ETIKA BISNIS DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh

advertisement
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
ISSN : 1979-2840
ETIKA BISNIS DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Oleh
Annisa Mardatillah
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Riau,
Jl. Kaharuddin Nasution KM 11, No, 113 Marpoyan Simpang Tiga Pekanbaru
Abstrak
Business ethics according to Islamic law showed that there a structure that stood alone and
separate from other structures because of ethics in Islam explained more virtues and the truth both
at the level of intention or idea to behavior. Intrinsically of business activities should be operated
based on ethical values that apply in society. Profit is not the only intent and purpose of the
business activities business activities but also must be able to function as a social activity that is
carried out with regard to the values and norms that apply in society. The values and norms that
are in one meaning is ethics. Pursuing personal profit without regard to the other party may even
harm others should be avoided in the business activities.
Keywords : Ethics, Business, Islam
Latar Belakang
Kegiatan bisnis merupakan sebuah sistem
ekologis yang sangat terkait dengan lingkungan
sekitarnya. Sebagai sebuah sistem, kegiatan
bisnis yang dilakukan perusahaan tidak dapat
dilepaskan dari kegiatan masyarakat.
Kegiatan bisnis tidak hanya berupaya
untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan
masyarakat saja namun juga bermaksud
menyediakan sarana-sarana yang dapat menarik
minat dan perilaku membeli masyarakat. Secara
umum kegiatan bisnis memiliki maksud dan
tujuan yang terkait dengan faktor keuntungan
bisnis. Keuntungan memiliki makna yang
berbeda bagi setiap individu atau kelompok
yang menjalankan kegiatan bisnis karena
menyangkut perbedaan keyakinan tentang
nilai-nilai, normatif, sikap, perilaku dan
persepsi pelaku bisnis dalam mengelolanya.
Pada hakekatnya kegiatan bisnis harus
dapat dioperasikan dengan berlandaskan pada
nilai-nilai etika yang berlaku di masyarakat.
Keuntungan bukanlah satu-satunya maksud dan
tujuan dari kegiatan bisnis namun kegiatan
bisnis juga harus mampu berfungsi sebagai
kegiatan sosial yang dilakukan dengan
mengindahkan nilai-nilai dan norma-norma
yang berlaku di masyarakat. Nilai dan norma
tersebut berada dalam satu makna yaitu etika.
Mengejar
keuntungan
pribadi
tanpa
memperdulikan pihak lain bahkan dapat
merugikan orang lain sebaiknya dihindari
dalam melakukan kegiatan bisnis.
Bisnis secara terminologis merupakan
sebuah kegiatan atau usaha. Bisnis dapat pula
diartikan sebagai aktivitas terpadu yang
meliputi pertukaran barang, jasa atau uang yang
dilakukan oleh dua pihak atau lebih dengan
maksud untuk memperoleh manfaat dan
keuntungan.
Dengan
demikian,
bisnis
merupakan proses sosial yang dilakukan oleh
setiap individu atau kelompok melalui proses
penciptaan dan pertukaran kebutuhan dan
keingan akan suatu produk tertentu yang
memiliki nilai atau memperoleh manfaat
keuntungan ( Skinner, StevenJ and John M.
Ivancevich dalam Gugup Kismono : 2001 ).
89
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
Persaingan bisnis yang semakin ketat
dewasa ini memerlukan penerapan etika bisnis
yang baik. Dalam konteks ini, etika bisnis yang
dibahas adalah etika bisnis dari sudut pandang
islam. Kata etika berasal dari bahasa Yunani
yaitu “ Ethos” yang berarti adat, akhlak, waktu
perasaan, sikap dan cara berfikir atau adatistiadat. Etik adalah suatu studi mengenai yang
benar dan yang salah dan pilihan moral yang
dilakukan oleh seseorang. Etika adalah tuntutan
mengenai perilaku, sikap dan tindakan yang
diakui, sehubungan suatu jenis kegiatan
manusia.
Masalah etika bisnis dalam dunia
ekonomi saat ini tidak begitu mendapat tempat.
Bagi sebagian kalangan kegiatan bisnis dapat
dilakukan dengan tidak memperhatikan etika
karena mereka beranggapan bahwa “ bisnis
adalah bisnis “. Bagi sebagian kalangan pula
kegiatan bisnis adalah bagaimana berusaha
sekuat tenaga untuk mendatangkan keuntungan
yang sebesar-besarnya. Sedangkan beretika
adalah suatu upaya untuk berhubungan dengan
soal moral. Sehingga dua pemahaman ini
dianggap tidak dapat saling bersinergi bagi
sebagian orang. Etika bisnis Islam menjunjung
tinggi semangat saling percaya, kejujuran, dan
keadilan.
Dunia bisnis penuh dengan persaingan
maka aturan – aturan dalam bisnis akan berbeda
dengan aturan dalam kehidupan sosial, orangorang yang mematuhi peraturan moral akan
tersingkir dan berada pada posisi yang tidak
menguntungkan di tengah-tengah persaingan
ketat yang menghalalkan segala cara. Mereka
berkeyakinan bahwa sebuah bisnis tidak
mempunyai tanggung jawab sosial dan bisnis
terlepas dari “etika”. Dalam ungkapan
Theodore Levitt, tanggung jawab perusahaan
hanyalah mencari keuntungan ekonomis
belaka. Sedangkan etika bisnis dari perspektif
Islam dapat dilihat dari pandangan Rasulullah
SAW dalam memandang harta bahwa pada
hakikatnya harta adalah milik Allah SWT dan
manusia hanya diberi amanah untuk
mengelolanya dengan baik.
ISSN : 1979-2840
Pengabaian etika bisnis sering terjadi
karena beranggapan bahwa etika bisnis
hanyalah
mempersempit
ruang
gerak
keuntungan ekonomis. Dalam Islam, nilai dan
etika dalam segala aspek kehidupan manusia
secara menyeluruh adalah sangat penting,
termasuk dalam aspek kegiatan bisnis. Islam
sangat tegas dalam mengatur kegiatan bisnis.
Mulai dari prinsip dasar, pokok-pokok
kerusakan dalam perdagangan, faktor-faktor
produksi, tenaga kerja, modal organisasi,
distribusi kekayaan, masalah upah, barang dan
jasa, kualifikasi dalam bisnis, sampai kepada
etika sosio ekonomik menyangkut hak milik
dan hubungan sosial.
Ajaran agama Islam dalam perilaku
ekonomi manusia dan bisnis semakin perlu
untuk ditegaskan penerapannya bukan karena
mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam,
tetapi karena ajaran moral ini sangat sering
tidak dipatuhi oleh manusia saat ini. Dengan
perkataan
lain
penyimpangan
demi
penyimpangan dalam Islam jelas merupakan
sumber berbagai permasalahan ekonomi
nasional. Manusia dalam hubungannya dengan
bisnis dalam rangka menjalankan suatu usaha
adalah satu hal yang sangat penting ialah etika.
Etika memegang peranan yang sangat
penting dalam mencapai tujuan usaha.
Kurangnya pemahaman dari warga masyarakat
terhadap etika bisnis menurut kaidah dan tata
cara Islam baik itu dalam tatanan skala usaha
besar, skala menengah maupun dalam skala
usaha kecil adalah suatu hal yang tidak dapat
ditutupi. Hal ini jelas terlihat dari sedikitnya
bahkan tidak terlihatnya penerapan etika Islam
dalam
menjalankan
usahanya. Bentuk
konkritnya dapat dilihat dari ulah pengusaha itu
sendiri dalam kesehariannya dalam berusaha
untuk mendapatkan maksud dan tujuannya
menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan
dalam aturan Islam mengenai kaidah berusaha
yang menghalalkan semua cara, padahal dalam
ajaran Islam ada iman dan moral yang harus
dipedomani.
90
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
Perumusan Masalah
Berdasarkan fenomena tersebut di atas,
maka dapat dirumuskan permasalahannya
sebagai berikut bagaimana Etika Bisnis Dalam
Perspektif Islam ?
Konsep Teori
Etika Bisnis Secara Umum
Etika bisnis secara umum adalah kita
perlu membandingkan dengan moral. Baik
etika dan moral sering dipakai secara dapat
dipertukarkan dengan pengertian yang sering
disamakan bagitu saja. Ini sesungguhnya tidak
sepenuhnya salah. Hanya saja perlu diingat
bahwa etika bisa saja mempunyai pengertian
yang sama sekali berbeda dengan moral.
Sehubungan dengan itu, secara teoritis dapat
dibedakan dalam dua pengertian, walaupun
dalam penggunaan praktis sering tidak mudah
dibedakan. Pertama, etika berasal dari kata
Yunani ethos, yang dalam bentuk jamaknya (ta
etha), berarti “adat istiadat” atau “kebiasaan”.
Dalam pengertian ini, etika berkaitan dengan
kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun pada suatu masyarakat atau
kelompok masyarakat. Ini berarti etika
berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup
yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala
kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu
orang ke orang yang lain atau dari satu generasi
ke generasi yang lain. Kebiasaan ini lalu
terungkap dalam perilaku berpola yang terus
berulang sebagai sebuah kebiasaan.
Berbicara tentang bisnis, Kohlbeng
mengatakan bahwa prinsip-prinsip etika di
dalam bisnis dapat dikelompokkan ke dalam
tiga kelompok, yaitu sebagai berikut : (1)
Prinsip manfaat, (2) Prinsip hak asasi, (3)
Prinsip keadilan.24 Sedangkan mengenai
istilah “bisnis” yang dimaksud adalah suatu
urusan atau kegiatan dagang, industri atau
keuangan yang dihubungkan dengan produksi
atau pertukaran barang atau jasa dengan
menempatkan uang dari para enterpreneur
dalam resiko tertentu dengan usaha tertentu
ISSN : 1979-2840
dengan motif untuk mendapatkan keuntungan.
Bisnis adalah suatu kegiatan di antara manusia
yang menyangkut produksi, menjual dan
membeli barang dan jasa untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Dasar pemikirannya
adalah pertukaran timbal balik secara fair di
antara pihak-pihak yangterlibat.
Menurut Adam Smith, pertukaran dagang
terjadi karena saru otang memproduksi lebih
banyak barang tertentu sementara ia sendiri
membutuhkan barang lain yang tidak bisa
dibuatnya sendiri. Dengan kata lain, tujuan
utama bisnis sesungguhnya bukan untuk
mencari
keuntungan
melainkan
untuk
memenuhi kebutuhan hidup orang lain, dan
melalui itu ia bisa memperoleh apa yang
dibutuhkannya. Matsushita, mengatakan bahwa
tujuan bisnis sebenarnya bukanlah mencari
keuntungan melainkan untuk melayani
kebutuhan masyarakat Sedangkan keuntungan
tidak lain hanyalah simbol kepercayaan
masyarakat atas kegiatan bisnis suatu
perusahaan.
Prinsip-prinsip etika bisnis yang
berlaku di Indonesia akan sangat dipengaruhi
oleh sistem nilai masyarakat kita. Namun,
sebagai etika khusus atau etika terapan, prinsip
prinsip etika yang berlaku dalam bisnis
sesungguhnya adalah penerapan dari prinsipprinsip etika pada umumnya. Karena itu, tanpa
melupakan kekhasan sistem nilai dari setiap
masyarakat bisnis, secara umum dapat
dikemukakan beberapa prinsip etika bisnis,
yakni : Pertama, prinsip otonomi, yaitu sikap
dan kemampuan manusia untuk mengambil
keputusan
dan
bertindak
berdasarkan
kesadarnnya sendiri tentang apa yang
dianggapnya baik untuk dilakukan. Orang
bisnis yang otonom adalah orang yang sadar
sepenuhnya akan apa yang menjadi
kewajibannya dalam dunia bisnis. Kedua,
prinsip kejujuran, sekilas kedengarannya
adalah aneh bahwa kejujuran merupakan
sebuah prinsip etika bisnis karena mitos keliru
bahwa bisnis adalah kegiatan tipu menipu demi
meraup untung. Harus diakui bahwa memang
91
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
prinsip ini paling problematic karena masih
banyak pelaku bisnis yang mendasarkan
kegiatan bisnisnya pada tipu menipu atau
tindakan curang, entah karena situasi eksternal
tertentu atau karena dasarnya memang ia
sendiri suka tipu-menipu. Ketiga, prinsip
keadilan, yaitu menuntut agar setiap orang
diperlukan secara sama sesuai dengan aturan
yang adil dan sesuai dengan kriteria yang
rasional
objektif
dan
dapat
dipertanggungjawabkan.
Demikian
pula,
prinsip keadilan menuntut agar setiap orang
dalam kegiatan bisnis apakah dalam relasi
eksternal perusahaan maupun relasi internal
perusahaan perlu diperlakukan sesuai dengan
haknya masing-masing. Keadilan menuntut
agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak
dan kepentingannya. Keempat, prinsip saling
menguntungkan, yaitu menuntut agar bisnis
dijalankan
sedemikian
rupa
sehingga
menguntungkan semua pihak. Prinsip ini
terutama mengakomodasi hakikat dan tujuan
bisnis. Maka, dalam bisnis yang kompetitif,
prinsip ini menuntut agar persaingan bisnis
haruslah melahirkan suatu win-win solution.
Kelima, prinsip integritas moral, yaitu prinsip
yang menghayati tuntutan internal dalam
berprilaku bisnis atau perusahaan agar
menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama
baik perusahaannya. Dengan kata lain, prinsip
ini merupakan tuntutan dan dorongan dari
dalam diri pelaku dan perusahaan untuk
menjadi yang terbaik dan dibanggakan.
Dari semua prinsip bisnis di atas, Adam Smith
menganggap bahwa prinsip keadilan sebagai
prinsip yang paling pokok.
Etika Bisnis Menurut Hukum Islam
Mengenai etika bisnis dalam Islam,
Sudarsono dalam bukunya yang berjudul Etika
Islam tentang Kenakalan Remaja, mengatakan
bahwa, etika Islam adalah doktrin etis
yangberdasarkan ajaran-ajaran agama Islam
yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Nabi Muhammad Saw., yang di dalamnya
terdapat nilai-nilai luhur dan sifat-sifat yang
ISSN : 1979-2840
terpuji (mahmudah). Dalam agama Islam, etika
ataupun perilaku serta tindak tanduk dari
manusia telah diatur sedemikian rupa sehingga
jelas mana perbuatan atau tindakan yang
dikatakan dengan perbuatan atau tindakan
asusila dan mana tindakan atau perbuatan yang
disebut bermoral atau sesuai dengan arturan
agama.
Berkaitan dengan nilai-nilai lihur yang tercakup
dalam Etika Islam dalam kaitannya dengan sifat
yang baik dari perbuatan atau perlakuan yang
patut dan dianjurkan untuk dilakukan sebagai
sifat
terpuji,
lebih
jauh
Sudarsono
menyebutkan, antara lain :
’’Berlaku jujur (Al Amanah), berbuat baik
kepada kedua orang tua (Birrul Waalidaini),
memelihara kesucian diri (Al Iffah), kasih
sayang (Ar Rahman dan Al Barry), berlaku
hemat (Al Iqtishad), menerima apa adanya dan
sederhana (Qona’ah dan Zuhud), perikelakuan
baik (Ihsan), kebenaran (Shiddiq), pemaaf
(‘Afu), keadilan (‘Adl), keberanian (Syaja’ah),
malu (Haya’), kesabaran (Shabr), berterima
kasih (Syukur), penyantun (Hindun), rasa
sepenanggungan (Muwastt), kuat (Quwwah)’’.
Dalam etika Islam, ukuran kebaikan dan
ketidakbaikan
bersifat
mutlak,
yang
berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadis Nabi
Muhammad Saw. Dipandang dari segi ajaran
yang mendasar, etika Islam tergolong Etika
Theologis. Menurut Hamzah Ya’qub, bahwa
yang menjadi ukuran etika theologis adalah
baik buruknya perbuatan manusia didasarkan
atas ajaran Tuhan. Segala perbuatan yang
diperintahkan Tuhan itulah yang baik dan
segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhan
itulah perbuatan yang buruk, yang sudah
dijelaskan dalam kitab suci. Etika Islam
mengajarkan manusia untuk menjalain
kerjasama, tolong menolong, dan menjauhkan
sikap iri, dengki dan dendam.
Bisnis-bisnis yang Sesuai dengan Hukum
Islam
92
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
Mengenai bisnis yang sesuai dengan
hukum Islam adalah semua aspek kegiatan
untuk menyalurkan barang-barang melalui
saluran produktif, dari membeli barang mentah
sampai menjual barang jadi. Pada pokoknya
kegiatan bisnis meliputi : (1) Perdagangan, (2)
Pengangkutan,
(3)
Penyimpanan,
(4)
Pembelanjaan, (5) Pemberian informasi.
Pembahasan
Islam adalah agama yang mengatur
tatanan hidup manusia dengan sempurna,
kehidupan individu dan masyarakat, baik aspek
rasio, materi maupun spiritual yang didampingi
oleh ekonomi, sosial dan politik. Ekonomi
adalah bagian dari tatanan Islam yang
perspektif. Pengusaha Islam adalah manusia
Islam yang bertujuan untuk mendapatkan
kebutuhan
hidupnya
melalui
usaha
perdagangan, dan selanjutnya memberikan
pelayanan kepada masyarakat melalui
perdagangan tersebut.
Aspek
penting
tentang
aktivitas
pengusaha dalam masyarakat Islam bertumpu
pada tujuan untuk mendapatkan keuntungan
yang memuaskan, malayani masyarakat dan
mengamalkan sikap kerja sama. Manusia dalam
perspektif Islam adalah sebagai “UmmatanWaahidatan”, kelompok yang bersatu pada
dalam kesatuan atau entitas yang utuh.
Manusia yang dipengaruhi oleh nilainilai moral Islam itu ternyata manghasilkan
perilaku ekonomi yang berbeda atau khusus,
maka akulmulasi pengetahuan atau pengalaman
dalam menerapkan prinsip-prinsip moral atau
suatu ketika, apabila telah disusun secara
sistematis,
akan
menghasilkan
suatu
pengetahuan khusus dan itulah yang disebut
dengan ilmu ekonomi Islam.
Pada satu sisi, aktivitas bisnis
dimaksudkan untuk mencari keuntungan
sebesar-besarnya, sementara prinsip-prinsip
moral
“membatasi”
aktivitas
bisnis.
Berlawanan dengan kelompok pertama,
kelompok kedua berpendapat bahwa bisnis bisa
ISSN : 1979-2840
disatukan dengan etika. Kalangan ini beralasan
bahwa etika merupakan alasan-alasan rasional
tentang semua tindakan manusia dalam semua
aspek kehidupan, tidak terkecuali aspek bisnis.
Secara umum, bisnis merupakan suatu kegiatan
usaha individu yang terorganisir untuk
menghasilkan dan menjual barang dan jasa
guna
mendapatkan
keuntungan
dalam
memenuhi kebutuhan masyarakat, atau juga
sebagai suatu lembaga yang menghasilkan
barang atau jasa yang dibutuhkan oleh
masyarakat.
Ide mengenai etika bisnis bagi banyak
pihak termasuk ahli ekonomi merupakan hal
yang problematik. Problematikanya terletak
pada kesangsian apakah moral atau akhlak
mempunyai tempat dalam kegiatan bisnis dan
ekonomi pada umumnya. Dari kalangan yang
menyangsikan kemudian muncul istilah “mitos
bisnis amoral”. Menurut Ricard T. De
George dalam Business Ethic, mitos bisnis
amoral berkeyakinan bahwa perilaku tidak bisa
dibarengkan dengan aspek moral. Antara bisnis
dan moral tidak ada kaitan apa-apa dan karena
itu, merupakan kekeliruan jika aktivitas bisnis
dinilai dengan menggunakan tolak ukur
moralitas.
Al-Qur’an banyak mendorong manusia
untuk melakukan bisnis (Qs. 62:10,). Al-Qur’an
memberi pentunjuk agar dalam bisnis tercipta
hubungan yang harmonis, saling ridha, tidak
ada unsur eksploitasi (QS. 4: 29) dan bebas dari
kecurigaan atau penipuan, seperti keharusan
membuat administrasi transaksi kredit (QS. 2:
282).
Dalam Islam, manusia sebagai
individu dan kelompok mempunyai kebebasan
dalam melakukan kegiatan bisnis. Namun
dalam menjalankannya manusia harus
mengimplementasikan kaedah-kaedah Islam.
Manusia sebagai pelaku bisnis, mempunyai
tanggung jawab moral kepada Tuhan atas
perilaku bisnisnya.
Dalam melakukan kegiatan bisnis
hendaklah kita mengacu pada ajaran yang telah
93
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
tertuang dalam Al-Quran dan Hadist agar
terhindar dari kegiatan bisnis yang tidak sehat.
Pertama, prinsip esensial dalam bisnis
adalah kejujuran. Dalam Islam, kejujuran
merupakan syarat fundamental dalam kegiatan
bisnis. Rasulullah SAW sangat menganjurkan
kejujuran dalam kegiatan bisnis. Dalam tataran
ini, beliau bersabda: “Tidak dibenarkan seorang
muslim menjual satu jualan yang mempunyai
aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (H.R. AlQuzwani). “Siapa yang menipu kami, maka dia
bukan kelompok kami” (H.R. Muslim).
Rasulullah sendiri selalu bersikap jujur dalam
berbisnis. Dalam surat Al Anfaal ayat 58 : “
Jika kamu khawatir akan terjadinya
pengkhianatan dari suatu golongan, maka
kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka
dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”.
Kejujuran adalah sesuatu yang disukai Allah
SWT dan merupakan sifat Rasulullah SAW.
Mengutamakan kejujuran dan menepati janji
merupakan perilaku bisnis yang sesuai syariah
karena akan menjauhkan dari kebatilan.
Kedua, Menepati Janji. Allah SWT
menganjurkan kita selalu menepati janji dalam
jual beli dan aktivitas lainnya. Dalam surat Al
Maidah ayat 1 ; “ Hai orang-orang yang
beriman penuhilah aqad-aqad itu” berdasarkan
ayat ini maka dapat ditegaskan pentingnya kita
menepati janji dalam melakukan perniagaan
(bisnis) jangan berusaha mengingkari atas apa
yang telah diucapkan. Dengan menerapkan hal
ini insya Allah perniagaan (bisnis) yang
dilakukan akan menjadi lebih berkah.
Ketiga, tidak boleh berpura-pura
menawar dengan harga tinggi, agar orang lain
tertarik membeli dengan harga tersebut. Sabda
Nabi
Muhammad,
“Janganlah
kalian
melakukan bisnis najsya (seorang pembeli
tertentu, berkolusi dengan penjual untuk
menaikkan harga, bukan dengan niat untuk
membeli, tetapi agar menarik orang lain untuk
membeli).
Keempat, tidak boleh menjelekkan bisnis
orang lain, agar orang membeli kepadanya.
ISSN : 1979-2840
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Janganlah
seseorang di antara kalian menjual dengan
maksud untuk menjelekkan apa yang dijual
oleh orang lain” (H.R. Muttafaq ‘alaih).
Kelima, tidak melakukan ihtikar. Ihtikar
ialah (menumpuk dan menyimpan barang
dalam masa tertentu, dengan tujuan agar
harganya suatu saat menjadi naik dan
keuntungan besar pun diperoleh). Rasulullah
melarang keras perilaku bisnis semacam itu.
Keenam, takaran, ukuran dan timbangan
yang benar. Dalam perdagangan, timbangan
yang benar dan tepat harus benar-benar
diutamakan. Firman Allah: “Celakalah bagi
orang yang curang, yaitu orang yang apabila
menerima takaran dari orang lain, mereka minta
dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau
menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi” ( QS. 83: 112).
Ketujuh, membayar upah sebelum kering
keringat karyawan. Nabi Muhammad Saw
bersabda, “Berikanlah upah kepada karyawan,
sebelum kering keringatnya”. Hadist ini
mengindikasikan bahwa pembayaran upah
tidak boleh ditunda-tunda. Pembayaran upah
harus sesuai dengan kerja yang dilakuan.
Kedelapan, komoditi bisnis yang dijual
adalah barang yang suci dan halal, bukan
barang yang haram, seperti babi, anjing,
minuman keras, ekstasi, dsb. Nabi Muhammad
Saw
bersabda,
“Sesungguhnya
Allah
mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan
“patung-patung” (H.R. Jabir).
Kesembilan, Menggunakan Persetujuan
Kedua Belah Pihak. Dalam melakukan
perniagaan (bisnis) harus tercipta ijab kabul
diantara penjual dan pembeli. Dalam surat An
Nisaa ayat 29 : ” Hai orang-orang yang
beriman janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil,
kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah
kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu.” Aktivitas
perniagaan (bisnis) yang hanya dilakukan jika
sudah ada kata sepakat diantara penjual dan
94
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
pembeli dan tidak saling merugikan merupakan
suatu perniagaan (bisnis) yang sesuai dengan
syariah. Tetapi jika tidak adanya kesepakatan
diantara keduanya dan hanya mengarah pada
yang hak hendaknya jauhkanlah perniagaan
(bisnis) yang demikian.
Kesepuluh,
bahwa
bisnis
yang
dilaksanakan bersih dari unsur riba. Firman
Allah, “Hai orang-orang yang beriman,
tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu beriman
(QS. al-Baqarah:: 278) Pelaku dan pemakan
riba dinilai Allah sebagai orang yang kesetanan
(QS. 2: 275). Oleh karena itu Allah dan
Rasulnya mengumumkan perang terhadap riba.
Salah satu kajian etika yang amat
populer memasuki abad 21 di mellinium ketiga
ini adalah etika bisnis. Perusahaan-perusahaan
besar, model abad 21, kelihatannya juga
mempunyai kecenderungan baru untuk
mengimplementasikan etika bisnis sebagai visi
masyarakat yang bertanggung-jawab secara
sosial dan ekonomis. Realitas di atas,
dibuktikan oleh hasil penelitian yang dilakukan
oleh James Liebig, penulis Merchants of
Vision. Dalam penelitian itu, ia mewawancarai
tokoh-tokoh bisnis di 14 negara. James Liebig
menemukan enam perspektif, yang umum
berlaku, sebagai berikut :
1. Bertindak sesuai etika.
2. Mempertinggi keadilan sosial.
3. Melindungi lingkungan.
4. Pemberdayaan kreatifitas manusia.
5. Menentukan visi dan tujuan bisnis yang
bersifat sosial dan melibatkan para
karyawan dalam membangun dunia bisnis
yang lebih baik, menghidupkan sifat kasih
sayang dan pelayanan yang baik dalam
proses perusahaan.
6. Meninjau ulang pandangan klasik tentang
paradigma ilmu ekonomi yang bebas nilai.
Perspektif di atas menunjukkan bahwa
etika bisnis yang selama ini jadi cita-cita, kini
benar benar menjadi mudah diwujudkan
sebagai
kenyataan.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk
menolak etika dalam dunia bisnis, bahkan
ISSN : 1979-2840
kepatuhan kepada etika bisnis, sesungguhnya,
bersifat kondusif terhadap upaya meningkatkan
keuntungan pengusaha atau pemilik modal.
Misalnya, para pengusaha sekarang, percaya
bahwa kesenjangan gaji yang tidak terlalu besar
antara penerima gaji tertinggi dan terendah dan
fasilitas-fasilitas yang diterima oleh kedua
kelompok karyawan ini, akan mendorong
peningkatan kinerja perusahaan secara
menyeluruh. Karyawan yang dulu cenderung
dianggap sebagai sekrup dalam mesin besar
perusahaan, kini diberdayakan. Perempuan
yang selam ini sering menjadi korban tuntutan
efisiensi, sekarang mendapatkan perhatian yang
layak. Perusahaan-perusahaan besar kinipun
berlomba-lomba menampilkan citra diri yang
sadar lingkungan, bukan saja lingkungan fisik
tetapi juga lingkungan sosial dan budaya. Jika
di sarang kapitalisme sendiri, (Amerika dan
Eropa) telah mulai berkembang trend baru bagi
dunia bisnis, yaitu keniscayaan etika,
(meskipun mungkin belum sempurna), tentu
kemunculannya lebih mungkin dan lebih dapat
subur di negeri kita yang dikenal agamis ini.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan,
bahwa eksistensi etika dalam wacana bisnis
merupakan keharusan yang tak terbantahkan.
Dalam situasi dunia bisnis membutuhkan etika,
Islam sejak lebih 14 abad yang lalu, telah
menyerukan urgensi etika bagi aktivitas bisnis.
Islam Sumber Nilai dan Etika Islam merupakan
sumber nilai dan etika dalam segala aspek
kehidupan manusia secara menyeluruh,
termasuk wacana bisnis. Islam memiliki
wawasan yang komprehensif tentang etika
bisnis. Mulai dari prinsip dasar, pokok-pokok
kerusakan dalam perdagangan, faktor-faktor
produksi, tenaga kerja, modal organisasi,
distribusi kekayaan, masalah upah, barang dan
jasa, kualifikasi dalam bisnis, sampai kepada
etika sosio ekonomik menyangkut hak milik
dan hubungan sosial. Aktivitas bisnis
merupakan bagian integral dari wacana
ekonomi. Sistem ekonomi Islam berangkat dari
kesadaran tentang etika, sedangkan sistem
ekonomi lain, seperti kapitalisme dan
95
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
sosialisme, cendrung mengabaikan etika
sehingga aspek nilai tidak begitu tampak dalam
bangunan kedua sistem ekonomi tersebut.
Keringnya kedua sistem itu dari wacana
moralitas, karena keduanya memang tidak
berangkat dari etika, tetapi dari kepentingan
(interest).
Kapitalisme
berangkat
dari
kepentingan individu sedangkan sosialisme
berangkat dari kepentingan kolektif. Namun,
kini mulai muncul era baru etika bisnis di pusatpusat kapitalisme. Suatu perkembangan baru
yang menggembirakan.
Al-Qur’an sangat banyak mendorong
manusia untuk melakukan bisnis. (Qs. 62:10,).
Al-Qur’an memberi pentunjuk agar dalam
bisnis tercipta hubungan yang harmonis, saling
ridha, tidak ada unsur eksploitasi (QS. 4: 29)
dan bebas dari kecurigaan atau penipuan,
seperti keharusan membuat administrasi
transaksi kredit (QS. 2: 282). Rasulullah sendiri
adalah
seorang
pedagang
bereputasi
international yang mendasarkan bangunan
bisnisnya kepada nilai-nilai ilahi (transenden).
Dengan dasar itu Nabi membangun sistem
ekonomi Islam yang tercerahkan. Prinsipprinsip bisnis yang ideal ternyata pernah
dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.
Realitas ini menjadi bukti bagi banyak orang,
bahwa tata ekonomi yang berkeadilan,
sebenarnya pernah terjadi, meski dalam lingkup
nasional, negara Madinah. Nilai, spirit dan
ajaran yang dibawa Nabi itu, berguna untuk
membangun tata ekonomi baru, yang akhirnya
terwujud dalam tata ekonomi dunia yang
berkeadilan.
Panduan Nabi Muhammad Dalam Bisnis
Rasululah Saw, sangat banyak memberikan
petunjuk mengenai etika bisnis, di antaranya
ialah:
a. Bahwa prinsip esensial dalam bisnis adalah
kejujuran. Dalam doktrin Islam, kejujuran
merupakan syarat fundamental dalam
kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens
menganjurkan kejujuran dalam aktivitas
bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda:
“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual
ISSN : 1979-2840
satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia
menjelaskan aibnya” (H.R. Al-Quzwani).
“Siapa yang menipu kami, maka dia bukan
kelompok kami” (H.R. Muslim). Rasulullah
sendiri selalu bersikap jujur dalam berbisnis.
Beliau melarang para pedagang meletakkan
barang busuk di sebelah bawah dan barang
baru di bagian atas.
b. Kesadaran tentang signifikansi sosial
kegiatan bisnis. Pelaku bisnis menurut
Islam, tidak hanya sekedar mengejar
keuntungan
sebanyak-banyaknya,
sebagaimana yang diajarkan Bapak ekonomi
kapitalis, Adam Smith, tetapi juga
berorientasi
kepada
sikap
ta’awun
(menolong orang lain) sebagai implikasi
sosial kegiatan bisnis. Tegasnya, berbisnis,
bukan mencari untung material semata,
tetapi
didasari
kesadaran
memberi
kemudahan bagi orang lain dengan menjual
barang.
c. Tidak melakukan sumpah palsu. Nabi
Muhammad saw sangat intens melarang para
pelaku bisnis melakukan sumpah palsu
dalam melakukan transaksi bisnis Dalam
sebuah hadis riwayat Bukhari, Nabi
bersabda, “Dengan melakukan sumpah
palsu, barang-barang memang terjual, tetapi
hasilnya tidak berkah”. Dalam hadis riwayat
Abu Zar, Rasulullah saw mengancam
dengan azab yang pedih bagi orang yang
bersumpah palsu dalam bisnis, dan Allah
tidak akan memperdulikannya nanti di hari
kiamat (H.R. Muslim). Praktek sumpah
palsu dalam kegiatan bisnis saat ini sering
dilakukan, karena dapat meyakinkan
pembeli, dan pada gilirannya meningkatkan
daya beli atau pemasaran. Namun, harus
disadari, bahwa meskipun keuntungan yang
diperoleh berlimpah, tetapi hasilnya tidak
berkah.
d. Ramah-tamah . Seorang palaku bisnis, harus
bersikap ramah dalam melakukan bisnis.
Nabi Muhammad Saw mengatakan, “Allah
merahmati seseorang yang ramah dan
96
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
e.
f.
g.
h.
i.
j.
tolerandalam berbisnis” (H.R. Bukhari dan
Tarmizi).
Tidak boleh berpura-pura menawar dengan
harga tinggi, agar orang lain tertarik
membeli dengan harga tersebut. Sabda Nabi
Muhammad, “Janganlah kalian melakukan
bisnis najsya (seorang pembeli tertentu,
berkolusi dengan penjual untuk menaikkan
harga, bukan dengan niat untuk membeli,
tetapi agar menarik orang lain untuk
membeli).
Tidak boleh menjelekkan bisnis orang lain,
agar orang membeli kepadanya. Nabi
Muhammad Saw bersabda, “Janganlah
seseorang di antara kalian menjual dengan
maksud untuk menjelekkan apa yang dijual
oleh orang lain” (H.R. Muttafaq ‘alaih).
Tidak melakukan ihtikar. Ihtikar ialah
(menumpuk dan menyimpan barang dalam
masa tertentu, dengan tujuan agar harganya
suatu saat menjadi naik dan keuntungan
besar pun diperoleh). Rasulullah melarang
keras perilaku bisnis semacam itu.
Takaran, ukuran dan timbangan yang benar.
Dalam perdagangan, timbangan yang benar
dan tepat harus benar-benar diutamakan.
Firman Allah: “Celakalah bagi orang yang
curang, yaitu orang yang apabila menerima
takaran dari orang lain, mereka minta
dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau
menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi” ( QS. 83: 112).
Bisnis tidak boleh menggangu kegiatan
ibadah kepada Allah. Firman Allah, “Orang
yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran
mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat
dan membayar zakat. Mereka takut kepada
suatu hari yang hari itu, hati dan penglihatan
menjadi goncang”.
Membayar upah sebelum kering keringat
karyawan. Nabi Muhammad Saw bersabda,
“Berikanlah upah kepada karyawan,
sebelum kering keringatnya”. Hadist ini
mengindikasikan bahwa pembayaran upah
tidak boleh ditunda-tunda. Pembayaran upah
harus sesuai dengan kerja yang dilakuan.
ISSN : 1979-2840
k. Tidak monopoli. Salah satu keburukan
sistem ekonomi kapitalis ialah melegitimasi
monopoli dan oligopoli. Contoh yang
sederhana adalah eksploitasi (penguasaan)
individu tertentu atas hak milik sosial,
seperti air, udara dan tanah dan kandungan
isinya seperti barang tambang dan mineral.
Individu tersebut mengeruk keuntungan
secara pribadi, tanpa memberi kesempatan
kepada orang lain. Ini dilarang dalam Islam.
l. Tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi
eksisnya bahaya (mudharat) yang dapat
merugikan dan merusak kehidupan individu
dan sosial. Misalnya, larangan melakukan
bisnis senjata di saat terjadi chaos
(kekacauan) politik. Tidak boleh menjual
barang halal, seperti anggur kepada
produsen minuman keras, karena ia diduga
keras, mengolahnya menjadi miras. Semua
bentuk bisnis tersebut dilarang Islam karena
dapat
merusak esensi hubungan sosial yang justru
harus dijaga dan diperhatikan secara cermat.
m. Komoditi bisnis yang dijual adalah barang
yang suci dan halal, bukan barang yang
haram, seperti babi, anjing, minuman keras,
ekstasi, dsb. Nabi Muhammad Saw
bersabda,
“Sesungguhnya
Allah
mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi
dan “patung-patung” (H.R. Jabir).
n. Bisnis dilakukan dengan suka rela, tanpa
paksaan. Firman Allah, “Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan cara yang
batil, kecuali dengan jalan bisnis yang
berlaku dengan suka-sama suka di antara
kamu” (QS. 4: 29).
o. Segera melunasi kredit yang menjadi
kewajibannya. Rasulullah memuji seorang
muslim yang memiliki perhatian serius
dalam pelunasan hutangnya. Sabda Nabi
Saw, “Sebaik-baik kamu, adalah orang yang
paling segera membayar hutangnya” (H.R.
Hakim).
p. Memberi tenggang waktu apabila pengutang
(kreditor) belum mampu membayar. Sabda
97
JIS (Vol.6.No.1. April 2013)
Nabi
Saw,
“Barang
siapa
yang
menangguhkan orang yang kesulitan
membayar hutang atau membebaskannya,
Allah akan memberinya naungan di bawah
naunganNya pada hari yang tak ada naungan
kecuali naungan-Nya” (H.R. Muslim).
q. Bahwa bisnis yang dilaksanakan bersih dari
unsur riba. Firman Allah, “Hai orang-orang
yang beriman, tinggalkanlah sisa-sisa riba
jika kamu beriman (QS. al-Baqarah: 278)
Pelaku dan pemakan riba dinilai Allah
sebagai orang yang kesetanan (QS. 2: 275).
Oleh karena itu Allah dan Rasulnya
mengumumkan perang terhadap riba.
Kesimpulan
Demikianlah sebagian etika bisnis dalam
perspektif Islam yang diramu dari sumber
ajaran Islam, baik yang bersumber dari alQur’an maupun Sunnah.
Berdasarkan hal diatas jelas digambarkan
agar manusia jangan tamak dalam mencari
harta ( melalui kegiatan perniagaan / bisnis )
hendaknya memperhatikan pula nilai-nilai dan
norma-norma yang sesuai di masyarakat.
Jadikan selalu keridhaan Allah SWT dalam
mencari harta sebagai tujuan utama.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Soegono Ryadi, 1998, Praktek Bisnis
Tidak Sehat dan Tendensinya di
Indonesia,Gramedia, Jakarta.
Bambang Suggono, 2003, Metodologi
Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Bambang Waluyo, 1996, Penelitian Hukum
dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1989, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Balai Pustaka,Jakarta.
Franz Magnis Suseno, 1988, Etika Politik :
Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan
Modern,Gramedia, Jakarta.
Ichsan Zulkarnain, 2003, Perkembangan
Ekonomi Mikro Hingga Triwulan III
Tahun 2002 dan Prospek Ekonomi
ISSN : 1979-2840
Indonesia Tahun 2002 dan 2004, Jurnal
Ekonomi.
Jazim Hamidi, 2007/2008, Bahan Kuliah
“Filsafat Ilmu”, Program Doktoral
Fakultas Hukum Universitas BrawijayaFakultas Hukum Universitas Bengkulu.
Kwik Kian Gie, dkk, 1996, Etika Bisnis Cina :
Suatu Kajian Terhadap Perekonomian di
Indonesia, Gramedia, Jakarta.
Mohammad Daud Ali, 2002, Hukum Islam :
Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Mubyarto, 2002, “Etika Agama dan Sistem
Ekonomi”, Artikel. Muhammad, Fauroni
Lukman, 2002, Visi Al-Qur’an : Tentang
Etika Bisnis, Salemba Diniyah,Jakarta.
R. Rachmat Djatnika, 1985, Sistem Ethika
Islam, Pustaka Islam, Surabaya.
Soekarsono Tyas Utomo, 2004, Kisah Sukses
Pebisnis Muslim Indonesia, Pustaka AlKautsar,Jakarta.
Soerjono Soekanto, 1984, Pengantar Penelitian
Hukum, UI Press, Jakarta.
Sonny Keraf, 1998, Etika Bisnis Tuntutan dan
Relevansinya, Kanisius, Yogyakarta.
Sudarsono, 1989, Etika Islam Tentang
Kenakalan Remaja, Bina Aksara, Jakarta.
Suhrawardi K. Lubis, 2000, Hukum Ekonomi
Islam, Sinar Grafika, Jakarta.
Sukarmi, 2007/2008, Bahan Kuliah “Hukum
Ekonomi”, Program Doktoral Fakultas
Hukum Universitas Brawijaya-Fakultas
Hukum Universitas Bengkulu.
Swastha Basu, Ibnu Sukotjo, 1988, Pengantar
Bisnis Modern (Pengantar Ekonomi
PerusahaanModern), Liberty, Yogyakarta.
TM Hasbi Ash-Shiddieqy, 1975, Falsafah
Hukum Islam, Bulan Bintang, Jakarta.
Yahya Harahap, 1986, Segi-segi Hukum
Perjanjian, Alumni, Bandung.
Yusuf Qordhawi, 1997, Norma dan Etika
Ekonomi Islam, Gema Insani, Jakarta.
98
Download