Document

advertisement
Kasus:
Ada
1.a
yang
sebuah
dibangun
rumah
dipinggir
sungai dan didekat jembatan.
Rumah tersebut menjorok ke
jalan raya.
Gambar 1.1
Analisa kasus:
1) Dalam kasus di atas maka pendirian bangunan rumah ini secara yuridis
tidak dapat dibenarkan bahkan boleh dikatakan penduduk yang
menempati dan mendirikan bangunan dibantaran sungai tersebut telah
melanggar peraturan keagrariaan. Jarak pemukiman yang ditetapkan
paling sedikit seharusnya 100 meter di kanan kiri sungai. Pemerintah
seharusnya memberi sanksi tegas terhadap pendirian bangunan di
bantaran sungai karena seharusnya di bantaran sungai merupakan
tempat penghijauan agar tidak terjadi banjir dan longsor. Selain itu
pemukiman di sekitar sungai akan membuat lingkungan menjadi kumuh
karena sungai dijadikan tempat pembuangan limbah.
2) Menurut pasal 1 angka 3 Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang
Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang
Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan
Umum. Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan
tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau
menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang
berkaitan dengan tanah. Salah satu kegiatan pembangunan untuk
kepentingan umum meliputi jalan umum. Jika tanah yang ditempati
tersebut diperlukan untuk pembangunan atau pelebaran jalan demi
kepentingan umum, maka berdasarkan pasal tersebut pemilik rumah
harus suka rela menyerahkan hak atas tanah serta bangunan dengan
adanya ganti rugi yang layak.
3) Kebanyakan bangunan yang ada di bantaran sungai tidak mempunyai
izin resmi dan tidak mempunyai sertifikat, sedangkan salah satu bukti
kepemilikan yang sah atas tanah dan bangunan harus mempunyai
sertifikat. Jika tidak mempunyai sertifikat tersebut maka tidak ada bukti
yang sah atas kepemilikan dan akan mengakibarkan timbulnya konflik
atau sengketa. Sertifikat hak atas tanah adalah bukti kepemilikan
seseorang atas suatu tanah beserta bangunannya. Hal ini dapat dilihat
dalam Pasal 4 ayat (1) jo. Pasal 3 huruf a Peraturan Pemerintah No. 24
Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (“PP Pendaftaran Tanah”):
“Untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 huruf a kepada pemegang hak yang
bersangkutan diberikan sertifikat hak atas tanah.”
“Pendaftaran tanah bertujuan: untuk memberikan kepastian hukum
dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang
tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar
dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang
bersangkutan.”
Berdasarkan uraian pasal tersebut dapat kita lihat bahwa sertifikat hak
atas tanah berguna sebagai alat bukti kepemilikan suatu hak atas tanah
bagi pemegang hak atas tanah yang bersangkutan. Ini berarti bahwa
sertifikat atas tanah diterbitkan untuk kepentingan pemegang hak atas
tanah tersebut.
4) Mendirikan bangunan haruslah mempunya izin terlebih dahulu
sekalipun tanah itu milik nya sendiri. Maka dari itu izin sangatlah
penting sebelum mendirikan bangunan. Dalam hukum tanah adat, hak
ulayat, yang merupakan hak persekutuan hukum atas tanah merupakan
pusat pengaturannya. Hak perseorangan warga masyarakat adat,
memperoleh izin dari penguasa adat. Apabila warga tersebut terus
menggarap bidang tanah termaksud secara efektif, maka hubungan hak
miliknya menjadi lebih intensif dan dapat turun temurun. Tetapi apabila
warga tersebut menghentikan kegiatan menggarapnya maka tanah itu
kembali ke dalam cakupan hak ulayat persekutuan hukumnya dan hak
miliknya melebur.
5) Sedangkan menurut hukum agraria, izin mendirikan bangunan dapat
diperoleh dan dimiliki dengan cara yang sesuai dan telah diatur dalam
undang-undang. Undang-undang tersebut adalah Pasal 32 PP 40/1996
menentukan bahwa pemegang hak guna bangunan berhak untuk
menguasai dan mempergunakan tanah yang diberikan dengan hak guna
bangunan selama jangka waktu tertentu untuk mendirikan dan
mempunyai bangunan untuk keperluan pribadi atau usahanya serta
untuk mengalihkan hak tersebut kepada pihak lain dan membebaninya.
Bagi pemegang hak guna bangunan yang letak tanahnya mengurung
atau menutup pekarangan atau bidang tanah lain dari lalu lintas umum
atau jalan air, yang bersangkutan juga wajib untuk memberikan jalan ke
luar atau jalan air atau kemudahan lain bagi pekarangan atau bidang
tanah yang terkurung.
b.
Kasus:
Ada tiang listrik yang menjorok ke
jalan atau ke pekarangan warga.
Sehingga melanggar aturan.
Gambar 1.2
Analisis kasus:
1) Dalam Pasal 2 Ayat (1) UUPA terdapat asas Tingkatan yang Tertinggi
yang berbunyi "Bumi, Air, Ruang Angkasa dan Kekayaan Alam yang
Terkandung di dalamnya Dikuasai oleh Negara". Sesuai dengan pendirian
tersebut, perkataan “dikuasai” di sini bukan berarti dimiliki, akan tetapi
adalah pengertian yang memberikan wewenang kepada Negara sebagai
organisasi kekuasaan bangsa Indonesia pada tingkatan yang tertinggi
untuk
mengatur
dan
menyelenggarakan
peruntukan,
penggunaan,
persediaan dan pemeliharaan bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam.
Dalam
hal
ini
adalah
pengadaan
tiang
listrik.
2) Jika dipandang dari sisi masyarakat yang tanah atau pekaranganya
digunakan untuk pembangunan fasilitas umum, dalam hal ini adalah tiang
listrik, maka masyarakat harus mengutamakan pembangunan fasilitas
tersebut. Karena fasilitas tersebut merupakan hal yang bersangkutan
dengan kepentingan umum dan mengatur hajat hidup orang banyak. Hal
ini dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun
1999 Pasal 3 UU Poin 3 yaitu tentang asas Kepentingan umum yang
artinya adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara
yang aspiratif, akomodatif, dan selektif. Maksudnya asas ini menghendaki
pemerintah harus mengutamakan kepentingan umum terlebih dahulu.
Maka dari itu sebagai warga negara yang baik dan taat pada aturan hukum
masyarakat haruslah menjalankannya.
3) Jika dipandang dari sisi pemerintah dalam hal ini adalah yang
melaksanakan pembangunan fasilitas listrik harus sesuai dengan asas
akuntabilitas yang diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah bagian kedua tentang
asas penyelenggaraan pemerintahan Pasal 20 angka 1 . Dalam pasal
tersebut dijelaskan bahwa asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan
bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari penyelenggara negara harus
dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Maka dari itu pemerintah dalam hal ini
sebagai penyelenggara pembangunan harus melaksanakannya.
4) Jika terjadi sesuatu yang dapat merugikan masyarakat, misalnya saja ada
tiang listrik yang ambruk dan menimpa rumah warga. Maka pemerintah
wajib memberikan ganti rugi atau warga berhak menuntut meminta ganti
rugi. Dasar hukumnya adalah Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata yang menyatakan:
“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada
orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan
kerugian itu, mengganti kerugian.”
5) Berpedoman pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman (“UU 1/2011”). Pada dasarnya,
tiang listrik sebagai bagian dari jaringan listrik merupakan salah satu
utilitas umum di kawasan permukiman sebagaimana disebut dalam Pasal
28 UU 1/2011. Sedangkan yang dimaksud dengan utilitas umum adalah
kelengkapan penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian sebagaimana
disebut dalam Pasal 1 angka 23 UU 1/2011. Pada pengaturannya, soal
pemasangan utilitas ini diserahkan kembali pengaturannya pada peraturan
daerah setempat. Jadi, pemasangan tiang listrik harus memperhatikan
peraturan-peraturan daerah setempat.
`Kasus 1:
Ada rumah
2.
yang saling
berhimpitan dan ditengahnya ada
pohon, sebagian ranting pohon
tersebut mengenai pekarangan atau
menjorok ke rumah tetangga.
Analisis kasus 1:
1) Menurut Pasal 665 KUHPerdata Buku Kedua tentang Kebendaan yang
berbunyi “Menanam pohon atau pagar hidup yang tinggi tumbuhnya
dilarang, kecuali jika pohon atau pagar itu ditanam dengan mengambil
jarak menurut peraturan khusus atau kebiasaan yang berlaku dalam hal
itu, dan bila tidak ada peraturan dan kebiasaan, dengan mengambil jarak
dua puluh telapak, dari garis batas kedua pekarangan, sepanjang
mengenai pohon-pohon yang tinggi dan lima telapak sepanjang mengenai
pagar hidup.”
Jadi, menurut pasal tersebut menanam pohon haruslah sesuai dengan
aturan khusus atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu daerah tertentu.
Jarak antara pohon dan rumah tetangga minimal adalah dua puluh telapak
tangan dari garis kedua pekarangan agar tidak mengganggu ketentraman
tetangga dan tidak menimbulkan konflik.
2) Jika tetangga merasa terganggu dengan adanya pohon tersebut, maka dapat
meminta tetangga untuk memotong dahan yang masuk ke pekarangan.
Apabila sudah meminta ke tetangga untuk memotong dahan namun
ditolak, maka tetangga yang merasa terganggu dapat memotong sendiri
dahan yang masuk ke pekarangannya.
3) Jika tetangga merasa dirugikan, maka dapat menempuh upaya hukum
Sesuai dengan pasal 666 KUHPerdata Buku Kedua tentang Kebendaan
yang berbunyi : “Tetangga mempunyai hak untuk menuntut agar pohon
dan pagar hidup yang ditanam dalam jarak yang lebih dekat daripada
jarak tersebut di atas dimusnahkan. Orang yang di atas pekarangannya
menjulur dalam pohon tetangganya, maka ia menuntut agar tetangganya
menolaknya setelah ada teguran pertama dan asalkan ia sendiri tidak
menginjak pekarangan si tetangga.”
4) Jika tidak bisa disingkirkan kecuali dengan dipotong maka pemilik tanah
boleh memotongnya, dan dia tidak memiliki kewajiban untuk memberikan
ganti, terkait pemotongan dahan tersebut.
5) Jika dahan atau ranting pohon menjalar ke tanah atau udara orang lain, dan
orang tersebut tidak merelakan keberadaan dahan tersebut, maka pemilik
pohon diperintahkan untuk memangkas dahan tersebut.
Kasus 2:
Ada rumah yang saling berhimpitan dan ditengahnya ada pohon yang
berbuah lebat. Sebagian buah tersebut mengenai pekarangan atau
menjorok ke rumah tetangga.
Analisis kasus 2:
1) Pohon tersebut sebaiknya ditebang karena mengganggu kenyamanan.
Apabila pohon tersebut berbuah, rumah yang terganggu karena ada buah
yang menjorok itu berhak mendapatkan buah dari pohon tersebut. Karena
sebagai imbalan dari membersihkan dedaunan yang jatuh.
2) Apabila ada pohon yg akar dan batangnya menjalai kepekarangan tetangga
maka akar dan batangnya tetap kepunyaan pemilik pohon. Jadi buah yang
masih ada di dahan juga nasih milik nya yang punya pohon.
3) Sedangkan apabila si tetangga merelakan ranting pohon tersebut tumbuh
diatas tanahnya, ia tidak berhak mengambil buah tersebut, dan apabila
mengambilnya harus meminta izin dulu pada pemiliknya.
4) Misalkan tetangga kita memiliki pohon buah yang batangnya menjorok ke
halaman kita dan daun-daun dari pohon tersebut mengotori halaman kita,
maka buah yang ada di dahan yang menjorok ke halaman kita itu menjadi
hak milik kita dan itu hukumnya halal kalau diambil. Tapi hal itu harus
dibicarakan dahulu, karena tidak semua orang memahami hal tersebut.
5) Jika tumbuhnya buah tersebut menganggu maka gangguan tersebut harus
dihilangkan tanpa menimbulkan gangguan yang semisal.
3.a
Tanah
Warisan
Kasus:
Ada sebuah keluarga dimana kedua orangtua tersebut meninggal dunia dan
meninggalkan 3 orang anak, dimana anak pertama adalah laki-laki dan
anak kedua dan ketiga adalah perempuan. Orangtua tersebut meninggalkan
warisan berupa tanah. Bagaimana pembagian warisan tersebut?
Analisis kasus:
1) Menurut hukum adat, jika pewarisan tidak dapat dilaksanakan secara
menurun, maka warisan ini dilakukan secara keatas atau kesamping.
Artinya, yang menjadi ahli waris ialah pertama-tama anak laki atau
perempuan dan keturunan mereka.
2) Dalam hukum Islam, bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua
orang anak perempuan. Hal ini dikarenakan kenyataan bahwa laki-laki lah
yang oleh syariat Islam dibebankan tanggung jawab untuk memberi nafkah
keluarga dan membebaskan prempuan dari kewajiban tersebut, meskipun
perempuanboleh saja ikut mencari nafkah.
3) Dalam KUHPerdata, yang berhak untuk mewaris adalah keluarga atau ahli
waris yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris. Undang-undang
tidak membedakan ahli waris laki-laki dan perempuan, juga tidak
membedakan urutan kelahiran, hanya ada ketentuan bahwa ahli waris
golongan pertama jika masih ada maka akan menutup hak anggota
keluarga lainnya dalam dalam garis lurus ke atas maupun ke
samping. Dalam KUHPerdata Pasal 852 menjelaskan bahwa, yang
menerima warisan adalah
anak-anak atau keturunan mereka, baik
dilahirkan dari lain perkawinan sekalipun, dengan tidak ada perbedaan
antara laki dan perempuan dan tidak ada perbedaan berdasarkan kelahiran
lebih dahulu.
4) Menurut hukum agraria pasal 20 ayat 1 UUPA tentang hak milik yaitu,
hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat
dipunyai orang atas tanah. Turun-temurun artinya hak milik atas tanah
dapat berlangsung terus selama pemiliknya masih hidup
dan sampai
pemiliknya meninggal dunia, maka hak miliknya dapat dilanjutkan oleh
ahli warisnya sepanjang memenuhi syarat sebagai subjek hak milik.
5) Berdasarkan interprestasinya membagi ahli wris menurut UU menjadi
empat golongan, yaitu:
Golongan pertama, terdiri dari suami/istri dan keturunannya;
Golongan kedua, terdiri dari orang tua, saudara dan keturunan
saudara;
Golongan ketiga, terdiri dari sanak keluarga lain-lainnya;
Golongan keempat, terdiri dari sanak keluarga lain-lainnya
dalam garis menyimpang sampai dengan derajat keenam.
Apabila golongan pertama masih ada maka golongan selanjutnya tidak
mendapatkan apa-apa.
b.
Tanah
warisan
Kasus:
Ada keluarga dimana sang istri meniggal dunia dan meninggalkan dua
anak baik laki-laki atau perempuan. Kemudian sang ayah menikah lagi dan
mempunyai seorang anak dari pernikahan kedua. Istri pertama yang
meninggal tadi mempunyai warisan berupa tanah. Bagaimana cara
pembagian warisan ?
Analisis kasus:
1) Perlu diketahui bahwa yang berhak menjadi ahli waris ialah keluarga
sedarah, baik yang sah menurut undang-undang maupun yang di luar
perkawinan, dan suami atau isteri yang hidup terlama (Pasal 832
KUHPerdata). Berdasarkan prinsip pewarisan dalam hukum perdata
tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak dari istrinya yang pertama tetap
mendapatkan warisan.
2) Yang perlu diperhatikan justru warisan yang akan diterima oleh istri
kedua. Berdasarkan Pasal 852a ayat (1) KUHPerdata, dikatakan bahwa
bagian suami atau istri yang ditinggal mati oleh pewaris adalah sama
dengan seorang anak sah. Dengan ketentuan bila perkawinan tersebut
adalah perkawinan kedua dan selanjutnya, sedangkan dari perkawinan
sebelumnya ada anak-anak atau keturunan dari anak-anak tersebut, istri
yang baru tidak boleh mewarisi lebih dari bagian terkecil yang diterima
oleh salah seorang dan anak-anak dari perkawinan sebelumnya.
3) Seorang ahli waris berhak untuk menuntut upaya segala apa saja yang
termasuk harta peninggalan si meninggal diserahkan padanya berdasarkan
haknya sebagai ahli waris (heriditatis petito). Hak penuntutan ini
menyerupai hak penuntutan seorang pemilik suatu benda, dan menurut
maksudnya penuntutan itu harus ditujukan kepada orang yang menguasai
satu benda warisan dengan maksud untuk memilikinya. Menurut pasal
834 BW.
4) Dalam pasal 832 KUHPdt dinyatakan bahwa menurut undang - undang
yang berhak menjadi ahli waris ialah, para keluarga sedarah, baik sah
maupun di luar kawin, dan si suami atau istri yang hidup terlama.
5) Semua anak dari istri pertama dan kedua mendapat warisan karena saudara
sebapak. Ini berdasarkan hukum Islam.
4.
WNI
WNI
WNI
WNA
Kasus:
Ada orangtua yang berkewarganegaraan Indonesia yang mempunyai anak.
Anak tersebut menikah dengan orang yang berkewarganegaraan
Norwegia. Berhubung Indonesia dan Norwegia tidak mempunyai
hubungan diplomasi, maka anak tersebut menikah di Singapura yang
mempunyai hubungan diplomasi. Pertanyaanya, bagaimana proses
pernikahan dan akibat hukum:
1. Di dalam negeri
2. Di luar negeri
Analisis kasus 1:
1) Jika kedua orang tersebut menikah di dalam negeri (indonesia) maka harus
menggunakan hukum yang berlaku di indonesia yaitu, undang-undang
republik indonesia nomor 1 tahun 1974. berdasarkan undang-undang
tersebut, perkawinan sah apabila sesuai dengan agama dan kepercayaan
masing-masing. hal ini diatur dalam pasal 2 ayat (1) yang berbunyi
"perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaan itu".
2) Karena anda berencana untuk menikah di Indonesia, maka perkawinan
dilakukan menurut Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 (pasal
59 ayat (2)) yaitu: " Perkawinan campuran yang dilangsungkan di
Indonesia dilakukan menurut Undang-undang perkawinan ini". Jadi,
pasangan tersebut jika menikah di dalam negeri khususnya Indonesia,
maka harus dilakukan menurut undang-undang yang ada di Indonesia.
3) Perkawinan Campuran yang dilangsungkan di Indonesia dilakukan
menurut Undang-Undang Perkawinan dan harus memenuhi syarat-syarat
perkawinan. Syarat Perkawinan diantaranya: ada persetujuan kedua calon
mempelai, izin dari kedua orangtua/wali bagi yang belum berumur 21
tahun, dan sebagaimua (lihat pasal 6 UU Perkawinan).
4) Pernikahan tersebut bisa berjalan dengan sah sesuai hukum, adat, budaya,
agama, atau dengan ketentuan yang berlaku. Tetapi, jika ingin
mendapatkan status kewarganegaraan Indonesia, harus melaksanakan
Naturalisasi.
Ini
sangat
berpengaruh
dalam
menentukan
status
kewarganegaraan anaknya nanti. Membuktikan bahwa keturunan tersebut
adalah keturunan dari pasangan WNI asli. Proses Naturalisasi di Indonesia
sudah mempunyai ketentuan tersendiri yang berlaku. Jika yang berstatus
WNA sudah menjalankan proses Naturalisasi, maka perkawinan campur
tersebut dinyatakan sah.
5) Persyaratan menjadi warga negara Indonesia diatur dalam Undang-undang
No. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI. Untuk orang asing yang
berkeinginan menjadi warga negara Indonesia dapat menempuh jalan
pewarganegaraan atau dengan jalan naturalisasi. Hal ini disebutkan dalam
pasal 8, 9, 10, 11, dan pasal 12. Warga negara asing dalam mengajukan
permohonan naturalisasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.Telah berusia 18 tahun atau sudah kawin.
2.Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di
wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 tahun berturutturut atau paling singkat 10 tahun tidak berturut-turut.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui Dasar Negara Pancasila
dan Undang-undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945.
5.Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang
diancam dengan pidana penjara 1 tahun atau lebih.
6.Jika dengan memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia tidak
menjadi berkewarganegaraan ganda (bipatride).
7. Mempunyai pekerjaan dan penghasilan tetap.
8. Membayar biaya pewarganegaraan ke kas negara.
9. Permohonan pewarganegaraan diajukan di Indonesia dan ditulis
dalam bahasa Indonesia di atas kertas bermaterai yang cukup kepada
Presiden melalui Kementerian Hukum dan HAM RI.
Analisis kasus 2:
1) Merujuk pada pasal 56 ayat (1) uu nomor 1 tahun 1974 tentang
perkawinan, pasal ini menyatakan bahwa perkawinan yang dilangsungkan
di luar indonesia adalah sah apabila: perkawinan dilakukan menurut
hukum yang berlaku di negara dimana perkawinan itu dilangsungkan. bagi
WNI tidak melanggar ketentuan undang-undang perkawinan.
2) Bila perkawinan campuran akan dilakukan di luar Indonesia, tentunya
harus mengikuti aturan mengenai perkawinan yang berlaku di negara
tersebut dan selanjutnya dicatatkan pada institusi Catatan Sipil setempat.
Selama para pihak telah melaksanakan pencatatan perkawinan di luar
negeri sesuai hukum yang berlaku di negara di mana perkawinan tersebut
dilangsungkan, maka perkawinan adalah sah dengan segala akibat
hukumnya. Akibat hukum di sini, misalnya status mengenai anak, harta
perkawinan, pewarisan, hak dan kewajiban suami-istri bila perkawinan
berakhir karena perceraian dan/atau sebagainya.
3) Berikutnya di pasal 56 ayat (2) disebutkan bahwa dalam waktu satu tahun
setelah suami isteri itu kembali ke wilayah Indonesia, surat bukti
perkawinan mereka harus didaftarkan ke kantor pencatatan perkawinan
tempat tinggal mereka.
4) Bagi WNI yang akan melangsungkan pernikahannya di Luar Negeri harus
menyampaikan kehendak nikahnya ke bagian konsuler Perwakilan RI di
Luar Negeri, Penghulu di Luar Negeri harus memastikan bahwa berkas
pemberitahuan kehendak nikah telah dipenuhi dengan melampirkan syaratsyarat.
5) Menurut Pasal 58 UUP bagi orang-orang yang berlainan kewarganegaraan
yang
melakukan
perkawinan
campuran,
dapat
memperoleh
kewarganegaraan dari suami/isterinya dan dapat pula kehilangan
kewarganegaraannya, menurut cara-cara yang telah ditentukan dalam
Undang-Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang berlaku.
Dalam Pasal 26 ayat (1) UU Kewarganegaraan, yang berbunyi:
“ Perempuan Warga Negara Indonesia yang kawin dengan lakilaki warga negara asing kehilangan Kewarganegaraan
Republik Indonesia jika menurut hukum negara asal suaminya,
kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suami
sebagai akibat perkawinan tersebut.”
Jadi, perempuan tersebut hilang kewarganegaraanya sebagai warga negara
indonesia dan berganti status kewarganegaraan mengikuti suami.
5.
Apa saja hak-hak buruh selain menerima upah?
Hak buruh di Indonesia diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan
no.13 tahun 2003 (UUK no. 13 th. 2003). Hak-hak buruh tersebut diantaranya
adalah:
1. Hak Atas Jaminan Sosial
Jaminan sosial merupakan jaminan yang diberikan kepada
seseorang atas resiko sosial yang dialaminya karena bekerja. Jaminan
sosial tersebut meliputi:
1.Jaminan Pelayanan Kesehatan
2.Jaminan Kecelakaan Kerja
3.Jaminan Kematian
4.Jaminan Hari Tua
5.Jaminan perumahan
6.Jaminan Kesehatan reproduksi
7.Jaminan Keluarga
8.Jaminan perlindungan hukum
Jaminan Sosial ini berlaku pada buruh perempuan dan buruh lakilaki. Jaminan sosial ini merupakan kompensasi atas hilangnya waktu dan
tenaga akibat pekerjaan yang telah dilakukan oleh seorang buruh. Jaminan
sosial juga berfungsi sebagai jaminan keamanan atas pekerjaan yang
dilakukan oleh seorang buruh. Jaminan sosial ini juga berfungsi untuk
jaminan keamanan bagi keluarga buruh. Dalam aturan ketenagakerjaan
jaminan sosial bagi buruh di indonesia dicover oleh jamsostek. Hanya saja
jamsostek belum mampu mengkover semua jaminan tersebut. Jaminan
yang tercover oleh jamsostek baru pada: jaminan pelayanan kesehan,
jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Itupun
pada prakteknya belum semua dinikmati buruh, karena adanya perusahaan
yang nakal yang setorannya selalu kurang pada jamsostek.
Peraturan Pelindung:
1.UUD 45 pasal 28H “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat
serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. “Setiap orang berhak atas
Jaminan Sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh
sebagai manusia yang bermartabat.”
2.UU Jamsostek 1992.
3.Konvensi ILO.
2. Hak Atas Tunjangan
Selain mendapatkan upah, setiap buruh berhak atas tunjangan.
Tunjangan ini dibagi menjadi 2:
1.Tunjangan tetap: tunjangan yang wajib diterima buruh tanpa dipengaruhi
kehadiran kerja. Misal: tunjangan keluarga, tunjangan masa kerja, THR
dll.
2.Tunjangan tidak tetap: tunjangan yang diterima buruh berdasarkan
kehadiran mereka ditempat kerja. Misal: tunjangan transportasi, makan,
premi hadir.
Tunjangan ini biasanya merupakan komponen dari upah, selain
upah pokok.
3. Hak Waktu Istirahat dan Cuti
Setiap buruh berhak menikmati waktu istirahat. Waktu istirahat
sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja 4 jam terus menerus dan
waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja. Selama menikmati cuti
tersebut buruh berhak untuk tetap mendapatkan upah. Apabila buruh tidak
mengambil hak cutinya maka buruh berhak menerima uang penggannti
dari hak cuti tersebut. Pengaturan tentang hak cuti terdapat pada UUK No
13 Tahun 2003 pasal 79. Hak cuti ini meliputi cuti sakit, cuti haidl, cuti
melahirkan, cuti kawin, cuti keluarga meninggal, cuti mengkhitankan
anak, cuti tahunan dll (UUK no.13 th. 2003 psl. 79).
4. Hak Untuk Menikmati Hari Libur dan Uang Lembur
Hak ini terkait dengan waktu kerja buruh. Dalam UUK No.13
tahun 2003 pasal 77 menyatakan bahwa setiap pengusaha wajib
melaksanakan ketentuan waktu kerja. Waktu kerja bagi buruh adaah 7 jam
dalam 1 hari yang berarti 40 jam dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam
1 minggu atau 8 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 5 hari
kerja dalam 1 minggu. Artinya dalam 1 minggu minimal buruh dapat
menikmati hari libur minimal 1 hari ketika waktu kerjanya 7 jam kerja.
Buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi. Pengusaha yang
memperkerjakan buruh melebihi waktu kerja harus memenuhi syarat:
1.Ada persetujuan dari buruh yang bersangkutan. Artinya buruh berhak
untuk menolak kerja lembur.
2.Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1
hari dan 14 jam dalam 1 minggu.
Pengusaha diatas wajib membayar upah kerja lembur, yang
ketentuan besarnya diatur dalam keputusan menteri.
5. Hak Atas Pesangon bila di PHK
Ketika berakhirnya hubungan kerja karena adanya PHK yang
dilakukan oleh pihak pengusaha semua hak diatas menjadi gugur, namun
pengusaha wajib memenuhi hak atas pesangon buruh dan atau uang
penghargaan masa kerja dan uang pengganti hak yang seharusnya
diterima. Besar kecilnya perhitungan uang pesangon ini dihitung
berdasarkan lamanya masa kerja(UUK no.13 th. 2003 psl. 156)
Download