BAB I PENDAHULUAN A.Latar Balakang Masalah Kebijakan publik

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Balakang Masalah
Kebijakan publik merupakan hal paling penting dalam menjalankan roda
pemerintahan. 1 Pemerintah adalah institusi yang menyelenggarakan kewenangan
politik, ekonomi dan adminitratif untuk mengatur urusan negara di setiap
tingkatan. Pemerintahan merupakan mekanisme yang kompleks, yang melibatkan
proses dan
institusi sebagai wahana warga dan kelompok masyarakat
mengartikulasikan kepentingan, menjalankan hak dan kewajiban, dan memediasi
perbedaan-perbedaan. Dalam perspektif ini pemerintah mencakup seluruh metode
membagikan kekuasaan dan mengatur sumber daya dan masalah publik.
Pemerintah yang baik akan mengalokasikan sumber daya dan masalah publik
secara efisien, memperbaiki kegagalan pasar (market failure), menyusun
peraturan yang efektif dan menyediakan kebutuhan publik yang tidak disuplai
oleh pasar. 2
Realitas seharian manusia selalu di isi sejumlah issu atau permasalahan
yang membutuhkan perhatian dan penyelesaian segera. Melalui kebijakan publik
diharapkan semua kebutuhan, kepentingan-kepentingan, keinginan semua
masyarakat dapat diwadahi. Di tengah tuntutan untuk memberikan peran lebih
kepada
pemerintah
muncul
juga
gagasan
untuk
membatasi
peran
pemerintah.Kaum neo-liberal bahkan memimpikan sebuah tatanan dimana negara
1
Http://www.journal.unipdu.ac.id/indeks.php/religi/article/view/486. Diakses 05Mei Pukul
02.45WIB
2
Agustinus Subarsono, Kebijakan Publik dan Pemerintahan Kolaborasi Isu-Isu Kontemporer.
Yogyakarta: Gava Media, hlm 5
Universitas Sumatera Utara
hanya menjalankan peran residual dalampenyelenggaraan urusan publik dengan
hanya menangani urusan-urusan yang dapat diselenggarakan oleh pusat paling
minimal sekalipun. Dengan demikian, peran dan posisi pemerintahan serta
kebijakan publik sebagai instrumennya tetap menempati posisi sentral dalam
masyarakat modern di tengah berbagai agenda neo-liberal untuk memangkasnya. 3
Kebijakan poros maritim merupakan salah satu agenda dan misi dari
Jokowi. Konsep pembentukan Indonesia poros maritim dunia terdiri dari lima
pilar utama yang disampaikan Jokowi dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay
Pyi Taw, Myanmar, Presiden Jokowi menegaskan konsep Indonesia sebagai Poros
Maritim Dunia sehingga agenda pembangunan akan difokuskan pada 5 (lima)
pilar utama, yaitu:
1. Membangun kembali budaya maritim Indonesia.
2. Menjaga sumber daya laut dan menciptakan kedaulatan pangan laut
dengan menempatkan nelayan pada pilar utama.
3. Memprioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan
membangun tol laut, deep seaport, logistik, industri perkapalan, dan pariwisata
maritim.
4. Menerapkan diplomasi maritim, melalui usulan peningkatan kerja sama di bidang
maritim dan upaya menangani sumber konflik, seperti pencurian ikan,
pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut
dengan penekanan bahwa laut harus menyatukan berbagai bangsa dan negara dan
bukan memisahka
3
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
5. Membangun kekuatan maritim sebagai bentuk tanggung jawab menjaga
keselamatan pelayaran dan keamanan maritim. 4
Pengembangan hukum maritim juga perlu dilakukan Indonesia sebagai
sebuah negara maritim. Penguatan kemaritiman merupakan salah satu visi
Presiden jokowi yang tercantum dalam agenda Nawa Cita. Kebijakan ini semakin
menguat sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang
Kelautan. Sayangnya, masih terdapat beberapa permasalahan seperti pembagian
kewenangan pusat dan daerah dalam pengelolaan laut, mekanisme penyelesaian
konflik antar negara dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) kelautan,
penghitungan dampak pelanggaran hukum dan pencemaran laut, pembatasan
keikutsertaan asing dalam pengelolaan SDA di laut, pembatasan kepemilikan
individu dan korporasi dalam pengelolaan SDA laut, serta keterlibatan masyarakat
adat dalam pengelolaan SDA di laut. Selain itu, pembatasan kepemilikan dan
pengelolaan individu dan korporasi atas Sumber Daya Lingkungan Hidup (SDALH dalam Undang-Undang Kelautan hanya dimaknai sebagai "kewajiban
memiliki izin". Soal penghitungan dampak, belum kelihatan aturan yang mengatur
kewajiban menghitung dampak negatif yang akan muncul dalam pemanfaatan
SDA-LH dan memasukkannya dalam biaya pengelolaan SDA-LH. Keterlibatan
masyarakat hukum adat juga belum diatur secara optimal dan lebih diarahkan
sebatas bidang wisata bahari, sehingga perlu diperkirakan untuk disempurnakan
kembali melalui amandemen Undang-Undang kelautan. Dalam sejarah maritim
Asia, jalur yang ditempuh pedagang China, Jalur Sutra, terdiri dari darat dan laut.
Jalur darat mempunyai rute yang melalui China, Asia Tengah, India, dan Asia
4
http://www.kemlu.go.id/id/berita/siaran-pers/Pages/Presiden-Jokowi-Deklarasikan-IndonesiaSebagai-Poros-Maritim-Dunia.aspx. Diakses 5 Mei pukul 16.00 WIB
Universitas Sumatera Utara
Barat. Jalur laut merupakan kelanjutan dari jalur darat yang dimulai dari Teluk
Persia sampai Laut Merah. Selain itu, jalur laut juga dapat ditempuh dari Teluk
Benggala sampai ke Teluk Persia.
5
Jenis ideal sistem internasional yang dipahami secara tradisional hubungan
internasional dan ilmu politik komparatif adalah dunia nasional "varietas"
kapitalisme diwakili dalam politik internasional melalui perantaraan pemerintah
nasional. 6 Geografis maritim suatu negara membuka peluang bagi negara tersebut
menjadi negara maritim yang mengimplementasikan keberlangsungan politik luar
negeri di dalam perwujudan kegiatan-kegiatan di dalam negara maritim tersebut. 7
Indonesia merupakan negara maritim dan sudah menjadi bagian dari jalur
perdagangan laut yang penting sejak masa prasejarah, khususnya di Selat Malaka.
Namun, hubungan perdagangan Nusantara dengan China dan India baru dimulai
pada abad ke-3 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan tulisan dari Fa-Hsien, yang
berlayar dari India ke China melalui Jawa..
Walaupun Indonesia merupakan negara maritim sejak masa prasejarah,
pemanfaatan potensi ekonomi laut masih belum maksimal karena pemerintah
tidak terlalu serius menggarap sektor kelautan dan perikanan. Pembangunan dan
ekonomi Indonesia masih berbasis pada eksplorasi dan pengolahan wilayah
daratan, padahal perairan Indonesia lebih luas dan potensial untuk peningkatan
kesejahteraan rakyat. Hal tersebut yang mendasari pemikiran Presiden Joko
Widodo (Jokowi) untuk mengembangkan visi poros maritim dunia.
5
Ibid
Beni Pramula, Ironi Negeri Kepuluan, Jakarta : AlexMedia Komputindo. Hlm 7.
7
Nathan Lillie. 2006. A Global Union for Global Workers: Collective Bargaining Regulatory Politics
in Maritime Shipping, New York: Florida International University Press.
6
Universitas Sumatera Utara
Visi pembentukan poros maritim dunia tersebut tidak hanya menjadi
kebijakan dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Hal tersebut berkaitan dengan
kapal asing ataupun negara lain yang juga memerlukan wilayah perairan
Indonesia, tidak hanya untuk sebagai jalur pelayaran, tetapi juga sebagai tempat
melakukan bisnis. Apalagi kebijakan tersebut sudah dipaparkan Jokowi di dalam
East Asian Summit (EAS), yang merupakan forum interaksi pemimpin-pemimpin
dari pelbagai negara. Oleh karena itu, kebijakan pembentukan poros maritim
dunia merupakan kebijakan luar negeri Indonesia saat ini.
Rezim
internasional
merupakan
bagian
dari
kesempatan
politik
transnasional. Konsep internasionalrezim dikembangkan dalam teori hubungan
internasional untuk menjelaskan mengapanegara-negara berdaulat, dalam dunia
yang anarkis, sering mengatur hubungan antar negara merekamelalui sistem
norma, harapan dan institusi, yang melakukantidak selalu melayani kepentingan
langsung dari setiap negara bagian yang terlibat (Krasner1983). Dalam beberapa
tahun terakhir, minat dalam hubungan transnasional pribaditelah melahirkan
agenda riset baru di rezim internasional denganpenekanan pada aktor non-negara
dalam politik dunia.
Indonesia merupakan negara yang dua per tiga dari wilayah terdiri dari
perairan dan kaya sumber daya kelautan.Indonesia terdiri dari 92 pulau-pulau
terdepan dan 31 diantaranya berpenduduk. 8 dan sumber daya laut yang beradam
dan sangat kaya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Soekarno, dalam salah satu
pidatonya, Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat jika mempunyai kemampuan
perairan atau kelautan yang kuat, poros maritim juga mempunyai tujuan yang
8
Beni Pramula, Ironi NegeriKepulauan, Jakarta: Alex Media Komputindo, hlm 7
Universitas Sumatera Utara
sama. Indonesia akan dibentuk menjadi sebuah negara maritim yang menjadi
pusat aktivitas kelautan dunia.
Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas),
Andrinof Chaniago, menyatakan bahwa Jokowi ingin menjadikan wilayah
perairan Indonesia sebagai wilayah teraman di dunia untuk semua aktivitas laut.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan poros maritim tidak hanya berkaitan
dengan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia, tetapi juga peningkatan
keamanan dan kenyamanan negara lain data berada di wilayah Indonesia.
Kebijakan poros maritim tidak hanya berkaitan dengan permasalahan domestik,
tetapi juga internasional. 9
Ruang laut untuk menjadi negara maritim. Indonesia harus mampu
memanfaatkan semua unsur kelautan di sekelilingnya untuk kesejahteraan bangsa
dan kemajuan bangsa, serta membentuk keamanan laut yang memadai untuk
mencegah pelanggaran hukum. Sementara itu, di tataran diplomasi dan hubungan
luar negeri, Indonesia harus mampu melakukan diplomasi ekonomi maritim.
Diplomasi ekonomi maritim menempatkan pemanfaatan potensi kelautan sebagai
bagian dari diplomasi dengan negara lain. Upaya diplomasi ini tidak hanya dapat
meningkatkan investasi di Indonesia, tetapi juga memperkuat hubungan kerja
sama dengan negara lain, terutama yang berada di wilayah Asia Tenggara.
Jika suatu negara terdiri dari kelompok pulau, interkoneksi perairan dan
lainnya
fitur alam itu bisa dianggap sebagai sebuah negara kepulauan jika unsur-unsur
memuaskan
9
http://nasional.kompas.com/read/2014/11/04/19385871/Ini.yang.
Diinginkan.Jokowi.dalam.Wujudkan.Poros.Maritim.Dunia. Diakses 5 Mei 2006. Pukul 20,00 WIB
Universitas Sumatera Utara
salah satu dari dua kondisi. Kondisi pertama adalah bahwa unsur-unsur 'dan’
harus
membentuk suatu entitas geografis, ekonomi dan politik intrinsik ‘atau'.
Penggunaan
'Dan' daripada 'atau' mensyaratkan bahwa memenuhi kepulauan semua kualifikasi
hal. Ini akan menjadi mungkin untuk memeriksa kata-kata, 'intrinsik', 'geografis',
'Ekonomi', 'politik' dan 'entitas' dan menghasilkan serangkaian definisi kondisi ini.
Namun, karena dua alasan itu hampir tampaknya layak dilakukan. Pertama adalah
negara itu sendiri yang harus membuat penilaian. 10
Gagasan poros maritim yang dilontarkan oleh presiden Joko Widodo
mendapat perhatian luas dan respons beragam dari berbagai kalangan, baik di
dalam negeri maupun di luar negeri.
Di satu pihak, gagasan itu dilihat sebagai angin segar di tengah
kegersangan ide mengenai arah masa depan yang ingin dituju oleh Indonesia. Di
sisi lain, ada juga yang bersifat skeptis, terutama karena pengalaman masa lalu di
mana gagasan kemaritiman Indonesia kerap berlalu sebagai wacana belaka.
Namun, berbeda dengan berbagai wacana serupa sebelumnya, gagasan
poros maritim yang dilontarkan Jokowi memberi harapan dan optimisme lebih
kuat. Perbedaan itu dapat dilihat dari keutuhannya sebagai sebuah pemikiran yang
mencakup tiga elemen dasar—sebagai sebuah cita-cita, sebagai doktrin, sebagai
bagian
dari
agenda
pembangunan
nasional—dan
cara/strategi
untuk
mewujudkannya.
10
Victor Prescott. Schofied Clive. 2005. The Maritime Political Boundaries of the World. Leiden,
Netherland: Martinus Nijhoff Publisher hlmn 149
Universitas Sumatera Utara
Tiga elemen poros maritim: yaitu pertama, poros maritim dapat dilihat
sebagai sebuah visi atau cita-cita mengenai Indonesia yang ingin dibangun. Dalam
konteks ini, gagasan poros maritim merupakan sebuah seruan besar untuk kembali
ke jati diri Indonesia atau identitas nasional sebagai sebuah negara kepulauan,
yang diharapkan akan mewujud dalam bentuk Indonesia sebagai kekuatan
maritim yang bersatu (unity), sejahtera (prosperity), dan berwibawa (dignity).
Kedua, poros maritim juga dapat dipahami sebagai sebuah doktrin, yang
memberi arahan mengenai tujuan bersama (a sense of common purpose). Sebagai
doktrin, Jokowi mengajak bangsa Indonesia melihat dirinya sebagai ”Poros
Maritim Dunia, Kekuatan di Antara Dua Samudra”. Doktrin ini menekankan
realitas geografis, geostrategis, dan geoekonomi Indonesia yang masa depannya
tergantung, dan pada saat yang bersamaan ikut memengaruhi, dinamika di
Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Ketiga, gagasan poros maritim Jokowi tidak berhenti pada level abstraksi
dan konseptualisasi. Gagasan itu menjadi operasional ketika platform Jokowi juga
memuat sejumlah agenda konkret yang ingin diwujudkan dalam pemerintahannya
ke depan. Misalnya, rencana pembangunan ”tol laut” untuk menjamin
konektivitas antarpulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan,
pembangunan pelabuhan, perbaikan transportasi laut, serta fokus pada keamanan
maritim, mencerminkan keseriusan dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros
maritim dunia. Dengan kata lain, gagasan poros maritim juga bagian penting dari
agenda pembangunan nasional.
Pertanyaannya, bagaimana strategi untuk mewujudkan gagasan poros
maritim itu? Penting disadari, upaya mewujudkan visi Indonesia sebagai ”Poros
Universitas Sumatera Utara
Maritim Dunia” perlu proses dan waktu tidak singkat. Namun, kita tak boleh
terpaku pada perbincangan mengenai cita-cita, tetapi sudah harus segera mulai
bekerja membangun fondasi yang kuat bagi perwujudan cita-cita itu.
11
Kerja untuk mewujudkan gagasan poros maritim dunia itu perlu
difokuskan setidaknya padtiga strategi dasar. Pertama, kesiapan sumber daya
manusia. Hal ini perlu dimulai dengan melakukan pengarusutamaan wawasan
bahari ke dalam proses pendidikan. Indonesia juga perlu menyiapkan keahlian di
berbagai bidang kelautan, mulai dari yang bersifat teknis, teknologi, sampai ahliahli strategi dan hukum laut internasional. Pada level yang lebih strategis, bangsa
Indonesia juga perlu memperkuat kesadaran lingkungan maritim (maritime
domain awareness/MDA).
Kedua, wawasan bahari dan MDA perlu ditopang oleh, dan dituangkan
dalam, determinasi untuk melakukan penguatan infrastruktur maritim. Fokus pada
pembangunan infrastruktur ini sudah tertuang dalam rencana kerja agenda
pembangunan Jokowi-Jusuf Kalla. Ketiga, pembangunan maritim perlu biaya
yang besar, ketersediaan teknologi yang cukup, dan waktu yang panjang. Sulit
rasanya membayangkan semua itu dapat dilakukan oleh Indonesia secara
mandiri. 12
Karena itu, Indonesia perlu menyusun kerangka kerja sama kemitraan
maritim multilateral untuk mewujudka n cita-cita dan pelaksanaan agenda
pembangunan poros maritim ini. Misalnya, Indonesia dapat membentuk Indonesia
11
Octaviani Pramono. Inspirasi Srikandi Jokowi: Susi Pudjiastuti: Si gila Yang Dipercaya Jokowi.
Yogyakarta: Syura Media Utama, hlmn 132
12
Ibid
Universitas Sumatera Utara
Maritime Partnership Initiative (Prakarsa Kemitraan Maritim Indonesia) bersama
Jepang, Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Singapura.
Tantangan dalam menjalankan ketiga strategi itu tentunya tak mudah
untuk diatasi. Namun, Indonesia tidak memiliki pilihan lain, kecuali segera
mengambil dan memulai upaya untuk mengembalikan jati dirinya sebagai negara
kepulauan, yang berada di antara dua samudra strategis.
Dalam mengimplementasikan poros maritim ada banyak kebijakan yang
harus direvisi. Misalnya, UU No.1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Aturan
ini membuka peluang korporasi asing menguasai SDA yang ada di laut Indonesia.
Padahal, untuk
membangun poros maritim,
yang utama adalah
mensejahterakan nelayan dan penduduk di pesisir dan pulau kecil. Pada dasarnya,
kebijakan poros maritim dunia tersebut mendukung pembentukan konektivitas
nasional dan regional yang bertujuan untuk menyatukan negara-negara di kawasan
Asia Tenggara. Pada tahun 2015, Association of South East Asian Nations
(ASEAN)
telah
melaksanakan
Komunitas
ASEAN.
Dalam pelaksanaan
Komunitas ASEAN, konektivitas di tataran nasional dan regional menjadi hal
yang sangat penting. Apalagi Indonesia merupakan negara kepmenyatukan
antarpulau sangat diperlukan.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkam di atas, peneliti memiliki
ketertariakan untuk membahas kebijakan pembentukan poros maritim sebagai
bagian kebijakan luar negeri Indonesia yang berdampak lokal dan regional.
Penelitian ini menjelaskan mengenai kebijakan pembentukan poros maritim dunia
dalam konteks peningkatan pembangunan politik Indonesia. Pembahasan
Universitas Sumatera Utara
kebijakan pembentukan poros maritim tersebut dianalisis dengan menggunakan
metode perspektif adaptif, sehingga tinjauannya didasarkan pada kondisi internal,
eksternal dan idiosinkratik dari Jokowi, sebagai Presiden Indonesia saat ini.
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas yang menjadi rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana kebijakan pembangunan poros maritim pemerintahan Jokowi
sejauh ini
2. Bagaimana implementasi salah satu pilar Nawa Cita yakni memprioritask
infrastruktur dan konektivitas tol laut, deep seaport, logistik, industri
perkapalan, dan pariwisata maritim sejauh ini?
B. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ditemukan di atas, maka penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Menjelaskan kebijakan pembangunan poros maritim pemerintahan
Jokowi.
2. Mengidentifikasi dan menganalisis implementasi kebijakan pembangunan
poros maritim Jokowi sejauh ini.
C. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis penelitian ini menggunakan teori Kebijakan Publik ,dan
teori Pembangunan.
Universitas Sumatera Utara
2. Secara lembaga. penelitian ini akan menambah khazanah bliferas
khususnya bagi departemen ilmu politik FISIP-USU.
3. Bagi masyarakat. penelitian ini berguna untuk menambah bacaan
khususnya dalam kebijakan poros maritim Pemerintahan Jokowi.
D. Kerangka Teori
f.1 Kebijakan Publik (Public Policy)
Kebijakan (policy) adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh
seorangpelakuatau kelompok politik dalam usaha memilih tujuan dan cara untuk
mencapai tujuan itu. Pada prinsipnya pihak yang membuat kebijakan;kebijakan
itumempunyai kekuasaan untuk melaksanakannya.
Para sarjana menekankan aspek kebijakan publik (public policy, beleid)
menganggap bahwa setiap masyarakat mempunyai beberapa tujuan bersama. Citacita bersama ini ingin dicapai melalui usaha bersama., dan untuk itu perlu
fitentukan rencana-rencana yang mengikat yang tertuang dalam kebijakan (policy)
olehpihak yang berwenang dalam hal ini. Berikut iniada beberapa defenisi:
a.
Hoogerwerf: Objek dari ilmu politik adalah kebijakan pemerintah,
proses ternemtuknya, serta akibat-akibatnya.
b.
David Easton: Ilmu politik adalah studi tentang terbentuknya kebijakan
umum. (study of the makingofpublic policy). 13
Kebijakan publik merupakan arah tindakan yang dilakukan olehpemerintah.
Area studi meliputi segala tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dan
13
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia PustakaUtama, hlmn 21
Universitas Sumatera Utara
mempunyai pengaruh terhadap kepentingan masyarakat secara luas. Kebijakan
publik secara garis besar mencakup tahap-tahap perumusan masalah kebijakan,
implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Ada 3 hal pokok yang perlu
diperhatikan dalam analisis kebijakan yakni Pertama, fokus utamanya adalah
mengenai penjelasan kebijakan bukan mengenaianjuran kebijakan yang “panyas”.
Kedua, sebab-sebab dan konsekuensi-konsekuensi dari kebijakan-kebijakan
publik diselidiki dengan teliti dan dengan menggunakan metodologi ilmiah.
Ketiga, analisa dilakukan dalam rangka mengembangkan teori-teori umum yang
dapat
diandalkan
tentang
kebijakan-kebijakan
publik
dan
pembentukannya,sehingga dapat ditetapkan terhadap lembaga-lembaga dan
bidang-bidang kebijakan yang berbeda.
Tahap-tahap kebijakan : Penyusunan Agenda > Formulasi Kebijakan >
Adops iKebijakan > ImplementasiKebijakan > Evaluasi Kebijakan. 14
Tahap Penyusunan Agenda
Para pejabat dipilih dan dinangkat menempatkan masalah pada agenda
publik. Beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan para ebijakan.
Tahap Formulasi Kebijakan
Masalah yang telah masukke agenda kebijakan kemudian dibahas olehpara
pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefenisikan untuk kemudian dicarri
pemecahan masalah terbaik
Universitas Sumatera Utara
Tahap Adopsi Kebijakan
Dari sekian banyakalternatif kebijakan yang ditawarkan olehpara [erumus
kebijakan, pada akhirnya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut diadopsi
dengan dukungan mayoritas dan lembaga.
Tahap Implementasi Kebijakan
Suatu program kebijakan hanya akan menjadi program catatn-catatan
elitjika program tersebut tidakdiimplementasikan. Uleh karena itu,program
kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus
diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun
agen-agen pemerintahan. Beberapa implementasikebijakan mendapai dukungan
dari para pelaksana namun ada juga yangmenentangnya.
Tahap Penilaian Kebijakan.
Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievalusi
untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah mampu menyelesaikan
masalah.Kebijakan publik pada dasarnya dibuat untukmeraih dampak yang
diinginkan, dalamhal ini memperbaiki masalah yang ada dalam masyarakat. 15
Menurut Starling,terdapat lima proses kebijakan publik, yaitu :
1. Identification of needs, yaitu mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan
masyarakat dalam pembangunan dengan mengikuti beberapa kriteria antara
lain : menganalisisi data, sampel, data statistik, model-model simulasi,
analisis sebab-akibat dan teknik-teknik peramalan.
15
Budi Winarmo, Teori dan Proses Kebijakan Publik, Yogyakarta: Media Pressindo, 2002, hlm 29
Universitas Sumatera Utara
2. Formulasi usulan kebijakan yang mencakup faktor-faktor strategik, alternatifalternatif yang bersifat umum, kemantapan teknologi dan analisis dampak
lingkungan.
3. Adopsi yang mencakup analisis kelayakan politik, gabungan beberapa teori
politik dan penggunaan teknik-teknik penganggaran.
4. Pelaksanaan program yang mencakup bentuk-bentuk organisasinya, model
penjadwalan,
penjabatan
keputusan-keputusan,
keputusan-keputusan
penetapan harga, dan sekenario pelaksanaannya.
5. Evaluasi yang mencakup penggunaan metode-metode eksperimental, sistem
informasi, auditing dan evaluasi mendadak. 16
Kebijakan
publik
membutuhkan
partisipasi
masyarakat
dalam
pelaksanaannya, adapun contoh-contoh kebijakan publik yaitu sebagai berikut :
A. Kebijakan Publik Yang Berupa Peraturan Perundang-Undangan seperti
Mengikuti wajib belajar 9 tahun, Membayar Pajak Bumi dan Bangunan,
Menggunakan hak untuk memilih dalam pemilihan umum, Melaksanakan
peraturan daerah yang telah ditetapkan dan berlaku di suatu daerah, Tidak
melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme agar terwujud penyelenggara
negara yang bersih dan bebas dari KKN, Menggunakan lambang negara,
bendera, dan lagu kebangsaan sesuai dengan peraturan , Menyampaikan
aspirasi atau pendapat baik dalam bentuk unjuk rasa, demonstrasi, pawai,
rapat umum, mimbar bebas, dan memberitahukan secara tertulis kepada Polri
selambat-lambatnya 3x24 jam sebelum kegiatan dimulai, yang diterima oleh
Polri setempat.
16
http://www.pengertianpakar.com/2015/10/pengertian-tujuan-dan-proses-kebijakanpublik.html. Diakses 10 Juli 2016 Pukul 20.00 WIB
Universitas Sumatera Utara
B. Kebijakan
Publik
Yang
Berupa
Pidato-Pidato
Pejabat
Tinggi
sepertiMelaksanakan anjuran yang disampaikan oleh presiden pada setiap
tanggal 17 Agustus, Melaksanakan anjuran yang disampaikan oleh menteri,
gubernur, bupati, walikota melalui pidatonya pada peringatan hari besar
nasional.
C. Kebijakan Publik Yang Berupa Program-Program Pemerintah seperti
Melaksanakan anggaran sesuai dengan yang termuat dalam APBN atau
APBD, Melaksanakan arah kebijakan yang termuat dalam GBHN
D. Kebijakan Publik Yang Berupa Tindakan Yang Dilakukan Oleh Pemerintah
seperti
Mendukung kunjungan presiden dan menteri ke negara lain,
Mendukung kehadiran presiden atau menteri ke suatu daerah, kongres,
muktamar, munas dan sebagainya, Melaksanakan sambutan presiden,
menteri, kepala daerah, perangkat daerah pada kegiatan resmi atau
protokoler 17
Secara alamiah, negara yang diwakili pemerintah telah terkait dalam
sebuah kontraksosial alamiah dengan warga negara. Kontrak yang bersifat
mengikat tersebut mewajibkan pemerintah untuk menyediakan berbagai
kebutuhan-kebutuhan atau bahkan keinginan warga negara yang merentang dari
hal-hal dasar hingga hal-hal yang lebih fundamental maupun spiritual. Dalam
menjalankan kontrak tersebut,pemerintah pun dibekali dengan sejumlah instrumen
seperti otoritas dan sumber daya yang penggunaannya tetap harus tunduk pada
dan dipertanggungjawabkan kepada warga negara.
17
Margono, Bambang, dkk.2003. Kewarganegaraan Indonesia. Jakarta :Sinar Grafika.Hlm 22-23
Universitas Sumatera Utara
Dengan otoritas dan sumber daya yang dimilikinya, pemerintah
dihadapkan dengan salah satu tantangan terberat sejak dimulainyasejarah
peradaban modern yang bernama negara-bangsa. Tantangan tersebut berpusat
pada persoalan alokasi sumber daya yang terbatasuntukmemenuhi kebutuhan dan
keinginan warga negara tidak hanya bervariasi, tetapi juga bertabrakan atau
bertentangan. Tantangan tersebut coba dijawab melalui berbagai kebijakan publik
yang dibuat dan dijalankan oleh pemerintah. Dengan demikian, kebijakan publik
harus mampu mengelola sumber daya yang terbatasuntuk memenuhi kebutuhan
yang tidak terbatas itu, sebagaimana ditegaskan oleh Bromel (2012:1), kebijakan
publikpada hakekatnya berurusan dengan bagaimana menutuskan “who gets what
dan who pays given relative resourese scarcity”. Hal yang sama juga ditekankan
oleh David Easton (1965)
yang memperlakukan kebijakan publik sebagai
instrumen politik untuk mengalokasi nilai-nilai. Persoalannya adalah bagaimana
hal itu bisa dilakukan? Kebutuhan ataunilai-nilai siapa dan mana yang
mendapatkan alokasi pemerintah.
Pertanyaan
tersebut
penting
diajukan
mengingatkebijakan
publik
beroperasi dalamsebuah arena yang meniscayakan pluralitas dimensi seperti
aktor,kepentingan,
nilai,
kekuasaan,
pengetahuan,
informasi,
dan
lain
sebagainya.dalamkonteks yang demikian, muncul paradoks yang nyaris jamak
terjadi yang ditemukan kapan dan dimana saja. Di satu sisi, kebijakan
publikmemainkan fungsi moderasi publik dengan mengalokasikan sumber daya
untuk memenuhi kebutuhan atau nilai tertentu.namun pada saat yang sama,
kebijakan publik menjadi pemicukonflik itu sendiri karena ketidakmampuannya
dalammengola proyek alokasi tersebut yang dapat memuaskan semuapihak
Universitas Sumatera Utara
(O’Kelly dan Dubrick 2005;picer 2009). Paradoks seperti itulah yang menjadikan
konfliksebagai “the order of the day”. Konflikmenjadi sahabat sebuah peradaban
karena secara natural setiap aktor memiliki kepentingan dan nilai yang berbeda
yang coba diperjuangkan secara maksimal. Oleh karena itu, konfkil tidak perlu
dan tidak dapat dihindari tetapi harus dikelola agar tidakmelulu distrimental
melainkan juga produktif.
Sayangnya, dalam prakteknya tidak banyak kajian yang memberi
perhatian pada sentralis konflik dalam kebijakan publik.konflikjustru cenderung
dihindari atau dianggap tidak relevan dalam diskursi kebijakan. Inilah salahsatu
pemicu banyaknya konflik di dalam dan akibat adanya kebiijakan publik. 18
Paradoks Kebijakan Publik
Realitas seharian manusia selalu diisi oleh sejumlah isu atau permasalahan
yang membutuhkan perhatian dan penyelesaian segera. Sebagai institusi yang
diberi mandatformal untuk menyelesaikan berbagai persoalan publik,ppemerintah
diberi otoritas untuk membuat dan melaksanakan kebijakan publik. Melalui
berbagai
kebijakan
publik
inilah
diharapkan
semua
kebutuhan,
kepentingan,keinginan, dan nilai masyarakat dapat diwadahi dan diwujudkan.
Ekspektasi yang begitu tinggi terhadap pemerintah untuk menjawab
berbagai persoalan masyarakat melalui kebijakan publiksangatlah beralasan.
Sandaran filosofis yang paling dasar adalah konflik sosialalamiah yang disebutkan
sebelumnya. Merujuk pada kontrak tersebut, menyelesaikan berbagai persoalan
publikbukanlah pilihan bagi pemerintah namun sebuah keharusan. Secara
18
Op.cit , hlm 2
Universitas Sumatera Utara
normatif pula pemerintah tidak bisa memilih hanya menyelesaikan persoalan
tertentu dan mengabaikan yang lainnya. Belakangan pemerintah “dibenarkan”
untuk meilih persoalan yang mana yang harus diselesaikan dan mana yang bisa
ditunda , atau bahkan diabaikan. Pilihan lainnya adalah bekerjasamana dengan
pihaklain atau bahkan menfransfer upaya penyelesaian atas persoalan tersebut ke
pihak lain. Di sinilah pentingnya membuat kejelasan batasan antara barang publik
dan barang privat, walaupun batasan antara keduanya sringkali tidak melebihi
garis imajiner.
Selain landasan normatif tersebut, ekspektasi masyarakat terhadap
pemerintah juga menunjukkan tren yang terus meningkat walaupun ekspektasi
tersebut seringkali disertai dengan frustasi atau kekecewaan. Tingginya ekspektasi
masyarakat tersebut terutama berkaitan dengan semakin kompleksnya masalahmasalah publik yang dihadapi secara kolektif oleh warga negara di tengah
meningkatnya standar normatif yang ditentukan masyarakat untuk menilai dan
menuntut pemerintahnya. Transportasi publik pada masyarakat tradisional belum
menjadi sebuah kebutuhan nemun tidak demikian bagi masyarakat modern. 19
Namun
ditengah
tuntutan
memberikan
peran
lebih
kepada
pemrintah,muncul juga gagasan untuk membatasi peran pemerintah. Kaum nonliberal bahkan mengimpikan sebuah tatan dimana negaranya hanya menjalankan
peran residual dalampenyelenggaraan urusan publikdengan hanya nmenangani
urussan-urusan yang tidak dapat diselenggarakan oleh pasar atau masyarakat
secara langsung.sayangnya untukmenjalankan peran yang minimal sekaliapun
19
Ibid, hlm 4
Universitas Sumatera Utara
atau peran residualnegara harus tetap diperkuat. Dengan demikian,peran dan
posisi pemerintah serta kebijakan publik sebagai instrumennya tetap menempel
posisi sentral dalam masyarakat modern di tengah berbagai agenda neoliberl yang
memangkasnya.
Paradeks lain yang muncul adalah dengan sentralistas yang dimilikinya
alih-alih menyelesaikan berbagai masalah publik, negara malah menjadi bagian
dari masalah itu sendiri. Dalam konteks ini ketika kebijakan publik diharapkan
bisa memoderasi prose pertarungan kepentingan dan nilaiantar kelompok
masyarakat demi mencegah terjadinya nkonflik,ia justru menjelma menjadi
sumber konflik itu sendiri. Terdapat banyak contoh kontemporer yang
memperlihatkan bahwaharmoni dan stabilitas dalam masyarakat justru terganggu
ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan tertentu. Hal ini merentang mulai dari
konstitusi itu sendiri hingga produk-produk turunannya. Observasi Steven Ney
(2009:1) cukup akurat ketika penulis ini menyimpulkan bahwa semakin
pemerintah berusaha untuk menyelesaikan masalah tertentu semakin jauh ia
bergerak dari resolusi. Dalam konteks ini,pilihan “inaction” pemerintah
seringkalilebih buruk dari pada “action”
Dengan menyajikan paradoks semacam ini, tulisan ini nsamasekalin tidak
berpotensi
untuk
menghilangkan
kebijakan
publik
secara
total.
Sebaliknyaparadoks tersebut menyediakan basis pembelajaran yang sangat baik
untuk memperbaiki kebijakan publik dimsa-masa yang akan datang, agar ia
mampu menjalankan fungsi klasiknya secara lebih optimal yakti menjadi
instrumen otoritas yang mampu mengalokasi sumber daya dan nilai secara baik
sehingga sekaligus berfungsi sebagain media pengelola konfkil. Upaya
Universitas Sumatera Utara
pembenahan tersebut pertama dan terutama harus dimulai dengan memahami akar
konflik dalam kebijaatau mekanisme institusionaliskan publik, semakin tinggi
pula tuntutan untuk pemerintah untuk menerima kenytaan bahwa konflik adalah
sebuah normalitas yang tidak mungkin bisa dihindari; ia hanya perlu disikapi dan
dikelola. Dengan kata lain, kebijakan publik yang normal dalah kebijakan
publikyang mampu meniadakan sekaligus negadakan konflik. Dalam banyak
situasi (jika bukan semua) situasi, ia menjadi instrumen atau mekanisme
institusioanalisasi konflik yang sesungguhnya. 20
f.2 Teori Pembangunan Politik
Pada mulanya, teori pembangunan didominasi oleh pemikiran yang
cenderung menggambarkan proses pembangunan proses pembangunan sebagai
serangkaian tahapan ekonomi yang berurutan, yang pasti akan dialami setiap
negara dalam menjalankan pembangunan. Teori ini berkembang pada dasawarsa
1950an sampai 1960an, dengan titik fokus perrtumbuhan pembangunan agrerat
semakin cepat. Pada tahun 1970an pendekatan linear tergusur oleh dua aliran
pemikiranyaitu aliran yang pertama menitikberatkan pada teori dan pola
perubahan struktural sedangkan yang kedua adalah revolusi ketergantungan
internasiona. Pada tahun 1980an muncul kontra revolusi teori neoklasik yang
menekankan pasar bebas dan terbuka.
Todaro (1998) mengelompokkan teori-teori utama pembangunan pada
lima pendekatan yaitu:
1. Model-model pertumbuhan bertahap linear. (linear stages of growth models)
20
Ibid, hlm 6
Universitas Sumatera Utara
2. Kelompok
teori
dan
pola-pola
perubahan
struktural
(the
structuralchangetheories and patterns) 21
Ilmu-ilmu sosial di negara-negara barat sebenarnyatidak mempersiapkan
secara khusus untukmenyajikan pedoman-pedoman bagi para cemdikiawan untuk
menelaah masalah-masalah pembangunan sosial dan politik. Pada perkembangan
selanjutnya,
dengan
diletakkannnya
tekanan
demi
pada
penelitian
empiris,menyebabkan banyakpara ahli-ahli lmu sosial menjadi kehilangan
pegangan. Apabila titik pandang diarahkanpada pembangunan dinegaranegarasedang berkembang, maka pemahaman mereka tentang semua aspek yang
berhubungan dengan itu dangkal sekali. Tetapi padamasa-masayang lali,adalah
suatu hal tang lumrah bagi para ahli untuk menganggap bahwa diri mereka
kapabel dalam menganalisis masalah-masalah pembangunan di dunia ketiga.
Adapun beberapa pengertian pembangunan politik:
1. Pembangunan Politik sebagai Prasyarat Politik bagi Pembangunan Ekonomi.
Pembangunan politik dipandang sebagai keadaan masyarakat politik yang
dapat membantu jalannya pertumbuhan ekonomi. Pembangunan politik adalah
syarat politik berlangsungnya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang
memiliki kaitan erat dengan pembangunan politik yang dijalankan oleh suatu
negara.
2. Pembangunan Politik sebagai Ciri Khas Kehidupan Politik Masyarakat
Industri
21
Sugihartono, Pembangunan dan Pengembangan Wilayah, Medan: USU Press
Universitas Sumatera Utara
Menurut pandangan ini, masyarakat industri baik yang demokratis maupun
tidak, menciptakan standart-standart tertentu mengenai tingkahlaku dan prestasi
politik yang dapat menghasilkan keadaan pembangunan politik dan yang
merupakan contoh dari tujuan-tujuan pembangunan bagi sistem politik lainnya.
3. Pembangunan Politik sebagai Modernisasi Politik
Menurut pandangan ini, pembangunan politik merupakan kehidupan
politik yang khas dan ideal masyarakat industri berhubungan erat dengan
pandangan politik identik dengan modernisasi politik . dan pandangan ini masih
berkaitan dengan prestasi ekonomi dalam hal m industrialisasi-isme dianggap
sebagai kondisi puncak yang mentelesaikan semua masalah, dan harapan yang
sama dibebankan kepada pembangunan politik.
4. Pembangunan Politik sebagai Operasi Pembangunan Bangsa
Sudut pandang ini nasianalisme.dan ini merupakan prasyarat penting tetapi
masih kurang memadai untuk dapat menjamin pelaksanaan pembangunan politik
yang meliputi serangkaian usaha penerjemahan perasaan-perasaan nasioonalisme
menjadi semangat kewarganegaraan dan usaha pembentukan lembaga-lembaga
negara yang dapat menampung aspirasi masyarakat ke dalam kebijakan dan
program.
Universitas Sumatera Utara
5. Pembangunan Politik sebagai Pembangunan Administrasi dan Hukum
Dalam membina masyarakat politik yang harus didahulukan adalah
tatanan hukum dan tatanan administrasi.
6. Pembangunan Politik sebagai Mobilitasi dan Partisipasi Masyarakat
Proses partisi[asiini berarti penyebarluasan proses pembuatan kebijakan,
karena pembangunan politik adalah menyangkut peran warga negara dalam
bentuk kesetiaannya kepada negara. Partisipasi masyarakat juga sangat
dibutuhkan ,namun untuk mencegah agar tidak terjadi emosionalisme dan
menyeimbangkan sentimen perlu dibuat tertib politik
7. Pembangunan Politik sebagai Pembinaan Demokrasi
Pandangan ini menyatakan bahwa pembangunan politik seharusnya sama
dengan pembentukan lembaga-lembaga dan praktik-praktik demokrasi.
8. Pembangunan Politik sebagai Stabilitas dan Perubahan Teratus
Stabilitas dapat dihubungkan dengan konsep pembangunan politik dalam
arti bahwa setiap bentuk kemajuan ekonomi dan sosial umumnya tergantung pada
lingkungan yang lebih banyak memiliki kepastian yang memungkinkan adanya
perencanaan berdasar pada prediksi yang cukup aman.
9. Pembangunan Politik sebagai Mobilisasi dan Kekuasaan
Pandangan ini membawa kita pada konsep bahwa sistem-sistem politik
dapat dinilai dari sudut tingkat atau kadar kekuasaan yang dapat dimobilisasi oleh
sistem itu, , sistem politik dapat dievaluasi dari bagaimana kekuasaan absolute
bekerja memobilisasi. Sistem yang tidak stabil akan beroperasi dengan margin
Universitas Sumatera Utara
kekuasaan yang rendah, dan para pengambil keputusan adalah lembaga-Iembaga
impotentuntuk mampu mencapai tujuan-tujuan politik
10. Pembangunan Politik sebagai Satu Segi Proses Perubahan Sosial yang
Multidimensi
Menurut pandangan ini, semua bentuk pembangunan saling berkaitan.
Pembangunan banyak persamaannya dengan modernisasi, dan terjadi dalam
konteks sejarah dimana pengaruh dari luar masyarakat mempengaruhi prosesproses perubahan sosial, persis sebagaimana perubahan-perubahan dalam bidang
ekonomi, sistem politik dan tertib sosial saling memengaruhi satu sama lain 22
Kelemahan mentalitas kita untuk pembangynan (1) konsepsi-konsepsi,
pandangan-pandangan dan sikap mental terhadap lingkungan kita, yang sudah
lama mengendap dalam alam pikiran kita,karena terpengaruh atau bersumber
kepada nilai-budaya kita sejak beberapa generasi yang lalu, atau (2) konsepsikonsepsi,pandangan=pandangan dan sikapmental terhadap lingkungan kitayang
baru timbul sejak jaman revolusi, dan yang sebenarnya tidak bersumber pada
sistemnilai budaya kita.
23
22
Afan Gaffar, Beberapa Aspek Pembangunan Politik, Jakarta: Rajawali, 1983, hlm 31-49
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia, 1987, hlm
37-38
23
Universitas Sumatera Utara
f.3 Konsep Maritim
Pengertian Konsep Maritim
Konsep negara maritimadalah sebuah konsep yang mengedepankan untuk
memanfaatkan sumber daya alam di wilayah laut untuk kepentingan rakyat
memakmurkan sebuah bangsa. 24
.
Pengertian kemaritiman yang selama ini diketahui oleh masyarakat umum
adalah menunjukkan kegiatan di laut yang berhubungan dengan pelayaran dan
perdagangan sehingga kegiatan di laut yang menyangkut eksploitasi atau
penangkapan ikan bukan merupakan kemaritiman. Dalam arti lain kemaritiman
berarti sempit ruang lingkupnya karena berkenaan dengan pelayaran dan
perdagangan laut sedangkan pengertian kemaritiman yang berdasarkan pada
terminologi adalah mencakup ruang atau wilayah permukaan laut, pelagik, dan
nesopelagik yang merupakan daerah subur dimana pada daerah ini terdapat
kegiatan sepertipariwisata, lalulintas, pelayaran dan jasa-jasa kelautan. 25
Sejarah Kemaritiman Indonesia
Sejarah menunjukkan pada masa lalu Indonesia memiliki pengaruh yang
sangat dominan di wilayah Asia Tenggara, terutamapadakekuatan maritim besar
dibawah kerajaan Sriwijaya dan kemudian majapahit. Wilayah laut Indonesia
yang merupakan dua per tiga wilayah nusantara mengakibatkan sejak masa
lampau diwarnai dengan berbagai pergumulan dilaut. Sejak jaman dahulu
24
http://www.pengertianmenurutparaahli.com/pengertian-negara-maritim-menurut-para-ahli/.
Diakses 1 Juli 2016 Pukul 20.30 WIB
25
http://blogzulkiflirahman.blogspot.co.id/makalah-wsbm.html. Diakses 3 Juli 2016 Pukul !3.00
WIB
Universitas Sumatera Utara
Indonesia telah menghayati dan memahami arti dan kegunaan laut sebagai sarana
untuk menjamin beberapakepentingan antar bangsa,seperti perdagangan dan
komunikasi
politik
politik
maritim
menjadi
asas
yang
seharusnya
diimplementasikan dalam sistem pemerintahan, karena potensi maritim Indonesia
lebih beroriantasi untuk mewujudkan kesejahtraan masyarakat. Politik maritim
menjadikan laut sebagai identitas bangsa untuk memperoleh kedaulatan ,
kekuasaan ekonomi dan militer, serta kesejahtraan masyarakat. 26
Aspek-Aspek Kemaritiman
a. Aspek sosial budaya, Koenjhananingrat (2002) mendefenisikan kebudayaan
adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata
kelakuan yang harus didapatkannya dengan belajar dan semuanya tersusun
dalamkehidupan masyarakat. Asalkan sesuatu yang dilakukan manusia
memerlukan belajar maka halitu bisa dikategorikan sebai budaya.
b. Aspek sosial ekonomi, Dilihat dari rencana pembangunan nasional, analisis
manfaat proyek ditinjau dari sisi ini dimaksudkan agar proyek dapat memberi
kesempatan kerja bagi masyarakat, menggunakan sumber daya lokal
menghasilkan dan mnghemat devisa,menumbuhkan industri lain. Turut
menyediakan kebutuhan konsumen dalam negeri sesuai dengan kemampuan,
menambahkan pendapatan nasional.
c. Aspek sosial politik
Berbicara politik akan mengandung makna kekuasaan (pemerintahan) atau
juga kebijaksanaanpolitik di Indonesia harus dapat dilihat dalam konteks
26
ibid
Universitas Sumatera Utara
ketahanan nasional yang meliputi dua bagian utama yaitu politik dalam negeri
maupun luar negeri. 27
d. Aspek-Aspek Penguatan Kemaritiman
a. Peneguhan pemahaman terhadap wawasan maritim, dapat dilakukan
kembali dengan menumbuhkan kesadaran geografis. Kesadaran geografis
dapat dipahami dengan memberikan pengertian bahwa Indonesia adalah
bangsa yang menempati kepulauan yang tidak hanya mempunyai sumber
daya alam di darat tetapi juga di laut
b. Industri pelayaran menjadi pilihan utama angkutan eksport import dan
faktanya setengah dari angkutan domestik dilayani oleh kapal-kapal
berbendera asing bukan Indonesia. Melalui industri pelayaran yang
mandiri, setidaknya Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,
melalui penerapan asas cabotage dan pembangunan kembali armada niaga
modern dan tradisioanl.
c. Meletakkan pentingnya penataan ruang wilayah maritim.kondisi ini
menginginkan terciptanya tata ruang yang terpadu antara daerah
pesisir,laut dan pulau-pulau untuk menghasilkan sinergi dan keserasian
antara kawasan /daerah,antarsektor, dan antar strata sosial yang
berwawasan lingkungan.dimana kewenangan ada ada pada pemerintah
kota dan daerah dengan mengikutsertakan masyarakat yang dikoordinasi
oleh pemerintah pusat sebagai fasilitator.
d. Penegakan sistem hukum maritim. Penegakan dapat di bangun dengan
ocean policy .yang lengkap, mulai dari yang bersifat payung (undang-
27
http://auliapratiwy0914.blogspot/2014/12/kemaritiman.html. Diakses 10 Juli 2016 Pukul 21.00
Universitas Sumatera Utara
undang pokok) sampai dengan yang bersifat operasional, baik hukum
publik maupun hukum perdata yang mengakomodasi hukum adat. Di
samping itu sebagai warga negara maritim terbesar, Indonesia perlu
memiliki sistem peradilan (mahkamah) maritim. Ocean policy menjadi
pilihan wajib dan keharusan yang dilakukan pemerintah dan semua
komponen bangsa untuk mengedepankan sektor kelautan dalam kebijakan
pembangunan nasional. Dalam menformulasikan kebijakan tersebut masih
dilihat secara kesejarahan bahwa kemajuan peradapan bangsa Indonesia
dibangun dari kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya
dan lautan.
28
E. Metodologi Penelitian
Metodologi analisis kebijakan diambil dan memadukan elemen-elemen dari
berbagai disiplin ilmupolitik, sosiologi, psikologi, filsafat. Analisis kebijakan
sebagian bersifatdeskriptif, diambil dari disiplin-disiplin tradisional (misalnya
ilmupolitik)
yangmencari
pengetahuan
tentang
sebab
dan
akibat
dari
kebijakan=kebijakan publik. Memilih dan menentukan prioritas satu nilai
bukanlah penentuan yang bersifat teknissemata, tetapi juga penalaran yang
bersifat moral.
29
g.1 Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif
Kualitatif. Penelitian ini ingin menggambarkan dan melukiskan objek yang
28
http://www.revolusimental.or.id/aspekk-penguat-kemaritiman.html. Diakses 10 Juli 2016 Pukul
21.30 WIB
29
William N Dunnn, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Yogjakarta: Gadjah Mada University
Press, hlm 2
Universitas Sumatera Utara
diamati berdasarkan fakta-fakta yang ada di lapangan setelah dilakukannya
penelitian. Dalam penelitian kualitatif, fleksibel berkembang karena terus menerus
berada dalam proses. 30
g.2 Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan maka penulis
melakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut. Data primer sekaligus data
sekunder: mencari data dan informasi melalui buku-buku, interner, jurnal dan
lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Cara ini sering dikenal dengan kata
lain atau sering disebut dengan library research. Biasanya data atau sebutlah
informasi yang diterima oleh penulis belum lengkap dan masihdalam bentuk
kasar, acak. Perlu ditata, diedit, diperbaiki kemudian diketik ulang,
31
g.3 Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif
deskriptif. Penelitian ini ingin menggambarkan dan melukiskan objek yang
diamati berdasarkan fakta-fakta yang ada dilapangan setelah dilakukannya
penelitian. Dalam menulis laporan hasil penelitian, peneliti kualitatif bermain kata
untuk menyampaikan makna. Data dikumpulkan dalam bentuk kata-kata atau
gambar
30
31
Ahmad Nizar Rangkuti, Metode Penelitian Pendidikan, Bandun,g: Citapustaka Media, hlm 97
Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial, Jakarta: Erlanggga,2007, hlmn147
Universitas Sumatera Utara
Download