Strategi Intervensi Konseling Untuk Mengatasi Kecemasan Siswa

advertisement
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
Strategi Intervensi Konseling Untuk Mengatasi Kecemasan Siswa
YM. Indarwati Rahayu
FIP IKIP Veteran Semarang
Email : [email protected]
ABSTRAK
Kecemasan merupakan reaksi emosional yang ditimbulkan oleh penyebab yang tidak
spesifik yang dapat menimbulkan perasaan khawatir, tidak nyaman dan merasa terancam.
Timbulnya kecemasan biasanya didahului oleh faktor-faktor tertentu. Demikian pula
kecemasan yang di alami oleh para siswa SMP di Kabupaten Magelang yang berakibat
pada pesimistik setiap kegiatan yang dilakukan. Sebab-sebab kecemasan ini bisa berupa
kurangnya kepercayaan diri, adanya putus asa, frustasi, tidak dapat bertindak secara efektif,
dan bahkan hingga sampai pada kegagalan dalam berprestasi. Oleh sebab itu tindakan
intervensi konseling model ini dirasa mampu mengurangi dan bahkan menghilangkan rasa
kecemasan yang ada pada diri siswa tersebut. Tujuan penelitian ini adalah: (1)
membandingkan tingkat kecemasan siswa sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dan
strategi konseling berupa Cognitif Restructing (CR) dan Systematic Desensitisasi (SD) dan
(2)
membandingkan keefektifan intervensi dan strategi konseling berupa Cognitif
Restructing (CR) dan Systematic Desensitisasi (SD) yang dikombinasikan dengan tanpa
dikombinasikan keduanya untuk menangani kecemasan siswa. Jenis penelitian ini adalah
eksperiman
dengan menggunakan model pretest-postest control group yaitu untuk
membandingkan antara kedua konseling tersebut. Sedangkan sampel penelitian dipilih
secara purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat
perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan Strategi Intervensi
Konseling (SIK), dan (2) SIK mampu mengatasi kecemasan pada siswa.
Kata Kunci : Intervensi Konseling, Kecemasan
PENDAHULUAN
Hidup adalah misteri, tidak ada yang tau akan kejadian hari esok termasuk jalan hidup
seseorang. Manusia sebagai makhluk hidup, makhluk Tuhan, dan manusia makhluk sosial
akan mengalami beberapa fase dalam kehidupannya. Manusia tumbuh dan berkembang
sepanjang usianya. Makin berkembang seseorang, makin bertambah usianya, dengan
bertambahnya usia, manusia akan mengalami beberapa perubahan. Perubahan-perubahan
tersebut, terutama karena adanya perubahan pada aspek biologis yang kemudian
membawa perubahan secara psikologis dan sosial.
Sepanjang perjalanan hidup seseorang, banyak peristiwa yang terjadi. Ada yang
sedih, menyenangkan, menyakitkan, dan lain-lain. Tak jarang dari beberapa peristiwa yang
dilalui seseorang mampu mengubah jalan hidupnya. Melihat dari fenomena yang ada dalam
lingkungan masyarakat dan dari interview beberapa sampel yang diambil, bahwa yang semula
tubuhnya terlihat segar, terlihat sehat, dan bahkan mampu melakukan aktivitas rutin yang
biasanya dikerjakan setiap harinya tiba-tiba mengalami musibah yang membuatnya harus
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
110
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
istirahat total dan rutin melakukan chek up dokter. Akibat dari pola makan yang tidak
terkontrol, banyak pikiran, kurang beristirahat, dan kurangnya berolah raga membuat
siswa mengalami kecemasan.
Senyum yang mengembang tiba-tiba menghilang ditelan keterkejutan dan kepanikan
yang sulit dipahami. Peristiwa tersebut membuat seseorang harus mampu menerima kondisi
diri yang baru bila menginginkan hidupnya tetap berjalan. Proses menerima diri tersebut
tentunya bukan pekerjaan mudah dan cepat, sebaliknya memerlukan tahapan-tahapan yang
berat dan panjang serta relatif lama. Ibarat sebuah rapat, dimana di dalamnya terjadi
perdebatan untuk menuju kata mufakat atau sepakat atau menerima (Cakfu, 2006).
Perdebatan tersebut tentu tidak selalu berjalan lancar, terkadang memerlukan penundaan
sehingga memakan waktu berhari-hari.
Di dalam dirinya penuh pergolakan psikis yang pada awalnya sulit untuk dipahami.
Ada perasaan bingung, panik, khawatir, malu, putus asa, dan lain-lain itulah yang dinamakan
kecemasan. Reaksi-reaksi tersebut menunjukkan bahwa dirinya belum bisa berdamai atau
menerima dengan realita yang ada. Perlu waktu bagi dirinya untuk berproses sampai
pada akhirnya mampu menerima kenyataan yang ada.
Perubahaan fisiologis tersebut dapat mempengaruhi ketidakseimbangan psikologis
seseorang, seperti cemas, perasaan tidak berguna, salah dalam mengingat sesuatu,
suasana hati berubah-ubah dan depresi. Adanya gangguan-gangguan ini akan berpengaruh
dengan aktivitas sosial yang dilakukan, termasuk yang dialami oleh para siswa SMP di
Magelang.
Menurut Santrock (2002); kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan,
mengingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil
tindakan untuk mengatasi ancaman. Kecemasan yang muncul pada siswa dihubungkan
dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi suatu situasi yang sebelumnya tidak
pernah dikhawatirkan, misalnya ujian, kurangnya percaya diri dan sebagainya. Masa yang
penting dalam perjalanan hidup anak di antaranya adalah perubahan fungsi tubuh yang
dapat mempengaruhi berbagai macam dalam kehidupan-nya, baik dalam kehidupan sosial,
perasaan tentang dirinya, dan fungsi-fungsi lain dalam mengikuti proses pembelajaran.
Setiap siswa
mempunyai keyakinan dan harapan yang berbeda-beda, karena
perbedaan itu maka tidak ada dua orang yang akan memberikan reaksi yang sama,
meskipun tampaknya
seakan-akan bereaksi dengan cara yang sama. Perubahan-
perubahan psikis yang terjadi pada siswa akan menimbulkan sikap yang berbeda-beda
antara lain yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simtom-simtom psikologis
seperti: depresi, mudah tersinggung, dan mudah menjadi marah, dan diliputi banyak
kecemasan. Menurut (Ghufron & Risnawita, 2010), membedakan perasaan cemas yaitu,
kecemasan (Anxiety) adalah reaksi emosi sementara yang timbul pada situasi tertentu yang
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
111
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
dirasakan sebagai ancaman, misalnya menjalani operasi. Kecemasan (trait anxiety) adalah
disposisi untuk menjadi cemas dalam menghadapi berbagai macam situasi. Kecemasan
biasanya terjadi tanpa stimulus yang jelas, sehingga kecemasan harus dibedakan dengan
rasa takut (fear) sebab takut muncul karena adanya ancaman yang jelas dari luar. Rasa
takut berhubungan dengan tingkah laku spesifik untuk menghindar dan menjauh dari
stimulus yang tidak menyenangkan. Sedangkan kecemasan merupakan akibat dari
ancaman yang tidak jelas, tidak bisa dikontrol dan tidak bisa dihindari. Berbeda juga dengan
stress, stress adalah perasaan tertekan, perasaan tertekan ini membuat orang mudah
tersinggung, mudah marah, konsentrasi terhadap pekerjaan menjadi terganggu. Stress
terjadi ketika seseorang tidak dapat mengatasi kecemasan ataupun ketakutannya.
Salah satu ciri orang yang dapat menerima dirinya menurut Sheerer adalah dengan
merasa yakin bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk menghadapi hidup, dan merasa
bahwa dirinya masih dapat berharga bagi orang lain. Individu yang dapat menerima dirinya
diartikan sebagai individu yang tidak bermasalah dan mampu menerima kelebihan dan
kekurangan yang dimiliki. Penerimaan diri seseorang itu dapat diwujudkan dalam bentuk
menghargai diri sendiri dan orang lain. Seseorang yang memiliki aktualisasi diri dapat
menerima diri apa adanya, tidak mencela atas kekurangan-kekurangan dan kelemahankelemahannya. Seseorang yang memiliki penerimaan diri akan menerima apa yang telah
terjadi dalam tuhuhnya dengan senang hati. Tentang
hal tersebut dapat menurunkan
kecemasan karena sejalan dengan adanya informasi akan membentuk suatu pemahaman
diri, termasuk yang dialami oleh para siswa SMP di Magelang.
KAJIAN TEORI
Pengertian Kecemasan
Kecemasan, stress, takut, dan perasaan tegang (tension) meski merupakan istilah
dengan pengertian yang berbeda satu dengan yang lain, tetapi semua itu menggambarkan
kondisi kejiwaan manusia, apalagi di jaman seperti sekarang ini, yang penuh dengan
berbagai ketidakpastian. Di antara sekian bentuk persoalan kejiwaan yang terjadi, para
pakar kejiwaan sependapat bahwa kecemasan merupakan salah satu problematika manusia
terbesar pada jaman ini.
Kecemasan merupakan pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan dengan
dikomunikasikan secara interpersonal. Mengenai kekhawatiran atau ketegangan berupa
perasaan cemas, tegang, dan emosi yang dialami oleh seseorang. Kecemasan adalah
sesuatu keadaan tertentu terhadap kemampuannya dalam menghadapi objek tersebut. Hal
tersebut berupa emosi yang kurang menyenangkan yang dialami oleh individu dan bukan
kecemasan sebagai sifat yang melekat pada kepribadian (Corey, 2005). Menurut (Ghufron &
Risnawita, 2010); kecemasan adalah suatu keadaan tertentu yaitu menghadapi situasi yang
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
112
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
tidak pasti dan tidak menentu terhadap kemampuanya dalam menghadapi objek tersebut.
Muchlas (1976)
dalam Ghufron & Risnawita (2010) juga mendefinisikan kecemasan
sebagai sesuatu pengalaman subjektif mengenai ketegangan mental kesukaran dan
tekanan yang menyertai konflik atau ancaman.
Sementara Fesit (2010), membedakan perasaan cemas menurut penyebabnya
menjadi tua. Slameto (2003) juga mengemukakan kecemasan adalah kecenderungan pada
diri seseorang untuk merasa terancam oleh sejumlah kondisi yang sebenarnya tidak
berbahaya.
Berdasarkan dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan
merupakan suatu kondisi emosional pada diri seseorang yang ditandai dengan perasaan
tegang dan kekhawatiran yang bersifat subjektif. Hal tersebut berarti bahwa kecemasan
(anxiety) dapat diartikan sebagai perasaan kuatir, cemas, gelisah, dan takut yang muncul
secara bersamaan, yang biasanya diikuti dengan naiknya rangsangan pada tubuh, seperti:
jantung berdebar-debar, keringat dingin. Kecemasan juga dapat timbul sebagai reaksi
terhadap "bahaya" baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang tidak (hasil dari imajinasi
saja) yang seringkali disebut dengan "free-floating anxiety" (kecemasan yang terus
mengambang tanpa diketahui penyebabnya).
Sebab Terjadinya Kecamasan
Menurut Gerald (2006); penyebab dan lama berlangsungnya kecemasan dapat
dibedakan menjadi beberapa bentuk, yakni:
1. Phobic Anxiety; yaitu kecemasan yang timbul dikarenakan oleh phobia (ketakutan)
tertentu, misalnya:
a. Cemas karena takut berada di dalam kamar tertutup;
b. Cemas ketika tidur di ruang yang gelap; dan
c. Cemas lantaran berada di tempat tinggi.
2. Acute Anxiety, ialah kecemasan yang muncul mendadak dengan intensitas yang tinggi,
tetapi tidak terlalu lama akan lenyap, misalnya:
a. Ketika melihat orang yang mirip dengan pembunuh keluarganya, ia segera ketakutan
dan beberapa saat setelah orang tadi pergi ia tenang kembali;
b. Akibat mendengar hiruk pikuk yang mengingatkannya pada peristiwa Medio Mei,
seorang ibu muda langsung histeris ketakutan, namun sesaat sesudah ia sadar bahwa
itu bukan peristiwa sesungguhnya, ia menjadi tenang kembali;
3. Chronic Anxiety, yakni kecemasan yang berlangsung lama dan terus menerus (dapat
terjadi seumur hidup), meski dalam intensitas yang rendah, dan tanpa sebab yang jelas,
misalnya:
a. Orang "kagetan"
b. Hendak bepergian, selalu ingin kencing.
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
113
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
4. Normal Anxiety, yaitu kecemasan yang beralasan, misalnya:
a. Menjelang ujian, perasaan cemas muncul begitu besar; dan
b. Cemas menunggu hasil operasi tumor dari salah satu anggota keluarga.
5. Neurotic Anxiety, ialah kecemasan tanpa alasan yang jelas sebagai akibat konflik alam
bawah sadar, misalnya:
Sering punya perasaan bersalah akibat seringnya dipersalahkan pada masa kecil, dan
kini muncul menjadi kecemasan yang berlarut-larut serta secara periodik muncul.
Adapun penyebab kecemasan menurut Sigmund Freud dalam Fauzan (2008),
seorang pakar psikologi, kecemasan akan muncul ketika:
1. Id (rangsangan naluri yang menuntut pemuasan segera) muncul sebagai suatu
rangsangan yang mendorong ego untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat diterima
lingkungan. Oleh Freud disebut sebagai Neurotic Anxiety;
2. Ego (bagian dari kepribadian manusia yang memberi kesadaran akan adanya dunia di
luar dirinya, dan kemungkinan untuk berorientasi pada realita) menyadari akan adanya
hal yang menguatirkan. Inilah yang menyebabkan Realistic Anxiety, menurut Freud; dan
3. Super Ego (kesadaran moral akan apa yang baik dan jahat) menjadi begitu kuat
sehingga menimbulkan perasaan bersalah dan rasa malu, yang disebut Moral Anxiety
oleh Freud.
Hikmawati (2010) menyebutkan bahwa kebenaran pandangan Freud tersebut tidak
cukup menjelaskan penyebab kecemasan, sebab menurut Hikmawati, tidak ada kecemasan
yang berdiri sendiri, yang lebih normal terjadi adalah kombinasi dari ketiganya sebagai
reaksi terhadap realita-realita:
1. Ancaman, yaitu kesadaran akan adanya ancaman terhadap dirinya baik secara fisik,
maupun psikis.
2. Konflik kemauan, yakni antara kemauan melakukan (approach) engan kemauan
menghindar (avoidance). Approach, memberikan kepuasan yang diharapkan. Sedangkan
Avoidance menghasilkan hal-hal yang tidak menyenangkan.
Terdapat tiga macam konflik kemauan, yaitu:
a. Konflik akibat Approach-Approach, konflik ini timbul karena adanya kemauan yang
sama-sama menyenangkan, tetapi tidak mungkin dilakukan sekaligus, sehingga
menimbulkan kecemasan;
b. Konflik akibat Approach-Avoidance, kemauan dan ketidakmauan yang sama kuatnya
alasan masing-masing; dan
c. Konflik akibat Avoidance-Avoidance, yaitu konflik yang ditimbulkan oleh karena dua
alternatif yang hasil khirnya sama-sama tidak diinginkan.
3. Ketakutan, yaitu ketakutan pada sesuatu yang menyebabkan timbulnya kecemasan.
Misalnya: takut gagal menimbulkan kecemasan ketika menghadapi ujian, takut ditolak
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
114
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
menimbulkan kecemasan di waktu berjumpa dengan orang baru. Bahkan ketakutan
tanpa alasan pun dapat menimbulkan kecemasan yang makin lama makin serius.
4. Kebutuhan yang tidak terpenuhi, sekian banyaknya kebutuhan hidup yang paling
mendasar disebutkan oleh berbagai ahli, seperti kebutuhan akan kenikmatan (Freud),
kebutuhan akan kuasa (Alfred Adler), kebutuhan akan arti kehidupan (Victor Frankl),
sampai pandangan cukup banyak orang akan kebutuhan mengasihi, dikasihi, dan
merasa diri berharga. Dan kala kebutuhan, yang oleh Susabda diringkaskan menjadi
tiga: security, survival, dan self-fulfilment itu, tidak tercukupi maka akan timbul
kecemasan.
5. Keunikan kepribadian, setiap orang memiliki kepribadian yang unik dalam bersikap hati
terhadap realita maupun bukan realita. Ada orang yang tidak tahan menghadapi
persoalan kecil lalu timbul kecemasan, tetapi ada tipe orang yang menghadapi tekanan
dan konflik hidup yang berat tanpa menimbulkan kecemasan apapun. Beberapa unsur
pembentukan kepribadian seringkali menyebabkan besar kecilnya daya tahan terhadap
konflik, yaitu:
a. Unsur Psikologis: setiap orang "belajar" bagaimana ia berreaksi terhadap
kesuksesan dan kegagalan. Pengalaman menentukan kadar kecemasan;
b. Unsur keturunan:. beberapa sikap hati ditentukan oleh unsur genetika/ keturunan.
Ada kalanya, seseorang lebih sensitif dikarenakan orang tuanya bertemperamen
Sanguin-Melankolis misalnya;
c. Unsur sosiologis: keadaan sosial potensial untuk membentuk kecemasan seseorang.
Perasaan aman dan puas dalam kehidupan sosial (social life) menentukan besar
kecilnya kadar kecemasan. Misalnya: kondisi sosial politik di Indonesia yang tidak
menentu seperti sekarang ini, suatu hari kelak akan membentuk manusia Indonesia
yang mudah cemas;
d. Unsur fisiologis: kondisi kesehatan tubuh menentukan kadar kecemasan. Seseorang
yang kurang sehat atau sakit-sakitan akan rentan terhadap perasaan cemas yang
berkepanjangan. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang kerap kali cemas akan
terganggu kesehatannya; dan
e. Unsur teologis: kadar iman seseorang menentukan kadar kecemasannya. Semakin
tinggi imannya, semakin rendah kecemasannya.
Aspek dan Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan
Deffenbacher dan Hazaleus dalam Register (1991) dalam Rahmayanti
(2011)
mengemukakan bahwa sumber penyebab kecemasan, yaitu:
1. Kekhawatiran (worry) merupakan pikiran negatif tentang dirinya sendiri;
2. Emosionalitas (imosionality) sebagai reaksi diri terhadap rangsang saraf otonomi, seprti
janting berdebar-debar, keringat dingin, dan tegang; dan
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
115
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
3. Gangguan dan hambatan dalam penyelesaian tugas merupakan kecenderungan yang
dialami seseorang yang selalu tertekan karena pemikiran yang rasional terhadap tugas.
Berdasarkan urain diatas dapat disimpulkan, bahwa aspek dari kecemasan meliputi
kekhawatiran, emosionalitas, dan gangguan hambatan dalam menyelesai-kan tugas.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan ada berbagai macam, di
antaranya adalah:
1. Pengalaman negatif pada masa lalu
Merupakan hal tidak menyenangkan pada masa lalu mengenai peristiwa yang dapat
terulang lagi pada masa mendatang, apabila individu tersebut menghadapi situasi atau
kejadian yang sama dan juga tidak menyenangkan.
2. Pikiran yang tidak rasional
Para psikolog memperdebatkan bahwa kecemasan terjadi bukan karena suatu kejadian,
melainkan kepercayaan atau keyakinan tentang kejadian itulah yang menjadi penyebab
kecemasan.
Sedangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan
menurut Hurlock
(2000) adalah sebagai berikut:
1. Pemahaman diri
Merupakan persepsi yang murni terhadap dirinya sendiri, tanpa merupakan persepsi
terhadap diri secara realistik. Rendahnya pemahaman diri berawal dari ketidaktahuan
individu dalam mengenali diri. Pemahaman dan penerimaan diri merupakan dua aspek
yang tidak dapat dipisahkan. Individu yang memiliki pemahaman diri yang baik akan
memiliki penerimaan diri yang baik, sebaliknya memiliki pemahaman diri yang rendah
akan memiliki penerimaan diri yang rendah pula.
2. Harapan-harapan yang realistik
Harapan-harapan yang realistik akan membawa rasa puas pada diri seseorang dan
berlanjut pada penerimaan diri. Seseorang yang mengalahkan dirinya sendiri dengan
ambisi dan standar prestasi yang tidak masuk akal berarti seseorang tersebut
kurang dapat menerima dirinya.
3. Bebas dari hambatan lingkungan
Harapan individu yang tidak tercapai banyak yang berawal dari lingkungan yang tidak
mendukung dan tidak terkontrol oleh individu. Hambatan lingkungan ini bisa berasal dari
orangtua, guru, teman, maupun orang dekat lainnya. Penerimaan diri akan dapat
terwujud dengan mudah apabila lingkungan dimana individu berada memberikan
dukungan yang penuh.
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
116
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
4. Sikap lingkungan seseorang
Sikap yang berkembang di masyarakat akan ikut andil dalam proses penerimaan diri
seseorang. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik pada individu, maka individu
akan cenderung untuk senang dan menerima dirinya.
5. Ada tidaknya tekanan emosi yang berat
Tekanan emosi yang berat dan terus menerus seperti di rumah maupun di lingkungan
kerja akan mengganggu seseorang dan menyebabkan ketidak-seimbangan fisik dan
psikologis. Secara fisik akan mempengaruhi kegiatannya dan secara psikis akan
mengakibatkan individu malas, kurang bersemangat, dan kurang bereaksi dengan orang
lain. Dengan tidak adanya tekanan yang berarti pada individu, akan memungkinkan anak
yang lemah mental untuk bersikap santai pada saat tegang. Kondisi yang demikian akan
memberikan kontribusi bagi terwujudnya penerimaan diri.
6. Frekuensi keberhasilan
Setiap orang pasti akan mengalami kegagalan, hanya saja frekuensi kegagalan antara
satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Semakin banyak keberhasilan yang dicapai
akan menyebabkan individu yang bersangkutan menerima dirinya dengan baik.
7. Ada tidaknya identifikasi seseorang
Pengenalan
orang-orang
yang
mempunyai
penyesuaian
diri
yang
baik
akan
memungkinkan berkembangnya sikap positif terhadap dirinya serta mempunyai contoh
atau metode yang baik bagaimana harus berperilaku.
8. Perspektif diri
Perspektif diri terbentuk jika individu dapat melihat dirinya sama dengan apa yang dilihat
orang lain pada dirinya. Rendahnya perspektif diri akan menimbulkan perasaan tidak
puas dan penolakan diri. Namun perspektif diri yang obyektif dan sesuai dengan
kenyataan yang sebenarnya akan memudahkan dalam penerimaan diri.
9. Konsep diri yang stabil
Konsep diri yang stabil bagi seseorang akan memudahkan dia dalam usaha menerima
dirinya. Apabila konsep dirinya selalu berubah-ubah maka dia akan kesulitan memahami
diri dan menerimanya sehingga terjadi penolakan pada dirinya sendiri. Hal ini terjadi
karena indvidu memandang dirinya selalu berubah-ubah.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan mengenai faktor penyebab perilaku
agresi yaitu amarah, faktor biologis, kesenjangan generasi, lingkungan,peran belajar model
kekerasan, frustasi serta proses pendisiplinan yang keliru.
Macam Kecemasan
1. Menurut Sundari (2005), macam kecemasan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu:
2. Kecemasan merasa berdosa atau bersalah. Misalnya seseorang melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan hati nuraninya atau keyakinannya;
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
117
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
3. Kecemasan karena akibat melihat dan mengetahui bahaya yang mengancam dirinya;
dan
4. Kecemasan yang dalam bentuk kurang jelas, apa yang ditakuti tidak seimbang. Rasa
takut sebenarnya suatu perbuatan yang biasa atau wajar kalau ada sesuatu yang ditakuti
dan seimbang.
Freud
Corey (2003) juga membedakan kecemasan ke dalam 3 (tiga) hal
yaitu:
1. Kecemasan realistik
Merupakan kecemasan terhadap adanya tantangan atau bahaya dari dunia luar. Taraf
kecemasan sesuai dengan tingkat ancaman dan kecemasan ini akan mereda apabila
sumber-sumber yang mengancam hilang;
2. Kecemasan neurotis
Merupakan rasa cemas yang timbul akibat rasa takut terhadap tidak terkendalinya nalurinaluri
yang
menyebabkan
seseorang
melakukan
suatu
tindakan
yang
bisa
mendatangkan hukuman bagi dirinya; dan
3. Kecemasan moral
Merupakan kecemasan terhadap hati nuraninya sendiri. Seseorang yang hati nuraninya
berkembang dengan baik cenderung merasa berdosa bila melakukan sesuatu yang
berlawanan dengan moral yang dimilikinya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa macam-macam kecemasan adalah
kecemasan yang bersifat relistik (misalnya: menyadari bahaya sedang mengancam dirinya),
tidak realistik (neurotis) dan berdasarkan hati nurani (misalnya : moral, merasa bersalah
atau berdosa).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan rencangan eksperimen dengan pretest-posttest control
group design.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP se-Kabupaten
Magelang yang mengalami kecemasan. Sampel penelitian adalah sebagian anggota
populasi yang diambil dengan teknik cluster random sampling, yang selanjutnya semua
siswa kelas VII untuk SMP di sekolah tersebut diminta mengisi HRS-A (Hamilton Rating
Scale-Anxiety), sehingga diketahui
siswa yang mengalami kecemasan. Langkah
selanjutnya memilih siswa yang mengalami kecemasan secara acak, dan terpilih sebanyak
20 siswa sebagai subjek penelitian. Mengingat setiap tindakan dilakukan 3 (tiga) kali
pertemuan, maka subjek sebanyak 20 siswa tersebut dianggap telah cukup, hal ini
dikarenakan keterbatasan waktu yang peneliti miliki.
Siswa yang terpilih menjadi subjek penelitian sebanyak 20 orang tersebut dibagi
menjadi 4 (empat) kelompopk, sehingga masing-masing kelompok terdiri dari 5 (lima) orang
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
118
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
anak. Satu kelompok mendapatkan perlakuan CR, satu kelompok mendapatkan perlakuan
SD, satu kelompok yang mendapatkan perlakuan CR dan SD, dan satu kelompok lagi
sebagai kelompok kontrol (waiting list), yaitu kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan
saat itu, tetapi memperoleh perlakuan setelah eksperimen selesai dilaksanakan.
Hasil menunjukkan bahwa t HRS-A adalah 3,615 dengan probabilitas 0,001, karena
0,001 < 0,05, berarti terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kecemasan sebelum dan
sesudah menerima Strategi Intervensi Konseling (SIK) pada kelompok eksperimen. Dengan
pernyataan seperti yang ditunjukkan hasil penelitian, hal tersebut membuktikan bahwa
layanan Strategi Intervensi Konseling (SIK) efektif dapat menurunkan kecemasan siswa
pada kelompok eksperimen.
Pembahasan
Pikiran yang khawatir terus-menerus bergulir dalam suatu lingkaran melodrama
sehari-hari yang tak ada habis-habisnya, suatu rentetan kecemasan akan membawa ke
rentetan berikutnya dan akan kembali ke awal lagi. Contoh-comtoh yang telah dikemukakan
dalam kajian teori oleh Lizabeth Roemer dan Thomas Borkovec, ahli-ahli Psikologi dari
Pennsylvania State University, yang penelitiannya tentang kekhawatiran (inti segala
kecemasan) telah mengangkat topik itu sebagai gangguan kejiwaan menjadi bagian dari
sains.
Tentu saja tidak ada salahnya seseorang untuk khawatir, dengan terus-menerus
memikirkan suatu masalah, yaitu memanfaatkan refeksi yang konstruktif, yang bisa jadi
mirip khawatir dan dapat diperoleh suatu pemecahan. Sebenarnya, reaksi yang mendasari
kekhawatiran adalah kewaspadaan terhadap bahaya yang mungkin (yang tak diragukan
lagi) merupakan bagian sangat penting bagi kelangsungan hidup selama perjalanan evolusi.
Bila rasa takut memicu otak emosional, bagian dari rasa cemas yang muncul akan
memusatkan perhatian pada ancaman yang sedang dihadapi, bahkan memaksa pikiran
untuk terus-menerus memikirkan cara mengatasi permasalahan yang ada dan mengabaikan
hal-hal lain untuk sementara waktu. Dalam artian tertentu, kekhawatiran merupakan latihan
terhadap segala sesuatu yang tidak beres dan cara mengatasinya. Peran kekhawatiran
adalah mencari pemecahan positif akan resiko dalam kehidupan dengan mengantisipasi
bahaya sebelum bahaya itu muncul.
Disadari atau tidak, yang merepotkan adalah kekhawatiran kronis yang terus-menerus
berulang yaitu kekhawatiran yang tak berujung pangkal dan tak pernah mendekati
pemecahan positif. Sutau analisis yang cukup dipercaya mengenai kekhawatiran kronis
menyatakan bahwa kekhawatiran memiliki semua ciri pembajakan emosi tingkat rendah:
kekhawatiran muncul entah dari mana, tak dapat dikendalikan, menimbulkan dengung
kecemasan terus-menerus, tak dapat ditembus oleh nalar, dan mengunci orang yang
bersangkutan ke dalam suatu pandangan tunggal yang kaku tentang masalah yang
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
119
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
merisaukan. Bila siklus kekhawatiran yang sama ini semakin menghambat dan tak kunjung
hilang, kekhawatiran itu kan berubah menjadi pembajakan saraf dan gangguan kecemasan
yang berlanjut: fobia, terobsesi dan kompulsif, mudah panik. Pada masing-masing gangguan
ini kekhawatiran tampil dalam polanya sendiri-sendiri, bagi penderita fobia, kecemasan
terpaku pada situasi yang ditakutkan; bagi penderita obsesi, kekhawatiran terpusat pada
cara mencegah bencana yang ditakutkan; pada penderita mudah panik, kekhawatiran dapat
terfokus pada takut mati atau pada kemungkinan terserang panik itu sendiri.
Pada setiap penyakit ini, ciri khasnya adalah kekhawatiran tampil dalam bentuk yang
amat sangat berlebih-lebihan. Semua kompulsi ini disebabkan oleh ketakutannya yang luar
biasa hebat terhadap sumber masalah, ia terus-menerus risau bahwa segala sesuatunya, ia
akan mendapatkan kekhawatiran.
Dalam peragaan kecemasan akan kecemasan yang amat luar biasa tersebut,
permintaan untuk mengungkapkan kecemasan hanya dalam satu menit itu, dalam beberapa
detik saja, telah berkembang menjadi kontemplasi akan terjadinya bencana seumur hidup.
Kecemasan biasanya mengikuti alur pemikiran semacam itu, kisah akan diri sendiri yang
melompat-lompat dari satu masalah ke masalah lain dan amat sering melibatkan
catastrophizing, yaitu membayangkan terjadinya tragedy yang mengerikan. Kekhawatiran
hampir selalu diungkapakan pada telinga pikiran, bukan pada mata pikiran (jadi, dalam katakata, bukan dalam imaji) suatu fakta yang amat berarti untuk mengendalikan kekhawatiran.
Borkovec dan rekan-reakannya mulai mempelajari kekhawatiran itu sendiri ketika
mereka berupaya mencari pengobatan untuk insomnia. Menurut pengamatan penelitipeneliti lain, kecemasan muncul dalam dua bentuk: kognitif, atau kecemasan yang muncul
akibat adanya pikiran yang meriasukan, dan somatik, yaitu kecemasan yang mengakibatkan
gejala-gejala fisologis, seperti berpeluh, jantung berdebar-debar, atau ketegangan otot.
Menurut Borkovec, seorang penderita insomnia bukan karena alasan somatic, tetapi yang
membuat mereka selalu terjaga adalah pikiran-pikiran yang menganggu. Penderita insomnia
adalah tukang khawatir kronis, dan tak henti-hentinya khawatir meskipun mereka sangat
mengantuk. Salah satu cara yang berhasil untuk menolong mereka agar tertidur adalah
menjauhkan mereka dari pikiran-pikiran yang mencemaskan, memusatkan perhatian pada
perasaan-perasaan hasil metode selaksai. Pendek kata, kekhawatiran dapat dihentikan
dengan mengalihkan perhatian.
Tetapi, sebagian orang-orang yang mudah khawatir agaknya amat sulit melakuknnya.
Borkovec yakin bahwa alasannya ada kaitannya dengan keuntungan yang diperoleh dari
kekhawatiran yang justru memperkuat kebiasaan tersebut. Kekhawatiran tampaknya juga
memunculkan suatu yang positif: kekhawatian adalah cara untuk menghadapi kemungkinan
ancaman, mengatasi bahaya-bahaya yang mungkin datang. Fungsi kekhawatiran (apabila
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
120
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
berhasil) adalah untuk melatih mengenali bahaya dan menyajikan pemecahan untuk
menghadapinya. Tetapi kekhawatiran tidak selalu sesukses itu.
Pemecahan dan pola padang yang baru akan suatu masalah biasanya tidak datang
dari rasa khawatir, apalagi kekhawatiran kronis. Tukang-tukang khawatir biasannya bukan
mencari pemecahan masalah potensial, mereka justru bayangkan bahaya itu sendiri, dan
dengan cara sedemikian rupa menenggelamkan diri dalm ketakutan yang berkaitan dengan
bahaya itu sementara tetap berpijak pada pola pikir yang sama. Penderita tahap kronis
merisaukan segala macam sesuatu, sebagian besar di antaranya hampir tak mungkin
terjadi; mereka menghawatirkan bahaya-bahaya dalam hidup mereka yang orang lain tak
pernah merisaukannya. Namun, penderita tahap kronis mengemukakan kepada Borkovec
bahwa kekhawatiran membantu mereka, dan bahwa kekhawatiran mereka terus-menerus
muncul, suatu lingkaran pemikiran yang di dorong oleh kecemasan yang tak berujung. Ini
berarti bahwa kekhawatiran menjadi sesuatu yang mirip dengan kecanduan mental. Tetapi
anehnya sebagaimana diutarakan oleh Borkovac, kebiasaan khawatir itu begitu kuat
sehingga mirip takhayul. Karena orang mengkhawatirkan banyak hal yang kecil
kemungkinan
akan sungguh-sungguh terjadi (contoh: orang yang dikasihi tewas dalam
kecelakaan, jatuh bangkrut, dan semacamnya), maka pasti ada daya tarik tersendiri dalam
kekhawatiran, setidak-tidaknya bagi limbik yang primitif. Seperti jimat untuk mengusir rohroh jahat, secara psikologis, kekhawatiran berguna untuk mencegah bahaya yang
dicemaskan.
Oleh sebab itu dalam penelitian ini berusa menghilangkan kecemasan yang terjadi
pada siswa, dengan berbagai cara dan metode agar kecemasan pada anak dapat
dihindarkan atau bahkan dihilangkan.
Desensitisasi sistematik (Systematic Desensitization) dikembangkan dalam tradisi
behavioristik. Asumsi dasar teknik ini adalah respon ketakutan merupakan perilaku yang
dipelajari dan dapat dicegah dengan menggantikan aktivitas yang berlawanan dengan
respon ketakutan tersebut. Respon khusus yang dihambat oleh proses perbaikan
(treatment) ini adalah kecemasan-kecemasan atau perasaan takut yang kurang beralasan
dan respon sering dijadikan pengganti atas kecemasan tersebut adalah relaksasi atau
penanganan. Ketidakpekaan dapat dibentuk dengan menunjukkan setiap individu, hal-hal
kecil dan bertahap atas situasi ketakutan, saat orang tersebut menunjukkan aktivitasnya
yang berlawanan dengan kekhawatiran. Pembongkaran bertahap atau berangsur terhadap
rangsangan stimulus dapat berlangsung baik di dalam fantasi orang tersebut ketika dia
diminta membayangkan situasi yang serba menakutkan atau hal ini dapat terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.
Teknik desensitisasi sistematik ini bertujuan untuk mengajar siswa untuk memberikan
respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami.
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
Teknik systematic
121
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
desensitizitation juga bertujuan untuk mengajarkan klien untuk memindah-kan respon
ketakutan kepada aktivitas lain, membongkar rangsangan stimulus yang berlangsung dalam
fantasi yang para siswa miliki.
PENUTUP
Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka dapat diberikan
kesimpulan:
1. Terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan setalah siswa menerima
Strategi
Intervensi Konseling (SIK); dan
2. Strategi Intervensi Konseling (SIK) efektif dapat mengatasi kecemasan yang dialami oleh
para siswa SMP.
Saran
Berdasarkan simpulan yang diperoleh, maka saran yang dapat diberikan adalah:
1. Kepala sekolah agar benar-benar memberikan perhatian terhadap fasilitas dan
kesempatan kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam pelaksanaan layanan
dan bimbingan kepada siswa;
2. Guru BK harus memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang dilakukan pasti
memberikan keberhasilan, salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melaksanakan
layanan konseling dengan standart dan prosedur operasional yang benar;
3. Organisasi guru BK
melalui Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling
(MGBK)
melakukan kegiatan pelatihan prosedur pelaksanaan operasional layanan bimbingan
kelompok; dan
4. Jurusan atau program studi di LPTK membekali calon guru BK dengan wawasan,
pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan sikap (WPKNS), baik secara teoretispraktis
demi kemantapan layanan konseling beserta standart dan prosedur operasionalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik,
Jakarta:
Rineka Cipta.
Cakfu. Adolf, 2006, Penerimaan Diri Sebagai Kunci Sukses. (online) dalam www.zyi.net
(diakses 17 Agustus 2009).
Corey. Freud, 2003, Teori dan Praktik Konseling serta Psikoterapi. Bandung: Reflika
Aditama.
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
122
Vol : XXI, No : 1, MARET 2014
Corey. Geraldin, 2005, Teori dan Praktik-Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika
Aditama.
Fauzan. Lutfi, 2008, Systematic Desensitization: Prosedur Pelemahpekaan Berangsur
terhadap Gangguan Phobia dan Kecemasan, Malang: Universitas Negeri Malang.
Fesit. Jeist & Fesit. J Gregory, 2010, Teori Kepribadian (Theoris of Personality) Buku 1
Edesi 7, Jakarta: Salemba Humanika
Gerald, C., 2006, Psikologi Abnormal Edisi ke-9, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ghufron, M. Nur & Risnawati S, Rini, 2010, Teori-teori Psikologi, Yogjakarta: AR-Ruz
Media.
Hikmawati. Fenti, 2010, Bimbingan Konseling, Jakarta: Rajawali Press.
Hurlock. E.B, 2000, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan (Terjemahan: Istiwidayati), Jakarta: Erlangga.
Rahmayanti. Liny, 2011, Analisis Kecemasan Siswa dalam Menghadapi Ujian Sekolah,
Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat.
Santrock. J.W,
2002, Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup),
Edisi
Kelima (Terjemahan), Jakarta: Erlangga.
Slameto, 2003, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, 2005, Metode Statistika, Bandung: Trasito
Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta.
Sundari. Siti, 2005, Kesehatan Mental dalam Kehidupan, Jakarta: Rineka Cipta.
MAJALAH ILMIAH PAWIYATAN
123
Download