56 analisa pengetahuan remaja terhadap bentuk perilaku seks

advertisement
PROFESI, Volume 13, Nomor 1, September 2015
ANALISA PENGETAHUAN REMAJA TERHADAP BENTUK PERILAKU SEKS
BEBAS DAN CARA MENCEGAHNYA
ANALYSIS OF KNOWLEDGE OF TEENS FREE SEX BEHAVIOUR
AND HOW PREVENTED
Rizka Lutfixa Sari dan Nur Hidayah
Prodi DIII KEBIDANAN STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta
Email: [email protected]
Abstrak
Perilaku Pergaulan bebas dipengaruhi beberapa faktor antara lain pemahaman keluarga
mengenai pergaulan bebas, kondisi keluarga yang tidak stabil, kurangnya kontrol dari orangtua,
lingkungan yang tidak baik, salah dalam pemilihan teman, pemahaman remaja mengenai
pergaulan bebas, dan teknologi informasi (internet). Salah satu dampak negatifnya adalah seks
bebas telah banyak dilakukan oleh remaja dan meningkatnya penyakit menular seksual. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisa tingkat pengetahuan remaja tentang bentuk perilaku seks bebas
dan cara pencegahannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, sampel sebanyak 76
responden, menggunakan kuesioner tertutup sebanyak 30 item. Teknik pengambilan sampel
random sampling. Hasil penelitian yaitu tingkat pengetahuan remaja tentang bentuk perilaku seks
bebas di kelas X SMA Negeri I Karanganom, dimana 37 responden (48,7%) dengan pengetahuan
baik. pengetahuan remaja tentang cara mencegah seks bebas di kelas X SMA Negeri I
Karanganom, dimana 50 responden (65,8%) dengan pengetahuan baik. Simpulan dari penelitian
didapatkan bahwa sebagian besar remaja memiliki tingkat pengetahuan baik tentang bentuk
perilaku seks bebas dan cara pencegahannya.
Kata kunci: Tingkat Pengetahuan, Seks Bebas pada Remaja
Abstract
The behavior of Promiscuity is influenced by several factors, among others are the family’s under
standing on promiscuity, family conditions the are unstable of family conditions, the lack of the
parent control, the not good environment, the folse of friends the selection, understanding of
adolescents about promiscuity, and information technology (internet) , Th One of the negative
impacts is promiscuity has been done by teenagers and the rising sexually transmitted diseases.
The aim of this study is to analyze the level of adolescent knowledge about the form of free sex and
how to prevent it. This research used descriptive method, the sample was 76 respondents, by using
questionnaires which covered 30 items. The sampling technique was random sampling. The result
of the research is the level of teenagers’s knowledge about the shape of free sex behavior in class X
SMA I Karanganom, where 37 respondents (48.7%) had good knowledge. The teens knowledge
about how to prevent free sex in class X SMA I Karanganom, consisted of 50 respondents (65.8%)
had good knowledge. The conclusions of study was that most teenagers had a good level of
knowledge about the form of free sex and knew how to prevente it
Keywords: Level of Knowledge, Free Sex to Teens
56
PROFESI, Volume 13, Nomor 1, September 2015
Seksual adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim
antara laki-laki dan perempuan (Dewi, 2012).
Menurut Desmita (2005) pengertian seks
bebas adalah segala cara mengekspresikan dan
melepaskan dorongan seksual yang berasal dari
kematangan organ seksual, seperti berkencan
intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual, tetapi perilaku tersebut dinilai tidak sesuai
dengan norma karena remaja belum memiliki
pengalaman tentang seksual.
Seks bebas adalah segala tingkah laku
yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan
lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan
diluar hubungan pernikahan (Sarwono, 2003).
Reiss (dalam Duvall & Miller 1985),
membagi bentuk perilaku seks pranikah itu menjadi beberapa kategori, yaitu: (1) Bersentuhan
(touching), antara lain berpegangan tangan,
berpelukan. (2) Berciuman (kissing), batasan dari
perilaku ini adalah mulai dari hanya sekedar
kecupan (light kissing), sampai dengan (french
kiss) yaitu adanya aktivitas atau gerakan lidah di
mulut (deep kissing). (3) Bercumbu (petting),
yaitu merupakan bentuk dari berbagai aktivitas
fisik secara seksual, antara pria dan perempuan,
yang lebih dari sekedar berciuman atau berpelukan yang mengarah kepada pembangkit gairah
seksual, namun belum sampai berhubungan
kelamin. Pada umumnya bentuk aktivitas yang
terlibat dalam petting ini, melibatkan perilaku
mencium, menyentuh atau meraba, menghisap,
dan menjilat pada daerah-daerah pasangan; seperti mencium payudara pasangan perempuan,
atau mencium alat kelamin pasangan pria. (4)
Berhubungan kelamin (sexsual intercourse),
yaitu adanya kontak antara penis dan vagina, dan
terjadi penetrasi penis kedalam vagina.
Berbagai perilaku seksual pada remaja
yang belum saatnya untuk melakukan hubungan
seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :
(1) Masturbasi (pada wanita) atau onani (pada
pria) yaitu suatu kegiatan menyentuh atau
merangsang bagian tubuh sendiri dengan atau
tanpa menggunakan alat khusus pada bagian
tubuh yang sensitif antara lain puting payudara,
paha bagian dalam dan alat kelamin untuk
mendapatkan kepuasan atau kenikmatan seksual.
(2) Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual
yang ringan berupa sentuhan, pegangan tangan
sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks
yang pada dasarnya adalah keinginan untuk
PENDAHULUAN
Remaja merupakan masa perkembangan
sikap tergantung terhadap terhadap orang tua kearah kemandirian, minat-minat seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika Perilaku Pergaulan bebas dipengaruhi beberapa faktor antara lain pemahaman keluarga
mengenai pergaulan bebas, kondisi keluarga yang
tidak stabil, kurangnya kontrol dari orang-tua,
lingkungan yang tidak baik, salah dalam pemilihan teman, pemahaman remaja mengenai
pergaulan bebas, dan teknologi informasi (internet). Salah satu dampak negatifnya adalah seks
bebas telah banyak dilakukan oleh remaja dan
meningkatnya penyakit menular seksual.
Dengan pesatnya perkembangan teknologi, ikut berkembang pula perkembangan remaja - remaja di Indonesia. Ada yang menjurus ke
hal positif dan hal negatif. Salah satu dampak
negatifnya adalah seks bebas. Dikalangan remaja, seks bebas telah banyak dilakukan oleh remaja (Gunawan, 2011).
Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia
sebesar 237,6 juta jiwa, 63,4 juta diantaranya
adalah remaja yang terdiri dari Laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa (50,70 persen) dan
perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (49,30
persen). Besarnya jumlah penduduk kelompok
remaja ini akan sangat mempengaruhi pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang.
Penduduk kelompok umur 10-24 tahun perlu
mendapat perhatian serius mengingat mereka
masih termasuk dalam usia sekolah dan usia
kerja, mereka akan memasuki angkatan kerja dan
memasuki umur reproduksi. Apabila tidak
dipersiapkan dengan baik remaja sangat berisiko
terhadap perilaku seksual pranikah (BKKBN,
2011).
Kantor Urusan Agama (KUA) Prambanan
Klaten mencatat sebanyak 25% wanita di
Prambanan hamil sebelum diikat secara resmi
dalam pernikahan. Kasus ini didominasi oleh
wanita yang masih berusia muda, cukup banyak
di antaranya yang hamil dengan status sebagai
pelajar. Rata-rata wanita yang hamil itu
ditemukan menjelang kelulusan SMA/SMK.
Diduga hal itu terjadi karena derasnya arus
informasi yang terbuka tanpa disaring oleh
masyarakat dan kemerosotan moral karena
lemahnya pengawasan orangtua, pemahaman
agama dan hukum (Angriawan, 2013).
57
PROFESI, Volume 13, Nomor 1, September 2015
menikmati atau memuaskan dorongan seksual.
(3) Perilaku homoseksual dijadikan sebagai sebagai sarana latihan remaja untuk menyalurkan
dorongan seksual yang sebenarnya di masa yang
akan datang (Dewi, 2012).
Dampak perilaku seks bebas pada remaja
yaitu: (1) Kehamilan tidak diinginkan. (2)
Aborsi. (3) Penyakit menular seksual (PMS).
(Gunawan, 2011).
Dampak Psikologi, dalam pandangan masyarakat, remaja putri yang hamil merupakan aib
keluarga, mencoreng nama baik keluarga. Penghakiman sosial ini tidak jarang membuat remaja
putri diliputi perasaan bingung, cemas, malu dan
bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui kehamilannya. Selain itu remaja yang terbukti hamil terancam dikeluarkan dari sekolah.
Cara mencegah perilaku seks bebas pada
remaja yaitu : (1) Adanya kasih sayang, perhatian dari orang tua dalam hal apapun serta
pengawasan yang tidak bersifat mengekang. (2)
Pengawasan yang intensif terhadap media komunikasi. (3) Menambah kegiatan yang positif di
luar sekolah, misalnya kegiatan olahraga.(4)
Pembinaan remaja yang berhubungan dengan
kesehatan produksi. (5) Perlu adanya sikap tegas
dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Remaja Tentang Bentuk Perilaku Seks Bebas
No
1
2
3
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Total
Jumlah
Persentase(%)
37
30
9
76
48,7
39,5
11,8
100,0
Tabel 1 menunjukkan tingkat pengetahuan
remaja tentang bentuk perilaku seks bebas di
kelas X SMA Negeri I Karanganom, dimana 37
responden (48,7%) dengan pengetahuan baik.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Remaja Tentang Cara Mencegah Seks Bebas
No
Pengetahuan
Jumlah
Persentase (%)
1
2
3
Baik
Cukup
Kurang
Total
50
15
11
76
65,8
19,7
14,5
100,0
Tabel 2 menunjukkan tingkat pengetahuan
remaja tentang cara mencegah seks bebas di kelas
X SMA Negeri I Karanganom, dimana 50
responden (65,8%) dengan pengetahuan baik.
Pembahasan
Dalam penelitian ini karakteristik responden berdasarkan pendidikan siswa kelas X
SMA Negeri 1 Karanganom, semua responden
mempunyai tingkat pendidikan yang sama SMA
sebanyak 76 responden (100%). Menurut YB
Mantra yang dikutip Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk perilaku seseorang akan pola hidup
terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam,
2003) pada umumnya makin tinggi pendidikan
seseorang makin mudah menerima informasi.
Hal ini menunjukkan tingkat pendidikan
berpengaruh terhadap perilaku dan informasi
yang dikuasai tentang pengetahuan seks bebas,
baik diperoleh secara formal maupun non formal.
Berdasarkan tabel 1 menunjukkan sebagian besar siswa mempunyai pengetahuan yang
baik tentang bentuk perilaku seks bebas, yaitu
sebanyak 37 responden (48,7%). Berdasarkan
hasil jawaban dari responden, kebanyakan
responden mengetahui bentuk perilaku seks bebas yaitu pegangan tangan, ciuman dan pelukan
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian
deskriptif dengan pendekatan cross sectional.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA N I Karanganom pada bulan Mei 2013. Populasi yang
digunakan dalam penelitian seluruh siswa atau
siswi kelas X SMA Negeri I Karanganom yang
berjumlah 306 orang, dengan jumlah sampel 76
orang responden. Teknik pengambilan sampling
dengan Random Sampling. Metode pengambilan
sampel menggunakan Simple Random Sampling
dengan teknik undian. Dengan alat pengumpulan
data menggunakan kuesioner tertutup. Penelitian
ini menggunakan uji validitas dengan rumus
dengan rumus Pearson Product Moment dan
Untuk menguji reliabilitas instrumen, peneliti
menggunakan rumus Spearman Brown. Analisa
data yang digunakan adalah analisis unvariate.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Karakteristik responden berdasarkan umur
siswa kelas X SMA Negeri I Karanganom, dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
58
PROFESI, Volume 13, Nomor 1, September 2015
dengan lawan jenis, onani (kelainan perilaku seks
yang biasa dilakukan oleh remaja laki-laki
dengan cara mengeluarkan air mani oleh tangan), masturbasi (cara wanita untuk merangsang dirinya sendiri) serta homoseksual yang
merupakan kelainan perilaku seks yang dilakukan oleh dua individu yang berjenis kelamin
sama. Sedangkan menurut Dewi (2012) bentuk
perilaku seks bebas pada remaja meliputi masturbasi, onani, sentuhan, pegangan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks dan
homoseksual.
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas
responden tergolong ketegori baik dalam memahami tentang bentuk - bentuk perilaku seks
bebas. Pemahaman yang baik mengenai bentuk –
bentuk perilaku tentang seks bebas dimungkinkan karena mayoritas responden berusia 16
tahun dan sudah mengenal pacaran. Sehingga
tanpa disadari perilaku yang ditunjukkan remaja
yang berpacaran seperti bersentuhan, pegangan
tangan, pelukan dan ciuman sudah termasuk
bagian dari bentuk seks bebas.
Berdasarkan tabel 2 menunjukkan sebagian besar siswa mempunyai pengetahuan yang
baik tentang cara mencegah seks bebas, yaitu
sebanyak 50 responden (65,8%). Berdasarkan
hasil jawaban dari responden, kebanyakan responden mengetahui cara mencegah perilaku seks
bebas yaitu kasih sayang orang tua sangat mempengaruhi perilaku remaja, berfikir positif dan
mendekatkan diri pada Tuhan, mengikuti ekstrakulikuler basket di sekolah, mengikuti penyuluhan tentang bahaya seks bebas dan membatasi
media-media yang berbau pornografi. Sedangkan menurut Sigmund Freud, cara mencegah
perilaku seks bebas pada remaja yaitu adanya
kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam
hal apapun serta pengawasan yang tidak bersifat
mengekang sebagai contoh, yaitu orangtua boleh
saja membiarkan remaja melakukan apa saja
yang masih sewajarnya. Apabila menurut pengawasan remaja telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu
dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya. Pengawasan yang intensif terhadap
media komunikasi seperti tv, internet, radio,
handphone yang mengandung unsur pornografi.
Penambahan kegiatan yang positif di luar sekolah, misalnya kegiatan olahraga, dikembangkan
model pembinaan remaja yang berhubungan dengan kesehatan produksi dan perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena sekolah
tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah serta sikap tegas dari
pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap
pelaku seks bebas misal penghapusan jaringan
internet yang mengandung unsur pornografi.
Selain cara – cara diatas atas upaya yang
bisa dilakukan orangtua adalah Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini,
seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah
sesuai dengan iman kepercayaannya mendukung
hobi yang dia inginkan selama itu masih positif
jangan pernah kita mencegah hobinya maupun
kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia
sukai selama bersifat Positif. Karena dengan
melarangnya dapat menggangu kepribadian dan
kepercayaan dirinya. Sebagai orang tua harus
menjadi tempat curhat yang nyaman untuk anak
anda, sehingga anda dapat membimbing dia
ketika ia sedang menghadapi masalah.
Kegagalan mencapai identitas peran dan
lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi
dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa
mendapatkan sebanyak mungkin figur orangorang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik dan figur orang dewasa yang
berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya
gagal pada tahap ini. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika
ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada
tidak sesuai dengan harapan. Adanya motivasi
dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan hobi. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman
bagi remaja. Hasil ini menunjukkan mayoritas
pengetahuan responden tergo-long ketegori baik
dalam memahami tentang bentuk perilaku seks
bebas dan cara mencegah perilaku seks bebas,
dimungkinkan karena banyaknya pilihan
ekstrakulikuler sekolah sehingga responden
mempunyai kegiatan – kegiatan positif diluar jam
sekolah. Hal ini merupakan salah satu cara untuk
mencegah terjadinya perilaku seks bebas.
SIMPULAN
Tingkat pengetahuan remaja tentang
bentuk perilaku seks bebas pada remaja sebagian
besar dengan tingkat pengetahuan baik, yaitu
sebanyak 37 responden (48,7%). Tingkat pengetahuan remaja tentang cara mencegah seks bebas
pada remaja sebagian besar dengan tingkat
pengetahuan baik, yaitu sebanyak 50 responden
(65,8%). Pencegahan perilaku seks bebas tidak
59
PROFESI, Volume 13, Nomor 1, September 2015
hanya berfokus pada remaja tetapi juga peran
orang tua, guru dan pemerintah juga harus
mendukung dalam rangka menjaga remaja agar
tidak terjerumus dalam perilaku seks bebas.
Dewi, H. 2012. Memahami Perkembangan Fisik
Remaja. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Gunawan, A. 2011. Remaja dan Permasalahannya. Yogyakarta: Hanggar Kreator.
DAFTAR PUSTAKA
Kusmiran, E. 2011. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba Medika.
Sarwono, Sarlito W. 2011. Psikologi Remaja.
Jakarta: Rajawali Pers.
Angriawan, Shoqib. 2013. Hamil Diluar Nikah.
http://www.solopos.com/2013/02/28/hamil
-luar-nikah-duh-kua-prambanan-klatencatat-25-persen-pengantin-sudah-hamil420731 diakses 12 Maret 2013 19:06
WIB
Septiyaning, Indah. 2013. Tinggi Kasus Remaja
Terjerat Seks Bebas dan Narkoba.
http://www.solopos.com/2013/02/11/tinggi
-kasus-remaja-terjerat-seks-bebas-dannarkoba-378017 diakses 24 februari 2013
jam 22:10 WIB
BKKBN, 2011. Kajian Profil Penduduk Remaja.
http://www.bkkbn.go.id/litbang.pdf di akses pada tanggal 22 februari 2013 jam
23:35 WIB
Widyastuti, Y. 2009, Kesehatan Reproduksi,
Fitramaya, Yogyakarta
60
Download