perbandingan teknologi alat tangkap bubu dasar untuk mengetahui

advertisement
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII
Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
PERBANDINGAN TEKNOLOGI ALAT TANGKAP BUBU DASAR
UNTUK MENGETAHUI EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN
DEMERSAL EKONOMIS PENTING DI KLUNGKUNG BALI
R . THOMAS MAHULETTE
Pusat Riset Perikanan Tangkap
Jalan Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
ABSTRAK
Penelitian efektivitas penangkapan ikan demersal telah dilakukan dengan membandingkan bubu bambu tradisional
tanpa umpan dengan bubu besi komersial yang menggunakan umpan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubu besi
berpengaruh sangat nyata dalam meningkatkan jumlah maupun berat ikan yang tertangkap. Adapun variabel penting
yang mempengaruhi operasi bubu dasar antara lain adalah lamanya trip, kedalamann, arus permukaan, dan fase bulan .
Kata kunci : Efektivitas penangkapan, bubu besi dan bambu, ikan demersal ekonomis
PENDAHULUAN
Kabupaten Klungkung merupakan kabupaten
dengan luas terkecil dari 9 (sembilan) Kabupaten
dan Kota di Bali . Terletak diantara 115 °21'28"
- 115°37'43" Bujur Timur dan 80 °27'37" 80°49'00" Lintang Selatan dengan batas-batas di
sebelah Utara Kabupaten Bangli, sebelah Timur
Kabupaten Karangasem sebelah Selatan Samudra
India dan sebelah Barat Kabupaten Gianyar dengan
luas wilayah 315 km 2 . Dua pertiga dari Kabupaten
Klungkung di Kecamatan Nusa Penida dengan
Nusa Lembongan, secara keseluruhan mempunyai
panjang pantai 70 km yang merupakan potensi
perekonomian laut dengan budidaya rumput laut
dan penangkapan ikan laut (KLUNGKUNG, 2002) .
Untuk meningkatkan pendapatan nelayan, alat
tangkap yang ada perlu diberikan adopsi teknologi,
salah satunya adalah bubu . Secara tradisional bubu
merupakan benda pasif yang terbanyak dibuat
dari rotan atau bambu, sering membahayakan
nelayan, apalagi adanya pengaruh arus dasar yang
kuat membuat ikan takut mendekatinya. Analisis
komparasi dilakukan untuk membedakan bubu yang
dilakukan secara tradisional yaitu bubu rotan yang
diangkut menggunakan perahu dayung, diselam
pada daerah karang tanpa pemberat, menggunakan
tali dengan pelampung, dengan teknologi bubu
180
dari rangka besi, yang menggunakan kapal motor
dengan perlengkapan katrol, tali dan pelampung
tanda .
alat tangkap bubu dalam
Penggunaan
penangkapan ikan karang atau ikan demersal cukup
selektif dibandingkan dengan penggunaan alat
tangkap lainnya, (RutAJAR, 2002). Di samping itu
juga penggunaan alat tangkap ini secara balk dan
benar akan sangat mendukung Code of conduct for
responsible fishing, yaitu pengembangan perikanan
tradisional dengan penggunaan alat tangkap yang
selektif dan memperkecil hasil tangkapan non
target (MONINTJA dan BAHRUDIN, 1996) . Jenis jenis
ikan pelagis yang biasanya dipergunakan sebagai
umpan dalam bubu antara lain adalah kepala ikan
cakalang, ikan kembung dan ikan layang . Umpan
yang digunakan untuk menarik perhatian ikan
biasanya berbeda-beda, bisa karena lelehan darah
dari umpan itu ataupun tubuh ikan yang segar dan
masih bercahaya.
Hal yang perlu diketahui adalah bahwa alat
tangkap bubu mempunyai spesifikasi khas sesuai
dengan kondisi laut dimana dil akukan penangkapan .
Pengoperasian bubu di laut dalam sering dilakukan
dengan berbagai macam cara untuk menarik
perhatian ikan misalnya dengan meletakkan umpan
atau membuat bubu semenarik mungkin . Bentuk
rancangan dari bubu juga menentukan sampai sejauh
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII
Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
mana kedudukan bubu akan dipengaruhi oleh arus,
upwelling, maupun tempat ikan itu berada . Bubu
yang dirancang dalam percobaan ini terbuat dari besi
dengan dua pintu, yang dilengkapi alat pemberat
besi dengan perlengkapan tali dan pelampung .
Adapun tujuan penelitian ini yaitu, 1). Mengetahui
efisiensi dan spesifikasi teknis bubu yang secara
tradisional digunakan nelayan 2) . Introduksi bubu
dengan teknologi yang diperbaiki (bubu besi) 3) .
Membandingkan rancang bangun (disain) bubu
yang diintroduksi dari bubu tradisional dan bubu
besi yang diperbaiki 4) . Mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi basil tangkapan bubu besi .
METODE PENELITIAN
Kerangka pemikiran penelitian
Potensi sumberdaya alam laut yang terdapat di
Pulau Bali terdapat dua kegiatan yakni, budidaya
laut dan perikanan tangkap . Dari kedua potensi ini
yang menjadi andalan oleh nelayan di Nusa Penida
adalah perikanan tangkap yang saat ini banyak
menggunakan bubu bambu . Inovasi bubu besi
diharapkan dapat menghasilkan tangkapan yang
lebih baik .
Bubu besi, Kapal motor (jukung), katrol,
umpan, tali, pelampung, tanda
Potensi sumberdaya di Bali
Budidaya rumput laut dan
keramba jaring apung (KJA)
Perikanan tangkap bubu secara komparasi
Bubu rotan/bambu, perahu, tali /tanpa
tali, pelampung, selam
Diharapkan hasil cukup Maksimal
Hasil kurang maksimal
Pengaruh positif dan negatif
y
Terhadap nelayan
Terhadap hasil tangkapan
Kelestarian sumberdaya alam
Sosial
Ekonomi
Pengembangan dan pengelolaan pariwisata
I/
Kesejahteraan masyarakat
Peningkatan usaha nelayan
Pendapatan nelayan
Gam bar 1 . Kerangka pemikiran penelitian
Dari potensi yang ada dapat pula dilihat
pengaruh positif dan negatif yang terjadi baik
terhadap basil tangkapan maupun nelayan .
Pengaruh terhadap basil tangkapan berkaitan
dengan kelestarian sumberdaya alam baik untuk
pengembangan maupun pengelolaan pariwisata
yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan
pendapatan nelayan . Laut belum memberikan
sumbangan maksimal bagi pembangunan ekonomi .
Adapun pengaruh terhadap nelayan terkait dengan
kondisi sosial dan ekonomi, jika ekonomi baik
maka dengan sendirinya keadaan sosial akan baik .
Secara skematis karangka pemikiran penelitian
seperti tertera pada Gambar 1 .
181
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII
Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Provinsi Bali,
Kabupaten Klungkung, Kecamatan Nusa Penida
selama 6 bulan dimulai dari persiapan dan
pengolahan data . Data lapangan dikumpulkan pada
bulan Maret - Mei 2004 .
Metode penelitian
Bubu yang digunakan dalam penelitian ini
berbentuk selinder yang rangkanya terbuat dari
besi . Bubu tersebut dilengkapai dengan pintu
masuk bagi ikan dan udang, digunakan 2 buah
ijeb (anakan bubu) yang dipasang di sebelah kiri
Gambar 2 . Rancangan bubu besi tipe selinder
dan kanan badan bubu . Ukuran ijeb adalah panjang
35 cm, lebar bagian luar 35 cm dan tinggi 45 cm
dengan mulut berbentuk lonjong berukuran lebar
12 cm dan tinggi 24 cm .
Unit penangkapan terdiri atas : (1) . Alat
penangkapan yaitu bubu terbuat dari besi dengan
ukuran : panjang 120 cm, lebar 70 cm dan tinggi
60 cm (Gambar 2); (2) . Nelayan sebagai pelaksana
kegiatan penangkapan ; (3) . Kapal merupakan sarana
yang dilengkapi dengan katrol untuk melancarkan
proses kerja bubu; (4) . Bubu dilengkapi dengan
pemberat agar tidak tergoyang oleh arus, tali dan
pelampung berbendera yang dipersiapkan pada
permukaan air laut (Gambar 3) .
Gambar 3 . Metode operasi bubu dasar skala kecil
(VON BRANDT, 1984)
Metode pengambilan contoh dan pengukuran
Data sekunder
Untuk lebih membantu melengkapi data-data,
maka penelitian ini dilakukan secara deskriptif
dengan cara menggali data dilapangan . Data yang
dikumpulkan untuk dianalisis adalah data primer
melalui survei lapangan dan data sekunder dari
berbagai sumber. -
Data sekunder dikumpulkan melalui publikasi,
tulisan, atau laporan dari instansi pemerintah atau
instansi/lembaga terkait serta sumber-sumber data
lain yang berhubungan dengan studi ini .
Data primer
Untuk melihat sejauh mana bubu besi ini dapat
digunakan dengan baik dan membawa keuntungan
pada nelayan berikut keadaan Iingkungan setempat,
maka digunakan estimasi catch per trip per jumlah
unit yang dinyatakan :
C/T/U = Y
dimana :
Y = jumlah tangkapan ; Catch = hasil tangkapan ;
T = lama operasi (trip) ;
Data primer dikumpulkan secara langsung
di lokasi penelitian melalui wawancara dengan
responden (interview) dan wawancara mendalam
(in-depth interview) dengan informasi kunci .
1 82
Rancangan penelitian
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII
Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
Unit = jumlah bubu (unit)
Y adalah hasil upaya tangkap selama 25
hari, dengan menggunakan 5 buah bubu dengan
alat bantu kapal (motor tempel) . Variabel yang
diperhatikan secara teknis yang dianggap sangat
berpengaruh terhadap hasil tangkapan adalah :
x, x2
Lama operasi (Trip) diukur dengan lama
hari atau bulan
= kedalaman
ditempatkan
x3
(meter)
lokasi
bubu
= kecepatan arus diukur dalam waktu
(detik)
X 4 = fase bulan
Untuk mengetahui pengaruh variabel Xi
terhadap Y maka dilakukakan analisis regresi
berganda
Y=
(xl ,x2 ,x3 ,x4 )
Y= a+b,x, +b 2 x2 +b3x3 +b4 b4
dimana bi adalah koefisien regresi . Pengaruh X
terhadap Y secara individu dihitung melalui nyata/
signifikan tidaknya koefisien bi, menggunakan
uji t . Sementara pengaruh X terhadap Y secara
menyeluruh dihitung dengan menggunakan uji F
menggunakan Program Minitab .
Daya tenggelam
Daya tenggelam yang dimaksud adalah daya
tenggelam yang ditimbulkan baik itu dari alat
tangkap itu sendiri maupun daya tenggelam yang
ditimbulkan dari beberapa jenis pemberat yang
dipasang pada alat tangkap (MARTASUGANDA 2002) .
Perhitungan besarnya daya tenggelam dari jenis
pemberat dan rancangan bubu dari besi dilakukan
menggunakan rumus :
S=W(1-1/C)
Dimana : S = gaya tenggelam (g) ; W = berat
pemberat (g) ; C = BJ pemberat (C > 1) ; 1 = BJ air.
Dengan ukuran bubu dasar yang panjangnya 120
cm, lebar 70 cm dan tinggi 60, akan didapat daya
tenggelam tiap-tiap bubu dengan berat jenis 10 kg
adalah 22,5 g atau 22,5 kg .
HASIL DAN PEMBAHASAN
Efisiensi dari spesifikasi teknis bubu bambu
yang digunakan nelayan
Bubu tradisional biasanya terbuat dari batang
bambu atau rotan yang dipotong, selanjutnya dibagi
lagi sekecil mungkin sesuai dengan keinginan . Di
Pulau Nusa Penida pada umumnya bubu ini dibuat
dari bambu, karena murah dan mudah didapat .
Bubu bambu ini rata-rata berbentuk trapesium
(Gambar 4), dengan menggunakan saw anakan
yang merupakan mulut atau pintu masuknya ikan .
Pada bagian bawah dari bubu itu terletak ruang
untuk mengambil hasil tangkapan . Bubu trapesium
dianyam dari potongan bambu dengan ukuran 1
- 1,5 cm . Pada bagian dalam atau luar dari bubu
diletakkan 4 buah pemberat, tergantung ukuran
besar kecilnya bubu .
Dalam operasional penangkapannya bisa
tunggal (umumnya bubu ukuran besar), bisa ganda
(umumnya untuk bubu ukuran kecil atau sedang) .
Bubu dioperasikan satu persatu, dengan pelampung
tanda menghadap ke daratan, namun tali yang
terpasang di daerah pantai Nusa Penida umumnya
tidak kelihatan tetapi kadang-kadang menggunakan
pengait untuk menariknya . Peletakan bubu yang
berukuran kecil adalah pada sekitar pesisir pantai
dengan kedalaman 5 - 10 m dan yang lebih besar
akan diletakkan jauh dengan kedalaman mencapai
15 m tetapi tetap berada di sekitar daerah terumbu
karang (fringing reef) . Bubu tersebut diletakkan
dengan cara menyelam untuk mencari posisi yang
tepat didasar laut, biasanya untuk tetap stabil, pada
bagian atasnya ditempatkan beberapa buah karang
yang berada di sekitar bubu . Bubu yang barn dibuat
memerlukan waktu 1 bulan sampai berlumut dan
menarik ikan untuk masuk .
Introduksi bubu dengan teknologi yang
diperbaiki (bubu besi)
Teknologi bubu besi ini sudah dilakukan di
beberapa negara di dunia . Menurut MARTASUGANDA
(2003), teknologi penangkapan ikan dengan
menggunakan bubu banyak dilakukan hampir
diseluruh dunia mulai dari skala kecil, menengah
sampai dengan skala besar . Perikanan bubu skala
1 83
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII
Dukungan Teknoldgi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
kecil dan menengah umumnya ditujukan untuk
menangkap kepiting, udang, keong dan ikan dasar
di perairan yang tidak begitu da am, sedangkan
perikanan bubu skala menengah dan besar biasanya
dilakukan di lepas pantai yang ditujukan untuk
menangkap ikan dasar, kepiting, atau udang pada
kedalaman 20 - 700 m . Desain bubu terbuat dari
plastik, besi dan baja .
Komparasi rancang bangun bubu besi dan
bubu bambu
Dari basil penangkapan dengan bubu besi
diperoleh koefisien determinasi (R2) 0,6908 yang
berarti 69,08%, basil tangkapan dipengaruhi oleh
lamanya operasi, sedangkan sisanya 30,92%
disebabkan oleh faktor lain . (Gambar 5) . Karena
Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak, dengan demikian
dapat dikatakan bahwa banyak trip berpengaruh
terhadap jumlah basil tangkapan dari bubu besi,
Fhitung 17,83, sedangkan Ftabel (a) 1% bernilai
2,845 . Persamaan regresi akan menjadi, Y =
0,6846X + 6,1 dimana Y = basil tangkapan jumlah
dan X = Trip .
Konstanta sebesar 6,1 menyatakan bahwa jika
ada kegiatan penangkapan selama beberapa kali trip
dengan umpan, maka bubu akan selalu mendapatkan
basil tangkapan . Tanda plus menunjukkan pengaruh
sangat nyata dari banyaknya trip terhadap jumlah
basil tangkapan . Koefisien regresi sebesar 0,6846
menyatakan bahwa semakin banyak trip akan
menambahkan jumlah basil tangkapan sebesar
68,46% ikan .
Sebaliknya, basil penangkapan dngan bubu
bambu menghasilkan koefisien determinasi (R2 )
0,6816 yang berarti 68,16%, basil tangkapan
dipengaruhi oleh perubahan dari trip, sedangkan
sisanya 31,84% dapat disebabkan oleh faktor lain
(Gambar 6) . Karena Fhitung > Ftabel, maka Ho
ditolak, dengan demikian dapat dikatakan bahwa
banyak trip berpengaruh terhadap jumlah basil
tangkapan bubu bambu, Fhitung 2,87%, sedangkan
Ftabel (a) 5% bernilai 1,725 . Persamaan regresi
akan menjadi, Y = 0,1377X + 3,65 dimana Y =
basil tangkapan jumlah X = Trip .
Konstanta sebesar 3,65 menyatakan bahwa
jika ada kegiatan penangkapan selama beberapa
kali trip, maka bubu akan selalu mendapatkan
basil tangkapan, namun lebih kecil dari bubu besi .
Koefisien regresi sebesar 0,1377 menyatakan
bahwa semakin banyak trip dengan lama operasi
akan menambahkan jumlah basil tangkapan
sebesar 13,77% ikan . Hasil analisis regresi linier
menunjukkan bahwa bubu besi lebih banyak
dimasuki ikan dibandingkan dengan bubu bambu .
Hasil penelitian lapangan yang membandingkan
antara bubu bambu dan bubu besi dapat dilihat
pada Gambar 7 . Ternyata bubu besi mempunyai
pengaruh sangat nyata dan baik dalam jumlah basil
tangkapan ikan maupun beratnya . Ini menunjukkan,
bahwa bubu besi yang diintroduksikan mempunyai
beberapa kelebihan dibandingkan dengan bubu
bambu yang secara tradisional digunakan oleh
masyarakat setempat .
Tabel 1 . Faktor-faktor determinasi hasil tangkapan bubu besi dan bubu bambu
Bubu besi
Bubu bambu
Variabel independen
Koefisien regresi P-Value (signifikansi) Koefisien regresi
P-Value (signifikansi)
Intercept
17,734
0,002
-0,65
0,704
Lama operasi (X l)
0,0765
0,000*
0,00971
0,117*
Kedalaman (X2)
-0,00097
0,687ns
-0,0169
0,156*
Arus permukaan (X3)
-0,982
0,002*
0,0538
0,585*
Fase bulan (X4)
-0,0165
0,023*
0,00138
0,611
Koefisien determinasi ( RI) = 78,1
36,4
P - Value
1 84
- 0,000
0,050
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia,UTW
Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Daaam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakal
r
Gambar 4 . Bubu bambu berbentuk trapesium
:s
18 -
Ga
6
aa T
6.2
5c
94
4•
,
u 5
E 4
••
a 3
t 2
E
4
•
u 3
i 2
m
1
e
t
0
5
10
15
20
25
m
30
.
s
s
0
Trip
a
2
4
6
8
Bubu besi berat (kg)
Gambar 6. Trip terhadap jumlah hasil tangkapan
bubu bambu
berapa variabel penting yang mempengaruhi
operasi bubu dasar
Dalam pengoperasian bubu besi terdapat
beberapa variabel penentu yang berpengaruh
langsung terhadap kinerja bubu . Beberapa variabel
yang berpengaruh adalah : a . lama operasi (trip), b .
kedalaman, c . kecepatan arus permukaan, dan d .
fase bulan .
Dari persamaan di atas terlihat bahwa variabel
yang mempunyai nilai signifikansi di atas 0,05
atau faktor yang berpengaruh pada jumlah hasil
penangkapan bubu besi yaitu (X1), (X2), (X3) dan
(X4), sehingga dapat dijelaskan bahwa keempat
variabel tersebut berpengaruh nyata terhadap
jumlah hasil tangkapan .
Nilai t untuk koefisien variabel X2 (kedalaman),
X3 (arus permukaan), X4 (fase bulan), pada
persamaan diatas memiliki nilai negatif yang
menunjukkan bahwa semakin dalam pemasangan
bubu dan semakin cepat perputaran arus, serta
fase (umur) bulan yang berubah, maka semakin
sedikit nelayan yang melaut . Nilai koefisien
Gambar 7 . Hubungan antara berat hasil tangkapan bubu
besi (kg) terhadap hasil tangkapan (kg) bubu
bambu
untuk XI (lama operasi/trip) yang memiliki
nilai positif menunjukkan bahwa semakin sering
mengadakan operasi penangkapan, maka akan
sering tertangkap .
Nilai Fhit didapat dari uji regresi atau Ftest
17,83 dengan tingkat signifikansi 0,000 (Tabel Uji
Anova) . Karena probabilitas 0,000 jauh lebih kecil
dari 0,01, maka model regresi bisa dipakai untuk
memprediksi hasil tangkapan, Ftabel untuk tingkat
signifikansi (a) 1% adalah 4,43 .
Untuk bubu bambu diperoleh persamaan :
Yi = -0 .652 + 0 .00971 Xi - 0 .0169 X2 + 0 .538
X3 + 0 .00138 X4 . Dari persamaan tersebut terlihat
bahwa variabel yang mempunyai nilai signifikansi
atas 0,05 atau faktor yang berpengaruh pada jumlah
hasil penangkapan (ekor) bubu bambu yaitu (X1),
(X2), (X3) dan (X4), sehingga dapat dijelaskan
bahwa keempat variabel tersebut berpengaruh
nyata terhadap jumlah hasil tangkapan .
Nilai t hitung koefisien variabel X2 (kedalaman)
pada persamaan diatas memiliki nilai negatif yang
berarti semakin dalam bubu bambu diletakkan akan
1 85
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII
Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
berakibat pada kemungkinan hilangnya bubu . Nilai
koefisien untuk X 1 (lama operasi/trip), X3 (arus
permukaan), X4 (fase/umur bulan) yang memiliki
nilai positif menunjukkan bahwa semakin lama
pengoperasian dan arus permukaan serta fase
bulan semakin besar jumlah hasil tangkapan bubu
bambu .
Nilai Fhit didapat dari uji regresi atau Ftest
2,87% dengan tingkat signifikansi 0,050 (Tabel Uji
Anova) . Karena propabilitas 0,000 sama dengan
0,05, maka model regresi bisa dipakai untuk
memprediksi hasil tangkapan, Ftabel untuk tingkat
signifikansi (a) 5% adalah 2,87 .
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapatlah disimpulkan
bahwa ; (1) Dari jumlah hasil tangkapan yang
semakin menurun dapat dikatakan bahwa alat
tangkap bubu bambu tidak efisien lagi untuk
digunakan . (2) Introduksi teknologi bubu besi
yang telah diperbaiki serta dilengkapi umpan
menunjukkan hasil tangkapan yang lebih baik
dibandingkan dengan bubu bambu yang tanpa
umpan yang ada di Pulau Nusa Penida . (3)
Rancangan bubu besi dengan panjang 120 cm,
lebar 70 cm dan tinggi 60 cm, dilengkapi 2 mulut/
pintu memiliki kestabilan yang baik, dengan berat
1 unit bubu 22,5 kg . Dibanding-kan dengan bubu
bambu yang lebih ringan, yang hanya memiliki I
mulut/pintu, sehingga menyulitkan bagi ikan untuk
masuk, dan tidak stabil di laut ; bubu besi relatif lebih
baik . (4) Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
tangkapan adalah ; lama operasi (trip), kedalaman,
arus permukaan dan fase bulan . Dari faktor-faktor
tersebut yang paling signifikan adalah lama operasi
dan fase bulan, baik pada bubu besi maupun pada
bubu bambu .
Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian yang diperoleh,
dapat disarankan sebagai berikut :
1 . Bubu b°si yang diintroduksikan diharapkan
dapat dimanfaatkan dengan baik meskipun
masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
186
dengan penggunaan umpan yang berbeda .
2 . Perlu penelitian lanjutan dalam desain bubu
besi yang dikembangkan dengan bentuk
yang bermacam-macam seperti, trapesium,
bulat, persegi panjang, kotak dan lain-lain,
tergantung selera dari yang membuatnya.
.
3 Pemanfaatan bububesi akan lebihefektif bila
dilakukan dalam keadaan paceklik, dengan
asumsi bahwa jumlah alat tangkap tergantung
dari bagaimana pengoperasiannya, sehingga
dapat berguna bagi kesejahteraan nelayan .
DAFTAR PUSTAKA
Badan
Pusat Statistik Kabupaten Klungkung . Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Klungkung 200 him .
KABUPATEN KLUNGKUNG DALAM ANGKA . 2002 .
S . 2002 . Jaring insang (Gillnet) .
teknologi
penangkapan ikan berwawasan
Serial
lingkungan Jurusan PSP . Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan IPB . 65 him .
MARTASUGANDA,
D .R dan M . BADRUDIN . 1996 . Ketentuan
pelaksanaan perikanan yang bertanggung jawab
(Code of conduct for responsible fisheries) . Marine
Resources Evolution and Planning (MREP), Marine
and Coastal Ecological System and Processes
(MCESP) . Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perikanan . 47 him .
MONINTJA,
T.P.
2002 .
Pendekatan sistem untuk
pengembangan usaha perikanan ikan karang dengan
alat tangkap bubu di Perairan Tanjung Manimbaya
Kabupaten Donggala . Sulawesi Tengah . Tesis 79 .
him .
RUMAJAR,
Fishing catching methods of the
word . Fishing new books Ltd . England . 418 pp .
VON BRANDT, A . 1984 .
D., SURYA, ASEP SAEFUDIN, dan SUMARDJO .
Pemberdayaan masyarakat pesisir untuk
meningkatkan kesejahteraan keluarga wilayah.
Kasus Desa Pakis Kabupaten Kerawang Jawa
Barat. CRESCENT. 51 him .
WIDIYANTO
2002 .
Download