Apa itu norma hukum?

advertisement
Pengertian norma hukum dan contohnya – Bagi yang belum mengetahui tentang
apaitu norma hukum, berikut ini kami berikan penjelasannya.
A. Penjelasan norma hukum
Norma hukum adalah aturan yang dibuat oleh negara atau alat-alat perlengkapan
negara, dan berlakunya dapat dipaksakan oleh alat-alat kekuasaan negara (seperti:
polisi, jaksa dan hakim). Atau definisi lain dari Norma hukum yaitu merupakan aturanaturan hidup yang dibuat oleh negara ataupun lembaga adat tertentu. Dengan kata
lain, norma hukum ialah aturan-aturan yang dibuat oleh lembaga negara yang
berwenang.
Norma hukum sifatnya memaksa dan mengikat. Aturan-aturan yang terdapat dalam
norma hukum mengikat setiap masyarakat atau orang. Memaksa berarti aturan-aturan
hukum harus dipatuhi oleh siapa pun, sedangkan kata mengikat berarti berlaku untuk
semua anggota masyarakat atau setiap orang. Baca juga: Pengertian hukum dan
tujuannya secara lengkap.
B. Di bawah ini unsur-unsur norma hukum
Unsur dari norma hokum, diantaranya sebagaimana di bawah ini:




Yang pertama, adanya aturan-aturan mengenai tingkah laku dalam pergaulan
hidup manusia.
Yang kedua, aturan-aturan tersebut dibuat oleh badan-badan resmi Negara
yang berwenang.
Yang ketiga, aturan tersebut bersifat memaksa.
Dan yang keempat, adanya sanksi yang tegas dan memaksa jika ada yang
melanggar.
Baca juga: Inilah pengertian sumber hukum dan macamnya.
C. Beberapa contoh norma hukum
Beberapa contoh dari norma hukum, diantaranya seperti di bawah ini:







Peraturan lalu lintas.
Aturan hukum pajak.
Aturan hukum pidana (KUH Pidana).
Hukum tata negara.
Hukum administrasi negara.
Tidak terlambat masuk sekolah,
Tidak membolos sekolah, dan Lain-lain.
Apa itu norma hukum?
D. Dan inilah pengelompokkan norma hukum
Jika dilihat dari segi hubungan yang diatur:


Hukum publik, yaitu merupakan hukum yang mengatur hubungan antara
negara dan warga negara (HTN, HTUN, Hukum Pidana).
Hukum privat, yaitu merupakan hukum yang mengatur hubungan antara warga
negara (hukum perdata dan juga hukum dagang).
Jika dilihat dari segi isi aturannya:


Hukum material, yaitu merupakan hukum yang berisi aturan-aturan mengenai
suatu perbuatan dan sanksinya atau konsekuensinya. Seperti contoh: KUHP,
KUH Perdata.
Hukum formal, yaitu hukum berisi aturan-aturan mengenai cara penerapan
hukum material. Seperti contoh: KUHAP, KUHA Perdata.
Jika dilihat dari segi ruang lingkup berlakunya:


Hukum nasional, yaitu merupakan hukum yang berlaku dalam batas teritorial
suatu negara. Seperti contohnya: Hukum tata Negara, Hukum perdata, dan
yang lainnya
Hukum internasional, yaitu hukum yang berlakunya tidak dibatasi oleh batas
teritorial negara tertentu. Seperti contohnya: Hukum perdata Internasional.
Jika dilihat dari segi saat berlakunya:




Hukum constitutum (hukum positif), yaitu merupakan hukum yang berlaku
sekarang atau saat ini, untuk masyarakat tertentu dalam suatu daerah
tertentu. Hukum ini ada ahli hukum yang menamakannya sebagai “tata
hukum”.
Hukum constituendum, yaitu merupakan hukum yang diharapkan dapat berlaku
pada waktu yang akan datang.
Hukum asasi (hukum alam), yaitu merupakan hukum yang berlaku dimanamana dalam segala waktu serta untuk segala bangsa yang di dunia.
Apa yang dimkasud norma ? Norma atau kaidah adalah
ketentuan yang mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat.
Ketentuan tersebut mengikat bagi setiap manusia yang hidup










dalam lingkungan berlakunya norma tersebut, dalam arti setiap
orang yang hidup dalam lingkungan berlakunya norma tersebut
harus menaatinya. Di balik ketentuan tersebut ada nilai yang
menjadi landasan bertingkah laku bagi manusia. Oleh karena itu,
norma merupakan unsur luar dari suatu ketentuan yang mengatur
tingkah laku manusia dalam masyarakat, sedangkan nilai
merupakan unsur dalamnya atau unsur kejiwaan di balik ketentuan
yang mengatur tingkah laku tersebut.
Pada umumnya norma hanya berlaku dalam suatu lingkungan
masyarakat tertentu atau dalam suatu lingkungan etnis tertentu
atau dalam suatu wilayah negara tertentu. Namun demikian ada
pula norma yang bersifat universal, yang berlaku di semua wilayah
dan semua umat manusia, seperti misalnya larangan mencuri,
membunuh, menganiaya, memperkosa, dan lain-lain.
Di dalam masyarakat terdapat bermacam-macam norma. Jenisjenis normaantara lain:
1. Norma susila, yaitu peraturan hidup yang berasal dari hati
nurani manusia. Norma susila menentukan mana yang baik dan
mana yang buruk. Norma susila yang mendorong manusia untuk
kebaikan akhlak pribadinya. Norma susila melarang manusia untuk
berbuat tidak baik, karena bertentangan dengan hati nurani setiap
manusia yang normal. Contoh-contoh norma susila antara lain:
a. Jangan mencuri barang milik orang lain.
b. Jangan membunuh sesama manusia.
c. Hormatilah sesamamu.
d. Bersikaplah jujur.
Contoh Pelenggaran Norma Kesusilaan

Norma susila memiliki sanksi atau ancaman hukuman bagi yang
melanggar norma tersebut dan sanksinya adalah perasaan
manusia itu sendiri, yang akibatnya adalah penyesalan.


2. Norma kesopanan, yaitu ketentuan hidup yang berasal dari
pergaulan dalam masyarakat. Dasar dari norma kesopanan adalah
kepantasan, kebiasaan dan kepatutan yang berlaku dalam
masyarakat. Norma kesopanan sering dinamakan norma sopan
santun, tata krama atau adat istiadat. Norma sopan santun yang
aktual dan khas berbeda antara masyarakat yang satu dengan
masyarakat yang lain. Contoh-contoh norma kesopanan, antara
lain:
a. Yang muda harus menghormati yang lebih tua usianya.
b. Berangkat ke sekolah harus berpamitan dengan orang tua terlebih
dahulu.
c. Memakai pakaian yang pantas dan rapi dalam mengikuti pelajaran di
sekolah.
d. Janganlah meludah di dalam kelas.
Mengucapkan Salam, mengetuk Pintu merupakan contoh Penerapan Norma Kesopanan di Indonesia
Bagi mereka yang melanggar norma kesopanan, sanksi yang dijatuhkan
akan menimbulkan celaan dari sesamanya, dan celaan itu dapat
berwujud kata-kata, sikap kebencian, pandangan rendah dari orang
sekelilingnya, dijauhi dari pergaulan, sehingga akan menimbulkan rasa
malu, rasa hina, rasa dikucilkan yang dirasakan sebagai penderitaan
batin.
 3. Norma agama, yaitu ketentuan hidup yang berasal dari Tuhan
Yang Maha Esa, yang isinya berupa larangan, perintah-perintah,
dan ajaran. Norma agama berasal dari wahyu Tuhan dan
mempunyai nilai yang fundamental yang mewarnai berbagai norma
yang lain, seperti norma susila, norma kesopanan, dan norma
hukum.

Contoh Implementasi Norma Agama

Contoh-contoh norma agama, antara lain:
a. Tidak boleh membunuh sesama manusia.
b. Tidak boleh merampok harta orang lain.
c. Tidak boleh berbuat cabul.
d. Hormatilah bapak ibumu.
Terhadap pelanggar norma agama akan dikenakan sanksi oleh Tuhan
kelak di akhirat nanti, yang dapat berupa dimasukkan dalam neraka.
4. Norma hukum, yaitu ketentuan yang dibuat oleh pejabat yang
berwenang yang mempunyai sifat memaksa untuk melindungi
kepentingan manusia dalam pergaulan hidup di masyarakat dan
mengatur
tata
tertib
kehidupan
bermasyarakat.
Pembunuhan merupakan contoh pelanggaran norma hukum
Contoh beberapa norma hukum, antara lain:

a. Pasal 362 KUHP yang menyatakan bahwa barang siapa
mengambil sesuatu barang yang seluruhnya atau sebagian milik
orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum,
diancam karena pencurian dengan pidana penjara paling lama lima
tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah.

b. Pasal 1234 BW menyatakan bahwa tiap-tiap perikatan adalah
untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak
berbuat sesuatu.

c. Pasal 40 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002
(Undang-Undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang)
menyatakan bahwa setiap orang yang melaporkan terjadinya
dugaan tindak pidana pencucian uang, wajib diberi perlindungan
khusus oleh negara dari kemungkinan ancaman yang
membahayakan diri, jiwa, dan atau hartanya, termasuk
keluarganya.

d. Pasal 51 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 (UndangUndang tentang Pemerintahan Daerah) menyatakan bahwa Kepala
Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan
DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang
diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih atau diancam
dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana.

Contoh lembaga penegakkan hukum di Indonesia


Bagi pelanggar norma hukum dapat dikenakan sanksi berupa
pidana penjara ataupun denda maupun pembatalan atau
pernyataan tidak sahnya suatu kegiatan atau perbuatan, dan
sanksi tersebut dapat dipaksakan oleh penguasa atau lembaga
yang berwenang.
PENGERTIAN, TUJUAN, JENIS-JENIS DAN
MACAM-MACAM PEMBAGIAN HUKUM
PENGERTIAN HUKUM
Hukum adalah suatu sistem yang dibuat manusia untuk membatasi tingkah
laku manusia agar tingkah laku manusia dapat terkontrol , hukum adalah aspek
terpenting
dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan,
Hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam
masyarakat. Oleh karena itu setiap masyarat berhak untuk mendapat
pembelaan didepan hukum sehingga dapat di artikan bahwa hukum adalah
peraturan atau ketentuan-ketentuan tertulis maupun tidak tertulis yang
mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi bagi pelanggarnya .
TUJUAN HUKUM
Tujuan hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman,
kedamaian,
kesejahteraan
dan
kebahagiaan
dalam
tata
kehidupan
bermasyarakat. Dengan adanya hukum maka tiap perkara dapat di selesaikan
melaui proses pengadilan dengan prantara hakim berdasarkan ketentuan
hukum yang berlaku,selain itu Hukum bertujuan untuk menjaga dan mencegah
agar setiap orang tidak dapat menjadi hakim atas dirinya sendiri.
JENIS-JENIS HUKUM DI INDONESIA
Hukum secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu Hukum Publik dan
Hukum Privat. Hukum pidana merupakan hukum publik, artinya bahwa Hukum
pidana mengatur hubungan antara para individu dengan masyarakat serta
hanya diterapkan bilamana masyarakat itu benar-benar memerlukan.
Van Hamel antara lain menyatakan bahwa Hukum Pidana telah berkembang
menjadi Hukum Publik, dimana pelaksanaannya sepenuhnya berada di dalam
tangan negara, dengan sedikit pengecualian. Pengeualiannya adalah terhadap
delik-delik aduan (klacht-delicht). Yang memerlukan adanya suatu pengaduan
(klacht) terlebih dahulu dari pihak yang dirugikan agar negara dapat
menerapkannya.
Maka Hukum Pidana pada saat sekarang melihat kepentingan khusus para
individu bukanlah masalah utama, dengan perkataan laintitik berat Hukum
Pidana ialah kepentingan umum/masyarakat. Hubungan antara si tersalah
dengan korban bukanlah hubungan antara yang dirugikan dengan yang
merugikan sebagaimana dalam Hukum Perdata, namun hubungan itu ialah
antara orang yang bersalah dengan Pemerintah yang bertugas menjamin
kepentingan umum atau kepentingan masyarakat sebagaimana ciri dari Hukum
Publik.
Contoh Hukum Privat (Hukum Sipil)

Hukum sipil dalam arti luas (Hukum perdata dan hukum dagang)

Hukum sipil dalam arti sempit (Hukum perdata saja)

Dalam bahasa asing diartikan :
a)
Hukum sipil : Privatatrecht atau Civilrecht
b)
Hukum perdata : Burgerlijkerecht
c)
Hukum dagang : Handelsrecht
Contoh hukum Hukum Publik

Hukum Tata Negara

Yaitu mengatur bentuk dan susunan suatu negara serta hubungan
kekuasaan anatara lat-alat perlengkapan negara satu sama lain dan
hubungan pemerintah pusat dengan daerah (pemda)

Hukum Administrasi Negara (Hukum Tata Usaha Negara),

mengatur cara menjalankan tugas (hak dan kewajiban) dari kekuasaan alat
perlengkapan negara;

Hukum Pidana,

mengatur perbuatan yang dilarang dan memberikan pidana kepada siapa
saja yang melanggar dan mengatur bagaimana cara mengajukan perkara
ke muka pengadilan (pidana dilmaksud disini termasuk hukum acaranya
juga). Paul Schlten dan Logemann menganggap hukum pidana bukan
hukum publik.

a)
Hukum Internasional (Perdata dan Publik)
Hukum perdata Internasional, yaitu hukum yang mengatur hubungan
hukum antara warga negara suatu bangsa dengan warga negara dari negara
lain dalam hubungan internasional.
b)
Hukum Publik Internasional, mengatur hubungan anatara negara yang
satu dengan negara yang lain dalam hubungan Internasional.
Macam-macam Pembagian Hukum
1.Menurut sumbernya :

Hukum undang-undang, yaitu hukum yang tercantum dalam peraturan
perundangan.

Hukum adat, yaitu hukum yang terletak dalam peraturan-peraturan
kebiasaan.

Hukum traktat, yaitu hukum yang ditetapkan oleh Negara-negara suatu
dalam perjanjian Negara.

Hukum jurisprudensi, yaitu hukum yang terbentuk karena putusan hakim.

Hukum doktrin, yaitu hukum yang terbentuk dari pendapat seseorang atau
beberapa orang sarjana hukum yang terkenal dalam ilmu pengetahuan
hukum.
2.Menurut bentuknya :

Hukum tertulis, yaitu hukum yang dicantumkan pada berbagai perundangan

Hukum tidak tertulis (hukum kebiasaan), yaitu hukum yang masih hidup
dalam keyakinan masyarakat, tapi tidak tertulis, namun berlakunya ditaati
seperti suatu peraturan perundangan.
3.Menurut tempat berlakunya :

Hukum nasional, yaitu hukum yang berlaku dalam suatu Negara.

Hukum internasional, yaitu yang mengatur hubungan hubungan hukum
dalam dunia internasional.
4.Menurut waktu berlakunya :

Ius constitutum (hukum positif), yaitu hukum yang berlaku sekarang bagi
suatu masyarakat tertentu dalam suatu daerah tertentu.

Ius constituendum, yaitu hukum yang diharapkan berlaku pada masa yang
akan datang.

Hukum asasi (hukum alam), yaitu hukum yang berlaku dimana-mana dalam
segala waktu dan untuk segala bangsa di dunia.
5. Menurut cara mempertahankannya :

Hukum material, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur
kepentingan dan hubungan yang berwujud perintah-perintah dan larangan.

Hukum formal, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur tentang
bagaimana cara melaksanakan hukum material
6. Menurut sifatnya :

Hukum yang memaksa, yaitu hukum yang dalam keadaan bagaimanapun
mempunyai paksaan mutlak.

Hukum yang mengatur, yaitu hukum yang dapat dikesampingkan apabila
pihak-pihak yang bersangkutan telah membuat peraturan sendiri.
7.Menurut wujudnya :

Hukum obyektif, yaitu hukum dalam suatu Negara berlaku umum.

Hukum subyektif, yaitu hukum yang timbul dari hukum obyektif dan berlaku
pada orang tertentu atau lebih. Disebut juga hak.
8.Menurut isinya :

Hukum privat, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara orang yang
satu dengan yang lain dengan menitik beratkan pada kepentingan
perseorangan.

Hukum publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara Negara
dengan alat kelengkapannya ata hubungan antara Negara dengan
warganegara.
Fungsi Hukum
Hukum Sumber Hukum
Dalam perkembangan masyarakat saat in, fungsi hukum dapat terdiri dari :
1. Sebagai alat pengatur tata tertib hubungan masyarakat.
2. Sebagai suatu sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin.
3. Sebagai sarana penggerak pembangunan.
4. Sebagai fungsi kritis.
Fungsi hukum dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Sebagai Alat Pengatur Tata Tertib Hubungan Mayarakat
Hukum
sebagai
norma
merupakan
petunjuk
untuk
kehidupan
(levensvoorschriften). Manusia dalam masyarakat, hukum yg menunjukkan
mana yang baik dan mana yg tidak. Hukum juga memberi petunjuk apa yg
harus diperbuat dan mana yg tidak boleh, sehingga segala sesuatunya dapat
dikatakan
berjalan
tertib
dan
teratur.
Kesemuanya ini dimungkinkan karena hukum mempunyai sifat dan watak
mengatur tingkah laku manusia serta mempunyai ciri memerintah & melarang.
Begitu pula hukum dapat memaksakan agar hukum itu ditaati anggota
masyarakat.
Sebagai
contoh
yakni
:
"Orang yang menonton bioskop sama-sama mengerti apa yang harus
dilakukan seperti : beli karcis harus antri, mau masuk antri; namun bila
pertunjukan selesai para penonton keluar lewat pintu keluar yang sudah
ditentukan. Kesemuanya berjalan dng tertib dan teratur, karena semua samasama mengerti dan menaati peraturan-peraturan yang telah ditentukan.
2. Sebagai Sarana Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial Lahir Batin.
- Hukum mempunyai ciri2 memerintah & melarang.
- Hukum mempunyai sifat memaksa.
- Hukum mempunyai daya yg mengikat fisik & psikologis.
Karena hukum mempunyai ciri, sifat dan daya mengikat tersebut, maka hukum
dapat memberi keadilan ialah dapat menentukan siapa yang bersalah dan
siapa yg benar. Hukum dapat menghukum siapa yg salah, hukum dapat
memaksa agar peraturan dapat ditaati dan siapa yang melanggar diberi sanksi
hukuman.
3. Sebagai Penggerak Untuk Pembangunan
Daya
mengikat
dan
memaksa
dari
hukum
dapat
digunakan
atau
didayahgunakan untuk menggerakkan pembangunan. Dalam hal ini hukum
dijadikan sebagai alat untuk membawa masyarakat ke arah yang lebih maju.
Dalam hal ini tersebut sering timbul kritik, bahwa hukum hanya melaksanakan
dan mendesak masyarakat sedangkan aparatur otoritas lepas dari kontrol
hukum. Sebagai imbangan dapat dilihat dari fungsi kritis daripada hukum.
Fungsi kritis hukum
Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H., dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum, di
hal 155 mengatakan :
"Dewasa ini sudah berkembang beberapa pandangan bahwa hukum
mempunyai fungsi kritis, yaitu daya kerja hukum tidak semata-mata melakukan
pengawasan pada aparatur pemerintah (petugas) saja melainkan aparatur
penegak hukum termasuk di dalamnya".
Syarat2 Agar Fungsi Hukum Dapat Dilaksanakan Dengan Baik
Agar fungsi hukum dapat terlaksana dengan baik, oleh sebab itu bagi para
penegak hukum dituntut kemampuannya untuk melaksanakan dan menerapkan
hukum dengan baik, dengan seni yang dimiliki masing2 petugas, misalnya :
a. Menafsirkan hukum berdasarkan keadilan dan posisi masing-masing.
b. Bila perlu di adakan penerjemahan analogis penghalusan hukum atau
memberi
ungkapan
a
contrario.
Di samping hal-hal tersebut di atas dibutuhkan kecekatan dan keterampilan
serta ketangkasan para penegak hukum dalam penerapan hukum yang
berlaku.
Pengertian, Unsur, Ciri, Sifat, Tujuan dan Fungsi
Hukum –
Hingga saat ini, belum ada kesepahaman dari para ahli mengenai
pengertianhukum. Telah banyak para ahli dan sarjana hukum yang mencoba
untuk memberikan pengertian atau definisi hukum, namun belum ada satupun
ahli atau sarjana hukum yang mampu memberikan pengertian hukum yang
dapat diterima oleh semua pihak.
A. Pengertian Hukum
Ketiadaan definisi hukum yang dapat diterima oleh seluruh pakar dan ahli
hukum pada gilirannya memutasi adanya permasalahan mengenai
ketidaksepahaman dalam definisi hukum menjadi mungkinkah hukum
didefinisikan atau mungkinkah kita membuat definisi hukum ? Lalu berkembang
lagi menjadi perlukah kita mendefinisikan hukum ?
Ketiadaan definisi hukum jelas menjadi kendala bagi mereka yang baru saja
ingin mempelajari ilmu hukum. Tentu saja dibutuhkan pemahaman awal atau
pengertian hukum secara umum sebelum memulai untuk mempelajari apa itu
hukum dengan berbagai macam aspeknya. Bagi masyarakat awam pengertian
hukum itu tidak begitu penting. Lebih penting penegakannya dan perlindungan
hukum yang diberikan kepada masyarakat.
Materi Hukum
Setiap orang akan berurusan atau terikat dengan hukum. Namun, apa
sesungguhnya hukum itu? Kita sulit mendefinisikan secara lengkap. Hal itu
dikarenakan hukum memiliki pengertian yang luas. Banyak ahli hukum
memberikan pengertian hukum secara berbeda-beda, tetapi belum ada satu
pengertian yang mutlak dan memuaskan semua pihak tentang hukum itu.
Defenisi Hukum Menurut Para Ahli
Hukum ialah salah satu dari norma dalam masyarakat. Berbeda dari tiga norma
lainnya, norma hukum memiliki sanksi yang lebih tegas. Hukum sulit
didefinisikan karena kompleks dan beragamnya sudut pandang yang hendak
dikaji. Beberapa pengertian hukum menurut para ahli hukum adalah sebagai
berikut :
1. Drs. E. Utrecht, S.H.
Dalam bukunya yang berjudul Pengantar dalam Hukum Indonesia (1953),
beliau mencoba membuat suatu batasan sebagai pegangan bagi orang yang
sedang mempelajari ilmu hukum. Menurutnya, hukum ialah himpunan
peraturan-peraturan (perintah dan larangan) yang mengatur tata tertib
kehidupan bermasyarakat yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat
yang bersangkutan karena pelanggaran petunjuk hidup itu dapat menimbulkan
tindakan dari pihak pemerintah.
2. Achmad Ali
Hukum adalah seperangkat norma tentang apa yang benar dan apa yang
salah, yang dibuat atau diakui eksistensinya oleh pemerintah, yang dituangkan
baik dalam aturan tertulis (peraturan) ataupun yang tidak tertulis, yang
mengikatdan sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya secara keseluruhan,
dan dengan ancaman sanksi bagi pelanggar aturan itu.
3. Immanuel Kant
Hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari
orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang
lain, menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan (1995).
4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja
Hukum ialah keseluruhan kaidah-kaidah serta asas-asas yang mengatur
pergaulan hidup dalam masyarakat dan bertujuan memelihara ketertiban serta
meliputi lembaga-lembaga dan proses guna mewujudkan berlakunya kaidah
sebagai kenyataan dalam masyarakat.
5. J.C.T. Simorangkir
Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa dan menentukan tingkah laku
manusia dalam lingkungan masyarakat dan dibuat oleh lembaga berwenang.
6. Mr. E.M. Meyers
Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan.
Ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang menjadi
pedoman bagi penguasapenguasa negara dalam melakukan tugasnya.
7. S.M. Amin
Dalam bukunya yang berjudul “Bertamasya ke Alam Hukum,” hukum
dirumuskan sebagai berikut: Kumpulan kumpulan peraturan yang terdiri atas
norma dan sanksi sanksi. Tujuan hukum itu adalah mengadakan ketertiban
dalam pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara.
8. P. Borst
Hukum adalah keseluruhan peraturan bagi kelakuan atau perbuatan manusia di
dalam masyarakat. Yang pelaksanaannya dapat dipaksakan dan bertujuan
mendapatkan tata atau keadilan.
9. Prof. Dr. Van Kan
Hukum adalah keseluruhan peraturan hidup yang bersifat memaksa untuk
melindungi kepentingan manusia di dalam masyarakat.
Jadi, hukum adalah suatu sistem yang dibuat manusia untuk membatasi
tingkah laku manusia agar tingkah laku manusia dapat terkontrol , hukum
adalah aspek terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan
kelembagaan, Hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya kepastian
hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu setiap masyarat berhak untuk
mendapat pembelaan didepan hukum sehingga dapat di artikan bahwa hukum
adalah peraturan atau ketentuan-ketentuan tertulis maupun tidak tertulis yang
mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi bagi pelanggarnya.
B. Unsur-unsur Hukum
1. Apabila kita lihat dari beberapa perumusan tentang berbagai pengertian
hukum, dapatlah diambil kesimpulan bahwa hukum itu meliputi unsurunsur :
2.
3.
4.
5.
peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;
peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
peraturan itu bersifat memaksa; dan
sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas.
Agar tata tertib dalam masyarakat itu tetap terpelihara, maka haruslah kaidahkaidah hukum itu ditaati. Akan tetapi, tidaklah semua orang mau menaati
kaidah-kaidah hukum itu. Agar supaya sesuatu peraturan hidup
kemasyarakatan benar-benar dipatuhi dan ditaati sehingga menjadi kaidah
hukum, maka peraturan hidup kemasyarakatan itu harus diperlengkapi dengan
unsur memaksa.
Dengan demikian, hukum itu mempunyai sifat mengatur dan memaksa.
Barangsiapa yang dengan sengaja melanggar sesuatu kaidah hukum akan
dikenakan sanksi yang berupa hukuman. Sifat hukum yang demikian itu
menunjukkan ciri-ciri hukum, yaitu :
1. adanya perintah dan atau larangan;
2. perintah dan atau larangan itu harus dipatuhi setiap orang; dan
3. adanya sanksi atau hukuman.
C. Ciri-Ciri Hukum
Hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman,
kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam tata kehidupan
bermasyarakat. Dengan adanya hukum maka tiap perkara dapat di selesaikan
melaui proses pengadilan dengan prantara hakim berdasarkan ketentuan
hukum yang berlaku,selain itu Hukum bertujuan untuk menjaga dan mencegah
agar setiap orang tidak dapat menjadi hakim atas dirinya sendiri.
Berikut adalah ciri-ciri hukum :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;
Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
Peraturan itu bersifat memaksa;
Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut tegas;
Berisi perintah dan atau larangan; dan
Perintah dan atau larangan itu harus dipatuhi oleh setiap orang.
D. Sifat Hukum
Hugo de Groot dalam "De Jure Belli ac facis" (1625) yang mengatakan
bahwa pengertianhukum adalah peraturan tentang perbuatan moral yang
menjamin keadilan.
Hukum adalah salah satu dari norma yang ada dalam masyarakat. Norma
hukum memiliki hukuman yang lebih tegas. Hukum merupakan untuk
menghasilkan keteraturan dalam masyarakat, agar dapat terwujud
keseimbangan dalam masyarakat dimana masyarakat tidak bisa sebebasbebasnya dalam bermasyarakat, mesti ada batasan agar ketidakbebasan
tersebut dapat menghasilkan keteraturan. Ada berbagai macam pengertian
hukum menurut para ahli, sehingga membuat tidak adanya pengertian dari
hukum yang memiliki satu arti.
Berikut ini adalah sifat dari hukum, sebagai berikut :
a. Besifat Mengatur
Hukum dikatakan memiliki sifat mengatur karena hukum memuat berbagai
peraturan baik dalam bentuk perintah maupun larangan yg mengatur tingkah
laku manusia dalam hidup bermasyarakat demi terciptanya ketertiban di
masyarakat
b. Bersifat Memaksa
Hukum dikatakan memiliki sifat memaksa karena hukum memiliki kemampuan
dan kewenangan memaksa anggota masyarakat untuk mematuhinya. hal ini
dibuktikan dengan adanya sanksi yg tegas terhadap orang-orang yg melakukan
pelanggaran terhadap hukum.
c. Bersifat Melindungi
Hukum dikatakan memiliki sifat melindungi karena hukum dibentuk untuk
melindungi hak tiap-tiap orang serta menjaga keseimbangan yg serasi antara
berbagai kepentingan yg ada.
E. Tujuan Hukum
Dalam literatur hukum, dikenal ada dua teori tentang tujuan hukum, yaitu teori
etis dan utilities. Teori etis mendasarkan pada etika. isi hukum itentukan oleh
keyakinan kita yang etis tentang yang adil dan tidak. Menurut teori ini, hukum
bertujuan untuk semata-mata mencapai keadilan dan memberikannya kepada
setiap orang yang menjadi haknya.
Tujuan hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman,
kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam tata kehidupan
bermasyarakat. Dengan adanya hukum maka tiap perkara dapat di selesaikan
melaui proses pengadilan dengan prantara hakim berdasarkan ketentuan
hukum yang berlaku, selain itu hukum bertujuan untuk menjaga dan mencegah
agar setiap orang tidak dapat menjadi hakim atas dirinya sendiri.
Sedangkan teori utilities, hukum bertujuan untuk memberikan faedah bagi
sebanyak-banyaknya orang dalam masyarakt. Pada hikikatnya, tujuan hukum
adalah manfaat dalam memberikan kebahagiaan atau kenikmatan besar bagi
jumlah yang terbesar.
Berikut adalah Tujuan Hukum :
1. Mendatangkan kemakmuran masyarakat mempunyai tujuan;
2. Mengatur pergaulan hidup manusia secara damai;
3.
4.
5.
6.
7.
Memberikan petunjuk bagi orang-orang dalam pergaulan masyarakat;
Menjamin kebahagiaan sebanyak-banyaknya pada semua orang;
Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin;
Sebagai sarana penggerak pembangunan; dan
Sebagai fungsi kritis.
Berkenaan dengan tujuan hukum (menjamin kepastian hukum), ada beberapa
pendapat dari para ahli hukum sebagai berikut :
1. Aristoteles (Teori Etis )
Tujuan hukum semata-mata mencapai keadilan. Artinya, memberikan kepada
setiap orang, apa yang menjadi haknya. Disebut teori etis karena isi hukum
semata-mata ditentukan oleh kesadaran etis mengenai apa yang adil dan apa
yang tidak adil.
2. Jeremy Bentham (Teori Utilitis )
Hukum bertujuan untuk mencapai kemanfaatan. Artinya hukum bertujuan
menjamin kebahagiaan bagi sebanyak-banyaknya orang/masyarakat (Jeremy
Bentham : 1990).
3. Geny (D.H.M. Meuvissen : 1994)
Hukum bertujuan untuk mencapai keadilan, dan sebagai unsur keadilan adalah
”kepentingan daya guna dan kemanfaatan”.
4. Van Apeldorn
Tujuan hukum ialah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Hukum
menghendaki perdamaian. Perdamaian di antara manusia dipertahankan oleh
hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan hukum manusia seperti:
kehormatan, kemerdekaan jiwa, harta benda dari pihak-pihak yang merugikan
(Van Apeldorn : 1958).
5. Prof Subekti S.H.
Tujuan hukum adalah menyelenggarakan keadilan dan ketertiban sebagai
syarat untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan (Subekti : 1977).
6. Purnadi dan Soerjono Soekanto
Tujuan hukum adalah kedaimaian hidup manusia yang meliputi ketertiban
ekstern antarpribadi dan ketenangan intern pribadi (Purnadi - Soerjono
Soekanto: 1978).
F. Fungsi Hukum
Apabila kita perhatikan definisi-definisi hukum atau rumusan dari para sarjana
hukum tersebut, pada dasarnya kita dapat menemukan adanya unsur-unsur
hukum, ciri-ciri hukum, dan sifat hukum.
Adapun fungsi dari hukum adalah, sebagai berikut :
1. Sebagai Perlindungan, Hukum melindungi masyarakat dari ancaman
bahaya;
2. Fungsi Keadilan, Hukum sebagai penjaga, pelindung dan memberikan
keadilan bagi manusia; dan
3. Dalam Pembangunan, Hukum dipergunakan sebagai acuan tujuan
negara.
Fungsi dari hukum secara umum adalah :
1. Hukum berfungsi untuk melindungi kepentingan manusia;
2. Hukum berfungsi sebagai alat untuk ketertiban dan keteraturan
masyarakat;
3. Hukum berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial
(lahir batin);
4. Hukum berfungsi sebagai alat perubahan social (penggerak
pembangunan);
5. Sebagai alat kritik (fungsi kritis); dan
6. Hukum berfungsi untuk menyelesaikan pertikaian.
Tugas dari Hukum adalah sebagai berikut :
1. Menjamin adanya kepastian hukum;
2. Menjamin keadilan, kebenaran, ketentraman dan perdamaian; dan
3. Menjaga jangan sampai terjadi perbuatan main hakim sendiri dalam
pergaulan masyarakat.
Di Indonesia, secara umum, dikenal sekurang-kurangnya tiga jenis sanksi
hukum yaitu:
1. sanksi hukum pidana
2. sanksi hukum perdata
3. sanksi administrasi/administratif
Dalam hukum pidana, sanksi hukum disebut hukuman. Menurut R. Soesilo,
hukuman adalah:
“Suatu perasaan tidak enak (sengsara) yang dijatuhkan oleh hakim
dengan vonis kepada orang yang telah melanggar undang-undang
hukum pidana”
Hukuman sendiri diatur dalam pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP), yaitu:
1. Hukuman pokok, yang terbagi menjadi:
a)
hukuman mati
b)
hukuman penjara
c)
hukuman kurungan
d)
hukuman denda
2. Hukuman-hukuman tambahan, yang terbagi menjadi:
a)
pencabutan beberapa hak yang tertentu
b)
perampasan barang yang tertentu
c)
pengumuman keputusan hakim
Dalam hukum perdata, putusan yang dijatuhkan oleh hakim dapat berupa:
1.
putusan condemnatoir yakni putusan yang bersifat menghukum pihak
yang dikalahkan untuk memenuhi prestasi (kewajibannya). Contoh: salah
satu pihak dihukum untuk membayar kerugian, pihak yang kalah dihukum
untuk membayar biaya perkara
2.
putusan declaratoir yakni putusan yang amarnya menciptakan suatu
keadaan
yang
sah
menurut
hukum.
Putusan
ini
hanya
bersifat
menerangkan dan menegaskan suatu keadaan hukum semata-mata.
Contoh: putusan yang menyatakan bahwa penggugat sebagai pemilik yang
sah atas tanah sengketa
3.
putusan constitutif yakni putusan yang menghilangkan suatu keadaan
hukum dan menciptakan keadaan hukum baru. Contoh: putusan yang
memutuskan suatu ikatan perkawinan.
Jadi, dalam hukum perdata, bentuk sanksi hukumnya dapat berupa:
1.
kewajiban untuk memenuhi prestasi (kewajiban)
2.
hilangnya suatu keadaan hukum, yang diikuti dengan terciptanya suatu
keadaan hukum baru
Sedangkan untuk sanksi administrasi/administratif, adalah sanksi yang
dikenakan terhadap pelanggaran administrasi atau ketentuan undang-undang
yang bersifat administratif. Pada umumnya sanksi administrasi/administratif
berupa;
-
denda (misalnya yang diatur dalam PP No. 28 Tahun 2008),
-
pembekuan hingga pencabutan sertifikat dan/atau izin (misalnya
yang diatur dalam Permenhub No. KM 26 Tahun 2009),
-
penghentian
sementara
pelayanan
administrasi hingga pengurangan jatah produksi (misalnya yang
diatur dalam Permenhut No. P.39/MENHUT-II/2008 Tahun 2008),
-
tindakan administratif (misalnya yang diatur dalam Keputusan
KPPU No. 252/KPPU/KEP/VII/2008 Tahun 2008)
Dasar hukum:
Walaupun dalam dasar hukum “Mengingat” Undang-Undang No. 10 Th. 2004
tentang
Pembentukan
Peraturan
Perundang-Undangan
tersebut
hanya
merumuskan pasal-pasal dalam UUD 1945 yang memberikan kewenangan
pembentukan suatu undang-undang, namun demikian sebenarnya terdapat
beberapa ketentuan yang merupakan landasan hukum yang tegas bagi
pembentukan
undang-undang
tersebut.
Landasan
hukum
tersebut
adalah
sebagai
berikut:
1. Pasal 22A Perubahan UUD 1945 yang merumuskan bahwa “Ketentuan lebih
lanjut tentang tata cara pembentukan undang-undang diatur dengan undanundang”
2. Pasal 6 Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata
Urutan Peraturan Perundang-Undangan, yang merumuskan bahwa: “Tata cara
pembuatan undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah dan
pengujian peraturan perundang-undangan oleh Mahkamah Agung serta
pengaturan ruang lingkup keputusan presiden diatur lebih lanjut dengan
undang-undang”
3. Aturan Tambahan Pasal I Perubahan (keempat) UUD 1945, yang
menetapkan “Majlis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan
peninjauan
terhadapa
materi
dan
status
hukum
ketetapan
Majlis
Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majlis Permusyawaratan
Rakyat untuk diambil putusan pada sidang Majlis Permusyawaratan Rakyat
tahun
2000”
4. Pasal 4 angka 4 Ketetapan MPR No. I/MPR/2003 tentang Peninjauan
terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majlis Permusyawaratan Rakyat
Sementara dan Ketetapan Majlis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Tahun 1960 sampai dengan tahun 2002, yang menyatakan bahwa “ketetapan
Majlis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tetang Sumber Hukum
dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan tetap berlaku sampai
terbentuknya
undang-undang”.
Bedaraskan beberapa ketentuan di atas, maka diajukanlah rancangan undangundang
Usul
inisiatif
Dewan
Perwakilan
Rakyat
tentang
Tata
Cara
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (RUUTCP3), yang akhirnya
menjadi Undang-Undang No. 10 Th. 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan.
Garis besar substansi yang termuat dalam Undang-Undang No 10 Th. 2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan adalah sebagi berikut:
Bab
I
:
Ketentuan
Umum
(
terdiri
dari
pasal
1-
pasal
4)
Bab II : Asas Peraturan Perundang-Undangan (terdiri dari pasal 5- pasal 7)
Bab
III
:
Materi
Muatan
(terdiri
dari
pasal
8
–
pasal
14)
Bab IV : Perencanaan Peraturan Perundang-Undangan (pasal 15 – pasal 16)
Bab V : Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (pasal 17 – pasal 31)
Bab VI : Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Undang-Undang
32 – pasal
(pasal
39)
Bab VII : Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Peraturan Daerah
(pasal 40 –pasal43)
Bab VIII : Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan (pasal 44)
Bab IX : Pengundangan dan Penyebaluasan (pasal 45 – pasal 52)
Bab X
:
Partisipasi
Masyarakat (pasal
53)
Bab XI
:
Ketentuan
Lain-Lain
(pasal
54)
Bab XII
:
Ketentuan
Peralihan
(pasal
55)
Bab XIII
:
Ketentuan Penutup (pasal 56).
Sistem hukum di Indonesia membentuk tata urutan peraturan perundangundangan. Tata urutan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam
ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang sumber hukumdan tata urutan
perundang-undangan
sebagai
berikut:
a)
Undang
Undang
Dasar 1945
b)
Ketetapan
MPR RI
c)
Undang
Undang
d)
Peraturan
e)
Peraturan
Pemerintah
f)
Keputusan
Presiden
g)
Peraturan
Daerah
Pemerintah
Pengganti
Undang
Undang
(perpu)
Nama Anggota : 1. Nisrina Izza N.A.
(20)
2. Savira Nur W.A
(22)
3. Fatimatuz Z.
(12)
4. Ichsan Adi N.
(14)
5. Ilham Lukmansyah
(15)
6. Ardelia.A
(03)
7. Treeana.K.
(23)
Download