BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Kajian Belajar a

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kajian Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan
penting dalam pembentukan pribadi dan pelaku individu. Sebagian besar
perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.
Menurut Slameto dalam Syaiful Bahri Djamarah (2003:13) “belajar
adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Dari pengertian ini dapat penulis pahami bahwa belajar pada dasarnya
adalah proses untuk memperoleh hal atau pengetahuan baru sehingga
seorang individu bisa mengalami perubahan tingkah laku atau yang
lainnya karena pengetahuan atau ilmu yang di peroleh.
Pendapat lain juga dikemukakan oleh Sardiman A. M. (2014:21) yang
menyatakan bahwa, “belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga,
psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya,
yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik”.
Selanjutnya pengertian belajar menurut Cronbath dalam Sumardi
Suryabrata (2006: 231) “Learning is shown by a change in behaviouris a
result of experience” belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan
mengalami
dan
dalam
mengalami
itu
si
pelajar
menggunakan
pancainderanya”. Menurut pendapat ini belajar yang paling baik adalah
dengan mengalami atau mempraktikkan apa yang akan di pelajari, karena
dengan ini seseorang akan belajar merasakan dan dengan mudah akan
10
11
menanamkan pemahamannya dengan mengalami langsung. Misalnya
seseorang akan lebih nyaman bila belajar menggunakan komputer/ laptop
dengan langsung mempraktikannya daripada dia hanya belajar teorinya
saja.
Dari berbagai pendapat dan pengetian belajar diatas, dapat peneliti
simpulkan bahwa belajr merupakan suatu proses perubahan perilaku yang
dialami oleh seorang individu, yang mana perubahan perilaku itu terjadi
karena pengalaman-pengalaman yang telah dialami oleh seseornag.
Perilaku tersebut juga terjadi karena adanya proses interaksi yang
berlangsung lama/ terus menerus, dalam melakukan interaksi dengan
lingkungan sekitar maka seorang individu bisa memperoleh perilaku yang
berbeda-beda antara satu sama lain. Dengan proses belajar yang baik,
maka seseorang bisa memperoleh keterampilan baru, pengetahuan baru,
sikap dan nilai yang nantinya hasil belajar yang diperoleh bisa
menjadikannya lebih baik dan berguna bagi orang-orang dan lingkungan
di sekelilingnya.
b. Faktor - faktor yang mempengaruhi belajar
Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua
situasi yang ada di sekitar individu peserta didik. Belajar dapat dipandang
sebagai proses yang diarahkan kepada pencapaian tujuan dan proses
berbuat melalui berbagai pengalaman yang diciptakan guru sebagai
pendidik. Dalam kegiatan belajar pasti ada sesuatu yang ingin dicapai
yaitu prestasi belajar peserta didik sebagaimana yang diharapkan oleh
peserta didik itu sendiri, guru sebagai pendidik dan juga orang tua.
Prestasi belajar yang tinggi merupakan salah satu indikator keberhasilan
proses belajar. Namun pada kenyataannya tidak semua peserta didik bisa
mendapatkan prestasi belajar yang tinggi dan masih terdapat peserta didik
12
yang mendapatkan prestasi belajar yang rendah. Hal ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang mempengaruhi belajar.
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2004: 162-163) faktor- faktor
yang mempengaruhi belajar yaitu:
1) Faktor dalam diri individu
2) Faktor lingkungan
Hal tersebut memiliki pengertian sebagai berikut:
1) Faktor dalam diri individu
Faktor yang ada dalam diri individu ada dua yaitu:
a) Faktor jasmaniah, mencakup kondisi dan kesehatan jasmani
dari individu. Tiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda.
Kondisi fisik meliputi kelengkapan dan kesehatan alat indra.
Alat indra yang penting dalam proses belajar adalah
penglihatan dan pendengaran. Seseorang yang memiliki
penglihatan atau pendengaran yang kurang baik akan
berpengaruh kurang baik juga terhadap usaha dan hasil
belajarnya, karena kesehatan merupakan syarat mutlak bagi
keberhasilan belajar.
b) Faktor
rohaniah,
mencakup
kondisi
kesehatan
psikis,
kemampuan – kemampuan intelektual, sosial, psikomotor,
serta kondisi afektif dan kognitif dari individu. Seseorang yang
sehat rohaninya adalah orang yang terbebas dari tekanantekanan batin yang mendalam, gangguan – gangguan perasaan,
kebiasaan – kebiasaan buruk yang mengganggu, frustasi/ stress
atau konflik –konflik psikis.
2) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi dua macam yaitu:
13
a) Faktor lingkungan Sosial
Faktor lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar siswa
adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga merupakan
lingkungan pertama dalam pendidikan, memberikan landasan
dasar bagi proses belajar pada lingkungan sekolah dan masyarakat.
Lingkungan sekolah juga memiliki peranan penting dalam
perkembangan belajar para peserta didik. Sekolah yang kaya akan
aktivitas
dan
memiliki
kegiatan
baik
kurikuler
maupun
ekstrakurikuler akan mendorong para peserta didik untuk dapat
berperan aktif juga di dalamnya. Begitu juga kondisi masyarakat di
lingkungan yang bersih, kondusif dan tertata rapi, semuanya dapat
menjadi pendorong dalam kegiatan belajar peserta didik.
b) Faktor lingkungan Non- sosial
Faktor yang termasuk dalam lingkungan non sosial adalah
rumah tempat tinggal peserta didik dan letaknya, alat – alat belajar,
gedung sekolah dan letaknya, keadaan cuaca dan waktu belajar
yang digunakan peserta didik. Khusus mengenai waktu yang
biasanya digunakan untuk belajar seperti pagi atau sore hari,
seorang ahli bernama J. biggers berpendapat bahwa belajar seperti
pagi hari lebih efektif dari pada belajar pada waktu – waktu
lainnya. Menurut penelitian beberapa ahli gaya belajar (learning
style), hasil belajar itu tidak bergantung pada waktu secara mutlak,
tetapi bergantung pada waktu yang cocok dengan kesiapan peserta
didik.
c. Macam- Macam Prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar yang relatif berlaku umum berkaitan dengan
perhatian
dan
motivasi,
keaktifan,
keterlibatan
langsung/
berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta
perbedaan individual.
14
1) Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar.
Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan
pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlakukan
untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan seharihari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Motivasi
adalah tenaga yang digunakan untuk menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Menurut H.L. Petri dalam Cepi Riyana, dkk
(2011: 22) bahwa, “motivation is the concept we use when we describe
the force on or within an organism to intiate and direct behavior”.
Motivasi dapat merupakan tujuan pembelajaran. Sebagai alat, motivasi
merupakan salah satu faktor seperti halnyaa intelegensi dan prestasi
belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa
dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.
Motivasi erat kaitannya dengan minat. Siswa yang memiliki
minat terhadap suatu bidang studi tertentu cenderung tertarik
perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk
mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh
nilai-nilai yang dianggap penting dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut
mengubah tingkah laku dan motivasinya.
2) Keaktifan
Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak
dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak dapat dilimpahkan
kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif
mengalaminya sendiri. John Dowey dalam Cepi Riyana, dkk (2011:
23) mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus
dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang
sendiri. Guru sekedar hanya pembimbing dan pengarah. Menurut teori
kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa
15
mengolah informasi, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa
mengadakan transformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif,
konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Dalam proses belajar
mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah,
mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan
menarik kesimpulan.
Dalam setiap proses belajar siswa selalu menampakkan
keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan
psikis. Kegiatan fisik dapat berupa membaca, mendengar, menulis,
berlatih keterampilan- keterampilan, dan sebagainya. Sedangkan
kegaiatan psikis misalnya menggunakan khazanah pengetahuan yang
dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan
satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan
kegiatan psikis yang lain.
3) Keterlibatan langsung
Menurut Edgar Dale dalam Cepi Riyana, dkk (2011: 24) bahwa
dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam cone
experience atau kerucut pengalaman, mengemukakan bahwa belajar
yang paling baik adalah belajar dari pengalaman langsung. Belajar
secara langsung dalam hal ini tidak sekedar mengamati secara
langsung melainkan harus menghayati, terlibat langsung dalam
perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Belajar harus
dilakukan peserta didik secara aktif, baik individual maupun kelompok
dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru/ pendidik
bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. Keterlibatan siswa di
dalam belajar tidak hanya keterlibatan fisik semata, tetapi juga
keterlibatan emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam
pencapaian
perolehan
pengetahuan,
dalam
penghayatan
dan
16
internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga
pada
saat
mengadakan
latihan-
latihan
dalam
pembentukan
keterampilan.
4) Pengulangan
Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih dayadaya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap,
mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan
mengadakan pengulangan, maka daya-daya tersebut akan berkembang.
Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”,
Thorndike dalam Cepi Riyana, dkk (2011: 25) mengemukakan bahwa
belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan
pengulangan terhadap pengamatan- pengamatan itu memperbesar
peluang timbulnya respons belajar. Pada teori psikologi conditioning,
respons akan timbul bukan karena oleh stimulus saja tetapi oleh
stimulus yang dikondisikan, misalnya peserta didik berbaris masuk ke
kelas, sepeda motor berhenti pada saat lampu merah.
5) Tantangan
Teori Medan (field theory) dari Kurt Lewin dalam Cepi
Riyana, dkk (2011: 25) mengemukakan bahwa “siswa atau peserta
didik dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan
psikologis”. Dalam situasi peserta didik menghadapi suatu tujuan yang
ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan, yaitu dengan
mempelajari bahan belajar tersebut. Tantangan yang dihadapi dalam
bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan
belajar yang baru, yang mengandung masalah yang perlu dipecahkan
membuat siswa tertantang untuk memberikan tantangan bagi siswa
untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan
positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan
17
motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang
tidak menyenangkan.
6) Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan
terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B. F.
Skinner dalam Cepi Riyana, dkk (2011: 25). Kalau pada teori
conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada
operant conditioning yang diperkuat adalah responnya. Kunci dari
teori belajar ini adalah law of effect-nya Thorndike. Siswa belajar
sungguh- sungguh dan mendapatkan nilai yang baik itu mendorong
anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan
operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang
mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak
naik kelas. Hal ini juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat.
Inilah yang disebut penguatan negatif atau escape conditioning.
Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode
penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang
memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan.
7) Perbedaan individu
Siswa merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua
orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu
dengan yang lainnya. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di
sekolah saat ini kebanyakan kurang memerhatikan masalah perbedaan
individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan
melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata,
kebiasaan
yang
kurang
lebih
sama,
demikian
pula
dengan
pengetahuannya. Pembelajaran klasikal yang mengabaikan perbedaan
individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara, misalnya:
18
a) Penggunaan metode atau strategi belajar- mengajar yang
bervariasi,
b) Penggunaan metode instruksional,
c) Memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi
siswa pandai dan memberikan bimbingan belajar bagi anak- anak
yang kurang,
d) Dalam memberikan tugas, hendaknya disesuaikan dengan minat
dan kemampuan siswa.
d. Tipe Gaya Belajar
Menurut Rusman, Deni Kurniawan dan Cepi Riyana (2011:
33), ada beberapa tipe gaya belajar yang harus dicermati oleh guru,
yaitu: gaya belajar visual (visual learner), gaya belajar autitif
(auditory learner) dan gaya belajar kinestetik (tactual learner). Gaya
belajar tersebut memiliki penekanan-penekanan masing-masing,
meskipun perpaduan dari ketiganya sangatlah baik, tetapi pada saat
tertentu siswa akan menggunakan salah satu saja dari ketiga gaya
belajar tersebut.
1) Tipe Belajar Visual (Visual Learner)
Visual learner adalah gaya belajar di mana gagasan, konsep,
data dan informasi lainnya dikemas dalam bentuk gambar dan teknik.
Siswa yang memiliki tipe belajar visual memiliki interes yang tinggi
ketika diperlihatkan gambar, grafik, grafis organisatoris, seperti jaring,
peta konsep dan ide peta, plot, dan ilustrasi visual lainnya. Beberapa
teknik yang digunakan dalam belajar visual untuk meningkatkan
keterampilan berpikir dan belajar, lebih mengedepankan peran penting
mata sebagai penglihatan (visual). Pada gaya belajar ini dibutuhkan
banyak model dan metode pembelajaran yang digunakan dengan
menitikberatkan pada peragaan. Media pembelajarannya adalah objekobjek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara
19
menunjukkan
alat
peraganya
langsung
pada
siswa
atau
menggambarkannya di whiteboard atau papan tulis. Bahasa tubuh dan
ekspresi muka gurunya juga sangat penting peranannya untuk
menyampaikan materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di
depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan
gambar- gambar di otak dan belajar lebih cepat dengan menggunakan
tampilan- tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar,
CD interaktif, digital content, dan video (MTV). Di dalam kelas, anak
visual
lebih
suka
mencatat
sampai
detail-
detailnya
untuk
mendapatkan informasi.
2) Tipe Belajar Auditif (Auditory Learner)
Auditory learner adalah suatu gaya belajar di mana siswa
belajar melalui mendengarkan. Siswa yang memiliki gaya belajar
auditori akan mengandalkan kesuksesan dalam belajarnya melalui
telinga (alat pendengarannya), oleh karena itu guru sebaiknya
memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang
mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan
menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan penjelasan apa yang
dikatakan guru. Anak dengan belajar tipe auditori dapat mencerna
makna yang disampaikan oleh guru melalui verbal simbol atau suara,
tinggi rendahnya, kecepatan berbicara dan hal- hal auditori lainnya.
Anak- anak seperti ini dapat menghafal lebih cepat melalui membaca
teks dengan keras atau mendengarkan media audio.
3) Tipe Belajar Kinestetik ( Tactual Learner)
Tactual learner siswa belajar dengan cara melakukan,
menyentuh, merasa, bergerak, dan mengalami. Anak yang mempunyai
gaya belajar kinestetik mengandalkan belajar melalui bergerak,
menyentuh, dan melakukan tindakan. Anak seperti ini sulit untuk
duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktivitas
20
dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar seperti ini
belajarnya melalui gerak dan sentuhan. Oleh karena itu, pembelajaran
yang dibutuhkan adalah pembelajaran yang lebih bersifat kontekstual
dan praktik.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam
pembelajaran perlu suatu proses yang melibatkan potensi siswa secara
keseluruhan, yaitu potensi pendengaran, penglihatan, dan gerak
motorik. Dari kolaborasi ketiga potensi tersebut terlibat aktif baik
secara fisik maupun secara psikologis. Guru harus dapat memenuhi
kebutuhan siswa dalam belajar, sehingga belajar menjadi sesuatu yang
menarik dan menyenangkan serta tidak membosankan. Kreativitas
guru sangat dibutuhkan untuk mengkolaborasikan berbagai metode
atau multimetode, multistrategi, multimodel, multimedia, dan aktivitas
belajar sesuai dengan materi yang diajarkan sehingga siswa memiliki
kesempatan yang luas untuk beraktivitas dalam kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran yang dapat mengakses ketiga tipe gaya belajar tersebut
adalah pembelajaran yang berorientasi aktivitas siswa dengan
menggunakan berbagai macam pendekatan dan media pembelajaran.
Jadi, pembelajaran boleh saja dilakukan secara klasikal tapi
sentuhannya harus individual, artinya guru harus menyentuh siswa
yang auditif dengan ceramah dan penjelasan guru, bagi siswa yang
visual, guru menggunakan berbagai alat dan media pembelajaran
seperti media gambar, poster, OHP, LCD, CD interaktif, digital
content dan media visual lainnya, sedangkan yang tipenya kinestik
guru harus menyentuhnya dengan pengalaman langsung seperti
praktik, laboratorium, eksperimen, role playing, peragaan, observasi,
dan unsur kinestik lainnya.
21
e. Prestasi Belajar
Belajar
yang
efektif
dapat
membantu
siswa
untuk
meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan
instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar
yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal. Kondisi
internal adalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti
kesehatan, keterampilan, kemampuan dan sebagainya. Kondisi
eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia,
misalnya ruang belajar yang bersih, sarana, dan prasarana belajar yang
memadai.
Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Tulus Tu’u (2004:
75),
“prestasi
belajar
adalah
penguasaan
pengetahuan
atau
keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya
ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh
guru”. Sutratinah Tirtonegoro (2001: 43) mengemukakan bahwa,
“prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar
mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf,
maupun keterangan yang mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh
setiap anak dalam periode tertentu”.
Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh
akan membentuk kepribadian siswa, memperluas pengetahuan dan
wawasan siswa, dan meningkatkan kemampuan siswa. Bertolak dari
hal tersebut maka siswa yang aktif melaksanakan kegiatan dalam
pembelajaran
akan
memperoleh
banyak
pengalaman.
Dengan
demikian siswa yang aktif dalam pembelajaran akan banyak
pengalaman dan prestasi belajarnya meningkat. Sebaliknya, siswa
yang tidak aktif akan minim/ sedikit pengalaman sehingga dapat
dikatakan prestasi belajarnya tidak meningkat atau tidak berhasil.
22
Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan
pengertian prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang
dalam bentuk simbol (angka nilai) setelah ia melakukan perubahan
belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
f. Pengertian Prestasi Belajar Sosiologi
1) Pengertian sosiologi
Pada dasarnya sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari
tentang fenomena sosial yang ada di masyarakat. Di bawah ini
merupakan pengertian sosiologi menurut para ahli, yaitu:
a) Pitrim A. Sorokin dalam Idianto Mu’in (2004: 11) menyatakan
bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan
pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala – gejala
sosial (misalnya gejala ekonomi, moral, agama dan keluarga)
maupun gejala – gejala non sosial (misalnya gejala biologis
dan georgrafis). Dari pendapat ini dapat dipahami bahwa
sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan dan
pengaruh timbal balik dari berbagai macam gejala – gejala
yang ada di masyarakat. Dengan mempelajari sosiologi kita
dapat memahami kondisi yang ada di masyarakat.
b) Menurut F. Ogburn dan Mayer F. Nimkoff dalam Soerjono
Soekanto (2012: 20) menyatakan bahwa, “sosiologi adalah
suatu penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan
hasilnya yaitu organisasi sosial”. Dari pendapat ini dapat
dimaksudkan bahwa sosiologi adalah suatu penelitian ilmiah
terhadap gejala interaksi antara masyarakat yang satu dengan
yang lain akan membentuk suatu organisasi. Dalam organisasi
tersebut interaksi – interaksi yang terjadi antara orang yang
satu dengan orang lain akan diamati secara teliti.
23
Dari pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa
sosiologi adalah suatu penelitian ilmiah terhadap interaksi
sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial yang juga
mempelajari hubungan timbal balik antara hubungan gejala –
gejala sosial dan non sosial yang ada pada masyarakat.
2) Prestasi belajar sosiologi
Prestasi belajar merupakan hasil atau taraf kemampuan yang
telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar dalam waktu
tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan
pengetahuan sesuai dengan kompetensi belajarnya. Prestasi belajar
siswa akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam
bentuk simbol, huruf, angka maupun kalimat.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan
antar manusia yang saling berinteraksi dan membentuk kelompok
sosial. Selain itu, sosiologi juga mempelajari struktur sosial yang ada
di masyarakat.
Dapat peneliti simpulkan bahwa prestasi belajar sosiologi
adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah
mengikuti proses belajar sosiologi dalam kurun waktu tertentu.
Prestasi belajar siswa akan diukur dan dinilai yang kemudian
diwujudkan dengan bentuk simbol, huruf, angka, maupun kalimat
yang diberikan guru dalam mempelajari ilmu tentang hubungan antar
manusia yang saling berinteraksi yang dapat membentuk organisasi
sosial dan juga mempelajari gejala – gejala yang ada di masyarakat.
g. Fungsi Prestasi Belajar
Menurut Slameto (2010: 12), prestasi semakin terasa penting
untuk dipermasalahkan, karena beberapa fungsi utama prestasi belajar
antara lain:
24
1) Sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah
dikuasai anak didik,
2) Sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan
asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini
sebagai tendensi keingintahuan dan merupakan kebutuhan umum
pada manusia, termasuk kegiatan anak didik dalam suatu program
pendidikan,
3) Sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya
adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak
didik dalam meningkatkan IPTEK dan berperan sebagai umpan
balik (feedback) dalam meningkatkan mutu pendidikan,
4) Sebagai indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik.
Dalam proses belajar mengajar anak merupakan masalah utama
dan pertama, karena anak didik diharapkan dapat menyerap materi
pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.
Jika dilihat dari beberapa fungsi, fungsi prestasi belajar tidak
hanya sebagai indikator dalam keberhasilan bidang studi tertentu,
tetapi juga sebagai indikator kualitas institusi pendidikan. Disamping
itu, prestasi belajar juga berguna sebagai umpan balik bagi guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar sehingga dapat menentukan
apakah perlu mengadakan diagnosis, bimbingan atau penempatan anak
didik. Kegunaan prestasi belajar diantaranya adalah sebagai umpan
balik bagi pendidik dalam mengajar, untuk keperluan diagnosis, untuk
keperluan bimbingan dan penyuluhan, seleksi, penempatan, isi
kurikulum maupun dalam menentukan kebijaksanaan sekolah.
25
2. Kajian Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi
Seringkali, bahkan sudah umum orang menyebut dengan
“motif” untuk menunjuk mengapa seseorang itu berbuat sesuatu. Apa
motifnya si A itu rajin membaca, apa motifnya si B itu rajin mengikuti
kegiatan sosial, apa motifnya si C rajin berolahraga, dan begitu
seterusnya.
Kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai
daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif
dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal
dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya
penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat
tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat
dirasakan/ mendesak.
Menurut Azwar (2000: 15), “motivasi adalah rangsangan,
dorongan ataupun pembangkit tenaga yang dimiliki seseorang atau
sekelompok masyarakat yang mau berbuat dan bekerjasama secara
optimal dalam melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan”. Pengertian motivasi juga
disampaikan oleh Mulyasa (2003: 112), “motivasi adalah tenaga
pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kea
rah tujuan tertentu”.
Sedangkan menurut Mc. Donald dalam Sardiman A. M.
(2014:73), “motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang
yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan
tanggapan
terhadap
adanya
tujuan”.
Dari
pengertian
yang
dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yaitu:
26
(1) bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada
diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa
beberapa perubahan energi di dalam sistem “neurophysiological” yang
ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi
manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia),
penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia, (2) motivasi
ditandai dengan munculnya rasa/ “feeling” afeksi seseorang. Dalam
hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi
dan emosi yang dapat menemukan tingkah-laku manusia, (3) motivasi
akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini
sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yaitu tujuan. Motivasi
memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya
karena terangsang/ terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini
adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Dengan ketiga elemen di atas, maka dapat dikatakan bahwa
motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan
menyebabkan terjadinya suatu perubahan energy yang ada pada diri
manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan,
perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan
sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau
keinginan.
Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada seorang peserta
didik, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan,
maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu biasanya
bermacam-macam, mungkin ia sedang sakit, lapar, mengantuk, atau
mungkin media dalam pembelajaran di kelas tidak menarik dan lainlain. Hal ini berart pada diri anak tidak terjadi perubahan energy, tidak
terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu karena tidak memiliki
tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan
27
daya upaya yang dapat menemukan sebab-musababnya kemudian
mendorong peserta didik tersebut supaya mau melakukan pekerjaan
yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain, peserta
didik perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya.
Atau singkatnya perlu diberikan motivasi.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk
menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan
ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha
untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi
motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu
adalah tumbuh di dalam diri seseorang.
b. Pengertian Motivasi Belajar
Dimyati dan Mudjiono (2009: 80) berpendapat bahwa,
“Motivasi belajar adalah sesuatu kekuatan mental yang mendorong
terjadinya belajar”.
Dalam kegiatan belajar, menurut Sardiman A. M. (2012: 75)
motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di
dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada
kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar
itu dapat tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang
bersifat non- intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal
penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa
yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energy untuk
melakukan kegiatan belajar. Dapat diibaratkan misalnya seseorang itu
mengahdiri suatu ceramah, tetapi karena ia merasa tidak tertarik pada
materi yang diceramahkan, maka ia juga tidak akan memperhatikan
apalagi mencatat isi ceramah tersebut. seseorang tidak memiliki
motivasi, kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. Seorang
28
siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi gagal karena
kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi
yang tepat. Sehubungan dengan ini, maka kegagalan belajar siswa
jangan begitu saja menyalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru
tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan
semangat dari kegiatan siswa untuk berbuat/ belajar. Jadi tugas guru
bagaimana mendorong siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi.
c. Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Dengan mantapnya di siang hari yang terik, si abang becak
mengayuh becak untuk mengangkut penumpangnya, demi mencari
uang untuk anak isterinya. Dengan semangatnya seorang polisi lalu
lintas mengatur jalanan kota yang ramai oleh kendaraan. Berjam- jam
tanpa mengenal lelah para atlet badminton itu berlatih untuk
menghadapi babak final dalam kejuaraan bergengsi di dunia. Para
pelajar mengurung dirinya dalam kamarnya untuk belajar, karena akan
menghadapi ujian pada esok harinya. Serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh masing- masing pihak itu sebenarnya dilatarbelakangi
oleh sesuatu atau secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah
yang mendorong mereka untuk melakukan suatu kegiatan/ pekerjaan.
Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi.
Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi dlam belajar.
Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula
pembelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas
usaha belajar bagi para siswa dan juga memengaruhi kegiatan seperti
yang di singgung pada uraian diatas.
Sehubungan dengan hal tersebut, ada tiga fungsi motivasi
menurut Sardiman A. M. (2014: 85), yaitu:
29
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau
motor yang melepaskan energy. Motivasi dalam hal ini merupakan
motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan,
2) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak
dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan
kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan- perbuatan
apa yang harus dikerjakan yang sesuai guna mencapai tujuan,
dengan menyisihkan perbuatan- perbuatan yang tidak bermanfaat
bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian
dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar
dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk menonton televisi
atau membaca komik, sebab tidak sesuai dengan tujuan.
Selain itu, ada juga fungsi- fungsi lain. Motivasi dapat
berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang
melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi
yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan
kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari
adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat
melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa
akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
d. Macam- Macam Motivasi
Berbicara tentang macam- macam motivasi, menurut Sardiman
A. M (2014: 86) ada empat macam, yaitu:
1) Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a) Motivasi intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motifmotif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu
30
dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah
ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh
seorang siswa yang gemar membaca, ia tidak perlu disuruh
untuk mencari- cari buku dan membacanya. Kemudian kalau
dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya
kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi
intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di
dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret,
seorang siswa belajar karena betul- betul ingin mendapat
pengetahuan, ilmu, nilai, atau keterampilan agar dapat berubah
tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang
lain- lain. Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga
dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas
belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari
dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas
belajarnya.
b) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif- motif yang aktif dan
berfungsinya karena adanya perangsang atau dorongan dari
luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok
paginya akan ujian dnegan harapan mendapatkan nilai bagus,
sehingga akan dipuji oleh teman- temannya. Jadi yang penting
bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin
mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapatkan hadiah.
Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya,
tidak sesuai dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh
karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai
bentuk motivasi yang di dalam aktivitas belajar dimulai dan
31
diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara
mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.
2) Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Motivasi jasmaniah seperti refleks, insting otomatis, nafsu.
Sedangkan yang termasuk dalam motivasi rohaniah adalah
kemauan. Kemauan itu terbentuk melelui momen seperti momen
timbulnya alasan, momen pilih, momen putusan, dan momen
terbentuknya kemauan.
3) Motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
a) Motif atau kebutuhan organis meliputi kebutuhan untuk
minum, makan, bernapas, seksual, berbuat dan kebutuhan
untuk beristirahat.
b) Motif- motif darurat meliputi dorongan untuk menyelamatkan
diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, dan untuk
memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan
dari luar.
c) Motif- motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan
untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk
menaruh minat. Motif – motif ini muncul karena dorongan
untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
4) Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a) Motif – motif bawaan. Motif bawaan adalah motif yang dibawa
sejak lahir. Sebagai contoh dorongan untuk makan, dorongan
untuk minum, dorongan untuk bekerja dan dorongan untuk
istirahat. Motif- motif ini seringkali disebut motif – motif yang
disyaratkan secara biologis.
b) Motif – motif yang dipelajari. Motif ini timbul karena
dipelajari. Sebagai contoh dorongan untuk mengajar sesuatu
dalam masyarakat, dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu
32
pengetahuan. Motif – motif ini seringkali disebut dengan motif
– motif yang diisyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup
dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain.
e. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Yusuf (2009: 23) menyatakan terdapat dua faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Diuraikan sebagai berikut:
1) Faktor Internal (yang berasal dari diri individu)
a) Faktor fisik
Faktor fisik yang dimaksud meliputi: nutrisi (gizi),
kesehatan, dan fungsi – fungsi fisik (terutama panca indera).
Kekurangan gizi atau kadar makanan akan mengakibatkan
kelesuan, cepat mengantuk, cepat lelah, dan sebagainya.
Kondisi fisik yang seperti ini akan sangat berpengaruh
terhadap proses belajar siswa di sekolah. Dengan kekurangan
gizi, siswa akan rentan terhadap penyakit, yang menyebabkan
menurunnya kemampuan belajar, berfikir, atau berkonsentrasi.
Keadaan fungsi- fungsi jasmani seperti panca indera (mata dan
telinga) dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi proses
belajar. Panca indera yang baik akan mempermudah siswa
dalam meniti proses belajar di sekolah
b) Faktor Psikologis
Faktor psikologis berhubungan dengan aspek – aspek
yang mendorong atau menghambat aktivitas belajar pada
siswa. Faktor yang mendorong aktivitas belajar adalah sebagai
berikut:
(1) Rasa ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia (lingkungan )
yang lebih luas,
(2) Sifat kreatif dan keinginan untuk selalu maju,
33
(3) Keinginan untuk mendapat simpati dari orang tua, guru,
dan teman –teman,
(4) Keinginan untuk memperbaiki kegagalan dengan usaha
yang baru,
(5) Keinginan untuk mendapat rasa aman apabila menguasai
pelajaran,
(6) Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari proses
belajar.
Sedangkan faktor psikis yang menghambat adalah sebagai
berikut:
(1) Tingkat kecerdasan yang lemah,
(2) Gangguan emosional, seperti: merasa tidak aman, tercekam
rasa takut, cemas, dan gelisah.
(3) Sikap dan kebiasaan belajar yang buruk, seperti: tidak
menyukai mata pelajaran tertentu, malas belajar, tidak
memiliki waktu belajar yang teratur, dan kurang terbiasa
membaca buku mata pelajaran.
Kedua faktor yang telah dipaparkan merupakan faktor dari
dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi motivasi belajar.
2) Faktor eksternal (yang berasal dari lingkungan)
a) Faktor non – sosial
Faktor non – sosial yang dimaksud, seperti: keadaan
udara, (cuaca panas atau dingin), waktu (pagi, siang, malam),
tempat (sepi, bising, atau kualitas sekolah tempat belajar),
sarana dan prasarana atau fasilitas belajar. Ketika semua faktor
dapat saling mendukung maka proses belajar akan berjalan
dengan baik
b) Faktor sosial
34
Faktor sosial adalah faktor manusia (guru, dan orang
tua), baik yang hadir secara langsung maupun tidak langsung
(foto atau suara). Proses belajar akan berlangsung dengan baik,
apabila guru mengajar dengan cara yang menyenangkan,
seperti bersikap ramah, memberi perhatian pada semua siswa,
serta selalu membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Pada saat dirumah siswa tetap mendapat perhatian dari orang
tua, baik perhatian material dengan menyediakan sarana dan
prasarana belajar guna membantu dan mempermudah siswa
belajar di rumah.
Motivasi belajar memiliki peran yang penting dalam
mendorong kesuksesan belajar pada siswa. Guru sebagai pendidik
perlu melakukan upaya untuk mendorong semangat siswa dalam
belajar. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi motivasi
belajar siswa. Tidak semua siswa memiliki motivasi belajar yang
tinggi
Beberapa rumusan tentang faktor penyebab motivasi
belajar dapat ditemukan dalam berbagai jurnal penelitian. Menurut
Grolnick dan Ryan, 1989: Rigby et al., 1992 (Farozin, 2011: 48)
dukungan pribadi dari orang tua merupakan aspek praktis, dimana
orang tua membantu anak untuk belajar menyelesaikan masalah
(problem solving), membicarakan tentang kepercayaan diri yang
mereka miliki tentang kemampuannya, serta mendorong anak
untuk mengembangkan ide an opini mereka.
Pada proses pendidikan, motivasi belajar siswa dapat
ditumbuhkan dengan adanya: guru mata pelajaran, guru bimbingan
dan konseling/ konselor, pimpinan sekolah, dan semua komponen
35
sekolah yang mendukung kegiatan belajar siswa, metode
pembelajaran yang sesuai, materi pelajaran yang diberikan sesuai
dengan seharusnya dipelajari dan dikuasai siswa, dan penggunaan
media pembelajaran.
3. Kajian Tentang Pemanfaatan Media Video
a. Pengertian Media
Dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi (Cangara, 2006:
119), “media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak”. Ada
beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi
antarmanusia,
maka
media
yang
paling
dominasi
dalam
berkomunikasi adalah pancaindera manusia seperti mata dan
telinga.
Criticos dalam Daryanto (2010:5) berpendapat bahwa,
“Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu
sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan”.
Sedangkan menurut Heinich dalam Cepi Riyana, Dr. Rusman dan
Dr. Deni Kurniawan (2011: 169) “media merupakan alat saluran
komunikasi. Heinich mencontohkan media ini seperti film, televisi,
diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer, dan
instruktur”. Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai
media pembelajaran jika membawa pesan – pesan (messages)
dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini terlihat
antara media dengan pesan dan metode (method).
Media adalah pengantar pesan dari pengirim ke penerima
pesan, dengan demikian media merupakan wahana penyalur
informasi belajar atau penyalur pesan. National Education
Association (NEA) atau Asosiasi Teknologi dan Komunikasi
36
Pendidikan Amerika (Sadirman dkk, 2002: 6) mendefinisikan:
“media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang
untuk menyalurkan pesan/ informasi”.
Dari pendapat beberapa ahli diatas, dapat peneliti
simpulkan bahwa media adalah alat, sarana, perantara, dan
penghubung untuk menyebar, membawa, atau menyampaikan
sesuatu pasan (message) dan gagasan kepada penerima.
b. Pengertian Media Pembelajaran
Media salah satu alat komunikasi dalam menyampaikan
pesan tentunya bermanfaat jika diimplementasikan ke dalam
proses
pembelajaran.
Heinich
dkk
(Arsyad,
2010:4)
mengemukakan media pembelajaran sebagai berikut: “Batasan
medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara
sumber dan penerima. Jadi televisi, film, foto, rekaman audio,
gambar yang diproyeksikan, bahan – bahan cetakan, dan
sejenisnya adalah media komunikasi. Apabila media itu membawa
pesan – pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau
mengandung maksud – maksud pengajaran, maka media itu
disebut media pembelajaran”.
Media pembelajaran ini salah satu komponen proses belajar
mengajar yang memiliki peranan sangat penting dalam menunjang
keberhasilan proses belajar mengajar hal tersebut dengan pendapat
Gagne dalam Muhammad Ali (2014: 69), menyatakan bahwa
“media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa
yang dapat memberikan rangsangan untuk belajar”, seperti yang
telah dikemukakan Gagne, penggunaan media pembelajaran juga
dapat memberi rangsangan bagi siswa untuk terjadinya proses
belajar dikuatkan oleh pendapat Miarso (2004: 458) bahwa “media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk
37
menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong
terjadinya
proses
belajar
yang
disengaja,
bertujuan,
dan
terkendali”.
Media pembelajaran merupakan suatu teknologi pembawa
pesan yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran; media
pembelajaran merupakan sarana fisik untuk menyampaikan materi
pelajaran. Media pembelajaran merupakan sarana komunikasi
dalam bentuk cetak ataupun pandang dengar termasuk teknologi
perangkat keras.
Pada awal sejarah pembelajaran, media hanya sebagai alat
bantu yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran.
Berbeda dengan saat ini, kehadiran media pembelajaran juga dapat
memberikan dorongan, stimulus maupun pengembangan aspek
intelektual maupun emosional siswa. Pada awalnya alat bantu yang
digunakan adalah alat bantu visual, yaitu berupa sarana yang dapat
memberikan pengalaman melalui indera lihat untuk mecapai tujuan
pembelajaran. Dapat memperjelas dan mempermudah konsep yang
abstrak, dan belajar berpikir tingkat tinggi. Kemudian dengan
berkembangnya teknologi, khususnya teknologi audio, pada
pertengahan abad ke- 20 lahirlah alat bantu audio visual yang
terutama menggunakan pengalaman konkret untuk menghindari
verbalisme.
Hakikatnya media pembelajaran sebagai wahan untuk
menyampaikan pesan atau informasi dari sumber pesan diteruskan
pada penerima. Pesan atau bahan ajar yang disampaikan adalah
materi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran atau
sejumlah kompetensi yang telah dirumuskan, sehingga dalam
prosesnya memerlukan media sebagai subsistem pembelajaran.
38
Dari
penjelasan
diatas,
dapat
disimpulkan
bahwa
pemanfaatan media harus terencana dan sistematik sesuai dengan
tujuan pembelajaran. Kehadiran media sangat membantu siswa
untuk memahami suatu konsep tertentu yang sulit dijelaskan
dengan bahasa verbal, dengan demikian pemanfaatan media sangat
tergantung pada karakteristik media dan kemampuan pengajar
maupun siswa memahami cara kerja media tersebut, sehingga pada
akhirnya media dapat dipergunakan dan dikembangkan sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
c. Fungsi Media Pembelajaran
Fungsi media dalam proses pembelajaran cukup penting
dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran terutama
membantu siswa untuk belajar. Dua unsur yang sangat penting
dalam
kegiatan
pembelajaran,
yaitu
metode
dan
media
pembelajaran. Kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain.
Pemilihan suatu metode akan menentukan media pembelajaran
yang akan dipergunakan dalam pembelajaran tersebut, media
pembelajaran
tidak
serta
merta
digunakan
dalam
proses
pembelajaran, perlu analisis terlebih dahulu sebelum media
pembelajaran dipakai dalam proses pembelajaran.
Menurut Oemar Hamalik (2011: 49) fungsi media
pembelajaran yaitu:
1) Untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif,
2) Penggunaan media merupakan bagian integral dalam sistem
pembelajaran,
3) Media pembelajaran penting dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran,
39
4) Penggunaan
media
dalam
pembelajaran
adalah
untuk
mempercepat proses pembelajaran dan membantu siswa dalam
upaya memahami materi yang disajikan oleh guru dalam kelas,
5) Penggunaan media dalam pembelajaran dimaksudkan untuk
mempertinggi mutu pendidikan.
Selain itu, menurut Rusman, Deni Kurniawan dan Cepi
Riyana (2011: 172) media pembelajaran juga memiliki manfaat
dalam pembelajaran diantaranya adalah:
1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga
dapat menumbuhkan motivasi belajar,
2) Materi pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat
lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa
menguasai tujuan pembelajaran lebih baik,
3) Metode pembelajaran akan lebih bervariasi, tidak semata –
mata komunikasi verbal mealalui penuturan kata – kata oleh
guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan
tenaga, apalagi jika guru harus mengajar untuk setiap jam
pelajaran,
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak
hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain
seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain –
lain.
Penggunaan
media
pembelajaran
pada
tahap
orientasi
pembelajaran akan sangat membantu dalam menyampaikan pesan dan
isi pelajaran serta memberikan makna yang lebih dari proses
pembelajaran sehingga memotivasi peserta didik untuk meningkatkan
proses belajarnya.
40
d. Pengertian Media Video
Video merupakan suatu media yang sangat efektif untuk
membantu proses pembelajaran, baik untuk pembelajaran massal,
individual, maupun berkelompok (Daryanto, 2010: 86). Pada
pembelajaran massal (mass instruction), manfaat video sangat
terasa. Bisa dibayangkan saat mengajar 100 orang siswa dalam
suatu ruangan besar, hanya dengan bantuan white board dan
spidol. Visualisasi ataupun tulisan di white board ukurannya tetap,
tidak dapat diperbesar ataupun diperkecil. Sedangkan pada video,
ukuran tampilannya sangat fleksibel dan dapat diatur sesuai
dengan kebutuhan, yaitu dengan cara mengatur jarak antara layar
untuk tampilan dengan alat pemutar video (video player).
Arsyad (2010: 36) mengemukakan bahwa video merupakan
serangkaian gambar gerak yang disertai suara yang membentuk
satu kesatuan yang dirangkai menjadi sebuah alur, dengan pesan –
pesan di dalamnya untuk ketercapaian tujuan pembelajaran yang
disimpan dengan proses penyimpanan pada media pita atau disk.
Media video pembelajaran dapat digolongkan ke dalam
jenis media audio visual aids (AVA), yaitu jenis media yang selain
mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang
bisa dilihat.
Menurut Heinich, Molenda, Russel dalam Dr. Rusman dkk
(2011: 218) video diartikan sebagai berikut:
The primary meaning of video is the display of pictures on a
television type screen (the latin word video literally means “I
see” Any media format the employs a chatode-ray screen to
present the picture portion of the massage can be reffered to as
video.
Apabila diterjemahkan dapat diartikan sebagai tampilan
dari berbagai gambar dalam sebuah televisi atau sejenis layar.
41
Dalam bahasa latin video diartikan sebagai “Saya lihat (I see)”.
Setiap format video cassete recorder (VCR) yaitu media audio
visual gerak yang perekamnya dilakukan dengan menggunakan
kaset video, dan penayangannya melalui pesawat televisi.
Pancaran gambar yang bercahaya dari sebuah tampilan
video ternyata tersusun dari titik- titik yang sangat rapat dan
ditampilkan pada sebuah layar. Seperti halnya film, berbagai frame
video tersebut pada dasarnya adalah gambar diam. Hanya saja,
pergantian setiap frame ke frame selanjutnya itu berlangsung
sangat cepat, sehingga berbagai frame tersebut terlihat sebagai
gambar yang bergerak. Hal ini berlangsung secara terus menerus
hingga mampu menciptakan daya lihat yang menakjubkan dari
sebuah tampilan video dibuat dengan cara direkam dengan
magnetik pada sebuah pita video seperti halnya perekaman audio.
Video merupakan bahan ajar non cetak yang kaya
informasi dan tuntas karena dapat sampai kehadapan siswa secara
langsung. Disamping itu, video menambah suatu dimensi baru
terhadap pembelajaran, hal ini karena karakteristik teknologi video
yang dapat menyajikan gambar bergerak pada siswa, disamping
suara yang menyertainya. Sehingga, siswa merasa seperti berada
disuatu tempat yang sama dengan program yang ditayangkan
video. Seperti yang diketahui bahwa tingkat retensi (daya serap
dan daya ingat) siswa terhadap materi pelajaran dapat meningkat
secara signifikan apabila proses dalam memperoleh informasi
awalnya lebih besar melalui indera pendengaran dan pengliatan.
Media video menurut Daryanto (2010: 88) adalah segala
sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan
dengan gambar bergerak secara sekuensial. Program video dapat
dimanfaatkan
dalam
program
pembelajaran,
karena
dapat
42
memberikan pengalaman yang tidak terduga kepada siswa, selain
itu juga program video dapat dikombinasikan dengan animasi dan
pengaturan kecepatan untuk mendemonstrasikan perubahan dari
waktu ke waktu.
Kemampuan
terutama
efektif
video
untuk
dalam
membantu
memvisualisasikan
guru
sebagai
materi
pendidik
menyampaikan materi yang bersifat dinamis. Materi yang
memerlukan visualisasi seperti halnya gerakan motorik tertentu,
ekspresi wajah, maupun suatu lingkungan tertentu adalah paling
baik disajikan melalui pemanfaatan media video. Misalnya dalam
mata pelajaran Sosiologi, materi yang disampaikan adalah
mengenai perubahan sosial. Dalam video perubahan sosial akan
terlihat jelas perubahan- perubahan sosial yang terjadi dalam
masyarakat. Sehingga materi akan terlihat detail dan dramatis
apabila hal tersebut divisualisasikan melalui media video.
e. Kelebihan dan Kelemahan Media Video
1) Kelebihan Media Video
Menurut Pramono (2008: 9), media video memiliki banyak
kelebihan, antara lain:
a) Memaparkan keadaan real dari suatu proses, fenomena atau
kejadian,
b) Sebagai bagian terintegrasi dengan media lain, seperti teks
atau gambar, video dapat memperkaya pemaparan,
c) Pengguna dapat melakukan replay pada bagian – bagian
tertentu untuk melihat gambaran yang lebih focus,
d) Sangat cocok untuk mengajarkan materi dalam ranah
perilaku,
43
e) Kombinasi video dan audio dapat lebih efektif dan lebih
cepat menyampaikan pesan dibandingkan dengan media
teks.
Kelebihan video lain dikemukakan oleh Heinich, dkk
dalam Dr. Rusman, dkk, (2011: 222) sebagai berikut:
a) Bergerak, sifat – sifat yang nyata pada video dalam proses
pembelajaran,
adalah
kemampuannya
untuk
memperlihatkan gerakan – gerakan. Hal ini membuat video
lebih menguntungkan dari media lain.
b) Proses, video dapat menyajikan suatu proses dengan lebih
tepat guna (efektif) disbanding dengan media lain,
c) Pengamatan yang baik, video memungkinkan adanya
pengamatan yang baik terhadap suatu keadaan/ peristiwa
yang berbahaya bila dilihat secara langsung, dapat dilihat/
diamati secara baik dan meyakinkan,
d) Kemampuan belajar, menurut hasil penelitian terbukti
bahwa
video
sangat
berguna
untuk
mengajarkan
keterampilan, karena kemungkinan adanya pengulangan
sehingga suatu keterampilan bisa dipelajari secara berulang
– ulang juga,
e) Dramatisasi, kemampuan video untuk mendramatisasi
peristiwa – peristiwa dan situasi yang membuatnya cocok
bagi pembelajaran dalam bidang ilmu- ilmu sosial dan
masalah – masalah kemanusiaan,
f) Domain efektif, karena memiliki dampak emosional yang
tinggi/ besar, video sangat cocok untuk mengajarkan
masalah – masalah yang menyangkut domain efektif,
44
g) Memecahkan masalah (problem solving), suatu episode
video dapat digunakan secra tepat guna dalam situasi
pembelajaran yang menekankan pada proses pemecahan
masalah,
h) Pemahaman budaya, kita dapat mengembangkan suatu
saluran penghargaan untuk budaya lain dengan melihat
lukisan video dan film tentang kehidupan sehari – hari
masyarakat lain,
i) Pemahaman yang sama, dengan mengamati program video
atau film together, suatu kelompok yang berlainan dapat
membangun suatu basis bersama untuk mendiskusikan
suatu masalah dengan kecenderungan yang sama.
2) Kelemahan Media Video
Menurut Rasiman, Deni Kurniawan dan Cepi Riyana
(2011: 221), selain memiliki kelebihan, video juga memiliki
beberapa kelemahan, diantaranya adalah:
(a) Jangkauannya terbatas,
(b) Sifat komunikasinya satu arah,
(c) Gambarnya relative kecil,
(d) Kadangkala terjadi distorsi gambar dan warna akibat
kerusakan atau gangguan magnetik.
Selain itu, keterbatasan lain yang dimiliki oleh media video
adalah:
(a) Keterbatasan daya rekam setelah piringan video ini
mengalami proses perekaman tidak akan dapat dipakai
ulang lagi untuk diganti isinya,
(b) Biaya pengembangan untuk menyiapkan format piringan
video ini relative memerlukan biaya yang cukup besar,
45
(c) Keterbatasan
sekuel
dari
gambar
bergerak
yang
ditampilkan. Lebih dari 54.000 frame yang diam dapat
ditampung oleh format piringan video, namun hanya dapat
ditampilkan dalam bentuk gambar bergerak dalam waktu
60 menit. Hal ini lebih rendah dari kemampuan yang dapat
ditampung oleh sebuah format kaset video.
f. Keuntungan Pemanfaatan Media Video dalam Pembelajaran
Sangat banyak manfaat atau keuntungan yang didapat dari
penggunaan media video dalam pembelajaran. Dalam buku Media
Pembelajaran (Arsyad, 2010: 50) disebutkan bahwa terdapat
beberapa
keuntungan
utama
menggunakan
media
video,
keuntungan tersebut antara lain:
1) Media video dapat melengkapi pengalaman- pengalaman dasar
bagi siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktik, dan
lain- lain.
2) Video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat yang
dapat disaksikan secara berulang – ulang jika dirasa perlu.
3) Selain
mendorong
dan
meningkatkan
motivasi,
video
menanamkan sikap dan segi – segi afektif lainnya.
4) Video
yang
mengandung
nilai
–
nilai
positif
dapat
mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok
siswa.
5) Video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat
secara langsung.
6) Video dapat ditunjukkan kepada kelompok besar atau
kelompok kecil, kelompok heterogen, maupun perorangan.
7) Dengan kemampuan teknik pengambilan gambar frame demi
frame, video yang dalam kecepatan normal memakan satu
46
minggu dalam pembuatan dapat ditampilkan secara singkat
dalam beberapa menit saja.
Dari
banyak
keuntungan
yang
bisa
didapat
dari
penggunaan video sebagai media pembelajaran tersebut sangat
terlihat bahwa guru sebagai pendidik dapat mengambil banyak
manfaat dari media video. Video memiliki fitur unik dan khusus
yang tidak dimiliki media pembelajaran lain, yaitu mampu
menampilkan gerakan slide gambar dengan cepat dimana hal ini
sangat menjadi keunggulan media pembelajaran video.
Dengan menggunakan media jenis video ini siswa
diharapkan dapat memperoleh persepsi dan pemahaman yang sama
dan benar, selain siswa dapat menerima materi mata pelajaran.
Sedangkan guru diharapkan dapat mengikat kembali dengan
mudah berbagai pengetahuan dan keterampilan yang telah
dipelajari. Media video pembelajaran termasuk ke dalam kategori
motion
picture,
video
pembelajaran
dalam
format
disk
dioperasikan dengan menggunakan VCD/ DVD player yang
dijalankan dengan disk atau lempengan serta ditampilkan melalui
televisi atau LCD atau dapat diputar langsung melalui PC
computer. Media jenis ini juga dapat digunakan untuk menyajikan
bagian – bagian dari suatu proses dan prosedur secara utuh
sehingga memudahkan siswa dalam mengamati dan menirukan
langkah- langkah suatu prosedur yang harus dipelajari.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Pada dasarnya, suatu penelitian tidak beranjak dari nol secara
murni, akan tetapi pada umumnya sudah ada beberapa penelitian sebagai
47
acuan yang mendasari atau penelitian yang sejenis. Oleh karena itu, perlu
rasanya mengenal penelitian yang terdahulu yang ada relevansinya.
Secara umum, teori mengenai prestasi belajar mendasarkan bahwa
prestasi belajar seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktro yang
berasal dari dalam (internal) diri siswa atau peserta didik dan faktor yang
berasal dari luar (eksternal) diri siswa. Dalam penelitian ini penulis
mengkorelasikan antara pemanfaatan media video dan motivasi belajar
dengan prestasi belajar sosiologi siswa kelas X Ilmu Pengetahuan Sosial
SMA N 6 Surakarta. Berikut ini adalah penelitian yang relevan dengan
penelitian ini.
Penelitian pertama oleh Eko Purwanto (2011) dengan judul
“Hubungan Antara Pemanfaatan Media Pembelajaran dan Motivasi
Berprestasi dengan Prestasi Belajar Sosiologi Siswa Kelas XI Ilmu
Pengetahuan Sosial SMA Negeri 1 Teras Boyolali Tahun Pelajaran 2010/
2011”. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan
antara media pembelajaran dan motivasi berprestasi dengan prestasi
belajar sosiologi siswa, yakni bahwa Ry(x1,2)= 0.684, p= 0,000 dan F=
16, 224. Dengan demikian dapat dipahami bahwa penggunaan media
pembelajaran yang efektif dan dengan adanya motivasi berprestasi yang
dimiliki maka akan mendorong anak untuk berprestasi lebih baik dalam
belajarnya.
Penelitian kedua oleh Wulan Ningrum (2013) dengan judul “
Hubungan Pemanfaatan Situs Google dan Motivasi Belajar dengan
Prestasi Belajar Sosiologi Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Klaten Tahun
Pelajaran 2012/ 2013”. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan
yang signifikan antara pemanfaatan situs google dan motivasi belajar
dengan prestasi belajar sosiologi siswa, yaitu karena Ry(x1,2)= 0,617 dan
48
p= 0,001. Dengan demikian dapat di pahami bahwa siswa yang dapat
memanfaatkan situs google dengan baik dan memiliki motivasi belajar
yang tinggi akan dapat meningkatkan prestasi belajar sosiologi dengan
maksimal.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka pemikiran merupakan penalaran untuk dapat sampai
pada pemberian jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan,
mengacu pada permasalahan dan kajian teori diatas, maka kerangka
pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Hubungan antara Pemanfaatan Media Video (X1) dengan
Prestasi Belajar (Y)
Video merupakan bahan ajar non cetak yang kaya
informasi dan tuntas karena dapat sampai kehadapan siswa secara
langsung. Disamping itu, video menambah suatu dimensi baru
terhadap pembelajaran, hal ini karena karakteristik teknologi video
yang dapat menyajikan gambar bergerak pada siswa, disamping
suara yang menyertainya. Sehingga, siswa merasa seperti berada
disuatu tempat yang sama dengan program yang ditayangkan
video. Seperti yang diketahui bahwa tingkat retensi (daya serap
dan daya ingat) siswa terhadap materi pelajaran dapat meningkat
secara signifikan apabila proses dalam memperoleh informasi
awalnya lebih besar melalui indera pendengaran dan penglihatan.
Kemampuan video dalam memvisualisasikan materi terutama
efektif untuk membantu guru sebagai pendidik menyampaikan
materi yang bersifat dinamis. Materi yang memerlukan visualisasi
seperti halnya gerakan motorik tertentu, ekspresi wajah, maupun
49
suatu lingkungan tertentu adalah paling baik disajikan melalui
pemanfaatan media video
Media jenis video ini dapat digunakan untuk menyajikan
bagian – bagian dari suatu proses dan prosedur secara utuh
sehingga memudahkan siswa dalam mengamati dan menirukan
langkah – langkah suatu prosedur yang harus dipelajari. Media
video dalam pembelajaran mempermudah siswa untuk dapat
memperoleh persepsi dan pemahamna yang sama dan benar, selain
siswa dapat menerima materi pelajaran. Dengan begitu
media
video ini adalah salah satu media pembelajaran yang dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Hubungan antara Motivasi Belajar (X2) dengan Prestasi
Belajar (Y)
Pada kegiatan belajar mengajar, apabila ada seorang siswa
tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu
diselidiki sebab- sebabnya. Sebab – sebab itu biasanya bermacammacam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, mengantuk, ada
problem pribadi dan lain – lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak
terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksinya untuk
melakukan sesuatu, karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan
belajar. Keadaan semacam ini memerlukan daya upaya yang dapat
menemukan sebab – musababnya kemudian mendorng siswa itu
untuk mau melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, yaitu
belajar. Dengan kata lain, siswa perlu diberikan rangsangan atau
dorongan supaya tumbuh motivasi pada dirinya atau singkatnya
perlu diberikan motivasi. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat
dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa
yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan
50
dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan
belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu
dapat tercapai. Dikatakan keseluruhan, karena pada umumnya ada
beberapa motif yang bersama – sama menggerakkan siswa untuk
belajar.
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat
non- intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal
penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Mungkinkah siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai
banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Apakah dengan
adanya motivasi dalam kegiatan belajar, hasil yang didapatkan
akan optimal sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar.
3. Hubungan Antara Pemanfaatan Media Video (X1) dan
Motivasi Belajar (X2) dengan Prestasi Belajar (Y)
Media
video
memiliki
kemampuan
dalam
memvisualisasikan materi terutama efektif untuk membantu guru
sebagai pendidik menyampaikan materi yang bersifat dinamis.
Materi yang memerlukan visualisasi seperti halnya gerakan
motorik tertentu, ekspresi wajah, maupun suatu lingkungan
tertentu adalah paling baik disajikan melalui pemanfaatan media
video. Misalnya dalam mata pelajaran Sosiologi, materi yang
disampaikan adalah mengenai perubahan sosial. Dalam video
perubahan sosial akan terlihat jelas perubahan- perubahan sosial
yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga materi akan terlihat detail
dan dramatis apabila hal tersebut divisualisasikan melalui media
video. Banyak keuntungan yang bisa didapat dari penggunaan
video sebagai media pembelajaran. Dengan menggunakan media
jenis video ini siswa diharapkan dapat memperoleh persepsi dan
51
pemahaman yang sama dan benar, selain siswa dapat menerima
materi mata pelajaran.
Dengan demikian, media video dapat menjadi salah satu
motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Motivasi sendiri
merupakan rangsangan atau dorongan yang berasal dari dalam diri
siswa ataupun dari dalam luar diri siswa. Termotivasinya siswa
dengan adanya media pembelajaran yang menarik seperti media
video ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar
sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa tentunya
prestasi yang semakin baik.
Hal ini dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini:
Gambar 2.1 Paradigma Penelitian
X1
Pemanfaatan Media
Video
(X1)
Prestasi Belajar
(Y)
Motivasi Belajar
(X2)
X2
52
D. Hipotesis
Menurut Sugiyono (2009: 64) “Hipotesis merupakan jawaban
sementara yang harus diuji melalui kegiatan penelitian. Dikatakan sementara
karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan,
belum didasarkan pada fakta – fakta empiris yang diperoleh dari pengumpulan
data.
Untuk itu berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir diatas,
maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara pemanfaatan media
video dengan prestasi belajar sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 6
Surakarta.
2. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan
prestasi belajar sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 6 Surakarta.
3. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara pemanfaatan media
video dan motivasi belajar dengan prestasi belajar sosiologi siswa kelas X
IPS SMA Negeri 6 Surakarta.
Download