BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Operasional Sebelum

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Manajemen Operasional
Sebelum kita memulai memahami arti dari manajemen oprasional, sebaiknya
kita sebaiknya kita memahami arti setiap kata penyususnan: manajemen dan
oprasional.
Menurut Andrew F. Sikula yang dikutip oleh Malayu S.P Hasibuan (2011)
memberikan pengertian manajemen sebagai berikut:
"Manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas
perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan,
pemotivasian, komunikasi, dam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh
setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber
daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk
atau jasa secara efisien”
Menurut Pangestu subagyo (2000:1) dalam bukunya Manajemen Operasi,
mengemukakan bahwa sebagai berikut:
"Operasi adalah kegiatan untuk mengubah masukan (yang berupa
faktor-faktor produksi/operasi. menjadi keluaran sehingga lebih bermanfaat
daripada bentuk aslinya. Dengan kata lain, operasi adalah kegiatan merubah
bentuk untuk menambah manfaat atau menciptakan manfaat baru dari suatu
barang atau jasa. Keluaran dapat berupa barang atau jasa."
Jadi menurut beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen
oprasional adalah proses untuk menghasilkan produk secara efektif dan efesien
melalui pendayagunaan sumber daya yang ada.
6
7
2.1.1
Komponen-Kompenen Utama Manajemen Operasi
Menurut Melnyk (2002:6), manajemen operasional terintegrasi pada 3
komponen utama yang mendukung dalam proses organisasi, diantaranya :

Customer (Pelanggan)
Customer merupakan seseorang yang selalu mengkonsumsi kebutuhan pada
sistem manajemen operasional. Customer merupakan orang yang memiliki peran
khusus dimana selalu memberikan saran serta pendapat di awal dan di akhir sistem
manajemen operasional paling tidak, perusahaan dengan jelas dapat diidentifikasikan
pada segmen pasar dan pada segmen customer itu sendiri. Ke-efektifitas serta keefisienan fungsi manajemen operasional tidak dapat terstruktur.

Process (Proses)
Sebuah proses dalam perusahaan merupakan hubungan dari semua aktifitas
yang
diperlukan
untuk
mengubah
input
menjadi
output
(hasil).
Proses
menggambarkan keseluruhan input, aktifitas perubahan, dan output pada keseluruhan
sistem. Hal itu menandakan hal-hal yang dibutuhkan dalam sebuah kegiatan serta
menspesifikasikan bahan apa yang dibutuhkan dan seberapa besar jumlahnya. Proses
juga menggambarkan kegiatan yang diperlukan untuk mengubah input mejadi output.
Pada akhirnya seluruh kegiatan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan bahwa
semua memenuhi standar kualitas, kuantitas, lead time, atau pembagian waktu.
Proses manajemen operasional dapat melibatkan produksi pada sebuah produk atau
jasa. Proses juga menghasilkan informasi.

Capacity (Kapasitas)
Saat proses menjelaskan bagaimana sistem manajemen operasional bekerja,
kapasitas mendeterminasikan seberapa besar sistem produksi. Untuk kebanyakan
orang, kapasitas mengartikan seberapa besar dari hasil yang diproduksi perusahaan,
bahkan membatasi hasil per unit dalam satuan waktu.
8
2.2
Pengertian Manajemen Persediaan
Setiap perusahaan apakah itu perusahaan perdagaan ataupun perusahaan
manufaktur serta jasa selalu mengadakan persediaan. Dengan tersedianya persediaan
bahan baku dan produk maka diharapkan sebuah perusahaan dapat melakukan
kegiatan produksi sesuai kebutuhan atau permintaan konsumen. Selain itu dengan
adanya persediaan bahan baku dan produk yang cukup tersedia digudang juga
diharapkan akan memperlancar kegiatan operasional perusahaan dan dapat
menghindari terjadinya kekurangan persediaan. Hal-hal yang sulit untuk dihindari
seperti kekurangan persediaan mungkin bias saja terjadi dialami oleh perusahaan.
Karena tidak selamanya barang-barang atau jasa tersedia pada setiap waktu.
Keterlambatan jadwal pemenuhan produk yang dipesan konsumen dapat merugikan
perusahaan dalam hal ini image yang kurang baik, yang berarti pula bahwa pengusaha
akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya didapatkan.
Agar lebih mengerti maksud dari persediaan, maka penulis akan
mengemukakan beberapa pendapat mengenai pengertian dan persediaan menurut
teori dari beberapa tokoh diantaranya :
Menurut Fien Zulfikarijah (2005:4),
“Persediaan secara umum didefinisikan sebagai stock bahan baku yang
digunakan untuk memfasilitasi produksi atau untuk memuaskan permintaan
konsumen.”
Menurut Rosnani Ginting (2007:120),
“Mengemukakan pengertian manajemen persediaan sebagai sumber
daya menganggur (idle resource). Sumber daya menganggur ini belum
digunakan karena menunggu proses lebih lanjut.”
Dari definisi diatas maka penulis dapat menarik kesimpulan, bahwa
persediaan merupakan sejumlah stock bahan baku atau sumber daya yang disediakaan
untuk produksi dan disimpan dalam gudang untuk dipergunakan kembali atau untuk
9
dijual. Secara umum persediaan terdiri dari bahan baku dan bahan penolong, barang
setengah jadi dan barang jadi.
2.2.1
Alasan Pengadaan Persediaan
Dalam memproduksi, perusahaan membutuhkan persediaan. Persediaan wajib
untuk diperhitungkan, tidak boleh kekurangan dan tidak boleh kelebihan. Bila
persediaan dilebihkan, biaya penyimpanan dan modal yang diperlukan akan
bertambah. Bila perusahaan menanam terlalu banyak modalnya dalam persediaan,
menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan. Kelebihan persediaan juga
membuat modal menjadi tertahan, semestinya modal tersebut dapat diinvestasikan
pada sektor lain yang lebih menguntungkan (opportunity cost).
Dampak lain, mungkin kosongnya barang dipasaran dapat membuat
konsumen kecewa dan beralih ke merk lain. Penyebab timbulnya persediaan
Bambang Tri Cahyono (1996:84) yaitu :
1.
Mekanisme pemenuhan atas permintaan
Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila barang
tersebut tidak tersedia sebelumnya. Untuk menyimpan barang ini diperlukan
waktu untuk pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan
hal yang sulit dihindarkan.
2.
Keinginan untuk meredam ketidakpastian
Ketidakpastian terjadi akibat: permintaan yang bervariasi dan tidak pasti
dalam jumlah maupun waktu kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung
tidak konstan antara satu produk dan produk berikutnya, waktu tenggang (lead
time) yang cenderung tidak pasti karena banyak factor yang tidak dapat
dikendalikan.
10
3.
Keinginan melakukan spekulasi
Bertujuan mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga dimasa yang
akan dating.
Persediaan (inventory) menurut Barry Render dan Jay Haizer (2006: 468),
dapat memiliki berbagi fungsi penting yang menambah fleksibilitas dari operasi suatu
perusahaan, yaitu :
1.
Untuk memberikan suatu stok barang-barang agar dapat memenuhi
permintaan yang diantisipasi akan timbul dari konsumen.
2.
Untuk memasangkan produksi dengan distribusi.
3.
Untuk mengambil keuntungan dari potongan jumlah, karena pembelian dalam
jumlah bsar dapat secara substansial menurunkan biaya produk.
4.
Untuk melakukan haedging terhadap invlasi dan perubahan harga.
5.
Untuk menghindari dari kekurangan stok yang dapat terjadi karena cuaca,
kekurangan pasokan, masalah mutu atau pengiriman yang tidak tepat.
6.
Untuk menjaga agar operasi dapat berlangsung dengan baik dengan
menggunakan “barang dalam proses” dalam persediaannya.
2.2.2
Fungsi-Fungsi Pengelolaan Persediaan
Fungsi utama persediaan yaitu sebagai penyangga, penghubung antar proses
produksi dan distribusi untuk memperoleh efisiensi. Efesiensi produksi dapat
ditingkatkan melalui pengendalian sistem persediaan.
Fungsi pengelolaan persediaan pada tiap perusahaan akan berbeda satu
dengan lainnya. Pada umumnya fungsi pengelolaan persediaan yang terpenting
Assauri (2008: 259) adalah sebagai berikut :
11
1.
Mempertahankan suatu tingkat persediaan yang ekonomis.
2.
Menyediakan persediaan dalam jumlah secukupnya untuk menjaga agar
produksi tidak sampai terhenti bila suatu saat suplai terganggu.
3.
Menyediakan informasi bagi manajemen mengenai keadaan persediaan.
4.
Mengkaitkan pemakaian bahan dengan keadaan keuangan.
5.
Mengalokasikan ruang penyimpanan untuk barang yang sedang diproses dan
barang jadi.
6.
Merencanakan penyediaan bahan dengan kontrak jangka panjang berdasarkan
program persediaan.
2.2.3
Tujuan Persediaan
Perusahaan
memiliki
persediaan
dengan
tujuan
mengendalikan
dan
menemukan solusi yang optimal terhadap seluruh masalah yang terkait dengan
persediaan. Dikaitkan dengan tujuan umum perusahaan, maka ukuran optimalisasi
pengendaliaan persediaan sering kali diukur dengan keuntungan maksimum yang
dicapai. Optimalisasi pengendaliaan persediaan biasanya diukur dengan total biaya
minimal pada suatu periode tertentu.
Adapun tujuan pengelolaan persediaan menurut Assauri (2008: 257) adalah
sebagai usaha untuk :
1.
Menjaga agar perusahaan tidak kehabisan persediaan sehingga proses
produksi tidak terganggu.
2.
Menjaga agar persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebihan,
sehingga biaya yang timbul tidak terlalu besar pula.
3.
Menjaga pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena akan berakibat
pada biaya pemesanan yang besar.
12
Di samping itu perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka
waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang selama periode tertentu.
Dalam hal ini perusahaan memerlukan persediaan ekstra yang disebut persediaan
pengamanan (safety stock).
Adapun alasan diperlukannya persediaan bagi perusahaan juga dibahas oleh
penulis, diantaranya Sofyan Assauri (2008:238), yang mengemukakan bahwa alasan
diperlukannya persediaaan bagi perusahaan adalah:
1.
Dibutuhkannya waktu untuk menyelesaikan operasional produksi untuk
memindahkan produk dari suatu tingkat ke tingkat proses yang lain. Yang
disebut persediaan dalam proses pemindahan.
2.
Alasan organisasi, untuk memungkinkan suatu unit atau bagian membuat
skedul operasinya secara bebas tidak tergantung dengan yang lainnya.
Disamping alasan-alasan diadakannya persediaan ada beberapa keuntungan
menurut Sofyan Assauri (2008:238), diantaranya:
1.
Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan
yang dibutuhkan perusahaan.
2.
Menghilangkan risiko material yang dipesan tidak baik sehingga harus
dikembalikan.
3.
Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga
dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
4.
Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus
produksi.
5.
Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
6.
Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya. Dimana
keinginan pada satu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap
tersedianya barang jadi tersebut.
13
7.
Membuat pengadaan atau produksi, tidak perlu sesuai dengan penggunaan
atau penjualannya.
Selanjutnya keuntungan tersebut menurut T. Hani Handoko (2000:152), ada
beberapa masalah yang harus diperhatikan oleh perusahaan apabila mengadakan
persediaan, diantaranya:
a.
Persediaan bahan baku terlalu besar, kerugiannya adalah:
 Biaya penyimpanan atau pergudangan yang menjadi tanggungan perusahaan
akan semakin besar, risiko kehilanggan, risiko kerusakan bahan baku, dalam
penyimpanan, risiko kadaluarsa, risiko penurunan kualitas barang.
 Penyelenggaraan persediaan bahan baku yang terlalu besar akan berarti
perusahaan tersebut harus mempersiapkan dana yang cukup besar pula untuk
mengadakan pembelian bahan baku.
 Tingginya biaya penyimpanan yang ada di perusahaan tersebut serta investasi
didalam persediaan bahan baku dari perusahaan tersebut akan mengakibatkan
berkurangnya adanya untuk pembiayaan dan investasi di bidang-bidang yang
lain.
 Apabila persediaan bahan baku yang disimpan dalam perusahaan ini semakin
besar, maka terjadinya penurunan harga pasar yang merupakan kerugian yang
tidak sedikit bagi perusahaan yang bersangkutan.
b.
Persediaan bahan baku yang terlalu kecil juga menyebabkan kerugian
diantaranya adalah:
 Persediaan bahan baku dalam jumlah yang kecil kadang-kadang tidak dapat
memenuhi kebutuhan perusahaan yang bersangkutan untuk pelaksanaan
proses produksi.
 Apabila perusahaan tersebut seringkali kehabisan bahan baku untuk
pelaksanaan proses produksinya, maka pelaksanaannya proses produksi dalam
14
perusahaan yang bersangkutan tidak akan bisa berjalan dengan lancar.
Akibatnya kualitas dan kuantitas dari produk akhir yang dihasilkan
perusahaan ini menjadi sering berubah pula.
 Persediaan bahan baku yang rata-rata jumlah unitnya relative kecil akan
mengakibatkan frekuensi pembelian-pembelian bahan baku akan menjadi
semakin besar seiring dengan bertambahnya frekuensi pembelian bahan baku,
maka akan mengakibatkan bertambah besar pula biaya pemesanan.
Dari hal-hal tersebut, menurut T. Hani Handoko (2000:155), ada beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan yaitu:
a.
Berapa besarnya jumlah unit persediaan bahan baku
yang akan
diselenggarakan dalam perusahaan.
b.
Kapan dan berapa jumlah persediaan bahan baku tersebut akan dibeli oleh
perusahaan.
c.
Kapan perusahaan yang bersangkutan tersebut akan mengadakan pembelian
kembali, apabila persediaan bahan baku dalam perusahaan tersebut dirasakan
sudah semakin habis.
2.2.4
Jenis-Jenis Persediaan
Menurut jenis barang dalam pengurutan urutan pengerjaannya, maka
persediaan menurut Barry Render dan Jay Haizer (2006: 470), dapat dikelompokan
menjadi emapat jenis, yaitu :
a)
Persediaan bahan mentah/bahan baku (raw Material inventory)
Yaitu persediaan barang-barang yang akan digunakaan dalam proses produksi.
Bahan baku ini didapatkan langsung dari alam atau dari perusahaan dimana
bahan baku tersebut dibeli.
15
b)
Persediaan barang dalam proses/barang setengah jadi
Yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari tiap bagian suatu pabrik tapi
masih perlu diperoses lebih lanjut sehingga menjadi barang jadi.
c)
Persediaan MIRO (maintenance, repair and operation)
Persediaan yang khusu untuk perlengkap pemeliharaan atau perbaikan atau
operasi.
d)
Persediaan barang jadi
Yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses.
Menurut Rangkuti (1995: 88), jenis-jenis persediaan berdasarkan fusngsinya
antara lain :
1.
Batch stock/lot size inventory
Persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan
atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang
dibutuhkan saat ini. Keuntungannya adalah potongan harga pada harga
pembeliaan, efisiensi produksi dan penghematan biaya angkutan.
2.
Fluctuation stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen
yang tidak dapat diramalkan.
3.
Anticipation stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat
diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam suatu tahun dan
untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang
meningkat.
16
2.2.5
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku
Besar kecilnya persediaan bahan mentah yang dimiliki perusahaan menurut
Bambang Riyanto (2001: 105), ditentukan oleh berbagai factor :
a.
Volume yang dibutuhkan untuk melindungi jalannya perusahaan terhadap
gangguan kehabisan persediaan yang akan dapat menghambat jalannya proses
produksi.
b.
Volume produksi yang direncanakan, dimana volume produksi yang
direncanakan itu sendiri sangat tergantung pada volume sales yang
direncanakan.
c.
Besarnya pembelian bahan mentah setiap kali pembelian untuk mendapatkan
biaya pembelian yang minimal.
d.
Estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah yang bersangkutan di waktu
yang akan datang.
e.
Peraturan pemerintah yang menyangkut persediaan material.
f.
Harga pembelian bahan mentah.
g.
Biaya penyimpanan dan resiko penyimpanaan di gudang.
h.
Tingkat kecepatan material menjai rusak atau turun kualitasnya.
2.2.6
Pengertian Biaya Persediaan
Menurut Fien Zulfikarijah (2005: 14), unsur-unsur biaya yang terdapat dalam
persediaan digolongkan menjadi empat jenis, yaitu :
1.
biaya pembelian
Yang dimaksudkan dengan biaya pembelian adalah biaya per unit apabila item
dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi tiap unit apabila diproduksi dalam
perusahaan. Biaya per unit akan selalu menjadi bagian dari item dalam
17
persediaan. Untuk pembelian item dari luar, biaya per unit adalah harga beli
ditambah dengan biaya pengangkutan.
2.
biaya pemesanan (ordering cost)
Biaya pemesanan ini dimaskudkan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan
berkenan dengan pemesanan barang-barang atau bahan-bahan dari penjual
sejak pemesanan sampai barang-barang atau bahan-bahan tersebut dikirim dan
diserahkan serta disimpan digudang. Biaya ini berhubungan dengan pesanan,
tetapi sifatnya tetap dimana besarnya barang yang dipesan, melainkan berubah
sesuai dengan frekuensi dari pada pesanan, yang termasuk didalam biaya
pemesanan ini semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengadakan
pemesanan bahan tersebut, diantaranya biaya administrasi pembelian (biaya
membuat daftar permintaan) dan penempatan pemesanan, biaya pengangkutan
dan bongkar muat (shipping and holding cost), biaya permintaan dan biaya
pemeriksaan.
3.
Biaya penyimpanan (hoolding cost)
Yang dimaksud dengan biaya penyimpanan adalah biaya-biaya yang
diperlukan
berkenan
dengan
adanya
jumlah
persediaan.
Biaya
ini
berhubungan dengan tingkat rata-rata persediaan yang selalu terdapat
digudang, sehingga besarnya biaya ini bervariasi yang tergantung dari besar
kecilnya rata-rata persediaan yang ada. Yang termasuk dalam biaya ini ialah
semua biaya yang timbul karena barang disimpan yaitu barang pergudangan
yang terdiri dari biaya sewa gudang, upah dan gaji tenaga pengaman dan
pelaksana pergudangan biaya peralatan material komoditi digudang, biaya
administrasi gudang, biaya pajak, dan semua biaya yang dikeluarkan untuk
pemeliharaan persediaan.
18
4.
Biaya kekurangan persediaan (out of stock cost)
Yang dimaksud dengan biaya ini adalah konsekuensi ekonomis atau
kekurangan dari luar maupun dari dalam perusahaan. Kekurangan dari luar
terjadi apabila pesanan konsumen tidak dapat dipenuhi. Sedangkan
kekurangan dari dalam terjadi apabila departemen tidak dapat memenuhi
kebutuhan departemen lain. Biaya kekurangan dari pihal luar dapat berupa
back order, biaya kehilangan kesempatan penjualan dan biaya kehilangan
kesempatan menerima keuntungan. Biaya kekurangan dari dalam perusahaan
dapat berupa penundaan pengiriman maupun idlen kapasitas.
2.3
Pengertian Pengendalian Persediaan
Seperti sudah kita ketahui bahwa setiap perusahaan perlu mengadakan
persediaan untuk dapat menjamin keberlangsungan hidup usahanya. Untuk
mengadakan persediaan ini dibutuhkan uang yang diinvestasikan dalam persediaan
tersebut, oleh sebab itu setiap perusahaan haruslah dapat mengendalikan suatu jumlah
persediaan yang optimum yang dapat menjamin kebutuhan bagi kelancaran kegiatan
perusahaan dalam jumlah tepat serta dengan biaya serendah-rendahnya, karena ini
berarti banyak uang atau modal yang tertanam, dan biaya-biaya yang ditimbulkan
dengan adanya persediaan tersebut. Sebaliknya jika persediaan yang terlalu kecil akan
merugikan perusahaan. Karena kelancaran dari kegiatan produksi dan distribusi akan
terganggu. Pengawasan persediaan merupakan salah satu dari urutan kegiatankegiatan yang bertautan erat satu sama lain. Dalam seluruh operasi, produksi
perusahaan tersebut sesuai dengan apa yang telah direncanakan terlebih dahulu baik
waktu, jumlah kuantitas maupun biayanya.
19
Pengertian pengendalian persediaan menurut Sofyan Assauri (2008:247),
dikemukakan sebagai berikut:
“Pengendalian persediaan dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan
untuk menentukan tingkat dan komposisi dari persediaan parts, bahan baku,
dan barang hasil produksi, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran
produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan
dengan efektif dan efisien.”
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengendalian
persediaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan agar produksi dapat berjalan
dengan lancar dan biaya persediaan menjadi minimal.
2.3.1
Peranan Pengendalian Persediaan dalam Manajemen Operasi
Pengendalian persediaan merupakan bagian dalam perencaan jangka pendek
yang berarti memiliki peran yang sangat penting dalam proses produksi. Karena
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan persediaan bahan baku yang akan
mempengaruhi jalannya proses produksi. Jumlah persediaan bahan baku diatur
sedemikian rupa sehingga kekurangan maupun kelebihan bahan baku dapat dihindari.
Menurut Sujadi Prawirosentono (2000:72) bahwa:
“Bahan baku di gudang harus tetap ada agar proses produksi tidak
terhenti, dan apabila ada persediaan dalam gudang hanya sedikit tentu dapat
mengancam proses produksi.”
Bila persediaan dilakukan sebanyak-banyaknya, memang proses produksi
akan terjamin kelancarannya. Namun penyimpanan bahan baku yang terlalu banyak
berarti menimbulkan biaya penyimpanan yang besar. Tetapi bila persediaan dalam
jumlah kecil akan dapat mengancam proses produksi dan pemenuhan kebutuhan
konsumen. Jadi dalam melakukan pengendalian persediaan, perusahaan harus
membuat rencana produksi di awal periode produksi. Yang memuat jumlah produksi
yang akan dihasilkan (tujuan produksi), jumlah kebutuhan bahan baku untuk dapat
20
mencapai tujuan produksi tersebut serta hal-hal yang harus dipersiapkan untuk
mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi.
2.3.2
Fungsi-Fungsi Pengendalian Persediaan
Fungsi-fungsi utama dari suatu pengawasan persediaan yang efektif menurut
Sofyan Assauri (2008:177), adalah:
1.
Memperoleh bahan-bahan, yaitu menetapkan prosedur untuk memperoleh
suatu supply yang cukup dan bahan-bahan atau barang yang dibutuhkan baik
kuantitas maupun kualitas.
2.
Menyimpan dan memelihara bahan-bahan atau barang dalam persediaan, yaitu
mengadakan suatu sistem penyimpanan untuk memelihara dan melindungi
bahan-bahan atau barang yang telah dimasukan ke dalam persediaan.
3.
Pengeluaran bahan-bahan atau barang, yaitu mendapatkan suatu pengaturan
atas pengeluaran dan penyimpanan bahan-bahan atau barang dengan tepat saat
serta tempat dimana dibutuhkan.
4.
Meminimalkan investasi dalam bentuk bahan atau barang (mempertahankan
persediaan dalam jumlah optimal setiap waktu).
2.3.3
Tujuan Pengendalian Persediaan
Pengawasan persediaan yang dijalankan untuk memelihara terdapatnya
keseimbangan antara kerugian-kerugian serta penghematan dengan adanya suatu
tingkat persediaan tertentu dan besarnya biaya dan modal yang dibutuhkan untuk
mengadakan persediaan tersebut. Tujuan persediaan secara terperinci menurut Sofyan
Assauri (2008:250) dapatlah dinyatakan sebagai usaha untuk:
21
1.
Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat
mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi dan operasional.
2.
Menjaga agar supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu
besar atau berlebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak
terlalu besar.
3.
Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan
berakibat terhadap biaya pesanan yang besar.
Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa tujuan dari pengendalian
persediaan adalah untuk memperoleh kualitas dan kuantitas yang tepat dari bahanbahan atau barang yang tersedia pada waktu yang dibutuhkan dengan biaya-biaya
yang minimum untuk keuntungan dan kepentingan perusahaan. Dengan kata lain,
pengendalian persediaan untuk menjamin terdapatnya persediaan pada tingkat yang
optimal agar produksi dapat berjalan dengan lancar dan biaya persediaan yang
minimal.
2.3.4
Tipe Pengawasan Persediaan
Menurut T. Hani Handoko (2000:230), dalam bukunya yang berjudul
Manajemen Persediaan, mengatakan tipe sistem pengawasan persediaan dibagi
menjadi dua, yaitu:
1.
Fixed order size system, yang terdiri dari sistem perusahaan terus-menerus
dan sistem dua tempat.
2.
Fixed order quantity system, yang terdiri dari sistem periodik dan sistem
penggantian.
22
2.4
Pengertian Bahan Baku
Seluruh perusahaan yang berproduksi untuk menghasilkan satu atau
beberapa macam produk tentu akan selalu memerlukan bahan baku untuk
pelaksanaan proses produksi. Bahan baku merupakan input yang sangat penting.
Bahan baku akan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan untuk pelaksanaan
proses produksi yang ada didalam perusahaan. Jadi sedikit dapat kita simpulkan
untuk menentukan beberapa banyak bahan baku yang akan dibeli oleh perusahaan
pada satu periode akan banyak tergantung kepada berapa besarnya kebutuhan
perusahaan tersebut akan masing-masing jenis bahan baku untuk keperluan proses
produksi yang dilaksanakan perusahaan.
2.5
Metode Pengendalian Persediaan
2.5.1
Economic Order Quantity (EOQ)
Pengertian EOQ menurut Fredy Ra (2004), bahwa:
“Jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesan dengan biaya
yang paling rendah.”
Sedangkan menurut Sofyan Assauri (2008:256), dalam bukunya yang
berjudul Manajemen Persediaan dan Operasional, mendifinisikan EOQ sebagai
berikut:
“Jumlah
atau
besarnya
pesanan
yang
diadakan
hendaknya
menghasilkan biaya-biaya yang timbul dalam penyediaan adalah minimal.”
Pada pendekeatan Economic Order Quantity (EOQ), tingkat ekonomis dicapai
pada keseimbangan antara biaya pemesanan (set-up cost) dan biaya penyimpanan
(holding cost). Jika ukuran lot besar maka biaya pemesanan akan turun tetapi biaya
penyimpanan naik. Sebaliknya, jika ukuran lot kecil maka biaya pemesanan akan naik
tetapi biaya penyimpanan turun.
23
Menurut Chase et al (2004: 560),
“Model EOQ menyarankan untuk memelihara lot pesanan yang
menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.”
Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita hanya
memperhatikan biaya variabel dari penyediaan persediaan tersebut, baik biaya
variabel yang bersifat perubahannya searah dengan perubahan jumlah persediaan
yang dibeli atau disimpan maupun biaya variabel yang bersifat perubahannya
berlawanan dengan perubahan jumlah persediaan tersebut.
Biaya variabel pada persediaan pada prinsipnya dapat digolongkan kedalam
beberapa jenis, yaitu:
1.
Biaya-biaya yang berubah sesuai dengan tren pesanan, yang kini sering
dinamakan procurement cost/setup cost.
2.
Biaya-biaya yang berubah sesuai dengan besarnya average inventory atau
yang sering disebut storage/carrying cost.
Procurement cost adalah biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi
pesanan yang terdiri atas:
1.
Biaya selama proses persiapan
 Persiapan-persiapan untuk pesanan.
 Penentuan besarnya kuantitas yang akan dipesan.
2.
Biaya pengiriman pesanan (besarnya ditentukan oleh perusahaan)
3.
Biaya pengiriman yang dipesan.
 Biaya pembongkaran dan pemindahan barang ke gudang.
 Pemeriksaan material yang diterima.
 Mempersiapkan laporan penerimaan.
24
 Mencatat kedalam material reward.
4.
Biaya processing pembayaran.
 Auditing dan perbandingan antara laporan penerimaan dan pemesanan yang
asli.
 Persiapan pembuatan cheque untuk pembayaran.
 Peneriman cheque kemudian auditingnya.
 Pengiriman cheque kemudian auditingnya.
Setup cost akan semakin besar apabila order quantity makin kecil. Carrying
cost adalah biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya persediaan. Penentuan
besarnya carrying cost didasarkan pada average inventory dan biaya ini dinyatakan
dalam persentase nilai rupiah dari average inventory dan biaya-biaya yang termasuk
kedalam carrying cost adalah:
1.
Biaya penggunaan/sewa ruangan gudang.
2.
Biaya pemeliharaan material dan allowance untuk kemungkinan rusak.
3.
Biaya untuk menghitung/menimbang barang yang dibeli.
4.
Biaya asuransi.
5.
Biaya model dan pajak dari persediaan yang ada di dalam gudang.
Carrying cost akan semakin kecil apabila jumlah material yang dipesan
semakin kecil.
Dari
kutipan-kutipan
diatas,
maka
dapat
dikatakan
bahwa
dengan
menggunakan EOQ, dapat menentukan jumlah pembelian bahan baku mentah yang
optimal, yaitu jumlah yang harus dipesan dengan biaya yang paling rendah
(ekonomis).
25
Asumsi yang digunakan dalam analisis EOQ ini Lalu Sumayang (2003: 206),
adalah :
1.
Kecepatan permintaan tetap dan terus-menerus.
2.
Lead Time yaitu waktu antara pemesanan sampai dengan pesanan datang
harus tetap.
3.
Tidak pernah ada kejadian persediaan habis atau Stock Out.
4.
Material dipesan dalam paket atau lot dan pesanan datang pada waktu yang
bersamaan dan tetap dalam bentuk paket.
5.
Harga per unit tetap dan tidak ada penguranga harga walaupun pembelian
dalam jumlah volume yang besar.
6.
Besar carrying cost tergantung secara garis lurus dengan rata-rata jumlah
inventori.
7.
Besar ordering cost atau set up cost tetap untuk setiap lot yang dipesan dan
tidak tergantung pada jumlah item pada setiap lot.
8.
Item adalah produk satu macam dan tidak ada hubungan dengan produk lain.
Pada dasarnya, model EOQ sebaiknya mencari titik optimal kuantitas
pemesanan yang merupakan trade off antara biaya pesan dan biaya simpan. Bila
kuantitas terlalu sedikit maka biaya pesan akan besar karena dalam periode waktu
tertentu misalnya satu tahun menjadi lebih sering melakukan pemesanan. Adapun bila
kuantitas terlalu banyak maka biaya simpan akan menjadi besar. Bila diilustrasikan:
Menurut Budi Harsanto (2013:69), Gambaran konsep EOQ terlihat pada
gambar:
26
Gambar 2.1
Kurva Economic Order Quantity (EOQ)
Jumlah Biaya
Biaya Pemesanan
Titik EOQ
Biaya Total
Biaya Pengelolaan
Jumlah pemesanan
Titik pemesanan optimal tersebut sebaiknya dapat disebut sebai Q ini adalah
untuk menjawab beberapa unit yang sebaiknya kita pesan setiap kali melakukan
pemesanan formula untuk mendapatkan nilai optimal tersebut adalah sebagai berikut:
Q=
Untuk mengetahui biaya total optimal yang didasarkan pada hasil temuan nilai
Q tersebut, formula yang digunakan adalah:
Biaya total = Harga barang + Biaya pesan + Biaya simpan
TC = DC + S+ H
Dimana makna dari setiap simbol tersebut adalah sebagai berikut:
TC
= biaya total (total cost)
D
= permintaan tahunan (demand)
27
2.5.2
C
= harga persediaan per unit (inventory cost)
Q
= kuantitas pemesanan (quantity)
S
= biaya pesan (setup cost)
H
= biaya simpan (holding cost)
Safety Stock (Persediaan Pengaman)
Dengan adanya model EOQ ini sebenarnya masih ada kemungkinan
terjadinya out of stock atau kekurangan persediaan dalam produksi. Kemungkinan ini
dapat disebabkan oleh:
1.
Penggunaan bahan baku didalam produksi lebih besar daripada yang
diperkirakan sebelumnya. Hal ini akan mengakibatkan bahan baku akan habis
diproduksi sebelum pembelian atau pesanan yang berikutnya dating, sehingga
terjadinya out of stock. Hal ini berarti terjadi ketidakpastian dalam pemakaian
bahan baku.
2.
Pemesanan atau pembelian bahan baku atau barang itu tidak dapat datang
pada waktunya (terlambat) hal ini berarti lead time tidak tepat.
Ketidakpastian jumlah dan waktu pengiriman, lead time dan jumlah serta
penyelesaian produksi merupakan masalah yang sering terjadi. Ketidakpastian ini
dapat menyebabkan kehabisan persediaan atau sebaliknya, jumlah persediaan yang
terlalu banyak. Risiko kehabisan persediaan antara lain disebabkan oleh hal-hal
berikut:
 Permintaan yang lebih besar.
 Lead time berubah
 Permintaan terlalu tinggi
28
Untuk mengantisipasi ketidakpastian tersebut, khususnya dalam permintaan
dan lead time, maka disediakan suatu jumlah tertentu (safety stock) yang akan
mengurangi kehabisan persediaan.
Menurut Sofyan Assauri (2008:263), persediaan pengamanan (safety stock)
adalah:
“Persediaan pengaman (safety stock) adalah persediaan tambahan
yang akan diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya
kekurangan bahan (stock out).”
safety stock (persediaan pengaman) atau sering pula disebut sebagai
persediaan besi (iron stoc) adalah merupakan suatu persediaan yang dicadangkan
sebagai pengaman dari kelangsungan proses produksi perusahaan. Dengan adanya
persediaan pengaman ini diharapkan proses produksi tidak terganggu oleh adanya
ketidak pastian bahan baku.
Menurut Ahyari (2008:87),
“Persediaan pengaman ini merupakan sejumlah unit tertentu, di mana
jumlah unit ini akan tetap dipertahankan, walaupun bahan baku akan berganti
dengan yang baru.”
Semakin besar tingkat safety stock-nya maka kemungkinan kehabisan
persediaan semakin kecil, akan tetapi akibatnya adalah biaya simpan semakin besar
karena jumlah total persediaan meningkat. Bila demikian, tujuan minimasi total biaya
persediaan tidak tercapai karena total biaya dalam model persediaan didapatkan pada
titik keseimbangan antara kelebihan dan kehabisan persediaan.
Tetapi dengan diadakannya safety stock akan mengurangi kegiatan yang
ditimbulkan karena terjadinya stock out, selain itu safety stock juga berperan untuk
menjaga kelangsungan proses produksi dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah
direncanakan.
29
2.5.3
Reorder Point (Titik Pemesanan Kembali)
Titik atau tingkat pemesanan kembali atau reorder point menurut Sofyan
Assauri (2008:277), adalah:
“Tingkat pemesanan kembali adalah suatu titik atau batas dari dimana
persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus diadakan
kembali.”
Dengan demikian diharapkan datangnya material yang dipesan itu tidak akan
melewati waktu sehingga akan melanggar safety stock. Apabila pesanan dilakukan
sesudah melewati reorder point tersebut, maka material yang dipesan akan diterima
setelah perusahaan terpaksa menggambil material dari safety stock.
Titik menunjukan kepada bagian pembelian untuk mengadakan pemesanan
kembali persediaan untuk mengganti persediaan yang telah digunakan dalam
menentukan titik ini, harus diperhatikan besarnya penggunaan bahan selama bahanbahan yang dipesan belum datang dan persediaan minimum. Besarnya penggunaan
bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum diterima, ditentukan oleh 2 faktor,
yaitu:
1. Lead time
2. Tingkat penggunaan rata-rata
Saat pemesanan kembali (reorder point), dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu:
1. Menentukan jumlah bahan baku selama lead time ditambah dengan satu
presentase tertentu.
2. Menentukan jumlah pemakaian bahan selama lead time ditambah dengan
persediaan pengaman yang telah ditetapkan.
Dalam menghitung reorder point menggunakan rumus sebagai berikut:
30
ROP = D x L + SS
Dimana:
ROP
= Pemesanan kembali (reorder point)
SS
= Persediaan pengaman (safety stock)
D
= Tingkat pemakaian rata-rata perhari kerja
T
= Lead time
Dalam menentukan pemesanan kembali tersebut, ada empat sistem yang
umumnya digunakan dengan beberapa variasi, yaitu sistem tinjauan terus-menerus,
sistem tinjauan periodik, sistem jumlah tetap, dan sistem tepat waktu, yang secara
singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Sistem tinjauan terus-menerus (prepetual review system)
Dalam sistem ini peninjauan dilakukan terus-menerus, yang berarti setiap kali
perlu dipesan, maka harus dipesan. Perhitungan kapan perlu dipesan adalah
apabila jumlah persediaan sudah mencapai jumlah atau tingkat tertentu.
Jumlah tertentu ini disebut sebagai titik pemesanan kembali atau reorder
point. Namun, pendekatan dengan menggunakan titik pemesanan kembali ini
tidak hanya digunakan dalam sistem ini, tetapi juga digunakan dalam sistem
jumlah tetap.
2. Sistem tinjauan periodik (periodic review system)
Dalam sistem ini tinjauan atau perhitungan pemesanan kembali dilakukan
setiap waktu tertentu, misalnya setiap 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau setiap
periode waktu tertentu yang ditetapkan. Penentuan ini didasarkan atas
beberapa pertimbangan seperti jenis barang, kepentingan barang tersebut
dalam perusahaan dan sebagainya. Tidak peduli persediaan masih banyak atau
tidak, setiap waktu tertentu harus dihitung kembali. Proses perhitungan
pemesanan kembali ini tidak berarti berakibat harus memesan kembali, jadi
31
ada tiga kemungkinan, yaitu memesan kembali, tidak memesan lagi karena
pesediaan masih banyak, atau membatalkan persediaan yang sedang berjalan
karena persediaan kebanyakan.
3. Sistem jumlah tetap (fixed quantity system)
Dalam sistem ini yang menonjol adalah setiap kali memesan, jumlah yang
dipesan selalu sama, dan apabila harga satuannya sama, maka harga yang
dipesan juga sama. Mengenai kapan dipesan, tergantung frekuensi yang paling
ekonomis.
4. Sistem tepat waktu (just in time system)
Dalam sistem ini andalan diletakkan pada konsep tepat waktu, yang
diberlakukan pada semua kegiatan yang berhubungan dengan produksi, yaitu
tepat waktu pemesanan, tepat waktu pembelian, tepat waktu kedatangan
barang, tepat waktu produksi dan sebagainya.
2.5.4
EOQ Multi Item dengan All Unit Discount
Setiap perusahaan industri disengaja maupun tidak, akan selalu memiliki
persediaan bahan baku. Ada beberapa perusahaan yang persediaan bahan bakunya
tidak dipersiapkan sama sekali. Keadaan semacam ini antara lain disebabkan oleh
bahan baku yang dipergunakan untuk proses produksi tidak dapat dibeli secara satu
persatu. Selain itu jenis bahan baku yang dibutuhkan tidak hanya satu item, hal ini
hanya membuat jadwal pemesanan bahan baku tidak teratur. Meskipun supplier
memberikan diskon pada kuantitas pembelian tertentu, jika penjadwalan pembelian
tidak teratur akan menyebabkan mambengkaknya biaya persediaan. Maka diperlukan
adanya suatu perencanaan pembelian material, agar dapat diketahui pengaruhnya
terhadap pengendalian persediaan. Sehingga perusahaan dapat menentukan kuantitas
bahan baku yang akan dibeli sesuai jadwal produksi agar tidak terjadi penumpukan
persediaan.
32
Model dasar EOQ tidak membahas adanya permintaan multi-item dan adanya
potongan harga yang diberikan oleh supplier. Jadi pada penelitian ini akan
dikembangkan model persediaan dengan mempertimbangkan permintaan multi-item
dengan unit discount. Sehingga didapatkan total biaya persediaan yang minimal.
Untuk mendapatkan model matematis EOQ multi-item dengan all unit discount
didapat dengan cara menurunkan ongkos total terhadap periode antara pemesanan (t)
dan menyamakannya dengan nol untuk mendapatkan jarak pemesanan optimal (t*)
dan ukuran pemesanan optimal yang menyebabkan ongkos total menjadi minimum.
Apabila dalam pemesanan terdapat quantity yang ditawarkan oleh penjual atas
pembelian dalam jumlah tertentu, maka quantity discount perlu dipertimbangkan
dalam penentuan jumlah pesanan ekonomis dilaksanakan, serta perbandingan harga
yang terjadi pada keduanya. Jadi analisis quantity discount itu menggunakan
perbandingan hasil perhitungan biaya persediaan dan jumlah harga bahan yang
dibayar antara pembelian tanpa quantity discount.
Perusahaan seringkali mendapat tawaran untuk mendapatkan potongan
apabila melakukan pembelian dalam jumlah besar atau sering disebut dengan quantity
discount.
Menurut Richard B Chase (2004: 560), memberikan pengertian quantity
discounts sebagai berikut:
“quantity discount merupakan suatu kebijakan dimana harga beli per
unitnya akan lebih murah dibandingkan dengan harga beli per unit rata-rata.”
Pembelian yang melakukan pembelian dalam jumlah besar akan memperoleh
beberapa keuntungan, antara lain :
1. Harga per unit yang lebih rendah.
2. Biaya transportasi yang lebih murah.
3. Biaya pesan yang lebih rendah.
33
4. Terhindar dari kemungkinan kehabisan persediaan (out of stock).
Akan tetapi pembelian dalam jumlah besar biasanya juga menimbulkan
beberapa akibat yang merugi seperti :
1. Carrying cost menjadi lebih tinggi.
2. Persediaan terlalu lama disimpan sehingga terancap kerusakan kualitas.
3. Perputaran persediaan rendah sehingga ongkos yang tertanam dalam inventory
menjadi lebih besar.
4. Dana penyimpanan yang dibutuhkan lebih besar.
Masalah yang dihadapi dalam khusus pembelian dengan potongan harga
adalah menentukan Q optimal sesuai dengan unit yang terkait dengan harga
pembelian sedemikian rupa sehingga akan memberikan Total Inventory Cost
minimum. Dalam kondisi adanya potongan harga, perhitungan EOQ mengalami
sedikit modifikasi.
Dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhi untuk mendapatkan biaya total
persediaan (total inventory cost) yang minimum :
1. Semua produk diasumsikan sempurna.
2. Pembelian yang dilakukan untuk multi-item.
3. Item tidak memiliki waktu kadaluarsa.
4. Permintaan berlaju konstan dan diketahui dengan pasti, lead time juga diketahui
dengan pasti, tidak ada stockout maupun biaya stockout.
5. Periode pemesanan untuk setiap item sama.
6. Semua item yang dipesan akan datang pada satu titik waktu yang sama untuk setiap
siklus.
34
2.5.5
Faktor-faktor yang Menentukan Besarnya Persediaan
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa persediaa pengaman (safety stock)
dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan atau barang
(stock out) yang mungkin diberikan oleh pengunaan yang lebih besar daripada
perkiraan semula, atau keterlambatan dalam penerimaan bahan atau barang yang
dipesan. Menurut Sofyan Assauri (2008:263), faktor-faktor yang menetukan besarnya
persediaan adalah:
a) Penggunaan bahan baku atau barang rata-rata
Salah satu dasar untuk memperkirakan pengunaan bahan baku atau
barang selama periode khusunya selama periode pemesanan adalah ratarata pengunaan bahan baku atau barang pada masa sebelumnya. Hal ini
harus diperhatikan, karena setelah kita mengadakan pesanan (order)
untuk mengganti persediaan yang terpakai, maka pemenuhan kebutuhan
atau permintaan dari pelanggan sebelumnya barang yang dipesan datang,
harus dapat dipenuhi dari persediaan (stock) yang ada kebutuhan atau
permintaan dari pelanggan biasanya turun naik atau berfluktuasi. Oleh
karena itu perusahaan harus dapat memperkirakannya. Metode yang bisa
digunakan adalah rata-rata hitung (average mean). Disamping rata-rata
perlu juga diketahui penyimpangan dan penggunaan yang naik turun.
b) Faktor waktu/Lead Time (Procurement System)
Didalam pengisian kembali persediaan, terdapat suatu perbedaan waktu
yang kadang-kadang cukup lama antara saat mengadakan pemesanan
dengan saat penerimaan barang-barang yang dipesan tersebut diterima
dan dimasukan kedalam persediaan waktu ini disebut lead time yang telah
diperkirakan,
namun
apabila
kedatangan
barang-barang
tersebut
terlambat, maka persediaan yang ditetapkan semula tidak dapat
memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya persediaan
35
pengaman untuk menghadapi keterlambatan datangnya barang. Terdapat
beberapa pendekatan untuk menentukan besarnya persediaan pengaman
yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Diantaranya adalah:
1. Probability of Stock Out Approach
Dalam pendekatan ini dipakai asumsi bahwa lead time adalah konstan
dan seluruh barang yang dipesan diserahkan oleh supplier pada saat yang
sama, jadi dengan asumsi ini, maka terjadilah stock out. Yang bukan
disebabkan karena perubahan dari lead time, penyerahan bahan yang dipesan
tidak pada saat yang sama, tetapi stock out terjadi karena adanya penambahan
dalam permintaan atau penggunaan presentasi titik pemesanan kembali, sama
dengan jumlah dari hasil perkalian besarnya penggunaan setiap harinya
dengan panjangnya lead time ditambah dengan safety stock.
2. Level of Service Approach
Dalam pendekatan ini penentuan safety stock tergantung dari
pemakaian barang selama masa pemesanan kembali pada waktu yang lalu
tidak begitu bervariasi, maka persediaan pengaman yang sedikit sudah cukup
untuk mempertahankan service level yang lebih tinggi.
Dengan mengasumsikan bahwa distribusi permintaan periodik adalah normal
dan distribusi permintaan periodik yang diharapkan dalam periode tenggang waktu
diasumsikan sama, maka permintaan pengaman dapat dihitung dengan cara sebagai
berikut:
SD =
∑(
)²
Dimana:
SD
= Standar deviasi
X
= Kebutuhan rata-rata
36
X1
= Jumlah kebutuhan barang
N
= Jumlah data
Apabila standar deviasi dari permintaan atau kebutuhan telah diketahui, maka
besarnya persediaan pengaman dapat diperoleh dengan mengalikan standar deviasi
dari permintaan tersebut dengan service level yang kira inginkan dan lead time-nya.
SS = Z x SD x
Dimana:
2.5.6
Z
= Tabel z
n
= Periode
t
= Lead time
Biaya yang Timbul dari Adanya Persediaan
Dalam menentukan persediaan banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan. Menurut Sofyan Assauri (2008:242), unsur-unsur biaya yang terdapat
dalam persediaan dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Biaya pemesanan (ordering cost)
Biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan pemesanan barangbarang atau bahan-bahan tersebut dari penjual, sejak dari pesanan dibuat dan
dikirim ke pembeli, sampai barang-barang atau bahan-bahan tersebut dikirim
dan diserahkan serta diinpeksi digudang atau daerah pengolahan (process
area).
2. Biaya yang terjadi dari adanya persediaan (inventory carrying cost)
Biaya-biaya yang diperlukan berkenaan dengan adanya persediaan
yang meliputi seluruh pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan sebagai
37
akibat adanya sejumlah persediaan. Jadi biaya ini berhubungan dengan
terjadinya persediaan dan disebut juga dengan biaya mengadakan persediaan
(inventory carrying cost).
3. Biaya kekurangan persediaan (out of stock cost)
Biaya-biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya persediaan yang
lebih kecil dari pada jumlah yang diperlukan, seperti kerugian atau biayabiaya tambahan yang diperlukan karena seorang pelanggan meminta atau
memesan suatu barang sedangkan barang yang dibutuhkan tidak tersedia.
4. Biaya yang berhubungan dengan kapasitas (capacity associated cost)
Biaya-biaya yang terdiri atas biaya kerja lembur, biaya latihan, biaya
pemberhentian kerja dan biaya-biaya pengangguran (idle time cost). Biayabiaya ini terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan kapasitas, atau
bila terlalu banyak atau terlalu sedikitnya kapasitas yang digunakan pada
suatu waktu tertentu.
2.6
Perbaikan dalam Sistem Persediaan
Menurut T. Hani Handoko (2000:235), dalam bukunya yang berjudul
Manajemen Persediaan banyak cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk
memaksimalkan kinerjanya. Beberapa metode yang digunakan adalah sebagai
berikut:
1. Menstandarkan item persediaan
Persediaan dapat dikurang dengan merumuskan jumlah setiap item
atau dengan mengurangi jenis item. Investasi dalam persediaan dapat
diturunkan apabila hanya satu standar item daripada lima standar item yang
berbeda.
38
2. Mengurangi waktu tunggu
Apabila pemasok berasal dari lokal, maka dapat mengurangi waktu
tunggu dan dapat menurunkan jumlah persediaan.
3. Mengurangi waktu siklus
Arus material secara terus-menerus dan tidak terputus-putus dapat
mengurangi waktu siklus produksi dan akan menaikan perputaran persediaan.
4. Menggunakan beberapa pemasok
Dengan menggunakan beberapa pemasok dapat memperoleh kualitas
dan harga yang lebih baik. Jumlah pemesanan yang lebih kecil dan frekuensi
pengiriman lebih besar dipakai oleh pemasok.
5. Memberitahukan perkiraan permintaan pada pemasok
Jika pemasok mengetahui jumlah yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Maka mereka dapat merencanakan produksi agar persediaan cukup tersedia
apabila diperlukan.
6. Kontrak pembelian dengan pemasok untuk jumlah minimum
Kontrak pembelian dengan pemasok untuk jumlah tetap dengan
pembayaran setelah material diterima, jumlah diskon dapat diperoleh dari
kenaikan harga.
7. Mempertimbangkan biaya transportasi
Jika salah satu kurang mempertimbangkan biaya transportasi maka
akan dapat berpengaruh pada biaya persediaan.
8. Memperbaiki ketepatan catatan
Ketidaktepatan catatan persediaan akan menimbulkan masalah. Siklus
akuntasi dapat memperbaiki ketepatan catatan dan mengurangi kekacauan
operasi.
39
9. Memperbaiki perencanaan kapasitas
Mengakibatkan kerugian dan kelemahan pelayanan skedul produksi
induk. Harus memperhatikan kapasitas dan fasilitas yang dimiliki.
10. Meminimumkan persiapan
Mempersiapkan fasilitas sebelum kegiatan produksi dimulai haru
diberi batasan waktu. Karena dengan waktu persiapan yang pendek dapat
mengurangi pemborosan.
11. Struktur produk sederhana
Terlalu banyak tingkat material yang digunakan dapat menambah
siklus waktu produksi dan penanganan material. Oleh karena itu, dengan
menyederhanakan standar produk akan menghemat waktu siklus dan
penanganan material.
12. Frekuensi pada perbaikan terus-menerus
Lakukan perhatian terhadap standardisasi. Penyederhanaan, integrasi,
singkronisasi dan mengurangi atau menghilangkan kendala.
2.7
Hubungan Pengawasan Persediaan dengan Perencanaan dan
Pengawasan Kegiatan Operasional
Dapat kita ketahui tujuan perencanaan dan pengawasan kegiatan operasional
adalah untuk dapat berhasil tercapainya tujuan perusahaan yaitu kelancaran operasi
dan kelangsungan hidup serta dapat berkembangnya perusahaaan. Dalam tujuan
perencanaan dan pengawasan kegiatan operasional ini, peranan pengawasan
persediaan sangat penting. Agar perencanaan dan pengawasan persediaan dapat
berjalan dengan efektif dan efesien, keduanya harus berjalan bersama-sama.
Perencanaan dan pengawasan dilakukan agar proses produksi dapat berjalan dengan
lancar dan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Sedangkan pengawasan persediaan
40
bahan baku untuk mengatur besarnya persediaan bahan baku atau barang yang dapat
meminimalkan biaya sekecil-kecilnya, seperti apa yang diharapkan dalam
perencanaan dan pengawasan kegiatan operasional perusahaan.
Menurut Sofyan Assauri (2008:177), mengatakan bahwa:
“Masalah pengendalian persediaan merupakan masalah yang sangat
penting, karena jumlah persediaan masing-masing bahan baku atau barang
akan menentukan atau mempengaruhi kelancaran produksi secara keefektifan
dan keefisienan perusahaan”.
Dengan persediaan bahan baku, perusahaan dapat menentukan jumlah
pemakaian bahan baku pada tingkat yang ekonomis, juga dapat meningkatkan
produktivitas perusahaan. Karena perusahaan dapat beroperasional dengan jumlah
barang yang paling ekonomis dan biaya yang paling minimal. Selain itu dengan
menentukan tingkat persediaan pengaman (safety stock), perusahaan akan dapat
menentukan kapan sebaiknya pemesanan barang dilakukan kembali (reorder point),
kegiatan operasional perusahaan akan terjaga kelangsungannya. Tanpa didukung oleh
perencanaan yang baik dan sumber daya yang optimal kegiatan operasional
perusahaan belum tentu dapat berjalan dengan lancar.
41
2.8
No
1.
2.
3.
2.9
Kajian Penelitian Terdahulu yang Berkaitan dengan Variabel dan Objek
yang diteliti
Tabel 2.1
Hasil Penelitian Terdahulu yang Berkaitan dengan Variabel dan Objek
Judul Penelitian dan Nama
Peneliti
Rencana Sistem Informasi
Persediaan Bahan Baku
Terkomputerisasi PT.KPL,
Oviliani Yenty Yuliana, Tanti
Octavia (2001).
Perencanaan Pengendaliaan
Persediaan Bahan Baku
Dengan Menggunakan Model
Economic Order Quantity
(EOQ) Studi Kasus PT. XYZ,
Halasan B Sirait, Parapat
Gultom, Esther S Nababan
(2013)
Analisis Perbandingan
Perencanaan Persediaan Bahan
Baku Menggunakan Metode
Just In Time (JIT) Dengan
Economic Order Quantity
(EOQ) Studi Khusus Pada PT.
Pisma Putra Tekstil
Pekalongan,
Kasmari, Lie Liana (2011)
Variabel
Hasil Penelitian
 Persediaan
Bahan
Baku
Plastik
Jumlah pemesanan ekonomis
dengan frekuensi pemesanan
maksimum untuk setiap bulan
menghasilkan
biaya
total
persediaan yang minimum dan
apabila pengurangan frekuensi
pemesanan akan mengurangi
total biaya persediaan sistem
informasi. Persediaan bahan
baku terkomputerisasi dapat
menyajikan informasi yang
celevancy, accuaricy, timeliness,
dan completeness.
Pengendaliaan
persediaan
dengan model Economic Order
Quantity (EOQ) lebih efesien.
 Persediaan
Bahan
Baku
 Persediaan
Bahan
Baku Serat
Rayo,
Katun dan
Polyester
Untuk
mendapatkan
penghematan
biaya
yang
signifikan manajer produksi
dituntut untuk melakukan upaya
perbaikan dalam penanganan
infentory, metode yang sering
digunakan adalah
Economic
Order Quantity (EOQ) dan Just
In Time (JIT).
Kerangka Pemikiran
Dalam perusahaan yang sedang mengalami kenaikan jumlah produksi,
perusahaan sering menemui permasalahaan atau keluhan dikarenakan jumlah
persediaan yang sulit ditentukan dan peramalan yang kurang akurat dapat menjadi
42
penyabab dari kerugian perusahaan. Karena perusahaan tidak dapat optimal dalam
produksi. Dalam permasalahan ini perusahaan sering mengalami kerugian yang
cukup membebani perusahaan.
Dikarenakan tidak adanya ketepatan dalam menentukan jumlah stok
persediaan. Agar proses produksi dapat berjalan lancer tidak terjadi peramalan yang
salah dan jumlah persediaan tidak banyak berlebihan. Perusahaan perlu merancang
system operasional dalam persediaan yang efektif dan efesien.
Metode persediaan sangat perlu di perhatikan karena persediaan adalah aseet
yang sangat penting. Perusahaan selalu ingin mengabaikan hal-hal kecil dari jumlah
persediaan dikarenakan kurangnya kontrol dari perusahaan. Tetapi apabila
perusahaan sering dan terus menerus melakukan kecerobohan ini perusaan dapat
mengalami kerugian yang cukup besar, oleh sebab itu persediaan wajib
diperhitungkan dengan benar agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang terus
menerus.
Dalam kasus persediaan kita dapat melihat fakto-faktor lain seperti
permintaan yang selalu berfluktuasi dan perusahaan cendrung kebingungan saat
menentukan jumlah produksi yang diinginkan, dengan metode peramalan faktorfaktor tersebut dapat di perhitungkan, tetapi peramalanpun belum bisa dikatakan
akurat dikarenakan metode peramalan yang dipakai dilihat dari periode sebelumnya.
Metode yang bisa di pergunakan untuk menghitung jumlah persedian dan
dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). Metode Economic
Order Quantity (EOQ) adalah suatu metode penentuan jumlah kuantitas barang yang
dapat diperoleh dengan biaya minimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah
pembelian yang optimal. Selain dari penentuan persediaan, sebuah perusahaan
dagang juga harus menentukan kapan barang tersebut akan dipesan (reorder point),
berapa barang yang dipesan, serta berapa banyak persediaan yang harus tersedia
didalam gudang (safety stock).
43
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas dapat dilihat bagan kerangka pemikiran
sebagai berikut:
Gambar 2.2
Skema Kerangka Pemikiran
Kebijakan CV. DODO-MIS
Permintaan Pasar
Forcesting
Economic Order Quantity
(EOQ)
Persediaan Menurut Perusahaan
Jumlah Persediaan dan Pesanaan Bahan
Baku
Total Biaya Perusahaan
Total Biaya EOQ
Perbandingan Antara Persuhaan dan
EOQ
Penentuan / Pemilihan yang Paling Efektif
dan Efesien
Sumber :Penulis
Download