pengaruh biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung

advertisement
PENGARUH BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA
LANGSUNG TERHADAP EFESIENSI BIAYA PRODUKSI PADA
PERUSAHAAN PT. ANGGREK HITAM
DENGAN PERIODE TAHUN 2013-2015
Disusun Oleh:
Theresia Detty Natalo Roher
NIM. 12000798
TUGAS AKHIR
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN
BATAM
2016
ABSTRAK
PENGARUH BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA
LANGSUNG TERHADAP EFESIENSI BIAYA PRODUKSI
PT. ANGGREK HITAM BATAM
Oleh :
Theresia Detty Natalo Roher
Dosen Pembimbing :
Hermaya Ompusunggu, SE.,MAk
Biaya dengan adanya efisiensi dalam bahan baku dan tenaga kerja
langsung dapat mempengaruhi biaya produksi menjadi lebih efisiensi pula.
Karena besarnya bahan baku dan tenaga kerja langsung berpengaruh secara
signifikan terhadap besarnya biaya produksi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efisiensi
biaya produksi.
Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung dan biaya produksi yang terjadi dalam PT. Anggrek
Hitam Batam pada tahun 2013 sampai tahun 2015 dan pengujian Hipotesis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi linier berganda.
Berdasarkan pengujian diatas Uji Hipotesis dengan perangkat uji-t
menunjukkan bahwa Biaya Bahan Baku berpengaruh terhadap Efisiensi Biaya
Produksi dengan kata lain H o ditolak dan Ha diterima. Uji Hipotesis dengan
perangkat uji-t menunjukkan bahwa Biaya Tenaga Kerja Langsung tidak
berpengaruh terhadap Efisiensi Biaya Produksi dengan kata lain H o diterima
dan Ha ditolak. Untuk Uji Hipotesis secara simultan dengan perangkat uji-F
menyatakan kedua variable biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
secara bersama-sama berpengaruh terhadap efisiensi biaya produksi dengan
kata lain Ho ditolak dan Ha diterima.
Kata kunci : Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Efisiensi
Biaya Produksi
1
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan semakin pesatnya persaingan usaha dewasa ini serta era
globalisasi yang tidak mungkin dapat hindari adalah merupakan suatu
tantangan sekaligus keharusan bagi perusahaan untuk selalu meningkatkan
produktivitas, persaingan perusahaan yang semakin ketat, kenaikan hargaharga kebutuhan pokok tentunya mempengaruhi harga kebutuhan bahan baku,
mesin maupun suku cadang yang digunakan dalam kegiatan operasional
perusahaan sehingga sangat mengganggu kondisi keuangan perusahaan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan dalam menghadapi
persaingan adalah dapat menekan biaya yang ada dalam operasi perusahaan.
Dalam hal ini perusahaan harus dapat menghasilkan produk yang bermutu
sesuai dengan selera dan kebutuhan konsumen tetapi harga jual produk
tersebut sesuai dengan harga pasar yang wajar. Usaha yang perlu dilakukan
perusahaan untuk dapat memperoleh harga jual yang wajar yaitu dengan
mengendalikan biaya produksinya. Pemimpin perusahaan harus mengikuti
perkembangan jaman dan perubahan yang tejadi pada segala aspek di
lingkungan sehingga mampu mempertahankan kelangsungan hidup.
Perusahaan memperoleh laba jika hasil penjualan lebih besar dari
biaya yang dikeluarkan. Dengan berkembangnya perusahaan, secara otomatis
organisasi perusahaan ikut berkembang. Hal ini akan mengakibatkan masalah
yang timbul di dalam perusahaan akan semakin luas dan komplek. Apabila
3
keadaan tersebut didiamkan akan mengakibatkan keterbatasan manajemen
dalam mengatur system kerja dan financial perusahaan. Untuk memecahkan
masalah tersebut, tentunya pimpinan dalam mengambil kebijakan tidak hanya
internal perusahaan, tetapi juga eksternal perusahaan.
Pada perusahaan industri, umumnya biaya produksi memegang peranan
yang sangat penting, hal ini dikarenakan jumlah biaya produksi relative lebih
besar dibanding jumlah biaya-biaya lainnya yaitu biaya administrasi dan biaya
pemasaran. Oleh karena itu perlu diadakan perencanaan dan pengendalian biaya
produksi agar perusahaan dapat berproduksi secara efektif dan efisien.
Ketersediaan bahan baku menjadi bagian yang paling penting di dalam
proses produksi dan harus ada pada saat dibutuhkan, selain itu faktor yang paling
penting adalah ketersediaan mesin-mesin yang siap dioperasikan untuk
mengubah bahan baku menjadi barang jadi yang siap di jual. Dengan adanya
bahan baku dengan kualitas baik maka akan memberikan kualitas keluaran
yang baik pula. Keberhasilan suatu perusahaan dalam pengolahan bahan baku
tersebut tergantung dari upaya perusahaan untuk mencari dan memilih dengan
teliti bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi. Dengan
kualitas bahan baku yang semakin baik maka akan mengurangi terjadinya
kesalahan produksi maupun proses produksi ulang. Untuk mendapatkan bahan
baku yang bermutu baik maka dilakukan pengujian atau pengetesan bahan
baku, maka dapat diketahui bahan baku yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan oleh perusahaan dan mana yang tidak sesuai. Bila mutu bahan baku
4
sesuai dengan standar yang ditetapkan maka diharapkan adanya produk yang
bermutu baik.
Indonesia dengan perairan yang luas, membutuhkan sarana transportasi
kapal yang mampu menjangkau pulau-pulau yang jumlahnya mencapai lebih dari
17.508 buah. Sebagai sebuah negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi
transportasi laut yang sangat besar. Kapal-kapal besar sampai tradisional tidak
hanya menjadi moda transportasi, tetapi juga berperan sebagai pemersatu NKRI
(Negara Kesatuan Republik Indonesia). Oleh karena itu, pemerintah sangat
mendukung industri galangan kapal yang menyokong kebutuhan transportasi
laut yang sangat tinggi.
Pemerintah mematok pertumbuhan Industri galangan kapal Indonesia bisa
tumbuh 15% pada tahun 2012 (I Wayan Yoga, 2012). Data Kementerian
Perindustrian menyebutkan, saat ini ada 250 galangan kapal yang sebagian
besar adalah galangan kapal dalam skala kecil dan 4 buah galangan kapal
milik pemerintah yaitu : PT Dok & Perkapal Kodja Bahari, PT PAL
Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Surabaya dan PT Industri Kapal Indonesia.
Perusahaan galangan dalam negeri yang berjumlah 250 tersebut tersebar di
Indonesia, 37% berada di pulau Jawa, 26% di Sumatra, 25% di Kalimantan
dan 12% berada di kawasan timur Indonesia, dengan kapasitas pembangunan
kapal terpasang sebesar 140.000 GT per tahun. Namun demikian rata-rata
produksi kapal per tahun sebesar 85.000 GT sedangkan rata-rata reparasi
kapal baru mencapai 65.000 GT per tahun (Aulia, 2008). Sebenarnya potensi
pasar galangan kapal dalam negeri sangatlah besar. Hal ini salah satunya
5
dapat dilihat dari tingginya kebutuhan angkutan perdagangan internasional
dan antar pulau yang mencapai volume 400 juta ton per tahun. Namun
demikian hanya 18,08% yang menggunakan kapal berbendera Indonesia. Hal
ini terjadi karena ketidakmampuan perusahaan
membeli
armada
kapal
dari
galangan
pelayaran
nasional untuk
kapal
dalam
negeri.
(http://fullerena.blogspot.com/2013/04/potensi-industri-galangan-kapal
di.html#ixzz2QbEEwiy5).
Sebagai
gambaran,
menginstruksikan
Instruksi
penerapan
asas
Presiden
Nomor
cabotage
secara
5
Tahun
konsekuen
2005
untuk
mengoptimalkan pemberdayaan industri pelayaran nasional. Sektor perindustrian
diinstruksikan mendorong tumbuh berkembangnya industri perkapalan, termasuk
industri perkapalan rakyat, baik usaha besar, menengah, kecil, maupun koperasi.
Pembangunan, pemeliharaan, dan reparasi kapal yang biaya
pengadaannya
dibebankan kepada APBN/APBD wajib dilaksanakan pada industri perkapalan
nasional, dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundangan
mengenai pengadaan barang/jasa pemerintah. Data Kementerian Perhubungan
tahun 2010 menyebutkan, terdapat 9.835 unit kapal barang di Indonesia
dengan daya angkut mencapai 12,3 juta ton bobot mati.
Kondisi terkini, terdapat tidak kurang dari 10.500 kapal barang dan
angkutan manusia yang beredar di laut Indonesia. Jumlah itu belum termasuk
kapal yang dimiliki oleh para nelayan. Kapal yang berjumlah 10.500 unit
tersebut nantinya harus melakukan doking tiap 18-20 bulan sekali untuk
pemeliharaan dan perbaikan, sehingga hal tersebut menjadikan peluang pasar
6
tetap untuk pemeliharaan dan perbaikan (Transmedia, 2012). Dengan demikian,
Indonesia mendapat nilai lebih ekonominya. Selain memberikan manfaat dari
proses docking tersebut, akan ada peningkatan pada beban dasar untuk
menggerakan industri komponen kapal di Indonesia. Ini akan meningkatkan
beban dasar demi untuk menggerakan industri komponen kapal di Indonesia.
(http://fullerena.blogspot.com/2013/04/potensi-industri-galangan-kapaldi.html#ixzz2QbKatEN6)
Menurut Mulyadi (2007: 14), biaya produksi dibagi menjadi: (1) Biaya
bahan langsung, (2) Tenaga kerja langsung, (3) Biaya overhead pabrik. Elemen
yang paling penting agar perusahaan dapat merencanakan dan mengendalikan
biaya produksi adalah bahan baku, sehingga sesuai dengan tujuan diadakan
perencanaan dan pengendalian serta perusahaan dapat menyelenggarakan
persediaan bahan baku yang tepat. Jumlah biaya bahan baku dengan biaya
tenaga kerja langsung merupakan biaya utama (prime cost) yaitu biaya yang
secara langsung berpengaruh terhadap jumlah produk. Sedangkan jumlah biaya
tenaga kerja tidak langsung dengan biaya overhead pabrik disebut biaya konversi
yaitu biaya yang dibutuhkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi.
Kemampuan dalam mengendalikan operasi dipakai perusahaan secara efektif
dan
efisien
dijadikan
terutama
sebagai
yang
evaluasi
menyangkut dengan peningkatan laba yang
manajemen
perusahaan
pengambilan keputusan oleh pimpinan. Berdasarkan
dan
sebagai
dasar
hasil penelitian
yang
dilakukan oleh Ahmad Zamzami (2012) bahwa kualitas produk mempunyai
pengaruh lebih dominan terhadap efisiensi biaya produksi dibanding dengan
7
kualitas
bahan
baku
dikarenakan
hasil produk tersebut menjadi patokan
sebagai perbaikan yang terus menerus untuk menjadi acuan lebih baik.
Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja yang
dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja. Tenaga kerja merupakan salah
satu factor dominan dalam suatu perusahaan. Pemanfaatan jam tenaga kerja
langsung harus diperhatikan dan diupayakan untuk menciptakan kondisi kerja
yang efektif dan efisien, terutama jika dihubungkan dengan tenaga kerja
langsung terlibat dalam proses produksi (Maudyana, 2007: 2).
Dengan adanya efisiensi dalam bahan baku dan tenaga kerja langsung
dapat mempengaruhi biaya produksi menjadi lebih efisiensi pula. Karena
besarnya bahan baku dan tenaga kerja langsung berpengaruh secaras signifikan
terhadap besarnya biaya produksi.
PT. Anggrek Hitam bergerak dibidang manufaktur yang berproduksi
berdasarkan kontrak/pesanan (job order) untuk memproduksi kapal tangker,
kapal Self Propelled Urea Barge (pengangkut pupuk), kapal Self Propelled
Barges (kapal kargo), Anchor Handling Tug Supply Vessel (kapal untuk kegiatan
eksplorasi minyak dan gas bumi) atau reparasi kapal.
Sehubungan dengan penelitian pada PT. Anggrek Hitam
sebagai tujuan
objek penelitian, dimana kendala yang dialami perusahaan ini pada efisiensi
biaya produksi yang terkait dengan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung dengan kata lain bahwa penetapan anggaran biaya produksi dan
realisasinya, di perusahaan ini menjadi dasar penetapan anggaran biaya
produksi masih perlu ditinjau kembali sesuai dengan jenis – jenis biaya yang
8
akan dikeluarkan agar pengalokasiannya tidak melebihi anggaran yang telah
ditetapkan.
Dari uraian di atas penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul
“Pengaruh biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung terhadap
efesiensi biaya produksi pada perusahaan PT. Anggrek Hitam dengan periode
tahun 2013-2015” dengan memilih perusahaan PT. Anggrek Hitam Batam
sebagai tempat penelitian penulis.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah penulis uraikan di atas maka yang menjadi
rumusan masalah yang diangkat oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Apakah biaya bahan baku berpengaruh signifikan terhadap efesiensi biaya
produksi?
2. Apakah biaya tenaga kerja langsung berpengaruh signifikan terhadap
efesiensi biaya produksi?
3. Apakah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung secara bersamasama berpengaruh signifikan terhadap efesiensi biaya produksi pada
perusahaan PT. Anggrek Hitam?
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini tidak terlalu luas dan lebih terarah maka perlu adanya
batasan penelitian tentang biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
terhadap biaya produksi pada PT. Anggrek Hitam yang beralamat di Jalan Raya
Pelabuhan Kabil, Batam yang laporan keuangannya diambil untuk periode tahun
2013-2015.
9
Disamping faktor di atas ada beberapa faktor lainnya yang mempengaruhi
biaya produksi tetapi tidak diteliti yaitu :
1. Biaya overhead pabrik
2. Anggaran penjualan
3. Modal kerja
4. Kapasitas pabrik termasuk peralatan yang digunakan
5. Transportasi dan pengangkutan
1.4 Tujuan penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah biaya bahan baku berpengaruh signifikan terhadap
efesiensi biaya produksi pada perusahaan PT. Anggrek Hitam.
2. Untuk mengetahui apakah biaya tenaga kerja langsung berpengaruh
signifikan terhadap efesiensi biaya produksi pada perusahaan PT. Anggrek
Hitam.
3. Untuk mengetahui apakah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap efesiensi biaya
produksi pada perusahaan PT. Anggrek Hitam.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Manfaat teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan keilmuwan di
bidang akuntansi dan bermanfaat bagi perusahaan untuk dijadikan sebagai
masukan dan bahan pertimbangan dalam mengetahui dampak pengaruh biaya
bahan baku dan biaya tenaga kerja terhadap efesiensi biaya produksi.
10
1.5.2 Manfaat praktis
a. Bagi peneliti :
Penelitian ini diharapkan untuk mengetahui sejauh mana teori-teori yang
didapat selama perkuliahan dan bermanfaat menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai masalah yang terjadi dalam suatu perusahaan.
b. Bagi perusahaan:
Sebagai dasar pertimbangan, referensi, dan masukan bagi pihak manajemen
perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya.
c. Bagi akademik:
Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan diharapkan
menjadi sumber informasi yang dapat memberikan sumbangan bagi ilmu
pengetahuan serta menambah koleksi kepustakaan dan agar dapat dijadikan
sebagai bahan referensi bagi penelitian berikutnya.
d. Bagi pihak lainnya:
Sebagai bahan masukan dan sumber informasi dalam melakukan penelitian
selanjutnya sehingga hasilnya dapat lebih baik dari penelitian terdahulu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN
HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian biaya bahan baku
Pengertian bahan baku langsung adalah bahan yang menjadi bagian yang
diperlukan untuk melengkapi produk jadi suatu perusahaan dan dapat ditelusur
dengan mudah ke produk jadi tersebut. Jadi bahan baku ini merupakan elemen
biaya produksi langsung.
Rudiyanto (2006: 17) mendefinisikan biaya bahan baku sebagai berikut :
“biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku yang telah digunakan untuk
menghasilkan suatu produk jadi tertentu dalam volume tertentu” sementara itu,
William K.Carter yang diterjemahkan oleh Krista S.E.Ak, (2009: 40)
mendefinisikan biaya bahan baku langsung sebagai berikut : “ semua biaya bahan
baku yang membentuk bagian integral dari produk jadi dan dimasukan secara
eksplisit dalam perhitungan biaya produk”
Sedangkan menurut Sunarto (2010: 5) biaya bahan baku adalah harga pokok
bahan yang dipakai dalam produksi untuk membuat barang. Biaya bahan baku
merupakan bagian dari harga pokok barang jadi yang akan dibuat.
Menurut Hanggana (2006: 11) pengertian bahan baku adalah sesuatu yang
digunakan untuk membuat barang jadi, bahan pasti menempel menjadi satu
dengan barang jadi. Dalam sebuah perusahaan bahan baku dan bahan penolong
10
11
memiliki arti yang sangat penting, karena menjadi modal terjadinya proses
produksi sampai hasil produksi.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa biaya adalah suatu
pengorbanan atau penyerahan sumber-sumber daya atau ekonomi yang diukur
dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk tujuan
tertentu di masa mendatang.
Menurut prinsip akuntansi yang lazim semua biaya yang terjadi untuk
memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk
diolah, merupakan elemen harga pokok bahan baku yang dibeli. Contoh bahan
langsung yang dipakai antara lain: pelat baja (steel plate) yang dipakai untuk
membuat sebuah kapal.
2.1.1.1 Perolehan dan Penggunaan Bahan Baku
Proses produksi dan kebutuhan bahan baku bervariasi sesuai dengan
ukuran dan jenis industri dari perusahaan, pembelian dan penggunaan bahan
baku biasanya meliputi langkah-langkah :
1. Untuk setiap produk atau variasi produk, insinyur menentukan rute
(routing) untuk setiap produk, yang merupakan urutan operasi yang
dilakukan, dan sekaligus menetapkan daftar bahan baku yang diperlukan,
yang merupakan daftar kebutuhan bahan baku untuk setiap langkah dalam
urutan operasi tersebut.
2. Anggaran produksi (production budge) menyedikan rencana utama,
darimana rincian mengenai bahan baku dikembangkan.
12
3. Bukti
permintaan
pembelian
atau
(purchase
requisition)
menginformasikan agen pembelian mengenai jumlah dan jenis bahan baku
yang dibutuhkan.
4. Pesanan pembelian (purchase order) merupakan kontrak atas jumlah yang
harus dikirimkan.
5. Laporan penerimaan (receiving report) mengesahkan jumlah yang
diterima, dan mungkin juga melaporkan hasil pemeriksaan dan pengujian
mutu.
6. Bukti permintaan bahan baku (material requisition) memberikan
wewenang bagi gudang untuk mengirimkan jenis dan jumlah tertentu dari
bahan baku ke department tertentu pada waktu tertentu.
7. Kartu catatan bahan baku (material record card) mencatat setiap
penerimaan dan pengeluaran dari setiap jenis bahan baku dan berguna
sebagai catatan persediaan perpetual.
2.1.1.2 Perencanaan dan Pengendalian Bahan Baku
Tujuan dasar dari pengendalian persediaan bahan baku adalah
kemampuan untuk mengirimkan pesanan pada saat yang tepat pada pemasok
terbaik untuk memperoleh kuatitas yang tepat pada harga dan kualitas yang
tepat. Pada umumnya persediaan bahan baku akan digunakan untuk menunjang
pelaksanaan proses produksi yang bersangkutan tersebut.
Dengan demikian maka besarnya persediaan bahan baku akan
disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku untuk pelaksanaan proses produksi.
Jadi untuk menentukan berapa banyak bahan baku yang akan dibeli oleh suatu
13
perusahaan pada suatu periode akan tergantung pada berapa besarnya
kebutuhan perusahaan tersebut akan bahan baku untuk keperluan proses
produksi.
Menurut Rangkuti (2007: 14) ada 5 macam teknik yang biasa
digunakan perusahaan untuk menghitung pengendalian persediaan, yaitu dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Metode Analisis ABC
Metode ini sangat berguna dalam memfokuskan perhatian manajemen
terhadap penentuan jenis barang yang paling penting dalam sistem
inventori yang bersifat multisistem.
2. Metode Pengendalian/ Pengawasan Persediaan (EOQ)
Pengendalian persediaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang
dapat dipecahkan dengan menerapkan metode kuantitatif. Konsep ini dapat
diterapkan baik untuk industri skala kecil maupun industri skala besar.
3. Pengendalian Persediaan dalam Kondisi Tidak Tentu dan Ada Pemesanan
Kembali
Model ini dapat sesuai apabila permintaan diketahui berasal dari sejumlah
besar sumber yang independen. Secara spesifik, hal ini sering terjadi dalam
persediaan berupa barang – barang yang telah jadi (finished goods), tetapi
jarang ditemukan pada bahan mentah atau bahan setengah jadi yang
memerlukan proses pengolahan lebih lanjut.
4. Pengendalian Persediaan dalam kondisi tidak tentu dan tidak ada
pemesanan kembali
14
Bagian ini akan membahas pemecahan masalah persedian yang kondisinya
tidak memungkinkan untuk pemesanan kembali. Produk tersebut secara
ekonomi tidak dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama.
5. Sistem Persediaan Just In Time
Sistem Just In Time mengacu kepada kartu yang mengizinkan satu
departemen dari satu organisasi untuk menghasilkan jumlah minimum dari
suatu jenis barang dalam menjawab reaksi dari persyaratan departemen
lain. Idenya adalah dengan menggunakan relatif sangat kecil order (atau
produksi), dengan relatif Low Order Points, sehingga pemenuhan
persediaan dapat datang just in time. Adapun metode pengendalian bahan
baku, metode siklus pesanan dan metode minimum-maksimum dibahas
berikut ini:
1. Metode siklus pesanan (order cyling method) atau metode tinjauan
siklus (cycle review method)
Memeriksa secara periodik status jumlah bahan baku yang tersedia
untuk setiap item atau kelas perusahaan yang berbeda menggunakan
periode waktu yang berbeda (misalnya 30, 60 atau 90 hari) antar
tinjauan dan dapat menggunakan siklus yang berbeda untuk jenis
bahan baku yang berbeda.
2. Metode minimum – maksimum ( min – max method)
Didasarkan pada pernyantaan bahwa jumlah dari sebagian besar
item persediaan berada pada kisaran batas tertentu. Jumlah
maksimum untuk setiap item ditetapkan. Tingkat minimum sudah
15
memasukkan margin pengaman yang diperlukan untuk mencegah
terjadinya kehabisan persediaan selama sikluspemesanan kembali.
Tingkat minimum menentukan titik pemesanan kembali, dan jumlah
pesanan sama dengan selisih antara tingkat maksimum dengan
tingkat minimum. Metode ini dapat didasarkan pada observasi fisik,
atau dapat dimasukan kedalam sistem akuntansi.
3. Metode dua tempat
Dalam metode ini, setiap item persediaan disimpan dalam 2 tempat,
tumpukan atau kumpulan. Tempat pertama berisi persediaan yang
mencukupi untuk penggunaan yang terjadi selama periode antara
penerimaan suatu pesanan dengan penempatan pesanan berikutnya.
Tempat yang kedua berisi jumlah normal yang digunakan dari
tanggal pemesanan sampai dengan tanggal pengiriman plus
persediaan pengaman. Apabila persediaan di tempat yang pertama
kosong dan persediaan di tempat kedua mulai digunakan, maka
bukti permintaan pembelian untuk pemasokan baru di buat.
4. Pengendalian selektif
Dalam pengendalian selektif, yang juga disebut dengan rencana
ABC, signifikansi biaya dari setiap item dievaluasi. Item
diklasifikasikan ke dalam tiga kategori. Item yang nilainya tinggi
dan merupakan item penting, disebut item A, berada dalam tingkat
pengendaliaan yang paling ketat. Item yang nilainya menengah,
disebut item B, berada dalam tingkat pengendalian yang moderat.
16
Item yang bukan merupakan item yang penting dikendalikan
menggunakan pengendaliaan fisik yang sederhana, seperti metode
dua tempat.
2.1.1.3 Metode Perhitungan Biaya Bahan Baku
Karena dalam satu periode akuntansi seringkali terjadi fluktuasi harga, maka
harga beli bahan baku juga berbeda dari pembelian yang satu dengan
pembelian yang lain. Oleh karena itu persediaan bahan baku yang ada digudang
mempunyai harga pokok persatuan yang berbeda-beda, meskipun jenisnya
sama. Hal ini menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok bahan baku
yang dipakai dalam produksi.
Untuk mengatasi masalah ini diperlukan berbagai macam metode harga
pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi (materials costing method),
diantaranya adalah:
1. Metode identifikasi khusus
Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi
tanda pada harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli.
Setiap pembelian bahan baku yang harga per satuannya berbeda dengan
harga per satuan bahan baku yang sudah ada di gudang harus dipisahkan
penyimpanannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan tersebut dibeli.
Dalam metode ini, tiap-tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas
identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat
diketahui harga pokok per satuannya secara tepat.
17
Kesulitan yang timbul dari pemakaian metode ini adalah terletak dalam
penyimpanan bahan baku di gudang. Meskipun jenis bahan bakunya sama,
namun jikaharga pokok per satuannya berbeda, bahan baku tersebut harus
disimpan secara terpisah, agar mudah identifikasi pada saat pemakaiannya
nanti. Metode ini merupakan metode yang paling teliti dalam penentuan
harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, namun sering kali
tidak praktis. Metode ini sangat efektif dipakai apabila bahan baku yang
yang dibeli bukan merupakan barang standard dan dibeli untuk memenuhi
pesanan tertentu. Perusahaan yang memakai metode harga pokok pesanan
seringkali memakai metode identifikasi khusus untuk bahan baku yang
tidak disediakan dalam persediaan gudang (yang hanya secara incidental
dibeli untuk memenuhi spesifikasi pemesan) dan memakai metode
penentuan harga pokok yang lain untuk bahan baku yang biasa dipakai
dalam produksi.
2. Metode masuk pertama keluar pertama (FIFO)
Metode masuk pertama, keluar pertama menentukan biaya bahan baku
dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang pertama
masuk dalam gudang dipergunakan untuk menentukan harga bahan baku
yang pertama kali dipakai. Perlu ditekanakan disini bahwa untuk
menentukan biaya bahan baku, anggapan aliran biaya tidak harus sesuai
dengan aliran fisik bahan baku dalam produksi.
18
3. Metode masuk terakhir keluar pertama (LIFO)
Metode masuk terakhir , keluar pertama menentukan harga pokok bahan
baku yang dipakai dalam produksi dengan anggapan bahwa harga pokok
per satuan bahan baku yang terakhir masuk dalam persediaan gudang,
dipakai untuk menentukan harga pokok bahan baku yang pertama kali
dipakai dalam produksi.
4. Metode rata-rata bergerak (Moving Average method)
Dalam metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung
harga pokok rata-ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan
jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga pokok per
satuannya berbeda dengan harga pokok rata-rata persediaan yang ada di
gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan
yang baru. Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga
pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan bahn baku yang dipakai
dengan harga pokok rata-rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.
Metode ini disebut juga dengan metode rata-rata tertimbang, karena dalam
menghitung rata-rata harga pokok persediaan bahan baku, metode ini
menggunakan kuantitas bahan baku sebagai angka penimbangnya.
5. Metode biaya standart
Dalam metode ini, bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan
sebagai harga standar yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang
diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Harga standar
merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu. Pada
19
saat dipakai, bahan baku dibebankan kepada produk pada harga standar
tersebut. Jurnal yang dibuat pada saat pembelian bahan baku adalah
sebagai berikut:
Persediaan bahan baku
xx
Selisih harga
xx
Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar
Selisih harga
xx
Utang dagang
xx
Untuk mencatat harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli.
Selisih harga standar dengan harga sesungguhnya tampak dalam rekening
selisih harga setiap akhir bulan saldo rekening selisih harga dibiarkan tetap
terbuka, dan disajikan dalam laporan keuangan bulanan. Hal ini dilakukan
karena saldo rekening selisih harga setiap akhir bulan mungkin saling
mengkompensasi, sehingga hanya pada akhir tahun saja saldo rekening
selisih harga perlu ditutup ke rekening lain.
6. Metode rata-rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan.
2.1.2 Pengertian Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja merupakan salah satu dari unsur-unsur biaya produksi.
Biaya tenaga kerja dapat dipahami dan di jelaskan sebagai berikut :
Rudiyanto (2006: 17) mendefinisikan biaya tenaga kerja langsung sebagai
berikut: “biaya yang dikeluarkan untuk membayar pekerja yang terlibat secara
langsung dalam proses produksi”. Sementara itu, William K.Carter yang
diterjemahkan oleh Krista (2009: 40) memberikan definisi biaya tenaga kerja
20
langsung sebagai berikut: “ biaya tenaga kerja yang melakukan konversi bahan
baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke produk
tertentu”
Setiap perusahaan dalam melaksanakan proses produksi tidak dapat hanya
mengandalkan pemanfaatan fasilitas dengan teknologi modern, karena sistem
produksi membutuhkan jasa tenaga kerja untuk memperlancar proses produksi
yang akan bermanfaat bagi masyarakat. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor
yang terpenting dalam proses produksi untuk menghasilkan barang maupun jasa
disamping faktor produksi modal, teknologi dan sumberdaya alam. Ruch, Fearon
dan Witers mengatakan “Production/operation cannot fuction without people. The
human resources fuction is to recruitment train workers to fill production process
according to the job design and skill assessment performed by work-study
analyts”. Tenaga kerja dibutuhkan untuk melakukan transformasi dari bahan
mentah menjadi barang jadi yang dikehendaki oleh perusahaan.
Tenaga kerja adalah orang yang melaksanakan dan menggerakkan segala
kegiatan, menggunakan peralatan dengan teknologi dalam menghasilkan barang
dan jasa yang bernilai ekonomi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Skala usaha
akan mempengaruhi besar kecilnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Biasanya
perusahaan kecil akan membutuhkan jumlah tenaga kerja yang sedikit, dan
sebaliknya perusahaan besar lebih banyak membutuhkan tenaga kerja. Dalam
analisis ketenagakerjaan sering dikaitkan dengan tahapan pekerjaan dalam
perusahaan, hal seperti ini sangat penting untuk melihat alokasi sebaran
21
penggunaan tenaga kerja selama proses produksi sehingga kelebihan tenaga
kerjapada kegiatan tertentu dapat dihindari.
Penggunaan tenaga kerja sebagai variabel dalam proses produksi lebih
ditentukan oleh pasar tenaga kerja, dalam hal ini dipengaruhi
oleh upah
tenaga kerja serta harga outputnya (Nopirin 2011: 133). Menurut Gitosudarmo
(2008: 30), tenaga kerja adalah usaha-usaha manusia diarahkan pada penciptaan
barang dan jasa. Tenaga kerja dalam tugasnya termotivasi dan akan berproduksi
lebih giat lagi bila diberi imbalan atau diberi upah yang memadai. Selain itu
perusahaan perlu memperhatikan kepuasan tenaga kerja dengan memberikan
penghargaan,
tunjangan
sehingga
mereka
terpacu
untuk
meningkatkan
produktivitas.
2.1.2.1 Jenis Tenaga Kerja
Untuk kepentingan penyusunan anggaran dan perhitungan biaya maka
biasanya tenaga kerja dapat dibagi menjadi :
1. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung terlibat
dalam proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya produksi atau
pada barang yang dihasilkan. Menurut Mulyadi (2012: 7) biaya tenaga
kerja langsung adalah gaji/upah tenaga kerja yang dipekerjakan untuk
memperoses bahan menjadi barang jadi.
2. Sedangkan menurut Mulyadi (2012: 7) tenaga kerja tak langsung
adalah tenaga
kerja
yang
tidak
terlibat
langsung pada proses
produksi dan biayanya dikaitkan pada overhead pabrik.
22
2.1.2.2 Pengelolaan Tenaga Kerja dalam Operasi
Salah satu tujuan pengelolaan tenaga kerja adalah untuk meningkatkan
produksi. Tujuan-tujuan dalam operasi lainnya mencakup biaya, kualitas,
keandalan dan fleksibilitas. Tujuan manajemen tenaga kerja adalah untuk
mengoptimalkan pelaksanaan kerja karena adanya berbagai batasan yang
melingkupi operasi organisasi. Faktor yang harus diperhatikan adalah
kesejahteraan karyawan, faktor ini menyangkut tingkat upah yang
diperoleh sebagai sumber penghasilan, sedangkan untuk memelihara
tenaga kerja yang dimiliki dapat dilakukan dengan memotivasi pekerja
dengan pemberian insentif dan pemberian jaminan sosial.
Menurut Schroeder (2008) mengelola manusia atau tenaga kerja
adalah suatu hal yang sangat penting dalam operasi, karena tidak ada
sesuatu yang dapat diselesaikan tanpa manusia yang mengerjakan.
Mengelola tenaga kerja yang baik dan efisien adalah kunci keberhasilan
dari bagian operasi.
2.1.3 Pengertian Biaya Produksi
Sebelum membahas mengenai biaya produksi dan bagaimana cara
pengambilan keputusan dalam menerima atau menolak suatu pesanan khusus ada
baiknya dibahas terlebih dahulu pengertian biaya produksi, sebab istilah “biaya
produksi” acap kali digunakan pada analisis perhitungan biaya produksi. Berikut
ini adalah definisi yang dikutip dari beberapa sumber :
23
Menurut Mulyadi (2012: 13) biaya produksi merupakan biaya-biaya
yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk
dijual.
Menurut Hansen dan Mowen (2009: 47) biaya produksi adalah biaya
yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa.
Sedangkan menurut Sutrisno (2009) biaya produksi adalah biaya yang
dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk selesai. Biaya ini
dikeluarkan oleh departemen produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa biaya produksi
adalah suatu pengorbanan atau penyerahan sumber-sumber daya atau
ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan
akan terjadi untuk tujuan tertentu di masa mendatang. Bahan langsung dapat
digolongkan ke dalam kelompok biaya utama (prime cost). Upah pekerja
langsung dan overhead pabrik dapat digabungkan ke dalam biaya konversi
(conversion cost) yang mencerminkan biaya pengubahan bahan langsung
menjadi barang jadi.
2.1.3.1 Klasifikasi Biaya Produksi
Klasifikasi biaya produksi adalah proses pengelompokan secara
sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan
tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberi informasi yang lebih
penting. Adapun klasifikasi atau penggolongan biaya produksi adalah
sebagai berikut :
24
1.
Penggolongan Biaya Menurut Obyek Pengeluaran
Penggolongan biaya yang paling sederhana adalah penggolongan
atas dasar obyek pengeluaran, yaitu berupa penjelasan mengenai
obyek suatu pengeluaran. Dalam perusahaan manufaktur dapat
dibagi menjadi tiga golongan biaya, yaitu biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
2.
Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pokok Dalam Perusahaan
Biaya dapat digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi dimana biaya
tersebut terjadi. Pada perusahaan manufaktur terdapat beberapa
fungsi, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi administrasi
dan umum, sehingga biaya-biaya yang terjadi bila dikaitkan dengan
fungsi pokok perusahaan manufaktur tersebut dapat digolongkan
menjadi :
a. Biaya Produksi
Biaya produksi yaitu biaya-biaya yang terjadi untuk pengolahan
bahan baku menjadi produk jadi. Biaya produksi ini terdiri dari biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
b. Biaya Administrasi Dan Umum
Biaya administrasi dan umum yaitu biaya-biaya yang terjadi
berkaitan dengan penyusunan kebijaksanaan dan pengarahan
perusahaan secara keseluruhan atau biaya-biaya yang terjadi untuk
mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk.
25
c. Biaya pemasaran
Yaitu biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan pemasaran
produk. Biaya ini berhubungan dengan usaha untuk memperoleh
pesanan. Untuk memperoleh pesanan, perusahaan mengeluarkan
biaya, seperti biaya iklan, biaya promosi dan biaya gaji karyawan
yang
melaksanakan
kegiatan
pemasaran.
Sedangkan
untuk
memenuhi pesanan, perusahaan mengeluarkan biaya angkutan dari
gudang perusahaan ke gudang pembeli.
3.
Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya Dengan Sesuatu Yang
Dibiayai
Biaya dapat dihubungkan dengan sesuatu yang dibiayai maka biayabiaya dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
a. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi dan penyebab satusatunya adalah sesuatu yang dibiayai.
b. Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi tidak hanya
disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
Perbedaan biaya langsung maupun tidak langsung dikaitkan dengan
produk sangat diperlukan bila perusahaan menghasilkan lebih dari satu
macam produk dan manajemen menghendaki penentuan harga pokok per
jenis produk tersebut. Dalam hubungannya dengan produk, biaya produksi
dibagi menjadi tiga unsur, yaitu bahan langsung, biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik (biaya produksi tidak langsung).
26
1) Penggolongan biaya menurut perilaku dalam hubungannya dengan
perubahan volume kegiatan
Di dalam pengendalian biaya dan pengambilan keputusan, biaya ini
digolongkan sebagai :
a. Biaya tetap, yaitu biaya yang jumlah totalnya tetap tidak terpengaruh
adanya perubahan volume kegiatan dalam batas-batas tertentu.
b. Biaya variabel, yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah-ubah
sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
c. Biaya semivariabel, yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah tidak
sesuai dengan perubahan volume kegiatan.
2) Penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya
Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua,
yaitu pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan. Pengeluaran modal
merupakan biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode
akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender).
Sedangkan pengeluaran pendapatan merupakan biaya yang hanya
mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran
tersebut.
2.1.3.2 Tujuan Penentuan Biaya Produksi
Tujuan dalam penentuan biaya produksi yaitu:
a. Untuk menetapkan jumlah biaya produksi secara tepat.
Bukti-bukti transaksi untuk mendukung adanya pengeluaran biaya
dikumpulkan dan digunakan sebagai dasar pencatatan atas terjadinya
27
biaya. Jumlah yang berhubungan dengan biaya produksi dikumpulkan
dan dicatat tersendiri sebagai dasar penentuan biaya produksi.
Pengumpulan bukti, pencatatan dan penentuan atas terjadinya biaya
produksi yang tepat akan menghasilkan penetapan biaya produksi yang
tepat pula.
b. Membantu manajemen mengadakan pengendalian biaya yang tepat.
Adanya pengumpulan bukti transaksi, pencatatan dan penentuan biaya
produksi yang tepat dapat membantu manajemen mengadakan
pengawasan atas pengeluaran biaya tersebut. Pengawasan tersebut
dengan membandingkan antara biaya yang sesungguhnya dan biaya
yang ditentukan di muka atau standar yang kemudian dapat diambil
kebijaksanaan tindakan apabila timbul penyimpangan dari standarnya.
c. Membantu manajemen dalam pengambilan keputusan jangka pendek
Perhitungan biaya produksi pada perusahaan yang semakin kompleks,
menjadi alat yang tidak dapat ditinggalkan oleh manajemen. Harga
pokok dinilai sebagai suatu ukuran efisiensi dari kegiatan produksi
perusahaan. Tujuan penetapan biaya produksi yang lain bagi perusahaan
yaitu untuk membantu pengambilan keputusan baik dalam hal
pembelian bahan baku, pembelian mesin dan alat perlengkapan baru
perusahaan, serta menentukan harga jual dan untuk menentukan dasardasar keuntungan yang dicapai perusahaan.
2.1.3.3 Unsur-unsur Biaya Produksi
Biaya produksi adalah biaya untuk membuat barang. Nilai barang
28
yang dibuat akan mengandung biaya yang membentuk barang tersebut.
Biaya tersebut adalah bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan
overhead pabrik. Ketiga biaya ini merupakan unsur–unsur produksi.
Menurut Mulyadi (2009: 8) unsur biaya dalam harga pokok
produksi diklasifikasikan atas 3 ( tiga ) biaya, yaitu :
1. Biaya bahan baku ( Direct Material Cost) / Biaya bahan langsung
a. Bahan baku langsung ( Direct Material )
b. Bahan penolong ( Indirect Material )
2. Biaya tenaga kerja ( labour Cost ) / Biaya tenaga kerja langsung
3. Biaya overhead pabrik ( Factory Overhead Cost )
2.2
Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Judul Penelitian
Variabel
Kesimpulan
(tahun)
1
Efi
Analisis Pengaruh X1: Modal
Herawati(2008) Faktor
Modal,
Baku,
Koefisien determinasi
Produksi X2: Bahan (R2)
Bahan Baku
menunjukan
bahwa variabel bebas
Tenaga X3: Tenaga yang diteliti mampu
Kerja dan Mesin Kerja
dan menjelaskan
97%
terhadap Produksi Mesin
terhadap
Glycerine
Glycerine dan sisanya
pada Y: Produksi
PT. Flora Sawita
sebesar
produksi
3%
29
Chemindo Medan
dijelaskan
oleh
variabel
bebas
lainnya
yang
tidak
diteliti.
2
Daniel Friantan Pengaruh
Biaya X1 : Biaya Objek penelitian ini
Tarigan (2012)
Baku, Bahan Baku adalah
Bahan
Biaya
Tenaga X2:
Kerja
Langsung Tenaga
PT.
PAL
Biaya Indonesia dan data
yang
digunakan
dan Biaya Subcon Kerja
merupakan data time
(eksternal)
series
Langsung
dari
tahun
terhadap Efesiensi X3 : Biaya 2007Biaya
Kapal
produksi Subcon
Chemical Y:
2010 dengan Teknik
Biaya Regresi
Linier
Tanker pada PT. Produksi
Berganda.
PAL
analisis menunjukkan
(Persero)
Indonesia
Hasil
bahwa biaya bahan
baku
memiliki
pengaruh
yang
signifikan
terhadap
efisiensi
biaya
produksi, sedangkan
biaya
tenaga
kerja
langsung dan biaya
30
jasa
subkontraktor
tidak
memiliki
pengaruh
yang
signifikan
terhadap
efisiensi
biaya
produksi.
3
Sulis
Rahmawati
(2014)
Pengaruh
H Bahan
Baku, Bahan Baku pengujian diatas
Biaya
Kerja
biaya X1 : Biaya Berdasarkan
Tenaga X2 : Biaya Hipotesis
Langsung Tenaga
Terhadap
Kerja
Uji
dengan
perangkat
uji-t
menunjukkan bahwa
Efesiensi
Biaya Y:
Biaya Biaya Bahan Baku
produksi
Kapal Produksi
tidak
berpengaruh
Niaga pada PT.
terhadap
Efisiensi
DOK Perkapalan
Biaya
Produksi
Surabaya
dengan kata lain Ho
diterima
dan
Ha
ditolak. Uji Hipotesis
dengan perangkat ujit menunjukkan bahwa
Biaya Tenaga Kerja
Langsung
berpengaruh terhadap
31
Efisiensi
Biaya
Produksi dengan kata
lain Ho ditolak dan
Ha
diterima. Untuk
Uji Hipotesis secara
simultan
dengan
perangkat
uji-
menyatakan
F
kedua
variable biaya bahan
baku
dan
biaya
tenaga kerja langsung
secara bersama-sama
berpengaruh terhadap
efisiensi
biaya
produksi dengan kata
lain Ho ditolak dan
Ha diterima.
4
Pradipta
Eka Analisis Pengaruh X1: Modal
Besarnya R2 sebesar
Permatasari
Modal,
Bahan X2: Bahan 0,98
(2015)
Baku,
Bahan Baku
artinya
98
persen
bakar dan Tenaga X3 : Bahan variasi produksi tahu
Kerja
Produksi
terhadap bakar
dapat dijelaskan oleh
pada X4 : Tenaga variabel-variabel
32
Usaha
Tahu
di Kerja
bebas (modal, bahan
kota
Semarang Y: Produksi
tahun 2015
baku, bahan bakar,
dan tenaga kerja) dan
sisanya
2
persen
dijelaskan
oleh
variabel lain
di luar model.
5
Pinasih (2015)
Pengaruh
X1 : Biaya Kesimpulan
Efesiensi
Biaya Bahan Baku hasil
Bahan
Baku, X2 : Biaya adalah
Biaya
Tenaga Tenaga
Kerja
langsung Kerja
terhadap
Profit
pada
Rasio Y:
Jaya
Indah Furniture
penelitian
bahwa
efisiensi biaya bahan
baku dan
Profit biaya
Margin Margin
PT
dari
efisiensi
tenaga
langsung
kerja
secara
bersama-sama
berpengaruh terhadap
rasio profit margin
pada
tahun
2004
2002dengan
koefisiensi
determinasi
27.2%.
sebesar
33
2.3 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti menarik kesimpulan dalam
kerangka pemikiran sebagai berikut :
X1
Biaya Bahan Baku
H1
H3
X2
Y
Biaya Produksi
H2
Biaya Tenaga
Kerja Langsung
2.4
Hubungan Antar Variabel
2.4.1
Hubungan antara Biaya Bahan Baku (X1) terhadap Biaya Produksi
(Y)
Hubungan antara biaya bahan baku terhadap biaya produksi setiap
perusahaan berbeda-beda, berdasarkan kerangka konseptual tersebut, terlihat
bahwa hubungan antara variabel independen dan variabel dependen adalah
hubungan kausatif (sebab akibat). Di mana variabel independen yang telah
ditentukan yaitu Biaya Bahan Baku (X1) akan mempengaruhi variabel dependen
Biaya Produksi (Y). Bahan Baku dapat terus berputar sejalan dengan aktivitas
operasi perusahaan sehari-hari, oleh karena itu diperlukan adanya suatu
pengendalian terhadap sumber dan penggunaan anggaran dari biaya produksi.
Pengawasan terhadap sumber dan penggunaan anggaran produksi merupakan hal
34
yang penting bagi perusahaan yang ingin mempertahankan kontinuitas
perusahaan.
2.4.2
Hubungan antara Biaya Tenaga Kerja Langsung (X2) terhadap Biaya
Produksi (Y)
Biaya Tenaga Kerja Langsung (X2) mempunyai hubungan yang cukup
erat dengan Biaya Produksi (Y) karena Biaya produksi yang terdapat di
perusahaan manufaktur terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung
dan biaya overhead pabrik. Ketiga komponen biaya produksi tersebut dimasukkan
ke dalam proses produksi sehingga menghasilkan suatu produk.
2.4.3 Hubungan antara Biaya Bahan Baku (X1) dan Biaya Tenaga Kerja
Langsung (X2) terhadap Produksi (Y)
Berdasarkan kerangka konseptual tersebut, terlihat bahwa hubungan antara
variabel independen dan variabel dependen adalah hubungan kausatif (sebab
akibat). Di mana variabel independen yang telah ditentukan yaitu Biaya Bahan
Baku (X1) dan Biaya tenaga Kerja Langsung (X2) akan mempengaruhi variabel
dependen
Biaya
Produksi
(Y).
Setiap
perusahaan
dapat
menjalankan
perusahaannya tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan untuk membeli
segala kebutuhan untuk kegiatan produksinya, namun juga harus memperhatikan
kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya produksinya. Jika perusahaan
mampu mengelola biaya produksinya dengan baik maka perusahaan tersebut
kemungkinan besar akan mendapatkan keuntungan. Tingkat laba yang diperoleh
perusahaan dapat ditentukan oleh volume produksi yang dihasilkan, semakin
banyak volume produksi yang dicapai maka semakin tinggi pula biaya
35
produksinya. Semakin banyak volume produksi yang dicapai maka semakin tinggi
pula laba yang diperoleh perusahaan.
2.5
Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah :
H1 : Adanya pengaruh yang signifikan antara Biaya Bahan Baku terhadap Biaya
Produksi.
H2 : Adanya pengaruh yang signifikan antara Biaya Tenaga Kerja Langsung
terhadap Biaya Produksi.
H3 : Adanya pengaruh yang signifikan antara Biaya Bahan Baku dan Biaya
Tenaga Kerja Langsung secara bersama-sama terhadap Biaya Produksi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Populasi dan Sampel
3.1.1 Populasi
Populasi menurut Suharyadi (2008: 7) adalah kumpulan dari semua
kemungkinan orang-orang, benda-benda, dan ukuran lain, yang menjadi objek
perhatian atau kumpulan seluruh objek yang menjadi perhatian”.
Sedangkan
menurut Sugiyono (2008: 115) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian diambil kesimpulannya”.
Adapun populasi pada penelitian ini pada PT. Anggrek Hitam dengan alamat
Jalan Raya Pelabuhan Kabil Batam dengan periode penelitian dari tahun 20132015.
3.1.2
Sampel
Menurut Suharyadi (2008: 7), “sampel merupakan bagian dari populasi”.
Sedangkan menurut Erlina dan Mulyani (2007: 74), “sampel adalah bagian
populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi”. Metode
pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu
penarikan sampel dengan pertimbangan tertentu. Menurut Suharyadi (2008: 17)
pertimbangan tersebut didasarkan pada kepentingan atau tujuan penelitian.
36
37
Adapun kriteria yang ditetapkan sebagai berikut :
1. Perusahaan yang dimaksud adalah PT Anggrek Hitam dengan alamat
Jalan Raya Pelabuhan Kabil Batam dengan periode laporan keuangan
dari tahun 2013-2015.
2. Data yang diambil periode tahun 2013-2015 berupa laporan keuangan
tahunan yang sudah diaudit selama 3 tahun berturut-turut.
Dari kriteria yang diajukan di atas didapat jumlah sampel 36 laporan
keuangan bulanan dari perusahaan PT. Anggrek Hitam selama 3 tahun yakni
tahun 2013-2015.
3.2 Data Penelitian
3.2.1
Jenis dan Sumber Data
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian assosiatif kausal, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
pengaruh antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2007: 11).
Jenis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Menurut Sugiyono (2008: 402) sumber data sekunder adalah “sumber
data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya
lewat orang lain atau lewat dokumen”. Data sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan PT. Anggrek Hitam dengan
variabel penelitian, yaitu :
1. Laporan laba-rugi perusahaan periode 2013-2015
2. Data pembelian bahan baku periode 2013-2015
3. Data tenaga kerja langsung perusahaan periode 2013-2015
38
3.2.2
Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2013: 224) teknik pengumpulan data merupakan
langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari
penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan teknik dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang diteliti. Data yang
digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari laporan keuangan PT. Anggrek
Hitam yang beralamat di Jalan Raya Pelabuhan Kabil Batam.
3.3 Variabel penelitian
1. Variabel bebas (independent variable)
Menurut Liana (2009: 91) variabel independen adalah variabel yang
menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain. Adapun variabel
independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Biaya bahan baku (X1)
Bahan baku yaitu bahan baku utama yang digunakan dalam proses
produksi pembuatan kapal perbulan dalam hitungan rupiah. Bahan
baku utama dalam produksi kapal, yaitu baja (steel plate), pipa (pipe),
kabel (cable), cat (paint), kabel elektro (welding electrode).
Pengukuran dengan menggunakan satuan besarnya jumlah yaitu
rupiah, dimana variabel bahan baku diukur dengan harga bahan baku
yang digunakan dalam proses produksi perbulan.
39
b. Biaya Tenaga Kerja Langsung (X2)
BiayaTenaga Kerja Langsung (X2) merupakan jumlah tenaga kerja
yang digunakan dalam proses produksi pembuatan kapal untuk tiap
masa produksi dalam satu bulan. Pengukuran menggunakan satuan
jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk proses produksi perbulan.
2. Variabel terikat (dependent variable)
Menurut Sugiono (2008: 59) “Variabel dependen adalah variabel yang
dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas “. Dalam
penelitian ini, yang menjadi variabel dependen (Y) adalah biaya produksi.
Biaya Produksi ini dihitung sebagai berikut:
Biaya Produksi = Biaya Bahan Baku+Biaya Tenaga Kerja Langsung
+ Biaya Over Head Pabrik
3.4 Metode Analisa Data
Dalam melakukan analisis data digunakan metode deskriptif kuantitatif, yaitu
dengan mengumpulkan, mengolah dan menginterpretasikan hasil yang diperoleh.
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik, yaitu
uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan pengujian hipotesis.
3.4.1
Uji Asumsi Klasik
Penggunaan analisis regresi dalam statistik harus bebas dari asumsi asumsi
klasik. Adapun pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini
adalah uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji
autokorelasi.
40
3.4.1.1 Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2006: 110) “Uji normalitas bertujuan untuk menguji
apakah variable dalam model regresi variabel pengganggu atau residual
memiliki distribusi normal”. Model regresi yang baik adalah yang memiliki
distribusi data normal atau mendekati normal. Histogram atau pola distribusi
data normal dapat digunakan untuk melihat normalitas data. Uji Kolmogrov
Smirnov, dalam uji pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan
yaitu :
a. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka distribusi data tidak normal,
b. Jika nilai signifikansi >0,05 maka distribusi data normal.
Menurut Ghozali (2006: 112), pada prinsipnya normalitas data dapat
dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari
grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya.
Dasar pengambilan keputusan :
1.
Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Untuk melihat apakah data yang dianalisis memiliki residual di sekitar
nol (data normal) dengan menggunakan SPSS 20 for windows.
41
3.4.1.2 Uji Asumsi Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linier
terdapat korelasi atau kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
periode t-1. Jika terjadi autokorelasi, maka terdapat problem autokorelasi.
Menurut Ghozali (2009: 99) autokorelasi muncul karena observasi yang
berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan lainnya. Hal ini sering
ditemukan pada data time series. Pada data cross section, masalah autokorelasi
relatif tidak terjadi. Uji yang digunakan dalam penelitian untuk mendeteksi ada
tidaknya autokorelasi adalah dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW).
Kriteria untuk penilaian terjadinya autokorelasi yaitu:
1. Nilai D-W lebih kecil dari -2 berarti ada korelasi positif,
2. Nilai D-W di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi,
3. Nilai D-W lebih besar dari +2 berarti ada autokorelasi negative.
3.4.1.3 Uji Asumsi Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk melihat apakah didalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variabel pengganggu dari satu pengamatan dengan
pengamatan yang lain. Menurut Ghozali (2009: 125) Model regresi yang baik
adalah yang Homoskesdatisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. Cara
memprediksi ada tidaknya heteroskedastisitas pada suatu model dapat dilihat
dari pola gambar Scatterplot model tersebut. Analisis pada gambar Scatterplot
yang menyatakan model regresi berganda tidak terdapat heteroskedastisitas jika:
1) Titik-titik data menyebar di atas, di bawah atau di sekitar angka nol.
2) Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau dibawah.
42
3) Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang
melebar kemudian menyempit dan melebar kembali.
4) Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.
3.4.1.4 Uji Asumsi Multikolinieritas
Menurut Ghozali (2009: 91), “uji ini bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. ” Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
Multikolinieritas adalah situasi adanya korelasi variabel - variabel independen
antara yang satu dengan yang lainnya. Jika terjadi korelasi sempurna diantara
sesama variabel bebas, maka konsekuensinya adalah:
1. Koefisien-koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir,
2. Nilai standar error setiap koefisien regresi menjadi tak terhingga.
Ada tidaknya multikolinieritas dapat dideteksi dengan melihat nilai
tolerance dan variance inflation factor (VIF), serta dengan menganalisis matriks
korelasi variabel-variabel independen. Nilai cut off yang umum dipakai untuk
menunjukkan adanya multikolinearitas adalah jika nilai VIF tidak lebih dari
sepuluh dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,1 maka model dapat dikatakan
terbebas dari multikolinieritas.
3.4.2
Pengujian Hipotesis
Menurut Rochaety (2007: 107) “ …dengan uji hipotesis kita memusatkan
perhatian pada peluang kita membuat keputusan yang salah. Hipotesis diterima
atau ditolak berdasarkan informasi yang terkandung dalam sampel tetapi
43
menggambarkan keadaan populasi”. Maka, untuk menguji apakah hipotesis yang
diajukan diterima atau ditolak, digunakan uji t (t-test) dan uji F (F-test).
3.4.2.1 Uji Analisis Regresi Berganda
Menurut Rochaety (2007: 142) “regresi berganda bertujuan untuk
menghitung besarnya pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap satu
variabel terikat dan memprediksi variabel terikat dengan menggunakan dua atau
lebih variabel bebas”. Model persamaannya adalah sebagai berikut :
Y= a + b1X1 + b2X2 + e
Keterangan :
Y
= variabel dependen yaitu biaya produksi
a
= intercept / koefisien yang menyatakan perubahan rata-rata variabel
dependen untuk setiap variabel independen sebesar satu atau yang
disebut konstanta.
b1,b2 = angka arah atau koefisien regresi yang menunjukkan angka peningkatan
ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel
independen. Bila b (+) maka terjadi kenaikan pada variabel dependen,
dan bila b (-) maka akan terjadi penurunan pada variabel dependen
dalam hal ini likuiditas.
X1 =
biaya bahan baku
X2 = biaya tenaga kerja langsung
e =
error
44
3.4.2.2 Uji Parsial (t-test)
Menurut Ghazali (2006: 84) “uji statistik t pada dasarnya menunjukkan
seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas / independen secara individual
dalam menerangkan variabel dependen”. Uji t merupakan suatu cara untuk
mengukur apakah suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang
signifikan terhadap variabel dependen. Dalam pengujian ini dilakukan dengan
menghitung serta membandingkan t hitung dengan t tabel yaitu dengan
ketentuan sebagai berikut:
Jika t- hitung > t- tabel untuk α = 5 % H0 diterima
Jika t- hitung < t- tabel untuk α = 5 % H0 ditolak
3.4.2.3 Uji Simultan (F-test)
Pengujian hipotesis secara simultan dilakukan dengan uji f. Menurut
Ghazali (2006: 84) “uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua
variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai
pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat”. Uji F
merupakan suatu cara untuk mengetahui apakah semua variabel independen
bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
Pengujian ini dilakukan dengan menghitung serta membandingkan F hitung
dengan F tabel yaitu dengan ketentuan sebagai berikut :
Jika F- hitung > F- tabel untuk α = 5 % H0 diterima
Jika F- hitung < F- tabel untuk α = 5 % H0 ditolak
Download