perancangan buku serta media pendukungnya sebagai media

advertisement
ARTIKEL ILMIAH
STRATA 1 (S1)
PERANCANGAN BUKU
SERTA MEDIA PENDUKUNGNYA
SEBAGAI MEDIA KAMPANYE PELESTARIAN PRASI
DI KARANGASEM
Oleh
Made Ratih Gunathita Vidhiastiti
200906010
Program Studi Desain Komunikasi Visual
Jurusan Desain
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
2013
ABSTRAK
Judul:
PERANCANGAN BUKU
SERTA MEDIA PENDUKUNGNYA
SEBAGAI MEDIA KAMPANYE PELESTARIAN PRASI
DI KARANGASEM
Oleh : Md Ratih Gunathita Vidhiastiti
2009.06.010
Seni prasi adalah gambar ilustrasi berupa wayang yang dibuat diatas daun
lontar, merupakan karya seni rupa warisan budaya nenek moyang bernilai estetika
tinggi dan mempunyai karakteristik tersendiri. Seni prasi sebagai salah satu wujud
kebudayaan tradisional Bali yang tergolong langka dan sangat unik ini pernah
tumbuh subur pada abad ke-16 pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel
Klungkung dan awalnya diciptakan sebagai alat untuk menvisualkan naskah
kekawin, kidung, dan sebagainya dengan ilustrasi gambar wayang yang
disakralkan dan dimanfaatkan sebagai media informasi tentang ajaran keagamaan,
kini sudah mulai tersisih semenjak merambatnya budaya buku. Walaupun masih
ada sedikit seniman yang mengerjakan dan mengusahakan seni prasi tersebut,
namun telah berkembang dan beralih fungsi menjadi benda kerajinan bernilai
ekonomis yang terbilang sangat terjangkau untuk dijajakan kepada wisatawan,
bahkan banyak prasi kuno yang telah dijual kepada orang asing sehingga tidak
banyak generasi muda yang mengetahui lagi kesenian tersebut. Oleh karena itu
disinilah peran desainer untuk menciptakan desain agar masyarakat terutama
remaja di Karangasem sebagai target audience dapat tergerak untuk meneruskan
dan menjaga kesenian tersebut agar tidak punah dengan lebih dahulu
memperkenalkan kesenian tersebut. Dalam pembuatan sebuah desain haruslah
sesuai dengan kasus yang diangkat, maka dalam kasus ini digunakan metode
perancangan diantaranya pengumpulan data dan analisis data sehingga didapat
sebuah konsep yaitu penyelamatan dan penanggulangan, dimana dari konsep ini
akan dijadikan acuan dalam mendesain media utama yaitu Buku, sebagai alat
untuk mengenalkan dan mendokumentasikan pengetahuan tentang prasi secara
tertulis. Selain itu, didesain juga media pendukung dari media buku tersebut yaitu
packaging, paper bag, poster dan katalog.
Kata Kunci
: Media Buku, Kampanye Pelestarian, Prasi, Penyelamatan dan
Penanggulangan.
1
ABSTRACT
Title :
BOOK DESIGN AS
PRASI PRESERVATION CAMPAIGN MEDIA
IN KARANGASEM
By : Md Ratih Gunathita Vidhiastiti
2009.06.010
Prasi art is puppet illustration made on palm leaves, cultural heritage
work of art of ancestors which contains high aesthetic value and has its own
characteristics. This prasi art, as one of traditional Balinese culture which is rare
and very unique once flourished in the 16th century in the reign of Dalem
Waturenggong at Gelgel Klungkung and was originally created as a tool for
visualizing the manuscript kekawin, kidung, etc with illustrations puppet which is
sacred and used as an information media for religious teachings, now begins to
exclude as the books culture arise. Although there are few artists who worked on
and manage the prasi art, but it is has grown and converted into economically
valuable craft objects that cheap and affordable for tourists, even many ancient
prasis have been sold to foreigners, result in not many young people know about
the arts anymore. Therefore this is where the role of the designer to create
designs, so the people, especially young people in Karangasem as the target
audience can be encouraged to continue and maintain the art from extinction by
first introducing the art. In making a design it must be in accordance with the
related case, then in this case used design method including data collection and
data analysis in order to get a concept that rescue and response, which is from
these concepts will be used as a reference in designing the book as the main
media, as a tool for introducing and documenting knowledge of prasi on paper. In
addition, supporting media for the book also designed, consist of packaging,
paper bags, posters and catalogs.
.
Keywords : Book Media, Preservation Campaign, Prasi, Rescue and Response.
2
1.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang terkenal akan ragam
tradisi dan budaya yang unik dan khas dijiwai oleh agama Hindu yang tidak bisa
dilepaskan dari kesenian yang telah menyatu dengan kegiatan di dalamnya. Seni
prasi yang ada dan berkembang di Karangasem merupakan salah satu cabang
kesenian bagian dari seni rupa warisan budaya nenek moyang yang bernilai
estetika tinggi dan mempunyai karakteristik tersendiri. Seni prasi sangat berkaitan
erat dengan sastra kuno, karena prasi sendiri dalam bentuk dasarnya terbuat dari
lontar berisi gambar wayang yang merupakan transformasi dari naskah/ kitab
sastra, kakawin, kidung, dan sebagainya.
Seni Prasi telah ada dan berkembang di abad ke-15, kemudian tumbuh
subur pada abad ke-16 pada pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel
kelungkung yang saat itu dimanfaatkan sebagai media informasi tentang ajaran
keagamaan. Menurut Ida I Dewa Gede Catra, Sebelum Prasi dikenal di daerah
Tenganan, prasi pertama kali dibuat oleh Ida Nyoman Buda dari Grya Wanasari
Talibang Sidemen pada tahun 1960. Kemudian menurut penuturan seniman prasi
I Wayan Mudita Adnyana, pada tahun 1970-an seni prasi mulai di kenal di
Tenganan Pegringsingan dan di buat pertama kali olehnya atas saran seorang tamu
asing berkebangsaan Swis, Teo Mayer. Belakangan ini popularitas seni prasi
semakin tenggelam. Seni prasi saat ini boleh dibilang hanya terkonsentrasi di
Desa Sidemen dan Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem saja. Seniman
yang menekuni kesenian ini secara intensif pun relatif terbatas, dapat dihitung
dengan jari dan belum ada dari kalangan remaja. Bahkan sekarang ini, jawaban
penuh ketidaktahuan yang terlontar dari bibir mayoritas generasi muda Bali ketika
ditanya tentang seni prasi. Harus diakui, popularitas seni adiluhung warisan
leluhur ini di kalangan generasi muda memang berada di titik terendah. Saat ini
masyarakat juga rela menjual karya prasi warisan leluhur kepada orang asing dan
demi memenuhi kebutuhan hidupnya, oleh seniman, prasi telah berubah fungsi
sebagai konsumsi pariwisata, dijual dengan harga yang dapat dikatakan murah,
3
padahal jika mereka menyadari lebih dalam nilai historis, karakteristik, ritual dan
magis yang tinggi dari prasi, karya prasi yang mereka buat dapat menjadi karya
seni yang tak ternilai harganya atau dijual dengan harga tinggi sesuai dengan nilai
prasi tersebut.
Berkait dengan seni prasi sebagai budaya masyarakat, dapat di pandang
sebagai benda budaya tradisional yang khas dan saat ini hanya ada di Karangasem
namun sangat kurang diminati dan diketahui keberadaannya oleh masyarakat
lokal khususnya remaja, padahal prasi merupakan seni rupa yang unik,
berkarakteristik tinggi dan patut di lestarikan karena apa yang tertuang dalam seni
ilustrasi tersebut mengandung kearifan-kearifan lokal yang sangat positif untuk
pembentukan karakter generasi muda, baik dalam hal penanaman sikap, etika,
mental maupun spiritual, maka agar tetap lestari, dibutuhkan media komunikasi
visual seperti halnya buku yang mampu memberikan informasi tentang kesenian
prasi tersebut karena buku sendiri memiliki fungsi untuk menampung berbagai
informasi. Sehingga kesenian prasi dapat terangkum sebagai bentuk informasi
yang bisa digunakan sebagai ilmu pengetahuan tentang kebudayaan hingga di
masa yang akan datang.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana merancang buku yang mengulas tentang prasi dan
menampilkan cerita prasi tantri “Ida Sri Adnya Dharmaswami dan
Tukang Emas yang Jahat” yang sesuai dengan kriteria desain dan
dapat menjadi media kampanye pelestarian prasi di Karangasem?
1.2.2
Media apakah yang efektif dan komunikatif sebagai pendukung media
buku dalam upaya kampanye pelestarian prasi di Karangasem?
4
1.3
Batasan Masalah
Dari rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka oleh penulis
batasan masalah yang akan dibahas meliputi elemen-elemen desain komunikasi
visual seperti ilustrasi, tipografi, warna,dll pada proses mendesain buku hingga
mewujudkan desain buku tersebut agar terlihat lebih menarik dan komunikatif
sesuai dengan kriteria desain. Batasan masalah juga melingkupi bagaimana
merancang media pendukung buku yang efektif dan komunikatif untuk remaja
usia 13-17 tahun yang merupakan generasi penerus yang dapat menentukan
keberhasilan pelestarian kesenian ini agar tujuan kampanye pelestarian prasi di
Karangasem dapat tercapai dengan baik.
1.4
Tujuan dan Manfaat Desain
1.4.1
Tujuan
-
Untuk dapat mengkampanyekan pelestarian prasi agar ke
depannya tidak mengalami kepunahan dan tetap dapat terus terjaga
hingga generasi berikutnya
-
Agar masyarakat Bali, khususnya remaja Karangasem tertarik
untuk mengenal prasi dan mulai sadar untuk melakukan pelestarian
terhadap warisan leluhur tersebut.
-
Dapat merancangan buku yang mengulas tentang prasi dan
menampilkan cerita prasi Tantri “Ida Sri Adnya Dharmaswami dan
Tukang Emas yang Jahat” yang sesuai dengan kriteria desain dan
dapat menjadi media kampanye pelestarian prasi di Karangasem.
-
Dapat mengetahui jenis media yang efektif
dan komunikatif
sebagai pendukung media buku dalam upaya kampanye pelestarian
prasi di Karangasem.
5
1.4.2
Manfaat
-
Dapat
melatih
mahasiswa
(penulis)
dalam
melihat
suatu
permasalahan serta mencari solusi dari permasalahan tersebut yang
tidak lain adalah bagaimana merancang / membuat buku dan media
pendukung yang efektif dan tepat guna untuk memberikan
informasi yang jelas kepada remaja di Karangasem mengenai
kesenian prasi dan mampu merancang media promosi yang efektif
dan komunikatif dalam usaha kampanye.
-
Akan menjadi referensi bagi akademis khususnya program studi
desain komunikasi visual mengenai perancangan buku sebagai
sarana kampanye dengan berdasarkan ilmu desain komunikasi
visual serta sebagai bahan masukan untuk penulis selanjutnya.
-
Memberikan informasi kepada target audiens
tentang kesenian
prasi dan masyarakat sadar prasi merupakan salah satu seni rupa
yang patut untuk dijaga dan dilestarikan keberadaannya.
1.5
Metode Pengumpulan Data
Proses dalam perancangan buku serta media pendukungnya sebagai media
kampanye pelestarian prasi di Karangasem menggunakan metode pengumpulan
data yang dibedakan berdasarkan sumbernya yaitu metode pengumpulan data
primer terdiri dari observasi dan wawancara. Metode pengumpulan data sekunder
yaitu dengan kepustakaan dan dokumentasi.
1.6
Metode Analisis Data
Adapun metode analisa data yang digunakan adalah analisis data deskriptif
kualitatif dengan mengolah dan menganalisa data-data yang terkumpul menjadi
data yang sistematis, teratur, terstruktur, dan mempunyai makna. Deskriptif
adalah suatu metode dalam meneliti suatu obyek, suatu set kondisi, suatu system
pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang, yang bertujuan untuk
6
membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta- fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
1.7
Indikator serta Model Penilaian Desain
Indikator yang nantinya akan dipakai sebagai acuan didalam menilai
desain ialah ilustrasi, teks dan warna.Dibuat alternatif desain dari media yang
dipilih. Desain yang terbaik dipilih dari tiga alternatif desain yang diukur
berdasarkan kriteria desain. Kriteria yang dimaksud yakni dari segi fungsional,
komunikatif, informatif, ergonomis, artistik, unity, simplicity, kreatif, surprise
dan etis.
Menentukan desain terpilih dengan melakukan pengukuran atau penilaian
alternatif-alternatif
desain
menggunakan
skala
koordinat
(skala
yang
menunjukkan tingkatan atau rangking). Rangking didapatkan setelah dilakukan
penilaian berdasarkan prinsip-prinsip desain.
Setelah masing-masing desain dinilai berdasarkan prinsip-prinsip desain
akan terlihat satu desain yang menduduki ranking teratas dan desain inilah yang
nantinya sebagai desain terpilih (Nazir, 2003: 338).
2.
IDENTIFIKASI DAN ANALISA DATA
2.1
Data Teoritis/Aktual
Adapun data-data mengenai teori-teori perancangan komunikasi visual
yang akan diterapkan berhubungan dengan pengerjaan tugas akhir ini adalah datadata ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan dan berasal dari sumber yang
berkompeten.
2.1.1
Pengertian Objek Kasus
Kasus yang penulis angkat dalam tulisan ini adalah “Perancangan
Buku Serta Media Pendukungnya Sebagai Media Kampanye Pelestarian
Prasi di Karangasem”. Dimana dari judul tersebut dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk membuat sarana penyampaian pesan atau informasi dan
7
sarana penunjangnya kepada publik berupa tulisan dan gambar diatas
lembaran
kertas
dijilid
muka
belakangnya
yang
berfungsi
mensosialisasikan dan mempertahankan kesenian lontar bergambar di
salah satu Kabupaten di Provinsi Bali.
Dilihat dari fungsinya, kampanye adalah alat komunikasi yang
akan menciptakan perubahan atau perbaikan dalam masyarakat karena
kampanye
merupakan
keinginan
seseorang
untuk
mempengaruhi
kepercayaan dan tingkah laku orang lain dengan daya tarik yang
komunikatif
(Rachmadi,1993).
Hasil
yang
ingin
dicapai
dalam
pelaksanaan kampanye ini adalah memperbaiki pemahaman dan
menanamkan sikap peduli terhadap prasi kepada masyarakat khususnya
remaja Karangsem usia 13 hingga 17 tahun karena kesenian prasi ada di
daerah Karangasem dan merupakan karya seni yang sarat akan nilai-nilai
positif untuk pembentukan karakter generasi muda seperti penanaman
sikap, etika, mental dan spiritual. Usia tersebut juga tergolong sangat
muda serta mempunyai masa depan yang masih panjang., sebuah usia
yang potensial untuk ditanami sikap peduli kesenian prasi yang kini dirasa
semakin menghilang.
Sedangkan pelestarian merupakan menjaga sesuatu yang bersifat
hampir punah atau kurang diperhatikan untuk dijaga keberadaannya agar
adanya sesuatu yang tetap. Pelestarian lebih bersifat kebersamaan karena
tidak dapat dilakukan hanya oleh seseorang saja sehingga dibutuhkan
peran masyarakat khususnya remaja di Karengasem dari semua kalangan
untuk mendukung kegiatan pelestarian tersebut.
Prasi ialah lontar yang
didominasi oleh gambar yaitu suatu
kesenian menggambar di atas daun lontar dengan gambar ilustrasi wayang
di dalamnya merupakan transformasi dari naskah-naskah penting seperti
epos Ramayana, Mahabharata, Sutasoma dan Tantri serta sejumlah cerita
rakyat lainnya (Wiwana, 2010). Dimana dengan cara menerjemahkan
naskah-naskah itu lewat bahasa gambar, masyarakat menjadi lebih mudah
memahami intisari dari naskah-naskah tersebut yang pada intinya sangat
8
bermanfaat karena memberikan tuntunan hidup bagi masyarakat dalam
berperilaku. Namun kenyataannya belakangan ini popularitas seni prasi
semakin tenggelam. Sebaran komunitas seniman yang menekuni kesenian
dan menjaga keutuhan prasi ini secara intensif pun relatif terbatas bahkan
tidak ada dari kalangan remaja sehingga berlahan-lahan tradisi prasi
menjadi asing dan tidak lagi dikenal. Maka dari itu, kampanye pelestarian
prasi sangatlah perlu dilakukan kepada remaja khususnya remaja di
Karangasem karena mereka merupakan generasi yang dapat meneruskan
dan menjaga seni prasi yang sekarang hanya ada di daerah Karangasem
tersebut hingga ke generasi berikutnya.
Untuk memperlancar kampanye pelestarian prasi ini, buku
merupakan pilihan media yang cocok untuk merangkum berbagai bentuk
informasi tentang prasi karena buku merupakan media informasi sebagai
penjelasan atas sesuatu bagi yang membacanya juga memiliki beberapa
keunggulan dibanding media penyimpan data yang lain, di antaranya
adalah; dapat di baca kapan saja, dapat dibawa kemana saja tanpa harus
ada baterai untuk membacanya, memiliki identitas penulis asli, buku dapat
berusia panjang/ dapat bertahan lebih lama dalam keadaan yang
terawat,dsb. Buku sebagai media kampanye pelestarian prasi ini, selain
mengulas tentang pengertian, sejarah dan cara pembuatan prasi juga
menampilkan prasi Tantri dengan cerita “Ida Sri Adnya Dharmaswami
dan Tukang Emas yang Jahat”. Cerita nantinya dikemas layaknya cerita
novel yang merupakan bacaan populer anak-anak remaja dan memiliki
banyak pesan moral didalamnya, sehingga diharapkan remaja–remaja di
Karangasem akan lebih tertarik untuk mengetahui dan mempelajari
kesenian prasi sehingga nantinya prasi tetap ada dan dikenal hingga
kegenerasi-generasi berikutnya.
9
2.1.2
Aspek-Aspek Desain Komunikasi Visual
Desain komunikasi visual adalah ilmu yang mempelajari konsep
komunikasi dan ungkapan daya kreatif yang diaplikasikan dalam berbagai
media komunikasi visual dengan mengolah elemen desain grafis yang
terdiri dari gambar, huruf, warna, komposisi, dan layout. Jadi media desain
dapat dipakai sebagai alat didalam mencapai maksud dan tujuan serta
dapat berupa alat atau sarana informasi yang tidak terlepas dari aspekaspek desain komunikasi visual seperti media, ilustrasi, warna, teks dan
huruf.
2.1.3
Prinsip Desain Komunikasi Visual
Prinsip desain merupakan suatu prinsip atau acuan yang harus
diketahui untuk menghasilkan desain grafis yang baik untuk tampilan
desain. Adapun prinsip-prinsipnya seperti prinsip kesatuan, Irama,
keseimbangan, hirarki visual, proporsi dan keselarasan.
2.1.4
Aspek Teknis Perwujudan
Aspek teknis perwujudan merupakan suatu aspek yang perlu
diperhitungkan agar visual desain yang dibuat dapat menjadi satu kesatuan
konsep dengan eksekusi perwujudan. Teknis perwujudan yang dimaksud
yaitu bahan dan teknik cetak.
2.1.5
-
Teori Sosial yang Mendukung Kasu
Teori Semiotik (Semiotics)
Kata Semiotik berasal dari bahasa yunani “semeion”
yang
berarti tanda. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang
tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna. Sedangkan
menurut Charles Sanders Pierce penalaran manusia senantiasa
dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar
10
lewat tanda. Dalam pikirannya logika sama dengan semiotika dan
semiotika dapat diterapkan pada segala macam tanda. Dan selain
itu tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili
sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu. Tanda akan selalu
mengacu ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut objek
(denotatum) (Tinarbuko. 2008:12).
Desainer menggunakan teori ini karena dengan teori semiotika
desainer dapat mengetahui efek media yang dibuat terhadap
masyarakat khususnya remaja, apakah sudah mampu untuk
menggerakan hati remaja atau tidak (dalam hal mengkampanyekan
pelestarian prasi).
Pierce
membedakan
tiga
macam
tanda
menurut
sifat
penghubungan tanda dan denotatum (obyek) yaitu icon, index dan
symbol. Jadi teori semiotika yang dipakai oleh penulis (desainer)
untuk menentukan efisiensitas pada media yang akan dibuat
setidaknya akan mengandung tiga jenis tanda tersebut, berikut
penjelasan mengenai jenis tanda yang akan ada pada media yang
akan dirancang dan dibuat: (Tinarbuko. 2008:14)
1) Icon (tanda-tanda visual): adalah tanda yang mirip dengan
objek yang diwakilinya. Dapat pula dikatakan, tanda yang
memiliki ciri – ciri sama dengan apa yang dimaksudkan. Jadi
icon yang ada pada media komunikasi visual yang akan dibuat
menggunakan ilustrasi berupa ilustrasi gambar tangan, foto dan
teknik gabungan berupa vector prasi dalam media komunikasi
nantinya. Kegunaanya dalam desain agar target audience
mengetahui bahwa media yang dibuat nanti mengkhususkan
tentang prasi.
2) Index (indikasi): merupakan tanda yang memiliki hubungan
sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Atau disebut juga
tanda sebagai bukti. Indeks yang ada pada media yang akan
dibuat
tidak
lain
berupa
keterangan–keterangan
(teks)
11
mengenai seni prasi, sehingga selain dapat mempertegaskan
ilustrasi yang ada pada media, keterangan (teks) ini dapat
memberikan informasi tentang prasi kepada khalayak sasaran.
3) Symbol (lambang):
tanda berdasarkan konvensi, peraturan,
atau perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat
dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah
disepakati sebelumnya. Symbol yang ada pada media yang akan
dirancang dan dibuat tidak lain adalah ilustrasi karakter yang
dapat
mencerminkan
Bali,
terlihat
ramah
dan
dapat
memberikan kesan kepada khalayak sasaran bahwa media
tersebut secara tidak langsung mengajak mengenal dan
memberikan arahan untuk mempelajari kesenian prasi yang
merupakan kesenian daerah Bali yang patut untuk dilestarikan.
-
Teori Psikologi Remaja
Masa remaja disebut sebagai masa penghubung atau masa
peralihan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada periode
ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai
kematangan psikologis dalam menemukan dirinya dan mencari
nilai-nilai kebaikan, kebijaksanaan, keindahan, senang terhadap
tokoh idola, tertarik lawan jenis, dan lain-lain (Sarwono, 2012: 2).
Menurut Hurlock, masa remaja awal mencakup usia 13-17
tahun dimana secara psikologis memiliki perkembangan (Sarwono,
2012: 30):
1) Masih terheran-heran akan perubahan yang terjadi pada
tubuhnya sendiri.
2) Mengembangkan pikiran-pikiran baru.
3) Cepat tertarik pada lawan jenis.
4) Mudah terangsang secara erotis.
Masa remaja akhir yaitu mencakup usia 16-19 tahun dimana
pada masa ini transisi perkembangan yang lebih mendekati dewasa
12
dan masa konsolidasi menuju periode remaja. Pada masa ini
memiliki perkembangan sebagai berikut (Sarwono, 2012: 30):
a) Minat yang semakin mantap terhadap fungsi- fungsi intelek.
b) Egonya untuk mencari kesempatan bersatu dengan orang lain
dalam pergaulan baru.
c) Terbentuk identitas seksual yang tidak berubah lagi.
d) Ergosentri (terlalu memusatkan perhatian kepada diri sendiri)
berubah menjadi keseimbangan antara kepentingan diri sendiri
dengan orang lain.
Fase-fase yang dialami di setiap umur adalah berbeda-beda.
Fase-fase tersebut yaitu (Sarwono, 2012: 53) :
1) 0-5 tahun
Masa kanak-kanak, didominasi oleh perasaan senang dan tidak
senang, menggambarkan tahap evolusi dimana manusia masih
sama dengan binatang.
2) 5-12 tahun
Masa bandel, ingin main-main, kemampuan akal masih sangat
kurang.
3) 12-15 tahun
Mulai bangkitnya akal, nalar, dan kesadaran diri namun belum
sempurna, rasa ingin tahu, dan coba-coba.
4) 15-19 tahun
Masa
kesempurnaan
remaja
dan
merupakan
puncak
perkembangan emosi.
5) 19-24 tahun
Masa dewasa muda, lebih cendrung memperhatikan diri
sendiri
Desainer menggunakan teori psikologi remaja karena dengan
teori tersebut desainer dapat mengetahui batasan usia remaja yang
merupakan target audiens dari perancangan buku ini yaitu remaja
usia 13-17 tahun karena usia tersebut masih muda dan merupakan
13
generasi penerus yang sedang dalam tahap menemukan diri,
pencarian kebaikan dan kebijakan, dimana buku tentang prasi yang
akan didesain nantinya menampilkan cerita prasi tantri ”Ida Sri
Adnya Dharmaswami dan Tukang Emas yang Jahat” yang
memiliki banyak pesan moral didalamnya untuk menjadi cerminan
sikap dan prilaku diri remaja. Dengan teori ini juga dapat
mengetahui apa saja yang mampu menarik minat dan perhatian
mereka untuk menjadi bahan pertimbangan dan acuan dalam
penerapan unsur desain pada media buku tentang prasi dan media
pendukung lainnya yang akan dirancang, sehingga media tersebut
menjadi media yang tepat sasaran dan mampu untuk menambah
wawasan dan ketertarikan remaja khususnya di daerah karangasem
terhadap kesenian prasi.
2.2
Data Lapangan / Faktual
2.2.1
Nama Produk/Objek
Pada pengantar karya Tugas Akhir ini, penulis mengangkat judul
“Prancangan Buku Serta Media Pendukungnya Sebagai Media Kampanye
Pelestarian Prasi di Karangasem”.
2.2.2
Lokasi
Lokasi perancangan berada di Bali dengan mengambil objek lontar
prasi yaitu prasi Tantri dengan cerita ”Ida Sri Adnya Dharmaswami dan
Tukang Emas yang Jahat” yang di simpan di Gedong Kirtya, Singaraja.
Cerita tersebut dianggap cocok karena selain dapat memperkenalkan cerita
daerah lain yaitu cerita dari Buleleng sehingga target audiens yaitu remaja
Karangasem tidak hanya mengetahui cerita daerahnya saja melainkan juga
mengetahui cerita dari daerah lain, cerita tersebut juga sangat ringan untuk
dipahami remaja karena dikemas dengan tokoh-tokoh binatang, namun
sarat akan ajaran moral yang sangat baik untuk perkembangan berprilaku
remaja saat ini, diantaranya mengajarkan untuk tidak begitu saja
mempercayai perkataan orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya,
14
pentingnya membalas budi baik seseorang, tidak menfitnah orang lain
tanpa ada bukti yang benar, dsb.
Lokasi bagi sasaran yang dituju yaitu remaja yang berada di Bali
khususnya Karangasem karena saat ini prasi hanya ada di daerah tersebut,
sehingga diharapkan remaja tersebut akan lebih respect terhadap prasi
kedepannya .
2.2.3
Sarana Komunikasi yang ada
Sarana komunikasi visual yang didapatkan saat melakukan survey
ke Sidemen dan Tenganan Pegringsingan Karangasem antara lain hanya
souvenir yang dikemas dan dikembangkan dalam bentuk hiasan-hiasan
dinding berwujud prasi.
2.2.4
Potensi Kasus
Prasi merupakan warisan budaya nenek moyang Bali yang miliki
nilai estetika tinggi, mempunyai karakteristik sendiri dan berkembang di
Karangasem. Walaupun masih menyadari nilai historis, ritual dan fungsi
prasi, namun masyarakan masih kurang peduli untuk merawat prasi
warisan nenek moyang tersebut, bahkan demi memenuhi kebutuhan
15
hidupnya, masyarakat rela menjual karya prasi warisan leluhur kepada
orang asing sehingga remaja saat ini jarang ada yang mengetahui prasi,
padahal selain memiliki ciri-ciri atau karakteristik baik dilihat dari sisi
seniman, pembuatan, maupun dari sisi hasil karya seni dibuat pada daun
lontar sehingga prasi dipandang sebagai seni rupa yang bernilai estetika
tinggi, prasi juga dapat menjadi panduan hidup dalam bersikap dan
berprilaku karena prasi sendiri berupa seni rupa transpormasi dari cerita/
karya sastra yang banyak mengandung makna, pesan moral dan ajaran
agama, seperti salah satu prasi yaitu prasi Tantri yang bercerita tentang
”Ida Sri Adnya Dharmaswami dan Tukang Emas yang Jahat”, prasi
tersebut sangat baik untuk remaja karena mengajarkan norma-norma
bersikap dan berprilaku seperti tidak menfitnah orang lain, pentingnya
membalas budi baik seseorang dan tidak begitu saja mempercayai
perkataan orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya, oleh karena itu
prasi patut untuk di lestarikan.
Namun, faktor minimnya media-media yang mengulas tentang
prasi sehingga kurangnya wawasan generasi muda terhadap prasi dan
pentingnya prasi dapat menjadi kendala dalam pelaksanaan pelestrian
prasi tersebut.
Maka, dalam hal ini media berupa buku sangat berperan penting
dalam upaya menambah informasi, wawasan dan ketertarikan masyarakat
Bali khususnya ramaja Karangasem sebagai generasi penerus kesenian
prasi agar prasi semakin dikenal dan tentunya di lestarikan dengan baik
hingga ke generasi berikutnya.
2.3
Analisis & Sintesa
2.3.1
Analisis
Analisis merupakan uraian sebab akibat yang menjadi alasan dalam
merancang media buku dan media pendukungnya. Analisa
yang
16
digunakan untuk kampanye pelestarian prasi melalui media buku dan
media pendukungnya adalah analisa aktual / teori dan analisa faktual.
2.3.2
Sintesa
Sintesis berasal dari bahasa Inggris yaitu synthesis, yang berarti
paduan atau perpaduan. Sintesis dalam perancangan ini adalah suatu
perpaduan dari permasalahan yang ada pada latar belakang masalah
perancangan yang telah dirangkum ke dalam analisis, ini semua akan
dijadikan dasar pertimbangan pengambilan keputusan untuk menentukan
perancangan selanjutnya (Sanyoto, 2006:44). Dalam hal ini meliputi
beberapa diantaranya:
a. Media
Media yang akan dibuat haruslah tepat, jelas sasaranya, efektif dan
juga komunikatif dimana mampu memberikan informasi tentang prasi.
Media yang akan dibuat penulis adalah buku sebagai media utama, dan
juga packaging, paper bag, poster, dan katalog sebagai media
pendukung.
b. Ilustrasi
Ilustrasi yang akan digunakan adalah teknik ilustrasi gambar tangan
agar media yang dibuat terlihat lebih menarik.
c.
Warna
Warna yang akan digunakan adalah warna yang dapat mencerminkan
kebudayaan tradisi Bali dan warna yang terlihat natural di sesuaikan
dengan warna lontar, yaitu warna merah, hitam, putih yang merupakan
warna tridatu, warna coklat yang merupakan warna lontar serta
menggunakan warna kuning.
d.
Huruf
Huruf yang digunakan adalah jenis huruf Sans serif (huruf tak berkait)
dan dekoratif (decorative) dengan penataan yang lebih rapi agar mudah
dibaca target audiens.
17
e.
Teks
Disusun berupa kata-kata atau kalimat yang memberikan informasi dan
keterangan
yang bersifat
ajakan
untuk
lebih
mengenal
dan
melestarikan prasi. Teks yang digunakan menggunakan gaya bahasa
novel yang merupakan bacaan populer remaja pada umumnya agar
mudah dipahami dan mudah dimengerti oleh target audiens.
f.
Ukuran dan Bahan
Ukuran yang akan digunakan memakai satuan sentimeter dan pada
desain
menggunakan
skala
perbandingan.
Bahan
yang
akan
dipergunakan disesuaikan dengan media yang akan dibuat.
g.
Teknik Produksi
Teknik produksi yang digunakan disesuaikan dengan jenis media,
yaitu:
1) Teknik Cetak Offset
: Buku, Packaging, Paper bag, dan Poster
2) Teknik Cetak Digital : Katalog.
3.
KONSEP DESAIN
2.2
Konsep Dasar Desain
Konsep merupakan basic (framework) menterjemahkan ide kedalam
bentuk karya. Tanpa konsep, sebuah karya tidak akan mempunyai arti. Konsep
dasar merupakan dasar atau landasan dalam membuat desain, yang mudah
dikomunikasikan atau disebarluaskan sehingga dapat dinikmati oleh orang banyak
dengan memperhatikan ciri khas obyek yang divisualisasikan sehingga terwujud
karya yang bersifat mandiri. Konsep juga diartikan sebagai dasar pemikiran
desainer dalam usaha memecahkan tuntutan maupun problem desain (sumber:
www.rudydewanto.com-diunduh pada 07/03/2013)
Sesuai dengan judul kasus yaitu “Perancangan Buku Sebagai Media
Kampanye Pelestarian Prasi di Karangasem”, maka konsep yang penulis pilih
adalah “penyelamatan dan penanggulangan”, Apabila dilihat dari arti kata, kata
penyelamatan
berarti
pengamanan,
orang
yg
menyelamatkan
18
(http://kamus.sabda.org-diunduh pada 07/03/2013) dan kata penanggulangan
berarti proses, cara, perbuatan menanggulangi, jalan keluar, pemecahan,
pengendalian, penyelesaian, resolusi, solusi (http://kamus.sabda.org-diunduh pada
07/03/2013).
Maka arti dari “penyelamatan dan penanggulangan” adalah upaya
pengamanan dan proses pemecahan masalah sebagai sebuah solusi. Dimana kata
tersebut merupakan dua tindakan yang tidak dapat dipisahkan dalam arti, biasanya
kedua tindakan ini dilakukan untuk saling menunjang, apabila upaya
penyelamatan telah dilakukan maka perlu adanya proses penanggulangan untuk
mendapatkan penyelesaian dari suatu masalah.
Jika dikaitkan dengan kasus ini, penyelamatan mengarah pada upaya
penanganan pengamanan prasi-prasi kuno warisan nenek moyang yang masih ada
di perpustakaan-perpustakaan maupun di museum dengan cara membersihkan
prasi tersebut dari debu dan memberikan packaging/ kotak kayu pada setiap prasi
agar tidak tercecer dan hilang, sedangkan penanggulangan mengarah pada upaya
proses pemecahan masalah dari prasi-prasi yang telah diselamatkan agar tetap
awet dan terjaga yaitu dengan cara memberikan silica gel maupun obat anti rayap
pada kotak-kotak penyimpanan prasi agar prasi terbebas dari rayap dan
kelembaban yang dapat mengakibatkan rusaknya prasi, sedangkan hubungannya
dengan media adalah penyelamatan dan penanggulangan yang dikaitkan dengan
kasus sebagaimana telah dijelaskan diatas, media yang dibuat adalah sebuah buku
non fiksi, disajikan dengan beberapa ilustrasi menarik dan selain memberikan
informasi-informasi pengetahuan tentang prasi juga menyajikan salah satu cerita
Tantri “Ida Sri Adnya Dharmaswami dan Tukang Emas yang Jahat”. Cerita ini
dikemas dalam bentuk buku sesuai dengan gaya bahasa novel yang merupakan
buku populer di kalangan remaja. Sehingga melalui media buku nantinya akan
sesuai dengan konsep ini yang menekankan ajakan kepada remaja untuk
mempelajari dan mengenal prasi guna menyelamatkan dan menanggulangi
kesenian prasi yang mulai memudar akibat kurangnya pengetahuan tentang prasi
dikalangan masyarakat khususnya remaja saat ini
19
2.3
Skema Pola Pikir
Salah satu hal penting agar kegiatan sosialisasi baik yang bertujuan sosial
atau berorientasi bisnis, dapat berfungsi secara maksimal dan tepat pada sasaran
yang ingin dicapai maka diperlukan adanya pola pikir. langkah-langkah pola
pemikiran dalam kasus ini yakni pertama-tama adanya permasalahan yang
memerlukan sebuah solusi. Permasalahan yang dihadapi dalam hal ini adalah
remaja atau masyarakat yang hidup di Bali, hidup sebagaimana mestinya dan
berinteraksi dengan masyarakat lainnya untuk memenuhi kebutuhan akan
informasi, yaitu kebutuhan informasi tentang wawasan dan pengetahuan prasi
yang dapat di pandang sebagai benda kekayaan budaya tradisional yang khas
dimiliki oleh Bali, khususnya daerah Karangasem dan dapat dijadikan pedoman
hidup karena sarat akan ajaran moral yang baik bagi remaja saat ini yang
cendrung melupakan akar budaya sendiri.
Berkaitan dengan kebutuhan akan informasi tersebut ada tiga unsur yang
berperan yaitu komunikator, komunikan dan desainer. Desainer yang dalam hal
ini yaitu mahasiswa mempunyai peranan menyampaikan pesan dari komunikator
yaitu dinas kebudayaan provinsi Bali untuk melestarikan kesenian prasi
sehingga tidak punah, kepada komunikan yakni remaja di Karangasem usia 1317 tahun melalui buku tentang prasi. Buku tentang prasi ini dibatasi oleh
peraturan dan norma yang berlaku agar tidak melanggar, tidak terkena sangsi
maupun kesalahan dari masyarakat tentang pesan yang disampaikan.
2.4
Skema Proses Desain
Kasus
yang
diangkat
yaitu
“Perancangan
Buku
Serta
Media
Pendukungnya Sebagai Media Kampanye Pelestarian Prasi di Karangasem”.
Bagaimana merancang buku non fiksi yang mengulas pengetahuan tentang prasi
yakni pengertian, sejarah, cara pembuatan dan juga menampilkan prasi Tantri
dengan cerita “Ida Sri Adnya Dharmaswami dan Tukang Emas yang Jahat” yang
dapat menjadi media kampanye pelestarian prasi di Karangasem, sehingga tujuan
yang ingin dicapai adalah dengan merancangan buku khususnya pengetahuan
20
tentang prasi dan mengenalkan prasi tantri dengan cerita “Ida Sri Adnya
Dharmaswami dan Tukang Emas yang Jahat” dapat menjadi media kampanye
pelestarian prasi di Karangasem. Sasarannya adalah remaja umur 13-17 tahun
yang berada di Karangasem. Agar tujuan dan sasaran dapat dicapai maka
diperlukan adanya pengumpulan data aktual dan data faktual. Kemudian data yang
sudah terkumpul dianalisis sehingga mendapatkan kesimpulan sementara atau
sintesa. Dari sintesa tersebut maka ditentukanlah media yang akan dibuat yaitu
buku, packaging, paperbag, poster dan katalog. Kemudian dibuatlah alternatif
pra-desain dari media-media terpilih tersebut dan dianalisis berdasarkan kriteria
desain sehingga akan tercipta desain terpilih. Kemudian desain yang terpilih akan
diwujudkan menggunakan teknik cetak, alat dan bahan yang disesuaikan dengan
media. Kemudian didistribusikan kepada masyarakat sehingga permasalahan di
atas dapat diatasi.
2.5
Strategi Media
Strategi adalah siasat/langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai
tujuan. Strategi media dibentuk oleh target sasaran (audience) dengan panduan
media, yang terdiri dari pilihan media dan jadwal media, yang disusun dengan
memperhitungkan media habit, yaitu kebiasaan target (audience) masing-masing
pangsa pasar dalam penggunaan media. Target audience inilah yang menentukan
saluran media mana yang paling efektif dan efisien. Efektif artinya cocok untuk
mengiklankan produk yang dirancang, dan efisien artinya yang terjangkau
(Sanyoto, 2005 : 66).
Strategi media mempertimbangkan aspek-aspek seperti geografi sasaran
yang diinginkan yaitu remja usia 13-17 tahun khususnya yang berada di wilayah
Karangasem Bali. Aspek demografis meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan, dan tingkat penghasilan. Berdasarkan faktor
demografi media yang dirancang dan diperuntukkan mencakup sasaran yang
diinginkan adalah ramaja usia 13-17 tahun baik itu pria maupun wanita berbagai
macam golongan yang masih dapat meneruskan dan menjaga keberadaan kesenian
21
prasi tersebut. psikografis meliputi kepribadian, gaya hidup, kesukaan, dan
tingkat sosial. Dilihat dari psikografis, sasaran yang diinginkan yaitu
diperuntukkan untuk remaja usia 13-17 tahun semua kalangan dengan berbagai
macam tingkatan baik dari gaya hidup sampai tingkat sosial. Melalui
behaviouristis perlu adanya penyesuaian media terhadap khalayak sasaran dengan
pertimbangan kebutuhan, kesukaan mereka akan sesuatu. Jadi dalam media ini
dirancang mempunyai suatu daya tarik terhadap remaja usia 13-17 tahun secara
khusus sehingga mampu memberi wawasan, mempengaruhi, mengajak, dan
membujuk remaja ataupun dapat menginformasikan kepada target audience
tentang prasi yakni pengertian, sejarah, cara pembuatan, dan prasi Tantri dengan
cerita “Ida Sri Adnya Dharmaswami dan Tukang Emas yang Jahat”
2.6
Program tayang media
Program tayangan media merupakan media komunikasi visual yang akan
digunakan kemudian hendaknya dilaksanakan pada saat yang tepat sehingga tepat
pada sasaran yang ingin dituju. Program tayangan media yang dilaksanakan dalam
upaya kampanye pelestarian prasi meliputi kapan, dimana dan frekuensi. Pada
dasarnya semua media akan dikeluarkan pada bulan Agustus pada saat musim
sekolah dimulai setelah libur kenaikan kelas, tempatnya disesuaikan dengan
media seperti media buku dapat di bagikan Di perpustakaan daerah, perpustakaan
sekolah, perpustakaan dinas kebudayaan, museum dan stand kesenian lontar di
lokasi suatu pameran dan juga dapat dibagikan secara gratis kepada target
audience. Untuk packaging dan paper bag di bagikan bersama buku, sedangkan
untuk media poster di tempel pada papan pengumuman serta mading SMP dan
SMA/SMK di kawasan Karangasem. Untuk Frekunsi media kampanye pelestarian
ini dapat berkelanjutan maupun pada bulan atau waktu-waktu tertentu ketika
pameran kesenian dan kebudayaan berlangsung.
22
2.7
Strategi kreatif
Strategi kreatif adalah upaya pendekatan media promosi untuk
memaksimalkan daya tarik visual melaui bentuk isi dan perwujudan media.
Adapun strategi kreatif yang dilakukan pada media utama dan pendukung di kasus
ini antara lain dari segi isi pesan, bentuk pesan, gaya visual, strategi visual,
material dan teknik cetak.
4.
VISUALISASI DESAIN
4.1
Buku
Nama Media
: Buku “Kenali dan Lestarikan Prasi”
Ukuran
: 23 cm x 15 cm
Bahan
: Kertas Art paper 210 gsm (cover)
Kertas Art paper 150 gsm (isi)
Teknik cetak
: Cetak offset
23
4.2
Packaging
Nama Media
: Packaging
Ukuran
: 25 cm x 17 cm
Bahan
: Kertas Art paper 150 gsm
Karton 2 mm
Teknik cetak
4.3
: Cetak offset
Paper Bag
24
4.4
Nama Media
: Paper Bag
Ukuran
: 21cm x 30cm
Bahan
: Kertas Art paper 210 gsm
Teknik cetak
: Cetak offset
Poster
Nama Media
: Poster
Ukuran
: 42cm x 59,4cm
Bahan
: Kertas Art paper 210 gsm
Teknik cetak
: Cetak offset
25
4.5
Katalog
Nama Media
: Katalog
Ukuran
: 21 cm x 14,8 cm
Bahan
: Kertas Art paper 210 gsm (cover)
Kertas Art paper 150 gsm (isi)
Teknik cetak
: Cetak digital
26
5.
SIMPULAN DAN SARAN
5.1
Simpulan
Berikut ini adalah simpulan yang dapat diambil dari proses perancangan
yang telah dilakukan :
1. Dalam proses perancangan media buku pengetahuan untuk mengenalkan prasi
dalam upaya kampanye pelestarian prasi ini, yang khususnya ditujukan untuk
menarik minat generasi muda usia 13-17 tahun yakni remaja di Karangasem
sebagai generasi yang akan meneruskan kesenian tersebut, maka media untuk
dapat memberikan informasi yang efektif dan komunikatif sehingga dapat
menambah wawasan dan memupuk kepedulian remaja tersebut terhadap prasi
dan prasi akan tetap ada, semakin dikenal dan tentunya dilestarikan dengan
baik hingga ke generasi berikutnya, sebaiknya berpedoman pada teori-teori
desain, prinsip desain, penggunaan ilustrasi, teks dan warna. Seperti dapat
menampilkan ilustrasi-ilustrasi
gambar tangan
yang lebih
ekspresif,
penggunaan warna yang dapat mencerminkan kesenian tersebut dan dapat
menyuguhkan salah satu cerita prasi yaitu cerita Tantri Ida Sri adnya
Dharmaswami dan Tukang Emas yang Jahat agar target audiens tidak merasa
jenuh saat membacanya.
2. Media pendukung Buku “Kenali dan Lestarikan Prasi” yang efektif dan
komunikatif untuk menambah pengetahuan, ketertarikan dan antusias remaja
untuk mengenal, mengembangkan dan menjaga kesenian prasi agar tetap ada
dan di kenal masyarakat luas, adalah packaging buku, paper bag, poster dan
katalog. Setiap media memiliki fungsi masing-masing dan dirancang dalam
satu konsep, sehingga diantara desain satu dengan yang lainnya memiliki satu
kesatuan, saling melengkapi dan mendukung untuk terciptanya hasil yang
diinginkan dalam upaya kampanye untuk melestarikan prasi yaitu secara tidak
langsung dapat membuat target audiens dapat tergerak untuk ikut melestraikan
prasi.
27
5.2
Saran
Saran-saran penulis sebagai pertimbangan setelah mengetahui dan
melakukan berbagai kegiatan dalam merancang buku dan media pendukungnya
sebagai upaya kampanye pelestarian prasi di Karangasem, antara lain:
Dalam upaya meningkatkan ketertarikan dan kecintaan generasi muda
terhadap kesenian prasi, keberadaan media komunikasi visual sangatlah
diperlukan, mengingat kondisi di zaman era globalisai saat ini perkembangan ilmu
teknologi sangat pesat dan kesenian dan kebudayaan mulai di lupakan. Adanya
media yang lebih kreatif, inovatif dan menarik sesuai dengan target sasaran,
tentunya akan membantu meningkatkan ketertarikan dan kecintaan remaja akan
kesenian prasi sehingga tidak adanya lagi prasi kuno yang di jual kepada orang
asing dan prasi baru yang di jual dengan harga relatif murah. Diharapkan
kedepannya semakin banyak bermunculan media media komunikasi visual yang
lebih inovatif dan tentunya diharapkan adanya bantuan pemerintah yang lebih
aktif lagi sehingga generasi muda bisa lebih mengenal, mencintai dan
melestarikan keberadaan kesenian dan budaya seperti prasi.
28
DAFTAR PUSTAKA
Nazir, M. 2003. Metodologi penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia.
Rachmadi.1993. Public Relations Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama
Sanyoto, S. 2006.
Metode Perancangan Komunikasi Visual Periklanan.
Yogyakarta: Dimensi Press
Sarwono, S.2012. Psikologi Remaja. Jakarta: PT.Raja GraindoPersada
Tinarbuko, S. 2008. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi
http://www.rudydewanto.com/2011/02/desain-konsep.html
[diunduh
pada
07/03/2013]
http://kamus.sabda.org/kamus/penanggulangan[diunduh pada 07/03/2013]
http://kamus.sabda.org/kamus/penyelamatan[diunduh pada 07/03/2013]
29
Download