Tesis - pps unud

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa tahun belakangan ini, teknologi berkembang semakin pesat.
Masyarakat di berbagai daerah, baik perkotaan maupun pedesaan sudah dapat
menikmati dampak dari kemajuan teknologi. Teknologi mempermudah kehidupan
masyarakat pada era globalisasi. Masyarakat dapat dengan mudah berkomunikasi
dengan orang lain dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara dan penyebaran
informasi dapat dilakukan dengan cepat ke berbagai penjuru dunia.
Salah satu teknologi yang digunakan secara luas di seluruh dunia adalah
teknologi internet. Melalui internet masyarakat bisa mengakses informasi yang
diperlukan dari seluruh pelosok dunia. Selain untuk memenuhi kebutuhan akan
informasi, internet juga menjadi media untuk membentuk komunitas-komunitas
pertemanan, sehingga orang-orang dari berbagai negara dapat menjalin hubungan
pertemanan tanpa harus bertemu secara langsung, tetapi melalui media intenet.
Beberapa komunitas yang sangat terkenal di dunia adalah friendster, facebook,
twitter, dan termasuk Kaskus The Largest Indonesian Community, yang
merupakan salah satu forum yang dibuat oleh orang Indonesia.
Kaskus merupakan akronim dari Kasak Kusuk, bermula dari sekadar hobi
dari komunitas kecil yang kemudian berkembang hingga saat ini, sehingga
menjadi sebuah forum komunitas dunia „maya‟ (sebutan bagi dunia internet)
terbesar di Indonesia (VIVAnews.com, 2010)
1
2
Gambar 1. Tampilan awal komunitas Kaskus
Kaskus didirikan pada tanggal 6 November 1999 oleh tiga pemuda asal
Indonesia yang sedang melanjutkan pendidikan di Seattle, Amerika Serikat. Situs
ini dikelola oleh PT Darta Media Indonesia. Anggotanya yang berjumlah lebih
dari 2.000.000 orang, tidak hanya berdomisili di Indonesia, namun tersebar juga
di beberapa negara lainnya. Pengguna Kaskus umumnya berasal dari kalangan
remaja hingga dewasa. Menurut Wikipedia.org Kaskus dikunjungi oleh sedikitnya
600.000 orang, dengan jumlah page view (nilai rata-rata jumlah halaman yang
dilihat oleh pengunjung) melebihi 15.000.000 setiap harinya. Hingga saat ini
Kaskus sudah mempunyai lebih dari 200 juta thread (informasi dalam sebuah
forum di internet mengenai topik tertentu).
3
Menurut Alexa.com, pada bulan September 2010 Kaskus berada di
peringkat 257 dunia dan menduduki peringkat 6 situs yang paling banyak
dikunjungi di Indonesia. Kaskus juga memiliki Kaskus Radio yang merupakan
sebuah Radio Internet Indonesia. Kaskus Radio yang biasa disingkat KR memliki
lebih dari 20 penyiar. Radio yang memutar lagu selama 24 jam ini juga memutar
lagu dari berbagai bahasa: Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, dan masih banyak
lagi.
Setiap hari anggota komunitas Kaskus, yang disebut dengan kaskuser
semakin bertambah. Kaskuser memiliki tingkatan pangkat tertentu sesuai dengan
jumlah post (komentar dalam sebuah thread) yang dibuat, antara lain newbie
(anggota baru dengan jumlah postingan 0-99), kaskuser (100-499), aktivis
kaskus (500-749), kaskus holic (750-999), kaskus addict (1.000-3.999), kaskus
maniak (4.000-9.999), kaskus geek (10.000-24.999), kaskus freak (25.00049.999), dan made in kaskus (>50.000).
Dalam berkomunikasi, para kaskuser menggunakan ragam bahasa tertentu
yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Ragam bahasa ini merupakan campuran
dari berbagai bahasa, misalnya bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa-bahasa
daerah, ditambah beberapa istilah baru yang digunakan untuk menyatakan suatu
hal. Misalnya dari sistem sapaan dalam ragam bahasa Kaskus (RBK), para
kaskuser tidak menggunakan sapaan aku dan kamu atau elo dan gue, melainkan
menggunakan ane (untuk menyatakan saya) dan agan (untuk menyatakan kamu).
Sapaan ini merupakan sapaan khas dari bahasa Arab dan Sunda, yang digunakan
oleh semua kaskuser walaupun tidak berasal dari kedua etnis tersebut. Dalam
percakapan sehari-hari, bahasa Indonesia masih menjadi bahasa utama karena
4
sebagian besar anggota adalah penutur bahasa Indonesia. Namun, bahasa
Indonesia yang digunakan bukanlah bahasa Indonesia baku, melainkan bahasa
percakapan tidak resmi yang digunakan oleh orang Indonesia pada umumnya
dalam pergaulan sehari-hari. Selain itu, terdapat beberapa istilah dari bahasa
Inggris dan beberapa bahasa asing lainnya, serta istilah-istilah baru yang
diciptakan oleh para kaskuser untuk menyatakan ungkapan tertentu, misalnya bagi
orang yang mem-post pertama kali mendapat julukan “TS”, sedangkan yang
membalas posting pertama kali mendapat julukan “Pertamax”. Karena ragam
bahasa ini merupakan gabungan dari beberapa bahasa, maka tak jarang dalam
berkomunikasi sehari-hari para kaskuser mengganti (switching) bahasa dari
bahasa satu ke bahasa lain.
Pada dasarnya, RBK merupakan bagian dari bahasa gaul atau prokem atau
slang yang memiliki kesan santai dan tidak kaku. Hal tersebut tercermin dalam
kosakata dan struktur bahasanya yang tidak resmi. Hermanto (dalam Mastuti, 2008:
70) menyatakan bahwa bahasa gaul termasuk salah satu variasi bahasa yang
digunakan masyarakat, terutama dari kalangan selebritas dan kalangan muda sebagai
bahasa santai dalam komunikasi sehari-hari untuk menambah rasa keakraban dan
keintiman di antara mereka. Penggunaan bahasa gaul atau prokem memiliki banyak
kemenarikan jika dicermati secara mendalam. Secara gramatikal, RBK memiliki
stuktur ujaran yang berbeda dengan bahasa Indonesia baku. Misalnya dalam kalimat
“Ane kagak tahu gan.” Kalimat tersebut tidak menggunakan kata-kata bahasa
Indonesia yang baku (Saya tidak tahu). Kata Sapaan saya diganti dengan ane yang
merupakan sapaan khas antar kaskuser, lalu kata tidak diganti dengan bentuk tidak
baku kagak, serta adanya penambahan kata sapaan gan yang merujuk pada kaskuser
5
lainnya. Di samping contoh di atas, masih banyak lagi strukrur RBK yang sangat
menarik untuk diteliti.
Selain menggunakan bahasa lisan yang ditulis melalui komentar-komentar
pada tiap thread, kaskuser juga menggunakan beberapa emoticon yang digunakan
untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui gambar-gambar menarik. Misalnya
berupa gambar seseorang yang menaiki bajaj dengan tulisan :ngacir. Emoticon ini
tentunya memiliki makna secara semantis yang perlu dikaji secara mendalam.
Seluruh fenomena kebahasaan di atas menunjukkan bahwa komunitas Kaskus
merupakan ranah pembentukan bahasa baru sehingga RBK sangat menarik untuk
diteliti.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat
dirumuskan sejumlah permasalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah struktur leksikal RBK?
2. Bagaimanakah proses pemaknaan leksikal RBK?
3. Bagaimanakah tipe-tipe emoticon pada RBK?
4. Makna apa sajakah yang terkandung dalam simbol-simbol emoticon yang
digunakan oleh para kaskuser untuk mengekspresikan perasaan?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memerikan karakteristik RBK
yang mencakup analisis bentuk dan makna. Penelitian ini diarahkan pada
penggambaran secara empiris bahwa karakteristik suatu kelompok tutur dapat
6
dipahami, dicermati, dan ditelusuri melalui bahasa yang digunakan, dalam hal ini
RBK. Secara khusus, penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan struktur leksikal RBK.
2. Menjelaskan proses pemaknaan leksikal RBK.
3. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan simbol-simbol emoticon dalam
RBK.
4. Mengungkap makna simbol-simbol emoticon yang digunakan oleh para
kaskuser untuk mengekspresikan perasaan secara semantis.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini bertujuan untuk memberi kontribusi bagi
bidang linguistik dalam penemuan ranah pembentukan bahasa baru. Penelitian ini
juga diharapkan dapat menjadi media untuk meningkatkan kemampuan
menganalisis masalah atau fenomena sosial dalam bidang kebahasaan dengan
kajian semantik.
1.4.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk memberi acuan kepada
para kaskuser pemula agar dapat berkomunikasi dengan RBK. Sebagai komunitas
terbesar di Indonesia, sudah barang tentu setiap harinya anggota baru Kaskus
selalu bertambah. Oleh karena itu, diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai acuan dalam mempelajari RBK.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL
PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
Pada bagian ini diuraikan beberapa penelitian serta tulisan yang memiliki
relevansi dengan penelitian ini.
Manik (2004) dalam sebuah thesis yang berjudul Kajian Semantik Pada
Bahasa Gaul membahas tentang bahasa yang digunakan oleh kaum remaja dan
anak-anak muda dalam bergaul sehari-hari. Data penelitian itu diambil dari
majalah Aneka Yess dan Gaul edisi Agustus-Oktober 2003 dan juga rekaman
percakapan dengan narasumber waria. Manik menggunakan pemaknaan Geoffrey
Leech dalam mengkaji data bahasa gaul. Data berupa kata dan kalimat dalam
bahasa gaul diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori.
Manik membagi bahasa gaul menjadi dua bagian, yaitu bahasa gaul umum
dan bahasa gaul khusus. Bahasa gaul umum adalah bahasa gaul yang banyak
dipakai di sinetron, iklan, majalah yang masih dapat dimengerti oleh orang-orang
yang bukan pengujarnya. Bahasa gaul khusus, adalah bahasa gaul yang dipakai
oleh kalangan tertentu seperti waria, artis, dan orang tertentu lainya.
Hasil analisis data diperoleh 23,3% pemaknaan stilistika, 20,3%
pemaknaan konotasi, 17,5% pemaknaan tematik, 13,6% pemaknaan afektif,
11,7% pemaknaan konseptual, 10,7%
pemaknaan
kolokatif, dan 2,9%
pemaknaan refleksi. Dari analisis penciptaan kata dalam bahasa gaul umum
diperoleh 39,2% penciptaan kata metafora, 29,1% penciptaan kata bahasa asing,
7
8
18,3% penciptaan kata bahasa daerah, 9,2% penciptaan kata singkatan, dan 4,2%
penciptaan kata anomali.
Keunggulan penelitian Manik (2004) adalah hasil penelitian dalam bentuk
persentase, sehingga pembaca dapat benar-benar melihat perbedaan pemaknaan
dan penciptaan kata dalam ragam bahasa gaul yang diteliti. Namun, terdapat
pembahasan dalam penelitian ini yang perlu dikaji lebih lanjut adalah mengenai
pemisahan antara bahasa gaul umum dan khusus. Menurut Manik, bahasa gaul
umum banyak dipakai di sinetron, iklan, majalah yang masih dapat dimengerti
oleh orang-orang yang bukan pengujarnya, sedangkan bahasa gaul khusus, dipakai
oleh kalangan tertentu seperti waria, artis, dan orang tertentu lainya. Pemisahan
ini tidak perlu dilakukan karena pada dasarnya semua bahasa gaul merupakan
bahasa rahasia yang digunakan oleh kalangan tertentu, hanya saja ada beberapa
kata yang sudah dikenal secara luas dan ada yang masih jarang digunakan.
Sudana (2007) dalam tesis berjudul Telaah Struktur dan Makna Ragam
Bahasa Gaul memaparkan tentang struktur kata dan proses pembentukannya
dalam ragam bahasa gaul yang digunakan dalam pergaulan remaja sehari-hari.
Dalam penelitian ini, Sudana menggunakan teori bentuk bahasa untuk
menganalisis struktur kata bahasa gaul dan teori tindak ujaran untuk menganalisis
maksud dan makna ujaran dalam bahasa gaul. Ditemukan bahwa dalam bahasa
gaul terdapat berbagai bentuk kata, mulai dari bentuk yang perubahannya
beraturan hingga bentuk yang tidak beraturan. Penulis mengklasifikasikan bentukbentuk kata menjadi bentuk berpola 1, bentuk berpola 2, bentuk mendekati pola 1,
bentuk mendekati pola dua, dan seterusnya. Pembahasannya juga mencakup
tingkat frasa dan kalimat yang meliputi pola kalimat yang digunakan dalam ragam
9
bahasa gaul. Pada bagian ini, dianalisis berbagai bentuk kalimat dalam bahasa
gaul, diantaranya bentuk pernyataan, perintah, dan kalimat Tanya.
Dalam menganalisis makna ujaran, peneliti menggunakan teori Speech Act
dari Austin. Dari ketiga jenis speech act yaitu locutionary act, illocutionary act,
dan perlocutionary act, diperoleh hasil bahwa sebagian besar ujaran dalam bahasa
gaul mengandung makna ilokusi, yaitu dalam mengujarkan sesuatu, pembicara
bahasa gaul memiliki maksud tertentu secara tersirat.
Keunggulan penelitian Sudana yang digunakan sebagai acuan dalam
penelitian ini, adalah pengklasifikasian kata bahasa gaul secara mendalam,
sehingga hasilnya pun disajikan dengan lebih terstruktur.
Dalam sebuah penelitian yang berjudul Ragam Bahasa Tidak Resmi
Dalam Lagu Project Pop (2009), Woodrich memaparkan tentang ragam bahasa
yang digunakan dalam lirik-lirik lagu yang dinyanyikan oleh Project Pop, sebuah
kelompok vokal dari Indonesia. Dalam penelitian ini dipaparkan bahwa secara
keseluruhan, ragam bahasa tidak resmi adalah ragam bahasa yang tidak sesuai
dengan bahasa yang baik dan benar. Beberapa petanda ragam bahasa tidak resmi
berikut:
1.
Tidak menggunakan unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten
2.
Tidak menggunakan imbuhan secara lengkap
3.
Tidak menggunakan kata ganti resmi
4.
Tidak menggunakan kata baku
5.
Tidak menggunakan EYD
6.
Menggunakan kata dan unsur kedaerahan lain (Praptomo, 2009)
10
Misalnya, kalimat dalam ragam bahasa resmi berbunyi “Kakak saya
kemarin malam pergi ke pasar untuk menjual singkong,” sedangkan kalimat
dengan arti yang sama dalam ragam bahasa tidak resmi bisa berbunyi “Abang gue
maren malem ke pasar tuk dodolan singkong.”
Berdasarkan analisis tiga buah lagu Project Pop, diperoleh hasil antara
lain bahwa bahasa tidak resmi ini juga terdapat pada lagu-lagu populer, misalnya
lagu Project Pop. Bahasa tidak resmi ini digunakan dalam lagu-lagu tersebut
untuk berbagai alasan. Pertama, bahasa tidak resmi seperti bahasa gaul digunakan
karena target pendengar lagu tersebut adalah golongan remaja yang dipandang
sering menggunakan bahasa gaul. Oleh karena itu, istilah-istilah bahasa gaul
digunakan agar lagu menjadi lebih komersil atau mudah diterima masyarakat.
Alasan kedua merupakan alasan artistik, yaitu untuk menjaga irama dan rima.
Beat suatu lagu sangat penting bagi keberhasilan lagu itu sendiri. Apabila
sekelompok penyanyi menggunakan bahasa yang baik dan benar lagu mereka
cenderung terlalu kaku, dengan demikian digunakanlah bahasa tidak resmi, untuk
keindahan lagu tersebut.
Penelitian ini memaparkan ulasan yang baik mengenai setiap lagu yang
dianalisis, namun tidak begitu mendalam. Penulis hanya memaparkan bentukbentuk tidak resmi pada setiap lagu tanpa menyebutkan pada bagian mana bentuk
tidak resmi tersebut digunakan, apakah pada bait pertama, kedua, atau reff.
Sehingga pembaca yang tidak mengetahui lirik lagu tersebut akan mengalami
kesulitan dalam memahami setiap ulasan yang diberikan.
Penelitian Siregar (2010), merupakan sebuah tesis yang berjudul: Bahasa
Gaul pada Kalangan Waria di Jalan Gadjah Mada Medan: Tinjauan
11
Sosiolonguistik. Penelitian itu bertujuan untuk mendeskripsikan bahasa gaul pada
kalangan waria di Jalan Gadjah Mada Medan, yang dikaji berdasarkan teori
sosiolinguistik dan semantik struktural. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik rekam dan cetak.
Objek analisis adalah bahasa waria dari sudut deskripsi semantik, struktur
leksikal, selanjutnya karakteristik bahasa gaul waria.
Temuan penelitian itu menunjukkan bahwa bahasa gaul di kalangan waria
diciptakan sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi antarkelompok mereka.
Bahasa gaul waria di Jalan Gadjah Mada tidak hanya berpedoman pada kamus
waria, yang berarti bahasa yang digunakannya adalah bahasa yang diciptakan
sendiri. Bahasa waria juga memiliki hubungan makna dengan bahasa Indonesia.
Terdapat pembentukan katakata baru yang dapat menciptakan perubahan makna.
Selanjutnya, penelitian tentang bahasa di kalangan waria, berbeda dengan bahasa
yang digunakan waria di Jalan Gadjah Mada Medan.
Berdasarkan hasil analisis data deskripsi semantik bahasa gaul waria
diperoleh hasil penelitian bahwa bahasa yang digunakan waria dalam
berkomunikasi terdapat kaitan makna sinonim, antonim, dan perubahan makna.
Sedangkan struktur leksikal memiliki pola tertentu, yaitu gejala bahasa seperti
penambahan suku kata, penghilangan suku kata, serta pembentukan kata-kata baru
secara teratur dan tidak teratur. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis
karakteristik bahasa yang digunakan bersifat atbitrer, dan diperoleh ciri yang unik
dan tidak berpedoman pada kamus Debby Sehertian. Bahasa waria hanya
memiliki beberapa ratus kata dan penggunaan bahasa waria ini meliputi bidangbidang tertentu.
12
Keunggulan penelitian Siregar (2010) yang dijadikan acuan dalam
penelitian ini adalah pembahasan tentang deskripsi semantik kata-kata baru yang
terbentuk dalam pergaulan waria. Munculnya makna baru dari tiap bentuk
perubahan yang terjadi dalam ragam bahasa waria, dijadikan dasar dalam
penelitian ini bahwa ada makna baru yang terbentuk dalam setiap bentuk baru
RBK.
2.2 Konsep
2.2.1 Variasi Bahasa
Sebagai makhluk sosial, manusia melakukan kegiatan interaksi sosial
dalam masyarakat atau kelompok yang sangat beragam. Seluruh interaksi sosial
tersebut menimbulkan adanya variasi bahasa yang disebabkan oleh para
penuturnya yang tidak homogen.
Menurut Pateda (1987: 52) dalam variasi bahasa setidaknya terdapat tiga
hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama, pola-pola bahasa yang dapat dianalis
secara deskriptif, dan pola-pola yang dibatasi oleh makna tersebut dipergunakan
oleh penuturnya untuk berkomunikasi. Di samping itu, variasi bahasa dapat dilihat
dari enam segi, yaitu tempat, waktu, pemakai, situasi, dialek yang dihubungkan
dengan sapaan, status, dan pemakaiannya/ragam.
Kridalaksana (1984: 142) mengemukakan bahwa ragam bahasa adalah
variasi bahasa menurut pemakaiannya yang dibedakan menurut topik, hubungan
pelaku, dan medium pembicaraan. Jadi, ragam bahasa adalah variasi bahasa
menurut pemakaianya,
yang timbul menurut situasi dan fungsi
yang
memungkinkan
variasi
topik
adanya
tersebut.
Ragam
bahasa menurut
13
pembicaraan mengacu pada pemakaian bahasa dalam bidang tertentu, seperti,
bidang jurnalistik (persuratkabaran), kesusastraan, dan pemerintahan. Ragam
bahasa menurut hubungan pelaku dalam pembicaraan atau gaya penuturan
menunjuk pada situasi formal atau informal. Medium pembicaraan atau cara
pengungkapan dapat berupa sarana atau cara pemakaian bahasa, misalnya bahasa
lisan dan bahasa tulis. Masing-masing ragam bahasa memiliki ciri-ciri tertentu,
sehingga ragam yang satu berbeda dengan ragam yang lain.
2.2.2 Bahasa Prokem
Prokem merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya
digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara
rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka
merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata,
mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi
fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Tiap-tiap komunitas (daerah)
memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa, ini untuk memberikan
kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan).
Namun, belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa
rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Saat ini, bahasa pergaulan
anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang
terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo
seksual atau waria).
Menurut Sahertian (2003) bahasa ini pada mulanya berasal dari bahasa
percakapan
yang
biasa
digunakan
kalangan-kalangan
tertentu,
seperti
14
homoseksual, dan waria. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Ragam
Bahasa Gaul merupakan ragam bahasa informal yang senantiasa berkembang di
masyarakat remaja Indonesia. Ragam bahasa ini berperan serta dalam
memberdayakan bahasa-bahasa yang sudah ada, baik bahasa daerah, bahasa
nasional, maupun bahasa internasional, sehingga dapat dijadikan sebuah ragam
bahasa yang unik dan kreatif.
Kosakata bahasa prokem di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang
hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya
sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa prokem
berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan
menggunakan bahasa prokem, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota
kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.
Kehadiran bahasa prokem itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan
perkembangan nurani anak usia remaja. Masa hidupnya terbatas sesuai dengan
perkembangan usia remaja. Selain itu, pemakainnya pun terbatas pula di kalangan
remaja kelompok usia tertentu dan bersifat tidak resmi. Jika berada di luar
lingkungan kelompoknya, bahasa yang digunakannya beralih ke bahasa lain yang
berlaku secara umum di lingkungan masyarakat tempat mereka berada. Jadi,
kehadirannya di dalam pertumbuhan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah
tidak perlu dirisaukan karena bahasa itu masing-masing akan tumbuh dan
berkembang sendiri sesuai dengan fungsi dan keperluannya masing-masing.
Sebagai bagian dari bahasa gaul atau prokem, bahasa kaskus juga memiliki
karakteristik seperti di atas. Namun, bahasa kaskus juga memiliki berbagai kosakata
baru yang sangat tidak lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Dalam artian
15
hanya digunakan dalam komunitas Kaskus atau antarsesama anggota komunitas
Kaskus (Kaskuser). Oleh karena itu, struktur bahasanya pun tentu saja lebih khas
dibandingkan bahasa gaul lainnya. Pembahasan mengenai karakteristik bahasa kaskus
inilah yang juga akan dikaji secara mendalam dalam studI ini.
2.2.3 Bahasa Plesetan
Bahasa plesetan sudah menjadi bagian dari ragam Bahasa Indonesia meskipun
masih banyak orang yang tidak menyadarinya. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2008) disebutkan bahwa pleset atau memeleset berarti „tidak mengenai
sasaran atau tidak mengenai yang dituju‟. Jadi, menurut Sibarani (2004) plesetan
adalah sesuatu yang diplesetkan atau sesuatu yang digelincirkan sehingga tidak sesuai
dengan sasaran yang sebenarnya atau tidak mengenai yang seharusnya dituju. Bahasa
plesetan memperlihatkan pertambahan makna karena sebuah kata yang diplesetkan
diberi makna baru dengan cara memperlakukan kata yang diplesetkan itu sebagai
akronim dan kemudian diberi kepanjangannya. Pada umumnya, bahasa plesetan
bersifat kontekstual sehingga berfungsi untuk mengungkapkan pola pikir dan
perasaan penutur bahasa yang bersangkutan. Berdasarkan tingkat kebahasaannya,
Sibarani (2004) membagi plesetan bahasa menjadi 7 jenis, antara lain:
1) Plesetan Fonologis (bunyi) yaitu plesetan sebuah fonem atau lebih dalam
leksikon. Plesetan semacam ini pada umumnya digunakan untuk memperolokolok atau mengejek orang lain. Contoh: Robert diplesetkan menjadi Robek.
2) Plesetan Grafis (huruf) yaitu plesetan gabungan huruf dengan menjadikannya
sebagai singkatan. Contoh: ABCD diplesetkan menjadi ABRI Bukan Cepak
Doang. Hasil akhir plesetan ini hampir sama dengan singkatan atau akronim.
Namun, perbedaannya terletak pada proses pembentukannya. Singkatan pada
16
umumnya dibentuk setelah ada bentuk yang panjangnya sehingga dibentuk
menjadi singkatan atau akronim, contohnya: Sekolah Menengah Atas disingkat
menjadi SMA. Namun, plesetan pada umumnya gabungan hurufnya telah lebih
dahulu ada atau diciptakan kemudian diberi kepanjangan. Misalnya MBA
menjadi Married By Accident.
3) Plesetan Morfemis (Leksikon) yaitu plesetan sebuah kata dengan cara menjadikan
atau menganggapnya sebagai singkatan berupa akronim. Misalnya, nama Agus
diplesetkan menjadi Agak GUndul Sedikit.
4) Plesetan Frasal (Kelompok Kata) yakni plesetan kelompok kata seperti plesetan
tipe kedua dengan menjadikannya singkatan berupa akronim. Misalnya, frase
Botol Lampu diplesetkan menjadi BOdoh TOLol LAMbat PUla.
5) Plesetan Kalimat (Ekspresi) yaitu plesetan sebuah kalimat dengan cara mengikuti
struktur dan intonasi kalimat, tetapi mengubah kata-katanya sehingga mengubah
makna keseluruhan struktur tersebut. Misalnya, teks lagu “Ayo Maju Maju”
diplesetkan menjadi “Tidak Maju Maju.”
6) Plesetan Ideologis (Semantis) yaitu plesetan sebuah ide menjadi ide lain dengan
bentuk linguistik yang sama. Misalnya, ide masing-masing frase hidup tak hidup,
pandangan hidup, pegangan hidup diplesetkan menjadi dipandang saja sudah
hidup atau dipegang baru hidup.
7) Plesetan Diskursi (Wacana) yaitu plesetan sebuah cerita atau bentuk linguistik
naratif yang sengaja digunakan untuk memutarbalikkan fakta atau kenyataan yang
sebenarnya.
17
2.2.4 Emoticon
Emoticon (bahasa Indonesia: ikon emosi) adalah sebuah simbol atau
kombinasi dari simbol-simbol yang biasanya digunakan untuk menggambarkan
ekspresi wajah manusia yang mengandung emosi atau perasaan dalam bentuk
pesan atau tulisan. Secara etimologi, kata “emoticon” merupakan gabungan dua
kata dalam bahasa Inggris, yaitu emotion, yang berarti emosi, dan icon, yang
berarti simbol. Menurut Wolf (2009), emoticon menggunakan beberapa karakter
untuk menampilkan perasaan alami seseorang. Emoticon biasa digunakan pada
teks pesan singkat, e-mail, maupun pada forum-forum internet, seperti chat-rooms
maupun blog. Emoticon diciptakan sebagai kompensasi dari ketidakmampuan
penyampaian nada suara, ekspresi muka, maupun gestur badan dalam komunikasi
tertulis. Oleh karena itulah, emoticon menjembatani pemisah antara pesan tulisan
dengan percakapan tatap muka dengan memberikan gambaran kepada pembaca
tentang apa yang dimaksudkan oleh penulis dengan menampilkan gambar ekspresi
wajah. Emoticon menempati peran penting dalam komunikasi online, karena
emoticon dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk menghindari kesalahan
penginterpretasian pesan. Berikut ini adalah beberapa contoh emoticon yang
sering digunakan dalam komunikasi online.
Gambar 2. Contoh emoticon
18
2.3 Kerangka Teori
2.3.1 Tata Bahasa Peristilahan
Di dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah (Pusat Bahasa, 2007)
disebutkan bahwa istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau
lambing dan yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses,
keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Tata istilah (terminologi) adalah perangkat asas dan ketentuan pembentukan
istilah serta kumpulan istilah yang dihasilkannya. Pembentukan istilah di dalam
bahasa Indonesia dapat melalui beberapa proses antara lain:
1. Pemantapan
Istilah yang mengungkapkan konsep hasil galian ilmuwan dan pandit
Indonesia, seperti bhinneka tunggal ika, batik, banjar, sawer, gunungan,
dan pamor, telah lama diterima secara luas sehingga dapat dimantapkan
dan hasilnya dikodifikasi.
2. Penerjemahan
Penerjemahan dapat dibagi dua, yakni penerjemahan langsung dan dengan
perekaan. Pada penerjemahan langsung istilah Indonesia dibentuk lewat
penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna tetapi bentuknya tidak
sepadan. Misalnya, Supermarket = pasar swalayan
Adakalanya upaya pemadanan istilah asing perlu dilakukan dengan
menciptakan isti-lah baru. Istilah factoring, misalnya, sulit diterjemahkan
atau diserap secara utuh, sehingga maknanya diperoleh melalui perekaan.
3. Penyerapan
Penyerapan istilah asing untuk menjadi istilah bahasa Indonesia
19
4. Gabungan antara penerjemahan dan penyerapan
Istilah bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan menerjemahkan dan
menyerap istilah asing sekaligus.
5. Perekaciptaan istilah
Istilah baru untuk mengungkapkan konsep itu dapat direkacipta sesuai
dengan lingkungan dan corak bidang kegiatannya.
Dari kelima proses di atas, terdapat tiga proses yang digunakan untuk
menganalisis struktur dalam proses pembentukan RBK, yakni penerjemahan,
penyerapan, dan perekaciptaan istilah.
Istilah dapat berupa bentuk dasar, bentuk berafiks, bentuk ulang, bentuk
majemuk, bentuk analogi, hasil metanalisis, singkatan, akronim.
1. Istilah bentuk dasar
Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina,
verba, adjektiva,dan numeralia.
2. Istilah bentuk berafiks
Istilah bentuk berafiks disusun dari bentuk dasar dengan penambahan
prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks seturut kaidah pementukan kata bahasa
Indonesia.
3. Istilah bentuk ulang
Istilah bentuk ulang dapat berupa ulangan bentuk dasar seutuhnya atau
sebagiannya dengan atau tanpa pengimbuhan dan pengubahan bunyi.
4. Istilah bentuk majemuk
Istilah bentuk majemuk atau kompositum merupakan hasil penggabungan
dua bentuk atau lebih, yang menjadi satuan leksikal baru.
20
5. Istilah bentuk analogi
Istilah bentuk analogi bertolak dari pola bentuk istilah yang sudah ada,
seperti berdasarkan pola bentuk pegulat, tata bahasa, juru tulis,
pramugari, dengan pola analogi pada istilah tersebut dibentuk berbagai
istilah lain.
6. Istilah hasil metanalisis
Istilah hasil metanalisis terbentuk melalui analisis unsur yang keliru.
7. Istilah bentuk singkatan
Istilah bentuk singkatan ialah bentuk yang penulisannya dipendekkan
menurut tiga cara:
a. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang
dilisankan sesuai dengan bentuk istilah lengkapnya. Misalnya, cm yang
dilisankan sentimeter
b. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang
lazim
dilisankan
huruf
demi
huruf.
Misalnya,
DDT
(diklorodifeniltrikloroetana) yang dilisankan de-de-te
c. Istilah yang sebagian unsurnya ditanggalkan. Misalnya :
Ekspres yang berasal dari kereta api ekpres , info yang berasal dari
informasi.
8. Istilah bentuk akronim
Istilah bentuk akronim ialah istilah pemendekan bentuk majemuk yang
berupa gabungan huruf awal suku kata, gabungan suku kata, ataupun
gabungan huruf awal dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan
sebagai kata.
21
2.3.2 Semantik Sebagai Kajian Makna
Semantik merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang makna, baik
makna leksikal maupun makna gramatikal. Lyons (1995) mendefinisikan
semantik sebagai penyelidikan tentang makna. Lyons menjelaskan makna sebagai
ide atau konsep yang dapat dipindahkan dari pikiran penutur kepada pikiran
pendengar yang bisa menghasilakan satu bahasa atau bahasa lainnya.
Menurut Palmer (1981:1), Semantik dinyatakan sebagai: “the technical
term used to refer to the study of meaning and since meaning is a part of
language, semantics is a part of linguistics” yang berarti bahwa Semantik adalah
terminologi teknis yang mengacu pada studi tentang makna dan karena makna
adalah bagian dari bahasa, maka semantik adalah bagian dari Linguistik.
2.3.2.1 Semantik Leksikal
Semantik leksikal menyangkut makna leksikal. Bidang yang meneliti
semantik leksikal menurut asas-asasnya disebut Leksikologi. Makna leksikal dapat
juga diartikan makna yang sesuai dengan acuannya, makna yang sesuai dengan
hasil observasi panca indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam
kehidupan kita. Menurut Lyons (1977) „The noun „lexeme‟ is of course related to
the words „lexical‟ and „lexicon‟, (we can think of „lexicon‟ as having the same
meaning as vocabulary or dictionary)‟, yang berarti bahwa „leksem‟ berhubungan
dengan kata „leksikal‟ dan „leksikon‟, dimana leksikon itu sendiri mengacu pada
makna yang terdapat di dalam kamus. Dalam semantik leksikal diselidiki makna
yang ada pada leksem-leksem dari suatu bahasa. Oleh karena itu, makna yang ada
pada leksem-leksem itu disebut makna leksikal. Leksem adalah istilah-istilah yang
lazim digunakan dalam studi semantik untuk menyebutkan satuan bahasa
22
bermakna. Istilah leksem ini kurang lebih dapat dipadankan dengan istilah kata
yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis dan yang lazim
didefinisikan sebagai satuan gramatikal bebas terkecil.
Secara leksikologis, semantik leksikal mencakup pokok-pokok sebagai
berikut:
1. Makna dan referensi
Makna leksikal lazimnya dipandang sebagai sifat kata sebagai unsur leksikal.
Misalnya kata „roti‟ memiliki makna tertentu, namun selain itu kata „roti‟ juga
memiliki sifat tertentu yaitu referensi (kemampuan „roti‟ mengacu pada
makanan tertentu. Yang diacu disebut dengan „referen‟.
2. Denotasi dan konotasi
Denotasi adalah referensi terhadap sesuatu yang ekstralingual menurut makna
yang bersangkutan. Sedangkan konotasi adalah arti yang muncul pada penutur
akibat penilaian afektif dan emosional. Misalnya denotasi kata penjara adalah
kemampuan kata tersebut untuk bereferensi pada sebuah penjara, sedangkan
makna konotasinya bersifat negatif karena penghuni penjara tidak dapat
bertindak sesuai kehendaknya sendiri.
3. Analisis ekstensiol dan intensiol
Makna ekstensiol adalah makna pragmatis. Menurut makna ekstensiol, kata X
mengacu pada hal-hal yang bersifat ekstralingual, misalnya kata „perabot‟
mengacu pada perabot yang bermacam-macam. Menurut makna intensional
kata X terdiri atas sifat-sifat semantik tertentu, misalnya kata „perabot‟ secara
intensional mengandung unsur semantik sebagai perlengkapan rumah tangga.
23
4. Analisis Komponensial
Dalam setiap bahasa, banyak kata tidak memiliki maknanya sendiri-sendiri,
lepas dari makna kata lainnya, tetapi memiliki makna yang berperanan hanya
karena
memiliki
hubungan
dengan
kata-kata
lainnya.
Analisis
ini
menggunakan asas pembeda yang kita temukan dalam fonologi, yang artinya
identitas fonem adalah identitas pembeda. Namun, asas pembeda ini juga
berlaku dalam menganalisis hubungan kata-kata secara semantis, yaitu di
dalam kelompok unsur-unsur leksikal tertentu.
5. Makna dan Pemakaian
Analisis ini membedakan antara makna (leksikal) atau disebut juga sebagai
makna harfiah atau kanonik, dengan pemakaiannya sebagai makna
nonkanonik.
Contoh dari pemakaian nonkanonik adalah metafora dan
metonimi.
6. Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim
(1) Dua istilah atau lebih yang maknanya sama atau mirip, tetapi bentuknya
berlainan, disebut sinonim. Di antara istilah sinonim itu salah satunya
ditentukan sebagai istilah baku atau yang diutamakan.
Misalnya :
gulma sebagai padanan weed lebih baik daripada tumbuhan pengganggu
(2) Antonim adalah dua kata yang maknanya berlawanan, misalnya besar dan
kecil.
(3) Istilah homonim berupa dua istilah, atau lebih, yang sama ejaan dan
lafalnya, tetapi maknanya berbeda, karena asalnya berlainan. Istilah homonim
24
dapat dibedakan menjadi homograf dan homofon. Istilah homograf ialah
istilah yang sama ejaannya, tetapi berbeda lafalnya.
Misalnya :
teras „inti‟ dengan teras 'lantai datar di muka rumah'
Istilah homofon ialah istilah yang sama lafalnya, tetapi berbeda ejaannya.
Misalnya :
bank „tempat menyimpan uang‟ dengan bang „sapaan untuk kakak laki-laki‟
(4) Istilah hiponim ialah bentuk yang maknanya terangkum dalam hipernim,
atau superordinatnya yang mempunyai makna yang lebih luas. Kata
mawar,melati, cempaka, misalnya, masing-masing disebut hiponim terhadap
kata bunga yang menjadi hipernim atau superordinatnya.
2.3.2.2 Makna Figuratif
Makna kiasan (figurative meaning, tranfered meaning) adalah pemakaian
leksem dengan makna yang tidak sebenarnya. Sebagai contoh frasa ‟mahkota
wanita‟ tidak dimaknai sebagai sebuah benda yang dipakai seorang wanita di atas
kepalanya yang merupakan lambang kekuasaan seorang pemimpin dan berhiaskan
emas atau permata, namun frasa ini dimaknai sebagai „rambut wanita‟. Abrams
(1981:63) menyatakan
bahwa
bahasa
figuratif atau kiasan merupakan
penyimpangan dari bahasa yang digunakan sehari-hari, penyimpangan dari bahasa
baku atau standar, penyimpangan makna, dan penyimpangan susunan (rangkaian)
kata-kata supaya memperoleh efek tertentu atau makna khusus.
Bahasa figuratif sebenarnya adalah gaya bahasa kiasan. Bahasa kiasan atau figure
of speech atau oleh Kridalaksana disebut sebagai figure of rhetoric atau rhetorical
25
figure yaitu alat untuk memperluas makna kata atau kelompok kata untuk
memperoleh efek tertentu dengan membandingkan atau membagi
serta
mengasosiasikan dua hal.
1) Metafora
Metafora, mengandung unsur-unsur yang kadang-kadang tidak disebutkan
secara eksplisit. Definisi metafora menurut Beekman dan Callow (1974) adalah
suatu perbandingan yang implisit. Gaya metafora melihat sesuatu dengan
perantaraan benda yang lain. Metafora sebagai pembanding langsung tidak
menggunakan kata-kata seperti dan lain-lain, sehingga pokok pertama langsung
dihubungkan dengan pokok kedua. Salah satu unsur yang dibandingkan, yaitu
citra, memiliki sejumlah komponen makna dan biasanya hanya satu dari
komponen makna tersebut yang relevan dan juga dimiliki oleh unsur kedua, yaitu
topik.
Beekman dan Callow menjelaskan bahwa metafora terdiri atas tiga bagian,
yaitu (a) topik, yaitu benda atau hal yang dibicarakan; (b) citra, yaitu bagian
metaforis dari majas tersebut yang digunakan untuk mendeskripsikan topik dalam
rangka perbandingan; (c) titik kemiripan, yaitu bagian yang memperlihatkan
persamaan antara topik dan citra. Ketiga bagian yang menyusun metafora tersebut
tidak selalu disebutkan secara eksplisit. Adakalanya, salah satu dari ketiga bagian
itu, yaitu topik, sebagian dari citra, atau titik kemiripannya implisit, seperti yang
terlihat dalam contoh di bawah ini:
He is also Baldwin‟s legal eagle „
Dia juga elang dalam urusan hukum Baldwin‟
26
Topik metafora pada contoh di atas adalah he „dia‟, sedangkan citranya adalah
eagle „elang‟. Akan tetapi, titik kemiripan yang menunjukkan dalam hal apa he
„dia‟ dan eagle „elang‟ tidak disebutkan secara eksplisit. Untuk mengetahui titik
kemiripan ini diperlukan pengetahuan tentang konteks tempat metafora tersebut
terdapat, pemahaman terhadap makna simbol „elang‟ dalam masyarakat dan unsur
implisit lainnya.
Senada dengan Beekman dan Callow, Parera (2004:119) mengatakan salah
satu unsur metafora adalah kemiripan dan kesamaan tanggapan pancaindra.
Struktur metafora utama yang utama ialah (1) topik yang dibicarakan; (2) citra
atau topik kedua; (3) titik kemiripan atau kesamaan. Hubungan antara topik atau
citra dapat bersifat objektif dan emotif. Berdasarkan pilihan citra yang dipakai
oleh pemakai bahasa dan para penulis di pelbagai bahasa, pilihan citra oleh Parera
(2004:119) dibedakan atas empat kelompok, yakni (1) metafora bercitra
antropomorfik, (2) metafora bercitra hewan, (3) metafora bercitra abstrak ke
konkret, (4) metafora bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra.
1. Metafora bercitra antropomorfik merupakan satu gejala semesta. Para pemakai
bahasa ingin membandingkan kemiripan pengalaman dengan apa yang
terdapat pada dirinya atau tubuh mereka sendiri. Metafora antropomorfik
dalam banyak bahasa dapat dicontohkan dengan mulut botol, jantung kota,
bahu jalan, dan lain-lain.
2. Metafora bercitra hewan, biasanya digunakan oleh pemakai bahasa untuk
menggambarkan satu kondisi atau kenyataan di alam sesuai pengalaman
pemakai bahasa. Metafora dengan unsur binatang cenderung dikenakan pada
tanaman, misalnya kumis kucing, lidah buaya, kuping gajah. Metafora dengan
27
unsur binatang juga dikenakan pada manusia dengan citra humor, ironi,
peyoratif, atau citra konotasi yang luar biasa, misalnya, fable dalam Fabel
MMM yang dikutip oleh Parera terdapat nama-nama seperti Mr. Badak bin
Badak, Profesor Keledai, dan terdapat pula Majelis Pemerintah Rimba (MPR),
dan lain-lain. Dalam metafora bercitra hewan diungkapkan oleh Parera
(2004:120) bahwa manusia disamakan dengan sejumlah takterbatas binatang
misalnya dengan anjing, babi, kerbau, singa, buaya, dst., sehingga dalam
bahasa Indonesia kita mengenal peribahasa “Seperti kerbau dicocok hidung”,
ungkapan “buaya darat”, dan ungkapan makian ”anjing, lu”, dan seterusnya.
3. Metafora bercitra abstrak ke konkret, adalah mengalihkan ungkapan-ungkapan
yang abstrak ke ungkapan yang lebih konkret. Seringkali pengalihan ungkapan
itu masih bersifat transparan tetapi dalam beberapa kasus penelusuran
etimologi perlu dipertimbangkan untuk memenuhi metafora tertentu.
Dicontohkan oleh Parera, secepat kilat „satu kecepatan yang luar biasa‟,
moncong senjata „ujung senjata‟, dan lain-lain.
4. Metafora bercitra sinestesia, merupakan salah satu tipe metafora berdasarkan
pengalihan indra, pengalihan dari satu indra ke indra yang lain. Dalam
ungkapan sehari-hari orang sering mendengar ungkapan “enak didengar”
untuk musik walaupun makna enak selalu dikatkan dengan indra rasa; “sedap
dipandang mata” merupakan pengalihan dari indra rasa ke indra lihat.
2) Metonimi
Kata metonimi berasal dari kata Yunani meta yang berarti „menunjukkan
perubahan‟ dan onoma yang berarti „nama‟. Dengan demikian, metonimi adalah
28
suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal
lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Hubungan itu dapat berupa
penemu untuk hasil penemuan, pemilik untuk barang yang dimiliki, akibat untuk
sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan kulitnya, dan sebagainya.
Metonimi disebut oleh Keraf (1992:142) sebagai bagian dari sinekdoke.
Sinekdoke dibagi menjadi dua yaitu pars pro toto: pengungkapan sebagian dari
objek untuk menunjukkan keseluruhan objek, dan totum pro parte: Pengungkapan
keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
Parera (2004:121) menyebut metonimi sebagai hubungan kemaknaan.
Berbeda halnya dengan metafora, metonimi muncul dengan kata-kata yang telah
diketahui dan saling berhubungan. Metonimi merupakan sebutan pengganti untuk
sebuah objek atau perbuatan dengan atribut yang melekat pada objek atau
perbuatan yang bersangkutan. Misalnya, “rokok kretek” dikatakan “belikan saya
kretek”.
Metonimi
menurut
Parera
(2004:121-122)
dapat
dikelompokkan
bedasarkan atribut yang mendasarinya, misalnya metonimi dengan relasi tempat,
relasi waktu, relasi atribut (pars prototo), metonimi berelasi penemu atau
pencipta, dan metonimi berdasarkan perbuatan.
1. Metonimi berdasarkan atribut tempat, dicontohkan oleh Parera seperti “Pasar
Blok M” disingkat “Blok M”sebagai singkatan nama bioskop yang terkenal di
tempat tersebut pada masa tertentu, yakni “bioskop Majestik”. Di tahun 60-an
di Jakarta Pusat terdapat gedung bioskop megah dengan nama “Metropole”
dan tahun 80-an diganti dengan nama “Megaria”. Tiap-tiap daerah dikenal
29
dengan ciri atribut yang menonjol dan pada umumnya penduduk akan
menyebutkan daerah tersebut berdasarkan ciri atribut yang terkenal.
2. Metonimi berdasarkan atribut waktu, contohnya “Datanglah setelah magrib”,
“Subuh nanti kita berangkat”. Waktu Shalat bagi umat Islam seperti Magrib
dan Subuh atau Misa bagi orang kristiani biasanya dipakai sebagai ukuran dan
pembagian waktu di Indonesia.
3. Metonimi berdasarkan unsur bagian untuk seluruhnya atau disebut tipe pars
pro toto. Contohnya, Militer atau tentara Nasional Indonesia (TNI) dikenal
dengan sebutan “baju hijau”, kelompok pasukan tentara Angkatan Darat yang
khusus disebut dengan “Baret Merah”.
4. Metonimi berdasarkan penemu dan pencipta, dicontohkan oleh Parera sebagai
bentuk penyebutan penemu sesuatu. Misalnya, jika seorang ahli fisika
mengatakan “satu ampere adalah aliran listrik yang satu volt dapat mengirim
melali satu ohm”, maka ia telah menyebut tiga tokoh utama dalam bidang
ilmunya, yakni Andre Ampere (orang Prancis), Count Alssandro Volta (orang
Italia), dan George Simon Ohm (orang Jerman).
2.3.2.3 Teori Semiotik Charles Sanders Peirce
Peirce (1931-58) mengemukakan sebuah model triadik yang terdiri dari:
(1)representamen; (2)interpretant; (3) object. Representamen merupakan bentuk
yang diambil oleh suatu tanda (beberapa teori juga menyebutnya sebagai
„perantara tanda‟. Interpretant merupakan makna dari tanda. Object adalah
sesuatu yang diwakili oleh representamen yang berkaitan dengan acuan. Object
30
dapat berupa representasi mental (ada dalam pikiran), dapat juga berupa sesuatu
yang nyata di luar tanda.
Ketiga elemen dalam model triadik Peirce merupakan elemen yang
esensial. Tanda merupakan sebuah kesatuan dari apa yang diwakili (objek),
bagaimana tanda itu diwakili (representamen), dan bagaimana tanda tersebut
diinterpretasikan (interpretant). Model Peirce diilustrasikan seperti pada Gambar
3 berikut ini:
interpretant
representamen
objek
Gambar 3. Segitiga Semiotik Peirce
Bentuk segitiga Peirce merupakan bentuk tripod atau kaki tiga dengan
puncak di tengah-tengahnya. Garis putus-putus yang terdapat di dasarnya
mengindikasikan bahwa tidak terdapat hubungan langsung secara semantis antara
perantara tanda dan acuan. Disini ditekankan bahwa terdapat perbedaan antara
tanda dan perantara tanda (yang selanjutnya menjadi signifier oleh Saussure dan
representamen oleh Peirce). Tanda lebih dari sekadar perantara tanda. Istilah
tanda seringkali digunakan secara bebas sehingga perbedaan ini tidak selalu
terlihat. Namun secara umum, signifier atau representamen merupakan bentuk
dimana tanda tersebut muncul, sedangkan tanda merupakan perangkat makna
secara keseluruhan. Interaksi antara representamen, objek, dan interpretant ini
disebut oleh Peirce sebagai semiosis.
31
Pemilihan teori semiotik Peirce dalam penelitian ini adalah karena Peirce
melihat tanda tidak sebagai suatu struktur, tetapi sebagai suatu proses pemaknaan
tanda yang disebutnya semiosis. Semiosis merupakan proses tiga tahap dan dapat
terus
berlanjut.
Artinya,
interpretant,
pada
gilirannya
dapat
menjadi
representamen, dan seterusnya. Peirce menyatakan bahwa proses semiosis tidak
terbatas, bergantung pada pengalaman.
Berikut ini uraian proses semiosis.
1. pencerapan representamen (R) yang dilihat oleh manusia (ini yang disebut
dengan “ tanda”).
2. perujukan representamen pada objek (O) yang merupakan konsep yang
dikenal oleh pemakai tanda.
3. penafsiran
makna/interpretant
(I)
oleh
pemakai
tanda,
setelah
representamen dikaitkan dengan objek.
Tanda menurut Peirce terdiri atas Simbol (tanda yang muncul dari
kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda
yang muncul dari hubungan sebab-akibat).
1. Simbol merupakan tanda yang mengacu pada objek yang ditentukan
melalui ketetapan hukum, umumnya berhubungan dengan kesepakatan
umum yang menyebabkan simbol tersebut mengacu pada sebuah objek.
Simbol juga diinterpretasikan berdasarkan aturan maupun hubungan yang
bersumber dari kebiasaan.
2. Ikon mewakili objeknya berdasarkan persamaan. Ikon menyerupai objek
yang diwakilinya. Tidak seperti indeks, ikon tidak memiliki hubungan
dinamis dengan objek yang diwakilinya.
32
3. Indeks berhubungan dengan objek. Indeks mengarahkan tujuan pada
objeknya dengan dorongan tak kasat mata. Apabila ikon berdasarkan pada
kesamaan, indeks berdasarkan pada hubungan sebab-akibat.
Acuan tanda ini disebut objek. Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang
menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.
Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang
menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna
yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Hal
yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari
sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.
2.3.2.4 Tindak Ilokusi
Studi mengenai tindak tutur pertama kali dicetuskan oleh Austin (1962),
dalam bukunya How to Do Things with Words yang kemudian dilanjutkan oleh
muridnya J.R Searle. Austin pada dasarnya memandang bahwa manusia, dengan
menggunakan bahasa dapat melakukan tindakan-tindakan yang disebut tindak
tutur (speech Act). Searle (1969) dalam Speech Act: An Essay in The Philosophy
of Language menyatakan bahwa dalam berbicara manusia manampilkan tindak
tutur, antara lain membuat pernyataan, memberi perintah, bertanya, berjanji, dan
lain sebagainya. Tindak tutur merupakan unit terkecil dari sebuah komunikasi.
Unit tersebut bukanlah simbol, kata, maupun kalimat, atau bahkan tanda dari
simbol, kata, dan kalimat itu sendiri, melainkan lebih sebagai penampilan dari
simbol, kata, maupun kalimat tersebut sebagai sebuah tindak tutur.
33
Austin (1978:101) membedakan adanya tiga macam tindak tutur, yakni
lokusi, ilokusi dan perlokusi.
1. Lokusi mengaitkan suatu topik dengan suatu keterangan dalam suatu
ungkapan (subjek-predikat).
2. Ilokusi
yaitu
tindakan
mengucapkan
suatu
pernyataan,
tawaran,
pertanyaan, dan sebagainya.
3. Perlokusi yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada
petutur sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan ungkapan.
Searle (1979:39) memandang bahwa tindak ilokusi merupakan unit terkecil dari
komunikasi linguistik. Oleh karena itu, teori mengenai tindak ilokusi yang
dikemukakan oleh Searle digunakan untuk menganalisis fungsi dari emoticon
RBK. Searle membedakan adanya lima macam tindak ilokusi, yakni tindak ilokusi
asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi.
1. Tindak ilokusi asertif ialah ilokusi yang menyatakan kebenaran, misalnya:
menyatakan,
mengusulkan,
membual,
mengeluh,
mengemukakan
pendapat, dan melaporkan.
2. Tindak ilokusi direktif ialah ilokusi yang menghasilkan efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh petutur, misalnya: memesan, memerintah,
memohon, menuntut, dan memberi nasihat.
3. Tindak ilokusi komisif ialah ilokusi yang membuat penutur terikat pada
suatu tindakan di masa mendatang, misalnya: menjanjikan, menawarkan,
dan berkaul.
4. Tindak ilokusi ekspresif ialah ilokusi yang mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap yang tersirat dalam ilokusi, misalnya: mengucapkan
34
terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, memuji,
dan mengucapkan belasungkawa.
5. Tindak ilokusi deklarasi ialah ilokusi yang keberhasilan pelaksanannya
mengakibatkan kesesuaian antara isi proposisi dengan realitas, misalnya:
memecat, mengundurkan diri, membaptis, menamai, menjatuhkan
hukuman, mengucilkan/membuang, serta mengangkat pegawai.
35
2.4 Model Penelitian
PENELITIAN
RAGAM BAHASA KASKUS
LEKSIKAL
EMOTICON
STRUKTUR
MAKNA
TIPE
MAKNA
Proses
Pembentukan
Istilah (Pusat
Bahasa, 2007)
Semantik Leksikal
(Lyons, 1977),
Metafora
(Beekman &
Callow, 1974),
Metonimi (Parera,
2004)
Komponen
Semiotik
(Peirce, 1931),
Tindak Ilokusi
(Searle, 1979)
Triadik (Peirce,
1931)
TEMUAN
SIMPULAN
Gambar 4. Model Penelitian
36
Gambar di atas menunjukkan bahwa penelitian tentang RBK berakar dari
leksikal dan emoticon yang dianalisis struktur dan tipe serta makna yang
terkandung di dalamnya. Dalam tataran leksikal, data diidentifikasikan dan
diklasifikasikan
terlebih
dahulu
berdasarkan
struktur
dalam
proses
pembentukannya, kemudian dilanjutkan dengan analisis makna yang meliputi
proses
pemaknaan
secara
leksikal
RBK.
Selanjutnya,
emoticon
RBK
diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori kemudian dilanjutkan dengan
pembahasan mengenai makna-makna yang terkandung dalam simbol-simbol
emoticon yang digunakan oleh para kaskuser untuk mengekspresikan perasaan
37
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penulisan mencakup sumber data, jenis data, metode dan teknik
pengumpulan data, metode dan teknik analisis data, serta metode dan teknik
penyajian analisis data.
3.1 Pendekatan penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif, karena peneliti merupakan alat utama pengumpul data dengan metode
pengumpulan data berdasarkan pengamatan pada media internet. Di samping itu,
pengumpulan data dilakukan secara deskriptif, dan data yang diperoleh berupa
kata-kata, gambar dan bukan angka, serta penelitian juga dilakukan dengan
pengambilan sampel secara purpusif. Data yang digunakan sebagai sampel
merupakan kata-kata yang hanya ditemukan di dalam komunitas Kaskus dan
tidak ditemukan pada komunitas lainnya.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah ragam bahasa yang
digunakan oleh komunitas kaskus yang diperoleh dari www.kaskus.us dan
m.kaskus.us. Data primer dalam penelitian ini berupa kata-kata dalam RBK yang
diambil dari thread dan posting-an yang dibuat oleh para Kaskuser, serta berbagai
emotikon yang digunakan dalam komunitas Kaskus. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari beberapa posting-an mengenai Kamus Besar Bahasa Kaskus yang
dibuat oleh beberapa kaskuser sebagai acuan mengenai arti dari kata-kata dalam
37
38
RBK. Pemilihan data berupa kata dan emoticon ini dikarenakan komunitas
Kaskus menunjukan karakteristik yang khas dalam penggunaan kata-kata serta
emoticon baru yang tidak dikenal secara luas, bahkan sangat berbeda dengan
bahasa prokem pada umumnya. Pengambilan data dilakukan dari bulan Januari
hingga Mei 2011 dari dua forum besar di dalam komunitas Kaskus, yakni The
Lounge dan Forum Jual Beli karena kedua forum tersebut merupakan forumforum yang paling banyak dikunjungi oleh Kaskuser setiap harinya. Menurut
poling yang dilakukan pada tanggal 25 Maret 2011 di salah satu thread Kaskus,
diperoleh data bahwa The Lounge merupakan forum dengan Traffic Posting
(jumlah posting-an yang diunggah) paling tinggi, sedangkan Forum Jual Beli
menempati Page View (jumlah halaman yang dibuka) paling tinggi.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan adalah metode simak dengan teknik dasar sadap
dan teknik lanjutan berupa teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat.
Menurut Mahsun (2007), apabila peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa
secara tertulis, dalam penyadapan itu peneliti hanya dapat menggunakan teknik
catat sebagai gandengan teknik simak bebas libat cakap. Sebelum penyimakan,
dilakukan teknik screen capture (pengambilan data dengan memfoto tampilan
yang muncul pada layar komputer). Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan
data adalah sebagai berikut:
1. Sejumlah thread beserta seluruh posting-an dalam www.kaskus.us dan
m.kaskus.us diambil dengan teknik screen capture. Inilah yang merupakan
korpus data dalam penelitian RBK.
39
2. Dari korpus data tersebut dilakukan penyimakan dengan teknik dasar sadap
dan teknik lanjutan simak bebas libat cakap, maksudnya peneliti hanya
berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa oleh para informannya. Data
diidentifikasi untuk menentukan kata-kata dan emoticon yang digunakan
sebagai objek penelitian ini.
3. Setelah proses identifikasi, dilanjutkan dengan prosees klasifikasi data. Datadata yang telah teridentifikasi dikelompokan berdasarkan kesamaan bentuk
dan ciri-ciri yang dimiliki tiap-tiap kata dengan teknik lanjutan catat.
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan
dengan teknik pilah dan teknik parafrase (Sudaryanto, 1993). Teknik analisis
datanya melalui tahap-tahap di bawah ini:
1. Data berupa kata RBK yang telah dikumpulkan dan diklasifikasikan ke dalam
beberapa
kategori
dianalisis
bentuk
leksikalnya,
termasuk
struktur
pembentukan katanya yang dianalisis dengan teknik parafrase yaitu
menjelaskan prosesnya sesuai dengan kesepadanan antara kata dengan artinya
yang diperoleh dari kamus besar bahasa kaskus.
2. Setelah itu dilanjutkan dengan analisis makna leksikal. Dalam analisis ini
dibandingkan kosakata bentuk plesetan yang ada dalam RBK dengan artinya
yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Kaskus (KBBK). Setelah itu,
barulah dilakukan analisis mengenai pembentukan makna leksikal kata
tersebut, misalnya kata „sedot‟ dalam Ragam Bahasa Kaskus merupakan kata
40
lain dari download. Proses pemerolehan makna inilah yang dianalisis dalam
penelitian ini.
3. Dan yang dianalisis selanjutnya adalah data berupa emoticon yang banyak
digunakan dalam komunitas Kaskus. Seluruh data emoticon yang telah
diklasifikasikan dianalisis menggunakan teori Semiotik Charles Sanders
Peirce.
3.5 Metode dan Teknik Penyajian Analisis Data
Hasil analisis disajikan dengan cara formal (menyajikan hasil dengan
perumusan lambang, tabel, daftar kosakata, dan sebagainya, serta cara informal
(dengan memberikan uraian atau paparan untuk memperjelas hasil analisis).
41
BAB IV
STRUKTUR DAN PROSES PEMAKNAAN LEKSIKAL RBK
4.1 Struktur Leksikal RBK
Ragam Bahasa Kaskus (RBK) merupakan bagian dari bahasa prokem atau
bahasa slang. Bahasa Slang oleh Kridalaksana (1982:156) dirumuskan sebagai
ragam bahasa yang tidak resmi digunakan oleh kaum remaja, serta waria atau
kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha agar orang di luar
kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah.
Sebagai bagian dari bahasa prokem atau slang, RBK berfungsi sebagai ekspresi
rasa kebersamaan para kaskuser. Selain itu, dengan menggunakan RBK, mereka
ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari
kelompok masyarakat yang lain. Bagi para kaskuser pemula, penggunaan RBK
tentunya menjadi tantangan tersendiri saat mulai memasuki komunitas Kaskus.
Pada awalnya, kesulitan memahami istilah-istilah yang digunakan di Kaskus
seringkali dialami oleh anggota baru yang dikenal dengan newbie ini. Beberapa
thread tentang daftar kata RBK yang menyerupai kamus pun dibuat oleh beberapa
orang kaskuser untuk membantu para newbie dalam berkomunikasi. Namun,
kamus ini tidak sama seperti kamus lainnya yang diterbitkan secara resmi
kemudian dipasarkan, karena hanya berupa daftar kata yang dibuat oleh kaskuser
dan diplesetkan sebagai Kamus Besar Bahasa Kaskus (KBBK).
Kosakata dalam RBK diambil dari kosakata bahasa yang hidup di
lingkungan para kaskuser. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan
bergantung pada kreativitas pemakainya dan disesuaikan dengan topik
41
42
pembicaraan. Terdapat berbagai forum di dalam komunitas Kaskus dengan topik
yang berbeda-beda, namun yang dipilih sebagai sumber data di dalam penelitian
ini adalah The Lounge dan Forum Jual Beli. Kedua forum ini merupakan forum
yang paling banyak dikunjungi setiap harinya sehingga penggunaan berbagai
istilah RBK juga banyak ditemui. Di samping itu, The Lounge merupakan forum
yang membahas tentang gosip serta berbagai jenis informasi mulai dari informasi
mengenai gaya hidup, tren terbaru, hingga berita-berita terkini dari para kaskuser.
Keanekaragaman berita di dalam The Lounge menyebabkan istilah-istilah yang
digunakan juga lebih bervariasi.
RBK memiliki perbendaharaan kata dengan struktur yang beraneka ragam.
Dalam subbab ini dibahas mengenai struktur-struktur leksikal yang terdapat dalam
RBK.
4.1.1 Singkatan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008) singkatan adalah
hasil menyingkat atau memendekkan yang berupa huruf atau gabungan huruf
(misalnya, DPR, KKN, yth., dsb., dan hlm.). Fungsi penggunaan singkatan di
dalam komunitas Kaskus adalah untuk meminimalisasi penggunaan kata dalam
berkomunikasi antarsesama kaskuser.
Tabel 4.1 RBK Singkatan
No
Singkatan
Arti
Kategori S1
1
ASAP
As Soon As Possible
2
BB
Buka-bukaan
43
3
BRP
Bad Reputation Point
4
COD
Cash On Delivery
5
DP
Disturbing Picture
6
FJB
Forum Jual Beli
7
KBBK
Kamus Besar Bahasa Kaskus
8
TBC
Turut Berduka Cita
Kategori S2
9
BB+17
Buka-bukaan 17 Tahun Keatas
10
FR2
Forum Roda Dua
11
F2F
Face To Face
12
H2H
Hearth To Hearth
13
J4F
Just For Fun
Kategori S3
14
BnB
Bet and Bookies
55
BP
Berita dan Politik
16
CCPB
Cara Curang dan Program Bajakan
17
KSP
Kritik Saran dan Pertanyaan
18
OANC
Outdoor Adventure and Nature Club
Kategori S4
19
BNWOT
Brand New Without Tag
20
BW
Bandwidth
21
BWK
Bandwidth Killer
22
DL
Download
44
Tabel 4.1 di atas menunjukkan RBK bentuk singkatan yang sering
digunakan di dalam komunitas Kaskus. Singkatan tersebut diklasifikasikan ke
dalam empat kategori berdasarkan struktur dan proses pembentukannya.
1. Kategori S1
Singkatan-singkatan yang diklasifikasikan ke dalam kategori S1 memiliki
struktur yang sama dengan singkatan pada umumnya, dibentuk dengan
menuliskan huruf awal dari tiap-tiap kata penyusunan. Berikut ini
merupakan contoh penggunaan singkatan kategori S1 di dalam komunitas
Kaskus.
(L1) VicVenz (Kaskus Addict)
Ahirnya jadi
HT
pertama ane.
„Akhirnya menjadi Hot Tread pertama Saya.‟
HT merupakan singkatan yang sering digunakan di dalam komunitas
Kaskus, dan merupakan kepanjangan dari Hot Thread. Istilah ini diberikan
kepada thread yang berhasil masuk ke dalam halaman utama Kaskus dan
biasanya dipilih oleh para staff Kaskus berdasarkan kepopuleran dari
thread tersebut.
(L2) Sahabat2ku (Kaskus Addict)
Terus
TS
jawabannya apa?
„Lalu Thread Starter jawabannya apa?‟
TS merupakan singkatan dari Thread Starter dan digunakan untuk
menyebutkan seseorang yang mem-post thread untuk pertama kalinya.
Pada kedua contoh di atas dapat dilihat bahwa singkatan pada
kategori S1 dibentuk dengan menggunakan huruf awal dari seluruh kata
penyusunnya. Contoh lainya,
45
ASAP = As Soon As Possible
COD = Cash On Delivery
FJB
= Forum Jual Beli.
2. Kategori S2
Kategori S2 merupakan kelompok singkatan dengan struktur berbeda
dengan singkatan pada kategori S1. Singkatan jenis ini tidak hanya
melibatkan huruf pertama dari tiap-tiap kata pembentuknya, melainkan
juga menggunakan angka dengan berbagai informasi yang terkandung di
dalamnya.
(L3) Catroch (Kaskus Addict)
Maaf gan, rada BB+17
„Maaf juragan, agak Buka-bukaan 17 tahun ke atas.‟
BB+17 merupakan singkatan dari Buka-bukaan 17 tahun ke atas.
Singkatan ini digunakan untuk menyatakan konten di dalam Kaskus yang
diperuntukkan bagi Kaskuser yang berusia 17 tahun atau lebih.
(L4) Charize (Aktivis Kaskus)
Salah forum gan, harusnya di FR2
„Salah forum juragan, harusnya di Forum Roda Dua.‟
FR2 merupakan singkatan dari Forum Roda Dua. Berbeda dengan angka
pada BB+17 yang menunjukan umur, angka pada singkatan FR2
menunjukan jumlah, roda pada kendaraan bermotor. Forum ini merupakan
tempat bagi Kaskuser yang menyukai otomotif khususnya kendaraan roda
dua untuk saling bertukar informasi tentang motor, dimulai dari
keunggulan dan kekurangan dari motor tertentu, suku cadang, hingga
modifikasi motor.
46
(L5) Dwisuli (Kaskus Addict)
Mending diomongin
F2F
aja gan..
„Lebih baik dibicarakan Face to Face saja juragan.‟
(L6) addictlover86 (Kaskuser)
Kalo
mo curhat di forum
H2H
gan…
„Kalau mau curhat di forum Heart to Heart juragan.‟
Angka 2 pada singkatan yang terdapat pada kedua contoh di atas tidak
menunjukkan umur maupun jumlah. Angka ini merupakan bentuk singkat
dari kata „to‟ dalam bahasa Inggris.
F2F
= Face to Face
H2H
= Heart to Heart
Penggunaaan angka 2 sebagai pengganti dari „to‟ disebabkan persamaan
pelafalan 2 dalam bahasa Inggris [tu:] dengan „to‟ [tu:].
(L6) surya.astina86 (Kaskus Addict)
Hahaha J4F gan..
„Hahaha Just For Fun juragan.‟
Sama seperti kedua singkatan di atas, angka pada 4 pada singkatan ini juga
merupakan bentuk singkat dari kata bahasa Inggris „for‟. J4F berarti Just
For Fun.
Pelafalan angka 4 dalam bahasa Inggris [f:(r)] memiliki
kemiripan dengan pelafalan kata „for‟ [fә(r)], sehinggan 4 digunakan
sebagai pengganti dari „for‟.
3. Kategori S3
Singkatan yang termasuk ke dalam kategori S3 merupakan singkatan yang
bentuk panjangnya mengandung kata sambung „dan‟ maupun „and‟ dalam
singkatan yang berbahasa Inggris. Walaupun kelima singkatan tersebut
memiliki ciri yang sama, namun terdapat perbedaan struktur dalam proses
47
pembentukannya. Sebagian besar singkatan tersebut mengalami pelesapan
huruf awal dari kata sambung „dan‟ maupun „and‟ dari bentuk panjangnya,
misalnya ,
(L7) Maleng (Kaskus Holic)
kekny
ni repost dri forum BP
gan…
„Sepertinya ini repost dari forum Berita dan Politik gan.‟
(L8) BoanDevlane (Kaskus Addict)
ane sering liat d OANC tuh. lbh lengkap disono..
„Saya sering lihat di Outdoor Adventure and Nature Club
tuh. Lebih lengkap disana‟
BP
= Berita dan Politik
OANC = Outdoor Adventure and Nature Club
Apabila mengikuti kaidah singkatan pada umumnya yang menuliskan
huruf awal dari tiap-tiap kata penyusunnya, „Berita dan Politik‟ seharusnya
disingkat BDP, namun dalam hal ini huruf awal dari kata sambung „dan‟
dilesapkan sehingga menjadi BP. Begitu pula dengan kata sambung „and‟
pada singkatan yang berbahasa Inggris.
Pada singkatan yang lain ditemukan pula bahwa kata sambung „and‟ tidak
dilesapkan huruf awalnya, namun digantikan dengan sebuah konsonan
tunggal seperti pada contoh di bawah ini,
(L9) tHe LoSeR (Kaskus Addict)
dlo Forum BnB menjadi salah satu andalan di Kaskus..
„Dulu Forum Bet and Bookies menjadi salah satu andalan di
Kaskus.‟
BnB merupakan singkatan dari Bet and Bookies. Kata sambung „and‟
digantikan dengan fonem /n/. Pemilihan fonem ini karena terdapat
kemiripan pelafalan antara /and/ dan /n/, yakni [әn] dan [en].
48
4. Kategori S4
Pada kategori S4 terdapat empat singkatan dimana kata maupun salah satu
kata penyusunnya disingkat dengan dua huruf sekaligus. Pada dasarnya
kata-kata tersebut merupakan gabungan dua kata yang menimbulkan
makna baru, sehingga singkatannya diperoleh dengan menulis huruf awal
dari kata-kata penyusun gabungan kata tersebut.
(L10) gadingfly (Aktivis Kaskus)
link DL nya mana gan? ud ga sabar ni…
„Link Download-nya di mana juragan? Sudah tidak sabar nih.‟
DL merupakan singkatan dari kata Download. Down bermakna „ke bawah
atau turun‟ dan load yang bermakna „membawa‟. Gabungan keduanya
membentuk download dan menimbilkan makna baru yakni menyalin data
ke komputer. Singkatan DL debentuk dengan menuliskan huruf awal dari
Down dan Load. Contoh lainnya,
BNWOT
= Brand New WithOut Tag
BW
= BandWidth
Di samping keempat kategori di atas, beberapa singkatan dalam RBK juga
berhomonim dengan singkatan yang sudah dikenal di masyarakat. Homonim
merupakan dua istilah atau lebih yang ejaan dan lafalnya sama namun maknanya
berbeda. Kata-kata yang berhomonin tersebut disajikan pada tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Singkatan yang Berhomonim
No
Homonim
Makna RBK
Makna Sehari-hari
1
BB
Buka-bukaan
Blackberry
49
2
DP
Disturbing Picture
Down Payment
3
FBI
Fans Bang Ipul
Federal Bureau Investigation
4
JK
Just Kidding
Jusuf Kalla
5
RS
Roy Suryo
Rumah Sakit
6
SP
Surat Pembaca
Surat Peringatan
7
TBC
Turut Berduka Cita
Tuberculosis
8
WTS
Want To Sell
Wanita Tuna Susila
4.1.2 Akronim
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), akronim adalah
kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang
ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
Tabel 4.3 Akronim
No
Akronim
Arti
Kategori A1
1
Alay
Anak Layangan
2
Copas
Copy Paste
3
Delon
Derita Loe Nyet
4
Formil
Forum Militer
5
Forsup
Forum Supranatural
6
Gajebo
Ga Jelas Bo
7
Hode
Hoax Detected
50
8
Japri
Jalur Pribadi
9
Kaskus
Kasak Kusuk
10
Kopdar
Kopi Darat
11
Maho
Manusia Homo
12
Nocan
Nomor Cantik
13
Ongkir
Ongkos Kirim
14
Rekber
Rekening Bersama
Kategori A2
15
Fovie
Forum Movie
Kategori A3
16
Cacat
Calon Cantik
17
Milis
Mailing List
18
Perpakin
Persatuan Pertamax Indonesia
Kategori A4
19
PertamaX
Pertama Kali
Tabel 4.3 memuat tentang akronim-akronim yang digunakan di dalam
komunitas Kaskus. Sama halnya dengan singkatan, akronim RBK juga
diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori.
1. Kategori A1
Akronim yang diklasifikasikan ke dalam kategori A1 dibentuk dengan
menggabungkan huruf, suku kata awal, ataupun bagian awal dari kata-kata
51
penyusunnya. Berikut ini merupakan beberapa contoh penggunaan
akronim di dalam komunitas Kaskus.
(L11) addictlover86 (kaskuser)
Ongkirnya brapa gan?
„Ongkos kirimnya berapa juragan?‟
Ongkir merupakan akronim dari ‟Ongkos Kirim‟. Dalam hal ini akronim
dibentuk dengan menggabungkan suku kata awal dari setiap kata
penyusunnya. Contoh lainnya,
Copas = Copy Paste
Formil = Forum Militer
Kaskus = Kasak Kusuk
Di samping menggunakan suku kata awal dari kata penyusunnya, beberapa
akronim hanya menggunakan huruf awal dari salah satu kata penyusunnya.
(L12) Frustate (Kaskus Addict)
Hahaha delon… kasian deh lu gan…
„Hahaha Derita lo nyet.. Kasihan deh kamu juragan.‟
Di dalam RBK delon memiliki kepanjangan „derita lo nyet‟. Dalam hal ini
terdapat satu kata yang diambil huruf awalnya saja, bukan suku kata
awalnya. Hal ini berkaitan dengan kecenderungan Kaskuser dalam
membentuk kata-kata baru yang sederhana dan mudah diingat. Delon
merupakan nama salah seorang penyanyi pria yang terkenal di Indonesia,
sehingga kata ini sudah sangat familiar di telinga masyarakat.
(L13) wedocare (Kaskus Donator)
ni anak beda tipis antara alay ama maho..
„Ini anak beda tipis antara Anak Layangan sama maho.‟
52
Alay merupakan akronim dari Anak Layangan. Berbeda dengan Delon,
akronim ini dibentuk dengan menggabungkan huruf awal dari kata
pertama dan tiga huruf awal kata kedua. Pemilihan Alay dibandingkan
Anla (dengan menggabungkan suku kata awal kata penyusunnya) juga
berkaitan dengan kecenderungan kaskuser dalam membentuk kata baru
yang lebih santai dan mudah diingat.
2. Kategori A2
Akronim pada kategori A2 pada dasarnya merupakan pengecualian dari
kategori A1. Berikut ini merupakan contoh penggunaan akronim jenis ini
di dalam Kaskus.
(L14) DamnBusteR (Kaskus Maniac)
kmaren ane liat link ny di fovie tuh..
„Kemarin saya lihat linknya di Forum Movie tuh.‟
Fovie merupakan akronim dari Forum Movie. Dalam hal ini akronim
dibentuk tidah hanya menggunakan bagian awal, melainkan juga dengan
bagian akhir dari salah satu kata penyusunnya.
3. Kategori A3
Kategori ini merupakan akronim yang dibentuk tidak hanya menggunakan
suku kata dari kata penyusunnya, namun juga bagian dari kata tersebut
yang diambil secara acak.
(L15) Ultima (Kaskus Addict)
Gile ne cew, cacat nie gan
„Gila ini cewek, calon cantik nih juragan.‟
Dalam RBK cacat merupakan akronim yang berarti „calon cantik‟. Dalam
hal ini bagian dari kata kedua diambil secara acak atau tidak berurutan.
53
Hal ini bertujuan untuk membentuk kata baru yang berhomonim dengan
kata bahasa Indonesia sehingga familiar di telinga orang Indonesia. Dalam
bahasa Indonesia cacat berarti „tidak sempurna‟.
Di samping bertujuan untuk membentuk homonim, pembentukan akronim
kategori A3 ini juga bertujuan untuk menyederhanakan pelafalan agar
lebih mudah diucapkan, yakni:
Perpakin = Persatuan Pertamax Indonesia
Milis
= Mailing List
4. Kategori A4
Akronim yang diklasifikasikan ke dalam kategori A4 ini memiliki
keunikan
tersendiri,
yakni
menggunakan
sebuah
simbol
untuk
menggantikan salah satu kata penyusunnya.
(L16) ramozeven (kaskuser)
PertamaX diamankan.
„(Gelar) „Pertama Kali‟ diamankan.‟
PertamaX merupakan akronim dari „Pertama Kali‟. Dalam hal ini kata
„kali‟ digantikan dengan simbol „X‟ yang merupakan salah satu tanda
penghitungan untuk mengalikan sebuah bilangan dengan bilangan lainnya
(dibaca „kali‟). Namun sebagai sebuah akronim, PertamaX dilafalkan
sama seperti pertamax yang dalam bahasa Indonesia berarti salah satu
jenis bahan bakar kendaraan bermotor.
4.1.3 RBK Bentuk Ringkas
54
Bahasa dalam Ragam Bahasa Kaskus juga didominasi oleh pemakaian
bentuk ringkas. Pemakaian bentuk ringkas ini berkaitan dengan kecenderungan
mengurangi sebanyak-banyaknya aktivitas mental dan fisik dalam berbahasa,
namun tidak mengurangi kejelasan informasi yang disampaikan (Martinet dalam
Hoed, 1977:3).
Tabel 4.4 RBK Bentuk Ringkas
No
Bentuk Ringkas
Bentuk Asli
Kategori R1
1
Admin
Administrator
2
Bro
Brother
3
Donat
Donator
4
Id
Identitas
5
Mov
Movie
6
Re
Reply
7
Req
Request
8
Sis
Sister
9
Sob
Sobat
Kategori R2
10
Agan
Juragan
11
Gan
Juragan
Kategori R3
12
Fwd
Forward
13
Img
Image
55
Kategori R4
14
Aq
Aku
15
Gw
Gue
Bentuk-bentuk ringkas ini dibentuk dengan meringkas atau menyingkat
bentuk aslinya. Di samping mengurangi aktivitas berbicara, bentuk ringkas juga
digunakan untuk mengurangi aktivitas menulis, karena pada dasarnya RBK
merupakan salah satu bentuk bahasa lisan yang ditulis atau dalam hal ini secara
spesifik diketik pada layar komputer.
Bentuk ringkas RBK juga dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
kategori.
1. Kategori R1
Bentuk ringkas dengan kategori R1 dibentuk melalui penggunaan bagian
awal dan pelesapan bagian akhir kata aslinya.
(L17) Fishing (Kaskus Addict)
Coba tanya admin aja gan..
„Coba tanya administrator saja gan.‟
Admin merupakan bentuk ringkas dari administrator. Dalam hal ini dapat
dilihat bahwa kata administrator dibagi menjadi dua bagian, namun yang
digunakan hanya setengah bagian awalnya, sedangkan setengah bagian
akhirnya dilesapkan. Bentuk ringkas jenis ini bertujuan untuk mengurangi
aktivitas berbicara, namun tidak mempengaruhi makna dari suatu
informasi yang disampaikan. Contoh lainnya yakni:
Donat = Donator
56
Re
= Reply.
2. Kategori R2
Bentuk ringkas kategori R2 merupakan kebalikan dari kategori R1. Jika
pada kategori satu bagian yang digunakan adalah bagian awal, pada jenis
ini bagian yang digunakan adalah bagian akhir, sedangkan bagian awalnya
dilesapkan.
(L18) bukhori354 (kaskuser)
Satu lagi gan jangan lupa berdoa.
„Satu lagi juragan, jangan lupa berdoa.‟
Bentuk asli dari gan maupun agan adalah juragan. Fungsi dari bentuk
ringkas kategori ini sama seperti pada kategori R1.
3. Kategori R3
Kategori R3 meliputi bentuk ringkas yang dibentuk melalui penghilangan
seluruh huruf vokal dari bentuk aslinya
(L19) dasaRRR (Kaskus Addict)
Img-nya kagak nongol gan…
„Image-nya tidak kelihatan gan.‟
Img merupakan bentuk ringkas dari kata image. Dalam peringkasan ini
semua huruf vokal dari bentuk aslinya dihilangkan.
Pada contoh lain bahkan tidak hanya seluruh vokal yang dihilangkan,
melainkan juga beberapa konsonan.
(L20) Apaan.donk (Kaskus Holic)
Jangan lupa difwd ya..
„Jangan lupa diforward ya.‟
57
Fwd merupakan bentuk ringkas dari forward dengan menghilangkan
seluruh vokal serta dua konsonan (r) yang sering tidak dilafalkan dalam
bahasa Ingrgis.
Pembentukan bentuk ringkas kategori 3 ini hanya bertujuan untuk
mengurangi aktivitas menulis karena dalam pelafalannya bentuk ringkas
ini tetap dilafalkan seperti bentuk aslinya.
4. Kategori R4
Bentuk ringkas pada kategori R4 dibentuk dengan mengganti dua fonem
menjadi fonem tunggal.
(L21) videvat (Kaskus Holic)
Gw lihat, ini perkimpoian ga lebih dari "Money Talks"
„Saya lihat, perkawinan ini tidak lebih dari Money Talks.‟
Gw merupakan bentuk ringkas dari gue. Dalam hal ini gabungan dua
fonem /ue/ digantikan dengan fonem tunggal /w/ karena kemiripan
pelafalan (/w/ dilapalkan /we/. Contoh lainnya yakni:
Aq
= aku
Fonem /q/ dalam bahasa Inggris dilafalkan [kju:] juga memiliki kemiripan
dengan pelafalan [ku].
4.1.4 RBK Bentuk Plesetan
Plesetan
merupakan
bentuk
dalam
situasi
tidak
resmi
yang
pembentukannya menggunakan lambang dan istilah tertentu yang tentu saja ingin
memaknakan sesuatu. Plesetan mengutamakan atau memanfaatkan secara
maksimal pembentukan berbagai pernyataan dan aneka makna secara “sewenangwenang” karena memiliki kaitan dengan pertanda-makna-realitas empirik. Secara
58
garis besar, bentuk Plesetan dalam RBK diklasifikasikan ke dalam dua kelompok,
yakni: (1)Plesetan Sebagian; (2) Plesetan Total.
4.1.4.1 Plesetan Sebagian
Plesetan jenis ini dibentuk dengan memplesetkan sebuah kata menjadi kata
baru dengan tetap menggunakan sebagian dari bentuk aslinya.
Tabel 4.5 Plesetan Sebagian
No
Kata
Bentuk Asli
Kategori PS1
1
Dobol
Double Post
2
Lebay
Lebih
3
Maintenis
Maintenance
4
Mikocok
Microsoft
5
Repsol
Repost
6
Sotoy
Sok tahu
Kategori PS2
7
Kamsud
Maksud
8
Sotosop
Photoshop
Kategori PS3
9
Mimin
Admin
10
Momod
Moderator
Kategori PS4
11
Boneng
Bener
12
Prikitiw
Preview
59
Pada tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa terdapat 12 plesetan sebagian
yang diklasifikasikan ke dalam empat kategori berdasarkan bagian bentuk asli
yang masih dipertahankan.
1. Kategori PS1
Dalam kategori ini, pola pembentukan plesetannya adalah dengan
mempertahankan sebagian bentuk awal kata.
(L22) Couzar (Kaskus Addict)
Server lagi maintenis, jadi terganggu gan..
„Server lagi maintenance, jadi terganggu juragan.‟
(L23) falrylea (Kaskus Addict)
Repsol ni gan.. basi..
„Repost ini juragan, basi.‟
Pada kedua contoh di atas dapat dilihat bahwa plesetan sebagian dibentuk
dengan mempertahankan sebagian bentuk awalnya,
Maintenis
= maintenance
Repsol
= repost,
sedangkan bagian akhirnya diplesetkan sehingga membentuk kata baru
yang terdengar lucu dan mudah diingat.
2. Kategori PS2
Jika pada kategori PS1 yang dipertahankan adalah sebagian bentuk
awalnya, pada kategori ini yang dipertahankan adalah sebagian bentuk
akhir dari bentuk aslinya.
(L24) cyberheart (Aktivis Kaskus)
Wah2 ini beneran apa sotosop neh?
„Wah, ini benar apa photoshop nih?‟
60
Satosop
merupakan
plesetan
sebagian
dari
Photoshop,
dengan
mempertahankan sebagian bentuk akhirnya dan disertai penyederhanaan
pelafalan yakni penggantian fonem /sh/ dengan /s/.
3. Kategori PS3
Pada kategori ini, plesetan sebagian dibentuk melalui pengulangan
sebagian dari bentuk asli kata tersebut.
(L25) AlvaClipton.Jr (Kaskus Addict)
Terima Kasih mimin, momod, & kaskuser.
„Terima Kasih administrator, moderator, dan kaskuser.‟
Mimin = Admin
Momod= Moderator
Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa terjadi pengulangan sebagian
bentuk asli katanya, baik bagian awal maupun bagian akhirnya.
4. Kategori PS4
Kategori ini merupakan plesetan sebagian yang pembentukannya tidak
teratur. Bagian yang dipertahankan diambil secara acak dari huruf-huruf
penyusun bentuk aslinya.
(L26) surya.astina (Kaskus Addict)
Ah yang boneng gan?
„Ah yang bener juragan?‟
Boneng merupakan plesetan dari „bener‟. Bagian-bagian yang dicetak
tebal merupakan bagian yang dipertahankan dari bentuk aslinya. Contoh
lainnya yakni:
Prikitiw = Preview
61
4.1.4.2. Plesetan Total
Plesetan ini merupakan bentuk plesetan yang tidak mengambil bagian
bentuk aslinya. Plesetan merupakan bentuk dalam situasi tidak resmi yang
pembentukannya menggunakan lambang dan istilah tertentu yang tentu saja ingin
memaknakan sesuatu. Dengan kata lain, bentuk yang baru sangat berbeda dengan
bentuk aslinya.
Tabel 4.6. Plesetan Total
No
Plesetan
Arti
1
Cendol
reputasi bagus
2
Bata Merah
reputasi buruk
3
Klonengan
hasil kopian
4
Kimpoi
kawin
5
Sedot
download
6
Kulkas
control panel
7
Afgan
sadis
8
Dejavu
thread yang diulang
9
Dodol
lambat, lemot, jelek
10
Hansip
lapor penyalahgunaan
11
Kolor ijo
cendol
12
Ijo-ijo
cendol
Plesetan-plesetan pada tabel 4.6 di atas mengutamakan atau memanfaatkan
secara maksimal pembentukan berbagai pernyataan dan aneka makna secara
“sewenang-wenang” karena memiliki kaitan dengan pertanda-makna-realitas
62
empirik. Misalnya hasil kopian diplesetken menjadi klonengan (berasal dari kata
cloning) yang secara biologis berarti membuat kembaran suatu makhluk hidup
dengan menggunakan DNA-nya. Contoh pemakaiannya dalam RBK:
(L27) HeRosHima (Kaskus Addict)
Yang ngasi cendol sertakan ID ente gan.
„Yang mamberi reputasi bagus sertakan ID kamu juragan.‟
4.1.5 RBK Yang Mengalami Penyederhanaan Pelafalan
Tabel 4.7 RBK Yang Yang Mengalami Penyederhanaan Pelafalan
No
Kata
Arti
1
Bukmak
Bookmark
2
Donlot-donlod
Download
3
Inpo - inpoh
Info
4
Mantab
Mantap
5
Nais – naiz
Nice
6
Nubi
Newbie
7
Tengkyu
Thank you
Kata-kata pada tabel 4.7 di atas dibentuk dengan menyederhanakan pengucapan
dari kata-kata aslinya, yang pada umumnya berasal dari bahasa Inggris. Tujuan
dari penyederhanaan ini adalah untuk lebih mempermudah dalam pengucapannya,
misalnya:
Kata donlot lebih mudah diucapkan daripada kata download [dan‟lәd]
Kata tengkyu lebih mudah diucapkan daripada thank you [ŋkju:]
63
Di samping untuk mempermudah pengucapan, penyederhanaan ini juga bertujuan
untuk mengurangi aktivitas menulis, karena RBK merupakan salah satu bentuk
bahasa lisan yang diketik pada layar komputer, contohnya:
nubi = newbie
bukmak = bookmark
Contoh pemakaian bentuk ini dalam RBK:
(L28) nyepultura (Kaskus Addict)
Nais info.
„Nice info.‟
(L29) newbiewell (Auto Banned)
Btw bukmak dulu ah mungkin ada update lagi tah.
„By the way bookmark dulu ah mungkin ada update lagi.‟
4.1.8 RBK Bentuk Campuran
Bentuk campuran merupakan kata-kata RBK yang proses pembentukannya
melalui lebih dari satu tahap.
a. Anak yang norak
Anak Layangan
plesetan
Alay
akronim
Kata alay merupakan bentuk campuran yang terbentuk dari bentuk
plesetan dan akronim. Pembentukan kata alay melalui proses pemlesetan
„anak yang norak‟ menjadi anak layangan. Selanjutnya Anak Layangan
dibentuk menjadi akronim, yakni Alay.
b. Mailing List
Mailis
akronim
Milis
penyederhanaan pelafalan
Milis terbentuk melalui dua proses, yakni akronim dan penyederhanaan
pelafalan.
Mailing List dibentuk menjadi akronim Mailis yang selanjutnya
mengalami penyederhanaan pelafalan menjadi Milis.
64
c. Administrator
Admin
peringkasan
Mimin
pengulangan bag.akhir
Mimin juga terbentuk melalui dua tahapan proses. Kata administrator diringkas
menjadi admin, selanjutnya diplesetkan (mengalami pengulangan bagian akhir)
sehingga menjadi mimin.
4.2 Proses Pemaknaan Leksikal
Leksikal dalam RBK memiliki makna yang beraneka ragam. Beberapa
makna merupakan makna literal atau makna sesungguhnya, namun tidak sedikit
pula yang mengandung makna nonliteral. Dengan kata lain, terdapat makna kiasan
yang berbeda dengan makna asli kata tersebut.
Menurut Lyons (1977) „leksem‟ berhubungan dengan kata „leksikal‟ dan
„leksikon‟, dimana leksikon itu sendiri mengacu pada makna yang terdapat di
dalam kamus. Jadi, untuk mengetahui makna leksikal sebuah leksem atau kata
dapat dilakukan dengan melihat makna dari kata tersebut di dalam kamus. Begitu
pula dengan RBK, sebagian besar proses pemaknaan leksikalnya melalui proses
pengembalian ke bentuk panjang maupun bentuk asli dari kata tersebut yang
terdapat pada Kamus Besar Bahasa Kaskus, sehingga maknanya dapat terlihat.
BRP
= Bad Reputation Point (Poin reputasi buruk)
Alay
= Anak Layangan
Admin =Administrator.
Repsol = Repost
Bukmak= Bookmark
Namun, terdapat beberapa kata yang setelah dikembalikan ke bentuk panjang
maupun bentuk aslinya masih harus diamati secara mendalam karena mengandung
65
makna berkonotasi negatif yang biasanya digunakan untuk mengejek atau
mengolok-olok, di antaranya:
1. Delon seperti pada contoh (L12) merrupakan akronim dari „derita lo nyet‟.
Kata „nyet‟ pada bentuk ini memiliki konotasi negatif karena merupakan
bentuk ringkas dari kata “monyet”, sehingga memiliki kesan kasar dan
tidak sopan karena menyebutkan manusia dengan sapaan binatang.
2. (L30) yamino (Kaskus Maniac)
Nie barang OC gan, tapi mirip bgt aslinya..
„Ini barang original Cina juragan, tapi mirip sekali dengan aslinya.‟
OC berarti Ori Cina, merupakan barang palsu yang hampir sama dengan
bentuk aslinya. Bentuk ini juga mengandung konotasi negatif karena
dalam hal ini Cina dianggap sebagai negara penghasil barang-barang
palsu.
3. (L31) thedmk (Kaskuser)
Mereka kepergok lagi kimpoi ya??
„Mereka kepergok sedang kawin ya?‟
Menurut kamusgaul.com kimpoi berasal dari Bahasa Batak yang artinya
“kawin atau menikah”. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kimpoi dan
kawin adalah dua kata yang bersinonim. Namun, dalam penggunaannya
dalam RBK kata kimpoi mengalami perubahan makna yang disebut
dengan peyorasi yaitu makna kata yang menurun. Kata kimpoi dengan
makna sebenarnya adalah kawin atau menikah, dalam RBK memiliki nilai
rasa yang negatif, yaitu diartikan sebagai melakukan hubungan seksual di
luar pernikahan atau lebih dikenal dengan kawin di luar nikah.
66
Di samping proses pemaknaan di atas, beberapa kata di dalam RBK yang
sebagian besar merupakan bentuk plesetan mengalami proses pemaknaan yang
tidak sederhana. Dalam RBK makna kata bentuk ini dalam sangat berbeda dengan
makna sebenarnya
yang dikenal oleh masyarakat secara luas. Proses
pemaknaannya dapat dibagi menjadi dua, yakni bentuk yang menggunakan gaya
bahasa metafora dan metonimi.
4.2.1 Bahasa Figuratif Pada RBK
Abrams (1981:63) menyatakan bahwa bahasa figuratif atau kiasan
merupakan penyimpangan dari bahasa yang digunakan sehari-hari, penyimpangan
dari bahasa baku atau standar, penyimpangan makna, dan penyimpangan susunan
(rangkaian) kata-kata supaya memperoleh efek tertentu atau makna khusus.
Bahasa figuratif pada RBK dibagi menjadi dua, yakni metafora dan metonimi.
4.2.1.1 Metafora
Beekman dan Callow (1974) menyatakan metafora sebagai suatu
perbandingan yang implisit dan terdiri atas tiga bagian, yaitu (a) topik, yaitu
benda atau hal yang dibicarakan; (b) citra, yaitu bagian metaforis dari majas
tersebut
yang
digunakan
untuk
mendeskripsikan
topik
dalam
rangka
perbandingan; (c) titik kemiripan, yaitu bagian yang memperlihatkan persamaan
antara topik dan citra. Berikut ini merupakan kata-kata yang menggunakan gaya
bahasa metafora beserta contoh dan pembahasannya.
(L32) yls22 (Kaskuser)
Wah alay lo gan..
„Wah anak layangan kamu juragan.‟
67
Dalam RBK alay merupakan akronim dari anak layangan yang berarti orang yang
kampungan. Gaya bahasa ini termasuk ke dalam metafora yang mengandung
unsur-unsur yang kadang-kadang tidak disebutkan secara eksplisit. Sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Beekman dan Callow (1974) bahwa metafora terdiri
atas tiga bagian, yaitu topik, citra, dan titik kemiripan, maka proses
pemaknaannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Topik: orang yang norak atau kampungan
b. Citra: anak layangan
c. Titik Kemiripan antara topik dan citra terletak pada layangan itu
sendiri. Layangan merupakan permainan yang banyak dimainkan
anak-anak, khususnya di daerah pedesaan maupun pinggiran kota
atau kampung. Oleh karena itu orang yang senang bertingkah laku
norak atau kampungan diidentikan dengan anak layangan.
(L33) Momodlemon (Kaskuser)
Nocan nie gan, makany harganya mahal..
„Nomor cantik nie juragan, makanya harganya mahal.‟
Di dalam RBK, nocan merupakan akronim dari nomor cantik, yakni nomor
telepon dengan kombinasi angka yang bagus. Gaya bahasa ini merupakan
mertafora dengan proses pemaknaan sebagai berikut:
a. Topik: nomor dengan kombinasi angka yang bagus
b. Citra: nomor cantik
c. Titik Kemiripan antara topik dan citra terletak pada kesamaan
keduanya dalam menarik perhatian banyak orang. Nomor yang
68
memiliki kombinasi angka bagus tentu membuat pembeli tertarik
untuk memilikinya karena dapat mempermudah dalam mengingat
nomor tersebut. Sama halnya dengan kata cantik yang umumnya
mengacu pada perempuan cantik, juga mampu membuat orangorang tertarik untuk mendekati, bahkan memilikinya.
(L34) Baracuda212 (Kaskus Addict)
Jangan lupa :cendol donk gan
„Jangan lupa reputasi bagus dong juragan.‟
Dalam RBK Cendol merupakan sebutan bagi kotak kecil berwarna hijau yang
berfungsi untuk memberi reputasi bagus kepada seseorang di Kaskus. Makna ini
merupakan makna figuratif atau makna kiasan yaitu pemakaian leksem dengan
makna yang tidak sebenarnya. Cendol yang dikenal sehari-hari merupakan
minuman khas Indonesia yang terbuat dari tepung beras yang diberi pewarna
berwarna hijau dan dicetak melalui saringan khusus, sehingga berbentuk buliran,
disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan. Gaya bahasa ini
termasuk ke dalam metafora yang mengandung unsur-unsur yang kadang-kadang
tidak disebutkan secara eksplisit. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Beekman dan Callow (1974) bahwa metafora terdiri atas tiga bagian, yaitu topik,
citra, dan titik kemiripan, maka proses pemaknaannya dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Topik: kotak kecil berwarna hijau yang biasanya tercantum di
bawah ID Kaskuser untuk memberi reputasi bagus.
69
b. Citra: Cendol, minuman tradisional Indonesia yang berwarna hijau
dan memiliki rasa yang manis dan gurih
c. Titik Kemiripan antara topik dan citra terletak pada warna hijau
dan sama-sama memiliki kesan bagus. Cendol berupa kotak kecil
berwarna hijau yang dimiliki oleh para kaskuser dan menunjukkan
reputasi bagus. Semakin banyak cendol yang dimiliki, berarti
semakin bagus pula reputasinya di mata kaskuser yang lain. Sama
halnya dengan minuman cendol yang memiliki kesan bagus dalam
hal rasa, yakni manis dan gurih.
(L35) addict.lover86 (Kaskuser)
Jangan di :bata ya gan
„Jangan diberi reputasi buruk ya juragan.‟
Batu bata merupakan salah satu bahan material sebagai bahan pembuat dinding.
Batu bata terbuat dari tanah liat yang dibakar sampai berwarna kemerah merahan.
Dalam RBK bata memiliki makna yang berbeda, yaitu kotak kecil berwarna
merah seperti bata untuk memberi reputasi jelek kepada seseorang di Kaskus.
Makna ini juga merupakan makna figuratif atau kiasan dengan menggunakan gaya
bahasa metafora. Apabila dianalisis dengan teori Beekman dan Callow (1974)
tentang topik, citra, dan tingkat kemiripan, maka proses pemaknaannya adalah
sebagai berikut:
a. Topik: kotak kecil berwarna merah yang biasanya tercantum di
bawah ID Kaskuser untuk memberi reputasi jelek.
b. Citra: Batu bata, bahan material yang terbuat dari tanah liat yang
dibakar sampai berwarna kemerah-merahan.
70
c. Titik Kemiripan antara topik dan citra terletak pada warna merah
dan sama-sama menimbulkan kesan jelek dan perasaan sedih. Bata
berupa kotak kecil berwarna merah yang dimiliki oleh para
kaskuser, menunjukkan reputasi jelek. Setiap kaskuser yang
menerima bata berupa kotak merah pasti merasa sedih karena
dianggap memiliki reputasi yang jelek, sama halnya dengan
perasaan sedih yang dialami seseorang apabila dilempari dengan
batu bata.
(L36) Wanx.wanx (Kaskus Holic)
Klonengan nie gan… Parah lo..
„Hasil kopian nie juragan. Parah kamu.‟
Kata klonengan berasal dari kata kloning yang dalam bidang ilmu biologi
merupakan proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi)
yang identik secara genetik. Dalam RBK kloningan (hasil dari proses kloning)
merupakan bentuk plesetan dari hasil kopian (sesuatu yang diperoleh dengan
mengopi bentuk aslinya. Proses pemaknaan gaya bahasa metafora ini dengan
menggunakan teori Beekman dan Callow (1974) adalah sebagai berikut:
a. Topik: Hasil kopian
b. Citra: Klonengan
c. Tingkat Kemiripannya terletak pada proses dan hasil. Dalam
kloning dilakukan aktivitas menyalin berkas DNA atau gen, sel
atau organisme, mirip dengan aktivitas meng-kopi suatu teks atau
sumber. Keduanya juga memiliki kemiripan dalam hasil dimana
71
keduanya menghasilkan bentuk yang identik atau sama seperti
aslinya.
(L37) pamanusu (Aktivis Kaskus)
Sedot terus gan, nih ane kasih link yang laen..
„Download terus juragan, ini Saya berikan link yang lain.‟
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) sedot atau menyedot artinya
menghisap atau menghirup. Dalam RBK sedot merupakan kata yang digunakan
untuk menyebutkan istilah download yang berarti menyalin data ke komputer.
Gaya bahasa ini termasuk pula dalam metafora dengan proses pemaknaan sebagai
berikut:
a. Topik: download
b. Citra: sedot
c. Titik kemiripannya terletak pada inti dari aktivitas download dan
sedot itu sendiri. Kedua kata itu mengandung makna memindahkan
sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain. Download
menyatakan proses pemindahan data dari internet ke komputer,
sedangkan sedot; misalnya dalam frasa “menyedot debu”
menyatakan proses memindahkan debu dari lantai ke vacuum
cleaner.
(L38) dimaspriyono (Kaskuser)
ga nyangka kulkas ane banyak bgt kiriman ijo2ny…
„Tidak sangka control panel Saya banyak sekali kiriman cendolnya (reputasi
bagus).‟
72
Kulkas atau lemari es adalah sebuah alat rumah tangga listrik yang menggunakan
refrigerasi (proses pendingin) untuk menolong pengawetan makanan. Kata ini
merupakan bentuk plesetan dari control panel, yang merupakan tempat untuk
melihat BRP ataupun GRP yang telah diterima. Proses pemaknaan gaya bahasa
metaforanya adalah:
a. Topik: control panel
b. Citra: kulkas
c. Titik kemiripan antara kedua kata tersebut terletak pada fungsinya.
Dalam komunitas Kaskus control panel berfungsi sebagai tempat
melihat BRP ataupun GRP dari tiap-tiap member. Dengan kata
lain, control panel merupakan tempat untuk “menyimpan” poinpoin mengenai reputasi baik ataupun buruk dari kaskuser. Dalam
hal ini terdapat kemiripan fungsi antara control panel dengan
kulkas yang juga sebagai tempat penyimpanan, yakni penyimpanan
makanan.
(L39) MomodAsli (Kaskus Addict)
Wahh dejavu nie gan..
„Wah thread yang diulang ini juragan.‟
Déjà vu adalah sebuah frasa Perancis dan artinya secara harafiah adalah „pernah
lihat‟. Maksudnya, mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami
sebelumnya. Dalam RBK kata Dejavu digunakan untuk menyatakan kata repost
atau thread yang diulang. Gaya bahasa ini tergolong metafora dengan proses
pemaknaan sebagai berikut:
73
a. Topik: repost (thread yang diulang)
b. Citra: Dejavu
c. Titik kemiripan antara keduanya terletak pada maknanya. Apabila
seorang kaskuser mengulang kembali thread yang telah dibuat oleh
kaskuser lainya, maka besar kemungkinan beberapa orang sudah
pernah melihat thread itu sebelumnya dari orang yang berbeda.
Pada umumnya kaskuser akan memberikan komentar bahwa
thread itu merupakan repost. Makna repost ini memiliki kemiripan
dengan makna kata Déjà vu yang dalam bahasa Perancis memilik
arti secara harafiah adalah „pernah lihat‟.
(L40) Charize (Aktivis Kaskus)
Provider nie koneksi dodol bro..
„Provider ini koneksi lambat brother.‟
Dodol adalah sejenis makanan yang dikategorikan dalam jenis makanan manis
yang terbuat dari santan kelapa, tepung beras, gula pasir, gula merah dan garam.
Untuk membuat dodol yang bermutu tinggi cukup sulit karena proses
pembuatannya yang lama dan membutuhkan keahlian. Dalam RBK, dodol
digunakan untuk menyatakan lambat, „lemot‟ (lemah), jelek, misalnya dalam
menyebutkan koneksi internet yang lambat biasa digunakan istilah „koneksi
dodol‟. Proses pemaknaan gaya bahasa metafora ini adalah sebagai berikut:
a. Topik: lambat, „lemot‟ (lemah), jelek
b. Citra: dodol
74
c. Titik kemiripan kedua kata tersebut dapat dilihat dari pencitraan
berikut; dodol diidentikan dengan
lambat karena proses
pembuatannya memakan waktu yang lama jadi tidak dapat
dilakukan dalam tempo yang cepat. Disamping itu tekstur dodol
yang cenderung lembek diidentikan dengan kata „lemot‟ atau
lemah dan memakannya pun memerlukan waktu yang lama karena
seringkali lengket di tangan maupun di gigi, sehingga proses
memakannya menjadi lebih lambat dibandingkan memakan kuekue yang lain. Dalam hal bentuk, dodol merupakan makanan
tradisional yang tentu saja bentuknya tidak semenarik kue-kue
modern lainnya. Bagi sebagian orang ini menimbulkan citra jelek
(tidak menarik).
Dari pembahasan di atas, dapat dilihat bahwa kata dodol juga mengalami
perumahan makna yang menurun. Dodol yang selama ini dikenal sebagi makanan
tradisional Indonesia yang harus dijaga keberadaannya, berubah makna menjadi
lambat, lemot, dan jelek yang memiliki nilai rasa negatif.
(L41) Bata.Super (Kaskuser)
Kalo lo ga terima, hansip aja ke admin..
„Kalau kamu tidak terima, lapor penyalahgunaan saja ke admin.‟
Hansip adalah adalah kependekan dari Pertahanan Sipil. Hansip dibentuk di
setiap desa, anggotanya diangkat dari masyarakat. dan bertanggung jawab atas
hal-hal yang terkait dengan keamanan dan keteraturan dan harus membantu rakyat
di pedesaan dalam kondisi darurat. Dalam RBK, kata Hansip digunakan untuk
75
menyatakan lapor penyalahgunaan apabila terdapat kaskuser yang melanggar
aturan dalam komunitas Kaskus. Gaya bahasa ini juga termasuk ke dalam
metafora dengan proses pemaknaan sebagi berikut:
a. Topik: lapor penyalahgunaan
b. Citra: Hansip
c. Tititk kemiripannya terletak pada tugas dari Hansip itu sendiri
yaitu menjaga kemanan lingkungan dan juga menerima laporan
masyarakat apabila terjadi peristiwa yang meresahkan masyarkat.
Citra inilah yang melandasi penggunaan kata Hansip untuk
menyatakan lapor penyalahgunaan dalam RBK.
(L42) Weqi (Kaskus Addict)
Jangan lupa dikasi kolor ijo ya gan..
„Jangan lupa diberi cendol (reputasi baik) ya juragan.‟
Kolor ijo merupakan bentuk plesetan dari kata cendol. Dalam dunia nyata,
fenomena kolor ijo terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana terdapat isu
mengenai makhluk yang meresahkan masyarakat dengan ciri-ciri menggunakan
kolor ijo dan selalu menyerang para wanita. Proses pemaknaan kedua kata
tersebut yang juga tergolong metafora adalah sebagai berikut:
a. Topik: cendol (kotak kecil berwarna hijau seperti cendol untuk
memberi reputasi bagus kepada seseorang di Kaskus).
b. Citra: kolor ijo
c. Titik kemiripannya terletak pada warna. Kolor ijo adalah sesosok
makhluk yang menggunakan celana kolor berwarna hijau sama
76
seperti warna pada cendol. Oleh karena itu, saat isu kolor ijo
merebak, kaskuser juga mengidentikan kolor ijo sebagai cendol
karena terdapat persamaan warna antara keduanya.
4.2.1.2 Metonimi
Metonimi adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata
untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat.
Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan, pemilik untuk barang
yang dimiliki, akibat untuk sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan
kulitnya, dan sebagainya. Parera (2004:121) menyebut metonimi sebagai
hubungan kemaknaan. Metonimi merupakan sebutan pengganti untuk sebuah
objek atau perbuatan dengan atribut yang melekat pada objek atau perbuatan yang
bersangkutan. Dari keseluruhan leksikal RBK, hanya terdapat dua kata yang
menggunakan gaya bahasa metonimi.
(L43) yls22 (Kaskus Donatur)
Afgan bgt cerita ente…
„Sadis sekali cerita kamu.‟
Afgan merupakan seorang penyanyi pria yang terkenal dari Indonesia yang
memiliki nama lengkap Afgansyah Reza. Afgan memiliki tiga buah album dengan
lagu-lagu yang terkenal antara lain Terima Kasih Cinta, Sadis, dan Padamu
Kubersujud. Dalam RBK, kata Afgan merupakan bentuk plesetan dari kata sadis,
yang merupakan judul dari salah satu lagu yang dinyanyikannya. Gaya bahasa ini
termasuk ke dalam metonimi yang mempergunakan sebuah kata untuk
menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian makna yang sangat erat.
77
Parera (2004:121-122) mengelompokkan metonimi bedasarkan atribut yang
mendasarinya, misalnya metonimi dengan relasi tempat, relasi waktu, relasi
atribut (pars prototo), metonimi berelasi penemu atau pencipta, dan metonimi
berdasarkan perbuatan. Berdasarkan pengelompokan di atas, penggunaan kata
Afgan sebagai bentuk plesetan dari kata sadis termasuk ke dalam metonimi
berdasarkan penemu atau pencipta.
(L44) Fishing (Kaskus Addict)
Ane demen nie yang ijo-ijo..
„Saya suka nih cendol hijau.‟
Dalam RBK kata Ijo-ijo juga digunakan untuk menyatakan cendol. Menurut teori
yang dikemukakan oleh Parera (2004) gaya bahasa ini termasuk ke dalam
metonimi dan berdasarkan pengelompokan Parera tergolong ke dalam pars pro
toto (menyatakan unsur bagian untuk keseluruhannya). Dalam hal ini bagian
warna dari cendol yakni ijo (hijau) digunakan untuk menyatakan cendol secara
keseluruhan.
78
BAB V
TIPE DAN MAKNA EMOTICON DALAM RBK
Emoticon merupakan ekspresi tekstual yang mewakili suasana hati atau
ekspresi wajah dari penulisnya. Dalam komunitas Kaskus, emoticon menempati
peranan yang sangat penting karena dapat menjadi sarana yang sangat efektif
untuk menghindari kesalahan penginterpretasian pesan. Selain digunakan untuk
mengekspresikan berbagai mimik wajah, emosi, gestur tubuh, maupun pesan
tertentu, emoticon juga digunakan untuk membuat pesan agar lebih menarik
dengan tampilan yang bervariasi, baik dalam hal bentuk maupun warna, seperti
pada contoh di bawah ini:
Gambar 5. Kalimat Dengan Paduan Verbal dan Emoticon
78
79
5.1 Tipe-Tipe Emoticon RBK
5.1.1 Emoticon Berdasarkan Ukuran
Secara garis besar, emoticon dalam RBK dibagi ke dalam dua tipe, yakni
emoticon berukuran kecil dan emoticon berukuran besar. Perbedaan dari kedua
tipe tersebut terletak pada ukuran serta bagian anggota tubuh yang digunakan
sebagai media ekspresi. Emoticon berukuran kecil hanya menggunakan anggota
badan bagian kepala karena di dalamnya terdapat wajah yang mampu
mengekspresikan berbagai perasaan. Emoticon berukuran besar tidak hanya
menggunakan bagian kepala, tetapi juga terdapat
bagian tubuh, baik secara
keseluruhan maupun hanya setengah bagian, dan juga disertai beberapa atribut
yang membuat emoticon ini menjadi lebih menarik.
5.1.1.1 Emoticon Kaskus Berukuran Kecil
Emoticon pada tabel H di bawah ini merupakan emoticon berukuran kecil
yang digunakan dalam komunitas Kaskus.
Tabel 5.1 Emoticon Kaskus Berukuran Kecil
No
Emoticon Kecil
Kode
1
:love
2
:nolove
3
:)
4
:D
5
:(
6
: malu
80
7
:mad:
8
:siul:
9
:kissing
10
: genit
11
:cool:
12
:kaget
13
:peace
14
:shutup:
15
:p
16
:bingung
17
:hammer:
Tabel 5.1 di atas menunjukan emoticon berukuran kecil yang digunakan di
dalam komunitas Kaskus beserta kode yang digunakan untuk mengakses emoticon
tersebut. Pemberian kode dilakukan dengan dua cara, yakni:
a.
Menggunakan tanda baca atau huruf yang menyerupai tanda yang
terdapat pada emoticon, misalnya „)’ menyerupai tanda pada
emoticon
, atau huruf D menyerupai tanda pada emoticon
(mulut yang terbuka).
b. Menggunakan kata yang mewakili emoticon tersebut, misalnya
:nolove (tidak cinta) untuk mewakili
.
81
Berdasarkan teori semiosis yang dikemukakan oleh Peirce (1931), makna
dari emoticon-emoticon di atas dapat dianalisis dengan memperhatikan interaksi
antara representamen, objek, dan interpretannya.
(EK1) edansuro (newbie)
cieee, bau cinta mulu ni kekny..
„Cieh, bau cinta melulu ni sepertinya. :love.‟
Menurut konsep Peirce, Representamen ( R ) pada semiosis di atas membawa
sebuah simbol „hati‟. Tanda tersebut mengacu pada objek (O) „hati‟ sebagai
bagian dari diri manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan
tempat menyimpan berbagai perasaan, terutama perasaan cinta. Oleh karena itu,
emoticon di atas mengandung interpretant (I) perasaan cinta yang ditunjukkan
oleh pengguna tanda.
(EK2) TaMaArthe (Kaskuser)
gara2 ini ane diputusin ma cew ane gan..
„Gara-gara ini saya diputusin sama pacar saya juragan. :nolove.‟
Emoticon di atas berhubungan dengan contoh (EK1). Simbol pada R merupakan
simbol hati dengan garis di tengah-tengah, dan merujuk pada O hati yang retak
atau hati yang terbelah menjadi dua, sehingga ditafsirkan (I) sebagai perasaan
patah hati yang disampaikan oleh pengguna tanda.
(EK3) prabuanom07 (Aktivis Kaskus)
tengkyu inpoh ny gan
„Thank you infonya juragan :)‟
82
R pada semiosis di atas membawa sebuah simbol bibir yang sudut-sudutnya
ditarik ke atas. Simbol tersebut mengacu pada objek wajah tersenyum, dan
diinterpretasikan menjadi perasaan bahagia pengguna tanda yang diekspresikan
melalui senyuman (I).
(EK4) Alfankaskuser (Kaskus Maniac)
Au ah lap
„Au ah gelap :D‟
Emoticon ini merupakan perkembangan dari emoticon pada contoh (EK3). Pada
R, terdapat simbol setengah lingkaran dengan garis-garis di dalamnya. Simbol ini
mengacu pada O senyuman dengan gigi yang terlihat, dan diinterpretasikan pula
menjadi sebuah kebahagian yang lebih besar yang diekspresikan dengan tertawa
(I).
(EK5) rimbarwks (Kaskus Addict)
Cerita lo sedih amet gan
„Cerita kamu sedih sekali gan :(.‟
R pada emoticon di atas, membawa indeks air mata mengalir yang merujuk pada
O kesedihan. Apabila dikaitkan antara R dan O, maka emoticon di atas
menunjukan pengguna tanda sedang menangis (I).
(EK6) dasa RRR (Kaskus Addict)
Ane juga sebenernya kayak gt gan.. jadi
„Saya juga sebenarnya seperti itu juragan, jadi :malu.‟
R di atas membawa simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke atas, ikon mata
terpejam, dan indeks pipi memerah. Simbol dan ikon tersebut mengacu pada O
83
senyum yang ditutup-tutupi, sedangkan indeks pipi memerah merupakan akibat
yang muncul dari senyuman yang tidak diekspresikan secara lepas. Jika dikaitkan
R dan O, maka terbentuk I yaitu perasaan malu pengguna tanda dalam
mengekspresikan kebahagiaan.
(EK7) couzar (Kaskus Addict)
Jangan komentar Sara bro
„Jangan komentar Sara brother :mad:‟
R di atas membawa simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke bawah, ikon mata
melotot, dan indeks wajah berwarna merah. Simbol mulut ditekuk ke bawah
mengacu pada objek kesedihan maupun kekecewaan, sedangkan ikon mata
melotot dan wajah merah merujuk pada objek kekecewaan yang memuncak. Oleh
karena itu, I menunjukan pengguna tanda merasa marah karena sesuatu hal.
(EK8) miya (Kaskus Addict)
Lagunya emg keren sih..
„Lagunya memang keren sih.. :siul:‟
R di atas membawa simbol not balok serta ikon mulut yang didorong ke depan.
Simbol dan ikon tersebut merujuk pada O musik yang keluar dari mulut, sehingga
I menunjukkan pengguna tanda sedang bersiul.
(EK9) nanda.oke (Newbie)
Thx ya atas masukannya
membantu bgt..
„Thank you ya atas masukannya :kissing: membantu sekali.‟
84
R di atas mengandung ikon bibir berwarna merah yang merujuk pada O ciuman,
sehingga diinterpretasikan sebagai ciuman yang diberikan pengguna tanda karena
merasa senang akan sesuatu yang diberikan oleh penerima tanda.
(EK10) Trikoo (Kaskus Addict)
Ini baru namanya cew cantik
„Ini baru namanya cewek cantik :genit.‟
R pada emoticon di atas membawa simbol hati pada kedua mata, serta indeks bibir
terbuka hingga meneteskan air liur. Simbol hati merujuk pada O cinta, sedangkan
indeksnya merujuk pada persaaan menginginkan yang teramat sangat, sehingga
mengandung I bahwa pengguna tanda benar-benar menginginkan seseorang yang
dicintai, bahkan sering disebut dengan istilah „genit‟ yang berarti menunjukan
perhatian yang berlebihan kepada seseorang yang dicintai.
(EK11) deya.dlg (kaskuser)
Klo gw sih
aja gan
„Kalau Saya sih :cool: saja juragan.‟
R di atas membawa ikon kacamata hitam di atas bibir dan indeks bibir
tersungging miring. Ikon kacamata hitam merujuk pada O menutup mata dan bibir
tersungging miring merujuk pada O senyum yang dibuat-buat. Sehingga,
emoticon tersebut diinterpretasikan sebagai sikap pengguna tanda yang menutup
mata dengan tersenyum palsu seolah-olah tidak memperhatikan situasi di
sekitarnya.
85
(EK12) yamino (Kaskus Maniac)
yang boneng gan
??
„Yang bener juragan :kaget?‟
Ikon mulut terbuka dan indeks mata melotot pada R merujuk pada O wajah
terguncang, sehingga menunjukan bahwa pengguna tanda kaget karena guncangan
perasaan yang terjadi secara tiba-tiba.
(EK13) bl4ckbox (Kaskus Addict)
Ngelindur kali lo gan
„Ngelindur mungkin kamu juragan :peace:‟
R di atas membawa simbol dua jari serta ikon mata terpejam dan mulut tersenyum
lebar. Simbol dua jari merujuk pada O perdamaian, sedangkan ikon mata terpejam
disertai mulut tersenyum lebar merujuk pada senyuman dengan rasa sungkan.
Oleh karena itu, emoticon di atas diinterpretasikan sebagai rasa sungkan pengguna
tanda karena melakukan suatu kekeliruan sehingga meminta perdamaian melalui
simbol tangan.
(EK14) ramada27 (Kaskuser)
Sebenernya nie msh rahasia gan..
„Sebenarnya ini masih rahasia juragan :shutup:‟
R membawa simbol tanda silang yang menutupi mulut, yang merujuk pada objek
larangan. Apabila R dan O dikaitkan maka terbentuk I yaitu larangan berbicara.
(EK15) Little.Bojan (Kaskus Addict)
Ente ngigo kali gan
„Kamu mengigau mungkin juragan :p‟
86
R membawa ikon lidah di depan mulut dan salah satu mata tertutup, yang merujuk
pada O tindakan jahil dengan menjulurkan lidah disertai kerlingan mata, sehingga
dapat diinterpretasikan sebagai ejekan jahil dari si pengguna tanda.
(EK16) barapati (Kaskus Addict)
Maksud lo apaan gan?? Ane jadi
baca thread nie
„Maksud kamu apa juragan? Saya jadi :bingung membaca thread ini.‟
R pada emoticon di atas membawa simbol „?‟ dan ikon wajah dengan mata
melotot dan mulut dibulatkan, yang mengacu pada O pertanyaan. Oleh karena itu,
emoticon di atas bermakna bahwa pengguna tanda bingung atau bertanya-tanya
mengenai suatu hal.
(EK17) jonny.bng (Kaskus Holic)
Wah parah bgt kebiasaan lo bro
„Wah parah sekali kebiasaan kamu brother :hammer.‟
R pada emoticon di atas membawa simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke
bawah dengan bola mata berputar-putar yang merujuk pada O kesal serta ikon
palu di atas kepala yang merujuk pada O memukul diri. Apabila dikaitkan antara
R dan O maka dapat ditafsirkan maknanya sebagai sindiran dari pengguna tanda
karena kesal kepada seseorang atau suatu hal, dan saking kesalnya sampai-sampai
ingin memukul kepala sendiri dengan menggunakan palu.
87
5.1.1.2 Emoticon Kaskus Berukuran Besar
Emoticon Kaskus tipe ini juga merupakan emoticon khas yang hanya
digunakan dalam komunitas Kaskus. Beberapa bentuk memiliki kesamaan makna
dengan beberapa emoticon kecil, namun memiliki ukuran lebih besar serta
penampilan lebih menarik.
Tabel 5.2 Emoticon Kaskus Berukuran Besar
No
Emoticon Besar
Kode
1
:berduka
2
:bingung
3
:capede
4
:hammer
5
:jempol
6
:jempol2
7
:malu
8
:maho
9
:najis
88
10
:peluk
11
:rate5
12
:cendol
13
:batamerah
14
:ck
15
:ilovekaskus
16
:shakehand2
17
:sorry
18
:marah
19
:iloveindonesia
20
:ngakak
21
:takut
89
22
:kimpoi
23
:ngacir2
24
:ngacir
25
:travel
Berdasarkan teori semiosis yang dikemukakan oleh Peirce (1931), makna
dari emoticon-emoticon di atas dapat dianalisis dengan memperhatikan interaksi
antara representamen, objek, dan interpretannya.
(EB1) crusher (Kaskuser)
Ane turut
ya gan..
„Saya turut :berduka ya juragan.‟
R pada emoticon di atas mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke
bawah yang merujuk pada O kesedihan, juga terdapat ikon warna hitam. Dalam
budaya Indonesia warna hitam merupakan warna yang merujuk pada O kematian,
selain itu terdapat indeks berupa bunga yang telah layu yang merujuk pada O
peristiwa yang menyebabkan sesuatu yang tumbuh atau hidup menjadi layu
(mati). Jadi, emoticon di atas bermakna bahwa pengguna tanda berduka karena
sesuatu hal (I).
90
(EB2) barracuda212 (Kaskus Addict)
telpon?
siapa yang telpon?
„Telepon? :bingung siapa yang telepon?
Emoticon ini memiliki persamaan dengan
yang telah dibahas sebelumnya.
Perbedaannya hanya terletak pada ukuran yang diperbesar, namun makna yang
disampaikan tetap sama.
(EB3) Playboyo (Kaskus Addict)
Lebay bgt sie lo
„(Ber-)lebihan sekali sih kamu :capek deh.‟
R emoticon di atas membawa ikon tangan yang diletakkan di samping kening dan
ikon keringat yang menetes. Kedua ikon tersebut merujuk pada O ungkapan
„capek deh‟ yang sangat terkenal di kalangan anak muda. Apabila dikaitkan antara
R dan O maka I adalah pengguna tanda merasa kesal atau bosan terhadap sesuatu
sehingga menggunakan emoticon di atas untuk menyampaikan „capek deh!!”
(EB4) bat.man (Kaskus Holic)
Parah bgt komentar lo gan
„Parah sekali komentar kamu juragan :hammer.‟
Emoticon jenis ini memiliki persamaan makna dengan
, namun dilengkapi
dengan ikon lidah yang keluar dari mulut dan merujuk pada O mencibir dengan
menjulurkan lidah. Hal tersebut semakin mempertegas makna dari emoticon ini,
91
yakni berupa sindiran karena kesal kepada seseorang ataupun suatu hal, dan
karena kesalnya sampai-sampai ingin memukul kepala sendiri dengan palu.
(EB5) Ultima (Kaskus Addict)
Ane kasi
buat lo gan..
„Saya berikan :dua jempol untuk kamu juragan.‟
(EB6) addictlover86 (Kaskuser)
Fotonya keren bgt gan
„Fotonya keren sekali juragan :jempol.‟
Pada R kedua emoticon di atas terdapat simbol jempol yang merujuk pada O baik
atau bagus. Jadi, kedua emoticon di atas diinterpretasikan menjadi reputasi bagus
yang diberikan oleh pengguna tanda kepada kaskuser yang menerimanya.
(EB7) wanx.wanx (Kaskus Holic)
Sorry gan ternyata repost
„Sorry juragan ternyata repost :malu.‟
Emoticon ini memiliki persamaan makna dengan contoh
dalam ukuran yang lebih besar.
(EB8) Bata.Super (Kaskuser)
iiiihhh dasar maho
„Iihh dasar manusia homo :maho.‟
, tetapi disajikan
92
R pada emoticon di atas membawa ikon laki-laki berkepala botak dengan bulu
mata lentik seperti bulu mata palsu dan lipstik yang sering dipakai oleh para
perempuan. Ikon ini merujuk pada O laki-laki yang bergaya seperti perempuan,
sehingga diinterpretasikan seorang laki-laki homoseksual atau penyuka sesama
jenis yang di dalam komunitas Kaskus disebut dengan nama maho .
(EB9) Apaan.donk (Kaskus Holic)
Ueeekkksss
gw gan
„Ueekksss :najis Saya juragan.‟
Pada emoticon tersebut terdapat ikon manusia homoseksual yang divusialisasikan
sedang memuntahkan sesuatu. Visualisasi muntah tersebut merupakan sebuah
indeks yang mengacu pada O jijik. Oleh karena itu, I dari emoticon di atas adalah
pengguna tanda merasa jijik ataupun najis (kata yang sering digunakan di dalam
komunitas Kaskus) karena perilaku homoseksual yang cenderung dianggap tidak
normal serta dianggap sesuatu yang kotor atau dosa karena tidak sesuai dengan
ajaran agama.
(EB10) belinda999 (newbie)
Anak Smash emang kerreennn kok
„Anak Smash memang keren kok :peluk.‟
Pada emoticon di atas terdapat simbol „hati‟ yang merujuk pada O cinta serta ikon
seseorang berupa rambut panjang serta warna pink yang merujuk pada O dengan
93
perempuan. Di samping itu, terdapat visualisasi berupa dua tangan yang
disilangkan di depan dada, yang merupakan indeks pelukan yang muncul dari
adanya perasaan cinta tersebut. Jadi, emoticon ini diinterpretasikan sebagai
„pelukan‟ untuk mengekspresikan perasaan cinta yang ingin disampaikan oleh
pengguna tanda.
(EB11) BasistCupu (Kaskus Addict)
Jangan lupa kasi
ya
„Jangan lupa beri :rate bintang lima ya.‟
R pada emoticon di atas mengandung sebuah simbol yang dalam komunitas
Kaskus disepakati sebagai salah satu sarana untuk memberikan reputasi bagus
terhadap sebuah post, yakni simbol bintang. Di dalam RBK simbol bintang
merujuk pada O reputasi bagus terhadap post yang dibuat oleh kaskuser. Semakin
banyak simbol bintang yang diberikan semakin bagus reputasi post tersebut. Oleh
karena itu, emoticon di atas diinterpretasikan menjadi reputasi sangat bangus
karena di dalamnya terdapat simbol lima bintang yang merupakan jumlah
maksimal yang dapat diberikan oleh seorang kaskuser.
(EB12) suya.astina (Kaskus Addict)
Gw kasi
buat lo gan..
„Saya beri :cendol untuk kamu juragan.‟
94
Pada emoticon di atas terdapat sebuah visualisasi seseorang yang memegang
mangkok berisi cendol berwarna hijau. R pada emoticon di atas mengandung
sebuah ikon cendol yang merujuk pada O reputasi bagus kepada seseorang di
Kaskus. Oleh karena itu, emoticon tersebut diinterpretasikan menjadi reputasi
bagus yang diberikan oleh seorang pengguna tanda
kepada penerima tanda.
Namun, dalam konteks kalimat tertentu seperti contoh berikut ini,
(EB13) Baracuda212 (Kaskus Addict)
Jangan lupa
nya donk….
„Jangan lupa :cendolnya dong.‟
emoticon ini dapat juga diinterpretasikan sebagai sebuah permintaan cendol
(reputasi bagus) yang disampaikan oleh seorang kaskuser kepada seluruh kaskuser
yang membaca dan mengomentari thread yang dibuatnya.
(EB14) pratama.88 (Kaskuser)
Jangan komentar sara gan, ntr lo di
„Jangan komentar sara juragan, nanti kamu dibata.‟
Visualisasi dalam emoticon di atas seseorang yang memegang bata merah. R pada
emoticon di atas membawa ikon sebuah bata merah yang merujuk pada O
reputasi buruk kepada seseorang di Kaskus. Di samping itu, terdapat visualisasi
wajah geram dengan mata melotot dan gigi yang terlihat ingin menggigit.
Visualisasi tersebut merupakan indeks yang merujuk pada O kemarahan. Oleh
karena itu, emoticon tersebut diinterpretasikan menjadi reputasi buruk yang
diberikan sebagai akibat dari kemarahan pengguna tanda atas kesalahan yang
95
dibuat oleh penerima tanda. Namun sama halnya seperti cendol, dalam konteks
kalimat tertentu seperti contoh di bawah ini,
(EB15) super.band (Kaskuser)
Tolong jangan di
ya gan..
„Tolong jangan dibata ya juragan.‟
emoticon ini dapat juga diinterpretasikan sebagai sebuah penolakan terhadap bata
(reputasi buruk) yang disampaikan oleh seorang kaskuser kepada kaskuser
lainnya.
(EB 16) addictlover86 (Kaskuser)
Biarpun bnyak yang niru pokonya tetep
…
„Biarpun banyak yang meniru pokoknya tetap :aku cinta Kaskus.‟
(EB17) assistant.101 (Kaskus Addict)
Kaskus emg kerrreennn
„Kaskus memang keren :cinta Kaskus.‟
R pada kedua emoticon di atas membawa simbol „hati‟ yang merujuk pada O cinta
serta ikon „kaskus‟ yang merujuk pada komunitas Kaskus. Oleh karena itu, I dari
kedua emoticon tersebut menunjukan pengguna tanda ingin menunjukan rasa
cintanya kepada komunitas Kaskus.
96
(EB18) Frustate (Kaskus Addict)
senang berbisnis dg ente bos..
„Senang berbisnis dengan kamu bos :bersalaman.‟
R pada emoticon di atas membawa ikon dua orang manusia yang berhadapan
dengan tangan saling menggenggam yang merujuk pada O bersalaman, dan dapat
diinterpretasikan pengguna tanda bersalaman untuk berkenalan maupun membuat
kesepakatan dengan orang lain di Kaskus.
(EB19) nana.margaret (Newbie)
Sorry gan
ane kagak paham..
„Sorry juragan :maaf Saya tidak paham.‟
Selain mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke bawah yang
merujuk pada O kesedihan, R pada emoticon ini juga berisi indeks seseorang yang
menunduk sambil mengusap mata yang merujuk pada O penyesalan atau rasa
bersalah. Jadi, emoticon ini diinterpretasikan sebagai rasa penyesalan dan
permintaan maaf dari pengguna tanda.
(EB20) catroch (Kaskus Addict)
Komentar ente bikin
banyak org tuh
„Komentar kamu bikin :marah banyak orang tuh.‟
97
Emoticon ini memiliki persamaan makna dengan
namun disajikan dalam
bentuk yang lebih besar.
(EB21) risma.cute (Newbiw)
Bangga jadi org Indonesia gan
„Bangga jadi orang Indonesia juragan :aku cinta Indonesia.‟
R pada emoticon di atas membawa simbol „hati‟ yang merujuk pada O cinta serta
ikon „bendera Merah Putih yang merujuk pada O Negara Republik Indonesia.
Oleh karena itu, I atas emoticon tersebut adalah bahwa pengguna tanda ingin
menunjukkan rasa cintanya kepada negara Republik Indonesia.
(EB22) Adinata.Bali (Aktivis Kaskus)
Ente ngelindur kali gan
„Kamu ngelindur mungkin juragan :tertawa ngakak.‟
Makna dari emoticon ini sama seperti emoticon
ukuran yang lebih besar
(EB23) Zikry.Z.Ashar (Kaskus Maniac)
Hiii
ane gan
„Hii :takut Saya juragan.‟
namun disajikan dalam
98
R di atas membawa ikon seseorang dengan mata melotot, gigi terkatup
rapat, serta tangan memeluk tubuh yang bergetar. Ikon ini merujuk pada O
seseorang yang ketakutan. Jadi, makna dari emoticon tersebut adalah pengguna
tanda sedang ketakutan karena sesuatu hal.
(EB24) tarzan.23 (Kaskus Addict)
Wah akhirnya mreka merit juga..
Congratz aja..
„Wah akhirnya mereka menikah juga.. :kawin. Congratulation saja.‟
Pada emoticon di atas, selain simbol wajah tersenyum, terdapat pula ikon laki-laki
dan perempuan. Ikon laki-laki ditunjukkan melalui struktur tubuh dengan kepala
botak, menggunakan jas berwarna hitam, serta dasi kupu-kupu. Sedangkan ikon
perempuan ditunjukkan melalui rambut panjang serta model pakaian yang
digunakan. Di samping itu, terdapat ikon gaun putih dan kerudung serta indeks
pasangan yang saling berpelukan yang merujuk O pernikahan. Jadi, emoticon di
atas diinterpretasikan sebagai pernikahan sepasang kekasih yang berbahagia.
(EB25) dwisuli (Kaskus Addict)
Mending ane kabur aja ah…
„Lebih baik Saya kabur saja ah.. :ngacir‟
(EB26) saras.cute24 (Newbie)
Happy ending nie ye.. Cuitt cuitttt
„Happy ending nih ye.. Cuit cuit :ngacir.‟
99
R pada kedua emoticon di atas membawa ikon manusia serta ikon bajaj dan
sepeda motor yang merujuk pada O menggunakan kendaraan bermotor, jadi I
pada kedua emoticon tersebut menunjukkan bahwa pengguna tanda ingin
melarikan diri dari percakapan maupun forum yang sedang diikuti.
(EB28) yurike.pras (Kaskuser)
Wah nie tempat
yang assikk bgt.
„Wah ini tempat :berlibur yang asyik sekali.‟
R pada emoticon di atas membawa ikon seorang manusia membawa ransel yang
merujuk pada O bepergian. Jadi, dengan emoticon ini, pengguna tanda ingin
menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan bepergian atau liburan.
5.1.2 Emoticon Berdasarkan Fungsi
Berdasarkan fungsinya di dalam contoh-contoh beserta pembahasan yang
telah dipaparkan sebelumnya, emoticon RBK dapat dibedakan menjadi emoticon
yang berfungsi sebagai pangganti unsur verbal dan emoticon yang berfungsi
sebagai penegas. Masing-masing emoticon tersebut kemudian diklasifikasikan lagi
berdasarkan fungsi tindak ilokusi yang ditampilkan.
1. Pengganti Unsur Verbal
Emoticon yang berfungsi sebagai pengganti unsur verbal dapat dilihat pada
contoh-contoh di bawah ini:
Ane juga sebenernya kayak gt gan.. jadi
„Saya juga sebenarnya seperti itu juragan, jadi :malu.‟
100
Contoh di atas berisi emoticon yang berfungsi sebagai pengganti unsur
verbal „malu‟, jadi melalui pemakaian emoticon tersebut pengguna tanda
ingin menyampaikan „malu‟ tanpa menggunakan kata-kata. Jika dilihat
secara lengkap tanpa emoticon, pesan yang ingin disampaikan adalah Ane
juga sebenernya kayak gt gan.. jadi malu. Contoh lainnya yakni:
Ane turut
ya gan..
„Saya turut :berduka ya juragan.‟
Pada contoh di atas emoticon yang berfungsi sebagai pengganti unsur verbal
„berduka‟, jadi melalui pemakaian emoticon tersebut pengguna tanda ingin
menyampaikan ungkapan turut „berduka‟. Jika dilihat secara lengkap tanpa
emoticon, pesan yang ingin disampaikan adalah Ane turut berduka ya gan..
Berdasarkan teori tindak ilokusi yang dikemukakan oleh Searle (1979),
emoticon yang berfungsi sebagai pengganti unsur verbal dapat dibagi
menjadi:
a. Tindak ilokusi asertif
Ane juga sebenernya kayak gt gan.. jadi
„Saya juga sebenarnya seperti itu juragan, jadi :malu.‟
Tindak ilokusi asertif yang ditampilkan melalui emoticon di atas
menyatakan kebenaran mengenai rasa malu yang dialaminya.
Ueeekkksss
gw gan
„Ueekksss :najis Saya juragan.‟
101
Melalui penggunaaan emoticon pada contoh di atas, pengguna tanda
menampilkan tindak ilokusi asertif yaitu mengemukakan pendapat
bahwa pengguna tanda merasa jijik terhadap suatu hal.
b. Tindak ilokusi direktif
Ngelindur kali lo gan
„Ngelindur mungkin kamu juragan :peace:‟
Melalui emoticon
di atas, pengguna tanda menampilkan tindak
ilokusi direktif yakni memohon perdamaikan kepada penerima tanda.
c. Tindak ilokusi komisif
Biarpun bnyak yang niru pokonya tetep
…
„Biarpun banyak yang meniru pokoknya tetap :aku cinta Kaskus.‟
Tindak ilokusi komisif yang ditampilkan melalui emoticon di atas
menyatakan janji pengguna tanda akan selalu cinta terhadap
komunitas Kaskus, sehingga walaupun banyak komunitas baru yang
bermunculan, namun pengguna tanda akan tetap memilih Kaskus.
d. Tindak ilokusi ekspresif
Ane turut
ya gan..
„Saya turut :berduka ya juragan.‟
Emoticon pada kalimat di atas menampilkan tindak ilokusi ekspresif
yang mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap yang tersirat
dalam ilokusi, dimana pengguna tanda mengucapkan belasungkawa
kepada penerima tanda.
Tindak ilokusi deklarasi tidak ditemukan pada emoticon pengganti unsur
verbal.
102
2. Penegas
Selain sebagai pengganti unsur verbal, emoticon RBK juga berfungsi
sebagi penegasan, dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini:
Cerita lo sedih amat gan
„Cerita kamu sedih sekali juragan :(.‟
Emoticon di atas berfungsi menegaskan perasaan sedih yang dirasakan
oleh pengguna tanda.
Sebenernya nie msh rahasia gan..
„Sebenarnya ini masih rahasia juragan :shutup.‟
Unsur „rahasia‟ pada kalimat di atas ditegaskan dengan adanya emoticon
kecil dengan simbol mulut ditutup dengan lakban yang mengandung
makna larangan berbicara karena kerahasiaan suatu hal.
iiiihhh dasar maho
„Iihh dasar manusia homo :maho.‟
Emoticon bermakna laki-laki yang bergaya seperti perempuan atau lebih
dikenal dengan homoseksual dan berfungsi menegaskan ungkapan maho
yang ditulis sebelumnya.
senang berbisnis dg ente bos..
„Senang berbisnis dengan kamu bos :bersalaman.‟
Emoticon di atas berarti bersalaman dan berfungsi sebagai penegas dari
kata deal yang berarti „sepakat‟.
Berdasarkan teori tindak ilokusi yang dikemukakan oleh Searle (1979),
emoticon yang berfungsi sebagai penegas dapat dibagi menjadi:
103
a. Tindak ilokusi asertif
gara2 ini ane diputusin ma cew ane gan..
„Gara-gara ini saya diputusin sama pacar saya juragan. :nolove.‟
Tindak ilokusi asertif yang ditampilkan melalui emoticon di atas
menyatakan kebenaran bahwa pengguna tanda sedang patah hati.
b. Tindak ilokusi direktif
Sorry gan
ane kagak paham..
„Sorry juragan :maaf Saya tidak paham.‟
Melalui emoticon di atas, pengguna tanda menampilkan tindak ilokusi
direktif yakni memohon maaf kepada penerima tanda untuk
menegaskan uangkapan “Sorry” yang diucapkan sebelumnya.
c. Tindak ilokusi komisif
Bangga jadi org Indonesia gan
„Bangga jadi orang Indonesia juragan :aku cinta Indonesia.‟
Emoticon di atas menampilkan tindak ilokusi komisif yakni,
menyatakan janji pengguna tanda akan selalu cinta terhadap Indonesia
dan selalu bangga menjadi orang Indonesia.
d. Tindak ilokusi ekspresif
Jangan komentar Sara bro
„Jangan komentar Sara brother :mad:‟
Emoticon pada kalimat di atas menampilkan tindak ilokusi ekspresif
yang mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap yang tersirat
104
dalam ilokusi, dimana pengguna tanda mengecam penerima tanda
karena mengeluarkan komentar berbau sara.
Fotonya keren bgt gan
„Fotonya keren sekali juragan :jempol.‟
Emoticon di atas menampilkan tindak ilokusi ekspresif yakni memuji
penerima tanda atas hasil foto yang bagus.
Tindak ilokusi deklarasi juga tidak ditemukan pada emoticon yang
berfungsi sebagai penegas.
5.1.3 Emoticon Berdasarkan Komponen
1. Emoticon Kecil
Berdasarkan komponen yang terdapat pada Representamen, emoticon
berukuran kecil dapat dikelompokkan menjadi:
1. Emoticon dengan Simbol, contohnya:
mengandung simbol hati.
mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke atas.
2. Emoticon dengan Ikon, contohnya:
mengandung ikon bibir berwarna merah.
mengandung ikon lidah yang dijulurkan.
3. Emoticon dengan Indeks
mengandung indeks air mata mengalir.
4. Emoticon dengan Simbol dan Ikon
105
mengandung simbol not balok dan ikon mulut yang didorong ke
depan.
mengandung simbol dua jari dan ikon mata terpejam dan mulut
tersenyum lebar.
mengandung simbol „?‟ dan ikon wajah dengan mata melotot.
5. Emoticon dengan Simbol dan Indeks
mengandung simbol hati dan indek mulut yang terbuka dan
meneteskan air lur.
6. Emoticon dengan Ikon dan Indeks
mengandung ikon kacamata hitam dan indeks bibir tersungging
miring.
mengandung ikon mulut terbuka dan indeks mata melotot.
7. Emoticon dengan Simbol, Ikon, dan Indeks
mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya tertarik ke atas, ikon
mata terpejam, dan indek pipi memerah.
mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya tertarik ke bawah, ikon
mata melotot, dan indeks wajah berwarna merah.
2. Emoticon Besar
Berdasarkan komponen yang terdapat pada Representamen, emoticon berukuran
besar dapat dikelompokkan menjadi:
1. Emoticon dengan Simbol, contohnya:
mengandung simbol jempol.
106
mengandung simbol bintang.
2. Emoticon dengan Ikon, contohnya:
mengandung ikon tangan di samping kening dan keringat yang
menetes.
mengandung ikon laki-laki berbulu mata lentik dan bibir dihiasi
lipstick.
3. Emoticon dengan indeks
Tidak ditemukan emoticon besar yang hanya mengandung indeks di dalam
RBK
4. Emoticon dengan Simbol dan Ikon
mengandung simbol hati dan ikon „Kaskus‟.
mengandung simbol hati dan ikon bendera Merah
Putih.
5. Emoticon dengan Simbol dan Indeks
mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke bawah
dan indeks wajah menunduk sambil mengusap-usap mata.
6. Emoticon dengan Ikon dan Indeks
mengandung ikon laki-laki homoseksual dan indeks muntah.
107
mengandung ikon bata merah dan indeks mata melotot dan
gigi terlihat ingin menggigit.
7. Emoticon dengan Simbol, Ikon, dan Indeks
mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya ditarik ke
bawah, ikon warna hitam, dan indeks bunga yang telah layu.
mengandung simbol bibir yang sudut-sudutnya tertarik ke atas,
ikon mata terpejam, dan indek pipi memerah.
5.4 Makna-Makna yang Terkandung Dalam Emoticon RBK
Beranjak dari keseluruhan analisis mengenai tipe-tipe emoticon di atas
beserta proses pemaknaannya berdasarkan teori triadik Peirce, maka secara garis
besar terdapat beberapa makna yang terkandung dalam emoticon RBK
1. Cinta
Cinta merupakan perasaan suka maupun kasih sayang yang ditunjukkan
kepada orang lain. Cinta dapat diungkapkan melaui berbagai cara, baik lisan
maupun tertulis. Dalam RBK terdapat beberapa emoticon yang menunjukkan
ekspresi cinta ini, dan kesemuanya memiliki ciri khas berupa lambang hati.
Namun „hati‟ yang dimaksud dalam hal ini bukanlah organ tubuh manusia,
melainkan sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai
tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan berbagai perasaan, terutama
perasaan cinta. Oleh karena itu, setiap emoticon yang menggunakan tanda ini
108
diinterpretasikan sebagai ungkapan yang berhubungan dengan perasaan cinta rasa
cinta, diantaranya:
a. Cinta
Perasaan jatuh cinta diekspresikan melalui emoticon
yang mengacu
pada „hati‟ sebagai simbol universal untuk mengungkapkan perasaan cinta.
b. Tidak ada cinta atau patah hati
Patah hati diekspresikan melalui emoticon
. Emoticon ini mengandung
makna „hati‟ yang terbelah menjadi dua. Cinta yang dulunya bersemi telah
hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, sehingga memerlukan usaha
keras untuk menyatukannya kembali seperti semula.
c. Cinta kepada Indonesia
Rasa cinta kepada Negara Indonesia diekspresikan melalui emoticon
Terdapat simbol hati yang melambangkan rasa cinta
serta bendera Merah Putih yang berkibar melambangkan kejayaan
Indonesia. Emoticon ini digunakan oleh kaskuser sebagai ungkapan rasa
bangga terhadap Negara Indonesia tercinta atas keindahan alamnya
maupun prestasi yang ditorehkan Indonesia di dunia Internasional.
d. Cinta kepada Kaskus
Terdapat dua emoticon yang bermakna cinta kepada Kaskus, yakni
dan
dimana di dalamnya terdapat simbol hati sebagai
perlambang rasa cinta dan disertai logo dari Komunitas Kaskus.
Penggunaan emoticon-emoticon tersebut sebagai ungkapan rasa bangga
109
para kaskuser sebagai anggota komunitas Kaskus yang memberikan
berbagai informasi menarik dan aktual dari berbagai belahan dunia. Di
samping itu komunitas Kaskus juga memberikan berbagai ruang kepada
para anggotanya untuk berinteraksi dengan anggota yang lain sesuai
dengan minat dan kebutuhan masing-masing.
e. „Pelukan‟ dan „ciuman‟ untuk mengekspresikan perasaan cinta
Rasa cinta tidak hanya diungkapkan melaui kata-kata, tetapi juga melaui
tindankan secara fisik, baik berupa pelukan dan ciuman. Pelukan
diekspresikan melalui emoticon
yang menggambarkan
dengan jelas gerakan tangan seperti memeluk dan disertai simbol hati yang
menegaskan perasaan cinta yang melandasi pelukan tersebut. Ciuman
diekspresikan melalui emoticon
dengan memberi penekanan pada bibir
sebagai bagian tubuh yang digunakan untuk mencium seseorang.
f. Mendambakan seseorang yang dicintai
Perasaan cinta yang sangat dalam membuat seseorang benar-benar ingin
memiliki seseorang yang dicintai. Perasaan ini diekspresikan melalui
emoticon
yang digambarkan meneteskan air liur sebagai bentuk
ekspresi sangat menginginkan sesuatu.
2. Kebahagiaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), bahagia merupakan
keadaan atau perasaan tenang dan tenteram, bebas dari segala hal yang
menyusahkan. Kebahagiaan bisa disebabkan oleh banyak faktor dan dapat
110
diekspresikan melalui berbagai cara. Beberapa emoticon yang menunjukkan
kebahagiann antara lain:
a. Rasa bahagia
Rasa bahagia dapat diekspresikan melalui berbagai cara, salah satunya
adalah dengan tersenyum. Senyuman diespresikan melaui emoticon
merupakan cara paling sederhana untuk mengekspresikan perasaan
bahagia.
b. Tertawa
Selain
tersenyum,
tertawa
juga
merupakan
salah
satu
cara
mengekspresikan kebahagiaan. Perbedaan antara keduanya adalah jika
tersenyum hanya menggunakan gerakan bibir dengan sudut-sudut yang
ditarik ke atas, tertawa memperlihatkan bibir terbuka sehingga gigi-gigi
terlihat dan disertai dengan suara tawa. Emoticon-emoticon di dalam RBK
yang mengekspresikan tertawa adalah
dan
.
c. Rasa bahagia dari sebuah pernikahan
Rasa bahagia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah
pernikahan.
Seperti
pada
emoticon
mengekspresikan
perasaan bahagia yang dialami kedua mempelai yang melangsungkan
kebahagiaan.
d. Rasa bahagia yang ditutup-tutupi atau malu-malu
Kadang kala rasa bahagia tidak dapat diekspresikan secara bebas.
Seseorang mungkin menutupi rasa bahagia yang dirasakan sehingga
111
menimbulkan rona merah di pipi seperti yang tampak pada kedua
emoticon RBK berikut ini,
dan
.
3. Kesedihan
Sedih merupakan perasaan yang berlawanan dengan bahagia. Sama halnya
dengan perasaan bahagia, kesedihan juga disebabkan oleh berbagai faktor. Di
dalam RBK terdapat beberapa emoticon yang bermakna kesedihan antara lain:
a. Menangis
Salah satu bentuk ekspresi kesedihan adalah tangisan. Menangis seperti
pada emoticon
menyebabkan keluarnya air mata dan kadang kala
disertai dengan suara isakan.
b. Berduka
Kesedihan dapat timbul karena berbagai faktor, salah satunya adalah
berduka, yang disebabkan oleh meninggalnya seseorang yang dikenal atau
dicintai. Emoticon yang mengekspresikan „berduka‟ adalah
yang menggambarkan kesedihan dan dipertegas dengan warna hitam dan
bunga layu yang menggambarkan kematian.
c. Kesedihan akibat rasa penyesalan
Kesedihan juga dapat timbul dari adanya rasa penyesalan atau rasa
bersalah kepada seseorang yang pernah disakiti.
Kesedihan ini diekspresikan melalui emoticon
.
112
4. Reputasi Baik
Dalam komunitas Kaskus, para kaskuser seringkali memberikan reputasi
baik bagi setiap post yang dianggap berkualitas. Terdapat beberapa cara yang
diekspresikan melaui emoticon untuk memberikan reputasi baik antarsesama
kaskuser.
a. Satu atau dua jempol
Saat seseorang mengacungkan jempol berarti memberikan apresiasi bagus
terhadap suatu hal. Sama halnya dengan komunitas Kaskus, para kaskuser
memberikan emoticon
dan
untuk memberikan
reputasi bagus terhadap sebuah post yang dianggap menarik atau
bermanfaat.
b. Bintang lima
Emoticon
bermakna reputasi bagus dengan „bintang lima‟ yang
merupakan level tertinggi dalam tingkat kebaikan sebuah thread maupun
post. Pada dasarnya konsep „bintang lima‟ ini juga dikenal dalam
kehidupan sehari-hari, yang biasa digunakan untuk menyatakan hotel
dengan kualitas dan fasilitas terbaik.
113
c. Cendol
Di dalam komunitas Kaskus cendol merupakan tanda reputasi bagus yang
dimiliki setiap Kaskuser. Emoticon RBK yang bermakna cendol yaitu
5. Reputasi Buruk
Selain reputasi bagus, dalam RBK juga terdapat emoticon yang
menunjukan reputasi buruk, yakni bata merah yang menunjukan poin reputasi
buruk seorang kaskuser
7. Sindiran
Beberapa emoticon dalam RBK juga digunakan untuk menyampaikan
sindiran, antara lain:
a. Manusia homoseksual
Emoticon
menggambarkan sosok laki-laki berkepala botak namun
menggunakan bergaya seperti perempuan. Hal ini mengandung makna
sindiran akan keberadaan manusia homoseksual yang dianggap sebagai
perilaku menyimpang di dalam masyarakat Indonesia.
b. Capek deh!
Capek deh! merupakan sebuah ungkapan yang populer di kalangan
masyarakat Indonesia sebagai bentuk sindiran karena merasa kesal
114
ataupun bosan dengan tingkah laku kaskuser lainnya. Ungkapan ini
diekspresikan melalui emoticon
dengan menggambarkan
gerakan tangan yang khas yang biasa dilakukan bersamaan dengan
ungkapan tersebut, yakni gerakan tangan menyentuh kening dengan
ekspresi wajah seperti pada emoticon di atas.
c. Hammer
Emoticon
dan
mengandung makna memukul kepala sendiri
dengan palu sebagai bentuk kekesalan yang sangat besar kepada kaskuser
lainnya. Hal ini juga mengandung makna sindiran bagi para kaskuser yang
melakukan sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
d. Najis
Pada awalnya emoticon
bermakna sindiran karena merasa najis
atau jijik akan keberadaan kaum homoseksual di kalangan masyarakat.
Namun pada perkembangan selanjutnya, emoticon ini digunakan untuk
mengekspresikan perasaan „jijik‟ terhadap berbagai hal yang tidak disukai
oleh Kaskuser.
7. Aktivitas Mental
Beberapa emoticon dalam RBK juga digunakan untuk menyatakan
beberapa aktivitas kaskuser secara mental, di antaranya:
115
a. Marah
Marah merupakan salah satu aktivitas mental yang timbul karena adanya
perubahan emosi secara signifikan akibat rasa tidak senang terhadap suatu
hal. Perasaan marah yang dialami seseorang diekspresikan melalui raut
muka geram dan disertai dengan wajah yang memerah seperti yang
digambarkan melalui emoticon RBK
dan
.
b. Bingung
Aktivitas mental lainnya yang juga diwakili oleh emoticon RBK yaitu
bingung, yang berarti merasa kurang jelas atau kurang mengerti tentang
sesuatu. Emoticon yang menggambarkannya yakni
dan
.
c. Takut
Takut merupakan perasaan ngeri dalam menghadapi sesuatu yang
dianggap akan mendatangkan bencana. Seseorang yang ketakutan
biasanya gemetar dengan raut muka seperti pada emoticon RBK berikut
ini:
d. Kaget
Kaget adalah aktivitas perasaan dimana seseorang merasa terperanjat atau
terkejut karena sesuatu hal. Ciri utama aktivitas ini adalah mata melotot
seperti pada emoticon
ini.
116
e. Cuek atau tidak peduli
Cuek merupakan perasaan yang tidak peduli dengan lingkungan
sekitarnya. Seseorang yang cuek seakan-akan menutup mata dari
permasalahan yang terjadi di dekatnya. Aktivitas ini diekspresikan melalui
emoticon
.
8. Aktivitas Fisik
Di samping aktivitas mental, beberapa akivitas fisik kaskuser juga
diekspresikan ke dalam emoticon, antara lain.
a. Bersiul
Bersiul berarti menggerak-gerakan mulut dengan menghirup atau
menghembuskan udara sehingga mengeluarkan suara yang berirama.
Dalam RBK bersiul diekspresikan emoticon
ini.
b. Meminta perdamaian
Banyak cara yang dilakukan oleh seseorang untuk meminta perdamaian,
salah satunya adalah dengan memberi tanda dengan telunjuk dan jari
tengah yang dikembangkan, seperti pada emoticon
.
c. Tidak berbicara
Emoticon
ini
mengandung
makna
tidak
berbicara
karena
menggambarkan mulut yang ditutup dengan lakban sehingga tidak
mampu mengeluarkan satu patah kata pun.
117
d. Mengejek
Mengejek berarti mengolok-olok atau mempermainkan seseorang dengan
tingkah laku tertentu, salah satunya dengan menjulurkan lidah dan
mengerlingkan mata seperti pada emoticon
.
e. Bersalaman
Bersalaman adalah aktivitas dimana dua orang saling berjabat tangan.
Aktivitas ini biasa dilakukan untuk menandai perkenalan, keramahtamahan maupun kesepakat, seperti tampak pada emoticon RBK berikut
ini:
f. Kabur
Kabur berarti melarikan diri tanpa pamit dari pekerjaan, keluarga, dan lain
sebagainya. Emoticon
dan
bermakna kabur karena
mengandung ikon kendaraan bermotor yang menggambarkan alat
transportasi untuk melarikan diri.
g. Berlibur
Berlibur adalah berkunjung ke suatu tempat untuk melepaskan penat dan
kelelahan. Seseorang yang berlibur biasa membawa berbagai perlatan
yang dikemas dalam sebuah tas besar seperti dieskpresikan melalui
emoticon
.
118
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
Ragam Bahasa Kaskus merupakan jenis ragam bahasa prokem dan
memiliki banyak perbendaharaan kata dengan struktur yang beranekaa ragam
serta
berbagai
emoticon
yang
digunakan
oleh
para
kaskuser
dalam
mengekspresikan perasaan. Kesimpulan dari hasil penelitiian ini terkait dengan
rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.
1. Leksikal-leksikal RBK dapat diklasifikasikan ke dalam lima bentuk yakni
Singkatan, Akronim, RBK Bentuk Ringkas, RBK Bentuk Plesetan
(Plesetan Sebagian dan Plesetan Total), RBK Yang Mengalami
Penyederhanaan Pelafalan, dan RBK Bentuk Campuran. Masing-masing
bentuk diklasifikasikan kembali ke dalam beberapa kategori berdasarkan
struktur dan proses pembentukannya.
2. Proses pemaknaan secara leksikal RBK sebagian besar melalui proses
pengembalian kata-kata RBK ke bentuk panjang maupun bentuk aslinya.
Namun, terdapat beberapa kata yang setelah dikembalikan ke bentuk
panjang maupun bentuk aslinya masih harus diamati secara mendalam
karena mengandung makna berkonotasi negatif yang biasanya digunakan
untuk mengejek atau mengolok-olok. Di samping itu, terdapat beberapa
bentuk yang tidak hanya memiliki makna literal, tetapi juga mengandung
makna figuratif yang berbeda dengan makna aslinya. Bahasa figuratif
118
119
RBK dibagi menjadi dua, yakni menggunakan gaya bahasa metafora dan
metonimi.
3. Secara garis besar, emoticon RBK dikelompokkan berdasarkan ukuran
menjadi dua, yakni, Emoticon Kaskus Berukuran Kecil dan Emoticon
Kaskus Berukuran Besar. Kemudian berdasarkan fungsinya dalam kalimat,
emoticon-emoticon tersebut dapat diklasifikasikan lagi menjadi emoticon
yang berfungsi sebagai pengganti unsur verbal dan penegas. Berdasarkan
komponen yang dimiliki, emoticon RBK dapat diklasifikasikan menjadi
emoticon yang mengandung (a) Simbol, (b) Ikon, (c) Indeks, (d)Simbol
dan Ikon, (e) Simbol dan Indeks, (f) Ikon dan Indeks (g) Simbol, Ikon, dan
Indeks. Namun, pada emoticon berukuran besar tidak ditemukan emoticon
yang hanya mengandng indeks.
4. Setelah memperhatikan keterkaitan antara Representamen, Objek, dan
Interpretan, maka secara umum makna yang terkandung dalam emoticon RBK
adalah cinta, kebahagiaan, kesedihan, reputasi baik, reputasi buruk,
sindiran, aktivitas mental, serta aktivitas fisik.
6.2 Saran
Penelitian ini mengkaji bentuk dan makna dari leksikal dan emoticon yang
digunakan di dalam komunitas Kaskus. Ditemukan bahwa, pada beberapa bentuk
terjadi penyederhanaan pelafalan yang berkaitan dengan perubahan bunyi. Oleh
karena itu, diharapkan penelitian-penelitian selanjutnya mampu mengkaji
perubahan bunyi RBK tersebut secara lebih mendalam.
120
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt Rinehart and
Winston.
Austin, J.L. 1962. How To Do Thing With Words. Oxford : Clarendon.
Beekman, John and John C. Callow. 1974. Translating the Word of God, with
Scripture and topical indexes. Grand Rapids: Zondervan.
Bloomfield, L. 1933. Language. New York: Holt-Rinehardt and Winston.
Chaer, Abdul. 1989. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chandler, Daniel. 2007. Semiotics:The Basics.Second Edition. New York:
Routledge.
de Groot, A.W. 1962. Inleiding tot de Algemene Taalwetenschap. Groningen: J.B
Wolters.
Dixon, R.M.W. 2005. A Language Consists of Words and Grammar. Oxford:
Oxford University Press.
Fromkin, Victorial A. (ed.). 2000. Linguistics. Massachussett: Blackwell.
Heryanto, Ariel. 1995. “Pelecehan dan Kesewenang-Wenangan Berbahasa
Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Polotik di Indonesia.” Makalah
PELLBA . Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.
Hockett, Ch.F. 1958. A Course in Modern Linguistics. New York: the Macmillan
and Co.
http://m.kaskus.us/
http://www.e-li.orglmain/pdf/pdf-269.pdf. diunduh tanggal 23 Maret 2010 jam
11.00
http://www.kaskus.us/
Keraf, Gorys.1994. Diksi dan Gaya Bahasa.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta:Gramedia.
121
Lyons, John. 1977. Semantics. Volume I. Cambridge: Cambridge University
Press.
Mahsun, M.S. 2007. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan
Tekniknya. Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Manik, Sondang. 2004. Pengkajian Semantik Pada Bahasa Gaul. Medan: USU
Press.
Nida, E.A. 1949. Morphology: The Descriptif Analysis of Words. Ann Arbour:
The University of Michigen Press.
Palmer.1981. Semantics. Sydney:Cambridge University Press.
Parera, Djos Daniel. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.
Peirce, Charles Sanders (1931–58) Collected Papers (8 vols: vol. 1, Principles of
Philosophy, ed. Charles Hartshorne and Paul Weiss, 1931; vol. 2,
Elements of Logic, ed. Charles Hartshorne and Paul Weiss, 1932; vol. 3,
Exact Logic (Published Papers), ed. Charles Hartshorne and Paul Weiss,
1933; vol. 4, The Simplest Mathematics; ed. Charles Hartshorne and Paul
Weiss, 1933; vol. 5, Pragmatism and Pragmaticism, ed. Charles
Hartshorne and Paul Weiss, 1934; vol. 6, Scientific Metaphysics ed.
Charles Hartshorne and Paul Weiss, 1935; vol. 7, Science and
Philosophy, ed. William A. Burks, 1958; vol. 8, 2 8 6 B I B L I O G R A
P H Y Reviews, Correspondence and Bibliography, ed. William A.
Burks, 1958). Cambridge, MA: Harvard University Press.
Pradopo, Rahmat Djoko. 1994. Stilistika dalam Buletin Humaniora No.1 tahun
1994.Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.
Pusat Bahasa, 2007. Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Edisi Ketiga. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Pusat Bahasa, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Ramlan, M. 1980. Ilmu Bahasa Indonesia: Morfologi, Suatu Tinjauan Deskriptif.
Yogyakarta: UP Karyono.
Reichling, AJBN. 1935. Het Woord, een Studie Omtrent de Grondslag van Taal
en Talgebruik. Zwolle: W.E.J. Tjenk Willingk.
Riasa. 2001. Ranah Bahasa Remaja; KIPBIPA IV. Denpasar: IALF Bali.
Ridwan, T.A. 2003. Buku Kerja Kebahasaan. Medan: USU Press.
Sahertian, Debby. 1999. Kamus Bahasa Gaul. Jakarta: PT. Sinar Harapan.
122
Searle, John R. 1977. Speech Acts, An Essay In The Philosophy of Language. New
York : Cambridge University Press.
Searle (Ed.). 1979. The Philosophy of Language. Oxford: Oxford University
Press.
Sibarani, Robert. 2004. Linguistik Antropologi. Medan: Penerbit Poda.
Siregar, Eva Tuti Harja. 2010. Bahasa Gaul pada Kalangan Waria di Jalan
Gadjah Mada Medan: Tinjauan Sosiolonguistik. Medan: USU Press
Sudana, I Wayan. 2007. Telaah Struktur dan Makna Ragam Bahasa Gaul.
Denpasar: Universitas Udayana.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana
University Press.
Ullmann, Stephen. 1977. Semantics, An Introduction to the Science of Meaning.
Diadaptasi oleh Sumarsono menjadi Pengantar Semantik.2007.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Verhaar, J.W.M. 1999. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Wolf, Alecia. 2009. Emotional Expression Online: Gender Differences in
Emoticon Use. Texas: The University of Texas.
Woodrich, Christopher Allen. 2009. Ragam Bahasa Tidak Resmi Dalam Lagu
Project Pop. Yogjakarta: Universitas Sanata Dharma
123
LAMPIRAN
DAFTAR LEKSIKAL
1. Singkatan
No
Singkatan
Arti
1
AFAIK
As Far As I Know
2
AFK
Away From Keyboard
3
AKA
As Known As
4
AKTB
Akses Kaskus Tanpa Banner
5
ASAP
As Soon As Possible
6
ASL
Age, Sex, Location
7
BB
Buka-bukaan
8
BB+17
Buka-bukaan 17 Tahun Keatas
9
BnB
Bet and Bookies
10
BNIB
Brand New In Box
11
BNWOT
Brand New Without Tag
12
BNWT
Brand New With Tag
13
BP
Berita dan Politik
14
BRB
Be Right Back
15
BRP
Bad Reputation Point
16
BSH
Barisan Sakit Hati
124
17
BTW
By The Way
18
BW
Bandwidth
19
BWK
Bandwidth Killer
20
CCPB
Cara Curang dan Program Bajakan
21
CFV
Call For Votes
22
CMIIW
Correct Me If I‟m Wrong
23
COD
Cash On Delivery
24
CP
Control Panel
25
CYSTG
Can You Solve This Game
26
DC
Debate Club
27
DL
Download
28
DP
Disturbing Picture
29
DPMP
Digital Photography Manual Photography
30
EF
English Forum
31
F2F
Face To Face
32
FAQ
Frequently Asked Question
33
FBI
Fans Bang Ipul
34
FJ
Forum Jokes
35
FJB
Forum Jual Beli
36
FR
Field Report
37
FR2
Forum Roda Dua
125
38
FU
Factory Unlocked
39
FYEO
For Your Eyes Only
40
FYI
For Your Information
41
GPP
Ga Pa Pa
42
GRP
Good Reputation Point
43
H2H
Hearth To Hearth
44
HT
Hot Thread
45
ID
Identitas
46
IGO
Indonesian Girls Only
47
IMHO
In My Humble Opinion
48
IOW
In Other Words
49
IRL
In Real Life
50
IYKWIM
If You Know What I Mean
51
J4F
Just For Fun
52
JK
Just Kidding
53
KBBK
Kamus Besar Bahasa Kaskus
54
KSP
Kritik Saran dan Pertanyaan
55
LOL
Laughing Out Loud
56
MYOB
Mind Your Own Business
57
NP
Now Playing
58
OANC
Outdoor Adventure and Nature Club
126
59
OC
Ori Cina
60
OL
On Line
61
OOT
Out Of Topic
62
PARSI
Persatuan Anti Repost Seluruh Indonesia
63
PI
Personal Insult
64
PM
Private Message
65
ROTFL
Rolling On The Floor Laughing
66
RP
Reputation Point
67
RS
Roy Suryo
68
SP
Surat Pembaca
69
SPS
Speed Posting Society
70
SU
Software Unlocked
71
TBC
Turut Berduka Cita
72
TFS
Thanks For Share
73
TIA
Thanks In Advance
74
TKP
Tempat Kejadian Perkara
75
TS
Thread Starter
76
WTA
Want To Ask
77
WTB
Want To Buy
78
WTH
What The Hell
79
WTK
Want To Know
127
80
WTS
Want To Sell
81
WTT
Want To Trade
82
YM
Yahoo! Messenger
2. Akronim
No
Akronim
Arti
1
Alay
Anak Layangan
2
Copas
Copy Paste
3
Delon
Derita Loe Nyet
4
Formil
Forum Militer
5
Forsup
Forum Supranatural
6
Gajebo
Ga Jelas Bo
7
Hode
Hoax Detected
8
Japri
Jalur Pribadi
9
Kaskus
Kasak Kusuk
10
Kopdar
Kopi Darat
11
Maho
Manusia Homo
12
Nocan
Nomor Cantik
128
13
Ongkir
Ongkos Kirim
14
Rekber
Rekening Bersama
15
Fovie
Forum Movie
16
Cacat
Calon Cantik
17
Milis
Mailing List
18
Perpakin
Persatuan Pertamax Indonesia
19
PertamaX
Pertama Kali
3. RBK Bentuk Ringkas
No
Bentuk Ringkas
Bentuk Asli
1
Admin
Administrator
2
Bro
Brother
3
Donat
Donator
4
Id
Identitas
5
Mov
Movie
6
Re
Reply
7
Req
Request
8
Sis
Sister
129
9
Sob
Sobat
10
Agan
Juragan
11
Gan
Juragan
12
Fwd
Forward
13
Img
Image
14
Aq
Aku
15
Gw
Gue
4. Plesetan Sebagian
No
Kata
Bentuk Asli
1
Dobol
Double Post
2
Lebay
Lebih
3
Maintenis
Maintenance
4
Mikocok
Microsoft
5
Repsol
Repost
6
Sotoy
Sok tahu
7
Kamsud
Maksud
8
Sotosop
Photoshop
130
9
Mimin
Admin
10
Momod
Moderator
11
Boneng
Bener
12
Prikitiw
Preview
5. Plesetan Total
No
Plesetan
Arti
1
Cendol
reputasi bagus
2
Bata Merah
reputasi buruk
3
Klonengan
hasil kopian
4
Kimpoi
kawin
5
Sedot
download
6
Kulkas
control panel
7
Afgan
sadis
8
Dejavu
thread yang diulang
9
Dodol
lambat, lemot, jelek
10
Hansip
lapor penyalahgunaan
11
Kolor ijo
cendol
131
12
Ijo-ijo
cendol
6. RBK Yang Yang Mengalami Penyederhanaan Pelafalan
No
Kata
Arti
1
Bukmak
Bookmark
2
Donlot-donlod
Download
3
Inpo - inpoh
Info
4
Mantab
Mantap
5
Nais – naiz
Nice
6
Nubi
Newbie
7
Tengkyu
Thank you
132
TESIS
RAGAM BAHASA KASKUS
NI MADE DHIANARI
NIM 0990161008
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI LINGUISTIK MURNI
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
133
TESIS
RAGAM BAHASA KASKUS
OLEH
NI MADE DHIANARI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
134
RAGAM BAHASA KASKUS
Tesis untuk memperoleh Gelar Magister
pada Program Magister, Program Studi Linguistik
Program Pascasarjana Universitas Udayana
NI MADE DHIANARI
NIM 0990161008
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI LINGUISTIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
i
135
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL 4 AGUSTUS 2011
Pembimbing I,
Pembimbing II
Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.
NIP 19590917 198403 2 002
Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S.
NIP 19560806 198303 2 001
Mengetahui
Ketua Program Studi Magister Linguistik
Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum
NIP 19620310 198503 1 005
ii
Direktur
Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi,Sp.S(K)
NIP 19590215 198510 2 001
136
PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS
Tesis Ini Telah Diuji pada
Tanggal 3 Agustus 2011
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana,
No.: 1367/UN14.4/HK/2011, Tanggal 29 Juli 2011
Ketua
: Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.
Sekretaris
: Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S.
Anggota :
1. Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.
2. Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S.
3. Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum.
iii
137
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa
karena atas rahmat dan tuntunan-Nya sehingga tesis ini dapat terselesaikan.
Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya penulis ucapkan kepada Prof. Dr.
Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. selaku Pembimbing I dan Dr. Ni Made Dhanawaty,
M.S. selaku Pembimbing II atas bimbingan, saran, dan masukan yang diberikan
sehingga penyelesaian tesis ini dapat berjalan dengan sangat lancar.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Prof. Dr. dr. Made
Bakta, Sp.PD (KHOM), selaku Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A.
Raka Sudewi, Sp.P (K) selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas
Udayana, dan Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra
Universitas Udayana, atas fasilitas dan dukungan yang diberikan kepada penulis
selama menempuh pendidikan Magister Linguistik di Universitas Udayana.
Penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Prof. Dr.
I Nyoman Suparwa, M.Hum., selaku Ketua Program Magister Linguistik
Universitas Udayana, Pembimbing Akademik penulis, serta para dosen pengajar,
atas segala ilmu, pengalaman, bimbingan dan dukungan yang diberikan kepada
penulis selama menempuh pendidikan sebagai karyasiswa Magister Linguistik di
Universitas Udayana. Terima kasih setinggi-tingginya juga penulis sampaikan
kepada Bapak I Ketut Ebuh, S.Sos, Ibu I Gusti Ayu Supadmini, Bapak I Nyoman
Sadra, S.S., dan Ibu Nyoman Adi Triani, S.E. atas segala dukungan dan bantuan
dalam urusan akademik perkuliahan.
iv
138
Kepada keluarga tercinta, Bapak (I Made Kuasa, S.Pd), Ibu (Nyoman
Suarti), Kakak (I Putu Wiratama), serta I Gede Surya Cahyadi, S.S., penulis ingin
menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya atas segala perhatian,
dukungan, dan doa tiada henti yang senantiasa diberikan selama proses pengerjaan
tesis ini.
Terakhir, kepada teman-teman Linguistik Murni ‟09, terima kasih karena
telah memberi penulis dua tahun penuh pengalaman menarik, dan terima kasih
karena sudah menjadi kawan seperjuangan penulis selama menjadi karyasiswa di
Magister Linguistik di Universitas Udayana.
Denpasar, 4 Agustus 2011
Ni Made Dhianari
v
139
ABSTRAK
Ragam Bahasa Kaskus (RBK) merupakan jenis ragam bahasa prokem
yang digunakan di dalam komunitas Kaskus yang dikenal dengan nama The
Largest Indonesian Community. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi
dan mengklasifikasikan struktur leksikal RBK; (2)menjelaskan proses pemaknaan
leksikal RBK; (3)mengidentifikasi dan mengklasifikasikan simbol-simbol
emoticon dalam RBK; (4)mengungkap makna simbol-simbol emoticon yang
digunakan oleh para kaskuser untuk mengekspresikan perasaan secara semantis.
Data-data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan teori Tata Bahasa
Peristilahan (Pusat Bahasa, 2007), Tindak Ilokusi (Searle, 1979), teori Semantik
sebagai kajian makna yang meliputi teori semantik leksikal (Lyon 1995 dan
Verhaar, 1999), Teori Makna Figuratif, yakni Metafor dan Metonimi (Beekman
dan Callow, 1974 serta Parera, 2004), Teori Semiotik (Peirce, 1931). Pendekatan
yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan
pengumpulan data dilakukan dengan metode simak.
Leksikal RBK dapat dibagi menjadi (1) singkatan; (2) akronim; (3) RBK
bentuk ringkas; (4) RBK bentuk plesetan, yakni plesetan sebagian dan plesetan
total; (5) RBK yang mengalami penyederhanaan pelafalan; (6)RBK bentuk
campuran. Tiap-tiap bentuk diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori
berdasarkan struktur dan proses pembentukannya. Ditemukan bahwa terdapat
beberapa kata yang mengandung makna berkonotasi negatif dan biasanya
digunakan untuk mengejek atau mengolok-olok serta beberapa bentuk bahasa
figuratif yang dikelompokkan menjadi dua yaitu metafora dan metonimi.
Emoticon RBK dikelompokkan berdasarkan ukuran, yakni (1a) emoticon
Kaskus berukuran kecil; (1b) emoticon Kaskus berukuran besar yang dianalisis
menggunakan teori triadik Peirce; berdasarkan fungsi diklasifikasikan menjadi
(2a) sebagai pengganti unsur verbal dan (2b) sebagai penegas yang kemudian
diklasifikasikan lagi berdasarkan teori tindak ilokusi Searle; berdasarkan
komponen diklasifikasikan menjadi emoticon yang mengandung (3a) Simbol, (3b)
Simbol dan Ikon, (3c) Simbol dan Indeks, (3d) Ikon dan Indeks, serta (3e) Simbol,
Ikon, dan Indeks. Secara umum makna yang terkandung dalam emoticon RBK
adalah (1) cinta; (2) kebahagiaan; (3) kesedihan; (4) reputasi baik; (5) reputasi
buruk; (6) sindiran; (7) aktivitas mental; dan (8) aktivitas fisik.
Kata Kunci: Bahasa Kaskus, Plesetan, Emoticon, Semiotik, Metafora, Metonimi.
vi
140
ABSTRACT
Kaskus Language Variety is a language used in the community known as
Kaskus, The Largest Indonesian Community. The purpose of this study were (1)
identify and classify RBK lexical structure, (2) describe the process of lexical
meaning of RBK, (3) identify and classify the emoticon symbols in RBK; (4)
uncover the meaning of emoticons used by the kaskuser to express feelings
semantically. The data in this study were analyzed using the theory grammatical
terminology (Pusat Bahasa, 2007), Illocutionary Act (Searle 1979), the theory of
semantics as the study of meaning that includes the theory of lexical semantics
(Lyon, 1977), Figurative theory, namely metaphor and metonymy (Beekman and
Callow, 1974 and Parera, 2004), Theory of Semiotics (Peirce, 1931 ). The
approach used in this study is a qualitative approach and the tapping method was
used in data collection.
RBK lexical items can be divided into (1) abbreviations, (2) acronyms (3)
RBK brief forms, (4) RBK form of a play (Plesetan), Plesetan on a part and
Plesetan on Total, (5) RBK all experiencing simplification pronunciation, (6)
RBK mixture forms. Each of these forms are classified into several categories
based on the structure and process. It was found that there are some words that
once returned to the long or original form had to be observed in detail because it
implies a negative connotation that is usually used to mock or ridicule and there
are some forms which not only has a literal meaning, but also contain a figurative
meaning that is different from its original meaning. They are grouped into two
namely metaphor and metonymy.
Emoticon RBK grouped by size i.e, (1a) small emoticons, (1b) large
emoticons, which are analyzed using the triadic theory of Peirce; classified by
function into (2a) instead of verbal elements and (2b) as confirmation that then
classified again according to Searle‟s illocutionay act theory; classified by the
components into (3a) symbol, (3b) Symbols and Icons, (3c) Symbols and Index,
(3d) Icon and Index, and (3e) Symbols, Icons, and index. In general, the meaning
contained in RBK emoticons are (1) love, (2) happiness, (3) grief (4) good
reputation; (5) bad reputation, (6) innuendo; (7) mental activity; and (8 ) physical
activity.
Keywords: Language Kaskus, Plesetan, Emoticon, Semiotics, Metaphor,
Metonymy.
vii
141
DAFTAR ISI
Halaman
PRASYARAT GELAR ........................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... ii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS.......................................................... iii
KATA PENGANTAR……. ................................................................................. iv
ABSTRAK.. ...........................................................................................................vi
ABSTRACT ..........................................................................................................vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL...................................................................................................xi
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................xii
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG.......................................................xiii
DAFTAR ISTILAH..............................................................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................5
1.3 Tujuan Penelitian...............................................................................................5
1.4 Manfaat Penelitian.............................................................................................6
1.4.1 Manfaat Teoritis...........................................................................................6
1.4.2 Manfaat Praktis............................................................................................6
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL
PENELITIAN..........................................................................................................7
2.1 Kajian Pustaka....................................................................................................7
viii
142
2.2 Konsep..............................................................................................................12
2.2.1 Variasi Bahasa............................................................................................12
2.2.2 Bahasa Prokem...........................................................................................13
2.2.3 Bahasa Plesetan..........................................................................................15
2.2.4 Emoticon....................................................................................................17
2.3 Kerangka Teori.................................................................................................18
2.3.1 Tata Peristilahan Bahasa Indonesia............................................................18
2.3.2 Semantik Sebagai Kajian Makna...............................................................21
2.3.2.1 Semantik Leksikal..........................................................................21
2.3.2.2 Makna Figuratif .............................................................................24
2.3.2.3 Teori Semiotik Charles Sanders Peirce..........................................29
2.3.2.4 Tindak Ilokusi................................................................................32
2.4 Model Penelitian..............................................................................................35
BAB III METODE PENELITIAN.......................................................................37
3.1 Pendekatan Penelitian......................................................................................37
3.2 Jenis dan Sumber Data.....................................................................................37
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data...........................................................38
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data....................................................................39
3.5 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data..........................................40
BAB
IV
STRUKTUR
DAN
PROSES
PEMAKNAAN
LEKSIAL
RBK.......................................................................................................................41
4.1 Struktur Leksikal RBK………………….………………………..………….41
4.1.1 Singkatan…………………………….……………………………….…42
4.1.2 Akronim………………………………...……………………………….49
ix
143
4.1.3 RBK Bentuk Ringkas……………………...…………………………...54
4.1.4 RBK Bentuk Plesetan………………………….………………………..57
4.1.4.1 Plesetan Sebagian……………………………...…….…………...58
4.1.4.2 Plesetan Total……………………………...……………………..61
4.1.5 RBK Yang Mengalami Penyederhanaan Pelafalan…………….……….62
4.1.6 RBK Bentuk Campuran………………………………………………...63
4.2 Proses Pemaknaan Leksikal RBK…………………………………………...64
4.2.1 Bahasa Figuratif Pada RBK......................................................................66
4.2.1.1 Metafora……………...………………...………………..…...…..66
4.2.1.2 Metonimi………………………………………………………....76
BAB V TIPE DAN MAKNA EMOTICON RBK…………………………..…..78
5.1 Tipe-Tipe Emoticon RBK................................................................................79
5.1.1 Berdasarkan Ukuran.................................................................................79
5.1.1.1 Emoticon Berukuran Kecil…………………………………….....79
5.1.1.2 Emoticon Berukuran Besar…...……………………..…………...87
5.1.2 Berdasarkan Fungsi....................................................………………….99
5.1.3 Klasifikasi Komponen…………...……………….................................104
5.4 Makna-Makna Yang Terkandung Dalam Emoticon RBK…………...…......107
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN…………….…………………………….123
6.1 Simpulan………………………………………………………………........118
6.2 Saran………………………………………..…………………………….…119
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................120
LAMPIRAN……………....................................................................................123
x
144
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Singkatan………………………………………………………...……42
Tabel 4.2 Singkatan yang Berhomonim.................................................................49
Tabel 4.3 Akronim……………...………………………………………………..49
Tabel 4.4 RBK Bentuk Ringkas…….…………………………………………...54
Tabel 4.5 Plesetan Sebagian……….……….........................................................58
Tabel 4.6 Plesetan Total...............................................…………………………..61
Tabel4.7. RBK Yang Mengalami Penyederhanaan Pelafalan…………………...62
Tabel 5.1 Emoticon Kaskus Berukuran Kecil……………………………………79
Tabel 5.2 Emoticon Kaskus Berukuran Besar……………………………………87
xi
145
DAFTAR GAMBAR
Gambar1.Tampilan Awal Komunitas Kaskus…………………………….……..2
Gambar 2. Contoh Emoticon…………………………………………………...17
Gambar 3. Bagan Semiotik Pierce………..…………………………….………30
Gambar 4. Model Penelitian……………………………………….……………35
Gambar 5. Kalimat Dengan Paduan Verbal dan Emoticon…………………….78
xii
146
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
DAFTAR SINGKATAN
A1-A4
: Kategori Akronim 1-4
EB1-EB25
: Contoh emoticon besar di dalam kalimat
EK1-EK17
: Contoh emoticon kecil di dalam kalimat
I
: Interpretant
KBBI
: Kamus Besar Bahasa Indoneia
KBBK
: Kamus Besar Bahasa Kaskus
L1-L44
: Contoh leksikal di dalam kalimat
O
: Objek
PS1-PS4
: Kategori Plesetan Sebagian 1-4
R
: Representamen
R1-R4
: Kategori Bentuk Ringkas 1-4
RBK
: Ragam Bahasa Kaskus
S1-S4
:Kategori Singkatan 1-4
DAFTAR LAMBANG
//
: untuk mengapit tanda bunyi fonemis
[]
: untuk mengapit tanda bunyi fonetis
()
: untuk mengapit singkatan contoh
xiii
147
DAFTAR ISTILAH
Ane
: aku (Bahasa Arab)
Banned ID
: ID yang dilarang masuk karena kesalahan tertentu
Blog
: merupakan singkatan dari web blog adalah bentuk aplikasi web
yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting)
pada sebuah halaman web umum.
Bookmark
: tanda situs atau halaman yang akan disimpan
Chat-room
: ruang atau lokasi tempat berkumpulnya suatu komunitas secara
online untuk berdialog satu dengan lainnya.
Download
: menyalin data ke komputer
E-mail
: pesan atau surat secara elektronik, baik berupa teks maupun
gabungan dengan gambar, yang dikirimkan ke satu alamat ke
alamat lain di jaringan internet.
Emoticon
: ikon emosi
Forward
: meneruskan thread
Gathering
: kumpul bersama anggota
Hoax
: bisa juga berita bohong
Junk
: post yang tidak bermutu
Junker
: oknum pelaku junk
Juragan (Sunda): panggilan kepada sesama anggota kaskus
xiv
148
Kaskuser
: anggota komunitas Kaskus
Maintenance : pemeliharaan server kaskus
Offline
: tidak terhubung dalam jaringan
Online
: sedang terhubung dalam jaringan
Page view
: nilai rata-rata jumlah halaman yang dilihat oleh pengunjung
Post
: mengirim atau me-reply
Post/Posting : komentar dalam sebuah thread
Reply
: menjawab sebuah thread
Repost
: thread yang diulang
Slang
: istilah lain dari bahasa gaul atau prokem
Thread
: halaman berisi suatu topik yang dibuat oleh seorang kaskuser
xv
Download