kebijakan pembaruan hukum pidana dalam

advertisement
TESIS
KEBIJAKAN PEMBARUAN HUKUM PIDANA DALAM
PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA
PENYALAHGUNAAN KARTU KREDIT (CREDIT CARD)
IDA AYU INDAH SUKMA ANGANDARI
NIM: 0990561006
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
KEBIJAKAN PEMBARUAN HUKUM PIDANA DALAM
PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA
PENYALAHGUNAAN KARTU KREDIT (CREDIT CARD)
Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister
pada Program Magister, Program Studi Ilmu Hukum
Program Pascasarjana Universitas Udayana
IDA AYU INDAH SUKMA ANGANDARI
NIM. 0990561006
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
LEMBAR PENGESAHAN
TESIS INI TELAH DISETUJUI
PADA TANGGAL 20 JULI 2011
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. I Ketut Mertha, S.H., M.Hum.
NIP 1946123111976021001
I Made Tjatrayasa, S.H, M.H.
NIP 195012311979031019
Mengetahui
Ketua Program Studi
Magister Ilmu Hukum
Direktur Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Prof. Dr. Putu Sudarma Sumadi, S.H., S.U. Prof. Dr. dr. A.A Raka Sudewi,
Sp.S(K).
NIP 195604191983031003
NIP. 195902151985102001
Tesis Ini Telah Diuji Pada
Tanggal 20 Juli 2011
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor
Universitas Udayana, No: 1243/ UN14.4/HK/2011, Tanggal 14 Juli 2011
Ketua
Sekretaris
Anggota
: Prof. Dr. I Ketut Mertha. S.H., M.Hum.
: I Made Tjatrayasa, S.H, M.H.
: Dr. I Gusti Ketut Ariawan, S.H., M.H.
Gde Made Swardhana, S.H., M.H.
I Gede Artha, SH.,MH.
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama
: I.A. Indah Sukma Angandari
NIM
: 0990561006
Tempat dan tanggal lahir
: Denpasar, 20 Juli 1987
Alamat
: Br. Pemijian, Sangeh, Abiansemal - Badung
Telepon/ HP
: 0817351510
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tidak menjiplak setengah atau
sepenuhnya tesis orang lain.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, untuk dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya, dan apabila dikemudian hari ternyata
tidak benar, maka saya bersedia dituntut sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
Denpasar, 21 Juli 2011
Hormat saya,
I.A Indah Sukma A.
NIM. 0990561006
RINGKASAN
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) terbaru per April 2010, nilai kerugian
kartu atas fraud kartu kredit mencapai Rp 16,72 miliar. Penyalahgunaan kartu
kredit memberikan dampak ekonomi yang perlu dikuantifikasi karena
menimbulkan kerugian milyaran rupiah. Sehingga perlu adanya tindakan-tindakan
yang cermat dari aparat penegak hukum di Indonesia. Hukum positif yang berlaku
saat ini di Indonesia yakni KUHP khususnya ketentuan Pasal 263 dan Pasal 378
KUHP sudah tidak relevan digunakan untuk menanggulangi tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit, sehingga sangat diperlukan pembaruan KUHP untuk
menjaring para pelaku kejahatan karena KUHP belum mengatur sementara
kejahatannya yang menimbulkan kerugian hingga milyaran rupiah semakin marak
terjadi.
Dalam hal ini pembaruan hukum yang akan ditempuh adalah hukum pidana
(penal reform). Jadi pembaruan hukum pidana tersebut yaitu pada hakekatnya
mengandung makna suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi
hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai yang melandasi kebijakan sosial,
kebijakan kriminal, dan kebijakan penegakkan hukum. Dalam Pembaruan
Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan
Kartu kredit melakukan pembaruan pada aspek pembaruan substansi hukum
pidana.
Pentingnya pembaruan hukum pidana dalam penanggulangan tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit dimana ketentuan Pasal 263 dan Pasal 378 KUHP
sudah
tidak
relevan
digunakan
untuk
menanggulangi
tindak
pidana
penyalahgunaan kartu kredit. Beberapa kelemahan dari Pasal 263 dan Pasal 378
KUHP antara lain:
1. Kartu kredit tidak dapat diinterpretasikan sebagai surat
2. Hal yang dipalsukan dalam penyalahgunaan kartu kredit adalah pin
orang lain yang telah berhasil dicuri melalui penipuan lewat telepon
kepada si korban.
Pembaruan KUHP di Indonesia sangat penting untuk menjaring pelaku
penyalahgunaan kartu kredit sehingga Indonesia tidak tertinggal dengan negara
lain dalam menanggulangi kejahatan ini. Ketiadaan substansi hukum tentu akan
melemahkan
atau
penyalahgunaan
bahkan
kartu
kredit.
meniadakan
Dengan
penegakan
demikian
hukum
untuk
terhadap
mengantisipasi
penyalahgunaan kartu kredit, maka kebijakan yang harus ditempuh oleh
Pemerintah adalah dengan mengadakan penyempurnaan terhadap Kitab UndangUndang Hukum Pidana ( KUHP ) ataupun penyempurnaan terhadap konsep
didalam Rancangan KUHP baru.
Mengingat perkembangan dan kemajuan teknologi informasi, maka
koordinasi dan kerjasama antar pihak Bank, POLRI, Kejaksaan, Hakim
hendaknya tetap menjadi bagian penting di dalam penanggulangan secara tuntas
terhadap kasus-kasus penyalahgunaan kartu kredit yang semakin marak.
Pembaruan hukum pidana terhadap tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit
dapat segera dilaksanakan, karena dengan semakin maraknya penyalahgunaan
kartu kredit bukan saja merugikan korban dan penerbit kartu kredit tersebut tetapi
juga berdampak negative bagi perkembangan ekonomi Negara Indonesia.
ABSTRAK
Kebijakan Pembaruan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan
Tindak Pidana Penyalahgunaan Kartu Kredit (Credit Card)
Kartu kredit atau sering disebut dengan Credit Card, Kartu Plastik, merupakan
salah satu produk perbankan yang penggunaannya menunjukkan pertumbuhan
yang terus meningkat, demikian juga jumlah pedagang yang berminat melayani
transaksi dengan menggunakan kartu kredit cenderung bertambah.Bagi golongan
masyarakat tertentu, kartu kredit sudah merupakan suatu kebutuhan untuk
melakukan transaksi karena tidak perlu membawa uang tunai (cash).
Tetapi kartu kredit juga menimbulkan resiko tersendiri bagi si pemegang kartu
apabila terjadinya penyalahgunaan kartu kredit oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab.
Penelitian normatif ini berjudul : “Kebijakan pembaruan hukum pidana dalam
penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit (credit card)",
mengetengahkan dua permasalahan yaitu :
1. Apakah pentingnya pembaruan hukum pidana (KUHP) terhadap tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit (credit card)?
2. Bagaimanakah kebijakan Hukum Pidana dalam tindak pidana penyalahgunaan
kartu kredit dalam RKUHP ?
Untuk menanggulangi penyalahgunaan kartu kredit maka harus sesegera
mungkin membuat kebijakan pembaruan hukum pidana terhadap penyalahgunaan
kartu kredit, dengan melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana yang
sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio politik, sosio filosofik, sosio cultural
masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial, kebijakan kriminal, dan
kebijakan penegakan hukum di Indonesia.
Kata Kunci : Kartu Kredit, Kebijakan, Pembaruan Hukum Pidana.
ABSTRACT
Criminal Law Reform Policy In The Prevention
Of Misuse Of Credit Card Crime
Credit card or often called by Credit Card, Plastic Card, is one whose use of
banking products showed growth continues to increase, so does the number of
traders who are interested in serving transactions using credit cards tend
bertambah.Bagi certain segments of society, a credit card it is an the need to
conduct transactions because it does not need to carry cash (cash).
But credit cards also pose its own risks for the card holder if the occurrence of
credit
card
abuse
by
parties
who
are
not
responsible.
Normative research is titled: "The policy of the criminal law reform in the
response to criminal abuse of credit card (credit card)", explores two issues
namely:
1. Is the importance of reform of criminal law (Criminal Code) against the
criminal misuse of credit cards (credit card)?
2. How does the policy in the Criminal Law criminal misuse of credit cards
in RKUHP?
To overcome the misuse of credit cards then it must as soon as possible to make
policy reform criminal laws against the misuse of credit cards, with reorient and
reform criminal laws in accordance with the central values of socio-political,
socio-philosophic, socio-cultural people of Indonesia that underlie social policy,
criminal policy , and policy enforcement in Indonesia
Keywords: Credit Cards, Policy, Criminal Law Reform.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
i
HALAMAN PRASAYARAT ........................................................................
ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................
iii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS ...................................
iv
SURAT PERNYATAAN ................................................................................
v
UCAPAN TERIMA KASIH............................................................................
vi
RINGKASAN .................................................................................................
ix
ABSTRAK .......................................................................................................
xi
ABSTRACT .....................................................................................................
xii
DAFTAR ISI .................................................................................................
xiii
BAB I
PENDAHULUANs
1.1 Latar Belakang Masalah ..........................................................
1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................
19
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................
20
1.4 Manfaat Hasil Penelitian .........................................................
21
1.5 Landasan Teori ........................................................................
21
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Jenis Penelitian........................................................
38
1.6.2 Metode Pendekatan ................................................
38
1.6.3 Sumber Bahan Hukum ...........................................
40
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum .....................
40
1.6.5 Analisis Bahan Hukum ..........................................
41
BAB II TINJAUAN
PIDANA
UMUM
TENTANG
PEMBARUAN
HUKUM
DAN KARTU KREDIT
2.1 Kebijakan Pembaruan Hukum Pidana
2.1.1 Pengertian Kebijakan Pembaruan Hukum
Pidana. ..................................................................
43
2.1.2 Ruang Lingkup Kebijakan Pembaruan Hukum
Pidana ...................................................................
50
2.2 Kartu Kredit
2.2.1 Pengertian Kartu Kredit ..........................................
60
2.2.2 Jenis-Jenis dan Ciri-Ciri Kartu Kredit ....................
62
2.2.3
Pihak-Pihak
Yang
Terkait
dan
Syarat
Pemegang Kartu Kredit..........................................
2.2.4
Mekanisme,
Keuntungan
dan
Kerugian
Penggunaan Kartu Kredit ......................................
BAB III RELEVANSI
PEMBARUAN
HUKUM
70
74
PIDANA
TERHADAP TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN
KARTU KREDIT
3.1 Tindak Pidana Pemalsuan Kartu Kredit ..................................
81
3.2 Tindak Pidana Penipuan Kartu Kredit.....................................
102
3.3 Penanggulangan Penyalahgunaan Kartu Kredit .....................
108
3.4 Pentingnya Pembaruan Hukum Pidana ...................................
BAB IV KEBIJAKAN
DALAM
PEMBARUAN
TINDAK
HUKUM
118
PIDANA
PIDANAPENYALAHGUNAAN
KARTU KREDIT
4.1 Penyelesaian
Hukum
di
dalam
Penyalahgunaan
Kartu
Kredit................................ .......................................................
123
4.2 Kebijakan Hukum Pidana dalam mengantisipasi penyalahgunaan
Kartu Kredit.............................................................................
BAB V
135
PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................
170
5.2 Saran .......................................................................................
171
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Permasalahan
Latar Belakang Masalah
Ariestoteles mengungkapkan bahwa manusia sebagai mahkluk bermasyarakat
yang dikenal dengan istilah ”zoon politicon”1. Dalam masyarakat pada hakekatnya
diperlukan adanya kaedah yang dapat menjaga ketertiban masyarakat tersebut.
Cicerio dalam hal ini mengistilahkan dengan istilah ubi societas ibi ius (dimana
ada masyarakat disana ada hukum), dengan demikian peranan hukum dalam
kehidupan bermasyarakat akan menjadi sangat penting, itu ditunjukkan dengan
iahirnya konsepsi Negara hukum baik formil maupun materiil.
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara yang bercita-cita
untuk mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan
makmur secara merata baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. seperti halnya dapat
dilihat melalui bunyi Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 dinyatakan bahwa: "Indonesia
adalah Negara Hukum" berdasarkan tujuan Negara sebagaimana tercantum dalam
alenia IV Pembukaan UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia merupakan
Negara Hukum material bertujuan untuk :
1
Sudikno Mertodikusumo, 1985, Mengenal hukum (Suatu Pengantar) Liberty, Yogyakarta,
hal.3
"...melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial . . ."
Seiring dengan perkembangan zaman, pembangunan di Indonesia semakin
meningkat mencakup segala aspek kehidupan. Pembangunan itu sendiri pada
hakekatnya memang tidak bersifat kriminogen, khususnya apabila hasil-hasil
tersebut didistribusikan secara pantas dan adil kepada semua rakyat serta
menunjang seluruh kondisi sosial.
Dalam perkembangan masyarakat dengan segala permasalahannya, ada
sebagian anggota masyarakat yang dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan
hidupnya, dan sebaliknya ada sebagian masyarakat lainnya yang justru mengalami
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dampaknya timbullah
kecendrungan dilakukannya kejahatan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup,
yang tentunya akan sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat, seperti
dikatakan oleh Bonger bahwa "Kejahatan adalah perbuatan yang sangat anti
sosial, yang oleh Negara ditentang dengan sadar.2
Pembangunan nasional yang dilaksanakan selama ini merupakan upaya
pembangunan yang berkesinambungan dalam rangka mewujudkan masyarakat
yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Guna mencapai tujuan tersebut, pelaksanaan pembangunan harus senantiasa
memperhatikan keserasian, keselarasan dan keseimbangan .berbagai unsur
pembangunan, termasuk di bidang ekonomi dan keuangan.
2
Bonger, W.A.,1977, Pengantar Tentang Kriminologi, Terjemahan A. Koesnoen, Ghalia
Indonesia, Hal.23
Perkembangan ekonomi nasional dewasa ini menunjukkan arah yang
semakin menyatu dengan ekonomi regional dan internasional yang dapat
menunjang sekaligus mendatangkan dampak negatif dan positif. Sementara itu,
perkembangan perekonomian nasional senantiasa bergerak cepat dengan
tantangan yang semakin kompleks, oleh karena itu, diperlukan berbagai
penyesuaian kebijakan di bidang ekonomi termasuk sektor perbankan sehingga
diharapkan akan dapat memperbaiki dan memperkokoh perekonomian nasional.
Sektor Perbankan yang memiliki posisi strategis sebagai lembaga
intermediasi dan penunjang sistem pembayaran merupakan faktor yang sangat
menentukan dalam proses penyesuaian dimaksud. Sehubungan dengan itu,
diperlukan penyempurnaan terhadap sistem perbankan nasional yang bukan hanya
mencakup upaya penyehatan bank secara individu, melainkan juga penyehatan
sistem perbankan secara menyeluruh. Upaya penyehatan Perbankan nasional
menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, bank-bank itu sendiri, dan
masyarakat pengguna jasa bank. Adanya tanggung jawab bersama tersebut dapat
membantu memelihara tingkat kesehatan Perbankan nasional, sehingga dapat
berperan secara maksimal dalam perekonomian nasional.
Kegiatan perbankan dimulai dari jasa penukaran uang, oleh karena itu bank
dikenal sebagai tempat menukar uang atau sebagai meja tempat menukar uang.
Dalam sejarah para pedagang dari berbagai kerajaan melakukan transaksi dengan
menukarkan uang, dimana penukaran uang dilakukan antar mata uang kerajaan
yang satu dengan mata uang kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran uang ini
sekarang dikenal dengan pedagang valuta asing (money changer). Dalam
perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan bertambah fungsinya
sebagai tempat penitipan uang atau disebut sekarang ini kegiatan simpanan.
Kemudian kegiatan perbankan berkembang dengan kegiatan peminjaman uang
yaitu dengan cara yang semula disimpan oleh masyarakat, oleh perbankan
dipinjamkan kembali ke masyarakat yang membutuhkannya.
Akibat dari kebutuhan masyarakat akan jasa keuangan semakin meningkat
dan beragam, maka peranan dunia perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh
lapisan masyarakat, baik yang berada di negara maju maupun negara berkembang.
Dewasa ini perkembangan dunia perbankan semakin pesat dan modern baik dari
segi ragam produk, kualitas dan teknologi yang dimiliki. Perbankan semakin
mendominasi perkembangan ekonomi dan bisnis suatu negara. Bahkan aktivitas
dan keberadaan perbankan sangat menentukan kemajuan suatu negara dalam
bidang ekonomi,oleh karena itu tidak heran apabila perbankan suatu negara
hancur, maka akan mengakibatkan kehancuran perekonomian negara yang
bersangkutan seperti yang terjadi di Indonesia tahun 1998 dan 1999.3
Sebagaimana kita ketahui, bank merupakan lembaga keuangan yang
sangat penting sekali. Lembaga bank sebagai prasarana institusional dan sebagai
agent of development mempunyai peranan yang sangat vital dalam pelaksanaan
pembangunan ekonomi. Dalam berbagai aturan yang mengatur pembinaan dan
pengembangan usaha bank terdapat kelemahan dan kekurangan khususnya dalam
pengamanannya. Kelemahan Bank dalam system pengamanan yaitu dalam bentuk
kelemahan prosedur berupa identifikasi dan validasi calon nasabah dikarenakan di
3
Kasmir, 2000, Manaiemen Perbankan. PT. Raja Grafmdo Persada, Jakarta, hal. 16
Indonesia belum diterapkan single identity number (SIM) sehingga memudahkan
pemalsuan identitas dan mengecoh system validasi bank sehingga berakibat pada
penyalahgunaan kartu kredit.
Dewasa ini untuk melakukan transaksi dapat digunakan berbagai sarana
pembayaran, mulai dari cara yang paling tradisional sampai dengan yang paling
modern. Pada awal mula sebelum dikenalnya uang sebagai alat pembayaran setiap
transaksi dilakukan melalui cara pertukaran baik antara barang dengan barang
atau barang dengan jasa, ataupun jasa dengan jasa. Transaksi pada waktu ini
dikenal dengan nama sistem barter Dalam perkembangan selanjutnya ditemukan
cara yang paling efisien dan efektif untuk melakukan transaksi, yaitu dengan
menggunakan "uang".
Penggunaan uang sebagai alat untuk melakukan pembayaran sudah dikenal
luas dan penggunaan uang sebagai sarana pembayaran sudah merupakan
kebutuhan pokok hampir di setiap kegiatan masyarakat Namun dalam
perjalanannya, penggunaan uang mengalami berbagai hambatan tertentu. Jika
penggunaan dalam jumlah besar hambatannya adalah resiko membawa uang tunai
sangat besar.
Resiko yang timbul dan harus dihadapi adalah seperti resiko kehilangan,
pemalsuan atau terkena perampokan. Akibatnya kegiatan penggunaan uang tunai
sebagai alat pembayaran mulai berkurang penggunaannya. "Kartu plastik" atau
yang lebih dikenal dengan nama 'kartu kredit" (credit card) atau "uang plastik"
yang mampu menggantikan fungsi uang sebagai alat pembayaran.
Kartu Kredit merupakan sejenis kartu sebagai pengganti fisik dari uang,
sebagai alat tukar dalam berbagai kebutuhan.4 Di samping itu kartu kredit
digunakan untuk berbagai keperluan, sehingga kegunaannya menjadi multi fungsi.
Resiko seperti diatas sedikit banyak dapat dieliminir dengan penggunaan kartu
kredit ini. Penggunaannya dirasakan lebih aman dan praktis untuk segala
keperluan, seperti untuk bepergian, apalagi kartu kredit dewasa ini sudah dapat
dipergunakan untuk segala kegiatan secara internasional.
Kartu kredit merupakan kartu yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga
pembiayaans, yang diberikan kepada nasabah untuk dapat dipergunakan sebagai
alat pembayaran di berbagai tempat seperti supermarket, pasar, hotel, restaurant,
tempat hiburan, dan tempat-tempat lainnya. Disamping itu, dengan kartu ini juga
dapat diuangkan di berbagai tempat seperti di ATM (Automated Teller Machine).
ATM yang dewasa ini dikenal dengan istilah Anjungan Tunai Mandiri biasanya
tersebar di berbagai tempat yang strategis seperti di pusat perbelanjaan, hiburan,
dan perkantoran.
Penggunaan kartu kredit di Indonesia dapat dikatakan masih relatif baru,
namun sudah sangat luas digunakan sebagai instrumen pembayaran sejak
memasuki
dekade 1980-an. Terutama setelah deregulasi, Deregulasi adalah
kebijakan pemerintah yang mengurangi berbagi faktor yang melindungi industri
perbankan dari masalah suatu perekonomian.(Eric. R. Reidenbach dan Robert E.
Pitts, 1986:232)5
4
Info Bank, Edisi No. 144 Tahun 1989 hal. 62
Dimana bisnis kartu kredit ini digolongkan sebagai kelompok usaha jasa
pembiayaan
berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK/
013/1988 tanggal 20 Desember 1988. Citibank dan Bank Duta (merger dengan
bank Danamon) dapat dikatakan sebagai bank yang cukup berperan dalam
mempelopori pengembangan atau pemasyarakatan penggunaan kartu kredit di
Indonesia
dengan menerbitkan Visa dan Master Card kemudian diikuti oleh
beberapa bank
yang bertindak sebagai penerbit atau pengelola kartu kredit
tersebut Jenis kartu kredit yang telah beredar dan dapat digunakan oleh
masyarakat sebagai alat pembayaran saat ini di Indonesia disamping Visa dan
Master Card adalah Amex Card, International Diners, BCA Card, Procard, Exim
Smart, Duta Card, Kassa Card dan beberapa kartu lainnya yang diterbitkan oleh
bank-bank. Umumnya kartu kredit tersebut dikeluarkan oleh bank-bank umum
dan perusahaan pembiayaan. Penerbitan kartu kredit oleh bank harus melalui
prosedur yang diatur oleh bank Indonesia. Sedangkan ijin penerbitan kartu kredit
oleh perusahaan pembiayaan diberikan oleh Departemen Keuangan. Misalnya
Diners Card oleh PT. Diners Jaya Indonesia Internasional dan Kassa Card oleh
PT. Kassa Multi Finance.6
Penggunaan kartu kredit untuk pembayaran sebagai pengganti uang tunai
sejak diperkenalkannya kartu kredit pertama tersebut semakin banyak dikenal dan
digunakan oleh orang. Pada awal-awal diperkenalkannya kartu kredit ini,
5
http://thimutz.blogspot.com/2010/10/pengertian-dan-dampak-deregulasi-dari.html
pada tanggal 3 Februari 2011
6
diakses
Dahlan Siamat, 2001, Manaiemen Lembaga Keuangan, Edisi III, Lembaga Penerbit FE Ul,
Hal. 309.
pemakainya terbatas pada kalangan tertentu. Namun, beberapa dekade kemudian
industri kartu kredit terutama memasuki akhir dekade 1970-an, telah merambah
hampir ke seluruh bagian dunia, termasuk Indonesia. Kartu Kredit yang
dikeluarkan paling umum digunakan oleh masyarakat dan berlaku Internasional
saat ini terdiri atas berbagai merek, antara lain yang sangat populer adalah Visa
dan Master Card yang masing-masing dikeluarkan oleh perusahaan kartu kredit
Internasional dan Master Card Internasional.7
Ada berbagai perundang-undangan lain yang dengan tegas menyebut dan
memberi landasan hukum terhadap penerbitan dan pengoperasian kartu kredit ini
yaitu sebagai berikut :
a. Keppres No.61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan
- Pasal 2 ayat 1 dari Keppres No.6 1 ini antara lain menyebutkan bahwa
salah satu kegiatan dari Lembaga Pembiayaan adalah melakukan
usaha kartu kredit
- Sementara dalam Pasal 1 ayat 7 disebutkan bahwa yang dimaksudkan
dengan perusahaan Kartu Kredit adalah badan usaha yang melakukan
dengan mempergunakan kartu kredit.
- Menurut Pasal 3 dari Keppres No.61 ini yang dapat melakukan
kegiatan lembaga pembiayaan tersebut termasuk kegiatan kartu kredit
adalah :
1. Bank.
2. Lembaga Keuangan Bukan Bank (sekarang sudah tidak
ada lagi dalam sistem hukum keuangan kita).
3. Perusahaan pembiayaan.
b. Keputusan Menteri Keuangan no.1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan
dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan sebagaimana telah
berkali-kali diubah, terkhir denagn Keputusan Menteri Kuangan RI
No.448/KMK.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan.8
- Pasal 2 dari Keputusan Menkeu No.1251 ini kembali menegaskan
bahwa salah satu dari kegiatan Lembaga pembiayaan adalah usaha
kartu kredit.
7
8
Ibid, hal. 400
Leden Marpaung.1994.Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Ekonomi. Sinar
Grafika. Jakarta. hal.130.
-
Selanjutnya dalam pasal 7 ditentukan bahwa pelaksaan kegiatan kartu
kredit dilakukan denagn cara penerbitan kartu kredit yang dapat
dipergunakan oleh pemegangnya untuk pembayaran pengadaan
barang/jasa.
c. Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan seperti yang telah
diubah dengan Undang-Undang No.10 Tahun 1998. Sehubungan dengan
perbankan, kertu kredit mendapatkan legitimasinya dalam UndangUndang No.7 Tahun1992 seperti yang telah diubah dengan UndangUndang No.10 Tahun 1998. Pasal 6 huruf I nya dengan tegas menyatakan
bahwa salah satu kegiatan bank adalah melakukan usaha kartu kredit.9
Adapun prosedur untuk mendapatkan kartu kredit, antara lain:
Dari sisi pemegang
1. calon pemegang diwajibkan untuk mengisi formulir permohonan dan harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
-
KTP
Keterangan gaji dan masa kerja dari perusahaan tempat
pemohon bekerja.
Dari sisi Penerbit
-
Memeriksa keaslian KTP
-
Melakukan crosschecking kepada penerbit lain apabila
pemohon mempunyai kartu kredit lain
-
Meneliti data rekening dan keterangan gaji yang ada untuk
menetapkan apakah pemohon layak diberikan kartu kredit
Penggunaan kartu kredit dewasa ini sudah semakin meluas dan merupakan
prestise serta kebanggaan tersendiri bagi pemegangnya, karena bersifat praktis
9
http://www.scribd.com/doc/22370900/Paper-Tentang-Kartu-Kredit diakses pada tanggal 31
Januari 2011
tanpa resiko tinggi. Perkembangan ini semakin dipacu dengan adanya deregulasi
di bidang perbankan, sehingga beberapa Bank saling berlomba menawarkan
fasilitas yang menggiurkan melalui penerbitan kartu kredit.
Hal ini dapat menimbulkan suasana kompetitif antar Bank dalam menawarkan
dan mengunggulkan produk perbankan (kartu kredit) masing-masing. Namun
tidak jarang suasana tersebut merupakan peluang bagi pihak-pihak yang ingin
menyalahgunakan kartu kredit yang dalam hal ini sangat bervariasi jenis dan
kegunaannya.
Dalam praktek banyak dijumpai perbuatan-perbuatan di bidang perbankan
yang dapat dikenakan sanksi sebagaimana ditetapkan dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Jenis-jenis tindak pidana dimaksud dapat
dikelompokkan berdasarkan kegiatan bidang perbankan, yaitu:
a. Di bidang lalu lintas pembayaran giral dan peredaran uang, seperti
pemalsuan warkat bank (Pasal 263 dan 264 KUHP), penggelapan (Pasal
372 KUHP), pemalsuan uang dan uang yang dimanipulasikan (Pasal 244
dengan 252 KUHP), memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang
tidak berhak (Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 35 UU No.11 Tahun 2008) .
b. Tindak pidana di bidang perkreditan, seperti penipuan (Pasal 378 KUHP)
dan
pemalsuan dokumen (Pasal 263 dan 264 KUHP) serta Undang-
Undang No. 7/Drt/1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi.10
10
Marulak Pardede, 1955, Hukum Pidana Bank, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Hal. 17.
Bila dilihat pengertian kedua istilah tersebut diatas, maka terlihat
perbedaan yang cukup jauh. Pengertian tindak pidana perbankan hanya menitik
beratkan kepada pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 yaitu
masalah legalitas/ ijin pendirian bank.
Namun sebenarnya yang dimaksudkan dengan pengertian tindak pidana
perbankan tersebut bukan hanya yang menyangkut legalitas/ ijin pendirian bank,
akan tetapi termasuk juga tindak pidana penipuan, penggelapan, pemalsuan,
dan tindak pidana lainnya sepanjang berkaitan dengan lembaga perbankan .
Pengertian ini berbeda dengan tindak pidana di bidang perbankan.
Tindak pidana di bidang perbankan adalah segala jenis perbuatan melanggar
hukum yang berhubungan dengan kegiatan dalam menjalankan usaha bank, baik
bank sebagai sasaran maupun sarana. Pelakunya bisa perorangan, maupun badan
hukum (korporasi) dimana pelakunya bertindak karena yakin sering terjadi
ketidak hati-hatian pada perbankan serta penyembunyian perkara ini terjadi
karena bila suatu bank kebobolan dianggapnya suatu aib yang tidak boleh
diketahui oleh nasabahnya.11
Kelompok pertama disebut tindak pidana perbankan, berhubung perbuatanperbuatan tersebut secara langsung melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat
dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998. Meskipun Undang-Undang tentang
pokok perbankan itu mengatur secara umum tentang lembaga bank serta
fungsinya, tetapi di sisi lain memuat juga ketentuan-ketentuan pidana yang
11
Muhamad Djumhana. 1996. Hukum Perbankan Indonesia. Citra Aditya Bakti. Bandung.
hal.281
melarang dan mengancam dengan sanksi beberapa perbuatan yang melanggar
ketentuan-ketentuan umum dalam Undang-Undang tersebut.
Dalam Perundang-undangan, kejahatan di bidang perbankan dikelompokkan
dalam tiga jenis perbuatan, yakni:
a) Kejahatan di bidang perjanjian/legalitas bank, berupa menjalankan usaha
yang serupa bank.
b) Kejahatan pemalsuan dokumen yang dipakai sebagai jaminan kredit atau
agunan berkali-kali sehingga mendapat kredit berulang kali dengan maksud
melakukan penipuan.
c) Pemalsuan yang menyangkut lalu lintas giral antara lain bentuknya pemalsuan
dan penggunaan surat aplikasi transfer serta pemalsuan dan penggunaan alat/
warkat bank lainnya yang semuanya dengan maksud untuk melakukan
penipuan.12
Diantara ketiga jenis kejahatan di bidang perbankan sebagaimana tersebut
diatas maka tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit termasuk dalam jenis
kejahatan pemalsuan yang menyangkut lalu lintas giral. Tindak pidana di bidang
perbankan yang menggunakan kartu kredit terjadi dengan cara memalsukan kartu
kredit dengan bantuan pejabat bank menyerahkan kartu kredit hasil curian/
temuan dan memalsukan tanda tangan pemegang sah kartu kredit tersebut.
Mabes Polri mencatat pemalsuan kartu kredit mencapai angka 7.000 kasus.
Kini, terdapat lebih dari sembilan juta kartu kredit beredar di Indonesia. Kartukartu itu diterbitkan oleh 20 bank yang tergabung dalam Asosiasi Kartu Kredit
Indonesia (AKKI), baik domestik maupun asing. Kartu kredit yang diterbitkan
bank-bank tersebut umumnya memakai lisensi internasional seperti Visa
International, Mastercard International, American Express. Kejahatan kartu kredit
12
Ibid, hal. 73
terus meningkat dengan pertumbuhan mencapai 20-30% per tahun. Dari data
AKKI, selama 2002 saja kerugian bank mencapai Rp 35 sampai Rp 50 miliar.13
Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) memperkirakan pada tahun 2007,
kerugian akibat kejahatan kartu kredit di Tanah Air mencapai Rp 35 miliar.14
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) terbaru per April 2010, nilai kerugian kartu
atas fraud kartu kredit mencapai Rp 16,72 miliar. Kepala Biro Sistem Pembayaran
Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran BI Aribowo menerangkan
bahwa total nilai kerugian tersebut terdiri dari enam kasus fraud kartu kredit, yaitu
pemalsuan kartu, kartu hilang atau dicuri, kartu tidak diterima, card not present
(CNP), fraud aplikasi, dan kasus fraud lain-lain. Sejak Januari hingga April 2010,
total kasus fraud tercatat sebanyak 2.829 kasus dengan nilai kerugian mencapai
Rp 16,72 miliar. Adapun untuk volume transaksi kartu kredit mencapai 62,9 juta
transaksi dengan nilai Rp 49,85 triliun. Untuk jumlah kartu beredar sendiri
tercatat sebanyak 12,61 juta kartu.15
Manajer Umum Kartu Kredit PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Muhammad
Helmi mengatakan bahwa khusus bulan April 2010, jumlah kasus fraud kartu
kredit mencapai 701 kasus. Perinciannya, sebanyak 255 kasus kartu palsu, 31
13
Anonim
II,
“Kejahatan
Kartu
Kredit
Menggila”,
http://blog-artikelmenarik.blogspot.com/2008/04/kejahatan-kartu-kredit-menggila.html, , diakses pada 20 November
2010.
14
Suara
Merdeka,
“Kejahatan
Kartu
Kredit
Rp
35
Miliar”,
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/02/27/2653/Kejahatan-Kartu-Kredit-Rp35-Miliar, diakses pada 23 Juni 2011.
15
Bigswamp,
Kasus-kasus
Cyber
Crime
Part
3
Carding
Fraud”,
http://bigswamp.wordpress.com/2011/03/02/kasus-kasus-cyber-crime-part-3-carding-fraud/,
diakses pada 23 Juni 2011.
kasus kartu hilang atau dicuri, 21 kasus kartu tidak diterima, 117 kasus card not
present (CNP), dan 277 kasus fraud aplikasi. Jumlah kasus tersebut bertambah
dibandingkan kasus akhir Maret 2010 yang hanya 221 kasus. Meskipun jumlah
kasus naik, nilai kerugian tercatat mengalami penurunan. Per April 2010, nilai
kerugian sebesar Rp 3,04 miliar atau turun 45,32% dibandingkan akhir Maret
2010 yang mencapai Rp 5,56 miliar. Saat ini, fraud kartu kredit yang berkaitan
dengan teknologi sudah mulai berkurang.16
Adanya beberapa modus carding yakni counterfeiting, yaitu kartu asli atau
palsu yang diubah menyerupai kartu asli. Pelaku counterfeiting adalah perorangan
atau sindikat dengan dana besar dan jaringan luas. Modus lain adalah dengan
menggunakan peranti lunak tertentu yang tersedia secara umum.17 Pelaku juga
dapat mencuri data lewat telepon yaitu dengan menelepon seseorang dan
mengabarkan bahwa penggunaan kartu sudah mencapai limit. Pemilik kartu tentu
kaget dan komplain. Komplain ini ditanggapi pelaku dengan meminta nomor
kartu dan data lain untuk dicek di databasenya. Jebakan hadiah juga sering
berhasil menggaet orang untuk menyebutkan nomor kartu kredit miliknya.
Kemajuan teknologi memberikan kemudahan, dimana apabila seseorang
hendak berpergian, maka tidak perlu membawa uang tunai, melainkan cukup
dengan membawa kartu kredit untuk melakukan suatu transaksi. Walaupun
demikian, ada juga usaha-usaha atau niat yang tidak baik dari pihak-pihak untuk
16
17
Ibid.
Telkom, 15 Juni 2006, “Kejahatan Kartu Kredit via Internet Kian Marak”,
http://www.telkom.net/index.php?option=com_content&task=view&id=412&Itemid=35, , diakses
pada 20 November 2010.
melakukan penipuan atau pemalsuan terhadap penggunaan kartu kredit, dimana
hal tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi pihak Bank maupun pemilik kartu
kredit.
Adapun contoh kasus penyalahgunaan kartu kredit yang telah mendapat putusan
pengadilan tahun 2001 sebagai berikut:
Pada hari jumat, tanggal 15 Juni 2001, Toyib, Naviyanto Andriany, dan Pria
Agustian melakukan tindak pemalsuan yang bertempat di PT. Atlantik Tour
Cabang Denpasar Jl. Diponegoro dan di Pertokoan Departement Store Tragia
Kerta Wijaya dengan sengaja memakai surat palsu atau surat yang telah
dipalsukan berupa 3 (tiga) buah kartu kredit palsu, yaitu membayar dengan
menggunakan kartu kredit palsu untuk membeli tiket pesawat di Atlantik Tour
dan membeli baju di Tragia sehingga Bank International Indonesia sebagai bank
pengelola mengalami kerugian sebesar Rp. 4.913.100,- (empat juta Sembilan ratus
tiga belas ribu seratus rupiah). Toyib dan Navianto pada hari jumat, tanggal 15
Juni 2001 mendatangi PT. Atlantik Tour di Jl. Diponegoro membeli tiket pesawat
Garuda jurusan Denpasar – Surabaya, Surabaya – Jakarta, dan Jakarta- Denpasar.
Masing – masing atas nama Denny K. dengan Nomor 4544.1620.0082.1269 dan
pada hari sabtu tanggal 16 Juni 2001 pukul 12.30 WITA Toyib dan Navianto
mendatangi kembali PT. Atlantik Tour Cabang Denpasar membeli 9 (sembilan)
buah tiket Garuda dengan Jurusan Denpasar – Surabaya untuk 3 (tiga) orang
masing-masing atas nama Denny K, Denny W., dan Mr. Setaean E., serta untuk
jurusan Surabaya – Jakarta untuk 6 (enam) orang atas nama Denny K., Denny W.,
Romli, Setiawan, Widodo, dan Yanto yang jumlah keseluruhannya berjumlah Rp.
4.913.100,- (empat juta Sembilan ratus tiga belas ribu seratus rupiah) dan setelah
disetujui oleh petugas PT. Atlantik Tour, maka Novianto Andriani membayar
dengan kartu kredit Visa Hongkong Bank dengan Nomor
Nomor
4544.1620.0082.1269 atas nama Denny K. Sedangkan kartu kredit yang
digunakan untuk membayar tiket tersebut adalah pemberian. Pada hari Rabu
tanggal 20 Juni 2001 Tayib, Novianto Andriany dan Pria Agustian membeli
sebuah baju warna merah/biru kotak-kotak dengan merek Vercaro seharga Rp.
79.900,- (tujuh puluh Sembilan ribu Sembilan ratus rupiah) . Pada saat itu Pria
Agustian membayar dengan menggunakan Kartu kredit jenis Visa Gold Wing
Hongkong Bank LTD Nomor 5417800.1103.9372 masa berlaku sampai dengan
bulan Maret 2002 atas nama P. Agustian dan setelah membeli baju di Tragia, para
pelaku kembali ke PT. Atlantik Tour untuk memesan 20 tiket tetapi sebelum
transaksi selesai para pelaku ditangkap oleh polisi.
Maka terhadap kasus tersebut, Pengadilan Negeri Denpasar dalam Putusan
Nomor 454/PID.B/2001/PN.Dps menyatakan bahwa para terdakwa terbukti
bersalah telah melakukan penipuan dengan menggunakan kartu kredit palsu
sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan kesatu yaitu Pasal 263 ayat (1), jo.
Pasal 64 ayat (1) jo. Pasal 55 ayat (1) KUHP dan Pasal 378 jo. Pasal 64 ayat (1)
jo. Pasal 55 ayat (1 KUHP ) menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama
8 (delapan) bulan dikurangi selama para terdakwa berada dalam tahanan.
Apabila dibandingkan antara putusan pengadilan di atas dengan kenyataan
yang terjadi pada saat ini dimana kasus mengenai penyalahgunaan kartu kredit
pada masa sekarang hampir tidak ada yang masuk keranah pengadilan sedangkan
kasusnya sangat banyak terjadi di wilayah indonesia. Hal ini dikarenakan
ketentuan Pasal 263 dan Pasal 378 KUHP tidak relevan untuk digunakan dalam
menanggulangi / menjaring pelaku kejahatan kartu kredit karena memiliki
beberapa kelemahan antara lain:
1. Kartu kredit tidak dapat diinterpretasikan sebagai surat
2. Hal yang dipalsukan dalam penyalahgunaan kartu kredit adalah pin
orang lain yang telah berhasil dicuri melalui penipuan lewat telepon
kepada si korban.
Penyalahgunaan kartu kredit memberikan dampak ekonomi yang perlu
dikuantifikasi karena menimbulkan kerugian milyaran rupiah. Sehingga perlu
adanya tindakan-tindakan yang cermat dari aparat penegak hukum di Indonesia.
Sebagai perbandingan pada negara yang telah maju dalam penggunaan internet
sebagai alat untuk memfasilitasi setiap aspek kehidupan mereka, perkembangan
hukum dunia maya sudah sangat maju Sebagai kiblat dari perkembangan aspek
hukum ini, Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang telah memiliki
banyak perangkat hukum yang mengatur dan menentukan perkembangan Cyber
Law termasuk mengenai tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit. Di Amerika,
Cyber Law yang mengatur transaksi elektronik dikenal dengan Uniform
Electronic Transaction Act (UETA). Malaysia yang pernah dilanda aksi kejahatan
kartu kredit, segera membuat aturan yang sangat ketat, seperti hukuman cambuk
rotan bagi pelakunya, denda 300.000 ringgit (Rp 900 juta), dan hukuman penjara
maksimal 20 tahun.
18
Di samping itu, perangkat hukum di Malaysia sudah
dilengkapi dengan undang-undang kejahatan komputer, undang-undang digital.
Dasar pemikiran dari penyusunan tesis ini adalah hukum positif yang
berlaku saat ini di Indonesia yakni KUHP khususnya ketentuan Pasal 263 dan
Pasal 378 KUHP sudah tidak relevan digunakan untuk menanggulangi tindak
pidana penyalahgunaan kartu kredit, sehingga sangat diperlukan pembaruan
KUHP untuk menjaring para pelaku kejahatan karena KUHP belum mengatur
sementara kejahatannya yang menimbulkan kerugian hingga milyaran rupiah
semakin marak terjadi.
Makna dan hakikat pembangunan pembaruan hukum pidana berkaitan erat
dengan latar belakang dan urgensi diadakannya pembaruan hukum pidana itu
sendiri. Latar belakang dan urgensi pembaruan hukum pidana dapat ditinjau dari
aspek sosio politik, sosio – filosofik, sosio-kultural atau dari berbagai aspek
kebijakan (khususnya kebijakan sosial, kebijakan kriminal, dan kebijakan
penegakan hukum).
Bertitik tolak dari latar belakang pemikiran diatas, maka penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian dalam
“KEBIJAKAN
PEMBARUAN
rangka
penyusunan tesis dengan judul
HUKUM
PIDANA
DALAM
PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN KARTU
KREDIT (CREDIT CARD).”
Keaslian dari penelitian tesis ini dapat dilihat melalui perbandingan terhadap
tesis sebelumnya yang juga mengangkat mengenai kartu credit (credit card.
18
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol9767/perlu-undangundang-khusus-untuktanggulangi-kejahatan-kartu-kredit
Adapun
judul
tesis
sebelumnya
yaitu
Kajian
Aspek
Pidana
Dalam
Penyalahgunaan Kartu Kredit (Credit Card), dengan rumusan masalahnya : 1)
Bagaimanakah kebijakan Hukum Pidana dalam penyelesaian tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit?, 2) Bagaimanakah kebijakan hukum pidana
terhadap tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit?
Sedangkan penelitian tesis ini berjudul Kebijakan Pembaruan Hukum Pidana
dalam Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Kartu Kredit (Credit
Card) dengan rumusan masalahnya : 1) Apakah pentingnya pembaruan hukum
pidana (KUHP) terhadap tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit (credit
card)? 2) Bagaimanakah kebijakan Hukum Pidana dalam tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit dalam RKUHP ?
Dilihat dari judulnya Kajian aspek pidana itu berarti mengkaji pemasalahan
dari sudut pandang hukum pidana berdasarkan ketentuan yang berlaku saat itu,
sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian tesis sebelumnya berada pada dimensi
ius constitutum sedangkan penelitian tesis ini berada pada dimensi ius
constituendum. Dan dari rumusan masalah kedua antara tesis sebelumnya dengan
Dalam tesis ini lebih mengkaji mengenai kelemahan KUHP khususnya ketentuan
Pasal 263 dan Pasal 378 KUHP karena sudah tidak relevan digunakan untuk
menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit, sehingga sangat
diperlukan pembaruan KUHP untuk menjaring para pelaku kejahatan karena
KUHP belum mengatur sementara kejahatannya sangat banyak terjadi. Sedangkan
didalam tesis sebelumnya tidak mengkaji hal tersebut.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dikemukakan
rumusan masalah sebagai berikut :
3. Apakah pentingnya pembaruan hukum pidana (KUHP) terhadap tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit (credit card)?
4. Bagaimanakah kebijakan Hukum Pidana dalam tindak pidana penyalahgunaan
kartu kredit dalam RKUHP ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
a. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan Ilmu Hukum terkait dengan
paradigma science as a prosses ( ilmu sebagai proses ). Dengan paradigma
ini ilmu tidak akan pernah mandeg (final) dalam penggaliannya atas
kebenaran.19 Adapun tujuan umum penulisan tesis ini adalah
1. pengembangan konsep, asas, doktrin, dan teori hukum pidana
khususnya dalam kebijakan pembaruan hukum pidana (penal
policy) dalam tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit (credit
card).
2. Serta
mendistribusikan
penyalahgunaan
kartu
konsep
kredit
pemikiran
dalam
tentang
hukum Nasional
mendatang.
19
Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Unud; 2008, Pedoman
Penulisan Usulan Penelitian dan Penulisan Tesis Ilmu Hukum Program Studi Magister Ilmu
Hukum Program Pasca Sarjana UNUD , hal. 25
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk
mengetahui serta menganalisis pentingnya pembaruan hukum
pidana terhadap tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit.
b. Memberikan
deskripsi
dan
analisis
yang
mendalam
tentang
penyalahgunaan kartu kredit.
1.4 Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat hasil penelitian ini ada yang bersifat teoritis dan ada yang
bersifat praktis.
a. Manfaat yang bersifat teoritis yaitu untuk menemukan konsep serta teoriteori yang berhubungan dengan penyalahgunaan kartu kredit di bidang
perbankan.
b. Manfaat yang bersifat praktis yaitu memberikan sumbangan pemikiran
bagi pembangunan dan pembaruan hukum khususnya bagi penegak hokum
didalam menangani tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit (credit
card.
1.5 Landasan Teoritis
Sejak ditetapkannya paket kebijaksanaan tanggal 1 Juni 1983, Pakto, 27
Tahun 1988, Pakjun dan ketentuan lanjutannya tahun 1993, dunia perbankan
semakin bergairah, terbukti dengan munculnya sejumlah bank-bank baru yang
berhasil dalam meningkatkan pengerahan dana dan menyalurkannya kembali ke
dalam masyarakat.
Dibalik kesuksesan dunia perbankan tersebut semakin meningkat pula
tindak pidana dalam dunia perbankan ini, baik dari segi kuantitas maupun
kualitasnya sehingga tentunya merupakan kendala yang serius di bidang
perbankan pada khususnya dan terhadap pembangunan ekonomi pada umumnya.
Dalam berbagai peraturan yang mengatur pembinaan dan pengembangan
usaha bank memang masih terdapat kelemahan dan kekurangan, khususnya dalam
pengamanannya. Kekurangan dan kelemahan dalam peraturan-peraturan itu
memberikan kesempatan bagi segolongan orang yang mempunyai itikad tidak
baik untuk melakukan tindak pidana seperti pencurian, penggelapan, korupsi,
penipuan, pemalsuan, membuka rahasia bank, bank gelap, dan lain-lain.
Tindak pidana dibidang
Perbankan pada hakekatnya merupakan
ancaman terhadap keamanan dan kesehatan sistem perbankan, sehingga dapat
mengganggu sistem moneter yang pada gilirannya dapat membahayakan sendisendi kehidupan dalam pembangunan pada umumnya. Pelanggaran
ketentuan-ketentuan
terhadap
di bidang perbankan dapat dikenakan sanksi dalam bentuk
administratif maupun sanksi pidana. Penentuan pelanggaran perbankan sebagai
tindak pidana tersebut harus memperhatikan tingkat identitas gangguan terhadap
sistem perbankan.
Adapun yang menjadi masalah dewasa ini adalah belum adanya peraturan
perundang-undangan yang khusus mengatur masalah tindak pidana di bidang
perbankan, sehingga tidak ada dasar hukum yang dapat dipakai untuk
mengantisipasi tindak pidana ini.
Dewasa ini peraturan perundang-undangan yang dapat diterapkan dalam
menyelesaikan tindak pidana di bidang perbankan yaitu :
a. Undang Undang No. 7 Tahun 1992 jo. Undang Undang No. 10 Tahun 1998
tentang Perbankan.
b. Kitab Undang Undang Hukum Pidana.
c. Undang Undang No. 3 Tahun 1971 jo, Undang Undang No, 20 tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
d. Undang Undang No. 7 Drt Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi.
e. Undang Undang No. 32 Tahun 1964 jo. Undang Undang No. 24 tahun 1999
tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar.
f. Undang-Undang No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elekronik
g. Rancangan Undang – Undang Tentang Transfer dana
h. Ordonansi Riba ( Stbl. 1938 No. 534).20
Perkembangan masyarakat dan perubahan masyarakat membutuhkan
pembaruan hukum. Ini menyangkut politik hukum, ialah yang baik sesuai dengan
keadaan dan situasi pada suatu waktu.
Penyusunan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Nasional untuk
menggantikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana peninggalan pemerintah
kolonial Belanda dengan segala perubahannya merupakan salah satu usaha dalam
rangka pembangunan hukum nasional. Usaha tersebut dilakukan secara terarah
dan terpadu agar dapat mendukung pembangunan nasional di berbagai bidang
sesuai dengan tuntutan pembangunan serta tingkat kesadaran hukum dan
dinamika yang berkembang dalam masyarakat.
20
Marulak Pardede, op cit Hal. 39
Adapun teori-teori yang digunakan dalam menjawab permasalahan sesuai
dengan rumusan masalah diatas adalah sebagai berikut:
1. Teori Kebijakan Hukum Pidana
Pendekatan kebijakan mencakup pengertian yang saling terkait antara
pendekatan yang berorientasi pada tujuan, pendekatan yang rasional,
pendekatan ekonomis dan fragmatis, serta pendekatan yang berorientasi pada
nilai.21 Crime is designation, which means that crime is defined by other than
criminals. Crime is behavior subject to judgment of other.22 Kejahatan adalah
penunjukan, yang berarti kejahatan yang didefinisikan oleh selain penjahat.
Kejahatan adalah perilaku tunduk pada penilaian lainnya. Sehingga kebijakan
penegakan hukum sangat diperlukan untuk menanggulangi kejahatan.
Kebijakan penegakan hukum
pidana
merupakan
serangkaian proses
yang terdiri dari tiga tahap kebijakan yaitu :
a. Tahap kebijakan legislatif (formulatif) yaitu menetapkan atau
merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang
dapat dikenakan oleh badan pembuat undang-undang.
b. Tahap kebijakan yudikatif/ aplikatif yaitu menerapkan hukum pidana
oleh aparat penegak hukum, mulai dari kepolisian, kejaksaan, dan
pengadilan.
21
Barda Nawawi Arief, 1994, Kebiiakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan dengan
Pidana Penjara, Penerbit: Universitas Diponegoro Semarang, hal. 61
22
Peter Hoefnagels G. 1973. The Other Side of Criminology. Kluwer – Deventer.
Holland.hal.92
c. Tahap kebijakan eksekutif/administratif yaitu melaksanakan hukum
pidana secara konkrit, oleh aparat pelaksana pidana.23
Pada tahap kebijakan legislatif ditetapkan sistem pemidanaan,maka pada
hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan/ kekuasaan
menjatuhkan pidana. Pidana tidak hanya dapat dilihat dalam arti sempit/
formal, tetapi juga dapat dilihat dalam arti luas/ material.
Dalam arti sempit/formal, penjatuhan pidana berarti kewenangan
menjatuhkan/ mengenakan sanksi pidana menurut undang-undang oleh
pejabat yang berwenang (hakim). Sedangkan dalam arti luas/material,
penjatuhan pidana merupakan mata rantai proses tindakan hukum dari pejabat
yang berwenang, mulai dari proses penyidikan, penuntutan, sampai pada
putusan pidana dijatuhkan oleh pengadilan dan dilaksanakan oleh aparat
pelaksana pidana. Hal ini merupakan satu kesatuan sistem penegakan hukum
pidana yang integral. Oleh karena itu keseluruhan sistem/ proses/ kewenangan
penegakan hukum pidana itupun harus terwujud dalam satu kesatuan
kebijakan legislatif yang integral.
Kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakekatnya
merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat (social
defence) dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat. Perumusan tujuan
politik kriminal yang demikian itu pernah pula dinyatakan dalam salah satu
laporan Kursus Latihan ke -34 yang diselenggarakan oleh UNAFEI di Tokyo
23
Barda Nawawi Arief, 1998 Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan
Hukum Pidana. PL Citra Aditya Bakti Bandung, , hal.30
tahun 1973 yang dikutip dalam tesis Kajian Aspek Pidana Dalam
Penyalahgunaan Kartu Kredit (Credit Card sebagai berikut:
Most of group members agreed some dicussion that "protection of the
society" could be accepted as the final goal of criminal policy, Although
not the ultimate aim of society, which might perhaps be described by
terms like "happiness of citizens", "a wholesome and cultural living",
"social welfare" or equality".24(terjemahan biasa:Sebagian besar
anggota kelompok setuju beberapa dicussion bahwa "perlindungan
masyarakat" dapat diterima sebagai tujuan akhir dari kebijakan
kriminal, Meskipun bukan tujuan utama masyarakat, yang mungkin
dapat dijelaskan oleh istilah-istilah seperti "kebahagiaan warga",
"sebuah sehat dan hidup budaya "," kesejahteraan sosial "atau
kesetaraan)
Sudarto mengemukakan tiga arti mengenai kebijakan kriminal yaitu :
a. Dalam arti sempit yaitu keseluruhan asas dan metode yang menjadi
dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana
b. Dalam arti luas yaitu merupakan keseluruhan fungsi dari aparatur
penegak hukum, termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan
dan polisi.
c. Dalam arti paling luas, yaitu merupakan keseluruhan kebijakan,
yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan
resmi, yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dari
masyarakat.25
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa politik kriminal pada
hakekatnya juga merupakan bagian integral dari politik sosial (yaitu
kebijakan/ upaya untuk mencapai kesejahteraan sosial)
Beberapa
mengenai
kejahatan
yang
mendapat
The Prevention of Crime and The
perhatian
Treatment
kongres
PBB
of Offenders,
dimana dalam Kongres ke-5 tahun 1979 di Geneva, menyebutkan antara lain :
24
Praniti, A.A. Sg.2003. dalam Tesis Kajian Aspek Pidana Dalam Penyalahgunaan Kartu
Kredit (Credit Card).Pascasarjana Universitas Udayana.hal22
25
Sudarto. 1981, Kapita Selekta Hukum Pidana. Alumni Bandung, (selanjutnya disingkat
Sudarto II), hal. 114
1. "Crime as a business" yaltu kejahatan yang bertujuan mendapatkan
material melalui kegiatan dalam bisnis atau industri, yang pada
umumnya dilakukan secara terorganisir dan dilakukan oleh mereka
yang mempunyai kedudukan terpandang dalam masyarakat ; termasuk
dalam kejahatan ini antara lain yang berhubungan dengan pencemaran
lingkungan, perlindungan konsumen dan dalam bidang perbankan,
disamping kejahatan-kejahatan lainnya yang biasa dikenal dengan
"organized crime", "white collar crime", dan korupsi.
2. Tindak pidana yang berhubungan dengan hasil pekerjaan seni dan
kekayaan budaya, objek-objek budaya, dan warisan budaya. Kejahatan
yang berhubungan dengan alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan.
3. Perbuatan kekerasan antara perorangan (interpersonal violence),
khususnya di kalangan remaja.
4. Perbuatan kekerasan yang bersifat trans nasional dan internasional,
yang biasa disebut dengan perbuatan-perbuatan terorisme.
5. Kejahatan yang berhubungan dengan lalu lintas kendaraan bermotor.
6. Kejahatan yang berhubungan dengan perpindahan tempat (migrasi)
dan peralihan pengungsi akibat bencana alam dan peperangan ;
masalah-masalah yang berhubungan dengan perpindahan tempat
misalnya mengenai pelanggaran paspor dan visa, pemalsuan dokumen,
mengeksploitir tenaga kerja, pelacur, dan sebagainya. Masalahmasalah yang berhubungan dengan pengungsi antara lain masalah
pengalihan bantuan dan masalah spionase.26
Usaha dan kebijakan untuk membuat peraturan hukum pidana yang baik
pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan
kejahatan. Jadi kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian
dari politik kriminal, maka politik hukum pidana identik dengan pengertian
"kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana".
2. Teori Politik hukum pidana
Politik hukum pidana mengandung arti bagaimana mengusahakan atau
membuat dan merumuskan suatu perundang-undangan pidana yang baik.
Maka melaksanakan politik hukum pidana berarti mengadakan pemilihan
26
Barda Nawawi Arief, 1996, Bunga Rampai Kebiiakan Hukum Pidana. PT. Citra Aditya
Bakti Bandung ,Hal. 15
untsuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang paling baik, dalam
arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna.
Poltik hukum menurut Sudarto adalah:
1. Kebijakan dari negara melalui badan-badan yang berwenang untuk
menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan
bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung di dalam
masyarakat dan apa yang dicita-citakan.
2. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik, sesuai
dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu.27
Pendapat Abdul Hakim Garuda Nusantara yang dikutip dalam Bukunya
Mulyana W. Kusumah mengajukan pandangan tentang politik hukum nasional
yaitu :
”Politik hukum nasional secara harafiah diartikan sebagai
kebijaksanaan hukum (Legal policy) yang hendak diterapkan atau
dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara
tertentu”. Politik Hukum Nasional tersebut meliputi:
1. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah
ada secara konsisten
2. Pembangunan hukum yang intinya adalah
pembaruan terhadap ketentuan hukum yang
telah ada yang dianggap usang dan
menciptakan ketentuan hukum baru yang
diperlukan untuk memenuhi perkembangan
masyarakat
3. Penegasan fungsi lembaga penegak atau
pelaksana
hukum
dan
pembinaan
anggotanya
4. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat
menurut persepsi kelompok elit pengambil
kebijakan.28
Dengan demikian, sebagai bagian dari politik hukum, maka politik hukum
pidana mengandung arti bagaimana mengusahakan atau membuat dan
27
28
M. Hamdan, 1997,Politik Hukum Pidana, PT. Raja Grafindo Persada Jakarta, hal. 19
Mulyana W. Kusumah, Perspektif, Teori, dan Kebijaksanaan Hukum, Rajawali, Jakarta,
1986, hal.42
merumuskan suatu perundang-undangan yang baik dalam arti memenuhi
syarat keadilan dan daya guna. Menurut Marc Ancel, Modern Criminal
Science terdiri dari tiga komponen, yaitu :
1. Criminology
2. Criminal Law
3. Penal Policy
Mengutip pendapat Sutherland and Cressey didalam buku “Introduction To
Criminology (Theories, Methods, and Criminal Behavior)” There are four
characteristic of criminal law:
1. It is assumed by political authority. The state assumes the role of
plaintiff or the party bringing forth charges. Murder, for example,
is no longer just an offense against a person, but against the state.
In fact, the state prohibits individual revenge in such matters,
perpetrators must pay their debt to society, not to the individual
wronged (Hal ini diasumsikan oleh otoritas politik. Negara
mengasumsikan peran penggugat atau pihak menelorkan biaya.
Pembunuhan, misalnya, tidak lagi hanya sebuah pelanggaran
terhadap seseorang, tetapi melawan negara. Bahkan, negara
melarang aksi balas dendam individual dalam masalah seperti itu,
pelaku harus membayar utang mereka kepada masyarakat, bukan
pada individu dirugikan)
2. It must be specific, defining both the offense as well as the
proscribed punishment.( Ini harus spesifik, mendefinisikan baik
pelanggaran serta hukuman dilarang.)
3. The law is uniformly applied. That is, equal punishment and
fairness to all, irrespective of social position, is intended (Hukum
adalah seragam diterapkan. Artinya, hukuman yang sama dan
keadilan untuk semua, terlepas dari posisi sosial, dimaksudkan)
4. The law contains penal sanctions enforced by punishment
administered by the state.29 (Undang-undang memiliki sanksi
pidana ditegakkan oleh hukuman dikelola oleh negara)
29
Hagan, Frank E. Introduction to Criminology. Nelson – Hall. Chicago. 1986. Hal.12
Penal Policy dikatakan sebagai suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan
untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik,
dan untuk memberikan pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang,
tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang, dan juga
kepada penyelenggara atau pelaksana putusan pengadilan.
Mengutip pendapat A. Mulder didalam buku Bahan Bacaan Politik
karangan Barda Nawawi, politik hukum pidana (Strafrechtpolitiek) ialah garis
untuk menentukan:
1. Seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu
diubah atau diperbaharui.
2. Apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya
tindak pidana.
3. Cara bagaimana penyidikan, penuntutan, peradilan, dan
pelaksanaan pidana harus dilaksanakan.30
Digunakannya hukum pidana di Indonesia sebagai sarana untuk
menanggulangi kejahatan tampaknya tidak menjadi persoalan. Hal ini terlihat
dari praktek perundang-undangan selama ini yang menunjukkan bahwa
penggunaan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan atau politik
hukum yang dianut di Indonesia. Penggunaan hukum pidana dianggap sebagai
hal yang wajar dan normal, seolah-olah eksistensinya tidak dipersoalkan.
Permasalahannya sekarang adalah, garis-garis kebijakan atau pendekatan
yang
bagaimanakah
sebaiknya
ditempuh dalam menggunakan hukum
pidana.
30
Barda Nawawi Arief, 1992, Bahan Bacaan Politik Hukum Pidana. Pasca Sariana
Universitas Indonesia. Jakarta, hal. 7.
Menurut Herbert L. Packer, sanksi pidana adalah suatu alat atau sarana
terbaik yang tersedia, yang dimiliki untuk menghadapi kejahatan-kejahatan
atau bahaya besar serta untuk menghadapi ancaman-ancaman. Selanjutnya
Packer menyatakan bahwa :
1. (The criminal sanction is indispenable; we could not, now or in
the foreseeable future get along, without it).Sanksi pidana
sangatlah diperlukan; kita tidak dapat hidup, sekarang maupun
dimasa yang akan datang, tanpa pidana .
2. (The criminal sanction is the best available device we have for
dealing with gross & immediate harms and threats from
harms).Sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang
tersedia, yang kita miliki utk menghadapi kejahatan-kejahatan
atau bahaya besar dan segera serta utk menghadapi ancamanancaman dari bahaya
3. ( The criminal sanction is at once prime guarantor and prime
threatener of human freedom. Used provedently and humanely,
it i s Guarantor; used indiscriminately and, it is coercively
threatene r)Sanksi pidana suatu ketika merupakan penjamin
yang utama dari kebebasan manusia. Ia merupakan penjamin
apabila digunakan secara hemat-cermat dan secara manusiawi,
ia merupakan pengancam apabila digunakan secara
sembarangan dan secara paksa.31
Dengan demikian Packer berpendapat bahwa menggunakan sanksi pidana
untuk menanggulangi kejahatan harus dilakukan dengan hati-hati, sebab
bukan tidak mungkin penggunaan sanksi pidana itu akan menjadi semacam
"bumerang", dalam arti justru akan menimbulkan bahaya dan meningkatkan
jumlah kejahatan dalam masyarakat.
31
Herbert L. Packer, 1967,The Limits of The Criminal Sanction, Stanford California University
Press, hal. 344-346.
3. Teori Legislasi.
Mengutip pendapat dari Fuller dalam buku karangan Satjipto Rahardjo
yang berjudul Hukum dan Masyarakat, Hukum dikatakan sebagai suatu
system harus memenuhi 8 (delapan) prinsip legalitas atau yang disebut dengan
principles of legality. Kedelapan prinsip tersebut dapat menjadi acuan dalam
penyusunan undang-undang. Adapun delapan prinsip tersebut meliputi:
a.
Harus ada peraturan-peraturan terlebih dahulu, hal ini berarti, bahwa
tidak ada tempat bagi keputusan-keputusan secara ad-hoc, atau
tindakan-tindakan yang bersifat arbiter;
b.
Peraturan-peraturan itu dibuat harus diumumkan secara layak;
c.
Peraturan-peraturan itu tidak boleh berlaku surut;
d.
Perumusan-perumusan peraturan-peraturan itu harus jelas dan
terperinci, ia harus dapat dimengerti oleh rakyat;
e.
Hukum tidak boleh meminta dijalankannya hal-hal yang tidak
mungkin;
f.
Di antara sesama peraturan tidak boleh terdapat pertentangan satu
sama lain;
g.
Peraturan-peraturan harus tetap, tidak boleh sering diubah-ubah;
h.
Harus terdapat kesesuaian antara tindakan-tindakan para pejabat
hukum dan peraturan-peraturan yang telah dibuat.32
32
Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat, (Bandung : Angkasa, 1980), hlm. 78,
(selanjutnya disebut Satjipto Rahardjo I).
Agar hukum itu berfungsi maka hukum harus memenuhi syarat
berlakunya hukum sebagai kaidah yakni:
a) Kaidah hukum berlaku secara yuridis, apabila penentuannya
didasarkan pada kaidah yang lebih tinggi tingkatannya atau
terbentuk atas dasar yang telah ditetapkan.
b) Kaidah hukum berlaku secara sosiologis, apabila kaidah tersebut
efektif. Artinya, kaidah itu dapat dipaksakan berlakunya oleh
penguasa walaupun tidak diterima oleh warga masyarakat (teori
kekuasaan) atau kaidah itu berlaku karena adanya pengakuan dari
masyarakat.
c) Kaidah hukum berlaku secara filosofis, yaitu sesuai dengan cita
hukum sebagai nilai positif yang tertinggi.33
Berdasarkan ketentuan Pasal 5 Undang-undang Nomor 10
Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
disebutkan bahwa:
Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus
berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan
yang baik yang meliputi:
a. Kejelasan tujuan; Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan"
adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak
dicapai.
b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; Yang dimaksud
dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat”
adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus
dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundangundangan yang berwenang. Peraturan Perundang-undangan
tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum, apabila dibuat
oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang.
c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; Yang dimaksud
dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah
bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan
harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat
dengan jenis Peraturan. Perundang-undangannya.
33
H. Zainuddin Ali, 2010, Filsafat Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 94.
d. Dapat dilaksanakan; Yang dimaksud dengan asas "dapat
dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas
Peraturan Perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat,
baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis.
e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; Yang dimaksud dengan asas
"kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap
Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benarbenar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
f. Kejelasan rumusan; Yang dimaksud dengan asas "kejelasan
rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan
harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan
Perundang-undangan, sistematika dan pilihan kata atau
terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah
dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam
interpretasi dalam pelaksanaannya.
g. Keterbukaan. Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah
bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundangundangan mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan, dan
pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian
seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang
seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses
pembuatan Peraturan Perundang-undangan.
4. Teori Pembaruan Hukum Pidana
Berkaitan dengan pengertian pembaruan hukum pidana Barda Nawawi
Arief mengemukakan yaitu:
Pembaruan hukum pidana pada hakekatnya mengandung makana,
suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum
pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio-politik, sosiofilosofik, dan sosio-kultural masyarakat Indonesia yang melandasi
kebijakan sosial, kebijakan kriminal, dan kebijakan penegakkan
hukum di Indonesia.34
34
Barda Nawawi Arief III, op.cit, hal. 27.
Pembaruan hukum pidana dapat dikatakan sebagai pembaruan
terhadap masalah perbuatan yang dilarang atau perbuatan yang dapat
dipidana; pelaku kejahatan; dan sanksi pidana yang diancamkannya,35 yang
pada dasarnya hal itu terletak pada masalah mengenai perbuatan apa yang
sepatutnya
dipidana;
syarat
apa
yang
seharusnya
dipenuhi
untuk
mempermasalahkan/ mempertanggungjawabkan seseorang yang melakukan
perbuatan itu; dan sanksi (pidana) apa yang sepatutnya dikenakan kepada
orang itu.36 Akan tetapi hukum pidana dipandang sebagai suatu sistem yang
mengatur keseluruhan dari aturan perundang-undangan hukum pidana,
sehingga pembaruan system hukum pidana (penal system reform) meliputi
pembaruan substansi hukum pidana, pembaruan struktur hukum pidana, dan
pembaruan budaya hukum pidana.
6. Teori Hukum Progresif
Mengutip pendapat Satjipto Rahardjo, terdapat 2 macam tipe penegakan
hukum progresif :
1. Dimensi dan faktor manusia pelaku dalam penegakan hukum progresif.
Idealnya, mereka terdiri dari generasi baru profesional hukum yang
memiliki visi dan filsafat yang mendasari penegakan hukum progresif;
2. Kebutuhan akan semacam kebangunan di kalangan akademisi, intelektual
dan ilmuan serta teoritisi hukum Indonesia.37
35
Djoko Prakoso, 1983,Pembaruan Hukum Pidana Di Indonesia, cet.I, Yogyakarta: Penerbit :
Liberty, Hal. 48
36
Barda Nawawi Arief I,op.cit, hal.111.
37
http://www.scribd.com/doc/21741046/Identifikasi-Hukum-Progresif-Di-Indonesia
Munculnya Hukum progresif adalah untuk menegaskan bahwa hukum
adalah untuk manusia, dan bukan sebaliknya. “Hukum itu bukan hanya
bangunan peraturan, melainkan juga bangunan ide, kultur, dan cita-cita.”
Dalam satu dekade terakhir, Satjipto Rahardjo menekankan satu hal penting,
bahwa “tujuan hukum adalah membahagiakan manusia”. Dan mengingatkan
bahwa letak persoalan hukum adalah di manusianya.
Penegasan ini berbeda dengan Pemahaman hukum secara legalistikpositivistik dan berbasis peraturan (rule bound). Dalam ilmu hukum yang
legalistik- positivistik, hukum sebagai institusi pengaturan yang kompleks
telah direduksi menjadi sesuatu yang sederhana, linier, mekanistik,
deterministik, terutama untuk kepentingan profesi. Untuk lebih jelasnya,
hukum progresif ini dapat dijelaskan melalui runutan pengidentifikasikan yang
terdiri atas asumsi, tujuan, spirit, progresivitas, dan karakter.
Asumsi
1. Hukum untuk manusia, bukan sebaliknya. Maka kehadiran hukum
bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas
dan besar. Itulah sebabnya ketika terjadi permasalahan di dalam
hukum, maka hukumlah yang harus ditinjau dan diperbaiki, bukan
manusia yang dipaksa-paksa untuk dimasukkan ke dalam skema
hukum.
2. Hukum bukan merupakan institusi yang mutlak serta final, karena
hukum selalu berada dalam proses untuk terus menjadi (law as a
process, law in the making)
Tujuan :
1. Kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.
Spirit
1. Pembebasan terhadap tipe, cara berfikir, asas, dan teori yang selama
ini dipakai.
2. Pembebasan terhadap kultur penegakan hukum (administration of
justice) yang selama ini berkuasa dan dirasa menghambat usaha
hukum untuk menyelesaikan persoalan
Progresivitas
1. Bertujuan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia dan
karenanya memandang hukum selalu dalam proses untuk menjadi (law
in the making).
2. Peka terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat, baik lokal,
nasional, maupun global.
3. Menolak status-quo manakala menimbulkan dekandensi, suasana
korup
dan
sangat
merugikan
kepentingan
rakyat,
sehingga
menimbulkan perlawanan dan pemberontakan yang berujung pada
penafsiran progresif terhadap hukum.
Karakter
1. Kajian hukum progresif berusaha mengalihkan titik berat kajian
hukum yang semula menggunakan optik hukum menuju ke
perilaku.
2. Hukum progresif secara sadar menempatkan kehadirannya dalam
hubungan erat dengan manusia dan masyarakat, meminjam istilah
Nonet & Selznick, bertipe responsif.
3. Hukum progresif terbagi paham dengan legal realism, karena
hukum tidak dipandang dari kacamata hukum itu sendiri,
melainkan dilihat dan dinilai dari tujuan sosial yang ingin dicapai
dan akibat yang timbul dari bekerjanya hukum.
4. Hukum progresif
memiliki
kedekatan
dengan sociological
jurisprudence dari Roscoe Pound yang mengkaji hukum tidak
hanya sebatas pada studi tentang peraturan tetapi keluar dan
melihat efek dari hukum dan bekerjanya hukum.
5. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan teori hukum alam,
karena peduli terhadap hal-hal yang meta-juridical.
6. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan Critical
Legal
Studies namun cakupannya lebih luas
1.6 Metode Peneiitian
1.6.1 Jenis Penelitian
Selayaknya suatu karya ilmiah ,agar memiliki bobot ilmiah yang dapat
dipertanggung jawabkan maka dalam melakukan penelitian tesis ini dipergunakan
metoda penelitian yaitu penelitian normatif. Metode normatif yaitu pemecahan
masalah yang didasarkan pada literatur – literatur dan peraturan perundang –
undangan yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
1.6.2 Metode Pendekatan
Adapun metode pendekatan yang dipakai terhadap masalah ini adalah
beberapa metode yang dikenal dalam penelitian hukum normatif, yaitu
pendekatan analisis konsep hukum (analytical and conceptual approach),
pendekatan perundang-undangan (statue approach), pendekatan kasus (case
Approach), pendekatan perbandingan.
-
Metode pendekatan perundang-undangan dan analisis konsep hukum,
dimana yang dikaji dalam penelitian ini adalah peraturan perundangundangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, maksudnya terhadap
masalah yang timbul akan ditinjau dan dikaji berdasarkan teori-teori
dan ketentuan-ketentuan hukum yang mengaturnya dan kemudian
dikaitkan dengan kenyataan dimasyarakat.
-
Metode pendekatan kasus yaitu untuk dapat memahami fakta-fakta
materiil dengan cara memperhatikan abstraksi rumusan fakta yang
terjadi.38
-
Metode pendekatan perbandingan digunakan untuk membandingkan
hukum yang berlaku di Indonesia dengan hukum yang berlaku di
Negara lainnya. Seperti dalam penanggulangan penyalahgunaan kartu
kredit di Indonesia sampai saat ini menggunakan KUHP dan UU
No.11 Tahun 2008 Tentang Transaksi Elektronik,sedangkan Amerika
Serikat merupakan salah satu negara yang telah memiliki banyak
38
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum , Cetakan ke -3, Jakarta, kencana, 2007, hal.119
perangkat hukum yang mengatur dan menentukan perkembangan
Cyber Law termasuk mengenai tindak pidana penyalahgunaan kartu
kredit. Di Amerika, Cyber Law yang mengatur transaksi elektronik
dikenal dengan Uniform Electronic Transaction Act (UETA)
sedangkan di Filipina menggunakan Philippines E-commerce Act
Republic Of The Philippines.39
1.6.3 Sumber Bahan Hukum
Sumber bahan hukum dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat, yang mana dalam
penyusunan tesis ini yang dipakai adalah Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, Undang-Undang Pokok Perbankan, Petunjuk Lapangan Kapolri
No.POL : JUKLAP/ 017 I/ 1995 tentang Penyidikan Tindak Pidana yang
berhubungan dengan kartu kredit.
b. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum
primer, seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya
dari kalangan hukum, dan seterusnya.40
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
39
Asril Sitompul, 2004, Hukum Internet (Pengenalan Mengenai Masalah Hukum Di
Cyberspace), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, ,hal.175
40
Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, 1985,Peneiitian Hukum Normatif Suatu Tiniauan Singkat,
PT. Raja Grafindo Persada Jakarta, Hal. 13
Karena penelitian ini lebih bersifat penelitian hukum normatif, maka lebih
menitik beratkan penelitian pada bahan hukum primer, sedangkan bahan hukum
sekunder lebih bersifat menunjang. Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini dikumpulkan dari sumber primer berupa perundang-undangan dan
yurisprudensi, dan dari sumber sekunder berupa dokumen atau risalah perundangundangan, konsep rancangan undang-undang, sumber-sumber hukum lainnya,
hasil-hasil penelitian dan kegiatan ilmiah, serta pendapat para ahli hukum dan
ensiklopedi.
1.6.5 Teknik Analisis Bahan Hukum
Di dalam penelitian hukum normatif yang dianalisis bukanlah data, melainkan
melalui metode seperti tersebut di atas. Dengan demikian, erat kaitannya antara
metode analisis dengan pendekatan masalah. Analisis bahan hukum yang berhasil
dikumpulkan dalam penelitian ini akan dilakukan secara deskriptif , interpretatif,
evaluatif dan argumentatif.
-
Teknik
deskriptif, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk
memperoleh gambaran secara mendalam mengenai perumusan tindak
pidana dan sanksi pidananya.
-
Teknik Interpretatif berupa penggunaan jenis-jenis penafsiran dalam
ilmu hukum seperti penafsiran
historis,sistematis, dan lain-lain.
Selanjutnya bahan Hukum tersebut dianalisis dengan menggunakan
teknik evaluatif ,sistematis dan argumentatif.
-
Teknik evaluative yaitu memberikan penilaian terhadap suatu
pandangan, proporsi, pernyataan, rumusan norma, keputusan,baik yang
tertera dalam baik dalam hukum primer maupun dalam hukum
sekunder.
-
Teknik Sistematif berupaya mencari kaitan rumus suatu konsep hukum
atau konsep hukum antara perundang-undangan yang sederajat
maupun tidak sederajat.
-
Teknik Argumentatif tidak bisa dilepaskan dari teknik evaluasi karena
penilaian harus didasarkan pada alasan-alasan yang bersifat penalaran
hukum.41
41
Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis Program Studi Magister Hukum Universitas
Udayana.2008.hal14
BAB II
TINJAUAN UMUM
TENTANG PEMBARUAN HUKUM PIDANA DAN KARTU KREDIT
2.1 Kebijakan Pembaruan Hukum Pidana
2.1.1 Pengertian Pembaruan Hukum Pidana
Sebelum membahas lebih lanjut tentang pengertian pembaruan hukum
pidana, perlu terlebih dahulu dipahami apa yang dimaksud dengan pembaruan
(reform) itu sendiri, yaitu suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi
terhadap sesuatu hal yang akan ditempuh melalui kebijakan42, artinya harus
dilakukan dengan pendekatan kebijakan. Berkaitan dengan pengertian pembaruan
hukum pidana Barda Nawawi Arief mengemukakan yaitu:
Pembaruan hukum pidana pada hakekatnya mengandung makana,
suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum
pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio-politik, sosiofilosofik, dan sosio-kultural masyarakat Indonesia yang melandasi
kebijakan sosial, kebijakan kriminal, dan kebijakan penegakkan
hukum di Indonesia.43
Dalam hal ini pembaruan hukum yang akan ditempuh adalah hukum pidana
(penal reform). Jadi pengertian pembaruan hukum pidana tersebut yaitu pada
42
Barda Nawawi Arief II, op.cit, hal. 27
43
ibid.hal.48
hakekatnya mengandung makna suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan
reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio-politik, sosiofilosofik, dan sosio-kultural masyarakat yang melandasi kebijakan sosial,
kebijakan kriminal, dan kebijakan penegakkan hukum.44
Pembaruan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana,45
yang secara etimologis, istilah kebijakan hukum pidana berasal dari kata
“kebijakan” dan “hukum pidana”. Sebagaimana menurut Sudarto yang
dikemukakan oleh Barda Nawawi Arief: Masalah “politik hukum pidana” berarti
mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang
paling baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna. Dalam
kesempatan lain beliau menyatakan, bahwa melaksanakan “politik hukum pidana”
berarti, “usaha mewujudkan peraturan perundang-undangan pidana yang sesuai
dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa yang akan datang. 46
Bertolak dari uraian tersebut di atas, pembaruan hukum pidana ditentukan
dengan kebijakan hukum pidana itu sendiri, artinya pembaruan hukum pidana
dapat diarahkan melalui kebijakan hukum pidana, atau adanya kebijakan hukum
pidana berarti telah mengadakan suatu pembaruan hukum pidana.
Sehubungan dengan ini, Barda Nawawi Arief menyatakan sebagai berikut :
Istilah “kebijakan” diambil dari istilah “policy” (Inggris) atau “politiek”
(Belanda). Bertolak dari kedua istilah asing ini, maka istilah “kebijakan
44
ibid. hal. 27-28
45
ibid
46
ibid.hal.25
hukum pidana” dapat pula disebut dengan istilah “politik hukum pidana”.
Dalam kepustakaan asing istilah “politik hukum pidana” ini sering dikenal
dengan berbagai istilah, antara lain “penal policy”, “criminal law policy”
atau “strafrechtspolitiek”.47
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengertian kebijakan atau politik
hukum pidana dapat dilihat dari pengertian tentang politik hukum maupun dari
politik kriminal.
Sedangkan pengertian politik hukum menurut Sudarto adalah sebagai berikut:
1. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai
dengan keadaan dan situasi pada suatu saat.
2. Kebijakan dari negara melalui badan-badan yang berwenang untuk
menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang
diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang
terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicitacitakan.48
Lebih lanjut Sudarto menjelaskan bahwa melaksanakan politik hukum pidana
berarti mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana
yang paling baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna. Selanjutnya
juga dikemukakan bahwa melaksanakan politik hukum pidana berarti usaha
mewujudkan peraturan perundang-undangan pidana yang sesuai dengan keadaan
dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa-masa yang akan datang.
Menurut A. Mulder sebagaimana dikemukakan oleh Barda Nawawi Arief:
Strafrechtspolitiek ialah garis kebijakan untuk menentukan:
1. seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah atau
diperbaharui ;
2. apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak pidana;
47
ibid. hal.24
48
ibid. hal 24-25
3.cara bagaimana penyidikan, penuntutan, peradilan dan pelaksanaan pidana
harus dilaksanakan.49
Apa yang dikemukakan oleh Mulder ini sebenarnya lebih bertolak pada
pengertian sistem hukum pidana menurut Marc Ancel sebagaimana dikemukakan
oleh Barda Nawawi Arief, bahwa tiap masyarakat yang terorganisir memiliki
sistem hukum pidana yang terdiri dari :
1. peraturan-peraturan hukum pidana dan sanksinya;
2. suatu prosedur hukum pidana, dan
3. suatu mekanisme pelaksanaan (pidana).50
Lebih lanjut Barda Nawawi Arief menjelaskan bahwa setiap usaha dan
kebijakan untuk membuat peraturan hukum pidana yang baik pada hakekatnya
tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan. Jadi, kebijakan atau
politik hukum pidana juga merupakan bagian dari politik kriminal. Dengan
perkataan lain, dilihat dari sudut politik kriminal, maka politik hukum pidana
identik dengan pengertian “kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum
pidana. Usaha penanggulangan kejahatan lewat bantuan pembuatan undangundang (hukum) pidana pada hakekatnya juga merupakan bagian integral dari
usaha
perlindungan
masyarakat
(sosial
defence)
dan
usaha
mencapai
kesejahteraan masyarakat (sosial welfare). Oleh karena itu, wajar pulalah apabila
kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari
kebijakan atau politik sosial (social policy). Kebijakan sosial (social policy) dapat
diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan
49
ibid.hal 25-26
50
ibid.hal.26
masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. Jadi di dalam
pengertian “social policy”, sekaligus tercakup di dalamnya “social welfare
policy”, dan “social defence policy”.51
Kebijakan hukum pidana dapat juga dilihat sebagai bagian dari politik
kriminal. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa usaha dan kebijakan untuk
membuat peraturan hukum pidana yang baik pada hakikatnya tidak dapat
dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan atau perbuatan yang dilarang.
Jadi kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian dari politik
kriminal. Politik kriminal merupakan usaha yang rasional dalam masyarakat untuk
menanggulangi kejahatan. Dirumuskan oleh Marc Ancel, politik kriminal adalah
the rational organization of the control of crime by society.52
Muladi dan Barda Nawawi Arief menyatakan: Kejahatan atau tindak
kriminal merupakan salah satu bentuk dari “perilaku menyimpang” yang selalu
ada dan melekat pada tiap bentuk masyarakat; tidak ada masyarakat yang sepi dari
kejahatan. Saparinah Sadli menyatakan bahwa perilaku menyimpang itu
merupakan suatu ancaman yang nyata atau ancaman terhadap norma-norma sosial
yang mendasari kehidupan atau keteraturan sosial; dapat menimbulkan
ketegangan individual maupun ketegangan-ketegangan sosial; dan merupakan
ancaman riil atau potensiil bagi berlangsungnya ketertiban sosial. Dengan
demikian kejahatan disamping merupakan masalah kemanusiaan, ia juga
51
ibid.hal27
52
Sudarto I, op.cit. hal. 162
merupakan masalah sosial, malahan menurut Benedict S. Alper merupakan “the
oldest sosial problem”. 53
Sebagai suatu persoalan sosial yang menuntut penyelesaian, maka upaya
untuk penanggulangan kejahatan telah dimulai terus-menerus. Salah satu usaha
pencegahan dan pengendalian kejahatan itu ialah menggunakan hukum pidana
dengan sanksinya yang berupa pidana. Namun demikian usaha inipun masih
sering dipersoalkan.
Sehubungan dengan masalah ini, menurut Roeslan Saleh sebagaimana
dikemukakan oleh Muladi dan Barda Nawawi Arief, bahwa ada tiga alasan
mengenai perlunya pidana dan hukum pidana dalam penanggulangan kejahatan
yang pada intinya sebagai berikut :
a. Perlu tidaknya hukum pidana tidak terletak pada persoalan tujuan-tujuan
yang hendak dicapai, tetapi terletak pada persoalan seberapa jauh
untukmencapai tujuan itu boleh menggunakan paksaan, persoalannya
bukan terletak pada hasil yang akan dicapai, tetapi dalam pertimbangan
antara nilai dari hasil itu dan nilai dari batas-batas kebebasan pribadi
masing-masing.
b. Ada usaha-usaha perbaikan perawatan yang tidak mempunyai arti sama
sekali bagi si terhukum dan disamping itu harus tetap ada suatu reaksi atas
pelanggaran-pelanggaran norma yang telah dilakukannya itu dan tidaklah
dapat dibiarkan begitu saja.
c. Pengaruh pidana atas hukum pidana bukan semata-mata ditujukan pada si
penjahat, tetapi juga untuk mempengaruhi orang yang tidak jahat
yaituwarga masyarakat yang mentaati norma-norma masyarakat.54
Dengan demikian nampak bahwa prevensi khusus dan prevensi umum
menjadi pertimbangan utama. Di sisi lain ada pertimbangan nilai yaitu
53
Muladi Dan Barda Nawawi Arief I, Op.cit, hal. 148-149.
54
ibid. hal 152-153
keseimbangan antara nilai dari hasil perbuatan yang dikenakan pidana dengan
biaya yang dikeluarkan.
Penggunaan upaya hukum, termasuk hukum pidana, sebagai salah satu upaya
untuk mengatasi masalah sosial termasuk dalam bidang kebijakan penegakkan
hukum. Disamping itu karena tujuannya adalah untuk mencapai kesejahteraan
masyarakat pada umumnya, maka kebijakan penegakkan hukum itupun termasuk
dalam bidang kebijakan sosial, yaitu segala usaha yang rasional untuk mencapai
kesejahteraan masyarakat. Sebagai suatu masalah yang termasuk masalah
kebijakan, maka penggunaan (hukum) pidana sebenarnya tidak merupakan suatu
keharusan.55
H.L. Packer dalam bukunya “The Limits of Criminal Sanction”, sebagaimana
dikemukakan oleh Muladi dan Barda Nawawi Arief:
a. (the criminal sanction is indispensable; we could not, now or in the
oreseeable future, get along without it)Sanksi pidana sangatlah
diperlukan; kita tidak dapat hidup, sekarang maupun di masa yang
akan datang, tanpa pidana.
b. (the criminal sanction is the best available device we have for
dealing with gross and immediate harms and threats of
harm).Sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang
tersedia, yang kita miliki untuk menghadapi kejahatan-kejahatan
atau bahaya besar dan segera serta untuk menghadapi ancamanancaman dari bahaya
c. (the criminal sanction is atau once prime guarantor and prime
threatener of human freedom. Used providently and humanely, it is
guarantor; used indiscriminately and coercively, it is threatener)
Sanksi pidana suatu ketika merupakan penjamin yang
utama/terbaik dan suatu ketika merupakan pengancam yang utama
dari kebebasan manusia. Ia merupakan penjamin apabila digunakan
secara hemat cermat dan secara manusiawi; ia merupakan
pengancam apabila digunakan secara sembarangan dan secara
paksa.56
55
ibid. Hal149
Tidak ada absolutisme dalam bidang kebijakan, karena pada hakekatnya
dalam masalah kebijakan orang dihadapkan pada masalah penilaian dan pemilihan
dari berbagai macam alternatif. Dengan demikian masalah pengendalian atau
penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana, bukan hanya
merupakan problem social seperti dikemukakan Packer di atas, tetapi juga
merupakan masalah kebijakan (the problem of policy).
Bertolak dari pengertian kebijakan hukum pidana di atas, Barda Nawawi
Arief menyimpulkan, bahwa:
Dilihat dari bagian dari politik hukum, maka politik hukum pidana
mengandung arti, bagaimana mengusahakan atau membuat dan
merumuskan
suatu
perundang-udangan
pidana
yang
baik….Dengan demikian, yang dimaksud “peraturan hukum
positif” (the positive rules) adalah peraturan perundang-udangan
hukum pidana. Olehkarena itu, istilah “penal policy” adalah sama
dengan istilah “kebijakan atau politik hukum pidana”.57
2.1.2 Ruang Lingkup Pembaruan Hukum Pidana
Sebagaimana diketahui, bahwa bagi bangsa Indonesia yang berasaskan
Pancasila menjadi falsafah hidup, dan juga menjadi dasar falsafah negara. Sebagai
falsafah hidup bangsa, Pancasila merupakan jiwa bangsa, kepribadian bangsa,
56
ibid. Hal. 155-156.
57
ibid. Hal.25.
sarana tujuan hidup bangsa, pandangan hidup dan pedoman hidup bangsa. Begitu
juga Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
Kemudian pada rumusan alinea keempat pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 menegaskan: Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan
Indonnesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam rangka merespon amanat pembukaan UUD1945 tersebut maka
pembaruan sebagai produk perundang-undangan yang sudah tidak sesuai dengan
nilai-nilai masyarakat Indonesia menjadi agenda yang patut diprioritaskan.
Dengan demikian dari amanat tersebut juga tersimpul keharusan untuk melakukan
pembaruan di bidang hukum. Usaha pembaruan hukum di Indonesia yang sudah
dimulai sejak lahirnya UUD 1945 tidak dapat dilepaskan pula dari landasan dan
sekaligus tujuan yang ingin dicapai seperti telah dirumuskan dalam pembukaan
UUD 1945.
Namun mengingat permasalahan hukum menyentuh aspek kehidupan
masyarakat yang sangat luas sehingga setiap saat berubah, maka pembaruan tidak
dapat dilakukan dalam sekejap.
Sebagaimana pengertian pembaruan hukum pidana yang telah dikemukakan pada
sub-1 di atas, dalam hal ini, ruang lingkup pembaruan hukum pidana meliputi:
1. Pembaruan substansi hukum pidana;
2. Pembaruan struktur hukum pidana; dan
3. Pembaruan budaya hukum pidana.
Dalam Pembaruan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Tindak
Pidana Penyalahgunaan Kartu kredit melakukan pembaruan pada aspek
pembaruan substansi hukum pidana. Dimana pembaruan substansi hukum pidana,
Barda Nawawi Arief berpendapat:
1. Suatu reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilainilai sosio-folosifik, sosio-politik, sosio-kultural masyarakat. Pembaruan
hukum pidana pada dasarnya adalah:
-
Pembaruan konsep nilai
Pembaruan ide-ide dasar
Pembaruan pokok-pokok pemikiran
Pembaruan paradigma/wawasan
2. Sebagai bagian dari “Sosial Policy”, pemnaharuan hukum pidana
hakekatnya merupakan bagian dari upaya mengatsi masalah sosial untuk
mencapai kesejahteraan/perlindungan masyarakat.
3. Sebagai dari “Criminal Policy”, pembaruan hukum pidana pada
hakekatnya merupakan bagian dari upaya penaggulangan kejahatan.
4. Sebagai bagian dari “Law Enforcement Policy” pembaruan hukum pidana
pada
hakekatnya
merupakan
bagian
kelancaran/efektivitas penegakkan hukum.
5. Pembaruan substansi hukum pidana meliputi:
dari
upaya
menunjang
a. pembaruan hukum pidana materiel,
b. pembaruan hukum pidana formal,
c. pembaruan hukum pelaksanaan pidana.58
Dalam hal ini, pembaruan hukum pidana terhadap persiapan melakukan
tindak pidana sebagai delik, maka ruang lingkup pembaruan hukum pidana
bertolak dari pembaruan substansi yang meliputi pembaruan hukum pidana
materiel. Pembaruan hukum pidana/ KUHP Nasional juga merupakan bagian dari
pembaruan hukum pidana substansi. Patut dikemukakan, bahwa dalam rangka
pembaruan hukum pidana nilai-nilai tersebut telah diakomodasikan oleh penyusun
RUU KUHP. Hal ini dapat dilihat dari beberapa prinsip yang terkandung dalam
penyusunan rancangan KUHP Nasional yang antara lain menyebutkan:
a. bahwa hukum pidana dipergunakan untuk menegaskan atau menegakkan
kembali nilai-nilai sosial dasar (basic sosial value) prilaku hidup
masyarakat, dalam negara kesatuan Republik Indonesia yang dijiwai oleh
falsafah dan idiologi negara Pancasila;
b. bahwa hukum pidana sedapat mungkin hanya dipergunakan dalam
keadaan dimana cara lain melakukan pengendalian sosial (sicial control)
tidak mau atau belum dapat diharapkan keefektifitasannya; dan bahwa
dalam menggunakan hukum pidana sesuai dengan kedua pambatasan (a)
dan (b) di atas, harus diusahakan dengan sungguhsungguh bahwa cara
seminimal mungkin mengganggu hak dan kebebasan individu tanpa
58
http://eprints.undip.ac.id/17715/1/Idi_Amin.pdf
mengurangi perlindungan yang perlu diberikan terhadap kepentingan
kolektifitas dalam masyarakat demokratik yang modern.
Sebagaimana pada pernyataan di atas, maka tendensi untuk tetap
mempertahankan unsur-unsur asli dalam pembaruan hukum di Indonesia patut
dikedepankan, apalagi terhadap hukum pidana. Mengingat hukum pidana dengan
segala aspeknya (aspek-aspek sifat melawan hukum, kesalahan, dan pidana)
mempunyai sifat dan fungsi yang istimewa, serta mempunyai fungsi ganda yakni
yang primer sebagai sarana penanggulangan kejahatan yang rasional (sebagai
bagian dari politik kirminal) dan yang sekunder, ialah sebagai sarana pengaturan
tentang kontrol sosial sebagaimana dilaksanakan secara sepontan atau secara
dibuat oleh negara dengan alat perlengkapannya. Dalam fungsi yang kedua ini
tugas hukum pidana adalah policing the police, yakni melindungi warga
masyarakat dari campur tangan penguasa yang mungkin menggunakan pidana
sebagai sarana secara tidak benar.
Dalam kaitannya dengan upaya untuk melakukan reorientasi terhadap
persiapan melakukan tindak pidana sebagai delik, maka kode etik penggunaan
hukum pidana tersebut dapat digunakan sebagai landasan dalam merumuskan
kebijakan tentang persiapan melakuan tindak pidana sebagai delik agar lebih
berorientasi baik pada perlindungan individu maupun masyarakat. Dengan
demikian akan tercipta hukum pidana yang lebih fungsional yang tetap berakar
pada
nilai-nilai
sosial
masyarakat.
Sebagaimana
Barda
Nawawi
Arief
menyatakan:
Pembaruan hukum pidana pada hakekatnya mengandung makna,
suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum
pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio-politik, sosiofilosofik san sosio-kultural masyarakat Indonesia yang melandasi
kebijakan sosial, kebijakan kriminal dan kebijakan penegakan
hukum di Indonesia. Dan memberi isi terhadap muatan normatif
dan substantif hukum pidana yang dicita-citakan.59
Dengan penjelasan di atas, bahwa secara konstitusional pembaruan hukum
nasional termasuk hukum pidana harus didasarkan pada nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat. Keharusan konstitusioal tersebut patut untuk dikedepankan
agar hukum yang akan terbentuk benarbenar merupakan penjelmaan dari nilainilai yang hidup alam masyarakat. Selanjutnya Beliau mengatakan, bahwa
pembaruan hukum pidana pada hakekatnya harus ditempuh dengan pendekatan
yang berorientasi pada kebijakan (“policy-oriented approach”) dan sekaligus
pendekatan yang berorientasi pada nilai (“value- oriented approach”).
Bertolak dari uraian tersebut di atas, perlu adanya pembaruan kebijakan
kriminal yang digunakan untuk mencegah kejahatan sedini mungkin, sehingga
perbuatan dapat dilihat dari dua sudut pendekatan yaitu sudut pendekatan
kebijakan dan sudut pendekatan nilai, sehubungan dengan masalah ini, Barda
Nawawi Arief menyatakan pendapatnta sebagai berikut:
1. Dilihat dari sudut pendekatan kebijakan:
a. sebagai bagian dari kebijakan sosial, pembaruan hukum pidana
hakekatnya
merupakan
bagian
dari
upaya
untuk
mengatasi
masalahmasalah sosial (termasuk masalah kemanusiaan) dalam rangaka
59
http://eprints.undip.ac.id/17715/1/Idi_Amin.pdf
mencapai/ menunjang tujuan nasional (kesejahteraan masyarakat dan
sebagainya);
b. sebagai bagian dari kebijakan kriminal, pembaruan hukum pidana pada
hakekatnya merupakan bagian dari upaya perlindungan masyarakat
(khususnya upaya penanggulangan kejahatan);
c. sebagai bagian dari kebijakan penegakan hukum, pembaruan hukum
pidana pada hakekatnya merupakan bagian dari upaya memperbaharui
substansi hukum (legal substance) dalam rangka lebih mengefektifkan
penegakan hukum
2. Dilihat dari sudut pendekatan nilai:
Pembaruan hukum pidana pada hakekatnya merupakan upaya melakukan
peninjauan kembali (“reorientasi dan reevaluasi”) nilai-nilai sosio politik, sosiofilosofik, dan sosio-kultural yang melandasi dan memberi isi terhadap muatan
normatif dan substantif hukum pidana yang dicita-citakan. Bukanlah pembaruan
(“reformasi”) hukum pidana apabila orientasi nilai dari hukum pidana yang dicitacitakan (misalnya KUHP Baru) sama saja dengan orientasi nilai dari hukum
pidana lama warisan penjajah (KUHP lama atau WvS).
Hal ini dipandang bahwa hukum (hukum pidana) merupakan perwujudan
suatu unsur sosial masyarakat yang mempengaruhi ada tidaknya penjaTuhan
sanksi (dipidananya) terhadap persiapan melakukan tindak pidana tersebut,
sehingga perlu adanya pembaruan kebijakan kriminal sejalan beriringan waktu
yang didasarkan pada nilai-nilai sosio politik, sosio filosofik, sosio kultural dan
norma-norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.Bertolak dari sudut
pendekatan kebijakan dan sudut pendekatan nilai, pengkajian menitikberatkan
pada hukum pidana materiil (KUHP), mengingat bagian hukum pidana ini yang
mampu merumuskan atau memformulasikan perbuatan-perbuatan apa yang
dijadikan tindak pidana, bagaimana mengenai pertanggungjawaban pidananya,
serta bagaimana mengenai pidana dan pemidanaannya.
Dengan demikian tahap formulasi menempati posisi strategis jika
dibandingkan tahap aplikasi maupun tahap pelaksanaan hukum pidana yang
merupakan kelanjutan dari operasionalisasi atau penegakkan hukum pidana.
Mengenai posisi strategis dari tahap formulasi ini juga dikemukakan oleh Muladi
dan Barda Nawawi Arief : Tahap penetapan pidana hemat kami justru harus
merupakan tahap perencanaan yang matang mengenai kebijakan-kebijakan
tindakan apa yang seharusnya diambil dalam hal pemidanaan apabila terjadi suatu
pelanggaran hukum.
Dengan perkataan lain tahap ini harus merupakan tahap perencanaan strategis
dibidang pemidanaan yang diharapkan dapat memberi arah pada tahap-tahap
berikutnya, yaitu tahap penerapan pidana dan tahap pelaksanaan pidana. Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berlaku di Indonesia sekarang
masih tetap menggunakan Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie yang
mulai diterapkan di Indonesia pada tanggal 1 Januari 1918 dan merupakan produk
hukum pemerintahan jaman kolonial Hindia Belanda, dengan berbagai perubahan
dan penambahannya.
KUHP yang berasal dari Belanda tentu memiliki jiwa, pola pikir dan normanorma yang berbeda dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di dalam
masyarakat bangsa Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Sudarto, bahwa WvS
kita ini tidak mungkin mencerminkan nilai-nilai kebudayaan bangsa Indonesia
secara penuh, karena tidak dibuat oleh kita sendiri.
Secara politis, sosiologis, maupun praktis KUHP yang berlaku di Indonesia
sekarang perlu segera diganti dengan KUHP yang berasal dan bersumber dari
nilai-nilai dan norma-norma yang hidup dalam masyarakat Indonesia.
Beberapa karakteristik hukum pidana yang mencerminkan proyeksi hukum
pidana masa datang secara ringkas di dinyatakan oleh Muladi sebagai berikut :
1. Hukum pidana nasional mendatang, dibentuk tidak hanya sekadar alas an
sosiologis, politis dan praktis semata-mata, melainkan secara sadar harus
disusun dalam kerangka Idiologi Nasional Pancasila. Hal ini akan
memberi kesadaran bahwa sistem peradilan pidana pada umumnya dan
hukum pidana pada khususnya tidak hanya merupakan suatu sistem yang
bersifat phisik semata-mata melainkan juga merupakan sistem abstrak
yang merupakan jalinan nilai-nilai yang konsisten dalam rangka
pencapaian tujuan tertentu.
2. Hukum pidana pada masa yang akan datang tidak boleh mengabaikan
aspek-aspek yang bertalian dengan kondisi manusia, alam dan tradisi
Indonesia.
3. Hukum pidana mendatang harus dapat menyesuaikan diri dengan
kecenderungan-kecenderungan universal yang tumbuh didalam pergaulan
masyarakat beradab, dalam arti beradaptasi yang kadang-kadang berupa
pengambilan hikmah dari perkembangan tersebut.
4. Sistem peradilan pidana, politik kriminal, politik penegakan hukum
merupakan bagian dari politik sosial. Dengan demikian hukum pidana
mendatang harus memikirkan pula aspek-aspek yang bersifat preventif.
5. Hukum pidana mendatang harus selalu tanggap terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi guna peningkatan efektifitas fungsinya di
dalam masyarakat.60
Indonesia sebagai sebuah negara yang sudah merdeka juga berupaya segera
mengadakan pembaruan KUHP (WvS) yang disesuaikan dengan politik hukum,
keadaan dan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia
serta diharapkan dapat memenuhi rasa keadilan dan kemanusiaan jika
dibandingkan dengan undang-undang warisan kolonial.
Dengan demikian ruang lingkup kebijakan hukum pidana dapat mencakup
kebijakan di bidang pidana formil, materiel serta pelaksanaan pidana itu sendiri.
Ruang lingkup kebijakan hukum pidana ini sangat luas karena tidak hanya
menyangkut hukum pidana dalam arti materiel (pidana dan pemidanaan) tetapi
juga mengatur tentang bekerjanya hukum pidana melalui lembaga sub-sistem
peradilan yang ada serta bagaimana pelaksanaan eksekusinya.
60
Ibid
2.2 Kartu Kredit
2.2.1 Pengertian Kartu Kredit
Kartu Kredit merupakan “uang plastik” yang dikeluarkan oleh bank,
kegunaannya adalah sebagai alat pembayaran di tempat-tempat tertentu seperti
supermarket, hotel, restaurant, tempat hiburan dan tempat lainnya.61
Mengutip berberapa pengertian kartu kredit dalam penelitian tesis A.A.
Sagoeng Poetri Praniti dalam judul Kajian Aspek Pidana Dalam Penyalahgunaan
Kartu Kredit (Credit Card) antara lain :
Dalam Encyclopedia Americana
“Credit card is a means of identification by which of the owner may obtain
consumer credit for the purchase of goods or service rather than pay cash.
At the time of sale he present his card to the seller, who records the
purchasers name an account number a long with the price of purchase
records are sent to a central billing office that calculates the total price of
purchases made by the card owner during the business month and send
him a bill. The purchaser returns his personal check covering all or part
of the total to the central office, which allocates the money to the establish
entitle to it”.62
(Terjemahan bebas :Kartu Kredit adalah suatu alat pengenal, dimana
pemilik boleh mendapat kredit untuk pembelian barang-barang atau
mendapat pelayanan dari pada pembayaran kontan. Biasanya pembeli, ia
memberikan kartunya pada penjual yang mencatat nama pembeli,
menghitung nomor sebanding dengan harga pembelian. Catatan itu dikirim
ke kantor pusat pengajuan rekening untuk menghitung harga total dari
pembelian-pembelian yang telah dibuat oleh pemilik kartu selama usaha
bulanan dan mengirimkannya suatu isian rekening. Pembeli kembali dapat
menutup cheknya semua atau bagian totalnya, pada kantor pusat yang
menyediakan uang untuk pembukuan kredit yang berhak untuk itu).
Sedang menurut Hill Dictionary,
“Credit Card is a card identification which allows the holder to purchase
goods and services in the present and pay for them in the future. Credit
61
Kasmir I, Op cit, hal. 117.
62
Praniti, A.A. Sg. op.cit.hal90
Card is issued by Bank, Hotels, Travel organization, to individual who are
classified a good credit risk a small fee, must be paid in advance by the
individual to obtain certain credit card”.63 (Kartu kredit adalah sebuah
kartu pengenal yang membolehkan pemegang membeli barang-barang dan
mendapatkan pelayanan-pelayanan saat ini dan membayarnya pada masa
mendatang. Kartu kredit diterbitkan oleh Bank, Hotel-hotel, Biro
Perjalanan, ,Perorangan yang diklasifikasikan pada kredit barang dengan
resiko pembayaran yang kecil, yang harus dibayar pada hari berikutnya
oleh individu tersebut untuk mendapatkan kartu kredit tertentu).
Menurut Peter Salim
“Kartu kredit adalah kartu yang dikeluarkan oleh Bank atau lembaga
keuangan bagi langganan-langganannya untuk dapat membeli barang dan
jasa dari. perusahaan yang menerima kartu kredit tersebut, tanpa
pembayaran dengan uang tunai.”64
“Kartu kredit merupakan alat pembayaran yang memungkinkan si
pemegang kartu untuk memperoleh barang-barang atau pelayanan dari
pedagang, dimana peraturan-peraturannya telah dibuat (secara langsung
atau tidak langsung) oleh orang yang mengeluarkan kartu tersebut, juga
yang membuat peraturan-peraturan untuk membayar kerugian pada
pedagang. Si pemegang kartu membayar kepada pembuat kartu menurut
batas rencana yang khusus.65
Di dalam Pasal 1 ayat (8) Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 61
Tahun 1988 tentang lembaga pembiayaan disebutkan bahwa Perusahaan kartu
kredit (credit card company) adalah badan usaha yang melakukan usaha
pembiayaan untuk membeli barang dan jasa dengan menggunakan kartu kredit.
Dengan demikian kartu kredit adalah kartu yang dikeluarkan oleh pihak Bank
atau lembaga keuangan lainnya, dimana si pemilik kartu dalam melakukan suatu
transaksi dapat memperoleh barang-barang atau pelayanan jasa dengan
63
ibid. hal91
64
ibid
65
ibid
menunjukkan kartu tersebut yang juga dapat berfungsi sebagai alat pembayaran
secara tunai.
2.2.2 Jenis-jenis dan Ciri-ciri Kartu Kredit
Adapun jenis-jenis kartu kredit dapat digolongkan berdasarkan fungsi dan
wilayah berlakunya.66
a. Berdasarkan Fungsinya
1. Credit Card
Kartu kredit atau credit card adalah jenis kartu yang dapat digunakan
sebagai alat pembayaran transaksi jual beli barang atau jasa dimana
pelunasan atau pembayarannya kembali dapat dilakukan dengan sekaligus
atau dengan cara mencicil sejumlah minimum tertentu. Jumlah cicilan
tersebut dihitung dari nilai saldo tagihan ditambah bunga bulanan.
Tagihan
pada
bulan
yang
lalu
termasuk
bunga
(retail
interest) merupakan pokok pinjaman pada bulan berikutnya. Misalnya
tagihan bulan sebelumnya adalah Rp. 1.000.000,00. Pembayaran minimum
ditetapkan misalnya 10% dari total tagihan dengan pembayaran minimum
sebesar Rp.50.000,00. Dari angka tersebut maka pemegang kartu harus
membayar cicilan sebesar 10 % x Rp. 1.000.000,00 = Rp. 100.000,00.
Sekiranya hasil perkalian dari tagihan tersebut kurang dari Rp. 50.000,00,
maka jumlah cicilan bulan yang bersangkutan minimum Rp. 50.000,00.
Misalnya jumlah tagihan sebesar Rp.200.000,00, maka jumlah cicilan
66
Dahlan Siamat. Op.cit. hal. 401.
adalah 10 % x Rp. 200.000,00 = Rp. 20.000,00. Karena jumlah tersebut
kurang dari RP. 50.000,00, maka pemegang kartu harus mencicil minimal
Rp. 50.000,00. Apabila card holder melakukan melampaui kredit limit,
smaka pembayaran minimum adalah sebanyak kelebihan dari kredit limit
ditambah 10 % dari total kredit limit. Pembayaran tersebut sudah harus
dilakukan paling lambat pada tanggal jatuh tempo setiap bulan yang
ditetapkan oleh issuer untuk setiap pemegang kartu. Keterlambatan
pembayaran akan mengakibatkan kena denda keterlambatan atau late
charge. Kartu kredit dapat digunakan pula untuk melakukan penarikan
uang tunai baik langsung melalui teller pada kantor bank yang
bersangkutan maupun ATM (automated teller maschine) di mana ada
tertera logo atau nama kartu yang dimiliki, baik di dalam maupun di luar
negeri. Kartu kredit yang umum digunakan dalam transaksi ini adalah Visa
dan Master Card.
2. Charge Card
Charge Card adalah kartu yang dapat digunakan sebagai alat
pembayaran suatu transaksi jual beli barang atau jasa dimana nasabah
harus membayar kembali seluruh tagihan secara penuh pada akhir bulan
atau bulan berikutnya dengan atau tanpa biaya tambahan. Misalnya, total
nilai transaksi pada bulan sebelumnya adalah Rp. 1.000.000,00, maka pada
saat tagihan diterima dari perusahaan kartu maka jumlah tagihan tersebut
(atau ditambah biaya lainnya bila ada) harus dibayar seluruhnya paling
lambat pada tanggal jatuh tempo pembayaran setiap bulan yang
sebelumnya telah ditetapkan oleh issuer.
3. Debit Card
Debit Card berbeda dengan kedua kartu plastik yang telah disebutkan
di atas. Pembayaran atas transaksi jual beli barang atau jasa dengan
menggunakan kartu debit ini pada prinsipnya merupakan transaksi tunai
dengan tidak menggunakan uang tunai akan tetapi pelunasannya atau
pembayarannya dilakukan dengan cara mendebit (mengurangi) secara
langsung saldo rekening simpanan pemegang kartu yang bersangkutan dan
dalam waktu yang sama mengkredit rekening penjual (merchant) sebesar
jumlah nilai transaksi pada bank penerbit (pengelola).
Mekanisme
pembayaran
dengan
debit
card
yang
sedang
dikembangkan saat ini adalah pemegang kartu menyerahkan kartu
debitnya pada kasir di counter penjualan (at the point of sales). Kemudian
dengan menggunakan alat elektronik yang on line dengan bank, saldo
rekening pemegang kartu akan langsung terlihat pada monitor yang
selanjutnya akan didebit sebesar jumlah nilai transaksinya dengan
mengkredit rekening merchant. Seperti halnya dengan kartu kredit, jenis
kartu debit ini dapat digunakan pula untuk menarik uang tunai baik
melalui counter bank maupun melalui mesin kas otomatis atau ATM yang
berfungsi sebagai cash card.
4. Cash Card
Cash Card pada dasarnya adalah kartu yang memungkinkan
pemegang kartu untuk menarik uang tunai baik langsung pada kasir bank
maupun melalui ATM bank tertentu yang biasanya tersebar di tempattempat strategis, misalnya di hotel, ,pusat-pusat perbelanjaan dan wilayah
perkantoran. Dengan melakukan perjanjian kerja sama terlebih dahulu,
pemegang cash card salah satu bank dapat pula menggunakannya pada
bank lainnya.
Jadi berbeda dengan tiga kartu plastik yang telah dijelaskan terdahulu,
cash card tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran dalam
melakukan transaksi jual beli barang atau jasa sebagaimana dengan credit
card, debit card, atau charge card.
Penerbitan kartu khusus untuk tujuan penarikan uang tunai dari bank
ini pada dasarnya hanya untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan
kepada nasabah yang sebelumnya telah memiliki simpanan di bank yang
bersangkutan. Beberapa bank telah memberikan pelayanan ATM 24 jam.
Bank biasanya menentukan limit uang tunai yang dapat ditarik atau
ditransfer melalui ATM misalnya, secara harian atau mingguan.
Tergantung bagaimana perjanjian bank dengan nasabah pemegang kartu.
Untuk melakukan penarikan melalui ATM tersebut pemegang kartu
diberikan nomor identifikasi pribadi (personal identification number) PIN
dan untuk demi keamanan, pemegang kartu harus menjaga kerahasiaan
PIN tersebut.
Kartu ini memungkinkan pemegangnya menarik uang tunai dengan
cara yang sangat cepat, mudah, dan praktis tanpa komunikasi sama sekali
dengan petugas bank, cukup dengan memasukkan kartu pada ATM dan
memasukkan PIN melalui tombol-tombol pada keyboard ATM. Di
samping pelayanan penarikan uang tunai, maka cash card dengan melalui
ATM beberapa fungsi bank dapat pula dilakukan antara lain meminta
informasi saldo rekening. Informasi tersebut lengkap dengan tanggaltanggal mutasi debit-kredit bisa dilihat langsung melalui monitor atau atas
instruksi, informasi tersebut dapat langsung di-print out. Dengan semakin
canggihnya perkembangan teknologi, pemegang kartu dapat pula
melakukan transfer antar rekening secara global dengan electronic fund
transfer, EFT.
Cash card saat ini di Jakarta telah banyak dikeluarkan oleh bank yang
telah memiliki fasilitas ATM. Semakin banyak jumlah dan luas jaringan
on line ATM ini akan semakin memudahkan pelayanan nasabah. Misalnya
seorang nasabah pemegang cash card yang memiliki rekening tabungan di
suatu Bank di Blok M Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan
menggunakan cash card, pemegang kartu tersebut dapat melakukan
penarikan langsung uang tunai mellalui ATM di Ujung Pandang atau kotakota lain di mana memungkinkan penggunaan kartunya pada ATM bank
yang bersangkutan.
5. Check Guarante Card
Kartu ini pada prinsipnya dapat digunakan sebagai jaminan dalam
penarikan cek oleh pemegang kartu. Kartu jenis ini sangat populer di
Eropa
terutama
Inggris.
Di
samping
itu,
kartu
tersebut
dapat
juga digunakan dalam melakukan penarikan uang melalui ATM.
b. Berdasarkan Wilayah Berlakunya
Dilihat dari wilayah berlakunya, kartu plastik ini dapat dibedakan antara
kartu plastik yang berlaku secara domestik (lokal) dan Internasional.
1. Kartu Plastik Lokal
Kartu plastik lokal merupakan kartu plastik yang hanya berlaku dan
dapat digunakan di suatu wilayah tertentu saja, misalnya Indonesia.
Dengan semakin pesatnya penggunaan kartu plastik ini menyebabkan
beberapa perusahaan pengecer dan perusahaan jasa penerbit kartu plastik
sendiri (umumnya charge card) guna memberikan pelayanan yang lebih
mudah dan praktis bagi nasabahnya, misalnya Hero, Astra Card, Golden
Truly, Garuda Executive Card.
2. Kartu Plastik Internasional
Kartu Plastik Internasional adalah kartu yang dapat digunakan dan
berlaku sebagai alat pembayaran Internasioanl. Pasar kartu kredit
internasional dewasa ini didominasi oleh dua merek kartu yang telah
memiliki jaringan antar benua, yaitu Visa dan Master Card. Kedua merek
kartu tersebut masing-masing telah memiliki lebih dari 100 juta pemegang
kartu yang tersebar di kota-kota seluruh dunia dan dapat digunakan untuk
melakukan transaksi hampir di semua kota. Pemegang kedua kartu
tersebut lebih dari separuhnya dipegang oleh penduduk Amerika Serikat.
Selebihnya Jepang, Inggris, Kanada, dan sebagian kecil negara-negara
lainnya.
Kartu
kredit
Internasional
yang
dapat
dipergunakan
untuk
melakukan transaksi di berbagai tempat di dunia adalah sebagai berikut:
a) Visa
Visa adalah kartu kredit Internasional yang dimiliki oleh perusahaan
kartu Visa International. Pelaksanaan operasionalnya berdasarkan
lisensi dari Visa Internasional dengan sistem franchise.
b) Master Card
Kartu kredit ini dimiliki oleh Master Card Internasional dan beroperasi
berdasarakan lisensi dari Master Card International.
c) Dinners Club
Diners Club dimiliki oleh Citicorp. Cara operasinya dilakukan dengan
cara mendirikan subsidiary atau dengan cara franchise.
d) Carte Blanc
Kartu ini juga dimiliki oleh Citicorp dan beroperasi persis sama
dengan Dinners Club yaitu dengan membentuk subsidiary atau dengan
franchise.
e) American Express
Kartu kredit ini dimiliki oleh American Express Travel Related
Services Incorporated dan beroperasi dengan mendirikan subsidiary.
American Express ini pada prinsipnya adalah charge card namun
dapat memberikan fasilitas credit line kepada pemegang kartu.
c. Berdasarkan Affiliasinya
1) Co-Branding Card, yaitu kartu plastik yang dikeluarkan atas kerjasama
antara institusi pengelola kartu kredit dengan satu atau beberapa bank,
contoh : Visa dan Masdter Card.
2) Affinity Card, yaitu kartu plastik yang digunakan oleh sekelompok atau
golongan tertentu, misalnya kelompok profesi, kelompok mahasiswa dan
lain-lain, contoh : Ladies Card, IMA Card, Bankers Card dan lain-lain.
Ciri-Ciri Kartu Kredit
Dari berbagai macam kartu kredit yang diterbitkan oleh pengelola kartu
kredit di Indonesia, terdapat ciri-ciri umum yang sama antar satu dengan yang
lain, yaitu :67
a. Tampak Muka :
1) Nomor kartu
2) Masa berlaku
3) Nama pemegang kartu
4) Logo dan nama dari bank penerbit
5) Nomor identifikasi dari bank penerbit.
6) Hologram (gambar tiga dimensi) khususnya untuk : Master Card, Visa,
Astra Card, BCA Card.
67
Juklak POLRI, Op. Cit, hal. 4.
b. Tampak Belakang
1) Signature Panel (Panel tanda tangan)
2) Magnetic Stripe
3) Debosing number (nomor yang dicetak tenggelam) yang sama dengan
tercetak di depan.
Ciri-ciri tersebut diatas bukanlah merupakan ciri-ciri yang hanya terdapat
pada kartu kredit, karena sebagaian dari ciri-ciri tersebut dapat ditemukan
pada beberapa macam kartu yang diterbitkan oleh bank atau lembaga
keuangan lain, misalnya: kartu ATM, Discount Card, dan lain-lain. Namun
karena penggunaan kartu kredit didasarkan perjanjian antara pihak-pihak
terkait, maka yang membedakan kartu kredit dengan kartu lain yang
mempunyai ciri-ciri yang sama, adalah bahwa hanya pemegang kartu kredit
yang akan memperoleh fasilitas kredit sesuai dengan perjanjian dimaksud.
2.2.3 Pihak-Pihak Yang Terkait Dan Syarat Pemegang Kartu Kredit
Dalam
industri
kartu
kredit,
adapun
pihak-pihak
yang
terkait
didalamya, antara lain :
a. Issuer Card, merupakan pihak atau lembaga yang mengeluarkan dan
mengelola suatu kartu. Penerbit dapat berupa bank, lembaga keuangan lain
dan perusahaan non lembaga keuangan. Perusahaan yang khusus menerbitkan
kartu kredit hams terlebih dahulu memperoleh ijin dari Departemen
Keuangan. Apabila penerbit adalah bank, maka harus mengikuti ketentuan
dari Bank Indonesia. Selanjutnya dalam tesis ini, Issuer Card disebut sebagai
Penerbit.
b. Acquirer, adalah lembaga yang mengelola penggunaan kartu kredit, terutama
dalam hal pembayaran kepada pedagang (merchant) dan menagih kepada
pihak issuer yang tidak berhubungan langsung dengan pedagang. Acquirer
juga sering disebut dengan istilah Pengelola.
c. Cardholder/Cardmember/Pemegang Kartu, adalah seorang atau nasabah yang
telah memenuhi prosedur dan persyaratan yang telah ditetapkan sehingga
berhak untuk memegangkartu kredit dan menggunakannya sesuai dengan
syarat-syarat yang telah ditentukan.
d. Merchant/Pedagang, adalah pedagang ayang telah ditunjuk /disetujui oleh
pihak Pengelola untuk dapat melakukan transaksi dengan Pemegang Kartu
yang menggunakan kartu kredit sebagai pengganti uang tunai.
Hubungan hukum dari keempat pihak tersebut, dapat dilihat pada gambar di
bawah ini
PENERBIT/PENGELOLA
(Issuer/Acquier)
PERJANJIAN
PEDAGANG
PERJANJIAN
TRANSAKSI
Adapun prosedur untuk mendapatkan kartu kredit, antara lain :
PEMEGANG
(CARD HOLDER)
1. Dari sisi pemegang
Calon pemegang diwajibkan mengisi formulir permohonan dan harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Bila calon pemegang adalah seorang pengusaha, maka syarat yang
diperlukan adalah:
1) K.T.P. atau Pasport
2) Rekening koran selama 3 (tiga) bulan
3) Akte pendirian perusahaan atau S.I.U.P.
b. Bila calon pemegang adalah seorang karyawan, maka syarat yang
diperlukan adalah :
1) K.T.P. atau Pasport.
2) Keterangan gaji dan masa kerja dari perusahaan tempat pemohon
bekerja.
c. Bila
calon
pemegang
adalah
Dokter,
Pengacara,
Akuntan
dan
sebagainya, maka syarat yang diperlukan adalah :
1) K.T.P. atau Pasport.
2) Rekening korang selama 3 (tiga) bulan.
3) Surat ijin praktek.
2. Dari sisi Penerbit
Permohonan kartu kredit tersebut diproses dengan memperhatikan segi
keamanan, antara lain :
a. Memeriksa keaslian dari KTP/Pasport yang ada.
b. Melakukan crosschecking (rating) kepada penerbit lain apabila pemohon
mempunyai kartu kredit lain
c. Melakukan penelitian dalam daftar hitam BI atau AKKI
d. Pihak penerbit akan melakukan penyelidikan lapangan.
e. Meneliti data rekening/tabungan dan keterangan gaji yang ada untuk
menetapkan apakah pemohon layak diberikan kartu kredit.
Penerbit berhak menetukan apakah calon pemegang layak mendapatkan
kartu kredit atau menolak keanggotaan tanpa memberitahukan alasannya. Bila
disetsujui maka akan terjadi proses sebagai berikut:
a. Bagian analisa kredit akan mengirimkan data calon pemegang ke bagian
data entry untuk dilakukan pemasukan data ke dalam data base bank
termasuk pagu kredit yang disetujui.
b. Dilakukan pengecekan silang terhadap data yang dimasukkan dengan
formulir permohonan calon pemegang.
c. Selanjutnya bagian pencetakan kartu mencetak kartu kredit sesuai dengan
daftar permintaan pencetakan (bila terjadi kesalahan dalam pencetakan,
kartu
kredit tersebut
akan dimusnahkan dengan suatu berita acara
pemusnahan).
d. Kartu yang sudah dicetak disimpan pada tempat penyimpanan khusus dan
tercatat yang selanjutnya dikirimkan ke bagian pengiriman kartu.
e. Bagian pengiriman akan mengirimkan kartu kepada pemegang melalui
ekspedisi (kurir) yang ditunjuk melalui suatu perjanjian khusus. Pihak
ekspedisi akan memberikan bukti penerimaan kartu kepada bagian
pengiriman (pihak bank) setelah kartu diterima oleh pemegang kartu. Bila
dalam jangka waktu tertentu kartu tidak dapat disampaikan kepada
pemegang kartu karena pemegang kartu keluar kota, tidak ada di tempat
atau pindah alamat, maka kartu tersebut akan dikembalikan ke bank untuk
disimpan dan selanjutnya pihak bank akan mengirimkan pemberitahuan
kepada pemegang kartu untuk mengambil kartu tersebut di kantor
penerbit.
2.2.4 Mekanisme, Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Kartu Kredit
Adapun mekanisme dalam penggunaan kartu kredit, adalah sebagai berikut:
a. Pemegang
menggunakan kartu kredit dengan
melakukan transaksi
pada pedagang yang telah ditunjuk oleh pengelola.
b. Pedagang dalam hal menerima transaksi kartu kredit harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1) Phisik kartu kredit harus berada ditangan pedagang dan pedagang
harus meneliti keaslian kartu kredit tersebut dan mencocokkannya
dengan ciri-ciri kartu kredit yang diajarkan kepada pedagang.
2) Pemegang harus ada ditempat transaksi.
3) Dikaitkan dengan nilai
transaksi yang
terjadi,
terdapat dua
kemungkinan :
a) Apabila pedagang telah diberikan alat otorisasi berupa EDC/POS,
maka pedagang harus melalakukan otorisasi dengan menggunakan
alat tersebut tanpa melihat nilai transaksi.
b) Apabila
pedagang
tidak
diberikan
alat
otorisasi
berupa
EDC/POS maka pedagang diberikan batas kewenangan transaksi
(floor limit) yang jumlahnya bervariasi sesuai dengan perjanjian
antara pedagang dan penerbit, yaitu ;
b).1. Jika nilai transaksi di bawah floor limit maka pedagang dapat
langsung melakukan transaksi tanpa otorisasi, setelah
memeriksa Daftar Hitam yang dikeluarkan secara berkala
(seminggu sekali) oleh penerbit.
b).2. Jika nilai transaksi diatas floor limit maka pedagang wajib
melakukan otorisasi dengan menghubungi pengelola dengan
menggunakan telepon.
Otorisasi adalah : suatu pengesahan dari penerbit atas nomor kartu
kredit dan nilai transaksi yang diajukan oleh pedagang. Karena
pedagang adalah pihak yang melihat secara phisik kartu kredit
yang digunakan untuk melakukan transaksi, maka pedaganglah
yang melihat kejanggalan yang terdapat pada kartu kredit. Dengan
demikian otorisasi yang diberikan penerbit tidak menjamin
keabsahan kartu kredit karena penerbit/pengelola tidak melihat
kartu kredit secara phisik.
c) Selanjutnya pedagang akan menagih transaksi yang terjadi kepada
pengelola. Jumlah tagihan dikurangr discount rate yang telah
ditetapkan sebelumnya. Misalkan jumlah transaksi sebesar
Rp. 1.000.000,- dan discount rate sebesar 5%, maka jumlah yang
dibayarkan oleh pengelola kepada pedagang adalah sebesar
Rp. 950.000,-.
d) Kemudian pengelola aka menagih kepada pihak penerbit sebesar
nilai transaksi setelah dikurangi inter change fee yang telah
disepakati sebelumnya. Sebagai contoh, besar inter change fee
adalah 2%, maka jumlah yang ditagihkan oleh pengelola kepada
penerbit ialah sebesar Rp.980.000,-, dengan demikian pihak
pengelola telah mendapat bagian sebesar Rp. 30.000,-
(Rp.
980.000,- -Rp.950.000,-).
e) Pada tanggal yang telah ditetapkan, pihak penerbit akan menagih
kepada pemegang sejumlah nilai transaksi yang sesungguhnya.
Dalam contoh tersebut ialah sebesar Rp. 1.000.000,- dengan
demikian, pihak penerbit mendapat bagian sebesar Rp. 20.000,(Rp. 1.000.000,- - Rp. 980.000,-). Melihat mekanisme seperti yang
terjadi diatas (Point 3 s/d 5) maka pihak pengelola/penerbit adalah
pihak yang paling besar menanggung resiko yang timbul akibat
penyalahgunaan kartu kredit.
f) Jika jenis kartu tersebut ialah credit card, maka pemegang wajib
untuk membayar sebagian dari seluruh jumlah tagihan. Besarnya
jumlah minimum payment yang wajib dibayar atau yang biasa
disebut sebagai telah ditetapkan oleh penerbit. Sisa tagihan yang
belum dilunasi akan dikenakan interest atau bunga sebesar yang
telah ditepakan oleh penerbit.
Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Kartu Kredit
Setiap nasabah yang memegang kartu kredit selalu mendambakan berbagai
kemudahan dan keuntungan lainnya. Hal ini sesuai dengan tujuan penggunaan
kartu kredit tersebut. Agar para nasabah tidak terjebak dalam berbagai masalah
dengan memegang kartu yang diperolehnya, maka pemilihan untuk memegang
kartu perlu lebih hati-hati, karena setiap jenis kartu memiliki keuntungan dan
kerugian masing-masing.68
Cara memilih jenis kartu yang baik dapat dilihat dari berbagai segi, setiap
kartu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Secara umum
kartu kredit dikatakan baik apabila :
1. Persyaratan untuk memperoleh kartu kredit relatif ringan.
2. Proses cepat dan mudah serta tidak bertele-tele.
3. Mempunyai
jaringan
yang
luas,
sehingga
dengan
mudah
dapat
dibelanjakan di berbagai tempat yang diinginkan.
4. Biaya penggunaan yang relatif rendah seperti uang iuran tahunan dan bunga
yang dibebankan ke pemegang kartu.
5. Kartu harus dapat digunakan dengan multi fungsi.
6. Penggunaan kartu memberikan rasa bangga kepada pemakainya. Adapun
keuntungan dari penggunaan kartu kredit adalah :
Bagi nasabah pemegang kartu dengan memiliki kartu kredit, baik yang
dikeluarkan oleh bank maupun lembaga pembiayaan diharapkan akan
memberikan berbagai keuntungan,demikian pula bagi lembaga penerbit kartu
68
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. (Edisi Revisi 2001), PT. Raja Grafindo
Persada Jakarta, 2001, hal. 307.
kredit tersebut. Oleh karena itu penggunaan kartu kredit dalam setiap transaksi
akan memberikan berbagai keuntungan kepada berbagai pihak walaupun dalam
prkateknya terdapat juga kerugian.
Keuntungan yang diperoleh, antara lain :
1. Keuntungan bagi bank atau lembaga pembiayaan.
a. Iuran tahunan yang
perolehannya
sangat
dikenakan
besar
kepada setiap pemegang
setiap
tahunnya.
Semakin
kartu,
banyak
pemegang kartu maka semakin banyak pula iuran yang akan
diperolehnya.
b. Bunga yang dikenakan saat berbelanja.
c. Biaya administrasi yaitu biaya yang dibebankan kepada setiap
pemegang kartu yang akan menarik uang tunai di ATM.
d. Biaya denda terhadap keterlambatan pembayaran disamping bunga.
2. Keuntungan bagi pemegang kartu kredit,antara lain :
a. Kemudahan berbelanja dengan cara kredit, menjadi nasabah tidak perlu
membawa uang tunai untuk melakukan transaksi.
b. Kemudahan memperoleh uang tunai selama 24 jam dan 7 hari dalam
seminggu diberbagai tempat-tempat strategis, sehingga memudahkan
untuk
memenuhi keperluan uang tunai
yang mendadak.
c. Bagi sebagian kalangan memegang kartu kredit memberikan kesan
bonafiditas, sehingga memberikan kebanggaan sendiri.
3. Keuntungan bagi pedagang (merchant}, yaitu :
a. Dapat meningkatkan omset penjualan, hal ini disebabkan adanya minimal
pembelanjaan serta akibat pemegang kartu merasa tidak membayar dengan
tunai sehingga menggunakan sekehendaknya, maka biasanya pemegang
kartu boros.
b. Sebagai bentuk pelayanan yang diberikan kepada para pelanggannya,
sehingga pelanggan selalu kembali untuk melakukan hal yang sama secara
berulang-ulang. Sedangkan dalam hal kerugian, memang merupakan suatu
resiko yang pasti ada dalam setiap kegiatan, dimana kerugian itu tidak
hanya ada pada pihak bank atau lembaga pembiayaan tetapi juga ada pada
pemegang kartu kredit.
Adapun kerugian dimaksud, antara lain :
1. Kerugian bagi bank atau lembaga pembiayaan. Jika terjadi kemacetan
pembayaran oleh nasabah yang berbelanja atau mengambil uang tunai, sulit
untuk ditagih mengingat persetujuan penerbitan kartu kredit biasanya tanpa
jaminan benda-beda berharga sebagaimana layaknya kredit. Bahkan jaminan
hanya dengan jaminan bukti penghasilan saja sudah cukup untuk memperoleh
kartu kredit.
2. Kerugian bagi nasabah pemegang kartu kredit.
a. Biasanya nasabah agak boros dalam berbelanja,hal ini karena nasabah
merasa tidak mengeluarkan uang tunai untuk berbelanja, sehingga kadangkadang ada hal-hal yang sebetulnya tidak perlu, dibeli juga.
b. Sebagian
pedagang (merchant) membebankan biaya tambahan untuk
setiap kali melakukan transaksi.
c. Adanya limit yang diberikan terkadang terlalu kecil.
BAB III
RELEVANSI PEMBARUAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK
PIDANA PENYALAHGUNAAN KARTU KREDIT
3.1
Tindak Pidana Pemalsuan Kartu kredit Dalam KUHP
Negara hukum merupakan istilah yang meskipun kelihatan sederhana
namun mengandung muatan sejarah pemikiran yang relatif panjang. Negara
hukum adalah istilah Indonesia yang terbentuk dari 2 suku kata yaitu negara
dan hukum. Padanan kata ini menunjukkan bentuk dan sifat yang saling isimengisi antara negara di satu pihak dan hukum dipihak lain.69 HAM sebagai
bagian tak terpisahkan dari konsep negara hukum berimplikasi pada adanya
pengakuan konstitusional bahwa jaminan perlindungan HAM merupakan
elemen esensial konstruk Indonesia modern.70 Individu/ perorangan dengan
hak asasinya dapat didekati lebih dahulu lewat hukum internasional, karena
individu selain diakui sebagai subjek hukum internasional juga subjek
hukum nasional, sehingga memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab
formal dan jelas.71
Kejahatan kartu kredit memerlukan proses hukum yang adil. Menurut
Mardjono Reksodiputro, proses hukum yang adil adalah lebih jauh dari
69
Majda El Muhtaj, 2008, Dimensi-dimensi HAM Mengurai Hak Ekonomi Sosial dan Budaya,
RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal 46-47.
70
71
Ibid, hal. 59.
Masykur Effendi, 2005, Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia (HAM) Proses
Dinamika Penyusunan Hukum HAM (HAKHAM), Ghalia Indonesia, Bogor, hal. 67.
sekedar penerapan hukum atau perundang-undangan formal. Dalam
pengertian proses hukum yang adil terkandung penghargaan akan
kemerdekaan seorang warga negara. Dengan demikian, meskipun warga
masyarakat telah melakukan suatu perbuatan tercela (tindak pidana), hakhaknya sebagai warga negara tidaklah hapus atau hilang.72
Disinilah letak pentingnya memperjuangkan tegaknya hak-hak
tersangka/ terdakwa untuk didengar, didampingi penasehat hukum dan
diberi kesempatan untuk membela diri serta dibuktikan kesalahannya di
depan pengadilan yang jujur dan tidak memihak.73 Dalam konteks negara
hukum, hak-hak ini dapat diperoleh dengan penerapan hukum dan
argumentasi hukum yang baik dalam kasus kejahatan kartu kredit.
Dalam hukum pidana modern yang bercirikan orientasi pada pelaku
dan perbuatan (daad-daderstrafsrecht), sanksi pidana ini tidak lagi hanya
meliputi pidana (straf, punishment) yang bersifat penderitaan, akan tetapi
juga tindakan tata tertib (maatregel, treatment)
yang secara relative
bermuatan pendidikan.74
Istilah tindak pidana merupakan istilah teknik yuridis yang berasal dari
terjemahan delict atau strafbaar feit disamping istilah lainnya seperti
72
Mardjono Reksodiputro, 1994, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Pusat
Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, Lembaga Kriminologi UI, Jakarta, hal 28.
73
Heri Tahir, 2010, Proses Hukum yang Adil Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia,
Laksbang Pressindo, yogyakarta, hal. 120.
74
Muladi. Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana, BP UNDIP.
Semarang.1997.hal.151
peristiwa pidana, perbuatan pidana, pelanggaran pidana, perbuatan yang
dapat dihukum dan perbuatan yang boleh dihukum.
Moeljatno
dalam
bukunya
tentang
azas-azas
hukum
pidana
memberikan definisi tindak pidana yaitu:
“Perbuatan yang oleh aturan hukum pidana dilarang dan diancam
dengan pidana, barang siapa yang melanggar larangan tersebut”75
Berdasarkan pengertian tersebut M.Sudrajat Bassir
memberikan
komentar bahwa menurut wujud atau sifatnya perbuatan-perbuatan pidana
adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum. Perbuatan-perbuatan ini
juga merugikan masyarakat dalam arti bertentangan atau menghambat
terlaksananya tata cara dalam pergaulan masyarakat yang dianggap baik dan
adil. Sehingga suatu perbuatan akan menjadi suatu tindak pidana apabila
perbuatan tersebut :
1. Melawan hukum
2. Merugikan masyarakat
3. Dilarang oleh aturan pidana
4. Pelakunya diancam dengan pidana.76
Dalam kaitannya dengan tindak pidana di bidang perbankan, khususnya
dalam tindak pidana pemalsuan, dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 263 KUHP,
yaitu :
75
76
Moeljatno, 1980, Azas-azas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, hal.1
Sudrajat Bassir M, 1986, Tindak-Tindak Pidana Tertentu didalam KUHP, Remadja Karya,
Bandung, hal.2
(1)
(2)
Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat
menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau
yang dapat diperuntukkan sebagai bukti dari pada sesuatu hal dengan
maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai suratsurat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, diancam juga
pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan
surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun;
Dipidana dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja
memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika
pemakaian surat itu dapat menimbuikan kerugian.77
Untuk lebih jelasnya akan diuraikan unsur-unsur yang terdapat dalam pasal
263 KUHP. Rumusan pada ayat (1) terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
a. Unsur-unsur obyektif
1) Perbuatan :
a) membuat palsu;
b) memalsu;
2) Obyeknya : yakni surat:
a) yang dapat menimbulkan suatu hak;
b) yang menimbulkan suatu perikatan;
c) yang menimbulkan suatu pembebasan hutang;
d) yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal;
3) Dapat menimbulkan kerugian akibat dari pemakaian surat tersebut.
b. Unsur Subyektif : dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang
lain memakai seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu.
Sedangkan ayat (2) mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
a. Unsur-unsur obyektif:
77
98.
Adami Chazawi, 2000, Kejahatan Terhadap Pemalsuan, PT. Raja Grafindo Persada, hal.
1) Perbuatan : memakai;
2) Obyeknya :
a) surat palsu;
b) surat yang dipalsukan;
3) Pemakaian surat tersebut dapat menimbulkan kerugian;
b. Unsur subyektif : dengan sengaja.
Surat (geschrift) adalah suatu
lembaran kertas yang diatasnya
terdapat tuiisan yang terdiri dari kalimat dan huruf termasuk angka
yang mengandung /berisi buah pikiran atau-makna tertentu, yang dapat
berupa tuiisan dengan tangan, dengan mesin ketik, printer komputer,
dengan mesin cetakan dan dengan alat dan cara apapun. Membuat
surat palsu (membuat palsu valselijk opmaaken sebuah surat) adalah
membuat sebuah surat yang seluruh atau sebagian isinya palsu. Palsu
artinya tidak benar atau bertentangan dengan yang sebenarnya.
Membuat surat palsu ini dapat berupa :
1. Membuat sebuah surat yang sebagian atau seluruh isi surat tidak sesuai
atau bertentangan dengan kebenaran. Membuat surat palsu yang
demikian
disebut
dengan
pemalsuan
intelektual
(intelectuele
valshheid).
2. Membuat sebuah surat yang seolah-olah surat itu berasal dari orang
lain selain si pembuat surat. Membuat surat palsu yg demikian ini
disebut pemalsuan materiil (materiele Valshheid}. Palsunya surat atau
tidak benarnya surat lerletak pada asalnya atau si pembuat surat.78
terhadap sebagian atau seluruh isi surat, dapat juga pada tanda tangan
si pembuat surat. Misalnya si pembuat dan yang bertanda tangan
dalam surat bernama Parikun, diubah tanda tangannya menjadi tanda
tangan orang lain yang bernama Panirun.
Dalam hal ini ada suatu arrest HR (14-4-1913) yang menyatakan
bahwa "barang siapa di bawah suatu tulisan membubuhkan tanda
tangan orang lain sekalipun atas perintah dan persetujuan orang
tersebut telah memalsukan tulisan itu.79
Perbedaan prinsip antara perbuatan membuat surat palsu dan
memalsu surat adalah, bahwa membuat surat palsu/membuat palsu
surat, sebelum perbuatan dilakukan, belum ada surat, kemudian dibuat
suatu surat yang isinya sebagian atau seluruhnya adalah bertentangan
dengan kebenaran atau palsu. Seluruh tulisan dalam surat itu
dihasilkan oleh perbuatan membuat surat palsu.Surat yang demikian
disebut dengan surat palsu atau surat tidak asli.
Tidak demikian halnya dengan perbuatan memalsu surat, sebelum
perbuatan ini dilakukan, sudah ada sebuah surat yang disebut surat asli.
Kemudian pada surat yang asli ini, terhadap isinya (termasuk tanda
tangan dan nama si pembuat asli) dilakukan perbuatan memalsu yang
78
Ibid, hal. 100
79
Ibid
akibatnya surat yang semula benar menjadi surat yang sebagian atau
seluruh isinya tidak benar dan bertentangan dengan kebenaran atau
palsu. Surat yang demikian disebut dengan surat yang dipalsu. Tidak
semua surat dapat menjadi obyek pemalsuan surat, melainkan terbatas
pada 4 macam surat yakni :
1. Surat yang menimbulkan suatu hak.
2. Surat yang menimbulkan suatu perikatan.
3. Surat yang menimbulkan pembebasan hutang.
4. Surat yang diperuntukkan bukti mengenai sesuatu hal
Walaupun pada umumnya sebuah surat tidak melahirkan secara
langsung adanya suatu hak, melainkan hak itu timbul dari adanya
perikatan hukum (perjanjian) yang tertuang dalam surat itu, tetapi ada
surat-surat tertentu yang disebut surat formil yang langsung
menimbulkan suatu hak tertentu, misalnya cek, bilyet giro, wesel, surat
izin mengemudi, ijazah dan lain sebagainya.
Mengenai unsur "surat yang diperuntukkan sebagai bukti akan
adanya sesuatu hal", ada 2 hal yang perlu dibicarakan, yakni :
1. Mengenai diperuntukkan sebagai bukti.
2. Tentang sesuatu hal.
Sesuatu hal, adalah berupa kejadian atau peristiwa tertentu baik
yang karena diadakan (misalnya perkawinan) maupun karena peristiwa
alam (misalnya kelahiran atau kematian), peristiwa mana mempunyai
suatu akibat hukum. HR dalam suatu arrestnya (22-10-1923)
menyatakan bahwa : "yang diperhatikan sebagai bukti sesuatu hal
adalah kejadian yang menurut hukum mempunyai pengaruh, jadi
yang
berpengaruh terhadap hubungan hukum orang-orang yang
bersangkutan". 80
Sedangkan yang dimaksud dengan bukti adalah karena sifatnya
surat itu memilki kekuatan pembuktian (bewijskracht). Siapa yang
menentukan bahwa adanya kekuatan pembuktian atas sesuatu hal
dalam sebuah surat itu ? Dalam hal ini bukan pembuat yang dapat
menentukan demikian, melainkan Undang-Undang atau kekuasaan tata
usaha negara.
Dalam Undang-Undang seperti pasal 1870 KUHP Perdata yang
menyatakan bahwa akta otentik bagi para pihaknya beserta ahli
warisnya atau orang-orang yang mendapatkan hak daripada mereka
merupakan bukti sempurna tentang apa yang dimuat didalamnya.
Surat-surat yang masuk dalam akta otentik dan mempunyai
kekuatan pembuktian sempurna akan sesuatu hal adalah surat-surat
yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berwenang dan dalam
bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang. Surat yang memiliki
kekuatan pembuktian sempurna seperti ini misalnya surat nikah, akta
kelahiran, vonis hakim, sertifikat hak atas tanah dan lain sebagainya.
Sedangkan kekuatan pembuktian atas surat-surat oleh kekuasaan
tata usaha negara, misalnya buku kas, rekening koran atau rekening
80
Ibid, Hal. 155
giro dalam suatu bank, surai kelakuan baik, surat angkutan, faktur dan
lain sebagainya.
Mengenai (a) diperuntukkan sebagai bukti dan (b) mengenai
sesuatu hal adalah berupa dua unsur yang tidak terpisahkan. Sebuah
surat yang berisi tentang suatu hal atau suatu kejadian tertentu, dimana
kejadian itu mempunyai pengaruh bagi yang bersangkutan, misalnya
perkawinan yang melahirkan hak dan kewajiban antara suami dan istri,
dalam praktik diberi suatu nama tertentu. Misalnya surat yang dibuat
untuk membuktikan adanya suatu kejadian perkawinan diberi nama
surat kawin atau akta nikah. Surat-surat semacam ini dibuat memang
diperuntukkan untuk membuktikan adanya kejadian tertentu itu.
Dalam surat-surat semacam ini selain di dalamnya menyatakan
tentang kejadian tertentu itu atau dapat juga disebut sebagai isi pokok
dari surat itu, juga memuat tentang keadaan-keadaan atau hal lain
tertentu yang ada sekitar atau berhubungan dengan kejadian sebagai isi
pokok surat yang harus dibuktikan oleh surat itu. Misalnya surat
kematian isi pokoknya atau kejadian yang harus dibuktikan oleh surat
itu adalah adanya kematian dari seseorang tertentu. Adakalanya dalam
surat itu dicantumkan juga sebab kematiannya, misalnya karena
penyakit TBC. Keterangan tentang sebab kematiannya bukanlah
termasuk dalam pengertian unsur hal atau kejadian yang harus
dibuktikan oleh akta kematian itu. Demikian juga dalam akta
kelahiran, walaupun didalamnya disebutkan kelahiran seorang bayi
dari suami istri bernama tertentu, akta kelahiran itu tidak untuk
membuktikan tentang sahnya perkawinan antara ibu dan bapak si bayi.
Unsur kesalahan dalam pemalsuan surat pada ayat (1), yakni
dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai
surat palsu atau surat dipalsu itu seolah-olah isinya benar dan tidak
dipalsu. Maksud yang demikian sudah harus ada sebelum atau setidaktidaknya pada saat akan memulai perbuatan itu.
Pada unsur/kalimat "seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu"
mengandung makna :
1. Adanya orang-orang yang terperdaya dengan digunakannya suratsurat yang demikian.
2. Surat itu berupa alat yang digunakan untuk memperdaya orang,
orang mana adalah orang yang menganggap surat itu asli dan tidak
dipalsu, yakni orang terhadap siapa maksud surat itu digunakan,
bisa orang-orang pada umumnya dan bisa juga orang tertentu.
Unsur lain daripada pemalsuan surat dalam ayat (1) ialah jika
pemakaian surat palsu atau surat dipalsu tersebut dapat menimbulkan
kerugian. Kerugian yang timbul tidak perlu diinginkan/dimaksud
petindak Dalam unsur ini terkandung pengertian bahwa :
1. Pemakaian surat belum diiakukan, hal ini ternyata dari adanya
perkataan "jika" dalam kalimat/unsur itu.
2. Karena penggunaan pemakaian surat belum diiakukan, maka
dengan sendirinya kerugian itu belum ada, hal ini ternyata juga dari
adanya perkataan, "dapat"
Kerugian yang dapat timbul akibat dari pemakaian surat palsu atau
surat dipalsu, tidak perlu diketahui atau disadari oleh petindak. Hal ini
ternyata dari adanya suatu arrest HR (8-6-1897) yang menyatakan
bahwa : "petindak tidak perlu mengetahui terlebih dulu kemungkinan
timbulnya kerugian ini".81
Untuk menentukan akan adanya kemungkinan kerugian jika surat
palsu atau surat dipalsu itu dipakai, tidak ada ukuran-ukuran tertentu,
hanya berdasarkan pada akibat-akibat yang dapat dipikirkan oleh
orang-orang pada umumnya yang biasanya terjadi dari adanya
penggunaan surat semacam itu.
Dalam hal ini tidak penting bagi siapa kerugian yang dapat timbul
akibat dari pemakaian surat palsu atau surat yang dipalsukan.
Kemungkinan akan adanya kerugian yang berlaku bagi siapa saja,
kerugian tersebut harus dapat dibuktikan. Kerugian yang dimaksud ,
tidak saja kerugian yang bernilai atau dapat dinilai dengan uang atau
kerugian di bidang kekayaan, akan tetapi dapat juga berupa kerugiankerugian lainnya, seperti dipersukarnya pengawasan , menutup-nutupi
penggelapan yang terjadi.
81
Ibid,, hal. 156
Pada ayat (2) juga terdapat unsur pemakaian surat palsu atau surat
dipalsu itu dapat menimbulkan kerugian. Walaupun dalam unsur ini
baik pada ayat (1) maupun ayat (2) mempunyai persamaan, tetapi juga
ada perbedaannya.
Perbedaannya adalah :
Pada ayat (1) bahwa kemungkinan akan timbulnya kerugian itu adalah
akibat dari pemakaian surat palsu atau surat dipalsu, dimana
pemakaian surat itu belum dilakukan. Karena yang baru dilakukan
adalah membuat surat palsu dan memalsu surat saja.
Akan tetapi pada ayat (2), kerugian yang mungkin terjadi akibat dari
pemakai surat palsu atau dipalsu itu, dimana pemakaian surat itu
sendiri sudah dilakukan, akan tetapi kerugian
tidak perlu nyata-
nyata telah timbul. Kehendak ditujukan pada perbuatan memakai,tetapi
perbuatan memakainya bukan merupakan perbuatan yang dilarang,
sedangkan pada ayat (2) perbuatan yang dilarang adalah memakai.
Unsur perbuatan pada ayat (2) dirumuskan dalam bentuk abstrak,
yang dalam kejadian senyatanya memerlukan wujud tertentu, misalnya
menyerahkan,
menunjukkan,
mengirimkan,
menjuai,
menukar,
menawarkan dan lain sebagainya, yang wujud-wujud itu sudah hams
terjadi untuk dapat dipidananya melakukan tindak pidana.
Dipisahkannya antara kejahatan membuat surat palsu dan
memalsu surat dengan kejahatan memakai surat palsu atau surat
dipalsu, maka terhadap hal yang demikian dapat terjadi pelanggaran
ayat (1) dan pelangaran ayat (2)dapat dilakukan oleh orang yang sama'.
dalam hal yang demikian telah terjadi perbarengan perbuatan
(samenloop).
Unsur kesalahan pada ayat (2) yakni dengan sengaja, dalam hal ini
kesengajaan meliputi baik pada perbuatan memakai surat palsu atau
surat dipalsukan, seolah-olah surat asli dan tidak dipalsu maupun
pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, maksudnya :
1. Pelaku menghendaki melakukan perbuatan memakai.
2. Pelaku sadar atau insyaf bahwa surat yang ia gunakan itu adalah
surat palsu atau surat dipalsu.
3. Pelaku sadar atau mengetahui bahwa penggunaan surat itu adaiah
seolah-olah pemakaian surat asli dan tidak dipalsu.
4. Pelaku sadar atau mengetahui bahwa penggunaan surat itu dapat
menimbulkan kerugian.
Unsur kesengajaan yang demikian itu harus dibuktikan. Pasal
264
KUHP (pemalsuan surat yang diperberat), merumuskan sebagai
berikut:
(1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama
delapan tahun, jika dilakukan terhadap :
ke-1 akte authentik;
ke-2 surat hutang atau sertifikat hutang dari suatu negara atau
sebagainya atau dari suatu lembaga umum;
ke-3 sero atau surat hutang atau sertifikat sero atau hutang dari
suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;
ke-4 talon, tanda bukti deviden atau bunga dari salah satu surat
yang diterangkan pada ke-2, ke-3, atau tanda bukti yang
dikeluarkan sebagai pengganti surat itu;
ke-5 surat kredit atau surat dagang yang diperuntukkan untuk
diedarkan.
(2) Dipidana dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja
memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak
sejati atau dipalsukan seolah-o!ah benar dan tidak palsu, jika
pemalsuan itu mendatangkan kerugian.82
Nyatalah bahwa yang menyebabkan diperberatnya pemalsuan surat
pada Pasal 264KUHP diatas terletak pada faktor macamnya surat.
Surat-surat tertentu yang menjadi obyek kejahatan adalah surat-surat
yang mengandung kepercayaan yang lebih besar akan kebenaran
isinya. Pada surat-surat itu mempunyai derajat kebenaran yang lebih
tinggi daripada surat-surat biasa atau surat lainnya. Kepercayaan yang
lebih besar terhadap kebenaran akan isi dari macam-macam surat
itulah yang menyebabkan diperberat ancaman pidananya.
Pasal 264 KUHP, yang masing-masing dirumuskan dalam ayat (1) dan
ayat (2) mempunyai unsur-unsur.
Pasal 264 ayat (1) mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
1. Semua unsur baik obyektif maupun subyektif pada Pasal 263
KUHP
2. Unsur-unsur khusus pemberatnya (bersifat alternatif) berupa obyek
surat-surat tertentu, ialah :
a. Akta-akta otentik
b. Surat hutang atau sertifikat hutang dari:
1) Suatu negara
2) Bagian negara
82
Ibid, hal 107.
3) Suatu lembaga umum
c. 1) Surat sero
2) Surat hutang dari suatu perkumpulan
3) Surat hutang dari suatu yayasan
4) Surat hutang dari suatu perseroan
5) Surat hutang dari suatu maskapai
d. 1)
Talon, tanda bukti deviden atau tanda bukti bunga dari
surat-surat pada butir b dan c diatas
2)
Tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti suratsurat itu
e. 1) Surat-surat kredit
2) Surat dagang yang diperuntukkan untuk diedarkan.
Berbicara tentang subyek pidana, tidak bisa terlepaskan dari
wujud perbuatan sebagai unsur dari tindak pidana.83 Unsur -unsur
kejahatan dalam ayat (2) adalah sebagai berikut :
1. Unsur obyektif:
a. Perbuatan : memakai
b. Obyeknya : surat-surat tersebut pada ayat (1)
c. Pemakaian itu seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu
2. Unsur subyektif: dengan sengaja.
Terhadap rumusan ayat (1) Pasal 264 KUHPdengan rumusan
ayat (1) Pasal 263 KUHP pada dasarnya mempunyai arti yang
83
hal.56
Wiryono Prodjodikoro. 1986. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. Eresco.Bandung.
sama
antara pemalsuan surat, dengan membuat surat palsu atau
memalsu surat........dan seterusnya. Sedangkan perbedaannya hanyalah
terletak pada jenis surat yang menjadi obyek kejahatan. Faktor jenis
surat-surat tertentu inilah yang menyebabkan adanya kejahatan yang
berdiri sendiri dan merupakan pemalsuan surat yang lebih berat
daripada bentuk pokoknya (Pasal 263 KUHP).
Sedangkan rumusan ayat (2) Pasal 263 KUHP adalah surat pada
umumnya, dan ayat (2) Pasal 264 KUHP adaiah surat-surat tertentu
yang mempunyai derajat kebenaran yang lebih tinggi dan kepercayaan
yang lebih besar daripada surat pada umumnya.
Melihat kasus yang terjadi pada tanggal 15 s/d 20 Juni 2001
bertempat di PT.Atlantik Tour Cabang Denpasar Jalan Diponogoro,
jika dikaitkan dengan isi Pasal 263 KUHP maka para terdakwa dalam
perbuatannya bahwa kartu kredit yang dipergunakan dalam melakukan
transaksi adalah palsu karena kartu kredit tersebut penerbitnya bukan
Hongkong Bank tetapi Bank penerbitnya adalah City Bank Visa
Singapura. Di samping itu kartu kredit tersebut jika dilihat dari
hologram tidak terlihat tiga dimensi dan tidak rapi, semua perbuatan
ini sudah diketahui dan disadari oleh para terdakwa bahwa perbuatan
ini pemalsuan dan dapat menimbulkan kerugian.
Pada dasarnya untuk dapat dihukum dengan pasal-pasal diatas,
unsur nyata dari si pelaku harus menampakkan adanya suatu maksud
bahwa penggunaan surat itu (baik yang terdapat dalam Pasal 263
KUHP), seolah-olah si pelaku itu sendiri maupun dengan cara
menyuruh orang lain untuk menggunakan surat yang dipalsukan itu,
seolah-olah asli dan tidak dipalsukan.
Kata-kata "dapat" dari pasal diatas, konotasinya adalah
kerugian tersebut bisa terjadi atau dapat juga tidak terjadi, atau dengan
kata lain kerugian tidak perlu hoois terjadi atau sudah ada. Sedangkan
apa yang dimaksud dengan kerugian itu sendiri, dalam peraturan
perundang-undangan belum menentukan batasannya secara jelas.
Apakah kerugian tersebut harus selalu dikaitkan dengan kerugian yang
sifatnya materiil atau juga kerugian di lapangan kemasyarakatan,
kesusilaan dan kehormatan.84
Kerugian yang dimaksud daiam Pasal 263 KUHP, tidak saja
meliputi kerugian materiil, tetapi juga kerugian di lapangan
kemasyarakatan, kesusilaan, kehormatan dan sebagainya, maka dalam
hai ini sangat sulit bagi kita untuk menafsirkan berapa jumlah kerugian
(kehormatan,kesusilaan) dalam bentuk nilai uangnya. Hal ini
disebabkan karena sifat dari kerugian yang bersifat non materiil ini
hanya dapat dirasakan oleh orang yang merasa kehormatan maupun
nama baik nya dirugikan.
Oleh karena itu, pembatasan mengenai kerugian ini, hendaknya
konsisten dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat, artinya
kerugian yang sifatnya non materiil hendaknya dinilai sesuai dengan
84
Marulak Pardede I, op.cit, hal. 95.
kepentingan yang berlaku dalam masyarakat. Golongan tindak pidana
yang berhubungan dengan pasal ini, pada umumnya banyak terkait
dengan timbulnnya kerugian secara materiil,
dan
menyangkut
tindak pidana laiu lintas giral, dalam bentuk:
1. Pemalsuan dan penggunaan surat perintah pembayaran (cek)
maupun surat perintah pemindah bukuan (giro bilyet) untuk
maksud menipu.
2. Pemalsuan dan penggunaan surat duplikasi transfer untuk maksud
penipuan.
3. Pemalsuan dan penggunaan alat/warkat bank lainnya (berupa bank
draft, deposito berjangka, dan lain-lain untuk maksud penipuan.
Kalau dilihat dari modus operandinya, disamping dapat diancam
dengan Pasal 263KUHP, maka hal ini dapat juga diterapkan ancaman
Pasal 264 KUHP, sejauh perbuatan pemalsuan tersebut mengacu pada
unsur-unsur dari Pasal 264 KUHP, misalnya penggunaan alat/ warkat
bank uang merupakan jenis surat khusus yang termasuk dalam
klasifikasi Pasal 264(1) dan (2) KUHP.
Penggunaannya itu harus dapat mendatangkan kerugian. " Dapat"
maksudnya tidak perlu kerugian itu betul-betul sudah ada, baru
kemungkinan saja akan adanya kerugian itu sudah cukup, yang
diartikan dengan "kerugian" disini tidak saja hanya meliputi kerugian
materiil, akan tetapi juga kerugian di lapangan kemasyarakatan,
kesusilaan, kehormatan, dan sebagainya.
Yang dihukum menurut pasal ini tidak saja " memalsukan " surat
(ayat 1), tetapi juga " sengaja mempergunakan " surat palsu (ayat 2).
"Sengaja" maksudnya, bahwa orang yang menggunakan itu harus
mengetahui benar-benar, bahwa surat yang ia gunakan itu palsu. Jika ia
tidak tahu akan hal itu, ia tidak dihukum.
Sudah dianggap sebagai mempergunakan, ialah misalnya :
menyerahkan surat itu kepada orang lain yang harus mempergunakan
lebih lanjut atau menyerahkan surat itu ditempat dimana surat tersebut
harus dibutuhkan. Dalam hal menggunakan surat palsu inipun harus
pula dibuktikan, bahwa orang itu bertindak seolah-olah surat itu asli
dan tidak dipalsukan, demikian pula perbuatan itu harus dapat
mendatangkan kerugian.85
Sedangkan makna dari Pasal 264 KUHP ialah sudah barang tentu
perbuatan yang diancam hukuman dalam Pasal ini harus memuat
segala elemen-elemen atau syarat-syarat yang termuat dalam Pasal 263
dan selain daripada itu ditambah dengan syarat, bahwa surat yang
dipalsukan itu terdiri dari surat authentik, dan sebagainya, yang
tersebut berturut -turut pada sub 1 s/d 5 dalam Pasal ini, surat-surat
mana bersifat umum dan harus tetap mendapat kepercayaan dari
umum.
Memalsu
surat
semacam
itu
berarti
membahayakan
kepercayaan umum, sehingga menurut Pasal ini diancam hukuman
yang lebih berat daripada pemalsuan surat biasa.
85
Soesilo.R, 1985, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP )
Komentar-komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal, Politeia Bogor, hal. 196.
Serta
Berdasarkan uraian unsur-unsur kejahatan yang tertuang dalam
ketentuan Pasal 263 dan Pasal 264 KUHP mengenai Tindak Pidana
pemalsuan seperti yang termuat pada halaman sebelumnya, Pasal 263
KUHP tidak relevan digunakan untuk menanggulangi tindak pidana
pemalsuan kartu kredit. Pengenaan Pasal 263 KUHP untuk menjaring
pelaku kejahatan kartu kredit memiliki beberapa kelemahan. Dalam
rumusan Pasal 263 KUHP tersebut, dikatakan bahwa tindak pidana
dilakukan dengan membuat surat palsu atau memalsukan surat,
sementara untuk melakukan kejahatan kartu kredit, pelaku tidak perlu
memalsukan surat (misalnya memalsukan surat berupa data nasabah
yang dikeluarkan oleh lembaga pembiayaan kartu kredit). Secara rinci
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Dengan kecanggihan teknologi, pelaku dapat membuat program
spyware, trojan, worm dan sejenisnya yang berfungsi seperti
keylogger (program mencatat aktivitas keyboard) dan program ini
disebar lewat E-mail Spamming, messenger (yahoo, MSN), atau
situs-situs tertentu dengan icon atau iming-iming yang menarik
netter untuk mengunduh dan atau membuka file tersebut. Program
ini akan mencatat semua aktivitas komputer ke dalam sebuah file,
dan akan mengirimnya ke email hacker. Dalam hal ini tidak ada
surat yang dipalsukan/ surat yang tidak sesuai atau bertentangan
dengan kebenaran (sekalipun itu PIN kartu kredit) sebab pelaku
menggunakan PIN asli, hanya saja PIN asli tersebut didapatkan
secara melawan hukum.
b.
Perkembangan tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit juga
dapat dilihat dari penggunaan kartu kredit palsu (virtual credit
card).
Cara
kerja
virtual
credit
card
adalah
provider
mengeluarkan kartu kredit yang dapat digunakan untuk berbelanja
(semacam debit card). Klien diwajibkan menyetor uang untuk
membuat kartu kredit virtual ini. Pemalsuan kartu kredit yang
dilakukan sindikat kejahatan juga dapat dilakukan
dengan
mencuri data kartu kredit melalui skimmer yang dipasang pada
alat penggesek kartu, atau E-D-C. Untuk memasang skimmer
pada EDC inilah, para pelaku bekerja sama dengan oknum yang
bekerja di tempat incaran pelaku, seperti restoran dan tempat
hiburan mewah. Kemudian melalui alat encoder, data pada kartu
kredit dimasukkan ke dalam kartu kredit palsu.86 Kartu kredit
palsu ini sebenarnya tidak dapat diintepretasikan sebagai surat
palsu sebab surat berbeda dengan kartu kredit.
Kelemahan Pasal 263 dan 264 KUHP ini memerlukan kebijakan
pembaruan hukum pidana guna menjaring pelaku penyalahgunaan
kartu kredit.
86
“ Indosiar, “Sindikat Pemalsu Kartu Kredit Tertangkap”, http://www.indosiar.com/beritaterkini/85689/sindikat-pemalsu-kartu-kredit-tertangkap, diakses pada 18 Juni 2011.
3.2 Tindak Pidana Penipuan Kartu Kredit.
Mengenai penipuan dalam hal penggunaan kartu kredit, dalam
putusannya hakim mendasarinya pada Pasal 378 KUHP tentang penipuan,
yang isinya :
Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau
orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau
keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun karangan
perkataan-perkataan bohong, membujuk seseorang untuk memberikan
sesuatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang, dihukum
karena penipuan, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun.
Penipu itu pekerjaannya:
a. Membujuk orang supaya memberikan barang, membuat utang, atau
menghapuskan piutang
b. Maksud pembujukan itu ialah hendak menguntungkan diri sendiri atau
orang lain dengan melawan hak.
c. Membujuknya itu dengan memakai : nama palsu atau keadaan palsu,
akal cerdik (tipu muslihat), atau karangan perkataan bohong
Adapun unsur-unsur Pasal 378 KUHP, antara lain:
1. menggerakkan/membujuk orang lain ( uitloking );
2. agar orang lain : menyerahkan sesuatu, membuat hutang, menghapuskan
piutang;
3. dengan menggunakan
(alat pembujuk/penggerak) :
nama palsu,
keadaan palsu, rangkaian kata-kata bohong, tipu muslihat;
4. dengan maksud : untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan
melawan hukum.
Dalam hal ini dapat dikemukakan, bahwa penyerahan sesuatu barang
atau uang hams merupakan suatu akibat perbuatan menggerakkan atau
membujuk orang lain, bujukan mana dipergunakan dengan menggunakan daya
upaya yang terdiri dari nama palsu, rangkaian kata-kata bohong dan atau tipu
muslihat.
Tindak pidana penipuan di bidang perbankan ini dapat dilakukan
dengan cara :
-
Seseorang mengajukan pemintaan pencairan atas warkat bank yang
ternyata palsu atau dipalsukan, misalnya cek atau giro bilyet yang palsu
atau dipalsukan kepada petugas bank. Atas penerimaan warkat tersebut,
petugas bank mencairkannya. Maka mencairkan warkat bank itu sudah
memenuhi unsur membujuk atau menggerakkan petugas bank dengan
menggunakan daya upaya tipu muslihat yang dipenuhi dengan perbuatan
memberikan warkat bank yang palsu atau dipalsukan kepada petugas bank.
-
Penggunaan cek tunai atau giro bilyet biasa dapat dinyatakan sebagai
perbuatan tipu muslihat, apabila pencairannya atau penguasaannya ditolak
oleh bank karena tidak tersedia cukup dananya.
Perbuatan-perbuatan tersebut diatas merupakan tindak pidana penipuan
sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP.
Unsur pemalsuan dan penipuan yang terjadi pada kasus yang menimpa
PT.Atlantik Tour Cabang Denpasar dan Departemen Store Tragia Kerta
Wijaya Jln. Diponegoro.dimana pelakunya adalah Toyib, Novianto Andriany
dan Pria Agustian pada tanggal 15 s/d 20 Juni 2001, adalah kasus tentang
penyalah gunaan kartu kredit Berdasarkan fakta-fakta yang torungkap dalam
pemeriksaan di persidangan, maka unsur-unsur tindak pidana yang
didakwakan yaitu :
Dakwaan kesatu melanggar Pasal 263 ayat (2) jo Pasal 64 ayat (1) jo Pasal 55
ayat (1) ke-1 KUHP.
Dakwaan kedua melanggar Pasal 378 jo Pasal64 ayat (1)jo Pasal 55 ayat (10
ke-1 KUHP. Dalam hal ini yang dibuktikan adalah dakwaan pertama Pasal
263 ayat (2) jo Pasal 64 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan
unsur-unsur sebagai berikut:
1. Barang siapa
2. Dengan sengaja menggunakan surat palsu seolah-olah surat itu asli
3. Unsur menggunakan dapat mendatangkan sesuatu kerugian
4. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang berlanjut
5. Turut melakukan perbuatan.87
Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
1. Unsur barang siapa :
Unsur barang siapa ini adalah obyek hukum yang didakwa dan harus
mampu bertanggung jawab.
2. Unsur dengan sengaja menggunakan surat palsu seolah-olah surat itu asli :
Kartu kredit yang digunakan oleh para terdakwa adalah palsu, karena kartu
kredit tersebut penerbitnya adalah City Bank Visa Singapura dan bukan
Hongkong Bank, kartu dan hologram tidak tampak tiga demensi dan tidak
87
Putusan pengadilan Neqeri Denpasar No. 4547 PIP. B/ 2001/ PN. Dps. Tanggal 6
September 2001.
tercetak dengan rapi. Para terdakwa sudah mengetahui bahwa kartu kredit
yang dipergunakan untuk transaksi adalah palsu.
3. Unsur menggunakan dapat mendatangkan sesuatu kerugian. Akibat dari
perbuatan para terdakwa dengan menggunakan kartu kredit palsu, maka
yang mengalami kerugian adalah PT. Atlantik Tour Cabang Denpasar
sebesar Rp. 8.4481.100 (delapan juta empat ratus delapan puluh satu ribu
seratus rupiah), dan Tragia Kerta Wijaya juga mengalami kerugian sebesar
Rp.79.900,- (tujuh puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah).
4. Unsur perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang diteruskan atau
berlanjut:
Dikatakan perbuatan berlanjut, karena pertama terdakwa Toyib dan
Novianto Andriany pada tanggal 15 Juni 2001 mendatangi Pt.Atlantik
Tour untuk membeli 2 (dua) buah tiket Garuda jurusan DenpasarSurabaya, Surabaya-Jakarta dan Jakarta-Denpasar. Pada saat itu terdakwa
menggunakan kartu kredit jenis Visa Hongkong Bank atas nama Denny
dengan nomor ; 4544 1620 6082 0269 . Selanjutnya para terdakwa
mendatangi kembali PT.Atlantik Tour pada tanggal 16 Juni 2001 untuk
membeli 9 (sembilan) buah tiket Garuda dan mebayar dengan
menggunakan kartu kredit yang sama. Kemudian para terdakwa pada
tanggal 20 Juni 2001 mendatangi kembali PT.Atlantik Tour untuk
membeli tiket sebanyak 20 (dua puluh) lembar tiket, sebelum transaksi
selesai paraterdakwa sudah ditangkap oleh Polisi. Pada tanggal 20 Juni
2001 juga terdakwa Toyib dan Pria Agustian untuk membeli kemeja
dengan menggunakan kartu kredit jenis Gold Wing Hang Bank LTD atas
nama P. Agustian.
5. Unsur turut melakukan perbuatan :
Perbuatan tersebut dilakukan oleh lebih dari satu orang dan dilakukan
secara bersama-sama.
Dakwaan kedua yaitu melanggar Pasal 378 jo Pasal 64 ayat (1) jo Pasal 55
ayat (1) ke-1 KUHP, dengan unsur-unsur sebagai berikut:
1. Barang siapa, menyangkut pelaku yang menyalah gunakan kartu kredit
tersebut.
2. Dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain
dengan melawan hak, dimana dalam transaksi yang dilakukan oleh
para terdakwa , mereka membayar dengan menggunakan kartu kredit
palsu. Tiket yang dibeli tersebut kemudian dijual kembali oleh para
tedakwa kepada calon penumpang di Bandara Ngurah Rai.
3. Unsur baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, setelah
transaksi selesai dilakukan,bahwa Bank International Indonesia (Bll)
pembayarannya tidak bisa masuk ke rekening PT.Atlantik Tour karena
kartu kredit tersebut palsu hal ini dapat dilihat dari angka yang tertera
dalam kartu kredit tersebut tidak rapi dan dilihat dari hologram tidak
terlihat tiga dimensi. Menurut para terdakwa kartu kredit tersebut
diperoleh dari Robby di Jakarta dan para terdakwa sudah mengetahui
bahwa kartu kredit tersebut adalah kartu-kartu kredit palsu.
4. Unsur baik dengan akal dan tipu muslihat maupun dengan karangan
perbuatan-perbuatan bohong, dimana sebelumnya para terdakwa sudah
mengetahui bahwa kartu kredit tersebut palsu.
5. Unsur membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, dengan
perbuatannya itu para terdakwa mendapatkan tiket dan baju.
6. Unsur membuat hutang atau menghapus piutang, hasil dari perbuatan
para terdakwa mengakibatkan pihak PT.Atlantik Tour berhutang pada
PT.Garuda Indonesia dan Tragia Kerta Wijaya berhutang pada
garment.
7. Unsur perbuatan berlanjut dan turut melakukan perbuatan tersebut,
sama dengan dakwaan pertama diatas.
Dari kasus-kasus yang telah dikemukakan diatas, bahwa tindak
pidana pemalsuan umumnya banyak berkaitan dengan penipuan, atau
dengan pengertian lain tindak pidana pemalsuan umumnya bermuara pada
penipuan. Penipuan pada dasarnya adalah merupakan tujuan akhir dari
perbuatan pemalsuan baik dalam bentuk pemalsuan warkat bank, kartu
kredit, pemalsuan sertifikat tanah untuk memperoleh kredit dan lainlainnya.
Kelemahan dari ketentuan Pasal 378 KUHP dimana tidak dapat
menjaring para pelaku penipuan dikarenakan pelaku melakukan penipuan
melalui jaringan internet dimana pelaku memiliki program tersendiri
dimana apabila si korban membuka program tersebut maka secara
langsung data dari si korban terkirim kepada si pelaku.
3.3 Penanggulangan Penyalahgunaan Kartu Kredit
Terhadap penanggulangan penyalahgunaan kartu kredit, Teori Politik
kriminal digunakan untuk mengkaji permasalahan ini, dalam hal ini
merupakan
kebijakan-kebijakan
atau
usaha
yang
rasional
untuk
menanggulangi kejahatan, dimana dalam hal ini merupakan bagian dari politik
penegakan hukum dalam arti luas (law enforcement policy), Semuanya
merupakan bagian dari politik sosial (social policy) yaitu usaha dari
masyarakat atau negara untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.
Pidana yang dikenakan terhadap kejahatan atau pelanggaran yang
terjadi di bidang perbankan, pada dasamya mengikuti ketentuan pidana yang
diatur pada Pasal 10 KUHP, yaitu pengenaan pidana pokok, dan pidana
tambahan. Pidana terhadap perbuatan kejahatan ataupun pelanggaran yang
terjadi hanya mengenakan pidana berupa penjara, kurungan,dan denda.
Sedangkan pidana tambahannya hampir selalu menyertai setiap pengenaan
pidana pokok tersebut, baik berupa altenatif pencabutan hak-hak tertentu,
perampasan barang-barang tertentu, serta pengumuman putusan hakim.
Dengan digolongkannnya beberapa perbuatan pidana di bidang perbankan
tersebut sebagai tindak pidana,, maka diharapkan akan dapat lebih terbentuk
ketaatan yang tinggi terhadap ketentuan dalam Undang Undang. Adapun
mengenai tindak pidana yang dilakukan oleh anggota dewan komisaris, direksi
atau pegawai bank, pada dasarnya berlaku ketentuan-ketentuan tentang sanksi
dimaksud dalam Pasal 46 s/d Pasal 50 Undang Undang Pokok Perbankan No.
10 tahun 1998, sesuai dengan sifat ancaman pidana yang berlaku umum.
Hanya saja pengenaan pidana tersebut dapat pula mengenakan batas,
maksimum
pidananya
terhadap
kejahatan
yang
dilakukan,
dengan
mempertimbangkan sampai sejauh mana besar kecilnya pidana tersebut akan
ditetapkan, bahan pertimbangannya
dengan
memperhatikan
antara
lain
kerugian yang ditimbulkan.88
Pengenaan sanksi administratif biasanya diatur lebih lanjut oleh Bank
Indonesia sebagai Bank Sentral yang melakukan pengawasan, dan pembinaan,
ketentuan sanksi seperti ini dapat kita lihat pada Pasal 52 Undang Undang no.
10 Tahun 1998, yaitu berupa :
1. Denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu sebagai
akibat tidak dipenuhinya ketentuan dalam Undang Undang ini.
2. Penyampaian teguran-teguran secara tertulis.
3. Penurunan tingkat kesehatan bank.
4. Larangan turut serta dalam kliring.
5. Pembekuan kegiatan usaha tertentu, baik untuk kantor cabang tertentu
maupun untuk bank secara keseluruhan.
6. Pemberhentian pengurus bank dan selanjutnya menunjuk dan mengangkat
pengganti sementara sampai Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat
Anggota Koperasi mengangkat pengganti yang tetap dengan persetujuan
Bank Indonesia.
7. Pencantuman anggota pengurus, pegawai bank, pemegang saham dalam
daftar orang tercela di bidang perbankan. Pengenaan sanksi administrasi
88
Djumhana, Loc Cit, hal. 289
tersebut tidak hanya dijatuhkan kepada pengelola bank sesuai dengan
ketentuan Pasal 53 UU no. 10 Tahun 1998, dapat juga dikenakan pula
pada pihak terafiliasi, adapun bentuk sanksi administratif itu berupa :
1. Denda,
yaitu
kewajiban
untuk
membayar
sejumlah
uang
tertentu sebagai akibat tidak dipenuhinya ketentuan dalam Undang
Undang ini.
2. Penyampaian teguran-teguran tertulis.
3. Larangan untuk memberikan jasanya kepada perbankan.
4. Penyampaian usul kepada instansi yang berwenang untuk mencabut
atau membatalkan izin usaha sebagai pemberi jasa bagi bank (antara
lain terhadap konsultan, konsultan hukum, akuntan publik, dan
penilai).
Adapun penyelesaian terhadap kasus penyalahgunaan kartu kredit yang
terjadi di PT.Atlantik Tour Cabang Denpasar dan di Pertokoan Kerta
Wijaya,
tersebut,
seperti yang telah disebutkan diatas,
Pengadilan
Negeri
Denpasar
454/PID.B/2001/PN.Dps.menjatuhkan
maka terhadap kasus
dalam
putusan
dalam
terdakwa, antara lain :
1. Nama lengkap
Putusan
: TOYIB
Tempat lahir
: Malang
Umur/ tanggal lahir
: 35 tahun/22 Juli 1966
Jenis kelamin
: Laki-laki
Kebangsaan
: Indonesia
Nomor:
perkara
para
Tempat tinggal
: Jalan raya Kuta Gg. Tegak Sari Kuta/
Perum Sidokari Indah Blok V No. 12
Sidoarjo - Jatim
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Tidak ada
Pendidikan
: SLTA
2. Nama lengkap
: NOVIANTO ANDRIANY
Tempat lahir
: Surabaya
Umur/tanggal lahir
: 31 tahun/18 Oktober 1970
Jenis kelamin
: Laki-laki
Kebangsaan
: Indonesia
Tempat tinggal
: Jalan Raya Kuta Gg. Tegak Sari Kuta/
Desa Kebanyeng Kec. Pandaan Pasuruan
Jatim
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Calo Tiket di Bandara Juanda Surabaya
Pendidikan
: SLTA
3. Nama lengkap
: PRIA AGUSTIAN
Tempat lahir
: Palembang
Umur/tanggal lahir
: 32 tahun/2 Agustus 1969
Jenis kelamin
: Laki-laki
Kebangsaan
: Indonesia
Tempat tinggal
: Jalan Gunung Salak Gg. Tegal Wangi II
Padang Sambian Kelod Denpasar
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Wiraswasta
Pendidikan
: SLTA
Ditahan dengan jenis penahanan sebagai berikut:
Penyidik sejak : tanggal 20 Juni s/d 10 Juli 2001.
Diperpanjang oleh
Penuntut Umum mulai : tanggal 11 Juli s/d 19 Agustus 2001.
Jaksa Penuntut Umum : tanggal 9 Agustus s/d 28 Agustus 2001
Berdasarkan Surat Penetapan Hakim Pengadilan Negeri Denpasar
tanggal 10 Agustus 2001 Nomor . 4547 Persid / 20017 PN. Dps dan
berdasarkan Surat Pelimpahan Perkara dengan Acara Pemeriksaan Biasa
tanggal 15 Agustus 2001 Nomor : B - 33837 P. 1. 107 Ep/ 87 2001 para
terdakwa dihadapkan kedepan persidangan dengan dakwaan sebagai
berikut:
DAKWAAN
Kesatu :
Bahwa mereka terdakwa I Toyib , terdakwa II Novianto Andriany
dan terdakwa III Pria Agustian secara berturut-turut yang merupakan
perbuatan berlanjut atau setidak-tidaknya lebih dari sekali secara bersamasama atau bertindak atas diri masing-masing yaitu pada tanggal 15 s/d 20
Juni 2001 atau setidak tidaknya pada waktu tertentu dalam tahun 2001
bertempat di PT. Atlantik Tour Cabang Denpasar Jln, Diponegoro dan di
Pertokoan Departemen Store Tragia Kertha Wijaya Jln. Diponegoro
Denpasar atau setidak tidaknya pada tempat lain yang masih termasuk
dalam wilayah Hukum Pengadilan Negeri Denpasar, telah dengan sengaja
memakai surat palsu atau surat yang telah dipalsukan berupa 3 (tiga) huah
kartu kredit palsu, yaitu membayar dengan menggunakan kartu kredit
palsu untuk membeli tiket pesawat di Atlantik Tour dan membeli baju di
Tragia Kertha Wijaya Denpasar, sehingga Bank Internasional Indonesia
Cord Centre sebagai Bank pengelola mengalami kerugian sebesar Rp.
4.913.100 ( empat juta sc-mbilan ratus tiga belas ribu seratus rupiah ).
Pada saat itu terdakwa II Novianto Andriany membayar
menggunakan kartu kredit jenis Visa Hongkong Bank atas nama Denny K.
dengan Nomor 4544. 1620. 0082. 1269 dan pada hari Sabtu tanggal 16
Juni 2001 sekitar puku! 12.30 Wita, terdakwa I dan terdakwa II
mendatangi lagi PT. Atlantik Tour cabang Denpasar di Jln. Diponegoro
dan memesan/ membeli 9 (sembilan) buah tiket Garuda Jurusan Denpasar
- Surabaya untuk 3 (tiga) orang masing-masing atas nama Denny K.,
Denny W., dan Mr. Setaean E., serta untuk jurusan Surabaya - Jakarta
untuk 6 (enam) orang masing-masing atas nama Denny K., Denny W.,
Romli, Setiawan, Widodo, dan Yanto yang harga seluruhnya berjumlah
Rp. 4.913.000,00 (empat juta sembilan ratus tiga belas ribu rupiah).
Kedua
Bahwa mereka terdakwa I Toyib, terdakwa II Novianto Andriany dan
terdakwa III Pria Aguastian secara berturut-turut yang merupakan
perbuatan berlanjut atau setidak-tidaknya lebih dari sekali secara bersamasama atau bertindak atas diri masing-masing pada waktu dan tempat
sebagaimana telah diuraikan dalam dakwaan kesatu dengan maksud
menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak baik
dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan
tipu muslihat, yaitu mengadakan transaksi dengan menggunakan kartu
kredit palsu, membayar tiket pesawat Garuda di PT. Atlantic Tour Cabang
Denpasar dan di toko Tragia Kertha Wijaya Jln. Diponegoro membuat
hutang atau menghapus piutang maupun dengan karangan perkataan
bohong membuat orang supaya memberikan suatu barang yaitu setelah
para terdakwa membeli tiket dan membeli baju maka para terdakwa
membayar menggunakan kartu kredit palsu. Perbuatan para terdakwa
ssebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 jo Pasal 64 ayat
(1) jo Pasal 55 ayat ( 1 ) ke-1 KUHP. Fakta-fakta yang terungkap dalam
pemeriksaan di persidangan secara berturut-turut berupa keterangan saksisaksi, keterangan para terdakwa, dan barang-barang bukti.
Dalam putusan Majelis Hakim , menyatakan bahwa terdakwa I Toyib,
terdakwa II Novianto, terdakwa III Pria Agustian terbukti bersalah telah
melakukan
penipuan
dengan
menggunakan
kartu
kredit palsu
sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan kesatu yaitu Pasal 263 ayat
(1) jo. Pasal 64 ayat (1) jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan Pasal 378 jo.
Pasal 64 ayat (1) jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Menghukum para
terdakwa dengan pidana penjara selama 8 (delapan) bulan dikurangi
selama para terdakwa berada dalam tahanan. Menyatakan barang bukti
berupa :
a. 9 (sembilan) buah kartu kredit palsu dirampas untuk dimusnahkan.
b. 4 (empat) buah handphone dirampas untuk dimusnahkan
c. 1 (satu) buah buku daftar hitam gabungan
d. 2 (dua) faktur EDCBII
e. 1 (satu) lembar faktur EDC BCA
f. 11 (sebelas) lembar agen kupon
g. 1 (satu) kartu tanda penduduk atas nama Eddy Setiawan dirampas
untuk dimusnahkan.
Barang bukti dari normor c s/d g, dikembalikan kepada yang berhak
Melihat dari kasus dan putusan dari Majelis Hakim, dapat dikemukakan
bahwa kebijakan pemerintah didalam penyelesaian kasus penyalah gunaan
kartu kredit, selama ini masih mempergunakan Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, karena dalam Undang-Undang Perbankan mengenai
penyalahgunaan kartu kredit secara implisit belum diatur.
Dari kasus yang dikemukakan diatas, tindak pidana pemalsuan
umumnya banyak berkaitan dengan penipuan, atau dengan pengertian lain
tindak pidana pemalsuan umumnya bermuara pada penipuan. Penipuan
pada dasarnya merupakan tujuan akhir dari perbuatan pemalsuan.89
Otoritas konstitusi kalau dipandang dari segi moral sama halnya
dengan pandangan aliran hukum alam yaitu mempunyai daya ikat terhadap
warga negara, karena penetapan konsitusi juga didasarkan pada nilai-nilai
moral. Lebih tegas lagi bahwa konstitusi sebagai landasan fundamental
tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai universal dari etika moral.90
Pada hakikatnya hak asasi manusia tidak membedakan hak-hak asasi
dari sudut jenis kelamin (perempan atau laki). Kedua-duanya adalah
manusia yang mempunyai hak asasi yang sama.91
Hak asasi manusia sebagaimana yang dirumuskan dalam Declaration
des droits de L’Homme et du Citoyen oleh Kuntjoro Purbopranoto adalah
hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat
dipisahkan dari kodratnya karena itu bersifat suci.92
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, Pasal 4 ayat (2) UndangUndang No. 4 Tahun 2004 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman,
ditegaskan bahwa proses peradilan harus dilaksanakan dengan sederhana,
cepat, mudah dan dengan biaya yang seringan-ringannya. Dan hakim
memiliki batas-batas maksimum dalam bergerak untuk mendapatkan
89
Marulak I, op.cit, hal. 100.
90
Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, Ni’matul Huda, Teori dan Hukum Konstitusi, PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 81.
91
Barda Nawawi Arief, 2008, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana
Dalam Penanggulangan Kejahatan, Prenada Media Group, Jakarta, 65.
92
Kuntjoro Purbopranoto, 1960, Hak-hak Asasi Manusia dan Pancasila, Jakarta, hal. 18-19.
pidana yang tepat.93 Dalam pelaksanaan proses peradilan mengenai tindak
pidana di bidang perbankan, senantiasa ditemui beberapa permasalahan
antara lain : perbedaan penafsiran dan penerapan hukum terhadap suatu
hal yang diajukan oleh Jaksa, kurangnya koordinasi diantara para aparat
penegak hukum, seperti Jaksa,Polisi, Hakim dan pihak perbankan
sendiri.94
Hakim sebagai salah satu organ pengadilan tidak dimungkinkan untuk
menolak suatu perkara yang belum ada pengaturannya. Telah menjadi
kewajiban para hakim untuk mencari, menggali dan menemukan hukum
terhadap permasalahan yang diajukan kepadanya. Dalam kaitan inilah
hakim dapat berfungsi sebagai pembentuk hukum (Recht Finding)95.
Jenis-jenis tindak pidana di bidang perbankan selain penyalahgunaan
terhadap kartu kredit, dapat puia berupa pencurian, penggelapan ,
penipuan, pemalsuan, membuka rahasia bank, bank gelap, korupsi dan
bahkan bisa dikatakan subversi.Sedangkan peraturan yang dipergunakan
selain Kitab Undang Undang Hukum Pidana dan Undang Undang
Perbankan, juga dipergunakan Undang
Ekonomi,
Undang
Undang
Tindak
Pidana
Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
93
Roeslan Saleh. 1978. Stelsel Pidana Indonesia.Aksara Baru. Jakarta. hal.9
94
Marulak I Op.cit hal. 129
95
ibid, hal. 130.
3.4 Pentingnya Pembaruan Hukum Pidana
Tertib hukum dapat diwujudkan melalui suatu perubahan yang teratur,
melalui prosedur hukum, baik yang berwujud perundang-undangan, ataupun
keputusan-keputusan badan peradilan, lebih baik daripada perubahan yang tidak
teratur yang menggunakan kekerasan semata-mata.96 Untuk pembentukan hukum
pada masa mendatang, pemerintah perlu menciptakan peraturan-peraturan yang
akurat untuk mengantisipasi masalah tersebut melalui pembaruan dari hukum
pidana yang telah ada.
Malaysia yang pernah dilanda aksi kejahatan kartu kredit, segera membuat
aturan yang sangat ketat, seperti hukuman cambuk rotan bagi pelakunya, denda
300.000 ringgit (Rp 900 juta), dan hukuman penjara maksimal 20 tahun.
97
Di
samping itu, perangkat hukum di Malaysia sudah dilengkapi dengan undangundang kejahatan komputer, undang-undang digital. Langkah preventif yang
dilakukan oleh pemerintah Malaysia ialah dengan menggunakan teknologi chip.
Teknologi chip ini dapat mengurangi risiko pemalsuan data-data kartu kredit
seperti pada teknologi berbasis kartu magnetik (magnetic card) yang selama ini
digunakan. Kartu magnetik relatif lebih mudah ditiru hanya dengan mengopi pita
magnetik pada kartu tersebut serta memasangnya pada kartu yang baru.
96
Mochtar Kusumaatmaja. Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan. Alumni.
Bandung.2002.hal.120
97
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol9767/perlu-undangundang-khusus-untuktanggulangi-kejahatan-kartu-kredit
Mexico adalah satu negara yang telah melakukan pembaruan terhadap
beberapa perundang-undangan seperti civil code, civil procedurs, commerce code
dan consumer protection law dengan tujuan untuk memberikan perlindungan atas
segala bentuk transaksi yang dilakukan secara elektronik. Dalam melakukan
perubahan, pemerintah Mexico mengadopsi model law yang disusun oleh United
Nation Commision for International Trade (UNCITRAL).98
Pentingnya pembaruan hukum pidana dalam penanggulangan tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit dimana ketentuan Pasal 263 dan Pasal 378 KUHP
tidak relevan digunakan untuk menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan
kartu kredit sehingga menimbulkan kekosongan hukum dalam menanggulangi
tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit ini. Beberapa kelemahan dari Pasal
263 dan Pasal 378 KUHP antara lain:
3. Kartu kredit tidak dapat diinterpretasikan sebagai surat
4. Hal yang dipalsukan dalam penyalahgunaan kartu kredit adalah pin
orang lain yang telah berhasil dicuri melalui penipuan lewat telepon
kepada si korban.
Penyalahgunaan kartu kredit memberikan dampak yang kurang baik bagi
Negara Indonesia yakni sebagai negeri sarang pelaku kejahatan dengan kartu
kredit dan Indonesia telah masuk daftar hitam kejahatan dengan pembayaran kartu
kredit. Sehingga sangat diperlukan pembaruan KUHP untuk menjaring para
pelaku kejahatan karena KUHP belum mengatur sementara kejahatannya sangat
banyak terjadi.
98
Asril Sitompul, op.cit., hal. 63.
Dalam usaha pembaruan hukum pidana Indonesia bagi bangsa dan rakyat
Indonesia tidak begitu saja timbul tetapi didorong oleh adanya perubahanperubahan yang terjadi di masyarakat terutama setelah perang dunia kedua dan
juga untuk bagi Negara-negara yang baru timbul, maupun baru melepaskan diri
dari belenggu penjajah, karena adanya perubahan dalam bidang ketatanegaraan.
Hukum pidana yang berlaku dari suatu Negara tidak dapat dilepaskan dari tata
nilai dan budaya dari bangsa sebagaimana yang dikemukakan oleh Sudarto.99
Makna dan hakikat pembaruan hukum pidana berkaitan erat dengan latar
belakang dan urgensi diadakannya pembaruan hukum pidana itu sendiri. Latar
belakang dan urgensi diadakannya pembaruan hukum pidana dapat ditinjau dari
aspek sosio-politik, sosio-filosofik, sosio- kultural atau dari berbagai aspek
kebijakan (khususnya kebijakan sosial, kebijakan kriminal dan kebijakan
penegakan hukum). Ini berarti, makna dan hakikat pembahaman hukum pidana
juga berkaitan erat dengan berbagai aspek itu. Artinya, pembaruan hukum pidana
juga pada hakikatnya harus merupakan perwujudan dari perubahan dan
pembaruan terhadap berbagai aspek dan kebijakan yang melatar belakangi itu.
Dengan demikian, pembaruan hukum pidana pada hakikatnya mengandung
makna, suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana
yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio politik, sosio-filosofik, sosio-kultural
masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial, kebijakan kriminal dan
kebijakan penegakan hukum di Indonesia. Hal ini disebabkan agar hukum dapat
secara efektif diterapkan dalam masyarakat, sehingga hukum yang baik selalu
99
Sudarto. 1983. Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat. Sinar Baru. Bandung.hal.67
menuntut persyaratan keberlakuan secara yuridis, sosiologis dan filosofis, dan
bahkan secara historis.100
Dapat dikatakan, bahwa pembaruan hukum pidana pada kakikatnya harus
ditempuh dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan ("policy-oriented")
dan sekaligus pendekatan yang berorientasi pada nilai ("value-oriented
approach")101.
Pembaruan hukum pidana harus dilakukan dengan pendekatan kebijakan,
karena memang pada hakikatnya ia hanya merupakan bagian dari suatu langkah
kebijakan atau "policy" (yaitu bagian dari politik hukum/penegakan hukum,
politik hukum pidana, politik kriminal,dan politik sosial). Didalam setiap
kebijakan (policy) terkandung pula pertimbangan nilai. Oleh karena itu,
pembaruan hukum pidana harus pula berorientasi pada pendekatan nilai.
Dengan demikian, makna dan hakikat pembaruan hukum pidana, sebagai
berikut:
1. Dilihat dari sudut pendekatan-kebijakan :
a. Sebagai bagian dari kebijakan-sosial, pembaruan hukum pidana
pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi
masalah-masalah sosial (termasuk masalah kemanusiaan) dalam
rangka
mencapai/menunjang
tujuan
nasionat
(kesejahteraan
masyarakat dan sebagainya);
100
101
Jimli Asshidiqie. Pembaruan Hukum Pidana Indonesia.Angkasa. Bandung.1996. hal 160
Barda Nawawi II, op.cit,hal.31
b. Sebagai bagian dari kebijakan kriminal, pembaruan hukum pidana
pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya perlindungan
masyarakat (khususnya upaya penanggulangan kejahatan); c.
Sebagai bagian dari kebijakan penegakan hukum, pembaruan
hukum pidana pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya
memperbaharui substansi hukum (legal substance) dalam rangka
lebih mengefektifkan penegakan hukum.
2. Dilihat dari sudut pendekatan-nilai:
Pembaruan hukum pidana pada hakikatnya merupakan upaya
melakukan peninjauan dan penilaian kembali ("re-orientasi dan reevaluasi") nilai-nilai sosio-politik, sosio-filosofik, sosio- kultural yang
melandasi dan memberi isi terhadap muatan normatif dan substantif
hukum pidana yang dicita-citakan. Bukanlah pembaruan ("reformasi")
hukum pidana, apabila orientasi nilai dari hukum pidana yang dicitacitakan (misalnya KUHP Baru) sama saja dengan orientasi nilai dari
hukum pidana lama warisan penjajah (KUHP lama atau WvS).102
Dua
masalah
sentral
dalam
kebijakan
kriminal
dengan menggunakan sarana penal (hukum pidana) ialah masalah
penentuan:
1. Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana.
2. Sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si
pelanggar.
102
Ibid.
Penganalisaan terhadap dua masalah sentral ini tidak dapat
dilepaskan dari konsepsi intergral antara kebijakan kriminal dengan
kebijakan sosial atau kebijakan pembangunan nasional. Ini berati
pemecahan masalah-masalah diatas harus pula diarahkan untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu dari kebijakan sosio-politik yang telah
ditetapkan. Dengan demikian kebijakan hukum pidana,. termasuk pula
kebijakan dalam menangani dua masalah sentral diatas, harus pula
dilakukan dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy
oriented approach). Sudah barang tentu pendekatan kebijakan yang
integral ini tidak hanya dalam bidang hukum pidana, tetapi juga pada
pembangunan hukum pada umumnya.
BAB IV
KEBIJAKAN PEMBARUAN HUKUM PIDANA DALAM
PENYALAHGUNAAN KARTU KREDIT
4.1
Tindak Pidana Pemalsuan dan Penipuan dalam Rancangan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana.
Sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan terdahulu bahwa pemalsuan
diatur dalam Pasal 263 KUHP, yang isinya :
(1) Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat
menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang
dapat diperuntukkan sebagai bukti dari pada sesuatu hal dengan maksud
untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat-surat tersebut
seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, diancam juga pemakaian tersebut
dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana
penjara paling lama enam tahun;
(2) Dipidana dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja
memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika
pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Didalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tahun
1999-2000 pemalsuan juga dicantumkan dalam Bab XIII tentang Tindak
Pidana Pemalsuan Surat, dimana dalam Pasal 395 nya menyebutkan:
Dipidana karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama 6 (enam)
tahun atau denda paling banyak Rp.7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu
rupiah), setiap orang yang :
a. membuat secara tidak benar atau memalsu surat yang dapat menimbulkan
suatu hak perikatan atau pembebasan hutang atau diperuntukkan sebagai
bukti dari suatu hal, dengan maksud untuk menggunakan atau menyuruh
orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, jika
penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian, atau
b. dengan sengaja menggunakan surat yang isinya tidak benar atau dipalsu,
seolah-olah benar atau tidak palsu, jika penggunaan surat tersebut dapat
menimbulkan kerugian.103
Sedangkan di dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tahun
2008, dalam bab XIV diatur mengenai tindak pidana pemalsuan surat
Ketentuan Pasal 452 RKUHP 2008 menyatakan bahwa :
Dipidana karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama 6
(enam) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV, setiap orang yang
:
a. Membuat secara tidak benar atau memalsu surat yang dapat menimbulkan
suatu hak, perikatan, pembebasan utang, atau yang diperuntukan sebagai
bukti dari suatu hal, dengan maksud untuk menggunakan atau menyuruh
orang lain menggunakan seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, jika
penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian; atau
b. Menggunakan surat yang isinya tidak benar atau palsu, seolah-olah benar
atau tidak palsu, jika penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan
kerugian.
Ketentuan Pasal 453 RKUHP menyatakan bahwa:
Dipidana karena pemalsuan surat dengan pidana penjara paling lama 9
(sembilan) tahun, setiap orang yang:
a. Membuat secara tidak benar atau memalsu;
1. Akta otentik
2. Surat utang atau sertifikat utang dari suatu Negara atau
bagiannya atau dari suatu lembaga umum
3. Saham, surat utang, sertifikat saham, sertifikat utang dari
suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau persekutuan;
4. Talon, tanda bukti dividen atau tanda bukti bunga salah
satu surat sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dan
angka 3 atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai
pengganti surat-surat tersebut;
5. Surat kredit atau surat dagang yang diperuntukan guna
diedarkan;
6. Surat keterangan mengenai hak atas tanah; atau
7. Surat-surat lainnya
103
Rancangan UP Rl tentang KUHP. Direktorat Perundang-Undangan, Direktorat Jenderal
Hukum dan Perundang-Undangan, Departemen Hukum dan Perundang-Undangan, 1999 - 2000,
hal. 148
b. Menggunakan surat-surat sebagaimana dimaksud pada huruf a, yang
isinya tidak benar atau dipalsu, jika penggunaan surat tersebut dapat
menimbulkan kerugian.
Ketentuan Pasal 453 RKUHP mengandung pengertian yang hampir
sama dengan pasal 263 KUHP, adapun yang dimaksud dengan surat dalam
pasal ini adalah semua gambaran dalam pikiran yang diwujudkan dalam
perkataan, yang dituangkan dalam tulisan, baik dengan cara menulis atau
melalui mesin. Surat yang dipalsu itu harus dapat:
a. Menimbulkan suatu hak, misalnya ijazah, karcis,.tanda masuk, saham, dan
lain-lain.
b. Menimbulkan suatu perikatan, misalnya perikatan utang-piutang, jual beli,
sewa, dan lain-lain.
c. Menerbitkan suatu pembebasan utang
d. Dipergunakan sebagai keterangan bagi suatu perbuatan atau peristiwa,
misalnya buku tabungan pos, surat tanda kelahiran, surat angkutan, buku
kas, dan lain-lain.
Adapun yang dimaksud dengan "surat" adalah semua gambaran dalam
pikiran yang diwujudkan dalam perkataan yaitu yang dituangkan dalam
tulisan, baik tulisan tangan maupun melalui mesin, termasuk juga antara lain
salinan, hasil foto copy, faximile atas surat tersebut. Surat yang dipalsu harus
dapat:
1. menimbulkan suatu hak, seperti ijazah, karcis tanda masuk, saharn;
2. menimbulkan suatu perikatan, seperti perjanjian kredit, jual beli, sewa
menyewa;
3. menerbitkan suatu pembebasan hutang,
4. dipergunakan sebagai bukti bagi suatu perbuatan atau peristiwa, seperti
buku tabungan, surat tanda kelahiran.buku kas, dan lain-lain.
Demikian juga halnya dengan penipuan, di dalam KUHP diatur dalam Pasal
378 KUHP, yang isinya :
Barang siapa dengan maksud hendak menguntuntungkan diri sendiri atau
orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau
keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat maupun karangan
perkataan-perkataan
bohong,
membujuk seseorang untuk
memberikan sesuatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang,
dihukum karena penipuan, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima
tahun.
Penipuan adalah tindak pidana terhadap harta benda, dapat dilakukan
juga terhadap badan hukum. Tempat tindak pidana ( locus delicti ) adalah
dimana pembuat melakukan perbuatannya, walaupun penyerahan dilakukan di
tempat lain. Demikian juga saat tindak pidana (tempus delicti ) adalah saat
pelaku melakukan perbuatannya: Barang yang diserahkan dapat merupakan
milik ( pembuat ) sendiri, misalnya barang yang diberikan sebagai jaminan
utang tidak perlu dibuat untuk kepentingan pelaku.
Penipuan didalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
1999-2000, diatur dalam Bab XXV tentang Tindak Pidana Perbuatan Curang,
dimana dalam Pasal 508 nya menyebutkan
Setiap orang yang secara melawan hukum dengan maksud
menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan memakai nama palsu atau
kedudukan palsu, menyalahgunakan agama, menggunakan tipu muslihat atau
rangkaian kata-kata bohong membujuk orang supaya memberikan suatu
barang, membuat pengakuan hutang, atau menghapus piutang, dipidana karena
penipuan, dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda
paling banyak Rp.7.500.000,- (tuiuh juta lima ratus ribu rupiah)104
Di dalam penjelasannya, menyatakan bahwa Pasal ini mengatur tentang
tindak pidana penipuan. Perbuatan materiil dari penipuan adalah membujuk
seseorang dengan berbagai cara yang disebut dalam ketentuan ini, untuk
memberikan sesuatu barang, membuat utang atau menghapus piutang. Dengan
demikian perbuatan yang langsung merugikan itu tidak dilakukan oleh
pembuat, tetapi oleh pihak yang dirugikan sendiri. Perbuatan penipuan ini
baru selesai, dengan terjadinya perbuatan dari pihak yang dirugikan
sebagaimana dikehendaki pembuat.
Barang yang diberikan, tidak harus secara langsung kepada pembuat,
tetapi dapat juga dilakukan kepada orang lain yang disuruh pembuat untuk
menerima penyerahan itu.
Sedangkan dalam Rancangan Undang-Undang Hukum Pidana Tahun
2008, diatur dalam BAB XXVII tentang Tindak Pidana Perbuatan Curang,
Bagian kesatu Penipuan, dalam ketentuan Pasal 611 menyebutkan bahwa:
Setiap orang yang melawan hukum dengan maksud
menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan
memakai
nama
palsu
atau kedudukan
palsu,
menyalahgunakan agama, menggunakan tipu muslihat atau
rangkaian kata-kata bohong membujuk orang supaya
memberikan suatu barang, membuat pengakuan utang, atau
menghapus piutang dipidana karena penipuan, dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana
denda paling banyak kategori IV.
104
Ibid.hal. 194.
Penipuan adalah tindak pidana terhadap harta benda. Tempat tindak
pidana (locus delicti) adalah tempat pembuat melakukan penipuan, walaupun
penyerahan dilakukan di tempat lain. Saat dilakukannya tindak pidana (tempus
delicti) adalah saat pembuat melakukan penipuan.
Untuk lebih jelasnya, mengenai pemalsuan dan penipuan dapat dilihat dalam
tabel berikut ini :
TABEL1
PEMALSUAN
Pasal 395 RKUHP
99/ 2000
Setiap Orang
No
Unsur Pasal 263 KUHP
1.
Subjek Barang Siapa, yaitu :
Orang
Objek Membuat surat palsu Membuat secara tidak
atau memalsu surat
benar atau memalsu
surat
Surat : baik yang Surat : semua
ditulis dengan tangan, gambaran dalam
dicetak,
maupun pikiran yang
memakai mesin tik, dll diwujudkan dalam
perkataan, yaitu yang
dituangkan dalam
tulisan, baik tulisan
tangan maupun
melalui mesin,
termasuk salinan,
hasil fotocopy,
faximile, komputer,
internet atas surat
tersebut
Dapat menimbulkan
Dapat menimbulkan
hak, perikatan atau
hak, perikatan atau
pembebasan hutang,
pembebasan hutang,
atau dapat
atau dapat
diperuntukkan sebagai diperuntukkan
bukti dari suatu hal.
sebagai bukti dari
suatu hal
2
Pasal 452 RKUHP
2008
Setiap Orang
Membuat secara tidak
benar atau memalsu
surat
Surat : semua
gambaran dalam
pikiran yang
diwujudkan dalam
perkataan, yaitu yang
dituangkan dalam
tulisan, baik tulisan
tangan maupun
melalui mesin,
termasuk salinan, hasil
fotocopy, faximile,
menimbulkan suatu
hak, perikatan,
pembebasan utang,
atau yang
diperuntukan sebagai
bukti dari suatu hal
Menyuruh orang lain
Menyuruh orang lain Menyuruh orang lain
Ada unsur kesengajaan Ada unsur
menggunakan surat
kesengajaan
yang dipalsu.
menggunakan surat
yang dipalsu.
Akibatnya :
Akibatnya :
menimbulkan
menimbulkan
kerugian, dengan
kerugian, dengan
ancaman pidana
ancaman pidana
penjara paling lama 6 penjara paling lama 6
tahun.
tahun. Atau denda
paling banyak Rp.
7.500.000,Analisa Tabel 1 :
Ada unsur
kesengajaan
menggunakan surat
yang dipalsu.
Akibatnya :
menimbulkan
kerugian, dengan
ancaman pidana
penjara paling lama 6
tahun. Atau denda
paling banyak
Kategori IV
Dari KUHP dengan Rancangan belum mengatur mengenai pemalsuan kartu
kredit. Dimana pemalsuan yang dimaksud di dalam ketentuan Pasal 263 KUHP
dan RKUHP Tahun 1999/2000 dan RKUHP Tahun 2008 adalah pemalsuan surat.
Kartu kredit tidak dapat diinterpretasikan sebagai surat dikarenakan yang
dimaksud dengan "surat" adalah semua gambaran dalam pikiran yang diwujudkan
dalam perkataan yaitu yang dituangkan dalam tulisan, baik tulisan tangan maupun
melalui mesin, termasuk juga antara lain salinan, hasil foto copy, faximile atas
surat tersebut. Surat yang dipalsu harus dapat:
1. menimbulkan suatu hak, seperti ijazah, karcis tanda masuk, saham;
2. menimbulkan suatu perikatan, seperti perjanjian kredit, jual beli, sewa
menyewa;
3. menerbitkan suatu pembebasan hutang,
4. dipergunakan sebagai bukti bagi suatu perbuatan atau peristiwa, seperti
buku tabungan, surat tanda kelahiran.buku kas, dan lain-lain.
TABEL 2
PENIPUAN
No. Unsur
Pasal 378 KUHP
Pasal 508 RKUHP
1999-2000
Pasal 611 RKUHP
2008
Setiap orang.
Dengan maksud
menguntungkan diri
sendiri atau orang
lain, melawan
hukum, memakai
nama palsu,
kedudukan palsu,
menyalahgunakan
agama, dengan tipu
muslihat, kata-kata
bohong dan
membujuk orang
lain.
Barang/harta benda.
Dengan memakai
tipu muslihat, dan
lain-lain, maka agar
orang lain
Setiap orang.
Dengan maksud
menguntungkan diri
sendiri atau orang
lain, melawan
hukum, memakai
nama palsu,
kedudukan palsu,
menyalahgunakan
agama, dengan tipu
muslihat, kata-kata
bohong dan
membujuk orang lain.
1
Subyek
Barang siapa, yaitu:
orang dengan maksud
menguntungkan diri
sendiri atau orang lain,
dengan melawan hak,
memakai nama palsu
atau keadaan palsu,
dengan akal dan tipu
muslihat, bohong dan
pembujukan
2.
Obyek
Barang / Harta Benda.
Dengan memakai tipu
muslihat, dan lain-lain
,maka agar orang lain
Barang/harta benda.
Dengan memakai tipu
muslihat, dan lainlain, maka agar orang
lain memberikan
Memberikan
barangnya, membuat
utang atau menghapus
piutang
memberikan
barangnya, membuat
barangnya, membuat utang atau
utang atau
menghapus piutang
menghapus piutang.
Akibatnya : Karena
penipuan tersebut,
dihukum dengan
pidana penjara selama
lamanya 5 tahun
Akibatnya : Karena
penipuan, dihukum
dengan pidana
penjara paling lama 4
tahun atau denda
paling banyak
Rp. 7. 500.000,-
Akibatnya : Karena
penipuan, dihukum
dengan pidana
penjara paling lama 4
tahun atau denda
paling banyak
kategori IV
Analisa label 2 :
Antara KUHP dengan Rancangan ada perubahan dimana subjeknya tidak lagi
orang dan Badan Hukum tetapi setiap orang dan selain memakai nama palsu juga
memakai kedudukan palsu, serta menyalahgunakan agama. Juga dari melawan
hak menjadi melawan hukum, dimana hak tersebut bersifat pribadi sedangkan
melawan hukum sifatnya lebih luas. Jadi dalam rancangan menyebutkan secara
liminatif daya upaya yang digunakan, yaitu dengan kedudukan palsu dan lain-lain.
Antara daya upaya dan perbuatan harus ada hubungan kausal lain sehingga orang
lain percaya dan menyerahkan barang/ harta benda yang diminta
Internet telah membentuk masyarakat dunia baru. Masyarakat dunia yang
tak lagi dihalangi oleh batas-batas teritorial antara negara yang dahulu ditetapkan
sangat rigid sekali. Masyarakat baru dengan kebebasan beraktivitas dan berkreasi
yang paling sempurna. Masyarakat yang sedang mencoba membangun
kebudayaan baru di ruang maya yang dikenal dengan nama Cyberspace. Istilah
yang lahir dari William Gibson, seorang penulis fiksi ilmiah (science fiction)
dalam novelnya yang berjudul Neuromancer dan Virtual Light. Kelahiran internet
memang telah membalikkan segalanya, yang jauh menjadi dekat, yang khayal
menjadi nyata dan yang paper-based menjadi paperless. Namun dibalik
kegemerlapan itu, internet juga melahirkan keresahan-keresahan baru, diantaranya
muncul kejahatan yang lebih canggih dalam bentuk "cyber crime”.105
105
Freddy Harris, Menanti Hukum di Cyberspace, Jurnal Hukum dan Teknologi, FH Ul, Edisi I
Tahun I 2001, hal. 4.
Cyber crime merupakan salah satu bentuk atau dimensi baru dari kejahatan
masa kini yang mendapat perhatian luas di dunia internasional. Volodymyr
Golubev menyebutnya sebagai "the new form of anti-social behavior". Beberapa
julukan/ sebutan lainnya yang cukup terkenal diberikan kepada jenis kejahatan
batu ini di dalam berbagai tulisan, antara lain sebagai "kejahatan dunia maya"
("cyber-space/ virtual-space offence"), dimensi baru dari "hi-tech crime", dimensi
baru dari "transnational crime", dan dimensi bam dari "white collar •crime”
Bahkan dapat dikatakan sebagai dimensi baru dari "environmentalcrime"106
Tindakan seorang hacker tidak sampai merusak yang dilakukan biasanya
hanya sekadar mengintip informasi tentunya secara diam-diam, tanpa melakukan
perubahan apapun terhadap sistem yang dia masuki.107 Serangan cyber crime
umumnya mengincar dunia perbankan.108 Hal ini tentu mengguncang keamanan
transaksi elektronik. Terhadap hal ini, Philipina melalui Electronic E-Commerce
Act 2000 dan Consumer Act 1991 menyebutkan bahwa siapa saja yang
menggunakan transaksi secara elektronik tunduk terhadap hukum yang berlaku.109
106
Barda Nawawi, Masalah Penegakan Hukum
Kejahatan, PT Citra Aditya Bhakti Bandung, 2001, hal. 243
dan
Kebijakan
Penanggulangan
107
Sutanto, Hermawan sulityo dan Tjuk Sugiarto (Ed.), 2005, Cyber Crime-Motif dan
Penindakan, Pensil 324, Jakarta, hal. 15
108
Redaksi Suara Pembaruanm 2009, “Disiapkan, PP Kejahatan Dunia Maya”, Serial Online 8
November
2009,
(Cited
2010
Jun
8),
available
from
:
URL:
ttp://www.suarapembaruan.com/News/2009/11/08/Telko/tel01.htm.
109
Big, “Cyber Laws”, http://bigswamp.wordpress.com/2011/03/22/cyber-laws/, diakses pada
23 Juni 2011.
Negara ini merupakan negara yang memiliki pengaturan khusus tentang kejahatan
sebelum Indonesia.
Pada negara yang telah maju dalam penggunaan internet sebagai alat untuk
memfasilitasi setiap aspek kehidupan mereka, perkembangan hukum dunia maya
sudah sangat maju. Sebagai kiblat dari perkembangan aspek hukum ini, Amerika
Serikat merupakan negara yang telah memiliki banyak perangkat hukum yang
mengatur dan menentukan perkembangan Cyber Law termasuk mengenai tindak
pidana penyalahgunaan kartu kredit. Di Amerika, Cyber Law yang mengatur
transaksi elektronik dikenal dengan Uniform Electronic Transaction Act (UETA).
UETA diadopsi oleh National Conference of Commissioners on Uniform State
Laws (NCCUSL) pada tahun 1999. Secara lengkap Cyber Law di Amerika
meliputi Electronic Signatures in Global and National Commerce Act, Uniform
Electronic Transaction Act, Uniform Computer Information Transaction Act,
Government Paperwork Elimination Act, Electronic Communication Privacy Act,
Privacy Protection Act, Fair Credit Reporting Act, Right to Financial Privacy Act
Computer Fraud and Abuse Act, Anti-cyber squatting consumer protection Act,
Child online protection Act, Children’s online privacy protection Act, Economic
espionage Act dan “No Electronic Theft” Act.110
Pembaruan RKUHP di Indonesia sangat penting untuk menjaring pelaku
penyalahgunaan kartu kredit sehingga Indonesia tidak tertinggal dengan negara
lain dalam menanggulangi kejahatan ini. Ketiadaan substansi hukum tentu akan
110
Anonim, “Peraturan dan Regulasi (perbedaan cyberlaw diberbagai negara)”,
http://blogkublogku.blogspot.com/2011/03/peraturan-dan-regulasi-perbedaan.html, diakses pada
23 Juni 2011.
melemahkan
atau
penyalahgunaan
bahkan
kartu
kredit.
meniadakan
penegakan
hukum
terhadap
Mardjono
Reksodiputro
dalam
artikelnya
mengatakan bahwa Barda Nawawi Arief mengusulkan agar dalam hal
kriminalisasi dibedakan antara harmonisasi materi/ substansi dan harmonisasi
kebijakan formulasi. Yang pertama adalah apa yang dinamakan " Tindak Pidana
Mayantara " (cyber crime ) dan yang kedua apakah akan berada diluar atau di
dalam KUHP. Serta memasukan katagori delik menjadi sebagai berikut:
1. Delik-delik terhadap kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan data dan sistem
komputer, termasuk di sini:
a. Mengakses sistem komputer tanpa hak (illegal access)
b. Tanpa hak menangkap/ mendengar pengiriman dan pemancaran (illegal
intercepton)
c. Tanpa hak merusak data (data interference)
d. Tanpa hak mengganggu sistem (system interference)
e. Menyalahgunakan perlengkapan (misuse of devices)
2. Delik-delik yang berhubungan dengan komputer (pemalsuan dan penipuan
dengan komputer-computer related offenses : forgery and fraud)
3. Delik-delik yang berhubungan dengan pornografi anak ( content related
offenses : forgery and fraud)
4. Delik-delik yang berhubungan dengan hak cipta ( offenses related to
infringements of copyright)
Dari
masalah tersebut diatas,
didalam
dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu :
kebijakan formulasi
dapat
1. Menganggapnya sebagai kejahatan biasa (ordinary crime) yang dilakukan
dengan komputer (high-tech) dan KUHP dapat dipergunakan untuk
menanggulanginya (tentu dengan penambahan).
2. Menganggap sebagai kejahatan kategori baru (new category of crime)
yang membutuhkan suatu kerangka hukum yang baru dan komprehensif
untuk mengatasi sifat khusus teknologi yang sedang berkembang dan
tantangan baru yang tidak ada pada kejahatan biasa dan karena itu perlu
diatur secara tersendiri diluar KUHP.111
Untuk mengatasi dan melacak kejahatan pembobol kartu kredit atau lebih
dikenal dengan carder, kepolisian segera menerjunkan aparatnya. Markas
Besar kepolisian Republik Indonesia (MabesPoIri) saat ini telah memiliki tim
khusus penanganan cyber crime
yang bernaung dibawah Subdit Pidana
Teknologi Informasi ( Tl ) Direktorat Tindak Pidana Khusus Korserse Polri.
4.2
Kebijakan
Hukum
Dalam
Mengantisipasi
Tindak
Pidana
Penyalahgunaan Kartu Kredit.
Kebutuhan akan teknologi Jaringan Komputer semakin meningkat. Selain
sebagai media penyedia informasi, melalui Internet pula kegiatan komunitas
komersial menjadi bagian terbesar, dan terpesat pertumbuhannya serta menembus
berbagai batas negara. Bahkan melalui jaringan ini kegiatan pasar di dunia bisa
diketahui selama 24 jam. Melalui dunia internet atau disebut juga cyberspace,
111
Mardjono Reksodiputro, Cybercrime and Intelectual Property, artikel anggota Komisi
Hukum Nasional Rl, 28 September 2002, hall
apapun dapat dilakukan. Segi positif dari dunia maya ini tentu saja menambah
trend perkembangan teknologi dunia dengan segala bentuk kreatifitas manusia.
Namun dampak negatif pun tidak bisa dihindari.
Seiring dengan perkembangan teknologi Internet, menyebabkan munculnya
kejahatan yang disebut dengan "CyberCrime" atau kejahatan melalui jaringan
Internet. Munculnya beberapa kasus "CyberCrime" di Indonesia, seperti pencurian
kartu kredit, hacking beberapa situs, menyadap transmisi data orang lain,
misalnya email, dan memanipulasi data dengan cara menyiapkan perintah yang
tidak dikehendaki ke dalam programmer komputer. Sehingga dalam kejahatan
komputer dimungkinkan adanya delik formil dan delik materil. Delik formil
adalah perbuatan seseorang yang memasuki komputer orang lain tanpa ijin,
sedangkan delik materil adalah perbuatan yang menimbulkan akibat kerugian bagi
orang lain (berdasarkan makalah Pengamanan Aplikasi Komputer Dalam Sistem
Perbankan dan Aspek Penyelidikan dan Tindak Pidana). Adanya CyberCrime
telah menjadi ancaman stabilitas, sehingga pemerintah sulit mengimbangi teknik
kejahatan yang dilakukan dengan teknologi komputer, khususnya jaringan internet
dan intranet.
Para netter (pengguna internet) dapat mengetahui secara cepat perkembangan
riset teknologi di berbagai belahan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin
pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses internet
yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan
perpustakaan,
internet
melambangkan
penyebaran
(decentralization)/
pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim.112 Mekanisme
akses perpustakaan (e-librabry) dapat dilakukan dengan menggunakan
program khusus yang berstandar Z39.50 seperti WAIS (Wide Area
Information System), aplikasi telnet atau melalui web browser.113
Internet juga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dalam memberikan
layanan publik. Indonesia sendiri telah menggunakan aplikasi RI-NET yang
memungkinkan akses email kepada para pejabat serta memberikan layanan
web (homepage) yang dapat diakses melalui http://www.ri.go.id. Dengan
mengunakan layanan internet maka pemerintah dengan cepat dapat
mensosialisasikan regulasi dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkannya.
Melalui administrasi online dalam pemerintahan, praktik korupsi dalam
membuat surat-surat dapat diminimalisasi. Pejabat juga dapat mendekatkan
diri dengan rakyat melalui teleconference.
Penggunaan teknologi informasi dalam bidang ekonomi telah
melahirkan istilah new digital networked economy. Jaringan ini memberikan
ruang untuk bertransaksi bisnis secara online dan real time. Penjualan produk
secara online menyebabkan cost of marketing dan cost of employee menjadi
semakin rendah sehingga margin keuntungan dapat ditingkatkan.114 Pelebaran
112
Redaksi Wikipedia, 2010, “Internet”, Serial Online 30 Agustus 2010, 11:29, (Cited 2010
Sept. 23), available from : URL:http://id.wikipedia.org/wiki/Internet.
113
Perpustakaan Online, 2008, “Internet dan Manfaatnya”, Serial Online 19 Mei 2008, (Cited
2010 Sept. 23), available from : URL: http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/internetdan-manfaatnya.html
jejaring bisnis melalui media internet memiliki prospek yang sangat baik.
Pasar modal seperti NASDAQ yang didominasi oleh saham perusahaan yang
berbasis teknologi misalnya, semakin diminati dan dimonitor oleh pelaku
bisnis.
Penetrasi internet yang begitu besar apabila tidak dipergunakan dengan
bijak maka akan melahirkan kejahatan di dunia maya atau yang diistilahkan
dengan cyber crime. Cyber crime terjadi pertama kali di Amerika Serikat
pada tahun 1960-an.115 Berbagai kasus cyber crime yang terjadi saat itu mulai
dari manipulasi transkrip akademik mahasiswa di Brooklyn College New
York,
penggunaan
komputer
dalam
penyelundupan
narkotika,
penyalahgunaan komputer oleh karyawan hingga akses tidak sah terhadap
Database Security Pasific National Bank yang mengakibatkan kerugian
sebesar US$ 10.2 juta pada tahun 1978.
Cyber crime juga terjadi di Indonesia, bahkan kejahatan ini sebenarnya
sudah ada sejak internet masuk ke Indonesia.116 Pengguna internet di
Indonesia hanya 14,5 juta orang dari total penduduk yang mencapai 220 juta.
114
Anonim, 2009, “Daftar Jumlah Pengguna Internet Dunia 1995-2008”, Serial Online 2009
Februari 28, (Cited 2010 Feb. 8), available from : URL: http://id.wordpress.com/tag/ Daftar jumlah-pengguna-internet- Dunia-1995-2008/
115
Edy Junaedi Karnasudirja, 1993, Jurisprudensi Kejahatan Komputer, Tanjung Agung,
Jakarta, hal. 3.
116
Indonesia yang untuk pertama kali terhubung dengan internet pada tahun 1993, pada
tahun berikutnya saja telah mempunyai 32 (tiga puluh dua) network yang terhubung ke internet.
Jumlah ini masih sangat kecil dibanding pada saat yang sama Amerika Serikat mempunyai 14.782
(empat belas ribu tujuh ratus delapan puluh dua), Jepang mempunyai 1.097 (seribu sembilan puluh
tujuh), dan Jerman mempunyai 1.220 (seribu dua ratus dua puluh) network yang terhubung ke
internet. (Asril Sitompul, 2004, Hukum Internet Pengenalan Mengenai Masalah Hukum di
Cyberspace, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. vi.)
Meskipun tidak ada 10 persennya, Indonesia pernah menduduki peringkat
pertama dalam kejahatan dunia maya. Tahun 2007 posisi Indonesia sempat
menurun di posisi empat setelah Ukraina dan beberapa negara Eropa Timur
yang membukukan angka kejahatan dunia maya lebih banyak.117
Akibat tingginya kejahatan yang dilakukan di dunia maya Indonesia
masuk dalam daftar hitam di kalangan penyedia pembayaran lewat internet
(internet payment).118
Menurut Brigjen Anton Tabah, Staf Ahli Kapolri, jumlah cyber crime
yang terjadi di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia karena banyaknya
aktivitas para hacker. Tingginya kasus cyber crime dapat dilihat dari
banyaknya kasus pemalsuan kartu kredit dan pembobolan sejumlah bank.119
Tahun 2004 kejahatan carding mencapai 177 dari 192 kasus kejahatan
internet. Tahun sebelumnya, kejahatan carding menembus angka 145 dari
153 kasus kejahatan internet.120 Bahkan Indonesia masuk dalam peringkat 10
117
Jim Geovedi, tanpa waktu edisi, “Cyber Crime Terkendala”, (Cited 2010 Sept. 23),
available from : URL:http://www.kompas.co.id.
118
Ibid.
119
Redaksi Antara, 2009, “Jumlah Kasus Cyber Crime di Indonesia, Tertinggi di Dunia”,
Serial Online Thursday, 26 March 2009, (Cited 2010 Feb. 8), available from : URL:
http://www.indofamily.net/teens/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=0&Itemid
=30.
120
Danardono, 2005, “Indonesia Peringkat Pertama Pelaku Kejahatan Internet”, Serial Online
14 September 2005 3:36, (Cited 2010 Sept. 23), available from : URL:
http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?f=1&t=29697&start=0
besar pelanggaran internet terbesar di dunia.121 Meskipun Indonesia
menduduki peringkat pertama dalam cybercrime pada tahun 2004, akan tetapi
jumlah kasus yang diputus oleh pengadilan tidaklah banyak.122
Data yang tidak jauh berbeda juga dikemukan dalam laporan bertajuk
Internet Security Threat Report XV periode Januari-Desember 2009 yang
disponsori oleh perusahaan Symante. Dalam laporan tersebut, Indonesia
dinyatakan sudah termasuk dalam peringkat Top 10. Pada tahun 2008,
Indonesia duduk di peringkat ke-12 dalam urutan negara di kawasan Asia
Pasifik yang memiliki kegiatan jahat (malicious) berdasarkan negara. Namun
pada tahun
2009, peringkatnya melonjak cepat dan langsung duduk di
peringkat 9 setelah Australia di peringkat 8 dan Filipina di peringkat 10.
Indonesia menjadi lokasi kedua terbesar untuk Sality. AE, virus yang
menghapus layanan dan aplikasi-aplikasi keamanan, satu peringkat di bawah
India. Indonesia juga terdaftar di peringkat 9 untuk lokasi phishing yang
menyasar jasa-jasa finansial, dan urutan ke 8 untuk negara asal spam.123
121
Andi Hamzah, 2009, “Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan Internet
(Cybercrime) di Indonesia”, Serial Online 28 Oktober 2009, (Cited 2010 Sept. 23), available from
: URL: http://andi-hamzah.blogspot.com/2009/10/upaya-pencegahan-dan-penanggulangan.html
122
Agus Raharjo, 2006, “Kebijakan Kriminalisasi dan Penanganan Cybercrime di
Indonesia”, Serial Online 12 September 2006, (Cited 2010 Feb. 8), available from : URL:
http://www.unsoed.ac.id/newcmsfak/UserFiles/File/HUKUM/kriminalisasi_cybercrime.htm.
123
Tribun Timur, 2010, “Peringkat Indonesia di CyberCrime Naik” Serial Online 30 April
2010,
(Cited
2010
Sept.
23),
available
from
:
URL:
http://www.tribuntimur.com/read/artikel/100001/Peringkat_Indonesia_di_CyberCrime_Naik
Berdasarkan data penyalahgunaan kartu kredit sebagaimana dipaparkan
diatas, sudah jelas sangatlah diperlukan ketentuan hukum untuk menjerat pelaku
penyalahgunaan kartu kredit, sementara KUHP sendiri sudah tidak relevan
digunakan. Barda Nawawi Arief memberikan pendapat untuk mengatasi
kekosongan perangkat atau ketentuan perundang-undangan yang demikian ada
dua kemungkinan yang dapat ditempuh :
1. Membuat ketentuan perundang-undangan baru atau revisi ketentuan
perundang-undangan yang berlaku saat ini dengan menegaskan pejabat
mana yang dipandang bertanggung jawab sebagai pejabat pengendali itu.
Dapat diusulkan agar Mahkamah Agung-lah yang ditetapkan sebagai
pejabat pengendali, alasannya menurut sistem Undang-Undang Dasar
1945 (Pasal 24 ayat (2)) Mahkamah Agung yang melaksanakan fungsi
kekuasaan kehakiman. Tetapi istilah kekuasaan kehakiman seyogianya
jangan diartikan sebagai kekuasaan mengadili, tetati lebih luas sebagai
kekuasaan untuk menegakkan hukum.
2. Kekosongan perundang-undangan diisi lewat yurisprudensi.
Penanganan perkara kejahatan yang dilakukan oleh aparat kepolisian
merupakan penanganan yang bersifat represif, artinya penanganan tersebut
dilakukan setelah terjadinya tindak pidana. Upaya yang lain yang dapat
dilakukan aparat kepolisian adalah upaya preventif .
Institusi hukum memiliki arti yang sangat penting dalam pembaruan
hukum, hal ini disepakati oleh Paul Bohannon yang mengatakan “that legal
institutions are the essense of law.”124 (bahwa institusi-institusi hukum adalah
inti hukum.) Pembaruan hukum di Indonesia memerlukan waktu bertahuntahun untuk merancang konsep-konsep hukum yang tertuang dalam bentuk
buku, berbeda dengan system di Australia yaitu Australian legislation is
generally printed in pamphiet form after assent. These are cumulated in
bound volumes at the end of the year.125 (Undang-undang Australia umumnya
dicetak dalam bentuk pamflet setelah persetujuan. Ini adalah cumulated
dalam volume terikat pada akhir tahun.)
Peranan hukum dalam kehidupan masyatakat sangat besar dikarenakan
Law is not clearly distinguishable from other aspects of social order until
courts of law come into existence.126 (Hukum mencakup setiap aspek-aspek
lain dari tatanan sosial sampai pengadilan hukum menjadi ada.)
Penyalahgunaan kartu kredit jelas menimbulkan dampak negatif bagi
Pengelola/ Penerbit, terutama karena mekanisme penggunaan kartu kredit
membuat penerbit/ pengelola menanggung resiko paling besar dibandingkan
dengan dua pihak terkait lainnya. Adapun dampak yang timbul dari
penyalahgunaan kartu kredit dapat berupa :
124
Lawrence. M. Friedman, 1975, The Legal System A Social Sentence Perspective, Russel
Sage Foundation, New York, hal. 7.
125
Terry Hutchinson, 2002, Researching and Writing in Law, Lawbook Co., Sydney,
Australia, hal 225.
126
Geoffrey Sawer , 1973, Law in Society, Oxford University Press, London. hal 70.
1. Dampak Finansial:
a. Terhadap penerbit
b. Terhadap Negara127
ad. 1. Dampak Finansial
a. Dampak finansial terhadap penerbit
Penyalahgunaan kartu kredit telah menimbulkan kerugian yang
cukup besar bagi penerbit di Indonesia. Berdasarkan data yang
diperoleh dari Visa, Mastercard, Amex, BCA, dan Diners, kerugian
tersebut menunjukkan kecendrungan yang terus meningkat selama
beberapa tahun terakhir. Suatu hal yang kiranya perlu disadari oleh
semua pihak bahwa bank sebagai lembaga keuangan bekerja atas
dasar kepercayaan dari masyarakat, sehingga rasa kepercayaaan
masyarakat terhadap bank sebagai penerbit kartu kreditpun
berkurang. Dan memungkinkan para nasabah untuk menarik assetaset yang terdapat dibank tersebut sehingga bank mengalami pailit,
sehingga dapat berdampak pula bagi kesejahteraan karyawan
tersebut, dimana akan dilakukannya pemutusan hubungan kerja
b. Dampak finansial terhadap negara
Tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit memiliki dampak yang
besar bagi perekonomian negara. Financial Times dalam UN World
Report on Electronic Fraud melaporkan bahwa di Inggris sendiri
pada tahun 2004, kejahatan ini sendiri telah menyebabkan kerugian
127
Juklap POLRI, op.cit. hal. 15
senilai 116.4 juta poundsterling, sementara itu di Amerika hal yang
sama menyebabkan kerugian sebesar 428.2 juta dolar, sementara di
Perancis menyebabkan kerugian sekitar 126.3 juta frank dalam
periode yang sama.128 Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI)
memperkirakan pada tahun 2007, kerugian akibat kejahatan kartu
kredit di Tanah Air mencapai Rp 35 miliar.129 Berdasarkan
data Bank Indonesia (BI) terbaru per April 2010, nilai kerugian
kartu atas fraud kartu kredit mencapai Rp 16,72 miliar.
Selain dampak seperti tersebut di atas, Penyalahgunaan kartu kredit
memberikan dampak yang kurang baik bagi Negara Indonesia
karena dijuluki sebagai negeri sarang pelaku kejahatan dengan kartu
kredit dan Indonesia telah masuk daftar hitam kejahatan dengan
pembayaran kartu kredit. Begitu pula bagi sektor pariwisata dimana
merupakan sumber devisa negara, dimana apabila penyalahgunaan
kartu kredit di Indonesia semakin marak dapat mengurangi minat
untuk
berbelanja
dengan
memakai
kartu
kredit,
karena
kekhawatiran dari pemegang bahwa kartu kredit akan dipalsu
setelah berbelanja sehingga akan menurunkan pendapatan negara
dan sektor pariwisata secara langsung.
128
Anonim, “Keamanan Kartu Kredit dan Sistem Pembayaran Elektronik (E-Payment) Kasus
Penipuan
Kartu
Kredit
pada
Sistem
Pembayaran
Elektronik”,
http://nurwantovic.blogspot.com/2010/10/keamanan-kartu-kredit-dan-sistem.html, diakses pada 18
Juni 2011.
129
Suara
Merdeka,
“Kejahatan
Kartu
Kredit
Rp
35
Miliar”,
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/02/27/2653/Kejahatan-Kartu-Kredit-Rp35-Miliar, diakses pada 23 Juni 2011.
Menurut data Clear Commerce, sebuah firma keamanan awal 2002,
Indonesia hanya kalah dari Ukraina dalam hal kejahatan di internet.
Akibatnya, banyak situs merchant online memblokir transaksi yang
menggunakan nomor internet protocol (IP) Indonesia. Kasus
carding selama ini banyak dilakukan oleh carder dari kota-kota
seperti Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang
dan Medan. (tis,mmi)130 Bahkan Yogyakarta menjadi kota dengan
kejahatan kartu kredit tertinggi. Jika pemerintah Indonesia tidak
secara serius menanggulangi kejahatan ini, maka Indonesia akan
masuk dalam daftar hitam dalam transaksi bisnis melalui internet (epayment). Hal ini bertendensi menimbulkan embargo ekonomi bagi
Indonesia.
Dari dampak yang ditimbulkan terhadap penyalahgunaan kartu
kredit tersebut, untuk pembentukan hukum pada masa mendatang,
pemerintah perlu menciptakan peraturan-peraturan yang akurat
untuk mengantisipasi masalah tersebut melalui pembaruan dari
hukum pidana yang telah ada.
Pembaruan hukum pidana harus dilakukan dengan pendekatan
kebijakan, karena memang pada hakikatnya ia hanya merupakan bagian
dari suatu langkah kebijakan atau "policy" (yaitu bagian dari politik
hukum/penegakan hukum, politik hukum pidana, politik kriminal,dan
politik sosial). Didalam setiap kebijakan (policy) terkandung pula
130
Wicaksono Hidayat , “Cara Kerja Para Carder”, http://www.mokarawo.netfirms.com/infoteknologi.html, diakses pada 18 Juni 2011.
pertimbangan nilai. Oleh karena itu, pembaruan hukum pidana harus pula
berorientasi pada pendekatan nilai.
Dengan demikian, makna dan hakikat pembaruan hukum pidana,
sebagai berikut:
Dilihat dari sudut pendekatan-kebijakan :
a. Sebagai bagian dari kebijakan-sosial, pembaruan hukum pidana
pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi
masalah-masalah sosial (termasuk masalah kemanusiaan) dalam
rangka
mencapai/menunjang
tujuan
nasionat
(kesejahteraan
masyarakat dan sebagainya);
b. Sebagai bagian dari kebijakan kriminal, pembaruan hukum pidana
pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya perlindungan
masyarakat (khususnya upaya penanggulangan kejahatan); c.
Sebagai bagian dari kebijakan penegakan hukum, pembaruan
hukum pidana pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya
memperbaharui substansi hukum (legal substance) dalam rangka
lebih mengefektifkan penegakan hukum.
Dilihat dari sudut pendekatan-nilai:
Pembaruan hukum pidana pada hakikatnya merupakan upaya
melakukan peninjauan dan penilaian kembali ("re-orientasi dan reevaluasi") nilai-nilai sosio-politik, sosio-filosofik, sosio- kultural yang
melandasi dan memberi isi terhadap muatan normatif dan substantif
hukum pidana yang dicita-citakan. Bukanlah pembaruan ("reformasi")
hukum pidana, apabila orientasi nilai dari hukum pidana yang dicitacitakan (misalnya KUHP Baru) sama saja dengan orientasi nilai dari
hukum pidana lama warisan penjajah (KUHP lama atau WvS).131
Perkembangan pembaruan hukum pidana dan pemidanaan saat ini telah
memasuki era baru dari konsep reaksi pemidanaan (punitive reactions)
tumbuh ke arah suatu modifikasi konsep reaksi pembinaan (treatment
reactions).132
Dua
masalah
sentral
dalam
kebijakan
kriminal
dengan menggunakan sarana penal (hukum pidana) ialah masalah
penentuan:
1.
Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana.
2.
Sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada
si pelanggar.
Penganalisaan terhadap dua masalah sentral ini tidak dapat
dilepaskan dari konsepsi intergral antara kebijakan kriminal dengan
kebijakan sosial atau kebijakan pembangunan nasional. Ini berati
pemecahan masalah-masalah diatas harus pula diarahkan untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu dari kebijakan sosio-politik yang telah
ditetapkan. Dengan demikian kebijakan hukum pidana,. termasuk pula
kebijakan dalam menangani dua masalah sentral diatas, harus pula
dilakukan dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy
131
ibid
132
Bambang Purnomo, 1984, Kapita Selekta Hukum Pidana, Liberty, Yogyakarta, hal. 4.
oriented approach). Sudah barang tentu pendekatan kebijakan yang
integral ini tidak hanya dalam bidang hukum pidana, tetapi juga pada
pembangunan hukum pada umumnya.
Mengutip pendapat Satjipto Rahardjo mengenai teori progresif,
terdapat 2 macam tipe penegakan hukum progresif :
1. Dimensi dan faktor manusia pelaku dalam penegakan hukum
progresif. Idealnya, mereka terdiri dari generasi baru
profesional hukum yang memiliki visi dan filsafat yang
mendasari penegakan hukum progresif;
2. Kebutuhan akan semacam kebangunan di kalangan akademisi,
intelektual dan ilmuan serta teoritisi hukum Indonesia.133
Munculnya Hukum progresif adalah untuk menegaskan bahwa
hukum adalah untuk manusia, dan bukan sebaliknya. “Hukum itu
bukan hanya bangunan peraturan, melainkan juga bangunan ide,
kultur, dan cita-cita.” Dalam satu dekade terakhir, Satjipto Rahardjo
menekankan
satu hal penting, bahwa “tujuan hukum adalah
membahagiakan manusia”. Dan mengingatkan bahwa letak persoalan
hukum adalah di manusianya.
Penegasan ini berbeda dengan Pemahaman hukum secara
legalistik-positivistik dan berbasis peraturan (rule bound). Dalam ilmu
hukum yang legalistik- positivistik, hukum sebagai institusi pengaturan
yang kompleks telah direduksi menjadi sesuatu yang sederhana, linier,
mekanistik, deterministik, terutama untuk kepentingan profesi. Untuk
133
http://www.scribd.com/doc/21741046/Identifikasi-Hukum-Progresif-Di-Indonesia
lebih jelasnya, hukum progresif ini dapat dijelaskan melalui runutan
pengidentifikasikan
yang
terdiri
atas
asumsi,
tujuan,
spirit,
progresivitas, dan karakter.
Satjipto Rahardjo, dalam tulisannya berjudul : "Pembangunan
Hukum yang diarahkan kepada tujuan Nasional", mengemukakan
bahwa tidak dijumpai perbedaan antara fungsi hukum sebelum dan
sesudah kemerdekaan. Perbedaannya terletak pada keputusan politik
yang diambil dalam kedua masa tersebut dan pengimplimentasiannya
kedalam system hukum masing-masing. Apabila keputusan politik
yang diambil setelah
kemerdekaan
17
Agustus
1945
adalah
mengutamakan kemakmuran rakyat yang sebesar-besamya,
maka
keputusan demikian harus dirumuskan dalam kaidah-kaidah hukum
dan sruktur hukumnya pun harus menyediakan kemungkinan untuk
melakukan hal itu.134 Secara operasional, perundang-undangan pidana
mempunyai kedudukan strategis terhadap system peradilan pidana.135
Bertolak dari pendekatan kebijakan itu pula, Soedarto
berpendapat bahwa dalam menghadapi masalah sentral yang pertama
diatas, yang sering disebut masalah kriminalisasi, harus diperhatikan
hal-hal yang pada intinya sebagai berikut:136
134
Masalah-masalah Hukum , No.5-6 Thn. XII/1982, FH. UNDIP, hal. 2
135
136
Roeslan Saleh. Segi Lain Hukum Pidana. Ghalia Indonesia. Jakarta.1984.hal.44-45
Soedarto,op.cit, hal 44-48.
a. Penggunaan
hukum
pidana
harus
memperhatikan
tujuan
pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan
makmur yang merata material spiritual berdasarkan Pancasila;
sehubungan dengan mi maka (penggunaan) hukum pidana
bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan mengadakan
pengugeran terhadap tindakan penanggulangan itu sendiri, demi
kesejahteraan dan pengayoman masyarakat.
b. Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi
dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak
dikehendaki yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian,
(material dan atau spiritual) atas warga masyarakat.
c. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas
atau kemampuan daya kerja dari badan – badan penegak hukum
yaitu jangan sampai ada kelampuan beban tugas (overlasting)
Prof. Dr. Soerjono Soekanto dalam bukunya yang berjudul “Faktorfaktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum” menyebutkan beberapa hal
yang mempengaruhi penegakan hukum yakni:
1. Faktor hukumnya sendiri.
Permasalahan yang seringkali timbul dalam kejahatan transnasional
adalah masalah yurisdiksi. Pada prinsipnya negara memiliki kekuasaan
untuk mengatur hubungan hukum yang dilakukan oleh orang (warga
negara atau warga negara asing) yang berada di wilayahnya. Negara pun
memiliki wewenang yang sama untuk mengatur benda-benda atau
peristiwa-peristiwa hukum yang terjadi di dalam wilayahnya. Pada
dasarnya suatu Undang-undang hanya berlaku pada suatu negara tertentu
saja kecuali diantara negara-negara tersebut terdapat perjanjian
internasional baik yang bersifat bilateral maupun multilateral. Oleh sebab
itu penerapan hukumnya sangat tergantung dari kerjasama dan perjanjian
antar negara.
2.
Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun
menerapkan hukum.
Banyak hal yang seringkali menjadi ganjalan dari penerapan
hukum yakni kurangnya pengetahuan dari penegak hukum. Apalagi
dalam bidang teknologi yang selalu berkembang. Dalam beberapa kasus
di bidang cyber, penyidik seringkali menyita hardware seperti CPU atau
layar sedangkan softwarenya tidak disita. Koordinasi yang kurang antara
instansi penegak hukum dalam menindak pelaku juga masih dapat
dilihat. Selain itu tindakan nyata dari aparat penegak hukum khususnya
dalam menanggulangi prostitusi cyber belum dilakukan secara optimal.
3.
Faktor sarana dan fasilitas yang mendukung penegakan hukum.
Fasilitas komputer hampir dimiliki oleh semua kesatuan aparat
penegak hukum, namun masih sebatas untuk keperluan mengetik.137
Sarana dan fasilitas yang begitu minim seringkali menjadi faktor
penyebab lemahnya penegakan hukum.
137
Sutarman, op.cit., hal. 119.
4.
Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku
atau diterapkan.
Suatu kejahatan terjadi di masyarakat disebabkan salah satunya adalah
budaya hukum masyarakat yang menghendaki kejahatan tersebut.
Kehendak ini dapat diwujudkan dengan tindakan aktif dan tindakan pasif.
Tindakan aktif dilakukan manakala masyarakat menjadi pelaku carding.
Dalam kasus pembobolan dana nasabah beberapa waktu lalu, Bank
Central Asia membenarkan bahwa salah seorang pegawainya ditahan
polisi karena kejahatan kartu
kredit. Dia ditahan sehubungan
penggandaan kartu dan pengintipan PIN138
Pelaku tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit semakin leluasa
melakukan tindakannya karena meyakini akan lemahnya ketentuan
hukum pidana dalam menjamin sekuritas pengguna kartu kredit. Bahkan
pelaku menceritakan pengalaman dan memberikan tips-tips mengenai
cara-cara melakukan tindakan penyalahgunaan kartu kredit tersebut
melalui media internet.
Di sisi lain masyarakat korban juga enggan
melaporkan atas kejahatan kartu kredit yang dialaminya.
Tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit ini tentu menimbnulkan
kerugina. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) merilis kerugian
akibat kejahatan kartu kredit mencapai Rp35 miliar per tahun.139
138
Anton Septian, Rabu, 03 Februari 2010 | 21:01 WIB, “BCA Akui Pegawainya Terlibat
Kejahatan Kartu Kredit”, http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/02/03/brk,20100203223371,id.html, diakses pada 20 November 2010
139
Kabar Bisnis, Selasa, 31 Maret 2009 | 15:31 wib ET, “Kejahatan Kartu Kredit Rp35
Miliar Pe Tahun”, http://www.kabarbisnis.com/read/281593, diakses pada 18 Juni 2011.
Polarisasi pendekatan normatif ke dalam sistem peradilan pidana gaya
Packer menurut Romli Atmasasmita tidaklah bersifat mutlak, sehingga
operasionalisasi ke dua model ini dilandaskan pada asumsi yang sama, sebagai
berikut:
1) Penetapan suatu tindakan sebagai tindak pidana harus lebih dahulu
ditetapkan jauh sebelum proses identifikasi dan kontak dengan
seorang tersangka pelaku kejahatan atau asas “ex post facto law” atau
asas undang-undang tidak berlaku surut. Aparatur penegak hukum
atau law enforcement agencies tidak diperkenankan menyimpang dari
asas tersebut.
2) Diakuinya kewenangan yang terbatas pada aparatur penegak hukum
untuk melakukan tindakan penyidikan dan penangkapan terhadap
seorang tersangka pelaku kejahatan.
3) Seorang pelaku kejahatan adalah subjek hukum yang harus dilindungi
dan berhak atas peradilan yang jujur dan tidak memihak.140
Simposium Pembaruan Hukum Pidana Nasional pada bulan agustus tahun
1980 di Semarang. Dalam salah satu laporannya dikatakan sebagai berikut:
Masalah kriminalisasi dan deskriminalisasi atas suatu perbuatan
haruslah sesuai dengan politik criminal yang dianut oleh Bangsa
Indonesia, yaitu sejauh mana perbuatan tersebut bertentangan dengan
nilai-nilai fundamental yang berlaku dalam masyarakat dan oleh
masyarakat dianggap patut atau tidak patut dihukum dalam rangka
menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat.141
140
Romli Atmasasmita, 1996, Sistem Peradilan Pidana Perspektif Eksistensialisme dan
Abolisionisme, Binacipta, Bandung, hal. 18-19.
141
Laporan Simposium Pembaruan Hukum Pidana Nasional, Semarang, 1980
Khususnya mengenai kriteria kriminalisasi dan dekriminalisasi,
laporan simposium itu antara lain menyatakan : untuk menetapkan
suatu perbuatan itu sebagai tindak kriminal, perlu memperhatikan
kriteria umum sebagai berikut.
1. Apakah perbuatan itu disukai atau dibenci oleh masyarakat karena
merugikan, atau dapat merugikan, mendatangkan korban
atau
dapat mendatangkan korban.
2. Apakah biaya mengkriminalisasi seimbang dengan hasilnya yang
akan dicapai, artinya cost pembuatan undang-undang, pengawasan
dan penegakan hukum, serta beban yang dipikul oleh korban,
pelaku dan pelaku kejahatan itu sendiri harus seimbang dengan
situasi tertib hukurn yang akan dicapai.
3. Apakah akan makin menambah beban aparat penegak hukum yang
tidak seimbang atau nyata-nyata tidak dapat diemban oleh
kemampuan yang dimilikinya.
4. Apakah perbuatan-perbuatan itu menghambat atau menghalangi
cita-cita bangsa, sehingga merupakan bahaya bagi keseluruhan
masyarakat.
Disamping kriteria umum diatas, Simposium memandang perlu
pula untuk memperhatikan sikap dan pandangan masyarakat mengenai
patut tercelanya suatu perbuatan tertentu, dengan melakukan
penelitian, khususnya yang berhubungan dengan kemajuan teknologi
dan perubahan sosial.
Demikian pula menurut Bassiouni, keputusan untuk melakukan
kriminalisasi dan dekriminalisasi harus didasarkan pada faktor-faktor
kebijakan tertentu yang mempertimbangkan bermacam - macam
faktor, termasuk:
1. Keseimbangan sarana-sarana yang digunakan dalam hubungannya.
dengan hasil-hasil yang ingin dicapai;
2. Analisis biaya terhadap hasil-hasil yang diperoleh dalam
hubungannya dengan tujuan-tujuan yang dicapai;
3. Penilaian atau penafsiran tujuan-tujuan yang dicari itu dalam
kaitannya dengan prioritas-prioritas lainnya dalam pengalokasian
sumber-sumber tenaga manusia.
4. Pengaruh sosial dari kriminalisasi dan dekriminalisasi yang
berkenaan dengan atau dipandang dari pengaruh-pengaruhnya yang
sekunder.
Dalam upaya manusia mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan
harkat dan martabatnya maka manusia mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
pada hakikatnya merupakan suatu hasil kreativitas rohani manusia.142
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil budaya
masyarakat berimplikasi pada perubahan kehidupan sosial masyarakat
itu sendiri. Didik J. Rachbini dalam bukunya yang berjudul Mitos dan
Implikasi Globalisasi: Catatan Untuk Bidang Ekonomi dan Keuangan
142
Kaelan, 2004, Pendidikan Pancasila, Paradigma, Yogyakarta, hal. 228.
sebagaimana yang dikutip Dikdik Arief Mansur dan Alisatris Gultom
mengemukakan bahwa ”dalam pelaksanaannya sistem teknologi
terpaksa berbenturan dengan nilai-nilai moral.”143 Dampak negatif
yang ditimbulkan oleh produk teknologi informasi, seperti internet
menyebabkan proses perkembangan teknologi informasi belum
mencapai tingkat kemapanan.144
Selanjutnya dikemukakan bahwa problem dari pendekatan yang
berorientasi pada kebijakan adalah kecendrungan untuk menjadi
pragmatis dan kuantitatif serta tidak memberi kemungkinan untuk
masuknya faktor-faktor yang subyektif, misalnya nilai-nilai, ke dalam
proses pembuatan keputusan. Namun demikian, pendekatan yang
berorientasi pada kebijakan ini menurut Bassiouni seharusnya
dipertimbangkan sebagai salah satu scientific devide dan digunakan
sebagai altematif dari pendekatan dengan penilaian emosional (the
emosionally lade value judgment approach ) oleh kebanyakan badanbadan legislatif. Dikemukakan pula bahwa perkembangan dari "a
policy oriented approach" ini lamban datangnya , karena proses
legislatif belum siap untuk pendekatan yang demikian. Masalahnya
antara lain tertetak pada sumber-sumber keuangan untuk melakukan
orientasi ilmiah itu. Kelambanan yang demikian ditambah dengan
143
Dikdik M Arief Mansur dan Elisatris Gultom, 2005, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi
Informasi, Refika Aditama, Bandung, hal. 4.
144
Ibid.
proses kriminalisasi yang berlangsung terus tanpa suatu evaluasi
mengenai pengaruhnya terhadap keseluruhan sistem, mengakibatkan
timbulnya :
a. Krisis
kelebihan
kriminalisasi
(the
crisis
ofover-
criminalization),dan
b. Krisis kelampuan batas dari hukum pidana (the crisis of overreach
of the criminal law).
Masalah pertama mengenai banyaknya atau melimpahnya jumlah
kejahatan dan perbuatan-perbuatan yang dikriminalisasikan, dan yang
kedua mengenai usaha pengendalian perbuatan dengan tidak
menggunakan sanksi yang efektif.145
Pendekatan yang rasional memang merupakan pendekatan yang
seharusnya melekat pada setiap langkah kebijakan. Ha lini merupakan
konsekwensi logis, karena seperti dikatakan oleh Soedarto,dalam
melaksanakan politik (kebijakan) orang mengadakan penilaian dan
melakukan pemilihan dari sekian banyak altematif yang dihadapi.146
Ini berarti suatu politik kriminal dengan menggunakan kebijakan
hukum pidana harus merupakan suatu usaha atau langkah-langkah
yang dibuat dengan sengaja dan sadar.
Memilih dan menetapkan hukum pidana sebagai sarana untuk
menanggulangi kejahatan harus benar-benar telah memperhitungkan
145
Ibid, hal 82 - 84.
146
Soedarto, op.cit., hal. 161.
semua faktor yang dapat mendukung berfungsinya atau bekerjanya
hukum pidana itu dalam kenyataannya. Jadi diperlukan pula
pendekatan yang fungsional; dan inipun merupakan pendekatan yang
melekat (inherent) pada setiap kebijakan yang rasional.
Segi lain yang perlu dikemukakan dari pendekatan kebijakan
ialah yang berkaitan dengan nilai-nilai yang ingin dicapai atau
dilindungi oleh hukum pidana. Menurut Bassiouni, tujuan-tujuan yang
oleh pidana pada umumnya terwujud dalam kepentingan-kepentingan
sosial yang mengandung nilai-nilai tertentu yang perlu dilindungi.Kepentingan-kepentingan sosial tersebut menurutnya, ialah :
1. Pemeliharaan tertib masyarakat;
2. Perlindungan warga masyarakat dari kejahatan, kerugian atau
bahaya-bahaya yang tak dapat dibenarkan, yang dilakukan oleh
orang lain;
3. Memasyarakatkan kembali (resosialisasi) para pelanggarhukum;
4. Memelihara
atau
mempertahankan
integritas
pandangan-
pandangan dasar tertentu mengenai keadilan sosial, martabat
kemanusiaan dan keadilan mdividu.
Selanjutnya dikatakan bahwa sanksi pidana harus disepadankan
dengan
kebutuhan
untuk
melindungi
dan
mempertahankan
kepentingan-kepentingan ini. Pidana hanya dibenarkan apabila ada
kebutuhan yang berguna bagi masyarakat, pidana yang tidak
diperlukan tidak dapat dibenarkan dan berbahaya bagi masyarakat.
Selain itu batas-batas sanksi pidana ditetapkan pula berdasarkan
kepentingan-kepentingan ini dan nilai-nilai yang diwujudkannya.
Berdasar pandangan yang demikian maka menurut Bassiouni disiplin
hukum pidana bukan hanya pragmatis tetapi juga suatu disiplin yang
berdasar dan berorientasi pada nilai (not only pragmatic but also
value-based and value-oriented).
Dengan demikian , dalam melakukan kebijakan hukum pidana
diperlukan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy
oriented approach) yang lebih bersifat pragmatis dan rasional, dan
juga pendekatan yang berorientasi pada nilai (value judgment
approach).
Kebijakan kriminal tidak dapat dilepaskan sama sekali dari
masalah nilai, karena seperti dikatakan oleh Christiansen, "the
conception of problem crime and punishment is an essential part of the
culture of any society".147
Demikian pula menurut W. Clifford, "the very foundation of any
criminal justice system consist of the phylosophy behind a given
cuntry".148 Terlebih bagi Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
garis kebijakan pembangunan
nasionalnya
bertujuan
untuk
membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Apabila pidana akan
digunakan sebagai sarana untuk tujuan tersebut, maka pendekatan
147
Barda Nawawi Arief II,op.cit, hal. 15.
148
Praniti, A.A. Sg. op.cit.hal170
humanistik harus pula diperhatikan.
karena
kejahatan
itu
pada
Hal ini penting tidak hanya
hakikatnya
merupakan
masalah
kemanusiaan, tetapi juga karena pada hakikatnya pidana itu sendiri
mengandung unsur penderitaan yang dapat menyerang kepentingan
atau nilai yang paling berharga bagi kehidupan manusia.
Pendekatan humanistik dalam penggunaan sanksi pidana, tidak
hanya berarti bahwa pidana yang dikenakan kepada si pelanggar harus
sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab, tetapi juga harus
dapat membangkitkan kesadaran si pelanggar akan nilai-nilai
kemanusiaan dan nilai-nilai hidup bermasyarakat.
Huala Adolf mengemukakan bahwa ”Yurisdiksi adalah kekuatan
atau kewenangan hukum negara terhadap orang, benda atau peristiwa
(hukum).”149
Yurisdiksi
pidana
adalah
kewenangan
(hukum)
pengadilan suatu negara terhadap perkara-perkara yang menyangkut
kepidanaan, baik yang tersangkut di dalamnya unsur asing maupun
nasional.150 Tien S. Saefullah dalam artikelnya yang berjudul
Yurisdiksi Sebagai Upaya Penegakan Hukum Dalam Kegiatan
Cyberspace menyatakan bahwa yurisdiksi suatu negara yang diakui
hukum internasional dalam pengertian kovensional, didasarkan pada
batas-batas geografis, sementara komunikasi multimedia bersifat
149
Huala Adolf, 2002, Aspek-aspek Negara Dalam Hukum Internasional edisi revisi, PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 183 (selanjutnya disebut Huala Adolf I).
150
Huala Adolf, 1996, Aspek-aspek Hukum Pidana Internasional, RajaGrafindo Persada,
Jakarta, hal. 145 (selanjutnya disebut Huala Adolf II).
internasional, multi yurisdiksi dan tanpa batas-batas geografis sehingga
sampai saat ini belum dapat dipastikan bagaimana yurisdiksi suatu
negara dapat diberlakukan terhadap komunikasi multimedia sebagai
salah satu pemanfaatan teknologi informasi.151
Hukum internasional tradisional telah meletakkan beberapa
prinsip hukum mengenai yurisdiksi yakni:
1)
Prinsip teritorial. Berdasarkan prinsip ini setiap negara dapat
menerapkan yurisdiksi nasionalnya terhadap semua orang
(baik warga negara atau asing), badan hukum dan semua benda
yang berada di dalamnya. Lord Macmillan mengemukakan
adalah suatu ciri pokok dari kedaulatan dalam batas-batas ini,
seperti semua negara merdeka yang berdaulat, bahwa negara
harus memiliki yurisdiksi terhadap semua orang dan benda di
dalam batas-batas teritorialnya dan dalam semua perkara
pidana yang timbul di dalam batas-batas teritorial ini.
2)
Prinsip Nasional Aktif, prinsip ini menyatakan setiap negara
dapat memberlakukan yurisdiksi nasionalnya terhadap warga
negaranya yang melakukan tindak pidana sekali pun tindak
pidana itu dilakukan dalam bidang yurisdiksi negara lain. Di
sini
kewarganegaraan
pelaku
menjadi
titik
taut
diberlakukannya yurisdiksi negara asal.
151
Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, 2005, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi
Informasi, Refika Aditama, Bandung, hal. 34.
3)
Prinsip Nasional Pasif, prinsip ini merupakan conterpart dari
prinsip nasional aktif. Keduanya mendasarkan diri pada
kewarganegaraan sebagai kriteria. Pada prinsip nasional pasif,
tekanan diberikan pada kewarganegaraan si korban, sementara
prinsip nasional aktif menekankan pada kewarganegaraan si
pelaku. Atas dasar prinsip ini suatu negara memiliki
kewenangan
untuk
memberlakukan
misalnya
hukum
pidananya terhadap suatu tindak pidana yang terjadi di luar
wilayah
negara
tersebut
apabila
korban
adalah
warganegaranya.
4)
Prinsip Perlindungan, hukum internasional mengakui bahwa
setiap
negara
mempunyai
kewenangan
melaksanakan
yurisdiksi terhadap kejahatan yang menyangkut keamanan dan
integritas atau kepentingan ekonomi yang vital. Prinsip ini
menyatakan bahwa suatu negara mempunyai hak untuk
menerapkan hukum (pidana) nasionalnya pada pelaku suatu
tindak pidana sekalipun dilakukan di luar wilayah negara
tersebut apabila tindak pidana itu mengancam keamanan dan
keutuhan negara yang bersangkutan.
5)
Prinsip Universal, pada prinsip-prinsip seperti yang disebutkan
di atas, suatu negara dapat menyatakan mempunyai hak untuk
memberlakukan hukum pidananya dengan alasan terdapat
hubungan antara negara tersebut dengan tindak pidana yang
dilakukan. Hubungan yang dimaksud antara lain adalah tempat
terjadinya tindak pidana, kewarganegaraan pelaku atau korban
dan keamanan serta keutuhan negara. Berbeda dengan prinsipprinsip
tersebut,
prinsip
universal
sama
sekali
tidak
mensyaratkan suatu hubungan. Hal ini berarti bahwa prinsip
universal
memberi
hak
pada
semua
negara
untuk
memberlakukan hukum pidananya, apabila tindak pidana yang
dilakukan membahayakan nilai-nilai yang universal dan
kepentingan umat manusia.152
Suatu negara memiliki yurisdiksi atas setiap orang, benda dan
peristiwa yang terjadi di negaranya. Adapun ruang lingkup yang
dimiliki negara tersebut adalah:
1)
Yurisdiksi untuk menetapkan ketentuan hukum pidana
(jurisdiction to precribe atau legislative jurisdiction atau
prespective jurisdiction).
2)
Yurisdiksi untuk menerapkan atau melaksanakan ketentuan
yang
telah
ditetapkan
oleh
badan
legislatif
(executif
jurisdictrion).
3)
Yurisdiksi untuk memaksakan ketentuan hukum yang telah
dilaksanakan oleh badan eksekutif atau yang telah diputuskan
152
Ibid., hal. 31-33.
oleh
badan
peradilan
(enforcement
jurisdiction
atau
jurisdiction to ajudicate).153
Terhadap dampak yang timbul dari penyalahgunaan kartu
kredit, maka diupayakan adanya penanggulangannya, dimana secara
umum adalah penanggulangan dengan cara preventif dan represif.154
1. Penanggulangan secara Preventif.
Penanggulangan secara preventif yaitu tindakan pencegahan yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum, pihak-pihak yang
berwenang maupun masyarakat itu sendiri.155 Berbagai cara
preventif yang dilakukan penerbit/pengelola dalam rangka
menanggulangi penyalahgunaan kartu kredit, yang terdiri atas :
a. Menciptakan
sistem
pengawasan
terhadap
pedagang
dan pemegang.
b. Mengevaluasi
sistem
ini
secara
berkala
dan
menyempurnakannya bila dianggap perlu.
c. Menciptakan sistem pengamanan terhadap kartu kredit secara
teknis.
d. Melakukan pertukaran informasi antar penerbit/pengelola
tentang hal-hal yang negatif mengenai pedagang, pemegang,
dan perkembangan modus operandi.
153
Ibid., hal 34.
Juklap POLRI, op.cit. Hal. 16.
155
http://eprints.undip.ac.id/17450/1/Gandung_Sardjito.pdf
154
e. Memberikan
penjelasan
tentang
prosedur
pelaksanaan
transaksi dengan menggunakan kartu kredit secara berkala
kepada para pedagang.
2. Penanggulangan secara Represif.
Tindakan Represif berupa tindakan upay apaksa antara lain melaku
kan penangkapan terhadap para pelaku kejahatan, melakukan
penggeledahan, penyitaan barang bukti, penahanan dan proses
penyidikan, pelimpahan perkara kekejaksaan, proses persidangan
sampai hakim menjatuhkan putusan.156
-
Pada tahap penyelidikan, setelah menerima laporan atau
pengaduan tentang adanya tindak pidana
penyalahgunaan
kartu kredit, penyelidik mendatangi tempat kejadian perkara
untuk melakukan pemeriksaan alat dan atau sarana yang
berkaitan dengan teknologi informasi yang diduga digunakan
untuk melakukan tindak pidana
-
Tahap penyidikan, penyidik dapat melakukan tindakan
sebagai berikut :
a.
Memanggil orang untuk didengar dan atau diperiksa
sebagai tersangka atau saksi.
b.
Melakukan pemeriksaan terhadap orang dan atau badan
usaha
yang
diduga
melakukan
penyalahgunaan kartu kredit.
156
ibid
tindak
pidana
c.
Melakukan penggeledahan terhadap tempat tertentu
yang diduga digunakan sebagai tempat untuk melakukan
tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit.
d.
Melakukan penyegelan dan penyitaan terhadap alat dan
atau sarana kegiatan untuk melakukan tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit.
e.
Meminta bantuan ahli yang diperlukan dalam penyidikan
terhadap tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit.
-
Setelah penyidikan dianggap telah selesai, penyidik segera
melimpahkan berkas perkara, tersangka beserta barang bukti
kepada Penuntut Umum.
Pada tahap penyidikan banyak sekali kendala yang akan dihadapi oleh
penyidik :
a. Dari hasil temuan yang diperoleh baik oleh petugas di lapangan
maupun yang terungkap dalam proses penyidikan, penuntutan
dan persidangan terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa
kejahatan ini merupakan suatu bentuk kejahatan yang
terorganisasi atau sindikat. Para pelaku yang tertangkap adalah
pengguna kartu kredit palsu, dimana kartu kredit palsu
diperoleh dengan cara membeli atau menerimanya dari pihak
lain.
Sehingga kasus yang terungkap adalah hanya pelaku
pengguna saja, sedangkan pelaku pemalsu kartu kredit biasanya
tidak tertangkap. Biasanya Pemalsu ini tidak menyebutkan
identitas secara lengkap kepada pembeli kartu kredit palsu
sehingga pada saat pemakai kartu kredit palsu tertangkap ia
tidak dapat menyebutkan dari mana ia memperoleh kartu kredit
palsu tersebut.
b. Pemegang kartu yang sah sulit bahkan tidak dapat dihubungi.
Untuk dapat mengetahui identitas dan keberadaan pemegang
kartu kredit yang sebenarnya, penyidik harus menghubungi
Pihak penerbit. Namun Pihak Penerbit tidak begitu saja
memberikan data yang menyangkut rahasia nasabahnya dan
untuk mendapatkannya pun harus melalui prosedur yang lama
dan sulit. Keberadaan pemegang kartu yang sah ini sangat
penting kaitannya sebagai korban tindak pidana. Hal ini yang
menyebabkan proses penyidikan terhadap tindak pidana ini
berlangsung lama.
c. Tidak ada bahan pembanding kartu kredit yang asli. Penyidik
akan sangat kesulitan mendapatkan bahan pembanding kartu
kredit yang asli apabila kartu kredit yang dipalsukan ini adalah
kartu kredit yang masih jarang dipakai maupun kartu kredit
yang dikeluarkan oleh penerbit luar negeri. Penyidik harus
terus mencari kartu kredit tersebut bahkan harus mencarinya
sampai luar negeri. Hal ini menyebabkan proses penyidikan
berlangsung lama dan memerlukan biaya yang sangat tinggi,
bahkan mungkin tidak sebanding dengan kerugian yang
diderita pemegang kartu yang asli. Bahan pembanding kartu
kredit yang asli ini sangat penting sebagai spesimen kartu
kredit asli bahan banding pada laboratorium Forensik Polri.
d. Dalam hal data atau bukti yang diperlukan menyangkut rahasia
bank. Pihak bank tidak begitu saja memberikan data yang
diperlukan karena data tersebut menyangkut rahasia nasabah
dan dokumen rahasia bank. Untuk mendapatkan data tersebut
penyidik harus mengajukan permohonan izin kepada Menteri
Keuangan melalui Kapolri
untuk memeriksa dokumen
dimaksud. Sekali lagi proses ini memerlukan prosedur yang
birokratif serta memerlukan waktu yang lama.
e. Persepsi para penegak hukum masih mengenai kartu kredit
masih lemah. Masih banyak para penegak hukum yang melihat
akibat yang timbul dari penyalahgunaan kartu kredit hanya dari
sudut jumlah kerugian yang diderita oleh penerbit atau
pengelola dan kemudian membandingkannya dengan asset
yang dimiliki penerbit atau pengelola. Persepsi demikian
tampaknya terjadi karena belum banyak aparat penegak hukum
yang memahami secara mendalam mengenai kartu kredit.
f. Kerjasama dengan penegak hukum belum melembaga.
Kerjasama yang dilakukan dengan penegak hukum sampai saat
ini masih bersifat kasuistis. Jika terjadi kasus penyalahgunaan
kartu kredit di suatu kota, pihak AKKI bersama Bank Indonesia
melakukan pendekatan secara institusional kepada aparat
penegak hukum dari semua lini, yaitu Kepolisian, Kejaksaan
dan Pengadilan. Cara pendekatan semacam ini sangat
membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, sedangkan hasilnya
dapat berbeda-beda mengingat
pemahaman mengenai kartu
kredit belum merata.
Dengan adanya beberapa peraturan perundang-undangan
yang bisa diterapkan untuk memeriksa dan mengadili perkara
tindak pidana di bidang perbankan tersebut, maka hal ini dapat
menimbulkan persepsi yang berbeda. Untuk mengatasi perbedaan
persepsi tersebut, terdapat alternatif sebagai berikut:
1.
Peraturan
perundang-undangan
yang
telah
ada,
perlu
disempurnakan untuk menampung perkembangan termasuk
pengaturan tindak pidana yang menggunakan teknologi canggih
seperti komputer, mengingat tindak
pidana
di
bidang
perbankan dengan sarana komputer memerlukan pengaturan
secara spesifik.157
Kemajuan teknologi di satu pihak telah membawa hasil
yang positif bagi pembangunan (dalam arti luas), namun
di lain pihak telah disalahgunakan oleh orang-orang yang
tidak bertanggungjawab yang memanfaatkannya dengan caracara yang tidak terpuji, yang sepintas lalu tampaknya tidak
terjangkau oleh peraturan perundang-undangan.
2. Pembaruan RKUHP di Indonesia sangat penting untuk
menjaring pelaku penyalahgunaan kartu kredit sehingga
Indonesia
tidak
tertinggal
dengan
negara
lain
dalam
menanggulangi kejahatan ini. Ketiadaan substansi hukum tentu
akan melemahkan atau bahkan meniadakan penegakan hukum
terhadap penyalahgunaan kartu kredit. Dengan demikian untuk
mengantisipasi penyalahgunaan kartu kredit, maka kebijakan
yang harus ditempuh oleh Pemerintah adalah penemuan hukum
(rechtfinding) harus segera dilakukan dikarenakan belum ada
ketentuan yang mengatur mengenai penanggulangan kartu
kredit.
BAB V
157
Marulak, op.cit, hal. 130.
PENUTUP
Berdasarkan latar belakang permasalahan dan pembahasan seperti yang
telah diuraikan diatas, maka dapat diambil suatu kesimpulan dan saran sebagai
berikut:
5.1 Kesimpulan
1. Pentingnya diadakannya pembaruan hukum dalam penanggulangan
tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit dimana ketentuan Pasal
263 dan Pasal 378 KUHP tidak relevan digunakan untuk
menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan kartu kredit. Beberapa
kelemahan dari Pasal 263 dan Pasal 378 KUHP antara lain:
1.
Kartu kredit tidak dapat diinterpretasikan sebagai surat
2.
Hal yang dipalsukan dalam penyalahgunaan kartu kredit
adalah pin orang lain yang telah berhasil dicuri melalui
penipuan lewat telepon kepada si korban.
Pembaruan RKUHP di Indonesia sangat penting untuk menjaring
pelaku penyalahgunaan kartu kredit sehingga Indonesia tidak tertinggal
dengan negara lain dalam menanggulangi kejahatan ini. Ketiadaan
substansi hukum tentu akan melemahkan atau bahkan meniadakan
penegakan hukum terhadap penyalahgunaan kartu kredit.
2.
Pembaruan RKUHP sangat diperlukan untuk menjaring para pelaku
kejahatan karena KUHP yang berlaku saat ini serta RKUHP yang telah
ada belum mengatur mengenai penangulangan penyalahgunaan
sementara kejahatannya sangat banyak terjadi. Dengan demikian untuk
mengantisipasi penyalahgunaan kartu kredit, maka kebijakan yang
harus
ditempuh
oleh
Pemerintah
adalah
penemuan
hukum
(rechtfinding) harus segera dilakukan dikarenakan belum ada
ketentuan yang mengatur mengenai penanggulangan kartu kredit.
5.2 Saran
1. Dikarenakan pentingnya pembaruan hukum pidana terhadap tindak pidana
penyalahgunaan kartu kredit maka koordinasi,kesamaan persepsi dan
kerjasama antar pihak Bank, POLRI, Kejaksaan, Hakim harus semakin
lebih baik dimana para pihak tersebut merupakan bagian penting di dalam
penanggulangan secara tuntas terhadap kasus-kasus penyalahgunaan kartu
kredit yang semakin marak.
2. Pembaruan
hukum
pidana
khususnya
terhadap
tindak
pidana
penyalahgunaan kartu kredit harus dapat segera dilaksanakan, karena
dengan semakin maraknya penyalahgunaan kartu kredit bukan saja
merugikan korban dan penerbit kartu kredit tersebut tetapi juga berdampak
negative bagi perkembangan ekonomi Negara Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Adami Chazawi.2000. Kejahatan Terhadap Pemalsuan, PT. Raja Grafindo
Persada.
Agus Raharjo, 2002, Cybercrime, Pemahaman dan Upaya Pencegahan Kejahatan
Berteknologi, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Asril Sitompul, 2004, Hukum Internet Pengenalan Mengenai Masalah Hukum di
Cyberspace, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Bambang Purnomo, 1984, Kapita Selekta Hukum Pidana, Liberty, Yogyakarta
Barda Nawawi Arief, 1992, Bahan Bacaan Politik Hukum Pidana Pasca Sariana
Universitas Indonesia. Jakarta
---------------------------,1994.Kebiiakan Legislatif Dalam Penangqulangan
Keiahatan Dengan Pidana Peniara, Penerbit: Universitas
Diponegoro Semarang.
----------------------------, 1996, Bunga Rampai Kebiiakan Hukum Pidana. PT.
Citra Aditya Bakti Bandung.
----------------------------.1998 Beberapa Aspek Kebiiakan Penegakan dan
Pengembanqan Hukum Pidana. PL Citra Aditya Bakti
Bandung
----------------------------. 2001 Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan
Penanggulangan Kejahatan, PT Citra Aditya Bhakti Bandung.
---------------------------, 2008, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum
Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan, Prenada Media
Group, Jakarta
Bonger, W.A.1977. Pengantar Tentang Kriminologi, Terjemahan A. Koesnoen,
Ghalia Indonesia.
Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, 2005, Cyber Law Aspek Hukum
Teknologi Informasi, Refika Aditama, Bandung.
Dahlan Siamat, 2001, Manaiemen Lembaga Keuangan, Edisi III, Lembaga
Penerbit FE Ul.
Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, Ni’matul Huda, Teori dan Hukum Konstitusi, PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta
Djoko Prakoso, 1983,Pembaharuan Hukum Pidana Di Indonesia, cet.I,
Yogyakarta: PenerbitLiberty.
Djumhana Muhamad. 1996. Hukum Perbankan Indonesia. Citra Aditya Bakti.
Bandung
Edy Junaedi Karnasudirja.1993. Jurisprudensi Kejahatan Komputer, Tanjung
Agung, Jakarta.
Freddy Harris, 2001 Menanti Hukum di Cyberspace, Jurnal Hukum dan
Teknologi, FH Ul, EdisiI
Geoffrey Sawer , 1973, Law in Society, Oxford University Press, London.
Heri Tahir, 2010, Proses Hukum yang Adil Dalam Sistem Peradilan Pidana di
Indonesia, Laksbang Pressindo, yogyakarta
Hagan, Frank E. 1986.Introduction to Criminology. Nelson – Hall. Chicago.
Herbert L. Packer, 1967,The Limits of The Criminal Sanction, Stanford California
University Press
Huala Adolf, 1996, Aspek-aspek Hukum Pidana Internasional, RajaGrafindo
Persada, Jakarta.
----------------, 2002, Aspek-aspek Negara Dalam Hukum Internasional edisi
revisi, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Hoefnagels, G.P., 1973, The Other Side of Criminology, KIuwer-Deventer,
Holland
Jimli Asshidiqie. 1996.Pembaruan Hukum Pidana Indonesia.Angkasa. Bandung.
Kasmir, 2000, Manaiemen Perbankan. PT. Raja Grafmdo Persada.
------------, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. (Edisi Revisi 2001), PT. Raja
Grafindo Persada Jakarta, 2001
Kaelan, 2004, Pendidikan Pancasila, Paradigma, Yogyakarta
Kuntjoro Purbopranoto, 1960, Hak-hak Asasi Manusia dan Pancasila, Jakarta
Lawrence. M. Friedman, 1975, The Legal System A Social Sentence Perspective,
Russel Sage Foundation, New York.
Leden Marpaung.1994.Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Ekonomi.
Sinar Grafika. Jakarta.
Marulak Pardede, 1955, Hukum Pidana Bank, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
Majda El Muhtaj, 2008, Dimensi-dimensi HAM Mengurai Hak Ekonomi Sosial
dan Budaya, RajaGrafindo Persada, Jakarta
Mansyur Effendi, 2005, Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia (HAM)
Proses Dinamika Penyusunan Hukum HAM (HAKHAM),
Ghalia Indonesia, Bogor
M. Hamdan, 1997,Politik Hukum Pidana, PT. Raja Grafindo Persada Jakarta
Mardjono Reksodiputro, Cybercrime and Intelectual Property, artikel anggota
Komisi Hukum Nasional Rl, 28 September 2002.
-----------------------, 1994, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana,
Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, Lembaga
Kriminologi UI, Jakarta
Mochtar Kusumaatmaja. 2002. Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan.
Alumni. Bandung.
Moeljatno. 1980.Azas-azas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta.
Mulyana W. Kusumah. 1986. Perspektif, Teori, dan Kebijaksanaan Hukum,
Rajawali, Jakarta.
----------.1997. Hak Asasi Manusia,Politik dan Sistem Peradilan Pidana, BP
UNDIP. Semarang.
Peter Mahmud Marzuki. 2007 Penelitian Hukum , Cetakan ke -3, Jakarta,
Kencana.
Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Penulisan Tesis Ilmu Hukum.2008.
Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana
UNUD
Romli Atmasasmita, 1996, Sistem Peradilan Pidana Perspektif Eksistensialisme
dan Abolisionisme, Binacipta, Bandung
Roeslan Saleh. 1978. Stelsel Pidana Indonesia.Aksara Baru. Jakarta.
--------------------. 1984. Segi Lain Hukum Pidana. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Shono Harso Supangkat, 2000, Teknologi Informasi dan Ekonomi Digital:
Persiapan Regulasi di Indonesia, Jurusan Teknik Elektro,
Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Soerjono Soekanto, 2004, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum,
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, 1985,Peneiitian Hukum Normatif Suatu
Tiniauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada Jakarta
Sudrajat Bassir M, 1986, Tindak-Tindak Pidana Tertentu didalam KUHP,
Remadja Karya, Bandung
Sutanto, Hermawan Sulistyo dan Tjuk Sugiarto (ed.), 2005, Cyber Crime - Motif
dan Penindakan, Pensil 324, Jakarta.
Sutanto, Hermawan sulityo dan Tjuk Sugiarto (Ed.), 2005, Cyber Crime-Motif
dan Penindakan, Pensil 324, Jakarta
Sutarman, 2007, Cyber Crime Modus Operandi dan Penanggulangannya,
LaksBang PRESSindo, Yogyakarta.
Sudikno Mertodikusumo.1985.Mengenal hukum (Suatu Pengantar) Liberty.
Yogyakarta.
Sudarto. 1981, Kapita Selekta Hukum Pidana. Alumni Bandung, (selanjutnya
disingkat Sudarto II).
-------------. 1983. Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat. Sinar Baru.
Bandung.
Terry Hutchinson, 2002, Researching and Writing in Law, Lawbook Co., Sydney,
Australia.
Wiryono
Prodjodikoro. 1986. Asas-asas
Eresco.Bandung.
Hukum
Pidana
di
Indonesia.
Bahan Perundang-undangan
Soesilo.R,
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ) Serta
Komentar komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal, Politeia Bogor,
1985
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik, Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 58 dan Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4843
Rancangan UU Rl tentang KUHP. Direktorat Perundang-Undangan, Direktorat
Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan, Departemen Hukum
dan Perundang-Undangan, 1999 – 2000
Bahan Ilmiah dan Internet
Info Bank, Edisi No. 144 Tahun 1989
http://www.scribd.com/doc/21741046/Identifikasi-Hukum-Progresif-Di-Indonesia
Masalah-masalah Hukum , No.5-6 Thn. XII/1982, FH. UNDIP Laporan
Simposium
Pembaharuan
Hukum
Pidana
Nasional.1980.Semarang
Praniti, A.A. Sg.2003. dalam Penelitian Tesis Kajian Aspek Pidana Dalam
Penyalahgunaan Kartu Kredit (Credit Card).Pascasarjana
Universitas Udayana.
Putusan pengadilan Neqeri Denpasar No. 4547 PIP. B/ 2001/ PN. Dps. Tanggal 6
September 2001
http://eprints.undip.ac.id/17715/1/Idi_Amin.pdf
Anonim
II,
“Kejahatan Kartu Kredit Menggila”, http://blog-artikelmenarik.blogspot.com/2008/04/kejahatan-kartu-kreditmenggila.html, , diakses pada 20 November 2010.
http://www.scribd.com/doc/22370900/Paper-Tentang-Kartu-Kredit diakses pada
tanggal 31 Januari 2011
Telkom, 15 Juni 2006, “Kejahatan Kartu Kredit via Internet Kian Marak”,
http://www.telkom.net/index.php?option=com_content&task=vi
ew&id=412&Itemid=35, , diakses pada 20 November 2010.
Jim Geovedi, tanpa waktu edisi, “Cyber Crime Terkendala”, (Cited 2010 Sept. 23),
available from : URL:http://www.kompas.co.id.
Anton Septian, Rabu, 03 Februari 2010 | 21:01 WIB, “BCA Akui Pegawainya
Terlibat
Kejahatan
Kartu
Kredit”,
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/02/03/brk,201
00203-223371,id.html, diakses pada 20 November 2010
Redaksi Antara, 2009, “Jumlah Kasus Cyber Crime di Indonesia, Tertinggi di
Dunia”, Serial Online Thursday, 26 March 2009, (Cited 2010
Feb.
8),
available
from
:
URL:
http://www.indofamily.net/teens/index.php?option=com_content
&task=blogsection&id=0&Itemid=30.
Danardono, 2005, “Indonesia Peringkat Pertama Pelaku Kejahatan Internet”,
Serial Online 14 September 2005 3:36, (Cited 2010 Sept. 23),
available
from
:
URL:
http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?f=1&t=29697&
start=0
Andi Hamzah, 2009, “Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan Internet
(Cybercrime) di Indonesia”, Serial Online 28 Oktober 2009,
(Cited 2010 Sept. 23), available from : URL: http://andihamzah.blogspot.com/2009/10/upaya-pencegahan-danpenanggulangan.html
Agus Raharjo, 2006, “Kebijakan Kriminalisasi dan Penanganan Cybercrime di
Indonesia”, Serial Online 12 September 2006, (Cited 2010 Feb.
8),
available
from
:
URL:
http://www.unsoed.ac.id/newcmsfak/UserFiles/File/HUKUM/kr
iminalisasi_cybercrime.htm.
Tribun Timur, 2010, “Peringkat Indonesia di CyberCrime Naik” Serial Online 30
April 2010, (Cited 2010 Sept. 23), available from : URL:
http://www.tribuntimur.com/read/artikel/100001/Peringkat_Indonesia_di_CyberC
rime_Naik
http://www.scribd.com/doc/21741046/Identifikasi-Hukum-Progresif-Di-Indonesia
Anonim, 2009, “Daftar Jumlah Pengguna Internet Dunia 1995-2008”, Serial
Online 2009 Februari 28, (Cited 2010 Feb. 8), available from :
URL: http://id.wordpress.com/tag/ Daftar -jumlah-penggunainternet- Dunia-1995-2008
Redaksi Wikipedia, 2010, “Internet”, Serial Online 30 Agustus 2010, 11:29, (Cited
2010
Sept.
23),
available
from
:
URL:http://id.wikipedia.org/wiki/Internet.
Perpustakaan Online, 2008, “Internet dan Manfaatnya”, Serial Online 19 Mei 2008,
(Cited 2010 Sept. 23), available from : URL:
http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/internet-danmanfaatnya.html
http://thimutz.blogspot.com/2010/10/pengertian-dan-dampak-deregulasi-dari.html
diakses pada tanggal 3 Februari 2011
Kabar Bisnis, Selasa, 31 Maret 2009 | 15:31 wib ET, “Kejahatan Kartu Kredit
Rp35 Miliar Pe Tahun”,
http://www.kabarbisnis.com/read/281593, diakses pada 18 Juni
2011.
Anonim, “Keamanan Kartu Kredit dan Sistem Pembayaran Elektronik (EPayment) Kasus Penipuan Kartu Kredit pada Sistem Pembayaran
Elektronik”, http://nurwantovic.blogspot.com/2010/10/keamanankartu-kredit-dan-sistem.html, diakses pada 18 Juni 2011.
Wicaksono
Hidayat
,
“Cara
Kerja
Para
Carder”,
http://www.mokarawo.netfirms.com/info-teknologi.html, diakses
pada 18 Juni 2011.
Indosiar, “Sindikat Pemalsu Kartu Kredit Tertangkap”,
http://www.indosiar.com/berita-terkini/85689/sindikat-pemalsukartu-kredit-tertangkap, diakses pada 18 Juni 2011.
Anonim, “Peraturan dan Regulasi (perbedaan cyberlaw diberbagai negara)”,
http://blogkublogku.blogspot.com/2011/03/peraturan-danregulasi-perbedaan.html, diakses pada 23 Juni 2011.
Suara Merdeka, “Kejahatan Kartu Kredit Rp 35 Miliar”,
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/02/27/265
3/Kejahatan-Kartu-Kredit-Rp-35-Miliar, diakses pada 23 Juni
2011.
Bigswamp, Kasus-kasus Cyber Crime Part 3 Carding Fraud”,
http://bigswamp.wordpress.com/2011/03/02/kasus-kasus-cybercrime-part-3-carding-fraud/, diakses pada 23 Juni 2011.
Big,
“Cyber Laws”, http://bigswamp.wordpress.com/2011/03/22/cyber-laws/,
diakses pada 23 Juni 2011
Download