1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap
warga
negara
Indonesia
berhak
memperoleh
pelayanan kesehatan, seperti yang telah disebutkan pada UUD
1945 pasal 28 H ayat 1. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
maka pemerintah menyediakan sarana pelayanan kesehatan. Salah
satu sarana pelayanan kesehatan adalah rumah sakit. Rumah sakit
menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 147 tahun 2010
tentang Perijinan Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat.
Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan di rumah sakit,
setiap tenaga kesehatan wajib mendokumentasikan pelayanan
yang telah diberikan kepada pasien. Pendokumentasian tersebut
dilakukan dengan melakukan pencatatan terhadap pelayanan yang
telah diberikan di rekam medis. Hal tersebut dilakukan sebagai
upaya untuk menjaga mutu pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh tenaga kesehatan kepada pasien. Sehingga ketersediaan rekam
medis merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pelayanan
1
kesehatan, karena digunakan sebagai pedoman tenaga kesehatan
dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan.
Rekam medis digunakan sebagai pedoman tenaga kesehatan
dalam memberikan pelayanan kesehatan, karena di dalamnya
memuat hasil pemeriksaan, tindakan dan pengobatan yang telah
diberikan tenaga kesehatan pada pasien. Hal tersebut seperti yang
telah disebutkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 269
tahun 2008 tentang rekam medis, yang menerangkan bahwa rekam
medis merupakan berkas yang berisi catatan dan dokumen antara
lain identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah
diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan
kepada pasien.
Ketersediaan rekam medis pada saat dibutuhkan dalam
pelaksanaan pelayanan kesehatan sangat penting, salah satunya
sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan menganalisis
penyakit, merencanakan pengobatan, perawatan dan tindakan
medis yang harus diberikan oleh tenaga kesehatan kepada pasien.
Hal tersebut dilakukan untuk meningkatan kualitas pelayanan
praktik kedokteran dengan jelas dan lengkap. Sehingga dapat
meningkatkan kualitas pelayanan dan pencapaian kesehatan
masyarakat yang optimal.
2
Ketersediaan rekam medis saat dibutuhkan dipengaruhi
oleh pelaksanaan penyimpanan pada rumah sakit tersebut.
Pelaksanaan penyimpanan berkaitan dengan sistem penjajaran,
cara penemuan kembali (retrieval) dan pengembalian (filing),
fasilitas dan kondisi ruang penyimpanan, sumber daya manusia
dan faktor-faktor lain yang ada di bagian penyimpanan rekam
medis. Jika pelaksanaan penyimpanan rekam medis berjalan
dengan baik maka tingkat ketersediaan berkas rekam medis di
tempat penyimpanan juga akan baik.
Menurut Budi (2011), Penyimpanan berkas rekam medis
bertujuan (a) mempermudah dan mempercepat ditemukan kembali
berkas rekam medis yang disimpan dalam rak penyimpanan, (b)
mudah dalam pengambilan dari tempat penyimpanan, (c) mudah
pengembaliannya, melindungi berkas rekam medis dari bahaya
pencurian, (d) bahaya kerusakan fisik, kimiawi, dan biologi.
Dengan demikian maka diperlukan sistem penyimpanan dengan
mempertimbangkan jenis sarana dan peralatan yang digunakan,
tersedianya tenaga ahli dan kondisi organisasi. Pengambilan berkas
rekam medis yang cepat dan tepat merupakan salah satu indikator
pelayanan rekam medis yang baik. Rekam medis merupakan
sumber data dan informasi rumah sakit yang penting dalam
menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu.
3
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti saat
melaksanakan Praktik Kerja Pengabdian pada bulan Juli-Agustus
2014 di RSU PKU Muhammadiyah Delanggu, penemuan kembali
(retrieval) rekam medis pasien lama yang akan berobat sering
mengalami kesulitan. Hal tersebut disebabkan rekam medis belum
berada di rak penyimpanan rekam medis. Berdasarkan wawancara
dengan petugas penyimpanan menyatakan bahwa sekitar 30%
rekam medis saat dibutuhkan tidak dapat ditemukan di rak
penyimpanan. Selain itu berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan peneliti pada tanggal 17 Januari 2015 bahwa dari 145
rekam medis yang diambil saat dibutuhkan, sebanyak 96 rekam
medis ada di tempat penyimpanan dan 49 rekam medis tidak ada
di tempat penyimpanan.
Hal tersebut menghambat proses pelayanan kesehatan di
rumah sakit dan bahkan membuat pasien menunggu karena rekam
medisnya belum didistribusikan ke tempat tujuan. Berdasarkan
hasil pengamatan dan hasil wawancara tersebut peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul “Hambatan
Pelaksanaan Retrieval Rekam Medis di RSU PKU Muhammadiyah
Delanggu Berdasarkan Analisis Fishbone”.
4
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan
diteliti dalam penelitian ini adalah berapakah prosentase rekam
medis yang tidak ditemukan di tempat penyimpanandan apa
sajakah hambatan pelaksanaan retrieval rekam medis di RSU PKU
Muhammadiyah Delanggu berdasarkan analisis fishbone?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah mengetahui
hambatan pelaksanaan retrieval rekam medis di RSU PKU
Muhammadiyah Delanggu berdasarkan analisis fishbone.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
a. Mengetahui prosentase rekam medis yang tidak ditemukan
di
tempat
penyimpanan
RSU
PKU
Muhammadiyah
Delanggu
b. Mengetahui hambatan pelaksanaan retrieval rekam medis di
RSU PKU Muhammadiyah Delanggu berdasarkan analisis
fishbone
5
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
a. Bagi Rumah Sakit
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan
dan evaluasi dalam pelaksanaan retrieval rekam medis,
sehingga dapat meningkatkan pelayanan rekam medis.
b. Bagi Peneliti
Menambah
pengetahuan,
pengalaman
dan
dapat
menerapkan ilmu yang didapat dari institusi pendidikan.
2. Manfaat Teoritis
a. Bagi Institusi Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan
pengetahuan terkait retrieval rekam medis.
b. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini
dapat
dijadikan referensi untuk
mengembangkan penelitian lain.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian dengan judul “Hambatan Pelaksanaan Retrieval
Rekam Medis di RSU PKU Muhammadiyah Delanggu Berdasarkan
Analisis Fishbone” belum pernah dilakukan sebelumnya. Akan
6
tetapi, ada beberapa penelitian yang hampir mirip dilaksanaan
diantaranya:
1. Handianti
(2012)
dengan
judul
“Evaluasi
Pelaksanaan
Penyimpanan Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap di RSUD
Majenang Tahun 2012”. Hasil penelitian menyebutkan bahwa
pelaksanaan penyimpanan berkas rekam medis rawat inap
belum terlaksana sesuai dengan prosedur tetap. Diketahui dari
adanya penumpukan berkas. Faktor sarana dan prasarana
dalam penyimpanan berkas rekam medis belum memadai,
karena belum adanya media penyimpanan berkas untuk
menampung berkas yang tidak pada rak rekam medis.
Walaupun adanya prosedur tetap, pelaksanaan penyimpanan
belum terlaksana dengan baik karena terkendala ruang, SDM
dan biaya, sehingga misfile pun sering dialami oleh para petugas
rekam medis rawat inap.
Persamaan: penelitian sama-sama meneliti tentang bagian
penyimpanan rekam medis.
Perbedaan: penelitian Handianti (2012) meneliti tentang
hambatan dan dampak dari sistem penyimpanan tersebut dan
hanya meneliti penyimpanan rekam medis pasien rawat inap
saja, sedangkan penelitian ini meneliti hambatan dalam
7
pelaksanaan retrieval rekam medis rawat jalan dan rawat inap
dengan analisis fishbone.
2. Yushinta (2012) dengan judul “Hambatan Penggunaan Straight
Numerical Filing Pada Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di
Rumah Sakit Umum At-Turots Al-Islamy Sleman”. Hasil
penelitian menyebutkan bahwa penyimpanan berkas rekam
medis di Rumah Sakit Umum At-Turots Al-Islamy Sleman
menggunakan straight numerical filing. Masih ditemukan adanya
berkas yang belum tersimpan sesuai urutan. Pelaksanaan
penyimpanan berkas rekam medis belum sesuai dengan
prosedur tetap yang ada, dan prosedur tetap yang direvisi
belum disosialisasikan. Petugas tidak menggunakan tracer
sebagai kartu kendali keluar masuknya berkas, namun dalam
prosedur tetap penyimpanan berkas rekam medis disebutkan
bahwa pelaksanaannya menggunakan tracer. Petugas rekam
medis mengalami hambatan dalam penyimpanan berkas rekam
medis menggunakan straight numerical filing, yaitu petugas yang
ditugaskan dibagian rekam medis belum pernah mengikuti
pelatihan rekam medis, tidak adanya petugas khusus dalam
penyimpanan berkas rekam medis, kurangnya ketelitian
petugas dalam menyimpan berkas rekam medis, selain itu
belum didukung oleh sarana yang memadai seperti desain
8
nomor rekam medis pada folder, tidak adanya tracer,
penyusutan berkas rekam medis belum pernah dilakukan di
Rumah Sakit Umum At-Turots Al-Islamy Sleman. Upaya yang
dilakukan petugas rekam medis adalah Kepala Instalasi Rekam
Medis menginformasikan hasil pelatihan, adanya petugas
khusus yang berkompetensi, pengecekan di setiap rak dan
meminimalisir kesalahan, memperbaiki desain nomor rekam
medis pada map, pengadaan tracer, sosialisasi tentang Prosedur
Tetap, dan belum ada rencana perubahan ke terminal numerical
filing.
Persamaan: penelitian sama-sama meneliti tentang hambatan
yang terjadi di bagian penyimpanan rekam medis.
Perbedaan:
penelitian
Yushinta
(2012)
meneliti
tentang
hambatan dalam penggunaan straight numerical filing pada
penyimpanan, sedangkan penelitian ini meneliti hambatan
dalam pelaksanaan retrieval rekam medis dengan analisis
fishbone.
3. Dwiyanto (2014) dengan judul “Problem Solving Bagian
Penerimaan Pasien Dan Penyimpanan Berkas Rekam Medis
(Filing) Di Puskesmas Ngaglik II Sleman Yogyakarta”. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa permasalahan yang
ada di Puskesmas Ngaglik II Sleman Yogyakarta yaitu
9
pembuatan dan penerapan Prosedur Tetap (Protap) baru
diberlakukan, terjadi penumpukan berkas rekam medis dan
ketidaksesuaian antara draft SOP/Protap dalam pemakaian
kartu antrian/sistem nomor urut, sehingga terjadi kesalahan
dalam menulis nomor rekam medis, pengembalian berkas
rekam medis yang sering terlambat dari poliklinik ke bagian
rekam medis, sistem masih manual, nomor rekam medis yang
tertera di kartu yang dimiliki pasien terkadang tidak ada,
penduplikasian nomor rekam medis, kesalahan penempatan
berkas rekam medis dalam rak, ketidaksesuaian nomor urut
wilayah dan penataan, tidak dilakukannya penulisan dalam
register pengembalian dan terkadang rekam medis keluar tanpa
tracer, belum pernah melakukan pemilahan rekam medis aktif
dan inaktif. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor 5M (Man,
Method, Material, Money, Machine). Dalam melakukan problem
solving di bagian penerimaan pasien dan penyimpanan peneliti
menggunakan metode fishbone diagram.
Persamaan: penelitian sama-sama meneliti tentang bagian
penyimpanan rekam medis dengan teknik analisis fishbone.
Perbedaan: penelitian Dwiyanto (2014) meneliti tentang problem
solving bagian penerimaan pasien dan penyimpanan berkas
10
rekam medis (filing), sedangkan penelitian ini meneliti
hambatan dalam pelaksanaan retrieval rekam medis.
F. Gambaran Umum
Rumah Sakit Umum (RSU) PKU Muhammadiyah Delanggu
dirintis pada tahun 1966. Setelah melalui perjalanan panjang
selama 4 dasawarsa dengan diawali berdirinya balai pengobatan
oleh sebuah ranting, dan dikelola oleh Pimpinan Cabang.
Kemudian Balai Pengobatan tersebut digabungkan dengan Rumah
bersalin Jl. Raya Delanggu Utara No. 19. Karena belum ada ijin
resmi maka dengan SK. No. 277/SK/IV.B/IC/1999 dari Majelis
Pembina Kesehatan Kodya Surakarta dinyatakan sebagai bagian
dari Rumah Sakit Umum (RSU) PKU Muhammaiyah Surakarta.
Tahun 2000 Balai Pengobatan mulai menerima rawat inap. Pada
tahun 2001 turun SK No. 843/2274/2 dari Gubernur Jawa Tengah
sebagai ijin operasional sementara. Pada tahun 2002-2004 balai
pengobatan dan rumah bersalin sudah mendapatkan izin menjadi
rumah sakit. Ijin tetap diterbitkan Pemerintah Daerah Kabupaten
Klaten pada tanggal 27 Oktober 2011 dengan surat keputusan
Bupati Klaten Nomor 503/430/2011.Rumah Sakit Umum (RSU)
PKU Muhammadiyah Delanggu sejak 28 Juni 2011 telah ditetapkan
11
sebagai rumah sakit kelas tipe D dengan keputusan menteri
Kesehatan RI Nomor HK. 03.05/1/1599/11.
Di Rumah Sakit Umum (RSU) PKU Muhammadiyah
Delanggu terdiri dari beberapa sub bidang dan salah satunya
adalah sub bidang rekam medis. Sub bidang rekam medis dibawah
koordinator seorang kepala sub bidang rekam medis. Pada tahun
1966-2003 sejak dirintis oleh pimpinan ranting menjadi sebuah balai
pengobatan dan rumah bersalin, sudah terdapat rekam medis dan
menerima pasien rawat inap namun pada tahun tersebut untuk
pencatatan dan pengolahan data belum berjalan dengan optimal
karena masih dikerjakan dan didokumentasikan oleh perawat.
Tahun 2007-Sekarang pada tahun 2007 mulai diangkat seorang
Kepala Sub bidang Rekam Medis yang berlatar belakang
pendidikan perekam kesehatan. Pada tahun 2007 mulai direkut
tenaga-tenaga ahli rekam medis lambat laun sistem pencatatan data
dan pengelolaan data mulai dilaksanakan sesuai dengan standart
dari Depkes dan Dirjan Yan Med. Formulir-formulir yang
digunalan sudah mengacu pada Depkes dan Dirjen Yan Med. Pada
tahun tersebut mulai disusun kebijakan-kebijakan dan prosedur
tetap mengenai sistem kerja unit rekam medis baik sistem
pengelolaan data dan sistem pencatatan data di unit rekam medis
Rumah Sakit Umum (RSU) PKU Muhammadiyah Delanggu.
12
1. Falsafah
Rekam medis adalah berkas yang harus dijaga kerahasiaannya.
2. Visi
Terwujudnya rekam medis yang bermutu dan dapat digunakan
untuk pelayanan kepada pelanggan secara profesional dan islami.
3. Misi
Mewujudkan
rekam
medis
menjadi
pusat
informasi
yang
berkualitas.
4. Motto
Profesional dan Islami.
5. Jenis – Jenis Pelayanan Medis di RSU PKU Muhammadiyah
Delanggu
Kegiatan pelayanan bidang medis dan keperawatan di RSU PKU
Muhammadiyah Delanggu:
a.
Instalasi Rawat Jalan
Pelayanan kesehatan rawat jalan antara lain :
1)
Spesialis Penyakit Dalam
2)
Spesialis Anak
3)
Spesialis Kebidanan & Kandungan
4)
Spesialis Bedah
5)
Spesialis Bedah Urologi
6)
Spesialis Orthopedi
13
7)
Spesialis Mata
8)
Spesialis Syaraf
9)
Spesialis THT – KL
10) Spesialis Radiologi
11) Spesialis Kesehatan Jiwa
12) Spesialis Kulit & Kelamin
13) Spesialis Paru
14) Poliklinik Gigi
15) Klinik KIA
16) Klinik Fisioterapi
17) Klinik Akupuntur
b. Instalasi Rawat Inap
Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Dilaksanakan Di Bangsal :
1) Bangsal VIP Ahmad Dahlan
2) Bangsal Kelas I Ahmad Dahlan
3) Bangsal Kelas II Ahmad Dahlan
4) Bangsal VIP Hamka ( Rawat Inap Anak )
5) Bangsal Kelas I Hamka
6) Bangsal Kelas II Hamka
7) Bangsal Kelas III Hamka
8) Bangsal Kelas III AR. Fahrudin
9) Bangsal Isolasi AR. Fahrudin
14
10) Bangsal VIP (Kandungan)
11) Bangsal Kelas I Aisyah
12) Bangsal Kelas II Khadijah
13) Bangsal Kelas III Fatimah
14) Bangsal Bayi
15) Bangsal Baru Lantai I VIP
16) Bangsal Baru Lantai I Kelas I
17) Bangsal Baru Lantai II Kelas II
18) Bangsal Baru Lantai II Kelas III
c.
Instalasi Penunjang Medis
1) Instalasi Laboratorium
2) Instalasi Farmasi
3) Instalasi USG 4D
d. Instalasi Intensif Care Unit (ICU)
e.
High Care Unit (HCU)
f.
Instalasi Gawat Darurat (IGD)
g. Hemodialisa
15
Download