sekolah merupakan anak dalam tahapan usia emas yang mengalami
perkembangan pesat terutama perkembangan mental emosional. Perlu adanya deteksi dini
perkembangan mental emosional anak agar apabila terdapat gangguan mental emosional anak
bisa segera di intervensi karena perkembangan anak berpengaruh pada fase selanjutya. Bayi
dengan resiko tinggi terjadi penyimpangan perkembangan perlu mendapat prioritas, terutama
bayi premature, berat lahir rendah, riwayat asfiksia, hiperbilirubinemia, infeksi intrapartum, ibu
diabetes mellitus, gemeli,dll. Perawat, bidan dan dokter harus menguasai skrining
perkembangan dengan metode Denver II.
Denver II Menurut studi yang dilakukan oleh The Public Health Agency of Canada, adalah
metode tes yang paling banyak digunakan untuk skrining masalah perkembangan bayi/anak.
Tes ini bermanfaat dalam mendeteksi masalah perkembangan yang berat. Akan tetapi, DDST
telah dikritik tidak reliabel dalam memprediksikan masalah-masalah yang kurang berat dan
spesifik. Kritik ini juga dilontarkan terhadap versi DDST yang telah direvisi, yaitu Denver II.
Terhadap kritik tersebut Frankenburg menjelaskan bahwa tujuan pokok dari DDST bukan untuk
menetapkan diagnosis akhir, melainkan sebagai metode cepat untuk mengidentifikasi bayi/anak
yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Namun pada kenyataannya, saat dilapangan kader Poyandu Balita tidak mengetahui apa itu
Denver II dan bagaimana cara menggunakannya. Hal ini menjadi suatu permasalahan dalam
membantu tenaga kesehatan untuk memantau perkembangan anak. Permasalahan ini
disebabkan karena kader tidak pernah diajarkan bahkan diberikan pelatihan tentang Denver
sehingga mereka tidak memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang baik dalam memahami
tentan Denver II.
Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Kusumawardani (2013) dengan judul pengaruh
pelatihan deteksi dini perkembangan mental emosional anak pada kader posyandu di wilayah
Puskesmas, Sewon II, Bantul. Metode Penelitian menggunakan pre eksperimental one group
pretest postest dengan sampel 32. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan kader
posyandu sebelum pelatihan mayoritas tergolong tingkat pengetahuan rendah dengan jumlah
32 kader (82%), dan pengetahuan setelah pelatihan mayoritas kader memiliki tingkat
pengetahuan sedang dengan jumlah 17 kader (43,7%). Kader mayoritas memiliki tingkat
motivasi sedang dengan jumlah 22 kader (56,4%) dan mayoritas memiliki tingkat keterampilan
1
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
cukup dengan jumlah 28 kader (71,8%). Terdapat peningkatan pengetahuan kader posyandu
sebelum dan setelah pelatihan dengan perbedaan rerata ± SD adalah 3,7 ± 2,93.
Denver II adalah sebuah metode pengkajian yang digunakan secara luas untuk menilai
kemajuan perkembangan bayi/anak usia 0-6 tahun yang dilakukan secara berkala dengan 125
tugas perkembangan. Denver II lebih menyeluruh tapi ringkas, sederhana dan dapat
diandalkan, yang terbagi dalam 4 sektor yakni: Sektor Personal Sosial (kemandirian bergaul),
Sektor Fine Motor Adaptive (Gerakan gerakan halus), Sektor Language (Bahasa), dan Gross
Motor (Gerakan gerakan kasar). Denver II dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain:
a. Untuk mengetahui dan mengikuti proses perkembangan
b. Untuk mengatasi secara dini bila ditemui kelainan
c. Menilai tingkat perkembangan bayi/anak sesuai dengan usianya.
d. Menilai tingkat perkembangan bayi/anak yang tampak sehat.
e. Menilai tingkat perkembangan bayi/anak yang tidak menunjukkan gejala kemungkinan
adanya kelainan perkembangan.
f. Memastikan bayi/anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan.
g. Memantau bayi/anak yang berisiko mengalami kelainan perkembangan.
Penilaian
Pada setiap item, kita perlu mencantumkan inisial penilaian di area kotak yang berwarna
putih (dekat tanda 50%)
a. P = Pass/lulus/lewat
Bayi/anak dapat melakukan tugas perkembangan dengan baik atau orang tua/pengasuh
melaporkan secara terpercaya bahwa bayi/anak dapat menyelesaikan tugas perkembangan/
item tersebut (item yang bertanda L).
b. F = Fail/gagal
Bayi/anak tidak dapat melakukan tugas perkembangan dengan baik atau orang
tua/pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa bayi/anak tidak dapat melakukan tugas
perkembangan/item tersebut (item yang bertanda L).
c. No = No opportunity/tidak ada kesempatan
Bayi/anak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan tugas perkembangan pada
pemeriksaan/uji coba karena ada hambatan yang dapat menyebabkan bayi/anak tidak bisa
melanjutkan uji coba.Skor ini hanya boleh dipakai pada uji coba dengan tanda R.
d. R = Refusal/menolak
Bayi/anak menolak untuk melakukan tugas perkembangan untuk item tersebut. Penolakan
dapat dikurangi dengan mengatakankepada bayi/anak apa yang harus dilakukannya dan
tidak diskor sebagai penolakan (khusus item tanpa tanda L).
Interpretasi Penilaian Individual
a. Advance/ lebih
Bila bayi/anak mampu melakukan tugas perkembangan “Pass” pada uji coba tugas
perkembangan/item sebelah kanan garis usia.
b. Normal:
Penilaian item “Normal”Nilai ini tidak perlu diperhatikan dalam penilaian tes secara
keseluruhan.Nilai “Normal” dapat diberikan pada bayi/anak dalam kondisi berikut:
Bayi/anak “Gagal” (G) atau “Menolak” (M) melakukan tugas untuk item di sebelah kanan
garis usia. Bayi/anak “Lulus/Lewat” (L), “Gagal” (G), atau “Menolak” (M) melakukan tugas
untuk item di daerah putih kotak (daerah 25%-75%).
c. Delayed (penundaan / kelambatan)
Apabila Penilaian item T= “Terlambar” (D = Delayed). Nilai “Terlambat” diberikan jika
bayi/anak “Gagal” (G) atau “Menolak” (M) melakukan tugas untuk item di sebelah kiri garis
usia sebab tugas tersebut memang ditujukan untuk bayi/anak yang lebih muda.
Interpretasi Test / Uji Coba Denver II
a. Normal
Normal. Intrpretasi NORMAL diberikan jika tidak ada skor “Terlambat/delayed’(0 T/D)
dan/atau maksimal1 Peringatan/caution” (1 P/C). Jika hasil ini didapat, lakukan pemeriksaan
ulang pada kunjungan berikutnya.
2
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
b. Suspek
Bila didapat > 2 ‘caution’ dan atau > 1 ‘delayed’  lakukan uji ulang 1 – 2 minggu untuk
menghilangkan faktor sesaat seperti: rasa takut, keadaan sakit, kelelahan.
c. Untesable/Tidak dapat diuji
Bila ada skor “refusal” pada > 1 uji coba yang terletak disebelah kiri garis usiaatau menolak
pada > 1 tugas perkembangan yang ditembus garis usia pada daerah prosentase 75 – 90.
Hipotesis dalam penelitian ini yaitu: “Ada pengaruh pelatihan tes perkembangan denver II
terhadap pengetahuandan keterampilan kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experimental with one
grup pre and posttest without control grup design. Pengukuran variabel penelitian dilakukan
sebelum dan setelah pemberian pelatihan Denver II. Pengukuran dilakukan sebelum dan
setelah perlakuan (Sugiyono, 2011). Penelitian dilakukan bertujuan mengetahui pengaruh
pengaruh pelatihan tes perkembangan denver II terhadap pengetahuan dan keterampilan
kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2015
berlokasi di Wilayah Puskesmas Maos. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader yang
ada di Wilayah Maos sebanyak 25 kader. Tekhnik sampel pada penelitian ini menggunakan
total sampling. Sehingga jumlah sampel penelitian yaitu 25 responden.
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Pengetahuan Kader Posyandu Sebelum Dan Sesudah Pelatihan Tes Perkembangan
Denver II di Wilayah Puskesmas Maos
Pengetahuan
Pre
f
11
6
8
25
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah
Post
%
44,0
24,0
32,0
100
f
16
8
1
25
%
64,0
32,0
4,0
100
Pada tabel 1. menunjukkan bahwa pengetahuan responden sebelum diberikan pelatihan
Denver II paling banyak adalah baik sebanyak 11 responden (44,0%) setelah diberikan
pelatihan pengetahuan responden masih tetap didominasi berpengetahuan baik sebanyak 16
responden (64,0%).
Tabel 2. Keterampilan kader posyandu sebelum dan sesudah pelatihan tes perkembangan
Denver II di Wilayah Puskesmas Maos
Ketrampilan
Pre
f
4
21
25
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah
Post
%
16,0
84,0
100
f
23
2
25
%
92,0
8,0
100
Pada tabel 2 menunjukkan bahwa ketrampilan responden sebelum diberikan pelatihan
Denver II sebagian besar kurang sebanyak 21 responden (84,0%) setelah diberikan pelatihan
ketrampilan responden sebagian besar memiliki ketrampilan yang baik sebanyak 23 responden
(92,0%).
Tabel 3. Pengaruh pelatihan tes perkembangan Denver II terhadap pengetahuan kader
posyandu di Wilayah Puskesmas Maos
Variabel
Pengetahuan PrePengetahuan Post
3
Menurun
0
Meningkat
10
Tetap
15
P value
0,003
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Tabel 3 merupakan hasil uji wilcokson, dimana sebelumnya peneliti melakukan uji normalitas
untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan uji shapiro wilk.
Hasil uji normalitas menunjukkan data tidak terdistribusi normal, sehingga peneliti
menggunakan uji non paramatik yaitu uji wilcokson. Pada tabel 3 menunjukkan bahwa
diperoleh nilai p value sebesar 0,003, artinya ada pengaruh pelatihan tes perkembangan
Denver II terhadap pengetahuan kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos.
Tabel 4. Pengaruh Pelatihan Tes Perkembangan Denver II Terhadap Keterampilan Kader
Posyandu di Wilayah Puskesmas Maos
Variabel
Menurun
Meningkat
Tetap
P value
Ketrampilan PreKetrampilan Post
0
24
1
0,000
Tabel 4. merupakan hasil uji wilcokson, dimana sebelumnya peneliti melakukan uji
normalitas untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan uji
shapiro wilk. Hasil uji normalitas menunjukkan data tidak terdistribusi normal, sehingga peneliti
menggunakan uji non paramatik yaitu uji wilcokson. Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa
diperoleh nilai p value sebesar 0,000, artinya ada pengaruh pelatihan tes perkembangan
Denver II terhadap ketrampilan kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos
PEMBAHASAN
Pengetahuan kader posyandu sebelum dan sesudah pelatihan tes perkembangan Denver
II di Wilayah Puskesmas Maos
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengetahuan
responden sebelum diberikan pelatihan Denver II paling banyak adalah baik sebanyak 11
responden (44,0%) setelah diberikan pelatihan pengetahuan responden masih tetap didominasi
berpengetahuan baik sebanyak 16 responden (64,0%). Baiknya pengetahaun responden
karena didukung bahwa responden aktif dalam mencari informasi terkait dengan kesehatan
anak khususnya tumbuh kembang anak, seperti sering bertanya kepada tenaga kesehatan
yang ada disekitarnya yaitu bidan desa.
Pengetahuan baik yang dimiliki responden juga didukung dengan status mereka yaitu
sebagai seorang kader, dimana ibu telah memiliki pengalaman yang banyak tentang masalah
tumbuh kembang anak. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman baik dari pengalaman
pribadi maupun dari pengalaman orang lain (Notoadmojo, 2007). Pengalaman ini merupakan
suatu cara untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan. Pengalaman yang banyak
diperoleh dari lamanya menjadi seorang kader. Hal tersebut juga didukung oleh hasil penelitian
Dharmas (2015) bahwa semakin lama menjadi kader maka semakin banyak pengalaman yang
dimiliki oleh kader, sehingga pengetahuan semakin baik.
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan menurut Solikhati dkk (2012) bahwa
pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi
masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan
dan keterampilan professional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat
mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari
keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang
kerjanya.
Pada saat pengukuran pengetahuan sebelum diberikan pelatihan ditemukan ada 8 kader
yang memiliki pengetahuan kurang dan 6 kader berpengetahuan cukup. Pengetahuan kurang
yang dimiliki kader dikarenakan mereka belum pernah mengetahui dan mendengar tentang tes
perkembangan Denver II. Kader yang memiliki pengetahuan cukup mereka sebelumnya sudah
pernah mengetahui tentang tes perkembangan Denver II, namun belum mengetahui secara
keseluruhan.
Pengetahuan yang kurang pada kader dikarenakan mereka juga kurang begitu aktif dalam
mencari informasi terkait dengan permasalahan tumbuh kembang anak. Selain itu, kader juga
4
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
hanya berpendidikan tamatan SD. Sesuai dengan teori Notoadmodjo (2011), pengetahuan
seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah tingkat
pendidikan. Secara umum, orang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai
pengetahuan lebih luas jika dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih
rendah. Menurut asumsi peneliti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan kader maka semakin
baik pula cara menerima informasi yang didapat sehingga tingkat pengetahuaanya tentang tes
perkembangan Denver II akan semakin baik.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa setelah dilakukan pelatihan tes perkembangan
Denver II kader mengalami peningkatan pengetahuan. Kader yang awalnya berpengetahuan
kurang ada 8 kader setelah diberikan pelatihan berkurang menjadi 1 kader, kader yang awalnya
berpengetahuan cukup hanya 6 bertambah menjadi 8 kader dan kader yang awalnya hanya
ada 11 kader berpengetahuan baik bertambah menadi 16 kader. Hal tersebut menunjukkan
adanya suatu perubahan tingkat pengetahuan pada diri kader itu sendiri.
Keterampilan kader posyandu sebelum dan sesudah pelatihan tes perkembangan Denver
II di Wilayah Puskesmas Maos
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ketrampilan
responden sebelum diberikan pelatihan Denver II sebagian besar kurang sebanyak 21
responden (84,0%) setelah diberikan pelatihan ketrampilan responden sebagian besar memiliki
ketrampilan yang baik sebanyak 23 responden (92,0%). Kurangnya ketrampilan kader tentang
penggunaan Denver II karena mereka belum terbiasa dalam menggunakannya bahkan belum
pernah menggunakan. Pada penelitian ini juga ditemukan ada sebagian responden memiliki
ketrampilan yang cukup. Hal ini karena kader sebelumnya sudah mengetahui tentang denver
developmental screening test (DDST), namun mereka belum bisa sepenuhnya mengaplikasikan
atau mempraktikan secara benar tentang penggunaan denver developmental screening test
(DDST).
Keterampilan kader posyandu merupakan suatu teknik yang dimiliki oleh kader dalam
memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan dan standar pelayanan yang telah ditetapkan.
Kader posyandu balita yang memiliki keterampilan baik merupakan salah satu kunci
kesuksesan dalam pelaksanaan sistem pelayanan di posyandu. Hal tersebut karena dengan
adanya pelayanan kader yang terampil akan mendapat tanggapan yang positif dari ibu-ibu yang
memiliki balita sehingga akan mendorong ibu-ibu rajin ke posyandu (Azwar, 1996 dalam Dinks
Lumajang, 2014). Ketrampilan dalam penelitian ini dikhususkan pada penggunaan tes Denver
II.
Keterampilan menurut Sukiarko (2007), merupakan kemampuan dalam melaksanakan
tugas/pekerjaan dengan menggunakan angota badan dan peralatan kerja yang tersedia.
Ketrampilan ada 3 macam yaitu kemampuan dasar bersifat manusia (human skill), kemampuan
teknik (technicall skill) dan kemampuan membuat konsep (conceptual skill). Keterampilan teknik
adalah kemampuan untuk menggunakan alat, prosedur dan teknik yang berhubungan dengan
bidangnya. Keterampilan manusia adalah kemampuan untuk dapat bekerja, mengerti dan
mengadakan motifasi kepada orang lain. Keterampilan konsep adalah kemampuan untuk
melakukan kerja sama didalam pekerjaan, pekerjaan itu dapat memberikan keterampilan
sedangkan keterampilan kader posyandu lebih pada keterampilan teknis dalam kegiatan
posyandu.
Terampilnya kader setelah diberikan pelatihan tes perkemmbangan Denver II karena kader
telah mengetahui tentang DDST. Utriani (2011) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa
ketrampilan seorang kader dapat dipengaruhi oleh beberapa macam faktor yaitu umur, tingkat
pendidikan, masa kerja, mengikuti pelatihan, mengikuti pembinaan, mendapat dukungan
petugas kesehatan dan memiliki sikap yang positif. Kader yang memiliki keterampilan baik akan
memberikan suatu pelayanan yang baik pula, khususnya dalam mengatasi masalah tumbuh
kembang anak.
Pengaruh pelatihan tes perkembangan Denver II terhadap pengetahuan kader posyandu di
Wilayah Puskesmas Maos
Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa diperoleh nilai p
value sebesar 0,003, artinya ada pengaruh pelatihan tes perkembangan Denver II terhadap
5
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
pengetahuan kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pemberian pelatihan memberikan dampak yang positif yaitu pengetahuan kader setelah
dilakukan pelatihan tes perkembangan Denver II mengalami perubahan atau peningkatan
menjadi lebih baik. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian Dewanti (2009) bahwa ada
pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan kader posyandu dalam menerapkan standar
pemantauan pertumbuhan balita. Salah satu kegiatan utama program perbaikan gizi yaitu
pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak yang menitikberatkan pada upaya
pencegahan dan peningkatan keadaan gizi balita.
Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara dini dilakukan untuk mengetahui
ada atau tidaknya penyimpangan tumbuh kembang anak pada tes perkembangan Denver II
adalah sebuah metode pengkajian yang digunakan secara luas untuk menilai kemajuan
perkembangan bayi/anak usia 0-6 tahun. Penggunaan tes perkembangan Denver II dapat
digunakan untuk pemantauan bayi/anak dalam resiko terhadap perkembangannya.
Perkembangan anak/bayi yang optimal pada usia dini akan menjadi penentu bagi tahap-tahap
perkembangan selanjutnya.
Kader memiliki peran penting dalam pencapaian perkembangan anak/bayi yang optimal
pada usia dini. Oleh karena itu, diharapkan kader memiliki pengetahuan yang baik tentang
permasalahan tumbuh kembang anak. Agustin (2011) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa
ketika kader kurang mengetahui tentang perkembangan balita, deteksi dini perkembangan pun
tidak mampu mereka lakukan dan juga tidak dilaporkan ke tenaga kesehatan sehingga
keterlambatan perkembangan pada balita tidak diatasi dengan cepat. Dampaknya adalah balita
akan beresiko mengalami keterlambatan untuk perkembangan berikutnya. Hal ini dapat
disebabkan oleh kurangnya kemampuan kader dalam mendeteksi adanya gangguan
perkembangan karena tidak tahu tentang tahapan perkembangan sesuai usia.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan tingkat pengetahuan yaitu ada 10
responden yang mengalami peningkatan dan 15 yang tetap. Peningkatan tersebut ditunjukkan
dari kurang baik menjadi baik, kurang baik menjadi cukup ataupun cukup menjadi baik. Adanya
peningkatan pengetahuan setelah kegiatan pelatihan ini disebabkan kooperatifnya kader
dimulai dari awal pelatihan sampai selesai. Aktifnya partisipasi kader dikarenakan mereka ingin
mengetahui tentang pentingnya deteksi tumbuh kembang anak. Hasil penelitian ini juga
didukung hasil penelitian Sukesi (2013) bahwa adanya peningkatan pengetahuan tentang cara
deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang anak setelah dilakukan pelatihan.
Pengaruh pelatihan tes perkembangan Denver II terhadap keterampilan kader posyandu
di Wilayah Puskesmas Maos
Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa diperoleh nilai p
value sebesar 0,000, artinya ada pengaruh pelatihan tes perkembangan Denver II terhadap
ketrampilan kader posyandu di Wilayah Puskesmas Maos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian pelatihan memberikan dampak yang positif yaitu ketrampilan kader setelah
dilakukan pelatihan tes perkembangan Denver II mengalami perubahan atau peningkatan
menjadi lebih baik Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil pnelitian Nugraha (2010) bahwa ada
pengaruh pelatihan tentang DDST terhadap kompetensi pendidik paud dalam pemantauan
perkembangan anak pra sekolah. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian
Maulida (2013) bahwa adanya peningkatan ketrampilan tentang cara deteksi dini dan stimulasi
tumbuh kembang anak setelah dilakukan pelatihan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 25 kader yang mengalami peningkatan setelah
diberikan pelatihan ada 24 yang mengalami peningkatan dan 1 kader yang tetap setelah
dilakukan pelatihan. Adanya peningkatan ketrampilan kader ketika praktik mengisi format tes
DenverII menunjukkan adanya perbaikan. Hal ini ditunjukkan oleh demonstrasi yang dilakukan
oleh kader setelah selesai pelatihan dan saat pelaksanaan posyandu secara langsung dengan
melakukan pengukuran tumbuh kembang anak secara mandiri. Pada pelatihan Denver II
seseorang akan belajar dari tidak tahu menjadi tahu dan dengan pendekatan edukatif akan
dapat memacu perkembangan potensi, sehingga kader yang awalnya hanya memiliki
ketrampilan kurang baik akan menjadi baik. Hasil penelitian ini didukung dengan hasil penelitian
Sudarmiati (2005) bahwa 95% kader yang mengikuti pelatihan mampu mendemonstrasikan
cara melakukan stimulasi tumbuh kembang balita dengan menggunakan alat permainan
edukasi (APE).
6
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Hasil penelitian Ekowati (2015) menunjukkan bahwa metode pelatihan dengan demonstrasi
dan praktik memberikan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan ketrampilan kader.
Pelatihan dengan metode ini memberikan kesan yang mendalam pada kader. Kader juga
dilibatkan dalam kegiatan yaitu praktik, sehingga mereka lebih mudah dalam mendalaminya.
Hasil tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Mardiana (2011) bahwa ada perbedaan
keterampilan kader posyandu dalam pengukuran antropometri sebelum dan sesudah pelatihan
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pengaruh pelatihan tes
perkembangan Denver II terhadap pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di Wilayah
Puskesmas Maos.
REFERENSI
Agustin. (2011). Gambaran pengetahuan kader di posyandu desa cipacing tentang
perkembangan pada balita. Artikel Ilmiah. Universitas Padjadjaran
Azwar, S. (2010). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dewanti. (2009). Pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan, keterampilan, kepatuhan kader
posyandu dalam menerapkan standar pemantauan pertumbuhan balita di Kota Bitung,
Sulawesi Utara. Tesis. UGM.
Dharmawan. (2015). Hubungan karakteristik terhadap pengetahuan dan sikap kader kesehatan
tentang pentingnya data di buku KIA. Artikle Ilmiah. UNDIP.
Ekowati. (2015). Upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader tentang antropometri
melalui pelatihan pengukuran antropometri. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kusumawardani. (2013). Pengaruh pelatihan deteksi dini perkembangan mental emosional
anak pada kader posyandu di wilayah Puskesmas, Sewon II, Bantul. Skripsi. UGM.
Mardiana. (2011). Pelatihan terhadap keterampilan kader posyandu. Jurnal Keshatan
masyarakat, 7 (1).
Notoatmodjo, S. (2010). Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka. Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010). Metode penelitian kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nugraha. (2010). Pengaruh pelatihan tentang DDST terhadap kompetensi pendidik paud
dalam pemantauan perkembangan anak pra sekolah. Artikel Ilmiah.
Sugiyono. (2007). Statistik untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
Solikhati dkk. (2012). Jenis-jenis pengetahuan. Makalah. Universitas Diponegoro Semarang
Utriani. (2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan kader posyandu dalam
menginterpretasikan hasil penimbangan pada kartu menuju sehat (KMS). Skrispi.
Universitas Jember.
7
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
PENGARUH KUALITAS PERAWATAN KATETER MENGGUNAKAN SOP DAN TIDAK
MENGGUNAKAN SOP DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUANG
INTERNA RSUD PIRU THUN 2016
Lukman La Basy
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
Risman Tunny
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
Ratnasari Rumakey
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
Moh. Samsul Arifin
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
ABSTRAK
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi di sepanjang saluran kemih yang di
sebabkan oleh bakteri, firus dan jamur. Faktor terjadinya Infeksi saluran kemih merupakan
proses pemasangan dan perawatan kateter yang tidak sesuai dengan setandar oprasional
prosedur (sop), karena kateter merupakan salah satu sarana masuknya agent atau
mikroorganisme kedalam tubuh. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh kualitas
perawatan kateter menggunakan sop dan tidak menggunakan sop di ruang Interna RSUD Piru
Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain Quasy Eksperimental Dengan Rancangan
Post Test Only Control Group Design ada 3 responden dengan masing – masing kelompok,
pengambilan sampel secara non probabiliti sampling yang di laksanakan secara accidental
sampling. Variabel yang di teliti adalah kualitas perawatan kateter menggunakan sop dan tidak
menggunakan sop. Data di ambil dengan metode pengamatan langsung menggunakan
istrument checklist observation. Data tersebut kemudian di analisis dengan uji mann whitney.
penelitian ini menunjukkan bahwa uji statistik Mann Whitney U Test di dapatkan nilai segnifikasi
p =0,000 dimana p < α atau 0,000 < 0,05. Ini menunjukkan bahwa ada pengaruh kualitas
perawatan kateter menggunkan sop terhadap kejadian infeksi saluran kemih di ruang interna
rsud piru, yaitu pada kualitas perawatan kateter tanpa menggunakan sop dapat mengakibatkan
terjadinya infeksi saluran kemih. Ada pengaruh kualitas perawatan kateter menggunkan sop
terhadap kejadian infeksi saluran kemih di Ruang Interna RSUD Piru Tahun 2016.
Kata kunci: kualitas, perawatan, kateter, menggunakan sop, tidak menggunakan sop, infeksi
saluran kemih
LATAR BELAKANG
Pelayanan kesehatan berkualitas perlu ditunjang dengan pelayanan keperawatan yang
berkualitas, pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan,
karena 90% pelayanan kesehatan rumah sakit di berikan oleh perawat, sehingga dengan
pelayanan kesehtan dapat menemukan secara dini kejadian atau resiko terjadinya infeksi
(costy, 2013)
Saluran kemih merupakan salah satu organ yang paling sering terjadi infeksi bakteri.
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya
invasi mikroorganisme pada saluran kemih (Purnomo, 2013). Saluran
kemih
sering
merupakan sumber bakteriemia yang disebabkan oleh penutupan mendadak oleh batu
atau instrumentasi pada infeksi saluran kemih, seperti pada hipertrofi prostat dengan
prostatitis (Sari, 2015).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi di sepanjang saluran kemih,
termasuk ginjal itu sendiri, akibat proliferasi suatu mikroorganisme. Sebagian besar infeksi
saluran kemih di sebabkan oleh bakteri, tetapi firus dan jamur juga dapat menjadi
penyebabnya. Infeksi bakteri tersering di sebabkan oleh Escherichia coli. Infeksi saluran
kemih sering terjadi pada anak perempuan dan wanita. Salah satu penyebabnya adalah
uretra wanita yang lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih mudah memperoleh
akses ke kandung kemih (Corwin,2009)
8
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi yang di dapat pasien setelah 3x24 jam
setelah di lakukan perawatan di rumah sakit. Salah satunya infeksi nosokomeal yang sering
terjadi adalah infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih paling sering di sebabkan oleh
pemasangan dower kateter yaitu sekitar 40%. Dalam beberapa studi prospek, telah di laporkan
bahwa tingkat infeksi saluran kemih (ISK) yang berhubungan dengan pemasangan dower
kateter berkisar antara 9% - 23% (20). Menurut literatur lain didapatkan pemasangan dower
kateter mempunyai dampak terhadap 80% terjadi infeksi saluran kemih (Hasbuallah, 2014).
Kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK), sering terjadi pada pasien yang terpasang dower
kateter dan di rumah sakit. Diketahui bahwa pemasangan dower kateter merupakan
salah satu sarana masuknya agent atau mikroorganisme ke dalam tubuh. Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya infeksi nosokomial saluran kemih dan dapat diubah untuk
meminimalkannya adalah prosedur pemasangan, lama pemasangan dan kualitas
perawatan kateter (Samaradana. 2014)
Infeksi Saluran Kemih dapt di cegah melalui penerapan kewaspadaan umum. Penerapan
kewaspadaan umum merupakan bagian pengendalian infeksi yang tidak terlepas dari peran
masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya yaitu pimpinan, pemberi pelayanan maupun
pengguna jasa termasuk pasien dan pengunjung. Hal ini tentunya pemberi pelayanan
kesehatan terutama perawat sangat berperan penting terhadap pencegahan infeksi saluran
kemih, perawat merupan salah satu anggota tim kesehatan yang berhubungan langsung
dengan pasien dan bahan infeksius di ruang rawat dalam menilai kinerja perawat salah satunya
adalah dengan melakukan penilaian terhadap kegiatan perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan sesui dengan setandar oprasional prosedur dan setandar asuhan keperawatan
(Mangkunegara, 2013).
Prosedur pemasangan kateter perlu memperhatikan teknik aseptik dan benar sehingga
tidak menimbulkan iritasi atau trauma pada saluran kemih yang dapat menjadi sumber infeksi.
Lamanya waktu pemasangan kateter sebaiknya tidak terlalu lama, karena semakin lama
terpasang kateter angka kejadian infeksi saluran kemih sem akin tinggi. Apabila ada advis
dokter untuk melepas dower kateter maka harus dilepas secepat mungkin dan bila terpasang
lebih dari 7 hari maka penggantian dower kateter baru harus dilakukan. Pemberian
perawatan kateter yang berkualitas tinggi akan dapat mengurangi tingkat terjadinya infeksi
nosokomial saluran kemih (Sait, 2005)
Kualitas perawatan kateter merupakan tingkat pemberian pelayanan keperawatan
berupa perawatan kateter sesuai standar operasional perawatan kateter dengan mengacu pada
standar pelayanan profesi keperawatan. Perawatan kateter pada pasien terpasang dower
kateter mutlak dilakukan untuk meminimalkan dampak yang tidak diinginkan berupa
terjadinya infeksi saluran kemih.(Depkes RI, 2013).
Standar Prosedur Operasional (SOP) adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan
tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instasi pemerintah
berdasarkan indikator - indikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata
kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Infeksi yang
terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya
disebut dengan Hospital Acquired Infection (HAIs) Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan
salah satu kejadian HAIs yang paling sering terjadi dikarenakan pemasangan kateter
yang tidak sesuai dengan SOP yang telah ada. (Atmoko, 2011)
Kateter sangat beresiko terjadinya infeksi bakteriurea 5% sampai 10% per hari. Kemudian
di ketahui, pasien akan mengalami bakteriurea setelah penggunaan kateter selama sepuluh
hari. Infeksi saluran kemih merupakan penyebab terjadinya lebih dari 1/3 dari seluruh infeksi
yang di dapat di rumah sakit. Sebagian besar infeksi ini ( sedikitnya 80%) disebabkan prosedur
invasif atau instrumentasi saluran kemih yang biasanya berupa kateterisasi (Smlitzer, 2013).
Infeksi saluran kemih (ISK) masih menjadi masalah utama dunia. Kejadian infeksi ini
menyebabkan Leng Of Stay (LOS), mortalias dan health care meningkat. Transmisinya sendiri
melalui tiga cara yaitu mikro organisme (bakteri) transien dan rasiden dari kulit pasien itu
sendiri, bakteri dari petugas kesehatan ke pasien dan bakteri dari lingkungan rumah sakit.
Petugas kesehatan mempunyai peran besar dalam rantai transmisi infeksi ini (Costy, 2013).
Survei yang di lakukan Wordld Health Organization (WHO) terhadap 55 rumah sakit di 14
negara menunjukan 8,7% dari rumah sakit tersebut terdapat pasien dengan infeksi saluran
kemih (ISK), Selain itu survei mengatakan bahwa 1,4 juta orang di seluruh dunia menderita
infeksi akibat perawatan di rumah sakit (Porto, 2013) sedangkan di indonesia, penelitian yang di
9
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
lakukan di 11 rumah sakit di jakarata menunjukan 9,8% pasien rawat inap mendapat infeksi
saluran kemih (Zaenal, 2013).
Menurut WHO sebanyak 25 juta kematian diseluruh dunia pada tahun 2013, hanya
disebabkan oleh penyakit infeksi (WHO, 2013). Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan
infeksi dengan keterlibatan bakteri tersering di komunitas dan hampir 10% orang pernah
terkena ISK selama hidupnya. Sekitar 150 juta penduduk di seluruh dunia tiap tahunnya
terdiagnosis menderita infeksi saluran kemih. Prevalensinya sangat bervariasi berdasar
pada umur dan jenis kelamin, dimana infeksi ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan
dengan pria yang oleh karena perbedaan anatomis antara keduanya (Rajabnia, 2006).
Di negara maju pun, infeksi yang di dapat di rumah sakit terjadi dengan angka yang cukup
tinggi misalnya, di Amirika Serikat, ada 13.000 atau (2,3 % ) kematian setiap tahun nya akibat
infeksi saluran kemih (ISK), prifalensi penggunaan kateter urin merupakan menyebabkan
terjadinya nfeksi yang menghasilkan konplikasi infeksi dan kematian, Sementara itu
kurang dari 5% kasus bakteriuria berkembang menjadi bakterimia. Infeksi saluran kemih yang
berkaitan dengan kateter adalah penyebab utama infeksi sekunder aliran darah nosokomial.
Sekitar 17% infeksi bakterimia nosokomial bersumber dari infeksi saluran kemih dengan angka
kematian sekitar 10%. Sedangkan data infeksi saluran kemih di indonesia dapat di lihat dari
dta surfailens yang di lakukan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 2013 diperoleh
angak infeksi saluran kemih (ISK) cukup tinggi yaitu sebesar 6-16% dengan rata – rata 9,8%
(Coasty, 2013).
Infeksi Saluran Kemih Di Indonesia prevalensinya masih cukup tinggi, menurut Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, jumlah penderita ISK di indonesia adalah 90-100 kasus, atau
100.000 penduduk per tahunnya, pada tahun 2011 sekitar 130 kasus Infeksi saluran kemih
dan pada tahun 2011-2013 mencapai 210 kasus, baru bertambah pada tahun 2014 menjadi
301 kasus , dan 465 kasus di tahun 2015 ( Depkes RI, 2015 ).
Berdasarkan data yang di dapat di RSU Piru, penderita infeksi saluran kemih (ISK) tahun
2011 sebanyak 0,4% orang, pada tahun 2012 sebanyak 0,6% orang, pada tahun 2013
sebanyak 0,5% orang, 2014, 0,5 orang, 2015, 0,7 orang, sampai april 2016 sebanyak 0,8
orang. Jadi total penderita infeksi saluran kemih baik yang di rawat jalan maupun yang rawat
inap adalah sebesar 3, 5%.
Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2012) tentang ”FaktorFaktor Yang Berpengaruh
Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Kemih Pada Pasien Rawat Inap Usia 20 Tahun Ke Atas
Dengan Kateter Menetap di RSUD Tugurejo Semarang”. Dalam hasil penelitian ini diperoleh
ada pengaruh antara lama penggunaan kateter dengan kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK)
pada pasien yang menggunakan kateter menetap (p value = 0,0001), dengan RP 81,00 artinya
pasien dengan lama penggunaan kateter > 3 hari memiliki peluang untuk mengalami ISK
pengaruh antara perawatan kateter dengan kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada pasien
yang menggunakan kateter menetap (p value =0,009), dengan nilai RP 19,00 yang berarti
bahwa pasien dengan pemasangan kateter yang kateternya tidak dirawat secara rutin setiap
hari mempunyai peluang 19 kali untuk mengalami kejadian ISK dibandingkan dengan pasien
dengan pemasangan yang kateternya dirawat secara rutin
Dari data yang di dapat dan wawancara dengan beberapa perawat di RSU piru dan pihak
rumah sakit pada tanggal 21 mei 2016 sepanjang bulan januari – april dari 17 pasien yang
terpasang kateter 8 diantaranya terdapat tanda- tanda infeksi saluran kemih (ISK) dan hal ini
perlu mendapat perhatian khusus dari petugas kesehatan.
Berdasarkan uraian di atas dan studi pengambilan data awal yang di lakukan di RSU Piru
menunjukan kejadian infeksi saluran kemih yang masih mengalami peningkatan dari setiap
tahunnya. Oleh karana itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh
Kualiats Perawatan Kateter Menggunakan SOP Dan Tidak Mrnggunakan SOP Terhadap
Kejadian Infeksi Saluran Kemih Di Ruang Interna Rsu Piru Tahun 2016”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain Quasy Eksperimental dengan rancangan Post Test Only
Control Group design. Dalam penelitian ini ada dua kelompok sampel yang akan di beri
perlakuan kualiatas perawatan kateter menggunakan sop, sementara kelompok yang lain di
beri perlakuan kualitas perawatan kateter tanpa menggunakan sop. Kemudian, akan di lakukan
observasi terjadinya gejala infeksi saluran kemih (ISK) hasil obserfasi akan di kontrol / di
10
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
bandingkan dengan hasil observasi yang mengunakan perlakuan berbeda. Pada penelitian ini
kelompok perlakuannya ada dua macam dan di observasi setelah di lakukan perlakuan
Populasi dalam penelitian ini bersifat infinitive yaitu populasi yang tidak dapat di ramal kan /
di pastikan berapa jumlah nya atau populasi dengan jumlah tidak terbatas. Penelitian ini
menggunakan sampling aksidental ( accidental sampling ), yaitu cara pengambilan sampel
yang dilakukan dengan kebetulan bertemu. Sampel dalam penelitian berjumlah 6 orang,
terbagi menjadi 3 orang diberi perlakukan perawatan kateter menggunakan SOP dan 3 orang
lainnya diberi perlakuan perawatan kateter tanpa menggunakan SOP.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini di peroleh menggunakan istrumen penelitian
lembar observasi. Teknik pengumpulan data yang di gunakan oleh peneliti terdiri atas data
primer dan data sekunder.
Stelah pengambilan data dilakukan dan data di peroleh, maka selanjutnya di lakukan
pengolahan data yang meliputi beberapa bagian yaitu : editing, conding, dan tabulating.
Setelah data di olah, selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan softwer
Computer SPSS. Adapun analisa yangdigunakan yaitu : analisa univariat, dengan
menggunakan uji mann whitny dengan kemaknaan(α = 0,005.)
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan Umur Di Ruang Perawatan Interna RSUD
PiruKabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
Umur (Tahun)
31-40
41-50
51-60
Total
Frekuensi
0
1
4
6
%
0
16,7
66,6
100
Berdasarkan Tabel 1 diatas karakteristik responden berdasarkan umur diperoleh responden
paling banya berada pada umur 51-60 Tahun dan sebanyak 4 orang (66,6%). Sedangkan untuk
umur 20-30 tahun dan range umur 41-50 tahun berjumlah masing-masing 1 orang (16,7%).
Hasil penelitian diketahui karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin yang digambarkan
melalui tabel berikut.
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Ruang Perawatan Interna RSUD
Piru
Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
Frekuensi
2
4
6
%
33,3
66,7
100
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dari 6 responden yang di teliti, karakteristik responden
berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 2 orang (33,3) dan jenis kelamin perempuan lebih
banyak yaitu 4 orang (66,7%)
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan Pekerjaan Di Ruang Perawatan Interna RSUD Piru
Tahun 2016
Pekerjaan
Petani
Wiraswasta
Nelayan
PNS
Total
Frekuensi
3
1
1
1
6
%
50
16,7
16,6
16,7
100
Berdasarkan tabel 3 karakteristik responden berdasarkan pekerjaan diperoleh responden
terbanyak bekerja sebagai petani sebanyak 3 orang (50%).
11
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Tabel 4. Tabel Observasi Kejadian ISK Menurut Perawatan Kateter Dengan Menggunakan
SOP di Ruang Interna RSUD Piru Tahun 2016
Kejadian ISK
Mengalami
Tidak Mengalami
Total
Frekuensi
0
3
3
%
0
100
100
Tabel 4. menunjukkan bahwa dari 3 responden dengan perawatan kateter menggunakan
SOP, semuanya (100%) tidak mengalami Infeksi Saluran Kemih.
Tabel 5. Tabel Observasi Kejadian ISK Menurut Perawatan Kateter Tidak Menggunakan SOP
di Ruang Interna RSUD Piru Tahun 2016
Kejadian ISK
Mengalami
Tidak Mengalami
Total
Frekuensi
0
3
3
%
0
100
100
Tabel 5 di menunjukkan bahwa dari 3 responden dengan perawatan kateter tidak
menggunakan SOP, semuanya (100%) mengalami Infeksi Saluran Kemih.
Tabel 6. Tabel Observasi Stadium ISK Menurut Perawatan Kateter Tidak Menggunakan SOP
di Ruang Interna RSUD Piru Tahun 2016
Kejadian ISK
Frekuensi
Persen
Tidak Ada ISK
0
0
Stadium Dini
0
0
Stadium Lanjut Awal
2
66,7
Stadium Lanjut
1
33,3
Total
3
100
Tabel.6 menunjukkan bahwa dari 3 orang responden pada perawatan kateter tanpa
menggunakan SOP yang terbukti dari tabel sebelumnya mengalami infeksi saluran kemih (ISK),
terdapat 2 responden (66,7%) yang menunjukkan stadium lanjut awal dimana terdapat tanda
dissurasi, nikuri dan nyeri suprapubik. Sedangkan, 1 responden (33,3%) lainnya menunjukkan
stadium lanjut Infeksi saluran kemih dimana terdapat tanda demam, dissurasi, nikuri dan nyeri
supra pubik.
Tabel 7. Pengaruh Kualitas Perawatan Kateter Menggunakan SOP Dan Tidak Menggunakan
SOP Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK) Di Ruang Interna RSUD Piru Kabupaten
Seram Bagian Barat Tahun 2016
GRUP
Perawatan kateter
menggunakan SOP
Perawatan Kateter Tanpa
Menggunakan SOP
N
MEAN ANK
SUM RANK
3
5
16
3
2
6
P
0,000
Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa hasil analisis statistic dengan menggunakan uji statistic
Mann Whitney U Test didapatkan nilai signifikansi p = 0,000, dimana nilai p <α atau 0,000<
0,05. Ini menunjukkan bahwa ada pengaruh kualitas perawatan kateter terhadap kejadian
infeksi saluran kemih di Ruang Interna RSUD Piru, yaitu pada perawatan kateter tanpa
menggunakan SOP dapat menyebabkan timbulnya kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK).
PEMBAHASAN
Karaktistik responden
Dalam penelitian ini faktor umur/usia dalam range 51-60 thun. Pasien yang terpasang
kateter memiliki resiko yang lebih besar daripada dewasa. Hal ini karena lansia sudah terjadi
penurunan daya imun.
Menurut Ramanth (2013) Perempuan lebih rentan menderita penyakit infeksi saluran kemih
dibandingkan dengan laki – laki. Penyebabnya adalah karena uretra perempuan lebih pendiek
12
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
sehingga mikro organisme dari luar lebih mudah mencapai kandung kemih yang letaknya dekat
dengan daerah perianal.
wanita, umum nya akan memiliki risiko yang tinggi terjadi infeksi nosokomial saluran kemih
karena uretra, vagina dan anus terletak berdekatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis
pekerjaan yang paling dominan yaitu petani sebnyak 3 responden (50%),
Petani umum nya memiliki tingkat aktifitas yang banyak dan sering berkontak langsung
dengan berbagai macam bakteri, kurang nya pengetahuan petani akan kebersihan diri dan
lingkungan mereka mengagap biasah dan tidak terbebani atau terjadi sesuatu yang mengacam
kesehatan mereka. Sehingga memudahkan bakteri menempel atau masuk kedalam tubuh
meraka.
Perawatan kateter adalah suatu tindakan keperawatan dalam memelihara kateter dengan
antiseptik untuk membersihkan ujung uretra dan selang kateter bagian luar serta
mempertahankan kepatenan kelancaran aliran urine pada system drainase kateter
Kualitas perawatan kateter
Kualitas perawatan kateter merupakan tingkat pemberian pelayanan keperawatan berupa
perawatan kateter sesuai standar operasional perawatan kateter dengan mengacu pada
standar pelayanan profesi keperawatan. Perawatan kateter pada pasien-pasien terpasang
kateter dower mutlak dilakukan untuk meminimalkan dampak yang tidak diinginkan berupa
terjadinya infeksi nosokomial saluran kemih.
Dari hasil penelitian terdapat 3 responden yang diberikan perawtan kateter dengan
menggunakan SOP dan 3 lainnya diberikan perawatan kateter tanpa menggunakan SOP.
Kualitas perawatan kateter yang baik yaitu yang menggunakan SOP mungkin dipengaruhi oleh
pemahaman responden tentang prosedur operasional dan prosedur pencegahan infeksi yang
baik. Sedangkan tanpa menggunakan SOP dapat menimbulkan infeksi saluran kemih. Kualitas
perawatan kateter didasarkan pada pemberian perawatan kateter yang dilakukan oleh perawat
yang meliputi standar operasional perawatan kateter dan prosedur pencegahan infeksi saluran
kemih. Untuk menilai kedua unsur tersebut, peneliti melakukan observasi keadaan pasien yang
terpasang kateter setelah dilakukan tindakan perawatan kateter. Observasi dilakukan selama
pasien mulai terpasang kateter sampai dilepas atau hari kesepuluh. Hal ini dilakukan karena
kejadian infeksi saluran terjadi setelah pasien dirawat minimal 2x24 jam.
Adanya kateter indwelling dalam traktus uninarius dapat menimbulkan infeksi. Kolonisasi
bakteri ( bakteriurea ) akan terjadi dalam waktu dua minggu pada separu dari pasien – paien
yang menggunakan kateter urin, dan dalam waktu empat sampai enam minggu sesudah
pemasangan kateter hampir semua pasien ter infeksi(Marlli, 2014).
Kejadian infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi di sepanjang saluran kemih, termasuk gijal
itu sendiri, akibat proliferasi oleh mikroorganisme. Sebagian besar infeksi saluran kemih
disebabkan oleh bakteri, tetapi virus dan jamur juga dapat mmenjadi penyebabnya. Infeksi
bakteri tersering di sebabkan oleh Escherichi Coli.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada 3 responden yang mengalami infeksi
saluran kemih dari 6 responden yang di observasi. Infeksi saluran kemih merupakan jenis
infeksi nosokomeal yang sering terjadi. Beberapa peneliti menyebutkan, infeksi saluran kemih
merupakan 40% dari seluruh infeksi nosokomeal dan di laporkan 80% infeksi saluran kemih
terjadi sesudah instrumentasi, terutama oleh kateterisasi. Dari 3 responden yang mengalami
infeksi saluran kemih, 2 diantaranya berada pada stadium lanjut awal dimana terdapat tanda
dissurasi, nikuri dan nyeri suprapubik. Sedangkan, 1 responden (33,3%) lainnya menunjukkan
stadium lanjut Infeksi saluran kemih dimana terdapat tanda demam, dissurasi, nikuri dan nyeri
supra pubik
Pengaruh kualitas perawatan kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih
Berdasarkan hasil uji statitistik diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan antara kualitas
perawatan kateter dengan kejadian Infeksi Saluran Kemih di Ruang Interna RSUD Piru
Kabupaten Seram Bagian Barat.
Infeksi saluran kemih merupakan jenis infeksi nosokomial yang sering terjadi. Beberapa
peneliti menyebutkan, infeksi saluran kemih merupakan 40% dari seluruh infeksi nosokomial
13
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
dan di laporkan 80% infeksi saluran kemih terjadi sesudah instrumentasi, terutama oleh
kateterisasi.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada kualitas perawatan kateter tanpa menggunakan
SOP menjadi tidak efektif sehingga menimbulkan infeksi saluran kemih.
Perawatan kateter adalah suatu tindakan keperawatan dalam memelihara kateter dengan
antiseptik untuk membersihkan ujung uretra dan selang kateter bagian luar serta
mempertahankan kepatenan kelancaran aliran urine pada system drainase kateter. Perawatan
kateter merupakan tindakan yang penting untuk mengontrol infeksi. Perawatan kateter yang
tidak sesuai dengan SOP dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme. Daerah yang
memiliki resiko masuknya mikrooganisme adalah daerah insersi kateter, kantung drainase,
sambungan selang, klep, dan sambungan antara selang dan kantong. Menurut asaumsi peneliti
terjadinya infeksi saluran kemih lebih banyak pada perempuan di bandingkan dengan laki - laki
karena perempuan memiliki uretra lebih pendek sehingga mikroorganisme dari kuman lebih
mudah mencapai kandung kemh yang letak nya dekat dengan aderan parienal
Prosedur pemasangan kateter perlu memperhatikan teknik aseptik dan benar sehingga tidak
menimbulkan iritasi atau trauma pada saluran kemih yang dapat menjadi sumber infeksi.
Pemberian perawatan kateter yang berkualitas tinggi atau yang menggunakan SOP akan
dapat mengurangi tingkat terjadinya infeksi saluran kemih akibat kateterisasi, sebaliknya
perawatan kateter yang tidak menggunakan SOP akan tidak memperhatikan teknik asepsis dan
anti sepsis sehingga dapat memungkinkan bakteri dan masuk dan menenyebabkan terjadinya
infeksi saluran kemih.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dikemukakan oleh Kasmad Sujianto, dengan Judul
Hubungan Antara Kualitas Perawatan Kateter Dengan Kejadian Infeksi Nosokomial Saluran
Kemih di RS Dr.Soemani Semrang, didapatkan hasil Kualitas perawatan kateter yang kurang
angka kejadian infeksinya lebih tinggi yaitu sekitar 83,3%.
Hal ini mungkin terjadi karena adanya pemindahan mikroorganisme dari tangan perawat dan
masuk ke dalam tubuh pasien. Selain itu juga faktor-faktor risiko tinggi yang mengakibatkan
kejadian infeksi saluran kemih seperti hospes yang sudah menjelang lansia (berumur 55 tahun)
sehingga sudah terjadi penurunan daya imun sehingga mudah terjadi infeksi.
Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa dari 3 responden yang kualitas perawatan kateter
efektif yaitu menggunakan SOP tidak mengalami infeksi saluran kemih. Keluhan yang
dirasakan berupa nyeri tetapi akibat iritasi pada saat pemasangan kateter.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa:
1. Ada pengaruh kualitas pperawatan kateter menggunkan SOP terhadap kejadian infeksi
saluran kemih di Ruang Interna RSUD Piru dengan nilai p = 0,000
2. 5.1.2
Ada pengruh kualitas perawatan kateter tanpa menggunakan SOP terhadap
kejadian infeksi saluran kemih di Ruang Interna RSUD Piru dengan nilai p = 0,000
Saran
1. Diharapkan RSUD Piru khusunya kepada tim pengendali infeksi RSUD Piru, untuk
menerapkan kebijakan tentang Satuan Oprasional Prosedur(SOP) perawatan kateter.
2. Hasil penelitian diharapka berguna sebagai bahan baca dan acuan belajar. Menambah
literatur bagi mahasiswa selajutnya yang akan mengembangkan penelitian serta dapat di
gunakan sebagai acuan peneliti. Serta di harap kan dapat di lakkan penelitian lebih lanjut
dengan jumlah sampel yang lebih banyak agar hasil yang di dapatkan lebih terlihat jelas.
REFERENSI
Annamma Jocab, 2014. Buku Ajara Clinical Nursing Prosedures, jilid dua.
Atmoko, 2011. Buku Acuan Pelatihan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit., Rumah Sakit Dr.
Wahidin Sudirohusodo, Makassar
Aditama, 2010. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika
14
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Costy pandjaitan. ( 2013). Infeksi saluran kemih di rumah sakit harus di antisipasi. Online:
//http://www.politik indonesia . comdiakses 10 april 2016.
Coyle, E.A., & Prince, R.A., 2008, Urinary Tract Infections and Prostatitis, In Dipiro J.T.
(Online) Http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003981.htm. Diakses 17
April
2016.
Corwin, E.J. (2009). Patofisiologi: Buku saku (Nike budhi subekti, penerjemah). Jakarta: EGC
Gibson, J. (2011). Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat. (On Line)
http://www.snihc.com/patientEducation. Diakses 17 April 2016.
Hasbullah,
T.
2012.
Pengendalian
Infeksi
di
Rumah
Sakit
.
(Online).
Http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003981.htm. Diakses 17 April 2016
Iskandar, A. (2011). Guidelines Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan
Genetalia Pria. EGC: Jakarta
Kasmad, Untung Sujianto, dan Wahyu Hidayati. 2007. Hubungan antara Kualitas Perawatan
Kateter dengan Kejadian Infeksi Nosokomial Saluran Kemih. Fakultas Kedokteran
Universitas
Diponegoro.
(Online).
Http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003981.htm. Diakses 17 mei 2016
Multaqin arif ( asuhan keperawatan gangguan perkemihan). Jakarta salemba medika 2014.
Mangkunegara P. A. A. (2013). Manajemen Sumber Daya Manusia Cetakan Kesembilan .
Bandung : Remaja Rodakarya.
Manski, D. (2011). Urinary tract infections: causes, pathogens and risk faktors. Diakses
tanggal 28 april 2016, dari http://www.urologytextbook.com/urinary-tractinfectioncauses.html.
Menkes RI ( 2013 ) no 1333/menkes /sk/x11/2013 tentang setandar rumah sakit
Marlili, 2012. Buku Panduan Praktikum Keperawatan Medikal Bedah 2: Irigasi Kateter.STIKES
‘Aisyiyah Yogyakarta:Yogyakarta.
Margareth TH , asuhan keperawatan medikal bedah/penyakit dalam/ nuha medika yogyakarta
, 2013
Murwani . (2012). Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan. Edisi 5. Alih Bahasa: Esti W
dan Devi Y. Hal 561-599. Jakarta. EGC.
Noer, M and Soemyarso, Ninik. (2006). Infeksi Saluran Kemih. Diakses 12 Maret 2016.
URL
:
http://old.pediatrik.com/isi03.php?page
=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110
Notoatmordjo, (2013) Metodologi Penelitian Kesehatan Ed, Ref – jakarta reneka cipta
Perry,
A.
G,dkk.
2005.
Buku
SAku
Keterampilan
dan
Prosedur.
(Online).Http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003981.htm. Diakses 11
Maret
2016
Putri, R.A. (2012). Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Infeksi Saluran
Kemih pada Pasien Rawat Inap Usia 20 Tahun Ke Atas dengan Kateter Menetap di
RSUD Tugurejo Semarang. Semarang : STIKES Telogorejo
Potter, (2010) standar oprasional prosedure. (Online).Http://www. Das.pso.cdu/dily aliance/pdf
diakses 13 agustus 2016
Purnomo, 2011. Epidemiology of Urinary Tract Infections: Incidence, Morbidity,and
Economic Cost. http://www.ncbi.nih.gov/pubmed/12601337. (diakses tanggal 12 juli
2016).
Rajapnia, S. 2006. Prevention of Nosocomial Urinary Tract Infections. (On Line).
Http://ahcpr.gov/clinic/ptsafety/chap15b.htm. Diakses 3 April 2016..
Ramzan, M., Bakhsh, S., Salam, A., Khan, G., & Mustafa, G.(2004). Risk faktors in urinary tract
infection. Gomal Journal of Medical Sciences, 2(2), p. 50-53. Diakses tanggal 28 april
2016, dari http://www.gjms.com.pk/ojs786/index.php/gjms/article/download/32/32
Ramanth, 2013 .Infeksi saluran kemih pada pasien dewasa dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid I, Edisi IV, Jakarta, Balai Penerbit FKUI.
Sari, Edelweisela P. 2015. Hubungan Barrier Nursing dan Kateterisasi Urine dengan Kejadian
Infeksi Nosokomial Urinary Tract Infection pada Pasien Terpasang Indwelling Kateter
Tahun 2013–2014 (Studi di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya). Skripsi. Surabaya:
Universitas Airlangga.
Semaradana, Wayan GP. 2014. Infeksi Saluran Kemih Akibat Pemasangan Kateter –
Diagnosis dan Penatalaksanaan. Fakultas Kedokteran Udayana CDK-221, vol. 41, no. 10,
hal. 11–12.
15
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Samui liman ( asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan urinari). Salemba medika
medika 2013.
Samsudin/buku ajar farmakoterapi kardiovaskular dan renal Jakarta : salemba medika 2013
Smeltzer, S. C. & Bare, B. G, 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Volume 2, edisi 8, Jakarta : EGC.
Septiari.(2013). Hubungan Antara Pemasangan Kateter Tetap Dengan Kejadian Infeksi Saluran
Kemih Pada Pasien Rawat Inap di RSUD Lapatarai Kabupaten Barru,1,1-2.
Sepalanita, W. (2012). Pengaruh Perawatan Kateter Urine Indwelling Model
American
Association Of Critical Care Nurses (AACN) TerhadapBakteriuria di RSU Raden Mattaher
Jambi. Thesis. Jakarta: FIK Universitas Indonesia
Saint, S. 2005 , No date. Prevention of Nosocomial Urinary Tract Infections. (On Line).
Http://ahcpr.gov/clinic/ptsafety/chap15b.htm. Diakses 3 April 2016..
WHO, (2013) Word aliance of patient safety and WHO guedelines on handhgiene in health
core advanced draft , asummary cleans hands, WWW.who . int/patient safety, 2016.
WHO, Media Centre. Nocommunicable diseases. Updated March 2013. Acces 18 Agustus
2016. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs355/en
Zainal, A (2013 ) waspada , rumah sakit jadi sarang infeksi nasokomial. Online
:http:/www.neraca.co.id
Zukarnain, (2006). Pola dan sensitivitas kuman di penderita infeksi saluran kemih.
Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory,12(3). p. 110-113.
Diakses tanggal 28 juli 2016, dari http://journal.unair.ac.id/filerPDF/IJCPML-12-3-02.pdf.
16
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
HUBUNGAN PERILAKU AGRESIF PASIEN DENGAN TINGKAT STRESS PERAWAT DI
RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROVINSI MALUKU TAHUN 2016
Hadija Latuconsina
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
Abujar Wakanno
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
Hasna Tunny
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
Patma Patihua
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
ABSTRAK
Fenomena gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan
setiap tahun diberbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah, salah satu
gangguan jiwa yang merupakan permasalahan kesehatan di seluruh dunia adalah skizofrenia.
Pekerjaan yang dianggap paling dapat membuat stress adalah perawat yang bekerja di ruang
rawat inap jiwa karena perawat selalu berhadapan langsung dengan karakteristik pasien yang
berpotensi membahayakan lingkungan, orang lain dan diri sendiri, hal ini merupakan tantangan
bagi seorang perawat yang bekerja di ruang rawat inap jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara perilaku agresif pasien dengan tingkat stress perawat di Rumah
Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku tahun 2016. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian
kualitatif dengan desain penelitian deskriptif korelatif assosiatif menggunakan pendekatan cross
sectional, sampel penelitian ditentukan menggunakan metode total sampling yang berjumlah 28
perawat. penelitian dilaksanakan mulai dari tanggal 18 juli -18 agustus di Rumah Sakit Khusus
Daerah Provinsi Maluku. Pengolahan data menggunakan uji Chi-Square dan tingkat
kemaknaan 0,05. Hasil dalam penelitian ini menunjukan ada hubungan antara perilaku agresif
pasien dengan tingkat stress perawat dengan nilai signifikan p Value = 0,011. Dari hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa 18 orang perawat mengalami stress ketika berhadapan
dengan pasien yang berperilaku agresif dan 10 orang perawat merasa stress ketika
berhadapan dengan pasien yang tidak berperilaku agresif.
Kata kunci:
Perilaku Agresif, Pasien Agresif, Stress Perawat.
PENDAHULUAN
Fenomena gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan
setiap tahun diberbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah. Menurut
data dari World Health Organisasi (WHO) pada tahun 2012 angka penderita gangguan jiwa
menghawatirkan secara global, sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa.
Orang yang mengalami gangguan jiwa sepertiganya tinggal di negara berkembang sebanyak 8
dari 10 penderita gangguan mental itu tidak mendapatkan perawatan. (Kemenkes RI, 2012).
Setiap tahun lebih dari satu juta orang mengalami gangguan jiwa diseluruh dunia dan 450.000
orang berperilaku agresif (WHO, 2007).
Salah satu gangguan jiwa yang merupakan permasalahan kesehatan di seluruh dunia
adalah skizofrenia. Gejala skizofrenia dapat berupa gejala positif dan gejala negatif. Gejala
positif yang sering menjadi ketakutan tersendiri bagi perawat maupun pasien lain. Beberapa
penderita skizofrenia sering melakukan tindakan agresif seperti tindakan kekerasan, bunuh diri,
atau membunuh, merusak, melibatkan gangguan berfikir, persepsi, pembicaraan, emosional,
dan gangguan perilaku. (Kaplan & Sadock, 2007)
Di Indonesia menurut data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi
gangguan mental emosional berjumlah 6% dari populasi orang dewasa. Nilai ini menurun
dibandingkan tahun 2007 sebesar 11,6%. Bila dihitung menurut jumlah populasi orang dewasa
Indonesia saat ini sebanyak lebih kurang 170.000.000 berarti terdapat 1.020.000 orang yang
mengalami gangguan mental emosional. Insiden perilaku kekerasan pada gangguan jiwa tidak
lebih dari satu persen dibandingkan populasi masyarakat umumnya. Ini berarti di Indonesia
17
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
dapat diperkirakan sekitar 2,2 juta penduduknya beresiko untuk melakukan perilaku kekerasan
(Depkes RI, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian dari Sunu Narendara Setiawan tahun 2015, tentang tingkat
stres perawat yang merawat pasien dengan perilaku agresif ada 30 perawat diantaranya 43,3%
pada kategori ringan, 30% pada kategori berat, 20% pada kategori panik, dan 6,7% mengalami
sedang.
Dampak yang dirasakan oleh perawat setelah menangani pasien dengan perilaku agresif
dapat berupa dampak negatif. Dampak tersebut juga bisa terbentuk oleh persepsi yang salah,
dampak fisik maupun dampak secara psikologis. Ketakutan yang ditimbulkan oleh perilaku
kekerasan klien akan menimbulkan sikap negatif dalam memberikan asuhan keperawatan
selanjutnya, dan dampak psikologis baik pada diri perawat maupun klien lainnya (As'ad &
Soetjipto, 2010)
Tantangan terbesar perawat psikiatri dalam penangganan agresifitas pasien dan kondisi ini
dapat menyebabkan terjadinya stres pada perawat sendiri apa bila pemahaman dan koping
individu perawat tidak bagus. Stres dapat memberi stimulus terhadap perubahan dan
pertumbuhan, yang dikatakan sebagai stres yang positif, namun terlalu banyak stres dapat
mengakibatkan penyesuaian yang buruk, penyakit fisik dan ketidakmampuan mengatasi
masalah (Hawari, 2010).
Tabel 1. Prevalensi Gangguan Jiwa di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku Pada
Tahun 2013 s/d 2016 april
Diagnosa
Halusinasi
ISOS
HDR
PK
DPD
2013
292
1
2
56
30
Tahun
2014
186
3
2
30
25
2015
294
3
3
47
15
2016
76
6
31
Dari gambaran data di atas terlihat bahwa jumlah perilaku agresif di Rumah Sakit Khusus
Daerah Provinsi Maluku dari tahun 2013 ke tahun 2016 mengalami peningkatan dan penurunan
yang tidak stabil.
METODE
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelatif assosiatif
yaitu mencari hubungan dari dua variable yang di hubungkan (Sugiono, 2010). Dengan
pendekatan cross sectional metode survey. Populasi dalam penelitian ini seluruh perawat pria
dan wanita di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku di ruang rawat inap jiwa (Ruang
Akut, Sub Akut Laki, Sub Akut Wanita dan Psikosomatik) berjumlah 31 orang perawat. Sampel
dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu keseluruhan dijadikan sampel, dengan jumlah
sampelnya 28 perawat, karena ada 2 perawat tidak masuk kerja dan 1 perawat sedang cuti
dengan kriteria :
Kriteria Inklusi
a. Perawat di Rumah Sakit Khusus Daerah Ambon
b. Bersedia menjadi responden
c. Bertugas di ruang perawatan jiwa
Kriteria Ekslusi
a. Tidak masuk kerja
b. Sedang cuti, sakit dalam waktu yang lama.
Tempat penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku.
Penelitian ini dilaksanakan pada 18 Juli-18 Agustus tahun 2016. Pada penelitian ini proses
pengumpulan data menggunakan kuesioner dimana terdiri dari 3 kuesioner meliputi kuesioner
a. Karakteristik Responden, kuesioner b. Mengukur tingkat stres perawat dan kuesioner c.
Perilaku agresif.
18
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Setelah pengambilan data dilakukan dan data diperoleh, maka selanjutnya dilakukan
pengolahan data yang meliputi beberapa bagian yaitu: Editing, Coding, Cleaning, dan
Describing. Setelah data diolah, selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan
analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistik Chi-Square dengan kemaknaan
(𝑎 = 0,05).
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Di Rumah Sakit Khusus Daerah
Provinsi Maluku Tahun 2016
No
1
2
3
4
Umur
21-30
31-40
41-50
51-60
Total
(n)
18
5
4
1
28
%
64.3
17.8
14.3
3.6
100%
Berdasarkan tabel 1 didapatkan kategori umur dengan jumlah responden terbanyak dengan
usia 21-30 tahun sebanyak 18 responden (64,3%) dan jumlah responden terendah dengan usia
51-60 tahun hanya 1 orang (3,6%).
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Rumah Sakit
Khusus Daerah Provinsi Maluku Tahun 2016
No
1
2
3
Pendidikan
SPK
D3
S1
Total
(n)
1
22
5
28
%
3.6
78.6
17.8
100
Berdasarkan tabel 2 diperoleh data berdasarkan tingkat pendidikan yang mempunyai jumlah
responden terbanyak dengan tingkat pendidikan D3 sebanyak 22 responden (78,6%) dan
jumlah responden terendah dengan tingkat pendidikan SPK hanya 1 responden (3,6%).
Tabel 3. Skor Perilaku Agresif Pasien Di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku Tahun
2016
Perilaku Pasien
Tidak Agresif
Agresif
Total
(n)
2
9
11
%
18.2
81.8
100
Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa skor perilaku pasien agresif sebanyak 9 responden
(81,8%) dan tidak berperilaku agresif sebanyak 2 responden (18,2%).
Tabel 4. Skor Stress Perawat Di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku Tahun 2016
Stress Perawat
Normal
Stress Ringan
Stress Sedang
Stress Berat
Total
19
(n)
1
6
19
2
28
%
3.6
21.4
67.9
7.1
100
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Berdasarkan tabel 4 menunjukan skor stress perawat yang mempunyai jumlah responden
terbanyak dengan tingkat stress sedang sebanyak 19 responden (67,9%), dan jumlah
responden terendah dengan tingkat stress ringan sebanyak 6 responden (21,4%).
Tabel 5. Distribusi Perilaku Agresif Pasien Dengan Tingkat Stress Perawat Di Rumah Sakit
Khusus Daerah Provinsi Maluku Tahun 2016
Per. Pasien
Agresif
Tidak agresif
Jumlah
Normal
N
%
0
0.0
1
10
1
3.6
Stres Perawat
S. Ringan
S. Sedang
N
%
N
%
2
11.1
16
88.9
4
40
3
30
6
21.4
19
67.9
Total
S. Berat
N
%
0
0.0
2
20
2
7.1
N
18
10
28
%
100
100
100
P (Value)
0.011
Hasil analisis hubungan antara perilaku agresif pasien dengan tingkat stres perawat
diperoleh bahwa ada sebanyak 18 pasien (64%) yang berperilaku agresif dengan 2 perawat
(11,1%) mengalami stress ringan dan perawat yang mengalami stress sedang sebanyak 16
perawat (88,9%) Sedangkan ada sebanyak 10 pasien (36%) yang berperilaku tidak agresif
dengan 1 perawat (3,6%) mengalami stress normal, 4 perawat (40%) mengalami stress ringan,
3 perawat (30%) mengalami stress sedang dan yang mengalami stress berat sebanyak 2
perawat (20%).
Hasil uji statistik menunjukan bahwa nilai p pearson chi-square = 0,011 (<0,05) maka H0 di
tolak artinya ada hubungan antara perilaku agresif pasien dengan tingkat stress perawat di
Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku.
PEMBAHASAN
Perilaku Agresif Pasien
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui pasien yang berperilaku agresif sebanyak 9
responden (82%) dan yang tidak berperilaku agresif sebanyak 2 responden (18%). Penelitian
ini sesuai dengan penelitian yang dilakukuan oleh Elita tahun 2011 bahwa angka kejadian
perilaku kekerasan disimpulkan berdasarkan skala likert dan kejadian yang dialami perawat.
Kekerasan fisik yang dilakukan pasien pada diri sendiri (84%) merupakan bentuk perilaku
kekerasan yang paling sering terjadi di ruang rawat inap jiwa RSJ Tampan. Kemudian diikuti
dengan kekerasan berupa ancaman fisik kepada perawat (79%), penghinaan kepada perawat
(77%) dan kekerasan verbal (70%).
Penelitian yang dilakukan oleh The National Aliance For the Mentaly III tahun 2009
Menyatakan Bahwa 10,6% pasien dengan gangguan mental serius seperti skizoprenia paranoid
melukai orang lain dan 12,2% mengancam mencederai orang lain. Penelitian tersebut ditunjang
oleh Davies tahun 2009 yang mengungkapakan bahwa pasien dengan kondisi kedaruratan
psikiatri dapat melakukan perbuatan yang beresiko membahayakan diri, berkeinginan bunuh
diri atau penelantaran diri sendiri hingga keadaan yang menimbulkan resiko pada orang lain.
Beberapa pasien bahkan dapat bertindak agresif, mengancam atau bertindak kejam, serta
melakukan perilaku yang dapat menimbulkan cedera fisik atau psikologis pada orang lain atau
menimbulkan kerusakan harta benda. Situasi ini dapat menyebabkan stressor bagi perawat.
Hal ini terjadi karena faktor keadaan lingkungan, dimana psikiatri intensive care unit
ditempati oleh pasien dengan karakteristik pasien psikiatri akut. Dimana kondisi pasien yang
sering melakukan perselisihan dengan melakukan protes terhadap staf perawat dengan tujuan
menolak tindakan perawatan maupun pengobatan yang akan dilakukan (protest and refusal of
treatmen). Karena pasien tidak mengetahui atau menyadari alasan dirinya dibawa ke ruang
rawat. Pada beberapa keadaan, pasien dengan perilaku kekerasan tidak dapat diajak
berkomunikasi, pasien kadang-kadang berteriak mengancam, dan mengejek atau menghina
menggunakan kata kasar kepada perawat dan pasien lainnya (NAMI, 2015).
Menurut teori Keliat (2010), perilaku kekerasan/amuk dapat disebabkan karena frustasi,
takut, manipulasi dan intimidasi. Perilaku kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman,
kebutuhan akan perhatian dan ketergantungan pada orang lain.
20
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti berasumsi bahwa Tingginya angka perilaku
agresif pasien dianggap sebagai penyebab tingginya tingkat stress perawat. Perilaku agresif ini
dapat terjadi Karena pasien agresif tidak mengetahui atau menyadari alasan dirinya dibawah ke
Rumah Sakit sehingga ia sering menolak tindakan perawatan maupun pengobatan yang akan
dilakukan.
Stress Perawat
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa 28 perawat yang bertugas di Ruang Rawat Inap
Jiwa RSKD Provinsi Maluku didapatkan hasil distribusi stress perawat terbanyak adalah yang
memiliki stress sedang dengan perilaku pasien agresif sebanyak 16 responden (57,1%) dan
tidak agresif sebanyak 3 responden (10,7%), responden yang memiliki stress ringan dengan
perilaku pasien agresif sebanyak 2 responden (7,1%) dan tidak agresif sebanyak 4 responden
(14,2%), responden yang mengalami stress berat dengan perilaku pasien agresif 0 dan tidak
agresif sebanyak 2 orang (7,1%) dan responden yang mengalami stress normal dengan
perilaku pasien agresif 0 dan yang tidak agresif hanya 1 responden (3,6%)
Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Aiska tahun 2014 di Rumah Sakit Jiwa Grhasia
Yogyakarta didapatkan perawat yang mengalami stress sedang sebanyak 63 orang (60,0%),
stress ringan sebanyak 28 orang (26,7%), stress berat sebanyak 11 orang (10,5%) dan stress
berbahaya sebanyak 3 orang (2,8%). Penelitian tersebut ditunjang Christina tahun 2008 tentang
stress kerja pada perawat psikiatri menemukan bahwa perilaku kekerasan, dan observasi
pasien dengan potensial suicide merupakan penyebab stress yang paling sering pada perawat
psikiatri selain itu, kurangnya suport dari manajemen juga merupakan sumber stress bagi
perawat psikiatri. Manajemen yang kurang mengerti terhadap kebutuhan perawat dalam
menyediakan lingkungan yang aman, membuat perawat tidak mampu melakukan observasi
pasien dalam level yang aman sehingga memungkinkan perawat dalam mengalami perilaku
kekerasan dari pasien yang berpotensi menyebabkan stress.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan The National Institute Occupational
Safety and Health (ANAOH) menempatkan kejadian stress kerja pada perawat berada diurutan
paling atas hal ini disebabkan oleh karakteristik pasien yang negative, tugas-tugas perawat,
pengorganisasian administrasi, keterbatasan sumber daya, penampilan staf, konflik staf dan
masalah penjadwalan.
Menurut Yosep (2010), stress sebagai keadaan atau kondisi yang tercipta bila transaksi
seseorang yang mengalami stress dalam hal yang dianggap mendatangkan stress membuat
orang yang bersangkutan melihat ketidaksepandanan antara keadaan atau kondisi dan system
sumber daya biologis, psikologis, dan sosial yang ada padanya.
Hawari (2010), mengklasifikasikan sumber stress secara umum yaitu stressor internal dan
eksternal, stressor internal berasal dari dalam diri seseorang (misalnya demam, kondisi
kehamilan, menopouse atau suatu keadaan emosi), sedangkan stressor eksternal yang berasal
dari luar diri seseorang (misalnya lingkungan kerja, pekerjaan, perubahan dalam peran
keluarga atau sosial, serta tekanan dari pasangan). Sedangkan menurut Yada Katoh tahun
2011 menyebutkan bahwa stress perawat jiwa disebabkan oleh 4 faktor yaitu : kemampuan
interpersonal perawat, sikap pasien, sikap atasan, kolaborasi atau komunikasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 5 orang perawat yang dilakukan oleh peneliti pada
tanggal 18 Agustus 2016 di Ruang Akut, perawat mengatakan ada beberapa faktor yang
menyebabkan stress pada perawat jiwa diantaranya perawat sering merasa stress ketika
jumlah pasien yanng sangat banyak sedangkan perawat jaga pada masing-masing sift sekitar
2-3 orang perawat, tunjangan yang diterima oleh perawat berbeda sementara beban kerja
sama antara honorer dan PNS dan ada pula perawat yang mengatakan sering merasa stress
jika perawat memiliki masalah pribadi.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti berasumsi bahwa nurut asumsi peneliti stress
perawat terbanyak pada kategori stress sedang, dimana Stress sedang pada perawat jiwa
disebabkan oleh perilaku agresif pasien dan ada pula faktor lain yang dapat menyebabkan
stress pada perawat jiwa diantaranya jumlah pasien yang sangat banyak, tunjangan yang
diterima antara pegawai honorer dan PNS berbeda dan masalah pribadi yang dialami oleh
perawat sendiri.
21
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Stress pada perawat jiwa tidak sampai ke tingkat stress berat ketika menangani pasien yang
berperilaku agresif, karena perawat jiwa sudah terbiasa dengan sikap pasien yang berperilaku
agresif.
Hubungan Perilaku Agresif Pasien Dengan Tingkat Stress Perawat
Hubungan perilaku agresif pasien dengan tingkat stress perawat di peroleh nilai p = 0,011
yang menunjukan p < α atau 0,011 < 0,05 artinya ada hubungan bermakna antara perilaku
agresif pasien dengan tingkat stress perawat di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Setiawan tahun 2015 yang
menggunakan uji Spearman Rank menunjukan adanya korelasi positif namun sangat lemah
antara perilaku agresif pasien dengan stress perawat di psikiatri Intensive Care Unit dengan
nilai r 0,189 dan p Value 0,01 pada taraf signifikansi (α) sebesar 0,05.
Penelitian tersebut ditunjang Aji tahun 2014 yang mengemukakan bahwa seluruh subyek
yang merupakan perawat mengalami stress ketika harus berhadapan dengan perilaku agresi
dari pasien gangguan mental. Stress yang dialami perawat berdampak secara biologis dimana
subyek mengalami kecemasan dan berdampak pula secara psikososial yang secara spesifik
berpengaruh terhadap emosi dan kognisi perawat itu sendiri, pada subyek penelitian diketahui
bahwa emosi dan kognisi perawat menjadi terganggu ketika mengalami stress misalnya ketika
subyek merasa respon dalam menghadapi pasien menjadi berkurang karena kurangnya
sensitifias terhadap orang lain. Walaupun mengalami stress tidak satupun dari ketiga subyek
yang melakukan pengabaian atau menghindar dari situasi tersebut.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Koeswara tahun 2010 pasien
dengan kondisi kedaruratan psikiatri dapat melakukan perilaku yang beresiko membahayakan
diri, berkeinginan bunuh diri atau penelantaran diri sendiri hingga keadaan yang menimbulkan
resiko pada orang lain. Beberapa pasien bahkan dapat bertindak agresif, mengancam atau
bertindak kejam, serta melakukan perilaku yang dapat menimbulkan cedera fisik dan psikologis
pada orang lain atau menimbulkan kerusakan harta benda. Situasi ini merupakan stressor bagi
perawat.
Tingkat stress adalah angka dan intensitas kejadian yang dirasakan oleh seseorang akibat
ketegangan. Tingkat stress bervariasi antar individu tergantung dari sumber stress, dan
persepsi individu mengenai stress. Stress berat yang dialami seseorang mungkin merupakan
stress ringan pada orang lain , meskipun mungkin dengan sumber stress yang serupa (Hawari,
2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Ratnaningrum tahun 2012 di ruang Psikiatri Intensif RS Dr. H.
Marzoeki Bogor Perawat mengalami stress sedang berkaitan dengan aktivitasnya dalam
merawat pasien dengan perilaku kekerasan, terutama ketika mengalami perilaku kekerasan
secara fisik dari pasien dan kesulitan melakukan komunikasi dengan pasien.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti berasumsi bahwa perawat yang bekerja di
Rumah Sakit berpotensi untuk mengalami stress dalam melakukan asuhan keperawatan,
melayani pasien dan yang memyebabkan stress perawat lebih tinggi yaitu dengan menangani
pasien yang berperilaku agresif. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya perilaku
agresif antara lain : pasien menolak untuk dirawat, melarikan diri dari perawatan, dapat
berontak ketika dirawat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang telah didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
antara perilaku agresif pasien dengan tingkat stress perawat di Rumah Sakit Khusus Daerah
Provinsi Maluku Tahun 2016.
Saran
1. Bagi Rumah Sakit, diselengarakan pelatihan-pelatihan untuk perawat mengenai strategi
menghadapi pasien dengan perilaku kekerasan guna untuk menekan angka kejadian
terjadinya perilaku kekerasan di Ruang Rawat Inap Jiwa.
22
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
2. Bagi Institusi Pendidikan, sebagai bahan referensi pada mata kuliah Sistem Neuropsikiatrik
sehingga dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi lahan praktikum dan dapat
dijadikan acuan untuk mempersiapakan para peserta didik yang akan turun ke lahan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya, agar melakukan penelitian berkelanjutan untuk mengetahui
faktor-faktor yang menyebabkan perilaku agresif pasien dengan stress perawat.
REFERENSI
Asaad & Soejipto (2010) . Agresif pasien dan strategi coping perawat. Jurnal psikologi
indonesia.
Aisaka, Selviani (2014). Analisis faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat stress kerja
perawat di Rumah Sakit Jiwa Grhasia.
Aji, Aditya (2014) coping stress perawat dalam menghadapi agresi pasien di Rumah Sakit Jiwa
Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
Antasari (2006). Menyikapi perilaku agresif anak Yogyakarta: kanisius.
Badan Penelitian dan Pengembangan (2013). Riset kesehatan dasar. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Depkes RI (2013). Defenisi Perawat Profesional. Skripsi Universitas Sumatera Utara.
Depression Anxiety Stres Scales (DASS), 2010. DASS FAQ (Frequently Asked Questions).
Available online at:
http://www2.psy.unsw.edu.au/groups/dass/DASSFAQ.htm#_14.What_does_the_stresscale_me
a [diakses 28 Mei 2016].
Dr. Fattah, Hanurawan (2010). Psikologi Sosial, Bandung PT. Remaja Rosdiakarya.
Dr. Sylvia, Rim (2003). Mendidik dan menerangkan disiplin pada anak pra sekolah. Jakarta PT.
Gramedia.
Elitta, Veny (2011) persepsi perawat tentang perilaku kekerasan yang dilakukan pasien di ruang
rawat inap jiwa.
Hawari, D (2010). Manajemen Stres Cemas Dan Depresi Jakarta: FKUI.
Idwar (2009). Perilaku Masyarakat Dalam Penanganan Gangguan Jiwa di Kota Langsa Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam.
Kaplan, H.I Sadock (2007) Synopsis of Psychiatric: Behavioral Science Clinical. USA P
hiladelphia.
Keliat, Budi (2010). Penatalaksanaan Stres. Jakarta : EGC.
Koeswara (2008). Teori-Teori Kepribadian. Jakarta : UM
Konstantinos, N. Cristina (2008). Faktor Influencing Stress and Job Satisfaction of Nurses
Working in Psyciatric Units; A Research Review. Health Suerch Journal Volume 2,
Issue4.www.hsggr.
NAMI (2015). Model Nurses Job Stres. SA: Nami-Journal.
Nita, Fitria (2012). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan LP & SP Tindakan Keperawatan untuk
Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S-1 Keperawatan/Nita Fitria-Jakarta
Medika, 2014- Cetakan ke Lima.
Notoadmojo, S. (2014). Metodelogi Penelitian Kesehatan (Revisi ed.). Jakarta PT. Rineka
Cipta.
Nursalam (2010). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Potter, Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Nursing. Jakarta : EGC.
Robert a. Barnea dan Down Byrnea (2005). Psikologi Sosial Jilid 2: Jakarta Elangga.
Sudarma. (2008). Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta EGC.
Sugiono (2010). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
Stuart,G.W. Laraia (2007). Principles and Practice of Psyciatric Nursing. Edisi 8 Missouri:
MosbY.
Yosep (2010). Keperawatan Jiwa. Revisi ke 3 Bandung: PT Reflika Aditama.
23
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
PRESTASI BELAJAR SISWA BERDASARKAN POLA ASUH YANG DITERAPKAN OLEH
ORANG TUA SISWA SEKOLAH DASAR INPRES 1 DESA LUHU KECAMATAN HUAMUAL
KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Frengky Aipasa
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
Endah Fitriasari
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
La Rakhmat Wabula
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Husada)
ABSTRAK
Siswa yang tak berprestasi siswa tidak peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan
pelajaran di sekolah, siswa selalu acuh tak acuh dengan tugas atau PR yang di
berikan oleh bapak dan ibu guru, dan sebagai orang tua tidak pernah memperhatikan
dan memberikan motifasi terhadap anak, orang tua selalu membiarkan anak bermain
dan menontong TV di saat jam belajar, anak tidak pernah di kontrol oleh orang tua.
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh orang tua dan siswa kelas 3 SD Inpres 1
Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat, berjumlah 27 orang.
Penelitian ini bertujuan menggambarkan pola asuh orang tua siswa. Subyek penelitian yaitu
seluruh orang tua dan siswa yang berada di kelas 3 Sekolah Dasar (SD) Inpres 1 Desa
Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat. Data diperoleh secara
langsung dari responden melalui kuesioner yang di isi oleh responden sambil melakukan
observasi prestasi belajar anak. Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif berupa
distribusi frekuensi. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1) berdasarkan pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua siswa sekolah Dasar Inpres 1
Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat pada anak di rumah
sebanyak 9 responden, 2) berdasarkan pola asuh Demokratis yang diterapkan oleh orang tua
siswa sekolah Dasar Inpres 1 Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat
pada anak di rumah sebanyak 11 responden, 3) berdasarkan pola asuh Permisif yang
diterapkan oleh orang tua siswa sekolah Dasar Inpres 1 Desa Luhu Kecamatan Huamual
Kabupaten Seram Bagian Barat pada anak di rumah sebanyak 5 responden, 4) berdasarkan
pola asuh Penelantar yang diterapkan oleh orang tua siswa sekolah Dasar Inpres 1 Desa Luhu
Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat pada anak di rumah sebanyak 2
responden.
Kata kunci: Pola asuh Orang Tua, prestasi belajar siswa
PENDAHULUAN
Orang tua merupakan figur untuk berinteraksi yang paling awal dan paling kuat
dalam pembentukan kerangka dasar konsep diri. Saat masa anak-anak, orang-orang
yang memiliki pengaruh besar dalam perkembagan konsep diri individual adalah orang
yang paling dekat dengan diri individual yang disebut significan others, yaitu orang tua
(Ghufron, 2010).
Pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak, yaitu bagaimana
cara sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak, termasuk cara
penerapan aturan, mengajarkan nilai / norma, memberikan perhatian dan kasih sayang
serta menunjukan sikap dan perilaku baik, sehingga dijadikan panutan bagi anaknya
(Theresia, 2009).
Anak adalah sang peniru semua aktifitas orang tua selalu di pantau dan di jadikan
model yang ingin di capainya, semua perilaku orang tua termasuk kebiasaan buruk
yang di lakukan akan mudah di tiru oleh anak (Wibowo, 2012).
Hasil penelitian dilakukan oleh IEA, Asosiasi Internasional yang secara berkala
meriset pencapaian bidang pendidikan masyarakat dunia, tentang kemampuan membaca
siswa Sekolah Dasar di sejumlah Negara, termasuk Indonesia, menunjukan bahwa
24
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
kemampuan siswa SD di Indonesia sangat rendah di bawah rata-rata. Dari 33 negara
yang diteliti, siswa SD di Indonesia berada di urutan ke 32 (Eriyanti, 2010).
Kualitas pendidikan di Maluku saat ini masih rendah dan bisa dibilang memprihatinkan.
Banyak siswa yang tidak mendapatkan pasokan buku yang memadai. Dan yang fatalnya
lagi adalah mahalnya biaya sekolah. Kondisi inilah yang menghambat Maluku untuk bisa
bangkit mengatasi masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia. Minimnya kualitas
dan fasilitas pendidikan tentunya berdampak secara signifikan terhadap prestasi belajar
pada siswa. Selain itu kualitas lulusan di Maluku menurun dari tahun ketahun, pada
tahun 2009 presentase kelulusan 98%, pada tahun 2010 presentase 97% dan pada
tahun 2011 presentase kelulusan 96,5% (Dinas pendidikan Maluku 2014).
Dari hasil pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti bahwa di Sekolah SD Inpres
1 Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat. Merupakan salah satu
Sekolah Dasar yang dimana terdapat sekelompok siswa kelas 3 yang berjumah 27
siswa. 13 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan.
Siswa kelas 3 merupakan siswa yang memiliki prestasi belajar yang bervariasi setiap
semester. Dari 27 siswa yang memiliki prestasi yang baik hanya 5 orang dengan
katagori nilai rata-rata 9,44-8,67. Dan siswa yang memiliki prestasi belajar menurun 7
orang dengan katagori nilai rata-rata 7,00-7,22 sedangkan siswa dikatagori dengan
prestasi belajar yang tetap 15 orang dengan nilai rata-rata 6,00-6,56.
Pada siswa dengan prestasi belajarnya menurun diakibatkan oleh beberapa . faktor di
antara nya, faktor sikap dan faktor malas. Faktor sikap negatif siswa terhadap guru dan
mata pelajaran yang diberikan dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa, sedangkan
faktor malas siswa menganggap belajar disekolah hanyalah suatu kewajiban tanpa
dibarengi niat dan minat untuk mengulagi pelajaran dirumah. Tugas maupun PR yang
diberikan oleh bapak dan ibu guru di sekolah sering di abaikan jika orang tua tidak
menyuruhnya untuk mengerjakannya. Dan sebagai orang tua tidak perlu memarahi anak
karena nilainya menurun. sebaiknya sebagai orang tua kita juga mengintropeksi diri,
mungkin ada kesalahan pada diri kita sebagai orang tua, dalam pengawasan belajar
malahan kurang mengawasinya dengan tidak mengotrol kekurangan-kekurangan yang
ada pada diri anak (Baumrid, 2010).
Sedangkan pada siswa yang prestasin belajarnya tetap dikarenakan siswa tidak
peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah, siswa selalu acuh
tak acuh dengan tugas atau PR yang di berikan oleh bapak dan ibu guru, dan sebagai
orang tua tidak pernah memperhatikan dan memberikan motifasi terhadap anak, orang
tua selalu membiarkan anak bermain dan menontong TV di saat jam belajar. Anak tidak
pernah di kontrol oleh orang tua (Jhon W, 2011).
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif untuk menjelaskan prestasi
belajar anak dari berbagai pola asuh orang tua pada anak kelas 3 di Sekolah Dasar
(SD) Inpres 1 Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat. Populasi
pada penelitian ini adalah seluruh orang tua dan siswa kelas 3 SD Inpres 1 Desa Luhu
Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat, berjumlah 27 orang.
Sampel pada penelitian ini yaitu seluruh orang tua dan siswa yang berada di kelas
3 Sekolah Dasar (SD) Inpres 1 Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram
Bagian Barat. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan
mengunakan data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden
melalui kuesioner yang di isi oleh responden sambil melakukan observasi prestasi belajar
anak. Kuesioner terdiri dari 24 pertayaan, di dalam 24 pertayaan sudah di pilah-pilahkan
antara pola asuh otoriter, demokrasi, permisif dan pola asuh penelantar, setiap pertayaan
terdiri dari dua jawaban Ya dan Tidak, jika responden menjawab Ya maka mendapatkan Nilai
1. Dan jika Responden menjawab Tidak, maka mendapatkan Nilai 0. Untuk mengetahui
prestasi belajar siswa. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
data primer dan data sekunder :
HASIL PENELITIAN
25
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Tabel 1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur Orang Tua Di Desa Luhu Kecamatan
Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
Umur
26-30
31-40
>40
Jumlah
n
8
13
6
27
%
29,6
48,2
22,2
100
Berdasarkan tabel 1 diatas menjelaskan bahwa dari 27 responden mempunyai umur
berbeda-beda, yang terbanyak yaitu pada umur 31-40 tahun sebanyak 13 (48,2%) responden,
dan paling sedikit yaitu pada umur >40 tahun sebanyak 6 (22,2%) responden. Responden yang
paling muda berumur 26-30 tahun sebanyak 8 (29,6%) responden.
Tabel 2 Distribusi frekuensi Berdasarkan Pendidikan Orang Tua Di Desa Luhu Kecamatan
Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
Pendidikan
Tidak Tamat SD
SD
SMP
SMA
D3
n
2
12
6
6
1
%
7,5
44,4
22,2
22,2
3,7
Jumlah
27
100
Berdasarkan tabel 2 diatas menjelaskan bahwa dari 27 responden memiliki pendidikan yang
berbeda-beda dan yang paling banyak yaitu SD sebanyak 12 (44,4%) responden dan paling
sedikit yaitu D3 sebanyak 1 (3,7%).
Tabel 3. Distribusi frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Di Desa Luhu Kecamatan
Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
Pekerjaan
Tani
Wiraswasta
PNS
Jumlah
Jumlah
21
3
3
27
Persentase
77,8
11,1
11,1
100
Berdasarkan tabel 3 diatas menjelaskan bahwa responden yang memiliki pekerjaan yang
paling banyak yaitu tani sebanyak 21 (77,8%) responden dan paling sedikit yaitu PNS
sebanyak 3 (11,1%) responden.
Tabel 4 Karakteristik berdasarkan prestasi belajar siswa kelas 3 SD Inpres 1 Desa luhu
Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
Prestasi belajar siswa
Sangat Baik
Baik
Cukup
jumlah
n
5
7
15
27
%
18,5
25,9
55,6
100
Berdasarkan Hasil penelitian sesuai Tabel 4 menunjukan bahwa dari 27 responden, lebih
banyak responden yang mempunyai prestasi belajar dengan katagori Nilai Cukup sebanyak 15
(55,6%) Responden, sedangkan katagori Baik sebanyak 7 (25,9%) Responden dan katagori
Sangat Baik sebanyak 5 (18,5%) responden.
Tabel 6 Distribusi Frekuensi responden berdasarkan Pola Asuh Otoriter Di Desa Luhu
Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
26
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Pola Asuh Otoriter
Otoriter
Tidak Otoriter
Jumlah
n
9
18
27
%
33,3
66,7
100
Dari hasil penelitian pada tabel 6 menunjukkan bahwa dari 27 responden, lebih banyak
responden memiliki pola asuh tidak otoriter yaitu sebanyak 18 (66,7%) responden dan yang
otoriter sebanyak 9 (33,3%) responden.
Tabel 7 Distribusi Frekuensi responden berdasarkan pola Asuh Demokratis Di Desa luhu
Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat tahun 2016
Pola Asuh Demokrasi
Demokratis
Tidak demokratis
Jumlah
n
11
16
27
%
40,7
59,3
100
Hasil penelitian sesuai tabel 7 menunjukkan bahwa dari 27 responden, yang memiliki pola
asuh demokratis yaitu sebanyak 11 (40,7%) Responden, dan yang tidak demokratis yaitu
sebanyak 16 (59,3%) Responden.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi responden berdasarkan Pola Asuh Permisif Di Desa luhu
Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016
Pola Asuh Permisi
Permisif
Tidak Permisif
Jumlah
n
5
22
27
%
18,5
81,5
100
Hasil penelitian sesuai tabel 8 menunjukkan bahwa dari 27 responden, yang memiliki pola
asuh permisif yaitu sebanyak 5 (18,5%) Responden dan yang memiliki pola asuh tidak permisif
sebanyak 22 (81,5%) Responden.
Tabel 9. Distribusi Frekuensi responden berdasarkan Pola Asuh Penelantar Di Desa luhu
kecamatan huamual Kabupaten seram bagian barat Tahun 2016
Pola Asuh Penelantar
Penelantar
Tidak Penelantar
Jumlah
n
2
25
27
%
7,4
92,6
100
Hasil penelitian sesuai tabel 9 menunjukkan bahwa dari 27 responden, orang tua yang
memiliki pola asuh penelantar sebanyak 2 (7,4%) responden dibandingkan dengan yang tidak
memiliki pola asuh penelantar sebanyak 25 (92,6%) responden
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar responden berdasarkan Pola Asuh Di Desa luhu
kecamatan huamual Kabupaten seram bagian barat Tahun 2016
Sangat baik
n
%
Pola Asuh
Otoriter
Demokratis
Permisif
Penelantar
1
3
1
0
11,11
27,27
20,00
0
Prestasi Belajar
Baik
cukup
n
%
n
%
3
3
1
0
33,33
27,27
20,00
0
5
5
3
2
55,56
45,56
60,00
100,00
n
9
11
5
2
Total
%
100
100
100
100
Berdasarkan tabel 9 di ketahui bahwa dari 4 pola asuh yang di teliti, ada 11 orang tua yang
menerapkan pola asuh demokratis dengan prestasi belajar siswa katagori sangat baik 27,27%,
27
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Baik 23,27% dan cukup 45,56%. Sedangkan pada pola asuh penelantar hanya memiliki
katagori prestasi Cukup sebanyak 2 respenden
PEMBAHASAN
Gambaran Pola Asuh Otoriter Dengan Preastasi belajar siswa kelas 3 Sekolah Dasar
Inpres 1 Desa Luhu.
Dari hasil penelitian diketahui masih ada 9 orang tua dengan pola asuh otoriter, diantara ke
9 orang tua yang masih menerapkan pola asuh otoriter ada 11,11% anak yang memiliki
prestasi belajar dengan katagori sangat baik, 33,33% anak dengan Prestasi belajar katagori
Baik, dan 56,56% anak dengan prestasi belajar katagori nilai Cukup. Hal ini disebabkan
karena beberapa hal yaitu kemampuan pengawasan dan memberi perhatian kepada anak
sehingga anak cenderung mengatur waktu belajar dengan baik. Erma Lestari, (2013),
Menjelaskan bahwa pola asuh otoriter menitik beratkan pada kedisplinan. Orang tua adalah
seseorang yang dipercaya , dipatuhi, dan mengatur peraturan dalam keluarga. Orang tua
melakukan pengawasan terhadap anak dengan ketatdan bersifat membatasi. Apabila anak
melanggar peraturan atau melakukan kesalahan akan mendapat hukuman. Dampak pola asuh
otoriter jika diterapkan secara berlebihan akan membuat anak memiliki sikap acuh, pasif, terlalu
patuh, kurang inisiatif dan kurang kreatif.
Menurut Aisyah (2010), pola asuh otoriter ini dapat mengakibatkan anak menjadi panakut,
pencemas, menarik diri dari pergaulan, kurang adaptif, mudah curiga pada orang lain dan
mudah stress. Selain itu, orang tua seperti ini jiga akan membuat anak tidak percaya diri,
pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang , suka melanggar normal, kepribadian
lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosialnya, bersikap menunggu dan tak dapat
merencanakan sesuatu dengan baik.
Gambaran Pola Asuh Demokratis Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar
Inpres 1 Desa Luhu.
Dari hasil penelitian terdapat 11 anak dengan pola asuh demokratis, di antara 11 orang tua
yang menerapkan pola asuh demokratis ada 3 anak yang memiliki prestasi belajar dengan
katagori sangat baik, 3 anak memiliki prestasi belajar dengan katagori baik dan 5 anak dengan
prestasi belajar katagori nilai cukup. Dari hasil penelitian diketahui prestasi belajar siswa
semakin baik dengan pola asuh demokratis sehingga anak dapat melakukan hal-hal yang dia
inginkan ada pengawasan dari orang tua.
Menurut Jhon W, (2011), pola asuh demokratis mendorong anak untuk mandiri akan tetapi
orang tua menetapkan batas-batas dan kontrol terhadap tindakan yang dilakukan anak. Orang
tua juga mengedepankan musyawarah serta memperlihatkan kehagatan dan kasih sayang
kepada anak. Dan pola asuh demokratis adalah hak hak dan kewajiban antara anak dan orang
tua seimbang, orang tua dan anak saling melengkapi, orang tua melatih anak untuk
bertanggung jawab dan menentukan tingkah lakunya sendiri menuju kedewasaan.
Menurut Yusnia (2013), pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan
kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola
asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran.
Orang tua tipe ini juga bersikap realistik terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang
berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memeberikan kebebasan
kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatanya kepada anakanak bersifat hangat.
Gambaran Pola Asuh Permisif Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar
Inpres 1 Desa Luhu
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.11 terdapat 5 orang tua dengan pola asuh
permisif. Di antara 5 orang siswa dengan pola asuh permisif ada 20,00% siswa dengan
prestasi belajar katagori sangat baik, 20,00% siswa dengan prestasi belajar katagori baik dan
60,00% siswa dengan prestasi belajar katagori cukup. Pola asuh permisif Aisya, (2010),
berpendapat bahwa orang tua memberi kebebasan sebanyak mungkin kepada anak untuk
28
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
mengatur dirinya sendriri, anak tidak di tuntut untuk bertanggung jawab dan tidak banyak di
control oleh orang tua. Orang tua yang bergaya permisif cenderung memberikan banyak
kebebasan kepada anaknya. Apabila anaknya berbuat salah , ai cenderung membiarkan tanpa
memberikan hukuman atau teguran.
Menurut Wibowo, (2012), Pola asuh permisif memberikan kebebasan yang besar kepada
anak. Meskipun hubungan antara orang tua dan anak hangat, tetapi kontrol yang diberikan
sangat sedikit. Orang tua cenderung membiarkan apapun perilaku anaknya dan jarang member
hukuman. Orang tua biasanya lebih banyak mengunakan pertimbagan dan penjelasan pada
anaknya tentang peraturan keluarga dan kurang memberikan batas pada perilaku anak bahkan
cenderung hati-hati untuk bersikap tegas pada anak.
Menurut Elsya, (2010), pola asuh permisif mempunyai ciri diantaranya, dominasi terhadap
anak, sikap longgar atau kebebasan dari orang tua, tidak ada bimbingan dan pengarahan dari
orang tua, control dan perhatian orang tua sangat kurang. Anak-anak yang dimanja akan
tumbuh menjadi generasi yang kurang percaya diri, cengeng dalam menghadapi masalah,
lambat untuk dewasa, mudah dibujuk serta ditipu dan kurang dapat menghargai orang lain,
kurang mandiri dan kurang memiliki kepedulian sosial
Gambaran Pola Asuh Penelantar Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar
Inpres 1 Desa Luhu
Selain itu, berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.11 terdapat 2 anak dengan pola asuh
penelantar, tetapi memiliki prestasi belajar dengan katagori cukup. Hal ini disebabkan orang
tua telah
memberikan pola asuh yang penelantar pada anak dan tidak mempunyai
pengawasan serta perhatian dan kasih sayang yang baik.
Menurut Husain (2011), pola asuh penelantar adalah orang tua pada umumnya memberikan
waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan
untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan kadangkala biayapun dihemat-hemat
untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis
pada ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis
pada anak-anaknya.
Menurut Baumrid (2010), pola asuh penelantar adalah pola asuh yang sering dilakukan oleh
orang tua yang terlalu sibuk bekerja mengejar materi. Namun anak tidak memperoleh materi,
kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orang tua. Orang tua terlalu pelit dan membatasi
kebutuhan anak. Pola asuh penelantar ini juga diperoleh dari orang tua yang memiliki gangguan
jiwa seperti depresi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Berdasarkan pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua siswa sekolah Dasar Inpres 1
Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat pada anak di rumah
sebanyak 9 responden.
2. Berdasarkan pola asuh Demokratis yang diterapkan oleh orang tua siswa sekolah Dasar
Inpres 1 Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat pada anak di
rumah sebanyak 11 responden.
3. Berdasarkan pola asuh Permisif yang diterapkan oleh orang tua siswa sekolah Dasar Inpres
1 Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat pada anak di rumah
sebanyak 5 responden.
4. Berdasarkan pola asuh Penelantar yang diterapkan oleh orang tua siswa sekolah Dasar
Inpres 1 Desa Luhu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat pada anak di
rumah sebanyak 2 responden.
Saran
Di harapkan dapat memperoleh gambaran tentang pola asuh orang tua yang efektif yang
dapat diterapkan di lingkungan masyarakan padaa anak sehingga anak menjadi pribadi yang
baik sesuai dengan yang di harapkan terutama untuk prestasi belajar anak di rumah. Bagi SD
Inpres 1 Desa Luhu sebagai bahan pertimbagan dalam memecahkan masaalah tingkat
29
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
pengetahuan dan sistem belajar anak di dalam kelas. Demikian juga bagi orang tua diharapkan
kepada orang tua umtuk lebih meningkatakan pengetahuan agar dapat member pengawasan
dan pola asuh yang baik bagi anak dan diharapkan kepada orang tua untuk lebih meluangkan
waktu, member perhatian serta member kasih sayang kepada anak sehingga akan merasa
bahwa orang tua selalu ada untuknya serta sifat dan perilakunya dapat terdidik dan terkontrol
dengan baik sesuai perkembagan usianya.
REFERENSI
Ahmadi dan Supriyano, 2013. KTI hubungan status gizi dengan prestasi belajar anak.
Aisyah, 2010. Pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan ahlak anak usia 7-12
tahun diketapang tengerang.
Aiyuda, 2009. Hubungan pola tidur dengan prestasi belajar mehasiswa keperawatan di
Universitas Adven Indonesia bandung.
Andi, dkk, 2011. Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Menerapkan Perilaku Disiplin terhadap
Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat. Volume 01, Nomor 02.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Antanasia, 2013. Pengasuhan dan Penanaman Nilai terhadap Anak Usia Dini. Jurnal Makna.
Volume 01, Nomor 01. Bekasi: Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa Universitas Islam.
Antari , 2014. Hubungan pola asuh orang tua dan penerapan nilai budaya sekolah terhadap
kemandirian belajar siswa
Baumrid, 2010. Pola interaksi antara anak dengan orang tua universitas pendidikan Indonesia.
Casmini, 2013. Universitas Pendidikan Genesha Jurusan PGSD Vol 2 No 1 Tahun 2007
hubungan antara pola asuh orang tua dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa
SD kelas IV semester genap di kecamatan melaya-jembaran
Chaderinsaputra, 2012. Faktor-faktor penyebab timbulnya pola asuh otoriter pada anak usia
dini playgorub flamboyan kecamatan telaga biru Kabupaten Gorontalo.
Dariyo, 2010. Pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata
pelajaran akutansi kelas XI IPS di SMA Negeri 26 Bandung.
Depdiknas, 2008. Tentang sistem pendidikan nasional, Yogyakarta : Media Abadi
Deka putri Nuryanti, 2011. Hubungan antara motivasi berprestasi dan presepsi terhadap pola
asuh orang tua dengan prestasi belajar psikologi. Universitas Airlangga Surabaya. Jurnal
psikologi pendidikan dan perkembagan. Vol 2, no 01.
Dina, 2011. pengaruh pola asuh orang tua dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar
KKPI kelas X program keahlian TKJ dan TAV di SMK piri 1 Yogyakarta.
Dinas pendidian Maluku. Pelaksanaan pendidikan tahun 2014.
Erma Lestari, 2013. Pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di
MAN Malang 1.skripsi. malang:program sarjana islam Negeri Maulana Malik.
Eriyanti, 2010. IEA, Asosiasi internasional Evaluation of Educational.
Ghufron, 2010. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecerdasan Majemuk Siswa SD.
Skripsi. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
Hurlock, 2008. Faktor-faktor yang mempegaruhi prestasi belajar. Jakarta Bhineka cipta.
Husain, 2011. Pengaruh pola asuh orang tua terhadap konsep diri positif peserta didik MI
Tsamrotul Huda II jatirogo boning Demak.
Jhon W, 2011. Pengaruh kedisiplinan belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar
praktik kejuruan siswa kelas XI jurusan teknik pemesinan SMK Negeri Yogyakarta
Junaidi, 2010. Perang orang tua dalam dalam meningkatkan prestasi belajar anak. Tersedia
dalam http//www scribd com/doc. Di akses pada tanggal 15 juli 2014.
Kusumastuti, 2010. Pengaruh lingkungan terhadap prestasi belajar bahasa Indonesia siswa
kelas XII madrasah aliyah muallimin makasar
Lestari S, 2012. Sikologi Keluarga: penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga.
Jakarta: Kencana.
Mariah, 2010. Hubungan antara pola asuh orang tua dengan kebiasaan belajar terhadap
prestasi belajar siswa SD kelas IV semester genap dikecamatan melayan-jembrana.
Metha S, 2011. Pengaruh pola asuh anak usia balita terhadap perkembagan tingkah laku anak.
Skripsi, semarang : Istitusi Agama Islam Negeri
Notoatmodjo, 2010. Pengaruh sikap siswa mengenai mata pelajaran produktif akutansi
terhadap prestasi belajar siswa di SMA Negeri 14 bandung. Skripsi pada FPOK UPI
Bandung.
30
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Nursalam, 2010. Konsep dan penerapan metodologi penelitia ilmu keperawatan: pedoman
skripsi, tesis, dan instrument penelitian keperawatan. Jakarta: salemba.
Saifulrrijal, 2010. Hubungan antara pemahaman materi, motivasi belajar, dan prestasi belajar
pada siswa kelas VIII SMP taman dewasa ibu pawiyata Yogyakarta tahun 2012.
Suparyanto, 2010. Konsep pola asuh pada anak. (0nline) http//:dr Suparyanto. Blogspot.com.
diakses pada selasa tanggal 11 November 2014 pukul 10.15 WIB.
Syah, 2010. Faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa kelas IV dan V MI
Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2012.
Syaiful Bahri Djamarah, 2014. Hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa
kelas V SD Se-Gugus Wonokerto Turi Sleman
Tridhonanto, 2014. Hubungan pola asuh orang tua dengan disiplin belajar siswa kelas IV dan V
sekolah dasar Negeri Se-Gugus 1 Sidoarum Kecamatan Godean Kabupaten Sleman.
Theresia, 2009. Faktor-faktor yang memepegaruhi pola asuh orang tua.
Trianto, 2009. Evaluasi kemampuan guru dalam mengiplementasi pembelajaran tematik di SD
Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah.
Wibowo, 2012. Pola komunikasih orang tua dan anak dalam keluarga. Jakarta : Reneka Cipta.
Yudi Premana, I made. 2011. Hubungan Antara Pola Asuh Keluarga, Disiplin Belajar, dan Minat
Belajar Dengan Prestasi Belajar Teknologi Informasi dan Komunikasih (TIK) pada siswa
kelas VII semester Genap di SMP Negeri 3 Singaraja Tahun ajaran 2010/2011. Singaraja:
Undiksha.
Yusnia, 2013. Hubungan pola Asuh Orang Tua dengan prestasi belajar siswa Mts Al-Falah
Jakarta Timur. Skiripsi Jakarta : Universitas islam Negeri Syarif Hidayatullah.
31
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
HUBUNGAN KEPUASAN PERAWAT TERHADAP SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN
DENGAN KINERJA PENDOKUMENTASIAN PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
BANYUMAS
Intan Diah Pramithasari
(Akademi Keperawatan Serulingmas Cilacap)
Email: [email protected]
ABSTRAK
Perkembangan teknologi informasi, juga telah merambah pada aspek pelayanan kesehatan.
Sistem Informasi Keperawatan (SIKep) meupakan salah satu bentuk pemanfaatan teknologi
informasi dalam bidang pelayanan keperawatan, yang didalamnya memuat sistem
pendokumentasian asuhan keperawatan. Penerapan sistem ini, diharapakan mampu
meningkatkan kinerja perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan. Namun,
pengadopsian sistem tersebut belum tentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
organisasi. Sehingga, perlu dilakukan pengukuran keberhasilan penerapan sistem informasi
tersebut yang dapat dilihat dari kepuasan pengguna sistem yang diharapkan mampu memberi
dampak terhadap kinerja pengguna sistem tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif korelatif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh perawat pelaksana di ruang rawat inap RSUD Banyumas. Teknik sampling yang
digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling sehingga diperoleh jumlah
sampel sebanyak 76 orang. Sedangkan penilaian kinerja perawat diperoleh melalui observasi
dokumentasi keperawatan, yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling dan memenuhi
kriteria tertentu. Hasil penelitian ini menjukkan bahwa berdasarkan standar minimal pelayanan,
kinerja perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan berbasis komputer di RSUD
Banyumas dalam kategori baik (52,6%). Sebagian besar perawat juga cukup puas terhadap
sistem pendokumentasian yang ada (65,8%). Namun dari hasil analisis, tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara kepuasan perawat terhadap sistem dengan kinerja perawat
dalam pendokumentasian berbasis komputer.
Kata kunci: Kepuasan Sistem, Kinerja Pendokumentasan.
PENDAHULUAN
Perkembangan pembangunan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi menjadi sesuatu
yang tidak bisa dihindari, serta mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia (Kusumadewi,
2009). Perkembangan tersebut, diharapkan dapat membantu segala jenis kegiatan dalam
upaya meningkatkan efisiensi, efektivitas, komunikasi, kolaborasi dan daya saing organisasi,
tidak terkecuali disektor pelayanan kesehatan (Purba, 2007).
Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) dan Sistem Informasi Keperawatan
(SIKep) merupakan bentuk pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi disektor
pelayanan kesehatan. Melalui sistem ini, informasi dapat diperoleh secara akurat, tepat waktu
serta relevan guna peningkatan pengetahuan dan pelayanan kesehatan (Kusumadewi, 2009).
SIKep merupakan kombinasi ilmu komputer, informasi dan keperawatan yang terdiri dari
program pengklasifikasian pasien, pengembangan staf, penjadwalan, laporan berjenjang dan
pendokumentasian asuhan keperawatan yang terintegrasi sebagai bukti akuntabilitas tindakan
keperawatan yang diberikan kepada pasien (Sukihananto, 2010).
Angelina et.al (2006) menyatakan bahwa penggunaan sistem pencatatan keperawatan
elektronik yang terintegrasi dengan standar keperawatan internasional akan menghasilkan
kualitas pelayanan yang baik, berpusat pada pasien, efisien, mempermudah pengambilan
keputusan serta mendukung kecakapan dan keakuratan perencanaan keperawatan dalam
clinical pathway process. Rajkovic (2006) dalam hasil penelitiannya juga mengatakan bahwa
salah satu jaminan kualitas suatu pelayanan kesehatan, bisa dicapai dengan menggunakan
sistem yang canggih diantaranya dengan menghadirkan model penyediaan data based dan
menggunakan software prototype untuk mengatur pendokumentasian keperawatan.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas merupakan salah satu rumah sakit yang
telah mengembangkan SIK sejak tahun 2006. Namun, penggunaan sistem ini belum
32
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
dimanfaatkan secara maksimal oleh perawat, sistem ini hanya digunakan dalam proses
pendokumentasian asuhan keperawatan saja.
Menurut hasil wawancara, evaluasi keberhasilan serta keuntungan atas pemakaian SIK
belum dilakukan oleh pihaknya, Pertimbangan besarnya biaya yang harus dihabiskan untuk
proses evaluasi, serta belum adanya tim evaluasi sistem pendokumentasian menjadi alasan
belum dilakukannya proses evaluasi tersebut.
Pengadopsian sistem informasi dalam organisasi merupakan salah satu bentuk investasi
yang cukup mahal. Meskipun demikian, investasi yang mahal belum tentu sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh organisasi (Budiyanto, 2009). Sehingga, perlu dilakukan pengukuran
keberhasilan pengadopsian sistem informasi dalam organisasi yang melibatkan pengguna
sistem (Jogiyanto, 2007).
Keberhasilan penerapan sistem informasi tersebut dapat dilihat dari faktor intensitas
penggunaan sistem serta kepuasan pengguna sistem yang diharapkan mampu memberi
dampak terhadap kinerja pengguna sistem tersebut (Bayu, 2013).
Berdasarkan masalah tersebut, perlu dilaksanakan evaluasi terhadap tingkat kepuasan
perawat terhadap penggunaan sistem serta dampaknya terhadap kinerja perawat khususnya
dalam pendokumentasian, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
pengembangan sistem informasi yang mampu menunjang kinerja dan pelayanan keperawatan
yang ada.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dengan menggunakan pendekatan
kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di ruang rawat inap
RSUD Banyumas yang berjumlah 218 orang dan tersebar di 18 ruang rawat inap.
Sampel dalam penelitian ini adalah perawat di ruang rawat inap RSUD Banyumas yang
memenuhi kriteria inklusi penelitian dan sampel dokumentasi keperawatan yang disusun oleh
perawat
Teknik sampling untuk responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple
random sampling sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 76 orang. Kriteria inklusi sampel
adalah perawat pelaksana ruang rawat inap RSUD Bayumas yang telah bekerja minimal
selama 1 tahun, tidak sedang cuti, tidak sedang tugas belajar, melakukan dokumentasi
keperawatan berbasis komputer dan telah mengikuti pelatihan SIK.
Teknik pengambilan jumlah sampel dokumentasi dilakukan dengan cara purposive
sampling. Kriteria inklusi sampel dokumentasi pasien adalah dokumentasi asuhan keperawatan
pasien di rawat inap yang didokumentasikan dengan sistem berbasis computer pada 1 bulan
terakhir dan merupakan dokumentasi pasien yang telah pulang.
Penilaian tingkat kepuasan perawat terhadap sistem pendokumentasian berbasis computer
diperoleh melalui kuisioner yang telah diuji coba sebelumnya pada 30 orang perawat di rumah
sakit yang sama namun terdapat di ruang yang berbeda. Kuisioner tersebut meliputi aspek
tangible, reliability, assurance, flexibility dan responsiveness system.
Sedangkan untuk penilaian kinerja perawat dilakukan dengan menggunakan lembar
observasi dokumentasi keperawatan yang telah disusun oleh Depker tahun 2005. Penelitian ini
dilaksanakan pada tanggal 23-29 Juni 2015.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kepuasan perawat terhadap sistem informasi keperawatan
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang (pelanggan) setelah membandingkan antara
kinerja atau hasil yang dirasakan (pelayanan yang diterima dan dirasakan) dengan yang
diharapkannya (Muadi, 2009).
Faktor kepuasan dalam penelitian ini menggambarkan tingkat kepuasan perawat terhadap
sistem pendokumentasian yang ada berupa software dan hardware yang digunakan dalam
mendokumentasikan asuhan keperawatan berbasis komputer.
Berdasarkan hasil total skor kepuasan perawat terhadap sistem, diperoleh skor minimal 13,
maksimal 24 dengan rata-rata nilai 17,13, standar deviasi 2,229 dan nilai modus 18 yang
dibagi dalam 3 kategori berdasarkan kuartil yaitu kurang puas (skor < 16), cukup puas (skor 1618) dan puas (skor > 18).
33
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Tabel 3. Distribusi frekuensi kepuasan perawat terhadap SIK di RSUD Banyumas Juni 2015
Variabel
Puas
Cukup puas
Tidak puas
Total
Frekuensi
8
50
18
76
Persentase
10,5
65,8
23,7
100
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar perawat merasa cukup
puas terhadap sistem (65,8%). Indeks kepuasan tersebut terdiri dari 5 kategori, yaitu: tangible,
reliability, assurance, empathy dan responsiveness sistem. Sehingga dapat dilihat gambaran
tingkat kepuasan berdasarkan kategori adalah sebagi berikut:
Tabel 4. Distribusi frekuensi kepuasan perawat terhadap SIK berdasarkan aspek
No.
Sub variabel
1.
Tangible
2.
Reliability
3.
Assurance
4.
Flexibility
5.
Responsiveness
Kategori
Cukup
62
81,6%
41
53,9%
51
67,1%
62
81,6%
49
64,5%
Puas
6
7,9%
5
6,6%
6
8,6%
6
7,9%
7
9,2%
Kurang Puas
8
10,5%
30
39,5%
19
24,4%
8
10,5%
20
26,3%
Kinerja pendokumentasian perawat di RSUD Banyumas
Hasil skoring kinerja perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan, diperoleh
skor minimal 50, maksimal 100 dengan rata-rata nilai 84,70, dan standar deviasi 14,502 yang
kemudian dibagi dalam 2 kategori berdasarkan standar pelayanan minimal Depkes yaitu kinerja
kurang (skor < 85), dan baik (skor ≥ 85). Sehingga, berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar perawat di RSUD Banyumas memiliki kinerja
pendokumentasian asuhan keperawatan yang baik (52,6%).
Tabel 5. Distribusi frekuensi kinerja pendokumentasikan perawat di RSUD Banyumas Juni
2015 (n=76)
Kategori kinerja
Baik
Kurang
Total
Frekuensi
40
36
76
Persentase
52,6
47,4
100
Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel
terikat. Analisis bivariat ini menggunakan chi square (pada data kategorik) dengan tingkat
kemaknaan 95% (alpha 5%) dengan ketentuan yaitu ada hubungan yang bermakna apabila p
value < 0,05 dan tidak ada hubungan apabila p value > 0,05.
Tabel 6. Analisis bivariat kepuasan dengan kinerja perawat dalam mendokumentasikan asuhan
keperawatan berbasis komputer
Kepuasan terhadap sistem
Puas
Cukup puas
Tidak puas
Total
Kinerja Baik
n
%
5
62,5
27
54,0
8
44,4
40
52,6
Kinerja Kurang
n
%
3
37,5
23
46,0
10
55,6
36
47,4
Total
n
8
50
18
76
P value
0,659
Berdasarkan analisis, didapatkan nilai p value > α. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak
ada hubungan yang bermakna antara kepuasan perawat terhadap sistem pendokumentasian
34
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
dengan kinerja perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan berbasis komputer di
RSUD Banyumas.
Namun, berdasarkan proporsi data dapat diketahui bahwa perawat dengan kinerja
pendokumentasian baik didominasi oleh perawat yang merasa puas dengan sistem
pendokumentasian yang ada (62,5%).
Menurut Irawan yang dikutip oleh Muadi (2009), kepuasan merupakan persepsi individu
terhadap produk atau jasa yang telah memenuhi harapannya. Analisa lebih lanjut, juga terdapat
pada teori Harzberg dalam Gibson (2003) yang menyebutkan bahwa kepuasan kerja berasal
dari keberadaan motivator instrinsik (pencapaian prestasi, pengakuan, tanggung jawab,
kemajuan, pekerjaan itu sendiri dan kemungkinan berkembang) dan bahwa ketidakpuasan
kerja berasal dari ketidakberadaaan faktor-faktor ekstrinsik (upah, keamanan kerja, kondisi
kerja, prosedur perusahaan, mutu penyeliaan dan mutu hubungan interpersonal).
Apabila kepuasan tersebut dapat dicapai, maka akan menggerakkan tingkat motivasi yang
kuat bagi individu untuk bertindak dan bekerja, sehingga akan menghasilkan kinerja yang tinggi
(Gibson, 2003). Berdasarkan teori tersebut dapat dilihat bahwa sistem pendokumentasian
berbasis komputer merupakan salah satu contoh faktor ekstrinsik penggerak motivasi individu
untuk menghasilkan kinerja.
Kesenjangan hasil penelitian ini dengan teori yang ada, dapat disebabkan karena adanya
hubungan yang tidak langsung antara kepuasan perawat terhadap prosedur kerja (penggunaan
sistem komputer) dengan motivasi dan kinerja perawat.
Hal ini juga dijelaskan dalam teori Harzberg yang menyebutkan bahwa, keberadaan faktorfaktor eksternal, tidak selalu memotivasi individu, tetapi ketidakberadaannya menyebabkan
ketidakpuasan (Gibson, 2003).
KESIMPULAN
Berdasarkan standar minimal pelayanan yang dikembangkan oleh Depkes, maka dapat
dinyatakan bahwa kinerja perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan berbasis
komputer di RSUD Banyumas dalam kategori , baik (52,6%), sebagian besar perawat juga cukup
puas terhadap system pendokumentasian yang ada (65,8%). Namun dari hasil analisis, tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan perawat terhadap sistem dengan kinerja
perawat dalam pendokumentasian berbasis komputer.
REFERENSI
Sri Kusumadewi. Informatika Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2009.
Eris Lidya Purba. Akseptansi dan Kepuasan Pengguna Sistem Informasi Rumah Sakit (SIMRS)
di RSUD Pematangsiantar. Tesis. Universitas Gadjah Mada. 2007.
Sukihananto. Hubungan Dokumentasi Keperawatan Berbasis Komputer Dengan Daya Berpikir
Kritis Perawat Pada Pelaksanaan Proses Keperawatan di RSUD Banyumas. Tesis.
Universitas Indonesia. 2010.
Angelina, et. al. Consumer-Centered Computer-Supported Care for Healthy People
Journal. Building an Innovation electronic Nursing Record Pilot Structure with Nursing
Clinical Pathway. H. A. Park et. al. (Eds.). IOS Press. 2006.
Rajkovic, et. al. Consumer-Centered Computer-Supported Care for Healthy People Journal. ENursing Documentation as a Tool for Quality Assurance. H. A. Park et. al. (Eds.). IOS Press.
2006.
Budiyanto. Evaluasi Kesuksesan Sistem Informasi Dengan Pendekatan Model DeLone dan
McLean. Studi Kasus Implementasi Billing Sistem di RSUD Kabupaten Sragen. Tesis.
Universitas Sebelas Maret. 2009.
Jogiyanto. Sistem Informasi Keperilakuan. Yogyakarta: Penerbit Andi. 2007.
Andika Bayu S dan Izzati Muhimmah. Evaluasi Faktor-Faktor Kesuksesan Implementasi Sistem
Informasi Manajemen Rumah Sakit di PKU Muhammadiyah Sruweng dengan Menggunakan
Metode Hot-Fit. Seminar Nasional Informatika Medis (SNIMed) IV. Magister Teknik
Informatika, Fakultas Teknologi Industri. Universitas Islam Indonesia. 2013.
Muadi. Hubungan Iklim dan Kepuasan Kerja Dengan Produktivitas Kerja Perawat Pelaksana di
Instalasi Rawat Inap BRSUD Waled Kabupaten Cirebon. Tesis. UI. 2009.
Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., & Donelly, J.H. Organisasi: Perilaku struktur, proses. Jilid I. Alih
Bahasa: Ardiani Nunuk. Jakarta: Binarupa Aksara. 2003.
35
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN MASYARAKAT
DI DUSUN PATINEA DESA KAWA KECAMATAN SERAM BARAT KABUPATEN SERAM
BAGIAN BARAT TAHUN 2016
Ira Sandy Tunny
(Sekolah Tinggi Kesehatan Maluku Husada)
M Taufan Umasugi
(Sekolah Tinggi Kesehatan Maluku Husada)
Sahrir Sillehu
(Sekolah Tinggi Kesehatan Maluku Husada)
Email: [email protected])
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan perilaku kesehatan
masyarakat. Desain yang digunakan adalah cross sectional berlokasi di Dusun Patinea Desa
Kawa Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Populasi target adalah
masyarakat yang berada di Dusun Patinea, dalam hal ini adalah kepala keluarga sehingga di
dapatkan jumlah populasi sebanyak 145 kepala keluarga. Teknik pengumpulan data melalui
wawancara, selanjutnya data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-square. Berdasarkan
analisis data didapatkan hasil: 1) Tingkat pengetahuan masyarakat di dusun patinea masih
tergolong rendah, dengan jumlah responden kategori tidak baik pengetahuannya sebanyak 133
responden dengan persentase (91.7%) sedangkan baik perilakunya sebanyak 12 responden
dengan presentase (8.3%), 2) perilaku kesehatan masyarakat di dusun patinea masih tergolong
rendah, dimana peneliti di dapatkan jumlah responden yang tidak baik perilakunya sebanyak
135 responden dengan presentase (93.1%) sedangkan yang baik perilakunya sebanyak 10
responden dengan presentase (6.3%), 3) ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan
dengan perilaku kesehatan masyarakat di dusun patinea desa kawa kecamatan seram barat
kabupaten seram bagian barat dengan nilai p value = 0.038
Kata kunci: Perilaku Kesehatan, Pengetahuan, Masyarakat
LATAR BELAKANG
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek
melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya,
pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang
diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo,
2011).
Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat
hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi
maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan,
bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula.
Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek, yaitu aspek positif dan
negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang semakin banyak aspek positif
dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu
(Wawan, 2010).
Berdasarkan data WHO, di perkirakan terdapat lebih 2 milyar manusia perhari terkena
dampak dari kekurangan mengkonsumsi air minum di lebih dari 40 negara di dunia. 1,1 milyar
tidak mendapatkan air yang memadai untuk di konsumsi dan 2,4 milyar tidak mendapakan
sanitasi air minum untuk dikonsumi yang layak sedangakan pada tahun 2050 diperkirakan
bahwa 1 dari 4 orang terkena dampak dari kekurangan air bersih ( WHO, 2013).
Di Dunia istilah perilaku kesehatan sudah lama dikenal dalam 15 tahun akhir-akhir ini
konsep-konsep di bidang perilaku yang berkaitan dengan kesehatan ini sedang berkembang
dengan pesatnya, khususnya dibidang antropologi medis dan kesehatan masyarakat. Istilah ini
dapat memberikan pengertian bahwa kita hanya berbicara mengenai prilaku yang secara
sengaja dilakukan dalam kaitanya dengan kesehatan. Kenyataanya banyak sekali prilaku yang
36
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
dapat mempengaruhi kesehatan, bahkan seandainya seseorang tidak mengetahuinya, atau
melakukanya dengan alasan yang sama sekali berbeda (Gochman, 2008).
Kesehatan merupakan suatu hal yan paling penting dalam kehidupan manusia, baik
kesehatan jasmani maupun rohani dapat memberikan dampak positif bagi diri manusia itu
sendiri. Namun dewasa ini kesehatan indonesia masih rendah di daerah terpencil pengetahuan
masyarakat untuk berperilaku sehat sangat kurang, kemajuan teknologi saat ini memang
membawa nilai positif dalam berbagai bidang tetapi masih kurang dalam bidang kesehatan,
kesehatan memang sangat di butuhkan oleh masyarakat indonesia agar terbangunnya kualitas
sumberdaya manusia yang baik (Lansida, 2011).
Di indonesia sendiri dengan jumlah penduduk yang telah mecapai lebih dari 200 juta jiwa ,
kebutuhan air minum untuk engkonsumsi menjadi semakin berkurang kecenderungan untuk
mengkonsumsi air minum di perkirakan terus naik hingga 15-35% sedangkan ketersediaan air
bersih ntuk dikonsumsi cenderung berkurang akibat kerusakan alam dan pencemaran
lingkungan sekitar 119 juta rakyat indonesia belum memliki asks terhadap air bersih untuk d
konsumsi. (WHO, 2011).
Dari penelitian yang di lakukan oleh Fratika et al (2012) dengan judul hubungan antara
tingkat pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat kelurahan imandi dengan tindakan
pemanfaatan puskesmas imandi menentukan hasil : berdasarakan hasil penelitian, di peroleh
responden yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas ada 18 responden (19,6%)
yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas 74 responden (80,4% dari
angka-angka ini menunjukan bahwa sebagian besar masyrakat kelurahan imandi
memanfaatkan untuk memilih dukun beranak.
Data menunjukkan bahwa seram bagian barat (SBB) hanya sekitar 35% penduduk sakit
yang mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Tampaknya cukup banyak
penduduk yang tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan, terbukti 55,4% persalinan terjadi di
fasilitas kesehatan dan masih banyak, yaitu 43,2% melahirkan di rumah. Dari jumlah ibu yang
melahirkan di rumah, 51,9% ditolong bidan dan masih ada 40,2% ditolong dukun bersalin, Data
menunjukkan bahwa setahun sebelum survei, 82,2% persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
namun masih ada kesenjangan antara pedesaan (72,5%) dan perkotaan (91,4%). Masih
tingginya pemanfaatan dukun bersalin serta keinginan masyarakat untuk melahirkan di rumah
terkait dengan faktor-faktor sosial budaya. Salah satu sebab mendasar masih tingginya
kematian ibu dan anak adalah budaya, selain faktor-faktor yang lain seperti kondisi geografis,
penyebaran penduduk atau kondisi sosial ekonomi. Disadari atau tidak, faktor-faktor
kepercayaan dan pengetahuan tradisional seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai
pantangan, hubungan sebab akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan, sering
kali membawa dampak positif atau negatif terhadap kesehatan ibu dan anak.( Riskesdas
Maluku , 2013).
Dusun patinea salah satu dusun di desa kawa kecamatan seram barat kabupaten seram
bagian barat. Masyarakat didusun ini cenderung kurang memiliki pengetahuan yang
berpengaruh pada perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehar-hari mereka tidak memiliki
pengetahuan dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan. Hal ini dapat di lihat dengan adanya
kejadian persalinan yang di tangani oleh dukun beranak di bandingkan dengan pertolongan
bidan desa. Menurut prawira harjo dalam Andika dkk (2015) kepercayaan masyarakat terhadap
ketrampilan dukun beranak berkaitan dengan nilai budaya setempat. Biasanya dukun beranak
menolong persalinan tanpa memperhatikan keamanan, kebersihan, dan mekanisme
sebagaimana mestinya sehingga dapat terjadi berbagai konplikasi yang berakibat kematian.
Proses pelayanan dukun beranak di dusun patinea juga tidak di penuhi standar minimal medis
oleh para dukun seperti dengan praktek yang tidak steril dalam memotong tali pusat dengan
menggunakan sebilah bambu.
Di samping itu kurangnya faktor pengetahuan dapat dilihat juga pada perilaku masyarakat
yang lebih senang mengkonsumsi air hujan tanpa di masak dibandingkan mengkonsumsi air
yang di masak. Menurut Reski P.N (2014), Tingginya kadar flour dalam air hujan dapat
membahayakan kesehatan tubuh jika tidak dilakukan pengolahan sebelumnya.
Perilaku lain yang menonjol adalah kebiasaan minum kopi yang di lakukan oleh para lansia
maupun orang sakit. Menurut Estien Y. (2015) dampak negatif terhadap bahaya menkonsumsi
kopi bagi tubuh selain dari kafein, juga dapat menyebabkan pengeluaran asam lambung dan
pepsin, selain itu kafein dapat meiritasi saluran cerna sehingga berbahaya jika di minum saat
perut masih kosong, demikian juga dapat membahayakan pada pencernaan atau saluran usus.
37
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu di lakuakan penelitian tentang hubungan
tingkat pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat didusn patinea desa kawa
kecamatan seram barat kabupaten seram bagian barat tahun 2016.
METODE PENELITIAN
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional bermaksud mengetahui
hubungan pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat di Dusun Patinea desa kawa
kecamatan seram barat kabupaten seram bagian barat. Populasi target dalam penelitian adalah
masyarakat yang berada di dusun patinea, dalam hal ini adalah kepala keluarga sehingga di
dapatkan jumlah populasi sebanyak 145 kepala keluarga.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara langsung
dengan responden menggunakan instrumen penelitian kuesioner dan dilakukan dengan cara
membagikan kuesioner kerumah-rumah dengan 145 responden. Setelah pengambilan data
dilakukan dan data diperoleh,maka selanjutnya dilakukan pengolaan data yang meliputi
beberapa bagian yaitu: editing, coding, dan tabulating. Setelah data diolah, selanjutnya di
lakukan analisis data dengan menggunakan uji statistik Chi-square
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Distribusi umur responden pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat
di Dusun Patinea Desa Kawa Kec. Seram Barat Kab Seram Bagian Barat Tahun 2016
No
1
2
3
4
Umur
20 - 30 tahun
31 - 40 tahun
41 - 50 tahun
51 - 60 tahun
Total
n
40
28
42
35
145
%
27.6
19.3
29.0
24.1
100.0
Tabel 1 menunjukan bahwa dari 145 responden yang paling banyak berusia 41-50 tahun
yaitu 42 (29,0%) dan paling sedikit berusia 31-40 tahun yaitu 28 (19,3%)
Tabel 2. Distribusi jenis kelamin responden pengetahuan dengan perilaku kesehatan
masyarakat di Dusun Patinea Desa Kawa Kec. Seram Barat Kab Seram Bagian Barat Tahun
2016
No
1
Jenis kelamin
Laki-Laki
n
145
%
100.0
Ket
Tabel 2 menunjukan bahwa yang di teliti adalah kepala keluarga sebanyak 145 (100.0).
Tabel 3. Distribusi pendidikan responden pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat
Di Dusun Patinea Desa Kawa Kec. Seram Barat Kab.Seram Bagian Barat Tahun 2016
No
1
2
3
4
pendidikan
SD
SMP
SMA
S1
Total
n
102
34
7
2
145
%
70.3
23.4
4.8
1.4
100.0
Ket
Tabel 3 Tabel menunjukan bahwa dari 145 responden yang paling banyak berpendidikan SD
102 responden yaitu (70.3%) dan paling sedikit berpendidikan SMA 7 responden yaitu (4.8%)
dan SMP 34 responden yaitu (23.4%), S1 2 (1.4%)
38
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Tabel 4. Distribusi pendidikan responden pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat
di Dusun Patinea Desa Kawa Kec. Seram Barat Kab. Seram Bagian Barat Tahun 2016
No
1
2
3
Pekerjaan
PNS
Nelayan
Petani
N
%
Ket
1
69
75
.7
47.6
51.7
Total
145
100.0
Tabel 4 menunjukan banyak pekerjaan yaitu petani 75 (51.7%) dan paling sedikit 69 nelayan
(47.6%), PNS 1 (7%)
Tabel 5. Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan di Dusun Patinea Desa Kawa Kec. Seram Barat Kab. Seram Bagian Barat Tahun
2016
Pengetahuan
baik
tidak
total
n
12
133
145
%
8.3
91.7
100
Berdasarkan tabel 5 di atas di ketahui bahwa dari 145 responden yang baik
pengetahuannya sebanyak 12 responden dengan persentase (8.3%), sedangkan tidak baik
pengetahuannya sebanyak 133 responden dengan persentase (91.7%).
Tabel 6. Distribusi frekuensi responden berdasarkan perilaku masyarakat di Dusun Patinea
Desa Kawa Kec. Seram Barat Tahun 2016
Perilaku
Baik
tidak baik
Total
Frekuensi
10
135
145
Persen %
6.9
93.1
100.0
Berdasarkan table 6 di atas di ketahui bahwa dari 145 responden yang baik perilakunya
sebanyak 10 responden dengan presentase (6.9%) sedangkan yang tidak baik perilakunya
sebanyak 135 responden dengan persentase (93.1%).
Tabel 7. Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat di Dusun Patinea
Desa Kawa Kec. Seram Barat Kab. Seram Bagian Barat Tahun 2016
Pengetahuan
Baik
Tidak baik
Total
Perilaku
baik
n
%
3
30.
7
70.
10
100.
Total
Tidak baik
n
%
9
6.7
126
93.3
135
100.
N
12
133
145
P-value
%
8.3
91.7
100.
0,038
Tabel 7 menunjukan dari 145 responden yang menyatakan bahwa pengetahuan dengan
perilaku yang baik yaitu sebanyak 3 responden (30.0%) responden yang menyatakan tidak baik
yaitu 7 responden (100.0%), responden yang menyatakan pengetahuan dengan perilaku tidak
baik 126 responden (93.3%) dan yang menyatakan tidak baik pengetahuan dan perilaku
sebanyak 9 responden (6.7%). Hasil uji statistik di peroleh nilai p=0.038<p 0.05 hal ini
menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan perilaku kesehatan
masyarakat di dusun patinea desa kawa kec. Seram barat kab. Seram bagian barat.
39
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
PEMBAHASAN
Pengetahuan Masyarakat
Hasil analisis univariat di jelaskan bahwa dari 145 responden yang pengetahuannya baik
sebanyak 12 responden dengan prsentase (8.3%) sedangkan yang tidak baik pengetahuannya
sebanyak 133 responden dengan presentase (91.7%). Pernyataan in didukung oleh teori yang
ditemukan oleh Aulia (2012) menyatakan bahwa pengetahuan dengan perilaku masyarakat
yaitu: pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terbentuk setelah seseorang melakukan
pengeinderaan terhadap suatu obyek tertentu. Terdapat beberapa tingkatan dari pengetahuan
yakni
1. Tahu. Tahu diartikan hanya sebagai memanggil memori yang telah ada sebelumnya setelah
mengamati sesuatu. Tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.
2. Memahami. Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui, dan menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi sebenarnya. Aplikasi dalam dilakukan dalam beberapa hal seperti
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, dan prinsip.
4. Analisis. Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau memisahkan,
kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu
masalah. Salah satu tanda seseorang sudah mencapai tahap ini adalah orang tersebut
mampu membedakan, memisahkan, mengelompokkan, atau membuat diagram terhadap
suatu obyek.
5. Sintesis. Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Secara lebih
sederhana, sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang telah ada.
6. Evaluasi. Evaluasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap
obyek tertentu. Penilaian tersebut didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri
atau yang telah ada sebelumnya.
Dari hasil penelitian di atas, peneliti berasumsi kepada responden agar mencari informasi
pentinganya pengetahuan dalam diri tentang kesehatan masyarakat dalam berbagai bentuk
seperti mendengarkan penyuluhan-penyuluhan kesehatan,serta informasi dari media cetak dan
elektronik sehingga dapat mengetahui pentingnya pengetahuan dalam diri tentang kesehatan.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aulia Faris Akbar, pada
bulan november tahun 2012 di ponorogo utara kabupaten ponorogo, menunjukan bahwa
pengetahuan masyarakat di kabupaten ponorogo masih tergolong tinggi, dimana saat penelitian
didapatkan responden dengan riwayat pengetahuannya kurang mncapai 125 dengan
persentase (92.6%) dari 425 responden (Aulia, 2012)
Perilaku masyarakat
Hasil analisisis Univariat di jelaskan bahwa, dari 145 responden yang perilakunya baik
sebanyak 10 responden dengan persentase (6.5%) sedangkan yang tidak baik perilakunya
sebanyak 135 responden dengan persentase (93.1%).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Khoirul Mustofa pada tahun
2013 di wilayah Kabupaten sigi Sulawesi Tengah. Penelitian tersebut menyatakan bahwa
responden yang perilakunya tidak baik sebanyak 229 responden dengan persentase (60.1%) di
bandingakan dengan responden yang perilakunya baik 129 responden dengan persentase
(52.1%) dari 358 responden (khoirul, 2013).
Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati
langsung maupun yang tidak dapat diamati dari luar Menurut Skinner, perilaku adalah respon
atau reaksi seseorang terhadap suatu rangsangan dari luar. Berdasarkan bentuk respons
terhadap stimulus, perilaku dapat dibagi menjadi dua yakni:
1. Perilaku tertutup (covert behavior). Perilaku tertutup terjadi apabila respon dari suatu
stimulus belum dapat diamati oleh orang lain secara jelas. Respon seseorang terhadap
stimulus ini masih terbatas pada perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap
40
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
terhadap stimulus tersebut. Bentuk covert behavior yang dapat diamati adalah pengetahuan
dan sikap.
2. Perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku terbuka terjadi apabila respon terhadap suatu
stimulus dapat diamati oleh orang lain. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas
dalam suatu tindakan atau praktik yang dapat dengan mudah diamati oleh orang lain.
Dari hasil penulisan di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahawa ada hubungan
signifikan hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat di dusun
patinea desa kawa kec seram barat kab seram bagian barat tahun 2016.
Hasil observasi yang saya lakukan bahwa di dusun patinea desa kawa menyatakan
pengetahuan dengan perilaku sangat mempengaruhi terhadap kesehatan masyarakat di dusun
patinea
Hubungan penelitian ini sanma dengan hasil Menurut Notoadmojo 2010, pengetahuan
dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal terdiri dari
pendidikan, minat, pengalaman, dan usia. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari ekonomi,
kebudayaan, dan kebudayaan.
Adapun perilaku, terdapat banyak teori yang menjelaskan faktor yang mempengaruhi
perilaku. Didalam bidang perilaku kesehatan, terdapat 3 teori yang menjadi acuan didalam
penelitian mengenai kesehatan di masyarakat yakni teori WHO 2010. Menurut teori Lawrence
Green 2011, kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor perilaku dan faktor
diluar perilaku. Faktor perilaku dipengaruhi oleh 3 hal yakni:
1. Faktor-faktor predisposisi, yakni faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku
seseorang. Faktor-faktor ini terwujud dalam Teori Lawrence Green .
2. Faktor-faktor pendukung, yakni faktor-faktor yang memfasilitasi suatu perilaku. Yang
termasuk kedalam faktor pendukung adalah sarana dan prasarana kesehatan.
3. Faktor-faktor pendorong, yakni faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya
suatu perilaku. Faktor-faktor ini terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau
petugas lain yang merupakan kelompok referensi perilaku masyarakat
Hubungan tingakat pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat.Terdapat
hubungan antara pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat di dusun patinea desa
kawa selain itu, di dapatkan Pvalue 0,038 artinya yang pengetahuannya dengan perilakunya
tidak baik (91.7%) dari 133 responden di bandingkan yang baik pengetahuannya dengan
perilakunya (8.3%) dari 12 responden.
Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat di dusun patinea
desa kawa pada tahun 2016 di peroleh hasil analisis 0.038 nilai tersebut peroleh hasl uji chisquere yaitu nilai p value =0.005 secara stastik berarti ada hubungan yang bermakna antara
pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat di dusun patinea desa kawa tahun 2016.
Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Khoirul Musthofa (2011), yang
meneliti hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat di ponerogo
utara yang menyatakan bahwa baik tidaknya pengetahuan dengan perilaku kesehatan
masyarakat yang sangat meningkat dan adanya suatu hubungan antara pengetahuan dengan
perilaku.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang “hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku
kesehatan masyarakat di dusun patinea desa kawa kecamatan seram barat kabupaten seram
bagian barat tahun 2016” dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tingkat pengetahuan masyarakat di dusun patinea masih tergolong rendah, dengan jumlah
responden an kategori tidak baik pengetahuannya sebanyak 133 responden dengan
persentase (91.7%) sedangkan baik perilakunya sebanyak 12 responden dengan
presentase (8.3%).
2. Perilaku kesehatan masyarakat di dusun patinea masih tergolong rendah, dimana peneliti di
dapatkan jumlah responden yang tidak baik perilakunya sebanyak 135 responden dengan
presentase (93.1%) sedangkan yang baik perilakunya sebanyak 10 responden dengan
presentase (6.3%).
41
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
3. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat
di dusun patinea desa kawa kecamatan seram barat kabupaten seram bagian barat dengan
nilai p value = 0.038
Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan di atas dapat dikemukakan beberapa saran
yaitu:
1. Masyarakat di harapkan menambah wawasan pengetahuan dengan cara memperbanyak
mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa menambah wawasan masyarakat agar mengetahui
betapa pentingnya pengetahuan dalam diri seperti pengetahuan tentang persalianan yang
harus dlakukan oleh tenaga kesehatan, pengetahuan minum kopi di pagi hari,dan
pengetahuan hidup bersih dan sehat.
2. Dinas kesehatan SBB diharapkan menambah jadwal kegiatan penyuluhan untuk diadakan di
desa-desa atau dusun-dusun tertinggal.
3. Bagi peneliti selanjutnya, hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu
referensi atau sumber bacaan untuk melakukan penelitian selanjutnya.
REFERENSI
Azwar, 2012, perilaku pencegahan terhadap penyakit jakarta: media grup
Andika, 2015 ibu hamil memilih persalinan ke dukun beranak di desa tanjung kapur.
Aulia, 2012. “Pengetahuan dengan perilaku kesehatan masyarakat” (Online) (http//Pdf
pengetahuan dengan perilaku masyarakat.com)
Batmanghidj, J. 2012 perilaku di Indonesia, Jakarta: Penerbit UI
Depkes Republik indonesia, 2011 pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, jakarta penada
media grup
Khoiru M, 2013. http//google..pengetahuan dengan perilaku//com
WHO, 2011. Kebiasaan minu air bersih Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Depkes Republik Indonesia, 2013 perilaku hidup bersih dan sehat PHBS,jakarta media grup
Eka sari T, 2013 perilaku PHBS
Etnjang, 2012 pengertian tentang masyarakat
Estien Y. M.Si, 2015 fakta bahaya tentang kopi, jakarta Akademik analis kesehatan delima
husada gresik
Gocman, R, 2011 perilaku kesehatan masyarakat di indonesia, jakarta : penerbit UI
Johanes,M 2011 perilaku terhadap lingkungan kesehatan, jakarta media grup.
Lansida, B, 2011 pengetahuan masyarakat : jakarta Gadjah Mada University
Mubarak, 2012 pengetahuan masyrakat, jakarta media grup
Notoatmojo, S 2011 promosi kesehatan ilmu pengetahuan masyarakat tentang kesehatan.
Jakarta: Pernada Media Grup
Riskesdes maluku, 2013 perilaku kesehatan masyarakat,: jakarta rineka cipta
Reski P. Ningrum, 2014, kebiasaan konsumsi air hujan, makassar unifersitas hasanudin
Sarwono, B 2011 pengertian perilaku masyarakat kesehatan,jakarta media grup
Wawan, 2010 proosi kesehatan dan pengetahuan masyarakat :BSE (buku sekolah elektronik)
WHO, 2013 mengkonsumsi air bersih Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.
42
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA
PASIEN HIPERTENSI DI BANGSAL PENYAKIT DALAM RSUD CILACAP TAHUN 2015
Esti Oktaviani Purwasih
(Akper Serulingmas Cilacap)
Sakiyan
(Akper Serulingmas Cilacap)
Rachmat Susanto
(Akper Serulingmas Cilacap)
Email: [email protected]
ABSTRAK
Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama
dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg (Smeltzer & Bare, 2002)
setelah dua kali pengukuran terpisah (Nuraini, 2015). Musik terbukti menunjukkan efek yaitu
menurunkan tekanan darah, dan mengubah persepsi waktu (Djohan, 2003). Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisa pengaruh musik religi terhadap penurunan tekanan darah. Desain
penelitian ini menggunakan Quasi Eksperimental Design dengan rancangan Pre test-Post test
Kontrol Group Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling
berjumlah 60 responden, terbagi dalam kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Hasil uji
komparatif menggunakan Paired t-Test pada kelompok intervensi maupun kontrol menunjukkan
ada perbedaan yang sangat signifikan tekanan sistolik pre dan post intervensi dengan p value
=0,000 (p value < 0,05). Sedangkan tekanan diastolik pada kelomp ok intervensi menunjukkan
ada perbedaan yang sangat signifikan pre dan post intervensi dengan p value =0,001 (p value <
0,05). Pada kelompok kontrol menunjukkan ada perbedaan yang cukup signifikan tekanan
diastolik pre dan post intervensi dengan p value = 0,005 (p value < 0,05). Hal ini berarti ada
pengaruh yang sangat signifikan pemberian terapi musik terhadap penurunan tekanan darah.
Kata kunci: Hipertensi, Terapi Musik
PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama
dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg (Smeltzer & Bare, 2002)
setelah dua kali pengukuran terpisah (Nuraini, 2015). Hipertensi seringkali tidak menimbulkan
gejala, sementara tekanan darah yang terus-menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat
menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan
pemeriksaan tekanan darah secara berkala (Nuraini, 2015).
Gambaran prevalensi hipertensi di tahun 2013 dengan menggunakan unit analisis individu
menunjukkan bahwa secara nasional 25,8% penduduk Indonesia menderita penyakit hipertensi.
Jika saat ini penduduk Indonesia sebesar 252.124.458 jiwa maka terdapat 65.048.110 jiwa
yang menderita hipertensi (Riskesdas, 2013).
Djohan (2003) menjelaskan jika musik terbukti menunjukkan efek yaitu menurunkan tekanan
darah, dan mengubah persepsi waktu. Semua jenis musik sebenarnya dapat digunakan
sebagai terapi, seperti lagu-lagu relaksasi, lagu popular, maupun lagu atau musik klasik. Akan
tetapi, yang paling dianjurkan adalah musik atau lagu dengan tempo sekitar 60 ketukan per
menit yang bersifat rileks. Tidak terkecuali dengan jenis musik yang bernuansa Islami, religi
atau rohani (Aizid, 2011).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Utomo dan Santoso (2014) tentang studi
pengembangan terapi musik Islami sebagai relaksasi untuk Lansia, menyimpulkan bahwa hasil
akhir penghitungan angket peserta terapi musik Islami sebagai relaksasi untuk lansia berjumlah
80, 94% (sangat efektif). Hasil penelitian Suherly, dkk (2012) tentang perbedaan tekanan darah
pada pasien hipertensi sebelum dan sesudah pemberian terapi musik klasik menunjukkan ada
perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik pasien sebelum dan sesudah pemberian terapi
musik klasik (p value = 0,000). Penelitian yang dilakukan Diyono dan Mawarni (2015) juga
menunjukkan ada pengaruh terapi musik terhadap penurunan tekanan darah pada pasien
hipertensi.
43
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Hasil studi pendahuluan pada bulan September 2015, didapatkan data jumlah pasien
hipertensi di ruang rawat inap RSUD Cilacap dari bulan Juni sampai Agustus 2015 berjumlah
42 pasien. Pasien berjenis kelamin laki-laki berjumlah 20 orang, sedangkan pasien perempuan
berjumlah 22 orang dengan kisaran usia 8-84 tahun. Di RSUD Cilacap belum pernah dilakukan
penelitian tentang pengaruh terapi musik religi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang
berjudul “Pengaruh Terapi Musik Religi terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien
Hipertensi di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Cilacap”.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimental
Design dengan rancangan Pre test-Post test Kontrol Group Design (Dharma, 2011). Penelitian
ini bermaksud untuk membandingkan antara tekanan darah pasien hipertensi terhadap
pemberian hanya captopril 5 mg pada kelompok kontrol dengan pemberian terapi musik religi
dan captopril 5 mg pada kelompok intervensi.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi yang dirawat di bangsal Penyakit
Dalam. Sampel penelitian ini menggunakan pasien yang berada di Bangsal Penyakit Dalam
RSUD Cilacap dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang diambil secara purposive
sampling.
Kriteria inklusi pada penelitian ini meliputi:
1) Mampu mendengar dengan baik
2) Pasien hipertensi
3) Dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
Adapun kriteria eksklusi pada penelitian ini meliputi:
1) Pasien tuli
2) Mengalami penurunan kesadaran
3) Tidak bersedia
4) Tidak menyukai musik religi
Instrumen Penelitian
Pengumpulan data penelitian menggunakan 5 jenis alat, yaitu mp3 Bimbo berjudul “Tuhan”,
headphone, tensimeter, stetoskop dan kuesioner.
Prosedur Pengumpulan dan Analisis Data
Semua pasien yang telah dipilih menjadi responden dan memasuki kriteria inklusi dibagi
dalam dua kelompok. Kelompok eksperimen (A) adalah kelompok yang diberi terapi musik religi
dan obat captopril 5 mg. Kelompok kontrol diberi inisial B adalah kelompok pasien hipertensi
yang hanya diberikan obat captopril 5 mg. Responden diberi informed consent bila responden
setuju maka dilanjutkan pada tahap pengukuran tekanan darah dengan menggunakan skala
numeric sebelum diberi obat captopril. Satu jam setelah diberikan captopril pada kelompok
intervensi dilakukan terapi musik religi dan diukur tekanan darahnya, sedangkan pada
kelompok kontrol satu jam setelah diberikan captopril langsung diukur tekanan darahnya.
Analisis digunakan untuk mengetahui pengaruh terapi musik religi pada penurunan tekanan
darah pasien hipertensi. Analisis yang digunakan Paired T test untuk kelompok berpasangan.
Disimpulkan adanya pengaruh/perbedaan jika p value < 0.05 dan tidak ada perbedaan jika p
value < 0.05 (Dahlan, 2011).
HASIL PENELITIAN
Hasil analisis data responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 60 % dan laki-laki
sebanyak 40%. Sebanyak 31,7% responden yang berumur 36-45 tahun dan 68,3% responden
berumur 46-60 tahun. Responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 58,3,7 %, ibu rumah
tangga 21,7,7 %, swasta 18,3%, dan buruh 1,7%. Status pendidikan responden yaitu sebanyak
67% SD, SMP 20%, dan SMA 10 %, dan tidak sekolah 2,5%.
44
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
1) Tekanan darah sistolik
a) Sebelum intervensi dan setelah intervensi pada kelompok kontrol
Tabel 1. Distribusi berdasarkan tekanan sistolik kelompok kontrol (n=60)
Sistolik
Normal
Ringan
Sedang
Berat
Pre
Jml
12
17
1
Post
%
40
56,7
3,3
Jml
1
28
1
-
%
3,3
93,3
3,3
-
Tekanan sistolik pada kelompok kontrol sebelum dilakukan intervensi didapatkan
40% ringan, 56,7 berat, dan 3,3% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan
3,3% normal, 93,4% ringan dan 3,3% sedang.
b) Sebelum intervensi dan setelah intervensi pada kelompok intervensi
Tabel 2. Distribusi tekanan sistolik kelompok intervensi (n=60)
Sistolik
Normal
Ringan
Sedang
Berat
Pre
Jml
13
16
1
%
43,3
53,3
3,3
Jml
28
2
-
Post
%
93,3
6,7
-
Tekanan sistolik pada kelompok intervensi sebelum dilakukan intervensi
didapatkan 43,3% ringan, 53,3% Sedang dan 3,3% berat. Setelah dilakukan
intervensi didapatkan 93,3% normal dan 6,7% ringan.
2) Tekanan darah diastolik
a) Sebelum intervensi dan setelah intervensi pada kelompok kontrol
Tabel 3. Distribusi tekanan diastolik kelompok kontrol (n=60)
Diastolik
Normal
Ringan
Sedang
Berat
Pre
Jml
1
4
25
%
3,3
13,3
83,3
Post
Jml
%
3
10
27
90
Tekanan diastolik pada kelompok kontrol sebelum dilakukan intervensi didapatkan
3,3% ringan, 13,3% sedang dan 83,3% berat. Setelah dilakukan intervensi
didapatkan 10% normal dan 90% berat.
b) Sebelum intervensi dan setelah intervensi pada kelompok intervensi
Tabel 4. Distribusi tekanan diastolik pada kelompok intervensi (n=60)
Diastolik
Normal
Ringan
Sedang
Berat
45
Pre
Jml
9
21
%
30
70
Post
Jml
%
30
100
-
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Tekanan diastolik pada kelompok intervensi sebelum dilakukan intervensi
didapatkan 30% Sedang dan 70% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan
100% normal.
Hasil uji normalitas untuk variabel tekanan darah diastolik pada kelompok intervensi
menggunakan Kolmogorov-Smirnov diperoleh nilai p value > 0,05. Hasil menunjukkan data
terdistribusi dengan normal.
Tabel 5. Uji komparatif variabel tekanan darah sistolik (n=60)
Korelasi
Intervensi
Kontrol
Jumlah
30
30
Korelasi
0,971
0,968
Sig.
0,000
0,000
Hasil uji kormparatif menggunakan Paired t Test pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol menunjukkan ada perbedaan yang sangat signifikan dengan p value < 0,05 yaitu
sebesar 0,000.
Tabel 6. Uji komparatif variabel tekanan darah diastolik (n=60)
Korelasi
Intervensi
Kontrol
Jumlah
30
30
Korelasi
0,573
0,498
Sig.
0,005
0,001
Hasil uji kormparatif menggunakan paired t Test pada kelompok intervensi menunjukkan ada
perbedaan yang sangat signifikan dengan p value < 0,05 yaitu sebesar 0,001. Pada kelompok
kontrol juga menunjukkan ada perbedaan yang cukup signifikan dengan p value < 0,05 yaitu
sebesar 0,005.
PEMBAHASAN
Jumlah tertinggi responden berdasarkan jenis kelamin pada kelompok intervensi dan
kelompok kontrol yaitu responden perempuan sebanyak 60 %. Sedangkan jumlah responden
laki-laki sebanyak 40 %. Susanto (2012) dalam penelitiannya menunjukkan hasil yang sama
yaitu jumlah responden tertinggi berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan 61,8%, sedangkan
laki-laki 38,2%. Winarto (2011) penelitiannya juga menunjukkan hasil yang sama yaitu jumlah
responden tertinggi berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan 65,8%, sedangkan laki-laki
34,2%. Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi hipertensi berdasarkan jenis kelamin tahun
2007 maupun 2013 prevalensi hipertensi perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Tisna
(2009) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin
perempuan lebih banyak (56.5%) dibandingkan laki-laki (43,5%).
Jumlah reponden berdasarkan umur pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol
didapatkan responden yang berumur 36-45 tahun sebanyak 31,7 % dan umur 46-60 tahun
sebanyak 68,3%. Susanto (2012) dalam penelitiannya didapatkan bahwa hasil estimasi interval
95% rata-rata umur pasien hipertensi pada kelompok intervensi adalah diantara 46,05 sampai
50,13 tahun. Hasil estimasi interval 95% rata-rata umur pasien hipertensi pada kelompok
kontrol adalah diantara 45,55 sampai 49,39 tahun. Agrina, dkk (2011) dalam penelitiannya
didapatkan responden yang mengalami hipertensi berumur 40-50 tahun sebesar 45% dan
responden yang berumur 51-65 tahun sebesar 55%.
1) Pekerjaan
Jumlah tertinggi responden berdasarkan data pekerjaan pada kelompok intervensi maupun
kelompok kontrol yaitu bekerja sebagai petani sebanyak 58,3% dan terendah bekerja
sebagai buruh 1,7%. Tisna (2009) dalam penelitiannya menunjukkan reponden yang bekerja
sebanyak
36% sedangkan yang tidak bekerja sebanyak 60,9 %. Namun dalam
penelitiannya tidak disebutkan jenis pekerjaannya karena responden dibagi ke dalam
kelompok bekerja dan tidak bekerja.
2) Pendidikan
Jumlah tertinggi responden berdasarkan status pendidikan pada kelompok intervensi yaitu
responden yang berpendidikan SD sebanyak 67,5% dan terendah tidak sekolah sebesar
2,5%. Susanto (2012) dalam penelitiannya menunjukkan jumlah tertinggi responden
berdasarkan status pendidikan pada kelompok intervensi yaitu responden berpendidikan SD
46
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
sebanyak 48,5%. Berbeda dengan Agrina, dkk (2012) dalam penelitiannya didapatkan
jumlah tertinggi responden berdasarkan status pendidikan yaitu SLTA 36,7 %.
3) Tekanan darah sebelum intervensi dan setelah intervensi pada kelompok intervensi dan
kelompok kontrol
a) Tekanan Sistolik
Tekanan sistolik pada kelompok kontrol sebelum dilakukan intervensi didapatkan 40%
ringan, 56,7% sedang dan 3,3% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan 3,3%
normal, 93,3% ringan, dan 3,3% sedang. Hal ini menunjukkan ada perbedaan sebelum
dilakukan intervensi dan sesudah intervensi. Sedangkan tekanan sistolik pada kelompok
intervensi sebelum dilakukan intervensi didapatkan 43,3% ringan, 53,3% sedang dan
3,3% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan 93,3% normal dan 6,7% ringan. Hal
ini menunjukkan ada perbedaan sebelum dilakukan intervensi dan sesudah intervensi.
Manfaat terapi musik (Djohan, 2013) yaitu menurunkan tekanan darah dan mengubah
persepsi waktu. Rihiantoro, dkk (2008) dalam hasil penelitiannya menunjukkan adanya
pengaruh terapi musik terhadap status hemodinamika pasien koma yaitu MAP (p value =
0,031), frekuensi jantung (p value = 0,015) dan frekuensi napas (p value = 0,000). Hasil
penelitian Tangahu, dkk (2015) juga menunjukan adanya pengaruh terapi music klasi
terhadap penurunan tekanan darah pada lansia (p value = 0,001).
b) Tekanan Diastolik
Tekanan diastolik pada kelompok kontrol sebelum dilakukan intervensi didapatkan 3,3%
ringan, 13,3% sedang dan 83,3% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan 10%
normal dan 90% berat. Hal ini menunjukkan ada perbedaan sebelum dilakukan intervensi
dan sesudah intervensi. Sedangkan tekanan diastolik pada kelompok intervensi sebelum
dilakukan intervensi didapatkan 30% sedang dan 70% berat. Setelah dilakukan
intervensi didapatkan responden 100% normal. Hal ini menunjukkan ada perbedaan
sebelum dilakukan intervensi dan sesudah intervensi. Hasil penelitian Purbashinta (2014)
menunjukan adanya pengaruh terapi musik terhadap tekanan darah pada pasien
hipertensi (p value = 0,000). Penelitian yang dilakukan Nafilasari (2013) juga
menunjukkan adanya perbedaan tekanan darah pada lansia sebelum dan sesudah
diberikan terapi musik instrumental (p value < 0,05).
4) Perbedaan tekanan darah kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Hasil uji komparatif menggunakan Paired t-Test pada kelompok intervensi maupun kontrol
menunjukkan ada perbedaan yang sangat signifikan tekanan sistolik pre dan post intervensi
dengan p value =0,000 (p value < 0,05). Sedangkan tekanan diastolik pada kelompok
intervensi menunjukkan ada perbedaan yang sangat signifikan pre dan post intervensi
dengan p value =0,001 (p value < 0,05). Pada kelompok kontrol menunjukkan ada
perbedaan yang cukup signifikan tekanan diastolik pre dan post intervensi dengan p value =
0,005 (p value < 0,05). Dahlan (2011) menyimpulkan adanya pengaruh / perbedaan jika p
value < 0.05). Hasil penelitian Suherly, dkk (2012) menunjukkan ada perbedaan tekanan
darah sistolik dan diastolik pasien sebelum dan sesudah pemberian terapi music klasik (p
value = 0,000). Penelitian yang dilakukan Diyono dan Mawarni (2015) juga menunjukkan
ada pengaruh terapi musik terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Rangsangan musik mengaktivasi jalur-jalur spesifik di dalam beberapa area otak, seperti
sistem Limbik yang berhubungan dengan perilaku emosional. Dengan mendengarkan musik
, sistem Limbik ini teraktivasi dan individu menjadi rileks. Saat keadaan rileks inilah tekanan
darah menurun. Selain itu pula
alunan musik dapat menstimulasi tubuh
untuk memproduksi molekul yang disebut nitric oxide (NO). Molekul ini bekerja pada tonus
pembuluh darah sehingga dapat mengurangi tekanan darah (Tim Terapi Musik, 2011).
KESIMPULAN
Kesimpulan
1) Jumlah responden penderita hipertensi di bangsal penyakit dalam RSUD Cilacap bulan
Oktober-November 2015 sebanyak 60 responden, dengan karakeristik: 61,8% berjenis
kelamin perempuan, 68,3% responden berumur 46-60 tahun, 58,3% bekerja sebagai petani,
dan 67,5% berpendidikan SD.
2) Tekanan sistolik pada kelompok kontrol sebelum dilakukan intervensi didapatkan 40%
ringan, 56,7% sedang dan 3,3% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan 3,3%
47
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
normal, 93,3% ringan, dan 3,3% sedang. Tekanan diastolik pada kelompok kontrol sebelum
dilakukan intervensi didapatkan 3,3% ringan, 13,3% sedang dan 83,3% berat. Setelah
dilakukan intervensi didapatkan 10% normal dan 90% berat.
3) Tekanan sistolik pada kelompok intervensi sebelum dilakukan intervensi didapatkan 43,3%
ringan, 53,3% sedang dan 3,3% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan 93,3%
normal dan 6,7% ringan. Tekanan diastolik pada kelompok intervensi sebelum dilakukan
intervensi didapatkan 30% sedang dan 70% berat. Setelah dilakukan intervensi didapatkan
responden 100% normal.
4) Hasil uji komparatif menggunakan Paired t-Test pada kelompok intervensi maupun kontrol
menunjukkan ada perbedaan yang sangat signifikan tekanan sistolik pre dan post intervensi
dengan p value =0,000 (p value < 0,05). Sedangkan tekanan diastolik pada kelompok
intervensi menunjukkan ada perbedaan yang sangat signifikan pre dan post intervensi
dengan p value =0,001 (p value < 0,05). Pada kelompok kontrol menunjukkan ada
perbedaan yang cukup signifikan tekanan diastolik pre dan post intervensi dengan p value =
0,005 (p value < 0,05).
Saran
1) Pasien
Sebaiknya mendengarkan terapi musik religi sebagai tambahan terapi untuk menurunkan
tekanan darah.
2) Perawat
Sebaiknya perawat dapat memberikan pengetahuan tentang manfaat terapi musik religi dan
memberikan terapi musik religi terhadap pasien hipertensi.
3) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sebaiknya mengembangkan penelitian tentang pengembangan terapi musik religi pada
penyakit lain, seperti diabetes mellitus, gagal ginjal, dan stroke.
REFERENSI
Agrina, dkk. (2011). Kepatuhan Lansia Penderita Hipertensi dalam Pemenuhan Diet Lansia.
ISSN 1907, Volume 6, No. 1, April 2011.
Aizid, Rizem. (2011). Sehat Dan Cerdas Dengan Terapi Musik. Yogyakarta: Laksana.
Dahlan, M. Sopiyudin. (2011). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Dharma, K. K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta: CV. Trans Info Media.
Diyono & Mawarni, Putri. (2015). Efek Terapi Musik untuk Menurunkan Tekanan Darah pada
Pasien Hipertensi di Desa Taraman Sragen Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Kesehatan Kosala,
Vol. 3, No.2 Tahun 2015.
Djohan. (2003). Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher.
Nafilasari, Mike Yevie. (2013). Perbedaan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi Sebelum dan
Sesudah diberikan Terapi Musik Instrumental di Panti Wreda Pengayoman PELKRISS Kota
Semarang. Skripsi: Stikes
Nuraini, Bianti. (2015). Artikel Review Risk Factors of Hipertension.J MAJORITY, Volume 4
Nomer 5, Februari 2015.
Rihiantoro, Tori; dkk. (2008). Pengaruh Terapi Musik terhadap Status Hemodinamika pada
Pasien Koma di Ruang ICU di Sebuah Rumah Sakit di Lampung. Jurnal Keperawatan
Indonesia, Volume 12, No. 2, Juli 2008.
Riskesdas. (2013). Infodatin Hipertensi. Diakses tanggal 5 September 2015 dari
http://www.depkes.go.id/
Smeltzer S dan Bare B. (2002). Buku ajar keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth
edisi 8 Volume 2. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran Indonesia EGC.
Suherly, Muhammad, dkk. (2012). Perbedaan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Sebelum
dan Sesudah Pemberian Terapi Musik Klasik di RSUD Tugurejo Semarang.diakses tanggal
5 September 2015 dari http://www.e-jurnal.com
Susanto, Rachmat. (2012). Pengaruh Paparan Warna terhadap Retensi Short Term Memory
pasien Hipertensi Primer. Tesis: Universitas Indonesia.
48
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN, Volume 1 Nomor 1, Desember 2016 ----------------- ISSN 2548-7221
Tangahu, Ade Lastia, dkk. (2015). Pengaruh Terapi Musik Klasik terhadap Penurunan tekanan
Darah pada Pasien Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango.
Skripsi: Universitas Negeri Gorontalo.
Tim Terapi Musik. (2011). Terapi Musik untuk Melancarkan Peredaran Darah. Diakses tanggal
5 September 2015 dari http://www.terapimusik.com
Tisna, Nandang. (2009). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kepatuhan Pasien
dalam Minum Obat Antihipertensi di Puskesmas Pamulang kota Tangerang Selatan Propnsi
Banten Tahun 2009. Skripsi: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Utomo, Ayad Wahyu dan Santoso, Agus. (2014). Studi Pengembangan Terapi Musik Islami
Sebagai Relaksasi Untuk Lansi. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 2014, 3.1: 62-75.
Winarto, Eko; Yetti, Krisna; dan Mustikasari. (2011). Penurunan Tekanan Darah Pada Klien
Hipertensi Primer Melalui Terapi Hypnosis. Jurnal Keperawatan Indonesia, 2011, 14.1.
49
MEDIA BERBAGI KEPERAWATAN - http://www.journal.akperserulingmas.ac.id/ojs/index.php/mbk
Download