7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Rasa Percaya Diri

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Rasa Percaya Diri
a.
Pengertian Percaya Diri
Rasa percaya diri bukanlah karunia Tuhan semata seperti
halnya fisik. Rasa percaya diri juga tidak ada begitu saja saat
seseorang membutuhkan. Perasaan percaya diri dimiliki seseorang
jika ditumbuhkan, dibangun, dan diupayakan secara terus-menerus
semenjak masih kanak-kanak hingga lanjut usia. Aunurrahman (2011:
184) menyatakan bahwa percaya diri merupakan salah satu kondisi
psikologis seseorang yang berpengaruh terhadap aktifitas fisik dan
mental terhadap proses pembelajaran. Rasa percaya diri muncul
ketika seseorang akan melakukan atau terlibat dalam suatu aktivitas
tertentu untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkan.
Rasa percaya diri membuat seseorang merasa optimis dalam
memandang hidup, seseorang akan percaya dengan kemampuan yang
dimiliki dalam membuat target keberhasilan. Mustari, 2014:5
menyatakan bahwa percaya diri merupakan sikap yakin akan
kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap
keinginan dan harapannya. Percaya diri juga merupakan keyakinan
individu
atas
pelaksanaan
kemampuan
yang
dalam
mempengaruhi
menghasilkan
kejadian
dalam
level-level
kehidupan
7
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
8
seseorang, dengan percaya diri seseorang akan sadar dengan
eksistensi diri dan inti kepribadian diri yang tidak dapat berubah
berlangsung selama hidup.
Rasa percaya diri yang dimiliki seseorang membuat tidak sulit
dalam menyesuaikan lingkungan sekitar. Percaya diri (self-confidence)
adalah kemampuan seseorang untuk dapat memahami dan meyakini
seluruh potensinya agar dapat dipergunakan dalam menghadapi
penyesuaian diri dengan lingkungan hidupnya (Dariyo 2007: 206).
Individu yang mempunyai percaya diri biasanya mempunyai insiatif,
kreatif dan optimis terhadap masa depan, mampu menyadari
kekurangan dan kelebihan pada diri sendiri, berfikir positif,
menganggap semua permasalahan ada jalan keluarnya. Orang yang
tidak percaya diri ditandai dengan sikap-sikap yang cenderung
melemahkan semangat hidupnya, seperti minder, pesimis, pasif,
apatis (tidak peduli) dan cenderung apriori (tidak mengetahui).
Percaya diri juga terdapat dalam Al Quran pada surat Al Imran
ayat 139 yang menjelaskan bahwa: “Janganlah kamu bersikap lemah,
dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orangorang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang
beriman”. Ayat ini menjelaskan bahwa sebagai manusia janganlah
sampai mempunyai mental yang lemah, bersikaplah dengan percaya
diri karena manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan
derajat yang paling tinggi.
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
9
Percaya diri dapat disimpulkan yaitu sikap meyakini dan
memahami seluruh potensi yang dimiliki agar dapat dikembangkan
dan dipergunakan dalam kehidupannya. Rasa percaya diri sangat
penting dibutuhkan semua orang terutama siswa, karena dengan
memiliki rasa percaya diri, siswa akan mampu mengembangkan
potensi yang dimilikinya
b.
Ciri-Ciri Percaya Diri
Seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan memahami
kemampuan yang dimilikinya dengan mengetahui ciri-ciri rasa
percaya diri. Lina dan Klara (2010: 16) mengemukakan bahwa ciriciri rasa percaya diri yaitu:
1) Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri, sehingga tidak
membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, ataupun rasa
hormat orang lain;
2) Tidak terdorong untuk menunjukan sikap menyesuaikan diri
demi diterima oleh orang lain atau kelompok;
3) Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, serta
berani menjadi diri sendiri;
4) Punya pengendalian diri yang baik;
5) Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau
kegagalan, ketergantungan dari usaha diri sendiri dan tidak
mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung
mengharapkan bantuan orang lain);
6) Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri,
orang lain dan situasi di luar dirinya;
7) Memiliki harapan yang realistis terhadap diri sendiri, sehingga
ketika harapan itu tidak terwujud, seseorang tetap mampu
melihat sisi positif diri dan situasi yang terjadi.
c.
Langkah-Langkah Percaya Diri
Orang yang percaya diri mempunyai cara dalam menumbuhkan
rasa percaya diri pada dirinya, adapun langkah-langkah untuk
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
10
memperbaiki kepercayaan diri sendiri untuk yakin terhadap
kemampuannya yang di jelaskan Lautser (2002: 11) yaitu sebagai
berikut:
1) Cari sebab-sebab merasa rendah diri. Jika sudah mengetahui
sebab itu, maka dapat dilakukan suatu perbaikan;
2) Atasi kelemahan yang dimiliki, hal yang terpenting harus
memiliki kemauan yang kuat, sehingga akan memandang
perbaikan kecil sebagai keberhasilan yang sebenarnya;
3) Mencoba mengembangkan bakat dan kemampuan lebih jauh,
sehingga dapat mengadakan kompensasi bagi kelemahan yang
dimilliki;
4) Bahagia dengan keberhasilan dalam suatu bidang tertentu dan
jangan ragu untuk bangga;
5) Bebaskan diri dari pendapat orang lain. Jangan berbuat
berlawanan dengan keyakinan diri sendiri;
6) Jika tidak puas dengan pekerjaan sendiri maka kembangkan
bakat melalui hobby, sehingga akan mengobati kekecewaan dan
dapat menjaga diri dari tidak yakin atas diri sendiri;
7) Jika dituntut untuk melakukan pekerjaan atau tugas yang sulit,
coba melakukan pekerjaan atau tugas tersebut dengan rasa
optimis;
8) Jangan terlalu bercita-cita, karena cita-cita yang kelewat batas
tidak baik. Makin besar cita-cita maka akan semakin sulit untuk
memenuhi tuntutan tersebut;
9) Jangan terlalu sering membandingkan diri sendiri dengan orang
lain;
10) Jangan mengambil motto yang dilakukan orang lain pasti dapat
dilakukan diri sendiri, karena tidak seorang pun mempunyai hasil
yang sama persis.
d.
Indikator Rasa Percaya Diri
Kepercayaan diri merupakan sikap seseorang atau siswa yang
yakin terhadap kemampuan dirinya. Orang yang mempunyai rasa
percaya diri akan memiliki pandangan yang bersifat positif terhadap
dirinya sendiri dengan tidak perlu membandingkan-bandingkan
dirinya kepada terhadap orang lain. Indikator rasa percaya diri yang
dikemukakan oleh Mustari (2014: 57) adalah sebagai berikut:
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
11
1) Yakin terhadap Kemampuan Diri Sendiri
Seorang individu yakin terhadap kemampuan yang dimiliki
dengan optimis. Individu yang memiliki rasa optimis tidak akan
merasa ragu, malu, dan minder. Rasa optimis dibutuhkan semua
individu agar termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik.
2)
Berani Melakukan Sesuatu yang Positif
Seseorang yang mempunyai rasa percaya diri akan berani
mengungkapkan pendapat yang dimilikinya, seseorang akan
berusaha melakukan yang terbaik dalam menyelesaikan suatu
masalah dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
3) Bersungguh-sungguh dalam Melakukan Sesuatu
Seseorang yang mempunyai rasa percaya diri akan
melakukan berbagai hal dengan yakin dan optimis. Orang yang
bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu akan dapat
berhasil meraih cita-cita dan keinginannya.
2. Prestasi Belajar
a.
Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Prestasi
dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha.
Istilah prestasi belajar (achievement) berbeda dengan hasil belajar
(learning outcome). Prestasi belajar pada umumnya berkenaan
dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar pada aspek
pembentukan watak siswa. Prestasi belajar merupakan suatu masalah
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
12
yang bersifat perenial (dapat hidup secara terus-menerus) dalam
sejarah kehidupan manusia, karena sepanjang rentang kehidupannya
manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan
masing-masing (Arifin, 2011:12). Prestasi belajar dapat disimpulkan
yaitu hasil yang dicapai siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman
siswa dalam penguasaan materi yang telah disampaikan oleh guru.
b.
Fungsi Prestasi Belajar
Prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi bagi kehidupan
manusia, karena manusia selalu mengejar prestasi selama masih
dalam lingkungan belajar. Prestasi belajar menjadi sangat penting,
karena mempunyai beberapa fungsi utama yang dikemukakan Arifin
(2011; 12) yaitu sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas
pengetahuan yang telah dikuasai siswa;
Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu
yang biasa disebut sebagai tendensi keingintahuan (couriosity)
dan merupakan kebutuhan umum manusia;
Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi
pendidikan. Prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi
siswa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi,
dan berperan sebagai umpan balik (feedback) dalam
meningkatkan mutu pendidikan;
Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ektern dari suatu
institusi pendidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestasi
belajar dapat dijadikan indikator tingkat produktivitas suatu
institusi pendidikan. Asumsinya adalah kurikulum yang
digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan siswa.
Indikator ekstern dalam arti bahwa dalam tinggi rendahnya
prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan
siswa di masyarakat. Asumsinya adalah kurikulum yang
digunakan relevan pula dengan kebutuhan masyarakat;
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
13
5)
c.
Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap
(kecerdasaan) siswa dalam proses pembelajaran, siswa menjadi
fokus utama yang harus diperhatikan, karena siswa diharapkan
dapat menyerap seluruh materi pelajaran.
Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil
interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam individu
maupun
luar
diri
individu.
Pengenalan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi prestasi belajar penting artinya dalam rangka
membantu siswa dalam mencapai prestasi belajar yang sebaikbaiknya. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya,
tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada
dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor eksternal
adalah faktor yang ada di luar individu. Ahmadi dan Supriyono (2013:
138) menyatakan beberapa faktor internal dapat dijelaskan dibawah
ini:
1) Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun
yang diperoleh misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh.
2) Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang
diperoleh terdiri atas:
a)
Faktor pengetahuan yang meliputi faktor potensial yaitu
kecerdasan dan bakat. Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi
yang telah dimiliki;
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
14
b)
Faktor non pengetahuan, yaitu unsur-unsur kepribadian
tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi.
3) Faktor kematangan fisik maupun psikis, yang tergolong faktor
eksternal yaitu:
a)
Faktor sosial meliputi lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kelompok;
b)
Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan,
teknologi, kesenian;
c)
Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas
belajar dan iklim.
4) Faktor lingkungan spiritual
Faktor jasmaniah, psikologis, kematangan fisik atau psikis
dan lingkungan spiritual saling berinteraksi secara langsung
maupun tidak langsung dalam mencapai prestasi belajar. Banyak
faktor belajar dapat digolongkan menjadi tiga yaitu faktor
stimulus belajar, faktor-faktor metode belajar, faktor-faktor
individual.
3. Model Learning Cycle 7E
a.
Pengertian Learning Cycle 7E
Learning Cycle adalah suatu model pembelajaran yang berpusat
pada siswa (student centered) (Febriana & Arief, 2013:
243).
Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase)
yang dilakukan oleh siswa dalam melakukan sesuatu yang konkret
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
15
(nyata) sehingga
siswa
memiliki
pengalaman sendiri
untuk
membangun pengetahuannya (Ngalimun, 2015: 171). Hartono (2013)
berpendapat bahwa penggunaan model Learning Cycle 7E dapat
memberikan perubahan pada gaya belajar siswa yaitu:
Model pembelajaran Learning Cycle 7E memberikan
situasi belajar yang melibatkan siswa aktif langsung dalam
proses pembelajaran untuk melakukan sebuah eksperimen atau
penyelidikan. Peran guru dalam penggunaan model Learning
Cycle 7E sebagai fasilitator dalam pengelolaan aktivitas siswa
untuk mengarahkan siswa dalam proses pembelajaran.
Model
pembelajaran
Learning
Cycle
pertama
kali
diperkenalkan oleh Robert Karplus (1997) dalam Science Curriculum
Improvment Study (SCIS). Siklus belajar ini merupakan pembelajaran
dengan pendekatan konstruktivitis (memperoleh suatu makna dari
yang dipelajari). Model Learning Cycle pada mulanya terdiri dari
fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept
introduction), aplikasi konsep (concept application) (Wena, 2014:
170). Berlandaskan model awal ini, Rofi‟ah dan Azizah (2014: 101)
mengemukakan bahwa Arthur Elsenkraft kemudian mengembangkan
model 3E ke 5E menjadi 7E yang terdiri dari elicit (mendatangkan
pengetahuan awal siswa), engage (motivasi dan membangkitkan
siswa), explore (menyelidiki), explain (menjelaskan) elaborate
`(menerapkan), evaluated (evaluasi), extend (mengembangkan).
Febriana dan Arief (2013: 243) menyatakan beberapa langkahlangkah pembelajaran Learning Cycle 7E yaitu sebagai berikut:
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
16
1)
Elicit (mendatangkan pengetahuan awal)
Fase ini untuk mengetahui perkembangan awal siswa
terhadap materi yang akan dipelajari dengan cara memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang dapat merangsang minat dan
respon siswa.
2)
Engage (motivasi dan membangkitkan siswa)
Fase pertukaran informasi antara guru dan siswa
mengenai pertanyaan awal yang diberikan. Pada fase ini guru
juga memberitahukan tujuan pelajaran sekaligus memberikan
motivasi pada siswa.
Langkah-langkah selanjutnya dalam penggunaan model
Learning Cycle 7E
dijelaskan Warsono dan Haryanto (2013:
100) yaitu:
3)
Explore (menyelidiki)
Tahap ini merupakan kegiatan pokok pembelajaran yang
melibatkan
siswa
dalam
pokok
bahasan
atau
topik
pembelajaran, memberikan kesempatan kepada siswa untuk
membangun pemahamannya sendiri. Pada tahap ini para siswa
berkesempatan terlibat secara langsung dengan fenomena atau
kejadian yang di selidiki dan bahan-bahan kajian. Siswa bekerja
sama dalam suatu tim, lalu mengalami pengalaman bersama
dengan saling berbagi dan berkomunikasi tentang pokok
pembelajaran.
Guru
bertindak
sebagai
fasilitator
yang
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
17
menyediakan bahan-bahan pembelajaran yang diperlukan dan
memandu agar siswa fokus dalam pembelajaran.
4)
Explain (menjelaskan)
Tahap
ini
siswa
diberikan
kesempatan
untuk
mengkomunikasikan materi yang telah dipelajarinya sejauh ini
dan menjelaskan maksudnya. Pada tahap ini, para siswa
menjelaskan pemahaman yang telah dipelajarinya dengan
berkomunikasi kepada rekan-rekannya.
5)
Elaborate (menerapkan)
Tahap ini bertujuan untuk membuat siswa mampu
menerapkan konsep-konsep yang sudah siswa temukan untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan.
6)
Evaluate (Evaluasi)
Tahap ini, baik siswa maupun guru menilai proses
pembelajaran dan pemahaman yang sudah dilakukan. Guru
menilai siswa dalam memperoleh pemahaman tentang konsepkonsep pokok bahan ajar dan memperoleh pengetahuan baru.
Evaluasi dan penilaian dapat berlangsung selama proses
pembelajaran.
7)
Extend (mengebangkan)
Tahap ini siswa diberi kesempatan untuk menerapkan
pengetahuan barunya dan secara berkesinambungan melakukan
eksplorasi dari implikasi. Tahap ini juga para siswa
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
18
mengembangkan konsep-konsep yang telah di pelajarinya,
membuat jalinan dengan konsep yang terkait lainnya, kemudian
mengaplikasikan pemahamannya di dalam dunia nyata.
b.
Keuntungan dan kekurangan model Learning Cycle 7E dapat
memberikan pengaruh dalam keberhasilan pembelajaran. Beberapa
keuntungan model Learning Cycle 7E yang dijelaskan Ngalimun
(2016: 176) sebagai berikut:
1) Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara
aktif dalam proses pembelajaran;
2) Membantu mengembangkan sikap ilmiah siswa;
3) Pembelajaran menjadi lebih bermakna;
Beberapa kekurangan model Learning Cycle 7E pada proses
pembelajaran yaitu:
1) Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai
materi dan langkah-langkah pembelajaran;
2) Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang
dan melaksanakan proses pembelajaran;
3) Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan
terorganisasi;
4) Memerlukan waktu dan tenaga lebih banyak dalam menyusun
rencana dan melaksanakan pembelajaran.
Cara untuk mengatasi kekurangan agar pembelajaran tetap
berjalan yaitu mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran
supaya pembelajaran dapat berjalanan sesuai rencana. Menguasai
materi, supaya guru dapat mengontrol kelas agar siswa aktif dalam
kegiatan eksperimen serta menyiapkan media yang dapat mendukung
kelancaran proses pembelajaran.
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
19
4. LKS (Lembar Kerja Siswa)
a.
Pengertian LKS
Lembar Kerja Siswa yang digunakan guru dan siswa dalam
membantu proses pembelajaran. LKS merupakan lembaran-lembaran
tugas yang harus dikerjakan oleh siswa (Prastowo 2011: 203). LKS
bukan merupakan singkatan dari lembar kegiatan siswa, akan tetapi
lembar kerja siswa, yaitu materi yang sudah dikemas sesuai dengan
kompetensi dasar, sehingga siswa diharapkan dapat mempelajari
materi ajar khususnya tentang tanah secara mandiri. Lembar kerja
siswa akan mendapatkan materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan
dengan materi yang akan diajarkan. Lembaran kerja siswa berisikan
petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas (Rofi‟ah
& Azizah, 2014: 101).
Beberapa pengertian diatas dapat disimpukan bahwa LKS
merupakan sarana bahan ajar yang dipergunakan oleh guru dan siswa
dalam membantu proses pembelajaran, yang dikemas sesuai dengan
kompetensi dasar yang bertujuan memudahkan guru dalam mengajar
serta melatih siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas untuk
meningkatkan pengetahuan siswa. LKS juga merupakan suatu bahan
ajar cetak yang berupa lembaran kertas yang berisikan materi,
ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas yang dikerjakan
oleh siswa, mengacu pada kompetensi dasar.
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
20
b.
Fungsi LKS
LKS
digunakan
dalam
membantu guru
pembelajaran. Berdasarkan pengertian mengenai
dalam
proses
LKS, dapat
diketahui bahwa LKS memiliki empat fungsi yang di jelaskan
Prastowo (2011: 205) sebagai berikut:
1) Sebagai bahan ajar yang dapat meminimalkan peran guru, namun
lebih mengaktifkan siswa;
2) Sebagai bahan ajar yang mempermudah siswa untuk memahami
materi yang diberikan;
3) Sebagai bahan ajar yang ringkas, dan kaya akan tugas untuk
berlatih;
4) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa.
c.
Tujuan Penyusunan LKS yang di jelaskan Prastowo (2011: 206)
sebagai berikut:
1) Menyajikan bahan ajar yang memudahkan siswa untuk
berinteraksi dengan materi yang diberikan;
2) Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan materi
siswa terhadap materi yang diberikan;
3) Melatih kemandirian belajar siswa;
4) Memudahkan guru dalam memberikan tugas kepada siswa.
5. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
a.
Pengertian IPA
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari Ilmu
Pengetahuan atau sains yang berasal dari bahasa Inggris science. Kata
science berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti saya tahu. Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) adalah
suatu kumpulan pengetahuan
tersusun secara sistematik (aturan), dan dalam penggunaanya secara
umum terbatas pada gejala-gejala alam (Trianto 2014: 136).
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
21
IPA adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan
dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan
didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi (penarikan
kesimpulan dari umum ke khusus) (Trianto, 2014: 136). Berdasarkan
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang alam semesta melalui
kegiatan eksperimen yang dapat menjelaskan suatu kejadian. Hasil
dari kejadian alam akan menghasilkan sebuah kesimpulan.
b.
Fungsi dan Tujuan IPA
Secara khusus fungsi dan tujuan IPA berdasarkan kurikulum
berbasis kompetensi (Trianto, 2014: 138) yaitu:
1) Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
2) Mengembangkan ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah;
3) Mempersiapkan siswa menjadi warga yang mengerti sains dan
teknologi;
4) Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat.
B. Penelitian yang Relevan
Beberapa kajian relevan dari penelitian sebelumnya yang digunakan
dalam penelitian. Kajian relevan yang digunakan yaitu hasil penelitian yang
berhubungan dengan penggunaan model Learning Cycle 7E. Penggunaan
model Learning Cycle 7E juga didukung pada penelitian yang dilakukan oleh
Mustari, Margo & Susilowati (2016) dengan judul Peningkatan Aktivitas dan
Hasil Belajar Siswa pada Konsep Energi Panas dan Energi Bunyi Melalui
Model Learning Cycle (LC) 7E, diketahui bahwa dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Babakan Wangi. Hasil
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
22
rata-rata nilai aktivitas belajar siswa pada siklus I tindakan I aspek
mengemukakan pendapat yaitu 1,62, bekerja sama 1,94. Siklus II aspek
mengemukakan pendapat yaitu 1,98, bekerjasama yaitu 2,31. Siklus III aspek
mengemukakan pendapat yaitu 2,42, bekerjasama yaitu 2,57. Penggunaan
model Learning Cycle 7E menjadikan siswa menjadi lebih aktif dalam
kegiatan belajar mengajar, karena siswa terlibat langsung dari awal sampai
akhir pembelajaran. Sedangkan nilai rata-rata hasil evaluasi siklus I yaitu
52,95, siklus II yaitu 70,94 dan siklus III yaitu 86,99. Hasil peningkatan
tersebut menunjukan bahwa hasil belajar siswa sudah mencapai tujuan yang
ditetapkan.
Kajian penelitian yang kedua oleh Sumiyati, Sujana & Djuanda yang
berjudul Penerapan Model Learning Cycle 7E untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa pada Materi Proses Daur Air, hasil penelitian pada kelas V SD
Negeri Panyingkiran, Sumedang menunjukan bahwa secara keseluruhan hasil
belajar siswa pada setiap pelaksanaan tindakan siklusnya mengalami
peningkatan dari data awal meskipun jumlah siswa yang tuntas hanya sedikit
dan belum mencapai target. Pada siklus I, jumlah yang tuntas 11 siswa atau
47,84%. Pada siklus II persentase hasil belajar siswa mengalami kenaikan
yaitu jumlah siswa yang tuntas menjadi 16 siswa dengan persentase sebesar
69,56% dengan interpretasi yang cukup. Hasil siklus II belum mencapai
target sehingga perlu perbaikan dengan melakukan siklus III. Pada siklus III
hasil belajar siswa memperlihatkan persentase sebesar 90,91%. Target
keberhasilan hasil belajar siswa berhasil dicapai pada siklus III.
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
23
Kajian penelitian yang ketiga oleh Balta & Sarac (2016) tentang The
Effect of 7E Learning Cycle on Learning in Science Teaching: A Metanalysis
Study, menyatakan bahwa by using the learnig cycle students can learn
science concepts, fix the incorrect or incomplete knowledge, leran the
concepts profoundly, and adapt the learnings ganied in school to their daily
life. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa siklus belajar 7E memiliki efek
yang positif pada prestasi belajar siswa. Ukuran keseluruhan efek nilai yang
diperoleh dari studi independen dihitung sebagai 1,245 (% 95 CI, SE= 0,148)
antara keyakianan interval 956 dan 1,534 sesuai dengan model efek acak. Di
antara semua efek ukuran 32 memiliki efek positif sedangkan 3 lain memiliki
efek negatif.
Kajian penelitian yang keempat oleh Naqeeb (2015) yang berjudul
Improving Student’s Achievement in Biology Using 7E Instructional Model:
An Experimental Study. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan
efektifitas penggunaan model Learning Cycle 7E dan model tradisional.
Hasil penelitian menunjukan sebuah data (M = 11,03, SD = 3,903), (N = 61,
M = 16.62, SD = 3.967) yang diperoleh dari menguji prestasi dan menguji
proses ketrampilan sains dengan menggunakan uji t-test dan ANCOVA.
Sample t-test independen menunjukan bahwa ada perbedaan signifikan dalam
skor dari sains. Test ketrampilan terpadu digunakan sebagai kovariat.
ANCOVA menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam skor
post test rata-rata dari kelompok dan jenis kelamin dalam hal uji prestasi.
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
24
Disimpulkan bahwa penggunaan model Learning Cycle 7E lebih efektif dari
model pembelajaran tradisional dalam halprestasi siswa.
C. Kerangka Pikir
Kerangka pikir dibuat sesuai dengan latar belakang pada penelitian ini
yaitu menemukan sebuah permasalahan pada kelas V (lima) C di SD Negeri
Ajibarang Wetan. Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran kelas V C
adalah rendahnya rasa percaya diri yang dimiliki siswa dan rendahnya
prestasi belajar siswa pada pelajaran IPA. Permasalahan tersebut muncul
karena siswa masih pasif dan merasa malu ketika bertanya, mengeluarkan
pendapat dan di tunjuk ke depan kelas. Siswa menolak untuk maju ke depan
kelas, hal ini disebabkan karena siswa takut jika pendapat yang dikeluarkan
salah dan ditertawakan oleh siswa lain. Siswa kelas VC hanya saling tunjuk
antar teman, sehingga siswa yang berani maju hanya tertentu saja. Perasaan
malu siswa muncul karena siswa kurang percaya diri terhadap kemampuan
yang dimilikinya, sehingga membuat siswa jarang bertanya ketika mengalami
kesulitan memahami materi dan juga kurang memperhatikan guru pada saat
pembelajaran berlangsung. Kurangnya percaya diri siswa menyebabkan siswa
menerima materi tidak sesuai dengan indikator pembelajaran, hal ini
menjadikan prestasi belajar siswa rendah.
Rendahnya percaya diri dan prestasi belajar siswa perlu adanya upaya
penyelesaian dalam proses pembelajaran. Upaya penyelesaian yang akan
dilakukan yaitu memberikan tindakan untuk mengatasi masalah yang terjadi
pada siswa kelas V C . Tindakan yang akan dilakukan dengan menggunakan
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
25
model atau media ketika pembelajaran berlangsung. Model yang akan
digunakan yaitu model Learning Cycle 7E berbantu LKS. Model Learning
Cycle 7E, diperkuat dengan penelitian sebelumnya oleh Febriana dan Arief
dengan judul penelitiannya yaitu Efektifitas Penerapan Pembelajaran Model
Learning Cycle 7E Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik
Dinamis Kelas X MAN Bangkalan, diketahui bahwa diperoleh bahwa hasil
belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan antara sebelum
dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan model Learning Cycle 7E.
Peningkatan yang dialami kelas eksperimen 1 berkategori rendah 0%,
berkategori sedang sebanyak 88% dan berkategori tinggi sebanyak 12%.
Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen 2
berkategori rendah 3%, berkategori sedang 69%, dan berkategori tinggi 28%.
Rata-rata hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen 1
dan eksperimen 2 berturut-turut adalah 3,6 dan 3,4 termasuk dalam kategori
sangat baik, maka penelitian ini mencoba menerapkan model pembelajaran
Learning Cycle 7E berbantu LKS untuk meningkatkan rasa percaya diri dan
prestasi belajar IPA. Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat
digambarkan sebagai berikut:
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
26
Skema Kerangka Pikir
Kondisi awal
Tindakan
Siswa kurang aktif
dalam
proses
pembelajaran sehingga
pembelajaran
masih
berpusat pada guru.
Siswa kurang percaya
diri
terhadap
kemampuannya
sehingga
prestasi
belajar
siswa
menurun.
Dalam siklus I guru mengajarkan
K.D 7.1 mendeskripsikan proses
pembentukan
tanah
karena
pelapukan, dengan menggunakan
model pembelajaran Learning Cycle
7E
berbantu
LKS
untuk
meningkatkan rasa percaya diri dan
prestasi belajar siswa kelas V. Jika
dalam siklus 1 belum menapai
indikator keberhasilan maka perlu
adanya
perbaikan
disiklus
selanjutnya
Kondisi akhir
Melalui
model
Learning Cycle 7E
berbantu LKS dapat
meningkatkan
rasa
percaya
diri
dan
prestasi belajar siswa
materi tanah kelas V
sekolah dasar.
Refleksi
Pada siklus II ini guru mengajarkan KD 7.2
mengidentifikasi
jenis-jenis
tanah,
dengan
menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 7E
berbantu LKS untuk meningkatkan rasa percaya diri
dan prestasi belajar siswa kelas V.
Jika dalam siklus I dan siklus
II belum tercapai indikator
keberhasilan maka penelitian
tetap berlanjut.
Refleksi
Siklus ?
Bagan 2.1 Skema Kerangka Pikir
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
27
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka rumusan hipotesis tindakan
sebagai berikut:
1.
Penggunaan model Learning Cycle 7E berbantu LKS pada materi tanah
kelas V di SD Negeri Ajibarang Wetan dapat meningkatkan rasa
percaya diri pada siswa.
2.
Penggunaan model Learning Cycle 7E berbantu LKS pada materi tanah
kelas V di SD Negeri Ajibarang Wetan dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa.
Upaya Meningkatkan Rasa…, Meti Nur Suciarti, FKIP, UMP, 2017
Download