Pengaruh Padat Tebar Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Patin

advertisement
Pengaruh Padat Tebar Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Patin
(Pangasius pangasius)
Effect of stocking density on the growth rate patin fish (Pangasius pangasius)
Andreas H. Marpaung(1), Syammaun Usman(2), Indra Lesmana(2)
(1) Mahasiswa program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, (E-mail : [email protected])
(2) Pengajar Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara
ABSTRACT
Patin fish is one of cultivication fish which familiar and have high economical price
in Indonesia. Intensive cultivication can be done bya optimizing the stocking density.
This research aims to determine optimum stocking density with an average length is
10 cm and weight is 5 gr. Patins are use as much as 324 fishes and maintenance
container use are 9 aquariums with size 40 cm x 20 cm x 20 cm and the volume water
are 12 liters each aquarium. The method use is Completly Randomize Design with
the treatment of stocking density 1 fish/liter (P1); 3 fish/liter (P2); 5 fish/liter(P3).
Ended treatment showed length P1 12,34 cm; P2 12,01 cm; P3 11,76 cm and weight
P1 7,49 gr; ; P2 7,08 gr; P3 6,71 gr. Stocking density significantly affected on the
length and weight growth rate.
Keywords : Pangasius pangasius, patin, stocking density, growth rate
PENDAHULUAN
Perikanan adalah semua kegiatan
yang berhubungan dengan pengelolaan
dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan
lingkungannya,
mulai
dari
praproduksi, produksi, pengolahan
sampai dengan pemasaran yang
dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis
perikanan, hal ini didasarkan pada
Undang-Undang Nomor 45 Tahun
2009 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 2004
tentang perikanan.
Menurut Mandiri Tani (2009)
ikan merupakan salah satu sumber
makanan yang sangat digemari
masyarakat
karena
mengandung
protein yang cukup tinggi dan
dibutuhkan oleh manusia untuk
pertumbuhan.
Subsektor perikanan merupakan
pemegang peranan yang sangat
penting dalam penyediaan kebutuhan
protein
bagi
rakyat
Indonesia.
Produksi ikan mencapai kurang lebih 2
juta ton per tahun, sebagian besar 74%
yaitu berasal dari laut dan sisanya 26%
dari perairan tawar (Mariyono dan
Sundana, 2002).
Usaha perbaikan kualitas ikan
sangat diperlukan untuk meningkatkan
produksi
dan
keuntungan
pembudidaya ikan. Induk dan benih
yang memiliki mutu tinggi mutlak
diperlukan dalam kegiatan budidaya
karena dari induk unggul diharapkan
didapatkan benih yang berkualitas
pula. Benih berkualitas dapat dilihat
dari tingkat pertumbuhannya yang
cepat, FCR rendah, tahan terhadap
penyakit sehingga nantinya dapat
menekan
biaya
produksi
dan
meningkatkan
keuntungan
pembudidaya (Setiyono dkk, 2012).
Menurut Hepher dan Pruginin
(1981), peningkatan kepadatan akan
diikuti
dengan
penurunan
pertumbuhan (critical santding crop)
sehingga pada kepadatan tertentu
pertumbuhan akan terhenti karena
telah mencapai titik carrying capacity
(daya dukung lingkungan). Untuk
memperoleh hasil yang optimal,
peningkatan kepadatan harus juga
diikuti dengan peningkatan carrying
capacity.
Salah
satu
cara
meningkatkan carrying capacity yaitu
dengan
pengelolaan
lingkungan
budidaya melalui sistem resirkulasi.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada
bulan Oktober 2016 – November 2016,
bertempat di Laboratorium Budidaya
Perairan, Program Studi Manajemen
Sumberdaya
Perairan,
Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah akuarium untuk
pemeliharaan ikan patin dengan
ukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm
sebanyak 9 buah, pompa air, pH meter,
DO meter, termometer, ammoniak tes
kit,
kertas milimeter, timbangan
digital dan rak kayu.
Sedangkan bahan-bahan yang
digunakan antara lain ikan patin
dengan ukuran panjang rata-rata 10
cm/ekor dan bobot rata-rata 5
gram/ekor sebanyak 324 ekor.
Prosedur Penelitian
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang
digunakan adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan
dan masing-masing perlakuan diulang
sebanyak 3 kali yang disusun secara
acak dengan perlakuan sebagai
berikut:
 Perlakuan 1 dengan padat tebar 1
ekor/liter (P1)
 Perlakuan 2 dengan padat tebar 3
ekor/liter (P2)
 Perlakuan 3 dengan padat tebar 5
ekor/liter (P3)
Rancangan ini digunakan karena
keragaman kondisi lingkungan, alat,
bahan dan media yang digunakan
adalah homogen atau letak/posisi
masing-masing
unit
tidak
mempengaruhi hasil-hasil percobaan,
dan percobaan ini dilakukan pada
kondisi terkendali atau setiap unit
percobaan
secara
keseluruhan
memiliki peluang yang sama besar
untuk menempati akuarium percobaan.
Persiapan Alat dan Bahan
Akuarium yang akan digunakan
dicuci menggunakan larutan detergen
kemudian dibilas dengan bersih dan di
isi air bersih dan diaerasi selama 24
jam. Kemudian media filter disusun
didalam bak filter dan dilakukan
pengisian ulang air ke dalam
akuarium, bak penampungan, dan bak
filter. Sebelum ikan ditebar, sistem
sirkulasi yang telah disusun dijalankan
terlebih dahulu selama 7 hari agar
debit dari air inlet dan outlet sama atau
stabil dan kandungan kaporit dalam air
yang digunakan menurun, karena
sumber air yang digunakan berasal
dari air PAM. Selama penelitian atau
40 hari akan dilakukan pergantian air
setinggi 3 cm dari tinggi air di
akuarium atau 20% dari volume air
pemeliharaan di akuarium atau
sebanyak 2,4 liter setiap 4 hari sekali
untuk membersihkan bak filter, bak
penampungan
serta
mengurangi
kotoran dan menjaga kualitas air
media pemeliharaan agar tetap sesuai
dengan kualitas air yang dibutuhkan
oleh ikan patin dan membersihkan bak
filter.
Penebaran Ikan Uji
Ikan yang digunakan adalah ikan
patin.
Sebelum
ditebar,
ikan
disterilisasi dengan cara direndam
dalam larutan blue copper sebanyak 5
ml dalam 20 liter air selama 3 detik
dilakukan pengukuran kualitas air
pemeliharaan
dan
kemudian
aklimatisasi terlebih dahulu terhadap
media dan lingkungan pemeliharaan.
Setelah proses adaptasi maka ikan
ditebar kedalam 9 akuarium, dengan
kepadatan masing-masing 1 ekor/liter,
3 ekor/liter dan 5 ekor/liter dengan
bobot 5 gr/ekor.
Pemberian Pakan
Pakan yang digunakan adalah
pakan komersil dengan kandungan
protein 30% dengan frekuensi
pemberian pakan 3 kali dalam satu hari
yaitu pukul 09.00, 13.00 dan 18.00
WIB dengan jumlah pemberian pakan
5% dari bobot ikan per hari.
Kualitas Air
Parameter
kualitas
air
pemeliharaan
ditentukan
dengan
mengukur parameter kualitas air
selama penelitian yang terdiri dari
parameter fisika dan kimia yang telah
ditentukan yaitu pH, ammonia, DO,
suhu. Data ini digunakan untuk
menentukan kelayakan kualitas air
media pemeliharaan selama penelitian
apakah masih memenuhi baku
kelayakan
hidup
ikan
patin.
Pengukuran suhu dan DO dilakukan
setiap hari sedangkan pengukuran
kandungan
Ammonia
dan
pH
dilakukan setiap 10 hari sekali dengan
menggunakan Ammonia testkit dan pH
meter. Pengukuran ammonia dilakukan
dengan mengambil sampel dari setiap
perlakuan
sebelum
dilakukan
pergantian air.
Pengumpulan Data
Tingkat Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup (SR) adalah
perbandingan jumlah ikan yang hidup
hingga akhir pemeliharaan dengan
jumlah ikan pada awal pemeliharaan.
Untuk menghitung kelangsungan
hidup (SR) digunakan rumus dari
Goddard (1996):
𝑁𝑡
SR =
x 100 %
𝑁0
Keterangan :
SR : kelangsungan hidup benih (%)
Nt : jumlah ikan pada akhir penelitian
(ekor)
N0 : Jumlah ikan pada awal penelitian
(ekor)
Pengukuran Pertumbuhan Bobot
Laju pertumbuhan bobot menjadi
parameter utama dalam budidaya ikan
patin. Pengukuran pertumbuhan bobot
dilakukan setiap 10 hari dan dengan
pengambilan contoh ikan sampel
sebanyak 50 % dari jumlah ikan uji
pada setiap wadah percobaan. Laju
pertumbuhan bobot (ΔW) dihitung
dengan rumus (Effendie, 1997):
ΔW= Wt – W0
Keterangan:
ΔW = Laju pertumbuhan bobot
harian (%)
Wt
= Bobot rata-rata ikan pada
saat akhir (gram)
W0
= Bobot rata-rata ikan pada
saat awal (gram)
Kualitas Air
Parameter kualitas air yang
diukur suhu, pH, amoniak dan DO.
Pengukuran
suhu diukur dengan
menggunakan thermometer pada pagi,
siang, dan sore hari. PH diukur dengan
menggunakan pH meter dalam rentang
waktu 10 hari sekali. Ammonia diukur
dengan menggunakan ammonia testkit.
DO diukur dengan menggunakan DO
meter.
Analisis Data
Untuk
mengetahui
apakah
pengaruh
perlakuan
terhadap
parameter yang diamati berpengaruh
nyata atau tidak kemudian dilakukan
uji analisis ragam (ANOVA) dan uji F
pada selang kepercayaan 95%. Jika
ada perbedaan nyata, maka akan diuji
lanjut dengan menggunakan BNJ
(Beda Nyata Jujur)
pada selang
kepercayaan 95% dan selanjutnya data
akan disajikan dalam bentuk tabel dan
grafik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh data berupa pertumbuhan
panjang (cm), pertumbuhan berat (gr),
kelangsungan hidup (%) dan data hasil
pengamatan kualitas air selama
penelitian.
Pertumbuhan Panjang Ikan Patin
Laju pertumbuhan ikan patin
yang diperlihara selama 40 hari pada
setiap perlakuan P1, P2 dan P3
berturut – turut adalah 2,32 cm, 2 cm
dan 1,74 cm. Laju pertumbuhan
panjang tertinggi terdapat pada
perlakuan P1 yakni sebesar 2,32 cm
sedangkan laju pertumbuhan panjang
terkecil terdapat pada P3 1,74 cm
yakni sebesar seperti pada Gambar 1.
3
Panjjang Rata-Rata (cm)
Pengukuran Pertumbuhan Panjang
Pengukuran panjang dilakukan
setiap 10 hari. Pengukuran dilakukan
dengan
menggunakan
kertas
milimeter.
Dengan
pengambilan
contoh ikan sampel sebanyak 50 %
dari jumlah ikan uji pada setiap wadah
percobaan. Laju pertumbuhan panjang
dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut (Effendie, 1997) :
ΔL = Lt – L0
Keterangan:
ΔL = Pertumbuhan panjang (cm)
Lt = Panjang rata-rata akhir (cm)
L0 = Panjang rata-rata awal (cm)
2,32
2
1.74
2
1
0
P1
Perlakuan
P2
P3
Berdasarkan
pengamatan
peningkatan
padat
tebar
yang
diberikan terhadap ikan patin juga
mempengaruhi laju pertumbuhan
Tabel
1.
Panjang
Perlakuan
Rata-rata
P1
P2
P3
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
0
10.02
10.01
10.01
(cm)
2,45
Bobot Rata - Rata (gr)
2,05
Ikan
Patin
Panjang Hari Ke- (cm)
10
20
30
10.72
11.10
11.91
10.47
10.95
11.44
10.32
10.65
11.11
Pertumbuhan Bobot Ikan Patin
Laju pertumbuhan bobot yang
dipelihara pada tingkat kepadatan P1,
P2 dan P3 berturut – turut adalah 2,45
gr, 2,05 gr dan 1,68 gr. Laju
pertumbuhan bobot tertinggi ada pada
perlakuan P1 yaitu 2,45 gr sedangkan
laju pertumbuhan bobot terendah
terdapat pada perlakuan P3 yaitu 1,68
gr. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 5.
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
panjang ikan patin selama
pemeliharaan 40 hari.
Selama
40
12.34
12.01
11.76
Penelitian
ΔL
2.32
2.00
1.74
Berdasarkan pengamatan dan
sampling yang dilakukan, peningkatan
padat penebaran yang diberikan
terhadap ikan patin mempengaruhi laju
bobot ikan patin selama masa
pemeliharaan 40 hari (Lampiran 3)
seperti pada Gambar 6. Grafik
menunjukkan pada setiap sampling
dilakukan nilai pertambahan bobot
tertinggi diperoleh pada P1 kemudian
diikuti perlakuan P2 dan perlakuan P3
memiliki nilai bobot terendah.
1,68
P1
P2
Perlakuan
P3
Tabel 2. Bobot Rata-rata (gr) Ikan Patin Selama Penelitian
Perlakuan
Rata-rata
P1
P2
P3
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
0
5.04
5.03
5.02
masa
Bobot Hari Ke- (gr)
10
20
30
5.65
6.49
7.07
5.41
6.2
6.65
5.35
5.68
6.2
40
7.49
7.08
6.71
ΔW
2.45
2.05
1.68
Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup ikan
patin yang dipelihara dengan tingkat
kepadatan 1 ekor/liter (P1), 3 ekor/liter
(P2), dan 5 ekor/liter (P3) selama 40
hari berkisar 88,89% – 80,56%. Nilai
tertinggi dicapai pada perlakuan P1
sebesar 88,89% dan nilai terendah
pada perlakuan P3 sebesar 80,56%
atau untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 7.
88,89
Kelangsungan Hidup (%)
90
84,26
85
80,56
80
75
P1
P2
Perlakuan
P3
Pembahasan
Pertumbuhan
merupakan
pertambahan ukuran panjang, berat
maupun volume dalam waktu tertentu
(Susanto, 1997). Laju pertumbuhan
panjang tertinggi dan pertumbuhan
bobot tertinggi terdapat pada perlakuan
P1 yaitu berturut – turut 2,32 cm dan
2,45 gr sedangkan laju pertumbuhan
panjang dan pertumbuhan bobot
terendah terdapat pada perlakuan P3
yaitu 1,743 cm dan 1,68 gr.
Berdasarkan
uji
lanjut
(BNJ)
menunjukkan bahwa perlakuan P1
berbeda nyata dengan perlakuan P3.
Pertambahan panjang pada ikan
patin diiringi dengan pertambahan
bobot ikan tersebut atau laju
pertumbuhan panjang berbanding lurus
dengan pertumbuhan bobot ikan patin
hal ini dapat dilihat pada lampiran 2
dan lampiran 3. Semakin besar nilai
koefisien keragaman panjang maka
dalam populasi tersebut ukuran antar
individu akan semakin beragam.
Keseragaman ukuran ikan dalam suatu
populasi sangat penting karena apabila
terjadi keragaman yang tinggi maka
kompetisi yang terjadi didalamnya
semakin tinggi pula dalam hal ini
adalah kompetisi perebutan ruang
gerak.
Penurunan
nilai
laju
pertumbuhan panjang, pertumbuhan
panjang mutlak dan nilai koefisien
keragaman ikan yang tinggi diduga
karena ruang gerak ikan yang semakin
sempit dengan meningkatnya padat
penebaran. Hal tersebut sesuai dengan
pernyataan Wedemeyer (1996) bahwa
peningkatan padat penebaran akan
mengganggu proses fisiologi dan
tingkah laku ikan terhadap ruang gerak
yang
pada
akhirnya
dapat
menurunkan
pertumbuhan
dan
kelangsungan hidup ikan. Rata – rata
ikan yang mati adalah ikan yang
berukuran kecil karena adanya
kompetisi dengan ikan yang berukuran
lebih besar dalam perebutan ruang
gerak. Sehingga ikan yang berukuran
lebih besar mendominasi ruang gerak.
Hal ini yang menyebabkan ikan yang
berukuran kecil menjadi terhambat
pertumbuhannya
sehingga
pertumbuhan panjang mutlak ikan
menurun dan koefisien keragamannya
tinggi.
Kualitas air juga menjadi salah
satu
faktor
pendukung
pada
pertumbuhan ikan patin, dimana pada
penelitian diperoleh kualitas air antara
lain suhu 28oC - 30 oC, pH 6,5 – 7,3 ,
DO 5,2 – 7,0 dan amoniak 0 – 0,1.
Sedangkan menurut Kordi (2005) ikan
patin hidup pada pH 6,5 – 9,0 dan suhu
berkisar 25 oC – 33 oC.
Jumlah pakan yang diberikan
pada setiap perlakuan adalah sama
yakni sebesar 5 % daari bobot tubuh
ikan patin setiap harinya. Pertumbuhan
akan semakin cepat jika makanan yang
diberikan sesuai dengan kebutuhan
ikan, sedangkan jika pakan diberikan
secara berlebih kedalam wadah
pemeliharaan maka mengakibatkan
penurunan kualitas air. Kandungan
gizi dalam pakan juga mempengaruhi
pertumbuhan ikan. Dalam penelitian
ini pakan yang digunakan adalah
pakan buatan jenis FF999 yang biasa
digunakan oleh pembudidaya.
Pemeliharaan pada penelitian ini
menggunakan pakan pellet ikan,
sedangkan pada habitat aslinya patin
termasuk hewan omnivora. Kualitas
air media budidaya dipengaruhi oleh
kandungan amoniak didalamnya.
Penurunan
kualitas
air
dapat
menyebabkan
ikan
stres
yang
kemudian dapat mengganggu laju
pertumbuhan ikan.
Penurunan kualitas air juga dapat
disebabkan karena pemberian jumlah
pakan
yang
berlebih
sehingga
menyebabkan pakan tersisa dan tidak
termakan oleh ikan. Pakan yang tersisa
akan terakumulasi menjadi racun dan
toksik bagi ikan budidaya karena
adanya proses penguraian bahan
organik dimana proses tersebut
dilakukan oleh bakteri anerob yang
menggunakan oksigen terlarut dalam
air
untuk
membantu
proses
dekomposisi.
Sumpono
(2005)
menyatakan bahwa meningkatnya
konsentrasi amoniak selain disebabkan
oleh
semakin
tingginya
padat
penebaran juga dipengaruhi oleh
waktu pemeliharaan.
Kematian ikan terjadi akibat dari
persaingan yang timbul dari tingkat
kepadatan yang tinggi sehingga
kepadatan menjadi salah satu faktor
pembatas terhadap kelangsungan
hidup ikan. Hal ini dapat juga terjadi
karena perlakuan pada padat tebar
tertinggi telah melampaui daya dukung
perairan. Daya dukung merupakan
salah satu kemampuan suatu perairan
untuk dapat mendukung kehidupan
biota dalam perairan tanpa menambah
atau
mengurangi
biomasssanya.
Peningkatan padat penebaran akan
mengganggu tingkah laku ikan ikan
terhadap ruang gerak yang pada
akhirnya
dapat
menurunkan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup.
Selama pemeliharaan terjadi
kematian
ikan
pada
beberapa
perlakuan. Hal ini terjadi pada hari
pertama penelitan hingga hari ke
empat puluh. Persaingan ruang gerak
mengakibatkan banyak ikan patin mati
terutama pada perllakuan 5 ekor/liter.
Nilai kelangsungan hidup ikan patin
pada akhir penelitian berkisar antara
88,89% - 80,56%, berdasarkan hasil
analisis ragam diperoleh bahwa padat
tebar ikan patin P1, P2 dan P3 yang
dipelihara selama 40 hari. Pada
pemeliharaan ini tingkat kelangsungan
hidup menunjukkan bahwa perlakuan
padat tebar ikan hingga 5 ekor/liter
menunjukkan tingkat kematian yang
paling banyak.
Nilai
kualitas
air
juga
mempengaruhi terhadap kematian
ikan, menurut Kordi (2005) ikan patin
hidup pada pH 6,5 – 9,0 dan suhu
berkisar 25 oC – 33 oC, dari hasil
penelitian yang telah dilakukan nilai
kualitas air yang didapat yaitu pH 5,1
– 7,3, suhu 28 oC – 30 oC. Penurunan
pH disebabkan oleh peningkatan CO2
akibat respirasi sedangkan jumlah O2
berkurang akibat respirasi dan
perombakan zat organik melalui proses
oksidasi yang memerlukan oksigen.
Sebagaimana makhluk hidup
lainnya,
ikan
membutuhkan
linngkungan yang nyaman agar dapat
hidup.
Berdasarkan
pengukuran
kualitas air media pemeliharaan, nilai
DO selama masa pemeliharaan
berkisar antara 4,7 – 7,0 mg/L. nilai
DO 7 mg/L hanya terdapat pada awal
pemeliharaan yang kemudian terus
menerus
turun
hingga
diakhir
pemeliharan terdapat nilai 4,7 mg/L
yang terdapat pada P3. Pada
pengukuran DO dan pH terjadi
penurunan sedangkan pada amoniak
terjadi peningkatan di setiap perlakuan
yang diberikan hal ini disebabkan
karena akuarium sebagai wadah
pemeliharaan terhubung antara satu
sama lain.
Pada parameter ammonia terjadi
peningkatan nilai. Nilai terendah
hanya
terdapat
pada
awal
pemeliharaan
kemudian
terus
mengalami peningkatan hingga hari ke
empat puluh pemeliharaan sebesar
0,01 mg/L. hasil dari pengukuran
amoniak juga menunjukkan kadar dari
setiap
perlakuan
adalah sama.
Sedangkan hasil pengukuran suhu
selama pemiliharaan berkisar 28 oC –
30 oC. Pada parameter suhu
mengalami fluktuasi sesuai dengan
kondisi lingkungan dan cuaca, namun
tidak terjadi perubahan suhu drastis
selama pemeliharaan karena dilakukan
pada lingkungan yang terkontrol. Hasil
pengukuran suhu juga menunjukkan
nilai yang sama pada setiap perlakuan.
Suhu juga merupakan salah satu
parameter
yang
menentukan
keberhasilan
budidaya.
Suhu
merupakan faktor penting yaitu
sebagai controlling factor yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup
dan
pertumbuhan
ikan.
Ikan
merupakan hewan berdarah dingin
yang berarti suhu tubuh dipengaruhi
oleh
lingkungan
sekitarnya.
Peningkatan suhu dapat menyebabkan
peningkatan
konsumsi
oksigen.
Peningkatan suhu perairan sebesar 10
o
C
menyebabkan
terjadinya
peningkatan konsumsi oksigen oleh
organisme akuatik sebesar 2 – 3 kali
lipat.
Menurut
Goddard
(1996)
menyebutkan bahwa kualitas air
menurun seiring peningkatan padat
tebar yang diikuti oleh penurunan
tingkat pertumbuhan. Namun jika
kondisi
lingkungan
dapat
dipertahankan dengan baik dan
pemberian pakan yang cukup,
kepadatan ikan yang tinggi akan
meningkatan
produksi.
Padat
penebaran dan pertukaran air akan
sangat mempengaruhi pertumbuhan,
kelangsungan hidup dan efisensi
pakan. Oksigen
yang semakin
berkurang dapat ditingkatkan dengan
pergantian air dan pemberian aerasi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa
1. Padat penebararan berpengaruh
nyata terhadap laju pertumbuhan
panjang dan bobot ikan patin yang
dipelihara selama 40 hari masa
penelitian
2. Berdasarkan hasil uji lanjut
perlakuan P1 berbeda sangat nyata
dengan P2 dan P3 sehingga
diperoleh perlakuan terbaik adalah
perlakuan P1. Jadi padat tebar
optimal pada pemeliharaan ikan
Patin adalah 1 ekor/liter
Saran
Perlu
dilakukan
penelitian
lanjutan ukuran benih ikan patin yang
lebih kecil atau dengan perlakuan di
bawah 1 ekor/liter untuk mengetahui
apakah pada tingkat padat penebaran
yang lebih kecil masih memiliki
pengaruh terhadap pertumbuhan ikan
patin.
DAFTAR PUSTAKA
Achyar, M. 1979. Perikanan Darat.
Indonesia Membangun. V. Mosa.
Bandung
Affiatti, N.A, Lim. 1986. Pengaruh
Saat Awal Pemberian Pakan
Alami Terhadap Pertumbuhan dan
Kelangsungan Hidup Benih Ikan
Gurami (Osphronemus gouramy).
Bull. Penel. Perik. Darat. 5(1):
hlm 66 - 69
Anggorodi. 1990. Ilmu dan Makanan
Ternak Umum. Gramedia. Jakarta.
Bardach J.E, J.H Ryther dan W.O
McLarney. 1972. Aquaculture :
The Farming and Husbandry of
Fresh
Water
and
Marine
Organism. John Wiley and Sons.
New York
Effendie,
M.I.
1985.
Biologi
Perikanan. Bagian I : Study
Natural
History.
Jurusan
Manajemen Sumberdaya Perairan.
Fakultas
Perikanan.
Institut
Pertanian Bogor, Bogor. 163 hal.
Effendie,
M.I.
1997.
Metode
Perancangan Percobaan. CV.
Amrico. Bandung.
Effendie,
M.I.
2002.
Perikanan.
Yayasan
Nusantara. Yogyakarta.
Biologi
Pustaka
Fujaya, Y. 2008. Fisiologi Ikan Dasar
Pengembangan
Teknologi
Perikanan.
Rineka
Cipta.
Jakarta.
Goddard, S. 1996. Feed Management
in
Intensive
Aquaculture.
Chapman and Hall. New York.
Hatimah, S.W. 1992. Penelitian
Pendahuluan Budidaya. Buletin
Penelitian Perikanan Darat,
Vol. 8 Nomor 1. Balai
Penelitian
Perikanan
Air
Tawar. Bogor.
Hepper, B dan Y. Pruginin. 1981.
Commercial Fish Farming :
with Special Reference to Fish
Culture in Israel. John Wiley
and Sons. New York.
Kordi, M. Ghufran. 2005. Budidaya
Perairan. Citra Aditya Bakti.
Yogyakarta.
Mariono dan A. Sundana. 2002.
Teknik
Pencegahan
dan
Pengobatan Penyakit
Bercak Merah Pada Ikan Air
Tawar yang Disebabkan Oleh
Bakteri Aeromonas hydropilia.
Buletin Teknik Pertanian Vol.
7 Nomor 1 Hal 33.
Santoso, Budi. 1996. Budidaya Ikan
Nila. Kanisius. Yogyakarta.
Serdiati. 1988. Pengaruh Padat
Penebaran Terhadap Pertumbuhan
Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang
dipelihara dalam Keramba pada
Kolam dengan Input Air Limbah
Rumah Tangga. Skripsi. Fakultas
Peternakan.
Universitas
Hassanudin. Ujung Pandang.
Setiawan, D.H. 2009. Petunjuk
Lengkap Budidaya Ikan Air
Tawar.
Agromedia
Pustaka.
Jakarta.
Setiyono, D.J dan Maria Ulfah. 2011.
Pembenihan Ikan Patin. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sugianto. 2007. Metode Pengolahan
Data. Bandung
Sumpomo. 2005. Pengelolaan Pakan,
Lingkungan Dan Pengendalian
Penyakit.
Litkayasa Balai Budidaya Air Tawar
Situbondo. Situbondo.
Suresh, A.V., dan Lin, C.K. 1992.
Effect of Stocking Density on
Water Quality and Production of
Red Tilapia in a Recirculated
Water
System.
Aquacultural
Engineering.
Susanto, Heru dan Khairul Amri.
1997. Budidaya Ikan Patin.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sutikno, E. 2011. Pembuatan Pakan
Buatan Ikan Bandeng. Jurnal
Direktorat Jendral Perikanan
Budidaya.
Balai
Besar
Pengembangan Budidaya Air
Payau Jepara.
Tim
.
Karya Tani Mandiri. 2010.
Pedoman
Budidaya
Secara
Hidroponik. CV Nuansa Alia.
Bandung
Timmons, M.B., dan Losordo, T.M.
1994. Aquaculture Water Resue
System : Engineering Design
and Management. Elsevier
Science.
Amsterdam
Netherland.
Undang-Undang Nomor 45 Tahun
2009 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 31
Tahun 2004 tentang perikanan.
Vesilind, P., A., J., J Pierce dan
R.F.
Weiner.
1993.
Environtment
Engineering.
Butterworth-Heineman. New
York
Wedemeyer, G.A. 1996. Physiology
of
Fish
in
Intensive
Aquaculture Systems. Chapman
and Hall. New York.
Zonneveld, N. E. A., Huisman dan
J.H. Boon. 1991. Prinsip –
Prinsip Budidaya Ikan. PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Download