pola adaptasi penghuni pada rusunawa urip - Repository

advertisement
TESIS
POLA ADAPTASI PENGHUNI PADA RUSUNAWA
URIP SUMOHARJO DAN RUSUNAWA TANAH MERAH I,
KOTA SURABAYA
Maulana Sakti
3212201007
DOSEN PEMBIMBING
Ir. Ispurwono Soemarno, M.Arch, PhD
Prof. Ir. Happy Ratna S, MSc, PhD
PROGRAM MAGISTER
BIDANG KEAHLIAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2014
THESIS
RESIDENTS ADAPTATION PATTERN AT FLAT HOUSING OF
URIP SUMOHARJO AND TANAH MERAH I, SURABAYA
Maulana Sakti
3212201007
SUPERVISOR
Ir. Ispurwono Soemarno, M.Arch, PhD
Prof. Ir. Happy Ratna S, MSc, PhD
MASTER PROGRAMME
SPECIALIZATION: HOUSING AND HUMAN SETTLEMENT
ARCHITECTURE DEPARTMENT
FACULTY OF CIVIL ENGINEERING AND PLANNING
INSTITUTE OF TECHNOLOGY SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2014
POLA ADAPTASI PENGHUNI PADA RUSUNAWA
URIP SUMOHARJO DAN RUSUNAWA TANAH MERAH I,
KOTA SURABAYA
Nama Mahasiswa
NRP
Pembimbing
Co-Pembimbing
: Maulana Sakti
: 3212201007
: Ir. Ispurwono Soemarno, M.Arch, PhD
: Prof. Ir. Happy Ratna S, MSc, PhD
ABSTRAK
Rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) merupakan perumahan formal yang
dibangun oleh pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan
rendah di perkotaan. Dari 18 rumah susun di Surabaya, dua diantaranya adalah
Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I. Menempati rumah susun
menuntut penyesuaian diri secara psikis maupun integrasi secara sosial dalam
lingkungan bersama. Disini dituntut kemampuan manusia untuk beradaptasi pada
lingkungan baru tersebut dengan melakukan penyesuaian diri (coping behavior).
Tidak hanya penyesuaian diri, proses adaptasi manusia pada rumah susun juga
terkait dengan pembentukan teritorialitas dan perasaan keterikatan pada tempat
(attachment to place).
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai pola
adaptasi penghuni pada Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah
Merah I. Penelitan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan
dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menempati sebuah model hunian
baru dalam hal ini berupa rumah susun, adaptasi merupakan proses alami yang
harus dilakukan, apalagi bila ketersediaan ruang belum sesuai dengan kebutuhan
penghuni. Berdasarkan temuan studi, satuan rumah susun (sarusun) dan ruang
komunal merupakan ruang yang dirasa penghuni masih perlu dilakukan
penyesuaian diri aktif, terutama dalam hal pengorganisasian ruangnya. Selain itu,
dalam beradaptasi terhadap lingkungan tempat tinggal yang baru, penghuni akan
menyusun seting fisik yang baru untuk mencapai tingkat privasi yang dibutuhkan.
Hal ini karena diluar sarusun, tidak ada batas tegas yang memisahkan antara
kepemilikan individu dan komunal. Terakhir, mengenai perasaan keterikatan
penghuni terhadap rumah susun. Berdasarkan temuan, faktor status kepemilikan,
aksesibilitas dan jarak tempat kerja menjadi faktor yang membedakan antara
derajat attachment to place penghuni di Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rusun
Tanah Merah I.
Kata Kunci: pola adaptasi, coping behavior, teritorialitas, attachment to place,
rumah susun
vi
RESIDENTS ADAPTATION PATTERN AT
FLAT HOUSING OF URIP SUMOHARJO AND
TANAH MERAH I, SURABAYA
Name
NRP
Supervisor
Co-Supervisor
: Maulana Sakti
: 3212201007
: Ir. Ispurwono Soemarno, M.Arch, PhD
: Prof. Ir. Happy Ratna S, MSc, PhD
ABSTRACT
Flat Housing (Rumah Susun Sewa Sederhana) is a formal housing which is
developed by Government for people who have low salary in cities. Among 18
flat housing in Surabaya, two of them are Flat Housing of Urip Sumoharjo and
Tanah Merah I. Live in Flat House is demanding an adaptation both psychological
and social integration in collective areas. Here, the residents are demanded to
adapt in a new area by doing coping behavior. It does not only need coping
behavior for living in flat house but also related to forming territoriality and
attachment to the place.
The purpose of this research is to acquire delineation of resident adaptational
pattern at Flat Housing of Urip Sumoharjo and Tanah Merah I. This research uses
qualitative and descriptive method. Technique in collecting data is observation,
interview, and documentation.
The results of research show that in staying in a new occupation model in this
case Flat Housing, adaptation is a natural process that needs to be done, even if
availability of room is not yet suitable with the necessity of residents. Based on
research finding, flat unit and communal space are places that residents need
coping behavior actively, especially in organizing rooms. Beside that, in adapting
to the new flat area, residents will organize new physical setting in order to reach
level of privacy that is needed. This is because outside of flat unit there are no
boundaries that separate individual and communal ownership. Last, regarding to
residents attachment to Flat Housing. Based on finding, factors of ownership
status, accessibility, and working place distance become factor that distinguishes
between the degree of residents attachment to place in Flat Housing of Urip
Sumoharjo and Tanah Merah I.
Key Words: adaptation pattern, coping behavior, attachment to place, flat
housing
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan rahmat
dan karunia-Nya tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tesis dengan judul
“Pola Adaptasi Penghuni pada Rusunawa Urip Sumoharjo dan Rusunawa Tanah
Merah I, Kota Surabaya” ini disusun sebagai syarat untuk mendapatkan gelar
akademik Magister Teknik (MT) sekaligus sebagai syarat dalam menyelesaikan
pendidikan Program Pascasarjana di Bidang Keahlian Perumahan dan
Permukiman, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Adapun diselesaikannya penulisan tesis ini tidak lepas dari bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terimakasih
kepada pihak-pihak tersebut, antara lain:
1. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Drs. Edy Anda dan Ibunda Aslina atas
kasih sayang, cinta, perhatian, pengorbanan, limpahan materi dan doa dalam
setiap akhir sujudnya yang tiada henti-hentinya dipanjatkan untuk
mengiringi langkah penulis di perantauan.
2. Ir. Ispurwono Soemarno, M.Arch, PhD selaku dosen pembimbing I dan Prof.
Ir. Happy Ratna S, MSc, PhD selaku dosen pembimbing II, yang telah
memberikan bimbingan serta arahan yang sangat bermanfaat bagi
penyelesaian tesis ini.
3. Prof. Ir. Johan Silas dan Dr. Ima Defiana, ST., MT selaku dosen penguji
yang telah memberikan masukan berupa saran dan kritik yang sangat
membantu dalam penyempurnaan tesis ini.
4. Dr. Ir Murni Rachmawati, M.T. selaku Ketua Program Studi Pascasarjana
Jurusan Arsitektur ITS yang telah memberikan kesempatan pada penulis
untuk menempuh dan menyelesaikan pendidikan Pascasarjana.
5. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi selaku pemberi Beasiswa Unggulan
(BU) tahun 2012 atas dukungan dana selama menyelesaikan pendidikan
Pascasarjana Jurusan Arsitektur ITS.
iv
iii
6. Seluruh staf dan karyawan Pascasarjana ITS, Pascasarjana Jurusan
Arsitektur, Laboratorium Perumahan dan Permukiman dan Ruang Baca
Jurusan Arsitektur yang telah banyak membantu penulis.
7. Berbagai pihak selaku narasumber dalam penelitian ini, antara lain:
BAPPEKO Kota Surabaya, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota
Surabaya, Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Kota Surabaya, Kepala
UPTD Rumah Susun Kota Surabaya, Pengelola Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Tanah Merah I, serta seluruh penghuni rumah susun yang
telah banyak memberikan informasi demi mendukung proses kelancaran
tesis ini.
8. Saudara-saudara penulis yang tercinta: Elwin & keluarga, Rininta Andriani
& keluarga, Eris Ruslan & keluarga, sepupu dan keponakan yang selalu
memberi semangat dan mendoakan setiap langkah penulis.
9. Seluruh rekan mahasiswa Pascasarjana Jurusan Arsitektur 2012 atas saran,
diskusi, dan dukungan semangat selama menjalani studi dan menyelesaikan
tesis di Alur Perumahan dan Permukiman Jurusan Arsitektur ITS.
10. Segenap orang yang banyak membantu dalam kehidupan penulis: rekan
seperjuangan di Surabaya (K’Rahmat, K’Rudi, K’Lisa, Wahyu, Wira, Ratih,
Tari, K’Asti), mahasiswa S3 dari Sulawesi, IKAMI Sulsel Surabaya, IMKB
Makassar, TGS dan Wesabbe Crew, penjual buku online, pemuda-pemudi
PWK & Arsitektur Unhas 2007, teman-teman di Surabaya, Makassar &
Baubau, warga Rungkut, Waru, Gebang Lor serta segenap pihak lainnya.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, kasih sayang, dan hidayahNya kepada seluruh pihak yang telah disebutkan di atas. Penulis juga
mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kesempurnaan penelitian
dalam tesis ini. Semoga tesis ini bermanfaat bagi pembaca.
Surabaya, 8 Agustus 2014
Penulis
v
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
ABSTRAK ......................................................................................................
ABSTRACT ....................................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
DAFTAR TABEL ...........................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................
1.1 Latar Belakang .......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................
1.3 Tujuan dan Sasaran Penelitian ...............................................................
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................
1.5 Ruang Lingkup Peneltian ......................................................................
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI ................................................
2.1 Rumah Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah .................................
2.2 Lingkungan dan Perilaku ........................................................................
2.3 Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) ..........................................
2.4 Sintesa Kajian Pustaka dan Teori ..........................................................
2.5 Kerangka Pikir .......................................................................................
BAB 3 METODE PENELITIAN ................................................................
3.1 Paradigma dan Metode Penelitian .........................................................
3.2 Lokasi Penelitian ...................................................................................
3.3 Populasi dan Sampel ...............................................................................
3.4 Teknik Pengumpulan Data ....................................................................
3.5 Desain Penelitian ...................................................................................
3.6 Variabel Penelitian .................................................................................
3.7 Teknik Analisis Data ..............................................................................
3.8 Kerangka Analisis ..................................................................................
3.9 Tahapan Penelitian .................................................................................
BAB 4. GAMBARAN UMUM .....................................................................
4.1 Rumah Susun di Kota Surabaya ............................................................
4.2 Rumah Susun Urip Sumoharjo ..............................................................
4.3 Rumah Susun Tanah Merah I .................................................................
iii
viii
Hal.
i
ii
iii
iv
vi
vii
viii
x
xii
1
1
3
3
4
4
7
7
13
25
32
34
35
35
35
36
38
39
40
41
46
48
49
49
50
56
BAB 5. HASIL DAN ANALISIS ..................................................................
5.1. Profil Penghuni ......................................................................................
5.2. Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior) .......................................
5.3. Teritorialitas ...........................................................................................
5.4. Attachment to Place (Keterikatan dengan Tempat) ...............................
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN .........................................................
6.1. Kesimpulan .............................................................................................
62. Saran .......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
LAMPIRAN ....................................................................................................
BIOGRAFI PENULIS ...................................................................................
iv
ix
61
61
66
102
108
124
124
125
127
133
134
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1.
Gambar 1.2.
Gambar 2.1.
Gambar 2.2.
Gambar 2.3.
Gambar 2.4.
Gambar 2.5.
Gambar 3.1.
Gambar 3.2.
Gambar 4.1.
Gambar 4.2.
Gambar 4.3.
Gambar 4.4.
Gambar 4.5.
Gambar 4.6.
Gambar 4.7.
Gambar 4.8.
Gambar 4.9.
Gambar 4.10
Gambar 4.11
Gambar 4.12
Gambar 5.1.
Gambar 5.2.
Gambar 5.3.
Gambar 5.4.
Gambar 5.5.
Gambar 5.6.
Gambar 5.7.
Gambar 5.8.
Hal.
Rumah Susun Urip Sumoharjo ................................................
5
Rumah Susun Tanah Merah I ..................................................
5
Ruang Lingkup Informasi Lingkungan-Perilaku .....................
13
Hubungan antara budaya, perilaku, sistem aktivitas dan
sistem seting .............................................................................
15
Ilustrasi mengenai sistem aktivitas yang terjadi di dalam
sistem ruang ..............................................................................
17
Skema Persepsi .........................................................................
20
Kerangka Pikir ..........................................................................
34
Kerangka Analisis ...................................................................
47
Tahapan Penelitian ..................................................................
48
Peta Persebaran Rumah Susun di Kota Surabaya tahun 2012 ..
50
Citra Satelit Rumah Susun Urip Sumoharjo ............................
51
Site Plan Rusun Urip Sumoharjo ..............................................
52
Kondisi Fisik Rumah Susun Urip Sumoharjo ..........................
53
Utilitas di Rumah Susun Urip Sumoharjo ................................
55
Fasilitas di Rumah Susun Urip Sumoharjo ..............................
55
Citra Satelit dan Site Plan Rumah Susun Tanah Merah I .........
56
Denah Lantai 2-5 Rumah Susun Tanah Merah I ......................
56
Kondisi Fisik Bangunan Rumah Susun Tanah Merah I ...........
57
Aktivitas Penghuni Rumah Susun Tanah Merah I ...................
59
Utilitas di Rumah Susun Tanah Merah I ..................................
60
Fasilitas di Rumah Susun Tanah Merah I.................................
60
Grafik Kelompok Usia Responden Penghuni
Rusun Urip Sumoharjo .............................................................
62
Grafik Kelompok Usia Responden Penghuni
Rusun Tanah Merah I ...............................................................
63
Grafik Pekerjaan Responden Penghuni
Rusun Urip Sumoharjo .............................................................
63
Grafik Pekerjaan Responden Penghuni
Rusun Tanah Merah I ...............................................................
64
Grafik Tingkat Penghasilan Responden Penghuni
Rusun Urip Sumoharjo .............................................................
65
Grafik Tingkat Penghasilan Responden Penghuni
Rusun Tanah Merah I ...............................................................
65
Penjelasan Skala Likert dalam Kuesioner Penelitian ...............
67
Grafik Persepsi Penghuni Mengenai Kelengkapan
Rumah Susun Urip Sumoharjo .................................................
58
iii
x
Gambar 5.9
Gambar 5.10
Gambar 5.11
Gambar 5.12
Gambar 5.13
Gambar 5.14
Gambar 5.15
Gambar 5.16
Gambar 5.17
Gambar 5.18
Gambar 5.19
Gambar 5.20
Gambar 5.21
Gambar 5.22
Gambar 5.23
Gambar 5.24
Gambar 5.25
Gambar 5.26
Gambar 5.27
Gambar 5.28
Gambar 5.29
Gambar 5.30
Gambar 5.31
Gambar 5.32
Gambar 5.33
Gambar 5.34
Gambar 5.35
Kursi di selasar yang digunakan untuk menerima tamu ...........
Aktivitas menjemur di rumah susun Urip Sumoharjo ..............
Kondisi benda bersama di rumah susun Tanah Merah I ...........
Grafik Persepsi Penghuni Mengenai Kelengkapan
Rumah Susun Tanah Merah I ...................................................
Kursi di luar sarusun yang digunakan untuk menerima tamu...
Aktivitas menjemur yang dilakukan di rusun Tanah Merah I ..
Kondisi bagian bersama di Rusun Tanah Merah I ....................
Kondisi benda bersama di rumah susun Tanah Merah I ...........
Kondisi fasilitas unit di Rusun Tanah Merah I .........................
Pola Ruang Komunal dengan dengan frekuensi
jam dan harian ...........................................................................
Pola Ruang Komunal dengan frekuensi mingguan ...................
Pola Ruang Komunal dengan frekuensi bulanan ......................
Pola Ruang Komunal dengan frekuensi tahunan ......................
Pola Ruang Komunal dengan dengan frekuensi
jam dan harian ...........................................................................
Pola Ruang Komunal dengan frekuensi mingguan ...................
Pola Ruang Komunal dengan frekuensi bulanan ......................
Pola Ruang Komunal dengan frekuensi tahunan ......................
Perbandingan persepsi mengenai Satuan Rumah Susun ...........
Perbandingan persepsi mengenai benda bersama rumah susun
Perbandingan persepsi mengenai bagian bersama rumah susun
Ruang Semi Publik di Rusun Urip Sumoharjo .........................
Ruang Publik di Rusun Urip Sumoharjo ..................................
Ruang Semi Privat di Rusun Tanah Merah I ............................
Ruang Semi Publik di Rusun Tanah Merah I ...........................
Ruang Publik di Rusun Tanah Merah I.....................................
Faktor-faktor yang mempengaruhi attachment to place
di Rumah Susun Urip Sumoharjo .............................................
Faktor-faktor yang mempengaruhi attachment to place
di Rumah Susun Tanah Merah I ...............................................
iv
xi
69
71
72
73
74
75
76
77
77
80
80
81
81
82
83
83
84
85
90
95
104
105
106
106
107
109
112
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.
Tabel 3.1.
Tabel 3.2.
Tabel 5.1
Tabel 5.2
Tabel 5.3.
Tabel 5.4.
Hal.
Sintesa Kajian Pustaka dan Teori ..................................................
32
Desain Penelitian ...........................................................................
40
Variabel Penelitian ........................................................................
41
Perbandingan Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior)
pada satuan rumah susun antara Penghuni Rumah Susun
Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I ......................
86
Perbandingan Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior)
pada benda bersama antara Penghuni Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I ..............................
91
Perbandingan Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior)
pada bagian bersama antara Penghuni Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I ..............................
96
Perbandingan Perasaan Keterikatan pada Tempat
(Attachment to Place) antara Penghuni Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I ............................. 117
iii
xii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini
merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, dengan jumlah
penduduk mencapai tiga juta jiwa. Surabaya juga merupakan pusat bisnis,
perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Jawa Timur. Inilah yang
menjadi faktor penarik migrasi penduduk ke Kota Surabaya. Perkembangan kota
yang pesat baik dari aspek ekonomi maupun aspek sosial kependudukan ini turut
mempengaruhi kondisi lingkungan perkotaan. Banyaknya penduduk yang masuk
ke kota Surabaya untuk mencari penghidupan yang layak menghadapi kenyataan
bahwa diantara mereka ada yang tidak mampu bersaing dalam mendapatkan
pekerjaan dengan penghasilan yang besar. Besar penghasilan utamanya
berhubungan dengan masalah pengadaan tanah/lahan. Harga tanah yang semakin
lama semakin tinggi membuat kelompok masyarakat berpengahasilan rendah
tersebut mengalami kesulitan mendapatkan lahan untuk membangun rumah. Hal
ini menimbulkan di pusat kota (inner city) banyak tercipta kawasan dan
lingkungan kumuh serta ilegal (Soesilowati, 2007).
Untuk mengatasi persoalan itu, dalam beberapa dekade terakhir ini Pemerintah
Kota Surabaya melakukan program perbaikan dan penertiban kawasan dan
lingkungan kumuh serta illegal. Salah satu upayanya adalah dengan membangun
rumah susun. Menurut UU No. 20 tahun 2011, tujuan penyelenggaraan rumah
susun adalah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan rumah susun yang layak
dan terjangkau, terutama bagi MBR dalam lingkungan yang sehat, aman,
harmonis, dan berkelanjutan dalam suatu sistem tata kelola perumahan dan
permukiman yang terpadu. Melalui program ini, warga direlokasi untuk menghuni
rumah susun yang tersebar di beberapa wilayah di dalam Kota Surabaya.
Hingga tahun 2013 telah ada 18 rusun yang dikelola Pemkot Surabaya. Lokasi
18 rusun tersebut tersebar di beberapa kawasan. Dua diantaranya terdapat di Urip
Sumohardjo dan Tanah Merah. Rusun Urip Sumoharjo yang dibangun pada tahun
1
1982 dimaksudkan dalam upaya peremajaan kota (urban renewal) sebagai salah
satu konsekuensi dari penanganan bencana kebakaran yang terjadi pada tahun
yang sama di lokasi tersebut. Kebakaran yang berpusat di pusat perbelanjaan
Horison ini melalap habis perkampungan Keputran Kejambon 1 yang dihuni 120
KK. Keinginan warga pada saat itu adalah tetap tinggal dilokasi, sehingga
diputuskan untuk membangun rumah susun. Sehingga hingga saat ini, sebagian
besar penghuni rumah susun ini merupakan warga asli bekas perkampungan yang
terbakar dahulu. Sementara Rumah Susun Tanah Merah I yang selesai dibangun
pada tahun 2007 merupakan salah satu rusun yang diperuntukkan bagi warga
umum dan warga gusuran. Hal inilah yang membedakan kelompok penghuni dari
dua rumah susun tersebut, dimana Rusun Urip Sumoharjo ditempati warga asli
kampung Keputran Kejambon 1, sedangkan Rusun Tanah Merah I dihuni oleh
warga dari luar kampung.
Rumah susun merupakan model hunian yang masih baru bagi masyarakat
Indonesia khususnya MBR. Masyarakat yang selama ini tinggal pada rumah tapak
yang horizontal, harus berpindah tempat tinggal pada rumah susun yang vertikal.
Disinilah dituntut kemampuan manusia untuk beradaptasi pada lingkungan baru
tersebut dengan melakukan perilaku penyesuaian diri (coping behavior).
Kemampuan menyesuaikan diri tersebut ditujukan baik untuk hidup di unit
hunian maupun untuk hidup dalam komunitas masyarakat rumah susun. Hal ini
disebabkan karena dalam proses penyesuaian diri terdapat dua kemungkinan yang
bisa terjadi. Pertama, apabila gagal dalam menyesuaikan diri maka akan
menyebabkan stres. Kedua, apabila penyesuaian diri berhasil, hal itu disebut
sebagai adaptasi. Tidak hanya membahas mengenai perilaku penyesuaian diri,
proses adaptasi manusia pada rumah susun juga terkait dengan pembentukan
teritorialitas dan perasaan keterikatan pada tempat (attachment to place).
Dengan landasan wacana inilah penelitian ini dilakukan yaitu sebagai upaya
untuk mengidentifikasi pola adaptasi penghuni rumah susun di Kota Surabaya,
khususnya pada Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I.
2
1.2. Rumusan Masalah
Meskipun dari tahun ke tahun peminatnya semakin tinggi, pada dasarnya
menghuni rumah susun merupakan pengalaman yang baru bagi masyarakat
Indonesia khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang terbiasa tinggal
pada hunian tapak (Adianto, 2009). Oleh karena itu, permasalahan yang biasa
muncul di rumah susun lebih banyak berkaitan dengan aspek sosial-budaya,
dimana masyarakat belum terbiasa dengan gaya hidup di rumah susun yang pada
dasarnya mengutamakan pada kepraktisan. Selain itu, sebagai bagian dari
lingkungan kampung, kehadiran rumah susun di tengah-tengah kehidupan
masyarakat diharapkan mampu berintegrasi secara utuh dalam sistem lingkungan
kampung yang telah ada. Sehingga dalam proses penghuniannya, warga penghuni
rumah susun tidak merasa terisolasi hanya karena menjadi “sesuatu yang lain” di
dalam lingkungan kampung tersebut.
Berdasarkan uraian di atas maka pertanyaan penelitian yang dituangkan dalam
rumusan masalah ini adalah bagaimana pola adaptasi yang dibentuk oleh
penghuni pada Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I?
1.3. Tujuan dan Sasaran
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai pola
adaptasi penghuni pada Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah
Merah I.
Adapun sasaran yang ditetapkan guna mencapai tujuan penelitian di atas
adalah sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi perilaku penyesuaian diri (coping behavior) yang dilakukan
oleh penghuni di Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah
Merah I.
2) Mengidentifikasi teritorialitas yang dibentuk oleh penghuni di Rumah Susun
Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I.
3) Mengidentifikasi keterikatan pada tempat (place attachment) yang dirasakan
oleh penghuni terhadap huniannya di Rumah Susun Urip Sumoharjo dan
Rumah Susun Tanah Merah I.
3
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1) Secara teoritis, penelitian ini dapat menjadi sebuah tambahan referensi bagi
pengembangan ilmu mengenai perancangan rumah susun sewa di Indonesia.
2) Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi masukan dalam perencanaan dan
pembangunan rumah susun sewa di Indonesia.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini mencakup lingkup substansial dan lingkup
spasial. Lingkup substansial merupakan penjelasan mengenai batasan substansi
penelitian yang berkaitan dengan substansi-substansi inti dari topik penelitian.
Sedangkan lingkup spasial merupakan penjelasan mengenai batasan wilayah
penelitian yang berkaitan dengan wilayah penelitian yang dikaji.
1.5.1 Ruang Lingkup Substansial
Penelitian ini ditinjau dari sisi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
MBR merupakan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utama dalam
program pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa atau yang biasa disingkat
Rusunawa. Sementara di lain sisi, kelompok inilah yang paling kesulitan dalam
menyesuaikan diri terhadap lingkungan rumah susun yang merupakan lingkungan
baru. Materi yang akan dikaji pada penelitian ini adalah mengenai gambaran
adaptasi yang dilakukan oleh MBR selaku penghuni rumah susun.
1.5.2. Ruang Lingkup Spasial
Untuk dapat memperoleh gambaran mengenai adaptasi hunian susun pada
MBR, maka ruang lingkup wilayah studi kasus yang dilakukan harus terletak di
kawasan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Penelitian ini
mengambil dua objek studi yaitu Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah
Susun Tanah Merah I. Kedua rumah susun ini merupakan rumah susun yang
diperuntukkan bagi MBR.
4
Gambar 1.1. Rumah Susun Urip Sumoharjo
(Sumber: wikipamia.org, 2014)
Gambar 1.2. Rumah Susun Tanah Merah I
(Sumber: wikimapia.org, 2014)
5
Halaman ini sengaja dikosongkan
6
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI
Pada bab ini akan dibahas berbagai pustaka dan teori terkait rumah bagi
masyarakat berpenghasilan rendah.
Termasuk didalamnya
kaitan antara
lingkungan dan perilaku, serta aspek dasar dalam perencanaan Rusunawa yang
berpengaruh terhadap adaptasi penghuni. Kajian pustaka dan teori ini
dimaksudkan untuk memberikan gambaran permasalahan di lapangan dan
informasi pembanding bagi analisa data.
2.1.Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
2.1.1 Makna Rumah
Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping sandang
dan pangan. Definisi rumah menurut UU No. 1 tahun 2011 adalah bangunan
gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan
keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.
Fungsi rumah selain sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana keluarga yang
mendukung peri kehidupan dan penghidupan, juga mempunyai fungsi sebagai
pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya dan penyiapan generasi muda
(Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2007).
Kata “rumah” dalam bahasa Inggris mempunyai beberapa istilah yang berbeda
makna. Tiga diantaranya ialah shelter, house dan home. Pemahaman rumah
sebagai shelter cenderung mengartikan rumah secara sempit dan pragmatisfungsional saja yakni sebagai tempat berteduh dan berlindung dari berbagai
gangguan alam (Haryadi, 1995). Sementara itu, pengertian rumah sebagai house
menurut Coolen (2009) yaitu lebih merujuk kepada tipe hunian masyarakat Barat
(western-oriented type of dwelling) yakni rumah yang hanya ditempati oleh
keluarga inti saja. Sedangkan definisi rumah sebagai home menurut Rapoport
(1995 dalam Coolen, 2009) merujuk pada sebuah tempat/hunian yang memiliki
keterikatan emosional dengan penghuninya.
7
Hayward (1987 dalam Budihardjo, 1998) menyatakan bahwa rumah tidak
hanya dipandang sebagai sebuah struktur fisik wadah kegiatan sehari-hari saja
namun juga pusat jaringan sosial budaya dan sebuah tempat dimana seseorang
dapat mengekspresikan dirinya dengan bebas sebagai jati diri. Sejalan dengan
penyataan itu, Silas (1993) mengemukakan bahwa rumah adalah bagian yang utuh
dari permukiman dan bukan semata-mata hasil fisik yang sekali jadi. Rumah
sebaiknya harus dikonsepkan secara total, maksudnya penghadiran rumah
sebaiknya menyeluruh, utuh dan imbang antara manusia, rumah dan alam
sekitarnya.
Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa rumah tidak hanya
wadah fisik tempat manusia bertempat tinggal semata, namun lebih daripada itu
rumah harus mampu menjadi home yang menghantarkan penghuninya untuk dapat
mengaktualisasikan dirinya secara bebas serta mampu berinteraksi dan
berintegrasi secara utuh dalam lingkungan sosial budaya masyarakat dan
lingkungan alam disekitarnya.
2.1.2
Karakteristik Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Ada tiga sudut pandang dalam menentukan stratifikasi sosial masyarakat di
Indonesia yaitu kekayaan, tahapan pendidikan dan kekuasaan (Aulia, 2011).
Kekayaan dilihat dari seberapa besar penghasilan, tahapan pendidikan dilihat dari
seberapa tinggi jenjang pendidikan yang telah dicapai, serta kekuasaan dilihat dari
seberapa tinggi jabatan yang diduduki dalam struktur kepemerintahan. Sehingga
dalam mendeskripsikan pengertian masyarakat berpenghasilan rendah yakni
mendeskripsikan strata sosial masyarakat berdasarkan besar penghasilannya.
Menurut UU No. 1 tahun 2011, definisi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
yang selanjutnya disingkat MBR adalah masyarakat yang mempunyai
keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk
memperoleh rumah. Selanjutnya Permenpera No. 14 tahun 2010 menjelaskan
bahwa MBR adalah masyarakat yang mempunyai penghasilan paling banyak Rp.
2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah) per bulan.
Menurut Lewis (1984), MBR adalah kelompok masyarakat yang mengalami
tekanan ekonomi, sosial, budaya dan politik yang cukup lama sehingga
8
menghasilkan suatu kebudayaan yang disebut budaya miskin. MBR ini
terperangkap dalam budaya miskinnya sehingga mereka tidak dapat lagi melihat
potensi-potensi yang dimiliki. Melihat dari kondisi ini, menurut Soebroto (1998
dalam Budiharjo, 1998), kemungkinan besar mereka tinggal di daerah
permukiman yang sempit, berdesak-desakan dan berdiri di atas status tanah yang
tidak jelas. Konsekuensi dari hidup seperti ini adalah hubungan antara sesama
warga menjadi erat. Aktivitas yang dilakukanpun lebih banyak bersama-sama dan
berada di luar rumah disebabkan karena ruang dalam rumah yang sempit. Ayah
atau ibu bekerja sambil mengobrol dengan tetangga sementara anak-anak bermain
di luar. Sifat semacam ini biasa disebut sebagai outdoor personality yaitu orang
yang lebih menyukai kegiatan di luar rumah. Pada akhirnya, rumah hanya menjadi
tempat berkumpul keluarga pada saat tidur saja (Soebroto, 1998 dalam Budiharjo,
1998).
2.1.3
Pengadaan Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Modernisasi kota-kota di dunia telah menuntut para pemerintah kota untuk
menampilkan wajah kota yang bersih dan nyaman. Salah satu tantangannya adalah
penanganan permukiman kumuh. Permukiman kumuh lahir bukan tanpa sebab, ia
lahir
dari
ketidakmampuan
pemerintah
dalam
mengimplementasikan
kebijaksanaan dan program yang jelas untuk membantu MBR dalam pengadaan
rumahnya sendiri. Menurut Panudju (1999), pemerintah di negara-negara
berkembang cenderung menekankan usaha pembangunan perumahan rakyat oleh
pemerintah dengan standar yang relative tinggi serta penekanan pada aspek teknis,
administrative dan ekonomis yang dilaksanakan secara formal, sehingga harganya
relative mahal bagi MBR. Hal ini mengakibatkan masyarakat tersebut terpaksa
harus memenuhi kebutuhan perumahannya sendiri, diluar program pemerintah.
Namun dalam perkembangannya, kelompok MBR ini dapat dikatakan tidak
mampu untuk menyediakan dana yang banyak bagi pengadaaan rumahnya.
Kemampuan penyediaan biaya perumahan hanya semata-mata dari pendapatannya
yang rendah. Oleh karena itu menurut Raharjo (2010), untuk memenuhi
kebutuhan perumahan, preferensi masyarakat berpenghasilan rendah dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu pemenuhan kebutuhan perumahan untuk
9
mendekat pada tempat kerja dan pemenuhan kebutuhan perumahan untuk
menetap, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:
a. Pada pemenuhan kebutuhan perumahan untuk mendekat pada tempat kerja,
perilaku masyarakat berpenghasilan rendah adalah memilih tempat tinggal
dengan biaya tinggal terendah sedangkan kelengkapan maupun keadaan
fasilitas dan sarana prasarana tidak menjadi soal. Fungsi rumah yang
dibutuhkan hanyalah fungsi rumah secara fisiologis sedangkan fungsi lainnya
belum sanggup dipenuhi. Dalam hal ini masyarakat berpenghasilan rendah
tidak begitu memperhatikan tempat tinggalnya, sehingga mudah menimbulkan
kekumuhan.
b. Pada pemenuhan kebutuhan perumahan untuk menetap memiliki kondisi yang
lebih baik. Perilaku masyarakat berpenghasilan rendah disini lebih baik, ada
perhatian untuk rumah tempat tinggalnya. Dalam hal ini ada aktivitas
perawatan, pemeliharaan, perbaikan bahkan penambahan bagian rumah.
Perilaku
yang
dapat
ditangkap
disini
adalah
aktivitas
perawatan,
pemeliharaan, perbaikan dan penambahan bagian rumah sebisa mungkin
dilakukan sendiri dengan biaya minimal. Untuk pengadaan bahan biasanya
dilakukan dengan mencicil bahan, maksudnya menabung dalam bentuk
menyimpan bahan bangunan.
Terkait dengan kondisi seperti yang telah dipaparkan pada dua poin di atas,
menurut Mirhad (1998 dalam Budihardjo, 1998) untuk pengadaan perumahan
yang layak bagi MBR diperlukan peranan pemerintah yang lebih besar, baik
menyangkut bangunan fisik rumah maupun prasarana dan sarana lingkungannya.
Ada enam upaya yang dilakukan pemerintah kota dalam menyediakan perumahan
yang layak bagi MBR sekaligus terkait penanganan permukiman kumuh yaitu:
a. Perbaikan kampung atau KIP. Program ini merupakan suatu pola
pembangunan kampung yang didasarkan pada partisipasi masyarakat dalam
meningkatkan kualitas lingkungan dan pemenuhan kebutuhannya (Basri,
2010). Tujuan perbaikan kampung adalah peningkatan taraf hidup masyarakat
melalui bina lingkungan, bina manusia dan bina usaha. Program perbaikan
kampung termasuk berhasil dilakukan di Jakarta, Bandung, Medan dan
10
Surabaya. Berkat usaha perbakan kampung, kondisi kampung-kampung pada
umumnya sudah menjadi lebih baik. Dimana sebelumnya, pada beberapa
kampung mempunyai kepadatan tinggi sehingga orang harus berjalan diantara
dinding luar rumah yang sempit. Setelah dilakukan program ini, jalan-jalan
kendaraan dan jalan setapak sudah diberi perkerasan dengan aspal atau beton
sehingga menjadi lebih tertata dan tidak becek di musim hujan (Yudohusodo,
1991).
b. Peremajaan
kota
(urban
renewal).
Peremajaan
kota
adalah
upaya
pembangunan yang terencana untuk merubah atau memperbaharui suatu
kawasan di kota yang mutu lingkungannya rendah (Yudohusodo, 1991).
Sasaran program ini adalah permukiman kumuh. Metodenya melalui
pembongkaran sebagian atau seluruh permukiman kumuh yang sebagian besar
atau seluruhnya berada di atas tanah negara dan selajutnya ditempat yang
sama dibangun prasarana dan fasilitas lingkungan, rumah susun serta
bangunan-bangunan lainnya sesuai dengan rencana tata ruang kota. Sasaran
utama dari program ini adalah untuk menampung penghuni yang tergusur
dalam rumah susun, sehingga terdapat kelebihan lahan yang cukup luas untuk
dapat dilakukan pembangunan fasilitas-fasilitas kota (Panudju, 1999).
c. Permukiman kembali atau relokasi (resettlement). Resettlement merupakan
upaya pemindahan penduduk pada suatu kawasan yang khusus disediakan,
yang biasanya memakan waktu dan biaya sosial yang cukup besar, termasuk
kemungkinan tumbuhnya kerusuhan atau keresahan masyarakat. Pemindahan
ini apabila permukiman berada pada kawasan fungsional yang akan/perlu
direvitalisasikan sehingga memberikan nilai ekonomi bagi Pemerintah
Kota/Kabupaten (Soesilowati, 2007).
d. Konsolidasi lahan (land consolidation) merupakan suatu model pembangunan
yang didasari oleh kebijakan pengaturan penguasaan lahan, penyesuaian
penggunaan lahan dengan Rencana Tata Guna Lahan atau Tata Ruang dan
pengadaan tanah (Soesilowati, 2007).
e. Pembagian lahan (land sharing). Model land sharing adalah penataan ulang di
atas tanah/lahan dengan tingkat kepemilikan masyarakat cukup tinggi. Dalam
penataan tersebut, masyarakat akan mendapatkan kembali lahannya dengan
11
luasan yang sama sebagaimana yang selama ini dimiliki/dihuni secara sah,
dengan memperhitungkan kebutuhan untuk prasarana umum (Basri, 2010).
f. Pengembangan lahan terarah (guide land development) merupakan alternative
penanganan pengendalian perkembangan daerah pinggiran yang direncanakan
untuk menampung kebutuhan perluasan daerah permukiman atau kegiatan
fungsional produktif lainnya (Soesilowati, 2007).
Apapun opsi yang dipilih dari enam upaya diatas diharapkan tidak hanya
mencakup peningkatan kualitas dari aspek fisik saja, namun juga memperhatikan
pula aspek sosial budaya dan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah sebagai
kelompok sasaran program. Hal ini sejalan dengan pendapat Respati dkk (2012)
bahwa dalam penanganan permukiman kumuh semestinya disikapi bukan sekedar
sebagai perusak estetika suatu kota atau pelanggar peraturan perundangan yang
harus dibasmi, tetapi harus lebih dilihat dari sisi sosial yaitu untuk meningkatan
kesejahteraan masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah. Pernyataan
tersebut mengandung makna bahwa membiarkan berkembangnya kawasan kumuh
berarti membiarkan masyarakat tinggal dalam keadaan yang tidak layak dalam
pelayanan infrastruktur, kriminalitas yang tinggi, terbatasnya akses pendidikan
bagi anak-anak usia sekolah dan tidak terjaminnya keamanan dalam bertempat
tinggal (secure tenure).
Pernyataan di atas kemudian dijabarkan oleh Panudju (1999) menjadi empat
kriteria utama perumahan yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah,
yaitu sebagai berikut:
a. Lokasi tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang dapat memberikan pekerjaan
bagi buruh-buruh kasar atau tenaga tidak terampil.
b. Status kepemilikan lahan dan rumah jelas, sehingga tidak ada rasa ketakutan
penghuni untuk digusur.
c. Bentuk dan kualitas bangunan tidak perlu terlalu baik, tetapi cukup memenuhi
fungsi dasar yang diperlukan penghuninya.
d. Harga atau biaya pembangunan rumah harus sesuai dengan tingkat
pendapatan.
12
2.2. Lingkungan dan Perilaku
Proshansky (1974 dalam Prabowo, 1998) melihat bahwa psikologi
lingkungan memberi perhatian terhadap manusia, tempat serta perilaku dan
pengalaman-pengalaman manusia dalam huungannya dengan setting fisik.
Lingkungan fisik tidak hanya berarti rangsang-rangsang fisik seperti cahaya,
suara, bentuk, warna terhadap objek-objek fisik tertentu, tetapi lebih dari itu
merupakan suatu kompleksitas yang terdiri dari beberapa setting fisik dimana
seseorang tinggal, berinteraksi dan beraktivitas.
Menurut Calhoun (1995 dalam Prabowo, 1998), lingkungan mempengaruhi
perilaku dengan empat cara. Pertama, lingkungan menghalangi perilaku,
akibatnya membatasi apa yang kita lakukan. Kedua, lingkungan mengundang atau
mendatangkan perilaku, menentukan bagaimana kita harus bertindak. Ketiga,
lingkungan membentuk kepribadian. Terakhir, keempat, lingkungan akan
mempengaruhi citra diri. Di bawah ini merupakan gambar tentang ruang lingkup
informasi lingkungan dan perilaku, dimana dapat dilihat bahwa fenomena
lingkungan perilaku terkait dengan hubungan antara kelompok pemakai dan
setting.
Gambar 2.1. Ruang Lingkup Informasi Lingkungan-Perilaku
(Sumber: Moore, 1987 dalam Prabowo, 1998)
2.2.1
Adaptasi Manusia
Konsep mengenai adaptasi pada mulanya berasal dari ilmu Biologi, dimana
kajiannya berfokus pada perilaku organisme dalam menguasai faktor lingkungan
13
selama masa hidupnya. Hardesty (1977) mengemukakan bahwa adaptasi adalah
proses terjalinnya dan terpeliharanya hubungan yang saling menguntungkan
antara organisme dan lingkungannya, disebabkan karena organisme maupun
lingkungan sendiri tidak ada yang bersifat konstan/tetap.
Roy Ellen (1982) membagi tahapan adaptasi dalam empat tipe, yaitu tahapan
phylogenetic yang bekerja melalui adaptasi genetik individu lewat seleksi alam,
modifikasi fisik dari phenotype/ciri-ciri fisik, proses belajar, dan modifikasi
budaya. Proses adaptasi hingga tahap modifikasi budaya inilah yang menjadi ciri
khas manusia. Menurut Roy Ellen (1982), manusia dilahirkan dengan kapasitas
untuk belajar seperangkat pengetahuan sosial dan kaidah-kaidah budaya yang
tidak terbatas. Sehingga kemudian fokus perhatian adaptasi untuk manusia
dipusatkan pada proses belajar dan modifikasi budayanya.
Tujuan adaptasi dikatakan Berry (Altman, 1980) untuk mengurangi disonansi
dalam suatu sistem yaitu meningkatkan harmoni serangkaian variable yang
berinteraksi. Jika dikaitkan dengan interaksi manusia-lingkungan, disonansi dalam
suatu system dapat diartikan, ada ketidakseimbangan transaksi antara lingkungan
dan manusia. Salah satu bentuk ketidakseimbangan tersebut adalah tuntutan
lingkungan yang melebihi kapasitas manusia untuk mengatasinya. Salah satu
upaya mencapai keseimbangan adalah melakukan adaptasi.
Para ahli ekologi budaya (Alland, 1975; Harris, 1968; Moran, 1982 dalam
Hardoyo, 2011) mendeļ¬nisikan, bahwa adaptasi adalah suatu strategi penyesuaian
diri yang digunakan manusia selama hidupnya untuk merespon terhadap
perubahan-perubahan lingkungan dan sosial. Menurut beberapa pendapat (Karta
Sapoetra, 1987; Gerungan, 1991; Cockcroft, 2009), strategi penyesuaian diri
manusia dibagi menjadi dua yaitu mengubah individu sesuai dengan keadaan
lingkungan (pasif/akomodasi) dan mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan
individu (aktif/asimilasi).
Berbicara mengenai modifikasi budaya sebagai tahapan adaptasi manusia,
menurut Rapoport (1977), budaya merupakan konsep yang terlalu umum dan
masih perlu dilakukan penjabaran secara spesifik. Penjabaran yang dimaksud
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
14
Gambar 2.2. Hubungan antara budaya, perilaku, sistem aktivitas dan sistem seting
(Sumber : Rapoport, 1977 diadopsi oleh Haryadi, 1995)
Menurut Rapoport & Altman (1980 dalam Lihawa, 2005), lingkungan yang
didesain oleh budaya khusus adalah setting untuk suatu kelompok dan cara hidup
khusus, yang signifikan dan tipikal membedakan kelompok tersebut dengan
lainnya. Antara cara hidup dan sistem simbolik menjadi bagian dari strategi
adaptif kelompok dalam setting ekologiknya.
Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa adaptasi yang dilakukan
manusia baik individu maupun kelompok merupakan strategi penyesuaian diri
terhadap lingkungan yang dilakukan melalui perubahan sistem aktivitas dan
sistem seting.
2.2.2
Behavior Setting
Dalam proses adaptasi, manusia akan membentuk sebuah model behavior
setting tertentu (Sangalang, 2013). Barker (1968 dalam Laurens, 2004) memakai
istilah behavior setting untuk menjelaskan tentang kombinasi perilaku dan milieu
(lingkungan) tertentu. Behavior setting dapat diartikan secara sederhana sebagai
suatu interaksi antara suatu kegiatan dengan tempat yang spesifik.
Dengan demikian behavior setting mengandung unsur-unsur sekelompok
orang yang melakukan sesuatu kegiatan, aktivitas atau perilaku dari sekelompok
orang tersebut, tempat dimana kegiatan tersebut dilakukan serta waktu spesifik
saat kegiatan tersebut dilaksanakan (Haryadi, 1995). Dalam bahasa yang lebih
sederhana, Rapoport (1990) menjelaskan bahwa behavior setting berisi tentang
pertanyaan mengenai: siapa melakukan apa, dimana, kapan, melibatkan atau tidak
melibatkan siapa (dan mengapa).
15
Ada sejumlah syarat untuk terbentuknya sebuah behavior setting. Menurut
Barker (1968 dalam Laurens, 2004), suatu entitas untuk dapat dikatakan sebagai
sebuah behavior setting terbentuk dari kombinasi yang stabil antara aktivitas,
tempat dan kriteria sebagai berikut:
a. Terdapat suatu aktivitas yang berulang, berupa suatu pola perilaku. Dapat
terdiri atas satu atau lebih pola perilaku ekstraindividual.
b. Dengan tata lingkungan tertentu, milieu ini berkaitan dengan pola perilaku
c. Membentuk suatu hubungan yang sama antarkeduanya (synomorphy)
d. Dilakukan pada periode waktu tertentu.
2.2.3. Sistem Aktivitas dan Sistem Ruang
Menurut Rapoport (1990) behaviour setting atau latar/rona/seting perilaku
dijabarkan ke dalam dua konsep yakni system of setting (sistem ruang) dan system
of activity (sistem kegiatan). Keterkaitan antara keduanya membentuk suatu
behaviour setting tertentu.
a. Sistem tempat/ruang (system of setting) diartikan sebagai unsur-unsur fisik
spasial/ruang ataupun formal/bentuk yang mempunyai hubungan tertentu atau
terkait hingga dapat digunakan bagi suatu kegiatan tertentu. Rapoport (1990)
menegaskan bahwa sistem ruang tersebut merupakan organisasi dari tempattempat/latar-latar atau beberapa setting ke dalam satu sistem yang berkaitan
dengan kegiatan manusia.
b. Sistem kegiatan atau sistem aktivitas (system of activity) diartikan sebagai
suatu rangkaian perilaku yang secara sengaja dilakukan oleh satu atau
beberapa orang. Istilah “sistem” di atas penting untuk menegaskan bahwa di
antara beberapa unsur ruang atau beberapa di antara kegiatan tersebut terdapat
suatu struktur atau rangkaian yang menjadikan kesatuan kegiatan atau
perilakunya mempunyai makna, terlepas dari apakah makna tersebut dapat
dibaca atau diartikan oleh orang lain yang tidak mengikuti kegiatan tersebut.
Pengamatan latar perilaku dapat dilakukan secara place-centered yang
berorientasi pada tempat kegiatan dan/atau people centered yang berorientasi
pada penelusuran alur kegiatan pelaku.
16
Konsep Rapoport (1990) tentang sistem aktivitas dan sistem ruang ini dipakai
untuk menjelaskan interaksi antara manusia dengan lingkungan binaan melalui
budaya. Aktivitas dianggap sebagai komponen terendah dari budaya yang
berhubungan
secara
langsung
dengan
lingkungan
binaan,
tetapi
juga
mempertanyakan asumsi yang menyatakan bahwa arsitektur mewadahi perilaku.
Melalui kajian fakta-fakta lintas budaya sepanjang waktu menunjukkan bahwa
sesungguhnya arsitektur mewadahi perilaku, tetapi tidak dilakukan secara ketat.
Dari fenomena lintas budaya sepanjang waktu menunjukkan bahwa jajaran
aktivitas yang dilakukan manusia lebih terbatas dibandingkan dengan variasi
lingkungan yang dibangun untuk aktivitas tersebut.
Jika setting diandaikan sebagai sebuah lingkaran
Kemudian di dalam setting tersebut terdapat aktivitas
Maka jalinannya akan membentuk sistem aktivitas yang terjadi
di dalam sistem ruang
Gambar 2.3. Ilustrasi mengenai sistem aktivitas yang terjadi di dalam sistem ruang
(Sumber: Rapoport, 1990)
Setting merupakan variabel secara budaya yang diikuti oleh anggota atau
kelompok dari budaya tersebut. Usulan-usulan mengenai aktivitas dan setting
dihubungkan melalui sebuah makna, dengan kata lain mekanisme utama yang
menghubungkan sebuah aktivitas dan setting adalah makna (meaning). Jika
manusia bertindak (secara tipikal, walaupun setting tidak menentukan) sesuai apa
17
yang dimaksud oleh perancang, maka suatu rancangan tersebut dapat dikatakan
tepat sasaran. Hal ini merupakan tujuan utama dari lingkungan binaan. Semua
yang terjadi di dalamnya harus diatur dan disusun, beberapa macam individu
harus terpikirkan oleh perancang (Rapoport, 1982).
Adapun lingkungan binaan terdiri dari beberapa elemen (Rapoport, 1982;
Hall, 1959 dalam Laurens, 2004), yaitu:
a. Fixed-feature elements
Terdiri dari bangunan, lantai, dinding, dan sebagainya. Adapun ruang yang
dibentuknya merupakan ruang berbasis tetap dilingkupi oleh pembatas yang
relatif tetap dan tidak mudah digeser.
b. Semi-fixed-feature elements
Terdiri dari furnitur interior dan eksterior dan sejenisnya. Adapun ruang yang
dibentuknya merupakan ruang yang pembatasnya bisa berpindah untuk
mendapatan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan pada waktu
yang berbeda.
c. Non-fixed-feature elements
Terdiri dari manusia dan aktivitas serta perilakunya. Adapun ruang yang
terbentuk hanya untuk waktu singkat, seperti ruang yang terbentuk ketika dua
atau lebih orang berkumpul. Ruang ini tidak tetap dan terjadi di luar kesadaran
orang tersebut.
Melalui elemen-elemen tersebut berlangsung komunikasi dalam sebuah setting
berupa tanda-tanda situasi, aturan main, dan perilaku. Banyak aktivitas dapat
berlangsung dalam satu tempat dengan merubah semi fixed-feature elements tanpa
mengubah fixed-feature elements. Sehingga dapat dikatakan bahwa semi fixedfeature elements tetap lebih penting untuk mengkaji suatu aktivitas dalam setting
(Rapoport, 1982).
2.2.4. Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior)
Hasil interaksi individu dengan obyek menghasilkan persepsi individu tentang
obyek itu. Persepsi adalah unsur penting didalam psikologi tata ruang. Persepsi
merupakan pemaknaan hasil pengamatan malalui penyerapan informasi
18
lingkungan sekitar melalaui panca indra, termasuk persepsi tentang lingkungan
yang menyeluruh, lingkungan dimana individu tersebut dibesarkan (Anwar,
1998). Sebagaimana persepsi seseorang yang tinggal di rumah susun, dimana
sebelumnya belum pernah mempunyai pengalaman hidup pada hunian bertingkat,
tentunya berbeda dengan seseorang yang telah mempunyai pengalaman tinggal
pada hunian vertikal di masa lalunya.
Jika persepsi berada dalam batas-batas optimal maka individu dikatakan dalam
keadaan homeostatis, yaitu keadaan yang serba seimbang. Keadaan ini biasanya
ingin dipertahankan oleh individu karena menimbulkan perasaan-perasaan yang
paling menyenangkan (Sarwono, 1992). Sebaliknya, jika obyek dipersepsikan
sebagai di luar batas-batas optimal (terlalu besar, kurang keras, kurang dingin,
terlalu aneh, terlalu jelek, dan sebagainya) maka individu itu akan mengalami
stres dalam dirinya. Tekanan-tekanan energi dalam dirinya meningkat sehingga
orang itu harus melakukan coping (penyesuaian) untuk menyesuaikan dirinya atau
menyesuaikan lingkungan pada kondisi dirinya. Menurut Beaudry & Alain
(2005), coping adalah aktivitas adaptasi yang dilakukan seseorang karena ada
kejadian yang mengganggu dalam lingkungannya. Selanjutnya mereka harus
melakukan perbuatan penyesuaian diri (coping behavior).
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kognisi seseorang
dalam upaya coping behavior (Holahan, 1982 dalam Anwar, 1998) yaitu gaya
hidup, familiaritas dengan lingkungannya, keterlibatan sosial, status sosial dan
jenis kelamin. Menurut Bell (2001, dalam Laurens, 2004), sebagai hasil dari coping
behavior, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, tingkah laku coping
itu tidak membawa hasil sebagaimana diharapkan. Gagalnya tingkah laku coping
ini menyebabkan stres berlanjut dan dampaknya bisa berpengaruh pada kondisi
individu maupun persepsi individu. Kemungkinan kedua, tingkah laku coping
yang berhasil maka terjadi penyesuaian antara diri individu dengan lingkungannya
(adaptasi) atau penyesuaian keadaan lingkungan pada diri individu (adjustment).
19
Gambar 2.4. Skema Persepsi (Bell, 2001 dalam Laurens, 2004)
Dampak dari keberhasilan ini juga bisa mengenai individu maupun
persepsinya. Jika dampak dari tingkah laku coping yang berhasil terjadi berulangulang maka kemungkinan akan terjadi penurunan tingkat toleransi terhadap
kegagalan atau kejenuhan. Disamping itu, terjadi peningkatan kemampuan untuk
menghadapi stimulus berikutnya. Kalau efek dari kegagalan yang terjadi
berulang-ulang, kewaspadaan akan meningkat. Namun, pada suatu titik akan
terjadi gangguan mental yang lebih serius seperti keputus-asaan, kebosanan,
perasaan tidak berdaya, dan menurunnya prestasi sampai pada titik terendah.
2.2.5. Teritorialitas
Proses beradaptasi yang dilakukan manusia pada tempat yang dipilih sebagai
tempat bermukimnya akan menciptakan teritori (Sangalang, 2013). Brower (1976
dalam Altman, 1980), memaparkan bahwa teritorialitas merupakan hubungan
individu atau kelompok dengan setting fisiknya, yang dicirikan oleh rasa
memiliki, dan upaya kontrol terhadap penggunaan dari interaksi yang tidak
diinginkan melalui kegiatan penempatan, mekanisme defensif dan keterikatan.
Kontrol yang dimaksud oleh Altman (1980) adalah mekanisme mengatur batas
antara orang yang satu dengan lainnya melalui penandaan atau personalisasi untuk
menyatakan bahwa tempat tersebut ada yang memilikinya. Personalisasi menurut
Altman (1980) adalah pernyataan kepemilikan individu, atau kelompok terhadap
suatu tempat, melalui tanda-tanda inisial diri. Pernyataan kepemilikan tersebut
bisa secara konkrit (wujud fisik) atau simbolik (non fisik). Secara konkrit menurut
20
Brower (1976 dalam Altman, 1980), pernyataan kepemilikan ditandai dengan
adanya penempatan (occupancy) dan secara simbolik dengan keterikatan tempat
(place attachment).
Uraian-uraian di atas memberikan pengertian yang lebih terinci lagi mengenai
teritorialitas yaitu upaya-upaya individu atau kelompok dalam melakukan kontrol
terhadap ruang kegiatannya melalui mekanisme defensif. Mekanisme defensif
tersebut tercermin dari adanya kegiatan penempatan dan keterikatan mereka
terhadap ruang.
Selain itu, definisi teritorialitas menurut Burhanuddin (2010) adalah kondisi
kualitas teritori yang ada/terjadi yang terbentuk oleh interaksi/ kompromi antara
kualitas teritori yang diinginkan masing-masing individu (dengan tujuan kegiatan)
dan masing-masing organisasi (dengan tujuan kebijaksanaan) dengan karakteristik
setting fisik yang mewadahi suatu kegiatan. Keterkaitan hubungan yang terjadi
antar unsur teritorialitas ini yang membuat teritorialitas sebagai atribut perilaku
dapat diukur kualitasnya. Dengan adanya interaksi antar unsur teritorialitas, maka
kualitas teritori juga bisa diukur dimana yang terjadi antara pelaku dan setting
fisiknya.
Altman (1980 dalam Laurens, 2004) membagi teritorialitas berdasarkan derajat
privasi, afiliasi, dan kemungkinan pencapaian menjadi tiga yaitu sebagai berikut:
1. Teritori primer, adalah tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya, hanya
boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab atau yang sudah
mendapatkan izin khusus. Jenis teritori ini dimiliki serta dipergunakan secara
khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritori utama ini akan
mengakibatkan timbulnya perlawanan dari pemiliknya dan ketidakmampuan
untuk mempertahankan teritori ini akan mengakibatkan masalah yang serius
terhadap aspek psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan
identitasnya. Contoh: pekarangan, ruang tidur, ruang kerja.
2. Teritori sekunder, adalah tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah
orang yang sudah cukup saling mengenal. Jenis teritori ini lebih longgar
pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Sifat territorial sekunder
adalah semi-publik. Contoh: toilet, sirkulasi lalu intas di dalam kantor, zona
servis, dan sebagainya.
21
3. Teritori publik, adalah tempat-tempat yang terbuka untuk umum. Teritorial
umum dapat digunakan secara sementara dalam jangka waktu lama maupun
singkat. Pada prinsipnya setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat
tersebut. Contoh: gedung bioskop, ruang kuliah, pusat perbelanjaan dan lainlain.
Dalam teori lain, Hussein el Sharkawy (1979 dalam Prabowo, 1998)
menyebutkan tentang empat tipe territorial, yaitu:
1. Attached territory adalah personal space yang dimiliki oleh seseorang.
2. Central territories seperti seperti rumah seseorang, ruang kelas, ruang kerja,
dimana kesemuanya itu kurang memiliki personalisasi, biasa disebut sebagai
ruang privat.
3. Supporting territories adalah ruang yang bersifat semi-privat dan semi-publik
seperti koridor, kolam renang, taman depan, taman belakang dll.
4. Peripheral territories adalah ruang publik seperti lapangan olahraga bersama,
taman kota dll.
Menurut Yusuf (1991 dalam Anwar, 1998), ada beberapa ciri-ciri umum
mengenai teritori yang disebut pula sebagai perilaku teritori yaitu sebagai berikut:
a. Penguasaan dan pemilikan terhadapt teritori tertentu, baik secara pribadi
maupun perseorangan.
b. Tersedianya lokasi atau obyek seperti “taman atau kursi itu tempat saya”.
c. Dimiliki individu atau sekelompok orang misalnya “ruangan ini untuk
kelompok X”.
d. Teritori memiliki dua fungsi yaitu:
- fungsi sosial seperti ruang tamu dan ruang makan.
- fungsi fisik misalnya meja dan kursi itu mempunyai fungsi sebagai tempat
duduk.
e. Ditandai dengan simbol-simbol seperti pagar dan papan nama yang
menunjukkan “ini milik saya” dan “ini wilayah saya”.
f. Penembusan atau pelanggaran teritori akan menimbulkan perilaku defensif.
22
2.2.6. Keterikatan Pada Tempat (Attachment to Place)
Relasi antara manusia dan lingkungannya bersifat kompleks, terutama jika
terkait dengan tempat tinggal. Kerumitan tersebut bertambah karena sebagai
makhluk sosial, lingkup hidup manusia juga terkait erat dengan aspek sosial atau
komunitasnya. Menurut William & Carr (1993), pemahaman tempat didasarkan
pada ikatan emosional seseorang terhadap suatu tempat, lebih lanjut dinyatakan
bahwa ikatan tersebut dapat berawal dari pengalaman nyata pada tempat tersebut
atau dari keabstrakan lingkungan alamnya, sebagai hasil dari proses simbolis pada
suatu kurun waktu tertentu. Banyak peneliti yang menyelidiki arti sebuah tempat
setuju bahwa pemahaman terhadap tempat adalah sesuatu yang personal, suatu
proses emosional dimana seseorang yang berinteraksi dengan suatu tempat
menjadi terikat pada tempat tersebut (Williams et al., 1992). Ikatan emosional
biasanya ditafsirkan sebagai suatu perasaan keterikatan terhadap tempat/ place
attachment (Williams & Roggenbuck, 1989). Bahasan tentang place attachment
juga terkait erat dengan konsep teritorialitas. Place attachment merupakan
pernyataan simbolik dari kepemilikan atas sebuah tempat/teritori (Tondok, 2012;
Altman, 1980).
Altman & Low (1992) mendefinisikan place attachment sebagai hubungan
simbolis yang dibentuk oleh seseorang yang secara kultural memberikan
pengertian emosional kepada suatu ruang lahan yang menjadi basis seseorang atau
sekelompok orang dalam memahami hubungannya dengan lingkungan. Dengan
begitu, place attachment lebih dari sekedar suatu emosional dan pengalaman teori,
dan meliputi kepercayaan budaya dan praktek yang menghubungkan seseorang
dengan suatu tempat.
Place attachment terbagi dalam dua dimensi, yaitu ketergantungan terhadap
tempat (place dependence) yakni nilai suatu tempat untuk atribut yang terkait
dengan aktivitas di dalamnya dan identitas tempat (place identity) yakni ikatan
emosional terhadap tempat sebagai wujud identitas diri (Williams & Roggenbuck,
1989). Williams & Roggenbuck (1989) menjelaskan place dependence sebagai
keterikatan fungsi, di mana nilai dan arti penting suatu tempat didasarkan pada
seting/ penataan atribut atau sumber daya pada tempat tersebut. Hal tersebut dapat
menjadikan seseorang menjadi terkait dengan suatu tempat dikarenakan kegunaan
23
tempat tersebut untuk memuaskan kebutuhan dan tujuan seseorang. Selain itu, hal
tersebut dikenal sebagai fungsional atau komoditas pemaknaan bagi suatu tempat,
dimana seting/ penataan bertindak sebagai suatu latar belakang untuk menikmati
aktivitas yang menyenangkan (Williams, et al., 1992).
Secara khas, place identity berupa keterikatan emosional yang terjalin dengan
perasaan emosional yang kuat. Seringkali suatu tempat menimbulkan emosi yang
sedemikian rupa apabila dihubungkan dengan suatu peristiwa historis penting,
suatu kelompok yang bisa diidentifikasi, atau simbolis, nilai-nilai, gagasan,
ideologi, atau kepercayaan (Russell & Snodgrass, 1987). Williams, et al. (1992)
berpendapat bahwa kadang kala ikatan emosional dengan suatu tempat bisa sangat
kuat sehingga ikatan pribadi (personal attachment) seseorang terhadap tempat
dapat menjadi elemen penting dalam mendeskripsikan pribadi seseorang. Dengan
begitu, place identity didefinisikan sebagai suatu interpretasi/ penafsiran diri yang
menggunakan pemaknaan lingkungan untuk menandakan atau meletakkan suatu
identitas pribadi (Cuba & Hummon, 1993).
Mencermati beberapa teori diatas, dapat dilihat bahwa teori-teori mengenai
place attachment yang ada selama ini mayoritas berdasar pada studi kasus kotakota di belahan bumi bagian barat (western countries), walaupun pada dasarnya
teori tersebut bersifat universal (Kusuma, 2008). Oleh karena itu, penelitian yang
dilakukan Kusuma (2008) pada kota di Indonesia, ingin menjembatani celah
pemahaman antara makna place attachment menurut masyarakat di negara Barat
dan Timur, khususnya yang disebabkan oleh perbedaan seting fisik dan sosial.
Dalam
penelitiannya,
Kusuma
(2008)
menemukan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi perasaan place attachment pada hunian masyarakat berpenghasilan
rendah di Indonesia. Faktor paling dominan adalah hubungan baik antar tetangga.
Faktor selanjutnya adalah kenyamanan, aksesibilitas yang baik, jarak tempat
kerja, status kepemilikan, lama tinggal, keamanan lingkungan, ketiadaan alternatif
tempat tinggal yang lain, dan keterjangkauan sewa hunian (Kusuma, 2008).
24
2.3. Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa)
2.3.1.
Pengertian Rusunawa
Pemenuhan kebutuhan rumah merupakan hal yang sangat urgen. Ironisnya,
ketersediaan lahan untuk pembangunan permukiman semakin hari semakin
berkurang. Melihat kondisi saat ini, pembangunan secara horizontal telah menjadi
solusi yang kurang tepat terutama pada wilayah yang kepadatannya tinggi. Solusi
yang ditawarkan adalah berupa pembangunan secara vertikal yaitu dalam bentuk
rumah susun.
Definisi rumah susun menurut UU No. 20 tahun 2011 tentang rumah susun
adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang
terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam
arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masingmasing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat
hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah
bersama.
Dalam pembangunannya, rumah susun harus sesuai dengan tingkat keperluan
dan kemampuan masyarakatnya. Saat diperuntukkan untuk MBR dengan
penghasilan di bawah Rp. 2.500.000/bulan, maka sebuah rumah susun
dikategorikan sebagai rumah susun sederhana sewa (Rusunawa). Pengertian
Rusunawa yang tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No.
14/PERMEN/M/2007 adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam
suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara
fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan
yang masing-masing digunakan secara terpisah, status penguasaannya sewa serta
dibangun dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dengan fungsi utamanya
sebagai hunian.
Menurut Budihardjo (1998), penyediaan Rusunawa layak huni seharusnya
tidak hanya dipandang dari segi kuantitas saja, tetapi kualitas lingkungan
kehidupan yang diciptakannya. Masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan
(yang merupakan sasaran penghuni rusunawa) kebanyakan menganggap rumah
tidak sekedar tempat hunian semata-mata tetapi juga sebagai tempat bekerja untuk
25
menambah penghasilan. Jadi dalam perencanaan rusunawa perlu diperhatikan
bahwa blok-blok hunian dalam rusun perlu memperhatikan pola mixed use
(lingkungan yang swasembada/self-contained social structure) dan ruang-ruang
terbuka antar blok rusun dialihfungsikan menjadi semacam community market
place.
2.3.2.
Ruang Komunal dalam Rusunawa
Ruang komunal (berasal dari kata communal) yang berarti berhubungan
dengan umum) merupakan ruang yang menampung kegiatan sosial dan digunakan
untuk seluruh masyarakat atau komunitas (Wijayanti, 2000 dalam Purwanto,
2012). Menurut Lang (1987), ruang komunal memberikan kesempatan kepada
orang untuk bertemu, tetapi untuk menjadikan hal itu diperlukan beberapa
katalisator. Katalisator mungkin secara individu yang membawa orang secara
bersama-sama dalam sebuah aktifitas, diskusi atau topik umum. Sebuah ruang
terbuka publik akan menarik orang jika terdapat aktifitas dan orang dapat
menyaksikannya. Ruang komunal adalah sebuah seting yang dipengaruhi oleh tiga
unsur selain unsur fisiknya yaitu manusia sebagai pelaku, kegiatan dan pikiran
manusia (Purwanto, 2012).
Terjadinya ruang komunal di rumah susun tidak lepas dari pemahaman
interaksi manusia dengan lingkungannya. Masyarakat berpenghasilan rendah
penghuni selaku penghuni rumah susun merupakan kelompok masyarakat dengan
outdoor personality yang ditandai dengan tingginya interaksi sosial antar masingmasing individu dalam sebuah kelompok. Hal ini tidak terlepas dari budaya yang
terbentuk sejak sebelum menghuni rumah susun. Oleh sebab itu, kebutuhan
penghuni sekaligus masyarakat dari suatu lingkungan permukiman dalam
hubungannya dengan kegiatan interaksi sosial adalah terpenuhinya kebutuhan
untuk melakukan kontak sosial secara individu maupun kelompok (Anwar, 1998).
H. Bonner (1980 dalam Anwar, 1998) mendefinisikan interaksi sosial sebagai
suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana kelakuan individu
yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang
lain, atau sebaliknya.
26
Soekanto (1990 dalam Anwar, 1998) menyatakan bahwa interaksi sosial
adalah kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa adanya interaksi tidak
mungkin ada kehidupan bersama. Bahkan dengan adanya kontak badani saja antar
individu tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial.
Pergaulan hidup tersebut akan terjadi apabila kelompok sosial. Pergaulan hidup
tersebut akan terjadi apabila kelompok orang perorang atau kelompok manusia
bekerjasama saling berkomunikasi/ berbicara untuk mencapai tujuan. Arti penting
dari suatu komunikasi apabila seseorang memberi tafsiran terhadap perilaku orang
lain, dan perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut yang
kemudian timbul reaksi atas perasaan yang diungkapkan orang lain tersebut.
Dengan demikian interaksi sosial pada dasarnya dapat berbentuk kerjasama,
persaingan atau pertikaian. Namun interaksi sosial juga mengarah pada salah satu
tujuan masyarakat/ sistem yaitu untuk beradaptasi (Anwar, 1998). Dalam hal
kegiatan interaksi sosial secara fisik merupakan kegiatan pertemuan baik antar
individu maupun kelompok yang menempati suatu ruang tertentu secara bersama,
baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Ruang-ruang yang digunakan untuk
kegiatan yang sifatnya bersama tersebut mempunyai fungsi sebagai ruang
komunal.
Rumah susun dengan struktur vertikal terdiri ruang komunal yang terencana
maupun tak terencana. Ruang komunal yang terencana adalah ruang komunal
yang sengaja dibuat untuk keperluan penghuni dalam melakukan kegiatan sifatnya
komunal dan biasanya merupakan kegiatan formal, seperti rapat, arisan, maupun
sosialisasi. Ruang ini bisa berupa ruang terbuka maupun ruang tertutup.
Sementara ruang komunal tak terencana adalah ruang-ruang publik yang
dimanfaatkan bagi kegiatan yang biasanya bersifat non formal, seperti bersantai
dan bercengkrama antar penghuni. Ruang ini biasanya berupa hall, selasar,
koridor, tempat parkir, maupun ruang-ruang publik lainnya yang terbentuk secara
insidentil pada masing-masing lantai (Anwar, 1998).
2.3.3.
Aspek Dasar dalam Perencanaan Rusunawa
Rusunawa sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan perumahan yang
layak bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah memerlukan standar
27
perencanaan sebagai dasar pembangunannya. Menurut Yudohusodo (1991), dalam
membangun rumah sewa perlu diperhatikan beberapa aspek, yaitu:
a.
Aspek ekonomi
Rumah susun sewa yang berdekatan dengan tempat kerja, tempat usaha atau
tempat
berbelanja untuk keperluan sehari-hari akan sangat
menyelesaikan masalah
perkotaan, terutama
yang menyangkut
membantu
masalah
transportasi dan lalu lintas kota.Perjalanan dari tempat tinggal ke tempat kerja
dapat ditangulangi sendiri. Disamping itu dari segi pengeluaran rumah tangga,
dekatnya tempat tinggal ke tempat kerja menekan biaya transportasi.
b.
Aspek lingkungan
Pada setiap lingkungan perumahan yang dibangun membutuhkan sejumlah
rumah tambahan bagi masyarakat yang mempunyai tingkat sosial ekonomi yang
berbeda. Melalui penerapan subsidi silang masih dimungkinkan membangun
sejumlah rumah sewa yang dibiayai oleh lingkungan itu sendiri.
c.
Aspek tanah perkotaan
Rumah susun sewa yang secara minimal dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat
pada saat ini, tidak akan lagi memenuhi kebutuhan masyarakat di kemudian hari.
Program peremajaan lingkungan dengan membangun kembali perumahan sesuai
dengan standar yang dituntut, harus dilaksanakan agar lingkungan perkotaan tetap
dapat terjamin kualitasnya. Dengan dikuasainya tanah dimana rumah susun sewa
itu dibangun, program peremajaan lingkungan di masa mendatang dengan lebih
mudah dapat dilaksanakan.
d.
Aspek investasi
Pembangunan rumah susun sewa untuk masyarakat berpenghasilan rendah
secara ekonomis kurang menguntungkan. Besarnya sewa tidak dapat menutup
seluruh biaya investasinya. Akan tetapi apabila ditinjau dari nilai tanah perkotaan
yang selalu meningkat sesuai dengan perkembangan kotanya, maka cadangan
tanah yang dikuasai pemerintah akan selalu meningkat harganya. Dengan nilai
tanah tersebut, akan terpenuhi pengembalian sebagian atau seluruhnya biaya
investasi.
28
e.
Aspek keterjangkauan
Untuk dapat mencapai sasaran yang tepat maka tarif sewa disesuaikan dengan
kemampuan masyarakat, atas dasar penghasilan yang nyata dan besarnya
pengeluaran rumah tangga. Letak keberhasilan pembangunan dan penghunian
rumah susun sewa tergantung pada lokasinya. Oleh karena itu, lokasi rumah susun
sewa harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
ļ‚·
Berdekatan dengan pusat kegiatan kota dan bersifat strategis, teruatama yang
berhubungan dengan lapangan kerja
ļ‚·
Masih berada dalam radius jangkauan pejalan kaki dari jaringan angkutan
umum kota
ļ‚·
Sesuai dengan rencana peruntukan pengembangan tata ruang wilayah kota
Hamzah (2000) menyatakan bahwa syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam
pembangunan rumah susun yaitu:
a.
Persyaratan teknis untuk ruangan
Semua ruangan yang dipergunakan untuk kegiatan sehari-hari harus
mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan udara luar dan
pencahayaan dalam jumlah yang cukup.
b.
Persyaratan untuk struktur, komponen dan bahan-bahan bangunan
Harus memenuhi persyaratan konstruksi dan standar yang berlaku yaitu harus
tahan dengan beban mati, bergerak, gempa, hujan, angin, dan lain-lain
c.
Kelengkapan rumah susun terdiri dari:
Jaringan air bersih, jaringan listrik, jaringan gas, saluran pembuangan air,
saluran pembuangan sampah, jaringan telepon/ alat komunikasi, alat transportasi
berupa tangga, lift atau eskalator, pintu dan tangga darurat kebakaran, penangkal
petir, alarm, pintu kedap asap, generator listrik, dll.
d.
Satuan rumah susun
ļ‚·
Mempunyai ukuran standar yang dapat dipertanggung jawabkan dan
memenuhi persyaratan sehubungan dengan fungsi dan penggunaannya.
ļ‚·
Memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti tidur, mandi, buang hajat, mencuci,
menjemur, memasak, makan, menerima tamu, dan lai-lain.
29
e.
Bagian bersama dan benda bersama
ļ‚· Bagian bersama berupa fondasi, kolom, balok, dinding, lantai, atap, talang air,
tangga, lift, selasar, saluran, pipa, jaringan listrik, gas, dan telekomunikasi.
ļ‚· Benda bersama harus mempunyai dimensi, lokasi, serta kualitas dan kapasitas
yang memenuhi syarat sehingga dapat menjamin keamanan dan kenikmatan
bagi penghuni. Benda bersama berupa ruang pertemuan, tanaman, bangunan
pertamanan, bangunan sarana sosial, tempat ibadah, tempat bermain, dan
tempat parkir yang terpisah atau menyatu dengan struktur bangunan rumah
susun.
f.
Lokasi rumah susun
ļ‚· Harus sesuai peruntukkan dan keserasian dengan memperhatikan rencana tata
ruang dan tata guna tanah
ļ‚· Harus memungkinkan berfungsi dengan baik saluran-saluran pembuangan
dalam lingkungan ke sistem jaringan pembuangan air hujan dan limbah
ļ‚· Harus mudah mencapai angkutan
ļ‚· Harus dijangkau pelayanan jaringan air bersih dan listrik
g.
Kepadatan dan tata letak bangunan
Harus mencapai optimasi daya guna dan hasil guna tanah dengan
memperhatikan keserasian dan keselamatan lingkungan sekitarnya.
h.
Prasarana lingkungan
Harus dilengkapi dengan prasarana jalan, tempat parkir, jaringan telpon,
tempat pembuangan sampah.
i.
Fasilitas lingkungan
Harus dilengkapi dengan ruang atau bangunan untuk berkumpul, tempat
bermain anak-anak dan kontak sosial ruang untuk kebutuhan sehari-hari seperti
untuk kesehatan, pendidikan, peribadatan, dll.
Selain itu, menurut Kartahardja (1998 dalam Budihardjo, 1998) ada beberapa
hal yang harus diperhatikan pada waktu merencanakan rumah susun yaitu sebagai
berikut:
30
a. Tempat bermain dan rekreasi
Khususnya bagi anak-anak yang masih perlu diawasi dan para remaja, harus
ada tempat bermain dan berolahraga di dekat rumah.
b. Kegaduhan
Oleh karena adanya kepadatan penduduk dan kepadatan penghunian yang
tinggi, kegaduhan akan mengurangi kenyamanan hidup penghuni rumah
susun. Untuk mengurangi gangguan suara, perlu dipirkan penggunaan
material yang dapat memberikan isolasi suara yang optimal.
c. Kebebasan penghuni
Kebebasan (privacy) penghuni akan berkurang dengan bertambah kepadatan
penghunian, anatar lain terdengarnya percakapan keluarga tetangga dan
sebagainya. Oleh karena itu tata letak ruangan-ruangan dalm masing-masing
unit rumah di rusun harus direncanakan dengan baik.
d. Tempat menjemur pakaian
Kebiasaan ibu-ibu rumah tangga di Indonesia untuk memanfaatkan panas
matahari untuk menjemur pakaian sukar dirubah. Untuk memenuhi kebutuhan
itu, perlu disediakan tempat baik di dalam maupun di luar rumah
e. Tempat parkir kendaraan bermotor
Letaknya tidak boleh berjauhan dari rusun.
f. Lift
g. Pembuangan sampah
Sampah yang berasal dari tiap unit rusun dibuang ke bawah melalui sebuah
terowongan vertical yang khusus untuk itu.
h. Perubahan kebiasaan hidup
i. Pemeliharaan rumah susun
Kerusakan-kerusakan yang sering terjadi jika rumah susun baru didiami
adalah keran dan saluran air bocor, aliran listrik putus, dan sebagainya.
Supaya kerusakan itu dapat segera diperbaiki di tiap bangunan rumah susun
sebaiknya ada seorang ahli teknik atau tim pemeliharaan bangunan yang siap
sedia selama 24 jam.
31
2.4.
Sintesa Kajian Pustaka dan Teori
Sintesa kajian pustaka dan teori merupakan uraian tentang teori, temuan dan
bahan penelitian lain yang diperoleh dari bahan acuan untuk dijadikan landasan
kegiatan penelitian untuk menyusun kerangka pemikiran yang jelas dari
perumusan masalah yang ingin diteliti.
Fokus penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai pola
adaptasi penghuni pada Rumah Susun Urip Sumohardjo dan Rumah Susun Tanah
Merah I. Sintesa kajian pustaka dan teori dapat dilihat pada Tabel 2.1 dibawah ini:
Tabel 2.1. Sintesa Kajian Pustaka dan Teori
Sumber
Newmark &
Thompson (1977);
Soebroto (1998);
Panudju (1999);
Respati (2012)
Sintesa
Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah itu mampu
memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Tidak hanya sekedar berwujud shelter, tetapi sebagai
home
2. Mampu mewadahi outdoor personality
3. Mampu meningkatkan kesejahteraan
4. Lokasi tidak terlalu jauh dari tempat kerja
5. Status kepemilikan lahan dan rumah jelas
6. Bentuk dan kualitas bangunan tidak perlu terlalu baik
7. Sesuai dengan tingkat pendapatan
Brower (1976);
Altman (1980);
Bell (2001);
Beaudry & Alain
(2005); Sangalang
(2013)
1. Untuk beradaptasi, manusia melakukan perilaku
penyesuaian diri (coping behavior).
2. Proses beradaptasi yang dilakukan manusia akan
menciptakan teritorialitas. Secara fisik ditandai dengan
adanya penempatan (occupancy.)
3. Keterikatan pada tempat (place attachment) merupakan
ekspresi simbolik dari teritorialitas.
Karta Sapoetra,
(1987); Gerungan,
(1991); Cockcroft,
(2009)
Strategi penyesuaian diri manusia terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Mengubah individu sesuai dengan keadaan lingkungan
(pasif/akomodasi)
2. Mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan individu
(aktif/asimilasi).
Hussein el
Sharkawy (1979)
Empat tipe territorial, yaitu:
1. Attached territory adalah personal space individu
2. Central territories adalah ruang privat
3. Supporting territories adalah ruang semi-privat dan
semi-publik
4. Peripheral territories adalah ruang publik
32
Sumber
Russell &
Snodgrass (1987);
Williams &
Roggenbuck
(1989); William &
Carr (1993); Cuba
& Hummon (1993)
Sintesa
Place attachment terbagi dalam dua dimensi, yaitu:
1. Ketergantungan terhadap tempat (place dependence),
disebabkan kegunaan tempat tersebut untuk
memuaskan kebutuhan dan tujuan seseorang
(keterikatan fungsi),
2. Identitas tempat (place identity) yaitu ikatan emosional
terhadap tempat sebagai wujud identitas diri.
Kusuma (2008)
Faktor yang mempengaruhi perasaan keterikatan pada
tempat (place attachment) pada hunian MBR di Indonesia,
yaitu:
1. Hubungan baik antar tetangga.
2. Kenyamanan,
3. Aksesibilitas yang baik,
4. Jarak tempat kerja,
5. Status kepemilikan,
6. Lama tinggal,
7. Keamanan lingkungan,
8. Ketiadaan alternatif tempat tinggal yang lain,
9. Keterjangkauan sewa hunian
Sumber: kajian pustaka dan teori, 2014
33
2.5.
Kerangka Pikir
1. Perkembangan kota yang pesat mempengaruhi kondisi lingkungan, menciptakan kawasan
kumuh
2. Pemerintah Kota Surabaya sebagai otoritas pemegang kebijakan kota melakukan
perbaikan permukiman kumuh melalui pembangunan rumah susun
3. Dari 18 rusun di Surabaya, dua diantaranya adalah Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun
Tanah Merah I. Karakteristik kedua rusun berbeda, Rusun Urip Sumohardjo dibangun
sebagai upaya urban renewal, Rusun Tanah Merah I dibangun sebagai program
resettlement.
4. Menempati rumah susun menuntut penyesuaian diri secara psikis dan kepribadian
(outdoor personality) maupun integrasi secara sosial dalam lingkungan kampung.
5. Bentuk adaptasi dapat diidentifikasi melalui identifikasi perilaku penyesuaian diri (coping
behavior), pembentukan teritorialitas dan perasaan keterkaitan pada tempat.
Bagaimana pola adaptasi yang dibentuk oleh penghuni pada
Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I?
1. Mengidentifikasi perilaku penyesuaian diri (coping behavior) yang dilakukan oleh
penghuni di Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I.
2. Mengidentifikasi teritorialitas yang dibentuk oleh penghuni di Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I.
3. Mengidentifikasi keterikatan pada tempat (place attachment) yang dirasakan oleh
penghuni terhadap Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I.
Teori
Adaptasi
Teori
Coping
behavior
Teori
Teritorialitas
Teori
Place
attachment
Sintesa
Pengumpulan Data
Identifikasi perilaku
penyesuaian diri
(coping behavior)
Identifikasi teritorialitas
yang terbentuk
Pola adaptasi penghuni pada
Rumah Susun Urip Sumohardjo dan
Rumah Susun Tanah Merah I
Kesimpulan & Saran
Gambar 2.5 Kerangka Pikir
34
Identifikasi
keterikatan pada tempat
(place attachment)
BAB 3
METODE PENELITIAN
Pemilihan metode penelitian menjadi prasayarat utama serta menjadi salah
satu indikator dalam sebuah penelitian ilmiah. Bab ini memberikan gambaran
tentang metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Dalam bab ini
akan dibahas mengenai paradigma penelitian, jenis penelitian, alasan pemilihan
lokasi penelitian, sampel dan instrumen penelitian, teknik pengumpulan data,
desain penelitian, variabel penelitian, serta teknik analisa data.
3.1
Paradigma dan Metode Penelitian
Untuk memperoleh gambaran gambaran mengenai pola adaptasi penghuni
pada Rumah Susun, maka metode pendekatan yang digunakan pada penelitian ini
adalah pendekatan kualitatif dengan strategi pendekatan yang digunakan adalah
studi kasus. Menurut Creswell (2013), penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat konstuktivisme. Filsafat konstuktivisme
ini menggunakan paradigma naturalistik karena penelitiannya digunakan untuk
meneliti kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrument
kunci.
Format penelitian yang digunakan pada metode penelitian kualitiatif ini
adalah format deskriptif dengan jenis studi kasus (Bungin, 2001). Jadi format
penelitian deskriptif studi kasus ini dimaksudkan untuk menjabarkan pola perilaku
penghuni Rumah Susun Urip Sumohardjo dan Rumah Susun Tanah Merah I dan
pembentukan teritorialitas serta perasaan keterikatan antara penghuni dengan
rumah susun. Semua hal ini ditujukan untuk menjelaskan gambaran mengenai
pola adaptasi penghuni pada Rumah Susun Urip Sumohardjo dan Rumah Susun
Tanah Merah I.
3.2
Lokasi Penelitan
Lokasi penelitian ini ditujukan pada rumah susun yang diperuntukkan bagi
masyarakat berpenghasilan rendah atau dikenal dengan istilah Rusunawa (Rumah
35
Susun Sederhana Sewa) di Kota Surabaya. Dari 18 rumah susun yang ada di kota
ini, dipilih dua rumah susun yang akan dijadikan sebagai objek penelitian yaitu
Rumah Susun Urip Sumohardjo yang terletak di Kel. Embong Kali Asin dan
Rumah Susun Tanah Merah I yang terletak di Kel. Tanah Kali Kedinding.
Alasan pemilihan objek penelitian ini didasarkan pada pertimbangan:
1) Kota Surabaya merupakan satu diantara 10 kota di Indonesia yang menjadi
prioritas program nasional pembangunan rumah susun layak huni.
2) Pemilihan objek studi berupa Rusunawa atau rumah susun sederhana sewa
disebabkan karena melihat fenomena jumlah MBR yang mendaftar ingin
tinggal di rumah susun, khususnya di Kota Surabaya, semakin mengalami
peningkatan hingga 3000 KK pada tahun 2014. Hal ini membuktikan bahwa
minat masyarakat untuk menghuni rumah susun semakin tinggi.
3) Pemilihan dua studi kasus yaitu Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah
Merah I disebabkan karena dua rusun ini dinilai mampu merepresentasikan
rumah susun di Kota Surabaya secara umum. Pertama, adanya perbedaan
lokasi rusun dimana Rusun Urip Sumoharjo sebagai representasi rumah susun
yang berada di pusat kota Surabaya, sementara Rusun Tanah Merah I sebagai
representasi rumah susun yang berada di pinggiran kota Surabaya. Kedua
adanya perbedaan kebijakan pembangunan dari kedua rumah susun tersebut.
Rusun Urip Sumohardjo dibangun sebagai upaya urban renewal (peremajaan
kota) sedangkan Rusun Tanah Merah I dibangun sebagai program resettlement
(relokasi). Diharapkan perbedaan karakter kedua rusun ini bisa memberikan
varian mengenai karakteristik penghuni serta pola adaptasinya di kedua rumah
susun yang akan diteliti tersebut.
3.3
Populasi dan Sampel
Populasi menurut Sugiyono (2012) adalah objek penelitian sebagai sasaran
untuk mendapatkan dan mengumpulkan data. Sedangkan sampel adalah populasi
yang dituju atau yang akan dijadikan obyek kasus. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh masyarakat yang menempati kedua rumah susun yang menjadi
objek penelitian. Penentuan sampel menurut Sevilla (1993) adalah untuk
penelitian deskriptif, ukuran minimum yang bisa diterima adalah 10% dari
36
populasi. Namun karena besaran populasi belum diketahui dan mengingat waktu
penelitian, maka jumlah sampel yang diambil adalah 50 responden yang dipilih
sesuai kriteria (Sevilla, 1993). Menurut Sudjana (1997), tidak ada ketentuan yang
rumus yang pasti dalam penentuan besaran sampel sebab keabsahan sampel
terletak pada sifat dan karakteristiknya apakah mendekati populasi atau tidak.
Minamal sampel ialah sebanyak 30 responden. Hal ini didasarkan pada
perhitungan atau syarat pengujian yang lazim digunakan statistika.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive untuk
menentukan key person. Pemilihan sampel didasarkan pada kemampuan
responden memberikan kontribusi pada pemahaman tentang fenomena yang akan
diteliti, misalnya kepala keluarga atau ibu rumah tangga yang lebih bisa
memberikan informasi terkait tujuan penelitian.
Jumlah responden dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan
informasi yang diperlukan. Karena tidak ada data populasi penghuni secara
keseluruhan, maka jumlah responden diambil sebanyak 50 orang per rumah susun,
mengacu pada Sevilla (1993). Penentuan responden dilakukan secara acak,
dimana setiap penghuni mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi
responden. Akan tetapi dalam penelitian ini diutamakan responden yang
mempunyai kedudukan dan kompetensi lebih untuk memberikan informasi yang
banyak sesuai dengan tujuan penelitian. Pilihan responden dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1) Sekelompok penghuni pria (suami) dan sekelompok penghuni wanita (istri)
yang menjadi penghuni tetap rumah susun. Tiap satu unit hunian diwakili oleh
satu orang responden. Sehingga total responden berjumlah 50 orang yang
tersebar pada 50 unit hunian di rumah susun. Disamping itu, tingkatan lantai
hunian juga menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan responden. Tiap
lantai minimal diwakili oleh 3-4 orang responden.
2) Ketua RT atau Ketua RW juga menjadi pilihan sebagai responden karena
disamping sebagai penghuni, posisinya juga sebagai narasumber yang bisa
memberikan informasi lebih banyak dalam penggalian informasi yang baru.
37
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan terdiri dari dua jenis yaitu data primer dan data
sekunder, yaitu sebagai berikut:
a. Data Primer
Teknik pengumpulan data primer yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
dengan triangulasi teknik/ metode yaitu gabungan dari tiga teknik dibawah ini:
1) Observasi/ pengamatan
Obyek pengamatan dalam penelitian kualitatif menurut James (1980 dalam
Sugiyono, 2012) dinamakan sistuasi sosial, yang terdiri atas tiga komponen
yaitu place (tempat), actor (pelaku) dan activities (aktivitas). Teknik
observasi yang dilakukan berupa pemetaan perilaku (behavioural mapping).
Menurut Haryadi (1995), behavioural mapping digambarkan sebagai cara
untuk mengungkap pola-pola ruang yang tercipta akibat hubungan timbal
balik antara manusia dengan ruang, diwujudkan dalam bentuk sketsa dan
diagram mengenai suatu area dimana manusia melakukan kegiatannya.
Tujuannya
adalah
untuk
menggambarkan
perilaku
dalam
peta,
mengidentifikasi jenis frekuensi perilaku, serta menunjukkan kaitan perilaku
dengan wujud perancangan yang spesifik.
2) Wawancara/ interview
Wawancara dilakukan secara mendalam (in depth interview) terhadap
penghuni kedua rumah susun yang menjadi lokasi penelitian untuk
mendapatkan informasi dan opini atau pendapat dari narasumber terkait
respon atau persepsi mengenai adaptasi terhadap hunian. Wawancara berupa
percakapan, tanya jawab, tindakan narasumber terhadap objek yang diteliti.
Alat pengumpulan data wawancara berupa kuesioner dan pedoman
wawancara.
3) Dokumentasi
Dokumentasi adalah mengumpulkan atau menangkap data/informasi yang
dilakukan secara visual. Dilakukan dengan menggunakan kamera. Hasil
dokumentasi pada lokasi Rusunawa lalu diinterpretasikan oleh peneliti
dengan melakukan komentar terhadap hasil visualisasi tersebut. Hasil
38
interpretasi ini digunakan untuk mendapatkan informasi lain yang
kemungkinan bisa dikembangkan.
b. Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder diperoleh melalui literatur yang berkaitan dengan
penelitian yang dilakukan. Studi literatur ini terdiri dari tinjauan teori dan
pengumpulan data-data dari instransi terkait. Untuk tinjauan teori, kegiatan
pengumpulan data dilakukan dengan mempelajari dan menelaah teori-teori dari
buku
maupun
jurnal
yang
keabsahan
dan
validitas
teorinya
dapat
dipertanggungjawabkan dan berkaitan dengan pembahasan studi. Sementara itu,
untuk pengumpulan data dari instansi terkait guna mendukung pembahasan studi.
Instansi-instansi tersebut dinataranya adalah BAPPEKO Kota Surabaya, Dinas
Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Surabaya dan Dinas Pengelolaan Bangunan dan
Tanah Kota Surabaya yang membawahi UPTD Rumah Susun di Kota Surabaya.
3.5
Desain Penelitian
Desain artinya rencana, tetapi apabila dikaji lebih lanjut kata itu dapat
berarti pula pola, potongan, bentuk, model, tujuan dan maksud (Echols & Hassan
Shadily, 1976 dalam Bungin, 2001). Selain itu, Lincoln dan Guba (1985 dalam
Bungin, 2001) mendefinisikan rancangan penelitian sebagai usaha merencanakan
kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan secara pasti
apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsur masing-masing.
Dalam penelitian ini, desain penelitian digunakan untuk menjabarkan
sasaran yang ingin dicapai, dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini:
39
Tabel 3.1. Desain Penelitian
No
1
Sasaran
Jenis
Data
Primer,
Sekunder
Mengidentifikasi
perilaku
penyesuaian diri
(coping behavior)
yang dilakukan
oleh penghuni di
Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan
Rumah Susun
Tanah Merah I.
2 Mengidentifikasi
Primer
teritorialitas yang
dibentuk oleh
penghuni di Rumah
Susun Urip
Sumohardjo dan
Rumah Susun
Tanah Merah I.
3 Mengidentifikasi
Primer
keterikatan pada
tempat (place
attachment) yang
dibangun antara
penghuni dengan
huniannya di
Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan
Rumah Susun
Tanah Merah I.
Sumber: Hasil olahan data, 2014
3.6
Bentuk
Kegunaan
Sumber Data
Deskriptif
Kualitatif
Mengetahui
pola perilaku
penyesuaian
diri yang
dilakukan oleh
penghuni
Observasi,
Wawancara,
Dokumentasi,
Deskriptif
Kualitatif
Mengetahui
karakteristik
teritorialitas
yang dibentuk
oleh penghuni
Observasi,
Wawancara,
Dokumentasi,
Deskriptif
Kualitatif
Mengetahui
bentuk
keterikatan
pada tempat
antara penghuni
terhadap rumah
susun
Observasi,
Wawancara,
Variabel Penelitian
Untuk memudahkan dalam melakukan penelitian, baik dalam tahapan
pengambilan data maupun analisis, maka sangat penting untuk menentukan
variabel penelitian. Variabel penelitian dirumuskan dari sintesa kajian pustaka dan
teori yang digunakan, lalu dijabarkan melalui indikator penelitian seperti
ditampilkan pada Tabel 3.2 berikut ini:
40
Tabel 3.2. Variabel Penelitian
No
1
Sasaran
Mengidentifikasi perilaku
penyesuaian diri (coping
behavior) yang dilakukan
oleh penghuni di Rumah
Susun Urip Sumoharjo
dan Rumah Susun Tanah
Merah I.
2
Mengidentifikasi
teritorialitas yang
dibentuk oleh penghuni
di Rumah Susun Urip
Sumohardjo dan Rumah
Susun Tanah Merah I.
3
Mengidentifikasi
keterikatan pada tempat
(place attachment) yang
dirasakan oleh penghuni
terhadap huniannya di
Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Rumah
Susun Tanah Merah I.
Parameter
Penyesuian diri
pasif/akomodasi
Penyesuaian diri
aktif/asimilasi
Batas teritori
Variabel
Perspesi mengenai kelengkapan
rumah susun, yang terdiri dari:
ļ‚· Satuan rumah susun: ruang
kamar, dapur, ruang
menjemur, WC/kamar mandi,
ruang tamu, pencahayaan dan
penghawaan
ļ‚· Benda bersama: tempat
bermain anak, penerangan,
tempat parkir, mushala,
BLC/ruang komputer dan
ruang pertemuan
ļ‚· Bagian bersama: jaringan air
bersih, jaringan listrik, saluran
pembuangan air, saluran
pembuangan sampah, tangga,
koridor dan selasar
ļ‚· Ruang komunal
(Hamzah, 2000; Anwar,
1998)
ļ‚· Jenis ruang
ļ‚· Bentuk ruang
(Burhanuddin, 2010)
Jenis aktivitas
ļ‚· Kegiatan yang berlangsung
ļ‚· Penempatan pembatas ruang
(Burhanuddin, 2010)
Perasaan keterikatan ļ‚· Hubungan baik antar
dengan rumah susun
tetangga.
ļ‚· Kenyamanan,
ļ‚· Aksesibilitas yang baik,
ļ‚· Jarak tempat kerja,
ļ‚· Status kepemilikan,
ļ‚· Lama tinggal,
ļ‚· Keamanan lingkungan,
ļ‚· Ketiadaan alternatif tempat
tinggal yang lain,
ļ‚· Keterjangkauan sewa hunian
(Kusuma, 2008)
Sumber: Hasil olahan data, 2014
3.7
Teknik Analisis Data
Sejalan dengan pendapat Groat dan Wang (2002), analisa data kualitiatif
dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman. Miles dan
Huberman (1984 dalam Sugiyono, 2012), mengemukakan bahwa aktivitas dalam
41
analisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus sejak melakukan penelitian
hingga penelitian selesai. Pengelolaan dan analisis data dalam skema kerja
penelitian kualitatif bersifat terus-menerus, sejak pencarian data dan informasi di
lapangan hingga penyusunan laporan pasca pengambilan data. Ada tiga macam
kegiatan dalam analisa data kualitatif yaitu reduction data (reduksi data), data
display (penyajian data) dan conclusion drawing/ verification (penarikan/
verifikasi kesimpulan)
a) Data reduction (Reduksi Data)
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari
catatan-catatan lapangan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menajamkan
analisis, menggolongkan atau pengkategorisasian ke dalam tiap permasalahan
melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasikan data sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik
dan diverifikasi (Sugiyono, 2012).
Dalam penelitian ini reduksi data dilakukan melalui pengumpulan data primer
yaitu observasi, wawancara kepada penghuni dan pengelola rumah susun, dan
dokumentasi. Selain data primer, juga terdapat data sekunder yang diperoleh
melalui arsip dokumen milik instansi pemerintah Kota Surabaya, seperti Dinas
Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Surabaya, BAPPEKO Kota Surabaya dan
Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Kota Surabaya. selain itu data sekunder
juga diperoleh dari penelitian sebelumnya baik itu skripsi, tesis maupun disertasi
yang menyangkut studi rumah susun di Kota Surabaya. Tujuan dari pengumpulan
data sekunder ini adalah untuk mengetahui profil atau gambaran umum serta
gambar kerja site plan rumah susun di Kota Surabaya.
Untuk data primer awal didapatkan melalui metode wawancara. Kegiatan ini
bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai karakteristik masyarakat
penghuni Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I secara umum, berupa
kondisi sosial, ekonomi dan budaya. Wawancara ini dilakukan kepada narasumber
yang dinilai oleh peneliti mempunyai kapasitas yang baik untuk menilai secara
objektif mengenai kondisi masyarakat penghuni rusun secara garis besar, seperti
staf pengelola rumah susun, kepala UPTD rumah susun, serta ketua RT atau RW
42
di wilayah rumah susun yang bersangkutan. Selain wawancara, juga dilakukan
observasi berupa pengamatan langsung disertai dengan aktivitas dokumentasi
pada Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui kondisi fisik bangunan seperti ketersediaan dan kondisi sarana dan
prasarana dan aktivitas masyarakat penghuni rumah susun.
Setelah data survei awal dikumpulkan, lalu data direduksi dengan cara
dikelompokkan menurut kebutuhannya untuk menjawab sasaran penelitian.
Adapun perolehan data mengenai hal-hal yang tidak relevan dengan survei awal
ini, tidak dimasukkan dalam penyajian hasil awal, namun tetap disimpan bila
diperlukan dalam kegiatan pengumpulan data utama.
Selanjutnya dilakukan pengumpulan data primer utama. Aktivitas ini diawali
dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa kuesioner. Kuesioner ini
disebar kepada responden pada Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I.
Hasil kuesioner ini selanjutnya dianalisa dengan mengunakan analisis statistik
deskriptif yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana
adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau
generalisasi (Sugiyono, 2012). Hasil pengolahan tersebut selanjutnya dipaparkan
dalam bentuk angka-angka sehingga memberikan suatu kesan lebih mudah
ditangkap maknanya oleh siapapun yang membutuhkan informasi tentang
keberadaan gejala tersebut. Dalam analisis deskriptif ini, nilai-nilai yang diperoleh
diwakili oleh mean (rata-rata).
Kemudian dalam kuesioner digunakan skala pengukuran yang digunakan
sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat
ukur sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan
menghasilkan data kuantitatif. Dari sekian banyak jenis skala yang telah
dikembangkan, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan Skala Likert
dalam pembobotan data-data yang diperoleh. Skala Likert itu sendiri menurut
Sugiyono (2012) adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat,
dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam
penelitian fenomena sosial ini, telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang
43
selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dalam penelitian ini Skala Likert
dan nilai (skoring) yang di gunakan seperti pada Gambar 3.1. dibawah ini:
Gambar 3.1. Skala Likert
Selama mengumpulkan hasil kuesioner tersebut, peneliti juga melakukan
wawancara kepada responden. Tujuannya untuk mendapatkan penjelasan dan
pemaknaan yang lebih spesifik dari isi kuesioner yang diberikan. Selain itu
peneliti juga melakukan wawancara secara mendalam (in depth interview) kepada
narasumber yang dianggap memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih luas
terhadap pengalaman menempati dan menghuni rumah susun. Wawancara ini
dilakukan kepada ketua paguyuban penghuni masing-masing rumah susun.
Tujuannya untuk memberikan perspektif yang lebih holistik mengenai kondisi
penghuni dan penghunian rumah susun, baik itu Rusun Urip Sumoharjo maupun
Rusun Tanah Merah I.
Sebagai hasil dari pengumpulan data baik awal maupun utama, maka
menyebabkan jumlah data juga semakin banyak, serta semakin kompleks dan
rumit. Untuk itulah diperlukan reduksi data sehingga data tidak betumpuk dan
mempersulit analisis selanjutnya. Oleh karena itu, tahap ini berusaha memasukkan
data yang relevan saja terhadap penelitian dan kemudian menganalisisnya sesuai
dengan teknik analisis yang digunakan.
b) Data display (penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.
Miles dan Haberman (1984 dalam Sugiyono, 2012) menyatakan bahwa yang
paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah
dengan teks yang bersifat naratif. Selanjutnya disarankan dalam melakukan
display data, selain dengan teks naratif, juga dapat berupa grafik, matriks dan
chart sesuai dengan data yang tersedia. Pada penelitian ini, data disajikan dalam
beberapa bentuk sebagai berikut:
44
1) Data teks dan numerik. Data ini dihasilkan dari hasil analisis kuesioner dan
wawancara kepada responden. Data numeric dari skala likert dibauat dalam
bentuk diagram lalu kemudian diinterpretasikan dengan analisis statistik
deskriptif serta dilengkapi dengan data teks hasil narasi wawancara yang
disusun sesuai kategori variabelnya.
2) Data gambar berupa peta lokasi, citra udara dan site plan dari Rusun Urip
Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I. Data ini digunakan untuk menjelaskan
posisi lokasi studi dalam wilayah Kota Surabaya dan letak fasilitas dan utilitas
yang dimiliki rumah susun.
3) Foto hasil dokumentasi, baik berupa foto lingkungan fisik maupun foto
aktivitas masyarakat penghuni Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah
Merah I. Foto ini digunakan sebagai visualisasi dari data teks agar pembaca
dapat menangkap gambaran penjelasan secara lebih baik dan utuh.
c) Conclusion drawing/ verification (penarikan/ verifikasi kesimpulan)
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman
(1984 dalam Sugiyono, 2012) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat
ditinjau sebagai makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya,
kekokohannya
dan
kecocokannya,
yaitu
yang
merupakan
validitasnya.
Kesimpulan merupakan tinjauan terhadap catatan yang telah dilakukan di
lapangan sedangkan penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah usaha untuk
mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-pola, penjelasan, alur sebab
akibat atau proposisi.
Pada saat menarik kesimpulan awal, biasanya yang dikemukan masih bersifat
sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung
tahap pengumpulan data berikutnya. Proses untuk mendapatkan bukti-bukti inilah
yang disebut sebagai verifikasi data. Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada
tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang kuat dalam arti konsisten dengan
kondisi yang ditemukan saat peneliti kembali ke lapangan maka kesimpulan yang
diperoleh merupakan kesimpulan yang kredibel. Bila kesimpulan dinilai kurang,
45
maka penulis dapat kembali ke lapangan untuk rnengumpulkan data tambahan
(Sugiyono, 2012).
3.8
Kerangka Analisis
Kerangka analisis dibuat dengan tujuan untuk mengorganisasikan,
mengelompokkan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian
dasar sesuai dengan kebutuhan. Proses mengelola data akan dijadikan informasi
untuk mencapai tujuan penelitian. Kerangka analisis penelitian ini terdiri dari tiga
bagian utama yaitu: input yang berdasarkan sasaran penelitian dan data yang
dibutuhkan, proses yaitu metode penelitian yang digunakan, serta output hasil
analisis yang diharapkan. Kerangka analisis dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut
ini:
46
Input
Proses
Gambar 3.2. Kerangka Analisis
47
Output
Rumusan Masalah
Bagaimana pola adaptasi yang dibentuk oleh
penghuni pada Rumah Susun Urip Sumoharjo
dan Rumah Susun Tanah Merah I?
Teori:
- Adaptasi
- Teritorialitas
- Coping behavior
- Place attachment
PENGUMPULAN
DATA
LITERATUR
PENDAHULUAN
3.9. Tahapan Penelitian
variabel-variabel
Pengumpulan data primer:
Observasi, wawancara,
dokumentasi, sketsa
Pengumpulan data sekunder:
Jurnal, penelitian terdahulu dan
penelitian berkaitan, laporan
proyek, data monografi
TAHAP ANALISA
Triangulasi metode
Identifikasi perilaku
penyesuaian diri
(coping behavior)
Identifikasi
teritorialitas
yang terbentuk
Identifikasi perasaan
keterikatan pada tempat
(place attachment)
HASIL
Analisa kualitatif deskriptif
Pola adaptasi penghuni pada
Rumah Susun Urip Sumohardjo dan
Rumah Susun Tanah Merah I
Gambar 3.3. Tahapan Penelitian
48
BAB 4
GAMBARAN UMUM
4.1. Rumah Susun di Kota Surabaya
Pada dasarnya pembangunan rumah susun di perkotaan diharapkan menjadi
solusi bagi penataan kawasan kumuh sebagai upaya pemerintah guna memenuhi
kebutuhan masyarakat perkotaan akan papan yang layak dalam lingkungan yang
sehat. Selain itu, pembangunan rumah susun juga diharapkan akan membantu
mengatasi kemacetan lalu lintas dan dapat menekan serta menghemat biaya
transportasi yang pada akhirnya dapat menekan inefisiensi di dalam pembangunan
ekonomi kota. Selain itu, hal ini juga dijadikan sebagai salah satu alternatif
pemecahan masalah pengadaan lahan yang sangat sulit didapat di wilayahwilayah kota-kota besar di negara berkembang, seperti Indonesia yang sangat
padat penduduknya akibat urbanisasi.
Salah satu alasan pemerintah Kota Surabaya dalam memutuskan untuk
membangun rumah susun adalah masih adanya kantong-kantong kampung yang
keadaannya hampir tidak membaik sama sekali, walaupun telah pelaksanaan KIP
telah berjalan semenjak tahun 1979. Selain itu, pembangunan rumah susun
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah
(MBR) akan hunian yang layak dan sehat. Rumah susun yang direncanakan
adalah rumah susun yang disewakan kepada warga kota yang berpenghasilan
tidak saja terbatas tapi juga tidak menentu. Gagasan ini dilanjutkan sampai dengan
pembangunan rumah susun sewa pertama di Surabaya yaitu di Kampung Dupak
Bangunrejo pada tahun 1988. Inilah yang menjadi tonggak awal era pembangunan
rumah susun di Kota Surabaya yang masih berlangsung hingga saat ini (tahun
2014).
Ternyata minat warga Surabaya untuk bisa menghuni rumah susun sewa
(rusunawa) cukup besar. Hal ini dibuktikan dengan jumlah antrian masyarakat
yang
ingin
menghuni
rumah
susun
mencapai
diatas
3000
orang
(http://www.surabayakita.com). Berdasarkan Peraturan Walikota Surabaya No. 72
49
Tahun 2013, hingga tahun 2013 telah terdapat 18 buah rumah susun terbangun di
Kota Surabaya yang terbagi dalam 3 wilayah operasional yaitu sebagai berikut:
a. UPTD Rumah Susun Surabaya I, meliputi Rumah Susun Urip Sumoharjo,
Rumah Susun Grudo, Rumah Susun Jambangan, Rumah Susun Siwalankerto
dan Rumah Susun Warugunung;
b. UPTD Rumah Susun Surabaya II, meliputi Rumah Susun Sombo, Rumah
Susun
Dupak
Bangunrejo,
Rumah
Susun
Pesapen,
Rumah
Susun
Romokalisari dan Rumah Susun Bandarejo Sememi;
c. UPTD Rumah Susun Surabaya III, meliputi Rumah Susun Penjaringansari I,
Rumah Susun Penjaringansari II, Rumah Susun Penjaringansari III, Rumah
Susun Wonorejo I, Rumah Susun Wonorejo II, Rumah Susun Randu, Rumah
Susun Tanah Merah I dan Rumah Susun Tanah Merah II.
Gambar 4.1. Peta Persebaran Rumah Susun di Kota Surabaya tahun 2012
(Sumber: BAPPEKO Surabaya, 2014)
4.2.
Rumah Susun Urip Sumoharjo
4.2.1. Lokasi dan Sejarah Pembangunan
Rumah Susun Urip Sumoharjo, terletak di Jl. Urip Sumoharjo, Kelurahan
Embong Kali Asin, Kecamatan Genteng. Rumah susun ini memiliki luas ± 3.500
m² dan terdiri atas 1 RW dan 3 RT yaitu RW XIV/RT 1,2,3.
50
Gambar 4.2. Citra Satelit Rumah Susun Urip Sumoharjo
(Sumber: Google Earth, 2014)
Pembangunan rumah susun yang didirikan tahun 1982 ini berlangsung selama
3 tahun, oleh yaitu PT. Barata Indonesia. Pembangunan rusun dimaksudkan
sebagai salah satu upaya penanganan bencana kebakaran yang terjadi pada tahun
yang sama di lokasi tersebut. Kebakaran yang berpusat di pusat perbelanjaan
Horison ini melalap habis perkampungan Keputran Kejambon 1 yang dihuni 120
KK. Keinginan warga pada saat itu adalah tetap tinggal dilokasi, karena warga
telah menempati lahan tersebut berdasarkan Izin Pemakaian Tanah (IPT) yang
telah diterbitkan oleh Pemerintah Kota Surabaya, sehingga diputuskan untuk
membangun rumah susun.
Dalam pelaksanaan pembangunannya, warga menetap sementara di daerah
Makam Kecacil Pandegiling di barak-barak yang telah disediakan oleh
Pemerintah Kota dengan bantuan LSM. Setelah hampir 20 tahun menghuni, pada
tahun 2003 pemerintah kota meremajakan bangunan rumah susun yang sebagian
besar sudah tidak layak huni ini, terutama konstruksinya yang telah rusak. Setelah
melakukan proses desain yang melibatkan penghuni lama, pada tahun 2004, mulai
diwujudkan pembangunan kembali rumah susun ini dan selesai pada tahun 2006.
51
Lapangan
Ruang serbaguna
Blok Hunian
Gambar 4.3. Site Plan Rusun Urip Sumoharjo
(Sumber: Kusumaningrum, 2010)
4.2.2. Kondisi Fisik Bangunan
Setelah dilakukan peremajaan, kompleks rumah susun yang baru terdiri dari 3
blok hunian (Blok A, B, C) yang terdiri dari 124 unit, dimana 123 unit dipakai
sebagai hunian dan 1 unit sebagai ruang pengelola, 1 bangunan serbaguna beserta
musholla. Untuk pembagian jumlah unit hunian, Blok A dan Blok B terdiri atas
11 unit/lantai dan Blok C terdiri 9 unit/lantai. Bangunan berkonsep arsitektur
tropis ini pada setiap unitnya memiliki luas 5 m x 3 m persegi dan bagian servis 2
m x 3 m. Selain itu, rumah susun ini dilengkapi dengan selasar selebar 2 m yang
orientasi bangunannnya menghadap ke luar gedung atau ke arah jalan.
Adapun konstruksi dari rumah susun ini terdiri dari:
a. Struktur utama rangka memakai baja
b. Plat lantai dari beton dan dikeramik
c. Dinding bata, diplester dan dicat. Pada dinding selasar dilengkapi dengan
roster.
d. Atap genteng
52
Gambar 4.4. Kondisi Fisik Rumah Susun Urip Sumoharjo
(Sumber: Dokumentasi Survei, 2014)
Tarif sewa Rumah Susun Urip Sumoharjo ini ditentukan berdasarkan
Peraturan Walikota Surabaya No. 14 Tahun 2013. Tarif ini ini telah disesuaikan
dengan tingkat kemampuan penghuni, yaitu Lantai I sebesar Rp. 105.000, Lantai
II sebesar Rp. 95.000, Lantai III sebesar Rp.85.000, dan Lantai IV sebesar Rp.
75.000. Jangka waktu penghunian rumah susun ini diatur dalam Perda Kota
Surabaya No. 2 tahun 2010 yaitu selama 3 tahun dengan ketentuan dapat
memperpanjang izin pemakaian rumah susun sebanyak dua kali. Namun,
peraturan ini pada tahun 2012 (www.lensaindonesia.com) rupanya digugat oleh
warga penghuni rumah susun yang tergabung dalam paguyuban Rumah Susun
Surabaya, sehingga kemudian perda ini direvisi kedalam Perda Kota Surabaya No.
15 tahun 2012 menjadi tidak ada jangka waktu batasan dalam penghunian.
4.2.3. Kondisi Penghuni
Rumah Susun Urip Sumoharjo ini ditempati oleh 123 KK yang menempati
123 unit hunian. Blok A diisi oleh 43 KK karena 1 unit dijadikan sebagai kantor
pengelola, Blok B diisi oleh 44 KK dan Blok C diisi oleh 36 KK.. Mayoritas
penghuni adalah warga asli kampung Keputran Kejambon 1 yang telah
menempati rusun ini sejak tahun 1985 dan penghunian rumah susun ini
diwariskan secara turun temurun. Rata-rata penghuninya berusia kategori dewasa
madya (40-60 tahun) dan usia lanjut (60 tahun ke atas).
Sebagian besar penghuni pada Rusun Urip Sumoharjo ini berasal dari suku
Jawa dan merupakan warga asli Surabaya. Jenis pekerjaan mayoritas penghuninya
53
adalah pekerjaan tidak tetap, seperti buruh, pedagang, supir dan hanya beberapa
yang berprofesi sebagai PNS.
Aktivitas penghuni di rumah susun ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Kegiatan keagamaan. Di rumah susun ini terdapat 1 Mushala yang
diperuntukkan bagi aktivitas keagamaan rutin yang dilakukan oleh penghuni
seperti shalat, pengajian serta acara peringatan hari-hari besar Islam.
b. Kegiatan sosial. Kegiatan sosial warga dipusatkan pada balai RW. Aktivitas
yang rutin dilakukan adalah arisan warga dan kegiatan posyandu yang
diadakan oleh ibu-ibu PKK.
c. Kegiatan olahraga. Kegiatan olahraga dipusatkan pada lapangan yang terletak
di tengah rumah susun. Kegiatan rutin yang dilakukan adalah senam lansia
dan lomba memperingati hari kemerdekaan Indonesia.
d. Kegiatan bermain dan belajar anak. Untuk kegiatan belajar, ditunjang dengan
adanya BLC yang memberikan pelatihan komputer gratis dan tersedianya
taman baca yang terdapat dibalai RW. Untuk kegiatan bermain, pada rusun ini
belum tersedia fasilitas penunjang bermain anak sehingga mayoritas anakanak bermain dibagian bersama rumah susun seperti selasar, tangga atau
lapangan olahraga.
4.2.4. Kondisi Utilitas
Bangunan rumah susun Urip Sumoharjo ini juga dilengkapi dengan sistem
utilitas dengan kondisi cukup baik antara lain:
a. Air bersih menggunakan air PDAM. Rumah susun ini dilengkapi tandon air
berjumlah 3 buah/blok di lantai dasar untuk menampung air dari jaringan pipa
air utama, kemudian air dipompa ke tandon yang berada di lantai atap yang
berjumlah 2 buah/blok. Selanjutnya air didistribusikan ke masing-masing unit
dengan sistim gravitasi.
b. Listrik 900 watt dengan meteran listrik di setiap unit.
c. Lampu jalan dalam kondisi baik dan berfungsi.
d. Persampahan ditangani oleh pengelola rusun bagian kebersihan, dilengkapi
dua gerobak sampah. Iuran sampah berasal dari urunan warga yang dikelola
oleh ketua RW.
54
e. Drainase berfungsi dengan baik. Tidak pernah terjadi genangan air apabila
hujan.
f. Hidran tidak berfungsi.
(a)
b)
(c)
(d)
Gambar 4.5. Utilitas di Rumah Susun Urip Sumoharjo
(a) Panel Listrik (b) Meteran Air (c) Hidran (d) Gerobak Sampah
(Sumber: Dokumentasi Survei, 2014)
4.2.5. Kondisi Fasilitas
Selain penataan rumah susun diarahkan pada zoning fungsi privat pada
hunian yaitu di blok A, B dan C, rumah susun Urip Sumoharjo ini pula dilengkapi
dengan zoning publik pada fasilitas umum di lantai dasar yang terdiri dari
Pendopo/Balai RW, musholla, BLC, taman baca, tempat parkir dan ruang terbuka
pada lansekap untuk kegiatan insidentil. Kondisi seluruh fasilitas dalam keadaan
baik dengan intensitas penggunaan yang tinggi.
(a)
(b)
(c)
Gambar 4.6. Fasilitas di Rumah Susun Urip Sumoharjo
(a) Balai-balai (b) Balai RW (c) Lapangan dan Mushala
(Sumber: Dokumentasi Survei, 2014)
55
4.3. Rumah Susun Tanah Merah I
4.3.1. Lokasi dan Sejarah Pembangunan
Rumah Susun Tanah Merah I terletak di Jl. Tanah Merah V Surabaya dan
secara adiministratif berada di RT 13/ RW IV, Kelurahan Tanah Kali Kedinding,
Kecamatan Kenjeran. Rumah susun ini berdiri di atas lahan seluas ± 20.400 m²
yang lokasinya berjarak ± 100 meter dari Jl. Tanah Merah Utara sebagai jalan
kolektor primer. Terdapat 192 unit hunian yang pembangunannya ditekankan
pada manfaat terhadap masyarakat umum, khususnya warga masyarakat
berpenghasilan rendah di kota Surabaya. Sebelum dibangun rumah susun pada
tahun 2007, lokasi ini merupakan tanah gogol milik Pemerintah Kota yang
digarap dan dikelola oleh beberapa warga sekitar Tanah Merah.
Unit Hunian
Blok C, D
Ruang
Terbuka
Taman
Bermain
Unit Hunian
Blok A, B
Pos Jaga
Gambar 4.7. Citra Satelit dan Site Plan Rumah Susun Tanah Merah I
(Sumber: Google Earth, 2014)
Selasar
Unit hunian
Koridor penghubung
Tangga
Tangga darurat
Gambar 4.8. Denah Lantai 2-5 Rumah Susun Tanah Merah I
(Sumber: Laporan Proyek Pembangunan Rusunawa, 2014)
56
4.3.2. Kondisi Fisik Bangunan
Rumah susun Tanah Merah I ini terdiri dari 2 twin blok (A,B,C,D) yang
dibangun pada tahun 2007 dan ditempati pada tahun 2010. Masing-masing blok
terdiri dari 5 lantai. Lantai pertama tidak digunakan untuk unit hunian, sementara
lantai 2 sampai dengan lantai 5 memiliki 12 unit/lantai dengan luas masingmasing unit yaitu 21 m2 (3 x 7 meter). Satu blok terdiri dari 48 unit sehingga
jumlah totalnya sebanyak 192 unit. Adapun konstruksi dari rumah susun ini terdiri
dari:
a. Struktur utama rangka memakai baja
b. Plat lantai dari beton dan dikeramik
c. Dinding bata, plester aci halus dan finishing cat.
d. Atap genteng metal, dilengkapi dengan penangkal petir.
(b)
(a)
(c)
(d)
(e)
Gambar 4.9. Kondisi Fisik Bangunan Rumah Susun Tanah Merah I
(a-b) Gambar Tampak (c) Fasade (d) Selasar (e) Tangga Darurat
(Sumber: Laporan Proyek Pembangunan Rusunawa dan Dokumentasi Survei, 2014)
Tarif sewa Rumah Susun Tanah Merah I ini ditentukan berdasarkan Peraturan
Walikota Surabaya No. 14 Tahun 2013. Tarif ini merupakan hasil revisi dari
peraturan tarif sewa sebelumnya yaitu Peraturan Walikota Surabaya No. 59 Tahun
2010 yang dikritik oleh penghuni rumah susun se-Kota Surabaya. Tarif baru
menurut Peraturan Walikota Surabaya No. 14 Tahun 2013 ini telah disesuaikan
dengan tingkat kemampuan penghuni, yaitu Lantai II sebesar Rp. 46.000, Lantai
57
III sebesar Rp. 41.000, Lantai IV sebesar Rp. 33.000 dan Lantai V sebesar Rp.
23.000. Seperti pada Rumah Susun Urip Sumhardjo, jangka waktu penghunian
rumah susun ini pada mulanya diatur dalam Perda Kota Surabaya No. 2 tahun
2010 yaitu selama 3 tahun dengan ketentuan dapat memperpanjang izin
pemakaian rumah susun sebanyak dua kali. Namun, seiring dengan adanya revisi
Perda tersebut kedalam Perda Kota Surabaya No. 15 tahun 2012 sehingga izin
pemakaian rumah susun tetap berlaku selama 3 tahun namun dapat diperpanjang
sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
4.3.3. Kondisi Penghuni
Pada awal penghunian tahun 2010, terdapat 192 KK yang menampati 192 unit
hunian pada rusun ini. Namun kemudian pada tahun 2012 terbangun Rumah
Susun Tanah Merah II yang berlokasi di samping rusun ini dan menyebabkan 29
KK berpindah ke rusun baru tersebut. Akhirnya, hingga saat ini jumlah penghuni
Rumah Susun Tanah Merah I tersisa 163 KK.
Penghuni rusun ini berasal dari beberapa tempat di Kota Surabaya yaitu warga
Tanah Merah bekas penggarap tanah gogol di lokasi rusun tersebut, warga
penertiban dari kawasan Jl. Sawah Pulo Lapangan, Kelurahan Ujung, Kecamatan
Semampir dan sekitarnya, warga pindahan dari rumah susun lain, serta terakhir
warga umum domisili Kota Surabaya yang mendaftarkan diri secara sukarela
untuk tinggal di rumah susun. Jenis pekerjaan mayoritas penghuninya adalah
pekerjaan tidak tetap, seperti buruh, pedagang, dan supir.
Aktivitas penghuni di rumah susun ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Kegiatan keagamaan. Di rumah susun ini terdapat 1 Mushala yang
diperuntukkan bagu aktivitas keagamaan rutin yang dilakukan oleh penghuni
seperti shalat, pengajian serta peringatan hari-hari besar Islam.
b. Kegiatan sosial. Pada rumah susun ini tidak terdapat ruang serbaguna. Warga
biasa menggunakan ruang serbaguna milik Rusun Tanah Merah II. Kegiatan
Aktivitas yang rutin dilakukan adalah rapat warga dan kegiatan posyandu
yang diadakan oleh ibu-ibu PKK. Selain dilakukan di ruang serbaguna,
aktivitas sosial juga rutin dilakukan di koridor penghubung antar blok di
masing-masing lantai, misalnya arisan.
58
c. Kegiatan olahraga. Kegiatan olahraga dipusatkan pada halaman rumah susun.
Kegiatan rutin yang dilakukan adalah senam dan lomba memperingati hari
kemerdekaan Indonesia.
d. Kegiatan bermain dan belajar anak. Untuk kegiatan belajar, ditunjang dengan
adanya BLC yang memberikan pelatihan komputer gratis dan tersedia
perpustakaan kecil. Untuk kegiatan bermain, tersedia taman bermain yang
dilengkapi dengan fasilitas penunjang bermain anak.
Gambar 4.10. Aktivitas Penghuni Rumah Susun Tanah Merah I
(Sumber: Dokumentasi Survei, 2014)
4.3.4. Kondisi Utilitas
Bangunan rumah susun Tanah Merah I ini juga dilengkapi dengan sistem
utilitas yang cukup baik antara lain:
a. Air bersih menggunakan air PDAM, dengan meteran air di setiap unit.
Terdapat 4 buah tandon air untuk suplai air unit di lantai atap per 2 blok.
b. Listrik 900 watt dengan meteran listrik di setiap unit, terdapat 1 trafo untuk 4
blok
c. Hidran berfungsi baik
d. Persampahan ditangani oleh pengelola, ditiap blok terdapat saluran
pembuaangan sampah dan untuk pengangkutan ke TPS dilakukan dengan
gerobak sampah
e. Drainase berfunsgi baik, air di badan saluran dapat mengalir lancar.
f. Area terbuka di luar rusun ditutupi dengan paving blok
g. Rusun ini dilengkapi pula dengan tangga darurat yang terdapat di tiap-tiap
blok.
59
(b)
(a)
(c)
(d)
Gambar 4.11. Utilitas di Rumah Susun Tanah Merah I
(a) Hidran (b) Saluran Drainase (c) Saluran Pembuangan Sampah (d) Tandon air
(Sumber: Dokumentasi Survei, 2014)
4.3.5. Kondisi Fasilitas
Fasilitas umum Rusunawa Tanah Merah I terdapat di lantai 1, dimana
terdapat tempat parkir dan fasilitas umum blok seperti taman, gudang, BLC
(Broadband Learning Center) atau ruang komputer dan Mushala. Sementara itu
lantai 2 sampai lantai 5 pada koridor penghubung antar blok digunakan sebagai
ruang publik dan biasa digunakan untuk kegiatan formal per lantai, seperti arisan
dan pengajian.
(a)
(c)
(b)
4
(d)
(e)
Gambar 4.12. Fasilitas di Rumah Susun Tanah Merah I
(a) Taman Bermain (b) Tempat Parkir (c) BLC (d) Mushala (e) Gudang
(Sumber: Dokumentasi Survei, 2014)
60
BAB 5
HASIL DAN ANALISIS
Pembahasan pada bab ini terdiri atas dua kategori yaitu hasil pengumpulan
data dan analisis data. Data yang ditampikan pada bab ini diperoleh dari hasil
pengumpulan data primer yang dilakukan pada penghuni di Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I yang dalam hal ini bertindak sebagai
responden penelitian. Hasil dari pengumpulan data tersebut akan ditampilkan
dalam bentuk profil penghuni rumah susun.
Selanjutnya, analisis yang dilakukan pada penelitian ini berupa analisis
untuk mengidentifikasi pola adaptasi penghuni pada Rumah Susun Urip
Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I. Aspek yang dianalisa pada
penelitian ini meliputi aspek perilaku penyesuaian diri (coping behavior), aspek
teritorialitas dan aspek keterikatan pada tempat (place attachment). Masingmasing aspek penelitian tersebut dianalisa menggunakan teknik analisa yang telah
ditentukan.
5.1
Profil Penghuni
Profil penghuni rumah susun ini diperoleh berdasarkan data karakteristik dari
50 orang responden pada masing-masing lokasi penelitian, yaitu 50 orang
responden di Rusun Urip Sumoharjo dan 50 orang responden di Rusun Tanah
Merah I. Profil ini mencakup data mengenai umur, jenis pekerjaan dan tingkat
penghasilan.
a. Umur
Umur
merupakan
suatu
faktor
yang
menentukan
seseorang dalam
mempersepsikan suatu objek atau peristiwa yang dialami. Semakin bertambahnya
umur seseorang maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat dari
pengalaman dan proses pembelajaran yang dilewatinya. Pada akhirnya,
pengetahuan tersebut akan mempengaruhi kemampuan untuk mempersepsikan
kondisi lingkungan terkait dengan adaptasi yang dilakukannya.
61
Pengklasifikasian umur responden pada penelitian ini mengacu pada Dwi
Riyanti (1997 dalam Prabowo, 1998). Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner
kepada responden di Rusun Urip Sumoharjo, terdapat tiga kategori kelompok
umur penghuni yakni periode dewasa awal (18-40 tahun) sebesar 36%, periode
dewasa madya (40-60 tahun) sebesar 54%, dan periode usia lanjut (diatas 60
tahun) sebanyak 10%.
10%
36%
Dewasa Awal
Dewasa Madya
54%
Usia Lanjut
Gambar 5.1. Grafik Kelompok Usia Responden
Penghuni Rusun Urip Sumoharjo.
Melalui Gambar 5.1 diatas dapat diketahui mengenai persentase kelompok
usia penghuni rumah susun Urip Sumoharjo, yang mana mayoritas berada pada
rentang usia 40-60 tahun. Besarnya jumlah penghuni yang berada pada kelompok
usia dewasa madya ini disebabkan karena mayoritas penghuninya masih
merupakan penghuni asli generasi pertama pada saat rumah susun ini dibangun.
Adapun untuk kelompok usia 18-40 tahun yang biasa merupakan anak dari para
penghuni awal tersebut atau diistilahkan sebagai generasi kedua, berdasarkan
wawancara diketahui bahwa ada pula penghuni generasi kedua ini yang sudah
pindah untuk bertempat tinggal di luar rusun. Alasan untuk keluar dari rusun
terutama didorong oleh faktor telah berkeluarga dan telah mempunyai penghasilan
sendiri. Sehingga yang tetap menghuni rumah susun ini menyisakan penghuni
generasi pertama serta generasi kedua yang masih berada pada usia sekolah.
Selanjutnya, untuk responden pada rumah susun Tanah Merah I, berdasarkan
hasil wawancara dan kuesioner kepada responden di rusun tersebut, terdapat tiga
kategori kelompok usia penghuni, yaitu kelompok periode dewasa awal (18-40
tahun) sebesar 27%, periode dewasa madya (40-60 tahun) sebesar 65%, dan
periode usia lanjut (diatas 60 tahun) sebanyak 8%. Berdasarkan Gambar 5.2 dapat
62
dilihat bahwa mayoritas penghuni yang menempati rumah susun Tanah Merah I
ini berusia antara 40-60 tahun. Rata-rata jumlah penghuni pada tiap unit rumah
susun yaitu 4 orang, dan mayoritas anak-anaknya masih berusia sekolah.
8%
27%
Dewasa Awal
Dewasa Madya
Usia Lanjut
65%
Gambar 5.2. Grafik Kelompok Usia Responden
Penghuni Rusun Tanah Merah I
b. Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan penghuni yang menjadi responden di Rumah Susun Urip
Sumaharjo dapat dilihat pada Gambar 5.3. Berdasarkan gambar tersebut dapat
dilihat bahwa terdapat 25 responden tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga.
Sementara untuk pekerjaan penghuni yang lain cukup beragam, ada yang menjadi
karyawan sebanyak 5 orang, buruh sebanyak 2 orang, pedagang sebanyak 6 orang,
satpam sebanyak 5 orang, dan usaha rumahan (warung atau menjahit) sebanyak 4
orang.
30
25
20
15
10
5
0
Karyawan
Buruh
Ibu Rumah Pedagang
Tangga
Satpam
Usaha
Tidak
Rumahan Menjawab
Gambar 5.3. Grafik Pekerjaan Responden
Penghuni Rusun Urip Sumoharjo
63
Selanjutnya, untuk responden yang menghuni di Rusun Tanah Merah I,
pekerjaan penghuni disini hampir sama dengan penghuni di Rusun Urip
Sumoharjo (lihat Gambar 5.4).
16
14
12
10
8
6
4
2
0
Cleaning
Service
Buruh Ibu Rumah Pedagang
Tangga
Sopir
Warung
Jasa
Tidak
menjawab
Gambar 5.4. Grafik Pekerjaan Responden
Penghuni Rusun Tanah Merah I
Dari Gambar 5.4 diatas dapat dilihat bahwa pekerjaan penghuni rusun Tanah
Merah I cukup beragam. Di rumah susun ini mayoritas yang bekerja adalah lakilaki (suami). Terdapat 15 responden yang tidak bekerja yakni hanya sebagai ibu
rumah tangga. Selebihnya terdapat 3 orang yang berprofesi sebagai cleaning
service, buruh sebanyak 7 orang, pedagang sebanyak 3 orang, sopir sebanyak 9
orang, usaha warung sebanyak 4 orang, jasa sebanyak 4 orang dan sisanya tidak
menjawab sebanyak 4 orang.
c. Tingkat Penghasilan
Besaran Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya yang ditetapkan untuk tahun
2014 berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 78 tahun 2013 adalah
sebesar 2,2 juta per bulan. Berdasarkan hasil kuesioner, penghasilan rata-rata
responden per bulan di rumah susun yang menjadi lokasi penelitian diketahui
masih banyak yang tidak mencapai nilai UMK tersebut. Untuk besar penghasilan
responden di Rusun Urip Sumoharjo dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
64
250.000-500.000
(10%)
diatas 2.000.000
(15%)
1.500.0002.000.000
(19%)
500.000-750.000
(24%)
1.000.0001.500.000
(5%)
750.0001.000.000
(27%)
Gambar 5.5. Grafik Tingkat Penghasilan Responden
Penghuni Rusun Urip Sumoharjo
Berdasarkan Gambar 5.5, dapat diketahui bahwa mayoritas tingkat
penghasilan penghuni Rusun Urip Sumoharjo saat ini masih berada dibawah
standar UMK Surabaya tahun 2014. Persentase tingkat penghasilan per bulan
terbesar berada pada kisaran Rp 750.000 – Rp 1.000.000 sebesar 27%.
Selanjutnya 24% berpenghasilan antara Rp 500.000-Rp 750.000, 19%
berpenghasilan antara Rp 1.500.000-Rp 2.000.000, 15% berpenghasilan diatas Rp
2.000.000, 10% berpenghasilan antara Rp 250.000-Rp 500.000 dan 5%
berpenghasilan antara Rp 1.000.000-Rp 1.500.000.
Selanjutnya untuk penghasilan rata-rata per bulan responden pada Rusun
Tanah Merah I dapat dilihat pada Gambar 5.6 dibawah ini.
diatas 2.000.000
(8%)
500.000-750.000
(18%)
1.500.0002.000.000
(8%)
1.000.0001.500.000
(11%)
750.0001.000.000
(55%)
Gambar 5.6. Grafik Tingkat Penghasilan Responden
Penghuni Rusun Tanah Merah I
Berdasarkan Gambar 5.6 diatas, dapat diketahui bahwa mayoritas tingkat
penghasilan penghuni Rusun Tanah Merah I saat ini juga masih berada dibawah
standar UMK Surabaya tahun 2014. Persentase tingkat penghasilan per bulan
65
terbesar berada pada kisaran Rp 750.000 – Rp 1.000.000 sebesar 55%.
Selanjutnya 18% berpenghasilan antara Rp 500.000-Rp 750.000, 11%
berpenghasilan antara Rp 1.000.000-Rp 1.500.000, 8% berpenghasilan antara Rp
1.500.000-Rp 2.000.000, dan 8% berpenghasilan diatas Rp 2.000.000.
5.2. Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior)
5.2.1 Penyesuaian Diri Terhadap Kelengkapan Rumah Susun
Rumah susun sebagai bagian dari perumahan formal merupakan hunian yang
dibangun mengikuti desain yang berasal dari pemerintah. Ini berarti keterlibatan
masyarakat
sebagai
penghuni
untuk
menentukan
besaran
ruang
yang
dibutuhkannya secara mandiri sangat kecil kemungkinannya. Segala kelengkapan
rumah susun baik itu satuan rumah susun, benda bersama serta bagian bersama
merupakan produk baku yang mau tidak mau harus digunakan oleh seluruh
penghuni.
Oleh karena itu, untuk mengetahui tingkat penyesuaian diri penghuni
terhadap aspek kelengkapan rumah susun dapat diidentifikasi melalui responnya
terhadap kelengkapan rumah susun yang telah tersedia di rumah susun tersebut,
apakah sudah sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Apabila kelengkapan rumah
susun sudah sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan penghuni, maka hal ini
berarti penyesuaian diri dilakukan penghuni bersifat pasif, yakni dimana penghuni
akan mengubah/menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan yang telah ada di
rumah susun. Namun, apabila kelengkapan rumah susun belum atau tidak sesuai
dengan kebutuhan yang diinginkan, maka untuk mencapai keadaan yang stabil,
penghuni harus mampu menyesuaikan diri secara aktif yaitu penghuni mengubah
lingkungan rumah susun agar sesuai dengan keinginan individu penghuni tersebut
(Karta Sapoetra, 1987; Gerungan, 1991; Cockcroft, 2009).
Untuk mengetahui respon penghuni mengenai kelengkapan rumah susun
maka disusunlah daftar pertanyaan (kuesioner) yang diberikan kepada 50
responden pada masing-masing rumah susun yang menjadi lokasi penelitian.
Kuesioner ini berisi 20 pertanyaan dengan alat ukur menggunakan skala likert
(1=sangat tidak setuju sampai dengan 5=sangat setuju). Kuesioner ini digunakan
66
untuk melihat kecenderungan mayoritas perilaku penyesuaian diri penghuni
Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I.
Skala 3 (normal) adalah nilai rata-rata (mean) yang menjadi batas untuk
menilai kesesuaian kelengkapan rumah susun tersebut dengan kebutuhan yang
diinginkan penghuni. Nilai 3 ke atas berarti bahwa penghuni merasa bahwa
kelengkapan rumah susun telah sesuai dengan kebutuhannya. Diketahui melalui
persetujuannya terhadap aspek yang ditanyakan di dalam kuesioner. Karena telah
sesuai dengan kebutuhan, maka dapat dikatakan penyesuaian diri yang dilakukan
oleh penghuni hanyalah bersifat pasif. Sedangkan nilai 3 ke bawah berarti
kebutuhan penghuni akan aspek kelengkapan rumah susun belum sesuai dan
menuntut penyesuaian diri secara aktif. Untuk lebih jelasnya mengenai skala likert
dalam menjelaskan perilaku penyesuaian diri penghuni rumah susun, dapat dilihat
pada Gambar 5.7 berikut.
Gambar 5.7. Penjelasan Skala Likert dalam Kuesioner Penelitian
1) Rusun Urip Sumoharjo
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, penyesuaian diri penghuni terhadap
kelengkapan rumah susun adalah penting untuk diidentifikasi. Dengan
menggunakan skala likert, maka persepsi penghuni di rumah susun Urip
Sumoharjo dapat dilihat pada Gambar 5.8.
67
Satuan
rumah susun
Benda
bersama
Bagian
bersama
Penghawaan
Pencahayaan
Ruang Tamu
WC/Kamar Mandi
Ruang Menjemur
Dapur
Ruang Kamar
Penerangan
Tempat Parkir
Mushala
Tempat Bermain Anak
BLC/ Ruang Komputer
Ruang Pertemuan
Koridor
Selasar
Tangga
Pembuangan sampah
Saluran pembuangan air
Ketersediaan listrik
Ketersediaan air bersih
3.56
3.52
2.46
3.15
2.69
3.31
2.56
3.19
3.35
3.58
2.58
3.00
3.17
3.06
3.00
3.33
3.06
3.58
3.68
3.68
-
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
Gambar 5.8. Grafik Persepsi Penghuni Mengenai
Kelengkapan Rumah Susun Urip Sumoharjo
Berdasarkan Gambar 5.8 di atas, persepsi penghuni rumah susun Urip
Sumoharjo mengenai kelengkapan rumah susun dapat menjelaskan tentang
kecenderungan mayoritas strategi penyesuaian diri yang dilakukan penghuni.
Strategi penyesuaian diri ini dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu:
a) Penyesuaian diri aktif
Berdasarkan grafik diatas, dapat diketahui bahwa ada empat jenis kelengkapan
rumah susun yang menurut penghuni masih belum sesuai dengan kebutuhannya.
Oleh karena kelengkapan rumah susun merupakan produk baku yang tidak dapat
dirubah, maka cara yang harus dilakukan oleh penghuni adalah dengan melakukan
penyesuaian lingkungan terhadap dirinya atau disebut penyesuaian diri aktif.
Penyesuaian diri aktif ini dilakukan pada beberapa ruang sebagai berikut:
1. Ruang tamu
Berdasarkan Grafik 5.8 dapat dilihat bahwa persepsi penghuni terhadap
kondisi ruang tamu nilainya 2,46 atau belum sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan penghuni. Hal ini terjadi karena pada dasarnya di dalam unit rumah
susun tidak terhadap ruang tamu definitif. Maksudnya bahwa ruang tamu di dalam
68
unit memang tidak disediakan secara khusus dalam desain awal. Pembuatan sekat
permanen juga tidak diperbolehkan berdasarkan aturan pemerintah mengenai
rumah susun.
Oleh karena itu, ruang tamu atau ruang untuk menerima tamu pada akhirnya
terbentuk oleh sekat yang dibuat sendiri oleh penghuninya, disesuaikan dengan
inisiatif dan kebutuhan masing-masing. Sekat ini menggunakan elemen semi-fixed
atau sekat dari material yang bisa dipindahkan, baik berupa tirai maupun lemari.
Di samping itu, selain membuat sekat di dalam hunian, ada juga penghuni
yang mengadakan ruang tamu di selasar unit. Hal ini dilakukan apabila ruang
dalam hunian dirasa tidak mampu untuk menampung aktivitas menerima tamu
karena adanya keterbatasan ruang di dalam unit hunian itu sendiri. Tindakan yang
dilakukan penghuni adalah mengubah area selasar dengan menambahkan kursi di
depan unit masing-masing (lihat Gambar 5.9). Sehingga akhirnya selasar tidak
hanya berfungsi sebagai area sirkulasi, namun juga telah dipersonalisasi menjadi
ruang tamu.
Gambar 5.9. Kursi di selasar yang digunakan untuk menerima tamu
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
Kedua perubahan baik didalam maupun diluar unit hunian inilah yang disebut
sebagai penyesuaian diri aktif. Disebut begitu karena penghuni secara aktif
mengubah lingkungan tinggalnya dengan memanfaatkan penggunaan material
semi permanen, baik itu berupa tirai, lemari maupun kursi dalam rangka
memperoleh kenyamanan ruang yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Ruang kamar
Berdasarkan Gambar 5.8 diketahui bahwa persepsi penghuni terhadap kondisi
ruang kamar nilainya 2,56 atau belum sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan
69
penghuni. Kondisi ini terjadi disebabkan karena alasan yang sama seperti pada
persepsi mengenai ruang tamu. Adanya aturan rumah susun yang melarang untuk
membuat sekat permanen dalam hunian menyebabkan pembentukan ruang kamar
hanya bisa dimungkinkan dengan membuat sekat semi-fixed dalam ruang hunian.
Pembuatan sekat semi permanen inilah yang disebut sebagai penyesuaian diri
secara aktif.
Namun begitu, walaupun penghuni telah menyesuaikan diri secara aktif
dengan membuat sekat sendiri untuk ruang kamar, kelonggaran privasi khususnya
antara orang tua dan anak masih menjadi isu yang tidak pernah selesai.
Berdasarkan wawancara, mayoritas penghuni sebenarnya membutuhkan sekat
permanen untuk memisahkan antara kamar tidur dengan ruangan lain.
3. Tempat bermain anak
Berdasarkan Gambar 5.8 diketahui bahwa persepsi penghuni terhadap kondisi
tempat bermain anak nilainya 2,58 atau belum sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan penghuni.. Nilai ini masih dibawah nilai rata-rata tingkat kepuasan
penghuni yakni 3. Ketiadaan tempat bermain anak yang dilengkapi dengan
fasilitas bermain merupakan salah satu masalah di rumah susun Urip Sumoharjo
ini. Area rumah susun yang lebih didominasi oleh ruang terbangun menyebabkan
anak-anak harus mampu menyesuaikan lingkungan tergadap keinginannya utnuk
bermain.
Ruang-ruang kosong seperti jalan, tangga, koridor, dan Balai RW yang pada
dasarnya bukan berfungsi sebagai tempat bermain pada akhirnya dijadikan
sebagai tempat bermain oleh anak-anak, walaupun banyak penghuni mengakui
bahwa resiko bermain di tangga cukup besar. Adapun lapangan sebagai ruang
terbuka rumah susun justru kurang dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bermain.
Hal ini disebabkan karena faktor panas matahari serta lapangan tersebut sudah
digunakan sebagai tempat parkir.
4. Ruang Menjemur
Berdasarkan Gambar 5.8 diketahui bahwa persepsi penghuni terhadap kondisi
ruang menjemur nilainya 2,69 atau belum sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan penghuni. Ketersediaan ruang menjemur memang telah menjadi
masalah utama hampir di setiap penghunian rumah susun. Begitupula dengan
70
rusun Urip Sumoharjo ini. Walaupun, ruang menjemur pada dasarnya telah
tersedia pada ruang belakang tiap-tiap unit, namun dimensi ruangnya yang dirasa
kurang luas oleh penghuni memaksa sebagian besar para penghuni akhirnya
menjemur pula di selasar dan railing.
Berdasarkan hasil wawancara diperoleh penjelasan bahwa kebutuhan akan
ruang menjemur memang sangat dibutuhkan oleh para penghuni. Keterbatasan
ruang jemur di dalam unit hunain akhirnya disesuaikan oleh penghuni dengan
memfungsikan railing atau koridor rumah susun sebagai tempat menjemur
(Gambar 5.10).
Gambar 5.10. Aktivitas menjemur di rumah susun Urip Sumoharjo
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
b) Penyesuaian diri pasif
Berdasarkan Gambar 5.8 dapat diketahui bahwa ada 17 jenis kelengkapan
rumah susun yang menurut penghuni telah sesuai dengan kebutuhannya. Oleh
karena itu, penyesuaian diri yang dilakukan penghuni terhadap kelengkapan
rumah susun ini bersifat pasif, dimana individu berhasil menyesuaikan diri pada
keadaan lingkungan yang telah ada. Penyesuaian tersebut dijelaskan sebagai
berikut:
1. Bagian bersama
Definisi bagian bersama menurut UU No. 20 Tahun 2011 tentang rumah susun
adalah bagian rumah susun yang dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian
bersama dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun.
Berdasarkan Gambar 5.8 diketahui bahwa persepsi penghuni terhadap bagian
bersama seperti jaringan air bersih nilainya 3,68, jaringan listrik (3,68), saluran
pembuangan air (3,58), pembuangan sampah (3,06), koridor (3,06), selasar (3,0)
dan tangga (3,33).
71
Maksud dari angka-angka pada Gambar 5.8 tersebut adalah kondisi dan
ketersediaan benda bersama pada rumah susun Urip Sumoharjo sudah sesuai
dengan kebutuhan yang diinginkan oleh penghuni. Ini berarti proses akomodasi
berjalan dengan baik dan penyesuaian yang dilakukan penghuni sifatnya pasif.
2. Benda bersama
Definisi benda bersama menurut UU No. 20 Tahun 2011 tentang rumah susun
adalah benda yang bukan merupakan bagian rumah susun melainkan bagian yang
dimiliki bersama secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama. Berdasarkan
Gambar 5.8 diketahui bahwa persepsi penghuni terhadap benda bersama seperti
mushala nilainya 3.58, tempat parkir (3,35), BLC atau ruang komputer (3,0),
penerangan (3,19), dan ruang pertemuan berupa balai RW (3,17). Beberapa
contoh kondisi benda bersama dapat dilihat pada Gambar 5.11 berikut.
(a)
(b)
(c)
Gambar 5.11. Kondisi benda bersama di rumah susun Tanah Merah I
(a) tempat wudhu mushala (b) tempat parkir (c) balai RW
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
Berdasarkan angka tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan penghuni
telah sesuai dengan ketersediaan benda bersama yang ada di rumah susun Urip
Sumoharjo ini.
3. Satuan Rumah Susun (Sarusun)
Kondisi ruang pada sarusun merupakan titik utama dari seluruh proses
penghunian rumah susun. Oleh karena itu, persepsi yang baik oleh penghuni
terhadap lingkungan rumah susun dimulai dari terpenuhinya terlebih dahulu
kebutuhan penghuni akan sarusun yang memadai. Sehingga, proses penyesuian
diri yang terjadipun bersifat pasif, dimana penghuni berhasil merubah cara
berpikir untuk berintegrasi dalam pengalaman baru. Berdasarkan Gambar 5.8, ada
empat kondisi sarusun yang dipersepsikan baik oleh penghuni yaitu WC/ kamar
mandi (3,15), dapur (3,31), pencahayaan (3,52) dan penghawaan/sirkulasi udara
72
(3,58). Hal ini berarti kondisi keempat hal tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan
penghuni di rumah susun Urip Sumoharjo.
2) Rusun Tanah Merah I
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, penyesuaian diri penghuni terhadap
kelengkapan rumah susun begitu penting untuk diidentifikasi. Dengan
menggunakan skala likert maka persepsi penghuni di rumah susun Tanah Merah I
dapat dilihat pada Gambar 5.12 di bawah ini.
Satuan
rumah susun
Benda
bersama
Bagian
bersama
Penghawaan
Pencahayaan
Ruang tamu
WC/kamar mandi
Ruang menjemur
Dapur
Ruang kamar
Penerangan
Tempat parkir
Mushala
Tempat bermain anak
BLC/ ruang komputer
Ruang pertemuan
Koridor
Selasar
Tangga
Saluran pembuangan sampah
Saluran pembuangan air
Jaringan listrik
Jaringan air bersih
3.52
3.89
2.53
3.70
2.91
3.72
3.20
3.65
3.57
3.57
3.72
3.45
3.36
3.32
3.68
3.57
3.74
3.78
3.91
3.81
-
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
Gambar 5.12. Grafik Persepsi Penghuni Mengenai
Kelengkapan Rumah Susun Tanah Merah I
Berdasarkan Gambar 5.12 di atas, persepsi penghuni rumah susun Tanah
Merah I mengenai kelengkapan rumah susun dapat menjelaskan tentang strategi
penyesuaian diri penghuni. Strategi penyesuaian diri ini dikelompokkan menjadi
dua kategori yaitu:
a) Penyesuaian diri aktif
Berdasarkan Gambar 5.12 dapat diketahui bahwa hanya terdapat dua jenis
kelengkapan rumah susun yang menurut penghuni masih belum sesuai dengan
kebutuhannya. Oleh karena kelengkapan rumah susun merupakan produk baku
73
yang tidak dapat dirubah, maka cara yang harus dilakukan oleh penghuni adalah
dengan melakukan penyesuaian lingkungan terhadap dirinya atau disebut
penyesuaian diri aktif. Penyesuaian diri aktif ini dilakukan pada:
1. Ruang Tamu
Berdasarkan Gambar 5.12 dapat dilihat bahwa persepsi penghuni terhadap
kondisi ruang tamu nilainya 2,53 atau belum sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan penghuni. Keadaan ini sama seperti yang terjadi pada rumah susun
Urip Sumoharjo, karena pada dasarnya di dalam unit rumah susun tidak terhadap
ruang tamu definitif. Maksudnya bahwa ruang tamu di dalam unit memang tidak
disediakan secara khusus dalam desain awal. Penambahan sekat permanen juga
tidak diperbolehkan berdasarkan aturan pemerintah mengenai rumah susun. Pada
akhirnya sekat dibuat sendiri oleh masing-masing penghuni dengan menggunakan
material semi-fixed (semi permanen), baik berupa tirai maupun lemari.
Di samping itu, selain membuat sekat di dalam hunian, ada juga penghuni
yang mengadakan ruang tamu di selasar unit (Gambar 5.13). Hal ini sama seperti
yang dilakukan oleh penghuni di rusun Urip Sumoharjo. Kecenderungan penghuni
dalam memenuhi kebutuhan akan ruang tamu adalah mempersonalisasi selasar di
depan unit huniannya sendiri dengan meletakkan kursi atau balai-balai. Sehingga
akhirnya selasar tidak hanya berfungsi sebagai area sirkulasi, namun juga telah
dipersonalisasi menjadi ruang tamu.
Gambar 5.13. Kursi di luar sarusun yang digunakan untuk menerima tamu
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
2. Ruang Menjemur
Ketersediaan ruang menjemur memang telah menjadi masalah utama hampir
di setiap penghunian rumah susun. Berdasarkan Gambar 5.12 diketahui bahwa
74
persepsi penghuni terhadap kondisi ruang menjemur nilainya 2,91. Hal ini berarti
kepuasan penghuni terhadap ruang menjemur yang telah disediakan di dalam
sarusun masing-masing belum tercapai. Sehingga untuk mencapai kepuasan,
masyarakat menyesuaikan diri dengan mengubah lingkungan sesuai dengan
keinginan/kebutuhannya
untuk
menjemur.
Aktivitas
menjemur
akhirnya
mayoritas dilakukan di luar hunian yakni di koridor dan railing (Gambar 5.14).
Gambar 5.14. Aktivitas menjemur yang dilakukan di rusun Tanah Merah I
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
b) Penyesuaian diri pasif
Berdasarkan Gambar 5.12 diatas, dapat diketahui bahwa ada 20 jenis
kelengkapan rumah susun yang menurut penghuni telah sesuai dengan
kebutuhannya. Oleh karena itu, penyesuaian diri yang dilakukan penghuni
terhadap kelengkapan rumah susun inipun bersifat pasif, dimana individu berhasil
menyesuaikan diri pada keadaan lingkungan yang telah ada. Penyesuaian tersebut
dijelaskan sebagai berikut:
1. Bagian bersama
Berdasarkan Gambar 5.12 diketahui bahwa persepsi penghuni terhadap bagian
bersama seperti jaringan air bersih nilainya 3,68, jaringan listrik (3,91), saluran
pembuangan air (3,78), saluran pembuangan sampah (3,74), koridor (3,32), tangga
(3,57), dan selasar (3,68). Nilai ini menggambarkan bahwa kondisi dan
ketersediaan bagian bersama di rumah susun Tanah Merah I ini telah sesuai
dengan kebutuhan mayoritas penghuni.
75
(a)
(b)
(c)
Gambar 5.15. Kondisi bagian bersama di Rusun Tanah Merah I
(a) pembuangan sampah (b) koridor (c) selasar
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
Berdasarkan wawancara, untuk saat ini keluhan-keluhan penghuni mengenai
bagian bersama sudah tidak ada. Jaringan listrik dan air bersih telah tersedia
dengan baik dan dapat mencukupi kebutuhan seluruh warga rusun. Kalaupun ada
kendala, sifatnya hanya temporal karena pengelola rusun dibantu warga secara
proaktif bersama-sama mengawasi serta mengelola dengan baik bagian bersama
dari rumah susun ini. Persoalan sampah pun tidak ada dirasakan oleh penghuni
karena pada dasarnya telah tersedia shaft yang lubang pembuangannya ada di
setiap lantai, serta pengelolaannya sudah dibebankan kepada petugas rusun.
Sehingga penghuni tidak perlu lagi khawatir mengenai masalah persamoahan ini.
Selain itu, koridor, selasar dan tangga juga telah tersedia sesuai dengan kebutuhan
penghuni. Tidak ada keluhan yang berarti dari penghuni mengenai kondisi ketiga
aspek dari bagian bersama ini. Ini berarti proses akomodasi berjalan dengan baik
dan penyesuaian yang dilakukan penghuni sifatnya pasif.
2. Benda bersama
Berdasarkan Gambar 5.12 diketahui bahwa persepsi penghuni terhadap benda
bersama pada rumah susun Tanah Merah I seperti: ruang pertemuan nilainya 3,36,
BLC atau ruang komputer (3,45), mushala (3,57), tempat parkir (3,57),
penerangan (3,65), dan tempat bermain anak (3,72). Berdasarkan angka tersebut,
dapat disimpulkan bahwa kebutuhan penghuni telah sesuai dengan ketersediaan
benda bersama yang ada di rumah susun Tanah Merah I ini. Beberapa contoh
mengenai kondisi benda bersama di Rusun Tanah Merah I dapat dilihat pada
Gambar 5.16.
76
(c)
(b)
(a)
Gambar 5.16. Kondisi benda bersama di rumah susun Tanah Merah I
(a) tempat parkir (b) tempat bermain anak (c) penerangan
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
3. Satuan Rumah Susun (Sarusun)
Kondisi ruang pada sarusun merupakan titik utama dari seluruh proses
penghunian rumah susun. Oleh karena itu, persepsi yang baik oleh penghuni
terhadap lingkungan rumah susun dimulai dari terpenuhinya terlebih dahulu
kebutuhan penghuni akan sarusun yang memadai. Bila memenuhi, proses
penyesuian diri yang terjadipun bersifat pasif, dimana penghuni berhasil merubah
cara berpikir untuk berintegrasi dalam pengalaman baru. Berdasarkan Gambar
5.8, ada lima kondisi sarusun yang dipersepsikan baik oleh penghuni yaitu ruang
kamar (3,20), WC/ kamar mandi (3,70), dapur (3,72), pencahayaan (3,52) dan
penghawaan/sirkulasi
udara
(3,89).
Berdasarkan
angka
tersebut,
dapat
disimpulkan bahwa keadaan sarusun telah sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan oleh mayoritas penghuni rumah susun Tanah Merah I. Beberapa
contoh mengenai kondisi sarusun di Rusun Tanah Merah I dapat dilihat pada
Gambar 5.17.
(a)
(b)
Gambar 5.17. Kondisi fasilitas unit di Rusun Tanah Merah I
(a) WC/kamar mandi (b) dapur
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
77
5.2.2 Penyesuaian Diri Melalui Pembentukan Ruang Komunal
Outdoor personality adalah kepribadian khas yang biasa ditemukan pada
masyarakat kampung.
Masyarakat dengan ciri outdoor personality ini
digambarkan sebagai masyarakat dengan intekasi sosial yang tinggi, baik antar
individu maupun antar kelompok, dan interaksi sosial tersebut dilakukan di luar
rumah. Membahas mengenai hal tersebut, penghuni rumah susun Urip sumoharjo
dan Rusun Tanah merah I memiliki identitas sebagai masyarakat kampung dan
berpenghasilan rendah. Sehingga dapat dikatakan bahwa penghuni kedua rumah
susun ini memiliki ciri outdoor personality.
Namun sebagaimana yang diketahui, rumah susun yang dibangun oleh
pemerintah memiliki model baku yang belum menyediakan fasilitas yang
memadai untuk mewadahi outdoor personality ini. Walaupun telah tersedia ruang
pertemuan untuk mewadahi kebutuhan penghuni rumah susun untuk berkumpul,
namun ruang itu hanya difungsikan sewaktu-waktu dan kegiatan yang diwadahi
sifatnya formal seperti rapat atau arisan. Ruang semacam ini disebut ruang
komunal terencana, dimana penghuni hanya tinggal menyesuaikan diri secara
pasif. Namun untuk kegiatan non formal, masyarakat cenderung akan
menyesuaikan diri secara aktif dengan membentuk ruang komunal tidak
terencana.
Untuk cakupan rumah susun, definisi dari ruang komunal adalah ruang
bersama yang dibentuk oleh penghuni rumah susun sebagai manifestasi dari
outdoor personality itu sendiri. Berdasarkan Anwar (1998), ruang komunal di
rusun ini terdiri atas dua jenis, yaitu ruang komunal terencana yang biasa
digunakan untuk mewadahi kegiatan formal dan ruang komunal tidak terencana
yang biasa digunakan untuk kegiatan non formal. Namun secara umum, semangat
dari ruang komunal ini lahir dari proses interaksi sosial dan kebutuhan dari
penghuni itu sendiri untuk menyesuaikan diri dan mempertahankan identitasnya
di dalam lingkungan rumah susun.
Ruang-ruang komunal di Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I
berdasarkan observasi berupa selasar, koridor, tangga, serambi dan halaman. Pola
rumah susun Urip Sumoharjo sendiri tersusun dalam bentuk blok bangunan yang
terhubung satu dengan lainnya membentuk huruf U. Bentuk ini menyebabkan
78
terbentuknya ruang bersama di bagian tengah sebagai pusat orientasi. Sedangkan
pola rumah susun Tanah Merah I tersusun dalam bentuk twin blok berbentuk
huruf L. Pola bangunan berbentuk twin blok ini dilengkapi dengan koridor
penghubung antar blok di tengah yang berfungsi sebagai ruang bersama.
Parameter untuk mengidentifikasi pola ruang komunal di rumah susun diambil
dari penelitian Purwanto (2012). Parameter ini terbagi dalam lima kategori yaitu:
1. Sifat kegiatan, ditentukan berdasarkan klasifikasi formal dan tidak formal.
Kegiatan formal misalnya arisan, rapat RT, lomba, acara peringatan hari
besar. Sedangkan kegiatan non formal, misalnya siskamling atau duduk santai
sambil mengobrol.
2. Frekuensi kegiatan, dapat diidentifikasi berdasarkan waktu aktivitas yaitu
jam, harian, mingguan, bulanan atau tahunan
3. Ruang yang digunakan. Pertama, ruang yang direncanakan sejak awal,
misalnya ruang pertemuan, mushala, ruang terbuka berupa taman dan
lapangan olahraga. Kedua, ruang yang tidak direncakan sejak awal, misalnya
ruang-ruang yang digunakan sebagai ruang bersama seperti selasar, koridor,
tangga, tempat usaha dan sebagainya
4. Skala kegiatan, dibagi menjadi tiga yaitu antar individu, antar penghuni per
lantai dan antar RT
5. Jarak jangkauan, diukur berdasarkan lokasi yaitu di dalam rusun dan di luar
rusun.
1) Rusun Urip Sumoharjo
Pada rumah susun Urip Sumoharjo ini telah diamati pola pembentukan ruangruang komunal oleh penghuni berdasarkan parameter yang telah diutarakan
sebelumnya. Hasil observasi akan diuraikan sebagai berikut:
a. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi jam dan harian biasanya
bersifat non formal, seperti menongkrong sambil menonton TV. Berdasarkan
observasi dan wawancara, aktivitas ini biasa dilakukan dengan rentang waktu
dari pagi hingga malam hari. Ruang yang digunakan menggunakan ruang tak
terpakai diantara bangunan serbaguna dan lapangan olahraga yang terletak di
lantai dasar di dalam rusun. Selain itu, warga yang tidak sempat turun ke lantai
79
dasar, biasanya mengobrol di selasar masing-masing lantai (Gambar 5.18).
Ruang komunal yang dibentuk oleh penghuni ini merupakan perwujudan dari
penyesuaian diri aktif, dimana penghuni merubah lingkungan rumah susun
sehingga sesuai dengan kebutuhannya, dari yang sebelumnya belum mampu
mewadahi aktivitas menongkrong sambil menonton TV ini menjadi mampu
terwadahi dengan baik.
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.18. Pola Ruang Komunal dengan frekuensi jam dan harian
b. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi mingguan biasanya
bersifat formal atau kegiatan yang telah diagendakan oleh pengelola rusun
bersama pengurus RT, seperti senam. Aktivitas ini menggunakan lapangan
olahraga yang terletak di dalam rusun (Gambar 5.19).
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.19. Pola Ruang Komunal dengan frekuensi mingguan
c. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi bulanan biasanya juga
bersifat formal, seperti arisan, pengajian, atau rapat warga. Berdasarkan
wawancara dengan ketua RW rumah susun, kegiatan ini telah dijadwalkan
rutin dengan melibatkan seluruh penghuni rusun atau hanya kepala keluarga
80
penghuni rusun ataupun berupa perwakilan penghuni dari tiap-tiap RT. Ruang
yang digunakan yaitu mushala dan balai RW. Keduanya terletak di gedung
serbaguna di dalam rusun (Gambar 5.20). Selain itu, biasanya pengajian juga
dilakukan di luar rusun yaitu di rumah-rumah milik warga penghuni kampung
di luar rusun. Biasanya warga rusun yang diundang berupa orangperseorangan yang masih memiliki hubungan keluarga dengan warga luar
rusun.
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.20. Pola Ruang Komunal dengan frekuensi bulanan
d. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi tahunan biasanya bersifat
formal. Kegiatan ini meliputi lomba untuk memperingati hari kemerdekaan
maupun acara peringatan hari besar Islam, seperti maulid nabi. Ruang yang
digunakan yaitu lapangan olahraga dan mushala (Gambar 5.21). Kegiatan ini
biasanya melibatkan warga rusun dan warga luar rusun.
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.21. Pola Ruang Komunal dengan frekuensi tahunan
81
2) Rusun Tanah Merah I
Pada rumah susun Tanah Merah I ini telah diamati pola pembentukan ruangruang komunal oleh penghuni berdasarkan parameter yang telah diutarakan
sebelumnya. Hasil observasi akan diuraikan sebagai berikut:
a. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi jam dan harian biasanya
bersifat non formal, seperti menongkrong sambil menonton TV. Aktivitas ini
biasa dilakukan dari pagi hingga malam hari. Ruang yang digunakan berada
pada serambi lantai dasar blok A, halaman, pos jaga dan taman bermain di
dalam area rusun (Gambar 5.22). Selain itu, warga yang tidak sempat turun ke
lantai dasar, biasanya mengobrol di koridor penghubung antar blok masingmasing lantai (lantai 2-lantai 5).
(b)
(a)
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.22. Pola Ruang Komunal dengan dengan frekuensi jam dan harian
(a) Lantai dasar (b) Lantai 2-5
b. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi mingguan biasanya
bersifat formal atau kegiatan yang telah diagendakan oleh pengelola rusun
bersama pengurus RT, seperti senam. Aktivitas ini biasa dilakukan pada hari
Minggu dan menggunakan halaman rumah susun (Gambar 5.23).
82
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.23. Pola Ruang Komunal dengan dengan frekuensi mingguan
c. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi bulanan biasanya juga
bersifat formal, seperti arisan, pengajian per lantai, atau rapat warga. Kegiatan
ini memang telah dijadwalkan rutin dengan melibatkan seluruh penghuni,
terutama laki-laki dan wanita dewasa maupun perwakilan dari masing-masing
RT. Ruang yang digunakan yaitu ruang pertemuan di Rusun Tanah Merah II
(Gambar 5.24a) maupun koridor penghubung antar blok pada tiap lantai
(Gambar 5.24b).
(b)
(a)
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.24. Pola Ruang Komunal dengan dengan frekuensi bulanan
(a) Lantai dasar (b) Lantai 2-5
d. Aktivitas yang dilakukan penghuni dengan frekuensi tahunan biasanya bersifat
formal. Kegiatan tersebut meliputi lomba untuk memperingati hari
kemerdekaan yang diadakan di halaman rumah susun maupun acara
peringatan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi yang diselenggarakan di
mushala yang berada di Blok D rumah susun (Gambar 5.25). Kegiatan ini,
83
khususnya lomba untuk memperingati hari kemerdekaan tidak hanya
melibatkan warga rusun saja, tetapi melibatkan pula warga luar rusun.
Keterangan:
Ruang Komunal
Gambar 5.25. Pola Ruang Komunal dengan dengan frekuensi tahunan
3) Perbandingan Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior)
Penyesuaian diri adalah kemampuan individu dalam menghadapi tuntutantuntutan yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri individu sehingga
tercapai kesesuaian antara diri individu dengan lingkungan fisik dan psikis demi
memenuhi kebutuhan diri dengan baik. Penyesuaian diri juga merupakan suatu
proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi
hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya.
Perbandingan perilaku penyesuaian diri antara penghuni Rumah Susun Urip
Sumharjo dengan Rumah Susun Tanah Merah I ini dilakukan sebagai analisis
untuk mengidentifikasi adaptasi penghuni melalui perbandingan strategi
penyesuaian diri penghuni terhadap kelengkapan rumah susun serta pembentukan
ruang komunal pada rumah susun. Oleh karena kelengkapan rumah susun ini
menjadi produk baku yang harus diterima oleh penghuni dan tidak boleh diubah
secara permanen, maka perilaku penyesuaian diri penghuni pada rumah susun
menjadi unik untuk diidentifikasi. Ada empak aspek yang akan dibahas yaitu
sebagai berikut:
1. Satuan Rumah Susun (Sarusun)
Ada tujuh aspek yang akan dibandingkan terkait persepsi penghuni mengenai
sarusun di Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I. Aspek-aspek
tersebut adalah (a) ruang kamar, (b) dapur, (c) ruang menjemur (d) WC/kamar
84
mandi, (e) ruang tamu, (f) pencahayaan dan (g) penghawaan. Perbandingan
tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.26 dibawah ini.
Penghawaan
3.56
3.52
3.523.89
Pencahayaan
Ruang tamu
2.46
2.53
3.15 3.70
WC/kamar mandi
Ruang menjemur
2.69
2.91
3.313.72
Dapur
Ruang kamar
2.56 3.20
-
1.00
Rusun Urip Sumoharjo
2.00
3.00
4.00
5.00
Rusun Tanah Merah I
Gambar 5.26. Perbandingan Persepsi mengenai Satuan Rumah Susun
Berdasarkan gambar diatas telah dianalisa mengenai perbandingan perilaku
penyesuaian diri melalui persepsi penghuni terhadap kondisi satuan rumah susun
di Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I yaitu sebagai berikut:
85
Tabel 5.1. Perbandingan Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior) Pada Satuan Rumah Susun
antara Penghuni Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I
Satuan rumah
susun
Ruang Kamar
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Rumah Susun Tanah Merah I
Analisis
Pada Rusun Urip Sumoharjo, dengan
luas ruangan 15 m2, persepsi penghuni
akan ruang kamar cenderung tidak
sesuai dengan kebutuhannya (nilai 2,56).
Pada Rusun Tanah Merah I, dengan
luas ruangan 12 m2, persepsi penghuni
terhadap ruang kamar sudah sesuai
dengan kebutuhan (nilai 3,20).
Banyak dari anak penghuni yang telah
berusia remaja dan dewasa. Mayoritas
dari penghuni pada kelompok usia ini
akhirnya memilih keluar karena masalah
gangguan pada privasi yang terjadi
antara anak dan orang tua. Kelompok
anak remaja, khususnya yang berusia 13
- 17 tahun (usia SMP dan SMA), lebih
banyak menghabiskan waktunya diluar
rumah dan kelompok anak dewasa (18
tahun ke atas) yang telah lulus SMA dan
memperoleh pekerjaan mayoritas lebih
memilih keluar dan mencari tempat
tinggal lain di luar rumah susun. Selain
kelompok remaja dan dewasa, terdapat
pula kelompok usia kanak-kanak (usia
SD ke bawah) yang berada di rusun ini.
Pada Rusun Tanah Merah I, banyak
dari anak-anak penghuni yang masih
berusia dibawah 13 tahun (usia
kanak-kanak). Oleh karena itu,
kebutuhan memberi ruang privasi
antara anak dan orang tua di rusun ini
belum menjadi masalah. Hal ini
menyebabkan keberadaan sekat untuk
memisahkan ruang orang tua dan
ruang anak juga belum dirasa perlu.
Sehingga persepsi penghuni Rusun
Tanah Merah I mengenai ruang
kamar sarusun masih sesuai dengan
kebutuhan, karena penghuni tidak
perlu untuk menyesuaikan diri secara
aktif dengan mengubah tatanan ruang
dengan memberikan sekat ruang
kamar.
Walaupun secara luasan, ruang di Rusun
Urip Sumohrajo lebih besar daripada
Rusun Tanah Merah I, namun rupanya
belum menjamin kesesuaian terhadap
kebutuhan penghuni. Hal ini terjadi
disebabkan karena faktor perbedaan umur
anak
penghuni.
Ketidaksanggupan
kelompok anak penghuni yang berusia
remaja dan dewasa untuk menyesuaikan
diri pada lingkungan rumah susun pada
akhirnya mendesak kelompok ini untuk
menyingkir keluar dari lingkungan rumah
susun. Kelompok ini terdesak karena
merasakan kesesakan ruang.
86
Walaupun penghuni, dalam hal ini orang
tua, telah menyesuaikan diri secara aktif
dengan membuat sekat semi-fixed pada
sarusun, namun hal tersebut belum cukup
membantu untuk memberikan ruang
privasi yang cukup antara anak dan orang
tua.
Satuan rumah
susun
Dapur
Ruang
Menjemur
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Rumah Susun Tanah Merah I
Analisis
Nilai persepsi pada Rusun Urip
Sumoharjo yaitu 3,31 artinya sudah
sesuai dengan kebutuhan. Kondisi ruang
dapur di sarusun memang telah
memadai, terutama dengan adanya sekat
permanen (fixed) yang telah ada sejak
desain awal pada kedua rusun tersebut.
Nilai persepsi pada Rusun Tanah
Merah I yaitu 3,72 artinya sudah
sesuai dengan kebutuhan. Sama
seperti rusun Urip Sumoharjo, kondisi
ruang dapur di sarusun memang telah
memadai, terutama dengan adanya
sekat permanen (fixed) yang telah ada
sejak desain awal pada kedua rusun
tersebut.
Penghuni di kedua rusun tersebut tidak
perlu lagi menyesuaikan diri secara aktif
dengan merubah atau menambah bagian
pada Sarusun untuk memenuhi kebutuhan
akan ruang dapur, sebab ruang untuk
dapur telah tersedia dan sudah sesuai
dengan kebutuhan penghuni.
Kondisi ruang menjemur di rusun ini
masih tidak sesuai dengan kebutuhan,
berdasarkan nilai persepsi penghuni
pada Rusun Urip Sumoharjo yaitu 2,69.
Kondisi ruang menjemur di rusun ini Masalah
ini
disebabkan
karena
masih tidak sesuai dengan kebutuhan, terbatasnya ruang menjemur yang tersedia
berdasarkan nilai persepsi penghuni di dalam sarusun.
pada Rusun Tanah Merah I yaitu 2,91.
Penghuni kedua rusun menyesuaikan diri
Tindakan yang dilakukan penghuni secara aktif untuk mengatasi maaslah
adalah dengan memanfaatkan selasar, ruang menjemur ini. Penghuni mengubah
koridor maupun railing di lantai lingkungan sesuai dengan keadaan atau
masing-masing untuk digunakan keinginan diri dengan memanfaatkan
sebagai tempat menjemur pakaian. ruang-ruang di luar sarusun.
Aktivitas menjemur di luar sarusun
ini tidak pernah menimbulkan
masalah antar penghuni karena semua
penghuni mempunyai sikap toleransi
yang baik.
Tindakan yang dilakukan penghuni
adalah dengan memanfaatkan selasar,
koridor maupun railing di lantai
masing-masing
untuk
digunakan
sebagai tempat menjemur pakaian.
Aktivitas menjemur di luar sarusun ini
tidak pernah menimbulkan masalah
antar penghuni karena semua penghuni
mempunyai sikap toleransi yang baik.
87
Satuan rumah
susun
WC/kamar
mandi
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Rumah Susun Tanah Merah I
Analisis
Kamar mandi dan WC menjadi salah
satu item kelengkapan rumah susun
yang ketersediaannya dirasa sudah
cukup baik oleh penghuni.
Kondisi WC/kamar mandi di rusun ini
sudah sesuai dengan kebutuhan,
berdasarkan nilai persepsi penghuni
pada Rusun Tanah Merah I yaitu 3,70
Menurut beberapa responden, WC dan
kamar mandi di rumah susun ini
kondisinya lebih bagus dibandingkan
dengan WC dan kamar mandi pada hunian
mereka sebelumnya.
Kondisi WC/kamar mandi di rusun ini
sudah sesuai dengan kebutuhan,
berdasarkan nilai persepsi penghuni
pada Rusun Urip Sumoharjo yaitu 3,15.
Ruang Tamu
Menurut penghuni, kondisi ruang tamu
di rusun ini tidak sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di bawah
nilai mean, dimana pada Rusun Urip
Sumoharjo yaitu 2,46
Penghuni di rusun ini merasa bahwa
masalah
ini
disebabkan
karena
keterbatasan ruang yang ada di dalam
sarusun itu sendiri. Ruang di dalam
sarusun
sudah
lebih
dominan
difungsikan sebagai ruang privat yakni
ruang kamar dan ruang keluarga.
Hal
inilah
yang
menyebabkan
penyesuaian diri penghuni hanya bersifat
pasif,
karena
penghuni
tinggal
menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkungan.
Menurut penghuni, kondisi ruang
tamu di rusun ini tidak sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di
bawah nilai mean, dimana pada Rusun
Tanah Merah I yaitu 2,53.
Penghuni
merasa
perlu
untuk
menyesuaikan diri secara aktif dengan
mengubah lingkungan sesuai dengan
keadaan.
Hal ini diwujudkan dengan penggunaan
elemen semi permanen (semi-fixed)
Ruang tamu sebagai ruang semi berupa
tirai
atau
lemari
untuk
privat, walaupun keberadaannya mewujudkan ruang tamu di dalam
dirasa perlu tapi ketersediaan ruang di sarusun. Ruang tamu ini sifatnya
dalam
sarusun
sudah
tidak insidental yaitu apabila sedang tidak
mendukung.
difungsikan sebagai ruang tamu, maka
fungsinya akan diubah kembali menjadi
ruang keluarga. Ruang tamu di dalam
sarusun ini pun hanya diadakan bila tamu
yang datang berjumlah 1-2 orang atau
tamu sudah dikenal baik oleh penghuni.
88
Satuan rumah
susun
Ruang Tamu
Pencahayaan
dan
penghawaan
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Kondisi pencahayaan dan penghawaan,
menurut penghuni sudah sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di atas
nilai mean, dimana untuk aspek
pencahayaan
pada
Rusun
Urip
Sumoharjo yaitu 3,52 dan untuk aspek
penghawaan
pada
Rusun
Urip
Sumoharjo yaitu 3,56
Kondisi ini dipengaruhi oleh orientasi
bangunan di rumah susun ini
menghadap ke luar, sehingga udara
maupun cahaya dapat masuk ke sarusun
dengan baik dan dapat mencukupi
kebutuhan penghuni.
Rumah Susun Tanah Merah I
Analisis
Apabila tamu yang datang jumlahnya
lebih dari dua orang atau tamu tersebut
merupakan orang asing, maka aktivitas
untuk menerima tamu akan dilakukan di
selasar sarusun. Inilah yang menyebakan
mayoritas penghuni meletakkan kursi atau
balai-balai di depan sarusun masingmasing sebagai personalisasi ruang.
Kondisi
pencahayaan
dan Tidak ada permasalahan yang dirasakan
penghawaan, menurut penghuni sudah oleh penghuni kedua rusun menyangkut
sesuai dengan kebutuhan. Hal ini aspek pencahayaan dan penghawaan.
teridentifikasi berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean, dimana Hal
inilah
yang
menyebabkan
untuk aspek pencahayaan pada Rusun penyesuaian diri penghuni hanya bersifat
Tanah Merah I yaitu 3,89 dan untuk pasif,
karena
penghuni
tinggal
aspek penghawaan pada Rusun Tanah menyesuaikan diri dengan keadaan
Merah I yaitu 3,52.
lingkungan rumah susun.
Sama seperti rusun Urip Sumoharjo,
orientasi bangunan di rumah susun ini
menghadap ke luar, sehingga udara
maupun cahaya dapat masuk ke
sarusun dengan baik
89
2. Benda bersama
Ada enam aspek yang akan dibandingkan terkait persepsi penghuni mengenai
benda bersama di Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I. Aspek-aspek
tersebut adalah (a) tempat bermain anak, (b) penerangan, (c) tempat parkir, (d)
mushala, (e) BLC/ruang komputer dan (f) ruang pertemuan. Perbandingan
tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.27 di bawah ini.
Tempat Bermain Anak
2.58
3.72
3.19
3.65
3.35
3.57
3.58
3.57
3
3.45
3.17
3.36
Penerangan
Tempat Parkir
Mushala
BLC/Ruang Komputer
Ruang pertemuan
-
1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
Rusun Urip Sumoharjo
Rusun Tanah Merah I
Gambar 5.27. Perbandingan persepsi mengenai benda bersama rumah susun
Berdasarkan gambar diatas telah dianalisa mengenai perbandingan perilaku
penyesuaian diri melalui persepsi penghuni terhadap kondisi benda bersama
rumah di Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I yaitu sebagai berikut:
90
Tabel 5.2. Perbandingan Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior) Pada Benda Bersama
antara Penghuni Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I
Benda bersama
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Tempat bermain Pada Rusun Urip Sumoharjo nilainya
anak
dibawah mean yakni 2,58 artinya
kondisinya belum sesuai dengan
kebutuhan penghuni.
Rumah Susun Tanah Merah I
Rusun Tanah Merah I nilainya diatas
mean yakni 3,72 artinya kondisinya
sudah sesuai dengan kebutuhan
penghuni.
Menurut
hasil
observasi
dan
wawancara, diketahui bahwa di rusun
ini tidak terdapat tempat bermain anak
yang memadai. Anak-anak tersebut
memanfaatkan ruang-ruang kosong
pada tangga, koridor, jalan dan balai
RW untuk bermain. Hal ini tentunya
tidak ideal untuk dapat memenuhi
kebutuhan anak itu sendiri akan tempat
bermain yang memadai, khususnya bila
ditinjau dari faktor keamanan dan
keselamatan anak.
Rumah susun ini sudah memiliki
tempat bermain anak yang memadai,
dilengkapi dengan taman dan fasilitas
bermain anak. Bahkan menurut
beberapa responden, tempat bermain
anak di rumah susun Tanah Merah I ini
dinilai lebik layak dan memadai
dibandingkan dengan kondisi di hunian
mereka sebelumnya yang justru tidak
memiliki tempat bermain anak yang
memadai.
Kondisi penerangan di rusun ini sudah
sesuai dengan kebutuhan. Hal ini
teridentifikasi berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean pada Rusun
Urip Sumoharjo yaitu 3,19.
Pada Rusun Tanah Merah I nilai
persepsi berada di atas nilai mean yaitu
3,65 artinya sudah sesuai dengan
kebutuhan penghuni.
Penghuni di rusun ini pun merasa
bahwa ketersediaan penerangan pada
Penerangan
91
Analisis
Perbedaan persepsi ini disebabkan karena
ketersediaan dari ruang bermain anak itu
sendiri. Karena bila membahas tentang
tempat bermain anak, maka asumsi kita
akan merujuk pada sebuah area bermain
yang luas dan dilengkapi dengan fasilitas
bermain yang memadai. Asumsi ini pula
yang menjadi dasar berpikir penghuni
dalam menilai kebutuhan akan tempat
bermain anak di kedua rusun tersebut.
Kelompok penghuni rumah Susun Urip
sumoharjo yang berusia kanak-kanak
menyesuaikan diri secara aktif dengan
memanfaatkan ruang-ruang kosong di
sekitar rumah susun. Sementara kondisi
lain terjadi pada penghuni Rusun Tanah
Merah I pun tinggal menyesuaikan diri
secara pasif, karena area bermain telah
tersedia secara memadai.
Aspek penerangan yang dimaksud disini
adalah kondisi penerangan lingkungan
rumah susun utamanya penerangan pada
waktu malam hari.
Karena kondisi penerangan di kedua rusun
tersebut dirasa sudah memadai maka
Benda bersama
Tempat Parkir
Mushala
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Berdasarkan observasi, penerangan di
rumah susun ini sudah baik. Penghuni di
rusun
ini
pun
merasa
bahwa
ketersediaan penerangan pada rumah
susun di tiap lantai yang mencakup
penerangan di sarusun, koridor, tangga,
serta selasar sudah terpenuhi dengan
baik.
Kondisi tempat parkir di rusun ini sudah
sesuai dengan kebutuhan. Hal ini
teridentifikasi berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean pada Rusun
Urip Sumoharjo yaitu 3,35.
Rumah Susun Tanah Merah I
Analisis
rumah susun di tiap lantai yang penghuni di kedua rusun hanyalah tinggal
mencakup penerangan di sarusun, menyesuaikan diri secara pasif terhadap
koridor, tangga, serta selasar sudah fasilitas penerangan yang telah tersedia.
terpenuhi dengan baik.
Untuk rumah susun Urip Sumoharjo,
tempat parkir terdapat di ruang antara
lapangan dan bangunan. Berdasarkan
observasi, di rumah susun telah terlihat
bahwa ketersediaan tempat parkir sudah
tidak menjadi masalah, sebab area untuk
parkir kendaraan telah tersedia dan luas
ruangnya juga cukup memadai untuk
menampung kendaraan yang dimiliki
oleh seluruh penghuni.
Pada Rusun Urip Sumoharjo nilainya
berada di atas nilai mean yaitu 3,58
artinya sudah sesuai dengan kebutuhan
penghuni.
Berdasarkan wawancara, untuk rusun
Urip Sumoharjo, pemanfaatan mushala
Berdasarkan
kondisi
tersebut,
menyebabkan penghuni di kedua rusun
hanyalah tinggal menyesuaikan diri secara
pasif terhadap fasilitas tempat parkir yang
telah tersedia.
Kondisi tempat parkir di rusun ini
sudah sesuai dengan kebutuhan. Hal ini
teridentifikasi berdasarkan nilai pada
Rusun Tanah Merah I yaitu 3,57.
Pada rusun Tanah Merah I, tempat
parkirnya terdapat di lantai dasar tiap
blok. Disebut sudah sesuai kebutuhan
karena selain tempatnya yang luas dan
memadai untuk kendaraan seluruh
penghuni, kondisi tempat parkirnya
juga terlindung dari gangguan cuaca
berupa hujan dan terik matahari.
Pada Rusun Tanah Merah I nilainya
berada di atas nilai mean yaitu 3,57
artinya sudah sesuai dengan kebutuhan
penghuni.
Berdasarkan observasi, pemanfaatan
mushala di rusun Tanah Merah I
92
Kondisi tempat parkir di kedua rusun
tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan,
dengan asumsi bahwa tempat parkir yang
tersedia di kedua rusun ini hanya untuk
menampung jenis kendaraan roda dua.
Dengan ketersediaan mushala yang
memadai untuk melakukan kegiatan
keagamaan seprti pada kedua rusun
tersebut,
maka
penghuni
tinggal
menyesuaikan diri secara pasif terhadap
fasilitas yang telah tersedia itu.
Benda bersama
Rumah Susun Urip Sumoharjo
memang giat dilakukan. Selain dipakai
untuk salat berjamaah tiap hari, mushala
juga
digunakan
untuk
kegiatan
pengajian bersama yang dilakukan rutin
sekali seminggu.
Rumah Susun Tanah Merah I
memang giat dilakukan. Selain itu,
remaja di rusun ini juga dilibatkan
dalam pemanfaatan mushala dengan
pembentukan
kelompok
remaja
mushala.
Ruang
BLC/ Pada Rusun Urip Sumoharjo nilainya
Pada Tanah Merah I nilainya berada di
Ruang Komputer berada di atas nilai mean yaitu 3,0 atas nilai mean yaitu 3,45 artinya sudah
artinya sudah sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan kebutuhan penghuni.
penghuni.
Berdasarkan wawancara terhadap
Berdasarkan
wawancara
terhadap responden, ketersediaan BLC di rumah
responden, ketersediaan BLC di rumah susun ini sangat memberi manfaat bagi
susun ini sangat memberi manfaat, seluruh penghuni. Apalagi pada ruang
khususnya bagi anak-anak, apalagi bila BLC di rusun ini juga menyediakan
dibandingkan dengan kondisi pada fasilitas hotspot internet gratis.
tempat tinggal sebelumnya dimana Sehingga aktivitas mengakses internet
anak-anak merasa kesulitan dalam tidak terbatas di dalam ruang BLC saja
mengakses komputer secara teratur.
dan bisa dilakukan di serambi lantai
dasar Blok A samping ruang BLC.
Analisis
Ruang BLC merupakan tempat yang
memberikan pelatihan komputer gratis
kepada masyarakat baik penghuni rusun
maupun masyarakat dari luar rusun.
Pengadaan ruang BLC ini diprakarsai oleh
Dinas Kominfo Surabaya.
Untuk ruang BLC di rusun Urip
Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I,
menurut penghuni, kondisinya dinilai baik
dan bermanfaat, terutama bagi anak-anak
dalam menghadapi era informatika seperti
saat ini. Di tempat inilah anak-anak diberi
pengenalan dan pemahaman dasar
mengenai ilmu teknologi dan informasi.
Oleh karena itu, dengan ketersediaan ruang
komputer yang memadai di kedua rumah
susun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah
Merah I, maka penghuni tinggal
menyesuaikan diri secara pasif terhadap
fasilitas yang telah disediakan tersebut.
93
Benda bersama
Ruang pertemuan
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Menurut penghuni, kondisi ruang
pertemuan di rusun Urip Sumoharjo
sudah sesuai dengan kebutuhan. Hal ini
teridentifikasi berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean yaitu 3,17.
Rumah Susun Tanah Merah I
Menurut penghuni, kondisi ruang
pertemuan di Rusun Tanah Merah I
sudah sesuai dengan kebutuhan. Hal ini
teridentifikasi berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean yaitu 3,36.
Untuk Rusun Urip Sumoharjo, aktivitas
yang rutin dilakukan di ruang
pertemuan (di Rusun Urip Sumoharjo
bernama balai RW) ini adalah rapat
bersama dan arisan yang dilakukan
sekali sebulan. Aktivitas ini melibatkan
seluruh penghuni maupun perwakilan.
Pada Rusun Tanah Merah I, ruang
pertemuan terdapat di rusun Tanah
Merah II. Ruang ini sengaja disatukan
antar dua rusun untuk mempererat
kekerabatan antara penghuni Rusun
Tanah Merah I dan Rusun Tanah
Merah II. Aktivitas rutin yang
dilakukan di ruang pertemuan ini juga
adalah rapat bersama dan arisan yang
dilakukan sekali sebulan. Aktivitas ini
melibatkan seluruh penghuni maupun
perwakilan.
94
Analisis
Dengan ketersediaan ruang pertemuan
yang memadai di kedua rumah susun Urip
Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I,
maka penghuni tinggal menyesuaikan diri
secara pasif terhadap fasilitas yang telah
disediakan tersebut.
3. Bagian bersama
Ada tujuh aspek yang akan dibandingkan terkait persepsi penghuni mengenai
benda bersama di Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I. Aspek-aspek
tersebut adalah (a) jaringan air bersih, (b) jaringan listrik, (c) saluran pembuangan
air, (d) saluran pembuangan sampah, (e) tangga, (f) koridor dan (g) selasar.
Perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.28 di bawah ini.
Selasar
3
3.68
3.06
3.32
3.33
3.57
3.06
3.74
3.58
3.78
3.68
3.91
3.68
3.68
Koridor
Tangga
Saluran pembuangan sampah
Saluran pembuangan air
Jaringan listrik
Jaringan air bersih
Rusun Urip Sumoharjo
1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
Rusun Tanah Merah I
Gambar 5.28. Perbandingan persepsi mengenai bagian bersama rumah susun
Berdasarkan gambar diatas telah dianalisa mengenai perbandingan perilaku
penyesuaian diri melalui persepsi penghuni terhadap kondisi bagian bersama
rumah di Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I yaitu sebagai berikut:
95
Tabel 5.3. Perbandingan Perilaku Penyesuaian Diri (Coping Behavior) pada Bagian Bersama
antara Penghuni Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I
Bagian bersama
Jaringan air bersih
dan listrik
Saluran
pembuangan air
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Menurut penghuni, kondisi jaringan air
bersih dan listrik di rusun Urip
Sumoharjo sudah sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di atas
nilai mean yaitu untuk jaringan air
bersih yaitu 3,36 dan untuk jaringan
listik yaitu 3,36.
Rumah Susun Tanah Merah I
Menurut penghuni, kondisi jaringan air
bersih dan listrik di Rusun Tanah
Merah I sudah sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di atas
nilai mean yaitu untuk jaringan air
bersih yaitu 3,68 dan untuk jaringan
listik yaitu 3,91.
Kebutuhan air bersih pada rusun ini
bersumber dari air PDAM dan
distribusinya
agar
merata
dan
mencukupi ditunjang dengan adanya
sejumlah rooftank. Sementara untuk
aliran listrik, bersumber dari PLN dan
sejauh ini mayoritas penghuni merasa
masih sanggup membayar tarif listrik
secara rutin.
Seperti pada rusun Urip Sumoharjo,
kebutuhan air bersih pada rusun ini
bersumber dari air PDAM dan
distribusinya
agar
merata
dan
mencukupi ditunjang dengan adanya
sejumlah rooftank. Sementara untuk
aliran listrik, bersumber dari PLN dan
sejauh ini mayoritas penghuni merasa
masih sanggup membayar tarif listrik
secara rutin.
Menurut penghuni, kondisi saluran
pembuangan air di rusun Urip
Sumoharjo sudah sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di atas
nilai mean yaitu 3,78.
Menurut penghuni, kondisi saluran
pembuangan air di rusun Urip
Sumoharjo sudah sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di atas
nilai mean yaitu 3,58.
96
Analisis
Kebutuhan air bersih dan listrik merupakan
kebutuhan primer dari setiap bangunan.
Kondisi serta ketersediaannya yang
memadai
berperan
penting
dalam
menentukan
kenyamanan
penghuni
sarusun.
Mencermati hasil nilai yang ada, dapat
dilihat bahwa dua kebutuhan primer ini
telah tersedia dengan baik pada kedua
rusun tersebut. Oleh karena itu, dengan
ketersediaan air bersih dan listrik yang
memadai di rumah susun Urip Sumoharjo
dan Rusun Tanah Merah I, maka penghuni
tinggal menyesuaikan diri secara pasif
terhadap fasilitas yang telah disediakan
tersebut.
Saluran
pembuangan
air
yang
dimaksudkan
disini
ialah
saluran
pembuangan air limbah sarusun, baik grey
water seperti air bekas cucian maupun
black water yaitu air limbah dari septic
tank.
Bagian bersama
Saluran
pembuangan air
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Berdasarkan
wawancara,
kondisi
saluran pembuangan air dirasakan oleh
penghuni di rusun ini telah memadai.
Walaupun terkadang ada kebocoran,
namun mampu ditangani dengan cepat
melalui kerjasama antar warga dan
petugas rumah susun.
Rumah Susun Tanah Merah I
Berdasarkan
wawancara,
kondisi
saluran pembuangan air dirasakan oleh
penghuni di rusun ini telah memadai.
Hal ini ditunjang oleh pengecekan
berkala oleh pengelola rumah susun.
Kerusakan dan kebocoran kecil yang
terjadipun mampu ditangani cepat oleh
pengelola bekerja sama dengan
penghuni.
Analisis
Dengan ketersediaan saluran pembuangan
air yang memadai di rumah susun Urip
Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I,
maka penghuni tinggal menyesuaikan diri
secara pasif terhadap fasilitas yang telah
disediakan tersebut.
Pembuangan
sampah
Kondisi pembuangan sampah di rusun
Urip Sumoharjo sudah sesuai dengan
kebutuhan, berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean yaitu 3,06.
Menurut penghuni, kondisi saluran
pembuangan sampah di rusun Tanah
Merah I sudah sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di atas
Berdasarkan hasil observasi, rusun ini nilai mean yaitu 3,74.
tidak dilengkapi dengan shaft sampah.
Namun hal ini tidak menjadi masalah Untuk Rusun Tanah Merah I,
yang berarti bagi mayoritas penghuni. berdasarkan
hasil
observasi,
Hal ini disebabkan karena telah ada ketersediaan shaft sampah di rusun ini
petugas rumah susun bagian kebersihan telah tersedia dengan baik dan
yang bekerja maksimal menangani memadai. Hal ini ditunjang pula
pekerjaan untuk membuang sampah ini. dengan keberadaan petugas rumah
Walaupun begitu, bagi sebagian kecil susun
bagian
kebersihan
yang
penghuni,
ketidaktersediaan
shaft menangani
proses
pembuangan
sampah ini membuat repot apabila sampah komunal ini. Dengan kondisi
sewaktu-waktu sampah harus dibuang seperti ini, penghuni di kedua rusun ini
sendiri ke tempat pembuangan sampah tidak perlu lagi terbebani dengan
komunal di lantai dasar rusun.
metode pembuangan sampah di hunian
vertikal.
Pada umumnya, keberadaan shaft pada
hunian vertikal sampah begitu penting
dibutuhkan. Walaupun terdapat perbedaan
kondisi serta metode pembuangan sampah
pada kedua rusun ini. Namun, penghuni
pada kedua rusun ini merasa bahwa
penanganan masalah persampahan telah
dilakukan secara memadai pada rumah
susun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah
Merah I ini.
97
Oleh karena itu penghuni tinggal
menyesuaikan diri secara pasif terhadap
fasilitas pembuanagn sampah yang terdapat
di lingkungan rumah susun masingmasing.
Bagian bersama
Tangga
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Menurut penghuni, kondisi tangga di
Rusun Urip Sumoharjo sudah sesuai
dengan kebutuhan. Berdasarkan hasil
wawancara, kebutuhan yang dimaksud
mencakup dimensi luasan serta
ketinggiannya yang dirasa sudah
memadai. Hal ini teridentifikasi
berdasarkan nilai yang berada di atas
nilai mean yaitu 3,33.
Respon positif mengenai kondisi
tangga ini tidak terlepas dari kesediaan
penghuni untuk menyesuaikan diri
dalam melakukan aktivitas naik turun
tangga secara kontinu. Berdasarkan
hasil wawancara, diperoleh data
mengenai
persentase
kesediaan
penghuni untuk melakukan aktivitas
yang wajib dilakukan dalam menghuni
rumah susun ini, yaitu bahwa mayoritas
penghuni Rusun Urip Sumoharjo
sebanyak 81 % sudah mampu
menyesuaikan diri dengan kebiasaan
naik turun tangga pada hunian vertical.
Rumah Susun Tanah Merah I
Menurut penghuni, kondisi tangga di
Rusun Tanah Merah I sudah sesuai
dengan
kebutuhan.
Hal
ini
teridentifikasi berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean yaitu 3,57.
Analisis
Aktivitas naik turun tangga merupakan
salah satu aktivitas yang wajib dijalani oleh
setiap penghuni rumah susun untuk
menyesuaikan diri. Oleh karena hal
tersebut, tangga menjadi elemen vital dari
keberadaan rumah susun sebagai hunian
Sama seperti rusun Urip Sumoharjo, vertikal. Keberadaan tangga pula yang
penghuni di rusun ini sudah mampu menjadi elemen pembeda antara hunian
menyesuaikan diri dalam melakukan tapak (landed house) dengan hunian
aktivitas
naik
turun
tangga. vertikal.
Berdasarkan
hasil
wawancara,
diperoleh data mengenai persentase Selama ini opini yang berkembang adalah
kesediaan penghuni untuk melakukan bahwa MBR sebagai kelompok sasaran
aktivitas yang wajib dilakukan dalam Rusunawa akan mengalami kesulitan
menghuni rumah susun ini yaitu bahwa beradaptasi untuk tinggal di hunian dengan
mayoritas penghuni Rusun Tanah model vertikal. Namun berdasarkan
Merah I sebanyak 73 % sudah mampu analisis data, MBR selaku penghuni rusun
menyesuaikan diri dengan kebiasaan rupanya tidak mengalami kesulitan dalam
naik turun tangga pada hunian vertikal. beradaptasi menggunakan tangga sebagai
salah satu jalur sirkulasi dalam hunian.
Hunian 4 lantai dengan aktivitas naik turun
tangga tidak dirasakan sebagai beban oleh
mayoritas penghuni.
Adapun mengenai kelompok penghuni
yang masih keberatan untuk melakukan
aktivitas naik turun tangga ini, berdasarkan
hasil observasi dan wawancara, diketahui
bahwa untuk Rusun Urip Sumoharjo
disebabkan karena faktor usia, yang mana
98
Bagian bersama
Tangga
Selasar
koridor
Rumah Susun Urip Sumoharjo
dan Menurut penghuni, kondisi selasar dan
koridor di rusun ini sudah sesuai
dengan
kebutuhan.
Hal
ini
teridentifikasi berdasarkan nilai untuk
selasar yaitu 3,0 dan untuk koridor
diperoleh nilai yaitu 3,06.
Rumah Susun Tanah Merah I
Menurut penghuni, kondisi selasar dan
koridor di rusun ini sudah sesuai
dengan
kebutuhan.
Hal
ini
teridentifikasi berdasarkan nilai yang
berada di atas nilai mean, dimana
untuk selasar yaitu 3,68dan untuk
koridor diperoleh nilai yaitu 3,32.
99
Analisis
banyak dari penghuni rusun ini telah
masuk pada kategori manula dan masih
tinggal pada lantai 2 sampai lantai 4.
Sehingga aktivitas naik turun tangga
dirasakan sudah terasa berat untuk
dilakukan secara rutin. Sementara itu untuk
Rusun Tanah Merah I, adanya kelompok
penghuni yang keberatan ini disebabkan
semata karena faktor penyesuaian diri yang
lambat dari penghuni itu sendiri. Sehingga
untuk melakukan aktivitas naik turun
tangga masih dirasakan berat dan belum
terbiasa.
Persoalan ini seharusnya mendapat
perhatian yang lebih serius. Sebab hal ini
bisa memicu stress pada kelompok
penghuni tersebut dan akhirnya membuat
ketidaknyamanan untuk menghuni rumah
susun.
Dengan kondisi selasar dan koridor yang
memadai pada rumah susun Urip
Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I ini,
maka penghuni tinggal menyesuaikan diri
secara pasif di lingkungan rumah susun.
Bagian bersama
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Selasar
dan Pada rumah susun ini, selasar dan
koridor
koridor sudah dimanfaatkan dengan
efektif. Walupun begitu, berdasarkan
wawancara, masih terdapat beberapa
penghuni yang merasa bahwa luasan
selasar masih sempit.
Rumah Susun Tanah Merah I
Pada rusun ini, penghuni beranggapan
bahwa koridor sudah termanfaatkan
secara efektif. Karena luasannya yang
cukup lebar, maka banyak aktivitas
berkumpul dan bersosialisasi antar
warga yang bisa dilakukan pada area
ini.
100
Analisis
4. Ruang Komunal
Analisa mengenai pembentukan ruang komunal diperlukan untuk menjelaskan
apakah identitas outdoor personality yang dimiliki oleh penghuni kedua rusun ini,
baik Urip Sumoharjo maupun Rusun Tanah Merah I dapat terwadahi atau tidak.
Selain itu, analisis ini dapat menjelaskan bagaimana strategi penghuni untuk
menyesuaikan diri dalam mewujudkan identitas outdoor personality pada
lingkungan rumah susun. Ruang komunal yang akan dibahas disini terbagi atas
dua jenis yaitu:
a. Ruang komunal yang terencana.
Ruang komunal yang terencana merupakan ruang komunal yang telah ada
sejak desain awal pembangunan Urip Sumoharjo maupun Rusun Tanah Merah
I ini. Pada rumah susun Urip Sumoharjo, ruang komunal terencana ini berupa
lapangan olahraga dan gedung serbaguna yang mencakup mushala dan balai
RW Sementara pada Rumah Susun Tanah Merah I berupa balai pertemuan dan
mushala. Berdasarkan hasil observasi, kondisi ruang komunal jenis ini telah
memadai. Selain itu, dengan adanya ruang komunal ini, setidaknya telah
mampu mewadahi kebutuhan penghuni akan interaksi sosial yang baik dan
berkesinambungan. Oleh karena itu, dengan kondisi seperti ini maka penghuni
tinggal menyesuaikan diri secara pasif terhadap ruang komunal yang terencana
ini.
Namun ruang komunal yang terencana ini juga memiliki batasan. Ruang ini
terkesan hanya cocok untuk dipakai pada kegiatan-kegiatan formal, seperti
arisan, rapat, pengajian, serta peringatan hari besar keagamaan. Hal ini
menyebabkan frekuensi pemanfaatannyapun hanya sebatas pada aktivitas
mingguan, bulanan serta tahunan.
b. Ruang komunal yang tak terencana.
Kehadiran ruang komunal yang tak terencana di dalam rumah susun Urip
Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I ini tidak lepas dari kebutuhan penghuni
itu sendiri untuk menyesuaikan diri secara aktif dalam mempertahankan
identitasnya sebagai sebuah entitas masyarakat kampung yang memiliki ciri
outdoor personality tetapi bertempattinggal di rumah susun. Oleh karena
kelompok masyarakat ini lebih suka berada di luar rumah untuk menjalin
101
interaksi sosial antar sesamanya, pada akhirnya terbentuklah ruang-ruang
komunal yang tak terencana ini.
Aktivitas yang dilakukan penghuni pada ruang komunal tak terencana ini
biasanya bersifat non formal dengan frekuensi jam-harian (setiap waktu),
misalnya aktivitas mengobrol sambil menonton TV. Karena penyesuaian yang
dilakukan penghuni ini bersifat aktif yakni mengubah lingkungan sesuai
kebutuhan manusia, maka wujud dari penyesuaian diri ini adalah melalui
pengadaan balai-balai atau kursi panjang yang berfungsi untuk mewadahi
aktivitas mengobrol tersebut. Penyesuaian diri ini melalui pembentukan ruang
komunal tak terencana ini ditemukan pada kedua rumah susun yang menjadi
objek penelitian ini, yaitu Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dikemukakan hipotesa bahwa dalam
mewujudkan ruang komunal yang dapat mewadahi outdoor personality penghuni
rumah susun seharusnya bentukannya bukan berupa ruang dengan pembatas
elemen fixed berupa dinding tembok. Ruang model seperti itu telah terbukti
bahwa intensitas penggunaannya rendah sehingga terkesan mubazir. Ruang
komunal untuk Rusunawa lebih baik menggunakan model pendopo yang
diletakkan di area tengah rumah susun pada lantai dasar. Sehingga penghuni tidak
perlu lagi menyesuaian diri secara aktif dengan mengadakan ruang komunal
dengan memanfaatkan ruang-ruang sisa yang tidak termanfaatkan atau area
sirkulasi di dalam lingkungan rumah susun sebab hal ini dapat mengurangi
estetika ruang dari rumah susun itu sendiri.
5.3.Teritorialitas
Pembahasan mengenai teritorialitas pada penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi teritori yang dibentuk oleh masyarakat penghuni rusun, dalam
hubungannnya dengan sesama penghuni rumah susun maupun dengan orang yang
berasal luar rusun.
Setelah berhasil beradaptasi, penghuni kemudian membentuk teritori sebagai
bentuk penanda penguasaan suatu area, dalam hal ini yaitu lingkungan rumah
susun. Berdasarkan teori Hussein el Sharkawy (1979 dalam Prabowo, 1998),
102
teritori pada Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I ini
diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu: (1) central territories atau ruang
privat, (2) supporting territories atau ruang yang bersifat semi-privat dan semipublik dan (3) peripheral territories atau ruang publik.
1) Rusun Urip Sumoharjo
Pembentukan teritorialitas merupakan mekanisme untuk mengatur batas antara
orang yang satu dengan lainnya melalui penandaan atau personalisasi untuk
menyatakan bahwa tempat tersebut ada yang memilikinya (Altman, 1980).
Berdasarkan observasi pada rusun ini, dapat diidentiifkasi karakteristik teritori
yang dibentuk oleh penghuni Rusun Urip Sumoharjo ini, yaitu sebagai berikut:
a) Central Territories
Central territories atau disebut sebagai ruang privat, merupakan ruang yang
sifatnya sangat pribadi, hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat
akrab atau yang sudah mendapatkan izin khusus. Pada rusun ini, yang termasuk
dalam ruang privat adalah sarusun, mencakup unit hunian dan ruang servis.
Sarusun ini sendiri sebenarnya bisa dibagi lagi menjadi ruang privat dan ruang
semi-privat, tergantung dari keberadaan sekat yang dibuat oleh penghuni. Ruang
ini hanya dapat ditempati oleh setiap anggota keluarga saja atau orang yang
mendapat ijin khusus dari pemilik sarusun.
Kegiatan yang berlangsung di dalam teritori ini merupakan aktivitas domestik
keluarga, seperti makan, tidur, bercengkrama, mencuci, memasak, mandi, dan
sebagainya. Luasan teritori ini adalah seluas ruangan satuan rumah susun masingmasing unit hunian, dimana ditandai dengan pembatas material fixed berupa
dinding tembok.
b) Supporting Territories
Supporting territories atau disebut sebagai ruang semi privat atau ruang semi
publik. Ruang ini ditempati bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling
mengenal, lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan.
Berdasarkan hasil observasi, yang termasuk ruang semi privat pada rusun ini
adalah selasar sarusun. Personalisasi selasar sarusun sebagai ruang semi privat ini
biasanya ditandai dengan pemberian kursi atau balai-balai di depan sarusun
masing-masing. Ruang ini walau ditempati bersama namun cenderung dimiliki
103
dan dipersonalisasi oleh penghuni sarusun yang bersangkutan. Jenis kegiatan yang
biasanya berlangsung pada teritori ini adalah aktivitas bersosialisasi antar tetangga
berdekatan unit hunian. Selain itu, aktivitas yang dilakukan dalam teritori ini
adalah menerima tamu yang ingin bercakap-cakap dengan penghuni rumah susun.
Sementara itu, ruang semi publik pada rusun Urip Sumoharjo ini adalah
koridor, tangga serta ruang kosong di depannya yang masih bagian dari selasar,
halaman rusun termasuk tempat parkir. Ruang ini dikategorikan sebagai ruang
semi publik karena walaupun ruang ini ditempati bersama namun cenderung tidak
diakui kepemilikannya oleh masing-masing individu. Walaupun begitu,
pengontrolan pada ruang semi publik ini tetap dilakukan, terutama bila ada orang
asing yang masuk ke dalam area ini. Jenis kegiatan yang biasanya berlangsung
pada teritori ini adalah menongkrong dan bersosialisasi antar tetangga baik dari
blok yang sama maupun antar penghuni rumah susun secara keseluruhan.
Personalisasi teritori ini biasanya ditandai dengan elemen semifixed mapun nonfixed.
Gambar 5.29. Ruang semi publik di Rusun Urip Sumoharjo.
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
c) Peripheral Territories
Peripheral territories atau disebut sebagai ruang publik. Berdasarkan hasil
observasi, yang termasuk ruang publik di Rusun Urip Sumoharjo ini adalah
gedung serbaguna, yang meliputi BLC/ruang komputer, taman baca, dan mushala
(lihat Gambar 5.30). Ruang ini dikategorikan sebagai ruang publik karena
pemanfaatannya yang terbuka bagi siapa saja, baik penghuni rusun maupun
masyarakat dari luar rusun. Jenis aktivitas pada teritori ini seperti kursus,
penyuluhan, rapat, arisan maupun acara keagamaan. Pembatas ruang ini adalah
elemen fixed karena ruang ini sudah merupakan kelengkapan benda bersama dari
rumah susun.
104
Gambar 5.30. Ruang Publik di Rusun Urip Sumoharjo
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
2) Rusun Tanah Merah I
Berdasarkan observasi pada rusun Tanah Merah I, dapat diidentiifkasi
karakteristik teritori yang dibentuk oleh penghuni yaitu sebagai berikut:
a) Central Territories
Central territories atau disebut sebagai ruang privat, merupakan ruang yang
sifatnya sangat pribadi, hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat
akrab atau yang sudah mendapatkan izin khusus. Pada rusun ini, yang termasuk
dalam ruang privat adalah sarusun, mencakup unit hunian dan ruang servis.
Sarusun ini sendiri sebenarnya bisa dibagi lagi menjadi ruang privat dan ruang
semi-privat, tergantung dari keberadaan sekat yang dibuat oleh penghuni. Ruang
ini hanya dapat ditempati oleh setiap anggota keluarga saja atau orang yang
mendapat ijin khususdari pemilik sarusun.
Kegiatan yang berlangsung di dalam teritori ini merupakan aktivitas domestik
keluarga, seperti makan, tidur, bercengkrama, mencuci, memasak, mandi, dan
sebagainya. Luasan teritori ini adalah seluas ruangan satuan rumah susun masingmasing unit hunian, dimana ditandai dengan pembatas material fixed berupa
dinding tembok.
b) Supporting Territories
Supporting territories atau disebut sebagai ruang semi privat atau ruang semi
publik. Ruang ini ditempati bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling
mengenal, lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan.
Berdasarkan hasil observasi, yang termasuk ruang semi privat pada rusun ini
adalah selasar sarusun. Personalisasi selasar sarusun sebagai ruang semi privat ini
biasanya ditandai dengan pemberian kursi atau balai-balai (elemen semi-fixed) di
depan sarusun masing-masing (lihat Gambar 5.31). Ruang ini walau ditempati
bersama namun cenderung dimiliki dan dipersonalisasi oleh penghuni sarusun
105
yang bersangkutan. Jenis kegiatan yang biasanya berlangsung pada teritori ini
adalah aktivitas bersosialisasi antar tetangga yang berdekatan unit hunian. Selain
itu, aktivitas yang dilakukan dalam teritori ini adalah menerima tamu yang ingin
bercakap-cakap dengan penghuni rumah susun.
Gambar 5.31. Ruang semi privat di Rusun Tanah Merah I
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
Sementara itu, ruang semi publik pada rusun Tanah Merah I ini adalah
koridor, tangga, serambi di lantai dasar tiap blok mushala dan tempat parkir (lihat
Gambar 5.32). Ruang ini dikategorikan sebagai ruang semi publik karena
walaupun ruang ini ditempati bersama namun cenderung tidak diakui
kepemilikannya oleh masing-masing individu. Walaupun begitu, pengontrolan
pada ruang semi publik ini tetap dilakukan, terutama bila ada orang asing yang
masuk ke dalam area ini. Jenis kegiatan yang biasanya berlangsung pada teritori
ini adalah menongkrong dan bersosialisasi antar tetangga baik dari blok yang
sama maupun antar penghuni rumah susun secara keseluruhan. Personalisasi
teritori ini ditandai dengan elemen semifixed, seperti balai-balai, bangku, sofa dan
meja.
Gambar 5.32. Ruang semi publik di Rusun Tanah Merah I
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
c) Peripheral Territories
Peripheral territories atau disebut sebagai ruang publik. Berdasarkan hasil
observasi, yang termasuk ruang publik di Rusun Tanah Merah I ini adalah taman
bermain dan halaman rumah susun (lihat Gambar 5.33). Ruang ini dikategorikan
106
sebagai ruang publik karena pemanfaatannya yang terbuka bagi siapa saja, baik
penghuni rusun maupun masyarakat kampung yang tinggal di luar rusun. Jenis
aktivitas pada teritori ini seperti kegiatan olahraga. Pembatas ruang ini adalah
elemen non-fixed yang ditandai dengan aktivitas manusia dalam ruang tersebut.
Gambar 5.33. Ruang publik di Rusun Tanah Merah I
(Sumber: dokumentasi survei, 2014)
Berdasarkan
pembahasan
diatas,
maka
disusun
hipotesa
mengenai
karakteristik teritorialitas yang dibentuk oleh penghuni di Rusun Urip Sumoharjo
dan Rusun Tanah Merah I yaitu sebagai berikut:
1. Teritorialitas terbentuk karena adanya perilaku penyesuaian diri yang
dilakukan oleh manusia. Pada rumah susun, teritorialitas terbentuk dari
aktivitas penghuni serta kebutuhannya akan ruang untuk melakukan aktivitas
tersebut. Teritori ditandai dengan adanya elemen pembentuk ruang yakni
fixed-feature, semi-fixed-feature dan non-fixed-feature.
2. Kebutuhan akan semi privat bagi penghuni di kedua rusun tersebut tergolong
tinggi. Namun karena ruang sarusun telah berfungsi sebagai area privat, maka
cara yang ditempuh adalah dengan memanfaatkan selasar. Hal tersebut
ditandai dengan mayoritas penghuni sarusun mengadakan kursi atau balaibalai di selasar depan unit masing-masing. Tujuannya adalah untuk
mempersonalisasi ruang. Akibatnya selasar sebagai jalur sirkulasi menjadi
menyempit dan menyebabkan orang, terutama orang asing yang bukan warga
rusun, akan merasa segan untuk melewati selasar yang telah berfungsi sebagai
ruang semi-privat tersebut.
3. Ruang semi publik merupakan ruang komunal yang intensitas pemanfaatnya
paling sering digunakan oleh seluruh warga di kedua rusun. Teritori ruang ini
ditandai dengan penggunaan eleman semi-fixed. Ruang ini memiliki ukuran
yang cukup luas dan kondisi yang terbuka, sehingga pengguna memiliki jarak
107
pandang yang cukup jauh dan lebih leluasa memandang kesekitarnya.
Disamping itu penghuni juga dapat mengontrol dan mengawasi ke segala sisi
ruang interaksi sehingga menimbulkan rasa aman dalam melakukan aktivitas.
4. Ruang publik di kedua rumah susun ditujukkan tidak hanya bagi penghuni
rusun saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh warga luar rusun. Ruang ini
difungsikan sebagai zona antara yang digunakan untuk menjembatani proses
adaptasi warga rumah susun agar mampu berintegrasi ke dalam permukiman
kampung di wilayah tersebut. Selain itu kegiatan-kegiatan bersama yang
melibatkan warga rusun dan warga luar rusun juga biasa dilakukan di ruang
publik rumah susun demi mempercepat proses adaptasi dan integrasi tersebut.
5.4. Attachment to Place (Keterikatan Pada Tempat)
Perasaan keterikatan pada tempat (place attachment) merupakan ikatan
emosional yang dirasakan oleh seseorang terhadap sebuah tempat. Sebuah rumah
tinggal (home) biasanya memiliki ikatan emosional yang kuat dengan
penghuninya. Namun untuk kasus rumah susun, hal tersebut menjadi unik karena
rumah susun bisa dikatakan bahwa penghuninya hanyalah berstatus sebagai
penyewa.
Menurut Widjajanti (2010), karena kepemilikan unit rumah susun merupakan
sistem sewa yang diselenggarakan oleh pemerintah inilah, maka rasa keterikatan
masyarakat terhadap rumah susun menjadi kurang bila dibandingkan dengan
rumah kampung karena mereka tidak merasa memiliki tempat dan lingkungannya.
Untuk menganalisis pernyataan itu maka dilakukan penilaian attachment to place
terhadap Rusun Urip Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I. Faktor-faktor yang
mempengaruhi attachment to place diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh
Kusuma (2008).
1) Rusun Urip Sumoharjo
Persepsi penghuni mengenai keterikatan terhadap rumah susun Urip
Sumoharjo dianalisa dengan menggunakan skala likert (5=sangat sesuai s.d
1=sangat tidak sesuai) terdahap faktor-faktor yang mempengaruhi attachment to
place seperti terdapat pada Gambar 5.34 berikut.
108
Keterjangkauan sewa hunian
Ketiadaan alternatif tempat tinggal yang lain
Keamanan lingkungan
Lama tinggal
Status kepemilikan
Jarak tempat kerja
Aksesibilitas yang baik
Kenyamanan
Hubungan baik antar tetangga
3.00
3.31
3.89
3.60
3.89
3.67
4.13
3.04
4.00
-
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
Gambar 5.34. Faktor-faktor yang mempengaruhi attachment to place
di Rumah Susun Urip Sumoharjo
Berdasarkan data pada Gambar 5.34 dapat dilihat bahwa:
1. Hubungan baik antar tetangga mempunyai nilai 4, yang berarti hubungan antar
penghuni di rumah susun Urip Sumoharjo ini sudah terjalin baik dan akrab.
Hal ini disebabkan karena pada dasarnya mayoritas penghuni rumah susun ini
telah saling mengenal sejak sebelum rumah susun ini dibangun atau dalam
kata lain penghuni merupakan warga asli kampung tempat dimana rumah
susun ini berdiri sekarang. Selain itu seperti ciri khas masyarakat dalam
sebuah kampung, hubungan antar penghuni dilandasi tidak hanya sekedar
hubungan sahabat namun juga berdasar atas hubungan kerabat atau pertalian
keluarga.
2. Faktor kenyamanan mempunyai nilai 3,04, yang berarti rata-rata penghuni
telah merasakan nyaman untuk tinggal dirumah susun Urip Sumoharjo ini.
Meskipun demikian, nilai tersebut berarti pula bahwa penghuni cenderung
belum merasakan kenyamanan sesuai yang diinginkannya. Mencermati pada
pembahasan sebelum ini pada bagian adaptasi, maka dapat ditarik sebuah
benang merah penghubung bahwa masih belum sesuainya kebutuhan
penghuni terhadap kelengkapan rumah susun seperti ruang kamar dan ruang
menjemur akan mempengaruhi pada derajat kenyamanan yang dirasakan oleh
penghuni rumah susun Urip Sumoharjo itu sendiri. Selain itu perasaan nyaman
tinggal di rumah susun mayoritas hanya dirasakan oleh penghuni orang tua.
Sementara untuk anak-anak penghuni, kebanyakan merasa kurang betah untuk
109
tinggal di rumah susun, terutama apabila anak penghuni tersebut telah
memasuki usia dewasa pula.
3. Faktor aksesibilitas
mempunyai
nilai 4,13.
Aksesibilitas merupakan
kemudahan untuk mencapai suatu tempat. Aksesibilitas perorangan biasanya
diukur dengan menghitung besarnya biaya perjalanan yang dapat dihitung
berdasarkan jarak dari tempat hunian seseorang ke tempat tujuan aktivitas.
Ukuran aksesibilitas dapat dihitung untuk aktivitas yang spesifik seperti
belanja atau bekerja. Berdasarkan nilai yang diperoleh, terlihat bahwa
masyarakat sudah merasa puas dengan tingkat aksesibilitas di rumah susun
Urip Sumoharjo ini. Berdasarkan observasi dan wawancara diketahui bahwa
posisi rumah susun ini sangat strategis karena terletak di pusat kota. Oleh
sebab itu, fasilitas-fasilitas yang ada di Kota Surabaya menjadi lebih mudah
untuk diakses oleh para penghuni rumah susun ini. Selain itu faktor
kemudahan
dalam
mengakses
angkutan
umum
menjadi
pendukung
aksesibilitas yang baik pada rumah susun ini.
4. Faktor jarak tempat kerja mempunyai nilai 3,67, yang berarti bahwa penghuni
sudah merasa bahwa jarak antara rumah susun menuju tempat kerja sudah
sesuai. Hal ini utamanya dipengaruhi oleh faktor aksesibilitas yang baik,
seperti yang telah dijabarkan diatas.
5. Faktor status kepemilikan mempunyai nilai 3,89. Nilai ini berdasarkan
pertanyaan mengenai perbandingan antara status tempat tinggal sebelum
menghuni rumah susun yaitu rumah milik sendiri dengan status tempat tinggal
sekarang yaitu rumah susun sewa. Kecenderungan jawaban adalah penghuni
tidak merasa terganggu walaupun status penghunian rumah susun ini hanyalah
sewa. Hal ini disebabkan karena: pertama, rumah susun Urip Sumoharjo ini
dibangun di atas lahan bekas kampung mereka, yang pada akhirnya semakin
memperkuat perasaan keterikatan para penghuni dengan rumah susun ini.
Kedua, hal-hal yang berkaitan dengan penghunian rumah susun, misalnya
ketersediaan sarana prasarana yang layak serta hak tinggal yang aman
(security of tenure) lebih dijamin oleh pemerintah kota. Hal ini bagi penghuni
dirasa lebih menguntungkan bila dibanding dengan kehidupan kampung di
masa silam, sebelum rumah susun ini dibangun.
110
6. Faktor jangka waktu tinggal mempunyai nilai 3,60. Berdasarkan pertanyaan
yang diajukan kepada respoden mengenai kemungkinan untuk pindah dari
rumah susun, jawaban yang diperoleh bahwa mayoritas penghuni sudah
merasa betah menetap di rumah susun ini. Jawaban ini utamanya diperoleh
dari para penghuni yang berusia dewasa madya dan lanjut usia. Hal ini
umumnya disebabkan karena adanya ikatan emosional dengan lokasi yang
sekarang menjadi rumah susun tersebut. Lokasi ini telah dihuni sebagian besar
penghuni sejak kecil, yang merupakan warisan orang tua mereka sendiri.
Sehingga, para penghuni umumnya merasa memiliki kewajiban untuk tetap
bertahan dan menjaga amanah dari orang tua mereka masing-masing.
7. Faktor keamanan lingkungan mempunyai nilai 3,89. Keamanan lingkungan
merupakan salah satu isu utama di rumah susun. Ini utamanya terkait dengan
keamanan tempat parkir kendaraan di rumah susun itu sendiri. Namun menilai
angka yang didapat untuk faktor ini, maka bisa disimpulkan bahwa para
penghuni sudah merasa aman dengan kondisi rumah susun sekarang. Hal ini
disebabkan karena untuk menjaga lingkungan rumah susun, petugas pengelola
rumah susun dan warga penghuni saling membantu dalam melakukan kegiatan
pengamanan lingkungan rumah susun setiap harinya.
8. Faktor ketiadaan alternatif tempat tinggal yang lain mempunyai nilai 3,31.
Sebagian besar penghuni utamanya yang berusia dewasa madya dan lanjut
usia, pada dasarnya sudah tidak memiliki keinginan untuk mencari tempat
tinggal lain selain di rumah susun ini. Apabila sebelumnya disebut bahwa
faktor lama tinggal berpengaruh terhadap perasaan attachment to place, maka
faktor ini juga berpengaruh terhadap perasaan keterikatan tersebut. Para
penghuni merasa bahwa dengan kemampuan finansial yang dimilikinya saat
ini, menghuni rumah susun merupakan pilihan yang paling logis. Apalagi jika
pilihan ini dibandingkan dengan membeli rumah baru yang tentu harganya
lebih mahal. Sehingga, peluang untuk pindah mencari tempat tinggal lain
dirasa sudah sangat kecil kemungkinannya. Namun berdasarkan wawancara,
kondisi ini hanya berlaku bagi penghuni berusia dewasa madya dan lanjut usia
saja. Anak-anak penghuni rumah susun, terutama yang sudah memperoleh
111
pekerjaan, kenyataannya lebih memilih untuk mencari tempat tinggal di luar
rumah susun.
9. Faktor keterjangkauan sewa hunian mempunyai nilai 3. Hal yang paling
pokok dari menghuni rumah susun Urip Sumoharjo yang berstatus sebagai
rumah susun sewa sederhana adalah sewa hunian. Bagi penghuni rusun Urip
Sumoharjo ini, besaran tarif sewa yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota
selaku pemegang kebijakan atas rumah susun dirasa masih terlalu tinggi bagi
banyak penghuni rumah susun (lihat halaman 44). Bagi penghuni, besaran
sewa rumah susun ini dinilai masih lebih tinggi dibandingkan dengan tarif
sewa rumah susun lain. Walaupun disamping itu diakui pula oleh penghuni
bahwa besaran biaya sewa rumah susun ini masih lebih rendah bila
dibandingkan dengan sewa rumah kos atau rumah kontrak di Kota Surabaya.
2) Rusun Tanah Merah I
Persepsi penghuni mengenai keterikatan terhadap rumah susun Tanah Merah
I dianalisa dengan menggunakan skala likert (5=sangat sesuai s.d 1=sangat tidak
sesuai) terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi attachment to place seperti
terdapat pada Gambar 5.35 berikut.
Keterjangkauan sewa hunian
Ketiadaan alternatif tempat tinggal yang lain
Keamanan lingkungan
Lama tinggal
Status kepemilikan
Jarak tempat kerja
Aksesibilitas yang baik
Kenyamanan
Hubungan baik antar tetangga
3.10
3.66
4.60
3.84
2.42
2.83
2.53
3.16
3.89
-
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
Gambar 5.35. Faktor-faktor yang mempengaruhi attachment to place
di Rumah Susun Tanah Merah I
Berdasarkan data pada Gambar 5.35 dapat dilihat bahwa:
1.
Faktor hubungan baik antar tetangga mempunyai nilai 3,89. Berdasarkan
observasi, hubungan antar penghuni terjalin baik di rumah susun Tanah
Merah I ini. Meskipun rumah susun ini baru dihuni pada tahun 2010 dan
112
setelah itu secara bertahap diisi oleh penghuni serta penghuni yang masih
memiliki pertalian keluarga dengan penghuni di unit lain rusun ini pun
jumlahnya hanya sedikit, namun hubungan antar tetangga cepat terjalin akrab.
Hal ini tidak lepas dari peran ketua RT selaku ketua paguyuban warga rumah
susun yang didukung oleh keinginan dari seluruh warga rusun itu sendiri
untuk selalu berpartisipasi aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan bersama
yang sifatnya komunal, seperti arisan, rapat, olahraga bersama atau kegiatan
keagamaan.
2.
Faktor kenyamanan mempunyai nilai 3,16. Untuk masalah kenyamanan,
sejauh ini para penghuni sudah merasa betah untuk tinggal di rumah susun
ini. Walaupun pada awalnya para penghuni membutuhkan adaptasi ruang
rumah susun, namun hal tersebut lambat laun bisa berjalan baik. Jumlah
penghuni di dalam unit hunian juga turut mempengaruhi faktor ini, dimana
anggota keluarga penghuni rusun per unit rata-rata berjumlah 4 orang. Selain
itu usia anak-anak penghuni rata-rata kanak-kanak atau remaja, sehingga
kebutuhan ruang masing-masing penghuni dalam satu unit hunian masih bisa
terakomodasi dengan baik.
3.
Faktor aksesibilitas mempunyai nilai 2,53, yang berarti persepsi penghuni
mengenai aksesibilitas rumah susun ini masih belum sesuai dengan
kebutuhan. Faktor ini berkaitan erat dengan lokasi dari rumah susun itu
sendiri. Berdasarkan observasi, lokasi rumah susun ini terletak di jalan
lingkungan yang tidak memiliki akses langsung dengan angkutan umum.
Penghuni harus mengalokasikan biaya perjalanan lebih banyak karena harus
menggunakan moda transportasi becak terlebih dahulu untuk mencapai lokasi
angkutan umum berada. Sehingga hal ini turut mempengaruhi tingkat
aksesibilitas penghuni dalam mencapai berbagai fasilitas yang lokasinya
terletak di luar rumah susun ini.
4.
Faktor jarak tempat kerja mempunyai nilai 2,83, yang berarti persepsi
penghuni mengenai jarak tempat kerja dari rumah susun Tanah Merah I ini
masih
belum
sesuai.
Berdasarkan
wawancara,
beberapa
penghuni
mengeluhkan perubahan jarak tempat kerja semenjak direlokasi ke rusun ini.
113
Bahkan ada penghuni yang kemudian harus kehilangan pekerjaan dan
akhirnya mencari pekerjaan baru di dekat lokasi rumah susun ini.
5.
Faktor status kepemilikan mempunyai nilai 2,42. Masalah status kepemilikan
memang dirasakan oleh penghuni rusun. Walaupun peraturan daerah yang
mengatur pembatasan waktu tinggal di rumah susun selama maksimal 9 tahun
telah dicabut, namun penghuni masih merasa bahwa mereka tidak bisa
selamanya tinggal di rumah susun ini dengan status yang hanya sewa.
Masyarakat merasa bahwa tanpa hak milik, suatu waktu mereka pasti akan
keluar dari rumah susun ini.
6.
Faktor jangka waktu tinggal mempunyai nilai 3,84. Berdasarkan wawancara,
mayoritas penghuni masih ingin tinggal untuk jangka waktu lama di rumah
susun Tanah Merah I ini. Penghuni yang baru sekitar 4 tahun menghuni
rumah susun ini merasa bahwa untuk berpindah-pindah tempat tinggal dalam
jangka waktu cepat akan terasa sulit, apalagi bagi penghuni yang telah
berkeluarga. Untuk itu, mayoritas penghuni belum berkeinginan untuk pindah
dari rumah susun ini.
7.
Faktor keamanan lingkungan mempunyai nilai 4,60. Bagi penghuni,
keamanan lingkungan rumah susun dirasa sudah cukup baik. Hal ini ditunjang
dengan adanya pagar keliling rusun serta pos saptam yang dibangun di akses
masuk rusun. Selain itu pengamanan aktif pun dilakukan secara rutin oleh
penghuni. Faktor kemanan memang dirasa penting bagi setiap daerah
permukiman, termasuk juga rumah susun Tanah Merah I ini. Utamanya
keamanan bagi kendaraan yang dimiliki oleh penghuni karena diletakkan di
tempat parkir yang berada di lantai dasar rumah susun.
8.
Faktor ketiadaan alternatif tempat tinggal yang lain mempunyai nilai 3,66.
Bagi penghuni, opsi yang paling logis untuk saat ini adalah tetap menempati
rumah susun. Alasan utamanya adalah kemampuan finansial dari masingmasing penghuni yang terbatas. Mayoritas penghuni merupakan masyarakat
berpenghasilan rendah. Kebutuhan yang mendesak saat ini pun adalah
kebutuhan untuk pangan dan biaya sekolah anak. Selain itu ketersediaan
fasilitas rumah susun seperti listrik dan air bersih hingga saat ini tidak ada
114
masalah. Sehingga mayoritas penghuni belum memikirkan untuk mencari
alternatif tempat tinggal yang lain.
9.
Faktor keterjangkauan sewa hunian mempunyai nilai 3,10. Persoalan
keterbatasan finansial memang menjadi karakteristik dari masyarakat
berpenghasilan rendah, termasuk para penghuni rumah susun Tanah Merah I
ini. Beruntung, tarif sewa hunian yang dibebankan kepada penghuni rumah
susun ini dirasa murah dan masih mampu dilunasi tiap bulan oleh penghuni.
Inilah juga yang menyebabkan para penghuni rumah susun masih merasa
betah menghuni tempat ini.
3) Perbandingan Attachment to Place
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik sebuah hipotesis bahwa perasaan
keterikatan pada tempat (attachment to place) penghuni Rusun Urip Sumoharjo
lebih kuat daripada yang dirasakan penghuni di Rusun Tanah Merah I. Secara
garis besar, perasaan attachment to place MBR yang menghuni Rusun Urip
Sumoharjo dan Rusun Tanah Merah I dinilai sudah baik. Penghuni di kedua
rumah susun tersebut sudah mampu beradaptasi untuk membetahkan diri tinggal
di hunian model vertikal. Dari delapan faktor yang mempengaruhi perasaan
attachment to place (Kusuma, 2008), pada Rusun Urip Sumoharjo semua faktor
dinilai positif oleh penghuni. Sementara pada Rusun Tanah Merah I terdapat enam
faktor yang dinilai positif dan tiga faktor yakni status kepemilikan, aksesibilitas
dan jarak tempat kerja yang dinilai negatif oleh penghuni. Hal ini tentu berdampak
pada berkurangnya rasa attachment to place yang dimiliki oleh penghuni Rusun
Tanah Merah I terhadap huniannya bila dibandingkan dengan penghuni di Rusun
Urip Sumoharjo.
Walaupun masih terdapat beberapa faktor yang dapat mengurangi rasa
keterikatan penghuni terhadap rumah susun seperti lokasi rumah susun yang jauh
dari pusat kota dan tempat kerja, namun menilik dari data kuesioner dan
wawancara yang telah dilakukan, mayoritas penghuni di kedua rusun sudah
mampu menerima dan beradaptasi dalam menjadikan rumah susun seperti rumah
milik sendiri. Tidak hanya arti rumah sekedar memenuhi kebutuhan fungsional,
namun lebih dari itu yakni menjadikan rumah susun sebagai hunian yang
115
memadai dan dapat mendukung kehidupan dan penghidupan keluarga.
Tersedianya fasilitas dan utilitas yang lengkap dan memadai, sewa yang
terjangkau, hubungan tetangga yang baik, keamanan lingkungan yang lebih
terjamin, serta aturan jangka waktu tinggal yang tidak dibatasi terbukti mampu
memperkuat rasa attachment to place penghuni selaku masyarakat berpenghasilan
rendah terhadap rumah susun yang dihuninya. Penjelasan lebih lengkap dapat
dilihat pada rangkuman analisa pada Tabel 5.4 sebagai berikut:
116
Tabel 5.4. Perbandingan Perasaan Keterikatan pada Tempat (Attachment to Place)
antara Penghuni Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I
Variabel
Hubungan baik
antar tetangga
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Hubungan baik antar tetangga
mempunyai nilai 4, yang berarti
hubungan antar penghuni di rumah
susun Urip Sumohrajo ini sudah
terjalin baik dan akrab.
Rumah Susun Tanah Merah I
Faktor hubungan baik antar
tetangga mempunyai nilai 3,89.
Berdasarkan observasi, hubungan
antar penghuni terjalin baik di
rumah susun Tanah Merah I ini.
Analisis
Seperti ciri khas masyarakat dalam sebuah kampung,
hubungan antar penghuni dilandasi tidak hanya
sekedar hubungan sahabat namun juga berdasar atas
hubungan kerabat atau pertalian keluarga. Sehingga
tidak heran apabila hubungan antar tetangga baik di
Rusun Urip Sumoharjo maupun Rusun Tanah Merah
I cepat terjalin akrab karena budaya hidup komunal
dan saling membutuhkan antar tetangga masih
kental.
Kenyamanan
Faktor kenyamanan mempunyai
nilai 3,04, yang berarti rata-rata
penghuni telah merasakan nyaman
untuk tinggal dirumah susun Urip
Sumoharjo ini.
Faktor kenyamanan mempunyai
nilai
3,16.
Untuk
masalah
kenyamanan, sejauh ini para
penghuni sudah merasa betah untuk
tinggal di rumah susun ini
Persepsi mengenai kenyamanan yang dirasakan
penghuni di kedua rumah susun didasarkan pada
jumlah dan usia penghuni yang menempati tiap
satuan rumah susun. Berdasarkan ukuran ideal,
jumlah penghuni dalam sarusun maksimal sebanyak
4orang. Dari nilai yang diperoleh, dapat dilihat
bahwa nilai persepsi mengenai kenyamanan pada
Rusun Urip Sumoharjo lebih rendah dibanding
dengan Rusun Tanah Merah I. Hal ini karena pada
Rusun Urip Sumoharjo banyak unit sarusun yang
ditempati lebih dari 4 atau banyak dari anak-anak
penghuni yang beranjak dewasa dan menuntut
adanya privasi yang lebih yang tidak mampu
diakomodasi oleh unit sarusun itu sendiri.
117
Variabel
Aksesibilitas
Jarak
kerja
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Faktor aksesibilitas mempunyai
nilai 4,13. Berdasarkan nilai yang
diperoleh,
terlihat
bahwa
masyarakat sudah merasa puas
dengan tingkat aksesibilitas di
rumah susun Urip Sumoharjo.
Rumah Susun Tanah Merah I
Faktor aksesibilitas mempunyai
nilai 2,53, yang berarti persepsi
penghuni mengenai aksesibilitas
rumah susun ini masih belum sesuai
dengan kebutuhan.
tempat Faktor
jarak
tempat
kerja
mempunyai nilai 3,67, yang berarti
bahwa penghuni sudah merasa
bahwa jarak antara rumah susun
menuju tempat kerja sudah sesuai.
Faktor
jarak
tempat
kerja
mempunyai nilai 2,83, yang berarti
persepsi penghuni mengenai jarak
tempat kerja dari rumah susun
Tanah Merah I ini masih belum
sesuai.
118
Analisis
Faktor terkuat yang menyebabkan penghuni merasa
terikat dengan Rumah Susun Urip Sumoharjo adalah
karena aksesibilitasnya yang baik. Hal ini
disebabkan karena bila dilihat secara administratif,
posisi rumah susun ini terletak di Surabaya Pusat
serta berhadapan langsung dengan Jl. Urip
Sumoharjo. Sehingga lokasi ini menjadi strategis
bagi penghuni dalam mengakses fasilitas kota secara
lebih mudah. Kondisi ini berbanding terbalik dengan
yang dirasakan penghuni Rusun Tanah Merah I.
Penghuni merasa bahwa aksesibilitas rusun ini
kurang baik. Hal ini disebabkan karena pertama,
posisi rumah susun ini terletak di Jl. Tanah Merah V
yang merupakan jalan lingkungan di wilayah
pinggiran kota Surabaya. Konsekuensinya adalah
jauh dari pusat kota dan jauh dari tempat kerja.
Kedua, rumah susun ini tidak terlayani oleh
angkutan umum secara efektif, sehingga bagi
penghuni yang ingin menggunakan angkutan umum
harus mengeluarkan ongkos yang banyak bila ingin
bepergian ke pusat kota karena harus berganti
beberapa moda transportasi.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor aksesibilitas.
Hal ini paling dirasakan oleh warga relokasi pada
Rusun Tanah Merah I, dimana perubahan jarak
tempat kerja menjadi lebih jauh dan membutuhkan
biaya perjalanan yang lebih banyak dibandingkan
rumah sebelumnya kemudian memberikan dampak
negatif mengenai perasaan keterikatan terhadap
huniannya.
Variabel
Status
kepemilikan
Jangka
tinggal
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Faktor
status
kepemilikan
mempunyai nilai 3,89. Artinya
penghuni
merasa
bahwa
kepemilikan rumah susun telah
sesuai
dengan
apa
yang
diharapkannya.
Rumah Susun Tanah Merah I
Faktor
status
kepemilikan
mempunyai nilai 2,42. Artinya
penghuni
merasa
bahwa
kepemilikan rumah susun belum
sesuai
dengan
apa
yang
diharapkannya.
waktu Faktor jangka waktu tinggal
mempunyai nilai 3,60 yang artinya
penghuni mempunyai persepsi yang
baik mengenai tinggal di rumah
susun Urip Sumoharjo.
Faktor jangka waktu tinggal
mempunyai nilai 3,84 yang artinya
penghuni mempunyai persepsi yang
baik mengenai tinggal di rumah
susun Tanah Merah I.
119
Analisis
Perbedaan rasa attachment to place antara penghuni
kedua rumah susun ini juga terdapat pada
persepsinya mengenai status kepemilikan rumah
susun. Walaupun pada dasarnya kedua rumah susun
ini merupakan rumah susun sewa yang
kepemilikannya ada di tangan Pemerintah Kota
Surabaya, namun pada kenyataannya hal tersebut
dipersepsikan berbeda oleh penghuni Rusun Urip
Sumoharjo dan penghuni Rusun Tanah Merah I. Hal
ini tidak lepas dari aspek historis mengenai lokasi
pembangunan rumah susun itu sendiri. Keterkaitan
historis antara masyarakat dengan lokasi tempat
hunian rupanya menumbuhkan persepsi mengenai
adanya “hak milik” terhadap hunian. Oleh sebab itu,
rasa attachment to place penghuni Rusun Urip
Sumoharjo terhadap huniannya terasa kuat
dibandingkan dengan mayoritas penghuni Rusun
Tanah Merah I yang tidak memiliki keterkaitan
historis apa-apa dengan lokasi tempat berdirinya
rumah susun Tanah Merah I sekarang.
Penjelasan mengenai faktor ini adalah mengenai
kemungkinan penghuni untuk tinggal dalam masa
yang akan lama di rumah susun. Dari hasil penelitian
ditemukan bahwa kedua penghuni rumah susun
tersebut memiliki keinginan untuk tinggal yang lama
di rumah susun yang ditempatinya saat ini.
Walaupun terdapat perbedaan alasan yang
melatarbelakangi persepsi tersebut, dimana pada
penghuni Rusun Urip Sumoharjo lebih disebabkan
karena faktor historis dari kampung tempat mereka
Variabel
Keamanan
lingkungan
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Rumah Susun Tanah Merah I
Faktor
keamanan
lingkungan
mempunyai nilai 3,89. Bagi
penghuni, keamanan lingkungan
rumah susun dirasa sudah cukup
baik.
Faktor
keamanan
lingkungan
mempunyai nilai 4,60. Bagi
penghuni, keamanan lingkungan
rumah susun dirasa sudah cukup
baik.
Ketiadaan
Faktor ketiadaan alternatif tempat Faktor ketiadaan alternatif tempat
alternatif tempat tinggal yang lain mempunyai nilai tinggal yang lain mempunyai nilai
tinggal
yang 3,31.
3,66.
lain
120
Analisis
tumbuh sedari kecil. Sementara penghuni Rumah
Susun Tanah Merah I karena mereka baru
menempati rumah susun tersebut selama ± 4 tahun
dan merasa bahwa untuk berpindah-pindah tempat
tinggal dalam jangka waktu cepat akan terasa sulit,
apalagi bila telah berkeluarga.
Faktor kemanan merupakan hal penting bagi setiap
daerah permukiman, termasuk juga pada rusun Urip
Sumoharjo dan rusun Tanah Merah I ini. Hal ini
utamanya difokuskan pada keamanan bagi
kendaraan yang dimiliki oleh penghuni karena
diletakkan di tempat parkir yang berada di lantai
dasar rumah susun. Berdasarkan hasil studi,
ditemukan bahwa keamanan lingkungan di kedua
rusun ini telah terjamin dengan baik. Hal ini
dikarenakan untuk menjaga lingkungan rumah
susun, petugas pengelola rumah susun dan warga
penghuni saling membantu dalam melakukan
kegiatan pengamanan lingkungan rumah susun
setiap harinya.
Faktor ini dititikberatkan pada pertanyaan kepada
penghuni kedua rusun yaitu apakah masih memiliki
keinginan untuk mencari tempat tinggal lain selain
di rumah susun ini. Berdasarkan hasil studi
ditemukan bahwa para penghuni telah merasa terikat
dengan rumah susun yang ditempatinya. Penghuni
merasa bahwa dengan kemampuan finansial yang
dimilikinya saat ini yang masuk pada kategori
masyarakat berpenghasilan rendah, menghuni rumah
susun merupakan pilihan yang paling logis. Apalagi
Variabel
Rumah Susun Urip Sumoharjo
Rumah Susun Tanah Merah I
Keterjangkauan
sewa hunian
Faktor keterjangkauan sewa hunian
mempunyai
nilai
3
artinya
penghuni mempunyai persepsi yang
baik mengenai besaran sewa hunian
di rumah susun Urip Sumoharjo.
Faktor keterjangkauan sewa hunian
mempunyai nilai 3,10 artinya
penghuni mempunyai persepsi yang
baik mengenai besaran sewa hunian
di rumah susun Tanah Merah I.
121
Analisis
jika pilihan ini dibandingkan dengan membeli rumah
baru yang tentu harganya lebih mahal. Sehingga,
peluang untuk pindah mencari tempat tinggal lain
dirasa sudah sangat kecil kemungkinannya.
Faktor ini terkait dengan tarif sewa hunian yang
dibebankan kepada penghuni rumah susun.
Berdasarkan hasil studi ditemukan bahwa tarif sewa
yang rendah di kedua rumah susun ini juga
merupakan faktor yang menyebabkan penghuni
merasa betah untuk tinggal di rumah susun, terutama
bila dibandingkan dengan pilihan untuk menyewa
rumah kos atau rumah kontrak di Kota Surabaya.
Halaman ini sengaja dikosongkan
122
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis terhadap perilaku penyesuaian diri
(coping behavior), teritorialitas dan perasaan keterikatan pada tempat (place
attachment) yang dilakukan untuk mengetahui pola adaptasi yang dibentuk oleh
penghuni pada Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Untuk beradaptasi dan mencapai keadaan yang seimbang, manusia akan
melakukan perilaku penyesuaian diri (coping behavior) terhadap lingkungan.
Selama ini opini yang berkembang adalah bahwa MBR sebagai kelompok
sasaran Rusunawa akan mengalami kesulitan beradaptasi untuk tinggal di hunian
dengan model vertikal. Namun berdasarkan hasil studi ditemukan bahwa MBR
selaku penghuni rusun secara umum rupanya tidak mengalami kesulitan dalam
beradaptasi, terutama dengan tersedianya fasilitas dan utilitas penunjang yang
lengkap dan dalam kondisi yang memadai. Walaupun demikian, hal yang masih
perlu diperhatikan adalah mengenai satuan rumah susun baik itu ruang kamar,
ruang tamu maupun ruang menjemur dan ruang komunal. Ruang-ruang ini
merupakan ruang yang dirasa penghuni masih perlu dilakukan penyesuaian diri
secara aktif, terutama dalam hal pengorganisasian ruangnya. Jumlah dan usia
penghuni dalam satu unit sarusun merupakan faktor yang paling mempengaruhi
perilaku penyesuaian diri ini, seperti contohnya mengenai pembagian ruang
antara orang tua dan anak, utamanya terkait kebutuhan privasi apabila anak mulai
beranjak dewasa. Hal ini bisa dilihat pada kasus di Rusun Urip Sumoharjo
dimana banyak anak-anak penghuni yang memilih untuk keluar dari rumah susun
setelah dewasa. Walaupun rumah susun biasa hanya dikatakan sebagai rumah
transisi namun kualitas ruang juga perlu diperhatikan lebih seksama sesuai
dengan karakter MBR yang menghuni rumah susun tersebut.
123
2. Teritori dibangun oleh manusia untuk memberi batasan antara wilayah yang
diklaim dan yang tidak. Klaim tersebut dapat dilakukan oleh individu maupun
kelompok. Teritori di rumah susun dapat diidentifikasi melalui personalisasi
ruang yang dilakukan oleh penghuni di rumah susun tersebut. Terdapat karakter
yang sama antara Rumah Susun Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah
I yaitu dimana penghuni menggunakan kursi atau balai-balai yang ditempatkan di
selasar depan sarusun masing-masing untuk membentuk ruang semi privat di
masing-masing unit hunian. Selain itu ruang publik yang tersedia digunakan
sebagai ruang sosial yang mampu mempertemukan aktivitas antara penghuni
rumah susun dan warga non-rusun. Ini tentunya akan mampu membangun kohesi
sosial yang kuat, menghilangkan sentimen antara warga rusun dan non-rusun dan
mewujudkan integrasi rumah susun secara utuh dalam wilayah permukiman
masyarakat.
3. Perasaan keterikatan pada tempat (place attachment) merupakan ikatan
emosional yang dirasakan oleh seseorang terhadap sebuah tempat. Rumah tinggal
(home) biasanya memiliki ikatan emosional yang kuat dengan penghuninya.
Namun di rumah susun menjadi unik, karena rumah susun bisa dikatakan bahwa
penghuninya hanyalah berstatus sebagai penyewa. Berdasarkan analisa, diketahui
bahwa perasaan place attachment penghuni Rusun Urip Sumoharjo lebih baik
dibanding penghuni RusunTanah Merah I. Hal ini dilihat pada tiga faktor
pembeda yang mempengaruhi place attachment antara penghuni Rumah Susun
Urip Sumoharjo dan Rumah Susun Tanah Merah I yaitu status kepemilikan,
aksesibilitas dan jarak tempat kerja. Masih kurang baiknya persepsi penghuni
RusunTanah Merah I mengenai tiga faktor tersebut harus mendapat perhatian
yang serius dari Pemerintah Kota selaku pengelola rumah susun. Hal ini kembali
lagi pada tujuan utama dari penyediaan rumah susun yang tidak hanya sekedar
memberikan tempat tinggal bagi MBR namun harus mampu menciptakan
kenyamanan tinggal sehingga tercapai kebahagiaan.
124
6.2. Saran
Saran
yang
dihasilkan
sebagai
masukan
terhadap
perencanaan
dan
pembangunan rumah susun ke depan yang mempertimbangkan adaptasi penghuni
yaitu:
1.
Kriteria
untuk
mengidentifikasi
pola
adaptasi
kelompok
masyarakat
berpenghasilan rendah di rumah susun perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan
indikator-indikator sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan rusunawa,
sehingga bisa dijadikan acuan dalam merencanakan pembangunan rusunawa di
masa mendatang.
2.
Perlunya evaluasi pasca huni Rusunawa demi terciptanya sebuah hunian vertikal
yang nyaman huni dan bisa menjamin peningkatan kualitas hidup penghuninya.
3.
Perlunya pengkajian ulang mengenai standarisasi model rumah susun yang
dimiliki oleh pemerintah saat ini, dimana harus menyesuaikan dengan aspek
sosial budaya ekonomi dari masyarakat sasaran penghuni rumah susun.
4.
Rumah susun bukan sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat
tinggal tetapi merupakan tempat berkembang dan membina kehidupan
keluarganya menuju masa depan yang lebih baik. Pemerintah tidak cukup hanya
sebagai penyedia rumah (provider), tetapi harus memikirkan penyelesaian
kebutuhan rumah sebelum, pada saat pembangunan maupun pasca hunian.
125
Halaman ini sengaja dikosongkan
126
DAFTAR PUSTAKA
Adianto, Joko. (2009). Desain Unit Hunian Rumah Susun Sederhana Sewa:
Modularisasi Raga Tanpa Jiwa. Jurnal Tesa Arsitektur, Vol. 7, No. 2,
Desember 2009, hal. 76-85, ISSN 1410-6094
Altman, Irwin & Chemers M. (1980). Culture and Environtment. Monterey, Ca.:
Brooks/Cole
Altman, Irwin & Setha M. Low. (1992). Place Attachment (Human Behavior and
Environment). Plenum Press. New York
Anwar. (1998). Analisis Model Seting Ruang Komunal Sebagai Sarana Kegiatan
Interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun (Studi Kasus Rumah Susun
Pakunden Dan Sombo). Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang. (Online).
Tersedia: http://eprints.undip.ac.id/12078/1/1998MTA871.pdf (Diakses pada
Rabu, 4 Februari 2014)
Aulia, Dwira N. & Samsul Bahri. (2011). Perumahan dan Permukiman. Penerbit
Magister Teknik Arsitektur USU: Medan
Basri, Hasyim. (2010). Model Penanganan Permukiman Kumuh Studi Kasus
Permukiman Kumuh Kelurahan Pontap Kecamatan Wara Timur Kota
Palopo. Makalah dalam Seminar Nasional Perumahan Permukiman dalam
Pembangunan Kota 2010, ITS, Surabaya.
Beaudry, Anne & Alain Pinsioneault. (2005). Understanding User Responses to
Information Technology: A Coping Model of User Adaptation. Journal MISQ
Vol. 29 No. 3, pp. 493-524/September 2005 (Online). Tersedia:
http://bebas.vlsm.org/v06/Kuliah/Seminar-MIS/2006/172/172-11UnderstandingUserResponsestoIT-AcopingModelofUserAdaptation.pdf
(Diakses pada Rabu, 4 Februari 2014)
Budihardjo, ed. (1998). Sejumlah Masalah Permukiman Kota. Penerbit Alumni:
Bandung
Bungin, Burhan. (2001). Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif
dan Kualitatif. Airlangga University Press: Surabaya
Burhanuddin. (2010). Karakteristik Teritorialitas Ruang Pada Permukiman Padat
Di Perkotaan. Jurnal “Ruang“ Vol.2 No.1 Maret 2010. (Online) Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=10966&val=754
(Diakses pada Rabu, 4 Februari 2014)
Cockcroft, Kate. (2009). Piaget's Constructivist Theory of Cognitive Development
dalam Developmental Psychology, eds. Jacki Watts, Kate Cockcroft, Norman
Duncan, UCT Press, Cape Town, pp. 324-343
Coolen, Henny. (2009). House, Home, and Dwelling. Paper presented at the
ENHR conference ‘Changing Housing Markets: Integration and
Segmentation’,
Prague,
Czech
Republic
(Online).
Tersedia:
127
http://www.soc.cas.cz/download/938/paper_coolen_w10.pdf (Diakses pada
Rabu, 4 Februari 2014)
Cuba, Lee, & David M. Hummon. (1993). A Place To Call Home: Identification
With Dwelling, Community, and Region. The Sociological Quarterly. Volume
34, Issue 1, pages 111–131, March 1993 (Online) Tersedia:
http://Onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1533-8525.1993.tb00133.x/
(Diakses pada Senin, 24 Maret 2014)
Creswell, John W. (2013). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif,
dan Mixed, Edisi Ketiga. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Ellen, Roy. (1982). Environment, Subsistence and System: The Ecology of SmallScale Social Formations. Cambridge University Press
Gerungan. (1991). Psikologi Sosial. PT. Eresco: Bandung
Groat, Linda & David Wang. (2002). Architectural Research Methods. John
Willey & Sons, Inc: Canada
Hamzah, Andi & I Wayan Sudra. (2000). Dasar-dasar Hukum Perumahan.
Rineka Cipta: Jakarta
Hardesty, Donald L. (1977). Ecological Anthropology. Wiley & Sons: New York
Hardoyo, Su Rito, et al. (2011). Strategi Adaptasi Masyarakat Dalam
Menghadapi Bencana Banjir Pasang Air Laut Di Kota Pekalongan.
Percetakan Pohon Cahaya: Yogyakarta
Haryadi & Setiawan B. (1995). Arsitektur Lingkungan dan Perilaku: Suatu
Pengantar ke Teori, Metodologi dan Aplikasi. Direktorat Jendral DIKTI,
Depdikbud.
Kartasapoetra. (1987). Sosiologi Umum. PT.Bina Aksara: Jakarta
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. 2007.
Pemetaan Kondisi Perumahan di Indonesia. Jakarta
Kusuma, H.E. (2008). Working Base And Place Attachment. (Online). Tersedia:
http://www.ar.itb.ac.id/pa/wp-content/uploads/2009/02/working-base-andplace-attachment.pdf (Diakses pada Senin, 24 Maret 2014)
Kusumaningrum, Diah & Ida Warmadewanthi. (2010). Evaluasi Pengelolaan
Prasarana Lingkungan Rumah Susun Di Surabaya (Studi Kasus : Rusunawa
Urip Sumoharjo). Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah
2010. ISBN: 978-979-18342-2-3 (Online) (Diakses pada Rabu, 4 Februari
2014)
Lang, John. (1987). Creating Architectural Theory. Van Nostrand Reinhold Inc:
New York
Laurens, Joyce Marcella. (2004). Arsitektur dan Perilaku Manusia. Penerbit PT
Grasindo: Jakarta
Lewis, Oskar. (1984). Kebudayaan Kemiskinan, dalam Kemiskinan Perkotaan.
Penerbit Sinar Harapan: Jakarta
128
Lihawa, Harley Rizal, dkk. (2005). Tipologi Arsitektur Rumah Tinggal, Studi
Kasus Masyarakat Jawa Tondano (Jaton) di Desa Reksonegoro Kabupaten
Gorontalo (Online). Tersedia: http://repository.ung.ac.id/get/karyailmiah/115/
tipologi-arsitektur-rumah-tinggal-studi-kasus (Diakses pada Rabu, 4 Februari
2014)
Newmark, Norma L & Patricia J Thomson. (1977). Self, Space & Shelter: An
Introduction To Housing, Harper And Row, Publisher Inc.: New York
Panudju, Bambang. (1999). Pengadaan Perumahan Kota Dengan Peran Serta
Masyarakat Berpenghasilan Rendah. PT. Alumni: Bandung
Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 78 tahun 2013 tentang Penetapan Upah
Minimum Kabupaten/Kota (UMK) 2014
Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 14/PERMEN/M/2007 tentang
Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa
Prabowo, Hendro. (1998). Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Seri Diktat
Kuliah. Penerbit Gunadarma
Purwanto, Edi dan Wijayanti. (2012). Pola Ruang Komunal Dirumah Susun
Bandarharjo Semarang. Dimensi Journal of Architecture and Built
Environment, Vol. 39, No. 1, July 2012, pp. 23-30.
Raharjo, Nanang Pujo. (2010). Dinamika Pemenuhan Kebutuhan Perumahan
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (Studi Kasus: Penghuni Rumah Tipe
Kecil Griya Pagutan Indah, Mataram). Tesis, Universitas Diponegoro,
Semarang (Online) Tersedia: http://eprints.undip.ac.id/23950/ (Diakses Pada
Sabtu, 10 November 2012)
Rapoport, Amos. (1977). Human Aspects of Urban Form. Oxford: Pergamon
Press.
Rapoport, Amos. (1982). The Meaning of the Built Environment, A Nonverbal
Communication Approach. Sage Publication: California
Rapoport, Amos. (1990). System of Activities and System of Settings, dalam
Domestic Architecture and The Use of Space, (ed). Kent, Cambridge
University Press, Cambridge.
Rapoport, Amos dan Altman, Irwin. (1980). Human Behavior and Environment.
Plenum Press: New York.
Respati, Sri Mulyatini, dkk. (2012). Penanganan Permukiman Kumuh Secara
Terpadu. Proceeding Sarasehan dalam Rangka Hari Habitat Dunian 2012.
Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya, Jakarta
Russell, J. A. & Snodgrass, J. (1987). Emotion and the Environment. In Handbook
of Environmental Psychology, (pp. 245–280). John Wiley & Sons: New York
Sangalang, Indrabakti. (2013). Keterikatan Pada Tempat Untuk Hunian di Tepi
Sungai Referensi Suku Dayak Ngaju di Palangka Raya. Disertasi, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
129
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1992). Psikologi Lingkungan. Penerbit Rasindo:
Jakarta
Sevilla, Consuelo G, at all. (1993). Pengantar Metode Penelitian. UI Press:
Jakarta
Silas, Johan. (1993). Housing Beyond Home. Pidato Pengukuhan Guru Besar
Arsitektur, FTSP-ITS, Surabaya
Soesilowati, Etty. (2007). Kebijakan Perumahan dan Permukiman Bagi
Masyarakat Urban. Jurnal Ekonomi Dan Manajemen "Dinamika" Vol.16
No.1.
Sudjana, Nana. (1997). Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Makalah, Skrisi,
Tesis, Disertasi. Sinar Baru Algensindo: Bandung
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Penerbit
Alfabeta: Bandung.
Tondok, Marselius Sampe, dkk. (2012). Rumahku Tidak Menapak Bumi: Rumah
Susun
Penjaringan
Sari.
(Online)
Tersedia:
http://repository.
ubaya.ac.id/3467/ (Diakses pada Senin, 24 Maret 2014)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan
dan Kawasan Permukiman.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah
Susun.
Widjajanti, Wiwik Widyo. (2010). Pengaruh Attachment to Place Terhadap
Lingkungan Permukiman di Surabaya Timur. (Online) Tersedia:
http://repository.ubaya.ac.id/4567/ (Diakses pada Senin, 24 Maret 2014)
Williams, D. R., & Carr, D. S. (1993). The Sociocultural Meanings of Outdoor
Recreation Places. In A. Ewert, D. Shavez and A. Magill (Eds.), Culture,
conflict and communication in the wildland-urban interface (pp. 209-219).
Boulder, CO: Westview Press. (Online) Tersedia: http://www.fs.fed.us/
rm/value/research-place.html (Diakses pada Senin, 24 Maret 2014)
Williams, D. R., & Roggenbuck, J. W. (1989). Measuring Place Attachment:
Some Preliminary Results. Paper Presented at the Session on Outdoor
Planning and Management, NRPA Symposium on Leisure Research, San
Antonio (Online) Tersedia: http://www.fs.fed.us/rm/value/research-place.html
(Diakses pada Senin, 24 Maret 2014)
Williams, D. R., et all. (1992). Beyond the Commodity Metaphor: Examing
Emotional and Symbolic Attachment to Place. Leisure Sciences, 14, 29-46.
Tersedia:
http://www.fs.fed.us/rm/value/research-place.html
(Online).
(Diakses pada Senin, 24 Maret 2014)
Yudohusodo, Siswono, dkk. (1991). Rumah untuk Seluruh Rakyat. Yayasan
Padamu Negeri: Jakarta
www.lensaindonesia.com/2012/06/11/tolak-perda-rusun-penghuni-merasakeberatan. html(Online) (Diakses pada Rabu, 27 Februari 2014)
130
www.surabayakita.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3785:
3000-kk-warga-surabaya-tunggu-jatah-rumah-usun&catid=25:peristiwa&
Itemid=28 (Online) (Diakses pada Rabu, 27 Februari 2014)
131
Halaman ini sengaja dikosongkan
132
BIOGRAFI PENULIS
Maulana Sakti, Lahir di Baubau pada 1 Oktober 1989
sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Setelah
menempuh pendidikan formal di SDN 1 Wameo, SMP
Negeri 4 Baubau dan SMA Negeri 2 Baubau, Penulis
melanjutkan studi di Program Studi Pengembangan
Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas
Teknik, Universitas Hasanuddin, Makassar pada tahun
2007.
Pada tahun 2012, penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi Magister
Arsitektur bidang keahlian Perumahan dan Permukiman di Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya lewat program Beasiswa Unggulan (BU) dari
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Penulis dapat dihubungi lewat email ke: [email protected]
Download