“PengaruhTerapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tekanan Darah

advertisement
“PengaruhTerapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita
Gagal Ginjal Grade V Di RSUD Kota Salatiga”
Ema Atmawati*, Zumrotul Choiriyah**, Gipta Galih Widodo***
*Peneliti, **Pembimbing Utama, ***Pembimbing Pendamping
Program Studi SI Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Latihan otot progresif secara fisiologis mengurangi aktifitas saraf simpatis akibat dari
efek relaksasi, maka produksi zat katekolamin akan berkurang. Hal ini yang menyebabkan
terjadinya dilatasi pembuluh darah dan tekanan darah mengalamai penurunan. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruhterapi relaksasi otot progresif terhadap
tekanan darah pada penderita Gagal Ginjal Grade V Di RSUD Kota Salatiga.
Desain penelitian ini quasi experiment dengan pendekatan non equivalent (pretest dan
posttest) control group design. Populasi penelitian ini adalah penderita gagal ginjal kronis
tahap V di RSUD kota Salatiga dengan jumlah sampel sebanyak 28 orang yang dibagi
menjadi 14 orang kelompok kontrol dan 14 orang kelompok intervensi, diambil
menggunakan teknik purposive sampling. Alat pengambilan data menggunakan
sphygmomanometer. Analisis data menggunakan paired t test dan independen t test
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap
tekanan darah pada penderita gagal ginjal kronik tahap V di RSUD Kota Salatiga.dengan p
value untuk tekanan darah sistolik sebesar 0,024 dan diastolik sebesar 0,046 (α=0,05).
Hendaknya penderita gagal ginjal kronik tahap V dapat menerapkan latihan relasasi
otot progresif di rumah sebagai upaya mengendalikan tekanan darah.
Kata Kunci : terapi relaksasi, otot progresif, tekanan darah
Kepustakaan: 39 (2007-2015)
PENDAHULUAN
Gagal ginjal merupakan suatu
keadaan dimana terjadinya penurunan
fungsi ginjal secara optimal untuk
membuang zat-zat sisa dan cairan yang
berlebihan
dari
dalam
tubuh
(Vitahealth, 2007). Penurunan fungsi
ginjal dapat terjadi akibat suatu
penyakit, kelainan anatomi ginjal dan
penyakit yang menyerang ginjal itu
sendiri. Apabila hanya 10 % dari ginjal
yang berfungsi, pasien dikatakan sudah
sampai pada penyakit ginjal end-stage
renal disease (ESRD) atau penyakit
ginjal tahap akhir. Awitan gagal ginjal
mungkin akut, yaitu berkembang
sangat cepat dalam beberapa jam atau
dalam beberapa hari. Gagal ginjal
dapat juga kronik, yaitu terjadi
perlahan dan berkembang perlahan,
mungkin dalam beberapa tahun
(Baradero, 2009).
Pasien Gagal Ginjal Kronik
(GGK) harus memperhatikan diit yang
tepat. Pembatasan asupan natrium
merupakan salah satu syarat diit pasien
Gagal Ginjal Kronik. Pembatasan
asupan natrium pasien Gagal Ginjal
Kronik yaitu 1000-3000 mg/hari
(Almatsier, 2008). Asupan natrium
berhubungan erat dengan kontrol tubuh
terhadap
volume
ekstraseluler
(Triatmoko, 2015).
Pembatasan
asupan natrium pada pasien Gagal
Ginjal Kronik bertujuan untuk
mengendalikan edemadan tekanan
darah (Suwitra, 2007).
Tekanan darah menunjukkan
kekuatan darah menekan dinding
pembuluh darah. Setiap kali berdetak
(sekitar 60-70 kali per menit dalam
keadaan istirahat), jantung akan
memompa darah melewati pembuluh
darah. Tekanan darah terbesar terjadi
ketika jantung memompa darah (dalam
keadaan kontraksi), dan ini disebut
dengan tekanan sistolik. Ketika jantung
beristirahat (dalam keadaan dilatasi),
tekanan darah berkurang disebut
tekanan darah diastolik (Sustrani, dkk,
2010).
Tekanan darah pasien Gagal
Ginjal
Kronik
hampir
selalu
meningkat, mekanisme peningkatan
tekanan darah karena penimbunan
garam dan air atau sistem Renin
Angiotensin
Aldosteron
(RAA)
(Suwitra, 2007).
Akibat peningkatan tekanan darah
pada
jangka
panjang
dapat
menyebabkan
penebalan
dinding
ventrikel kiri dan beberapa penyakit
penyerta pada penderita Gagal Ginjal
Kronik seperti diabetes mellitus dan
hipertensi yang dapat mempercepat
buruknya fungsi ginjal penderita
(William, 2009). Penatalaksanaan yang
bisa dilakukan untuk mengendalikan
tekanan
darah,
yaitu
terapi
farmakologis dengan menggunakan
obat dan terapi non farmakologis
(Wahdah, 2011).
Terapi
farmakologi
untuk
mengendalikan tekanan darah dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa
kategorik yaitu diuretic, beta bloker,
vasodilator, calcium antagonis, ACE
inhibitor
dan
bloker
reseptor
angiotensin.
Terapi
farmakologi
membutuhkan waktu yang lama serta
memberikan efek samping terhadap
tubuh. Kondisi ini juga membutuhkan
biaya yang mahal, waktu yang panjang
serta dapat meningkatkan kebosanan
sehingga
berakibat
incompliance
terhadap terapi (Black & Hawk, 2015).
Terapi
non
farmakologi
merupakan upaya yang berperan besar
dalam menurunkan tekanan darah sejak
lima tahun terakhir ini. Jenis terapi ini
meliputi mengubah gaya hidup yang
terdiri dari menghentikan kebiasaan
merokok, menurunkan berat badan
berlebih, menurnkan konsumsi alcohol
berlebih, latihan fisik, menurunkan
asupan garam dan meningkatkan
konsumsi buah dan sayur serta
meurunkan asupan lemak. Jenis terapi
yang lain untuk mengendalikan
tekanan darah yaitu modifikasi gaya
hidup, pembatasan cairan, penambahan
ion K dan teknik relaksasi (Black &
Hawk, 2015).
Modifikasi gaya hidup efektif
dalam menurunkan tekanan darah dan
menurnkan
faktor
risiko
kardiovaskuler. Modifikasi gaya hidup
disarankan untuk menjadi terapi
pertama untuk semua klien minimal 612 bulan setelah diagnosis awal.
Beberapa terapi relaksasi termasuk
meditasi,yoga,
biofeedback,
psikoterapi dan relaksasi otot progresif
(Scoot, 2007).
Relaksasi
otot
progresif
merupakan suatu metode relaksasi
melalui dua proses yaitu menegangkan
dan merilekskan otot tubuh. Latihan ini
adalah salah satu dari yang paling
sederhana dan mudah dipelajari
(Richmond, 2009). Manfaat dari
latihan ini adalah untuk menurunkan
ketegangan fisik, menurunkan nadi dan
tekanan darah serta respirasi. Efek dari
teknik relaksasi pada tekanan darah
telah dikonfirmasi positif, lebih kurang
60-90% klien yang konsultasi ke
dokter keluarga yang terkait dengan
stress sejumlah besar memiliki tekanan
darah tinggi (Schwickert, 2007).
Latihan relaksasi otot progresif
yang dilakukan dengan tenang, rileks
dan konsentrasi penuh terhada tegang
dan rilek otot yang dilatih selama 15
menit
maka
sekresi
CRH
(Corticotrophin Releasing Hormone)
dan ACTH (Adreno Cortico Trophic
Hormone) di hipotalamus menurun.
Penurunan sekresi kedua hormone ini
menyebabkan aktifitas kerja saraf
simpatik
menurun,
sehingga
pengeluaran
adrenalin
dan
noradrenalin berkurang. Penurunan
adrenalin
dan
norepineprin
mengakibatkan terjadi penurunan
denyut jantung, pembuluh darah
melebar, tahanan pembuluh darah
berkurang dan penurunan pompa
jantung sehingga tekanan darah arterial
jantung menurun (Hamarno, 2010).
Berdasarkan studi pendahuluan
yang dilakukan oleh peneliti dengan
memberikan terapi relaksasi otot
progresif selama 2 kali pertemuan
terhadap 8 pasien gagal ginjal
kronistahap V didapatkan data 5 orang
yang mengalami penurunan tekanan
darah setelah diberikan terapi relaksasi
otot progresif dan 2 orang yang tidak
mengalami penurunan tekanan darah
serta 1 orang yang mengalami
kenaikan
tekanan
darah
pada
pengukuran kedua setelah diberikan
terapi relaksasi otot progresif. Hal
tersebut
menunjukkan pemberian
terapi otot progresif efektif dalam
menurunkan tekanan darah terhadap
pasien gagal ginjal kronis tahap V di
RSUD Kota Salatiga walaupun tidak
semua
responden
mengalami
penurunan tekanan darah.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian
Peneliti dalam penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif,
metode
yangdigunakan
quasi
experiment atau eksperimen semu.
Penelitian
quasi
experiment
merupakan penelitian yang dimaksud
untuk mengetahui ada tidaknya akibat
dari “sesuatu” yang dikenakan pada
subjek selidik (Notoadmodjo, 2010).
Jenis desain dalam penelitian
ini bentuk desain non equivalent
(pretest dan postest) control group
design.
Populasi dan Sample
Populasi
Populasi pada penelitian ini
adalah penderita gagal ginjal kronis
tahap V di RSUD kota Salatiga
yaitu sebanyak 132 orang (data
jumlah
rata-rata
kunjungan
penderita gagal ginjal kronis tahap
V setiap bulan dari bagian rekam
medis RSUD kota Salatiga).
Sample
Sampel yang diteliti adalah
penderita gagal ginjal kronis tahap
V di RSUD Kota Salatiga.
Yang terdiri dari kelompok
intervensi sebanyak 14 orang dan
kelompok kontrol 14 orang responden.
Sample dalam penelitian ini
adalah penderita gagal ginjal kronik
tahap v di RSUD kota Salatiga.
Kriteria eklusi yang ditetapkan
:1) Penderita Gagal Ginjal Kronik
tahap V yang menjalani terapi
komplementer lain; 2) Responden
pada saat dilakukan penelitian
menjalani perawatan intensif; 3) Tidak
bersedia menjadi responden.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dirumah
responden pada 28 juli 2017, dengan
melakukan pengukuran tekanan darah
sebelum dan sesudah diberikan terapi
relaksasi otot progresif.
PENGUMPULAN DATA
Alat yang digunakan untuk
mengumpulakan
data
sphygmomanometer
dan
lembar
observasi tabel checklist untuk waktu
terapi dan hasil pengukuran tekanan
darah sebelumdan sesudah di berikan
relaksasi otot progresif.
ANALISA DATA
Analisa Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk
menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian.
Variabel
dalam
penelitian
ini
menggambarkan tekanan darah pada
penderita gagl ginjal kronik yang
diberikan relaksasi otot progresif.
Analisa Bivariat
peneliti menggunakan Uji-t
untuk
mengetahui pengaruh terapi relaksasi
otot progresif terhadap tekanan darah
pada penderita gagal ginjal kronik di
RSUD
Kota
Salatiga
karena
membandingkan data yang berasal dari
dua kelompok data yang tidak
berpasangan.
HASIL PENELITIAN
Analisa Univariat
Tabel 1 Gambaran Tekanan
Darah Sistolik pada Penderita Gagal
Ginjal Kronik Tahap V di RSUD Kota
Salatiga Sebelum dan Sesudah
Diberikan Terapi Relaksasi Otot
Progresif pada Kelompok Intervensi
Tekanan
darah
N
Min
Max Mea
n
SD
Sistolik Sebel
um
14
200,0
0
240,
00
217, 11,38
1429 729
Setela
h
14
190,0
0
230,
00
206, 12,77
4286 446
Berdasarkan Tabel 1 tersebut dapat
diketahui bahwa dari 14 orang penderita
gagal ginjal kronik tahap V di RSUD Kota
Salatiga pada kelompok intervensi
sebelum diberikan terapi relaksasi otot
progresif memiliki rata-rata tekanan darah
sistolik
sebesar
217,1429
mmHg,
sedangkan setelah diberikan terapi
relaksasi otot progresif memiliki rata-rata
tekanan darah sistolik sebesar 206,4286
mmHg.
rata-rata tekanan darah sistolik sebesar
216,4286 mmHg, sedangkan setelah
penelitian memiliki rata-rata tekanan
darah sistolik sebesar 217,1429
mmHg.
Tabel 2 Gambaran Tekanan Darah
Diastolik pada Penderita Gagal Ginjal
Kronik Tahap V di RSUD Kota Salatiga
Sebelum dan Sesudah Diberikan Terapi
Relaksasi Otot Progresif pada Kelompok
Intervensi
Tekanan
darah
N
Min
M
ax
Me
an
SD
Diastoli Seb
k
elu
m
14
100, 14 117
00
0,0 ,85
0
71
11,88
313
Sete
lah
14
90,0 13 106
0
0,0 ,42
0
86
12,77
446
Berdasarkan Tabel 2 tersebut
dapat diketahui bahwa dari 14 orang
penderita gagal ginjal kroniktahap V
di RSUD Kota Salatiga pada
kelompok
intervensi
sebelum
diberikan terapi relaksasi otot
progresif memiliki rata-rata tekanan
darah diastolic sebesar 117,8571
mmHg, sedangkan setelah diberikan
terapi relaksasi otot progresif memiliki
rata-rata tekanan darah diastolic
sebesar 106,4286 mmHg.
Tabel 3 Gambaran Tekanan
Darah Sistolik pada Penderita Gagal
Ginjal Kronik Tahap V di RSUD
Kota Salatiga Sebelum dan Sesudah
Penelitian pada Kelompok Kontrol
Tekanan
darah
n
Min
Max
Mean SD
Sistoli Seb
k
elu
m
1
4
200,0 240,0
0
0
216,4
286
12,15
739
Sete
lah
1
4
200,0 240,0
0
0
217,1
429
12,66
647
Berdasarkan Tabel 3 tersebut
dapat diketahui bahwa dari 14 orang
penderita gagal ginjal kronik tahap V
di RSUD Kota Salatiga pada kelompok
kontrol sebelum penelitian memiliki
Tabel 4 Gambaran Tekanan Darah
Diastolik pada Penderita Gagal
Ginjal Kronik Tahap V di RSUD
Kota Salatiga Sebelum dan
Sesudah Penelitian padaKelompok
Kontrol
Berdasarkan Tabel 4 tersebut dapat
diketahui bahwa dari 14 orang penderita
gagal ginjal kronik tahap V di RSUD Kota
Salatiga pada kelompok kontrol sebelum
Tekanan
darah
N Min Max
Mean
SD
Diast
olik
Sebe
lum
1 100
4 ,00
140,
00
117,1
429
12,66
647
Setel
ah
1 100
4 ,00
140,
00
115,7 13,4246
143 0
penelitian memiliki rata-rata tekanan darah
diastolic sebesar 117,1429 mmHg,
sedangkan setelah penelitian memiliki
rata-rata tekanan darah diastolik sebesar
115,7143 mmHg.
Analisa Bivariat
Perbedaan Tekanan Darah Sistolik
pada Penderita Gagal Ginjal Kronik
Tahap Vdi RSUD Kota Salatiga
Sebelum dan Sesudah Diberikan
Terapi Relaksasi Otot Progresif pada
Kelompok Intervensi
Sist
olik
n
Mea
n
SD
t
hitu
ng
p
value
14
217,
142
9
11,38
729
8,44
6
0,000
Setel 14
ah
206,
428
6
12,77
446
Sebe
lum
Perbedaan Tekanan Darah Diastolik
pada Penderita Gagal Ginjal Kronik
Tahap V di RSUD Kota Salatiga
Sebelum dan Sesudah Diberikan
Terapi Relaksasi Otot Progresif pada
Kelompok Intervensi
Mea
n
SD
Diasto Sebe
lik
lum
1
4
117, 11,8
8571 8313
Setel
ah
1
4
106, 12,7
4286 7446
Perbedaan Tekanan Darah Sistolik
pada Penderita Gagal Ginjal Kronik
Tahap V di RSUD Kota Salatiga
Sebelum dan Sesudah Penelitian
pada Kelompok Kontrol
N
Berdasarkan ujidependen t-test
terlihat bahwa nilai t hitung untuk
tekanan darah sistolik sebesar 8,446
dan nilai p value sebesar 0,000
(α=0,05). Hal tersebut menunjukkan
ada perbedaan tekanan darah sistolik
pada penderita gagal ginjal kronik
tahap V di RSUD Kota Salatiga
sebelum dan sesudah diberikan terapi
relaksasi otot progresif pada kelompok
intervensi.
n
relaksasi otot progresif pada kelompok
intervensi.
t
p
hit valu
ung e
8,0
00
0,00
0
Berdasarkan ujidependen t-test
terlihat bahwa nilai t hitung untuk
tekanan darah diastolik sebesar 8,000
dan nilai p value sebesar 0,000
(α=0,05). Hal tersebut menunjukkan
ada perbedaan tekanan darah diastolic
pada penderita gagal ginjal kronik
tahap V di RSUD Kota Salatiga
sebelum dan sesudah diberikan terapi
Sistolik Sebelum 14
Setelah
14
Mean
SD
t
p
hitun value
g
216,4
286
12,
157
39
0,56
3
217,1
429
12,
666
47
Berdasarkan ujidependen t-test
terlihat bahwa nilai t hitung untuk
tekanan darah sistolik sebesar -0,563
dan nilai p valuese besar 0,583
(α=0,05). Hal tersebut menunjukkan
tidak ada perbedaan tekanan darah
sistolik pada penderita gagal ginjal
kronik tahap V di RSUD Kota Salatiga
sebelum dan sesudah penelitian pada
kelompok kontrol.
Perbedaan Tekanan Darah Diastolik
pada Penderita Gagal Ginjal Kronik
Tahap V di RSUD Kota Salatiga Sebelum
dan Sesudah Penelitian pada Kelompok
Kontrol
N Mea
n
Dia
stol
ik
SD
t
hitun
g
p
valu
e
1,472
0,16
5
Se 1
bel 4
um
117
,14
29
12,
666
47
Set 1
ela 4
h
115
,71
43
13,
424
60
0,583
Berdasarkan ujidependen t-test
terlihat bahwa nilai t hitung untuk
tekanan darah diastolic sebesar -1,472
dan nilai p value sebesar 0,165
(α=0,05). Hal tersebut menunjukkan
tidak ada perbedaan tekanan darah
pada penderita gagal ginjal kronik
tahap V di RSUD Kota Salatiga
sebelum dan sesudah diberikan terapi
relaksasi otot progresif pada kelompok
kontrol.
Pengaruh Terapi Relaksasi Otot
Progresif terhadap Tekanan Darah
Sistolik Pada Penderita Gagal Ginjal
Kronik Tahap V di RSUD Kota
Salatiga.
Tek Sist
ana olik
n
dar
ah
N Mea
n
diffe
renc
e
SD
differe
nce
t
hit
un
g
p
value
1 11,4
4 2857
4,7792
7
2,3
91
0,024
Berdasarkan ujiindependen ttest terlihat bahwa nilai t hitung untuk
tekanan darah sistolik sebesar 2,391
dan nilai p value sebesar 0,024
(α=0,05). Hal tersebut menunjukkan
ada pengaruh yang bermakna terapi
relaksasi otot progresif terhadap
tekanan darah sistolik pada penderita
gagal ginjal kronik tahap V di RSUD
Kota Salatiga.
Pengaruh Terapi Relaksasi
Otot Progresif terhadap Tekanan
Darah Diastolik Pada Penderita
Gagal Ginjal Kronik Tahap V di
RSUD Kota Salatiga.
N Mea
n
diffe
SD
diff
ere
t
hitu
p
val
renc
e
Tekan Dia 1
an
stoli 4
darah k
nce ng
12,1 5,7
4286 85
95
ue
2,09 0,0
9
46
Berdasarkan ujiindependen ttest terlihat bahwa nilai t hitung untuk
tekanan darah diastolik sebesar 2,099
dan nilai p value sebesar 0,046
(α=0,05). Hal tersebut menunjukkan
ada pengaruh yang bermakna terapi
relaksasi otot progresif terhadap
tekanan darah diastolik pada penderita
gagal ginjal kronik tahap V di RSUD
Kota Salatiga.
PEMBAHASAN
Analisa Univariat
Gambaran Tekanan Darah pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik Tahap
V di RSUD Kota Salatiga Sebelum
dan Sesudah Diberikan Terapi
Relaksasi Otot Progresif pada
Kelompok Intervensi
Hasil penelitian menunjukkan
dari 14 orang penderita gagal ginjal
kronik tahap V di RSUD Kota Salatiga
pada kelompok intervensi sebelum
diberikan terapi relaksasi otot progresif
memiliki rata-rata tekanan darah
sistolik sebesar 217,1429 mmHg dan
diastolik sebesar 117,8571 mmHg,
sedangkan setelah diberikan terapi
relaksasi otot progresif memiliki ratarata tekanan darah sistolik sebesar
206,4286 mmHg dan diastolik sebesar
106,4286 mmHg.
Tekanan darah merupakan
kekuatan yang diperlukan agar darah
dapat mengalir di dalam pembuluh
darah dan beredar mencapai semua
jaringan tubuh manusia darah
berfungsi sebagai sarana pengangkut
oksigen, sisa hasil metabolisme yang
tidak berguna dari jaringan tubuh
(Gunawan,
2007).
Pengaturan
metabolism zat kapurnya (kalsium)
terganggu menyebabkan banyaknya
zat kapur yang beredar bersama aliran
darah, akibatnya darah menjadi padat
dan tekanan darah pun meningkat.
Tekanan
darah
sistolik
lebih
mempengaruhi peningkatan tekanan
darah karena tekanan darah sistolik
merupakan
penyebab
kematian
tertinggi dari pada tekanan darah
diastolik. Pembuluh darah yang
bermasalah adalah pembuluh darah
arteri, maka hanya tekanan darah
sistolik yang meningkat tinggi.
Tekanan darah sistolik mempunyai
angka kematian 2,5 kali lebih tinggi
dari pada tekanan darah diastolik.
Tekanan darah sistolik adalah tekanan
dalam arteri yang terjadi saat
dipompanya darah dari jantung ke
seluruh tubuh. Jadi, apabila tekanan
sistolik tinggi maka akan terjadi
gangguan pada aliran darah dan
organ-organ vital tubuh. Hal ini
menjelaskan bahwa mengapa angka
kematian akibat tekanan darah sistolik
lebih tinggi dibandingkan akibat dari
tingginya tekanan darah diastolik.
Menurut
Nasihah
(2012),
relaksasi progresif merupakan suatu
teknik dalam terapi perilaku untuk
mengurangi
ketegangan
dan
kecemasan dengan menggunakan
sekelompok otot tertentu. Penderita
gagal ginjal kronik tahap V akan
diberikan
kesempatan
untuk
mempelajari
bagaimana
cara
menegangkan sekelompok otot tertentu
kemudian melepaskan ketegangan
tersebut. Bila sudah dapat merasakan
keduanya, penderita gagal ginjal
kronik tahap V mulai membedakan
sensasi pada saat otot dalam keadaan
tegang dan rileks. Sesuatu yang
diharapkan adalah penderita gagal
ginjal kronik tahap V secara sadar
untuk belajar merilekskan otot-ototnya
sesuai dengan keinginannya melalui
suatu cara yang sistematis. Penderita
gagal ginjal kronik tahap V juga
belajar menyadari otot-ototnya dan
berusaha untuk sebisa mungkin
mengurangi
atau
menghilangkan
ketegangan otot tersebut.
Gambaran Tekanan Darah pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik Tahap
V di RSUD Kota Salatiga Sebelum
dan
Sesudah
Penelitian
pada
Kelompok Kontrol
Hasil penelitian menunjukkan
dari 14 orang penderita gagal ginjal
kronik tahap V di RSUD Kota Salatiga
pada kelompok kontrol sebelum
diberikan terapi relaksasi otot progresif
memiliki rata-rata tekanan darah
sistolik sebesar 216,4286 mmHg dan
diastolik sebesar 117,1429 mmHg,
sedangkan setelah diberikan terapi
relaksasi otot progresif memiliki ratarata
tekanan
darah
sistolik
sebesar217,1429 mmHg dan diastolik
sebesar 115,7143 mmHg.
Pembuluh darah pada penderita
peningkatan tekanan darah lebih tebal
dan kaku atau disebut aterosklerosis
sehingga
tekanan
darah
akan
meningkat. Bila disertai dengan adanya
plak disekitar dinding dalam arteri, hal
tersebut akan menyebabkan sumbatan
pada pembuluh darah yang dapat
membuat terjadinya penyumbatan pada
arteri koroner dan stroke (pecahnya
pembuluh darah), bila terjadi pada otak
dapat menyebabkan kelumpuhan dan
kematian. Untuk lansia hendaknya
mengurangi konsumsi natrium (garam)
karena garam yang berlebihan dalam
tubuh dapat meningkatkan tekanan
darah (Maryam, 2008).
Hal ini sesuai dengan teori yang
mengatakan bahwa konsumsi lemak
dan garam natrium yang berlebih
mempunyai pengaruh kuat pada resiko
penyakit
kardiovaskular
seperti
penyakit jantung koroner dan stroke,
efek lain pada lipid darah, thrombosis,
tekanan darah tinggi.(WHO, 2010)
Analisa Bivariat
Perbedaan Tekanan Darah pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik Tahap
Vdi RSUD Kota Salatiga Sebelum dan
Sesudah Diberikan Terapi Relaksasi
Otot Progresif pada Kelompok
Intervensi
Hasil penelitian menunjukkan
dari 14penderita gagal ginjal kronik
tahap Vdi RSUD Kota Salatiga pada
kelompok
intervensi
sebelum
pemberian terapi relaksasi otot
progresif memiliki rata-rata tekanan
darah sistolik sebesar 217,1429 mmHg
dan diastolik sebesar 206,4286 mmHg,
sedangkan setelah pemberian terapi
relaksasi otot progresif memiliki ratarata tekanan darah sistolik sebesar
117,8571 mmHg dan diastolik sebesar
106,4286 mmHg.
Berdasarkan ujidependen t-test
terlihat bahwa nilai t hitunguntuk
tekanan darah sistolik sebesar 8,446
dan nilai p value sebesar 0,000
(α=0,05),
sedangkan
nilai
t
hitunguntuk tekanan darah diastolik
sebesar 8,000 dan nilai p value sebesar
0,000
(α=0,05).
Hal
tersebut
menunjukkan ada perbedaan tekanan
darah pada penderita gagal ginjal
kronik tahap Vdi RSUD Kota Salatiga
sebelum dan sesudah diberikan terapi
relaksasi otot progresif pada kelompok
intervensi.
Teknik relaksasi otot progresif
merupakan bentuk relaksasi yang
memusatkan perhatian pada suatu
aktifitas otot, dengan mengidentifikasi
otot
yang
tegang
kemudian
menurunkan
ketegangan
dengan
melakukan teknik relaksasi untuk
mendapakan
perasaan
relaks
(Purwanto, 2013). Respon relaksasi
merupakan bagian dari penurunan
umum
kognitif.
Fisologis, dan
stimulasi
perilaku.
Relaksasi
mengakibatkan renggangan pada arteri
akibatnya terjadi vasodilatasi pada
arteora dan vena divasilitasi oleh pusat
fasomotor, ada beberapa macam
fasomotor yaitu reflek baroreseptor,
reflek femoreseptor, reflek brain prain,
reflek pernafasan. Dalam hal ini yang
paling kuat yaitu reflek baroreseptor
yang mana relaksasi akan menurunkan
aktifitas saraf simpatis dan epinefrin
serta peningkatan saraf parasimpatis
sehingga kecepatan denyut jantung
menurun, volume sekuncup (CO)
menurun, serta terjadi vasodilatasi
arteriol dan venula. Selain itu curah
jantung dan resistensi perifer total juga
menurun dan tekanan darah turun
(Sheps, 2015).
Hasil dalam penelitian ini
sesuai dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Ningsih (2008)
mengenai
hubungan karakteristik
individu asupan zat gizi dan gaya
hidup terhadap kejadian peningkatan
tekanan darah pada orang dewasa di
Depok dimana dalam penelitian ini
ditemukan adanya hubungan antara
kebiasaan makanan tinggi garam
dengan kejadian peningkatan tekanan
darah.
Perbedaan Tekanan Darah pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik Tahap
V di RSUD Kota Salatiga Sebelum
dan
Sesudah
Penelitian
pada
Kelompok Kontrol
Hasil penelitian menunjukkan
dari 14penderita gagal ginjal kronik
tahap Vdi RSUD Kota Salatiga pada
kelompok control sebelum penelitian
memiliki rata-rata tekanan darah
sistolik sebesar 216,4286 mmHg dan
diastolik sebesar 117,1429 mmHg,
sedangkan setelah penelitian memiliki
rata-rata tekanan darah sistolik sebesar
217,1429 mmHg dan diastolik sebesar
115,7143 mmHg.
Berdasarkan ujidependen t-test
terlihat bahwa nilai t hitunguntuk
tekanan darah sistolik sebesar -0,563
dan nilai p value sebesar 0,583
(α=0,05),
sedangkan
nilai
t
hitunguntuk tekanan darah diastolik
sebesar -1,472 dan nilai p value
sebesar 0,165 (α=0,05). Hal tersebut
menunjukkan tidak ada perbedaan
tekanan darah pada penderita gagal
ginjal kronik tahap Vdi RSUD Kota
Salatiga
sebelum
dan
sesudah
diberikan terapi relaksasi otot progresif
pada
kelompok
kontrol.
Hasil
penelitian tersebut juga menunjukkan
bahwa terjadi peningkatan tekanan
darah pada kelompok kontrol setelah
penelitian. Menurut Potter & Perry
(2007) beberapa keadaan yang
merupakan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
tekanan
darah
diantaranya adalah stres.
Penderita gagal ginjal kronik
tahap V yang dapat penatalaksanaan
pengedalian tekanan darah atau tidak
cenderung memiliki tekanan darah
yang tinggi meski ada kalanya tekanan
darah pada penderita gagal ginjal
kronik tahap V berada dalam batas
normal. Kondisi akan diperburuk
dengan adanya peningkatan tekanan
darah akibat stres, maka tekanan darah
akan menjadi semakin tinggi. Apabila
kondisi ini terus menerus dalam waktu
yang lama tanpa penanganan yang
tepat maka tekanan darah tinggi
tersebut akan sulit dikontrol. Tekanan
darah yang tidak terkontrol, akan
menjadikan penyebab utama penyakit
stroke (Prasetyorini, 2012).
Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian Hermawan (2014)
tentang hubungan tingkat stres dengan
tekanan darah pada lansia hipertensi di
Gamping Sleman Yogyakarta.
Pengaruh
TerapiRelaksasi
Otot
Progresifterhadap Tekanan Darah
Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik
Tahap V di RSUD Kota Salatiga
Hasil penelitian menunjukkan
dari 14penderita gagal ginjal kronik
tahap Vdi RSUD Kota Salatiga
diperolehbeda rata-rata tekanan darah
sistolik sebesar 11,42857 mmHg dan
diastolik sebesar 12,14286 mmHg.
Berdasarkan
ujiindependen
t-test
terlihat bahwa nilai t hitunguntuk
tekanan darah sistolik sebesar 2,391
dan nilai p value sebesar 0,024
(α=0,05),
sedangkan
nilai
t
hitunguntuk tekanan darah diastolik
sebesar 2,099 dan nilai p value sebesar
0,046
(α=0,05).
Hal
tersebut
menunjukkan ada pengaruh yang
bermakna
terapirelaksasi
otot
progresifterhadap tekanan darah pada
penderita gagal ginjal kronik tahap V
di RSUD Kota Salatiga.
Relaksasi
otot
progresif
ditujukan untuk melawan rasa tegang,
cemas dan stres. Seseorang dapat
menghilangkan kontraksi otot dan
mengalami
rasa
rileks
dengan
membedakan sensasi tegang dan rileks
dengan cara menegangkan atau
melemaskan beberapa kelompok otot
(Resti, 2014).
Hasil penelitian ini sesuai
dengan
penelitian
yang
sudah
dilakukan oleh Azizah (2013), bahwa
latihan relaksasi otot progresif
berpengaruh secara signifikan terhadap
penurunan tekanan darah sistolik pada
penderita hipertensi primer, sedangkan
tekanan
darah
diastolik
tidak
menunjukkan
adanya
pengaruh
terhadap tekanan darah. Terapi
relaksasi otot progresif dilakukan pada
lanjut usia untuk memunculkan respon
relaksasiyang dapat menimbulkan
keadaan tenang dan rileks sehingga
terjadi penurunan tekanan darah pada
lanjut usia (Adisucipto, 2014).
Beberapa
penelitian
yang
mendukung hasil penelitian ini adalah
penelitian yang dilakukan oleh Yung,
French dan Leung (2011), yang
menemukan bahwa pelatihan relaksasi
yang
berupa
relaksasiototdan
imajerikognitif dapat menurunkan
tekanan
darah
pada
penderita
hipertensi. Relaksasiotot lebih dapat
menurunkan
tekanan
darahdibandingkan relaksasi imajeri
kognitif. Tekanan darah yang paling
banyak turun adalah tekanan darah
sistolik
dibandingkan
diastolik.
Penelitian
ini
didukung
oleh
pernyataan Varvogli dan Darviri
(2011) yang menyebutkan bahwa
berbagai macam teknik dari relaksasi
dapat menurunkan tekanan darah pada
penderita hipertensi.
KESIMPULAN
Ada perbedaan yang signifikan
terhadap rata rata tekanan darah
sistolik dan diastolik sebelum dan
sesudah diberikan relaksasi otot
progresif pada kelompok intervensi
dengan nilai p-value 0,000 (α=0,05)
Tidak ada perbedaan yang
signifikan terhadap tekanan darah pada
kelompok kontrol dengan nilai sistolik
p-value 0,583 (α=0,05), dan diastolik
p-value0,165 (α=0,05),
SARAN
1. Bagi
Institusi
Pendidikan
Keperawatan
Sebaiknya
memasukan
topik
latihan relaksasi otot progresif
dalam kurikulum mata ajar terkait
sehingga
mahasiswa
dapat
memahami dan terampil dalam
memberikan asuhan keperawatan
pasien Gagal Ginjal Kronik tahap
V.
Mengembangkan
latihan
relaksasi otot progresif ini dalam
berbagai kegiatan seperti pelatihan,
seminar ilmiah dengan tujuan
meningkatkan
pemahaman
pentingnya salah satu terapi non
farmakologis untuk pasien Gagal
Ginjal Kronik tahap V
2. Bagi Penelitian Selanjutnya
Perlu dikembangkan penelitian
lebih lanjut tentang relaksasi otot
progresif dengan variasi responden
pada masing masing variabel
perancu yang relatif sama antara
kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol pada klien pasien Gagal
Ginjal Kronik tahap V. Perlu
dikembangkan penelitian lebih
lanjut tentang latihan relaksasi otot
progresif yang dipadukan dan atau
dibandingkan
dengan
terapi
komplementer keperawatan lainnya
pada klien dengan Gagal Ginjal
Kronik tahap V.
DAFTAR PUSTAKA
Adisucipto. 2014. Pengaruh Teknik
Relaksasi Otot Progresif Terhadap
Tekanan Darah Pada Lansia
Dengan Hipertensi Di Desa
Karangbendo Banguntapan Bantul
Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta.
Baradero, M., dkk., 2009. Sari asuhan
keperawatan pada klien gangguan
ginjal. EGC, Jakarta
Black,
J dan Hawks,
J. 2014.
Keperawatan Medikal Bedah:
Manajemen Klinis untuk Hasil
yang
Diharapkan.
Dialih
bahasakan oleh Nampira R.
Jakarta: Salemba Emban Patria.
Gunawan, S. G. (2007) Farmakologi dan
Terapi, FKUI. Jakarta.
Hamarno, R. 2010. Pengaruh Relaksasi
Otot
Progresif
Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Klien
Hipertensi Primer di Kota Malang.
Tesis. Program Studi Magister
Fakultas
Ilmu
Keperawatan
Universitas Indonesia. Depok.
Hermawan, H .2012. Hubungan Tingkat
Pengetahuan
Pasien
Tentang
Hipertensi
Dengan
Sikap
Kepatuhan Dalam Menjalankan
Diit
Hipertensi
di
Wilayah
Pukesmas Andong Kabupaten
Boyolali.
Skripsi.
Tidak
diterbitkan.
FIK
Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
JNC (2007) The Seventh Of Joint National
Comitte. Diakses tanggal 17 Juni
2013; Repository.ipb.ac.id.
Maryam, R. Siti, et.al. (2008). Mengenal
Usia Lanjut dan Perawatannya.
Jakarta: Salemba Medika. Mickey,
Stanley . (2007). Buku Ajar
Keperawatan Gerontik Edisi 2.
Jakarta: EGC
Ningsih,
E.
2008.
Dokumentasi
Keperawatan Berbasis komputer.
(Online)
Tersedia
:
http://www.fik.ui.ac.id/pkko/.../ma
kalah%20dokumentasi%20keperaw
atanrtf [9 Oktober 2010]
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi
penelitian kesehatan. Cetakan ke-3.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Purwanto, S. (2008). Mengatasi Insomnia
Dengan Terapi Relaksasi. Jurnal
Kesehatan. Fakultas Psikologi
Universitas
Muhammadiyah
Surakarta
Potter, P. A & Perry, A. G. (2007). Buku
ajar fundamental keperawatan
konsep, proses, dan praktik. Alih
Bahasa: Renata Komalasari. Edisi 4
Jakarta: EGC.
Prasetyorini, H.T & Prawesti, D (2012)
Stres Pada Penyakit Terhadap
Kejadian Komplikasi Hipertensi
Pada Pasien Hipertensi, Jurnal
STIKES, Volume 5, No. 1
Harber, P.M., & Scoot, T. (2009). Aerobic
Exercise Training Improves Whole
Muscle And Single Myofiber Size
And Function In Older Woman.
Journal Physical Regular Integral
Company Physical, 10, 11-42.
Resti, Indriana B. (2014). Teknik Relaksasi
Otot
Progresif
Untuk
MengurangiStres Pada Penderita
Asma. Jurnal Kesehatan. Fakultas
PsikologiUniversitas
Muhammadiyah Malang.
Sheps. S.G. 2015. Mayo Clinic Hipertensi,
Mengatasi
Tekanan
DarahTinggi.Jakarta.
Sustrani, L, dkk.,2010. Hipertensi. PT
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Suwitra. K. (2007). Penyakit Ginjal
Kronik. Dalam Sudoyo, A.W.,
dkk., Editor. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi
keempat. Penerbit Depertemen
Ilmu Penyakit Dalam FK- UI.
Jakarta. Hal. 570-572.
Tim redaksi VITA HEALTH, 2008. Gagal
Ginjal (Informasi lengkap Untuk
Penderita dan Keluarganya), PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Triatmoko, B. 2015. Hubungan Tingkat
Asupan Natrium dan Interdialytic
Weight Gain pada Pasien Gagal
Ginjal Kronis yang Menjalani
Hemodialisis di RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo. Skripsi
Wahdah. (2011). Menaklukan Hipertensi
Dan
Diabetes.
CV.
Multi
Solusindo. ISBN,7-100
WHO, 2013. Global Status Report on
Noncommunicable Diseases 2010.
http://www.who.int/nmh/publicatio
ns/ncd_report_chapter1.pdf
Gunawan, Lanny, 2007. Hipertensi :
Tekanan Darah Tinggi. Penerbit
Kanisius. Jakarta. E-book google
http://books.google.co.id diakses
pada tanggal 18 April 2015.
Download