penerapan permainan senam otak (brain gym

advertisement
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
PENERAPAN PERMAINAN SENAM OTAK (BRAIN GYM)
DALAM MENGOPTIMALKAN OTAK KANAN ANAK USIA DINI
Indah Wulandari (11261603)
Mahasiswa PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Abstrak
Setiap Anak dilahirkan dengan bakat yang merupakan potensi kemampuan (inherent component of
ability) yang berbeda-beda dan yang terwujud karena interaksi yang dinamis antara keunikan
individu dan pengaruh ingkungan. BerbagaI kemampuan yang teraktualisasikan beranjak dari
berfungsinya otak kita. Berfungsinya otak kita, adalah hasil interaksi dari cetakan biru (blue print)
genetis dan pengaruh lingkungan itu. Pada waktu manusia lahr, kelengkapan organisasi otak yang
memuat 100 – 200 milyar sel otak (Teyler, 1977, dalam Clark, 1986), siap untuk dikembangkan serta
diaktualisasikanmencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi. Jumlah ini mncakup beberapa
trilyun jenis informasi dalam hidup manusia (Sogan, 1977, dalam Clark, 1986). Sayang sekali, riset
membuktikan bahwa hanya 5% dari kemampuan tersebut (Ferguson, 1973 dalam Clark, 1986).
Penggunaan system kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan
intelegensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seseorang manusia, serta
kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial,
yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan
melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan yang
memungkinkan akselerasi proses berpikir (Thomson, Berger dan Bery, 1980, dalam Clark, 1986).
Kecerdasan orang banyak ditentukan oleh struktur otak. Cerebrum otak besar dibagi dalam dua
belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Belahan otak
kanan menguasai belahan kiri badan. Respon, tugas dan fungsi belahan otak kiri dan kanan berbeda
dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara
berbeda-beda dan unik. Belahan belahan otak kiri terutama berfugsi untuk merespon terhadap hal
yang siftnya liner, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan imaginasi dan
kreativitas. Berfungsinya belahan otak kanan inilah yang perlu digalakan dalam pengembangan
kreativitas. Sayang sekali, sekolah-sekolah kita pada umumnya kurang memperhatikan berfungsinya
belahan otak kanan. Pembelajaran yang mengendalikan berfungsinya kedua belahan otak secara
harmonis akan banyak membantu anak berprakarsa mengatasi dirinya, meningkatkan prestasi
belajar sehingga mencapai kemandirian dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Untuk itu,
penulis mengajak para pendidik, atau tenaga kepedidikan, orangtua, dan siapapun yang
berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan anak usia dini untuk ikut berpartisipasi dalam
mengembangkan kecerdasan otak anak dengan aktif melakukan senam otak. Menurut penelitian,
senam otak mampu mengembangkan kreatifitas anak dan mampu meningkatkan daya konsentrasi
serta menimbulkan kemandirian dan kematangan emosional anak. Segala bentuk kebaikan, kerap
orangtua lakukan untuk perbaikan anak-anak yang dicintainya. Sebagai pendidik, seharusnya juga
mampu dalam mengatasi segala bentuk kesulitan siswa didiknya. Juga, sebagai generasi muda
pemegang kekuatan utama, yaitu melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam mengatasi
permasalahan dalam pendidikan.
Kata Kunci : Senam Otak, Otak Kanan
PENDAHULUAN
Anak adalah permata yang diberikan oleh Allah kepada kita. Allah memberikan-Nya kepada
kita karena kita dipercaya untuk menjaganya, melindunginya, dan mendidiknya menjadi manusia
yang utuh. Setiap bayi lahir mempunyai kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang masih terpendam
dalam dirinya. Kitalah sebagai orang tua dan tenaga pendidik yang harus menggali dan
28
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
mengembangkan, sehingga potensi yang tersimpan itu nantinya bisa menjadi bekal hidupnya di masa
depan.
Ketika sebagai orang tua dan pendidik dengan kesabaran, keikhlasan dan kelembutan mendidik
anaknya dengan sungguh-sungguh, maka permata yang diberikannya akan semakin besinar. Namun
sebaliknya, saat orang tuanya membiarkannya atau bahkan “membunuh” potensi hebat yang ada
dalam dirinya, entah sadar maupun tidak sadar, maka permata itu lambat laun kecermelangannya
akan pudar, dan akhirnya akan menjadi logam tidak berguna.
Anak usia dini merupakan tahapan penting kehidupan dalam hal perkembangan anak secara
fisik, intelektual, emosional dan sosial. Pertumbuhan kemajuan kemampuan mental dan fisik pada
tingkat yang menakjubkan dan proposi yang sangat tinggi dari pembelajaran terjadi dari lahir sampai
usia tujuh tahun. Ini adalah saat ketika anak-anak sangat membutuhkan perawatan pribadi berkualitas
tinggi pada pengalaman belajar.
Kesepahaman umum telah menegaskan bahwa anak-anak adalah asset masa depan suatu
bangsa. Anak-anak hari ini adalah generasi masa depan. Anak-anak tersebut tidak akan mempunyai
pengaruh dan posisi yang besar kecuali jika mereka dididik dengan baik, dan jiwa mereka diasah
dengan semua hal-hal yang baik dan bermanfaat. Karenanya, penting bagi seorang anak adalah
pengembangan pembentukan kepribadian mereka semenjak pertumbuhan pertamanya. Masa
pertumbuhan pertama anak menunjuk masa usia dini, yang populer disebut dengan masa emas
(golden age), suatu masa krisis yang memiliki nilai tinggi dan penting. Dikatakan sebagai masa emas
karena pada usia tersebut terjadi proses perkembangan organ sentral bagi tingkah laku manusia, yaitu
otak. Yaitu, jika anak mendapatkan stimulasi yang tepat dan baik maka sekitar 50 % kapasitas
kecerdasan orang dewasa telah terjadi pada anak usia 4 tahun, dan 80 % telah terjadi ketika anak
berusia 8 tahun (kelas 2 atau 3 SD), serta 100 % ketika anak berusia 18 tahun (usia SMA). Pada usia
di atas 18 tahun kemampuan otak manusia tidak lagi mengalami perkembangan/stagnasi. Keadaan ini
menyodorkan suatu hal yang teramat penting kepada kita bahwa perkembangan yang terjadi dalam
kurun waktu 4 tahun pertama usia pra sekolah sana besarnya dengan perkembangan yang terjadi
dalam kurun waktu 14 tahun berikutnya (usia SD – SMA). Bagaimana realisasi stimulasi
perkembangan otak dalam praktek pendidikan kita? Sudahkah usia 4 tahun mendapatkan porsi
perhatian secara proposional?
Sejatinya jika para orangtua mengerti, usia dini itu merupakan momentum yang sangat penting
bagi tumbuh kembang anak. Baik secara fisik, psikis, ataupun psikologi, terbentuk mulai dari usia dini
tersebut. Menurut para pakar psikologi anak, sejak usia 0-1 tahun pertama, sel-sel otak anak atau yang
disebut neuron berkembang sangat pesat. Begitu pesatnya neuron tersebut, sampai-sampai melebihi
perkembangan pada tahun-tahun berikutnya. Neuron itu laksana kabel dengan panjang bermil-mil itu
saling menghubungkan dan membuat jalur-jalur yang begitu rumit dan kompleks. Jalur-jalur neuron
ini berfungsi menerima aneka pesan, dan menyampaikan pikiran kepada bagian otaklainnya. Ketika
bayi lahir, neuron ini belum saling berkaitan. Tetapi ketika bayi sudah mulai tumbuh, melihat dan
29
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
mengenali dunia, jutaan sel neuron itu akan saling sambung menyambung setiap harinya, sehingga
otak mampu mengelola dan mengorganisasi dirinya semakin baik dan sempurna.
Pendidikan anak di mulai dari saat anak di bawa pulang dari rumah bersalin dan terus pada saat
anak mulai menghadiri kelompok bermain dan Taman Kanak-Kanak. Kemampuan belajar manusia
terus selama masih sisa hidup mereka, tetapi tidak pada intensitas yang ditunjukan dalam tahun-tahun
pra sekolah. Dengan pemikiran ini, bayi dan balita membutuhkan pengalaman positif pembelajaran
dini untuk membantu perkembangan intelektual, social dan emosional. Ini meletakkan dasar
keberhasilan sekolahnya nanti.
Inilah awal kesadaran kita sebagai orang tua atau pendidik, untuk selalu memberikan stimulasi
bagi perkembangan anak usia dini. Manusia lahir dengan potensi, namun untuk mengaktualisasikan
potensi tersebut manusia perlu mendapat bimbingan dari lingkungan sekitarnya. Jika lingkungan tidak
mendukung, maka potensi yang dimiliki manusia tidak akan berkembang. Misalnya, seorang anak
manusia (bayi) yang dibesarkan oleh seekor serigala. Dia akan berjalan dengan menggunakan kedua
tangan dan kedua kakinya, merangkak seumur hidupnya, karena tidak ada yang mengajarinya berjalan
seperti manusia. Pendidikan Anak usia Dini merupakan hal yang sangat fundamental, karena apa yang
diberikan Tuhan ketika anak baru lahir barulah berupa potensi, baik potensi fisik (jasmani dengan
semua alat inderanya) maupun potensi non-fisik (akal, kalbu, dll). Potensi tersebut harus ditumbuhkembangkan melalui berbagai stimulasi /rangsangan.
Yang menyedihkan, perkembangan jaman kemudian lebih mengedepankan otak kiri ketimbang
otak kanan. Bahkan, dunia pendidikan konvensional mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan
tinggi, sekarang ini sangat mengabaikan otak kanan, sehingga melulu selalu menggunakan otak
kirinya. Hanya 10% saja pemanfaatan otak kanan dalam pengembangan pembelajaran anak di sekolah
dilakukan.
Proses pembelajaran pada anak usia dini, seharusnyalah yang menaruh perhatian pada
penyeimbangan antara otak kanan dan kiri. Sebagai seorang tenaga kreatif, guru berperan penting
dalam mengembangkan kreatifitas dan mental anak didiknya. Kondisi yang menyayangkan adalah,
pada proses pendidikan konvensional sekarang ini dari mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi
selalu dan terlalu banyak mencerdaskan otak kiri.
Hal membanggakan kemudian adalah, pengajaran di kelompok bermain ataupun TK masih
menaruh perhatian pada otak kanan. Walaupun kemudian pada perkembangan selanjutnya, kreatifitas
pengaktifan otak kanan masih sangatlah kurang. Seorang guru harus mampu berkomunikasi dengan
anak didiknya dengan bernyanyi dan bercerita dalam bahasa sederhana yang di pahami anak didiknya.
Bukan hanya itu, seorang guru pun harus menguasai beberapa permainan otak, yang berfungsi
sempurna untuk mengaktifkan kedua belahan otak, terutama otak kanan. Pengaktifan otak kanan
berfungsi luar biasa bagi perkembangan emosi seseorang kelak ketika anak tersebut telah menginjak
dewasa.
30
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
Dalam penelitian ini, penulis merasa memiliki kepentingan besar dalam mempelajari serta
meneliti perkembangan otak anak usia dini dengan membuat penelitian tentang senam otak untuk
keseimbangan otak kanan dan kiri anak.
Pada penelitian ini, penulis menerapkan senam otak pada anak usia dini dengan parometer usia
5-6 tahun di TK Budi Utomo I, Desa Bogosari, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak. Pada usia
tersebutlah sistem limbik atau otak mamalia yang berfungsi sebagai pengendali emosi manusia sedang
tumbuh dan berkembang.
KAJIAN PUSTAKA
Brain Gym atau Senam Otak
Senam otak (Brain Gym) adalah serangkaian latihan gerak sederhana yang digunakan untuk
memudahkan kegiatan belajar dan penyesuaian dengan tuntutan sehari-hari. gerakan itu dibuat untuk
merangsang otak kiri dan kanan (dimensi lateralitas), meringankan atau merelaksasi belakang otak
dan bagian depan otak (dimensi pemfokusan), merangsang sestem yang terkait dengan
persaan/emosional, yakni otak tengah atau limbik, serta otak besar (dimensi pemusatan).
Disebut brain gym lantaran gerakannya sederhana namun bermanfaat dalam membantu
perkembangan otak secara keseluruhan. Selain itu, koordinasi mata, telinga, tangan, dan seluruh
anggota tubuh pun dapat diasah melalui senam otak ini. Senam otak ini di pelopori oleh Paul E
Denisson, Ph.D dan istrinya, Gail Denisson, dari lembaga Educational Kinesiology Foundation,
Amerika Serikat (www.kisuta.com, 2013).
Senam otak atau brain gym diperlukan untuk mengurangi stres di otak akibat belajar terlalu
keras, kurang berfungsinya bagian otak tertentu akibat melemahnya integrasi mekanisme otak, dan
perasaan kurang mampu dan percaya diri yang mengakibatkan semangat belajar turun sehingga
mempengaruhi semangat belajar.
Optimalisasi Otak Kanan
Dua belahan otak manusia manusia sering dijuluki dengan sebutan otak kanan dan otak kiri.
Julukan tersebut bukan sebuah temuan baru, melainkan sudah ditemukan beberapa abad yang lalu.
Sebuah bukti, orang Mesir sudah mengetahui cara kerja otak kanan dan otak kiri. Otak kanan
cenderung mengendalikan dan menerima sensasi-sensasi sisi kiri tubuh seseorang dan demikian juga
sebaliknya.
Selama dua dekade terakhir, penelitian yang sangat mendasar mengungkapkan bahwa kedua
belahan otak menjalani fungsi yang berbeda. Kedua bagian otak itu dihubungkan oleh jaringan yang
amat sangat komplek. Jaringan ini difungsikan untuk mengirimkan secara timbal balik informasi
antara kedua belahan otak. Tetapi, dengan ungkapan lebih sederhana berdasarkan penelitian Profesor
Roger Sperry dari Universitas California (www.sehat-online.blogspot.com; 2013), secara umum otak
kanan merupakan gudang kreativitas dan spontanitas yang berhubungan dengan rima, musik, irama,
kesan visual warna dan gambar. Disamping itu, otak kanan juga mempunyai pemikiran yang sangat
31
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
luas dan tak terbatas, sehingga memori otak kanan bersifat panjang (long Term Memory). Otak kanan
adalah “pikiran Metamorfosis” kita yang mencari analogi dan pola. Otak kanan juga cenderung
berhubungan dengan jenis-jenis tertentu seperti pemikiran konseptual dan gagasan-gagasan abstrak
mengenai cinta, keindahan, dan kesetiaan. Sedangkan otak kiri adalah otak yang berada di sebelah
kiri kita. Otak kiri ini adalah jenis otak yang suka menganalisis dan banyak pertimbangan yang
diperuntukkan bagi aspek-aspek pertimbangan yang diperuntukkan bagi aspek-aspek pembelajaran
yang lazim disebut “akademik. Daya ingat otak kiri sangat pendek (short term memory). Di salam
konteks pembicaraan mengenai otak kiri dan kanan, sebuah sumber memberikan penjelasan yang
kurang lebih mendefinisikan bahwa otak kiri adalah otak untuk berpikir, menganalisis, menghitung,
menulis, membaca, menghafal, yang kesemua bagian tersebut bersifat akademik. Oleh karena itu
dapat disebutkan otak kiri bertanggung jawab terhadap IQ seseorang, sedangkan otak kanan
bertanggung jawab terhadap daya kreativitas yang dihasilkan dari emosi, kreasi, imajinasi, pemikiran,
daya ingat, kepribadian, pengamatan dan lain sebagainya. Dengan kata lain, otak kanan bertanggung
jawab terhadap EQ seseorang. Perbedaan IQ dan EQ terletak pada penggunaannya, akan tetapi kalau
keduanya digabungkan maka akan menghasilkan kekuatan besar yang mendorong pencapaian
keberhasilan dalam hidup manusia.
Otak kanan dan otak kiri mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Pada saat otak kanan sedang
bekerja, otak kiri cenderung lebih tenang. Dan sebaliknya, pada saat otak kiri aktif bekerja, maka otak
kanan cenderung diam. Walaupun setiap belahan otak tidak saling bersama-sama dalam aktif bekerja,
akan tetapi keduanya terlibat sama dalam proses pemikiran. Otak manusia terlalu rumit dan kompleks
untuk dikategorikan secara ketat seperti itu, tetapi pada kenyataannya kedua belahan iru secara terus
menerus tetap saling berkomunikasi.
Sebagai contoh sederhana, seumpama kita melihat raut wajah orang yang sedang murung, maka
kita tidak akan melihat menggunakan otak kanan mengapa ia murung. Ketika kita mendengar sebuah
percakapan, maka otak kiri sedang berkonsentrasi pada apa yang dikatakannya (isi), sementara otak
kanan memperhatikan bagaimana ia diucapkan (emosi). Ketika kita sedang membaca puisi, maka otak
kiri akan menyelami bait-baitnya, sedangkan otak kanan memproses maksud dibalik bait tersebut
yang estetik. Selain itu, sistem emosional/limbik otak kita juga terlibat dlam proses ini. Dengan kata
lain, seluruh otak dilibatkan secara aktif. Bukan kebetulan bahwa ketika kata demi kata dibaca dalam
alunan sebuah puisi, maka kedua otak akan lebih mudah dan cepat dalam mempelajarinya, sehingga
kita akan cepat memahami isi dari maksud puisi itu.
METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam bahasa inggris Classroom Action Research terdiri
dari tiga kata, yaitu penelitian, tindakan dan kelas. Penelitian sendiri merupakan kegiatan untuk
mencermati suatu obyek dengan menggunakan metodelogi tertentu dan bertujuan untuk memperoleh
32
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
data yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal. Tindakan adalah suatu tindakan yang
sengaja dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara itu, penelitian tindakan didefinisakn
sebagai studi seitematis dari upaya meningkatkan praktek pendidikan oleh kelompok partisipan
dengan cara tindakan praktis mereka sendiri dan dengan cara refleksi mereka sendiri terhadap
pengaruh tindakan tersebut (Hopkin dalam Emzir, 2008:234). Dalam konteks pendidikan, berarti PTK
merupakan tindakan perbaikan guru dalam mengorganisasi pembelajaran secara sistematik untuk
memperoleh hasilyang lebih baik.
PTK menggunakan desain-desain penelitian tindakan seperti yang diungkapkan Mills dalam
Creswell (2011:577), yaitu action research designs aresystematic prosedures done byteachers (or
individuals in an educational setting) to gather information about, and subsequently improve, the
ways their particular educational setting operates, their teaching, and their student learning. Dari
kutipan ini, dapat dipahami bahwa PTK bertujuan untuk memperbaiki progam pembelajaran di kelas.
Latar Belakang Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di PAUD Anak Merdeka di Desa Bogosari, Kecamatan Guntur,
Kabupaten Demak dengan melibatkan seluruh siswa didik yang berjumlah 20 anak. Adapun pelaksaan
program dilaksanakan mulai dari bulan maret 2013 sampai agustus tahun 2013 ini.
Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan pada penelitian ini terfokus pada rumusan masalah dan tujuan penelitian.
dengan demikian, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pembelajaran dalam memahami
fungsi dan kerja senam otak. Tahapan-tahapan dari penelitian ini adalah :
1. Perencanaan Tindakan
2. Pelaksanaan Kegiatan
3. Observasi dan Evaluasi
4. Refleksi
Tehnik Pengumpulan Data
Pada bagian ini, penelitian tindakan kelas menggunalan metode observasi atau tes yang
dilaksanakan di sekolah TK Budi Utomo. Penilaian dilakukan beberapa kali yaitu penilaian awal,
penilaian proses, dan juga penilaian akhir. Instrumen pengamatan dilakukan dengan menggunakan
catatan proses, juga rekaman audio visual.
1) Lembar observasi.
2) Lembar Dokumen
3) Lembar Dokumentasi Foto
4) Penugasan atau pemberian tugas
33
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
HASIL PENELITIAN
Deskripsi Siklus I
1. Deskripsi Kondisi Awal/Pra Siklus
Untuk mengawali kegiatan penelitian yang dilakukan peneliti pertama-tama adalah dengan
melihat data awal pra siklus hasil kegiatan yang telah dilakukan dan dijalankan sebelumnya yang
dilakukan oleh pendidik kepada anak kelompok A TK Budi Utomo Bogosari, Kecamatan Guntur,
Kabupaten Demak tahun pelajaran 2013/2014. Berikut ini hasil penelitian yang dilakukan di
kelompok A TK Budi Utomo Bogosari:
Pada kondisi awal, anak mengalami kekurang mampuan dalam melakukan gerakan senam
otak, yang terlihat asing. Di awal permulaan siklus, tingkat konsentrasi dan daya kreatifitas anak
dalam mengembangkan imajinasinya masih sangat minim. Keinginan anak dalam bersosialisasi
dengan teman dan guru juga masih sedikit sekali.
Kondisi awal diambil dari data hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru pengampu. Hasil
pengamatan ini dibutuhkan untuk mengetahui tingkat kreatifitas anak sebelum dilakukan penelitian
tindakan kelas. Hasil tersebut juga digunakan sebagai acuan refleksi awal untuk menentukan
perencanaan tindakan kelas.
Refleksi sebelum dilaksanakan penelitian tindakan kelas dapat dilihat dari hasil pengamatan
dikelas yang menunjukkan bahwa konsentrasi anak TK Budi Utomo masih sangat rendah, hal ini
juga ditambah dengan ketidak mampuan anak dalam bersosialisasi, baik dengan sesama teman,
maupun dengan guru. Anak-anak cenderung merasa aman jika di dampingi dengan orangtuanya
masing-masing. Dalam kata lain, kemandirian anak belumlah terbentuk.
Pada anak didik di TK Budi Utomo, permasalahan kepekaan emosi menjadi hal mutlak yang
terjadi sebelum pelaksaanaan penelitian dilakukan. Anak cenderung cengeng, belum mandiri,
belum bisa bergaul atau bermain bersama dengan temannya, adalah masalah yang terjadi di awal
pelaksanaan. Kekuatan konsentrasi anak terhadap daya tahan anak kepada kegiatan belajar juga
minim terjadi. Terlebih, guru masih kurang memiliki andil dalam mengatasi anak-anak yang
membutuhkan perhatian konsentrasi ini.
Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan memberikan permainanpermainan baru yang dipadukan dengan musik ceria tanpa harus anak didik menyadari bahwa
mereka sedang melakukan senam otak. Hal ini dilakukan agar anak merasa nyaman melakukan
senam otak, tanpa paksaan dan tekananan dalam bentuk apapun.
a. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Pada Pertemuan Pertama Siklus I
Pelaksanaan pertama tindakan kelas pada pertemuan pertama pada siklus I adalah,
peneliti melakukan awalan dengan memberikan setiap anak air mineral sebanyak satu gelas
kecil, dengan maksud menambahkan asupan oksigen ke dalam otak anak. Air dapat
mengaktifkan otak untuk hubungan elektro kimiawi yang efisien antara otak dan sistem saraf,
menyimpan dan menggunakan kembali informasi secara efisien.
34
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
Kedua, Menggerakkan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan kaki kiri dengan
tangan kanan. Bergerak ke depan, ke samping, ke belakang, atau jalan di tempat. Untuk
menyeberang garis tengah sebaiknya tangan menyentuh lutut yang berlawanan. Sebagai fungsi
meningkatkan koordinasi kanan dan kiri, serta memperbaiki sistem pernafasan, pendengaran,
dan pengelihatan.
Ketiga, Gerakan dengan membuat angka delapan tidur di udara, tangan mengepal dan jari
jempol ke atas, dimulai dengan menggerakkan kepalan ke sebelah kiri atas dan membentuk
angka delapan tidur. Diikuti dengan gerakan mata melihat ke ujung jari jempol. Sebagai fungsi
Meningkatkan pemusatan, keseimbangan dan koordinasi.
Keempat, masih menggambar di udara dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke
dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah. Coretan ganda dalam bentuk nyata seperti: lingkaran,
segitiga, bintang, hati. Gerakan dilakukan dengan kedua tangan. Fungsinya adalah
meningkatkan kesadaran akan tubuh, koordinasi, serta keterampilan khusus tangan dan mata.
Selajutnya, kelima adalah dengan meluruskan satu tangan ke atas, tangan yang lain ke
samping kuping memegang tangan yang ke atas. Buang napas pelan, sementara otot-otot
diaktifkan dengan mendorong tangan keempat jurusan (depan, belakang, dalam dan luar),
sementara tangan yang satu menahan dorongan tsb. Tujuan dilaksanakannya kegiatan itu adalah
meningkatkan fokus dan konsentrasi tanpa fokus berlebihan, serta membuat pernafasan lebih
lancar dan sikap lebih santai.
Keenam, atau terakhir adalah memulai dengan kaki terbuka. Mengarahkan kaki kanan ke
kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan. menekuk lutut kanan sambil buang napas, lalu ambil
napas waktu lutut kanan diluruskan kembali. Pinggul ditarik ke atas. Gerakan ini untuk
menguatkan otot pinggul (bisa dirasakan di kaki yang lurus) dan membantu kestabilan
punggung. Ulangi 3x, kemudian ganti dengan kaki kiri. (www.mycandle.files.wordpress.com,
6-9-2012)
Rencana pembelajaran yang dilakukan oleh penulis pada siklus I mulai tanggal 29 juli
2013 sampai dengan 30 juli 2013. Untuk kegiatan proses belajar mengajar, penulis meminta
bantuan teman sejawat sebagai pengamat dalam pelaksanaan kegiatan.
b. Observasi
Penilaian hasil observasi adalah hasil pencapaian dari proses peningkatan konsentrasi
serta daya imajinasi, pengelolaan emosi, dan pengembangan emosi, sosialisasi anak pada siklus
1. Penilaian observasi anak diambil dari kehadiran anak, ketuntasan belajar dan partisipasi
anak.
35
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
Tabel 1. Penilaian Aktifitas Anak Pada Siklus 1
Aspek penilaian
Hasil Pengamatan
Aktifitas anak
Nilai rata- (%)
rata
SA
A
CA
KA
8
9
2
1
3,2
85%
Dari hasil tabel diatas bisa dilihat bahwa aktifitas anak pada TK Budi Utomo sebanyak 8
anak sangat aktif, 9 anak aktif, 2 anak cukup aktif, 1 anak kurang aktif, sehingga nilai rataratanya 3,2 dan persentasenya sebesar 85 % dari hasil ketuntasan . Lebih jelasnya bisa dilihat
pada grafik dibawah ini.
Penilaian aktifitas anak siklus 1
10
8
6
4
2
0
Series 1
Kurang
aktif
Cukup
aktif
Aktif
Sangat
aktif
Gambar 1. Grafik aktifitas anak siklus I
c. Refleksi kegiatan anak
Siklus 1 merupakan awal dari penerapan peningkatan kreatifitas anak melalui media
bermain balok. Keadaan dalam siklus ini belum sesuai harapan pembelajaran yang
direncanakan. Dari hasil tersebut maka didapat permasalahan dalam kegiatan bermain balok
sehingga persentase ketuntasan belajar belum tercapai.
Tabel 2. Rekapitulasi ketuntasan anak pada siklus 1
No.
Uraian
Indikator keberhasilan
Hasil siklus 1
1.
Nilai rata-rata anak
3
2,62
2.
Persentase ketuntasan belajar
80%
57%
Tabel diatas terlihat rendahnya persentase ketuntasan belajar dari nilai rata-rata pada
aspek nilai kemampuan menggerakan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan kaki kiri
dengan tangan kanan 2,65 dan persentase ketuntasan belajar 60%, nilai aspek mampu membuat
angka delapan tidur di udara mencapai nilai rata-rata 2,7, aspek mampu menggambar di udara
dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah 2,55, aspek
mampu meluruskan satu tangan ke atas, tangan yang lain ke samping kuping memegang tangan
yang ke atas 2,55 dan aspek mampu membuat kaki terbuka, mengarahkan kaki kanan ke kanan,
dan kaki kiri tetap lurus ke depan 2,65. Sehingga nilai rata-rata secara klasikal 2, 62 < 3 dari
nilai ketuntasan yang telah ditetapkan.
36
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
Sedangkan persentase ketuntasan belajar pada aspek penilaian kemampuan menggerakan
tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan kaki kiri dengan tangan kanan 60%, kemampuan
membuat angka delapan tidur di udara 55%, menggambar di udara dengan kedua tangan pada
saat yang sama, ke dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah 55%, kemampuan meluruskan satu
tangan ke atas, tangan yang lain ke samping kuping memegang tangan yang ke atas 55%,
membuat kaki terbuka, mengarahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan
60%. Sehingga persentase belajar anak secara klasikal adalah 57% < 80% dari persentase hasil
belajar yang ingin dicapai.
Dari aspek yang diamati anak-anak masih bingung dalam meluruskan satu tangan ke
atas, tangan yang lain ke samping kuping memegang tangan yang ke atas, membuat kaki
terbuka, mengarahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan, menjadi aspek
yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan, begitu juga dengan media musik sebagai satu-satunya
alat bantu kegiatan, dibuat harus dibuat semeriah mungkin, sehingga anak dapat lebih semangat
dalam melakukan senam.
d. Refleksi kegiatan guru
Peran guru dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Berdasarkan pada lampiran 6
perihal hasil observasi tindakan guru pada siklus 1 nilai rata-ratanya adalah: 2,77 < 3 (kategori
baik). Hasil penilaian yang dilakukan guru kelas kelompok B TK Budi Utomo, yang dalam
penelitian ini sebagai observer, menunjukkan bahwa masih kurang optimal tindakan
pembelajaran guru (peneliti) pada siklus 1, ada beberapa hal yang kurang maksimal sehingga
sangatlah penting untuk ditingkatkan agar pembelajaran lebih baik pada kegiatan di siklus II.
Dalam penelitian ini juga melakukan wawancara untuk mengetahui respon anak.
Wawancara ini hanya digunakan untuk memperkuat penelitian. Wawancara dilakukan secara
acak dengan perwakilan 3 anak dari 20 siswa dari wawancara dapat diketahui anak senang
senam otak, hanya saja lagu yang terdengar kurang ceria.
Dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I yang melakukan gerakan senam belum
berjalan dengan baik dan lancar, dimana masih terdapat anak-anak kurang aktif melaksanakan
kegiatan ini. Anak juga masih belum banyak yang berkomunikasi satu sama cenderung masih
bingung selama proses pembelajaran. Akan tetapi Anak sudah melakukan gerakan-gerakan
ringan dan senantiasa bergembira karena dimotivasi gurunya.
Deskripsi Kondisi Siklus II
Pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran siklus II, peneliti melakukan beberapa perbaikan baik
dari sisi anak-anak, guru maupun alat atau media musik dengan memberikan musik yang lebih ceria,
dengan harapan pada kegiatan pembelajaran pada siklus II tersebut semakin meningkat dalam
perkembangan imajinasi anak.
37
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
Seperti pada kegiatan pembelajaran pada siklus I, pada siklus II ini peneliti juga melakukan
perencanaan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan penelitian dalam kegiatan pembelajaran. Adapun
proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran siklus II ini antara lain :
a. Pelaksanaan dan Hasil Pada Siklus II
Rencana pembelajaran yang dilakukan oleh penulis pada siklus II mulai tanggal 19 agustus
sampai dengan 22 agustus 2013 dengan tema lingkunganku sub tema sekolah.
Pelaksanaan pertama tindakan kelas pada pertemuan pertama pada siklus I adalah, peneliti
melakukan awalan dengan memberikan setiap anak air mineral sebanyak satu gelas kecil, dengan
maksud menambahkan asupan oksigen ke dalam otak anak. Air dapat mengaktifkan otak untuk
hubungan elektro kimiawi yang efisien antara otak dan sistem saraf, menyimpan dan menggunakan
kembali informasi secara efisien.
Kedua, Menggerakkan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan kaki kiri dengan
tangan kanan. Bergerak ke depan, ke samping, ke belakang, atau jalan di tempat. Untuk
menyeberang garis tengah sebaiknya tangan menyentuh lutut yang berlawanan. Sebagai fungsi
meningkatkan koordinasi kanan dan kiri, serta memperbaiki sistem pernafasan, pendengaran, dan
pengelihatan.
Ketiga, Gerakan dengan membuat angka delapan tidur di udara, tangan mengepal dan jari
jempol ke atas, dimulai dengan menggerakkan kepalan ke sebelah kiri atas dan membentuk angka
delapan tidur. Diikuti dengan gerakan mata melihat ke ujung jari jempol. Sebagai fungsi
Meningkatkan pemusatan, keseimbangan dan koordinasi.
Keempat, masih menggambar di udara dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke dalam,
ke luar, ke atas dan ke bawah. Coretan ganda dalam bentuk nyata seperti : lingkaran, segitiga,
bintang, hati. Gerakan dilakukan dengan kedua tangan. Fungsinya adalah meningkatkan kesadaran
akan tubuh, koordinasi, serta keterampilan khusus tangan dan mata.
Selajutnya, kelima adalah dengan meluruskan satu tangan ke atas, tangan yang lain ke
samping kuping memegang tangan yang ke atas. Buang napas pelan, sementara otot-otot
diaktifkan dengan mendorong tangan keempat jurusan (depan, belakang, dalam dan luar),
sementara tangan yang satu menahan dorongan tsb. Tujuan dilaksanakannya kegiatan itu adalah
meningkatkan fokus dan konsentrasi tanpa fokus berlebihan, serta membuat pernafasan lebih
lancar dan sikap lebih santai.
Keenam, atau terakhir adalah Mulai dengan kaki terbuka. Arahkan kaki kanan ke kanan, dan
kaki kiri tetap lurus ke depan. Tekuk lutut kanan sambil buang napas, lalu ambil napas waktu lutut
kanan diluruskan kembali. Pinggul ditarik ke atas. Gerakan ini untuk menguatkan otot pinggul
(bisa dirasakan di kaki yang lurus) dan membantu kestabilan punggung. Ulangi 3x, kemudian ganti
dengan kaki kiri. (www.mycandle.files.wordpress.com, 6-9-2012)
Pada pertemuan ini pendidik lebih memberikan kebebasan anak dalam berkreasi dan
berimajinasi, agar anak dapat lebih rileks dalam menerima gerakan-gerakan baru. Selama proses
38
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
pembelajaran ini, pendidik mengamati kinerja anak dan memberi pengarahan serta motifasi pada
anak atau kelompok yang mengalami kejenuhan dan kebosanan saat senam otak berlangsung.
Pada siklus II observasi dalam penelitian dilakukan dengan berpedoman pada beberapa
aspek atau indikator yang meliputi : Menggerakan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan
kaki kiri dengan tangan kanan, membuat angka delapan tidur di udara, menggambar di udara
dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah, meluruskan
satu tangan ke atas, tangan yang lain ke samping kuping memegang tangan yang ke atas, membuat
kaki terbuka, mengarahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan
b. Observasi
Penilaian hasil observasi adalah hasil pencapaian dari proses peningkatan konsentrasi siswa
serta daya imajinasi serta pengelolaan emosi yang dilakukan pada siklus II. Penilaian observasi
anak diambil dari kehadiran anak, ketuntasan belajar dan partisipasi anak.
Tabel 3. Penilaian aktifitas anak pada siklus II
Aspek penilaian
Hasil Pengamatan
Nilai ratarata
(%)
SA
A
CA
KA
Aktifitas anak
11
8
1
3,2
95%
Dari hasil tabel diatas bisa dilihat bahwa aktifitas anak kelompok A TK Budi Utomo
sebanyak 11 anak sangat aktif, 8 anak aktif, 1 anak cukup aktif, sehingga nilai rata-ratanya 3,9 dan
persentasenya sebesar 95 % dari hasil ketuntasan. Lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik dibawah
ini.
Penilaian aktifitas anak siklus II
12
10
8
6
4
2
0
Kurang aktif
Cukup aktif
Aktif
Sangat aktif
Gambar 2. Grafik Aktifitas Anak Siklus II
c. Hasil Pengamatan dan Evaluasi Tindakan Siklus II
Adapun hasil pengamatan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada pembelajaran
siklus II melalui observasi yang diamati oleh teman sejawat, mendapatkan hasil dimana semakin
maju dari pembelajaran yang dilakukan dari pada saat siklus I.
Pada siklus II observasi dalam penelitian dilakukan dengan berpedoman pada beberapa
aspek atau indikator yang meliputi: Menggerakan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan
kaki kiri dengan tangan kanan, membuat angka delapan tidur di udara, menggambar di udara
dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah, meluruskan
39
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
satu tangan ke atas, tangan yang lain ke samping kuping memegang tangan yang ke atas, membuat
kaki terbuka, mengarahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan.
Hasil peningkatan kemampuan anak pada siklus II mendapati tingkat ketuntasan atau
pencapaian indikator anak pada kemampuan Menggerakan tangan kanan bersamaan dengan kaki
kiri dan kaki kiri dengan tangan kanan mencapai 17 anak : 85%. Membuat angka delapan tidur di
udara 16 anak : 80%. Menggambar di udara dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke dalam,
ke luar, ke atas dan ke bawah 15 anak : 75%. Meluruskan satu tangan ke atas, tangan yang lain ke
samping kuping memegang tangan yang ke atas 17 anak : 85%. Membuat kaki terbuka,
mengarahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan mencapai 17 anak : 85%.
Hasil perkembangan kreatifitas anak dalam senam otak yang dilaksanakan pada kegiatan
siklus II dapat dilihat pada gambar berikut di bawah ini.
14
12
10
8
6
4
BSB
2
BSH
0
Anak mampu
Anak mampu
membuat kaki membuat angka
terbuka. Arahkan delapan tidur di
kaki kanan ke
udara
kanan, dan kaki
kiri tetap lurus ke
depan
Anak mampu
menggambar di
udara dengan
kedua tangan
pada saat yang
sama, ke dalam,
ke luar, ke atas
dan ke bawah
Anak mampu
Anak mampu
meluruskan satu Membuat kaki
tangan ke atas, terbuka. Arahkan
tangan yang lain kaki kanan ke
ke samping
kanan, dan kaki
kuping
kiri tetap lurus ke
memegang
depan
tangan yang ke
atas
MB
BB
Gambar 3. Grafik Peningkatan Kreatifitas Senam Otak
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa masing-masing aspek penilaian anak lebih banyak
masuk dalam kategori BSH dan BSB nilai rata-rata ≤ 3. Hasil belajar pada siklus ini sudah
mencapai ketuntasan secara individu dan secara klasikal.
Dalam penelitian ini juga melakukan wawancara untuk mengetahui respon anak.
Wawancara ini hanya digunakan untuk memperkuat penelitian. Wawancara dilakukan secara acak
dengan perwakilan 3 anak dari 20 siswa dari wawancara dapat diketahui anak senang saat
melakukan senam otak dan dapat berkreasi dengan baik saat melakukan senam.
40
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
d. Refleksi Kegiatan Anak
Siklus II merupakan metode penerapan senam otak dalam mengoptimalkan otak kanan dari
siklus 1. Secara klasikal, persentase ketuntasan belajar sudah terpenuhi, sseperti tabel dibawah ini:
Tabel 11
Rekapitulasi ketuntasan anak pada siklus II
No.
1.
2.
Uraian
Nilai rata-rata anak
Persentase ketuntasan
belajar
Indikator
keberhasilan
3
80%
Hasil
siklus II
3,2
82%
Tabel diatas terlihat rendahnya persentase ketuntasan belajar dari nilai rata-rata pada aspek
nilai kemampuan menggerakan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan kaki kiri dengan
tangan kanan, mencapai nilai rata-rata 3,35. Nilai aspek mampu membuat angka delapan tidur di
udara mencapai nilai rata-rata 3,2. Aspek mampu menggambar di udara dengan kedua tangan
pada saat yang sama, ke dalam ke luar ke atas dan ke bawah 3. aspek mampu meluruskan satu
tangan ke atas tangan yang lain ke samping kuping memegang tangan yang ke atas 3,1. Aspek
mampu membuat kaki terbuka arahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap lurus ke depan
3,35 sehingga nilai rata-rata secara klasikal 3,2 > 3 dari nilai ketuntasan yang telah ditetapkan.
Sedangkan persentase ketuntasan belajar pada aspek penilaian kemampuan mengelom
menggerakan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri dan kaki kiri dengan tangan kanan 85%,
kemampuan membuat angka delapan tidur di udara 80%, kemampuan menggambar di udara
dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke dalam ke luar
ke atas dan ke bawah 75%,
kemampuan meluruskan satu tangan ke atas tangan yang lain ke samping kuping memegang
tangan yang ke atas 85%, membuat kaki terbuka arahkan kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri tetap
lurus ke depan 85%. Sehingga, persentase belajar anak secara klasikal adalah 82% > 80% dari
persentase hasil belajar yang ingin dicapai.
e. Refleksi kegiatan guru
Peran guru dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Berdasarkan pada lampiran 6
perihal hasil observasi tindakan guru pada siklus I nilai rata-ratanya adalah : 3,22 > 3 (kategori
baik). Hasil penilaian yang dilakukan guru kelas kelompok A TK Budi Utomo yang dalam
penelitian ini sebagai observer, menunjukkan bahwa tindakan pembelajaran guru (peneliti) pada
siklus II dalam katergori baik. Sehingga perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
41
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Vol. 2 No. 2 Mei 2014
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian tindakan kelas yang peneliti lakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Melalui kegiatan senam otak, konsentrasi anak semakin baik, kepekaan emosi anak semakin stabil,
kemandirian anak meningkat, serta dapat meningkatkan imajinasi dan kemampuan intelektual anak
di TK Budi Utomo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak.
2. Pada pembelajaran Siklus I terjadi peningkatan terhadap daya konsentrasi anak. Pada kondisi
prasiklus dengan rata-rata nilai prosentase ketuntasan mencapai 35%, pada siklus I mengalami
peningkatan dengan rata-rata nilai prosentase ketuntasan mencapai 60%.
3. Pada pembelajaran siklus II juga terjadi peningkatan kreatifitas bermain balok dengan rata-rata
nilai prosentase ketuntasan mencapai 71%.
DAFTAR PUSTAKA
Afifi Jhon (2000). Rahasia Di Balik Kekuatan Otak Tengah. Surabaya, Dee Publishing, Surabaya.
Aqib Zainal, M. Maftuh, Sujak, Kawentar, Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SMP, SMA,
SMK, Yrama Widia.
Einon Dorothy Dr (2005), Permainan Cerdas 1 Untuk Anak Usia 2-6 tahun , Jakarta: Erlangga.
EinonDorothy Dr (2005), Permainan Cerdas 2 Untuk Anak Usia 2-6 tahun, Jakarta: Erlangga.
Ginanjar Ary Agustian (2007), ESQ Emotional, Spiritual, Quotient, Jakarta: Arga Publishing.
Hermawan Didik (2011), Spiritual Hypnoparenting, Solo: Miracle Publishing.
Muhammad As’adi (2011), Dasyatnya Senam Otak, Yogyakarta: Diva Press
Mustaqim Drs, Drs Abdul Wahib (2010), Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rieneka Cipta.
Murphy Joseph Dr (2003), The Power of Your Subconcious Mind Daya Batin Bawah Sadar,
Semarang: Dahara Prize
Santosa IPPHO PhG (2010), 13 Wasiat Terlarang!. Jakarta: PT Gramedia
Sutikno M. Sobri Drs (2013), Belajar dan Pembelajaran, Lombok: Holistica
Suryadi, M.Pd.I (2010). Psikologi Belajar PAUD. Yogyakarta: PEDAGOGIA PT Pustaka Insan
Madani.
Schiller Pam (2005), Start Smart! Memompa Kecerdasan Sejak Dini, Jakarta: Erlangga
Woolsfson Richard Dr. Mengapa Anakku Begitu. PT Gelora Aksara Pratama.
Wibowo Agus M.Pd (2012), Pendidikan Karakter Usia Dini, Yogyakarta, Pustaka Belajar
Yurisaldi Arman dr, S,M.S., SpS (2010), Metode Aktivasi Otak, Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Zainudin Akbar (2011), Man Jadda Wajada 2, Jakarta: PT. Gramedia
Suprihatin Ati (17 Mei 2013), Senam Otak Cara Cerdas yang Sehat, www.kisuta.com, 16 Juli 2013.
Gardner Howard (2011), Kecerdasan, www.org/wiki/Kecerdasan, 16 Juli 2013.
Farmulasih Sari (2011), Fungsi Otak, www.sehat-online.blogspot.com, 18 Juli 2013.
Siti Sima M (2012), Senam Otak, www.zimaym.blogsppot.com/?m=1, 3 Agustus 2013.
42
| Jurnal Ilmiah PG-PAUD IKIP Veteran Semarang
Download
Study collections