FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORBIDITAS BALITA

advertisement
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORBIDITAS BALITA
DI DESA KLAMPAR KEC.PROPPO KAB.PAMEKASAN
Sri Ira Suharwati, Ach. Fatchan, dan Budijanto
Pendidikan Geografi
FIS Universitas Negeri Malang
Email: [email protected]
ABSTRAK: Penelit ian ini bertujuan untuk menjelaskan tingkat morbid itas balita
di desa Klampar dan faktor yang mempengaruhi mo rbiditas balita. Penelit ian in i
merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang dilaku kan
dengan metode survey. Teknik pengambilan sampel responden menggunakan
teknik Proportional Random Sampling. Teknik analisis data menggunakan
Tabulasi Tunggal, Silang, dan Chi Square . Hasil penelitian menunjukkan : (1)
Tingkat morb iditas di desa Klampar dilihat dari lama sakit dan ju mlah kali sakit
selama tiga bulan terakhir tergolong sedang dengan faktor yang paling memilki
keterkaitan adalah perawatan balita, (2) Ada keterkaitan antara perawatan balita
dengan morbiditas balita, (3) Tidak ada keterkaitan antara tingkat pendidikan ibu,
gizi, dan lingkungan biofisik dengan morbid itas balita pada penelitian ini.
Diisarankan bagi masyarakat agar lebih meningkat kan perawatan terhadap balita,
serta menjaga dan memperhatikan kesehatan baik itu kesehatan individu maupun
lingkungan.
Kata kunci: mo rbid itas, faktor yang mempengaruhi, balita
ABSTRACT: This research aims to explain the level of mo rbidity at the villag e
of toddler Klampar and factor influencing morbid ity toddler. This research is
descriptive research with quantitative approach taken with survey methods. The
sampling technique of respondents using a Proportional Random Samp ling
technique. The data analysis technique using of Single, Cross-Tabulations, and
Chi Square. The results of the research are: (1) The mo rbidity rate in the village
Klampar seen fro m a long illness and the number of times sick for the last three
months were moderate with most factors have the relationship is toddler care, (2)
There is a relationship between treatment of toddlers with the morb idity toddler,
(3) there is no relation between the mother’s level of education, nutrition, and the
biophysical environ ment with morb idity toddlers in study. It is advisable for the
community to further imp rove care for toddlers, as well as maintain ing good
health and pay attention to the health of individuals and the environment.
Keywords : morb idity, influence factors, toddler
Morbiditas merupakan derajat sakit yang biasanya dinyatakan dalam
angka prevalensi atau insidensi yang umum. Angka kesakitan merupakan
indikator penting dalam rangka penilaian dan perencanaan program untuk
menurunkan kesakitan dan kematian di suatu wilayah. Angka kesakitan
merupakan masalah kesehatan penting terutama bagi anak-anak dibawah umur 5
tahun (balita) karena kesakitan paling sering ditemukan pada golongan anak usia
dini dimana pada usia tersebut balita sangatlah rentan terserang penyakit. Angka
kesakitan ialah jumlah kejadian suatu penyakit yang dirumuskan sebagai jumlah
anak yang sakit per 1000 anak yang bisa terkena penyakit (Kardjati, 1985:32-33).
Angka tingkat sakit mempunyai peranan penting yang lebih penting
dibandingkan dengan angka kematian. Karena apabila angka kesakitan tinggi
maka akan memicu kematian sehingga menyebabkan angka kematian juga tinggi.
Angka kesakitan lebih mencerminkan keadaan kesehatan yang sesungguhnya
sebab mempunyai hubungan yang erat dengan faktor lingkungan seperti
kemiskinan, kurang gizi, penyakit infeksi, perumahan, air minum yang sehat,
kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan (Kardjati, 1985:32).
Status kesehatan juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat
pendidikan masyarakat. Pendidikan, terutama pendidikan ibu erat kaitannya
dengan tingkat pengertiannya terhadap perawatan kesehatan, higiene, perlunya
pemeriksaan kemhamilan, dan pasca persalinan, serta kesadarannya terhadap
kesehatan anak-anak dan keluarganya (Kardjati, 1985:9). Sehingga semakin tinggi
tingkat pendidikan ibu maka semakin tinggi pula pengertiannya terhadap
kesehatannya baik itu kesehatan dirinya maupun kesehtan lingkungan tempat ia
tinggal. Masyarakat di desa klampar khususnya para ibu sampai saat ini mayoritas
hanya menempuh bangku Sekolah Dasar (SD) saja sehingga tingkat keperdulian
akan kesehatan terutama kesehatan lingkungan sangat minim.
Kondisi lingkungan yang tidak sehat juga merupakan faktor yang
menyebabkan tingginya morbiditas atau angka kesakitan di suatu wilayah.
Lingkungan biofisik merupakan keadaan rumah dengan segala sarana dan
prasarana pendukung kebersihan dan kesehatan yang dimilki oleh keluarga yang
meliputi kondisi fisik rumah, MCK, sumber air bersih, tempat pembuangan
sampah dan tempat pembuangan limbah rumah tangga (Shobirin, 2012:20).
Lingkungan biofisik sangat mempengaruhi terhadap kesehatan masyarakat
khusunya balita. Lingkungan yang sehat dan bersih menjadikan orang yang
tinggal dilingkungan tersebut menjadi sehat.
Karakteristik rumah merupakan salah satu faktor yang menyebabbkan
tingginya morbiditas balita. Di desa Klampar masih cukup banyak masyarakat
yang dapat dikatakan memiliki rumah yang kurang memenuhi kriteria rumah
sehat. Dimana dari delapan persyaratan rumah sehat yang dikemuka n oleh
Komaruddin (1997:298) ada beberapa persyaratan yang belum terpenuhi oleh
masyarakat yaitu kondisi dinding dan lantai harus kering dan tidak lembab dan
jarak kandang ternak terpisah paling tidak 10 meter dari jarak rumah.
Selain karakteristik rumah, sumber air bersih juga menjadi faktor penyebab
morbiditas balita. Pemanfaatan air sungai yang sudah tercemar oleh limbah batik
untuk kebutuhan sehari- hari seperti mandi, mencuci, dan untuk kebutuhan
pertanian oleh masyarakat menyebabkan tingginya morbiditas balita di Desa
Klampar. Jenis penyakit yang diderita oleh balita yaitu: demam (panas), gatalgatal, diare,asma dan alergi. Hal tersebut karena lingkungan memiliki hubungan
yang sangat erat dengan keadaan kesehatan, begitu pula dengan kesehatan yang
dapat dijadikan indikasi keadaan suatu lingkungan.
Pada Jurnal yang ditulis oleh Tjetjep Syarif Hidayat pada tahun 2007 dengan
Judul “Hubungan Sanitasi Lingkungan, Morbiditas Dan Status Gizi Balita Di
Indonesia” menjelaskan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sanitasi
lingkungan yang sehat dengan status gizi anak balita dengan berat badan menurut
umur.
Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) mengetahui tingkat morbiditas balita di desa
Klampar kec. Proppo Kab. Pamekasan, 2) mengetahui keterkaitan antara tingkat
pendidikan ibu, gizi, perawatan balita, dan lingkungan biofisik dengan morbiditas
balita di desa Klampar kec. Proppo Kab. Pamekasan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif dengan pendekatan
Kuantitatif menggunakan metode survey. Pada penelitian ini unit analisanya yaitu
masyarakat di desa Klampar kecamatan Proppo kabupaten Pamekasan yang
memiliki balita dengan jumlah kepala keluarga 1.080. Teknik pengambilan
sampel menggunakan tekhnik Purposive Sampling. Dalam penentuan jumlah
responden menggunakan teknik Proportional Random Sampling sehingga
diperoleh 100 responden.
Data dikumpulkan dengan teknik: (1) observasi, (2) dokumentasi, dan (3)
kuesioner. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis Deskriptif
yaitu Tabulasi Tunggal, Silang, dan Chi Square.
HASIL
1. Tingkat Morbiditas Balita
Morbiditas balita pada penelitian ini merupakan angka tingkat sakit balita
dengan indikator lama sakit dan jumlah kali sakit selama tiga bulan terakhir.
Berikut akan dipaparkan kategori morbiditas balita desa Klampar pada tabel 1
Tabel 1 Tingkat Morbi ditas
No
Morbi di tas
1
Tinggi
2
Sedang
3
Rendah
Jumlah
Balita Desa Kl ampar Tahun 2013
F
Presentase
28
28
58
58
14
14
100
100
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui tingkat morbiditas balita di desa
Klampar tergolong sedang yaitu sebanyak 58% dengan penyakit yang banyak
diderita oleh balita di desa Klampar adalah panas (demam), diare , gatal- gatal, dan
batuk.
2. Keterkaitan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Morbiditas Balita
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Pendidikan disini diukur dari pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh ibu
yang memilki balita. Berikut akan dipaparkan keterkaitan tingkat pendidikan ibu
dengan morbiditas balita pada Tabel 2
Tabel 2 Keterkaitan Tingkat Pendi dik an Ibu deng an Morbi ditas Balita
Tingkat
Morbi di tas
Pendi dikan Ibu
Tinggi
Sedang
Rendah
F
%
F
%
F
%
SD/MI
20
73%
40
69%
12
86%
SMP/MTS
4
14%
12
21%
2
14%
SMA/MA
4
14%
6
10%
0
0
Jumlah
28
100
58
100
14
100
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa responden dengan
morbiditas tinggi (0-3) dengan tingkat pendidikan SD/MI sebanyak 20 responden
(73%), morbiditas sedang sebanyak 12 responden (21%) dengan tingkat
pendidikan SMP/MTS, %), tingkat pendidikan SMA/MA memiliki morbiditas
tinggi sebanyak 2 responden (14%). Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh
nilai Chi-Square hitung < Chi-Square tabel (2,917 < 9,4877), maka Ho diterima
yang berarti tidak ada keterkaitan antara tingkat pendidikan ibu dengan morbiditas
balita.
3. Keterkaitan Pe rawatan Balita dengan Morbiditas Balita
Perawatan balita pada penelitian diukur mulai dari balita dalam kandungan
sampai balita dilahirkan. Data perawatan balita dalam kandungan yaitu intensitas
pemeriksaan kehamilan, tempat pemeriksaan kehamilan, penolong saat persalinan,
sedangkan data pada saat balita sudah dilahirkan yaitu intenistas pemerikasaan
kesehatan balita, tempat pemeriksaan kesehatan balita, rutin tidaknya datang ke
posyandu, dan status kepemilikan KMS. Berikut dapat diketahui keterkaitan
perawatan balita dengan morbiditas balita pada Tabel 3.
Tabel 3 Keterkaitan Perawatan B alita dengan Morbi di tas Balita
Perawatan
Morbi di tas
Balita
Tinggi
Sedang
Rendah
F
%
F
%
F
%
Rendah
7
25%
11
19%
4
29%
Sedang
11
39%
31
53%
8
57%
Tinggi
10
36%
16
28%
2
14%
Jumlah
28
100
58
100
14
100
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa perawatan balita di desa
Klampar tergolong sedang sehingga memilki tingkat morbiditas sedang pula
sebanyak 53% (31 responden). Selain itu responden dengan perawatan balita
rendah memilki tingkat morbiditas tinggi sebesar 25% (7 responden). Sedangkan
morbiditas rendah sebanyak 14% (2 responden) dengan perawatan balita tinggi.
Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai Chi-Square hitung > Chi-Square
tabel (8,743>5,991), maka Ho ditolak yang berarti ada keterkaitan antara
perawatan balita dengan morbiditas balita.
4. Keterkaitan Gizi dengan Morbiditas Balita
Dalam menentukan status gizi masyarakat didaerah penelitian diukur melalui
beberapa indikator berikut ini, yaitu: 1)menu makanan saat hamil, 2) pemberian
ASI, 3) lamanya pemberian ASI, 4) usia balita yang mulai diberikan makanan
tambahan, 4) dan jenis makanan tambahan yang diberikan oleh ibu pada balita
setelah pemberian ASI dihentikan. Berikut dapat diketahui keterkaitan gizi dengan
morbiditas balita pada Tabel 3
Gizi
Rendah
Sedang
Tinggi
Jumlah
Tabel 3 Keterkaitan Gizi dengan Morbi ditas
Morbi di tas
Tinggi
Sedang
F
%
F
%
5
17%
12
21%
17
59%
29
51%
7
24%
16
28%
29
100
57
100
Balita
Rendah
F
%
5
36%
8
57%
1
7%
14
100
Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa gizi yang rendah tergolong
memilki morbiditas tinggi sebesar 17% (5 responden). Responden dengan asupan
gizi yang sedang memiliki tingkat morbiditas balita sedang sebanyak 29
responden (51%). Sedangkan responden dengan asupan gizi tinggi memilki
tingkat morbiditas rendah sebanyak 7% (1 responden). Berdasarkan hasil uji Chi
Square diperoleh nilai Chi-Square hitung < Chi-Square tabel (17,276 < 26,296),
maka Ho diterima yang berarti tidak ada keterkaitan antara gizi dengan morbiditas
balita.
5. Keterkaitan Lingkungan Biofisik dengan Morbiditas Balita
Lingkungan biofisik yang dijadikan sebagai indikator lingkungan sehat pada
penelitian ini meliputi: sumber air bersih yang digunakan, fasilitas MCK, tempat
pembuangan sampah, tempat pembuangan limbah rumah tangga, dan karakteristik
rumah yang mencakup status kepemilikan rumah, jenis lantai, jenis dinding, dan
dapat tidaknya udara bersih masuk ke dalam rumah. Berikut dapat diketahui
keterkaitan lingkungan biofisik dengan morbiditas balita pada Tabel 4.
Tabel 4 Keterkaitan Lingkungan dengan Morbi ditas Balita
Lingkungan
Morbi di tas
Biofisik
Tinggi
Sedang
Rendah
F
%
F
%
F
%
Rendah
3
10%
23
40%
2
14%
Sedang
20
69%
22
39%
10
72%
Tinggi
6
21%
12
21%
2
14%
Jumlah
29
100
57
100
14
100
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa lingkungan biofisik yang
rendah memilki tingkat morbiditas tinggi sebanyak 10% (3 responden), responden
dengan kondisi lingkungan biofisik sedang memilki tingkat morbiditas sedang
pula sebanyak 39% (22 responden). Sedangkan responden yang memilki
lingkungan biofisik dengan kategori tinggi memilki tingkat morbiditas rendah
sebanyak 14% (2 responden). Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai
karena Chi-Square hitung < Chi-Square tabel (35,907<41,337), maka Ho diterima
yang berarti tidak ada keterkaitan antara lingkungan biofisik dengan morbiditas
balita.
PEMBAHASAN
Tingkat morbiditas balita di desa Klampar tergolong sedang, namun akan
terus meningkat apabila masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita tidak
mengubah pola hidup mereka dengan pola hidup yang sehat, yakni diawali dari
lingkungan sekitar tempat mereka tinggal. Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa perawatan balita memiliki keterkaitan dengan morbiditas balita di desa
Klampar. Morbiditas pada balita di desa Klampar disebabkan karena seringnya
balita terjangkit penyakit, diantaranya yaitu: demam, diare, batuk, dan gatal-gatal.
Demam, batuk, dan pilek bisa menjadi gejala awal radang selaput otak dan gejala
awal infeksi saluran pernafasan yang diakibatkan oleh pergantian musim.
Intensitas terjangkit diare pada bayi selain disebabkan oleh mikroorganisme, juga
karena gangguan pencernaan akibat pemberian makanan tambahan pada usia yang
terlalu dini, disamping karena keadaan kurang gizi (Budiarso dalam Singarimbun,
1988:200).
Pemberian makanan tambahan bagi balita di desa Klampar mayoritas
mulai diterapkan sejak bayi berusia kurang dari 1 bulan. Pemberian tambahan
makanan sejak dini apabila tidak tepat dapat meningkatkan jumlah balita yang
mengidap diare semakin banyak. Selain itu penyakit diare yang terjadi di desa
Klampar juga disebabkan oleh pencemaran lingkungan terutama pencemaran air
yang mampu menularkan berbagai penyakit kepada anak, sehingga untuk
menurunkan angka kesakitan diare selain tersedianya air bersih yang cukup,
diperlukan pula penyuluhan tentang kebersihan pribadi dan perawatan balita serta
pemberian makanan tambahan pada bayi sesuai dengan umur dan kebutuhannya.
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia,
terutama pendidikan ibu berpengaruh sangat kuat terhadap kelangsungan hidup
anak dan bayinya. Tingkat pendidikan ibu memilki peranan yang cukup penting
dalam hal peningkatan morbiditas balita. Tinggi rendahnya pendidikan ibu erat
kaitannya dengan tingkat pengertiannya terhadap perawatan kesehatan, higiene,
perlunya pemeriksaan kehamilan, dan pasca persalinan, serta kesadarannya
terhadap kesehatan anak-anak dan keluarganya (Kardjati, 1985:9). Di desa
klampar ini tingkat pendidikan yang pernah ditempuh oleh ibu yang memilki
balita masih tergolong rendah yaitu sebanyak 72 responden hanya menempuh
pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendidikan ibu tidak
memiliki keterkaitan dengan morbiditas balita di desa Klampar. Hal tersebut
karena ada hubungan positif antara tingkat pendidikan ibu dengan penggunaan
pelayanan kesehatan, yakni tindakan ibu ketika balita sakit langsung
memeriksakan balita mereka ke bidan. Hal tersebut juga karena akses kesehatan
yang secara geografi mudah. Selain itu, faktor yang mendukung mereka lebih
memilih memeriksakan balita mereka ke bidan adalah tingkat pendapatan
masyarakat di desa Klampar yang cukup tinggi.
Perawatan balita meliputi intensitas pemeriksaan balita, tempat
pemeriksaan balita sakit, dan jangka waktu pemberian imunisasi. Kurangnya
perawatan tehadap balita dapat mengakibatkan tingkat kesehatan balita menurun
dan menyebabkan morbidity pada balita. Pada penelitian ini masih banyak ibu
yang memilki balita tidak begitu memperhatikan bagaimana cara merawat balita
mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara perawatan
balita. Rendahnya perawatan kesehatan balita di desa Klampar karena kurangnya
perhatian ibu terhadap kesehatan balitanya. Hal tersebut terlihat dari kelengkapan
imunisasi yang diberikan oleh ibu pada saat anak dibawah satu tahun. Di desa
klampar mayoritas ibu tidak memberikan imunisasi setelah anak dilahirkan. Selain
itu kelengkapan imunisasi yang diberikan oleh ibu juga masih tergolong tidak
lengkap, hal tersebut karena responden tidak rutin bahkan tidak pernah mengikuti
kegiatan posyandu yang ada di desa Klampar. Padahal, berdasarkan penelitian
yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa penyakit menular seperti diftria,
batuk rejan, polio, dan tetanus neonatorium dapat dicegah dengan pemberian
imunisasi (Alisjahbana, 1984:185).
Kondisi status gizi balita menjadi salah satu tolak ukur cerminan keadaan
gizi masyarakat luas. Pemenuhan gizi dan pemberian asupan gizi yang baik
berhubungan dengan kesehatan tubuh untuk menyediakan energi, mengatur dan
memelihara jaringan kesehatan tubuh. Konsumsi gizi ini dapat diperoleh dari
sumber makanan yang sehat yang mencakup 4 sehat 5 sempurna. Pemenuhan gizi
pada saat kehamilan dan pemberian gizi pada balita di desa klampar tergolong
sedang atau cukup. Hasil penelitian menyebutkan bahwa tidak ada hubungan
antara gizi dengan tingkat morbiditas balita. hal tersebut karena sebanyak 51%
dari responden sudah tergolong memiliki gizi cukup.
Pemberian asupan gizi yang baik juga telah dilakukan oleh ibu yaitu
dengan memberikan ASI ekslusif dan tambahan makanan selama masa
pertumbuhan anak mereka. Pemberian ASI ini sudah memenuhi kebutuhan gizi
bayi sampai umur 4-6 bulan jika bayi tersebut tidak diberi makanan tambahan.
Pada daerah penelitian ini pemberian makanan yang lunak dan mudah dicerna
oleh bayi berupa nasi dan pisang sudah mulai diberikan sejak minggu pertama
setelah kelahiran bayi sehingga membantu pemenuhan kebutuhan gizi bayi
tersebut. Sedangkan pemberian makanan yang lebih bervariasi diberikan pada saat
bayi menginjak umur dua tahun dan mulai memasuki masa penyapihan.
Lingkungan biofisik ini terdiri dari kondisi fisik rumah, sanitasi
lingkungan rumah, dan sumber air bersih. Lingkungan biofisik yang sehat akan
mengakibatkan orang yang tinggal disekitar lingkungan tersebut menjadi nyaman.
Lingkungan biofisik sangat mempengaruhi terhadap kesehatan masyarakat
khusunya balita. Lingkungan yang sehat dan bersih menjadikan orang yang
tinggal dilingkungan tersebut menjadi sehat. Sehubungan dengan kesehatan balita,
kondisi tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap kesehatan balita. Hal tersebut
karena balita sangat rentan terjangkit penyakit yang ada di lingkungan sekitar.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lingkungan biofisik
rumah tidak memiliki keterkaitan dengan tingkat morbiditas balita. Lingkungan
biofisik yang ada di desa Klampar tergolong dalam kategori sedang. Meskipun
ada beberapa responden yang memiliki rumah yang tidak memenuhi syarat
sebagai rumah sehat diantaranya yaitu banyak dari responden yang memilki
kandang ternak tidak jauh dari jarak rumah mereka. Dalam hal penggunaan air
bersih masyarakat desa Klampar juga tergolong sedang karena sudah banyak dari
masyarakat yang memilih menggunakan air sumur untuk kebutuhan makan dan
minum. Meskipun sampai saat ini masih ada sebagian masyarakat yang
memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari mereka. Akan
tetapi karena penggunaan air sungai tidak setiap waktu atau sesekali saja
sehingga kemungkinan terjangkit penyakit tidak begitu besar.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dalam penelitian yang telah dilakukan mengenai faktor- faktor yang
mempengaruhi morbiditas balita di desa Klampar, maka diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut: 1) Tingkat morbiditas di desa Klampar dilihat dari
lama sakit dan jumlah kali sakit selama tiga bulan terakhir tergolong sedang
dengan faktor yang paling memiliki keterkaitan adalah perawatan balita. Jenis
penyakit yang sering diderita oleh balita adalah demam, diare, dan gatal- gatal, 2)
Tingkat pendidikan ibu di desa klampar tergolong rendah yaitu SD/MI. Hasil
perhitungan Chi Square menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan antara tingkat
pendidikan ibu dengan morbiditas balita, 3) Perawatan balita di desa Klampar
tergolong sedang. Hasil Chi Square menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara
perawatan balita dengan morbiditas balita, 4) Gizi di desa Klampar tergolong
sedang. Hasil Chi Square menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan antara gizi
dengan morbiditas balita, 5) Lingkungan bofisik desa Klampar tergolong sedang.
Hasil Chi Square menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan antara lingkungan
biofisik dengan morbiditas balita.
Saran
Penulis menyarankan bagi masyarakat agar lebih meningkatkan
perawatan balita baik sejak dari masa kehamilan sampai bayi lahir. Karena apabila
perawatan balita tersebut baik maka derajat kesehatan seseorang akan menjadi
baik pula sehingga dapat meningkatkan kualitas orang tersebut. Sedangkan bagi
pemerintah agar mengadakan penyuluhan-penyuluhan tentang tata cara menjaga
tubuh dan lingkungan agar tetap sehat. Selain itu, perlunya menambah jumlah
layanan kesehatan yang lebih optimal di setiap daerah. Karena pembangunan
suatu daerah akan berhasil apabila masyarakatnya memilki kualitas yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, TS, dkk.2007. Hubungan Sanitasi Lingkungan, Morbiditas Dan Status
Gizi Balita Di Indonesia, 34(2):104-113. (online)
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pgm/article/view/3100
diakses tanggal 3 oktober 2013
Kardjati, Anna Alisjahbana, J.A. Kusin. 1985. Aspek Kesehatan Dan Gizi Anak
Balita. Yayasan Obor Indonesia
Komaruddin. 1997. Menelusuri Pembangunan Perumahan dan Permukiman.
Jakarta: Yayasan REI- PT. Rakasindo
Singarimbun, Masri. 1988. Kelangsungan Hidup Anak. Yogyakarta: Gajah Mada
Shobirin, Wahyu.2012. Pengaruh Kondisi Ekonomi, Tingkat Pendidikan,
Demografi, Perawatan Balita, Dan Lingkungan Biofiaik Terhadap
Morbiditas Balita Di Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Malang:
Universitas Negeri Malang
Artikel oleh Sri Ira Suharwati ini
Telah diperiksa pada tanggal 12 Desember 2013
Pembimbing I
Prof. Dr. Ach. Fatchan, M.Pd M.Si
NIP 19570715 19860111 002
Pembimbing II
Dr. Budijanto, M.Sos
NIP 19530612 198002 1 001
Mahasiswa
Sri Ira Suharwati
NIM 100721403500
Download