hubungan kebutuhan maslow dengan kepuasan perawat dalam

advertisement
HUBUNGAN KEBUTUHAN MASLOW DENGAN KEPUASAN
PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN
PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN
DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT SANTO YUSUP BANDUNG
Lidwina Triastuti L.*, Elizabeth Ari Setyarini**, Yustina Nay***
ABSTRAK
Kebutuhan Maslow merupakan kebutuhan dasar yang pemenuhannya secara berjenjang
terdiri dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosialisasi, harga diri dan aktualisasi diri.
Kepuasan merupakan perasaan senang, lega, gembira, kenyang karena sudah terpenuhi hasrat
hatinya. Latar belakang pada penelitian ini adalah peneliti mewawancarai 13 perawat dan 13
perawat mengatakan lembar asuhan keperawatan yang disediakan rumah sakit terlalu banyak
yang harus dilengkapi, tidak ada pelatihan pendokumentasian asuhan keperawatan, tidak
diberi penghargaan apabila mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan lengkap, 5
perawat mengatakan takut ditegur kepala bagian apabila tidak melakukan pendokumentasian
asuhan keperawatan dengan lengkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
hubungan kebutuhan Maslow dengan kepuasan perawat dalam melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo Yusup
Bandung. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain deskriptif
korelasi dan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 109 perawat dan teknik yang
digunakan adalah non probability sampling dengan menggunakan sampling jenuh. Instrumen
penelitian berupa kuesioner sebanyak 35 pernyataan. Hasil penelitian didapatkan tidak ada
hubungan kebutuhan Maslow dengan kepuasan perawat dalam melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan, dengan nilai p = 0,105 (> 0,05). Disarankan kepada
Rumah Sakit Santo Yusup Bandung untuk mengadakan program pelatihan pendokumentasian
asuhan keperawatan secara berkala.
Kata kunci: kebutuhan Maslow, kepuasan
PENDAHULUAN
Pelayanan kesehatan merupakan
hak setiap orang. Upaya pemerintah untuk
mendukung hal tersebut adalah dengan
menyediakan instansi kesehatan yaitu
rumah sakit (Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit). WHO (World Health
Organization) mengartikan rumah sakit
adalah bagian integral dari suatu organisasi
sosial dan kesehatan dengan fungsi
menyediakan
pelayanan
paripurna
(komprehensif), penyembuhan penyakit
(kuratif) dan pencegahan penyakit
(preventif) kepada masyarakat. Rumah
sakit adalah institusi kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan perorangan
secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan dan
gawat darurat (Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 44 Tahun 2009).
Pelayanan rawat inap merupakan
salah satu unit di rumah sakit yang
memberikan
pelayanan
secara
komprehensif
untuk
membantu
menyelesaikan masalah yang dialami oleh
pasien (Nursalam, 2011), sedangkan
menurut Muninjaya (2011), rawat inap
adalah pelayanan kesehatan perorangan
yang meliputi observasi, pengobatan,
keperawatan dan rehabilitasi medik.
Pelayanan kesehatan di ruang rawat inap
merupakan bentuk pelayanan yang
diberikan kepada klien oleh suatu tim
13
multi disiplin, salah satunya adalah
perawat (Persatuan Perawat Nasional
Indonesia, 2005).
Perawat adalah seseorang yang
mempunyai kemampuan, tanggung jawab
dan kewenangan melaksanakan asuhan
keperawatan (Sumijatun, 2010). Peran
perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan
salah
satunya
adalah
memperhatikan kebutuhan dasar manusia
menggunakan proses keperawatan untuk
menentukan diagnosa keperawatan agar
bisa direncanakan dan dilaksanakan
tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat
kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat
dievaluasi tingkat perkembanganannya
(Hidayat, 2009). Setiap perawat yang
melakukan proses keperawatan harus
mendokumentasikannya pada format yang
disediakan rumah sakit (Hidayat, 2011).
Pencatatan atau pendokumentasian
merupakan suatu tindakan legal. Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia
(2007)
mengartikan legal adalah sesuatu yang
dianggap sah oleh hukum atau undangundang. Pendokumentasian keperawatan
berkaitan
dengan
hukum
karena
mengandung informasi tertulis tentang
status dan perkembangan kondisi klien
serta semua kegiatan asuhan keperawatan
yang dilakukan oleh perawat, mulai dari
pengkajian hingga evaluasi yang nantinya
dapat digunakan sebagai barang bukti di
pengadilan (Dinarti, 2009). Perawat
berkewajiban mendokumentasikan asuhan
keperawatan sesuai standar menurut
Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2014
Pasal
37.
Standar
dokumentasi
keperawatan dibuat untuk mengukur
kualitas dan kuantitas dokumentasi yang
dapat digunakan sebagai pedoman dalam
memberikan
tindakan
keperawatan
(Nursalam, 2011).
Kualitas dan kuantitas dokumentasi
dilihat berdasarkan kelengkapan dan
keakuratan data kesehatan klien serta dapat
digunakan sebagai alat komunikasi antar
perawat,
sebagai
pedoman
dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada
klien untuk meningkatkan pelayanan
kesehatan. Selain itu, dokumentasi
keperawatan digunakan sebagai acuan
pertimbangan dalam pembiayaan bagi
klien, referensi pembelajaran bagi peserta
didik dan sebagai bahan atau objek
penelitian (Nursalam, 2011). Dokumentasi
juga memiliki peran sebagai tempat
informasi mengenai tindakan-tindakan
yang telah diberikan perawat kepada klien
(Asmadi, 2008).
Pelaksanaan
pendokumentasian
asuhan keperawatan belum optimal,
penyebabnya adalah tidak cukupnya waktu
untuk melakukan pendokumentasian,
faktor staf keperawatan yang malas
mencatat dan tingginya aktivitas perawat
(Dawn dalam Deswani, 2009). Hasil riset
Uduk (2008) menunjukkan bahwa mutu
asuhan keperawatan yang dilakukan oleh
perawat di ruang rawat inap RSUD
Atambua belum mencapai standar asuhan
keperawatan
Depkes
RI,
rata-rata
pencapaian baru 48,22%. Hasil penelitian
Waruna (2003) menyatakan bahwa masih
ditemukan
31,8%
perawat
tidak
mendokumentasikan asuhan keperawatan
dengan baik dan benar. Penelitian yang
dilakukan oleh Berthiana (2012) juga
menunjukan bahwa ketepatan pengisian
dokumentasi keperawatan belum optimal.
Hal ini dikarenakan hanya 30% kategori
baik, 53,3% kategori cukup baik dan
16,7% kurang baik. Akibatnya dapat
memberikan dampak yang merugikan.
Mutu pendokumentasian menurun dan
mengundang
permasalahan
hukum
terutama
tenaga
perawat
apabila
14
melakukan kelalaian atau kesalahan yang
memberikan kerugian bagi pasien (Dinarti,
2009).
Kelengkapan
pendokumentasian
asuhan keperawatan sangat dipengaruhi
oleh adanya motivasi dari perawat.
Motivasi terbentuk karena adanya
kebutuhan (Saydan dalam Sayuti, 2007).
Maslow mengembangkan teori hierarki
kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan
fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan
sosialisasi, kebutuhan harga diri dan
kebutuhan aktualisasi diri. Maslow
menyatakan bahwa kelima kebutuhan
tersebut berlaku secara hierarkis, artinya
pemenuhan berawal dari tingkatan yang
paling bawah, yaitu kebutuhan fisiologis
hingga kebutuhan yang paling tinggi, yaitu
kebutuhan aktualisasi diri (Sule dan
Saefullah, 2010).
Kepuasan
kerja
karyawan
bergantung pada terpenuhi atau tidaknya
kebutuhan karyawan. Karyawan merasa
puas apabila ia mendapatkan apa yang
dibutuhkannya, semakin besar kebutuhan
karyawan terpenuhi semakin puas pula
karyawan tersebut. Begitu pula sebaliknya,
apabila kebutuhan karyawan tidak
terpenuhi karyawan itu merasa tidak puas
(Mangkunegara, 2005). Pernyataan ini
didukung oleh penelitian Hamsyah (2004),
menyatakan bahwa suasana kerja perawat
mempengaruhi kepuasan kerja perawat.
Faktor suasana kerja yang mempengaruhi
kepuasan kerja yaitu faktor standar
pelaksanaan pekerjaan, faktor penghargaan
dan faktor keterbukaan.
Model
pemberian
asuhan
keperawatan yang digunakan di Ruang
Rawat Inap Rumah Sakit Santo Yusup
adalah Metode TIM di mana semua
perawat
berhak
mendokumentasikan
asuhan keperawatan. Pendokumentasian
asuhan keperawatan merupakan salah satu
dimensi penilaian KPI, jika perawat
mampu
mendokumentasikan
asuhan
keperawatan dengan lengkap sesuai target
yang ditentukan di setiap ruangan maka
nilai KPI perawat meningkat sehingga
mempengaruhi pemberian insentif yang
diberikan setiap 6 bulan. Pemberian
insentif dapat memacu perawat dalam
melakukan pendokumentasian asuhan
keperawatan. Hal ini didukung oleh
penelitian Rahman (2013),
bahwa
pemberian insentif memiliki pengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan
kerja karyawan.
Alur pergantian format asuhan
keperawatan dimulai dari Tim Akreditasi
yang memberikan masukan ke Tim Format
mengenai format yang harus dibuat
kemudian Tim Format membuat dan
memperbanyak format tersebut, setelah itu
disosialisasikan ke setiap ruang rawat inap
dan diuji coba, apabila ada kekurangan
dari format tersebut setiap perawat berhak
memberikan masukan yang nantinya
dianalisa oleh TIM Format dan mencetak
format yang baku.
Hasil wawancara dengan Kepala
Bagian Ruang Lukas, Fatima, Maria,
Yasinta dan Cosmas pada tanggal 24 dan
26 Januari 2015, mengatakan fungsi
supervisi sudah dijalankan dengan cara
saat briefing kepala bagian selalu
mengingatkan perawat untuk melengkapi
asuhan keperawatan, tidak ada pelatihan
khusus untuk pendokumentasian asuhan
keperawatan tetapi hanya dilakukan
sosialisasi jika ada perubahan format
asuhan
keperawatan.
Pelaksanaan
pendokumentasian asuhan keperawatan
belum dilakukan dalam waktu 1x24 jam,
pendokumentasian belum lengkap yaitu
PQRST pada keluhan utama belum
dijabarkan dan evaluasi SOAP belum
dilakukan, respon pasien setelah dilakukan
15
tindakan
keperawatan
tidak
didokumentasikan dan rentang waktu
antara satu tindakan dengan tindakan lain
terlalu panjang.
Hasil observasi peneliti terhadap
rekam medis pasien pulang Ruang Lukas,
Fatima, Maria, Yasinta dan Cosmas
peneliti mendapatkan 3 rekam medis
bagian pengkajian, diagnosa dan intervensi
tidak terisi, 1 rekam medis tidak terisi pola
kebiasaan, 2 rekam medis bagian PQRST
tidak dijabarkan, 1 rekam medis tanggal
dan jam pengkajian tidak ditulis, 1 rekam
medis bagian riwayat kesehatan masa lalu
tidak terisi dan 12 rekam medis terisi
dengan lengkap. Hasil Audit Komite
Keperawatan 6 Oktober 2014 diperoleh
data yaitu pendokumentasian tindakan di
Ruang Lukas masih 36,3% dan
pendokumentasian pengkajian di Ruang
Cosmas masih 52,5%. Hasil observasi 20
rekam
medis
yang
seharusnya
dikembalikan 1 hari setelah pasien pulang
masih ditemukan 3 rekam medis Ruang
Maria, 5 rekam medis Ruang Cosmas, 5
rekam medis Ruang Fatima dan 5 rekam
medis Ruang Lukas yang dikembalikan
lebih dari 1 hari setelah pasien pulang.
Hasil wawancara dengan 13
perawat di Ruang Lukas, Fatima, Maria,
Yasinta dan Cosmas diperoleh data bahwa
13 perawat mengatakan saat breafing
kepala bagian selalu mengingatkan
perawat
untuk melengkapi asuhan
keperawatan,
pelaksanaan
pendokumentasian asuhan keperawatan
belum dilakukan secara optimal di mana
kesibukan di ruangan menjadi salah satu
kendala
membuat
perawat
tidak
mendokumentasikan asuhan keperawatan
dalam waktu 1x24 jam, lembar asuhan
keperawatan yang disediakan rumah sakit
terlalu banyak yang harus dilengkapi
sehingga membutuhkan waktu yang lama
untuk melakukan pendokumentasian, tidak
ada pelatihan pendokumentasian asuhan
keperawatan, tidak diberi pengahargaan
apabila
mendokumentasikan
asuhan
keperawatan dengan lengkap, 5 perawat
mengatakan takut ditegur kepala bagian
apabila
tidak
melakukan
pendokumentasian asuhan keperawatan
dengan lengkap.
Hasil dari data di atas membuat
peneliti tertarik untuk
mengetahui
mengenai hubungan kebutuhan Maslow
dengan
kepuasan
perawat
dalam
melaksanakan pendokumentasian asuhan
keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah
Sakit Santo Yusup Bandung.
TUJUAN
Mengidentifikasi
hubungan
kebutuhan Maslow dengan kepuasan
perawat
dalam
melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan di
Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo
Yusup Bandung.
METODE
Penelitian
ini
menggunakan
penelitian kuantitatif dengan
desain
deskriptif korelasional melalui pendekatan
cross sectional. Teknik sampling yang
digunakan adalah Non Probability
Sampling yaitu sampling jenuh dengan
sampel sebanyak 116 perawat. Instrumen
yang digunakan berupa kuesioner untuk
mengumpulkan data kebutuhan Maslow
dan kepuasan perawat. Analisa data yaitu
analisa univariat dan bivariat.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan penelitian didapatkan hasil
sebagai berikut:
Distribusi
frekuensi
responden
berdasarkan usia pada perawat di Ruang
16
Rawat Inap Rumah Sakit Santo Yusup
Bandung, Juni 2015 (n=109)
Usia
21-30 tahun
31-40 tahun
41-50 tahun
51-60 tahun
Total
Frekuensi
61
41
5
2
109
%
56
37,6
4,6
1,8
100
Tabel 4.1 menunjukan hasil bahwa
sebagian perawat (56%), yaitu 61 perawat
berusia 21-30 tahun.
Distribusi
frekuensi
responden
berdasarkan jenis kelamin pada perawat
di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo
Yusup Bandung, Juni 2015 (n=109)
Jenis
Frekuensi
%
Kelamin
Laki-laki
10
9,2
Perempuan
99
90,8
Total
109
100
Tabel 4.2 menunjukan hasil bahwa hampir
seluruh perawat (90,8%), yaitu 99 perawat
berjenis kelamin perempuan.
Distribusi
frekuensi
responden
berdasarkan pendidikan pada perawat di
Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo
Yusup Bandung, Juni 2015 (n=109)
Pendidikan
SPK/SPR/SPKC
DIII
Sarjana (S1/S2)
Total
Frekuensi
7
101
1
109
%
6,4
92,7
0,9
100
Tabel 4.3 menunjukan hasil bahwa hampir
seluruh perawat (92,7%), yaitu 101
perawat lulusan DIII.
Distribusi
frekuensi
responden
berdasarkan lama kerja pada perawat di
Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo
Yusup Bandung, Juni 2015 (n=109)
Lama kerja
< 6 tahun
6-10 tahun
>10 tahun
Total
Frekuensi
47
27
35
109
%
43,1
24,8
32,1
100
Tabel 4.4 menunjukan hasil bahwa
sebagian perawat (43,1%), yaitu 47
perawat memiliki lama kerja < 6 tahun.
Hasil Univariat
Kebutuhan Maslow
Distribusi frekuensi kebutuhan Maslow
pada perawat di Ruang Rawat Inap
Rumah Sakit Santo Yusup Bandung, Juni
2015 (n=109)
Kabutuhan
Maslow
Tidak terpenuhi
Terpenuhi
Total
Frekuensi
%
48
61
109
44
56
100
Tabel 4.5 menunjukan hasil bahwa
sebagian perawat (56%), yaitu 61 perawat
mengatakan kebutuhan Maslow dalam
melaksanakan pendokumentasian asuhan
keperawatan terpenuhi.
Kepuasan
Distribusi frekuensi kepuasan pada
perawat di Ruang Rawat Inap Rumah
Sakit Santo Yusup Bandung, Juni 2015
(n=109)
17
Kepuasan
Frekuensi
%
Tidak puas
44
40,4
Puas
65
59,6
Total
109
100
Tabel 4.6 menunjukan hasil bahwa
sebagian perawat (59,6%), yaitu 65
perawat merasa puas dalam melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan.
Hasil Bivariat
Hubungan Kebutuhan Maslow dengan
Kepuasan Perawat dalam Melaksanakan
Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo
Yusup Bandung, Juni 2015 (n=109)
Kepuasan Perawat
Kebutuhan
Maslow
Tidak puas
Puas
Total
Nilai p
n
(%)
n
(%)
N
(%)
Tidak
terpenuhi
24
50
24
50
48
100
Terpenuhi
20
32,8
41
67,2
61
100
Total
44
40,4
65
59,6
109
100
0,105
Tabel 4.7 menunjukan hasil bahwa
terdapat sebagian perawat (50%), yaitu 24
perawat yang kebutuhan Maslownya tidak
terpenuhi
merasa
puas
dalam
mendokumentasikan asuhan keperawatan.
Terdapat sebagian besar perawat (67,2%),
yaitu 41 perawat yang kebutuhan
Maslownya terpenuhi merasa puas dalam
melaksanakan pendokumentasian asuhan
keperawatan. Hasil uji statistik Chi Square
diperoleh nilai p = 0,105 (p > 0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa Ho diterima
artinya tidak terdapat hubungan kebutuhan
Maslow dengan kepuasan perawat dalam
melaksanakan pendokumentasian asuhan
keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah
Sakit Santo Yusup Bandung.
PEMBAHASAN
Analisa Univarit
Kebutuhan Maslow
Kebutuhan adalah segala sesuatu
yang diperlukan manusia untuk mencapai
kesejahteraan. Kebutuhan dasar manusia
merupakan hal-hal yang dibutuhkan
manusia
dalam
mempertahankan
keseimbangan
fisiologis
maupun
psikologis
yang
bertujuan
untuk
mempertahankan kehidupan dan kesehatan
(Potter dan Perry, 2005). Kebutuhan
menurut Abraham Maslow merupakan
bentuk kebutuhan dasar manusia yang
pemenuhannya secara berjenjang dimulai
dari kebutuhan fisiologis, rasa aman,
sosialisasi, harga diri dan aktualisasi diri
(Notoatmodjo, 2010).
Kebutuhan
fisiologis
akan
terpenuhi dalam sebuah perusahaan
manakala tenaga kerja atau individu
mendapatkan upah minimum yang mereka
kehendaki, lingkungan pekerjaan yang
nyaman, dan lokasi yang bersih dari
polusi. Kebutuhan keamanan bukan hanya
sekedar untuk merasa aman dari berbagai
gangguan fisik maupun mental, tetapi juga
perasaan aman akan ketidakpastian di
masa yang akan datang yaitu rencana
pasca pensiun dari pekerjaan, tunjangan di
hari tua. Kebutuhan untuk berafiliasi atau
bersosialisasi dengan orang lain dapat
diwujudkan
melalui
keikutsertaan
seseorang dalam suatu organisasi atau
perkumpulan-perkumpulan
tertentu.
Kebutuhan harga diri adalah kebutuhan
untuk dianggap berharga oleh diri sendiri
dan orang lain (Sule dan Saefullah, 2010).
Kebutuhan aktualisasi diri muncul setelah
semua kebutuhan dasar
terpenuhi,
kebutuhan menjadi sesuatu yang orang itu
mampu mewujudkannya secara maksimal
18
seluruh bakat-kemampuan, potensinya.
Aktualisasi diri adalah keinginan untuk
memperoleh kepuasan dengan dirinya
sendiri (Self fullfilment), untuk menyadari
semua potensi dirinya, untuk menjadi apa
saja yang dia dapat melakukannya, untuk
menjadi kreatif dan bebas mencapai
puncak prestasi potensinya. Manusia yang
dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini
menjadi manusia yang utuh, memperoleh
kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang
orang lain bahkan tidak menyadari ada
kebutuhan semacam itu (Notoatmodjo,
2010).
Hasil
penelitian
menunjukan
bahwa dari 109 perawat yang menjadi
responden penelitian, berdasarkan analisis
kuesioner sebagian perawat (56%), yaitu
61 perawat menyatakan kebutuhan
Maslownya
dalam
melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan
terpenuhi dalam hal kebutuhan aktualisasi
diri
di
mana
perawat
mampu
menyelesaikan
semua
tugas
pendokumentasian
dan
pelayanan
keperawatan langsung kepada pasien
secara bersamaan sesuai Standar Prosedur
Operasional (SPO) serta perawat tetap
mendokumentasikan asuhan keperawatan
dalam kondisi apapun.
Selaras dengan pernyataan Potter
dan Perry (2005) bahwa manusia yang
teraktualisasi dirinya memiliki kepribadian
multidimensi yang matang. Mereka sering
mampu menyelesaikan tugas yang banyak
dan
mereka
mencapai pemenuhan
kepuasan dengan baik. Mereka tidak
bergantung secara penuh pada opini orang
lain mengenai penampilan, kualitas kerja
dan penyelesaian masalah, walaupun
mereka mengalami kegagalan dan
keraguan,
mereka
secara
umum
menghadapi secara realisitis. Hal ini
dipertegas oleh jurnal yang ditulis oleh
Oktaful Ghofur (2006) yang berjudul
“Konsep Aktualisasi Diri Abraham H.
Maslow
dan
Korelasinya
dalam
Membentuk Kepribadian”, mengatakan
bahwa orang yang mengaktualisasikan diri
berorientasi pada masalah-masalah yang
melampui kebutuhan mereka. Mereka
hidup untuk bekerja dan bukan bekerja
untuk hidup. Segala perilaku, pikiran,
gagasan terpusat pada persoalan yang
dihadapi oleh umat manusia, bukan
persoalan yang bersifat egois.
Sebagian perawat (56%), yaitu 61
perawat juga menyatakan kebutuhan
Maslownya
dalam
melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan
terpenuhi dalam hal kebutuhan sosialisasi
di mana perawat merasa dilibatkan dalam
kegiatan sosialisasi pendokumentasian
asuhan keperawatan dan diikutsertakan
memberikan pendapat dalam proses
perbaikan format asuhan keperawatan.
Setiap karyawan merasa senang jika
diikutsertakan dalam berbagai kegiatan
perusahaan dan organisasi. Keikutsertaan
mereka mencapai tujuan-tujuan organisasi
bukan hanya dalam bentuk fisik atau
kegiatan saja, tetapi juga dalam bentuk
pendapat,
ide
atau
saran-saran.
Pengikutsertaan seseorang dalam proses
pengambilan keputusan terutama yang
menyangkut pekerjaannya mempunyai
dampak psikologis. Artinya apabila
seseorang dilibatkan dalam menentukan
hal-hal yang menyangkut dirinya, ia
merasa bahwa keputusan yang diambil
adalah keputusan sendiri sehingga ia
mempunyai rasa tanggung jawab yang
lebih besar dalam melaksanakan keputusan
yang diambil (Siagian, 2010).
Sebagian perawat (44%), yaitu 48
perawat menyatakan kebutuhan Maslow
dalam melaksanakan pendokumentasian
asuhan keperawatan tidak terpenuhi. Hal
19
ini dikarenakan masih ada perawat yang
belum
menyadari
bahwa
pendokumentasian asuhan keperawatan
merupakan tanggung jawab mereka dan
menyatakan pendokumnetasian asuhan
keperawatan
yang
lengkap
tidak
mempengaruhi insentif yang diterima. Hal
ini dinyatakan juga dalam penelitian
Nuraeni, dkk (2014) bahwa sebagian besar
(70%), yaitu 21 perawat menyatakan
bahwa reward yang dirasakan kurang
mendukung
terhadap
pelaksanaan
pendokumentasian asuhan keperawatan.
Berdasarkan format Key Performance
Indicators (KPI) yang dibuat oleh bagian
SDM atas permintaan Kepala Bagian
sistem pemberian insentif di Rumah Sakit
Santo Yusup Bandung tidak hanya
dipengaruhi
oleh
pendokumentasian
asuhan keperawatan yang lengkap tetapi
juga dipengaruhi oleh kepuasan keluarga
dan pasien dilihat melalui komplain yang
ditujukan kepada perawat, kepuasan rekan
dinas terhadap yang bersangkutan,
kesediaan dinas, kerjasama dalam tim,
penampilan, aktif dan mendukung kegiatan
rumah sakit serta bagian.
Kepuasan
Kolter, 1994 dalam Tjiptono
(2007) mengungkapkan kepuasan sebagai
tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja yang dirasakan
dengan harapannya sehingga dapat
dinyatakan bahwa setiap harapan dan
kinerja yang dirasakan merupakan
komponen pokok kepuasan konsumen atau
pelanggan. Faktor kepuasan diukur melalui
5
dimensi
yaitu
responsiveness
(ketanggapan), reliability (kehandalan),
empathy (empati), assurance (jaminan)
dan tangible (bukti langsung) (Rangkuti,
2006).
Anjaryani (2009), mengatakan
responsiveness (ketanggapan) merupakan
keinginan dari petugas dalam menolong
semua pelanggan serta berkeinginan
melaksanakan
pemberian
pelayanan
dengan tanggap. Reliability (kehandalan)
adalah kemampuan memberikan pelayanan
dengan segera dan memuaskan. Dimensi
emphaty
(empati)
merefleksikan
kemampuan seseorang untuk mengetahui
perasaan pelanggan sebagaimana jika
seseorang itu mengalaminya. Dimensi
assurance
(jaminan)
mencakup
pengetahuan, kesopanan dan kemampuan
untuk memberikan kepercayaan kepada
pelanggan. Dimensi tangible (bukti
langsung)
meliputi
fasilitas
fisik,
perlengkapan karyawan dan sarana
komunikasi,
kebersihan
(kesehatan),
ruangan teratur dan rapi, berpakaian rapi
dan harmonis serta penampilan karyawan
(Rangkuti, 2006).
Pelayanan keperawatan merupakan
kunci pokok keberhasilan dalam pelayanan
rumah sakit karena tenaga perawat secara
langsung berhadapan dan memberikan
pelayanan kepada pasien. Ketika perawat
memperoleh kepuasan dalam bekerja maka
perawat berusaha semaksimal mungkin
dengan
segala
kemampuan
yang
dimilikinya untuk menyelesaikan tugastugasnya (Azis, 2001). Apabila perawat
banyak yang mengalami ketidakpuasan
kerja maka berdampak kepada buruknya
pelayanan rumah sakit. Oleh karena itu,
dalam Permana (2005) menyatakan bahwa
manajemen harus memberikan dukungan
serta memperhatikan kepuasan perawat
agar bisa meningkatkan kinerjanya dalam
melayani pasien.
Hasil
penelitian
menunjukan
bahwa dari 109 perawat yang menjadi
responden penelitian, berdasarkan analisis
kuesioner sebagian perawat (59,6%), yaitu
20
65 perawat menyatakan merasa puas
dalam melaksanakan pendokumentasian
asuhan keperawatan terutama dimensi
assurance (jaminan) di mana perawat puas
dengan
adanya
Standar
Prosedur
Operasional sehingga membantu mereka
dalam
mendokumentasikan
asuhan
keperawatan yang dilihat dari rata-rata
kelengkapan pendokumentasian asuhan
keperawatan yaitu >80%. Dimensi ini
dapat dilihat melalui keamanan bahwa
seseorang terbebas dari bahaya risiko dan
keragu-raguan. Keamanan tidak hanya
mencegah rasa sakit tetapi juga membuat
individu merasa aman dalam aktivitasnya
yang dapat mengurangi stres (Rangkuti,
2006).
Sebagian perawat (40,4%), yaitu 44
perawat menyatakan tidak puas dalam
melaksanakan pendokumentasian asuhan
keperawatan. Hal ini dikarenakan masih
ada Tim format yang sulit dihubungi jika
perawat mengalami kesulitan mengenai
kejelasan format asuhan keperawatan,
perawat juga mengatakan tidak puas
dengan
sosialisasi
format
asuhan
keperawatan yang baru karena tidak
disampaikan dengan jelas. Penyebab
ketidakjelasan sosialisasi tersebut adalah
Tim Format hanya mensosialisasikan
format asuhan keperawatan yang baru di
sebagian ruangan sisanya disosialisasikan
oleh Kepala Bagian masing-masing dan
sosialisasi hanya dilakukan saat dinas pagi
sehingga tidak semua mendapatkan
informasi yang jelas.
Analisa Bivariat
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dari 109 perawat yang menjadi
responden terdapat sebagian kecil perawat
(32,8%), yaitu 20 perawat yang kebutuhan
Maslownya terpenuhi merasa tidak puas
dalam melaksanakan pendokumentasian
asuhan keperawatan. Hasil uji statistik Chi
Square diperoleh nilai p = 0,105 (p >
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ho
diterima artinya tidak terdapat hubungan
kebutuhan Maslow dengan kepuasan
perawat
dalam
melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan di
Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo
Yusup Bandung. Didukung oleh penelitian
yang dilakukan Limonu (2014) bahwa
tidak ada hubungan yang bermakna antara
reward, psikologi dan sosial dengan
pelaksanaan pendokumentasian proses
asuhan
keperawatan
yang
dilihat
berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh
nilai p = 0,519 (p > 0,05). Penelitian
Almira (2008) juga mengatakan tidak
terdapat hubungan antara iklim kerja
(dimensi reward) dengan kepuasan kerja
di mana berdasarkan hasil uji Chi Square
diperoleh nilai p = 0,619 (p > 0,05).
Hasil penelitian menyatakan bahwa
sebagian perawat (56%), yaitu 61 perawat
berusia 21-30 tahun di mana pada usia
muda ini seseorang mempunyai fisik yang
kuat, dinamis, kreatif dan cepat. Setiawan
(2007) dalam penelitiannnya menyatakan
bahwa terdapat 12 perawat (66,7%)
berusia 21-30 tahun merasa puas terhadap
pekerjaannya. Berdasarkan hasil uji Chi
Square diperoleh nilai p = 0,017 (p < 0,05)
sehingga Ha diterima yaitu ada hubungan
antara umur perawat pelaksana dengan
kepuasan kerja. Sesuai dengan pendapat
Mangkunegara (2009) menyatakan bahwa
salah satu faktor yang menyebabkan
seseorang puas dalam bekerja adalah usia
saat bekerja.
Hasil
penelitian
menunjukan
bahwa hampir seluruh perawat (90,8%),
yaitu 99 perawat berjenis kelamin
perempuan. Hal ini didukung oleh
21
penelitian Gatot dan Adisasmito (2005) di
mana distribusi frekuensi karakteristik
perawat berdasarkan jenis kelamin
diperoleh hasil sebagian besar responden
adalah perempuan yaitu 73,6% dan lakilaki sebanyak 26,4%. Rasio perempuan
lebih banyak dari laki-laki. Dalam
mengelola
sumber
daya
manusia
khususnya karyawan wanita, perlu
diperhatikan aspek psikologis maupun
biologisnya. Karyawan wanita cenderung
lebih mudah puas dalam pekerjaan
dibandingkan dengan karyawan laki-laki.
Selain itu, pria mempunyai beban
tanggungan lebih besar dibandingkan
dengan wanita, sehingga pria menuntut
kondisi kerja yang lebih baik seperti gaji
yang memadai dan tunjangan karyawan
(Rizal, 2005).
Berdasarkan hasil analisa data di
atas disimpulkan
bahwa kepuasan
seseorang dalam bekerja tidak hanya
dipengaruhi oleh terpenuhinya kebutuhan
tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain.
Mangkunegara
(2009)
mengatakan
kepuasan kerja dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu pengawasan yang dilakukan
oleh atasan, kepribadian, usia, jenis
kelamin, status perkawinan, tingkat
pendidikan dan masa kerja.
SIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukan
bahwa sebagian perawat mengatakan
kebutuhan Maslow dalam melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan
terpenuhi dan merasa puas dalam
melaksanakan pendokumentasian asuhan
keperawatan. Tidak terdapat hubungan
kebutuhan Maslow dengan kepuasan
perawat
dalam
melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan di
Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santo
Yusup Bandung, dengan uji Chi Square
diperoleh nilai p = 0,105 dibandingkan
dengan nilai koefisien α 0,05.
SARAN
Bagi Rumah Sakit Santo Yusup
Bandung diadakan program pelatihan
pendokumentasian asuhan keperawatan
secara berkala, Tim Format sebaiknya
mensosialisasikan
format
asuhan
keperawatan secara berkala jika ada
pembaharuan format, mensosialisasikan isi
KPI kepada perawat, dan mengevaluasi
kembali tugas dan peran perawat
khususnya
dalam
pendokumentasian
asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Anjaryani, Diah. (2009). Hubungan
Pelayanan Keperawatan di Rumah
Sakit dengan Kepuasan Pasien.
Dalam
http://skripsistikes.com
Diunduh 20 Mei 2015.
Almira, Amalia (2008). Hubungan Antara
Iklim Kerja dengan Kepuasan
Kerja pada Karyawan Divisi
Editor PT Televisi Transformasi
Indonesia (TRANS TV). Dalam
http://elibrary.unisba.ac.id/files2/08
.6594.pdf Diunduh 5 Juli 2015.
Arianto, I. 2009. Hubungan Antara Efikasi
Diri dan Dukungan Sosial dengan
Kecemasan terhadap Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK). Skripsi
Fakultas Psikologi UMS Surakarta:
tidak diterbitkan.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Prosedur
Penelitian
Suatu
Pendekatan
Praktik. Edisi Revisi 6. Jakarta:
Rineka Cipta.
.
2013.
Prosedur
Penelitian
Suatu
Pendekatan
Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Asmadi.
2008.
Konsep
Dasar
Keperawatan. Jakarta: EGC.
22
Berthiana. (2012). Hubungan Motivasi
Kerja Perawat dengan Ketepatan
Pengisian Dokumentasi Asuhan
Keperawatan di Ruang Rawat Inap
RSUD
Buntok.
Dalam
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php
/JMK/article/view/950/1002
Diunduh 17 Januari 2015.
Budiman. 2011. Penelitian Kesehatan.
Bandung: Refika Aditama.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Edisi 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dharma,
Kusuma
Kelana.
2011.
Metodologi
Penelitian
Keperawatan:
Panduan
Melaksanakan dan Menerapkan
Hasil Penelitian. Jakarta: Trans
Info Media.
Deswani. 2009. Proses Keperawatan dan
Berpikir Kritis. Jakarta: Salemba
Medika.
Dinarti. 2009. Dokumentasi Keperawatan.
Jakarta: Trans Info Media.
Ferani, Nurul Ariska. (2013). Apa Itu Key
Performance Indicator (KPI).
Dalam keuanganlsm.com/apa-ituperformance-indicator-kpi/
Diunduh 20 Mei 2015.
Gatot dan Adisasmito. (2005). Hubungan
Karakteristik
Perawat,
Isi
Pekerjaan
dan
Lingkungan
Pekerjaan terhadap Kepuasan
Kerja Perawat di Instalasi Rawat
Inap RSUD Gunung Jati Cirebon.
Dalam
https://staff.blog.ui.ac.id/wikua/file
s/2009/10/hubungan-karekteristikperawat-isi-pekerjaan.pdf Dinduh 6
Juli 2015.
Hasibuan, Malayu S. P. 2005. Manajemen
Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Bumi Aksara.
.
2011.
Manajemen Dasar, Pengertian
dan Masalah. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Hamsyah, Arir. 2004. Analisis Pengaruh
Suasana Kerja terhadap Tingkat
Kepuasan Kerja Perawat di
Bangsal Rawat Inap RSU Ungaran.
Tesis
Program
Studi
Ilmu
Kesehatan Masyarakat Konsentrasi
Administrasi
Rumah
Sakit
Universitas Diponegoro Semarang.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2011. Pengantar
Konsep
Dasar
Keperawatan.
Jakarta:
Salemba Medika.
Hidayat, Dede Rahmat. 2009. Ilmu
Perilaku
Manusia
Pengantar
Psikologi untuk
Tenaga
Kesehatan Medis. Jakarta: TIM.
Irawan. 2006. Manajemen Pemasaran
Modern. Yogyakarta: Liberty.
Khairani, Laila. (2010). Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Kepuasan
Pasien Rawat Jalan RSUD
Pasamaan
Barat.
Dalam
http//pascaa.hunand.ac.id/wpconten
t/uploads/2011/09/JURNALLILA.pdf(tesis) Diunduh 22 Mei
2015.
Kotler, P. 2005. Manajamen Pemasaran.
Jakarta: PT. Indeks Kelompok
Gramedia.
.
2005.
Marketing
Management: Analysis, Planning,
Implementation and Control. New
Jersey: Prentice Hall.
Limonu, Febriani. 2014. Hubungan
Reward, Psikologi dan Sosial
dengan
Pelaksanaan
Pendokumentasian
Asuhan
Keperawatan di Ruang Bedah
RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota
Gorontalo.
Dalam
23
http://eprints.ung.ac.id Diunduh 6
Juli 2015.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2005.
Sumber
Daya
Manusia
Perusahaan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
2009.
Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Bandung: PT Remaja
Ros Dakarya.
Muninjaya. 2011. Manajemen Mutu
Pelayanan Kesehatan. Jakarta:
EGC.
Nasution, M. N. 2005. Manajemen Mutu
Terpadu
(Total
Quality
Management).
Bogor:
Ghalia
Indonesia.
Nuraeni, dkk. (2014). Determinan Faktor
yang
Berhubungan
dengan
Pendokumentasian
Asuhan
Keperawatan di Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) Pasar
Rebo Jakarta Timur Tahun 2014.
Dalam
mhttp://poltekesjakarta1.ac.id/readel-ls Diunduh 22 Mei 2015.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Keperawatan. Jakarta:
Salemba
Medika.
. 2011. Proses dan Dokumentasi
Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu
Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
.
2010.
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Permana, H. S. 2005. Kepemimpinan
dalam Manajemen Rumah Sakit.
Yogyakarta: Andi Offset.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
(2005).
Standar
Praktik
Keperawatan Indonesia Tahun
2005. Dalam http://www.innappni.or.id Diunduh 29 Juli 2015.
Pohan, Imbalo S. 2007. Jaminan Mutu
Pelayanan Kesehatan: DasarDasar Pengertian dan Penerapan.
Jakarta: EGC.
Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar
Fundamental
Keperawatan:
Konsep, Proses
dan Praktik.
Edisi 4. Jakarta: EGC.
Rahman, Peny Yulia. 2013. Pengaruh
Insentif terhadap Kepuasan Kerja
Karyawan
Di
PT.
Sinkona
Indonesia Lestari (SIL) CiaterSubang. Sripsi Program Studi
Manajemen Perkantoran Fakultas
Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pendidikan Indonesia.
Rangkuti, Freddy. 2006. Measuring
Customer Satisfaction. Jakarta:
Gramedia.
Robbins, S dan Coulter, M. 2007.
Manajemen . Jakarta: PT Indeks.
Rojikin, Muhammad. (2014). Menyusun
“Key Performance Indicators”
Organisasi.
Dalam
Ensiklo.com/2014/menyusun-keyperformance-indicators-organisasi/
Diunduh 20 Mei 2015.
Sayuti. 2007. Motivasi dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Setiadi. 2013. Konsep dan Praktek
Penulisan Riset Keperawatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Setiawan, Teguh. 2007. Hubungan antara
Karakteristik Individu dengan
Kepuasan Perawat Pelaksana di
RS
Banyumanik.
Skripsi
Universitas Negeri Malang.
24
Siagian, Sondang P. 2010. Teori
Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sopyan, Asep. (2010). Teori Aktualisasi
Diri Abraham Maslow. Dalam
http://asepsopyan.com/2010/05/26/t
eori-aktualisasi-diri-abrahammaslow/ Diunduh 20 April 2015.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian
Kuatitatif, Kualitatif dan R & D.
Jakarta:
Alfabeta.
Sule, Ernie Tisnawati dan Kurniawan
Saefullah.
2010.
Pengantar
Manajeman. Jakarta: Kencana.
Sumijatun. 2010. Konsep Dasar menuju
Keperawatan Profesional. Jakarta:
Trans Info Media.
Suryani, Nunuk. (2010). Hubungan antara
Sikap dan Perilaku dengan
Kepuasan Pasien Rawat Inap RSU
Anwar Medika Sidoarjo. Dalam
http//pasca.uns.ac.id/ Diunduh 22
Mei 2015.
Tjiptono,
Fandy.
2007
Strategi
Pemasaran. Yogyakarta: Andi
Tjiptono, Fandy dan Gregorius Chandra.
2005. Service, Quality, and
Satisfaction. Yogyakarta: Andi.
Uduk, Emerentiana. 2008. Quality
Assurance/Menjaga
Mutu
Pelayanan
Asuhan
Keperawatan di Ruang Rawat Inap
RSUD Atambua Kabupaten Belu.
Tesis. Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta: tidak diterbitkan.
Waruna, SM. 2003. Analisis Beberapa
Faktor yang Berhubungan dengan
Kelengkapan Pencatatan Rekam
Medis Pasien Rawat Inap di
Rumah Sakit Santa Elisabeth
Medan. Tesis. Program Magister
Administrasi pada Rumah Sakit
USU Medan: tidak diterbitkan.
Winardi, J. 2006. Motivasi Dan
Permotivasian dalam Manajemen.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
25
Download