Uploaded by Vebiiy J. Severin

TEROR MEDIA TELEVISI

advertisement
TEROR MEDIA
TELEVISI
TEROR DAN POST TEROR
• Dalam era globalisasi menjadikan media tv menjadi kebutuhan utama.
• Disisi berbeda, media baru dengan segala keluarbiasaan media sosialnya mulai memegang peran
dan mengembangkan kekuatannya dalam masyarakat.
• Media baru seakan tidak sabar menggantikan hagemoni dari media televisi.
• Tetapi jika kita perhatikan media baru masih dalam tahap menggantikan belum sampai pada
titik telah menggantikan
• Contoh kedahsyatan media tv, pada kasus Menara WTC yang ditabrak oleh pesawat teroris.
• Saat itu juga khalayak menyaksikan detik detik tragedi : “ pesawat mendekati gedung >> pesawat
menabrak gedung >> gedung meledak >> gedung hancur >> massa panik >> Presiden G.W. Bush
pura2 tenang sambil membacakan dongeng di depan para siswa disebuah sekolah.
• Rentang waktu peristiwa dan distribusi informasi tidak lagi dalam hitungan hari / jam tetapi dalam
hitungan menit bahkan detik.
• Inilah makna Aktualitas bagi media tv. Peristiwa pun dihadirkan secara langsung atau live.
• Teknologi yang semakin canggih membuat awak media tidak perlu membawa perlengkapan kerja
yang besar, menyita tempat atau sulit dibawa.
• Dengan perlengkapan satellite news gathering (SNG) portable yang hanya sebesar koper menjadikan
para jurnalis tv bisa langsung mentransmisikan rushes copy, bahkan laporang langsung keruang
kendali utama dan selanjutnya di transmisikan ke rumah-rumah.
• Menurut Idi Subandi,
“Kekuatan televisi terletak pada kemasifan, keseketikaan, dan
pesona citra serta jangkauannya yang luas. Dibandingkan media
lain, televisi begitu mudah dikonsumsi/ditonton, karena hanya
menekan tombol dan memilih salura, ia langsung bisa hadir
kedalam rumah dan dinikmati oleh keluarga Indonesia”
• Menurut Emil Dolvifat, Teknologi yang semakin canggih menciptakan “public dunia” atau
“weltoffentlichkeit”
• Dimulai pada tahun 1964
• Bagaimana dengan situasi sekarang?
• Sekarang yang pasti jumlah khalayak bukan lagi tetapi berkali2 lipat dari tahun 1964.
• Kembali ke Peristiwa 9/11, diperlihatkan gambar dan suara yang disaksikan oleh ratusan juta
penonton di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia, sekaligus menanamkan sebuah
image terror dengan segala aspek efek kerusakan, kepanikan dan ketegangan yang di
timbulkannya.
“Globalisasi media telah menjadikan
berbagai aksi terror sebagai sebuah
tontonan global (global spectacle) yang
membentuk pikiran, persepsi dan
kesaadran global”
Menurut Yasraf Amil
Piliang untuk
mendefinisikan
pemahaman ttg
keluarbiasaan tv
• Pada akhirnya terror ini di transmisikan oleh media2 barat ke TV tanah air. Sekaligus
menghujamkan mimpi buruk AS ttg terorisme dan ketakutan yg ditimbulkan.
• Pemerintah dan Masy di negeri ini pun diwajibkan mewaspadai gerakan para terduga teroris,
serta mencurigai setiap gerakan yg dikhawatirkan telah sampai ke kota2 lain.
• Para petugas keamanan dipusat2 keramaian menyiapkan aparat khusus
• Akhirnya setiap dari kita yang lokasinya jauh dari Newyork AS juga menjadi latah : ketakutan
dan mencemaskan kehadiran teroris.
• Kecurigaan terhadap kalangan teretntu yg dicurigai sebagai teroris tak terhindarkan.
• Media tv kita tak kalah paranoid dan norak2nya dalam memberitakan pihak2 yang diduga
teroris ( hasil framing terhadap peristiwa oleh media barat)
• Ini ditunjukkan dalam rupa pelaporan berita atau pertanyaan yang diajukan news anchor
sejumlah media tv ke narasumber dalam bentuk wawancara ekslusif baik yang diproduksi secara
rekaman (taping) maupun yg diproduksi secara live
MODEL POST TEROR MEDIA TV
REALITAS
TEROR (1)
TEROR (2)
MEDIA TV
(3)
TEKS (4)
KHALAYAK
(5)
POST TEROR
(6)
• Filusuf prancis, Jean Baudrillard mengistilahkan “Era Simulasi atau Simulacrum” sebagai
representasi atas terjadinya peniruan suatu realitas rupa baru atas realitas lain. Kekerasan masa
kini dihasilkan oleh hipermodernitas kita adalah terror
• Simulacrum kekerasan yang muncul dari balik layar ketimbang dari lubuk hasrat,
• Cerita keluarbiasaan media tv dengan daya sebar dan pengaruhnya menjadi cerita yg
menggiurkan bagi para pengelola tv di tanah air.
• Mulai muncul siaran langsung seperti demo, penyergapan teroris dll secara langsung.
• Realitas2 ini menjadi luar biasa karena khalayak mendapatkan sajian “reality show” terpanas dan
tanpa sensor secara langsung dlm durasi yg tdk pendek,
• Teror media tv bisa meluaskan efek kerusakan karena warga desa global (Global Village) sangat
menyadari media tv sebagai belahan jiwa
• Jd bukan hanya sebagai media yg memberikan pengetahuan dan wawasan
• Sejak mata terbuka sampai tertidurpun setiap individu akan mencari media yang memberikan
berbagai macam hidangan pesan2 komunikasi.
• Asas kebutuhan inilah yg membuat para pengelola media senantiasa membuat ide2 untuk
menyuguhkan program2 terbaru dan menarik. Baik dalam bentuk program berita dan hiburan
• Ada juga program berwajah perkawinan berita dan hiburan yg dikenal sebagai Infotainment
• Prioritas agenda setting pribadi warga desa globalpun semakin tidak jelas.
• Kadang haus berita politik, ekonomi, gossip, sinetron, reality show dsb.
• Warga desa global ini menjadikan tv sebagai “tuntunan” laksana kitab suci.
• Menurut Mc Luhan, “Medium is Message” media adalah pesan itu sendiri.
• Pesan bukan hanya pada kontennya saja, melainkan juga pada perubahan yang dihasilkan
oleh media tersebut.
• Mc Luhan juga menegaskan, ,media bagaikan perpanjangan dari system indra, organ dan saraf
kita.
• Dengan demikian dapat disimpulkan, realitas social yang berkembang pesat seperti sekarang ini
sangat memungkinkan televisi memiliki peran besar.
• Agenda setting media = Agenda setting individu
• Para pengelola media tv menyampaikan perspektif ini terhadap awak media agar merancang dan
memproduksi pesan-pesan yg diinginkan oleh pemirsa.
• Asumsi “Keinginan pemirsa” dan “yang dibutuhkan oleh khalayak” adalah penyamaran atas
ideology pengelola media.
• Dalam konteks seperti ini asumsi Mc Luhan bahwa yg penting bagi komunikasi massa adalah
media itu sendiri sangat bisa diterima.
• Pesan media identik dengan media yang menayangkannya.
• Tiba2 pemirsa menjadi pesakitan yg siap menerima suntikan apapun kedalam tubuhnya asal ia
bisa tetap sehat.
• Kebenaran teori hipodermik terbukti masih relevan dijaman skrg ini.
• Asumsinya, khalak tidak pernah mempersoalkan nilai2 luhur pesan media atau prinsip
objektivitas. Situasi ini terjadi karena perubahan gaya hidup modern ke arah yg melampaui
kriteria modern, katakanlah hedonisme.
• Situasi yang baru adalah “agresivitas” media baru dengan keluarbiasaan media sosialnya yg mulai
mengukuhkan hegemoninya.
• Adanya media social membuat skema post terror yang baru.
• Kekuatan media social dengan khalayak yg dulunya hanya pasif menerima pesan dari pengirim
pesan (televisi) kini telah berubah peran menjadi pengirim pesan yang agresif untuk merekam,
mengkonstruksikan dan mendistribusikan pesan melalui media bernama smartphone.
Model post-teror melalui media televisi dan media
baru
REALITAS TEROR
(1)
MEDIA
TELEVISI (3)
KHALAYAK
(5)
KHALAYAK
(5B)
TEROR (2)
TEKS (4)
POST
TEROR (6)
TEKS (4B)
POST TEROR
(6B)
Download