representasi maskulinitas kaum termajinalkan dalam iklan

advertisement
REPRESENTASI MASKULINITAS
KAUM TERMAJINALKAN DALAM IKLAN
(Analisis Semiotik Iklan Televisi Kuku Bima Ener-G Versi Laskar Mandiri I
dan Laskar Mandiri II)
Disusun Oleh:
YUNITA EKA RINI
D 0205140
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SBELAS MARET
SURAKARTA
2010
i
PERSETUJUAN
Disetujui oleh Dosen Pembimbing
Untuk Dipertahankan di Hadapan Tim Penguji Skripsi
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Pembimbing Skripsi
Dra. Indah Budi Rahayu, SE, M.Hum
NIP. 19580317 199010 2 001
ii
PENGESAHAN
Penulisan Skripsi ini telah diterima dan disahkan
Oleh Dosen Penguji Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Pada
Hari
:
Tanggal :
DOSEN PENGUJI
1. Ketua
: Prof. Drs. H. Pawito, Ph.D
NIP. 19540805 198503 1 002
(…………………..)
2. Sekretaris
: Drs. Surisno S. Utomo, M.Si
NIP. 19500926 198503 1 001
(…………………..)
3. Penguji
: Dra. Indah Budi R., SE, M.Hum
NIP 19580317 199010 2 001
(………………….)
Mengetahui,
Dekan
Drs. H. Supriyadi SN, SU
NIP. 19530128 198103 1 001
iii
MOTTO
Sukses terdiri dari 1% bakat dan 99% keringat
(Thomas Alva Edison)
Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi
mereka
(Eleanor Rosevelt)
Just think different, and be creative
iv
PERSEMBAHAN
Karya sederhana ini aku persembahkan kepada:
Ø Bapak dan Ibu yang senantiasa melimpahiku dengan kasih
sayang tiada henti dan yang telah mengajariku bagaimana
memaknai arti kehidupan. Juga untuk kedua adikku, Bayu dan
Riyan yang selalu berbagi kebahagiaan denganku...
Ø Keluarga besarku di Malang dan Yogyakarta, memiliki kalian
semua adalah hal yang terindah dalam hidupku...
Ø Wirastomo Hadi SIP, kakak sekaligus sahabat terbaik yang aku
punya. Terima kasih untuk gambaran masa depan yang ingin
kau berikan untukku...
Ø Sahabat-sahabatku tersayang, Maya Apriliani, yang selalu
menemani dalam suka dan duka. Juga untuk Annisa “Bacung”,
Tyas, Ajeng dan Dewi Winahyu, teruslah melangkah kawan.
Ø Teman-temanku “Komunikasi 2005” yang telah bersama-sama
berjuang mengarungi kehidupan dan memberi warna dalam
hidupku...
Ø Teman-teman Bildung Organisation, Luv U aLL J
v
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillaahi rabbil aalamiin. Segala puji senantiasa penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Berkat
ridha-Mu, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Membutuhkan banyak
perjuangan untuk terus membaca, menganalisis dan melawan rasa malas. Semoga
karya sederhana ini dapat dijadikan referensi dalam sebuah penelitian, khususnya
dalam kajian penelitian semiotik.
Selama ini tubuh perempuan selalu dijadikan komoditas dalam media televisi,
termasuk iklan. Tetapi sekarang tubuh laki-laki juga mulai dikomersialkan. Semakin
banyak iklan televisi yang mengatasnamakan maskulinitas, yang hanya berorientasi
pada sensualitas dan imej fisik saja. Iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I
dan II sedikit berbeda dari iklan yang lainnya. Masih tetap mengusung tema
maskulinitas, hanya saja dalam iklan ini tidak hanya menjadikan tubuh laki-laki
sebagai komoditas. Ada aspek-aspek lainnya yang mendukung konsep maskulinitas.
Fenomena inilah yang mendorong penulis untuk mengambil tema tersebut sebagai
bahan skripsi. Penulis ingin mengetahui bagaimana makna pesan yang ditonjolkan
dan bagaimana mitos maskulinitas kaum termarjinalkan dalam iklan tersebut.
Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi berjudul REPRESENTASI
MASKULINITAS KAUM TERMARJINALKAN DALAM IKLAN (Analisis
vi
Semiotik Iklan Televisi Kuku Bima Ener-G Versi Laskar Mandiri I dan Laskar
Mandiri II) ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah membantu
penulis menyusun dengan sepenuh hati. Untuk itulah penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Dosen pembimbing akademik sekaligus pembimbing skripsi penulis, Dra.
Indah Budi Rahayu, SE, M.Hum, yang senantiasa memberikan arahan dan
motivasi kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih
juga untuk kesabaran yang telah diberikan.
2. Wirastomo Hadi, SIP, seseorang yang telah mengenalkan penulis pada dunia
advertising dan Artek ‘n Partner Communication. Terima kasih untuk
informasi dan sharing yang cukup membantu penulis.
3. Ibu Maya Dewi AR, Presiden Director Artek ‘n Partner Communication,
yang telah memberikan ijin penelitian dan company profile pada penulis.
4. Mba Indri, Account Executive Artek ‘n Partner Communication, yang telah
membantu penulis mendapatkan informasi mengenai Sido Muncul dan Kuku
Bima Ener-G.
5. Mas Adhyth Adyatmand, Executive Creative Director Artek ‘n Partner
Communication, yang telah membantu penulis untuk mendapatkan copy asli
TVC Kuku Bima Ener-G.
6. Sigit Maryuwanto, SIP, atas kesediaannya mencarikan storyboard. Mas Dave,
Koh Budi dan crew Artekers lainnya, yang telah membantu penulis serta
mengenalkan penulis pada dunia Artek dan advertising. Keep “crazy” guys.
vii
7. Hasan, Reza, Ajeng dan Tyas atas referensi dan pinjaman bukunya.
8. Solo Channel, bersama kalian penulis belajar memahami arti kekompakan dan
kebersamaan.
9. Mas Budi, yang selalu dengan ramah membantu penulis saat berurusan
dengan administrasi kampus terutama jurusan komunikasi.
10. Staff Perpustakaan UNS dan FISIP UNS.
11. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan baik moral, materi maupun
spiritual dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Masih
terdapat kesalahan dan kekurangan yang disebabkan oleh ketidaktahuan penulis. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang
membacanya.
Surakarta, Maret 2010
Penulis
Yunita Eka Rini
viii
DAFTAR ISI
JUDUL ...........................................................................................
i
PERSETUJUAN ............................................................................
ii
PENGESAHAN ..............................................................................
iii
MOTTO ..........................................................................................
iv
PERSEMBAHAN.................................................................................................
v
KATA PENGANTAR ..........................................................................................
vi
DAFTAR ISI.........................................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................
xi
ABSTRAKSI .......................................................................................................
xi
ABSTRACTION.................................................................................................
xiv
BAB I :
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................
1
B. Rumusan Masalah ..................................................................
9
C. Tujuan Penelitian ...................................................................
10
D. Manfaat Penelitian .................................................................
10
E. Kajian Teori............................................................................
11
1. Definisi Komunikasi........................................................
11
2. Iklan.................................................................................
19
3. Pendekatan Semiotika Komunikasi.................................
37
ix
BAB II :
F. Kerangka Pemikiran...............................................................
48
G. Definisi Konsepsional............................................................
49
H. Metodologi Penelitian............................................................
72
PT. SIDO MUNCUL DAN IKLAN TV KUKU BIMA ENER-G
A. Sekilas Mengenai Dunia Periklanan Indonesia ......................
78
B. Sekilas Mengenai PT. Sido Muncul .......................................
82
C. Sekilas Mengenai Kuku Bima Ener-G....................................
85
D. Sekilas Mengenai Artek ’n Partner Communication...............
87
E. Iklan TV Kuku Bima Ener-G Versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri
92
II.....................................................................
BAB III:
BAB IV :
ANALISA DATA
A. Laskar Mandiri I......................................................................
109
B. Laskar Mandiri II....................................................................
14
PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................
18
B. Saran..........................................................................................
19
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................
LAMPIRAN
x
196
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Pesan dan Makna…….……………………………………................16
Gambar 1.2 Iklan Sebagai Proses Komunikasi........................................................20
Gambar 1.3 Elemen-elemen Makna Pierce..................... .......................................39
Gambar 1.4 Elemen-elemen Makna Saussure.........................................................41
Gambar 1.5 Dua Tatanan Pertandaan Barthes.........................................................44
Gambar 1.6 Peta Tanda Barthes...............................................................................46
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Artek ‘n Partner Communication.........................90
xi
ABSTRAK
Yunita Eka Rini. D0205140. Representasi Maskulinitas Kaum Termarjinalkan
dalam Iklan (Analisis Semiotik Iklan Televisi Kuku Bima Ener-G Versi Laskar
Mandiri I dan Laskar Mandiri II). Skripsi, Surakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Maret
2010.
Kuku Bima Ener-G adalah salah satu merek minuman berenergi yang
diproduksi oleh PT. Sido Muncul. Melalui iklannya, produk yang erat kaitannya
dengan konsep maskulinitas ini, tidak memberikan definisi maskulinitas yang hanya
berorientasi kepada imej fisik dan tubuh kekar saja. Iklan Kuku Bima Ener-G yang
sekarang mengusung tema Laskar Mandiri. Keunikan dari iklan ini adalah lebih
mengangkat kaum termarjinalkan, yang dikaitkan dengan konsep maskulinitas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna pesan yang
ditonjolkan dan untuk mengetahui keberadaan mitos maskulinitas kaum
termarjinalkan dalam iklan “Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar
Mandiri II” dengan menggunakan analisis semiotik. Penelitian ini bersifat deskriptif
interpretatif kualitatif, sebagai metode untuk menganalisa makna dari simbol-simbol
yang terdapat dalam teks. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah shot dalam
iklan “Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II” dan untuk
sumber data sekunder diperoleh dari referensi buku yang dilengkapi dari informasi
media massa lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian ini.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik
Roland Barthes. Adapun digunakannya semiotika Roland Barthes dalam penelitian
ini adalah untuk menggali makna yang ditekankan pada cara tanda-tanda di dalam
teks berinteraksi dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya. Objek
penelitian atau korpus dari penelitian ini adalah iklan “Kuku Bima Ener-G versi
Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II”. Penelitian ini menganalisis simbol-simbol
komunikasi seperti visual, verbal dan non-verbal. Kode-kode itu digunakan untuk
mencari makna, baik makna konotasi dan denotasi, dari simbol-simbol maskulinitas
kaum termarjinalkan yang ditemukan dalam kedua iklan tersebut.
Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Makna pesan yang
ditonjolkan adalah mengenai maskulinitas kaum termarjinalkan. Maskulinitas pada
laki-laki dengan jenis profesi yang termasuk dalam kategori sektor informal, yaitu:
tukang bakso, pengamen, pemulung, penyemir sepatu, tukang ojek sepeda, tukang
ojek motor dan pedagang asongan; (2) Penggambaran mengenai maskulinitas kaum
termarjinalkan memiliki persamaan dengan maskulinitas tradisional yakni: imej fisik
yang digambarkan dengan tubuh yang kuat, kekar dengan dada yang bidang dan
lengan berotot,; karakteristik yang cenderung positif seperti semangat tinggi, aktif
dan setia kawan; maskulinitas kaum termarjinalkan juga tidak lepas dari budaya
patriarkhi, mereka memiliki kuasa atas perempuan dan sebagai pusat yang mengatur
seluruh struktur ekonomi keluarga; (3) Adanya persamaan mitos, baik mitos yang
berkembang dalam masyarakat dengan mitos maskulinitas kaum termarjinalkan
xii
dalam iklan dilihat dari kekuatan fisik, karakter dan pengaruh budaya patriarkhi; (4)
Adanya perbedaan mitos mengenai imej fisik kaum termarjinalkan dalam iklan
dengan mitos yang berkembang dalam masyarakat. Dalam iklan, kaum termarjinalkan
digambarkan memiliki tubuh yang kekar dengan dada yang bidang dan berotot.
Sedangkan dalam realitas, kaum termarjinalkan digambarkan dengan tubuh yang
kurus, dekil dan tidak berotot.
Kata Kunci: Maskulinitas Kaum Termarjinalkan, Iklan, Semiotik.
xiii
ABSTRACT
Yunita Eka Rini. D0205140. The Representation of Masculinity on Marginal
Class in Advertising (Semiotic Analysis of Television Advertisement “Kuku
Bima Ener-G” Version “Laskar Mandiri I” and “Laskar Mandiri II”). Thesis,
Surakarta: Department of Communication. Faculty of Sosial and Political Sciences.
University of Sebelas Maret Surakarta, Maret 2010.
Kuku Bima Ener-G is one brand of energy drinks are manufactured by PT.
Sido Muncul. Through advertisement, product closely linked with the concept of
masculinity is, does not provide definitions o masculinity that is only oriented to the
physical image and muscular body. Advertisement that now carry the “Laskar
Mandiri”. Uniquely theme of this advertisement is more raised the marginalized,
which is related to the concept o masculinity.
The purpose of this research is to analize the meaning of message that is
underlined and to analize existence the masculinity myth of marginal class in
advertisements of “Kuku Bima Ener-G” version “Laskar Mandiri I” and “Laskar
Mandiri II” using semiotics analysis. This research is a qualitative descriptive
interpretative research using semiotics analysis as the method analyze the meaning of
the symbols found in a text. The primary data sources of this research are shots in the
“Kuku Bima Ener-G” version “Laskar Mandiri I” and “Laskar Mandiri II”
advertisements and the secondary data sources obtained from literatures and from
media information associated with the advertisements.
The method for analizing the data of this research is the semiotic analysis of
Roland Barthes. The semiotics of Roland Barthes used in this study was to explore
the meaning of which is emphasized in the way signs in the text interact with
personal and cultural experience of its users. Research object or the corpus of this
research is the advertisements “Kuku Bima Ener-G” version “Laskar Mandiri I” dan
“Laskar Mandiri II”. This research analizes the communication symbols, visual,
verbal and nonverbal. Code is used to find the meanings, both connotation and
denotation meanings, from the masculinity of marjinal class symbols found in
advertisements.
The results of this research are as follows: (1) The meaning of messages that is
underlined about the masculinity of marjinal class. Mens masculinity on some name
of jobs that are categorized on informal sector, such as, builders meatballs, singers,
scavengers, shoe, bicycle motorcycle taxi drivers, motorcycle taxi drivers, and
pitchman; (2) Potrayal of the marginalized masculinity has similarities with
traditional masculinity that is, the physical images are depicted with strong bodies,
stout with a broad chest and muscular arms; positive characteristics such that tends to
be highly motivated, active and loyal friend; masculinity o the marginalized are also
not free of patriarchal culture, they have power over women and as a center that the
entire economic structure of the family; (3) The existence of equality myth, a myth
that developed both within the community by myths of masculinity of the
marginalized in the advertisement seen from physical strength, character and
xiv
influence o patriarchal culture; (4) The difference of the myths about the physical
image of the marginalized in the advertisement with the myths that developed in the
community. In the advertisement, the marginalized described as having a muscular
body with broad chest and muscular. While in reality, the marginalized depicted with
a thin body, filthy and not muscular.
Key words: Masculinity of marginal class, Advertisements, Semiotics.
xv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Potret fisik laki-laki dalam iklan tak lagi sekedar menjadi sebuah
simbol dominasi pria melainkan simbol maskulinitas kapitalistik dalam
pengertian yang lebih luas. Dominasi laki-laki dewasa ini terlihat dari nilai
jualnya, baik melalui otot keperkasaannya, tubuh kekar hingga wajah indonya.
Kesemuanya itu merupakan cerminan maskulinitas kapitalistik yang sangat
beraksentuasi bisnis. Melalui iklannya, televisi leluasa untuk memperteguh
pandangan dan kepercayaan mengenai penggambaran laki-laki. Kepercayaan
itu antara lain pentingnya pria memiliki wajah yang tampan, tubuh yang kekar
dan berotot, atau istilahnya tubuh atletis.
Representasi maskulinitas dalam iklan juga menggunakan tanda dan
bahasa yang tidak bisa lepas dari hegemoni budaya patriarkhi yang
berorientasi kapitalistik. Bila laki-laki muncul dalam iklan, tokoh itu
digambarkan agresif, pemberani, jantan, mandiri kuat, tegar, berkuasa, pintar
dan rasional. Konsep maskulinitas digambarkan dengan bentuk tubuh berotot
adalah tubuh yanag paling ideal dan diakui “kelaki-lakiannya”. Maskulin
hanya diukur dari unsur sensualitasnya saja. Dapat diartikan bahwa
maskulinitas sebagai komoditas dipergunakan produsen dengan memberikan
xvi
janji-janji sebuah solusi bahwa maskulinitas bagi laki-laki bisa didapatkan
dari produk yang mereka tawarkan atau produk yang dihadirkan produsen
membantu dan memberi dukungan pada masyarkat untuk mendapatkan ciriciri maskulin yang tujuan akhir adalah keuntungan bagi produsen atas produk
tersebut
(Nugroho,
http://aris-nugraha.blogspot.com,
diakses
pada
12
November 2009).
Bentuk tubuh merupakan syarat atau faktor dominan di dalam berbagai
pertukaran sosial. Kompetisi otot laki-laki dalam industri kebudayaan kian
marak dipertontonkan. Termasuk dalam industri media massa. Bentuk tubuh
seseorang dijadikan tolak ukur menarik tidaknya orang itu. Dalam budaya pop
yang terkomersialkan, tubuh laki-laki kini dipajang sebagai tanda dan imaji
untuk mewakili suatu benda, produk atau komoditi yang dimaksudkan untuk
dijual secara massal. Tubuh kini mulai dikonsumsi dan tubuh dierotiskan
untuk menunjukkan daya tariknya sehingga akan mendongkrak penjualan.
Pengelolaan tubuh bagi laki-laki kini menjadi hal yang penting. Dari
perawatan rambut, mulut, dagu, kulit, hingga ketiak coba dikenalkan pada pria
untuk mendapatkan bentuk atau penampilan yang diinginkan.
Cukup banyak iklan yang menonjolkan bentuk, penampilan dan
keindahan tubuh pria. Iklan membangkitkan kesadaran semu tentang
pentingnya menjadi tampan, bertubuh atletis, tampak bugar dan muda bagi
kaum adam ini. Mulai dari iklan perawatan rambut, perawatan kulit, susu
khusus untuk pria, parfum hingga suplemen untuk stamina pria selalu saja
xvii
menggambarkan sosok pria dengan otot kekarnya. Iklan-iklan tersebut
menawarkan bentuk tubuh berotot yang dibayangkan paling ideal. Jika
menggunakan produk yang diiklankan itu, dipersepsikan akan seperti sosok
pria dengan segala kemaskulinitasannya. Sehingga keinginan mereka selalu
berorientasi untuk memiliki tubuh yang ideal komodifikasi media. Secara
tidak langsung, iklan-iklan itu berusaha untuk merayu dan mempengaruhi
kondisi obyektif penontonnya supaya mau menggunakan produk yang
ditawarkan. Disadari atau tidak, media dalam hal ini iklan mencoba
mengkonstruksi realitas. Sebagai contoh misalnya iklan Gatsby, produk untuk
perawatan rambut ini memasang Christian Sugiono sebagai endorser-nya.
Dimana dalam iklan tersebut Christian Sugiono ditampilkan sebagai sosok
pria yang mapan terlihat dari mobil yang dikendarainya, memiliki senyum
menawan, wajah rupawan dan tubuh atletis. Sosoknya semakin sempurna
dengan potongan rambut mohawk yang menjadi trend di kalangan pria.
Dengan mengenakan gel rambut Gatsby, tidak dianggap ketinggalan jaman
dan akan sekeren aktor peranakan Jerman-Indonesia ini. Atau iklan susu
khusus pria, L-Men dengan jargonnya yang khas, “Kerempeng, Mana Keren”
ini, seolah-olah ikut mengkonstruksikan bahwa tubuh pria itu akan tampak
keren jika badannya kekar dan berotot istilah kerennya tubuh six pack. Tubuh
kerempeng tidak dianggap sebagai trend saat ini. Itulah realitas yang coba
ditampilkan oleh iklan L-Men ini, dengan konsep tubuh ideal yang tidak
terlalu banyak lemak dan tidak terlalu kurus. Contoh lain lagi adalah iklan
xviii
Hemaviton, salah satu produk minuman berenergi. Memasang Marcelino
Lefrandt sebagai endorser-nya. Yang secara fisik hampir sama dengan
Christian Sugiono, berkulit putih dan bertampang indo. Kebanyakan iklaniklan di Indonesia memang dihiasi oleh wajah-wajah bertampang “semiidonesia”. Wajah-wajah ini menjadi idola dunia hiburan dan ikon majalah
populer serta menjadi primadona beberapa produsen iklan yang tidak hanya
menjual produk tetapi sekaligus memasarkan konsep mengenai wajah tampan
dan tubuh ideal ke masyarakat konsumen Indonesia. Ditambah lagi Marcelino
memiliki predikat sebagai atlet nasional Indonesia untuk cabang olagraga
silat. Predikat ini semakin mengukuhkan kelaki-lakiannya.
Ekstra joss, salah satu produk yang termasuk dalam kategori minuman
suplemen energi, dalam beberapa iklannya juga menonjolkan pria-pria dengan
sosok macho-nya. Ketika Donny Kesuma masih menjadi endorser ekstra joss,
tubuh macho-nya selalu menghiasi iklan-iklan ekstra joss. Dengan
mengenakan kaos tanpa lengan atau terkadang hanya bertelanjang dada,
Donny Kesuma tampil dengan keringat yang bercucuran terlihat sebagai pria
yang senantiasa bekerja keras. Ekstra joss digunakan sebagai penambah
staminanya, dan konsumen dibujuk dengan sosok macho Donny Kesuma.
Ekstra joss juga pernah menjadikan Christian Ronaldo, untuk menjadi
endorser-nya. Siapa yang tak kenal dengan Christian Ronaldo, pesepak bola
Internasional ini selalu mengantar klubnya mencapai kemenangan. Dengan
ditunjang wajah
dan
penampilan
xix
yang
mendekati
sempurna,
serta
kemampuannya menggiring bola, tak diragukan lagi jika dia menjadi ikon pria
masa kini.
Banyaknya iklan televisi mengenai konsep maskulinitas yang
berorientasi pada unsur sensualitas kini menjadi fenomena. Seolah-olah telah
direpresentasi dan dikonstruksikan sebagai komoditas, sesuatu yang
diproduksi dan bertujuan untuk dijual. Padahal jika kita mau memahami lebih
lanjut, konsep maskulinitas tidak melulu tertuju pada pemujaan tubuh saja,
tetapi juga dapat dilihat dari sifat dan karakter yang coba ditampilkan. Seperti
misalnya, memiliki tanggung jawab, pantang menyerah, disiplin, jujur dan
mandiri.
Hal itulah yang coba ditampilkan oleh Kuku Bima Ener-G, merek
minuman berenergi yang diproduksi PT Sido Muncul. Kuku Bima Ener-G ini
mencoba memberikan definisi maskulinitas yang tidak hanya sekedar pria
dengan tubuh kekarnya. Produk yang tidak hanya dikhususkan untuk pria ini
erat dengan konsep maskulinitas. Mulai dari Mbah Maridjan, Chris John,
Donny Kusuma hingga Ade Rai dijadikan sebagai endorser-nya. Chris John
adalah petinju profesional yang sudah beberapa kali menang dan
mempertahankan gelarnya. Ade Rai adalah ikon binaraga yang sangat
konsisten pada profesinya. Kemudian sosok fenomenal Mbah Maridjan.
Berbeda dengan Ade Rai dan Chris John yang dikenal karena kekuatan
fisiknya, Mbah Maridjan ini lebih dikenal dengan kekuatan mental dan
keberanian untuk tetap tegar pada pendirian. Mereka dianggap memiliki nilai
xx
tersendiri sebagai seorang lelaki. Bahkan saat menggandeng Mbah Maridjan
untuk pertama kalinya pada pertengahan tahun 2006, omzet penjualan naik
hingga 225% (www.swa.co.id, diakses pada 7 Oktober 2009). Secara
psikologis ketiganya memberikan kekuatan bagi para calon peminum Kuku
Bima.
Sebagai minuman berenergi, Kuku Bima Ener-G hadir paling akhir.
Sido Muncul sangat serius menangani merek bungsunya ini. Jadi, walau baru
berusia 4 tahun lebih, Kuku Bima mampu menyalip pemain lain sehingga
membayangi Extra Joss, sang pemimpin pasar.(Swa, No.10/XXV/14-27 Mei
2009, hlm. 44). Hingga Juli 2008, penjualan Kuku Bima Ener-G menyentuh
angka tertinggi, yakni 200 juta sachet per bulan. Padahal, pada awal
diluncurkan hanya terjual 5 juta sachet per bulan. Tak mengherankan, saat ini,
Kuku Bima Ener-G memberikan kontribusi 65% dari total omzet Sido
Muncul. Bahkan, produk itu sudah dipasarkan di berbagai negara. Selain itu,
tentu saja kegiatan promosi dilakukan secara konsisten. Khusus untuk Kuku
Bima, setiap tahun Sido Muncul mengucurkan sekitar Rp 2,5 miliar dengan
mayoritas 80% untuk aktivitas above the line, terutama beriklan di televisi.
Sido Muncul selalu merogoh sekitar 15 % dari net sales setiap tahun untuk
iklan. .(Swa, No.10/XXV/14-27 Mei 2009, hlm 62).
Sembari beriklan, produk yang dilempar ke pasar pada 23 April 2004
ini juga sembari mengkomunikasikan nilai-nilai yang sekarang ini terlihat
sudah menipis di masyarakat, seperti kesetiaan, ketulusan hati dan rela
xxi
berkorban. Keunikan lain dari iklan ini adalah lebih mengangkat kaum yang
termarjinalkan, tetapi tetap dengan kemasan yang menarik dan tidak terlihat
murahan. Hal ini menarik, karena sebelumnya kebanyakan iklan di Indonesia
mengabaikan fakta bahwa mayoritas pemirsanya adalah kelas bawah yang
terdiri dari petani, buruh, dan pekerja keras lainnya.
Sedari awal iklan produk Kuku Bima Ener-G tidak hanya menekankan
kepada endorser-nya saja. Jika dilihat sekilas, memang beberapa endorser
dari Kuku Bima Ener-G memiliki tubuh yang kekar. Ade Rai misalnya,
tubuhnya berotot dan macho. Ade Rai adalah ikon binaraga yang sangat
konsisten dengan profesinya. Dia yang memperkenalkan binaraga bukan
sebagai bagian dari cabang olah raga yang dipertandingkan saja, tetapi
menjadi bagian gaya hidup. Chris John juga memiliki bentuk tubuh yang
mendekati sempurna. Chris John adalah petinju profesional yang sudah
beberapa kali menang dan mempertahankan gelar. Selain menampilkan
endorser dengan tubuh yang kekar, sebagian iklan Kuku Bima Ener-G juga
menggandeng orang-orang yang keberadaannya sering terabaikan. Pada tahun
2006, Kuku Bima Ener-G menggandeng orang-orang yang memiliki profesi
sebagai montir dan supir. Pada tahun 2007, Kuku Bima Ener-G menggandeng
Nur Kodim, seorang supir angkot dengan cacat fisik, dan Sugeng yang
berproesi sebagai penambal ban dengan cacat fisik pada kakinya. Sebagian
dari iklan Kuku Bima Ener-G tidak selalu menampilkan keindahan fisik
endorser-nya saja.
xxii
Kuku Bima Ener-G yang sekarang mengusung tema Laskar Mandiri.
Laskar Mandiri I yang diluncurkan pada tahun 2008 menggandeng para
pemulung, penjual jamu gendong, tukang ojek sepeda, tukang semir sepatu,
pedagang asongan dan pengamen. Mereka adalah para pekerja sektor informal
yang ada di negeri ini yang terkadang keberadaan mereka seringkali
dipinggirkan. Selain para Laskar Mandiri, sebutan untuk para pekerja yang
dilibatkan dalam iklan itu, para endorser-nya seperti Chris John, Ade Rai,
Donny Kesuma, Vega Hapsari dan Rieke Diah Pitaloka masih dilibatkan juga.
Untuk iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I, peneliti akan
menggunakan iklan dengan durasi 30 detik.
Sedangkan Laskar Mandiri II merupakan lanjutan dari Laskar Mandiri
I. Dalam Laskar Mandiri II, para pekerja sektor informal yang dilibatkan
adalah orang-orang yang berprofesi sebagai tukang bakso, pengamen,
pedagang asongan dan ojek motor. Laskar Mandiri II juga masih
menggunakan Chris John, Ade Rai, Donny Kesuma, Vega Hapsari dan Rieke
Diah Pitaloka. Sudah menjadi tradisi bagi Kuku Bima untuk memakai para
endorser-nya itu. Adapun penggunaan nama Laskar Mandiri dimaksudkan
untuk memberikan penjelasan bahwa walau pekerjaan mereka termasuk dalam
jenis pekerjaan sektor informal, tidak membutuhkan jenjang pendidikan
tertentu dengan penghasilan yang tidak banyak, dan terkadang keberadaannya
sering diabaikan, mereka tetap bekerja untuk menghidupi dirinya dan
xxiii
keluarganya tanpa pernah bergantung pada orang lain. Itulah konsep dari
Laskar Mandiri.
Dalam iklan Kuku Bima Ener-G, baik Laskar Mandiri I ataupun II, ada
apresiasi tersendiri untuk kaum-kaum termarjinalkan. Peneliti memilih iklan
Kuku Bima Energ-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II sebagai
iklan yang dianalisis karena peneliti ingin menggali pesan-pesan yang coba
ditampilkan oleh iklan ini. Proses pemaknaan simbol-simbol dan tanda-tanda
tersebut tentu saja tergantung dari referensi dan kemampuan pikir masingmasing individu. Oleh karena itu, analisis semiotika akan digunakan untuk
mengetahui isi pesan dan makna yang tersembunyi dari film tersebut.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka
penelitian ini ingin menjawab beberapa pertanyaan:
1. Bagaimana makna pesan yang ditonjolkan dalam iklan Kuku Bima Ener-G
versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II?
2. Bagaimana keberadaan mitos maskulinitas kaum termarjinalkan dalam
iklan Kuku Bima ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II?
xxiv
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui makna pesan yang ditonjolkan dalam iklan Kuku Bima
Ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II.
2. Untuk mengetahui keberadaan mitos maskulinitas kaum termarjinalkan
dalam iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri
II.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan informasi rinci, akurat
dan aktual yang akan memberikan jawaban permasalahan baik secara teoritis
maupun secara praktis. Secara teoritis untuk langkah pengembangan lebih
lanjut dan secara praktis berwujud aktual. Maka diperoleh manfaat penelitian
ini sebagai berikut:
1. Manfaat secara teoritis-akademis:
a. Penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih
mendalam mengenai bagaimana iklan merekonstruksi tatanan sosial
yang ada dengan penggunaan metode semiotik yang notabene adalah
suatu bentuk penyampaian pesan dengan menggunakan simbol-simbol
tertentu.
xxv
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan
di bidang penelitian komunikasi khususnya di bidang analisis
semiotika.
2. Manfaat secara praktis:
a. Penelitian diharapkan dapat berfungsi bagi para insan kreatif
periklanan sebagai masukan untuk tidak membuat iklan yang
mengedepankan budaya pemujaan tubuh (fetishism of body), baik itu
laki-laki maupun perempuan dan juga untuk lebih memahami bahwa
iklan dapat menjadi wacana dalam masyarakat, karena iklan bermain
dalam dunia tanda dan bahasa.
b. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang penelitian
komunikasi dengan pendekatan semiotika iklan televisi.
c. Menjadi rujukan bagi para peneliti yang berminat menganalisis lebih
lanjut iklan televisi, khususnya melalui pendekatan analisis semiotika.
E. Kajian Teori
1. Definisi Komunikasi
Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan
dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan
ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini
memaksa
manusia
perlu
berkomunikasi.
xxvi
Hal
tersebut
menjadikan
komunikasi sebagai salah satu aktivitas yang sangat fundamental dalam
kehidupan manusia.
The mental activities of thinking and communicating are importantly
interrelated in our species. Human societies and cultures, and civilization
at large, are the results of cooperating and conflicting minds, connected
through cognitive-semiotic functions and processes.
(Kegiatan mental berpikir dan berkomunikasi merupakan faktor penting
dari manusia. Masyarakat, budaya, dan peradaban pada umumnya, adalah
hasil kerjasama dari perbedaan pikiran yang terhubung melalui fungsi dan
proses semiotik kognitif). (Andreassen, Brandt and Vang, 2007:4).
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal
dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang
berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna (Effendy, 2005:
9). Menurut Webster New Collogiate Dictionary komunikasi adalah “suatu
proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambanglambang, tanda-tanda atau tingkah laku”.
John Fiske berasumsi bahwa semua komunikasi melibatkan tanda
(signs) dan kode (codes). Tanda adalah artefak atau tindakan yang merujuk
pada sesuatu yang lain di luar tanda itu sendiri; yakni, tanda menandakan
konstruk. Kode adalah sistem di mana tanda-tanda diorganisasikan dan yang
menentukan bagaimana tanda-tanda itu mungkin berhubungan satu sama
lain. Tanda-tanda dan kode-kode itu ditransmisikan atau dibuat tersedia
pada
yang
lain:
dan
bahwa
pentransmisian
atau
penerimaan
tanda/kode/komunikasi adalah praktik hubungan sosial. Adapun yang
xxvii
mendasari asumsi tersebut adalah definisi umum tentang komunikasi
sebagai “interaksi sosial melalui pesan” (Fiske, 2007: 8).
Para ahli telah melakukan berbagai upaya untuk mendefinisikan
komunikasi,
namun
membangun
suatu
definisi
tunggal
mengenai
komunikasi terbukti tidak mungkin dilakukan dan mungkin juga tidak
terlalu bermanfaat. Littlejohn melakukan terobosan penting dalam upayanya
memberikan klarifikasi terhadap pengertian komunikasi. Suatu definisi yang
lebih mencerminkan fenomena “komunikasi” yang kita alami sehari-hari
misalnya
“komunikasi
mencakup
pemahaman
bagaimana
manusia
melakukan penciptaan, pertukaran dan penafsiran pesan-pesan” (Littlejohn,
1996: ). Hampir sama seperti yang diasumsikan oleh John Fiske, menurut
Stephen W.Littlejohn, pesan atau message merupakan inti dari studi ilmu
komunikasi. Dalam disiplin ilmu komunikasi memiliki cabang yang
bertingkat dimana yang memiliki titik sentral adalah pesan atau message
(Littlejohn, 2002:61).
Ada dua mahzab dalam melakukan studi komunikasi, (Fiske, 2007:
8-9) yakni:
1. Komunikasi sebagai transmisi pesan-pesan (transmission of
message)
Tertarik dengan bagaimana pengirim dan penerima
mengkonstruksi
pesan
(encode)
dan
menerjemahkannya
(decode), dan dengan bagaimana transmitter menggunakan
xxviii
saluran dan media komunikasi. Mengacu pada paradigma
Laswell, dimana dalam proses ini terdapat komunikator, pesan,
komunikan, media dan efek. Pesan berpindah dari komunikator
menuju ke komunikan.
2. Komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna (production
and exchange of meaning)
Berkenaan
dengan
bagaimana
pesan
atau
teks
berinteraksi dengan orang-orang dalam rangka menghasilkan
makna.
Dalam mahzab kedua ini, tidak mengenal adanya suatu kegagalan
komunikasi. Makna baru akan muncul jika orang mulai menafsirkan isyarat
atau simbol dan berusaha memahami dengan melibatkan aspek pikiran,
perasaan dan konsep (Kincaid dan W. Schramm, 1987: 77). Pesan
merupakan satu konstruksi dari beberapa tanda (sign) yang mana melalui
interaksi dengan penerima akan menghasilkan makna. Pengirim (sender)
didefinisikan sebagai pen-transfer pesan. Reading adalah sebuah proses
penemuan makna-makna ketika pembaca (reader) berinteraksi dengan teks.
Proses interaksi inilah yang mempunyai kedudukan sebagai suatu faktor
dimana reader membawa aspek kultural, sehingga dalam reading akan
mendapati makna yang berbeda. Bagi mahzab ini, studi komunikasi adalah
studi tentang teks dan kebudayaan. Metode studinya yang utama adalah
xxix
semiotika (ilmu tentang tanda dan makna), yang nantinya akan digunakan
dalam penelitian ini.
John Fiske, dalam bukunya Introduction to Communication Studies,
juga menjelaskan bahwa komunikasi merupakan proses Generating of
Meaning atau pembangkitan makna. Ketika A berkomunikasi dengan B,
agar terjadi komunikasi maka A akan menyusun suatu pesan yang terdiri
dari tanda-tanda. Pesan ini menstimuli B untuk menyusun makna bagi
dirinya sendiri yang berhubungan dengan makna yang dibangkitkan oleh A
dalam pesan awalnya. Dalam hal ini B akan melakukan interpretasi terhadap
makna dari pesan A. A dan B menggunakan kode-kode dan sistem tanda
yang sama sehingga kedua pemaknaan terhadap pesan tersebut akan saling
mendekati (Fiske, 1990: 39)
Pesan merupakan suatu elemen dalam sebuah hubungan terstruktur
yang elemen-elemen lainnya termasuk realitas ekternal dari produser atau
pembaca. Memproduksi dan membaca teks dipandang sebagai proses yang
paralel, jika tidak identik, karena mereka menduduki tempat yang sama
dalam hubungan terstruktur ini. Kita bisa menggambarkan model struktur
ini sebagai sebuah segitiga dengan anak panah yang menunjukkan interaksi
yang konstan; struktur tersebut tidaklah statis, melainkan suatu praktik yang
dinamis (Fiske, 2007: 11)
xxx
Pesan Teks
Makna
Produser Pembaca
Referent
Gambar I.1: Pesan dan Makna
Sumber: John Fiske, Cultural and Communication Studies, 2007, hlm. 11
Pesan dibahas sebagai suatu kumpulan pola-pola, isyarat-isyarat,
atau simbol-simbol. Baik pola, isyarat, maupun simbol itu sendiri tidak
mempunyai makna, karena hanya berupa perubahan-perubahan wujud
perantara yang berguna untuk komunikasi. Tetapi terdapat kesepakatan di
kalangan manusia untuk memberikan makna pada simbol-simbol yang
mereka pakai. Namun seseorang yang tidak mengenal sandi (kode) atau
ketentuan-ketentuannya, hanya akan dapat menerka saja makna simbolsimbol tersebut. Orang-orang tidak akan mempunyai makna yang tepat sama
untuk simbol-simbol atau tanda-tanda yang sama, tetapi masing-masing
makna yang dimiliki oleh mereka akan cukup mirip, dan mereka akan dapat
menggunakan pesan yang sama itu bersama-sama dan dengan begitu mereka
“berkomunikasi” (Kincaid&Wilbur Schramm, 1987:55). Pesan merupakan
xxxi
suatu konstruksi tanda yang melalui interaksinya dengan penerima,
menghasilkan makna.
Sebenarnya inti dari proses komunikasi adalah pengoperan lambanglambang yang mengandung arti. Proses ini berjalan dari komunikator ke
komunikan. Mc Luhan mengatakan bahwa suatu pesan yang akan
disampaikan dan diterima oleh komunikan, tergantung dari medianya.
Menurut Mc Luhan, “Medium is The Message” yaitu bahwa pada akhirnya
pesan tergantung dari penggunaan media, dan bagaimana pengaruh pesan.
Komunikasi dengan menggunakan media massa atau disebut
komunikasi massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat
menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan
terlebih dahulu. Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa
menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan
heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis komunikasi lain
adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa
mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas
(Nurudin, 2004: 8).
Iklan adalah segala bentuk pesan tentang sesuatu produk yang
disampaikan lewat media, ditujukan pada sebagian atau seluruh masyarakat
(Khasali,1995: 79). Dengan kata lain iklan merupakan bentuk dari
komunikasi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan atau pengiklan untuk
xxxii
memasarkan produknya melalui media. Hal ini dijelaskan oleh Gillian Dyer
dalam bukunya Advertising as Communication, yakni:
“Today it suffuses the whole system of mass communication and some
econimist argue that the media are in fact not just a part of the economy
but its servants. The media convert audiences into markets and because
they exist throught ‘selling’ audiences to advertisers, they generally
preclude the services that the media could perform such as providing
adequate consumer information to public ”.
“Sekarang iklan merupakan bagian dari komunikasi massa dan beberapa
pakar ekonomi berpendapat bahwa media pada kenyataannya tidak hanya
menjadi bagian dari ekonomi tetapi juga melayani iklan. Media merubah
khalayak menjadi pasar karena media ada melalui “penjualan” khalayak
kepada pemasang iklan/pengiklan, pada umumnya media mencakup
pelayanan bahwa media memberikan informasi yang cukup mengenai
konsumen kepada publik, (Dyer, 1982: 9-10)”.
Hakikat iklan sebagai salah satu bentuk komunikasi juga
dikemukakan oleh Arens, bahwa:
“Iklan adalah struktur informasi dan susunan komunikasi nonpersonal yang
biasanya dibiayai dan bersifat persuasif, tentang produk-produk (barang,
jasa dan gagasan) oleh sponsor yang teridentifikasi, melalui berbagai
macam media, (Arens dalam Noviani, 2002: 22-23)
Dari definisi tersebut, jelas bahwa iklan memiliki fungsi utama
menyampaikan informasi tentang produk kepada massa (nonpersonal). Ia
menjadi penyampai informasi yang sangat terstruktur, yang menggunakan
elemen-elemen verbal maupun non-verbal. Dalam menjalankan fungsi
komunikasinya ini, iklan memiliki berbagai gaya, baik dalam penyajian
maupun isi iklan itu sendiri (Noviani, 2002: 23)
Untuk selanjutnya pemahaman tentang iklan, sebagai fokus kajian,
akan dijelaskan pada subbab di bawah ini.
xxxiii
2. Iklan
Wright (1978) menulis dalam bukunya Advertising bahwa ada begitu
banyak julukan yang diberikan kepada makhluk yang disebut iklan. Iklan
terkadang bersikap merayu secara gombal, dan mempunyai kemampuan
dapat menembus situasi yang semula sukar dijangkau. Iklan sering dijuluki
bersifat materialistik. Iklan nampaknya mempengaruhi sikap orang menjadi
dinamik, memiliki daya pikat dan kadang-kadang menjengkelkan. Namun
anehnya iklan tetap dibutuhkan oleh para penguasa (pengiklan), pemilik
media, biro iklan, maupun masyarakat (Liliweri, 1992: 17).
Rhenald Khasali mengungkapkan bahwa secara sederhana iklan
didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan produk yang ditujukan
kepada masyarakat lewat suatu media (Khasali, 1995: 9). Selain itu tujuan
dari periklanan itu sendiri umumnya mengandung misi komunikasi.
Periklanan adalah suatu komunikasi massa dan harus dibayar untuk menarik
kesadaran,
menanamkan
informasi,
mengembangkan
sikap
atau
mengharapkan adanya suatu tindakan yang menguntungkan bagi pengiklan
(Khasali, 1995: 51).
Dalam Advertising Excellence, Boove (1995: 14 dalam Bungin,
2008: 108) mendeskripsikan iklan sebagai sebuah proses komunikasi, di
mana terdapat: pertama, orang yang disebut sebagai sumber munculnya ide
iklan; kedua, media sebagai medium; dan ketiga adalah audiens.
xxxiv
Masukan
Balik
Jika mereka membeli
ini, mereka akan lebih
produktif.
Jika saya beli ini,
saya akan lebih
produktif.
encoding
decoding
pesan
individu
Beli ini dan kamu akan
bekerja lebih produktif.
Sumber
medium
(noise)
audiens
Gambar I.2: Iklan Sebagai Proses Komunikasi
Sumber: Boove, 1995: 14 dalam Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, 2008,
hlm. 108
Terjadi proses dialektika dalam proses komunikasi tersebut, di mana
individu menciptakan ide yang dikomunikasikan dan audiens memberi
respon serta memberi masukan terhadap ide-ide baru dalam proses
komunikasi tersebut. Dalam proses menuangkan ide ke dalam pesan, terjadi
proses encoding di mana ide itu dituangkan dalam bahasa iklan yang
meyakinkan orang. Media kemudian mengambil alih ide itu dan kemudian
dikonstruksikan menjadi bahasa media. Pada tahap ini terjadi decoding
xxxv
karena audiens menangkap bahasa media itu dan membentuk pengetahuanpengetahuan atau realitas, dan pengetahuan itu bisa mendorongnya
merespons balik kepada iklan tersebut (Bungin, 2008: 108-109).
Untuk menuangkan ide-ide ke dalam sebuah produk, biasanya
pengiklan menggunakan media lini atas atau media lini bawah untuk
mengiklankan produknya. Media lini bawah meliputi; pameran, direct mail,
merchandising schemes, kalender. Sedangkan media lini atas media
massanya antara lain; televisi, radio, surat kabar dan billboard. Televisi
merupakan media yang paling banyak dipilih oleh pengiklan untuk
memasarkan produknya karena televisi hadir dalam bentuk media massa
yang memiliki perpaduan audio dan visual dengan sifat persuasif yang
tinggi. Onong Uchjana Effendy menegaskan bahwa televisi mempunyai
fungsi
mempengaruhi
yang
bisa
diandalkan.
Menurutnya,
televisi
mempunyai daya tarik kuat, karena memiliki unsur kata, musik dan unsur
visual yang berupa gambar hidup yang mampu menimbulkan kesan
mendalam pada penonton. ( Effendy, 1981:170).
Salah satu keuntungan utama periklanan lewat televisi adalah
kemampuannya dalam membangun citra. Iklan televisi mempunyai cakupan,
jangkauan, dan repetisi yang tinggi dan dapat menampilkan pesan
multimedia (suara, gambar, dan animasi) yang dapat mempertajam ingatan.
Dalam komunikasi periklanan, ia tidak hanya mengunakan bahasa sebagai
alatnya, tetapi juga alat komunikasi lainnya seperti gambar, warna dan
xxxvi
bunyi. Dalam konteks komunikasi periklanan, yang bertindak sebagai
komunikator adalah produsen sedangkan yang bertindak sebagai komunikan
adalah para pemirsa televisi. Melalui iklan, produsen mampu mengubah
pola pikir, kebiasaan, kebudayaan, gaya hidup dan hal lainnya dari khalayak
ke dalam bentuk-bentuk baru yang menguntungkannya. Selain itu,
penyampaian pesan iklan dari sebuah produk juga dikemas agar mudah
dimengerti dan diingat oleh khalayak Pengertian tentang iklan televisi akan
dijelaskan pada subbab berikut ini.
2.1. Iklan Televisi
Simon During dalam bukunya yang berjudul The Cultural
Studies
memasukan
tulisan
Raymon
Williams
yang
berjudul
Advertising: The Magic System. Kedua orang ini terkesan amat
mengagumi iklan. Kekaguman mereka terhadap iklan, memiliki dasar
yang kuat, dimana iklan televisi telah mengangkat medium iklan ke
dalam konteks yang sangat kompleks namun jelas, berimajinasi namun
konstektual,
penuh
dengan
fantasi
namun
nyata.
Kekaguman-
kekaguman itu tidak pernah terlepas dari peran televisi yang telah
“menghidupkan” iklan dalam dunia kognisi pemirsa serta penuh dengan
angan-angan. Padahal televisi hanya mengandalkan kemampuan
audiovisual dan prinsip-prinsip komunikasi massa sebagai media
konstruksi (Bungin, 2008: 107).
xxxvii
Bentuk-bentuk iklan di televisi sangat tergantung pada bentuk
siarannya, apakah merupakan bagian dari suatu kongsi atau sindikat,
jaringan lokal, kabel atau bentuk lainnya. Bentuk-bentuk iklan televisi
antara lain:
1. Pensponsoran
Acara televisi yang penayangan pembuatannya dilakukan atas
biaya sponsor atau pengiklan. Pihak sponsor bersedia membiayai
seluruh biaya produksi plus fee untuk televisi.
2. Partisipasi
Melalui iklan dengan durasi 15”, 30” atau 60”, iklan ini disisipkan
diantara satu atau beberapa acara (spots).
3. Spot Announcement
Merupakan bentuk ketiga dari siaran komersial di televisi, yang
ditempatkan pada pergantian acara. Iklan spot 10”, 20”, 30” atau
60” dijual oleh stasiun-stasiun baik untuk pengiklan lokal maupun
nasional.
4. Public Service Announcement
Iklan Layanan Masyarakat yang ditempatkan di tengah-tengah
suatu acara. Iklan ini biasanya dimuat atas permintaan pemerintah
atau suatu LSM untuk menggalang solidaritas masyarakat atas
suatu masalah.
xxxviii
Iklan televisi berkembang dengan berbagai kategori. Kategori
besar dari sebuah iklan televisi adalah berdasarkan sifat media ini, di
mana iklan televisi dibangun dari kekuatan visualisasi objek dan
kekuatan audio. Simbol-simbol yang divisualisasi lebih menonjol bila
dibandingkan dengan simbol-simbol verbal. Umumnya iklan televisi
menggunakan cerita-cerita pendek. Dan karena waktu tayangan yang
pendek, maka iklan televisi berupaya keras meninggalkan kesan yang
mendalam kepada pemirsa dalam waktu beberapa detik.
Tugas utama iklan televisi adalah menjual barang atau jasa bukan
menghibur. Horace Schewerin melaporkan bahwa tidak ada hubungan
antara rasa suka kepada iklan-iklan dan termakan oleh iklan tersebut
(David Ogilvy, 1987:170 dalam Bungin, 2008: 121). Kata-kata Schwerin
ini tidak lagi dipatuhi oleh para copywriter dan visualizer iklan televisi,
karena ternyata menghibur sambil menjual di televisi menjadi lebih
menarik. Para copywriter percaya bahwa iklan-iklan yang besar dengan
kekuatan pencitraan yang kuat akan lebih besar kekuatan memengaruhi
pemirsa, apalagi kalau pencitraan itu dilakukan melalui konstruksi
realitas sosial, walaupun realitas sosial itu sifatnya semu. Hal ini adalah
sebagian contoh dari upaya teknologi menciptakan theater of mind
dalam dunia kognitif masyarakat.
Media, termasuk iklan, bukanlah saluran yang bebas, tetapi
merupakan subjek yang mengkonstruksi realitas lengkap dengan
xxxix
pandangan bias dan pemihakannya. Seperti dikatakan Tony Bennet
(1982:287-288) dalam bukunya
yang berjudul Media ,Reality,
Signification, mengartikan bahwa media massa sebagai agen konstruksi
sosial yang mendefinisikan realitas. (Eriyanto,2001:36)
“the media are not a part from social reality, passively reflecting and
giving back to the world its self-image; they are a part of social
reality, contributing to its coutours and to the logic and direction of its
development via the socially articulated way in which the shape our
perceptions”
(Media tidak hanya menjadi bagian pasif dari realitas sosial tetapi
media mencerminkan serta menceritakan kembali realitas dengan citra
diri mereka. Media adalah bagian dari realitas sosial, menyumbangkan
logika dan arah perkembangannya dengan cara artikulasi sosial di
mana media membentuk persepsi kita).
Iklan memang telah menjadi bagian dari masyarakat industri
kapitalis yang begitu powerful dan sulit untuk dielakkan. Ia
menyediakan gambaran tentang realitas, dan sekaligus mendefinisikan
keinginan dan kemauan individu. Ia mendefinisikan apa itu gaya, dan
apa itu selera bagus bukan sebagai sebuah kemungkinan atau saran,
melainkan sebagai tujuan yang diinginkan dan tidak bisa dipertanyakan.
(Noviani, 2002:49). Dan iklan-iklan semacam ini tidak bisa dipungkiri
sangat
mempengaruhi
kehidupan
manusia
sehari-hari,
bahkan
memainkan sebuah peranan yang dominan dalam masyarakat. Dalam
proses komunikasi, iklan menggunakan bentuk-bentuk simbolis supaya
makna atau pesan yang disampaikan oleh produsen dapat ditangkap
dengan baik oleh konsumen.
xl
Realitas sosial dapat atau sedang dikonstruksi oleh sebuah iklan
televisi, sebuah media televisi. Realitas kekuatan media mengkonstruksi
realitas sosial, dimana melalui kekuatan itu media memindahkan realitas
sosial ke dalam pesan media dengan atau setelah dirubah citranya,
kemudian media memindahkannya melalui replikasi citra ke dalam
realitas sosial yang baru di masyarakat seakan realitas itu sedang hidup
di masyarakat. Isi media pada hakikatnya adalah hasil konstruksi realitas
dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Sedangkan bahasa bukan
saja sebagai alat merepresentasikan realitas, namun juga bisa
menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang
realitas tersebut. Akibatnya, media massa (iklan) mempunyai peluang
yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang
dihasilkan dari realitas yang dikonstruksikan. (Alex Sobur, 2001:88).
Pengertian tentang konstruksi realitas akan dijelaskan pada subbab
berikut ini.
2.2. Konstruksi Realitas dalam Iklan
Istilah konstruksi realitas menjadi terkenal sejak diperkenalkan
oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui bukunya The Social
Construction of Reality , A Treaties in the Sociological of Knowledge.
Ia menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang
mana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang
dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. (Bungin, 2001:10).
xli
Menurut Berger dan Luckmann, realitas sosial dikonstruksi melalui
proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Konstruksi sosial
dalam pandangan mereka, tidak berlangsung dalam ruang hampa namun
sarat dengan kepentingan-kepentingan. Berkenaan dengan hal tersebut,
media massa, lazim melakukan tindakan dalam konstruksi realitas dalam
hasil akhirnya berpengaruh kuat terhadap pembentukan makna atau citra
tentang suatu realitas. Sebagai media konstruksi realitas sosial, iklan
melampaui momen dialektis itu. Iklan merupakan penyesuaian dengan
dunia sosiokultural. Iklan juga diterima melalui proses institusionalisasi,
dan pada akhirnya iklan terinternalisasi melalui individu yang
mengidentifikasikan dengan lembaga sosialnya.
Realitas yang dimaksud oleh Berger dan Luckmann ini terdiri
dari realitas obyektif, realitas simbolis, dan realitas subyektif. Realitas
obyektif adalah realitas yang terbentuk dari pengalaman di dunia
obyektif yang berada di luar diri individu, dan realitas ini dianggap
sebagai kenyataan. Realitas simbolis merupakan ekspresi simbolis dari
realitas obyektif dari berbagai bentuk. Sedangkan realitas subyektif
adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali
realitas obyektif dan simbolis ke dalam individu melalui proses
internalisasi (Henry, 1997, dalam Bungin, 2008: 24)
Konstruksi sosial iklan televisi adalah cara bagaimana realitas
baru itu dapat dikonstruksikan oleh media melalui interaksi simbolis dan
xlii
padanan budaya dalam dunia intersubjektif serta proses pelembagaan
realitas baru. Konstruksi sosial amat terkait dengan kesadaran manusia
terhadap realitas sosial itu. Karena itu kesadaran adalah bagian yang
paling penting dalam konstruksi sosial.
Pernyataan posisi seseorang dalam masyarakat kemudian dapat
dikonstruksikan melalui iklan televisi, antara lain melalui iklan yang
menunjukkan penggunaan produk-produk komersil tertentu yang ada di
masyarakat. Agar sebuah iklan komersil memiliki kemampuan
mengkonstruksi gender atau kelas sosial di masyarakat, maka lebih
dahulu produk itu dikonstruksi sebagai barang yang mampu memberi
kontribusi pembentukan kelas ekslusif di masyarakat. Karena itu produk
komersil tertentu harus dikonstruksi sebagai bagian dari kelas atas atau
kelas ekslusif itu sendiri. Kemudian penggunaan media televisi dalam
konteks ini dengan maksud, selain televisi memiliki kemampuan optimal
untuk secara luas dan akurat mengkonstruksi image masyarakat. Televisi
juga bagian dari masyarakat ekslusif, modern, urbanis dan cosmopolitan
(Bungin, 2008: 26)
Pencitraan berusaha dikonstruksi oleh iklan. Pencitraan dalam
iklan televisi disesuaikan dengan kedekatan jenis objek iklan yang
diiklankan. Pada beberapa iklan yang menonjol dalam pencitraan,
diperoleh beberapa kategorisasi penggunaan pencitraan dalam iklan
televisi, (Bungin, 2008: 122-127) sebagai berikut :
xliii
a. Citra Perempuan. Seperti yang dijelaskan oleh Tomagola, citra
perempuan tergambarkan sebagai citra pigura, citra pilar, citra
pinggan, dan citra pergaulan.
b. Citra Maskulin. Iklan juga mempertontonkan kejantanan, otot
laki-laki, ketangkasan, keperkasaan, keberanian menantang
bahaya, keuletan, keteguhan hati, bagian-bagian tertentu dari
kekuatan daya tarik laki-laki sebagai bagian dari citra maskulin.
c. Citra Kemewahan dan Ekslusif. Kemewahan dan ekslusif adalah
realitas yang diidamkan oleh banyak orang dalam kehidupan
masyarakat. Banyak orang bekerja keras, berjuang hidup untuk
memperoleh realitas kemewahan dan ekslusif, karena itu iklan
televisi memproduksi realitas ini ke dalam realitas iklan dengan
maksud memberi simbol-simbol kemewahan ke dalam objek
iklan televisi.
d. Citra Kelas Sosial. Dalam realitas sosial nyata, selain
kemewahan, rasa ingin masuk ke dalam kelas sosial yang lebih
baik, merupakan realitas yang didambakan setiap orang.
Sehingga iklan televisi mencitrakan kehidupan kelas sosial atas
menjadi acuan dan digambarkan sebagai kehidupan yang
bergengsi, modern, identik dengan kehidupan diskotek, pesta
pora dan penuh dengan hiruk pikik musik.
xliv
e. Citra Kenikmatan. Kenikmatan adalah bagian terbesar dari dunia
kemewahan dan kelas sosial yang tinggi. Dalam iklan televisi
kenikmatan dapat memindahkan seseorang dari kelas sosial
tertentu ke kelas sosial yang ada di atasnya.
f. Citra Manfaat. Citra manfaat menjadi penting untuk masukan
terhadap keputusan membeli atau tidak sebuah produk.
g. Citra Persahabatan. Ditampilkan dalam sebuah iklan, sebagai
jalan keluar terhadap banyaknya problem rendah diri yang
terjadi di kalangan remaja.
h. Citra Seksime dan Seksualitas. Ketika iklan televisi berani
muncul dengan citra seksualitas ini, menjadi daya tarik yang luar
bias am karena selain ‘berani’ menembus tradisi, citra
seksualitas dalam ruang publik dianggap sebagai ‘hiburan’ yang
menyegarkan.
Jadi, dengan demikian, maka pencitraan iklan televisi adalah
bagian terpenting dalam konstruksi iklan televisi atas realitas sosial, baik
itu memiliki citra tunggal atau citra ganda. Sengaja ataupun tidak, citra
dalam iklan televisi telah menjadi bagian terpenting dari sebuah iklan
televisi itu. Citra ini pula adalah bagian penting yang dikonstruksi oleh
iklan televisi.
Konstruksi sosial menjadi salah satu kekuatan perusahaan besar
dengan kekuatan kapitalis untuk membuat mereka tetap eksis di
xlv
masyarakat. Kekuatan kapital yang dimiliki perusahaan-perusahaan
besar, membuat mereka leluasa membangun ‘ideologi baru’ yang
dikonstruksikan melalui pembiayaan yang sangat besar untuk merebut
pasar, sekaligus terus menerus mengkonstruksi masyarakat (Bungin,
2008: 29). Pengertian tentang ideologi akan dijelaskan pada subbab
berikut ini.
2.3. Ideologi dan Gender
Yang dimaksud dengan ideologi adalah sistem kepercayaan dan
sistem nilai serta representasinya dalam berbagai media dan tindakan
sosial (Pilliang, 2003: 18). Ideologi merupakan sebuah sistem
kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu. Ideologi
bukan sistem unik yang dibentuk oleh pengalaman seseorang, tetapi
ditentukan oleh masyarakat dimana ia hidup, posisi sosial dia,
pembagian kerja dan sebagainya (Sobur, 2004: 214). Perlu diketahui
juga bahwa iklan bukanlah sekedar informasi mengenai produk tertentu
melainkan sebuah media yang menawarkan ideologi, gaya hidup dan
imaji. Terkadang realitas telah dikonstruksi oleh sebuah iklan. Iklaniklan dengan citraan simbolik itu tak jarang juga memutarbalikkan
realitas yang ada. Ekspresi iklan mampu membuat efek-efek mediasi
yang mempengaruhi kondisi obyektif penontonnya, yakni memberikan
daya tekan dan daya paksa terhadap kestabilan jiwa manusia (Wirodono,
2005:105).
xlvi
Hegemoni media massa antara lain menghasilkan ‘ideologi iklan’
bahwa produk iklan selalu menyodorkan sisi baik sebuah produk., hal ini
dilakukan melalui selling effect, tujuannya tentu saja ‘menembak’
psikologis konsumen dan bukan akal sehat. Sehingga iklan selalu sarat
dengan kegunaan sekunder (Saidi, 1996, dalam Bungin, 2008: 29). Hal
ini dikarenakan dunia pertelevisian dan periklanan adalah sektor yang
banyak menelan investasi modal, bisa dilihat dari iklan televisi yang
beberapa detik itu bisa menelan dana ratusan juta. Karena itu dipastikan
bahwa iklan televisi hanya dapat hidup karena dukungan kapital, begitu
pula iklan televisi hanya hidup dalam kekuasaan kapitalis. Jadi iklaniklan yang besar dengan daya tarik yang besar, merupakan iklan dengan
kemampuan konstruksi yang besar pula, bahkan penggarapan iklan yang
sempurna, merupakan persyaratan konstruksi dalam iklan televisi. Dan
iklan –iklan televisi semacam ini membutuhkan kapital yang besar pula
serta mengandung ideologi tertentu, sebagai the magic system, iklan
diharuskan memiliki ideologi.
Iklan merupakan salah satu media yang mana melaluinya suatu
konstruksi ideologi diperkuat seperti nilai maskulinitas, feminitas,
teknologi,kemewahan, kelas sosial, dan sebagainya. Aspek penting suatu
ideologi adalah ia terlihat natural dan merupakan suatu pemberian
daripada sebagai suatu bagian sistem kepercayaan dimana sebuah
kebudayaan dihasilkan supaya berfungsi sesuai dengan caranya. Iklan
xlvii
melalui teknik-teknik sinematographinya mempengaruhi penonton
secara halus untuk menyebarkan ideologi yang dianutnya. Salah satu
ideologi yang ikut tersebar dan terlestarikan lewat media massa adalah
ideologi gender. Dengan demikian, selain lingkungan keluarga dan
pendidikan, media massa merupakan salah satu agen sosialisasi yang
sangat menentukan karena mampu secara khusus berpengaruh dalam
menyalurkan keinsyafan dan pengharapan gender.
Julia T. Wood dalam bukunya Gendered Lives: Communiation,
Gender and Culture mengatakan bahwa perlu dibedakan antara gender
dan seks, jika seks adalah penandaan pada biologis, sedangkan gender
adalah konstruksi sosial dan psikologis. Gender sangat kompleks
dibandingkan seks yang mana gender adalah konstruksi sosial yang
bervariasi diantara berbagai kebudayaan di sepanjang jaman ( Wood,
2001: 19).
Konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum lakilaki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.
Ciri dan sifat tersebut merupakan sifat-sifat yang dapat ditukarkan, yang
bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat
lainnya, maupun dari suatu kelas ke kelas lain. Laki-laki dan perempuan
telah diberi peran-peran sosial yang dibedakan karena peran-peran itu
dihubungkan dengan perbedaan jenis kelaminnya, fungsi biologisnya
dan alat reproduksinya. Adanya konstruksi dan ideologi gender yang
xlviii
menempatkan kaum pria pada posisi dominan masih sangat kuat dan
kentara di Indonesia. Ideologi ini ditopang terutama oleh negara, agama,
budaya
dan
kondisi-kondisi
sosial,
ekonomi,
politik
yang
mengejawantahkannya (Ibrahim, 2007: 27)
Menurut Kristeva, (Kristeva, 1986, dalam Barker, 2004: 254),
identitas seksual bukan merupakan suatu esensi melainkan soal
representasi. Derajat maskulinitas dan feminitas dikatakan ada di dalam
diri laki-laki dan perempuan secara biologis. Memang, tatanan simbolis
patriarkhilah yang mencoba menetapkan semua perempuan sebagai
makhluk feminin dan semua laki-laki sebagai makhluk maskulin.
Perbedaan gender terkait dengan perbedaan identitas mental dan posisi
sosial antara lelaki dan perempuan, yang perbedaan itu tidak tersangkut
paut dengan kodrati biologis tetapi bisa dipertukarkan dan saling
menggantikan. Artinya, perempuan pun bisa memiliki identitas yang
maskulin dan lelaki yang memiliki identitas feminin. Representasi itu
sendiri
dapat
diartikan
sebagai
tindakan
menghadirkan
atau
mempresentasikan sesuatu lewat sesuatu yang lain di luar dirinya,
biasanya berupa tanda atau simbol (Pilliang, 2003: 21). Pembahasan
mengenai representasi akan dijelaskan pada subbab berikut ini.
xlix
2.4. Representasi
Istilah representasi memiliki dua pengertian sehingga harus
dibedakan antara keduanya. Pertama, representasi sebagai sebuah proses
sosial dari “representing” dan yang kedua representasi sebagai produk
dari proses sosial “representing”. Istilah pertama merujuk pada proses,
sedang yang kedua adalah produk dari pembuatan tanda yang mengacu
pada sebuah makna (Noviani, 2002: 61). Selanjutnya dalam proses
representasi, ada tiga elemen yang terlibat, pertama sesuatu yang
direpresentasikan disebut sebagai objek; kedua representasi itu sendiri
yang disebut tanda dan yang ketiga adalah seperangkat aturan yang
menentukan hubungan tanda dengan pokok persoalan, atau disebut
coding. Coding membatasi makna-makna yang mungkin muncul dalam
proses interpretasi tanda. Sesuatu yang sangat esensial dari sebuah tanda
adalah ia bisa menghubungkan obyek untuk diidentifikasi, sehingga
biasanya satu tanda hanya mengacu pada sebuah kelompok obyek yang
telah ditentukan secara jelas. Representasi mengacu pada sesuatu yang
sifatnya orisinil.
Pada
konsep
dikonseptualisasikan
kejujurannya,
representasi,
sebagai
reliabilitasnya,
citra-citra
atau
tanda-tanda
representasi
realitas
dan
ketepatannya.
juga
yang
dinilai
Konsep
representasi terbagi dua, yakni true representation dan dissimulation
atau false representation. Dissimulation menggunakan citra-citra dan
l
ideologi-ideologi yang tersembunyi sehingga menimbulkan distorsidistorsi. Namun dalam dissimulation, the real yang tersembunyi dibalik
topeng-topeng yang menutupinya masih bisa dikembalikan lagi
(Noviani, 2002: 62).
Representasi sosial dalam iklan sering dianggap sebagai
representasi yang cenderung mendistorsi. Merujuk pendapat Marchan,
iklan adalah cerminan yang mendistorsi (a hall of distorting mirrors)
(Kellner, dalam Noviani, 2002: 62). Di satu sisi, iklan merujuk pada
realitas sosial dan dipengaruhi oleh realitas sosial. Sedang di sisi lain,
iklan juga memperkuat persepsi tentang realitas dan mempengaruhi cara
menghadapi realitas. Dengan kata lain, representasi realitas oleh iklan
tidak mengemukakan realitas dengan apa adanya tapi dengan sebuah
perspektif baru. Representasi dianggap menggambarkan dunia sosial
dengan cara yang tidak lengkap dan sempit.
Representasi merupakan suatu ekspresi langsung realitas sosial
dan atau suatu distorsi potensial dan distorsi aktual atas realitas tersebut.
Representasi sebagai konstruksi budaya dan bukan sebagai suatu refleksi
atas dunia nyata (Barker, 2004: 259). Representasi merupakan konsep
yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem
penandaan yang tersedia seperti dialog, tulisan, video, film, fotografi,
dan sebagainya. Secara singkat, representasi adalah produksi makna
melalui bahasa.
li
Jika dikaitkan dengan iklan yang akan diteliti, representasi
merupakan konvensi-konvensi yang dirancang untuk menarik perhatian
sekaligus dapat dengan mudah dipahami seluas mungkin oleh
penontonnya. Konvensi dalam bahasa representasi film tercermin pada
kode-kode sinematografis dan naratif yang digunakannya. Representasi
menunjuk baik pada proses maupun dari pemaknaan suatu tanda.Untuk
mengungkap makna dari suatu tanda-tanda maka dalam penelitian ini
digunakan analisis semiotika. Pengertian mengenai semiotika akan
dijelaskan pada subbab berikut.
3. Pendekatan Semiotika Komunikasi
Dalam media massa, tidak semua pesan diungkapkan secara lugas
atau langsung. Ada pula pesan-pesan yang tersirat secara tidak langsung
baik melalui kata-kata, gerak, isyarat dan lain sebagainya. Pendekatan yang
menjelaskan tentang penggunaan lambang dalam pesan komunikasi adalah
pendekatan semiotik, yaitu studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu
bekerja.
Secara estimologis, istilah semiotik berasal dari kata Yunani semeion
yang berarti “tanda” (Sobur, 2001, 95). Tanda merupakan sesuatu yang
bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita, tanda mengacu pada sesuatu di luar
tanda itu sendiri, dan bergantung pada pengenalan oleh penggunanya
sehingga bisa disebut tanda.
lii
Secara garis besar semiotika merupakan pemikiran seseorang yang
disimpulkan dari berbagai tanda.
In its narrower sense, it is the science of the necessary conditions of the
attainment of truth. In its broader sense, it is the science of the necessary
laws of thought, or, still better (thought always taking place by means of
signs), it is general semiotic.
(dalam arti sempit semiotika merupakan ilmu yang diperlukan untuk
pencapaian kebenaran, dalam arti luas semiotika merupakan ilmu yang
mempelajari tata cara/hukum dari sesuatu pemaknaan yang baik, tetap
baik (pemaknaan seseorang selalu terjadi melalui tanda-tanda) itulah
garis besar semiotika. (Helsinki, Finland, hlm 5:2009).
Berkenaan dengan studi semiotik, pada dasarnya pusat perhatian
pendekatan semiotik adalah pada tanda (sign). Menurut John Fiske, terdapat
tiga area penting dalam studi semiotik, yakni (Fiske, 1990, dalam Sobur,
2001: 94):
1. Tanda itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan beragam tanda yang
berbeda,
seperti
cara
mengantarkan
makna
serta
cara
menghubungkannya dengan orang yang menggunakannya.
Tanda adalah buatan manusia dan hanya bisa dimengerti oleh
orang-orang yang menggunakannya.
2. Kode atau sistem di mana lambang-lambang disusun. Studi ini
meliputi bagaimana beragam kode yang berbeda dibangun untuk
mempertemukan dengan kebutuhan masyarakat dalam sebuah
kebudayaan.
3. Kebudayaan di mana kode dan lambang itu beroperasi.
liii
Salah satu pendiri aliran semiotika adalah Charles Sander Pierce
(1931-1958). Charles Sanders Peirce terkenal karena teori tandanya di ruang
lingkup semiotika. Pierce mengatakan bahwa tanda itu sendiri merupakan
kepertamaan, objeknya adalah kekeduaan, dan penafsirannya –unsur
pengantara– adalah keketigaan (Sobur, 2003:41). Pierce mengidentifikasi
relasi segitiga antara tanda, pengguna dan realitas eksternal sebagai suatu
keharusan model untuk mengkaji makna. Pierce mengungkapkan modelnya
secara sederhana, yaitu :
Tanda adalah sesuatu yang dikaitkan pada seseorang untuk sesuatu dalam
beberapa hal atau kapasitas. Tanda menunjuk pada seseorang, yakni,
menciptakan di benak orang tersebut suatu tanda yang setara, atau
barangkali suatu tanda yang lebih berkembang. Tanda yang diciptakannya
saya namakan interpretant dari tanda pertama. Tanda itu menunjukkan
sesuatu, yakni objeknya (Zeman, 1977 dalam Fiske, 2004:63)
Gambar I.3: Elemen-elemen Makna Pierce
Sumber: John Fiske, Cultural and Communication Studies, 2004, hlm. 63
Panah dua arah menekankan bahwa masing-masing istilah dapat
dipahami hanya dalam relasinya dengan yang lain. Sebuah tanda mengaacu
liv
pada sesuatu di luar dirinya sendiri-objek, dan ini dipahami oleh seseorang:
dan ini memiliki efek di benak penggunanya-interpretant.
Pendiri semiotik lainnya adalah ahli linguistic Swiss, Ferdinand de
Saussure (1857-1913). Jika Pierce memfokuskan minatnya pada makna,
yang ditemukannya dalam relasi sturuktural tanda, manusia dan objek
sedangkan Saussure mengungkapkan bahwa tanda merupakan objek fisik
dengan sebuah makna;atau untuk menggunakan istilahnya, sebuah tanda
terdiri atas penanda dan petanda. Saussure menggambarkan bahwa sebuah
tanda terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified). Kedua unsur
ini seperti dua sisi dari sekeping mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Hubungan diantara penanda dan petanda adalah arbiter atau bersifat
semena-mena atau tanpa alasan. Significant adalah bunyi yang bermakna
atau coretan yang bermakna (aspek mental), yakni apa yang ditulis dan
dibaca. Signified adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep (aspek
mental) dari bahasa (Kurniawan, 2001:14).
Jadi penanda adalah aspek material dari bahasa; apa yang dikatakan
atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Signified adalah gambaran
mental, pikiran atau konsep. Jadi, Petanda adalah aspek mental dari bahasa.
Signifier adalah materi yang membawa makna, sedangkan signified adalah
maknanya. Signifier menunjuk pada dimensi konkret dari tanda, sedangkan
signified merupakan sisi abstrak tanda, makna yang diletakkan pada tanda.
lv
Jadi, ada keterkaitan antara signifier dan signified dalam menganalisa suatu
tanda (Alex Sobur, 2003:46).
Sign
externally reality of meaning
Composed of plus
Signifer
Signified
Elemen-elemen makna Saussure
Gambar I.4: Elemen-elemen Makna Saussure
Sumber: John Fiske, Introduction to Communication Studies, 2004, hlm. 66.
Berdasarkan model pemaknaan ini, petanda-penanda merupakan
konsep
mental
yang
kita
gunakan untuk
membagi realitas
dan
mengkategorikannya sehingga kita bisa memahami realitas tersebut. Dengan
begitu petanda dibuat oleh manusia, ditentukan oleh kultur atau subkultur
yang dimiliki manusia tersebut. Dengan demikian, maka bidang realitas atau
pengalaman yang menjadi acuan petanda, yakni signifikasi tanda, ditentukan
bukan oleh sifat/realitas pengalaman itu, melainkan oleh batas-batas dari
petanda terkait di dalam sistem.
Adalah Roland Barthes yang melengkapi kekurangan Saussure
dengan memberi perhatian lebih pada interaksi tanda dalam teks dengan
pengalaman personal dan cultural pemakainya. Barthes menyempurnakan
lvi
teori semiotik Saussure yang hanya berhenti pada pemaknaan penanda dan
petanda saja (denotasi). Roland Barthes mengulas apa yang sering disebut
dengan sistem pemaknaan tataran kedua yang dibangun atas sistem lain
yang telah ada sebelumnya. Sistem kedua ini disebut Roland Barthes
sebagai konotasi, yang menyelidiki makna-makna konotatif atau sekunder
dalam bentuk mitos.
Barthes membangun sebuah model makna yang sistematis yang
lebih memperhatikan “dunia diluar tanda”. Inti dari teori Barthes adalah
“dua tingkat makna”, yaitu tingkat pertama tanda ini disebut denotasi,
menunjukkan pada”makna awam” atau”makna literal” yang secara obyektif
hadir dan mudah dikenali. Pada tingkat kedua tanda ini disebut konotasi,
yang merujuk pada makna yang tersembunyi di balik makna denotasi akan
tetapi tergantung situasinya (Alex Sobur, 2001:69).
Tatanan pertandaan pertama adalah landasan kerja Saussure. Tatanan
ini menggambarkan relasi anatara penanda dan petanda di dalam tanda, dan
antara tanda dengan referennya dalam realitas eksternal. Barthes menyebut
tatanan ini sebagai denotasi. Hal ini mengacu pada anggapan umum, makna
jelaslah tentang tanda (Fiske, 2004:118). Konotasi adalah istilah yang
digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini
menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan
perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya.
Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak intersubjektif
lvii
yakni interprestasi beberapa orang yang mendefinisikan tanda-tanda tersebut
berdasarkan
pandangan
subjektifnya.
Pemilihan
kata-kata
kadang
merupakan pilihan terhadap konotasi, misalnya kata ”penyuapan” dengan
“memberi uang pelicin”. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang
digambarkan tanda terhadap sebuah objek; sedangkan konotasi adalah
bagaimana menggambarkannya (Alex Sobur, 2001:122).
Sedangkan pada signifikasi tanda kedua yang berhubungan dengan
isi tanda bekerja melalui mitos. Mitos adalah bagaimana kebudayaan
menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala
alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu
dominasi. Mitos primitive, misalnya mengenai hidup dan mati, manusia dan
dewa, dan lain-lain. Sedangkan mitos masa kini misalnya mengenai
feminitas, maskulinitas, pengetahuan dan kesuksesan. Bagi barthes, mitos
merupakan cara berfikir dari suatu kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk
mengkonseptualisasikan atau memahami sesuatu. Barthes memikirkan mitos
sebagai mata rantai dari konsep-konsep terkait. Bila konotasi merupakan
pemaknaan tatanan kedua dari penanda, mitos merupakan pemaknaan
tatanan kedua dari petanda (Fiske, 2004: 121).
Andrew Leak dalam jurnal ilmiahnya, Phago-citations: Barthes,
Perec
and
the
Transformation
of
Literature,
.
(Leak,
http://proquest.umi.com/pqdweb/ptn063, 2009), mengungkapkan bahwa:
lviii
“Mythologies was a collection of short essays written, for the most part,
between 1954 and 1956, and published as a single volume in 1957. These
essay constituted a kind of “mythical corpus on the consumer society,”and
their subject matter was extremely varied: newspaper and magazine
articles, photographs and films, social rituals and cultural events,
advertisements and election posters, a wrestling match, the Tour de
France, the new Citroën, even the hairstyle of a newsworthy cleric!
Barthes's corpus was potentially unlimited because myth itself knew no
bounds: "everything can be a myth provided it is conveyed by a
discourse."2 Myths are messages within messages, and Barthes wrote an
afterword to his book in which he sought to analyze precisely how these
secondary messages are constructed and received.”
“Mitologi adalah salah satu koleksi dari tulisan essay pendek, kebanyakan
antara tahun 1954 hingga 1956 dan pertama kali dipublikasikan sebagai
jilid yang terpisah pada tahun 1957. Essay ini semacam tulisan tentang
dongeng pada masyarakat consumer dan menjadi pembicaraan yang luar
biasa. Variasinya : artikel surat kabar dan majalah, fotografi dan film,
ritual masyarakat, dan event kebudayaan, iklan dan poster pemilihan, tour
de France bahkan gaya rambut pun patut dijadikan berita. Corpus Barthes
memiliki potensi tanpa batas karena mitos itu sendiri tidak mengenal
adanya loncatan: “semua hal bisa menjadi mitos yang disampaikan
melalui sebuah wacana.”2 mitos adalah pesan di bawah pesan, dan
Barthes menulis pada bukunya yang mana dia mencari analisis dengan
tepat bagaimana pesan kedua ini dikonstruksi dan diterima.”
Tatanan pertama
Realitas
Tatanan kedua
tanda
kultur
Konotasi
Denotasi
Penanda
Mitos
Gambar 1. 5 Dua Tatanan Pertandaan Barthes
Sumber: John Fiske, Cultural and Communication Studies, 2004, hlm. 122
lix
Selain itu barthes, juga menyoroti relasi antara tanda dengan
manusia. Dengan meminjam istilah Hjemslev, sebagai pengganti konsep –
konsep
seperti
penanda
maupun
petanda
dari
saussure.
Barthes
membedakan lapis ekspresi (expression = E) dari lapis isi (content = c).
Eksprsi dan isi berelasi (relation = R) sehingga menghasilkan signifikasi :
RC. Sistem ERC pada tingkat pertama ini pada gilirannya akan menjadi
unsure pada system tingkat kedua. Sistem ERC menjadi lapis ekspresi
(signifier) dari system kedua (ERC)RC. Dari sinilah oleh Hjemselv
dinamakan sebagai semiotic konotatif: sistem pertama merupakan lapisan
denotasi sedangkan sistem kedua (sebagai perluasan) lapis konotasi. Dengan
kata lain, sebuah sistem konotasi adalah sistem yang lapis ekspresinya
sendiri tersusun oleh sebuah signifikasi (Budiman, 1999:65). Konotasi
melibatkan simbol-simbol, historis dan hal-hal yang berhubungan dengan
emosi. Di pihak lain, denotasi menunjukkan arti literature atau eksplisit dari
kata-kata dan fenomena yang lain. Pada level ini terbentuk mitos.
lx
1. Signifier
(PENANDA)
2. Signified
(PETANDA)
3.Denotative Sign
(TANDA DENOTATIF)
4. Connotative signifier
(PENANDA KONOTATIF)
5. Connotative signified
(PETANDA KONOTATIF)
6. Connotative Sign (Tanda Konotatif)
Gambar 1. 6 Peta Tanda Barthes
Sumber: Kris Budiman, Semiotika Visual, 2003, hlm. 69
Dari peta Barthes diatas terlihat bahwa tanda denotatife (3)
terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi pada saat yang
bersamaan, tanda denotatife adalah juga penanda konotatif (4) (Budiman,
2003:69). Jadi dalam konsep Barthes kanda konotatif tidak sekedar
memiliki makna tambahan tetapi juga mengandung kedua tanda denotative
yang melandasi keberadaannya.
Dalam pengertian Barthes denotasi
merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi
merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan
dengan ketertutupan makna dan, dengan demikian, sensor atau represi
politis. Konotasi menurut Barthes identik dengan operasi ideologi, yang
disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan
memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu
periode tertentu dalam tahapan analisis data.
lxi
Secara struktural iklan terdiri dari tanda-tanda, yaitu unsur terkecil
bahasa yang terdiri dari penanda, yaitu sesuatu yang bersifat materi berupa
gambar, foto, atau ilustrasi (Pilliang, 2003: 280). Pendekatan ini dipilih
karena semiotik memberikan ruang yang luas untuk melakukan interpretasi
terhadap iklan sehingga dengan pendekatan ini dapat diperoleh maknamakna tersembunyi yang terdapat dalam iklan. Dalam sebuah iklan terdapat
tanda-tanda, simbol-simbol yang menjadi unsur penyusun dimana iklan
tersebut disampaikan kepada konsumen dan tentunya lambang serta simbol
tersebut mempunyai maksud dan makna yang hendak disampaikan kepada
konsumen.
lxii
F. Kerangka Pemikiran
Visualisasi
iklan Kuku
Bima Ener-G
versi Laskar
Mandiri I dan
II
Makna
shoot
Shoot yang
menggambarkan
mengenai
maskulinitas
kaum
termarjinalkan
Kode-kode teknik
fotografi pada actor,
property, setting dan
produk
Simbol Verbal
dan Nonverbal
· Denotasi
· Konotasi
Kode-kode social
seperti: imej fisik,
karakter/sifat, ekonomi
dan seksualitas
lxiii
· Mitos
G. Definisi Konsepsional
Untuk menghindari perbedaan pengertian atau penafsiran mengenai
variabel-variabel penelitian yang diketengahkan antara konsep yang
dimaksudkan peneliti dan pembaca, maka diperlukan dasar-dasar konsep yang
jelas, yaitu :
1. Visualisasi Iklan
Periklanan menurut kamus istilah periklanan Indonesia adalah pesan
yang dibayar dan disampaikan melalui sarana media, antara lain pers, radio,
televisi, yang bertujuan membujuk konsumen untuk melakukan tindak
membeli atau mengubah perilakunya (Nuradi, 1996:4). Waktu atau durasi
untuk iklan dikenal dengan istilah ”slot”, ada tiga macam yaitu durasi 60”,
30” dan 5” yang biasa disebut dengan bumper. Dalam hal ini produknya
adalah Ikan televisi Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar
Mandiri II. Peneliti menggunakan iklan dengan durasi 30” dan 60”.
2. Shot
Selama proses produksi, shot memiliki arti proses perekaman gambar
sejak kamera diaktifkan (on) hingga kamera dihentikan (off) atau juga
sering diistilahkan satu kali take (pengambilan gambar). Satu shot dapat
berdurasi kurang dari satu detik, beberapa menit bahkan jam.
lxiv
3. Maskulinitas
Kata maskulin sendiri sangat dekat dengan kata musle (otot) yang
serta
merta
akan
diasosiasikan
dengan
keperkasaan,
kekuatan,
kepahlawanan dan terkadang kekerasan (Subono, 2002:106). Maskulinitas
di sini dapat dimaknai dengan mengacu pada watak yang melekat pada
laki-laki seperti jantan, perkasa, agresif, rasional, dan dominan. Berbagai
karakter maskulinitas muncul dan menjadi wacana sehari-hari. Maskulinitas
juga
dapat
dipersepsikan
sebagai
imaji
kejantanan,
ketangkasan,
keperkasaan, keberanian untuk menantang bahaya, keuletan, keteguhan
hati, hingga keringat yang menetes, otot laki-laki yang menyembul atau
bagian tubuh tertentu dari kekuatan daya tarik laki-laki yang terlihat secara
ekstrinsik. Laki-laki secara alamiah lebih mendominasi dan haus akan
kekuasaan.
Tahap penyebaran konsep maskulinitas tidak terlepas dari keberadaan
media. Media sebagai alat penyebar informasi dan komunikasi telah
menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, karena dianggap sebagai
agen sosialisasi gender yang penting dalam keluarga dan masyarakat.
Media mengungkapkan kepada kita tentang peran pria dan wanita dari
sudut pandang tertentu. Media dengan demikian bisa menjadi saluran mitos
dan sekaligus sarana pengukuhan mitos tertentu tentang gender, pria dan
wanita. Sehingga dapat dikatakan bahwa media juga berperan penting
dalam menciptakan nilai-nilai maskulinitas laki-laki, baik itu media cetak
lxv
maupun
media
elektronik.
Televisi,
misalnya,
lebih
banyak
menggambarkan pria daripada wanita, dan pria lebih sering ditampilkan
dalam peran pemimpin (Ibrahim, 2007: 4).
Laki-laki bahkan telah dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk samasama melestarikan struktur gender yang timpang. Maskulinitas sebagai
komoditas dipergunakan produsen dengan memberikan janji-janji sebuah
solusi bahwa maskulinitas bagi laki-laki bisa didapatkan dari produk yang
mereka tawarkan membantu masyarkat untuk mendapatkan ciri-ciri
maskulin yang tujuan akhir adalah keuntungan bagi produsen atas produk
tersebut.
Media juga mempatologiskan citra tubuh pria yang normal. Tidak
sedikit pria yang merasakan bahwa tak lagi cukup baik hanya sehat dan
aktif. Trend merekayasa tubuh, body building, telah menciptakan idealideal yang tak realistis bagi tubuh maskulin (Ibrahim, 2007: 66). Ambillah
secara simpel bagaimana “Cowok Macho” dibayangkan oleh pengelola
industri hiburan kita. Ia digambarkan sebagai “sejenis” pria dengan motor
besar, kekar-berotot agak seksi, rambut gondrong, berkacamata (biasanya
hitam), selalu menang dalam adu otot dan suka menolong. Pencitraan
maskulin digambarkan sebagai kekuatan otot lelaki yang menjadi dambaan
wanita (iklan Extra Joss), atau dicitrakan sebagai makhluk yang tangkas,
berani, menantang maut (iklan sampo Clear, iklan rokok Wismilak, dan
lxvi
iklan rokok Jarum Super). Mereka adalah lelaki berwibawa, macho, dan
sensitif (iklan rokok Marlboro, iklan rokok Bentoel Merah).
Bila tokoh pria muncul dalam iklan, tokoh itu digambarkan agresif,
pemberani, jantan, mandiri, kuat, tegar, berkuasa, pintar dan rasional
(Mulyana, 1997: 157). Kepedulian pria juga dikaitkan pada pekerjaan,
bisnis, urusan publik, olahraga, mobil dan sebagainya. Kini, iklan tidak
hanya mempertontonkan kontes kecantikan wanita tetapi juga kompetisi
otot pria dalam industri kebudayaan diinjeksikan tanpa henti. Media
mempatologisasikan citra tubuh pria yang normal. Tidak sedikit pria yang
merasakan bahwa tak cukup baik hanya sehat dan aktif. Trend merekayasa
tubuh, bodybuilding, telah menciptakan ideal-ideal yang tak realistis bagi
tubuh maskulin. Iklan-iklan yang menawarkan bentuk tubuh berotot
dianggap sebagai tubuh yang ideal. Tubuh muncul sebagai sesuatu yang
dapat digunakan untuk menjual komoditi dan jasa sekaligus sebagai suatu
objek yang dengan sendirinya dikonsumsi (Ibrahim, 2007: 50).
Budaya patriarkhi pun ikut mengukuhkan nilai maskulinitas.
Patriarkhi dipandang sebagai sistem kekuasaan yang menstruktur dan
menjamin keuntungan pria dalam setiap ruang hidup, dalam institusi
ekonomi, politik, dan keluarga, dan dalam interaksi kehidupan sehari-hari
(Ibrahim, 2007: 8). Ketika pengalaman-pengalaman dan makna-makna
maskulinitas dan feminitas mengalami konflik, nilai maskulin cenerung
menang-dimenangkan, atau dikondisikan untuk selalu menang-disebabkan
lxvii
kuatnya dominasi pria dalam masyarakat (Ibrahim, 2007: 16). Dominasi
maskulin terus berlangsung dan meluas dalam struktur komunikasi dan
struktur masyarakat tempat pria dan khususnya wanita, sengaja atau tidak,
terus menginternalisasikan nilai-nilai maskulin. Konstruksi dan sosialisasi
gender yang menempatkan pria pada posisi dominan masih sangat kuat dan
kentara, termasuk di Indonesia. Ideologi ini ditopang terutama oleh negara,
agama,
budaya,
dan
kondisi-kondisi
sosial-ekonomi-politik
yang
mengejawantahkannya.
Maskulinitas merupakan karakter gender yang secara sosial memang
dianggap layak dilekatkan dengan sosok laki-laki. Semakin maskulin
seorang pria, semakin mudah ia diterima dalam kelompoknya. Sebagai
produk konstruksi sosial, maskulinitas bahkan telah ditanamkan sangat
kokoh dalam lingkup keluarga inti. Media pun turut andil dalam
pembentukan konsep maskulinitas.
Sosiolog Janet Saltzman Chafetz (1974: 35-36) menggambarkan 7
area maskulinitas tradisional (http://en.wikipedia.org/wiki/masculinity,
diakses pada 3 Februari 2010), yakni:
1. Physical- virile. athletic. strong. brave. Sloppy. worry less about
appearance and aging;
2. Functional- breadwinner. provider;
3. Sexual-
sexually.
aggressive.
acceptable:male “caught’ by spouse;
lxviii
experienced.
Single
status
4. Emotional- unemotional. stoic. don’t cry:
5. Intellectual- logical. intellectual. rational. objective. scientific.
practical. mechanical. public awareness. activity. contributes to
society: dogmatic:
6. Interpersonal- leader. dominating; disciplinarian; independent. free.
individualistic; demanding; and
7. Other Personal Characteristic- aggressive. success oriented. ambitious:
proud.
egostistical.
ambitious.
moral.
trustworthy:
decisive.
competitive. uninhibited. adventurous.
Objek penelitian yang terdiri dari serangkaian shot yang dipilih dan
mewakili maskulinitas akan dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu:
1. Citra laki-laki melalui imej tubuh sebagai fragmen.
Akar “keperkasaan” lelaki dalam konteks penyajian iklan
dapat dipulangkan ke tradisi Yunani. Ingatlah bagaimana
kebudayaan Yunani berkembang melalui unsur maskulinitas
pelukisan dewa-dewa dan tokoh-tokoh mitos mereka yang gagah,
berotot kawat bertulang besi dan perkasa. Maskulinitas ini pula
yang menjelma dalam wujud kegagahan kaisar-kaisar Romawi,
yang lantas memunculkan heroisme (Wibowo, 2003: 171).
Pengidentifikasian diri yang maskulin adalah dengan
menampilkan dada yang bidang, lengan yang kekar, otot yang
lxix
sedikit menyembul, dan memiliki tubuh yang kuat. Sehingga
kategori fisik pria dapat dilihat dari:
1.1
Badan atletis dan gagah berotot
1.2
Tubuhnya kuat dan macho
2. Citra laki-laki melalui penampilan karakter.
Laki-laki dikenal sebagai sosok yang agresif, bebas, aktif,
rasional, bersifat pejuang, tak kenal menyerah dan sebagainya.
Untuk
mencapai
keberhasilan,
pria
mempunyai
standar
keberhasilan maskulin yang membutuhkan sifat-sifat independen,
otonom, ambisi, agresif, dan mampu mengontrol keadaan
(Megawangi, 1999: 111).
Melalui iklannya, televisi leluasa untuk memperteguh
pandangan, kepercayaan, sikap, dan norma-norma maskulinitas
yang sudah ada. Bila laki-laki muncul dalam iklan, tokoh itu
digambarkan agresif, pemberani, jantan, mandiri kuat, tegar,
berkuasa, pintar dan rasional (Mulyana, 1997: 157). Citra laki-laki
melalui penampilan karakter dapat dikelompokkan menjadi:
2.1
Semangat tinggi
2.2
Persahabatan/setia kawan
2.3
Aktif
3. Citra laki-laki dalam budaya patriarkhi.
3.1 Kekuasaan laki-laki atas perempuan
lxx
Selama berabad-abad,laki-laki dipandang sebagai
makhluk rasional yang mempunyai ketepatan pikiran
dan tindakan sehingga mereka ‘merasa’ dan ‘dirasa’
perlu untuk berada di depan kaum perempuan yang
dipandang lemah, lembut, peka dan kurang mampu
mengoptimalkan daya nalar mereka karena terlalu
mengedepankan hati (Setiawan, http://jurnal.ump.ac.id,
: 2008: 64).
Dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul “Ragam
Tubuh
Ideologis:
Keperempuanan
Representasi
dalam
Iklan
di
Kelelakian
Media
dan
cetak”,
Setiawan juga mengungkapkan bahwa ketika patriarkhi
sudah menjadi semacam regime of truth (meminjam
istilah Foucoult), ia akan mempengaruhi sistem dan
struktur sosial sehingga menjadikannya sebagai wacana
dominan yang berakibat meningkatnya kuasa laki-laki.
3.2 Laki-laki sebagai pusat yang mengatur seluruh struktur
ekonomi keluarga
Lihatlah laki-laki dewasa yang sudah berperan
menjadi suami atau pun ayah. Laki-laki (baik itu suami
ataupun
ayah),
berperan
sentral
sebagai
kepala
keluarga. Ia berperan sebagai pencari nafkah dan yang
lxxi
mengayomi kehidupan di dalamnya. Maka sudah biasa
jika lelaki selalu digambarkan dengan kemapanan.
Profesi dan tingkat penghasilan ikut menentukan
kemaskulinitasan seseorang sehingga wajar kalau lakilaki masih diyakini sebagai makhluk ‘superior’
(Setiawan, 2008: 74).
4. Kaum Termarjinalkan
Kapitalisme dan ketimpangan sosial sebagai fenomena sosial yang
terus berlangsung di negara-negara berkembang sebagaimana halnya di
Indonesia. Menjadi fenomena yang paradoks, dimana di sepanjang jalan
dipadati mobil mewah dan bangunan yang megah, sementara jutaan
penduduk Indonesia lainnya hidup dibawah garis kemiskinan (Wijaya,
2007: 147).
Ketimpangan sosial terbagi dalam tiga dimensi, yakni kelas, status
dan kekuasaan. “Situasi kelas” menurut pengertian Weber adalah lokasi
dimana seseorang berperan serta dalam sistem ekonomi meliputi proses
produksi, distribusi serta pertukaran. Dalam pengertian ketimpangan kelas
tidak hanya faktor perbedaan pendapatan para pekerja berdasarkan
kedudukan
atau
jabatan,
tetapi
juga
perbedaan-perbedaan
dalam
kesempatan-kesempatan untuk berpindah ke jenjang yang lebih atas
(Wijaya, 2007: 150).
lxxii
Kemiskinan dan pengangguran, sebagai efek dari ketimpangan sosial,
senantiasa tampil menonjol sebagai wajah kusam dunia ketiga. Fenomena
ini tampak jelas jika melihat kontras situasi dan kondisi daerah perkotaan
dimana sektor informal yang lahir dari pembangunan sendiri yang bias
urban justru digusur-gusur dan dimarjinalkan padahal ia menjadi katup atau
kantong penyelamat bagi para migran dari desa yang ditekan kemiskinan
dan juga mereka yang dipecat dari sektor ekonomi formal serta angkatan
kerja yang terancam menganggur karena terbatasnya kapasitas atau daya
serap sektor formal. Pembangunan (development) dianggap sebagai obat
mujarab pembasmi kemiskinan yang direkayasa untuk memperbaiki dan
meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat, selain telah membawa
kenikmatan tertentu, ternyata juga membelah masyarakat menjadi dua
bagian; kaya dan miskin; tradisional dan modern; formal dan informal; elite
dan grass root. Ini berakar dalam konsep pembangunan sendiri yang
disinonimkan
dengan
pertumbuhan
ekonomi
(http://urama-
corner.blogspot.com, diakses pada 10 April 2010).
Mereka yang tergolong dalam kaum termarjinalkan adalah orangorang yang keberadaannya seringkali dipinggirkan. Pekerja yang tidak
termasuk dalam kategori pekerja formal. Dianggap tidak memiliki keahlian
dan tidak memiliki sertifikat resmi yang menunjukkan tingkat jenjang
pendidikan mereka. Terkadang hanya sampai pada jenjang tertentu yang
dapat dikategorikan jenjang pendidikan rendah.
lxxiii
Kaum termarjinalkan sering diidentikan dengan para pekerja sektor
informal. Seperti misalnya pedagang asongan, buruh bangunan, pengamen,
penyemir sepatu dan lainnya. Padahal para pekerja dalam sektor informal
ini ikut berperan dalam pembangunan. Perbedaan kelas memang
merupakan fenomena yang kompleks, yang mencakup aspek-aspek dari
situasi ekonomi seseorang yang mencerminkan ketimpangan-ketimpangan
yang langsung berasal dari sistem produktif (Wijaya, 2007: 150)
5. Simbol Verbal dan Nonverbal
Secara rinci Riyono Praktikto mengatakan bahwa pesan merupakan
semua bentuk komunikasi baik verbal maupun non-verbal. Yang dimaksud
dengan komunikasi verbal adalah komunikasi lisan, sedangkan komunikasi
non-verbal adalah komunikasi dengan simbol, isyarat, sentuhan perasaan
dan penciuman (Praktikto , 1987:42).
Pesan dalam proses komunikasi terdiri dari dua hal yaitu simbol dan
kode. Karena pesan dikirim dari komunikator kepada penerima terdiri dari
rangkaian simbol dan kode. Simbol-simbol yang digunakan selain sudah
ada yang diterima menurut konvensi internasional, juga terdapat simbol
lokal yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok-kelompok masyarakat
tertentu. Banyak kesalahan komunikasi terjadi di dalam masyarakat karena
tidak mengetahui simbol-simbol lokal.
lxxiv
Pesan dan kode pada dasarnya dapat dibedakan atas dua
macam,yaitu:
a. Kode Verbal
Menurut Deddy Mulyana, simbol atau pesan verbal adalah
semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih.
Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk
kedalam katagori pesan verbal yang disengaja, yaitu usaha-usaha
yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan kepada orang
lain secara lisan. Sehingga bahasa dapat juga dianggap sebagai
suatu sistem kode verbal (Mulyana , 2005:237).
Bahasa adalah seperangkat kata yang disusun secara
berstruktur sehingga menjadi suatu kalimat yang mengandung
makna. Fungsi bahasa yang mendasar bagi manusia adalah untuk
menamai atau menjuluki obyek, orang dan peristiwa. Setiap
orang mempunyai nama untuk identifikasi sosial. Penamaan
adalah dimensi pertama bahasa dan merupakan basis bahasa, dan
pada awalnya hal itu dilakukan manusia sesuka mereka, yang
kemudian menjadi konvensi (Riswandi, 2009: 59).
b. Kode Non-Verbal
Secara sederhana pesan non-verbal adalah semua isyarat
yang bukan kata-kata. Menurut Larry A.Samovar dan Richard
E.Porter. komunikasi non-verbal mencakup semua rangsangan
lxxv
(kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi,
yang dihasilkan individu dan penggunakan lingkungan oleh
individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim
atau penerima (Riswandi, 2009: 69). Larry A. Samovar dan
Richard E. Porter mengklasifikasikan pesan-pesan nonverbal ke
dalam 2 kategori utama, yaitu:
1) Perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan
dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, baubauan, dan parabahasa.
2) Ruang, waktu dan diam.
6. Kode Fotografi
John Fiske (1997:35) dalam “The Code of Television” mengatakan
bahwa penggunaan kamera, pencahayaan, editing, musik dan suara dapat
merepresentasikan makna situasi yang dibangun seperti konflik, karakter,
setting dan sebagainya. Sehingga aspek teknis perlu diperhatikan dalam
menemukan
representasi
maskulinitas
kaum
termarjinalkan
yang
ditampilkan dalam iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I dan II,
yakni:
a. Kamera
Produksi film atau iklan selalu melibatkan manipulasi dari kamera.
Manipulasi dan dramatisasi dari angle memiliki efek dalam pemaknaan
lxxvi
sebuah film. Angle mengidentifikasi sebuah shot dengan sudut pandang
karakter/penokohan sesuai dengan karakter yang akan ditampilkan.
Sudut pandang kamera sangat penting untuk memotivasi dan mengatur
identifikasi penonton terhadap suatu karakter dalam film. Ketinggian dan
jarak kamera terhadap subjek juga memiliki efek dalam memaknai sebuah
shot. Teknik-teknik pengambilan gambar pada kamera mampu menambah
emotional response dan mengajak audience untuk merancang sendiri
emosinya dalam sebuah adegan.
Sebuah film/iklan terbentuk dari sekian banyak shot. Setiap shot
membutuhkan penempatan kamera pada posisi yang terbaik bagi
pandangan mata penonton. Shot merupakan unsur terkecil dalam
film/iklan. Teknik-teknik dalam kamera ditentukan oleh:
1) Jarak kamera dengan objek (Pratista, 2008:104).
a. Extreme Long shot, merupakan jarak kamera yang paling jauh dari
objeknya. Wujud manusia nyaris tidak nampak. Teknik ini
umumnya untuk menggambarkan sebuah objek yang sangat jauh
atau panorama yang luas, dimana objek tersebut berada.
b. Long Shot, tubuh manusia nampak jelas namun latar belakang masih
dominan. Long Shot seringkali digunakan sebagai establising shot,
yakni shot pembuka sebelum digunakan shot-shot yang lebih dekat.
Shot ini sering digunakan untuk mengikuti objek yang sedang
lxxvii
bergerak, seperti orang yang sedang berjalan, berlari, menggerakkan
tangannya, dll.
c. Medium Long Shot, pada jarak ini tubuh manusia terlihat dari bawah
lutut sampai ke atas. Tubuh fisik manusia dan lingkungan sekitar
relatif seimbang. Digunakan untuk memperjelas pergerakan objek.
d. Medium Shot, memperlihatkan tubuh manusia dari pinggang ke atas,
memotong badan dari pinggang dan dari siku. Gesture serta eksprsi
wajah mulai nampak. Sosok manusia mulai dominan dalam frame.
Shot jenis ini biasanya digunakan untuk objek dengan pergerakan
yang terbatas.
e. Medium Close Up, memperlihatkan tubuh manusia dari dada dan
lengan atas. Sosok tubuh manusia mendominasi frame dan latar
belakang tidak ladi dominan. Ekspresi wajah dari objek sangat
terlihat dengan jelas, termasuk gerakan mata. Adegan percakapan
normal biasanya menggunakan Medium Close Up. Shot jenis ini
untuk memperlihatkan subjek dari dekat, tapi tidak terlalu dekat.
f. Close Up, umumnya memperlihatkan wajah, tangan, kaki atau
sebuah obyek kecil lainnya. Teknik ini mampu memperlihatkan
ekspresi wajah dengan jelas serta gesture yang mendetail. Close up
biasanya digunakan untuk adegan dialog yang lebih intim. Close up
memperlihatkan sangat detail sebuah benda atau objek. Dimensi
jarak kamera juga mempengaruhi akting pemain, pengambilan close
lxxviii
up mampu memperlihatkan ekspresi wajah sementara pengambilan
long shot hanya memperlihatkan gerak tubuh. Digunakan untuk
situasi yang sesuai, seperti keintiman, memberitahukan sebuah
rahasia, emosi.
g. Extreme close up, mampu memperlihatkan lebih detail bagian dari
wajah, seperti telinga, hidung dan bagian lainnya. Digunakan untuk
situasi yang sesuai, seperti keintiman, memberitahukan sebuah
rahasia, emosi.
2) Sudut pengambilan gambar (angle)
Sudut kamera adalah sudut pandang kamera terhadap objek yang
berada dalam frame. Secara umum sudut kamera dibagi menjadi tiga
yaitu: high angle (kamera melihat objek dalam frame yang berada di
bawahnya), straigt –on angle (kamera melihat objek dalam frame
lurus), serta low angle (kamera melihat objek dalam frame yang
berada diatasnya) (Pratista, 2008:106).
a. High-angle
Kamera lebih tinggi dari objek yang diambil. Angle ini
menimbulkan
kesan
subjek
menjadi
kecil/kerdil
sehingga
kedudukannya tidak lagi superior atas pemain yang lain. High-angle
memberikan kesan lamban atas pergerakan dari subjek.
lxxix
b. Low-angle
Kamera
digunakan
mengambil
untuk
objeknya
memberi
kesan
dari
bawah.
Low-angle
atau
kegairahan,
kagum
mengurangi foreground yang tidak disukai, menurunkan cakrawala
dan menyusutkan latar belakang,
komposisi
menciptakan
mendistorsikan garis-garis
prespektif
yang
lebih
kuat,
mengintensifikasikan dampak dramatik, Low-angle menempatkan
penonton dalam kerendahan sehingga ia harus melihat ke atas pada
lambang kekuasaan.
b. Pencahayaan (Lighting)
Tata cahaya dalam film secara umum dapat dikelompokkan menjadi
empat unsur yakni, kualitas, arah, sumber serta warna. Keempat unsur
tersebut sangat mempengaruhi dalam membentuk suasana serta mood
dalam film (Pratista, 2008:75).
1) Kualitas pencahayaan
Kualitas cahaya merujuk pada besar-kecilnya intensitas cahaya.
Cahaya terang (hard light) cenderung menghasilkan bentuk objek serta
bayangan yang jelas. Sementara cahaya lembut (Soft light) cenderung
menyebarkan cahaya sehingga menghasilkan bayangan yang tipis.
Sinar matahari atau cahaya lampu yang menyorot sangat tajam
merupakan hard light. Sedangkan cahaya langit yang cerah merupakan
lxxx
soft light. Hard light cenderung membentuk cahaya yang kontras
dengan lingkungannya.
2) Arah Pencahayaan
Arah cahaya merujuk pada posisi sumber cahaya terhadap
objek yang dituju biasanya adalah pelaku cerita dan paling sering
adalah bagian wajah. Arah cahaya dibagi menjadi lima yaitu:
a. Frontal lighting, cenderung menghapus bayangan dan menegaskan
bentuk sebuah objek dan wajah karakter.
b. slide lighting, mampu menampilkan bayangan ke arah samping
tubuh karakter atau bayangan pada wajah.
c. Back Lighting, mampu menampilkan bentuk siluet sebuah objek
atau karakter jika tidak dikombinasikan dengan arah cahaya lain.
d. Under Lighting, biasanya ditempatkan di bagian depan bawah
karakter dan biasanya pada bagian wajahnya. Efeknya seperti
cahaya senter atau api unggun yang diarahkan kebawah. Arah
cahaya seperti biasanya digunakan untuk mendukung efek horor
atau sekedar untuk mempertegas sumber cahaya alami seperti lilin,
api unggun, dan lampu minyak.
e. Top lighting, digunakan untuk mempertegas suatu benda atau
karakter. Atau hanya digunakan sekedar menunjukkan jenis cahaya
buatan dalam suatu adegan, seperti lampu gantung, dan lampu jalan.
lxxxi
Selain unsur-unsur diatas, pencahayaan dalam film juga ditentukan
rancangan tata lampu. Dimana rancangan tata lampu dikelompokkan
menjadi High key lighting dan low key lighting.
1. High key lighting, merupakan teknik tatacahaya yang menciptakan
batas yang tipis antara area gelap dan terang. Teknik ini biasanya
digunakan untuk adegan-adegan yang bersifat formal, seperti kantor,
rumah, serta ruang-ruang publik lainnya.
2. low key lighting, merupakan teknik tata cahaya yang menciptakan
batas tegas antara area gelap dan terang. Teknik ini sering digunakan
dalam adegan-adegan yang bersifat intim, mencekam, suram serta
mengandung misteri.
7. Kode Sosial
Kode sosial adalah kode yang menyangkut kondisi sosial yang
terdapat dalam iklan. Bagaimana kondisi tokoh-tokoh dalam iklan, dan
situasi yang digambarkan dalam iklan merupakan bagian dari aspek sosial
tersebut. Kode-kode sosial ini biasanya terlihat dari pesan nonverbal dan
verbal yang dikirimkan, baik itu berupa gerak tubuh, gerakan mata,
ekspresi wajah dan penampilan. Dalam visualisasi iklan “Kuku Bima EnerG versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II” ini kode-kode sosial
terlihat dari beberapa kategori berikut ini:
lxxxii
a. Imej Fisik
Imej disini menyangkut atribut fisik yang diharapkan dimiliki
oleh seorang laki-laki. Aspek fisik ini biasanya meliputi: kuat, macho
dan atletis. Atribut laki-laki seperti ini masih mendominasi seorang
“real man”. Pengidentifikasian diri yang maskulin adalah dengan
menampilkan dada yang bidang, keenam otot perut benar-benar
terlihat sepenuhnya dan tidak memiliki lemak. Kesempurnaan fisik
yang lain menurut masyarakat era ini adalah unsur “muda” yang
terlihat dari kulit yang masih kencang. Juga wajah yang tampan dan
terkesan “macho”. Keseluruhan tubuh dalam balutan pakaian yang pas
di badan dengan mengenakan celana jeans.
b. Imej Tentang Karakter atau Sifat
Imej ini menyatakan bahwa laki-laki agresif, bebas, aktif,
rasional, bersifat pejuang, tak kenal menyerah dan sebagainya. Untuk
mencapai keberhasilan, laki-laki mempunyai standar keberhasilan
maskulin yang membutuhkan sifat-sifat independen, otonom, ambisi,
agresif, dan mampu mengontrol keadaan (Megawangi, 1999: 111).
Melalui iklannya, televisi leluasa untuk memperteguh pandangan,
kepercayaan, sikap, dan norma-norma maskulinitas yang sudah ada.
Bila laki-laki muncul dalam iklan, tokoh itu digambarkan agresif,
pemberani, jantan, mandiri kuat, tegar, berkuasa, pintar dan rasional
(Mulyana, 1997: 157).
lxxxiii
c. Imej Ekonomi
Sukses materi dan kekuasaan ekonomi masih menjadi pondasi
yang kuat dalam identitas maskulin yang dominan. Dengan demikian
faktor penghasilan amat penting bagi seorang laki-laki. Untuk ini
mereka melakukan dominasi dalam lingkungan pekerjaan yang
meliputi
distribusi
kerja
dan
penghasilan.
Mereka
berusaha
menjadikan kerja dan penghasilan mereka atribut yang melengkapi
kemaskulinan mereka (Connel, 1995: 74).
d. Imej Seksualitas
Seks merupakan faktor penting dalam identitas maskulin. Pada
zaman dahulu faktor seks menjadi mitos kemenangan laki-laki
terhadap perempuan. Bagaimana mereka mengkiaskan hubungan seks
seperti berburu, dan kalau dalam berburu mereka membunuh binatang
buruannya mereka kiaskan sebagai pemberian benih ke dalam tubuh
perempuan.
8. Semiotika Roland Barthes (Denotasi, Konotasi, Mitos)
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Analisis
tentang tanda dan segala hal yang berhubungan dengannya, cara
berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengiriman dan
penerimaan oleh mereka yang menggunakannya.
lxxxiv
Pendekatan semiotika ala Barthes memberi perhatian lebih pada
interaksi tanda dalam teks dengan pengalaman personal dan kultural
pemakainya. Barthes membagi dua tingkatan tanda, pertama adalah tatanan
yang menggambarkan relasi antara penanda dan petanda di dalam tanda,
dan antara tanda dengan referennya dalam realitas eksternal. Tatanan ini
disebut sebagai denotasi.
Pada tatanan kedua, konotasi dipakai untuk menjelaskan salah satu
dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi
menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan
perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nila kulturalnya. Bila konotasi
merupakan pemaknaan tatanan kedua dari penanda, mitos merupakan
pemaknaan tatanan kedua dari petanda. Cara kedua dari tiga Barthes
mengenai bekerjanya tanda dalam tatanan kedua adalah melalui mitos.
Menurut Barthes, dalam usaha mendapatkan makna dari suatu teks
(yang dalam penelitian ini berupa Iklan Televisi Kuku Bima Ener-G Versi
Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II), ada dua tahap yang harus dilalui
yaitu tahap yang menghasilkan makna literal/denotasi dan tahap dua yang
menghasilkan makna laten/konotasi. Unsur-unsur penting yang perlu
diketahui sebelum memulai proses tersebut adalah
1. Realitas : adanya Iklan Televisi Kuku Bima Ener-G Versi Laskar
Mandiri I dan Laskar Mandiri II.
lxxxv
2. Sign : unsur-unsur dari sisi audio dan visual yang membangun iklan
tersebut terdiri atas signifier dan signified.
3. Culture : frame of reference, pola pikir dan kebudayaan setempat yang
telah membentuk peneliti.
4. Dennotative : Makna literal yang langsung didapat dari tanda-tanda
audio dan visual yang membangun iklan tersebut.
5. Conotative : Makna yang tersembunyi di balik makna denotasi, yang
dipengaruhi oleh situasinya.
6. Myth : Makna yang hidup dalam masyarakat
9. Makna
Makna ada dalam manusia. Makna tidak terletak pada kata-kata
melainkan pada manusia.
Makna merupakan rangsangan untuk
menimbulkan perilaku tertentu sebagai respon kepada rangsangan itu tadi
(Sobur, 1990:261). Proses pemberian makna terhadap simbol-simbol yang
digunakan dalam berkomunikasi dipengaruhi faktor budaya, juga faktor
psikologis, terutama pada saat pesan diinterpretasi penerima. Sebuah pesan
disampaikan dingan simbol yang sama, bisa saja berbeda arti bila individu
menerima pesan itu berbeda kerangka berpikir dan kerangka pengalaman.
Kesamaan makna dalam pada dua orang adalah karena kesamaan
pengalaman di masa lalu dan kesamaan dalam perangkat perseptual mereka
(Rakhmat, 1986:353).
lxxxvi
H. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat interpretatif kualitatif. Data yang dianalisis
bukanlah data kuantitatif melainkan data kualitatif yang lebih besifat
kategori substansif yang kemudian diinterpretasikan dengan rujukan, acuan
atau referensi ilmiah. (Sudjiman dan Aart Van Zoest, 1992: 28). Menurut
Pawito, penelitian komunikasi kualitatif, biasanya tidak dimaksudkan untuk
memberikan penjelasan-penjelasan (explanations), mengontrol gejala-gejala
komunikasi
atau
mengemukakan
prediksi-prediksi,
tetapi
lebih
dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran dan/atau pemahaman
(understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas
komunikasi terjadi (Pawito, 2007: 35)
2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
analisis semiotik. Semiotik disebut sebagai ilmu tentang tanda. Semiologi
sebagai konsep tentang tanda-tanda yang dilihat tidak saja karena
pemaknaan, penafsiran atau menguak signifikasinya saja, tetapi tanda-tanda
juga dibangun dan diciptakan karena maksud atau tujuan yang lebih
pragmatis, yaitu kepada publiknya. Penafsiran tanda-tanda untuk sebuah
tujuan inilah yang diperkenalkan Andrik Purwasito sebagai semiologi
komunikasi (Purwasito, 2001: 8)
lxxxvii
Analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk menganalisis
dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang yang terdapat
pada suatu paket lambang-lambang pesan atau teks (Pawito, 2007:155).
Teks yang dimaksud dalam hubungan ini adalah segala bentuk serta sistem
lambang (signs) baik yang terdapat pada media massa maupun yang terdapat
diluar media massa. Metode analisis pendekatan semiotik bersifat
interpretative kualitatif, maka secara umum teknik analisis datanya
menggunakan alur yang lazim digunakan dalam metode penelitian kualitatif,
yakni mengidentifikasi objek yang diteliti untuk dipaparkan, dianalisis, dan
kemudian ditafsirkan maknanya. Metode ini memfokuskan dirinya pada
tanda dan teks sebagai objek kajiannya, serta bagaimana peneliti
menafsirkan dan memahami kode (decoding) dibalik tanda dan teks objek
yang diteliti.
Adapun digunakannya semiotika Roland Barthes dalam penelitian ini
adalah untuk menggali makna yang ditekankan pada cara tanda-tanda di
dalam teks berinteraksi dengan pengalaman personal dan kultural
penggunanya. Inti teori Barthes adalah gagasan tentang dua tatanan
pertandaan (order of significations).
3. Objek Penelitian
Roland Batrhes menyebutkan bahwa objek penelitian atau korpus
berarti kumpulan materi yang terbatas yang ditentukan oleh analisis dengan
lxxxviii
mana ia akan bekerja, menyelidiki signifikasi yang terjadi dan terdapat pada
objek studinya (Pawito, 1990:18). Dimana korpus-korpus memiliki sifat:
a. Korpus harus cukup luas, memberi harapan yang masuk akal bahwa
elemen-elemen korpus tersebut dapat menghasilkan sebuah sistem
persamaan dan perbedaan yang jenuh. Jenuh di sini diartikan Barthes
adalah ketika kita tidak bisa lagi menentukan hal-hal baru atau semua
fakta dan relasi dalam korpus telah habis dieksplorasi dan dipaparkan.
b. Korpus harus sehomogen mungkin. Homogen di sini berarti dua hal.
Pertama, homogen dalam substansi. Artinya, dokumen-dokumen yang
digunakan haruslah sejenis. Kedua, homogen dalam waktu. Korpus
harus semaksimal mungkin tidak mengandung elemen diakronik (biasa
dipahami sebagai historis, melihat bagaimana suatu narasi tersusun),
namun harus disusun sebagai suatu kumpulan data sinkronik (diartikan
sebagai suatu analisis, melihat hubungan yang ada diantara elemenelemennya).
Objek dalam penelitian ini adalah visualisasi iklan ”Kuku Bima EnerG Versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II”, salah satu produk dari PT.
Sido Muncul. Iklan besutan biro iklan Artek ’n Partner Communications ini
akan dibahas lambang-lambang komunikasi yang digunakan dan aspek
fotografis yang mendukung terbentuknya makna iklan tersebut. Sehingga
dari hal tersebut akan diperoleh makna yang berupa makna denotasi dan
lxxxix
konotasi dari hubungan lambang-lambang komunikasi dan aspek fotografis
dalam iklan tersebut.
4. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data, yaitu sumber data
primer dan sumber data sekunder:
a. Sumber data primer
Sumber data primer adalah cuplikan-cuplikan gambar (shot)
dalam iklan ”Kuku Bima Ener-G Versi Laskar Mandiri I dan Laskar
Mandiri II.
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder pada penelitian ini yaitu berasal dari
buku-buku referensi, artikel, situs internet, majalah dan surat kabar
yang berhubungan dengan objek penulisan ini.
5. Validitas Data
Data yang telah berhasil digali, dikumpulkan, dan dicatat dalam
kegiatan penelitian harus diusahakan kemantapan dan kebenarannya. Guna
menjamin validitas data yang dikumpulkan maka peneliti menggunakan
teknik trianggulasi sumber. Jenis trianggulasi ini mengarahkan peneliti agar
dalam mengumpulkan data, ia menggunakan berbagai sumber data yang
tersedia. Artinya, data yang sama atau sejenis akan lebih mantap
xc
kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang bebeda. Dalam
penelitian ini setelah peneliti mengambil shot yang menunjukkan tandatanda yang mengandung makna maskulinitas kemudian dicek ulang dalam
buku-buku dan artikel. Jika memang benar mantap kebenarannya, peneliti
menggunakan scene yang tersebut sebagai data.
6. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis yang
ditawarkan Roland Barthes. Langkah-langkah analisa data dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
· Peneliti melakukan pengamatan mendalam dan mengenali lebih jauh
tanda-tanda komunikasi yang terdapat dalam iklan televisi Kuku Bima
Ener-G baik berupa audio maupun visualnya. Untuk selanjutnya,
karena keterbatasan peneliti, aspek penelitian hanya dibatasi pada
visualnya saja dan tiak melibatkan audio.
· Dari data yang telah didapat, untuk selanjutnya dijelaskan makna
denotasinya. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan
hubungan antara penanda dan petanda, atau tanda dengan rujukannya
pada realitas, yang menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti.
Makna denotasi adalah makna pada yang tampak.
xci
· Kemudian berdasarkan makna denotasi yang telah didapatkan maka
dengan pangamatan yang mendalam terhadap lambang-lambang
denotasi maka akan didapat makna-makna konotasi dari lambanglambang komunikasi yang ada. Makna konotasi merupakan penciptaan
makna lapis kedua yang terbentuk ketika lambang denotasi dikaitkan
dengan aspek psikologis, seperti perasaan, emosi, atau keyakinan.
Karena pada dasarnya penanda konotasi dibangun dari tanda-tanda dari
sistem
denotasi.
Biasanya
beberapa
tanda
denotasi
dapat
dikelompokkan bersama untuk membentuk satu konotator tunggal;
sedang petanda konotasi berciri sekaligus umum, global, dan tersebar
(Kurniawan, 2001:68). Di dalam proses ini terjadi interaksi antara teks
dengan kultur dan frame of referens peneliti, maka pada akhirnya
berdasarkan makna-makna yang berlaku di dalam masyarakat kita
mendapatkan makna konotasi dari iklan televisi tersebut.Kemudian
dari kedua kode tersebut, analisis memasuki tahap analisis mitos.
· Untuk dapat membongkar sebuah makna ideologis dari praktik
pertandaan,
diperlukan
prinsip-prinsip
intertektualitas
dan
intersubyektifitas. Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta
ini, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan. Adat istiadat, kebudayaan,
film, iklan secara pengertian umum adalah teks.
xcii
BAB II
PT SIDO MUNCUL DAN IKLAN TV KUKU BIMA ENER-G
A. Sekilas Mengenai Dunia Periklanan Indonesia
Di Indonesia iklan dikenal sejak surat kabar beredar pertama sekitar
lebih dari 100 tahun lalu. Pada awal kemunculannya lebih banyak berupa
iklan-iklan pribadi daripada iklan perusahaan. Iklan media massa cetak cukup
lama menguasai dunia periklanan di Indonesia di samping iklan-iklan lainnya
seperti radio dan iklan luar ruang. Kemudian pada tanggal 1 Maret 1963 tepat
pukul 19.00 TVRI diperbolehkan menayangkan iklan, itu pun dibatasi hanya
sebanyak 15% dari total jam siaran ( Bungin, 2008: 77).
Pada masa Orde Baru, periklanan di
Indonesia mengalami
perkembangan yang cukup pesat. Era Orde Baru cenderung memberikan
perhatian pada masalah mengembalikan kestabilan politik dan ekonomi dalam
negeri. Selain berupaya keras mengendalikan inflasi, Pemerintah juga
membuka peluang sebesar-besarnya bagi investasi baru. Konfrontasi dengan
Negara-negara liberal dihapuskan dan membuka lagi peluang bagi
perdagangan luar-negeri yang lebih terbuka dan dinamis. Lebih lagi setelah
Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) disahkan. Di
tahun 1967, tahun yang sama dikeluarkannya Undang-undang PMDN
tersebut, di Jakarta lahir perusahaan periklanan InterVisa Ltd. Inc., yang
xciii
didirikan dan dikelola oleh Nuradi. InterVisa dianggap sebagai perintis
periklanan modern di Indonesia. InterVisa pula yang dianggap menjadi
perusahaan periklanan pertama yang beroperasi dalam kapasitas full service
advertising
agenc)
atau
pelayanan
periklanan
menyeluruh
(http://www/pppi/or/id/pppi/tentang/tentang-isi9.html, diakses pada 5 Januari
2010).
Dan dengan semakin berkembangnya industri perdagangan dalam
negeri, periklanan pun mulai diakui secara jelas peran dan fungsinya sebagai
kepanjangan tangan dari bagian pemasaran barang dan jasa. Perkembangan
iklan di Indonesia mengikuti model sejarah perkembangan iklan pada
umumnya, yaitu seirama dengan perkembangan media massa. Awal
masyarakat Indonesia mengenal iklan modern dari surat kabar, karena
masyarakat baru mengenal surat kabar, kemudian saat masyarakat Indonesia
mengenal media radio, maka lahir iklan radio, dan kemudian di saat
masyarakat mengenal televisi, maka lahirlah iklan televisi.
Begitu pesatnya perkembangan dunia periklanan di masyarakat
memunculkan berbagai institusi yang secara spesifik menangani periklanan
ini. Seperti lahirnya perusahaan advertising dengan berbagai fungsi. Begitu
kompleksnya aktivitas individu dan urusan-urusan perusahaan, serta
kompleksnya dunia periklanan menyebabkan seseorang mengalami kesulitan
menangani sendiri kebutuhan periklanan, karena itu munculnya institusi
advertising sebagai institusi yang secara profesional menangani periklanan
xciv
institusi ini lebih dikenal dengan biro iklan. Biro ini dapat berdiri sendiri atau
menjadi sebuah divisi dalam satu perusahaan. Tenaga ahli di biro iklan
bekerja menghasilkan iklan yang dipesan oleh berbagai perusahaan atau
individu, termasuk pula memilih media apa untuk penyebaran iklan tersebut.
Bahkan ada perusahaan yang secara bebas memercayakan sebuah biro iklan
untuk menangani periklanannya, mulai dari perencanaan, pemilihan media
massa, sampai dengan riset-riset efek periklanan bagi peningkatan
produktivitas perusahaan itu (Bungin, 2008: 77-78).
Dari segi teks iklan sendiri, iklan pada masa tahun 1970-an masih
didominasi oleh naskah atau copy, dan bersifat informative. Dalam arti teks
iklan lebih menekankan pada penjelasan produk yang diiklankan secara detail.
Namun, pada akhir 1970-an, presentasi iklan Indonesia mulai berkembang
seiring dengan perkembangan media dan teknologi. Iklan tidak hanya
menekankan pada naskah saja, tapi juga sudah memikirkan visualisasi yang
dibuat untuk mendukung naskah iklan. Dan pada periode inilah simbolisasi
dan personifikasi mulai mendominasi presentasi iklan di Indonesia.
Pemunculan simbol-simbol dan citra-citra yang dilekatkan pada produk mulai
diterapkan dalam iklan.
Pada masa 1980-an, iklan tidak lagi hanya menerapkan pendekatan
demografis dalam mendekati khalayaknya, namun sudah mulai menerapkan
pendekatan psikografis. Sehingga pada masa tahun ini, gaya hidup mulai
xcv
menjadi tema utama dalam merancang iklan. Bahasa iklan pun juga sudah
mulai disesuaikan dengan target pasarnya.
Di tahun 1990-an, presentasi iklan mulai mengalami penyempurnaan.
Simbolisasi dan pencitraan semakin mendominasi teks iklan, didukung oleh
perkembangan medis maupun teknologi dalam penciptaan kreatif iklan.
Banyak iklan yang tampil dengan sedikit naskah dan lebih banyak tampilan
visualisasi. Impresi publik memang sengaja dibangun dengan teknik visual
ini.
Mulai munculnya televisi swasta semakin membuat pijakan periklanan
Indonesia semakin mantap. Lagi pula, lain halnya dengan media cetak dan
media radio, iklan di televisi lebih menarik perhatian dengan kekuatan audio
visualnya sehingga mampu merebut kue iklan yang besar (Noviani, 2002: 3537). Dari tahun ke tahun perkembangan periklanan Indonesia semakin pesat.
Meskipun sempat menurun pada kisaran tahun 1998, namun di tahun-tahun
berikutnya, industri periklanan semakin merangkak naik seiring dengan
dinamika
pertumbuhan
perekonomian
Indonesia
(Majalah
Cakram
Komunikasi edisi Januari 2003,hal 9)
Dengan semakin berkembangnya periklanan di Indonesia, semakin
banyak pula upaya untuk mengembangkan iklan dengan gaya khas Indonesia.
Gaya khas Indonesia dibangun dengan tiga hal, yaitu fisik, karakter dan gaya
atau style. Penggambaran fisik dilakukan dengan mengacu pada fisik produk
maupun segmentasi geografis dan demografis khalayak sasaran produk.
xcvi
Karakter bisa ditinjau dari segmentasi psikografis. Dan gaya atau style bisa
dilihat dari gaya busana, logat bahasa yang digunakan dan sebagainya. Namun
demikian, gaya periklanan tersebut tetap tidak bisa lepas dari perkembangan
periklanan secara global. Seperti penekanan pada penggunaan simbolisme
dengan sedikit kata, pendekatan psikologis dan gaya hidup tetap mengacu
pada kecenderungan perkembangan periklanan global. Apalagi dengan
semakin berkembangnya ekonomi global, dengan produk dan konsumen yang
bersifat global pula, iklan maupun media hiburan lainnya terus menerus
mempromosikan sebuah komitmen global pada gaya-gaya yang paling
mumutakhir, seperti misalnya baju, mobil, aktivitas leisure dan makanan
(Noviani, 2002: 43).
B. Sekilas Mengenai PT. Sido Muncul
PT Sido Muncul adalah pabrik jamu tradisional yang bermula dari
usaha keluarga. Berdiri pada tahun 1940 di Yogyakarta, dan dikelola oleh Ny.
Rakhmat Sulistio, Sido Muncul yang semula berupa industri rumahan ini
secara perlahan berkembang menjadi perusahaan besar dan terkenal seperti
sekarang ini. Pada tahun 1951, keluarga Ny. Rakhmat Sulistio pindah ke
Semarang. Karena semakin besarnya usaha keluarga ini, maka modernisasi
pabrik menjadi sebuah kebutuhan. Pada 1984, PT. Sido Muncul memulai
modernisasi pabriknya, dengan merelokasi pabrik sederhananya ke pabrik
yang representatif dengan mesin-mesin modern. Untuk kemajuan dimasa
xcvii
dating, dirasa perlu untuk membangun unit pabrik yang lebih besar dan
modern, maka di tahun 1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan
pabrik baru di Klepu, Ungaran oleh Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 dan
disaksikan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan saat itu, Drs.
Wisnu Kaltim (http://id.wiki.detik.com/wiki/Kuku_Bima_Ener-G, diakses
pada 7 Januari 2010).
Pabrik baru yang berlokasi di Klepu ini, dengan luas 29 ha tersebut
diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik
Indonesia, dr. Achmad Sujudi pada tanggal 11 November 2000. Saat
peresmian pabrik, Sido Muncul sekaligus menerima dua sertifikat yaitu Cara
Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi, dan sertifikat inilah yang
menjadikan PT. Sido Muncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar
farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas 7 hektar,
lahan Agrowisata, 1,5 hektar, dan sisanya menjadi kawasan pendukung
lingkungan pabrik.
Sido Muncul sendiri beranggapan bahwa perusahaan harus bisa
membawa manfaat bagi semua. Misalnya, jika suatu produk jamu tidak perlu
melalui uji toksisitas, Sido Muncul melakukan uji tersebut. Jika pemerintah
memberlakukan standar pabrik jamu untuk industri jamu, Sido Muncul
standarnya dalah pabrik farmasi. Intinya, perusahaan harus mengedepankan
dan melakukan yang terbaik bagi konsumen. Berkat visi tersebut akhirnya
xcviii
Sido Muncul mendapat hadiah lingkungan yaitu Kejati Award paa tahun
2000. berbagai penghargaan diterima oleh perusahaan keluarga tersebut,
antara lain penghargaan The Best Brand Award tahun 2000, lalu pada tahun
2002 mendapat predikat Perusahaan Teladan serta mendapat penghargaan
ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Award). Bagi Sido Muncul, semua
penghargaan yang direngkuh itu bukti bahwa visi yang mereka terapkan
berhasil memagari perusahaan (http://www.mynutrend.com/ceo.htm, diakses
pada 6 Januari 2010).
Logo Jamu Sido Muncul yang berupa ibu dan anaknya adalah gambar
Ny. Rahkmat Sulistio, pendiri Jamu Sido Muncul beserta cucunya, Irwan
Hidayat, yang saat itu masih berusia 4 tahun. Irwan Hidayat sejak tahun 1972
sampai sekarang adalah Presiden Direktur PT. Sido Muncul. Di tangan Irwan
Hidayat, generasi ketiga, Sido Muncul menjelma menjadi industri jamu yang
setara dengan industri farmasi. Sido Muncul siap mendunia dengan beragam
produk jamu yang sudah teruji secara klinis. PT Sido Muncul, yang beralamat
di Jalan Soekarno Hatta km 28, Kecamatan Bergas, Klepu, Semarang, kini
memiliki 150 item produk jamu baik yang bermerek (branded) maupun yang
generik. Sedikit diantara produk bermerek unggulan Sido Muncul, antara lain
Kuku Bima, Tolak Angin, Kunyit Asem, Jamu Komplit, Jamu Instan, STMJ,
Anak Sehat, dan lain-lain (http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi
/i/irwan-hidayat/index.shtml, diakses pada 28 Desember 2009)
xcix
Sido Muncul didukung 3.500 karyawan dan delapan laboratorium
modern untuk pengembangan produk. Pabrik Sido Muncul kini mampu
memproduksi Tolak Angin sampai 40 juta sachet dan 300 juta sachet untuk
pabrik Kuku Bima Ener-G dan minuman energi lainnya per bulan
(http://batampos.co.id/kolom/mekar/irwanhidayat, bos PT Sido Muncul.html,
diakses pada 3 Januari 2010).
C. Sekilas Mengenai Kuku Bima Ener-G
Kuku Bima Ener-G merupakan salah satu merek andalan produksi PT.
Sido Muncul. Kuku Bima Ener-G sendiri masuk dalam kategori produk
minuman energi. Sido Muncul beranggapan bahwa kategori minuman
berenergi memiliki pasar yang sangat besar, sedangkan jumlah pemainnya
belum terlalu banyak. Adapun masih digunakannya nama Kuku Bima, merek
dari produk Sido Muncul sebelumnya, dikarenakan merek ini masih sangat
sesuai jika digunakan untuk kategori minuman energi. Nama Kuku Bima
sudah cukup familiar di kalangan konsumen. Selain itu, untuk launching
sebuah produk baru tentunya diperlukan riset dan biaya yang cukup banyak.
Yang menjadi pembeda dengan produk sebelumnya adalah penggunaan kata
Ener-G dibelakang nama merek Kuku Bima itu sendiri. Dapat dikatakan Kuku
Bima Ener-G merupakan ekstensifikasi dari merek sebelumnya.
Sejak dilempar ke pasar pada 23 April 2004, bertepatan dengan
tanggal kelahiran bos sekaligus President Director PT Sido Muncul Irwan
c
Hidayat, Kuku Bima Ener-G terus merangsek pasar minuman berenergi di
tanahair (http://www.mix.co.id/index2.php?option=comcontent&dopdf=1&1d
=202, diakses pada 28 Desember 2009). Dari sisi produk, Kuku Bima Ener-G
sebenarnya tidak berbeda dari produk minuman energi lainnya. Selain faktor
merek, hal yang turut membuat Kuku Bima dapat cepat menerobos pasar
adalah keberaniannya berinovasi. Karena sebelumnya seolah-olah ada pakem
bahwa produk minuman energi harus kuning dengan harga yang agak asam
(http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=92797&actmenu=44, diakses pada 4
Januari 2010) Selain itu, Kuku Bima Ener-G juga mempositioningkan
produknya sebagai pelopor minuman energi dengan berbagai macam rasa
yakni original, anggur, jambu dan jeruk, Sido Muncul pun semakin giat
berinovasi dengan menambahkan varian rasa baru. Pada awalnya Kuku Bima
memiliki empat varian rasa, sekarang ditambah tiga varian rasa baru yaitu
susu soda, kopi dan nanas. Sebagai diferensiasi, Sido Muncul menambahkan
ekstrak gingseng, royal jelly, madu dan taurine pada produknya agar manfaat
dari produk ini lebih terasa. Karena citra produk berbahan tersebut telah
melekat di hati masyarakat sebagai produk minuman kesehatan yang
menyegarkan dan tanpa efek samping (http://berita.liputan6.com/lainlain/200607/126259/class=”vidico”, diakses pada 4 Januari 2010).
Produk ini dapat diminum oleh pria dan wanita, antara lain berguna
untuk menambah stamina dan tenaga saat bekerja keras, menghilangkan
kantuk, menambah semangat, dengan harga per sachet Rp 1.000,00 sehingga
ci
terjangkau semua pihak. Dengan omzet mencapai ratusan juta bungkus, target
market produk ini kalangan menengah ke bawah. Kuku Bima Ener-G dapat
diterima pasar karena produk ini menggunakan merek yang sudah dikenal
konsumen
(http://www.kr.co.id/web/detailphp?sid=192797&actmenu=44,
diakses pada 4 Januari 2010).
Untuk aktivitas merek lainnya, Kuku Bima kerap mensponsori
program-program yang membidik pasar pria dan wanita di atas 24 tahun,
dengan status social ekonomi C, D, dan E. Misalnya saja program olah raga
tinju, kompetisi menyanyi dangdut “Stardut”, Kuis Take Me Out dan lainnya.
Dalam sponsorship itu, Kuku Bima juga ikut terlibat dalam event off air-nya.
D. Sekilas Mengenai Artek ‘n Partners Communication
1. Sejarah Lahirnya Artek ‘n Partners Communication
Artek ‘n Partners Communications ini didirikan oleh Bapak Abdul
Manan AR, salah seorang living legend dalam industri periklanan Indonesia.
Berawal dari seorang Sales & Promotion Manager di industri farmasi, Abdul
Manan dan rekannya, Bapak Eko Prijono mendirikan artek. Sebagai biro iklan
lokal, Artek yang terletak di Jalan Dharmawangsa XI No.6 Jakarta ini,
berusaha memberikan pelayanan yang tidak kalah dengan biro iklan
multinasional.
Berawal dari sebuah biro iklan kecil pada tahun 1978, Artek ‘n
Partners telah bertransformasi menjadi salah satu biro iklan yang memberikan
cii
pelayanan integrated marketing communication. Mulai dari advertising,
production house, outdoor specialist, media house dan brand activation (data
diolah dari company profile PT Armananta Eka Putra th 2009).
Agensi yang pada 2007 lalu membukukan billing sekitar Rp 300 miliar
ini berhasil membiakkan bisnisnya di bawah bendera Artek Network,
kelompok usaha ini memiliki sejumlah anak perusahaan, yaitu Brand
Concept, agensi yang memegang account di Semarang; Dumitos dan Ekma
yang fokus di jasa komunikasi outdoor; Satu Atap yang menyediakan jasa
brand activation; dan AB Productions, sebuah rumah produksi.
Melalui sebuah pemahaman yang mendalam mengenai klien-klien,
Artek berusaha sebaik mungkin membangun brand image yang dimiliki oleh
beraneka ragam kliennya. Sebagai agensi, Artek berbicara, berfikir, bahkan
bernapas seperti klien memikirkan, membicarakan, dan mengelola merek
mereka sendiri. Rahasia Artek sukses dan dapat bertahan hingga sekarang ada
tiga hal. Pertama, servis yang memuaskan. Kedua, support klien secara total.
Artek bahkan rela melewatkan bonus dan diskon dari media untuk
dikembalikan kepada klien, Artek hanya mengambil agency fee yang memang
sudah menjadi miliknya. Dan kunci ketiga adalah professional dan passion
(http://mix.co.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=190, diakses
pada 30 Desember 2009).
Artek, dengan taglinenya “Passion, Mind and Soul” ini, termasuk
agensi yang diloyali klien-kliennya. Sebut saja Sido Muncul, yang sudah
ciii
menjalin kerjasama dengan Artek selama 30 tahun; Mayora, 25 tahun;
Mecosin Indonesia 15 tahun; dan PT. Soho Industri Pharmacy, perusahaan
farmasi yang hampir 10 tahun bersama Artek. Dan dengan sederet klien yang
tergolong kelas atas itu, Artek memiliki total billing per tahun diatas Rp. 100
miliar
(http://www.swa.co.id/primer/pemasaran/advertising/details.php/cid+
18&id=562, diakses pada 15 Desember 2009).
Meskipun Artek adalah agensi lokal, perusahaan periklanan yang
termasuk top 5 national agency ini tampaknya juga cukup memiliki wawasan
global. Ini dapat dilihat dari deretan kliennya yang tidak hanya dihiasi oleh
klien lokal. Artek juga memiliki klien yang berasal dari perusahaan
multinasional. Misalnya, Artek dipercaya oleh ponsel Samsung dan Oishi
Snack untuk menangani kampanye mereka.
2. Logo Artek ‘n Partners
civ
3. Struktur Organisasi
Chairman
Abdul Manan
President Director
Maya Dewi AR
General Manager
Rina Purnama S.
Client Service
Creative Dept.
Finance
Media Dept.
HRD &
IT
Shandy
Adhyt
Dept.
Agung
GA Dept.
Dept.
Mulyadi
Adyatmand
Alexander
Gunara
Setyanto
Ipung
Christianto
Production Dept.
Agus Trianto
Gambar 2.1: Struktur Organisasi Artek ‘n Partner Communication
Sumber: Diolah dari company profile PT Armananta Eka Putra th 2009
4. Super Brands Artek
cv
cvi
E. Iklan TV Kuku Bima Ener-G Versi Laskar Mandiri I dan II
Dari awal produk ini diluncurkan, PT. Sido Muncul telah
mempercayai biro iklan Artek ‘n Partners untuk menangani Campaign Brand
dari produknya. Selanjutnya, tim kreatif Artek mendapatkan brief dari klien
(Sido Muncul) yang berisi tentang bagaimana agar produk ini bisa dikenal dan
menjadi market leader di segmennya. Sido Muncul menginginkan sebuah
konsep yang benar-benar berbeda dari iklan-iklan produk minuman berenergi
lainnya. Baik dari segi reference pemilihan gambar sampai karakter-karakter
yang berusaha ditampilkan dalam iklan tersebut.
Brief dari Sido Muncul itu kemudian “digali” oleh tim kreatif Artek.
Iklan Kuku Bima pertama kali dibintangi oleh Rieke Dyah Pitaloka dan Doni
Kesuma, kemudian sejumlah bintang iklan lain, seperti Chris John, M.
Rahman, Mbah Maridjan, Vega Darwanti, Ade Rai, dan Wynne Prakusya.
Kuku Bima Ener-G melakukan gebrakannya ketika menggandeng Mbah
Maridjan untuk kampanye komunikasinya pada pertengahan tahun 2006. Di
tahun ini pula Kuku Bima Ener-G sempat mencapai masa kejayaannya. Pada
akhir tahun 2006 penjualan Kuku Bima Ener-G naik hingga 225%
(http://mix.co.id/index2.php?option=com.content&do.pdf=1&id=202, diakses
pada 28 Desember 2009). Ketika itu Mbah Maridjan, bersama dengan Chris
John dan Rieke Dyah Pitaloka membintangi iklan televisi terbaru Kuku Bima
versi “Lelaki Pemberani”. Sukses dengan iklan televisi versi dua lelaki
pemberani, Kuku Bima Ener-G kembali meluncurkan ikan televisi terbarunya
cvii
versi “Jangan Pernah Putus Asa” yang menampilkan sosok wanita perkasa
yang melakoni pekerjaan sebagai penarik becak.
Kuku Bima Ener-G memiliki kampanye komunikasi yang khas. Setiap
kampanye komunikasi Kuku Bima selalu berbalut CSR (Corporate Sosial
Responsibility). Mulai dari Mbah Marijan, para TKI (Tenaga Kerja Indonesia)
yang pernah disiksa majikan di negeri jiran, hingga Laskar Mandiri
(pengamen, pengojek, tukang semir sepatu, pedagang jamu gendong,
pemulung, dan pengasong), digandeng menjadi model iklan Kuku Bima
(http://mix.co.id/index2.php?option=comcontent&do.pdf=1&id=202, diakses
pada 28 Desember 2009). Iklan yang bertema Laskar Mandiri ini mulai
diluncurkan pada pertengahan juli 2008, dan dengan adanya iklan ini
diharapkan penjualan Kuku Bima mencapai 1,2 miliar sachet, sementara di
tahun 2007, Kuku Bima sukses memasarkan 1 miliar sachet. Adapun
ditampilkannya kelompok masyarakat di sektor informal ini lebih kepada
bentuk
kekaguman
dan
apresiasi
dari
Kuku
Bima
(http://mix.co.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=1768, diakses
pada 4 Januari 2010).
Production team untuk iklan-iklan Kuku Bima Ener-G mulai dari
Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II tidak pernah berubah. Dikarenakan
sudah ada kerja sama yang terjalin cukup lama dan team ini pun diciptakan
sedemikian ramping dengan alas an, yang bekerja dalam team ini harus
memiliki feel terhadap Kuku Bima Ener-g itu sendiri. Team itu meliputi:
cviii
1. Client
: PT Jamu Sido Muncul
· Owner
: Irwan Hidayat
· Brand Manager
: Linawati Suteja
2. Agency
: Artek ‘n Partners Communication
· Presiden Director
: Maya Dewi AR
· Sr Account Executive
: Indriati
· Creative Director
: Adyth Adyatmand
3. Production House
: Fast Films
· Executive Produser
: Hamdhani Koestoro
· Director
: Imam Brotoseno
Hingga saat ini iklan-iklan “Laskar Mandiri” telah muncul 3 versi
iklan yang kesemuanya lebih mengangkat kaum termarjinalkan. Karena
sebelumnya kebanyakan iklan di Indonesia mengabaikan fakta bahwa
mayoritas pemirsanya adalah kelas bawah. Untuk penelitian ini hanya
menggunakan iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar
Mandiri II. Kedua versi iklan itu yakni:
1. Laskar Mandiri I
Tayang di televisi sebagai versi pertama kampanye iklan “Laskar
Mandiri” pada bulan September 2008 dan masih menggunakan tagline “Kuku
Bima Ener-G, Roso!”. Dalam iklan ini, lebih mengangkat mengenai
perjuangan kaum termarjinalkan yang jarang diekspose untuk mengenalkan
cix
suatu produk. Laskar Mandiri Versi I menampilkan enam laskar, yakni: laskar
penjual jamu, laskar asongan, laskar penyemir sepatu, laskar pemulung, laskar
pengamen, dan laskar ojek sepda.
a. Storyline Laskar Mandiri Versi I
Storyline adalah penggambaran jalan cerita iklan melalui
deskripsi iklan(cerita) secara lugas apa yang divisualisasikan dalam
iklan. Pada iklan Kuku Bima “Laskar Mandiri Versi I” yang
digunakan oleh peneliti adalah iklan yang berdurasi 30 detik.
KONSEP STORYLINE
TV COMMERCIAL
KBE “LASKAR MANDIRI VERSI I”
Adegan dibuka dengan menampilkan suasana pagi hari, ketika
sinar matahari pagi memancar dibalik gedung-geung pencakar langit
di kota Jakarta. Tampak penjual jamu berjalan dibalik matahari pagi.
Terlihat penjual jamu itu ceria dan semangat dalam menjalani hari. Di
lain tempat, para pedagang asongan bernyanyi di tepi dermaga
berjalan bersama dengan semangat membara. Sementara itu, para
penyemir jalanan sedang duduk berjejer sambil bekerja. Tampak
kegembiraan dan semangat di wajah mereka. Di sekitar tepi rel kereta
api, para pemulung bernyanyi sambil menggendong tas sampahnya.
Walau begitu mereka tetap bergembira. Di jalanan yang arus lalu
lintasnya cukup padat, para pengamen jalanan bersenandung dipenuhi
cx
dengan tawa. Kemudian di sekitar Kota Tua, iring-iringan tukang ojek
sepeda tak kenal lelah mengayuh sepedanya, sambil sesekali
menunjukkan kegembiraan dan saling tertawa bersama.
Masih di sekitar Kota Tua, Rieke, Doni dan Vega melihat para
Laskar Mandiri (penjual jamu gendong, pedagang asongan, penyemir
jalanan, pengamen, dan tukang ojek sepeda) yang ternyata berjalan
mendatangi mereka. Lalu, mereka pun bergabung dengan para laskar
mandiri itu dan bernyanyi bersama. Mereka terlihat akrab. Para laskar
mandiri yang berjenis kelamin pria membuka bajunya dan ternyata
dibalik kemeja itu, mereka mengenakan kaos merah bertuliskan Laskar
Mandiri,
LASKAR
KUKU
BIMA
ENER-G.
Masing-masing
menggenggam segelas minuman aneka rasa varian dari KBE. Para
bintang mengacungkan gelas yang digenggamnya sambil berkata;
“Kuku Bima Energi”. Tampak pack shot Mbah Maridjan mengepalkan
tangan kanannya sebagai perwujudan untuk menggugah semangat dan
berkata; “Roso!!!”
b. Storyboard Laskar Mandiri Versi I
Storyboard adalah jalan cerita visualisasi iklan melalui
potongan-potongan visualisasi iklan per adegan ataupun per shot
dalam iklan (Santosa, 2002: 42).
cxi
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan apa yang telah dirumuskan dalam bab pendahuluan,
permasalahan yang hendak diteliti adalah bagaimana makna pesan yang
ditonjolkan dan bagaimana keberadaan mitos mengenai maskulinitas kaum
termarjinalkan dalam iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I dan
Laskar Mandiri II. Oleh karena itu, analisis semiotika Roland Barthes telah
digunakan untuk mengetahui isi pesan dan makna yang tersembunyi dari iklan
tersebut. Adapun digunakannya semiotika Roland Barthes dalam penelitian ini
adalah untuk menggali makna yang ditekankan pada cara tanda-tanda di
dalam
teks
berinteraksi
dengan
pengalaman
personal
dan
kultural
penggunanya. Makna pesan dianalisis berdasarkan kode fotografi dan kode
sosial. Dalam kode fotografi, simbol-simbol yang digunakan juga dianalisis
berdasarkan tanda verbal dan tanda non-verbal. Tanda verbal mencakup
bahasa tulisan dan bahasa lisan, sedangkan tanda non-verbal mencakup:
kinesics(gerak
tubuh
termasuk
wajah),
haptics
(sentuhan),
physical
appearance (penampilan fisik), artifacts (objek ciri khas), proxemics (jarak
tubuh), environmental factor (faktor suasana), chronemics (lama interaksi),
paralanguage (kualitas suara), dan silence (keheningan).
cxii
Analisis iklan Kuku Bima ener-G meliputi tiga kategori. Kategori
pertama, yaitu citra laki-laki melalui imej tubuh sebagai fragmen yang dibagi
menjadi dua sub tema, yaitu badan atletis (macho), dan tubuh kuat. Kategori
kedua, yaitu citra laki-laki melalui penampilan karakter yang dibagi menjadi
tiga sub tema, yaitu, semangat tinggi, persahabatan/setia kawan, dan aktif.
Kategori ketiga, yaitu citra laki-laki dalam budaya patriarkhi yang dibagi
menjadi dua sub tema, yaitu, kekuasaan laki-laki atas perempuan, dan lakilaki sebagai pusat yang mengatur seluruh struktur ekonomi keluarga.
Dari serangkaian data simbol-simbol komunikasi yang diperoleh
melalui metode analisis semiotika Roland Barthes mengenai maskulinitas
kaum termarjinalkan dalam iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I
dan Laskar Mandiri II, maka di sini peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa
iklan ini mampu merepresentasikan simbol-simbol maskulinitas kaum
termarjinalkan, sebagai berikut :
1. Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri I
a. Citra laki-laki melalui imej tubuh sebagai fragmen
a.1. Badan atletis dan gagah berotot (macho)
Kategori ini diwakili oleh gambar 01 dan gambar 02, yang
keduanya menggunakan teknik straight on-angle. Untuk bidang
pandangan menggunakan medium close up dan long shot. Kedua
bidang pandangan ini membantu untuk memperlihatkan tandatanda maskulinitas. Kostum yang melekat pada pemain
cxiii
digunakan untuk menguatkan jenis pekerjaan yang sedang
mereka jalani.
Tanda-tanda yang menunjukkan maskulinitas dalam gambar
01 dan 02 dapat dilihat dari penampilan fisik para pemain.
Dalam gambar 01, salah satu pemulung berdiri di bagian depan
dan memperlihatkan dada yang bidang dan lengan yang kekar.
Sedangkan dalam gambar 02, memperlihatkan lengan kekar yang
dimiliki oleh tukang ojek sepeda. Tubuh laki-laki memang
direpresentasikan kuat, berotot dan keras. Tidak peduli apa jenis
pekerjaan
dan
status
sosial
mereka,
laki-laki
tetap
direpresentasikan sesuai dengan maskulinitas tradisional.
a.2. Tubuh kuat
Gambar 03 menggunakan sudut pengambilan gambar low
angle. Yang mengindikasikan bahwa objek memiliki rasa
percaya diri, dominan serta kuat semakin mempertegas
kemaskulinitasannya. Menggunakan bidang pandangan long
shot.
Tanda-tanda tubuh kuat direpresentasikan oleh gambar 03
dimana terlihat beberapa laki-laki sedang mengangkat beban
berat. Dalam budaya pop yang terkomersialkan, tubuh laki-laki
selalu digambarkan lebih kuat dibanding wanita.
cxiv
b. Citra laki-laki melalui penampilan karakter
b.1. Semangat tinggi
Visualisasi gambar dalam kategori ini hanya menggunakan
straight-on angle dengan bidang pandangan yang bervariasi,
yakni medium close up (gambar 04), medium long shot (gambar
05) dan medium shot (gambar 06). Pencahayaan yang terang
memberikan kesan alami dan menunjukkan lokasi pengambilan
gambar yang ada di luar ruangan. Dalam gambar 04, background
dibuat blur seolah hanya ingin memfokuskan pada laskar
penyemir sepatu yang sedang bekerja dan memperlihatkan
ekpresi wajah mereka lebih detail.
Tanda-tanda semangat tinggi lebih menekankan bagaimana
mereka selalu bekerja dengan penuh semangat walau beberapa
dari mereka memiliki usia yang masih muda (gambar 04 dan
gambar 05). Jenis pekerjaan adalah pemulung dan pengamen,
yang termasuk dalam kategori jenis pekerjaan informal, tidak
menyurutkan langkah mereka untuk terus bekerja dengan penuh
semangat.
cxv
b.2. Persahabatan/setia kawan
Tanda-tanda persahabatan/setia kawan diperlihatkan dalam
gambar 07 dan gambar 08, dimana keduanya menggunakan
sudut pengambilan gambar straight on-angle. Bidang pandangan
menggunakan medium long shot dan medium shot untuk
memperlihatkan kedekatan yang terjalin diantara sesama laskar
mandiri ataupun antara laskar mandiri dengan Donny Kesuma.
Tanda-tanda yang menunjukkan persahabatan lebih kepada
kedekatan yang terjalin diantara mereka. Baik dalam gambar 07
dan gambar 08, memperlihatkan aktivitas yang biasa terjadi
diantara laki-laki yaitu tos. Tos dianggap sebagai cara seorang
pria dengan genggaman kuat yang menyiratkan persahabatan.
b.3. Aktif
Penggunaan bidang pandangan medium long shot dan
extreme
long
shot
mewarnai
gambar-gambar
yang
merepresentasikan sub kategori ini. Teknik extreme long shot
yang
digunakan
dalam
gambar
10
digunakan
untuk
menggambarkan panorama yang luas, sehingga terlihat setting
keseluruhan dan aktivitasnya.
Dari kegiatan yang diperlihatkan dalam gambar 09 dan 10
dapat diasumsikan bahwa laki-laki sudah biasa untuk lebih
cxvi
sering melakukan kegiatan di luar rumah seperti misalnya:
bekerja, berolah raga, atau sekedar melakukan hobi.
c. Citra laki-laki dalam budaya patriarkhi
c.1. Kekuasaan laki-laki atas perempuan
Visualisasi gambar dalam kategori ini yakni medium shot
(gambar 11). Tanda-tanda kekuasaan lelaki lebih menunjukkan
peneguhan maskulinitas. Dalam gambar 11, peran laki-laki
sebagai sosok yang kuat (gladiator) dengan perempuan
disebelahnya hanya sebagai penggoda (vamp).
c.2. Laki-laki sebagai pusat yang mengatur seluruh struktur ekonomi
keluarga
Ada 5 gambar yang direpresentasikan dalam sub kategori ini.
Bidang pandangan yang digunakan cukup bervariasi, yakni,
medium close up (gambar 12), medium long shot (gambar 13),
long shot (gambar 14), medium long shot (gambar 15), dan long
shot (gambar 16).
Tanda-tanda maskulinitas lebih menekankan adanya konsep
bekerja bagi laki-laki yang selalu dikaitkan dengan keluarga dan
tanggung jawab seorang laki-laki terhadap keluarganya. Gambar
12 dan 13, menggambarkan bahwa laki-laki walau usianya
terbilang masih muda dan belum waktunya untuk bekerja, sudah
dituntut untuk bisa mencari uang sendiri. Gambar 14, 15, dan 16
cxvii
menggambarkan area kerja laki-laki yang cukup keras. Area ini
dianggap cocok untuk pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki
dan tidak cocok dilakukan oleh perempuan.
2. Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri II
a. Citra laki-laki melalui imej tubuh sebagai fragmen
a.1. Badan atletis dan gagah berotot (macho)
Kategori ini diwakili oleh gambar 01, dimana teknik medium
close up digunakan sebagai bidang pandangan. Dengan medium
close up, semakin memperlihatkan penampilan fisik yang
dimiliki oleh salah satu tukang bakso.
Jika perempuan selalu digambarkan dengan tubuhnya yang
tinggi semampai dan ramping, maka laki-laki digambarkan
dengan tubuhnya yang kekar, dada bidang, dan berotot.dalam
gambar 01 memperlihatkan lengan kekar dan berotot yang
dimiliki oleh tukang bakso itu.
a.2. Tubuh kuat
Gambar 02 digunakan untuk mewakili kategori tubuh kuat.
Menggunakan bidang pandangan medium close up. Pakaian dan
gerobak bakso yang digunakan sebagai properti, menandakan
jenis pekerjaannya.
cxviii
Adapun
tanda-tanda
maskulinitas
diperlihatkan
pada
penampilan fisik yang dikaitkan dengan profesinya itu.
Profesinya itu menuntuk kekuatan fisik agar terus berjalan
mendorong gerobak baksonya. Keringat yang menetes semakin
mempertegas tubuh kuat yang dimilikinya. Karena walau dia
terlihat lelah, tetapi dia masih terus kuat untuk bekerja.
b. Citra laki-laki melalui penampilan karakter
b.1. Semangat tinggi
Visualisasi gambar dalam kategori ini terdapat teknik
straight on-angle (gambar 04, 05, dan 07) dan high angle
(gambar 03 dan 06). Sudut kamera high-angle mampu membuat
sebuah obyek seolah tampak lebih kecil, lemah dan terintimidasi.
Walau menggunakan teknik ini, penggambaran mengenai tokoh
tetap terlihat gembira dan semangat dalam menjalani hidupnya.
Bidang pandangan cukup bervariasi, yakni medium long shot
(gambar 03, 04, dan 05), extreme long shot (gambar 06) dan long
shot (gambar 07)
Salah satu karakteristik yang identik dengan jiwa maskulin
adalah rasa semangat dalam mengerjakan sesuatu. Keseluruhan
dari gambar menunjukkan susasana kebahagiaan dan penuh
semangat. Mulai dari cara berjalan, ekspresi wajah, dan perilaku
yang mereka lakukan menunjukkan semangat.
cxix
b.2. Persahabatan/setia kawan
Hanya ada satu gambar yang mewakili kategori ini, yakni
gambar 08 yang menggunakan sudut pengambilan gambar
straight on-angle. Bidang pandangan menggunakan medium
close up, untuk menggambakan kedekatan dan persahabatan
yang terjalin antara tukang bakso dengan Ari lasso.
Dalam urusan pergaulan laki-laki digambarkan sebagai sosok
yang terbuka dan supel. Ini dapat dilihat dari kedekatan yang
terjalin antara Ari Lasso, yang seorang aktor, dengan tukang
bakso.
b.3. Aktif
Gambar-gambar
yang
merepresentasikan
kategori
ini
menggunakan teknik straight-on angle dan high angle. Dengan
bidang pandangan medium long shot (gambar 09) dan extreme
long shot (gambar 10). Dari environment dalam kedua gambar
itu, menandakan bahwa mereka sedang beraktivitas di luar
ruangan.
Laki-laki diidentikan dengan kegiatan di luar rumah. Dalam
gambar 09, lokasi mereka berada adalah di sekitar jalan raya,
yang sarat dengan polusi. Sedangkan dalam gambar 10, lokasi
mereka berada adalah di pusat kota Jakarta, yaitu di kawasan
cxx
Sudirman. Kedua gambar ini memperlihatkan bahwa tempat
laki-laki beraktivitas adalah di luar ruangan.
c. Citra laki-laki dalam budaya patriarkhi
c.1. Kekuasaan laki-laki atas perempuan
Tidak ada gambar yang mewakili kategori kekuasaan lakilaki atas perempuan dalam iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar
Mandiri II.
c.2. Laki-laki sebagai pusat yang mengatur seluruh struktur ekonomi
keluarga
Kategori ini diwakili oleh 4 gambar. Dengan visualisasi
gambar terdapat teknik straight on-angle (gambar 11 dan 12),
high angle (gambar 13) dan low angle (gambar 14). Low angle
dalam gambar 14 membuat laki-laki dalam gambar itu terlihat
domonan, percaya diri serta kuat. Walau mereka hanya bekerja
sebagai pedagang asongan, tetapi mereka adalah laki-laki, jenis
kelamin yang dianggap masih memiliki superioritas yang kelak
akan menjadi kepala keluarga. Sedangkan untuk bidang
pandangan cukup bervariasi, yakni, long shot (gambar 11),
medium long shot (gambar 12) dan extreme long shot (gambar
13 dan 14)
Dalam hal okupasi pekerjaan yang mengandalkan kekuatan
dan keberanian disebut sebagai pekerjaan maskulin. Baik gambar
cxxi
11, 12, 13 dan 14 adalah pekerjaan yang identik dengan laki-laki
bahkan dalam gambar 13 dan 14 yang menjadi tokoh utamanya
adalah laki-laki dengan usia yang masih muda, tetapi sudah
memiliki kesadaran untuk bekerja. Ini semua karena mereka
adalah laki-laki, yang senantiasa dituntut tanggung jawabnya
untuk bisa menghidupi keluarganya.
Mitos yang berusaha digambarkan dalam iklan ini memiliki beberapa
persamaan dengan mitos yang berkembang dalam masyarakat. Kaum
termarjinalkan dalam iklan juga dicitrakan dengan tubuh yang kuat, memiliki
karakter yang cenderung positif dan mereka juga memiliki kuasa atas
perempuan serta pengontrol ekonomi keluarga. Karena mereka adalah lakilaki, penggambaran untuk iklan tidak jauh berbeda dengan mitos laki-laki
yang berkembang di masyarakat. Hanya ada satu perbedaan yakni mengenai
imej fisik maskulinitas kaum termarjinalkan dalam iklan maupun dalam
realitas sosial.
Dari ringkasan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa analisis
semiotika pada kode fotografi ternyata menyumbang suatu rekayasa teknis
dalam
mengungkapkan
tanda-tanda
representasi
maskulinitas
kaum
termarjinalkan. Analisis kode fotografi dan kode sosial saling berkaitan satu
sama lain untuk semakin memperkuat makna pesan dibalik gambar tersebut.
cxxii
Setelah dianalisis dengan menggunakan kode fotografi dan kode
sosial, dapat disimpulkan secara umum tanda-tanda dalam iklan Kuku Bima
Ener-G versi Laskar Mandiri I dan Laskar Mandiri II, yakni:
1. Makna pesan yang ditonjolkan dalam iklan ini adalah
mengenai maskulinitas kaum termarjinalkan. Maskulinitas
pada laki-laki dengan jenis profesi yang termasuk dalam
kategori sektor informal, yaitu: Tukang bakso, pengamen,
pemulung, penyemir sepatu, tukang ojek sepeda, tukang ojek
motor, dan pedagang asongan.
2. Penggambaran mengenai maskulinitas kaum termarjinalkan
memiliki persamaan dengan maskulinitas tradisional atau
maskulinitas pada umumnya, yakni:
a. Imej fisik yang digambarkan dengan tubuh yang kuat,
kekar dengan dada yang bidang dan lengan berotot.
b. Karakteristik yang cenderung positif seperti semangat
tinggi, aktif dan setia kawan.
c. Maskulinitas kaum termarjinalkan juga tidak lepas dari
budaya patriarkhi. Mereka memiliki kuasa atas perempuan
dan sebagai pusat yang mengatur seluruh struktur ekonomi
keluarga.
cxxiii
3. Adanya persamaan mitos antara mitos yang berkembang di
masyarakat dengan mitos maskulinitas kaum termarjinalkan
dalam iklan, yakni:
a. Maskulinitas kaum termarjinalkan digambarkan dengan
fisik yang kuat walau badan mereka terlihat kurus.
b. Memiliki semangat tinggi, aktif dan setia kawan.
c. Tidak peduli apaun pekerjaannya, karena mereka adalah
laki-laki, mereka pun dianggap memiliki kuasa atas
perempuan dan penanggung jawab roda ekonomi keluarga.
4. Adanya
perbedaan
mitos
mengenai
imej
fisik
kaum
termarjinalkan dalam iklan Kuku Bima Ener-G versi Laskar
Mandiri I dan Laskar Mandiri II dengan mitos yang
berkembang
dalam
masyarakat.
Dalam
iklan,
kaum
termarjinalkan digambarkan memiliki tubuh yang kekar
dengan dada yang bidang dan berotot. Sedangkan dalam
realitas, kaum termarjinalkan itu digambarkan dengan tubuh
yang kurus, dekil, tidak berotot bahkan cenderung hanya
terbungkus tulang saja.
cxxiv
B. Saran
1. Bagi akademis dan peneliti lain.
a. Semiotika melihat sebuah teks sebagai sesuatu yang sangat terbuka
sehingga sangat memungkinkan menghasilkan berbagai macam
interpretasi. Interpretasi peneliti bukanlah satu-satunya kebenaran
yang sah. Diharapkan adanya penelitian lain sebagai pembanding
terhadap tema yang sama tentang mitos maskulinitas.
b. Dalam
melakukan
penelitian
semiotik,
diharapkan
selalu
mempertimbangkan kode fotografi dan kode sosial. Karena kode-kode
tersebut mengandung tanda-tanda yang secara langsung dan tidak
langsung dapat mempengaruhi interpretasi penonton.
c. Meningkatkan penelitian yang mendalam mengenai dampak-dampak
iklan, dilihat dari aspek budaya, sosial, kesehatan dan psikologis,
terutama mengenai bagaimana sebuah iklan dapat mempengaruhi
persepsi dan perilaku yang keliru.
2. Bagi pemerintah dan masyarakat.
a. Pemerintah hendaknya lebih memperhatikan masalah gender. Karena
masalah ini tidak hanya mencakup pada sebuah jenis kelamin saja,
tetapi juga menyangkut berbagai aspek kehidupan. Terutama wacana
gender dalam media massa yang sering tidak sesuai dengan kenyataan
dan dieksploitasi secara berlebihan.
cxxv
b. Masyarakat luas diharapkan lebih memperhatikan masalah gender.
Yang terkadang tidak hanya pihak perempuan saja yang menjadi
korban, tetapi juga pihak laki-laki pun menjadi korban karena
perbedaan gender ini.
3. Bagi audiens (laki-laki).
a. Tidak langsung menerima pesan yang dikonstruksi oleh sebuah iklan.
Dalam memandang makna yang tampak pada iklan, yang penting
untuk direnungkan adalah bagaimana kita menyikapi rayuan dan gaya
hidup yang ditawarkan oleh sebuah iklan produk. Bagaimanapun juga,
iklan secara sengaja memang dikonstruksi dan dipopulerkan oleh
kaum kapitalis.
b. Meningkatkan melek media yang tentunya akan meningkatkan sikap
analitis, sikap kritis dan selektif dalam menghadapi berbagai serbuan
media iklan yang terkadang sering salah persepsi.
4. Bagi kreator iklan.
a. Meningkatkan kualitas informasi dalam periklanan, yakni dengan
mengedepankan informasi mengenai produk yang diiklankan dan
mengurangi informasi palsu.
b. Peningkatan kualitas informasi harus diiringi dengan peningkatan
kualitas aturan-aturan periklanan, khususnya mengenai kode etik
periklanan.
cxxvi
DAFTAR PUSTAKA
Barker, Chris. Cultural Studies: Teori & Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004.
Budiman, Kris. Semiotika Visual. Yogyakarta: LKIS, 2003.
Bungin, Burhan. Imaji Media Massa: Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan
Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta: Jendela, 2001.
-------------------. Konstruksi Sosial Media Massa, Iklan TV dan Keputusan Konsumen
Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger dan Thomass Luckmann. Jakarta:
Kencana, 2008.
Connel, R.W. Masculinities. Cambridge: Polity Pers, 1995.
Darwin, Muhadjir & Tukiran. Menggugat Budaya Patriarkhi. Yogyakarta: Fourd
Foundation & Pusat Penelitian Kependudukan UGM, 2001.
Dyer, Gillian. Advertising as Communication. London: Routledge, 1996.
Effendy, Onong Uchjana. Televisi Siaran Teori dan Praktek. Bandung: Alumni,
1981.
-----------------------------. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Pemaja
Rosda Karya, 2005.
Eriyanto. Analisa Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS, 2001.
Fiske, John. Introduction to Communication Studies. London: Routledge, 1990.
-------------. ”The Codes of Television” dalam Media Studies; A Reader, edited by
Paul Marris dan Sue Thornham. Edinburg: Edinburg University Press, 1997.
-------------.
Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling
Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra, 2004.
Fowless, Jib. Advertising and Popular Culture. London: Sage Publications, 1996.
Ibrahim, Idi Subandy. Budaya Populer Sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape
dan Media Scape di Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra, 2007.
Khasali, Rhenald. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia.
Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995.
cxxvii
Kincaid, Lawrence & Wilbur Schramm, Asas-asas Komunikasi Antar Manusia.
Jakarta: LP3ES, 1987.
Kurniawan. Semiologi Roland Barthes. PT. Indonesiatera, 2001.
Liliweri, Allo. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyrakat. Bandung: PT
Citra Aditya Bakti, 1991.
Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication.New York: Wardsworth
Publishing Company, 2002.
Megawangi, Ratna. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru Tentang Relasi
Gender. Bandung: Mizan Media Utama, 1999.
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2005.
M. Henslin, James. Sosiologi, Dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga dan
Pusat Perbukuan Depdiknas, 2007.
Nierenberg , Gerald I dan Calero. Membaca Pikiran Orang Seperti Membaca Buku.
Yogyakarta: Think Jogjakarta, 2009.
Noviani, Ratna. Jalan Tengah Memahami Iklan: Antara Realitas, Representasi dan
Simulasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Nurudin. Komunikasi Massa. Yogyakarta: Cespur, 2004.
Pawito. Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKIS, 2007.
Piliang, Yasraf Amir. Hipersemiotika. Yogyakarta: Jalasutra, 2003.
Praktikto, Riyono. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: CV.Remadja Karya,
1987
Pratista, Himawan. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008.
Rakhmat, Jalaluddin. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Rosadakarya, 1986.
Sobur, Alex. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.
--------------. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.
cxxviii
Sudjiman, Panuti dan Aart Van Zoest. Serba-Serbi Komunikasi. Jakarta: Gramedia,
1992.
Suranto, Hanif dan Idi Subandy Ibrahim. Wanita dan Media: Konstruksi Ideologi
Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya,
1998.
Turner, Graeme. Film As Social Practice. London: Routledge, 1999.
Wijaya, Mahendra. Perspektif Sosiologi Ekonomi, Dari Masyarakat Kapitalis Hingga
Kapitalisme Neo-liberal. Karanganyar: Lindu Pustaka, 2007.
Wirodono, Sunardian. Matikan TV-Mu!. Yogyakarta: Resist Book, 2005.
Wood, Julia T. Gendered Lives: Communication, Gender and Culture. Nort Carolina:
Wadsworth, 2001.
-----------------. Communication Mossaics. Belmont: 1997.
Internet
Akuntan
yang
”Terjebak”
di
Advertising,
Lis
Hendriani,
http://mix.co.id/index2.php?option=com.content&do.pdf=1&id=1768,
diakses pada 4 Januari 2010
Artek N Partners Targetkan Pertumbuhan Billing 50%, Taufik Hidayat,
http://www.swa.co.id/primer/pemasaran/advertising/details.php/cid+18&id=
562, diakses pada 4 Januari 2010
Bisnis
Minuman
Energi
Rp
2,5
T
per
Tahun,
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=927978&actmenu=44, diakses pada
4 Januari 2010
Iklan Pertama di Hindia Belanda, http://www.pppi.or.id/pppi/tentang-isi9.html,
diakses pada 5 Januari 2010
Irwan Hidayat, Presdir PT Sido Muncul, Perusahaan Harus Membawa Manfaat bagi
Semua, Edy Wahyudi, http://www.mynutrend.com/ceo.htm, diakses pada 6
Januari 2010
cxxix
Irwan
Hidayat,
Generasi
Ketiga
Sido
Muncul,
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/i/irwanhidayat/index.html,
diakses pada 28 Desember 2009
Irwan
Hidayat,
Bos
PT
Sido
Muncul,
http://batampos.co.id/kolom/mekar/irwanhidayat, diakses pada 3 Januari
2010
Jeli
Membaca
Kelemahan
Pesaing,
Dwi
Wulandari,
http://www.mix.co.id/index2.php?option=conten&dpdf=1&1d=202, diakses
pada 28 Desember 2009
Komodifikasi Maskulinitas dalam Media Massa Modern, Aris Nugraha, http://arisnugraha.blogspot.com, diakses pada 12 November 2009
Kuku Bima Ener-G Siap Gerogoti Pasar Minuman Energi, www.swa.co.id, diakses
pada 7 Oktober 2009
Kuku Bima Ener-G, http://id.wiki.detik.com/wiki/kuku bima ener-g, diakses pada 7
Januari 2010
Kuku
Bima
Targetkan
Sales
1,2
M
Sachet,
http://mix.co.id/index.php?option=com.content&task=view&id=190,
diakses pada 30 Desember 2009
Mbah
Maridjan,
Lelaki
Pemberani
Versi
Kuku
Bima
http://berita.liputan6.com/lain-lain/200607/126259/class=”vidico”,
Ener-G,
diakses
pada 4 Januari 2010
Paralegal Bagi Kaum Miskin dan Termarjinalkan, Zulkifli Mohamad, http://uramacorner.blogspot.com/paralegal/bagi/kaum/miskin/dan/termarjinalkan.html,
diakses pada 10 April 2010.
Jurnal Ilmiah
Andreasse, Lars, Line Brandt and Jes Vang. “Agency”. Cognitive Semiotic issue 0.
Spring. 2007: pg 4.
cxxx
Helsinki, Finland. The secret of rendering signs effective: the import of C. S. Peirce’s
semiotic rhetoric. The Public Journal of Semiotics, halm 5, Juli 2007.
Leak, Andrew. Phago-citations: Barthes, Perec, and the Transformation of
Literature, Review of Contemporary Fiction. Spring. 2009: Vol.29, Iss. 1;
pg 25 & 124
Majalah
Swa, No.10/XXV/14-27 Mei 2009, halm. 44 dan 62
Cakram Komunikasi, edisi Januari 2003, halm. 9
cxxxi
Download