YURISDIKSI DAN "ADMINISSmILITY" PENGADILAN PIDANA

advertisement
Yurisdiksi dan Admissibility Pengadilan Pidana Inle17U1Sional
313
YURISDIKSI DAN "ADMINISSmILITY"
PENGADILAN PIDANA INTERNASIONAL'
Muladi
Penulis artikel ini mengulas yurisdiksi dan
administrasi Pengadilan Pidana Internasional
(International Criminal Court). Pembentukan
Pengadilan Pidana Internasional tersebut
didasarkan atas Statuta Rorna tentang Pidana
lnternasional 1998. Pembahasan yurisdiksi
ICC dikaitkan dengan pokok perkara, waktu,
teritorial
dan
personal.
Pembahasan
administrasi ICC, misalnya, dikaitkan dengan
apakah suatu kasus dapat diterirna atau tidak.
Pengantar
Langkah untuk memidana para pelaku kejahatan perang (war
criminals) sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno atas dasar pandangan
dan kepercayaan yang bersumber pada agama dan filsafat. Hal ini
menumbuhkan keyakinan adanya nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat
fundamental yang tak dapat dilanggar. Pada tahun 1474 seorang yang
bernama Peter von Hagenbach telah dipidana mati (dipenggal kepalanya),
karena telah melakukan kekejaman (atrocities) dalam pendudukan kota
Breisach. Dalam perang saudara (civil war) Amerika terdapat larangan
dilakukannya perilaku tidak manusiawi dengan ancaman pidana berat
termasuk pidana mati. Dapat dicatat bahwa Konvensi Den Haag tahun
1899 dan 1907 merupakan kodifikasi pertama tentang hukum perang,
1
Disampaikan pacta Lokakarya tentang Pembahasan Statuta Roma 1998 (lCC). Hotel
Millenium, Jakarta, 23-24 Oktober 2001.
Nomor 4 Tahun 2001
314
Hukum dan Pembangunan
yang lebih menekankan pada kewajiban dan tugas negara~negara serta
tidak dimaksudkan untuk menciptakan pertanggungjawaban pidana secara
individual. Baru dalam pengadilan penjahat perang di Nuremberg hal ini
diterapkan.
Perjuangan untuk membentuk Pengadilan Pidana Internasional
(International Criminal Court = fCC) telah dimulai 50 tahun yang lalu
untuk mengadili pelanggaran HAM berat seperti "genocid". Hal ini
nampak dari Resolusi Majelis Umum PBB No. 260 tanggal 9 Desember
1948, yang mengadopsi "Convention on the Prevention and Punishment of
the Crime of Genocid". Di sini antara lain ditekankan betapa pentingnya
kerjasama internasional untuk membebaskan manusia dari perbuatan~
perbuatan kejam dan menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi
kemanusiaan. Kerjasama internasional di sini berkaitan dengan usul
tentang kemungkinan adanya "international penal tribunal" atau
"international judicial organ" dan untuk itu ditugaskan kepada "the
International Law Commission" (lLC) untuk mengkajinya. Dalam hal ini
Prof. Bassiouni bahkan menyatakan bahwa perjuangan tersebut sudah
dimulai sejak tahun 1919 sebagai akibat Perang Dunia I.
Selanjutnya dipersiapkan suatu komite untuk mempersiapkan
proposal. Rencana Statuta selesai pada tallUn 1951 yang kemudian direvisi
pada tahun 1953. Penundaan pembahasan oleh Majelis Umum PBB terjadi
akibat masih adanya persoalan yang berkaitan dengan definisi Agresi
(Agression). Pada bulan Desember 1989 Majelis Umum PBB minta ILC
untuk mengkaji kemungkinan yurisdiksi ICC mencak.'Up juga perdagangan
obat bius (drug trafficking). Selanjutnya pada tahun 1993 ketika konflik di
bekas Jugoslavia merebak, muncul dakwaan telah terjadinya "war crimes.
crimes against humanity and genocide" bahkan dalam bentuk "ethnic
cleansing". Hal ini lebih mendorong usaha untuk mengkahiri penderitaan
manusia yang meluas. Dibentuklah kemudian apa yang dinamakan "the ad
hoc International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia" untuk
mengadili para pelanggar.
Tidak lama setelah itu ILC telah menyelesaikan Rancangan Statuta
ICC dan pada tahun 1994 Rancangan ini disarnpaikan kepada Majelis
Umum PBB. Majelis kemudian membentuk Komite ad hoc untuk
pembentukan ICC yang mengadakan rapat dua kali pada tahun 1995.
Selanjutnya Majelis Umum membentuk Komite Persiapan llmuk
mempersiapkan "consolidated draft text" dalam rangka konperensi
diplomatik. Kornite persiapan ini bertemu mulai tahun 1996~ 1998, dan
Oktober - Desember 200]
Yurisdiksi dan Admissibility Pengadilan Pidana lnternasional
315
pada sidang terakhir bulan Maret dan April 1998 teks Rancangan berhasil
disempurnakan.
Pada sidang yang ke-52 , MU PBB memuruskan untuk
menyelenggarakan "UN Diplomatic Conference of Penipotentiaris · on the
Establishment of an ICC" di Roma mulai tanggal 15 luni sampai 17 luli
1998 untuk menuntaskan dan mengadopsi konvensi tentang pembentukan
ICC tersebut, yang kemudian terkenal dengan nama The Rome Statue of
the ICC, UN Doc. Al Con! J83/9 (17 luli 1998).
Urgensi Keberadaan ICC
Dalam rangka operasionalisasinya, efektivitas penerapan Statuta
ICC tidak terlepas dari "legal spirit" yang menggambarkan mengapa ICC
diperlukan. Dalam hal ini ada "general spirit" berupa semangat universal
untuk mengamankan penghormatan terhadap HAM (hak asasi manusia)
dan kebebasan dasar (fundamental freedom). Lebih-Iebih di dalam situasi
konflik. Di samping spirit yang bersifat umum tersebut, ada spirit yang
bersifat kJ1UsuS (specific spirit) sebagai berikut :
(a) Menciptakan keadilan bagi semuanya (to achieve justice for all).
Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa ICC sebenamya merupakan
"the missing link" dalam sistem hukum internasional. Apa yang
dinamakan the International Court of Justice (ICJ) di Den Haag ,
mempunyai kewenangan untuk menangani kasus-kasus antar negara
(cases between States), bukan individual dan ICC menangani
mekanisme penegakan hukum yang berkaitan dengan pertanggung
jawab pidana individual (individual responsibility) yang dituduh
melakukan pelanggaran HAM be rat (gross violation of human rights) ;
(b) Untuk mengakhiri apa yang disebut "impunity" (sikap mengabaikan
tanpa mernberi hukuman);
Pada masa lalu apa yang dinarnakan "the principle of individual
criminal accountability" dalam pelanggaran HAM berat dianggap
sebagai sesuatu yang monumental (cornerstone) dalam hukum pidana
internasional. Hal ini harus diterapkan secara merata dan tanpa
perkecualian karena hierarchi , baik di lingkungan pemerintahan sipil
maupun militer (constitutional responsible rulers, public officials or
private individuals);
Nomar 4 Tahun 2001
316
Hukum dan Pembangunan
(c) Untuk membantu mengakhiri konflik.
Keberadaan pengadilan kriminal internasional ini, sebagaimana
pengadilan-pengadilan ad hoc semacam (Fromer Jugoslavia, Rwanda),
diharapkan dapat menimbulkan efek pencegahan (deterrent effect) dan
mengakhiri pelbagai konflik yang terjadi (misalnya "ethnic conflict")
yang disertai dengan kekerasan dan kekejaman;
(d) Untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan (deficiencies) dari
pelbagai pengadilan ad hoc yang ada;
Pelbagai pengadilan ad hoc yang telah digelar (misalnya Fromer
Jugoslavia dan Rwanda), banyak dikritik karena memberlakukan
keadilan selektif (selective justice). Seharusnya harus diterapkan
secara konsisten di tempat lain seperti Kamboja dan lain-lain .
Keterlambatan pembentukan mahkamah ad hoc mempunyai implikasi
yuridis yang berat seperti hilang atau hancurnya barang-barang dan
alat bukti, larinya tersangka, para saksi sudah pindah dan su lit dicari,
atau diintimidasi. Investigasi menjadi sangat mahal dan kehendak
politik untuk memberi mandat menjadi sangat lemah.
Keterbatasan mahkamah ad hoc atas dasar waktu dan tempat
mempersulit keleluasaan penegakan hukum. Sebagai contoh adalah
terjadinya pembunuhan terhadap ribuan pengungsi konflik etnik di
Rwanda, tetapi mandat Mahkamah ad hoc untuk Rwanda terbatas
untuk kasus-kasus yang terjadi setelah itu.
(e) Mengambil alih, seandainya lembaga peradilan pidana nasional tidak
mau atau tidak mampu berbuat (unwilling or unable to act).
Secara normal lembaga nasional harus diberi kesempatan pertama
untuk menangani kasus pelanggaran HAM berat. Namun dalam situasi
konflik, baik internal atau internasional, lembaga-lembaga peradilan
nasional seringkali tidak mau dan tidak mampu berbuat, baik karena
harus mengadili warganegaranya send iri yang kadang-kadang
posisinya sangat tinggi ataupun karena ketidakberdayaan (collapsed)
lembaga peradilan terse but seperti yang terjadi di Rwanda ;
(f) Untuk mencegah timbulnya kejadian serupa di masa datang.
Kecuali beberapa pengadilan mil iter setelah Perang Dunia II dan
. Pengadilan ad hoc untuk bekas Jugoslavia dan Rwanda, seringkali
pelanggar HAM berat di mas a lalu lolos dari proses pengadilan.
Dengan demikian "effective deterrence" tujuan utama pembentukan
ICC.
Oktober - Desember 2001
Yurisdiksi dan Admissibility Pengadilan Pidana Internasional
317
Menurut Prof. M. Cherrif Bassiouni (sering diberi predikat
sebagai "father of the ICC), tanggal 17 Juni 1998 yaitu saat diadopsinya
Statuta ICC , tidak hanya merupakan "point of arrival" , tetapi juga
merupakan saat keberangkatan menuju suatu tujuan baru yaitu ber!akunya
Statuta ICC secara efektif (the entry into force) melalui ratiflkasi 60
negara. Hal ini jelas merupakan kontribusi yang visioner kepada "an
international rule of law".
Jangkauan Statuta
Statuta ICC yang oleh Scabas disebut sebagai "a benchmark in the
progressive development of international human rigahts", dan oleh
seorang penulis yang lain Johansen dinamakan "the most important
institutional innovation since the founding of the United Nations" ,
mengatur substansi yang sangat lengkap, baik yang mengatur hukum
pidana materiil, hukum pidana formil, maupun hukum adminstrasi.
Sistematikanya adal:ih sebagai berikut :
Preamble
Part
1 Establisment of the Court (Art. 1-4);
Part
2 Jurisdiction, Admissibility and Applicable Law (Art. 5-21);
Part
3 General Principles of Criminal Law (Art. 22-33);
Part
4 Composition and Administration of the Court (Art. 34-52);
Part
5 Investigation and Prosecution (Art. 53-61);
Part
6 The Trial (Art. 62-76);
Part
7 Penalties (Art. 77-80);
Part
8 Appeal and Revision (Art. 81 -85);
Part
9 International Cooperation and Judicial Assistance (Art. 86-102);
Part 10 Enforcement (Art. 103-111);
Part 11 Assembly of State Parties (Art. 112);
Part 12 Financing (Art. 113-118);
Part 13 Final Clauses (Art. 119-128).
Namar 4 Tahun 2001
318
Hukum dnn Pembangunan
Yurisdiksi ICC
Di atas telah disinggung bahwa ICC yang akan berkedudukan di
Den Haag Belanda akan menjadi pelengkap dari the International Court of
Justice (ICJ) yang sudah ada di sana, yakni suatu pengadilan yang
mengadili perselisihan antar negara sebagai negara. Di lain pihak ICC
berkaitan dengan proses penuntutan dan pemidanaan terhadap individual.
Bahkan terbuka luas peran serta individual sebagai korban (Art. 68 Statuta
ICC).
Yurisdiksi merupakan parameter hukum (legal parameters) yang
berkaitan dengan pelbagai situasi yang berkaitan dengan dilakukannya
kejahatan dan dapat dijadikan pedoman bagi bekerjanya atau berjalannya
pengadilan.
Yurisdiksi ICC berkaitan dengan pelbagai parameter sebagai berikut :
1. Yurisdiksi yang berkaitan dengan pokok perkara (Subjecr maller
jurisdiction) (ratione materiae);
Hal ini menunjuk kepada perlbagai kejahatan sangat be rat (the
most serious crimes) dalam hal mana ICC berwenang untuk
memprosesnya. Kejahatan-kejahatan tersebut adalah : Genocida (the
crimes of genocide), kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against
humanity), kejahatan perang (war crimes) dan agresi (the crimes of
aggression). (Art . 5.1)
Pada Art. 5.2 dinyatakan bahwa sepanjang mengenai kejahatan
agresi , Pengadilan hanya akan menetapkan yurisdiksinya setelah ada
kesepakatan terhadap definisi kejahatan agresi dan kondisi-kondisi
yang memungkinkan Pengadilan menerapkan yurisdiksinya dalam
kerangka Pasal 121 dan 123 Statuta yang mengatur tentang
amandemen melalui "Review Conference" yang dapat dilakukan
setelah 7 (tujuh) tahun sejak berlakunya secara efektif Statuta ICe.
Catatan : Untuk memperjelas unsur-unsur kejahatan terkait, dapat
dikaji rumusan Rancangan final tentang "the elements of crimes" dari
laporan Komite Persiapan ICC.
2. Turisdiksi yang berkaitan dengan waktu (Temporal jurisdiction)
(ratione temporis).
Berbeda dengan beberapa tribunal ad hoc sebelumnya yang
memungkinkan kewenangan tribunal untuk menerapkan prinsip retro-
Oktober - Desember 200J
Yurisdiksi dan Admissibility Pengailiian Pidann Internasiannl
319
aktif dengan alasan keadilan atau atas dasar penerapan hukum
kebiasaan internasional. Hans Kelsen misalnya saja dalam hal ini
menyatakan bahwa as as nullum crimen merupakan asas keadilan
(principle of justice) dan membiarkan tokoh-tokoh NAZI bebas tanpa
pemidanaan adalah sesuatu yang tidak adil (unjust). ICC secara tegas
menerapkan asas legalitas yang tidak memungkinkan penerapan
peraturan berlaku surut (nullum crimen nulla poena sine lege). (Art.
11 (1) dan Art. 24).
Kritik terhadap ICC tentang hal ini diserahkan jawabannya kepada
pengadilan nasional masing-masing dan apabila dilakukan oleh negaranegara yang jumlahnya banyak, tidak mustahil dilakukan amandemen
sesuai prosedur yang berlaku yang diatur dalam Art. 121 dan 123
Statuta (universal jurisdiction). Berlakunya asas legalitas tersebut
mengandung perkecuaJian yang dialUr dalam Art. 12 (3) jo Art. 11 (2)
yaitu apabila negara yang bersangkutan telah membuat suatu
pernyataan (ad hoc declaration) yang diajukan pada Panitera bahwa
negara tersebut dapat menenma pelaksanaan yurisdiksi oleh
Pengadilan yang berkaitan dengan kejahatan yang bersangkutan yang
dilakukan pada masa lalu, sesuai dengan Bagian 9 Statuta
(International Cooperation and Judicial Assistance). Asas legalitas ini
dalam konteks yang berbeda juga tersurat dan tersirat dalam Art 22
dan 23 Statuta ICC. Terhadap kejahatan-kejahatan yang sudah dimulai
sebelum Statuta berlaku secara efektif dan berlanjut sesudahnya
(continuous crimes), maka penyelesaiannya sepenuhnya pada
pertimbangan Pengadilan.
3.
Yurisdiksi territorial (space/territorial jurisdiction) (ratione loci);
Asas ini diatur dalam Art. 12 (2) (a) yang menegaskan bahwa
Pengadilan mempunyai yurisdiksi terhadap kejahatan-kejahatan yang
dilakukan di dalam wilayah negara peserta, tanpa mempertimbangkan
kewarganegaraan si pelaku. Pengadilan juga mempunyai yurisdiksi
terhadap kejahatan yang dilakukan di dalam wilayah negara-negara
yang menerima yurisdiksinya atas dasar pernyataan ad hoc (ad hoc
declaration) dan di atas wilayah yang ditentukan oleh Dewan
Keamanan Territorial atau wilayah diperJuas tidak hanya mencakup
daratan. Di dalam Statuta ICC konsep wilayah mencakup pula kapal
(on board vessel) dan pesawat terbang (aircraft) yang didaftarkan di
negara peserta.
Namar 4 Tahun 200]
320
Hukum df1n Pembangunan
4. Yurisdiksi personaIJindividual (personnaljurisdiction) (ratione personae);
Di dalam Art 12 (2) (b) diatur bahwa ICC mempunyai yurisdiksi
terhadap warganegara peserta yang dituntut atas suatu kejahatan (the
State of which the person accused of the crime is a national). Atas
dasar Art 12 (3) sebagaimana dikemukakan di atas, ICC dapat juga
mempunyai yurisdiksi warganegara bukan peserta yang telah menerima
yurisdiksi yang bersifat ad hoc (Art. 12 (3) ) atau mengikuti
keputusan Dewan Keamanan PBB .
Dalam Art. 27 (Irrelevance of official capacity) ditentukan bahwa
dalam pertanggungjawaban pidana dan pemidanaan Statuta berlaku
sarna bagi siapa saja (shall equally to all persons) tanpa membedakan
kapasitas pejabat di suatu negara apakah sebagai "Head of State or
Goverment", anggota parlemen atau pejabat pemerintah yang lain.
Bahkan imunitas yang melekat pada seseorang atas dasar hukum
internasional (mis. Para diplomat) dalam hal ini tidak menghalangi
yurisdiksi ICC (shall not bar the Court from exercising its jurisdiction
over such a person) (Art. 27(2) ).
Selanjutnya Art 28 seeara tegas mengatur " Responsibility of"
commanders and other superiors". Komandan militer dan atasan tidak
lepas dari pertanggungjawaban pidana terhadap kejahatan yang dilakukan
oleh kekuatan-kekuatan di bawah komando dan kontrol efektifnya, atau
bawahannya , khususnya apabila mereka gagal untuk mengambil tindakan
yang diperlukan untuk meneegah atau menekan perbuatan itu atau untuk
mengajukan si pelaku kepada yang berwenang untuk penyidikan dan
penuntutan, padahal ia tahu atau seharusnya tahu bahwa si pelaku sedang
melakukan kejahatan. Termasuk dalam hal ini perbuatan berupa
"disregarded information" yang menjurus pada kejahatan omisionis. (Art.
28 (2) (a).
Pengeeualian dalam yurisdiksi (exclusion of jurisdiction) diatur
dalam Pasal 26 Statuta, yaitu terhadap orang yang masih berada di bawah
usia 18 tahun pada saat melakukan kejahatan yang dituduhkan.
Selain itu terdapat suatu pasal yang "highly controversial" dan
dinilai oleh sebagaian negara sebagai sebuah eaeat bagi kekuasaan
kehakiman yang merdeka dan tidak memihak (a blemish on the
independence and impartiality of the Court). Pasal tersebut adalah pasal
16 yang mengatur tentang Penangguhan penyidikan dan penuntutan
(Defferal of investigation or prosecution) selama duabelas bulan (bisa
diperbaharui) alas permintaan Dewan Keamanan PBB setelah mengadopsi
OklOber - Desember 200!
Yurisdiksi dan Admissibility Pengadilan Pidana fnternasianal
321
resolusi atas dasar Chapter VII Piagam PBB. Yang penting dalam hal ini
Dewan Keamanan (Security Councif) harus menentukan adanya "a threat
to the peace", "a breach 0/ the peace" or an "act of aggression"
sebagaimana diatur dalam Art. 39 Piagam PBB (Charter 0/ the .United
Nations). ICC tidak boleh enggan untuk menilai alasan tersebut. Hal ini
juga disebut sebagai "Security Council veto o/prosecution".
Admissibility ICC
Berbeda dengan yirisdiksi, 'admissibility" merupakan diskresi
pada tahap lanjutan untuk menentukan apakah perkara yang berada di
bawah yurisdiksi ICC dapat diadili oleh ICC. Akan nampak di sini
hubungan yang kompleks antara sistem hukum nasional dan ICC.
Hubungan tersebut bersifat komplementer sebagaimana ditegaskan di
dalam Paragraf 10 Preamble Statuta ditegaskan bahwa "the ICC
established under this Statute shall be complementary to national crimillal
jurisdictions". Hal ini ditegaskan kembali dalam Art. I Statuta. Istilah
"complementary" ini menggantikan istilah yang digunakan tribunal ad hoc
yaitu "primacy" yang mengandung arti bahwa yurisdiksi pengadilan
internasional merupakan hak.
Dalam Art. 17 (1) ditegaskan bahwa ICC menentukan bahwa
suatu kasus tak dapat diterima (inadmissible) apabila:
(a) kasus tersebut sedang disidik dan dituntut oleh Negara yang memiliki
yurisdiksi atas kasus tersebut, keeuali Negara tersebut sungguhsungguh (genuinely) tidak mau (unwilling) atau tidak mampu (unable)
melakukan penyidikan dan penuntutan;
(b) Kasus tersebut telah disidik oleh Negara yang memiliki yurisdiksi atas
kasus tersebut, dan Negara tersebut telah memutuskan untuk tidak
menuntut orang yang terlibat, keeuali keputusan tersebut sebagai
akibat ketidakmauan (unwilllingness) atau ketidakmampuan (inability)
Negara yang sungguh-sungguh (genuinely) untuk menuntut. (Catatan:
Penafsiran kata-kata sungguh-sungguh (genuinely) sepenuhnya
diserahkan pada penilaian ICC);
(e) Si pelaku telah diadili atas dasar perbuatan yang sarna (ne bis in
idem), kecuali terjadi apa yang dinamakan peradilan pura-pura (sham
proceeding) sebagai berikut :
Namar 4
Tahun 200f
322
Hukum dan Pembangunan
- proses peradilan dimaksudkan untuk tujuan melindungi (shielding)
si pelaku dari pertanggungjawaban pidana atas kejahatan di bawah
yurisdiksi ICC; atau
- proses peradilan tidak dilaksanakan secara merdeka (independently)
atau tidak bersifat memihak (impartially) sesuai dengan normanorma "due process" yang diakui oleh hukum internasional dan
tidak konsisten dengan tujuan untuk mengadili si pelaku. Art. 20
(3).
(d) kasus tersebut tidak eukup gawat (memadai) untuk memberikan
pembenaran langkah-langkah lanjutan pengadilan.
Ukuran untuk menentukan ketidakmauan (unwillingness) terdapat
dalam Art. 17 (2) yang mencakup standar-standar sebagai berikut:
(a) proses peradilan yang telah atau sedang dilakukan atau diputuskan
ditujukan untuk melindungi si pelaku dari pertanggungjawaban pidana;
(b) Terjadi keterlambatan proses peradilan yang tak dapat dibenarkan
(unjust delay);
(e) Proses peradilan tidak dilaksanakan seeara merdeka dan tidak ll1emillak.
Selanjutnya pad a Art. 17 (3) terdapat ukuran untuk ll1enentukan
ketidakmampuan (inability) dalam kasus-kasus tertentu, yakni apabila
Pengadilan (ICC) mempertimbangkan bahwa terjadi kegagalan seeara
menyeluruh atau substansial atau ketiadaanlketidaksediaan sistem
pengadilan nasional untuk menemukan tersangka atau bukti-bukti dan
kesaksian atau tidak mampu untuk menyelenggarakan proses peradilan.
Penutup
Dalam hal ini perlu dihayati apa yang dikatakan oleh Prof. Cherif
Bassiouni bahwa berhasil atau tidaknya ICC dalam ll1eneapai tujuannya
sedikit banyak akan tergantung pada langkah-langkah ICC yang bernuansa
"predictability, consistency, publicly perceived fairness, and when
appropriate it must have the courage and wisdom to temper the harsness
of the law, with understanding and compassion".
Oktober - Desember 200/
Yurisdiksi dan Admissibility Pengadi/an Pidana Incemasional
323
Daftar Pustaka
Association Internationale de Droit Penal, ICC Ratification and National
Implementing Legislation , eres , 1999.
Bassiouni, M Cherif, Crime Against Humanity in International Criminal
Law, Martinus Nijhoff Pub!. , London, 1992.
Charter of the United Nations and Statute of the International Court of
Justice , UN, New York, 1997.
Forum Asia, Regional Workshop on the ICC, Bangkok, Thailand, 12-13
June 2000.
Gutman, Roy and Rieff, David, Crimes of War, What the Public Should
Know, WW Norton & Company , New York, 1979.
Report of the Preparatory Commission for the ICC, Part 2 (Finalized
Draft Text of the Elements of Crimes.
Robertson, Geoffrey, Crime Against Humanity, A Struggle for Global
Justice , The Penguin Press, 1999.
Rome Statute oflCC , 17 July 1998.
Steiner, Henry J. And Alston, Philip, International Human Rights in
Context, Law, Politics, Morals, Clarendon Press, Oxford, 1996.
Schabas, A, William, An Introduction to the International Criminal Court ,
Cambridge University Press, 2001.
Nomor 4 Tahun 2001
Download