Efisiensi Pemasaran Beberapa Komoditas - E

advertisement
Volume 6 No. 2-September 2014
Efisiensi Pemasaran Beberapa Komoditas Sayuran Utama di Kabupaten Indramayu
Oleh:
Teguh Iman Santoso
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Wiralodra Indramayu
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai elastisitas transmisi harga
dan efisiensi pemasaran kacang panjang, cabe merah dan bawang merah di Kabupaten
Indramayu efisien. Desain dalam penelitian ini adalah kausal komparatif (causal comparative
research). Penelitian ini menggunakan model ekonometrika dengan menggunakan data timeseries harga mingguan produsen dan harga konsumen dari Bulan Januari 2009 sampai
dengan Bulan Desember Tahun 2013.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa besarnya nilai elastisitas transmisi
harga kacang panjang sebesar 0,968 artinya perubahan harga sebesar 1% di tingkat konsumen
akan mengakibatkan perubahan harga sebesar 0,968% di tingkat petani. Elastisitas transmisi
cabe merah dan bawang merah sebesar 1,012, dan 1,001 artinya perubahan harga sebesar 1%
di tingkat konsumen akan mengakibatkan perubahan harga sebesar 1,012, dan 1,001 di
tingkat petani. Nilai elastisitas transmisi harga dari beberapa komoditas sayuran tersebut tidak
ada yang nilainya sama dengan satu (1) sehingga dapat disimpulkan bahwa pemasarannya
tidak efisien karena struktur pasar yang terbentuk adalah bukan pasar persaingan sempurna.
Kata kunci : pemasaran, elastisitas transmisi, efisiensi pemasaran, pasar persaingan sempurna
PENDAHULUAN
Sektor pertanian merupakan sektor
penting karena mempunyai peran strategis
dalam perekonomian. Sektor pertanian
menyediakan bahan makanan pokok
penduduk, penyedia lapangan kerja
terbesar penduduk, pencipta nilai tambah
atau Produk Domestik Bruto (PDB) dan
penghasil devisa (Asmarantaka, 2009).
Kabupaten Indramayu memiliki
luas 209.942 Ha, yang terdiri dari 116.805
Ha (55,64% tanah sawah, 93.137 Ha
(44,36%) tanah kering. Tanah sawah
terdiri dari sawah irigasi sebesar 93.401
Ha (79,96%) dan sawah non irigasi atau
tadah hujan sebesar 23.404 (20,04%).
(BPS Kabupaten Indramayu 2014).
Sampai
saat
ini
kabupaten
Indramayu masih mengandalkan sektor
ekonominya pada sektor pertanian. Hal
tersebut dapat dilihat dari persentase
sumbangan sektor pertanian pada Produk
Domestik Bruto Kabupaten Indramayu.
Sebagai daerah agraris Kabupaten
Indramayu merupakan daerah yang banyak
menghasilkan komoditas pertanian, salah
satunya adalah sayuran. Terdapat beberapa
sayuran
yang
cukup
potensial
dikembangkan di Kabupaten Indramayu,
yaitu: kacang panjang, cabai merah dan
bawang merah. Ketiga sayuran tersebut
merupakan sayuran utama yang banyak
diusahakan oleh petani. Produksi ketiga
komoditas tersebut mengalami fluktuasi,
yang diakibatkan oleh perubahan luas
tanam dan luas panen serta faktor lain
yang mempengaruhi produksi. Adapun
jumlah produksi kacang panjang, cabai
merah, dan bawang merah dapat dilihat
pada Tabel 1. berikut ini.
9
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
Tabel 1.
Produksi Kacang Panjang, Cabai Merah dan Bawang Merah di Kabupaten
Indramayu Tahun 2008-2012
Komoditas
Produksi (Ton)
2008
2009
2010
2011
2012
Kacang Panjang
6.923
5.111
4.502
4.298
3.586
Cabai Merah
4.184
2.550
2.663
2.570
2.267
Bawang Merah
3.733
2.952
1.251
2.748
6.784
Sumber :Dinas Pertanian Jawa Barat 2014
Saat ini terjadi perubahan orientasi
dalam kegiatan pertanian, dari pertanian
yang berorientasi kepada produksi menuju
pertanian
yang
berorientasi
pasar.
Perubahan orientasi tersebut sampai saat
ini masih menemui berbagai kendala salah
satunya adalah bargaining power petani
yang rendah yang diakibatkan dikuasainya
kendali pemasaran oleh pelaku pemasaran
(Direktorat Jendral Pemasaran, 2006).
Berhasilnya kegiatan usahatani
tidak akan mendorong kesejahteraan
petani apabila tidak didukung oleh
pemasaran yang baik. Menurut Ismet
(2009), dalam konsep agribisnis, pasar
harus ditempatkan pada ururan terdepan.
Pemasaran
merupakan
salah
satu
subsistem penting dalam sistem agribisnis,
pemasaran
yang
efisien
akan
meningkatkan kinerja usahatani, akan
tetapi sebaliknya apabila tidak efisien
maka akan menurunkan kinerja usahatani
tersebut (Sudiyono, 2000).
Sebagai komoditas pertanian, harga
beberapa produk sayuran
selalu
mengalami mengalami fluktuasi yang
biasanya diluar kendali petani. Fluktuasi
harga sayuran pada umumnya lebih tinggi
dibanding buah, padi dan palawija dengan
kata lain ketidakseimbangan antara
volume pasokan dan kebutuhankonsumen
lebih sering terjadi pada sayuran (Irawan,
2007).
Menurut Ismet (2009), harga
produk pertanian tergolong sangat
fluktuatif dengan rentang tingkat harga
yang sangat lebar, apalagi setelah
dikaitkan dengan future trading. Pada
waktu tertentu, seperti musim panen dan
musim hujan harganya bisa sangat rendah
namun pada saat yang lain bisa sangat
tinggi. Harga yang sangat fluktuatif secara
teoritis akan menyulitkan prediksi bisnis,
baik perhitungan laba rugi maupun
manajemen resiko.
Selain itu margin pemasaran
komoditas pertanian seringkali sangat
besar akibatnya apabila semakin besar
margin pemasaran maka harga yang
diterima oleh produsen adalah semakin
kecil dan mengindikasikan bahwa sistem
pemasaran yang tidak efisien atau tidak
terjadi
keterpaduan
pasar
dan
mengindikasikan rendahnya balas jasa atau
bagian harga yang diterima oleh petani.
Selanjutnya
Rahayu
(2009)
yang
mengemukakan bahwa yang menyebabkan
tidak efisiennya pemasaran produk
pertanian adalah karena rendahnya tingkat
balas jasa yang diterima oleh petani atau
bagian harga yang diterima oleh petani,
selain itu lemahnya posisi tawar yang
rendah akibat over supply yang sering
terjadi pada panen raya sehingga
menyebabkan rendahnya harga yang
diterima petani.
Vavra dan Goodwin (2005)
mengungkapkan distribusi kesejahteraan
sebagai akibat dari efek perubahan harga
pada
pelaku
pemasaran
tidak
ditransmisikan pada harga di tingkat
produsen atau rata-rata perubahan harga di
tingkat
produsen lebih rendah dari
perubahan harga di tingkat pelaku
pemasaran yang terlibat, sehingga dapat
dikatakan bahwa efek transmisi harga
10
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
tidak
berjalan
transmission).
(asymmetric
price
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui :
1. Besarnya nilai elastisitas transmisi
harga kacang panjang, cabe merah dan
bawang
merah
di
Kabupaten
Indramayu.
2. Apakah pemasaran kacang panjang,
cabe merah dan bawang merah di
Kabupaten Indramayu efisien.
TINJAUAN PUSTAKA
Pasar adalah suatu kelompok yang
terdiri dari kumpulan orang ataupun
organisasi yang merupakan konsumen
potensial
yang
tujuannya
adalah
mempertemukan antara kebutuhan akan
produk
yang
dipasarkan
dengan
kemampuan membeli yang cukup untuk
memenuhi kebutuhannya (Beierlein dan
Michael, 1991; Gitosudarmo, 1997).
Menurut Tjiptono (2001) pasar
terdiri atas semua pelanggan potensial
yang memiliki kebutuhan atau keinginan
tertentu yang mungkin bersedia dan
sanggup untuk melibatkan diri dalam
proses pertukaran guna memuaskan
kebutuhan atau keinginan tersebut, dengan
demikian, besarnya pasar tergantung pada
jumlah orang yang memiliki kebutuhan,
mempunyai sumber daya yang diminati
orang atau pihak lain, serta bersedia
menawarkan sumber daya tersebut untuk
ditukar supaya dapat memenuhi kebutuhan
dan keinginan mereka.
Selanjutnua menurut Radiosunu
(2001), pasar merupakan gelanggang untuk
pertukaran potensial di mana pasar terdiri
dari manusia yang mempunyai kebutuhan
yang harus dipenuhi, mempunyai data beli
dan
mempunyai
kesediaaan
untuk
menggunakan daya beli guna memenuhi
kebutuhannya. Luasnya pasar tergantung
dari jumlah orang yang berminat terhadap
barang yang ditawarkan, dan mempunyai
kesediaan untuk menggunakan daya
belinya.
Pemasaran adalah kegiatan manusia
yang diarahkan pada usaha memuaskan
keinginan dan kebutuhan melalui proses
pertukaran (Radiosunu, 2001). Menurut
Beierlein dan Michael (1991), pemasaran
adalah semua kegiatan yang membantu
memuaskan kebutuhan konsumen dengan
mengkoordinasi aliran barang dan jasa ke
konsumen atau pengguna. Selanjutnya,
menurut Downey dan Steven (1992),
pemasaran adalah telaah mengenai aliran
produk dari produsen melalui pedagang
perantara kepada konsumen.
Menurut Kotler (2000) pemasaran
adalah suatu proses dan manajerial yang di
dalamnya
individu
dan
kelompok
mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan,
menawarkan, dan mempertukarkan yang
bernilai dengan pihak lain. Definisi
pemasaran ini pada konsep intinya adalah
kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan
permintaan (demands); produk (barang,
jasa, dan gagasan); nilai, biaya, dan
kepuasan; pertukaran dan transaksi;
hubungan dan jaringan; pasar; serta
pemasar. Kemudian menurut Kotler
(2000), pemasaran adalah suatu proses
sosial dengan individu dan kelompok
dengan kebutuhan dan keinginan dalam
menciptakan, penawaran, dan perubahan
nilai barang dan jasa secara bebas
dengan lainnya.
Pemasaran pertanian adalah proses
aliran
komoditas
yang
disertai
perpindahan hak milik dan penciptaan
guna waktu (time utility), guna tempat
(place utility), dan guna bentuk (form
utility) yang dilakukan oleh lembagalembaga pemasaran dengan melaksanakan
salah satu atau lebih fungsi-fungsi
pemasaran (Sudiyono, 2004). Selanjutnya
menurut Said dan Intan (2001), pemasaran
pertanian merupakan sejumlah kegiatan
bisnis yang ditujukan untuk memberi
kepuasan dari barang dan jasa yang
dipertukarkan kepada konsumen atau
pemakai dalam bidang pertanian, baik
input maupun produk pertanian.
11
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
Menurut Rahim dan Hastuti (2005),
pemasaran komoditas pertanian merupakan
kegiatan atau proses pengaliran komoditas
pertanian
dari
produsen
(petani,
peternak, dan nelayan) sampai ke
konsumen atau pedagang perantara
(tengkulak, pengumpul, pedagang besar,
dan pengecer) berdasarkanpendekatan
sistem pemasaran (marketing system
approach),
kegunaan
pemasaran
(marketing utility), dan fungsi-fungsi
pemasaran(marketing functions).
Efisiensi pemasaran (marketing
efficiency) merupakan tolok ukur atas
produktivitas proses pemasaran dengan
membandingkan
sumberdaya
yang
digunakan terhadap keluaran yang
dihasilkan selama berlangsungnya proses
pemasaran. Efisiensi pemasaran sering
digunakan dalam menilai prestasi kerja
(performance)
proses
pemasaran
(Downey dan Erickson, 1992). Menurut
Crammer dan Jensen (1994) efisiensi
pemasaran
diukur
dengan
membandingkan nilai output dan input.
Nilai output adalah pada penilaian
konsumen tentang produk, dan nilai
input (biaya).
Menurut Kirpatrick dan Dahlquist
(2011) efisiensi pemasaran merupakan
sebuah pasar kompetitif
yang selalu
mengacu pada informasi perubahan harga
suatu komoditas. Artinya adanya informasi
perubahan harga suatu komoditas akan
langsung direspon oleh pasar tersebut.
Pasar komoditas pertanian yang
tidak efisien akan terjadi jika biaya
pemasaran semakin besar dan nilai produk
yang dipasarkan jumlahnya tidak terlalu
besar. Efisiensi pemasaran dapat terjadi, yaitu
pertama, jika biaya pemasaran dapat
ditekan sehingga keuntungan pemasaran
dapat lebih tinggi; kedua, persentase
perbedaan
harga
yang
dibayarkan
konsumen dan produsen tidak terlalu tinggi;
ketiga,
tersedianya
fasilitas
fisik
pemasaran; dan keempat adanya kompetisi
pasar yang sehat. Efisien tidaknya suatu
sistem pemasaran tidak terlepas dari
kondisi
persaingan
pasar
yang
bersangkutan. Pasar yang bersaing
sempurna dapat menciptakan sistem
pemasaran yang efisien karena pasar
yang bersaing sempurna memberikan
insentif bagi partisipan pasar, yaitu
produsen, lembaga-lembaga pemasaran,
dan konsumen (Rahim dan Hastuti, 2005).
Pada pemasaran yang efisien, harga-harga
barang harus bergerak serempak serta
merespon
kekuatan permintaan dan
penawaran, akurasi dan kecepatan
perubahan harga pasar terbentuk oleh
saling berpengaruhnya satu pasar dengan
pasar yang lainnya (Kumar, 2007).
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini termasuk subject
matter research, yaitu penelitian yang
dilakukan pada suatu subyek yang menarik
bagi
pengambil
keputusan
untuk
memecahkan masalah praktis (Ethridge,
1995). Obyek dari penelitian ini adalah
harga produsen, dan harga konsumen
kacang panjang, cabe merah, bawang
merah di Kabupaten Indramayu.
Desain dalam penelitian ini adalah
kausal komparatif (causal comparative
research)
yang
ditujukan
untuk
menyelidiki kemungkinan hubungan sebab
akibat berdasarkan pengamatan terhadap
akibat yang ada dan mencari kembali
faktor yang mungkin menjadi penyebab
melalui data tertentu, ciri-ciri pokok
penelitian ini adalah bersifat ex-post-facto
yaitu data dikumpulkan setelah semua
kejadian
yang
dipersoalkan
telah
berlangsung (Umar, 2005; Wirarta, 2006).
Penelitian ini dilaksanakan dengan
menggunakan data time-series mingguan
harga produsen dan harga konsumen dari
Bulan Januari 2009 sampai dengan Bulan
Desember
Tahun
2013.
Model
ekonometrika yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis timeseries/analisis runut waktu dengan
menggunakan analisis elastisitas transmisi
harga. Analisis elastisitan transmisi harga
merupakan rasio perubahan harga rata-rata
di tingkat pengecer dengan perubahan
harga di tingkat produsen.
12
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
Disain penelitian kausalkomparatif
dalam penelitian ini dimaksudkan untuk
menganalisis besarnya nilai elastisitas
transmisi dan efisiensi pada pemasaran
kacang panjang, cabe merah dan bawang
merah Kabupaten Indramayu.
Untuk kelancaran pengukuran dan
pengumpulan data yang diperlukan, maka
dalam penelitian ini diberikan batasanbatasan mengenai variabel-variavel yang
berhubungan sebagai berikut:
1. Harga komoditas di tingkat produsen
adalah harga nominal komoditas yang
ditetapkan petani produsen. Data
dalam bentuk mingguan, satuannya
adalah Rp/Kg.
2. Harga bawang merah di tingkat
konsumen adalah harga nominal
komoditas yang harus dibayarkan
konsumen untuk membeli komoditas
tersebut.
Data
dalam
bentuk
mingguan,satuannya adalah Rp/Kg.
Penelitian ini berdasarkan data
sekunder yang bersumber pada data harga
mingguan komoditas sayuran berupa harga
produsen dan harga konsumen kacang
panjang, cabe merah, bawang merah dari
Bulan Januari 2009 sampai dengan Bulan
Desember Tahun 2013 yang berasal dari
Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu.
Selain itu penelitian ini juga menggunakan
data yang berasal dari Badan Pusat
Statistik
(BPS),
dokumen
yang
dipublikasikan, instansi terkait yang
berhubungan dengan penelitian.
Untuk
menganalisis
efisiensi
pemasaran bawang merah dalam penelitian
ini, digunakan analisis elastisitan transmisi
harga dengan rumus sebagai berikut:
P =β +P e
Jika ditransformasikan dalam bentuk linear
menjadi:
LnPf = Lnβ0 + β1LnPr + e
β0
: intersep
β1
: koefisien elastisitas
Pr
: harga di tingkat pengecer (Rp)
Pf
: harga di tingkat produsen (Rp)
e
: gangguan stokhastik atas
kesalahan (disturbance term)
Untuk mempermudah perhitungan maka
digunakan rumus sebagai berikut:
LnHP = Lnβ0 + β1LnHK+ e
β0
: intersep
β1
: koefisien elastisitas
HK
: harga rata-rata di tingkat
pengecer (Rp)
HP
: harga rata-rata di tingkat
produsen (Rp)
e
: gangguan stokhastik
atas kesalahan disturbance term
Pada penelitian ini data yang digunakan
adalah data time series oleh karena itu
perlu dilakukan uji autokorelasi, karena
masalah autokorelasi terjadi pada data time
series (Rasul, 2011). Auto korelasi
diartikan sebagai korelasi antar anggota
serangkaian observasi yang diurutkan
waktu (Gujarati, 1988). Untuk mengetahui
terjadi atau tidaknya autokorelasi maka
digunakan pengujian
DW (Durbin
Waston).
Untuk
mempermudah
perhitungan maka digunakan analisis
dengan menggunakan SPSS 20. Adapun
kriteria pengujin menurut Gujarati (1988)
adalah sebagai berikut :
Gambar 1. Kriteria Statistik
Waston (Gujarati 1988)
Durbin
Keterangan :
H0 : Tidak ada korelasi positif, jika:
d < dl : menolak H0
d > du : tidak menolak H0
dl ≤ d ≤ du : pengujian tidak meyakinkan
H0 : Tidak ada autokorelasi negatif, jika:
d > 4 - dl : menolak H0
d < 4 - du : terima H0
4 – du ≤ d ≤ 4 – dl : pengujian tidak
meyakinkan
13
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
Jika H0 adalah dua-ujung, maka tidak ada
autokorelasi baik positif maupun negatif.
Apabila terjadi autokorelasi maka penaksir
OLS tidak efisien, maka perlu dilakukan
tindakan perbaikan dengan melakukan
transformasi data yaitu dengan mencari
nila
yang didasarkan dari statistik d
Durbin Waston.
= 2(1 − )
1
=1−
2
Dengan menggunakan taksiran di atas
kita melakukan transformasi data
sebagai berikut :
( HP − ρ HP )
dan
( HK −
ρ HK )
Untuk nilai pertama dari
HP dan
HK
adalah
dengan
mentransformasikan
data
sebagi
berikut :
(1 − ) HP dan (1 − ) HK
Jika ET > 1, menunjukan persentase
perubahan harga di tingkat pengecer
mengakibatkan perubahan harga lebih
besar dari harga pada tingkat produsen.
Jika ET < 1, maka persentase kenaikan
harga di tingkat konsumen mengakibatkan
perubahan harga lebih rendah dari harga di
tingkat produsen. Kedua nilai ET
(elastisitas
transmisi)
tersebut
mencerminkan pasar persaingan yang
tidak sempurna dan pemasaran suatu
komoditas dikatakan tidak efisien. Jika Er
= 1, maka persentase perubahan harga di
tingkat
konsumen
mengakibatkan
perubahan harga di tingkat konsumen
dengan persentase yang sama. Perubahan
sebesar 1% di tingkat petani (produsen)
akan diikuti dengan perubahan harga di
tingkat konsumen sebesar 1%. sehingga
dapat disimpulkan bahwa keadaan pasar
mencerminkan pasar persaingan yang
tidak sempurna dan pemasaran suatu
komoditas dikatakan efisien (Rahim,
Hastuti, 2008).
HASIL
PENELITIAN
PEMBAHASAN
DAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
diperoleh hasil analisis regresi linear
sederhana yang menunjukan terjadinya
autokorelasi pada ketiga komoditas sayur
tersebut nilai DW (Durbin- Waston) lebih
kecil dari nilai dl (DW<dl). Adapun hasil
analisis regresi harga produsen dengan
harga konsumen kacang panjang, cabe
merah dan bawang merah dapat dilihat
pada
Tabel
2.
berikut
ini
:
Tabel 2. Koefisien Regresi Ln Harga Produsen dan Ln Harga Konsumen Kacang Panjang,
Cabe merah dan Bawang Merah di Kabupaten Indramayu
Kacang panjang
(Constant)
LnHK
Unstandardized
Coefficients
Β
Std. Error
-,616
,241
1,047
,028
(Constant)
LnHK
-1,142
1,102
(Constant)
LnHK
-0,991
1,089
Model
,151
,016
t
R2
-2,558
0,852
36,959
Cabe Merah
-7,559
70,320
0,954
F
Durbin
Waston
1365,969
0,468
Terjadi
Autokorelasi
4944,863
0,516
Terjadi
Autokorelasi
20922,509
0,281
Terjadi
Autokorelasi
Keterangan
Bawang Merah
0,072 -2,085
0,008 136,401
0,989
Sumber : Data diolah
Keterangan
N = 240. K= 2. dl = 1.69339 du = 1.70999
Confidence Intervals Level (%) = 99
14
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
Hasil analisis regresi yang telah
dilakukan menemui masalah autokorelasi,
hal tersebut sesuai dengan pendapat
(Rasul, 2011) yang menyatakan bahwa
masalah autokorelasi terjadi pada data time
series. Menurut Supranto (1984) bahwa
autokorelasi terjadi oleh beberapa faktor
salah satunya adalah dikarenakan adanya
fenomena sarang laba-laba (Cob-web
Phenomena), dimana suplai dari berbagai
komoditas pertanian bereaksi terhadap
harga dan beda kala (lag) pada satu satuan
waktu, hal ini disebabkan karena
keputusan melakukan suplai memerlukan
waktu
dalam
pelaksanaannya
(the
gestation period). Terjadinya autokorelasi
pada analisis regresi mengakibatkan
penaksir OLS tidak efisien maka tindakan
erbaikan
harus
dilakukan
dengan
melakukan transformasi data dengan
mencari nila
yang didasarkan dari
statistik d (Durbin-Waston). Setelah
dilakukan
transformasi
data
maka
diperoleh analisis regresi ketiga sayuran
(kacang panjang, cabe merah dan bawang
merah yang nilai d (Durbin Waston) yang
lebih besar dari nilai du sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa tidak terjadi
autokorelasi. Hasil analisis regresi dengan
menggunakan Ln Harga Produsen dan Ln
Harga Konsumen Kacang Panjang, Cabe
merah dan Bawang Merah yang telah
dilakukan transformasi data dapat dilihat
pada Tabel 3.
Berdasarkan
hasil
penelitian
analisis regresi yang tidak terjadi
autokorelasi, maka penaksiran OLS
menjadi efisisn sehingga hasil analisisi
tersebut dapat disimpulkan
bahwa
besarnya nilai elastisitas transmisi harga
kacang panjang adalah sebesar 0,968
artinya perubahan harga sebesar 1% di
tingkat konsumen akan mengakibatkan
perubahan harga sebesar 0,968% di tingkat
petani.
Hasil perhitungan yang menujukan
bahwa pemasaran komoditas kacang
panjang,
tidak
efisien
hal
ini
mengambarkan bahwa para petani
produsen akan menghadapi fluktuasi harga
terutama saat panen, harga komoditas
pertanian cenderung mengalami penurunan
akibat adanya kelebihan penawaran dari
produk yang dihasilkan, selain itu bagian
harga yang diterima petani (farmers share)
seringkali rendah, akibatnya keuntungan
yang diterima petani sebagai produsen
lebih rendah dibandingkan bagian harga
yang diterima lembaga pemasaran.
Tabel 3. Koefisien Regresi Ln Harga Produsen dan Ln Harga Konsumen Kacang Panjang,
Cabe merah dan Bawang Merah di Kabupaten Indramayu Setelah dilakukan
Transformasi Data
Kacang panjang
Model
(Constant)
LnHK
Unstandardized
Coefficients
Β
Std. Error
0,017
0,038
0,968
0,019
R2
T
0,338
51,288
0,917
F
Durbin
Waston
2630,488
1,783
TidakTerjadi
Autokorelasi
5519,442
1,939
TidakTerjadi
Autokorelasi
18606,135
1,746
Keterangan
Cabe Merah
(Constant)
LnHK
-0,072
1,012
0,034
0,014
-7,559
70,320
0,959
Bawang Merah
(Constant)
LnHK
-0,021
1,001
0,010
0,007
-2,085
136,401
0,987
TidakTerjadi
Autokorelasi
Sumber : Data diolah
Keterangan
N = 240. K= 2. dl = 1.69339 du = 1.70999
Confidence Intervals Level (%) = 99
15
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
Komoditas
pertanian
selalu
mengalami perubahan, masalahnya adalah
apabila semakin besar margin pemasaran
maka akibatnya adalah bagian harga yang
diterima oleh produsen adalah semakin
kecil dan mengindikasikan bahwa sistem
pemasaran yang tidak efisien atau tidak
terjadi
keterpaduan
pasar
dan
mengindikasikan rendahnya balas jasa atu
bagian harga yang diterima oleh petani, hal
tersebut sesuai dengan yang dinyatakan
oleh Rahayu (2009), yang mengemukakan
bahwa yang menyebabkan tidak efisiennya
pemasaran produk pertanian adalah karena
rendahnya tingkat balas jasa yang diterima
oleh petani atau bagian harga yang
diterima oleh petani, selain itu lemahnya
posisi petani disebabkan oleh posisi tawar
yang rendah akibat over supply yang serin
terjadi pada panen raya sehingga
menyebabkan rendahnya harga yang
diterima petani.
Rendahnya harga yang diterima
petani mengakibatkan kesejahteraan petani
selalu rendah. Pernyataan tersebut sesuai
dengan pernyataan Vavra dan Godwin
(2005) yang menyatakan bahwa distribusi
kesejahteran sebagai akibat dari efek
perubahan harga pada pelaku pemasaran
tidak di transmisikan pada harga di tingkat
produsen atau rata-rata perubahan harga di
tingkat produsen lebih rendah dari
perubahan harga di tingkat pelaku
pemasaran yang terlibat, sehingga dapat
dikatakan bahwa efek transmisi harga
tidak
berjalan
(asymetric
price
transmission). Selanjutnya didukung pula
oleh pernyataan Timer (1996)
dan
Enrique (2008) menyatakan dari sisi pasar,
pemasaran hasil pertanian tidak simetris
(asimetric market), elastisitas transmisi
harga komoditas pertanian kecil sehingga
kenaikan harga di tingkat konsumen tidak
dinikmati oleh produsen.
Hasil
penelitian
menunjukan
bahwa pemasaran cabe merah dan bawang
merah juga tidah efisien. Elastisitas
transmisi cabe merah dan bawang merah
sebesar 1,012, dan 1,001 artinya
perubahan harga sebesar 1% di tingkat
konsumen akan mengakibatkan perubahan
harga sebesar 1,012, dan 1,001 di tingkat
petani. Walaupun perubahan harga di
tingkat petani persentasenya lebih besar,
akan tetapi nilai tersebut menunjukan
bahwa pemasaran kedua komoditas
tersebut tidak efisien. Walaupun pada
kasus ini petani diuntungkan, akan tetapi
tetap saja pemasaran tersebut tidak efisien,
karena tidak memenuhi salah satu syarat
dari efisiensi pemasaran. Adapun efisiensi
pemasaran yang dikemukakan oleh
Mubyarto (1989) yang menyatakan bahwa
efisiensi pemasaran tercapai apabila : 1)
mampu menyampaikan hasil-hasil dari
produsen kepada konsumen dengan biaya
semurah-murahnya; 2) mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan
harga yang dibayar konsumen terakhir
kepada semua pihak yang terlibat dalam
kegiatan produksi dan kegiatan pemarasan
barang
tersebut.
Selanjutnya
nilai
elastisitas transmisi harga dari beberapa
komoditas sayuran tersebut tidak ada yang
nilainya sama dengan satu (1) sehingga
dapat disimpulkan bahwa pemasarannya
tidak efisien karena struktur pasar yang
terbentuk adalah bukan pasar persaingan
sempurna.
Tidak efisiennya pamasaran produk
sayuran utama di Indramayu disebabkan
beberapa faktor yaitu : lemahnya
kelembagaan petani seperti kelompok tani,
koperasi dan lembaga lainya. Selain itu
tidak tersedianya informasi mengenai
perubahan harga harian untuk komoditas
pertanian di kabupaten Indramayu.
Kalaupun ada sumber informasi yang
diterima petani, informasinya lebih sedikit
dibandingkan dengan pelaku pemasaran.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka
diperoleh simpulan sebagai berikut :
1. Besarnya nilai elastisitas transmisi
harga kacang panjang adalah 0,968,
cabe merah 1,012, dan bawang merah
1,001.
16
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
2.
Pemasaran kacang panjang, cabe
merah dan bawang merah di
Kabupaten Indramayu tidak efisien.
Saran
1.
2.
3.
Lemahnya
kelembagaan
petani
menyebabkan lemahnya posisi adu
tawar (bargaining position) petani.
Oleh karena itu perlu diupayakan
penguatan kelembagaan petani baik
di tingkat petani seperti kelompok
tani, koperasi, maupun kelembagaan
yang dibentuk oleh pemerintah seperti
terminal
agribisnis
maupun
subterminal agribisnis.
Harus adanya peran dari pemerintah
dalam rangka penyediaan infrastruktur
yang menunjang bagi kegiatan petani,
khususnya dalam rangka mengupayakan tercapainya keterpadauan pasar
yang kuat dengan mengupayakan
tersedianya sarana informasi harga
komoditas
pertanian,
sarana
transportasi yang memadai, dan
kebijakan
pemerintah
yang
mendukung pembangunan pertanian.
Penelitian efisiensi pemasaran produk
pertanian merupakan hal yang penting
dalam
mengembangkan
produk
pertanian
yang
potensial
dan
digunakan pemerintah untuk membuat
kebijakan, berdasarkan informasi dari
analisis keterpaduan pasar, dapat
merumuskan
kebijakan
untuk
memberikan
pelayanan
berupa
penyediaan layanan informasi pasar
bagi
petani,
dan
penyediaan
infrastruktur yang dibutuhkan oleh
petani untuk kegiatan pemasaran
pertanian. Penelitian ini masih
memiliki keterbatasan Oleh karena itu
harus diupayakan adanya penelitian
lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmarantaka, R. A. 2009. Pemasaran
Produk Pertanian. Bunga Rampai
Agribisnis
Seri
Pemasaran.
Departemen Agribisnis Fakultas
Ekonomi dan Manajemen Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Beierlein, J. G., dan W. W. Michael. 1991.
Agribusines Marketing. Prentice
Hall. Englewood. New Jersey.
BPS
Kabupaten
Indramayu
Indramayu.
Indramayu. 2014.
Dalam
Angka.
Crammer, G. L., dan C.W. Jensen. 1994.
Agricultural
Economics
and
Agribusiness. John Wiley and
Sons, Inc. New York.
Dinas
Pertanian Jawa Barat, 2014.
Produksi
Sayuran
Menurut
Kabupaten dan Kota di Jawa
Barat. Bandung.
Direktorat Jenderal Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Pertanian. 2006.
Road
Map
Pasca
Panen,
Pengolahan, dan Pemasaran Hasil
Bawang Merah. Jakarta
Downey, W.D., dan S. P. Erickson. 1992.
Manajemen
Agribisnis.
Terjemahan Rochdiat dan A. Sirait.
Erlangga. Jakarta.
Ethridge, D. 1995. Research Methodology
in Applied Economics. Iowa State
University Press/Ames.
Gitosudarmo, I. 1997. Manajemen
Pemasaran. BPFE. Yogyakarta.
Gujarati, D. N. 1988. Basic Econometrics.
Mc Graw Hill. Singapore.
Irawan, A. dan D. Rosmayanti. 2007.
Analisis Integrasi Pasar di
Bengkulu. Jurnal Agro Ekonomi,
25 (1): 37-54.
Ismet, M., 2009. Strategi dan Kebijakan
Pemasaran Produk Agribisnis.
Bunga rampai Agribisnis Seri
Pemasaran.Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
IPB. Bogor.
17
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Volume 6 No. 2-September 2014
Supranto, J. Ekonometrik, Buku Dua.
Lembaga
Penerbit
Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
jakarta
Kirkpatrick, C.D. dan Dahlquist J.R.
20011. Technical Analysis. The
Complete Resource for Financial
Market
Technicians.
Pearson
Education, Inc. New Jersey. USA.
Kumar P. 2007. Farm Size and Marketing
Efficiency : Price and PostLiberalization. Ashok Kumar
Mittal. New Delhi. India.
Umar, H. 2005. Riset Pemasaran dan
Perilaku Konsumen. Gramedia
Pustaka Utama.
Vavra, P. dan B.K. Goodwin. 2005.
Analysis of Price Transmission
Along the Food Chain. Agriculture
and Fisheries Working Paper No.
3. OECD Publishing. France.
Wirarta, I. M. 2006. Metodologi Penelitian
Sosial Ekonomi. Andi Offset.
Yogyakarta
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi
Pertanian. LP3ES. Jakarta.
Radiosunu, 1983. Manajemen Pemasaran
(Suatu
Pendekatan
Analisis).
BPFE. Yogyakarta.
Rahayu, E. S. 2009. Mereposisi
Pemasaran
Pertanian
dalam
Revitalisasi Pertanian. Makalah,
disampaikan pada Sidang Senat
Terbuka
Universitas
Negeri
Surakarta pada Tanggal 10
Desember 2009. UPT Perpustakaan
UNS. Surakarta.
Rahim dan D. R. D.Hastuti. 2005. Sistem
Manajemen
Agribisnis.
State
University of Makasar Press.
Makasar.
Rasul, A.A. 2011. Ekonometrika, Formula
dan Aplikasi dalam Manajemen.
Uhamka Press. Jakarta
Said, E.G., dan H. Intan. 2001. Manajemen
Agribisnis.
Ghalia
Indonesia
dengan
Magister
Manajemen
Agribisnis, Program Pasca Sarjana,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Santosa, B. P., dan Ashari. 2005. Analisis
Statistik dengan Microsoft Exel
dan SPSS. Andi. Yogyakarta.
Sudiyono, A. 2000. Pemasaran Pertanian.
Universitas
Muhammadiyah
Malang. Malang.
Tjiptono, F. 2001. Strategi Pemasaran.
Andi Ofset. Yogyakarta.
18
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS WIRALODRA
Download