AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp

advertisement
AKUATIK
Pengaruh
Umpan
Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan
AKUATIK –- Jurnal
Sumberdaya
Perairan
ISSN 1978Perlang
– 1652
Volume 9. Nomor
2. Tahun 2015
Kabupaten
Bangka Tengah
PENGARUH UMPAN ALGA (Spirogyra sp.) TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU DASAR DI
PERAIRAN PERLANG KABUPATEN BANGKA TENGAH
Oleh :
Linda Sari1), Eva Utami2) and Dwi Rosalina2)
1)
Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FPPB Universitas Bangka Belitung
[email protected]
2)
Staff Pengajar Manajemen Sumberdaya Perairan FPPB Universitas Bangka Belitung
Abstract
Fishermen in Perlang are still dominated by a small scale fishermen, traditional technology, restrictive fishing
area, and low productivity. Fishermen used bottom trap as an equipment to catch fish and used a bait as one of
the most important factors to determine the success of fishing operations. The purpose of research was
analyzed the influence of alga bait (Spirogyra sp.) and was known the composition of the bottom trap catches at
Perlang off shore in Central Bangka regency. The research have done on April 2015. Experimental fishing
method is used in this research. Mann Whitney test results in a unit of weight (kg) obtained u count (139,5) > u
tables (98). Based on analysing influence bait, there is no difference or influence from catch efforts. The highest
catch in field was catch activities by alga bait (Spirogyra sp.) got largest catch which is 69.25 kg or 525 tail.
The largest catch in field was catch effort by alga bait (Spirogyra sp.) got 56.38 kg or 352 tails. Scolopsis
vosmeri is a dominated species that caught in every observation. Each yield catch was gotten in the field those
was demersal fish that normally live in the coral off shore.
Keywords: Demersal fish, Spirogyra sp, Bottom Trap, Catchs.
PENDAHULUAN
Desa Perlang merupakan salah satu daerah
pesisir yang ada di Kecamatan Lubuk Besar,
Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung. Desa Perlang salah satu daerah
pesisir yang masih alami dan belum tercemar
karena tidak adanya kegiatan penambangan di laut
dan sebagian besar masyarakatnya mempunyai
mata pencaharian sebagai nelayan. Desa ini
memiliki sumberdaya laut dan potensi yang sangat
besar untuk dikembangkan melalui perikanan
tangkapnya. Pemanfaatan sumberdaya perikanan di
Perlang khususnya perikanan laut sampai saat ini
masih didominasi oleh usaha perikanan rakyat yang
umumnya memiliki karakteristik usaha skala kecil.
Alat tangkap yang masih sederhana, jangkauan
operasi penangkapan yang terbatas di sekitar pantai
dan produktivitas yang relatif masih rendah
menjadi ciri perikanan di Desa Perlang (BPS
Kabupaten Bangka Tengah, 2014).
Salah satu alat tangkap yang umum digunakan
oleh nelayan untuk menangkap ikan di perairan
Perlang adalah alat tangkap bubu dasar. Alat
tangkap ini bersifat pasif, yakni menjebak ikan
untuk masuk ke dalam perangkap (bubu) sehingga
ikan sulit untuk keluar. Beberapa faktor yang
mempengaruhi keberhasilan penangkapan ikan
dengan menggunakan bubu seperti; lama
perendaman, tingkat kejenuhan perangkap (gear
saturation), habitat, desain bubu, dan umpan.
(Martasuganda, 2003)
Umpan menjadi salah satu faktor penting yang
menentukan keberhasilan operasi penangkapan
(Miller, 1990 dalam Septyaningsih et al., 2013).
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
Efektivitas umpan yang digunakan juga
sangat ditentukan oleh aktivitas ikan dalam mencari
makanan. Beragam jenis umpan yang digunakan
dalam aktivitas penangkapan ikan, di antaranya
adalah umpan alami dan buatan. Salah satu umpan
alami yang dapat dijadikan umpan yaitu alga
(Spirogyra sp.). Alga jenis ini banyak dijumpai di
sungai, rawa-rawa dan saat ini belum dimanfaatkan
oleh nelayan sekitar sebagai umpan. Alga ini bisa
dimanfaatkan sebagai umpan karena mudah
didapatkan, memiliki warna hijau cerah untuk
menarik perhatian ikan-ikan yang ada di sekitarnya
dan memiliki kandungan proten, karbohidrat dan
lemak yang tinggi (Prabowo et al., 2010).
Pemanfaatan alga (Spirogyra sp.) sebagai umpan
untuk mendapatkan hasil tangkapan bubu dasar
yang optimal.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis
pengaruh umpan alga (Spirogyra sp.) terhadap hasil
tangkapan bubu dasar dan mengetahui komposisi
hasil tangkapan bubu dasar di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan informasi kepada
nelayan tentang penggunaan umpan pada alat
tangkap bubu dasar yang efektif untuk hasil
tangkapan di Perairan Perlang Kabupaten Bangka
Tengah dan diharapkan dapat menjadi acuan atau
pedoman untuk penelitian selanjutnya.
I. METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat.
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April
2015 di Desa Perlang Kabupaten Bangka Tengah
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
HALAMAN - 37
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
Alat dan Bahan.
Alat yang digunakan pada penelitian ini
adalah alat tangkap bubu dasar dan GPS (Global
Positioning System) sebagai alat bantu penentu
posisi bubu pada saat dioperasikan.
Bahan yang digunakan dalam penelitian
adalah alga berfilamen (filamentous algae) yaitu
jenis Spirogyra sp. yang dipasang pada masingmasing bubu untuk menarik perhatian ikan
(Gambar 1).
Gambar 1. Alga (Spirogyra sp.)
Metode Pengambilan Data.
Metode yang digunakan dalam penelitian
adalah metode experimental fishing. Eksperimen
adalah observasi di bawah kondisi buatan (Artifisial
Condition) dimana kondisi tersebut dibuat dan
diatur oleh si peneliti (Natsir, 2003). Pengambilan
data menggunakan alat tangkap bubu dasar dengan
2 perlakuan yaitu melakukan kegiatan uji coba
penangkapan ikan menggunakan umpan alga
Spirogyra sp. dan tanpa menggunakan umpan alga
Spirogyra sp.
Alat tangkap yang digunakan untuk penelitian
ini adalah alat tangkap bubu dasar berbentuk segi
lima memanjang dengan panjang 110 cm, lebar 72
cm, tinggi 30 cm dan mesh size 0,75 inci. Bahan
bubu terbuat dari kawat galvanis dengan kerangka
dari rotan yang terdapat satu mulut bubu (funnel).
Ukuran mulut bubu dengan tinggi 30 cm. Alat
tangkap ini dilengkapi dengan pemberat dan tali
pelampung yang sekaligus berfungsi sebagai tali
penarik saat pengambilan sampel serta pelampung
yang terbuat dari bahan styrofoam (Gambar 2).
Metode Pengoperasian Bubu
Penelitian menggunakan bubu dasar yang
dioperasikan dengan 2 perlakuan berbeda. Lokasi
pengambilan sampel dilakukan di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah. Pengambilan sampel
menggunakan bubu dasar yang dioperasikan pada 2
lokasi berbeda dengan titik koordinat yaitu :
1. Lokasi 1 untuk bubu dasar menggunakan
umpan alga (Spirogyra sp.) yang terletak di
sekitar perairan gusung timur dengan titik
koordinat 2° 29' 2.55"S dan 106° 34' 4.34"E.
2. Lokasi 2 untuk bubu dasar tanpa umpan yang
terletak di sekitar perairan karang kapal pecah
dengan titik koordinat 2°29'18.55"S dan
106°33'38.82"E.
Pengoperasian bubu pada penelitian ini
dilakukan dengan pengambilan data sebanyak 4
kali selama empat minggu (4 minggu)
menggunakan 18 bubu untuk 2 perlakuan. Bubu
berjumlah total 18 disiapkan dengan membagi 2
bagian, setiap bagian merupakan 1 perlakuan
sehingga masing-masing perlakuan menggunakan 9
unit bubu menggunakan umpan alga (Spirogyra
sp.) dan 9 unit bubu lainnya tanpa menggunakan
umpan. Banyaknya bubu dalam setiap perlakuan
dinyatakan sebagai banyaknya ulangan yaitu 9
ulangan pada setiap perlakuan (Gambar 3). Teknik
Pengoperasian bubu dilakukan dengan sistem
tunggal pada masing-masing perlakuan.
Operasi pemasangan bubu dilakukan pada pagi hari
pukul (08.00-10.00). Pemasangan bubu untuk
perlakuan bubu menggunakan umpan dimulai
dengan memasang umpan dengan mengikat umpan
pada kerangka bagian atas (pengait) di dalam bubu,
bagi bubu tanpa menggunakan umpan langsung
dilakukan perendaman. Setelah semua selesai maka
bubu siap diturunkan pada kedalaman sekitar 5-10
m. Badan bubu diturunkan terlebih dahulu dan
dipastikan bubu tidak dalam kondisi terbalik
kemudian diakhiri dengan pelepasan pelampung
tanda. Penempatan bubu di perairan dilakukan
dengan jarak penempatan tiap unit bubu cukup
berjauhan yaitu 5 m untuk menghindari saling
interaksi antara perlakuan satu dengan yang
lainnya. Pengangkatan bubu dilakukan setelah
perendaman bubu selama 2 hari pada pukul (08.0012.00). Lokasi peletakan bubu yang akan direndam
sesuai dengan kebiasaan nelayan di lokasi
penelitian dan dipilih lokasi dasar perairan
berkarang. Data yang diperoleh dicatat jumlah hasil
tangkapan setiap spesies dan jenis ikan yang
tertangkap. Identifikasi ikan berdasarkan Allen
(2000).
Gambar 2. Sketsa Alat Tangkap Bubu Dasar
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
HALAMAN - 38
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
Permukaan
Perairan
5m
Bubu
Gambar 3. Skema Peletakan Bubu
Penelitian dilakukan dengan memberikan
umpan. Pengumpulan umpan dilakukan dengan
menggunakan wadah pastik berlobang. Umpan
yang telah didapatkan dimasukkan ke dalam ember.
Umpan tersebut selanjutnya diletakkan dalam
waring putih agar rangsangan umpan dapat
diterima oleh ikan-ikan yang ada disekitar daerah
penangkapan. Pemasangan umpan dilakukan
dengan mengikat umpan pada bagian pengait
umpan (di atas). Umpan yang digunakan sebanyak
500 gram.
Kapal/perahu
yang
digunakan
dalam
penelitian di perairan Perlang adalah perahu motor
tempel. Perahu motor tempel yaitu perahu yang
memiliki mesin yang terletak diluar badan perahu
dan pemasangannya tidak permanen dalam arti
dapat dilepas dan dipasang kembali pada saat kapal
atau perahu beroperasi. Kapal/Perahu yang
digunakan pada saat penelitian memiliki mesin 3,5
PK, panjang 8 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 1
meter dengan bahan bakar bensin. Bahan
kapal/perahu terbuat dari bahan dasar kayu.
Pengukuran Parameter Lingkungan
1. Suhu
Suhu
perairan
diukur
menggunakan
termometer batang. Termometer dimasukkan ke
dalam air selama kurang lebih 3 menit, kemudian
dilakukan pembacaan nilai suhu pada saat
termometer masih di dalam air agar nilai suhu yang
terukur tidak dipengaruhi oleh suhu udara
(Hutagalung et al., 1997).
2. Salinitas
Salinitas diukur dengan menggunakan hand
refraktometer, yaitu sampel air laut diteteskan pada
alat tersebut, kemudian dilakukan pembacaan skala
yang terdapat pada alat teropong yang dilengkapi
kaca pembesar di dalamnya. Sebelum air laut
diteteskan pada refraktometer, alat ini dikalibrasi
dulu dengan aquades (Hutagalung et al., 1997).
3. Kecerahan
Kecerahan diukur menggunakan secchi disk.
Secchi disk ini dicelupkan ber lahan-lahan ke dalam
air kemudian diamati saat secchi disk tidak terlihat
warna hitam dan putih dan diukur kedalamannya.
Menghitung kecerahan dengan rumus :
C=
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
Keterangan :
D1 = Kedalaman secchi disk hilang
D2 = Kedalaman saat secchi disk tampak lagi.
Kecepatan Arus
Kecepatan arus perairan diukur dengan
menggunakan layang-layang arus yang diikat
dengan tali sepanjang beberapa meter (s). Metode
pengukuran kecepatan arus dengan cara
menghayutkan layang-layang arus tersebut di
permukaan perairan hingga tali tertarik lurus
(menegang), dan diukur waktu (t) dari awal
menghanyutkan hingga tali yang terikat lurus
(Hutagalung et al., 1997). Setelah didapat nilai
waktu (t), kecepatan arus (V) dihitung dengan
persamaan sebagai berikut :
5. Potensial Hidrogen (pH)
Potensial Hidrogen (pH) diukur dengan
menggunakan pH meter, caranya dengan
mencelupkan pH meter ke dalam perairan,
kemudian dilakukan pembacaan nilai pH pada pH
meter (Hutagalung et al., 1997).
6. Pasang Surut
Pengamatan pasang surut dilakukan dengan
menggunakan papan berskala (peil schall) dengan
selang pembacaan pada rambu ukur setiap 1 jam
dalam 24 jam dan dilakukan selama 15 hari.
Pengamatan ini bertujuan untuk menghitung
kedudukan air tertinggi (high water spring) dan
ketinggian rata-rata permukaan (low water spring)
sebagai faktor koreksi nilai kedalaman perairan.
Pengukuran tinggi pasang surut merujuk dengan
ramalan pasang surut tahun 2015 yang diterbitkan
oleh Babel Observation Ocean Science and
Technology (BOOST) Center Dinas Kelautan dan
Perikanan (DKP) Provinsi Bangka Belitung. Nilai
pasang surut dinyatakan dalam satuan meter.
7. Kedalaman
Pengukuran kedalaman laut ada dua cara yaitu
dengan menggunakan teknik bandul timah hitam
dan teknik gema duga atau echo sounder.
Pengukuran kedalaman dalam penelitian ini
menggunakan teknik bandul timah hitam. Teknik
ini ditempuh dengan menggunakan tali panjang
yang ujungnya diikat dengan bandul timah sebagai
pemberat. Tali diturunkan hingga bandul
menyentuh dasar laut. Selanjutnya panjang tali
diukur dan itulah kedalaman air laut.
Analisis Data
Uji Mann-Whitney ( U-Test). Analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah mengetahui
pengaruh penggunaan umpan terhadap hasil
tangkapan dengan uji Mann-Whitney ( U- Test).
Uji ini merupakan uji yang digunakan untuk
HALAMAN - 39
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
menguji dua sampel independen dengan bentuk
data ordinal (peringkat atau urutan). Dua sampel
dikatakan independen apabila pemilihan unit untuk
kedua sampel tidak saling mempengaruhi atau
saling bebas. Tes ini termasuk dalam uji non
parametrik.
Persyaratan
analisis
dalam
menarik
kesimpulan, dirumuskan uji hipotesis sebagai
berikut:
a)
: Tidak terdapat perbedaan atau pengaruh
penggunaan umpan alga Spirogyra sp. dan
tanpa menggunakan umpan terhadap hasil
tangkapan bubu dasar.
b)
: Terdapat perbedaan atau pengaruh
penggunaan umpan alga Spirogyra sp. dan
tanpa menggunakan umpan terhadap hasil
tangkapan bubu dasar.
Rumus statistik uji U Mann Whitney adalah
(Supranto, 2009):
(
(
Dimana :
= Jumlah sampel 1
= Jumlah sampel 2
= Jumlah peringkat yang diberikan pada
sampel dengan jumlah
= Jumlah peringkat yang diberikan pada
sampel dengan jumlah
Kriteria pengambilan keputusan :
1) Terima
(tolak ) : Bila
2) Tolak
(
: Bila
Untuk memeriksa apakah nilai U benar maka perlu
dilakukan perhitungan sebagai berikut :
nilai
= 139,5 dan
= 98 dengan selang
kepercayaan 95 %. Analisis ini menunjukkan
bahwa tidak terdapat perbedaan atau pengaruh
penggunaan umpan alga (Spirogyra sp.) dan tanpa
menggunakan umpan alga (Spirogyra sp.) terhadap
hasil tangkapan bubu dasar (Lampiran 7).
Analisis uji U Mann-Whitney menunjukkan
bahwa hasil tangkapan tertinggi selama penelitian
terdapat pada perlakuan menggunakan umpan alga
(Spirogyra sp.) sebesar 69,25 kg dan hasil terendah
terdapat pada perlakuan bubu tanpa umpan yaitu
sebesar 56,38 kg.
2. Komposisi Hasil Tangkapan Bubu Dasar
Hasil tangkapan bubu dasar selama penelitian
berjumlah 20 (dua puluh) spesies yaitu Ikan Kerapu
Sunu (Plectropomus maculatus), Ikan Kerapu
Macan (Ephinephelus malabaricus), Ikan Kerapu
Hitam (Ephinephelus timorensis), Ikan Seminyak
(Diagramma pictum), Ikan Garis Singgang
(Lutjanus carponotatus), Ikan Kurisi Pasir
(Scolopsis vosmeri), Ikan Kakap Mata Kucing
(Psammoperca waigiensis), Ikan Dengkis (Siganus
canaliculatus), Ikan Beronang Kuning (Siganus
doliatus), Ikan Ekor Kuning (Caeseo teres), Ikan
Tanda-tanda (Lutjanus russeli), Ikan Biji Nangka
(Upeneus sundaicus), Ikan Ketarap (Caerodon
schoenleini), Ikan Seriding (Sargocentrum
rubrum), Ikan Ketambak (Lethrinus lentjan), Ikan
Merah (Lutjanus erytropterus), Ikan Ketambak
Pasir (Achanthopagrus latus), Ikan Kepe-kepe
(Chelmon
rostratus),
Ikan
Anjang-anjang
(Pentapodus setosus) dan Ikan Kunyit (Lutjanus
madras). Hasil tangkapan dalam penelitian ini
merupakan spesies yang biasa ditangkap
menggunakan bubu dasar (Tabel 1).
Tabel 1. Komposisi Hasil Tangkapan Berdasarkan
Perlakuan
No
2. Analisis Deskriptif. Analisis deskriptif
digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan
dan menguraikan komposisi hasil tangkapan yang
didapatkan dari hasil pengambilan sampel. Data
yang didapat disaji dalam bentuk gambar (grafik)
maupun tabel.
II.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Pengaruh Umpan Terhadap Hasil Tangkapan
Bubu Dasar
Hasil penelitian pengaruh umpan terhadap
hasil tangkapan bubu dasar dengan menggunakan
analisis uji U Mann-Whitney menyatakan bahwa
bubu dengan umpan alga (Spirogyra sp.) dan bubu
tanpa umpan diperoleh
dengan
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Hasil Tangkapan (kg/ekor)
Perlakuan
Jumlah
Perlakuan
Jumlah
Umpan Alga Spirogyra sp. (Ekor) Tanpa Umpan Alga Spirogyra sp. (Ekor)
Plectropomus maculatus Kerapu Sunu
1,55
3
2,94
4
Ephinephelus malabaricus Kerapu Macan
1,65
1
0
0
Ephinephelus timorensis Kerapu Hitam
1,5
10
0,97
8
Diagramma pictum
Seminyak
10,97
45
11,95
40
Lutjanus carponotatus
Garis Singgang
1,08
5
1,73
6
Scolopsis vosmeri
Kurisi Pasir
14,25
126
10,27
87
Psammoperca waigiensis Kakap Mata Kucing
2,41
16
2,36
14
Siganus canaliculatus
Dengkis
6,76
51
3,39
21
Siganus doliatus
Beronang Kuning
1,27
9
0,4
1
Caeseo teres
Ekor Kuning
3,06
29
3,95
28
Lutjanus russeli
Tanda-tanda
1,89
12
2,19
13
Upeneus sundaicus
Biji Nangka
0,64
6
0,76
5
Caerodon schoenleini
Ketarap
3,24
16
2,83
13
Sargocentrum rubrum
Seriding
0,51
4
0
0
Lethrinus lentjan
Ketambak
1,94
17
2,41
20
Lutjanus erytropterus
Ikan Merah
0,9
6
0,21
2
Achanthopagrus latus
Ketambak Pasir
11,15
126
7,35
65
Chelmon rostratus
Kepe-kepe
0,05
1
0
0
Pentapodus setosus
Anjang-anjang
3,88
37
2,67
25
Lutjanus madras
Ikan Kunyit
0,55
5
0
0
Total
69,25 kg
525
56,38 kg
352
Hasil Tangkapan
Nama Lokal
Komposisi Hasil Tangkapan Bubu Umpan Alga
(Spirogyra sp.)
Jumlah hasil tangkapan yang paling banyak
pada alat tangkap bubu dasar menggunakan umpan
yaitu Ikan Kurisi Pasir (Scolopsis vosmeri), adalah
21%, hasil paling sedikit yaitu Kepe-kepe
(Chelmon rostratus) adalah 0,5% (Gambar 4).
HALAMAN - 40
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
Gambar 4. Hasil Tangkapan Bubu Dasar Umpan
Alga (Spirogyra sp.)
Komposisi Hasil Tangkapan Bubu Tanpa
Umpan
Jumlah hasil tangkapan yang paling banyak
pada alat tangkap bubu dasar menggunakan
perlakuan tanpa umpan adalah Ikan Seminyak
(Diagramma pictum) yaitu 21% dan paling sedikit
adalah Ikan Merah (Lutjanus erytropterus) yaitu
0,5% (Gambar 5).
Gambar 5. Hasil Tangkapan Bubu Dasar Tanpa
Umpan Alga (Spirogyra sp.)
3.
Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia
Perairan
Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia
perairan berdasarkan penelitian selama 4 minggu
dapat diketahui bahwa nilai suhu minggu pertama
berkisar antara 28-29,5o C, nilai salinitas berkisar
antara 31­33‰, nilai kecerahan berkisar antara 6,66,75 m, nilai kecepatan arus berkisar antara 0,1-0,2
m/s, nilai pH berkisar antara 7,5-8, nilai pasang
surut berkisar antara 1,21-1,41 m dan nilai
kedalaman 97-10,3 m.
Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia
pada pengamatan minggu kedua dapat diketahui
nilai suhu berkisar antara 29,5-30o C, nilai salinitas
berkisar antara 32-34‰, nilai kecerahan berkisar
antara 7,9-7,95 m, nilai kecepatan arus berkisar
antara 0,13-0,15 m/s, nilai pH berkisar antara 7,57,8, nilai pasang surut berkisar antara 0,56-1,23 m
dan kedalaman 9,2-10,3 m.
Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia
perairan pada minggu ketiga didapatkan nilai suhu
berkisar antara 29,1-30 oC, nilai salinitas berkisar
32-34 ‰, nilai kecerahan berkisar 7,85-8,4 m, nilai
kecepatan arus berkisar 0,11-0,12 m/s, nilai pH
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
berkisar 7,5-8,5, nilai pasang surut berkisar antara
1,18-1,43 m dan kedalaman 9,7-10,8 m.
Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia
perairan pada minggu keempat didapatkan nilai
suhu berkisar antara 29,5-30,2 oC, nilai salinitas
berkisar antara 32-34 ‰, nilai kecerahan berkisar
antara 7,5-8 m, nilai kecepatan arus berkisar antara
0,11-0,12 m/s, nilai pH berkisar antara 7,5-8,5,
nilai pasang surut berkisar antara 0,51-1,11 m dan
kedalaman 9-10 m. Nilai-nilai diatas dapat dilihat
pada tabel 2.
Tabel 2. Parameter Fisika dan Kimia Perairan
No
1
2
3
4
5
6
7
Parameter
Suhu
Salinitas
Kecerahan
Kecepatan arus
pH
Pasang surut
Kedalaman
Satuan
°C
‰
m
m/s
m
m
Minggu I
Perlakuan
Minggu II
Pelakuan
Minggu III
Perlakuan
Minggu IV
Perlakuan
1
2
1
2
1
2
1
2
28-29 28,7-29,5 29-29,5
29-30 29,1-30 29,2-29,7 29,5-30,2 29,5-30
32-33 31-33
32-34
32-33
33-34
32-33
33-34
32
6,6
6,75
7,95
7,9
7,85
8,4
8
7,5
0,1-0,2 0,2-0,21 0,13-0,15 0,11-0,12 0,1-0,11 0,11-0,12 0,11-0,112 0,11-0,12
7,5-8
7,5-8
7,5
7,8
8-8,5
7,5-8
8-8,5
7,5-8
1,21-1,41 1,11-1,13 0,88-1,23 0,56-0,75 1,26-1,43 1,18-1,21 0,78-1,11 0,51-0,66
9,5
10,5
9,2
10,3
9,7
10,8
9
10
*Perlakuan 1 : Umpan alga (Spirogyra sp.)
*Perlakuan 2 : Tanpa umpan alga (Spirogyra sp.)
Pembahasan
1. Hasil Tangkapan Bubu Dasar Menggunakan
Umpan
Hasil penelitian bubu dasar menggunakan
umpan alga (Spirogyra sp.) sebesar 69,25 kg dan
spesies ikan tertangkap sebanyak 20 spesies yaitu
Plectropomus maculatus sebanyak 1,55 kg,
Ephinephelus malabaricus sebanyak 1,65 kg,
Ephinephelus timorensis sebanyak 1,5 kg,
Diagramma pictum sebanyak 10,97 kg, Lutjanus
carponotatus sebanyak 1,08 kg, Scolopsis vosmeri
sebanyak 14,25 kg, Psammoperca waigiensis
sebanyak 2,41 kg, Siganus canaliculatus sebanyak
6,76 kg, Siganus doliatus sebanyak 1,27 kg,
Caeseo teres sebanyak 3,06 kg, Lutjanus russeli
sebanyak 1,89 kg, Upeneus sundaicus sebanyak
0,64 kg, Caerodon schoenleini sebanyak 3,24 kg,
Sargocentrum rubrum sebanyak 0,51 kg, Lethrinus
lentjan sebanyak 1,94 kg, Lutjanus erytropterus
sebanyak 0,9 kg, Achanthopagrus latus sebanyak
11,15 kg, Chelmon rostratus sebanyak 0,05 kg,
Pentapodus setosus sebanyak 3,88 kg dan Lutjanus
madras sebanyak 0,55 kg.
Hasil tangkapan bubu menggunakan umpan
alga (Spirogyra sp.) lebih banyak dari bubu tanpa
umpan diduga karena warna dari umpan memberi
respon terhadap ikan untuk masuk ke dalam
perangkap dan ikan tersebut merupakan ikan yang
biasa hidup di daerah karang. Hasil penelitian
menunjukan tertariknya ikan terhadap umpan
disebabkan oleh rangsangan berupa rasa, bau,
bentuk, gerakan dan warna. Sehubungan tentang
warna, ternyata sebagian besar ikan memiliki
kemampuan untuk membedakan warna. Gunarso
(1985) dalam Dedi (2012) menyatakan bahwa ikan
memberikan respon terhadap lingkungannya
melalui indra penciuman dan penglihatan. Indra
HALAMAN - 41
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
penglihatan pada ikan memegang peranan penting
yang memungkinkan terciptanya pola tingkah laku
terhadap lingkungannya, termasuk sifat fototaksis.
Alga (Spirogyra sp.) yang memiliki kandungan
warna hijau klorofil menjadikan ikan tersebut
tertarik untuk mendekati umpan. Indra penglihatan
ikan mempunyai sifat khas tertentu yang
dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jarak
penglihatan, warna yang jelas, kekontrasan,
kemampuan membedakan objek yang bergerak,
dan lain-lain (Gunarso, 1985 dalam Yudha, 2005).
Selain itu faktor yang mempengaruhi banyaknya
ikan yang masuk kedalam bubu adalah sifat
fisiologis ikan itu sendiri seperti menjadikan bubu
sebagai tempat bermain dan berlindung.
2. Hasil Tangkapan Bubu Dasar Tanpa
Menggunakan Umpan
Hasil tangkapan bubu tanpa umpan sebesar
56,38 kg dan spesies ikan tertangkap sebanyak 16
species yaitu Plectropomus maculatus sebanyak
2,94 kg Ephinephelus timorensis sebanyak 0,94 kg,
Diagramma pictum sebanyak 11,95 kg, Lutjanus
carponotatus sebanyak 1,73 kg, Scolopsis vosmeri
sebanyak 10,27 kg, Psammoperca waigiensis
sebanyak 2,36 kg, Siganus canaliculatus sebanyak
3,36 kg, Siganus doliatus sebanyak 0,4 kg, Caeseo
teres sebanyak 3,95 kg, Lutjanus russeli sebanyak
2,19 kg, Upeneus sundaicus sebanyak 0,76 kg,
Caerodon schoenleini sebanyak 2,83 kg, Lethrinus
lentjan sebanyak 2,41 kg, Lutjanus erytropterus
sebanyak 0,21 kg, Achanthopagrus latus sebanyak
7,35 kg dan Pentapodus setosus sebanyak 2,67 kg.
Hasil tangkapan bubu tanpa umpan lebih
rendah dibandingkan menggunakan umpan. Diduga
karena tidak adanya asupan makanan di dalam
bubu sehingga menyebabkan ikan yang berada
disekitar bubu tidak tertarik untuk masuk kedalam
bubu. Ikan yang tertangkap diduga mencari tempat
berlindung dari arus maupun ikan predator yang
lebih besar karena bubu yang dioperasikan tanpa
umpan, maka kemungkinan besar ikan masuk ke
dalam bubu karena tingkah laku ikan tersebut.
Beberapa jenis ikan karang mendekati bubu karena
rasa keingintahuan dari ikan tersebut terhadap
benda asing atau dikenal dengan sifat tigmotaksis.
Selain itu diduga ikan berapa pada bubu
karena adanya ikan-ikan kecil yang sedang mencari
makan seperti remahan karang yang menempel
pada dinding bubu sehingga bisa menarik perhatian
ikan-ikan besar atau predator untuk masuk
kedalam bubu. Tarsim dan yudha (2005)
menyatakan bahwa proses tertangkapnya ikan di
awal pengoperasian bubu juga mempengaruhi hasil
tangkapan. Jika ikan yang tertangkap oleh bubu
diawal setting (pengoperasian) adalah predator,
maka ikan-ikan lainnya cenderung tidak memasuki
bubu, sedangkan ikan yang tertangkap oleh bubu
diawal setting (pengoperasian) adalah non predator
maka ikan ini berikutnya dapat menjadi umpan
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
untuk menarik ikan-ikan lainnya termasuk
predator.
3. Pengaruh Umpan Terhadap Hasil Tangkapan
Bubu Dasar
Hasil analisis Mann Whitney menunjukkan
bahwa nilai
untuk kedua perlakuan lebih
besar dari
sehingga keputusan yang diambil
adalah terima H0 yaitu umpan tidak memberikan
pengaruh nyata terhadap hasil tangkapan bubu
dasar. Hal ini diduga karena umpan alga (Spirogyra
sp.) yang digunakan telah mengalami perubahan
warna menjadi warna coklat gelap dan perubahan
tekstur dari alga yang lembut menjadi kasar, karena
kandungan dari Spirogyra telah hilang akibat
terlalu lamanya perendaman di dalam air laut.
Perubahan warna dan tekstur tersebut membuat
ikan tidak tertarik terhadap umpan Spirogyra
karena seperti yang diketahui bahwa ikan herbivora
umumnya tertarik terhadap umpan berwarna cerah
dengan tekstur alga yang lembut. Perubahanperubahan pada alga tersebut diakibatkan oleh tidak
sesuainya salinitas tempat Spirogyra tumbuh
dengan salinitas air laut, salinitas air laut lebih
tinggi daripada air tawar sehingga Pertumbuhan
alga Spirogyra menurun seiring dengan tingginya
tingkat salinitas. Menurut Apriliyana et al. (2013)
dalam penelitian kelangsungan hidup lumut
(Spirogyra sp.) pada kepekaan air laut di tambak
garam menyatakan semakin tinggi kadar garam
maka suhunya akan semakin tinggi dan sebaliknya
dengan suhu semakin tinggi kelangsungan hidup
lumut semakin rendah. Hal ini sesuai dengan
pendapat Guiry., M. (2008) dalam Hujaya. (2008)
menyatakan bahwa setiap sel dari filamen
Spirogyra sp. memiliki fitur vakuola sentral yang
besar, di mana inti tertahan oleh helai halus
sitoplasma. Kloroplas membentuk spiral di sekitar
vakuola dan memiliki spesialisasi tubuh yang
dikenal sebagai pyrenoids yang menyimpan pati.
Dinding sel terdiri dari 2 lapisan, dengan lapisan
luar dibentuk dari selulosa sementara dinding
bagian dalamnya dibentuk dari pektin, yang
bertanggung jawab untuk tekstur licin alga,
sehingga apabila Spirogyra hidup pada kondisi
habitat yang berbeda dalam waktu yang lebih lama
akan menyebabkan perubahan-perubahan pada
Spirogyra terutama pada tekstur dan bentuk. Hal ini
teksturnya menjadi lebih kasar dan berwarna gelap.
Menurut Martasuganda (2003) mengatakan
bahwa hasil tangkapan bubu sangat dipengaruhi
oleh tekstur, bentuk serta ketahanan umpan di
perairan. Umpan yang baik memiliki karakteristik
efektif dalam menarik ikan, mudah diperoleh,
mudah disimpan dan tahan lama.
4. Komposisi Hasil Tangkapan Bubu Dasar
Spesies dominan yang tertangkap berdasarkan
komposisi hasil tangkapan selama penelitian adalah
Ikan Kurisi Pasir (Scolopsis vosmeri) dengan berat
14,25 kg (21%) pada bubu menggunakan umpan
dan 11,95 kg (18%) pada bubu tanpa umpan
HALAMAN - 42
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
(Gambar 4 dan 5). Dominannya ikan jenis ini
diduga karena daerah pemasangan bubu adalah
perairan karang berpasir yang menjadi habitatnya
sehingga inilah yang menyebabkan jenis ikan
tersebut lebih melimpah dibandingkan dengan jenis
ikan lainnya. Ikan Kurisi Pasir merupakan family
dari Nemipteridae yang memiliki warna terang,
ditemukan pada dasar perairan yang berpasir dan
patahan-patahan karang (rubble) (Terangi, 2004).
Ikan dari famili ini termasuk diurnal dan malam
hari beristirahat diantara karang. Diduga malam
hari banyak berlindung diterumbu karang berpasir
dan tertangkap bubu karena sifat tigmotaksis, ikan
langsung berenang disekililing bubu pada saat bubu
dipasang.
Dominannya hasil tangkapan Ikan Kurisi
Pasir baik pada perlakuan bubu dengan umpan
maupun tanpa umpan menunjukkan bahwa ikan
jenis tersebut tertangkap bukan karena tertarik pada
umpan alga Spirogyra sebagai makanan, tetapi
lebih dikarenakan faktor kebiasaan ikan yang
membuat ikan masuk ke dalam bubu. Ikan
umumnya menjadikan bubu sebagai tempat
perlindungan atau tempat bermain ikan sehingga
dengan sengaja akan tertangkap pada bubu. Selain
itu Ikan Kurisi Pasir termasuk ikan karnivora yang
memakan invertebrata, ikan kecil, udang, kepiting
dan cacing (benthic feeders). Hal ini menunjukkan
bahwa
ikan-ikan
yang
tertangkap
tidak
mengkhususkan diri pada suatu jenis makanan
tertentu, pendapat ini sesuai dengan Tabolt (1976)
dalam Yudha (2005) yang menyatakan bahwa ikanikan yang hidup di sekitar karang merupakan
karnivora yang tidak mengkhususkan makanannya
pada suatu sumber makanan tertentu, tetapi
sebaliknya bersifat oportunistik dan mengambil apa
saja yang berguna baginya. Hal ini sesuai dengan
informasi-informasi yang didapatkan dari nelayan
setempat bahwa, ikan-ikan karnivora seperti Ikan
Kurisi Pasir, Ikan Seminyak, Ikan Ketambak Pasir,
Ikan Kerapu, dan Ikan Karnivora lainnya memang
merupakan ikan yang selalu tertangkap pada alat
tangkap bubu nelayan, meskipun alat tangkap
tersebut tidak menggunakan umpan.
Selain itu ada dugaan bahwa tertangkapnya
ikan karang yang mayoritas adalah karnivora (5070%) oleh bubu disebabkan karena tertarik oleh
mangsa ikan-ikan kecil yang berada di dalam bubu
yang telah memangsa umpan terlebih dahulu
(Mawardi, 2001). Hal ini dibuktikan dengan
tertangkapnya Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus
malabaricus) predator karnivora dari famili
serranidae bersamaan dengan Ikan Seminyak
(Diagramma pictum) karnivora dari famili
heumaulidae, sudah mati akibat terkena cabikan
dari Ikan Kerapu tersebut.
Ikan yang didapat paling sedikit adalah Ikan
Kepe-kepe (Chelmon rostratus) yaitu 0,05 kg atau
0,5% dari total hasil tangkapan. Ikan omnivora ini
memiliki mulut kecil dan giginya digunakan untuk
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
mematuk cacing kecil dan hewan tidak bertulang
belakang lainnya dari celah batu karang. Ikan ini
disebut sebagai ikan indikator yaitu penentu untuk
terumbu karang karena ikan ini erat hubungannya
dengan kesuburan terumbu karang (Terangi, 2004).
Sedikitnya jumlah Chelmon rostratus yang
tertangkap diduga ikan ini hanya tertarik oleh bubu
karena adanya remahan karang yang menempel
pada dinding bubu. Bubu menggunakan umpan
tidak terlalu diminati oleh Chelmon rostratus
walaupun pemasangan bubu di daerah berkarang.
Hal ini karena dipengaruhi oleh efektivitas umpan
yang digunakan. Umpan akan berubah seiring lama
waktu perendaman bubu. Menurut Fitri (2011)
dalam Putri et al. (2013) secara organoleptik
umpan yang telah direndam selama 1 jam berbeda
dengan umpan yang telah direndam selama 7 jam
dilihat dari kenampakan, bau dan kepadatan
umpan.
Perubahan
kenampakan
umpan
mengakibatkan rangsangan penglihatan pada ikan
kurang optimal sehingga berpengaruh terhadap
penyebaran warna umpan di perairan. Menurut
Lokkeborg (1990) dalam Putri et al. (2013) umpan
dapat efektif sampai dengan 24 jam penggunaan.
Parameter fisika dan kimia yang telah
dilakukan, perairan Perlang tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan. Suhu perairan sangat
mendukung untuk kehidupan jenis Ikan Kurisi
Pasir (Scolopsis vosmeri) yaitu berkisar 28-30,2°C,
dimana suhu yang berkisar antara 27oC - 32oC baik
untuk
kehidupan
organisme
perairan
(Romimohtarto., 2002). Suhu berperan penting
dalam proses metabolisme organisme baik flora
maupun fauna. Semakin tinggi suhu, maka
metabolisme akan meningkat dan salinitas akan
semakin menurun.
Kisaran salinitas pada lokasi pengamatan
berkisar antara 31-34 ‰. Ikan Kurisi Pasir
mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap
salinitas 30 – 36 ‰ (Rizka, 2006 dalam Syam,
2011).
Salinitas selama
penelitian
tidak
menunjukkan perbedaan yang signifikan dan
salinitas pada lokasi penelitian cocok untuk
kehidupan Ikan Kurisi Pasir. Salinitas merupakan
salah satu faktor bagi organisme akuatik yang dapat
memodifikasi perubahan fisika dan kimia air
menjadi satu kesatuan pengaruh yang berdampak
terhadap organisme. Salinitas pada perairan juga
merupakan faktor penting dan menjadi faktor
pembatas bagi biota dalam suatu perairan. Ikan
Kurisi Pasir merupakan ikan yang hidup di dasar
lumpur dan substrat berpasir dekat dengan terumbu
karang. Nilai kecerahan hasil penelitian diperoleh
berkisar antara 6,6 – 8,4 m. Ikan Kurisi Pasir
merupakan ikan demersal yang menyukai perairan
dengan kecerahan yang tinggi (Ridho et al., 2004).
Menurut
Keputusan
Menteri
Negara
Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep51/MENKLH/2004 nilai kecerahan untuk biota
yang hidup di daerah terumbu karang yaitu > 5 m.
HALAMAN - 43
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
Effendi (2003) menambahkan bahwa kecerahan air
tergantung pada warna, keadaan cuaca, waktu
pengukuran, kekeruhan dan kepadatan tersuspensi.
Kecepatan arus pada pengamatan berkisar 0,10,21 m/s. Kecepatan arus dapat dibedakan dalam 4
kategori yakni kecepatan arus mulai dari 0-0,25 m/s
yang disebut arus lambat, kecepatan arus 0,25-0,50
m/s yang disebut arus sedang, kecepatan arus 50-1
m/s yang disebut arus cepat dan kecepatan arus
diatas 1 m/s yang disebut arus sangat cepat
(Harahap dalam Ihsan, 2009). Berdasarkan kategori
kecepatan arus, maka kecepatan arus selama
penelitian digolongkan sebagai arus lambat.
Kecepatan arus pada lokasi pengamatan masih
sangat cocok untuk kehidupan dan perkembangan
Ikan Kurisi Pasir. Menurut (Ridho et al., 2004)
mengatakan bahwa Ikan Kurisi Pasir menyukai
arus yang lambat untuk mencari makan. Arus juga
sangat penting dalam kaitannya dengan kehidupan
hewan dan organisme karena arus dapat
menyebabkan perubahan suhu dan salinitas serta
menyebarkan bahan makanan, membawa dan
menyebarkan larva hewan ketempat lain.
Kisaran nilai pH yang terukur pada lokasi
pengamatan berkisar antara 7,5-8,5. Berdasarkan
Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup No. Kep-51/MENKLH/2004
untuk pH yaitu 7-8,5 maka nilai pH ini masih
memenuhi baku mutu air laut yang diperbolehkan
untuk biota laut (MNLH, 2004). Potensial hidrogen
(pH) sangat penting sebagai parameter kualitas air
karena mengontrol tipe laju kecepatan reaksi
beberapa bahan air. Ikan dan makhluk akuatik
lainnya hidup pada selang pH antara 7-8,5, dengan
diketahui nilai pH maka akan diketahui apakah air
tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang
kehidupan biota di perairan. Nilai pasang surut
merujuk pada Babel Ocean Science and
Technology (BOOST) Center Dinas Kelautan dan
Perikanan (DKP) Propinsi Bangka Belitung yaitu
berkisar antara 0,51-1,41 m, keadaan ini
menunjukkan
perairan
mengalami
pasang.
Kedalaman perairan pada lokasi penelitian rata-rata
berkisar antara 9-10,8 m. Menurut Ridho et al.,
(2004), kedalaman perairan tempat Ikan Kurisi
Pasir ditemukan berkisar antara 0–25 m. Kisaran
nilai pada lokasi penelitian cocok untuk kehidupan
ikan Kurisi Pasir. Menurut Widodo (1980) dalam
Budiman (2006) kedalaman suatu perairan
merupakan salah satu faktor penting yang
berpengaruh terhadap penyebaran ikan demersal.
Ikan demersal mempunyai aktifitas rendah
ruayanya tidak jauh dan gerombolannya tidak
terlalu besar.
III. SIMPULAN DAN SARAN
4.1. Simpulan
Hasil penelitian pengaruh umpan terhadap
hasil tangkapan bubu dasar di perairan Perlang
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka
Tengah dapat disimpulkan sebagai berikut :
3. Hasil tangkapan bubu dasar menggunakan
perlakuan umpan dan tanpa umpan alga
Spirogyra sp. ternyata tidak memberikan
perbedaan atau pengaruh nyata terhadap hasil
tangkapan bubu dasar. Hal ini dapat dilihat
dari nilai uji Mann Whitney (
.
4. Komposisi hasil tangkapan bubu dasar
menggunakan
perlakuan
umpan
alga
Spirogyra sp. dan tanpa umpan sebanyak 20
(dua puluh) spesies ikan yaitu Ikan Kerapu
Sunu (Plectropomus maculatus), Ikan Kerapu
Macan (Ephinephelus malabaricus), Ikan
Kerapu Hitam (Ephinephelus timorensis),
Ikan Seminyak (Diagramma pictum), Ikan
Garis Singgang (Lutjanus carponotatus), Ikan
Kurisi Pasir (Scolopsis vosmeri), Ikan Kakap
Mata Kucing (Psammoperca waigiensis), Ikan
Dengkis (Siganus canaliculatus), Ikan
Beronang Kuning (Siganus doliatus), Ikan
Ekor Kuning (Caeseo teres), Ikan Tandatanda (Lutjanus russeli), Ikan Biji Nangka
(Upeneus
sundaicus),
Ikan
Ketarap
(Caerodon schoenleini), Ikan Seriding
(Sargocentrum rubrum), Ikan Ketambak
(Lethrinus lentjan), Ikan Ikan Merah
(Lutjanus erytropterus), Ikan Ketambak Pasir
(Achanthopagrus latus), Ikan Kepe-kepe
(Chelmon rostratus), Ikan Anjang-anjang
(Pentapodus setosus) dan Ikan Kunyit
(Lutjanus madras).
4.2. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang
jenis alga lain yang efektif digunakan dalam
penangkapan bubu dengan memperhatikan lama
perendaman umpan, dan kondisi umpan.
DAFTAR PUSTAKA
Apriliyana M. Triajie H. Dan Effendy M. 2013.
Kelangsungan Hidup Lumut (Spirogyra sp.)
Pada Berbagai Derajat Kepekaan Air Laut
yang Berasal Dari Tambak Garam. Jurnal
Jurusan
Ilmu
Kelautan
Universitas
Trunojoyo Madura. Madura
Badan Pusat Statistik. 2014. Profil Desa Perlang
Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka
Tengah 2014.
Dedi. 2012. Analisis Penggunaan Umpan pada Alat
Tangkap Bubu Dasar di Perairan Bembang
Bangka Barat. [Skripsi]. Manajemen
Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian,
Perikanan dan Biologi. Universitas Bangka
Belitung.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan dan Lingkungan Perairan.
Kanisius. Yogyakarta.
HALAMAN - 44
AKUATIK - Pengaruh Umpan Alga (Spirogyra sp.) Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar Di Perairan Perlang
Kabupaten Bangka Tengah
Hujaya S. D. 2008. Isolasi Pigmen Klorofil,
Karoten, Dan Xantofil Dari Limbah Alga Di
Area Budi Daya Ikan Bojongsoang.
[Skripsi]. Fakultas Matematika Dan Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Teknologi
Bandung. Bandung.
Indonesian Coral Reef Foundation (TERANGI).
2004. Panduan Dasar Untuk Pengenalan
Ikan Karang Secara Visual Indonesia.
Terangi. Jakarta.
Kurniawati, W. 2005. Optimasasi Pengembangan
Perikanan Purse Seine di PPN Pemangkat
Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan
Barat. [Tesis]. Program Paskasarjana.
Institut Pertanian Bogor.
Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2004.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Tentang Baku Mutu Biota Air Laut.
KEP NO-51/MNLH/I/2004. 8 April 2004.
Jakarta.
Natsir, M. 2003. Metode Penelitian. Ghalia
Indonesia. Jakarta.
Prabowo, R. E, Ardli, E. R, Sastranegara, M. H,
Lestari, W dan Wijayanti G. 2010.
Prosoding Seminar Nasional Biologi
Biodiversitas dan Bioteknologi Sumberdaya
Akuatik. Fakultas Biologi UNSOED
Purwokerto.
Putri, R. L. C, Fitri, A. D. P, dan Yulianto, T. 2013.
Analisis Perbedaan Jenis Umpan Dan Lama
Waktu Perendaman Pada Alat Tangkap
Bubu Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan
Di Perairan Suradadi Tegal. Program Studi
Pemanfaatan
Sumberdaya
Perikanan,
Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan Dan
Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro.
Journal of Fisheries Resources Utilization
Management and Technology 2(3) : 51-60.
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
Romimohtarto, K dan Juwana, S. 2002. Biologi
Laut Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut.
Djambatan. Jakarta.
Septiyaningsih, Irnawati, R dan Susanto, A. 2013.
Penggunaan Jenis dan Bobot Umpan Yang
Berbeda Pada Bubu Lipat Kepiting Bakau.
Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan Juni
2(1) : 55-61.
Supranto, J. 2009. Statistik Teori dan Aplikasi.
Penerbit Erlangga. Jakarta.
Syam, A. R dan Muliyanto. 2011. Populasi Ikan
Karang dan Biota Penempel Di Sekitar
Terumbu Buatan Perairan P. Kotok Kecil
Dan P. Harapan, Kepulauan Seribu. Balai
Penelitian Pemulihan dan Konservasi
Sumber Daya Ikan. Jakarta.
Tarsim dan Yudha, I. G. 2005. Pengaruh
Perbedaan Warna Media Bubu Karang
(Coral Trap) Terhadap Hasil Tangkapan.
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas
Pertanian. Universitas Lampung. Lampung.
Yudha, I.G. 2005. Pengaruh Warna Pemikat
Cahaya (Light Attractor) Berkedip terhadap
Jenis dan Jumlah Ikan Hasil Tangkapan
Bubu Karang (Coral Trap) Di Perairan
Pulau Puhawang, Lampung Selatan. Staf
pengajar PS Perikanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung. Lampung.
HALAMAN - 45
Download