6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan
1. Problem-Based Learning
a. Pengertian Problem-Based Learning
Problem-Based Learning merupakan model pembelajaran yang
menjadikan masalah keseharian sebagai titik awal dari proses pembelajaran.
Jenis masalah yang digunakan berbeda-beda sesuai tingkat kemampuan dan
kebutuhan siswa. Masalah yang biasa digunakan merupakan permasalahan
yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang telah dipilih dan
disesuaikan dengan objek pembelajaran. Arah proses pembelajaran lebih
ditujukan pada proses merumuskan pertanyaan daripada merumuskan
jawaban, sehingga pengadaan masalah sebagai dasar proses pembelajaran
merupakan hal yang sangat penting pada Problem-Based Learning.
Pembelajaran yang menekankan pada proses memungkinkan terciptanya
hubungan antara muatan pembelajaran (konten) dengan konteks pembelajaran
sehingga dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa (Graaff dan
Kolmos, 2003: 658).
Menurut Boud dan Felleti yang dikutip oleh Muchsini (2004: 17),
“Problem-Based Learning is an approach to structuring the curriculum
involves confronting students with problems from practice with provide a
stimulus from learning.” (Problem-Based Learning adalah sebuah pendekatan
untuk menyusun kurikulum yang melibatkan peserta didik dalam menghadapi
masalah-masalah dari kehidupan nyata dengan memberikan stimulus dari
pembelajaran). White HB dan Richlin dalam Purwito (2006: 17-18)
mengemukakan bahwa, “Di dalam Problem-Based Learning siswa bekerja
dalam suatu kelompok kecil untuk membahas suatu masalah yang tidak
dimengerti dan penting, apa yang tidak mereka ketahui, dan berusaha belajar
untuk memecahkan permasalahan tersebut.”.
6
7
Problem-Based Learning merupakan pembelajaran di mana authentic
assesment (penilaian yang nyata) dapat diterapkan secara komprehensif
(Hamzah dalam Purwito, 2006: 17). Penilaian otentik tidak bisa hanya
didasarkan pada penilaian aspek kognitif yang terfokus pada hasil belajar
berupa nilai. Hasil belajar itu sendiri dapat dipengaruhi berbagai faktor
internal maupun eksternal peserta didik, sehingga tidak bisa menjadi tolok
ukur objektif keberhasilan proses belajar siswa. Penilaian otentik dilakukan
terhadap keseluruhan kegiatan belajar, termasuk kesesuaian antara hasil
belajar dengan tujuan belajar yang ingin dicapai. Penilaian otentik juga
mencakup aspek afektif dan psikomotorik siswa sehingga dapat memenuhi
upaya evaluasi terhadap ketercapaian tujuan belajar, yaitu mengubah perilaku
siswa. Kegiatan belajar mengajar tidak sekedar bersifat menyampaikan dan
menerima informasi, tetapi bersifat mengolah informasi sebagai masukan pada
upaya peningkatan kemampuan atau pencapaian tujuan belajar untuk
mencapai kompetensi dasar yang optimal baik dalam aspek kognitif, afektif
dan psikomotor secara simultan.
Penerapan Problem-Based Learning dapat mengakomodasi aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor. Aspek kognitif siswa dapat dinilai dari
kemampuan siswa untuk mengajukan masalah dan memecahkan masalah
secara tepat dan cepat; seseorang dikatakan mempunyai masalah jika pihak
yang bersangkutan menyadari keberadaan suatu situasi memerlukan tindakan
dan tidak dengan segera dapat menemukan pemecahannya. Aspek afektif
siswa dapat dinilai dari sejauh mana mereka mampu menerima dan
menghargai masalah yang diajukan oleh siswa lain. Aspek psikomotor dapat
dilihat dari bobot masalah yang dikemukakan melalui hubungan semantik dan
sintaksis.
b. Pembagian Problem-Based Learning
Menurut Hamzah yang dikutip oleh Purwito (2006: 22) ProblemBased Learning (PBL) dibagi menjadi dua yaitu:
8
1) Problem Posing
Problem Posing merupakan suatu proses memunculkan masalah dan
juga suatu langkah untuk memecahkan masalah yang lebih rumit dari yang
sebelumnya. Proses ini dimunculkan dari situasi siswa atau juga guru.
2) Problem Solving
Problem Solving merupakan bentuk pemecahan masalah yang meliputi
dua aspek yaitu masalah untuk menemukan (problem to find) dan masalah
untuk membuktikan (problem to prove)
c. Karakteristik Problem-Based Learning
Problem-Based Learning merupakan pembelajaran di mana siswa
dihadapkan dengan sebuah permasalahan yang dapat dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Masalah tersebut kemudian dianalisis dan diupayakan
pemecahannya. Savoi dan Hughes dalam Wena (2009: 17) mengemukakan
beberapa karakteristik Problem-Based Learning, sebagai berikut:
1) Belajar diawali dengan mengajukan sebuah permasalahan,
2) Permasalahan yang diberikan dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari
siswa,
3) Mengorganisasikan pembelajaran di seputar permasalahan, bukan di
seputar disiplin ilmu,
4) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk melakukan
pembelajaran mandiri,
5) Memberdayakan kelompok kecil,
6) Menuntut siswa untuk menuangkan hasil kerja mereka dalam sebuah
produk dan kinerja.
Model Problem-Based Learning tidak memberi penekanan pada
penyampaian informasi karena organisasi pembelajaran dengan model ini
mengacu kepada permasalahan. Suatu permasalahan kompleks melibatkan
banyak disiplin ilmu dalam upaya penyelesaiannya. Siswa tidak dituntut untuk
mencari dan menyerap informasi sebanyak mungkin dari kegiatan belajar.
9
Siswa diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya
dengan mengacu kepada permasalahan untuk mengatasi permasalahan yang
sama pada situasi yang berbeda, atau mengatasi permasalahan berbeda dengan
melibatkan banyak disiplin ilmu.
d. Tahap Pembelajaran dengan Problem-Based Learning
Pembelajaran dengan Problem-Based Learning meliputi beberapa
tahap tertentu sebagai berikut:
1) Menemukan masalah,
2) Mendefinisikan masalah,
3) Mengumpulkan fakta,
4) Menyusun hipotesis,
5) Melakukan penelitian,
6) Menyempurnakan masalah yang telah didefinisikan,
7) Menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif,
8) Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah.
Penggunaan Problem Based Learning dalam pembelajaran dapat
melatih kemandirian dan percaya diri siswa, karena siswa diminta melakukan
penilaian pribadi terhadap suatu masalah. Merumuskan masalah menjadikan
siswa bertanggung jawab dalam menemukan penyelesaian masalah tersebut
sehingga kebermaknaan belajar dapat diraih siswa.
e. Kekuatan Problem Based Learning
Menurut Muchsini (2004: 21), penerapan Problem Based Learning
memiliki beberapa kekuatan, antara lain:
1) Fokus kebermaknaan, bukan fakta
Pembelajaran tradisional mengharuskan siswa mengingat banyak
informasi kemudian ‘mengeluarkan’ apa yang diingatnya ketika ujian.
Informasi yang cukup banyak tersebut harus diingat siswa sementara
kondisi siswa tidak memungkinkan hal tersebut, sehingga akhirnya hanya
sedikit informasi yang dapat diserap oleh siswa. Problem-Based Learning
10
tidak hanya menyajikan informasi untuk dihafalkan, tetapi juga
memanfaatkan informasi dalam pemecahan masalah sehingga terjadi
proses pemaknaan informasi.
2) Meningkatkan kemampuan siswa untuk berinisiatif
Problem-Based
Learning
mengkondisikan
siswa
untuk
mengidentifikasi dan memecahkan masalah, di mana inisiatif sangat
diperlukan. Penerapan Problem-Based Learning melatih siswa untuk
berinisiatif sehingga dalam prosesnya, kemampuan tersebut dapat
meningkat.
3) Pengembangan keterampilan dan pengetahuan
Problem-Based Learning memberikan makna lebih pada kegiatan
belajar, contoh nyata penerapan dan manfaat yang jelas dari materi yang
dipelajari (fakta, konsep, prinsip, dan prosedur). Tingkat kompleksitas
suatu masalah yang semakin tinggi, membutuhkan keterampilan dan
pengetahuan siswa yang lebih tinggi untuk mampu menyelesaikan masalah
tersebut.
4) Pengembangan keterampilan interpersonal dan dinamika kelompok
Problem-Based Learning memiliki karakteristik ‘kerjasama’ yang
melibatkkan siswa dalam interaksi sosial yang dibutuhkan dalam belajar
maupun dalam kehidupan siswa sehari-hari. Pendidikan tradisional yang
lebih memfokuskan pada penguasaan informasi seringkali mengabaikan
keterampilan ini, sedangkan PBL dapat mengakomodasi baik penyerapan
informasi maupun keterampilan interaksi sosial.
5) Pengembangan sikap self-motivated
Problem-Based
Learning
memberi
siswa
kesempatan
untuk
merumuskan masalah yang ditemuinya, disertai alternatif solusi yang
memungkinkan untuk diterapkan. Kerjasama dalam kelompok yang
terdapat di dalamnya menuntut peran aktif setiap anggota kelompok. Hal
11
ini menumbuhkan sikap percaya diri dalam diri siswa yang dapat
memunculkan motivasi internal dalam belajar.
6) Tumbuhnya hubungan siswa-fasilitator
Problem-Based Learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk
belajar mandiri sesuai tingkat pemahaman yang dimilikinya. Guru
berperan sebagai pembimbing yang diperlukan untuk ‘membingkai’
kegiatan siswa agar tidak menyimpang dalam memahami suatu konsep
dan agar aktivitas dalam belajarnya terstruktur dalam rangka mencapai
tujuan pembelajaran.
7) Jenjang penyampaian pembelajaran dapat ditingkatkan
Pencapaian yang diharapkan dalam proses pembelajaran dengan
Problem-Based Learning memiliki persamaan dengan pembelajaran
tradisional yaitu membuat siswa menguasai materi secara luas dan
mendalam. Perbedaan capaian antara proses pembelajaran dengan
Problem-Based Learning dan pendidikan tradisional adalah pencapaian
beberapa keterampilan dan kebermaknaan belajar yang tidak diperoleh
dalam pendidikan tradisional.
f. Kelemahan Pembelajaran dengan Problem-Based Learning
Pembelajaran dengan Problem-Based Learning
juga
memiliki
kelemahan sebagai berikut:
1) Pencapaian akademik dari individu siswa
Problem-Based Learning berfokus pada satu masalah spesifik, namun
seringkali tidak memiliki ruang lingkup yang memadai. Penerapan PBL
dalam pembelajaran dapat menyebabkan pencapaian nilai akademik yang
tinggi dalam hal keterampilan siswa memecahkan masalah dalam
kehidupan nyata. PBL kurang memungkinkan untuk diterapkan jika
penjabaran materi dalam pembelajaran dan kuantias materi yang diserap
siswa lebih diutamakan daripada peningkatan keterampilan belajar dan
berpikir.
12
2) Waktu yang diperlukan untuk implementasi
Waktu
yang
dibutuhkan
mengimplementasikan
PBL
oleh
siswa
cenderung
dan
lebih
guru
banyak
dalam
daripada
pembelajaran tradisional. Penerapan PBL pada siswa yang belum pernah
melaksanakan kegiatan belajar mengajar menggunakan model PBL
memerlukan pendampingan dan arahan guru.
3) Perubahan peran siswa dalam proses pembelajaran dengan PBL
Pembelajaran tradisional yang selama ini berlangsung di sekolahsekolah menjadikan siswa terbiasa berada dalam kultur pembelajaran
pasif. Kegiatan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan menyalin
informasi dalam buku-buku teks untuk memenuhi tuntutan pembelajaran
aspek kognitif.
Pembelajaran yang menerapkan PBL menuntut siswa berperan aktif
dan mandiri. Siswa mengorganisasikan sendiri sumber belajarnya dan
bertanggung jawab merekonstruksi pengetahuannya sesuai tingkat
emahaman dan kebutuhannya.
Perubahan model pembelajaran dari ekspositori menjadi PBL dapat
menjadi kendala bagi siswa maupun guru yang baru memulai
pembelajaran dengan PBL. Proses transisi dan pembimbingan intensif
dalam tahap awal sangat diperlukan agar kegiatan pembelajaran dengan
PBL sejalan dengan sintaks PBL yang telah ditetapkan dan siswa dapat
mengalami pembelajaran konstruktif yang bermakna.
4) Perubahan peran guru dalam proses pembelajaran dengan PBL
Guru berperan sebagai sumber informasi dalam pembelajaran
tradisional. Guru terbiasa dengan metode ceramah yang relatif lebih
mudah karena hanya bermodalkan pengetahuan yang telah dimiliki
ditambah bantuan dari beberapa media pendukung. Pembelajaran dengan
model PBL menuntut guru untuk berperan sebagai pembimbing dan
fasilitator yang membutuhkan waktu ekstra dan sumber informasi yang
13
lebih luas untuk membantu siswa memecahkan masalah yang mengandung
unsur lintas disiplin ilmu.
5) Perumusan masalah yang baik
Perumusan
masalah
merupakan
kegiatan
mendasar
dalam
pembelajaran dengan model PBL. Kegiatan merumuskan masalah yang
baik tidak mudah dilakukan oleh guru maupun siswa. Pembelajaran
dengan model PBL tidak hanya mengajukan permasalahan yang bersifat
holistik melainkan juga berfokus mikro dan mendalam. Siswa seringkali
kesulitan mengidentifikasi dan merumuskan permasalahan dengan
karakter yang kompleks tanpa adanya pemberian informasi oleh guru atau
pencarian informasi dari sumber belajar yang ada.
g. Langkah Pelaksanaan PBL
Menurut White H.B dan Richlin yang dikutip oleh Purwito (2006: 24),
langkah-langkah dalam PBL dijelaskan sebagai berikut:
1) Tahap Persiapan
Guru melakukan studi pendahuluan baik terhadap materi yang akan
disampaikan maupun studi untuk penerapan metode yang akan diterapkan,
apakah materi sesuai dengan metode atau tidak. Tindakan berikutnya
adalah menentukan tujuan instruksional dari penyampaian materi tersebut,
sehingga jelas acuan atau indikatornya yang akan diraih. Dan tahap
berikutnya adalah membentuk kelompok, dalam teknik pengelompokan ini
siswa yang berkemampuan dan jenis kelaminnya berbeda disatukan dalam
satu tim kecil yang terdiri dari tiga sampai delapan orang. Kemudian
setelah guru menyajikan teori utama atau topik kompetensi dasar, siswa
diharapkan memunculkan permasalahan.
2) Tahap Pemunculan Masalah
Permasalahan dapat dimunculkan dari diri siswa maupun dari guru
atau dapat juga dari kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini sangat
14
mungkin bahwa permasalahan sehari-hari
banyak menimbulkan
permasalahan yang dapat diambil.
3) Tahap Investigasi dan Inquiri Masalah
Siswa diharapkan dapat berinvestigasi atau inquiri dalam kehidupan
nyata terkait dengan topik yang dibahas. Setelah menemukan masalah,
siswa bekerja dalam kelompok untuk merencanakan
strategi maupun
pelaksanaan untuk memecahkan masalah tersebut.
4) Presentasi Hasil
Presentasi hasil merupakan tahap terakhir untuk mengecek hasil karya
atau produk dari investigasi dan inquiri dalam rangka memecahkan
masalah yang timbul dalam kelompok masing-masing. Presentasi
dilakukan di depan kelas sehingga kelompok lain dapat ikut mengevaluasi
permasalahan yang disampaikan. Di sisi lain presentasi ini bagi guru
adalah merupakan sarana untuk penilaian afektif dan psikomotorik dengan
memantau aktivitas siswa dalam berkomunikasi antar kelompok maupun
dalam kelompok baik lisan maupun tulisan.
Peran guru dalam pelaksanaan model Problem-Based Learning
diuraikan pada Tabel 2.1.
15
Tabel 2.1. Perilaku Guru pada Model Problem-Based Learning
Tahapan PBL
Tahap 1
Orientasi siswa pada masalah
Perilaku Guru
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
mengajukan fenomena atau demonstrasi atau
cerita
untuk
memunculkan
masalah,
memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam
pemecahan masalah yang dipilih
Tahap 2
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
Mengorganisasikan siswa
mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap 3
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
Membimbing penyelidikan
informasi
yang
sesuai,
melaksanakan
individu dan kelompok
eksperimen untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah
Tahap 4
Guru membantu siswa dalam merencanakan
Mengembangkan& menyajikan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
hasil karya
laporan, model dan berbagai tugas dengan
teman
Tahap 5
Guru membantu siswa untuk melakukan
Menganalisa dan mengevaluasi refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
proses pemecahan masalah
mereka dan proses-proses yang mereka
gunakan.
(Sumber: Ibrahim dan Nur (dalam Trianto 2007 : 72))
h. Tujuan dan Hasil Belajar PBL
Tujuan dan hasil belajar PBL adalah untuk mengembangkan
kemampuan keterampilan berpikir, mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan
memecahkan
masalah
dan
keterampilan
intelektual,
mengembangkan keterampilan belajar mandiri secara efektif. Penilaian
dilakukan terhadap konteks permasalahan yang dipelajari siswa, yang
terdiri dari penilaian diri sendiri (self assesment) dan penilaian oleh teman
(peer assesment). Penilaian dan pemberian umpan balik oleh guru
dilakukan terus menerus selama proses pembelajaran berlangsung.
2. Keterampilan Proses Sains
a. Klasifikasi Keterampilan Proses Sains
16
Keterampilan Proses Sains (Science Process Skill) dapat diartikan
sebagai satu set keterampilan yang dapat ditransfer dan menggambarkan
kebiasaan seorang peneliti. Istilah keterampilan proses sains dipopulerkan
melalui proyek kurikulum Science-A Process Approach (SAPA) oleh
Commission on Science Education of American Association of Science
(AAAS) pada tahun 1965.
SAPA mengelompokkan keterampilan proses sains menjadi dua
kelompok yaitu keterampilan proses sains dasar (Basic Science Process
Skill) dan keterampilan proses sains terintegrasi (Integrated Science
Process Skill). Pengelompokan tersebut tidak mutlak diberlakukan oleh
berbagai kalangan. SAPA merumuskan 12 keterampilan proses sains, yang
selanjutnya dispesifikkan lagi menjadi enam keterampilan dasar dan enam
keterampilan terintegrasi. SAPA merumuskan 14 keterampilan proses
sains yang dibagi menjadi delapan keterampilan proses dasar dan enam
keterampilan
proses
terintegrasi pada
perkembangan
selanjutnya.
Longfield (1999: 1) mengelompokkan keterampilan proses sains menjadi
tiga kelompok, yaitu basic, intermediet, dan advance. Rustaman tidak
mengelompokkan keterampilan proses sains dalam spesifikasi tertentu
(dasar, terintegrasi, dll). Berbagai perbedaan dalam pengelompokan
keterampilan proses sains tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan
standar pendidikan sains lokal, daerah ataupun nasional.
b. Jenis dan Indikator Keterampilan Proses Sains
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa terdapat perbedaan
pengelompokan keterampilan proses sains, di sini secara khusus
dipaparkan pengelompokan keterampilan proses sains oleh Rustaman et al
(2005: 86-87) seperti pada Tabel 2.1.
17
Tabel 2.2
Jenis Keterampilan Proses Sains dan Indikator Masing-masing
Jenis Keterampilan Proses
Sains
1. Mengamati (observasi)
2.
Mengelompokkan
(klasifikasi)
3.
Menafsirkan (interpretasi)
4.
Meramalkan (prediksi)
5.
Mengajukan pertanyaan
6.
Berhipotesis
7.
Merencanakan percobaan
Indikator
a. Menggunakan sebanyak mungkin
indera
b. Mengumpulkan atau menggunakan
fakta yang relevan
a. Mencatat setiap pengamatan secara
terpisah
b. Mencari perbedaan dan persamaan
c. Mengontraskan ciri-ciri
d. Membandingkan
e. Mencari dasar pengelompokan
f. Menghubungkan hasil pengamatan
a. Menghubungkan
hasil-hasil
pengamatan
b. Menemukan pola dalam suatu seri
pengamatan
c. Menyimpulkan
a. Menggunakan
pola-pola
hasil
pengamatan
b. Mengemukakan apa yang mungkin
terjadi pada keadaan yang belum
diamati
a. Bertanya apa, bagaimana dan mengapa
b. Bertanya untuk meminta penjelasan
c. Mengajukan pertanyaan yang berlatar
belakang hipotesis
a. Mengetahui bahwa ada lebih dari satu
kemungkinan penjelasan dari satu
kejadian
b. Menyadari bahwa suatu penjelasan
perlu diuji kebenarannya dalam
memperoleh lebih banyak bukti atau
menerapkan prosedur
pemecahan
masalah
a. Menentukan alat/ bahan/ sumber yang
akan digunakan
b. Menentukan variabel atau faktor
penentu
c. Menentukan apa yang akan diukur,
diamati, dicatat
18
Jenis Keterampilan Proses
Sains
8.
Menggunakan alat/ bahan
9.
Menerapkan konsep
10. Berkomunikasi
11. Melaksanakan percobaan/
eksperimentasi
(Sumber: Rustaman, 2005: 86-87)
Indikator
d. Menentukan
apa
yang
akan
dilaksanakan berupa langkah kerja
a. Memakai alat dan bahan
b. Mengetahui
alasan
mengapa
menggunakan alat/ bahan
c. Mengetahui bagaimana menggunakan
alat dan bahan
a. Menggunakan konsep yang telah
dipelajari dalam situasi baru
b. Menggunakan
konsep
pada
pengalaman baru untuk menjelaskan
apa yang sedang terjadi
a. Memberikan/ menggambarkan data
empiris
hasil
percobaan
atau
pengamatan dengan grafik/ tabel/
diagram
b. Menyusun dan menyampaikan laporan
secara sistematis
c. Menjelaskan hasil percobaan atau
penelitian
d. Membaca grafik/ tabel/ diagram
e. Mendiskusikan hasil kegiatan
f. Mengubah bentuk penyajian data
19
c. Pembelajaran Keterampilan Proses Sains
Pembelajaran yang mengakomodasi keterampilan proses sains dapat
dikaji dari berbagai aspek, misalnya hubungan antara keterampilan proses
sains dengan aspek hasil belajar yang lain seperti kemampuan berpikir
operasional formal, atau hubungan antara prinsip dan metode serta peran guru
dalam pembelajaran yang melibatkan keterampilan proses sains. Berikut
hanya akan dijabarkan penjelasan mengenai hubungan antara prinsip dan
metode serta peran guru dalam pembelajaran yang melibatkan keterampilan
proses sains.
Radford (2002: 3) mengungkapkan ada tiga kondisi yang harus
dipenuhi sebuah pembelajaran agar siswa dapat mengakomodasi keterampilan
proses sains, yaitu:
1) Siswa memahami apa itu keterampilan proses sains serta pentingnya
dalam pembelajaran,
2) Siswa harus diberi kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan proses
sains yang dimilikinya,
3) Adanya evaluasi terhadap perkembangan keterampilan proses sains yang
dimiliki siswa.
Ketiga kondisi di atas dapat dipenuhi oleh metode pemecahan masalah
(Keil, 2009).
Guru memiliki peran penting dalam memberikan gain yang signifikan
bagi penguasaan keterampilan proses sains siswa. Harleen (dalam Rustaman,
2005)
mengungkapkan bahwa guru memiliki peran penting dalam
pembelajaran keterampilan proses sains, yang dikelompokkan dalam peran
umum dan peran khusus. Peran umum guru dijabarkan sebagai berikut:
1) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan
proses sains dalam melakukan eksplorasi materi dan fenomena.
20
2) Memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi dalam kelompok kecil
ataupun kelas.
3) Mendengarkan pembicaraan dan mempelajari produk siswa untuk
menemukan proses yang diperlukan untuk membentuk gagasan siswa
tersebut.
4) Mendorong siswa untuk mengulas secara kritis terutama tentang kegiatan
yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran.
5) Memberikan teknik atau strategi untuk meningkatkan keterampilan proses
sains yang dimiliki oleh siswa.
3. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian tentang penggunaan model Problem-Based Learning telah
banyak dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan model
tersebut dapat meningkatkan sikap positif terhadap belajar, perbaikan
miskonsepsi, pemahaman konsep, pemecahan masalah, dan keterampilan
menggunakan pengetahuan secara praktis dalam kehidupan nyata.
Menurut Hasnunidah (2008: 25-26), model Problem-Based Learning
dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa meliputi keterampilan
mengamati, interpretasi, memprediksi dan mengkomunikasikan. Hasil
penelitian Najiullah (2010: 75) menunjukkan bahwa penerapan model
Problem-Based Learning dalam pembelajaran dapat meningkatkan ketuntasan
hasil belajar klasikal siswa sebesar 29,63% yakni dari 55,55% menjadi 85,
18%. Hasil penelitian Fathoni (2009: 95) menyimpulkan bahwa model
Problem-Based Learning efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa
secara mandiri, mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif
dalam menghubungkan antara konsep pembelajaran yang diterima dengan
pengalaman serta kenyataan yang ditemui di lingkungan sekitar. Hasil
penelitian Shalihah (2008: 108) menyimpulkan bahwa model Problem-Based
Learning dapat meningkatkan kemampuan afeksi siswa dalam kehidupan
sehari-hari.
21
B. Kerangka Berpikir
Pembelajaran konvensional yang bersifat teacher-centered tidak
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengakomodasi keterampilan proses
sains yang dibutuhkan dalam belajar sains. Belajar sains tanpa mengakomodasi
keterampilan proses sains membuat siswa belajar hanya dengan menghafal.
Belajar dengan menghafal membuat siswa ‘menyerap’ informasi yang bersifat
jangka pendek. Siswa kurang memahami pengetahuan yang diperolehnya dan
tidak
kreatif
dalam
menerapkan
pengetahuan
yang
dimilikinya
untuk
memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar sains di dalam kelas idealnya dapat mempermudah keseharian
siswa karena fenomena sains tidak lepas dari peristiwa alam sehari-hari
(Mahabbati, 2007: 1). Model Problem-Based Learning (PBL) merupakan salah
satu model yang menghubungkan antara pengetahuan sehari-hari dan konsep yang
benar secara ilmiah. Belajar sains dengan menerapkan model PBL membuat siswa
melakukan aktivitas observasi,
interpretasi, mengajukan pertanyaan dan
berhipotesis untuk menganalisis suatu masalah. Siswa bekerjasama dalam
kelompok untuk memecahkan masalah yang kompleks dan mengaplikassikan
pemecahan masalah dalam dunia nyata. Mereka mengembangkan keterampilanketerampilan dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan mensintesis sumbersumber yang telah mereka cari sebelumnya dan kemudian mengemukakan sebuah
solusi atau lebih untuk masalah tersebut.
Siswa yang dapat mengembangkan keterampilan proses sains dalam
belajar, akan dapat memahami konsep pembelajaran sains dan mampu
menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata. Keterampilan proses sains
tersebut akan dapat ditingkatkan dengan melakukan inovasi pembelajaran berupa
penerapan model Problem-Based Learning (PBL).
C.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari masalah yang telah
dirumuskan dan belum diuji kebenarannya sehingga dapat dipertegas atau ditolak
22
secara empiris. Berdasarkan landasan teori yang mencakup tinjauan pustaka, hasil
penelitian yang relevan serta kerangka bepikir, maka peneliti merumuskan
hipotesis berikut: Penerapan Problem-Based Learning dalam pembelajaran
Biologi siswa kelas X-1 SMA Islam 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014 dapat
meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
Download