1 PROPOSAL NASKAH PENELITIAN MODEL TGT (TEAM GAMES

advertisement
PROPOSAL
NASKAH PENELITIAN
MODEL TGT (TEAM GAMES TOURNAMENT) UNTUK MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR INSTALASI SISTEM OPERASI WINDOWS
PADA SISWA KELAS X SMA HIKMAH YAPIS JAYAPURA
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
OLEH :
ABDUL RAJAB
NIP. 19780310 200909 1 001
SMA HIKMAH YAPIS JAYAPURA
2016
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran tidak lagi mengutamakan pada penyerapan dan pemahaman
melalui transfer informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan
dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktivitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui
peran aktif dan latihan-latihan atau tugas belajar dengan bekerja kelompok kecil dan
menjelaskan ide-ide kepada orang lain.
Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu
ada model belajar yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Adapun
model yang dimaksud adalah model pembelajaan kooperatif. Pembelajaran kooperatif
adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok
untuk menetapkan tujuan bersama.
Pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa
akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi
tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena
“siswa lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari
guru karena taraf pengetahuan serta
pemikiran
mereka
lebih
sepadan. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran
sejalan
dan
kooperatif memiliki
dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. (Nur, 1996: 2).
Kembali pada masalah pembelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows di SMA
Hikmah YAPIS Jayapura khususnya pada Kelas X masih banyak terdapat siswa yang
hasil belajarnya rendah dan tidak mengalami ketuntasan dalam hasil belajar. Kondisi
seperti tersebut tentunya bukan semata-mata karena daya serap siswa yang rendah,
tetapi banyak faktor yang mempengaruhinya. Bisa jadi karena metode pembelajaran
yang kurang relevan, model pembelajaran yang kurang menarik, media pembelajaran
yang kurang mendukung, atau mungkin karena faktor kesiapan siswa dalam menerima
materi pelajaran yang kurang, dan sebagainya. Namun dari beberapa faktor tersebut
berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan terdapat kecenderungan yang
mengarah pada faktor model pembelajaran yang harus diperbaiki.
Berdasarkan paparan tersebut diatas maka peneliti ingin mencoba melakukan
penelitian dengan judul “Model Belajar TGT (Team Games Tournament) untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Instalasi Sistem Operasi Windows pada Siswa Kelas X
SMA Hikmah YAPIS Jayapura Tahun Pelajaran 2015/2016”.
2
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah :
1. Apakah pembelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows dengan penggunaan Model
Belajar TGT (Team Games Tournament) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran?
2. Apakah pembelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows dengan penggunaan Model
Belajar TGT (Team Games Tournament) dapat meningkatkan ketrampilan proses
siswa dalam proses pembelajaran?
3. Apakah pembelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows dengan penggunaan Model
Belajar TGT (Team Games Tournament) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan, keterampilan proses
dan hasil belajar siswa SMA Hikmah YAPIS Jayapura melalui pembelajaran Instalasi
Sistem Operasi Windows dengan menggunakan Model Belajar TGT (Team Games
Tournament).
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar
siswa khususnya pada mata pelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows melalui
penggunaan Model Belajar TGT (Team Games Tournament).
2. Guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran yang
dapat memberikan manfaat bagi siswa.
3. Siswa, dapat meningkatkan motivasi belajar dan melatih sikap sosial untuk saling
peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar.
E. Batasan Masalah
Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi;
1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas X Semester Gasal Tahun Pelajaran
2015/2016.
2. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan pada bulan Juni 2015 sampai dengan
September 2015.
3. Materi yang disampaikan adalah Melakukan Instalasi Sistem Operasi Windows.
3
BAB II
KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A.
Kerangka Teoritis
1. Kajian Penelitian Pendukung
Penelitian yang dilakukan Wardono, 2005 tentang penerapan pembelajaran
kooperatif dengan teams games Turnamen (TGT) memberikan kesimpulan bahwa
pembelajaran dengan kooperatif TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penelitian
yang
dilakukan
oleh
Ardan
Sirodjuddin,
2007
tentang
pembelajaran kimia dengan penggunaan media interaktif memberikan kesimpulan
bahwa penggunaan media interaktif dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
siswa.
2. Kajian Teori
2.1. Model Pembelajaran Kooperatif TGT (Team Games Tournament)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model
pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa
tanpa harus ada perbedaan status. Tipe ini melibatkan peran siswa sebagai
tutor sebaya,mengandung unsur permainan yang bisa menggairahkan
semangat belajar dan mengandung reinforcement. Aktivitas belajar dengan
permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT
memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan
tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan
belajar.
2.2. Keaktifan dalam Pembelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows
Menurut Sunaryo dalam Sukestiyarno (2000), untuk mencapai aktivitas
maksimal belajar siswa, dalam pembelajaran harus ada komunikasi yang jelas
antara guru dengan siswa, sehingga kegiatan belajar oleh siswa dapat
berdaya guna dalam mencapai tujuan pembelajaran. Aktivitas siswa dalam
pembelajaran bisa positif maupun negatif. Aktivitas siswa yang positif
misalnya; mengajukan pendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atau soal,
komunikasi dengan guru secara aktif dalam pemebelajaran dan komunikasi
dengan sesama siswa sehingga dapat memecahkan suatu permasalahan
yang sedang dihadapi, sedangkan aktivitas siswa yang negatif, misalnya
menganggu sesama siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas,
melakukan kegiatan lain yang tidak sesuai dengan pelajaran yang sedang
4
diajarkan oleh guru.
Aktivitas belajar Instalasi Sistem Operasi Windows adalah proses
komunikasi antara siswa dan guru dalam lingkungan kelas baik proses akibat
dari hasil interaksi siswa dan guru, siswa dengan siswa sehingga
menghasilkan perubahan akademik, sikap, tingkahlaku dan keterampilan yang
dapat diamati melalui perhatian siswa, kesungguhan siswa, kedisiplinan
siswa, keterampilan bertanya/menjawab siswa.
2.3. Ketrampilan Proses Pembelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows
Dari pengertian belajar oleh Peaget dalam dalam Sukestiyarno (2000),
yaitu belajar untuk memperoleh
dan menemukan struktur pemikiran yang
lebih umum yang dapat digunakan pada bermacam-macam situasi. Dengan
demikian proses belajar merupakan proses seseorang menemukan struktur
pemikiran yang lebih umum. Melihat Bruner dalam buku Direktorat Pendidikan
Lanjutan Pertama (2004), belajar adalah merupakan suatu proses aktif yang
memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang
diberikan kepada dirinya. Jadi, proses belajar merupakan proses aktif
seseorang untuk menemukan suatu informasi.
Menurut
Syah dalam
Sukestiyarno (2000),
dijelaskan
keterampilan
berproses disini dimaksudkan kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku
proses aktif yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai
dengan keadaan strategi pembelajaran yang disusun untuk mencapai hasil
tertentu. Selanjutnya dijelaskan bahwa keterampilan bukan hanya meliputi
gerakan motorik saja melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang
bersifat kognitif.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan ketrampilan berproses adalah
suatu tuntutan proses aktif siswa dalam melakukan suatu kegiatan secara
motorik yang merupakan pengejawantahan fungsi mental yang dilakukan oleh
siswa dan dirancang secara sistematis strategi pembelajarannya oleh
pengajar untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu secara optimal.
2.4. Prestasi Belajar
Menurut Winkel (1991:42), hasil belajar merupakan bukti keberhasilan
yang telah dicapai siswa di mana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan
suatu perubahan yang khas.Dalam hal ini hasil belajar meliputi keaktifan,
ketrampilan proses, motivasi, juga prestasi belajar.
Penilaian
hasil
belajar
5
adalah kegiatan
yang
bertujuan
untuk
mengetahui sejauh mana proses belajar dan pembelajaran telah berjalan
secara efektif. Keefektifan pembelajaran tampak pada kemampuan siswa
mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Dari segi guru, penilaian hasil
belajar akan memberikan gambaran mengenai keefektifan mengajarnya,
apakah pendekatan dan media yang digunakan mampu membantu siswa
mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Tes hasil belajar yang dilakukan
oleh setiap guru dapat memberikan informasi sampai dimana penguasaan
dan kemampuan yang telah dicapai siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran tersebut.
2.5. Dasar Kompetensi
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun
2003 Bab IX Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 35 ayat 1 dan 2
bahwa Standar Nasional Pendidikan terdiri atas :
a. Standar Isi
b. Standar Proses
c. Standar Kompetensi Lulusan
d. Tenaga Kependidikan
e. Sarana dan Prasarana
f. Pengelolaan
g. Pembiayaan, dan
h. Penilaian Pendidikan
Standar isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal
untuk mencapai kompetensi minimal pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu. Yang termasuk dalam Standar Isi adalah :
a. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum,
b. Standar Kompetensi (SK)
c. Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari
setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Dasar kompetensi kejuruan merupakan kelompok mata pelajaran yang terdiri
dari beberapa mata pelajaran yang mengandung sejumlah kompetensi yang
menjadi dasar untuk kelompok mata pelajaran.
Pada Program pembelajaran Teknologi Komunikasi dan Informasi, dasar
kompetensi yang diberikan pada siswa adalah Instalasi Sistem Operasi
Windows yang terdiri dari :
a. Merencanakan kebutuhan dan spesifikasi
6
b. Melakukan keselamatan kerja dalam merakit computer
c. Mengatur komponen Personal Komputer menggunakan software (melalui
setup BIOS dan aktifasi komponen sistem operasi).
d. Melakukan instalasi Sistem Operasi
e. Memeriksa hasil Instalasi Sistem Operasi Windows.
B.
Kerangka Berpikir
Pembelajaran materi Instalasi Sistem Operasi Windows adalah diajarkan pada
kelas X di semester gasal dengan alokasi waktu 32 x45 menit. Pembelajaran dengan
model TGT (Team Games Tournament) dimulai dengan menanamkan kesadaran diri
bahwa siswa baik dalam kelompok maupun dalam kelas harus bekerjasama dan
berkompetisi untuk mau mengembangkan potensi menambah ketrampilan, melihat
kelemahan, mengambil nilai manfaat, dan kesadaran menentukan pendirian untuk
menyemangati diri sendiri dan teman.
Kegiatan dimulai dengan diberikannya tugas dalam bentuk tugas terstruktur
untuk mempelajari materi yang belum diajarkan dikemas dalam CD interaktif. Untuk
mengaktifkan siswa diberi tugas membuat rangkuman, membuat pertanyaan dari
bahan yang dirasa tidak tahu, mengerjakan soal. Semua bahan ada dalam CD. Untuk
menggugah ketrampilan siswa dilakukan review tentang semua tugas yang siswa
kerjakan di luar kelas. Untuk lebih menumbuhkan keaktifan dan ketrampilan siswa
dilakukan pembelajaran kooperatif
dengan turnamen. Apabila keaktifan dan
ketrampilan siswa sudah terbentuk dan dapat ditingkatkan akibatnya prestasi
belajarnyapun akan meningkat pula.
C.
Hipotesis
Berdasar uraian di atas dengan skenario seperti tersebut di atas dapatlah
dimunculkan hipotesis tindakan: Pembelajaran dengan model TGT (Team Games
Tournament) pada pembelajaran dasar kompetensi Instalasi Sistem Operasi Windows
dapat meningkatkan keaktifan, ketrampilan proses, dan prestasi belajar siswa.
7
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A.
Setting Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMA Hikmah YAPIS Jayapura tanggal
21 Juni sampai dengan 22 September 2015.
B.
Subyek Penelitian dan Sumber Data
Subyek penelitian adalah siswa kelas X SMA Hikmah Yapis Jayapura pada
semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 36 orang, terdiri dari 25
siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki.
Sumber data dalam penelitian ini adalah kelas X SMA Hikmah YAPIS Jayapura
pada semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 36 orang sebagai
subjek penelitian.
C.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan tes, observasi, dan
angket. Sedangkan alat pengumpulan data berupa butir soal tes, lembar observasi
dan lembar angket.
D.
Analisis Data
Data merupakan ekspresi atau hasil pengamatan/penghitungan/ pengukuran dari
suatu variabel. Data dari variabel keaktifan dan variabel ketrampilan proses diambil
dengan pengamatan/observasi, sedangkan data dari variabel prestasi belajar diambil
dengan tes. Data yang diperoleh diolah dengan analisis deskriptif.
E.
Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah:
1. Keaktifan siswa adalah ≥ 75%
2. Ketrampilan proses siswa adalah ≥ 70%
3. Prestasi belajar siswa adalah ≥ 75%
F.
Prosedur Penelitian
1. Prosedur yang Digunakan
Berdasarkan diskusi kolaboratif antara peneliti dan guru rekan sejawat mata
pelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows model belajar yang digunakan adalah
model TGT (Team Games Tournament). Prosedur tindakan pembelajaran yang
akan dilakukan adalah sebagai berikut:
8
a. Peneliti dan guru rekan sejawat mata pelajaran Instalasi Sistem Operasi
Windows berkolaborasi untuk menyiapkan pokok bahasan yang harus diteliti
dan harus dipelajari siswa.
b. Secara kolaborasi peneliti dan guru rekan sejawat mata pelajaran Instalasi
Sistem
Operasi
Windows
membuat
rancangan
pembelajaran,
media
pembelaran, instrumen evaluasi, dan skoring evaluasi.
c. Pada
pelaksanaan
pembelajaran
dengan
model
TGT
(Team
Games
Tournament), siswa diberi pembelajaran yang bentuknya rangsangan untuk
berinisiatif diwujudkan dalam bentuk soal. Soal dikompetisikan pada siswa
dalam kelompok maupun antar tim. Siswa dibiarkan mengkoordinir sendiri
dalam kelompoknya. Selanjutnya guru mengkoordinir kompetisi dengan
turnamen antar tim.
d. Pada pembelajaran berakhir guru selalu memberi masalah pada siswa berupa
soal-soal untuk dikompetisikan antar kelompok mereka sendiri. Seterusnya
untuk dibahas pada saat tatap muka berikutnya.
2. Siklus Kegiatan
Kegiatan dirancang dengan penelitian tindakan kelas 2 siklus. Kegiatan
diterapkan dalam upaya menumbuhkan semangat berkompetisi dan mampu
memecahkan masalah yang dihadapi maupun yang dibebankan padanya. Tahapan
langkah disusun dalam siklus penelitian. Setiap siklus terdiri atas perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Siklus 1
Perencanaan
a. Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 1.
Penekanan perencanaan disini adalah menyiapkan siswa benar-benar berada
pada suasana untuk saling berkompetisi. Persiapan ini akan ditemukan terlebih
dahulu antara peneliti, guru rekan sejawat dan siswa di luar jam pelajaran untuk
ditanamkan sifat bekerjasama dalam tim dan saling berkompetisi.
b. Menyiapkan modul CD Interaktif pembelajaran berupa tugas rumah maupun soal
turnamen: Isi program modul ini berupa ringkasan materi dan soal-soal yang
dicalonkan dalam turnamen. Soal-soal dikerjakan sebaiknya dalam kelompok.
Bahan ini diberikan pada saat tatap muka pada poin a di atas.
9
Pelaksanaan
a. Peneliti dan guru rekan sejawat menampung semua permasalahan yang muncul
setelah siswa mempelajari modul CD Interaktif yang diberikan sebelumnya.
b. Permasalahan dibahas bersama dengan model tanya jawab sambil menjelaskan
materi. Apabila permasalahan muncul dari siswa pada suatu kelompok, maka
pemecahannya dilakukan dengan model kompetisi untuk tim lain. Bagi mereka
yang dapat menyelesaikan masalah dapat poin bintang atas nama kelompok
dan atas nama pribadi.
c. Untuk memperjelas atau mempertegas materi siswa diberi soal turnamen baru
yang tidak jauh tingkat kesulitannya dengan soal sebelumnya.
d. Guru memberikan soal turnamen untuk tahap pertama yakni turnamen dalam
kelompok. Dalam kegiatan ini di bawah pengawasan dan bimbingan peneliti dan
guru rekan sejawat.
e. Siswa diberi soal turnamen antar kelompok untuk tahap kedua. Soal dibuat
hampir mirip dari soal turnamen tahap pertama.
f. Pada suatu penyelesaian suatu masalah soal siswa atau kelompok yang
berhasil wajib menjelaskan pada kelompok lain.
g. Siswa diberi tes akhis siklus.
Pengamatan
a. Peneliti dan guru rekan sejawat mengamati apakah jiwa kompetitif sudah dapat
dilaksanakan oleh siswa dalam pembelajaran siklus 1.
b. Peneliti dan guru rekan sejawat mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan
siswa. Dimulai dari permasalahan yang muncul pada awal pelajaran hingga akhir
pelajaran. Berikan penilaian untuk masing-masing siswa tentang indikator
keaktifan dan ketrampilan proses yang telah disiapkan.
c. Peneliti dan guru rekan sejawat mengamati jalannya turnamen tahap pertama.
Adakah permasalahan yang dihadapi siswa. Pada bagian-bagian mana mereka
mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal.
d. Peneliti dan guru rekan sejawat mengamati jalannya turnamen tahap kedua.
Dilakukan evaluasi pada individu-individu yang mampu dan tidak mampu
menyelesaikan masalahnya.
e. Menilai hasi evaluasi siklus 1.
10
Refleksi
a. Secara kolaboratif peneliti dan guru rekan sejawat menganalisis hasil
pengamatan.
Selanjutnya
membuat
suatu
refleksi,
membuat
simpulan
sementara terhadap pelaksanaan siklus 1.
b. Mendiskusikan hasil analisis berdasar indikator pengamatan, dan indikator soal
evaluasi. Membuat suatu perbaikan tindakan atau rancangan revisi berdasar
hasil analisis pencapaian indikator-indikator tersebut.
Siklus 2
Perencanaan
a. Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 2
dengan melakukan revisi sesuai hasil reflesi siklus 1. Penekanan perencanaan
disini adalah menekankan semangat dalam menyelesaikan masalah sesuai
dengan jiwa kompetitif siswa. Dimungkinkan pada siklus 1 siswa masih banyak
yang bingung, maka siklus 2 ini lebih intensif dalam kontrol tugas maupun
permainan turnamen.
b. Menyiapkan modul berupa tugas rumah maupun soal turnamen untuk
dilaksanakan pada siklus 2.
Pelaksanaan
a. Peneliti dan guru rekan sejawat kembali menampung semua permasalahan yang
muncul setelah siswa mempelajari modul CD Interaktif yang diberikan
sebelumnya.
b. Permasalahan dibahas bersama dengan model tanya jawab sambil menjelaskan
materi yang sedang dipelajari. Kembali masalah yang muncul berupa soal
dikompetisikan pada kelompok lain untuk turnamen tahap 1 dan 2.
c. Bersama siswa merangkum materi konsep siklus 2.
d. Siswa diberi soal turnamen untuk tahap pertama yakni turnamen dalam
kelompok. Dalam kegiatan ini di bawah pengawasan dan bimbingan peneliti dan
guru rekan sejawat. Disini kesempatan menjawab soal lebih ditekankan pada tim
yang belum aktif.
e. Siswa diberi soal turnamen antar kelompok untuk tahap kedua. Teknik yang
dilakukan dalam turnamen ini benar-benar harus memperhatikan keaktifan dan
11
ketrampilan prosesnya. Diharapkan pada turnamen ini lebih baik dan lebih aktif
dari pada turnamen siklus 1.
f. Diakhiri dengan tes akhir siklus 2.
Pengamatan
a. Peneliti dan guru rekan sejawat mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan
siswa. Dimulai dari permasalahan yang muncul pada awal pelajaran hingga akhir
pelajaran. Berikan penilaian lagi untuk masing-masing siswa tentang indikator
keaktifan dan ketrampilan proses.
b. Peneliti dan guru rekan sejawat mengamati jalannya turnamen tahap pertama
dan kedua. Peneliti dan guru rekan sejawat membandingkan dengan
pelaksanaan pada siklus 1 dan siklus 2.
c. Peneliti dan guru rekan sejawat mengamati jalannya turnamen tahap kedua.
Dilakukan evaluasi pada individu-individu yang mampu dan tidak mampu
menyelesaikan masalahnya.
Refleksi
a. Secara kolaboratif peneliti dan guru rekan sejawat menganalisis hasil
pengamatan.
Selanjutnya
membuat
suatu
refleksi,
membuat
simpulan
sementara terhadap pelaksanaan siklus 2.
b. Mendiskusikan hasil analisis berdasar indikator pengamatan, dan indikator soal
turnamen. Kali ini ditekankan pada refleksi kegiatan dan ketrampilan untuk tiap
individu. Apakah tiap individu sudah mulai terbiasa dengan turnamen, dan sudah
mulai terlatih memecahkan masalah.
12
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Siklus I
Kegiatan dimulai dengan perencanaan dari membuat rencana pembelajaran
untuk dirancang 12 jam pelajaran. Menyusun rancangan pembagian kelompok dan
pembuatan Modul CD Interaktif pembelajaran.
Pada pelaksanaan, diawali dengan pemberian tugas rumah untuk kelompok
diambil dari CD Interaktif. Tugasnya merangkum kembali materi, membuat pertanyaan,
dan menyelesaiakan soal latihan (semua hal di atas untuk materi baru yang belum
diajarkan). Tugas direview pada tatap muka di kelas dengan menyerahkan ke 3 tugas
di atas. Guru menampung semua permasalahan yang ada. Selanjutnya diberi soal
latihan untuk diturnamenkan.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mulanya siswa merasa protes dengan
tugas yang diberikan, mereka merasa kesulitan mempelajari karena materinya belum
pernah diajarkan. Akan tetapi memang hal itu yang diinginkan dalam penelitian ini.
Siswa dituntut aktif mandiri sebelumnya, mereka bisa bertanya pada siapa saja
sebelum bertanya pada guru pada saat tatap muka. Setelah dilakukan review materi
mereka merasa lega untuk membahas bersama terhadap soal yang diberikan.
Dilanjutkan dengan kompetisi mengerjakan soal. Hasil pengamatan untuk ke tiga
variabel lihat tabel 1.
Tabel 4.1. Diskripsi pengukuran variabel siklus 1
Jumlah
No.
Variabel
Tuntas
Prosentase
Tidak
Tuntas
Tuntas
1
Keaktifan
siswa
2
Ketrampilan
Proses
3
Prestasi
Belajar
Tidak
Tuntas
13
23
36,11
63,89
8
28
22,22
77,78
10
26
27,78
72,22
Dilakukan refleksi, ternyata pada siklus 1 ini masih banyak siswa belum tuntas
dan mengalami masalah. Pada variabel keaktifan ternyata masih cukup besar yang
13
belum mengalami ketuntasan 63,89%. Merupakan bilangan yang cukup tinggi untuk
variabel keaktifan. Permasalahan terletak pada partisipasi mengawali pembelajaran
dan pelaksanaan pembelajaran. Untuk menaikkan keaktifan ini akan dilakukan
penyembuhan dengan lebih mendekatkan tugas pada anak dengan cara wawancara
secara informal. Pada variabel ketrampilan proses juga masih banyak yang belum
tuntas. Angka 22,22% merupakan angka yang cukup memprihatinkan. Dalam hal ini
siswa pada siklus 1 ini masih saling belum percaya diri dan masih bingung mengikuti
strategi yang dilaksanakan.
Pada variabel hasil belajar menjadi rendah, hal ini sebagai dampak kurangnya
keaktifan siswa dalam.
Siswa masih banyak yang belum mengetahui sistem
pembelajaran yang disosialisasikan. Ada 27,78 % saja yang mendapatkan skor tuntas.
Merupakan tugas cukup serius untuk melaksanakan peningkatan skor variabel di siklus
berikutnya. Dilihat dari skor rata-rata untuk ketiga variabel tersebut masih di bawah
70%. Jadi pada siklus berikutnya diupayakan diperbaiki cara belajar siswa.
Dilakukan refleksi, siswa lebih diberi perhatian. Pada tugas, siswa diminta tetap
mengerjakan walaupun masih banyak kesalahan, siswa dapat menulis pertanyaan
sebanyak-banyaknya untuk dibahas dalam review tatap muka. Pada permainan
turnamen siswa juga diberi kesempatan berani mengemukakan pendapat walau masih
banyak kesalahan, yang penting siswa mau berpartisipasi.
B. Siklus II
Pada tahap perencanaan telah dilakukan perbaikan rencana pembelajaran
berdasar hasil refleksi. Materi yang diberikan dirancang untuk 20 jam pelajaran. Pada
tahap ini untuk pelaksanaannya lebih memperhatikan penyelesaian tugas terstruktur
dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk latihan praktek Instalasi Sistem
Operasi Windows dalam kelompoknya. Guru menampung semua permasalahan yang
muncul terbaru. Selanjutnya dilaksanakan turnamen.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada diri siswa nampak adanya
perbaikan untuk ketiga variabel di atas. Mereka sudah bisa menangkap tugas yang
harus dikerjakan, melakukan permainan turnamen. Disini siswa tetap dituntut aktif, bisa
bekerja sama dengan baik. Pada kegiatan turnamen siswa nampak terkoordinasi lebih
baik dari sebelumnya. Hasil pengamatan ke tiga variabel seperti tabel 2.
14
Tabel 4.2. Diskripsi pengukuran variabel siklus 2
Jumlah
No.
Variabel
Tuntas
Prosentase
Tidak
Tuntas
Tuntas
1
Keaktifan
siswa
2
Ketrampilan
Proses
3
Prestasi
Belajar
Tidak
Tuntas
28
8
77,78
22,22
27
9
75
25
29
7
80,56
19,44
Hasil tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Ke tiga variabel
mencerminkan sudah melebihi skor tuntas. Dengan adanya perhatian lebih khusus
terhadap tugas yaitu melalui intensifikasi dengan diskusi pada kelompok masingmasing di luar kelas memberi ekfektifitas baik dari segi waktu maupun dari segi
peningkatan skor variabel.
15
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Mata pelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows diberikan untuk membekali
siswa dalam menghadapi tuntutan dunia. Agar siswa menguasai konsep yang ada
maka perlu adanya usaha bagaimana membelajarkan materi tersebut menjadi
menyenangkan dan mudah untuk diajarkan. Melalui penelitian, kemudahan tersebut
akan mampu diupayakan.
Dengan menggunakan model TGT (Team Games Tournament) diharapkan antar
siswa dapat melakukan sosialisasi saling membantu. Siswa dibagi dalam kelompok
beranggotakan
6
orang.
Dengan
menerapkan
strategi
pembelajaran
yang
mengandalkan pemberian tugas terstruktur untuk materi yang belum diajarkan dapat
menggugah siswa aktif mandiri. Kegiatan selanjutnya adalah pada tatap muka di kelas
diawali dengan review materi. Untuk menguatkan penangkapan konsep dilakukan
permainan turnamen.
Hasil yang diperoleh pada siklus 1 hingga siklus 2 untuk masing-masing variabel
menunjukkan adanya peningkatan. Jumlah siswa yang mencapai skor tuntas 75%
untuk variabel keaktifan siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan berturutturut 36,11%, dan 77,78%; Jumlah siswa yang mencapai skor tuntas 70% untuk
variabel pada variabel ketrampilan proses mengalami kenaikan masing-masing
22,22%, dan 75%. Pada variabel prestasi belajar, jumlah siswa yang mencapai tuntas
75% juga mengalami peningkatan masing-masing berturutan dari 27,78%, dan
80,56%. Hal ini menandakan bahwa penelitian ini berhasil sesuai dengan tujuan yang
dicapai.
B.
Saran
Guru dalam mengajarkan mata pelajaran Instalasi Sistem Operasi Windows
selalu berusaha mencari variasi model belajar yang memberi keaktifan siswa, dan
ketrampilan proses siswa. Dengan variasi model belajar niscaya hasil belajar siswapun
juga akan mencapai ketuntasan.
Siswa hendaknya harus aktif dalam proses pembelajaran. Dengan aktif mandiri
akan diperoleh konsep yang benar-benar mendalam.
Bagi penentu kebijakan hendaknya bersifat responsif, memberi fasilitas sarana
dan prasarana yang cukup untuk membantu guru kreatif melakukan pembelajaran.
16
DAFTAR PUSTAKA
Krismanto, AL. 2003. Pembuatan Model
Yogyakarta : PPPG Kimia.
Pembelajaran
Menggunakan Komputer.
Rahadi, Aristo. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Ahmad Rohani. (1991) Pengelolaan pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas. (2005). Wawasan pendidikan Bahasa Indonesia. Bahan pelatihan terintegrasi
berbasis kompetensi guru SMP
Muh. Uzer Usman, (1992). Menjadi guru profesional. Bandung: Penerbit
Remaja Rosdakarya
PT
Nana Sudjana, (1995). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
National Council of Teacher of Mathematics. (2000) Principles and standards for school
mathematics. Reston: The National Council of Teacher of Mathematics, Inc.
Oemar Hamalik. (2003). Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta. P.T. Bumi Aksara.
Rochiati Wiriaatmadja. (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Thomas Gordon (1984) Guru yang efektif, cara untuk mengatasi kesulitan dalam kelas.
(Terjemahan Mudjito) Jakarta: Rajawali
http://www.Intel.com (Diakses, 2013)
http://www.amd.com (Diakses, 2013)
http://www.bioscentral.com/ (Diakses, 2013)
http://www.wikipedia.com (Diakses, 2013)
17
Download