MUHAMMAD HAYYUMAS-D1214056

advertisement
POLA INTERAKSI HUBUNGAN ORANG TUA
DENGAN ANAK DI ERA DIGITAL
(Studi Deskriptif Kualitatif Pola Interaksi Hubungan Orang Tua
dengan Anak di Era Digital Dalam Mengatasi Ketergantungan Anak
Terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi Di Era Digital
Di Kalangan Komunitas Cinta Anak Solo)
Oleh:
Muhammad Hayyumas
D1214056
JURNAL
Disusun Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Mencapai
Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Politik
Program Studi Ilmu Komunikasi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
POLA INTERAKSI HUBUNGAN ORANG TUA
DENGAN ANAK DI ERA DIGITAL
(Studi Deskriptif Kualitatif Pola Interaksi Hubungan Orang Tua dengan
Anak di Era Digital Dalam Mengatasi Ketergantungan Anak Terhadap
Teknologi Informasi dan Komunikasi Di Era Digital
Di Kalangan Komunitas Cinta Anak Solo)
Muhammad Hayyumas
Sofiah
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstract
Entering the digital era of massive technological developments present to
bring influence to the whole society of adults to children. Now, Parents are
facilitating their children with information and communication technologies, so
that the children into dependency on its own technology. To determine the pattern
of family communication applied parents to their children in the child overcome
the dependence on information and communication technology in the digital era
among KOCAKS, this research is done. Besides these parents also explain any
constraints faced when interacting with their children to maintain a relationship
so that the children is not dependent on its digital media devices.
This study uses descriptive qualitative research, with a focus on the
elderly members KOCAKS which they have facilitated their children with digital
media technology such as gadgets, notebook, or television. The main data sources
of this research is interview while supporting data obtained from documents and
other supporting data.
Based on this research, communication patterns consensual applied to
member KOCAKS as a form of interaction to children in overcoming their
dependence on information and communications technology. This pattern
prioritizes open communication, direct and likes to listen to children so as to
produce effective communication. Obstacles that parents feel when
communicating with children, namely a digital media technology had an impact in
terms of communicating. Communication is established not face to face so that the
communication that occurs intenseless. Additionally the time is also an obstacle
rather crucial. Parents think the time may seize the childhood of their children
which is currently more interested in its gadget than they do other activities such
as playing with friends, studying, until the time for quality time with their parents.
Keyword: family communication, interaction relationships
1
Pendahuluan
Kehadiran teknologi digital saat ini memberikan kemudahan dan
kenyamanan bagi masyarakat di dunia. Semua orang dibuat kagum akan pernak
pernik permesinannya. Sajian hiburan yang dihadirkan teknologi di era digital
membuat orang ketagihan. Kesetiaannya menemani menjadikan ketergantungan
dalam penggunaannya. Manusia seakan terkagum-kagum akan kecepatan dan
kekuatan dari teknologi. Selain itu, teknologi juga memberikan harapan yang
menjanjikan.
Di era modernisasi teknologi informasi dan komunikasi yang semakin
canggih membuat remaja dan anak-anak terperangkap dalam banjir informasi dan
hiburan. Hadirnya teknologi yang menerpa anak semakin meruyak, bervariasi, dan
penuh daya pikat. Kaiser Family Foundation selama tahun 1999 seperti yang
ditulis oleh Osgerbey (2004:5) menemukan temuan bahwa rata-rata remaja
Amerika tinggal dirumah yang memiliki tiga buah televisi, tiga buah tape
recorder, tiga buah radio, dua video recorder, dua buah CD player, satu buah
video game, dan satu buah computer. Teknologi ini belum termasuk yang
digunakan di sekolah maupun pekerjaan rumah. Ketika teknologi berkembang
jumlah variasi benda elektronik diatas pun akan berlipat ganda (Kusuma, 2011:
398).
Harian republika juga memuat survey pada tanggal 18 November 2015
mengenai anak-anak usia dibawah 12 tahun kini cenderung menghabiskan waktu
didepan layar-baik itu layar televisi, komputer, ponsel, atau game dibandingkan
bermain diluar rumah. Rata-rata anak menghabiskan waktu 7,5 jam untuk berkutat
dengan perangkat digital. Sisanya 1,5 jam mereka gunakan untuk bermain. Lebih
mengkhawatirkan lagi, ketergantungan terhadap perangkat digital untuk waktu
yang lama juga dapat menghambat proses perkembangan imaginatif kreatif
mereka. Parahnya lagi lebih dari 60 persen orang tua tidak mengawasi
penggunaan gadget anak-anak mereka.
Penggunaan fasilitas gadget yang dimiliki anak menjadikan waktu
quality time dengan orang tua juga berkurang. Anak lebih banyak menghabiskan
quality time bersama gadget atau perangkat digital lainnya yang ia miliki. Selain
2
itu, terdapat sikap kurang peduli apa yang seharusnya orang tua berikan kepada
anak-anak (Naisbit, 2001: 131).
Seperti yang sudah kita ketahui fenomena akibat dampak negatif dari
teknologi yang sangat membahayakan terjadi di Indonesia pada bulan April tahun
2016 lalu. Kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun (14), warga
Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang
Lebong, Bengkulu yang dilakukan oleh 14 remaja putra menjadi sorotan publik
kala itu. Kasus tersebut merupakan salah satu dampak negatif dari
penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi di era digital saat ini.
Maraknya situs-situs pornografi yang beredar bebas di dunia maya menyebabkan
anak melakukan hal di luar kendali tanpa berfikir hal tersebut benar atau salah
(Indah Mutiara-news.detik.com- 30 Mei 2016, 12:18 WIB).
Sangat disayangkan kemajuan teknologi informasi komunikasi saat ini
mempengaruhi gaya hidup (lifestyle) manusia di semua lini kehidupan baik dari
anak-anak hingga orang dewasa. Derasnya arus globalisasi telah merubah pola
dan cara pikir manusia saat berkomunikasi. Hal inilah yang terkadang menjadi
kendala bagi tiap-tiap anggota keluarga, khususnya interaksi orang tua dengan
anak mereka. Perbedaan generasi orang tua dengan anak diyakini menjadi salah
satu pengaruh betapa sulitnya menjalin komunikasi dengan anak mereka. Menurut
Don Tapscopt dalam bukunya Grown Up Digital, anak-anak yang lahir di tahun
2000an telah mahir dalam menggunakan teknologi seperti internet, media sosial,
smartphone, dan gadget tanpa mengetahui sejarah perkembangan teknologi
tersebut.
Maka dari itu Orang tua sebaiknya dituntut untuk tidak gaptek (gagap
teknologi) dalam mengontrol dan mendidik anak di era digital. Penemuan sebuah
riset menyatakan, sebanyak 96 remaja di dunia menggunakan media sosial dalam
kesehariannya dan hanya 15 persen orang tua yang mengaku mengetahui media
sosial anak-anak mereka. Dapat dikatakan orang tua telah membiarkan anaknya
mengeksplorasi dirinya sendiri dengan bebas di dunia maya, tanpa pernah bisa
memahami dampak yang bisa ditimbulkannya di kemudian hari (Intan Y.
Septiani-Tabloidnova.com-26 Februari 2015).
3
Berdasarkan fenomena-fenomena yang telah terjadi, beberapa orang tua
yang tinggal di kota Solo peduli akan tumbuh kembang anak mendirikan suatu
komunitas yang di beri nama Komuniatas Cinta Anak Solo atau yang sering
dikenal dengan KOCAKS Solo. KOCAKS merupakan suatu komunitas nirlaba
yang memiliki tujuan untuk mengajari dan memberi arahan kepada orang tua
untuk mendidik anak mereka di era digital saat ini, dimana usia anak mereka ratarata 0 sampai 18 tahun. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain membuat
seminar parenting, wokshop parenting, parenting class dimana kegiatan-kegiatan
tersebut bertujuan untuk mengaedukasi orang tua tentang cara berkomunikasi
yang baik dan benar dengan anak, cara penyampaian pesan yang baik kepada
anak, cara mendidik dan mengasuh, hingga belajar bagaimana cara berinteraksi
dan memelihara hubungan yang baik dalam keluarga terutama dengan anak
mereka yang berusia 0 sampai remaja agar tidak terkena dampak buruk dari
lahirnya era digital.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan
permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana akses anak dan akses orang tua dalam penggunaan teknologi
informasi dan komunikasi di era digital?
2. Bagaimana pola interkasi hubungan antara orang tua dengan anak dalam
mengatasi ketergantungan anak terhadap teknologi informasi dan komunikasi
di era digital di kalangan Komunitas Cinta Anak Solo atau KOCAKS?
3. Apa kendala yang dihadapi orang tua dalam berkomunikasi dan memelihara
hubungan dengan anak yang ketergantungan akan teknologi informasi dan
komunikasi di era digital di kalangan Komunitas Cinta Anak Solo atau
KOCAKS?
4
Tinjauan Pustaka
1. Hakekat Komunikasi Keluarga
Komunikasi merupakan salah satu cara yang digunakan dalam interaksi
keluarga. Dari seringnya berinteraksi dengan anggota keluarga maka dapat
mengakrabkan sesama anggota keluarga. Dalam sebuah komunikasi yang terjalin
tentu harapan yang diinginkan adalah komunikasi yang efektif, karena komunikasi
yang efektif dapat menimbulkan pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap
hubungan yang makin baik dari tindakan (Effendy, 2002: 8). Pentingnya peran
komunikasi efektif dalam keluarga perlu dibangun dalam rangka pola pikir anak
dan membangun jiwa anak agar sesuai dengan harapan orangtua.
Komunikasi keluarga antara orang tua dengan anak dikatakan berkualitas
apabila kedua belah pihak memiliki hubungan yang baik dalam arti bisa saling
memahami, saling mengerti, saling mempercayai dan menyayangi satu sama lain,
itu semua dapat dicapai jika adanya kesamaan pengertian yang dimiliki oleh orang
tua dengan anak ataupun sebaliknya. Sedangkan komunikasi yang kurang
berkualitas mengindikasikan kurangnya perhatian, pengertian, kepercayaan dan
kasih sayang di antara keduanya (Hopson dan Hopson, 2002:96).
2. Pola Komunikasi dalam Keluarga
Pola komunikasi dapat dipahami sebagai pola hubungan antara dua orang
atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat
sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Djamarah, 2004:1).
Suatu riset pola komunikasi keluarga yang dikemukakan oleh Mary Anne
Fitzpatrick, dimana dia dan rekannya mengembangkan riset tentang hubungan
dalam keluarga. Riset ini membahas tentang bagaimana para anggota keluarga
berkomunikasi, apa yang mempengaruhi komunikasi tersebut, serta bagaimana
peran orang tua dalam komunikasi keluarga. Hasil dari riset tersebut diperoleh
suatu penjelasan mengenai 4 tipe pola komunikasi keluarga, antara lain (Morrisan,
2013: 162-164):
1. Pola konsensual, adanya musyawarah mufakat. Komunikasi Keluarga dengan
pola konsensual suka sekali untuk ngobrol bersama dan memiliki kepatuhan
5
yang tinggi. Dalam hal ini orang tua adalah pihak yang membuat keputusan.
Orang tua biasanya sangat mendengarkan apa yang dikatakan anak-anaknya.
Orang tua kemudian membuat keputusan, tetapi tidak selalu sejalan dengan
keinginan anak-anaknya, namun orang tau selalu berupaya menjelaskan alasan
keputusan itu agar anak-anak mengerti alasan suatu keputusan. Keluarga jenis
ini sangat menghargai komunikasi terbuka namun tetap menghendaki
kewenangan orang tua yang jelas.
2. Pola pluralistik. Bentuk komunikasi keluarga yang menjalankan model
komunikasi yang terbuka dalam membahas ide-ide dengan semua anggota
keluarga, menghormati minat anggota lain dan saling mendukung. Keluarga
dengan tipe pluralistis sering sekali berbicara, tetapi setiap orang dalam
keluarga akan membuat keputusannya masing-masing. Orang tua tidak merasa
perlu mengontrol anak-anak mereka, karena setiap pendapat dinilai pada
kebaikannya, yaitu pendapat mana yang terbaik dan setiap orang turut serta
dalam pengambilan keputusan. Artinya, orang tua cenderung mendidik anak
mereka untuk berpikir secara bebas.
3. Pola protektif, Kepatuhan dan keselarasan sangat dipentingkan. Keluarga
dengan tipe ini jarang sekali melakukan percakapan
namun memiliki
kepatuhan yang tinggi, jadi banyak sifat patuh dalam keluarga tetapi sedikit
komunikasi. Anak-anak yang berasal dari keluarga yang menggunakan pola
protektif dalam berkomunikasi mudah dibujuk, karena mereka tidak belajar
bagaimana membela atau mempertahankan pendapat sendiri.
4. Pola laissez-faire, anak tidak diarahkan untuk mengembangkan diri secara
mandiri, dan juga rendah dalam komunikasi yang berorientasi sosial. Artinya
anak tidak membina keharmonisan hubungan dalam bentuk interaksi dengan
orang tua. Anak maupun orang tua kurang atau tidak memahami objek
komunikasi, sehingga dapat menimbulkan komunikasi yang salah.
3. Interaksi dan Hubungan Orang Tua dengan Anak dalam Keluarga
Interaksi sosial paling dominan akan terjadi di dalam kehidupan
keluarga. Di dalam keluargalah pertama kali manusia akan mengenal ayah, ibu,
6
dan saudara kandung mereka. Disini manusia akan belajar berinteraksi dengan
anggota keluarga sebelum mereka nantinya tumbuh menjadi dewasa dan
melakukan interkasi sosial di luar lingkungan keluarga. Interaksi antara anggota
keluarga yang satu dengan yang lain menyebabkan seorang anak menyadari akan
dirinya bahwa mereka dapat berperan sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial.
Maka dari itu, kebutuhan hidup anggota keluarga tentu sangat diperlukan
adanya interaksi yang baik dan intensif di antara individu-individu dalam
keluarga.
Begitu
juga
sebaliknya
orang
tua
selalu
berinteraksi
dan
mengkomunikasikan pesan-pesan kepada anak-anak maupun anggota keluarga
lainnya yang bersifat mendidik, sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai
keharmonisan dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat. Mengingat interaksi
itu merupakan salah satu bentuk hubungan yang wajib dilaksanakan oleh manusia
sebagai makhluk sosial dan juga sebagai makhluk individu, baik kehidupan
keluarga maupun bermasyarakat (Santosa, 1999).
Interaksi yang dilakukan oleh orang tua dengan anak akan menghasilkan
suatu hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal memiliki definisi yaitu
interaksi yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dalam segala situasi
dan dalam semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan dan
kepuasan hati pada kedua belah pihak (Sunarto, 2011:28). Menurut pandangan
Kelompok Paolo Alto group ketika dua orang berkomunikasi maka mereka
mendefinisikan bahwa hubungan mereka berdasarkan cara mereka berinteraksi
(Littlejohn dan Foss dalam Morissan, 2013:285).
Ketika seseorang berbicara
dengan temannya, rekan kerjanya, atau dengan keluarganya maka seseorang itu
akan selalu menciptakan seperangkat harapan terhadap perilaku dirinya dan
perilaku orang lain. Terkadang menggunakan harapan lama yang sudah ada
sebelumnya dalam hubungannya dengan orang lain. Namun adakalanya seseorang
tersebut menggunakan pola-pola interaksi baru sehingga menghasilkan harapan
baru dalam interaksi dirinya dengan seseorang yang bersangkutan di masa yang
akan datang (Morissan, 2013:285).
7
4. Komunikasi Interpersonal Orang Tua dengan Anak
Untuk mendefinisikan komunikasi interpersonal adalah dengan berfokus
pada apa yang terjadi, bukan pada dimana mereka berada atau berapa banyak
jumlah mereka. Kita dapat mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah
bagian dari interaksi antara beberapa orang (Wood, 2010: 21). Littlejohn (1999)
dalam
Sunarto
mendefinisikan
komunikasi
antarpribadi
(interpersonal
communication) adalah komunikasi antara individu-individu. Pendapat senada
juga dikemukakan oleh Agus M.Hardjana (2003) bahwa komunikasi interpersonal
adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, dimana pengirim dapat
menyampaikan pesan secara langsung dan penerima pesan dapat menerima dan
menanggapi secara langsung pula (Sunarto, 2011: 3).
Berikut beberapa faktor pendukung komunikasi interpersonal seperti
yang ditulis oleh Jalaludin Rakhmat (1996:129-138) dalam buku psikologi
komunikasi, antara lain : sikap kepercayaan (trust), sikap supportif, dan sikap
terbuka. Eric Berne (1961) dalam jurnal yang ditulis oleh S. Ramaraju (2012)
yang berjudul Psychological Perspectives On Interperseonal Communication
menyoroti
hubungan
antara
bahasa,
perilaku,
dan
proses
komunikasi
interpersonal. Inti dari temuan Eric Berne adalah bagaimana seseorang
mengembangkan dan memperlakukan dirinya ketika sedang berkomunikasi
dengan orang lain. saat mereka berkomunikasi, bahasa yang mereka tuturkan
dapat di definisikan secara makna, perasaan, perilaku, dan motifnya. Hal ini dapat
memahami pesan apa yang disampaikan serta peristiwa apa yang sedang terjadi.
Jika komunikasi interpersonal dilakukan secara efektif
perilaku yang benar,
melalui bahasa dan
maka dapat tercipta suatu hubungan yang baik dalam
mengembangkan maupun memelihara hubungan melalui komunikasi.
5. Teknologi Informasi dan Komunikasi di Era Digital
Teknologi informasi dan komunikasi dalam media digital telah
membangkitkan banyak konteks baru untuk anak-anak untuk mengekspresikan
dan menjelajahi identitas mereka, dari situs jaringan sosial, telepon seluler, dan
platform untuk blog dan vlogs, dunia maya, dan situs berbagi video instant
8
messaging. Menurut Davis (2013) dalam jurnalnya yang berjudul Young People’s
Digital Lives: The Impact Of Interpersonal Relationships and Digital Media Use
On Adolescents’ Sense of Identity bahwa teknologi digital media seperti telepon
selular dan situs jejaring sosial telah menciptakan konteks sosial baru dalam kasus
yang telah ada perubahannya. Salah satunya hubungan interpersonal orang tua dan
anak (baik anak usia dini maupun remaja) mengalami perbedaan dalam konteks
sosial.
Dalam Teori Ekologi Media atau seringkali disebut sebagai Teori
Determinasi Teknologi yang disampaikan McLuhan (dalam West & Turner, 2008)
yang diambil dari jurnal Komunikasi dalam Era Teknologi (2011) karya Erni
Herawati, mengasumsikan bahwa teknologi media telah menciptakan revolusi di
tengah masyarakat karena masyarakat sudah sangat tergantung kepada teknologi
dan tatanan masyarakat terbentuk berdasarkan pada kemampuan masyarakat
menggunakan teknologi. Artinya, masyarakat dunia tidak mampu menjauhkan
dirinya dari pengaruh teknologi, McLuhan juga menyatakan bahwa teknologi
tetap akan menjadi pusat bagi semua bidang profesi dan kehidupan. Pendapat
tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakannya, we shape our tools and they in
turn shape us, pada dasarnya teknologi yang kita buat secara tidak langsung telah
membentuk kita, terutama dalam hal berkomunikasi. Teknologi informasi dan
komunikasi diera digital telah menjadi penyebab utama perubahan.
Menurut
Griffin (2003) mencatat pendapat McLuhan (dalam West & Turner, 2008) yang
dikutip dari jurnal Komunikasi dalam Era Teknologi (2011) karya Erni Herawati,
bahwa media elektronik baru telah secara radikal mengubah cara manusia
berpikir, merasa, dan bertindak.
Metodologi
Jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian menggunakan studi
deskriptif kualitatif, dimana pengumpulan data diperoleh dengan cara wawancara
dan ditambah dengan studi kepustakaan. Informan dalam penelitian ini berjumlah
12 orang yang terdiri 6 pasang orang tua dengan anak dimana para orang tua
merupakan ibu-ibu tergabung dalam Komunitas Cinta Anak Solo atau KOCAKS.
9
Teknik analisis data meliputi: reduksi data, penyajian data, penarikan dan
pengujian kesimpulan. Lalu triangulasi dalam validitas data dengan menggunakan
triangulasi data. Triangulasi data menunjuk pada upaya peneliti mengakses
sumber-sumber yang lebih bervariasi guna memperoleh data berkenaan dengan
persoalan yang sama. Dengan cara ini peneliti dapat mengungkapkan gambaran
yang lebih memadai beragam perspektif mengenai gejala yang diteliti (Sutopo,
2002 : 79-83).
Sajian dan Analisis Data
1. Akses Anak dan Orang Tua Terhadap PenggunaanTeknologi Informasi
dan Komunikasi
Hadirnya beragam jenis teknologi informasi dan komunikasi membuat
anak-anak menjadi konsumen aktif dimana teknologi saat ini tidak hanya hadir
dalam satu bentuk melainkan bermacam-macam seperti smartphone, tablet,
notebook, hingga televisi. Dalam penggunaan smartphone anak-anak cukup
konsumtif ketimbang notebook ataupun televisi. Rata-rata setiap harinya anakanak menghabiskan waktu 5 jam untuk bermain smartphone. Telepon pintar ini
memang menawarkan kecanggihan yang membuat anak-anak ketagihan dalam
menggunakannya. Mereka dapat mengunakannya untuk berkomunikasi, mengirim
pesan, mencari hiburan dengan bermain games hingga melakukan aktifitas online.
Kegiatan yang anak-anak lakukan tersebut berkaitan dengan apa yang Don
Tapscott kemukakan. Don Tapscott (1997:64) mengatakan bahwa anak-anak era
digital saat ini multitasking. Mengerjakan lima hal dalam waktu yang bersamaan:
mulai dari mengirim pesan, ngetwit¸ download musik, upload video, nonton film
di youtube, dan melihat apa yang temannya sedang kerjakan di facebook. Selain
itu anak mengenal teknologi dipengaruhi oleh keluarga terutama orang tunya yang
memfasilitasi dengan alasan mau tidak mau memang menyesuaikan dengan
kebutuhan anaknya. Pengaruh juga datang dari teman-teman sebayanya atau
teman sepermainannya.
Hal ini berbanding terbalik dengan akses orang tuanya sebagai orang
yang memfasilitasi mereka akan perangkat digital tersebut. Hal ini dilihat dari
10
bagaimana orang tua menggunakan teknologi informasi dan komunikasi
berdasarkan kebutuhan mereka saja. Misalnya untuk bekerja, untuk memperlancar
bisnis, hingga sebagai kebutuhan komunikasi dan gaya hidup saat ini. Meskipun
begitu, orang tua harus paham akan dampak-dampak yang ditimbulkan dari
penggunaan gadget yag berlebihan. Jika orang tua yang mengajarkan hal yang
tepat dalam penggunaan media digital, maka media digital itu tersebut juga akan
membawa dampak-dampak positif untuk orang tua dan anak, seperti media
pendekatan untuk belajar bersama. Namun jika orang tua hanya sekedar
memberikan fasilitas tersebut dengan mengesampingkan efek-efek negatif yang
timbul, maka anak akan terbawa dampak negatifnya seperti berperilaku anti
sosial, acuh terhadap lingkungan sekitarnya, dan yang paling parah kecanduan
akan pornografi, seks, dan kekerasan.
Maka dari itu perlunya orang tua menimbang kembali alasan mereka
dalam memberikan fasilitas media digital tersebut untuk anak. Orang tua juga
perlu tahu seberapa pentingkah media digital untuk anak usia dini. Alasan untuk
berkomunikasi dan memenuhi kebutuhan anak di era modern ini menjadi alasan
kuat bagi setiap orang tua memberikan perangkat digital untuk anak-anaknya.
Kejadian ini menggambarkan konsumsi media digital yang dilakukan
oleh anak-anak saat ini yang menghadirkan sebuah fenomena baru seperti yang
diungkapkan oleh Don Tapscott dalam bukunya Grown Up Digital (1997)
mengenai kelahiran generasi digital atau yang dikenal dengan net generation. Net
generation diartikan sebagai generasi baru yang secara fundamental memiliki cara
belajar, bekerja, bermain, berkomunikasi, hingga berbelanja dan menciptakan
komunitas yang sangat berbeda dari orang tuanya. (Jurnal Komunikasi karya Santi
Indra Astuti (2014) yang berjudul Anak, Media, dan Orangtua: Melacak Praktik
Bermedia Anak dalam Keluarga).
2. Pola Interaksi Hubungan Orang Tua dengan Anak di Era Digital
Di era digital yang mengakibatkan dampak-dampak negatif yang timbul
untuk anak, maka perlunya pola komunikasi keluarga yang efektif yang
diterapkan orang tua. Pola komunikasi keluarga yang digunakan orang tua untuk
11
berinteraksi dan memelihara hubungan dengan anak adalah pola komunikasi
konsensual. Pola komunikasi konsensual menurut Mary Anne Fitzpatrick dalam
Morissan (2013:162-164) dijelaskan bahwa tiap anggota diberi kesempatan untuk
mengemukakan ide dari berbagai sudut pandang, tanpa mengganggu struktur
kekuatan keluarga. Komunikasi keluarga dengan pola konsensual suka sekali
untuk ngobrol bersama dan memiliki kepatuhan yang tinggi. Dalam hal ini orang
tua adalah pihak yang membuat keputusan. Orang tua biasanya sangat
mendengarkan apa yang dikatakan anak-anaknya. Orang tua kemudian membuat
keputusan, tetapi tidak selalu sejalan dengan keinginan anak-anaknya. Namun
demikian orang tua selalu berupaya menjelaskan alasan keputusan itu agar anakanak mengerti alasan suatu keputusan. Keluarga jenis ini sangat menghargai
komunikasi terbuka namun tetap menghendaki kewenangan orang tua yang jelas.
Dalam setiap keluarga memiliki aturan masing-masing terutama untuk
anak-anak dalam penggunaan perangkat digitalnya baik itu gadget maupun
televisi. Aturan tersebut tentu dikomunikasikan terlebih dahulu dengan sang anak
agar mereka patuh dan belajar untuk disiplin dalam mentaati peraturan. Selain
menerapka aturan orang tua perlu adanya upaya pencegahan terhadap
ketergantungan perangkat digital pada anak. Pencegahan yang dilakukan antara
lain dengan memberikan arahan yang benar pada anaknya, memantau aktifitas
bermedia anak, dan memberlakukan batasan-batasan baik itu dari segi konten
media maupun batasan waktu.
Strategi lain dari orang tua untuk memperoleh interaksi yang baik dan
hubungan yang harmonis antara orang tua dengan anak di era digital saat ini dapat
dilakukan berbagai hal antara lain orang tua harus memiliki quality time yang
dapat dimanfaatkan dirinya dengan anaknya, karena quality time mendatangkan
banyak manfaat terutama dalam meningkatkan hubungan interpersonal. Selain itu
orang tua harus dapat menanamkan rasa percaya pada anak, hingga membangun
komunikasi yang baik dan efektif dengan anak.
Konsep berinteraksi dan memelihara hubungan antara orang tua dengan
anak berkiblat pada apa yang didefinisikan oleh Paolo Alto Group. Menurut Paolo
Alto Group suatu hubungan tersebut kedalam sebuah pandangan bahwa ketika
12
dua orang berkomunikasi maka hubungan mereka berdasarkan cara mereka
berinteraksi. Artinya, Ketika seseorang berbicara dengan orang lain maka
seseorang itu akan selalu menciptakan seperangkat harapan terhadap perilaku
dirinya dan perilaku orang lain. Terkadang menggunakan harapan lama yang
sudah ada sebelumnya dalam hubungannya dengan orang lain. Namun adakalanya
seseorang tersebut menggunakan pola-pola interaksi baru sehingga menghasilkan
harapan baru dalam interaksi dirinya dengan seseorang yang bersangkutan di
masa yang akan datang (Morissan, 2013:385).
Teori Paolo Alto mengenai interaksi hubungan dalam kaitannya
berinteraksi dan memlihara hubungan antara orang tua dengan anak di era digital
terutama dalam mengatasi ketergantungan anak terhadap teknologi media digital
dirasa akan sesuai dengan penerapan pola komunikasi konsesnsual yang
digunakan oleh Ibu-Ibu anggota KOCAKS. Pasalnya mendidik anak yang usianya
rata-rata tergolong dalam usia generasi Z ini, Ibu-ibu anggota KOCAKS merasa
perlu adanya sebuah harapan yang baru dalam menghasilkan suatu interaksi yang
berkualitas yang diciptakan saat berkomunikasi dengan anaknya. Ibu-ibu anggota
KOCAK mengatakan bahwa ini suatu tantangan dalam mengasuh anak di era
digital. Menciptakan interaksi baru untuk mendapatkan hubungan yang baik
dengan anaknya dalam mengalihkan perhatian mereka kepada media digital.
Adanya pola asuh yang baru juga dibutuhkan berfungsi untuk menghilangkan
kerenggangan interaksi dan hubungan dalam keluarga.
3. Kendala yang Dihadapi Orang Tua Dalam Berkomunikasi dan
Memelihara Hubungan dengan Anak di Era Digital
Lahirnya teknologi informasi dan komunikasi di era digital tak
selamanya membawa hal positif bagi kehidupan keluarga. Berbagai bentuk
teknologi informasi dan komunikasi seperti televisi, smartphone, notebook, dan
perangkat elektronik lainnya sudah masuk dalam kehidupan keluarga dan
mempengaruhi anak-anak. Jika kita lihat anak-anak mendapatkan kenyamanan
dan kepuasan tersendiri dalam memanfaatkan teknologi media digital yang
mereka miliki.
13
Hal tersebut menimbulkan beberapa kendala yang dihadapi oleh orang
tua. Salah satu kendala yang sering dirasakan orang tua adalah berkurangnya
kualitas interaksi antara orang tua dengan anak. anak sudah acuh saat diajak bicara
dan pandangan mereka terfokuskan pada layar. Interaksi yang dihasilkan juga
tidak face to face. Ketika anak tidak bisa melakukan interaksi secara face to face,
orang tua merasa kehadiran teknologi digital membuat mereka diabaikan. Selain
itu mempengaruhi kualitas hubungan orang tua dengan anak. Sebuah jurnal karya
Davis (2013) yang berjudul Young People’s Digital Lives: The Impact Of
Interpersonal Relationships and Digital Media Use On Adolescents’ Sense of
Identity menjelaskan kejadian tentang perubahan pada sikap dan perilaku anak
akibat teknologi media digital. Jurnal tersebut menuliskan bahwa teknologi digital
media seperti telepon selular dan situs jejaring sosial telah menciptakan konteks
sosial baru dalam kasus yang telah ada perubahannya. Salah satunya hubungan
interpersonal orang tua dan anak (baik anak usia dini maupun remaja) mengalami
perbedaan dalam konteks sosial. Ini artinya hubungan interpersonal orang tua dengan
anak terhambat akibat teknologi informasi dan komunikasi.
Kendala yang dihadapi tidak cukup sampai disitu saja. Ketika hubungan
mereka menjadi renggang terkadang konflik sering timbul antara orang tua
dengan anak. Bentuk konflik diawali dengan kejengkelan orang tua yang
membuat orang tua marah yang mana anaknya ini terkadang jika sudah asik
dengan gadget lupa akan segalanya. Sehingga orang tua sulit untuk mengarahkan.
Ketika orang tua sudah tidak terkontrol dan marah akan terjadi perselisihan atau
pertengkaran kecil antar keduanya. Perselisihan yang mengakibatkan konflik
menjadikan kendala bagi interaksi hubungan interpersonal antara orang tua
dengan anak. Konflik yang biasanya timbul adalah konflik interpersonal antara
orang tua dengan anak. Menurut peneliti Allan Sillars bahwa ketika orang terlibat
dalam situasi konflik maka mereka akan mengembangkan teori pribadi mereka
untuk menjelaskan situasi. Teori pribadi ini pada gilirannya akan memiliki
dampak yang besar bagi para pihak untuk dapat saling berhubungan satu dengan
yang lainnya (Suciati, 2015:138-140).
14
Satu lagi kendala yang dinilai paling krusial oleh orang tua adalah
masalah waktu. Gadget memang memberikan kesenangan bagi semua orang tak
terkecuali anak-anak. Jika mereka sudah betah dengan gadgetnya kendala-kendala
yang dipaparkan sebelumnya, seperti orang tua diabaikan sehingga ada
kerenggangan dalam hubungan keluarga dapat terjadi. Maka dari itu waktu
menjadi kendala yang belum bisa dihindari. Menurut Ibu-ibu anggota KOCAKS
jika masalah waktu tak dapat dihindari, anak-anak dapat kehilangan waktu masa
kanak-kanak seperti bermain dan belajar bersama teman sebayanya. Anak-anak
merasa bahwa dirinya dapat bermain dan belajar dengan bantuan teknologi dan
ineternet. Terlebih lagi orang tua anggota KOCAKS ini memaparkan bahwa orang
tua saat ini secara tidak sadar juga sebagai penikmat teknologi informasi
komunikasi seperti sosial media yang saat ini digandrungi banyak orang. Dengan
media sosial mereka dapat bertemu dengan teman-teman lama, menjalin
hubungan dengan keluarga jauh, melakukan obrolan melalui chat, mengunggah
foto kebersamaan dengan keluarga, membantu mereka dalam urusan kerja, hingga
berbelanja. Tanpa disadari hal ini terkadang juga menyita waktu orang tua untuk
terus mengutak-atik gadget pribadinya. Tingkah laku mereka tak ubahnya sama
dengan anak mereka. Jika dalam satu keluarga sibuk untuk menatap layar gadget
masing-masing atau mungkin sang anak bahkan lebih sibuk dengan acara
televisinya dapat dipastikan komunikasi dan hubungan keluarga tersebut sudah
hilang.
Kesimpulan
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan disusun menjadi suatu
penelitian yang mengambil tema tentang pola interaksi hubungan orang tua
dengan anak di era digital, maka dapat diambil kesimpulan bahwa anak-anak saat
ini membutuhkan beragam jenis teknologi digital tersebut karena kebutuhan
mereka terutama untuk membantu proses belajar mereka sekaligus menjadi sarana
hiburan. Teknologi menawarkan kecanggihan dan kesenangan maka pola
penggunaan perangkat digital anak terbilang cukup tinggi terutama dalam
penggunaan smartphone. Namun jika dibandingkan dengan orang tuanya
15
sekarang, akses orang tua terhadap teknologi hanya sekedar kebutuhannya saja,
seperti untuk bekerja, bisnis, atau sebagai gaya hidup. Dalam memanfaatkannya
orang tua juga masih kalah canggih dari anak-anaknya. Hal ini membuat orang tua
mau tidak mau memahami dampak-dampak yang ditimbulkan baik positif
maupun negatif dari penggunaan teknologi digital.
Untuk mengatasi ketergantungan anak terhadap perangkat digital baiknya
orang tua memberlakukan pola komunikasi konsensual ketika di rumah. Pola
konsensual ini lebih banyak mengajak anak untuk berinteraksi dalam hal apapun
sehingga menimbulkan keterbukaan antara orang tua dengan anak. Selain itu
orang tua pelu memberlakukan aturan dalam penggunaan perangkat digital, waktu
penggunaan, dan upaya pencegahan seperti memberikan arahan, memberikan
batasan, dan memantau aktifitas bermedia yang dilakukan anak agar terhindar dari
ketergantungan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk meningkatkan
kualitas hubungan keluarga agar hubungan tidak renggang orang tua perlu
memanfaatkan quality time dengan anak, membangun komunikasi yang efektif,
serta menerapkan rasa kepercayaan pada anak.
Beberapa kendala juga masih ditemui orang tua yang berkaitan dengan
anak di era digital ini. Kendala tersebut antara lain interaksi antar keduanya tidak
face to face, sering timbulnya konflik yang mengakibatkan perselisihan antara
orang ua dengan anak, dan terakhir kendala yang paling krusial adalah masalah
waktu. Bagi orang tua perangkat digital membuat anak lupa waktu akan
kewajiban dan tugasnya.
Saran
Menurut penelitian ini, sebaiknya orang tua mengenalkan perangkat
media digital kepada anaknya bukan melarang dalam menggunakannya. Karena
jika dilarang anak akan mencari tahu dari lingkungan luar seperti teman-temannya
atau orang asing yang tak begitu dikenal hingga dapat membawa dampak yang
buruk pada anak. Selain itu orang tua dapat menjadikan teknologi media digital
sebagai media untuk menjalin hubungan interpersonal dengan anaknya.
Contohnya, saat membelajari anak dalam masalah pelajaran sekolah ataupun
16
menonton acara televisi yang dapat ditonton bersama dengan keluarga. Lebih
lanjut, orang tua mau tidak mau juga harus belajar untuk mengikuti perkembangan
teknologi agar tidak menjadi gagap teknologi. Jika orang tua juga mampu
menguasai teknologi media digital, orang tua tidak perlu merasa khawatir dengan
bahaya perkembangan teknologi saat ini saat digunakan oleh anaknya.
Selanjutnya saran peneliti yang ingin melakukan penelitian dengan
pembahasan yang serupa, peneliti mengharapkan untuk peneliti selanjutnya
mengenai pola interaksi hubungan antara orang tua dengan anak di era digital
lainnya menggunakan studi eksperimen yang mempelajari tentang proses
mencapai kesuksesan membangun interaksi dan hubungan dalam keluarga di era
digital yang didukung oleh faktor-faktor pendukung komunikasi yang efektif
untuk mencapai keberhasilan suatu interaksi dan hubungan harmonis antara orang
tua dengan anak. Hal tersebut juga bisa didukung dengan penggunaan media di
dalamnya untuk menggunakan pola hubungan yang lebih luas namun masih
berhubungan.
Daftar Pustaka
Astuti, Santi Indra, Rita Gani, Cani Cahyani. (2014). Anak. Media, dan orangtua
: melacak praktik bermedia anak di tengah keluarga. Jurnal Sosial,
Ekonomi, dan Humaniora, Vol. 4, No. 1, 551-555.
Atriana, Rina. (2016). Ini PenyebabPerilaku Seksual Anak di Bawah Umur Aktif
Sebelum Waktunya.http://news.detik.com/berita/3217125/ini-penyebabperilaku-seksual-anak-di-bawah-umur-aktif-sebelum-waktunya (diakses
pada 10 Juni 2016 pukul 12.00).
Davis, Katie. (2013). Young people’s digital lives: The impact of interpersonal
relationships and digital media use on adolescents’ sense of identity.
Computers In Human Behavior, 29 (2013) 2281-2293.
Djamarah, S. B. (2004). Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga
(Perspektif Pendidikan Islam). Jakarta: Renika Cipta.
Effendy, O.U. (2002). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik. Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya.
Herawati, Erni. (2011). Komunikasi dalam Era Teknologi Komunikasi dan
Informasi. Jurnal Humaniora, Vol. 2, No.1, April 2011: 100-109.
Hopson, D. P dan Hopson, D. S. (2002). Menuju Keluarga Kompak : 8 Prinsip
Praktis Menjadi Orang Tua Yang Sukses (Terjemahan : Muhammad
Ilyas). Bandung : Kaifa.
Kusuma. (2011). New Media dan Teori Aplikasi. Karanganyar: Lindu Pustaka.
17
Morissan. (2013). Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta: Kencana
Pernada Media Group.
Naisbit, John , Nana Naisbit, dan Douglas Philips. (2001). High Tech High Touch:
Pencarian Makna Ditengah Perkembangan Pesat Teknologi
(Terjemahan : Dian R.Basuki). Bandung:Penerbit Mizan.
Rakhmat, Jalaludin. (1996). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Ramaraju. (2012). Psychological Perspektives On Interpersonal Communication.
Journal of Arts, Science, and Commerce, Vol. III 4(2), Oktober 2012: 6873.
Santosa, Slamet. (1999). Dinamika Kelompok Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Septiyani, Intan. (2016). Anak Fasih Media Sosial Orang Tua Jangan Gaptek.
http://tabloidnova.com/Keluarga/Anak/Anak-Fasih-Media-SosialOrangtua-Jangan-Gaptek (diakses pada 26 Juni 2016 pukul 20.00).
Suciati. (2015). Komunikasi Interpersonal Sebuah Tinjauan Psikologis dan
Perspektif Islam. Yogyakarta: Buku Litera Yogyakarta.
Sunarto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sutopo, H. B. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press.
Tapscott, Don. (1997). Grown Up Digital: Yang Muda Yang Mengubah Dunia.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Wood, Julia T. (2010). Komunikasi Interpersonal Interaksi Keseharian. Jakarta :
Salemba Humanika.
18
Download