Corporate Governance - Perpustakaan BAPPENAS

advertisement
Corporate Governance"
Oleh A Prasetyantoko
Hanya ada satu tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu menghasilkan keuntungan sebesarbesarnya. Begitu kata Milton Friedman, pelopor neoliberalisme.
Dalam peradaban modern, institusi bisnis memainkan peranan amat penting. Karena,
kemunculannya persis terjadi ketika institusi-institusi yang lain, seperti negara, politik, agama,
bahkan keluarga, mengalami pembusukan. Melalui sebuah proses transformasi besar (Polanyi,
1957), bisnis lalu menjadi institusi sah yang keberadaannya mempengaruhi cara masyarakat
menata dirinya.
Dalam kaitannya dengan keuntungan, Friedman menambahkan, untuk mencapainya harus
dilakukan sesuai aturan main (rule of the game) tertentu. Tetapi, aturan main yang mana?
Regulasi, etik, dan moral adalah sesuatu yang maya, sementara keuntungan sudah jelas bersifat
nyata. Maka wajar jika seluruh gerak dan dinamika bisnis modern bermuara pada kekuatan nyata
itu. Mengejar keuntungan.
Belakangan ini, terutama setelah peristiwa serangan teroris 11 September, sebagian kalangan
teoritisi bisnis berupaya menafsir ulang eksistensi bisnis dalam hubungannya dengan
masyarakat. Dan tema corporate governance menjadi wacana penting dalam menggagas arah
dan masa depan dunia bisnis.
***
SIAPA mengira Gedung WTC (World Trade Centre) di Manhattan-yang menjadi simbol
peradaban bisnis modern itu-akan menjadi puing-puing? Apalagi bagi pelaku bisnis yang setiap
hari hilir-mudik di kawasan ini, pasti bayangan itu tidak pernah muncul di benak mereka.
Dalam sebuah pelatihan bisnis yang diselenggarakan Booz Allen Hamilton bagi para manajer
tingkat atas, ada simulasi berikut ini. Para peserta diberi pertanyaan, "Apa yang akan Anda
lakukan, jika perusahaan Anda tiba-tiba mengalami ledakan besar, sebagian besar karyawan
menjadi korban, dan Anda kehilangan sebagian besar aset perusahaan?" Jawaban pertama dan
spontan adalah, "Tidak mungkin kejadian itu menimpa kami" kemudian, "Kami tidak tahu harus
melakukan apa".
Menurut Eric Pelletier (Vice President Booz Allen Hamilton) para praktisi bisnis, bagaimanapun,
masih terbelenggu metodologi klasik yang terlalu mengarahkan perhatian pada sebab, bukan
pada akibat dari suatu masalah. Karenanya, kejadian seperti serangan teroris 11 September lalu
benar-benar fenomena yang jauh dari benak para pelaku bisnis.
Sebagai ilustrasi, Peter Schwartz penulis buku The Art of the Long View dan seorang ahli di
bidang scenario planning semula bermaksud mengadakan seminar pada 12 September 2001.
Akibat serangan teroris, seminar bertema The Big Surprise ditunda. Sebulan kemudian, saat
konferensi itu jadi digelar, pesertanya melonjak 50 persen dari pendaftar semula.
Serangan teroris telah membuka mata para pelaku bisnis untuk lebih luas memandang persoalan
bisnis, bukan semata-mata sebagai fungsi dari kalkulasi keuntungan. Bahwa persoalan yang
dihadapi dunia bisnis ternyata amat luas dan multidimensi. Mereka makin sadar, di masa depan
tingkat ketidakpastian dunia bisnis bukan saja ditentukan oleh variabel ekonomi dan bisnis, tetapi
juga persoalan konflik peradaban.
Berangkat dari fakta ketidakpastian ini, masa depan dunia bisnis bisa ditangkap dalam dua arah
utama. Arah pertama adalah kecenderungan yang terus mendorong gerakan bisnis pada
progresivitas tidak terbatas. Kedua, memilih bersikap regresif dengan menggagas keberadaan
bisnis sebagai bagian dari entitas yang memiliki aturan dan tanggung jawab sosial tertentu.
Dalam logika pertama, perluasan gerak deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi akan bersinergi
dengan pengembangan kompetensi yang didukung sistem teknologi dan model komunikasi baru.
Arah yang akan dituju adalah globalisme yang diyakini akan membawa dampak kemakmuran
bagi semua pihak.
Gerakan ini mandapatkan pembenaran dari epistemologi neoliberalisme yang menganggap,
kekuatan pasar adalah solusi paling baik dan alamiah, karena bersikap paling adil dalam
membagi sumber daya ekonomi.
Merujuk pada perkembangan terakhir yang terjadi di AS, prinsip ini sudah tidak layak
dipertahankan. Pasar bukan sesuatu yang tidak bertendensi. Dia bisa digerakkan dengan alasan
patriotisme. Gerakan nasionalisme baru yang dikampanyekan pemerintah untuk mendorong
tingkat konsumsi adalah bagian dari bagaimana mekanisme pasar ditentukan oleh sebuah tata
aturan dan kepentingan tertentu (governance), yang dalam hal ini adalah alasan nasionalisme.
Melihat hal ini, bukankah tidak lebih baik mengarahkan perkembangan pasar dalam logika yang
kedua? Membangun sebuah tata aturan tertentu yang meregulasi pasar dan institusi bisnis.
Corporate governance adalah mekanisme bagaimana sumber daya perusahaan dialokasikan
menurut aturan "hak" dan "kuasa" tertentu. Dia mengarahkan aksi individu dan kegiatan rutin
organisasi menuju muara tertentu. Dan muara itu bisa menghasilkan laba sebesar-besarnya,
atau etika sosial.
Ini adalah perkara strukturisasi (Giddens, 1984), yaitu aturan/tatanan (struktur) macam apa yang
menggerakkan aksi para individu dan kegiatan rutin tertentu dalam organisasi. Sebaliknya,
aturan/tatanan/struktur macam apa yang kemudian terbentuk akibat aksi individu dan kegiatan
berulang itu. Jadi, corporate governance adalah "sumber" sekaligus "hasil" dari aksi individu dan
rutin tertentu dalam organisasi.
Dalam praktiknya, persoalan corporate governance bukanlah perkara sederhana, karena
menyangkut banyak dimensi yang merangkai perilaku organisasi seperti, dimensi hukum (Barclay
& Holderness, 1992), finansial (Fama & Jansen, 1983), ekonomi (Williamson, 1975),
kelembagaan (Hollingswort & Boyer, 1997) dan dimensi manajerial (Lorsch, 1995).
***
SUDAH pasti, arah dan masa depan bisnis tidak akan begitu saja berubah dalam waktu singkat.
Tetapi, paling kurang, arah perkembangan ke depan telah sedikit banyak diwarnai big surprise,
yang membangunkan tidur indah para pelaku bisnis.
Dalam hal ini, metodologi neoklasik yang hanya menawarkan satu pilihan solusi (one best way)
terhadap persoalan multidimensi sudah tidak layak dipertahankan lagi. Dan, hanya menggunakan
logika pasar dalam membangun "regulasi" (governance) bagi institusi bisnis, jelas akan
menimbulkan banyak persoalan di kemudian hari.
Sebagaimana diungkapan Herbert Simon, masyarakat modern bukan pertama-tama pasar, tetapi
juga organisasi. Dan nilai tidak semata-mata diciptakan oleh transaksi individual di pasar, tetapi
juga oleh organisasi yang di dalamnya mengandung aksi sekelompok individu yang memiliki
kepentingan, nilai, dan dalam rasionalitas yang bersifat terbatas (bounded rationality).
Dan dunia bisnis bukan lagi kekuatan yang hanya mengabdi pada kekuatan pasar, tetapisebagaimana diungkapan Matsushita-lebih terbuka untuk menciptakan masyarakat yang kaya
secara spiritual dan berkelimpahan secara material.
Dari semua itu, arah gerakan dunia bisnis yang masih terus bergumul dengan realitas nyata
pengejaran keuntungan, harus dikawal dengan kekuatan nyata pula agar mekanisme
pengalokasian sumber daya tidak hanya diabdikan pada logika keuntungan pasar semata.
Dorongan untuk menerapkan corporate governance juga harus menjadi sebuah kekuatan nyata,
sehingga apa yang dikatakan John Kenneth Galbraith sebagai kekuatan pembanding dari pasar,
yaitu pemerintah dan asosiasi publik (unions), harus menjalankan fungsinya dengan baik.
Baru setelah itu akan muncul generasi bisnis yang memiliki tanggung jawab sosial lebih besar.
Keuntungan bukan satu-satunya tujuan utama, dan aturan bukan sesuatu yang maya.
* A Prasetyantoko, mahasiswa di Universite des Sciences et Technologies de Lille (USTL),
Perancis.
Download