MODERNISASI PARTAI POLITIK DI TINGKAT LOKAL

advertisement
MODERNISASI PARTAI POLITIK DI TINGKAT LOKAL
(Studi Kasus Partai Demokrat Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo)
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Politik
Universitas Diponegoro
Disusun oleh:
Iwan Hardi Saputro
(14010114410003)
MAGISTER ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016
i
MODERNISASI PARTAI POLITIK DI TINGKAT LOKAL
(Studi Kasus Partai Demokrat Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo)
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Politik
Universitas Diponegoro
Disusun oleh:
Iwan Hardi Saputro
(14010114410003)
MAGISTER ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Iwan Hardi Saputro
NIM
: 14010114410003
Fakultas
: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan
: Magister Ilmu Politik
Dengan ini saya, Iwan Hardi Saputro menyatakan bahwa tesis yang saya susun
dengan judul “MODERNISASI PARTAI POLITIK DI TINGKAT LOKAL (Kajian
Partai Demokrat Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Dan Kabupaten
Purworejo)” adalah benar-banar hasil karya sendiri dan bukan merupakan plagiat
dari tesis atau karya ilmiah orang lain. Semua informasi yang dimuat dalam tesis ini
yang berasal dari penulis lain baik yang dipublikasikan atau tidak, telah diberikan
penghargaan dengan mengutip nama sumber penulis secara benar. Apabila
dikemudian hari ditemukan bahwa pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia
menerima sanksi akademis yang berlaku di Indonesia (dicabut predikat
kelulusannya).
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dapat dipergunakan
sebagaimana mestinya.
Semarang, 19 Juli 2016
Iwan Hardi Saputro
NIM 14010114410003
iii
PENGESAHAAN TESIS
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa tesis yang berjudul:
MODERNISASI PARTI POLITIK DI TINGKAT LOKAL
(Studi Kasus Partai Demokrat Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo)
Yang disusun oleh Iwan Hardi Saputro, NIM 14010114410003
telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal Juli 2016 dan
dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima.
Ketua Penguji,
Anggota Penguji,
Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin.
Dr. Reni Windiani
Sekretaris Penguji,
Anggota Penguji,
Yuwanto, Ph.D.
Ika Putranti Riswanti, S.H., M.H., Ph.D
Semarang, 19 Juli 2016
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro
Program Studi Magister Ilmu Politik
Ketua Program Studi,
Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin.
NIP 196908221994031003
iv
ABSTRAK
Kajian tentang modernisasi Partai Demokrat menarik untuk diteliti. Hal ini
karena dalam proses menuju modernisasi Partai Demokrat mengalami berbagai
tantangan dan hambatan. Selain korupsi, tantangan sekaligus hambatan yang dialami
Partai Demokrat dalam menuju modernisasi adalah munculnya konflik internal,
salah satunya terjadi di Jawa Tengah. Sebagaimana diberitakan di media, konflik
internal tersebut disebabkan karena adanya pemberhentian beberapa ketua DPC yang
diisukan tidak dilakukan melalui prosedur. Selain itu, beberapa media juga
menyebutkan bahwa ketua DPC yang diberhentikan merupakan loyalis salah satu
kader yang terlibat kasus korupsi.
Berdasarkan uraian singkat di atas, maka penelitian ini mengkaji tentang
modernisasi politik Partai Demokrat di tingkat lokal. Situs penelitian dilakukan di
tiga kabupaten/kota yang meliputi: Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo. Pokok permasalahan yang diangkat peneliti meliputi
bagaimana dinamika konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo, apakah persamaan
dan perbedaan dinamika konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo, bagaimana
modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten
Purworejo, serta Apakah tantangan dan hambatan Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo untuk menuju partai politik
modern.
Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian diskriptif dengan
pendekatan kualitatif yang didukung dengan pendekatan kuantitatif sederhana. Data
kuantitaif hanya digunakan untuk menentukan ranking saja, sehingga penelitian ini
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Teknik pengumpulan data
menggunakan teknik wawancara mendalam, dokumentasi, dan koisioner. Penentuan
sampel untuk penyebaran kuisioner menggunakan teknik random solving dengan
responden sebanyak 100 orang yang terdiri dari Pengurus, kader, dan simpatisan
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo.
Dari analisis hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam konteks
pelaksanaan indikator partai politik modern, keterbukaan dalam pengelolaan
keuangan partai yang terkait dengan pelaporan penggunaan dana partai dan lain-lain
tergolong bagus. Namun demikian, untuk beberapa sub indikator, terutama dalam
mekanisme penyelesaian konflik masih mengalami berbagai kendala dan perlu
mendapatkan perhatian.
Selain itu, untuk mendukung terwujudnya modernisasi pada Partai
Demokrat, peneliti memberikan beberapa saran dan kritik. Pertama, Partai Demokrat
dapat menyelesaikan permasalahan, termasuk konflik internal melalui mekanisme
yang sudah diatur di dalam AD/ART. Kedua, Partai Demokrat seharusnya mulai
mempersiapkan sosok kader yang dapat membawa pada perubahan politik yang
lebih baik, sehingga tidak hanya tergantung pada sosok SBY sebagai mesin untuk
mendulang suara partai. Ketiga, Partai Demokrat perlu melakukan upaya yang
simultan dan komprehensif untuk melaksanakan modernisasi. Keempat, Partai
Demokrat untuk menuju modernisasi harus menjadi partai kader bukan partai
simpatisan.
Kata Kunci: Modernisasi, Partai Politik, Lokal
v
ABSTRACT
The study of the modernization of the Democratic Party interesting to
study. This is because in the process of modernization of the Democratic Party
suffered a variety of challenges and obstacles. In addition to corruption, challenges
and constraints experienced in the Democratic Party to modernization is the
emergence of internal conflicts, one of which occurred in Central Java. As reported
in the media, internal conflict is caused by the dismissal of several rumored DPC
chairman is not conducted through the procedures. In addition, some media also
mentioned that the chairman of the DPC were dismissed is one of the loyalist cadres
involved in corruption cases.
Based on the brief description above, this study examines the political
modernization of the Democratic Party at the local level. Site research conducted in
three districts/cities which include: the District of Semarang, Salatiga, and
Purworejo. The principal issues raised researchers include how the dynamics of the
internal conflicts in the Democratic Party in the district of Semarang, Salatiga, and
Purworejo, whether the similarities and differences in the dynamics of internal
conflicts in the Democratic Party in the district of Semarang, Salatiga, and
Purworejo, how modernization of the Democratic Party in the district of Semarang,
Salatiga, and Purworejo, as well as What are the challenges and obstacles of the
Democratic Party in the district of Semarang, Salatiga, and Purworejo towards a
modern political party.
This research method uses design descriptive study with qualitative
approach that is supported by simple quantitative approach. Quantitative data is
only used to determine ranking only, so this research can be justified scientifically.
The data collection technique using the technique of in-depth interviews,
documentation, and koisioner. The samples for the questionnaire using the technique
of random solving by respondents as many as 100 people consisting of the Board,
cadres and sympathizers of the Democratic Party in the district of Semarang,
Salatiga, and Purworejo.
From the analysis of the results of the study concluded that in the context
of the indicators a modern political party, transparency in the financial management
reporting party associated with the use of party funds and others is quite good.
However, for some sub indicators, particularly in conflict resolution mechanisms are
still difficulties and needs to be addressed.
In addition, to support the realization of the modernization of the
Democratic Party, researchers gave some suggestions and criticisms. First, the
Democratic Party could solve the problem, including internal conflict through a
mechanism that has been set in the AD/ART. Second, the Democratic Party should
start preparing cadres figure that could lead to better political change, so it does not
just depend on the figure of SBY as an engine to gain the party vote. Third, the
Democrats need strong efforts to implement simultaneous and comprehensive
modernization. Fourth, the Democratic Party towards modernization must become
the party cadres not party sympathizers.
Keywords: Modernization, Political Parties, Local
vi
KATA PENGANTAR
Segala puji dan ucapan syukur penulis persembahkan ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat pertolongan-Nya penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan tesis yang berjudul “Modernisasi Partai Politik di Tingkat Lokal
(Studi Kasus Partai Demokrat Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten
Purworejo)” dengan baik. Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan
meraih gelar Magister Ilmu Politik pada Program Studi Magister Ilmu Politik
Pascasarjana Universitas Diponegoro.
Dalam menyelesaikan tesis, peneliti mendapatkan bimbingan, arahan,
dukungan, fasilitas, serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum, selaku Rektor Universitas
Diponegoro Semarang, yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk
melakukan studi,
2. Bapak Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin, selaku Ketua Program Studi
Magister Ilmu Politik sekaligus dosen pembimbing yang dengan kesabaran,
ketulusan, dan kebaikan hati membimbing peneliti, sehingga penelitian tesis ini
dapat diselesaikan dengan baik,
3. Bapak Yuwanto, Ph.D, Ibu Dr. Reni Windiani, dan Ibu Ika Putranti Riswanti,
S.H., M.H., P.hd, selaku Anggota Dewan Penguji yang dengan keihlasannya
memberikan masukan demi sempurnanya tesis ini,
4. Bapak dan Ibu Pengajar Program Studi Magister Ilmu Politik Pascasarjana
Universitas Diponegoro yang telah memberikan bekal kepada penulis sehingga
penulis memahami hal-hal tentang ilmu politik,
vii
5. Rekan-rekan satu angkatan Prodi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Siti Tunziah, Faeshal, Anwar Saragih,
Ibnu, Dimas), yang telah bersedia membagi waktu dan pikiran dalam membantu
penulis menyelesaiakan tesis,
6. Seluruh civitas akademika Program Studi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro,
7. Para informan dan responden yang sudah bersedia untuk memberikan informasi
yang dibutuhkan penulis dalam melakukan penelitian tesis ini,
8. Semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan tesis ini.
Mengutip pepatah bijak “tiada gading yang tak retak”, penelitian ini pun
juga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak sangat peneliti harapkan. Dan semoga Allah SWT
melimpahkan anugrah kepada semua pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi
dalam kegiatan penelitian ini. Harapan dari penulis semoga hasil penelitian tesis ini
memberikan manfaat dan kontribusi bagi kemajuan akademik, khususnya pada
perkembangan ilmu politik.
Semarang, 19 Juli 2016
Iwan Hardi Saputro
NIM 14010114410003
viii
MOTO DAN PERSEMBAHAN
Get over idea that only children should spend their time in study. Be a
student so long as you still have something to learn, and this will mean
all your life (Henry L. Doherty)
Dalam belajar keberhasilan adalah proses, pesimis hanya alasan yang
dibuat-buat (Iwan Hardi Saputro)
TESIS INI PENULIS PERSEMBAHKAN UNTUK
1. Bapak dan Ibuku, yang selalu mendoakan penulis
2. Istri tercinta (Heni Ernawati) dan dua anakku
(Naura Athifa Ernandis dan Chaera Azalea
Ernandis) dengan tulus memberikan motivasi kepada
penulis
3. Adik-adikku tersayang (Karunianingsih dan Ine Puji
Utami)
4. Rekan-rekan seperjuangan dan almamater tercinta.
.
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................. Error! Bookmark not defined.
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ..................................................................... iii
PENGESAHAAN TESIS ........................................................................................ iv
ABSTRAK ................................................................................................................ v
ABSTRACT ............................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ............................................................................................vii
MOTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................................ ix
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 13
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 13
1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................................... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 15
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan ........................................................ 15
2.2 Kerangka/Kajian Teori ........................................................................... 20
2.2.1 Teori Modernisasi Politik ............................................................. 20
2.2.2 Teori Partai Politik........................................................................ 25
2.2.3 Indikator Partai Politik Modern .................................................... 31
2.2.3.1 Keterbukaan Partai Politik ....................................................... 32
2.2.3.2 Ideologi Partai Politik .............................................................. 33
2.2.3.3 Regenerasi Partai Politik Yang Teratur ................................... 37
2.2.3.4 Kaderisasi Partai Politik .......................................................... 39
2.3 Konseptualisasi ....................................................................................... 41
BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................... 44
3.1 Desain Penelitian .................................................................................... 44
3.2 Fokus Penelitian ..................................................................................... 45
3.3 Situs Penelitian ....................................................................................... 46
3.4 Subjek Penelitian .................................................................................... 46
3.5 Jenis Data dan Sumber Data ................................................................... 47
3.6 Penentuan Informan atau Responden Penelitian .................................... 48
3.7 Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 51
3.7.1 Metode Interview (Wawancara) ................................................... 51
x
3.7.2 Kuesioner ...................................................................................... 52
3.7.3 Metode Dokumentasi .................................................................... 52
3.8 Analisis dan Interpretasi Data ................................................................ 53
3.8.1 Analisis Data Kualitatif ................................................................ 53
3.8.2 Analisis Data Kuantitatif .............................................................. 56
3.9 Kualitas Data .......................................................................................... 62
3.10
Pembatasan dan Keterbatasan Penelitian ......................................... 63
BAB IV SETTING OBJEK PENELITAN ......................................................... 64
4.1 Kekuatan Politik Partai Demokrat di Tiga Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo ....................................................... 64
4.2 Profil Singkat Partai Demokrat Kabupaten Semarang ........................... 68
4.3 Profil Singkat Partai Demokrat Kota Salatiga ........................................ 71
4.4 Profil Singkat Partai Demokrat Kabupaten Purworejo .......................... 72
4.5 Sejarah Partai Demokrat ......................................................................... 73
BAB V MODERNISASI PARTAI DEMOKRAT KABUPATEN
SEMARANG, KOTA SALATIGA, DAN KABPUATEN
PURWOREJO ......................................................................................... 77
5.1 Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga,
dan Kabupaten Purworejo ...................................................................... 77
5.1.1 Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang ................ 79
5.1.2 Modernisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga .......................... 124
5.1.3 Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo ............. 153
5.2 Tantangan dan Hambatan Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo ........................... 178
BAB VI PENUTUP ............................................................................................. 186
6.1 Simpulan ............................................................................................... 186
6.2 Saran ..................................................................................................... 188
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 190
LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................. 195
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 3.1
Gambar 3.2
Gambar 4.1
Gambar 4.2
Gambar 4.3
Komponen-Komponen Ideologi ……………………………
Rescoping Penelitian………………………………………. .
Peta Administrasi Provinsi Jawa Tengah …………………..
Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif ………………….
Kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang ………
Kantor DPC Partai Demokrat Kota Salatiga ……………….
Kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo ………
xii
33
43
46
56
71
72
73
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
Tabel 3.4
Tabel 3.5
Tabel 3.6
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4
Tabel 4.5
Tabel 4.6
Tabel 5.1
Tabel 5.2
Tabel 5.3
Tabel 5.4
Tabel 5.5
Tabel 5.6
Tabel 5.7
Tabel 5.8
Tabel 5.9
Tabel 5.10
Tabel 5.11
Tabel 5.12
Tabel 5.13
Penelitian Terdahulu Yang Relevan ………………………..
Daftar Informan Penelitian …………………………………
Indikator 1: Apakah Partai Demokrat termasuk partai
yang terbuka? ……………………………………………....
Indikator 2: Apakah Partai Demokrat memiliki ideologi
yang jelas?......... ……………………………………………
Indikator 3 : Apakah Partai Demokrat memiliki sistem
regenerasi yang teratur?……………………………………
Indikator 4 : Apakah Partai Demokrat mempunyai
sistem kaderisasi yang baik? ………………………………..
Interpretasi Presentasi Tanggapan
Responden………………… ………………………………..
Rincian Perolehan Jumlah Suara dan Jumlah Kursi
Pemilihan Legislatif Tahun 2014 Kabupaten Semarang……
Perolehan suara Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 ………………………...
Rincian Perolehan Jumlah Suara dan Jumlah Kursi
Pemilihan Legislatif Tahun 2014 Kota Salatiga ……………
Perolehan suara Partai Demokrat Kota Salatiga Pada
Pemilu Legislatif Tahun 2014 ………………………………
Rincian Perolehan Jumlah Suara dan Jumlah Kursi
Pemilihan Legislatif Tahun 2014 Kota Salatiga ……………
Perolehan suara Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Pada Pemilu Legislatif Tahun 2014…………………………
Indikator dan Sub Indikator Partai Politik Modern ………...
Skoring Keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Keterbukaan Partai Demokrat
Kabupaten Semarang……………………………………….
Skoring Ideologi Partai Demokrat Kabupaten Semarang …..
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat
Kabupaten Semarang……………………………………….
Skoring Regenerasi Partai Demokrat Kabupaten Semarang..
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Regenerasi Partai Demokrat
Kabupaten Semarang……………………………………….
Skoring Kaderisasi Partai Demokrat Kabupaten Semarang ..
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Kaderisasi Partai Demokrat
Kabupaten Semarang……………………………………….
Skoring Keterbukaan Partai Demokrat Kota Salatiga………
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Keterbukaan Partai Demokrat
Kota Salatiga………………………………………………..
Skoring Ideologi Partai Demokrat Kota Salatiga …………..
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
xiii
15
49
59
60
60
61
62
65
65
66
66
67
67
79
93
94
112
113
118
119
123
124
135
135
144
Tabel 5.14
Tabel 5.15
Tabel 5.16
Tabel 5.17
Tabel 5.18
Tabel 5.19
Tabel 5.20
Tabel 5.21
Tabel 5.22
Tabel 5.23
Tabel 5.24
Tabel 5.25
Tabel 5.26
Tabel 5.27
Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat
Kota Salatiga………………………………………………..
Skoring Regenerasi Partai Demokrat Kota Salatiga ……….
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Regenerasi Partai Demokrat
Kota Salatiga……….……………………………………….
Skoring Kaderisasi Partai Demokrat Kota Salatiga ………..
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Kaderisasi Partai Demokrat
Kota Salatiga………..……………………………………….
Skoring Keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten
Purworejo …………………………………………………..
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Keterbukaan Partai Demokrat
Kabupaten Purworejo………………………………………..
Skoring Ideologi Partai Demokrat Kabupaten Purworejo ….
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat
Kabupaten Purworejo………………………………………..
Skoring Regenerasi Partai Demokrat Kabupaten Purworejo .
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Regenerasi Partai Demokrat
Kabupaten Purworejo.……………………………………….
Skoring Kaderisasi Partai Demokrat Kabupaten Purworejo ..
Skoring Yang diharapkan Pada Setiap Sub Indikator
Kaderisasi Partai Demokrat
Kabupaten Purworejo……………………………………….
Tantangan dan Hambatan Modernisasi Partai Demokrat
di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten
Purworejo …………………………………………………..
Temuan Hasil Penelitian ……………………………………
xiv
145
149
150
153
154
159
160
170
171
174
175
178
179
183
186
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1
Tren Perolehan Suara Partai Politik di Indonesia …………..
xv
5
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 5.1
Indikator Keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang …………………………………………………...
Diagram 5.2 Indikator Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang ……………………………………….
Diagram 5.3 Indikator Regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang……………………………………………………
Diagram 5.4 Indikator Kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang …………………………………………………...
Diagram 5.5 Indikator Keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga ….
Diagram 5.6 Indikator Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat di Kota
Salatiga ……………………………………………………..
Diagram 5.7 Indikator Regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga …...
Diagram 5.8 Indikator Kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga ……
Diagram 5.9 Indikator Keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten
Purworejo …………………………………………………..
Diagram 5.10 Indikator Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat
di Kabupaten Purworejo ……………………………………
Diagram 5.11 Indikator Regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten
Purworejo …………………………………………………..
Diagram 5.12 Indikator Kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten
Purworejo …………………………………………………..
xvi
92
111
116
121
132
143
147
151
157
168
172
176
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Partai politik menjadi penghubung utama antara masyarakat dengan negara
dalam perspektif demokrasi modern. Kehadirannya sangat penting karena pada
dasarnya tidak ada sistem politik yang dapat berlangsung tanpa adanya partai politik.
Sebagai suatu organisasi, partai politik secara ideal dimaksudkan untuk
mengaktifkan dan memobilisasi masayarakat, mewakili kepentingan tertentu dengan
jalan memberi kompromi bagi pendapat-pendapat yang bersaing, memunculkan
kepemimpinan politik dan sebagai alat bantu untuk memperoleh kekuasaan dan
untuk memerintah. Hal tersebut menunjukkan bahwa partai politik memiliki
orientasi mewujudkan aspirasi masyarakat sekaligus memperjuangkan kepentingan
umum (Macridis dalam Amal 2012:19-20).
Untuk
mewujudkan
aspirasi
masyarakat
sekaligus
memperjuangkan
kepentingan umum, partai politik perlu melakukan modernisasi. Tujuan modernisasi
adalah pembangunan partai politik yang luwes dan kuat untuk memenuhi tuntutantuntutan terhadap aspirasi publik yang diajukan. Pembangunan partai politik yang
luwes membutuhkan perubahan-perubahan yang signifikan, khususnya pada organ
partai politik itu sendiri. Perubahan yang dilakukan partai politik tidak jarang
menimbulkan permasalahan, baik permasalahan internal maupun permasalahan
eksternal. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi partai politik tersebut yang
kemudian dapat menyebabkan menurunnya kepercayaan publik terhadap kinerja
partai politik.
1
Pernyataan di atas sejalan dengan hasil survei yang dilakukan Political
Communication Institute (Polcomm Institute). Berdasarkan hasil survei tersebut
diketahui bahwa mayoritas publik tidak mempercayai partai politik. Publik yang
tidak percaya partai politik yaitu sebesar 58,2%. Kemudian yang menyatakan
percaya 26,3%, dan menyatakan tidak tahu sebesar 15,5%. Tingkat kepercayaan
publik ini dipengaruhi oleh krisis yang dialami sejumlah partai politik. Selain itu,
beberapa faktor utama yang menjadi penyebab krisis kepercayaan terhadap partai
politik adalah banyaknya kader parpol yang terjerat kasus korupsi, konflik internal
partai yang muncul di publik, dan yang terakhir adanya pelanggaran etika yang
dilakukan kader parpol (Kompas 2014).
Terkait dengan kondisi tersebut, salah satu hal yang menarik untuk dikaji
adalah tentang bagaimana upaya partai politik yang lahir pada masa reformasi untuk
melakukan modernisasi. Hal ini karena partai politik yang terlahir pada masa
reformasi memiliki semangat baru menuju perubahan yang lebih terbuka dan
modern. Partai politik reformasi berusaha keluar dari budaya patronisme yang
sebelumnya membelenggu partai politik pada masa Orde Baru. Namun, dalam
kenyataannya upaya partai politik menuju perubahan yang lebih terbuka dan modern,
belum bisa terwujud dengan baik dan masih mengalami berbagai permasalahan dan
hambatan. Selain itu, sulitnya partai politik melakukan modernisasi juga disebabkan
karena tidak semua partai politik yang terlahir pada masa reformasi dapat keluar dari
ketergantungan terhadap tokoh tertentu yang berpengaruh.
Salah satu partai politik yang mengalami dinamika seperti tersebut di atas
menurut pandangan peneliti adalah Partai Demokrat. Partai Demokrat sebagai partai
politik yang lahir pada masa Reformasi merupakan salah satu partai politik yang
memiliki oreintasi menuju modernisasi politik yang baik. Komitmen menuju ke arah
2
modernisasi politik tersebut sudah teramanatkan di dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat. Dalam AD/ART disebutkan
bahwa Partai Demokrat merupakan partai politik yang modern dan terbuka bagi
segenap warga bangsa. Hal ini berarti Partai Demokrat terbuka untuk semua warga
Negara Republik Indonesia, tanpa membedakan suku bangsa, ras, profesi, jenis
kelamin, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk menuju modernisasi politik, berbagai permasalahan dialami Partai
Demokrat. Permasalahan yang dialami Partai Demokrat akhir-akhir ini adalah
munculnya konflik internal partai dan terlibatnya sejumlah kader dalam kasus
korupsi. Dampak dari permasalahan yang dialami Partai Demokrat tidak hanya
dirasakan di tingkat pusat saja, melainkan juga dirasakan di tingkat lokal/daerah.
Permasalahan baik tingkat pusat maupun tingkat lokal tersebut jelas menghambat
modernisasi Partai Demokrat, sehingga latar belakang penelitian tesis ini
menjelaskan baik secara empiris maupun teoretis tentang pentingnya kajian
modernisasi partai politik, khususnya dilihat dari prespektif dinamika konflik
internal Partai Demokrat di tingkat lokal. Penjelasan baik secara empirik maupun
teoretis tentang kajian ini dijelaskan sebagai berikut.
Fenomena empirik menunjukkan bahwa pada saat ini terdapat masalah yang
dialami Partai Demokrat di tingkat pusat untuk menjadi partai modern di Indonesia.
Permasalahan-permasalahan yang dialami Partai Demokrat di tingkat pusat tersebut,
secara tidak langsung mempengaruhi kondisi Partai Demokrat di tingkat lokal. Di
tingkat pusat kasus fenomenal yang dialami Partai Demokrat dan mendapat sorotan
publik adalah kasus korupsi dalam pembangunan Wisma Atlet yang melibatkan
Anas Urbaningrum (mantan Ketua Umum), Muhammad Nazzaruddin (mantan
3
Bendahara Umum), dan beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang
berasal dari partai berlambang mercy tersebut (Suasta dan Barus 2015:10).
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kasus korupsi yang melibatkan
elit Partai Demokrat menimbulkan hubungan yang kurang baik, bahkan cenderung
memunculkan konflik internal diantara elit partai. Hal ini disebabkan karena dengan
adanya status tersangka Anas Urbaningrum tersebut, memaksa Anas mengundurkan
diri dari jabatannya sebagai ketua umum dan meninggalkan kursi kosong di pucuk
kepemimpinan Partai Demokrat. Situasi kekosongan kepemimpinan ini sangat rawan
ditumpangi berbagai pihak untuk mengejar kepentingan pribadi atau kelompok yang
lebih kecil dengan membentuk faksi-faksi dalam tubuh Partai Demokrat (Suasta dan
Barus 2015:25).
Selain menimbulkan konflik internal, berbagai badai permasalahan yang
dialami Partai Demokrat secara tidak langsung juga berdampak pada kepercayaan
publik terhadap elektabilitas Partai Demokrat. Dampak ini dapat dilihat dari
menurunnya perolehan suara Partai Demokrat pada pemilihan umum (pemilu) tahun
2014. Pada pemilu tahun 2014 jumlah perolehan suara Partai Demokrat menurun
drastis, padahal pada pemilu tahun 2009 Partai Demokrat memperoleh suara
terbanyak dan menjadi pemenang pemilu. Perolehan suara Partai Demokrat pada
pemilu 2014 hanya 12.728.913 (10,19%) suara. Perolehan suara tersebut jauh lebih
sedikit daripada peroleh suara Partai Demokrat pada pelaksanaan pemilu 2009. Pada
pemilu 2009, Partai Demokrat memperoleh suara cukup besar, yaitu 21.703.137
suara (20,85%). Dengan jumlah suara yang cukup besar, pada pemilu 2009 Partai
Demokrat menjadi partai yang memperoleh suara terbanyak di atas partai-partai
politik yang sudah mapan sebelumnya, seperti Partai Golkar dan Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP).
4
Grafik penurunan perolehan suara Partai Demokrat sebagaimana dirilis
Lembaga Survei Indonesia (LSI) dapat digambarkan sebagai berikut.
Grafik 1.1 Tren Perolehan Suara Partai Politik di Indonesia
Sumber: Rilis LSI (2012)
Grafik di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2014 Partai Demokrat secara
nasional mengalami penurunan suara cukup signifikan. Penurunan suara Partai
Demokrat pada tahun 2014 menurut Ways (2015:208) berdampak pada penurunan
elektabilitas partai. Penurunan elektabilitas Partai Demokrat disebabkan oleh
penilaian publik yang menganggap Partai Demokrat belum mampu melakukan
kaderisasi pengurus dan anggotanya secara baik sehingga banyak anggota yang
melanggar visi dan misi partai.
Senada dengan permasalahan di tingkat pusat, Partai Demokrat di tingkat
lokal atau daerah juga mengalami permasalahan yang relatif sama, salah satunya
terjadi di Jawa Tengah. Beberapa masalah yang dialami Partai Demokrat di Jawa
Tengah antara lain adanya pemberhentian lima ketua Dewan Perwakilan Cabang
(DPC) yang dianggap tidak sesuai dengan visi dan misi Partai Demokrat. Kasus
pemberhentian kelima ketua DPC tersebut terjadi menjelang Kongres ke IV Partai
Demokrat tanggal 11 Mei 2015. Ketua DPC yang diberhentikan antara lain Ketua
5
DPC Kabupaten Purbalingga Muhammad Ikhsan Rakmatulloh, Ketua DPC
Kabupaten Batang Mochamad Rochim, Ketua DPC Kabupaten Semarang Wibowo
Agung Sanyoto, Ketua DPC Kota Salatiga Iwan Setyo Purbowo, dan Ketua DPC
Kabupaten Purworejo Mohammad Abdullah (Kompas 2014).
Pemberhentian kelima ketua DPC tertanggal 28 Desember 2013 yang
ditandatangani Ketua Harian Partai Demokrat Syarif Hasan dan Sekretaris Jendral
Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono tersebut menurut Wakil Ketua Dewan
Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jawa Tengah Joko Haryanto dilakukan
secara sepihak dan dianggap menyalahi prosedur yang berlaku. Hal ini dikarenakan
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat tidak menggunakan mekanisme
pemberhentian yang harus dilakukan. Lebih lanjut Joko menjelaskan seharusnya
sebelum memberhentikan pengurus partai, DPP perlu melakukan mekanisme seperti
memberi surat teguran atau peringatan sebanyak tiga kali kepada yang bersangkutan.
Selain itu, DPP juga perlu menggelar rapat pleno di tingkat DPD untuk melakukan
usulan ke DPP melalui Bidang Organisasi Kaderisasi dan Kepartaian DPP Demokrat
apakah dilakukan pemberhentian atau tidak (Kompas 2014).
Konflik internal tersebut kemudian memanas ketika sebanyak 161 ketua DPC
yang diberhentikan, termasuk beberapa yang ada di Jawa Tengah melakukan
perlawanan dengan membentuk sebuah gerakan yang dinamakan Tim Penyelamat
Partai Demokrat. Selain melalui pembentukan Tim Penyelamat Partai Demokrat,
sejumlah ketua DPC yang diberhentikan juga melakukan perlawanan melalui
pengajuan somasi untuk menuntut pemulihan hak untuk memilih dan menganggap
bahwa pemberhentiannya tidak sah (Metrotvnews.com 2015).
6
Kasus pemberhentian ketua DPC Partai Demokrat di Jawa Tengah tidak
hanya terjadi pada tahun 2015. Pada tahun 2012 salah satu kader Partai Demokrat
yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten
Cilacap, Jawa Tengah, Tridianto juga diberhentikan dari jabatannya. Pemberhentian
sejumlah ketua DPC tersebut memungkinkan timbulnya konflik internal Partai
Demokrat Jawa Tengah, sebab isu utama yang mengemuka di media, pemberhentian
terjadi karena masing-masing ketua DPC yang diberhentikan dianggap sebagai
loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
Seperti halnya di tingkat nasional, konflik internal yang dialami Partai
Demokrat di Jawa Tengah juga berdampak pada perolehan suara pada pemilu 2014.
Pada pemilu 2014 Partai Demokrat di Jawa Tengah hanya memperoleh 1.120.729
suara. Perolehan suara ini menempatkan Partai Demokrat Jawa Tengah di posisi
ketujuh di bawah PDIP (4.295.598 suara), Partai Golkar (2.497.282 suara), PKB
(2.305.444 suara), Gerindra (1.963.080 suara), PAN (1.208.202 suara), dan PPP
(1.151.753 suara).
Perolehan suara di kabupaten/kota di Jawa Tengah, khususnya yang menjadi
objek penelitian juga mengalami penurunan. Pada pemilihan legislatif (pileg) Partai
Demokrat Kabupaten di Semarang hanya memperoleh 42.222 suara, Kota Salatiga
8502 suara, dan Kabupaten Purworejo 44.663 suara. Dengan perolehan suara
tersebut, jumlah kursi yang diperoleh Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo juga berkurang dibandingkan dengan perolehan
kursi pada pileg 2009. Di Kabupaten Semarang Partai Demokrat hanya memperoleh
4 kursi, di Kota Salatiga 3 kursi, dan di Kabupaten Purworejo Partai Demokrat hanya
memperoleh 4 kursi. Dari berbagai permasalahan yang dialami Partai Demokrat
7
tersebut memunculkan pertanyaan apakah selama ini Partai Demokrat sudah
diklasifikasi sebagai partai politik modern di Indonesia.
Penjelasan singkat di atas menunujukkan adanya gap antara kenyataan
empirik yang dialami partai politik khususnya Partai Demokrat sebagai partai yang
terbuka dan modern dengan teori tentang modernisasi dan teori partai politik
modern. Secara teoretis, partai politik dibentuk dari berkembanganya pembangunan
sebagai modernisasi sosial politik. Partai politik merupakan manifestasi pikiran atau
kebutuhan masyarakat agar kepentinganya dapat dikabulkan oleh pemerintah. Partai
politik
mempunyai
tujuan
dan
fungsi
yang
harus
dijalankan,
yaitu
dengan penampungan aspirasi masyarakat yang kemudian diwujudkan melalui
pemerintah.
Winear (dalam Cole 2013: 259) mendefinisikan bahwa partai politik
merupakan bagian dari sistem-sistem politik modern dan sistem yang sedang
mengalami modernisasi. Definisi Winear menempatkan partai politik sebagai produk
modernisasi yang muncul ketika sistem politik mencapai tingkatan kompleksitas
tertentu, atau pada saat konsep kekuasaan politik mulai mencakup gagasan tentang
partisipasi publik.
Partai politik dalam perspektif modern mempunyai fungsi antara lain sebagai
artikulasi dan agregasi kepentingan umum. Hal ini berarti bahwa partai politik
berfungsi sebagai lembaga yang menyalurkan dan mengakomodasi aspirasi
masyarakat dalam proses partisipasi politik. Selain sebagai artikulasi dan agregasi
kepentingan umum, partai politik juga berfungsi sebagai sarana komunikasi politik,
sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai sarana rekruitmen politik dan sebagai
sarana pengatur konflik (Budiardjo 2008: 405-408).
8
Terkait dengan fungsi partai politik sebagai sarana pengatur konflik, Surbakti
berpendapat bahwa partai politik berperan untuk mengendalikan konflik melalui cara
berdialog dengan pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan memadukan
berbagai aspirasi dan kepentingan dari pihak-pihak yang berkonflik (Surbakti 2010:
145-146). Penjelasan Surbakti tersebut menunjukkan bahwa untuk menuju partai
modern dan terbuka, partai politik harus mampu mengelola konflik dengan baik.
Artinya, konflik yang terjadi dianggap sebagai hal yang wajar, namun perlu upaya
untuk melakukan resolusi terhadap konflik tersebut secara bijaksana dan tidak
menimbulkan perpecahan. Oleh karena itu, sebagai partai yang mengusung semangat
keterbukaan dan modern, seharusnya semua partai politik di Indonesia, termasuk
Partai Demokrat dapat menjalankan fungsi-fungsi tersebut secara baik, sehingga
modernisasi di tubuh partai politik dapat terwujud.
Wirawan (2010) menjelaskan bahwa resolusi konflik dapat dicapai dengan
cara pengaturan sendiri oleh pihak-pihak yang berkonflik (self regulation), dan
melalui intervensi pihak ketiga (third party intervention). Dalam pengaturan sendiri,
pihak-pihak yang terlibat menyusun strategi konflik untuk mencapai tujuannya.
Sementara apabila melibatkan pihak ketiga, terdiri atas; resolusi melalui pengadilan,
proses administrasi, dan resolusi perselisihan alternatif.
Berbagai argumen di atas sejalan dengan pemikiran Sartori (2005:57),
tentang partai politik modern. Partai politik modern menurut Sartori memiliki
indikator antara lain: (1) harus terbuka; (2) memiliki ideologi yang jelas; (3)
memiliki sistem regenerasi yang teratur; dan (4) partai mempunyai sistem kaderisasi
yang baik. Setiap indikator partai politik modern memunculkan sebuah pemikiran
bahwa modernisasi partai politik, khususnya Partai Demokrat dapat terwujud apabila
partai tersebut melaksanakan keempat indikator di atas. Oleh karena itu, modernisasi
9
merupakan suatu langkah yang perlu ditempuh partai politik guna terwujudnya
sistem politik yang demokratis.
Modernisasi juga telah masuk ke dalam lima agenda Partai Demokrat tahun
2014 sampai dengan tahun 2019. Kelima agenda Partai Demokrat tersebut antara
lain (1) modernisasi yang meliputi infrastruktur fisik maupun sistem; (2)
peningkatan kepemimpinan dan manajemen yang mencakup pendidikan dan
pelatihan bagi kader Partai Demokrat; (3) peningkatan pengabdian kepada
masyarakat; (4) penyuksesan pilkada (pemilihan langsung kepala daerah) yang
meliputi pemilihan calon terbaik yang beritegritas, kapasitas, elektabilitas, dan
mengutamakan kader; (5) penyuksesan pemilu 2019 dengan tetap melaksanakan
politik yang bersih, cerdas, dan beretika.
Kelima agenda di atas mengindikasikan bahwa Partai Demokrat seharusnya
ke depan mampu menjawab tantangan publik sebagai partai yang berfungsi secara
demokratis. Hal demikian karena Partai Demokrat tidak dapat terpisahkan dari
sistem demokrasi modern dan merupakan bagian utama dalam pranata sistem politik
di Indonesia. Sistem partai politik modern menempatkan partai politik sebagai
jembatan untuk mewakili aspirasi masyarakat, sehingga kepentingan masyarakat
dapat terakomodasi.
Selain kelima agenda tersebut, keinginan kuat Partai Demokrat untuk
menjadi partai modern dan terbuka di Indonesia juga pernah disampaikan Hinca
Panjaitan (Sekretaris Jenderal Partai Demokrat). Dalam pernyataan tersebut Hinca
menyampaikan bahwa:
“Demi kemajuan organisasi, perusahaan, juga pemerintahan kini mutlak
melakukan keterbukaan. Alam (digitalisasi) memaksa kita untuk itu, kita tak
bisa memilih, tetapi wajib mengikuti arus keterbukaan itu atau kita hanyut
dan tenggelam di dalamnya”.
10
Pandangan Hinca tersebut adalah salah satu bukti adanya upaya kesadaran
Partai Demokrat untuk berproses menjadi partai politik yang modern dan terbuka.
Partai Demokrat menurutnya harus menjadi Demokrat. Artinya, keterbukaan dalam
mengelola organisasi, perusahaan, dan juga pemerintahan adalah keniscayaan dan
keharusan. Dan hal itu bukan pilihan strategi tapi memang harus terbuka, karena
keterbukaan dapat mempercepat pertumbuhan di segala lini, karena publik langsung
bisa melihat dan mengerti apa yang diinginkan organisasi, perusahaan, atau
pemerintahan, sehingga manajemen dipaksa untuk harus selalu perform dan
menguasai setiap hal di dalamnya (kompas, 2014).
Dari beberapa pendapat tentang partai politik modern di atas, maka untuk
menuju modernisasi, Partai Demokrat sudah seharusnya dapat meninggalkan ciri-ciri
partai politik tradisional. Ciri-ciri partai politik tradisional diantaranya (1) bertumpu
pada figur tokoh “besar” tertentu; (2). mengandalkan basis masa tradisional; (3)
mengandalkan simbol primordial, baik suku, golongan, maupun agama. Hal ini
sesuai dengan pernyataan yang disampaikan SBY "partai modern harus berangkat
dari platform dan mesin partai. Jangan bergantung pada figur”. Namun dalam
kenyataannya, pada saat ini Partai Demokrat belum bisa keluar dari ketergantungan
terhadap SBY.
Melihat berbagai permasalahan yang dialami Partai Demokrat baik pada
tingkat pusat maupun tingkat lokal, maka perlu adanya kajian mendalam tentang
modernisasi partai politik, khususnya pada Partai Demokrat. Modernisasi dilakukan
karena tantangan kompetisi partai politik di Indonesia juga semakin ketat, sehingga
peneliti dalam tesis ini berupaya mengungkapkan fenomena modernisasi Partai
Demokrat dilihat dari indikator partai politik modern dan fungsi partai politik
modern di Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Semarrang, Kota
11
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo. Situs penelitian ini dilakukan pada Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Jawa Tengah, Dewan Perwakilan Cabang (DPC)
Partai Demokrat Kabupaten Semarang, DPC Kota Salatiga, dan DPC Kabupaten
Purworejo. Alasan peneliti melakukan riset pada Partai Demokrat di tiga
kabupaten/kota tersebut, karena ketiganya merupakan daerah yang mengalami
konflik internal yang disebabkan adanya pemberhentian ketua DPC yang pada saat
itu menjabat.
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya, peneliti memandang
bahwa belum banyak penelitian tentang modernisasi partai politik di tingkat lokal
dilihat dari perspektif fungsi partai politik modern dan indikator partai politik.
Penelitian ini akan menjawab pertanyaan publik apakah selama ini modernisasi
Partai Demokrat di Jawa Tengah, khususnya di tiga kabupaten/kota tersebut sudah
dilakukan secara baik. Tesis ini penting dan menarik untuk dibahas secara lebih
mendalam. Hal tersebut karena: pertama, partai politik modern merupakan agen dari
proses demokrasi. Kedua, Partai Demokrat sebagai partai yang mengusung semangat
modern ternyata dalam perjalanannya mengalami berbagai hambatan, seperti tidak
konsistennya perolehan suara partai, terlibatnya kader dalam kasus korupsi, maupun
adanya konflik internal. Ketiga, penelitian tentang modernisasi partai politik modern
di Indonesia belum banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
Selain alasan di atas, peneliti tertarik mengangkat judul “Modernisasi Partai
Politik di Tingkat Lokal (Studi Kasus Partai Demokrat Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo)” karena penelitian ini dapat
memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya
ilmu politik. Hasil penelitian ini akan menyajikan kajian kritis terhadap
perkembangan ilmu politik kontemporer, khususnya teori modernisasi politik dilihat
12
dari perspektif ketercapaian pelaksanaan fungsi partai politik modern dan indikator
partai politik modern.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dalam penelitian ini, maka perumusan masalah
dalam tesis ini adalah sebagai berikut.
a. Bagaimana pelaksanaan modenisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo dilihat dari prespektif indikator partai
politik modern?
b. Apakah tantangan dan hambatan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo untuk menuju partai politik modern?
1.3
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam tesis ini sebagai berikut.
a. Menerangkan dan menganalisis pelaksanaan modernisasi Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo dilihat dari
prespektif indikator partai politik modern.
b. Menerangkan dan menganalisis tantangan dan hambatan yang dialami Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo
untuk menuju partai politik modern.
1.4
Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian dalam tesis ini meliputi dua kegunaan, yaitu:
a. Kegunaan Teoretis
Secara teoretis tesis ini berguna untuk mengembangkan riset tentang kajian
modernisasi partai politik di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya
13
dan melengkapi kajian ilmiah tentang modernisasi partai politik di Indonesia dilihat
dari perspektif pelaksanaan fungsi partai politik modern dan pencapaian indikator
partai politik modern, khususnya pada Partai Demokrat. Selain itu, secara teoretis
tesis ini akan menganalisis teori yang dikemukakan Sartori tentang indikator partai
politik modern, yang kemudian dikaitkan dengan berbagai permasalahan yang
dialami Partai Demokrat.
b. Kegunaan Praktis dan Sosial
1) Bagi peneliti, hasil tesis ini bermanfaat menambah wawasan peneliti terutama
mengenai modernisasi partai politik di tingkat lokal.
2) Bagi Partai Demokrat, hasil tesis ini bermanfaat sebagai masukan tentang (1)
bagaimana seharusnya Partai Demokrat menjalankan fungsinya sebagai partai
modern, sehingga dapat menjadi alternatif pemecahan permasalah yang sedang
dihadapi; (2) bagaimana seharusnya Partai Demokrat mengelola organisasi
kepartaiannya, termasuk dalam hal mekanisme penyelesaian konflik internal.
3) Bagi pembaca, hasil penelitian ini bermanfaat sebagai tambahan wawasan
tentang kajian dinamika konflik internal dan modernisasi politik di tingkat lokal.
4) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat menjadi reverensi untuk
mengembangkan model modernisasi pada partai politik di Indonesia.
14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka dalam penelitian ini terdiri dari uraian sistematis terkait
hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan serta kerangka atau kajian teori yang
terkait dengan penelitian yang dilakukan. Adapun penjelasan mengenai tinjauan
pustaka yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
2.1
Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian ini tidak terlepas dari beberapa hasil penelitian sebelumnya yang
dianggap peneliti relevan. Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini
pernah dilakukan diantaranya oleh Tanjung (2007), Masrukhin (2005), Hanapiah
(2012), Schläger and Christ (2013), serta Novotny dan Polasek (2015). Untuk
memperjelas keterkaitan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan
dilakukan dapat digambarkan melalui tabel berikut.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Nama
Agus
Masrukhin
Judul
“Syiah dan perubahan
politik: studi kasus
modernisasi politik di
Iran 1963-1997”
15
Tahun
2005
Hasil Penelitian
Penelitian tersebut
menggambarkan bahwa
modernisasi politik di
Iran menyerupai model
modernisasi tipe
kolektifitas
suci (cosumatorry
collective) yang
berlangsung dalam
sistem mobilisasi
(mobilized system)
dimana rakyat
menjadi agen
modernisasi.
Implikasi
Nama
Akbar Tanjung
Judul
Tahun
“Partai Golkar dalam 2007
Pergolakan Politik Era
Reformasi: Tantangan
dan Respon”
Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian
menunjukkan bahwa
Partai Golkar melakukan
beberapa cara untuk
menjadi partai modern.
Pipin Hanapiah
“Perubahan Politik
Golongan Karya (Studi
Interaksi Pengurus
Partai Golkar Kota
Bandung Di Era
Reformasi)”
2012
Dari hasil penelitian
ditemukan bahwa Golkar
di era reformasi sedang
mengalami perubahan
pada proses dan
mekanismenya,
khususnya pada interaksi
dan struktur politiknya.
Untuk menjalankan
perubahan politiknya
yang semakin modern di
era
reformasi, Partai Golkar
di Kota Bandung harus
mempertahankan
komitmen,
konsistensi, dan adaptasi
politiknya terhadap
perkembangan bangsa
dan dinamika
daerah di Kota Bandung
secara berkelanjutan.
Catrina
Schläger and
Judith Christ
“Modern Political Party 2013
Management With Can
Be From International
Practices”
Hasil penelitian tersebut
adalah mengenai
bagaimana partai politik
bereaksi terhadap
perubahan sosial, apa
kelebihan dan tantangan
partai politik berkaitan
dengan partai politik baru
dan media sosial,
bagaimana dan seberapa
dapat para anggota partai
dimasukkan dalam
pengambilan keputusan
internal partai,
bagaimana cara pihak
berurusan dengan konflik
internal, serta bagaimana
korupsi dapat diatasi.
16
Nama
Vilem Novotny
dan Martin
Polasek
Judul
“Multiple streams
approach and political
parties:
modernization of Czech
Social Democracy”
Tahun
2015
Hasil Penelitian
Tujuan penelitian
tersebut adalah untuk
melakukan penyelidikan
terhadap penerapan
beberapa pendekatan
Multiple Streams
Approach (MSA) pada
kasus modernisasi
Demokrasi sosial di
Ceko tahun 2006 sampai
dengan 2008.
Modernisasi yang
dimaksud berfokus pada
pengenalan marketing
politik dan metode
manajerial.
Dari tabel di atas, dapat disimpulkan beberapa pernyataan yang terkait
dengan persamaan dan perbedaan antara penelitian yang dilakukakan sebelumnya
dengan penelitian yang dilakukan. Pernyataan-pernyataan tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut.
Masrukhin (2005) dalam tesisnya menjelaskan proses modernisasi yang
terjadi di Iran berlangsung dalam sistem mobilisasi (mobilized system) di mana
rakyat menjadi agen modernisasi. Implikasi dari proses modernisasi yang demikian
melahirkan suatu bentuk masyarakat politik modern dengan ciri dan karakter yang
berbeda dari masyarakat modern di negara lain.
17
Tesis Masrukhin dianggap relevan dengan penelitian ini karena sama-sama
melakukan kajian tentang modernisasi politik. Selain itu, kedua penelitian ini
berusaha mengkaji teori modernisasi politik yang dikemukakan sebelumnya.
Perbedaannya terletak pada objek penelitian. Penelitian yang dilakukan Masrukhin
dilakukan pada negara, sedangkan penelitian ini berfokus pada partai politik.
Tanjung (2007) dalam desertasinya yang berjudul “Partai Golkar dalam
Pergolakan Politik Era Reformasi: Tantangan dan Respon” menjelaskan bahwa
Partai Golkar sebagai partai politik yang identik dengan Orde Baru telah mengalami
perubahan yang mendasar sejak reformasi 1998. Manuver politik tersebut
berpengaruh terhadap perolehan suara Partai Golkar pada pemilu 2004. Pada tahun
2004 Partai Golkar menjadi pemenang pemilu dengan perolehan suara 24.480.757
(21,58%). Beberapa hal yang dilakukan Partai Golkar adalah dengan memposisikan
diri sebagai kekuatan politik yang terbuka (catch-all party) dan tidak menganut
ideologi politik ekstrim (baik kiri atau kanan).
Sikap Partai Golkar yang memposisikan diri sebagai kekuatan politik yang
terbuka (catch-all party) dan tidak menganut ideologi politik ekstrim (baik kiri atau
kanan) menunjukkan bahwa Partai Golkar memiliki sikap politik yang moderat,
yaitu fleksibel menyesuikan diri terhadap perubahan politik yang sedang
berlangsung. Dampak dari sikap moderat tersebut, Partai Golkar mampu beradaptasi
terhadap lingkungan politik baru yang terbuka dan plural.
Persamaan penelitian yang dilakukan Tanjung dengan penelitian ini terletak
pada aspek yang diteliti, yaitu perubahan politik pada partai politik di masa
reformasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa reformasi partai politik termasuk
Partai Golkar dan Partai Demokrat perlu melakukan modernisasi. Modernisasi perlu
18
dilakukan guna menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi dan sekaligus dapat
menyesuaikan diri terhadap lingkungan politik nasional yang demokratis.
Selain persamaan di atas, terdapat pula perbedaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan Tanjung. Penelitian Tanjung lebih menekankan pada
upaya Partai Golkar untuk mampu mempertahankan hidup (survival), karena citra
Partai Golkar sebelumnya sebagai partai yang besar di Masa Orde Baru dianggap
paling bertanggungjawab atas berbagai keterpurukan yang dihadapi bangsa
Indonesia. Sedangkan penelitian ini lebih fokus pada bagaimana Partai Demokrat
sebagai partai yang relatif baru dan lahir di masa reformasi melaksanakan fungsi
partai politik modern.
Hasil penelitian lain, Hanapiah (2012) menunjukkan bahwa Golkar di masa
reformasi sedang mengalami perubahan pada proses dan mekanismenya, khususnya
pada interaksi dan struktur politiknya. Untuk menjalankan perubahan politiknya
yang semakin modern di masa reformasi, Partai Golkar di Kota Bandung harus
mempertahankan
komitmen,
konsistensi,
dan adaptasi
politiknya
terhadap
perkembangan bangsa dan dinamika daerah di Kota Bandung secara berkelanjutan.
Hampir sama dengan penelitian yang dilakukan Tanjung, persamaan antara
penelitian yang dilakukan Hanapiah dengan penelitian ini adalah kedua penelitian ini
bermaksud mengetahui bagaimana proses modernisasi pada partai politik, yaitu
dengan melihat pada proses interaksi dan struktur politiknya. Sedangkan perbedaan
kedua penelitian ini terletak pada objek dan subjek yang diteliti, serta dinamika
politik yang terjadi di daerah yang akan diteliti.
Penelitian Schläger and Christ (2013) dengan judul“Modern Political Party
Management With Can Be From International Practices” memiliki karateristik yang
hampir sama dengan penelitian yang peneliti lakukan. Persamaan tersebut dapat
19
dilihat dari bagaimana kedua penelitian ini sama-sama membahas tentang bagaimana
partai politik bereaksi terhadap perubahan sosial, apa tantangan yang dihadapi partai
politik, bagaimana dan seberapa dapat para anggota partai dimasukkan dalam
pengambilan keputusan internal partai, bagaimana cara pihak berurusan dengan
konflik internal, serta bagaimana korupsi dapat diatasi.
Penelitian Novotny dan Polasek (2015) “Multiple streams approach and
political parties: modernization of Czech Social Democracy” dianggap peneliti juga
memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan karena hasil penelitian
tersebut memiliki tujuan untuk melakukan penyelidikan terhadap penerapan
beberapa pendekatan, terutama pendekatan Multiple Streams Approach (MSA) pada
kasus modernisasi partai politik di Ceko. Perbedaan penelitian yang dilakukan
Novotny dan Polasek dengan penelitian yang dilakukan terletak pada fokus
penelitiannya. Penelitian Novotny dan Polasek berfokus pada pengenalan marketing
politik dan metode manajerial, sedangkan penelitian ini lebih fokus pada dinamika
konflik internal partai politik dan bagaimana partai politik tersebut melaksanakan
modernisasi dengan melaksanakan fungsi partai politik modern.
2.2
2.2.1
Kerangka/Kajian Teori
Teori Modernisasi Politik
Konsep modernisasi pada dasarnya mencakup berbagai bidang. Smelser
(dalam Sztompka 2007: 153-154) membagi konsep modernisasi menjadi enam
bidang, yaitu bidang ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan bidang stratifikasi.
Ciri khas modernisasi pada masing-masing bidang tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut.
20
Modernisasi di bidang ekonomi ditandai dengan mengakarnya teknologi
dalam ilmu pengetahuan, transisi dari pertanian yang subsistensi ke pertanian
komersial, penggantian tenaga binatang dan manusia oleh energi benda mati dan
produksi mesin, dan berkembangnya bentuk pemukiman urban dan konsentrasi
tenaga kerja di tempat tertentu.
Modernisasi di bidang politik ditandai dengan adanya transisi dari kekuasaan
yang sifatnya tradisional menuju ke sistem hak pilih, perwakilan, partai politik, dan
kekuasaan demokratis. Di bidang pendidikan modernisasi meliputi penurunan angka
buta huruf dan peningkatan perhatian pada pengetahuan, keterampilan, dan
kecakapan. Modernisasi di bidang agama ditandai dengan munculnya sekulerisme di
bidang kehidupan keluarga, yaitu berkurangnya peran ikatan kekeluargaan dan
makin besar spesialisasi fungsional keluarga. Adapun yang terakhir modernisasi di
bidang stratifikasi ditandai dengan adanya penekanan pada mobilitas dan prestasi
individual daripada status yang diwarisi.
Teori modernisasi merujuk kepada penjelasan yang menghubungkan
perkembangan ekonomi dan transformasi sosial yang mengikutinya dengan tipe
sistem politik yang muncul. Penjelasan sosiologis awal tentang modernisasi lebih
didasarkan pada konteks Eropa Barat, dimana secara logika dapat dikatakan bahwa
ketika perkembangan ekonomi mengalami kemajuan atau sudah menuju pada proses
industrialisasi, maka dapat dikatakan kehidupan politik juga akan mengalami
perubahan (Sokhey 2013: 132).
Sejalan dengan pemikiran tersebut, Desutsch (dalam Sokhey 2013: 132)
mengemukakan bahwa perkembangan sosial-ekonomi akan mengubah perilaku
politik masyarakat. Desutch dalam hal ini mengembangkan konsep mobilisasi sosial,
yang merupakan komponen penting dari proses modernisasi. Mobilisasi sosial
21
menciptakan perubahan-perubahan besar pada masyarakat sebagai akibat transisi
dari keadaan tradisional ke keadaan yang lebih modern. Dampak dari adanya
mobilisasi sosial salah satunya adalah mendorong perubahan terhadap individu yang
tidak hanya sekedar mengikuti penguasa, tetapi lebih dari itu dapat melakukan
tuntutan dari pemerintah tersebut.
Terkain dengan pernyataan di atas, dalam kajian ilmu politik, modernisasi
politik seringkali dikaitkan dengan perkembangan politik. Hal ini mengandung
pengertian bahwa modernisasi politik merupakan sebuah proses untuk melakukan
perubahan ke arah tipe-tipe sistem sosial, ekonomi, dan politik yang berkembang di
Eropa Barat dan Amerika Utara (abad ke 17 sampai dengan abad ke 19) dan
kemudian menyebar ke Amerika Selatan, Asia dan Afrika (Varma 2007:494).
Modernisasi politik dalam konteks perkembangan politik ditunjukkan oleh
kemampuan sistem politik yang diperlakukan sebagai pewaris (ingredient), yang
berisi tentang kepranataan politik yang meliputi: (1) mobilisasi politik; (2) integrasi
politik; dan (3) representasi politik. Dalam pengertian ini Huntington (dalam (Varma
2007:494) menjelaskan bahwa perkembangan politik adalah kepranataan prosedurprosedur dan organisasi-organisasi politik yang ditandai oleh arah dan tingkat, yang
meliputi: (1) penyesuainnya, yang ditunjukkan dengan suatu rantai kepemimpinan
yang panjang dan teratur, yang menyesuaikan diri mereka secara berhasil dengan
tantangan-tantangan baru kepada sistem politik tersebut; (2) kekompleksannya, yang
ditunjukkan dengan adanya sejumlah besar pranata, masing-masing membawa
pertanggungjawaban tanpa halangan dari lainnya; (3) otonominya, yang ditunjukkan
dengan ketidaktergantungannya pada sistem-sistem politik lain dan kontrol penuh
atas juridiksinya sendiri yang ditentukan secara jelas; dan (4) pertalian (coherence),
22
yang ditunjukkan dengan adanya konsesus pada tingkat terrentu dan persatuan
internal yang berlaku.
Lebih lanjut Huntington menjelaskan bahwa selama sistem politik bergerak
ke arah penyesuaian, kekompleksitasan, otonomi, dan pertalian, maka dapat
dikatakan sebuah sistem politik termasuk ke dalam kepranataan dan perkembangan
politik yang baik. Sebaliknya, jika terjadi kekauan, kesederhanaan, subordinasi, dan
perpecahan, jelas sistem politik tersebut menuju kehancuran atau keruntuhan (Varma
2007:494).
Welch (dalam Harjanto 1998) menjelaskan istilah modernisasi muncul
sebagai pembangunan politik. Modernisasi politik dapat dipahami melalui beberapa
pemikiran, yaitu pertama, modernisasi diartikan sebagai upaya peningkatan
pemusatan kekuasaan pada negara, bersamaan dengan melemahnya sumber-sumber
wewenang kekuasaan tradisional; kedua, modernisasi merupakan defernsiasi dan
spesialisasi lembaga-lembaga politik; ketiga, modernisasi diartikan sebagai upaya
peningkatan partisipasi rakyat dalam politik dan kesediaan individu-individu untuk
mengidentifikasikan diri dengan sistem politik sebagai suatu keseluruhan.
Modernisasi politik merupakan perubahan politik secara total, baik secara
struktural maupun kultural meski proses perubahan ini mengambil bentuk yang
bervariasi, tidak sama antara satu negara dengan negara lainnya. Perubahan politik
ini berpengaruh kepada proses modernisasi, yakni sekularisasi, rasionalisasi,
komersialisasi, industrialisasi, mobilitas sosial yang cepat, restrafikasi; peningkatan
materi dalam standar hidup, penyebaran melek huruf, pendidikan dan media;
persatuan nasional, eksistensi keterlibatan dan partisipasi rakyat dalam politik
(Abdilah 2013: 247).
23
Huntington (1973: 34-35) menjelaskan beberapa karateristik modernisasi
politik, antara lain:
“First, political modernization involves the rationalization of authority, the
replacement of a large number of traditional, religious, familial, and ethnic
political authorities by a single secular, national political authority….
Secondly, political modernization involves the differentiation of new political
functions and the development of specialized structures to perform those
functions…. Thirdly, political modernization involves increased participation
in politics by social groups throughout society….”.
Penjelasan Huntington di atas menunjukkan bahwa modernisasi politik
memiliki tiga aspek penting, yaitu (1) modernisasi politik melibatkan rasionalisasi
kekuasaan, pergantian sejumlah pejabat politik tradisional, etnis, keagamaan,
kekeluargaan diganti dengan kekuasaan nasional yang lebih sekuler; (2) moderniasi
politik melibatkan adanya diferensiasi fungsi politik yang baru dan pengembangan
struktur khusus sebagai pelaksana seluruh fungsi tersebut; (3) modernisasi politik
ditandai oleh peran serta politik seluruh lapisan masyarakat.
Lebih lanjut, Huntington menjelaskan bahwa modernisasi dimaksudkan
untuk mengubah pemerintahan yang bersifat tradisional menjadi pemerintahan yang
lebih modern. Dampak modernisasi tersebut dapat mempengaruhi kehidupan politik,
sosial, ekonomi dan budaya. Hal ini berarti modernisasi dalam prakteknya
melibatkan gerakan signifikan terhadap sistem politik modern. Simpulan dari
dampak praktik modernisasi politik adalah rasionalisasi wewenang, diferensiasi
struktur, dan perluasan partisipasi politik.
Berdasarkan penjelasan tersebut, Huntington memiliki pandangan optimis
terhadap modernisasi. Melalui konsep grand process of modernization, Huntington
memahami modernisasi sebagai suatu hal yang kompleks, sistemik, global, panjang,
bertahap, mengarah kepada homogenisasi, irreversible, dan proses progresif yang
mengubah masyarakat dari tradisional ke modern. Hal ini berarti setiap modernisasi
24
pasti menyertakan demokrasi karena demokrasi merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari modernisasi yang menghasilkan kewenangan rasional dan sekuler,
spesialisasi struktur birokrasi, dan partisipasi masyarakat di dalam politik.
2.2.2
Teori Partai Politik
Menelisik sejarah mengenai asal usul partai politik, pada dasarnya partai
politik dapat dilihat melalui 3 teori yaitu: pertama, teori kelembagaan yang melihat
ada hubungan antara parlemen awal dan timbulnya partai politik. Kedua, teori situasi
historik yang melihat timbulnya partai politik sebagai upaya sistem politik mengatasi
krisis yang ditimbulkan akibat adanya masa transisi karena perubahan masyarakat
dari bentuk tradisional yang berstruktur sederhana menjadi masyarakat modern yang
berstruktur kompleks. Ketiga, teori pembangunan yang melihat partai politik sebagai
produk modernisasi sosial ekonomi (Surbakti, 2010: 144-146).
Berdasarkan penjelasan Surbakti, dapat disimpulkan bahwa dari ketiga teori
tersebut terdapat teori yang melihat kelahiran partai politik dari tujuan yang hampir
sama, yaitu teori situasi historik dan teori kelembagaan. Kedua teori ini sama-sama
berkaitan dengan perubahan yang ditimbulkan karena adanya modernisasi.
Perbedaannya terletak pada proses pembentukannya, dimana teori situasi historik
melihat bahwa perubahan menimbulkan tiga krisis dan partai politik dibentuk untuk
mengatasi krisis, sedangkan teori pembangunan melihat perubahan-perubahan itulah
yang melahirkan kebutuhan adanya partai politik.
Lebih lanjut, Subakti menjelaskan bahwa partai politik adalah organisasi
yang mempunyai kegiatan yang berkesinambungan. Berkesinambungan yang
dimaksud adalah partai politik dalam mempertahankan hidup organisasinya tidak
25
bergantung pada masa jabatan atau masa hidup para pemimpinnya, sehingga ciri dari
partai politik adalah bersifat terbuka dan permanen tidak hanya di tingkat pusat,
tetapi juga di tingkat lokal. Ciri partai politik yang lain adalah (1) berakar dalam
masyarakat lokal; (2) berusaha memperoleh dan mempertahankan kekuasaan dalam
pemerintahan; (3) ikut serta dalam pemilihan umum.
Friedrich (dalam Budiardjo: 419) mendefinisikan:
“Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil
dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap
pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini,
memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta
materiil (A political, party is a group af human beings, stably organized with
the objective of scuring or maintaining for its leaders the control of a
government, with the futher objective of giving to members of the party,
trought such control ideal and material benefits advantages)”.
Neumann (dalam Budiardjo 2008: 352) menjelaskan bahwa:
“Partai politik adalah organisasi dari aktivitas-aktivitas politik yang berusaha
untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat
melalui persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang
mempunyai pandangan yang berbeda (A political party is the articulate
organization of society’s active political agents; those who are concerned
with the control of governmental polity power, and who compete for popular
support with other group holding divergent views)”.
Sartoni (dalam Budiardjo 2008: 404-405) berpendapat bahwa:
“Partai politik adalah suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan
umum, dan melalui pemilihan umum itu, mampu menempatkan caloncalonya untuk menduduki jabatan-jabatan publik” (A party is any political
group that present at elections, and is capable of placing trought elections
candidates for public office)”.
Dari ketiga penjelasan tersebut, partai politik dapat didefinisikan sebagai
organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk memperoleh kekuasaan
pemerintahan serta merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu
kelompok atau kelompok lain, yang mana masing-masing kelompok tersebut
mempunyai pandangan yang tidak sama.
26
Berdasarkan pengertian modern, partai politik dapat diartikan sebagai suatu
kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan publik untuk dipilih rakyat,
sehingga dapat mengatasi atau mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintah. Selain
itu, partai politik juga dapat diartikan sebagai organisasi artikulatif yang terdiri atas
pelaku politik yang aktif dalam masyarakat, yaitu mereka yang memusatkan
perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintahan dan yang bersaing untuk
memperoleh dukungan rakyat dengan beberapa kelompok lain yang mempunyai
pandangan yang berbeda-beda (Fadjar 2013: 13-14).
Chambers (dalam White 2006: 5) juga mendefinisikan bahwa partai politik
dalam arti modern merupakan formasi sosial yang relatif tahan lama yang berusaha
meraih jabatan atau kekuasaan dalam pemerintahan, menunjukkan suatu struktur
atau organisasi yang menghubungkan para pemimpin di pusat pemerintahan dan
pengikut rakyat signifikan di arena politik dan kantong-kantong lokal, serta mampu
menghasilkan prespektif kesetiaan terhadap partai politik. Pendapat Chambers
menununjukkan bahwa partai politik bisa dikategorikan modern jika di dalam partai
politik tersebut terdapat struktur yang jelas yang menjadi jembatan antara
pemerintah dengan rakyatnya, sehingga mampu memperjuangkan kepentingan
umum demi terwujudnya tujuan bersama.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik,
partai politik merupakan suatu organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh
sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak
dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota,
masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
27
Selain itu, pasal 2 UU No 2 Tahun 2011 juga disebutkan bahwa partai politik
dalam melakukan pengelolaan organisasinya berdasarkan pada peraturan dasar partai
politik diatur dalam Anggaran Dasar, yang selanjutnya disingkat AD, yang
kemudian dijabarkan ke dalam Anggaran Rumah Tangga partai politik, yang
selanjutnya disingkat ART. AD sebagaimana dimaksud dalam UU tersebut memuat:
(1) asas dan ciri partai politik; (2) visi dan misi partai politik; (3) nama, lambang,
dan tanda gambar partai politik; (4) tujuan dan fungsi partai politik; (5) organisasi,
tempat kedudukan, dan pengambilan keputusan; (6) kepengurusan partai politik
(disusun dengan menyertakan paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus)
keterwakilan perempuan); (7) mekanisme rekrutmen keanggotaan partai politik dan
jabatan politik; (8) sistem kaderisasi; (9) mekanisme pemberhentian anggota partai
politik; (10) peraturan dan keputusan partai politik; (11) pendidikan politik; (12)
keuangan partai politik; dan (13) mekanisme penyelesaian perselisihan internal
partai politik.
Partai politik adalah salah satu pilar demokrasi di negara yang menganut
paham demokrasi seperti Indonesia. Hal ini memiliki arti bahwa kehadiran partai
politik bagi Negara Indonesia adalah bagian dari ruh demokrasi, sehingga apabila
partai politik tidak berjalan sesuai dengan mekanisme atau fungsi partainya, maka
demokrasi akan mengalami kepincangan (Ways 2015: 131).
Sehubungan dengan hal tersebut, Budiarjo (2008: 405-409) menyebutkan
selain berfungsi sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana sosialisasi politik,
sebagai sarana rekruitmen politik, partai politik juga berfungsi sebagai sarana
pengatur konflik (conflict management).
Sebagai komunikasi politik, partai politik memiliki dua peran penting, yaitu
sebagai penggabungan kepentingan (interest aggregations) dan perumusan
28
kepentingan (interest articulation). Dalam proses penggabungan kepentingan
(interest aggregations), partai politik menjadi instrumen untuk menampung pendapat
atau aspirasi seseorang yang berkembang di masyarakat yang kemudian aspirasi
tersebut digabungkan dengan aspirasi orang lain yang sejalan. Setelah aspirasi yang
masuk digabungkan, maka aspirasi tersebut kemudian dirumuskan menjadi usul
kebijakan. Proses perumusan ini lah yang dinamakan perumusan kepentingan
(interest articulation).
Sebagai sarana sosialisasi politik, partai politik memiliki peran untuk
menyampaikan nilai-nilai dan norma-norma yang ditujukan untuk memberikan
sosialisasi kepada lintas generasi dengan tujuan untuk membentuk budaya politik
yang baik dalam suatu negara.
Sebagai pengatur konflik, partai politik bertanggung jawab untuk meredam
dan mengatasi konflik yang biasa terjadi pada suasana demokrasi. Lebih lanjut
Budiharjo mendefinisikan bahwa partai politik pada awalnya lahir karena kegiatan
politik yang bersifat elitis dan aristokratis dengan mempertahankan kepentingan
kaum bangsawan terhadap tuntutan-tuntutan raja.
Menurut Firmanzah (2008: 70) partai politik memiliki dua peran penting baik
secara internal organisasi maupun eksternal organisasi. Secara internal, partai politik
memainkan peran penting dalam pembinaan, edukasi, pembekalan, kaderisasi, serta
melanggengkan ideologi politik yang menjadi latar belakang pendirian partai politik.
Sedangkan, secara eksternal organisasi partai politik memiliki fungsi yang
berhubungan langsung dengan konstitusional, moral dan etika untuk membawa
kondisi dan situasi masyarakat agar lebih baik.
Hershey (2014: 123) menjelaskan partai politik dalam aplikasinya di praksis
kehidupan antara lain digunakan sebagai alat mobilisasi untuk tindakan kolektif dan
29
merekrut pemimpin dan mengatur akses ke jabatan politik. Sebagai alat untuk
mobilisasi, partai politik diciptakan untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan
tiga bidang utama, yaitu pilihan pemilih (berkaitan dengan bagaimana calon harus
mendapatkan dukungan pemilih dalam pemilihan umum serta mampu memobilisasi
pemilih tersebut), pejabat terpilih (pejabat terpilih harus dapat menyelesaikan konflik
soal rekruitmen kepemimpinan), dan suksesi (berkaitan dengan siapa yang akan
memiliki kesempatan untuk merebutkan pada waktu tertentu).
Partai politik memiliki fungsi yang berbeda dengan organisasi lainnya, baik
sekarang maupun yang akan datang. Fungsi tersebut diantaranya partai politik dapat
mewakili kepentingan massa pemilih; memobilisasi massa; menyajikan alternatif isu
yang relevan dengan masalah yang dihadapi bangsa dan menjalankannya setelah
berkuasa; merekrut calon untuk mencalonkan diri dalam perebutan jabatan publik
dan mendukung mereka pada saat kampanye; serta memberikan kesatuan dan kohesi
untuk membuat sistem pemerintahan yang terfragmentasi memiliki kinerja yang
memadai. Selain itu, Crotty (2014: 38-40) juga berpendapat bahwa peran partai
politik dapat memungkinkan adanya resolusi damai atas perbedaan dan kompromi
dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang bertentangan.
Sejalan dengan pendapat Crotty, Meyer (2012: 21-28) mengemukakan bahwa
partai politik memainkan peran khusus yang tidak dapat digantikan oleh organisasi
lain. Peran penting ini yang kemudian mendudukkan partai politik di posisi pusat
(political centrality). Posisi pusat partai politik ini memiliki dua dimensi, yaitu (1)
setelah berhasil mengagregasikan berbagai kepentingan dan nilai yang ada dalam
masyarakat, partai politik kemudian mentransformasikannya menjadi sebuah agenda
yang dapat dijadikan platform pemilu. Selain itu, partai politik harus mampu
mempengaruhi proses politik dalam legislasi dan implementasi program kebijakan
30
publik; (2) parpol adalah satu-satunya pihak yang dapat menerjemahkan kepentingan
dan nilai masyarakat ke dalam legislasi dan kebijakan publik yang mengikat.
Lebih lanjut Meyer menjelaskan bahwa secara umum permasalahan pokok
yang dihadapi partai politik di Indonesia menyangkut pada lima isu utama, yaitu (1)
kapasitas organisasional (seperti kemampuan memobilisasi dan mengelola sumbersumber finansial, personal, dan material); (2) memelihara integritas (seperti
kemampuan mencegah perpecahan internal sebagai akibat dari hadirnya perbedaan
dalam tubuh partai); (3) mempraktikan demokrasi secara internal (seperti
menegakkan mekanisme yang demokratis dalam pengambilan keputusan penting);
(4) kemampuan memenangkan pemilu (seperti kegiatan menentukan isu-isu
kampanye dan rekruitmen kandidat anggota parlemen); dan (5) pengembangan
ideologi partai (seperti kegiatan menentukan posisi partai tarhadap isu-isu strategis
yang berkembang dalam masyarakat).
2.2.3
Indikator Partai Politik Modern
Lebih lanjut Sartori (2005:57) mengungkapkan bahwa sistem kepartaian di
suatu negara dapat berubah-ubah karena variabel pembentuknya tidak bersifat
diskrit. Sartori menunjukkan adanya empat variabel pembentuk, yaitu: (1) sistem dan
mekanisme pemilu yang berlaku; (2) nilai demokrasi pada tataran operasional yang
dipahami oleh satu bangsa; (3) pola mekanisme pengambilan keputusan politik yang
dikenal dalam nilai kultural yang berlaku; (4) kuat atau tidaknya idelogi nasional.
Dari pemikiran tersebut, lebih lanjut Sartori (2005) menjelaskan bahwa partai
politik dapat dikatakan modern jika memenuhi empat kriteria, yaitu: (1) partai harus
terbuka; (2) partai memiliki ideologi yang demokratis; (3) partai memiliki sistem
regenerasi yang teratur; (4) partai mempunyai sistem kaderisasi yang baik. Setiap
31
indikator partai politik modern, khususnya yang terkait dengan kondisi Partai
Demokrat dapat dijelaskan sebagai berikut.
2.2.3.1 Keterbukaan Partai Politik
Partai politik sebagai organisasi politik yang demokratis idealnya harus
bersifat terbuka. Terbuka berarti setiap partai politik fleksibel menyesuikan diri
terhadap dinamika politik yang sedang berkembang. Selain itu, terbuka juga
memiliki pengertian bahwa partai politik bersifat plural, yaitu terbuka untuk semua
warga negara tanpa membedakan suku bangsa, ras, profesi, jenis kelamin, agama,
dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Keterbukaan yang dilakukan sebuah partai yang memiliki platform berbeda
dengan partai yang lain menandakan bahwa jarak ideologi diantara partai-partai
politik saat ini semakin menyatu tak ada penyekat diantara partai-partai tersebut.
Fenomena ini disebut oleh Sartori sebagai kecenderungan sentripetal dalam partai
politik. Menurut Sartori, dalam demokrasi yang sudah terinstitusionalisasi secara
baik, ideologi partai akan mengarah ketengah dan membuat penyekat ideologi
antarpartai akan semakin tidak jelas. Dengan kata lain, partai-partai politik akan
semakin pragmatis dalam upayanya mendapatkan kekuasaan.
Salah satu bentuk keterbukaan partai politik dapat digambarkan melalui
hubungan dialogis (semangat keterbukaan) antara elit partai dengan kadernya
maupun dengan anggota masyarakat. Dengan adanya semangat keterbukaan antara
stakeholder partai tersebut, maka akan terwujud titik temu dan keseimbangan antara
apa yang diinginkan oleh masyarakat dan partai politik. Hal ini karena berdialog
dimaksudkan untuk mencari kesepakatan dengan pihak-pihak yang memiliki
pendapat dan kepentingan yang berbeda (Firmanzah 2008: 67-680).
32
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa untuk mewujudkan hubungan
dialogis yang baik, maka partai politik harus memiliki semangat keterbukaan untuk
menerima masukan dari berbagai pihak, termasuk pihak yang bersebrangan dengan
ideologi partai yang bersangkutan. Jika partai politik menutup diri terhadap
kemungkinan-kemungkinan baru (menutup diri terhadap perkembangan di
masyarakat), maka akan tercipta suasana yang kurang harmonis antara partai politik
dengan masyarakat.
2.2.3.2 Ideologi Partai Politik
Partai politik dan ideologi merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan.
Apter (1998:236) menjelaskan bahwa sebagian partai politik mengubah bentuk
ideologi menjadi dogma, yang mana setiap partai politik berkewajiban untuk
menerima ideologi tersebut sebagai prinsip atau arah kebijakan. Ideologi terbentuk
karena adanya kombinasi antara tiga komponen penting yang saling berhubungan,
yaitu pilihan, nilai, dan kepentingan. Pilihan dapat diubah menjadi kepentingan dan
kepentingan menjadi nilai atau sebaliknya pilihan dapat ditingkatkan pada status
nilai untuk mencapai kepentingan.
Secara lebih jelas keterkaitan antara tiga komponen tersebut digambarkan
dalam gambar berikut.
Kepentingan
Nilai
Pilihan
Gambar 2.1 Komponen-Komponen Ideologi
Sumber: Apter (1988: 236)
33
Selain itu, Prasetyo (2011: 6) juga menjelaskan bahwa ideologi berperan
besar untuk mengetahui ke mana arah partai politik menjalankan fungsinya. Dengan
dasar ideologi, partai politik dapat menjalankan fungsinya melalui program kerja
kebijakan partai, yang kemudian akan diimplementasikan dalam wujud kerja nyata
yang hasilnya dapat dirasakan masyarakat secara keseluruhan. Di dalam ideologi
terkandung nilai-nilai yang berkaitan dengan kesejahteraan, pendidikan, kesehatan,
ketenangan, kenyamanan masyarakat yang akan diciptakan ketika partai tersebut
mendapatkan kekuasaan.
Ideologi juga dapat diartikan sebagai sistem kepercayaan dan norma. Sistem
kepercayaan dalam hal ini melihat bahwa ideologi memberikan basis legitimasi bagi
para penganutnya untuk berpikir, bersikap, dan bertindak atas suatu permasalahan
tertentu. Ideologi juga dapat digunakan sebagai identitas atau karateristik suatu partai
politik, sehingga semua orang terutama para pemilih yang berhak memberikan suara
dapat dengan mudah membedakannya dengan partai politik lain. Dalam kaitan ini
ideologi adalah basis sistem nilai dan faham yang menjelaskan mengapa suatu partai
politik harus ada. Selain itu, ideologi merupakan basis perjuangan atau cita-cita yang
ingin dicapai suatu partai politik (Firmanzah 2008: 100-105).
Dari penjelasan di atas, berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga (AD/ART Pasal 3), ideologi Partai Demokrat adalah Nasionalis-Religius.
Dengan ideologi Nasionalis-Religius, Partai Demokrat berusaha bekerja keras untuk
kepentingan rakyat dengan landasan moral dan agama serta memperhatikan aspek
nasionalisme, humanisme, dan pluralisme dalam rangka mencapai tujuan
perdamaian, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat.
Wujud dari semangat nasionalisme berupa keterbukaan Partai Demokrat,
khususnya terkait dengan keanggotaan partai. Partai Demokrat terbuka untuk seluruh
34
Warga Negara Indonesia tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Hal ini
berarti semua warga negara memiliki hak yang sama untuk menjadi anggota atau
kader Partai Demokrat dan berhak untuk bergabung di dalam wadah perjuangan
Partai Demokrat.
Partai Demokrat meyakini kebenaran Pancasila sebagai dasar negara dan
falsafah bangsa. Dinamika sejarah Indonesia membuktikan bahwa ideologi Pancasila
telah terbukti mampu mempersatukan kekuatan bangsa setiap kali terjadi krisis
disintegrasi. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila bisa diperkaya dengan konsep
budaya modern, budaya global dan nilai-nilai universal. Partai Demokrat memiliki
Idealisme perjuangan yang terkenal dengan “Trilogi Perjuangan”, yang meliputi:
demokrasi, kesejahteraan dan keamanan. Sesuai dengan tuntutan zaman di tengah
dunia global, demokrasi, kesejahteraan, dan keamanan merupakan tiga hal yang
secara sinergis harus selalu diperjuangkan. Pada hakikatnya perjuangan demokrasi
adalah upaya sebesar-besarnya menghargai aspirasi-aspirasi rakyat yang dengan itu
mereka memperoleh peluang yang luas untuk menyalurkan aspirasi dan
berkontribusi dan selanjutnya memperoleh jaminan untuk menikmati hasil
perjuangan secara profesional. Demokrasi bukan tujuan perjuangan, tetapi alat dan
cara berjuang.
Kesejahteraan adalah rasa tenteram rakyat karena terpenuhinya hajat hidup
lahir batin. Kesejahteraan lahir didasarkan pada standar universal yang menyangkut
kesehatan, sandang, pangan dan papan (kesejahteraan ekonomi dan sosial),
sedangkan kesejahteraan batin menyangkut persepsi yang bersifat intelektual,
emosional maupun spiritual, yakni rasa terlindungi dan terpenuhinya hak-hak
intelektual, emosional dan spiritual rakyat. Kesejahteraan bukan alat perjuangan
tetapi tujuan perjuangan. Sedangkan keamanan pada hakikatnya adalah rasa bebas
35
dari penyimpangan yang mengancam. Seorang pelaku kriminal pasti terancam oleh
aparat keamanan, pelaku amoral pasti terancam oleh sanksi sosial. Keamanan yang
harus dikembangkan adalah jangan sampai orang jujur justru merasa terancam, orang
disiplin justru merasa terancam, korban kejahatan justru merasa terancam, terancam
oleh penyimpangan kebijakan pelayanan publik atau penyimpangan penegak hukum
dan pemegang amanat politik. Jaminan keamanan akan terwujud jika berlangsung
kepastian hukum di tengah masyarakat.
Sebagai partai modern, Partai Demokrat mempunyai wawasan nasionalisme,
pluralisme dan humanisme, dapat dipahami bahwa ideologi Nasionalis-Religius
dapat dijabarkan dalam wawasan nasionalisme, pluralisme dan humanisme, seperti:
a.
Nasionalisme
Partai Demokrat menempatkan kepentinggan nasional sebagai komitmen
utama. Semua kepentingan; individu, kelompok dan golongan akan dikalahkan jika
mengancam kepentingan nasional bangsa Indonesia. Nasionalisme yang dianut
Partai Demokrat bukanlah nasionalisme chauvinisme yang memungkinkan
terjadinya penindasan suatu bangsa oleh bangsa lain, tetapi nasionalisme yang
didasari oleh penghayatan keagamaan, menyayangi sesama manusia dan bahkan
kepada semua ciptaan Tuhan.
b.
Pluralisme
Sudah menjadi kenyataan sejarah bahwa bangsa Indonesia terdiri dari
beragam suku, ras, agama dan budaya, dan dari keragaman itu telah lahir soliaritas
nasional menghadapi penjajahan hingga lahirlah Negara Republik Indonesia.
Manajemen keragaman itu dimungkinkan karena adanya semangat Bhineka Tunggal
Ika, yakni meski ada identitas yang berbeda-beda tetapi pada hakikatnya adalah satu
kesatuan, yaitu kesatuan bangsa Indonesia. Tugas memanaged keragaman bukan
36
dengan menyeragamkan yang beragam, tetapi menyatukan visi dari kekuatan yang
beragam.
c.
Humanisme
Sejalan dengan ajaran agama bahwa makhluk yang dimuliakan oleh Tuhan
yang oleh karena itu manusia berkewajiban memelihara kemuliaan dirinya. Wujud
perjuangan pemuliaan diri manusia adalah perlindungan hak-hak asasi manusia.
Agama mengajarkan perlindungan manusia untuk memperoleh hakhaknya, yakni
perlindungan fisik dari penganiayaan, perlindungan nyawa dari pembunuhan,
perlindungan
akal
dari
penindasan
intelektual,
perlindungan
harta
dari
kepemilikannya serta perlindungan jati diri dari kesucian nasabnya (keturunannya).
Ajaran inilah yang menjelma menjadi HAM dalam budaya modern. Dalam
pergaualan antar manusia, Partai Demokrat mengakui dan menghormati adanya
berbagai solidaritas, seperti solidaritas keagamaan, solidaritas nasional dan
solidaritas kemanusiaan. Bangsa Indonesia sesuai dengan Pembukaan UUD 1945,
menentang penjajahan di muka bumi yang dilakukan oleh bangsa kuat kepada
bangsa yang lemah. Bangsa Indonesia juga harus menentang setiap ada penindasan
asasi manusia yang terjadi dibelahan dunia manapun sebagai wujud solidaritas
kemanusiaan (humanisme).
2.2.3.3 Regenerasi Partai Politik Yang Teratur
Budiarjo (2013:408) menjelaskan bahwa fungsi partai politik berkaitan erat
dengan masalah seleksi kepemimpinan, baik kepemimpinan internal partai maupun
kepemimpinan nasional yang lebih luas. Untuk kepentingan internalnya, setiap partai
membutuhkan kader-kader yang berkualitas, karena hanya dengan kader yang
demikian ia dapat menjadi partai yang mempunyai kesempatan lebih besar untuk
mengembangkan diri. Dengan mempunyai kader-kader yang baik, partai tidak akan
37
sulit menentukan pemimpinnya sendiri dan mempunyai peluang untuk mengajukan
calon untuk masuk ke bursa kepemimpinan nasional. Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa regenerasi sangat dibutuhkan dalam perkembangan partai
politik modern.
Dalam perkembangan partai politik modern, regenerasi yang teratur
merupakan kunci sebuah partai politik menjalankan roda organisasinya. Hal ini
dikarenakan
partai
politik
merupakan
representasi
dari
kepentingan
dan
kesejahteraan rakyat, sehingga untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan secara
teratur dan terstruktur. Regenerasi dalam partai politik berkaitan dengan bagaimana
partai politik melakukan rekruitmen atau seleksi kepemimpinan.
Berdasarkan aturan yang terdapat di dalam AD Partai Demokrat Bab VIII,
jangka waktu kepengurusan partai pada semua tingkatan adalah 5 (lima) tahun,
sehingga setiap lima tahun sekali terjadi proses regenerasi kepemimpinan. Proses
regenerasi kepemimpinan ini dilakukan melalui Kongres, Muktamar, dan Munas
(tingkat nasional), Musda (tingkat provinsi), dan Muscab (tingkat kota/kabupaten).
Jika terjadi penyimpangan terhadap jangka waktu kepengurusan partai, baik kurang
dari lima tahun, maka dapat dilakukan melalui pelaksanaan Kongres Luar Biasa,
Musyawarah Daerah Luar Biasa, Musyawarah Cabang Luar Biasa, Musyawarah
Anak Cabang Luar Biasa, Musyawarah Ranting Luar Biasa.
Regenerasi menjadi suatu kewajiban organisasi. Organisasi hidup karena
kepedulian mereka terhadap regenerasi. Pentingnya regenerasi dalam suatu
organisasi ini yaitu pengkaderan anggota agar berkualitas. Organisasi tidak akan
berjalan tanpa adanya regenerasi tapi seperti apakah generasi tersebut berjalan.
Generasi penerus organisasi dan penerus bangsa tidak lain ditentukan dari kualitas
generasi tersebut. Pada saat ini banyak sekali generasi muda Indonesia yang bagus
38
dan berkualitas namun masih takut untuk terjun atau muncul dalam dunia politik.
Faktor salah satunya adalah generasi muda saat ini mempunyai anggapan bahwa
politik itu kotor, kejam, korupsi dan amburadul.
2.2.3.4 Kaderisasi Partai Politik
Sumber daya manusia merupakan satu diantara faktor yang menentukan
keberhasilan partai politik. Dalam upaya mendapatkan sumber daya manusia yang
sesuai dengan visi dan misi partai, maka partai politik perlu mengembangkan sistem
rekruitmen, seleksi, dan kaderisasi politik yang baik.
Sistem kaderisasi sangat dibutuhkan dalam upaya mendukung terwujudnya
program kerja partai politik. Hal ini dikarenakan, melalui sistem kaderisasi partai
politik dapat mentransfer beberapa pengetahuan (knowledge) politik yang tidak
hanya terkait dengan sejarah, misi, visi, dan strategi partai politik, tetapi juga hal-hal
yang terkait dengan permasalahan bangsa dan negara. Selain itu, dalam sistem
kaderisasi juga dilakukan transfer keterampilan dan keahlian dalam berpolitik
(Firmanzah 2008:70-71).
Heryanto (2010:) juga berpendapat bahwa untuk menjadi partai modern,
maka partai politik di Indonesia perlu memenuhi beberapa karateristik antara lain:
pertama partai politik harus mampu meminimalisir kekuatan referen (referent
power). Hal ini berarti partai politik modern meskipun membutuhkan figur atau
tokoh sentral, namun tidak dibenarkan partai politik memiliki ketergantungan yang
berlebihan terhadap figur atau tokoh tersebut, karena dapat dapat mengundang
budaya feodal dan sistem dinasti politik.
Kedua, partai modern dibangun melalui kemampuan anggotanya untuk
melakukan proses refleksivitas (reflexivity). Partai memfasilitasi anggota-anggota
organisasinya mampu melihat ke masa depan dan membuat perubahan-perubahan di
39
dalam struktur atau sistem jika diprediksi hal-hal tertentu tidak akan berjalan.
Refleksivitas
adalah
kemampuan
untuk
menentukan
alasan-alasan
pilihan
perilakunya. Dengan demikian, partai modern adalah partai yang progresif dalam
beradaptasi dengan situasi dinamis, bukan partai yang terjebak dalam gejala
groupthink. Kecermatan dalam merumuskan dan mengaplikasikan platform partai
menjadi keniscayaan, bukan semata fokus pada rencana pragmatis figur politik.
Ketiga, partai modern dibangun melalui tahapan kaderisasi. Ketiga tahapan tersebut
berjalan secara integratif yakni merekrut orang untuk bergabung dengan wadah
partai, lantas membina kader menjadi loyalis serta mendistribusikan kader ke dalam
posisi-posisi tertentu. Perkembangan dinamis-pragmatis kerap menciderai tahapan
kaderisasi ini. Partai politik dalam konteks tersebut kerap menjadi pintu masuk bagi
munculnya politisi-politisi non kader yang mengatasnamakan partai dalam perebutan
jabatan publik tertentu, sehingga hal ini dapat merusak suasana batiniyah kader
sekaligus menumbuhkan parasit yang suatu saat akan menggrogoti tubuh partai
tersebut. Partai Demokrat dalam hal ini seyogianya memiliki sistem yang jelas
mengenai kaderisasi.
Keempat, partai modern harus mau dan mampu menjalankan fungsi-fungsi
partai. Diantara fungsi-fungsi penting itu adalah menjadi saluran agregasi politik,
pengendalian konflik dan kontrol. Bagaimana pun partai memiliki posisi penting
dalam menstimulasi dan menunjukkan arah kepentingan politik yang semestinya
menjadi perhatian publik. Selain itu, juga dapat menjadi saluran yang tepat saat
konflik muncul dan eskalatif sekaligus menjadi pengontrol yang efektif dalam
sebuah sistem politik.
40
2.3
Konseptualisasi
Konseptualisasi adalah proses pembentukan konsep dengan bertitik tolak
pada gejala-gejala pengamatan. Proses ini berjalan secara induktif, dengan
mengamati sejumlah gejala secara individual, kemudian merumuskannya dalam
bentuk konsep dan bersifat abstrak. Dengan kata lain, untuk membantu menjawab
rumusan masalah, serta mempermudah pengukuran hasil penelitian, maka diperlukan
penjelasan tentang batasan-batasan variabel yang akan diteliti. Berdasarkan judul
yang diangkat yaitu “Modernisasi Partai Politik di Tingkat Lokal (Studi Kasus
Partai Demokrat Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten
Purworejo”), maka konseptualisasi dalam penelitian ini adalah tentang dimensi
modernisasi partai politik. Penjelasan tentang dimensi modernisasi partai politik
tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Modernisasi yang dimaksud berkaitan dengan bagaimana upaya pelaksanaan
modernisasi Partai Demokrat, khususnya di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo. Pada saat ini Partai Demokrat sudah menuju modernisasi
politik, dengan memasukkannya modernisasi ke dalam lima agenda Partai Demokrat
tahun 2015. Modernisasi tersebut meliputi infra struktur dan system politik. Namun,
dalam perjalanan menuju modernisasi berbagai permasalahan dihadapi partai
Demokrat, salah satunya konflik internal partai. Oleh karena itu, secara operasional
penelitian ini akan melihat sejauh mana modernisasi di tubuh Partai Demokrat
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo dilakukan.
Konseptualisasi dalam penelitian ini terdiri dari dua segi kepentingan, yaitu
kepentingan akademis dan kepentingan praksis. Dari segi kepentingan akademis,
penelitian ini akan mengukuhkan, menyangkal, atau melakukan revisi terhadap teori
partai politik modern yang dikembangkan Sartori (2005:57). Indikator yang dipakai
41
dalam mengkategorikan partai politik modern adalah keterbukaan, ideologi,
regenerasi yang teratur, dan kaderisasi yang baik. Sedangkan kepentingan praktis
berhubungan dengan pentingnya penelitian itu dalam pengembangan ilmu politik
yang dapat berguna bagi kemajuan akademik Program Studi Ilmu Politik.
Untuk memperjelas konsep berpikir dalam penelitian tentang “Modernisasi
Partai Politik di Tingkat Lokal (Studi Kasus Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang,
Kota
Salatiga,
dan
Kabupaten
Purworejo)”
menjabarkannya ke dalam rescoping penelitian sebagai berikut.
42
maka
peneliti
RESCOPING PENELITIAN
PARTAI DEMOKRAT
KABUPATEN
SEMARANG
KOTA
SALATIGA
KABUPATEN
PURWOREJO
1.
1.
2.
3.
4.
Keterbukaan
Ideologi
Regenerasi
Kaderisasi
2.
GAP
REGULASI
PARTAI
DEMOKRAT
TEORI PARTAI
POLITIK
MODERN
3.
4.
INPUT
PROSES
KONFLIK INTERNAL
PARTAI DEMOKRAT
MODERNISASI
PARTAI DEMOKRAT
Gambar 2.2 Rescoping Penelitian
43
UU
Partai
Politik
AD/ART
Partai
Demokrat
Visi dan Misi
Partai
Demokrat
Kebijakan
Partai
Demokrat
HASIL
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Desain Penelitian
Ditinjau dari permasalahan dan tujuan dalam penelitian ini, maka desain
penelitian yang digunakan adalah desain penelitian diskriptif dengan pendekatan
kualitatif yang didukung dengan pendekatan kuantitatif sederhana. Sugiyono
(2013:336) mendefinisikan penelitian deskriptif adalah penelitian yang bersifat
menggambarkan suatu fenomena, peristiwa, gejala, baik menggunakan data kualitatif
maupun kuanitatif yang bertujuan untuk mendapatkan dan menyampaikan faktafakta dengan jelas dan teliti. Metode penelitian deskriptif juga dapat diartikan
sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaan
subjek dan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak
atau bagaimana adanya.
Creswell (2014: 19-21) menyampaikan dalam penelitian kualitatif terdapat
lima jenis penelitian. Kelima jenis penelitian tersebut antara lain etnografi, grounded
theory, studi kasus (cas study), fenomenologi dan naratif. Dari kelima jenis
penelitian tersebut, peneliti memilih salah satu jenis penelitian tersebut, yaitu
penelitian studi kasus. Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan secara cermat
tentang modernisasi politik Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga,
dan Kabupaten Purworejo.
Dari penjelasan Sugiyono maupun Creswell di atas, untuk mendapatkan data
yang dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, peneliti cenderung
menggunakan pendekatan kualitatif untuk menemukan data pokoknya, sedangkan
pendekatan kuantitatif digunakan sebagai pendukung dan hanya menunjukkan
44
ranking saja. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan
digunakan untuk menggali informasi yang sifatnya lebih mendalam serta untuk
memperjelas gambaran tentang modernisasi Partai Demokrat di Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo. Sedangkan
pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survei, yaitu penelitian yang
mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat
pengumpul data dan individu sebagai unit analisa. Pendekatan kuantitatif
dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul
data, dengan tujuan memberikan penjelasan mengenai hubungan antara beberapa
variabel penelitian.
3.2
Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini membahas tentang modernisasi partai politik di tingkat
lokal khususnya pada Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo. Munculnya gagasan untuk melakukan penelitian ini diawali
dari adanya permasalahan yang dihadapi Partai Demokrat, yaitu terkait dengan
konflik internal. Konflik internal tersebut disebabkan karena adanya pemberhentian
Ketua DPC yang menurut isu di media tidak dilakukan melalui prosedur. Oleh
karena itu, fokus utama dari penelitian ini tentunya adalah melihat dinamika konflik
internal dan mengetahui bagaimana pelaksanaan indikator modernisasi Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo.
45
3.3
Situs Penelitian
Situs penelitian adalah tempat seorang peneliti melakukan sebuah penelitian
atau tempat penelitian tersebut dilakukan. Situs penelitian yang digunakan untuk
tesis ini adalah tiga kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, yang meliputi
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo. Alasan peneliti
memilih ketiga kabupaten/kota tersebut sebagai situs penelitian karena penelitian ini
bermaksud untuk mengkaji dinamika konflik internal dalam konteks modernisasi
politik, khususnya di daerah yang mengalami konflik internal. Secara lebih jelas,
situs penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Lokasi
Lokasi
Gambar 3.1 Peta Administrasi Provinsi Jawa Tengah
Sumber: Peta Administrasi Provinsi Jawa Tengah
3.4
Subjek Penelitian
Penelitian ini fokus pada kajian tentang dinamika konflik internal dan
modernisasi politik pada Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga,
dan Kabupaten Purworejo. Penelitian ini mengambil informan yang dianggap
memahami tentang berbagai kasus yang diteliti khususnya yang berhubungan dengan
Partai Demokrat. Para Informan yang dapat diwawancarai antara lain: pengurus DPC
Partai Demokrat Kabupaten Semarang, kader Partai Demokrat Kabupaten Semarang,
46
Sandi (Direktur Eksekutif Partai Demokrat Kota Salatiga), Yoppy Wibowo (Ketua
DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo), dan M. Abdullah Mantan Ketua DPC
Partai Demokrat Kabupaten Purworejo, Ali Mashadi (Direktur Eksekutif DPD Partai
Demokrat Provinsi Jawa Tengah).
Selain melakukan wawancara, peneliti juga membagikan kuisioner yang
berisi peryataan-peryataan terkait dengan indikator pelaksanaan fungsi partai politik
modern, yang meliputi indikator keterbukaan, indikator ideologi, indikator kaderisasi
dan indikator regenarsi. Koisioner tersebut disebar di tiga Kabupaten/ Kota yang
menjadi objek penelitian, dimana jumlah responden sebanyak 100 responden yang
dihitung dengan menggunakan rumus slovin. Adapun penyebaran koisioner yaitu 33
untuk Kabupaten Semarang, 33 untuk Kota Salatiga, dan 34 untuk Kabupaten
Purworejo.
3.5
Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kualitatif yang
didukung dengan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk
angka, biasanya berupa uraian dan informasi yang berisi keterangan-keterangan
terkait dengan penelitian. Sumber data penelitian berasal dari data penelitian yang
diperoleh. Yang menjadi sumber data kualitatif dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1)
Sumber Data Primer
Data primer adalah informasi yang diperoleh langsung dari sumber-sumber
primer, yaitu informan pertama atau narasumber. Data primer yaitu data yang dibuat
oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang
47
ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama
atau tempat objek penelitian dilakukan (Sugiyono, 2009: 137).
Sumber data primer diperoleh peneliti melalui wawancara maupun
penyebaran koisioner kepada responden. Responden adalah orang yang dimintai
keterangan tentang suatu fakta atau pendapat, dan keterangan yang diperoleh dapat
disampaikan dalam bentuk tulisan, yaitu ketika mengisi angket atau lisan, maupun
saat menjawab wawancara. Responden dalam penelitian ini adalah Ketua DPD Partai
Demokrat Provinsi Jawa Tengah, Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Provinsi Jawa
Tengah dan pengurus serta kader Partai Demokrat Provinsi jawa Tengah.
2)
Sumber Data Sekunder
Selain kata-kata atau tindakan sebagai sumber data primer, data tambahan
seperti dokumen, juga merupakan sumber data. Dokumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dokumen KPU Provinsi Jawa Tengah khususnya yang berkaitan
dengan perolehan suara Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo, beberapa literatur, artikel, jurnal ilmiah, internet serta hasil
penelitian yang terkait dengan kajian tentang dinamika konflik internal dan
modernisasi politik.
3.6
Penentuan Informan atau Responden Penelitian
Informan dalam penelitian kualitatif sangat membantu peneliti untuk
memperoleh sumber data yang relevan. Hal ini disebabkan karena informan
memiliki informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang diteliti, dimintai
informasi mengenai objek penelitian tersebut. Beberapa informan yang akan diminta
sumber data dapat dijelaskan melalui tabel berikut.
48
Tabel 3.1 Daftar Informan Penelitian
No
1
Rumusan Masalah
Menerangkan dan
menganalisis
pelaksanaan
modenisasi Partai
Demokrat di
Kabupaten
Semarang, Kota
Salatiga, dan
Kabupaten
Purworejo dilihat
dari prespektif
indikator partai
politik modern.
Data yang
diperlukan
Indikator yang
dimiliki Partai
Demokrat sebagai
partai modern
49
Sumber
Metode
a. Joko
Lestari Wawancara
(kader Partai mendalam
Demokrat
dan Survei
Kabupaten
Semarang)
b. Gunung Imam
(PLT
Sekretaris DPC
Partai
Demokrat
Kabupaten
Semarang)
c. Muhdiyono
(pengurus PAC
Partai
Demokrat
Ungaran Barat
Kabupaten
Semarang)
d. Hasyim
(pengurus DPC
Partai
Demokrat
Kabupaten
Semarang
e. Adhi
Sandi
(Direktur
Eksekutif
Partai
Demokrat Kota
Salatiga)
f. Sri
Rohani
(Kader Partai
Demokrat Kota
Salatiga)
g. Yophi
Prabowo (PLT
Ketuan DPC
Partai
Demokrat
Kabupaten
Purworejo)
No
Rumusan Masalah
Data yang
diperlukan
Menerangkan dan
menganalisis
tantangan dan
hambatan Partai
Demokrat di
Kabupaten
Semarang, Kota
Salatiga, dan
Kabupaten
Purworejo untuk
menuju partai
politik modern.
Sumber
h. Ali Mashadi
(Direktur
Eksekutif
Partai
Demokrat DPD
Jawa Tengah)
i. Muhammad
Abdullah
(Mantan Ketua
DPC Partai
Demokrat
Kabupaten
Purworejo
Metode
a. Joko
Lestari Wawancara
(kader
Partai mendalam
Demokrat
dan Survei
Kabupaten
Semarang)
b. Gunung Imam
(PLT Sekretaris
DPC
Partai
Demokrat
Kabupaten
Semarang)
c. Muhdiyono
(pengurus PAC
Partai
Demokrat
Ungaran Barat
Kabupaten
Semarang)
d. Hasyim
(pengurus DPC
Partai
Demokrat
Kabupaten
Semarang
e. Adhi
Sandi
(Direktur
Eksekutif Partai
Demokrat Kota
Salatiga)
50
No
Rumusan Masalah
3.7
3.7.1
Data yang
diperlukan
Sumber
f. Sri
Rohani
(Kader Partai
Demokrat Kota
Salatiga)
g. Yophi Prabowo
(PLT Ketuan
DPC
Partai
Demokrat
Kabupaten
Purworejo)
h. Ali
Mashadi
(Direktur
Eksekutif
Partai
Demokrat DPD
Jawa Tengah)
i. Muhammad
Abdullah
(Mantan Ketua
DPC
Partai
Demokrat
Kabupaten
Purworejo
Metode
Teknik Pengumpulan Data
Metode Interview (Wawancara)
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
mendalam (in-depth interviewing) atau sering disebut dengan istilah teknik
wawancara tidak struktur. Dalam teknik wawancara tidak struktur, peneliti merasa
tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dan ingin menggali informasinya secara
mendalam dan lengkap dari narasumber. Oleh karena itu, wawancara ini dilakukan
dengan pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended), dan mengarah pada
kedalaman informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak formal terstruktur
51
dengan tujuan untuk menggali dan memperoleh informasi yang
lebih lengkap
(Sutopo 2006:68-69).
Dalam kegiatan wawancara peneliti menggunakan panduan wawancara agar
kegiatan wawancara dalam penelitian ini memperoleh keterangan tentang bagaimana
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo
menjalankan fungsi partai politik modern, serta bagaimana dampak konflik internal
terhadap modernisasi Partai Demokrat di ketiga Kabupaten/Kota tersebut.
3.7.2
Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk
dijawabnya (Sugiyono, 2014). Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi
melalui daftar pertanyaan (kuesioner) yang diberikan kepada pengurus Partai
Demokrat Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Semarang yang
dihitung menggunakan rumus slovin, yaitu berjumlah 100 orang.
3.7.3
Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan, prestasi, agenda, dan sebagainya. Metode dokumentasi
digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data serta informasi tertulis yang
berhubungan dengan permasalahan penelitian. Hal ini dilakukan untuk melengkapi
dan membuktikan data yang diambil. Berkaitan dengan penelitian ini, maka
dokumen yang dikaji berupa dokumen tentang Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo.
52
Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku,
literatur, internet, dan lain-lain yang berpotensi dan memiliki keterkaitan dengan
masalah penelitian.
3.8
Analisis dan Interpretasi Data
3.8.1
Analisis Data Kualitatif
Sebagaimana dijelaskan bahwa ciri utama dari penelitian kualitatif
prosedurnya bergantung pada data yang berbentuk teks dan gambar bukan berupa
angka, maka inti dari analisis dan interpretasi data kualitatif ialah memaknai data
yang berbentuk teks dan gambar yang bukan dalam bentuk angka. Oleh sebab itu,
dalam penelitian kualitatif diperlukan beberapa langkah, seperti melakukan analisis
secara berbeda-beda, bergerak dalam pemahaman yang semakin mendalam dalam
memahami data, menyajikan data, dan membuat interpretasi makna data yang
semakin meluas (Sarwono, 2013: 18).
Dari penjelasan Sarwono tersebut, analisis dan interpretasi data dalam
penelitian ini akan dianalisis dengan cara transkripsi dan kategorisasi yang
didasarkan pada tema, kemudian dideskripsikan dan diinterpretasi, sehingga
diperoleh makna data yang berkaitan secara langsung dengan masalah yang akan
dijawab, yaitu latarbelakang, alasan, dan faktor yang berkaitan dengan dinamika
konflik internal, serta modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo.
Untuk lebih memperjelas bagaimana proses analisis data yang dilakukan
dalam penelitian ini, peneliti mengadopsi pendekatan linier dan hierarkis yang
dibangun dari bawah ke atas, dan saling berhubungan satu sama lain. Pendekatan ini
dikembangkan oleh Creswell ke dalam enam langkah analisis data. Keenam langkah
analisis data tersebut antara lain:
53
1)
Mengelola dan mempersiapkan data untuk di analisis
Dalam langkah ini, peneliti melakukan kegiatan-kegiatan seperti transkripsi
data wawancara, men-scaning materi, mengetik data lapangan, atau memilah-milah,
dan yang terakhir menyusun data tersebut ke dalam jenis-jenis yang berbeda
tergantung pada sumber informasi yang diperoleh (Creswell, 2014: 276).
2)
Membaca keseluruhan data
Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam langkah ini adalah membangun
general sense atas informasi yang diperoleh dan merefleksikan maknanya secara
keseluruhan. Untuk merefleksikan makna data yang diperoleh, peneliti menulis
catatan-catatan khusus atau gagasan-gagasan umum tentang data yang diperoleh
(Creswell, 2014: 276).
3)
Menganalisis lebih detail dengan meng-coding data
Mengutip pendapat Rossman dan Rallis (dalam Cresswell, 2014: 276-277)
yang dimaksud coding adalah proses mengolah materi atau informasi menjadi
segmen-segmen tulisan sebelum memaknainya. Beberapa tahapan yang dilakukan
peneliti di langkah ini diantaranya mengambil data tulisan atau gambar yang telah
dikumpulkan selama proses pengumpulan, mensegmentasi kalimat-kalimat (atau
paragraf-paragraf) atau gambar-gambar tersebut ke dalam kategori-kategori, dan
kemudian melabeli kategori-kategori tersebut dengan istilah-istilah khusus yang
seringkali didasarkan pada istilah atau bahasa yang benar-benar berasal dari
partisipan. Kegiatan ini sering disebut dengan istilah in vivo.
4)
Menerapkan proses coding
Tujuan menerapkan proses coding adalah untuk mendeskripsikan setting,
orang-orang, kategori-kategori, dan tema-tema yang akan di analisis. Deskripsi
diperoleh dengan melibatkan usaha penyampaian informasi secara detail mengenai
54
orang-orang, lokasi-lokasi, atau peristiwa-peristiwa dalam setting tertentu (Creswell,
2014: 282-283).
5)
Menghubungkan tema/deskripsi-deskripsi khsusnya pada penelitian studi kasus
Pada langkah ini, peneliti menunjukkan bagaimana deskripsi dan tema-tema
yang diperoleh disajikan kembali ke dalam narasi atau laporan kualitatif. Pendekatan
yang
digunakan
adalah
dengan
menerapkan
pendekatan
naratif
dalam
menyampaikan hasil analisis. Pendekatan naratif yang dimaksud meliputi
pembahasan tentang kronologi peristiwa, tema-tema tertentu (lengkap dengan
subtema-subtema, ilustrasi-ilustrasi khusus, perspektif-perspektif, dan kutipankutipan), atau tentang keterhubungan antartema (Creswell, 2014: 283). Selain
pembahsan tersebut, peneliti juga menggunakan instrument lain berupa visual-visual,
gambar-gambar, atau tabel-tabel guna membantu proses penyajian data penelitian.
6)
Menginterpretasi tema-tema/deskripsi-deskripsi
Kegiatan interpretasi atau pemaknaan dilakukan dengan maksud membantu
peneliti menegaskan apakah hasil penelitian membenarkan atau justru menyangkal
informasi-informasi sebelumnya. Dengan kata lain, interpretasi data merupakan
proses perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari
literatur atau teori-teori yang digunakan. Interpretasi data biasanya berupa kumpulan
pertanyaan-pertanyaan baru yang perlu dijawab selanjutnya (pertanyaan-pertanyaan
yang berasal dari data dan analisis, dan bukan bukan dari hasil ramalan peneliti
(Creswell, 2014: 283-284).
55
Keenam langkah analisis data tersebut kemudian secara jelas digambarkan
pada gambar berikut.
Menginterpretasi tema-tema/deskripsideskripsi
Menghubungkan tema-tema/deskripsideskripsi (studi kasus)
Tema-tema
Menvalidasi
keakuratan inforasi
Deskrips
i
Men-coding data
(tangan atau computer)
Membaca keseluruhan data
Mengolah dan mempersiapkan data
untuk dianalisis
Data mentah (transkripsi, data, lapangan,
gambar, dan sebagainya)
Gambar 3.2 Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif
Sumber: Creswell (2014: 277)
3.8.2
Analisis Data Kuantitatif
3.8.2.1 Teknik Pengolahan Data Kuantitatif
56
Pengolahan data kuantitatif diperoleh melalui metode survei dengan
menggunakan angket dan diolah menggunakan statistik deskriptif yang berupa skala
lirket dan prosentase. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah pengurus,
kader atau simpatisan Partai Demokrat Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo pada pemilu legislatif tahun 2014. Pada pemilu legislatif
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang memperoleh suara sebanyak 42.222 suara,
Kota Salatiga 8.502 suara, dan Kabupaten Purworejo memperolah 44.663 suara. Jika
kemudian diakumulasikan, ketiga Kabupaten / Kota tersebut mendapatkan suara
sebanyak 9.387 suara.
Sugiyono (2014: 80) menjelaskan bahwa populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya. Bagian dari jumlah karetistik yang dimiliki populasi inilah
yang menurut Sugiyono disebut sebagai sampel. Jika peneliti memiliki keterbatasan
dana, tenaga dan waktu dalam penelitian tersebut, maka peneliti dapat menggunakan
sampel yang diambil dari populasi tersebut. Hal ini dimungkinkan mengingat jumlah
populasi yang besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada
populasi. Penentuan sampel dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin
(Riduwan 2010) yaitu :
n=
N
N (e)2 + 1
n = ukuran sampel
N = populasi (pengurus, kader atau simpatisan Partai Demokrat Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo)
e = tingkat presisi yang ditetapkan
57
Dalam penelitian ini digunakan tingkat presisi ketidaktelitian 10% sehingga
ukuran sampel dalam penelitian ini yaitu:
n=
95.387
95.387 (0,1)2 + 1
n=
95.387
95.387 x 0,01 + 1
n = 99, 89527
n dibulatkan menjadi 100 sampel
3.8.2.2 Teknik Pengukuran Skor
Teknik pengukuran skor dalam penelitian ini menggunakan teknik penilaian
skala Likert. Sugiyono (2014: 93) menjelaskan teknik skala Likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat, dan presepsi seseorang atau sekelompok orang tentang
fenomena sosial, yang mana fenomena sosial tersebut telah ditetapkan secara
spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Data
yang diperoleh merupakan data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan.
Lebih lanjut Sugiyono mengemukakan bahwa dengan skala Likert, maka
variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel yang dijadikan
sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa
pernyataan maupun pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen dalam skala Linkert
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa
kata-kata antara lain: (a) sangat setuju sampai dengan sampai sangat tidak setuju; (b)
selalu sampai tidak pernah; (c) sangat positif sampai sangat negatif; dan (d) sangat
baik sampai sangat tidak baik.
58
Dengan dasar penjelasan Sugiyono tersebut, peneliti memilih bentuk gradasi
dari sangat baik sampai sangat tidak baik dengan variabel penelitian Modernisasi
Partai Demokrat, yang kemudian dijabarkan menjadi 4 indikator, yaitu keterbukaan,
pelaksanaan ideologi, pelaksanaan sistem regenerasi, dan kaderisasi yang baik.
Untuk kategori penilaian, peneliti memberi nilai persepsi 1 bila indikator yang
dimaksud menunjukkan sangat tidak baik, tidak baik diberi nilai persepsi 2, baik
diberi nilai persepsi 3, dan sangat baik diberi nilai persepsi 4.
Contoh bentuk checklist teknik pengukuran skor dengan skala Likert dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut.
Berilah jawaban pernyataan/pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda,
dengan cara memberi tanda (V) pada kolom yang tersedia!
Tabel 3.2 Indikator 1: Apakah Partai Demokrat termasuk partai yang terbuka?
No
Pernyataan
Interval Nilai
4
1.
Kader memiliki akses yang sama untuk
memperoleh informasi terkait dengan
kebijakan Partai Demokrat
2.
Partai Demokrat terbuka dalam
menyampaikan laporan keuangan
kepada kader
Partai Demokrat terbuka dalam
menyampaikan program kerja kepada
kader
Komunikasi antara elit Partai Demokrat
dan kader berjalan baik
Partai Demokrat terbuka terhadap kritik
3.
4.
5.
59
2
3
1
Tabel 3.3 Indikator 2: Apakah Partai Demokrat memiliki ideologi yang jelas?
No
Pernyataan
Interval Nilai
4
1.
Partai Demokrat terbuka untuk semua
warga Negara tanpa memandang ras,
golongan, maupun kelompok tertentu
2.
Terdapat pengakuan dan penghargaan
terhadap solidaritas
Mekanisme penyelesaian konflik
internal partai melalui musyawarah
Kesantunan Partai Demokrat
Terdapat toleransi terhadap perbedaan
3.
4.
5.
3
2
1
Tabel 3.4 Indikator 3 : Apakah Partai Demokrat memiliki sistem regenerasi yang
teratur?
No
Pernyataan
Interval Nilai
4
1.
2.
3.
4.
5.
Semua kader memiliki kesempatan dan
hak yang sama dalam sistem
kepengurusan Partai Demokrat
Terdapat persyaratan menjadi pengurus
Pendidikan dan pelatihan kader
Terdapat kriteria dalam menentukan
pengurus
Mekanisme pergantian pengurus sesuai
AD/ART
60
3
2
1
Tabel 3.5 Indikator 4 : Apakah Partai Demokrat mempunyai sistem kaderisasi
yang baik?
No
Pernyataan
Interval Nilai
4
1.
Ketepatan waktu pelatihan kader
2.
Partai memiliki pedoman dan kriteria
dalam merekrut kader
Mekanisme penjaringan kader partai
dilakukan tidak berdasarkan kedekatan
personal atau persaudaraan
Sistem rekruitmen kader dilakukan
secara terbuka, transparan, dan
akuntabel
Keterwakilan kader perempuan
3.
4.
5.
3
2
1
Keterangan:
SB
: Sangat baik (4)
B
: Baik (3)
TB
: Tidak baik (2)
STB
: Sangat tidak baik (1)
Setelah pengambilan data melalui kuesioner selesai, maka langkah
selanjutnya adalah menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban
dari responden. Berdasarkan skor yang telah ditetapkan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
Jumlah skor untuk responden (…..orang) yang menjawab SB x 4
Jumlah skor untuk responden (…..orang) yang menjawab B x 3
Jumlah skor untuk responden (…..orang) yang menjawab TB x 2
Jumlah skor untuk responden (…..orang) yang menjawab STB x 1
=…..orang
Jumlah total
Setelah ditemukan jumlah total, maka selanjutnya menghitung skor ideal
(kriterium) untuk seluruh item = 4 x 91 = 364 (seandainya semua menjawab SB),
61
maka tingkat keterbukaan Partai Demokrat dapat dihitung dengan rumus: Jumlah
total : skor ideal) x 100%.
Setelah mendapatkan skor ideal, langkah selanjutnya adalah melakukan
analisis terhadap data yang diperoleh. Sebagaimana disampaikan di awal, penelitian
ini merupakan penelitian diskriptif dengan pendekatan kualitatif yang didukung
pendekatan kuantitatif sederhana (deskriptif kuantitatif). Dengan demikian, data
yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif
kuantitatif yang diungkapkan dalam distribusi skor dan persentase terhadap kategori
skala penilaian yang telah ditentukan. Setelah penyajian dalam bentuk persentase,
langkah selanjutnya adalah mendeskriptifkan dan mengambil kesimpulan tentang
masing-masing indikator. Kesesuaian aspek dalam indikator partai politik modern ini
dapat menggunakan tabel interpretasi skor sebagai berikut.
Tabel 3.6 Interpretasi Presentase Tanggapan Responden
Persentase
Kriteria
36,01% - 52 %
Sangat tidak baik
52,01% - 68%
Tidak baik
68,01% - 84%
baik
84,01% - 100%
Sangat baik
Sumber: dikembangkan dari model interpretasi skor Narimawati (2007:85)
3.9
Kualitas Data
Untuk menjamin validitas data yang diperoleh, peneliti melakukan uji
kualitas data dengan menggunakan teknik trianggulasi. Patton (dalam Sutopo, 2006:
92) menyatakan ada empat macam teknik trianggulasi, yakni (1) triangulasi data, (2)
triangulasi peneliti, (3) triangulasi metodologis, dan (4) triangulasi teoretis. Melalui
teknik triangulasi tersebut, data-data penelitian dipastikan berasal dari sumber62
sumber data yang legal, akurat dan valid, baik sumber data primer maupun sumber
data skunder. Keempat macam teknik triangulasi data tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut.
a.
Triangulasi data merupakan kegiatan membandingkan dan mengecek balik
derajat kepercayaan informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang
berbeda.
b.
Triangulasi peneliti dilakukan melalui dua strategi, yaitu mengecek derajat
kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data, dan
melakukan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan
metode yang sama.
c.
Triangulasi metodologis dilakukan dengan jalan memanfaatkan peneliti atau
pengamat lain untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data.
d.
Triangulasi teoritis didapatkan berdasarkan anggapan bahwa fakta tertentu
tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori.
3.10
Pembatasan dan Keterbatasan Penelitian
Untuk menfokuskan penelitian, periode yang diteliti dibatasi pada kurun
waktu tahun 2010 sampai tahun 2015. Pembatasan tersebut dilakukan dengan alasan
bahwa dari tahun 2010 hingga tahun 2015 dari data awal yang diperoleh, peneliti
dapat memberikan kesimpulan bahwa dinamika konflik internal Partai Demokrat,
khususnya di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo terjadi
secara terbuka. Hal ini sangat menarik jika dikaitkan dengan upaya Partai Demokrat
mewujudkan modernisasi. Selain itu, pada periode tersebut, belum banyak penelitian
lain yang membahas tentang dinamika konflik internal dan modernisasi Partai
Demokrat.
63
BAB IV
SETTING OBJEK PENELITAN
4.1
Kekuatan Politik Partai Demokrat di Tiga Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo
Partai Demokrat merupakan salah satu partai politik yang berpartisipasi pada
pelaksanaan pemilu 2004, 2009, 2014. Dalam periodisasi keikutsertaannya pada
pelaksanaan pemilu tersebut, Partai Demokrat mengalami berbagai dinamika politik
termasuk naik turunnya jumlah perolehan suara. Pada pelaksanaan pemilu,
khususnya pemilu legislatif di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten
Purworejo, Partai Demokrat termasuk partai politik yang tidak stabil dalam
perolehan suara. Bahkan pada penyelenggaraan pemilu legislatif tahun 2014, di
Kabupaten Semarang, Partai Demokrat hanya memperoleh 42.223 suara, di Kota
Salatiga mendapatkan 8.502 suara, sedangkan di Kabupaten Purworejo hanya
mendapatkan 44.663 suara.
Dengan perolehan suara yang tidak stabil, jumlah kursi yang dimiliki Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo pun
juga tidak stabil. Pada pelaksanaan pemilu legislatif 2014 perolehan kursi Partai
Demokrat di tiga kabupaten/kota tersebut bahkan mengalami penurunan drastis.
Sebagaimana data yang diperoleh, pada pelaksanaan pemilu legislatif 2014 di
Kabupaten Semarang Partai Demokrat hanya mendapatkan 1 kursi (berkurang 3
kursi dari pileg tahun 2009), di Kota Salatiga mendapatkan 2 kursi (berkurang 4
kursi dari pileg 2009), dan di Kabupaten Purworejo meskipun tidak mengalami
penurunan yang drastis seperti dua kabupaten/kota sebelumnya juga hanya
mendapatkan 6 kursi (turun 2 kursi dari pileg 2009).
64
Adapun rincian perolehan jumlah suara dan jumlah kursi pada pemilu
legislatif tahun 2014 pada masing-masing
kabupaten/kota tersebut
dapat
digambarkan pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Rincian Perolehan Jumlah Suara dan Jumlah Kursi Pemilihan
Legislatif Tahun 2014 Kabupaten Semarang
No
Nama Partai Politik
Perolehan Suara
Jumlah Kursi
1
Partai Nasional Demokrat (Nasdem) 21.038
0
2
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
65.846
5
3
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
50.787
5
4
Partai Demokrasi Perjuangan
130.006
11
Indonesia (PDIP)
5
Partai Golongan Karya (Golkar)
58.455
5
6
Partai Gerakan Indonesia Raya
57.153
5
(Gerindra)
7
Partai Demokrat
42.223
4
8
Partai Amanat Nasional (PAN)
52.308
3
9
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 49.000
3
10 Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
44.108
4
11 Partai Bulan Bintang (PBB)
1.251
0
12 Partai Keadilan & Persatuan
1.723
0
Indonesia (PKPI)
Jumlah
573.898
45
Sumber: diolah dari data KPU Kabupaten Semarang 2014
Perolehan kursi dan perolehan suara Partai Demokrat di masing-masing dapil
secara rinci dijabarkan melalui tabel berikut.
Tabel 4.2 Perolehan suara Partai Demokrat Kabupaten Semarang Pada Pemilu
Legislatif Tahun 2014
DAPIL
Perolehan Suara
Jumlah Kursi
I
11.596
1
II
11.603
1
III
5.908
IV
6.407
1
V
6.708
1
Jumlah Total
42.222
4
Sumber: diolah dari Laporan KPU tentang Penyelenggaraan Pemilu Kabupaten
Semarang tahun 2014
65
Keterangan:
Dapil I meliputi: Kecamatan Bergas, Kecamatan Ungaran Barat, dan
Kecamatan Ungaran Timur
Dapil II meliputi: Kecamatan Tuntang, Kecamatan Bawen, dan
Kecamatan Pringapus
Dapil II meliputi: Kecamatan Suruh, Kecamatan Pabelan, Kecamatan
Bringin, dan Kecamatan Bancak
Dapil III meliputi: Kecamatan Getasan, Kecamatan Tengaran, Kecamatan
Susukan, dan Kecamatan Kaliwungu
Dapil IV meliputi: Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Jambu, Kecamatan
Sumowono, Kecamatan Ambarawa, dan Kecamatan Bandungan
Tabel 4.3 Rincian Perolehan Jumlah Suara dan Jumlah Kursi Pemilihan
Legislatif Tahun 2014 Kota Salatiga
No
Nama Partai Politik
Perolehan Suara
Jumlah Kursi
1
Partai Nasional Demokrat (Nasdem) 6.086
1
2
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
7.711
2
3
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
15.170
4
4
Partai Demokrasi Perjuangan
31.582
8
Indonesia (PDIP)
5
Partai Golongan Karya (Golkar)
9.642
2
6
Partai Gerakan Indonesia Raya
12.176
4
(Gerindra)
7
Partai Demokrat
8.502
3
8
Partai Amanat Nasional (PAN)
4.046
0
9
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 6.023
1
10 Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
944
0
11 Partai Bulan Bintang (PBB)
554
0
12 Partai Keadilan & Persatuan
896
0
Indonesia (PKPI)
Jumlah
103.336
25
Sumber: diolah dari data KPU Kota Salatiga 2014
Tabel 4.4 Perolehan suara Partai Demokrat Kota Salatiga Pada Pemilu
Legislatif Tahun 2014
DAPIL
Perolehan Suara
Jumlah Kursi
I
2573
1
II
1847
1
III
1892
IV
2190
1
Jumlah Total
8502
3
Sumber: diolah dari Laporan KPU tentang Penyelenggaraan Pemilu Kota Salatiga
tahun 2014
66
Keterangan:
Dapil I meliputi: Kecamatan Argomulyo
Dapil II meliputi: Kecamatan Sidomukti
Dapil II meliputi: Kecamatan Sidorejo
Dapil III meliputi: Kecamatan Tingkir
Tabel 4.5 Rincian Perolehan Jumlah Suara dan Jumlah Kursi Pemilihan
Legislatif Tahun 2014 Kota Salatiga
No
Nama Partai Politik
Perolehan Suara
Jumlah Kursi
1
Partai Nasional Demokrat (Nasdem) 15.101
2
2
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
24.938
6
3
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
15.321
4
4
Partai Demokrasi Perjuangan
47.258
8
Indonesia (PDIP)
5
Partai Golongan Karya (Golkar)
47.151
7
6
Partai Gerakan Indonesia Raya
35.410
6
(Gerindra)
7
Partai Demokrat
21.659
6
8
Partai Amanat Nasional (PAN)
14.589
1
9
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 7.613
2
10 Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
17.640
3
11 Partai Bulan Bintang (PBB)
6.519
12 Partai Keadilan & Persatuan
2.735
Indonesia (PKPI)
Jumlah
255.934
45
Sumber: diolah dari data KPU Kabupaten Purworejo 2014
Tabel 4.6 Perolehan suara Partai Demokrat Kabupaten Purworejo Pada
Pemilu Legislatif Tahun 2014
DAPIL
Perolehan Suara
Jumlah Kursi
I
6.276
1
II
3.704
1
III
6.908
1
IV
4.771
1
V
10.397
1
VI
12.607
1
Jumlah Total
44.663
6
Sumber: diolah dari Laporan KPU tentang Penyelenggaraan Pemilu Kabupaten
Purworejo tahun 2014
67
Keterangan:
Dapil I meliputi: Kecamatan Kaligesing, dan Kecamatan Purworejo
Dapil II meliputi: Kecamatan Ngombol, Kecamatan Purwodadi, dan
Kecamatan Bagelen
Dapil III meliputi: Kecamatan Banyuurip, dan Kecamatan Bayan
Dapil IV meliputi: Kecamatan Grabak, Kecamatan Kutoarjo, dan
Kecamatan Butuh
Dapil V meliputi: Kecamatan Pituruh, Kecamatan Kemiri, dan
Kecamatan Bruno
Dapil VI meliputi: Kecamatan Gebang, Kecamatan Loano, dan
Kecamatan Bener
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kekuatan Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Semarang
termasuk rendah. Dalam usaha memobilisasi masyarakat untuk memilih Partai
Demokrat masih di bawah partai-partai lain seperti PDIP, Golkar, Gerindra dan PKS.
Gambaran umum tentang kekuatan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo di atas memiliki makna bahwa elektabilitas
politik pada Partai Demokrat masih belum stabil dalam mengambil hati masyarakat.
Dari sebanyak 12 partai politik menjadi peserta Pemilu tahun 2014 di tiga daerah
tersebut jika diakumulasikan Partai Demokrat memiliki wakil yang cukup sedikit
yaitu 4 wakil di Kabupaten Semarang, 3 wakil di Kota Salatiga, dan 6 wakil di
Kabupaten Purworejo.
4.2
Profil Singkat Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Kabupaten Semarang secara geografis terletak pada 110°14’54,75’’ sampai
dengan 110°39’3’’ Bujur Timur dan 7°3’57” sampai dengan 7°30’ Lintang Selatan.
Keempat koordinat bujur dan lintang tersebut membatasi wilayah seluas 95.020,674
Ha. Secara administratis letak geografis Kabupaten Semarang berbatasan langsung
dengan enam Kabupaten/Kota, selain itu di tengah-tengah wilayah Kabupaten
68
Semarang terdapat Kota Salatiga. Di sisi sebelah Barat, Wilayah Kabupaten
Semarang berbatasan dengan wilayah administrasi Kabupaten Kendal dan
Temanggung, disisi Selatan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, Sementara disisi
sebelah Timur wilayah Kabupaten Semarang berbatasan dengan Wilayah Kabupaten
Grobogan dan Kabupaten Demak. Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Semarang
(BPS Kabupaten Semarang Tahun 2014).
Kabupaten Semarang memiliki 19 Kecamatan yang terdiri dari 235
desa/kelurahan. Pada tahun 2014, Kabupaten Semarang memiliki lima daerah
pemilihan (dapil). Kelima dapil tersebut antara lain dapil 1 yang terdiri dari 3
Kecamatan, yaitu Kecamatan Ungaran Barat, Kecamatan Ungaran Timur dan
Kecmatan Bergas dengan jumlah Pemilh 139459. Dapil 2 terdiri dari 3 kecamatan,
yaitu Kecamatan Bawen, Kecamatan Pringapus, dan Kecamatan Tuntang dengan
jumlah pemilih 119460. Dapil 3 terdiri dari 5 Kecamatan, yaitu Kecamatan
Ambarawa, Kecamatan Jambu, Kecamatan Sumowono, Kecamatan Banyubiru, dan
Kecamatan Bandungan dengan jumlah pemilih 169166. Dapil 4 terdiri dari 4
Kecamatan, yaitu Kecamatan Beringin, Kecamatan Bancak, Kecamatan Pabelan, dan
Kecamatan Suruh dengan jumlah pemilih 142135, dan dapil 5 terdiri dari 4
Kecamatan, yaitu Kecamatan Getasan, Kecamatan Tengaran, Kecamatan Susukan
dan Kecamatan Kaliwungu dengan jumlah pemilih 150279.
Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat disimpulkan jumlah Pemilih pada
pileg 2014 sebanyak 744.958 pemilih sedangkan suara sah yang masuk sebanyak
573.898 suara. Jumlah suara ini tersebar tidak merata di kecamatan, dengan tingkat
partisipasi pemilih sebesar 77,04 persen. Suara terbanyak berada di Kecamatan
Suruh, UngaranBarat, Tengaran dan Tuntang, sedangkan yang terkecil di Kecamatan
Bancak, Kaliwungu dan Sumowono. Persentase pemilih yang menggunakan hak
69
pilihnya paling besar di kecamatan Getasan, Bawen, Tengaran, Bandungan dan
Bergas dengan partisipasi lebih besar dari 80 persen. Persentase partisipasi pemilih
terkecil di Kecamatan Bancak (66,63 persen) dan Kecamatan Suruh 69,54 persen).
Ada beberapa Kecamatan yang persentase partisipasi pemilihnya di bawah angka
partisipasi Kabupaten sebesar 77,04 persen meliputi kecamatan Bancak, Suruh,
Susukan, Kaliwungu, Bringin, Pabelan, Ungaran Barat, Ambarawa dan Sumowono
(BPS Kabupaten Semarang tahun 2014).
Dewan Pengurus Cabang Partai Demokrat Kabupaten Semarang merupakan
Dewan Pengurus Cabang Partai Demokrat Kabupaten Semarang pada saat ini
berkedudukan di Kecamatan Ungaran Timur, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Ruko
Ungaran Center No 1 Asrama, Kabupaten Semarang. DPC ini berdiri pada tahun
2003 dengan diketuai oleh Sugito dan Sekretaris Sutiyono, S.H. Dewan Pimpinan
Cabang merupakan pelaksana Partai di tingkat Kabupaten Semarang yang
kepengurusannya bersifat kolektif. Adapun pengesahan berdirinya Dewan Pimpinan
Cabang (DPC) ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Dewan Pimpinan
Cabang berwenang untuk menentukan kebijakan tingkat Kotamadya sesuai dengan
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, ketetapan Kongres, Rapat Tingkat
Nasional serta peraturan partai lainnya.
70
Gambar 4.1 Kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Sumber: Dokumentasi Pribadi
4.3
Profil Singkat Partai Demokrat Kota Salatiga
Kota Salatiga merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa
Tengah, dengan luas wilayah ± 56,78 km², berpenduduk 171.067 jiwa. Secara
geografis Kota Salatiga terletak antara 007.17‟ dan 007.17.23” Lintang Selatan dan
antara 110.27‟.56,81” dan 110.32‟.464” Bujur Timur. Sedangkan secara
administratif Kota Salatiga berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Semarang
dan dibagi menjadi 4 kecamatan dan 23 kelurahan. 4 kecamatan tersebut meliputi
Kecamatan Sidorejo, KecamatanTingkir, Kecamatan Sidomukti, dan Kecamtan
Argomulyo (http://salatigakota.go.id/TentangGeografi.php diudnduh tanggal 20 Mei
2016 pukul 11:53). Pada tahun 2014, Kota Salatiga memiliki empat dapil. Keempat
dapil tersebut antara lain: dapil 1 (Kecamatan Argomulyo), dapil 2 (Kecamatan
Sidomukti), dapil 3 (Kecamatan Sidorejo), dan dapil 4 (Kecamatan Tingkir).
Dewan Pengurus Cabang Partai Demokrat (PD) Kota Salatiga memiliki
sekretariatan di Jalan Veteran 51 Kota Salatiga. Dewan Pimpinan Cabang
merupakan pelaksana Partai di tingkat Kota Salatiga yang kepengurusannya bersifat
kolektif. Adapun pengesahan berdirinya Dewan Pimpinan Cabang (DPC) ditetapkan
71
oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Dewan Pimpinan Cabang berwenang untuk
menentukan kebijakan tingkat Kotamadya sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran
Rumah Tangga, ketetapan Kongres, Rapat Tingkat Nasional serta peraturan partai
lainnya.
Gambar 4.2 Kantor DPC Partai Demokrat Kota Salatiga
Sumber: Dokumentasi Pribadi
4.4
Profil Singkat Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Kabupaten Purworejo merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa
Tengah yang terletak antara 109o47’28’’ sampai 110o8’20” Bujur Timur dan antara
7o32’’ sampai 7o54’’ Lintang Selatan. Sebelah Utara Kabupaten Purworejo
berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Magelang dan sebelah selatan
berbatasan dengan Samudra Indonesia. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten
Kebumen dan sebelah timur berbatasan dengan wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta tepatnya Kabupaten Kulonprogo (BPS Kabupaten Purworejo 2014).
Berdasarkan data tersebut Kabupaten purworejo termasuk di dapil IV (Dapil) Jawa
Tengah dengan memilik 6 dapil yang meliputi dapil 1 (Kecamatan Argomulyo),
72
dapil 2 (Kecamatan Sidomukti), dapil 3 (Kecamatan Sidorejo), dan dapil 4
(Kecamatan Tingkir).
Untuk Dewan Pengurus Cabang Partai Demokrat Kabupaten Purworejo pada
saat ini berkedudukan di Jalan Brigjen Katamso No 89 Purworejo. Dewan Pimpinan
Cabang merupakan pelaksana Partai di tingkat Kabupaten Purworejo yang
kepengurusannya bersifat kolektif. Adapun pengesahan berdirinya Dewan Pimpinan
Cabang (DPC) ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Dewan Pimpinan
Cabang berwenang untuk menentukan kebijakan tingkat Kotamadya sesuai dengan
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, ketetapan Kongres, Rapat Tingkat
Nasional serta peraturan partai lainnya.
Gambar 4.3 Kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Sumber: Dokumentasi Pribadi
4.5
Sejarah Partai Demokrat
Partai Demokrat didirikan pada hari minggu 9 September 2001 dan disahkan
pada 27 Agustus 2003. Partai Demokrat merupakan sebuah organisasi politik yang
dibentuk atas dasar persamaan kehendak untuk memperjuangkan kepentingan
73
anggota maupun kepentingan bangsa dan negara. Oleh karena itu, dengan ideologi
Nasionalis-Religius, Partai Demokrat berusaha bekerja keras untuk mewujudkan
kepentingan rakyat dengan landasan moral dan agama serta memperhatikan aspek
nasionalisme, humanisme, dan pluralisme dalam rangka mencapai tujuan
perdamaian, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat. Usaha keras Partai Demokrat ini
yang kemudian menghasilkan suatu doktrin yang bernama Tri Pakca Gatra Praja.
Yang dimaksud Tri Pakca Gatra Praja adalah tiga kehendak yang kuat atau tiga
ketetapan hati dalam membangun bangsa dan negara, yang diwujudkan ke dalam
Trilogi Perjuangan Partai, yaitu demokrasi, kesejahteraan, dan keamanan serta Tiga
Wawasan Partai, yaitu nasionalisme, humanisme, dan pluralisme.
Pendirian Partai Demokrat didasarkan pada upaya membentuk partai politik
yang modern dan terbuka bagi segenap warga bangsa Indonesia. Hal ini
mengandung perngertian bahwa Partai Demokrat bersifat terbuka untuk siapa saja
tanpa membedakan suku bangsa, ras, profesi, jenis kelamin, agama, dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan pendiriannya adalah untuk menegakkan,
mempertahankan, dan mengamankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
sesuai dengan jiwa Proklamasi Kemerdekaan serta untuk mewujudkan cita-cita
Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Sesuai dengan AD/ART, Partai Demokrat melaksanakan program-program
yang diamanatkan UU Partai Politik (UU No 2 Tahun 2011) melalui penjabaran visi
dan misi partai. Visi dan misi Partai Demokrat adalah sebagai berikut.
Visi Partai Demokrat
“bersama masyarakat luas berperan mewujudkan keinginan luhur rakyat
Indonesia agar mencapai pencerahan dalam kehidupan kebangsaan yang
merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur, menjunjung tinggi semangat
Nasionalisme, Humanisme dan Internasionalisme, atas dasar ketakwaan
74
kepada Tuhan yang maha Esa dalam tatanan dunia baru yang damai,
demokratis dan sejahtera”.
Misi Partai Demokrat
Misi Partai Demokrat meliputi dua misi yaitu:
a. memberikan garis yang jelas agar partai berfungsi secara optimal dengan
peranan yang signifikan di dalam seluruh proses pembangunan Indonesia
baru yang dijiwai oleh semangat reformasi serta pembaharuan dalam
semua bidang kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan
kedalam formasi semula sebagaimana telah diikrarkan oleh para pejuang,
pendiri pencetus Proklamasi kemerdekaan berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan titik berat kepada upaya mewujudkan
perdamaian, demokrasi (Kedaulatan rakyat) dan kesejahteraaan;
b. meneruskan perjuangan bangsa dengan semangat kebangsaan baru
dalam melanjutkan dan merevisi strategi pembangunan Nasional sebagai
tumpuan sejarah bahwa kehadiran partai Demokrat adalah melanjutkan
perjuangan generasi-generasi sebelumnya yang telah aktif sepanjang
sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sejak melawan penjajah merebut
Kemerdekaan, merumuskan Pancasila dan UUD 1945, mengisi
kemerdekaan secara berkesinambungan hingga memasuki era reformasi;
c. memperjuangkan tegaknya persamaan hak dan kewajiban Warganegara
tanpa membedakan ras, agama, suku dan golongan dalam rangka
menciptakan masyarakat sipil (civil society) yang kuat, otonomi daerah
yang luas serta terwujudnya representasi kedaulatan rakyat pada struktur
lebaga perwakilan dan permusyawaratan”.
Dalam upaya mewujudkan visi dan misi tersebut, Partai Demokrat memasukkan
lima agenda kegiatan pada tahun 2015 sebagai berikut.
a. Modernisasi yang meliputi infrastruktur fisik maupun sistem.
b. Peningkatan kepemimpinan dan manajemen yang mencakup pendidikan dan
pelatihan bagi kader Partai Demokrat.
c. peningkatan pengabdian kepada masyarakat.
d. Penyuksesan pilkada (pemilihan langsung kepala daerah) yang meliputi
pemilihan calon terbaik yang beritegritas, kapasitas, elektabilitas, dan
mengutamakan kader.
e. Penyuksesan pemilu 2019 dengan tetap melaksanakan politik yang bersih,
cerdas, dan beretika.
75
Upaya modernisasi Partai Demokrat sudah teramanatkan dalam Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART. Anggaran Dasar Partai Demokrat berbunyi
“….Meyakini bahwa perjuangan itu hanya dapat berhasil dengan ridha Allah Yang
Maha Besar, Tuhan Yang Maha Esa, serta usaha-usaha yang sungguh-sungguh,
kerja keras, penuh kebijaksanaan, dan berkelanjutan dan berkesinambungan, seraya
memohon ridha Allah, Tuhan Yang Maha Esa, pada hari Minggu, tanggal 9
September tahun 2001 didirikan partai politik yang modern dan terbuka bagi
segenap warga bangsa dengan nama “PARTAI DEMOKRAT”….,
Kutipan Anggaran Dasar tersebut menunjukkan bahwa Partai Demokrat
mendeklarasikan diri sebagai partai politik modern dan terbuka. Oleh karena itu,
sebagai partai modern dan terbuka sudah sepatutnya Partai Demokrat menjalankan
prinsip-prinsip modernitas dalam menjalankan program-program maupun dalam
pengambilan keputusan atau kebijakan partai.
76
BAB V
MODERNISASI PARTAI DEMOKRAT KABUPATEN SEMARANG, KOTA
SALATIGA, DAN KABPUATEN PURWOREJO
Pada bab ini, selain memaparkan hasil temuan penelitian, peneliti juga
menganalisis sekaligus membahas modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo. Dalam melakukan analisis dan
pembahasan, peneliti mengkombinasikan data hasil temuan penelitian, baik data
primer (wawancara dan hasil angket) maupun data sekunder (AD/ART Partai
Demokrat, Visi dan Misi, Program Kerja, dan dokumen-dokumen lain) dengan teoriteori yang terkait dengan dinamika konflik dan modernisasi politik. Teori yang
terkait dengan penelitian ini antara lain teori yang dikemukakan teori Sartoni
(indikator partai politik modern), dan beberapa pernyataan terkait fungsi partai
politik modern yang dikembangkan Budiharjo, Surbakti maupun teori lain yang
relevan.
5.1
Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga,
dan Kabupaten Purworejo
Sartori (2005:57) menjelaskan bahwa partai politik modern idealnya harus
memenuhi empat indikator, diantaranya partai politik harus terbuka, partai politik
harus mempunyai ideologi yang jelas, partai politik harus memiliki regenerasi yang
teratur, serta partai politik harus menjalankan sistem kaderisasi yang baik. Dalam
upaya mewujudkan modernisasi ini, Partai Demokrat mengalami berbagai
permasalahan terutama terkait dengan masalah internal partai, sehingga dari keempat
indikator partai politik modern tersebut, maka hasil dan analisis beberapa hal tentang
77
upaya modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo dijelaskan sebagai berikut.
Data yang diperoleh terkait dengan modernisasi Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo meliputi beberapa
hal diantaranya (1) keterbukaan, yang meliputi keterbukaan akses informasi tentang
kebijakan dan keputusan, keterbukaan pengelolaan keuangan (laporan keuangan),
keterbukaan dalam penyampaian program kerja, keterbukaan komunikasi (antara elit
dan kader), dan keterbukaan terhadap kritik; (2) ideologi, yang berkaitan dengan
keberagaman kader (terbuka untuk semua warga negara Indonesia tanpa memandang
suku, ras, dan agama), pengakuan dan penghargaan terhadap solidaritas, mekanisme
penyelesaian konflik internal partai melalui aturan main yang disepakati bersama
dalam AD/ART, apakah mekanisme pergantian pengurus dilakukan secara
demokratis melalui forum musyawarah sesuai dengan AD/ART, dan toleransi
terhadap perbedaan; (3) sistem regenerasi, yang meliputi persiapan regenerasi, syarat
mengikuti proses regenerasi, ketepatan waktu dalam melakukan regenerasi,
kesempatan dan hak kader dalam sistem kepengurusan Partai Demokrat; (4)
kaderisasi, yang meliputi persyaratan perekrutan calon kader partai, kriterian calon
pemimpin partai, Mekanisme penjaringan kader, rekruitmen kader dilakukan secara
terbuka, transparan, dan akuntabel, dan Pengumuman seleksi kader secara terbuka
dan transparan. Penjelasan tentang indikator dan sub indikator tersebut dijelaskan
dalam tabel berikut.
78
Tabel 5.1 Indikator dan Sub Indikator Partai Politik Modern
Indikator Partai Sub-indikator Partai Politik Modern
Politik Modern
Keterbukaan
- Keterbukaan akses informasi tentang kebijakan dan
Pelaksanaan
keputusan
- Keterbukaan pengelolaan keuangan (laporan keuangan)
- Keterbukaan dalam penyampaian program kerja
- Keterbukaan komunikasi (antara elit dan kader)
- Keterbukaan terhadap kritik
Ideologi Partai
- Keberagaman anggota/kader
- Pengakuan dan penghargaan terhadap solidaritas
- Penyelesaian konflik internal melalui musyawarah
- Kesantunan
- Toleransi terhadap perbedaan
Sistem
- Persamaan hak menjadi pengurus partai
Regenerasi
- Persyaratan menjadi pengurus partai
- Pendidikan dan pelatihan kader
- Kriteria pengurus partai
- Mekanisme pergantian pengurus partai sesuai aturan
AD/ART
Kaderisasi
- Ketepatan waktu pelatihan kader
- Pedoman dan kriteria calon
- Pertimbangan dalam rekruitmen kader
- Keterbukaan, transparansi, akuntabilitas sistem rekruitmen
- Keterwakilan perempuan
Sumber: diolah dari teori Sartori (2005:57) tentang indikator partai politik
modern
5.1.1
Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
5.1.1.1 Keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
Untuk masalah keterbukaan, berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan
bahwa Partai Demokrat Kabupaten Semarang dalam beberapa sub indikator
termasuk ke dalam kategori sangat terbuka. Namun demikian, karena dinamika
perpolitikan selalu dinamis, usaha untuk menuju keterbukaan tersebut mengalami
berbagai kendala pada sub indikator yang lain. Penjelasan masing-masing sub
79
indikator keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang berdasarkan data yang
diperoleh di lapangan dapat dijelaskan sebagai berikut.
Keterbukaan akses informasi merupakan salah satu hal yang penting dalam
membangun partai politik menuju modernisasi. Oleh karena itu, untuk mewujudkan
modernisasi tersebut, Partai Demokrat di Kabupaten Semarang selalu berusaha
memberikan informasi secara terbuka kepada kader. Hal ini dilakukan karena setiap
kebijakan partai merupakan hal yang harus diberitahukan kepada masyarakat,
termasuk kepada kader dan tidak boleh ditutup-tutupi. Terkait dengan keterbukaan
akses informasi tersebut, salah satu kader Partai Demokrat Kabupaten Semarang,
Joko Lestari mengemukakan bahwa:
“Selama ini untuk mendapatkan akses informasi terkait dengan pemilu, baik
pileg, pilpres, maupun pilkada sangat mudah. Setiap ada agenda tersebut
Pimpinan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang sering melakukan
konsolidasi ke tingkat PAC, sehingga anggota atau kader yang ada di tingkat
desa maupun kecamatan tidak ketinggalan berita atau informasi”
(wawancara tanggal 9 April 2016).
Pernyataan Joko Lestari di atas menunujukkan bahwa dalam mendukung
keterbukaan akses informasi, Partai Demokrat Kabupaten Semarang melakukan
konsolidasi dengan tingkat di bawahnya (PAC). Konsolidasi ini merupakan salah
satu jalan yang dilakukan Pimpinan Partai Demokrat Kabupaten Semarang untuk
berkomunikasi secara terbuka kepada kader di tingkat bawah. Dengan adanya
komunikasi dalam bentuk konsolidasi inilah, maka Partai Demokrat dapat
menginformasikan kepada kader tentang program-program yang sudah disusun,
sehingga program-program tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Namun demikian, lebih lanjut Joko Lestari juga mengemukakan salah satu
kendala yang dihadapi Partai Demokrat Kabupaten Semarang dalam melakukan
konsolidasi adalah adanya keterlambatan pelaksanaan Muscab. keterlambatan
80
pelaksanaan Muscab ini mengakibatkan komunikasi antara DPC dengan PAC di
daerah tertentu mengalami berbagai kendala. Selain itu, pada saat ini Ketua DPC
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang masih dipegang PLT, sehingga
kepengurusan partai belum bisa berjalan sesuai dengan fungsinya. Adapun kutipan
pernyataan Joko Lestari tersebut adalah sebagai berikut.
“Kendalanya itu kalau ibartanya di DPC dengan PAC itu harus ada saling
komunikasi tapi ini kayaknya agak sulit soalnya ini belum Muscab, soalnya
ini ketuanya masih PLT, bendahara PLT, sekretaris juga PLT” (wawancara
tanggal 9 April 2016).
Dari pernyataan Joko Lestari menunjukkan bahwa Partai Demokrat
Kabupaten Semarang khususnya dalam hal komunikasi masih mengalami berbagai
kendala. Salah satu kendala yang dihadapi adalah belum adanya Muscab, sehingga
struktur kepengurusan DPC Partai Demokrat di Kabupaten Semarang belum tersusun
dengan baik. Kendala komunikasi juga disampaikan Muhdiyono, salah satu informan
yang merupakan pengurus PAC Partai Demokrat Ungaran Barat Kabupaten
Semarang. Dalam wawancaranya Muhdiyono menyampaikan bahwa:
“Komunikasi perlu dilakukan untuk membangun sebuah kekuatan politik di
tubuh Partai Demokrat, khususnya di Kabupaten Semarang, jajaran
pengurus DPC perlu melaksanakan komunikasi dengan baik. Komunikasi ini
dilakukan untuk memberikan pengarahan baik secara langsung maupun
secara tidak langsung. Pengarahan secara langsung biasanya dilaksanakan
pada saat rapat antara pengurus DPC dengan PAC untuk membahas
persoalan-persoalan serta mencari jalan solusi untuk mengatasi persoalan
tersebut. Namun, karena pada saat ini Partai Demokrat sedang berbenah
kepengurusan, maka komunikasi mengalami berbagai kendala”.
(Wawancara tanggal 6 Mei 2016).
Pernyataan Muhdiyono ini memperkuat pernyataan Joko Lestari bahwa
komunikasi merupakan faktor penting yang dibutuhkan untuk kemajuan partai
politik. Fungsi dari adanya komunikasi tersebut adalah untuk mengevaluasi berbagai
permasalahan yang muncul sekaligus mencari solusi terbaik untuk mengatasi
81
permasalahan tersebut. Selain itu, melalui komunikasi dapat diupayakan adanya
persamaan persepsi terkait dengan berbagai hal, khususnya yang menyangkut upaya
partai Demokrat di Kabupaten Semarang dalam melaksanakan fungsi artikulasi dan
agregasi politik. Melalui komunikasi yang sifatnya bottom up dapat diperoleh
informasi tentang tuntutan-tuntutan masyarakat yang kemudian dianalisis untuk
diusulkan menjadi sebuah kebijakan pemerintah. Namun demikian, untuk
menjalankan komunikasi memang tidak semudah yang dibicarakan.
Pernyataan Joko Lestari dan dan Muhdiyono ini juga diperkuat pernyataan
Gunung Imam. Dalam wawancaranya Gunung Imam yang menyampaikan
pernyataan sebagai berikut.
“Memang untuk saat ini kami ditugasi untuk menjabat sebagai PLT Partai
Demokrat Kabupaten Semarang karena kebetulan Muscab belum diadakan.
Sebagai PLT tentunya kami harus bekerja keras untuk menjalin komunikasi
yang selama ini memang belum berjalan baik. Kami selalu berusaha untuk
menyatukan segala perbedaan pandangan yang sebelumnya terjadi meskipun
tidak mudah untuk menjalin komunikasi terutama setelah adanya pergantian
posisi di kepemimpinan Partai Demokrat Kabupaten Semarang” (wawancara
tanggal 10 Januari 2016).
Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi
merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk mewujudkan modernisasi partai
politik. Dengan terwujudnya komunikasi yang baik, maka segala kepentingan yang
berbeda dapat dilebur menjadi sebuah kebijakan yang menguntungkan partai politik
itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Budiarjo (2008: 405-409) yang
menyampaikan bahwa partai politik memiliki dua peran penting dalam komunikasi
politik, yaitu sebagai penggabungan kepentingan (interest aggregations) dan
perumusan kepentingan (interest articulation). Dalam proses penggabungan
kepentingan (interest aggregations), partai politik menjadi instrumen untuk
menampung pendapat atau aspirasi seseorang yang berkembang di masyarakat yang
82
kemudian aspirasi tersebut digabungkan dengan aspirasi orang lain yang sejalan.
Setelah aspirasi yang masuk digabungkan, maka aspirasi tersebut kemudian
dirumuskan menjadi usul kebijakan. Proses perumusan inilah yang dinamakan
perumusan kepentingan (interest articulation).
Selain itu, hasil wawancara di atas juga sesuai dengan pendapat Firmanzah
(2008: 67-680) yang menyatakan bahwa salah satu bentuk keterbukaan partai politik
dapat digambarkan melalui hubungan dialogis (semangat keterbukaan) antara elit
partai dengan kadernya maupun dengan anggota masyarakat. Dengan adanya
semangat keterbukaan antara stakeholder partai tersebut, maka akan terwujud titik
temu dan keseimbangan antara apa yang diinginkan oleh masyarakat dan partai
politik. Hal ini karena berdialog dimaksudkan untuk mencari kesepakatan dengan
pihak-pihak yang memiliki pendapat dan kepentingan yang berbeda.
Indikator keterbukaan yang lain adalah transparansi dalam pengelolaan
keuangan. Transparansi dalam pengelolaan keuangan merupakan salah satu indikator
terwujudnya modernisasi partai politik. Oleh karena itu, sebagai partai yang
mendeklarasikan partai politik modern, Partai Demokrat sudah sepatutnya mengelola
keuangan secara terbuka dan transparan. Maksud dari hal tersebut adalah bahwa
setiap pengelolaan keuangan harus sesuai dengan aturan yang terdapat dalam
AD/ART Partai Demokrat maupun peraturan yang disepakati bersama. Sesuai
ketentuan AD Pasal 99 Partai Demokrat tentang Keuangan Partai disebutkan bahwa
sumber keuangan Partai Demokrat meliputi: (1) iuran anggota; (2) iuran anggota
fraksi pada semua tingkatan; (3) sumbangan yang sah menurut peraturan perundangundangan yang berlaku; dan (4) bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
83
Dari ketentuan tersebut, upaya Partai Demokrat Kabupaten Semarang dalam
pengelolaan keuangan sudah dilakukan sesuai dengan mekanisme yang terdapat di
dalam AD/ART atau peraturan partai. Mekanisme yang dimaksud adalah dengan
memberikan laporan dalam bentuk tertulis kepada KPU Kabupaten Semarang (jika
menyangkut dengan keuangan dana kampanye) maupun dengan BPK (jika
menyangkut dengan bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Hal ini seperti pernyataan
Gunung Imam sebagai berikut.
“Kita Pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang dalam
mengelola keuangan partai memang dituntut untuk terbuka dan transparan.
Ini sudah menjadi ketentuan. Apalagi kita belajar dari pengalaman
sebelumnya bahwa yang mengakibatkan citra Partai Demokrat kurang baik
adalah kasus korupsi, sehingga sudah seharusnya kita mengelola keuangan
partai dengan terbuka. Setiap ada pemasukan dan pengeluaran yang masuk
kita selalu laporkan dalam bentuk laporan tertulis dan dipublikasikan”
(wawancara tanggal 10 Januari 2016).
Pernyataan Gunung Imam diperkuat pernyataan Hasyim salah satu pengurus
DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang. Dalam pernyataannya Hasyim
menyatakan bahwa:
“Dana yang diterima baik dalam bentuk iuran maupun sumbangan selalu
dibuat laporan keuangan dan siapapun termasuk kader dapat melihat hard
coppynya. Laporan yang dibuat tidak hanya dana yang keluar, tapi juga
dana yang diperoleh, baik dari anggota atau dari pemerintah daerah. Ini
menjadi komitmen Partai Demokrat Kabupaten Semarang untuk mendukung
transparansi publik khususnya dalam hal keuangan” (wawancara tanggal 11
Mei 2016).
Kutipan wawancara di atas menunjukkan bahwa keterbukaan dalam
mengelola keuangan memang menjadi salah satu prioritas Partai Demokrat
Kabupaten Semarang terutama dalam upaya mendukung terwujudnya transparansi
publik. Selain itu, dengan adanya pengalaman buruk yang pernah dialami Partai
84
Demokrat yaitu terlibatnya beberapa kader dalam sejumlah kasus korupsi menjadi
satu alasan bahwa pada saat ini Partai Demokrat Kabupaten Semarang harus berhatihati dalam mengelola keuangannya.
Melihat dinamika yang demikian, maka menurut pandangan peneliti
pernyataan tersebut sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam Pasal 12A
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2012 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada
Partai Politik. Dalam penjelasan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 Tahun
2012
dijelaskan
bahwa
Partai
Politik
wajib
menyampaikan
laporan
pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran bantuan keuangan yang
bersumber dari dana APBN dan APBD kepada BPK secara berkala 1 (satu) tahun
sekali untuk diperiksa paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Ketentuan ini juga diatur dalam Pasal 34 UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Dari
analisis tersebut, maka sangat tepat jika salah satu indikator terwujudnya
modernisasi adalah jika Partai Demokrat mampu mempertanggungjawabkan
keuangan secara transparan.
Pertanggungjawaban keuangan partai politik yang transparan menurut
Bastian (2007:2) perlu dilakukan karena hal ini merupakan sebagai bentuk
kepatuhan pada Undang-Undang Partai Politik dan Undang-Undang Pemilu,
sekaligus juga merupakan bentuk entitas dalam menggunakan dana publik yang
besar. Bentuk pertanggungjawaban tersebut adalah dengan cara mengelola dan
mempertanggungjawabkan
seluruh
sumber
keuangannya,
termasuk
sumber
keuangan dari para peserta pemilu. Pengelolaan ini meliputi penyampaian Laporan
Dana Kampanye (semua peserta pemilu) serta Laporan Keuangan (khusus untuk
85
partai politik), yang harus diaudit oleh akuntan Publik dan disampaikan ke KPU
serta terbuka untuk diakses publik.
Dari penjelasan di atas, berdarkan data yang diperoleh dari KPU Kabupaten
Semarang, diperoleh data bahwa akibat adanya konflik internal yang dialami Partai
Demokrat Kabupaten Semarang, dalam kaitannya dengan Laporan Dana Kampanye,
masing-masing pihak (pihak PLT maupun pihak yang diberhentikan) sama-sama
menyampaikan Laporan Dana Kampanye. Menanggapi hal yang demikian, KPU
Kabupaten Semarang pada saat itu memilih kebijakan untuk menampung kedua
Laporan Dama Kampanye tersebut sembari menunggu keputusan dari pihak DPP
Partai Demokrat.
Terkait dengan indikator yang lain, khususnya keterbukaan dalam
menyampaikan program kerja, Partai Demokrat Kabupaten Semarang berpandangan
bahwa hal tersebut merupakan bagian penting dalam mewujudkan modernisasi partai
politik. Alasannya, karena partai politik memiliki fungsi untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat, sehingga mobilisasi dapat terwujud dengan baik. Oleh sebab
itu, partai politik, termasuk Partai Demokrat Kabupaten Semarang harus mampu
meningkatkan partisipasi, baik partisipasi kader maupun masyarakat untuk ikut serta
dalam mensukseskan program kerja partai yang sudah disusun.
Pernyataan di atas sejalan dengan ketentuan AD/ART Pasal 12 dan Pasal 13
tentang Tujuan dan Fungsi Partai Demokrat. Dalam AD/ART Pasal 12 disebutkan
bahwa salah satu tujuan didirikannya Partai Demokrat adalah untuk meningktkan
partisipasi seluruh potensi bangsa dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan
bernegara yang memiliki pemerintahan yang bersih, efektif, efisien, serta dinamis
menuju terwujudnya Indonesia yang adil, demokratis, sejahtera, maju dan modern
dalam suasana aman serta penuh kedamaian lahir dan batin. Sedangkan menurut
86
ketentuan AD?ART Pasal 13 Partai Demokrat merupakan partai politik yang
memiliki fungsi penyerapan, penghimpunan, dan penyaluran aspirasi politik rakyat.
Dengan ketentuan yang demikian, maka Partai Demokrat Kabupaten Semarang
memiliki kewajiban untuk memberikan informasi secara terbuka dalam penyampian
program kerja.
Berkaitan dengan hal tersebut, dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh
data bahwa beberapa informan menyampaikan Partai Demokrat Kabupaten
Semarang termasuk dalam kategori terbuka. Namun demikian, sebagaimana dibahas
sebelumnya karena adanya salah satu kendala, yaitu adanya keterlambatan dalam
pelaksanaan Muscab, maka dalam menyampaikan program kerja khususnya kepada
beberapa kader di daerah pada saat ini mengalami hambatan. Beberapa kutipan hasil
wawancara dengan Gunung Imam terkait dengan keterbukaan program kerja Partai
Demokrat Kabupaten Semarang adalah sebagai berikut.
“Program kerja itu tidak perlu ditutup-tutupi karena menyangkut
masyarakat dan rakyat. Jika ada partai politik menutup-nutupi program
kerja yang dilakukan saya yakin partai itu tidak akan mendapatkan simpati
dari kader sendiri atau masyarakat” (wawancara tanggal 10 Januari 2016).
Pandangan Gunung Imam terkait dengan keterbukaan dalam menyampaikan
program kerja juga diamini oleh Joko Lestari. Joko lestari dalam wawancaranya
menyampaikan:
“Salah satu contoh program kerja Partai Demokrat Kabupaten Semarang
yang saya ketahui adalah penjaringan calon bupati. Kemarin itu ada
pertemuan yang dilakukan dengan DPAC-DPAC yang ada di Kabupaten
Semarang untuk menentukan dukungan terhadap calon bupati gitu. Nah
setelah ada pertemuan maka DPC menentukan siapa calon bupati yang akan
didukung” (wawancara tanggal 9 April 2016).
87
Selain pandangan Gunung Imam dan Joko Lestari, Hasyim menyampaikan
pandangan yang sedikit berbeda dengan kedua informan tersebut. Dalam
wawancaranya, Hasyim menyampaikan:
“Program kerja memang belum bisa disosialisasikan dengan baik karena
ada kendala yaitu adanya pergantian antar waktu pengurus DPC. Tapi
kepengurusan ini berusaha untuk mengikuti apa yang menjadi anjuran
pengurus pusat khususnya berkaitan dengan pensuksesan program kerja
yang disusun pengurus pusat atau DPP. Salah satunya adalah
mempersiapkan kader untuk mengikuti agenda Institut Partai Demokrat”
(wawancara tanggal 11 Mei 2016).
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa meskipun terdapat kendala
dalam menyampaikan program kerja, namun demikian upaya komunikasi dengan
kader tetap dijalankan guna menjalin hubungan yang harmonis antara pimpinan dan
kader Partai Demokrat di Kabupaten Semarang. Selain itu, dalam upaya melakukan
modernisasi, di samping menjalin hubungan yang harrmonis dengan kader maupun
simpatisan di bawahnya (PAC), DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang juga
membangun hubungan yang harmonis dengan DPP. Upaya menjalin hubungan yang
harmonis tersebut dilakukan melalui proses konsolidasi, dimana tujuan konsolidasi
adalah untuk menyatukan presepsi guna mempersiapkan calon terbaik yang akan
berkompetisi dalam pilkada maupun pileg, bahkan pilpres yang akan datang. Selain
membangun hubungan harmonisasi dengan sesama kader/pengurus, konsolidasi
dengan partai lain juga terus dibangun secara intensif. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Gunung Imam sebagai berikut.
“Berbagai upaya menuju modernisasi politik sudah dilakukan Partai
Demokrat dengan baik, khususnya di Kabupaten Semarang. Upaya
tersebut antara lain dengan melakukan komunikasi intensif dengan DPP
maupun di kader-kader yang ada di bawahnya yaitu PAC. Komunikasi
ini berwujud konsolidasi yang berguna untuk menyatukan presepsi
bersama, terutama untuk menyiapkan kader yang terbaik yang akan
88
berkompetisi dalam pilkada maupun pileg” (wawancara tanggal 10
Januari 2016).
Hasil wawancara tersebut menunjukkan adanya sebuah upaya Partai
Demokrat Kabupaten Semarang untuk menjadi partai politik modern, khususnya
dengan menjalin komunikasi antara elit partai dengan kader maupun simpatisan.
Upaya Ini perlu dilakukan karena dengan terjalinnya komunikasi yang baik segala
permasalahan yang timbul dapat diminimalisir, sehingga Partai Demokrat Kabupaten
Semarang dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Analisis ini sesuai dengan pandangan Meyer (2012: 21-28) yang
mengemukakan bahwa partai politik memainkan peran khusus yang tidak dapat
digantikan oleh organisasi lain. Peran penting ini yang kemudian mendudukkan
partai politik di posisi pusat (polilical centrality). Posisi pusat partai politik ini
memiliki dua dimensi, yaitu (1) setelah berhasil mengagregasikan berbagai
kepentingan dan nilai yang ada dalam masyarakat, partai politik kemudian
mentransformasikannya menjadi sebuah agenda yang dapat dijadikan platform
pemilu. Selain itu, partai politik harus mampu mempengaruhi proses politik dalam
legislasi dan implementasi program kebijakan publik; (2) parpol adalah satu-satunya
pihak yang dapat menerjemahkan kepentingan dan nilai masyarakat ke dalam
legislasi dan kebijakan publik yang mengikat.
Pandangan Meyer di atas menunjukkan bahwa salah satu fungsi partai politik
modern adalah agregasi kepentingan. Hal ini mengandung pengertian bahwa partai
politik merupakan sarana untuk menampung sekaligus menyalurkan aspirasi
masyarakat untuk kepentingan bersama. Dengan demikian, dalam konteks ini kritik
sangat diperlukan guna membantu partai politik tersebut mewujudkan fungsi
agregasi kepentingan. Kritik juga merupakan salah satu sarana untuk pembangunan
89
partai politik. Melalui kritik, jalannya roda organisasi partai dapat dievaluasi dengan
baik.
Berdasarnyaan pernyataan di atas, maka terkait dengan keterbukaan terhadap
kritik, Partai Demokrat Kabupaten Semarang selalu berusaha untuk menampungnya
dengan baik. Hal ini dilakukan karena Partai Demokrat Kabupaten Semarang
menyadari bahwa maju tidaknya organisasi, termasuk partai politik juga tergantung
bagaimana partai politik tersebut bersikap dewasa dalam menanggapi kritik,
khususnya kritik yang sifatnya membangun dan memperbaiki. Pernyataan ini
sebagaimana disampaikan Gunung Imam sebagai berikut.
“Dalam organisasi manapun termasuk partai politik pasti ada kritik, ada
kritik yang sifatnya membangun, bahkan ada juga kritik yang sifatnya
merusak. Untuk kritik yang membangun, kita terima dengan baik dan
terbuka, namun kalau kritik yang sifatnya merusak partai maka kritik itu
akan kita abaikan. Jadi yang namanya kritik itu diperuntukkan untuk
membangun organisasi bukannya untuk merusak organisasi” (wawancara
tanggal 10 Januari 2016).
Pernyataan Gunung Imam di atas mengisyaratkan bahwa Partai Demokrat
dalam konteks keterbukaan terhadap kritik berusaha untuk selalu terbuka. Namun
demikian, Partai Demokrat Kabupaten Semarang juga memilah mana kritik yang
harus ditanggapi (kritik yang bersifat membangun) dan mana kritik yang tidak harus
ditanggapi (kritik yang bersifat merusak). Ungkapan senanda juga disampaikan Joko
Lestari yang menyampaikan:
“Kalau selama ini saya jadi kader Partai Demokrat Kabupaten Semarang,
saya melihat sebetulnya Partai Demokrat terbuka untuk kritik. Seperti
kemarin misalnya ada yang mengkritik tentang keputusan Partai Demokrat
dalam mendukung calon bupati saya melihat tidak ada masalah pengurus
enjoy saja menerima kritik itu” (wawancara tanggal 9 April 2016).
Pernyataan Joko Lestari tersebut menunjukkan bahwa seperti halnya
disampaikan Gunung Imam, Partai Demokrat Kabupaten Semarang selalu terbuka
90
terhadap kritik apapaun yang sifatnya membangun partai. Kritik yang membangun
dalam pandangan ini adalah kritik yang sifatnya memperbaiki atau lebih tepat
disebut sebagai kritik yang sifatnya mengontrol bukan merusak. Kontrol dalam
pandangan Manan (2012:56) merupakan bagian dari keterbukaan (tranparency), baik
sebagai asas politik demokrasi, bagian dari hak mendapat informasi (the right of
information), dan hak atas kebebasan berbeda pendapat (the right of freedom to
dissent).
Pandangan Manan tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Meyes
(2012:46). Menurut Meyes, apapun kritik yang dilontarkan terhadap partai politik
yang ada dan sistem kepartaiannya, mereka tetaplah bagian yang tak terpisahkan dari
proses demokrasi. Karena itu selain aktif dalam kegiatan masyarakat madani yang
memang berlegitimasi dan berharga bagi proses demokratisasi, kita juga harus
terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas demokrasi dan
kepekaan pantai-pantai politik terhadap pemilihnya.
Dari berbagai penjelasan di atas, maka untuk mendapatkan data yang
maksimal, selain melakukan wawancara terkait dengan keterbukaan, peneliti juga
melakukan survei terkait dengan implementasi indikator partai modern terhadap
Partai Demokrat Kabupaten Semarang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan
terhadap 33 responden, data terkait dengan keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten
Semarang digambarkan ke dalam diagram berikut.
91
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Akses
Informasi
14
17
2
0
Laporan
Keuangan
21
9
2
0
Program
Kerja
19
12
0
0
Komunikasi
Kritik
15
18
1
0
14
16
3
0
Diagram 5.1 Indikator Keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
Melalui diagram di atas, dapat diketahui ranking keterbukaan Partai
Demokrat Kabupaten Semarang pada masing-masing sub indikator berbeda-beda.
Pada diagram tersebut keterbukaan terhadap akses informasi dari 33 responden yang
disurvei, sebanyak 14 responden menyatakan keterbukaan akses informasi Partai
Demokrat Kabupaten Semarang dalam kondisi sangat baik, 17 responden
menyatakan baik, dan 2 responden menyatakan tidak baik. Sedangkan pada sub
indikator mengenai laporan keuangan, diperoleh data 21 responden menyatakan
sangat baik, 9 responden menyatakan baik, dan 2 responden menyatakan tidak baik.
Pada sub indikator yang lain, yaitu terkait dengan keterbukaan dalam penyampaian
program kerja, diperoleh data sebanyak 19 responden menyatakan sangat baik, dan
12 responden menyatakan baik. Berkaitan dengan keterbukaan komunikasi yang
dijalankan antara elit dan kader, sebanyak 15 responden menyatakan sangat baik, 18
responden menyatakan baik, dan 1 responden menyatakan tidak baik. Dan, pada sub
indikator yang terakhir tentang keterbukaan terhadap kritik diperoleh data sebanyak
92
14 responden menyatakan sangat baik, 16 responden menyatakan baik, dan 3
responden menyatakan tidak baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait
dengan keterbukaan Partai
Demokrat
Kabupaten Semarang
dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.2 Skoring Keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Keterbukaan Partai
SB (4)
83
Demokrat di Kabupaten
B (3)
72
Semarang
CB (2)
8
B (1)
0
Jumlah total
163
Sumber: diolah dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
332
216
16
0
564
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang, maka
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang digambarkan dalam
tabel di bawah ini.
93
Tabel 5.3 Skor Yang Diharapkan Pada Setiap Sub Indikator Keterbukaan
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
Indikator
Sub Indikator
Akses Informasi
Keterbukaan Partai Demokrat
Laporan Keuangan
di Kabupaten Semarang
Program Kerja
Komunikasi
Kritik
Sumber: diolah dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang sebagai berikut.
% skor aktual = 564
X 100% = 84,45% dibulatkan menjadi 85 %
660
Pemaparan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa dalam prespektif
kuantitatif, presentase keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang termasuk
dalam kategori sangat baik dengan presentase 84,01% - 100%. Hal ini berarti upaya
yang ditempuh Partai Demokrat Kabupaten Semarang untuk mewujudkan
modernisasi, khususnya dalam hal keterbukaan sudah dilakukan dengan sangat baik.
Selain itu, dengan melihat kondisi yang demikian, maka dapat disimpulkan bahwa
secara kuantitatif pernyataan di atas memperkuat pernyataan Sartori (2015:57) yang
menyatakan bahwa untuk menunju partai modern, salah satunya ditempuh melalui
keterbukaan.
94
5.1.1.2 Pelaksanaan Ideologi Partai di Kabupaten Semarang
Ideologi merupakan faktor penting untuk mendukung terwujudnya
modernisasi. Hal ini berangkat dari pernyataan Prasetyo (2011: 6) yang menyatakan
bahwa ideologi memiliki peran besar memberikan arah bagi partai politik untuk
menjalankan fungsinya. Dengan dasar ideologi, partai politik dapat menjalankan
fungsinya melalui program kerja kebijakan partai, yang kemudian akan
diimplementasikan dalam wujud kerja nyata yang hasilnya dapat dirasakan
masyarakat secara keseluruhan. Di dalam ideologi terkandung nilai-nilai yang
berkaitan
dengan
kesejahteraan,
pendidikan,
kesehatan,
ketenangan,
serta
kenyamanan masyarakat yang akan diciptakan ketika partai tersebut mendapatkan
kekuasaan. Dari penjelasan tersebut, maka hasil dan pembahasan tentang
pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang dapat dijelaskan
sebagai berikut.
Dalam ketentuan AD/ART Partai Demokrat Pasal 6 dijelaskan bahwa ciri
Partai Demokrat adalah partai yang terbuka untuk semua warga Negara Republik
Indonesia, tanpa membedakan suku bangsa, ras, profesi, jenis kelamin, agama, dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Terkait dengan hal tersebut, Partai
Demokrat Kabupaten Semarang dalam hal keberagaman anggota/kader berdasarkan
penelitian di lapangan tidak ada permasalahan. Partai Demokrat Kabupaten
Semarang selalu mengikuti insntruksi DPP, yaitu untuk menerapkan ideologi
Nasionalis-Religius secara keseluruhan, termasuk dalam penerimaan anggota/kader
partai. Hal ini sebagaimana diungkapkan Hasyim sebagai berikut.
“Partai Demokrat Kabupaten Semarang sangat terbuka untuk semua warga
negara. Jenengan bisa mengecek apakah Partai Demokrat Kabupaten
Semarang anggotanya hanya berdasarkan agama saja atau kelompok saja
tentu tidak. Jadi kalau untuk masalah keberagaman tidak ada masalah”
(wawancara tanggal 11 Mei 2016).
95
Penjelasan di atas memperkuat hasil wawancara yang dilakukan dengan
beberapa informan lain. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan
Gunung Imam, untuk melaksanakan ideologi Nasionalis-Religius, Partai Demokrat
Kabupaten Semarang selalu berusaha bersikap humanis. Sikap humanis yang
dimaksud adalah dengan mengedepankan sikap santun dalam setiap pengambilan
keputusan.
“Untuk ideologi kita jelas, artinya kita terbuka untuk siapa saja. Di
pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang anda bisa tanya pada
pengurus yang lain kita terbuka tidak membeda-bedakan golongan, agama,
ras atau yang lain. Saya kira ideologi Partai Demokrat Nasionalis-Religius
sangat tepat menggambarkan kemajemukan bangsa, sehingga kita selalu
berusaha berprinsip pada ideologi Nasionalis-Religius itu” (wawancara
tanggal 10 Januari 2016).
Penjalasan Gunung Imam di atas memberikan ilustrasi bahwa dalam masalah
ideologi, Partai Demokrat di Kabupaten Semarang memberikan hak seluas-luasnya
kepada siapapun yang berminat bergabung dengan Partai Demokrat Kabupaten
Semarang tanpa membeda-bedakan golongan, ras, dan agama. Dengan demikian,
jika dikaitkan dengan visi misi Partai Demokrat keberagaman kader bukanlah hal
yang menjadi permasalahan.
Pandangan yang sama juga disampaikan Joko Lestari sebagai berikut.
“Kalau ngomong masalah anggota/kader kita apa namanya kita tidak
pernah membeda-bedakan mereka agamanya apa, mereka kelompoknya
siapa pokoknya siapapun boleh masuk anggota Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, baik Kristen, islam atau yang lain termasuk status
pekerjaan juga tidak dipermasalahkan” (wawancara tanggal 9 April 2016).
Dari hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam konteks
keberagaman anggota/kader, Partai Demokrat Kabupaten Semarang dapat dikatakan
partai yang pluralis, yaitu partai yang menyadari kenyataan sejarah bahwa bangsa
96
Indonesia terdiri dari beragam suku, ras, agama dan budaya, dan dari keragaman itu
telah lahir soliaritas nasional menghadapi penjajahan hingga lahirlah Negara
Republik Indonesia. Manajemen keragaman itu dimungkinkan karena adanya
semangat Bhineka Tunggal Ika, yakni meski ada identitas yang berbeda-beda tetapi
pada hakikatnya adalah satu kesatuan, yaitu kesatuan bangsa Indonesia. Tugas
menyatukan keragaman bukan dengan menyeragamkan yang beragam, tetapi
menyatukan visi dari kekuatan yang beragam. oleh karena itu, dalam mewujudkan
hal tersebut Partai Demokrat Kabupaten Semarang memberikan pengakuan dan
penghargaan terhadap solidaritas masing-masing kader partai.
Pengakuan dan penghargaan terhadap solidaritas juga merupakan bagain
yang tidak dapat dipisahkan dari partai politik. Hal ini karena setiap anggota/kader
partai politik memiliki hak dan kewajiban yang harus dipatuhi. Dengan adanya
pengakuan dan penghargaan terhadap solidaritas berarti partai politik dalam
melaksanakan roda organisasinya harus didasarkan rasa kebersamaan, rasa kesatuan
kepentingan maupun rasa simpati dengan sesama anggota/kader partai politik. Oleh
karena itu, partai manapun termasuk Partai Demokrat jika ingin menjadi partai
modern harus memperhatikan mengakui dan menghargai solidaritas.
Terkait dengan solidaritas, beberapa informan menyatakan bahwa Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang termasuk memiliki jiwa solidaritas yang tinggi.
Namun demikian terdapat beberapa informan yang menyampaikan bahwa dalam halhal tertentu, solidartias Partai Demokrat Kabupaten Semarang masih mengalami
kendala. Dalam hal ini Gunung Imam menyampaikan pernyataan sebagai berikut.
“Kita satu tim ibarat pemain bola kalau ada kawan yang cidera maka kawan
yang lain harus membantu dan memiliki rasa simpati. Ini juga sama dengan
yang terjadi pada partai politik termasuk Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang. Tapi memang rasa solidaritas itu banyak indikator. Kadang juga
97
sulit untuk menyamakan perbedaan-perbedaan yang menonjol” (wawancara
tanggal 10 Januari 2016).
Pernyataan di atas sesuai dengan pandangan Durkheim dalam (Johnson
1994:183) yang menyatakan bahwa solidaritas dapat muncul karena adanya rasa
persaudaraan yang menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu atau
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut
bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Dengan pengertian ini,
Durkheim kemudian membagi dua jenis solidaritas, yaitu solidaritas mekanik dan
solidaritas organik. Solidaritas mekanik lebih menekankan pada akar-akar
humanisme serta besarnya tanggung jawab dalam kehidupan sesama. Solidaritas
tersebut mempunyai kekuatan sangat besar dalam membangun kehidupan harmonis
antara sesama. Sedangkan solidaritas Solidaritas organik merupakan sebuah ikatan
berasama yang dibangun atas dasar perbedaan, sehingga dengan meningkatkan
solidaritas, permasalahan khususnya yang terkait dengan konflik internal dapat
terselesaikan dengan baik.
Seperti halnya pembahasan sebelumnya, konflik internal merupakan salah
satu penghambat terwujudnya modernisasi partai politik. Namun demikian, konflik
bukan berarti hal yang harus dihindari karena selain menjadi penghambat munculnya
konflik akan menjadikan partai politik tersebut menjadi lebih dewasa dan modern
jika konflik tersebut dikelola secara baik, meskipun mengelola konflik bukanlah hal
yang mudah. Hal Salah sebagaimana disampaikan Robbin dan Judge (2008) yang
menyatakan bahwa mengelola konflik membutuhkan kecermatan dan observasi yang
mendalam di antara pihak-pihak yang berkonflik, mengintervensi secara halus
sampai menemukan solusi yang dianggap sebagai win-win solution. Penyelesaian
sebuah konflik dengan jalan mengkaji akar permasalahan dan memberdayakan
98
pihak-pihak yang berkonflik melalui dialog membutuhkan waktu yang relatif lama,
namun lebih menyentuh pada akar permasalahan.
Terkait dengan pernyataan di atas, berdasarkan data yang diperoleh
menunjukkan bahwa Partai Demokrat Kabupaten Semarang mengalami hambatan
dalam melakukan pengelolaan konflik. Salah satunya disampaikan Gunung Imam
sebagai berikut.
“Memang di Kabupaten Semarang terjadai konflik, dan saya kira di partai
manapun konflik itu pasti ada dan kadang ada pihak-pihak yang menyukai
adanya konflik ini. Karena ada pihak-pihak yang sengaja memperkeruh
suasana maka memang kita sulit untuk mengatasi konflik ini. Selain itu,
peran media yang membesarkan masalah kecil menjadi besar juga berperan
menambah permasalahan ” (wawancara tanggal 10 Januari 2016).
Peryataan-pernyataan di atas menurut pandangan peneliti sejalan dengan
pemikiran Surbakti (2010:23-34) yang menjelaskan bahwa dalam proses politik,
khususnya pada pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik seringkali terjadi
sejumlah konflik. Bahkan, hampir setiap proses politik selalu berlangsung konflik
antara pihak-pihak yang berupaya mendapatkan atau mempertahankan sumber yang
dipandang penting dengan pihak-pihak lain yang juga berikhtiar mendapatkan
dan/atau mempertahankan sumber-sumber tersebut. Perbedaan, persaingan, dan
pertentangan dalam upaya mendapatkan atau mempertahankan nilai-nilai yang
dinggap penting dapat diselesaikan melalui mekanisme yang disepakati bersama.
Dialog dan musyawarah untuk mencapai mufakat, dialog untuk mengadakan
pemungutan suara (voting), atau kombinasi keduanya merupakan bentuk mekanisme
untuk mencapai kesepakatan berupa keputusan politik. Bentuk lain dari kesepakatan
itu berupa kerjasama dalam bentuk koalisi dan aliansi untuk membuat dan
melaksanakan keputusan.
99
Konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten Semarang terjadi pada tahun
2014, yaitu pasca pelaksanaan Kongres Partai Demokrat ke IV. Latar belakang
terjadinya konflik adalah munculnya Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai
Demokrat yang berisi tentang keputusan penonaktifkan Wibowo Agung Sanyoto
sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang yang kemudian
digantikan Danang Djoko Harjanto sebagai Pelaksana Tugas Ketua Dewan Pimpinan
Cabang Partai Demokrat Kabupaten Semarang.
Pemberhentian Ketua DPC Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, pada
dasarnya diawali karena adanya perbedaan pandangan antara DPC dengan DPP
terkait usulan calon bupati dan wakil bupati. Dalam rekomendasi disebutkan bahwa
DPP Partai Demokrat mengusulkan salah satu kader untuk menjadi calon
bupati/wakil bupati Kabupaten Semarang, namun melalui rapat konsolidasi yang
dilakukan di kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang, sebanyak 17 dari
19 PAC dan beberapa pengurus DPC menolak usulan tersebut karena dianggap tidak
melalui
mekanisme
yang
diatur
dalam
AD/ART
Partai
Demokrat
(http://www.suaramerdeka.com).
Pandangan yang berbeda dari pernyataan di atas disampaikan PLT Sekretaris
DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang Gunung Imam. Dalam wawancaranya
Gunung Imam menyatakan bahwa pemberhentian Ketua DPC dilatarbelakangi
adanya upaya yang dilakukan DPP Partai Demokrat untuk mengefektifitaskan
kinerja partai, khususnya di DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang. Oleh
karena itu, setiap kader hendaknya dapat mematuhi segala keputusan yang sudah
menjadi kebijakan DPP. Kutipan hasil wawancara tersebut adalah sebagai berikut.
“Di Kabupaten Semarang memang ada pergantian pengurus, terutama pada
jabatan ketua dan sekretaris, namun pergantian pengurus itu bukan karena
ketidaksenangan dengan seseorang atau individu tapi lebih pada upaya
100
meningkatkan kinerja organisasi”. Jadi apapun yang sudah menjadi
keputusan DPP, alangkah bijaksananya semua kader termasuk pengurus di
DPC menghormatinya” (wawancara tanggal 10 Januari 2016).
Pernyataan Gunung Imam tersebut memberikan penjelasan bahwa keputusan
DPP merupakan keputusan yang harus dihormati oleh semua kader atau anggota
partai. Hal ini dikarenakan setiap keputusan yang diambil adalah keputusan terbaik
untuk kemajuan dan perkembangan partai. Oleh karena itu, lebih lanjut Gunung
Imam menyampaikan bahwa setiap keputusan DPP harus dihormati dan
dilaksanakan.
Selain untuk peningkatan kinerja, alasan lain adanya pergantian pengurus di
DPC karena adanya keinginan untuk melakukan penyegaran kepengurusan partai
(regenerasi). Penyegaran ini dilakukan karena dalam 10 tahun terakhir di Partai
Demokrat, khususnya di Jawa Tengah belum mengadakan Musda maupun Muscab,
sehingga sangat wajar jika ada upaya pergantian kepengurusan di sebuah organisasi.
Hal ini seperti diungkapkan Ali Mashadi (Direktur Eksekutif DPD Partai Demokrat
Jawa Tengah). Kutipan wawancara tersebut adalah sebagai berikut.
“Anggap saja itu semacam regenerasi karena selama 10 tahun belum ada
Musyawarah Cabang (Muscab), dan Musda (Musyawarah Daerah). Yang
namanya sebuah organisasi selama 10 tahun itu pasti ada konflik apalagi 10
tahun ada kejenuhan di dalam kepengurusan ada kejenuhan dalam
pengelolaan partai itu pasti, kita untuk mengantisipasi itu paling tidak ada
semacam regenerasi, mekanisme sudah dijalankan, cuman kan ada yang
kecewa dan tidak kecewa, wajar lah manusia itu kan antara kecewa dan
tidak senang itu pasti ada rasa itu, jadi biasa mereka itu merupakan hak
kodrati masing-masing individu” (wawancara tanggal 15 Januari 2016).
Peryataan Ali Mashadi tersebut secara tidak langsung memberikan
penjelasan bahwa tertundanya Musda dan Muscab adalah salah satu penyebab
munculnya konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang. Hal ini karena dengan ditundanya Musda dan Muscab memungkinkan
101
terjadi kejenuhan dalam kepengurusan. Kejenuhan dalam kepengurusan tersebut
yang kemudian memunculkan adanya perbedaan-perbedaan pandangan yang
akhirnya dapat menimbulkan terjadinya konflik internal.
Baik pendapat Gunung Imam maupun Ali Mashadi di atas berbeda dengan
pendapat informan lain yang tidak berkenan disebutkan namanya. Informan tersebut
merupakan salah satu pengurus PAC Partai Demokrat di Kabupaten Semarang yang
mengetahui latarbelakang munculnya konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang. Menurut informan tersebut terdapat kejanggalan dalam kasus
pemberhentian Ketua DPC Kabupaten Semarang. Kejanggalan yang dimaksud yaitu
pemberhentian Ketua DPC Kabupaten Semarang dianggap tidak melalui mekanisme
sebagaimana yang tertuang di dalam AD/ART partai. Menurutnya, sebagaimana
dijelaskan di dalam AD/ART Bab 1 pasal 8, dimana mekanisme pemberhentian
Ketua DPC seharusnya dilaksanakan melalui tahap pemberian surat peringatan 1, 2,
dan 3 dan berlaku selama 21 hari atas usulan DPD. Selain itu, pemberhentian Ketua
DPC seharusnya dilakukan melalui mekanisme pelaksanaan Muscab. Namun,
mekanisme-mekanisme tidak dilaksanakan, sehingga terkesan pemberhentian Ketua
DPC dipaksakan karena kepentingan pihak-pihak tertentu untuk melanggengkan
kekuasaan. Dampak dari terdapat penyegelan yang merupakan bentuk protes karena
adanya pemecatan Ketua DPC.
Dari berbagai kutipan wawancara di atas, dapat dianalisis bahwa beberapa isu
utama yang menjadi sumber terjadinya konflik internal Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang setidaknya meliputi isu ketidakpercayaan (distrust), struktural
dan politik, loyalitas, serta isu pelanggaran AD/ART. Secara lebih jelas, masingmasing isu penyebab terjadinya konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang adalah sebagai berikut.
102
Dengan melihat gambaran tentang kondisi konflik internal yang terjadi pada
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, maka dapat disimpulkan bahwa dalam
kasus tersebut terdapat ketidakpercayaan (distrust) antara satu pihak dengan pihak
yang lain. Pihak DPP, menganggap bahwa kinerja dari Ketua DPC yang
diberhentikan kurang memuaskan, sehingga memunculkan keiinginan DPP untuk
melakukan reorganisasi kepemimpinan di tubuh Partai Demokrat khususnya di
Kabupaten Semarang. Upaya ini kemudian mendapatkan perlawanan dari pihak
Ketua DPC yang diberhentikan, dengan alasan ketidakpercayaan terhadap prosedur
yang digunakan dalam melakukan pemberhentian.
Salah satu penyebab atau sumber konflik politik menurut Rauf (2001:25-28)
adalah adanya struktur yang terdiri dari penguasa politik dan sejumlah orang yang
dikuasai. Struktur ini menyebabkan bahwa konflik politik yang utama adalah antara
penguasa politik dan sejumlah orang yang menjadi obyek kekuasaan politik.
Struktur kepengurusan menjadi salah satu penyebab konflik dikarenakan
pasca diberhentikannya ketua DPC di Kabupaten Semarang, terdapat dualisme
kepengurusan. Struktur organisasi merupakan salah satu faktor penyebab konflik,
yang secara potensial dapat memunculkan konflik. Pada setiap departemen atau
fungsi dalam organisasi mempunyai kepentingan, tujuan dan programnya sendirisendiri yang seringkali berbeda dengan yang lain. Hal ini lah yang merupakan salah
satu penyebab terjadinya konflik di Kabupaten Semarang, yaitu diwalai adanya
perbedaan kepentingan di tingkatan struktur organisasi DPP dan DPC.
Loyalitas menjadi salah satu isu utama yang menjadi sumber terjadinya
konflik internal pada Partai Demokrat di Kabupaten Semarang. Dari data yang
diperoleh, kasus pemberhentian disinyalir merupakan bentuk ketidakloyalan salah
103
satu pihak atau kelompok dengan pihak atau kelompok yang lain. Hal ini seperti
yang disampaikan Gunung Imam sebagai berikut.
“Seharusnya sebagai kader harus mentaati dan menghormati apapun
yang telah menjadi keputusan DPP Partai Demokrat. Bentuk perlawanan
merupakan salah satu contoh ketidakloyalan terhadap partai, jadi wajar
jika ada proses pemberhentian” (wawancara tanggal 10 Januari 2016).
Sebagaimana disampaikan Gunung Imam tersebut loyalitas adalah hal yang
penting dalam organisasi. Pada kasus konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, salah satu pihak dianggap tidak loyal terhadap kebijakan atau keputusan
partai. ketidakloyalan salah satu pihak tersebut dapat dilihat dari upaya pembentukan
Tim Penyelamat Partai Demokrat, yang notabenhya tidak dibenarkan dalam
AD/ART Partai Demokrat, sehingga memunculkan kesan bahwa konflik internal
yang dialami Partai Demokrat di Kabupaten Semarang adalah akibat adanya
gangguan dari pihak luar. Ungkapan ini diperkuat oleh Ali Mashadi sebagai berikut.
“Konflik di internal kita tidak ada, konflik yang menyebabkan adalah
orang yang berada di luar kita, perbedaan pendapat memang ada.
Aturan yang berlaku adalah aturan AD/ART dengan melihat situasi. Dan
perlu diingat bahwa dalam institusi Partai Demokrat tidak ada istilah
Tim Penyelamat Partai. Kemungkinan munculnya Tim Penyelamat Partai
karena kekecewaan, tetapi sekali lagi organisasi Partai Demokrat tidak
ada Tim Penyelamat Partai, yang ada di Institusi kita hanya DPC, DPD,
dan DPP” (wawancara tanggal 13 Maret 2016).
Terkait dengan kasus yang dialami Partai Demokrat di Kabupaten Semarang,
sangat menarik jika dikaitkan dengan AD/ART Partai Demokrat. Dalam ART Partai
Demokrat dijelaskan bahwa setiap anggota Partai Demokrat memiliki kewajiban
untuk menghayati, mentaati, dan mengamalkan keputusan partai yang telah
ditetapkan dengan sah dan menjalankan langkah-langkah yang ditetapkan oleh
Dewan Pimpinan Partai berdasarkan keputusan tersebut.
104
Namun demikian, dalam kasus konflik internal yang dialami Partai Demokrat
di Kabupaten Semarang, isu pelanggaran terhadap AD/ART partai sangat terlihat
dari hasil wawancara yang dilakukan. Salah satu informan menyampaikan bahwa
sebagai partai politik yang memiliki ideologi nasionalis-religius hendaknya setiap
permasalahan internal diselesaikan melalui prosedur atau mekanisme yang sudah
disepakati dalam AD/ART Partai Demokrat.
Konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten Semarang memberikan
dampak terhadap perubahan posisi kepemimpinan ketua DPC, konflik internal ini
juga berdampak terhadap kantor Partai Demokrat Kota Salatiga, yaitu bergeser dari
Jl. Tol Semarang-Solo Bawen berubah di Jalan Ahmad Yani Ruko Ungaran Center
No 1 Asrama, Kabupaten Semarang.
Konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
melibatkan beberapa pihak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Aktor pertama yang terlibat dalam konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang antara lain: DPP Partai Demokrat yang telah mengeluarkan surat
keputusan pemberhentian Wibowo Agung sebagai Ketua DPC Kabupaten Semarang.
Pada kasus konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, jika
dicermati, maka konflik tersebut melibatkan beberapa pihak. Dilihat dari
keterlibatannya, konflik tersebut tidak hanya melibatkan dua pihak, namun banyak
pihak. Pihak pertama yang terlibat dalam konflik adalah Ketua DPC yang
diberhentikan, DPP (pembuat rekomendasi), dan PLT Ketua DPC. Pihak-pihak ini
terlibat secara langsung dalam konflik internal. Pihak kedua adalah pihak yang
secara tidak langsung terlibat dalam konflik. Pihak kedua meliputi Pengurus DPC
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, serta PAC-PAC di tiga kabupaten/kota
tersebut. Pihak ini secara tidak langsung terlibat, namun terkena dampak konflik
105
internal. Sedangkan pihak ketiga adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk
menyelesaikan konflik. Salah satu pihak yang berupaya untuk menjadi penengah
dalam konflik internal ini adalah DPD Partai Demokrat Jawa Tengah.
Dari penjelasan tentang penyebab maupun aktor yang terlibat konflik internal
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, maka peneliti mengaitkannya hal tersebut
dengan teori tentang bentuk konflik yang berkaitan dengan kekuasaan dan politik.
Teori ini dikemukakan oleh Duverger (1988:49-50). Duverger menjelaskan bahwa
konflik dapat ditimbulkan oleh sifat-sifat pribadi dan karakteristik kejiwaan yang
dimiliki oleh individu. Penyebab terjadinya konflik menurut teori ini disebabkan
oleh dua jenis faktor, yaitu sebab-sebab individual yaitu bakat-bakat individual dan
sebab-sebab psikologis. Teori Duverger ini menunjukkan bahwa konflik kelompok
dapat ditimbulkan oleh bakat-bakat individual. Kecenderungan berkompetisi atau
selalu tidak puas terhadap pekerjaan orang lain dapat menyebabkan orang yang
mempunyai ciri-ciri seperti selalu terlibat konflik dimanapun dia berada.
Ketidakpuasan inilah yang menurut teori konflik dari Duverger merupakan salah
satu penyebab terjadinya konflik di dalam internal Partai Demokrat Kabupaten
Semarang.
Selain itu, jika dilihat dari jenis konfliknya, konflik internal yang dialami
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang termasuk jenis konflik interpersonal
(interpersonal conflict). Hunt dan Metcalf (1996:97) menjelaskan bahwa konflik
interpersonal adalah konflik yang terjadi antar individu maupun antar individu dan
kelompok, baik dalam sebuah kelompok (intragroup conflict) maupun berupa
konflik antar kelompok (intergroup conflict). Konflik ini biasanya terjadi di
lingkungan sosial, seperti dalam keluarga, kelompok teman sebaya, sekolah,
masyarakat, dan negara.
106
Penjelasan Hunt dan Metcalf (1996:97) menunjukkan bahwa konflik internal
yang dialami Partai Demokrat di Kabupaten Semarang juga termasuk intragroup
conflic yang melibatkan pertentangan antar individu maupun individu dengan
kelompok. Individu-individu yang terlibat ke dalam konflik adalah Wibowo Agung
Sanyoto sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang yang
diberhentikan, Danang Ketua PLT DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang.
Sedangkan kelompok yang terlibat dalam konflik adalah DPP Partai Demokrat, DPD
Partai Demokrat Provinsi Jawa Tengah, dan PAC Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, serta pihak luar yang bukan termasuk bagian dari pihak internal Partai
Demokrat. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan
modernisasi, Partai Demokrat harus menjalankan prinsip-prinsip etika organisasi,
termasuk dalam mekanisme penyelesaian konflik internal yang dialaminya.
Dalam menjalankan roda organisasinya Partai Demokrat memiliki tiga
prinsip utama yang menjadi prinsip dasar etika organisasi, yaitu bersih, cerdas, dan
santun. Ketiga prinsip ini termanatkan ke dalam kode etik Partai Demokrat pasal 5:
“etika politik Partai Demokrat yang bersih, cerdas, dan santun dijalankan oleh
anggota dan kader Partai Demokrat dengan berlandaskan pada prinsip dan fungsi
manajemen organisasi yang transparan dan akuntabel, prinsip anti diskriminasi,
prinsip kecerdasan, prinsip kesantunan, prinsip demokrasi, dan prinsip anti KKN.
Selain terdapat dalam kode etik Partai Demokrat, tuntutan untuk menjadi partai yang
bersih, cerdas, dan santun juga teramanatkan ke dalam salah satu dari 10 fakta
integritas Partai Demokrat yang berbunyi “…dengan penuh kesadaran dan tanggung
jawab saya akan terus menjunjung tinggi prinsip dan moral politik partai serta jati
diri kader Partai Demokrat yang bersih, cerdas, dan santun”.
107
Dari pernyataan di atas, maka dalam kaitannya dengan kesantunan, Partai
Demokrat Kabupaten Semarang berusaha mengelola partainya dengan berpegang
teguh terhadap kode etik partai, yaitu selalu bertindak atas dasar sikap yang santun
dalam bertutur kata, serta memperhatikan keragaman budaya, tingkat sosial, dan
keagamaan. Oleh karena itu, untuk selalu menjaga kesantunan tersebut, Partai
Demokrat Kabupaten Semarang selalu memberikan himbauan kepada kader maupun
anggota untuk menjaga nama baik Partai Demokrat dengan tidak melakukan fitnah
mencemarkan nama baik partai maupun orang lain tanpa disertai dengan bukti yang
jelas. Hal ini sebagamana pernyataan Gunung Imam sebagai berikut.
“Untuk menjaga keharmonisan partai, kami selalu memberikan
himbauan kepada para kader untuk bersikap yang baik, artinya setiap
anggota Partai Demokrat Kabupaten Semarang memiliki kewajiban
untuk saling menghormati, saling menyayangi baik yang muda maupun
yang tua, dan yang paling penting adalah memiliki kesantunan dalam
berbicara baik dengan sesame anggota maupun dengan masyarakat.
Dengan seperti ini saya yakin Partai Demokrat, khususnya di Kabupaten
Semarang akan selalu maju dan harmonis” (wawancara tanggal 10
Januari 2016).
Pernyataan Gunung Imam di atas menunjukkan bahwa kesantunan
merupakan kunci terwujudnya keharmonisan. Gunung Imam juga menyampaikan
bahwa melalui sikap yang santun, komunikasi dapat berjalan secara seimbang dan
saling menguntungkan, sehingga program kerja Partai Demokrat yang telah disusun
dapat dilaksanakana dengan baik. Hal yang hampir sama juga disampaikan Hasyim
sebagai berikut.
“Santun itu tidak sekedar hanya bicara, tapi juga hal-hal yang lain,
seperti hormat pada pimpinan, hormat pada lembaga, hormat pada siapa
saja termasuk perempuan. Semua ini harus dilakukan Partai Demokrat
untuk menjadi partai yang bersih, cerdas, dan santun. Alhamdulillah saat
ini kami Partai Demokrat Kabupaten Semarang telah menjalankannya”
(wawancara tanggal 11 Mei 2016).
108
Pendapat lain juga disampaikan Joko Lestari sebagai berikut.
“Setiap kader atau anggota bebas Mas untuk mengajukan kritik terhadap
partai, asalkan disampaikan dengan bahasa yang baik, tidak kasar, tidak
memaki-maki, tidak bersifat menyerang, dan yang paling penting tidak
mengandung fitnah. Semua bebas Mas, siapapun itu yang penting tidak
memfitnah”. Kalau sudah menfitnah itu jelas tidak memiliki niat baik
untuk membangun Partai Demokrat (wawancara tanggal 9 April 2016).
Berdasarkan kutipan hasil wawancara tersebut, dapat digambarkan bahwa
Partai Demokrat Kabupaten Semarang berusaha konsisten dengan ketentuan yang
tercantum dalam kode etik Partai Demokrat pasal 9 tentang kesantunan yang
berbunyi: (1) anggota dan kader menunjukkan sikap santun dalam bertutur dan
bertindak dengan memperhatikan keragaman budaya, tingkat sosial, dan keagamaan; (2)
standar minimal pelaksanaan prinsip kesatunan antara lain berbicara sopan terhadap
sesama anggota, kader dan anggota masyarakat lainnya, membentuk komunikasi timbal
balik yang seimbang di antara anggota masyarakat, tidak boleh memfitnah, atau
mencemarkan nama baik orang lain tanpa disertai dengan bukti, menghormati orang
yang lebih tua atau dituakan, serta menghormati wanita.
Selain itu, terkait dengan perbedaan, Partai Demokrat Kabupaten Semarang
sangat menghargai segala bentuk perbedaan, baik yang terkait dengan perbedaan
agama, ras, golongan, maupun perbedaan-perbedaan yang lain. Pernyataan ini
sebagaimana disampaikan Gunung Imam sebagai berikut.
“Perbedaan dalam organisasi pasti ada dan tidak bisa dihindari. Jadi
Partai Demokrat Kabupaten Semarang enjoy saja dalam menghadapi
perbedaan-perbedaan itu. Yang penting jika perbedaan itu menyangkut
perbedaan pendapat maka semua kader harus punya niat yang baik
untuk membangun partai bukannya merusak” (wawancara tanggal 10
Januari 2016).
Peryataan Gunung Imam tersebut memberikan gambaran bahwa Partai
Demokrat Kabupaten Semarang sangat toleransi terhadap perbedaan-perbedaan yang
ada. Namun demikian, dalam konteks perbedaan pendapat, Partai Demokrat
Kabupaten Semarang selektif dalam mengambil keputusan. Artinya, pendapat-
109
pendapat dari kader yang sifatnya membangun akan lebih mendapatkan prioritas,
dibandingkan dengan pendapat-pendapat yang sifatnya merusak partai.
Peryataan lain terkait dengan toleransi terhadap perbedaan juga disampaikan
Joko Lestari sebagai berikut.
“Kita menghargai Mas perbedaan-perbedaan yang ada. Misalnya
kemarin pada waktu pilpres, karena Partai Demokrat tidak memihak
salah satu calon, kita sebagai kader diberi kebebasan untuk memilih
siapa saja calon yang ada dari KMP atau KIH” (wawancara tanggal 9
April 2016).
Pernyataan Joko Lestari ini terkait dengan perbedaan-perbedaan masingmasing kader dalam menentukan pilihan dalam pelaksanaan pilpres 2014. Partai
Demokrat Kabupaten Semarang dalam hal ini menjalankan instruksi DPP untuk
memberikan kebebasan kepada kader untuk menentukan pilihannya masing-masing.
Dari berbagai penjelasan di atas, Seperti halnya pada indikator keterbukaan,
berdasarkan hasil survei yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pada masing-masing
sub indikator mendapatkan penilaian yang berbeda-beda dari responden. Adapun
kategorisasi pelaksanaan ideologi partai politik modern Partai Demokrat Kabupaten
Semarang digambarkan melalui diagram berikut.
110
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Diagram 5.2
Keberagaman
Anggota/Kader
Pengakuan dan
Penghargaan
Terhadap
Solidaritas
25
7
0
0
14
19
0
0
Penyelesaian
Konflik
Internal
Melalui
Musyawarah
9
16
8
0
Kesantunan
Toleransi
Terhadap
Perbedaan
9
15
10
0
15
18
0
0
Indikator Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat
Kabupaten Semarang
Berdasarkan diagram di atas, dari 33 responden yang disurvei dapat diketahui
jumlah responden yang memberikan penilaian sangat baik terhadap pelaksanaan
ideologi Partai Demokrat Kabupaten Semarang, terutama terkait keberagaman
anggota atau kader (terbuka untuk semua warga negara tanpa membeda-bedakan
agama, ras dan golongan) berjumlah
25 responden, dan sisanya 7 responden
memberikan penilain baik. Pada pernyataan kedua terkait dengan upaya pengakuan
dan penghargaan terhadap solidaritas sebanyak 14 responden menyatakan sangat
baik, dan 19 responden menyatakan baik.
Berbeda dengan penilaian pada sub indikator pertama dan kedua, pada sub
indikator yang ketiga yaitu tentang upaya penyelesaian konflik internal melalui
musyawarah, sebanyak 9 responden memberikan penilaian sangat baik, 16
responden memberikan penilaian baik, dan 8 responden menyatakan tidak baik.
Untuk sub pernyataan tentang kesantunan, 9 responden menyatakan sangat baik, 15
responden menyatakan baik, dan 10 responden menyatakan tidak baik, sedangkan
111
pernyataan terakhir tentang toleransi terhadap perbedaan, 15 responden menyatakan
sangat baik dan 18 responden menyatakan baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang dapat digambarkan
ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.4 Skoring Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Pelaksanaan Ideologi Partai SB (4)
72
Demokrat di Kabupaten
B (3)
75
Semarang
CB (2)
18
B (1)
0
Jumlah total
165
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
288
225
36
0
549
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, maka
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator ideologi
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
digambarkan dalam tabel di bawah ini:
112
Tabel 5.5 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Pelaksanaan
Ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
Indikator
Sub Indikator
Keberagaman
Pelaksanaan Ideologi Partai
anggota/kader
Demokrat di Kabupaten
Pengakuan dan
Semarang
penghargaan terhadap
solidaritas
Penyelesaian konflik
internal melalui
musyawarah
Kesantunan
Toleransi terhadap
perbedaan
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang sebagai berikut.
% skor aktual = 549
X 100% = 83,18% dibulatkan menjadi 83 %
660
Dari perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa dalam prespektif
kuantitatif, presentase ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang termasuk
dalam kategori baik, yaitu dengan rentang presentase 68,01% - 84%.
Meskipun secara perhitungan kuantitatif Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang dalam kategori baik, namun demikian berdasarkan wawancara yang
dilakukan terhadap beberapa informan, perhitungan kuantitatif tersebut tidak dapat
dijadikan sebagai patokan modern atau tidaknya Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang. Hal ini karena terdapat perbedaan antara apa yang disampaikan oleh
113
informan dengan jawaban responden. Akan tetapi terdapat hal yang menarik yang
diperoleh peneliti setelah melakukan perhitungan secara kuantitatif sederhana terkait
dengan pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang. Hal yang
menarik tersebut adalah beberapa pernyataan yang diberikan, khususnya terkait
dengan mekanisme penyelesaian konflik internal mendapatkan penilaian terendah
dibandingkan dengan penyataan-pernyataan yang lain. Bahkan ada 8 responden yang
menjawab tidak baik.
Adanya perbedaan antara hasil analisis kualitatif dengan hasil analisis
kuantitatif di atas bertentangan dengan teori Sartori (1997:62) yang menyatakan
bahwa pluralisme politik diidentikan dengan “diversification of power” atau
polyarchy yaitu kondisi di mana distribusi kekuasaan politik terpencar di sejumlah
kekuatan-kekuatan atau kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat. Atau
dengan kata lain, tidak ada lagi monopoli kekuasaan politik di satu struktur
kekuasaan tertentu (monolitik), yang terjadi adalah dinamika peta isu-isu politik
dan
kepentingan,
masyarakat
“terbelah”
ke
dalam
asosiasi-asosiasi
kepentingan yang saling berkonflik, berkonsensus dan bahkan bertoleransi untuk
mencapai keseimbangan baru.
5.1.1.3 Proses Regenerasi Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Regenerasi dalam partai politik berkaitan dengan bagaimana partai politik
melakukan rekruitmen terhadap anggota.
Artinya, berhasil dan tidaknya partai
politik salah satunya juga ditentukan melalui proses regenarasi. Terkait dengan
regenerasi, Partai Demokrat di Kabupaten Semarang terbuka untuk semua kader
yang mempunyai niat atau motivasi untuk menjadi pengurus partai, bahkan menjadi
calon ketua DPC. Pencalonan Ketua DPC secara demokratis dilaksanakan pada saat
114
Muscab, dan siapa pun kader mempunyai hak untuk mencalonkan diri, tanpa
mengistimewakan pihak-pihak tertentu, termasuk pihak-pihak yang memiliki dana
yang besar.
Untuk syarat menjadi Ketua DPC atau Sekretaris minimal harus melakukan
koordinasi dengan semua PAC-PAC yang ada di Kabupaten Semarang. Hal ini perlu
dilakukan karena setiap PAC memiliki hak suara dalam Muscab yang
diselenggarakan. Melalui konsolidasi dengan PAC kemudian PAC mengumpulkan
kader-kadernya dari ranting dikumpulkan ini nanti ada pemilihan ini itu nanti
semuanya dikumpulkan untuk membahas pemilihan.
Selain keterbukaan dalam rekruitmen kader yang akan menjabat sebagai
pengurus, dalam usaha melakukan proses regenerasi yang baik, Partai Demokrat
Kabupaten Semarang juga berpedoman pada usaha yang akan dilakukan DPP, yaitu
melalui penyelenggaraan institut Partai Demokrat. Institut Partai Demokrat perlu
diberikan kepada kader agar kader mendapatkan pendidikan dan pembelajaran
politik, khususnya yang terkait dengan kondisi Partai Demokrat. Tujuan dari
diselenggarakannya institut Partai Demokrat adalah untuk menyiapkan kader terbaik.
Apalagi pada saat ini Partai Demokrat masih mempertahankan SBY sebagai patron
partai, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai anggapan bahwa Partai
Demokrat tidak demokratis.
Peryataan tentang rencana pendirian Institut Partai Demokrat disampaikan
Gunung Imam. Dalam wawancara Gunung Imam menyatakan:
“Partai Demokrat sebenarnya sedang mempersiapkan kader-kader terbaik
untuk menggantikan SBY kelak. Proses persiapan kader ini merupakan
bagian dari regenerasi yang dilaksankan melalui program DPP Partai
Demokrat yang bernama Institut Partai Demokrat” (wawancara tanggal 10
Januari 2016).
115
Selain Gunung Imam, Hasyim dalam wawancaranya menyampaikan hal
sebagai berikut.
“Setiap partai politik termasuk Partai Demokrat saat ini tidak boleh mainmain dalam merekrut kader. Kejadian sebelumnya menjadi pengalaman
berharga bagi kami dalam menerima kader partai dengan baik. Kader partai
sekarang harus bersih, jujur, dan santun” (wawancara tanggal 11 Mei 2016).
Hasil wawancara di atas menunjukkan adanya keinginan Partai Demokrat
Kabupaten Semarang untuk lebih selektif dalam melakukan seleksi terhadap calon
kader. Hal ini dilakukan karena melalui rekruitmen yang lebih selektif, maka
harapan Partai Demokrat untuk mewujudkan regenerasi partai yang bersih, jujur,
cerdas, dan santun dapat terwujud.
Terkait dengan survei yang dilakukan tentang proses regenarisasi Partai
Demokrat Kabupaten Semarang dapat digambarkan pada diagram berikut.
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Persamaan
Hak Menjadi
Pengurus
Terdapat
Persyaratan
Menjadi
Pengurus
Pendidikan
dan Pelatihan
Kader
Terdapat
Kriteria
Pengurus
17
14
1
0
15
14
7
0
13
18
1
0
8
18
6
0
Mekanisme
Pergantian
Pengurus
Sesuai
AD/ART
14
15
3
0
Diagram 5.3 Indikator Regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
Dari gambar diagram di atas, dapat diketahui bahwa terkait dengan
persamaan hak menjadi anggota pengurus, 17 responden menyatakan sangat baik, 14
116
responden menyatakan baik, dan 1 responden menyatakan tidak baik. Untuk
pernyataan tentang terdapat tidaknya persyaratan menjadi pengurus partai dapat
diketahui 15 responden menyatakan sangat baik, 14 responden menyatakan baik, dan
7 responden menyatakan tidak baik. Untuk sub indikator tentang pendidikan dan
pelatihan kader sebanyak 13 responden menyatakan sangat baik, 18 responden
menyatakan baik, dan 1 responden menyatakan tidak baik. Untuk sub indikator
mengenai kriteria pengurus partai, sebanyak 8 responden menyatakan sangat baik,
18 responden menyatakan baik, dan 6 responden menyatakan tidak baik. Untuk
indikator yang terakhir terkait dengan pergantian pengurus, sebanyak 14 responden
menyatakan sangat baik, 15 responden menyatakan baik, dan 3 responden
menyatakan tidak baik. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa terkait dengan
persamaan hak menjadi anggota pengurus menempati ranking teratas, sedangkan
upaya pergantian pengurus menempati ranking penilaian terendah.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan proses regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.6 Skoring Regenerasi Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Regenerasi Partai
SB (4)
67
Demokrat di Kabupaten
B (3)
79
Semarang
CB (2)
18
B (1)
0
Jumlah total
164
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
268
237
36
0
541
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, maka
117
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang digambarkan dalam
tabel di bawah ini:
Tabel 5.7 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Regenerasi Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang
Indikator
Sub Indikator
Persamaan hak menjadi
Regenerasi Partai Demokrat di
pengurus
Kabupaten Semarang
Terdapat persyaratan
menjadi pengurus
Pendidikan dan pelatihan
kader
Terdapat kriteria khusus
untuk menjadi pengurus
Mekanisme pergantian
pengurus melalui
AD/ART partai
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang sebagai berikut.
% skor aktual = 541
X 100% = 81,96% dibulatkan menjadi 82 %
118
660
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang termasuk
dalam kategori baik, yaitu dengan rentang presentase 68,01% - 84%.
Berdasarkan hasil temuan di atas, maka peneliti beranggapan bahwa terkait
dengan regenerasi, Partai Demokrat di Kabupaten Semarang jusrtu dalam hal-hal
tertentu, khususnya pergantian pengurus dalam tidak sejalan dengan aturan yang
terdapat di dalam AD Partai Demokrat Bab VIII. Dalam AD AD Partai Demokrat
Bab VIII disebutkan bahwa jangka waktu kepengurusan partai pada semua tingkatan
adalah 5 (lima) tahun, sehingga setiap lima tahun sekali terjadi proses regenerasi
kepemimpinan. Proses regenerasi kepemimpinan ini dilakukan melalui Kongres,
Muktamar, Munas di tingkat nasional, Musda (di tingkat provinsi), dan Muscab (di
tingkat kota/kabupaten). Jika terjadi penyimpangan terhadap jangka waktu
kepengurusan partai, baik kurang dari lima tahun, maka dapat dilakukan melalui
pelaksanaan Kongres Luar Biasa, Musyawarah Daerah Luar Biasa, Musyawarah
Cabang Luar Biasa, Musyawarah Anak Cabang Luar Biasa, Musyawarah Ranting
Luar Biasa.
5.1.1.4 Kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
Dalam proses kaderisasi, sesuai dengan AD/ART setiap DPC Partai
Demokrat memiliki sebuah unit khusus yang dinamakan Unit Kaderisasi, Pendidikan
dan Pelatihan. Unit Kaderisasi, Pendidikan dan Pelatihan bertanggungjawab
melaksanakan pendidikan, pelatihan, dan kaderisasi secara teratur dan secara
insidental sesuai dengan kebutuhan semua kader dan fungsionaris partai di tingkat
cabang. Dalam melaksanakan tugasnya, unit tersebut berpedoman pada Rencana
119
Umum Pendidikan dan Pelatihan serta Kebijakan serta kebijakan Umum Dewan
Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, dan Dewan Pimpinan Cabang.
Melalui Unit Kaderisasi, Pendidikan dan Pelatihan Kaderisasi oleh pengurus
Partai Demokrat dipahami lebih dari pemberian materi atau indoktrinasi secara
formal melalui ruang-ruang kelas tetapi juga sebagai pengikutsertaan anggota atau
jajaran pengurus lain dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh partai, seperti rapatrapat dan kunjungan ke PAC, sehingga unit kaderisasi sebagai bagian struktur
organisasi partai, bersama fungsionarisnya tidak lebih sebagai papan nama jika
ditinjau dari fungsi unit tersebut.
Di Kabupaten Semarang, Unit Kaderisasi, Pendidikan dan Pelatihan pada
saat ini belum menjalankan fungsinya dengan baik. Hal ini dikarenakan belum
matangnya proses perencanaan. Kurang matangnya proses perencanaan salah
satunya disebabkan karena adanya pergantian kepengurusan di tubuh Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang sebelum dilaksnakan Muscab. Hal ini
berpengaruh terhadap struktur kepengurusan partai, sehingga tugas dari masingmasing pengurus menjadi tidak jelas.
“Di awal sudah saya sampaikan, kita Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang masih berbenah mempersiapkan Muscab, sehingga beberapa
fungsi kepengurusan belum bisa bekerja secara optimal. Namun, kita selalu
berusaha untuk melakukan koordinasi yang baik dengan PAC untuk
menyiapkan dan merekrut kader terbaik yang bagian dari strategi
memenangkan pemilu berikutnya”. (Wawancara tanggal 11 Mei 2016).
Dari pendapat Hasyim, dapat diketahui bahwa meskipun unit kaderisasi,
pendidikan dan pelatihan belum bisa menjalankan fungsinya dengan baik, namun
upaya-upaya perekrutan kader tebaik sudah dilakukan. Proses penjaringan kader
diupayakan untuk meningkatkan perolehan jumlah suara pada pemilu berikutnya.
Dalam proses rekruitmen berusaha objektif. Untuk menjadi kader Partai Demokrat
120
minimal harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi massa, loyalitas, dan
kegigihan dalam bekerja. Hal ini senanda dengan apa yang disampaikan guntur.
Dalam proses wawancara yang dilakukan di kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten
Semarang, Gunung Imam mengungkapkan beberapa hal sebagai berikut.
“Melalui kaderisasi yang berupa pelibatan simpatisan, anggota dan segenap
pengurus dalam kegiatan-kegiatan partai. Kegiatan-kegiatan tersebut
berupa rapat, menerima kunjungan dari kepengurusan yang lebih tinggi,
kunjungan sosial dan sebagainya. Meski secara organisasi kaderisasi
dilakukan melalui instrumen program pendidikan dan pembentukan lembaga
yang khusus mengelola kaderisasi, kegiatan Partai Demokrat tersebut
langsung diselenggarakan oleh kepengurusan DPC”. (Wawancara tanggal
10 Januari 2016).
Hasil survei terkait dengan kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini.
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Ketepatan
Waktu
Pelatihan
Kader
23
10
0
0
Terdapat
Pedoman dan
Kriteria
Dalam
Perekrutan
Kader
23
9
1
0
Rekruitmen
Kader Tidak
Berdasarkan
Kedekatan
Personal atau
Persaudaraan
13
17
3
0
Sistem
Rekruitmen
Kader
Transparan
dan
Akuntabel
8
21
4
0
Keterwakilan
Kader
Perempuan
16
16
1
0
Diagram 5.4 Indikator Kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
Terkait dengan indikator tentang proses kaderisasi, diperoleh data sebagai
berikut: untuk masalah ketepatan waktu pelatihan kader 23 responden menyatakan
sangat baik, dan 10 responden menyatakan baik. Pada sub indikator mengenai
terdapat tidaknya pedoman dan kriteria dalam perekrutan kader, diperoleh data 23
121
responden menyatakan sangat baik, 9 responden menyatakan baik, dan 1 responden
menyatakan tidak baik. Pada sub indikator yang lain, yaitu terkait dengan
pertimbangan dalam rekruitmen kader, diperoleh data sebanyak 13 responden
menyatakan sangat baik, 17 responden menyatakan baik, dan 3 responden
menyatakan tidak baik.
Berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas sistem rekruitmen, sebanyak
8 responden menyatakan sangat baik, 21 responden menyatakan baik, dan 4
responden menyatakan tidak baik. Sedangkan pada sub indikator yang terakhir
tentang keterwakilan kader perempuan diperoleh data sebanyak 16 responden
menyatakan sangat baik, dan 16 responden menyatakan baik, dan 1 responden
menyatakan tidak baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan proses kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.8 Skoring Kaderisasi Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Kaderisasi Partai Demokrat SB (4)
83
di Kabupaten Semarang
B (3)
73
CB (2)
9
B (1)
0
Jumlah total
165
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
332
219
18
0
569
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, maka
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
122
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang digambarkan dalam
tabel di bawah ini:
5.9 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Kaderisasi Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang
Indikator
Sub Indikator
Persamaan hak menjadi
Kaderisasi Partai Demokrat di
pengurus
Kabupaten Semarang
Terdapat persyaratan
menjadi pengurus
Pendidikan dan pelatihan
kader
Terdapat kriteria khusus
untuk menjadi pengurus
Mekanisme pergantian
pengurus melalui
AD/ART partai
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang sebagai berikut.
% skor aktual = 569
X 100% = 86,21% dibulatkan menjadi 86 %
660
123
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang termasuk
dalam kategori sangat baik, yaitu dengan rentang presentase 84,01% - 100%.
5.1.2
Modernisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga
Random menuju modernisasi sudah disiapkan DPC Partai Demokrat Kota
Salatiga melalui pembangunan pola pikir modern. Pola pikir yang dimaksud dapat
dilihat dari ketokohan SBY yang sangat sederhana dan terbuka. Kesederhanaan dan
keterbukaan SBY terlihat pada saat SBY melakukan kunjungan TourTheJava di
Salatiga. Saat SBY yang kebetulan menjabat sebagai Ketua Umum tersebut datang,
SBY tidak meminginkan adanya sambutan secara besar-besaran. Selain itu, pada saat
penentuan salah satu calon Walikota Salatiga, SBY tidak memikirkan menang,
namun yang terpenting yang menjadi calon walikota benar-benar kader yang
berkualitas. Artinya, siapa pun kader yang memiliki kualitas untuk memimpin di
Kota Salatiga dapat dipromosikan. Hal ini seperti yang disampaikan Adhi Sandi,
Direktur Eksekutif Partai Demokrat Kota Salatiga sebagai berikut.
“Kalau konteknya modern itu bisa juga di pola pikir modern, sebenarnya
kalau pola pikir Pak SBY itu pola pikirnya modern. Namun dalam konteks
organisasi kita masih dalam proses menuju modern. Kalau Pak SBY itu
modern, random menuju modern sudah disiapkan. Kemarin Ketua Umum
datang kita tidak boleh menyambut besar-besaran, karena posisinya ketua
umum tidak ingin masyarakat itu menganggap bahwa SBY itu sebagai sosok
Bapak Negara, beliau tidak mau, apalagi untuk merugikan masyarakat. Jadi
SBY datang itu beliau tidak mau macet itu tidak mau. Jadi pola-pola pikir
yang sederhana kayak gitu itu yang kemarin memang tidak bisa diekspos
oleh media” (wawancara tanggal 15 April 2016).
Hasil wawancara tersebut menunujukkan bahwa secara pola pikir
modernisasi di tubuh Partai Demokrat sudah dilakukan melalui keteladanan SBY.
124
Keteladanan tersebut terlihat misalnya pada saat penjaringan calon walikota, Partai
Demokrat lebih mementingkan kader yang berkualitas dibandingkan dengan orang
yang memiliki sumber dana. Selain itu, Partai Demokrat khususnya di Kota Salatiga
dalam melakukan proses penjaringan calon walikota juga lebih mempertimbangkan
usulan dari bawah.
5.1.2.1 Keterbukaan Partai Demokrat Kota Salatiga
Keterbukaan menjadi prioritas bagi Partai Demokrat di Kota Salatiga. Proses
keterbukaan digambarkan oleh Adhi Sandi misalnya melalui proses penjaringan
calon walikota, dimana proses tersebut dilakukan melalui prosedur yang sudah
ditentukan dan disepakati bersama, yaitu melalui mekanisme persiapan, penjaringan,
dan verifikasi. Dalam proses penjaringan calon walikota, Partai Demokrat di Salatiga
terbuka dengan mempertimbangkan usulan secara bottom up bukan secara top down
lagi.
Selain dicontohkan melalui proses penjaringan calon walikota, keterbukaan
juga digambarkan Adhi Sandi melalui mekanisme laporan keuangan partai. Laporan
keuangan partai dibuat dan dilaporkan kepada pemerintah (Kesbangpol dan KPU)
setelah selesai melaksanakan kegiatan. Untuk menjaga keterbukaan dalam
pembuatan laporan keuangan, DPC melibatkan kader dalam proses pembuatannya.
Hal ini juga dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses
pembuatan laporan.
Secara lebih jelas, penjelasan dari masing-masing sub indikator keterbukaan
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Sebagaimana Partai Demokrat Kabupaten Semarang, akses informasi
merupakan hal yang penting bagi Partai Demokrat Kota Salatiga. Pembukaan akses
informasi secara terbuka kepada kader maupun masyarakat dapat memberikan
125
dampak yang positif bagi perkembangan partai. Dengan adanya keterbukaan akses
informasi, setiap kader dapat mengetahui apa dan bagaimana Partai Demokrat Kota
Salatiga menjalankan program-program kerja sesuai dengan harapan masyarakat.
Pernyataan ini sebagaimana disampaikan Adhi Sandi sebagai berikut.
“Informasi sangat penting Mas untuk diberikan kepada masyarakat atau
kader. Kita selalu membangun akses kepada kader, termasuk pada saat ini
menjelang pilihan walikota, kader berhak tahu Partai Demokrat Kota
Salatiga menentukan siapa yang menjadi pilihannya. Dengan demikian,
adanya keterbukaan informasi ini komunikasi partai dengan masyarakat dan
kader bisa berjalan dengan baik” (wawancara tanggal 15 April 2016).
Peryataan Adhi Sandi di atas menunjukkan adanya semangat Partai
Demokrat Kota Salatiga untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
baik melalui keterbukaan akses informasi. Dengan terbukanya akses informasi,
setiap kader memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi
terkait dengan program kerja Partai Demokrat. Pernyataan Adhi Sandi ini juga
diperkuat pernyataan salah satu kader Partai Demokrat Kota Salatiga Sri Rohani
sebagai berikut.
“Partai manapun termasuk Partai Demokrat di era demokrasi saat ini
sangat dituntut untuk serba terbuka, oleh karena itu Partai Demokrat di Kota
Salatiga dalam menjalankan program-programnya selalu terbuka
memberikan informasi kepada siapa saja, yang penting yang sifatnya bukan
kerahasiaan partai, karena Partai Demokrat juga memiliki hak untuk
menjaga kerahasiaan partai” (wawancara tanggal 21 Juni 2016).
Berdasarkan kutipan wawancara di atas, dapat disimpulkan Partai Demokrat
Kota Salatiga telah melakukan usaha untuk mengimplementasikan Undang-undang
Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam Undangundang tersebut disebutkan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah
satu upaya untuk memberikan jaminan hak setiap orang untuk memperoleh
126
informasi publik dalam rangka mendorong dan meningkatkan kualitas patisipasi
masyarakat untuk memberikan masukan dalam pengambilan kebijakan publik.
Lebih lanjut dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 juga
diatur bahwa partai politik termasuk Partai Demokrat wajib menyediakan secara
terbuka informasi publik yang meliputi: (1) asas dan tujuan; (2) program umum dan
kegiatan partai politik; (3) nama, alamat dan susunan kepengurusan serta
perubahannya; (4) pengelolaan dan penggunaan dana yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
(5) mekanisme pengambilan keputusan partai; keputusan partai yang berasal dari
hasil Muktamar/Kongres/Munas dan keputusan lainnya yang menurut anggaran
dasar dan anggaran rumah tangga partai terbuka untuk umum; dan (6) informasi lain
yang ditetapkan oleh Undang-Undang yang berkaitan dengan partai politik.
Transparansi dalam mengelola keuangan menjadi prioritas utama Partai
Demokrat Kota Salatiga dalam upaya membangun partai yang modern. Bentuk
transparansi tersebut dilakukan dengan cara memberikan informasi keuangan secara
terbuka dan bertanggungjawab, baik kepada kader, masyarakat maupun pemerintah.
Hal ini sebagaimana disampaikan Adhi Sandi sebagai berikut.
“Kita nanti laporan ke pemerintah, pemerintah ada standarnya,
standarnya itu stempel basah. Itu yang dilaporkan ke Kesbangpol dan ke
KPU, jadi KPU itu bukan dari kita tapi dari Kesbangpol. Jadi kita tidak
mungkin langsung kecuali dana kampanye, langsung ke KPU. Jadi kita
buat dana kampanye, pos-pos apa yang dikeluarkan itu semua stempel
basah semua. Jadi kader berhak tahu, kita undang mereka,
pembuatannya mereka juga ikut, jadi kita tidak sendiri kalau sendiri
susah kalau misalkan ada kesalahan kita yang disalahkan” (wawancara
tanggal 15 April 2016).
Selain Adhi Sandi, Sri Rohani juga menyampaikan adanya upaya periodik
yang dilakukan Partai Demokrat Kota Salatiga untuk mewujudkan transparansi
127
dalam mengelola keuangan partai. Upaya ini dilakukan karena Partai Demokrat Kota
Salatiga menyadari bahwa kriteria terwujudnya pemerintahan yang baik (good
governance) salah satunya adalah melalui keterbukaan dalam mengelola sumber
keuangan partai. Kutipan wawancara tersebut adalah sebagai berikut.
“Partai
Demokrat
Kota
Salatiga
memiliki
komitmen
mempertanggungjawabkan dana partai kepada publik dan pemerintah.
Kita di sini mendukung terwujudnya pemerintahan yang baik, jadi ya
keuangan partai juga harus dilaporkan dengan baik. Kita selalu tepat
waktu dalam menyampaikan laporan kepada pemerintah setelah
pemerintah melalui BPK juga melakukan audit terhadap laporan yang
kita buat” (wawancara tanggal 21 Juni 2016).
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa Partai Demokrat Kota Salatiga
memiliki komitmen untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas, terutama
dalam mengelola sumber keuangan yang diperoleh. Melalui wawancara tersebut,
dapat diketahui bahwa Partai Demokrat Kota Salatiga berusaha terbuka dalam
melaporkan keuangan partai. Partai Demokrat Kota Salatiga dalam hal ini telah
melakukan kewajiban sebagaimana yang disebutkan dalam UU 2 tahun 2011, yaitu
kewajiban untuk mempublikasikan pengelolaan keuangan partai, yang meliputi
kepada masyarakat atau publik.
Selain keterbukaan dalam pengelolaan keuangan, salah satu program kerja
Partai Demokrat Kota Salatiga saat ini adalah menyiapkan kader terbaik untuk
mengikuti pelatihan yang diselenggarakan DPP Partai Demokrat. Selain itu, Partai
Demokrat Kota Salatiga pada saat ini juga sedang menghimpun kekuatan untuk
mendukung salah satu kader terbaik untuk menjadi calon walikota, dengan
diharapkan dapat memberikan perubahan menuju Kota Salatiga yang lebih baik.
Oleh karena itu, dalam upaya meyakinkan masyarakat Kota Salatiga untuk memilih
calon terbaik, maka mekanisme yang dilakukan adalah melalui kegiatan dialog
128
bersama calon walikota. Pernyataan tersebut sebagaimana disampaikan Adhi Sandi
sebagai berikut.
“Ada juga mekanisme dengan cara model kaya kita walikota ini kan
kader kita, kita nanti akan membuat rancangan untuk dialog dengan
masyarakat bahwa Dia sebagai walikota ini specnya, siapapun mau
menghujat aja tidak masalah yang penting di sini ada aturannya.
Maksudnya kalau menghujat dengan cara yang santun. Banyak yang
datang ke kita jadi dengan berbagai cara. Yang ketiga itu kader-kader
yang sudah loyal kita akan mengajak sekeliling mereka” (wawancara
tanggal 15 April 2016).
Selain menyiapkan kader untuk menjabat kembali walikota, Partai Demokrat
Kota Salatiga juga mengadakan kegiatan temu kader yang dilakukan bersamaan
dengan kegiatan SBYTourdJava. Kegiatan temu kader dilakukan dengan tujuan
untuk menyamakan presepsi guna mendukung terwujudnya visi dan misi Partai
Demokrat. Pernyataan demikian sebagaimana disampaikan Sri Rohani sebagai
berikut.
“Kita sering mengadakan temu kader untuk silaturahmi sekaligus
menyamakan presepsi kita dalam banyak hal. Seperti kemarin setelah
SBY datang ke Salatiga, DPC melakukan pertemuan dengan kader terkait
dengan hasil rekomendasi SBYTourdJava. Pertemuan ini sangat
bermanfaat bagi kami karena melalui pertemuan ini kita jadi sama dalam
mempersiapkan dan menjalankan program kerja yang akan datang”
(wawancara tanggal 21 Juni 2016).
Berdasarkan beberapa kutipan wawancara di atas dapat diketahui bahwa
upaya keterbukaan dalam menyampaikan program kerja telah dilakukan Partai
Demokrat Kota Salatiga dengan baik. Namun demikian, lebih lanjut kedua informan
tersebut juga menyampaikan bahwa dalam memberikan informasi juga mengalami
berbagai kendala, salah satunya adalah adanya konflik internal yang sebelumnya
dialami Partai Demokrat Kota Salatiga. Akan tetapi konflik internal tersebut bukan
kendala yang berarti.
129
Terkait dengan komunikasi, sebagaimana yang terjadi di Kabupaten
Semarang, saat ini dalam mendukung tercapainya program-program kerja yang
sudah disusun, Partai Demokrat Kota Salatiga menjalin komunikasi, baik dengan
sesama kader maupun dengan anggota masyarakat. Partai Demokrat Kota Salatiga
belajar dari pengalaman sebelumnya, yaitu ketika komunikasi tidak dijalankan
dengan baik, maka akan terjadi pertentangan-pertentangan yang pada akhirnya dapat
memunculkan konflik internal yang tidak diinginkan. Hal seperti pernyataan Adhi
Sandi sebagai berikut.
“Saat ini komunikasi kita jalankan dengan baik apalagi saat ini kita
sedang mempersiapkan kegiatan pilkada yang memang membutuhkan
komunikasi dengan semua pihak termasuk kader dan masyarakat. Kita
tidak mau pengalaman sebelumnya karena kita kurang komunikasi
akhirnya terjadi perbedaan pendapat yang akhirnya membuat semua
tidak nyaman dan cenderung menimbulkan konflik dan merugikan
partai” (wawancara tanggal 15 April 2016).
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa komunikasi sangat dibutuhkan dalam
menjalankan roda organisasi termasuk partai politik. Komunikasi yang terbuka inilah
yang diyakini Partai Demokrat Kota Salatiga dapat memberikan dampak yang baik
dan berpengaruh terhadap pencapaian program kerja yang telah direncanakan. Hal
ini karena melalui hubungan komunikasi yang baik, akan tercipta harmonisasi di
setiap anggota maupun masyarakat, sehingga apa yang menjadi tujuan partai dapat
tercapai secara efektif dan efisien.
Selain itu, untuk menampung adanya kritik maupun perbedaan-perbedaan
dari kader atau anggota partai, menurut Sandi Partai Demokrat Kota Salatiga setiap
satu bulan sekali mengadakan konsolidasi dengan ranting. Konsolidasi tersebut
dipimpin langsung oleh Ketua PAC di setiap ranting. Tujuan dijadikannya Ketua
PAC sebagai pemimpin rapat konsolidasi adalah untuk membangun jiwa leadership
130
dan untuk regenerasi. Tujuan konsolidasi di tingkat ranting adalah untuk menyatukan
presepsi yang di dalamnya terdapat kritik-kritik atau perbedaan-perbedaan, yang
kemudian hasilnya akan dimusyawarahkan di tingkat DPC.
“Kalau kita ada yang namanya konsolidasi dengan ranting. Konsolidasi
ranting itu setiap bulan sekali diadakan. Itu nanti yang memimpin adalah
PACnya karena untuk leadirshipnya. Jadi untuk regenarisnya dari PAC itu
akan ngomong di ranting, baru nanti ketika ada hasil di situ
dimusywarahkan di DPC. Jadi ada heirarkinya, hirarkinya memang kayak
gitu. Kita untuk mempersiapkan keanggotaan, kita mempersiapkan
keroganisasian, kita mempersiapkan leadhership dari PAC itu gimana,
ketika dia tidak punya leadhersip untuk memimpin ranting juga susah, kita
akan genjot itu. Ini sudah berjalan satu bulan setiap satu bulan satu kali”
(wawancara tanggal 15 April 2016).
Penjelasan Adhi Sandi di atas menunjukkan bahwa Partai Demokrat Kota
Salatiga pada dasarnya terbuka terhadap kritik ataupun perbedaan-perbedaan dari
kader atau anggota partai. Keterbukaan tersebut diwadahi dalam sebuah kegiatan
konsolidasi, yang harapannya selain dapat menampung kritik maupun perbedaanperbedaan sekaligus juga untuk mempersiapkan proses regenerasi partai. Namun
demikian, lebih lanjut Adhi Sandi menyampaikan bahwa setiap kader partai
diperbolehkan untuk mengkritik kebijakan DPC, akan tetapi tetapi tetap dalam batas
kewajaran, artinya kader tersebut dalam melakukan kritik tidak memiliki maksud
untuk merusak citra partai, tapi lebih pada kritik yang bersifat membangun.
Dari berbagai penjelasan di atas, untuk memperoleh data terkait dengan
seberapa jauh keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga, maka selain melakukan
wawancara dengan pihak-pihak terkait sebagaimana yang dilakukan pada Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang, peneliti juga melakukan survei terhadap
pengurus, kader maupun simpatisan Partai Demokrat di Kota Salatiga. Dari hasil
survei tersebut diperoleh gambaran diagram data sebagai berikut.
131
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Akses
Informa
si
15
15
3
0
Laporan
Keuang
an
18
8
7
0
Program
Kerja
Komuni
kasi
Kritik
14
15
4
0
13
5
5
0
9
16
6
0
Diagram 5.5 Indikator Keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga
Hasil survei terhadap 33 pengurus atau kader Partai Demokrat di Kota
Salatiga menunujukkan bahwa ranking keterbukaan terhadap laporan keuangan
mendapatkan penilaian yang paling tinggi. Pada sub indikator tentang keterbukaan
terhadap penyampaian laporan keuangan, sebanyak 18 responden menyatakan sangat
baik, 8 responden menyatakan baik, dan 7 responden menyatakan tidak baik.
Sedangkan pada pernyataan tentang keterbukaan akses informasi, sebanyak 15
responden memberikan penilaian sangat baik, 15 responden menyatakan baik dan 3
responden menyatakan tidak baik.
Pada sub indikator yang lain, yaitu terkait dengan keterbukaan dalam
penyampaian program kerja, diperoleh data sebanyak 14 responden menyatakan
sangat baik, 15 responden menyatakan baik, dan 4 responden menyatakan tidak baik.
Berkaitan dengan keterbukaan komunikasi yang dijalankan antara elit dan kader,
sebanyak 13 responden menyatakan sangat baik, 15 responden menyatakan baik, dan
5 responden menyatakan tidak baik. Pada sub indikator yang terakhir tentang
132
keterbukaan terhadap kritik diperoleh data sebanyak 9 responden menyatakan sangat
baik, 16 responden menyatakan baik, dan 6 responden menyatakan tidak baik.
Dari hasil survei tersebut, dapat disimpulkan bahwa keterbukaan Partai
Demokrat di Kota Salatiga dalam transparansi keuangan partai juga menunjukkan
kategorisasi sangat baik. Hal ini diperkuat hasil wawancara dengan salah satu
pengurus Partai Demokrat Kota Salatiga Adhi Sandi sebagai berikut.
“Jadi kader berhak tahu, kita undang mereka, pembuatannya mereka juga
ikut, jadi kita tidak sendiri kalau sendiri susah kalau misalkan ada kesalahan
kita yang disalahkan. Keterbukaan ini juga termasuk salah satunya itu, jadi
anggaran dan lain sebagainya kita buka” (wawancara tanggal 15 April
2016).
Apa yang disampaikan Adhi Sandi menunjukkan bahwa Partai Demokrat di
Kota Salatiga berusaha untuk memenuhi kriteria partai politik modern. Namun,
untuk menuju ke arah modern memang tidak semudah yang dibicarakan. Berbagai
persoalan menjadi penghambat, salah satunya konflik internal. Dalam perjalanannya
tidak mungkin dalam suatu hubungan organisasi khususnya partai politik tidak ada
konflik. Akan tetapi kadang konflik tersebut justru ditimbulkan pihak luar yang tidak
menginginkan adanya keharmonisan di tubuh Partai Demokrat.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga dapat digambarkan ke
dalam tabel berikut.
Tabel 5.10 Skoring Keterbukaan Partai Demokrat Kota Salatiga
Indikator
Keterbukaan Partai
Demokrat di Kota Salatiga
Interval
Nilai
SB (4)
B (3)
CB (2)
B (1)
Jumlah total
133
Jumlah
Tanggapan
Responden
69
69
25
0
163
Skor Aktual
276
207
50
0
533
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga, maka berdasarkan
tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang diharapkan dari setiap
aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga digambarkan dalam tabel di
bawah ini:
Tabel 5.11 Skor Yang Diharapkan Pada Setiap Sub Indikator Keterbukaan
Partai Demokrat di Kota Salatiga
Indikator
Sub Indikator
Akses Informasi
Keterbukaan Partai Demokrat
Laporan Keuangan
di Kota Salatiga
Program Kerja
Komunikasi
Kritik
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga sebagai berikut.
% skor aktual = 533
X 100% = 80,75% dibulatkan menjadi 81 %
134
660
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga termasuk dalam
kategori baik dengan presentase 68,01% - 84%.
Pemaparan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa dalam prespektif
kuantitatif, presentase keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
termasuk dalam kategori sangat baik dengan presentase 84,01% - 100%. Hal ini
berarti upaya yang ditempuh Partai Demokrat Kabupaten Semarang untuk
mewujudkan modernisasi, khususnya dalam hal keterbukaan sudah dilakukan
dengan sangat baik. Selain itu, dengan melihat kondisi yang demikian, maka dapat
disimpulkan bahwa secara kuantitatif pernyataan di atas memperkuat pernyataan
Sartori (2015) yang menyatakan bahwa untuk menunju partai modern, salah satunya
ditempuh melalui keterbukaan.
5.1.2.2 Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat Kota Salatiga
Dalam upaya melaksanaan ideologi, sebagaimana di tingkat pusat, Partai
Demokrat di Kota Salatiga berusaha untuk menjadi partai penyeimbang dan
penengah. Untuk menjadi penyeimbang dan penengah, Partai Demokrat di Kota
Salatiga selalu berusaha bersikap santun dan berpikir cerdas dengan tidak terjerumus
ke dalam permasalahan partai lain. Hal ini juga terlihat pada saat penyelenggaraan
pilpres tahun 2014. Pada pilpres 2014 Partai Demokrat tidak masuk ke dalam dua
kubu yang bersebrangan (KMP dan KIH), akan tetapi lebih memposisikan diri
sebagai penyeimbang guna kepentingan nasional. Pernyataan ini seperti yang
disampaikan Adhi Sandi sebagai berikut.
135
“Yang paling sangat mungkin Partai Demokrat itu punya idelais sendiri.
Jadi dia tidak akan membentuk A untuk menyerang Si B tidak akan. Dia akan
menjadi penengah. Jadi kita memang punya ideologi sendiri, kita bermain
santun, bermain cerdas tidak ikut A ikut B, kita kan tidak ikut KMP maupun
KIH tapi jadi penyeimbang” (wawancara tanggal 15 April 2016).
Berdasarkan pernyataan Adhi Sandi di atas dapat disimpulkan bahwa dalam
keterkaitannya dengan pelaksanaan ideologi, Partai Demokrat Kota Salatiga selalu
memegang teguh sikap santun serta berpikir cerdas dalam melaksanakan programprogram kerja partai. Partai Demokrat Kota Salatiga dalam hal ini tidak ingin terlibat
dalam konflik ataupun permasalahan partai lain, dan lebih fokus menata internal
partainya sendiri. Selain itu, Partai Demokrat Kota Salatiga merupakan partai yang
menjunjung tinggi keberagaman.
Keberagaman anggota/kader sudah menjadi prioritas Partai Demokrat Kota
Salatiga. Partai Demokrat Kota Salatiga menyadari bahwa dengan ciri ideologi
Nasionalis-Religius, maka konsekuensinya adalah memberikan kebebasan kepada
semua warga Negara termasuk kaum perempuan untuk menjadi anggota/kader,
bahkan pengurus partai.
hal ini sebagaimana disampaikan Adhi Sandi sebagai
berikut.
“Keberagaman itu wajib Mas. Partai Demokrat itu punya ideologi
Nasionalis-Religius di satu sisi nasional di sisi lain religius, jadi
konsekuensinya kita bebas siapapun yang mau masuk menjadi anggota atau
kader partai tanpa meilhat perbedaan-perbedaan agama dan golongan yang
penting calon kader punya komitmen membangun partai” (wawancara
tanggal 15 April 2016).
Pernyataan Adhi Sandi di atas diperkuat pandangan salah satu kader
perempuan Partai Demokrat Kota Salatiga Sri Rohani. Dalam pernyataannya Sri
Rohani menyampaikan hal sebagai berikut.
“Selama saya bergabung dengan Partai Demokrat Kota Salatiga, saya
melihat untuk masalah keberagaman Partai Demokrat Salatiga sangat
136
terbuka. Kita dari kaum perempuan juga tidak merasakan diskriminasi
apapun, kita enjoy karena partai ini tidak hanya terdiri dari satu agama tapi
beragam dan tidak membeda-bedakan satu sama lain” (wawancara tanggal
21 Juni 2016).
Baik pernyataan Adhi Sandi maupun Sri Rohani di atas menunjukkan bahwa
dalam konteks keberagaman khususnya dalam perekrutan anggota atau kader partai,
Partai Demokrat Kota Salatiga merupakan partai yang terbuka terhadap
keberagaman anggota. Artinya, dalam merekrut anggota atau kader Partai Demokrat
Kota Salatiga tidak membedakan darimana calon kader tersebut berasal, semua
agama, kelompok ataupun golongan semua bebas untuk menjadi bagian dari Partai
Demokrat Kota Salatiga, asalakan bukan kelompok dan golongan yang dilarang
Undang-undang. Wujud keberagaman terhadap anggota tersebut juga diwujudkan
dalam bentuk pengakuan dan penghargaan terhadap solidaritas sesame kader atau
anggota Partai Demokrat Kota Salatiga.
Pengakuan dan penghargaan terhadap solidaritas merupakan salah satu kunci
kesuksesan Partai Demokrat Kota Salatiga. Oleh karena itu, untuk menjadi partai
yang menjunjung tinggi nilai solidaritas, Partai Demokrat Kota Salatiga melakukan
beberapa usaha antara lain dengan memberikan kouta kepada perwakilan perempuan
untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan partai, termasuk bergabung dalam
kepengurusan partai. Hal ini menjadi komitmen Partai Demokrat Kota Salatiga,
karena penghargaan dan penghormatan terhadap perempuan sudah menjadi bagian
penting untuk membangun Partai Demokrat Kota Salatiga. Namun demikian, dalam
prakteknya Partai Demokrat Kota Salatiga juga menyadari bahwa untuk melibatkan
perempuan dalam kegiatan partai bukanlah hal yang mudah. Pernyataan tersebut
sebagaimana disampaikan Adhi Sandi sebagai berikut.
“Kita memenuhi 30 % keterwakilan perempuan, bahkan kita 40 %, malah
banyak wanitanya. Karena posisinya kita juga menyadari bahwa wanita itu
137
ada keterbatasan. Keterbatasannya apa sih, ketika beliau-beliau itu punya
suami, maka kita tidak bisa menuntut all out itu tidak bisa” (wawancara
Tanggal 15 April 2016).
Terkait dengan permasalahan konflik internal, seperti halnya yang terjadi di
Kabupaten Semarang, konflik internal Partai Demokrat di Kota Salatiga juga
disebabkan karena adanya pergantian kepengurusan baru, khususnya pada jabatan
ketua, sekretaris, dan bendahara. Pergantian pengurus tersebut didasarkan pada Surat
Keputusan
Dewan
Pimpinan
Pusat
Partai
Demokrat
Nomor:
93/SK/DPP.PD/DPC/XII/2013 tentang Pengangkatan Pelaksana Tugas Ketua Dewan
Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kota Salaitga Provinsi Jawa Tengah. Munculnya
surat keputusan ini sekaligus memberhentikan Ketua DPC Partai Demokrat Kota
Salatiga Provinsi Jawa Tengah, yang kemudian diganti oleh PLT.
Pergantian pucuk kepemimpinan DPC Partai Demokrat di Kota Salatiga
dengan mekanisme pengangkatan PLT inilah yang kemudian mengakibatkan
muculnya dualisme kepemimpinan. Salah satu kubu yang diberhentikan tidak
menerima keputusan DPP tersebut. Ia bahkan membentuk Tim Penyelamat Partai
Demokrat. Pembentukan Tim Penyelamat Partai Demokrat dianggap oleh salah satu
pihak yang menjabat PLT merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan karena pada
waktu itu aspirasinya sudah diberi jawaban oleh SBY. Hal ini seperti yang
disampaikan oleh Adhi Sandi (Direktur Eksekutif Partai Demokrat Kota Salatiga),
bahwa:
“Mas Iwan itu tidak loyal kepada partai, karena posisinya adalah bukan
masalah Annas dan Ibbas. Tapi Mas Iwan ingin perubahan di Demokrat,
pada waktu itu suaranya sudah diterima oleh Pak SBY sudah diberikan
jawaban Pak SBY tapi tidak diterima lagi. Dan dosa besarnya Mas Iwan
adalah ketika Dia mengatakan kita membentuk tim penyelamat untuk Partai
Demokrat, padahal sebenarnya itu paling tidak boleh mas, satu karena
posisinya sudah dikasih jawaban dengan SBY” (wawancara tanggal 15 April
2016).
138
Dalam pandangan Adhi Sandi tersebut, dapat diketahui bahwa kemunculan
konflik internal yang terkait dengan pemberhentian Ketua DPC disebabkan karena
adanya keiinginan salah satu pihak untuk melakukan perubahan di Partai Demokrat.
Meskipun upaya melakukan perubahan tersebut sudah mendapatkan tanggapan dari
Ketua Umum Partai Demokrat, namun salah satu pihak tetap tidak puas, dan bahkan
sampai membentuk Tim Penyelamat Partai Demokrat. Pembentukan Tim
Penyelamat Demokrat inilah yang kemudian memunculkan dualisme kepungurusan
di DPC Partai Demokrat Kota Salatiga.
“Upaya mediasi antara DPC dan DPD sudah dilakukan. Usaha DPC
mengadu kepada DPP pun juga dilakukan. Akan tetapi, DPP tak
menanggapi. bahkan dalam satu forum pertemuan antara DPC, DPD dan
DPP, Ketua Harian menyampaikan alasan pemecatan yang tak
mengenakkan”.
Untuk mengurangi dampak konflik internal yang lebih besar, DPC Partai
Demokrat pimpinan Fadlin Lubis melakukan beberapa langkah, salah satunya
berusaha melibatkan pihak-pihak yang bersebrangan, dengan memberikan posisi
yang sama tanpa dibedakan dengan yang lain. Pernyataan tersebut seperti yang
disampaikan Sandi sebagai berikut.
“Tetap masih ada Mas, karena Dia seorang leader, leader itu tetap ada
loyalis terus ini siapa sih DPP yang tahu Salatiga kan orang kami itu tetap
ada Mas. Tapi selama ini tetap enjoy-enjoy saja mas tidak ada masalah. Tapi
Ketua DPC kita juga bagus Mas. Ya keterbukaan kalau ini dapat banpol
segini silahkan mau diapakan dibagi Mas. Jadi diundang yang menjadi
orang-orang loyalis Mas Iwan juga diberi posisi silahkan. Itu memang kami
rasakan kedewasaan partai Demokrat itu luar biasa”. (Wawancara tanggal
15 April 2016).
Penjelasan informan di atas sejalan dengan pandangan Hidayat (2002:124)
yang menyatakan bahwa konflik dapat muncul akibat adanya perbedaan yang sulit
untuk disatukan dan kerasnya benturan kepentingan yang saling berhadapan,
139
disebabkan oleh beberapa latar belakang yang ada. Selain itu, Wirawan (2010:34)
mengemukakan bahwa konflik merupakan salah satu strategi para pemimpin untuk
melakukan perubahan. Jika tidak dapat dilakukan secara damai, perubahan
diupayakan dengan menciptakan konflik. Pemimpin menggunakan faktor-faktor
yang dapat menimbulkan konflik untuk menggerakkan perubahan. Dalam prespektif
kasus konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di Kota Salatiga ini
menunjukkan bahwa keinginan untuk melakukan perubahan merupakan salah satu
faktor penyebab terjadinya konflik. Oleh karena itu, sebenarnya hal ini adalah proses
pendewasaan partai politik untuk menuju partai modern dan terbuka.
Pandangan lain terkait dengan konflik internal yang terjadi pada Partai
Demokrat di Kota Salatiga juga disampaikan informan yang kebetulan menjabat
sebagai anggota DPRD Kota Salatiga. Menurut informan tersebut konflik muncul
karena sudah tidak ada kesamaan visi antara pihak yang satu dengan pihak yang lain.
Selain itu, terdapat anggapan bahwa salah satu pihak tidak menjalankan instruksi
DPP. Selain memberikan dampak terhadap perubahan posisi kepemimpinan ketua
DPC, konflik internal ini juga berdampak terhadap kantor Partai Demokrat Kota
Salatiga, yaitu bergeser dari Jl. Taman Pahlawan No.32, Kutowinangun Kidul,
Tingkir, Kota Salatiga, bergeser ke jalan Veteran 51 Kota Salatiga.
Dari berbagai penjelasan di atas, sebagaimana konflik internal Partai
Demokrat yang terjadi di Kabupaten Semarang, maka dapat dianalisis bahwa
beberapa isu utama yang menjadi sumber terjadinya konflik internal juga meliputi
isu ketidakpercayaan (distrust), struktural dan politik, loyalitas, serta isu pelanggaran
AD/ART. konflik internal ini diawali dari adanya isu ketidakpercayaan (distrust). Isu
ketidakpercayaan ini muncul karena selama salah satu pihak memiliki prestasi yang
kurang memuaskan. Selain itu, konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di
140
Kota Salatiga juga disebabkan karena adanya permasalahan struktur kepengurusan.
Struktur kepengurusan yang dimaksud adalah adanya keinginan salah satu pihak
untuk merebut kekuasaan dari pihak lain.
Konflik struktural merupakan konflik
yang terjadi karena adanya
ketimpangan akses dan kontrol terhadap sumber daya. Posisi para pihak dalam
konflik jenis ini dipicu oleh pihak penguasa. Sebab, pihak penguasa memiliki
wewenang untuk menetapkan kebijakan umum, sehingga pihak ini lebih berpeluang
dalam mengakses sumber daya sekaligus mengontrol sumber daya tersebut. Selain
wewenang formal, faktor geografis, sejarah dan waktu juga seringkali digunakan
sebagai
alasan oleh
penguasa untuk
memberi keputusan-keputusan
yang
menguntungkan pihaknya sendiri. Selain adanya keinginan salah satu pihak untuk
melakukan perubahan di Partai Demokrat. Isu lain yang menjadi faktor munculnya
konflik internal ini adalah isu loyalitas. Pihak yang terlibat dalam konflik internal
Partai Demokrat di Kota Salatiga antara lain: DPP Partai Demokrat, Iwan Wibowo
(Ketua DPC Kota Salatiga yang diberhentikan), DPD Partai Demokrat Jawa Tengah,
Pengurus PLT DPC Partai Demokrat di Kota Semarang, serta PAC-PAC di Kota
Salatiga.
Sebagaimana penjelasan konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, konflik internal yang dialami Partai Demokrat di Kota Salatiga juga
termasuk ke dalam jenis konflik yang dikemukakan Duverger (1988:49-50). Konflik
internal yang terjadi pada Partai Demokrat di Kota Salatiga menunjukkan adanya
ketidakpuasan bahwa konflik kelompok dapat ditimbulkan oleh bakat-bakat
individual. Kecenderungan berkompetisi atau selalu tidak puas terhadap pekerjaan
orang lain dapat menyebabkan orang yang mempunyai ciri-ciri seperti selalu terlibat
konflik dimanapun dia berada. Ketidakpuasan inilah yang menurut teori konflik dari
141
Duverger merupakan salah satu penyebab terjadinya konflik di dalam internal Partai
Demokrat Kabupaten Semarang.
Selain itu, jika dilihat dari bentuknya, karateristik konflik internal Partai
Demokrat di Kota Salatiga sesuai dengan bentuk konflik pertentangan politik yang
dikemukakan Soekanto (1992:86). Kesesuaian ini terlihat dari faktor penyebab
terjadinya konflik dimana pihak yang satu memiliki kepentingan atau tujuan politis
terhadap pihak lain. Pihak yang dimaksud dalam pertentangan politik ini adalah
pihak DPP Partai Demokrat dengan pihak Ketua DPC yang diberhentikan.
Data terkait dengan pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Salatiga
diperoleh melalui wawancara dengan Sandi serta melalui pembagian koisoner yang
disebar ke beberapa kader sertai simpatisan. Gambaran grafik tentang pelaksanaan
ideologi Partai Demokrat di Kota Salatiga digambarkan dalam grafik berikut.
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Keberagaman Pengakuan
Anggota/Kad
dan
er
Penghargaan
Terhadap
Solidaritas
22
12
Penyelesaian
Konflik
Internal
Melalui
Musyawarah
10
Kesantunan
Toleransi
Terhadap
Perbedaan
7
15
Baik
11
19
20
19
18
Tidak Baik
0
2
3
7
0
Sangat Tidak Baik
0
0
0
0
0
Diagram 5.6 Indikator Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat di Kota Salatiga
Berdasarkan diagram di atas, dari 33 responden yang disurvei dapat diketahui
jumlah responden yang memberikan penilaian sangat baik terhadap pelaksanaan
142
ideologi Partai Demokrat, terutama terkait keberagaman anggota atau kader (terbuka
untuk semua warga negara tanpa membeda-bedakan agama, ras dan golongan)
berjumlah 22 responden, dan sisanya 11 responden memberikan penilain baik. Pada
pernyataan kedua terkait dengan upaya pengakuan dan penghargaan terhadap
solidaritas sebanyak 12 responden menyatakan sangat baik, 19 responden
menyatakan baik, dan 2 responden menyatakan tidak baik.
Berbeda dengan penilaian pada sub indikator pertama dan kedua, pada sub
indikator yang ketiga yaitu tentang upaya penyelesaian konflik internal melalui
musyawarah, sebanyak 10 responden memberikan penilaian sangat baik, 20
responden memberikan penilaian baik, dan 3 responden menyatakan tidak baik.
Untuk sub pernyataan tentang kesantunan, 7 responden menyatakan sangat baik, 19
responden menyatakan baik, dan 7 responden menyatakan tidak baik. Untuk
pernyataan terakhir tentang toleransi terhadap perbedaan, 15 responden menyatakan
sangat baik dan 18 responden menyatakan baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan ideologi Partai Demokrat di Kota Salatiga dapat digambarkan ke
dalam tabel berikut.
Tabel 5.12 Skoring Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat Kota Salatiga
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Pelaksanaan Ideologi Partai SB (4)
66
Demokrat di Kota Salatiga B (3)
87
CB (2)
12
B (1)
0
Jumlah total
165
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
264
261
24
0
549
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor actual
terkait dengan pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kota Salatiga, maka
143
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator ideologi
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kota Salatiga digambarkan dalam
tabel di bawah ini:
Tabel 5.13 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Pelaksanaan
Ideologi Partai Demokrat di Kota Salatiga
Indikator
Sub Indikator
Keberagaman
Pelaksanaan Ideologi Partai
anggota/kader
Demokrat di Kota Salatiga
Pengakuan dan
penghargaan terhadap
solidaritas
Penyelesaian konflik
internal melalui
musyawarah
Kesantunan
Toleransi terhadap
perbedaan
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga sebagai berikut.
% skor aktual = 549
X 100% = 83,18% dibulatkan menjadi 83 %
144
660
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase ideologi Partai Demokrat di Kota Salatiga termasuk dalam
kategori baik, yaitu dengan rentang presentase 68,01% - 84%.
5.1.2.3 Proses Regenerasi Partai Demokrat Kota Salatiga
Dalam proses regenerasi, Partai Demokrat di Kota Salatiga berusaha untuk
terbuka dengan lebih mementingkan pengalaman kader daripada kepandaian dan
kekayaan. Selain itu, walaupun pendidikan merupakan hal yang sangat penting,
namun untuk proses regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga lebih
mengutamakan loyalitas kader dalam mengabdi. Hal ini karena dengan adanya
loyalitas kader yang baik, maka dapat melahirkan suasana yang kondusif dan baik
untuk perkembangan Partai Demokrat di Kota Salatiga. Pernyataannya tersebut
seperti yang disampaikan Sandi. Dalam wawancara Adhi Sandi menyampaikan:
“Ketua DPC itu kalau kita Mas harus punya pengalaman organisasi, tidak
perlu kaya, tidak perlu orang pintar, pengalaman spintar tidak, yang penting
pengalaman, salah satunya kayak Pak Lubis ini pengalamannya luar biasa
Mas. Jadi initinya di organisasi itu kan kita tidak cari orang pintar
walaupun pintar itu dibutuhkan tapi kita tidak cari orang pintar tapi kita cari
teman-teman memang loyal dan ingin mengabdi. Kalau untuk masalah
pendididikan kayak fraksi saja belum S1 tapi dia punya jiwa loyalitas, terus
dia punya rasa ingin belajar. Sekarang kuliah itu dari situ dilihat bahwa
Demokrat itu terbuka sekali” (wawancara tanggal 15 April 2016).
Pernyataan Adhi Sandi di atas menunjukkan bahwa Partai Demokrat di Kota
Salatiga
berusaha
membangun
sistem
regenerasi
dengan
mengedepankan
pengalaman dan loyalitas, karena pengalaman dan loyalitas merupakan kunci partai
politik untuk berkembang dan maju. Oleh karena itu, dalam melakukan proses
regenerasi, Partai Demokrat di Kota Salatiga lebih memperhatikan usulan-usulan
145
dari bawah, terutama PAC untuk menentukan pilihan, baik ketua maupun pengurus
DPC. Proses regenerasi tersebut diwadahi dalam bentuk pelaksanaan Musda yang
melibatkan 7 orang yang meliputi 4 orang dari PAC, 1 orang dari DPP, 1 orang dari
DPD, dan 1 orang dari DPC. Namun, lebih lanjut Sandi menjelaskan bahwa yang
menjadi permasalahan dalam proses regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga
adalah kebanyakan kader-kader di bawah masih mengidolakan SBY, sehingga
apapun yang menjadi keputusan SBY, semua kader di bawah mengamininya.
“Jadi gini Mas kalau di tingkat nasional ada Kongres, Munas, terus di DPD
ada Musda baru Muscab, baru Musrancab. Jadi nanti yang mengelola ini.
Jadi nanti ada usulan-usulan teman-teman yang lama bahwa ini kita harus
tambal sulam atau kita mungkin perlu tambah pengurus, ini mau nanti kita
akan ngomong kamu mau tidak. Malah yang menentukan adal PAC.
Misalkan memilih ketua DPC yang ada di Salatiga itu kan suaranya 7 Mas
karena kecamatannya 4, setiap PAC itu suara 1, dari DPP 1 dari DPD 1
dari ketua DPC 1 tujuh Mas kalau pusat ini menginginkan misalanya Mas
Santo atau jenengan, tapi bawah menginginkan yang lain tidak menang Mas.
Jadi kalau Demokrat itu, tapi ada tapinya Mas teman-teman yang di bawah
itu mesti idolanya SBY semua, nah itu yang jadi masalah. Ketika SBY
ngomong Si A yang jadi ketua sudah semua ikut, Jadi siap SBY minta A ya
sudah SBY saja”. (Wawancara tanggal 15 April 2016).
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Persamaan
Hak Menjadi
Pengurus
Terdapat
Persyaratan
Menjadi
Pengurus
Pendidikan
dan Pelatihan
Kader
Terdapat
Kriteria
Pengurus
12
18
3
0
11
21
0
1
11
20
2
0
12
19
2
0
Mekanisme
Pergantian
Pengurus
Sesuai
AD/ART
12
20
1
0
Diagram 5.7 Indikator Regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga
146
Dari gambar diagram di atas, dapat diketahui bahwa terkait dengan
persamaan hak menjadi anggota pengurus, 12 responden menyatakan sangat baik, 18
responden menyatakan baik, dan 3 responden menyatakan tidak baik. Untuk
pernyataan tentang persyaratan menjadi pengurus partai diketahui 11 responden
menyatakan sangat baik, 21 responden menyatakan baik, dan 1 menyatakan sangat
tidak baik. Untuk sub indikator tentang pendidikan dan pelatihan kader sebanyak 11
responden menyatakan sangat baik, 20 responden menyatakan baik, dan 2 responden
menyatakan tidak baik. Sedangkan pada sub indikator mengenai kriteria pengurus
partai, sebanyak 12 responden menyatakan sangat baik, 19 responden menyatakan
baik, dan 2 responden menyatakan tidakbaik. Untuk indikator yang terakhir terkait
dengan pergantian pengurus, sebanyak 12 responden menyatakan sangat baik, 20
responden menyatakan baik, dan 1 responden menyatakan tidak baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan proses regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.14 Skoring Regenerasi Partai Demokrat Kota Salatiga
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Regenerasi Partai
SB (4)
58
Demokrat di Kota Salatiga B (3)
98
CB (2)
8
B (1)
1
Jumlah total
165
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
232
294
16
1
543
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga, maka berdasarkan
tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang diharapkan dari setiap
aspek koisioner sebagai berikut.
147
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga digambarkan dalam tabel di
bawah ini:
Tabel 5.15 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Regenerasi Partai
Demokrat di Kota Salatiga
Indikator
Sub Indikator
Persamaan hak menjadi
Regenerasi Partai Demokrat di
pengurus
Kota Salatiga
Terdapat persyaratan
menjadi pengurus
Pendidikan dan pelatihan
kader
Terdapat kriteria khusus
untuk menjadi pengurus
Mekanisme pergantian
pengurus melalui
AD/ART partai
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga sebagai berikut.
% skor aktual = 543
X 100% = 82,27% dibulatkan menjadi 82 %
660
148
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase regenerasi Partai Demokrat di Kota Salatiga termasuk dalam
kategori baik, yaitu dengan rentang presentase 68,01% - 84%.
5.1.2.4 Kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga
Sebagaimana kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Menurut
Adhi Sandi, proses kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga yang terkait dengan
pelatihan kader dilakukan melalui kegiatan Institut Partai Demokrat. Pengiriman
kader-kader terbaik untuk mengikuti pelatihan Institut Partai Demokrat tersebut
menunggu instruksi dari DPP. Melalui program Institut Partai Demokrat, kaderkader terbaik akan diberikan bekal yang cukup tentang pengetahuan, ketrampilan
atau skill, sehingga selain dapat memposisikan dirinya sebagai kader Partai
Demokrat, nantinya diharapkan dapat memberikan konstribusi yang positif bagi
kemajuan Partai Demokrat.
“Kita menunggu DPP kalau masalah pelatihan partai Mas, ini sudah mulai.
Ini kader-kader yang pilihan kader-kader plus itu sudah instititut kemarin.
Itu 260 orang. Nanti bergilir Mas DPD habis DPD baru DPC itu semua
DPOKK itu dirancang dengan baik. Karena posisinya karena DPP sudah
tahu institut jadi tahu Dia aku sebagai apa dan aku harus bagaimana, nah
itu yang diterapkan di Demokrat kayak gitu. Nanti temanya macam-macam,
masalah politik nasional itu hanya sebagai rangsangan saja kalau mereka
sudah terangsang kaya gitu mereka kreatifitasnya” (wawancara tanggal 15
April 2016).
Lebih lanjut Adhi Sandi menyampaikan kaderisasi juga dilakukan melalui
perekrutan anggota atau kader. Proses perekrutan kader Partai Demokrat di Kota
Salatiga menurut Sandi dilakukan melalui beberapa tahap, antara lain dengan
memberikan kebebasan bagi siapa saja dan warga mana saja untuk menjadi anggota
149
dengan mekanisme pembuatan Kartu Anggota (KTA). Kedua, melalui Walikota
Salatiga yang kebetulan kader Partai Demokrat, proses rekruitmen dilakukan dengan
menyelenggarakan kegiatan diaolog bersama masyarakat terkait dengan programprogram strategis yang dijalankan pemerintahan Kota Salatiga. Ketiga, proses
rekruitmen dilakukan dengan cara menginstruksikan kader-kader loyal untuk
mengajak masyarakat tergabung menjadi anggota Partai Demokrat Kota Salatiga.
Hasil kutipan wawancara terkait dengan pernyataan tersebut adalah sebagai berikut.
“Ada Mas kita melakukan beberapa tahap. Jadi ada nuwunsewu dari saya di
sini selama 1 tahun banyak orang datang warga biasa datang ke sini, kayak
kemarin Mas, kemarin itu ini masih muda mahasiswa Dia datang kesini mau
daftar untuk minta KTA jenengan warga mana dulu “oh saya Kabupaten
Semarang Mas”, nanti kita akan arahkan ke Kabupaten Semarang, tapi
jenegan tetap ke sini dulu, nanti kita bantu di Kabupaten Semarang. Ada
juga mekanisme dengan cara model kaya kita Walikota ini kan kader kita,
kita nanti akan membuat rancangan untuk dialog dengan masyarakat bahwa
Dia sebagai Walikota ini programnya, siapapun mau menghujat aja tidak
masalah yang penting di sini ada aturannya. Maksudnya kalau menghujat
dengan cara yang santun. Banyak yang datang ke kita jadi dengan berbagai
cara. Yang ketiga itu kader-kader yang sudah loyal akan mengajak sekeliling
mereka”. (Wawancara tanggal 15 April 2016).
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Ketepatan
Waktu
Pelatihan
Kader
7
16
8
2
Terdapat
Pedoman dan
Kriteria
Dalam
Perekrutan
Kader
15
16
0
1
Rekruitmen
Kader Tidak
Berdasarkan
Kedekatan
Personal atau
Persaudaraan
10
18
5
0
Sistem
Rekruitmen
Kader
Transparan
dan
Akuntabel
12
19
2
0
Keterwakilan
Kader
Perempuan
9
23
1
0
Diagram 5.8 Indikator Kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga
150
Terkait dengan indikator tentang proses kaderisasi, diperoleh data sebagai
berikut: untuk masalah ketepatan waktu pelatihan kader 7 responden menyatakan
sangat baik, 16 responden menyatakan baik, 8 responden menyatakan tidak baik, dan
2 responden menyatakan sangat tidak baik. Pada sub indikator mengenai terdapat
tidaknya pedoman kriteria dalam perekrutan kader, diperoleh data 15 responden
menyatakan sangat baik, 16 responden menyatakan baik, dan 1 responden
menyatakan sangat tidak baik. Pada sub indikator yang lain, yaitu terkait dengan
pertimbangan dalam rekruitmen kader, diperoleh data sebanyak 10 responden
menyatakan sangat baik, 18 responden menyatakan baik, dan 5 responden
menyatakan tidak baik.
Berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas system rekruitmen, sebanyak
12 responden menyatakan sangat baik, 19 responden menyatakan baik, dan 2
responden menyatakan tidak baik. Pada sub indikator yang terakhir tentang
keterwakilan kader perempuan diperoleh data sebanyak 9 responden menyatakan
sangat baik, dan 23 responden menyatakan baik, dan 1 responden menyatakan tidak
baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan proses kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.16 Skoring Kaderisasi Partai Demokrat Kota Salatiga
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Kaderisasi Partai Demokrat SB (4)
53
di Kota Salatiga
B (3)
92
CB (2)
16
B (1)
3
Jumlah total
164
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
151
Skor Aktual
212
276
32
3
523
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga, maka berdasarkan
tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang diharapkan dari setiap
aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 33 = 660
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga digambarkan dalam tabel di
bawah ini:
Tabel 5.17 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Kaderisasi Partai
Demokrat di Kota Salatiga
Indikator
Sub Indikator
Persamaan hak menjadi
Kaderisasi Partai Demokrat di
pengurus
Kota Salatiga
Terdapat persyaratan
menjadi pengurus
Pendidikan dan pelatihan
kader
Terdapat kriteria khusus
untuk menjadi pengurus
Mekanisme pergantian
pengurus melalui
AD/ART partai
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
660
660
660
660
660
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
152
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga sebagai berikut.
% skor aktual = 523
X 100% = 79,24% dibulatkan menjadi 79 %
660
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase kaderisasi Partai Demokrat di Kota Salatiga termasuk dalam
kategori baik, yaitu dengan rentang presentase 64,01% - 84%.
5.1.3
Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
Keterbukaan dalam rekruitmen kader dan pengelolaan keuangan partai
menjadi salah satu hal yang prioritas untuk mewujudkan modernisasi. Artinya untuk
menuju modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo harus melakukan
proses rekruitmen secara terbuka dan memiliki sistem pengelolaan yang baik. Hal ini
dikarenakan biasanya permasalahan utama yang sering dihadapi partai politik yang
kadang juga menimbulkan konflik disebabkan karena sistem pengelolaan keuangan
partai yang tidak baik dan kurang transparansinya dalam perekrutan kader.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Yophi Prabowo sebagai berikut:
“Tentunya kita dari Partai Demokrat memang mengarah ke sana
keterbukaan. Kita melaksanakan rekruitmen kader kita akan membentuk
kaderisasi, kita akan transparansi juga di dalam pengelolaan anggran
keuangan partai karena kita juga berpikiran bahwa partai sekarang mulai
mengarah ke partai modernisasi. Dalam artian di dalam proses rekruitmen
kader-kadernya juga harus transparan, terus untuk pengelolaan itu khan
harus dimaksimalkan keuangannya, karena kalau saya amati di semua partai
itu munculnya permasalahan itu biasanya berawal dari sistem pengelolaan
keuangan, saya juga sering menyampaikan ke rekan-rekan bahwa masalah
keuangan, masalah anggaran memang saya harus memberikan contoh
supaya pengelolaan keuangan transparan, saya selaku ketua pun tidak
pernah memegang jadi semua keuangan saya suruh mengelola
bendaharanya. mas semua keuangan saya serahkan ke Bendahara, tapi
semua pengeluaran selaku ketua saya harus tahu karena saya yang
mempertanggungjawabkan. Dan setiap kali kita mengadakan pertemuan
pasti kita sampaikan masalah keuanganannya dan kadang-kadang percaya
153
dan mereka tentunya akan semangat kalau dalam mengelola keuangan
dilakukan transparan” (wawancara tanggal 14 April 2016).
Berdasarkan pendapat Yophi Prabowo tersebut, dapat dijelaskan bahwa
Pengelolaan keuangan yang baik serta transparansi dalam perekrutan kader
merupakan dua hal yang wajib dipenuhi jika sebuah partai politik ingin menuju
modernisasi. Artinya, sebuah partai politik termasuk Partai Demokrat dapat
dikatakan modern jika memiliki sistem pengelolaan keuangan yang baik dan terbuka
dalam melakukan perekrutan kader. Sebaliknya, jika sistem pegelolaan keungan
partai tidak baik dan partai politik tersebut tidak terbuka dalam melakukan
perekrutan kader, maka dapat dikatakan modernisasi partai politik masih jauh untuk
dijangkau.
5.1.3.1 Keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
Arah menuju partai terbuka sudah dilakukan Partai Demokrat Kabupaten
Purworejo. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain melalui transparansi, baik
dalam rekruitmen kader maupun dalam pengelolaan keuangan. Hal ini dilakukan
karena Partai Demokrat khususnya di Kabupaten Purworejo berpikiran bahwa
timbulnya permasalahan partai seringkali disebabkan karena pengelolaan keuangan
yang kurang baik. Oleh karena itu, himbaun untuk semua pengurus maupun kader
tentang transparansi keuangan sangat penting untuk mewujudkan keterbukaan Partai
Demokrat di Kabupaten Purworejo. Dalam upaya mewujudkan transparansi dalam
pengelolaan keuangan, pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo juga
melibatkan kader-kader di bawah seperti kader-kader yang ada di PAC untuk samasama melakukan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan partai. Usaha menuju
154
transparansi keuangan partai juga diungkapkan Ketua DPC Partai Demokrat
Kabupaten Purworejo, Yophy Prabowo sebagai berikut.
”Tentunya kita dari Partai Demokrat memang mengarah ke sana
keterbukaan. kita melaksanakan rekruitmen kader kita akan membentuk
kaderisasi, kita akan transparansi juga di dalam pengelolaan anggran
keuangan partai karena kita juga berpikiran bahwa partai sekarang mulai
mengarah ke partai modernisasi. Dalam artian di dalam proses rekruitmen
kader-kadernya juga harus transparan, terus untuk pengelolaan itu khan
harus dimaksimalkan keuangannya, karena kalau saya amati di semua partai
itu munculnya permasalahan itu biasanya berawal dari sistem pengelolaan
keuangan, saya juga sering menyampaikan ke rekan-rekan bahwa masalah
keuangan, masalah anggaran memang saya harus memberikan contoh
supaya pengelolaan keuangan transparan, saya selaku ketua pun tidak
pernah memegang jadi semua keuangan saya suruh mengelola
bendaharanya, tapi semua pengeluaran selaku ketua saya harus tahu karena
saya yang mempertanggungjawabkan” (wawancara tanggal 14 April 2016).
Kutipan wawancara di atas menunjukkan adanya upaya Partai Demokrat
Kabupaten Purworejo untuk menjadi partai terbuka. Sebagaimana yang terjadi di
Partai Demokrat Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, Partai Demokrat di
Kabupaten Purworejo juga bergerak menuju modernisasi. Beberapa hal yang
medukung tercapainya modernisasi antara lain mekanisme pelaporan keuangan juga
lakukan melalui prosedur yang diatur dalam AD /ART partai, yaitu dilaporkan ke
Kesbangpol jika pengeluaran keunganan berasal dari dana dari pemerintah.
Sedangkan terkait dengan dana kampanye, dilaporkan langsung ke KPU Kabupaten
Purworejo.
Selain pendapat Yophi Prabowo, terkait keterbukaan khususnya keterbukaan
anggaran juga disampaiakan Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten
Purworejo Muhammad Abdullah. Menurut Muhammad Abdullah keterbukaan dalam
transparansi keuangan pada saat ini sudah menjadi keharusan. Hal ini disebabkan
karena adanya perkembangan teknologi, mengharuskan keterbukaan dalam
pengelolaan keuangan partai. Bahkan semua partai politik mana pun pada saat ini
155
tidak bisa lagi menutup-nutupi sumber keuangan yang diperoleh. Sumber dana partai
yang meliputi iuran anggota yang menjabat sebagai anggota DPRD dan dana hibah
dari Pemerintah Daerah.
“Secara umum sebetulnya kalau soal keuangan itu tidak bisa lagi apa
namanya misalkan ditutup-tutupi apa namamanya partai mana pun tidak
bisa karena sumber utama partai politik itu kan hanya dua sebetulnya, yang
pertama adalah iuran kader, iuran kader itu sekarang tidak mungkin ada
kader partai politik mana pun saya kira yang mau berkonstribusi iuran untuk
partainya di luar anggota yang kebetulan menjadi anggota Dewan, nah
sementara iuran atau konstribusi dari anggota yang menjadi anggota dewan
jumlahnya kan bisa dilihat berapa rupiah yang diberikan ke partai karena
dipotong langsung pada saat dia terima gaji disaat jadi anggota, tinggal
mengalikan berapa kader yang menjadi anggota dewan dikalikan sekian kan
ketemu itu yang pertama. Yang kedua bantuan parpol dari pemerintah yang
besarannya apa namanya disesuaikan dengan jumlah suara yang diperoleh
dikalikan berapa rupiah, kemudian pasti masing-masing apa namanya
masing-masing pemerintah daerah ketika memberikan bantuan parpol itu
terpablish juga di media, sehingga tidak bisa ditutup-tutupi” (wawancara
tanggal 5 Mei 2016).
Baik pendapat Yophi Prabowo maupun Muhammad Abdullah memberikan
gambaran secara diskriptif bahwa setiap partai politik termasuk Partai Demokrat
dalam konteksnya sudah seharusnya terbuka.
Sebagaimana yang dilakukan di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo, untuk memperoleh data terkait dengan seberapa jauh
keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga, peneliti melakukan melakukan survei
terhadap kader dan pengurus Partai Demokrat di Kota Salatiga. Dari hasil survei
tersebut diperoleh gambaran diagram data sebagai berikut.
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Akses
Informasi
23
11
0
Laporan
Keuangan
24
10
0
156Program Kerja
22
12
0
Komunikasi
Kritik
23
11
0
17
16
1
Diagram 5.9 Indikator Keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
Pada diagram tersebut keterbukaan terhadap akses informasi dari 3 responden
yang disurvei, sebanyak 23 responden menyatakan keterbukaan akses informasi
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang dalam kondisi sangat baik, dan 11
responden menyatakan baik. Sedangkan pada sub indikator mengenai laporan
keuangan, diperoleh data 24 responden menyatakan sangat baik, dan 10 responden
menyatakan baik. Pada sub indikator yang lain, yaitu terkait dengan keterbukaan
dalam penyampaian program kerja, diperoleh data sebanyak 22 responden
menyatakan sangat baik, dan 12 responden menyatakan baik. Berkaitan dengan
keterbukaan komunikasi yang dijalankan antara elit dan kader, sebanyak 23
responden menyatakan sangat baik, dan 11 responden menyatakan baik. Pada sub
indikator yang terakhir tentang keterbukaan terhadap kritik diperoleh data sebanyak
17 responden menyatakan sangat baik, 16 responden menyatakan baik, dan 1
responden menyatakan tidak baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.18 Skoring Keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Indikator
Keterbukaan Partai
Interval
Nilai
SB (4)
157
Jumlah
Tanggapan
Responden
109
Skor Aktual
436
Demokrat di Kabupaten
Purworejo
B (3)
CB (2)
B (1)
60
1
0
Jumlah total
170
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
180
2
0
618
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo, maka
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 34
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 34 = 680
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo digambarkan dalam
tabel di bawah ini:
Tabel 5.19 Skor Yang Diharapkan Pada Setiap Sub Indikator Keterbukaan
Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
Indikator
Sub Indikator
Akses Informasi
Keterbukaan Partai Demokrat
Laporan Keuangan
di Kabupaten Purworejo
Program Kerja
Komunikasi
Kritik
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
680
680
680
680
680
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
158
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo sebagai berikut.
% skor aktual = 618
X 100% = 90,88% dibulatkan menjadi 91 %
680
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
termasuk dalam kategori baik dengan presentase 84,01% - 100%.
Pemaparan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa dalam prespektif
kuantitatif, prosentase keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
termasuk dalam kategori sangat baik dengan presentase 84,01% - 100%. Hal ini
berarti upaya yang ditempuh Partai Demokrat Kabupaten Semarang untuk
mewujudkan modernisasi, khususnya dalam hal keterbukaan sudah dilakukan
dengan sangat baik. Selain itu, dengan melihat kondisi yang demikian, maka dapat
disimpulkan bahwa secara kuantitatif pernyataan di atas memperkuat pernyataan
Sartori (2015) yang menyatakan bahwa untuk menunju partai modern, salah satunya
ditempuh melalui keterbukaan.
5.1.3.2 Pelaksanaan Ideologi Partai di Kabupaten Purworejo
Dalam mewujudkan modernisasi, tiga sikap penting yang dikedepankan
Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo adalah menjalankan roda organisasi
dengan didasarkan pada sikap humanis dan pluralis. Humanisme yang dimaksud
adalah yang menjunjung tinggi nilai martabat kemanusiaan hakiki dan universal.
Pluralisme dimaknai sebagai pengakuan terhadap perbedaan terutama soal ciri khas
daerah. Partai Demokrat juga menolak diskriminasi baik untuk anggota partai atau
masyarakat, tercantum dalam “standar minimal prinsip anti-diskriminasi”. Misalnya,
159
partai ini menekankan soal kesetaraan gender, penempatan posisi, pemberian
bantuan, penerapan reward and punishment, dan akses sumber daya. Satu hal yang
menarik untuk dibahas dalam adalah terkait dengan penerapan reward and
punishment. Penerapan reward and punishment dapat dilihat dari dinamika konflik
internal yang dialami Partai Demokrat Kabupaten Purworejo.
Dilihat dari latarbelakang kejadiannya, konflik internal yang dialami Partai
Demokrat di Kabupaten Purworejo berbeda dengan konflik internal yang dialami
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Meskipun memiliki
kesamaan dilatarbelakangi adanya pemberhentian Ketua DPC, namun konflik
internal Partai Demokrat yang terjadi di Kabupaten Purworejo berbeda dengan dua
Kota/Kabupaten sebelumnya, karena pemberhentian Ketua DPC tersebut terjadi dua
kali, yaitu pada tahun 2010 dan tahun 2014.
Pada tahun 2010, terjadinya konflik internal dilatarbelakangi munculnya
Surat
Keputusan
Dewan
Pimpinan
Pusat
Partai
Demokrat
Nomor
169/SK/DPP.PD/DPC/V/2010 tentang Pengangkatan Pelaksana Tugas Ketua Dewan
Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah.
Surat keputusan tersebut berisi keputusan penonaktifkan Muhammad Abdullah
selaku Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo yang kemudian digantikan
oleh Habib Yusuf sebagai Pelaksana Tugas Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai
Demokrat Kabupaten Purworejo. Berdasarkan surat tersebut, Muhammad Abdullah
diberhentikan karena dinilai tidak sejalan dengan kebijakan Dewan Pimpinan Pusat
dalam hal pengusungan Calon Kepala Daerah di Kabupaten Purworejo.
Proses pemberhentian Muhammad Abdullah sebagai Ketua DPC Partai
Demokrat Kabupaten Purworejo tidak berlangsung lama. Pada tahun yang sama
muncul kembali Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Nomor
160
09/SK/DPP.PD/DPC/IX/2010 tentang Pemberlakuan Kembali Posisi Jabatan Ketua
Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kabupaten Purworejo. Dengan terbitnya
surat keputusan tersebut, memberikan peluang kembali kepada Muhammad
Abdullah untuk kembali memimpin DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
periode 2010-2015. Selain itu, menurut hasil wawancara yang dilakukan dengan
Muhammad Abdullah adanya surat tersebut mengindikasikan bahwa ada kekeliruan
terhadap pemberhentian dirinya sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten
Purworejo. Hasil kutipan wawancara adalah sebagai berikut.
“Jadi begini khusus tentang saya itu akan berbeda dengan sebagian temanteman saya. Kenapa karena saya diberhentikan dua kali. Yang tahun 2010
itu ketuanya belum Anas. Jadi tahun 2010 itu saya diberhentikan bulan
Maret kemudian bulan September 2010 saya diaktifkan kembali. Jadi saya
diberhentikan tapi diaktifkan lagi, artinya kan secara tidak langsung DPP
mengakui kan kalau Dia keliru, walaupun tidak spisifik dia menyebut ada
mekanisme yang salah paling tidak dia mengakui bahwa keputusan
terdahulunya itu salah, maka kemudian saya diaktifkan kembali”
(wawancara tanggal 5 Mei 2016)
Setelah diangkat kembali menjadi ketua DPC Kabupaten Purworejo, sebelum
masa jabatannya selesai, pada tahun 2014 M. Abdullah diberhentikan kembali
menjadi Ketua DPC. Pemberhentian tersebut berdasarkan Surat Keputusan Nomor
95/SK/DPP.PD/DPC/Xll/2Ol4. Pemberhentian ini terjadi menjelang kongres ke IV
Partai Demokrat. Dalam SK tersebut diangkatlah Yophi Prabowo sebagai Ketua
DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo menggantikan Muhammad Abdullah.
Pemberhentian kedua tersebut menurut Muhammad Abdullah hampir sama seperti
yang terjadi pada tahun 2010, yaitu dilatarbelakangi perbedaan pendapat terkait
dengan pengusungan calon kepala daerah yang akan maju dalam pilkada 2014.
Selain itu, Abdullah juga menyampaikan bahwa pemberhentian dirinya sebagai
161
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo tidak sesuai prosedur dan tidak
melalui mekanisme yang terdapat dalam AD/ART Partai Demokrat.
“Begini yang namanya prosedur begini bahwa ketua DPC bisa, bisa diganti
atau di PLT itu kan karena beberapa hal yang pertama meninggal dunia,
saya kan masih hidup, yang kedua mengundurkan diri, saya kan tidak
mengundurkan diri, yang ketiga adalah diberhentikan. Nah diberhentikan itu
kan banyak hal karena dia tentu intinya adalah ketika diberhentikan itu kan
dianggap ada kesalahan, apakah ada persoalan hukum yang bersangkutan,
atau dianggap yang bersangkutan itu melanggar AD/ART partai atau
peraturan organisasi. Yang pertama kalau saya dianggap misalkan terlibat
masalah hukum saya tidak ada tidak terlibat apa-apa, yang kedua kalau saya
dianggap melanggar peraturan-peraturan organisasi mupun AD/ART, yang
saya langgar yang mana. Karena kalau misalnya saya itu posisinya adalah
melakukan pelanggaran pasti yang pertama kan ada teguran, bisa lisan atau
tertulis, yang kedua kalau ada teguran masih kan masih ada kan masih ada
lagi surat peringatan, surat peringatan 1,2,3. Ketika surat peringatan ketiga
masih tetap lagi kan bisa saya diadili di Mahkamah Partai, ini kan teguran
gak ada surat peringatan apalagi tiba-tiba surat ini kan nylonong saja”
(wawancara tanggal 5 Mei 2016).
Dari kutipan wawancara di atas, Muhammad Abdullah secara tidak langsung
menyampaikan bahwa dalam kasus pemberhentian dirinya banyak sekali terjadi
pelanggaran terhadap AD/ART Partai Demokrat. Di dalam AD/ART sudah
disebutkan bahwa pemberhentian ketua DPC dapat dilakukan jika ketua DPC yang
bersangkutan melanggar AD/ART partai maupun peraturan organisasi. Dalam kasus
ini Muhammad Abdullah menyampaikan bahwa dirinya tidak merasa melanggar
AD/ART atau peraturan organisasi tersebut. Selain itu, menurutnya kasus
pemberhentian dirinya dianggap mengada-ada karena tanpa melalui mekanisme yang
diatur di dalam AD/ART, yaitu melalui tahap teguran baik secara lisan atau tertulis,
surat peringatan (peringatan 1, peringatan 2, dan peringatan 3) serta tidak melalui
Mahkamah Partai.
Pernyataan Muhammad Abdullah tersebut berbeda dengan pandangan Yophi
Prabowo (PLT Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo). Menurut Yophi
Prabowo, munculnya surat yang mengangkat dirinya sebagai PLT karena
162
Muhammad Abdullah dianggap mempunyai prestasi, sehingga dipromosikan
menjadi pengurus DPD Jawa Tengah. Dan, kebetulan karena adanya kekosongan
kepengurusan (Pergantian Antar Waktu/PAW), maka diangkatlah PLT yang
kebetulan dijabat Yophi Prabowo.
“Jadi terkait dengan permasalahan PLT ya ketua DPC di PLT Muhammad
Abdullah itu di PLT karena memang dinaikkan di pengurus Provinsi DPD.
Karena mas Abdullah ditarik menjadi pengurus DPC sebagai wakil ketua
DPD. Terus yang di daerah sini saya selaku ketua PAC menggantikan beliau
PLT, dan sampai sekarang status saya juga masih PLT. Sementara kita
menunggu Musda dulu mas, aturan Demokrat khan dari atas Kongres,
Musda, baru Muscab” (wawancara tanggal 14 April 2016).
Pendapat Yophi Prabowo menunjukkan bahwa bukan masalah AD/ART
ataupun peraturan organisasi yang menjadi penyebab pemberhentian Ketua DPC
Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo, namun lebih kepada upaya peningkatan
prestasi dari yang bersangkutan. Yang bersangkutan dianggap memiliki prestasi dan
sangat tepat untuk menduduki kepungurusan yang lebih tinggi, yaitu menjadi
Pengurus DPD Provinsi Jawa Tengah.
Pendapat Yophi Prabowo di atas tidak dibantah Muhammad Abdullah.
Namun demikian, Muhammad Abdullah tetap menyayangkan mekanisme dan alasan
pemberhentian dirinya sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo.
Dalam pernyataannya Muhammad Abdullah menyampaikan:
“Kalau saya dianggap berprestasi faktanya begini, ketika diadakan
pelatihan kader se Indonesia saya itu juara satu. Kemudian ketika pemilu
2014 kemarin yang posisi Partai Demokrat sedang dalam kondisi yang gak
karu-karuan banyak persoalan, se Jawa Tengah boleh sajikan data empiris
berapa yang perolehan kursi relatif masih bisa penurunannya tidak tajam
katakanlah Kota Semarang dari 16 tinggal 6 turun 10, kemudian dari 5 di
Kabupaten Pemalang menjadi tidak ada sama sekali dari 7 tinggal 3 di
Purworejo dari 8 masih 6 artinya kalau dianggap berprestasi mungkin ada
benarnya, tapi pertanyaannya adalah kalau memberikan reward terhadap
orang yang punya prestasi dengan cara melanggar prosedur boleh tidak”
(wawancara tanggal 5 Mei 2016).
163
Berdasarkan wawancara di atas, Muhammad Abdullah mengakui bahwa
dalam masa jabatannya sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo,
sejumlah prestasi telah diperoleh, baik yang sifatnya individu maupun organisasi. hal
ini dibuktikan ketika dirinya mengikuti pelatihan kader se Indonesia dan dinobatkan
menjadi peserta terbaik pada pelatihan kader tersebut. Selain itu, secara organisasi
perolehan kursi legislatif Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo juga termasuk
stabil jika dibandingkan dengan perolehan Partai Demokrat di daerah lain yang
mengalami konflik internal. Namun demikian, meskipun tidak membantah anggapan
bahwa salah satu faktor yang menyebabkan adanya pemberhentian dirinya adalah
karena prestasi yang bagus, tetapi dalam konteks kasus pemberhentiannya,
Muhammad Abdullah tetap menyayangkan karena pemberhentian dirinya tidak
dilakukan melalui prosedur dan mekanisme yang benar sesuai AD/ART Partai
Demokrat. Muhammad Abdullah meyayangkan pemberian reward terhadap
seseorang yang punya prestasi tapi dengan cara melanggar prosedur.
Pernyataan yang disampaikan baik oleh Yophi Prabowo maupun
Muhammad Abdullah di atas, menunjukkan bahwa ada perbedaan yang cukup
menonjol terkait dengan penyebab terjadinya konflik internal Partai Demokrat di
Kabupaten Purworejo. Kedua belah memiliki argumen masing-masing dan meyakini
kebenaran dari masing-masing argumen tersebut. Perbedaan argumen terkait dengan
penyebab konflik ini menunjukkan bahwa penyebab konflik internal yang dialami
Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo merupakan bentuk konflik kepentingan,
sehingga kasus ini memperkuat pandangan Pruilt dan Jefry (2004) tentang teori
konflik kepentingan.
164
Dalam pandangan Pruilt dan Jefry (2004) disampaikan bahwa semua konflik
kepentingan seringkali dipandang sebagai pencapaian tujuan satu pihak dan
merupakan kegagalan pencapaian tujuan pihak lain. Konflik muncul diakibatkan
salah satunya karena adanya perebutan sumber daya. Hal ini sangat sesuai dengan
dinamika konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo yang pada
dasarnya disebabkan oleh faktor pragmatis terkait dengan perebutan posisi atau
kekuasaan. Inti pokok munculnya konflik tersebut adalah perebutan komposisi
kepemimpinan ketua DPC yang didasari adanya isu perbedaan pandangan dalam
proses penjaringan calon kepala daerah di Kabupaten Purworejo. Sebagaimana
konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, konflik
internal ini selain berdampak terhadap perubahan posisi kepemimpinan ketua DPC,
juga berdampak terhadap kantor Partai Demokrat Kabupaten Purworejo yang juga
bergeser dari jalan JL. Dr. Setiabudi, No. 12, Kec. Purworejo Kabupaten Purworejo
bergeser ke jalan di Jalan Brigjen Katamso No 89 Purworejo.
Sebagaimana konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, dari berbagai kutipan wawancara di atas,
dapat dianalisis bahwa beberapa isu utama yang menjadi sumber terjadinya konflik
internal meliputi isu ketidakpercayaan (distrust), struktural dan politik, loyalitas,
serta isu pelanggaran AD/ART. Secara lebih jelas, masing-masing isu penyebab
terjadinya konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten Semarang adalah sebagai
berikut.
Sebagaimana konflik internal yang terjadi di Kabupaten Semarang, konflik
internal yang terjadi pada Partai Demokrat di Kota Salatiga juga diawali dari adanya
isu ketidakpercayaan (distrust). Isu ketidakpercayaan ini muncul karena selama salah
satu pihak memiliki prestasi yang kurang memuaskan. Sama halnya dengan yang
165
terjadi di Kabupaten Semarang, konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di
Kabupaten Purworejo juga disebabkan karena adanya permasalahan struktur
kepengurusan. Struktur kepengurusan yang dimaksud adalah adanya keinginan salah
satu pihak untuk merebut kekuasaan dari pihak lain. Selain adanya keinginan salah
satu pihak untuk melakukan perubahan di Partai Demokrat, dari hasil wawancara di
atas dapat diketahui bahwa ada unsur loyalitas yang menjadi penyebab terjadinya
konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo.
Keterlibatan aktor daalm konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Purworejo memiliki kesamaan dengan aktor yang terlibat konflik internal Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang maupun di Kota Salatiga. Berdasarkan data yang
diperoleh di lapangan dapat diketahui bahwa konflik yang terjadi melibatkan
beberapa pihak diantaranya DPP Partai Demokrat, Abdullah, Yoppy, Pengurus DPC
yang di PLT dan yang menjadi PLT, DPD, dan PAC-PAC yang ada di bawah
naungan DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang.
Aktor yang terlibat dalam konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Purworejo memiliki peran yang berbeda-beda. DPP Partai Demokrat sebagai pihak
yang mengeluarkan keputusan atau kebijakan dan Muhammad Abdullah sebagai
pihak yang terkena keputusan atau kebijakan adalah pihak yang berperan langsung
dalam konflik internal. Yophi Prabowo meskipun secara tidak langsung terlibat,
namun demikian awal mula munculnya konflik berawal dari dirinya.
Dari pernyatan tersebut, dalam prespektif pelaksanaan ideologi dapat
disimpulkan bahwa Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo menghormati dan
menghargai segala perbedaan, terutama yang terkait dengan ras, golongan dan
agama. Hal ini dilakukan karena pada prinsipnya secara nasional Partai Demokrat
memilih ideologi nasionalis dan religius yang berarti menghormati adanya
166
kemajemukan dengan didasarkan pada perbedaan-perbedaan dan tetap bersikap
religus, sehingga setiap kader partai di tingkat lokal hukumnya wajib untuk
melaksanakan ideologi tersebut.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan terkait dengan pelaksanaan ideologi
Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo, diperoleh data sebagai berikut.
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Keberagaman
Anggota/Kad
er
24
10
0
0
Pengakuan
dan
Penghargaan
Terhadap
Solidaritas
18
16
0
0
Penyelesaian
Konflik
Internal
Melalui
Musyawarah
13
17
4
0
Kesantunan
Toleransi
Terhadap
Perbedaan
14
16
4
0
15
19
0
0
Diagram 5.10 Indikator Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat di Kabupaten
Purworejo
Berdasarkan diagram di atas, dari 33 responden yang disurvei dapat diketahui
jumlah responden yang memberikan penilaian sangat baik terhadap pelaksanaan
167
ideologi Partai Demokrat, terutama terkait keberagaman anggota atau kader (terbuka
untuk semua warga negara tanpa membeda-bedakan agama, ras dan golongan)
berjumlah 24 responden, dan sisanya 10 responden memberikan penilain baik. Pada
pernyataan kedua terkait dengan upaya pengakuan dan penghargaan terhadap
solidaritas sebanyak 18 responden menyatakan sangat baik, dan 16 responden
menyatakan baik.
Berbeda dengan penilaian pada sub indikator pertama dan kedua, pada sub
indikator yang ketiga yaitu tentang upaya penyelesaian konflik internal melalui
musyawarah, sebanyak 13 responden memberikan penilaian sangat baik, 17
responden memberikan penilaian baik, dan 5 responden menyatakan cukup baik.
Untuk sub pernyataan tentang kesantunan, 14 responden menyatakan sangat baik, 16
responden menyatakan baik, dan 4 responden menyatakan cukup baik. Dan, dalam
pernyataan terakhir tentang toleransi terhadap perbedaan, 15 responden menyatakan
sangat baik dan 19 responden menyatakan baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo dapat digambarkan
ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.20 Skoring Pelaksanaan Ideologi Partai Demokrat Kabupaten
Purworejo
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Pelaksanaan Ideologi Partai SB (4)
84
Demokrat di Kabupaten
B (3)
78
Purworejo
CB (2)
8
B (1)
0
Jumlah total
170
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
168
Skor Aktual
336
234
16
0
586
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo, maka
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 34
Skor yang diharapkan tiap sub indikator ideologi
: 4 x 5 x 33 = 680
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
digambarkan dalam tabel di bawah ini:
Tabel 5.21 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Pelaksanaan
Ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
Indikator
Sub Indikator
Keberagaman
Pelaksanaan Ideologi Partai
anggota/kader
Demokrat di Kabupaten
Pengakuan dan
Purworejo
penghargaan terhadap
solidaritas
Penyelesaian konflik
internal melalui
musyawarah
Kesantunan
Toleransi terhadap
perbedaan
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
680
680
680
680
680
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
169
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo sebagai berikut.
% skor aktual = 586
X 100% = 86,17% dibulatkan menjadi 86 %
680
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo termasuk
dalam kategori sangat baik, yaitu dengan rentang presentase 84,01% - 100%.
5.5.3.3 Regenerasi Partai di Kabupaten Purworejo
Bagi Partai Demokrat Kabupaten Purworejo, regenerasi merupakan hal yang
sangat penting untuk menunjung jalannya roda organisasi. Oleh karena itu, proses
regenerasi perlu dilakukan secara teratur dan terstruktur. Tanpa adanya regenerasi
secara teratur, organisasi termasuk partai politik akan terlihat kurang demokratis dan
lebih bersifat bersifat otoriter. Tolak ukur regenerasi yang teratur adalah melalui
mekanisme 5 tahunan yang dengan menyelenggarakan Kegiatan Kongres, Musda,
maupun Muscab.
Dari pernyataan tersebut, dapat diperoleh data bahwa pada saat ini proses
regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo belum berjalan teratur. Hal ini
dikarenakan selama 10 tahun belum ada reorganisasi yang dilakukan melalui
mekanisme AD/ART Partai Demokrat. Salah satu informan menyatakan bahwa pada
saat ini dengan belum diadakannya Musda maupun Muscab, maka dapat dikatakan
proses regenerasi yang terjadi di lingkup DPD Partai Demokrat di Jawa Tengah
khususnya di Kabupaten Purworejo belum berjalan baik, sehingga justru
menimbulkan berbagai persoalan, termasuk konflik internal partai.
170
“Regenerasi kalau di Jawa Tengah saya katakan stagnan. Artinya begini,
Partai ini kan punya mekanisme 5 tahunan mestinya terjadi kan regenerasi
jadi reorganisasi baik di tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan dan lain
sebagainya. Di Jawa Tengah sekarang sudah 10 tahun belum ada
reorganisasi, Musda belum ada. Kemudian yang terjadi itu tadi
penunjukkan-penunjukkan dengan semaunya sendiri dan yang ditunjuk boleh
sampean cek di Jawa Tengah di PLT itu mana saja yang menggantikan
dengan yang digantikan itu silahkan dicek kualitasnya bagus yang mana.
Artinya itu kan tolak ukur kalau secara regenerasinya baik disandingkan
saja ini antara yang mengganti dengan yang diganti kira-kira levelnya bagus
mana”. (Wawancara tanggal 5 Mei 2016).
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Persamaan
Hak Menjadi
Pengurus
Terdapat
Persyaratan
Menjadi
Pengurus
Pendidikan
dan Pelatihan
Kader
Terdapat
Kriteria
Pengurus
16
18
0
0
16
18
0
0
14
18
2
0
12
21
1
0
Mekanisme
Pergantian
Pengurus
Sesuai
AD/ART
13
18
13
0
Diagram 5.11 Indikator Regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
Dari gambar diagram di atas, dapat diketahui bahwa terkait dengan
persamaan hak menjadi anggota pengurus, 16 responden menyatakan sangat baik,
171
dan 18 responden menyatakan baik. Untuk pernyataan tentang persyaratan menjadi
pengurus partai diketahui 16 responden menyatakan sangat baik, dan 18 responden
menyatakan baik. Untuk sub indikator tentang pendidikan dan pelatihan kader
sebanyak 14 responden menyatakan sangat baik, 18 responden menyatakan baik, dan
2 responden menyatakan tidak baik. Untuk sub indikator mengenai kriteria pengurus
partai, sebanyak 12 responden menyatakan sangat baik, 21 responden menyatakan
baik, dan 1 responden menyatakan tidak baik. Sedangkan untuk indikator yang
terakhir terkait dengan pergantian pengurus, sebanyak 13 responden menyatakan
sangat baik, 18 responden menyatakan baik, dan 3 responden menyatakan tidak baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan proses regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.22 Skoring Regenerasi Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Regenerasi Partai
SB (4)
71
Demokrat di Purworejo
B (3)
93
CB (2)
6
B (1)
0
Jumlah total
170
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
284
279
12
0
575
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo, maka
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
Jumlah responden
: 33
172
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 34 = 680
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo digambarkan dalam
tabel di bawah ini:
Tabel 5.23 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Regenerasi Partai
Demokrat di Kabupaten Purworejo
Indikator
Sub Indikator
Persamaan hak menjadi
Regenerasi Partai Demokrat di
pengurus
Kabupaten Purworejo
Terdapat persyaratan
menjadi pengurus
Pendidikan dan pelatihan
kader
Terdapat kriteria khusus
untuk menjadi pengurus
Mekanisme pergantian
pengurus melalui
AD/ART partai
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
680
680
680
680
680
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
173
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator keterbukaan Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo sebagai berikut.
% skor aktual = 575
X 100% = 84,55% dibulatkan menjadi 85 %
680
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo termasuk
dalam kategori sangat baik, yaitu dengan rentang presentase 84,01% - 100%.
5.5.3.4 Kaderisasi Partai di Kabupaten Purworejo
Seperti halnya yang terjadi pada Partai Demokrat di Kabupaten Semarang
dan Kota Salatiga, proses kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo juga
dilakukan atas dasar instruksi DPP. Pada proses ini, DPC melakukan musyawarah
untuk menyeleksi pengurus-pengurus partai yang memiliki potensial yang kemudian
diikutkan kedalam kegiatan bimtek atau penataran yang diselenggarakan DPP.
Penataran tersebut dilaksanakan bersamaan dengan DPC-DPC yang ada di Indonesia
yang tujuannya adalah untuk mendapatkan kader terbaik yang pada suatu saat nanti
dapat menjadi pemimpin masa depan, baik di tingkat DPP, DPD, DPC, maupun
PAC. Hal ini sebagaimana diungkapkan Yophi Prabowo sebagai berikut.
“Prosenya yang pertama melakukan seleksi tadi yang dimusywarahkan
partai, terus nanti pengurus-pengurus partai yang punya potensial bagus itu
pasti akan dilakukan apa semacam bimbingan seperti bintek terus penataran.
Kemarin kita juga mengadakan penataran juga. Penataran (bintek)
dilakukan langsung di DPP. Jadi DPP punya target itu akan menatar 5000
kader terbaik ya kemarin sudah dilakukan sekitar 2500. Melalui bintek dapat
sertifikat kebetulan kemarin saya juga ikut pelatihan di sana jadi kemarin
Jawa Tengah kan ada 4 orang yang dikirim di Kabupaten Bogor. Saya ada
dua anggota DPRD Provinsi Bu Teti sama Pak Bambang terus satunya lagi
Ketua DPC dari Tegal yang mengikuti penataran di sana” (wawancara
tanggal 14 April 2016).
174
Ungkapan Yophi Prabowo di atas menunujukkan bahwa pada saat ini dalam
melakukan
proses
kaderisasi,
Partai
Demokrat
di
Kabupaten
Purworejo
menyesuaikan dengan agenda kaderisasi yang diselenggarakan DPP. Artinya, DPC
Partai Demokrat Kabupaten Purworejo tidak mengagendakan kegiatan pelatihan
kader. Namun demikian, dengan keikutsertaan beberapa kader dalam kegiatan
bimtek atau penataran, diharapkan kader-kader terbaik ini dapat memberikan
bimbingan kepada kader-kader yang ada di bawahnya, DPC akan membimbing di
tingkat PAC, sedangakan PAC akan membimbing di tingkat-tingkat ranting.
“Yang diutamakan nanti ketua-ketua mas. Jadi Ketua PAC, terus Ketua
DPC, terus naik ke jenjang lagi DPD. Nanti yang kader-kader terbaik yang
mengikuti bintek ini yang nanti mereka yang akan membimbing temantemannya. Nanti PAC bombing tingkat-tingkat ranting, saya nanti tugasnya
membimbing di tingkat PAC” (wawancara tanggal 14 April 2016).
25
20
15
10
5
0
Sangat Baik
Baik
Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Ketepatan
Waktu
Pelatihan
Kader
17
16
1
0
Terdapat
Pedoman dan
Kriterian
Dalam
Perekrutan
Kader
12
22
0
0
Rekruitmen
Kader Tidak
Berdasarkan
Kedekatan
Personal atau
Persaudaraan
14
20
0
0
Sistem
Rekruitmen
Kader
Transparan
dan
Akuntabel
12
19
3
0
Keterwakilan
Kader
Perempuan
11
18
5
0
Diagram 5.12 Indikator Kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
Terkait dengan indikator tentang proses kaderisasi, diperoleh data sebagai
berikut: untuk masalah ketepatan waktu pelatihan kader 17 responden menyatakan
sangat baik, 17 responden menyatakan baik, dan 1 responden menyatakan tidak baik.
175
Pada sub indikator mengenai pedoman kriteria dalam perekrutan kader, diperoleh
data 12 responden menyatakan sangat baik, dan 22 responden menyatakan baik.
Pada sub indikator yang lain, yaitu terkait dengan pertimbangan dalam rekruitmen
kader, diperoleh data sebanyak 14 responden menyatakan sangat baik, dan 20
responden menyatakan baik.
Berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas system rekruitmen, sebanyak
12 responden menyatakan sangat baik, 19 responden menyatakan baik, dan 3
responden menyatakan tidak baik. Pada sub indikator yang terakhir tentang
keterwakilan perempuan diperoleh data sebanyak 11 responden menyatakan sangat
baik, 18 responden menyatakan baik, dan 5 responden menyatakan tidak baik.
Secara rinci rekapitulasi perhitungan skor pada masing-masing pernyataan
terkait dengan proses kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo dapat
digambarkan ke dalam tabel berikut.
Tabel 5.24 Skoring Kaderisasi Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Indikator
Interval
Nilai
Jumlah
Tanggapan
Responden
Kaderisasi Partai Demokrat SB (4)
66
di Kabupaten Purworejo
B (3)
95
CB (2)
9
B (1)
0
Jumlah total
170
Sumber: dikembangkan dari hasil penelitian di lapangan
Skor Aktual
264
285
18
0
567
Setelah diperoleh jumlah total tanggapan responden sekaligus skor aktual
terkait dengan kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo, maka
berdasarkan tanggapan 33 responden kemudian dapat diperoleh skor yang
diharapkan dari setiap aspek koisioner sebagai berikut.
Skor tertinggi tiap butir pernyataan instrumen
:4
Jumlah instrumen tiap item sub indikator keterbukaan
:5
176
Jumlah responden
: 33
Skor yang diharapkan tiap sub indikator keterbukaan
: 4 x 5 x 34 = 680
Secara lebih rinci gambaran tentang skor yang diharapkan pada setiap sub
indikator kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo digambarkan dalam
tabel di bawah ini:
Tabel 5.25 Skor yang diharapkan pada setiap sub indikator Kaderisasi Partai
Demokrat di Kabupaten Purworejo
Indikator
Sub Indikator
Persamaan hak menjadi
Kaderisasi Partai Demokrat di
pengurus
Kabupaten Purworejo
Terdapat persyaratan
menjadi pengurus
Pendidikan dan pelatihan
kader
Terdapat kriteria khusus
untuk menjadi pengurus
Mekanisme pergantian
pengurus melalui
AD/ART partai
Sumber: dikembangkan dari Sugiyono (2013:418)
Skor Yang
Diharapkan
680
680
680
680
680
Setelah memperoleh skor yang diharapkan, langkah terakhir adalah
menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian dengan melakukan
perbandingan antara skor aktual dan ideal. Dengan menggunakan rumus
sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka ditetapkan peringkat pada
indikator kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo sebagai berikut.
% skor aktual = 567
X 100% = 83,38% dibulatkan menjadi 83 %
177
680
Dari perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan dalam prespektif
kuantitatif, presentase kaderisasi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo termasuk
dalam kategori baik, yaitu dengan rentang presentase 64,01% - 84%.
5.2
Tantangan dan Hambatan Modernisasi Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo
Terkait dengan modernisasi, berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh
menunjukkan bahwa pada saat ini Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Purworejo masih dalam proses menuju modernisasi politik,
atau dengan kata lain menuju partai politik modern. Dalam upaya menuju partai
politik modern, Partai Demokrat di tiga kabupaten/kota tersebut mengalami
berbagai tantangan dan hambatan. Salah satu hambatan yang dialami adalah
kurangnnya komunikasi antara pengurus di DPC dengan pengurus atau kader yang
berada di bawahnya (PAC). Kurangnya komunikasi antara DPC dan PAC ini
desebabkan karena sampai pada tahun 2016, Partai Demokrat di tiga kabupaten/kota
tersebut belum mengadakan Musyawarah Cabang (Muscab). Muscab terakhir
dilaksanakan pada tahun 2006.
Selain alasan-alasan di atas, hambatan lain yang dihadapi Partai Demokrat
untuk menuju partai politik modern adalah masih ketergantungannya Partai
Demokrat terhadap salah satu tokoh elit sentral, yaitu SBY. Dari penelitian yang
dilakukan di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Semarang,
menurut hasil wawancara yang dilakukan menyatakan bahwa untuk saat ini dengan
melihat kondisi Partai Demokrat yang mengalami berbagai permasalahan, maka
Partai Demokrat belum bisa terlepas dari bayang-bayang SBY. Partai Demokrat
masih membutuhkan kepemimpinan SBY. Ketokohan SBY masih menjadi magnet
178
bagi para calon kader untuk masuk menjadi anggota Partai Demokrat. Sebagian dari
calon kader beralasan bahwa SBY merupakan sosok panutan yang menjadi daya
tarik kader untuk menjadi bagian dari Partai Demokrat. Beberapa kutipan wawancara
terkait dengan hal tersebut adalah sebagai berikut.
“Kalau menurut saya kalau terlepas dari Pak SBY mau gimana caranya
tetap tidak bisa, mau gimana caranya gimana ya kalau menurut saya ya
tetap harus dari Pak SBY soalnya kan dari awal biasanya kan Pak SBY.
Soalnya apa orang yang sering main kesini kayak yang mau daftar kayak
kemarin itu ada mau jadi kader itu bilangnya ya gini “Mas saya pingin
jadi kader itu satu saya itu tidak senang sama siapa-siapa saya itu
sukanya sama Pak SBY. Jadi saya itu pingin jadi kader Demokrat bukan
dari siapa-siapa tapi hati nurani saya sendiri terpancang ke Pak SBY”
ngomongya gitu” (wawancara dengan Joko Lestari tanggal 9 April 2016).
“Memang situasi pada saat Kongres kita memang menginginkan Pak
SBY. Khusus pada saat ini. Karena kita pengalaman, dengan
pengalaman-pengalaman itu maka kita melaksanakan pengkaderan. Jadi
memang selama ini kita masih tergantung SBY, tapi SBY sudah
menyiapkan sosok untuk menjadi pemimpin Partai Demokrat”
(wawancara dengan Adhi Sandi tanggal 15 April 2016).
Kutipan-kutipan
hasil
wawancara
di
atas
menunjukkan
bahwa
ketergantungan terhadap SBY selain menjadi hambatan juga menjadi tantangan bagi
Partai Demokrat untuk menuju modernisasi. Hal ini sebagaimana diungkapkan
Legowo (2011). Menurut Legowo, untuk menuju modernisasi, Partai Demokrat
setidaknya menemui tiga tantangan. Tantangan pertama modernisasi Partai
Demokrat, yakni: melangsungkan transformasi daya tarik SBY menjadi daya tarik
partai. Postur yang mengesankan, gagasan cermelang, perilaku terpuji, serta
komitmen, konsistensi dan disiplin yang teguh yang ada dalam diri SBY harus dapat
dialihkan dan tertanam sebagai karakter utama partai. Ditambah dengan inisiatifinisiatif kreatif, inovatif dan bertanggungjawab dari aktivis-aktivisnya, proses
transformasi ini makin terlengkapi. Publik harus bisa diyakinkan bahwa daya tarik
179
partai lebih memikat daripada daya tarik tokoh-tokohnya. Hal ini juga dilakukan
untuk menjawab keraguan publik terhadap elektabilitas Partai Demokrat.
Tantangan kedua adalah depersonalisasi organisasi. Artinya, untuk menuju
modernisasi, Partai Demokrat harus makin tidak terikat pada, dan menjadi lepas dari,
ikatan dan urusan pribadi tokoh dan anggotanya. Dalam pengembangannya, partai
harus menjadi milik bersama para anggotanya, bukan milik pribadi (para) tokohnya.
Maka simbol-simbol atau tanda-tanda kerikatan partai pada perorangan harus
semakin diminimalisir, yang berbarengan dengan itu simbol-simbol kepemilikan
bersama partai harus makin ditingkatkan dari waktu ke waktu. Beberapa upaya yang
dapat dilakukan depersonalisasi Partai Demokrat adalah dengan melakukan
penertiban dan penegakan disiplin iuaran anggota. Hukum iuran adalah wajib.
Anggota tidak memberikan iuran harus dikenai sanksi. Iuran ini menjadi bukti bagi
setiap anggota memiliki saham yang sama bagi keberadaan partai. Berpasangan
dengan iuaran wajib adalah pembatasan jumlah donasi atau sumbangan sukarela dari
anggota maupun non-anggota, dan yang harus diumumkan secara terbuka, untuk
menghindari ketergantungan partai pada pendonor besar dan dominan.
Tantangan ketiga adalah penggalangan dukungan masyarakat melalui kaderkader partai yang bekerja untuk masyarakat, utamanya pada lapisan akar rumput. Ini
mengasumsikan partai mempunyai kader-kader orisinal yang dilahirkan dari
kegiatan kaderisasi partai. Tugas kader adalah mengkomunikasikan partai dan
programnya kepada masyarakat secara luas; membantu menyelesaikan masalahmasalah kemasyarakatan; dan menghimpun keluhan, kebutuhan dan kepentingan
yang harus ditangkap sebagai aspirasi yang berkembang di masyarakat. Lapisan akar
rumput harus menjadi target layanan kader yang utama, karena menjadi bagian dari
180
masyarakat yang paling rentan menjadi korban, dan paling tidak punya akses
terhadap sumber-sumber, pembangunan.
Tantangan lain yang harus dihadapi Partai Demokrat untuk mewujudkan
modernisasi
adalah
dengan
melakukan
proses
transformasi
dari
partai
simpatisan/massa menjadi partai kader. Mesikipun hal tersebut harus melalui proses
panjang,
“Partai Demokrat menuju modernisasi harus menjadi partai kader
bukan partai simpatisan. Jujur pada waktu dulu kita mendaftarkan kader
ke KPU, Partai Demokrat asal comot, dan itu hanya untuk memenuhi
tanggapan verifikasi KPU. Sekarang tidak, sekarang setelah ada rencana
partai kader, maka pengurus PAC harus siap dicalonkan sebagai dewan,
sehingga kader yang dicalonkan akan punya jaringan, tidak seperti
sekarang PAC pengangguran dan kalau ada rapat harus ada uang
sakunya. Kalau masih seperti itu Partai Demokrat tidak bisa besar
seperti partai lain. Model partai kader yang dimaksud adalah melalui
pendidikan dan pelatihan yang berisi tentang pemahaman tentang apa
itu Partai Demokrat, mengapa harus memilih Partai Demokrat, apa
ideologinya dan lain sebagainya” (wawancara dengan Ali Mashadi
tanggal 13 Maret 2016).
Dari kutipan-kutipan wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa ada
beberapa faktor yang menjadi tantangan sekaligus penghambat Partai Demokrat
untuk menjadi partai modern. Faktor yang paling menonjol adalah belum mampunya
Partai Demokrat untuk keluar dari baying-bayang SBY sebagai tokoh sentral Partai
Demokrat.
Gambaran tentang tantangan dan hambatan yang dialami Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Purworejo, dapat ditampilkan
secara jelas di dalam matrik berikut ini.
181
Tabel 5.26 Tantangan dan Hambatan Modernisasi Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo
No
Tantangan/Hambatan
1. Komunikasi antara elit Partai
Demokrat dengan kader di
Kabupaten
Semarang,
Kota
Salatiga,
dan
Kabupaten
Purworejo berjalan kurang baik
2
3
Ketergantungan Partai Demokrat
di Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga,
dan
Kabupaten
Purworejo terhadap sosok SBY
Ketidakpatuhan
terhadap
AD/ART Partai Demokrat
Deskriptif Analisis
Penyebab kurang baiknya komunikasi
antara elit dengan kader di bawahnya
disebabkan karena adanya keterlambatan
pelaksanaan Muscab dan pergantian
kepengurus di tingkat DPC yang tidak
dilaksanakan melalui Muscab
Berdasarkan data yang diperoleh, pada
saat ini Partai Demokrat di tiga
kabupaten/kota tersebut belum mampu
keluar dari bayang-bayang SBY.
Dalam hal-hal tertentu Partai Demokrat
melanggar AD/ART partai
Dari berbagai hasil temuan data terkait dengan konflik internal partai, maka
meskipun secara kuantitif diperoleh data bahwa Partai Demokrat sudah modern,
namun secara kualitatif untuk menuju modern, Partai Demokrat masih mengalami
berbagai kendala. Berbagai pendapat terkait dengan hal tersebut antara lain
disampaikan oleh beberapa narasumber yang peniliti wawancarai, yaitu sebagai
berikut.
Dalam konteks modernisasi, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
dapat diketahui hampir semua DPC menyatakan bahwa Partai Demokrat menuju
modernisasi. Hal ini juga diperrkuat pernyataan Ali Mashadi:
“Untuk Partai Demokrat selama ini memang selalu terbuka apalagi
sekarang dipimpin oleh pak SBY lagi jadi keterbukaan itu suatu
keharusan, makanya saking terbukanya timbul dari internal seolah-olah
bebas mengeluarkan pendapat akhirnya sampai mengritik, untungnya
Ketua Umum kita pak SBY tidak anti kritik. Kita pernah dipimpin oleh
Pak SBY selama 10 tahun tidak ada yang namanya tiap hari tidak ada
kritik. Saya pikir untuk Partai Demokrat itu sangat terbuka sekali, kita
bebas ngomong apa saja termasuk di internal kita, makanya kadang kita
kadang menyayangkan juga hal-hal yang sifatnya internal akhirnya
muncul di media karena kurang memahami arti keterbukaan, ya terbuka
tidak masalah, tapi pesan dari Pak SBY bahwa untuk permasalahan
internal mari kita sama-sama duduk bersama menyelesaikan konflik,
182
baru kalau memang sudah ada titik temu baru boleh untuk mengeluarkan
statmen di media” (wawancara tanggal 13 Maret 2016).
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Partai Demokrat, khususnya
di bawah naungan DPD Provinsi Jawa Tengah selalu berusaha untuk menjadi partai
yang terbuka. Dengan keterbukaan, para kader diberikan ruang bebas untuk dapat
melakukan kritik terhadap kebijakan atau keputusan partai. Namun demikian, kritik
tersebut kadang juga menimbulkan permasalahan bagi Partai Demokrat sendiri.
Artinya, beberapa hal yang seharusnya menjadi rahasia partai justru muncul di
media, dan kadang dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak menginginkan adanya
keharmonisan di Partai Demokrat. Oleh karena itu, dalam penyampaian kritik
menurut Ali Mashadi hendaknya disampaikan melalui mekanisme internal terlebih
dahulu, dan tidak langsung menyampaikan rapat di media. Hal ini sesuai dengan
pesan SBY “meskipun terbuka, namun untuk permasalahan internal hendaknya
sama-sama duduk bersama untuk menyelesaikan konflik untuk mencari titik temu
atau solusi”.
Partai Demokrat dalam menuju modernisasi harus menjadi partai kader
bukan lagi menjadi partai simpatisan. Dengan menjadi partai kader, maka pengurus
DPAC harus siap dicalonkan sebagai Angoota Dewan, sehingga kader yang
dicalonkan akan memiliki jaringan dan tidak menjadi pengangguran. Karena jika
Partai Demokrat masih menggunakan cara lama (tradisional) dalam mengelola
partai, maka sampai kapanpun Partai Demokrat tidak bisa menjadi modern dan
terbuka. Model partai kader yang dimaksud ini adalah melalui pendidikan dan
pelatihan yang berisi tentang pemahaman tentang apa itu Partai Demokrat, mengapa
harus memilih Partai Demokrat, apa ideologinya dan lain sebagainya. Salah satu
183
upaya untuk mendukung hal tersebut adalah dengan mendirikan Institut Partai
Demokrat.
Untuk memperjelas hasil temuan penelitiannya, peneliti menyusun matrik
temuan penelitian sebagai berikut.
Tabel 5.27 Temuan Hasil Penelitian
No
1.
Perumusan
Masalah
Bagaimana
modenisasi
Partai Demokrat
di
Kabupaten
Semarang, Kota
Salatiga,
dan
Kabupaten
Purworejo?
Temuan Lama
(data skunder)
Pada temuan awal peneliti
meyakini bahwa proses
modernisasi
Partai
Demokrat di Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga,
dan Kabupaten Semarang
dapat
diukur
melalui
indikator
keterbukaan,
ideologi, regenerasi, dan
kaderisasi. Namun, setelah
mengadakan penelitian di
lapangan,
peneliti
menemukan beberapa hal
baru yang dapat dijadikan
indikator untuk melakukan
pengukuran modernisasi
Partai Demokrat di tiga
kabupaten/kota tersebut.
Indikator ini antara lain:
komunikasi
dan
konsolidasi.
184
Temuan baru
(data primer)
Modernisasi Partai Demokrat
di Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten
Purworejo
Respon responden terhadap
pernyataan tentang indikator
partai politik modern
1) dalam hal keterbukaan
keuangan dan informasi kader
, respon positif
2) untuk masalah mekanisme
penyelesaian konflik internal
belum direspon positif
4) regenerasi
5). kaderisasi
No
2.
Perumusan
Masalah
Apakah
tantangan
dan
hambatan Partai
Demokrat
di
Kabupaten
Semarang, Kota
Salatiga,
dan
Kabupaten
Purworejo untuk
menuju
partai
politik modern?
Temuan Lama
(data skunder)
Temuan
awal
menunjukkan bahwa yang
menjadi
tantangan
sekaligus hambatan Partai
Demokrat
untuk
mewujudkan modernisasi
adalah korupsi dan konflik
internal. Namun demikian,
setelah
melakukan
penelitian,
peneliti
memperoleh data bahwa
yang menjadi tantangan
sekaligus hambatan Partai
Demokrat
untuk
mewujudkan modernisasi
tidak hanya korupsi dan
konflik internal, namun
hal-hal yang lain seperti
ketergantungan,
komunikasi,
serta
keterlambatan
dalam
pelaksanaan Muscab.
185
Temuan baru
(data primer)
Beberapa
kendala
yang
dihadapi Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten
Semarang dalam melakukan
modernisasi adalah:
1) Komunikasi
2) Ketergantungan
terhadap
tokoh
tertentu
3) Keterlambatan dalam
melaksanakan Muscab
4) Adanya
konflik
internal
BAB VI
PENUTUP
6.1
Simpulan
Setelah selesai melakukan analisis dan pembahasan terhadap hasil penelitian,
peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal terkait dengan dinamika konflik internal
dan modernisasi politik di tingkat lokal, khususnya yang terjadi pada Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo adalah
sebagai berikut.
6.1.1
Dalam mewujudkan modernisasi, Partai Demokrat di Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo melakukan beberapa upaya yang
sama, diantaranya dengan melakukan konsolidasi yang bersifat bottom up,
baik dengan DPD, DPC, PAC, maupun dengan partai politik yang lain.
Dalam konteks pelaksanaan indikator partai politik modern, keterbukaan
dalam pengelolaan keuangan partai (terkait dengan pelaporan penggunaan
dana partai dan lain-lain) tergolong bagus. Namun, dalam mekanisme
penyelesaian konflik masih mengalami berbagai kendala. Modernisasi Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo.
Respon responden terhadap pernyataan tentang indikator partai politik
modern dalam hal keterbukaan keuangan dan informasi kader, respon positif
Dan untuk masalah mekanisme penyelesaian konflik internal belum direspon
positif. Partai Demokrat melakukan institut Partai Demokrat sebagai upaya
mencari kader terbaik yang dalam jangka panjang akan menjadi pemimpin
DPC di masa yang akan datang.
186
Dinamika konflik internal yang terjadi pada Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo dilatarbelakangi oleh
permasalahan yang hampir sama. Konflik internal yang terjadi di tiga
Kabupaten/Kota tersebut disebabkan adanya perbedaan pandangan yang
terjadi antara DPP dengan DPC. Perbedaan pandangan tersebut terkait
dengan usulan calon kepala daerah, dimana antara rekomendasi DPP dengan
keinginan DPC tidak sejalan, sehingga konflik internal tidak dapat
terhindarkan. Dampak dari tidak sejalannya keinginan DPP tersebut
mengakibatkan adanya pemberhentian Ketua DPC yang pada saat itu
menjabat. Adanya konflik internal merupakan salah satu penghambat
terwujudnya modernisasi Partai Demokrat.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang
menjadi sumber terjadinya konflik internal Partai Demokrat di Kabupaten
Semarang meliputi faktor ketidakpercayaan (distrust), faktor struktural dan
politik, faktor loyalitas, serta faktor pelanggaran AD/ART.
6.1.2
Dalam mewujudkan modernisasi, Partai Demokrat di Kabupaten Semarang,
Kota Salatiga, dan Kabupaten Purworejo mengalami beberapa hambatan
sekaligus tantangan, diantaranya munculnya konflik internal yang disebabkan
karena adanya pemberhentian ketua DPC. Konflik internal memberikan
dampak terhadap pelaksanaan fungsi kepengurusan pada masing-masing
DPC Partai Demokrat tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa faktor yang
menghambat modernisasi antara lain kurangnya komunikasi, belum
diadakannya Muscab, korupsi, dan konflik internal. Selain itu, berdasarkan
penelitian yang dilakukan di lapangan diperoleh data bahwa saat ini Partai
Demokrat belum dapat dikatakan sebagai partai modern di Indonesia. Hal ini
187
dikarenakan Partai Demokrat belum mampu keluar dari kekharismaan SBY
sebagai tokoh sentral Partai Demokrat. Kebanyakan kader menyampaikan
bahwa saat ini ketertarikan untuk bergabung dengan Partai Demokrat bukan
dikarenakan program-program partai tersebut bagus, melainkan terdapat
sosok SBY pada Partai Demokrat. Namun demikian, beberapa upaya saat ini
telah dilakukan Partai Demokrat yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan
Institut Partai Demokrat yang tujuannya untuk mempersiapkan kader terbaik,
sehingga ke depannya, Partai Demokrat benar-benar menjadi partai yang
modern dengan tidak tergantung pada ketokohan tertentu.
6.2
Saran
Saran yang dapat peneliti rekomendasikan sebagai berikut.
6.2.1
Untuk menjadi partai politik modern, hendaknya Partai Demokrat dapat
menyelesaikan permasalahan, termasuk konflik internal melalui mekanisme
yang sudah diatur di dalam AD/ART. Hal ini dikarenakan di dalam AD/ART
termuat pedoman-pedoman yang mengatur kehidupan berorganisasi. Oleh
karena itu, untuk menghindari konflik internal yang kemudian menyebabkan
perpecahan, maka hendaknya semua elemen Partai Demokrat, baik elit
maupun kader dapat secara konsisten melaksanakan tutntutan-tuntutan
AD/ART, sehingga arogansi politik di tubuh Partai Demokrat dapat
diminimalisir. Partai Demokrat seharusnya mulai mempersiapkan sosok
kader yang dapat membawa pada perubahan politik yang lebih baik, sehingga
tidak hanya tergantung pada sosok SBY sebagai mesin untuk mendulang
suara partai.
188
6.2.2
Partai Demokrat perlu melakukan upaya yang simultan dan komprehensif
untuk melaksanakan modernisasi. Upaya ini harus diupayakan dengan segera
mengingat bahwa modernisasi politik sangat berpengaruh bagi kehidupan
demokrasi ditingkat lokal maupun nasional. Partai Demokrat untuk menuju
modernisasi harus menjadi partai kader bukan partai simpatisan. Selain itu,
terkait dengan hal tersebut Partai Demokrat hendaknya senantiasa
meningkatkan komunikasi secara konsisten, baik dengan anggota partai
maupun pihak luar.
189
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Amal, Ichlasul ed. 2012. Teori-Teori Mutakhir Partai Politik.Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Apter, David, E. 1988. Pengantar Analisis Politik. Jakarta: Kincir Buana.
Bagir, Manan. 2012. Politik Publik Pers. Jakarta: Dewan Pers.
Bastian, I. 2007. Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik. Edisi pertama.
Jakarta:.Erlangga.
Budiardjo, Miriam. (2008). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Creswell, John. W. 2003. Research Design: Qualitative and Mixed Mthods
Approach. Thousand Oak: Sage Publication Inc.
. 2013. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
. 2014. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Crotty, William. 2014. “Asal-Usul dan Evolusi Partai di Amerika Serikat”.
Handbook Partai Politik. Bandung: Nusa Media.
Fadjar, Abdul Mukthie. 2013. Partai Politik Dalam Perkembangan Ketatanegaraan
Indonesia. Malang: Setara Press.
Firmanzah. 2008. Mengelola Partai Politik Komunikasi dan Positioning Ideologi
Politik di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Harjanto, Nicolaus Teguh Budi. 1997. Memajukan Demokrasi Mencegah
Disintegrasi; Sebuah Wacana Pembangunan Politik. Yogyakarta: PT Tiara
Wacana Yogya.
Huntington, Samuel P. 1973. Political Order in Changing Societies. New Haven and
London. Yale University Press.
Hunt, M.P. and Metcalf, L., . 1996. Ratio and inquiry on Society’s Closed Areas, in
Educating The Democratic Mind (W. Parker) New York: State University of
New York Press.
Ishiyama, John T. dan Marijke, Breuning ed. 2013. Ilmu Politik Dalam Paradigma
Abad Kedua Puluh Satu Sebuah Referensi Panduan Tematis Jilid 2. Jakarta:
PT Kharisma Putra Utama.
190
Johnson, Doyle Pul. 1994. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern. Jakarta: Gramedia
Pustaka.
Lembaga Survei Indonesia. (2012). Perubahan Politik 2014: Tren Sentimen Pemilih
pada Partai Politik.
Meyer, Thomas. 2012. Peran Partai Politik Dalam Sebuah Sistem Demokrasi:
Sembilan Tesis. Jakarta: Friedrich-Ebert-Stiftung (FES).
Narimawati, Umi. 2007. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: Agung Media.
Pruitt, Dean G dan Rubin, Jeffrey Z. 2009. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Rubbin dan Judge. 2008. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.
Sartoni, Geovanni. 2005. Parties and Party Systems: A Framework for Analysis.
Cambridge: Cambridge University Press.
Sarwono, Jonathan. 2013. Strategi Melakukan Riset Kuantitatif, Kualitatif,
Gabungan. Yogyakarta: Andi Offset.
Sokhey, Sarah Wilson. 2013. “Perkembangan Politik dan Modernisasi”. Ilmu Politik
dalam Paradigma Abad Ke-21 Sebuah Referensi Panduan Tematis Jilid 2.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Susan. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Strauss, Anselm dan Corbin Juliet. 1990. Basics of Qualitative Research : Grounded
Theory Procedures and Techniques. Sage. London, United Kingdom.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Surbakti, Ramlan. 2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Kompas Gramedia.
Sutopo, H, B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya
Dalam Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Suwarsono, Alvin Y. So. 2006. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia:
Teori-teori Modernisasi, Dependensi dan Sistem Dunia. Lembaga Penelitian,
Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. p. 95-204.
Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Group.
Tandjung, Akbar. 2007. The Golkar Way Survival Partai Golkar di Tengah
Turbulensi Politik Era Transisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Varma, SP. 2007. Teori Politik Modern. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
191
Ways, Muliansyah, Abdurarahman. 2015. Political Ilmu Politik, Demokrasi, Partai
Politik & Welfare State. Yogyakarta: Buku Litera.
Wirawan. 2010. Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian.
Jakarta: Salemba Humanika.
White, John Kenneth. 2014. “Apakah Partai Politik Itu?” Handbook Partai Politik.
Bandung: Nusa Media.
(Suasta dan Barus 2015:10).
Jurnal dan Tesis/Desertasi:
Abdillah, Masykuri. 2013. Hubungan Agama dan Negara dalam Konteks
Modernisasi Politik di Era Reformasi. Jakarta, No.2.vol.XIII. hal. 247-258.
Anto, Djawamaku. 2005. “Percehan Partai Politik, Pemberantasan Korupsi dan
Berbagai Masalah Politik Lainnya”; dalam Jurnal Analisis CSIS: Peran
Masyarakat dan Demokrasi Lokal, Jakarta, No.2.vol. 34. hal 126-127.
Kurniasih, Dewi. Dan Tatik, Rohmawati. 2013. Pelaksanaan Fungsi Komunikasi
Politik Partai Demokrat (Studi Pemilihan Walikota Bandung). No. 2. vol 11.
hal 234-261.
Prasetya, Imam Yudhi. 2011. Pergeseran Peran Ideologi dalam Partai Politik. No.
Vol 1. Hal 30-40.
Hanapiah, Pipin, 2012. Perubahan Politik Golongan Karya: Studi Interaksi
Pengurus Partai Golkar Kota Bandung di Era Reformasi. Bandung: Program
Pascasarjana FISIP UNPAD.
Harjanto, Budi NT, Studi Pembangunan Politik: Dari Modernisasi ke
Demokratisasi. ANALISIS CSIS, Tahun XXVII/1998, No. 2.Karim, Rusli M,
Peluang dan Hambatan Demokratisasi.ANALISIS CSIS, Tahun XXVII/1998,
No. 10.
Website:
DPD Demokrat Jateng: Pemberhentian 5 Ketua DPC Salahi Prosedur. (2014).
Dalam http://regional.kompas.com. Diunduh pada tanggal 24 Maret 2016
pukul 10.09.
Partai Demokrat Ancam Gelar Kongres Tandingan Kaukus Penyelamat. (2015).
Dalam http://news.metrotvnews.com. Diunduh tanggal 4 Januari 2016 pukul
11:11.
192
Survei: Mayoritas Publik Tak Percaya Partai Politik. (2014). Dalam
http://nasional.kompas.com. Diunduh pada tanggal 24 Mei 2016 pukul 07.57
WIB.
Terbuka Bukan Pilihan, tapi Keharusan. (2016). Dalam http://www.demokrat.or.id.
Diunduh tanggal 8 April 2016 pukul 19:30.
Undang-undang
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat Tahun 2015.
Jakarta: Sekretariat DPP Partai Demokrat Direktur Eksekutif.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 tentang Perubahan Peraturan
Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai
Politik.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik.
Bandung: Citra Umbara.
193
LAMPIRAN-LAMPIRAN
194
Lampiran 1
TRANSKIP WAWANCARA I
Nama Narasumber : Gunung Imam, S.H.
Pekerjaan/Jabatan : PLT Sekretaris Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Waktu Wawancara : 10 Januari 2016
Tempat
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Gedung DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang
: Menurut pendapat Bapak bagaimana selama ini keterbukaan
komunikasi Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Memang untuk saat ini kami ditugasi untuk menjabat sebagai
PLT Partai Demokrat Kabupaten Semarang karena kebetulan
Muscab belum diadakan. Sebagai PLT tentunya kami harus
bekerja keras untuk menjalin komunikasi yang selama ini
memang belum berjalan baik. Kami selalu berusaha untuk
menyatukan segala perbedaan pandangan yang sebelumnya
terjadi meskipun tidak mudah untuk menjalin komunikasi
terutama setelah adanya pergantian posisi di kepemimpinan
Partai Demokrat Kabupaten Semarang.
: Sebagai pengurus DPC, bagaimana pendapat Bapak terkait
dengan keterbukaan Partai Demokrat Kabupaten Semarang
dalam mengelola keuangan partai?
: Kita Pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang dalam
mengelola keuangan partai memang dituntut untuk terbuka dan
transparan. Ini sudah menjadi ketentuan. Apalagi kita belajar dari
pengalaman sebelumnya bahwa yang mengakibatkan citra Partai
Demokrat kurang baik adalah kasus korupsi, sehingga sudah
seharusnya kita mengelola keuangan partai dengan terbuka.
Setiap ada pemasukan dan pengeluaran yang masuk kita selalu
laporkan dalam bentuk laporan tertulis dan dipublikasikan.
: Menurut Bapak bagaimana mekanisme sosialisasi program kerja
Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Program kerja itu tidak perlu ditutup-tutupi karena menyangkut
masyarakat dan rakyat. Jika ada partai politik menutup-nutupi
program kerja yang dilakukan saya yakin partai itu tidak akan
mendapatkan simpati dari kader sendiri atau masyarakat.
: Untuk mewujudkan modernisasi, apa upaya yang telah dilakukan
Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Berbagai upaya menuju modernisasi politik sudah dilakukan
Partai Demokrat dengan baik, khususnya di Kabupaten
Semarang. Upaya tersebut antara lain dengan melakukan
komunikasi intensif dengan DPP maupun di kader-kader yang
ada di bawahnya yaitu PAC. Komunikasi ini berwujud
konsolidasi yang berguna untuk menyatukan presepsi bersama,
195
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
terutama untuk menyiapkan kader yang terbaik yang akan
berkompetisi dalam pilkada maupun pileg.
Terkait dengan kritik, apakah menurut pendapat Bapak Partai
Demokrat Kabupaten Semarang terbuka terhadap kritik?
Dalam organisasi manapun termasuk partai politik pasti ada
kritik, ada kritik yang sifatnya membangun, bahkan ada juga
kritik yang sifatnya merusak. Untuk kritik yang membangun, kita
terima dengan baik dan terbuka, namun kalau kritik yang
sifatnya merusak partai maka kritik itu akan kita abaikan. Jadi
yang namanya kritik itu diperuntukkan untuk membangun
organisasi bukannya untuk merusak organisasi.
Bagaiamana pendapat Bapak terkait dengan pelaksanaan ideologi
Partai Demokrat?
Untuk ideologi kita jelas, artinya kita terbuka untuk siapa saja.
Di pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang anda
bisa tanya pada pengurus yang lain kita terbuka tidak membedabedakan golongan, agama, ras atau yang lain. Saya kira ideologi
Partai
Demokrat
Nasionalis-Religius
sangat
tepat
menggambarkan kemajemukan bangsa, sehingga kita selalu
berusaha berprinsip pada ideologi Nasionalis-Religius itu.
Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan solidaritas antara
anggota/kader dengan pengurus DPC Partai Demokrat
Kabupaten Semarang?
Kita satu tim ibarat pemain bola kalau ada kawan yang cidera
maka kawan yang lain harus membantu dan memiliki rasa
simpati. Ini juga sama dengan yang terjadi pada partai politik
termasuk Partai Demokrat di Kabupaten Semarang. Tapi
memang rasa solidaritas itu banyak indikator. Kadang juga sulit
untuk menyamakan perbedaan-perbedaan yang menonjol.
Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan konflik internal yang
dialami Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
Memang di Kabupaten Semarang terjadai konflik, dan saya kira
di partai manapun konflik itu pasti ada dan kadang ada pihakpihak yang menyukai adanya konflik ini. Karena ada pihak-pihak
yang sengaja memperkeruh suasana maka memang kita sulit
untuk mengatasi konflik ini. Selain itu, peran media yang
membesarkan masalah kecil menjadi besar juga berperan
menambah permasalahan.
Sebagai PLT Sekretaris DPC Partai Demokrat Kabupaten
Semarang, bagaimana pendapat Bapak terkait dengan adanya
pergantian pengurus DPC tersebut?
Di Kabupaten Semarang memang ada pergantian pengurus,
terutama pada jabatan ketua dan sekretaris, namun pergantian
pengurus itu bukan karena ketidaksenangan dengan seseorang
atau individu tapi lebih pada upaya meningkatkan kinerja
organisasi”. Jadi apapun yang sudah menjadi keputusan DPP,
alangkah bijaksananya semua kader termasuk pengurus di DPC
menghormatinya.
196
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Terdapat isu bahwa pergantian pengurus terkait dengan
permasalahan keloyalan terhadap partai, bagaimana pendapat
Bapak terkait dengan hal tersebut?
: Seharusnya sebagai kader harus mentaati dan menghormati
apapun yang telah menjadi keputusan DPP Partai Demokrat.
Bentuk perlawanan merupakan salah satu contoh ketidakloyalan
terhadap partai, jadi wajar jika ada proses pemberhentian.
: Apa pendapat Bapak terkait dengan kesantunan Partai
Demokrat?
: Untuk menjaga keharmonisan partai, kami selalu memberikan
himbauan kepada para kader untuk bersikap yang baik, artinya
setiap anggota Partai Demokrat Kabupaten Semarang memiliki
kewajiban untuk saling menghormati, saling menyayangi baik
yang muda maupun yang tua, dan yang paling penting adalah
memiliki kesantunan dalam berbicara baik dengan sesame
anggota maupun dengan masyarakat. Dengan seperti ini saya
yakin Partai Demokrat, khususnya di Kabupaten Semarang akan
selalu maju dan harmonis.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan perbedaan pendapat
yang terjadi di Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Perbedaan dalam organisasi pasti ada dan tidak bisa dihindari.
Jadi Partai Demokrat Kabupaten Semarang enjoy saja dalam
menghadapi perbedaan-perbedaan itu. Yang penting jika
perbedaan itu menyangkut perbedaan pendapat maka semua
kader harus punya niat yang baik untuk membangun partai
bukannya merusak.
: Saat ini Ketua Umum Partai Demokrat kembali dipegang SBY.
Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan hal tersebut,
khususnya dikaitkan dengan sistem regenerasi?
: Partai Demokrat sebenarnya sedang mempersiapkan kader-kader
terbaik untuk menggantikan SBY kelak. Proses persiapan kader
ini merupakan bagian dari regenerasi yang dilaksankan melalui
program DPP Partai Demokrat yang bernama Institut Partai
Demokrat.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan pelaksanaan sistem
kaderisasi Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Melalui kaderisasi yang berupa pelibatan simpatisan, anggota
dan segenap pengurus dalam kegiatan-kegiatan partai. Kegiatankegiatan tersebut berupa rapat, menerima kunjungan dari
kepengurusan yang lebih tinggi, kunjungan sosial dan
sebagainya. Meski secara organisasi kaderisasi dilakukan melalui
instrumen program pendidikan dan pembentukan lembaga yang
khusus mengelola kaderisasi, kegiatan Partai Demokrat tersebut
langsung diselenggarakan oleh kepengurusan DPC.
197
TRANSKIP WAWANCARA 2
Nama Narasumber : Joko Lestari
Pekerjaan/Jabatan : Kader Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Waktu Wawancara : 9 April 2016
Tempat
: Gedung DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Menurut Bapak selaku Kader, apakah Partai Demokrat sudah
terbuka dalam hal komunikasi?
Sebetulnya selama ini untuk mendapatkan akses informasi terkait
dengan pemilu, baik pileg, pilpres, maupun pilkada sangat
mudah. Setiap ada agenda tersebut pimpinan Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang sering melakukan konsolidasi ke tingkat
PAC, sehingga anggota atau kader yang ada di tingkat desa
maupun kecamatan tidak ketinggalan berita atau informasi.
Kendala-kendala apa saja yang dihadapi Partai Demokrat untuk
menjadi partai politik modern?
Kendalanya itu kalau ibartanya di DPC itu harusnya kan bahwa
PAC atau yang wakil-wakilnya dari PAC harusnya kan harus ada
saling komunikasi atau koordinasi tapi ini kayaknya itu agak
sulit. Jadi ya tidak tahu besok kalau sudah Muscab, soalnya ini
belum Muscab soalnya ini kan ketuanya masih ketua PLT,
bendahara PLT, sekretaris juga, jadi nanti kalau kemarin itu, kan
disini kemarin kedatangan dari DPD ke sini sama itu yang dari
DPP pusat Jakarta itu kesini membahas itu permasalahan soal
masalah DPRD, DPRD harusnya kan ya kayaknya semuanya
juga sama itu pinginnya itu kalau DPRD itu harus ada jadwal
tiap-tiap satu bulan satu minggu berapa kali itu harus ada
soalanya ini kan tidak ada jadwal kayak gitu. Soalnya sekarang
kan mikirnya gini saya itu memang lewat partai tapi saya jadinya
pakai uang sendiri dan mikirnya kan gitu jadi besok kalau sudah
Musda mau dibuat jadwal harus ada tiap hari ini hari apa harus
ada jadwalnya masuk DPRD ke DPC tapi kalau nanti tidak ada
otomatis besok kalau sudah pencalonan lagi tidak difasilitasi.
Menurut Bapak, bagaimana keterbukan Partai Demokrat
Kabupaten Semarang dalam hal sosialisasi program kerja kepada
kader/anggota?
Salah satu contoh program kerja Partai Demokrat Kabupaten
Semarang yang saya ketahui adalah penjaringan calon bupati.
Kemarin itu ada pertemuan yang dilakukan dengan DPACDPAC yang ada di Kabupaten Semarang untuk menentukan
dukungan terhadap calon bupati gitu. Nah setelah ada pertemuan
maka DPC menentukan siapa calon bupati yang akan didukung.
198
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Terkait dengan kritik, apakah menurut Bapak Partai Demokrat
Kabupaten Semarang terbuka terhadap kritik atau perbedaan dari
anggota/kadernya?
: Kalau selama ini saya jadi kader Partai Demokrat Kabupaten
Semarang, saya melihat sebetulnya Partai Demokrat terbuka
untuk kritik. Seperti kemarin misalnya ada yang mengkritik
tentang keputusan Partai Demokrat dalam mendukung calon
bupati saya melihat tidak ada masalah pengurus enjoy saja
menerima kritik itu.
: Bagaimana dengan mekanisme penaganan konflik? Khusnya
Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Kalau itu malah kurang tahu saya kurang tahu. Jadi gimana ya
biasanya yang lebih tahu itu adalah Ketua dan Sekretaris.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan keberagaman Partai
Demokrat Kabupaten Semarang?
: Kalau ngomong masalah anggota/kader kita apa namanya kita
tidak pernah membeda-bedakan mereka agamanya apa, mereka
kelompoknya siapa pokoknya siapapun boleh masuk anggota
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, baik Kristen, islam
atau yang lain termasuk status pekerjaan juga tidak
dipermasalahkan.
: Selama ini Partai Demokrat belum bisa terlepas dari ketokohan
SBY. Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan hal tersebut?
: Kalau menurut saya kalau terlepas dari Pak SBY mau gimana
caranya tetap tidak bisa, mau gimana caranya gimana ya kalau
menurut saya ya tetap harus dari Pak SBY soalnya kan dari awal
biasanya kan Pak SBY. Soalnya apa orang yang sering main
kesini kayak yang mau daftar kayak kemarin itu ada mau jadi
kader itu bilangnya ya gini “Mas saya pingin jadi kader itu satu
saya itu tidak senang sama siapa-siapa saya itu sukanya sama
Pak SBY. Jadi saya itu pingin jadi kader Demokrat bukan dari
siapa-siapa tapi hati nurani saya sendiri terpancang ke Pak SBY”
ngomongya gitu. Jadi ya mau bagaimana lagi semuanya yang
masuk kesini yang daftar kesini yang ada nama-namanya juga
sama yang perempuan juga gitu sama apa itu jadi kayaknya itu
kalau sini kan pinginnya Pak Danang itu kan kalau ada orang
ibaratnya yang kesini kan kalau kita cari uang ujung-ujungnya
pasti kan uang, pasti uang kalau nyari “ la aku ki dikon ngene
mosok ora ono opo-opone” tapi orang datang sendiri itu kan dari
hati nurani sendiri, la saya ngomong Pak orang yang datang
kesini kok bilangnya kok sama Pak SBY itu maksudnya gimana
ya Pak kok gak langsung ke partainya langsung nyorotnya ke
Pak SBY gimana ya soalnya Mas Joko yang awalnya mendirikan
itu Pak SBY saya juga hati nurani saya itu otomatis terpancang
Pak SBY juga.
199
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Terkait dengan kaderisasi, Bagaimana pelaksanaan kaderisasi di
Kabupaten Semarang. Apa alasan Bapak tertarik pada Partai
Demokrat?
: Ya kalau saya itu untungnya satu menambah teman banyak
teman, dua ya menambah saudara. Kan otomatis kan gini kalau
jadi anggota kan ibaratnya kan apa itu bantu-bantu orang kalau
ada ibaratbnya untuk mengajukan proposal, kan sekarang kan
banyak contoh teman saya yang ada di Getasan itu malah Dia itu
mengajukan proposal untuk beasiswa, untuk bantuan jalan atau
apa aspirasi itu kan Dia dikasih uang juga tidak mau Dia
pinginnya gini dikasih berapapun dia tidak mau Dia pinginnya
kalau kasarane itu “saiki nandur sok ngunduh” jadi kalau suatu
saat ada pencalonan dia punya modal kan orangnya tinggal
diambil jadi coro kasarane nandur.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan mekanisme kaderisasi
Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Untuk kalau perekrutan tidak dari pelatihan. Kalau pelatihan
tidak ada Mas semuanya tidak ada jadi nantinya pada ikut jadi
ibaratnya kalau pas ada rapat-rapat apa ada pas kumpul-kumpul
ngobrol nanti bisa pas o ternyata dikader itu saya gini gini dan
gini, jadi tidak ada kursus untuk jadi sekretaris itu harusnya nanti
pelatihannya gimana tidak ada.
: Bagaimana proses regenerasi di Kabupaten Semarang? Apakah
setiap kader memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi
pengurus partai Demokrat di Kabupaten Semarang?
: Siapa yang mau punya niat iut boleh. Jadi kalau Saya diajak
teman. Kalau pelatihan gak ada. Nantinya kan pada ngikut
sendiri pas ada rapat-rapat pas kumpul-kumpul ngobrol itu nanti
Demokrat itu gini-gini jadi tida coro kasarane jadi sekretaris itu
pelatihannya gimana tidak ada.
: Tentang regenerasi apakah menurut Bapak semua kader memiliki
kesempatan yang sama untuk menjadi pengurus Partai
Demokrat?
: Kalau intinya di Demokrat Kabupaten Semarang ini kayaknya
umum jadi dak ibaratnya kan ada kalau pencalonan apa itu nanti
harus ada perorangan itu tidak. Jadi siapa yang intinya mau
punya niat atau apa itu boleh. Jadi kalau ini yang ketua ini
memang tidak ada pilihan lain habis dari Pak Bowo itu langsung
diangkat PLT langsung dari Pak Agus, tapi besok kalau
pencalonan Ketua DPC itu kan yan sama kayak pemilihan DPRD
kan pakai uang kalau tidak ada dananya tidak bisa, kalau
ditimbang-timbang waktu Pak Danang otomatis diangkat jadi
PLT besok ada Muscab itu siapa saja mau mencalonkan boleh,
jadi tidak dikhususkan untuk Pak Danang dak, jadi Pak Gunung
atau Pak Kholik bendahara atau siapa saja yang mau
mencalonkan itu boleh. Kalau syarat untuk menjadi Ketua DPC
atau Sekretaris harus menguasai semua PAC yang ada di
Kabupaten Semarang jadi tidak ada syarat lain entah ini itu tidak.
Jadi nanti kan ibaratnya ada yang mencalonkan ada 4 orang, 4
200
orang itu semua PAC semuanya itu pada mendukung siapa, ya
seperti pemilihan DPRD hampir sama. Ibaratnya ada Si A punya
uang banyak mampu menjadi Ketua DPC, tapi dari PAC-PAC
tidak suka ya tetap tidak bisa. Jadi ibaratnya yang mecalonkan
ibaratnya Si A ini orangnya ini sama uang ulet angel dinego,
otomatis tidak bisa dipilih, jadi yang milih itu dari kader-kader
dari PAC. Yang milih dari Ketua PAC, nanti dari kader-kader di
ranting. Jadi PAC mengumpulkan kader-kadernya dari ranting
dikumpulkan ini nanti ada pemilihan ini itu nanti semuanya
dikumpulkan untuk membahas pemilihan.
201
TRANSKIP WAWANCARA 3
Nama Narasumber : Hasyim
Pekerjaan/Jabatan : Pengurus PAC Partai Demokrat Ungaran Barat
Waktu Wawancara : 11 Mei 2016
Tempat
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
: Ungaran
: Sebagai pengurus PAC Kecamatan Ungaran Barat, bagaimana
pendapat Bapak terkait dengan pelaksanaan komunikasi Partai
Demokrat Kabupaten Semarang?
: Komunikasi perlu dilakukan untuk membangun sebuah kekuatan
politik di tubuh Partai Demokrat, khususnya di Kabupaten
Semarang, jajaran pengurus DPC perlu melaksanakan
komunikasi dengan baik. Komunikasi ini dilakukan untuk
memberikan pengarahan baik secara langsung maupun secara
tidak langsung. Pengarahan secara langsung biasanya
dilaksanakan pada saat rapat antara pengurus DPC dengan PAC
untuk membahas persoalan-persoalan serta mencari jalan solusi
untuk mengatasi persoalan tersebut. Namun, karena pada saat ini
Partai Demokrat sedang berbenah kepengurusan, maka
komunikasi mengalami berbagai kendala.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan keterbukaan Partai
Demokrat Kabupaten Semarang dalam hal pengelolaan keuangan
partai?
: Dana yang diterima baik dalam bentuk iuran maupun sumbangan
selalu dibuat laporan keuangan dan siapapun termasuk kader
dapat melihat hard coppynya. Laporan yang dibuat tidak hanya
dana yang keluar, tapi juga dana yang diperoleh, baik dari
anggota atau dari pemerintah daerah. Ini menjadi komitmen
Partai Demokrat Kabupaten Semarang untuk mendukung
transparansi publik khususnya dalam hal keuangan.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan sosialisasi program
kerja Partai Demokrat Kabupaten Semarang?
: Program kerja memang belum bisa disosialisasikan dengan baik
karena ada kendala yaitu adanya pergantian antar waktu
pengurus DPC. Tapi kepengurusan ini berusaha untuk mengikuti
apa yang menjadi anjuran pengurus pusat khususnya berkaitan
dengan pensuksesan program kerja yang disusun pengurus pusat
atau DPP. Salah satunya adalah mempersiapkan kader untuk
mengikuti agenda Institut Partai Demokrat.
: Terkait dengan keberagaman, apakah Partai Demokrat
Kabupaten Semarang terbuka bagi semua masyarakat tanpa
memandang ras, agama, golongan/kelompok?
202
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Partai Demokrat Kabupaten Semarang sangat terbuka untuk
semua warga negara. Jenengan bisa mengecek apakah Partai
Demokrat Kabupaten Semarang anggotanya hanya berdasarkan
agama saja atau kelompok saja tentu tidak. Jadi kalau untuk
masalah keberagaman tidak ada masalah.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan kesantunan Partai
Demokrat?
: Santun itu tidak sekedar hanya bicara, tapi juga hal-hal yang lain,
seperti hormat pada pimpinan, hormat pada lembaga, hormat
pada siapa saja termasuk perempuan. Semua ini harus dilakukan
Partai Demokrat untuk menjadi partai yang bersih, cerdas, dan
santun. Alhamdulillah saat ini kami Partai Demokrat Kabupaten
Semarang telah menjalankannya.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan perekrutan kader
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang?
: Setiap partai politik termasuk Partai Demokrat saat ini tidak
boleh main-main dalam merekrut kader. Kejadian sebelumnya
menjadi pengalaman berharga bagi kami dalam menerima kader
partai dengan baik. Kader partai sekarang harus bersih, jujur, dan
santun.
: Menurut pendapat Bapak, apakah selama ini sistem kaderisasi
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang sudah dilaksanakan
dengan baik?
: Di awal sudah saya sampaikan, kita Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang masih berbenah mempersiapkan Muscab,
sehingga beberapa fungsi kepengurusan belum bisa bekerja
secara optimal. Namun, kita selalu berusaha untuk melakukan
koordinasi yang baik dengan PAC untuk menyiapkan dan
merekrut kader terbaik yang bagian dari strategi memenangkan
pemilu berikutnya.
203
TRANSKIP WAWANCARA 4
Nama Narasumber : Adhi Sandi, S.E.
Pekerjaan/Jabatan : Direktur Eksekutif Partai Demokrat Kota Salatiga
Waktu Wawancara : 15 April 2016
Tempat
Peneliti
Narasumber
: Kantor DPC Partai Demokrat Kota Salatiga
: Partai politik di Era Reformasi dituntut untuk menuju
modernisasi. Apakah menurut Bapak Partai Demokrat Kota
Salatiga sudah modern?
: Kalau konteknya modern itu bisa juga di pola pikir modern,
sebenarnya kalau pola pikir Pak SBY itu pola pikirnya modern.
Namun dalam konteks organisasi kita masih dalam proses
menuju modern. Kalau Pak SBY itu modern, random menuju
modern sudah disiapkan. Kemarin Ketua Umum datang kita
tidak boleh menyambut besar-besaran, karena posisinya Ketua
Umum tidak ingin masyarakat itu menganggap bahwa SBY itu
sebagai sosok Bapak Negara, Beliau tidak mau, apalagi untuk
merugikan masyarakat. Jadi SBY datang itu beliau tidak mau
macet itu tidak mau. Jadi pola-pola pikir yang sederhana kayak
gitu itu yang kemarin memang tidak bisa diekspos oleh media.
Tapi karena kemarin kita berhadapan langsung dengan Ketua
Umum ya sederhana banget orangnya. Jadi kayak kemarin pas
waktu kita rapat bareng beliau mengatakan untuk teman-teman
yang dari Salatiga itu sudak ada calon atau tidak oh sudah Pak itu
gimana Si A dan Si B, dasarnya apa kok Si A dan Si B, jadi
simpel pertanyaannya. Kenapa kok kamu mengambil ini, o ini
Pak kita sudah pakai survei, oh ya ok kalau memang kayak gitu
lanjutkan dulu. Jadi tolong nanti ini surveinya ini apa, Beliau
ditulis Mas kalau bisa pakai survei yang kita kenal misalkan 10
lembaga survei yang ada di Indonesia. Jadi Beliau ini tidak
ngoyo Mas, lha terus ditanya kalau Si A ini kader gak, ya sudah
kalau kader support itu bagus satu, yang kedua Beliau tidak
memikirkan menang itu yang sangat kita salut, yang penting
kader kalau memang berkualitas promosikan. Kalau pun
misalkan ada orang lengser ada beberapa nuwunsewu ya kita
tidak sebutkan nama partai o ini surveinya menang Dia punya
duit dan sebagainya mereka akan tawar menawar kita tidak bisa,
tapi kalau ada usulan dari bawah kita pertimbangkan. Dari
pemikiran yang simpel kaya Pak SBY itu tdai kita malah senang
Mas, keterbukaan Pak SBY itu luar biasa.
204
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Terkait dengan keterbukaan, menurut Bapak bagaimana
keterbukaan Partai Demokrat di Kota Salatiga?
: Kalau di Kota Salatiga itu sudah terbuka Mas. Kalau ada yang
misalnya Ibunya yang menunjuk ini harus jadi, jadi Mas, kita
tidak, usulan dari bawah butten up jadi bukan top down lagi,
butten up, tapi nanti akan diverivikasi di tengah-tengah, kan kita
modelnya DPC, DPD, baru dikelola disini. Ini nanti DPD juga
tidak serta merta dia tidak mau ikut-ikutan di Salatiga tapi dia
akan juga melebarkan misalnya ada tokoh yang daftar walikota,
dia daftarnya di DPD Mas, baru sudah diverifikasi muncul
beberapa nama dikasihkan di DPP, kita tidak tutup-tutupan lah.
Jadi ada persiapan, penjaringan (pendaftaran) dan verifikasi
bukan wilayah kita kita tapi DPD. Itu yang dikatakan
keterbukaan seperti itu.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan keterbukaan Partai
Demokrat Kota Salatiga dalam mengelola keuangan partai?
: Kita nanti laporan ke Pemerintah, Pemerintah ada standarnya,
standarnya itu stempel basah. Itu yang dilaporkan ke Kesbangpol
dan ke KPU, jadi KPU itu bukan dari kita tapi dari Kesbangpol.
Jadi kita tidak mungkin langsung kecuali dana kampanye,
langsung ke KPU. Jadi kita buat dana kampanye, pos-pos apa
yang dikeluarkan itu semua stempel basah semua. Jadi kader
berhak tahu, kita undang mereka, pembuatannya mereka juga
ikut, jadi kita tidak sendiri kalau sendiri susah kalau misalkan
ada kesalahan kita yang disalahkan. Keterbukaan ini juga
termasuk salah satunya itu, jadi anggaran dan lain sebagainya
kita buka.
: Bagamana pendapat Bapak terkait dengan keterbukaan Partai
Demokrat Kota Salatiga dalam menghadapi kritik dari
anggota/kader partai?
: Kalau kita ada yang namanya konsolidasi dengan ranting.
Konsolidasi ranting itu setiap bulan sekali diadakan. Itu nanti
yang memimpin adalah PACnya karena untuk leadirshipnya.
Jadi untuk regenarisnya dari PAC itu akan ngomong di ranting,
baru nanti ketika ada hasil di situ dimusywarahkan di DPC. Jadi
ada heirarkinya, hirarkinya memang kayak gitu. Kita untuk
mempersiapkan
keanggotaan,
kita
mempersiapkan
keroganisasian, kita mempersiapkan leadhership dari PAC itu
gimana, ketika dia tidak punya leadhersip untuk memimpin
ranting juga susah, kita akan genjot itu. Ini sudah berjalan satu
bulan setiap satu bulan satu kali.
: Terkait dengan indikator Partai politik modern yang lain. Isu
media masa menyebutkan bahwa di Partai Demokrat Kota
Salatiga juga terjadi konflik terkait dengan kepengurusan partai.
bagaimana menurut pendapat Bapak kronologi terjadinya konflik
tersebut?
: Jadi konflik itu kita biasakan setiap satu pertemuan kayak gini
nanti kita akan bicarakan, jadi disini, jadi metodenya gini untuk
penyelesaian konflik yang ada di internal, itu muncul konflik,
205
Peneliti
Narasumber
terus disini nanti tanggal segini kita akan omongkan, ini sudah
rampung gak konfliknya, dimusyawarahkan satu bulan
berikutnya, sudah misalkan, kita sudah ketemu antara person dan
person, sudah, berarti kita buka kita hilangkan itu. Konflik
biasanya terjadi person dan person individu, terus kedua biasanya
tidak setuju dengan keputusan Ketua DPC. Tapi kalau masalah
instruksi dari DPP, tidak ada yang berani, karena kita memang
diajari samina watokna, bahwa sebenarnya instruksi DPP itu
sudah dipikir itu juga usulan dari bawah, walaupun nanti
munculnya berbeda biasanya caranya yang gak berbeda sama.
: Menurut isu di media massa, konflik internal terjadi karena ada
pemberhentian Ketua DPC. Bagaiman pendapat Bapak terkait
dengan hal tersebut?
: Jadi sebenarnya Mas Iwan itu tidak diberhentikan. Ini ada
mekanismenya mas, jadi belum diberhentikan, jadi pas waktu itu
Annas jadi Mas Iwan itu belum diberhentikan. Masih dinyatakan
bahwa Mas Iwan itu tidak loyal kepada partai, karena posisinya
adalah bukan masalah Annas dan Ibbas tidak bukan. Tapi Mas
Iwan itu ingin perubahan di Demokrat pada waktu itu suaranya
sudah diterima oleh Pak SBY sudah diberikan jawaban Pak SBY
tapi tidak diterima lagi. Dan dosa besarnya Mas Iwan adalah
ketika Dia mengatakan bahwa kita membentuk tim penyelamat
untuk Partai Demokrat, padahal sebenarnya itu paling tidak boleh
mas, satu karena posisinya sudah dikasih jawaban dengan SBY,
terus kedua Dia malah memblow up media seolah-olah bahwa
Dia adalah loyalis Annas, terus seolah-olah Dia itu diberhentikan
oleh partainya, Pak SBY sebenarnya sudah tidak mau. Terakhir
Kongres kemarin Mas, membentuk terus malah demo, padahal
Mas Iwan itu tidak punya hak suara dia boleh hak bicara boleh
tapi tidak punya hak suara karena sudah di PLT pada waktu itu
kan mau momen menjelek-jelekkan Demokrat, Pak SBY tidak
mau, “boleh kamu bersuara boleh kamu berpendapat tapi tidak
boleh menjelek-jelekan partaimu sendiri”. Pak SBY sudah
memberikan peluang Dia, tapi sudah tiga kali tahapan ya sudah
karena gini Mas pada pemilihan itu bahwa kamu harus maju ke
provinsi kamu harus dengan ini tandemnya, tapi ada beberapa hal
yang Dia tidak mau misalkan, itu yang jadi masalah sebenarnya.
Jadi instruksi partai Dia tidak mau menanggapi dengan baik. Mas
Iwan sekarang menjabat di DPD. Mas Iwan masih jadi kader
Demokrat, kalau masalah dikeluarkan atau tidak tidak ada mas,
dinaikkan menjadi DPD. Maksudnya gini Mas, sebenarnya Mas
Iwan itu dianggap bahwa Dia itu sudah levelnya bukan di
Salatiga Kota, Dia harus di provinsi gitu. Dia dimasukkan ke
dalam kepengurusan di DPD dan itu belum bisa dinyatakan
keluar karena apa, Musda belum ada Mas, walaupun misalkan
Dia mengundurkan diri itu beda, tapi untuk surat pemecatan,
surat pengeluaran itu tidak ada sama sekali. Itu yang berhak kan
bukan DPC, tapi yang punya hak itu pengusulan DPD ke DPP
nanti surat itu keluar. Tapi sampai sekarang pun tidak ada surat
206
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
pengeluaran Mas Iwan tidak ada. Media membesar-besarkan
karena posisi Mas Iwan itu tidak mau kalau saya di PLT, padahal
dosanya banyak banget, tapi kan kita tidak mungkin
mengeluarkan karena itu internal partai. Jadi kalau rahasia partai
kita akan, misalkan itu bersangkutan dengan person sendiri, kita
sebagai partai tidak boleh. Jadi kita tidak mungkin sebenarnya
kalau misalkan orang-orang DPP itu mau Dia tahu semua Mas,
tapi tidak pernah di media itu Dia ngomong tidak pernah.
Ngomong bahwa si A si B, si C, terus ada karena Dia seorang
politikus juga posisi bahwa momennya tepat ini lho saya loyalis
Annas situ ada juga, tapi kita tidak akan ngomong di media Mas,
karena posisi apa ini pun akan merusak kita. Kaya misalkan
Nazzaruddin, Nazzarudin sudah jelas Pak SBY ngomong kalau
kamu benar kamu orang hebat sudah lakukan.
Menurut Bapak bagaimana pendapat Bapak terkait dengan surat
pemberhentian dan surat PLT?
Itu surat PLT Mas bukan surat pemberhentian. Karena kalau
sudah ada SK pengeluaran kita akan diberi tahu, karena kita DPC
suatu saat Mas Iwan arahnya ke kita Mas bukan langsung ke
Jakarta tidak.
Menurut Bapak bagaimana solusi mengatasi konflik, terutama
terkait dengan konflik internal yang melibatkan Saudara Iwan
Prabowo?
Tingggal mas Iwannya, jadi subjeknya. Kita terbuka mas. Kayak
misalkan teman-teman kita yang pertama kali tahun 2009 keluar,
tapi keluarnya tidak keluar secara resmi hanya tidak aktif Dia
mau aktif lagi monggo silahkan yang penting KTAnya harus ada.
Sekarang KTAnya kan langsung pusat Mas kita tidak bisa di sini,
karena posisinya nanti kayak Doscapil, itu mungkin programnya
dari DPOKK, DPOKK itu pingin bahwa kader Demokrat sudah
tercatat misalnya ini keluar nanti ini akan keluar muncul berarti
ini keluar. Kalau dulu kan tidak sesistematis ini jadi sekarang
sudah modern banget Mas kita buka tahu ini rumah mana DPC
mana jabatan apa keluar.
Apakah konflik internal tersebut mengakibatkan munculnya
dualisme kepemimpinan Partai Demokrat di Kota Salatiga?
Tetap masih ada Mas, karena Dia seorang leader, leader itu tetap
ada loyalis terus ini siapa sih orang DPP, yang tahu Salatiga kan
orang kami itu tetap ada Mas. Tapi selama ini tetap enjoy-enjoy
saja mas tidak ada masalah. Tapi Ketua DPC kita juga bagus
Mas. Ya keterbukaan kalau ini dapat banpol segini silahkan mau
diapakan dibagi Mas. Terus mengundang orang-orang loyalis
Mas Iwan juga diberi posisi silahkan. Itu memang kami rasakan
kedewasaan di Partai Demokrat itu luar biasa.
207
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Indikator Partai modern yang lain adalah kaderisasi. Proses
kaderisasi membutuhkan waktu. Bagaimana proses kaderisasi di
Kota Salatiga?
: Kita menunggu DPP kalau masalah pelatihan partai Mas, ini
sudah mulai. Ini kader-kader yang pilihan kader-kader plus itu
sudah instititut kemarin. Itu 260 orang. Nanti bergilir Mas DPD
habis DPD baru DPC itu semua DPOKK itu sudah dirancang
dengan baik. Karena posisinya ketika DPP sudah tahu bahwa
Institut Partai Demokrat, jadi tahu Dia Aku sebagai apa dan Aku
harus bagaimana, nah itu yang diterapkan di Demokrat kayak
gitu. Nah kebanyakan teman-teman dari partai lain mencibir
karena kita pertama kali mengadakan Institut Partai Demokrat.
Jadi nanti temanya macam-macam, masalah politik nasional itu
hanya sebagai rangsangan saja, ketika sudah terangsang kayak
gitu mereka kreativitasnya akan dimunculkan.
: Berkaitan dengan rekritumen calon kader, bagaimana Menurut
Bapak mekanisme perekrutan kader Partai Demokrat di Kota
Salatiga?
: Ada Mas kita melakukan beberapa tahap. Jadi ada nuwunsewu
dari saya di sini selama 1 tahun banyak orang datang warga biasa
datang ke sini, kayak kemarin Mas, kemarin itu ini masih muda
mahasiswa Dia datang kesini mau daftar untuk minta KTA
jenengan warga mana dulu “oh saya Kabupaten Semarang Mas”,
nanti kita akan arahkan ke Kabupaten Semarang, tapi jenegan
tetap ke sini dulu, nanti kita bantu di Kabupaten Semarang. Ada
juga mekanisme dengan cara model kaya kita Walikota ini kan
kader kita, kita nanti akan membuat rancangan untuk dialog
dengan masyarakat bahwa Dia sebagai Walikota ini specnya,
siapapun mau menghujat aja tidak masalah yang penting di sini
ada aturannya. Maksudnya kalau menghujat dengan cara yang
santun. Banyak yang datang ke kita jadi dengan berbagai cara.
Yang ketiga itu kader-kader yang sudah loyal kita akan mengajak
sekeliling mereka.
: Apa yang membuat kebanyakan kader, khususnya di Partai
Demokrtat Kota Salatiga tertarik masuk Partai Demokrat?
: Kalau saya lihat personalnya Mas, SBY Mas. Saya punya
bukunya SBY jadi kita lihat di situ kita baca kita terus kita ambil
sumber-sumber yang lain, ternyata ada beberapa hal yang
mungkin masyarakat umum tidak akan melihat itu, SBY itu
punya kebiasaan satu yang saya suka setiap habis acara Mas, itu
yang ditulis bukan dari SBY sendiri, jadi dari Sarif Hasan, Roy
Suryo, jadi kebiasaan Beliau ketika sebuah acara itu sudah
rampung Mas tidak akan bubar langsung, Dia akan kumpulkan
dulu Mas, masalahnya ada apa, ini apa, berhasil atau tidak. Sosok
SBY luar biasa. Itu bisa berjalan 10 menit bisa berjalan 1 jam,
padahal sempat yang seperti Roy Suryo “Saya itu sudah
ngantuk” Pak SBY tidak boleh “Kamu itu mikir rakyat ngapain
kamu ngantuk, ngantuknya ditahan dulu”.
208
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Dari persoalan tersebut, apakah menurut Bapak Partai Demokrat
dapat keluar dari ketergantungan pada ketokohan SBY?
: Kalau sekarang belum bisa, belum bisa dikatakan modern.
Sebanarnya sudah hampir Modern mas, karena posisi kemarin itu
ada konflik itu, karena nuwunsewu ini kalau penglihatan saya
dari kacamata Demokrat kita akan di obok-obok kemarin,
sebenarnya kita sudah mempunyai tokoh-tokoh seperti Kyai
Bajang Gubernur NTT itu dari kader Partai Demokrat, Roy
Suryo kita siapkan, itu sebenarnya sudah, tapi karena kemarin
ada beberapa konflik, sebetulnya kita sudah menyiapkan banyak
kader, tapi karena posisinya pada level yang hampir sama tidak
terlalu menonjol, diputuskan bahwa ini untuk mengkanter
diobok-obok maka Pak SBY yang dimunculkan, sebenarnya
arahnya akan dilepas, mungkin tahun 2019 sudah dimunculkan
kembali.
: Berkaitan dengan proses regenerasi, menurut Bapak bagamana
proses regenarasi Partai Demokrat di Kota Salatiga, termasuk
keterlibatan perempuan dalam kepengurusan DPC?
: Kita memenuhi 30 % keterwakilan perempuan, bahkan kita 40
%, malah banyak wanitanya. Karena posisinya kita juga
menyadari bahwa wanita itu ada keterbatasan. Keterbatasannya
apa sih, ketika beliau-beliau itu punya suami, maka kita tidak
bisa menuntut all out itu tidak bisa.
: Menurut pendapat Bapak siapa yang bertanggungjawab
melakukan proses regenerasi?
: Ketua DPC itu kalau kita Mas harus punya pengalaman
organisasi, tidak perlu kaya, tidak perlu orang pintar, yang
penting pengalaman, salah satunya kayak Pak Lubis ini
pengalamannya luar biasa Mas. Jadi initinya di organisasi itu kan
kita tidak cari orang pintar walaupun pintar itu dibutuhkan tapi
kita tidak cari orang pintar tapi kita cari teman-teman yang
memang loyal dan ingin mengabdi. Kalau untuk masalah
pendididikan kayak fraksi saja ketua fraksi kita belum S1 tapi dia
punya jiwa loyalitas, terus dia punya rasa ingin belajar. Sekarang
kuliah itu dari situ dilihat bahwa Demokrat itu terbuka sekali.
: Menurut Bapak siapa yang kemudian menentukan kader untuk
menjabat pengurus DPC Partai Demokrat Kota Salatiga?
: Jadi gini Mas kalau di tingkat nasional ada Kongres, Munas,
terus di DPD ada Musda baru Muscab, baru Musrancab. Jadi
nanti yang mengelola ini. Jadi nanti ada usulan-usulan temanteman yg lama bahwa ini kita harus tambal sulam atau kita
mungkin perlu tambah pengurus, ini mau nanti kita akan
ngomong kamu mau tidak. Malah yang menentukan adal PAC.
Misalkan memilih ketua DPC yang ada di Salatiga itu kan
suaranya 7 Mas karena kecamatannya 4, setiap PAC itu suara 1,
dari DPP 1 dari DPD 1 dari ketua DPC 1 tujuh Mas kalau pusat
ini menginginkan misalanya Mas Santo atau jenengan, tapi
bawah menginginkan yang lain tidak menang Mas. Jadi kalau
Demokrat itu, tapi ada tapinya Mas teman-teman yang di bawah
209
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
itu mesti idolanya SBY semua, nah itu yang jadi masalah. Ketika
SBY ngomong Si A yang jadi ketua sudah semua ikut, Jadi siap
SBY minta A ya sudah SBY saja.
Bagaimana pendapat Bapak jika terdapat anggota/kader yang
berlawanan dengan SBY?
Banyak kayak di sini muncul tokoh-tokoh yang tidak sesuai
dengan DPP banyak. Tapi bagusnya SBY tidak mau nunjuk ini
siapa karena proses partai itu yang Dia pentingkan. Pernah
sempat ada yang mengusulkan menunggu Pak SBYapa malah
Beliau marah “ini partai biarkan dari bawah”
Menurut Bapak apakah ada pandangan lain terkait keempat
indikator partai politik modern yang disebutkan sebelumnya?
Yang paling sangat mungkin Partai Demokrat itu punya idelais
sendiri. Jadi dia tidak akan membentuk A untuk menyerang Si B
tidak akan. Dia akan menjadi penengah. Jadi kita memang punya
ideologi sendiri, kita bermain santun, bermain cerdas tidak ikut A
ikut B, kita kan tidak ikut KMP maupun KIH tapi jadi
penyeimbang.
210
TRANSKIP WAWANCARA 5
Nama Narasumber : Sri Rohani
Pekerjaan/Jabatan : Kader Partai Demokrat Kota Salatiga
Waktu Wawancara : 21 Juni 2016
Tempat
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Salatiga
: Sebagai kader, bagaimana pendapat Ibu keterbukaan Partai
Demokrat Kota Salatiga?
: Partai manapun termasuk Partai Demokrat di era demokrasi saat
ini sangat dituntut untuk serba terbuka, oleh karena itu Partai
Demokrat di Kota Salatiga dalam menjalankan programprogramnya selalu terbuka memberikan informasi kepada siapa
saja, yang penting yang sifatnya bukan kerahasiaan partai, karena
Partai Demokrat juga memiliki hak untuk menjaga kerahasiaan
partai.
: Bagaimana pendapat Ibu terkait dengan keterbukaan Partai
Demokrat Kota Salatiga? Apakah Partai Demokrat terbuka dalam
mengelola keuangan partai?
: Partai Demokrat Kota Salatiga memiliki komitmen
mempertanggungjawabkan dana partai kepada publik dan
pemerintah. Kita di sini mendukung terwujudnya pemerintahan
yang baik, jadi ya keuangan partai juga harus dilaporkan dengan
baik. Kita selalu tepat waktu dalam menyampaikan laporan
kepada pemerintah setelah pemerintah melalui BPK juga
melakukan audit terhadap laporan yang kita buat.
: Bagaimana pendapat Ibu terkait dengan keterbukaan komunikasi,
khususnya kaitannya dengan sosialisasi program kerja?
: Kita sering mengadakan temu kader untuk silaturahmi sekaligus
menyamakan presepsi kita dalam banyak hal. Seperti kemarin
setelah SBY datang ke Salatiga, DPC melakukan pertemuan
dengan kader terkait dengan hasil rekomendasi SBYTourdJava.
Pertemuan ini sangat bermanfaat bagi kami karena melalui
pertemuan ini kita jadi sama dalam mempersiapkan dan
menjalankan program kerja yang akan datang.
: Terkait dengan keberagaman, apakah Partai Demokrat Kota
Salatiga termasuk partai yang terbuka terhadap siapa saja yang
ingin bergabung?
: Selama saya bergabung dengan Partai Demokrat Kota Salatiga,
saya melihat untuk masalah keberagaman Partai Demokrat
Salatiga sangat terbuka. Kita dari kaum perempuan juga tidak
merasakan diskriminasi apapun, kita enjoy karena partai ini tidak
hanya terdiri dari satu agama tapi beragam dan tidak membedabedakan satu sama lain.
211
TRANSKIP WAWANCARA 6
Nama Narasumber : Yophi Prabowo, A.Md.
Pekerjaan/Jabatan : PLT Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Waktu Wawancara : 14 April 2016
Tempat
: Kantor DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo
Peneliti
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan keterbukaan Partai
Demokrat di Kabupaten Purworejo?
: Tentunya Kita dari Partai Demokrat memang mengarah ke sana
keterbukaan. Kita melaksanakan rekruitmen kader kita akan
membentuk kaderisasi, kita akan transparansi juga di dalam
pengelolaan anggran keuangan partai karena kita juga berpikiran
bahwa partai sekarang mulai mengarah ke partai modernisasi.
Dalam artian di dalam proses rekruitmen kader-kadernya juga
harus transparan, terus untuk pengelolaan itu khan harus
dimaksimalkan keuangannya, karena kalau saya amati di semua
partai itu munculnya permasalahan itu biasanya berawal dari
sistem pengelolaan keuangan, saya juga sering menyampaikan ke
rekan-rekan bahwa masalah keuangan, masalah anggaran
memang saya harus memberikan contoh supaya pengelolaan
keuangan transparan, saya selaku ketua pun tidak pernah
memegang jadi semua keuangan saya suruh mengelola
bendaharanya. Mas semua keuangan saya serahkan ke
Bendahara, tapi semua pengeluaran selaku ketua saya harus tahu
karena saya yang mempertanggungjawabkan. Dan setiap kali kita
mengadakan pertemuan pasti kita sampaikan masalah
keuanganannya dan kadang-kadang percaya dan mereka tentunya
akan semangat kalau dalam mengelola keuangan dilakukan
transparan.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan mekanisme pelaporan
keuangan partai?
: Jadi kalau yang terkait dengan pengeluaran bantuan keuangan
dari pemerintah kita akan sampaikan ke pemerintah dan kesbang,
dan untuk masalah dana kampanye kita laporannya di KPU. Tapi
sebelum mengarah ke sana biasanya kita akan rapat internal
terlebih dahulu kita sampaikan supaya satu bahasa juga dan kita
sampaikan kepada pengurus dan kader kalau pengeluaran kita
juga sama-sama mengawasi.
: Bagaimana Pendapat Bapak terkait dengan isu di media yang
menyatakan bahwa Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo
mengalami konflik internal yang mengakibatkan adanya
pergantian pucuk kepemimpinan DPC melalui mekanisme PLT?
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
212
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Jadi terkait dengan permasalahan PLT ya ketu DPC di PLT
(Muhmmad Abdullah) itu di PLT karena memang dinaikkan di
pengurus Provinsi DPD. Karena mas Abdullah ditarik menjadi
pengurus DPC sebagai wakil ketua DPD. Terus yang di daerah
sini saya selaku ketua PAC menggantikan beliau PLT, dan
sampai sekarang status saya juga masih PLT. Sementara kita
menunggu Musda dulu mas, aturan Demokrat khan dari atas
Kongres, Musda, baru Muscab. Pemecatan tidak ada. Mas
Abdullah ya sekarang pengurus di Provinsi dinaikkan. Dan
loyalis Annas sebetulnya di Purworejo tidak ada ya hampir
semua kader saya pun juga dekat dengan mas Annas. Jadi dulu
Mas Abdullah itu berkeinginan untuk maju menjadi caleg
Provinsi, DPRD Provinsi terus kebetulan juga ada formasi juga
di pengurusan Provinsi, beliau juga berminat naik ke situ,
akhirnya dari pusat kemudian dinaikkan jadi pengurus provisnsi
Wakil Ketua 1. Untuk konflik tidak ada, karena untuk serah
terima kita juga dalam keadaan baik-baik.
: Jika terjadi konflik, langkah apa yang Bapak lakukan sebagai
PLT Ketua DPC Kabupaten Purworejo? Bagaimana
mekanismenya?
: Jadi kita tetap mengoptimalkan untuk apa ya menempuh
musyawarah jadi kita akan meminimalisir perpecahan di internal
partai. Karena kan dengan adanya perpecahan nanti berdampak
kepada masyarakat kita, masyarakat kita kan selalu kritis. Jadi
kadang-kadang ada pemberitaan yang simapang siur begitu,
kader-kader di bawah kadang bingung tidak ada masalah apa-apa
kemudian dimunculkan dihembuskan dari media kesannya kita
ada konflik permusuhan. Jadi beberapa event kita juga bekerja
sama dengan beliau tidak ada permasalahan. Malah ini saya
sampaikan juga dulu waktu 2014 pernah ada isu pada tahun 2014
Mas Abdullah dipecat, padahal Mas Abdullah masih Ketua DPC
itu pemberitaan di Semarang. Padahal tidak ada pemecatan. 2015
dulu serah terima saya dengan beliau, kalau 2014 tidak ada
pemecatan.
: Apabila terjadi konflik internal, menurut Bapak apa yang
menjadi penyebabnya? Apakah kader melanggar kode etik Partai
Demokrat atau permasalahan lain?
: Jadi sekarang kader Partai Demokrat kan harus membuat Pakta
Integritas di situ ada aturannya bilamana kader keluar dari
rohnya AD/ART memang kena saksi pemecatan seperti misalkan
kader terlibat kasus korupsi itu kalau sudah TSK saja tersangka
harus keluar dari Demokrat. Ada kesepakatan dan kesepakatan
itu juga ditandatangani oleh masing-masing kader itu
konsekuensinya.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait loyalitas kader?
: Jadi jika ada kader kita yang keluar dari partai lain ini kan ada
tahapannya juga mas surat peringatan dulu pertama dan mereka
pasti akan dilakukan pembinaan dulu, tapi selama beliaunya
tidak bisa dibina ya otomatis sanksi pemecatan akan datang.
213
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Siapa
yang
mempunyai
wewenang
melakukan
pemecatan/pemberhentian?
: Jadi tahapannya itu tingkatan di atasnya. Misalkan Ketua PAC
pengurus di setiap kecamatan jadi yang berhak memberikan
sanksi dari DPD. Jadi DPC Cuma mengusulkan atas terjadinya
pelanggaran dan nanti yang memberikan sanksi dari DPD, dan
jika pelanggaran DPC yang memberikan saksi dari DPP pusat.
: Jika terjadi perbedaan pendapat, menurut Bapak apa yang
dilakukan Partai Demokrat Kabupaten Purworejo?
: Kita selalu menyampaikan ke kader mas jika ada perbedaan
silahkan berdebat di forum, keluar dari forum jangan ada
perbedaan lagi.
: Berkaitan dengan proses regenarisi. Bagaimana sistem regenerasi
Partai Demokrat Kabupaten Purworejo?
: Jadi kalau sekarang saya kan masih menjadi Ketua DPC PLT
belum melakukan proses jadi nunggu dari proses musda dulu
setelah musda akan dilaksanakan Muscab terus kita juga selalu
berpedoman pada AD/ART di situ kana da klosul-klosulnya
tentang rekruitmen kader, siapapun bisa. Jadi kita selalu apa
selalu punya pikiran bahwa tokoh-tokoh masyarakat yang
potensial itu yang memperoleh peluang untuk masuk partai.
Karena memang tidak memungkiri bahwa partai bisa besar itu
kan karena kader-kadernya yang ada di dalamnya itu kader
terbaik minimal jadi teladhan di di masyarakat mas.
: Siapa pihak yang menentukan deterima atau tidaknya kader
menjadi pengurus Partai Demokrat?
: Jadi dari forum rapat devisi. Jadi kita kalau mengadakan rapat
devisi kita melibatkan ketua-ketua fraksi otomatis Ketua PAC
yang ada di wilayahnya kan kita selalu mintakan saran, misalnya
ada tokoh masyarakat di Kecamatan A, pengurus yang ada di situ
selalu kita mintai informasi apakah beliau si A punya terk bagus,
apa misalkan rutinitas kegiatannya sehari-hari selalu kita
mintakan informasi kita mintakan pendapatnya supaya nanti di
dalam kita memutuskan beliau menjadi pengurus partai tidak
terjadi permasalahan.
: Berkaitan dengan kaderisasi, menurut Bapak bagaimana proses
kaderisasi Partai Demokrat Kabupaten Purworejo?
: Prosenya yang pertama melakukan seleksi tadi yang
dimusywarahkan partai, terus nanti pengurus-pengurus partai
yang punya potensial bagus itu pasti akan dilakukan apa
semacam bimbingan seperti bintek terus penataran. Kemarin kita
juga mengadakan penataran juga. Penataran (bintek) dilakukan
langsung du DPP. Jadi DPP punya target itu akan menatar 5000
kader terbaik ya kemarin sudah dilakukan sekitar 2500. Melalui
bintek dapat sertifikat kebetulan kemarin saya juga ikut pelatihan
di sana jadi kemarin Jawa Tengah kana da 4 orang yang dikirim
di Kabupaten Bogor. Saya ada dua anggota DPRD Provinsi Bu
Teti sama Pak Bambang terus satunya lagi Ketua DPC dari Tegal
214
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
yang mengikuti penataran di sana. Itu pun di sana dipakai skor
juga mas dalam artian penataran itu ada ujiannya dari Pak SBY
ya itu kemarin ada yang lulus ada yang belum lulus, yang belum
lulus ada 11 orang. Yang belum lulus disuruh mengulang lagi ya
suruh ujian lagi.
Apakah proses pengkaderan kader/anggota (bukan pengurus)
Partai Demokrat Kabupaten Purworejo juga melalui bintek
tersebut?
Yang diutamakan nanti ketua-ketua mas. Jadi Ketua PAC, terus
Ketua DPC, terus naik ke jenjang lagi DPD. Nanti yang kaderkader terbaik yang mengikuti bintek ini yang nanti mereka yang
akan membimbing teman-temannya. Nanti PAC bombing
tingkat-tingkat ranting, saya nanti tugasnya membimbing di
tingkat PAC.
Dengan melihat kondisi Partai Demokrat saat ini, apakah
menurut pendapat Bapak Partai Demokrat sudah dapat
diakatakan partai politik modern di Indonesia?
Kalau menurut saya masih dalam proses Cuma kita kan belum
ful di situ ya, masih proses tahapan ke arah sana.
Menurut Bapak apa yang menghambat modernisasi Partai
Demokrat?
Yang pertama yang saya lihat bahwa SDM. Kadang pola-pola
yang jadi pemikiran masyarakat orang masuk partai itu mencari
uang, padahal di partai itu sebetulnya tujuannya kadang mereka
yang dari awal nawaitunya mencari uang, mereka setelah masuk
partai mereka kaget kondisinya partai seperti itu.
Saat ini Ketua Umum Partai Demokrat kembali dipegang SBY.
Bagaimana pendapat Bapak terkait hal tersebut? Apakah Partai
Demokrat saat ini sulit keluar dari ketokohan SBY?
Kemarin memang sering disampaikan Pak SBY banyak faksifaksi di situ mas setelah itu dari masing-masing kader seluruh
Indonesia menginginkan supaya Pak SBY tampil lagi untuk
memimpin Demokrat supaya sebagai tokoh pemersatu. Sekarang
setelah Pak SBY terpilih Pak SBY kan mulai menata terus
melanjutkan militansi partai dalam artian mecari sosok baru. Ini
mulai tahapan.
215
TRANSKIP WAWANCARA 7
Nama Narasumber : Muhammad Abdullah, S.H.
Pekerjaan/Jabatan : Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten
Purworejo
Waktu Wawancara : 5 Mei 2016
Tempat
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Rumah kediaman Muhammad Abdullah di Purworejo
: Menurut Bapak bagaimana keterbukaan Partai Demokrat
misalnya terkait dengan keterbukaan, misalnya terkait dengan
kondisi laporan keuangan, kritik dan lain sebagainya?
: Secara umum sebetulnya kalau soal keuangan itu tidak bisa lagi
misalkan ditutup-tutupi partai mana pun saya kira tidak bisa
karena, sumber utama partai politik itu kan hanya dua
sebetulnya, yang pertama adalah iuran kader, iuran kader itu
sekarang tidak mungkin ada kader partai politik mana pun saya
kira yang mau berkonstribusi iuran untuk partainya di luar
anggota yang kebetulan menjadi anggota dewan, nah sementara
iuran atau konstribusi dari anggota yang menjadi anggota dewan
jumlahnya kan bisa dilihat berapa rupiah yang diberikan ke partai
karena dipotong langsung pada saat Dia terima gaji disaat jadi
anggota, tinggal mengalikan berapa kader yang menjadi anggota
dewan dikalikan sekian kan ketemu itu yang pertama. Yang
kedua bantuan parpol dari pemerintah yang besarannya
disesuaikan dengan jumlah suara yang diperoleh dikalikan
berapa rupiah, kemudian pasti masing-masing pemerintah daerah
ketika memberikan bantuan parpol itu terpablish juga di media,
sehingga dari situ tidak bisa ditutup-tutupi karena berbeda
posisinya ketika parpol di tingkat daerah dengan tingkat pusat, di
tingkat daerah itu relatif lahannya itu sempit kemudian tidak ada
lahan-lahan yang subur dalam tanda petik sehingga tidak
mungkin ada investor-investor politik seperti di tingkat pusat itu
tidak ada.
: Dari penjelasan Bapak, menurut Bapak apakah Partai Demokrat
di Purworejo sudah modern?
: Saya tidak akan mengatakan apakah sudah modern atau belum
karena indikatornya kan tadi kan ada empat. Ini baru bicara dari
sisi transparansi. Saya hanya mengatakan tidak mungkin parpol
itu bisa menutup-nutupi sumber keuangan, karena jelas artinya
yang pertama iuaran kader itu tinggal berapa sih satu orang
anggota dewan itu memberikan konstribusi ke partai tinggal Dia
mengalikan berapa, yang kedua yang dari pemerintah daerah
216
dana hibah bantuan parpol itu sebenarnya jumlahnya juga sudah
terpablish.
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Menurut Bapak apa sumber dana yang dimiliki Partai Demokrat?
: Dua, satu adalah iuran kader itu adalah dari kader yang
menjabatsebagai anggota dewan. Tidak ada sekarang orang kader
partai manapun suruh kerja tidak diberi saku tidak berangkat.
Yang kedua adalah bantuan pemerintah itu dalam bentuk hibah.
: Menurut Bapak Bagaimana mekanisme pelaporan dana partai?
: Kalau yang bantuan dari pemerintah setiap tahun mesti sama
artinya membuat surat pertanggungjawaban SPJ kepada
pemerintah daerah selaku pemberi uang yang kemudian yang
disampaikan ke BPK, kemudian BPK akan melakukan audit
yang hasilnya setiap tahun bisa dipablish. Karena kalau tidak
melaporkan tahun berikutnya tidak dapat bantuan.
: Terkait dengan kritik, bagaimana menurut Bapak jika terjadi
perbedaan di tubuh partai? Apa mekanisme-mekanisme yang
dilakukan jika terjadi perbedaan?
: Kalau bicara Partai Demokrat di tataran lokal mungkin saya akan
menyatakan sangat-sangat demokratis. Kenapa saya nyatakan
demokratis karena pertama seluruh kebijakan partai yang dalam
jangka pendek maupun jangka panjang mesti didiskusikan
terlebih dahulu secara bersama-bersama baik itu di tataran
pengurus tingkat kabupaten kemudian juga melibatkan pengurus
di tingkat kecamatan, lalu kemudian disosialisasikan sampai
pengurus-pengurus di tingkat pusat. Berbicara soal kritik dan lain
sebagainya di forum-forum rapat seperti itu diberikan kebebasan
untuk memberikan kebebasan yang berbeda pandangan dengan
segala macam argumentasi-argumentasinya kita debat di situ tapi
memang saya sampaikan kalau keluar kita harus sama tapi kalau
bertarung di dalam kami persilahkan tidak ada persoalan, tapi
kalau berkaitan misalkan bagaimana dengan kondisi di DPP itu
mungkin akan berbeda lagi ya dalam hal ini yang sampean
tanyakan kan soal bagaimana di kabupaten, boleh ditanya artinya
semua kita berikan tidak ada persoalan. Selama saya delapan
tahun jadi Ketua Partai Demokrat di Purworejo ketika posisi saya
menjabat itu kondisinya solid, artinya tidak ada kemudian
perpecahan-perpecahan atau gesekan-gesekan yang sampai
menimbulkan konflik itu tidak ada. Perbedaan pandangan bisa
kita selesaikan dengan duduk bersama-sama.
: Terkait dengan konflik yang tadi Bapak disampaiakan, Bapak
pernah menjabat sebagai Ketua DPC dan pada saat ini
diberhentikan. Apa alasan pemberhentian Bapak sebagai Ketua
DPC Kabupaten Purworejo?
: Itu justru ketika di tataran tingkat kabupaten itu sebetulnya partai
solid enjoy tidak ada persoalan apa-apa yang membuat persoalan
itu justru dari level di atasnya. Level di atasnya dalam hal ini
DPD dan juga DPP. Saya itu menjadi Ketua Partai Demokrat
melalui pemilihan tahun 2006 melalui Muscab secara demokratis
217
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
Narasumber
:
:
kemudian menjalankan roda partai dan alhamdulillah ketika saya
menjabat itu baik struktur maupun infra struktur partai itu dalam
kondisi tidak karuan dapat tertata dengan baik, kemudian pemilu
2009 itu hasilnya juga baik, kemudian menjelang pilkada 2010
ketika saat itu Demokrat menjadi partai yang sedemikian seksi
katakanlah saat itu semua tokoh-tokoh potensial yang ingin maju
di pilkada yang semua merapat di Partai Demokrat, maka tibatiba muncul dua surat yang menurut saya surat itu lucu. Kenapa
saya katakan lucu karena satu tanpa melalui prosedur, kemudian
yang kedua tanpa ada lampu artinya tanpa ada tanpa ada
pemberitahuan dan lain sebagainya. Surat yang pertama yang
pertama adalah ketika terbitnya rekomendasi terhadap salah satu
bakal calon bupati yang ketika kita sedang melakukan proses
penjaringan tiba-tiba sudah muncul rekomendasi atas nama
seseorang yang itu prosesnya kita tidak tahu menahu. Kemudian
setelah muncul proses rekomendasi ini anehnya lagi yang diberi
rekomendasi ini memang juga mendaftar di Partai Demokrat tapi
karena dipaksakan untuk berpasangan dengan seseorang ini tidak
mau ini menolak rekomendasi ini karena Dia tidak mau dipaksa
berpasangan dengan yang dimaksud karena ini adalah masih ada
ikatan keluarga katakanlah dengan petinggi Partai Demokrat.
Jadi Dia memberikan rekomendasi kepada pada saat itu adalah
bupati inkamben untuk berpasangan dengan saudaranya petinggi
Partai Demokrat tersebut, tapi karena Sang Bupati tahu persis
bahwa kapasitas, bagaimana akuntabilitas, bagaimana integritas,
kualitas si calon yang mau dipasangkan yang masih saudaranya
dari orang DPP Demokrat ini, maka dia tidak mau.
Menurut Bapak apakah pada saat itu awal munculnya konflik
internal karena adanya perbedaan pandangan?
Menurut saya bukan merupakan sebuah perbedaan pandangan,
tapi karena arogansi, yang direkomendasikan itu kan juga salah
satu nama yang mendaftar di Partai Demokrat, tapi proses di sini
kan belum selesai tiba-tiba sudah muncul rekomendasi tanpa ada
komunikasi, tanpa ada koordinasi dan lain sebagainya. Kemudian
munculnya rekomendasi itu diiringi juga dengan surat PLT jadi
tiba-tiba saya juga dinonaktifkan diberhentikan dari jabatan saya
sebagai Ketua DPC. Kemudian singkat cerita rekomendasi ini
karena tadi yang Bupati Inkamben tidak mau dipaksakan
berpasangan dengan saudaranya itu lalu ditarik kembali tiba-tiba
muncul lagi rekomendasi baru sudah berpasangan orang lain
tetap dengan saudaranya itu. Penjaringan yang awal tidak
berlaku. Kemudian sampai proses pilkada akhirnya tidak terpilih,
kalah.
Menurut Bapak apa yang dimaksud tanpa prosedur tersebut?
Begini yang namanya prosedur begini bahwa Ketua DPC bisa,
bisa diganti atau di PLT itu kan karena beberapa hal yang
pertama meninggal dunia, saya kan masih hidup, yang kedua
mengundurkan diri, saya kan tidak mengundurkan diri, yang
ketiga adalah diberhentikan. Diberhentikan itu kan banyak hal
218
Peneliti
Narasumber
karena dia tentu intinya adalah ketika diberhentikan itu dianggap
ada kesalahan, apakah ada persoalan hukum yang membelit
bersangkutan, atau dianggap yang bersangkutan itu melanggar
AD/ART partai atau peraturan organisasi. Yang pertama kalau
saya dianggap misalkan terlibat masalah hukum saya tidak ada
tidak terlibat apa-apa, yang kedua kalau saya dianggap
melanggar peraturan-peraturan organisasi maupun AD/ART,
yang saya langgar yang mana. Karena kalau misalnya saya itu
posisinya adalah melakukan pelanggaran pasti yang pertama kan
ada teguran, bisa lisan atau tertulis, yang kedua kalau ada teguran
masih kan masih ada kan masih ada lagi surat peringatan, surat
peringatan 1,2,3. Ketika surat peringatan ketiga masih tetap lagi
kan bisa saya diadili di Mahkamah Partai, ini kan teguran gak
ada surat peringatan apalagi tiba-tiba surat ini kan nylonong saja.
: Terkait dengan isu media yang menyebutkan bahwa beberapa
DPC yang diberhentikan terkait dengan loyalis Anas
Urbaningrum. Bagaimana menurut pendapat Bapak?
: Jadi begini khusus tentang saya itu akan berbeda dengan
sebagian teman-teman saya. Kenapa karena saya diberhentikan
dua kali. Yang tahun 2010 itu ketuanya belum Anas. Jadi tahun
2010 itu saya diberhentikan bulan Maret kemudian bulan
September 2010 saya diaktifkan kembali. Jadi saya diberhentikan
tapi diaktifkan lagi, artinya kan secara tidak langsung DPP
mengakui kan kalau dia keliru, walaupun tidak spisifik Dia
menyebut ada mekanisme yang salah paling tidak dia mengakui
bahwa keputusan terdahulunya itu salah, maka kemudian saya
diaktifkan lagi. Ini kembali kemarin menjelang pilkada saya
dinonaktofkan lagi prosesnya sama tidak ada, tidak melalui
prosedur yang kita sepakati bersama-sama yang tertuang dalam
AD/ART maupun peraturan organisasi, bahkan yang lebih lucu
lagi orang yang ditunjuk menggantikan saya posisinya sebagai
PLT itu dulu yang dipaksa maju wakil bupati tapi kalah itu,
artinya masih saudaranya. Bahkan tidak memenuhi syarat
dimana syaratnya bahwa pelaksana tugas atau PLT itu yang
boleh menjabat adalah orang yang minimal berada satu tingkatan
di atasnya. Padahal untuk menjadi DPC minimal pengurus DPD
Provinsi minimal. Maka saya itu dinonaktfkan dua kali tahun
2010 dan 2014 kemarin menjelang pilkada. Jadi setiap menjelang
pilkada selalu saya diberhentikan tanpa melalui proses. Khusus
tahun 2014, saya mengatakan antara ada dan tiada. Ketika saya
berbicara ada toh kalau suruh menyajikan sebuah data artinya
bahwa Si A ini loylais Annas si B kan tidak bisa juga, walaupun
saya katakanlah punya kedekatan dengan Anas apakah kemudian
saya bisa dengan serta merta anda loyalis Annas, karena
bagamanapun juga ketika saya itu loyal kepada Annas, ketika
saya menjabat sebagai ketua umum itu karena sesuatu yang wajib
menurut saya. Siapa dia loyal terhadap pimpinannya adalah satu
hal yang wajib. Kalau saya menjawab tidak ada ya susah juga
menerangkannya karena orang-orang yang selama ini dianggap
219
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
punya kedekatan dengan Annas faktanya juga memang
semuanya di Jawa Tengah kan diberhentikan yang terbaru
Klaten.
Bagaimana
pendapat
Bapak
terkait
dengan
belum
diselenggarakan Muscab di Kabupaten Purworejo?
Karena belum ada Musda karena boleh ada Muscab setelah ada
Musda. Musda sampai sekarang belum ada, sampai Sukawi
diberhentikan. Yang Jawa tengah termasuk paling lucu se
Indonesia, dibandingkan partai manapun.
Terkait dengan adanya isu somasi terhadap SBY, bahkan di salah
satu daerah di Jawa Tengah muncul Tim Penyelamat Partai
Demokrat. Bagaiamana Pendapat Bapak?
Saya tidak tahu persis, kalau ada Tim Penyelamat. Di Kabupaten
Purworejo tidak ada, karena relatif saya dalam menyikapi
penonaktifan saya yang pertama dengan yang kedua itu berbeda.
Kalau yang dulu di tahun 2010 memang mungkin karena
semangat saya yang lagi tinggi-tingginya luar biasa memang
saya lawan dalam tanda petik tetapi dengan cara-cara yang
elegan juga, artinya ketika surat pemberhentian itu muncul kader
tahu semua kader menolak semua. Kemudian ketika di pilkada
semua sepakat tidak mendukung calon yang direkomendasikan
DPP. Dan faktanya kan kalah. Dengan kekalahan itu DPP
mungkin melihat bahwa sebetulnya memang Abdullah itu adalah
Ketua DPC yang masih diakui di akar rumputnya. Ketika di 2014
kemarin saya berbeda sikap walaupun diperlakukan sama. Kalau
dulu saya melakukan pertahanan dan sebagainya kemarin saya
tidak sama sekali, karena berpikir juga capek juga kalau saya
harus mengurus partai kemudian dipaksa terjadi konflik apalagi
yang memaksa apalagi yang memaksa itu adalah dari DPP.
Walaupun saya bergerak secara yuridis saya pastikan 100 % DPP
itu kalah. Gak ada satu pasal pun yang membenarkan apa yang
dilakukan itu tidak ada. Kalau saya melakukan gugatan di
Pengadilan atau di manapun satu pasal pun tidak ada yang
membenarkan keputusan DPP itu. Saya andai kata menang
penguasa partai ini kan katakanlah Ketua Umum bersama orangorangnya ini kan saudaranya selama kurun waktu bertahun-tahun
saya tidak akan enjoy dalam mengelola partai. Yang kedua
akhirnya kan ini kesempatan bagi katakanlah rival politik untuk
mengacak-acak untuk merusak ketika melihat di sini ada dua
matahari yang ini kubu yang formil yang ini non formil tapi
sama-sama punya kekuatan, kekuatan saya pada sisi legalitasnya,
kekuatan dia karena hubungan saudara ini kan bisa diadu,
akhirnya kita kerja kan jadi tidak nyaman. Mestinya kita kita
berpikir untuk berproses kebesaran kemenengan partai ke depan
kita hanya dihadapkan pada konflik internal, nah saya gak mau.
Terkait dengan isu bahwa salah satu alasan pemberhentian
karena Bapak dianggap punya prestasi, bahkan pada saat ini
Bapak juga menjabat sebagai Pengurus DPD Jawa Tengah.
Bagaimana pendapat Bapak tentang hal tersebut?
220
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Kalau berbicara saya dianggap berprestasi faktanya begini,
ketika tahun 2008 diadakan pelatihan kader se Indonesia saya itu
juara satu. Kemudian ketika pemilu 2014 kemarin yang posisi
Partai Demokrat sedang dalam kondisi yang gak karu-karuan
dihajar banyak persoalan itu, se Jawa Tengah anda sajikan boleh
sajikan data empiris berapa kabupaten yang perolehan kursi
relatif masih bisa penurunannya tidak tajam, katakanlah Kota
Semarang dari 16 tinggal 6 turun 10, kemudian dari 5 di
Kabupaten Pemalang menjadi tidak ada sama sekali, di
Magelang dari 7 tinggal 3 di Purworejo dari 8 masih 6 artinya
kalau dianggap berprestasi mungkin ada benarnya, tapi
pertanyaannya adalah kalau memberikan reward terhadap orang
yang punya prestasi dengan cara melanggar prosedur boleh tidak.
Jadi menurut saya itu omong kosong saja ya supaya tidak ada
gejolak saja.
: Terkait dengan kondisi saat ini, menurut Bapak bagaimana
pelaksanaan ideologi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo?
: Sekarang begini ideologi berapa partai mungkin ditulisan
berbeda ada Nasional Religius ada apa, ada apa, jenengan
sebagai masyarakat di luar parpol melihat macam-macam parpol
itu, partai apa saja yang ideologinya jelas itu. Selain PKS, selain
PDIP, partai mana yang ideologinya jelas hampir sama. PKS
jelas artinya Dia ideologi oreantasinya. Kemudian PDIP dengan
Marhenisme. Yang lain, Anda dari luar coba bedakan apa
bedanya ideologi Demokrat Gerindra, Golkar. Antara ideologi
dan demokratis adalah dua hal yang berbeda kalau ideologi itu
adalah sebuah pandangan artinya gagasan pola pikir partai ke
depan seperti apa, tapi kalau demokratisasi itu soal cara
bagaimana mengelola partai.
: Bagaimana dengan proses regenerasi? Menurut Bapak
bagaimana proses regenerasi Partai Demokrat di Kabupaten
Purworejo berjalan dengan baik?
: Satu apapun yang diputuskan dengan cara melanggar aturan itu
baik tidak, yang kedua sudah melanggar aturan, ketika dilakukan
juga tidak pada waktunya itu baik atau tidak, proses yang tidak
baik itu menghasilkan produk yang baik atau tidak.
: Apa yang menjadi harapan Bapak untuk Partai Demokrat ke
depan?
: Saya kalau berharap secara umum untuk Partai Demokrat tidak
hanya di Purworejo tapi di Indonesia karena apa yang terjadi di
Purworejo itu juga karena tangan-tangan yang ada di atas sana.
Yang pertama jangan terlalu munafik kalau jadi pimpinan partai,
ketika dia sudah mendiklirkan diri partai ini menjadi partai yang
demokratis, ya marilah seluruh persoalan, seluruh proses, seluruh
kebijakan partai yang dibuat juga melalui cara-cara yang
demokratis, dan demokratis itu tolak ukurnya salah satunya
adalah taat pada aturan main yang berlaku kita berada di role
yang benar. Kitab suci partai itu katakanlah AD/ART, hadisthadistnya dituangkan di dalam peraturan organisasinya yang
221
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
tertuang di situ mari kita taati bersama-sama kalau kita sudah
tidak menggunakan itu apa gunanya ada AD/ART ada peraturan
organisasi.
Menurut Bapak apakah selama ini Partai Demokrat dalam
menjalankan roda organisasi belum sesuai dengan AD/ART
partai?
Bukan hanya belum sesuai tapi justru berlawanan dengan apa
yang tertuang di AD/ART partai mereka yang bikin sama-sama
mereka yang melanggar.
Bagaimana pendapat Bapak terkait proses kaderisasi Partai
Demokrat di Kabupaten Purworejo?
Kaderisasi kalau di Jawa Tengah saya katakan stagnan. Artinya
begini, Partai ini kan punya mekanisme 5 tahunan mestinya
terjadi kan regenerasi jadi reorganisasi baik di tingkat propinsi,
kabupaten, kecamatan dan lain sebagainya. Di Jawa Tengah
sekarang sudah 10 tahun belum ada reorganisasi, Musda belum
ada. Kemudian yang terjadi itu tadi penunjukkan-penunjukkan
dengan semaunya sendiri dan yang ditunjuk boleh sampean cek
di Jawa Tengah di PLT itu mana saja yang menggantikan dengan
yang digantikan itu silahkan dicek kualitasnya bagus yang mana.
Artinya itu kan tolak ukur kalau secara regenerasinya baik
disandingkan saja ini antara yang mengganti dengan yang diganti
kira-kira levelnya bagus mana.
Bagaimana proses perekrutan kader Partai Demokrat di
Kabupaten Purworejo?
Kalau dulu itu contoh yang paling sederhana menjelang pemilu
legeslatif. Semua kader kita sosialisasikan misalkan siapa yang
ingin maju menjadi caleg, yang kedua masyarakat umum kita
publish melalui media yang pingin daftar menjadi caleg. Artinya
tidak ada faktor karena kedekatan teman, saudara, dan lain
sebagainya. Bahkan di era saya menjabat 8 anggota dewan itu
satu pun tidak ada saudara saya kemarin ketika 6 kemudian saya
tinggal satu pun tidak ada saudara saya, tapi ketika sekarang PLT
kemudian ada saudara saya tidak tahu, berbeda ketika bicara dulu
dan sekarang. Sampai hari ini masih jadi tapi tidak pernah
diaktifkan rapat-rapat dalam arti ketika saya sebagai Wakil Ketua
1 tidak pernah diundang cuma sekedar nama saja.
Terkait dengan ketergantungan terhadap SBY, munurut pendapat
Bapak bagaimana?
Pertama bahwa setiap orang itu ada masanya, setiap masa ada
orangnya. Artinya kalau kemudian tokoh yang sudah besar di
masa lalu justru ingin membesarkan masa sekarang itu pasti akan
berlawanan dengan teori itu tapi kalau sudah bukan masanya,
mamaksakan diri masuk ke masa lagi itu sudah bukan eranya.
Partai modern tidak akan pernah menggantungkan pada tokoh,
ketika partai itu masih menggantungkan pada satu tokoh itu
belum partai kader masih partai tradisional konvensional. Kalau
menurut saya partai modern itu ya kalau sekarang ini yang paling
222
mudah dilihat itu justru di Golkar itu jadi pimpinannya bergontaganti tetap saja bisa bertahan eksistensinya.
TRANSKIP WAWANCARA 8
Nama Narasumber : Ali Mashadi, S.T.
Pekerjaan/Jabatan : Direktur Eksekutif DPD Partai Demokrat Provinsi Jawa
Tengah
Waktu Wawancara : 5 Mei 2016
Tempat
: Kantor DPD Partai Demokrat Provinsi Jawa Tengah
Peneliti
: Partai Demokrat mendeklarasikan sebagai partai modern.
Indikator partai politik modern salah satunya adalah keterbukaan.
Bagaimana pendapat Bapak tentang keterbukaan partai
Demokrat, khususnya di bawah DPD Partai Demokrat Provinsi
Jawa Tengah?
: Untuk Demokrat selama ini memang selalu terbuka dalam artian
kita memang apalagi sekarang dipimpin oleh Pak SBY lagi jadi
keterbukaan itu suatu keharusan, makanya saking terbukanya
timbul dari internal seolah-olah kayak bebas mengeluarkan
pendapat akhirnya sampai mengritik, untungnya Ketua Umum
kita Pak SBY memang tidak anti kritik. Kita pernah dipimpin
oleh Pak SBY selama 10 tahun tidak ada yang namanya tiap hari
tidak ada kritik. Saya pikir untuk Demokrat itu sangat terbuka
sekali, kita bebas ngomong apa, termasuk di internal kita,
makanya akhirnya kadang kita kadang menyayangkan juga halhal yang sifatnya internal akhirnya muncul di media karena
mungkin itu kurang pahamnya mengenai arti keterbukaan atau
gimana, ya terbuka tidak masalah, tapi pesan dari Pak SBY juga
bahwa untuk permasalahan internal mari kita sama-sama duduk
bersama kita selesaikan konflik, kalau memang ada konflik, baru
nanti kalau memang sudah ada titik temu boleh untuk
mengeluarkan statement di media.
: Bagaimana pendapat Bapak terkait dengan konflik internal yang
dialami beberapa DPC di Jawa Tengah, khususnya terkait dengan
konflik kepengurusan.?
: Jadi gini itu untuk PLT-PLT (penggantian-penggantian) adalah
kewenangan DPP. Jadi biasanya itu DPP melihat tidak ada
keharmonisan atau memang visi misinya tidak jalan seluruhnya
kewenangan DPP. Jadi DPD sifatnya hanya memberi masukanmasukan dan melaksanakan instruksi DPP. Jadi mengenai
kesalahan apa dia gini-gini kita malah tidak tahu karena dari DPP
pun ada semacam korwil-korwil yang dia itu mengawasi masing-
Narasumber
Peneliti
Narasumber
223
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
Narasumber
:
:
Peneliti
:
Narasumber
:
masing kinerja dari ketua DPC-DPC. Memang khususnya di
Jawa Tengah itu korwilnya adalah Pak Agus Hermanto pada saat
itu. Jadi mungkin beliaunya yang tahu persis mengenai sampai
turunnya PLT itu. Dan memang yang di PLT kita akomodir
masuk di dalam kepengurusan DPD jadi kita juga menghormati
selama ini kinerja yang bersangkutan. Anggap saja itu semacam
regenerasi karena selama 10 tahun belum ada Musyawarah
Cabang (muscab). Musda (Musyawarah Daerah). Yang namanya
sebuah organisasi selama 10 tahun itu pasti ada konflik apalagi
10 tahun ada kejenuhan di dalam kepengurusan ada kejenuhan
dalam pengelolaan partai itu pasti, kita untuk mengantisipasi itu
paling tidak ada semacam regenerasi, mekanisme sudah
dijalankan, cuman kan ada yg kecewa dan tidak kecewa, wajar
lah manusia itu kan antara kecewa dan tidak senang itu pasti ada
rasa itu, jadi biasa mereka itu merupakan hak kodrati masingmasing individu.
Isu media menyebutkan terjadinya konflik karena adanya
kepentingan 2 kubu, yaitu kubu Annas Urbaingrum dan kubu
SBY. Bagaimana pendapat Bapak tentang isu tersebut?
Saya meluruskan bahwa DPD tidak pernah mengusulkan
pemecatan/pemberhentian pengurus DPC. Karena kita menyadari
bahwa selama 10 tahun di DPD maupun di DPC ada permasalah,
ada ketidakpuasan, dan ada kejenuhan. Mekanismenya DPP
menginstruksikan ke DPD, kemudian DPD melaksanakan
instruksi dan kemudian menginstruksikan ke DPC. Kemudian
mengenai kubu Annas Urbaningrum dan SBY sebetulnya tidak
ada, itu hanya media yang membesar-besarkan, bahkan dalam
Kongres kemarin kita duduk bersama, seperti yang media
beritakan ada dua kubu kita pertemukan, tetapi khusus mengenai
annas Urbaningrum karena kita memiliki komitmen bagi kader
yang sudah menjadi tersangka, maka secara otomatis sesuai
pakta integritas harus berhenti atau diberhentikan kalau dia tidak
mau mundur maka diberhentikan. Bahkan pada saat SBY
menjadi presiden, Partai Demokrat tidak dapat menyentuh dan
mengintervensi sama sekali kebijakan SBY, padahal pada waktu
itu SBY memiliki power. Namun, apa yang diinginkan
diakomodir, Alhamdulillah dalam Kongres aman.
Bagaimana pendapat Bapak tentang PLT?
Secara AD/ART dia (yang di PLT) sudah selesai masa
jabatannya (karena hanya 5 tahun), jadi wajar jika beliau di PLT.
PLT hanya pelaksana atau yang menjalankan tugas. Surat dari
DPP ditandatangani Syarif Hasan yang pada waktu itu menjadi
Ketua Harian dan Ibbas Baskoro selaku Sekjen Partai Demokrat.
Menurut Bapak siapa saja yang terlibat konflik? Bagaimana
dengan Tim Penyelamat Partai Demokrat yang dibentuk salah
satu pihak yang berkonflik?
Konflik di internal kita tidak ada, konflik yang menyebabkan
adalah orang yang berada di luar kita, perbedaan pendapat
memang ada. Aturan yang berlaku adalah aturan AD/ART
224
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
Peneliti
:
Narasumber
:
dengan melihat situasi. Dan perlu diingat bahwa dalam institusi
Partai Demokrat tidak ada istilah Tim Penyelamat Partai.
Kemungkinan munculnya Tim Penyelamat Partai karena
kekecewaan, tetapi sekali lagi organisasi Partai Demokrat tidak
ada Tim Penyelamat Partai, yang ada di Institusi kita hanya DPC,
DPD, dan DPP.
Berbagai masalah yang dihadapi Partai Demokrat berdampak
pada perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu 2014.
Bagaimana menurut pendapat Bapak?
Indikatornya banyak sekali, kalau masalah konflik sebetulnya
diciptakan orang luar, karena dengan menciptakan konflik maka
emaig masyarakat jadi beda. Justru indikator yang paling kuat
mempengaruhi adalah korupsi. Mengapa korupsi, karena pada
waktu memang saking terbukanya untuk memberikan kepada
generasi muda untuk memimpin Partai Demokrat, Hal ini berarti
Partai Demokrat sudah menuju keterbukaan Partai Demokrat.
Namun karena kasus korupsi tersebut, maka dijadikan
pengalaman (semacam warning) bahwa selama 10 tahun terlena
dengan kemenangan kita akhirnya tidak mempersiapkan diri
dalam artian tidak sedia payung sebelum hujan, termasuk SDM
masing-masing, ya initinya kita buat pelajaran berubah dengan
sekarang ada fakta integritas, ada pendidikan dan pelatihan
kader, kebijakan kader yaitu dengan adanya Institut Partai
Demokrat, agenda 5 tahun
Terkait dengan agenda 5 tahun Partai Demokrat salah satunya
adalah modernisasi. Bagaimana pelaksanaan modernisasi Partai
Demokrat tersebut?
Partai Demokrat menuju modernisasi harus menjadi partai kader
bukan partai simpatisan. Jujur pada waktu dulu kita
mendaftarkan kader ke KPU, Partai Demokrat asal comot, dan
itu hanya untuk memenuhi tanggapan verifikasi KPU. Sekarang
tidak, sekarang setelah ada rencana partai kader, maka pengurus
PAC harus siap dicalonkan sebagai dewan, sehingga kader yang
dicalonkan akan punya jaringan, tidak seperti sekarang PAC
pengangguran dan kalau ada rapat harus ada uang sakunya.
Kalau masih seperti itu Partai Demokrat tidak bisa besar seperti
partai lain. Model partai kader yang dimaksud adalah melalui
pendidikan dan pelatihan yang berisi tentang pemahaman tentang
apa itu Partai Demokrat, mengapa harus memilih Partai
Demokrat, apa ideologinya dan lain sebagainya. Saat ini kita
sudah mengadakan penataran kader utama di Bogor, percontohan
sebelum mendirikan institut yang langsung dapat penataran dari
Pak SBY. Rencana ada sekolah Partai Demokrat yang wacana
namanya adalah institut Partai Demokrat.
Menurut Bapak seperti apa bentuk dari institut Partai Demokrat
tersebut?
Kita memang belum tahu bentuknya, namun dari DPP
direncanakan akan mendidik 5000 kader yang kemudian lulus
225
dari institut kemudian disebar di masing-masing DPD dan DPC
untuk membina melatih kader-kader kita.
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
Peneliti
Narasumber
: Kedewasaan partai politik salah satunya tergantung bagaimana
partai tersebut mengelola konflik yang dialami. Jika terjadi
konflik internal di Provinsi Jawa Tengah, menurut Bapak
bagaimana solusi DPD mengatasinya?
: Sesuai mekanisme AD/ART pihak yang berkonflik dipanggil
duduk bersama untuk mencari tahu ada apa dan membuat
kesepakatan atau solusi yang terbaik. Namun, mekanisme
tersebut dijalankan apabila yang bersangkutan masih menjadi
kader Partai Demokrat, dia bisa terjamah dengan aturan kita,
kalau sudah di luar tidak bisa. Jika terjadi konflik di daerah
mekanisme penyelesaiannya melalui rapat. Misalanya ada
informasi terkait dengan adanya konflik, maka pihak yang
berkonflik dipanggil. Bahkan jika yang berkonflik tidak puas
terhadap keputusan DPD yang bersangkutan bisa langsung ke
DPP, DPP kemudian mengklarifikasi pembenaran dari berita
tersebut.
: Siapa yang bertugas menyelesaikan konflik internal di Partai
Demokrat?
: Ada Dewan Pertimbangan, Dewan Kehormatan masing-masing
struktur sampai ke bawah ada. Mekanismenya jika konflik terjadi
di DPC, maka DPC yang menyelesaikannya. Kalau DPC tidak
bisa menyelesaikan, maka DPC menyurati DPD untuk
memberikan pengarahan, ada konflik seperti ini DPD tidak bisa
menyelesaikan. DPD kemudian turun ke lapangan atau kita
panggil yang berkonflik, kalau tidak ada solusi maka DPD
memberikan ke DPP untuk menyelesaikannya, tetapi masingmasing institut Partai Demokrat, baik DPP, DPD, maupun DPC
diberi kewenangan untuk menyelesaikan konflik sendiri.
: Salah satu ciri partai politik modern adalah tidak tergantung
ketokohan figur tertentu. Bagaimana menurut pendapat Bapak
terkait dengan hal tersebut?
: Memang situasi pada saat Kongres kita memang menginginkan
Pak SBY. Khusus pada saat ini. Karena kita pengalaman dengan
pengalaman-pengalaman itu maka kita melaksanakan
pengkaderan. Jadi memang selama ini kita masih tergantung
SBY, tapi SBY sudah menyiapkan sosok untuk menjadi
pemimpin PD.
226
LAMPIRAN-LAMPIRAN DOKUMENTASI PENELITIAN
Gambar 1.
Peneliti melakukan wawancara di KPU Provinsi Jawa Tengah guna
pengambilan data berupa perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu
legeslatif tahun 2014 di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo.
227
Gambar 2. Peneliti melakukan wawancara dengan staf DPC Partai Demokrat
Kabupaten Semarang guna pengambilan beberapa data terkait dengan
dokumen kepengurusan Partai Demokrat.
Gambar 3. Peneliti melakukan wawancara dengan Aris Mufid (Anggota KPU
Kabupaten Semarang) terkait dengan kondisi Partai Demokrat di
Kabupaten Semarang.
Gambar 4. Peneliti melakukan wawancara dengan Gunung Imam S.H. (Sekretaris
DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang) terkait dengan kondisi
Partai Demokrat di Kabupaten Semarang.
228
Gambar 5. Peneliti Foto bersama dengan Adhi Sandi, S.E. (Direktur Eksekutif DPC
Partai Demokrat Kota Semarang).
Gambar 6. Peneliti melakukan wawancara dengan Yophi Prabowo, A.M.d. (PLT
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo) terkait dengan
kondisi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo.
229
Gambar 7. Peneliti melakukan wawancara dengan Joko Lestari (Sekretaris DPC
Partai Demokrat Kabupaten Semarang) terkait dengan kondisi Partai
Demokrat di Kabupaten Semarang.
Gambar 8. Peneliti melakukan wawancara dengan Adhi Sandi, S.E. (Direktur
Eksekutif DPC Partai Demokrat Kota Salatiga) terkait dengan kondisi
Partai Demokrat di Kota Salatiga.
230
Gambar 9. Peneliti melakukan wawancara dengan Muhammad Abdullah, S.H.
(Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Purworejo) terkait
dengan kondisi Partai Demokrat di Kabupaten Purworejo.
Gambar 10.
Peneliti melakukan wawancara dengan Ali Mashadi, S.T. (Direktur
Eksekutif Partai Demokrat Provinsi Jawa Tengah) terkait dengan
kondisi Partai Demokrat di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan
Kabupaten Purworejo.
231
232
Download