daftar tabel - Hari Lingkungan Hidup Sedunia Prov. Sulbar 2017

advertisement
IKLH PROVINSI SULAWESI BARAT TAHUN 2016
@2016 Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat
Diterbitkan Oleh :
Bidang Penaatan dan Komunikasi Lingkungan
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat
Komp. Perkantoran Gubernur Sulawesi Barat Wings 6 Lt. 2,
Jl. Abd. Malik Pattana Endeng, Rangas-Mamuju, Sulbar
Telp./Fax : 0426 – 2325098
Website : http//:blh.sulbarprov.go.id; email : [email protected]
Pelindung :
Gubernur Sulawesi Barat
Pengarah :
Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat
Penanggung Jawab :
dr. Hj. Fatimah, MM (Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat}
Ketua Pelaksana :
Ir. Riri M. Gosse, MT (Kabid. Penaatan dan Komunikasi Lingkungan BLH Prov. Sulbar)
Tim Penyusun :
1. Yohanis, ST, MM
2. Desiana Malino, S.Si
3. Fransiscus Pakiding, SE
Tim Pengumpul Data
Edmon Desti La’lang, ST; Mildayati, S.Si; Mahsidin; Nurhana
Editor :
Desiana Malino, S.Si
PETA PROVINSI SULAWESI BARAT
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa
karena
perkenaannyalah
kesempatan
untuk
sehingga
melaksanakan
kita
masih
kegitan
diberi
Penyusunan
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat
tahun 2016 dan dapat selesai dengan baik.
Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi saat ini masih
mengakibatkan kerugian bagi perikehidupan masyarakat,
tidak hanya dari sisi ekonomi namun juga hingga merenggut jiwa manusia. Upaya
mengurangi laju kerusakan lingkungan dan pemulihan kualitas lingkungan terus
dilakukan tidak saja oleh pemerintah namun dilakukan pula oleh semua elemen
masyarakat.
Untuk
mengetahui
tingkat
pencapaian
upaya-upaya
tersebut,
Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2009 mulai mengembangkan alat ukur
sederhana yang disebut dengan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH).
Kegiatan Penyusunan Dokumen IKLH diharapkan dapat berjalan secara kontiniu
sehingga kualitas lingkungan hidup di Sulawesi Barat ini dapat dipantau secara
terus menerus. Mengingat parameter lingkungan yang cukup kompleks, maka IKLH
merupakan
alat
yang
sangat
berguna
dan
sederhana
namun
tetap
mempertahankan makna atau esensi dari masing-masing indikatornya. Pada tahap
ini masih difokuskan pada media lingkungan: air, udara dan lahan/hutan.
Akhirnya
pada
kesempatan
ini,
kami
mengucapkan
terima
kasih
yang
sebesarbesarnya kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan
ini serta memberikan data-data yang dibutuhkan sehingga Indeks Kualitas
Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat tahun 2016 dapat tersusun. Semoga
kerjasama yang baik ini dapat terus berlanjut di masa mendatang.
Mamuju, Desember 2016
Kepala BLH Prov. Sulbar,
dr. Hj. FATIMAH, MM
NIP. 19590419 198703 2 004
i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………………………….……………………………………………………………..
i
Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………….
ii
Daftar Tabel …………………………………………………………………………………………………….
iii
Bab I Pendahuluan
I.
Latar Belakang ……………………………………..……………………………………………….
1
II.
Tujuan ……………………………………………………..…………………………………………..
3
III. Dasar Pelaksanaan …………………………………..…………………………………………..
3
IV. Ruang Lingkup …………………………………………………………………………………….
3
V. Pembiayaan …………………………………………...……………………………………………..
4
Bab II Kerangka Penyusunan IKLH
I.
Landasan Teori ………………………………………….………………………………………..
5
II.
Indikator dan Parameter ……………………………………………………………………….
9
III. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan ………………………………………………………. 13
Bab III Hasil Perhitungan dan Analisis
I.
Indeks Pencemaran Air ……………………………………………………………………….. 15
II.
Indeks Pencemaran Udara …………………………………………………………………… 17
III. Indeks Tutupan Hutan …………………………………………………………………………. 19
IV. Indeks Kualitas Lingkungan
........………………………………………………………. 20
Bab IV Penutup
I.
Kesimpulan ………………………………………………………………………………………….. 26
II.
Rekomendasi ………………………………………..……………………………………………… 27
Daftar pustaka …………………………………………………………………………………………………. 29
Lampiran-Lampiran
ii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Indikator dan Parameter EQI ................................................................................
6
Tabel 2. Indikator dan Parameter IKLH ................................................................................
7
Tabel 3. Indeks Pencemaran Air per-Kabupaten se-Prov. Sulbar
..........................
16
Tabel 4. Perbandingan IPA Tahun 2015 - 2016.................................................................
16
Tabel 5. Rekap rerata konsentrasi NO2 dan So2, Perhitungan IP & IPU ...............
17
Tabel 6. Perbandingan Nilai IPU Tahun 2015 - 2016.......................................................
18
Tabel 7. Perhitungan persentase TH Tahun 2016 ..........................................................
19
Tabel 8. Rekap Indeks Tutupan Hutan Tahun 2016 .....................................................
20
Tabel 9. Perbandingan Indeks Tutupan Hutan Tahun 2015 - 2016 ..........................
20
Tabel 10. Rekap IPA, IPU dan ITH Tahun 2016 per Kab. Se-Prov. Sulbar ..............
21
Tabel 11. Rekap hasil perhitungan IKLH per-Kab. Se-Prov. Sulbar ..........................
22
Tabel 12. Perbandingan Nilai IKLH Kabupaten Tahun 2015 - 2016 .......................
23
Tabel 13. Data Luas Administrasi & Jumlah Penduduk .................................................
Per Kabupaten Se-Provinsi Sulawesi Bararat ................................................
24
Tabel 14. Rekap perhitungan Nilai IKLH Prov. Sulbar Tahun 2016 ..........................
24
Tabel 15. Perbandingan Nilai IKLH 2012, 2013, 2014, 2015 dan 2016.......................... 25
iii
BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Selama ini untuk mengukur kualitas lingkungan umumnya dilakukan secara
parsial berdasarkan media, yaitu air, udara, dan lahan sehingga sulit untuk
menilai apakah kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah bertambah baik atau
sebaliknya. Salah satu cara untuk mereduksi banyak data dan informasi adalah
dengan menggunakan indeks.
Studi-studi tentang indeks lingkungan telah banyak dilakukan terutama oleh
perguruan tinggi di luar negeri, seperti Yale University dan Columbia University
yang menghasilkan Environmental Sustainability Index (ESI), dan Virginia
Commonwealth University yang menghasilkan Environmental Quality Index
(EQI). Salah satu studi yang menarik adalah yang dipublikasikan pada tahun
2008 oleh Yale University dan Columbia University yang berkolaborasi dengan
World Economic Forum dan Joint Research Center of the European
Commission. Studi tersebut menghasilkan indeks yang disebut sebagai
Environmental Performance Index (EPI), dan berdasarkan indeks tersebut
Indonesia menempati urutan ke 102 dari 149 negara dengan nilai 66,2.
Di
Indonesia,
Badan
Pusat
Statistik
(BPS)
sejak
tahun
2007
telah
mengembangkan Indeks Kualitas Lingkungan (IKL) untuk 30 ibukota provinsi.
Selain itu pada tahun 2009 Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bekerja sama
dengan Dannish International Development Agency (DANIDA) juga mulai
mengembangkan indeks lingkungan berbasis provinsi yang pada dasarnya
merupakan modifikasi dari EPI.
Provinsi
Sulawesi
Barat
sebagai
Provinsi
yang
masih
dalam
tahap
perkembangan sedang giat-giatnya menggalakkan pembangunan diberbagai
sector. Hal ini tentunya dapat memberikan dampak terhadap lingkungan agar
upaya pembangunan tersebut dapat berkelanjutan, maka setiap sector
pembangunan harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan agar
1
pembangunan tetap berjalan dan kualitas lingkungan dapat terjaga dengan
baik.
Penyusunan indeks kualitas lingkungan hidup terkait erat dengan Misi yaitu
penerapan kebijakan yang berpihak pada pemanfaatan sumber daya alam dan
pengelolaan Lingkungan Hidup yang berkelanjutan. Misi ini terkait dengan
upaya pemanfaatan sumber daya alam yang bijaksana dan kebijakan yang
menjamin daya dukung lingkungan untuk melaksanakan pembangunan yang
berkelanjutan. Misi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Provinsi Sulawesi Barat (RPJMN) Tahun 2012 – 2016 yang merupakan tahapan
kedua dari rencana pembangunan jangka panjang daerah Provinsi Sulawesi
Barat 2006-2011, yaitu terpeliharanya kualitas lingkungan hidup yang
ditunjukkan dengan membaiknya indeks kualitas lingkungan hidup dalam
5 tahun ke depan.
Indeks kualitas lingkungan dapat dimanfaatkan untuk mengukur keberhasilan
program-program pengelolaan lingkungan. Selain sebagai sarana untuk
mengevaluasi efektifitas program-program pengelolaan lingkungan, indeks
kualitas lingkungan mempunyai peranan dalam hal :
1. Membantu perumusan kebijakan.
2. Membantu dalam mendisain program lingkungan.
3. Mempermudah komunikasi dengan publik sehubungan dengan kondisi
lingkungan.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah antara
lain mengamanatkan bahwa urusan lingkungan hidup merupakan salah satu
urusan yang diserahkan kepada daerah. Dengan adanya indeks kualitas
lingkungan, terutama yang berbasis daerah, diharapkan dapat menjadi
masukan bagi para pengambil keputusan baik di tingkat pusat maupun daerah
untuk menentukan arah kebijakan pengelolaan lingkungan di masa depan.
2
II. TUJUAN
Tujuan disusunnya indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) adalah:
1. Memberikan informasi kepada para pengambil keputusan di tingkat pusat
dan daerah tentang kondisi lingkungan di daerah sebagai bahan evaluasi
kebijakan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
2. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik tentang pencapaian
target program-program pemerintah di bidang pengelolaan lingkungan
hidup.
III.DASAR PELAKSANAAN
Sebagai dasar dalam pelaksanaan penyusunan Indeks Kulaitas Lingkungan
Hidup (IKLH) adalah :
1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004 tentang Pembentukan Provinsi
Sulawesi Barat
2. Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
5. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran Udara.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas
Air dan Pengendalian Pencemaran Air
7. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 04 Tahun 2014 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
IV. RUANG LINGKUP
Kerangka Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) yang diadopsi oleh KLH
adalah yang dikembangkan oleh Virginia Commonwealth University (VCU) dan
BPS dengan menggunakan kualitas air sungai, kualitas udara, dan tutupan
hutan sebagai indikator. Karena keterbatasan data, kualitas lingkungan di
3
wilayah pesisir dan laut serta kondisi keanekaragaman hayati tidak dimasukkan
dalam perhitungan IKLH.
Sebagai pembanding atau target untuk setiap indikator adalah standar atau
ketentuan yang berlaku berdasarkan peraturan perundangan yang dikeluarkan
oleh pemerintah, seperti ketentuan tentang baku mutu air dan baku mutu
udara ambien.
Berdasarkan ketersediaan data untuk setiap indikator sebagaimana tersebut di
atas, maka indeks yang dihasilkan untuk Provinsi Sulawesi Barat adalah untuk 5
Kabupaten, antara lain Kabupaten Mamasa, Kabupaten Polewali, Kabupaten
Majene, Kabupaten Mamuju Utara, dan Kabupaten Mamuju masih tergabung
dengan Kabupaten Mamuju Tengah karena untuk perhitungan indeks kualitas
air Kabupaten Mamuju Tengah masih tergabung dengan Kabupaten Mamuju
sedangkan tahun indeks adalah 2016 karena data yang digunakan adalah data
tahun 2016. Penggabungan data untuk Kabupaten Mamuju dan Mamuju
Tengah diakibatkan karena pemantauan kualitas air untuk Kabupaten Mamuju
Tengah belum dilaksanakan baik oleh Kabupaten maupun Provinsi.
Analisis lebih lanjut dari IKLH provinsi ini adalah dengan membandingkan nilai
indeks provinsi tahun 2012, 2013, 2014, 2015 dan 2016, serta membandingkan
nilai indeks dengan kepadatan penduduk untuk melihat korelasinya.
V. PEMBIAYAAN
Dalam penyusunan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat
untuk tahun 2016 ini menggunakan biaya yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2016 pada pos
anggaran Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat
4
BAB II
KERANGKA PENYUSUNAN IKLH
I. LANDASAN TEORI
Kualitas lingkungan hidup di suatu wilayah dapat diketahui dengan melakukan
perhitungan
Indeks
Kualitas
Lingkungan
Hidup
(IKLH)
dengan
mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu kualitas air, kualitas udara dan
tutupan hutan.
Studi-studi tentang indeks lingkungan telah banyak dilakukan terutama oleh
perguruan tinggi di luar negeri. Beberapa studi indeks lingkungan yang telah
dipublikasikan
antara
lain
Environmental
Sustainability
Index
(ESI),
Environmental Performance Index (EPI), dan Virginia Environmental Quality
Index (VEQI).
Dari ketiga indeks tersebut, EQI atau VEQI lebih layak diadopsi untuk
mengukur kondisi lingkungan di Indonesia. Selain karena lebih sederhana dan
mudah dipahami, juga karena data yang tersedia relatif lengkap dan kontinu.
1. Environmental Quality Index (EQI)
Diuji
coba di
negara bagian Virginia, Amerika Serikat, EQI yang
dikembangkan oleh VCU pada dasarnya mengukur kecenderungan kualitas
atau kondisi lingkungan dari medianya (air, udara, dan lahan), beban
pencemar toksik, perkembangbiakan burung (keanekaragaman hayati), dan
pertumbuhan penduduk. EQI merupakan gabungan 7 indikator, dan
beberapa indikator terdiri dari parameter-parameter sebagaimana dapat
dilihat pada Tabel 1.
Indikator dan parameter ditetapkan oleh komite teknis yang dibentuk oleh
tim penyusun EQI. Komite ini terdiri dari para pakar, serta wakil-wakil dari
pemerintah negara bagian dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Penetapan bobot pada awalnya dilakukan dengan tehnik Delphi, yaitu
berdasarkan pendapat dari akademisi, industriawan, LSM, dan pemerintah
5
negara bagian. Selanjutnya hasil survey tersebut diagregasikan menjadi
bobot rata-rata untuk setiap indikator dan parameter.
Tabel 1. Indikator dan Parameter EQI
No.
Indikator
1
Kualitas Udara
2
Kualitas Air Permukaan (Indeks
Kesesuaian Habitat)
Kualitas Air Permukaan (Nutrien)
Parameter
SO2
O3
NO2
PB
TSP
PM
CO
Bobot
18
18
18
16
13
12
12
11
13
13
Nitrogen
50
Phosphorous 50
3
4
5
6
7
Pembuangan Bahan Beracun
Lahan Basah
Perkembangbiakan Burung
Populasi
Tutupan Hutan
11
15
15
10
5
2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
Pada tahun 2009 KLH bekerja sama dengan DANIDA menunjuk tim
konsultan untuk menyusun indeks kualitas lingkungan. Tim konsultan
kemudian mengajukan konsep yang merupakan adopsi dari EPI. Selain itu
BPS juga sejak tahun 2008 mengembangkan indeks kualitas lingkungan
perkotaan. Dari berbagai seminar yang diadakan oleh BPS dan focus
discussion group (FGD) yang diadakan oleh KLH bekerjasama dengan
DANIDA, akhirnya diputuskan untuk mengadopsi konsep indeks yang
dikembangkan oleh BPS dan VCU yang dimodifikasi.
Konsep IKLH, seperti yang dikembangkan oleh BPS, hanya mengambil tiga
indikator kualitas lingkungan yaitu kualitas air sungai, kualitas udara, dan
tutupan hutan. Berbeda dengan BPS, IKLH dihitung pada tingkat provinsi
6
sehingga akan didapat indeks tingkat nasional. Perbedaan lain dari konsep
yang dikembangkan oleh BPS dan VCU adalah setiap parameter pada setiap
indikator digabungkan menjadi satu nilai indeks. Penggabungan parameter
ini dimungkinkan karena ada ketentuan yang mengaturnya, seperti:
a. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003
tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Pedoman ini juga
mengatur tatacara penghitungan indeks pencemaran air (IPA).
b. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep- 45/MENLH/10/
1997 tentang Indeks Pencemar Udara.
Tabel 2. Indikator dan Parameter IKLH
No.
Indikator
1 Kualitas Udara
Parameter
SO2
NO2
2
Kualitas Air Sungai
pH
TDS
TSS
DO
BOD
COD
NO2
NO3
NH3
Fosfat
Fenol
Detergen
3
Tutupan Hutan
Bobot Keterangan
1/3
0.5
0.5
1/3
Dihitung Nilai
Indeks
Pencemaran Air
(IPA)
1/3
Hutan
Primer
Hutan
Sekunder
Total Luas Hutan
Primer dan
Sekunder
Khusus untuk parameter kualitas air, karena akan diperbandingkan dengan
indeks tahun-tahun sebelumnya, maka yang akan dihitung tetap tujuh
parameter, yaitu TSS, DO, COD, BOD, Total Phospat, Fecal Coli dan
Total Coli.
7
Perhitungan IKLH untuk setiap kabupaten dilakukan dengan menggunakan
formula sebagai berikut:
IKLH =
30% IPA x 30% IPU x 40% ITH
3
dimana:
IKLH_Provinsi
= indeks kualitas lingkungan tingkat provinsi
IPA
= indeks pencemaran air sungai
IPU
= indeks pencemaran udara
ITH
= indeks tutupan hutan
Ketiga indikator tersebut dianggap mempunyai tingkat kepentingan yang
sama untuk setiap provinsi, sehingga bobot untuk setiap indikator ditetapkan
masing-masing 1/3.
Setelah mendapatkan nilai IKLH untuk setiap Kabupaten, maka dihitung
indeks provinsi dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
  PopulasiKabupaten  LuasKabupaten  


 
5
  Populasi Pr ovinsi  Luas Pr ovinsi  
IKLH _ Pr ovinsi   IKLH
x

Kabupaten 
2


i 1




Perhitungan nilai indeks kualitas air dan udara mengacu pada baku mutu
atau standar yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah (baku mutu air dan
baku mutu udara ambien). Sedangkan untuk indeks tutupan lahan/hutan
menggunakan standar luas kawasan hutan di setiap provinsi yang ditetapkan
oleh Menteri Kehutanan. Karena luas kawasan hutan yang ditetapkan baru
ada untuk 30 provinsi, maka bagi provinsi-provinsi pemekaran nilai indeks
setiap indikatornya digabungkan dengan provinsi induknya.
8
II. INDIKATOR DAN PARAMETER
1. Kualitas Air Sungai
Air, terutama air sungai mempunyai peranan yang sangat strategis dalam
kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Data dari BPS menunjukkan
bahwa pada tahun 2007 sekitar 3 persen rumah tangga di Indonesia
menjadikan sungai sebagai sumber air minum. Selain itu air sungai juga
menjadi sumber air baku untuk berbagai kebutuhan lainnya, seperti industri,
pertanian dan pembangkit tenaga listrik Di lain pihak sungai juga dijadikan
tempat pembuangan berbagai macam limbah sehingga tercemar dan
kualitasnya semakin menurun.
Karena peranannya tersebut, maka sangat layak jika kualitas air sungai
dijadikan indikator kualitas lingkungan hidup. Selain kualitasnya, sebenarnya
ketersediaan air sungai (debit air) juga perlu dijadikan indikator. Namun
karena data yang tidak tersedia, maka debit air untuk sementara tidak
dimasukkan sebagai indikator.
Perhitungan indeks untuk indikator kualitas air sungai dilakukan berdasarkan
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003
tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Dalam pedoman tersebut
dijelaskan antara lain mengenai penentuan status mutu air dengan metoda
indeks pencemaran (Pollution Index – PI).
Menurut definisinya PIj adalah indeks pencemaran bagi peruntukan j yang
merupakan fungsi dari Ci/Lij, dimana Ci menyatakan konsentrasi parameter
kualitas air i dan Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air i yang
dicantumkan dalam baku peruntukan air j. Dalam hal ini peruntukan yang
akan digunakan adalah klasifikasi mutu air kelas II berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air.
9
Formula penghitungan indeks pencemaran adalah :
dimana:
(Ci/Lij)M adalah nilai maksimum dari Ci/Lij
(Ci/Lij)R adalah nilai rata-rata dari Ci/Lij
Evaluasi terhadap PIj adalah sebagai berikut:
a. Memenuhi baku mutu atau kondisi baik jika 0 ≤ PIj ≤ 1,0
b. Tercemar ringan jika 1,0 < PIj ≤ 5,0
c. Tercemar sedang jika 5,0 < PIj ≤ 10,0
d. Tercemar berat jika PIj > 10,0.
Pada prinsipnya nilai PIj > 1 mempunyai arti bahwa air sungai tersebut tidak
memenuhi baku peruntukan air j, dalam hal ini mutu air kelas II.
Penghitungan indeks kualitas air dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Setiap lokasi dan waktu pemantauan kualitas air sungai dianggap sebagai
satu sampel;
b. Hitung indeks pencemaran setiap sampel untuk parameter TSS, DO,
COD, BOD, Total Phospat, Fecal Coli dan Total Coli;
c. Hitung persentase jumlah sampel yang mempunyai nilai PIj > 1,
terhadap total jumlah sampel pada tahun yang bersangkutan.
d. Melakukan normalisasi dari rentang nilai 0% - 100% (terbaik – terburuk)
jumlah sampel dengan nilai PIj > 1, menjadi nilai indeks dalam skala 0 –
100 (terburuk – terbaik).
Untuk pengambilan sampel air sungai dipilih dari masing-masing Kabupaten
dengan kriteria bahwa sungai tersebut merupakan sungai lintas kabupaten
atau merupakan sungai prioritas yang akan dikendalikan pencemarannya.
10
Pemantauan untuk setiap sungai dilakukan 5 kali dalam satu tahun dengan 6
titik lokasi pengambilan sampel sehingga dihasilkan paling tidak 30 sampel
kualitas air sungai untuk setiap sungai dalam setahun.
2. Kualitas Udara
Kualitas udara, terutama di kota-kota besar dan metropolitan, sangat
dipengaruhi
oleh
kegiatan
transportasi.
Pada
tahun
2008
kegiatan
transportasi di Indonesia diperkirakan mengemisikan CO2, CH4, dan N2O
masing-masing sebesar 83 juta ton, 24 ribu ton, dan 3,9 ribu ton.
Data kualitas udara didapatkan dari pemantauan di 5 ibukota kabupaten
dengan menggunakan metoda passive sampler pada lokasi-lokasi yang
mewakili daerah permukiman, industri, dan padat lalulintas kendaraan
bermotor. Sedangkan parameter yang diukur adalah SO2 dan NO2.
Pengukuran kualitas udara yang dilakukan pada lokasi tersebut dianggap
mewakili
kualitas
udara
tahunan
untuk
masing-masing
parameter.
Selanjutnya nilai konsentrasi rata-rata tersebut dikonversikan menjadi nilai
indeks dalam skala 0 – 100 untuk setiap ibukota provinsi. Formula untuk
konversi tersebut adalah :
Perhitungan nilai indeks pencemaran udara (IPU) dilakukan dengan formula
sebagai berikut:
dimana:
IPU
= Indeks Pencemaran Udara
IPNO2
= Indeks Pencemar NO2
IPSO2
= Indeks Pencemar SO2
11
3. Tutupan Hutan/Lahan
Hutan merupakan salah satu komponen yang penting dalam ekosistem.
Selain berfungsi sebagai penjaga tata air, hutan juga mempunyai fungsi
mencegah terjadinya erosi tanah, mengatur iklim, dan tempat tumbuhnya
berbagai plasma nutfah yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Berdasarkan data dari program Menuju Indonesia Hijau (MIH), klasifikasi
hutan terbagi atas hutan primer dan hutan sekunder. Hutan primer adalah
hutan yang belum mendapatkan gangguan atau sedikit sekali mendapat
gangguan manusia. Sedangkan hutan sekunder adalah hutan yang tumbuh
melalui suksesi sekunder alami pada lahan hutan yang telah mengalami
gangguan berat seperti lahan bekas pertambangan, peternakan, dan
pertanian menetap.
Untuk menghitung indeks tutupan hutan yang pertama kali dilakukan adalah
menjumlahkan luas hutan primer dan hutan sekunder untuk setiap provinsi.
Nilai indeks didapatkan dengan formula:
Jadi,
50 

ITH  100   84,3  THx100 x

54,3 

dimana:
ITH
= indeks tutupan hutan
%TH
= Persentase Tutupan Hutan
Meskipun kerapatan hutan sekunder lebih kecil dari hutan primer namun
secara alami hutan sekunder mulai membentuk hutan kembali meskipun
12
prosesnya sangat lambat. Selain itu ada juga upaya-upaya yang dilakukan
manusia untuk mempercepat proses penghutanan kembali hutan sekunder.
Membandingkan luas hutan primer dan hutan sekunder yang bersumber dari
program MIH dengan luas kawasan hutan yang ditetapkan oleh Menteri
Kehutanan barangkali kurang tepat karena mungkin lokasinya yang berbeda.
Namun
yang
penting
adalah
bahwa
perbandingan
tersebut
sedikit
memberikan gambaran tentang seberapa besar kerusakan hutan yang
terjadi di Indonesia.
III.MEKANISME PELAKSANAAN KEGIATAN
Untuk meminimalisir penggunaan anggaran dalam penyusunan Indeks Kualitas
Lingkungan Hidup, maka diperlukan mekanisme kerja yang melibatkan bidangbidang serta instansi terkait lingkungan hidup. Adapun mekanisme untuk
memperoleh data untuk penyusunan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup adalah
sebagai berikut :
1. Analisis kualitas air sungai
Untuk perhitungan kualitas air sungai menggunakan hasil perhitungan yang
dilakukan oleh bidang pengendalian pencemaran dan pengelolaan imbah
yang telah melakukan uji parameter di beberapa sungai di masing-masing
kabupaten se-Sulawesi Barat. Hasil perhitungan tersebut yang digunakan
dalam menghitung Indeks Pencemaran Air.
2. Analisis kualitas udara
Demikian halnya dengan perhitungan kualitas udara, juga mengambil hasil
perhitungan kualitas udara yang dilaksanakan oleh bidang pengendalian
pencemaran dan pengelolaan limbah. Hasil perhitungan kualitas udara
tersebut yang diambil di masing - masing kabupaten digunakan untuk
menghitung Indeks Pencemaran Udara.
13
3. Perhitungan tutupan hutan/lahan
Perhitungan tutupan hutan menggunakan perhitungan tutupan hutan dari
Dinas Kehutanan dan RTRW Provinsi Sulawesi Barat. Selain data dari intern
Badan Lingkungan Hidup, juga dilakukan permintaan data dari Dinas
Kehutanan Provinsi Sulawesi Barat. Untuk mencocokkan parameter tutupan
hutan/lahan dari Dinas Provinsi, juga dilakukan pengambilan data langsung
ke Kabupaten
14
BAB III
HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS
I. INDEKS PENCEMARAN AIR
Indeks pencemaran air Provinsi Sulawesi Barat untuk tahun 2016 dihitung
berdasarkan hasil pemantauan kualitas air sungai di 5 (lima) kabupaten.
Pemantauan kualitas air sungai di Kabupaten Mamuju Utara, Mamuju, Polewali
Mandar dan Kabupaten Mamasa di laksanakan oleh Bidang Pengendalian
Pencemaran dan Pengelolaan Limbah BLH Provinsi Sulawesi Barat sedangkan
untuk pemantauan kualitas air sungai di Kabupaten Majene dilaksanakan oleh
BLHP Kabupaten Majene. Pemantauan kualitas air sungai di Kabupaten Mamuju
Utara dilakukan di sungai lariang, di Kabupaten Polewali Mandar di sungai
Mandar dan di Kabupaten Mamasa dilakukan di sungai Mamasa. Periode
pemantauan ketiga sungai tersebut 5 kali dalam setahun dengna jumlah titik
sampling 6 titik sampling. Pemantauan kualitas air sungai di Kabupaten Mamuju
dilakukan di dua sungai yaitu sungai karama dan sungai kali mamuju dengan
periode pemantauan 2 kali dalam setahun dengan jumlah titik sampling
masing-masing sungai sebanyak 3 titik sampling. Pemantauan kualitas air
sungai di Kabupaten Majene dilaksanakan di 5 sungai, yaitu sungai Mangge,
sungai tersebut hanya dilakukan satu kali pemantauan dalam setahun. Dari
pelaksanaan pemantauan yang dilaksanakan oleh Provinsi maupun Kabupaten
masih kurang baik dari periode pemantauan maupun dari titik sampling
sehingga masih kurang menggambarkan kondisi kualitas air sungai secara
merata seperti dilaksanakan oleh kabupaten Majene yang hanya melakukan
periode pemantauan hanya sekali dalam setahun dengan jumlah titik sampling
setiap sungai hanya satu titik. Jumlah sungai yang dipantau sebanyak 10
sungai dengan jumlah titik sampling sebanyak 97 titik sampling. Pada Tabel 3
berikut merupakan hasil perhitungan Indeks Pencemaran air per Kabupaten.
15
Tabel 3. Indeks Pencemaran Air Per-Kabupaten se-Prov. Sulbar
No.
Provinsi/Kabupaten
Nilai IPA
1
Mamuju Utara
40,00
2
Mamuju/Mamuju Tengah
48,33
3
Majene
50,00
4
Polewali Mandar
42,00
5
Mamasa
48,86
6
Sulawesi Barat
45,84
Berdasarkan hasil perhitungan, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas air
sungai dengan tingkat pencemaran paling tinggi adalah Kabupaten Mamuju
Utara nilai IPA 40,00. Dari data Indek Pencemaran Air di semua Kabupaten
masih berada pada level yang tercemara berat dengan nilai IPA yang rendah,
sehingga mempengaruhi IPA untuk skala Provinsi yang hanya 45,84
Berikut pada tabel 4 merupakan perbandingan nilai IPA tahun 2015 dengan
2016 :
Tabel 4. Perbandingan IPA Tahun 2015 – 2016
No.
Provinsi/Kabupaten
2015
2016
1
Kabupaten Mamuju Utara
55,33
40,00
2
Kabupaten Mamuju/Mamuju Tengah
66,67
48,33
3
Kabupaten Majene
50,00
50,00
4
Kabupaten Polewali Mandar
64,00
42,00
5
Kabupaten Mamasa
50,00
48,86
6
Provinsi Sulawesi Barat
57,20
45,84
Berdasarkan tabel tersebut diatas, pada Kabupaten Majene pada Tahun 2016
tetap jika dibandingkan Tahun 2015 pada kondisi waspada. Untuk Kabupaten
Mamuju Utara, Kabupaten Mamuju/Mamuju tengah, Kabupaten Polewali
16
Mandar dan Kabupaten Mamasa nilai IPA Tahun 2016 mengalami penurunan
jika dibandingkan dengan Tahun 2015 dari level sangat kurang menjadi
waspada. Dengan melihat data indeks kualitas air di tiga Kabupaten dan Indeks
kualitas air Provinsi Sulawesi Barat maka pemerintah Provinsi Sulawesi Barat
khususnya Badan Lingkungan Hidup perlu melakukan kegiatan yang dapat
mengurangi dan mengendalikan pencemaran air sehingga kualitas air bisa
dapat diperbaiki.
II. INDEKS PENCEMARAN UDARA
Pengambilan sampel
dilakukan dengan metode
passive sampler yang
dilaksanakan oleh bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Limbah
BLH Provinsi Sulawesi Barat bekerjasama dengan lingkungan hidup kabupaten.
Hasil sampling tersebut dikirim ke Laboratorium Kementerian Lingkungan Hidup
(PUSAREDAL) untuk dianalisis. Pengambilan sampel udara ambien dilaksanakan
di 6 Kabupaten se - Sulawesi Barat pada 4 (empat) titik sampling setiap
kabupaten. Lokasi atau titik pengambilan sampel mewakili lokasi transportasi,
industri/agro industri, pemukinan dan perkantoran/komersial. Pada tabel 5
berikut merupakan rekap
mengenai rerata konsentrasi NO 2 dan SO2 tiap
kabupaten dan perhitungan IP dan IPU.
Tabel 5. Rekap rerata konsentrasi NO2 dan SO2 , perhitungan IP dan IPU
No. Provinsi/Kabupaten
Kabupaten Mamuju
1
Utara
Kabupaten Mamuju,
2
Mamuju Tengah
3 Kabupaten Majene
Kabupaten Polewali
4
Mandar
5 Kabupaten Mamasa
Provinsi Sulawesi
6
Barat
Kon.NO2 Kon.SO2
IPNO2
IPSO2
IPU
9,29
9,23
99,67
98,85
99,26
10,29
9,79
99,64
98,78
99,21
2,08
9,72
99,93
98,78
99,35
10,46
9,29
99,63
98,84
99,23
10,43
6,57
99,63
99,63
99,41
8,51
49,03
99,79
98,88
99,29
17
Berdasarkan tabel tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai indeks
pencemaran udara Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2016 ini masih bagus
yakni
mencapai
nilai
99,29.
Jika
ditinjau
berdasarkan
masing-masing
kabupaten, maka Kabupaten Mamasa masih menduduki peringkat pertama
sebagai Kabupaten dengan tingkat pencemaran udara terendah, sedangkan
Kabupaten Mamuju/Mamuju tengah pada peringkat terakhir.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tingkat pencemaran udara masih sangat
didominasi dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Kesimpulan ini diambil
berdasarkan hasil perhitungan kualitas udara pada lokasi transportasi. Berikut
perbandingan nilai indeks kualitas udara untuk tahun 2015 dan 2016.
Tabel 6. Perbandingan Nilai IPU Tahun 2015 - 2016
No.
Provinsi/Kabupaten
2015
2016
1
Kabupaten Mamuju Utara
96,42
99,26
2
Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah
95,46
99,21
3
Kabupaten Majene
97,85
99,35
4
Kabupaten Polewali Mandar
97,85
99,23
5
Kabupaten Mamasa
97,06
99,41
6
Provinsi Sulawesi Barat
96,68
99,29
Berdasarkan
tabel
tersebut
diatas,
dapat
disimpulkan
bahwa
indeks
pencemaran udara pada tahun 2016 Provinsi Sulawesi Barat mengalami
kenaikan jika dibandingkan dengan Tahun 2015. Indeks kualitas udara di
Provinsi Sulawesi Barat masih dalam kondisi baik hal ini didukung dengan
indeks kualitas di tiap kabupaten yang semuanya masih dalam kondisi baik.
18
III.INDEKS TUTUPAN HUTAN
Pada hakekatnya tutupan hutan dan lahan secara tidak langsung memiliki
kontribusi besar dalam perubahan kualitas air sungai dan pencemaran udara.
Jika persentase luas hutan masih lebih besar dari total luas wilayah suatu
daerah, dapat disimpulkan bahwa kualitas lingkungan di daerah tersebut masih
cukup baik. Jika kualitas hutan masih terjaga, maka secara tidak langsung ikut
menjaga kualitas air sungai dan tingkat pencemaran udara. Sebaliknya, jika
semakin banyak alih fungsi hutan akan menimbulkan pencemaran air sungai
dan udara. Untuk perhitungan indeks tutupan hutan maka diperlukan data
hutan primer dan hutan sekunder yang kemudian dijumlahkan. Data hutan
primer dan hutan sekunder per Kabupaten se-Provinsi Sulawesi Barat yang
diperoleh dari BPKH VII Makassar Tahun 2015 yang kemudian dibandingkan
dengan luas wilayah administrasi setiap kabupaten maka diperoleh persentase
tutupan hutan setiap kabupaten. Berikut tabel 7 perhitungan persentase
tutupan hutan per Kabupaten se-Provinsi Sulawesi Barat.
Tabel 7. Perhitungan Persentase TH Tahun 2016
Kabupaten
Mamuju Utara
Mamuju, Mamuju Tengah
Majene
Polman
Mamasa
Provinsi Sulawesi Barat
Luas Wilayah
Administrasi (Km2)
3.043,75
8.014,06
947,84
1.775,65
3.005,88
16.787,18
Luas Tutupan
Hutan (Km2)
1.358,60
4.717,15
292,73
351,79
1.466,21
8.186,48
Persentase
TH
44,636
58,861
30,884
19,812
48,778
48,766
Dari hasil perhitungan persentase Tutupan Hutan maka dapat diperoleh Indeks
Tutupan Hutan per-Kabupaten dengan melakukan konversi persentase yang
merupakan perbandingan luas tutupan hutan dengan luas wilayah dengan
menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut :
50 

ITH  100   84,3  THx100 x

54,3 

19
Tabel 8 berikut merupakan rekap hasil perhitungan Indeks Tutupan Hutan perKabupaten se-Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2016.
Tabel 8. Rekap Indeks Tutupan Hutan Tahun 2015
Kabupaten
No
ITH
1
Mamuju Utara
63,48
2
Mamuju, Mamuju Tengah
76,58
3
Majene
50,81
4
Polewali Mandar
40,62
5
Mamasa
67,29
6
Provinsi Sulawesi Barat
67,28
Berikut perbandingan indeks tutupan hutan untuk tahun 2015 dan tahun 2016.
Tabel 9. Perbandingan Indeks Tutupan Hutan Tahun 2015 & 2016
Kabupaten
No
2015
2016
1
Mamuju Utara
65,07
63,48
2
Mamuju, Mamuju Tengah
77,27
76,58
3
Majene
53,17
50,81
4
Polewali Mandar
36,56
40,62
5
Mamasa
66,79
67,29
6
Provinsi Sulawesi Barat
66,96
67,28
Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai indeks tutupan hutan yang
paling rendah di Kabupaten Polewali Mandar, yaitu 40,62 dan Indeks tutupan
hutan yang masih tinggi terdapat di Kabupaten Mamuju/Mamuju Tengah, yaitu
76,58.
IV. INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN
Perhitungan Indeks kualitas lingkungan memiliki sifat kompaatif yang berarti
nilai satu kabupaten relatif terhadap kabupaten lainnya. Hasil perhitungan
indeks kualitas lingkungan bukan semata-mata untuk melihat peringkat IKLH
20
per-Kabupaten akan tetapi bagaimana setiap kabupaten saling bersinergi untuk
memperbaiki
kualitas
lingkungan
sehingga
dapat
mengangkat
ualitas
lingkungan Provinsi Sulawesi Barat. Indeks kualitas lingkungan hidup Provinsi
Sulawesi Barat dihitung berdasarkan hasil perhitungan Indeks Pencemaran Air,
Indeks Pencemaran Udara dan Indeks Tutupan Hutan yang masing-masing
kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat maka di peroleh IKLH setiap Kabupaten,
dan setiap kabupaten memberikan konstribusi berdasarkan jumlah penduduk
dan luas wilayahnya terhadap total jumlah Provinsi sehingga diperoleh nilai
IKLH Provinsi Sulawesi Barat. Nilai indeks kualitas lingkungan masing-masing
kabupaten diperoleh dengan rumus perhitungan sebagai berikut :
IKLH =
30% IPA x 30% IPU x 40% ITH
3
Pada tabel 10 merupakan rekap indeks pencemaran air, indeks pencemaran
udara dan indeks tutupan hutan setiap kabupaten se-provinsi Sulawesi Barat.
Tabel 10. Rekap IPA, IPU dan ITH Tahun 2016 per Kabupaten se-Prov. Sulbar
No.
Provinsi/Kabupaten
IPA
IPU
ITH
1
Mamuju Utara
40,00
99,26
63,48
2
Mamuju, Mamuju Tengah
48,33
99,21
76,58
3
Majene
50,00
99,35
50,81
4
Polewali Mandar
42,00
99,23
40,62
5
Mamasa
48,86
99,41
67,29
Dari rumus perhitungan diatas dengan memasukkan setiap nilai IPA, IPU dan
ITH, maka Indeks Kualitas Lingkungan setiap kabupaten se - provinsi Sulawesi
Barat dapat dilihat melalui tabel 11.
21
Tabel 11. Rekap hasil perhitungan IKLH per-Kabupaten se-Provinsi Sulbar
No.
1
2
Provinsi/Kabupaten
Mamuju Utara
Mamuju dan Mamuju
Tengah
IPA
IPU
ITH
IKLH
12,00
29,78
25,39
67,17
14,50
29,76
30,63
74,89
3
Majene
15,00
29,81
20,32
65,13
4
Polewali Mandar
12,60
29,77
16,25
58,62
5
Mamasa
14,66
29,82
26,92
71,40
Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa Indeks Kualitas Lingkungan
di Kabupaten Mamuju/Mamuju Tengah menempati peringkat pertama dengan
nilai IKLH 74,89 pada kondisi baik, Kabupaten Mamasa dengan nilai IKLH 71,40
berada pada kondisi baik. Untuk Kabupaten Mamuju Utara dengan nilai IKLH
67,17 berada pada kondisi cukup, sedangkan Kabupaten Majene dan Polewali
Mandar berada pada kondisi kurang dengan nilai IKLH masing-masing 65,13
dan 58,62. Rendahnya nilai IKLH pada Kabupaten Polewali Mandar sangat
dipengaruhi oleh Indeks Tutupan Hutan (ITH), dengan nilai ITH yang paling
rendah jika dibandingkan dengan Kabupaten yang lain. Adanya penurunan
IKLH disetiap Kabupaten juga dipengaruhi oleh penurunan Indeks Pencemaran
Air yang semuanya mengalami penurunan dibandingkan dengan Tahun 2015
kecuali di Kabupaten Majene dengan nilai IPA yang tetap.
Pada tabel 12 merupakan perbandingan IKLH Kabupaten antara Tahun 2015
dan 2016.
22
Tabel 12. Perbandingan Nilai IKLH Kabupaten Tahun 2015 – 2016
No.
Kabupaten
IKLH 2015
IKLH 2016
1
Mamuju Utara
71,57
67,50
2
Mamuju dan Mamuju Tengah
79,53
74,97
3
Majene
65,62
65,45
4
Polewali Mandar
63,18
57,97
5
Mamasa
70,83
71,19
Dari tabel 12 dapat disimpulkan terjadinya perubahan nilai IKLH setiap
kabupaten hal ini dipangaruhi oleh adanya perubahan nilai IPA, IPU da ITH.
Penurunan nilai IKLH paling signifikan terdapat di Kabupaten Polewali Mandar
masuk pada nilai sangat kurang, hal ini dipengaruhi oleh penurunan nilai
Indeks Pencemaran Air yang sangat signifikan. Nilai IKLH Kabupaten Mamuju
Utara,
Mamuju/Mamuju
Tengah,
Mamasa
masuk
pada
kondisi
cukup
sedangkan untuk Kabupaten Majene masuk pada kondisi kurang. Untuk semua
Kabupaten mengalami penurunan dibandingkan dengan Tahun 2015 kecuali
Kabupaten Mamasa mengalami sedikit kenaikan dibandingkan dengan Tahun
2015.
Dengan melihat nilai IKLH disetiap kabupaten yang masih rendah maka sangat
diharapkan kerjasama semua sektor dalam memperbaiki kualitas lingkungan
hidup di daerahnya.
Untuk menghitung Indeks Kualitas Lingkungan (IKLH) Provinsi maka digunakan
rumus :
  PopulasiKabupaten  LuasKabupaten  


 
5
  Populasi Pr ovinsi  Luas Pr ovinsi  
IKLH _ Pr ovinsi   IKLH
x

Kabupaten 
2


i 1




23
Dari rumus tersebut setiap kabupaten memberikan konstribusi berdasarkan
jumlah penduduk dan luas wilayahnya terhadap total jumlah Provinsi.
Tabel 13 berikut merupakan data luas wilayah dan jumlah penduduk dari setiap
Kabupaten se-Provinsi Sulawesi Barat.
Tabel 13 : Data Luas Administrasi & Jumlah Penduduk per Kabupaten
se-Provinsi Sulawesi Barat
No.
Kabupaten
Luas (km2)*)
Jumlah
Penduduk
(1)
(2)
(3)
(4)
1
Mamuju Utara
3.043,75
156.460
2
Mamuju / Mamuju Tengah
8.014,06
387.180
3
Majene
947,84
163.900
4
Polewali Mandar
1.775,65
422.790
5
Mamasa
3.005,88
151.830
16.787,18
1.282.160
Total
Pada tabel 14 berikut merupakan hasil perhitungan perbandingan antara
jumlah penduduk masing-masing terhadap jumlah penduduk provinsi dan luas
masing-masing kabupaten terhadap luas wilayah provinsi sehingga dapat
diperoleh nilai IKLH Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2016.
Tabel 14. Perhitungan Nilai IKLH Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2016
No.
Kabupaten
IKLH
Kab
Populasi
Kab/Populasi
Prov.
Luas
Kab/Luas
Prov.
NILAI IKLH
Prov.
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
1
Mamuju Utara
67,17
0,122028452
0,18131396
10,18775474
2
Mamuju / Mamuju
Tengah
74,89
0,301974793
0,47739168
29,18493616
3
Majene
65,13
0,12783116
0,05646213
6,001418957
4
Polewali Mandar
58,62
0,329748237
0,10577417
12,76450842
5
Mamasa
71,40
0,118417358
0,17905807
10,61942646
6
Provinsi Sulbar
68,75804474
24
Dari data diatas dengan menggunakan rumus perhitungan IKLH Provinsi maka
diperoleh nilai IKLH Provinsi 68,76. Pada tabel 15 dapat dilihat Perbandingan
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat.
Tabel 15. Perbandingan Nilai IKLH 2012, 2013, 2014, 2015 dan 2016
No.
Nilai IKLH
2012
2013
2014
2015
1
Provinsi Sulawesi
Barat
84,13
89.76
79.53
72,08
2016
68,76
Dari tabel dapat disimpulkan bahwa nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari
tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Berdasarkan rentang nilai IKLH
maka provinsi Sulawesi Barat masuk dalam kategori cukup. Hal ini dipengaruhi
oleh adanya penurunan disemua sektor yang berpengaruh yaitu air, udara dan
tutupan hutan. Dengan melihat hasil ini maka Provinsi Sulawesi Barat harus
meningkatkan kinerja dalam pengelolaan sumber daya sehingga dapat
menghasilkan kualitas lingkungan yang lebih baik.
25
BAB IV
PENUTUP
I. KESIMPULAN
Indeks kualitas lingkungan hidup di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh
faktor pencemaran air, udara dan jumlah tutupan hutan/lahan. Semakin rendah
tingkat pencemaran air dan udara serta semakin luas tutupan hutan/lahan
maka kualitas lingkungan di daerah tersebut akan semakin baik. Oleh karena
itu, untuk menjaga kualitas lingkungan hidup, maka semua pihak harus terlibat
aktif dalam menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Perubahan kualitas lingkungan hidup di daerah juga dipengaruhi dengan
pertambahan
jumlah
penduduk
serta
pembukaan
usaha
baru
yang
memanfaatkan serta mengalifungsikan hutan lindung. Oleh karena itu,
pemerintah harus secara bijaksana dalam melakukan pemberian izin kepada
setiap usaha/kegiatan khususnya dalam pengelolaan hutan sehingga jumlah
tutupan hutan jika dibandingkan dengan luas daerah masih seimbang.
Pada tahun 2016, nilai IKLH setiap Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat
sebagian
besar
mengalami
penurunan,
di
Kabupaten
Mamasa
sedikit
mengalami kenaikan. Secara keseluruhan di Nilai IKLH Provinsi Sulawesi Barat
pada Tahun 2016 yaitu 68,76 masuk dalam kategori cukup mengalami
penurunan dibandingkan dengan Tahun 2015 yaitu 72,08. Hal ini dipengaruhi
oleh adanya penurunan disemua sektor yang berpengaruh yaitu air, udara dan
tutupan hutan.
Dengan adanya perhitungan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup sehingga
diperoleh suatu nilai yang dapat digunakan untuk melihat kategori kualitas
lingkungan di suatu daerah maka diharapkan dapat mempermudah semua
pemangku kepentingan (stakeholder) mulai dari pemerintah dan masyarakat
(publik) untuk memahami kondisi lingkungannya. Dengan mengetahui kondisi
lingkungan maka bagi pemerintah dapat digunakan sebagai bahan evaluasi
26
dalam pemuatan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan dan bagi masyarakat (publik) dengan adanya pemahaman aakan
kondisi lingkungan dapat membantu pemerintah untuk terlibat secara langsung
dalam pengelolaan lingkungan hidup.
II. REKOMENDASI
Berdasarkan kesimpulan tersebut diatas, maka direkomendasikan beberapa hal
sebagai berikut :
1. Dalam penyusunan tata ruang kota, pemerintah harus memperhitungkan
penempatan pemukiman warga yang berada di sekitar bantaran sungai
untuk mengurangi tingkat pencemaran air dari limbah rumah tangga.
2. Pemerintah
daerah
dalam
perlu
untuk
memperhatikan
program
pengendalian pencemaran air agar nilai indeks kualitas air disetiap daerah
dapat mengalami kenaikan.
3. Perlu ada kebijakan dalam pengendalian kualitas udara khususnya dari
sumber-sumber
yang
berpotensi
menimbulkan
pencemaran
seperti
pembakaran sampah serta asap pabrik dan kendaraan bermotor.
4. Pemerintah harus meminimalisir pemberian izin kepada perusahaan yang
akan melakukan usaha/kegiatan dengan memanfaatkan fungsi hutan dan
lahan sehingga kelestarian hutan tetap terjaga.
5. Pemerintah
harus
memperhatikan
pengembangan
kebijakan
untuk
mengembalikan fungsi kawasan hutan khususnya dalam program tutupan
lahan di Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar.
6. Kegiatan ini dapat berjalan secara kontiniu karena selain merupakan
kegiatan wajib yang harus dilaksanakan, juga sekaligus dapat digunakan
sebagai
bahan
pengambilan
kebijakan
dalam
bidang
pengelolaan
lingkungan hidup.
7. Hasil perhitungan yang dilakukan pada Tahun 2016 masih membutuhkan
pembenahan dan penyempurnaan keterwakilan dan keakuratan sumber
27
data. Oleh karena itu dibutuhkan untuk pemantauan kualitas air dan udara
maka dibutuhkan metode dan pengambilan sampel yang lebih akurat,
selain itu dibutuhkan penambahan titik pengambilan sampel air sungai
seperti di kabupaten Mamuju Tengah yang belum dilakukan pemantauan
kualitas air sungai.
8. Untuk pemantauan kualitas air sungai di Kabupaten Majene, jumlah sungai
yang dipantau sudah memadai akan tetapi perlu dilakukan beberapa kali
periode pamantauan dalam setahun dan sebaiknya dilakukan penambahan
titik sampling air.
9. Untuk mendapatkan indeks kualitas air yang mewakili dapat kondisi kualitas
air di Provinsi Sulawesi Barat dibutuhkan penambahan jumlah sungai yang
terpantau setiap kabupaten dengan jumlah titik dan periode pengambllan
yang sesuai dengan ketentuan.
28
Daftar Pustaka
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (1997). Keputusan Kepala Bapedal
Nomor 107 Tahun 1997 Tentang Perhitungan dan Pelaporan serta
Informasi Indeks Standar Pencemar Udara. Jakarta: Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan.
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat. (2015). Laporan Pemantauan
Kualitas Air Sungai. Mamuju: Bidang Pengendalian Pencemaran dan
Pengelolaan Limbah
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat. (2015). Laporan Pemantauan
Kualitas Udara Perkotaan. Mamuju: Bidang Pengendalian Pencemaran
dan Pengelolaan Limbah
BAPPEDA Provinsi Sulawesi Barat. (2014). Materi Teknis Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2014-2034.
Daniel C. Esty, C. K. (2008). 2008 Environmental Performance Index. New Haven:
Yale Center for Environmental Law and Policy.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. (1999). Peraturan Pemerintah Nomor 41
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Jakarta:
Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. (2001). Peraturan Pemerintah Nomor 82
Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencedmaran Air. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. (2003). Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan
Status Mutu Air. Jakarta: Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
VCU Center for Environmental Studies. (2000, December 6). Virginia Environmental
Quality Index. Dipetik March 10, 2009, dari Virginia Commonwealth
University: http://www.veqi.vcu.edu/index.htm
29
KABUPATEN MAMUJU UTARA
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP, NILAI : 67,17
IPA
IPU
ITH
40,00
99,26
63,48
Data umum :
Luas wilayah
:
3.043,75 (km2)
Jumlah penduduk
:
163,90,00 (ribu jiwa)
Kepadatan penduduk
:
51 (jiwa/km2)
Jumlah kecamatan
:
12 Kecamatan
Jumlah Desa/Kelurahan
:
63 Desa/kecataman
PDRB perkapita*)
:
6.036,57 (Billion Rupiah)
*) data statistik tahun 2015 (Angka Sementara)
1
Data Indikator Kualitas Air
Parameter
Nilai Indikator
KMA II – PP 82/2001
Minimal
Maksimal
TSS
4,18
743,42
50
COD
1,825
21,16
25
DO
3,8
27,5
4
BOD
0,12
12,9
3
Total Phospat
0,16
8,51
0,2
Fecal Coliform
7,8
160.000
1000
Total Coliform
220
160.000
5000
Data Indikator Kualitas Udara
Parameter
Rerata Hasil
Keterangan
NO2
9,29
PP 41 Tahun 1999
SO2
9,23
PP 41 Tahun 1999
Data Indikator Tutupan Hutan
Luas Wilayah
(Km2)
3.043,75
Luas Tutupan Hutan
(Km2)
1.358,60
Persentase Tutupan Hutan
(%)
44,636
2
KABUPATEN MAMUJU/
MAMUJU TENGAH
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP, NILAI : 74,89
IPA
IPU
ITH
48,33
99,21
76,58
Data umum :
208.451,85 (km2)
Luas wilayah
:
Jumlah penduduk
:
387.180 (Ribu jiwa)
Kepadatan penduduk
:
46,5 (jiwa/km2)
Jumlah kecamatan
:
Jumlah Desa/Kelurahan
:
PDRB perkapita*)
:
16 Kecamatan
153 Desa/kecamatan
8.272,06 ( Billion Rupiah)
*) data statistic tahun 2015 (Angka Sementara)
3
Data Indikator Kualitas Air
Parameter
Nilai Indikator
KMA II – PP 82/2001
Minimal
Maksimal
TSS
2,63
238,71
50
COD
1,825
1,825
25
DO
3,3
5,2
4
BOD
0,59
1,8
3
Total Phospat
0,22
3,36
0,2
Fecal Coliform
480
92000
1000
Total Coliform
2400
92000
5000
Data Indikator Kualitas Udara
Parameter
Rerata Hasil
Keterangan
10,29
9,79
PP 41 Tahun 1999
PP 41 Tahun 1999
NO2
SO2
Data Indikator Tutupan Hutan
Luas Wilayah
(Km2)
Luas Tutupan Hutan
(Km2)
Persentase Tutupan Hutan
(%)
8.014,06
4.717,`5
58,861
4
KABUPATEN MAJENE
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP, NILAI : 65,13
IPA
IPU
ITH
50,00
99,35
50,81
Data umum :
947,84 (km2)
Luas wilayah
:
Jumlah penduduk
:
163.900 (Ribu jiwa)
Kepadatan penduduk
:
173 (jiwa/ km2)
Jumlah kecamatan
:
8 kecamatan
Jumlah Desa/Kelurahan
:
82 Desa/kelurahan
PDRB perkapita*)
:
2.823,02 ( Billion Rupiah)
*) data statistik tahun 2015 (Data Sementara)
5
Data Indikator Kualitas Air
Parameter
Nilai Indikator
KMA II – PP 82/2001
Minimal
Maksimal
TSS
9,3
9,3
50
COD
32
32
25
DO
8,57
8,57
4
BOD
1,22
1,22
3
Total Phospat
2,4
2,4
0,2
Fecal Coliform
9300
9300
1000
Total Coliform
9300
9300
5000
Data Indikator Kualitas Udara
Parameter
Rerata Hasil
Keterangan
2,08
9,73
PP 41 Tahun 1999
PP 41 Tahun 1999
NO2
SO2
Data Indikator Tutupan Hutan
Luas Wilayah
(Km2)
Luas Tutupan Hutan
(Km2)
Persentase Tutupan Hutan
(%)
947,84
292,73
30,884
6
KABUPATEN POLEWALI MANDAR
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP, NILAI : 58,62
IPA
IPU
ITH
42,00
99,23
40,62
Data umum :
1.775,65 (km2)
Luas wilayah
:
Jumlah penduduk
:
422.790 (Ribu jiwa)
Kepadatan penduduk
:
209 (jiwa/ km2)
Jumlah kecamatan
:
16 kecamatan
Jumlah Desa/Kelurahan
:
167 Desa/kelurahan
PDRB perkapita*)
:
7.276,50 (Billion Rupiah)
*) data statistik tahun 2015 (Data Sementara)
7
Data Indikator Kualitas Air
Parameter
Nilai Indikator
KMA II – PP 82/2001
Minimal
Maksimal
TSS
1,39
126,42
50
COD
1,689
22,521
25
DO
3,5
4,5
4
BOD
0,48
10,8
3
Total Phospat
0,13
2,785
0,2
Fecal Coliform
33
160000
1000
Total Coliform
150
160000
5000
Data Indikator Kualitas Udara
Parameter
Rerata Hasil
Keterangan
NO2
10,46
PP 41 Tahun 1999
SO2
9,29
PP 41 Tahun 1999
Data Indikator Tutupan Hutan
Luas Wilayah
(Km2)
Luas Tutupan Hutan
(Km2)
Persentase Tutupan Hutan
(%)
1.775,65
351,79
19,812
8
KABUPATEN MAMASA
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP, NILAI : 71,40
IPA
IPU
ITH
48,86
99,29
67,29
Data umum :
3.005,88 (km2)
Luas wilayah
:
Jumlah penduduk
:
151.830 (Ribu jiwa)
Kepadatan penduduk
:
52 (jiwa/ km2)
Jumlah kecamatan
:
17 kecamatan
Jumlah Desa/Kelurahan
:
181 Desa/kelurahan
PDRB perkapita*)
:
1.762,29 ( Billion Rupiah)
*) data statistik tahun 2015 (Data Sementara)
9
Data Indikator Kualitas Air
Parameter
Nilai Indikator
KMA II – PP 82/2001
Minimal
Maksimal
TSS
1,37
266,27
50
COD
1,825
66,283
25
DO
3,8
5,2
4
BOD
0,40
7,65
3
Total Phospat
0,027
6,13
0,2
Fecal Coliform
6,8
160000
1000
Total Coliform
6,8
11000
5000
Data Indikator Kualitas Udara
Parameter
Rerata Hasil
Keterangan
NO2
10,43
PP 41 Tahun 1999
SO2
6,57
PP 41 Tahun 1999
Data Indikator Tutupan Hutan
Luas Wilayah
(Km2)
Luas Tutupan Hutan
(Km2)
Persentase Tutupan Hutan
(%)
3.005,88
1.466,21
48,766
10
v
NILAI IKLH PROVINSI SULAWESI BARAT
Berdasarkan rumus :
30% IPA x 30% IPU x 40% ITH
IKLH =
3
maka diperoleh nilai IKLH kabupaten sebagai berikut :
No.
Provinsi/Kabupaten
IPA
IPU
ITH
1
Mamuju Utara
40,00
99,26
63,48
2
Mamuju dan Mamuju Tengah
48,33
99,21
76,58
3
Majene
50,00
99,35
50,81
4
Polewali Mandar
42,00
99,23
40,62
5
Mamasa
48,86
99,41
67,29
6
Provinsi Sulawesi Barat
45,84
99,29
59,76
No.
Provinsi/Kabupaten
IPA
IPU
ITH
IKLH
1
Mamuju Utara
12,00
29,78
25,39
67,17
2
Mamuju dan Mamuju
Tengah
14,50
29,76
30,63
74,89
3
Majene
15,00
29,81
20,32
65,13
4
Polewali Mandar
12,60
29,77
16,25
58,62
5
Mamasa
14,66
29,82
26,92
71,40
6
Provinsi Sulawesi Barat
13,75
29,79
23,90
67,44
11
DATA PENDUDUK SULAWESI BARAT TAHUN 2016
No.
Kabupaten
Luas (km2)*)
Jumlah Penduduk
(1)
(2)
(3)
(4)
1
Mamuju Utara
3.043,75
156.460
2
Mamuju / Mamuju Tengah
8.014,06
387.180
3
Majene
947,84
163.900
4
Polewali Mandar
1.775,65
422.790
5
Mamasa
3.005,88
151.830
16.916,72
16.787,18
Total
Sumber : Sulbar dalam Angka 2016 (BPS Provinsi Sulawesi Barat)
dari nilai IKLH setiap Kabupaten, dapat dihitung nilai IKLH Provinsi Sulawesi Barat
berdasarkan perhitungan :
  PopulasiKabupaten  LuasKabupaten  


 
5
  Populasi Pr ovinsi  Luas Pr ovinsi  
IKLH _ Pr ovinsi   IKLH
x

Kabupaten 
2


i 1


Maka diperoleh nilai IKLH Provinsi sebagai berikut :
No.
Kabupaten
IKLH
Kab
Populasi
Kab/Populasi
Prov.
Luas
Kab/Luas
Prov.
NILAI IKLH
Prov.
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
1
Mamuju Utara
67,17
0,122028452
0,18131396
10,18775474
2
Mamuju / Mamuju
Tengah
74,89
0,301974793
0,47739168
29,18493616
3
Majene
65,13
0,12783116
0,05646213
6,001418957
4
Polewali Mandar
58,62
0,329748237
0,10577417
12,76450842
5
Mamasa
71,40
0,118417358
0,17905807
10,61942646
6
Provinsi Sulbar
68,75804474
12
13
Bidang Penaatan dan Komunikasi Lingkungan
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Barat
2016
Download