Pengantar untuk Khotbah Jangkep Edisi Mei

advertisement
Khotbah Jangkep Minggu, 4 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tiga (Hijau)
FIRMAN MENYATAKAN
KESALAHAN & KEBENARAN
Bacaan I: Yehezkiel 33:7-11; Tanggapan: Mazmur 119:33-40;
Bacaan II Roma 13:8-14, Bacaan III: Injil Matius 18:15-20
Tujuan:
Jemaat menyadari bahwa mengingatkan saudara seiman adalah bagian tugas
pelayanan. Kasih harus menjadi dasar ketika kita mengingatkan sesama, sehingga relasi
yang baik bisa dipulihkan dalam persekutuan.
 Dasar pemikiran
Saling menjaga dan mengingatkan adalah tugas pelayanan kita. Namun seringkali
proses ini malah menimbulkan masalah baru. Kita tidak cukup mempersiapkan diri
untuk melakukan itu dan, terlebih lagi, kita seringkali tidak cukup berani untuk
melakukannya.
 Penjelasan Tiap Bacaan
Yehezkiel 33:7-11
Yehezkiel diingatkan kembali akan tugas panggilannya sebagai penjaga umat Allah,
yaitu mengingatkan Israel untuk bertobat dan kembali kepada jalan Allah. Panggilan ini
penting karena berkaitan dengan nyawa (kehidupan kekal). Ketika tugas
menjaga/mengingatkan itu tidak dilakukan, Allah akan menuntut tanggung jawab
Yehezkiel atas kematian umat-Nya. Namun jika sudah dingatkan tetap tidak bertobat,
Yehezkiel diselamatkan oleh tindakannya mengingatkan.
Disini kita belajar, bahwa pada titik tertentu kita juga penjaga akan saudara kita.
Bahwa kita memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan, tentu dalam kapasitas kita
sebagai manusia yang tidak sempurna juga. Seperti juga Tuhan tegaskan bahwa meski
Yehezkiel dipanggil sebagai penjaga, dia tetap manusia. Ini terungkap dengan
Khotbah Jangkep September 2011
penggunaan kata “kamu“, yang merujuk pada kefanaan manusia. Dengan demikian kita
akan mengingatkan sesama tanpa terjatuh pada penghakiman pada sesama, karena
pada hakikatnya kita juga sama sama sebagai orang berdosa.
Mzm 119:33-40
Merupakan ungkapan permohonan Daud supaya senantiasa diajar dan
dimampukan untuk selalu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam proses ini
terlihat Daud sangat mengandalkan Tuhan. Jelas dalam kata-kata ajarlah, buatlah
mengerti, biarlah, condongkanlah, dst. Semua kata itu menempatkan Allah sebagai yang
aktif untuk melakukan perbuatan tersebut.
Roma 13:8-14
Rasul Paulus mengingatkan mengenai kasih sebagai energi yang mendasari setiap
usaha untuk melakukan kehendak Tuhan. Rasul Paulus menganggap jemaat Roma tidak
terikat lagi pada hukum taurat, melainkan hukum kasih. Namun Rasul Paulus prihatin
karena kehidupan jemaat tidak sesuai dengan hukum kasih (ayat 9). Rasul Paulus
memberikan petunjuk praktis untuk menjalankan kasih dan menyatakan bahwa hal itu
harus dilakukan segera, tidak ditunda lagi.
Injil Matius 18:15-20
Di sini kita menemukan semacam petunjuk praktis mengenai tugas sebagai penjaga
yang mengingatkan sesama. Selain itu juga tentang pentingnya persekutuan, sehingga
tindakan mengingatkan harus dilakukan dalam persekutuan yang indah.
Harmonisasi bacaan
Manusia rentan melakukan kesalahan. Oleh karena itu Allah menunjuk hamba-Nya
untuk menjaga dan mengingatkan umat-Nya. Perkembangan selanjutnya tugas sebagai
penjaga harus juga dilakukan oleh semua orang. Terlebih dalam sebuah persekutuan,
harus saling mengintakan.
 Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
uatu kali ada seorang pejabat tinggi yang dihadapkan pada sebuah pilihan. Dia
harus memilih (tentu karena ada kesempatan) korupsi uang milyaran rupiah,
atau tidak. Dia kemudian berpikir keras, menimbang-nimbang, sampai
S
Khotbah Jangkep September 2011
akhirnya dia memutuskan untuk melakukan tindakan korupsi. Pertimbangannya
demikian, ”Saya selama ini selalu jujur. Sekali-kali bolehlah korupsi. Apalagi jumlahnya
lumayan. Lagipula sebentar lagi saya ‘kan pensiun. Yah, mumpung masih ada
kesempatan. Nanti kalau sudah pensiun kan tidak bisa lagi.” Ketika memutuskan
melakukan korupsi, dia berpikir bahwa dia harus mencuci uangnya, ”Saya harus
memberikan sejumlah uang untuk gereja, supaya saya tidak terlalu berdosa.”
Di sisi lain, gereja tempat dia menjadi jemaat sedang membangun dan tentu
membutuhkan dana yang besar. Uang sumbangan pejabat itu jumlahnya besar. Tentu
akan sangat berguna. Namun di sisi lain pendeta dan jemaat tahu bahwa uang itu adalah
hasil korupsi. Nah, bagaimana ini? Diterima atau tidak? Uang itu dibutuhkan. Kalau
ditolak, tidak enak juga. Soalnya dia pejabat penting dan anggota jemaat yang aktif.
Nanti tersinggung. Sementara kalau harus menolak bagaimana caranya?
Seandainya kita ada dalam posisi jemaat itu kira-kira apa keputusan kita?
Sebenarnya kita sudah tahu harus bagaimana, tetapi tentu yang harus menjadi
pertimbangannya adalah cara kita melakukannya supaya semua berakhir dengan baik.
Pejabat itu menyadari kesalahannya dan tetap mau bersekutu sebagai anggota jemaat.
Kira kira bagaimana ya?
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Dalam bacaan pertama kali ini, Yehezkiel diingatkan mengenai tugas panggilannya
sebagai abdi Allah yang menjaga umat-Nya. Bahkah Yehezkiel diingatkan akan
pentingnya tugas itu. Tugas itu menyangkut kehidupan. Mengingatkan adalah sebuah
upaya menyelamatkan kehidupan umat Allah supaya mereka tidak binasa karena
dosanya. Bukan hanya itu saja, perbuatan mengingatkan itu juga terkait dengan
kehidupan Yehezkiel sendiri. Jika Yehezkiel tidak mengingatkan orang yang berdosa,
Allah akan menuntut tanggung jawabnya.
Dari situ kita juga disadarkan bahwa menjadi tugas kita pula untuk mengingatkan
sesama kita supaya selalu ada di jalan Tuhan. Mengingatkan tidak boleh diartikan
sebagai sebuah hirarkis, bahwa yang mengingatkan lebih tinggi atau lebih baik. Proses
mengingatkan harus dilakukan dalam kesadaran bahwa kita sendiri berpotensi
melakukan kesalahan yang sama. Hal ini menjaga supaya kita tidak terjatuh pada
penghakiman pada sesama kita. Sama seperti kesadaran Daud yang senantiasa
mengharapkan Allah mengajar dan memelihara kehidupan imannya supaya tetap dijalan
Allah.
Khotbah Jangkep September 2011
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Tindakan mengingatkan bukan hal yang mudah. Salah salah niat baik kita bisa
menjadi persoalan baru. Untuk menjaga supaya tidak justru menghasilkan hal yang
buruk, kita harus memperhatikan beberapa hal. Pertama-tama, mengingatkan saudara
harus didasarkan pada kasih. Kepada jemaat Roma Rasul Paulus mengingatkan
mengenai kasih sebagai energi yang harus mewarnai setiap tindakan keseharian. Oleh
karena itu kasih harus dilajankan dalam sebuah strategi perbuatan praktis. Paulus
menghubungkan hukum taurat dan hukum kasih Tuhan. Bagi Paulus, jemaat Roma tidak
lagi terikat pada hukum Taurat, melainkan hukum Kasih. Namun Rasul Paulus
merasakan keprihatinan karena kehidupan jemaat tidak sesuai dengan hukum kasih. Hal
itu tampak dalam pelaksanaan tindakan yang sudah dikenal dalam hukum taurat,
misalnya, perzinahan, pembunuhan, dst (ayt 9). Dengan demikian Rasul Paulus
memberikan petunjuk praktis untuk menjalankan kasih. Kasih harus dilakukan dalam
tindakan nyata yang sudah dikenal jemaat ada dalam hukum Taurat. Namun Rasul
Paulus meberikan penekanan, bahwa hal itu jangan dilakukan hanya sebagai ketaatan
semu pada (hukum) pemerintah, tetapi suatu tindakan yang muncul dari sumber kasih
yang ada dalam hidup manusia. Begitu pula dalam melakukan panggilan kita
mengingatkan sesama, harus didasari dengan kasih yang sesungguhnya.
Lantas bagaimana kita bisa mengingatkan dengan kasih? Mungkin hati kita
memang dipenuhi dengan kasih ketika kita mengingatkan sesama. Namun itu saja belum
cukup. Kasih tetap harus dilakukan dengan strategi yang benar. Kasih harus
memperhatikan aspek psikologi, waktu, dan situasi.
Dalam Injil Matius kita diberikan petunjuk praktis. Sebagai usaha pertama,
mengingatkan harus dilakukan secara empat mata. Seandainya belum berhasil, baru
melibatkan orang lain. Di sini terlihat aspek kerahasiaan dan adanya penghargaan atas
integritas sesorang. Jangan sampai suatu masalah menjadi konsumsi publik. Apalagi
dalam budaya Jawa yang sangat terikat dengan budaya malu. Sedikit mungkin orang
yang terlibat akan semakin baik untuk menyelesaikan masalah. Seandainya perlu
melibatkan orang lain kita juga harus sangat berhati-hati memilih orang. Kalau sudah
menyangkut malu, aib yang diketahui orang, akan menjadi sangat sulit untuk
memulihkannya.
Oleh karena itu, dalam konteks persekutuan, tujuan akhir yang harus dipegang
adalah pulihnya relasi setiap orang dalam sebuah persekutuan. Hal ini nampak dalam
Injil Matius. Di situ dijelaskan mengenai persekutuan. Persekutuan yang melibatkan dua
orang atau lebih akan lebih bisa menguatkan kehidupan kita. Bukan hanya tentang
permintaan pada Tuhan, tetapi juga mengenai persekutauan dua orang atau lebih yang
bisa saling mengingatkan satu dengan yang lain
Khotbah Jangkep September 2011
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Hari ini kita dingatkan kembali akan tugas panggilan kita dalam persekutuan
bersama, yaitu kita adalah pengingat untuk sesama kita. Kita memiliki tanggung jawab
untuk saling menjaga kehidupan persekutuan kita bersama. Kita diingatkan cara
mengingatkan dengan kasih. Kita diingatkan untuk selalu sadar akan keberadaan diri kita
yang sama-sama memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, sehingga ketika kita
mengingatkan sesama, kita tidak terjatuh pada penghakiman. Ketika kita melakukannya
karena kasih, kita pun menjaga kesederajatan dalam persekutan yang telah lebih dulu
menerima pengampunan dan kasih Tuhan. Selamat saling menjaga. Tuhan menolong
kita. Amin.
 Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah
Petunjuk Hidup Baru
Nats Persembahan
:
:
:
 Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembuka
Nyanyian Penyesalan
Nyanyian Kesanggupan
Nyanyian Persembahan
Nyanyian Penutup
:
:
:
:
:
Khotbah Jangkep September 2011
Khotbah Jangkep Minggu, 4 September 2011
Pekan Biasa Kaping Tiga Likur (Ijo)
PANGANDIKANIPUN GUSTI
NEDAHAKEN KESALAHAN LAN KABENERAN
Waosan I: Yehezkiel 33:7-11; Tanggapan: Jabur 119:33-40;
Waosan II: Rum 13:8-14, Waosan III: Injil Mateus 18:15-20
Tujuan:
Pasamuwan paham bilih paring pemut sadherek patunggilan engkang nggadhahi lepat,
menika salah satunggiling tugas kita. Katresnan kedah dados dhasar engkang kita
tengenaken, saengga sesambetan engkang sae saged mulihaken adeging pasamuwan.
 Khotbah Jangkep
Pasamuwan kinasih,
onten pejabat ingkang dipun aben-ajengaken dhateng satunggaling
pilihan. Piyambak-ipun ing satengahing kawontenan ingkang ndayani
nindakaken korupsi. Piyambakipun bingung, milih korupsi punapa
boten. Tundhonipun, piyambakipun milih nindakaken korupsi kanthi pamanggih, “Aku
yo durung nate korupsi kok, nembe pisan iki. Apa maneh sedhela maneh aku wis arep
pensiun, mosok nyambut gawe jujur terus”. Piyambakipun sasampunipun korupsi ugi
gadhah pangraos “Wah, kudu cuci uang iki, dosane ben ora kakehan, aku kudu
pisungsung“. Nah!... Estu piyambakipun lajeng pisungsung kathah saking arta korupsi
kalawau.
Ing sisih sanes pasamuwanipun bapak pejabat punika saweg nindakaken
pembangunan lan renovasi gedhong Gereja. Arta pisungsung pejabat kala wau
temtunipun saestu dipun betahaken. Pasamuwan pirsa bilih punika hasil korupsi. Nah,
kados pundi punika? Dipun tampi punapa boten? Pasamuwan pancen betah arta,
punapa malih menawi boten dipun tampi, sami ajrih menawi pejabat punika duka.
Harus bagaimana ini?
Pasamuwan kinasih,
W
Khotbah Jangkep September 2011
Kita minangka pasamuwan lajeng punapa ingkang badhe kita tindakaken?
Sejatosipun kita sampun sumerep punapa ingkang kedah kita pilih. Nanging ingkang
kedah dipun penggalihaken inggih punika kadospundi nindakaken pilihan punika
supados sedayanipun saged sae. Pejabat kala wau boten duka lan malah saged
nglengganani kalepatanipun.
Pasamuwan kinasih,
Ing waosan ingkang sepisan kita dipun-engetaken timbalan kita supados saged njagi
lan ngemutaken sedherek kita ingkang dhumawah ing dosa supados saged mratobat. Ing
waosan punika, Yehezkiel dipun-engetaken peladosanipun anggenipun njagi lan
ngemutaken bangsa Israel. Bab ngemutaken lan njagi punika dipun gandhengaken
kaliyan prakawis gesang, inggih punika kados pundi Yehezkiel njagi keslametan
gesanging bangsa Israel, supados bangsa Israel boten sirna karana tumindak dosanipun.
Langkung malih, kewajibanipun Yehezkiel ngemutaken bangsa Israel punika ugi
sesambetan kaliyan gesangipun piyambak, awit Gusti badhe mundhut tanggeljawabipun Yehezkiel anggenipun ngemutaken bangsa Israel ing dosanipun punika dipun
tindakaken punapa boten.
Ngemutaken sedherek utawi sesami punika pancen sampun dados kewajiban kita
sedaya ing satunggaling pasamuwan, supados sedaya pasamuwan tansah gesang ing
salebeting kasetyan ing Gusti, tinebihaken saking sedaya tumindak nasar lan dosa.
Tumindaking emut-ingemutaken punika kedahipun boten dados wujuding hirarkis, bilih
ingkang ngemutaken punika langkung sae lan langkung inggil papanipun tinimbang
ingkang dipun emutaken. Nalika kita ngemutaken tiyang sanes, kedahipun kita inggih ing
salebeting pangertosan bilih sejatosipun kita punika ugi saged dhumawah dhateng dosa
ingkang sami. Kanthi mekaten kita boten ngemutaken kanthi njeksani sesami kita, awit
kita rumaos minangka tiyang dosa. Kados Dawud ingkang tansah nyenyuwun dhateng
Gusti supados tansah memulang, lan njagi gesang kapitadosinipun tetep ing marginipun
Gusti.
Pasamuwan kinasih,
Ngemutaken punika pancen sanes prakawis ingkang gampil. Menawi klentu ing
panampi malah saged nuwuhaken dredah. Awit saking punika, ngemutaken kedah dipun
landhesi katresnan. Katresnan punika mujudaken kekiyatan ingkang ndayani sedaya
tumindak gesang kita, kalebet anggen kita ngemutaken sesami kita. Katresnan ugi kedah
dipun tindakaken mawi cara lan tumindak ingkang leres. Rasul Paulus nggandhengaken
bab nindakaken katresnan punika kaliyan angger-angger Toret. Sanadyan pasamuwan
ing Rum dipun kuwaosi angger-anggering Toret, nanging dipun kuwaosi angger-angger
Khotbah Jangkep September 2011
katresnan, nanging kados pundi angger-angger katresnan punika dipun tindakaken
saged dipun ukur kanthi tumindak ingkang ugi sampun dipun serat ing angger-angger
Toret. Kanthi kaukur dening angger-angger Toret, cetha bilih gesanging pasamuwan ing
Rum punika saestu boten nuhoni kersanipun Gusti. Laku jina, raja pati lsp., kelampahan
ing pasamuwan ing Rum (ayat 9). Ing kawontenan punika, Paulus nedahaken bilih
katresnan punika kedah dipun tindakaken kanthi tulus ing gesang padintenan. Katresnan
sanes namung wujud kasetyan igkang lamis dhateng pamarintah, nanging dados
kekiyatan ingkang ndayani sedaya tumindaking pasamuwan ing Rum. Mekaten ugi ing
salebeting ngemutaken sesami, kedah dipun landhesi katrenan ingkang tulus.
Lajeng kados pundi kita nindakaken prakawis punika, ngemutaken kanthi tresna.
Bok menawi manah kita sampun kebak ing katresnan, nanging punika dereng cekap.
Ngemutaken kanthi katresnan ugi kedah dipun tindakaken kanthi cara ingkang trep ugi.
Prelu nggatosaken perangan raos-pangraos, wekdal lan kahanan. Ing waosan Mateus
bab punika sampun cetha, bilih nalika kita badhe ngemutaken sesami, kita wiwiti kanthi
pirembagan empat mata. Nalika
punika dereng kasil nembe kita nyuwun
pitulunganipun tiyang sanes. (saksi, pasamuwan lsp). Rahasia/wadi dados bab ingkang
wigati sanget, masalah ingkang kelampahan sampun ngantos dados konsumsi publik,
awit punika saged nuwuhaken raos lingsem tumrap sedherek kita punika. Lan menawi
sampun mekaten, manahipun badhe tatu, kecalan kapitadosan dhateng kita lan angel
anggenipun badhe dipun-emutaken malih. Pramila ngemutaken sedherek ingkang lepat
punika kedahipun matesi tiyang ingkang tumut cawe-cawe. Langkung sakedhik tiyang
langkung sae. Mila, menawi empat mata dereng kasil, anggen kita milih tiyang sanes
kangge tumut ngemutaken kedah ngatos-atos saestu. Kedah tiyang ingkang saged
nyimpen wadi. Temahan anggen kita ngemutaken saged njalari sedherek kita punika
wangsul lan ngrumaosi lepat kanthi tentrem, temahan pasamuwan kita ugi kabangun
langkung sae malih.
Pasamuwan kinasih,
Sepisan malih kita kedah kengetan, bilih kita punika sami katimbalan njagi
gesangipun sesami kita ing pasamuwan, sami anggenipun njagi lan ngemutaken menawi
wonten ingkang lepat. Temah pasamuwan kita saged kawangun lan ngrembaka ing
salebeting raos tentrem rahayu. Amin.
 Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat
Pitedah Gesang Enggal
:
:
Khotbah Jangkep September 2011
Nats Pisungsung
:
 Rancangan Kidung Pamuji :
Kidung Pambuka
Kidung Panelangsa
Kidung Kesanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Penutup
: KPK
: KPK
: KPK
: KPK
: KPK
Khotbah Jangkep Minggu, 11 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Empat (Hijau)
HIDUP UNTUK TUHAN
Khotbah Jangkep September 2011
Bacaan I: Kejadian 50:15-21; Tanggapan: Mazmur 103:1-7, 8-13
Bacaan II Roma 14:1-12; Bacaan III: Injil Matius 18:21-35
 Dasar Pemikiran
Manusia mempunyai kecenderungan menjalani hidup dengan seenaknya. Aturan
atau larangan cenderung dilanggar. Padahal manusia diciptakan dengan tugas mulia,
yaitu menjalani hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Dengan tantangan dari dalam
ataupun luar, manusia diajak untuk menjalani hidup untuk Tuhan.
 Keterangan Tiap Bacaan
Kejadian 50;12-21
Setelah kematian Yakub, saudara-saudara Yusuf merasa khawatir akan menerima
balas dendam karena perbuatan buruk mereka pada masa lalu Yusuf. Namun Yusuf
memahami bahwa pembalasan adalah hak Tuhan. Ayat 19 menegaskan hal ini. Ia tidak
membalas kejahatan saudara-saudaranya itu, sebaliknya justru mengingatkan bahwa
semuanya itu ada dalam rencana Tuhan yang indah (ayat 20). Yusuf mengampuni
saudara-saudaranya.
Mazmur 103:1-13
Mazmur 103 ini merupakan Mazmur pujian yang mengungkapkan betapa Allah
adalah Mahapengasih, Mahakudus, dan Mahapengampun. Seringkali dalam kesalahan
umat lari dari Tuhan karena malu dan takut. Padahal Tuhan adalah Allah yang tidak
pernah menyimpan setiap kesalahan manusia. Terutama untuk setiap mereka yang
takut akan Dia dan bersedia menjalani hidup baru dalam pertobatan.
Roma 14:1-12
Jemaat Roma terbagi menjadi dua. Sebagian percaya bahwa di dalam kebebasan
Kristen semua larangan lama mengenai makanan dan hari-hari sudah dibuang. Sebagian
lagi masih memegangnya. Rasul Paulus menyebut yang pertama sebagai kuat imannya
dan yang kedua lemah. Namun Rasul Paulus meminta kepada saudara-saudara yang
lebih kuat untuk menerima yang lebih lemah dan tidak tidak terus-menerus menyerang
mereka.
Khotbah Jangkep September 2011
Matius 18:21-35
Perumpamaan ini menggambarkan tentang seberapa jauh (bukan serinnyaa) orang
harus mengampuni. Kasih Allah yang begitu besar digambarkan sebagai 10.000 talenta,
angka yang tidak realitstis dalam cerita manusia, tetapi mempertajam besarnya dosa
manusia dan pengampunan Allah. Orang yang tidak mengampuni tidak menerima
pengampunan Allah. Orang yang menerima pengampunan Allah akan membuktikan rasa
terima kasihnya dengan mengampuni sesamanya.
Renungan atas bacaan
Dalam perenungan kali ini kita diajak untuk hidup bagi Tuhan. Yusuf yang mau
mengampuni saudara-saudaranya menunjukan betapa dia bukan Tuhan. Dia hanya
berjalan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Keinginan untuk membalas dendam
bukan merupakan pilihan yang diambil oleh Yusuf. Tuhan yang lebih berhak atas setiap
perkara yang dijalani oleh umat-Nya.
Dalam menghadapi keanekaan di jemaat Roma, Rasul Paulus mengingat kan supaya
jangan saling menghakimi sesama. Ada yang pemikirannya masih legalis ada yang sudah
sudah memahami kebebasan Kristen secara lebih jauh. Semuanya itu bertujuan untuk
menjalani hidup sesuai dengan kehenak Tuhan, sehingga tidak perlu saling menghakimi
satu dengan yang lain.
Penghukuman ataupun penghakiman itu merupakan hak Allah. Dalam
perumpamaan di Injil Matius diungkapkan betapa manusia harus mengasihi sesamanya
tanpa batasan. Kasih Allah yang mengalir dalam hidup manusia juga tanpa batas. Sudah
selayaknya manusia hidup menjalani kehendak Tuhan karena Dialah sumber kasih
karunia kita.
Harmonisasi bacaan leksionari
Yusuf memberikan pengampunan kepada saudara-saudaranya karena dia sadar
bahwa Allahlah yang berhak atas hidup mereka. Kepada Jemaat di Roma, Rasul Paulus
menekankan bahwa tidak ada yang berhak menghakimi sesama. Matius
mengungkapkan bahwa Allah Maha-pengampun, sehingga manusia harus pula saling
mengampuni.
Pokok dan arah pewartaan
Karena Allah yang punya hidup kita ini, maka selayaknyalah kita berjalan di dalam
jalan Tuhan. Jalan pengampunan dan menghargai manusia sebagaimana mereka
segambar dan serupa dengan Allah.
Khotbah Jangkep September 2011
 Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan
enurut Maxwell, dalam buku Etika Bisnis, ada tiga hal yang cenderung
dilakukan oleh manusia di dalam mengambil keputusan di dalam
hidupnya, satu hal di antaranya ialah Orang akan berbuat apa yang
paling leluasa bisa dibuatnya.
Ketika seseorang diperhadapkan kepada dilema, kadang-kadang dia akan
diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan
menyangkut suatu prinsip atau praktek moral. Dalam kondisi seperti ini, kita cenderung
mencari jalan yang paling mudah dan menyenangkan untuk kita, meskipun kita gagal
dalam ujian etis pribadi.
Contoh sederhana yang mungkin pernah dialami oleh setiap orang adalah saat
berbelanja di supermarket. Setelah melakukan transaksi pembayaran, seringkali tanpa
menghitung uang kembalian, kita langsung beranjak dari tempat itu. Sesampai di mobil
atau di rumah dan menghitung jumlah pengeluaran dari belanja tadi, kita tahu bahwa
jumlah kembalian yang dikeluarkan oleh kasir ternyata berlebih. Apakah yang akan kita
lakukan? Kita akan mengembalikannya atau mendiamkannya saja? Kita cenderung
untuk merasionalisasikan pilihan kita, ”Ah, hanya kali ini saja. Paling juga mereka tidak
tahu.”
Demikian pula sepanjang pola hidup yang kita jalani, kita selalu mempunyai
kecenderungan untuk membenarkan tindakan-tindakan dan keputusan kita, meski
seringkali salah. Meskipun mungkin masih ada satu dua orang yang bertahan dengan
pola hidup yang baik. Pembenaran akan tindakan salah yang kita lakukan seringkali kita
lakukan karena kita merasa layak dan pantas untuk melakukannya.
M
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Dalam bacaan kita yang pertama diungkapkan mengenai Yusuf, seorang Raja Muda
di Mesir tidak mau mengambil kesempatan untuk membalaskan sakit hatinya kepada
saudara-saudaranya. Perilaku saudara-saudaranya yang pernah menyakitinya, baik
secara fisik maupun mental, tidak membuat Yusuf mencari kesempatan untuk
membalas dendam. Ada ungkapan negatif yang berkata ”Pembalasan harus lebih kejam
dari perbuatan jahat seseorang”. Maksudnya orang akan merasa puas ketika berhasil
membalas dendam pada orang yang pernah berbuat salah padanya. Yusuf telah dijual
demi kepuasan hati kakak-kakak yang iri kepadanya. Ia harus berpisah dengan bapa
yang dikasihinya. Dari seorang anak yang dilindungi, secepat kilat ia harus menyesuaikan
Khotbah Jangkep September 2011
diri untuk bekerja keras menaati peraturan bagi budak. Yusuf mengalami semua itu di
Mesir. Kini kakak-kakkanya sudah tak memiliki ”tempat berlindung”. Ayah mereka telah
meninggal. Dalam ketakutan, mereka memohon agar Yusuf sudi mengampuni, bahkan
demi pengampunan itu mereka siap menjadi budak Yusuf (ayat 18). Namun justru Yusuf
menjawab ”Aku inikah pengganti Allah?” (ayat 19). Yusuf yang keseluruhan hidupnya
sudah diabdikan untuk Allah tentu tidak lagi memandang pembalasan dendam sebagai
hal yang penting dalam hidupnya. Bukan lagi keinginan daging yang berjalan di dalam
diri Yusuf, tetapi jalan Tuhan yang sudah menjadi pilihannya. Semua yang terjadi dalam
diri Yusuf dikatakannya sebagai rencana Tuhan yang indah (ayat 20). Duka nestapa yang
pernah Yusuf alami dijadikan petunjuk bahwa hidup di jalan Tuhan akan senantiasa
mendapatkan pertolongan-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Ungkapan pemazmur juga semakin menguatkan kita bahwa Tuhan itu
Mahapengampun yang tidak pernah menyimpan kesalahan umat-Nya. Refleksi dari
pemazmur ini memampukan kita untuk menyadari betapa Tuhan kita Mahapengampun.
Mengapa kita, para pengikut-Nya, seringkali bertindak sebagai hakim atas sesama?
Perkara itu juga yang sedang dihadapi Rasul Paulus dengan jemaatnya di Roma.
Jemaat Kristen di Roma terbagi menjadi dua bagian. Sebagian masih menjalani laranganlarangan dari hukum Taurat. Sebagian yang lain sudah meninggalkannya dan menjalani
iman Kristen yang sesungguhnya dalam kemerdekaan sebagai orang percaya. Rasul
Paulu menyebut yang pertama sebagai lemah iman dan yang kedua sebagai yang lebih
kuat. Rasul paulus mengingatkan orang-orang yang telah kuat iman supaya bisa lebih
menerima saudara-saudara yang lemah iman dan tidak terus menerus menyerang
dengan pemahaman mereka masing masing. Sebab dengan menjalani hukum-hukum
atau tidak, tujuan mereka sama, yaitu hidup untuk Tuhan dan berjalan di dalam jalanNya. Caranya saja yang berbeda. Perbedaan yang ada bukan kesempatan untuk saling
menyerang atau saling menghakimi.
Bacaan kita dalam Matius 18:21-35 berbicara lebih dalam lagi tentang larangan
untuk menghakimi sesama. Ketika ada sesorang yang berbuat salah kepada kita,
perumpamaan ini mengajarkan untuk bisa memberikan pengam punan yang tak
terbatas. Ada orang mengungkapkan ”Sabar itu ada batasnya…” Tentu saja ini ungkapan
yang aneh. Kalo sabar ada batasnya tentu itu belum sabar namanya. Perumpamaan
tentang pengampunan mengungkap kan mengenai mengampuni sebanyak tujuh puluh
kali tujuh kali. Hal ini bukan mengenai seringnya atau jumlah mengampuni, melainkan
jauhnya. dan ketulusannya.
Khotbah Jangkep September 2011
Kasih Allah yang begitu besar juga digambarkan dalam perumpamaan ini. 10.000
talenta adalah angka yang tidak realistis dalam cerita manusia. Namun angka itu
mempertajam besarnya dosa manusia dan pengampunan Allah. Inti dari perumpamaan
ini adalah bahwa orang yang tidak mengampuni tidak menerima pengampunan Allah.
Orang yang mendapat pengampunan dari Allah karena tindakan yang telah dilakukan
oleh Kristus akan membuktikan rasa terima kasih dan ketergantungannnya kepada Dia
dalam perlakuannya terhadap orang lain.
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Hidup untuk Tuhan ternyata bukan perkara yang mudah untuk kita jalani.
Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan kerelaan untuk menerima sesama apa
adanya menjadi perkara yang mutlak ketika kita memilih jalan hidup cara Kristus. Dari
bacaan kita hari ini, kita bisa belajar beberapa hal, yaitu:
 Jangan berjalan dengan keinginan hati kita. Biarkan Tuhan yang merancang setiap
langkah hidup kita, seperti Yusuf yang menyerahkan semua jalan hidupnya pada
rencana Tuhan.
 Yakini bahwa Tuhan itu Mahapengampun. Dengan demikian kita, umat-Nya,
dituntut untuk bisa hidup dengan mengampuni sesama kita.
 Jika ada saudara-saudara kita yang lebih lemah iman atau pandangan imannya
berbeda dengan kita, jangan menghakimi mereka. Mereka pasti mempunyai alasan
menjalani cara hidup yang mereka pilih. Jangan merasa lebih baik dari mereka
karena kita pun pasti mempunyai kekurangan dan kelemahan.
 Hidup untuk Tuhan juga berarti rela memberikan pengampunan kepada setiap
orang yang bersalah kepada kita. Ingat doa yang sering kita ucapkan, ”Ampunilah
kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang-orang yang
bersalah kepada kami” Hal ini bukan mengenai seberapa seringnya kita
mengampuni, tetapi seberapa tulus pengampunan yang kita berikan. Tentu saja
pengampunan yang dimaksudkan adalah yang tanpa syarat. Jangan menjadi hakim
atas sesama kita.
Demikianlah beberapa hal yang bisa pelajari sat ini.Kiranya berkat kasih karunia
Kristus memampukan kita menjadi pelaku pelaku firman-Nya. Amin.
Khotbah Jangkep September 2011
 Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah
Petunjuk Hidup Baru
Nats Persembahan
: Matius 18 : 3-5
: Matius 18 : 21-22
: Matius 18 : 18
 Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembukaan
Nyanyian Penyesalan
Nyanyian kesanggupan
Nyanyian Persembahan
Nyanyian Penutup
:
:
:
:
:
KJ 1 : 1-2
KJ 29 : 1-3
KJ 40 :1-4
KJ 66 : -...
KJ 54 : 1,3,4
Khotbah Jangkep September 2011
Khotbah Jangkep Minggu, 11 September 2011
Pekan Biasa Kaping Sekawan Likur (ijo)
GESANG KANGGE GUSTI
Waosan I: Purwaning Dumadi 50:15-21; Tanggapan: Jabur 103: 1-7, 8-13; Waosan II:
Rum 14 : 1-12; Waosan III: Injil Matius 18: 21–35
 Khotbah Jangkep
Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus
iturut satunggaling winasis inggih punika Maxwell wonten ing buku etika
bisnis, dipun-cariyosaken bilih wonten tigang prakawis ingkang asring
dipun tindakaken dening manungsa nalika badhe nemtokaken putusan
wonten ing gesangipun. Salah satunggal prakawis inggih punika: Tiyang
badhe nindakaken punapa ingkang paling gampil saged dipun tindakaken; nalika
satunggaling piyantun dipun-aben-ajengaken kaliyan pilihan ingkang awrat lan boten
ngremenaken, piyantun punika badhe pados margi ingkang paling gampil lan
ngremenaken. Satunggaling tuladha: nalika kita blanja wonten supermarket,
sasampunipun mbayar, kita nampi arta susuk saking kasir, lajeng tanpa dipun etang kita
wangsul. Ananging sasampunipun dumugi griya lan ngetang arta susuk punika pranyata
artanipun langkung kathah kaliyan ingkang kedahipun kita tampi saking kasir. Punapa
ingkang badhe kita tindakaken? Dipun-wangsulaken dhateng supermarket utawi kita
namung mendel kemawon. ”Wah boten punapa wong namung sepisan punika?” Paling
kasiripun boten sumerep. Mekaten ing sauruting lampah gesang ingkang kita
tindakaken, kita asring nggadahi pemanggih ngleresaken tumindak-tumindak kita,
sanadyan asring boten leres. Ngleresaken tumindak punika asring kita tindakaken
amargi kita rumaos pantes nindakaken prakawis punika.
M
Pasamuwan ingkang kinasih
Wonten ing waosan kita ingkang sapisan dipun-andaraken bilih Yusuf, Senopati
wonten ing Mesir boten purun ngginakaken wekdal aji mumpung kangge males raos
serik wonten ing manahipun dateng para sadherekipun. Tumindakipun sadherekipun
Yusuf ingkang sampun nate damel sakit sacara badan makaten ugi batin, boten
ndadosaken Yusuf kepengin males. Yusuf ingkang suwau dipun sade amargi
Khotbah Jangkep September 2011
sadherekipun ingkang sami meri dateng tumindakipun tiyang sepuh ingkang boten adil.
Sajatinipun Yusuf nggadahi wekdal kangge malesaken prakawis punika. Ananging Yusuf
ingkang sedaya gesangipun sampun kapasrahaken dhateng Gusti boten ngraosaken bilih
pamales punika prakawis ingkang wigati ing gesangipun. Sanes pepenginaning daging
ingkang wonten ing manahipun Yusuf, ananging marginipun Gusti ingkang dados pilihan
gesangipun Yusuf. Sedaya ingkang lumampah wonten ing gesangipun dipun raosaken
minangka prekawis ingkang endah (ayat 20)
Pasamuwan ingkang Kinasih
Swantenipun sang pemazmur sangsaya ngiyataken kita bilih Gusti punika Gusti
ingkang nresnani manungsa, Gusti ingkang kebak pangapunten, ingkang boten nate
nyimpen kalepatan umatipun. Pangraosipun juru mazmur punika paring pepenget
dumateng kita bilih Gusti punika kebak pangapunten, ananging kenging punapa kita
para kagunganipun asring dados hakim tumrap sesami ?
Prakawis punika ingkang saweg dipun raosaken dening rasul Paul ing Rum.
Pasamuwan Rum kaperang dados kalih perangan: wonten ingkang taksih nindakaken
awisan lan toret, wonten ingkang sampun nindakakaen gesang tata Kristen saleresipun,
wonten ing kamardikan minangka tiyang pitados. Rasul Paul ngengetaken supados
saged nampi para sadherek ingkang dereng kiyat kapitadosanipun lan boten nyerang
pemanggih saking sadherek ingkang dereng kiyat imanipun punika. Amargi kanthi
nindakaken paugeraning toret utawi boten, eneripun punika sami, inggih punika
lumampah wonten ing marginipun Gusti, gesang kangge Gusti, ananging ngginakaken
pranatan ingkang beda. Pamanggih ingkang boten sami, sanes wewengan kangge
ngawonaken lan njeksani sesami.
Pasamuwan ingkang kinasih
Waosan kita wonten ing injil Mateus ngandharaken prakawis ingkang langkung
lebet, babagan njeksani sesami. Nalika wonten tiyang ingkang tumindak lepat kita kedah
paring pangapunten kanthi boten wonten watesipun. Waosan punika boten namung
ngandharaken babagan cacahipun pangapunten ananging kadospundi kita paring
pangapunten kanthi tulusing manah. Sih-rahmatipun Gusti ingkang tanpa wates dipunandharaken wonten ing waosan punika.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Gesang lumadi kagem Gusti punika pranyata sanes prakawis ingkang gampil dipuntindakaken, pasrah sumarah dumateng Gusti lan rila nampi sesami punapa wontenipun
punika dados prakawis ingkang kedah kita tindakaken nalika milih cara gesang kados
Sang Kristus. Saking waosan kita dinten punika, kita saged sinau sawetawis bab ingkang
wigati, kadosta ;
Khotbah Jangkep September 2011
1. Sampun ngantos lumampah namung ngginakaken pepenginan kita piyambak,
sumarah dhumateng Gusti lan karsanipun ingkang damel rancangan tumrap lampah
gesang kita, kados Yusuf ingkang masrahaken sadaya lampah gesangipun dhateng
Gusti.
2. Gusti punika kebak pangapunten, pramila kita umatipun dipun-atag saged gesang
ingkang kebak pangapunten dhateng sesami.
3. Menawi wonten sedherek ingkang nggadhahi pemanggih ingkang beda, gegayutan
kaliyan kapitadosanipun, sampun ngantos kita njeksani. Sampun rumaos langkung
sae lan langkung prayogi tinimbang sadherek kita punika.
4. Gesang loumadi kagem Gusti, punika ateges rila paring pangapunten kangge sedaya
tiyang ingkang nggadhahi kalepatan dhateng kita. Boten babagan cacahipun kita
paring pangapunten, ananging kados pundi kita paring pangapunten kanthi tulusing
manah.
Punika sawatawis bab ingkang wigati ingkang saged kita tindakaken nalika kita
milih margi gesang kagem Gusti kita. Amin
 Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat
Pitedah Gesang Anyar
Pangatag Pisungsung
: Matius 18 : 3-5
: Matius 18 : 21-22
: Matius 18 : 18
 Rancangan Kidung Pamuji:
Kidung Pambuka
Kidung Panelangsa
Kidung Kasanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Panutup
:
:
:
:
:
KPK BMGJ 28 : 1-5
KPK BMGJ 47 : 1-2
KPK BMGJ 75 : 1-2
KPK BMGJ 23 : 1...
KPK BMGJ 167 :1-2
Khotbah Jangkep September 2011
Khotbah Jangkep Minggu, 18 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Lima (Hijau)
HIDUP BERARTI MEMBERI BUAH
Bacaan I : Yunus 3:10-4:11;Tanggapan: Mazmur 145:1-8
Bacaan II: Filipi 1:21-30, Bacaan III: Injil Matius 20:1-16
 Dasar Pemikiran
Kehidupan orang percaya selalu diperhadapkan kepada pilihan untuk terus berbuah
atau berhenti dan menikmati hidup ini untuk dirinya sendiri. Buah yang dihasilkan
seseorang muncul karena kasih karunia Tuhan. Meski kadang kita menilai anugerah
Tuhan itu tidak adil karena keadilan Tuhan tidak terjangkau oleh olah pikir manusia.
 Keterangan Tiap Bacaan:
Yunus 3:10-4:11
Perkiraan Yunus bahwa Tuhan akan mengampuni Niniwe benar-benar terjadi.
Yunus merasa marah. Dalam kemarahannya, Yunus diberi pencerahan melalui pohon
jarak yang disukainya sekalipun bukan ia yang menumbuhkan. Kasih Tuhan kepada
Niniwe melebihi hal itu. Kasih-Nya tampak saat Tuhan mengampuni Niniwe, bangsa
yang mau berbuah pertobatan.
Mazmur 145:1-8
Daud Sang Pemazmur mengungkapkan betapa besarnya kasih Tuhan kepada setiap
angkatan dan generasi usia yang memiliki pergumulan berbeda-beda. Kasih Tuhan
dirasakan dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda pula. Kesaksian atas kasih Tuhan
diungkapkan dalam sebutan-sebutan sebagai Allah yang adil (ayat 7), pengasih dan
penyayang (8a), serta sabar dan setia (8b). Allah diagungkan karena karya yang
dirasakan oleh manusia.
Khotbah Jangkep September 2011
Filipi 1:21-30
Menyatakan bahwa pemenjaraan dirinya membantu kemajuan Injil karena Kristus
diberitakan di mana pun ia berada. Ia tahu hanya ada dua kemungkinan, yaitu bebas
dari penjara atau mati. Namun dengan mengaca pada masa lalu dan kini, ia bersukacita.
Kesaksian ini menguatkan jemaat di Filipi untuk terus mewartakan kasih karunia Allah
sebagai buah pelayanan untuk Tuhan, seperti Rasul Paulus yang walaupun dipenjara
tetap berbuah.
Injil Matius 20:1-16
Secara matematis, perumpamaan ini tidak adil. Namun keadilan Tuhan tidak bisa
diukur dengan hitungan manusia. Anugerah Tuhan tidak bisa diperhitungkan seperti
upah. Setiap orang mencapai tingkatan moral dan rohani yang berbeda-beda. Namun
tidak ada yang berhak menuntut lebih dari yang Tuhan berikan kepadanya. Tuhan
memberikan sesuai janji-Nya (ayat 13). Tuhan memiliki kebebasan dan kedaulatan untuk
melakukan yang berkenan kepada-Nya.
Renungan atas bacaan
Dalam bacaan pertama terungkap betapa Tuhan Mahapengasih. Sejahat apapun
Ninewe, tetapi karena pertobatan yang mereka lakukan Tuhan tidak jadi memberikan
penghukuman atasnya. Justru Yunus yang protes tentang hal ini. Dia merasa
pewartaannya sia-sia karena ternyata Tuhan lebih memilih mengampuni Niniwe
daripada menghukumnya. Panggilan kepada Yunus untuk berbuah ditanggapi dengan
penolakan karena Yunus tahu pasti apa yang akan terjadi jika Niewe bertobat. Yunus
gemas karena Tuhan tetap mau mengampuni orang jahat.
Mazmur juga mengungkapakan betapa Tuhan Mahakasih. Kesaksian tentang kasih
Tuhan ini diberikan oleh setiap generasi usia yang pernah hidup di dunia ini. Allah adalah
Allah yang adil, pengasih, penyabar, dan setia.
Dalam penjara, Rasul Paulus masih tetap bisa memberi kesaksian bahwa kasih
Tuhan tetap dia rasakan. Kesaksian Rasul Paulus ini menguatkan jemaat Filipi untuk
terus bertumbuh dan berbuah. Rasul Paulus hanya memiliki pilihan untuk terus hidup
atau mati dalam penjara. Namun pilihan itu tidak merisaukannya karena setiap langkah
hidupnya adalah berbuah untuk kemuliaan Tuhan.
Kasih Allah tidak terbatas hanya untuk sekelompok orang, tetapi juga untuk semua
orang. Bacaan Injil mengingatkan bahwa anugerah bukan upah. Allah yang murah hati
memberikan anugerah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Tak seorang pun memiliki
hak untuk mempertanyakan keadilan-Nya. Masih adakah upah yang layak kita minta
Khotbah Jangkep September 2011
sebagai hasil pelayanan kita? Adakah kita menyadari bahwa kesempatan hidup dan
melayani-Nya adalah anugerah?
Harmonisasi bacaan leksionari
Allah tahu pasti yang dia lakukan untuk umat-Nya. Hidup dan berbuah bagi sesama
muncul dalam bacaan pertama. Pemazmur merefleksikan bahwa Allah adalah adil,
pengasih, penyabar, dan setia. Kesadaran untuk terus berbuah dalam hidup juga
dirasakan oleh Rasul Paulus dalam pergumulannya di penjara. Injil lebih menekankan
bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuah dan seharusnya dikembangkan
sesuai dengan kebisaan kita.
Pokok dan arah pewartaan
Masing masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal yang kita miliki
dipakai Tuhan untuk mendatangkan berkat bagi sesama. Berbuahlah untuk sesama
melalui segala hal yang kita bisa lakukan.
 Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan
uatu hari seorang anak yang biasanya malas membantu orang tuannya, tibatiba menjadi sangat rajin dan bersemangat membersihkan rumah. Di akhir
minggu itu ibunya menemukan secarik kertas bertuliskan jumlah jam kerja
dan rincian upah yang seharusnya diterima anaknya. Esok paginya anaknya terkejut
karena menemukan balasan surat ibunya yang berisi daftar seluruh kebutuhan hidupnya
sejak ia berusia 1 tahun: susu, makan, pakaian, uang jajan, sepatu, sekolah, tas, buku,
obat di waktu sakit, dll. Anak itu tidak menyadari bahwa kesempatan menjadi anak
dalam keluarga adalah anugerah yang tidak dapat dibandingkan dengan upah sebesar
apapun.
Cerita di atas mengungkapkan betapa kita pun seringkali berlaku demikian. Kita
tidak menyadari betapa kita sudah merasakan anugerah yang berlimpah dari Tuhan,
bahkan kita masih menuntut ini dan itu. Kita beranggapan Tuhan tidak adil karena tidak
pernah menjawab doa-doa kita. Padahal setiap detak jantung dan tarikan nafas kita
adalah anugerah Tuhan. Kita seringkali melupakan berkat berlebih yang sudah Tuhan
berikan kepada kita. Kita lebih banyak menuntut kepada Tuhan sehingga kita lupa untuk
berbuah dalam hidup kita. Kita lupa untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan
sesama.
S
Khotbah Jangkep September 2011
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Bacaan kita memperlihatkan protes Yunus yang begitu keras terhadap kebaikan
Tuhan yang diberikan kepada bangsa yang jahat. Yunus sudah menyadari dari awal mula
mengenai hal itu sehingga dia memilih untuk melarikan diri dari tugas panggilan Tuhan.
Yunus melawan perintah Tuhan karena Dia tahu pasti bahwa tugas perutusannya akan
sia-sia. Nabi Yunus diperintahkan untuk memberitakan penghukuman dan dia tahu
bahwa Tuhan pasti tidak akan menghukum Niniwe. (4:1). Dalam bacaan kita terlihat
bahwa perkiraan Yunus sungguh-sungguh terjadi. Ketika bangsa Niniwe bertobat
dengan sungguh-sungguh, Allah membatalkan penghukuman untuk bangsa itu (3:10).
Betapa jengkelnya Yunus mengetahui hal itu. Dalam kemarahannya Yunus diberi sebuah
peringatan oleh Tuhan dengan pohon jarak yang melingkupinya. Selanjutnya pohon
jarak itu dimakan ulat dan mati sehingga tidak bisa lagi melindungi Yunus dari panas.
Yunus marah karena pohon jarak yang menaunginya mati. Dari sini Tuhan menunjukkan
bahwa pohon jarak saja begitu disayangi oleh Yunus. Apalagi bangsa Niniwe yang
banyak itu, tentu Tuhan tidak akan membinasakannya begitu saja. Kasih Allah nampak
dari pengampunan-Nya atas Niniwe, bangsa yang mau berbuah pertobatan dalam
hidupnya. Yunus tidak rela hal itu terjadi. Kenapa bangsa yang jahat tidak dihukum saja?
Tuhan tidak adil!
Sebaliknya Daud Sang Pemazmur mengungkapkan betapa besarnya kasih Tuhan.
Tiap angkatan, tiap generasi usia, dalam pergumulannya yang berbeda-beda, senantiasa
merasakan kasih Tuhan dalam hidupnya. Bentuk dan cara kasih Tuhan itu juga berbeda
beda. Setiap angkatan menyaksikan karya Tuhan di dalam hidupnya dan mereka pun
bersaksi sesuai dengan pergumulan hidup yang mereka alami. Ia adalah Allah yang adil
(ayat 7), pengasih dan penyayang (8a), sabar dan setia (8b). Allah diagungkan karena
karya yang dirasakan oleh manusia, meski kadang manusia belum bisa memahaminya,
karena keterbatasan yang ada. Dengan hati yang bening manusia bisa memahami
betapa Tuhan itu Mahakasih dan Mahaadil. Sehingga manusia bisa senantiasa bersyukur
akan segala perkara jika menyadari kasih Allah yang besar itu.
Kesaksian hidup Rasul Paulus juga mengingatkan kepada kita mengenai kasih
karunia Tuhan yang senantiasa mengalir dalam hidup. Surat Filipi ditulis ketika Rasul
Paulus ada di dalam penjara. Dia mengetahui keprihatinan masyarakat Kristen Filipi atas
dirinya. Karena itu seperti sering terdapat dalam surat-suratnya, ia mengirimkan berita
mengenai dirinya. Ia menceritakan bahwa pemenjaraan dirinya telah membantu
kemajuan injil. Kristus diberitakan di mana pun ia berada dan ia tetap memandang
kemungkinan-kemungkinan berkaitan dengan pemenjaraannya, yaitu bebas, dan
melayani lebih lanjut, atau mati. Dengan menunjuk pada masa lampau, masa kini, dan
kemungkinan-kemungkinan pada masa datang, ia dapat berkata ”Aku bersukacita”.
Khotbah Jangkep September 2011
Pada ayat 21-23, Rasul Paulus menimbang-nimbang dua kemungkinan dalam
hidupnya, yaitu bebas atau mati. Dengan dua pilihan itu Rasul Paulus tetap dapat
bersukacita. Terus hidup di dunia ini adalah hidup dalam kegembiraan Kristus yang
mantap dan selanjutnya akan ada pekerjaan yang subur dalam pelayanannnya kepada
Tuhan. Di lain pihak ia tahu bahwa kematian adalah melulu keuntungan karena di
seberang kematian adalah kesemertaan hadirat Kristus. Dengan kesaksian hidup Paulus
ini, dia menguatkan jemaat Filipi untuk terus berjuang mewartakan kasih karunia Allah.
Dia yang ada di dalam penjara masih bisa menghasilkan buah-buah pelayanan untuk
Tuhan. Demikian juga seharusnya jemaat Filipi yang masih bebas dapat terus berjuang
mengjasilkan buah-buah pekabaran Injil kepada sesama.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kalau direnungkan dengan hitungan matematis, bacaan Injil kali ini sangat
menjengkelkan. Orang-orang yang bekerja mulai pagi dan mulai sore mendapatkan
upah yang sama. Sama sekali tidak adil! Demikian mungkin pikir kita. Namun memang
keadilan Tuhan tidak bisa diukur dengan hitungan manusia. Perumpamaan ini
menceritakan sistem ekonomi yang tidak masuk akal untuk mengutarakan kebenaran
kerajaan sorga. Perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur mengajak kita
berpikir tentang anugerah yang tidak dapat diperhitungkan seperti upah. Dikisahkan
bahwa tuan rumah sebagai pemilik kebun anggur berinisiatif mencari pekerja untuk
kebun anggurnya. Berapapun upah yang diberikan kepda para pekerja sepenuhnya
berdasarkan atas keputusannya. Kepada sekelompok pekerja pertama yang bekerja dari
pagi hingga malam, ia sepakat memberi upah sedinar sehari. Kemudian ia berulang kali
mendapati orang-orang yang menganggur dan ia minta bekerja di kebunnya. Mereka
pasti tidak akan mendapatkan upah bila menganggur sepanjang hari, jadi kesempatan
bekerja adalah anugerah. Ketika malam tiba, tuan rumah tersebut memberikan upah
kepada setiap pekerja mulai dari yang terakhir sampai yang bekerja dari pagi. Para
pekerja yang bekerja dari pagi sampai malam protes atas tindakan tuan tersebut karena
memberikan upah yang sama kepada semua pekerja. Tuan rumah itu mengatakan
bahwa mereka menerima sesuai kesepakatan, jadi protes mereka tidak beralasan. Jika
yang mereka permasalahkan adalah upah yang diberikan kepada pekerja lainnya, maka
sepenuhnya itu adalah hak tuan itu.
Perumpamaan ini menunjukan bahwa setiap orang dalam rumah itu menerima apa
yang dibutuhkannya (sedinar adalah upah sehari seorang pekerja) dan itu
mengumpamakan hidup yang kekal. Ini adalah pemberian Allah yang selalu memanggil
manusia, dengan perbedaan tingkat moral dan kesempatan rohani, untuk melayani-Nya.
Oleh karena itu, tidak seorang pun dapat menuntut dari pada-Nya lebih dari yang
Khotbah Jangkep September 2011
diberikan-Nya kepada setiap orang lain. Tidak ada ketidakadilan dalam segala yang
dilakukan Allah sebab Ia memberikan sesuai dengan yang dijanjikan-Nya (ay 13). Ia
memiliki kebebasan dan kedaulatan untuk melakukan yang berkenan kepada-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Setelah merenungkan bersama ayat-ayat bacaan kita, apakah yang bisa kita
pelajari? Ada beberapa hal yang bisa kita renungkan.
1. Berkarya dan melayanilah dengan tulus, hasilkan buah buah pertumbuhan dalam
hidup kita. Jangan pernah protes kepada Tuhan karena anugerah yang Dia berikan
kepada sesama.
2. Dalam keterbatasan yang kita miliki, kita diajak untuk terus berbuah bagi-Nya.
Berjuang dengan setiap talenta yang kita miliki adalah kehendak Tuhan. Jangan
menyerah sebelum Dia memanggil kita.
3. Allah murah hati. Dia memberikan anugerah kepada siapapun yang Dia kehendaki.
Jangan pernah protes dengan keadilan Allah. Masih adakah upah yang layak kita
minta sebagai hasil pelayanan kita jika kita menyadari bahwa kesempatan hidup dan
melayani-Nya pun adalah sebuah anugerah?
Yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi
terdahulu. Itu adalah rahasia Tuhan yang mungkin tidak pernah kita mengerti. Namun
yang pasti kita diajak untuk terus bertumbuh di dalam kasih karunia-Nya. Berikan yang
terbaik untuk Tuhan dan Dia akan menganugerahkan semuanya untuk kita. Carilah
dahulu Kerajaan Surga maka semuanya akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33). Amin.
 Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah
Petunjuk Hidup Baru
Nats Persembahan
: Matius 19 : 28-29
: Matius 20 : 26-28
: Matius 19 : 21
 Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembukaan
Nyanyian Penyesalan
Nyanyian kesanggupan
Nyanyian Persembahan
Nyanyian Penutup
:
:
:
:
:
KJ 13 :1,2,4
KJ 395 : 1-2
KJ 387 : 1-3
KJ 450 : 1-…
KJ 416 : 1-3
Khotbah Jangkep September 2011
Khotbah Jangkep Minggu, 18 September 2011
Pekan Biasa Kaping Selangkung (ijo)
GESANG NUWUHAKEN WOH
Waosan I: Yunus 3 : 10 – 4 : 11; Tanggapan: Jabur 145 : 1-8;
Waosan II: Filipi 1 : 21 – 30; Waosan III: Injil Mateus 20 : 1-16
 Khotbah Jangkep
Pasamuwan ingkang Kinasih
ng satunggaling dinten, wonten lare ingkang padatanipun boten purun
mbiyantu tiyang sepuhipun, dumadakan dados sregep lan semangat ndherek
reresik satunggaling griya. Wonten ing pungkasaning minggu ibunipun nampi
serat saking lare punika ingkang wosipun peprincening upah ingkang dipun-tampi
dening lare punika awit nyambut damel kanthi sregep wonten satunggaling griya wau.
Dinten candhakipun lare punika kaget, awit nampi serat saking ibunipun, ingkang
wosipun peprincen kabetahan lare punika wiwit alitipun: susu, tetedhan, rasukan, arta
jajan, sepatu, sekolah, tas, obat nalika sakit lsp. Lare punika boten ngrumaosi bilih
wekdal gesang wonten ing brayat punika minangka sih rahmat, ingkang boten saged
dipun-tandhingaken kaliyan upah punapa kemawon. Cariyos wonten ing nginggil
sejatosipun gegambaran saking kita minangka manungsa. Kita asring boten ngrumaosi
bilih sih-rahmatipun Gusti tansah lumintu wonten ing gesang kita, ananging kita taksih
nyuwun mawarni-warni kabetahan. Kita arsing rumaos Gusti boten adil awit boten nate
mangsuli pandonga-pandonga kita. Kamangka berkahipun Gusti sampun lumintu ing
gesang kita. Kita langkung katah ndheseg dhumateng Gusti matemah kita kesupen
kangge ngwedalaken woh wonten ing gesang kita, ngaturaken ingkang paling sae
dhateng Gusti lan sesami.
I
Pasamuwan ingkang Kinasih
Wonten ing waosan kitab Yunus kita saged nampeni kados pundi Yunus nglairaken
raos boten lega dhateng Gusti awit sih-rahmatipun Gusti ingkang dipun paringaken
dhateng bangsa Ninewe. Bangsa ingkang suwau tumindak boten sae, ananging lajeng
Khotbah Jangkep September 2011
mratobat, Yunus boten rila menawi bangsa punika boten kaukuman. Yunus rumaos bilih
Gusti Allah boten adil awit paring sih-rahmat tumprap bangsa ingkang boten mbangunturut dhateng pangandikanipun Gusti. Mbok bilih raos kados makaten ugi nate kita
raosaken, kenging punapa tiyang ingkang tumindak boten sae taksih kaparingan gesang?
Kenging punapa boten dipun-pejahi kemawon? Yunus nyuwun supados punapa ingkang
dipun tindakaken punika wonten asilipun, sabotenipun bangsa Ninewe kaparingan
paukuman.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Paseksi saking Rasul Paul ugi ngengetaken dhateng kita bilih sih-rahmatipun Gusti
punika tansah lumintu wonten ing gesang kita. Ing salebetipun kinunjara Rasul Paul
paring paseksi, bilih prakawis punika ndadosaken Rasul Paul sangsaya mangertosi Injil
Kratoning Swarga kedah kawartosaken. Rasul Paul nenimbang kalih prakawis wonten ing
gesangipun inggih punika luwar saking pakunjaran punapa pejah. Kanthi pilihan ingkang
wonten punika Rasul Paulus tetep saged saos sokur. Kanthi paseksi punika rasul Paul
nenangi pasamuwan Filipi suados tansah wartosaken sih-rahmatipun Gusti. Rasul Paul
ingkang kinunjara taksih saged nuwuhaken woh peladosan kagem Gusti punapa malih
pasamuwan Filipi, ingkang taksih mardika, kedahipun ugi langkung greget nuwuhaken
woh kabar kabingahan dhateng sesami.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Waosan Injil menawi kita raos-raosaken kanthi petangan matematika temtu
kemawon badhe ndamel jengkel. Ingkang sami nyambut damel wiwit enjing ngantos
sonten, lan ingkang nyambut damel namung wiwit sonten pranyata nampi upah ingkang
sami. Wah..boten adil punika ..mbok bilih mekaten pemanggih kita. Ananging panen
bilih keadilanipun Gusti boten saged dipun-ukur kanthi ukuranipun manungsa. Pasemon
punika nyariosaken sistem ekonomi ingkang boten masuk akal kangge ngandharaken
babagan Kratoning swarga. Pasemon punika ngatag kita supados ngraosaken babagan
sih rahmatipun Gusti ingkang boten saged dipun etang kados upah. Pasemon punika
ngandharaken bilih saben tiyang wonten ing griya punika nampi punapa ingkang dipunbetahaken lan punika gesang langgeng. Gusti Allah maringi punapa ingkang
kaprasetyakaken dhateng manungsa, lan boten wonten satunggaling tiyang ingkang
saged ndheseg dhateng Gusti babagan prakawis punika.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Sasampunipun kita raosaken waosan kita punika, wonten sawetawis bab ingkang
saged kita sinau, inggih punika :
Khotbah Jangkep September 2011
1. Nyambut damel lan lelados kanthi tulus, lan sami ngangsalaken woh ingkang gesang
wonten ing gesang kita. Sampun ngantos nguningakaken raos boten lega dhumateng
Gusti awit sih rahmatipun ingkang kaparingaken dhateng sedaya tiyang.
2. Wonten ing gesang kita ingkang winates, kita kaatag supados saged tansah
ngangsalaken woh kagem Gusti, peparing ingkang kita gadhahi punika sangu kangge
peladosan kita ngantos pungkasaning gesang.
3. Gusti Allah punika mahamirah, panjenenganipun paring sih-rahmat dhateng sedaya
tiyang. Sampun ngantos kita kirang legawa dhateng kaadilanipun Gusti. Kita
raosaken bilih wekdal gesang lan lelados punika ugi wujud sih-rahmatipun Gusti
kangge kita.
Sumangga kita saged tansah ngwedalaken woh kagem Gusti lan sesami. ”Ananging
Kratoning Allah lan kasampurnane, iku padha upayanen disik, nuli samubarang iku mau
kabeh bakal diparingake marang kowe” ( Mat 6 :33) Amin
 Rancangan Waosan Kitab Suci :
Pawartos Sih Rahmat
Pitedah Gesang Anyar
Pangatag Pisungsung
: Mateus 19 : 28 - 29
: Mateus 20 : 26-28
: Mateus 19 : 21
 Rancangan Kidung Pamuji :
Kidung Pambuka
Kidung Panelangsa
Kidung Kasanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Panutup
:
:
:
:
:
KPK BMGJ
KPK BMGJ
KPK BMGJ
KPK BMGJ
KPK BMGJ
Khotbah Jangkep September 2011
38 :1-3
133 : 1-2
178 : 1,3
187 : 1-...
155 : 1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 25 September 2011
Pekan Biasa Kedua Puluh Enam (Hijau)
TUHAN MEMIMPIN HIDUPKU
Bacaan I: Yehezkiel 18:1-4, 25-32; Tanggapan: Mazmur 25:1-9
Bacaan II: Filipi 2:1-13; Bacaan III: Injil Matius 21:23-32
Tujuan:
Jemaat menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi pemimpin
di dalam hidupnya. Dan iman yang demikian tampak dalam tindakan hidup yang benar.
 Dasar Pemikiran
Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan akal budi. Akal budi
pemberian Tuhan tersebut seharusnya menjadi sarana bagi manusia untuk menentukan
pilihan kepada siapa dia menyerahkan iman percayanya. Justru pilihan yang tepat dan
benar akan mendatangkan karunia untuk dirinya.
 Keterangan Tiap Bacaan
Yehezkiel 18:1-4, 25-32 (Perbaharui Hatimu dan Rohmu)
Israel adalah umat pilihan Allah yang diselamatkan Allah sendiri. Namun, tindakan
mereka sungguh tidak bijak. Kebaikan Allah dibalas dengan tindakan keji serta mereka
mempersalahkan Allah. Walaupun tindakan Israel tidak bijaksana, Allah tetap
menyatakan kasih-Nya yaitu dengan mengundang Israel bertobat sehingga dengan
pertobatan tersebut Israel tetap hidup.
Mazmur 25:1-9 (Tuhan Membimbing Orang yang Rendah Hati)
Dengan rendah hati pemazmur menaikkan doanya di mana doa itu berisi pujian
kepada Tuhan atas kekuasaan-Nya, permohonan agar hidupnya senantiasa dibimbing
Tuhan, pertobatan atas dosa masa lalu serta pengharapan bahwa Tuhan akan
membimbing orang yang rendah hati di mana kehidupan mereka patuh dan setia
kepada Tuhan.
Khotbah Jangkep September 2011
Filipi 2:1-13 (Menganggap Orang Lain lebih Penting)
Inti pokok dalam pengajaran bacaan kedua ini adalah penyataan atas keyakinan
bahwa Tuhan memimpin hidup umat-Nya. Manifestasi keyakinan tersebut tampak
dalam tindakan seperti sehati sepikir, tidak mencari keuntungan pribadi, menaruh
pikiran serta perasaan seperti Kristus, dan tindakan benar lainnya.
Injil Matius 21:23-32 (Kemampuan Berdiplomasi)
Dialog Yesus dengan imam-imam kepala serta tua-tua Yahudi mengandung makna
pengajaran, yaitu: 1. Tentang kuasa. Kuasa dari mana yang menguasai manusia itu
tergantung dari iman atau kepercayaannya sendiri. Artinya kuasa itu dari Tuhan atau
dari kekuatan lain, hanya dirinyalah sendiri yang berhak atas pengakuan tersebut. 2.
Tentang penyerahan diri. Perumpamaan yang dipakai Yesus tersebut berisi suatu
pengajaran bahwa manusia yang dipandang rendah atau yang tidak punya harga diri
sekalipun ketika dia menyerahkan dirinya kepada Tuhan pasti akan mendapatkan
anugerah. Sebaliknya, manusia yang merasa bahwa dirinya benar (menurut pikirannya
sendiri) belum tentu mendapatkan anugerah khusus dari Tuhan.
Harmonisasi Bacaan
Belajar dari pengalaman Israel, walaupun mereka adalah umat pilihan Allah tetapi
sayang mereka hidup menuruti bisikan kedagingan mereka sendiri sehingga mereka
cenderung memberontak kepada Allah. Padahal sikap seperti pemazmur yang mau
merendahkan diri dan menghambakan diri kepada Tuhan jauh lebih bijak. Dan sikap
merendahkan diri serta menjadi hamba tersebut termanifestasikan di dalam tindakantindakan benar seperti yang diajarkan dalam Kitab Filipi, sehingga pada akhirnya dia
akan mampu menyatakan iman kepercayaannya seperti yang diajarkan Yesus di dalam
Injil di mana manusia mengakui kekuasaan Tuhan dan dengan jalan menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Tuhan maka anugerah akan melimpah di dalam kehidupannya.
Pokok dan Arah Pewartaan
Umat percaya harus mampu menggunakan pilihannya dengan benar, di mana
Tuhan menjadi pemimpin atas hidupnya. Dengan menghambakan diri kepada Tuhan
tampaklah tindakan-tindakan benar yang nyata sebagai tanda ucap syukur umat kepada
Tuhan. Hanya dengan mengakui kekuasaan Tuhan dan menyerahkan diri kepada-Nya,
maka anugerahlah yang menaungi kehidupan umat Tuhan.
Khotbah Jangkep September 2011
 Khotbah Jangkep
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
ahukah saudara berapa rupiah yang diterima oleh para abdi dalem keraton
yang mau menghambakan dirinya kepada sang ratu? Honor yang diterima
oleh para abdi dalem keraton bukan dalam hitungan ratusan ribu rupiah atau
bahkan jutaan. Namun, mereka yang hampir setiap hari mengayuh sepeda dari rumah
mereka masing-masing menuju keraton, ada juga yang naik kendaraan umum, belum
lagi mereka membeli minuman sendiri untuk sekedar menghilangkan rasa dahaga;
mereka rela dibayar dalam hitungan belasan ribu rupiah. Mereka mengimani bahwa
dekat dengan sang ratu di mana sang ratu tersebut sebagai pemimpin atau
pengayomnya, maka mereka akan mendapatkan berkat yang tidak bisa terkatakan dan
tidak bisa terbeli. Dekat dengan sang pemimpin dalam hal ini ratu, bagi abdi dalem
adalah sebuah kebanggaan dan juga sebuah anugerah khusus. Dalam arti unsur spiritual
yang menjadi pokok utama alasan rakyat jelata menghambakan dirinya menjadi abdi
dalem keraton. Oleh karena itu mereka tetap setia menjadi abdi dalem, walaupun
secara hitungan materiil mereka tidak akan mungkin menjadi kaya dengan honor yang
mereka terima tiap bulan.
Hal tersebut menarik untuk kita perhatikan di mana para abdi dalem rela
memberikan seluruh keberadannya untuk sang ratu. Jika abdi dalem saja mau
menghambakan diri kepada sang ratu, bagaimanakah dengan diri kita? Apakah kita
sudah menghambakan diri sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai sang penguasa dan
pemimpin bagi kita?
T
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Mari kita belajar bersama dari kesaksian Firman Tuhan yang kita dengarkan hari ini.
Pertama, dari Yeheskiel 18:1-4, 25-32. Kesaksian tersebut memuat kisah Israel yaitu
umat pilihan Allah yang menolak untuk menghambakan diri kepada Tuhan. Mereka
justru melakukan tindakan-tindakan yang jahat. Kebaikan Tuhan ditanggapi dengan
tindakan Israel yang tidak bijaksana. Mereka merasa bahwa tindakan Tuhan atas diri
mereka tidak tepat. Mereka melakukan kecurangan-kecurangan. Jelas sekali bagaimana
Israel hanya mendengarkan suara hatinya sendiri, tanpa peduli akan kasih Tuhan kepada
mereka. Walaupun Israel menanggapi kasih Tuhan dengan tindakan yang jahat bagaikan
air susu dibalas air tuba, namun Tuhan tetap mengasihi Israel dengan memberi mereka
kesempatan untuk bertobat. Kedua, dari kesaksian pemazmur dalam Mazmur 25:1-9,
dia mengajarkan satu tindakan bijak yaitu dengan menaikkan pujian karena kekuasaan
Khotbah Jangkep September 2011
Tuhan atas dirinya. Pemazmur mengimani bahwa Tuhan menjadi pemimpin atas dirinya
maka dia memohon agar hidupnya senantiasa dibimbing Tuhan, memohon karunia
pengampunan atas dosa yang dilakukannya di masa lalu serta berpengharapan bahwa
Tuhan akan membimbing orang yang mau merendahkan hati dengan jalan patuh dan
setia kepada Tuhan. Ketiga, dari kesaksian Filipi 2:1-13 di sana kita menemukan
manifestasi dari iman di mana Tuhan sebagai pemimpin kehidupan umat-Nya.
Menghambakan diri kepada Tuhan itu berarti hidup dalam damai sejahtera. Dan orang
yang di dalam hatinya didiami oleh damai sejahtera tampak di dalam tindakan-tindakan
keseharian yaitu di dalam hidup bersama menekankan sikap sehati sepikir, tidak
mencari keuntungan untuk diri sendiri, mempunyai pikiran serta perasaan seperti
Kristus dan tindakan benar lainnya. Selanjutnya, ketiga pengajaran tersebut ditegaskan
dengan pengajaran dari Injil Matius 21:23-32. Dialog antara Yesus dengan imam-imam
kepala serta tua-tua Yahudi menjadi sebuah sarana pengajaran tentang kuasa dan
penyerahan diri. Tentang kuasa, manusia berhak menentukan atas dirinya sendiri kuasa
siapakah yang dipercaya atau diimaninya. Memang di dunia ini ditawarkan berbagai
kuasa yang dapat dijadikan pegangan hidup atau pemimpin bagi manusia. Memang
selain Tuhan manusia dapat menggantungkan harapannya kepada kuasa-kuasa yang ada
di dunia ini. Namun bagi orang percaya tidaklah bijak jika yang menjadi penguasa atau
pemimpin dalam kehidupannya bukan Tuhan. Persis seperti yang dilakukan Israel, di
mana mereka telah diselamatkan oleh Allah namun mereka menanggapi kasih karunia
Allah tersebut dengan tindakan-tindakan yang jahat. Maka, kesaksian Matius tersebut
menjadi pengajaran yang inspiratif bahwa sebagai umat Tuhan sangatlah bijak jika kita
mengakui hanya Tuhanlah yang menjadi pemimpin atas kehidupan kita. Hal berikutnya
yang terkandung dalam pengajaran Matius tersebut adalah tentang penyerahan diri.
Yesus dengan tegas mengkritik sikap para petinggi agama Yahudi yang percaya kepada
Allah, namun kecenderungan sikap percaya mereka adalah semu. Sementara di sisi lain
manusia yang kehilangan harga diri seperti pemungut cukai dan perempuan sundal
sekali pun justru percaya kepada Tuhan. Yesus mengatakan bahwa pemungut cukai dan
perempuan sundal yang justru berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pernyataan Yesus
tersebut mengandung maksud bahwa manusia-manusia dari kelas marginal mau
menghambakan dirinya kepada Tuhan dengan serius. Maka merekalah yang berhak
menerima karunia khusus dari Tuhan melebihi manusia-manusia dari golongan priayi
atau elite.
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Di awal khotbah tadi kita dihadapkan pada sebuah kesetiaan para abdi dalem
keraton. Demikian pula ketika kita bertanya pada diri kita masing-masing: Apakah Tuhan
Khotbah Jangkep September 2011
sudah menjadi pemimpin atas kehidupan kita, sehingga hidup kita hanya bergantung
pada-Nya sepenuhnya? Ketika Tuhan menjadi pemimpin atas hidup kita, sikap hidup
seperti apa yang kita nyatakan dalam kehidupan sehari-hari? Belajar dari Firman Tuhan
saat ini, ketika kita mengakui bahwa Tuhan adalah pemimpin atas hidup kita itu berarti
bahwa tidak ada pihak lain selain Tuhan yang menguasai hidup kita sepenuhnya.
Pemimpin kita bukan uang, sehingga kita tidak menghambakan diri pada uang.
Pemimpin kita bukan akal budi kita sendiri, namun Tuhan yang kita imani dan kita
percaya sebagai sumber kekuatan bagi kita. Pemimpin kita bukan teknologi, sehingga
Tuhan senantiasa menjadi sumber pengetahuan bagi kita. Dan pemimpin kita bukanlah
nafsu manusiawi kita, namun Tuhan Sang Khalik yang menjadi penguasa atas hidup dan
mati kita.
Jika kita mengakui bahwa Tuhan adalah pemimpin kita berarti bahwa perilaku
keseharian menampakkan kepemimpinan Tuhan tersebut. Ketika Tuhan menjadi
pemimpin atas hidup kita maka angan-angan atau pikiran kita mengarah pada
kebenaran, bukan senantiasa merancang kejahatan-kejahatan yang baru. Ketika Tuhan
menjadi pemimpin atas diri kita maka tutur kata kita membawa kedamaian, penguatan,
penghiburan serta semangat bagi sesama; bukannya tutur kata yang melecehkan,
menindas, memfitnah serta menyakiti hati sesama kita. Ketika Tuhan menjadi pemimpin
atas tubuh kita maka kita mempersembahkan tubuh kita bagi kemuliaan Tuhan dengan
karya pelayanan yang nyata, bukannya menyerahkan kepada dosa.
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Melalui Firman yang kita cermati bersama, maka saat ini kita terpanggil untuk
meneliti kembali kehidupan kita. Jika saat ini kita merasa bahwa pengakuan atas
kepemimpinan Tuhan tersebut hanya sekedar pengakuan tanpa didasari kepercayaan
yang sungguh-sungguh dan juga pengakuan yang tanpa termanifestasikan di dalam
tindakan hidup yang nyata; maka baiklah kita bertobat. Selagi masih ada waktu untuk
kita memperbaiki diri kita masing-masing, niscaya Tuhan memampukan kita untuk
melaksanakan niat baik tersebut. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Khotbah Jangkep September 2011
 Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah
Petunjuk Hidup Baru
Nas Persembahan
: Ibrani 2:10.
: Roma 8:14-15.
: Mazmur 48:15.
 Rancangan Nyanyian Ibadah:
Nyanyian Pembukaan
Nyanyian Penyesalan
Nyanyian Kesanggupan
Nyanyian Persembahan
Nyanyian Penutup
: KJ 18:1, 4
: KJ 39:1, 2
: KJ 412:1, 2
: KJ 407:1: KJ 413:1, 2
Khotbah Jangkep September 2011
Khotbah Jangkep Minggu, 25 September 2011
Pekan Biasa Kaping Nem Likur (Ijo)
GUSTI PEMIMPIN KULA
Waosan I: Yehezkiel 18:1-4, 25-32; Tanggapan: Jabur Masmur 25:1-9
Waosan II: Filipi 2:1-13; Waosan III: Injil Matius 21:23-32
Ancas/Tujuwan:
Pasamuwan nglenggana bilih namung Gusti ingkang dados pamimpin tumrap
gesangipun. Lan kapitadosan ingkang makaten punika kababar wonten ing tumindak
leres ing gesang padintenan.
 Khotbah Jangkep
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
unapa panjenengan pirsa pinten blanjanipun para abdi dalem kraton ingkang
kathi setya ngabdi dhateng ratu? Blanjan ingkang dipun tampi dening abdi
dalem kasebat etanganipun sanes atusan ewu rupiah utawi yutan. Nanging
para abdi dalem tetep setya anggenipun ngabdi katitik saben dinten
nunggang sepedha utawi kendaraan umum saking griyanipun tumuju kraton, dereng
malih kedah tumbas omben nalika ngorong, nilar padamelan wonten griya tumuju
kraton lan nindakaken ayahan leladi sanesipun. Tiyang-tiyang makaten punika rila
legawa nampi blanjan ingkang cacahipun namung welasan ewu rupiah. Tiyang-tiyang
punika sami pitados bilih celak kaliyan ratu saha mitados sang ratu dados
pamimpinipun, mila piyambak ipun badhe tampi berkah mirunggan ingkang boten saged
dipun-jlentrehaken raosipun. Celak ratu sarta saged ngladosi ratu punika satunggaling
kamareman lan ugi berkah mirunggan ingkang boten dipun-tampi dening sadaya tiyang.
Sarehning pangabdenipun para abdi dalem punika magepokan kaliyan prakawis
kapitadosan saha kamaremaning batos, mila tiyang-tiyang punika sami setya nglabuhi
sang ratu kanthi pangabden saha paladosanipun, sinaosa petangan kadonyan
anggenipun dados abdi dalem punika dipun-lenggana boten badhe njalari piyambakipun
sugih.
Prakawis punika prelu kita gatosaken mirungganipun pangabdenipun para abdi
dalem ingkang misungsungaken gesangipun tumrap sang ratu. Menawi abdi dalem
P
Khotbah Jangkep September 2011
kraton kemawon purun ngabdi kanthi tumemen dhateng sang ratu, lajeng kados pundi
kaliyan kita? Punapa kita ugi sampun ngabdi kanthi temen-temen dhumateng Gusti
inggih Ratuning gesang? Punapa kita estu mitadosi bilih Sang Ratu Sejati ingghi punika
Gusti Allah minangka pamimpin tumraping kita?
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
Sumangga kita sesarengan sinau saking paseksi pangandikanipun Gusti ingkang kita
tampi ing dinten punika. Setunggal saking Yeheskiel 18:1-4, 25-32. Paseksi kasebat
ngewrat cariyosipun Israel inggih umatipun Gusti ingkang boten purun ngabdi
sawetahipun dhumateng Gusti Allah. Israel malah remen tumindak dursila.
Kasaenanipun Gusti tinanggapan kanthi tumindakipun Israel ingkang boten wicaksana.
Israel rumaos bilih pakaryaning Allah tumrap dhirinipun punika boten prayogi, mila
Israel lajeng dados awon sikepipun lan remen damel dosa. Cetha sanget kados pundi
Israel namung nggega pikajengipun piyambak tanpa preduli dhateng katresnanipun
Gusti tumrap Israel. Sinaosa Israel nanggapi katresnanipun Gusti kanthi sikep awon,
nanging Gusti tansah nresnani Israel lan nimbali supados purun mratobat. Kalih,
paseksining juru masmur ing Jabur Masmur 25:1-9. Juru masmur mulang satunggaling
kawicaksanan inggih punika kanthi ngunjukaken pepujen awit kababaring
panguwaosipun Gusti wonten ing gesangipun juru masmur. Juru masmur pitados bilih
Gusti dados pamimpin ing gesangipun mila piyambakipun nyuwun supados gesangipun
tansah tinuntun dening Gusti, nyuwun pangapuntening dosa kalepatan ingkang sampun
katindakaken saha nggadhahi pangajeng-ajeng bilih Gusti badhe nuntun tiyang ingkang
purun andhap asor kanthi mituhu lan setya dhumateng Gusti. Tiga, paseksining Filipi
2:1-13. Ing ngriku kita manggihaken kasunyataning kapitadosan ingkang ketingal wonten
ing tandang-tandukipun umat jalaran Gusti dados pamimpinipun. Ngabdi dhumateng
Gusti punika ateges gesang winengku ing tentrem rahayu. Lan manungsa ingkang ing
manahipun makuwon tentrem rahayu badhe ketingal wonten ing tindak tanduk
padintenanipun inggih punika: kanthi sikep ngudi tunggal rasa, tunggal budi, boten
pados kauntungan tumrap dhirinipun piyambak, nggadhahi raos pangraos kadosdene
Sang Kristus lan tumindak leres sanesipun. Salajengipun, tigang piwulang kasebat
katandhesaken kanthi piwulang saking Injil Mateus 21:23-32. Pirembaganipun Gusti
Yesus kaliyan pangajenging imam lan pinisepuhing Yahudi ngewrat piwulang bab
kuwaos lan sikep anggenipun umat masrahaken gesang.
Magepokan kaliyan panguwaos, manungsa punika gadhah hak nemtokaken sinten
ingkang dipun-pitadosi lan dipun-bekteni. Pancen jagad punika nawekaken mawarniwarni panguwaos ingkang saged dipun-angge cepenganipun manungsa. Pancen kajawi
Gusti manungsa saged ngajeng-ajeng saking kakiyatan-kakiyatan sanes ingkang wonten
ing jagad punika. Nanging tumraping tiyang pitados temtu boten wicaksana menawi
ingkang dados panguwaos utawi pamimpinipun punika sanes Gusti. Sami kaliyan
Khotbah Jangkep September 2011
ingkang dipun-tindakaken dening Israel, sinaosa sampun dipun-wilujengaken dening
Gusti nanging Israel nanggapi kanthi tumindak-tumindak ingkang asor. Mila, paseksi ing
Mateus punika, dados satunggaling piwulang ingkang ngengetaken umatipun Gusti
supados dados wicaksana kanthi ngakeni bilih namung Gusti ingkang dados pamimpin
tumrap gesangipun.
Prakawis candhakipun ingkang kawrat ing Mateus inggih punika bab pasrahing
gesang. Gusti Yesus melehaken sikepipun para pangajenging imam Yahudi ingkang
pitados dhateng Gusti Allah, nanging sikepipun condhong lelamisan. Kamangka ing sisih
sanes wonten manungsa ingkang kecalan ajining dhiri inggih punika para juru-mupubeya lan ugi wanita tuna-susila malah pitados dhateng Gusti Allah kanthi tumemen.
Gusti Yesus mratelakaken bilih juru-mupu-beya lan wanita tuna-susila gadhah hak
mlebet kratoning Allah. Pratelanipun Gusti punika ngewrat makna bilih manungsamanungsa saking golongan miskin papa nanging malah purun mratobat lan ngabdi
dhateng Gusti kanthi tumemen. Mila tiyang-tiyang punika ingkang gadhah hak nampi
berkah mirunggan nglangkungi para priyayi ingkang rumaos paling suci, paling leres,
paling sugih lan sapiturutipun.
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
Ing wiwitaning khotbah kita kaabenajengaken kaliyan kawontenan kasetyanipun
pada abdi dalem kraton. Samangke kedahipun tuwuh pitakenan ing salebeting manah
kita: Punapa Gusti punika estu dados pamimpin tumrap gesang kita? Satemah kita
gumantung sawetahipun ingkang bab pangrehipun Gusti. Nalika Gusti dados pamimpin
tumrap kita, sikep kados punapa ingkang kedah kita babaraken wonten ing gesang
padintenan kita? Nyinau saking pangandikanipun Gusti samangke, nalika kita ngakeni
bilih Gusti punika pamimpin tumraping gesang kita punika ateges bilih boten wonten
pihak sanes kajawi namung Gusti ingkang nguwaosi gesang kita sawetahipun. Pamimpin
kita sanes arta, temah kita ngabdi dhateng mammon. Pamimpin kita sanes nalar
bebuden kawasisan, nanging Gusti ingkang paring samudayanipun tumrap kita lan
Panjenenganipun punika tuking gesang kita. Pamimpin kita sanes kamajenganing jaman,
nanging Gusti ingkang dados sumbering kawruh kita. Lan pamimpin kita sanes
pepinginaning kadagingan, nanging namung Gusti ingkang murba ing dumadi ingkang
dados panguwaos saha pamimpin tumrap kita sarta kuwaos ing bab gesang punapa
dene pejah kita. Menawi kita ngakeni bilih Gusti minangka pamimpin kita ateges bilih
tumindak padintenan kita kedah mratelakaken kapamimpinanipun Gusti. Nalika Gusti
dados pamimpin tumrap gesang kita mila pangangen-angen kita kaeneraken dhateng
kaleresan, boten saben wekdal namung ngrancang piawon. Nalika Gusti dados
pamimpin tumrap dhiri kita mila pitembungan kita kedah mbabar katentreman,
pambereg, panglipuran saha pangatag tumrap sesami. Sanes pitembungan ingkang
ngremehaken, nindhes, mitenah saha damel goreh manahipun sesami. Nalika Gusti
Khotbah Jangkep September 2011
dados pamimpin kita mila kedah kita pisungsungaken kagem Gusti, boten malah kita
ulungaken dhateng dosa.
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
Lumantar pangandikanipun Gusti ingkang kita tampi sesarengan, mila samangke
kita tinimbalan naliti gesang kita piyambak-piyambak. Menawi kita nglenggana bilih
anggen kita ngakeni Gusti minangka pamimpin kita punika namung medal saking lathi
kemawon dereng nandhes ing salebeting manah lan pangaken kita kasebat dereng
kababar wonten ing tumindak gesang ingkang nyata mila kita mratobat. Mumpung
taksih wonten wekdal kangge ndandosi karingkihan kita, pitados bilih Gusti mesthi
paring kasagedan tumrap kita salebeting nglampahi gesang anyar lan ngudi krenteg
ingkang sae kasebat. Gusti mberkahi kita sadaya. Amin.
 Rancangan Waosan Kitab Suci
Pawartos Sih Rahmat
Pitedah Gesang Anyar
Nas Pisungsung
: Ibrani 2:10
: Rum 8:14-15
: Jabur Masmur 48:15
 Rancangan Nyanyian Ibadah
Kidung Pambuka
Kidung Panalangsa
Kidung Kasanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Panutup
: KPK BMGJ 2:1,
: KPK BMGJ 42:1, 2
: KPK BMGJ 196:1, 2
: KPK BMGJ 129:1: KPK BMGJ 336:1, 2
Khotbah Jangkep September 2011
Download