Gambaran Bakteriologis Lalat dan Culicidae

advertisement
Gambaran Bakteriologis Lalat ..................... (Dicky Andiarsa, et. al)
Gambaran Bakteriologis Lalat dan Culicidae (Ordo: Diptera)
di Lingkungan Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
Bacteriological Overview of Flies and Culicidae (Ordo : Diptera) in
The Field of Zoonoses Research Office of Tanah Bumbu
Dicky Andiarsa*, Ika Setianingsih, Abdullah Fadilly, Syarif Hidayat,
Dian Eka Setyaningtyas, Budi Hairani
Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
Jl. Lokalitbang, Gunung Tinggi, Batulicin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Indonesia
INFO ARTIKEL
Article History:
Received: 8 Jul. 2015
Revised: 26 Oct. 2015
Accepted: 7 Dec. 2015
Keywords:
diptera,
foodborne disease,
bacteriological
Kata kunci:
diptera,
foodborne disease,
bakteriologis
ABSTRACT/ABSTRAK
Flies (Diptera) are the important vector for food transmitted disease transmitted due to
they spread from their body surfaces to the human food mechanically. Their fully body
surfaces of hairs-like structure were good carrier for pathogens. Meanwhile, the
monitoring and surveillance program were not held completely and periodicaly. This
survey aimed to identify the diversity of flies and bacteriological information of their body
surface. The information can be discuss for policy program. The survey was conducted in
June 2015, in the area of Zoonoses Research Office of Tanah Bumbu precisely in the staff
housing area. Flies trapped then identified, dissected and cultured aseptically to
determined existence of bacteria on the part of their body. Result showed that most of the
flies contained bacteria on almost all of the part of body surface. The sanitation
improvement became meant recomendation to control of these flies.
Lalat (Diptera) merupakan vektor penting penyakit yang ditularkan melalui makanan
karena mereka dapat menyebarkan penyakit secara mekanis ke makanan yang
dikonsumsi manusia. Permukaan tubuhnya yang dipenuhi dengan struktur seperti
rambut halus menjadi media pembawa yang sesuai bagi organisme patogen. Kegiatan
monitoring dan surveilans keberadaan lalat masih kurang, penelitian ini bertujuan
untuk melihat keragaman lalat dan gambaran bakteriologis pada bagian tubuh lalat
yang ditangkap. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2015 di lingkungan Balai
Litbang P2B2 Tanah Bumbu tepatnya di lingkungan perumahan pegawai Balai Litbang
P2B2 Tanah Bumbu. Lalat dan nyamuk ditangkap, diidentifikasi, dibedah, dan dikultur
secara aseptis untuk menentukan keberadaan bakteri pada bagian tubuhnya. Hasil
menunjukkan bahwa lalat yang ditemukan sebagian besar mengandung bakteri di
hampir semua bagian tubuhnya. Perbaikan sanitasi lingkungan menjadi rekomendasi
utama dalam pengendalian serangga ini.
© 2015 Jurnal Vektor Penyakit. All rights reserved
*Alamat Korespondensi : email : [email protected]
PENDAHULUAN
Serangga merupakan vektor penting
penyakit, terutama Diptera yang menularkan
penyakit melalui makanan karena dapat
menyebarkan penyakit secara mekanis ke
makanan yang dikonsumsi manusia. Sifat
endophillic dan synanthropy dari vektor ini
semakin mempermudah terjadinya transmisi
1
penyakit kepada manusia. Patogen yang
ditularkan melalui makanan telah banyak
dilaporkan dapat ditransmisikan oleh
beberapa serangga.2,3
Lalat merupakan serangga pengganggu
utama yang dapat membawa patogen pada
tubuhnya. Permukaan tubuhnya yang
dipenuhi dengan struktur rambut halus
menjadi media pembawa yang baik bagi agen
patogen. Perilakunya yang seringkali hinggap
pada kotoran, sampah, bangkai dan makanan
menjadi faktor penting munculnya penyakit
tular-makanan (foodborne disease) di
masyarakat. Kehadiran serangga ini juga
37
Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 9 No. 2, 2015 : 37–44
dapat dijadikan indikator kebersihan dan
sanitasi suatu komunitas.4
Penelitian terbaru menyebutkan lalat
telah banyak digunakan sebagai pengobatan
a lterna t if, disa mp ing ga ngg ua n da n
penyebaran penyakitnya.5 Peneliti menduga
perilaku lalat yang suka hinggap dari satu
kotoran ke kotoran lain dan tidak mengalami
gangguan terhadap suatu patogen
menunjukkan bahwa lalat memiliki sistem
pertahanan tubuh seperti antimikroba yang
terdapat pada tubuhnya.6 Meskipun demikian,
penggunaan lalat sebagai pengobatan perlu
pertimbangan dan penelitian lebih lanjut,
mengingat lalat masih merupakan vektor bagi
beberapa penyakit yang dapat
membahayakan penderitanya.
Nyamuk lebih cenderung menularkan
penyakit melalui gigitan dibandingkan secara
mekanis melalui tubuhnya. Nyamuk juga tidak
memiliki kebiasaan hinggap di tempat kotor
dan makanan sehingga nyamuk bukan
merupakan vektor penting foodborne disease.
Kegiatan monitoring dan surveilans
keberadaan lalat di masyarakat masih
terbilang kurang, sehingga kebijakan
pengendalian lalat dan penyakit yang
dibawanya juga kurang mendapatkan
perhatian pemerintah. Kurang dari 50%
kejadian luar biasa (KLB) foodborne disease
dapat diketahui penyebabnya, kurangnya
kemampuan diagnosis dan upaya
pemantauan penyakit ini menjadi penyebab
mudahnya penyakit ini muncul kembali di
kemudian hari.
Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
memiliki tanggung jawab dalam
mengadvokasi sebuah kebijakan dengan
suatu kegiatan penelitian yang hasilnya dapat
memicu diskusi untuk bahan kebijakan dan
program. Kegiatan ini juga sebagai bahan
evaluasi internal Balai Litbang P2B2 Tanah
Bumbu sebagai institusi kesehatan.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat
keragaman lalat dan gambaran bakteriologis
pada bagian tubuh lalat yang ditangkap di
lingkungan Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
BAHAN DAN METODE
Survei dilaksanakan pada bulan Juni 2015 di
lingkungan Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
38
tepatnya di lingkungan perumahan pegawai
Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu. Metode
penelitian ini adalah observasi yaitu
mengamati keragaman lalat dan keberadaan
mikroba pada tubuhnya. Penangkapan
difokuskan pada daerah yang padat dengan
populasi lalat (kebun samping sebuah rumah
dinas dimana terdapat buah yang telah
membusuk dan hampir mengering serta
limbah sisa makanan seafood seperti
cangkang kepiting).
Lalat ditangkap dengan plastik klip steril
secara terpisah (satu plastik klip steril untuk
satu ekor lalat yang ditangkap) sebanyak
delapan ekor dengan jenis berbeda. Cara ini
agak sulit dilakukan tetapi ini diupayakan
supaya penanganan sampel dilaksanakan
seaseptis mungkin untuk menghindari
kontaminasi dari peralatan. Secara standar
menangkap lalat digunakan perangkap
berupa Sticky fly Ribbon, atau bottle baited fly
trap tetapi tidak menjamin sterilitasnya. Dua
ekor nyamuk jenis Aedes aegypti dan Culex
s p p . d i d a p a t k a n d a r i h a s i l re a r i n g
Laboratorium Entomologi Balai Litbang P2B2
Tanah Bumbu. Hasil tangkapan diidentifikasi
untuk ditentukan spesiesnya sebelum
dikultur pada media, identifikasi merujuk
pada beberapa referensi kunci identifikasi
7-11
lalat dan nyamuk (Diptera).
Preparasi Sampel
Lalat dan nyamuk dibedah dengan
memisahkan setiap bagian tubuh antara lain
kepala, tubuh, sayap kanan dan kiri serta kaki
dengan menggunakan pinset dan scalpel steril.
Bagian tubuh yang terpisah dimasukkan ke
dalam media Buffered Pepton Water (Merck,
Germany) (BPW) sebanyak 0,5 ml dalam
cryotube steril dan diberi label kode sampel
dan bagian tubuh. Sampel yang telah dikultur
pada BPW diinkubasi selama 24 jam dengan
suhu 37oC.
Kultur pada Media
Kultur BPW secara aseptis dipindahkan
pada media Nutrient Agar (Merck, Germany)
(NA) dengan cara streak menggunakan ose
loop. Media NA diberi label dengan label yang
sama pada BPW kemudian diinkubasi kembali
o
selama 24 jam dengan suhu 37 C. Hasil dibaca
berdasarkan ada tidaknya pertumbuhan
koloni bakteri pada bekas streak di
permukaan media NA. Preparasi dan kultur
Gambaran Bakteriologis Lalat ..................... (Dicky Andiarsa, et. al)
merupakan modifikasi dari metode beberapa
5,12
penelitian sebelumnya.
HASIL
Hasil identifikasi menunjukkan
keragaman jenis lalat yang ada di lingkungan
Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu. Pada
penelitian ini didapatkan delapan jenis lalat
dan dua jenis nyamuk culicidae yang
keduanya dari ordo Diptera. Lalat hanya
berhasil diidentifikasi tiga ekor sampai pada
level spesies, tiga ekor sampai pada level
genus, dan dua ekor sampai level
1
2
3
famili.(Gambar 1-8) Nyamuk dari famili
culicidae yang berhasil didapatkan adalah Ae.
aegypti dan Culex spp.
Hasil kultivasi sampel pada media NA
menunjukkan pertumbuhan koloni
bakteriyang bervariasi bentuk, jenis dan
sifatnya (Gambar 10). Pada penelitian ini tidak
ditentukan spesies bakteri yang tumbuh.
Terdapat beberapa media yang tidak
menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri
dari hasil kultur sampel yaitu sayap kiri pada
Ae. aegypti dan Culex spp. serta kedua sayap
pada lalat dengan family Lonchaeidae dan
Phiophylidae. (Tabel 1 dan Gambar 9)
4
5
6
7
8
10
9
0
+
+
-
-
+
Gambar 1-10 1. Musca domestica; 2. Sarcophaga spp.; 3. Phaenicia (Lucilia) sericata; 4.
Phaenicia (Lucilia) cuprina; 5. Ophyra spp.; 6. Fannia spp.; 7. Lonchaeidae; 8.
Phiophylidae; 9. Sebagian hasil kultivasi media NA; 10. Hasil pewarnaan gram,
terdapat semua bentuk (batang , cocci, dll) dan jenis gram baik gram positif
maupun gram negatif.
Tabel 1. Gambaran bakteriologis lalat yang diperiksa.
No.
Sampel
1
2
3
4
5
6
7
8
Genus
Musca domestica Linnaeus
Sarcophaga sp.
Lucilia sericata
(Wiedemann)
Lucilia cuprina
(Wiedemann)
Ophyra sp.
Fannia sp.
Lonchaeidae
Phiophylidae
Kepala
+
+
Organ tubuh yang diamati
Sayap
Sayap
Kaki
Kanan
Kiri
+
+
+
+
+
+
Tubuh
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
39
Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 9 No. 2, 2015 : 37–44
Tabel 2. Gambaran bakteriologis nyamuk Culicidae yang diperiksa.
No.
Sampel
1
2
Genus
Ae. aegypti
Culex sp.
Kepala
+
+
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar bagian tubuh lalat
mengandung mikroba yang ditandai dengan
tumbuhnya koloni dari hasil kultivasi. Koloni
yang tumbuh pada media NA bervariasi dilihat
dari hasil pewarnaan gram, terdapat kedua
jenis bakteri gram dengan berbagai bentuk
dan sifatnya (batang, coccus, tunggal,
berbaris, maupun bergerombol).
Media NA merupakan media selektif yang
biasa digunakan untuk menumbuhkan bakteri
seperti E. coli, Coliform, Bacillus cereus,
13
Salmonella spp., dan Staphylococcus aureus.
Hal ini jelas menunjukkan bahwa lalat sebagai
vektor penting berbagai penyakit foodborne
14
dan penyakit infeksi lain. Hasil ini sesuai
dengan beberapa penelitian yang
menyebutkan bahwa lalat dapat menularkan
organisme patogen melalui rambut ,
permukaan tubuhnya, rambut granular di
kaki, muntahan, dan kotorannya.12,15 Lalat
berperan penting pada transmisi
15
campylobacter dari binatang ke manusia.
Pada nyamuk juga ditemukan mikroba di
semua bagian tubuhnya selain sayap kirinya.
Pada penelitian ini ditemukan hal yang
menarik, yaitu adanya beberapa bagian tubuh
(sayap) lalat dan nyamuk yang tidak
ditemukan koloni bakteri. Hal ini sesuai
dengan penelitian Rehab Muhammed Atta
yang menyatakan bahwa sayap kanan dari
lalat rumah (Musca domestica) tidak ada
pertumbuhan bakteri pada hasil kulturnya.5
Kondisi ini mungkin diakibatkan oleh adanya
suatu zat antimikroba yang ada pada sayap
lalat tersebut.16
Pa d a s a a t p e n a n gka p a n l a l a t d i
lingkungan rumah pegawai Balai Litbang
P2B2 Tanah Bumbu, lalat yang berhasil
ditangkap sebanyak delapan jenis dari
banyak jenis yang berkerumun di daerah itu.
Hal ini menunjukkan sifat lalat yang menyukai
40
Organ tubuh yang diamati
Sayap
Sayap
Kaki
Kanan
Kiri
+
+
+
+
Tubuh
+
4
sampah terutama sisa makanan manusia.
Adapun beberapa deskripsi lalat yang berhasil
ditangkap ada beberapa spesies.
Musca domestica Linnaeus, (Diptera:
Muscidae) disebut juga lalat rumah yang
paling banyak ditemukan di lingkungan
dimana ada aktifitas manusia dan hewan.17
Hewan ini sangat menyukai makanan dan
kotoran sekaligus, aktifitas berpindah-pindah
dari kedua macam tempat kegemarannya
tersebut menyebabkan kontaminasi makanan
bagi manusia dan hewan yang
mengkonsumsinya. Lalat ini berkembang biak
pada kotoran, makanan ternak yang basah,
dan bahan organik lainnya yang biasa terdapat
pada pemukiman dan peternakan yang
kurang saniter.4,17 Lalat ini diketahui mampu
membawa beberapa agen penyakit seperti
17-19
Escherichia coli O157:H7
dan
2,15
Campylobacter.
Sarcophaga spp. (Diptera: Sarcophagidae)
biasa disebut sebagai lalat daging (flesh flies)
berukuran lebih besar dibandingkan dengan
lalat rumah. Ciri utama lalat ini sebagian besar
berukuran sedang hingga besar dengan tubuh
berwarna abu-abu kusam dengan tiga garis
longitudinal di sepanjang thorak dan
abdomen bermotif papan catur.8 Lalat ini
berperan penting pada proses dekomposisi
bangkai dan mayat sehingga penting dan
berguna untuk kepentingan forensik. 2 0
Sebagian spesies dapat mengakibatkan
myasis.21
Nyamuk Ae. aegypti dan Culex spp.
(Diptera: Culicidae) lebih sering menggangu
dengan menghisap darah manusia dan ternak,
walaupun demikian telah ditemukan bakteri
pada tubuhnya saat dilakukan kultur. Nyamuk
ini berperan pada penularan penyakit parasit
dan virus melalui darah seperti filaria, DBD,
demam kuning, dan chikungunya. Penyakit
infeksi yang diakibatkan oleh bakteri sangat
Gambaran Bakteriologis Lalat ..................... (Dicky Andiarsa, et. al)
jarang terjadi akibat gigitan nyamuk.
Lucilia sericata dan Lucilia cuprina
(Diptera: Calliphoridae) biasa disebut dengan
blow fly. Ukuran lalat ini relative besar dan
bulat menggembung berwarna mengkilap
(metallic) hijau hingga kecoklatan. Lucillia
sericata berwarna hijau kebiruan, terdapat
setae pada bagian belakang humeral callus
dan notopleuron dan setulae yang cukup
banyak sedangkan Lucilia cuprina berwarna
coklat tembaga, terdapat setae pada bagian
humeral callus dan notopleuron dan setulae
jarang (sedikit).7 Banyak ditemukan pada
bangkai dan mayat sehingga beberapa spesies
da ri Calliph oridae diguna ka n unt uk
8
memperkirakan waktu kematian.
Ophyra spp. (Diptera: Muscidae) memiliki
tubuh sebagian besar hitam metallic, segitiga
ocellar biasanya memanjang hingga hampir
8
mencapai lunule. Lalat bersifat carnivora
dengan index synanthropic rendah karena
faktor kompetisi dan predatisme dari lalat lain
pada saat fase larva.22 Hal ini mengakibatkan
Ophyra spp. jarang ditemukan dibandingkan
dengan lalat lain. Meskipun demikian, lalat ini
juga dianggap penting dalam bidang
23
forensik.
Fannia spp. (Diptera: Fanniidae) biasa
disebut dengan lesser house fly atau little house
8
fly. Lalat ini memiliki ciri khas pada venasi
sayapnya termasuk vena subcostal yang halus
dan vena A2 berbentuk sigmoid. Beberapa
spesies memiliki sebaran musiman seperti di
Selatan Brazil, F. pusio (Wiederman) muncul
pada bulan Januari dan F. femoralis (Stein)
8
muncul pada bulan Februari. Lalat Fannia
lebih menyukai pupuk kandang yang lebih
kering untuk meletakkan telurnya dan larva
mampu berkembang pada kelembaban yang
lebih rendah.24
Family Lonchaeidae (Diptera), biasa
disebut lance flies berukuran kecil (3-6 mm)
tubuh ditumbuhi banyak rambut, berwarna
hitam mengkilat, ovipositor yang menonjol
dan halter berwarna hitam.25 Lalat buah ini
berkembang di buah, bunga, biji dari berbagai
jenis tanaman, beberapa species merupakan
hama bagi tanaman karena berkembang biak
26
di dalam bagian tanaman tersebut.
Piophilidae (Diptera) adalah lalat
berukuran kecil hingga sedang, berwarna
coklat hingga hitam, dewasa biasa berada di
karkas/bangkai, tulang belulang, sampah dan
kotoran hewani lainnya. 27 Larva sering
ditemukan pada karkas bahkan mayat
manusia pada perkembangan pembusukan
saat mayat mulai mengering, meskipun
demikian lalat dewasa mungkin dapat
ditemukan pada mayat hanya 3-4 hari setelah
kematian.28
Deskripsi karakteristik beberapa lalat
yang ditemukan diatas sesuai dengan tempat
dan karakteristik lokasi tempat lalat tersebut
ditangkap yaitu tumpukan sampah limbah
sisa makanan manusia yang mengandung
bahan protein (seafood) dan beberapa buah
yang telah busuk dan hampir mengering.
Kebersihan lingkungan merupakan aspek
penting pengendalian serangga lalat dalam
mencegah penyebaran foodborne diseases
pada masyarakat yang lebih luas.
KESIMPULAN
Kesimpulan jelas menunjukkan bahwa
sanitasi yang kurang baik akan mengundang
beberapa jenis lalat yang berpotensi terhadap
p e nye b a ra n
foodborne diseases di
masyarakat. Lalat yang ditemukan sebagian
besar mengandung bakteri di hampir semua
bagian tubuhnya.
SARAN
Rekomendasi dari hasil tersebut
disarankan untuk memperbaiki sanitasi
lingkungan sekitar rumah dengan membuang
sampah pada tempat sampah yang dikelola
dengan baik, pengendalian lalat secara rutin
dapat dilaksanakan oleh semua warga di
komplek perumahan dengan melakukan
kegiatan kebersihan lingkungan.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
tentang jenis-jenis mikroba dan kaitannya
dengan foodborne disease.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terimakasih disampaikan kepada
warga perumahan dinas Balai Litbang P2B2
Tanah Bumbu yang telah mengijinkan tim
untuk melaksanakan kegiatan penelitian di
wilayah perumahan staf Balai Litbang P2B2
Tanah Bumbu.
41
Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 9 No. 2, 2015 : 37–44
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
42
Uribe-M N, Wolff M, deCarvalho CJ.
Synantrophy and ecological aspect of
Muscidae (Diphtera) in a tropical dry forest
ecosystem in Columbia. Revista Brasileira de
Entomologia. 2010;54(3):462-70.
Hald B, Skovgard H, Pedersen K, Bunkenborg
H . I n f l u xe d i n s e c t s a s ve c t o r s f o r
campylobacter jejuni and campylobacter coli
in Danish broiler houses. Poultry Science.
2008;87(7):1428-34.
Pava-Ripoll M, Pearson R, Miller A, Ziobro G.
Prevalence and relative risk of Cronobacter
spp., Salmonella spp., and Listeria
monocytogenes associated with the body
surfaces and guts of individual filth flies.
Applied and Environmental Microbiology.
2012;78(22):7891-902.
Pendergast BF. Filth flies: Significance,
surveillance and control in contingency
operation. In: USN, editor. Washington: Armed
Forces Pest Management Board; 2011.
Atta RM. Microbiological studies on fly wings
(Musca domestica) where disease and treat.
WorldJMedSci. 2014;11(4):486-9.
Chew, Peter. Bakteriophage 1927 isolated
from the common horse fly (Musca domestica).
The Journal of Experimental Medicine.
2009;45:1037-44.
Whitworth T. Keys to the genera and speciesof
blow flies (Diptera: Calliphoridae) of America
North of Mexico. ProcEntomolSocWash.
2006;108(3):689-725.
Carvalho CJbd, Mello-Patiu CAd. Key to the
adults of the most common forensic species of
Diptera in South America. Revista Brasileira de
Entomologia. 2008;52(3):390-406.
Couri MS. Key to the Australasian and
Oceanian genera of Muscidae (Diptera).
Re v i s t a B ra s i l e i ra d e E n t o m o l o g i a .
2010;54(4):529-44.
Lockwood A. A dichotomous key to select
Families of Diptera of public health
importance. Purdue University: Department
of Entomology, Purdue University, 2009.
Harbach RE. The culicidae (Diptera): a review
of taxonomy, classification and phylogeny.
Zootaxa. 2007;1668:591-638.
Pava-Ripoll M, Pearson RE, Miller AK, Ziobro
GC. Detection of foodborne bacterial
pathogens from individual filth flies. JVisExp.
2015;95(e52372):1-9.
Kim M, Kim YS. Detection of foodborne
pathogens and analysis of aflatoxin level in
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
home-made Doenjang samples. Prev Nutr
Food Sci. 2012;17:172-6.
West L, editor. The housefly. Its natural history,
medical importance and control. New York:
Comstock Publishing Co. Inc.; 1951.
Rosef O, Kapperud G. House flies (Musca
domestica) as possible vectors of
Campylobacter fetus subsp. jejuni. Applied and
Environmental Microbiology. 1983;45:381-3.
Clarke J, Gillings M, Beatie A. Hypothesisdriven drug discovery. Microbiology Australia.
2002:8-10.
Gerry AC, Higginbotham G, Periera L, Lam A,
Shelton C. Evaluation of surveilance methods
for monitoring house fly abundance and
activity on large commercial operations.
JEconEntomol. 2011;104(3):1093-102.
Sasaki T, Kobayashi M, Agui N. Epidemiological
potential of excretion and regurgitation by
Musca domestica (Diptera: Muscidae) in the
dissemination of Escherichia coli O157:H7 to
food. JMedEntomol. 2000;37:945-9.
Talley J, Wayadande A, Wasala L, Gerry A,
Fletcher J, DeSilva U, et al. Association of
Escherichia coli O157;H7 with filth flies
(Muscidae and Calliphoridae) captured in
leafy greens fields and experimental
transmission of E.coli O157:H7 to spinach
leaves by house flies (Diptera:Muscidae).
JFood Prot. 2009;72:1547-52.
Carvalho L, Linhares A. Seasonality of insect
succession and pig carcass decomposition in a
natural forest area in shoutheastern Brazil.
Journal of Forensic Science. 2001;46:604-8.
Guimaraes J, Papavero N. Myasis in man and
animals in the Neotropical region. Pleiade,
editor. Sao Paulo: FAPESP; 1999.
Costa P, Franz R, Vianna E, Ribeiro P.
Synanthropy of Ophyra Spp (Diptera:
Muscidae) in Pelotas, RS, Brazil.
RevBrasParasitolVet. 2000;9(2):165-8.
Patitucci LD, Mulieri PR, Oliva A, Mariluis JC.
Status of forensically important genus Ophyra
(Diptera: Muscidae) in Argentina.
RevSocEntomolArgent. 2010;69(1-2):91-9.
Mullens BA, Szijj CE, Hinkle NC. Oviposition
and development of Fannia spp. (Diptera:
Muscidae) on Poultry Manure of Low Moisture
Levels. EnvironEntomol. 2002;31(4):588-93.
MacGowan I, Freidberg A. The Lonchaeidae
(Diptera) of Israel, with descriptions of three
new species. Israel Journal of Entomology.
2008;38:61-92.
McAlpine J. Lonchaeidae. In: McAlpine J,
Gambaran Bakteriologis Lalat ..................... (Dicky Andiarsa, et. al)
editor. In Manual of Nearctic Diptera. Ontario:
Agriculture of Canada; 1987. p. 791-7.
27. Castro CPE, Garcia M. Addition to the
piophilidae (Diptera) fauna from Portugal,
with new records. Graelisia. 2010;66(1) :1015.
28. Smith K. A Manual of Forensic Entomology..
London: The Trustees of the British Museum
(Natural History); 1986. 205 p.
43
Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 9 No. 2, 2015 : 37–44
44
Download