Pengaruh Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Kajian Teori
1. Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS)
a. Pengertian Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) dapat
dikatakan pendekatan yang lebih spesifik diambil dari PAKEM
(partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan). Rusman
(2012: 388) mengatakan bahwa standar proses satuan pendidikan
mengarahkan kepada guru untuk menerapkan pembelajaran yang
mengaktifkan siswa. Penerapan pembelajaran tersebut merupakan
suatu hal yang mutlak untuk dilakukan agar pembelajaran dapat
diselenggarakan secara optimal sebagai usaha sadar, usaha
terencana, usaha untuk menciptakan suasana dan proses
keaktifan, dan usaha untuk memberdayakan potensi siswa yang
berkakteristik-holistik.
Pembelajaran
tersebut
dapat
menghindarkan pembelajaran yang mengarah pada apa yang
disebut sebagai “teaching to the test” atau mengajar yang
diarahkan hanya untuk menghadapi soal-soal ujian. Pentingnya
pembelajaran yang mengaktifkan siswa patut diterapkan
sepenuhnya oleh guru dala kegiatan pembelajaran. Penerapan
pembelajaran yang mengaktifkan siswa dapat dilakukan melalui
pengembangan berbagai keterampilan belajar esensial secara
efektif, antara lain sebagai berikut : 1) berkomunikasi lisan dan
tertulis secara efektif, 2) berpikir logis, kritis, dan kreatif, 3) rasa
ingin tahu, 4) penguasaan teknologi dan informasi, 5)
pengembangan personal dan sosial, 6) belajar mandiri.
Proses pembelajaran dikatakan sedang berlangsung, apabila
ada aktivitas siswa di dalamnya, maka pendekatan pembelajaran
yang digunakan adalah pendekatan pembelajaran berpusat pada
siswa (student centered). Meier dalam Yamin (2008:74)
mengemukakan bahwa belajar harus dilakukan dengan aktivitas,
yaitu menggerakkan fisik ketika belajar, dan memanfaatkan indera
siswa sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh/pikiran
terlibat dalam proses belajar.
5
6
Menurut Rusman (2012: 389) pembelajaran yang melibatkan
aktivitas siswa secara langsung merupakan implementasi dari gaya
belajar yang mengaktifkan siswa, karena dengan aktivitas langsung
dalam proses pembelajaran, maka siswa secara otomatis
melibatkan gerakan fisik, indera, mental, dan intelektual secara
bersamaan.
Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2005, pasal 19 (ayat 1) yang berbunyi: “Proses
pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik secara fisiologis
peserta didik.”
Pembelajaran bukanlah komunikasi satu arah (one way
communication) tranformasi dari guru kepada siswa, melainkan
harus berupa komunikasi timbale balik secara interaktif antara
siswa dengan guru. Sanjaya (2008: 137) mengemukakan bahwa,
“PBAS dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara
optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara
aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang”.
Selanjutnya Sanjaya (2006: 135) mengatakan bahwa: “Dari konsep
tersebut ada dua hal yang harus dipahami, yaitu: pertama,
dipandang dari sisi proses pembelajaran, PBAS menekankan
kepada aktivitas siswa secara optimal. Artinya PBAS menghendaki
keseimbangan antara aktivitas fisik, mental, termasuk emosional
dan aktivitas intelektual. Kedua, dipandang dari sisi hasil belajar,
PBAS menghendaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara
kemampuan intelektual (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan
(psikomotor).”
Kesimpulan yang dapat ditarik mengenai Pembelajaran
Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) adalah pembelajaran yang
memposisikan siswa sebagai subjek dalam pembelajaran, sehingga
memberikan konsekuensi keterlibatan siswa secara penuh mulai
dari perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran sampai pada
evaluasi pembelajaran.
7
b.
Landasan Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
Pendekatan dalam belajar terbagi menjadi dua, yaitu
pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered) dan
pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered).
Pendekatan yang berpusat pada guru, pembelajaran bersifat
langsung (direct instruction) yaitu materi disampaikan langsung
oleh guru melalui verbal simbol (ceramah) dan siswa harus
menguasai materi tersebut dengan cara mendengarkan secara
pasif. Pendekatan yang berpusat pada siswa pembelajaran bersifat
tidak langsung (inquiry-discovery) dan siswa belajar dengan cara
mencari serta menemukan sendiri melalui pengalaman langsung
secara kontekstual, yaitu dengan cara mengeksplorasi dan
mengelaborasi pengalaman belajarnya.
Beberapa alasan yang melandasi pembelajaran berorientasi
aktivitas siswa diantaranya adalah :
1) Landasan Filosofis
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) dilandasi
oleh landasan filsafat pendidikan progresivisme. Sadullah
(2007: 142) dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Filsafat
Pendidikan” yang mengemukakan bahwa : Filsafat progresif
berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini
mungkin tidak benar di masa mendatang, karenanya cara
terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan
yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan
strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan
mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam
kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang
relevan pada saat ini.
Rusman (2012: 383) mengemukakan bahwa pandangan
filsafat progresivisme pendidikan didasarkan pada enam
asumsi, diantaranya sebagai berikut:
i) Muatan kurikulum harus diperoleh dari minat dan
interest siswa, bukan dari disiplin-disiplin akademik.
ii) Pembelajaran dikatakan efektif jika mempertimbangkan
interst, minat-minat serta bukan kebutuhan-kebutuhan
siswa secara menyeluruh dalam dengan domain kognitif,
afektif, dan psikomotor.
8
2)
iii) Pembelajaran pada dasarnya aktif bukan pasif, sehingga
guru yang efektif adalah guru yang memberikan siswa
pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka
belajar dengan melakukan kegiatan secara langsung yang
bersifat kontekstual.
iv) Tujuan pendidikan adalah mengajar siswa berpikir secara
rasional, sehingga mereka menjadi cerdas, dan mampu
memberi kontribusi pada masyarakat.
v) Di sekolah para siswa mempelajari nilai-nilai personal dan
juga nilai-nilai sosial.
vi) Manusia berada dalam suatu keadaan yang berubah
secara konstan, dan pendidkan memungkinkan masa
depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.
Asumsi inilah yang dijadikan landasan Pembelajaran
Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS), karena pendidikan
dipandangnya sebagai proses pembelajaran yang harus
memperhatikan interest dan minat-minat siswa secara
keseluruhan, belajar merupakan aktivitas siswa baik pada
ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, sehingga
memberikan kemampuan berpikir rasional dan cerdas dalam
menghadapi masalah-masalah dan perubahan-perubahan
dalam kehidupan yang penuh tantangan ini.
Landasan Psikologis
Menurut Rusman (2012: 385) pendidikan pada dasarnya
adalah berintikan interaksi anatara guru dengan siswa yang
berlangsung dalam suatu situasi yang kondusif untuk
pelaksanaan pendidikan, baik di sekolah maupun di luar
sekolah, seperti di rumah, lingkungan kerja atau di
masyarakat. Interaksi pendidikan merupakan interaksi
antarindividu yang sangat kompleks dan unik yang
berlangsung dalam suatu konteks pedagogis. Interaksi
pendidikan dipengaruhi oleh kondisi dan latar belakang guru
dan siswa. Menurut Sukmadinata (2003: 32) dikemukakan
bahwa:
“Psikologi pendidikan dibutuhkan untuk lebih memahami
situasi pendidikan, interaksi guru dengan siswa, kemampuan,
perkembangan, karakteristik dan faktor-faktor yang
9
melatarbelakangi perilaku siswa dan perilaku guru, proses
belajar, pengajaran, pembelajaran, bimbingan, evaluasi,
pengukuran, dan lain-lain.”
Sukmadinata (2003: 167) menjelaskan tentang aliranaliran psikologis yang melahirkan teori-teori belajar, bahwa,
“secara garis besar dikenal ada tiga rumpun besar teori
psikologis yaitu; teori disiplin mental, behaviorisme, dan
cognitive gestalt-field”. Secara lebih jelas teori-teori tersebut
dijelaskan sebagai berikut :
i) Teori Disiplin Mental
Teori disilpin mental memandang bahwa individu
memiliki kekuatan, kemampuan, serta potensi-potensi
tertentu yang dikembangkan. Terdapat beberapa teori
psikologi yang termasuk teori disiplin mental, diantaranya
yaitu :
i.i) Teori Psikologi Daya
Teori psikologi daya memandang bahwa individu
memiliki daya-daya seperti daya mengenal,
mengingat, menanggapi, mengkhayal, berpikir,
merasakan, berbuat, dan sabagainya.
i.ii) Vorstellunggen
Teori ini memandang bahwa individu memiliki
kemampuan untuk melakukan atau menanggapi
sesuatu.
i.iii) Teori Naturalism Romantic dari Jean Jacques
Rousseau
Teori ini memandang bahwa individu memiliki
potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang
masih terpendam dan memiliki kekuatan sendiri
untuk mengembangkan dirinya secara mandiri.
Proses pembelajaran berlangsung rileks, menarik,
dan bersifat alamiah (natural).
ii) Teori Behavioristik
Teori ini menekankan perilaku atau tingkah laku yang
dapat diamati yang bersifat molecular (unsur-unsur).
Teori behavioristik memiliki beberapa ciri, yaitu
mengutamakan bagian-bagian kecil, bersifat mekanistik,
10
c.
menekankan peranan lingkungan, mementingkan
pembentukan respons, dan menekankan pentingnya
latihan. Beberapa teori psikologi yang termasuk dalam
teori behavioristik, diantaranya sebagai berikut :
ii.i) Teori Koneksionisme dari Thorndike
Teori koneksionisme memandang bahwa tingkah
laku manusia merupakan hubungan stimulus dengan
respons. Terdapat tiga prinsip atau hokum belajar,
yaitu 1) belajar akan berhasil apabila memiliki
kesiapan (law of readiness), 2) belajar akan berhasil
apabila banyak latihan (law of exercise), 3) belajar
akan bersemangat
apabila mengetahui dan
mendapatkan hasil yang baik (law of effect).
ii.ii) Teori Pengkondisian (conditioning)
Teori pengkondisian memandang bahwa tingkah
laku manusia dapat dibentuk melalui pengkondisian
yang dilakukan secara berulang-ulang.
ii.iii) Teori Penguatan (reinforcement) dari B.F. Skinner,
memandang bahwa tingkah laku manusia dapat
dibentuk melalui pemberian penghargaan tas
respons yang dilakukan.
iii) Teori Cognitive Gestalt-Field dari Max Wertheimer
Teori ini menekankan perilaku atau tingkah laku yang
dapat diamati yang bersifat molar (keseluruhan) atau
keterpaduan dari bagian-bagian. Teori Cognitive ini lebih
menekankan pada aspek mental, bukan aspek perilaku.
Asumsi yang Mendasari PBAS
Standar proses satuan pendidikan yang tertuang dalam
Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 mengamanahkan bahwa
“pembelajaran didesain untuk membuat siswa aktif belajar melalui
kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi”. Pembelajaran
dianggap bermakna jika dalam proses pembelajaran tersebut siswa
terlibat secara aktif, untuk mencari dan menemukan sendiri
pemecahan masalah serta menemukan sendiri pengetahuan
melalui pengalaman langsung. Pembelajaran dianggap terjadi bila
ada keterlibatan siswa secara aktif, artinya pembelajaran yang
11
efektif adalah pembelajaran yang menekankan dan berorientasi
pada aktivitas siswa.
Menurut Rusman (2012: 391) terdapat beberapa asumsi yang
mendasari Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS), yaitu:
1) Asumsi Filosofis tentang Pendidikan
Pendidikan bukan hanya mengembangkan intelektual
semata, tetapi mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki
siswa. Pendidikan merupakan usaha mengembangkan manusia
menuju kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, sosial,
maupun moral. Pendidikan bertugas mengembangkan seluruh
potensi siswa.
2) Asumsi tentang Siswa Sebagai Subjek Pendidikan
Siswa diposisikan sebagai manusia yang sedang dalam tahap
perkembangan dengan karakteristik dan potensi yang unik,
heterogen, aktif, dinamis, dan memiliki motivasi untuk
memenuhi kebutuhannya. Asumsi ini memberikan gambaran
bahwa siswa adalah subjek yang memiliki potensi sehingga
proses
pembelajaran
seharusnya
diarahkan
untuk
mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa.
3) Asumsi tentang Guru
Guru bertanggung jawab menciptakan suasana yang
memungkinkan siswa dapat belajar dengan baik, artinya guru
harud bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar siswa.
Filosofi mengajar yang baik adalah bukan sekedar mentransfer
pengetahuan (transfer of knowledge) kepada siswa, tetapi
bagaimana membantu siswa supaya dapat belajar (learn how to
learn). Proses pembelajaran yang baik adalah proes
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mencari, menemukan, dan memecahkan masalah secara
langsung dari pengalaman belajarnya. Pembelajaran seperti ini
lebih dikenala dengan pembelajaran berorientasi pada aktivitas
siswa (student centered).
4) Asumsi yang Berkaitan dengan Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai
suatu sistem, proses belajar akan terjadi apabila siswa
berinteraksi dengan lingkungan yang dirancang dan
dipersiapkan oleh guru, dan lebih efektif bila menggunakan
12
d.
e.
metode, strategi, pendekatan, dan model pembelajaran yang
tepat dan berdaya guna.
Konsep dan Tujuan PBAS
Sanjaya (2006: 137) mengatakan bahwa PBAS dapat dipandang
sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang meneankan
aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar
berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor
secara seimbang. Terdapat dua hal yang harus dipahami dari
konsep tersebut, yaitu :
1) Dipandang dari sisi proses pembelajaran, PBAS menekankan
kepada aktivitas siswa secara optimal, artinya PBAS
menghendaki keseimbangan antara aktivitas fisik, mental,
termasuk emosional dan aktivitas intelektual. Kesimpulannya
kadar PBAS tidak hanya bias dilihat dari aktivitas fisik saja, akan
tetapi juga aktivitas mental dan intelektual.
2) Dipandang dari sisi hasil belajar, PBAS menghendaki hasil
belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan
intelektual (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan
(psikomotor). Artinya dalam PBAS pembentukan siswa secara
utuh merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran.
PBAS tidak menghendaki pembentuka siswa yang secara
intelektual cerdas tanpa diimbangi oleh sikap dan
keterampilan, tetapi juga bertujuan membentuk siswa yang
cerdas sekaligus siswa yang memiliki sikap positif dan secara
motorik terampil.
Secara khusus pendekatan PBAS bertujuan, pertama,
meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih bermakna. Artinya,
melalui PBAS siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai
sejumlah informasi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan
informasi itu untuk kehidupannya. Kedua, mengembangkan
seluruh potensi yang dimilikinya. Artinya, melalui PBAS diharapkan
tidak hanya kemampuan intelektual saja yang berkembang, tetapi
juga seluruh pribadi siswa termasuk sikap dan mental.
Peran Guru dalam Penerapan Pembelajaran Berorientasi Aktivitas
Siswa
13
f.
Menurut Rusman dalam Sanjaya (2006: 139) ada enam tugas
yang harus dilakukan guru dalam desain pembelajaran berorientasi
aktivitas siswa, yaitu:
1) Mengemukakan berbagai alternatif tujuan pembelajaran yang
harus dicapai sebelum kegiatan pembelajaran dimulai
2) Menyusun tugas-tugas belajar bersama siswa
3) Memberi informasi tentang kegiatan pembelajaran yang harus
dilakukan
4) Memberikan bantuan dan pelayanan kepada siswa yang
memerlukannya
5) Memberikan motivasi, mendorong siswa untuk belajar,
membimbing, dan lain sebagainya melalui pengajuan
pertanyaan-pertanyaan
6) Membantu siswa dalam menarik kesimpulan kegiatan
pembelajaran
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam PBAS siswa dituntut
harus aktif mengerjakan tugas-tugas, melakukan eksperimen dan
sebagainya. Aktivitas siswa dalam PBAS mulai dari merumuskan
tujuan pembelajaran, menyusun tugas-tugas yang harus dikerjakan
dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan bersama, sehingga denga
keterlibatan seperti ini akan lebih betranggung jawab terhadap
ketercapaian tujuan tersebut. Keterlibatan inilah yang
membedakan pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS)
dari pendekatan pembelajaran lainnya.
Penerapan PBAS dalam Pembelajaran
Menurut Sanjaya (2006: 141), pembelajaran berorientasi
aktivitas siswa dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan
pembelajaran, misalnya kegiatan mendengarkan, berdiskusi,
bermain peran, melakukan pengamatan, melakukan eksperimen,
membuat sesuatu, menyusun laporan, memecahkan masalah dan
prktik melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dapat dikelompokkan
menjadi tiga aspek, diantaranya sebagai berikut:
1) Kadar PBAS dilihat dari proses perencanaan, keterlibatan siswa
meliputi:
i) Perumusan tujuan pembelajaran
ii) Penyusunan rancangan pembelajaran
14
iii) Memilih dan menentukan sumber belajar
iv) Menentukan dan mengadakan media pembelajaran yang
akan digunakan
2) Kadar PBAS dilihat dari proses pembelajaran, keterlibatan siswa
meliputi:
i) Kegiatan fisik, mental, dan intelektual
ii) Kegiatan eksperimental
iii) Keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang
kondusif
iv) Keterlibatan siswa untuk mencari dan memanfaatkan
sumber belajar yang ada
v) Adanya interaksi multiarah, yaitu interaksi siswa dengan
siswa, dan interaksi siswa dengan guru
3) Kadar PBAS dilihat dari proses evaluasi, keterlibatan siswa
meliputi:
i) Mengevaluasi sendiri hasil pembelajaran yang telah
dilakukan
ii) Melaksanakan kegiatan semacam tes dan tugas-tugas yang
harus dikerjakannya baik secara terstruktur maupun tugas
mandiri yang diberikan guru
iii) Menyusun laporan hasil belajar baik secara tertulis maupun
lisan
Berdasarkan uraian di atas, maka secara lebih singkat
penerapan PBAS dalam pembelajaran matematika adalah sebagai
berikut :
Tabel 2.1
Sintak (Tahap Pembelajaran)
Tahap
Tahap 1
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
1. Mengecek
kehadiran
siswa
2. Menyampaikan tujuan
belajar
3. Guru memotivasi siswa
agar berantusias dalam
mengikuti
proses
belajar mengajar.
4. Mengingat
kembali
mengenai
bangun-
Mengingat
kembali
mengenai bangun-bangun
segiempat.
15
Tahap 2
Tahap 3
Tahap 4
Tahap 4
Tahap 5
g.
bangun segiempat.
Membagi siswa menjadi 5
kelompok (setiap kelompok
terdiri dari 5 anak)
Memberikan tugas setiap
kelompok untuk membuat
bangun datar segiempat
(persegi, persegi panjang,
jajar
genjang,
belah
ketupat, layang-layang, dan
trapesium)
Membimbing
dan
mengarahkan siswa untuk
berdiskusi tentang sisi,
sudut, dan diagonal bangun
datar segiempat (persegi,
persegi
panjang,
jajar
genjang, belah ketupat,
layang-layang,
dan
trapesium)
Membimbing
dan
mengarahkan siswa untuk
mempresentasikan
hasil
diskusi kelompoknya di
depan kelas
Bersama-sama
dengan
siswa membahas hasil
presentasi
Membentuk
kelompok
sesuai dengan perintah dan
pilihan guru
Membuat bangun datar
segiempat (persegi, persegi
panjang, jajar genjang,
belah ketupat, layanglayang, dan trapesium)
sesuai
perintah
yang
diberikan oleh guru
Berdiskusi dengan teman
satu kelompok tentang
tentang sisi, sudut, dan
diagonal bangun datar
segiempat (persegi, persegi
panjang, jajar genjang,
belah ketupat, layanglayang, dan trapesium)
Mempresentasikan
hasil
diskusi kelompoknya di
depan kelas
Bersama-sama
dengan
guru
membahas
hasil
presentasi
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan PBAS
Menurut Sanjaya (2006: 143) keberhasilan penerapan PBAS
dalam proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya sebagai berikut :
i) Guru, ada beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan PBAS
dipandang dari sudut guru, yaitu kemampuan guru, sikap
profesionalitas guru, latar belakang pendidikan guru, dan
pengalaman mengajar.
ii) Sarana belajar, keberhasilan implementasi PBAS juga dapat
dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar, yaitu meliputi
16
h.
i.
ruang kelas dan setting tempat duduk siswa, media dan sumber
belajar, serta lingkungan belajar.
Mengaktifkan Siswa Melalui Pendekatan dan Model Pembelajaran
Silberman (1996) dalam bukunya yang berjudul Active Learning
mengemukakan banyak cara yang bias membuat siswa belajar
secara aktif yang disebutnya dengan perlengkapan belajar aktif.
Cara pelaksanaan hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai
metode, strategi, pendekatan, dan model pembelajaran yang
dapat menjadikan siswa aktif dalam belajar, diantaranya sebagai
berikut :
i) Strategi pembentukan tim
ii) Strategi penilaian sederhana
iii) Strategi pelibatan belajar langsung
iv) Belajar dalam satu kelas penuh
v) Menstimulasi diskusi kelas
vi) Pengajuan pertanyaan
vii) Belajar bersama
viii) Pengajaran sesame siswa
ix) Belajar secara mandiri
x) Belajar yang efektif
xi) Pengembangan keterampilan
xii) Penerapan model pembelajaran kooperatif (STAD, jigsaw,
investigasi kelompok, membuat pasangan, TGT, dan model
struktural)
xiii) Penerapan pembelajaran berbasis masalah
xiv) Penerapan pembelajaran kontekstual
xv) Penerapan pembelajaran berbasis komputer
xvi) Penerapan pembelajaran PAKEM dan PAIKEM
xvii) Penerapan model pembelajaran kolaboratif
Jenis Aktivitas Siswa
Menurut B. Diedrich dalam Komsiyah (2012: 79) aktivitas siswa
dalam belajar di sekolah terdapat 177 jenis. Jumlah yang banyak
itu oleh Diedrich kemudian dikelompokkan menjadi delapan,
diantaranya sebagai berikut :
i) Visual activities, sebagai contoh misalnya membaca,
memperhatikan gambar, memperhatikan demonstrasi,
percobaan dan pekerjaan orang lain.
17
2.
ii) Oral activities, seperti menyatakan, bertanya, member saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi,
interupsi.
iii) Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian,
percakapan, diskusi, music, pidato/ceramah.
iv) Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik,
peta, diagram.
v) Motor activities, antara lain: melakukan percobaan, membuat
konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
vi) Mental activities, sebagai contoh: menanggapi, mengingat,
memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil
keputusan.
vii) Emosinal activities, seperti menaruh minat, meras bosan,
gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Arikunto (2001) hasil belajar adalah sebagai hasil yang
telah dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan
terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang
dilakukan. Sedangkan menurut Gagne dalam Suprijono (2009) hasil
belajar berupa :
1) Informasi
verbal,
yaitu
kapabilitas
mengungkapkan
pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan
spesifik.
2) Kemampuan intelektual, yaitu kemampuan mempresentasikan
konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari
kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis
fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
3) Strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan
mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini
meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan
masalah.
4) Keterampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan
serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi,
sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
18
5) Sikap, yaitu kemampuan menerima atau menolak objek
tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan
eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan
menjadikan nilai-nilai.
Beberapa pengertian hasil belajar di atas, dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar merupakan pencapaian yang diukur melalui
alat evaluasi yang dinamakan tes. Penelitian ini mengacu pada
pendapat Sudjana (2002: 22) yang mengatakan bahwa hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
menerima pengalaman-pengalaman belajarnya.
Menurut Bloom dalam Sudjana (2011) secara garis besar
membagi hasil belajar menjadi tiga ranah, diantaranya yaitu ranah
kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif
berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam
aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan
sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau
reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotorik
berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni garakan
refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual,
keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks,
dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Kesimpulan yang lebih singkat dapat dikatakan bahwa ranah
kognitif mencakup kegiatan mental (otak), ranah afektif berkaitan
dengan sikap dan nilai, serta ranah psikomotorik berhubungan
dengan aktivitas fisik. PBAS dapat dipandang sebagai suatu
pendekatan dalam pembelajaran yang meneankan aktivitas siswa
secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan
antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang.
Penelitian ini juga membutuhkan perpaduan ketiga aspek tersebut
secara seimbang, namun lebih mengacu pada penilaian hasil
belajar ranah psikomotorik, karena siswa dituntut untuk berperan
aktif dalam proses pembelajaran sehingga dibutuhkan aktivitas
fisik tentunya.
19
b.
B.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slameto (2003: 54-71) faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar siswa dibagi menjadi dua yaitu faktor
internal (faktor dari dalam diri siswa) dan faktor eksternal (faktor
dari luar. Pertama faktor internal yang meliputi faktor jasmaniah
(kesehatan, cacat tubuh) dan faktor psikologis (intelegensi,
perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan). Kedua,
faktor eksternal yang meliputi faktor keluarga (cara orang tua
mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan
ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang
kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi
guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah,
keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah), dan faktor
masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul,
bentuk kehidupan masyarakat).
c. Ranah Hasil Belajar
Bloom dalam Sudjana (2011) secara garis besar membaginya
menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah
psikomotorik. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar
intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek,
yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan
internalisasi. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah
psikomotorik, yakni garakan refleks, keterampilan gerakan dasar,
kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan
keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Kajian yang Relevan
Suatu penelitian pada umumnya telah terdapat penelitian yang
sebelumnya sebagai dasar sebelum menjalankan penelitian. Beberapa
penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, diantaranya sebagai
berikut :
Widyasari (2009) yang berjudul “Penerapan Strategi Pembelajaran
Berorientasi Aktivitas Siswa untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis
Karangan Deskripsi Siswa Kelas VII SMP Negeri 6 Malang Tahun Ajaran
2008/2009” dengan hasil analisis penelitian diperoleh presentase hasil
20
pekerjaan setiap individu sebelum tindakan 66.67%, siklus 1 dengan
presentase 74.80% dan siklus 2 diperoleh persentase 81.94%, sedangkan
hasil kelompok pada siklus 1 persentase 74.80%, dan siklus 2 persentase
89.58%.
Postalina Rosida dan Titin Suprihatin (2011) yang berjudul “Pengaruh
Pembelajaran Aktif dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Fisika Pada Siswa
Kelas 2 SMP” dengan hasil analisis penelitian diperoleh nilai t = 3.103 dan p =
0.003 (p < 0.01), hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan
antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok
eksperimen ditemukan peningkatan yang signifikan sedangkan pada
kelompok kontrol ditemukan hasil pretest dan posttest relatif sama.
Eni Rahayu, Alvi Rosyidi, dan Meti Indrowati (2011) yang berjudul
“Achievement of Biology Using Question Student Have Active Learning
Observed from Learning Activity of Student’s on IX IPA Grade of SMA Negeri
1 Sukoharjo” dengan hasil penelitian bahwa tidak terdapat interaksi antara
strategi pembelajaran dengan tingkat keaktifan belajar siswa terhadap hasil
belajar biologi pada pokok bahasan sistem reproduksi manusia, dapat dilihat
bahwa nilai signifikasi > 0,05.
Amiruddin Takda (2008) yang berjudul “Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Matakuliah Termodinamika untuk Meningkatkan Aktivitas dan
Hasil Belajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan PMIPA
FKIP UNHALU” dengan hasil penelitian bahwa perangkat pembelajaran
Matakuliah Termodinamika yang telah dikembangkan dan diterapkan dalam
proses pembelajaran memiliki keterbacaan yang efektif dalam
meningkatkan hasil belajar dan aktivitas mahasiswa mengikuti perkuliahan
pada program studi pendidikan Fisika PMIPA FKIP Unhalu yang menuju
kepada pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centre).
Farida Nurhasanah (2012) yang berjudul “Membangun Keaktifan
Mahasiswa pada Proses Pembelajaran Matakuliah Perencanaan dan
Pengembangan Program Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan
Konstruktivisme dalam Kegiatan Lesson Study” dengan hasil penelitian
bahwa prosentase keaktifan mahasiswa secara individu sebesar 29% dan
keaktifan mahasiswa dalam kelompok sebesar 44%, namun yang perlu
dicermati adalah munculnya mahasiswa-mahasiswa yang awalnya belum
terlihat aktif pada siklus pertama dan kedua, mulai aktif pada siklus ketiga.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini dibuat
untuk mengetahui sejauh mana pengaruh Pembelajaran Berorientasi
21
C.
Aktivitas Siswa (PBAS) yang diterapkan pada kelas VIIB SMP Kristen Satya
Wacana Salatiga terhadap hasil belajar matematika.
Kerangka Berpikir
Penelitian ini dilakukan dengan melihat penelitian yang sebelumnya serta
mengamati secara langsung kondisi awal siswa kelas VIIB SMP Kristen Satya
Wacana Salatiga. Proses pembelajaran yang terlihat guru lebih berperan
aktif (teacher centered) dibandingkan siswa sehingga rata-rata hasil belajar
matematika yang diperoleh cukup rendah, maka diperlukan suatu
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa, yaitu
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS).
Keistimewaan pembelajaran ini adalah siswa berperan aktif melalui
aktivitas-aktivitas yang dilakukan secara langsung baik saat perencanaan,
proses pembelajaran, maupun saat evaluasi pembelajaran. Menggunakan
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) rata-rata hasil belajar
matematika yang diperoleh akan jauh lebih baik dibanding sebelumnya,
sebab melalui pembelajaran ini diharapkan siswa akan lebih mengerti dan
memahami materi yang sedang diajarkan oleh guru.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kerangka berpikir dapat
diilustrasikan pada diagram berikut :
Guru berperan lebih dominan (teacher centered) dalam
proses pembelajaran
Hasil
Belajar
Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
(PBAS)
Hasil
Belajar
Nilai Awal
PBAS
Gambar 2.1
Hasil Belajar
22
D.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Melalui Pembelajaran Berorientasi
Aktivitas Siswa (PBAS) dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada
mata pelajaran Matematika Kelas VIIB SMP Kristen Satya Wacana Salatiga.”
Download