BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PERATURAN

advertisement
s
!
BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI
PERATURAN BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI
NOMOR : 15/P/BPH MigasNI1/2008
TENTANG
PEMANFAATAN BERSAMA FASILITAS
PENGANGKUTAN GAS BUMI MELALUI PIPA
KEPALA BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI
Menimbang
Mengingat
a.
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 Peraturan
Pemerintah Nomor 67 Tahun 2002 tentang Badan Pengatur
Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan
Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan
Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004
tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi,
dianggap perlu menetapkan Peraturan Pemanfaatan
Bersama Fasilitas Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa;
b.
bahwa Sidang Komite Badan Pengatur pada hari Selasa
tanggal 1 Juli 2008 telah menyepakati untuk menetapkan
peraturan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dalam suatu
Peraturan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi.
1.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
33, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3817);
2.
Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3821);
3.
Undang - undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4152) sebagaimana telah berubah dengan
putusan Mahkamah Konstitusi No.002/PUU-1/2003 pada
tanggal 21 Desember 2004 (Berita Negara Republik
Indonesia Nomor 1 Tahun 2005);
4.
Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2002 tentang Badan
Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar
Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui
Pipa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 141, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4253);
1
I
.
5.
Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2004 tentang Kegiatan
Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4436);
6.
Keputusan Presiden RI Nomor 86 Tahun 2002 tanggal 30
Desember 2002 tentang Pembentukan Badan Pengatur
Penyediaandan Pendistribusian Bahan Balcar Minyak dan
Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa:
7.
Keputusan Presiden RI Nomor 27/P Tahun 2007 tanggal
April 2007;
8.
Keputusan Kepala Badan Pengatur Penyediaan dan
Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan I<egiatan Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa Nomor 04/Ka/BPH
Migas/12/2003 tanggal 19 Desember 2003 tentang Sebutan
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi.
9.
Peraturan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Nomor
01/P/BPH Migas/X1I/2004 tanggal10 Desember 2004 tentang
Pedoman Pemberian Hak Khusus Pengangkutan Gas Bumi
Melalui Pipa Pada Ruas Tertentu Pipa Transmisi Gas Bumi;
23
10. Peraturan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Nomor
02/P/BPH Migas/XI1I2004 tanggal 10 Desember 2004 tentang
Pedoman Pemberian Hak Khusus Pengangkutan Gas Bumi
Melalui Pipa pada Wilayah Tertentu Jaringan Distribusi Gas
Bumi;
11. Peraturan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Nomor
11/P/BPH Migas/l/2007 tanggal 19 Januari 2007 tentang
Pedoman Penetapan Wilayah Jaringan Distribusi Gas Bumi;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
PERATURAN BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN
GAS
BUMI TENTANG PEMANFAATAN BERSAMA FASILITAS
PENGANGKUTAN GAS BUMI MELALUI PIPA.
BABI
KETENTUAN UMUM
Pasal1
Dalam Peraturan Badan Pengaturini yang dimaksud dengan :
1.
Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi
tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses
penambangan Minyak dan Gas Bumi;
2
,
.
2.
Pipa Transmisi adalah pipa untuk mengangkut Gas Bumi dari sumber pasokan
Gas Bumi atau lapangan-Iapangan Gas Bumi ke satu atau lebih pusat distribusi
dan/atau ke satu atau lebih konsumen besar atau yang menghubungkan
sumber-sumber pasokan Gas Bumi;
3.
Pipa Distribusi adalah pipa yang mengangkut Gas Bumi dari suatu Pipa
Transmisi atau dari Pipa Distribusi ke pelanggan atau ke Pipa Distribusi Gas
Bumi lainnya yang berbentuk jaringan;
4.
Fasilitas adalah Pipa Transmisi dan/atau Pipa Distribusi beserta fasilitasfasilitas pendukungnya yang digunakan dalam kegiatan usaha Pengangkutan
Gas Bumi Melalui Pipa:
5.
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa adalah kegiatan menyalurkan Gas Bumi
melalui Pipa Transmisi dan/atau Pipa Distribusi;
6.
Hak Khusus adalah hak yang diberikan Badan Pengatur kepada Badan Usaha
untuk rnenpoperasikan Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada ruas
transmisi atau pada wilayah jaringan distribusi berdasarkan lelang;
7.
Badan Pengatur adalah badan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 67 Tahun 2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan
Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas
Bumi Melalui Pipa;
8.
Badan Usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan
jenis usaha bersifat tetap terus menerus dan didirikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta berkedudukan di dalam Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia;
9.
Transporter adalah Badan Usaha yang memiliki Izin Usaha Pengangkutan Gas
Bumi Melalui Pipa dan memiliki Hak Khusus;
10. Shipper adalah Badan Usaha yang memanfaatkan Fasilitas Transporter untuk
menqanqkut Gas Bumi yang dimilikinya
11. Gas Transportation Agreement adalah perjanjian kerjasama antara Transporter
dan Shipper yang terkait dengan penqanqkutan Gas Bumi milik Shipper melalui
Fasilitas yang dimiliki/dikuasai Transporter,
12. Access Arrangement adalah suatu dokumen yang dibuat oleh Transporter dan
berisikan syarat dan kondisi yang harus dipenuhi dalam pemanfaatan bersama
pipa yang dimiliki/dikuasai Transporter, yang berlaku mengikat para pihak
setelah disetujui dan disahkan oleh Badan Pengatur;
13. Gas Management System adalah sistem elektronik dan/atau manual dan
fasilitas-fasilitas pendukungnya yang berfungsi untuk menyediakan informasi
bagi Transporter dan Shipper,
14. Receipt Point Operator adalah Badan Usaha yang mengoperasikan fasilitas
penyaluran Gas Bumi ke Titik Terima milik Transporter;
15. Gas Stock Account adalah Gas Bumi yang sudah masuk ke dalam Fasilitas
Transporlertetapi belum dialirkan ke penerima akhir di Titik Serah;
16. Stock Transfer adalah pemindahan Gas Stock Account antar Shipper.
3
,
.
17. Titik Terima adalah titik penerimaan Gas Bumi dari Shipperke Transporter.
18. Titik Serall adalah titik penyerahan Gas Bumi dari Transporter kepada pihak
penerima Gas Bumi.
19. Tarif Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa yang selanjutnya disebut Tarif
adalah biaya yang dipungut Transporter dari Shipper atas jasa pengangkutan
Gas Bumi Melalui Pipa per satu MSCF yang diangkut Transporter.
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 2
Peraturan Badan Pengatur tentang Pemanfaatan Bersama Fasilitas Pengangkutan
Gas Bumi Melalui Pipa ditetapkan. dengan maksud agar pemanfaatan bersama
fasilitas Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dapat dilaksanakan secara
transparan, al<untabel dan adil.
Pasal3
Peraturan Badan Pengatur tentang Pemanfaatan Bersama Fasilitas Pengangkutan
Gas Bumi Melalui Pipa ditetapkan dengan tujuan:
a.
Meningkatkan pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri;
b.
Optimalisasi pemanfaatan fasilitas pengangkutan Gas Bumi melalui pipa;
c.
Menjamin perlakuan yang sarna terhadap pemakai pipa.
BAS III
PEMANFAATAN BERSAMA FASILITAS
PENGANGKUTAN GAS BUMI MELALUI PIPA
Pasal4
(1)
Transporter wajib memberikan kesempatan yang sarna kepada Shipper untuk
secara bersama memanfaatkan Fasilitas yang dimiliki/dikuasainya dengan
mempertimbangkan aspek teknis dan ekonomis.
(2)
Pemanfaatan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilaksanal<an apabila dipenuhinya aspek teknis dan ekonomis sebagai berikut:
a. Terdapat kapasitas lebih pipa yang dari aspek kelayakan teknis masih bisa
dimanfaatkan secara bersama;
b. Tidak mengganggu kegiatan operasional Transporter;
c. Tidak mengurangi nilai keekonomian, antara lain tingkat pengembalian
investasi (rate of return) Transporter.
Pasal5
(1)
Shipper sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) wajib mengajukan
permollonan secara tertulis kepada Transporter untuk memanfaatkan Fasilitas
Transporter dengan melampirkan data pendukung.
4
'.
(2)
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditembuskan kepada
Badan Pengatur.
Pasal6
(1)
Transporter dapat menyampaikan keberatan atas permohonan Shipper
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) berdasarkan pertimbangan
aspek-aspek sebaqaimana dimaksud dalam Pasal4 ayat (2).
(2)
Keberatan Transporter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
disampaikan kepada Shipper dan Badan Pengatur sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (1) dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak
tanggal perrnohonan Shipper disampaikan kepada Transporler dan Badan
Pengatur.
(3)
Dalam hal Transporter tidak menyampaikan keberatan dalam jangka waktu
sebaqaimana dimaksud pada ayat (2), Transporter dianggap menyetujui
permohonan shipper sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (1).
(4)
Apabila Transporter tidak berkeberatan atas usulan Shipper maka antara
Transporter dan Shipper dapat melanjutkan proses negosiasi tarif dan
penandatangan GTA
Pasal7
(1)
Badan Pengatur wajib melakukan evaluasi atas keberatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.
(2)
Berdasarkan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan Pengatur
menetapkan keputusan atas keberatan Transporter setelah mendengar
pendapat pihak-pihak terkait.
Transporler
Pasal8
(1)
Dalam hal Badan Pengatur menetapkan keputusan menolak keberatan yang
disampaikan Transporter sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, Transporter
wajib memberikan kesempatan kepada Shipper sebagaimana dimaksud dalam
Pasal4 ayat (1).
(2)
Dalam hal Badan Pengatur menetapkan keputusan menerima keberatan yang
disampaikan Transporter sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, Transporter
dapat menolak permohonan Shipper sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (1).
Pasal9
(1)
Kesepakatan antara Transporter dan Shipper tentang pemanfaatan bersama
Fasilitas Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa dituangkan dalam Gas
Transportation Agreement (GTA).
.
(2)
Gas Transportation Agreement (GTA) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
wajib disesuaikan dengan Access Arrangement sebagaimana dimaksud dalam
Pasal14 ayat (1).
5
(3)
Sebelum GTA ditandatangani oleh Transporter dan Shipper, besaran tarif yang
dicantumkan dalam konsep GTA harus mendapatkan persetujuan Badan
Pengatur.
BABIV
HAK DAN KEWAJIBAN TRANSPORTER
Pasal10
Transporter berhak:
a. memungut Tarif dari Shipperyang besarnya ditetapkan oleh Badan Pengatur;
b. memanfaatkan kapasitas pipanya sesuai dengan kapasitas desain:
c. mendapatkan perlakuan yang sama dari Badan Pengatur;
d. mengajukan kepada Badan Pengatur untuk meningkatkan kemampuan
kapasitas pipa terpasang (existing).
Pasal11
Transporter wajib:
a. membayar iuran kepada Badan Pengatur sesuai ketentuan yang berlaku;
b. mengangkut Gas Bumi milik Shipper sesuai Access Arrangement;
c. memberikan kesempatan yang sama kepada semua Shipper,
d. memberikan informasi kepada Shipper tentang pengangkutan Gas Bumi milik
Shipper,
e. memenuhi ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Gas Transportation
Agreement (GTA) dan Access Arrangement.
BABV
HAK DAN KEWAJIBAN SHIPPER
Pasal 12
Shipper berhak:
a. mendapatkan jasa pengangkutan Gas Bumi yang dimilikinya sesuai Access
Arrangement;
b. mendapatkan mformaslrlaporan dari Transporter yang terkait dengan
pengangkutan Gas Bumi yang dimilikinya;
c. mendapatkan kesempatan yang sarna dari Transporter,
d. mendapatkan perlakuan yang sarna dari Badan Pengatur.
Pasal13
Shipperwajib:
a. membayar Tarif kepada Transporter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
huruf a.
.
b. menyampaikan informasi/laporan kepada Transporter yang terkait dengan Gas
Bumi yang dimilikinya;
c. memenuhi ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Gas Transportation
Agreement (GTA) dan Access Arrangement.
6
BABVI
ACCESS ARRANGEMENT
Pasal 14
(1) Transporter wajib membuat Access Arrangement yang meliputi namun tidak
terbatas pada:
a. Filosof operasi;
b. Gas Management System;
c. Aturan yang berkaitan dengan aspek teknis;
d. Aturan yang berkaitan dengan aspek legal.
(2) Access Arrangement sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam 2 (dua)
bahasa, Indonesia dan Inggris.
(3) Apabila terjadi perbedaan penafsiran maka yang dipakai adalah Access
Arrangement dalam Bahasa Indonesia.
Pasal 15
(1) Filosofi operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a
sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. Basis filosofi dan prioritas operasi,
b. Persyaratan mengakses pipa,
c. Hak dan kewajiban Transporter,
d. Hak dan kewajiban Shipper,
e. Receipt Point Operator,
f.
Penambahan Shipper.
(2) Transporter dapat memasukkan hal-hal lain selain sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ke dalam filosofi operasi sepanjang relevan dan disetujui oleh Badan
Pengatur.
Pasal16
(1) Gas Management System sebagaimana dimaksud dalam Pasal14 ayat (1) huruf
b sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. Perencanaan, konstruksi dan instalasi serta pengembangan Gas
Management System;
b. Prediksi suplai dan permintaan Gas Bumi;
c. Proses penghitungan volume aliran Gas Bumi;
d. Allocation and attribution principles;
e. Gas Stock Account;
f.
Stock Transfer;
g. Perbedaan hasil perhitungan Gas Bumi antara Titik Terirna dan Titik Serah
(Pipeline System Uncertainty);
h. Pelaporan.
(2) Hal-hal lain selain sebagaimana dimaksud dalarn ayat (1), dapat dimasukkan ke
dalam Gas Management System sepanjang relevan dan disetujui oleh Badan
Pengatur.
7
------------------------
Pasal17
(1) Aturan yang berkaitan dengan aspek teknis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal14 ayat (1) huruf c sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. Kapasitas pipa;
b. Kondisi-kondisi ketika terjadi pengurangan kapasitas pipa;
c. Pemeliharaan pipa;
d. Pengul<uran;
e. Kualitas Gas Bumi dan tekanan operasi;
f. Prosedur keadaan darurat (emergency) dan integrasi sistern;
g. Pemutusan, penambahan atau penggantian Titik Serah dan Titik Terima.
(2) Hal-hal lain selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dimasukkan ke
dalam aturan yang berkaitan dengan aspek teknis sepanjang relevan dan
disetujui oleh Badan Pengatur.
Pasal 18
(1) Aturan yang berkaitan dengan aspek legal sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14 ayat (1) huruf d sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. Program asuransi yang berkaitan dengan Fasilitas Transporter,
b. Kondisi-kondisi yang memberikan implikasi terhadap amandemen Access
Arrangement;
c. Kondisi-kondisi bila terjadi pelanggaran (breach);
d. Kondisi-kondisi penalti;
e. Force majeur,
f. Pertanggungjawaban dan batas-batas pertanggungjawaban;
g. Arbitrator dan Arbitrase;
h. Kondisi-kondisi yang harus dimasukkan dalam Gas Transportation
Agreement (GTA);
i.
Peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Hal-hal lain selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dimasukkan ke
dalam aturan yang berkaitan dengan aspek legal sepanjang relevan dan
disetujui oleh Badan Pengatur.
Pasal 19
Transporter dapat membuat Access Arrangement yang berbeda untuk ruas-ruas
tertentu dari Fasilitas yang dimiliki/dikuasainya sesuai kebutuhan.
Pasal20
(1)
Access Arrangement sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) dan
Pasal 19 wajib mendapatkan persetujuan dari Badan Pengatur.
(2)
Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Badan
Pengatur setelah mendengar pendapat dan masukan dari pihak-pihak terkait.
(3)
Untuk mendapatkan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Transporter wajib menyampaikan Access Arrangement kepada Badan
Pengatur dengan melampirkan data/informasi pendukung.
8
(4)
Access Arrangement yang telah mendapat persetujuan dari Badan Pengatur
digunakan sebagai dokumen acuan bagi pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan
pemanfaatan bersama Fasilitas yang dimiliki/dikuasai Transporter.
BAB VII
PELAPORAN
,Pasal21
(1)
Transporter wajib menyampaikan laporan kepada Badan Pengatur setiap bulan
atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.
(2)
Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain berisikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Kapasitas pipa dan kondisi operasi;
b. Jumlah pengguna pipa;
c. Volume Gas Bumi yang dialirkan;
d. Pelaksanaan kegiatan usahapengangkutan Gas Bumi.
Pasal22
Selain laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Transporter wajib
menyampaikan segala data dan informasi yang diperlukan Badan Pengatur untuk
keperluan evaluasi.
Pasal23
Badan Pengatur menjamin kerahasiaan data dan informasi Transporter sebagaimana
dimaksud dalam Pasal21 dan Pasal22.
BAB VIII
PENGAWASAN
Pasal24 .
(1)
Badan Pengatur melakukan pengawasan atas ditaatinya peraturan ini.
(2)
Pengawasan oleh Badan Pengatur sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi namun tidak terbatas pada :
a.
Evaluasi terhadap laporan yang disampaikan oleh Transporter;
b.
Pengawasan di lapangan.
BABIX
SANKSI
Pasal25
(1)
Badan Pengatur menetapkan dan memberikan sanksi yang berkaitan dengan
pelanggaran peraturan ini.
9
(2)
Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa teguran tertulis,
denda, pencabutan Hak Khusus, dan pengusulan pencabutan Izin Usaha.
(3)
Segala kerugian yang timbul akibat diberikannya sanksi
dimaksud pada ayat (2) menjadi beban Transporter.
(4)
Tata cara pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
tersendiri dalam peraturan Badan Pengatur.
sebagaimana
BABX
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal26
(1)
Transporter yang telah memiliki Access Arrangement dan telah digunakan
dalam Gas Transportation Agreement sebelum ditetapkannya peraturan Badan
Pengatur ini wajib melakukan penyesuaian dengan peraturan ini paling lambat
6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya peraturan ini.
(2)
Access Arrangement sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap berlaku
sampai ditetapkannya Access Arrangement yang baru oleh Badan Pengatur.
BABXI
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal27
Dalam hal kapasitas pipa terpasang (existing) Transporter tidak mencukupi untuk
pemanfaatan bersama, maka Badan Pengatur berhak melakukan lelang Hak Khusus
untuk membangun pipa baru.
Pasal28
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan ditetapkan lebih lanjut oleh
Kepala Badan Pengatur.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 29
Dengan diberlakukannya Peraturari Badan Pengatur ini, maka Peraturan Badan
Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Nomor: 14/P/BPH Migas1lV/2008 tanggal 15
April 2008 tentang Pedoman Pemanfaatan Bersama Fasilitas Pengangkutan Gas
Bumi Melalui Pipa dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
10
·.
\.
:
Pasal30
Peraturan Badan Pengatur ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 1 Juli 2008
Bad n Pengatur Hilir
Ke ala,
inyak dan Gas Bumi
11
Download